Majo to Ryouken V2 Epilog

Juli 05, 2026 | Metoya

Prolog: Penari Membara

Illustration Placeholder


Perdana Menteri Campusfellow, Brasserie, berdiri di depan sebuah rumah besar. Karena sudah lama berdiri di sana, salju tipis menumpuk di atas kepalanya, kumis hitamnya, dan kedua bahunya. Di tangannya, ia menggenggam pedang satu tangan berhiaskan ular, "Viper Bite" (Gigitan Ular Berbisa).

Rumah besar yang ada di belakang Brasserie itu adalah sebuah wisma tamu beratap jerami tebal dengan dinding batu yang kokoh. Di Pemukiman Tepi Sungai Gio, itu adalah bangunan paling megah kedua setelah kediaman Snow King Horio. Di dalamnya terdapat perapian yang apinya terus menyala, karpet bulu yang digelar di lantai, dan tempat tidur yang hangat. Putri Campusfellow, Delirium Grace, diizinkan untuk tidur di tempat tidur itu.

──Setidaknya, apakah kita masih disambut sebagai tamu kehormatan.

Untuk saat ini, tambah Brasserie dalam hatinya. Ia bersyukur karena mereka masih memperlakukan Delirium selayaknya seorang putri dari suatu negara. Namun, hubungan aliansi dengan mereka ibarat lilin yang tertiup angin. Tidak aneh jika kapan saja aliansi itu padam diterpa angin utara yang bertiup kencang.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa masa depan Campusfellow bergantung pada aksi Rollo yang ikut serta dalam ekspedisi penaklukan "Snow Witch". Jika Rollo mati begitu saja tanpa melakukan apa-apa... atau jika tindakan pengkhianatannya terhadap pasukan penakluk—yakni untuk menjadikan "Snow Witch" sebagai sekutu—terbongkar dan membuat mereka bermusuhan, maka aliansi ini akan berakhir. Kemungkinan terburuknya, perang melawan Gio bisa saja terjadi.

Misi yang diembankan kepadanya sangatlah sulit. Apakah pembunuh bayaran muda itu bisa menyelesaikannya atau tidak.... Berada di pemukiman yang jauh dari "Kastil Es", Brasserie hanya bisa berdoa.

"……Kumohon padamu, Rollo."

Ia menatap langit yang terus menurunkan salju sejak pagi ini. Langit tertutup awan tebal, membuat suasana terasa remang-remang padahal hari masih menjelang siang.

Pasukan penakluk yang berjumlah tiga puluh sembilan orang, termasuk Rollo dan Teresalisa, telah berangkat pada pagi hari lima hari yang lalu. Berdasarkan catatan, ekspedisi penaklukan paling lama memakan waktu lima hari, jadi jika memperhitungkan waktu perjalanan, mungkin masih butuh waktu agak lama sebelum mereka kembali ke pemukiman ini──itulah yang ia pikirkan sebelumnya.

Ia melihat seorang Kesatria Iron Flame berlari menghampirinya di atas tanah yang tertutup lapisan salju tipis.

"Victoria! Kudengar mereka sudah kembali."

Terbawa suasana, Brasserie langsung menyingkap tirai yang menutupi pintu masuk ruangan.

Pelayan Inedit dan Kona menjerit kaget. Mereka sedang mengelap tubuh Delirium yang terbaring lemah. Kona buru-buru menutupi tubuh Delirium yang memperlihatkan tulang selangka dan dadanya yang putih dengan selimut, sementara Inedit merentangkan kedua lengannya untuk melindungi kesucian tuannya.

"Rendahan sekali! Brasserie-sama! Aku tidak percaya ini."

Ditatap tajam oleh Inedit, Brasserie melangkah mundur.

"Ah, maafkan aku. Maaf. Aku tidak bermaksud apa-apa!"

Nyonya Brasserie, dengan ember berisi air hangat di tangannya, menegur ketidaksopanan suaminya.

"Kau ini, kami belum selesai, jadi keluarlah!"

"Tidak, tidak, tidak, tunggu dulu. Kudengar mereka sudah kembali, Rollo dan yang lainnya."

Victoria sedang berdiri di dekat dinding. Mendengar kata-kata Brasserie, ia memutar tubuhnya menghadap pria itu.

"Kapan?"

"Baru saja. Sekarang, bersama dengan orang-orang Varsia yang selamat!"

Rombongan kereta luncur yang ditarik oleh Rofmof tiba di alun-alun di tengah pemukiman.

Itu adalah tempat di mana api unggun diadakan pada malam sebelum pasukan penakluk berangkat. Orang-orang yang berkumpul menyorakkan pujian atas perjuangan para prajurit. Kerumunan orang terbentuk mengelilingi kereta luncur.

Brasserie dan Victoria menerobos kerumunan itu, membelah lautan manusia untuk sampai ke barisan paling depan. Kereta luncur yang berjumlah lima belas saat berangkat, kini hanya tersisa empat.

Di samping salah satu kereta luncur, Teresalisa berdiri dengan tudung kepala yang menutupi wajahnya dalam-dalam.

Namun, ke mana pun ia memandang, sosok Rollo tidak terlihat. Segelintir orang Varsia yang selamat tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari orang-orang. Akan tetapi, tidak ada nuansa perayaan yang terpancar dari Teresalisa.

"……'Mirror Witch', di mana Rollo."

Brasserie melangkah maju dan bertanya. Teresalisa tetap diam. Mungkin karena tertutup bayangan tudungnya, wajahnya tampak muram. Victoria ikut melontarkan pertanyaan.

"Apakah misinya gagal?"

"……'Snow Witch' sudah berpihak pada kita. Dia bilang akan menyerahkan 'Kastil Es' kepada Varsia."

Teresalisa memberitahukannya dengan suara pelan yang hampir tenggelam oleh sorak-sorai orang-orang.

"Oh…… kalau begitu, ini sebuah keberhasilan."

Mata Brasserie terbelalak penuh kegembiraan.

"Lalu, di mana Rollo……?"

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Teresalisa berbalik. Ia berjalan menuju bagian belakang kereta luncur yang tadi dinaikinya. Ke bagian bak yang menarik barang bawaan. Ia melepaskan dan menyingkap terpal penutupnya. Rollo benar-benar ada di sana.

Melihat kondisinya yang begitu mengenaskan, Brasserie berseru, "Ohh."

Rollo terbaring dengan wajah pucat pasi. Rambut hitam dan kulitnya yang pucat tertutup embun beku, membeku layaknya sebuah boneka. Tidak ada cahaya pada sepasang mata hijau tuanya yang sedikit terbuka. Lengan kanannya telah terpotong mulai dari siku ke bawah. Sangat jelas terlihat bahwa ia tidak sekadar tertidur.

Dari bahu kiri hingga ke dadanya, sebilah pedang yang indah dan berhiaskan ornamen menancap dalam-dalam ke tubuhnya.

"Astaga. Apa yang terjadi…… Rollo."

Ekspresi Brasserie berubah menjadi penuh kepedihan. Menggantikan Brasserie yang jatuh terduduk di samping kereta luncur, Victoria yang berdiri di belakangnya bertanya.

"Apakah dia…… dibunuh oleh 'Snow Witch'?"

"Tidak, bukan. Lagipula, dia belum mati."

Mendengar jawaban Teresalisa itu, Brasserie mengangkat wajahnya.

Jawaban Teresalisa sungguh di luar dugaan. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia masih belum menyerah.

"Dia memang tidak bernapas. Jantungnya juga sudah berhenti. Tapi dia tidak mati. Dia hanya dibekukan. Waktunya hanya dihentikan oleh sihir 'Snow Witch'. Karena itu, masih ada harapan."

Saat itu, di Singgasana Es yang dingin di Kastil Danau Bjorkoe.

Tepat setelah anjing berkepala dua dan kucing hitam yang menggerak-gerakkan tentakelnya lenyap menjadi butiran cahaya. Rollo, dengan pedang yang menancap di dadanya, jatuh berlutut di atas karpet merah dan mencondongkan bagian atas tubuhnya ke depan hingga tersungkur.

Setelah memastikan kucing hitam itu musnah, Teresalisa segera berlari menghampiri Rollo.

"Black Dog……!"

Teresalisa membungkuk di sampingnya, lalu menopang bahunya dan membantunya duduk. Rollo tidak merespons. Ia hanya bernapas dengan lemah, menjadikan lengan Teresalisa sebagai bantal. Mata hijau tuanya menatap kosong ke udara.

Dia masih hidup. Tapi dia akan segera mati. Hal itu terasa sangat jelas.

"Black Dog……"

"Minggir, 'Mirror Witch'."

Neru berdiri di hadapan Teresalisa.

Ia menekuk lututnya, lalu menarik dan memeluk tubuh Rollo, seolah merebutnya dari Teresalisa.

"Dia masih bernapas, kan. Kalau begitu aku tidak akan membiarkannya mati. Aku akan membekukannya."

"Membekukannya……?"

Neru menyentuh pipi Rollo dengan tangannya. Kemudian ia menempelkan bibirnya ke bibir Rollo yang berlumuran darah.

Tak lama kemudian, terdengar suara gemeretak──. Di bibir dan pipi Rollo yang disentuhnya──di leher, ujung rambut, dan bahunya yang terluka, embun beku mulai turun. Neru menyuntikkan kekuatan sihir dinginnya yang bisa membekukan apa saja yang disentuhnya, langsung ke dalam tubuh Rollo melalui mulutnya.

"……Tunggu. Dia…… dia sudah……"

Di dekat Rollo yang mulai membeku, Teresalisa yang berlutut tampak ragu-ragu. Rollo memang ingin mati. Setelah mengalami pengalaman yang begitu menyakitkan, hatinya telah hancur. Dengan mati, ia akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. Memaksanya untuk terus hidup, bukankah itu berlawanan dengan apa yang ia inginkan──begitulah yang dipikirkan Teresalisa. Terlebih lagi──.

Neru mencoba membekukan jantung Rollo dan menempatkannya dalam keadaan mati suri. Ia mencoba menerapkan kondisi yang sama seperti yang terjadi pada tubuhnya sendiri ke tubuh Rollo. Tapi, jika begitu──Teresalisa mengerutkan keningnya dengan ragu.

Membekukan waktu──Berapa banyak kekuatan sihir yang dibutuhkan untuk memicu fenomena supernatural seperti itu. Neru sudah menggunakan sihir itu pada dirinya sendiri. Ia terus menghentikan waktunya selama empat puluh tiga tahun. Jika ia menambahkan Rollo ke dalamnya dan menghentikan waktu untuk mereka berdua, itu pasti akan membutuhkan jumlah kekuatan sihir yang sangat besar. Sekalipun kastil ini adalah mana spot, jumlah kekuatan sihir yang dibutuhkan tak akan terbayangkan.

Kenyataannya, selama pertempuran tadi, saat Neru untuk sementara waktu membekukan anjing berkepala dua, kekuatan sihirnya telah mencapai batas, membuat sihir yang membekukan luka Rollo kehilangan efeknya. Sihir untuk membekukan waktu, bahkan jika berada di mana spot sekalipun, seharusnya membutuhkan kekuatan sihir yang jauh lebih besar daripada yang bisa ditanggungnya.

"……Apa kau akan baik-baik saja? Jika kau menggunakan kekuatan sihir sebanyak itu──"

Apakah sihir yang ia gunakan pada dirinya sendiri tidak akan kehilangan efeknya──Tepat seperti yang dikhawatirkan Teresalisa, jantung Neru mulai terbakar secara diam-diam. Asap mulai mengepul dari dadanya yang terbalut gaun putih, dan api dari empat puluh tiga tahun yang lalu kembali menyala.

"Ugh……"

Neru meringis menahan panas itu, lalu menegakkan tubuh bagian atasnya. Matanya terus menatap Rollo.

"……Ini adalah keegoisanku. Aku secara paksa menahan orang yang bertarung dengan gagah berani dan mencoba pergi ke surga ini. Tapi Black Dog, orang ini──telah berjanji. Dia berjanji akan bertarung denganku. Tapi beraninya dia mau pergi ke surga sendirian!"

Api itu membakar gaun putihnya, menyelimuti seluruh tubuh Neru. Waktunya perlahan mulai berjalan kembali. Luka dari empat puluh tiga tahun yang lalu, ketika dadanya tertusuk tombak yang menyala, mulai terbuka bersamaan dengan kobaran api tersebut. Namun, Neru tak ingin mati oleh senjata sang Raja yang kejam.

"Aku tidak terima…… Aku akan bertarung dan mati dalam pertarungan! Aku masih belum mati. Aku tidak boleh mati. Karena itu aku juga tidak akan membiarkan orang ini mati. Dia belum memenuhi janjinya. Dan lagi, aku──"

Dengan tubuh yang mulai terbakar, Neru memeluk Rollo dengan erat.

"Aku tidak mau lagi kehilangan orang yang memanggilku 'Neru'."

"…………"

Neru menoleh ke belakang, dan berteriak kepada Gerda yang berdiri terpaku memegang busur panjang.

"Wanita! Bawa lengan kanan orang ini ke sini! Aku akan membekukannya juga."

Kemudian, Neru mengatakan sesuatu yang tak terduga kepada Teresalisa.

"'Mirror Witch'. Berikan makhluk perakmu itu untuk kumakan."

"……April? Untuk apa?"

"Kau tidak tahu? Kalau begitu akan kuberi tahu! Ini tertulis di dalam kitab suci Agama Lucy yang disembunyikan oleh adikku yang bodoh."

Di sekitar singgasana yang dilirik oleh Neru, banyak buku yang berserakan. Di antaranya, ada juga buku tentang sihir yang dikompilasi oleh para Sorcerers Agama Lucy.

"Kekuatan sihir milik orang lain, bisa dimakan! Dengan memakannya, kita bisa mengisi ulang kekuatan kita……! Yah, meskipun sepertinya itu hal yang tabu."

"Dimakan……? Maksudmu, kekuatanku bisa diberikan kepadamu?"

Benar, dengan kata lain──. Neru berkata sambil menarik sudut bibirnya.

"Jika kau terus memasok kekuatan sihirmu untukku, aku bisa keluar dari kastil ini."

 

"Mereka telah kembali! Pasukan penakluk Fjord…… telah kembali membawa 'Snow Witch'!"

Kabar kedatangan pasukan penakluk didengar oleh Snow King Horio sambil duduk di atas singgasana di sebuah ruangan di rumah besarnya yang dipenuhi oleh para pengikutnya. Mendengar laporan dari pelayan tersebut, ia tanpa sadar langsung berdiri.

"Prajurit Varsia yang berhasil kembali berjumlah sembilan orang. Selain itu, 'Mirror Witch' yang dibawa oleh Black Dog juga telah kembali! Akan tetapi, Black Dog sendiri telah kehilangan nyawanya dan──"

"Diam! Lebih penting dari itu, kau!"

Sang Raja menutup mulut pelayan itu dengan suara kerasnya. Lalu ia memastikan sesuatu.

"Kau bilang mereka membawa 'Snow Witch', kan?"

"Benar. Mereka sepertinya bukan mengalahkan Witches itu…… melainkan membawanya. Apakah dia terluka atau ditahan masih belum dapat dipastikan, namun──"

Para pengikutnya menyuarakan keterkejutan mereka dan saling berpandangan. Ruangan itu mulai dipenuhi dengan keributan dan perdebatan sengit.

'Snow Witch' ada di pemukiman ini──mendengar fakta tersebut, Horio membelalakkan matanya. Dia datang ke sini? Ujung tiga jarinya di tangan kanannya yang tersisa tampak gemetar. Witches mengerikan yang telah merebut kastil itu, ada di sini?

Kemudian, seorang prajurit menyingkap tirai pintu dan masuk, melaporkan sesuatu dengan suara seperti berteriak.

"Gawat, Snow King. Kapal Longship kita dirampas! Itu adalah Witches…… 'Snow Witch' telah muncul……!!"

"Apa yang kalian lakukan, cepat tangkap dia! Jangan biarkan Witches jahat itu kabur……!"

Horio melangkah turun dari panggung raja dengan tergesa-gesa. Mendorong para pengikutnya menyingkir, ia bergegas keluar dari rumah besarnya.

"Minggir, minggir…… minggiirrr!"

Ia mendorong mundur para prajurit yang ada di luar kediamannya, menerobos kerumunan orang, dan akhirnya sang raja pun mulai berlari. Menuju ke benteng. Menuju ke arah Witches yang dibencinya. Menuju ke arah kakaknya yang telah jatuh.

Danau di dekat benteng yang terus dihujani salju itu tertutup kabut putih. Di tengah jarak pandang yang buruk tersebut, terlihat sebuah kapal Longship. Kapal itu mulai beranjak meninggalkan pelabuhan. Banyak orang Varsia menatap kapal yang mulai berlayar menuju ke tengah danau itu dari atas tebing. Mereka adalah penduduk desa dan para prajurit.

Horio memandang danau di bawahnya dari balik pagar yang dibangun di tepi tebing. Apakah Witches itu ada di kapal tersebut? Berpikir demikian, ia tak bisa diam dan langsung berlari. Sambil terus memperhatikan kapal itu dari sudut matanya, ia berlari menuruni tebing.

"Minggir, minggiirrr……!"

Sambil menyuruh orang-orang di sekitarnya menyingkir, ia berlari menuruni jalan menuju dermaga. Orang-orang terkejut melihat Snow King sendiri datang ke benteng. Dari kejauhan, mereka menyaksikan sang raja berlari menuruni bukit dengan sekuat tenaga.

Setibanya di dermaga, Horio melihat siluet seseorang di buritan kapal. Sosok dari belakang seorang bertubuh mungil yang mengenakan gaun putih. Itu adalah──orang itu pastilah. Dewi api yang mata kanannya terluka oleh naga dan telah jatuh dari kahyangan.

"'Snow Witch'……"

Witches yang membunuh ayahnya sendiri yang merupakan raja, dan merebut kastil mereka. Witches yang membunuh putra-putranya yang pergi untuk menaklukkannya. Witches jatuh yang tak bisa diselamatkan lagi. Meskipun begitu, sosoknya masih sama seperti dulu karena waktu dihentikan oleh sihir esnya.

"Kenapa…… kenapa……"

Kakak perempuannya yang masih berusia lima belas tahun, ada di sana.

Kakaknya yang berada di buritan kapal itu menoleh ke arah dermaga.

Wajahnya yang terlihat kecil dari kejauhan menemukan Horio, dan rasanya ia tersenyum tipis.

"Maafkan hamba. Hamba sama sekali tidak menyangka kalau Witches itu ada di tempat ini──"

Seorang prajurit bersenjata berdiri di belakang Horio. Dia adalah pria berpangkat kapten yang telah bertarung untuk mencegah kapal itu dirampas.

"……Tidak apa-apa."

Menoleh kembali ke arah dermaga, Horio menyadari bahwa ada banyak prajurit lain yang telah berkumpul. Para pria itu memegang kapak perang dan pedang, serta melengkapi diri dengan perisai kayu.

"Beritahu semuanya. Itu bukanlah Witches."

"……? Lalu, siapa orang itu……?"

"Dia adalah……"

Tiba-tiba, Horio teringat ingatan pertamanya bersama sang kakak. Ingatan saat mereka berdua menaiki ayunan yang tergantung di pohon birch putih di dalam kastil. Saat itu, kakaknya tertawa terbahak-bahak melihat Horio yang ketakutan hingga tidak berani membuka matanya.

──Buka matamu, dasar penakut.

Selama ini, ia terus mengirimkan para prajurit dari pemukiman ini ke "Kastil Es". Untuk merebut kembali kastil danau itu, demi mengembalikan kebanggaan Varsia. Ia berdalih bahwa karena ia adalah raja, ia tidak maju ke garis depan, menyembunyikan sifat pengecutnya, dan terus memotivasi para prajurit.

Ia takut untuk menatap wajah kakaknya. Orang yang telah ia khianati, ia lukai, dan ia tinggalkan itu pasti sangat membencinya setengah mati. Ia takut berhadapan langsung dengan kebencian tersebut.

'Snow Witch' yang diceritakan oleh para prajurit yang kembali dari ekspedisi penaklukan itu kuat, kejam, dan sama sekali tidak memiliki jejak kakaknya yang suka tertawa. Namun, wujud Witches yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri adalah──.

──Kau merasa takut karena kau tidak bisa melihatnya. Kau takut karena kau tidak mau mencoba untuk melihatnya.

Sejak kecil dibesarkan sebagai "Dewi Perang Sriedda", kakaknya bahkan membutuhkan izin raja hanya untuk keluar dari kastil danau itu. Ia tidak pernah bisa pergi ke laut. Ia harus merelakan impiannya untuk bertualang.

"Begitu rupanya," ucap Snow King Horio, melepas pandang ke arah kapal Longship yang menghilang di balik kabut.

──Akhirnya, dia telah mendapatkan kebebasannya.

"……Kau sudah menua, dasar penakut."

Sosok Snow King yang berdiri di dermaga telah menghilang ke dalam kabut. Baik dermaga maupun tebing batu kini hanya terlihat sebagai bayangan besar, dan sekitarnya diselimuti oleh kabut putih tebal yang mengambang di atas permukaan air. Teresalisa berdiri di samping Neru.

"Apa kau yakin tidak perlu bicara dengannya? Raja itu, adikmu, kan? Meski kelihatannya tidak seperti itu."

"Apa yang perlu dibicarakan sekarang."

Neru berbalik dan mulai berjalan menuju tiang kapal.

"Dia sekarang adalah Snow King yang memimpin Varsia Heroi. Sementara aku adalah Witches yang telah jatuh. Musuh mereka yang telah membunuh banyak orang Varsia. Jika kami saling berhadapan, kami hanya akan saling menodongkan pedang."

Di dekat tiang kapal, ada Gerda. Neru memberikan perintah menggunakan bahasa Varsia.

"Suruh mereka menambah kecepatan kapalnya. Mungkin akan ada yang mengejar kita."

"Baik. Neru-sama!"

Gerda menegakkan punggungnya, meletakkan tangannya di dahi, dan menjawab. Nada suaranya bercampur dengan ketegangan.

Dalam perjalanan kembali dari Kastil Danau Bjorkoe ke Pemukiman Gio, Gerda menjadi akrab dengan Neru. Meskipun dia adalah Witches yang jatuh, bagi Gerda, Neru adalah legenda hidup. Jika dilihat dari sudut pandang mantan "Dewi Perang Sriedda", ia mungkin juga merupakan sosok yang sangat ia puja. Bukankah anak ini awalnya berniat untuk membunuhnya...? Teresalisa membatin dalam hatinya saat melihat mata Gerda yang berbinar-binar. Memang orang Varsia. Ia benar-benar tidak mengerti pola pikir maupun pandangan mereka tentang hidup dan mati.

Namun berkat Gerda, mereka bisa mengeluarkan kapal ini. Yang mendayung kapal Longship, dengan perisai-perisai kayu bundar yang dipasang berjajar di tepinya, adalah para pria Varsia yang dikumpulkan Gerda di pemukiman. Mereka terus menggerakkan banyak dayung maju mundur sambil bersorak memberikan aba-aba. Bahan makanan yang dibutuhkan untuk perjalanan──daging yang digarami, daging kering, kuali besar untuk membuat sup, hingga kantong kulit berisi susu dan madu fermentasi, semuanya disiapkan oleh Gerda dalam waktu singkat. Sesuai dengan jabatannya sebagai Ahli Item.

Tujuan mereka adalah ke selatan. Kapal ini rencananya akan terus keluar dari <North Land> dan menyusuri "Bloody River".

Di pangkal tiang kapal, Rollo yang membeku dibaringkan. Meskipun seluruh tubuhnya telah dibalut dengan terpal pelindung, pedang hiasan milik Cocolco yang menancap hingga ke dadanya tidak bisa dicabut, jadi pedang itu dibiarkan begitu saja. Ia terlihat seperti paket barang yang menyeramkan, mirip dengan mumi yang tertusuk pedang.

Di sebelahnya, duduklah Wakil Komandan Ordo Kesatria Iron Flame, Victoria.

──"Jangan khawatir. Aku sudah mendapat izin dari Brasserie-sama."

Victoria mengatakan itu pada Teresalisa saat akan naik ke kapal, lalu melangkah naik ke atas kapal seakan-akan itu adalah hal yang wajar. Perdana Menteri Brasserie, Putri Delirium, dan para Kesatria lainnya akan tetap tinggal di Gio, namun hanya Victoria yang bersikeras untuk ikut dalam perjalanan ini.

"Sepertinya aku tidak dipercaya ya? Jangan khawatir, aku akan mengumpulkan para Witches dengan benar kok."

Teresalisa berniat mengambil alih tugas Rollo untuk mengumpulkan Witches. ──Atau lebih tepatnya, ia terjebak dalam situasi di mana ia harus mencari Witches. Untuk menjaga nyawa Rollo, Neru harus terus menggunakan sihir khususnya "Preserved Flower". Namun, hal itu membutuhkan kekuatan sihir yang sangat besar. Karenanya, Teresalisa harus memasok sihirnya secara berkala kepada Neru.

Singkatnya, jika salah satu dari Neru atau Teresalisa tidak ada, maka Rollo akan mati.

Menghidupkan kembali Rollo yang sebenarnya menginginkan kematian, apakah itu baik untuknya atau tidak…… hal itu masih belum diketahui. Namun bagi Teresalisa, Rollo juga merupakan batu pijakan yang penting untuk merebut kembali Kerajaan Lowe. Sebagaimana Rollo membutuhkan Teresalisa, Teresalisa juga membutuhkan Rollo.

Sama seperti Funnel, ini adalah sebuah keegoisan…… Teresalisa sangat menyadari hal itu.

──Lagi pula, dia juga belum memenuhi janjinya padaku.

Meskipun itu adalah janji yang sangat kecil jika dibandingkan dengan janji Neru untuk membiarkannya makan canelé sepuasnya.

Ada satu petunjuk untuk menyembuhkan Rollo. "Bruja", yang konon telah menguasai laut Inaterra, menggantikan Raja Bajak Laut John Bonecollector. Wanita yang namanya berarti "Witches" dalam bahasa selatan itu, konon bisa mengabulkan permintaan apa pun dengan imbalan sesuatu yang berharga. Ada juga cerita bahwa dia pernah menghidupkan kembali pria yang hampir mati.

"Tentu saja kami mempercayaimu."

Victoria menatap lurus ke arah Teresalisa dan berkata.

"Namun Rollo Duvel──dia adalah pembunuh bayaran kebanggaan kami di Campusfellow. Jika kami menyerahkan nyawanya dan masa depan negara kami sepenuhnya hanya kepada Anda seorang diri, Witches-sama, mendiang Bud-sama pasti akan menegur kami dari alam sana."

Victoria melanjutkannya dengan nada yang sopan, namun matanya terbuka lebar penuh kewaspadaan, seolah tidak ingin melewatkan satu pun pergerakan sang Witches. Intinya, dia sedang melakukan pengawasan. Untuk itulah Brasserie mengirimnya.

Tiba-tiba, Teresalisa mendengar sebuah suara dari dalam kabut. Itu bukan suara para pria yang mendayung kapal Longship. Suara itu terdengar dari arah belakang──dari balik kabut tebal yang menyelimuti. Teresalisa menoleh ke belakang.

──Ooh, Ooh, Ooh……. Ooh, Ooh, Ooh…….

Saat mendongak, bayangan tebing batu masih terlihat menjulang. Suara para pria itu berasal dari tebing tersebut. Mereka memukulkan kapak perang dan perisai mereka, meneriakkan sorakan sambil menghentakkan kaki. Mengikuti irama tersebut, permukaan air pun ikut bergelombang, dan tanah terasa bergetar. Dum, dum, dum. Dum, dum, dum──.

Suara berat dari para pria Varsia menggema menggetarkan danau.

──Ooh, Ooh, Ooh……! Ooh, Ooh, Ooh……!

Suara itu perlahan-lahan semakin membesar. Para pria yang mendayung Longship pun ikut terpengaruh dan mulai mengangkat suara mereka. Suasana di sekitar mulai diliputi oleh antusiasme yang membara. Persis seperti "Malam Panas Terik".

"Ada apa ini……?"

Teresalisa mengerutkan keningnya dengan curiga. Sementara itu, Neru tertawa gembira.

"Ahahaha! Bagus, keberangkatan orang Varsia memang harus meriah!"

Ia terlihat sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Neru mengulurkan tangannya kepada Teresalisa.

"Aku lapar. Berikan aku April."

"Lagi……? Bukannya kau baru saja makan."

"Oh ya? Terus kau tidak apa-apa? Kalau aku biarkan perutku keroncongan begini, Black Dog bisa mati, lho?"

"……Hah."

Teresalisa mengeluarkan cairan perak dari cermin tangannya. Ia menghempaskannya perlahan ke arah Neru, seperti melepaskan gelembung sabun yang besar ke udara. Sebuah bola perak berukuran sebesar kepala manusia. Menerimanya dengan kedua tangannya, Neru membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit permukaannya.

Kemudian──Sluuuurrrpp. Semakin diisap, bola itu semakin menyusut. Setelah meminumnya sampai batas tertentu, Neru melepaskan bibirnya yang berbunyi plop.

"Ugh! Tidak enak. Tidak bisakah kau membuatnya lebih enak?"

"Tentu saja tidak bisa. April itu kan bukan makanan……!"

'Snow Witch' Funnel Bjorkoe tak pernah bertambah tua. Sekalipun usia mentalnya bertambah, tubuhnya tetap berumur lima belas tahun. Rambut dan kukunya tidak tumbuh, dan ia tidak membutuhkan makanan biasa. Sebagai gantinya, ia mempertahankan hidupnya dengan memakan kekuatan sihir──April, yang secara rutin dipasok oleh Teresalisa.

"……Hah."

Teresalisa berulang kali menghela napas dan menundukkan bahunya lesu. Rasanya seolah-olah Rollo sedang disandera. Mereka telah terjebak dalam situasi yang aneh. Ia ingin segera melepaskan diri dari hubungan saling ketergantungan ini secepat mungkin.

Kapal Longship Varsia itu berlayar meninggalkan danau, diiringi oleh sorakan dari para prajurit.

Menyusuri "Bloody River" untuk mencari Witches ketiga. Demi menghidupkan kembali Rollo. Dari daratan padang salju, menuju lautan Inaterra yang indah.