Prolog: Penari Membara
1
Perdana Menteri Campusfellow, Brasserie, berdiri di depan
sebuah rumah besar. Karena sudah lama berdiri di sana, salju tipis menumpuk di
atas kepalanya, kumis hitamnya, dan kedua bahunya. Di tangannya, ia menggenggam
pedang satu tangan berhiaskan ular, "Viper Bite" (Gigitan Ular
Berbisa).
Rumah besar yang ada di belakang Brasserie itu adalah sebuah
wisma tamu beratap jerami tebal dengan dinding batu yang kokoh. Di Pemukiman
Tepi Sungai Gio, itu adalah bangunan paling megah kedua setelah kediaman Snow
King Horio. Di dalamnya terdapat perapian yang apinya terus menyala, karpet
bulu yang digelar di lantai, dan tempat tidur yang hangat. Putri Campusfellow,
Delirium Grace, diizinkan untuk tidur di tempat tidur itu.
──Setidaknya, apakah kita masih disambut sebagai tamu
kehormatan.
Untuk saat ini, tambah Brasserie dalam hatinya. Ia
bersyukur karena mereka masih memperlakukan Delirium selayaknya seorang putri
dari suatu negara. Namun, hubungan aliansi dengan mereka ibarat lilin yang
tertiup angin. Tidak aneh jika kapan saja aliansi itu padam diterpa angin utara
yang bertiup kencang.
Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa masa depan
Campusfellow bergantung pada aksi Rollo yang ikut serta dalam ekspedisi penaklukan
"Snow Witch". Jika Rollo mati begitu saja tanpa melakukan
apa-apa... atau jika tindakan pengkhianatannya terhadap pasukan penakluk—yakni
untuk menjadikan "Snow Witch" sebagai sekutu—terbongkar dan
membuat mereka bermusuhan, maka aliansi ini akan berakhir. Kemungkinan
terburuknya, perang melawan Gio bisa saja terjadi.
Misi yang diembankan kepadanya sangatlah sulit. Apakah
pembunuh bayaran muda itu bisa menyelesaikannya atau tidak.... Berada di
pemukiman yang jauh dari "Kastil Es", Brasserie hanya bisa berdoa.
"……Kumohon padamu, Rollo."
Ia menatap langit yang terus menurunkan salju sejak pagi
ini. Langit tertutup awan tebal, membuat suasana terasa remang-remang padahal
hari masih menjelang siang.
Pasukan penakluk yang berjumlah tiga puluh sembilan orang,
termasuk Rollo dan Teresalisa, telah berangkat pada pagi hari lima hari yang
lalu. Berdasarkan catatan, ekspedisi penaklukan paling lama memakan waktu lima
hari, jadi jika memperhitungkan waktu perjalanan, mungkin masih butuh waktu
agak lama sebelum mereka kembali ke pemukiman ini──itulah yang ia pikirkan
sebelumnya.
Ia melihat seorang Kesatria Iron Flame berlari
menghampirinya di atas tanah yang tertutup lapisan salju tipis.
"Victoria! Kudengar mereka sudah kembali."
Terbawa suasana, Brasserie langsung menyingkap tirai yang
menutupi pintu masuk ruangan.
Pelayan Inedit dan Kona menjerit kaget. Mereka sedang
mengelap tubuh Delirium yang terbaring lemah. Kona buru-buru menutupi tubuh
Delirium yang memperlihatkan tulang selangka dan dadanya yang putih dengan selimut,
sementara Inedit merentangkan kedua lengannya untuk melindungi kesucian
tuannya.
"Rendahan sekali! Brasserie-sama! Aku tidak percaya
ini."
Ditatap tajam oleh Inedit, Brasserie melangkah mundur.
"Ah, maafkan aku. Maaf. Aku tidak bermaksud
apa-apa!"
Nyonya Brasserie, dengan ember berisi air hangat di
tangannya, menegur ketidaksopanan suaminya.
"Kau ini, kami belum selesai, jadi keluarlah!"
"Tidak, tidak, tidak, tunggu dulu. Kudengar mereka
sudah kembali, Rollo dan yang lainnya."
Victoria sedang berdiri di dekat dinding. Mendengar
kata-kata Brasserie, ia memutar tubuhnya menghadap pria itu.
"Kapan?"
"Baru saja. Sekarang, bersama dengan orang-orang Varsia
yang selamat!"
Rombongan kereta luncur yang ditarik oleh Rofmof tiba di
alun-alun di tengah pemukiman.
Itu adalah tempat di mana api unggun diadakan pada malam
sebelum pasukan penakluk berangkat. Orang-orang yang berkumpul menyorakkan
pujian atas perjuangan para prajurit. Kerumunan orang terbentuk mengelilingi
kereta luncur.
Brasserie dan Victoria menerobos kerumunan itu, membelah
lautan manusia untuk sampai ke barisan paling depan. Kereta luncur yang
berjumlah lima belas saat berangkat, kini hanya tersisa empat.
Di samping salah satu kereta luncur, Teresalisa berdiri
dengan tudung kepala yang menutupi wajahnya dalam-dalam.
Namun, ke mana pun ia memandang, sosok Rollo tidak terlihat.
Segelintir orang Varsia yang selamat tersenyum menanggapi ucapan terima kasih
dari orang-orang. Akan tetapi, tidak ada nuansa perayaan yang terpancar dari
Teresalisa.
"……'Mirror Witch', di mana Rollo."
Brasserie melangkah maju dan bertanya. Teresalisa tetap
diam. Mungkin karena tertutup bayangan tudungnya, wajahnya tampak muram.
Victoria ikut melontarkan pertanyaan.
"Apakah misinya gagal?"
"……'Snow Witch' sudah berpihak pada kita. Dia
bilang akan menyerahkan 'Kastil Es' kepada Varsia."
Teresalisa memberitahukannya dengan suara pelan yang hampir
tenggelam oleh sorak-sorai orang-orang.
"Oh…… kalau begitu, ini sebuah keberhasilan."
Mata Brasserie terbelalak penuh kegembiraan.
"Lalu, di mana Rollo……?"
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Teresalisa berbalik. Ia
berjalan menuju bagian belakang kereta luncur yang tadi dinaikinya. Ke bagian
bak yang menarik barang bawaan. Ia melepaskan dan menyingkap terpal penutupnya.
Rollo benar-benar ada di sana.
Melihat kondisinya yang begitu mengenaskan, Brasserie
berseru, "Ohh."
Rollo terbaring dengan wajah pucat pasi. Rambut hitam dan
kulitnya yang pucat tertutup embun beku, membeku layaknya sebuah boneka. Tidak
ada cahaya pada sepasang mata hijau tuanya yang sedikit terbuka. Lengan
kanannya telah terpotong mulai dari siku ke bawah. Sangat jelas terlihat bahwa
ia tidak sekadar tertidur.
Dari bahu kiri hingga ke dadanya, sebilah pedang yang indah
dan berhiaskan ornamen menancap dalam-dalam ke tubuhnya.
"Astaga. Apa yang terjadi…… Rollo."
Ekspresi Brasserie berubah menjadi penuh kepedihan.
Menggantikan Brasserie yang jatuh terduduk di samping kereta luncur, Victoria
yang berdiri di belakangnya bertanya.
"Apakah dia…… dibunuh oleh 'Snow Witch'?"
"Tidak, bukan. Lagipula, dia belum mati."
Mendengar jawaban Teresalisa itu, Brasserie mengangkat
wajahnya.
Jawaban Teresalisa sungguh di luar dugaan. Ekspresi wajahnya
menunjukkan bahwa ia masih belum menyerah.
"Dia memang tidak bernapas. Jantungnya juga sudah
berhenti. Tapi dia tidak mati. Dia hanya dibekukan. Waktunya hanya dihentikan
oleh sihir 'Snow Witch'. Karena itu, masih ada harapan."
Saat itu, di Singgasana Es yang dingin di Kastil Danau
Bjorkoe.
Tepat setelah anjing berkepala dua dan kucing hitam yang
menggerak-gerakkan tentakelnya lenyap menjadi butiran cahaya. Rollo, dengan
pedang yang menancap di dadanya, jatuh berlutut di atas karpet merah dan
mencondongkan bagian atas tubuhnya ke depan hingga tersungkur.
Setelah memastikan kucing hitam itu musnah, Teresalisa
segera berlari menghampiri Rollo.
"Black Dog……!"
Teresalisa membungkuk di sampingnya, lalu menopang bahunya
dan membantunya duduk. Rollo tidak merespons. Ia hanya bernapas dengan lemah,
menjadikan lengan Teresalisa sebagai bantal. Mata hijau tuanya menatap kosong
ke udara.
Dia masih hidup. Tapi dia akan segera mati. Hal itu terasa
sangat jelas.
"Black Dog……"
"Minggir, 'Mirror Witch'."
Neru berdiri di hadapan Teresalisa.
Ia menekuk lututnya, lalu menarik dan memeluk tubuh Rollo,
seolah merebutnya dari Teresalisa.
"Dia masih bernapas, kan. Kalau begitu aku tidak akan
membiarkannya mati. Aku akan membekukannya."
"Membekukannya……?"
Neru menyentuh pipi Rollo dengan tangannya. Kemudian ia
menempelkan bibirnya ke bibir Rollo yang berlumuran darah.
Tak lama kemudian, terdengar suara gemeretak──. Di bibir dan
pipi Rollo yang disentuhnya──di leher, ujung rambut, dan bahunya yang terluka,
embun beku mulai turun. Neru menyuntikkan kekuatan sihir dinginnya yang bisa
membekukan apa saja yang disentuhnya, langsung ke dalam tubuh Rollo melalui
mulutnya.
"……Tunggu. Dia…… dia sudah……"
Di dekat Rollo yang mulai membeku, Teresalisa yang berlutut
tampak ragu-ragu. Rollo memang ingin mati. Setelah mengalami pengalaman yang
begitu menyakitkan, hatinya telah hancur. Dengan mati, ia akhirnya bisa
beristirahat dengan tenang. Memaksanya untuk terus hidup, bukankah itu
berlawanan dengan apa yang ia inginkan──begitulah yang dipikirkan Teresalisa.
Terlebih lagi──.
Neru mencoba membekukan jantung Rollo dan menempatkannya
dalam keadaan mati suri. Ia mencoba menerapkan kondisi yang sama seperti yang
terjadi pada tubuhnya sendiri ke tubuh Rollo. Tapi, jika begitu──Teresalisa
mengerutkan keningnya dengan ragu.
Membekukan waktu──Berapa banyak kekuatan sihir yang
dibutuhkan untuk memicu fenomena supernatural seperti itu. Neru sudah
menggunakan sihir itu pada dirinya sendiri. Ia terus menghentikan waktunya
selama empat puluh tiga tahun. Jika ia menambahkan Rollo ke dalamnya dan
menghentikan waktu untuk mereka berdua, itu pasti akan membutuhkan jumlah
kekuatan sihir yang sangat besar. Sekalipun kastil ini adalah mana spot,
jumlah kekuatan sihir yang dibutuhkan tak akan terbayangkan.
Kenyataannya, selama pertempuran tadi, saat Neru untuk
sementara waktu membekukan anjing berkepala dua, kekuatan sihirnya telah
mencapai batas, membuat sihir yang membekukan luka Rollo kehilangan efeknya.
Sihir untuk membekukan waktu, bahkan jika berada di mana spot sekalipun,
seharusnya membutuhkan kekuatan sihir yang jauh lebih besar daripada yang bisa
ditanggungnya.
"……Apa kau akan baik-baik saja? Jika kau menggunakan kekuatan
sihir sebanyak itu──"
Apakah sihir yang ia gunakan pada dirinya sendiri tidak akan
kehilangan efeknya──Tepat seperti yang dikhawatirkan Teresalisa, jantung Neru
mulai terbakar secara diam-diam. Asap mulai mengepul dari dadanya yang terbalut
gaun putih, dan api dari empat puluh tiga tahun yang lalu kembali menyala.
"Ugh……"
Neru meringis menahan panas itu, lalu menegakkan tubuh
bagian atasnya. Matanya terus menatap Rollo.
"……Ini adalah keegoisanku. Aku secara paksa menahan
orang yang bertarung dengan gagah berani dan mencoba pergi ke surga ini. Tapi Black
Dog, orang ini──telah berjanji. Dia berjanji akan bertarung denganku. Tapi
beraninya dia mau pergi ke surga sendirian!"
Api itu membakar gaun putihnya, menyelimuti seluruh tubuh
Neru. Waktunya perlahan mulai berjalan kembali. Luka dari empat puluh tiga
tahun yang lalu, ketika dadanya tertusuk tombak yang menyala, mulai terbuka
bersamaan dengan kobaran api tersebut. Namun, Neru tak ingin mati oleh senjata
sang Raja yang kejam.
"Aku tidak terima…… Aku akan bertarung dan mati dalam
pertarungan! Aku masih belum mati. Aku tidak boleh mati. Karena itu aku juga
tidak akan membiarkan orang ini mati. Dia belum memenuhi janjinya. Dan lagi,
aku──"
Dengan tubuh yang mulai terbakar, Neru memeluk Rollo dengan
erat.
"Aku tidak mau lagi kehilangan orang yang memanggilku
'Neru'."
"…………"
Neru menoleh ke belakang, dan berteriak kepada Gerda yang
berdiri terpaku memegang busur panjang.
"Wanita! Bawa lengan kanan orang ini ke sini! Aku
akan membekukannya juga."
Kemudian, Neru mengatakan sesuatu yang tak terduga kepada
Teresalisa.
"'Mirror Witch'. Berikan makhluk perakmu itu
untuk kumakan."
"……April? Untuk apa?"
"Kau tidak tahu? Kalau begitu akan kuberi tahu! Ini
tertulis di dalam kitab suci Agama Lucy yang disembunyikan oleh adikku yang
bodoh."
Di sekitar singgasana yang dilirik oleh Neru, banyak buku
yang berserakan. Di antaranya, ada juga buku tentang sihir yang dikompilasi
oleh para Sorcerers Agama Lucy.
"Kekuatan sihir milik orang lain, bisa dimakan! Dengan
memakannya, kita bisa mengisi ulang kekuatan kita……! Yah, meskipun sepertinya
itu hal yang tabu."
"Dimakan……? Maksudmu, kekuatanku bisa diberikan
kepadamu?"
Benar, dengan kata lain──. Neru berkata sambil menarik sudut
bibirnya.
"Jika kau terus memasok kekuatan sihirmu untukku, aku
bisa keluar dari kastil ini."
2
"Mereka telah kembali! Pasukan penakluk Fjord……
telah kembali membawa 'Snow Witch'!"
Kabar kedatangan pasukan penakluk didengar oleh Snow King
Horio sambil duduk di atas singgasana di sebuah ruangan di rumah besarnya yang
dipenuhi oleh para pengikutnya. Mendengar laporan dari pelayan tersebut, ia
tanpa sadar langsung berdiri.
"Prajurit Varsia yang berhasil kembali berjumlah
sembilan orang. Selain itu, 'Mirror Witch' yang dibawa oleh Black Dog juga telah
kembali! Akan tetapi, Black Dog sendiri telah kehilangan nyawanya dan──"
"Diam! Lebih penting dari itu, kau!"
Sang Raja menutup mulut pelayan itu dengan suara kerasnya.
Lalu ia memastikan sesuatu.
"Kau bilang mereka membawa 'Snow Witch', kan?"
"Benar. Mereka sepertinya bukan mengalahkan Witches
itu…… melainkan membawanya. Apakah dia terluka atau ditahan masih belum dapat
dipastikan, namun──"
Para pengikutnya menyuarakan keterkejutan mereka dan saling
berpandangan. Ruangan itu mulai dipenuhi dengan keributan dan perdebatan
sengit.
'Snow Witch' ada di pemukiman ini──mendengar fakta
tersebut, Horio membelalakkan matanya. Dia datang ke sini? Ujung tiga jarinya
di tangan kanannya yang tersisa tampak gemetar. Witches mengerikan yang
telah merebut kastil itu, ada di sini?
Kemudian, seorang prajurit menyingkap tirai pintu dan masuk,
melaporkan sesuatu dengan suara seperti berteriak.
"Gawat, Snow King. Kapal Longship kita dirampas! Itu
adalah Witches…… 'Snow Witch' telah muncul……!!"
"Apa yang kalian lakukan, cepat tangkap dia! Jangan
biarkan Witches jahat itu kabur……!"
Horio melangkah turun dari panggung raja dengan
tergesa-gesa. Mendorong para pengikutnya menyingkir, ia bergegas keluar dari
rumah besarnya.
"Minggir, minggir…… minggiirrr!"
Ia mendorong mundur para prajurit yang ada di luar
kediamannya, menerobos kerumunan orang, dan akhirnya sang raja pun mulai
berlari. Menuju ke benteng. Menuju ke arah Witches yang dibencinya.
Menuju ke arah kakaknya yang telah jatuh.
Danau di dekat benteng yang terus dihujani salju itu
tertutup kabut putih. Di tengah jarak pandang yang buruk tersebut, terlihat
sebuah kapal Longship. Kapal itu mulai beranjak meninggalkan pelabuhan.
Banyak orang Varsia menatap kapal yang mulai berlayar menuju ke tengah danau
itu dari atas tebing. Mereka adalah penduduk desa dan para prajurit.
Horio memandang danau di bawahnya dari balik pagar yang
dibangun di tepi tebing. Apakah Witches itu ada di kapal tersebut?
Berpikir demikian, ia tak bisa diam dan langsung berlari. Sambil terus
memperhatikan kapal itu dari sudut matanya, ia berlari menuruni tebing.
"Minggir, minggiirrr……!"
Sambil menyuruh orang-orang di sekitarnya menyingkir, ia
berlari menuruni jalan menuju dermaga. Orang-orang terkejut melihat Snow
King sendiri datang ke benteng. Dari kejauhan, mereka menyaksikan sang raja
berlari menuruni bukit dengan sekuat tenaga.
Setibanya di dermaga, Horio melihat siluet seseorang di
buritan kapal. Sosok dari belakang seorang bertubuh mungil yang mengenakan gaun
putih. Itu adalah──orang itu pastilah. Dewi api yang mata kanannya terluka oleh
naga dan telah jatuh dari kahyangan.
"'Snow Witch'……"
Witches yang membunuh ayahnya sendiri yang merupakan
raja, dan merebut kastil mereka. Witches yang membunuh putra-putranya
yang pergi untuk menaklukkannya. Witches jatuh yang tak bisa
diselamatkan lagi. Meskipun begitu, sosoknya masih sama seperti dulu karena
waktu dihentikan oleh sihir esnya.
"Kenapa…… kenapa……"
Kakak perempuannya yang masih berusia lima belas tahun, ada
di sana.
Kakaknya yang berada di buritan kapal itu menoleh ke arah
dermaga.
Wajahnya yang terlihat kecil dari kejauhan menemukan Horio,
dan rasanya ia tersenyum tipis.
"Maafkan hamba. Hamba sama sekali tidak menyangka
kalau Witches itu ada di tempat ini──"
Seorang prajurit bersenjata berdiri di belakang Horio. Dia
adalah pria berpangkat kapten yang telah bertarung untuk mencegah kapal itu
dirampas.
"……Tidak apa-apa."
Menoleh kembali ke arah dermaga, Horio menyadari bahwa ada
banyak prajurit lain yang telah berkumpul. Para pria itu memegang kapak perang
dan pedang, serta melengkapi diri dengan perisai kayu.
"Beritahu semuanya. Itu bukanlah Witches."
"……? Lalu, siapa orang itu……?"
"Dia adalah……"
Tiba-tiba, Horio teringat ingatan pertamanya bersama sang
kakak. Ingatan saat mereka berdua menaiki ayunan yang tergantung di pohon birch
putih di dalam kastil. Saat itu, kakaknya tertawa terbahak-bahak melihat Horio
yang ketakutan hingga tidak berani membuka matanya.
──Buka matamu, dasar penakut.
Selama ini, ia terus mengirimkan para prajurit dari
pemukiman ini ke "Kastil Es". Untuk merebut kembali kastil danau itu,
demi mengembalikan kebanggaan Varsia. Ia berdalih bahwa karena ia adalah raja,
ia tidak maju ke garis depan, menyembunyikan sifat pengecutnya, dan terus
memotivasi para prajurit.
Ia takut untuk menatap wajah kakaknya. Orang yang telah ia
khianati, ia lukai, dan ia tinggalkan itu pasti sangat membencinya setengah
mati. Ia takut berhadapan langsung dengan kebencian tersebut.
'Snow Witch' yang diceritakan oleh para prajurit yang
kembali dari ekspedisi penaklukan itu kuat, kejam, dan sama sekali tidak
memiliki jejak kakaknya yang suka tertawa. Namun, wujud Witches yang
dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri adalah──.
──Kau merasa takut karena kau tidak bisa melihatnya. Kau
takut karena kau tidak mau mencoba untuk melihatnya.
Sejak kecil dibesarkan sebagai "Dewi Perang
Sriedda", kakaknya bahkan membutuhkan izin raja hanya untuk keluar dari
kastil danau itu. Ia tidak pernah bisa pergi ke laut. Ia harus merelakan
impiannya untuk bertualang.
"Begitu rupanya," ucap Snow King
Horio, melepas pandang ke arah kapal Longship yang menghilang di balik
kabut.
──Akhirnya, dia telah mendapatkan kebebasannya.
"……Kau sudah menua, dasar penakut."
Sosok Snow King yang berdiri di dermaga telah
menghilang ke dalam kabut. Baik dermaga maupun tebing batu kini hanya terlihat
sebagai bayangan besar, dan sekitarnya diselimuti oleh kabut putih tebal yang
mengambang di atas permukaan air. Teresalisa berdiri di samping Neru.
"Apa kau yakin tidak perlu bicara dengannya? Raja itu,
adikmu, kan? Meski kelihatannya tidak seperti itu."
"Apa yang perlu dibicarakan sekarang."
Neru berbalik dan mulai berjalan menuju tiang kapal.
"Dia sekarang adalah Snow King yang memimpin
Varsia Heroi. Sementara aku adalah Witches yang telah jatuh. Musuh
mereka yang telah membunuh banyak orang Varsia. Jika kami saling berhadapan,
kami hanya akan saling menodongkan pedang."
Di dekat tiang kapal, ada Gerda. Neru memberikan perintah
menggunakan bahasa Varsia.
"Suruh mereka menambah kecepatan kapalnya. Mungkin
akan ada yang mengejar kita."
"Baik. Neru-sama!"
Gerda menegakkan punggungnya, meletakkan tangannya di dahi,
dan menjawab. Nada suaranya bercampur dengan ketegangan.
Dalam perjalanan kembali dari Kastil Danau Bjorkoe ke
Pemukiman Gio, Gerda menjadi akrab dengan Neru. Meskipun dia adalah Witches
yang jatuh, bagi Gerda, Neru adalah legenda hidup. Jika dilihat dari sudut
pandang mantan "Dewi Perang Sriedda", ia mungkin juga merupakan sosok
yang sangat ia puja. Bukankah anak ini awalnya berniat untuk membunuhnya...?
Teresalisa membatin dalam hatinya saat melihat mata Gerda yang berbinar-binar.
Memang orang Varsia. Ia benar-benar tidak mengerti pola pikir maupun pandangan
mereka tentang hidup dan mati.
Namun berkat Gerda, mereka bisa mengeluarkan kapal ini. Yang
mendayung kapal Longship, dengan perisai-perisai kayu bundar yang
dipasang berjajar di tepinya, adalah para pria Varsia yang dikumpulkan Gerda di
pemukiman. Mereka terus menggerakkan banyak dayung maju mundur sambil bersorak
memberikan aba-aba. Bahan makanan yang dibutuhkan untuk perjalanan──daging yang
digarami, daging kering, kuali besar untuk membuat sup, hingga kantong kulit
berisi susu dan madu fermentasi, semuanya disiapkan oleh Gerda dalam waktu
singkat. Sesuai dengan jabatannya sebagai Ahli Item.
Tujuan mereka adalah ke selatan. Kapal ini rencananya akan
terus keluar dari <North Land> dan menyusuri "Bloody River".
Di pangkal tiang kapal, Rollo yang membeku dibaringkan.
Meskipun seluruh tubuhnya telah dibalut dengan terpal pelindung, pedang hiasan
milik Cocolco yang menancap hingga ke dadanya tidak bisa dicabut, jadi pedang
itu dibiarkan begitu saja. Ia terlihat seperti paket barang yang menyeramkan,
mirip dengan mumi yang tertusuk pedang.
Di sebelahnya, duduklah Wakil Komandan Ordo Kesatria Iron
Flame, Victoria.
──"Jangan khawatir. Aku sudah mendapat izin dari
Brasserie-sama."
Victoria mengatakan itu pada Teresalisa saat akan naik ke
kapal, lalu melangkah naik ke atas kapal seakan-akan itu adalah hal yang wajar.
Perdana Menteri Brasserie, Putri Delirium, dan para Kesatria lainnya akan tetap
tinggal di Gio, namun hanya Victoria yang bersikeras untuk ikut dalam
perjalanan ini.
"Sepertinya aku tidak dipercaya ya? Jangan khawatir,
aku akan mengumpulkan para Witches dengan benar kok."
Teresalisa berniat mengambil alih tugas Rollo untuk
mengumpulkan Witches. ──Atau lebih tepatnya, ia terjebak dalam situasi
di mana ia harus mencari Witches. Untuk menjaga nyawa Rollo, Neru harus
terus menggunakan sihir khususnya "Preserved Flower". Namun,
hal itu membutuhkan kekuatan sihir yang sangat besar. Karenanya, Teresalisa
harus memasok sihirnya secara berkala kepada Neru.
Singkatnya, jika salah satu dari Neru atau Teresalisa tidak
ada, maka Rollo akan mati.
Menghidupkan kembali Rollo yang sebenarnya menginginkan
kematian, apakah itu baik untuknya atau tidak…… hal itu masih belum diketahui.
Namun bagi Teresalisa, Rollo juga merupakan batu pijakan yang penting untuk
merebut kembali Kerajaan Lowe. Sebagaimana Rollo membutuhkan Teresalisa,
Teresalisa juga membutuhkan Rollo.
Sama seperti Funnel, ini adalah sebuah keegoisan……
Teresalisa sangat menyadari hal itu.
──Lagi pula, dia juga belum memenuhi janjinya padaku.
Meskipun itu adalah janji yang sangat kecil jika
dibandingkan dengan janji Neru untuk membiarkannya makan canelé
sepuasnya.
Ada satu petunjuk untuk menyembuhkan Rollo. "Bruja",
yang konon telah menguasai laut Inaterra, menggantikan Raja Bajak Laut John
Bonecollector. Wanita yang namanya berarti "Witches" dalam
bahasa selatan itu, konon bisa mengabulkan permintaan apa pun dengan imbalan
sesuatu yang berharga. Ada juga cerita bahwa dia pernah menghidupkan kembali
pria yang hampir mati.
"Tentu saja kami mempercayaimu."
Victoria menatap lurus ke arah Teresalisa dan berkata.
"Namun Rollo Duvel──dia adalah pembunuh bayaran
kebanggaan kami di Campusfellow. Jika kami menyerahkan nyawanya dan masa depan
negara kami sepenuhnya hanya kepada Anda seorang diri, Witches-sama,
mendiang Bud-sama pasti akan menegur kami dari alam sana."
Victoria melanjutkannya dengan nada yang sopan, namun
matanya terbuka lebar penuh kewaspadaan, seolah tidak ingin melewatkan satu pun
pergerakan sang Witches. Intinya, dia sedang melakukan pengawasan. Untuk
itulah Brasserie mengirimnya.
Tiba-tiba, Teresalisa mendengar sebuah suara dari dalam
kabut. Itu bukan suara para pria yang mendayung kapal Longship. Suara
itu terdengar dari arah belakang──dari balik kabut tebal yang menyelimuti.
Teresalisa menoleh ke belakang.
──Ooh, Ooh, Ooh……. Ooh, Ooh, Ooh…….
Saat mendongak, bayangan tebing batu masih terlihat
menjulang. Suara para pria itu berasal dari tebing tersebut. Mereka memukulkan
kapak perang dan perisai mereka, meneriakkan sorakan sambil menghentakkan kaki.
Mengikuti irama tersebut, permukaan air pun ikut bergelombang, dan tanah terasa
bergetar. Dum, dum, dum. Dum, dum, dum──.
Suara berat dari para pria Varsia menggema menggetarkan
danau.
──Ooh, Ooh, Ooh……! Ooh, Ooh, Ooh……!
Suara itu perlahan-lahan semakin membesar. Para pria yang
mendayung Longship pun ikut terpengaruh dan mulai mengangkat suara
mereka. Suasana di sekitar mulai diliputi oleh antusiasme yang membara. Persis
seperti "Malam Panas Terik".
"Ada apa ini……?"
Teresalisa mengerutkan keningnya dengan curiga. Sementara
itu, Neru tertawa gembira.
"Ahahaha! Bagus, keberangkatan orang Varsia memang
harus meriah!"
Ia terlihat sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Neru
mengulurkan tangannya kepada Teresalisa.
"Aku lapar. Berikan aku April."
"Lagi……? Bukannya kau baru saja makan."
"Oh ya? Terus kau tidak apa-apa? Kalau aku biarkan
perutku keroncongan begini, Black Dog bisa mati, lho?"
"……Hah."
Teresalisa mengeluarkan cairan perak dari cermin tangannya.
Ia menghempaskannya perlahan ke arah Neru, seperti melepaskan gelembung sabun
yang besar ke udara. Sebuah bola perak berukuran sebesar kepala manusia.
Menerimanya dengan kedua tangannya, Neru membuka mulutnya lebar-lebar dan
menggigit permukaannya.
Kemudian──Sluuuurrrpp. Semakin diisap, bola itu
semakin menyusut. Setelah meminumnya sampai batas tertentu, Neru melepaskan
bibirnya yang berbunyi plop.
"Ugh! Tidak enak. Tidak bisakah kau membuatnya lebih
enak?"
"Tentu saja tidak bisa. April itu kan bukan
makanan……!"
'Snow Witch' Funnel Bjorkoe tak pernah bertambah tua.
Sekalipun usia mentalnya bertambah, tubuhnya tetap berumur lima belas tahun.
Rambut dan kukunya tidak tumbuh, dan ia tidak membutuhkan makanan biasa.
Sebagai gantinya, ia mempertahankan hidupnya dengan memakan kekuatan
sihir──April, yang secara rutin dipasok oleh Teresalisa.
"……Hah."
Teresalisa berulang kali menghela napas dan menundukkan
bahunya lesu. Rasanya seolah-olah Rollo sedang disandera. Mereka telah terjebak
dalam situasi yang aneh. Ia ingin segera melepaskan diri dari hubungan saling
ketergantungan ini secepat mungkin.
Kapal Longship Varsia itu berlayar meninggalkan
danau, diiringi oleh sorakan dari para prajurit.
Menyusuri "Bloody River" untuk mencari Witches
ketiga. Demi menghidupkan kembali Rollo. Dari daratan padang salju, menuju
lautan Inaterra yang indah.