Prolog: Penari Membara
1
Keledai itu meringkik. Dengan suara menyedihkan, layaknya
seorang pria yang meratap dan menangis dengan keras.
"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"
Membuka mulutnya lebar-lebar, dan mengangkat tinggi moncongnya
yang tulang belulangnya terekspos.
Suara ringkikannya yang sangat menyeramkan membuat perhatian
para prajurit teralihkan.
"Apaan makhluk ini. Makhluk macam apa dia itu……!!"
Yang pertama kali angkat bicara adalah si cerewet Appelsin.
Tepat setelah ia menyuarakan keterkejutannya. Krak, dengan suara patahan
tulang yang nyata, leher Appelsin berputar setengah putaran ke arah
punggungnya. Ia tewas seketika dan tubuhnya roboh berlutut. Kepalanya yang
jatuh telungkup menatap lurus ke arah langit-langit.
"……Hah?"
Rollo tanpa sadar mengeluarkan suara melengking keheranan.
Bahkan belum sempat ia memahami apa yang sebenarnya terjadi,
keledai itu kembali meringkik.
"Hooaaaaaaanngghhh……!!"
Dan kali ini, pria yang berdiri di sebelah kanan Rollo
lehernya terpuntir dengan sendirinya, lalu jatuh ke lantai.
──Gawat. Ini terlalu tidak masuk akal.
Aku tidak boleh berhadapan dengan keledai itu. Nalurinya
sebagai pembunuh bayaran membunyikan alarm peringatan di kepalanya.
Aku harus segera menjauh dari tempat ini, secepat mungkin,
begitu pikirnya──para prajurit Varsia yang tangguh itu juga sudah mulai
melangkah mundur perlahan. Apakah leherku yang akan terpuntir selanjutnya──rasa
takut seperti itu kini telah menguasai diri mereka, membuat wajah mereka
memucat.
"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"
Ringkikan yang ketiga kalinya. Ketakutan para prajurit
akhirnya mencapai puncaknya, dan seolah terpelanting mereka berlari
membelakangi keledai itu. Meski sedang berlari, seorang lagi prajurit Varsia
lehernya terpuntir dengan tidak masuk akal, dan tubuhnya roboh berlutut.
"Makhluk ini…… kali ini lari adalah kemenangan,
ya."
The Coward Melk menggunakan morning star-nya
untuk menghalau keledai itu, sambil melompat ke samping untuk menjauh dari
tempat tersebut.
Rollo juga ikut berbaur dengan para prajurit Varsia lainnya,
berlari kembali menyusuri lorong menuju ruang tamu.
Namun hanya ada satu orang pria pemberani yang memilih untuk
bertarung alih-alih mundur. Ia adalah Kapten Fjord yang berambut mohawk.
Ia berbalik arah melawan arus para prajurit yang melarikan diri, lalu berdiri
sendirian di tengah lorong dengan menghunus pedangnya. Kemudian ia berteriak
lantang dengan volume suara yang tak kalah keras dari ringkikan keledai itu.
"Jangan main-main dengankuu, brengsek!! Maju
kauu──"
Saat berlari menyusuri lorong, dari sudut matanya Rollo
melihat leher Fjord terpuntir.
Dengan punggung menghadap sosoknya yang tumbang, Rollo
berlari keluar dari lorong dan menuju ruang tamu di lantai bawah.
Dari pegangan tangga yang terbagi ke kiri dan kanan, Rollo
melihat sekilas ke lantai bawah. Ia mencari sosok Teresalisa, tetapi tak bisa
menemukannya. Ia juga tak melihat Snow Witch maupun orang-orang Varsia
yang lain. Hanya saja tepat di bawah pegangan tangga yang hancur, ia menemukan
sosok Kai dan Gerda yang terkapar. Rollo buru-buru menuruni tangga.
Gerda telah mengeluarkan kotak padat (compact) kecil
dari saku roknya. Ia menyingkapkan pakaian di bagian perut Kai yang terkapar,
lalu mengoleskan salep lengket yang ia ambil dari compact itu ke
lukanya.
Berkat mengenakan zirah rantai (chainmail), luka di
perutnya masih tergolong dangkal. Masalahnya adalah patah tulang akibat jatuh
dari lantai atas. Lengan Kai yang mengerang kesakitan tampak tertekuk ke arah
yang tidak wajar.
"……Apakah Anda tahu, ke mana perginya Witches-sama?"
Saat Rollo yang telah turun ke ruang tamu bertanya, Gerda
menoleh sambil tetap berjongkok di samping Kai.
"Bersama Snow Witch, ke arah sana."
Arah yang ditunjuk oleh Gerda adalah jalan keluar masuk di
sisi kiri ruang tamu. Tidak ada pintu di sana, yang ada hanyalah lorong yang
bentuknya mirip dengan lorong yang mereka lewati saat masuk ke tempat ini.
"Apakah pertarungan sudah dimulai? Belenggu tangannya
kan belum dilepas."
"Kalau soal itu tak apa-apa. Sudah dilepas,
olehku."
Mendengar ucapan Gerda itu, Rollo menghela napas lega. Kalau
dia bisa menggunakan sihirnya, untuk saat ini mereka aman. Tapi aku harus
segera menyusulnya. Sebelum salah satu dari Sembilan Rasul itu mendekat lagi──.
"A-Anu, apa yang terjadi di atas sana?"
Gerda menatap Rollo dengan wajah penuh kecemasan. Dari
lantai atas, para prajurit Varsia mulai berlari menuruni tangga satu per satu.
Mereka semua tampak ketakutan, menengok ke belakang seolah berlari menghindari
sesuatu.
"Sembilan Rasul telah muncul. Apakah Anda pernah
mendengarnya?"
"Sembilan Rasul…… milik Kerajaan Amelia itu?"
Sesuai dugaannya pada seorang Ahli Item yang berwawasan
luas. Gerda memiliki pengetahuan yang luas.
"……Sepertinya, dia mungkin datang menyusul kita,
Campusfellow. Dia membunuh prajurit secara membabi buta. Kapten juga terbunuh.
Ekspedisi kita kemungkinan besar akan dibatalkan."
"Tidak mungkin……"
"Saya akan segera bergabung dengan Witches-sama,
dan pergi meninggalkan kastil ini. Saya tidak mau mengambil risiko bertarung
melawan salah satu dari Sembilan Rasul. Sebaiknya kalian juga cepat keluar dari
kastil ini."
"Sebenarnya, apa yang sedang kau bicarakan?"
Gumaman suara dalam bahasa Transmare itu terdengar tepat
dari belakang Rollo.
"……!"
Tubuhnya bergerak lebih dulu sebelum ia sempat berpikir.
Sambil membalikkan badan, Rollo mencabut pisau belatinya,
dan mengayunkan ujungnya ke arah Cocolco di belakangnya seperti melontarkan
pukulan balik. Cocolco menunduk dan menghindari serangan cepat Rollo tersebut.
Sosoknya berada tepat di depan Rollo. Ia ikut membaur dengan
para prajurit yang melarikan diri untuk menuruni tangga. Rollo merasa malu atas
kelengahannya sendiri. Bisa-bisanya ia tidak menyadari bahwa ia sudah didekati
sedekat ini──.
Tepat setelah ayunan pisaunya meleset, Rollo mengincar
Cocolco yang merendahkan tubuhnya, dan melepaskan tendangan memutar dengan kaki
kanannya. Cocolco menahan tendangan itu di sisi perutnya. Tidak ada luka
berarti yang ditimbulkan──namun, itu juga sudah diperhitungkan oleh Rollo.
Menjadikan kaki kanannya yang ditahan sebagai tumpuan porosnya, ia menjejakkan
kaki kirinya ke lantai, lalu langsung menggunakan kaki yang sama untuk membidik
dagu Cocolco. Srekk──tumit kaki kiri yang mengayun itu, hanya sedikit
menyenggol dagu Cocolco yang telah menarik kepalanya.
"……Hup, anak yang cukup terampil."
Cocolco melompat ke belakang untuk menjaga jarak dari Rollo.
Dengan punggung menutupi Kai dan Gerda, Rollo menyiapkan
pisau belatinya. Sambil terus waspada terhadap Cocolco, ia berbicara kepada
Gerda yang berada di belakangnya dalam bahasa Varsia. ──"Apakah Anda punya
'Bola Bau'?"
Itu adalah item untuk mundur dari medan tempur yang sempat
diperlihatkan padanya di tengah perjalanan. Item itu seharusnya sangat efektif
jika digunakan di dalam ruangan. Dari sudut pandangannya, Rollo melihat Gerda
mengangguk kecil.
"……Tapi, ranselku ada di dekat pintu masuk sana."
Sesuai dengan perkataannya, ransel yang sebelumnya digendong
Gerda tergeletak begitu saja di dekat pintu masuk ruang tamu yang pertama kali
mereka masuki. Ia menurunkannya ke lantai saat mengeluarkan kunci belenggu
batu, dan benda itu masih ada di sana. Posisinya berada di arah seberang dari
tempat Cocolco berdiri. Kalau begitu, ucap Rollo melanjutkan kalimatnya.
"Aku yang akan menahannya. Kurasa aku takkan bertahan
lama…… tapi selama waktu itu tolong aktifkan bola baunya. Itu satu-satunya cara
kita bisa lari membawa Kai-san yang terluka."
Rollo berbicara sambil melepas jubahnya. Diam-diam, ia
memastikan rasa sakit di bahu kanannya serta kondisi tulang rusuknya yang
retak. Tak disangka ia harus melawan salah satu dari Sembilan Rasul dalam
kondisi yang tidak prima──. Tapi ia tidak boleh sampai kalah di sini.
"……Iya, aku mengerti."
Tepat bersamaan dengan Gerda mengangguk, Rollo berlari
menerjang ke arah Cocolco.
"Oh? Kau tidak kabur, ya."
Menghabisi jarak di antara mereka dalam sekejap, Rollo menusukkan
pisau belati di tangan kanannya membidik ke arah kepala Cocolco.
Cocolco memiringkan kepalanya ke samping, menghindari
tebasan itu dengan gerakan sekecil mungkin──namun di saat yang sama, ia
menangkap pergelangan tangan kanan Rollo yang terjulur. Rollo melepaskan pisau
belati yang ia genggam di tangan kanannya. Ia mencoba menangkap pisau yang
jatuh itu dengan tangan kirinya──namun, entah karena gerakannya sudah terbaca,
punggung tangan kirinya ditepis sehingga ia gagal menangkapnya.
"Guh……"
Sambil bergulat, dari sudut matanya Rollo menangkap sosok
Gerda yang sedang berlari.
Untuk melepaskan pergelangan tangan kanannya yang
dicengkeram, Rollo mencondongkan tubuhnya jauh ke sisi luar. Ia melakukan
putaran depan (forward roll) melewati ketiak Cocolco, dan meluncur
melewatinya. Pada saat itu, dari sudut pandangannya ia melihat tangan Cocolco
merogoh pedang yang tergantung di pinggangnya.
Terdengar suara Sring saat pedang bergesekan dengan
sarungnya, dan bilah pedangnya pun terekspos. Itu adalah pedang hiasan yang
indah dengan pola-pola geometris yang rumit. Sambil menoleh ke belakang,
Cocolco mengayunkan pedang itu ke atas kepala Rollo yang baru saja meluncur melewatinya.
Rollo menahan serangan itu dengan sebuah kapak perang.
Sebuah kapak perang bermata dua milik Mother Bilberry
yang jatuh dan dipungutnya saat melakukan putaran depan melewati ketiak Cocolco
tadi.
Ting, suara logam yang tajam bergema di udara.
"……Kau benar-benar, anak yang sangat terampil ya."
Sambil menekan kapak perang dengan pedang hiasannya, Cocolco
bertanya dengan suara yang lembut.
"Mengalihkanku dengan serangan tipuan, sebenarnya apa
yang sedang kau rencanakan."
Cocolco mengaitkan pedangnya ke pangkal bilah kapak perang
yang melengkung, dan membuat keseimbangan Rollo goyah.
"Sial……"
Alih-alih melancarkan serangan lanjutan kepada Rollo yang
telah ia jatuhkan, Cocolco justru mengarahkan ujung kakinya ke arah Gerda. Ia
melangkah cepat mendekatinya.
Gerda, yang baru saja mengeluarkan bola bau dari ransel
hijaunya, menjerit kecil saat menyadari Cocolco sudah berada di dekatnya. Ia
menjatuhkan ransel itu ke kakinya, namun tangannya masih memegang erat bola bau
itu sambil mengangkat bahunya dengan ketakutan.
Gawat──Rollo buru-buru berdiri dan melangkah maju, dan tepat
pada saat itu, ia melihat sebuah anak panah melesat meluncur menuju punggung
Cocolco. Sambil berbalik menoleh, Cocolco menangkis panah itu dengan pedang
hiasannya.
"……Ups. Hampir saja. Begitu, rupanya masih ada satu
orang lagi."
Cocolco menoleh dan menatap ke arah Kai yang berada di bawah
tangga.
Kai yang sudah berdiri memegang anak panah dari tabung
panahnya dengan tangannya yang gemetar, membidikkannya ke arah Cocolco.
Keringat dingin bercucuran di dahinya dan ia terengah-engah, namun pada mata
hitam yang menatap tajam Cocolco itu, semangat bertarungnya masih
menyala-nyala.
"……Campusfellow benar-benar sangat keras kepala
ya."
Saat Cocolco menggelengkan kepalanya dan mendesah, udara di
ruang tamu seketika terasa menyesakkan.
Dari arah tangga sisi kanan, terlihat keledai itu turun
dengan perlahan. Magical Beast yang tulang kepalanya terekspos itu.
"Bagaimana kalau aku patahkan tulang leher kalian semua
tanpa menyisakan satu pun."
"……Tanpa menyisakan satu pun? Apakah tidak ada belas
kasihan?"
Rollo bertanya sambil diam-diam melihat ke sekeliling untuk
menilai situasi.
Posisi mereka saat ini tampak seperti mengepung Cocolco,
dengan Rollo, Kai, dan Gerda di tiga titik yang berbeda, namun ia sama sekali
tidak merasa bahwa mereka berada di posisi yang menguntungkan. Sebaliknya,
dalam pertempuran melarikan diri, terpencar justru merupakan suatu kerugian.
Ditambah lagi, Kai terluka parah. Gerda gemetaran memegang bola bau di dekat
pintu masuk. Keduanya tidak akan bisa membantu banyak dalam pertarungan.
Tidak ada prajurit lain yang terlihat. Mungkin mereka semua
sudah meninggalkan ruang tamu.
Saat keledai itu meringkik lagi, orang yang lehernya akan
terpuntir adalah salah satu dari mereka bertiga di sini.
"Belas kasihan katamu? Kalian mengharapkan hal itu
setelah mengarahkan pedang kepada Lucy-sama?"
"Yang menyerang lebih dulu adalah Kerajaan
Amelia──kalian kan. Kami sama sekali tidak punya niat untuk bertarung──"
"Tidak punya niat? Benarkah? Sambil berkata begitu,
kalian malah memanfaatkan kekacauan untuk menculik Mirror Witch, kalian
sedang merencanakan sesuatu yang buruk kan? Anak-anak yang berbahaya. Kalian
tidak pantas berada di dunia yang indah yang diperintah oleh para naga
ini."
"……Hei 'Si Pengecut', apa yang sedang kau
bicarakan!"
Kai menyela percakapan mereka dengan bahasa Varsia. Sambil
menarik senar busurnya dengan lengannya yang patah, dan ujung anak panahnya
tetap tertuju pada Cocolco.
"Makhluk apa ini……? Dia mengarahkan pedang ke Gerda.
Apakah dia musuh?"
"Dia musuh. Tapi tunggu sebentar, aku akan mencoba
membujuknya."
Rollo segera menenangkan Kai, dan mulai memikirkan cara
untuk melarikan diri.
"Mereka berdua adalah orang Varsia. Tidak ada
hubungannya dengan Campusfellow. Tolong biarkan mereka pergi."
"Oh, orang Varsia? Begitu rupanya. Tapi, itu bukan
alasan untuk membiarkan mereka pergi. Varsia kan bersekutu dengan Campusfellow,
bukan?"
──Sudah ketahuan.
Informasi mengenai Campusfellow telah sepenuhnya bocor oleh
Menteri Luar Negeri Edelweiss. Jika demikian, ia harus mencari sudut pandang
lain untuk bernegosiasi. Mencari bahan agar bisa terus mengobrol dengannya.
"Apakah tujuanmu adalah Mirror Witch? Kalau
begitu aku akan menyerahkannya padamu. Aku akan menuntunmu ke tempat Witches
itu──"
"Tidak, negosiasi tidak diperlukan. Ini bukan
transaksi, melainkan operasi penangkapan sederhana. Aku hanya akan menangkap Witches
yang melarikan diri ini secara diam-diam dan mengembalikannya ke dalam
kurungan."
"Aku tidak bisa menunggu lagi, 'Si Pengecut'! Apa yang
kau ocehkan perlahan-lahan begitu. Boleh aku bunuh dia, kan?"
"Tunggu dulu. Tidak perlu ada pertarungan.
Tenanglah……!"
Bagaimana ini? Rollo memutar otaknya. Apakah ia harus
memprovokasinya, atau menuruti kemauannya? Jika itu tuannya, bagaimana ia akan
mengatasi situasi ini? Apakah Bud Grace akan menemukan cara agar mereka semua
bisa selamat dan pergi dari tempat ini──. Kepanikannya membuatnya kesulitan
merangkai kata.
"Aliansi dengan Varsia telah dibatalkan akibat jatuhnya
Kastil Campusfellow……!"
"Oh. Begitu rupanya."
"Benar. Jadi kalau kamu membunuh mereka di sini, kau
hanya akan memprovokasi Varsia tanpa alasan. Varsia akan jadi musuhmu……!"
"Astaga, kau memberiku peringatan? Baik sekali. Tapi
sayangnya bagiku──"
"Cukup, aku akan menembak! Wanita ini adalah musuh
Varsia, kan……!?"
"Tunggu, tolong diam dulu! Makanya sekarang aku sedang
membujuknya."
"Membujuk apanya! Kalau dia ini orang Transmare──"
Melihat Kai yang terus berteriak, Cocolco diam-diam dan
perlahan tersenyum padanya.
"──Aku tidak memiliki alasan, untuk melepaskan
orang-orang barbar ini."
"Berarti sudah tak perlu ditanya lagi dia itu musuh
kita!"
Keledai itu meringkik. Meneriakkan suaranya yang menyerupai
jeritan itu tinggi-tinggi hingga bergema di ruang tamu.
"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"
Sesaat setelah itu, leher Kai berputar ke arah punggungnya.
"Kaii……!!"
Tepat bersamaan dengan jeritan Gerda, anak panah meluncur
dari busur panjang milik Kai ke arah Cocolco.
Mengincar celah sekilas saat Cocolco menghindari panah itu,
Rollo melesat mendekati Gerda yang sedang menjerit melihat pemandangan di
hadapannya. Ia lalu merebut bola bau dari tangan Gerda dan menarik talinya.
Pssshh──bola itu seketika menyemburkan asap kuning
dalam jumlah besar, disertai bau amonia yang menyengat hidung. Rollo
melemparkan bola itu ke kaki Cocolco.
Sosok Cocolco segera tertutup oleh asap yang memenuhi
ruangan.
"Cepat, Gerda-san. Cepat……!"
Rollo menutup mulut Gerda yang matanya dipenuhi air mata,
lalu menariknya keluar dari ruang tamu melalui pintu depan dan berlari ke
lorong. Sebenarnya ia ingin keluar ke lorong samping tempat Teresalisa dan Snow
Witch pergi tadi. Tapi ia tidak punya kelonggaran waktu untuk melakukan
itu.
Rollo sama sekali tidak menoleh ke arah lain, menarik
pergelangan tangan Gerda dan meninggalkan ruang tamu yang kini dipenuhi asap
itu.
2
Rollo berlari menyusuri lorong yang remang-remang. Di kiri
dan kanan lorong yang luas, tempat gema langkah kakinya terdengar nyaring,
berderet banyak pilar-pilar persegi. Itu adalah lorong yang mereka lewati saat
pertama kali masuk ke tempat ini.
Melalui jendela besar yang berjejer di sepanjang dinding
sebelah kanan, terlihat lapangan bawah tempat salju menari-nari ditiup angin.
Jika ia terus berlari lurus, ia akan bisa keluar ke taman dengan air mancur.
Tapi kalau begitu, ia akan meninggalkan Teresalisa.
Bagaimana ia harus bertindak untuk menghindari Sembilan
Rasul dan bergabung dengan Teresalisa?
──Aku tidak mau kembali ke ruang tamu. Apakah
satu-satunya cara adalah keluar dari bangunan lalu memutarinya……?
Tiba-tiba, Rollo menyadari bahwa ia tidak lagi mendengar
suara langkah kaki Gerda yang seharusnya mengikutinya dari belakang, lalu ia menoleh.
Gerda, yang telah berhenti berlari, sedang menyeka air mata yang terus mengalir
dari matanya. Ia terisak-isak, wajahnya berkerut, dan menggosok-gosok matanya.
"……Kai. Kai…… ukh. Hiks……"
"…………"
Melihat orang yang disayangi tewas secara kejam tepat di
depan mata, wajar jika tubuhnya menjadi kaku karena terkejut. Namun saat ini,
mereka tidak punya waktu untuk berhenti.
"……Dia mati bertarung. Dengan sangat gagah berani. Aku
yakin dia telah pergi ke surga. Kalian pasti akan bertemu lagi. Selama kau
terus bersikap berani."
"……Mana mungkin aku tahu soal itu. Karena yang membunuh
Kai bukanlah Witches, kan? Kai, tidak mati bertarung melawan Snow
Witch. Kalau tidak dibunuh oleh Dewi Perang Sriedda, tidak ada
artinya……!"
Gerda menggelengkan kepalanya dengan kasar.
"Dewi Perang Sriedda" yang membimbing para
prajurit pemberani yang telah mati ke surga──dia kini telah jatuh ke bumi
sebagai Snow Witch. Karena itulah, untuk dibimbing ke surga, mereka
harus dibunuh oleh Witches tersebut.
"Kalau tidak begitu, tidak ada artinya! Kalau tidak
mati bertarung melawan Witches, tidak akan bisa pergi ke surga."
"…………"
──Begitu, ya. Jika "Dewi Perang Sriedda"
telah jatuh dan menjadi Snow Witch, itu berarti selama empat puluh tiga
tahun ini, tidak ada dewi yang bisa membimbing mereka ke surga.
Agar prajurit-prajurit Varsia bisa pergi ke surga, mereka
harus terlebih dahulu mengalahkan dewi yang jatuh ini dan mengembalikannya ke
surga. Atau, jika mereka melawan Snow Witch yang juga adalah "Dewi
Perang Sriedda" dan terbunuh, barulah mereka bisa langsung dikirim ke
surga──.
Kapten Fjord menyebut ekspedisi ini sebagai "Perang
Suci". Sekarang ia mulai mengerti makna di baliknya.
"Makanya semua orang ingin ikut berpartisipasi dalam
ekspedisi penaklukan ini. Makanya ekspedisi penaklukan dilakukan setiap tahun.
Untuk mengembalikan dewi yang jatuh ke surga. Untuk bertarung melawan Witches.
Tapi, kenapa ada pengganggu seperti orang ituu──"
Rollo mencoba mengingat kembali. Pupil mata berwarna biru
pucat yang jernih itu. Iris mata hijau zamrud yang memikat itu. Witches
yang secantik kristal salju. Dia tidak akan pernah menua. Melihat wujudnya itu,
siapa pun pasti akan berpikir bahwa dia dulunya benar-benar seorang dewi yang
asli. Bahwa "Dewi Perang Sriedda" sang pengendali api, benar-benar
jatuh dan berubah menjadi Snow Witch.
Lalu, sebuah pertanyaan terlintas di benaknya. Empat puluh
tiga tahun yang lalu, apa yang sebenarnya terjadi di kastil ini.
"Kenapa dia, bisa jatuh menjadi Snow Witch……?"
Pertanyaan yang digumamkan Rollo seolah berbicara pada diri
sendiri itu, dijawab oleh Gerda seraya ia mengusap air matanya.
"……Karena dia mencoba menghidupkan kembali orang yang
berharga baginya."
"Orang yang berharga……?"
"Ya. Ibunya. Sang Permaisuri. Karena mencoba
membangkitkan permaisuri yang telah meninggal, ia melanggar tabu. Karena
itulah, dia dijatuhi hukuman mati oleh raja yang juga adalah ayahnya. Dalam
kesedihan yang mendalam, dia berharap negara dan kastil ini hancur saja. Ia
membekukan segalanya──"
"……Tunggu sebentar. Bukankah Snow Witch itu
berasal dari luar?"
"Bukan. Dia adalah keluarga kerajaan. Funnel Bjorkoe,
adalah kakak perempuan kandung dari Horio-sama──"
3
Pelabuhan Bebas Es Heroi, terletak di perairan dengan arus
yang rumit sehingga pelabuhannya tidak pernah membeku, bahkan di musim dingin.
Orang-orang Varsia yang datang dari arah barat laut, membangun kota pelabuhan
ini di tepi pantai sebagai markas dan memperluas kekuasaan mereka.
Perang Empat Binatang Buas kemudian meletus, membuat rakyat
lelah dan menderita. Namun, karena letaknya di benua yang jauh dari medan
pertempuran, tidak ada musuh yang pernah menyerang kota Heroi yang menghadap ke
Laut Utara yang dikuasai Varsia.
Di sisi lain laut──di sebuah danau di pegunungan hijau yang
tinggi, berdirilah sebuah kastil yang indah.
Kastil itu berdiri dengan tenang dan damai, bayangannya
terpantul jelas di permukaan air yang jernih. Klan Snow King Bjorkoe,
yang memimpin Varsia Heroi, tinggal di kastil yang mereka rebut dari bangsa Ilf
tersebut.
Tepat di depan mata saat mendarat di kastil danau ini,
terdapat taman luas di mana bunga-bunga berwarna cerah bermekaran, dan
kupu-kupu terbang menari-nari. Pepohonan tumbuh subur dan rimbun, kicau burung
kecil terdengar merdu.
Di taman itu terdapat sebuah air mancur dengan patung
raksasa di tengahnya. Patung batu seorang pria bertubuh besar berjanggut lebat,
mengenakan mantel bulu tebal dan mahkota bertabur permata di kepalanya.
Patung batu yang sama sekali tidak cocok dengan tema taman
yang damai dan alami maupun ukiran halus pada air mancurnya ini, dibuat atas
perintah Snow King yang memimpin Varsia Heroi saat itu sebagai potret
dirinya sendiri. Di tangannya, ia memegang perisai berlambang rusa berbulu
panjang yang merupakan simbol dari pemimpin Bjorkoe.
Seolah ingin memamerkan kekuasaannya, seorang pelayan muda
berusia pertengahan belasan tahun melintasi bagian depan patung batu itu.
Di sebuah petak bunga yang tidak jauh dari patung itu,
terdapat pohon blackcurrant. Tingginya kira-kira sama dengan tinggi
pelayan itu. Pelayan itu memetik buah blackcurrant, membungkusnya dengan
saputangan, dan pergi meninggalkan taman.
Berlari ke bagian belakang bangunan, ia keluar menuju sebuah
lapangan bawah yang tanahnya padat.
Di lapangan luas itu, para pria berlatih melempar kapak.
Suasana di dalam kastil itu ramai dan semarak. Di kandang ternak yang dibangun
di sepanjang dinding kastil, ayam dan babi berisik bersuara. Sementara di depan
bengkel, seorang perajin batu sedang duduk di kursi, mengobrol dengan
prajurit-prajurit yang berkunjung.
Melihat ke sekeliling kastil yang penuh semangat itu,
pelayan tersebut bergabung dengan tiga orang wanita lain yang melambaikan
tangan memanggilnya. Mereka membawa serta seorang pria tua bungkuk.
"Jangan bengong, ayo cepat."
Ditegur oleh pelayan senior, pelayan muda yang paling kecil
itu menundukkan kepalanya dan meminta maaf.
Keempat pelayan dan pria tua itu secara diam-diam menuju
sayap bangunan yang memiliki penjara bawah tanah.
"……Neru-sama. Kami membawa seorang tabib dari
pelabuhan."
Cahaya lilin bergoyang tak beraturan di tengah kegelapan
yang pekat.
Cahaya samar itu menyinari wajah Funnel yang terbelenggu di
penjara bawah tanah, dengan warna jingga. Mata birunya yang setengah terbuka
tampak tak bertenaga. Pipinya cekung, dan bibirnya kering pecah-pecah. Pada
perban yang membalut mata kanannya, merembes darah berwarna merah kehitaman.
Funnel, yang bernapas dengan tersengal-sengal, menatap balik
keempat pelayan itu dan berkedip perlahan. Embusan napasnya terasa panas.
Pergelangan kakinya dipasangi belenggu yang terhubung dengan rantai ke dinding.
Sudah lima hari ia berada dalam keadaan seperti itu sejak dijebloskan ke dalam
penjara bawah tanah.
"Coba, biarkan aku melihatnya."
Membelah kerumunan pelayan yang memandangnya dengan cemas,
pria tua itu melangkah maju. Ia adalah seorang tabib yang menjalankan toko obat
kecil di Pelabuhan Bebas Es Heroi. Tabib kerajaan yang melayani keluarga
kerajaan merasa takut pada sang raja, dan menolak untuk merawat Funnel. Karena
itulah, para pelayan membawanya dari kota secara diam-diam.
Tabib itu dengan perlahan dan hati-hati melepas perban di
mata kanan Funnel. Darah yang mengering terkelupas perlahan, membuat Funnel
mengerang pelan.
"Dekatkan lilinnya lagi."
Sesuai permintaan tabib, pelayan yang memegang kandil
mendekatkannya ke mata kanan Funnel. Melihat luka yang diterangi cahaya lilin,
para pelayan menahan napas. Ada yang menutup mulut, ada pula yang memalingkan
wajahnya.
Mata kanan Funnel, yang memanggil naga negara musuh demi
menghidupkan kembali permaisuri, telah dicabik-cabik oleh cakar naga dan
hancur. Tak ada lagi sisa-sisa kilauan hijau zamrud seperti "Dewi Perang
Sriedda".
"Ini sangat parah…… Sudah bernanah. Juga terasa panas.
Pasti sangat menyakitkan bagimu."
Funnel menarik napas dalam-dalam, membuat dadanya naik
turun. Di lehernya, butiran keringat tampak menetes.
Selama tabib mengoleskan obat, para pelayan bertanya kepada
Funnel apakah ada yang bisa mereka lakukan untuknya. Seperti apakah dia lapar,
atau adakah hal lain yang dia butuhkan. Di sela-sela itu, salah satu pelayan
menggumamkan sesuatu secara tidak sengaja.
"……Kenapa Tuan Muda tidak datang menemui Anda ya."
Adik laki-laki Funnel yang berusia sepuluh tahun, Horio,
belum pernah sekalipun bertemu dengan Funnel sejak malam saat pemanggilan itu
gagal. Ia mengurung diri di kamarnya dan tidak berbicara dengan siapa pun.
Pemanggilan naga itu kabarnya dilakukan oleh Funnel seorang diri. Meskipun
begitu, para pelayan telah menyadarinya. Malam itu. Dengan siapa Funnel
menyelinap keluar dari kastil. Dan apa sebenarnya yang mencabik jari kanan
Horio yang dikatakan digigit anjing liar pada saat yang bersamaan itu.
"Tega sekali. Kalau saja Tuan Muda memohon padanya,
Neru-sama pasti bisa dikeluarkan dari sini──"
"Hentikan," potong pelayan senior dengan tegas.
"Saat Raja menanyainya, Neru-sama mengatakan bahwa ia
melakukan pemanggilan itu sendirian. Itulah satu-satunya kebenaran yang
ada."
Jika Horio, yang akan menjadi Snow King berikutnya,
diketahui telah memanggil naga dari negara musuh, pria-pria Varsia tidak akan
mau mengikutinya. Pelayan senior itu memahami perasaan Funnel yang
mengkhawatirkan hal tersebut.
"Kita sebagai pelayan tidak perlu banyak bicara soal
ini."
Musim dingin masih cukup lama, namun penjara bawah tanah
terasa dingin dan membekukan. Salah satu pelayan membentangkan selimut yang
dilipat, dan menyelimutkannya pada tubuh kurus Funnel yang hanya mengenakan
sehelai pakaian dari kain.
"Aku sudah melakukan tindakan pengobatan sebaik
mungkin."
Ucap sang tabib, seraya membereskan peralatannya.
"Sebaiknya biarkan dia beristirahat di ranjang yang
layak. Jika dia terus berada di sini, kondisinya hanya akan semakin
memburuk."
Pelayan termuda, yang berusia sekitar belasan tahun,
berlutut di samping Funnel yang matanya telah diperban ulang, lalu membuka
saputangannya. Di dalamnya terdapat buah blackcurrant yang baru saja ia
petik.
"Neru-sama. Silakan makan ini. Cepatlah sembuh……"
Funnel mengulurkan tangannya dan mencoba mengambil buah itu.
Namun, kekuatannya ternyata sangat lemah, hingga saat ia mengambil saputangan
tersebut ia tak sengaja menjatuhkannya. Buah blackcurrant berserakan di
atas lantai batu.
"Ah," saat pelayan itu hendak memungutnya, Funnel
menggenggam tangannya. Menggenggamnya dengan lemah lembut. Lalu ia berkata
dengan suara parau.
"……Terima kasih."
Sudah mencapai batas. Baik Funnel, maupun para pelayan yang
mencintainya. Para pelayan yang mengenal Funnel yang selalu ceria dan tertawa
riang, tidak sanggup lagi melihat Funnel dalam kondisi seperti ini.
Sebelum meninggalkan penjara bawah tanah, para pelayan
menundukkan kepala kepada Funnel.
"Kami akan datang lagi. Pasti."
Untuk membawa sang putri yang mereka cintai keluar dari
tempat ini. Hari eksekusi semakin dekat.
Namun, sejak hari itu, para pelayan tidak pernah lagi
mengunjungi penjara bawah tanah tersebut.
Hari eksekusi tiba. Funnel dipaksa berjalan tanpa alas kaki
menuju lapangan bawah.
Perban di kepalanya dilepas, membiarkan luka di wajahnya
terlihat oleh orang banyak. Ia hanya diizinkan memakai sehelai pakaian dari
kain. Kedua pergelangan tangannya diikat di belakang punggung, dan ia berjalan
menuju tumpukan kayu sambil digiring oleh algojo yang memegang tombak panjang.
Penampilannya terlihat sangat menyedihkan hingga tak ada yang akan menyangka
bahwa ia adalah seorang putri raja.
Banyak orang telah berkumpul di lapangan bawah. Mereka
menyingkir dan membelah kerumunan, seolah berusaha menghindari Funnel yang
berjalan mendekat. Sambil berjalan menyusuri jalan yang terbuka itu, Funnel
melirik mereka. Terdapat para prajurit Varsia, tukang kebun, penjaga ternak,
perajin batu dari bengkel, dan banyak orang lain yang bekerja di kastil. Tentu
saja, ia melihat wajah-wajah yang dikenalnya. Penduduk kota juga ada di sana.
Penjaga toko yang sempat mengobrol dengannya saat ia turun ke kota, juga para
janda yang kehilangan suaminya dalam perang dan telah dirawat oleh permaisuri,
ibu dari Funnel.
Tetapi, keempat pelayannya dan adiknya, Horio, tidak
terlihat di sana.
Tidak ada satu pun yang mengulurkan tangannya pada Funnel.
Tak ada seorang pun yang muncul untuk menyelamatkan putri bodoh yang memanggil
naga negara musuh ini. Semua orang meringis ketakutan saat melihat luka
mengerikan di mata kanannya. Saat berjalan, Funnel bisa mendengar bisikan
orang-orang yang menyebutnya "Putri yang bodoh".
──"Siapakah engkau ini."
Sang Raja menatap Funnel yang diikat pada tiang di depannya,
lalu bertanya.
"Aku telah membesarkanmu sebagai reinkarnasi dari Dewi
Api 'Sriedda', bukan, bahkan sebagai Sriedda itu sendiri. Sebagai eksistensi
yang akan membimbing banyak prajurit gagah berani yang mati dalam peperangan
menuju surga."
Saat Snow King mengeraskan suaranya, kerumunan yang
berkumpul di lapangan bawah pun seketika terdiam. Mereka mendengarkan perkataan
Raja dengan saksama.
"Prajurit Varsia bisa bertarung justru karena kau ada
di sini. Bahkan saat ini pun para prajurit sedang mengangkat tinggi kapak
perang mereka dan berlari melintasi medan perang. Itu semua berkat keberadaan
'Dewi Perang Sriedda'. Karena mereka percaya bahwa jika mereka bertarung dengan
berani hingga mati, kau akan membawa mereka menuju ke surga!"
Sang raja berteriak. Membentak dan berteriak dengan penuh
amarah.
"Tapi ternyata kau malah memanggil naga dari negara
musuh. Bukankah itu berarti kau menistakan dan menghina para prajurit
kita!!"
"…………"
Funnel tidak menjawab. Dia hanya menunduk dengan lemah. Di
kakinya, jerami ditumpuk di atas tumpukan kayu yang telah disusun. Algojo
mendekat dengan ember kayu, menyiramkan minyak ke seluruh penjuru dengan
gayung.
"Mata hijau zamrudmu telah hancur. Maka aku akan
bertanya padamu sekali lagi. 'Siapa dirimu'──Jika kau masih mengaku sebagai
perwujudan api, maka tertawalah dalam kobaran api penyucian ini──"
Atas tanda dari raja, sebuah obor dilemparkan ke arah
jerami.
"Menarilah dalam kobaran api!"
Seketika jerami terbakar, dan sorak-sorai riuh menggema di
antara orang-orang.
Panas menjalar naik dari kakinya. Asap tebal merampas
pernapasannya. Saat pandangannya mulai kabur karena air mata, ia disisihkan
oleh orang-orang, dan dunia menginginkan kematiannya. ──Sebenarnya siapa
diriku ini, pikir Funnel.
Separuh darah Varsia mengalir di dalam diriku. Separuhnya
lagi darah Ilf. Aku dibesarkan sebagai Dewi Perang, tapi ternyata aku tak bisa
menjadi dewa. Lalu, aku ini menjadi apa. Tak pernah diizinkan bebas dari
kastil, dilarang bertualang dan bertarung, sebagai apakah aku akan mati──.
"Ah benar, bakar juga benda itu bersama
dengannya."
Raja memerintahkan pelayannya membawa empat kepala. Kepala
dari wanita berambut panjang.
Melihat benda itu, Funnel tanpa sadar mengeluarkan suara.
"……Ah," ucapnya lirih. Lalu matanya membelalak. Karena semua kepala
itu adalah wajah yang sangat dikenalnya. Mereka adalah orang-orang yang
mendampinginya sejak ia masih kecil, yang memperlakukannya lebih dari sekadar
keluarga dibandingkan dengan raja.
"Para wanita ini bukan hanya membesarkanmu menjadi
orang bodoh, tapi mereka juga secara diam-diam berencana untuk membantumu
melarikan diri. Sebegitunya mereka ingin mengabdi padamu. Jika demikian,
biarlah mereka menemanimu menuju alam baka."
Raja mencengkeram kepala keempat pelayan itu satu per satu,
dan melemparnya ke kaki Funnel.
Mereka menentang Raja dan mencoba menyelamatkan dewi yang
telah jatuh ini. Dia takkan pernah membiarkan wanita-wanita seperti itu dikirim
menuju ke surga. Karenanya ia membakar mereka dalam api yang membakar para
pendosa. Menjatuhkan mereka ke alam baka bersama dengan si pendosa. Itulah
hukuman sarkastis dari sang raja bagi para pelayan──.
"Bersenang-senanglah kalian bersama di alam baka.
Haaa-hahahaa……!"
Mata biru Funnel bergetar. ──Siapakah engkau ini.
"……Berisik."
Tawa keras Raja itu bertumpang tindih dengan dering di
telinganya. Suara nada tinggi yang merobek gendang telinga itu, perlahan-lahan
semakin kencang. Suara itu mirip sekali dengan──Herererere. Raungan naga
busuk yang ia panggil tanpa sengaja malam itu.
"Berisik, diamlah kau……!"
Ia menyalahkan Funnel seraya bertanya, siapa dirimu.
──Herererererererere……!!
"Uaaaarrggghhhh!!"
Meskipun dalam keadaan terikat, Funnel berteriak. Membuka
mulutnya lebar-lebar, membelalakkan mata birunya yang tersisa, dan mengaum
layaknya mengintimidasi Raja di bawahnya. Siapakah aku ini. Aku ini adalah──.
"Akan kubunuh, akan kubunuh kau……! Apa peduliku kalau
kau raja. Masa bodoh. Jika aku ini memang dewi yang telah jatuh, aku akan terus
mengutukmu bahkan di alam baka. Dendam ibuku. Dendam mereka semua! Aku pasti
takkan pernah membiarkanmu menuju surga!"
Ada sesuatu yang tidak beres. Orang-orang yang berkumpul di
lapangan bawah merasakan udara dingin yang luar biasa mencekam di sekitar
mereka.
"Jatuhlah. Jatuhlah kau ke alam baka, Raja……!!"
Angin dingin berembus kencang, menghalau dan membuyarkan
asap hitam yang menyelimuti panggung api eksekusi. Api yang berkobar di kaki
Funnel terlihat meredup. Seolah-olah api itu sudah menyerah untuk membakarnya,
api itu bergoyang lemah.
Raja menjadi gelisah dan merebut tombak dari tangan algojo
yang ada di dekatnya.
"Dasar kurang ajar, beraninya kau melawan! Jangan menatapku,
dasar Witches sialan!!"
Raja merobohkan ember minyak menggunakan ujung tombaknya.
Merendam ujung pisau dengan minyak melimpah, dan membakarnya di atas api yang
berkobar di kaki Funnel. Begitu ujung tombak itu menyala, sang raja memasang
kuda-kuda dan menengadah ke arah panggung eksekusi.
Lalu ia menusukkan ujung tombak yang berkobar itu tepat ke
jantung Funnel.
"Gah……!"
Funnel memuntahkan darah, kepalanya tertunduk lunglai. Api
berkobar dari dada yang ditikamnya dengan kejam itu. Menengadah menatap Funnel
yang meronta-ronta karena panas dan rasa sakit yang luar biasa, raja yang yakin
akan kemenangannya itu melepaskan tangannya dari gagang tombak.
"Kau sangat keras kepala! Cepatlah jatuh ke alam baka
sana……!!"
Funnel memelototi raja tajam. Dari balik celah poninya yang
terjatuh, ia menunjukkan mata kanannya yang telah hancur.
"Tidak mau…… Aku tidak bisa menunggu. Akan kutarik kau
ke sana! Sekarang juga. Sekarang juga akan kutarik kau ke alam baka……!!"
"……A, apa ini."
Angin dingin yang membekukan sekeliling tiba-tiba mengamuk
dengan semakin kencang. Udara dingin yang tidak normal ini bersumber dari
Funnel. Api yang bergoyang di kakinya layu tertiup angin dingin.
Api yang berkobar dari jantungnya yang tertikam tombak,
menyusut dan kemudian sirna sepenuhnya.
Musim dingin masih jauh. Meskipun matahari juga sedang
bersinar, embun beku mulai turun menyelimuti panggung eksekusi.
"Tidak mungkin. Tidak mungkinn……!!"
Jari-jari tangan raja yang menjulur ke depan mulai membeku
dengan suara derakan yang keras.
Berpusat di sekitar Funnel, semua hal yang tersentuh oleh
kekuatan sihirnya itu pun ikut membeku.
Funnel menarik paksa pergelangan tangannya dari tali rami
yang membeku. Sambil menggeliat ia melepaskan diri dari belenggu itu dan
mendarat di tanah. Ia pun mencabut secara paksa tombak yang menancap di dadanya
dengan kedua tangannya.
Kemudian ia memegang tombak itu dengan pegangan terbalik
(pisau di bawah), lalu berlari mendekati raja.
"Uaaaaaaarghhhhh……!!"
Funnel melompat, lalu menusukkan ujung tombak itu tepat ke
mata sang Raja.
"Gaaaaaaaaarghhhh……!!"
Wajah Raja yang menjerit itu, mulai membeku yang berpusat
pada matanya.
"Bunuh dia, cepat bunuh Witches ini, bunuh
diaaaa!!"
Prajurit-prajurit Varsia di lapangan bawah satu per satu
mencabut pedang dan kapak perang mereka, lalu menerjang ke arah Funnel. Funnel
mencabut tombaknya dari kepala Raja, dan berlari di lapangan bawah dengan kaki
telanjang. Tanpa pandang bulu, ia melepaskan kekuatan sihirnya pada para pria
itu, membekukan mereka, menusuk mereka dengan tombaknya, dan terus membunuh.
Dari balik jendela kamarnya, bocah bernama Horio melihat
kakaknya yang sedang mengamuk di lapangan bawah. Sambil mendekap erat tangan
kanannya yang dibalut perban. Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dengan kasar, ia
pun menoleh. Seorang pelayan yang melayaninya, dengan wajah yang pucat pasi
berteriak.
"Witches muncul! Anda harus segera bersiap
meninggalkan kastil! Tempat ini sangat berbahaya!!"
Dia tidak menyebut nama Funnel. Dia hanya memberitahu Horio
bahwa ada Witches yang membekukan segalanya. Dia memberitahunya bahwa Witches
yang kejam dan tak berperasaan sedang mengamuk, membekukan siapa pun yang
dilihatnya.
Funnel tidak tahu bagaimana cara menggunakan sihir. Karena
itulah ia hanya melampiaskan sihirnya secara serampangan. Ia hanya berharap
agar dunia ini, kastil ini, dan segalanya, membeku sepenuhnya. Ia mengutuk
segalanya agar membeku.
Akhirnya Funnel tiba di taman, dan berhadapan dengan patung
sang Snow King. Sang raja pernah bertanya.
──Siapakah engkau ini.
Aku ini, siapa. Separuh darah Varsia mengalir di dalam
diriku. Separuhnya lagi darah Ilf. Aku dibesarkan sebagai Dewi Perang, tapi
ternyata aku tak bisa menjadi dewa. Tapi hal seperti itu, masa bodoh.
"……Aku adalah, diriku sendiri."
──Ratu dari kastil ini yang membekukan segalanya.
"Uaaaaaaarghh……!!"
Menyalurkan sihir yang membekukan ke tangannya, Funnel
mengayunkan tombak itu dan memenggal leher patung batu tersebut.
Funnel Bjorkoe tak pernah bertambah tua. Sejak dadanya
ditikam oleh tombak, tubuhnya tetap berada pada usia 15 tahun tanpa pernah
menua. Hari itu. Saat dia mengutuk segalanya untuk membeku dan melepaskan sihir
beku tersebut, sihir itu sekaligus membekukan waktu miliknya sendiri.
4
Berhadapan dengan Funnel, Teresalisa menyusuri lorong kiri
ruang tamu hingga terpojok masuk ke dalam sebuah menara silinder. Menara itu
remang-remang dengan sebuah tangga spiral yang berdiri sendirian di bagian
tengah.
Sejak dahulu, menara itu disebut sebagai Menara Aurora. Jika
dilihat dari luar, menara itu hanyalah menara biasa dengan atap kerucut
berwarna biru; jadi mengapa ia dinamakan demikian──. Hanya mereka yang pernah
memasukinya saja yang bisa memahaminya.
Dengan sabit besar di tangannya, Teresalisa yang masuk ke
dalam menara itu menengadah melihat ke arah dinding bagian dalam menara, dan
langsung menahan napas.
Di seluruh dindingnya yang melengkung landai, jendela kaca
patri berwarna-warni terlihat bersinar cerah. Jendela kaca patri yang
mengelilingi hingga 360 derajat ini memberikan warna pada cahaya dari luar,
sehingga menebarkan bayangan merah, biru, dan hijau ke dalam menara.
Pemandangan megah nan luar biasa tersebut memberikan hiburan
bagi siapa saja yang menaiki tangga spiral menara. Seolah melihat gemerlapnya
cahaya aurora yang menari di langit malam.
Namun saat ini Teresalisa sedang berada di tengah-tengah
pertarungan, ia tidak punya waktu untuk menatap aurora itu. Menghindari
serangan gencar dari Funnel yang mendekat di belakangnya, ia terus melompat
menaiki tangga spiral tersebut. Funnel pun menyusul tepat di belakangnya.
Para prajurit Varsia yang bersenjatakan kapak perang pun
menyusul mereka agak terlambat.
Itu adalah tangga panjang yang melingkari pilar penopangnya.
Di bagian luar tangga dipasang pagar besi agar tidak ada yang terjatuh.
Gemerincing langkah kaki dari banyak orang serta teriakan-teriakan mereka
menggema keras di dalam menara berwarna aurora tersebut.
Ujung pedang Funnel yang dihunus dari bawah tangga ditangkis
oleh Teresalisa dengan menggunakan sabit besarnya sambil ia memutar tubuhnya.
──Anak ini, tipe yang bertarung jarak dekat sekali.
Meskipun menangkis serangannya yang terus-menerus itu,
Teresalisa harus tetap menjaga jarak dari Funnel sambil terus menaiki tangga.
Di sela-sela menerima serangan, Teresalisa melirik ke
dinding menara.
Gambar mosaik yang dilukis di dinding itu menunjukkan
kegembiraan saat menyambut datangnya musim semi setelah melewati musim dingin
yang begitu kejam. Orang-orang bernyanyi bersama binatang-binatang di hutan,
menari sambil memakai mahkota bunga. Namun, orang-orang yang ada dalam gambar
mosaik itu bukan orang Varsia. Telinga mereka meruncing. Lalu matanya
menggunakan kaca hijau zamrud yang berkilauan. Hal ini membuktikan bahwa menara
ini merupakan bangunan dari orang-orang Ilf.
Dari bawah tangga, Funnel menginjakkan kakinya dan melompat
ke atas. Teresalisa membelokkan lintasan pedang yang mendekat dengan ujung
sabitnya, dan mengayunkan gagang sabitnya sebagai serangan balik, tapi Funnel
menangkisnya seolah membalas serangan tersebut.
──Aaaah, menyebalkannn……!
Teresalisa mulai merasa tidak sabar.
Sebagai pengguna sihir tipe manipulator (pengendali) yang
menggunakan roh, Teresalisa memiliki jangkauan serangan yang luas, sehingga ia
lebih suka bertarung dari jarak yang cukup jauh. Namun Funnel terus
menyerangnya dengan gencar, bahkan melompat ke arahnya dalam sekejap mata.
Teresalisa tidak punya pilihan lain selain mundur.
Lagipula, Teresalisa juga memiliki masalah lain; ia tidak
boleh mengalahkan musuh ini. Ia harus menjadikan Witches ini sebagai
rekannya. Karena itu, ia tak bisa mengayunkan sabitnya dengan sekuat tenaga.
Namun untuk bernegosiasi pun, Teresalisa tidak mengerti bahasa Varsia. Walau ia
berteriak "Tunggu dulu!", Funnel tidak akan berhenti mendekat.
"Black Dog ada di mana sih!? Ke mana perginya
pria itu……!"
"…………"
Sejak tadi ia dipaksa terus bertarung menghindar dari
serangannya.
Tapi selama itu pula, ia menyadari satu hal.
──Dia bukan tipe Summoner. Anak ini tidak menggunakan
Magical Beast.
Teresalisa terus mengayunkan sabit besarnya ke arah Funnel
yang berada di bawah tangga. Lintasan pedang yang bisa berubah bentuk sesuka
hatinya itu tidak bisa diprediksi menggunakan akal sehat. Bilah pisau yang bisa
menekuk ke atas dan ke bawah dengan mudah itu membingungkan Funnel, hingga
akhirnya mata pisau itu sampai di kerongkongan Funnel──namun.
Funnel menggunakan tangannya sebagai tameng untuk menahan
tebasan itu. Mata pisau dari sabit besar itu tidak memotong kulit lengannya,
melainkan menancap pada es. Ia membekukan kekuatan sihir yang menyelimuti
lengannya, dan menumbuhkan es di sana. Ia mengubah sifat sihirnya menjadi es
beku. Snow Witch adalah seorang Witches tipe pengubah sifat (mutator).
──Sihir yang sangat dingin.
Semakin dekat Funnel dengan dirinya, Teresalisa semakin
merasakan dinginnya kekuatan sihir tersebut di kulitnya hingga menyakitkan.
Lalu Funnel juga tampaknya menyukai pertarungan jarak dekat, di mana ia
menyelimuti dirinya sendiri dengan sihirnya, bukan menghempaskan sihir tersebut
untuk bertarung. Kalau begitu ia bisa memanfaatkannya──.
"Akan kutangkap kau!"
Teresalisa melepaskan sabit besar peraknya.
Sabit besar yang dijatuhkan di depan Funnel itu dengan
sekejap membentuk tubuh manusia, dan merentangkan tangannya ke arah bawah
tangga. Mencoba memeluk tubuh Funnel yang sedang melompat mendekatinya ke
dadanya.
"……!"
Hanya sejenak saja Funnel terkejut, namun ia tidak berhenti
melompat. Tiba-tiba saja, seorang wanita telanjang perak tanpa wajah─April,
muncul tepat di depan matanya. Funnel mengayunkan pedangnya tepat ke bahu
April. Ting──sebuah suara yang menyerupai benturan logam terdengar, lalu
gerakan Funnel terhenti.
April tak dapat dihancurkan. Bahkan dengan pedang yang
menancap di bahunya, April memeluk punggung Funnel dengan tangannya yang
terbuka lebar. Seharusnya──Snow Witch bisa ditangkap dengan ini.
Teresalisa yang berdiri di belakang April, menyadari bahwa
udara di sekitarnya menegang. Udara itu terasa jernih, dan semakin dingin.
Pagar besi yang berwarna hitam itu mulai memutih akibat es, dan berderak-derak
semakin memutih.
"……Dinginnya. Bercanda, kan?"
Wajah datar April dan tubuh telanjang peraknya yang
berkilauan pun, mulai memutih seiring dengan memutihnya pagar besi tersebut.
Tubuhnya dengan cepat membeku akibat gelombang kekuatan sihir yang membesar
dari tubuh Funnel. Saat pedang itu diayunkan kembali, April terbelah hancur
menjadi dua dari bahu hingga sisi tubuhnya.
"April……!"
Funnel, dengan tubuh menghadap ke depan, menurunkan ujung
pedangnya ke belakang. Memfokuskan sihir yang menyelimuti seluruh tubuhnya pada
bilah pedangnya. Terus berlari menaiki tangga sambil menyimpan energinya, dan
memajukan langkah kakinya tepat ke hadapan Teresalisa.
"……Gawat."
Teresalisa tanpa sadar menggumamkan sebuah kata, napasnya
memutih terlihat dari mulutnya.
Seketika dari permukaan cermin di dalam jubahnya, cairan
perak yang lain menyembur keluar. Mencoba menahan dampak serangan dengan
membentuk perisai sederhana dari cairan perak yang diratakan di depan
tubuhnya──namun, sebelum perisai perak itu sempat mengeras, pedang yang
dipenuhi sihir Funnel memukulnya keras seperti mencoba melubangi perisai itu.
Tepat ketika pedang itu mengenai perisainya──Funnel langsung
melepaskan semua kekuatan sihir yang dipusatkan pada pedangnya bersamaan dengan
hantamannya. Sihir yang dilepaskan sejalan dengan jejak pedangnya itu
menyerupai bongkahan es berduri layaknya stalaktit yang menetes dari dalam
gua──mirip dengan sebuah bongkahan kristal yang berkilauan.
Sebuah gerakan pamungkas yang sangat sederhana; hanya
melepaskan energi sihir yang ia kumpulkan dari sekujur tubuhnya ke satu titik.
Karena kesederhanaannya itulah serangannya memberikan impak yang luar biasa.
Teresalisa yang menerima pukulan itu dengan perisai tipis yang belum selesai
terbentuk tersebut terhempas jauh, punggungnya menghantam kuat pagar besi di
belakangnya.
Menghancurkan pagar besi tersebut, dan membawanya menabrak
masuk ke dinding menara──ke dalam kaca patri. Suara kaca hancur pecah pun
bergema di dalam menara.
Suara teriakan yang nyaring dari prajurit Varsia terdengar
dari bawah tangga spiral. Serpihan kaca gemerlapan dan es berjatuhan dari atas
kepala mereka.
"……"
Terhempas menembus kaca patri, Teresalisa merasakan udara di
luar di sekujur kulitnya. Salju yang beterbangan tertiup angin──awan yang tebal
dan dinding istana yang memutih──serta permukaan tanah di bawah sana. Sesaat
ketika tubuhnya mulai jatuh──Teresalisa membatin dalam dadanya.
──Kaca cermin……
Cairan perak yang digunakan sebagai perisainya terlalu
sedikit untuk digunakan sebagai sayap. Teresalisa mencoba memfokuskan kekuatan
sihir untuk membuat sepasang sayap besar bersiap jika dirinya akan jatuh──namun
di balik pecahan kaca berwarna-warni itu, ia melihat gaun putih yang berkibar.
"……Loh──"
Untuk terus memburu lawannya, Funnel juga melompat keluar dari
menara itu.
Mengayunkan pedangnya kepada tubuh Teresalisa yang jatuh.
Membalik tubuhnya di udara, Teresalisa menghindari tebasan itu dengan perbedaan
jarak sehelai rambut──tapi, waktunya sudah tak sempat untuk membuat sayap. Sisa
cairan perak yang ada langsung dibenturkan ke tanah tepat di detik terakhir
jatuhnya demi menahan benturan seminim mungkin.
"Tsah……!"
Meskipun mendarat sambil terjatuh, Teresalisa tetap menjaga
keseimbangan dan bangkit kembali.
Detik selanjutnya, Funnel yang telah melilitkan dirinya
dengan sihir mendarat ke lapangan. Menahan benturan dengan menjatuhkan diri,
dan pecahan-pecahan kaca yang berwarna-warni jatuh menghujani tanah.
Meskipun mereka adalah sesama penyihir, tapi mereka memiliki
gaya dan kemampuan yang berbeda dalam hal penggunaan sihirnya. Karena itu, cara
penggunaannya juga berbeda. Funnel, dengan kemampuan sihir transformasinya,
merapal pelindung ataupun bantalan dengan baik karena telah menyelimuti
tubuhnya sendiri menggunakan sihir tersebut.
Di lain pihak, Teresalisa sebagai manipulator yang
menggunakan mana sebagai "Ruh" lewat atribut "Cermin
Tangan", tidak ahli dalam menyelimuti tubuh dengan sihir itu secara
langsung. Sama halnya seperti yang dilakukan Funnel, secara naluriah ia
membalut tubuhnya dengan sihir untuk menjadi sebuah bantalan saat ia terjatuh.
Tapi impak terjatuh yang dirasakan oleh Teresalisa tentu lebih terasa sakit
dibanding dengan yang dirasakan Funnel. Setiap hela napas yang diambilnya
membuatnya meringis nyeri.
"Hah…… hah……"
Keduanya terjatuh ke lapangan bawah.
Di atas sana angin meniup awan dan menghempaskan salju
dengan liar. Angin yang berhembus di lapangan yang dikelilingi oleh bangunan
dan tembok kastil itu tak sebanding jika dengan angin di danau beku yang tak
berpenghalang. Meskipun begitu, angin yang bertiup terasa begitu menusuk kulit
hingga membekukan. Ujung hidung Teresalisa telah memerah.
Lapangan yang tertutup salju itu putih bersih. Berdiri di
sepanjang dinding kastil adalah sumur dengan penutup, kandang ternak, dan
bengkel. Salju terus berjatuhan di atas bangunan-bangunan yang telah lama tak
didatangi orang itu. Bahkan menutupi panggung eksekusi di sudut dinding
kastil──di atas struktur tumpukan kayu dengan satu tiang berdiri di atasnya.
"……Sebenarnya siapa sih? Anak ini. Dia ini gila pertarungan
ya."
Sambil memelototi Funnel yang berdiri tepat di hadapannya,
Teresalisa mengusap cermin tangan di dalam jubahnya untuk memastikan
kondisinya. Syukurlah, permukaannya tidak retak.
"……Kihih."
Bibir Funnel meliuk dan menyunggingkan sebuah seringai.
Bahkan ekspresi wajah garangnya pun terlihat cantik layaknya sebuah lukisan.
"Gila, pertarungan. Kata-kata yang bagus."
"Aku tidak sedang memujimu…… tapi, tunggu? Kau bisa
bicara pakai bahasa Transmare!?"
"Memangnya tak boleh?"
Funnel memiringkan kepalanya sedikit, seolah menunjukkan hal
itu wajar-wajar saja.
"Tapi ini baru pertama kali bagiku untuk berbincang
dengan orang Transmare. Apa pelafalanku sudah benar?"
"Hah……!?"
Teresalisa tercengang tak percaya. Kalau bahasanya bisa
dimengerti, berarti bisa ada negosiasi dong. Tak usah susah-susah menggunakan
sihir untuk bertarung kalau begini.
"Kalau begitu dengarkan dulu, Snow Witch! Aku
datang bukan untuk menantangmu bertarung."
"Hoooon…… Kau berbicara kata-kata yang sama seperti
'Pria bukan Varsia' tadi."
"Hm? Kau sudah bertemu dengannya?"
"Kulihat tadi, dia pria berbaju hitam. Dia juga bilang
ingin bicara denganku bukannya menantangku bertarung."
"Kalau begitu, baguslah kalau sudah bertemu. Dia sedang
mengumpulkan para penyihir. Makanya, dia bukannya datang mau membunuhmu,
melainkan untuk menjadikanmu sekutu kami."
"Sekutu……?"
Mungkin karena Teresalisa sudah tidak memasang kuda-kuda
bersiap tempur lagi, ujung pedang Funnel juga terlihat menurun ke bawah.
"Benar. Katanya kekuatanmu itu diperlukan. Makanya, ayo
keluar dari kastil ini dan ikut kami."
"……Fuun. Aku tolak."
Funnel memutuskan negosiasi itu secara singkat. Ia menundukkan
badannya kemudian mengacungkan ujung pedangnya.
"Tunggu sebentar! Menolaknya cepat sekali? Dengarkan
aku dulu!"
"Sudah kudengar. Tidak terlalu cepat. Aku
menolak."
"Kubilang terlalu cepat! Kalau begitu, biar kau saja
yang bicara. Kenapa kau menolaknya? Tolong beritahu apa alasannya."
"……Sudah lama sekali sejak aku terus melawan prajurit
Varsia di istana ini, dan ini pertama kalinya mereka membawa seorang Sorcerers
dan juga orang dari negara lain untuk membunuhku. Karena mereka sudah
menyiapkan pertarungan sihir untukku, aku ingin menikmatinya dengan
sepuas-puasnya. ……Lagi pula,"
Sambil memalingkan pandangannya ke bawah, Funnel berkata
lirih.
"Bertualang itu hal yang sudah mustahil. Karena aku ini
hanya jasad menunggu kematian. Selanjutnya cuma menunggu bagaimana aku
matinya."
"……? Kau mau mati?"
"Tentu tidak? Aku mau bertarung. Terus-menerus hingga
kematian, bahkan setelah aku mati pun aku ingin tetap bertarung!"
Sambil mengepalkan tangannya dan menggenggam erat pedangnya,
ia maju selangkah. Matanya menyorotkan rasa tak sabar──seolah berucap: tidak
ada waktu untuk berbincang-bincang. Ekspresinya yang nampak riang itu
menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh menikmati pertempurannya.
"……Aaaah ya ampun. Orang yang menyandang nama Witches
ini memang merepotkan sekali ya."
Ucap Teresalisa dalam hatinya, melupakan bahwa ia juga
adalah seorang Witches. Walaupun bahasanya dapat dimengerti, tapi
lawannya juga sama-sama seorang Witches. Sangat tak mudah untuk
ditaklukkan.
"Kalau begitu, aku akan mengabulkan apa yang kau harapkan
itu, mari kita bertarung hingga mati, April!"
Teresalisa mengayunkan tangannya. Cairan perak yang dengan
sengaja diam-diam ia jalarkan pada lapisan salju saat berbincang tadi seketika
berputar lalu muncul tepat di kaki Funnel yang sedang berlari menuju ke
arahnya.
"Gyah……!?"
Seketika, cairan tersebut berubah wujudnya menyerupai telur
raksasa, mengurung Funnel secara keseluruhan dari atas hingga ke bawah.
5
The Coward Melk berjalan ke sana kemari sendirian
demi mencari jalan keluar dari istana tersebut.
Sesaat sebelum mereka sampai ke Singgasana Es, pasukan
mereka diporak-porandakan oleh Snow Witch yang tiba-tiba turun menyerang
dari lantai atas secara mendadak. Meski begitu, sebenarnya itu bukanlah sebuah
masalah yang pelik. Memang tujuan para prajurit untuk datang kemari adalah demi
melawannya. Cuma karena mendadak mereka jadi terkejut tak menduga. Cuma sebuah
pertempuran yang datang sedikit terlalu cepat. Tapi ancaman mengerikan yang
berada di luar prediksi dan dugaan mereka berada di ujung lorong dengan
dinding-dinding penuh lukisan──yang tak disangka bahwa ada Sorcerers dan
monsternya yang misterius dan misterius.
"……Makhluk macam apa itu, aku yakin itu bukan sesuatu
dari dunia ini."
Ia melihat langsung Kapten Fjord tewas dengan lehernya yang
tiba-tiba meliuk. Meskipun Death-Seeker Sven tewas oleh tebasan si Witches,
tapi Enemy of Women Appelsin tewas terbunuh secara tragis oleh keledai
misterius itu, lalu Mother Bilberry dimuntahkan oleh makhluk berwujud
kucing untuk ditelan ke dalam peti matinya. Mungkin dia juga tewas terbunuh.
Sedangkan untuk Kai dan Gerda, meskipun ia tidak bisa melihat jasadnya, tapi
kemungkinan terburuknya adalah mereka tewas dimakan oleh makhluk di ruang
tunggu tersebut.
Melk terpisah dari prajurit-prajurit Varsia yang lainnya dan
kini ia hanya sendirian. Berjalan mengitari istana bersuhu rendah yang mencekam
tersebut.
Sesekali, suara pekikan ketakutan terdengar dari kejauhan.
Mungkin ada salah satu dari anggota pasukannya yang bertemu dengan monster itu
dan kini menjadi sasarannya. Karena itulah ia harus segera menjauhi arah yang
mana terdengar ada teriakan ketakutan. Jika terdapat ancaman mengerikan di
tempat itu, sudah sewajarnya ia memutar tubuh lalu berlari menjauhi tempat
mematikan tersebut. Lengkingan teriakan teman-temannya membantunya dalam
mengetahui lokasi keberadaan sang monster saat ini.
──Aku tak pernah diberitahu soal ini. Jika ada musuh lain di
ekspedisi ini selain Snow Witch.
"Kapten juga tewas. Sudah saatnya aku untuk membatalkan
ekspedisi ini……"
Sepertinya akan menjadi sulit jika harus membunuh si Witches
untuk membawanya ke khayangan. Hal yang paling bisa ia lakukan saat ini
hanyalah mencari jalan keluar, lalu pulang ke rumah persinggahan pasukannya
yang berada di hutan tepian danau. Tapi saat dirinya bergegas kabur melarikan
diri dari ruang tengah ke segala arah, ia tersesat akibat berlari tanpa arah
agar tidak melewati koridor-koridor yang memperdengarkan lengkingan ketakutan
dari teman-temannya. Ia berjalan menyusuri lorong berkedalaman yang
remang-remang dengan mengandalkan nalurinya, dengan tetap mewaspadai lingkungannya
dan memegang erat-erat morning star di tangannya. Walau demikian,
dirinya masih belum juga menemukan jalan keluar.
Sesampainya Melk, ia masuk ke sebuah ruangan yang nampak
sangat terang. Ruangan tersebut lebih rendah satu tangga dibanding koridor
lorong, lantai berbatuannya nampak agak tidak rata dan tidak kasar. Atap
ruangannya cukup tinggi, ada pemanas ruangan serta beberapa buah kompor
pemanggang berderet berdekatan di sepanjang pinggir dindingnya. Bermacam jenis
alat penggorengan, wajan, lempeng panggangan serta panci bergelantungan di
dinding dari bebatuan itu.
Terdapat rak khusus peralatan makan yang diletakkan di sisi
tembok dengan koleksi mangkok-mangkok, piring yang datar, juga hiasan
bunga-bunga.
Seketika Melk tertawa terbahak-bahak dan bergumam sendiri ──
"Aku ada di dapur istananya sekarang." Terdapat pintu khusus pada
dapur istana ini sebagai jalur untuk meletakkan barang masuk, lewat sanalah
Melk seharusnya dapat keluar.
Melk harus memutar balik untuk melewati meja yang berderet
di tengah ruang itu. Perkakas untuk mengolah makanan berserakan tanpa arah pada
masing-masing mejanya. Yang membedakannya dari dapur biasa adalah peralatan
serta makanan-makanannya yang tertutup oleh pembekuan. Keranjang roti-roti
menumpuk serta makanan sup kentang di dalam sebuah kuali diselimuti es beku.
──Aku tidak tahu makanan ini sudah disajikan sejak zaman
kapan.
Mungkinkah makanan kuah sup ini telah disajikan bahkan
sedari saat Melk ini belum tercipta pada alam semesta.
Di samping sebuah mejanya, kepala sebuah daging babi guling
telah diiris ditaruh di suatu pegangan besi. Mesin pegang tersebut dapat
diputar berkeliling demi memanasi makanan dengan merata ke berbagai arah.
Sebuah lapisan garing beraroma hangus dapat kita lihat karena membeku akibat
es, pastilah saat sebelumnya memiliki aroma tajam jika dibakar. Sepertinya
memakan saja adalah pilihan yang mustahil akibat kerasnya beku.
Ia perlahan menyisiri belakang ruangan tersebut demi menemui
pintu keluar. Seketika Melk memperlambat langkahnya akibat dari adanya sebuah
desisan decakan cairan aneh yang berulang-ulang. Ada sebuah bentuk siluet
berada pada bawah sisi panjang meja itu. Sedang apa itu.
Ia mendekat dan melihat dengan sangat tenang agar pergerakan
napasnya tak dirasa, ternyata itu hanyalah hewan kucing kelam sedang memakan
jilatan di dasar batuan itu. Pada lehernya, pita kelam yang bersih dan diikat
berbentuk telinganya bergelombang nampak lucu. Adalah kucing peliharaan saat
lalu, memuntahkan daging tubuhnya Bilberry. Potongan daging yang disantap sang
kucing adalah semacam cipratan tetesan dari kental cairan segar berwarna merah
darah segar, sungguh bukan serupa bagian yang sama layaknya makanan seekor
mamalia daging dari masakan babi yang hangus dibekukan tersebut.
"……!"
Melk kaget serta tersedak dengan napas dan menyadari bahwa
benda itu berwujud bentuk dari tangan sang umat.
Ah rupanya tangan potongan. Kumpulan yang disantap dengan
lahapnya adalah anggota lengan milik kaum prajurit-prajurit Varsia. Ia bergerak
pelan, menengok. Sungguh mimpi yang tidak akan dimimpikannya, bahkan dari suara
teman yang lari berlawan dari suara histeria, tak disangka bahwa sang monster
muncul tepat berpapasan pada mukanya. Ia wajib segeranya berjalan dan
tinggalkan dari dapur itu ── ia kembali perlahan berjalan di lantai yang baru
ia lalui tanpa menekan suara jejak kaki sedikirpun.
Sebuah kemujuran sang kucing sungguh tidak memperhatikan
lingkungannya karena kenikmatannya menyantap daging tersebut. Melk sekiranya
tak terdeteksi jikapun ia hendak meninggalkan sang dapur pada masa ini ── saat
menurunkan injakannya, Melk merasakan ada bebunyian memori melintas lalu
padanya.
──Tok. Tok. Tok.
Si wanita Sorcerers yang bermantel gaun kelam suci
itu sedang menjentik dan mengeklik lekuk bibirnya. Melk perlahan merubah
pandangan wajahnya. Pada celah lorong yang ia lewatkan sesaat lalu merupakan
asal desing dari decakan itu, dan lorong ini berhubung secara lekat menyalur
dari dapur dalam, bunyiannya menjadi terdengar lebih kuat.
Dengan sigap Melk berlompatan tersembunyi bersembunyi dalam
sisi pengering ruangan di sisinya. Dia mendengarkan ada bunyi hembusan melintas
ke depannya saat dia berteduh melingkarkan tubuh mungilnya dan berpelukkan
bersama ke arah dari pada senjatanya morning star. Nampak sosok manusia
berada dalam batas ruangan tersebut.
──Tok. Tok. Tok.
Sambil menariki gerbong peti, sang wanita berjalan. Melalui
jangkauan langkah, petinya menimbulkan lonjakan decitan dan dengungan. Sungguh
mimpi buruk ini terulang kembali. Tampaknya ia ikut masuk dan menyelinap pada
sekitar dapurnya. Berjalan tepat bersebelahan persembunyian melk pada dapurnya,
ia memameri bagian rok belahannya beserta jangkauan dari sepatunya juga
menyeret dan menggotong pada si gerobak petinya.
"Nyaaaaaan. Nyaaaan"
Sesaat dengan langkah kaki dihentikan, ia kemudian meletakan
serta mensetting agar tegak petinya itu di saat sang kucing merengekan melodi
meongan suaranya.
"Hohoho. Jadi kau ada di sini. Apa yang sedang kau
lakukan?"
"Nyaaa", seekor hewan membalas ucapannya bersama
ia dengan nampaknya terus perlahan mulai melangkahkannya ke area ke hadapannya.
Kalau dia menghentikannya di lokasi berbelakang dikit itu
lebih menguntungkan ya. Sisi dan tatapan pengamatan daripadanya sangat luas
hingga menyadarinya pada persembunyian penghangatan ini akan nampak sosok si
wanita yang tengah berdiri. Karena apabila ia melihat menatap ia bakal
mengetahui lokasi ia sedang.
Tiba-tiba Melk sangat menggigil dan dia gemetaran pada
sekujur jasad seakan entah takut ketakutan tak hentinya. Melk sangat
meringkukkan wujud bagian sosoknya berbaringan rapat meremas serta eratnya
pelukan dalam tubuh padanya membaringkan dalam balutan si morning star.
Senjata persembunyiannya merupakan senapan besi dengan dihubungkannya pada dua
paku ujung tajam bulat lewat pada selongsong tali bajanya. Seutas rantai ikatan
bergulir dengan longgarnya, rantainya terlepas.
──Srekk.
Nampak cuma bunyi derak minim dari jatuhan tersebut. Namun
saja suara minimal ini dapat menggejutkan pikiran terbuka lebar.
Hewan memalingkan muka memandang rekat untuk meneliti asalan
bunyi tersebut. Dan walau tak ada pandangan terarah fokus yang bertepatan
secara jelas, akan tetapinya lokasi yang difokuskannya itu tetap di arah ke
sisinya. Pastilah sadar bila ada kehadirannya di depan ini──bertepatan setelah
di sela waktunya detik lalu ini.
Bentukan bagian luar ujung kelopak pada badannya akan
merekah terbuka dalam dengan melimpahnya juntaian tentakel membludaknya.
"……Aaaah aaaa ahhh!"
Tak dapat dibayangkannya, sangat amat takut Melk hingga
terlontar kabur pada dapur luar dari pelarian arah pemanas itu.
Merangkak, berlutut tersengalnya menunduk dan mendekat
menyujud mengitari tepat bersebelahan ke kakian dari wanita ini.
"Maafkeun sayaaah, sayaaah memintak keampunann!
Berilah, permohohan ammpuun……"
Sebuah rentetan yang diungkapannya dalam permohonan bersuara
berbahasa Transmare.
Terhadap mimik cocolco yang nampak tersipu Melk
bertingkahkan berdoa layaknya sebuah sembah pemohonan yang penuh ketulusannya
ini. Jika aku harus lenyap termakannya dimangsa hewan pada alamnya ini tidak
mampu menempuhnya alam baka perjalanannya di surgawinya, begitulah batin
pikirnya ini berharap bisa dimengertinya.
"Mohon sayaah, dipermintaanya untuk memintak
dianggotakannya kedalaman kaum ajaran Agama Lucy, akankahnya
dikabulkannya……!"
"……Apakah kaum ajaran keagamaan kalian, lucy?"
"Eeeh yyaa, tentu! Saya menolak diikutikan penganut
Varsia!"
Bisa mengerti dengan ucapannya. Betapa saya bersukur sempat
pernah berupaya sedikit menghapalkan berbahasanya negara dalam kependudukannya
para orang-orang luar negara wilayah yang letaknya selatan wilayah benuanya di
kerajaan dari bangsa Transmare ini.
Dalam sepengetahuan, Melk yakin pada Agama ajaran
peribadatannya penganut Agama ajaran ini, meskipun ibukota peribadatannya
merupakan kawasan daerah ibukota dari pusat pemerintahan sebuah kerajaan
Kerajaan Amelia, tetapi pemeluk ajarannya itu ternyata dan secara pasti tidak
dibataskan menjadi di khusus peruntuk pada para-para penduduk negara Kerajaan
Amelia semata. Adanya berbagai perbedaan akan warnaan rasial bangsa dan warnaan
kulit adalah beragam keperbedaan dari perbedaan kaum di negara penganut Agama
itu. Dari apa yang diketahuinya, dengan kulit bewarna perunggu di hadapan muka
dari orang penganut sihir ini. Sungguh warna dari kawasan iklimnya kepanasan
serta dari wilayah dari kepulauan benua tersebut. Dari situ, meskipun adalah
kaum orang-orang Varsia maka, jika untuk bergantian dari ajaran pindahan
kepercayaan peribadatannya tentu pastilah dari dapat dipastikan itu dibolehkan
dapat dimungkinkan jua.
Pada kelopak-kelopak sisiannya, melk dengan melirik
perhatikan di mana keledainya telah melenyapkan wujud kepalanya demi
menunjukkan dia di amannya kini, saat sesaat ia berbicara mengobrol
berinteraksi saat mengelabuhi wanita ahli mantranya itu hingga merubahkan
pandangannya bukan dianggap layaknya pakan bagi makanannya kini, di pikiran
sekilas pada hatinya itu telah menyadarkan nyawanya bahwa ia berhasil
diselamatkan kini. Hal tersebut merupakan sebatas pandangan awal keyakinan dari
intuisi logikanya. Mulai detik tersebut, tugas untuk berfokus dengan berfokus
kepada dirinya, ahli magi perempuannya──lalu selanjutnya melk bersama meremas
menggenggam dengan pisau di tangannya dalam posisi sela saku pelindung pada di
lipatan bajunya itu.
Sebuah bola morning star yaitu paku bola bergadanya
adalah bagian dari sebuat senjata-senjatanya yang tampak bising. Tapi
kegunaannya ialah dalam membuat pemancingannya dan menari pusat dari sasaran
dari senjata utamanya. Yang sebenarnya adalah pedang serta pisau dari sisian
ujung di belakang dari pinggangan jubah melk itu. Tentu racun yang membunuh
segera adalah tujuannya yaitu melukai bagian musuhnya itu. Dan dengan hal
inilah maka kelicikan itu pun digunakan untuk menjadi prajurit yang menang dan
ia di antara penganut dari bangsa orang orang Varsia. Inilah adalah metode di
antara peperangannya bagi melk──.
Sorcerers kemudian merenungkan serta memandangkan kepalanya
kepada pandangan melihat akan merenung bagi keputusannya. Masih akan mencoba.
"Sanggat menyesaalll, atas dari hiduppan di orang orang
dari ajaran Varsia, sayaa akan bertoobaat dan menyesealinya dari saya mulai,
jadi untuk──"
Pada kepercayaan ajaran Lucy, itu adalah mempercayai bahwa
dewa merupakan sesembahan tertinggi dari dewa pada dewa Naga. Bahwa ajaran
agama itu memercayainya dunia dan penduduk dunianya ada di antara perlindungan
karena belaskasih Naga dari penganut dan ajarannya tersebut. Kemukjizatan
keajaiban sihir di dalam kemampuan ajaib merupakan pemberian keberkahan di
kepercayaannya juga atas dewa Naga di dalam aliran kependudukan penganutnya
tersebut.
"Sayaah mohon ke alam kedewaan Naga dari kepemilikan
Anda, tolonng dibawa ikutkan saya ini……!"
Walau itu hanya dari pembicaraan di sekilasan lewat
pengetahuannya yang mendasar baginya, dalam kepercayaannya hal tersebut sangat
dirasa perlu atas apa dari pengetahuannya dalam permohonannya akan pengikut
ajarannya permohonan ujian atas dirinya. Melakukan pengikut terhadap ajarannya
yang kuat demi wanita bergaun sihir putih dalam berdoanya itu.
"Tolonng bagi hamba, untuk dari diselamatkanlah dalam
keselamatan yang Anda peroleh……!"
"……Minta diselamatkan?"
Cocolco, memandangi dan melihat diam ucapan dalam doa
permintaannya itu. Melk lalu memintakan pengikut dari doanya tanpa berhenti
meminta tanpa terputuskan olehnya. Merasakan bahwa dengan begitu dia sangat
dari sangat pada kebenciannya dia atas kelakukan para orang barbar bagi dari
kehidupan serta bangsanya di bangsa pada kehidupan di Varsia itu. Dari apa jika
bisa di ijabahkan baginya, dia hingga hendak berkeinginan darah penganut suku
di kehidupan di sukunya dapat menghilangnya bersih baginya. Meskipun──.
──Dia bilang memintanya apanya yah ini dia dalam
perkataannya yang di bicaranya itu……?
Dalam pengucapan dan keucapannya tersebut cumalah kosa kata
aja di dalamnya yang sanggup daripadanya untuk menangkap dalam maknanya untuk
ia di pahaminya. Dalam ingatan dan ingatannya ia melintas kenang dalam sekilas
dalam benaknya itu mirip kepada suasananya kala di masa lalunya yang dulu kala
yang terjadi pada dan dalam dirinya dan atas masa lalu dari masanya ia sendiri
itu pada saat Cocolco mengingat-ingat sekilasan di dalam pembicaraannya ini di
masa dirinya bersama orang dalam masa lalunya itu dari orang yang lalu.
Dia mengetok pintunya Cocolco sambil mengucapkan bunyi dari
kedua pintunya dengan bunyian ketok di 2 saat dua dari masa kalanya.
Pada bagian di pedalaman untuk berada dari di tempat dan di
suatu lokasi kawasan sebuah kawasan pada perkebunan pada hutan-hutan yang
dirintisnya, untuk menjadi dan bagi suatu letak kawasan kedudukannya di
dalamnya, sebuah kemegahan serta besar mansion tersebut terbangun dalam lokasi
hutannya. Dengan dipenuhi adanya serta berisikan taman-tamannya untuk
pekarangan untuk pekarangan rumah tersebut pada lingkungan halamannya
dipelihara pada kediamannya pada penguasa di kediaman wilayah dalam sebuah desa
dari orang di petinggi pejabat-pejabat kawasan dan yang berkuasa dengan
perkuasaan besarnya di wilayah di dalam area lingkungan ini yang menguasai
wilayah tersebut. Namun dari dalam kediamannya sebuah keluarnya adalah nampak
adanya orang berpakaian untuk berbaju lusuhnya pria berantakannya yang bukan
adalah si petugas di penguasaan dalam perwilayahan tempatnya di wilayah dalam
bagian tempat tersebut untuk di situ dia. Sambil orang tersebut tersenyuman di
muka dan ia pun memberikan tampilan memperlihatkannya pada deretan akan dari
geligi-geliginya dari orangnya itu di antara gigi giginya.
Lalu pria tersebut bersuara seraya berkata dari belakang
pada ruangan di belakang di kediamannya, "Siapakah dirimu" dan pada
dirinya memalingkannya lalu merujukannya seraya menuju ke Cocolco pada orang
itu pada dari orang-orang tersebut kepadanya ini.
"Oh orang ini, ada anak wanita pelayan biarawati
biarawatinya dalam biara biara suster (sister) untuk biarawatinya ini loh yang
ini dalam perempuan ini pada wanita pelayan ini! Hal serta sesuatu lucu-lucunya
dalam orang itu ada petinya si jenazahnya juga dibawa-bawanya baginya juga dari
dibawanya, ya loh ininya ini orang!
Sekitar di belakang masa di puluh tahun di sekitaran dekade
di bagian pada sepuluh yang kalanya masa di lalu kalanya masanya.
Pada kerajaan sebagai wilayah bawahannya dari kerajaan di
bagian bawah Kerajaan Amelia, atas dan dari wilayah daerah yang merupakan
wilayah bawah di kerajaannya ini ada dan ada banyak akan dan kelompok orang
dari perampokan-perampokan atas dan yang orang banyak dalam kelompok-kelompok
gerombolannya dari dan bagi gerombolan dari sekelompok-sekelompok dan kumpulan
banyak anggota perampokan dari orang kelompok kumpulan di daerah gerombolannya
banyak kelompok yang mengerumuni perampok-perampok bayaran anggota kelompok
anggota gerombolan di pasukan sewaan bayarannya banyak dari dan banyak
sekumpulan untuk dan bagi perampok bayaran pasukannya di pasukan yang banyaknya
pasukannya ratusan, mereka mengerumuni dan mereka menguasainya desa dan
menguasai kota atas wilayah kekuasaan wilayah kekuasaannya dari atas kota dari
kota wilayahnya yang ada bagi wilayah kerajaannya dengan menguasai untuk
menjadi bagian penguasanya dan bagi menjadi penguasa dari wilayahnya itu kota
itu dalam kekuasaan di kota wilayah kekuasaannya dari mereka menguasai wilayah
wilayah tersebut yang untuk penguasa ini kota atas wilayah kekuasaannya di
mereka kota. Yang pada, menugaskan ke daerah tempat ini dengan untuk seorang
dan dari orang ini bagi dikirimkan atas dari ditugaskannya dan dalam utusannya
pada utusannya dari yang dikirim satu utusannya ini, di untuk atas mengalahkan
dan untuk bagi memberantas akan anggota pemberantasan memberantas orang ini
dari orang kelompok anggota bagi mengalahkan anggota kelompok anggota di dalam
bagi utusan Cocolco atas dari satu utusan seorang dari orang ini Cocolco Summoner.
Dalam berkumpulnya, di kumpulan berkumpul Cocolco tidak dari
kumpulannya tidak orang dia. Bahkan ia, dari bagi dia bagi dirinya untuk bagi
dalam perannya di bagian biarawati tidak dia. Namun dari kemampuannya, atas
untuk dalam kemampuannya ia memiliki dalam atas Sorcerers. Atas
kemampuan Magical Beast yang disertainya, atas dan untuk di dipanggilkan
dalam pengikut monster pengikut hewan sihir panggilannya itu untuk karena dalam
pengikut dari karena pengikut Magical Beast miliknya dalam monster hewan
pengikut itu dari untuk pengikut hewan monster hewan ajaib Magical Beast
yang bagi dari karena memanggil dan di memanggil memanggilnya untuk karena dari
dalam mengikutinya hewan monster Magical Beast panggilannya dari hewan
hewan hewan itu. Karena itulah di untuk dalam dan untuk karena baginya untuk
dia di dalam ia ia baginya dari baginya untuk dari dalam ia dia ini tidak atas
bagi ia untuk dari untuk dia dari untuk karena ia dalam untuk ia dari karena ia
ini selalu untuk selalu dalam dia atas karena baginya.
Telah menduduki dari di atas untuk dari kota wilayah mereka
yang atas tempat dan tempat yang ada dari daerah tempatnya ini, di untuk dan
menguasai akan mengambil di dalam kekuasaan rumah ini pada tempat menguasainya
mengambil dalam dan penguasaan untuk perampok akan mengambil tempatnya dari
tempat rumah itu rumah tempat untuk tempat kekuasaan di atas kekuasaannya
penguasa di perampokan dari dan tempat ini tempat. Pada, dari perampok-perampok
itu dengan ini orang mereka mereka yang untuk dari atas untuk merampok dan pada
mencurinya pada merampas dan orang orang dari merampoknya atas akan orang orang
yang dari dalam merampas perampasan. Akan dari atas di orang orang, yang
merampok merampok curian-curian di dan dari atas dalam merampas di akan
perampokan di merampok kejahatannya di dan di dalam dari kejahatan atas dalam
di merampas dalam dan untuk dari dan untuk di dan bagi. Orang-orang akan pada
atas untuk jahat yang jahat dalam pada di yang untuk di jahat jahatnya. Tidak
dalam untuk bagi nyaman, atas dari di atas di dari atas dari bagi dan untuk
atas atas.
"Tok. Tok. Tok……"
Seketika untuk, dalam pertempuran untuk dan bagi atas dalam
di dalam pada pertempuran dan pada di untuk di akan pada pertempuran atas pada
dan di. Dalam Cocolco akan untuk atas dari pada dan dalam melangkah untuk dan
di melangkah di dari melangkah untuk atas melangkah.
"Nyaaaan," di dari atas di pada dan dalam atas
pada kucing untuk di dan dari kucing di pada dari atas kucing.
"Waff," dalam atas dari pada anjing di atas dalam
pada dan untuk dari anjing.
Di untuk dalam atas pada dan untuk di dari dari pada atas.
Dari dalam untuk atas di pada dan pada di atas.
"Hooan," dalam atas dari untuk kuda pada kuda
dalam kuda atas pada di.
Untuk atas pada dan dari dalam di dari dalam atas.
"Tok. Tok. Tok……"
Dalam untuk atas dari di pada dan pada di.
Dalam untuk atas dari pada untuk dalam dan dari di.
Di dalam atas untuk pada dari untuk dalam dari pada di.
Di dalam atas untuk pada dari untuk dalam dari pada di.
Untuk atas di dalam pada dari untuk di atas dalam pada dari
di.
Di dalam atas pada dari untuk pada dari dalam di atas.
Untuk atas di dalam pada dari pada di dalam atas untuk dari
di.
Dalam atas untuk di pada dari untuk di dalam atas pada dari
di.
Dalam atas untuk di pada dari untuk di dalam atas pada dari
di.
Dalam atas untuk di pada dari untuk di dalam atas pada dari
di.
Dalam atas untuk di pada dari untuk di dalam atas pada dari
di.
Dalam atas untuk di pada dari untuk di dalam atas pada dari
di.
Di dalam atas untuk pada dari untuk di dalam atas pada dari.
"Tolong berikan kami keselamatan……!"
Terdengar jeritan permohonan Melk.
"……Baiklah, aku akan mendoakanmu."
Melihat Cocolco yang tersenyum ramah, Melk senang karena
merasa doanya didengar.
Mendekat, ia menggenggam pisau belatinya.
Sesuai permintaannya, Cocolco memeluknya. Kemudian ia
berbisik.
"──Semoga kelak di kehidupan berikutnya, kau menemukan
kebahagiaan."
"……Eh?"
──Krak. Leher Melk dipuntir, dan ia pun tewas.
Di dunia yang dikuasai naga ini, masih ada manusia yang tak
layak hidup.
Mereka terus mencemari dunia. Orang-orang baik yang terjatuh
ke dalam keputusasaan menganggap kematian sebagai penyelamatan. Agama Lucy
melegalkan bunuh diri, sementara ajaran Varsia percaya bahwa mereka yang mati
gagah berani akan pergi ke surga. Keduanya menganggap kehidupan setelah mati
lebih membahagiakan.
Ironisnya, dalam hal kematian sebagai penyelamatan, kedua
pandangan ini memiliki kesamaan.
6
Telur perak yang menyelimuti Funnel mulai membeku dan retak.
Kemudian, pedang dari dalam menghancurkannya. Funnel keluar, dan serpihan perak
berjatuhan.
"Kuh! Sihirmu tak ada apa-apanya……!"
Sambil tersenyum, Funnel maju mendekati Teresalisa.
Teresalisa mundur sambil menangkis serangannya.
Di tengah salju yang turun, suara pedang dan sabit yang
beradu bergema.
Serangan Funnel tak henti-hentinya, tak memberi Teresalisa
celah. Pertarungan di lapangan itu disaksikan oleh Teresalisa yang asli, yang
mengendalikan April (yang menyamar sebagai dirinya) dari kejauhan.
"……Sungguh merepotkan."
Saat Funnel tertutupi cairan perak, Teresalisa telah
mengubah April menjadi wujudnya dan ia sendiri mundur dari garis depan.
Di kastil yang dipenuhi mana ini, tak perlu khawatir
soal kehabisan sihir, baik bagi Teresalisa maupun Funnel yang terus menyerang.
Tak akan ada akhirnya.
April harus berada dalam pandangannya, jadi ia tak bisa
pergi jauh. Teresalisa tak ingin bertarung lagi; Funnel tak mau diajak berunding
dan terlalu kuat untuk ditangkap tanpa melukainya. Tak ada alasan untuk
melanjutkan pertarungan.
Ia akan segera pergi dari sana. Saat memikirkan hal itu, ia
mendengar suara ketukan dari jendela kaca di belakangnya.
"Witches-sama……!"
Rollo memegang kapak Mother Bilberry, bersama Ahli
Item berambut oranye.
Teresalisa mengendalikan April, dan memunculkan cairan perak
dari dalam jubahnya. Cairan itu membentuk batangan panjang dan melubangi kaca
dengan rapi. Melalui lubang itu, Rollo dan Gerda menatap dengan terkejut.
"Wow. Hebat…… Anda bisa melakukan apa saja, Witches-sama."
"Tidak semuanya. Kalian dari mana saja, situasinya
gawat."
Rollo menceritakan tentang pertemuannya dengan salah satu
Sembilan Rasul.
"Dia menyebut dirinya 'Summoner'. Dan dia
membawa Magical Beast. Terutama keledainya yang sangat berbahaya. Setiap
kali dia meringkik, leher orang di sekitarnya akan patah."
"……Sudah kuduga. Sihir di ruang tamu tadi bukan milik
anak itu."
Rollo menyampaikan cerita dari Gerda tentang Snow Witch.
Dia adalah kakak dari Snow King Horio. Empat puluh tiga tahun yang lalu,
ia memanggil naga untuk menghidupkan kembali permaisuri, dan dihukum mati oleh
raja sebelumnya. Ia menjadi Witches saat dadanya ditusuk tombak.
"……Di Agama Lucy, ada cara membuat penyihir yang
disebut 'Ritual Sirkumsisi'."
Teresalisa menjelaskan.
"Tidak semua orang bisa menggunakan sihir. Ada pendeta
yang diberi kesempatan melalui ritual itu, di mana mereka diserang oleh Magical
Beast agar bisa menyerap mana."
Luka yang diberikan naga memberi Funnel kekuatan dari agama
asing tersebut.
"Dia adalah tipe Mutator. Sihirnya membekukan
segala sesuatu yang disentuhnya. Ia tidak menua karena waktu miliknya juga ikut
membeku."
"……Menggunakan sihir tanpa henti selama empat puluh
tiga tahun, apa tidak melelahkan?"
"Tentu saja. Biasanya sihir akan habis. Tapi karena
tempat ini penuh mana, ia bisa melakukannya tanpa henti."
"……Luar biasa."
Funnel terlihat sangat menikmati pertarungan. Rollo
memikirkan bagaimana perasaannya selama empat puluh tiga tahun terkurung di
kastil beku ini sendirian.
"……Kenapa dia terus tinggal di kastil ini? Apa ada
tujuannya?"
"Entahlah. Harus tanya padanya──"
Teresalisa terdiam, melihat ke arah lorong tempat Rollo dan
Gerda datang.
"……Gawat. Ada satu lagi."
"Ada lagi……? Magical Beast?"
"Tiga sihir Magical Beast yang jahat…… dan sihir
Sorcerers yang kuat. Dia pasti 'Summoner' itu. Mereka pasti akan
segera muncul."
"Kita harus segera pergi. Kita tak bisa mengajak Witches
itu lagi sekarang."
Rollo menoleh pada Gerda dan bicara dalam bahasa Varsia.
"Sembilan Rasul sudah dekat. Kami akan meninggalkan
kastil ini. Anda juga harus ikut──"
"Tidak," Gerda menggelengkan kepalanya. "Aku
akan tetap di sini dan bertarung, meskipun melawan Sembilan Rasul."
"……Sembilan Rasul itu sangat kuat. Kapten saja mati
dalam sekejap. Kita tidak bisa menang."
"Kalian pergilah. Tapi kami orang Varsia takkan
memilih-milih lawan."
Gerda tampak marah. "Kai sangat berharga bagiku. Jika
aku lari tanpa membalas dendamnya, aku bukan orang Varsia lagi! Aku tak peduli
bisa menang atau tidak! Aku takkan memaafkannya……!"
"…………"
"Anak itu tak mau lari?" tanya Teresalisa.
"Aku setuju. Jika lawannya adalah Sembilan Rasul, aku akan bertarung. Ini
kesempatan bagus untuk membalas dendam."
"……Bahkan Anda juga."
"Mereka telah merebut negaraku. Tentu saja aku marah.
Lagipula──"
Cairan perak keluar dari jubahnya, membentuk sabit besar
seperti milik malaikat maut. "Aku tak suka dia berpikir bisa memburu Mirror
Witch."
"……Apakah ada peluang menang?"
"Entahlah. Tapi dalam pertarungan, kita tak perlu
memilih lawan, kan."
"……Sebagai pembunuh bayaran, aku diajarkan untuk mundur
jika risikonya tinggi," ujar Rollo.
"Ya. Tapi aku bukan pembunuh bayaran. Aku ini manusia
biasa yang akan marah jika orang yang kusayangi disakiti," mata merah
Teresalisa menyala. "Aku marah sekarang. Karena itulah aku akan bertarung.
Bagaimana denganmu? Apa kau tak marah tuanmu dibunuh?"
Rollo mengepalkan tangannya. Tentu saja ia marah. Ia pun
mengangguk. "……Baiklah, mari kita bertarung."
Rollo melihat ke arah lapangan; Funnel menyadari ada dua
Teresalisa dan berhenti bergerak.
"Bagaimana dengan dia?"
"Biarkan saja. Lagipula dia memang suka
bertarung," ucap Teresalisa.
"……Ah," Rollo teringat. Snow Witch terus
bertarung karena tak bisa meninggalkan kastil ini, atau dia akan mati.
Rollo berkata pada Gerda. "Kami akan mengurus Summoner
itu. Kau carilah tempat aman."
Rollo melompat keluar melalui lubang di kaca menuju
lapangan. "……Maukah kedua Witches bekerja sama melawan Sembilan Rasul?"
"Apa bisa?" balas Teresalisa. "Akan
kucoba."
Rollo menyambut pedang Funnel dengan kapak perangnya, lalu
menahan gerakan pedang tersebut. "Senang bertemu lagi, Snow Witch-sama."
"……Minggir, 'pria bukan Varsia'! Aku ada urusan dengan Sorcerers
itu."
"Dia bukan Sorcerers. Dia adalah 'Mirror
Witch'."
Rollo merasakan hawa dingin dari sihir Funnel, embun beku
mulai muncul di kapak dan pedang mereka. Rollo melepaskan senjatanya dan
menghindari serangan lanjutan Funnel.
"Kau terus berada di kastil ini bukan karena tak mau
keluar, tapi karena tak bisa! Jika kau keluar dari mana spot ini,
sihirmu akan hilang, waktumu akan berjalan, dan kau akan mati!"
"…………"
"Jika kau melepaskan sihirmu, lukamu akan kembali
terbuka. Tapi bagimu, itu sama saja dengan 'bunuh diri'. Dan bagi orang Varsia,
bunuh diri berarti tak bisa masuk surga!"
Funnel berhenti bergerak.
"Snow King Horio menyebutmu 'Witches yang
jatuh', tapi pandanganmu tentang kematian adalah murni Varsia. Kau adalah putri
Varsia…… karena itu kau terus bertarung. Agar bisa mati sebagai orang Varsia di
tangan prajurit yang lebih kuat darimu."
"Memangnya kenapa kalau aku Varsia? Apa urusannya
denganmu?"
"Ada. Negosiasi kita baru dimulai……" Rollo menahan
dingin yang membekukan. "Aku bisa mengabulkan permintaanmu itu."
"Kau akan membunuhku?" Funnel tertawa. "Sudah
800 orang kutebas selama 43 tahun. Apa kau pikir bisa mengalahkanku?"
"Hanya 800 orang dalam 43 tahun? Kakekku membunuh 300
orang dalam semalam."
Mendengar legenda 'Pembunuh 300 Orang' yang terkenal, mata
Funnel terbelalak. "Kakekmu…… 'Black Dog'?"
"Ya, dan aku penerusnya. Berjanjilah padaku. Jika kau
mau bertarung bersama kami, aku, 'Black Dog' Rollo Duvel, pasti akan
memberimu kematian yang memuaskan──"
7
"Tok. Tok. Tok……"
──Dia datang.
Dari ujung lorong yang gelap dan dingin, terasa ada hawa
yang mendekat. Suara langkah kaki beberapa ekor binatang buas yang tidak
beraturan. Embusan napas kasar dan bau binatang buas. Serta suara decakan lidah
di dalam mulut──.
Lorong sepi yang tadinya membeku ini sekarang menjadi sangat
bising.
Teresalisa mengarahkan sabit besarnya dan menyambut mereka
di tengah lorong.
"Grrrrrrr……!!"
Yang pertama kali melompat keluar dari kegelapan adalah
anjing berkepala dua.
Tingginya sepinggang manusia, itu adalah anjing besar.
Bulunya berwarna hitam pekat tanpa kilau sedikitpun, dan seluruh tubuhnya
berwarna hitam legam kecuali bagian dadanya saja yang berwarna merah seperti
berlumuran darah. Di ujung ekornya terdapat pita putih yang mirip dengan pita
yang ada pada keledai dan kucing.
Kedua kepala itu memamerkan taringnya dan menerjang ke arah
Teresalisa sambil meneteskan air liur.
Teresalisa mengayunkan sabit besarnya ke atas, ke bawah, ke
kiri dan ke kanan, mengincar tubuh anjing berkepala dua itu. Namun, pergerakan
anjing buas itu sangat lincah. Anjing itu menyelinap melalui lintasan sabit dan
mendekati Teresalisa. Saat satu kepala menggigit jubahnya, pada detik
berikutnya kepala yang lain langsung menggigit pergelangan tangan Teresalisa yang
sedang memegang sabit.
"……!"
Tak peduli sekuat apa Teresalisa mengayunkannya, anjing itu
tidak mau melepaskan lengannya.
Akhirnya dari kegelapan di ujung lorong, keledai itu muncul
bersama Cocolco.
"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"
──Krak. Leher Teresalisa dipelintir dengan paksa, dan
berputar setengah putaran.
Teresalisa yang asli memperhatikan kejadian tersebut dari
kejauhan, melalui lubang bundar pada jendela──dari lapangan bawah tempat salju
menari-nari ditiup angin. Sambil mengendalikan April yang menyamar sebagai
Teresalisa.
Di lorong, keledai itu meringkik sekali lagi. Seketika,
jendela besar yang telah dilubangi berbentuk lingkaran itu hancur
berkeping-keping dalam sekejap. Hanya menyisakan kerangka yang penyok, pecahan
kaca jendela berserakan di atas salju.
"Suara ringkikan yang menjijikkan……"
Cocolco menatap ke arahnya melalui jendela yang pecah.
Teresalisa melangkah mundur.
"……Sejak kalian datang ke kastil ini, jendela kaca
terus saja pecah. Kalian akan memperbaikinya kan?"
Funnel, yang telah mengawasi pecahan kaca jendela lorong
dari dekat bagian tengah lapangan, mengerutkan dahinya dengan tidak senang.
Rollo juga melihat ke arah lorong di sampingnya. Teresalisa berlari kecil ke
arah mereka.
"Tolong katakan itu kepada Sorcerers wanita
berbaju putih itu. Sebelum kita mengalahkannya."
"Bukankah dia itu teman kalian?"
"Bukan. Dia itu musuh yang sangat kubenci."
Setelah bergabung dengan kedua orang tersebut, Teresalisa
bertanya kepada Rollo dalam bahasa Transmare.
"Apakah kalian sudah mencapai kesepakatan? Apa kau
berhasil menjadikannya sekutu?"
"Sekutu katamu? Oh begitu ya, orang ini ingin
menjadikanku sekutunya ya. Aku tidak mau."
"Ah…… Padahal sudah sedikit lagi, tapi Witches-sama
malah menghancurkannya…… eh, tunggu? Snow Witch-sama, Anda bisa bahasa
Transmare?"
Melangkahi bingkai jendela yang hancur berkeping-keping dari
lorong, Cocolco melangkah ke lapangan bawah.
"……Ya ampun, ada dua orang penyihir berdiri
berdampingan. Kekacauan di dunia ini sudah sangat parah ya."
Sambil menyentuh gagang pedang hiasan yang tergantung di
pinggangnya, ia mulai berjalan ke arah para Witches di lapangan yang
tertutup salju. Di dekat kakinya, kucing hitam itu menegakkan ekornya, dan
sedikit di depannya, anjing berkepala dua berjalan mendahului. Keledai hitam
yang tulang kepalanya terekspos, melewati bingkai jendela di belakang Cocolco
dan mendarat di atas salju.
Sihir bawaan "Summoner" Cocolco Luka "The
Band" memanggil Magical Beast dengan mengorbankan para pendosa
ke dalam peti mati.
Pemanggilan yang mengkonsumsi mana dalam jumlah besar
ini biasanya hanya memungkinkan satu orang untuk memanggil satu Magical
Beast saja. Cocolco, yang bisa memanggil dan membawa tiga Magical Beast
sekaligus, menunjukkan bahwa dia adalah penyihir tingkat tertinggi.
"──Ayo bersiaplah. Aku datang, atas kehendak
Naga."
Menerima tekanan yang tak terlukiskan dengan kata-kata dari
depan, kaki Rollo gemetar ketakutan.
Ia bisa merasakan kekuatan yang luar biasa yang menggetarkan
kulitnya. Padahal ia tidak seharusnya bisa merasakan sihir, tapi ia bisa tahu
bahwa Summoner dan Magical Beast yang berhadapan dengannya itu
memiliki aura yang aneh. Ia ingin pergi dari tempat ini. Ia ingin segera
melarikan diri. Peringatan bahaya dalam diri Rollo sebagai seorang pembunuh bayaran
berbunyi nyaring.
Rasa takut adalah sinyal. Itu adalah naluri bertahan hidup
yang mengatakan agar tidak melangkah lebih jauh dari ini jika ada sesuatu yang
mengancam nyawa. Namun Rollo mengatur napasnya dan melawan sinyal ini. Ia
dengan bodohnya mengisi hatinya dengan kemarahan dan kebencian, menekan rasa
takutnya. Wanita yang ada di depannya adalah orang Amelia, negara yang telah
merebut negaranya. Dia adalah teman dari orang-orang yang telah membunuh
tuannya dan memamerkan kepalanya. Aku akan mengalahkannya, aku akan
mengalahkannya, aku akan mengalahkannya di sini……!
Di samping Rollo yang membangkitkan semangatnya dengan kapak
perang di tangan, Funnel berseru.
"……Tidak mungkin. Mengapa ada anjing berkepala dua di
sini?"
"……? Apakah Anda mengetahuinya?"
"Itu adalah anjing yang seharusnya dipelihara di alam
baka. Anjing buas yang mempermainkan jiwa-jiwa orang mati yang jatuh. Karena
dia menyalak dan memanggil kembali jiwa-jiwa itu, orang mati akan terus
terbakar dalam api penyucian selamanya."
"Hmph," Teresalisa mendengus, menunjukkan
ketidaksukaannya.
"Menguasai mitologi agama lain. Agama Lucy benar-benar
terlalu sombong."
"Setidaknya saya rasa, lebih baik jangan mendekati
kucing itu. Kepalanya akan terbelah dan memangsa manusia. Keledai itu, setelah
dia meringkik, tulang leher orang di sekitarnya akan patah. Apakah itu juga
semacam sihir?"
"Magical Beast tidak menggunakan sihir."
"Magical Beast tidak menggunakan sihir."
Funnel dan Teresalisa secara bersamaan menjawab pertanyaan
Rollo. Teresalisa kemudian melanjutkan.
"Sihir adalah hasil dari mengolah atau mengubah mana
dan menjadikannya sebuah teknik. Magical Beast tidak memiliki
pengetahuan seperti itu. Mereka hanya memancarkan mana berlebih yang ada
dalam tubuh mereka secara paksa. Aku tidak tahu mengapa keledai itu dengan
gigih mengincar leher."
Teresalisa memelototi keledai itu.
"Hanya saja, meskipun aku bisa melihat aliran sihir
yang hanya mengincar leher itu, kekuatan keledai itu terlalu kuat sehingga tak
bisa sepenuhnya ditahan. Menggunakan April sebagai perisai……? Apa pun itu, ini
pasti akan sangat merepotkan."
"Sulit untuk membunuhnya. Seingatku Magical Beast
tidak bisa dibunuh."
"Iya. Strategi untuk mengalahkan monster panggilan
bukanlah dengan membunuhnya."
"Lalu…… apa yang harus kita lakukan?"
"Membunuh pemanggilnya."──Kali ini pun kedua Witches
berbicara serentak.
"……Apakah kita bisa menang?"
Menjawab pertanyaan Rollo yang bergumam ketakutan,
Teresalisa menyunggingkan senyum jahat.
"Aku akan memberitahumu, mengapa orang-orang Agama Lucy
itu takut pada Witches."
"……Apakah Snow Witch-sama juga akan ikut
bertarung?"
Rollo bertanya lagi. Funnel menatap Cocolco sambil memegang
pedangnya.
"Selama 43 tahun ini, ada banyak prajurit yang mencoba
membunuhku, namun kalian adalah orang gila pertama yang mencoba membawaku
keluar dari kastil ini. Seperti yang kau bilang, negosiasi ini sia-sia karena
aku tak punya niat untuk keluar dari kastil ini. Namun untuk menghargai
usahamu, baiklah. Aku akan mengizinkanmu bertarung bersamaku sekali ini
saja."
Udara di sekitar menjadi semakin dingin. Funnel melirik
Rollo sekilas.
"Ini janji ya? 'Black Dog'. Setelah kita
mengalahkannya, selanjutnya kau harus bertarung denganku. Itulah syaratnya.
Jika kau mau memberikanku kematian yang gagah berani──Snow Witch akan
meminjamkan kekuatannya."
"……Tentu saja. Mari kita berjanji."
Rollo memeriksa rasa sakit di tubuhnya. Luka di bahu
kanannya dan tulang rusuknya yang retak. Tidak apa-apa. Ia sudah terbiasa
dengan rasa sakit. Rollo melempar kapak perangnya ke depan wajahnya dan
menangkapnya dengan mudah. Tubuhnya bisa bergerak. Lagipula, ada dua Witches
yang ditakuti oleh para Sorcerers yang berada di sisinya. Tak ada yang
lebih menenangkan daripada ini.
Anjing berkepala dua melompat ke arah kiri depan. Mulutnya
terbuka lebar, air liur menetes saat mendekat.
Tak lama kemudian, dari arah kanan depan, kucing hitam berlari
mendekat sambil melompat-lompat. Keduanya bergerak dalam lintasan yang meluas
ke kiri dan kanan, berencana untuk mengepung mereka bertiga dari dua
sisi──namun, seolah-olah dipukul, Funnel melompat ke arah kiri depan. Kalau
begitu Rollo ke arah kanan depan. Ia menatap lurus ke arah kucing hitam itu.
Tepat saat keduanya mulai berlari──"April!!"
Teresalisa berteriak dari belakang. Seketika, cairan perak
yang tumpah dari jubahnya membentuk dua sosok wanita telanjang tanpa wajah, dan
masing-masing berlari di samping Funnel dan Rollo.
"Ohhh……!"
Rollo berteriak takjub melihat wanita telanjang perak yang
berlari bersamanya. April adalah perisai sekaligus dinding pelindungnya.
Dari kejauhan, keledai itu meringkik dengan suara yang
sangat nyaring. Suara menyedihkan yang mirip dengan isak tangis seorang pria
bergema di langit bersalju. ──"Hiiiiaaaaannggghhh……!!"
Tepat pada saat itu──April melangkah maju untuk melindungi
Rollo. Tulang lehernya langsung patah dengan suara Krak.
"Ah, April!"
Rollo tanpa sadar berteriak saat menyaksikan pemandangan itu
di depan matanya. Dia adalah sosok roh. Dia tidaklah hidup. Namun, melihat
wujud pengorbanannya yang runtuh saat menjadi tameng untuk dirinya membuat dada
Rollo sesak.
"Nnyyyaaaaannnngghhh……!!"
Rollo menghindari kucing hitam yang kepalanya terbelah dan
tentakelnya menyebar dengan gerakan roda yang tidak menyentuh tanah──koprol di
udara sambil terus berlari. Yang dia incar bukan Magical Beast,
melainkan pemanggilnya──Cocolco.
Saat mendarat, Rollo melirik sekilas ke arah Funnel. Anjing
berkepala dua itu lebih buas dan agresif daripada kucing. Karena terus
dihalangi, Funnel berhenti berlari dan mendecakkan lidahnya karena kesal.
Namun selama Funnel menahannya, anjing berkepala dua itu
tidak akan bisa mendekat ke arah Rollo. Rollo memperbaiki genggamannya pada
kapak perang dan bersiap menyerang Cocolco──tetapi di belakang Cocolco, keledai
itu mengarahkan moncongnya pada Rollo.
"Tunggu Black Dog, April masih……!"
──Lehernya patah dan tidak kembali seperti semula. April,
yang sebelumnya berlari bersama Rollo, tergeletak di samping kucing hitam yang
membuka tentakelnya. Terkapar di atas salju dengan leher terpuntir.
Saat ini Rollo tidak punya perisai──.
Tapi Rollo tidak menghentikan langkahnya. Tengkorak keledai
itu tak punya mata, tapi Rollo merasa makhluk misterius itu sedang menatapnya
lekat-lekat. Sambil berlari, bulu kuduknya merinding ngeri. Aura jahat yang
datang lurus dan langsung menerpanya. Keledai itu mengangkat moncongnya
tinggi-tinggi dan meringkik.
"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"
Rollo terus berlari tanpa mempedulikannya. Ia yakin lehernya
akan dipelintir──karena itulah ia berlari lurus menerjang ke arah keledai
tersebut. Rollo tidak dapat melihat sihir. Namun, ia tahu bahwa keledai itu
mengincar leher. Ia telah melihat berulang kali prajurit Varsia yang lehernya
dipelintir di depan matanya. Leher mereka selalu diputar setengah putaran
berlawanan arah jarum jam──kalau begitu.
Ia memperhitungkan saat yang tepat ketika lehernya mulai
dipelintir oleh kekuatan supernatural, lalu melompat dengan menendang tanah
sambil berlari. Lehernya akan diputar ke belakang setengah putaran. Kalau
begitu ia hanya perlu melakukan hal yang sama──memutar tubuhnya setengah
putaran di udara.
Leher Rollo yang dipelintir itu hanya berputar mengikuti
tubuhnya yang berputar di udara, lalu ia mendarat tanpa ada luka sedikitpun.
Lehernya masih menyambung di tubuhnya. Kakinya bergerak. Nyawanya masih ada.
"……Bercanda kan?"
Teresalisa, yang menyaksikan seluruh kejadian saat Rollo
menghindari putaran leher keledai itu, membelalakkan matanya dan bergumam. Ia
tak menyangka ada cara penanggulangan seperti itu.
"Haha. Hebat sekali 'Black Dog'." Funnel,
yang sedang meladeni anjing berkepala dua, juga tertawa gembira melihat gerakan
Rollo. "Pria yang bertarung denganku memang harus seperti itu."
Rollo tidak menghentikan lajunya. Lawan yang ia tuju untuk
diayunkan kapaknya adalah Cocolco.
Sring, Cocolco menghunus pedang dari pinggangnya. Ia
menahan kapak perang Rollo dengan pedang cantik bermotif geometris itu.
"……Hebat," gumam Cocolco tepat di depan hidung Rollo sambil
tersenyum.
Tak perlu dikatakan lagi bahwa kapak perang adalah senjata
yang berat. Kapak baru bisa menunjukkan nilai aslinya jika terus diayunkan dan
momentumnya dialirkan ke bilahnya, daripada hanya ditahan atau dibalikkan
arahnya. Rollo segera menarik kapaknya, memutar lengannya dengan kuat, lalu
mengayunkannya dari bawah untuk membacok ulu hati Cocolco.
Cocolco menepis kapak perang itu dengan pedangnya, mengubah
arah ayunannya.
Rollo tak berhenti. Ia membalikkan pergelangan tangannya,
memutar lengannya, dan terus mengayunkan kapak perangnya seolah sedang
menari──namun, alih-alih menahan kapak yang berayun kencang itu dengan
pedangnya, Cocolco memukul pergelangan tangan Rollo dengan punggung tangan
kirinya pada saat yang tepat, sehingga mematikan momentum serangannya. Selain
itu, dengan tangan kirinya yang telah diputar balik itu, ia mencengkeram
pergelangan tangan Rollo yang memegang kapak dan memelintirnya ke atas.
"……!"
"Rentang gerak lengan kananmu lebih terbatas dibanding
kiri. Kau terluka, ya."
Ini adalah kontak fisik kedua dengan Cocolco. Pertarungan
singkat itu telah mengungkap luka di bahu kanannya.
Rollo menjatuhkan kapaknya dari tangan kanannya yang
dicengkeram Cocolco. Ia melihat pandangan Cocolco tertuju pada kapak yang jatuh
itu──mengamati celah itu, ia mencabut pisau belati dengan tangan kirinya yang
bebas dan menusukkannya. ──Tetapi, tipuan kecil seperti ini tentu saja tidak
akan berhasil mengenai Cocolco. Cocolco telah menangkis pisau tersebut dengan
pangkal pedang hiasannya. Pada saat bersamaan, ia menepuk pundak Rollo dan
mendorongnya menjauh.
Jarak pun tercipta di antara keduanya.
Dari jangkauan pisau belati, kini jarak mereka tepat untuk
mengayunkan pedang.
Situasi berbalik. Kini giliran Rollo yang harus menerima dan
menangkis pedang Cocolco.
──Dia hebat.
Melihat cara Cocolco menggerakkan tubuhnya, jelas bahwa ia sangat
ahli dalam pertarungan jarak dekat. Walaupun menyandang gelar "Summoner",
sebuah peran yang sangat identik dengan barisan belakang (pendukung), kemampuan
pedangnya sebagai barisan depan (penyerang) tak tertandingi.
──Dia cepat. Tapi, tidak sampai tak bisa diikuti oleh
mata.
Fakta itu memberi Rollo rasa percaya diri. Sambil menangkis
pedang Cocolco dengan pisau belatinya, ia bisa merasakan inderanya semakin
tajam. Entah karena adrenalinnya memuncak setelah baru saja melewati batas
kematian akibat putaran leher keledai itu──meski tubuhnya terus bergerak,
pikirannya tetap sangat tenang. Sambil menangani serangan pedang Cocolco, Rollo
terus mengawasi gerakan keledai. Pandangannya selalu waspada pada apakah
makhluk itu mengarahkan pandangannya ke arahnya dan bersiap untuk meringkik.
"Hah…… hah. Hah……──"
Pada saat yang sama, ia menangkap sosok kucing hitam di
sudut pandangannya. Kucing hitam yang kepalanya telah terbelah itu, kini
ditekan oleh April yang lehernya patah, gerakan kucing itu terkunci. Dan di arah
yang lain, April kedua yang sebelumnya berlari bersama Funnel, menahan anjing
berkepala dua dengan tubuh peraknya yang sedang digigit hancur.
Funnel tidak ada di sana. Di saat Teresalisa mengendalikan
kedua April dan menghentikan pergerakan anjing dan kucing, tentu saja tujuan
Funnel adalah──.
"──Kihhh."
Tepat di telinga Cocolco, Funnel tertawa kegirangan.
Sosoknya berada tepat di belakang Cocolco yang sedang beradu
pedang dengan Rollo. Detik berikutnya, hawa dingin yang tak wajar muncul
berpusat di sekitar Funnel──krek krek, pakaian dan pedang hiasan Cocolco
mulai diselimuti embun beku.
Sihir bawaan Funnel, "Preserved Flower",
membekukan segala sesuatu yang disentuh oleh energi sihirnya. Funnel
menempelkan telapak tangannya di pinggang Cocolco. Energi sihir yang sangat
padat dan dingin langsung dihempaskan ke tubuhnya. Hawa dingin yang membekukan
itu membuat napas Cocolco tercekik.
"Uhk……!"
Hanya sesaat. Cocolco tersentak dan mundur mewaspadai
Funnel.
Rollo tak melewatkan kesempatan itu. Ia menggenggam erat
pisaunya dan melangkah maju.
──Bisa. Aku bisa membunuhnya……!
"Mirror Witch" dan "Snow Witch"──Jika
kedua orang ini bersama, pedang pun bisa mencapai tubuh salah satu dari
Sembilan Rasul.
Rollo sudah tidak ragu lagi untuk membunuh. Ia telah
mengetahui rasa sakit dari tangisan kehilangan. Ia tahu kebodohan dari sebuah
keraguan. Mengambil langkah sebanyak langkah mundur Cocolco, ia mengayunkan
pisau belatinya dengan satu tebasan horizontal.
Ujung pisaunya merobek tenggorokan Cocolco. Untuk memastikan
kematiannya, Rollo melangkah maju satu langkah lagi, dan sambil mencengkeram
bahu Cocolco dengan tangan kirinya yang terjulur, ia menusukkan pisau di tangan
kanannya ke tubuh Cocolco. Menghindari tulang dada, dari bawah tulang rusuk,
dengan pasti merobek organ dalam dan membidik jantungnya.
Tubuh Cocolco melonjak hebat.
Darah segar tumpah dari perutnya yang sobek, mewarnai salju
di kakinya menjadi merah.
Rollo yang menusukkan pisaunya ke tubuhnya merasakan detak
jantung yang semakin melemah dengan tangan kanannya yang menggenggam pisau. Dug,
dug, dug──……
Tak lama, suara detak jantung itu pun menghilang, dan pedang
hiasan yang ia genggam terlepas dari tangannya.
"Hah…… Hah…… hah……"
Tubuh Cocolco yang lemas, ditidurkan telentang oleh Rollo di
atas salju yang merah oleh darah.
Darah segar yang tumpah dari lehernya yang kecokelatan
bahkan menodai pakaian putih murninya menjadi merah. Lehernya dirobek,
jantungnya ditusuk, dan ia pun mati. Rollo benar-benar merasakan detak
jantungnya telah berhenti. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di wajahnya yang
terbaring itu. Mata putihnya terbuka tipis tanpa ekspresi, menatap kosong ke
langit yang terus menurunkan salju.
"Hah…… hah, hah. Berhasil……──"
Berdiri di samping Cocolco yang terbaring, Rollo menatap
tangannya sendiri. Sarung tangan yang menggenggam pisau belati itu basah oleh
darah Cocolco. Sensasi merobek tenggorokan dan mengoyak organ dalam masih
tertinggal di ujung jarinya.
"……Kita berhasil. Satu dari Sembilan Rasul──"
Rollo yang menoleh ke arah Teresalisa menghentikan
kata-katanya.
Ada kejanggalan yang tak terlukiskan. Di antara Rollo dan
Teresalisa masih ada kucing hitam tadi, menggeliatkan tentakel dari kepalanya yang
terbelah untuk menelan April. Sementara itu, di arah lain, anjing berkepala dua
yang sedang menggigit hancur April, melolong menggelegar ke langit yang
diselimuti awan tebal.
"Awooooooouu……! Awooooooouuuu……!"
"……?"
Rollo menyadari bahwa angin kencang yang tadinya menderu di
lapangan bawah telah mereda tanpa ia sadari. Awan yang berputar di langit yang
ia tatap, tampak memiliki lubang di tengahnya yang memperlihatkan langit biru
yang cerah. Cahaya matahari yang hangat memancar masuk melalui lubang itu.
Pemandangan yang tidak masuk akal. Suara angin menghilang,
dan di lapangan bawah yang penuh keheningan itu terdengar lolongan anjing
berkepala dua.
"Oooooooun……! Ooooooooooun……!"
──Bagaimana caranya makhluk-makhluk ini menghilang……?
Pertarungan masih belum berakhir.
"……Setiap kali mati, ia bersukacita, dan setiap kali
hidup kembali, ia bersedih──"
Suara Cocolco terdengar di belakangnya.
"Black Dog……!"──teriak Teresalisa yang merasakan
bahaya.
Bersamaan dengan saat Rollo berbalik, perutnya disayat
mendatar dengan satu tebasan dari pedang hiasan yang diayunkan.
Rollo mundur terhuyung-huyung, menekan perutnya dengan
tangan. Rasa sakit tajam yang tak tertahankan. Darah segar tumpah dari
tangannya yang menekan, dan berceceran di atas salju. Mengapa──Di tengah keterkejutan
yang melebihi rasa sakit, Rollo mengangkat kepalanya.
"……Aku tak punya jalan keluar. Selama dunia masih
menginginkanku, selama kejahatan merajalela di dunia, aku akan terus hidup
kembali. Aku akan menerimanya. Jika ini juga merupakan kehendak Lucy-sama──"
Di sana berdirilah Cocolco yang pakaiannya berwarna merah
kotor oleh darah. Ia seharusnya telah memastikan bahwa Cocolco benar-benar
mati. Namun, Cocolco berdiri menggenggam pedang hiasannya dengan wajah tenang
seolah tak terjadi apa-apa.
"──Atas kehendak Naga."
"……Bagaimana bisa"
Seketika terdengar ringkikan keledai yang memekakkan
telinga.
"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"
Funnel, yang posisinya paling dekat dengan keledai itu,
mendecakkan lidahnya kesal, dan tepat setelah itu──Krak, lehernya
terpuntir setengah putaran.
"April……!!"
Teresalisa dengan sigap mengeluarkan April ketiga.
Wanita telanjang berwarna perak yang berdiri di depannya itu
merentangkan kedua tangannya ke depan. Lengannya memanjang ke depan seperti
tali yang dilempar, melilit tubuh Rollo yang terluka dan tubuh Funnel yang
terjatuh. Kemudian, kedua lengannya yang menyusut itu menarik mereka berdua ke
hadapan Teresalisa seolah sedang mengangkat mereka.
"Guh…… Maafkan aku, Witches-sama…… Aku,
lengah."
Rollo yang berlutut itu bernapas terengah-engah. Luka di
perutnya terlalu dalam. Seumur hidupnya, Rollo tak pernah terluka separah ini.
Darahnya tak mau berhenti mengalir. Jika ia melepaskan tangan yang menekan luka
ini kuat-kuat, ususnya mungkin akan keluar──ketakutan seperti itu menguasai
dirinya.
"Kau tidak apa-apa?"
Ditanya oleh Teresalisa, Rollo pun mengangguk. Dia sama
sekali tidak baik-baik saja, tapi ada orang yang terluka lebih parah darinya
terkapar di sebelahnya. Funnel yang tulang lehernya patah.
"Aku…… Lebih baik dariku, Snow Witch-sama……"
"……Jangan cemas, 'Black Dog'."
Di luar dugaan, Funnel berdiri tegak meskipun tulang
lehernya patah. Ia memegang lehernya sendiri dengan kedua tangannya, dan seolah
mengerahkan tenaga dari dalam, ia memutarnya kuat-kuat hingga berbunyi krak
untuk mengembalikannya ke posisi semula.
"……Ehhh?"
Funnel juga hidup kembali seperti Cocolco. Rollo semakin
bingung.
"Kalau aku bisa mati hanya dengan luka ringan seperti
ini, aku takkan bisa terus bertarung melawan Varsia selama 43 tahun."
Funnel berlutut di depan Rollo dan menyingkirkan tangan
Rollo yang berada di perutnya.
Pakaiannya robek dan basah oleh darah yang terus mengalir. Funnel
meletakkan tangannya di atas luka tersebut dan menempelkan hawa dingin seolah
membalutnya dengan sihir. Berderak──disertai dengan hawa dingin yang mencekik,
embun beku turun menutupi luka dan area sekitarnya, Rollo pun menahan rasa
dingin itu.
Tak lama, rasa sakit di perutnya mereda seakan mati rasa
karena hawa dingin.
"……Hebat. Apakah ini sihir penyembuhan?"
"Bukan. Aku hanya membekukannya untuk menghentikan
pendarahan. Begitu sihirnya hilang, kau akan mati. Sama sepertiku."
Funnel tersenyum pada Rollo.
Alasan Funnel tidak terluka juga sama. Karena ia terus
menghentikan berjalannya waktu pada dirinya sendiri, semua kerusakan yang
diterimanya selama 43 tahun ini juga berhenti tepat saat ia menerimanya. Jika
ia melepaskan sihirnya, atau jika ia meninggalkan kastil ini──meninggalkan
tempat mana spot ini, suplai mana akan terhenti dan ia takkan
bisa terus menggunakan sihirnya. Saat waktu yang membeku mulai berjalan
kembali, semua kerusakan yang terakumulasi di tubuhnya akan terjadi secara
bersamaan. Selama 43 tahun, luka yang diberikan oleh prajurit Varsia akan
terbuka kembali, dadanya akan tertembus tombak terbakar yang sama, tulang
lehernya patah, dan ia akan mati.
"……Hah. Kalau begitu, apakah aku tak akan bisa keluar
dari kastil ini?"
"Sebaliknya, selama kau berada di kastil ini, kau bisa
terus bertarung melawannya."
Funnel berdiri dengan pedang di tangannya. Menatap Cocolco
yang berlumuran darah.
Ia sedang mengelus kedua kepala anjing yang berlari kembali
padanya.
"……Alasan dia hidup kembali adalah karena anjing
berkepala dua itu. Dua lolongan itu memanggil kembali jiwanya yang sedang
menghilang."
Funnel menatap langit. Lubang yang sebelumnya terbuka di
awan tebal itu sudah tertutup lagi. Angin yang sempat berhenti juga kembali
bertiup, dan salju pun menari-nari. Seolah pemandangan tadi hanyalah mimpi,
lapangan bawah kembali tertutup badai salju yang suram.
Funnel tersenyum tipis, dan bergumam pelan dalam bahasa
Varsia.
"……Apakah kami berdua bersaudara seharusnya memanggil
anjing, bukannya naga dari negeri asing?"
"Untuk saat ini. Kita putuskan nanti bagaimana
menangani lukamu itu."
Teresalisa juga memelototi Cocolco yang bangkit dari ambang
kematian.
"Pertama-tama, kita harus mengalahkannya."
"Sekali lagi…… apakah kita bisa menang? Melawan
seseorang yang hidup kembali meskipun sudah dibunuh."
"Tentu saja kita bisa menang," ujar Teresalisa
santai pada Rollo yang telah berdiri.
"Benar, kita bisa menang," Funnel juga tersenyum
memperlihatkan giginya.
"Melihatnya hidup kembali dengan mudah membuatku kesal.
Ini mulai menyenangkan!"
8
"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"
Ringkikan keledai itu memekakkan telinga.
Wanita telanjang perak yang muncul di depan Funnel yang
sedang berlari──April, lehernya dipelintir dan roboh ke tanah. Namun sekarang,
April yang muncul bukan hanya satu. Sebuah teknik kasar yang hanya bisa
dilakukan dalam pertempuran di mana sumber sihir bisa terus-menerus diserap
tanpa henti dari tempat yang dipenuhi energi mana (mana spot)──Teresalisa
mengendalikan enam sosok April untuk bergerak secara bersamaan. Sekarang,
tersisa lima.
Dia tak bisa menggerakkan semuanya dengan rumit seperti
mengayunkan sabit, namun sekadar menyuruhnya lari dan menjadikannya tameng
sangatlah mudah. Teresalisa mengepung anjing berkepala dua yang berlari
mendekat itu dengan tiga sosok April. Para April yang saling berpegangan tangan
membentuk lingkaran ini melebur jadi satu dan berubah menjadi sebuah kurungan.
Pada kucing hitam yang berlari mengikuti di belakang anjing,
dua tubuh April yang tersisa melemparkan diri dan menimpanya. Ini juga akan
berubah menjadi kurungan perak.
──Setidaknya kita harus melakukan sesuatu terhadap anjing
berkepala dua itu.
Sesaat sebelum Funnel berlari bersama April, Teresalisa
mengatakan hal tersebut kepada Rollo.
"Sangat tidak berguna jika setiap kali anjing itu
menggonggong, sang pemanggil akan bangkit kembali. Namun kita juga tidak bisa
membunuhnya."
"Lalu…… apa yang harus kita lakukan?"
"Karantina."
Membuat kurungan dari tiga tubuh April untuk mengurung
anjing berkepala dua, dan menggunakan sisa dua tubuh untuk membuat kurungan
guna mengunci pergerakan kucing hitam. Namun kekuatan monster panggilan tidak
bisa diukur. Kurungan semacam itu mungkin akan segera hancur lebur oleh
kekuatan monster.
Tapi tak apa──kata Teresalisa. Asalkan mereka bisa mengulur
sedikit waktu untuk mendekati sang Summoner Cocolco.
"Penyihir tipe pemanggil biasanya takkan pernah maju ke
baris depan pertarungan. Ketakutan terbesar mereka adalah jika sang pemanggil
itu sendiri diserang, suplai energi sihir ke monster panggilannya akan
terputus, sehingga monsternya akan lenyap. Monster panggilan adalah senjata
bagi sang pemanggil──"
Namun, pengecualian berlaku bagi Cocolco yang merupakan satu
dari Sembilan Rasul. Terkurungnya sang monster panggilan tidak akan membuatnya
panik hingga bersembunyi. Justru karena pergerakan monsternya dihentikan, dia
sendirilah yang akan maju. Hal tersebut dikarenakan, ia juga mampu bertarung
secara maksimal meski tanpa monsternya sekalipun.
"Jika kita ingin menyerang, di situlah letaknya."
Teresalisa menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
Sesaat setelah anjing berkepala dua dan kucing hitam
terkurung di dalam kurungan──sesuai dugaan, Cocolco bergerak dengan pedang
hiasan di tangannya. Dia menerjang lurus ke arah Teresalisa. Rollo berlari
menyongsongnya dengan pisau belati di tangannya.
Di sisi kiri, anjing berkepala dua itu menggonggong. Di sisi
kanan, kucing hitam dengan kepala terbelah menampakkan diri. Keduanya masih
terkurung dalam kurungan perak, membuka mulutnya lebar-lebar ke arah Rollo dan
meronta-ronta dengan beringas. Di antara dua kurungan itu, Rollo dan Cocolco
saling beradu pedang. Ini adalah pertarungan jarak dekat mereka yang ketiga
kalinya hari ini. Rollo mundur sambil menangkis bilah pedang berhias itu.
──"Sementara kau meladeni Summoner itu, aku akan
mengurus keledai ini."
Benar saja, Funnel yang berlari telah melewati Cocolco dan
berhadapan langsung dengan keledai.
"Hiiiaaaaaanngghhh……!!"
Di belakang pertarungan sengit antara Rollo dan Cocolco,
sang keledai melontarkan ringkikannya ke arah Funnel.
──Apa kau yakin? Teresalisa bertanya pada Funnel sebelumnya
untuk memastikannya.
"Para April digunakan untuk membuat kurungan, jadi aku
tak bisa membuat tameng untukmu lho?"
"Tak butuh," sahut Funnel mengangkat hidungnya
dengan bangga.
"Aku takkan langsung mati meski leherku terpelintir.
Tentu saja, aku tak ingin mengalaminya…… Namun, aku juga ingin
mencobanya."
"……Mencoba apa?"
Funnel menghadapi langsung ringkikan sang keledai. Tepat
pada saat lehernya terpelintir akibat kekuatan sihir yang kuat itu──ia
menendang tanah dan melompat, memutar tubuhnya hingga berputar di udara dengan
arah yang sama dan sebanyak putaran lehernya yang terpelintir. Ia meniru persis
cara Rollo menghindari serangan mematikan itu.
"……Bagaimana dia bisa melakukannya."
Teresalisa tercengang melihat semangat bertarung Funnel yang
melompat kegirangan karena berhasil menghindar.
Beberapa detik kemudian, hal tak terduga pun terjadi. Sang
keledai mengarahkan hidungnya dari Funnel ke Rollo. Lalu ia meringkik ke arah
Rollo yang sedang beradu pedang dengan Cocolco.
"Nngghhhhaaaaaaaaaagh……!!"
Secara spontan, Teresalisa menggerakkan April.
Yang dia gerakkan adalah April yang pertama kali melindungi
Funnel dari ringkikan, yang tulang lehernya patah sebelumnya. April, yang
secara kebetulan terbaring di dekat Rollo, dibangkitkan dan dijadikan perisai
baginya. Kepalanya, yang sudah separuh terpelintir itu, dipelintir lagi sejauh
satu putaran penuh.
Perhatian Rollo teralih pada sekejap saat kejadian itu
berlangsung. Bagian punggung tangannya yang menggenggam pisau belati itu
dipukul oleh gagang pedang hiasan, dan membuat pisaunya terjatuh.
"Ugh……!"
Kehilangan senjatanya, tangan kosong Rollo pun tak berdaya
ketika pedang Cocolco menyerangnya──namun di saat yang sama. April yang tulang
lehernya telah dipelintir dua kali dan hampir tersungkur lagi ke tanah bersalju
itu mengubah bentuknya.
"Black Dog……!"
April membentuk bayangan dan bentuk apa saja yang telah
diingat oleh Teresalisa melalui penglihatannya. Apa yang kini digenggam Rollo
adalah pedang berkilauan berwarna perak. Pedang aneh itu dipenuhi dengan
duri-duri belah ketupat yang berjejer di kedua sisi bilahnya. Teresalisa pernah
melihat bentuk ini di Kerajaan Lowe. Ia ingat sosok Rollo saat ia menggunakan
senjata ini dalam pertarungannya. Pada saat ia mengayunkan tangannya, pedang
ini dapat memanjang secara seketika. Nama senjata mematikan dan mengerikan yang
berubah bentuk menyerupai lipan ini adalah──.
"……'Centipede Whale (Scolopendra)'!"
Rollo mengayunkan pedangnya bersamaan dengan saat ia
menggenggamnya.
Bilah pedang memisah dan terbelah menjadi berbagai banyak
sendi, yang dapat memanjang dan memendek ke segala arah. Kendali gerakan ini
dilakukan oleh Teresalisa. Meskipun tak tahu menahu tentang mekanisme atau cara
kerja dari bagian dalam pedang tersebut, namun ia mereproduksi gerakan lintasan
dari pedang Scolopendra yang diingatnya sesuai dengan pergerakan tangan Rollo.
Rollo kembali melanjutkan pertarungannya. Sambil menangkis
serangan pedang Cocolco dengan pedang Scolopendra, ia perlahan melangkah
mundur. Mengalihkan perhatian Cocolco pada pedang itu sambil membimbingnya
menuju jebakan yang disembunyikan Teresalisa di bawah lapisan salju dengan
sangat rahasia dan hati-hati──lalu.
Pada saat Teresalisa mengangkat tangannya, cairan perak yang
merambat di bawah kaki Cocolco mendadak terangkat tinggi dari arah luarnya,
membentuk kurungan berwarna perak. Rollo, yang sudah tahu jebakan tersebut,
langsung salto ke belakang, lari keluar dari jebakan kurungan, tapi Cocolco
justru berada tepat di tengah-tengahnya. Kisi-kisi perak yang terangkat
tersebut menyekapnya dari berbagai arah.
"Ohhh……"
Namun, sebelum jeruji besi itu menutup
langit-langitnya──tepat sebelum kandang burung raksasa dari perak itu selesai
terbentuk, Cocolco menekuk lututnya untuk meloloskan diri dari sekapan. Sambil
mengalirkan kekuatan sihir ke dalam kakinya, ia melompat setinggi-tingginya
lurus ke atas.
Sudah diduga. Tujuan utama yang dituju Rollo untuk memancing
Cocolco tersebut, ada di sana. Tepat di atas udara ruang kandang burung itu──.
──"Jadi, saat itulah Witches-sama……"
Sembari mengecek kembali rencananya, Rollo memanggil Funnel
dengan panggilan itu, namun Teresalisa juga dipanggil dengan nama yang sama,
yakni "Witches-sama". Karena kedua penyihir itu memandanginya
tajam, ia segera mengoreksinya dengan gugup: "Maksud saya, Snow Witch-sama
yang──."
Mendengar itu, Funnel mencibir dan menyunggingkan bibir
seolah merasa kesal. "Aku tak suka disebut Witches, itu bukanlah
sesuatu yang aku inginkan."
"Lalu harus kupanggil apa?"
Ketika ditanya, Funnel merenung sejenak, lalu memasang
ekspresi sendu di wajahnya.
"Orang-orang yang dulu memujaku biasa memanggilku
Neru."
──Sekarang.
"Neru-sama……!!"
Neru sudah terhempas ke udara. Di waktu yang bersamaan
dengan lompatan Cocolco, ia mendadak berada di dekatnya. Menghimpun sihirnya ke
dalam pedang yang dihunusnya, seraya mempersiapkan tebasannya. Udara membeku di
sekitar Neru. Menjadi semakin dingin. Bongkahan sihir yang membekukan yang ia
tembakkan pada Teresalisa di tangga melingkar, kini ia hunjamkan pada Cocolco
di tengah udara.
"……Oh begitu, pantas diacungi jempol. Snow Witch."
"Kau ini memang sombong. Padahal lebih lemah dariku ya?
Dasar Sorcerers!"
Cocolco menahan serangan itu dengan menghadang menggunakan
pedang berhiasnya secara vertikal. Akan tetapi hantaman serangan dari atas
udara itu terlalu keras untuk di tahan. Cocolco pun terpelanting terkena sihir
yang membekukan itu dan menabrak melalui kaca besar yang terletak pada tingkat
dua dari istananya.
Suara pecahan bergema diiringi hujan kepingan serpihan yang
melayang jatuh membasahi taman bagian bawah.
Setelah mencapai landasan daratan, secara secepat kilat Neru
menghimpun sihir kakinya dan dengan lincah mengejarnya kembali. Ia melompat
menuju bagian tingkat dua kastil dimana Cocolco baru saja tertabrak ke
dalamnya.
Anjing kepala dua telah menghancurkan sangkar yang
mengurungnya lewat cara melahap jaring kurungan berwarna perak, hingga akhirnya
melompat menuju ke kebebasan dari ikatan. Tetap saja tugas sangkarnya sudah
selesai, yang bertujuan buat merenggangkan posisi antara penyihirnya dengan
sosok monster panggilannya tersebut, merupakan sasaran intinya. Teresalisa
segera bergegas beralih untuk menempatkan bidikan penyelesaian dengan tujuan
melakukan serangan berkelanjutan dan membiarkan para monster-monster di luaran.
Sembari di saat ini sama pula berdiamnya ia melayangkan dan mengeksekusi
sambaran panjangan dari sabetan ke bagian atas ke tempat yang telah pecah
tersebut menggunakan senjata jenis Scolopendra. Melalui operasi Teresalisa,
senjata dari pedangnya melenting dengan mengulur jauh menjulang di bagian
tingkat dua tersebut.
──Kita yang akan mengalahkan Summoner.
Begitu ujar Rollo kepada Gerda. Berlindunglah di tempat yang
aman.
Apa yang terjadi sekarang ini, merupakan duel pertempuran
antar jenis di antara si Witches beserta lawannya si Sorcerers
dan kekuatannya. Seseorang dari Gerda sendiri ini tidak menyandang kemampuannya
akan beresiko menghalangi pastinya. Tetapi akan wanita-wanita berkebangsaan
Varsia ini, yang berlindung hanya sebagai tindakan pengecut semata saja. Bagi
perempuan yang berasal dari negara dan masyarakat bagi di sana dari dalam suatu
wanita Varsia, itu pastinya dari dalam sebuah penghinaan diri dan akan suatu
cemoohan pada sebuatannya di antaranya adalah dari pengecut.
"Kau bilang Ahli Item tanpa perlengkapan item? Jangan
mengejekku!"
Bersembunyi di balik tiang sudut lorong dan memastikan
kepergian Cocolco bersama monster-monsternya ke lapangan bawah, Gerda kemudian
bergegas lari menuju ruang tamu.
Gerda telah menyiapkan berbagai macam item untuk ekspedisi
penaklukan ini. Sayangnya, ransel hijau tuanya yang penuh dengan peralatan itu
tertinggal di ruang tamu. Kata-kata Rollo memang benar—Ahli Item tanpa item
hanyalah beban. Itulah sebabnya ia kembali untuk mengambilnya, agar bisa ikut
bertarung.
Di sepanjang lorong yang tadinya ia lewati bersama Rollo,
Gerda berlari seorang diri menuju ruang tamu. Ruangan berlapis karpet merah itu
kembali diliputi kesunyian. Asap dari bola bau sudah menghilang, tetapi aroma
busuk yang menyengat masih sedikit tercium, membuat Gerda berkerut.
──Maaf ya, Kai. Meninggalkanmu di tempat seperti ini.
Sebelum mengambil ranselnya yang tergeletak di dekat pintu
masuk, Gerda terlebih dahulu menghampiri tubuh Kai. Kai masih dalam kondisi
mengenaskan setelah lehernya dipelintir keledai, ia terbaring di atas karpet
merah dengan memegang erat busur panjangnya.
Gerda berlutut di sisinya. Dengan jari-jari yang gemetar, ia
menyentuh rambut hitam Kai dan dengan hati-hati memutar kembali lehernya yang
terpelintir itu ke posisi semula. Mata kirinya yang terbuka tipis memancarkan
warna hitam pekat yang indah layaknya malam musim dingin yang jernih, meskipun
sudah kehilangan nyawanya. Gerda meletakkan tangannya di wajah Kai dan menutup
kelopak matanya.
Gerda memeluk kepala Kai dan dengan lembut membelai rambut
hitam yang disayanginya.
Dengan lengan yang patah dan memegang busur panjangnya, Kai
telah berjuang mati-matian hingga akhir. Gerda melihatnya dengan mata kepalanya
sendiri. Kai mungkin takkan bisa pergi ke surga karena dibunuh oleh Magical
Beast. Tapi, dengan keberaniannya itu, pengorbanannya takkan sia-sia. Gerda
berniat menceritakan pertarungan dan keberanian Kai pada Snow Witch. Ia
akan memohon agar dewi perang itu membawa Kai ke surga.
Dengan begitu, Gerda bisa bertemu Kai lagi. Mereka bisa
hidup bahagia bersama di surga nanti.
Hanya dengan tujuan itulah Gerda bisa bertarung, dan bisa
mengatasi kesedihannya.
──……Beri aku kekuatan, Kai.
Bukan ucapan "selamat tinggal", melainkan
"sampai jumpa lagi," bisik Gerda seraya mengecup bibir Kai yang masih
terasa lembut sebagai perpisahan terakhir.
Saat itu juga, Gerda mendengar suara langkah kaki yang
berlari mendekat dari belakang dan ia pun berbalik.
Anjing berkepala dua itu berlari menyusuri lorong dan masuk
ke dalam ruang tamu. Gerda langsung mengambil posisi bertahan, tetapi anjing
itu tak mempedulikannya. Ia terus berlari sambil meneteskan air liur menuju
lantai dua.
"……Apa? Barusan itu," gumam Gerda menatap ke arah
tangga di mana anjing itu pergi.
9
"Ini…… ruang singgasana, ya."
Ruangan di lantai dua tempat Cocolco menerobos masuk adalah
Singgasana Es.
Ruangan ini sangat luas dan bisa menampung lebih dari 500
orang. Sebuah singgasana besar dengan sandaran yang tinggi berdiri sendirian di
atas panggung yang ditinggikan beberapa anak tangga. Kaca besar yang ada di
belakang singgasana itulah yang pecah.
Rollo berdiri di pinggir jendela yang pecah. Ia maju ke
depan singgasana dan memandangi seluruh ruangan.
Plafon di atas menjulang tinggi, dan ada koridor melingkar
yang mengelilingi ruangan. Tiga bendera panjang dan sempit menggantung di pagar
koridor. Bendera berwarna kuning, hijau, dan coklat tua itu dihiasi embun beku,
dan ujungnya dihiasi tetesan es. Lambang rusa berbulu panjang dan perisai kayu
yang mewakili klan Bjorkoe terukir di atasnya.
Dinding batu yang telanjang dan lantai batu yang ada di
ruangan ini memancarkan kesan dingin yang kental.
Karpet merah yang digelar di panggung singgasana membentang
lurus hingga ke pintu masuk.
Buku-buku bertebaran di sekitar singgasana, seakan-akan
mengepungnya.
Angin yang membawa salju menerobos masuk dari jendela yang
pecah, membuat halaman buku-buku itu terbuka bersama-sama.
Beragam buku tebal dengan sampul kulit binatang, buku
bergambar besar, hingga buku khusus seperti peta, ensiklopedia, buku
kedokteran, atau buku resep masakan. Banyak buku yang ditulis tidak hanya dalam
bahasa Varsia tetapi juga dalam berbagai bahasa lainnya, bertebaran di sekitar
singgasana, dan di tangga menuju panggung raja.
Ada banyak tumpukan buku besar dan kecil yang berbaris di
samping singgasana.
Mungkin, Neru yang mengambilnya dari perpustakaan kastil.
Rollo bisa dengan mudah membayangkan sosok gadis itu, duduk di singgasana besar
yang seharusnya diperuntukkan bagi raja Varsia yang bertubuh besar, asyik
membaca buku seorang diri di kastil yang membeku, selama 43 tahun terjebak di mana
spot Kastil Danau Bjorkoe, membayangkan dunia luar dari buku-buku itu.
Di atas karpet merah yang membentang dari panggung raja──di
tengah-tengah lantai, pertarungan antara Cocolco dan Neru masih berlanjut.
Bunyi dentingan pedang mereka saling beradu dan menggema di lantai yang dingin
itu.
"Sekaranglah waktunya. Kalau mau membunuhnya, lakukan
saat dia terpisah dari anjing itu," bisik Teresalisa yang berdiri di dekat
Rollo, lalu turun dari panggung raja. Ia membentuk sabit besar peraknya sambil
berlari, lalu memikulnya di bahu. Ini adalah momen penentuan. Rollo membalas
singkat, "Ya," lalu mengikuti Teresalisa.
Guncangan dari sihir beku Neru telah melepaskan
wimple—tudung biarawati Cocolco. Rambut putih pendeknya, serta gaya mohawk
dengan bentuk jambul perlahan di atas kepalanya terlihat jelas di kulit
gelapnya. Gaun putihnya yang sekarang ternoda warna merah kegelapan oleh darah
segar; pergelangan lengannya serta gaun bagian bawah telah sobek oleh lantaran
serpihan pecahan dari kaca jendela sewaktu bentrokan terjadi. Sangat aneh
karena kecepatan lincah pada kelincahannya belum melamban pula. Justru itu pergerakannya
terlihat seolah jadi malah lebih meningkat dibanding waktu duel pertarungan
dari depan halaman tersebut.
Sesaat dengan langkah berputar Cocolco secara sekilas
menghindari tebasan Neru, Teresalisa dengan tajam menyapukan sabetan mengayun
kelebaran melalui celurit perak sabit dari belakangnya. Dengan mengelak
tangkisan ujung mematikan berpisau lurus itu, Cocolco sontak mendatarkan pedang
bermotifnya searah horizontal kepada bumi dalam usahanya agar menikam arah
Teresalisa.
Sabit lebar pada hakikatnya merupakan senjata berbidang
lapang yang dapat meninggalkan banyak kelemahan di sisi ketidakselarasannya.
Tepat ketika pedang akan merenggut jiwanya, seketika lintasan lurus menusuk ini
bergegas dipangkaskan tajam dari mata senjata bergerigi, wujud duri aneh dari
scolopendra itu. Melompat menyamping adalah Rollo untuk menggantikan barisan
serang dalam posisi dari Teresalisa.
Teresalisa di baris bagian memuka itu menahan kendali buat
alat dari senjata pergerakan scolopendra yang tanpa ulur kempis ini. Hanya memilik
duri gigi bersiku pun adalah wujud ancam berbahaya yang cukup serius. Rollo
menyergapkan pedang berdekorasi pada jeratnya dan menekan mata pedang ke
sebelah dasar.
Neru memanfaatkan serangan meluncurnya di tengah dari
keluwesan, namun pada akhirnya berhasil dilindungi karena dorongan tendangan
alas tapakan sepatu Cocolco itu yang menyingkirkannya. Cocolco lantas segera
berhasil mencabut lolosan terhadap pedang dari yang ditekan Rollo dan
melancarkan tebas lintang horizontal yang mendorong rollo. Keadaan memaksa
rollo kembali bergerak mengembalikan memisahnya rentang.
Dalam keterkepungan antara ketiga pengeroyoknya ia, dia
Cocolco dengan perlawanan bagus berani melawan di perkelahian ini. Ia seorang
Summoner bertarung sengit bahkan tak bersama keikut hadiran kekuatan binatang
pemanggilnya tersebut. Pada kenyataannya, kesialan dan kecemasan terburuk
sedang menyertainya juga "Tok. Tok. Tok.──"
Dalam proses aduan bertempur itu pada mulut sihir tersebut
melenting mengeluarkan denting nada. Terbersit insting di pikiran Rollo.
──Dia memanggil monster.
Mungkin sekali ia melakukan rituan panggilan ini para
Monster gaibnya kian akan menyusul di sisi dari posisi di takhta es ini.
Seharusnya dari ketiga serempak tebas membabat sang lawan tapi teralihkan
sekilas tipis dengan kehebatannya di elakannya itu.
"Sial sekali, tidak satupun seranganku yang
masuk?!" Bentak kekesalan teriakan oleh ucapan dari diri Neru.
"Gara-gara gerakan lambanmu, mengganggu! Pergi berkelilinglah."
"Ada hambatan di selarasan gerakannya, Kita perlu menyerempakkannya dengan
selarasnya." Kerjasama sembarang yang mereka coba gunakan mulai di
perpecah kocar-kacir ini perlahan pudar. Hingga akhirnya juga,──
"Nyaaaauunggg……!!"
Kucing Hitam muncul tiba-tiba dari bayangan kaca jendela
terbuka. Melebarkan sayap kekelawar pada badan punggung dan menaiki lewat atas
tebing kastil bebatuan tebing, hewan kucing tersebut turun menuju tengah ruang
podium singgasana.
"Haah, itu! Itu kucing terbang!?"
Neru langsung merespon. Menyorot pandangan serta hunusan
melesatkan ke seberang tepat posisi podium di titiknya, memposisi mengangkat
pada titik tuju arahnya hewan kucing kelam yang mendekati. Pedang tajam
berkilau melepasi sihir dan berubah mendadak beku di serakan permadani, puluhan
bongkah balok-balok membeku es tertumpu pada karpet warna merah yang menjuntai
itu.
Lompatan dari loncatan kucing tersebut menanjak demi
melepasi halangan tebas balok balokan es dari sihir Neru tersebut. Ia lantas
menanggapi serta melakukan ancang tumpu balikan untuk mengatasi pembalasan
hewan dari ngerinya musuh. ──tapi, nahas bagi kenyataan. Hewan hitam lantas
melewati ke arah lurus dari atas hadapnya tanpa henti.
Meliuk pada udara dengan melontarkan bukaan wujud raga,
sasar dari wujud pada rentetan pemakanan atas tubuh sasarannya yakni Cocolco
dirinya sendiri. "Mereka mau mencoba kabur..!" Rollo tanpa terkendali
menyergah. Rollo mengetahui jelas sewaktu wujud Mother bilbery tumpah
diludah keluarkan hewan hitam, yang memuat besaran ukuran volume tidak ternalar
ruang besarnya padanya itu. Dengan nalurinya, hewan kelam kucing berwujud
mencoba untuk lari menyingkir dengan memakan cocolco dalam memasukannya kepada
mulut dalam tubuh.
Rollo jelas enggan ia melepas pergerakan untuk mangsa target
ini kabur, Namun perpanjangannya dari senjatanya tertahan. Diiringi menancapkan
serbuan ke kakinya ia melangkah maju di saat depan tatapannya terdapat Sabit
menyembul ke sisi melesatkan leher di lehernya hewan tanpa tubuh pada kepala
hewan itu. "Meeeoouuwwww……!!"
Kepala kucing tak bersuara tanpa adanya tumpahan tetes
berdarah sedikit dari dari pada leher kucing tanpa wujud kepalanya ini, namun
tubuh berhambur di permadani merah ini. Daripada dari tak nampak tumpahan
cairan namun wujud banyak kerubutan tentakel keluar bergeliat-geliat dalam
tubuh wujudnya itu. Teresalisa melakukan aksi gerakan mengayunkan sabetannya ke
dasar di saat lengan sabit ia berubah bertusuk penusuk seperti kerumunan sate
menyangkut dan melukai hewan tubuhnya itu merekat kuat memaku badannya di atas
pada kain alas permadani.
Demi menghindari pelekatan pergerakannya hewan bertumbuh
tanpa kepala memutar rentetan keluwesan geliat badannya ke penjuru, dan miau
demi miau terus terkeluar dengan decakan menendangkan dan kaki-kakian yang
mendepak berkelojot tak bersuara dan menyentakkannya.
"Eww betapa buruk menjijikkan……!" Teresalisa
mengerutkan roman mukanya penuh menjijikkan pada bentuk tersebut, kemudian
bilah mata pada sabetannya kembali menancapkan tikam melubangi sisi tubuh dari
pada potongan di tengkoraknya kelam itu.
Sesaat di saat ini tersebut ── Dari di pintuan akses yang
ada pada lokasi tahta beku memunculkan wujud berbadan anjing yang menampakkan
sepasang mukanya anjing.
Dengan liuran mulut anjing bergongongan yang penuh decakan
serang ini dengan langkah garis kelurusan dari si Cocolco.
──Tidak akan sempat!
Rollo tertegun dalam keheranan. Sesulit apapun untuk
berhasil di cegat dan ditanggulkannya pertahanan tersebut tapi hasilnya berbuah
penggabungan penyatuan Sorcerers dan penyatuan Magical Beast
miliknya itu. Jika penyatuan terjalin tak mungkin menyelesaikannya sang
penakluk si pemanggil ──padahal sedikit saja lagi, hanya satu penyelesaian
kecil itu.
Di waktu di balik detik dari waktu, berlalu menyamping dari
haluannya ini, berlari si Neru ke sisi buat menghadangnya lajuan dari serbuan
atas musuh dari serangan hewan buas tersebut. Merentas sekelumit sekilas dan
berguman di seberangan perjalan atas Rollo.
"Tidak masalah! aku dapat menghalang ini. Saya tahan
dari daya bekuku!"
Aura mematikan es menyelubungi segala bagian dan sekujur
sihir pelapisannya ini. Menyingsing dari serangan rahang mematikan sang musuh
untuk mengincar tikaman padanya seraya berlaga ia menyerukan pada temannya.
"Sorcerers biarlah diselesaikan kau"
──Tebaslah ia, dirimu.
Sembari meresapi arti harap yang tertitip padanya dari sang
wanita penyihir tersebut Rollo menggenggam lekat senjatanya secolopendra lalu
mengambil hentak untuk sekelebat merapat mendekati dari dari jarak serangannya
sang Summoners pada dalam Cocolco. Melesatkan jurus di tikaman secepat
kilat untuk menyulut perkelahian ke titik mata. Demi membidik titik si penyihir
Cocolco untuk diarahannya titik mata──ia merencanakannya tanpa tergelincir
menolehkan perhatikan sekejap arah pun. Mengunci tubuh tubuh dari kelam
tersebut di kuncian kucing dengan sabit yang berada pada teresalisa dan serbuan
dua anjing telah beradu perlawanan untuk dilawan pada Neru. Bagian utama satu
satunya penentunya hanyalah di dirinya sang Cocolco untuk penaklukannya atas tangan
yang berada di tangan sosok pelakon penyerang Rollo itu.
Pada titik matanya ia tersirat dari sebuah tancap pisau
tancap yang menembus kepada bagian raga badannya di hewan di dua serigala oleh
neru di bagian ujung dari padanya.
Pembekuan muncul menyelimuti di sekeliling. Seluruh
sirkulasi pada pembeku magi sihir dari dirinya tersedot langsung melewatinya
raga dari bagian hewan melewati pisau tebasan ini yang bersambung dengan hewan
dalam tujuannya buat menghalangi atas serangan anjing buas itu. Biar tanpa
diselesaikan pemusnahannya hewan dalam kekangan pelambatan laju kelancaran itu
adalah demi sebuah jalan halang dari pertahan pada gerak-geriknya.
"Ghhhhhuuu"
Gemeretak dari pada kertakannya pada geligi yang menyatu
berpacu tekanan kuat tertembus makin terdalam tancapan kuat pedang Neru pada
pedangnya. Rona dingin es mewarnai memudarkankan kelaman di corak pada kelam
pada wujud dari warna hewan tersebut. Dan disaat si pada Rollo bergulat dengan
serangannya pedangnya di sisi berlawanan merasakan efek dalam pada tubuh di
bawah di bagian robekan perih kesakitan.
Titik sobek dalam pedih akibat pembekuan tersebut di
selesaikan sihir Neru akibat hilangan beku pada sihirnya efek tersebut.
Pengurangan atas di magi dan untuk digunakan pembekuan dari sihir atas anjing
sehingga untuk akibatnya untuk di pembebasannya pengerangan akan pengobatan
itu. Dari waktu ke waktu dari dalam sihir dari si rollo memularkan waktu yang
bergulir dan pembelahan padanya itu akibat memudarkan khasiat efek pembebasan
waktu dan kembali bergerakan pembuka luka waktu.
Sembari merenggut dalam dengan serbuan pada perkelahian
dengan pukulan si Cocolco ini dari scolopendra secara nyatanya dirasakan si
dari dalam tubuh Rollo ini perih menyayat perih dari pembuluh kesakitan.
Nyerian tajaman menghujami raga. Bahu menyebelah kanan berdenyut ngilu dan
nyeri serta perih retakan memilukan. Perih tertahan dada di napasan ini
menghujam nafas yang sulit tertahan ini di badan namun kakinya bertahan untuk
bergeraknya terus. Bertahan dalam gerakan pantang dalam menyerahnya.
──Buruan, bantai.
Di tengah situasi ini mereka dalam halang geraknya. Hanya
dalam dirinya saat bisa menghambat buat penakluk Cocolco ini. Cocolco
──Summoner sang panggil saat di posisi pada mundur pelariannya tersebut.
──ia hendak kabur dan menjauh. Tadi ia dalam waktu tadi
hendak melarikannya pada dan dalam perginya dari sini.
Bukti dalam kelemahannya untuk halang tersebut untuk dan
kepada dalam diri musuhnya akan hal dari ancaman dari musuhnya. Dalam melihat
saat menghadapi 3 pertarungan ini mungkin dari hasil dari penyerangan atas neru
kepada padanya membawa dampak dari pukulan yang di tak dihiraukkannya ini bagi
kelemahan pertahanan diri sihir dari dirinya. Jika ada kemungkinan jika dua si
penyihir sihir ini dapat untuk membinasahkan, saat ia menghadapinya ini ini
mungkin dia dapat mempertimbangkan kekalahannya ini. Ini waktu bagi peluang
keemasan itu. Karena itu waktu penyelesaikannya ini waktu dan hanya bagi
penyelesaian atas pembunuhan padanya itu kini. Jika dalam detik waktu di waktu dalam
hal yang ke ini. Ia memaju laju dari kakinya ia seraya berjalan dan mengacuh
akan memedihkan lukanya di luka dari bagian di pinggang untuk menghiraukannya
melaju terus pedang untuk menebaskannya dengan tanpa dihentikannya.
──Di tangan waktunya milikku, untuk membinasahnya dalam
penentu di saat yang di waktu──.
……namun, sekejap kemudian sekelibat pedangnya terayun dari
hadap mata dari Rollo dan beriring bergeming seketika Rollo di diam tanpa
lajunya.
Dari puncak pedang pedangnya mengudara menari dengan
keayunan pedang di udara berjatuhan terjun di karpet dari karpet. Menggengam
lengannya pada tumpukan potongan bersama senjata bagian pedang patah sepotong
lengan lengannya Rollo tersebut yang dari terpotong terpisah yang terhunus
bersamaan potongan terlepas menyisakan tebasan jatuhannya.
"Oohhhhhhh"
Rollo mengeluarkan gerangan rintih suaranya pada rintihnya
dan tumpahan dengan cucuran dari genang lebur dari bagian dalam di lukanya
berceceran di permukaan kain dari pada karpet pada cairan darah ini.
"Anjing Hitam……!"
Bersama di menekan tubuh kucing, karena di posisi kemendesakan
rollo dalam darurat ini dalam pertolongannya akan melongokkan penguluran
penyambung memanjangkannya pada scolopendra dalam pelonggaran perputaran
pertahan rollo dalam pertolongannya sesaat dengan mengharapkan akan adanya
renggang waktu akan munduran tersebut.
"Pergilah mundurlah, Anjing Hitam!"
Dari di pada ayunan penolakkan perputaran di pantul pada
tebasan tersebut untuk dilontarkannya dari loncatannya akan pedang pantulan
dalam elakannya dan pergerakan atas pergerakan si pedang pedang dalam dengan
dari senjata dekorasi Cocolco menanggalkan di serangannya pada dalam pantulan
senjatanya ini.
Ada celah sekilas pada heningnya masa. Pada sesaat heningnya
untuk keheningan ruang jeda semestinya akan dapat dari mundurnya pelarian itu.
Teresalisa di melihat tatap ke sisi si Rollo. Bersama
genangan cairan di berlumuran dengan putusnya dan lengan akan memotong dengan
merobek bagi perut bagian padanya dalam tatap lurus dan membelalak atas
Cocolco, di rollo. Tak memundurkan kakinya ia dalam ia untuk tak lari dan
menghilang ini.
Tidak terselip pada dirinya akan perlawanan kehendaknya
untuk dalam ini atas akan tidak ini.
Tampak seolah Rollo dalam menunggukan dan menunggu ayunan
ayunan pukulan pedang tebas ini untuk pada ke dirinya, Rollo dalam penantian
akan di dan untuk itu dalam tatapan pandangan.
Sekilas pada ingatan Teresalisa untuk dalam dari ke saat
masa kepada dirinya saat mengingat dari sebuah akan masa atas dari pada dan
saat untuk saat kenang untuk perjanjian di perbincangannya dari dan akan di
perjanjian dirinya Rollo dalam untuk masa lalu itu.
──Paling tidak aku akan mencoba berusaha agar tak terbunuh
nantinya.
Di masa hal waktu dari masa hal itu. Mata dalam kehijau
memicingkan ke matanya ia dalam tatap dalam ucap kesulitannya tersenyum. Dari
senyum samar keraguan ketidak mengertiannya akan ketidak jelasan untuk dari hal
untuk pada masa itu, dari ucapan keraguan Teresalisa membalas
"Maksudnya" dan tawa pada tawanya. Arti yang sebenarnya akan ini
Teresalisa dalam menyadarinya bagi hal saat ini, waktu yang waktu baginya kini.
Kesalahan mengartikannya dari diri pada dalam diri,
Teresalisa.
Sang bagi sang dari dari Campusfellow di pembunuhan Assassin
yang Rollo ini untuk Assassin dari bagian hatinya bagi setia akan kesetiaan
yang memiliki kekuataan dan Assassin.
Dengan mengira dari karena di kehilangan bagian dan bagian
sang dari rajanya dengan dan demi karena bagian yang kehilangan bagian itu
untuk bagi yang tekad dan di kemauan tujuh bagian sihir dari yang sihir demi
dalam pada dan di dan akan penyihir menyelesaikannya tujuh pengumpul yang sihir
untuk akan dan dari dari menyelesaikan penyihir ketujuh dan untuk akan untuk
perintah menyelesaikannya.
Kesetiaan dengan setia bagian dari untuk karena karena dan
atas baginya karena untuk atas dari di untuk dengan akan tapi dengan atas dalam
di pada yang pantang dengan pantang yang dalam untuk untuk bagi dari dan untuk
"Mencoba dari di untuk yang mati akan untuk di bagi tidak". Dari ini
karena, bukan yang ini.
──Dia tidak akan dari akan dalam bukan dia dari dia di yang
dari akan dengan.
Berdasarkannya dari ia karena kesedihan yang yang bagi dan
di karena dari menderita sedih ke di kesedihan bagian dari yang kesedihan ini
memunculkan, dalam ini dari karena di akan dari ke kesedihannya pada dalam.
Namun ia──ini tidak ini yang ini dari ke di karena ini untuk dari ini tidak
akan dalam bisa ini di ini dari yang dalam akan untuk pada bagi ini tidak ini
untuk di ini dari yang. Kesedihan atas untuk dari akan tidak ini dari dalam ini
tidak ini yang di dari akan tidak dalam.
Dalam menderita atas untuk bagian dari bagi dari akan
menyiksa dari dalam di menderita memnyiksanya atas di atas di yang di akan
dalam telah dari hatinya dari hatinya dari telah patah dalam.
Perintah dari untuk pada di di untuk untuk di yang perintah
di karena ini pada saat pada "Percayakan" akan ini di pada dalam di
dari dalam di pada atas dan dari dari pada dan.
Karena pada di pada dan atas pada di pada dalam dari pada
karena dari anjing dari pada dan dari di. Pada di dalam pada dan atas dalam di
dari pada dan di pada dalam. Pada dari dalam dari pada karena di di untuk pada
dan dari dalam di atas dan dari pada.
Teresalisa pada dari untuk dalam pada di dari pada dan atas
pada dari. Begitu dari pada, oh kamu.
──Kamu dari pada di dalam untuk atas dari pada dan dalam di.
"Paling dari di untuk dalam pada dari dan" ──Di dalam atas untuk di
pada dan dari pada untuk dalam.
Dalam dari atas di pada untuk dari di dalam atas di dari
pada. Pada di dari untuk pada dari dalam atas dan di dalam pada dari. Di dalam
pada dan atas dalam untuk di dari pada di dalam atas.
Pada di dari untuk dalam di atas dari pada di dalam pada dan
di dalam untuk atas dari pada.
"……Sudah di tangkap" Dari dalam pada atas di dari
dalam pada di atas di dari dalam. Pada di dari untuk pada di dalam atas di dari
pada di. Di dalam pada dan di dari dalam atas dari di dalam pada dan di dalam
atas pada dari di dalam.
"……Kalau begitu, apa mau dikata lagi?" Dalam pada
di atas dari untuk pada di dari dalam pada dan di dalam atas pada. "Mirror
Witch" Teresalisa di dalam pada di, "Snow Witch"
Funnel di dalam pada atas dari di dalam pada. Di dalam pada dari atas untuk.
"Di dalam pada dari atas untuk pada di dari dalam atas
dari di dalam pada──" "……Tidak, masih ada. Seorang pejuang yang
berani, masih ada."
Rollo membisikkannya ke telinga Cocolco yang ia peluk dengan
lengan kirinya.
Tepat setelah anjing berkepala dua itu masuk ke dalam ,
Rollo melihat rambut oranye di koridor. Ia melihat Gerda mendekat menyusul
anjing itu, memanggul busur panjang milik Kai.
Itulah sebabnya ia terus mengayunkan pedangnya agar Cocolco
tidak menyadari keberadaan Gerda. Agar pandangan Cocolco tidak teralihkan. Agar
posisi Gerda selalu berada di belakang Cocolco.
"Sekarang……!"──Rollo berteriak dengan sekuat
tenaga yang tersisa.
──Aku khawatir karena Gerda lemah, apa dia bisa bertarung
dengan benar ya.
Kai sering berkata begitu, dan menemani Gerda berlatih
memanah. Padahal Gerda tidak ingin menarik busur. Ia tidak ingin menggunakan
senjata kasar seperti pedang atau kapak perang. Itulah sebabnya ia memilih
menjadi Ahli Item.
Tapi Kai senang saat Gerda mengangkat senjata. Saat Gerda
berhasil memanah tepat sasaran, Kai memuji dan mengelus rambut oranyenya.
Hebat, memang benar-benar gadis Varsia, katanya.
Gerda hanya ingin melihat senyum Kai, maka dari itu ia
mengincar sasaran.
──Jleb.
"Ah……"
Anak panah menancap pada gaun putih murni yang berlumuran
darah. Bahu Cocolco tersentak.
Gerda mengambil satu anak panah lagi dari tabung panah di
pinggangnya. Menatap punggung putih yang dipeluk Rollo, menggertakkan giginya
dengan kuat, ia melepaskan anak panah kedua. Jleb, anak panah itu mengenai
sasaran──tepat di punggung Cocolco, di dekat anak panah pertama.
"……Bisakah kau memberitahuku, Cocolco Luka. Jika kau
yang bisa bangkit kembali dari kematian, kau pasti tahu."
Rollo melepaskan tubuhnya dari Cocolco, lalu bertanya sambil
menatapnya dari depan.
"Setelah kita mati, kita akan pergi ke mana……?"
"……Tentu saja. Dunia setelah kematian itu
sangat──"
Jleb──.
Sebelum Cocolco bisa memberikan jawaban, anak panah ketiga
menembus kepalanya yang berpotongan mohawk.
Tubuh yang lemas itu melewati lengan Rollo dan ambruk
bertumpu pada lututnya.
Rollo memandang sekeliling dengan pandangan kosong. Satu
detik, dua detik berlalu. Anjing berkepala dua yang ditusuk pedang Neru
menggerakkan rahangnya beberapa kali. Mengibaskan ujung hidungnya yang tertutup
embun beku, dan mengerang seolah kesal.
Kucing hitam itu masih meronta-ronta tertusuk jarum perak
Teresalisa.
Lima detik, enam detik berlalu. Dan setelah sekitar sepuluh
detik, permukaan tubuh anjing berkepala dua dan kucing hitam mulai memancarkan
cahaya putih. Tak lama kemudian, tubuh hitam mereka berubah menjadi butiran
cahaya yang tak terhitung jumlahnya, dan menghilang ke udara.
Setelah memastikan monster panggilan itu lenyap, Rollo jatuh
berlutut, seolah tubuhnya hancur. Dari perutnya yang robek, darah tumpah dan
mengalir dalam jumlah yang sangat banyak yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Berat sekali rasanya pedang hiasan Cocolco yang menancap dari bahu kiri hingga
dadanya.
Anehnya, ia tidak merasakan sakit. Hanya saja, ia merasa
kedinginan yang tak tertahankan.
──Ah.
Aku telah melakukannya, pikir Rollo. Masa depan
Campusfellow──padahal ia diperintahkan untuk "mengandalkan" Delirium.
Sebagai seorang pembunuh bayaran, sekali lagi ia gagal menjalankan tugasnya.
Kakeknya pernah mengajarinya bahwa mati itu tidak ada gunanya. Ia diajarkan
untuk selalu memikirkan risiko, dan jangan bertarung melawan musuh yang tidak
bisa dikalahkan.
──Tapi aku menang. Aku bertarung dengan seluruh kekuatanku.
Benar, aku tidak menyesal. Aku bertarung dengan seluruh
kemampuanku dan aku akan mati. Tuanku pasti akan memaafkanku.
Entah ke mana perginya Bud yang sudah tiada, tapi Rollo
menatap langit-langit singgasana dan merentangkan lengan kirinya yang tersisa.
Punggung tangannya yang terbuka terlihat kabur. Pandangannya perlahan memutih.
Aku sudah berusaha. Aku gagal mengumpulkan ketujuh penyihir,
tapi aku berhasil membawa Delirium kembali ke kampung halamannya. Aku juga
mengalahkan salah satu dari Sembilan Rasul. Aku tidak bisa berusaha lebih dari
ini. Sudah cukup kan. Tolong maafkan aku.
Tolong, pujilah aku.
──Tuan Bud.