Majo to Ryouken V2 C4

Juli 05, 2026 | Metoya

Prolog: Penari Membara

Illustration Placeholder


Keledai itu meringkik. Dengan suara menyedihkan, layaknya seorang pria yang meratap dan menangis dengan keras.

"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"

Membuka mulutnya lebar-lebar, dan mengangkat tinggi moncongnya yang tulang belulangnya terekspos.

Suara ringkikannya yang sangat menyeramkan membuat perhatian para prajurit teralihkan.

"Apaan makhluk ini. Makhluk macam apa dia itu……!!"

Yang pertama kali angkat bicara adalah si cerewet Appelsin. Tepat setelah ia menyuarakan keterkejutannya. Krak, dengan suara patahan tulang yang nyata, leher Appelsin berputar setengah putaran ke arah punggungnya. Ia tewas seketika dan tubuhnya roboh berlutut. Kepalanya yang jatuh telungkup menatap lurus ke arah langit-langit.

"……Hah?"

Rollo tanpa sadar mengeluarkan suara melengking keheranan.

Bahkan belum sempat ia memahami apa yang sebenarnya terjadi, keledai itu kembali meringkik.

"Hooaaaaaaanngghhh……!!"

Dan kali ini, pria yang berdiri di sebelah kanan Rollo lehernya terpuntir dengan sendirinya, lalu jatuh ke lantai.

──Gawat. Ini terlalu tidak masuk akal.

Aku tidak boleh berhadapan dengan keledai itu. Nalurinya sebagai pembunuh bayaran membunyikan alarm peringatan di kepalanya.

Aku harus segera menjauh dari tempat ini, secepat mungkin, begitu pikirnya──para prajurit Varsia yang tangguh itu juga sudah mulai melangkah mundur perlahan. Apakah leherku yang akan terpuntir selanjutnya──rasa takut seperti itu kini telah menguasai diri mereka, membuat wajah mereka memucat.

"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"

Ringkikan yang ketiga kalinya. Ketakutan para prajurit akhirnya mencapai puncaknya, dan seolah terpelanting mereka berlari membelakangi keledai itu. Meski sedang berlari, seorang lagi prajurit Varsia lehernya terpuntir dengan tidak masuk akal, dan tubuhnya roboh berlutut.

"Makhluk ini…… kali ini lari adalah kemenangan, ya."

The Coward Melk menggunakan morning star-nya untuk menghalau keledai itu, sambil melompat ke samping untuk menjauh dari tempat tersebut.

Rollo juga ikut berbaur dengan para prajurit Varsia lainnya, berlari kembali menyusuri lorong menuju ruang tamu.

Namun hanya ada satu orang pria pemberani yang memilih untuk bertarung alih-alih mundur. Ia adalah Kapten Fjord yang berambut mohawk. Ia berbalik arah melawan arus para prajurit yang melarikan diri, lalu berdiri sendirian di tengah lorong dengan menghunus pedangnya. Kemudian ia berteriak lantang dengan volume suara yang tak kalah keras dari ringkikan keledai itu.

"Jangan main-main dengankuu, brengsek!! Maju kauu──"

Saat berlari menyusuri lorong, dari sudut matanya Rollo melihat leher Fjord terpuntir.

Dengan punggung menghadap sosoknya yang tumbang, Rollo berlari keluar dari lorong dan menuju ruang tamu di lantai bawah.

Dari pegangan tangga yang terbagi ke kiri dan kanan, Rollo melihat sekilas ke lantai bawah. Ia mencari sosok Teresalisa, tetapi tak bisa menemukannya. Ia juga tak melihat Snow Witch maupun orang-orang Varsia yang lain. Hanya saja tepat di bawah pegangan tangga yang hancur, ia menemukan sosok Kai dan Gerda yang terkapar. Rollo buru-buru menuruni tangga.

Gerda telah mengeluarkan kotak padat (compact) kecil dari saku roknya. Ia menyingkapkan pakaian di bagian perut Kai yang terkapar, lalu mengoleskan salep lengket yang ia ambil dari compact itu ke lukanya.

Berkat mengenakan zirah rantai (chainmail), luka di perutnya masih tergolong dangkal. Masalahnya adalah patah tulang akibat jatuh dari lantai atas. Lengan Kai yang mengerang kesakitan tampak tertekuk ke arah yang tidak wajar.

"……Apakah Anda tahu, ke mana perginya Witches-sama?"

Saat Rollo yang telah turun ke ruang tamu bertanya, Gerda menoleh sambil tetap berjongkok di samping Kai.

"Bersama Snow Witch, ke arah sana."

Arah yang ditunjuk oleh Gerda adalah jalan keluar masuk di sisi kiri ruang tamu. Tidak ada pintu di sana, yang ada hanyalah lorong yang bentuknya mirip dengan lorong yang mereka lewati saat masuk ke tempat ini.

"Apakah pertarungan sudah dimulai? Belenggu tangannya kan belum dilepas."

"Kalau soal itu tak apa-apa. Sudah dilepas, olehku."

Mendengar ucapan Gerda itu, Rollo menghela napas lega. Kalau dia bisa menggunakan sihirnya, untuk saat ini mereka aman. Tapi aku harus segera menyusulnya. Sebelum salah satu dari Sembilan Rasul itu mendekat lagi──.

"A-Anu, apa yang terjadi di atas sana?"

Gerda menatap Rollo dengan wajah penuh kecemasan. Dari lantai atas, para prajurit Varsia mulai berlari menuruni tangga satu per satu. Mereka semua tampak ketakutan, menengok ke belakang seolah berlari menghindari sesuatu.

"Sembilan Rasul telah muncul. Apakah Anda pernah mendengarnya?"

"Sembilan Rasul…… milik Kerajaan Amelia itu?"

Sesuai dugaannya pada seorang Ahli Item yang berwawasan luas. Gerda memiliki pengetahuan yang luas.

"……Sepertinya, dia mungkin datang menyusul kita, Campusfellow. Dia membunuh prajurit secara membabi buta. Kapten juga terbunuh. Ekspedisi kita kemungkinan besar akan dibatalkan."

"Tidak mungkin……"

"Saya akan segera bergabung dengan Witches-sama, dan pergi meninggalkan kastil ini. Saya tidak mau mengambil risiko bertarung melawan salah satu dari Sembilan Rasul. Sebaiknya kalian juga cepat keluar dari kastil ini."

"Sebenarnya, apa yang sedang kau bicarakan?"

Gumaman suara dalam bahasa Transmare itu terdengar tepat dari belakang Rollo.

"……!"

Tubuhnya bergerak lebih dulu sebelum ia sempat berpikir.

Sambil membalikkan badan, Rollo mencabut pisau belatinya, dan mengayunkan ujungnya ke arah Cocolco di belakangnya seperti melontarkan pukulan balik. Cocolco menunduk dan menghindari serangan cepat Rollo tersebut.

Sosoknya berada tepat di depan Rollo. Ia ikut membaur dengan para prajurit yang melarikan diri untuk menuruni tangga. Rollo merasa malu atas kelengahannya sendiri. Bisa-bisanya ia tidak menyadari bahwa ia sudah didekati sedekat ini──.

Tepat setelah ayunan pisaunya meleset, Rollo mengincar Cocolco yang merendahkan tubuhnya, dan melepaskan tendangan memutar dengan kaki kanannya. Cocolco menahan tendangan itu di sisi perutnya. Tidak ada luka berarti yang ditimbulkan──namun, itu juga sudah diperhitungkan oleh Rollo. Menjadikan kaki kanannya yang ditahan sebagai tumpuan porosnya, ia menjejakkan kaki kirinya ke lantai, lalu langsung menggunakan kaki yang sama untuk membidik dagu Cocolco. Srekk──tumit kaki kiri yang mengayun itu, hanya sedikit menyenggol dagu Cocolco yang telah menarik kepalanya.

"……Hup, anak yang cukup terampil."

Cocolco melompat ke belakang untuk menjaga jarak dari Rollo.

Dengan punggung menutupi Kai dan Gerda, Rollo menyiapkan pisau belatinya. Sambil terus waspada terhadap Cocolco, ia berbicara kepada Gerda yang berada di belakangnya dalam bahasa Varsia. ──"Apakah Anda punya 'Bola Bau'?"

Itu adalah item untuk mundur dari medan tempur yang sempat diperlihatkan padanya di tengah perjalanan. Item itu seharusnya sangat efektif jika digunakan di dalam ruangan. Dari sudut pandangannya, Rollo melihat Gerda mengangguk kecil.

"……Tapi, ranselku ada di dekat pintu masuk sana."

Sesuai dengan perkataannya, ransel yang sebelumnya digendong Gerda tergeletak begitu saja di dekat pintu masuk ruang tamu yang pertama kali mereka masuki. Ia menurunkannya ke lantai saat mengeluarkan kunci belenggu batu, dan benda itu masih ada di sana. Posisinya berada di arah seberang dari tempat Cocolco berdiri. Kalau begitu, ucap Rollo melanjutkan kalimatnya.

"Aku yang akan menahannya. Kurasa aku takkan bertahan lama…… tapi selama waktu itu tolong aktifkan bola baunya. Itu satu-satunya cara kita bisa lari membawa Kai-san yang terluka."

Rollo berbicara sambil melepas jubahnya. Diam-diam, ia memastikan rasa sakit di bahu kanannya serta kondisi tulang rusuknya yang retak. Tak disangka ia harus melawan salah satu dari Sembilan Rasul dalam kondisi yang tidak prima──. Tapi ia tidak boleh sampai kalah di sini.

"……Iya, aku mengerti."

Tepat bersamaan dengan Gerda mengangguk, Rollo berlari menerjang ke arah Cocolco.

"Oh? Kau tidak kabur, ya."

Menghabisi jarak di antara mereka dalam sekejap, Rollo menusukkan pisau belati di tangan kanannya membidik ke arah kepala Cocolco.

Cocolco memiringkan kepalanya ke samping, menghindari tebasan itu dengan gerakan sekecil mungkin──namun di saat yang sama, ia menangkap pergelangan tangan kanan Rollo yang terjulur. Rollo melepaskan pisau belati yang ia genggam di tangan kanannya. Ia mencoba menangkap pisau yang jatuh itu dengan tangan kirinya──namun, entah karena gerakannya sudah terbaca, punggung tangan kirinya ditepis sehingga ia gagal menangkapnya.

"Guh……"

Sambil bergulat, dari sudut matanya Rollo menangkap sosok Gerda yang sedang berlari.

Untuk melepaskan pergelangan tangan kanannya yang dicengkeram, Rollo mencondongkan tubuhnya jauh ke sisi luar. Ia melakukan putaran depan (forward roll) melewati ketiak Cocolco, dan meluncur melewatinya. Pada saat itu, dari sudut pandangannya ia melihat tangan Cocolco merogoh pedang yang tergantung di pinggangnya.

Terdengar suara Sring saat pedang bergesekan dengan sarungnya, dan bilah pedangnya pun terekspos. Itu adalah pedang hiasan yang indah dengan pola-pola geometris yang rumit. Sambil menoleh ke belakang, Cocolco mengayunkan pedang itu ke atas kepala Rollo yang baru saja meluncur melewatinya. Rollo menahan serangan itu dengan sebuah kapak perang.

Sebuah kapak perang bermata dua milik Mother Bilberry yang jatuh dan dipungutnya saat melakukan putaran depan melewati ketiak Cocolco tadi.

Ting, suara logam yang tajam bergema di udara.

"……Kau benar-benar, anak yang sangat terampil ya."

Sambil menekan kapak perang dengan pedang hiasannya, Cocolco bertanya dengan suara yang lembut.

"Mengalihkanku dengan serangan tipuan, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan."

Cocolco mengaitkan pedangnya ke pangkal bilah kapak perang yang melengkung, dan membuat keseimbangan Rollo goyah.

"Sial……"

Alih-alih melancarkan serangan lanjutan kepada Rollo yang telah ia jatuhkan, Cocolco justru mengarahkan ujung kakinya ke arah Gerda. Ia melangkah cepat mendekatinya.

Gerda, yang baru saja mengeluarkan bola bau dari ransel hijaunya, menjerit kecil saat menyadari Cocolco sudah berada di dekatnya. Ia menjatuhkan ransel itu ke kakinya, namun tangannya masih memegang erat bola bau itu sambil mengangkat bahunya dengan ketakutan.

Gawat──Rollo buru-buru berdiri dan melangkah maju, dan tepat pada saat itu, ia melihat sebuah anak panah melesat meluncur menuju punggung Cocolco. Sambil berbalik menoleh, Cocolco menangkis panah itu dengan pedang hiasannya.

"……Ups. Hampir saja. Begitu, rupanya masih ada satu orang lagi."

Cocolco menoleh dan menatap ke arah Kai yang berada di bawah tangga.

Kai yang sudah berdiri memegang anak panah dari tabung panahnya dengan tangannya yang gemetar, membidikkannya ke arah Cocolco. Keringat dingin bercucuran di dahinya dan ia terengah-engah, namun pada mata hitam yang menatap tajam Cocolco itu, semangat bertarungnya masih menyala-nyala.

"……Campusfellow benar-benar sangat keras kepala ya."

Saat Cocolco menggelengkan kepalanya dan mendesah, udara di ruang tamu seketika terasa menyesakkan.

Dari arah tangga sisi kanan, terlihat keledai itu turun dengan perlahan. Magical Beast yang tulang kepalanya terekspos itu.

"Bagaimana kalau aku patahkan tulang leher kalian semua tanpa menyisakan satu pun."

"……Tanpa menyisakan satu pun? Apakah tidak ada belas kasihan?"

Rollo bertanya sambil diam-diam melihat ke sekeliling untuk menilai situasi.

Posisi mereka saat ini tampak seperti mengepung Cocolco, dengan Rollo, Kai, dan Gerda di tiga titik yang berbeda, namun ia sama sekali tidak merasa bahwa mereka berada di posisi yang menguntungkan. Sebaliknya, dalam pertempuran melarikan diri, terpencar justru merupakan suatu kerugian. Ditambah lagi, Kai terluka parah. Gerda gemetaran memegang bola bau di dekat pintu masuk. Keduanya tidak akan bisa membantu banyak dalam pertarungan.

Tidak ada prajurit lain yang terlihat. Mungkin mereka semua sudah meninggalkan ruang tamu.

Saat keledai itu meringkik lagi, orang yang lehernya akan terpuntir adalah salah satu dari mereka bertiga di sini.

"Belas kasihan katamu? Kalian mengharapkan hal itu setelah mengarahkan pedang kepada Lucy-sama?"

"Yang menyerang lebih dulu adalah Kerajaan Amelia──kalian kan. Kami sama sekali tidak punya niat untuk bertarung──"

"Tidak punya niat? Benarkah? Sambil berkata begitu, kalian malah memanfaatkan kekacauan untuk menculik Mirror Witch, kalian sedang merencanakan sesuatu yang buruk kan? Anak-anak yang berbahaya. Kalian tidak pantas berada di dunia yang indah yang diperintah oleh para naga ini."

"……Hei 'Si Pengecut', apa yang sedang kau bicarakan!"

Kai menyela percakapan mereka dengan bahasa Varsia. Sambil menarik senar busurnya dengan lengannya yang patah, dan ujung anak panahnya tetap tertuju pada Cocolco.

"Makhluk apa ini……? Dia mengarahkan pedang ke Gerda. Apakah dia musuh?"

"Dia musuh. Tapi tunggu sebentar, aku akan mencoba membujuknya."

Rollo segera menenangkan Kai, dan mulai memikirkan cara untuk melarikan diri.

"Mereka berdua adalah orang Varsia. Tidak ada hubungannya dengan Campusfellow. Tolong biarkan mereka pergi."

"Oh, orang Varsia? Begitu rupanya. Tapi, itu bukan alasan untuk membiarkan mereka pergi. Varsia kan bersekutu dengan Campusfellow, bukan?"

──Sudah ketahuan.

Informasi mengenai Campusfellow telah sepenuhnya bocor oleh Menteri Luar Negeri Edelweiss. Jika demikian, ia harus mencari sudut pandang lain untuk bernegosiasi. Mencari bahan agar bisa terus mengobrol dengannya.

"Apakah tujuanmu adalah Mirror Witch? Kalau begitu aku akan menyerahkannya padamu. Aku akan menuntunmu ke tempat Witches itu──"

"Tidak, negosiasi tidak diperlukan. Ini bukan transaksi, melainkan operasi penangkapan sederhana. Aku hanya akan menangkap Witches yang melarikan diri ini secara diam-diam dan mengembalikannya ke dalam kurungan."

"Aku tidak bisa menunggu lagi, 'Si Pengecut'! Apa yang kau ocehkan perlahan-lahan begitu. Boleh aku bunuh dia, kan?"

"Tunggu dulu. Tidak perlu ada pertarungan. Tenanglah……!"

Bagaimana ini? Rollo memutar otaknya. Apakah ia harus memprovokasinya, atau menuruti kemauannya? Jika itu tuannya, bagaimana ia akan mengatasi situasi ini? Apakah Bud Grace akan menemukan cara agar mereka semua bisa selamat dan pergi dari tempat ini──. Kepanikannya membuatnya kesulitan merangkai kata.

"Aliansi dengan Varsia telah dibatalkan akibat jatuhnya Kastil Campusfellow……!"

"Oh. Begitu rupanya."

"Benar. Jadi kalau kamu membunuh mereka di sini, kau hanya akan memprovokasi Varsia tanpa alasan. Varsia akan jadi musuhmu……!"

"Astaga, kau memberiku peringatan? Baik sekali. Tapi sayangnya bagiku──"

"Cukup, aku akan menembak! Wanita ini adalah musuh Varsia, kan……!?"

"Tunggu, tolong diam dulu! Makanya sekarang aku sedang membujuknya."

"Membujuk apanya! Kalau dia ini orang Transmare──"

Melihat Kai yang terus berteriak, Cocolco diam-diam dan perlahan tersenyum padanya.

"──Aku tidak memiliki alasan, untuk melepaskan orang-orang barbar ini."

"Berarti sudah tak perlu ditanya lagi dia itu musuh kita!"

Keledai itu meringkik. Meneriakkan suaranya yang menyerupai jeritan itu tinggi-tinggi hingga bergema di ruang tamu.

"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"

Sesaat setelah itu, leher Kai berputar ke arah punggungnya.

"Kaii……!!"

Tepat bersamaan dengan jeritan Gerda, anak panah meluncur dari busur panjang milik Kai ke arah Cocolco.

Mengincar celah sekilas saat Cocolco menghindari panah itu, Rollo melesat mendekati Gerda yang sedang menjerit melihat pemandangan di hadapannya. Ia lalu merebut bola bau dari tangan Gerda dan menarik talinya.

Pssshh──bola itu seketika menyemburkan asap kuning dalam jumlah besar, disertai bau amonia yang menyengat hidung. Rollo melemparkan bola itu ke kaki Cocolco.

Sosok Cocolco segera tertutup oleh asap yang memenuhi ruangan.

"Cepat, Gerda-san. Cepat……!"

Rollo menutup mulut Gerda yang matanya dipenuhi air mata, lalu menariknya keluar dari ruang tamu melalui pintu depan dan berlari ke lorong. Sebenarnya ia ingin keluar ke lorong samping tempat Teresalisa dan Snow Witch pergi tadi. Tapi ia tidak punya kelonggaran waktu untuk melakukan itu.

Rollo sama sekali tidak menoleh ke arah lain, menarik pergelangan tangan Gerda dan meninggalkan ruang tamu yang kini dipenuhi asap itu.

Rollo berlari menyusuri lorong yang remang-remang. Di kiri dan kanan lorong yang luas, tempat gema langkah kakinya terdengar nyaring, berderet banyak pilar-pilar persegi. Itu adalah lorong yang mereka lewati saat pertama kali masuk ke tempat ini.

Melalui jendela besar yang berjejer di sepanjang dinding sebelah kanan, terlihat lapangan bawah tempat salju menari-nari ditiup angin. Jika ia terus berlari lurus, ia akan bisa keluar ke taman dengan air mancur. Tapi kalau begitu, ia akan meninggalkan Teresalisa.

Bagaimana ia harus bertindak untuk menghindari Sembilan Rasul dan bergabung dengan Teresalisa?

──Aku tidak mau kembali ke ruang tamu. Apakah satu-satunya cara adalah keluar dari bangunan lalu memutarinya……?

Tiba-tiba, Rollo menyadari bahwa ia tidak lagi mendengar suara langkah kaki Gerda yang seharusnya mengikutinya dari belakang, lalu ia menoleh. Gerda, yang telah berhenti berlari, sedang menyeka air mata yang terus mengalir dari matanya. Ia terisak-isak, wajahnya berkerut, dan menggosok-gosok matanya.

"……Kai. Kai…… ukh. Hiks……"

"…………"

Melihat orang yang disayangi tewas secara kejam tepat di depan mata, wajar jika tubuhnya menjadi kaku karena terkejut. Namun saat ini, mereka tidak punya waktu untuk berhenti.

"……Dia mati bertarung. Dengan sangat gagah berani. Aku yakin dia telah pergi ke surga. Kalian pasti akan bertemu lagi. Selama kau terus bersikap berani."

"……Mana mungkin aku tahu soal itu. Karena yang membunuh Kai bukanlah Witches, kan? Kai, tidak mati bertarung melawan Snow Witch. Kalau tidak dibunuh oleh Dewi Perang Sriedda, tidak ada artinya……!"

Gerda menggelengkan kepalanya dengan kasar.

"Dewi Perang Sriedda" yang membimbing para prajurit pemberani yang telah mati ke surga──dia kini telah jatuh ke bumi sebagai Snow Witch. Karena itulah, untuk dibimbing ke surga, mereka harus dibunuh oleh Witches tersebut.

"Kalau tidak begitu, tidak ada artinya! Kalau tidak mati bertarung melawan Witches, tidak akan bisa pergi ke surga."

"…………"

──Begitu, ya. Jika "Dewi Perang Sriedda" telah jatuh dan menjadi Snow Witch, itu berarti selama empat puluh tiga tahun ini, tidak ada dewi yang bisa membimbing mereka ke surga.

Agar prajurit-prajurit Varsia bisa pergi ke surga, mereka harus terlebih dahulu mengalahkan dewi yang jatuh ini dan mengembalikannya ke surga. Atau, jika mereka melawan Snow Witch yang juga adalah "Dewi Perang Sriedda" dan terbunuh, barulah mereka bisa langsung dikirim ke surga──.

Kapten Fjord menyebut ekspedisi ini sebagai "Perang Suci". Sekarang ia mulai mengerti makna di baliknya.

"Makanya semua orang ingin ikut berpartisipasi dalam ekspedisi penaklukan ini. Makanya ekspedisi penaklukan dilakukan setiap tahun. Untuk mengembalikan dewi yang jatuh ke surga. Untuk bertarung melawan Witches. Tapi, kenapa ada pengganggu seperti orang ituu──"

Rollo mencoba mengingat kembali. Pupil mata berwarna biru pucat yang jernih itu. Iris mata hijau zamrud yang memikat itu. Witches yang secantik kristal salju. Dia tidak akan pernah menua. Melihat wujudnya itu, siapa pun pasti akan berpikir bahwa dia dulunya benar-benar seorang dewi yang asli. Bahwa "Dewi Perang Sriedda" sang pengendali api, benar-benar jatuh dan berubah menjadi Snow Witch.

Lalu, sebuah pertanyaan terlintas di benaknya. Empat puluh tiga tahun yang lalu, apa yang sebenarnya terjadi di kastil ini.

"Kenapa dia, bisa jatuh menjadi Snow Witch……?"

Pertanyaan yang digumamkan Rollo seolah berbicara pada diri sendiri itu, dijawab oleh Gerda seraya ia mengusap air matanya.

"……Karena dia mencoba menghidupkan kembali orang yang berharga baginya."

"Orang yang berharga……?"

"Ya. Ibunya. Sang Permaisuri. Karena mencoba membangkitkan permaisuri yang telah meninggal, ia melanggar tabu. Karena itulah, dia dijatuhi hukuman mati oleh raja yang juga adalah ayahnya. Dalam kesedihan yang mendalam, dia berharap negara dan kastil ini hancur saja. Ia membekukan segalanya──"

"……Tunggu sebentar. Bukankah Snow Witch itu berasal dari luar?"

"Bukan. Dia adalah keluarga kerajaan. Funnel Bjorkoe, adalah kakak perempuan kandung dari Horio-sama──"

Pelabuhan Bebas Es Heroi, terletak di perairan dengan arus yang rumit sehingga pelabuhannya tidak pernah membeku, bahkan di musim dingin. Orang-orang Varsia yang datang dari arah barat laut, membangun kota pelabuhan ini di tepi pantai sebagai markas dan memperluas kekuasaan mereka.

Perang Empat Binatang Buas kemudian meletus, membuat rakyat lelah dan menderita. Namun, karena letaknya di benua yang jauh dari medan pertempuran, tidak ada musuh yang pernah menyerang kota Heroi yang menghadap ke Laut Utara yang dikuasai Varsia.

Di sisi lain laut──di sebuah danau di pegunungan hijau yang tinggi, berdirilah sebuah kastil yang indah.

Kastil itu berdiri dengan tenang dan damai, bayangannya terpantul jelas di permukaan air yang jernih. Klan Snow King Bjorkoe, yang memimpin Varsia Heroi, tinggal di kastil yang mereka rebut dari bangsa Ilf tersebut.

Tepat di depan mata saat mendarat di kastil danau ini, terdapat taman luas di mana bunga-bunga berwarna cerah bermekaran, dan kupu-kupu terbang menari-nari. Pepohonan tumbuh subur dan rimbun, kicau burung kecil terdengar merdu.

Di taman itu terdapat sebuah air mancur dengan patung raksasa di tengahnya. Patung batu seorang pria bertubuh besar berjanggut lebat, mengenakan mantel bulu tebal dan mahkota bertabur permata di kepalanya.

Patung batu yang sama sekali tidak cocok dengan tema taman yang damai dan alami maupun ukiran halus pada air mancurnya ini, dibuat atas perintah Snow King yang memimpin Varsia Heroi saat itu sebagai potret dirinya sendiri. Di tangannya, ia memegang perisai berlambang rusa berbulu panjang yang merupakan simbol dari pemimpin Bjorkoe.

Seolah ingin memamerkan kekuasaannya, seorang pelayan muda berusia pertengahan belasan tahun melintasi bagian depan patung batu itu.

Di sebuah petak bunga yang tidak jauh dari patung itu, terdapat pohon blackcurrant. Tingginya kira-kira sama dengan tinggi pelayan itu. Pelayan itu memetik buah blackcurrant, membungkusnya dengan saputangan, dan pergi meninggalkan taman.

Berlari ke bagian belakang bangunan, ia keluar menuju sebuah lapangan bawah yang tanahnya padat.

Di lapangan luas itu, para pria berlatih melempar kapak. Suasana di dalam kastil itu ramai dan semarak. Di kandang ternak yang dibangun di sepanjang dinding kastil, ayam dan babi berisik bersuara. Sementara di depan bengkel, seorang perajin batu sedang duduk di kursi, mengobrol dengan prajurit-prajurit yang berkunjung.

Melihat ke sekeliling kastil yang penuh semangat itu, pelayan tersebut bergabung dengan tiga orang wanita lain yang melambaikan tangan memanggilnya. Mereka membawa serta seorang pria tua bungkuk.

"Jangan bengong, ayo cepat."

Ditegur oleh pelayan senior, pelayan muda yang paling kecil itu menundukkan kepalanya dan meminta maaf.

Keempat pelayan dan pria tua itu secara diam-diam menuju sayap bangunan yang memiliki penjara bawah tanah.

"……Neru-sama. Kami membawa seorang tabib dari pelabuhan."

Cahaya lilin bergoyang tak beraturan di tengah kegelapan yang pekat.

Cahaya samar itu menyinari wajah Funnel yang terbelenggu di penjara bawah tanah, dengan warna jingga. Mata birunya yang setengah terbuka tampak tak bertenaga. Pipinya cekung, dan bibirnya kering pecah-pecah. Pada perban yang membalut mata kanannya, merembes darah berwarna merah kehitaman.

Funnel, yang bernapas dengan tersengal-sengal, menatap balik keempat pelayan itu dan berkedip perlahan. Embusan napasnya terasa panas. Pergelangan kakinya dipasangi belenggu yang terhubung dengan rantai ke dinding. Sudah lima hari ia berada dalam keadaan seperti itu sejak dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah.

"Coba, biarkan aku melihatnya."

Membelah kerumunan pelayan yang memandangnya dengan cemas, pria tua itu melangkah maju. Ia adalah seorang tabib yang menjalankan toko obat kecil di Pelabuhan Bebas Es Heroi. Tabib kerajaan yang melayani keluarga kerajaan merasa takut pada sang raja, dan menolak untuk merawat Funnel. Karena itulah, para pelayan membawanya dari kota secara diam-diam.

Tabib itu dengan perlahan dan hati-hati melepas perban di mata kanan Funnel. Darah yang mengering terkelupas perlahan, membuat Funnel mengerang pelan.

"Dekatkan lilinnya lagi."

Sesuai permintaan tabib, pelayan yang memegang kandil mendekatkannya ke mata kanan Funnel. Melihat luka yang diterangi cahaya lilin, para pelayan menahan napas. Ada yang menutup mulut, ada pula yang memalingkan wajahnya.

Mata kanan Funnel, yang memanggil naga negara musuh demi menghidupkan kembali permaisuri, telah dicabik-cabik oleh cakar naga dan hancur. Tak ada lagi sisa-sisa kilauan hijau zamrud seperti "Dewi Perang Sriedda".

"Ini sangat parah…… Sudah bernanah. Juga terasa panas. Pasti sangat menyakitkan bagimu."

Funnel menarik napas dalam-dalam, membuat dadanya naik turun. Di lehernya, butiran keringat tampak menetes.

Selama tabib mengoleskan obat, para pelayan bertanya kepada Funnel apakah ada yang bisa mereka lakukan untuknya. Seperti apakah dia lapar, atau adakah hal lain yang dia butuhkan. Di sela-sela itu, salah satu pelayan menggumamkan sesuatu secara tidak sengaja.

"……Kenapa Tuan Muda tidak datang menemui Anda ya."

Adik laki-laki Funnel yang berusia sepuluh tahun, Horio, belum pernah sekalipun bertemu dengan Funnel sejak malam saat pemanggilan itu gagal. Ia mengurung diri di kamarnya dan tidak berbicara dengan siapa pun. Pemanggilan naga itu kabarnya dilakukan oleh Funnel seorang diri. Meskipun begitu, para pelayan telah menyadarinya. Malam itu. Dengan siapa Funnel menyelinap keluar dari kastil. Dan apa sebenarnya yang mencabik jari kanan Horio yang dikatakan digigit anjing liar pada saat yang bersamaan itu.

"Tega sekali. Kalau saja Tuan Muda memohon padanya, Neru-sama pasti bisa dikeluarkan dari sini──"

"Hentikan," potong pelayan senior dengan tegas.

"Saat Raja menanyainya, Neru-sama mengatakan bahwa ia melakukan pemanggilan itu sendirian. Itulah satu-satunya kebenaran yang ada."

Jika Horio, yang akan menjadi Snow King berikutnya, diketahui telah memanggil naga dari negara musuh, pria-pria Varsia tidak akan mau mengikutinya. Pelayan senior itu memahami perasaan Funnel yang mengkhawatirkan hal tersebut.

"Kita sebagai pelayan tidak perlu banyak bicara soal ini."

Musim dingin masih cukup lama, namun penjara bawah tanah terasa dingin dan membekukan. Salah satu pelayan membentangkan selimut yang dilipat, dan menyelimutkannya pada tubuh kurus Funnel yang hanya mengenakan sehelai pakaian dari kain.

"Aku sudah melakukan tindakan pengobatan sebaik mungkin."

Ucap sang tabib, seraya membereskan peralatannya.

"Sebaiknya biarkan dia beristirahat di ranjang yang layak. Jika dia terus berada di sini, kondisinya hanya akan semakin memburuk."

Pelayan termuda, yang berusia sekitar belasan tahun, berlutut di samping Funnel yang matanya telah diperban ulang, lalu membuka saputangannya. Di dalamnya terdapat buah blackcurrant yang baru saja ia petik.

"Neru-sama. Silakan makan ini. Cepatlah sembuh……"

Funnel mengulurkan tangannya dan mencoba mengambil buah itu. Namun, kekuatannya ternyata sangat lemah, hingga saat ia mengambil saputangan tersebut ia tak sengaja menjatuhkannya. Buah blackcurrant berserakan di atas lantai batu.

"Ah," saat pelayan itu hendak memungutnya, Funnel menggenggam tangannya. Menggenggamnya dengan lemah lembut. Lalu ia berkata dengan suara parau.

"……Terima kasih."

Sudah mencapai batas. Baik Funnel, maupun para pelayan yang mencintainya. Para pelayan yang mengenal Funnel yang selalu ceria dan tertawa riang, tidak sanggup lagi melihat Funnel dalam kondisi seperti ini.

Sebelum meninggalkan penjara bawah tanah, para pelayan menundukkan kepala kepada Funnel.

"Kami akan datang lagi. Pasti."

Untuk membawa sang putri yang mereka cintai keluar dari tempat ini. Hari eksekusi semakin dekat.

Namun, sejak hari itu, para pelayan tidak pernah lagi mengunjungi penjara bawah tanah tersebut.

Hari eksekusi tiba. Funnel dipaksa berjalan tanpa alas kaki menuju lapangan bawah.

Perban di kepalanya dilepas, membiarkan luka di wajahnya terlihat oleh orang banyak. Ia hanya diizinkan memakai sehelai pakaian dari kain. Kedua pergelangan tangannya diikat di belakang punggung, dan ia berjalan menuju tumpukan kayu sambil digiring oleh algojo yang memegang tombak panjang. Penampilannya terlihat sangat menyedihkan hingga tak ada yang akan menyangka bahwa ia adalah seorang putri raja.

Banyak orang telah berkumpul di lapangan bawah. Mereka menyingkir dan membelah kerumunan, seolah berusaha menghindari Funnel yang berjalan mendekat. Sambil berjalan menyusuri jalan yang terbuka itu, Funnel melirik mereka. Terdapat para prajurit Varsia, tukang kebun, penjaga ternak, perajin batu dari bengkel, dan banyak orang lain yang bekerja di kastil. Tentu saja, ia melihat wajah-wajah yang dikenalnya. Penduduk kota juga ada di sana. Penjaga toko yang sempat mengobrol dengannya saat ia turun ke kota, juga para janda yang kehilangan suaminya dalam perang dan telah dirawat oleh permaisuri, ibu dari Funnel.

Tetapi, keempat pelayannya dan adiknya, Horio, tidak terlihat di sana.

Tidak ada satu pun yang mengulurkan tangannya pada Funnel. Tak ada seorang pun yang muncul untuk menyelamatkan putri bodoh yang memanggil naga negara musuh ini. Semua orang meringis ketakutan saat melihat luka mengerikan di mata kanannya. Saat berjalan, Funnel bisa mendengar bisikan orang-orang yang menyebutnya "Putri yang bodoh".

──"Siapakah engkau ini."

Sang Raja menatap Funnel yang diikat pada tiang di depannya, lalu bertanya.

"Aku telah membesarkanmu sebagai reinkarnasi dari Dewi Api 'Sriedda', bukan, bahkan sebagai Sriedda itu sendiri. Sebagai eksistensi yang akan membimbing banyak prajurit gagah berani yang mati dalam peperangan menuju surga."

Saat Snow King mengeraskan suaranya, kerumunan yang berkumpul di lapangan bawah pun seketika terdiam. Mereka mendengarkan perkataan Raja dengan saksama.

"Prajurit Varsia bisa bertarung justru karena kau ada di sini. Bahkan saat ini pun para prajurit sedang mengangkat tinggi kapak perang mereka dan berlari melintasi medan perang. Itu semua berkat keberadaan 'Dewi Perang Sriedda'. Karena mereka percaya bahwa jika mereka bertarung dengan berani hingga mati, kau akan membawa mereka menuju ke surga!"

Sang raja berteriak. Membentak dan berteriak dengan penuh amarah.

"Tapi ternyata kau malah memanggil naga dari negara musuh. Bukankah itu berarti kau menistakan dan menghina para prajurit kita!!"

"…………"

Funnel tidak menjawab. Dia hanya menunduk dengan lemah. Di kakinya, jerami ditumpuk di atas tumpukan kayu yang telah disusun. Algojo mendekat dengan ember kayu, menyiramkan minyak ke seluruh penjuru dengan gayung.

"Mata hijau zamrudmu telah hancur. Maka aku akan bertanya padamu sekali lagi. 'Siapa dirimu'──Jika kau masih mengaku sebagai perwujudan api, maka tertawalah dalam kobaran api penyucian ini──"

Atas tanda dari raja, sebuah obor dilemparkan ke arah jerami.

"Menarilah dalam kobaran api!"

Seketika jerami terbakar, dan sorak-sorai riuh menggema di antara orang-orang.

Panas menjalar naik dari kakinya. Asap tebal merampas pernapasannya. Saat pandangannya mulai kabur karena air mata, ia disisihkan oleh orang-orang, dan dunia menginginkan kematiannya. ──Sebenarnya siapa diriku ini, pikir Funnel.

Separuh darah Varsia mengalir di dalam diriku. Separuhnya lagi darah Ilf. Aku dibesarkan sebagai Dewi Perang, tapi ternyata aku tak bisa menjadi dewa. Lalu, aku ini menjadi apa. Tak pernah diizinkan bebas dari kastil, dilarang bertualang dan bertarung, sebagai apakah aku akan mati──.

"Ah benar, bakar juga benda itu bersama dengannya."

Raja memerintahkan pelayannya membawa empat kepala. Kepala dari wanita berambut panjang.

Melihat benda itu, Funnel tanpa sadar mengeluarkan suara. "……Ah," ucapnya lirih. Lalu matanya membelalak. Karena semua kepala itu adalah wajah yang sangat dikenalnya. Mereka adalah orang-orang yang mendampinginya sejak ia masih kecil, yang memperlakukannya lebih dari sekadar keluarga dibandingkan dengan raja.

"Para wanita ini bukan hanya membesarkanmu menjadi orang bodoh, tapi mereka juga secara diam-diam berencana untuk membantumu melarikan diri. Sebegitunya mereka ingin mengabdi padamu. Jika demikian, biarlah mereka menemanimu menuju alam baka."

Raja mencengkeram kepala keempat pelayan itu satu per satu, dan melemparnya ke kaki Funnel.

Mereka menentang Raja dan mencoba menyelamatkan dewi yang telah jatuh ini. Dia takkan pernah membiarkan wanita-wanita seperti itu dikirim menuju ke surga. Karenanya ia membakar mereka dalam api yang membakar para pendosa. Menjatuhkan mereka ke alam baka bersama dengan si pendosa. Itulah hukuman sarkastis dari sang raja bagi para pelayan──.

"Bersenang-senanglah kalian bersama di alam baka. Haaa-hahahaa……!"

Mata biru Funnel bergetar. ──Siapakah engkau ini.

"……Berisik."

Tawa keras Raja itu bertumpang tindih dengan dering di telinganya. Suara nada tinggi yang merobek gendang telinga itu, perlahan-lahan semakin kencang. Suara itu mirip sekali dengan──Herererere. Raungan naga busuk yang ia panggil tanpa sengaja malam itu.

"Berisik, diamlah kau……!"

Ia menyalahkan Funnel seraya bertanya, siapa dirimu.

──Herererererererere……!!

"Uaaaarrggghhhh!!"

Meskipun dalam keadaan terikat, Funnel berteriak. Membuka mulutnya lebar-lebar, membelalakkan mata birunya yang tersisa, dan mengaum layaknya mengintimidasi Raja di bawahnya. Siapakah aku ini. Aku ini adalah──.

"Akan kubunuh, akan kubunuh kau……! Apa peduliku kalau kau raja. Masa bodoh. Jika aku ini memang dewi yang telah jatuh, aku akan terus mengutukmu bahkan di alam baka. Dendam ibuku. Dendam mereka semua! Aku pasti takkan pernah membiarkanmu menuju surga!"

Ada sesuatu yang tidak beres. Orang-orang yang berkumpul di lapangan bawah merasakan udara dingin yang luar biasa mencekam di sekitar mereka.

"Jatuhlah. Jatuhlah kau ke alam baka, Raja……!!"

Angin dingin berembus kencang, menghalau dan membuyarkan asap hitam yang menyelimuti panggung api eksekusi. Api yang berkobar di kaki Funnel terlihat meredup. Seolah-olah api itu sudah menyerah untuk membakarnya, api itu bergoyang lemah.

Raja menjadi gelisah dan merebut tombak dari tangan algojo yang ada di dekatnya.

"Dasar kurang ajar, beraninya kau melawan! Jangan menatapku, dasar Witches sialan!!"

Raja merobohkan ember minyak menggunakan ujung tombaknya. Merendam ujung pisau dengan minyak melimpah, dan membakarnya di atas api yang berkobar di kaki Funnel. Begitu ujung tombak itu menyala, sang raja memasang kuda-kuda dan menengadah ke arah panggung eksekusi.

Lalu ia menusukkan ujung tombak yang berkobar itu tepat ke jantung Funnel.

"Gah……!"

Funnel memuntahkan darah, kepalanya tertunduk lunglai. Api berkobar dari dada yang ditikamnya dengan kejam itu. Menengadah menatap Funnel yang meronta-ronta karena panas dan rasa sakit yang luar biasa, raja yang yakin akan kemenangannya itu melepaskan tangannya dari gagang tombak.

"Kau sangat keras kepala! Cepatlah jatuh ke alam baka sana……!!"

Funnel memelototi raja tajam. Dari balik celah poninya yang terjatuh, ia menunjukkan mata kanannya yang telah hancur.

"Tidak mau…… Aku tidak bisa menunggu. Akan kutarik kau ke sana! Sekarang juga. Sekarang juga akan kutarik kau ke alam baka……!!"

"……A, apa ini."

Angin dingin yang membekukan sekeliling tiba-tiba mengamuk dengan semakin kencang. Udara dingin yang tidak normal ini bersumber dari Funnel. Api yang bergoyang di kakinya layu tertiup angin dingin.

Api yang berkobar dari jantungnya yang tertikam tombak, menyusut dan kemudian sirna sepenuhnya.

Musim dingin masih jauh. Meskipun matahari juga sedang bersinar, embun beku mulai turun menyelimuti panggung eksekusi.

"Tidak mungkin. Tidak mungkinn……!!"

Jari-jari tangan raja yang menjulur ke depan mulai membeku dengan suara derakan yang keras.

Berpusat di sekitar Funnel, semua hal yang tersentuh oleh kekuatan sihirnya itu pun ikut membeku.

Funnel menarik paksa pergelangan tangannya dari tali rami yang membeku. Sambil menggeliat ia melepaskan diri dari belenggu itu dan mendarat di tanah. Ia pun mencabut secara paksa tombak yang menancap di dadanya dengan kedua tangannya.

Kemudian ia memegang tombak itu dengan pegangan terbalik (pisau di bawah), lalu berlari mendekati raja.

"Uaaaaaaarghhhhh……!!"

Funnel melompat, lalu menusukkan ujung tombak itu tepat ke mata sang Raja.

"Gaaaaaaaaarghhhh……!!"

Wajah Raja yang menjerit itu, mulai membeku yang berpusat pada matanya.

"Bunuh dia, cepat bunuh Witches ini, bunuh diaaaa!!"

Prajurit-prajurit Varsia di lapangan bawah satu per satu mencabut pedang dan kapak perang mereka, lalu menerjang ke arah Funnel. Funnel mencabut tombaknya dari kepala Raja, dan berlari di lapangan bawah dengan kaki telanjang. Tanpa pandang bulu, ia melepaskan kekuatan sihirnya pada para pria itu, membekukan mereka, menusuk mereka dengan tombaknya, dan terus membunuh.

Dari balik jendela kamarnya, bocah bernama Horio melihat kakaknya yang sedang mengamuk di lapangan bawah. Sambil mendekap erat tangan kanannya yang dibalut perban. Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dengan kasar, ia pun menoleh. Seorang pelayan yang melayaninya, dengan wajah yang pucat pasi berteriak.

"Witches muncul! Anda harus segera bersiap meninggalkan kastil! Tempat ini sangat berbahaya!!"

Dia tidak menyebut nama Funnel. Dia hanya memberitahu Horio bahwa ada Witches yang membekukan segalanya. Dia memberitahunya bahwa Witches yang kejam dan tak berperasaan sedang mengamuk, membekukan siapa pun yang dilihatnya.

Funnel tidak tahu bagaimana cara menggunakan sihir. Karena itulah ia hanya melampiaskan sihirnya secara serampangan. Ia hanya berharap agar dunia ini, kastil ini, dan segalanya, membeku sepenuhnya. Ia mengutuk segalanya agar membeku.

Akhirnya Funnel tiba di taman, dan berhadapan dengan patung sang Snow King. Sang raja pernah bertanya.

──Siapakah engkau ini.

Aku ini, siapa. Separuh darah Varsia mengalir di dalam diriku. Separuhnya lagi darah Ilf. Aku dibesarkan sebagai Dewi Perang, tapi ternyata aku tak bisa menjadi dewa. Tapi hal seperti itu, masa bodoh.

"……Aku adalah, diriku sendiri."

──Ratu dari kastil ini yang membekukan segalanya.

"Uaaaaaaarghh……!!"

Menyalurkan sihir yang membekukan ke tangannya, Funnel mengayunkan tombak itu dan memenggal leher patung batu tersebut.

Funnel Bjorkoe tak pernah bertambah tua. Sejak dadanya ditikam oleh tombak, tubuhnya tetap berada pada usia 15 tahun tanpa pernah menua. Hari itu. Saat dia mengutuk segalanya untuk membeku dan melepaskan sihir beku tersebut, sihir itu sekaligus membekukan waktu miliknya sendiri.

Berhadapan dengan Funnel, Teresalisa menyusuri lorong kiri ruang tamu hingga terpojok masuk ke dalam sebuah menara silinder. Menara itu remang-remang dengan sebuah tangga spiral yang berdiri sendirian di bagian tengah.

Sejak dahulu, menara itu disebut sebagai Menara Aurora. Jika dilihat dari luar, menara itu hanyalah menara biasa dengan atap kerucut berwarna biru; jadi mengapa ia dinamakan demikian──. Hanya mereka yang pernah memasukinya saja yang bisa memahaminya.

Dengan sabit besar di tangannya, Teresalisa yang masuk ke dalam menara itu menengadah melihat ke arah dinding bagian dalam menara, dan langsung menahan napas.

Di seluruh dindingnya yang melengkung landai, jendela kaca patri berwarna-warni terlihat bersinar cerah. Jendela kaca patri yang mengelilingi hingga 360 derajat ini memberikan warna pada cahaya dari luar, sehingga menebarkan bayangan merah, biru, dan hijau ke dalam menara.

Pemandangan megah nan luar biasa tersebut memberikan hiburan bagi siapa saja yang menaiki tangga spiral menara. Seolah melihat gemerlapnya cahaya aurora yang menari di langit malam.

Namun saat ini Teresalisa sedang berada di tengah-tengah pertarungan, ia tidak punya waktu untuk menatap aurora itu. Menghindari serangan gencar dari Funnel yang mendekat di belakangnya, ia terus melompat menaiki tangga spiral tersebut. Funnel pun menyusul tepat di belakangnya.

Para prajurit Varsia yang bersenjatakan kapak perang pun menyusul mereka agak terlambat.

Itu adalah tangga panjang yang melingkari pilar penopangnya. Di bagian luar tangga dipasang pagar besi agar tidak ada yang terjatuh. Gemerincing langkah kaki dari banyak orang serta teriakan-teriakan mereka menggema keras di dalam menara berwarna aurora tersebut.

Ujung pedang Funnel yang dihunus dari bawah tangga ditangkis oleh Teresalisa dengan menggunakan sabit besarnya sambil ia memutar tubuhnya.

──Anak ini, tipe yang bertarung jarak dekat sekali.

Meskipun menangkis serangannya yang terus-menerus itu, Teresalisa harus tetap menjaga jarak dari Funnel sambil terus menaiki tangga.

Di sela-sela menerima serangan, Teresalisa melirik ke dinding menara.

Gambar mosaik yang dilukis di dinding itu menunjukkan kegembiraan saat menyambut datangnya musim semi setelah melewati musim dingin yang begitu kejam. Orang-orang bernyanyi bersama binatang-binatang di hutan, menari sambil memakai mahkota bunga. Namun, orang-orang yang ada dalam gambar mosaik itu bukan orang Varsia. Telinga mereka meruncing. Lalu matanya menggunakan kaca hijau zamrud yang berkilauan. Hal ini membuktikan bahwa menara ini merupakan bangunan dari orang-orang Ilf.

Dari bawah tangga, Funnel menginjakkan kakinya dan melompat ke atas. Teresalisa membelokkan lintasan pedang yang mendekat dengan ujung sabitnya, dan mengayunkan gagang sabitnya sebagai serangan balik, tapi Funnel menangkisnya seolah membalas serangan tersebut.

──Aaaah, menyebalkannn……!

Teresalisa mulai merasa tidak sabar.

Sebagai pengguna sihir tipe manipulator (pengendali) yang menggunakan roh, Teresalisa memiliki jangkauan serangan yang luas, sehingga ia lebih suka bertarung dari jarak yang cukup jauh. Namun Funnel terus menyerangnya dengan gencar, bahkan melompat ke arahnya dalam sekejap mata. Teresalisa tidak punya pilihan lain selain mundur.

Lagipula, Teresalisa juga memiliki masalah lain; ia tidak boleh mengalahkan musuh ini. Ia harus menjadikan Witches ini sebagai rekannya. Karena itu, ia tak bisa mengayunkan sabitnya dengan sekuat tenaga. Namun untuk bernegosiasi pun, Teresalisa tidak mengerti bahasa Varsia. Walau ia berteriak "Tunggu dulu!", Funnel tidak akan berhenti mendekat.

"Black Dog ada di mana sih!? Ke mana perginya pria itu……!"

"…………"

Sejak tadi ia dipaksa terus bertarung menghindar dari serangannya.

Tapi selama itu pula, ia menyadari satu hal.

──Dia bukan tipe Summoner. Anak ini tidak menggunakan Magical Beast.

Teresalisa terus mengayunkan sabit besarnya ke arah Funnel yang berada di bawah tangga. Lintasan pedang yang bisa berubah bentuk sesuka hatinya itu tidak bisa diprediksi menggunakan akal sehat. Bilah pisau yang bisa menekuk ke atas dan ke bawah dengan mudah itu membingungkan Funnel, hingga akhirnya mata pisau itu sampai di kerongkongan Funnel──namun.

Funnel menggunakan tangannya sebagai tameng untuk menahan tebasan itu. Mata pisau dari sabit besar itu tidak memotong kulit lengannya, melainkan menancap pada es. Ia membekukan kekuatan sihir yang menyelimuti lengannya, dan menumbuhkan es di sana. Ia mengubah sifat sihirnya menjadi es beku. Snow Witch adalah seorang Witches tipe pengubah sifat (mutator).

──Sihir yang sangat dingin.

Semakin dekat Funnel dengan dirinya, Teresalisa semakin merasakan dinginnya kekuatan sihir tersebut di kulitnya hingga menyakitkan. Lalu Funnel juga tampaknya menyukai pertarungan jarak dekat, di mana ia menyelimuti dirinya sendiri dengan sihirnya, bukan menghempaskan sihir tersebut untuk bertarung. Kalau begitu ia bisa memanfaatkannya──.

"Akan kutangkap kau!"

Teresalisa melepaskan sabit besar peraknya.

Sabit besar yang dijatuhkan di depan Funnel itu dengan sekejap membentuk tubuh manusia, dan merentangkan tangannya ke arah bawah tangga. Mencoba memeluk tubuh Funnel yang sedang melompat mendekatinya ke dadanya.

"……!"

Hanya sejenak saja Funnel terkejut, namun ia tidak berhenti melompat. Tiba-tiba saja, seorang wanita telanjang perak tanpa wajah─April, muncul tepat di depan matanya. Funnel mengayunkan pedangnya tepat ke bahu April. Ting──sebuah suara yang menyerupai benturan logam terdengar, lalu gerakan Funnel terhenti.

April tak dapat dihancurkan. Bahkan dengan pedang yang menancap di bahunya, April memeluk punggung Funnel dengan tangannya yang terbuka lebar. Seharusnya──Snow Witch bisa ditangkap dengan ini.

Teresalisa yang berdiri di belakang April, menyadari bahwa udara di sekitarnya menegang. Udara itu terasa jernih, dan semakin dingin. Pagar besi yang berwarna hitam itu mulai memutih akibat es, dan berderak-derak semakin memutih.

"……Dinginnya. Bercanda, kan?"

Wajah datar April dan tubuh telanjang peraknya yang berkilauan pun, mulai memutih seiring dengan memutihnya pagar besi tersebut. Tubuhnya dengan cepat membeku akibat gelombang kekuatan sihir yang membesar dari tubuh Funnel. Saat pedang itu diayunkan kembali, April terbelah hancur menjadi dua dari bahu hingga sisi tubuhnya.

"April……!"

Funnel, dengan tubuh menghadap ke depan, menurunkan ujung pedangnya ke belakang. Memfokuskan sihir yang menyelimuti seluruh tubuhnya pada bilah pedangnya. Terus berlari menaiki tangga sambil menyimpan energinya, dan memajukan langkah kakinya tepat ke hadapan Teresalisa.

"……Gawat."

Teresalisa tanpa sadar menggumamkan sebuah kata, napasnya memutih terlihat dari mulutnya.

Seketika dari permukaan cermin di dalam jubahnya, cairan perak yang lain menyembur keluar. Mencoba menahan dampak serangan dengan membentuk perisai sederhana dari cairan perak yang diratakan di depan tubuhnya──namun, sebelum perisai perak itu sempat mengeras, pedang yang dipenuhi sihir Funnel memukulnya keras seperti mencoba melubangi perisai itu.

Tepat ketika pedang itu mengenai perisainya──Funnel langsung melepaskan semua kekuatan sihir yang dipusatkan pada pedangnya bersamaan dengan hantamannya. Sihir yang dilepaskan sejalan dengan jejak pedangnya itu menyerupai bongkahan es berduri layaknya stalaktit yang menetes dari dalam gua──mirip dengan sebuah bongkahan kristal yang berkilauan.

Sebuah gerakan pamungkas yang sangat sederhana; hanya melepaskan energi sihir yang ia kumpulkan dari sekujur tubuhnya ke satu titik. Karena kesederhanaannya itulah serangannya memberikan impak yang luar biasa. Teresalisa yang menerima pukulan itu dengan perisai tipis yang belum selesai terbentuk tersebut terhempas jauh, punggungnya menghantam kuat pagar besi di belakangnya.

Menghancurkan pagar besi tersebut, dan membawanya menabrak masuk ke dinding menara──ke dalam kaca patri. Suara kaca hancur pecah pun bergema di dalam menara.

Suara teriakan yang nyaring dari prajurit Varsia terdengar dari bawah tangga spiral. Serpihan kaca gemerlapan dan es berjatuhan dari atas kepala mereka.

"……"

Terhempas menembus kaca patri, Teresalisa merasakan udara di luar di sekujur kulitnya. Salju yang beterbangan tertiup angin──awan yang tebal dan dinding istana yang memutih──serta permukaan tanah di bawah sana. Sesaat ketika tubuhnya mulai jatuh──Teresalisa membatin dalam dadanya.

──Kaca cermin……

Cairan perak yang digunakan sebagai perisainya terlalu sedikit untuk digunakan sebagai sayap. Teresalisa mencoba memfokuskan kekuatan sihir untuk membuat sepasang sayap besar bersiap jika dirinya akan jatuh──namun di balik pecahan kaca berwarna-warni itu, ia melihat gaun putih yang berkibar.

"……Loh──"

Untuk terus memburu lawannya, Funnel juga melompat keluar dari menara itu.

Mengayunkan pedangnya kepada tubuh Teresalisa yang jatuh. Membalik tubuhnya di udara, Teresalisa menghindari tebasan itu dengan perbedaan jarak sehelai rambut──tapi, waktunya sudah tak sempat untuk membuat sayap. Sisa cairan perak yang ada langsung dibenturkan ke tanah tepat di detik terakhir jatuhnya demi menahan benturan seminim mungkin.

"Tsah……!"

Meskipun mendarat sambil terjatuh, Teresalisa tetap menjaga keseimbangan dan bangkit kembali.

Detik selanjutnya, Funnel yang telah melilitkan dirinya dengan sihir mendarat ke lapangan. Menahan benturan dengan menjatuhkan diri, dan pecahan-pecahan kaca yang berwarna-warni jatuh menghujani tanah.

Meskipun mereka adalah sesama penyihir, tapi mereka memiliki gaya dan kemampuan yang berbeda dalam hal penggunaan sihirnya. Karena itu, cara penggunaannya juga berbeda. Funnel, dengan kemampuan sihir transformasinya, merapal pelindung ataupun bantalan dengan baik karena telah menyelimuti tubuhnya sendiri menggunakan sihir tersebut.

Di lain pihak, Teresalisa sebagai manipulator yang menggunakan mana sebagai "Ruh" lewat atribut "Cermin Tangan", tidak ahli dalam menyelimuti tubuh dengan sihir itu secara langsung. Sama halnya seperti yang dilakukan Funnel, secara naluriah ia membalut tubuhnya dengan sihir untuk menjadi sebuah bantalan saat ia terjatuh. Tapi impak terjatuh yang dirasakan oleh Teresalisa tentu lebih terasa sakit dibanding dengan yang dirasakan Funnel. Setiap hela napas yang diambilnya membuatnya meringis nyeri.

"Hah…… hah……"

Keduanya terjatuh ke lapangan bawah.

Di atas sana angin meniup awan dan menghempaskan salju dengan liar. Angin yang berhembus di lapangan yang dikelilingi oleh bangunan dan tembok kastil itu tak sebanding jika dengan angin di danau beku yang tak berpenghalang. Meskipun begitu, angin yang bertiup terasa begitu menusuk kulit hingga membekukan. Ujung hidung Teresalisa telah memerah.

Lapangan yang tertutup salju itu putih bersih. Berdiri di sepanjang dinding kastil adalah sumur dengan penutup, kandang ternak, dan bengkel. Salju terus berjatuhan di atas bangunan-bangunan yang telah lama tak didatangi orang itu. Bahkan menutupi panggung eksekusi di sudut dinding kastil──di atas struktur tumpukan kayu dengan satu tiang berdiri di atasnya.

"……Sebenarnya siapa sih? Anak ini. Dia ini gila pertarungan ya."

Sambil memelototi Funnel yang berdiri tepat di hadapannya, Teresalisa mengusap cermin tangan di dalam jubahnya untuk memastikan kondisinya. Syukurlah, permukaannya tidak retak.

"……Kihih."

Bibir Funnel meliuk dan menyunggingkan sebuah seringai. Bahkan ekspresi wajah garangnya pun terlihat cantik layaknya sebuah lukisan.

"Gila, pertarungan. Kata-kata yang bagus."

"Aku tidak sedang memujimu…… tapi, tunggu? Kau bisa bicara pakai bahasa Transmare!?"

"Memangnya tak boleh?"

Funnel memiringkan kepalanya sedikit, seolah menunjukkan hal itu wajar-wajar saja.

"Tapi ini baru pertama kali bagiku untuk berbincang dengan orang Transmare. Apa pelafalanku sudah benar?"

"Hah……!?"

Teresalisa tercengang tak percaya. Kalau bahasanya bisa dimengerti, berarti bisa ada negosiasi dong. Tak usah susah-susah menggunakan sihir untuk bertarung kalau begini.

"Kalau begitu dengarkan dulu, Snow Witch! Aku datang bukan untuk menantangmu bertarung."

"Hoooon…… Kau berbicara kata-kata yang sama seperti 'Pria bukan Varsia' tadi."

"Hm? Kau sudah bertemu dengannya?"

"Kulihat tadi, dia pria berbaju hitam. Dia juga bilang ingin bicara denganku bukannya menantangku bertarung."

"Kalau begitu, baguslah kalau sudah bertemu. Dia sedang mengumpulkan para penyihir. Makanya, dia bukannya datang mau membunuhmu, melainkan untuk menjadikanmu sekutu kami."

"Sekutu……?"

Mungkin karena Teresalisa sudah tidak memasang kuda-kuda bersiap tempur lagi, ujung pedang Funnel juga terlihat menurun ke bawah.

"Benar. Katanya kekuatanmu itu diperlukan. Makanya, ayo keluar dari kastil ini dan ikut kami."

"……Fuun. Aku tolak."

Funnel memutuskan negosiasi itu secara singkat. Ia menundukkan badannya kemudian mengacungkan ujung pedangnya.

"Tunggu sebentar! Menolaknya cepat sekali? Dengarkan aku dulu!"

"Sudah kudengar. Tidak terlalu cepat. Aku menolak."

"Kubilang terlalu cepat! Kalau begitu, biar kau saja yang bicara. Kenapa kau menolaknya? Tolong beritahu apa alasannya."

"……Sudah lama sekali sejak aku terus melawan prajurit Varsia di istana ini, dan ini pertama kalinya mereka membawa seorang Sorcerers dan juga orang dari negara lain untuk membunuhku. Karena mereka sudah menyiapkan pertarungan sihir untukku, aku ingin menikmatinya dengan sepuas-puasnya. ……Lagi pula,"

Sambil memalingkan pandangannya ke bawah, Funnel berkata lirih.

"Bertualang itu hal yang sudah mustahil. Karena aku ini hanya jasad menunggu kematian. Selanjutnya cuma menunggu bagaimana aku matinya."

"……? Kau mau mati?"

"Tentu tidak? Aku mau bertarung. Terus-menerus hingga kematian, bahkan setelah aku mati pun aku ingin tetap bertarung!"

Sambil mengepalkan tangannya dan menggenggam erat pedangnya, ia maju selangkah. Matanya menyorotkan rasa tak sabar──seolah berucap: tidak ada waktu untuk berbincang-bincang. Ekspresinya yang nampak riang itu menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh menikmati pertempurannya.

"……Aaaah ya ampun. Orang yang menyandang nama Witches ini memang merepotkan sekali ya."

Ucap Teresalisa dalam hatinya, melupakan bahwa ia juga adalah seorang Witches. Walaupun bahasanya dapat dimengerti, tapi lawannya juga sama-sama seorang Witches. Sangat tak mudah untuk ditaklukkan.

"Kalau begitu, aku akan mengabulkan apa yang kau harapkan itu, mari kita bertarung hingga mati, April!"

Teresalisa mengayunkan tangannya. Cairan perak yang dengan sengaja diam-diam ia jalarkan pada lapisan salju saat berbincang tadi seketika berputar lalu muncul tepat di kaki Funnel yang sedang berlari menuju ke arahnya.

"Gyah……!?"

Seketika, cairan tersebut berubah wujudnya menyerupai telur raksasa, mengurung Funnel secara keseluruhan dari atas hingga ke bawah.

The Coward Melk berjalan ke sana kemari sendirian demi mencari jalan keluar dari istana tersebut.

Sesaat sebelum mereka sampai ke Singgasana Es, pasukan mereka diporak-porandakan oleh Snow Witch yang tiba-tiba turun menyerang dari lantai atas secara mendadak. Meski begitu, sebenarnya itu bukanlah sebuah masalah yang pelik. Memang tujuan para prajurit untuk datang kemari adalah demi melawannya. Cuma karena mendadak mereka jadi terkejut tak menduga. Cuma sebuah pertempuran yang datang sedikit terlalu cepat. Tapi ancaman mengerikan yang berada di luar prediksi dan dugaan mereka berada di ujung lorong dengan dinding-dinding penuh lukisan──yang tak disangka bahwa ada Sorcerers dan monsternya yang misterius dan misterius.

"……Makhluk macam apa itu, aku yakin itu bukan sesuatu dari dunia ini."

Ia melihat langsung Kapten Fjord tewas dengan lehernya yang tiba-tiba meliuk. Meskipun Death-Seeker Sven tewas oleh tebasan si Witches, tapi Enemy of Women Appelsin tewas terbunuh secara tragis oleh keledai misterius itu, lalu Mother Bilberry dimuntahkan oleh makhluk berwujud kucing untuk ditelan ke dalam peti matinya. Mungkin dia juga tewas terbunuh. Sedangkan untuk Kai dan Gerda, meskipun ia tidak bisa melihat jasadnya, tapi kemungkinan terburuknya adalah mereka tewas dimakan oleh makhluk di ruang tunggu tersebut.

Melk terpisah dari prajurit-prajurit Varsia yang lainnya dan kini ia hanya sendirian. Berjalan mengitari istana bersuhu rendah yang mencekam tersebut.

Sesekali, suara pekikan ketakutan terdengar dari kejauhan. Mungkin ada salah satu dari anggota pasukannya yang bertemu dengan monster itu dan kini menjadi sasarannya. Karena itulah ia harus segera menjauhi arah yang mana terdengar ada teriakan ketakutan. Jika terdapat ancaman mengerikan di tempat itu, sudah sewajarnya ia memutar tubuh lalu berlari menjauhi tempat mematikan tersebut. Lengkingan teriakan teman-temannya membantunya dalam mengetahui lokasi keberadaan sang monster saat ini.

──Aku tak pernah diberitahu soal ini. Jika ada musuh lain di ekspedisi ini selain Snow Witch.

"Kapten juga tewas. Sudah saatnya aku untuk membatalkan ekspedisi ini……"

Sepertinya akan menjadi sulit jika harus membunuh si Witches untuk membawanya ke khayangan. Hal yang paling bisa ia lakukan saat ini hanyalah mencari jalan keluar, lalu pulang ke rumah persinggahan pasukannya yang berada di hutan tepian danau. Tapi saat dirinya bergegas kabur melarikan diri dari ruang tengah ke segala arah, ia tersesat akibat berlari tanpa arah agar tidak melewati koridor-koridor yang memperdengarkan lengkingan ketakutan dari teman-temannya. Ia berjalan menyusuri lorong berkedalaman yang remang-remang dengan mengandalkan nalurinya, dengan tetap mewaspadai lingkungannya dan memegang erat-erat morning star di tangannya. Walau demikian, dirinya masih belum juga menemukan jalan keluar.

Sesampainya Melk, ia masuk ke sebuah ruangan yang nampak sangat terang. Ruangan tersebut lebih rendah satu tangga dibanding koridor lorong, lantai berbatuannya nampak agak tidak rata dan tidak kasar. Atap ruangannya cukup tinggi, ada pemanas ruangan serta beberapa buah kompor pemanggang berderet berdekatan di sepanjang pinggir dindingnya. Bermacam jenis alat penggorengan, wajan, lempeng panggangan serta panci bergelantungan di dinding dari bebatuan itu.

Terdapat rak khusus peralatan makan yang diletakkan di sisi tembok dengan koleksi mangkok-mangkok, piring yang datar, juga hiasan bunga-bunga.

Seketika Melk tertawa terbahak-bahak dan bergumam sendiri ── "Aku ada di dapur istananya sekarang." Terdapat pintu khusus pada dapur istana ini sebagai jalur untuk meletakkan barang masuk, lewat sanalah Melk seharusnya dapat keluar.

Melk harus memutar balik untuk melewati meja yang berderet di tengah ruang itu. Perkakas untuk mengolah makanan berserakan tanpa arah pada masing-masing mejanya. Yang membedakannya dari dapur biasa adalah peralatan serta makanan-makanannya yang tertutup oleh pembekuan. Keranjang roti-roti menumpuk serta makanan sup kentang di dalam sebuah kuali diselimuti es beku.

──Aku tidak tahu makanan ini sudah disajikan sejak zaman kapan.

Mungkinkah makanan kuah sup ini telah disajikan bahkan sedari saat Melk ini belum tercipta pada alam semesta.

Di samping sebuah mejanya, kepala sebuah daging babi guling telah diiris ditaruh di suatu pegangan besi. Mesin pegang tersebut dapat diputar berkeliling demi memanasi makanan dengan merata ke berbagai arah. Sebuah lapisan garing beraroma hangus dapat kita lihat karena membeku akibat es, pastilah saat sebelumnya memiliki aroma tajam jika dibakar. Sepertinya memakan saja adalah pilihan yang mustahil akibat kerasnya beku.

Ia perlahan menyisiri belakang ruangan tersebut demi menemui pintu keluar. Seketika Melk memperlambat langkahnya akibat dari adanya sebuah desisan decakan cairan aneh yang berulang-ulang. Ada sebuah bentuk siluet berada pada bawah sisi panjang meja itu. Sedang apa itu.

Ia mendekat dan melihat dengan sangat tenang agar pergerakan napasnya tak dirasa, ternyata itu hanyalah hewan kucing kelam sedang memakan jilatan di dasar batuan itu. Pada lehernya, pita kelam yang bersih dan diikat berbentuk telinganya bergelombang nampak lucu. Adalah kucing peliharaan saat lalu, memuntahkan daging tubuhnya Bilberry. Potongan daging yang disantap sang kucing adalah semacam cipratan tetesan dari kental cairan segar berwarna merah darah segar, sungguh bukan serupa bagian yang sama layaknya makanan seekor mamalia daging dari masakan babi yang hangus dibekukan tersebut.

"……!"

Melk kaget serta tersedak dengan napas dan menyadari bahwa benda itu berwujud bentuk dari tangan sang umat.

Ah rupanya tangan potongan. Kumpulan yang disantap dengan lahapnya adalah anggota lengan milik kaum prajurit-prajurit Varsia. Ia bergerak pelan, menengok. Sungguh mimpi yang tidak akan dimimpikannya, bahkan dari suara teman yang lari berlawan dari suara histeria, tak disangka bahwa sang monster muncul tepat berpapasan pada mukanya. Ia wajib segeranya berjalan dan tinggalkan dari dapur itu ── ia kembali perlahan berjalan di lantai yang baru ia lalui tanpa menekan suara jejak kaki sedikirpun.

Sebuah kemujuran sang kucing sungguh tidak memperhatikan lingkungannya karena kenikmatannya menyantap daging tersebut. Melk sekiranya tak terdeteksi jikapun ia hendak meninggalkan sang dapur pada masa ini ── saat menurunkan injakannya, Melk merasakan ada bebunyian memori melintas lalu padanya.

──Tok. Tok. Tok.

Si wanita Sorcerers yang bermantel gaun kelam suci itu sedang menjentik dan mengeklik lekuk bibirnya. Melk perlahan merubah pandangan wajahnya. Pada celah lorong yang ia lewatkan sesaat lalu merupakan asal desing dari decakan itu, dan lorong ini berhubung secara lekat menyalur dari dapur dalam, bunyiannya menjadi terdengar lebih kuat.

Dengan sigap Melk berlompatan tersembunyi bersembunyi dalam sisi pengering ruangan di sisinya. Dia mendengarkan ada bunyi hembusan melintas ke depannya saat dia berteduh melingkarkan tubuh mungilnya dan berpelukkan bersama ke arah dari pada senjatanya morning star. Nampak sosok manusia berada dalam batas ruangan tersebut.

──Tok. Tok. Tok.

Sambil menariki gerbong peti, sang wanita berjalan. Melalui jangkauan langkah, petinya menimbulkan lonjakan decitan dan dengungan. Sungguh mimpi buruk ini terulang kembali. Tampaknya ia ikut masuk dan menyelinap pada sekitar dapurnya. Berjalan tepat bersebelahan persembunyian melk pada dapurnya, ia memameri bagian rok belahannya beserta jangkauan dari sepatunya juga menyeret dan menggotong pada si gerobak petinya.

"Nyaaaaaan. Nyaaaan"

Sesaat dengan langkah kaki dihentikan, ia kemudian meletakan serta mensetting agar tegak petinya itu di saat sang kucing merengekan melodi meongan suaranya.

"Hohoho. Jadi kau ada di sini. Apa yang sedang kau lakukan?"

"Nyaaa", seekor hewan membalas ucapannya bersama ia dengan nampaknya terus perlahan mulai melangkahkannya ke area ke hadapannya.

Kalau dia menghentikannya di lokasi berbelakang dikit itu lebih menguntungkan ya. Sisi dan tatapan pengamatan daripadanya sangat luas hingga menyadarinya pada persembunyian penghangatan ini akan nampak sosok si wanita yang tengah berdiri. Karena apabila ia melihat menatap ia bakal mengetahui lokasi ia sedang.

Tiba-tiba Melk sangat menggigil dan dia gemetaran pada sekujur jasad seakan entah takut ketakutan tak hentinya. Melk sangat meringkukkan wujud bagian sosoknya berbaringan rapat meremas serta eratnya pelukan dalam tubuh padanya membaringkan dalam balutan si morning star. Senjata persembunyiannya merupakan senapan besi dengan dihubungkannya pada dua paku ujung tajam bulat lewat pada selongsong tali bajanya. Seutas rantai ikatan bergulir dengan longgarnya, rantainya terlepas.

──Srekk.

Nampak cuma bunyi derak minim dari jatuhan tersebut. Namun saja suara minimal ini dapat menggejutkan pikiran terbuka lebar.

Hewan memalingkan muka memandang rekat untuk meneliti asalan bunyi tersebut. Dan walau tak ada pandangan terarah fokus yang bertepatan secara jelas, akan tetapinya lokasi yang difokuskannya itu tetap di arah ke sisinya. Pastilah sadar bila ada kehadirannya di depan ini──bertepatan setelah di sela waktunya detik lalu ini.

Bentukan bagian luar ujung kelopak pada badannya akan merekah terbuka dalam dengan melimpahnya juntaian tentakel membludaknya.

"……Aaaah aaaa ahhh!"

Tak dapat dibayangkannya, sangat amat takut Melk hingga terlontar kabur pada dapur luar dari pelarian arah pemanas itu.

Merangkak, berlutut tersengalnya menunduk dan mendekat menyujud mengitari tepat bersebelahan ke kakian dari wanita ini.

"Maafkeun sayaaah, sayaaah memintak keampunann! Berilah, permohohan ammpuun……"

Sebuah rentetan yang diungkapannya dalam permohonan bersuara berbahasa Transmare.

Terhadap mimik cocolco yang nampak tersipu Melk bertingkahkan berdoa layaknya sebuah sembah pemohonan yang penuh ketulusannya ini. Jika aku harus lenyap termakannya dimangsa hewan pada alamnya ini tidak mampu menempuhnya alam baka perjalanannya di surgawinya, begitulah batin pikirnya ini berharap bisa dimengertinya.

"Mohon sayaah, dipermintaanya untuk memintak dianggotakannya kedalaman kaum ajaran Agama Lucy, akankahnya dikabulkannya……!"

"……Apakah kaum ajaran keagamaan kalian, lucy?"

"Eeeh yyaa, tentu! Saya menolak diikutikan penganut Varsia!"

Bisa mengerti dengan ucapannya. Betapa saya bersukur sempat pernah berupaya sedikit menghapalkan berbahasanya negara dalam kependudukannya para orang-orang luar negara wilayah yang letaknya selatan wilayah benuanya di kerajaan dari bangsa Transmare ini.

Dalam sepengetahuan, Melk yakin pada Agama ajaran peribadatannya penganut Agama ajaran ini, meskipun ibukota peribadatannya merupakan kawasan daerah ibukota dari pusat pemerintahan sebuah kerajaan Kerajaan Amelia, tetapi pemeluk ajarannya itu ternyata dan secara pasti tidak dibataskan menjadi di khusus peruntuk pada para-para penduduk negara Kerajaan Amelia semata. Adanya berbagai perbedaan akan warnaan rasial bangsa dan warnaan kulit adalah beragam keperbedaan dari perbedaan kaum di negara penganut Agama itu. Dari apa yang diketahuinya, dengan kulit bewarna perunggu di hadapan muka dari orang penganut sihir ini. Sungguh warna dari kawasan iklimnya kepanasan serta dari wilayah dari kepulauan benua tersebut. Dari situ, meskipun adalah kaum orang-orang Varsia maka, jika untuk bergantian dari ajaran pindahan kepercayaan peribadatannya tentu pastilah dari dapat dipastikan itu dibolehkan dapat dimungkinkan jua.

Pada kelopak-kelopak sisiannya, melk dengan melirik perhatikan di mana keledainya telah melenyapkan wujud kepalanya demi menunjukkan dia di amannya kini, saat sesaat ia berbicara mengobrol berinteraksi saat mengelabuhi wanita ahli mantranya itu hingga merubahkan pandangannya bukan dianggap layaknya pakan bagi makanannya kini, di pikiran sekilas pada hatinya itu telah menyadarkan nyawanya bahwa ia berhasil diselamatkan kini. Hal tersebut merupakan sebatas pandangan awal keyakinan dari intuisi logikanya. Mulai detik tersebut, tugas untuk berfokus dengan berfokus kepada dirinya, ahli magi perempuannya──lalu selanjutnya melk bersama meremas menggenggam dengan pisau di tangannya dalam posisi sela saku pelindung pada di lipatan bajunya itu.

Sebuah bola morning star yaitu paku bola bergadanya adalah bagian dari sebuat senjata-senjatanya yang tampak bising. Tapi kegunaannya ialah dalam membuat pemancingannya dan menari pusat dari sasaran dari senjata utamanya. Yang sebenarnya adalah pedang serta pisau dari sisian ujung di belakang dari pinggangan jubah melk itu. Tentu racun yang membunuh segera adalah tujuannya yaitu melukai bagian musuhnya itu. Dan dengan hal inilah maka kelicikan itu pun digunakan untuk menjadi prajurit yang menang dan ia di antara penganut dari bangsa orang orang Varsia. Inilah adalah metode di antara peperangannya bagi melk──.

Sorcerers kemudian merenungkan serta memandangkan kepalanya kepada pandangan melihat akan merenung bagi keputusannya. Masih akan mencoba.

"Sanggat menyesaalll, atas dari hiduppan di orang orang dari ajaran Varsia, sayaa akan bertoobaat dan menyesealinya dari saya mulai, jadi untuk──"

Pada kepercayaan ajaran Lucy, itu adalah mempercayai bahwa dewa merupakan sesembahan tertinggi dari dewa pada dewa Naga. Bahwa ajaran agama itu memercayainya dunia dan penduduk dunianya ada di antara perlindungan karena belaskasih Naga dari penganut dan ajarannya tersebut. Kemukjizatan keajaiban sihir di dalam kemampuan ajaib merupakan pemberian keberkahan di kepercayaannya juga atas dewa Naga di dalam aliran kependudukan penganutnya tersebut.

"Sayaah mohon ke alam kedewaan Naga dari kepemilikan Anda, tolonng dibawa ikutkan saya ini……!"

Walau itu hanya dari pembicaraan di sekilasan lewat pengetahuannya yang mendasar baginya, dalam kepercayaannya hal tersebut sangat dirasa perlu atas apa dari pengetahuannya dalam permohonannya akan pengikut ajarannya permohonan ujian atas dirinya. Melakukan pengikut terhadap ajarannya yang kuat demi wanita bergaun sihir putih dalam berdoanya itu.

"Tolonng bagi hamba, untuk dari diselamatkanlah dalam keselamatan yang Anda peroleh……!"

"……Minta diselamatkan?"

Cocolco, memandangi dan melihat diam ucapan dalam doa permintaannya itu. Melk lalu memintakan pengikut dari doanya tanpa berhenti meminta tanpa terputuskan olehnya. Merasakan bahwa dengan begitu dia sangat dari sangat pada kebenciannya dia atas kelakukan para orang barbar bagi dari kehidupan serta bangsanya di bangsa pada kehidupan di Varsia itu. Dari apa jika bisa di ijabahkan baginya, dia hingga hendak berkeinginan darah penganut suku di kehidupan di sukunya dapat menghilangnya bersih baginya. Meskipun──.

──Dia bilang memintanya apanya yah ini dia dalam perkataannya yang di bicaranya itu……?

Dalam pengucapan dan keucapannya tersebut cumalah kosa kata aja di dalamnya yang sanggup daripadanya untuk menangkap dalam maknanya untuk ia di pahaminya. Dalam ingatan dan ingatannya ia melintas kenang dalam sekilas dalam benaknya itu mirip kepada suasananya kala di masa lalunya yang dulu kala yang terjadi pada dan dalam dirinya dan atas masa lalu dari masanya ia sendiri itu pada saat Cocolco mengingat-ingat sekilasan di dalam pembicaraannya ini di masa dirinya bersama orang dalam masa lalunya itu dari orang yang lalu.

Dia mengetok pintunya Cocolco sambil mengucapkan bunyi dari kedua pintunya dengan bunyian ketok di 2 saat dua dari masa kalanya.

Pada bagian di pedalaman untuk berada dari di tempat dan di suatu lokasi kawasan sebuah kawasan pada perkebunan pada hutan-hutan yang dirintisnya, untuk menjadi dan bagi suatu letak kawasan kedudukannya di dalamnya, sebuah kemegahan serta besar mansion tersebut terbangun dalam lokasi hutannya. Dengan dipenuhi adanya serta berisikan taman-tamannya untuk pekarangan untuk pekarangan rumah tersebut pada lingkungan halamannya dipelihara pada kediamannya pada penguasa di kediaman wilayah dalam sebuah desa dari orang di petinggi pejabat-pejabat kawasan dan yang berkuasa dengan perkuasaan besarnya di wilayah di dalam area lingkungan ini yang menguasai wilayah tersebut. Namun dari dalam kediamannya sebuah keluarnya adalah nampak adanya orang berpakaian untuk berbaju lusuhnya pria berantakannya yang bukan adalah si petugas di penguasaan dalam perwilayahan tempatnya di wilayah dalam bagian tempat tersebut untuk di situ dia. Sambil orang tersebut tersenyuman di muka dan ia pun memberikan tampilan memperlihatkannya pada deretan akan dari geligi-geliginya dari orangnya itu di antara gigi giginya.

Lalu pria tersebut bersuara seraya berkata dari belakang pada ruangan di belakang di kediamannya, "Siapakah dirimu" dan pada dirinya memalingkannya lalu merujukannya seraya menuju ke Cocolco pada orang itu pada dari orang-orang tersebut kepadanya ini.

"Oh orang ini, ada anak wanita pelayan biarawati biarawatinya dalam biara biara suster (sister) untuk biarawatinya ini loh yang ini dalam perempuan ini pada wanita pelayan ini! Hal serta sesuatu lucu-lucunya dalam orang itu ada petinya si jenazahnya juga dibawa-bawanya baginya juga dari dibawanya, ya loh ininya ini orang!

Sekitar di belakang masa di puluh tahun di sekitaran dekade di bagian pada sepuluh yang kalanya masa di lalu kalanya masanya.

Pada kerajaan sebagai wilayah bawahannya dari kerajaan di bagian bawah Kerajaan Amelia, atas dan dari wilayah daerah yang merupakan wilayah bawah di kerajaannya ini ada dan ada banyak akan dan kelompok orang dari perampokan-perampokan atas dan yang orang banyak dalam kelompok-kelompok gerombolannya dari dan bagi gerombolan dari sekelompok-sekelompok dan kumpulan banyak anggota perampokan dari orang kelompok kumpulan di daerah gerombolannya banyak kelompok yang mengerumuni perampok-perampok bayaran anggota kelompok anggota gerombolan di pasukan sewaan bayarannya banyak dari dan banyak sekumpulan untuk dan bagi perampok bayaran pasukannya di pasukan yang banyaknya pasukannya ratusan, mereka mengerumuni dan mereka menguasainya desa dan menguasai kota atas wilayah kekuasaan wilayah kekuasaannya dari atas kota dari kota wilayahnya yang ada bagi wilayah kerajaannya dengan menguasai untuk menjadi bagian penguasanya dan bagi menjadi penguasa dari wilayahnya itu kota itu dalam kekuasaan di kota wilayah kekuasaannya dari mereka menguasai wilayah wilayah tersebut yang untuk penguasa ini kota atas wilayah kekuasaannya di mereka kota. Yang pada, menugaskan ke daerah tempat ini dengan untuk seorang dan dari orang ini bagi dikirimkan atas dari ditugaskannya dan dalam utusannya pada utusannya dari yang dikirim satu utusannya ini, di untuk atas mengalahkan dan untuk bagi memberantas akan anggota pemberantasan memberantas orang ini dari orang kelompok anggota bagi mengalahkan anggota kelompok anggota di dalam bagi utusan Cocolco atas dari satu utusan seorang dari orang ini Cocolco Summoner.

Dalam berkumpulnya, di kumpulan berkumpul Cocolco tidak dari kumpulannya tidak orang dia. Bahkan ia, dari bagi dia bagi dirinya untuk bagi dalam perannya di bagian biarawati tidak dia. Namun dari kemampuannya, atas untuk dalam kemampuannya ia memiliki dalam atas Sorcerers. Atas kemampuan Magical Beast yang disertainya, atas dan untuk di dipanggilkan dalam pengikut monster pengikut hewan sihir panggilannya itu untuk karena dalam pengikut dari karena pengikut Magical Beast miliknya dalam monster hewan pengikut itu dari untuk pengikut hewan monster hewan ajaib Magical Beast yang bagi dari karena memanggil dan di memanggil memanggilnya untuk karena dari dalam mengikutinya hewan monster Magical Beast panggilannya dari hewan hewan hewan itu. Karena itulah di untuk dalam dan untuk karena baginya untuk dia di dalam ia ia baginya dari baginya untuk dari dalam ia dia ini tidak atas bagi ia untuk dari untuk dia dari untuk karena ia dalam untuk ia dari karena ia ini selalu untuk selalu dalam dia atas karena baginya.

Telah menduduki dari di atas untuk dari kota wilayah mereka yang atas tempat dan tempat yang ada dari daerah tempatnya ini, di untuk dan menguasai akan mengambil di dalam kekuasaan rumah ini pada tempat menguasainya mengambil dalam dan penguasaan untuk perampok akan mengambil tempatnya dari tempat rumah itu rumah tempat untuk tempat kekuasaan di atas kekuasaannya penguasa di perampokan dari dan tempat ini tempat. Pada, dari perampok-perampok itu dengan ini orang mereka mereka yang untuk dari atas untuk merampok dan pada mencurinya pada merampas dan orang orang dari merampoknya atas akan orang orang yang dari dalam merampas perampasan. Akan dari atas di orang orang, yang merampok merampok curian-curian di dan dari atas dalam merampas di akan perampokan di merampok kejahatannya di dan di dalam dari kejahatan atas dalam di merampas dalam dan untuk dari dan untuk di dan bagi. Orang-orang akan pada atas untuk jahat yang jahat dalam pada di yang untuk di jahat jahatnya. Tidak dalam untuk bagi nyaman, atas dari di atas di dari atas dari bagi dan untuk atas atas.

"Tok. Tok. Tok……"

Seketika untuk, dalam pertempuran untuk dan bagi atas dalam di dalam pada pertempuran dan pada di untuk di akan pada pertempuran atas pada dan di. Dalam Cocolco akan untuk atas dari pada dan dalam melangkah untuk dan di melangkah di dari melangkah untuk atas melangkah.

"Nyaaaan," di dari atas di pada dan dalam atas pada kucing untuk di dan dari kucing di pada dari atas kucing.

"Waff," dalam atas dari pada anjing di atas dalam pada dan untuk dari anjing.

Di untuk dalam atas pada dan untuk di dari dari pada atas. Dari dalam untuk atas di pada dan pada di atas.

"Hooan," dalam atas dari untuk kuda pada kuda dalam kuda atas pada di.

Untuk atas pada dan dari dalam di dari dalam atas. "Tok. Tok. Tok……"

Dalam untuk atas dari di pada dan pada di.

Dalam untuk atas dari pada untuk dalam dan dari di.

Di dalam atas untuk pada dari untuk dalam dari pada di.

Di dalam atas untuk pada dari untuk dalam dari pada di.

Untuk atas di dalam pada dari untuk di atas dalam pada dari di.

Di dalam atas pada dari untuk pada dari dalam di atas.

Untuk atas di dalam pada dari pada di dalam atas untuk dari di.

Dalam atas untuk di pada dari untuk di dalam atas pada dari di.

Dalam atas untuk di pada dari untuk di dalam atas pada dari di.

Dalam atas untuk di pada dari untuk di dalam atas pada dari di.

Dalam atas untuk di pada dari untuk di dalam atas pada dari di.

Dalam atas untuk di pada dari untuk di dalam atas pada dari di.

Di dalam atas untuk pada dari untuk di dalam atas pada dari.

"Tolong berikan kami keselamatan……!"

Terdengar jeritan permohonan Melk.

"……Baiklah, aku akan mendoakanmu."

Melihat Cocolco yang tersenyum ramah, Melk senang karena merasa doanya didengar.

Mendekat, ia menggenggam pisau belatinya.

Sesuai permintaannya, Cocolco memeluknya. Kemudian ia berbisik.

"──Semoga kelak di kehidupan berikutnya, kau menemukan kebahagiaan."

"……Eh?"

──Krak. Leher Melk dipuntir, dan ia pun tewas.

Di dunia yang dikuasai naga ini, masih ada manusia yang tak layak hidup.

Mereka terus mencemari dunia. Orang-orang baik yang terjatuh ke dalam keputusasaan menganggap kematian sebagai penyelamatan. Agama Lucy melegalkan bunuh diri, sementara ajaran Varsia percaya bahwa mereka yang mati gagah berani akan pergi ke surga. Keduanya menganggap kehidupan setelah mati lebih membahagiakan.

Ironisnya, dalam hal kematian sebagai penyelamatan, kedua pandangan ini memiliki kesamaan.

Telur perak yang menyelimuti Funnel mulai membeku dan retak. Kemudian, pedang dari dalam menghancurkannya. Funnel keluar, dan serpihan perak berjatuhan.

"Kuh! Sihirmu tak ada apa-apanya……!"

Sambil tersenyum, Funnel maju mendekati Teresalisa. Teresalisa mundur sambil menangkis serangannya.

Di tengah salju yang turun, suara pedang dan sabit yang beradu bergema.

Serangan Funnel tak henti-hentinya, tak memberi Teresalisa celah. Pertarungan di lapangan itu disaksikan oleh Teresalisa yang asli, yang mengendalikan April (yang menyamar sebagai dirinya) dari kejauhan.

"……Sungguh merepotkan."

Saat Funnel tertutupi cairan perak, Teresalisa telah mengubah April menjadi wujudnya dan ia sendiri mundur dari garis depan.

Di kastil yang dipenuhi mana ini, tak perlu khawatir soal kehabisan sihir, baik bagi Teresalisa maupun Funnel yang terus menyerang. Tak akan ada akhirnya.

April harus berada dalam pandangannya, jadi ia tak bisa pergi jauh. Teresalisa tak ingin bertarung lagi; Funnel tak mau diajak berunding dan terlalu kuat untuk ditangkap tanpa melukainya. Tak ada alasan untuk melanjutkan pertarungan.

Ia akan segera pergi dari sana. Saat memikirkan hal itu, ia mendengar suara ketukan dari jendela kaca di belakangnya.

"Witches-sama……!"

Rollo memegang kapak Mother Bilberry, bersama Ahli Item berambut oranye.

Teresalisa mengendalikan April, dan memunculkan cairan perak dari dalam jubahnya. Cairan itu membentuk batangan panjang dan melubangi kaca dengan rapi. Melalui lubang itu, Rollo dan Gerda menatap dengan terkejut.

"Wow. Hebat…… Anda bisa melakukan apa saja, Witches-sama."

"Tidak semuanya. Kalian dari mana saja, situasinya gawat."

Rollo menceritakan tentang pertemuannya dengan salah satu Sembilan Rasul.

"Dia menyebut dirinya 'Summoner'. Dan dia membawa Magical Beast. Terutama keledainya yang sangat berbahaya. Setiap kali dia meringkik, leher orang di sekitarnya akan patah."

"……Sudah kuduga. Sihir di ruang tamu tadi bukan milik anak itu."

Rollo menyampaikan cerita dari Gerda tentang Snow Witch. Dia adalah kakak dari Snow King Horio. Empat puluh tiga tahun yang lalu, ia memanggil naga untuk menghidupkan kembali permaisuri, dan dihukum mati oleh raja sebelumnya. Ia menjadi Witches saat dadanya ditusuk tombak.

"……Di Agama Lucy, ada cara membuat penyihir yang disebut 'Ritual Sirkumsisi'."

Teresalisa menjelaskan.

"Tidak semua orang bisa menggunakan sihir. Ada pendeta yang diberi kesempatan melalui ritual itu, di mana mereka diserang oleh Magical Beast agar bisa menyerap mana."

Luka yang diberikan naga memberi Funnel kekuatan dari agama asing tersebut.

"Dia adalah tipe Mutator. Sihirnya membekukan segala sesuatu yang disentuhnya. Ia tidak menua karena waktu miliknya juga ikut membeku."

"……Menggunakan sihir tanpa henti selama empat puluh tiga tahun, apa tidak melelahkan?"

"Tentu saja. Biasanya sihir akan habis. Tapi karena tempat ini penuh mana, ia bisa melakukannya tanpa henti."

"……Luar biasa."

Funnel terlihat sangat menikmati pertarungan. Rollo memikirkan bagaimana perasaannya selama empat puluh tiga tahun terkurung di kastil beku ini sendirian.

"……Kenapa dia terus tinggal di kastil ini? Apa ada tujuannya?"

"Entahlah. Harus tanya padanya──"

Teresalisa terdiam, melihat ke arah lorong tempat Rollo dan Gerda datang.

"……Gawat. Ada satu lagi."

"Ada lagi……? Magical Beast?"

"Tiga sihir Magical Beast yang jahat…… dan sihir Sorcerers yang kuat. Dia pasti 'Summoner' itu. Mereka pasti akan segera muncul."

"Kita harus segera pergi. Kita tak bisa mengajak Witches itu lagi sekarang."

Rollo menoleh pada Gerda dan bicara dalam bahasa Varsia.

"Sembilan Rasul sudah dekat. Kami akan meninggalkan kastil ini. Anda juga harus ikut──"

"Tidak," Gerda menggelengkan kepalanya. "Aku akan tetap di sini dan bertarung, meskipun melawan Sembilan Rasul."

"……Sembilan Rasul itu sangat kuat. Kapten saja mati dalam sekejap. Kita tidak bisa menang."

"Kalian pergilah. Tapi kami orang Varsia takkan memilih-milih lawan."

Gerda tampak marah. "Kai sangat berharga bagiku. Jika aku lari tanpa membalas dendamnya, aku bukan orang Varsia lagi! Aku tak peduli bisa menang atau tidak! Aku takkan memaafkannya……!"

"…………"

"Anak itu tak mau lari?" tanya Teresalisa. "Aku setuju. Jika lawannya adalah Sembilan Rasul, aku akan bertarung. Ini kesempatan bagus untuk membalas dendam."

"……Bahkan Anda juga."

"Mereka telah merebut negaraku. Tentu saja aku marah. Lagipula──"

Cairan perak keluar dari jubahnya, membentuk sabit besar seperti milik malaikat maut. "Aku tak suka dia berpikir bisa memburu Mirror Witch."

"……Apakah ada peluang menang?"

"Entahlah. Tapi dalam pertarungan, kita tak perlu memilih lawan, kan."

"……Sebagai pembunuh bayaran, aku diajarkan untuk mundur jika risikonya tinggi," ujar Rollo.

"Ya. Tapi aku bukan pembunuh bayaran. Aku ini manusia biasa yang akan marah jika orang yang kusayangi disakiti," mata merah Teresalisa menyala. "Aku marah sekarang. Karena itulah aku akan bertarung. Bagaimana denganmu? Apa kau tak marah tuanmu dibunuh?"

Rollo mengepalkan tangannya. Tentu saja ia marah. Ia pun mengangguk. "……Baiklah, mari kita bertarung."

Rollo melihat ke arah lapangan; Funnel menyadari ada dua Teresalisa dan berhenti bergerak.

"Bagaimana dengan dia?"

"Biarkan saja. Lagipula dia memang suka bertarung," ucap Teresalisa.

"……Ah," Rollo teringat. Snow Witch terus bertarung karena tak bisa meninggalkan kastil ini, atau dia akan mati.

Rollo berkata pada Gerda. "Kami akan mengurus Summoner itu. Kau carilah tempat aman."

Rollo melompat keluar melalui lubang di kaca menuju lapangan. "……Maukah kedua Witches bekerja sama melawan Sembilan Rasul?"

"Apa bisa?" balas Teresalisa. "Akan kucoba."

Rollo menyambut pedang Funnel dengan kapak perangnya, lalu menahan gerakan pedang tersebut. "Senang bertemu lagi, Snow Witch-sama."

"……Minggir, 'pria bukan Varsia'! Aku ada urusan dengan Sorcerers itu."

"Dia bukan Sorcerers. Dia adalah 'Mirror Witch'."

Rollo merasakan hawa dingin dari sihir Funnel, embun beku mulai muncul di kapak dan pedang mereka. Rollo melepaskan senjatanya dan menghindari serangan lanjutan Funnel.

"Kau terus berada di kastil ini bukan karena tak mau keluar, tapi karena tak bisa! Jika kau keluar dari mana spot ini, sihirmu akan hilang, waktumu akan berjalan, dan kau akan mati!"

"…………"

"Jika kau melepaskan sihirmu, lukamu akan kembali terbuka. Tapi bagimu, itu sama saja dengan 'bunuh diri'. Dan bagi orang Varsia, bunuh diri berarti tak bisa masuk surga!"

Funnel berhenti bergerak.

"Snow King Horio menyebutmu 'Witches yang jatuh', tapi pandanganmu tentang kematian adalah murni Varsia. Kau adalah putri Varsia…… karena itu kau terus bertarung. Agar bisa mati sebagai orang Varsia di tangan prajurit yang lebih kuat darimu."

"Memangnya kenapa kalau aku Varsia? Apa urusannya denganmu?"

"Ada. Negosiasi kita baru dimulai……" Rollo menahan dingin yang membekukan. "Aku bisa mengabulkan permintaanmu itu."

"Kau akan membunuhku?" Funnel tertawa. "Sudah 800 orang kutebas selama 43 tahun. Apa kau pikir bisa mengalahkanku?"

"Hanya 800 orang dalam 43 tahun? Kakekku membunuh 300 orang dalam semalam."

Mendengar legenda 'Pembunuh 300 Orang' yang terkenal, mata Funnel terbelalak. "Kakekmu…… 'Black Dog'?"

"Ya, dan aku penerusnya. Berjanjilah padaku. Jika kau mau bertarung bersama kami, aku, 'Black Dog' Rollo Duvel, pasti akan memberimu kematian yang memuaskan──"

"Tok. Tok. Tok……"

──Dia datang.

Dari ujung lorong yang gelap dan dingin, terasa ada hawa yang mendekat. Suara langkah kaki beberapa ekor binatang buas yang tidak beraturan. Embusan napas kasar dan bau binatang buas. Serta suara decakan lidah di dalam mulut──.

Lorong sepi yang tadinya membeku ini sekarang menjadi sangat bising.

Teresalisa mengarahkan sabit besarnya dan menyambut mereka di tengah lorong.

"Grrrrrrr……!!"

Yang pertama kali melompat keluar dari kegelapan adalah anjing berkepala dua.

Tingginya sepinggang manusia, itu adalah anjing besar. Bulunya berwarna hitam pekat tanpa kilau sedikitpun, dan seluruh tubuhnya berwarna hitam legam kecuali bagian dadanya saja yang berwarna merah seperti berlumuran darah. Di ujung ekornya terdapat pita putih yang mirip dengan pita yang ada pada keledai dan kucing.

Kedua kepala itu memamerkan taringnya dan menerjang ke arah Teresalisa sambil meneteskan air liur.

Teresalisa mengayunkan sabit besarnya ke atas, ke bawah, ke kiri dan ke kanan, mengincar tubuh anjing berkepala dua itu. Namun, pergerakan anjing buas itu sangat lincah. Anjing itu menyelinap melalui lintasan sabit dan mendekati Teresalisa. Saat satu kepala menggigit jubahnya, pada detik berikutnya kepala yang lain langsung menggigit pergelangan tangan Teresalisa yang sedang memegang sabit.

"……!"

Tak peduli sekuat apa Teresalisa mengayunkannya, anjing itu tidak mau melepaskan lengannya.

Akhirnya dari kegelapan di ujung lorong, keledai itu muncul bersama Cocolco.

"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"

──Krak. Leher Teresalisa dipelintir dengan paksa, dan berputar setengah putaran.

Teresalisa yang asli memperhatikan kejadian tersebut dari kejauhan, melalui lubang bundar pada jendela──dari lapangan bawah tempat salju menari-nari ditiup angin. Sambil mengendalikan April yang menyamar sebagai Teresalisa.

Di lorong, keledai itu meringkik sekali lagi. Seketika, jendela besar yang telah dilubangi berbentuk lingkaran itu hancur berkeping-keping dalam sekejap. Hanya menyisakan kerangka yang penyok, pecahan kaca jendela berserakan di atas salju.

"Suara ringkikan yang menjijikkan……"

Cocolco menatap ke arahnya melalui jendela yang pecah. Teresalisa melangkah mundur.

"……Sejak kalian datang ke kastil ini, jendela kaca terus saja pecah. Kalian akan memperbaikinya kan?"

Funnel, yang telah mengawasi pecahan kaca jendela lorong dari dekat bagian tengah lapangan, mengerutkan dahinya dengan tidak senang. Rollo juga melihat ke arah lorong di sampingnya. Teresalisa berlari kecil ke arah mereka.

"Tolong katakan itu kepada Sorcerers wanita berbaju putih itu. Sebelum kita mengalahkannya."

"Bukankah dia itu teman kalian?"

"Bukan. Dia itu musuh yang sangat kubenci."

Setelah bergabung dengan kedua orang tersebut, Teresalisa bertanya kepada Rollo dalam bahasa Transmare.

"Apakah kalian sudah mencapai kesepakatan? Apa kau berhasil menjadikannya sekutu?"

"Sekutu katamu? Oh begitu ya, orang ini ingin menjadikanku sekutunya ya. Aku tidak mau."

"Ah…… Padahal sudah sedikit lagi, tapi Witches-sama malah menghancurkannya…… eh, tunggu? Snow Witch-sama, Anda bisa bahasa Transmare?"

Melangkahi bingkai jendela yang hancur berkeping-keping dari lorong, Cocolco melangkah ke lapangan bawah.

"……Ya ampun, ada dua orang penyihir berdiri berdampingan. Kekacauan di dunia ini sudah sangat parah ya."

Sambil menyentuh gagang pedang hiasan yang tergantung di pinggangnya, ia mulai berjalan ke arah para Witches di lapangan yang tertutup salju. Di dekat kakinya, kucing hitam itu menegakkan ekornya, dan sedikit di depannya, anjing berkepala dua berjalan mendahului. Keledai hitam yang tulang kepalanya terekspos, melewati bingkai jendela di belakang Cocolco dan mendarat di atas salju.

Sihir bawaan "Summoner" Cocolco Luka "The Band" memanggil Magical Beast dengan mengorbankan para pendosa ke dalam peti mati.

Pemanggilan yang mengkonsumsi mana dalam jumlah besar ini biasanya hanya memungkinkan satu orang untuk memanggil satu Magical Beast saja. Cocolco, yang bisa memanggil dan membawa tiga Magical Beast sekaligus, menunjukkan bahwa dia adalah penyihir tingkat tertinggi.

"──Ayo bersiaplah. Aku datang, atas kehendak Naga."

Menerima tekanan yang tak terlukiskan dengan kata-kata dari depan, kaki Rollo gemetar ketakutan.

Ia bisa merasakan kekuatan yang luar biasa yang menggetarkan kulitnya. Padahal ia tidak seharusnya bisa merasakan sihir, tapi ia bisa tahu bahwa Summoner dan Magical Beast yang berhadapan dengannya itu memiliki aura yang aneh. Ia ingin pergi dari tempat ini. Ia ingin segera melarikan diri. Peringatan bahaya dalam diri Rollo sebagai seorang pembunuh bayaran berbunyi nyaring.

Rasa takut adalah sinyal. Itu adalah naluri bertahan hidup yang mengatakan agar tidak melangkah lebih jauh dari ini jika ada sesuatu yang mengancam nyawa. Namun Rollo mengatur napasnya dan melawan sinyal ini. Ia dengan bodohnya mengisi hatinya dengan kemarahan dan kebencian, menekan rasa takutnya. Wanita yang ada di depannya adalah orang Amelia, negara yang telah merebut negaranya. Dia adalah teman dari orang-orang yang telah membunuh tuannya dan memamerkan kepalanya. Aku akan mengalahkannya, aku akan mengalahkannya, aku akan mengalahkannya di sini……!

Di samping Rollo yang membangkitkan semangatnya dengan kapak perang di tangan, Funnel berseru.

"……Tidak mungkin. Mengapa ada anjing berkepala dua di sini?"

"……? Apakah Anda mengetahuinya?"

"Itu adalah anjing yang seharusnya dipelihara di alam baka. Anjing buas yang mempermainkan jiwa-jiwa orang mati yang jatuh. Karena dia menyalak dan memanggil kembali jiwa-jiwa itu, orang mati akan terus terbakar dalam api penyucian selamanya."

"Hmph," Teresalisa mendengus, menunjukkan ketidaksukaannya.

"Menguasai mitologi agama lain. Agama Lucy benar-benar terlalu sombong."

"Setidaknya saya rasa, lebih baik jangan mendekati kucing itu. Kepalanya akan terbelah dan memangsa manusia. Keledai itu, setelah dia meringkik, tulang leher orang di sekitarnya akan patah. Apakah itu juga semacam sihir?"

"Magical Beast tidak menggunakan sihir."

"Magical Beast tidak menggunakan sihir."

Funnel dan Teresalisa secara bersamaan menjawab pertanyaan Rollo. Teresalisa kemudian melanjutkan.

"Sihir adalah hasil dari mengolah atau mengubah mana dan menjadikannya sebuah teknik. Magical Beast tidak memiliki pengetahuan seperti itu. Mereka hanya memancarkan mana berlebih yang ada dalam tubuh mereka secara paksa. Aku tidak tahu mengapa keledai itu dengan gigih mengincar leher."

Teresalisa memelototi keledai itu.

"Hanya saja, meskipun aku bisa melihat aliran sihir yang hanya mengincar leher itu, kekuatan keledai itu terlalu kuat sehingga tak bisa sepenuhnya ditahan. Menggunakan April sebagai perisai……? Apa pun itu, ini pasti akan sangat merepotkan."

"Sulit untuk membunuhnya. Seingatku Magical Beast tidak bisa dibunuh."

"Iya. Strategi untuk mengalahkan monster panggilan bukanlah dengan membunuhnya."

"Lalu…… apa yang harus kita lakukan?"

"Membunuh pemanggilnya."──Kali ini pun kedua Witches berbicara serentak.

"……Apakah kita bisa menang?"

Menjawab pertanyaan Rollo yang bergumam ketakutan, Teresalisa menyunggingkan senyum jahat.

"Aku akan memberitahumu, mengapa orang-orang Agama Lucy itu takut pada Witches."

"……Apakah Snow Witch-sama juga akan ikut bertarung?"

Rollo bertanya lagi. Funnel menatap Cocolco sambil memegang pedangnya.

"Selama 43 tahun ini, ada banyak prajurit yang mencoba membunuhku, namun kalian adalah orang gila pertama yang mencoba membawaku keluar dari kastil ini. Seperti yang kau bilang, negosiasi ini sia-sia karena aku tak punya niat untuk keluar dari kastil ini. Namun untuk menghargai usahamu, baiklah. Aku akan mengizinkanmu bertarung bersamaku sekali ini saja."

Udara di sekitar menjadi semakin dingin. Funnel melirik Rollo sekilas.

"Ini janji ya? 'Black Dog'. Setelah kita mengalahkannya, selanjutnya kau harus bertarung denganku. Itulah syaratnya. Jika kau mau memberikanku kematian yang gagah berani──Snow Witch akan meminjamkan kekuatannya."

"……Tentu saja. Mari kita berjanji."

Rollo memeriksa rasa sakit di tubuhnya. Luka di bahu kanannya dan tulang rusuknya yang retak. Tidak apa-apa. Ia sudah terbiasa dengan rasa sakit. Rollo melempar kapak perangnya ke depan wajahnya dan menangkapnya dengan mudah. Tubuhnya bisa bergerak. Lagipula, ada dua Witches yang ditakuti oleh para Sorcerers yang berada di sisinya. Tak ada yang lebih menenangkan daripada ini.

Anjing berkepala dua melompat ke arah kiri depan. Mulutnya terbuka lebar, air liur menetes saat mendekat.

Tak lama kemudian, dari arah kanan depan, kucing hitam berlari mendekat sambil melompat-lompat. Keduanya bergerak dalam lintasan yang meluas ke kiri dan kanan, berencana untuk mengepung mereka bertiga dari dua sisi──namun, seolah-olah dipukul, Funnel melompat ke arah kiri depan. Kalau begitu Rollo ke arah kanan depan. Ia menatap lurus ke arah kucing hitam itu.

Tepat saat keduanya mulai berlari──"April!!"

Teresalisa berteriak dari belakang. Seketika, cairan perak yang tumpah dari jubahnya membentuk dua sosok wanita telanjang tanpa wajah, dan masing-masing berlari di samping Funnel dan Rollo.

"Ohhh……!"

Rollo berteriak takjub melihat wanita telanjang perak yang berlari bersamanya. April adalah perisai sekaligus dinding pelindungnya.

Dari kejauhan, keledai itu meringkik dengan suara yang sangat nyaring. Suara menyedihkan yang mirip dengan isak tangis seorang pria bergema di langit bersalju. ──"Hiiiiaaaaannggghhh……!!"

Tepat pada saat itu──April melangkah maju untuk melindungi Rollo. Tulang lehernya langsung patah dengan suara Krak.

"Ah, April!"

Rollo tanpa sadar berteriak saat menyaksikan pemandangan itu di depan matanya. Dia adalah sosok roh. Dia tidaklah hidup. Namun, melihat wujud pengorbanannya yang runtuh saat menjadi tameng untuk dirinya membuat dada Rollo sesak.

"Nnyyyaaaaannnngghhh……!!"

Rollo menghindari kucing hitam yang kepalanya terbelah dan tentakelnya menyebar dengan gerakan roda yang tidak menyentuh tanah──koprol di udara sambil terus berlari. Yang dia incar bukan Magical Beast, melainkan pemanggilnya──Cocolco.

Saat mendarat, Rollo melirik sekilas ke arah Funnel. Anjing berkepala dua itu lebih buas dan agresif daripada kucing. Karena terus dihalangi, Funnel berhenti berlari dan mendecakkan lidahnya karena kesal.

Namun selama Funnel menahannya, anjing berkepala dua itu tidak akan bisa mendekat ke arah Rollo. Rollo memperbaiki genggamannya pada kapak perang dan bersiap menyerang Cocolco──tetapi di belakang Cocolco, keledai itu mengarahkan moncongnya pada Rollo.

"Tunggu Black Dog, April masih……!"

──Lehernya patah dan tidak kembali seperti semula. April, yang sebelumnya berlari bersama Rollo, tergeletak di samping kucing hitam yang membuka tentakelnya. Terkapar di atas salju dengan leher terpuntir.

Saat ini Rollo tidak punya perisai──.

Tapi Rollo tidak menghentikan langkahnya. Tengkorak keledai itu tak punya mata, tapi Rollo merasa makhluk misterius itu sedang menatapnya lekat-lekat. Sambil berlari, bulu kuduknya merinding ngeri. Aura jahat yang datang lurus dan langsung menerpanya. Keledai itu mengangkat moncongnya tinggi-tinggi dan meringkik.

"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"

Rollo terus berlari tanpa mempedulikannya. Ia yakin lehernya akan dipelintir──karena itulah ia berlari lurus menerjang ke arah keledai tersebut. Rollo tidak dapat melihat sihir. Namun, ia tahu bahwa keledai itu mengincar leher. Ia telah melihat berulang kali prajurit Varsia yang lehernya dipelintir di depan matanya. Leher mereka selalu diputar setengah putaran berlawanan arah jarum jam──kalau begitu.

Ia memperhitungkan saat yang tepat ketika lehernya mulai dipelintir oleh kekuatan supernatural, lalu melompat dengan menendang tanah sambil berlari. Lehernya akan diputar ke belakang setengah putaran. Kalau begitu ia hanya perlu melakukan hal yang sama──memutar tubuhnya setengah putaran di udara.

Leher Rollo yang dipelintir itu hanya berputar mengikuti tubuhnya yang berputar di udara, lalu ia mendarat tanpa ada luka sedikitpun. Lehernya masih menyambung di tubuhnya. Kakinya bergerak. Nyawanya masih ada.

"……Bercanda kan?"

Teresalisa, yang menyaksikan seluruh kejadian saat Rollo menghindari putaran leher keledai itu, membelalakkan matanya dan bergumam. Ia tak menyangka ada cara penanggulangan seperti itu.

"Haha. Hebat sekali 'Black Dog'." Funnel, yang sedang meladeni anjing berkepala dua, juga tertawa gembira melihat gerakan Rollo. "Pria yang bertarung denganku memang harus seperti itu."

Rollo tidak menghentikan lajunya. Lawan yang ia tuju untuk diayunkan kapaknya adalah Cocolco.

Sring, Cocolco menghunus pedang dari pinggangnya. Ia menahan kapak perang Rollo dengan pedang cantik bermotif geometris itu. "……Hebat," gumam Cocolco tepat di depan hidung Rollo sambil tersenyum.

Tak perlu dikatakan lagi bahwa kapak perang adalah senjata yang berat. Kapak baru bisa menunjukkan nilai aslinya jika terus diayunkan dan momentumnya dialirkan ke bilahnya, daripada hanya ditahan atau dibalikkan arahnya. Rollo segera menarik kapaknya, memutar lengannya dengan kuat, lalu mengayunkannya dari bawah untuk membacok ulu hati Cocolco.

Cocolco menepis kapak perang itu dengan pedangnya, mengubah arah ayunannya.

Rollo tak berhenti. Ia membalikkan pergelangan tangannya, memutar lengannya, dan terus mengayunkan kapak perangnya seolah sedang menari──namun, alih-alih menahan kapak yang berayun kencang itu dengan pedangnya, Cocolco memukul pergelangan tangan Rollo dengan punggung tangan kirinya pada saat yang tepat, sehingga mematikan momentum serangannya. Selain itu, dengan tangan kirinya yang telah diputar balik itu, ia mencengkeram pergelangan tangan Rollo yang memegang kapak dan memelintirnya ke atas.

"……!"

"Rentang gerak lengan kananmu lebih terbatas dibanding kiri. Kau terluka, ya."

Ini adalah kontak fisik kedua dengan Cocolco. Pertarungan singkat itu telah mengungkap luka di bahu kanannya.

Rollo menjatuhkan kapaknya dari tangan kanannya yang dicengkeram Cocolco. Ia melihat pandangan Cocolco tertuju pada kapak yang jatuh itu──mengamati celah itu, ia mencabut pisau belati dengan tangan kirinya yang bebas dan menusukkannya. ──Tetapi, tipuan kecil seperti ini tentu saja tidak akan berhasil mengenai Cocolco. Cocolco telah menangkis pisau tersebut dengan pangkal pedang hiasannya. Pada saat bersamaan, ia menepuk pundak Rollo dan mendorongnya menjauh.

Jarak pun tercipta di antara keduanya.

Dari jangkauan pisau belati, kini jarak mereka tepat untuk mengayunkan pedang.

Situasi berbalik. Kini giliran Rollo yang harus menerima dan menangkis pedang Cocolco.

──Dia hebat.

Melihat cara Cocolco menggerakkan tubuhnya, jelas bahwa ia sangat ahli dalam pertarungan jarak dekat. Walaupun menyandang gelar "Summoner", sebuah peran yang sangat identik dengan barisan belakang (pendukung), kemampuan pedangnya sebagai barisan depan (penyerang) tak tertandingi.

──Dia cepat. Tapi, tidak sampai tak bisa diikuti oleh mata.

Fakta itu memberi Rollo rasa percaya diri. Sambil menangkis pedang Cocolco dengan pisau belatinya, ia bisa merasakan inderanya semakin tajam. Entah karena adrenalinnya memuncak setelah baru saja melewati batas kematian akibat putaran leher keledai itu──meski tubuhnya terus bergerak, pikirannya tetap sangat tenang. Sambil menangani serangan pedang Cocolco, Rollo terus mengawasi gerakan keledai. Pandangannya selalu waspada pada apakah makhluk itu mengarahkan pandangannya ke arahnya dan bersiap untuk meringkik.

"Hah…… hah. Hah……──"

Pada saat yang sama, ia menangkap sosok kucing hitam di sudut pandangannya. Kucing hitam yang kepalanya telah terbelah itu, kini ditekan oleh April yang lehernya patah, gerakan kucing itu terkunci. Dan di arah yang lain, April kedua yang sebelumnya berlari bersama Funnel, menahan anjing berkepala dua dengan tubuh peraknya yang sedang digigit hancur.

Funnel tidak ada di sana. Di saat Teresalisa mengendalikan kedua April dan menghentikan pergerakan anjing dan kucing, tentu saja tujuan Funnel adalah──.

"──Kihhh."

Tepat di telinga Cocolco, Funnel tertawa kegirangan.

Sosoknya berada tepat di belakang Cocolco yang sedang beradu pedang dengan Rollo. Detik berikutnya, hawa dingin yang tak wajar muncul berpusat di sekitar Funnel──krek krek, pakaian dan pedang hiasan Cocolco mulai diselimuti embun beku.

Sihir bawaan Funnel, "Preserved Flower", membekukan segala sesuatu yang disentuh oleh energi sihirnya. Funnel menempelkan telapak tangannya di pinggang Cocolco. Energi sihir yang sangat padat dan dingin langsung dihempaskan ke tubuhnya. Hawa dingin yang membekukan itu membuat napas Cocolco tercekik.

"Uhk……!"

Hanya sesaat. Cocolco tersentak dan mundur mewaspadai Funnel.

Rollo tak melewatkan kesempatan itu. Ia menggenggam erat pisaunya dan melangkah maju.

──Bisa. Aku bisa membunuhnya……!

"Mirror Witch" dan "Snow Witch"──Jika kedua orang ini bersama, pedang pun bisa mencapai tubuh salah satu dari Sembilan Rasul.

Rollo sudah tidak ragu lagi untuk membunuh. Ia telah mengetahui rasa sakit dari tangisan kehilangan. Ia tahu kebodohan dari sebuah keraguan. Mengambil langkah sebanyak langkah mundur Cocolco, ia mengayunkan pisau belatinya dengan satu tebasan horizontal.

Ujung pisaunya merobek tenggorokan Cocolco. Untuk memastikan kematiannya, Rollo melangkah maju satu langkah lagi, dan sambil mencengkeram bahu Cocolco dengan tangan kirinya yang terjulur, ia menusukkan pisau di tangan kanannya ke tubuh Cocolco. Menghindari tulang dada, dari bawah tulang rusuk, dengan pasti merobek organ dalam dan membidik jantungnya.

Tubuh Cocolco melonjak hebat.

Darah segar tumpah dari perutnya yang sobek, mewarnai salju di kakinya menjadi merah.

Rollo yang menusukkan pisaunya ke tubuhnya merasakan detak jantung yang semakin melemah dengan tangan kanannya yang menggenggam pisau. Dug, dug, dug──……

Tak lama, suara detak jantung itu pun menghilang, dan pedang hiasan yang ia genggam terlepas dari tangannya.

"Hah…… Hah…… hah……"

Tubuh Cocolco yang lemas, ditidurkan telentang oleh Rollo di atas salju yang merah oleh darah.

Darah segar yang tumpah dari lehernya yang kecokelatan bahkan menodai pakaian putih murninya menjadi merah. Lehernya dirobek, jantungnya ditusuk, dan ia pun mati. Rollo benar-benar merasakan detak jantungnya telah berhenti. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di wajahnya yang terbaring itu. Mata putihnya terbuka tipis tanpa ekspresi, menatap kosong ke langit yang terus menurunkan salju.

"Hah…… hah, hah. Berhasil……──"

Berdiri di samping Cocolco yang terbaring, Rollo menatap tangannya sendiri. Sarung tangan yang menggenggam pisau belati itu basah oleh darah Cocolco. Sensasi merobek tenggorokan dan mengoyak organ dalam masih tertinggal di ujung jarinya.

"……Kita berhasil. Satu dari Sembilan Rasul──"

Rollo yang menoleh ke arah Teresalisa menghentikan kata-katanya.

Ada kejanggalan yang tak terlukiskan. Di antara Rollo dan Teresalisa masih ada kucing hitam tadi, menggeliatkan tentakel dari kepalanya yang terbelah untuk menelan April. Sementara itu, di arah lain, anjing berkepala dua yang sedang menggigit hancur April, melolong menggelegar ke langit yang diselimuti awan tebal.

"Awooooooouu……! Awooooooouuuu……!"

"……?"

Rollo menyadari bahwa angin kencang yang tadinya menderu di lapangan bawah telah mereda tanpa ia sadari. Awan yang berputar di langit yang ia tatap, tampak memiliki lubang di tengahnya yang memperlihatkan langit biru yang cerah. Cahaya matahari yang hangat memancar masuk melalui lubang itu.

Pemandangan yang tidak masuk akal. Suara angin menghilang, dan di lapangan bawah yang penuh keheningan itu terdengar lolongan anjing berkepala dua.

"Oooooooun……! Ooooooooooun……!"

──Bagaimana caranya makhluk-makhluk ini menghilang……?

Pertarungan masih belum berakhir.

"……Setiap kali mati, ia bersukacita, dan setiap kali hidup kembali, ia bersedih──"

Suara Cocolco terdengar di belakangnya.

"Black Dog……!"──teriak Teresalisa yang merasakan bahaya.

Bersamaan dengan saat Rollo berbalik, perutnya disayat mendatar dengan satu tebasan dari pedang hiasan yang diayunkan.

Rollo mundur terhuyung-huyung, menekan perutnya dengan tangan. Rasa sakit tajam yang tak tertahankan. Darah segar tumpah dari tangannya yang menekan, dan berceceran di atas salju. Mengapa──Di tengah keterkejutan yang melebihi rasa sakit, Rollo mengangkat kepalanya.

"……Aku tak punya jalan keluar. Selama dunia masih menginginkanku, selama kejahatan merajalela di dunia, aku akan terus hidup kembali. Aku akan menerimanya. Jika ini juga merupakan kehendak Lucy-sama──"

Di sana berdirilah Cocolco yang pakaiannya berwarna merah kotor oleh darah. Ia seharusnya telah memastikan bahwa Cocolco benar-benar mati. Namun, Cocolco berdiri menggenggam pedang hiasannya dengan wajah tenang seolah tak terjadi apa-apa.

"──Atas kehendak Naga."

"……Bagaimana bisa"

Seketika terdengar ringkikan keledai yang memekakkan telinga.

"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"

Funnel, yang posisinya paling dekat dengan keledai itu, mendecakkan lidahnya kesal, dan tepat setelah itu──Krak, lehernya terpuntir setengah putaran.

"April……!!"

Teresalisa dengan sigap mengeluarkan April ketiga.

Wanita telanjang berwarna perak yang berdiri di depannya itu merentangkan kedua tangannya ke depan. Lengannya memanjang ke depan seperti tali yang dilempar, melilit tubuh Rollo yang terluka dan tubuh Funnel yang terjatuh. Kemudian, kedua lengannya yang menyusut itu menarik mereka berdua ke hadapan Teresalisa seolah sedang mengangkat mereka.

"Guh…… Maafkan aku, Witches-sama…… Aku, lengah."

Rollo yang berlutut itu bernapas terengah-engah. Luka di perutnya terlalu dalam. Seumur hidupnya, Rollo tak pernah terluka separah ini. Darahnya tak mau berhenti mengalir. Jika ia melepaskan tangan yang menekan luka ini kuat-kuat, ususnya mungkin akan keluar──ketakutan seperti itu menguasai dirinya.

"Kau tidak apa-apa?"

Ditanya oleh Teresalisa, Rollo pun mengangguk. Dia sama sekali tidak baik-baik saja, tapi ada orang yang terluka lebih parah darinya terkapar di sebelahnya. Funnel yang tulang lehernya patah.

"Aku…… Lebih baik dariku, Snow Witch-sama……"

"……Jangan cemas, 'Black Dog'."

Di luar dugaan, Funnel berdiri tegak meskipun tulang lehernya patah. Ia memegang lehernya sendiri dengan kedua tangannya, dan seolah mengerahkan tenaga dari dalam, ia memutarnya kuat-kuat hingga berbunyi krak untuk mengembalikannya ke posisi semula.

"……Ehhh?"

Funnel juga hidup kembali seperti Cocolco. Rollo semakin bingung.

"Kalau aku bisa mati hanya dengan luka ringan seperti ini, aku takkan bisa terus bertarung melawan Varsia selama 43 tahun."

Funnel berlutut di depan Rollo dan menyingkirkan tangan Rollo yang berada di perutnya.

Pakaiannya robek dan basah oleh darah yang terus mengalir. Funnel meletakkan tangannya di atas luka tersebut dan menempelkan hawa dingin seolah membalutnya dengan sihir. Berderak──disertai dengan hawa dingin yang mencekik, embun beku turun menutupi luka dan area sekitarnya, Rollo pun menahan rasa dingin itu.

Tak lama, rasa sakit di perutnya mereda seakan mati rasa karena hawa dingin.

"……Hebat. Apakah ini sihir penyembuhan?"

"Bukan. Aku hanya membekukannya untuk menghentikan pendarahan. Begitu sihirnya hilang, kau akan mati. Sama sepertiku."

Funnel tersenyum pada Rollo.

Alasan Funnel tidak terluka juga sama. Karena ia terus menghentikan berjalannya waktu pada dirinya sendiri, semua kerusakan yang diterimanya selama 43 tahun ini juga berhenti tepat saat ia menerimanya. Jika ia melepaskan sihirnya, atau jika ia meninggalkan kastil ini──meninggalkan tempat mana spot ini, suplai mana akan terhenti dan ia takkan bisa terus menggunakan sihirnya. Saat waktu yang membeku mulai berjalan kembali, semua kerusakan yang terakumulasi di tubuhnya akan terjadi secara bersamaan. Selama 43 tahun, luka yang diberikan oleh prajurit Varsia akan terbuka kembali, dadanya akan tertembus tombak terbakar yang sama, tulang lehernya patah, dan ia akan mati.

"……Hah. Kalau begitu, apakah aku tak akan bisa keluar dari kastil ini?"

"Sebaliknya, selama kau berada di kastil ini, kau bisa terus bertarung melawannya."

Funnel berdiri dengan pedang di tangannya. Menatap Cocolco yang berlumuran darah.

Ia sedang mengelus kedua kepala anjing yang berlari kembali padanya.

"……Alasan dia hidup kembali adalah karena anjing berkepala dua itu. Dua lolongan itu memanggil kembali jiwanya yang sedang menghilang."

Funnel menatap langit. Lubang yang sebelumnya terbuka di awan tebal itu sudah tertutup lagi. Angin yang sempat berhenti juga kembali bertiup, dan salju pun menari-nari. Seolah pemandangan tadi hanyalah mimpi, lapangan bawah kembali tertutup badai salju yang suram.

Funnel tersenyum tipis, dan bergumam pelan dalam bahasa Varsia.

"……Apakah kami berdua bersaudara seharusnya memanggil anjing, bukannya naga dari negeri asing?"

"Untuk saat ini. Kita putuskan nanti bagaimana menangani lukamu itu."

Teresalisa juga memelototi Cocolco yang bangkit dari ambang kematian.

"Pertama-tama, kita harus mengalahkannya."

"Sekali lagi…… apakah kita bisa menang? Melawan seseorang yang hidup kembali meskipun sudah dibunuh."

"Tentu saja kita bisa menang," ujar Teresalisa santai pada Rollo yang telah berdiri.

"Benar, kita bisa menang," Funnel juga tersenyum memperlihatkan giginya.

"Melihatnya hidup kembali dengan mudah membuatku kesal. Ini mulai menyenangkan!"

"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"

Ringkikan keledai itu memekakkan telinga.

Wanita telanjang perak yang muncul di depan Funnel yang sedang berlari──April, lehernya dipelintir dan roboh ke tanah. Namun sekarang, April yang muncul bukan hanya satu. Sebuah teknik kasar yang hanya bisa dilakukan dalam pertempuran di mana sumber sihir bisa terus-menerus diserap tanpa henti dari tempat yang dipenuhi energi mana (mana spot)──Teresalisa mengendalikan enam sosok April untuk bergerak secara bersamaan. Sekarang, tersisa lima.

Dia tak bisa menggerakkan semuanya dengan rumit seperti mengayunkan sabit, namun sekadar menyuruhnya lari dan menjadikannya tameng sangatlah mudah. Teresalisa mengepung anjing berkepala dua yang berlari mendekat itu dengan tiga sosok April. Para April yang saling berpegangan tangan membentuk lingkaran ini melebur jadi satu dan berubah menjadi sebuah kurungan.

Pada kucing hitam yang berlari mengikuti di belakang anjing, dua tubuh April yang tersisa melemparkan diri dan menimpanya. Ini juga akan berubah menjadi kurungan perak.

──Setidaknya kita harus melakukan sesuatu terhadap anjing berkepala dua itu.

Sesaat sebelum Funnel berlari bersama April, Teresalisa mengatakan hal tersebut kepada Rollo.

"Sangat tidak berguna jika setiap kali anjing itu menggonggong, sang pemanggil akan bangkit kembali. Namun kita juga tidak bisa membunuhnya."

"Lalu…… apa yang harus kita lakukan?"

"Karantina."

Membuat kurungan dari tiga tubuh April untuk mengurung anjing berkepala dua, dan menggunakan sisa dua tubuh untuk membuat kurungan guna mengunci pergerakan kucing hitam. Namun kekuatan monster panggilan tidak bisa diukur. Kurungan semacam itu mungkin akan segera hancur lebur oleh kekuatan monster.

Tapi tak apa──kata Teresalisa. Asalkan mereka bisa mengulur sedikit waktu untuk mendekati sang Summoner Cocolco.

"Penyihir tipe pemanggil biasanya takkan pernah maju ke baris depan pertarungan. Ketakutan terbesar mereka adalah jika sang pemanggil itu sendiri diserang, suplai energi sihir ke monster panggilannya akan terputus, sehingga monsternya akan lenyap. Monster panggilan adalah senjata bagi sang pemanggil──"

Namun, pengecualian berlaku bagi Cocolco yang merupakan satu dari Sembilan Rasul. Terkurungnya sang monster panggilan tidak akan membuatnya panik hingga bersembunyi. Justru karena pergerakan monsternya dihentikan, dia sendirilah yang akan maju. Hal tersebut dikarenakan, ia juga mampu bertarung secara maksimal meski tanpa monsternya sekalipun.

"Jika kita ingin menyerang, di situlah letaknya."

Teresalisa menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.

Sesaat setelah anjing berkepala dua dan kucing hitam terkurung di dalam kurungan──sesuai dugaan, Cocolco bergerak dengan pedang hiasan di tangannya. Dia menerjang lurus ke arah Teresalisa. Rollo berlari menyongsongnya dengan pisau belati di tangannya.

Di sisi kiri, anjing berkepala dua itu menggonggong. Di sisi kanan, kucing hitam dengan kepala terbelah menampakkan diri. Keduanya masih terkurung dalam kurungan perak, membuka mulutnya lebar-lebar ke arah Rollo dan meronta-ronta dengan beringas. Di antara dua kurungan itu, Rollo dan Cocolco saling beradu pedang. Ini adalah pertarungan jarak dekat mereka yang ketiga kalinya hari ini. Rollo mundur sambil menangkis bilah pedang berhias itu.

──"Sementara kau meladeni Summoner itu, aku akan mengurus keledai ini."

Benar saja, Funnel yang berlari telah melewati Cocolco dan berhadapan langsung dengan keledai.

"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"

Di belakang pertarungan sengit antara Rollo dan Cocolco, sang keledai melontarkan ringkikannya ke arah Funnel.

──Apa kau yakin? Teresalisa bertanya pada Funnel sebelumnya untuk memastikannya.

"Para April digunakan untuk membuat kurungan, jadi aku tak bisa membuat tameng untukmu lho?"

"Tak butuh," sahut Funnel mengangkat hidungnya dengan bangga.

"Aku takkan langsung mati meski leherku terpelintir. Tentu saja, aku tak ingin mengalaminya…… Namun, aku juga ingin mencobanya."

"……Mencoba apa?"

Funnel menghadapi langsung ringkikan sang keledai. Tepat pada saat lehernya terpelintir akibat kekuatan sihir yang kuat itu──ia menendang tanah dan melompat, memutar tubuhnya hingga berputar di udara dengan arah yang sama dan sebanyak putaran lehernya yang terpelintir. Ia meniru persis cara Rollo menghindari serangan mematikan itu.

"……Bagaimana dia bisa melakukannya."

Teresalisa tercengang melihat semangat bertarung Funnel yang melompat kegirangan karena berhasil menghindar.

Beberapa detik kemudian, hal tak terduga pun terjadi. Sang keledai mengarahkan hidungnya dari Funnel ke Rollo. Lalu ia meringkik ke arah Rollo yang sedang beradu pedang dengan Cocolco.

"Nngghhhhaaaaaaaaaagh……!!"

Secara spontan, Teresalisa menggerakkan April.

Yang dia gerakkan adalah April yang pertama kali melindungi Funnel dari ringkikan, yang tulang lehernya patah sebelumnya. April, yang secara kebetulan terbaring di dekat Rollo, dibangkitkan dan dijadikan perisai baginya. Kepalanya, yang sudah separuh terpelintir itu, dipelintir lagi sejauh satu putaran penuh.

Perhatian Rollo teralih pada sekejap saat kejadian itu berlangsung. Bagian punggung tangannya yang menggenggam pisau belati itu dipukul oleh gagang pedang hiasan, dan membuat pisaunya terjatuh.

"Ugh……!"

Kehilangan senjatanya, tangan kosong Rollo pun tak berdaya ketika pedang Cocolco menyerangnya──namun di saat yang sama. April yang tulang lehernya telah dipelintir dua kali dan hampir tersungkur lagi ke tanah bersalju itu mengubah bentuknya.

"Black Dog……!"

April membentuk bayangan dan bentuk apa saja yang telah diingat oleh Teresalisa melalui penglihatannya. Apa yang kini digenggam Rollo adalah pedang berkilauan berwarna perak. Pedang aneh itu dipenuhi dengan duri-duri belah ketupat yang berjejer di kedua sisi bilahnya. Teresalisa pernah melihat bentuk ini di Kerajaan Lowe. Ia ingat sosok Rollo saat ia menggunakan senjata ini dalam pertarungannya. Pada saat ia mengayunkan tangannya, pedang ini dapat memanjang secara seketika. Nama senjata mematikan dan mengerikan yang berubah bentuk menyerupai lipan ini adalah──.

"……'Centipede Whale (Scolopendra)'!"

Rollo mengayunkan pedangnya bersamaan dengan saat ia menggenggamnya.

Bilah pedang memisah dan terbelah menjadi berbagai banyak sendi, yang dapat memanjang dan memendek ke segala arah. Kendali gerakan ini dilakukan oleh Teresalisa. Meskipun tak tahu menahu tentang mekanisme atau cara kerja dari bagian dalam pedang tersebut, namun ia mereproduksi gerakan lintasan dari pedang Scolopendra yang diingatnya sesuai dengan pergerakan tangan Rollo.

Rollo kembali melanjutkan pertarungannya. Sambil menangkis serangan pedang Cocolco dengan pedang Scolopendra, ia perlahan melangkah mundur. Mengalihkan perhatian Cocolco pada pedang itu sambil membimbingnya menuju jebakan yang disembunyikan Teresalisa di bawah lapisan salju dengan sangat rahasia dan hati-hati──lalu.

Pada saat Teresalisa mengangkat tangannya, cairan perak yang merambat di bawah kaki Cocolco mendadak terangkat tinggi dari arah luarnya, membentuk kurungan berwarna perak. Rollo, yang sudah tahu jebakan tersebut, langsung salto ke belakang, lari keluar dari jebakan kurungan, tapi Cocolco justru berada tepat di tengah-tengahnya. Kisi-kisi perak yang terangkat tersebut menyekapnya dari berbagai arah.

"Ohhh……"

Namun, sebelum jeruji besi itu menutup langit-langitnya──tepat sebelum kandang burung raksasa dari perak itu selesai terbentuk, Cocolco menekuk lututnya untuk meloloskan diri dari sekapan. Sambil mengalirkan kekuatan sihir ke dalam kakinya, ia melompat setinggi-tingginya lurus ke atas.

Sudah diduga. Tujuan utama yang dituju Rollo untuk memancing Cocolco tersebut, ada di sana. Tepat di atas udara ruang kandang burung itu──.

──"Jadi, saat itulah Witches-sama……"

Sembari mengecek kembali rencananya, Rollo memanggil Funnel dengan panggilan itu, namun Teresalisa juga dipanggil dengan nama yang sama, yakni "Witches-sama". Karena kedua penyihir itu memandanginya tajam, ia segera mengoreksinya dengan gugup: "Maksud saya, Snow Witch-sama yang──."

Mendengar itu, Funnel mencibir dan menyunggingkan bibir seolah merasa kesal. "Aku tak suka disebut Witches, itu bukanlah sesuatu yang aku inginkan."

"Lalu harus kupanggil apa?"

Ketika ditanya, Funnel merenung sejenak, lalu memasang ekspresi sendu di wajahnya.

"Orang-orang yang dulu memujaku biasa memanggilku Neru."

──Sekarang.

"Neru-sama……!!"

Neru sudah terhempas ke udara. Di waktu yang bersamaan dengan lompatan Cocolco, ia mendadak berada di dekatnya. Menghimpun sihirnya ke dalam pedang yang dihunusnya, seraya mempersiapkan tebasannya. Udara membeku di sekitar Neru. Menjadi semakin dingin. Bongkahan sihir yang membekukan yang ia tembakkan pada Teresalisa di tangga melingkar, kini ia hunjamkan pada Cocolco di tengah udara.

"……Oh begitu, pantas diacungi jempol. Snow Witch."

"Kau ini memang sombong. Padahal lebih lemah dariku ya? Dasar Sorcerers!"

Cocolco menahan serangan itu dengan menghadang menggunakan pedang berhiasnya secara vertikal. Akan tetapi hantaman serangan dari atas udara itu terlalu keras untuk di tahan. Cocolco pun terpelanting terkena sihir yang membekukan itu dan menabrak melalui kaca besar yang terletak pada tingkat dua dari istananya.

Suara pecahan bergema diiringi hujan kepingan serpihan yang melayang jatuh membasahi taman bagian bawah.

Setelah mencapai landasan daratan, secara secepat kilat Neru menghimpun sihir kakinya dan dengan lincah mengejarnya kembali. Ia melompat menuju bagian tingkat dua kastil dimana Cocolco baru saja tertabrak ke dalamnya.

Anjing kepala dua telah menghancurkan sangkar yang mengurungnya lewat cara melahap jaring kurungan berwarna perak, hingga akhirnya melompat menuju ke kebebasan dari ikatan. Tetap saja tugas sangkarnya sudah selesai, yang bertujuan buat merenggangkan posisi antara penyihirnya dengan sosok monster panggilannya tersebut, merupakan sasaran intinya. Teresalisa segera bergegas beralih untuk menempatkan bidikan penyelesaian dengan tujuan melakukan serangan berkelanjutan dan membiarkan para monster-monster di luaran. Sembari di saat ini sama pula berdiamnya ia melayangkan dan mengeksekusi sambaran panjangan dari sabetan ke bagian atas ke tempat yang telah pecah tersebut menggunakan senjata jenis Scolopendra. Melalui operasi Teresalisa, senjata dari pedangnya melenting dengan mengulur jauh menjulang di bagian tingkat dua tersebut.

──Kita yang akan mengalahkan Summoner.

Begitu ujar Rollo kepada Gerda. Berlindunglah di tempat yang aman.

Apa yang terjadi sekarang ini, merupakan duel pertempuran antar jenis di antara si Witches beserta lawannya si Sorcerers dan kekuatannya. Seseorang dari Gerda sendiri ini tidak menyandang kemampuannya akan beresiko menghalangi pastinya. Tetapi akan wanita-wanita berkebangsaan Varsia ini, yang berlindung hanya sebagai tindakan pengecut semata saja. Bagi perempuan yang berasal dari negara dan masyarakat bagi di sana dari dalam suatu wanita Varsia, itu pastinya dari dalam sebuah penghinaan diri dan akan suatu cemoohan pada sebuatannya di antaranya adalah dari pengecut.

"Kau bilang Ahli Item tanpa perlengkapan item? Jangan mengejekku!"

Bersembunyi di balik tiang sudut lorong dan memastikan kepergian Cocolco bersama monster-monsternya ke lapangan bawah, Gerda kemudian bergegas lari menuju ruang tamu.

Gerda telah menyiapkan berbagai macam item untuk ekspedisi penaklukan ini. Sayangnya, ransel hijau tuanya yang penuh dengan peralatan itu tertinggal di ruang tamu. Kata-kata Rollo memang benar—Ahli Item tanpa item hanyalah beban. Itulah sebabnya ia kembali untuk mengambilnya, agar bisa ikut bertarung.

Di sepanjang lorong yang tadinya ia lewati bersama Rollo, Gerda berlari seorang diri menuju ruang tamu. Ruangan berlapis karpet merah itu kembali diliputi kesunyian. Asap dari bola bau sudah menghilang, tetapi aroma busuk yang menyengat masih sedikit tercium, membuat Gerda berkerut.

──Maaf ya, Kai. Meninggalkanmu di tempat seperti ini.

Sebelum mengambil ranselnya yang tergeletak di dekat pintu masuk, Gerda terlebih dahulu menghampiri tubuh Kai. Kai masih dalam kondisi mengenaskan setelah lehernya dipelintir keledai, ia terbaring di atas karpet merah dengan memegang erat busur panjangnya.

Gerda berlutut di sisinya. Dengan jari-jari yang gemetar, ia menyentuh rambut hitam Kai dan dengan hati-hati memutar kembali lehernya yang terpelintir itu ke posisi semula. Mata kirinya yang terbuka tipis memancarkan warna hitam pekat yang indah layaknya malam musim dingin yang jernih, meskipun sudah kehilangan nyawanya. Gerda meletakkan tangannya di wajah Kai dan menutup kelopak matanya.

Gerda memeluk kepala Kai dan dengan lembut membelai rambut hitam yang disayanginya.

Dengan lengan yang patah dan memegang busur panjangnya, Kai telah berjuang mati-matian hingga akhir. Gerda melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Kai mungkin takkan bisa pergi ke surga karena dibunuh oleh Magical Beast. Tapi, dengan keberaniannya itu, pengorbanannya takkan sia-sia. Gerda berniat menceritakan pertarungan dan keberanian Kai pada Snow Witch. Ia akan memohon agar dewi perang itu membawa Kai ke surga.

Dengan begitu, Gerda bisa bertemu Kai lagi. Mereka bisa hidup bahagia bersama di surga nanti.

Hanya dengan tujuan itulah Gerda bisa bertarung, dan bisa mengatasi kesedihannya.

──……Beri aku kekuatan, Kai.

Bukan ucapan "selamat tinggal", melainkan "sampai jumpa lagi," bisik Gerda seraya mengecup bibir Kai yang masih terasa lembut sebagai perpisahan terakhir.

Saat itu juga, Gerda mendengar suara langkah kaki yang berlari mendekat dari belakang dan ia pun berbalik.

Anjing berkepala dua itu berlari menyusuri lorong dan masuk ke dalam ruang tamu. Gerda langsung mengambil posisi bertahan, tetapi anjing itu tak mempedulikannya. Ia terus berlari sambil meneteskan air liur menuju lantai dua.

"……Apa? Barusan itu," gumam Gerda menatap ke arah tangga di mana anjing itu pergi.

"Ini…… ruang singgasana, ya."

Ruangan di lantai dua tempat Cocolco menerobos masuk adalah Singgasana Es.

Ruangan ini sangat luas dan bisa menampung lebih dari 500 orang. Sebuah singgasana besar dengan sandaran yang tinggi berdiri sendirian di atas panggung yang ditinggikan beberapa anak tangga. Kaca besar yang ada di belakang singgasana itulah yang pecah.

Rollo berdiri di pinggir jendela yang pecah. Ia maju ke depan singgasana dan memandangi seluruh ruangan.

Plafon di atas menjulang tinggi, dan ada koridor melingkar yang mengelilingi ruangan. Tiga bendera panjang dan sempit menggantung di pagar koridor. Bendera berwarna kuning, hijau, dan coklat tua itu dihiasi embun beku, dan ujungnya dihiasi tetesan es. Lambang rusa berbulu panjang dan perisai kayu yang mewakili klan Bjorkoe terukir di atasnya.

Dinding batu yang telanjang dan lantai batu yang ada di ruangan ini memancarkan kesan dingin yang kental.

Karpet merah yang digelar di panggung singgasana membentang lurus hingga ke pintu masuk.

Buku-buku bertebaran di sekitar singgasana, seakan-akan mengepungnya.

Angin yang membawa salju menerobos masuk dari jendela yang pecah, membuat halaman buku-buku itu terbuka bersama-sama.

Beragam buku tebal dengan sampul kulit binatang, buku bergambar besar, hingga buku khusus seperti peta, ensiklopedia, buku kedokteran, atau buku resep masakan. Banyak buku yang ditulis tidak hanya dalam bahasa Varsia tetapi juga dalam berbagai bahasa lainnya, bertebaran di sekitar singgasana, dan di tangga menuju panggung raja.

Ada banyak tumpukan buku besar dan kecil yang berbaris di samping singgasana.

Mungkin, Neru yang mengambilnya dari perpustakaan kastil. Rollo bisa dengan mudah membayangkan sosok gadis itu, duduk di singgasana besar yang seharusnya diperuntukkan bagi raja Varsia yang bertubuh besar, asyik membaca buku seorang diri di kastil yang membeku, selama 43 tahun terjebak di mana spot Kastil Danau Bjorkoe, membayangkan dunia luar dari buku-buku itu.

Di atas karpet merah yang membentang dari panggung raja──di tengah-tengah lantai, pertarungan antara Cocolco dan Neru masih berlanjut. Bunyi dentingan pedang mereka saling beradu dan menggema di lantai yang dingin itu.

"Sekaranglah waktunya. Kalau mau membunuhnya, lakukan saat dia terpisah dari anjing itu," bisik Teresalisa yang berdiri di dekat Rollo, lalu turun dari panggung raja. Ia membentuk sabit besar peraknya sambil berlari, lalu memikulnya di bahu. Ini adalah momen penentuan. Rollo membalas singkat, "Ya," lalu mengikuti Teresalisa.

Guncangan dari sihir beku Neru telah melepaskan wimple—tudung biarawati Cocolco. Rambut putih pendeknya, serta gaya mohawk dengan bentuk jambul perlahan di atas kepalanya terlihat jelas di kulit gelapnya. Gaun putihnya yang sekarang ternoda warna merah kegelapan oleh darah segar; pergelangan lengannya serta gaun bagian bawah telah sobek oleh lantaran serpihan pecahan dari kaca jendela sewaktu bentrokan terjadi. Sangat aneh karena kecepatan lincah pada kelincahannya belum melamban pula. Justru itu pergerakannya terlihat seolah jadi malah lebih meningkat dibanding waktu duel pertarungan dari depan halaman tersebut.

Sesaat dengan langkah berputar Cocolco secara sekilas menghindari tebasan Neru, Teresalisa dengan tajam menyapukan sabetan mengayun kelebaran melalui celurit perak sabit dari belakangnya. Dengan mengelak tangkisan ujung mematikan berpisau lurus itu, Cocolco sontak mendatarkan pedang bermotifnya searah horizontal kepada bumi dalam usahanya agar menikam arah Teresalisa.

Sabit lebar pada hakikatnya merupakan senjata berbidang lapang yang dapat meninggalkan banyak kelemahan di sisi ketidakselarasannya. Tepat ketika pedang akan merenggut jiwanya, seketika lintasan lurus menusuk ini bergegas dipangkaskan tajam dari mata senjata bergerigi, wujud duri aneh dari scolopendra itu. Melompat menyamping adalah Rollo untuk menggantikan barisan serang dalam posisi dari Teresalisa.

Teresalisa di baris bagian memuka itu menahan kendali buat alat dari senjata pergerakan scolopendra yang tanpa ulur kempis ini. Hanya memilik duri gigi bersiku pun adalah wujud ancam berbahaya yang cukup serius. Rollo menyergapkan pedang berdekorasi pada jeratnya dan menekan mata pedang ke sebelah dasar.

Neru memanfaatkan serangan meluncurnya di tengah dari keluwesan, namun pada akhirnya berhasil dilindungi karena dorongan tendangan alas tapakan sepatu Cocolco itu yang menyingkirkannya. Cocolco lantas segera berhasil mencabut lolosan terhadap pedang dari yang ditekan Rollo dan melancarkan tebas lintang horizontal yang mendorong rollo. Keadaan memaksa rollo kembali bergerak mengembalikan memisahnya rentang.

Dalam keterkepungan antara ketiga pengeroyoknya ia, dia Cocolco dengan perlawanan bagus berani melawan di perkelahian ini. Ia seorang Summoner bertarung sengit bahkan tak bersama keikut hadiran kekuatan binatang pemanggilnya tersebut. Pada kenyataannya, kesialan dan kecemasan terburuk sedang menyertainya juga "Tok. Tok. Tok.──"

Dalam proses aduan bertempur itu pada mulut sihir tersebut melenting mengeluarkan denting nada. Terbersit insting di pikiran Rollo.

──Dia memanggil monster.

Mungkin sekali ia melakukan rituan panggilan ini para Monster gaibnya kian akan menyusul di sisi dari posisi di takhta es ini. Seharusnya dari ketiga serempak tebas membabat sang lawan tapi teralihkan sekilas tipis dengan kehebatannya di elakannya itu.

"Sial sekali, tidak satupun seranganku yang masuk?!" Bentak kekesalan teriakan oleh ucapan dari diri Neru. "Gara-gara gerakan lambanmu, mengganggu! Pergi berkelilinglah." "Ada hambatan di selarasan gerakannya, Kita perlu menyerempakkannya dengan selarasnya." Kerjasama sembarang yang mereka coba gunakan mulai di perpecah kocar-kacir ini perlahan pudar. Hingga akhirnya juga,── "Nyaaaauunggg……!!"

Kucing Hitam muncul tiba-tiba dari bayangan kaca jendela terbuka. Melebarkan sayap kekelawar pada badan punggung dan menaiki lewat atas tebing kastil bebatuan tebing, hewan kucing tersebut turun menuju tengah ruang podium singgasana.

"Haah, itu! Itu kucing terbang!?"

Neru langsung merespon. Menyorot pandangan serta hunusan melesatkan ke seberang tepat posisi podium di titiknya, memposisi mengangkat pada titik tuju arahnya hewan kucing kelam yang mendekati. Pedang tajam berkilau melepasi sihir dan berubah mendadak beku di serakan permadani, puluhan bongkah balok-balok membeku es tertumpu pada karpet warna merah yang menjuntai itu.

Lompatan dari loncatan kucing tersebut menanjak demi melepasi halangan tebas balok balokan es dari sihir Neru tersebut. Ia lantas menanggapi serta melakukan ancang tumpu balikan untuk mengatasi pembalasan hewan dari ngerinya musuh. ──tapi, nahas bagi kenyataan. Hewan hitam lantas melewati ke arah lurus dari atas hadapnya tanpa henti.

Meliuk pada udara dengan melontarkan bukaan wujud raga, sasar dari wujud pada rentetan pemakanan atas tubuh sasarannya yakni Cocolco dirinya sendiri. "Mereka mau mencoba kabur..!" Rollo tanpa terkendali menyergah. Rollo mengetahui jelas sewaktu wujud Mother bilbery tumpah diludah keluarkan hewan hitam, yang memuat besaran ukuran volume tidak ternalar ruang besarnya padanya itu. Dengan nalurinya, hewan kelam kucing berwujud mencoba untuk lari menyingkir dengan memakan cocolco dalam memasukannya kepada mulut dalam tubuh.

Rollo jelas enggan ia melepas pergerakan untuk mangsa target ini kabur, Namun perpanjangannya dari senjatanya tertahan. Diiringi menancapkan serbuan ke kakinya ia melangkah maju di saat depan tatapannya terdapat Sabit menyembul ke sisi melesatkan leher di lehernya hewan tanpa tubuh pada kepala hewan itu. "Meeeoouuwwww……!!"

Kepala kucing tak bersuara tanpa adanya tumpahan tetes berdarah sedikit dari dari pada leher kucing tanpa wujud kepalanya ini, namun tubuh berhambur di permadani merah ini. Daripada dari tak nampak tumpahan cairan namun wujud banyak kerubutan tentakel keluar bergeliat-geliat dalam tubuh wujudnya itu. Teresalisa melakukan aksi gerakan mengayunkan sabetannya ke dasar di saat lengan sabit ia berubah bertusuk penusuk seperti kerumunan sate menyangkut dan melukai hewan tubuhnya itu merekat kuat memaku badannya di atas pada kain alas permadani.

Demi menghindari pelekatan pergerakannya hewan bertumbuh tanpa kepala memutar rentetan keluwesan geliat badannya ke penjuru, dan miau demi miau terus terkeluar dengan decakan menendangkan dan kaki-kakian yang mendepak berkelojot tak bersuara dan menyentakkannya.

"Eww betapa buruk menjijikkan……!" Teresalisa mengerutkan roman mukanya penuh menjijikkan pada bentuk tersebut, kemudian bilah mata pada sabetannya kembali menancapkan tikam melubangi sisi tubuh dari pada potongan di tengkoraknya kelam itu.

Sesaat di saat ini tersebut ── Dari di pintuan akses yang ada pada lokasi tahta beku memunculkan wujud berbadan anjing yang menampakkan sepasang mukanya anjing.

Dengan liuran mulut anjing bergongongan yang penuh decakan serang ini dengan langkah garis kelurusan dari si Cocolco.

──Tidak akan sempat!

Rollo tertegun dalam keheranan. Sesulit apapun untuk berhasil di cegat dan ditanggulkannya pertahanan tersebut tapi hasilnya berbuah penggabungan penyatuan Sorcerers dan penyatuan Magical Beast miliknya itu. Jika penyatuan terjalin tak mungkin menyelesaikannya sang penakluk si pemanggil ──padahal sedikit saja lagi, hanya satu penyelesaian kecil itu.

Di waktu di balik detik dari waktu, berlalu menyamping dari haluannya ini, berlari si Neru ke sisi buat menghadangnya lajuan dari serbuan atas musuh dari serangan hewan buas tersebut. Merentas sekelumit sekilas dan berguman di seberangan perjalan atas Rollo.

"Tidak masalah! aku dapat menghalang ini. Saya tahan dari daya bekuku!"

Aura mematikan es menyelubungi segala bagian dan sekujur sihir pelapisannya ini. Menyingsing dari serangan rahang mematikan sang musuh untuk mengincar tikaman padanya seraya berlaga ia menyerukan pada temannya.

"Sorcerers biarlah diselesaikan kau"

──Tebaslah ia, dirimu.

Sembari meresapi arti harap yang tertitip padanya dari sang wanita penyihir tersebut Rollo menggenggam lekat senjatanya secolopendra lalu mengambil hentak untuk sekelebat merapat mendekati dari dari jarak serangannya sang Summoners pada dalam Cocolco. Melesatkan jurus di tikaman secepat kilat untuk menyulut perkelahian ke titik mata. Demi membidik titik si penyihir Cocolco untuk diarahannya titik mata──ia merencanakannya tanpa tergelincir menolehkan perhatikan sekejap arah pun. Mengunci tubuh tubuh dari kelam tersebut di kuncian kucing dengan sabit yang berada pada teresalisa dan serbuan dua anjing telah beradu perlawanan untuk dilawan pada Neru. Bagian utama satu satunya penentunya hanyalah di dirinya sang Cocolco untuk penaklukannya atas tangan yang berada di tangan sosok pelakon penyerang Rollo itu.

Pada titik matanya ia tersirat dari sebuah tancap pisau tancap yang menembus kepada bagian raga badannya di hewan di dua serigala oleh neru di bagian ujung dari padanya.

Pembekuan muncul menyelimuti di sekeliling. Seluruh sirkulasi pada pembeku magi sihir dari dirinya tersedot langsung melewatinya raga dari bagian hewan melewati pisau tebasan ini yang bersambung dengan hewan dalam tujuannya buat menghalangi atas serangan anjing buas itu. Biar tanpa diselesaikan pemusnahannya hewan dalam kekangan pelambatan laju kelancaran itu adalah demi sebuah jalan halang dari pertahan pada gerak-geriknya.

"Ghhhhhuuu"

Gemeretak dari pada kertakannya pada geligi yang menyatu berpacu tekanan kuat tertembus makin terdalam tancapan kuat pedang Neru pada pedangnya. Rona dingin es mewarnai memudarkankan kelaman di corak pada kelam pada wujud dari warna hewan tersebut. Dan disaat si pada Rollo bergulat dengan serangannya pedangnya di sisi berlawanan merasakan efek dalam pada tubuh di bawah di bagian robekan perih kesakitan.

Titik sobek dalam pedih akibat pembekuan tersebut di selesaikan sihir Neru akibat hilangan beku pada sihirnya efek tersebut. Pengurangan atas di magi dan untuk digunakan pembekuan dari sihir atas anjing sehingga untuk akibatnya untuk di pembebasannya pengerangan akan pengobatan itu. Dari waktu ke waktu dari dalam sihir dari si rollo memularkan waktu yang bergulir dan pembelahan padanya itu akibat memudarkan khasiat efek pembebasan waktu dan kembali bergerakan pembuka luka waktu.

Sembari merenggut dalam dengan serbuan pada perkelahian dengan pukulan si Cocolco ini dari scolopendra secara nyatanya dirasakan si dari dalam tubuh Rollo ini perih menyayat perih dari pembuluh kesakitan. Nyerian tajaman menghujami raga. Bahu menyebelah kanan berdenyut ngilu dan nyeri serta perih retakan memilukan. Perih tertahan dada di napasan ini menghujam nafas yang sulit tertahan ini di badan namun kakinya bertahan untuk bergeraknya terus. Bertahan dalam gerakan pantang dalam menyerahnya.

──Buruan, bantai.

Di tengah situasi ini mereka dalam halang geraknya. Hanya dalam dirinya saat bisa menghambat buat penakluk Cocolco ini. Cocolco ──Summoner sang panggil saat di posisi pada mundur pelariannya tersebut.

──ia hendak kabur dan menjauh. Tadi ia dalam waktu tadi hendak melarikannya pada dan dalam perginya dari sini.

Bukti dalam kelemahannya untuk halang tersebut untuk dan kepada dalam diri musuhnya akan hal dari ancaman dari musuhnya. Dalam melihat saat menghadapi 3 pertarungan ini mungkin dari hasil dari penyerangan atas neru kepada padanya membawa dampak dari pukulan yang di tak dihiraukkannya ini bagi kelemahan pertahanan diri sihir dari dirinya. Jika ada kemungkinan jika dua si penyihir sihir ini dapat untuk membinasahkan, saat ia menghadapinya ini ini mungkin dia dapat mempertimbangkan kekalahannya ini. Ini waktu bagi peluang keemasan itu. Karena itu waktu penyelesaikannya ini waktu dan hanya bagi penyelesaian atas pembunuhan padanya itu kini. Jika dalam detik waktu di waktu dalam hal yang ke ini. Ia memaju laju dari kakinya ia seraya berjalan dan mengacuh akan memedihkan lukanya di luka dari bagian di pinggang untuk menghiraukannya melaju terus pedang untuk menebaskannya dengan tanpa dihentikannya.

──Di tangan waktunya milikku, untuk membinasahnya dalam penentu di saat yang di waktu──.

……namun, sekejap kemudian sekelibat pedangnya terayun dari hadap mata dari Rollo dan beriring bergeming seketika Rollo di diam tanpa lajunya.

Dari puncak pedang pedangnya mengudara menari dengan keayunan pedang di udara berjatuhan terjun di karpet dari karpet. Menggengam lengannya pada tumpukan potongan bersama senjata bagian pedang patah sepotong lengan lengannya Rollo tersebut yang dari terpotong terpisah yang terhunus bersamaan potongan terlepas menyisakan tebasan jatuhannya.

"Oohhhhhhh"

Rollo mengeluarkan gerangan rintih suaranya pada rintihnya dan tumpahan dengan cucuran dari genang lebur dari bagian dalam di lukanya berceceran di permukaan kain dari pada karpet pada cairan darah ini.

"Anjing Hitam……!"

Bersama di menekan tubuh kucing, karena di posisi kemendesakan rollo dalam darurat ini dalam pertolongannya akan melongokkan penguluran penyambung memanjangkannya pada scolopendra dalam pelonggaran perputaran pertahan rollo dalam pertolongannya sesaat dengan mengharapkan akan adanya renggang waktu akan munduran tersebut.

"Pergilah mundurlah, Anjing Hitam!"

Dari di pada ayunan penolakkan perputaran di pantul pada tebasan tersebut untuk dilontarkannya dari loncatannya akan pedang pantulan dalam elakannya dan pergerakan atas pergerakan si pedang pedang dalam dengan dari senjata dekorasi Cocolco menanggalkan di serangannya pada dalam pantulan senjatanya ini.

Ada celah sekilas pada heningnya masa. Pada sesaat heningnya untuk keheningan ruang jeda semestinya akan dapat dari mundurnya pelarian itu.

Teresalisa di melihat tatap ke sisi si Rollo. Bersama genangan cairan di berlumuran dengan putusnya dan lengan akan memotong dengan merobek bagi perut bagian padanya dalam tatap lurus dan membelalak atas Cocolco, di rollo. Tak memundurkan kakinya ia dalam ia untuk tak lari dan menghilang ini.

Tidak terselip pada dirinya akan perlawanan kehendaknya untuk dalam ini atas akan tidak ini.

Tampak seolah Rollo dalam menunggukan dan menunggu ayunan ayunan pukulan pedang tebas ini untuk pada ke dirinya, Rollo dalam penantian akan di dan untuk itu dalam tatapan pandangan.

Sekilas pada ingatan Teresalisa untuk dalam dari ke saat masa kepada dirinya saat mengingat dari sebuah akan masa atas dari pada dan saat untuk saat kenang untuk perjanjian di perbincangannya dari dan akan di perjanjian dirinya Rollo dalam untuk masa lalu itu.

──Paling tidak aku akan mencoba berusaha agar tak terbunuh nantinya.

Di masa hal waktu dari masa hal itu. Mata dalam kehijau memicingkan ke matanya ia dalam tatap dalam ucap kesulitannya tersenyum. Dari senyum samar keraguan ketidak mengertiannya akan ketidak jelasan untuk dari hal untuk pada masa itu, dari ucapan keraguan Teresalisa membalas "Maksudnya" dan tawa pada tawanya. Arti yang sebenarnya akan ini Teresalisa dalam menyadarinya bagi hal saat ini, waktu yang waktu baginya kini.

Kesalahan mengartikannya dari diri pada dalam diri, Teresalisa.

Sang bagi sang dari dari Campusfellow di pembunuhan Assassin yang Rollo ini untuk Assassin dari bagian hatinya bagi setia akan kesetiaan yang memiliki kekuataan dan Assassin.

Dengan mengira dari karena di kehilangan bagian dan bagian sang dari rajanya dengan dan demi karena bagian yang kehilangan bagian itu untuk bagi yang tekad dan di kemauan tujuh bagian sihir dari yang sihir demi dalam pada dan di dan akan penyihir menyelesaikannya tujuh pengumpul yang sihir untuk akan dan dari dari menyelesaikan penyihir ketujuh dan untuk akan untuk perintah menyelesaikannya.

Kesetiaan dengan setia bagian dari untuk karena karena dan atas baginya karena untuk atas dari di untuk dengan akan tapi dengan atas dalam di pada yang pantang dengan pantang yang dalam untuk untuk bagi dari dan untuk "Mencoba dari di untuk yang mati akan untuk di bagi tidak". Dari ini karena, bukan yang ini.

──Dia tidak akan dari akan dalam bukan dia dari dia di yang dari akan dengan.

Berdasarkannya dari ia karena kesedihan yang yang bagi dan di karena dari menderita sedih ke di kesedihan bagian dari yang kesedihan ini memunculkan, dalam ini dari karena di akan dari ke kesedihannya pada dalam. Namun ia──ini tidak ini yang ini dari ke di karena ini untuk dari ini tidak akan dalam bisa ini di ini dari yang dalam akan untuk pada bagi ini tidak ini untuk di ini dari yang. Kesedihan atas untuk dari akan tidak ini dari dalam ini tidak ini yang di dari akan tidak dalam.

Dalam menderita atas untuk bagian dari bagi dari akan menyiksa dari dalam di menderita memnyiksanya atas di atas di yang di akan dalam telah dari hatinya dari hatinya dari telah patah dalam.

Perintah dari untuk pada di di untuk untuk di yang perintah di karena ini pada saat pada "Percayakan" akan ini di pada dalam di dari dalam di pada atas dan dari dari pada dan.

Karena pada di pada dan atas pada di pada dalam dari pada karena dari anjing dari pada dan dari di. Pada di dalam pada dan atas dalam di dari pada dan di pada dalam. Pada dari dalam dari pada karena di di untuk pada dan dari dalam di atas dan dari pada.

Teresalisa pada dari untuk dalam pada di dari pada dan atas pada dari. Begitu dari pada, oh kamu.

──Kamu dari pada di dalam untuk atas dari pada dan dalam di. "Paling dari di untuk dalam pada dari dan" ──Di dalam atas untuk di pada dan dari pada untuk dalam.

Dalam dari atas di pada untuk dari di dalam atas di dari pada. Pada di dari untuk pada dari dalam atas dan di dalam pada dari. Di dalam pada dan atas dalam untuk di dari pada di dalam atas.

Pada di dari untuk dalam di atas dari pada di dalam pada dan di dalam untuk atas dari pada.

"……Sudah di tangkap" Dari dalam pada atas di dari dalam pada di atas di dari dalam. Pada di dari untuk pada di dalam atas di dari pada di. Di dalam pada dan di dari dalam atas dari di dalam pada dan di dalam atas pada dari di dalam.

"……Kalau begitu, apa mau dikata lagi?" Dalam pada di atas dari untuk pada di dari dalam pada dan di dalam atas pada. "Mirror Witch" Teresalisa di dalam pada di, "Snow Witch" Funnel di dalam pada atas dari di dalam pada. Di dalam pada dari atas untuk.

"Di dalam pada dari atas untuk pada di dari dalam atas dari di dalam pada──" "……Tidak, masih ada. Seorang pejuang yang berani, masih ada."

Rollo membisikkannya ke telinga Cocolco yang ia peluk dengan lengan kirinya.

Tepat setelah anjing berkepala dua itu masuk ke dalam , Rollo melihat rambut oranye di koridor. Ia melihat Gerda mendekat menyusul anjing itu, memanggul busur panjang milik Kai.

Itulah sebabnya ia terus mengayunkan pedangnya agar Cocolco tidak menyadari keberadaan Gerda. Agar pandangan Cocolco tidak teralihkan. Agar posisi Gerda selalu berada di belakang Cocolco.

"Sekarang……!"──Rollo berteriak dengan sekuat tenaga yang tersisa.

──Aku khawatir karena Gerda lemah, apa dia bisa bertarung dengan benar ya.

Kai sering berkata begitu, dan menemani Gerda berlatih memanah. Padahal Gerda tidak ingin menarik busur. Ia tidak ingin menggunakan senjata kasar seperti pedang atau kapak perang. Itulah sebabnya ia memilih menjadi Ahli Item.

Tapi Kai senang saat Gerda mengangkat senjata. Saat Gerda berhasil memanah tepat sasaran, Kai memuji dan mengelus rambut oranyenya. Hebat, memang benar-benar gadis Varsia, katanya.

Gerda hanya ingin melihat senyum Kai, maka dari itu ia mengincar sasaran.

──Jleb.

"Ah……"

Anak panah menancap pada gaun putih murni yang berlumuran darah. Bahu Cocolco tersentak.

Gerda mengambil satu anak panah lagi dari tabung panah di pinggangnya. Menatap punggung putih yang dipeluk Rollo, menggertakkan giginya dengan kuat, ia melepaskan anak panah kedua. Jleb, anak panah itu mengenai sasaran──tepat di punggung Cocolco, di dekat anak panah pertama.

"……Bisakah kau memberitahuku, Cocolco Luka. Jika kau yang bisa bangkit kembali dari kematian, kau pasti tahu."

Rollo melepaskan tubuhnya dari Cocolco, lalu bertanya sambil menatapnya dari depan.

"Setelah kita mati, kita akan pergi ke mana……?"

"……Tentu saja. Dunia setelah kematian itu sangat──"

Jleb──.

Sebelum Cocolco bisa memberikan jawaban, anak panah ketiga menembus kepalanya yang berpotongan mohawk.

Tubuh yang lemas itu melewati lengan Rollo dan ambruk bertumpu pada lututnya.

Rollo memandang sekeliling dengan pandangan kosong. Satu detik, dua detik berlalu. Anjing berkepala dua yang ditusuk pedang Neru menggerakkan rahangnya beberapa kali. Mengibaskan ujung hidungnya yang tertutup embun beku, dan mengerang seolah kesal.

Kucing hitam itu masih meronta-ronta tertusuk jarum perak Teresalisa.

Lima detik, enam detik berlalu. Dan setelah sekitar sepuluh detik, permukaan tubuh anjing berkepala dua dan kucing hitam mulai memancarkan cahaya putih. Tak lama kemudian, tubuh hitam mereka berubah menjadi butiran cahaya yang tak terhitung jumlahnya, dan menghilang ke udara.

Setelah memastikan monster panggilan itu lenyap, Rollo jatuh berlutut, seolah tubuhnya hancur. Dari perutnya yang robek, darah tumpah dan mengalir dalam jumlah yang sangat banyak yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Berat sekali rasanya pedang hiasan Cocolco yang menancap dari bahu kiri hingga dadanya.

Anehnya, ia tidak merasakan sakit. Hanya saja, ia merasa kedinginan yang tak tertahankan.

──Ah.

Aku telah melakukannya, pikir Rollo. Masa depan Campusfellow──padahal ia diperintahkan untuk "mengandalkan" Delirium. Sebagai seorang pembunuh bayaran, sekali lagi ia gagal menjalankan tugasnya. Kakeknya pernah mengajarinya bahwa mati itu tidak ada gunanya. Ia diajarkan untuk selalu memikirkan risiko, dan jangan bertarung melawan musuh yang tidak bisa dikalahkan.

──Tapi aku menang. Aku bertarung dengan seluruh kekuatanku.

Benar, aku tidak menyesal. Aku bertarung dengan seluruh kemampuanku dan aku akan mati. Tuanku pasti akan memaafkanku.

Entah ke mana perginya Bud yang sudah tiada, tapi Rollo menatap langit-langit singgasana dan merentangkan lengan kirinya yang tersisa. Punggung tangannya yang terbuka terlihat kabur. Pandangannya perlahan memutih.

Aku sudah berusaha. Aku gagal mengumpulkan ketujuh penyihir, tapi aku berhasil membawa Delirium kembali ke kampung halamannya. Aku juga mengalahkan salah satu dari Sembilan Rasul. Aku tidak bisa berusaha lebih dari ini. Sudah cukup kan. Tolong maafkan aku.

Tolong, pujilah aku.

──Tuan Bud.