Chapter 2: Menuju Utara (Bagian Kedua)
1
Rintik-rintik hujan mulai turun dari langit yang kelabu.
Teresalisa yang mengenakan tudungnya, duduk di bagian
belakang gerobak kereta kuda yang terbuka untuk dinaiki.
Bertopang dagu, ia menatap orang-orang yang mulai naik ke
kereta kuda. Tetesan hujan jatuh di telapak tangannya yang menengadah. Saat
menengadah menatap langit yang suram, awan tebal terlihat membentang luas.
Hujan mungkin akan turun lebih lebat sebentar lagi.
Sembilan kereta kuda tanpa atap terpal. Tempat berkumpulnya
adalah di depan istal kuda, yang berjarak sedikit jalan kaki dari gudang .
Tujuh kereta kuda roda empat yang besar, dan dua kereta kuda
roda dua yang sedikit lebih kecil. Orang-orang yang bersembunyi di tempat
persembunyian mulai naik ke bak masing-masing kereta kuda.
"Cepat! Tolong bergeser lebih rapat. Bagi yang bisa
mengendalikan kuda, tolong ke kursi kusir."
Mulai dari Rollo, Kesatria Iron Flame, dan dua
prajurit dari pos penjagaan membimbing orang-orang untuk naik ke kereta kuda.
"…Entah kenapa ini mengingatkanku pada karavan di masa
."
Mendengar gumaman Teresalisa, Rollo yang sedang memandu
orang-orang ke kereta kuda menoleh.
"Maafkan kami karena perjalanan dengan kereta kuda akan
terus berlanjut."
"Tidak apa-apa, lagipula aku tidak benci bepergian.
Hanya saja, tolong bebaskan aku dari hujan musim dingin."
Jumlah orang yang naik ke kereta kuda berkurang lebih dari
dua puluh orang dibandingkan saat di tempat persembunyian. Mereka yang belum
bisa bergabung dengan keluarganya dan tak sanggup membuang kampung halaman
mereka, memilih untuk tetap tinggal di Campusfellow. Di antara mereka, ada juga
keluarga dari orang-orang yang pergi ekspedisi ke Lowe dan belum kembali.
Tragedi di Lowe telah dijelaskan oleh Brasserie kepada semua
orang.
Namun, ada beberapa dari mereka yang tidak bisa mempercayai
kata-kata itu. Ada orang-orang yang ingin percaya bahwa orang berharga mereka
berhasil lolos dari tragedi itu dan masih hidup. Tempat di mana orang-orang
yang selamat itu akan pulang pastilah Campusfellow ini. Brasserie dan yang
lainnya tidak bisa memaksa mereka yang memilih untuk tidak pergi ke dan memilih
menetap di sini untuk menunggu kepulangan keluarga mereka.
Delirium yang masih tertidur, kembali dibaringkan di atas
jerami yang dialasi di gerobak. Di gerobak itu pula, Perdana Menteri Brasserie
ikut menumpang untuk melindungi sang putri yang tertidur. Selain itu, para
Meister muda yang memegang perisai, serta Nyonya Brasserie juga naik di kereta
kuda yang sama.
Wakil Komandan Kesatria Iron Flame, Victoria,
menumpang di gerobak paling depan. Kesatria lainnya, Rollo, serta dua prajurit
dari pos penjagaan, masing-masing akan menunggang kuda dan berlari mengawal
barisan.
Pasukan pengejar musuh mungkin akan datang menyusul dan
pertempuran bisa saja terjadi. Para Kesatria telah menyiapkan senjata
transformasi mereka.
Berdiri di belakang kereta kuda yang diduduki Teresalisa,
Rollo membantu orang-orang naik ke gerobak.
"Permisi. …Permisi!"
Seorang pelayan wanita melangkah lebar menghampiri Rollo.
Ia adalah pelayan muda dengan rambut hitam bergelombang
mengilap yang dipanjangkan hingga sebahu. Mengenakan rok panjang hitam yang chic
dan serasi dengan warna rambutnya, serta white brim berhiaskan pita di
atas kepalanya. Padahal ini sedang dalam keadaan darurat dan ia boleh saja
melepasnya, namun ia bersikeras untuk tetap tampil layaknya seorang pelayan,
seolah itu adalah harga dirinya.
Lengannya ditarik oleh pelayan wanita lain yang agak berisi.
"Tunggu, sebaiknya jangan, Inedit."
"Lepaskan aku, Kona. Aku harus bertanya pada Black
Dog-sama. Tentang Cappuccino!"
Pelayan yang dipanggil Inedit itu memelototi Rollo dengan
mata sipitnya yang tajam, lalu melangkah maju.
Rollo menatap lurus ke arahnya.
"Cappuccino, dia seharusnya bersama Tuan Putri. Anak
itu sangat menyayangi Tuan Putri, jadi dia pasti tidak akan pernah meninggalkan
sisinya! Apakah Anda tidak melihatnya? Adikku…"
"Saya melihatnya."
Rollo tidak menyembunyikan apa pun, dan menyampaikan apa
yang ia ketahui.
"Terakhir kali saya melihatnya adalah di dalam kastil.
Sejauh yang saya tahu, Cappuccino tidak mati. Dia memang sempat diselimuti api,
tapi Witches-sama telah menolongnya."
"Diselimuti… api? Bohong…"
Mata Inedit terbelalak. Ia menutupi mulutnya yang gemetar
dengan telapak tangannya.
"Kenapa? Dia tidak mati, tapi kenapa Anda
meninggalkannya di kastil musuh? Kenapa Anda pulang meninggalkannya dalam
keadaan terluka parah seperti itu? Keterlaluan. Anda keterlaluan."
"…Maafkan saya. Menghadapi para Sorcerers, saya
tidak punya kelonggaran untuk membawa Cappuccino keluar."
Rollo menundukkan kepalanya pada Inedit.
"Saya sudah mengerahkan seluruh tenaga saya hanya untuk
melindungi Delirium-sama—"
"Tidak mungkin! Karena, Anda adalah 'Black Dog',
kan!?"
Inedit mencengkeram baju Rollo.
Temannya, Kona, berusaha melepaskan cengkeramannya, tetapi
Inedit melawan, terus mendesak dan menyalahkan Rollo. Keributan itu membuat
orang-orang di sekitar menghentikan pekerjaan mereka dan menoleh.
"Bukankah Black Dog-sama itu kuat? Bukankah Anda
pembunuh bayaran yang melindungi Campusfellow? Kalau begitu tolong selamatkan
Cappuccino! Anak itu sangat cengeng. Dia pasti menangis. Kasihan sekali, bahkan
sampai sekarang pun, dia pasti sedang menangis di kastil musuh…!"
Wajah Inedit berkerut penuh kepedihan. Melampiaskan perasaan
tak berdayanya pada Rollo. Air matanya hampir tumpah, dan ia pun mengusap
matanya. ──"Tolong selamatkan dia, yang benar saja."
"…………"
Rollo tak bisa berkata apa-apa. Justru karena ia sangat
menyadari tanggung jawabnya, ia tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun.
"Berbuat yang benar dong. Kalau Anda Black Dog,
selamatkan kami dengan benar!"
Lalu, pada saat itulah.
──"Cermin, oh cermin" (Mirror, mirror).
Menyadari niat membunuh yang mendekat, Rollo secara refleks
mencabut pisau belati dari pinggangnya.
"Eh, tungg…"
Sambil memeluk Inedit untuk menjauhkannya, Rollo menahan
tebasan bilah sabit besar yang diayunkan mendatar dengan pisau belati yang
digenggamnya secara terbalik. Sesaat setelah suara benturan logam yang nyaring
terdengar, Inedit menjerit ketakutan.
Bukan hanya Inedit yang berteriak. Orang-orang di atas
gerobak dan mereka yang hendak naik juga berseru kaget melihat sabit besar yang
tiba-tiba muncul.
Kona yang berada tepat di sebelah Inedit jatuh terduduk
saking terkejutnya.
"Witches-sama… tolong jangan terlalu mengejutkan
semua orang."
"Aku tidak mau. Soalnya anak ini, entah kenapa
membuatku kesal."
Teresalisa membentak tepat di depan hidung Rollo.
"Kenapa kamu diam saja? Anak ini bilang, 'Aku lemah
jadi aku tidak akan bertarung, tapi kamu yang kuat harus melindungi kami
mempertaruhkan nyawa', tahu? Terlalu manja, kan?"
"Tidak, perkataannya tidak salah. Mereka memiliki tugas
mereka sendiri. Dan melindungi mereka adalah tugas saya, para Kesatria, dan
para prajurit. Saya… gagal melaksanakan tugas itu."
"Kamu memikul terlalu banyak beban."
Mata merah Teresalisa semakin tajam memelototi Rollo.
"Di dunia ini, diselamatkan bukanlah hal yang wajar.
Dilindungi bukanlah hal yang wajar. Semua orang berjuang keras untuk melindungi
diri mereka sendiri. Dalam sekejap mempedulikan nyawa orang lain, nyawa kita
sendiri yang terancam. Anak ini harus menyadari kesombongannya yang menitipkan
hal berharganya pada orang lain."
Teresalisa menatap lekat Rollo.
Namun, kata-katanya ditujukan pada Inedit yang berada dalam
pelukan Rollo.
"Kalau dia memang orang yang benar-benar berharga,
seharusnya kamu tak menyerahkan keselamatannya pada orang lain. Yang gagal
melindungi adikmu bukanlah dia, tapi kamu. Kamu sendiri yang tidak bisa berada
di sisinya saat adikmu dalam bahaya."
"Mana mungkin, aku bisa berada di sisinya…!"
Tanpa sadar, Inedit yang berlinang air mata berteriak.
"Karena. Karena saat itu, aku ada di
Campusfellow…"
Teresalisa menundukkan pandangannya pada Inedit.
"Benar. Karena itu kamu tidak punya hak untuk
menyalahkannya. Kalau kamu punya keluhan, keluarlah dari pelukannya, berdirilah
di medan perang baru bicara…!"
"Ukh…"
Syuuut──tiba-tiba, sebuah anak panah menancap di
tanah lumpur yang becek.
Itu adalah sinyal dari Kesatria Iron Flame yang
memanjat menara lonceng kota untuk berjaga-jaga memantau serdadu Amelia di
sekitarnya. Ketika Rollo mendongak ke arah menara lonceng, Kesatria yang
memegang busur memutar tangannya di dekat lonceng besar. Itu adalah tanda yang
menyuruh mereka cepat berangkat. Rollo melepaskan tangannya dari bahu Inedit
dan menyimpan pisau belatinya.
"Kita berangkat, semuanya! Majukan kudanya. Pasukan
pengejar sudah datang."
Terdengar ringkikan kuda bersahut-sahutan. Kereta kuda mulai
melaju satu per satu, mencipratkan lumpur.
Teresalisa menghilangkan sabit besarnya ke dalam cermin
tangannya, lalu melompat naik ke atas gerobak kereta kuda yang mulai bergerak.
Rollo bertanya pada Inedit.
"Kalau Anda menunggu di sini, Cappuccino mungkin akan
kembali. Tapi saya tidak berniat untuk sekadar menunggunya. Saya akan pergi
mencarinya dari sini, dan pasti akan mempertemukan kalian kembali. Bagaimana
dengan Anda?"
"…Aku ikut. Aku akan ikut, bersama kalian."
"Witches-sama!" seru Rollo sambil menoleh
ke kereta kuda yang telah berjalan. Itu adalah kereta kuda paling belakang dari
barisan. Teresalisa berdiri di baknya. "Tolong bawa dia juga!"
"…Hanya akan menambah beban saja."
Di atas gerobak, Teresalisa mengayunkan cermin tangannya.
Ujung tali perak yang menjulur dari permukaan cermin melilit tubuh Inedit.
Inedit menjerit saat ditarik ke atas gerobak.
Rollo membangunkan Kona, pelayan lain yang duduk lemas di
dekat kakinya.
"Anda juga ikut, kan? Bisa berdiri?"
"Aku ikut. Tapi, pinggangku…"
Pelayan bertubuh montok itu, Kona, menatap Rollo dengan mata
basah oleh air mata. Rupanya ia tidak bisa berdiri karena terkejut melihat
sabit besar Teresalisa hingga jatuh terduduk. Rollo mengangkat dan
menggendongnya.
"…Ukh, ugh."
Lupa akan cederanya karena mengerahkan tenaga, rasa sakit
yang luar biasa menjalar di bahu kanan Rollo yang dibalut perban.
"M-maafkan aku, aku sedikit berat."
"…Berat? Sama sekali tidak. Rahasia kita saja, Tuan
Putri jauh lebih berat lho."
Sambil terus menggendong Kona, Rollo berjalan menuju kudanya
yang telah disiapkan. Sebelum mendekati kudanya, ia mengambil anak panah yang
menancap di lumpur. Pada bulu panah itu, terdapat dua garis merah. "Panah
Sinyal" adalah panah yang bisa menyampaikan informasi lebih rinci melalui
warna dan jumlah garisnya. Semua itu sudah disepakati sebelumnya. Jika garisnya
berwarna kuning, berarti prajurit Amelia yang mendekat sekitar sepuluh orang.
Jika biru, sekitar tiga puluh orang, dan jika merah, berarti lebih dari itu.
Dan garis kedua menandakan bahwa ada Sorcerers di
antara mereka.
2
Di jalan utama yang basah oleh hujan malam, sembilan kereta
kuda melaju dengan kecepatan tinggi.
Sisi timur laut Kastil Campusfellow adalah distrik hiburan
paling ramai di kota. Meski tidak semaju Kerajaan Lowe yang perdagangan
antarnegaranya makmur, namun di sini berjejer kedai minuman, tempat makan,
hingga teater kecil. Namun sekarang, dalam keadaan darurat, tempat ini menjadi
sepi, dan pemandangan prajurit Amelia berzirah putih yang mondar-mandir
seenaknya terlihat di sana-sini.
Meskipun tak ada semangat di kota yang diguyur hujan ini,
lampion tetap menyala di kedai-kedai minuman yang gigih berbisnis. Di bawah
teritisannya, beberapa prajurit Amelia mengelilingi tong anggur yang dijadikan
meja sambil menenggak bir ale.
Di sudut jalan, para wanita bergaun compang-camping berdiri,
mencoba mengais koin perak dari para prajurit. Di bawah tempat berteduh dari
hujan, seorang anak laki-laki kumal berpura-pura menjadi yatim piatu perang.
Prajurit Amelia yang merasa kasihan melemparkan koin tembaga ke dalam gelas di
dekat kakinya yang sedang duduk bersila.
Di luar kota bawah kastil, keluarga-keluarga di bawah
naungan Keluarga Grace seharusnya masih terus memberikan perlawanan terhadap
penjajahan. Namun bagi para penduduk, kelaparan dan hancurnya kehidupan jauh
lebih menakutkan daripada prajurit Amelia. Mereka tidak bisa hidup jika tidak
mencari uang. Betapa tangguhnya manusia.
Sembilan kereta kuda yang bergerak menyebar dari depan ke
belakang, dengan kereta yang menidurkan Delirium di tengahnya, berpacu
melintasi distrik hiburan untuk keluar dari kota bawah kastil. Tapak kuda
menendang jalanan berbatu dengan kuat, dan kereta kuda semakin mempercepat
lajunya. Dua prajurit dari pos penjagaan memandu rombongan di barisan paling
depan. Sejajar dengan barisan panjang kereta kuda itu, tiga Kesatria Iron
Flame masing-masing memacu kuda mereka.
Rollo mengarahkan kudanya ke kereta kuda di barisan paling
belakang.
Ia bertanya pada Kona yang masih digendongnya, apakah ia
bisa melompat ke gerobak yang melaju di sebelah mereka.
"Eh? Mustahil. Nggak mungkin, nggak akan mungkin
bisa."
"Baiklah. Witches-sama! Tolong tangkap
dia!"
Rollo melemparkan Kona ke atas gerobak. Teresalisa merentangkan
cairan peraknya seperti tirai untuk menangkap pelayan yang menjerit ketakutan
itu.
"Hei, bisa nggak kamu tidak memakai Witches
seperti pembantu serabutan?"
"Maafkan saya. Anda sangat membantu!"
Di belakangnya, Rollo mendengar suara tapak kuda yang tak
terhitung jumlahnya. Pasukan Amelia akhirnya berhasil menyusul mereka. Saat
Rollo menoleh, di dalam jarak pandangnya, ia melihat banyak nyala obor yang
menerangi kota hujan yang telah gelap.
Anak panah yang ditembakkan dari belakang mendesing membelah
angin, lalu menancap di pinggiran gerobak yang berjalan paling belakang. Kona
yang sedang ditenangkan oleh Inedit terkejut melihat anak panah menancap tepat
di sebelahnya, membuat air matanya langsung surut. Anak panah kedua yang
ditembakkan kemudian ditangkis jatuh oleh cambuk perak.
"Witches-sama! Saya akan maju mencegat mereka.
Jika Sorcerers muncul, tolong bantuannya."
"Boleh saja… tapi senjatamu mana?"
Teresalisa berteriak dari atas gerobak kepada Rollo yang
berkuda di sebelahnya. Yang disembunyikan Rollo di balik jubahnya yang berkibar
tertiup angin hanyalah pisau belati. Apakah ia berniat melawan pasukan kavaleri
musuh hanya dengan satu pisau pendek?
"Tidak apa-apa. Saya punya ini!"
Yang diacungkan Rollo adalah panah sinyal dengan garis merah
di bulunya. Anak panah yang dipungutnya tadi.
"…Cuma bawa anak panah saja memangnya bisa apa?"
"Pasti bisa."
Lebih dari itu, yang lebih serius adalah luka di tubuhnya
yang belum juga sembuh. Luka di bahu yang membatasi jangkauan gerak lengan
kanannya, serta retakan di tulang rusuknya yang terus berderit setiap kali ia
bergerak. Rollo menarik napas panjang, dan menggigit panah itu secara
horizontal di mulutnya. Lalu, ia meneguhkan hatinya untuk menahan rasa sakit.
──Tarikk, Rollo menarik tali kekangnya kuat-kuat,
mengerem kudanya mendadak.
Kuda itu meringkik nyaring dan mengangkat kaki depannya
tinggi-tinggi di tempat. Rollo mengendalikan kudanya dengan tali kekang, memutarnya
setengah putaran dengan kaki belakang sebagai poros. Sambil mengarahkan kepala
kudanya ke arah pasukan kavaleri Amelia, ia menurunkan kaki depan kuda itu dan
menendang perutnya dengan sanggurdi untuk melesat maju.
Sambil memacu kudanya, Rollo dengan lincah berdiri di atas
pelana. Lalu, tepat di saat berpapasan dengan pasukan kavaleri musuh, ia
melompat ke salah satu kuda mereka.
"Apa, siapa orang ini!? Lepaskan…!"
Prajurit pemanah di atas kuda memutar tubuhnya, berusaha
menjatuhkan Rollo yang melompat ke arahnya.
Rollo menyelinap ke belakang pria itu dengan mulus dan duduk
di sana. Memaksanya berada dalam keadaan boncengan. Kemudian ia mengambil panah
sinyal yang digigitnya, lalu menusukkannya ke paha pria itu.
"Gyaaa…!"
Prajurit pemanah itu menjerit kesakitan akibat rasa sakit
yang luar biasa.
Saat pria itu lengah, Rollo menyelipkan kedua lengannya dari
bawah ketiak pria itu dan mengambil alih busurnya. Rollo mengambil satu anak
panah dari tabung yang disandang pria itu, dan masih dalam keadaan memeluk dari
belakang, mengarahkan mata panah ke kavaleri Amelia yang berlari di sebelah
mereka.
Anak panah yang ditembakkan melesat sesuai bidikan, menembus
bahu prajurit kavaleri itu. Prajurit yang terjatuh dari kudanya itu menjerit
dan menghilang ke belakang.
"Tarik busur kalian! Seseorang tembak dia!"
"Kepung dari samping!" "Kepung, kepung, kepung…!"
Mewaspadai kuda yang dibajak Rollo, kuda-kuda di sekitarnya
mengambil jarak. Anak panah ditembakkan bertubi-tubi ke arah Rollo yang berada
di atas kuda. Padahal prajurit pemanah yang merupakan rekan mereka sendiri
masih dipeluk oleh Rollo.
"Hoo… p."
Rollo menghindari anak panah yang melesat dari arah serong
kanan belakang dengan mencondongkan punggungnya ke belakang, membawa serta
prajurit pemanah dalam pelukannya.
Bersamaan dengan itu, ia mencabut panah sinyal yang menancap
di paha pria itu.
"Ugh…! Nuaah!"
Prajurit pemanah itu kembali menjerit.
Dengan lengannya masih melingkari punggung pria itu, Rollo
kembali menarik busur dengan panah sinyal seperti tadi, lalu menembak prajurit
kavaleri lainnya. Prajurit yang lengannya tertembus itu jatuh dari kuda dan
terguling di atas jalanan berbatu tanpa daya.
Prajurit pemanah di pelukan Rollo memberontak.
"Sial, jangan main-main, keparat. Hentikan…"
Rollo menahan panah yang ditembakkan dari samping dengan
menggunakan prajurit pemanah itu sebagai tameng.
"Ngooh,"──prajurit pemanah yang dadanya tertembus
anak panah itu kehilangan tenaga dan merosot jatuh dari pelana. Rollo
mencengkeram gagang pedang di pinggang pria itu. Saat prajurit pemanah itu
jatuh, Rollo mencabut pedangnya dengan mulus.
Setelah merampas kuda dan pedang, Rollo berlari sejajar
dengan pasukan kavaleri musuh, dan dengan pasti mengurangi jumlah mereka. Ia
menyayat paha prajurit yang berpapasan dengannya, menangkis pedang yang
diayunkan dari atas, lalu menebas ketiak prajurit tersebut.
Namun, jumlah pasukan kavaleri terlalu banyak. Dan tidak
semua kavaleri yang mengejar kereta kuda mau meladeni Rollo. Beberapa kuda
kavaleri di luar jangkauan Rollo menyusulnya dan mendekati kereta kuda di
depan.
"Black Dog-sama…!"
Dua Kesatria yang tidak mengenakan zirah putih muncul dari
belakang Rollo yang sedang mengendalikan kuda, masing-masing memegang senjata
transformasi mereka sambil menunggang kuda. Mereka adalah Kesatria Iron
Flame yang bertugas memantau di menara lonceng, yang kini telah menyusul.
"Beberapa musuh sudah maju ke depan. Tolong halau
mereka!"
"Siap laksanakan!"
Kedua Kesatria itu mendahului Rollo dan mengejar sembilan
kereta kuda yang ada di depan.
3
Suara tapak kaki yang menghantam jalanan berbatu berubah
menjadi suara derap di atas tanah liat.
Iring-iringan kereta kuda keluar dari distrik hiburan,
memasuki yang menuju ke pelabuhan sungai. Itu adalah jalan di dalam hutan yang
dibuat dengan membabat hutan pohon jarum.
Di kedua sisi jalan, pohon pinus merah tinggi tumbuh lebat,
dan dahan serta daun yang membentang dari kiri dan kanan menyempitkan langit di
atas kepala. Dibandingkan dengan di dalam kota, daerah sekitarnya menjadi jauh
lebih gelap. Tapi karena itu adalah jalan yang digunakan untuk distribusi,
lebarnya cukup besar, dan tanahnya sudah padat sehingga mudah untuk dilalui.
Angin kencang menggoyangkan dahan-dahan pohon di sekitar dengan suara
gemerisik.
Jika terus menyusuri jalan di hutan, mereka akan tiba di
pelabuhan sungai, namun pelabuhan itu pasti sudah dikuasai oleh prajurit
Amelia. Tujuan mereka bukan pelabuhan, melainkan pos penjagaan yang terletak di
bagian hulu . Rencananya mereka akan berbelok dari dan pergi ke arah utara.
"…Apa Black Dog berhasil menahan pasukan
pengejar?"
Di bak kereta kuda yang melaju paling depan, Victoria
berdiri dengan tangan bertumpu pada pinggirannya.
Ia memicingkan matanya ke arah deretan kereta kuda di
belakangnya. Saat melewati kota bawah kastil, jarak antara kereta kuda semakin
melebar. Dalam kegelapan hutan, ia tidak bisa melihat sampai ke kereta paling
belakang. Cahaya lampion yang digantung di kursi kusir masing-masing kereta
kuda berbaris, bergoyang lemah.
Delirium yang tertidur pulas berada di gerobak kelima.
Meskipun tidak terlihat dari depan, di sisi Tuan Putri, Perdana Menteri Brasserie
pasti sedang melindunginya dengan memegang pedang pendek "Viper Bite"
di dadanya.
"Wakil Komandan…!"
Prajurit yang memacu kudanya di garis depan menoleh dengan
suara gemetar.
Di dalam hutan pohon jarum yang lebat di kedua sisi jalan,
cahaya obor tampak bermunculan. Obor-obor itu berlari sejajar dengan barisan
kereta kuda dan perlahan-lahan mendekati jalan.
"…Jadi mereka memang sudah menyergap kita. Sialan kau
Amelia."
Sesaat kemudian, sekitar lima belas prajurit kavaleri
melesat keluar dari dalam hutan gelap di kiri dan kanan jalan, menyibak dahan
dan daun, langsung menuju jalan utama. Helm putih dan zirah putih. Kebanyakan
kuda ditumpangi oleh dua orang, dengan kesatria di belakang memegang obor.
"Cabut pedang kalian! Kita akan bertempur."
Victoria menghunus pedangnya, menyemangati dua prajurit
kavaleri di depan dan kusir yang mengendalikan kuda.
"Kalau kita berhenti, seluruh barisan akan berhenti.
Apa pun yang terjadi, teruslah memacu kuda!"
Kemudian, ia menginstruksikan orang-orang di bak gerobak
untuk menundukkan badan.
Selain dua prajurit yang memandu barisan, tiga <Kesatria Iron
Flame> berlari sejajar untuk melindungi kereta kuda.
Pertempuran antara <Kesatria Iron Flame> dan
prajurit kavaleri Amelia sudah dimulai. Ketiga Kesatria masing-masing mencabut
pedang di atas kuda, menangkis prajurit Amelia agar tidak mendekati gerobak.
Namun jumlah musuh terlalu banyak.
Dari kuda Amelia yang mendekat dengan cepat, para kesatria
yang memegang obor berulang kali melompat pindah ke gerobak. Jeritan dan
teriakan ketakutan dari orang-orang bergema di kegelapan jalanan yang diguyur
hujan.
Empat kavaleri musuh mendekati kereta kuda yang ditumpangi
Victoria di barisan paling depan.
Dua kesatria melompat dari kedua sisi bak gerobak. Victoria
mengayunkan pedangnya.
Ia menangkis tebasan musuh dan dengan bilah yang sama
menahan pedang yang mendekat dari belakang. Suara benturan logam yang keras
bergema di tengah hujan. Obor musuh yang terjatuh menggelinding di lantai papan
dan menyebarkan percikan api, membuat orang-orang yang meringkuk di sudut
gerobak menjerit.
Pedang pendek yang digunakan Victoria memiliki bilah
bergerigi seperti gergaji. Ia mengait pedang musuh yang ditangkisnya, membuang
arah tebasannya ke luar gerobak, lalu menendang pantat musuh yang memunggunginya.
Kesatria Amelia itu berteriak konyol dan terjatuh dari pinggir gerobak.
Kemudian dari kuda yang lain, dua kesatria baru kembali
melompat naik menggantikan yang jatuh.
Dikelilingi oleh tiga kesatria di bak gerobak yang sempit,
Victoria mengarahkan ujung pedangnya pada mereka. Ia merasa cemas. Kalau terus
begini, ia hanya bisa melindungi satu gerobak. Ia tidak bisa melindungi
kesembilan kereta kuda sekaligus──.
Ketiga Kesatria Iron Flame yang berlari sejajar
dengan barisan gerobak juga berada dalam kepanikan. Ada sembilan kereta kuda
yang harus dilindungi. Musuh berjumlah lebih dari sepuluh kavaleri. Kekuatan
pasukan mereka sangat jauh dari kata cukup. Mereka tak sanggup mencegah
kesatria Amelia yang terus melompat ke atas gerobak-gerobak itu.
Lalu akhirnya, dua kesatria berhasil melompat naik ke
gerobak kelima, gerobak terpenting tempat Delirium tertidur. Para Meister yang
memegang perisai ditendang jatuh satu per satu dari atas gerobak. Nyonya
Brasserie menutupi tubuh Delirium dengan tubuhnya sendiri untuk melindunginya.
Untuk melindungi istri dan Tuan Putrinya, Brasserie menghunus pedangnya dan
berdiri di depan mereka.
Situasinya semakin memburuk setiap detiknya. Dua prajurit
kavaleri yang berada di depan juga sedang bertarung pedang dengan prajurit
kavaleri Amelia yang mendekat. Teriakan ketakutan mereka terdengar di telinga
Victoria, bercampur dengan suara rintik hujan.
Fakta bahwa ia tidak bisa beranjak dari gerobak terdepan
membuatnya sangat frustrasi. Victoria menyarungkan pedangnya. Ke sarung bagian atas
dari dua sarung di pinggangnya. Tiga kesatria Amelia yang berhadapan dengannya
mengejek melihat tindakan itu.
"Oi oi, ada apa ini? Menyerah?" "Pilihan yang
bijak." "Hentikan kereta ini kalau kau mau menyerah."
Victoria memberi instruksi baru pada kusir di belakangnya.
"Ubah perintah, kusir! Rem saat aku memberi tanda. Dan
segera lajukan lagi setelahnya."
Sementara itu, di barisan paling belakang, kavaleri Amelia
masih mengepung kuda yang dikendalikan Rollo.
Melaju kencang di tengah guyuran hujan di , serangan sengit
Rollo melawan kavaleri terus berlanjut.
Sambil menghindari anak panah yang ditembakkan dan tombak
yang menjulur, Rollo mendekatkan kudanya ke kavaleri musuh. Senjata yang ada di
tangannya adalah pedang. Namun, pedang besar yang ia rebut terlalu berat, dan
sangat merugikan jika digunakan dengan satu tangan sambil mengendalikan kuda.
"…Kalau mau merampas senjata, harusnya panahnya
ya."
Ia tidak bisa terus mengayunkannya lama-lama. Meski mengenai
musuh di atas kuda, ia tidak punya tenaga yang cukup untuk menyayatnya.
Saat itulah, sebuah anak panah mengenai kuda yang
ditunggangi Rollo, membuatnya tersungkur jatuh ke depan. Secara refleks, Rollo
berdiri di atas pelana dan melompat ke kavaleri yang berlari di depannya.
Membuang pedang besar itu, ia mencabut pisau belati dari pinggangnya di udara.
Menyadari kehadiran Rollo, prajurit di atas kuda menoleh,
memiringkan obornya untuk menahan pisau Rollo.
Bunga api terpercik. Kobaran api menerangi wajah mereka
berdua. Prajurit di atas kuda itu membuka suara.
"Tung… gu sebentar, kau, kayak pernah lihat."
"…………"
Itu adalah prajurit berjanggut di ujung dagunya yang lancip.
Ia tidak memakai helm, dan rambut hitam panjangnya diikat di belakang kepala.
Prajurit pemburu sisa pasukan yang mereka temui di sebelum memasuki
Campusfellow.
Rollo mengerahkan tenaga pada tangannya yang menggenggam
pisau, lalu menebas obor itu hingga putus.
Ujung obor yang jatuh ke tanah memercikkan bunga api dan
menghilang di belakang mereka. Rollo dengan cepat membalikkan pisaunya dan mencoba
menyayat leher prajurit itu──namun, bilahnya berhenti setelah hanya merobek
selapis kulit lehernya.
"…Hii, henti…"
Prajurit berjanggut itu secara refleks mencengkeram
pergelangan tangan Rollo yang menahan pisaunya.
Terdengar suara dari kuda yang berlari sejajar.
"Kau… jangan-jangan, pedagang keliling waktu
itu!?"
Prajurit Amelia berkulit putih dengan rambut pirang dan
sudut mata menurun yang memegang tali kekang dengan satu tangan sambil
menghunus pedang. Pria yang membeli salep yang disamarkan sebagai lemon balm.
Rollo melirik ke arahnya sekilas, mencengkeram kerah baju si
pria berjanggut, dan melemparnya dari kuda. Pria itu menjerit saat bergulingan
di atas tanah. Rollo tidak membunuhnya. Tidak ada kebutuhan untuk membunuhnya.
──Apakah benar begitu?
Rollo menggenggam tali kekang kuda yang direbutnya.
Pastinya, ia memang tanpa sadar goyah saat kembali bertemu wajah yang
dikenalnya.
──Apakah aku masih… takut membunuh orang?
Rollo menggertakkan giginya kesal dengan ketidakberdayaannya
sendiri. Fakta bahwa ia berhasil menjatuhkan musuh walau ragu-ragu, hanyalah
keberuntungan semata. Kalau saja lawannya tidak seberapa tangguh itu masih
mending, tapi dalam pertempuran, keraguan sesaat seperti itu bisa berakibat
fatal──.
Tiba-tiba, Rollo merasakan hawa mengerikan yang membuat bulu
kuduknya merinding, dan ia pun mendongak.
Pandangannya ke arah tangannya yang menggenggam tali kekang
menjadi redup. Bercampur dengan hujan, pasir berjatuhan dari atas kepalanya.
Hawa itu tidak berasal dari depan, kiri, atau kanannya. Melainkan dari atas.
Ketika Rollo menoleh ke atas, seekor ikan raksasa dengan mulut menganga lebar
meloncat ke arahnya.
"Ukh…!?"
Titik jatuhnya tepat di punggung Rollo──. Rollo dengan cepat
menarik tali kekang, dan membuat kudanya bergeser ke samping. Ikan yang kepalanya
membentur tanah itu hancur dan meledak menjadi tumpukan pasir.
──Datang. Sorcerers.
Rollo menoleh ke belakang. Dua ekor kuda dan sebuah kereta
kuda telah menyusul kavaleri di belakangnya.
Jubah putih menyembul dari kegelapan malam. Orang yang
menunggang kuda itu adalah pria berkepala plontos. Dan pria berambut pendek
merah yang juga memakai jubah putih serupa. Pastilah mereka tiga Sorcerers
yang ditemui kakeknya di Kastil Campusfellow. Namun pria berkepala plontos itu
ternyata tidak seberotot yang diceritakan──. Dan satu lagi, wanita berambut
hitam panjang duduk di tepi bak kereta kuda di belakang mereka.
Rollo menendang perut kudanya dengan sanggurdi, memacu
kecepatannya.
"Witches-sama…!!"
Di gerobak yang dituju panggilannya, Teresalisa yang
mengenakan tudung berdiri dengan jubah cokelatnya yang berkibar. Ia menyipitkan
mata merahnya menatap para Sorcerers yang muncul, lalu mengeluarkan
cermin tangannya dari balik jubahnya.
4
Asalkan kau seorang laki-laki, itulah yang selalu dikatakan
orang-orang selama ini.
Victoria Riga yang lahir di keluarga Kesatria, telah
mengayunkan pedangnya sejak ia mulai mengerti apa-apa.
Melihat Victoria yang dengan cepat menunjukkan bakat luar
biasa dan terus-menerus mengalahkan orang-orang dewasa, para Kesatria dari
Keluarga Riga memujinya "Hebat sekali", "Luar biasa".
Kemudian mereka akan mengelus kepala gadis kecil itu, tersenyum dengan raut
kecewa dan bergumam, "Seandainya saja kau laki-laki."
Saat usianya mulai remaja, ia memaksa masuk ke sekolah
Kesatria dan mengasah kemampuan berpedangnya. Tanpa ia sadari, tidak ada
satupun laki-laki yang bisa mengalahkannya lagi. Bakat pedang yang tak
tertandingi itu perlahan-lahan mengisolasinya dari orang-orang di sekitarnya.
Wanita yang terlalu kuat──keberadaannya adalah ancaman bagi
para Kesatria yang sangat menghargai harga diri dan nama baik. Walaupun itu
hanya sebuah permainan atau pertandingan latihan, Kesatria yang melindungi
negara dan keluarga tidak boleh kalah dari seorang wanita. Karena pandangan
itulah, orang-orang yang menantang Victoria yang tangguh perlahan-lahan
menghilang. Kalah darinya adalah aib yang paling tidak bisa ditoleransi oleh
para lelaki itu.
Meskipun begitu, Victoria tidak tahu cara menahan diri dan
selalu menghancurkan lawannya tanpa ampun. Karena itu, para lelaki
memperlakukannya bagaikan barang pecah belah. Teman-teman sekelas dan bahkan
gurunya menjauhinya justru karena mereka mengakui bakatnya. Merasa seakan
menang padahal tidak pernah bertarung, di tempat tanpa Victoria, mereka tidak
mengayunkan pedang melainkan gosip. ──"Wanita yang tidak tahu
tempat", "Padahal cantik tapi sayang sekali kelakuannya seperti
itu", "Seandainya saja ia laki-laki".
Dirinya adalah perempuan. Hal itu diingatkan padanya sampai
ia merasa muak. Walaupun ia memangkas pendek rambut pirangnya dan mengotori
telapak tangannya dengan lepuhan darah, di mata mereka ia tetaplah perempuan.
Benar-benar omong kosong. Victoria berpura-pura tidak mendengar gosip-gosip itu
dan terus mengayunkan pedangnya sendirian. Apakah Kesatria benar-benar selemah
itu? Karena terlalu peduli dengan reputasi dan pandangan orang, mereka menjadi
takut pada perempuan dan tidak berani mendekatinya. Ternyata mereka selemah
itu. Victoria kesepian. Terlalu kuat, membuatnya tak bisa didekati siapa pun.
──Kecuali satu orang bodoh.
Sesuai dengan ukuran tubuhnya, pedang Heartland Pablo
dipenuhi kekuatan dan terkesan menakutkan. Sosok pria raksasa yang dikenal
dengan kekuatan lengan besarnya itu harus bertekuk lutut di hadapan pedang
Victoria, seorang wanita, adalah pemandangan yang menyedihkan, kikuk, dan tak
tertahankan untuk dilihat. Meskipun begitu, setiap hari tanpa kenal lelah
Heartland terus menantangnya bertarung latihan.
Suatu hari, setelah kembali mengalahkannya hingga babak
belur seperti biasa, Victoria bertanya pada Heartland yang terkapar di tanah.
"Kenapa kau selalu saja datang menantangku setiap hari
tanpa henti? Apa kau bodoh?"
Ditambah lagi, Keluarga Pablo adalah keluarga Kesatria yang
prestisius. Jabatan Komandan <Kesatria Iron Flame> yang dinaungi
oleh Campusfellow pun selalu diwariskan dalam Keluarga Pablo secara
turun-temurun.
"Kau juga suatu saat nanti akan menjadi Komandan, kan?
Terus-menerus kalah dari wanita dari Keluarga Riga, tidak ada aib yang lebih
memalukan dari ini. Apa kau berniat menodai nama baik keluargamu?"
"…Justru karena aku tidak ingin menodainya, aku
menantangmu. Belajar dari yang terkuat. Aku tidak pernah ragu tentang hal
itu."
Heartland bangkit duduk sambil mengusap bagian belakang
kepalanya yang benjol dan bengkak.
"Biarkan saja orang-orang yang ingin menertawakan.
Tapi, sangatlah lucu karena tidak ada satu pun dari mereka yang bisa
mengalahkanmu."
"…………"
Lucu. Benar juga. Kesatria selain pria ini sangat lucu.
Victoria tertawa.
"…Kau tidak berbakat menggunakan pedang. Terlalu banyak
menggunakan tenaga untuk mengayun-ayun besar. Kalau mau mahir, pakailah
tombak."
"…Tidak berbakat!?"
Beberapa tahun kemudian, seperti para putra sulung Keluarga
Pablo sebelumnya, Heartland diangkat menjadi Komandan <Kesatria Iron
Flame>. Di pesta perayaan pengangkatannya, dengan ekspresi serius ia
berkata pada Victoria.
"Aku merasa, kaulah yang sebenarnya paling pantas
menjadi Komandan."
"Jangan bicara omong kosong," jawab Victoria. Kau
yang penuh wibawa lah yang seharusnya mendudukinya.
"Lagi pula, aku sangat kecewa dengan yang namanya
Kesatria. Aku tidak tertarik pada Kesatria mana pun selain dirimu."
──Tapi kalau itu demi Kesatria yang kau cintai, aku tak
keberatan mewarisinya.
"Sekarang, rem!"
Victoria berteriak pada kusir di belakangnya. Di waktu yang
sama, dengan cepat ia mencabut pedang dari sarung di pinggangnya.
Victoria selalu membawa dua sarung pedang di pinggangnya,
tapi salah satunya selalu kosong. Sarung bagian bawah yang ia pakai untuk
menyimpan pedang, sementara bagian dalam sarung bagian atas diolesi minyak. Akar
pedang yang baru dicabutnya dari sana ia tempelkan pada pelindung tangannya
yang terbuat dari logam.
Lalu dalam satu hentakan yang kuat, ia menarik pedangnya.
Bilah bergerigi yang basah oleh minyak itu bergesekan dengan pelindung tangan
logamnya, menghasilkan decitan dan memercikkan bunga api. Detik itu juga,
pedang tersebut meledak dan terbakar dengan dahsyat, menerangi sekelilingnya
dengan terang benderang.
Nama dari senjata transformasi itu adalah── "Fire
Hedgehog".
Membawa nama yang sama dengan panji <Kesatria Iron
Flame>, pedang yang bilahnya diselimuti kobaran api.
"…Apa!? Apa──"
Api ditebaskan dari atas kepala tiga prajurit Amelia yang
sedang terhuyung-huyung karena kusir tiba-tiba mengerem mendadak.
Di saat bahu mereka ditebas belah api berkobar dengan ganas,
diikuti oleh lengan yang terpotong dan langsung dilahap api. Di tengah jeritan
ketakutan orang-orang yang meringkuk di bak gerobak, Victoria menebas mati
ketiga prajurit tersebut, lalu berlari menuju bagian belakang gerobak.
Akibat kereta kuda terdepan yang direm, jarak antar gerobak
dalam iring-iringan itu memendek. Gerobak kedua pun semakin dekat. Kuda dari
gerobak itu terpaksa berbelok menghindar agar tak menabrak gerobak di depannya.
Victoria menjejakkan kakinya di pinggir bak gerobak dan melompat ke kursi kusir
gerobak kedua yang sedang melaju.
Mengayunkan pedangnya yang apinya masih bergoyang, ia
memenggal leher prajurit Kesatria Amelia yang berdiri di bak gerobak dari atas
kursi kusir. Sambil berlari melewati gerobak yang berguncang itu, ia membakar
satu demi satu Kesatria putih yang ada, lalu melompat ke gerobak berikutnya.
Api yang menyala terang itu menerangi iring-iringan kereta
kuda yang berjalan di tengah kegelapan dengan sangat jelas.
Sambil berlari menuju gerobak keempat, Victoria berseru
lantang.
"Saatnya membalas, Kesatria Iron Flame!
Tinggalkan kuda kalian dan melompatlah ke gerobak!"
"Yaaa!"
Ketiga Kesatria juga merespons teriakannya. Mengurungkan
niat untuk menghalangi kavaleri musuh mendekati gerobak, masing-masing melompat
ke gerobak dan mengeluarkan "Senjata Transformasi" mereka.
Senjata-senjata Campusfellow memiliki ciri khas yang sangat
menonjol. Salah satu Kesatria mengayunkan pedang daging sapi besar yang
bilahnya diukir dengan tiga alur. Tujuannya adalah untuk mengunci pedang musuh
yang ditangkisnya. Ia tidak memberikan ampunan sama sekali saat mendaratkan
hantaman keras ke kepala prajurit Amelia yang tak lagi memegang senjata.
Lalu ada lagi pedang yang bilahnya berlapis dua yang
digunakan oleh Kesatria lain. Pedang besar yang bentuknya tidak biasa ini bisa
dibelah dua menyesuaikan kondisi pertempuran, menjadi dua buah pedang satu
tangan. Dan pedang yang digunakan oleh Kesatria yang satu lagi, memiliki anak
panah tersembunyi di dalamnya. Dari atas gerobak, ia membidik dan menembakkan
panahnya ke kavaleri Amelia yang berlari di sebelah mereka.
Di gerobak kelima, demi melindungi Delirium yang sedang
tertidur lelap, Perdana Menteri Brasserie sedang berhadapan dengan dua prajurit
Kesatria Amelia. Mereka saling berjaga jarak dan mengarahkan ujung pedang satu
sama lain.
"Berhenti di situ demi kebaikanmu sendiri. Kecuali
kalau kau mau jadi mangsa 'Viper Bite' ini!"
Pedang yang dibawa Brasserie memiliki ujung setajam jarum,
yang memang diciptakan khusus untuk gerakan menusuk. Meskipun kelihatannya
pedang itu tidak akan bisa memberikan kerusakan yang signifikan, nama yang
diteriakkan Brasserie cukup untuk membuat Kesatria Amelia ragu-ragu untuk
melangkah maju.
Gigitan ular berbisa──Pedang yang dihiasi dekorasi ular
berbisa yang memamerkan taring di pelindung tangannya itu, sekilas tampak
seolah dilapisi oleh racun yang mematikan. Meski dua orang sekaligus dapat
dengan mudah menebas Brasserie, namun jika sedikit saja bilah pedang itu
menyerempet, nyawa mereka bisa melayang──pemikiran itulah yang membuat mereka
tidak berani maju sembarangan.
Brasserie menyeringai tanpa rasa takut. Pedang ini, jika
ditekankan untuk menusuk, bilahnya dapat memanjang dan mempercepat laju
tebasan. Memang benar pedang ini dirancang untuk menusuk, tapi trik utamanya
ada pada namanya. Jika ada senjata yang menggunakan racun, akan lebih baik
untuk tidak memberikan informasi apa-apa agar bisa lebih mudah mengenai lawan.
Pedang ini tidak beracun. Hanya sebuah pedang yang memanjang yang dibuat
terlihat berbahaya.
Saat Kesatria Amelia ragu-ragu untuk menyerang, dari balik
punggung mereka, muncul dua prajurit berkuda dari dua sisi iring-iringan.
Mereka adalah dua Kesatria yang bertugas mengawasi menara lonceng, yang telah
berlari melewati Rollo yang menjaga barisan paling belakang. Keduanya telah
menyiapkan senjata transformasinya.
Kesatria yang datang dari sisi kanan iring-iringan,
mengembangkan seluruh bilahnya yang sebelumnya terlipat tiga, membentuk sebilah
pedang panjang. Sedangkan dari sisi yang berlawanan──sisi kiri iring-iringan,
Kesatria lain memanjangkan gagang pedangnya, mengubahnya menjadi tombak.
Keduanya adalah senjata jarak jauh yang sangat menguntungkan bila digunakan di
atas kuda.
Dua Kesatria Amelia yang berhadapan dengan Brasserie di atas
gerobak berbalik menoleh saat mendengar langkah kuda yang mendekat──tetapi saat
itu juga, leher mereka dipenggal secara bersamaan oleh senjata transformasi
Kesatria Iron Flame yang menyerbu dari arah kiri dan kanan.
Darah segar memercik, dan Brasserie menutup matanya. Sambil
mengusap wajahnya, ia melepaskan napas lega.
"Datangnya telat sekali… dasar."
Saat merasakan panas dari arah belakang, ia menoleh, dan
melihat Victoria sedang mengayunkan pedang apinya di gerobak keempat, menebas
jatuh Kesatria Amelia terakhir yang tersisa di sana.
Dua Kesatria berkuda tadi melewati gerobak itu dari sisi
kiri dan kanan dengan memegang senjata transformasi mereka. Keduanya sedang
dalam perjalanan ke depan barisan untuk membantu dua prajurit yang bertarung
memandu jalannya gerobak.
yang menembus hutan yang gelap, kini diterangi oleh nyala
api terang yang diciptakan Victoria.
5
──Seorang pembunuh bayaran lahir dari ratapan kepedihan.
Teresalisa mengingat kembali moto Keluarga Duvel yang pernah
Rollo ucapkan kepadanya. Semakin banyak pengalaman sedih dan menyakitkan yang
dialami seseorang, semakin kuat pula orang itu jadinya. Kemarahan dan dorongan
hati akan menjadi sumber kekuatan. Begitu ya, sepertinya itu memang benar.
"…Kalau begitu, kita berdua mungkin cukup kuat ya,
'April'."
Teresalisa melepaskan tudungnya sambil mengawasi arah
belakang dari kereta kuda yang melaju kencang. Rambut panjangnya menari-nari
tertiup angin.
Di ujung pandangannya, terdapat Rollo.
Ia sedang menunggang kuda dan berlari ke arah kereta kuda
ini, yaitu barisan paling belakang.
Dan di belakangnya, Kesatria Amelia sedang mengejarnya.
Prajurit kavaleri Amelia dengan gigih terus mengejar kelompok Campusfellow yang
telah memasuki .
Para Sorcerers melaju di tengah jalan seolah memimpin
kavaleri. Pria berkepala plontos dan pria berambut merah menunggangi kuda di
barisan depan, sementara wanita berambut panjang hitam duduk di tepi kereta
kuda di belakang mereka. Jumlah Sorcerers ada tiga orang──bukan.
"…Ada empat ya."
Teresalisa mengibaskan cermin tangannya.
──"Cermin, oh cermin" (Mirror, mirror).
Cairan perak yang memancar dari permukaan cermin, seketika
berubah bentuk menjadi sosok manusia. Lengan dan kaki yang lentur nan jenjang,
serta perut ramping dengan dada yang proporsional. Seluruh tubuh wanita
telanjang berwarna perak itu adalah April. Di kedua tangannya, ia memegang
sebuah sabit besar. Lengkung sabit perak itu dihiasi relief sulur dan daun yang
rumit. Mengkilap berwarna perak seperti kulit April, itu adalah sabit yang sama
dengan yang biasa digunakan Teresalisa.
April, melompat dari gerobak dan terbang tepat ke atas
kepala Rollo yang sedang berlari di belakang mereka. Di udara, ia menjulurkan
salah satu lengannya layaknya sebuah tentakel, melingkari pinggang Rollo.
"Uwoh…"
Sambil mencengkeram erat badan Rollo dengan tentakelnya,
April mendarat di atas pantat kuda Rollo dengan menekuk kedua lututnya. Dari
gerobak, Teresalisa berseru.
"Akan kuberi pelajaran tambahan khusus untukmu, Black
Dog. Kelas sihir bagian kedua."
Sorcerers plontos meraung keras ke arah langit malam,
mungkin karena merasa waspada terhadap kedatangan April.
"Ngoooooooooo…!!"
Lalu, otot dada dan kedua lengannya membesar dengan cepat.
Penampilan aneh yang sangat kentara. Itu adalah sihir.
"Kalau dia, hanya dengan melihat sekilas sudah bisa
diketahui kan apa tipenya. Enam tipe itu, masih ingat?"
"Otot dada dan lengan… khususnya lengannya ya.
Memperkuat otot dengan energi sihir…"
Rollo mendongak dan berteriak ke arah gerobak agar suaranya
tak tertelan oleh suara derap kaki kuda.
"Apakah dia Sorcerers Enhancement-type!"
"Tepat sekali! Itu adalah sihir penguat serangan yang
sangat klasik. Dengan lengan yang membesar seperti itu, sudah pasti dia akan
meninju kita. Genggamannya juga pasti sangat kuat, dan rasanya mustahil bisa
lepas kalau sampai tercengkeram."
"Berarti aku hanya perlu bertarung tanpa sampai
tertangkap, kan!"
"Maksudku, kalau musuhnya adalah Enhancement-type──"
Teresalisa yang berdiri di atas gerobak mengayunkan
tangannya dengan kuat ke arah samping.
Menanggapi gerakannya, April yang bergantung pada Rollo,
memutar sabit besarnya dengan cepat dari posisi tersebut. Lengan April dan
sabit besarnya terbentuk dari pengerasan cairan peraknya. Meski memiliki bentuk
seperti sabit, ia bisa memanjang jauh layaknya cambuk, menyambar kaki depan
kuda yang dinaiki si plontos dan──memotongnya.
"──Jangan sampai kau mendekatinya. Itu adalah solusi
yang terbaik."
"Hee…!"
Rollo membulatkan matanya.
Kuda yang kehilangan kaki depannya pun tersungkur ke depan
dan jatuh. Secara otomatis, Sorcerers plontos itu pun ikut terjatuh,
berguling-guling di tanah sambil meraung keras──"Ngoooooooooo…!!"
Sorcerers berambut merah yang memacu kudanya
mendekati bagian belakang Rollo, menjentikkan jarinya.
Terdengar bunyi 'Klik' saat ia mengacungkan jarinya
ke arah April yang menempel pada punggung Rollo. Sedetik kemudian, sebuah bola
api meletus dari ujung jarinya. Wajah Rollo langsung pucat, 'Gawat,' pikirnya.
Jika mengingat cerita dari Perdana Menteri Brasserie, itu pastilah Sorcerers
yang telah membakar kakeknya. Bola api yang ditembakkan itu akan terus mengejar
targetnya.
"Witches-sama, dia itu…!"
Sorcerers menjentikkan jarinya sekali lagi. Bola api
kedua meletus dari ujung jarinya.
Bola api yang melesat di udara bagaikan bintang jatuh itu mulai
mendekati belakang kuda yang dikendarai Rollo. Namun sebelum bola api tersebut
mencapai mereka, April melompat turun dari punggung Rollo. Memantul dari tanah
dua, tiga kali, dan langsung menyerang Sorcerers berambut merah itu.
Dua bola api yang terlempar secara tak wajar melengkung
dengan sudut yang tak masuk akal, mengejar sosok April.
"Bagi kami para penyihir, kami bisa melihat aliran
energi sihir. Tapi bagi kalian, itu tidak terlihat. Itulah mengapa hal tersebut
tampak membingungkan bagimu. Sama halnya seperti kakekmu yang secara sengaja
menggunakan senjata tersembunyi untuk mengelabui musuhnya. Alasan utama mengapa
ini terlihat menakutkan adalah karena ketidaktahuan kalian terhadap hal-hal
yang tidak kasat mata──"
Di atas gerobak, Teresalisa menjelaskan kepada Rollo sembari
mengendalikan April.
"Dia adalah Sorcerers Transformation-type.
Dia mengubah energi sihirnya menjadi tali panjang lalu menembakkannya,
menempelkan ujung tali tersebut ke targetnya. Lalu dia menjentikkan jarinya,
membakar tali energi sihirnya itu. Jadi, itu hanya tampak seolah-olah bola
api!"
April telah melompat tepat di atas kepala Sorcerers
berambut merah itu. Mengejar April, kedua bola api itu pun membubung tinggi,
mengenai tubuh telanjang perak yang sedang mengayunkan sabit besar tersebut.
"Bola api itu menjalar mengikuti talinya dan otomatis
akan mencapai sasarannya. Makanya serangan itu selalu tepat sasaran. Tapi kalau
sudah tahu rahasianya, serangannya sama sekali tidak menakutkan, kan? Cukup
putuskan saja tali energi sihirnya. Walau kalau yang disasar adalah April,
tidak perlu sampai seperti itu, sih."
Seketika setelah terkena tembakan bola api, tubuh April
terbakar, namun api tersebut segera padam dalam sekejap.
"Konyol sekali. Api tidak akan mempan pada April yang
terlahir dari cermin, tahu."
Teresalisa menunjukkan taring gingsulnya yang tajam.
April, yang berputar seperti gasing di atas kepala pria
berambut merah itu, mengayunkan sabit besarnya dengan indah seolah sedang
menari. Bilah sabitnya yang tajam dengan cepat memenggal kepala pria berambut
merah itu.
Mendarat di atas kuda milik pria berambut merah itu, April
menendang jatuh mayat tanpa kepalanya lalu merebut kudanya.
"Sihir itu tak bedanya seperti senjata tersembunyi.
Kalau kamu tahu triknya, tidak akan menjadi masalah."
"…Ini jadi pelajaran berharga."
"Sebenarnya kamu cukup beruntung. Sepertinya para Sorcerers
itu tidak terbiasa dalam pertempuran kejar-kejaran. Padahal kalau mereka mau
memanfaatkan keuntungan lingkungan mereka, pasti akan ada cara yang jauh lebih
efektif untuk menggunakan sihir mereka."
Zazazaza──Rollo menyadari adanya pasir yang mulai
berkumpul di dekat kaki kuda yang sedang ditungganginya. Tanah di sekitarnya
seakan-akan bergerak menyerupai riakan air. Ia segera menarik tali kekang, lalu
mengubah arah gerak kudanya ke samping. Segera setelahnya, ikan raksasa yang
terbuat dari pasir melompat keluar dengan cipratan dari tempat kudanya berpijak
tadi──.
"Summon-type!"
"Salah. Energi sihir Magical Beast akan terasa
jauh lebih brutal. Ini adalah Spirit (Seirei)──hanya kumpulan dari
beberapa gundukan pasir."
Ikan yang gagal menerkam Rollo, kembali menyelam masuk ke
dalam tanah dan menghilang di dalamnya. Namun, tanda-tanda ikan itu akan segera
muncul kembali semakin terasa.
"Lalu, kalau begitu Manipulation-type!? Wanita
berambut hitam itu pastilah perapalnya. Aku harus segera mengalahkannya──"
"Itu juga salah. Biasanya, penyihir Manipulation-type
atau Summon-type tidak akan berani terang-terangan muncul di depan
musuhnya. Karena sudah pasti perapalnya akan langsung diincar. Tapi umumnya,
jangkauan para Sorcerers untuk mengendalikan 'Spirit
(Seirei)'-nya ternyata tidak terlalu luas. Kau harus melihat targetnya secara
langsung untuk bisa mengendalikannya. Itulah mengapa biasanya mereka berada di
sekitar sini. Contohnya... menyamar di antara prajurit kavaleri──"
Teresalisa melempar pandangannya ke arah para prajurit
kavaleri yang mengejar sambil memegang obor.
"──Tapi, memanipulasi Spirit (Seirei) sambil
tetap menahan energi sihir agar keberadaannya tak terdeteksi itu, hal yang
sangat sulit lho."
Ikan pasir kembali melompat besar di hadapan Rollo. Mulut
besarnya menganga lebar mengarah tepat ke atas gerobak yang dinaiki Teresalisa.
Inedit, Kona, dan orang-orang yang meringkuk di atas gerobak langsung menjerit
ngeri.
"──Yang amatiran akan langsung ketahuan."
Teresalisa memakai tudungnya.
Ia kemudian mengulurkan lengannya ke depan. Pada saat yang
sama, April yang menunggang kuda menjulurkan lengan peraknya. Lengan yang
memanjang itu menusuk tepat ke jantung kusir kereta kuda dari arah gerobak
wanita berambut hitam itu berada. Kusir itu mengerang menahan rasa sakit, lalu
tersungkur membungkuk ke depan. Detik berikutnya, kehilangan si perapal, ikan
pasir itu pun langsung hancur meledak di udara, di atas gerobak.
Hujan pasir menghujani seluruh gerobak, membuat orang-orang
yang terkena percikan pasir itu kembali menjerit.
Wanita berambut hitam yang berdiri tegak di atas gerobak,
meneriaki semua orang di sekitarnya. Tunjukannya diarahkan tepat pada
Teresalisa.
"Cepat, tangkap dia! Dia itu Witches yang
menakutkan! Bencana! Hanya dengan keberadaannya saja dia adalah entitas jahat
yang akan mengacaukan dunia. Dia tak boleh dibiarkan hidup!"
"Seenaknya saja kalau bicara…"
Teresalisa melepaskan tudungnya lagi. Pasir yang menempel
langsung berguguran darinya.
"Perlindungan Lucy-sama akan selalu menyertai kalian
semua. Sekarang, sesuai dengan kehendak Sang Naga! Buktikanlah keberanian
kalian, prajurit Amelia, kepada Lucy-sama…!"
Para prajurit Amelia di atas kuda langsung melempar obor
mereka lalu menghunus pedangnya usai disemangati oleh Sorcerers itu.
Mengiringi teriakan penuh gairah, mereka mempercepat laju kuda dan langsung
menyerbu ke deretan gerobak Campusfellow.
Teresalisa mengulurkan kedua lengannya ke depan. Sambil
melengkungkan jemarinya, ia mengendalikan April yang ada di atas kudanya.
Seiring dengan Teresalisa yang mengayunkan tangannya, April yang melompat itu
langsung menebaskan sabit besarnya dan menyerang prajurit kavaleri Amelia.
Rollo, yang ada di posisi mengejar dari barisan paling
belakang, juga memegang pisau belatinya.
"…Ngomong-ngomong. Meskipun Witches-sama bertipe
pengendali (Manipulation-type), Anda tak bersembunyi ya."
Sambil memegang tali kekang kudanya, Rollo mencoba
menanyakan pertanyaan yang seketika melintas di benaknya pada Teresalisa.
Saat bertarung bersama di Kastil Lowestein, Teresalisa
bertarung langsung sambil memegang sabit besar April. Padahal ia berkata bahwa
sudah lazim bagi perapal tipe pengendali (Manipulation-type) untuk
bersembunyi dan membiarkan Spirit (Seirei)-nya yang bertarung.
"April itu adalah 'Teman' yang selalu bersamaku sejak
aku masih kecil. Tak ada lagi sensasi menggunakan sesuatu, kan."
Di masa lalu saat menjadi (Drifter), Teresalisa, yang tak
memiliki teman, membuat teman berbincangnya sendiri melalui cermin tangannya.
Ia adalah teman imajiner yang diberikan nama aslinya, Teresalisa. Dialah
"April".
"Lagi pula, aku kan bukan Sorcerers, jadi aku
tak pernah pergi ke biara sekalipun. Cara bertarungku hanya aku pelajari secara
otodidak, tahu."
Teresalisa menjawab sambil menatap April yang sedang
bertarung di baris depan tanpa mengalihkan pandangannya, seakan mengarahkannya
dengan hati-hati. Ia mengangkat dan menurunkan lengannya, memutar jarinya, lalu
membuat gerakan melompat. Ia bagaikan seorang konduktor orkestra.
April, yang menanggapi keinginan Teresalisa, tanpa henti
menjatuhkan musuh-musuhnya dari atas kuda.
"…Aku mengerti."
Inilah cara bertarung yang sesungguhnya dari tipe pengendali
(Manipulation-type), yang biasanya mengandalkan pertarungan jarak jauh.
Beberapa prajurit kavaleri yang berhasil menghindari
serangan gencar April mulai mendekati bagian belakang gerobak. Rollo segera
memperlambat laju kudanya untuk mencegat mereka. Menahan sabetan pedang yang
diayunkan kavaleri yang sejajar dengannya menggunakan pisau belatinya, ia
merampas pedang tersebut.
Dengan pedang rampasannya, Rollo segera menyerang sisa
kavaleri. Tiap ia bergerak, bahu kanannya dan tulang rusuknya yang retak terasa
nyeri, namun saat ia melihat ke arah April dengan ujung matanya, tubuhnya
berdesir seketika. Si wanita telanjang berwarna perak itu ibarat akrobatik yang
cantik. Berlompat dari satu kuda ke kuda lainnya, kemudian mengayunkan sabit
besarnya untuk memenggal kepala musuhnya dengan anggun.
──Aku tidak boleh kalah.
Rollo juga melompat-lompat dari satu kuda ke kuda lainnya,
mengurangi jumlah prajurit kavaleri.
"Apa yang kalian lakukan, kalian ini tak berguna.
Benar-benar sangat tak berguna!!"
Sambil mengacak-acak rambut hitam panjangnya, Sorcerers
yang berada di gerobak itu jelas-jelas terlihat panik.
Rollo mendarat di atas gerobak tempat Sorcerers itu
berada, dan menodongkan pedangnya untuk menahan pergerakan Sorcerers
itu. Sorcerers itu tidak memegang apa pun di tangannya. Justru, ia
terlihat sangat ketakutan melihat pendekatan Rollo dan menjaga jarak hingga ke
tepi gerobak. Jika Rollo menyerangnya sekarang, ia bisa langsung
mengalahkannya, namun lawannya adalah seorang Sorcerers, jadi melompat
asal-asalan saja sama sekali bukan pilihan.
"Sihir seorang Sorcerers itu tak jauh beda layaknya
senjata tersembunyi"──ia teringat pada kata-kata Teresalisa.
Kalau begitu, tipe sihir apakah yang digunakan oleh Sorcerers
yang ada di depannya ini?
"…Kalau dilihat dari betapa enggannya ia mendekat,
mungkin ia bukan Enhancement-type…?"
Di belakang Rollo, April pun mendarat.
"Benar. Tapi jika mendengarkan kisah dari Perdana
Menteri sebelumnya, kurasa orang ini adalah tipe penginvasi (Invasion-type)."
"Tipe Penginvasi (Invasion-type)… itu tipe yang
belum Anda jelaskan, ah, ehh?"
Rollo menoleh, lalu menelan ludah karena terkejut.
Suara yang didengarnya memang suara Teresalisa, tapi yang
berdiri di belakangnya adalah April. Di atas kepala perak mulusnya terbentuk
sebuah mulut, dan suara itu keluar dari sana.
"Kaget aku… Kamu bisa berbicara ya rupanya."
"Biasa aja. Lagian aku cuman bikin telinga, mulut, sama
tenggorokan."
April meletakkan tangan di pinggangnya dan menjawabnya
dengan sedikit malas.
"Tipe penginvasi akan mencampuri pikiran targetnya
melalui kelima indra. Mereka sangat menyukai gaya pertarungan yang merayap
diam-diam dengan pendekatan berlika-liku. Misalnya dengan menyebarkan kabut
energi sihir, atau mencampurnya ke makanan. Jadi kalau sampai dia maju ke garis
depan seperti ini dan kalau memang dia bertipe penginvasi, bisa dikatakan dia
orang yang bodoh."
Sorcerers berambut hitam panjang menatap keduanya
dari sela-sela rambut poninya dengan mata yang terbuka lebar.
"Karena perapalnya kebanyakan bermain diam-diam dan
misterius, sepertinya tipe ini paling tidak disukai oleh Sorcerers lain,
kan?"
Mengeretakkan gigi-giginya, lawan itu menerjang Rollo dengan
kuku-kukunya yang tajam.
"Kiiiiiiiiihh…!!"
"Jangan, kau tak boleh menyentuhnya... Ah, mau coba
sekali?"
"Eh..."
Lengan Rollo yang sudah menyiapkan pedangnya untuk
menangkis, tiba-tiba dihentikan oleh genggaman April.
Karena ragu-ragu, Sorcerers yang jauh lebih pendek
dari Rollo itu langsung menubruk dada Rollo. Segera setelah dia merangkulkan
kedua tangannya ke punggung Rollo. Langit malam yang tadinya kelabu mendadak
memancarkan cahaya, dan semuanya berubah menjadi merah darah.
Ngiing, suara nyaring terdengar di telinganya membuat
wajahnya berkerut. Mual yang mendadak menyerang membuat ia memegangi mulutnya.
Kereta yang terus bergoyang ini membuat kakinya tak stabil.
Rasanya seakan-akan ia berada di alam mimpi.
Para serdadu Amelia di sebelah kereta kuda yang menunggangi
kuda, semua terdiam menatapnya.
Di wajah mereka terdapat sebuah lubang yang sangat besar,
dan hutan yang sedang berlalu dapat terlihat menembus melalui lubang itu.
Semua orang menatap Rollo tanpa sepatah kata pun. Bahkan
lubang yang sama terdapat pada wajah April yang berdiri di sebelahnya.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Wanita si Sorcerers
yang masih memeluk Rollo perlahan menengadahkan wajahnya.
Wajah wanita itu juga memiliki lubang besar, dengan juntaian
rambut hitam yang terlihat menutupi kepalanya.
Rollo merinding. Wanita itu menusukkan kuku-kukunya pada
telinga Rollo, menarik tubuhnya lebih dekat.
Lubang di wajahnya pelan-pelan didekatkan ke depan hidung
Rollo.
Terasa seakan akan tertelan dalam lubang itu, Rollo
mengeluarkan jeritan kecil──lalu tiba-tiba.
Pats mimpi buruk itu pun seketika berakhir. Menangkup
wajah Rollo dengan kedua tangannya dan mengintip wajahnya dari jarak dekat
adalah Teresalisa. Dia melepaskan tangannya dan menyipitkan mata merahnya, lalu
tersenyum licik.
"…Eh? Witches-sama?"
"Bagaimana? Tadi diperlihatkan apa?"
"…Orang-orang bolong."
"Apaan tuh, serrrem."
Teresalisa membalikkan badannya. Langit telah berubah
kembali menjadi kelabu pekat yang tertutup awan dari warna merah tadi. Di sini,
di atas kereta yang sedang berlaju kencang menyusuri jalanan, Rollo telah
kembali. Sama halnya dengan para serdadu Amelia yang berlari bersebelahan. Tak
ada lubang pada wajah mereka.
"…Apakah tadi saya… diperlihatkan sebuah mimpi?"
"Mungkin saja mimpi, mungkin saja halusinasi, tapi
tentu saja bukan sesuatu yang nyata."
"Mundur... Mundur!"
Pria yang tampaknya kapten berteriak, dan mereka pun
memperlambat kecepatan kuda mereka.
Tiba-tiba Rollo melihat sekeliling bak kereta, dan kembali
mengacungkan pedangnya.
"Sorcerers-nya tidak ada. Apakah ia melarikan
diri...?"
"Aku telah menjatuhkannya." Teresalisa menunjuk
ujung bak kereta yang ternyata sudah retak dan hancur berantakan.
"Untuk menghadapi sihir bertipe penginvasi, strategi
utamanya adalah bertarung dengan banyak orang. Kalau saja yang diserang
sihirnya itu aku, sudah pasti tamat karena tak ada lagi yang bisa mematahkan
sihirnya."
"…Begitu rupanya. Ah, jangan-jangan saya tadi dijadikan
sebagai umpan?"
"Benar sekali. Kamu sudah merasakan keempat tipe sihir
ya sekarang. Kalau sudah kenal sama sihir, nggak ada yang perlu ditakutkan
lagi, kan? Sihir itu ternyata biasa aja."
"Tentu saja... Dibandingkan Sorcerers yang
mengejar kita, Andalah yang paling menakutkan, Witches-sama."
"Hei. Kenapa kamu malah melupakan janjimu yang tak akan
menakutiku saat di depan tempat persembunyian tadi."
Menatap sinis ke arah Rollo seolah mengkritiknya, seluruh
badan Teresalisa seketika berubah menjadi warna perak.
"…Eh!"
"Karena aku udah ajarin soal sihir, janji traktir
canelé sepuasnya harus ditepati ya!"
Setelah berkata begitu, sosok Teresalisa perak langsung
berubah menjadi cairan, hancur berantakan di lantai dan menghilang dari
pandangan.
Ternyata sosok itu hanyalah hasil transformasi April. Saat
Rollo menoleh ke arah barisan kereta terakhir, Teresalisa yang sesungguhnya
tengah berdiri di sana. Ternyata, sedari awal ia tak melangkah sedikitpun dari
sana dan berhasil mengalahkan keempat Sorcerers dari jarak tersebut.
Bertekad untuk kembali bergabung dengan barisan di depannya,
Rollo melempar pedangnya dan berniat merampas kuda yang menarik kereta itu.
──Pada saat itu. Salah satu serdadu Amelia yang melompat ke
atas kereta bergegas datang dan menebas punggung Rollo dengan pedang di
tangannya. Tepat sebelum tebasan itu mengenainya, Rollo yang menyadari
keberadaannya langsung berbalik.
Kecurigaan muncul karena ia tak punya senjata lagi, ia tak
sanggup menahan ayunan pedang itu. Tepat di saat itu, Rollo mencoba menahan
gagang pedangnya, tetapi karena tak sebanding dengan tenaga ayunannya, ia
terdorong jatuh di atas papan kereta.
"Hah, hah, hah...!"
Di depan wajah Rollo, serdadu itu tampak terengah-engah.
Seorang prajurit berkulit putih, berambut pirang dengan sudut matanya yang
menukik ke bawah. Serdadu yang membeli salep lemon balm abal-abalan yang
ditawarkan Rollo──pria yang mengatakan bahwa ia telah meninggalkan istri
tercintanya di kampung halamannya.
Kerutan tajam muncul di dahi pria itu. Matanya merah padam
karena amarah, melotot tajam pada Rollo yang telah berhasil ditundukkannya.
Tapi tak lama kemudian, dari lubang hidung dan mulutnya menetes darah merah
kental. Jarak antar tarikan napasnya menjadi semakin panjang, dan perlahan raut
mukanya menjadi hampa.
"Hah... hah... Hah..."
Tak lama setelah pria itu ambruk tak bertenaga, Rollo segera
mendorong tubuhnya menjauh.
Pada bagian sisi perut pria itu, telah tertancap pisau
belati yang ditusukkan oleh Rollo seketika saat ia terdorong jatuh tadi. Rollo
pun bangun. Tangannya terasa lembap akibat lumuran darah, perasaan yang sangat
tidak mengenakkan.
"Kamu tidak apa-apa...?"
Menyadari keanehan yang terjadi, Teresalisa memanggil Rollo
dari atas kereta di depannya.
"Saya tidak apa-apa! Saya akan segera bergabung dengan
kalian!"
Rollo membalas teriakan Teresalisa dengan nyaring, dan ia
pun segera membersihkan telapak tangannya yang penuh darah di atas lantai kayu
kereta.
Rombongan kereta kuda yang berhasil meloloskan diri dari
sergapan prajurit kuda Amelia terus berpacu sepanjang malam melintasi yang
diguyur hujan. Hingga keesokan harinya, menjelang petang, mereka akhirnya tiba
di pos penjagaan <Winter Proof>.
Sesuai dengan perkataan kedua penjaga gerbang yang
mendatangi Campusfellow, pos penjagaan yang diapit oleh tebing curam itu
terhindar dari invasi tentara Amelia.
Di bawah komando Perdana Menteri Brasserie, kapal untuk
berlayar menuju utara melalui segera dipersiapkan. Sebuah perahu sungai beratap
panjang dengan bagian bawah lambung kapal yang dangkal. Rombongan yang awalnya
menumpangi sembilan gerobak kereta kuda, kini beralih ke tiga buah perahu.
Terhitung termasuk para penjaga pos, totalnya ada sekitar tujuh puluh satu
orang.
Di bawah guyuran hujan yang dingin, mereka bergegas
mempersiapkan diri. Senjata, pakaian untuk suhu ekstrem, hingga ransum
perbekalan segera dimasukkan ke dalam perahu-perahu yang tertambat di tepi
dermaga. Semuanya adalah pasokan perbekalan yang selalu tersimpan di pos.
Dari kedua pelayan wanita yang saling mengangkat sebuah peti
kayu, Kona yang berjalan di depan seketika berhenti.
Inedit, yang berada di belakangnya pun tersandung.
"Hei! Jangan berhenti mendadak begitu, Kona!"
"Itu... Ada di sana lagi."
Mengikuti tatapan Kona, di tengah guyuran hujan, seekor
burung gagak bertengger di atas tiang kayu dermaga.
"Maksudmu si gagak? Burung semacam itu kan di mana-mana
juga ada. Masa kamu nggak pernah lihat?"
"Kemarin, sewaktu kita beristirahat beberapa kali di ,
dia juga selalu ada. Mata sebelahnya merah, jadi sangat gampang untuk dikenali.
Mungkin dia mengikuti kita terus."
"Hah? Matanya merah?"
Inedit menajamkan pandangannya ke arah wajah burung gagak
tersebut.
Memang benar apa yang dikatakan Kona, mata kanan burung
gagak itu berkilau merah bagaikan permata rubi.
"…Benar juga ya. Menyeramkan... Pasti ini bukan
pertanda kesialan, kan."
Inedit meletakkan peti kayu di atas dermaga, mengambil
sebuah kerikil yang tersangkut di celah papan lantai, dan melemparnya ke arah
burung gagak itu.
"Jangan, Inedit. Kasihan burungnya."
Tanpa mengindahkan teguran Kona, batu yang dilemparkan
Inedit tepat mengenai dahi burung gagak itu.
"Kena!"
"Gaaaak...!!"
Burung gagak merentangkan sayapnya yang mengilap dan
langsung terbang ke langit yang diguyur hujan.
6
"Aduh..."
Pemuda berkulit cokelat mengusap dahinya yang terbalut
sorban.
Ia sepertinya berusia pertengahan remaja. Wajahnya yang
masih tampak kekanak-kanakan berkerut tak suka.
"Ada sesuatu yang menarik, kah?"
Seorang wanita yang berdiri di sebelahnya bertanya dengan
suara lembut. Ia juga berkulit kecokelatan.
"…Ah. Nama pelayan Campusfellow tadi sudah masuk dalam
daftar yang akan kubunuh."
Pemuda itu merespons dengan penuh kebencian tanpa beranjak
dari sofa panjangnya. Hanya mata sebelah kirinya yang bersinar merah kemilau.
Pemuda itu merupakan salah satu dari Sembilan Rasul, Apostle
Ketiga: "Elementaler".
"Baru sadar. Aku suka yang badannya agak gendutan.
Sosok yang bulat tanpa sudut tajam, ditambah dengan senyumannya yang ramah.
Benar-benar sangat menenteramkan, orang yang sangat bisa disayangi. Dibanding
dia, apaan sih pelayan berambut hitam yang congkak itu. Brengsek.
Berani-beraninya melempariku batu..."
Saat pemuda itu membuka matanya yang sempat terpejam
sejenak, cahaya merah pada irisnya kembali normal menjadi hitam seperti sedia
kala.
"Tampaknya mereka menuju utara. Saat ini mereka ada di
perbatasan dengan ."
"Ke ? Jauh sekali mereka melarikan diri."
Wanita tersebut masih berdiri sambil menyandarkan
pinggangnya ke sandaran sofa panjang.
Meskipun kulitnya sama cokelatnya dengan sang pemuda, tudung
kepala (wimple) dan jubah birawati (habit) yang membalut seluruh tubuhnya
berwarna putih suci. Jubah birawati putih merupakan penanda bahwa ia adalah
seorang pengajar di biara. Dia adalah Sorcerers yang ulung sekaligus
Rasul Ketujuh: "Summoner".
Sebutah pedang berornamen indah menggantung di pinggangnya,
sementara di dekat kakinya tergeletak sebuah peti mati beroda.
"…Kemungkinan besar, tujuan mereka ke utara adalah
untuk memanfaatkan aliansi mereka."
Seorang pria yang usianya mendekati akhir dua puluhan turut
menimpali percakapan keduanya. Sebuah topi bulu hewan berwarna hitam yang
berkilau—sebuah topi yang tampak sangat berkualitas dan mahal—menutupi matanya.
Walau wajahnya tak sepenuhnya terlihat, dari garis hidungnya yang mancung,
pipinya yang tirus, serta rahangnya yang terbentuk rapi, bisa dipastikan bahwa
ia memiliki paras yang tampan.
Tinggi, kurus, dengan lengan dan tungkai yang panjang,
sambil membawa sebuah tongkat. Ia memancarkan aroma parfum manis dari rusa
kasturi—musk. Rasul Kedelapan, "Fortune Teller", meneruskan
kata-katanya.
"Berdasarkan kabar dari Kadipaten Lowe, kudengar
Campusfellow bersekutu dengan para Versian. Tentu saja, untuk berperang dengan
penuh semangat melawan kita, Kerajaan Amelia. Jadi sudah pasti mereka akan
mencari perlindungan pada bangsa barbar tersebut. Coba ikuti mereka sedikit
lebih jauh. Kebenarannya akan segera terungkap."
"Hah. Ogah, sudah selesai tugasku."
Elementaler bersandar lebih santai di sofa. Tangannya
disilangkan di belakang kepala sebagai bantal, lalu ia menaikkan kakinya ke
kursi di depannya. Tangan satunya digunakan untuk menarik syalnya hingga
menutupi sebagian wajahnya.
"Aku benci cuaca dingin. Pengintaian selesai. Bangunkan
aku kalau Lucy-sama sudah datang."
Ia menggosok hidungnya keras-keras, lalu menutup matanya.
"Hei, Pembuat Topi!" ──Fortune Teller
memang biasa dipanggil "Pembuat Topi".
"Maukah kau menerima hadiah dari Puru?"
Seorang gadis berlari riang ke arah ketiga orang tersebut
dengan senyum merekah. Ia memakai baju serba putih dengan rambut mengembang
panjang. Rok pendek yang ia kenakan memiliki sedikit sentuhan warna merah.
Usianya sekitar remaja, dan tak menggunakan alas kaki apapun. Di pundaknya, ia
memikul sebuah karung yang cukup besar. Gadis itu lalu merogoh ke dalam karung
di kakinya, mengeluarkan sebuah stoples seukuran telapak tangan, dan
memberikannya pada sang Fortune Teller.
"Ini dia, lemon balm. Barang mewah yang langsung
dipetik dari wilayah Elder, lho. Pembuat Topi suka pesta teh, kan? Tapi tadi
aku sempat khawatir sih. Soalnya Pembuat Topi punya segalanya, aku pikir kamu
mungkin juga udah punya ini."
"Terima kasih, Pulcinella. Aku memang hobi koleksi teh
herbal dari seluruh dunia, tapi lemon balm pemberianmu yang satu ini tak ada
duanya di muka bumi ini. Herbal istimewa ini, akan kuseduh di hari yang juga
istimewa."
"Heheh! Syukurlah kalau kamu suka."
Pulcinella memberikan senyumannya yang sumringah ke arah si
Pembuat Topi.
Kemudian, ia menoleh ke arah remaja berkulit gelap──si Elementaler,
dan menyerahkan sebuah kalung. Perhiasan berhias batu mulia yang terlalu mewah
jika hanya dianggap sekadar "hadiah".
"Woi, apa maksudnya ini, Puru? Jangan-jangan kau mau
kasih hadiah ke semua orang, ya?"
"Yap! Kan udah lama banget kita semua nggak kumpul
bareng, kan! Puru mikir, buat ngerayain pertemuan ini, mending kasih kado ke
semuanya. Dari beberapa hari lalu aku udah mikir, kira-kira hadiah apa ya yang
bisa bikin semuanya seneng?"
Namun tiba-tiba ia memasang tampang sedih, "Tapi maaf
ya," ucapnya saat beralih ke Summoner.
"Cuma kamu yang aku gak tahu bakal seneng dikasih
apa... Makanya, ini."
Yang dikeluarkan Pulcinella dari dalam kantongnya adalah selembar
perkamen panjang yang sudah sobek. Terdapat tulisan dengan tinta yang luntur
berbunyi "Kupon Melakukan Apa Saja". Summoner yang
menerimanya, hanya bisa tertawa canggung.
"…Dengan kupon ini, Pulcinella, kau mau melakukan apa
saja untukku?"
"Iya! Mau pakai sekarang? Boleh banget lho dipake
sekarang! Ada yang dimau nggak?"
"Hmm... Sayangnya, hasrat materialku cukup rendah.
Kalau ada kesempatan, akan kugunakan."
"Yaaah!"
Suara imut khas Pulcinella bergema di aula utama gereja
dengan langit-langitnya yang sangat tinggi.
Markas besar agama Lucy, "Twinkle Cathedral",
berdiri tepat di tengah ibu kota Kerajaan Amelia. Ini karena Kerajaan Amelia
adalah kerajaan paling makmur di seluruh benua. Sebagai agama resmi negara,
katedral yang berada di pusat ibu kota ini juga menyandang gelar sebagai
katedral terbesar dan paling memukau di seluruh benua.
Pada hari Minggu, ribuan orang pengikut agama Lucy (Lucian)
berkumpul untuk berdoa. Kapasitas ruang katedralnya bahkan mencapai ribuan.
Dinding dan langit-langitnya dipenuhi lukisan dan pahatan bertema naga, yang
merupakan karya seni tingkat tertinggi yang dikerjakan oleh para ahli pada masa
pembangunannya. Pola geometris simetris di langit-langit lengkungnya memberikan
kesan megah yang mampu menekan perasaan para umat yang menatapnya.
Sinar matahari membanjiri ruang katedral dari
jendela-jendela atap (skylight) yang terletak sangat tinggi.
Pencahayaan alami ini telah diatur oleh para pengrajin
sedemikian rupa sehingga pada jam-jam tertentu, cahayanya akan langsung
menyorot pada dua patung khusus.
Patung pertama memperlihatkan sosok perempuan yang mendekap
sayang seorang bayi, yang konon diambil dari perut seekor naga putih yang
terbunuh. Bagi para umat, wanita ini adalah Bunda Suci yang merawat bayi
tersebut dan menamainya "Lucy".
Sedangkan patung kedua merupakan pria pendosa besar yang
berhasil mengalahkan sang naga putih tersebut. Pria brewok dengan hanya
berbalut cawat itu, menunjukkan penyesalannya dengan cara menumpuk batu besar
di atas lututnya yang dilipat saat ia duduk bersimpuh. Praktik menyusun batu
yang dilakukan umat Lucy saat ini sebagai perlambang "Penebusan
Dosa", berasal dari postur pria inilah.
Terdapat tangga besar di bagian depan katedral, yang menuju
altar di atasnya. Di rak pajangan yang bertingkat, berjajar berbagai
perlengkapan upacara suci seperti tempat lilin dan piring perak.
Sebuah kursi megah berdesain bak singgasana diletakkan di
hadapan altar, walau kursi itu sedang tak berpenghuni.
Bagi katedral yang dapat memuat hingga ribuan jamaah, hari
ini, umat yang hadir hanyalah berjumlah sembilan orang saja. Mereka tidak lain
adalah sembilan Rasul, para murid langsung Lucy.
Di pinggiran anak tangga yang mengarah ke altar, terlihat
sesosok gadis remaja di awal belasan, duduk di atas kursi roda yang dirakit
dari kayu.
Gaun gothic warna hitam penuh dengan ruffles, lengkap
dengan tudung renda yang rumit, menjadi pilihan gaya fashion gadis itu.
Wajahnya yang mungil sangat pucat, hal yang membuat lisptik tipis warna merah
di bibirnya menjadi semakin kentara.
Tampilannya yang cantik sebagai gadis muda, sangat tidak
sepadan dengan tutur katanya yang kasar dan menyebalkan.
"Kau ngelakuin kesalahan konyol, kan? Haa? Terus mau
tanggung jawab kayak gimana?"
Duduk tegak dari kursi roda kayunya, gadis itu melirik ke
arah pria bertopeng di depannya.
"Reputasi Sembilan Rasul bakalan hancur kalau Witches
yang udah susah-susah ketangkap malah lolos. Malu, sumpah aku malu setengah
mati tahu nggak! Karena lu yang lepasin, mending lu buru kejar dia terus
dieksekusi deh? Sama ya, mending lu ngaku aja dari sekarang. Yang ngambil
pergelangan tangan dari lab-ku itu pasti lu kan? Paru, cepet balikin!"
Si gadis mengangkat sebelah lengannya dan memutarnya
berulang-ulang di udara dekat kepalanya. Sebuah instruksi untuk melakukan
manuver putar balik setengah lingkaran. Seseorang pengikut di belakangnya yang
bertugas mendorong kursi roda pun segera tanggap dan memutar balik kursi roda
gadis itu ke belakang persis seperti yang di perintahkan.
Pelayan milik Rasul Kelima "Necromancer"
itu berwujud sosok dengan kulit hitam pekat bergelimang tambalan luka jahitan
di mana-mana. Pelayan itu hanya sekadar bediri membisu seraya mengerjapkan
matanya pelan, sejenak lalu meraih pegangan kursi roda si gadis. Ia spontan
mengendalikan jalannya saat kursi roda sang tuan sedikit miring tatkala ia
memberontak kencang menukik ke bawah.
"Woi, kuping lu masih fungsi kagak, Parmigiano!"
Tudingan Necromancer menyasar pada orang yang duduk
di baris paling ujung bagian depan itu. Kepalanya dipasangi dengan sebuah
topeng paruh burung yang menutupi keseluruhan wajahnya. Lelaki itu hanya
memaparkan buku tebal yang terbentang meluas menutupi tempurung lututnya.
Jemari sang pria yang dibungkus selubung sarung tangan nampak lincah membelai
lembar per halamannya. Pada setiap lembar halamannya terpampang jajaran not-not
nada yang padat rapi tersusun. Bila diamati seksama rupa buku yang dimaksud
adalah lembar kompilasi paduan aransemen partitur nyanyian.
Sang Rasul Keenam sang "Alchemist"
pelan-pelan menengadahkan wajah topengnya menengok ke arah si gadis mungil
cerewet tersebut.
"Sudah dari tadi kok saya dengarkan. Telinga saya
sangat peka tidak seperti Anda yang harus membentak keras layaknya anjing kecil
memekik teriak begitu."
"Lah jadi mana bukti pertanggungjawaban lu. Mau
langsung pergi ke arah Utara, kan lu? Paru!"
"Cukup simpel saja, saya sangat benci. Dan lagi perlu
diingat seberapa sering dibilangin kok lu tetap ngeyel nuduh saya mengambil
potongan daging-daging mati itu. Tangan yang saya persembahkan itu punya
kekhasan daya tarik akan sensasi kental jiwa estetika dan bernuansa suci bening
yang hidup memancarkan nilai karya yang sungguh murni. Tidak ada yang bisa
memikat jiwa seniku jika dibandingkan sama potongan bangkai bergelimang murahan
seperti punya Anda tersebut."
"Maksud lu? Baru saja lu ngatain karya dark art
punyaku sebagai benda rendahan sampah? Haa, woi Paru!"
"Berisik, dasar jalang jelek. Bangsat luh."
Pria yang sedari tadi cuma menyender di penyangga belakang
salah satu bangku deretan jemaat itu lantas bersuara muak memecah ketegangan
dan ketidaknyamanan melengking di pojokan altar ini.
Postur tubuh gagah atletis nan tampan pria itu tampak
menyegarkan dibaluti lapisan jubah jubah kulit serigala bulu putih cerah
merumbai di kedua pundaknya. Karismanya menonjol memperlihatkan bentuk tegap
kuatnya sebagai serdadu sejati. Cacat besar menyayat sobek memanjang bibirnya
secara lurus mendatar. Sebuah pedang tempur jenis claymore tajam tergantung
anggun mengilap terukir membalut balut tubuh sang pejuang di bagian
punggungnya.
Rasul Kedua yaitu sang "Paladin" itu
melengkungkan garis muka melayangkan kebosanan akibat nada memekik melengking Necromancer.
"Udah tau kan kalau mustahil. Jangan maksa orang gila
mesum tangan yang sama sekali nggak punya minat ke takhta atau Mirror Witch
tuh. Sedari awal ngelepas dia dikirim ke kerajaan Lowe sudah kekeliruan
mutlak."
Gadis lumpuh penguasa kursi roda beralih mencari pelampiasan
target pelampiasan umpatan kekesalannya.
"Terus lu yang mau nggantiin dia cabut memburu ke sana
gitu? Soalnya yang denger-dengar komplotan Campusfellow sedang mencoba
menyeberang ngikut memohon sumbangan kekuatan bala tentara klan barbar perbatasan
utara Versia, gitu lho hah? Bikin sakit perut nggak sih! Membela mati-matian
melawan kita Amelia dengan harapan sekongkol dan ditolong sama manusia tak
berbudi barbar liar. Ya ampun, apa barusan saya nge-hina?"
Senyum picik licik menghina pun tersungging lebar mengejek
melengkungkan dahi kerdil sang Necromancer guna meneruskan sindiran
penghinaan beruntun pada sang Paladin malang.
"Coba sana sempetin mampir silaturahmi reuni di
perburuan kampung asalmu Witches. Bukannya kalau membunuh emang lu paling
jagonya? Versia."
Sebuah sorot tajam mengerikan langsung dihujamkan melirik
menekan si gadis kecil oleh kedua pancaran bola mata bening biru membara. Dari
sela seringai mulut sinis taring melengkung menampakkan amarah emosi
meluap-luap.
"…Tutup mulut lu, dasar bangsat rupa ancur. Mau mati
lu, ha."
"Haaaa? Kagak ngerti standar visual estetik ya lu?
Emang dasar barbar bodoh! Versiaaaa!"
Dua ledakan pancaran tenaga sihir antara sang "Paladin"
berpadu bentrok menderu bersitegang menyambar bergejolak hebat dan Necromancer
yang kian memuncak meruncing seketika di udara.
Goresan pertarungan gesekan saling tikam kapan pun bakal
dihelat sebentar detik lagi yang mana akan membuat situasi meruncing meledak
fatal di satu momen.
Terpecah seketika berkat sebuah pijakan konyol langkah tapak
telanjang bocah lincah. Gadis cantik yang sedang kegirangan senyum menenteng
barang dan memanggul sekantong kresek tas buntalan di atas kepalanya menyela di
antara keduanya, ia adalah si gadis bernama Pulcinella.
Ia tersenyum menawan seakan salah alamat membuahkan raut
muka yang nampak bodoh. Dari celah barangnya diambil sepotong balok bongkahan
paha ham sapi berjejal tebal diputar-putar dibungkus tali goni jahit rapi. Tak
ambil repot, lalu menyerahkan suguhan daging segar langsung ke mulut paha besar
ksatria.
"Ini lho! Tuan Serigala, pasti sangat lapar kan sama
daging-daging, kamu doyan kan?"
"Hah? Minggir lu, bukannya dah kukasih tau kan,
jauh-jauh sana dari kami hah?"
"……Ugh kenapa mesti galak banget begitu sih. Kalo gitu
ini, kutaruh letakin di sini ya?"
Alis dan sudut mulut Pulcinella sedikit turun menyesali
tolakan. Ia menaruh sekotak bungkusan paket itu di pangkuan salah satu bangku
deretan. Di waktu sama di momen sesudah mengambil lagi bongkahan lain mirip
paketnya untuk kemudian menyuguhkan ke depan wajah anak perempuan Necromancer
sang pengendara kursi roda.
"Ta-da! Hadiah dariku loh ini, pasti Puru tau kan kalau
kamu emang penggemar tubuh jenazah dan mati gitu?"
Barang paket daging yang dihidangkan Necromancer tak
ubahnya sekadar serpihan replika persis yang telah di tawarkan sang Paladin.
Pembalut goni melilit buntalan sepotong balok bongkahan ham
olahan daging tebal.
"Gila kali ini kan cuma daging cincang ham masak
tolol!"
Pulcinella seakan memicing sebal dan tak peduli seraya
lagi-lagi ia menyodorkan sebentuk persembahan berikutnya di kantungnya.
"Silakan ini, spesial untukmu Paru!" Gadis itu
memberikan sepotong gumpalan lengan busuk tangan mayat seorang wanita membusuk
lalu diberikannya kepada si Alchemist berhelm topeng pelatuk Parmigiano.
"Waw... Nah ini mantap."
"Woii! Hei luh Pulcinella! Darimana asal lu dapetin
tangan itu ah!"
Ledakan teriakan Necromancer menjerit garang
membentak marah ke sosok kerdil Parmigiano tatkala tangannya menujuk tangan
yang baru dikasih si Pulcinella, sekian hitungan berselang.
"UAAAAARRGHHHHHHHHHHH……!!"
Lolongan menjerit gila kesakitan mencabik hening terlantun
memilukan bersorak ke sekeliling telinga. Memantul bergaung keluar dari bangku
belakang tubuh dari seorang kesatria gagah Paladin di saat dirinya
berbaring terlentang tiduran. Ia terbelalak berdiri sambil terjengkang
melengking syok gemetar. Spontan sang pemuda pria kekar lari mendekati
merengkuh wanita untuk memegang dan menenangkannya dalam dekap pundaknya.
Bongkahan gelombang mahkota emas yang tergerai indah
menyelimuti panjang badan si wanita terurai halus memancar kilauan sutra emas
bersinar.
Saking rimbun gelombang mahkota indah kuning membelit
panjang di bawah kakinya sendiri, Rasul Keempat si "Healer",
tak terlihat walau secercah pun lekuk tubuh dan auranya kecuali sekadar bayang
samar-samar. Sepotong kecil pucuk bibir warna persik dan ujung rupa garis tirus
kecil mencuat mungil nan cantik manis. Bentuk posturnya walau teramat langsing
terbalut proporsi buah dadanya bulat, indah padat di bagian depan dengan
proporsional anggunnya yang seksi. Perawakan kemilau bersinar rambut panjang
diurai sangat tertata rapi terpapar elok disoroti pantulan kilat pijaran
kehangatan surya sinar matahari memancarkan keelokan paripurnanya yang luhur eksotis
seakan memancarkan cahaya. Satu-satunya anomali tragis terpampang yakni
hilangnya interaksi kemampuan membalas ucapan karena ada celah mengerikan pada
tempurung rongga tengkorak kepalanya ditembus paksa bacokan ujung kapak maut
dengan sisi pegangan memanjang besi meruncing berdarah tajam tersayat meruncing
kaku secara diagonal lurus sampai ujung langit.
"Ssst... tak usah cemas. Tenang. Sudah gapapa lagi kan.
Cuma kaget sebentar. Tidak ada yang salah di sini."
Pria ksatria Paladin perlahan menyingkap belaian
mesra di mahkota helai pirangnya. Dengan elusan manis tersebut ia berhasil
membuat diam terlelap perempuan tersebut.
Bersamaan sekejap saat setelah itu, matanya tajam membidik
memelototi membara mendelik bengis ke kursi roda Necromancer, seakan
membongkar segala kesabarannya merengut kasar giginya dengan sinis sambil
berdecih mencela geram tajam.
"Dasar sialan lu. Ini karena bacot jerit memekik mu
teriak-teriak gak penting tahu nggak, ini yang bangunin dianya gara-gara lo
nyari gara-gara bangsat."
"Aahhh? Lantas apa itu artinya lu salahin gue
sepenuhnya hah? Bukannya gila ah kalau gitu. Terus gue diam bae gitu dan ini
semua kan karena Puru brengsek ini udah ngerampok tanganku dong."
"Ya iyalah! Nih Rapunzel ada ini buat lu deh!"
Dikeluarkannya segel pelindung tas tersebut memunculkan
pedang panjang lurus yang dibungkus rapi lalu menggenggam pisau beracun di
sebelah depan kemudian diluruskan menyorong wanita pirang "Healer"
di tangan Pulcinella.
"Karena sekadar cuma kapak perak semata mana ada
serunya tah kan? Aku mau masukin tambahan nusuk di dahi kapala biar klop
ya."
"……Ngomong apaan lu barusan, sialan lu"
Serabut amarah tegang seketika bergetar mencoreng kening
kulit Paladin, dan pria tersebut lalu merengut berdiri menempatkan
posisi badan di depannya menatap menekan sang lawan bersitegang.
Dibalik perlindungan, tanpa daya mengiyakan serangkaian
adegan, terlihat wanita yang Healer itu memiringkan leher karena ada
sebuah tebasan kapak dalam yang membelah batok kepalanya.
"Berhenti Pulcinella,"
Perempuan birawati berbaju suci murni Summoner maju
ke muka Pulcinella dan langsung membendung langkah maju menengahi dari jarak
perkelahian di sisinya.
"Dia sama sekali bukan dari kemauannya tertancap ujung
bilah kapak di kepalanya loh, tak perlulah kau menambahkan lukanya."
"Oh iya ya?"
Mata bola hitam Pulcinella itu melingkar membesar, melirik Summoner.
"Ya kan bisa diwajarin juga..." Pembuat Topi alias
Fortune Teller ikut menyisip selipan kata sela pada adu debat pertikaian
Necromancer tersebut.
"Masalah mengurus si Mirror Witch ini sebenarnya
tak mesti ditarik dipaksa dikejar ke ujung duniakan? Misal memang mereka
diungsikan oleh sekutu Campusfellow, paling banter toh bukan perkara mematikan
pula bukan?"
"Lu itu otak bodoh apa bebal? Sih."
Mata Necromancer membidik runcing melengkung dari
atas, mendenguskan kata sinis sambil memicing menyipit benci dari tatap muka.
"Semua berkaitan pamor. Menyangkut nama besar. Kapan
ksatria pecundang bodoh semacam pasukan prajurit rendah sekelas kerajaan Lowe
sanggup melumpuhkan menjerat penjahat besar sekalas nenek sihir yang bikin onar
sementara Sembilan Rasul dewa kecolongan dan justru bikin buron itu lari
melenggang lepas? Ini sungguh sangat memalukan martabat menjatuhkan kemuliaan
Dewi Lucy yang luhur."
"Kemuliaan... emang berani ngomong soal kemuliaan
dengan bibir lu itu?" Ejek tajam tertawa mengecil mencibir ucapan Necromancer
oleh Fortune Teller.
"Walau demikian kini Sri Ratu Amelia telah puas senang
kok. Bahkan kita sudah meraup 'Kerajaan Kesatria' Lowe dan berhasil
mengganyang Campusfellow si negara pembuat api. Sudah sepadan dan pantas kok
untuk kemenangan, sudahlah di ikhlaskan."
Tiba tiba sergapan dengusan berdecih ketus merendahkan dari Paladin.
"Hah. Ratu merasa puas katanya. Benar, jika simpanan
Ratu aja ngoceh gitu, yah begitulah faktanya mungkin."
"……Eh? Kau barusan sedang menghujat Ratu kita, Ratu
Amelia ya?"
Dengan santai namun beringas, Fortune Teller
mengangkat mukanya sembari mengutarakan ancaman. Tongkat diangkat dan
disandarkan santai ke sebelah bahu kanannya. Paladin tak ciut menyambut
tatapan permusuhannya kembali.
Udara keruh panas kental mendera ruangan tersebut. Sesaat
lagi, dari deretan adu silang umpat tadi mendadak Necromancer berteriak
membanting putar menoleh ke sisi berteriak pada si Pulcinella.
"Hei goblok dasar luh, Puru! Balik serahkan tangan
curian gue tadi cepet! Kalau tak gue, itu tangan maha karya estetik yang
─"
"Mending tak usah dipikir deh, bawa mulu kek barang
busuk kek gitu mah."
Parmigiano, Alchemist dengan kasar, seraya menenteng
sebuah telapak lengan membusuk yang dilontarkannya memantul membanting dengan
nyaring mengenai tepat dari dahi sang Necromancer yang kemudian menabrak
tersungkur ke sisi kaki pangkunya.
"Awas yaaa! Kurang ajar beraninya luh ngelempar
haaaah...!!"
"Haaaaaaaghhhhhh...!!"
Jeritan tangis dari Healer meledak kembali memilukan
histeris tak tertahankan di sela rentetan bentakan. Seisi segenap relung atap
bangunan ibadah berdengung memantul sahut gaung hingar riuh menyatu berderu
kencang dalam pusaran keramaian hiruk tak berujung.
Di antara kebisingan ruangan gereja, sang pendeta tinggi
berusia paruh baya turun ke depan batas pijakan anak tangga menuju panggung
pelataran suci. Ia merupakan yang tertua dan sebagai yang terhormat dalam golongan
dewa yang tak lain sang "Cardinal".
Menggunakan topi berkerut yang berbentuk lonjong di kepala
bertatah dengan desain khas kardinal Katolik, beserta separuh pelindung topeng
lempengan emas murni separuh membungkus bagian mata sebelah. Tangannya memegang
menjulurkan sebuah bilah tingkat batang pusaka suci memanjang dengan ukuran
luar biasa yang menampakkan figur rupa bentuk bentang raksasa seekor kepala
hewan bersayap sang dewa ular naga yang membentang lebarnya yang tak terbilang
elok.
Cardinal mulai memeriksa barisan ruangan kapel dari
posisi pelataran mimbar anak tangganya lalu meraung bergaung keras meresap di
seantero relung-relung kalbu umat sekalian.
"Cukup hentikanlah sekalian kalian,
Hentikann...!!"
Gema dengungan suaranya berat kental membelenggu relung
perut mendiamkan kedelapan anggota Apostle lain membungkam seisi
lisan-lisannya seketika.
"Seharusnya dari amarah yang meledak membara ialah
musuh serta ketidaksukaan agung dewi murni, Lucy yang paling tidak
dikehendakinya. Bukankah amat naif para utusan rasul pembimbing arah nasib
kebangkitan hamba agamanya malah tak mampu menyensor serta menghakimi nafsunya
belaka, akan bagaimana pertanggungjawaban pada pengikut? Sekarang juga aku
serukan tenangkan kalbu dirimu bersihkan niat."
Seketika kesunyian tak bersisa terbungkam menyerap tetesan
ciprat ke lantai seketika hening bisu membisu memutus suara hingar-bingar,
tatkala itu di antara senyap kesunyian katedral berangsur maju seorang diri
sosok yang memacu langkahan kecilnya mengentakkan suara dari tepak sepatu lari
tak beralas di porselen merangsek maju si bocah Pulcinella di depan mata Cardinal.
"Lihat ini, sebuah sekotak kejutan untuk sang pendeta
suci, Cardinal kita!"
Lompatan riang bersuara bernada nyaring merdu ditawarkan
langsung seraya menyorong suguhan kado kayu dengan senyum penuh merekah
bersuka. Menembus ruangan suci yang penuh kaku menghening menyengat, dengung
getar mendecit sayap mendengung dengung ribut bersenggama memuakkan memekakkan
selaput dengar. Benda apa gerangan yang tersimpan dalam isi wadah kado kayu
persegi tersebut rupanya──.
"Lalat loh, lalat. Yang mulia Cardinal kan
penggemar favorit si lalat kan ya? Aku kerja susah capek mati-matian nangkap
nyari di alam biar mulia senang memakannya dengan nikmat okeh?"
Geeroogghh...Cardinal sekejap meringik
mengunyah meludah ludah liur yang nyangkut mual ditenggorokan memuntahkannya
ngilu menyiksa pita tekak suaranya. Sebelah belahan kelopak dari selubung wajah
asli tanpa terbungkus pelat emas dari sang Kardinal menonjol menyembul besar melotot
liar tajam menganga kaku ibarat dua buah pandangan dari katak. Rahang dan
mulutnya terkunci bergetar kertak mengertak di bibir gigi hingga menggesek
ngilu tak wajar sebelum tangannya menghempas melanting buang jatuhkan kardus
kayu di pangkuannya jauh terbang menghantam berserakan.
"Ah."
Persis berbarengan sekon ucapan decak kaget teriakan dari si
Pulcinella terdengar nyaring, tumpukan kepakan segerombol kerubungan kumpulan
biang gerombol serangga menyembur seketika saat hantaman peti jatuh terbuka di
bawah pijakan kaki lantai beterbangan liar berhambur memenuhi panggung altar
melintasi selubung plafon kapel.
"Hahahaha..."
Sembari pundaknya bergetar santai selendang kain punggung
bulu singa serigala mengayun dengan tawa sinis santai tertawa bebas terkekeh
adalah Paladin belaka.
"Maafkan saja dia pak suci tua. Marah adalah pantangan
terbesar kebencian yang harus dijauhkan murni Lucy ya kan?"
Cardinal mulai mendongak tegap memandang lurus
memusat memfokus tajam kepada pemuda Paladin lewat hadapan pintu mimbar
altar pijakan sana.
"Hoh? Hawa beringas yang ganas meledak dan mendidih ini
apaan jadinya ha, itu mau elu buang arahin mau numpahin semuanya ke gue ta
maksud lu"
Begitu menyahut geram melontarkan gigitan gigi gigi geraham,
Paladin maju mendekat melangkah menatap melayangkan niat menantang
berkelahi ── Di ambang pintu ruangan katedral berbunyi geretak krek.
Tirai daun pembatas pintu berganda membelah seketika
menampakkan seorang anak perawan kecil mungil yang tak berdosa dan murni rambut
seputih salju menampakkan perawakannya di garis seberang lorong.
Jika ditebak wajah rautnya masih menginjak pada sekitaran
batas remaja masa awal. Anak perawan belia suci dibungkus satu lapis tunik baju
satu terusan benang rajut polos bersih warna dasar serba putih menapaki jalan
tak bersandal alas memasuki bentangan bentang karpet di tengah jalan utama
kapel megah dengan santai gemulai langkah tenangnya merambah mendekati arah
panggung jemaat altarnya tersebut.
Mata bola birunya semacam memancarkan sendu aura letih kelesuan
layaknya birunya luas taburan rasi kerlip sinar bintik lautan senja dari
peraduan angkasa menyilau menakjubkan berkilau indah berkilatan memikat
menyinari seisi.
Limpahan matahari membias lewat celah panel bingkai skylight
dan membentuk jalur terangnya langsung turun menjatuh sorotnya membelai hangat
memoles cahyanya menyelusup mengiringi bayangan langkah gadis di jalan ke
mimbar katedral tersebut. Dipadu bersama pergerakan lenggang pijak nan teratur
dari sorotan penerang cahaya matahari murni menjunjung sakral nan cemerlang
dari penjelmaan anak belia perawan itu membuat ilusi sekakan dirinya sebagai
cahaya pelita yang murni membangkit terang silau memancarkan kilau cahyanya
dari dasar jiwanya membelai lembut menghangatkan udara yang redup di sela peraduan.
Binatang naga sebesaran setubuh anak kecil peliharaan mungil
anjing rumahan ── merupakan spesies perwujudan anak dari keturunan ras Mutiara Pearl
Dragon mutiara murni putih putih cerah, mengintai buntut mengitar setia
sebagai penjaga di bawah ujung kakinya merayap patuh bersetia manja menuntun
kemana pun anak belia bidadari putih salju suci tersebut berkelana di jejaknya.
Kemunculan datangnya kedatangan murni sang dewi suci suci,
si perawan belia perawan Lucy di tengah perseteruan mendadak melongsorkan
tekanan di semua tempat katedral itu perlahan mengubah seketika drastis dan
berbalik arah menggetarkan dan mendadak memutar hawa merinding teramat menusuk
tulang ke beku.
Namun kekakuan yang menghening sesaat tersebut sama sekali
nihil dari hawa peperangan yang menakutkan, namun ia beralih merupakan nuansa
hening suci menentramkan nan diam yang sunyi terbalut syahdu wibawa ketenangan
magis rohani mengheningkan khusyuk membisu yang luhur dan murni murni tenang
dan murni sakral yang murni jernih menyucikan luhur.
Cardinal yang sebelumnya dengan hati penuh emosi
mendidihkan angkara menyiksa mendendam nafsu murkanya menyulut geram marah
seketika itu juga dan Paladin yang sebelumnya gahar emosi frustasi dengan
luapan murkanya hilang dan redup padam menyusut sirna dan lebur tumpul seketika
meredam menyejukkan segala rasa tak puas yang di dalam benak memanas menyulut
menyingkirkan semua luapan tak menentu.
Dari kursi pangkuan memanjangkan lurus tungkai santainya
beserta tidur dan melepaskan jemu menenangkan memejam menyendiri mata, sang
"Elementaler" hingga keluhan jeritan mengerang teriak
membentak ribut kalut dan gaduh dari sang "Healer" tadi dengan
kilat senyap serempak.
Sembilan Rasul itu menghening merendahkan rupa tunduk dengan
hening dengan penuh takzim mendirikan tubuh punggung mendengak dengan rapi
berjajar merapikan membisu kaku lurus tertata membuat sap rapi barisan beriring
membentuk shaf mengular berhadapan pintu pembuka altar pelataran dengan sikap
taat yang bersimpuh.
Secara serempak barisan sekumpulan manusia tersebut bersama
menjatuhkan tangannya menutup letak ke atas tepat menyilang merengkuh pangkuan
bidang melipat rongga tangannya dada merapat rapi menyilang dada murni tegak
khidmat menyilang menindih tangan kanannya. Di waktu jari menjentik merunduk
perlahan menekan lipatan dahi menyilang di dekat jari mungil membentuk lekuk
membikin wujud figur kerucut menajam "sudut rahang tanduk"
lantas lalu melancipkan sisa jarinya menggenggam menyatu bentuk "rongga
kerongkongan memoncong" memadukan membuat bayang membentuk postur rupa
lukis siluet lambang "gigi moncong Naga" merapat telunjuk.
Tangan di belahan kiri lurus tegap meregang menarik menahan bergegas belakang
menarik merenggut belahan belakang bokong memilin menyibak dan menghela sisi
buntut memegangi batas potongan bawah tepi bagian rumbai baju, menyempurnakan
beribadat persembahan doa merendahkan takzim dengan khidmat hening syahdu
memberikan salam penyembah murni menghamba seikhlas tulus hormat sejati kepada
junjungan dewa murni Lucy dengan membungkuk sujud hormat sejenak perlahan pelan
menghamba dan menyorot merendahkan leher hormat murni tulus tunduk di pelupuk
kaki dari Dewi luhur murni Lucy.
Dan sang Necromancer dalam bungkusan tubuh balutan di kursi
lumpuhnya serta Si Ahli Alkimia yang membalut kepalanya dari topeng kedok
moncong perawakan burung lalu perempuan bertudung pakaian penutup dada memutih
pelindung murni birawati Summoner di ikuti ahli ramal pesulap peramal
bertopi Fortune Teller beriring mensejajarkan dan si tukang topeng
senyum komikal "Harlequin" membariskan ikut menunduk seraya
menundukkan murni bersama sejenak pula pulcinella.
Dewi Suci luhur murni gadis suci mungil Lucy yang menyilau
pelan lewat terus meretas langkah kakinya berjalan perlahan mendamaikan syahdu
melewati dari kesembilan murid barisan patuh para murid-murid tersebut bergegas
menduduki singgasana persembahan takhta menuju tempat duduk pelataran mimbarnya
naik menguasai kursi pelataran tempat tertinggi dan bermartabat takhta
tersebut.
Melabrak dari posisi mundur menjauh melempar diri membalik
ke depan menduduki dan bertahta pada dudukan kursi megahnya bersantai mendarat
bertahta mendiamkan punggung dan anak mungil mutiara naga meloncat santai pelan
manja merebahkan pelan dan menghinggap di tengah belahan rengkuhan paha kakinya
duduk terlelap dan meringkuk pelan lembut dan lelap.
"Aku mau mencoba bertemu dengan orang itu."
Pria bertopeng Alchemist Parmigiano tengah menguraikan
detail rentetan kejadian mengenai kesalahan melepaskan Mirror Witch
lolos melarikan lari menghilang dari genggaman dan membeberkan laporan dari
fakta-fakta cerita perihal dari tragedi lolosnya sang buronan kepada dewa luhur
di pelataran mimbar dan tepat sesudah pencerahan pelaporan kejadian entah
gerangan dari mana pemantik minat menyulut ketertarikan hatinya merasukinya ia
bergumam pelan di tengah diam sepi hening luhur murni mengucapkan rintik
gumaman merdu kecil bisiknya yang lemah dari bibir mungil dan mendesak kecil
melontar perlahan.
Para Rasul Kesembilan menyebarkan membuyarkan dan terurai
tak tuntas menyibak di masing masing letak bangku kapel merenggang kembali dan
menyendiri menepati posisi menyendiri kembali lagi terpecah pecah posisi
menyeling membaur menempati mengisi kursi jemaat tersebut. Di sela segenap
perhimpunan jemaat di bangku deretan tersebut di baris takhta orang satu saja
dengan pengecualian duduk menduduki kursi roda cacat si Necromancer itu menaikkan
bergegas mengangkat menyeruak mengajukan menukas ke atas dan berseru mendarat
melontarkan teriak meladeni menanggapi dari gundah permintaan dan membalas
menentang memenuhi menyanggupi ucapan dari Lucy suci berseru mengangkat lantang
murni bersuara.
"Jikalau perkenan di berikan dan sudi izinkan untuk
saya! Karena murni ini dari dari kerelaan tulus luhur perintah rindu Dewi yang
Suci Tuan Ratu Lucy dan mendamba berkenan menghendaki luhur murni berkeinginan
saya Necromancer ini mengutus memacu tenaga demi menyeret Mirror
Witch membawa rupa tersebut berserah dan tersungkur untuk persembahan Anda
melayani dari kehendak ini bakal siap."
Mendengar nada ucapan tersebut dengan kilat seketika
membanting muka Parmigiano mendaratkan pandangannya kepada gadis dengan pandangan
sinis pelatuk tajam tatapan dari rupa topeng matanya yang tajam mendaratkan
menelikung dengan sinis tajam sebentar lalu segera beralih dan berpaling
kembali fokus kepada Dewi memusatkan hormatnya kembali pada Dewi suci murni
menengadah menatap sang Dewi luhur dengan tulus sambil menempelkan mendaratkan
menyentuh dengan pelan perlahan letak tangan menghamba sujud merapat ke sela
rengkuhan dadanya.
"Tidak suci murni Dewi tidak, sepatutnya posisi tugasku
untuk maju membenahi kewajiban tugas tanggungan ini patut mutlak milik dari
wewenang peranku ini saja. Kesalahan membiarkan kecerobohan kesalahan melarikan
luput musuh adalah luput murni kelalaian murni di perankan dan dikerjakan saya
mutlak seutuhnya sendiri."
"HAAAAAHH-!? Hehe iya ya emang kenyataannya kegoblokan
mutlak tolol emang kesalahan pure mutlak punya dosa nyata nyata di tanganmu
Paru bener juga. Si goblok konyol dan pecundang hina kek lu mana bisa dan mampu
menuntaskan hajat dari memenuhi titah menunaikan suci rindu Dewi murni kehendak
dambaan murni Tuan Putri Lucy dan menyanggupi impian suci ini sanggup
membelenggu murni murni ini dengan luhur sanggup murni melaksanakannya takkan
pernah kau sanggup murni murni sanggup mampu."
Mendengar ledakan makian sengit melengking nyaring
Necromancer itu, Paladin kembali berdecih dengan muak dan menuturkan
decak lidah yang jengkel.
"Cih... ya udah tak apa repot ya. Sini gua aje dah
bantu pergi bantuin luh nanganin kerjain beres."
Sembari malas beringsut mengacak-acak mengangkat meluruskan
kusut rambut surai serigala membelah bangun tegak melangkah bangun mendirikan
badan merenggangkan raga tegap dari tempat sofa bangkunya bangkit murni tegap
murni bangun menegakkan diri bangkit.
" Utara perbatasan itu kebetulan ya tempat dan asal
lahir dan tanah dari leluhur. Pas kebetulan lagi pengen lewat buat pulang rute
pulang mudik mampir sekalian aku angkut gue cidukin buat seret tarik bawa seret
deh pulangnya ke murni mari buat murni elu sekalian. Sekalian kan murni
kebetulan buat ngangkut sosok yang lu sebut buronan Mirror Witch atau
siapa pun yang buronan buronannya tuh sekalian dah."
"Hei hei woi woi woi woi!? Lho kampung lu di sana
bukannya kata lu dulu benci terus lu hempasin buang ngusir putus putus hubungan
kampung kan elu tuh dulu lu bilang ya kan! Si brengsek barbar Versia!"
"Biar aku saja."
Berikut giliran yang beranjak dan merenggang memisahkan
barisan bangkit keluar adalah wanita yang membungkus menenggelamkan suci murni
balutan membungkus dalam suci rupa pakaian sehelai putih biarawati murni murni
yakni Cocolco Sang Summoner.
"Aku kan berasal dan keturunan berlatar berdarah suku
dan lahir dan membesar dari kehidupan perantau Drifter masa lalu kan? Dan
katanya dia dan masa lalunya perawan cermin dari perempuan ini masa itu juga
juga katanya sejalan seiras masa dulunya punya latar seiras denganku senasib
dulu konon dia berasal dari kaum seirasku dulu punya perantau senasib Drifter
yang sama kan katanya ada rumor menyebar itu rumor kudengar?"
"Terus? Lah apa ada korelasinya apa manfaat peduli
hubungannya hah peduli banget lu apa hah?"
Menyingkirkan rentetan cibiran sinis pertanyaan si
Necromancer itu, Summoner merangkul ramah menahan meredam mencuekkan
rentetan tudingan tajam sengit dan mencemooh dengan senyuman luhur senyuman
kalem dan memberikan balas murni murni dan membalas anggun menawan melontarkan
seulas tulus ramah tawa tulus nan mekar senyum.
"Bantuan lewat menggunakan kendaraan dari tunggangan Magical
Beast andalan pemanggil panggilanku tungganganku menempuh perjalanan
memangkas pelesir ke perjalanan perantauannya nggak akan bertele-tele nggak
butuh menempuh kelana waktu lama kan waktunya dipersingkat menghemat waktu
panjang perantauan tak kan merenggut lama nggak bakalan panjang. Rasanya sangat
wajar mutlak sesuai masuk logika aku wajar pas dari perantauan untuk mutlak
ditunjuk ke tugas murni pengutusan pencarian yang pas kriteria ini luhur wajar
kurasa luhur pas menunaikannya luhur murni ini pas sesuai wajar kurasa. Namun
saja sayang...... saat ini ku murni aku krisis dari stok suplai perbendaharaan
korban cadangan jiwa pasokan hamba pendosa dari tawananku kosong hampa
perbekalanku tidak tersisa satupun budak pendosa tawananku dan nihil sama
sekali hampa habis ludes. Jikalau murni murni lu ikhlas kalau sekiranya kamu
ikhlas rela dan sudi apakah anak yang jadi sudi bersedia berkenan menyumbang
murni memberikan rela dan ikhlas mau meluangkan dan murni berikan serahkan
pengikut dari pelayan anak murni hambamu sudi untuk serahkan pelayan perawat
mendorong murni untuk kursi roda lumpuh hamba budak pembantu pelayan kursi roda
cacat lu itu pada milikku buat gue ya murni buat gue kalau sudi?"
"…Apa? Jangan konyol, dia itu Ilf Hitam tahu? Spesies
yang sangat langka."
Necromancer menjawab dengan mengerutkan dahinya. Summoner
hanya menghela napas pasrah, lalu menoleh ke arah Pulcinella. Dari ujung
jarinya, ia menjepit dan mengibar-ngibarkan secarik tiket yang baru saja
diterimanya.
"Pulcinella. Sekaranglah saatnya menggunakan tiket ini.
Bisakah kau berikan anak itu padaku?"
"Aha! Boleh banget!"
Mungkin karena sangat senang telah diandalkan, Pulcinella
berlari menghampiri Summoner dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Setelah menerima tiket tersebut, ia mengarahkan telapak tangannya kepada Necromancer—tepatnya
kepada pelayan Ilf Hitam yang sedang mendorong kursi roda di belakangnya.
Begitu Pulcinella menurunkan lengannya dengan kuat, ploop!—seluruh tubuh
pelayan itu tenggelam dan lenyap ke dalam lantai batu di bawah kakinya.
Sesaat kemudian, Pulcinella merogohkan tangannya ke dalam
kantong kainnya. Ia menggenggam dan menarik keluar kerah baju seseorang.
Pelayan Ilf Hitam yang baru saja menghilang ke dalam lantai kini telah
berpindah tempat ke dalam kantong Pulcinella.
"Taraaa~! Ini dia, hadiah untukmu."
Ilf Hitam yang masih memasang wajah tanpa ekspresi itu kini
berdiri di samping Summoner.
Summoner mendirikan peti mati yang sedari tadi
dibaringkannya di samping kursi panjang.
"Tapi anak ini sepertinya tidak punya jiwa, apa tidak
apa-apa?"
"Tidak masalah. Yang diinginkan oleh Magical Beastku
hanyalah darah pendosa."
"…Oi. Bajingan kalian semua."
Kehilangan pelayannya, Necromancer memelototi mereka
berdua dengan urat menonjol di dahinya.
"Kubilangin sekali lagi ya…? Jauh-jauh dari karya seni
milikku."
Di saat ia baru saja mengulurkan lengannya ke depan, Cardinal
dalam jubah merahnya melangkah dan berdiri di belakang kursi rodanya.
"Hentikan. Ini di hadapan Lucy-sama."
"…Berisik, diam kau, Katak. Jangan coba-coba
memerintahku."
──Lalu tiba-tiba, pada saat itulah Lucy memanggil nama Summoner.
"Cocolco Luka."
Semua seketika terdiam dan mendongak menatap Lucy yang
berada di atas altar. Menahan napas, menanti kata-kata selanjutnya.
"Aku mengandalkanmu, ya."
"…!"
Momen keputusan pun telah dijatuhkan. Necromancer
mengatupkan bibirnya menahan kekesalan, sementara Summoner Cocolco
bergetar gembira karena namanya telah dipanggil.
"Serahkan kepada saya, Lucy-sama. Pasti akan saya bawa Mirror
Witch ke hadapan Anda."
Cocolco membuka tutup peti mati yang telah ditegakkannya.
Peti itu memiliki engsel, sehingga fungsinya sama seperti pintu. Ia memasukkan
pelayan Ilf Hitam itu ke dalamnya. Sesaat setelah ia menutup pintunya dengan
pelan, terdengar suara memanggil dari belakangnya.
"Cocolco."
Pemuda berkulit cokelat bersorban──Elementaler
berdiri tepat di belakang Cocolco.
" itu luas lho. Memangnya kau tahu Mirror Witch
akan pergi ke arah mana?"
"Tenang saja. Kalau aku mengunjungi permukiman bangsa
Versia, pasti akan segera ketemu. Di daerah sana, orang yang bisa memakai sihir
tidaklah banyak. Kalau aku melacak dari desas-desus atau mengikuti jejak energi
sihirnya, aku pasti bisa langsung menemukannya. Kau mengkhawatirkanku,
ya?"
"Gak, bukan gitu juga sih."
Dihadapkan pada senyum penuh kasih sayang dari Cocolco,
pemuda itu menundukkan pandangannya dengan canggung.
"…Tapi ya, lawanmu adalah Witches najis.
Hati-hati ya."
"Ya, aku mengerti. Terima kasih."
Tiba-tiba, dari celah di bawah peti mati, merembes keluar
cairan kental berwarna merah gelap kehitaman. Ketika Cocolco kembali membuka
pintu peti mati itu, darah yang mengalir tumpah menggenangi lantai batu. Di
dalam peti mati yang gelap gulita bagaikan jurang tak berdasar itu, sosok
pelayan tadi sudah tak berbekas. Sebagai gantinya, yang berada di dalam sana
adalah──.
"Nyaaaan." ──Seekor kucing.
Seekor kucing hitam berbulu lebat yang secara keseluruhan
tampak bulat dan menggemaskan. Bulu di ujung kedua telinganya sangat panjang
dan melengkung menyerupai tanduk. Mata hijaunya tampak kosong, entah ke arah
mana ia sedang memandang. Kucing hitam yang melompat keluar dari dalam peti ke
atas lantai batu yang bersimbah darah itu mengenakan sebuah pita putih
melingkar di lehernya.
Kucing itu mendongak menatap Cocolco dan kembali mengeong,
"Nyaaaan."
Baru saja kucing itu menempelkan pantatnya pada lantai yang
penuh darah, dalam sekejap kepalanya mulai membelah dari bagian hidungnya. Layaknya
sebuah kelopak bunga yang mekar. Apa yang muncul dari dalam wajah yang terbelah
itu bukanlah tengkorak, melainkan tentakel berwarna merah muda. Ratusan
tentakel yang menggeliat dan berkerumun. Pemandangan itu begitu menjijikkan
hingga Pulcinella terang-terangan memperlihatkan ekspresi muak di wajahnya.
Tanpa memedulikan tatapan yang lain, Cocolco mengangkat peti
mati itu sambil menghela napas "Yossh," dan melilitkan tentakel si
kucing hitam ke peti mati tersebut. Kucing hitam itu, sedikit demi sedikit,
mulai menelan seluruh peti mati yang jelas-jelas jauh lebih besar dari tubuhnya
sendiri melalui bagian kepalanya.
"Kalau begitu, Lucy-sama. Saya berangkat dulu."
Cocolco berbalik menghadap Lucy di atas altar, menempelkan
kedua tangannya di depan dada untuk membentuk formasi "Naga". Sambil
sedikit mengangkat rok putih panjangnya dengan tangan kanan, ia pun menunduk
memberi hormat.
Kemudian, ia mengedarkan pandangan kepada para delapan Rasul
lainnya yang berkumpul di aula dan memamerkan sebuah senyuman.
"Semuanya, selamat tinggal. Sampai kita bertemu lagi
nanti."
Berbalik arah, Cocolco menginjakkan kakinya masuk ke dalam
kepala kucing hitam tersebut. Sama halnya dengan saat ia menelan peti mati,
tentakel-tentakel yang menggeliat itu pun menyedot dan menelan seluruh tubuh
Cocolco ke dalam secara perlahan. Setelah menelannya, kepala yang terbelah
lebar itu kembali menutup rapat dan berubah wujud menjadi wujud kucing imut
seperti sedia kala.
Disaksikan oleh para Sembilan Rasul, kucing hitam yang
sempat mengeong menggemaskan itu berlari kencang menuju jendela yang sedang
terbuka. Ia melompat ke tepian jendela dan menerjunkan diri ke hamparan kota
ibu kota yang terbentang di bawahnya.
Di tengah udara bebas, sayap hitam menyerupai sayap
kelelawar pun merentang dari punggung si kucing hitam, lalu meluncur terbang
dengan mulus.
Summoner mampu mengendalikan Magical Beast. Wajah yang bisa terbelah dan sayap di punggungnya jelas menunjukkan bahwa makhluk ini tak lazim. Namun, jejak tapak kaki bersimbah darah di atas lantai batu yang mengarah ke pinggir jendela, sama sekali tak ada bedanya dengan tapak kaki milik kucing lucu pada umumnya.