Majo to Ryouken V2 C2

Juli 04, 2026 | Metoya

Chapter 2: Menuju Utara (Bagian Kedua)

Illustration Placeholder


1

Rintik-rintik hujan mulai turun dari langit yang kelabu.

Teresalisa yang mengenakan tudungnya, duduk di bagian belakang gerobak kereta kuda yang terbuka untuk dinaiki.

Bertopang dagu, ia menatap orang-orang yang mulai naik ke kereta kuda. Tetesan hujan jatuh di telapak tangannya yang menengadah. Saat menengadah menatap langit yang suram, awan tebal terlihat membentang luas. Hujan mungkin akan turun lebih lebat sebentar lagi.

Sembilan kereta kuda tanpa atap terpal. Tempat berkumpulnya adalah di depan istal kuda, yang berjarak sedikit jalan kaki dari gudang .

Tujuh kereta kuda roda empat yang besar, dan dua kereta kuda roda dua yang sedikit lebih kecil. Orang-orang yang bersembunyi di tempat persembunyian mulai naik ke bak masing-masing kereta kuda.

"Cepat! Tolong bergeser lebih rapat. Bagi yang bisa mengendalikan kuda, tolong ke kursi kusir."

Mulai dari Rollo, Kesatria Iron Flame, dan dua prajurit dari pos penjagaan membimbing orang-orang untuk naik ke kereta kuda.

"…Entah kenapa ini mengingatkanku pada karavan di masa ."

Mendengar gumaman Teresalisa, Rollo yang sedang memandu orang-orang ke kereta kuda menoleh.

"Maafkan kami karena perjalanan dengan kereta kuda akan terus berlanjut."

"Tidak apa-apa, lagipula aku tidak benci bepergian. Hanya saja, tolong bebaskan aku dari hujan musim dingin."

Jumlah orang yang naik ke kereta kuda berkurang lebih dari dua puluh orang dibandingkan saat di tempat persembunyian. Mereka yang belum bisa bergabung dengan keluarganya dan tak sanggup membuang kampung halaman mereka, memilih untuk tetap tinggal di Campusfellow. Di antara mereka, ada juga keluarga dari orang-orang yang pergi ekspedisi ke Lowe dan belum kembali.

Tragedi di Lowe telah dijelaskan oleh Brasserie kepada semua orang.

Namun, ada beberapa dari mereka yang tidak bisa mempercayai kata-kata itu. Ada orang-orang yang ingin percaya bahwa orang berharga mereka berhasil lolos dari tragedi itu dan masih hidup. Tempat di mana orang-orang yang selamat itu akan pulang pastilah Campusfellow ini. Brasserie dan yang lainnya tidak bisa memaksa mereka yang memilih untuk tidak pergi ke dan memilih menetap di sini untuk menunggu kepulangan keluarga mereka.

Delirium yang masih tertidur, kembali dibaringkan di atas jerami yang dialasi di gerobak. Di gerobak itu pula, Perdana Menteri Brasserie ikut menumpang untuk melindungi sang putri yang tertidur. Selain itu, para Meister muda yang memegang perisai, serta Nyonya Brasserie juga naik di kereta kuda yang sama.

Wakil Komandan Kesatria Iron Flame, Victoria, menumpang di gerobak paling depan. Kesatria lainnya, Rollo, serta dua prajurit dari pos penjagaan, masing-masing akan menunggang kuda dan berlari mengawal barisan.

Pasukan pengejar musuh mungkin akan datang menyusul dan pertempuran bisa saja terjadi. Para Kesatria telah menyiapkan senjata transformasi mereka.

Berdiri di belakang kereta kuda yang diduduki Teresalisa, Rollo membantu orang-orang naik ke gerobak.

"Permisi. …Permisi!"

Seorang pelayan wanita melangkah lebar menghampiri Rollo.

Ia adalah pelayan muda dengan rambut hitam bergelombang mengilap yang dipanjangkan hingga sebahu. Mengenakan rok panjang hitam yang chic dan serasi dengan warna rambutnya, serta white brim berhiaskan pita di atas kepalanya. Padahal ini sedang dalam keadaan darurat dan ia boleh saja melepasnya, namun ia bersikeras untuk tetap tampil layaknya seorang pelayan, seolah itu adalah harga dirinya.

Lengannya ditarik oleh pelayan wanita lain yang agak berisi.

"Tunggu, sebaiknya jangan, Inedit."

"Lepaskan aku, Kona. Aku harus bertanya pada Black Dog-sama. Tentang Cappuccino!"

Pelayan yang dipanggil Inedit itu memelototi Rollo dengan mata sipitnya yang tajam, lalu melangkah maju.

Rollo menatap lurus ke arahnya.

"Cappuccino, dia seharusnya bersama Tuan Putri. Anak itu sangat menyayangi Tuan Putri, jadi dia pasti tidak akan pernah meninggalkan sisinya! Apakah Anda tidak melihatnya? Adikku…"

"Saya melihatnya."

Rollo tidak menyembunyikan apa pun, dan menyampaikan apa yang ia ketahui.

"Terakhir kali saya melihatnya adalah di dalam kastil. Sejauh yang saya tahu, Cappuccino tidak mati. Dia memang sempat diselimuti api, tapi Witches-sama telah menolongnya."

"Diselimuti… api? Bohong…"

Mata Inedit terbelalak. Ia menutupi mulutnya yang gemetar dengan telapak tangannya.

"Kenapa? Dia tidak mati, tapi kenapa Anda meninggalkannya di kastil musuh? Kenapa Anda pulang meninggalkannya dalam keadaan terluka parah seperti itu? Keterlaluan. Anda keterlaluan."

"…Maafkan saya. Menghadapi para Sorcerers, saya tidak punya kelonggaran untuk membawa Cappuccino keluar."

Rollo menundukkan kepalanya pada Inedit.

"Saya sudah mengerahkan seluruh tenaga saya hanya untuk melindungi Delirium-sama—"

"Tidak mungkin! Karena, Anda adalah 'Black Dog', kan!?"

Inedit mencengkeram baju Rollo.

Temannya, Kona, berusaha melepaskan cengkeramannya, tetapi Inedit melawan, terus mendesak dan menyalahkan Rollo. Keributan itu membuat orang-orang di sekitar menghentikan pekerjaan mereka dan menoleh.

"Bukankah Black Dog-sama itu kuat? Bukankah Anda pembunuh bayaran yang melindungi Campusfellow? Kalau begitu tolong selamatkan Cappuccino! Anak itu sangat cengeng. Dia pasti menangis. Kasihan sekali, bahkan sampai sekarang pun, dia pasti sedang menangis di kastil musuh…!"

Wajah Inedit berkerut penuh kepedihan. Melampiaskan perasaan tak berdayanya pada Rollo. Air matanya hampir tumpah, dan ia pun mengusap matanya. ──"Tolong selamatkan dia, yang benar saja."

"…………"

Rollo tak bisa berkata apa-apa. Justru karena ia sangat menyadari tanggung jawabnya, ia tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun.

"Berbuat yang benar dong. Kalau Anda Black Dog, selamatkan kami dengan benar!"

Lalu, pada saat itulah.

──"Cermin, oh cermin" (Mirror, mirror).

Menyadari niat membunuh yang mendekat, Rollo secara refleks mencabut pisau belati dari pinggangnya.

"Eh, tungg…"

Sambil memeluk Inedit untuk menjauhkannya, Rollo menahan tebasan bilah sabit besar yang diayunkan mendatar dengan pisau belati yang digenggamnya secara terbalik. Sesaat setelah suara benturan logam yang nyaring terdengar, Inedit menjerit ketakutan.

Bukan hanya Inedit yang berteriak. Orang-orang di atas gerobak dan mereka yang hendak naik juga berseru kaget melihat sabit besar yang tiba-tiba muncul.

Kona yang berada tepat di sebelah Inedit jatuh terduduk saking terkejutnya.

"Witches-sama… tolong jangan terlalu mengejutkan semua orang."

"Aku tidak mau. Soalnya anak ini, entah kenapa membuatku kesal."

Teresalisa membentak tepat di depan hidung Rollo.

"Kenapa kamu diam saja? Anak ini bilang, 'Aku lemah jadi aku tidak akan bertarung, tapi kamu yang kuat harus melindungi kami mempertaruhkan nyawa', tahu? Terlalu manja, kan?"

"Tidak, perkataannya tidak salah. Mereka memiliki tugas mereka sendiri. Dan melindungi mereka adalah tugas saya, para Kesatria, dan para prajurit. Saya… gagal melaksanakan tugas itu."

"Kamu memikul terlalu banyak beban."

Mata merah Teresalisa semakin tajam memelototi Rollo.

"Di dunia ini, diselamatkan bukanlah hal yang wajar. Dilindungi bukanlah hal yang wajar. Semua orang berjuang keras untuk melindungi diri mereka sendiri. Dalam sekejap mempedulikan nyawa orang lain, nyawa kita sendiri yang terancam. Anak ini harus menyadari kesombongannya yang menitipkan hal berharganya pada orang lain."

Teresalisa menatap lekat Rollo.

Namun, kata-katanya ditujukan pada Inedit yang berada dalam pelukan Rollo.

"Kalau dia memang orang yang benar-benar berharga, seharusnya kamu tak menyerahkan keselamatannya pada orang lain. Yang gagal melindungi adikmu bukanlah dia, tapi kamu. Kamu sendiri yang tidak bisa berada di sisinya saat adikmu dalam bahaya."

"Mana mungkin, aku bisa berada di sisinya…!"

Tanpa sadar, Inedit yang berlinang air mata berteriak.

"Karena. Karena saat itu, aku ada di Campusfellow…"

Teresalisa menundukkan pandangannya pada Inedit.

"Benar. Karena itu kamu tidak punya hak untuk menyalahkannya. Kalau kamu punya keluhan, keluarlah dari pelukannya, berdirilah di medan perang baru bicara…!"

"Ukh…"

Syuuut──tiba-tiba, sebuah anak panah menancap di tanah lumpur yang becek.

Itu adalah sinyal dari Kesatria Iron Flame yang memanjat menara lonceng kota untuk berjaga-jaga memantau serdadu Amelia di sekitarnya. Ketika Rollo mendongak ke arah menara lonceng, Kesatria yang memegang busur memutar tangannya di dekat lonceng besar. Itu adalah tanda yang menyuruh mereka cepat berangkat. Rollo melepaskan tangannya dari bahu Inedit dan menyimpan pisau belatinya.

"Kita berangkat, semuanya! Majukan kudanya. Pasukan pengejar sudah datang."

Terdengar ringkikan kuda bersahut-sahutan. Kereta kuda mulai melaju satu per satu, mencipratkan lumpur.

Teresalisa menghilangkan sabit besarnya ke dalam cermin tangannya, lalu melompat naik ke atas gerobak kereta kuda yang mulai bergerak.

Rollo bertanya pada Inedit.

"Kalau Anda menunggu di sini, Cappuccino mungkin akan kembali. Tapi saya tidak berniat untuk sekadar menunggunya. Saya akan pergi mencarinya dari sini, dan pasti akan mempertemukan kalian kembali. Bagaimana dengan Anda?"

"…Aku ikut. Aku akan ikut, bersama kalian."

"Witches-sama!" seru Rollo sambil menoleh ke kereta kuda yang telah berjalan. Itu adalah kereta kuda paling belakang dari barisan. Teresalisa berdiri di baknya. "Tolong bawa dia juga!"

"…Hanya akan menambah beban saja."

Di atas gerobak, Teresalisa mengayunkan cermin tangannya. Ujung tali perak yang menjulur dari permukaan cermin melilit tubuh Inedit. Inedit menjerit saat ditarik ke atas gerobak.

Rollo membangunkan Kona, pelayan lain yang duduk lemas di dekat kakinya.

"Anda juga ikut, kan? Bisa berdiri?"

"Aku ikut. Tapi, pinggangku…"

Pelayan bertubuh montok itu, Kona, menatap Rollo dengan mata basah oleh air mata. Rupanya ia tidak bisa berdiri karena terkejut melihat sabit besar Teresalisa hingga jatuh terduduk. Rollo mengangkat dan menggendongnya.

"…Ukh, ugh."

Lupa akan cederanya karena mengerahkan tenaga, rasa sakit yang luar biasa menjalar di bahu kanan Rollo yang dibalut perban.

"M-maafkan aku, aku sedikit berat."

"…Berat? Sama sekali tidak. Rahasia kita saja, Tuan Putri jauh lebih berat lho."

Sambil terus menggendong Kona, Rollo berjalan menuju kudanya yang telah disiapkan. Sebelum mendekati kudanya, ia mengambil anak panah yang menancap di lumpur. Pada bulu panah itu, terdapat dua garis merah. "Panah Sinyal" adalah panah yang bisa menyampaikan informasi lebih rinci melalui warna dan jumlah garisnya. Semua itu sudah disepakati sebelumnya. Jika garisnya berwarna kuning, berarti prajurit Amelia yang mendekat sekitar sepuluh orang. Jika biru, sekitar tiga puluh orang, dan jika merah, berarti lebih dari itu.

Dan garis kedua menandakan bahwa ada Sorcerers di antara mereka.

2

Di jalan utama yang basah oleh hujan malam, sembilan kereta kuda melaju dengan kecepatan tinggi.

Sisi timur laut Kastil Campusfellow adalah distrik hiburan paling ramai di kota. Meski tidak semaju Kerajaan Lowe yang perdagangan antarnegaranya makmur, namun di sini berjejer kedai minuman, tempat makan, hingga teater kecil. Namun sekarang, dalam keadaan darurat, tempat ini menjadi sepi, dan pemandangan prajurit Amelia berzirah putih yang mondar-mandir seenaknya terlihat di sana-sini.

Meskipun tak ada semangat di kota yang diguyur hujan ini, lampion tetap menyala di kedai-kedai minuman yang gigih berbisnis. Di bawah teritisannya, beberapa prajurit Amelia mengelilingi tong anggur yang dijadikan meja sambil menenggak bir ale.

Di sudut jalan, para wanita bergaun compang-camping berdiri, mencoba mengais koin perak dari para prajurit. Di bawah tempat berteduh dari hujan, seorang anak laki-laki kumal berpura-pura menjadi yatim piatu perang. Prajurit Amelia yang merasa kasihan melemparkan koin tembaga ke dalam gelas di dekat kakinya yang sedang duduk bersila.

Di luar kota bawah kastil, keluarga-keluarga di bawah naungan Keluarga Grace seharusnya masih terus memberikan perlawanan terhadap penjajahan. Namun bagi para penduduk, kelaparan dan hancurnya kehidupan jauh lebih menakutkan daripada prajurit Amelia. Mereka tidak bisa hidup jika tidak mencari uang. Betapa tangguhnya manusia.

Sembilan kereta kuda yang bergerak menyebar dari depan ke belakang, dengan kereta yang menidurkan Delirium di tengahnya, berpacu melintasi distrik hiburan untuk keluar dari kota bawah kastil. Tapak kuda menendang jalanan berbatu dengan kuat, dan kereta kuda semakin mempercepat lajunya. Dua prajurit dari pos penjagaan memandu rombongan di barisan paling depan. Sejajar dengan barisan panjang kereta kuda itu, tiga Kesatria Iron Flame masing-masing memacu kuda mereka.

Rollo mengarahkan kudanya ke kereta kuda di barisan paling belakang.

Ia bertanya pada Kona yang masih digendongnya, apakah ia bisa melompat ke gerobak yang melaju di sebelah mereka.

"Eh? Mustahil. Nggak mungkin, nggak akan mungkin bisa."

"Baiklah. Witches-sama! Tolong tangkap dia!"

Rollo melemparkan Kona ke atas gerobak. Teresalisa merentangkan cairan peraknya seperti tirai untuk menangkap pelayan yang menjerit ketakutan itu.

"Hei, bisa nggak kamu tidak memakai Witches seperti pembantu serabutan?"

"Maafkan saya. Anda sangat membantu!"

Di belakangnya, Rollo mendengar suara tapak kuda yang tak terhitung jumlahnya. Pasukan Amelia akhirnya berhasil menyusul mereka. Saat Rollo menoleh, di dalam jarak pandangnya, ia melihat banyak nyala obor yang menerangi kota hujan yang telah gelap.

Anak panah yang ditembakkan dari belakang mendesing membelah angin, lalu menancap di pinggiran gerobak yang berjalan paling belakang. Kona yang sedang ditenangkan oleh Inedit terkejut melihat anak panah menancap tepat di sebelahnya, membuat air matanya langsung surut. Anak panah kedua yang ditembakkan kemudian ditangkis jatuh oleh cambuk perak.

"Witches-sama! Saya akan maju mencegat mereka. Jika Sorcerers muncul, tolong bantuannya."

"Boleh saja… tapi senjatamu mana?"

Teresalisa berteriak dari atas gerobak kepada Rollo yang berkuda di sebelahnya. Yang disembunyikan Rollo di balik jubahnya yang berkibar tertiup angin hanyalah pisau belati. Apakah ia berniat melawan pasukan kavaleri musuh hanya dengan satu pisau pendek?

"Tidak apa-apa. Saya punya ini!"

Yang diacungkan Rollo adalah panah sinyal dengan garis merah di bulunya. Anak panah yang dipungutnya tadi.

"…Cuma bawa anak panah saja memangnya bisa apa?"

"Pasti bisa."

Lebih dari itu, yang lebih serius adalah luka di tubuhnya yang belum juga sembuh. Luka di bahu yang membatasi jangkauan gerak lengan kanannya, serta retakan di tulang rusuknya yang terus berderit setiap kali ia bergerak. Rollo menarik napas panjang, dan menggigit panah itu secara horizontal di mulutnya. Lalu, ia meneguhkan hatinya untuk menahan rasa sakit.

──Tarikk, Rollo menarik tali kekangnya kuat-kuat, mengerem kudanya mendadak.

Kuda itu meringkik nyaring dan mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi di tempat. Rollo mengendalikan kudanya dengan tali kekang, memutarnya setengah putaran dengan kaki belakang sebagai poros. Sambil mengarahkan kepala kudanya ke arah pasukan kavaleri Amelia, ia menurunkan kaki depan kuda itu dan menendang perutnya dengan sanggurdi untuk melesat maju.

Sambil memacu kudanya, Rollo dengan lincah berdiri di atas pelana. Lalu, tepat di saat berpapasan dengan pasukan kavaleri musuh, ia melompat ke salah satu kuda mereka.

"Apa, siapa orang ini!? Lepaskan…!"

Prajurit pemanah di atas kuda memutar tubuhnya, berusaha menjatuhkan Rollo yang melompat ke arahnya.

Rollo menyelinap ke belakang pria itu dengan mulus dan duduk di sana. Memaksanya berada dalam keadaan boncengan. Kemudian ia mengambil panah sinyal yang digigitnya, lalu menusukkannya ke paha pria itu.

"Gyaaa…!"

Prajurit pemanah itu menjerit kesakitan akibat rasa sakit yang luar biasa.

Saat pria itu lengah, Rollo menyelipkan kedua lengannya dari bawah ketiak pria itu dan mengambil alih busurnya. Rollo mengambil satu anak panah dari tabung yang disandang pria itu, dan masih dalam keadaan memeluk dari belakang, mengarahkan mata panah ke kavaleri Amelia yang berlari di sebelah mereka.

Anak panah yang ditembakkan melesat sesuai bidikan, menembus bahu prajurit kavaleri itu. Prajurit yang terjatuh dari kudanya itu menjerit dan menghilang ke belakang.

"Tarik busur kalian! Seseorang tembak dia!" "Kepung dari samping!" "Kepung, kepung, kepung…!"

Mewaspadai kuda yang dibajak Rollo, kuda-kuda di sekitarnya mengambil jarak. Anak panah ditembakkan bertubi-tubi ke arah Rollo yang berada di atas kuda. Padahal prajurit pemanah yang merupakan rekan mereka sendiri masih dipeluk oleh Rollo.

"Hoo… p."

Rollo menghindari anak panah yang melesat dari arah serong kanan belakang dengan mencondongkan punggungnya ke belakang, membawa serta prajurit pemanah dalam pelukannya.

Bersamaan dengan itu, ia mencabut panah sinyal yang menancap di paha pria itu.

"Ugh…! Nuaah!"

Prajurit pemanah itu kembali menjerit.

Dengan lengannya masih melingkari punggung pria itu, Rollo kembali menarik busur dengan panah sinyal seperti tadi, lalu menembak prajurit kavaleri lainnya. Prajurit yang lengannya tertembus itu jatuh dari kuda dan terguling di atas jalanan berbatu tanpa daya.

Prajurit pemanah di pelukan Rollo memberontak.

"Sial, jangan main-main, keparat. Hentikan…"

Rollo menahan panah yang ditembakkan dari samping dengan menggunakan prajurit pemanah itu sebagai tameng.

"Ngooh,"──prajurit pemanah yang dadanya tertembus anak panah itu kehilangan tenaga dan merosot jatuh dari pelana. Rollo mencengkeram gagang pedang di pinggang pria itu. Saat prajurit pemanah itu jatuh, Rollo mencabut pedangnya dengan mulus.

Setelah merampas kuda dan pedang, Rollo berlari sejajar dengan pasukan kavaleri musuh, dan dengan pasti mengurangi jumlah mereka. Ia menyayat paha prajurit yang berpapasan dengannya, menangkis pedang yang diayunkan dari atas, lalu menebas ketiak prajurit tersebut.

Namun, jumlah pasukan kavaleri terlalu banyak. Dan tidak semua kavaleri yang mengejar kereta kuda mau meladeni Rollo. Beberapa kuda kavaleri di luar jangkauan Rollo menyusulnya dan mendekati kereta kuda di depan.

"Black Dog-sama…!"

Dua Kesatria yang tidak mengenakan zirah putih muncul dari belakang Rollo yang sedang mengendalikan kuda, masing-masing memegang senjata transformasi mereka sambil menunggang kuda. Mereka adalah Kesatria Iron Flame yang bertugas memantau di menara lonceng, yang kini telah menyusul.

"Beberapa musuh sudah maju ke depan. Tolong halau mereka!"

"Siap laksanakan!"

Kedua Kesatria itu mendahului Rollo dan mengejar sembilan kereta kuda yang ada di depan.

3

Suara tapak kaki yang menghantam jalanan berbatu berubah menjadi suara derap di atas tanah liat.

Iring-iringan kereta kuda keluar dari distrik hiburan, memasuki yang menuju ke pelabuhan sungai. Itu adalah jalan di dalam hutan yang dibuat dengan membabat hutan pohon jarum.

Di kedua sisi jalan, pohon pinus merah tinggi tumbuh lebat, dan dahan serta daun yang membentang dari kiri dan kanan menyempitkan langit di atas kepala. Dibandingkan dengan di dalam kota, daerah sekitarnya menjadi jauh lebih gelap. Tapi karena itu adalah jalan yang digunakan untuk distribusi, lebarnya cukup besar, dan tanahnya sudah padat sehingga mudah untuk dilalui. Angin kencang menggoyangkan dahan-dahan pohon di sekitar dengan suara gemerisik.

Jika terus menyusuri jalan di hutan, mereka akan tiba di pelabuhan sungai, namun pelabuhan itu pasti sudah dikuasai oleh prajurit Amelia. Tujuan mereka bukan pelabuhan, melainkan pos penjagaan yang terletak di bagian hulu . Rencananya mereka akan berbelok dari dan pergi ke arah utara.

"…Apa Black Dog berhasil menahan pasukan pengejar?"

Di bak kereta kuda yang melaju paling depan, Victoria berdiri dengan tangan bertumpu pada pinggirannya.

Ia memicingkan matanya ke arah deretan kereta kuda di belakangnya. Saat melewati kota bawah kastil, jarak antara kereta kuda semakin melebar. Dalam kegelapan hutan, ia tidak bisa melihat sampai ke kereta paling belakang. Cahaya lampion yang digantung di kursi kusir masing-masing kereta kuda berbaris, bergoyang lemah.

Delirium yang tertidur pulas berada di gerobak kelima. Meskipun tidak terlihat dari depan, di sisi Tuan Putri, Perdana Menteri Brasserie pasti sedang melindunginya dengan memegang pedang pendek "Viper Bite" di dadanya.

"Wakil Komandan…!"

Prajurit yang memacu kudanya di garis depan menoleh dengan suara gemetar.

Di dalam hutan pohon jarum yang lebat di kedua sisi jalan, cahaya obor tampak bermunculan. Obor-obor itu berlari sejajar dengan barisan kereta kuda dan perlahan-lahan mendekati jalan.

"…Jadi mereka memang sudah menyergap kita. Sialan kau Amelia."

Sesaat kemudian, sekitar lima belas prajurit kavaleri melesat keluar dari dalam hutan gelap di kiri dan kanan jalan, menyibak dahan dan daun, langsung menuju jalan utama. Helm putih dan zirah putih. Kebanyakan kuda ditumpangi oleh dua orang, dengan kesatria di belakang memegang obor.

"Cabut pedang kalian! Kita akan bertempur."

Victoria menghunus pedangnya, menyemangati dua prajurit kavaleri di depan dan kusir yang mengendalikan kuda.

"Kalau kita berhenti, seluruh barisan akan berhenti. Apa pun yang terjadi, teruslah memacu kuda!"

Kemudian, ia menginstruksikan orang-orang di bak gerobak untuk menundukkan badan.

Selain dua prajurit yang memandu barisan, tiga <Kesatria Iron Flame> berlari sejajar untuk melindungi kereta kuda.

Pertempuran antara <Kesatria Iron Flame> dan prajurit kavaleri Amelia sudah dimulai. Ketiga Kesatria masing-masing mencabut pedang di atas kuda, menangkis prajurit Amelia agar tidak mendekati gerobak. Namun jumlah musuh terlalu banyak.

Dari kuda Amelia yang mendekat dengan cepat, para kesatria yang memegang obor berulang kali melompat pindah ke gerobak. Jeritan dan teriakan ketakutan dari orang-orang bergema di kegelapan jalanan yang diguyur hujan.

Empat kavaleri musuh mendekati kereta kuda yang ditumpangi Victoria di barisan paling depan.

Dua kesatria melompat dari kedua sisi bak gerobak. Victoria mengayunkan pedangnya.

Ia menangkis tebasan musuh dan dengan bilah yang sama menahan pedang yang mendekat dari belakang. Suara benturan logam yang keras bergema di tengah hujan. Obor musuh yang terjatuh menggelinding di lantai papan dan menyebarkan percikan api, membuat orang-orang yang meringkuk di sudut gerobak menjerit.

Pedang pendek yang digunakan Victoria memiliki bilah bergerigi seperti gergaji. Ia mengait pedang musuh yang ditangkisnya, membuang arah tebasannya ke luar gerobak, lalu menendang pantat musuh yang memunggunginya. Kesatria Amelia itu berteriak konyol dan terjatuh dari pinggir gerobak.

Kemudian dari kuda yang lain, dua kesatria baru kembali melompat naik menggantikan yang jatuh.

Dikelilingi oleh tiga kesatria di bak gerobak yang sempit, Victoria mengarahkan ujung pedangnya pada mereka. Ia merasa cemas. Kalau terus begini, ia hanya bisa melindungi satu gerobak. Ia tidak bisa melindungi kesembilan kereta kuda sekaligus──.

Ketiga Kesatria Iron Flame yang berlari sejajar dengan barisan gerobak juga berada dalam kepanikan. Ada sembilan kereta kuda yang harus dilindungi. Musuh berjumlah lebih dari sepuluh kavaleri. Kekuatan pasukan mereka sangat jauh dari kata cukup. Mereka tak sanggup mencegah kesatria Amelia yang terus melompat ke atas gerobak-gerobak itu.

Lalu akhirnya, dua kesatria berhasil melompat naik ke gerobak kelima, gerobak terpenting tempat Delirium tertidur. Para Meister yang memegang perisai ditendang jatuh satu per satu dari atas gerobak. Nyonya Brasserie menutupi tubuh Delirium dengan tubuhnya sendiri untuk melindunginya. Untuk melindungi istri dan Tuan Putrinya, Brasserie menghunus pedangnya dan berdiri di depan mereka.

Situasinya semakin memburuk setiap detiknya. Dua prajurit kavaleri yang berada di depan juga sedang bertarung pedang dengan prajurit kavaleri Amelia yang mendekat. Teriakan ketakutan mereka terdengar di telinga Victoria, bercampur dengan suara rintik hujan.

Fakta bahwa ia tidak bisa beranjak dari gerobak terdepan membuatnya sangat frustrasi. Victoria menyarungkan pedangnya. Ke sarung bagian atas dari dua sarung di pinggangnya. Tiga kesatria Amelia yang berhadapan dengannya mengejek melihat tindakan itu.

"Oi oi, ada apa ini? Menyerah?" "Pilihan yang bijak." "Hentikan kereta ini kalau kau mau menyerah."

Victoria memberi instruksi baru pada kusir di belakangnya.

"Ubah perintah, kusir! Rem saat aku memberi tanda. Dan segera lajukan lagi setelahnya."

Sementara itu, di barisan paling belakang, kavaleri Amelia masih mengepung kuda yang dikendalikan Rollo.

Melaju kencang di tengah guyuran hujan di , serangan sengit Rollo melawan kavaleri terus berlanjut.

Sambil menghindari anak panah yang ditembakkan dan tombak yang menjulur, Rollo mendekatkan kudanya ke kavaleri musuh. Senjata yang ada di tangannya adalah pedang. Namun, pedang besar yang ia rebut terlalu berat, dan sangat merugikan jika digunakan dengan satu tangan sambil mengendalikan kuda.

"…Kalau mau merampas senjata, harusnya panahnya ya."

Ia tidak bisa terus mengayunkannya lama-lama. Meski mengenai musuh di atas kuda, ia tidak punya tenaga yang cukup untuk menyayatnya.

Saat itulah, sebuah anak panah mengenai kuda yang ditunggangi Rollo, membuatnya tersungkur jatuh ke depan. Secara refleks, Rollo berdiri di atas pelana dan melompat ke kavaleri yang berlari di depannya. Membuang pedang besar itu, ia mencabut pisau belati dari pinggangnya di udara.

Menyadari kehadiran Rollo, prajurit di atas kuda menoleh, memiringkan obornya untuk menahan pisau Rollo.

Bunga api terpercik. Kobaran api menerangi wajah mereka berdua. Prajurit di atas kuda itu membuka suara.

"Tung… gu sebentar, kau, kayak pernah lihat."

"…………"

Itu adalah prajurit berjanggut di ujung dagunya yang lancip. Ia tidak memakai helm, dan rambut hitam panjangnya diikat di belakang kepala. Prajurit pemburu sisa pasukan yang mereka temui di sebelum memasuki Campusfellow.

Rollo mengerahkan tenaga pada tangannya yang menggenggam pisau, lalu menebas obor itu hingga putus.

Ujung obor yang jatuh ke tanah memercikkan bunga api dan menghilang di belakang mereka. Rollo dengan cepat membalikkan pisaunya dan mencoba menyayat leher prajurit itu──namun, bilahnya berhenti setelah hanya merobek selapis kulit lehernya.

"…Hii, henti…"

Prajurit berjanggut itu secara refleks mencengkeram pergelangan tangan Rollo yang menahan pisaunya.

Terdengar suara dari kuda yang berlari sejajar.

"Kau… jangan-jangan, pedagang keliling waktu itu!?"

Prajurit Amelia berkulit putih dengan rambut pirang dan sudut mata menurun yang memegang tali kekang dengan satu tangan sambil menghunus pedang. Pria yang membeli salep yang disamarkan sebagai lemon balm.

Rollo melirik ke arahnya sekilas, mencengkeram kerah baju si pria berjanggut, dan melemparnya dari kuda. Pria itu menjerit saat bergulingan di atas tanah. Rollo tidak membunuhnya. Tidak ada kebutuhan untuk membunuhnya.

──Apakah benar begitu?

Rollo menggenggam tali kekang kuda yang direbutnya. Pastinya, ia memang tanpa sadar goyah saat kembali bertemu wajah yang dikenalnya.

──Apakah aku masih… takut membunuh orang?

Rollo menggertakkan giginya kesal dengan ketidakberdayaannya sendiri. Fakta bahwa ia berhasil menjatuhkan musuh walau ragu-ragu, hanyalah keberuntungan semata. Kalau saja lawannya tidak seberapa tangguh itu masih mending, tapi dalam pertempuran, keraguan sesaat seperti itu bisa berakibat fatal──.

Tiba-tiba, Rollo merasakan hawa mengerikan yang membuat bulu kuduknya merinding, dan ia pun mendongak.

Pandangannya ke arah tangannya yang menggenggam tali kekang menjadi redup. Bercampur dengan hujan, pasir berjatuhan dari atas kepalanya. Hawa itu tidak berasal dari depan, kiri, atau kanannya. Melainkan dari atas. Ketika Rollo menoleh ke atas, seekor ikan raksasa dengan mulut menganga lebar meloncat ke arahnya.

"Ukh…!?"

Titik jatuhnya tepat di punggung Rollo──. Rollo dengan cepat menarik tali kekang, dan membuat kudanya bergeser ke samping. Ikan yang kepalanya membentur tanah itu hancur dan meledak menjadi tumpukan pasir.

──Datang. Sorcerers.

Rollo menoleh ke belakang. Dua ekor kuda dan sebuah kereta kuda telah menyusul kavaleri di belakangnya.

Jubah putih menyembul dari kegelapan malam. Orang yang menunggang kuda itu adalah pria berkepala plontos. Dan pria berambut pendek merah yang juga memakai jubah putih serupa. Pastilah mereka tiga Sorcerers yang ditemui kakeknya di Kastil Campusfellow. Namun pria berkepala plontos itu ternyata tidak seberotot yang diceritakan──. Dan satu lagi, wanita berambut hitam panjang duduk di tepi bak kereta kuda di belakang mereka.

Rollo menendang perut kudanya dengan sanggurdi, memacu kecepatannya.

"Witches-sama…!!"

Di gerobak yang dituju panggilannya, Teresalisa yang mengenakan tudung berdiri dengan jubah cokelatnya yang berkibar. Ia menyipitkan mata merahnya menatap para Sorcerers yang muncul, lalu mengeluarkan cermin tangannya dari balik jubahnya.

4

Asalkan kau seorang laki-laki, itulah yang selalu dikatakan orang-orang selama ini.

Victoria Riga yang lahir di keluarga Kesatria, telah mengayunkan pedangnya sejak ia mulai mengerti apa-apa.

Melihat Victoria yang dengan cepat menunjukkan bakat luar biasa dan terus-menerus mengalahkan orang-orang dewasa, para Kesatria dari Keluarga Riga memujinya "Hebat sekali", "Luar biasa". Kemudian mereka akan mengelus kepala gadis kecil itu, tersenyum dengan raut kecewa dan bergumam, "Seandainya saja kau laki-laki."

Saat usianya mulai remaja, ia memaksa masuk ke sekolah Kesatria dan mengasah kemampuan berpedangnya. Tanpa ia sadari, tidak ada satupun laki-laki yang bisa mengalahkannya lagi. Bakat pedang yang tak tertandingi itu perlahan-lahan mengisolasinya dari orang-orang di sekitarnya.

Wanita yang terlalu kuat──keberadaannya adalah ancaman bagi para Kesatria yang sangat menghargai harga diri dan nama baik. Walaupun itu hanya sebuah permainan atau pertandingan latihan, Kesatria yang melindungi negara dan keluarga tidak boleh kalah dari seorang wanita. Karena pandangan itulah, orang-orang yang menantang Victoria yang tangguh perlahan-lahan menghilang. Kalah darinya adalah aib yang paling tidak bisa ditoleransi oleh para lelaki itu.

Meskipun begitu, Victoria tidak tahu cara menahan diri dan selalu menghancurkan lawannya tanpa ampun. Karena itu, para lelaki memperlakukannya bagaikan barang pecah belah. Teman-teman sekelas dan bahkan gurunya menjauhinya justru karena mereka mengakui bakatnya. Merasa seakan menang padahal tidak pernah bertarung, di tempat tanpa Victoria, mereka tidak mengayunkan pedang melainkan gosip. ──"Wanita yang tidak tahu tempat", "Padahal cantik tapi sayang sekali kelakuannya seperti itu", "Seandainya saja ia laki-laki".

Dirinya adalah perempuan. Hal itu diingatkan padanya sampai ia merasa muak. Walaupun ia memangkas pendek rambut pirangnya dan mengotori telapak tangannya dengan lepuhan darah, di mata mereka ia tetaplah perempuan. Benar-benar omong kosong. Victoria berpura-pura tidak mendengar gosip-gosip itu dan terus mengayunkan pedangnya sendirian. Apakah Kesatria benar-benar selemah itu? Karena terlalu peduli dengan reputasi dan pandangan orang, mereka menjadi takut pada perempuan dan tidak berani mendekatinya. Ternyata mereka selemah itu. Victoria kesepian. Terlalu kuat, membuatnya tak bisa didekati siapa pun.

──Kecuali satu orang bodoh.

Sesuai dengan ukuran tubuhnya, pedang Heartland Pablo dipenuhi kekuatan dan terkesan menakutkan. Sosok pria raksasa yang dikenal dengan kekuatan lengan besarnya itu harus bertekuk lutut di hadapan pedang Victoria, seorang wanita, adalah pemandangan yang menyedihkan, kikuk, dan tak tertahankan untuk dilihat. Meskipun begitu, setiap hari tanpa kenal lelah Heartland terus menantangnya bertarung latihan.

Suatu hari, setelah kembali mengalahkannya hingga babak belur seperti biasa, Victoria bertanya pada Heartland yang terkapar di tanah.

"Kenapa kau selalu saja datang menantangku setiap hari tanpa henti? Apa kau bodoh?"

Ditambah lagi, Keluarga Pablo adalah keluarga Kesatria yang prestisius. Jabatan Komandan <Kesatria Iron Flame> yang dinaungi oleh Campusfellow pun selalu diwariskan dalam Keluarga Pablo secara turun-temurun.

"Kau juga suatu saat nanti akan menjadi Komandan, kan? Terus-menerus kalah dari wanita dari Keluarga Riga, tidak ada aib yang lebih memalukan dari ini. Apa kau berniat menodai nama baik keluargamu?"

"…Justru karena aku tidak ingin menodainya, aku menantangmu. Belajar dari yang terkuat. Aku tidak pernah ragu tentang hal itu."

Heartland bangkit duduk sambil mengusap bagian belakang kepalanya yang benjol dan bengkak.

"Biarkan saja orang-orang yang ingin menertawakan. Tapi, sangatlah lucu karena tidak ada satu pun dari mereka yang bisa mengalahkanmu."

"…………"

Lucu. Benar juga. Kesatria selain pria ini sangat lucu. Victoria tertawa.

"…Kau tidak berbakat menggunakan pedang. Terlalu banyak menggunakan tenaga untuk mengayun-ayun besar. Kalau mau mahir, pakailah tombak."

"…Tidak berbakat!?"

Beberapa tahun kemudian, seperti para putra sulung Keluarga Pablo sebelumnya, Heartland diangkat menjadi Komandan <Kesatria Iron Flame>. Di pesta perayaan pengangkatannya, dengan ekspresi serius ia berkata pada Victoria.

"Aku merasa, kaulah yang sebenarnya paling pantas menjadi Komandan."

"Jangan bicara omong kosong," jawab Victoria. Kau yang penuh wibawa lah yang seharusnya mendudukinya.

"Lagi pula, aku sangat kecewa dengan yang namanya Kesatria. Aku tidak tertarik pada Kesatria mana pun selain dirimu."

──Tapi kalau itu demi Kesatria yang kau cintai, aku tak keberatan mewarisinya.

"Sekarang, rem!"

Victoria berteriak pada kusir di belakangnya. Di waktu yang sama, dengan cepat ia mencabut pedang dari sarung di pinggangnya.

Victoria selalu membawa dua sarung pedang di pinggangnya, tapi salah satunya selalu kosong. Sarung bagian bawah yang ia pakai untuk menyimpan pedang, sementara bagian dalam sarung bagian atas diolesi minyak. Akar pedang yang baru dicabutnya dari sana ia tempelkan pada pelindung tangannya yang terbuat dari logam.

Lalu dalam satu hentakan yang kuat, ia menarik pedangnya. Bilah bergerigi yang basah oleh minyak itu bergesekan dengan pelindung tangan logamnya, menghasilkan decitan dan memercikkan bunga api. Detik itu juga, pedang tersebut meledak dan terbakar dengan dahsyat, menerangi sekelilingnya dengan terang benderang.

Nama dari senjata transformasi itu adalah── "Fire Hedgehog".

Membawa nama yang sama dengan panji <Kesatria Iron Flame>, pedang yang bilahnya diselimuti kobaran api.

"…Apa!? Apa──"

Api ditebaskan dari atas kepala tiga prajurit Amelia yang sedang terhuyung-huyung karena kusir tiba-tiba mengerem mendadak.

Di saat bahu mereka ditebas belah api berkobar dengan ganas, diikuti oleh lengan yang terpotong dan langsung dilahap api. Di tengah jeritan ketakutan orang-orang yang meringkuk di bak gerobak, Victoria menebas mati ketiga prajurit tersebut, lalu berlari menuju bagian belakang gerobak.

Akibat kereta kuda terdepan yang direm, jarak antar gerobak dalam iring-iringan itu memendek. Gerobak kedua pun semakin dekat. Kuda dari gerobak itu terpaksa berbelok menghindar agar tak menabrak gerobak di depannya. Victoria menjejakkan kakinya di pinggir bak gerobak dan melompat ke kursi kusir gerobak kedua yang sedang melaju.

Mengayunkan pedangnya yang apinya masih bergoyang, ia memenggal leher prajurit Kesatria Amelia yang berdiri di bak gerobak dari atas kursi kusir. Sambil berlari melewati gerobak yang berguncang itu, ia membakar satu demi satu Kesatria putih yang ada, lalu melompat ke gerobak berikutnya.

Api yang menyala terang itu menerangi iring-iringan kereta kuda yang berjalan di tengah kegelapan dengan sangat jelas.

Sambil berlari menuju gerobak keempat, Victoria berseru lantang.

"Saatnya membalas, Kesatria Iron Flame! Tinggalkan kuda kalian dan melompatlah ke gerobak!"

"Yaaa!"

Ketiga Kesatria juga merespons teriakannya. Mengurungkan niat untuk menghalangi kavaleri musuh mendekati gerobak, masing-masing melompat ke gerobak dan mengeluarkan "Senjata Transformasi" mereka.

Senjata-senjata Campusfellow memiliki ciri khas yang sangat menonjol. Salah satu Kesatria mengayunkan pedang daging sapi besar yang bilahnya diukir dengan tiga alur. Tujuannya adalah untuk mengunci pedang musuh yang ditangkisnya. Ia tidak memberikan ampunan sama sekali saat mendaratkan hantaman keras ke kepala prajurit Amelia yang tak lagi memegang senjata.

Lalu ada lagi pedang yang bilahnya berlapis dua yang digunakan oleh Kesatria lain. Pedang besar yang bentuknya tidak biasa ini bisa dibelah dua menyesuaikan kondisi pertempuran, menjadi dua buah pedang satu tangan. Dan pedang yang digunakan oleh Kesatria yang satu lagi, memiliki anak panah tersembunyi di dalamnya. Dari atas gerobak, ia membidik dan menembakkan panahnya ke kavaleri Amelia yang berlari di sebelah mereka.

Di gerobak kelima, demi melindungi Delirium yang sedang tertidur lelap, Perdana Menteri Brasserie sedang berhadapan dengan dua prajurit Kesatria Amelia. Mereka saling berjaga jarak dan mengarahkan ujung pedang satu sama lain.

"Berhenti di situ demi kebaikanmu sendiri. Kecuali kalau kau mau jadi mangsa 'Viper Bite' ini!"

Pedang yang dibawa Brasserie memiliki ujung setajam jarum, yang memang diciptakan khusus untuk gerakan menusuk. Meskipun kelihatannya pedang itu tidak akan bisa memberikan kerusakan yang signifikan, nama yang diteriakkan Brasserie cukup untuk membuat Kesatria Amelia ragu-ragu untuk melangkah maju.

Gigitan ular berbisa──Pedang yang dihiasi dekorasi ular berbisa yang memamerkan taring di pelindung tangannya itu, sekilas tampak seolah dilapisi oleh racun yang mematikan. Meski dua orang sekaligus dapat dengan mudah menebas Brasserie, namun jika sedikit saja bilah pedang itu menyerempet, nyawa mereka bisa melayang──pemikiran itulah yang membuat mereka tidak berani maju sembarangan.

Brasserie menyeringai tanpa rasa takut. Pedang ini, jika ditekankan untuk menusuk, bilahnya dapat memanjang dan mempercepat laju tebasan. Memang benar pedang ini dirancang untuk menusuk, tapi trik utamanya ada pada namanya. Jika ada senjata yang menggunakan racun, akan lebih baik untuk tidak memberikan informasi apa-apa agar bisa lebih mudah mengenai lawan. Pedang ini tidak beracun. Hanya sebuah pedang yang memanjang yang dibuat terlihat berbahaya.

Saat Kesatria Amelia ragu-ragu untuk menyerang, dari balik punggung mereka, muncul dua prajurit berkuda dari dua sisi iring-iringan. Mereka adalah dua Kesatria yang bertugas mengawasi menara lonceng, yang telah berlari melewati Rollo yang menjaga barisan paling belakang. Keduanya telah menyiapkan senjata transformasinya.

Kesatria yang datang dari sisi kanan iring-iringan, mengembangkan seluruh bilahnya yang sebelumnya terlipat tiga, membentuk sebilah pedang panjang. Sedangkan dari sisi yang berlawanan──sisi kiri iring-iringan, Kesatria lain memanjangkan gagang pedangnya, mengubahnya menjadi tombak. Keduanya adalah senjata jarak jauh yang sangat menguntungkan bila digunakan di atas kuda.

Dua Kesatria Amelia yang berhadapan dengan Brasserie di atas gerobak berbalik menoleh saat mendengar langkah kuda yang mendekat──tetapi saat itu juga, leher mereka dipenggal secara bersamaan oleh senjata transformasi Kesatria Iron Flame yang menyerbu dari arah kiri dan kanan.

Darah segar memercik, dan Brasserie menutup matanya. Sambil mengusap wajahnya, ia melepaskan napas lega.

"Datangnya telat sekali… dasar."

Saat merasakan panas dari arah belakang, ia menoleh, dan melihat Victoria sedang mengayunkan pedang apinya di gerobak keempat, menebas jatuh Kesatria Amelia terakhir yang tersisa di sana.

Dua Kesatria berkuda tadi melewati gerobak itu dari sisi kiri dan kanan dengan memegang senjata transformasi mereka. Keduanya sedang dalam perjalanan ke depan barisan untuk membantu dua prajurit yang bertarung memandu jalannya gerobak.

yang menembus hutan yang gelap, kini diterangi oleh nyala api terang yang diciptakan Victoria.

5

──Seorang pembunuh bayaran lahir dari ratapan kepedihan.

Teresalisa mengingat kembali moto Keluarga Duvel yang pernah Rollo ucapkan kepadanya. Semakin banyak pengalaman sedih dan menyakitkan yang dialami seseorang, semakin kuat pula orang itu jadinya. Kemarahan dan dorongan hati akan menjadi sumber kekuatan. Begitu ya, sepertinya itu memang benar.

"…Kalau begitu, kita berdua mungkin cukup kuat ya, 'April'."

Teresalisa melepaskan tudungnya sambil mengawasi arah belakang dari kereta kuda yang melaju kencang. Rambut panjangnya menari-nari tertiup angin.

Di ujung pandangannya, terdapat Rollo.

Ia sedang menunggang kuda dan berlari ke arah kereta kuda ini, yaitu barisan paling belakang.

Dan di belakangnya, Kesatria Amelia sedang mengejarnya. Prajurit kavaleri Amelia dengan gigih terus mengejar kelompok Campusfellow yang telah memasuki .

Para Sorcerers melaju di tengah jalan seolah memimpin kavaleri. Pria berkepala plontos dan pria berambut merah menunggangi kuda di barisan depan, sementara wanita berambut panjang hitam duduk di tepi kereta kuda di belakang mereka. Jumlah Sorcerers ada tiga orang──bukan.

"…Ada empat ya."

Teresalisa mengibaskan cermin tangannya.

──"Cermin, oh cermin" (Mirror, mirror).

Cairan perak yang memancar dari permukaan cermin, seketika berubah bentuk menjadi sosok manusia. Lengan dan kaki yang lentur nan jenjang, serta perut ramping dengan dada yang proporsional. Seluruh tubuh wanita telanjang berwarna perak itu adalah April. Di kedua tangannya, ia memegang sebuah sabit besar. Lengkung sabit perak itu dihiasi relief sulur dan daun yang rumit. Mengkilap berwarna perak seperti kulit April, itu adalah sabit yang sama dengan yang biasa digunakan Teresalisa.

April, melompat dari gerobak dan terbang tepat ke atas kepala Rollo yang sedang berlari di belakang mereka. Di udara, ia menjulurkan salah satu lengannya layaknya sebuah tentakel, melingkari pinggang Rollo.

"Uwoh…"

Sambil mencengkeram erat badan Rollo dengan tentakelnya, April mendarat di atas pantat kuda Rollo dengan menekuk kedua lututnya. Dari gerobak, Teresalisa berseru.

"Akan kuberi pelajaran tambahan khusus untukmu, Black Dog. Kelas sihir bagian kedua."

Sorcerers plontos meraung keras ke arah langit malam, mungkin karena merasa waspada terhadap kedatangan April.

"Ngoooooooooo…!!"

Lalu, otot dada dan kedua lengannya membesar dengan cepat. Penampilan aneh yang sangat kentara. Itu adalah sihir.

"Kalau dia, hanya dengan melihat sekilas sudah bisa diketahui kan apa tipenya. Enam tipe itu, masih ingat?"

"Otot dada dan lengan… khususnya lengannya ya. Memperkuat otot dengan energi sihir…"

Rollo mendongak dan berteriak ke arah gerobak agar suaranya tak tertelan oleh suara derap kaki kuda.

"Apakah dia Sorcerers Enhancement-type!"

"Tepat sekali! Itu adalah sihir penguat serangan yang sangat klasik. Dengan lengan yang membesar seperti itu, sudah pasti dia akan meninju kita. Genggamannya juga pasti sangat kuat, dan rasanya mustahil bisa lepas kalau sampai tercengkeram."

"Berarti aku hanya perlu bertarung tanpa sampai tertangkap, kan!"

"Maksudku, kalau musuhnya adalah Enhancement-type──"

Teresalisa yang berdiri di atas gerobak mengayunkan tangannya dengan kuat ke arah samping.

Menanggapi gerakannya, April yang bergantung pada Rollo, memutar sabit besarnya dengan cepat dari posisi tersebut. Lengan April dan sabit besarnya terbentuk dari pengerasan cairan peraknya. Meski memiliki bentuk seperti sabit, ia bisa memanjang jauh layaknya cambuk, menyambar kaki depan kuda yang dinaiki si plontos dan──memotongnya.

"──Jangan sampai kau mendekatinya. Itu adalah solusi yang terbaik."

"Hee…!"

Rollo membulatkan matanya.

Kuda yang kehilangan kaki depannya pun tersungkur ke depan dan jatuh. Secara otomatis, Sorcerers plontos itu pun ikut terjatuh, berguling-guling di tanah sambil meraung keras──"Ngoooooooooo…!!"

Sorcerers berambut merah yang memacu kudanya mendekati bagian belakang Rollo, menjentikkan jarinya.

Terdengar bunyi 'Klik' saat ia mengacungkan jarinya ke arah April yang menempel pada punggung Rollo. Sedetik kemudian, sebuah bola api meletus dari ujung jarinya. Wajah Rollo langsung pucat, 'Gawat,' pikirnya. Jika mengingat cerita dari Perdana Menteri Brasserie, itu pastilah Sorcerers yang telah membakar kakeknya. Bola api yang ditembakkan itu akan terus mengejar targetnya.

"Witches-sama, dia itu…!"

Sorcerers menjentikkan jarinya sekali lagi. Bola api kedua meletus dari ujung jarinya.

Bola api yang melesat di udara bagaikan bintang jatuh itu mulai mendekati belakang kuda yang dikendarai Rollo. Namun sebelum bola api tersebut mencapai mereka, April melompat turun dari punggung Rollo. Memantul dari tanah dua, tiga kali, dan langsung menyerang Sorcerers berambut merah itu.

Dua bola api yang terlempar secara tak wajar melengkung dengan sudut yang tak masuk akal, mengejar sosok April.

"Bagi kami para penyihir, kami bisa melihat aliran energi sihir. Tapi bagi kalian, itu tidak terlihat. Itulah mengapa hal tersebut tampak membingungkan bagimu. Sama halnya seperti kakekmu yang secara sengaja menggunakan senjata tersembunyi untuk mengelabui musuhnya. Alasan utama mengapa ini terlihat menakutkan adalah karena ketidaktahuan kalian terhadap hal-hal yang tidak kasat mata──"

Di atas gerobak, Teresalisa menjelaskan kepada Rollo sembari mengendalikan April.

"Dia adalah Sorcerers Transformation-type. Dia mengubah energi sihirnya menjadi tali panjang lalu menembakkannya, menempelkan ujung tali tersebut ke targetnya. Lalu dia menjentikkan jarinya, membakar tali energi sihirnya itu. Jadi, itu hanya tampak seolah-olah bola api!"

April telah melompat tepat di atas kepala Sorcerers berambut merah itu. Mengejar April, kedua bola api itu pun membubung tinggi, mengenai tubuh telanjang perak yang sedang mengayunkan sabit besar tersebut.

"Bola api itu menjalar mengikuti talinya dan otomatis akan mencapai sasarannya. Makanya serangan itu selalu tepat sasaran. Tapi kalau sudah tahu rahasianya, serangannya sama sekali tidak menakutkan, kan? Cukup putuskan saja tali energi sihirnya. Walau kalau yang disasar adalah April, tidak perlu sampai seperti itu, sih."

Seketika setelah terkena tembakan bola api, tubuh April terbakar, namun api tersebut segera padam dalam sekejap.

"Konyol sekali. Api tidak akan mempan pada April yang terlahir dari cermin, tahu."

Teresalisa menunjukkan taring gingsulnya yang tajam.

April, yang berputar seperti gasing di atas kepala pria berambut merah itu, mengayunkan sabit besarnya dengan indah seolah sedang menari. Bilah sabitnya yang tajam dengan cepat memenggal kepala pria berambut merah itu.

Mendarat di atas kuda milik pria berambut merah itu, April menendang jatuh mayat tanpa kepalanya lalu merebut kudanya.

"Sihir itu tak bedanya seperti senjata tersembunyi. Kalau kamu tahu triknya, tidak akan menjadi masalah."

"…Ini jadi pelajaran berharga."

"Sebenarnya kamu cukup beruntung. Sepertinya para Sorcerers itu tidak terbiasa dalam pertempuran kejar-kejaran. Padahal kalau mereka mau memanfaatkan keuntungan lingkungan mereka, pasti akan ada cara yang jauh lebih efektif untuk menggunakan sihir mereka."

Zazazaza──Rollo menyadari adanya pasir yang mulai berkumpul di dekat kaki kuda yang sedang ditungganginya. Tanah di sekitarnya seakan-akan bergerak menyerupai riakan air. Ia segera menarik tali kekang, lalu mengubah arah gerak kudanya ke samping. Segera setelahnya, ikan raksasa yang terbuat dari pasir melompat keluar dengan cipratan dari tempat kudanya berpijak tadi──.

"Summon-type!"

"Salah. Energi sihir Magical Beast akan terasa jauh lebih brutal. Ini adalah Spirit (Seirei)──hanya kumpulan dari beberapa gundukan pasir."

Ikan yang gagal menerkam Rollo, kembali menyelam masuk ke dalam tanah dan menghilang di dalamnya. Namun, tanda-tanda ikan itu akan segera muncul kembali semakin terasa.

"Lalu, kalau begitu Manipulation-type!? Wanita berambut hitam itu pastilah perapalnya. Aku harus segera mengalahkannya──"

"Itu juga salah. Biasanya, penyihir Manipulation-type atau Summon-type tidak akan berani terang-terangan muncul di depan musuhnya. Karena sudah pasti perapalnya akan langsung diincar. Tapi umumnya, jangkauan para Sorcerers untuk mengendalikan 'Spirit (Seirei)'-nya ternyata tidak terlalu luas. Kau harus melihat targetnya secara langsung untuk bisa mengendalikannya. Itulah mengapa biasanya mereka berada di sekitar sini. Contohnya... menyamar di antara prajurit kavaleri──"

Teresalisa melempar pandangannya ke arah para prajurit kavaleri yang mengejar sambil memegang obor.

"──Tapi, memanipulasi Spirit (Seirei) sambil tetap menahan energi sihir agar keberadaannya tak terdeteksi itu, hal yang sangat sulit lho."

Ikan pasir kembali melompat besar di hadapan Rollo. Mulut besarnya menganga lebar mengarah tepat ke atas gerobak yang dinaiki Teresalisa. Inedit, Kona, dan orang-orang yang meringkuk di atas gerobak langsung menjerit ngeri.

"──Yang amatiran akan langsung ketahuan."

Teresalisa memakai tudungnya.

Ia kemudian mengulurkan lengannya ke depan. Pada saat yang sama, April yang menunggang kuda menjulurkan lengan peraknya. Lengan yang memanjang itu menusuk tepat ke jantung kusir kereta kuda dari arah gerobak wanita berambut hitam itu berada. Kusir itu mengerang menahan rasa sakit, lalu tersungkur membungkuk ke depan. Detik berikutnya, kehilangan si perapal, ikan pasir itu pun langsung hancur meledak di udara, di atas gerobak.

Hujan pasir menghujani seluruh gerobak, membuat orang-orang yang terkena percikan pasir itu kembali menjerit.

Wanita berambut hitam yang berdiri tegak di atas gerobak, meneriaki semua orang di sekitarnya. Tunjukannya diarahkan tepat pada Teresalisa.

"Cepat, tangkap dia! Dia itu Witches yang menakutkan! Bencana! Hanya dengan keberadaannya saja dia adalah entitas jahat yang akan mengacaukan dunia. Dia tak boleh dibiarkan hidup!"

"Seenaknya saja kalau bicara…"

Teresalisa melepaskan tudungnya lagi. Pasir yang menempel langsung berguguran darinya.

"Perlindungan Lucy-sama akan selalu menyertai kalian semua. Sekarang, sesuai dengan kehendak Sang Naga! Buktikanlah keberanian kalian, prajurit Amelia, kepada Lucy-sama…!"

Para prajurit Amelia di atas kuda langsung melempar obor mereka lalu menghunus pedangnya usai disemangati oleh Sorcerers itu. Mengiringi teriakan penuh gairah, mereka mempercepat laju kuda dan langsung menyerbu ke deretan gerobak Campusfellow.

Teresalisa mengulurkan kedua lengannya ke depan. Sambil melengkungkan jemarinya, ia mengendalikan April yang ada di atas kudanya. Seiring dengan Teresalisa yang mengayunkan tangannya, April yang melompat itu langsung menebaskan sabit besarnya dan menyerang prajurit kavaleri Amelia.

Rollo, yang ada di posisi mengejar dari barisan paling belakang, juga memegang pisau belatinya.

"…Ngomong-ngomong. Meskipun Witches-sama bertipe pengendali (Manipulation-type), Anda tak bersembunyi ya."

Sambil memegang tali kekang kudanya, Rollo mencoba menanyakan pertanyaan yang seketika melintas di benaknya pada Teresalisa.

Saat bertarung bersama di Kastil Lowestein, Teresalisa bertarung langsung sambil memegang sabit besar April. Padahal ia berkata bahwa sudah lazim bagi perapal tipe pengendali (Manipulation-type) untuk bersembunyi dan membiarkan Spirit (Seirei)-nya yang bertarung.

"April itu adalah 'Teman' yang selalu bersamaku sejak aku masih kecil. Tak ada lagi sensasi menggunakan sesuatu, kan."

Di masa lalu saat menjadi (Drifter), Teresalisa, yang tak memiliki teman, membuat teman berbincangnya sendiri melalui cermin tangannya. Ia adalah teman imajiner yang diberikan nama aslinya, Teresalisa. Dialah "April".

"Lagi pula, aku kan bukan Sorcerers, jadi aku tak pernah pergi ke biara sekalipun. Cara bertarungku hanya aku pelajari secara otodidak, tahu."

Teresalisa menjawab sambil menatap April yang sedang bertarung di baris depan tanpa mengalihkan pandangannya, seakan mengarahkannya dengan hati-hati. Ia mengangkat dan menurunkan lengannya, memutar jarinya, lalu membuat gerakan melompat. Ia bagaikan seorang konduktor orkestra.

April, yang menanggapi keinginan Teresalisa, tanpa henti menjatuhkan musuh-musuhnya dari atas kuda.

"…Aku mengerti."

Inilah cara bertarung yang sesungguhnya dari tipe pengendali (Manipulation-type), yang biasanya mengandalkan pertarungan jarak jauh.

Beberapa prajurit kavaleri yang berhasil menghindari serangan gencar April mulai mendekati bagian belakang gerobak. Rollo segera memperlambat laju kudanya untuk mencegat mereka. Menahan sabetan pedang yang diayunkan kavaleri yang sejajar dengannya menggunakan pisau belatinya, ia merampas pedang tersebut.

Dengan pedang rampasannya, Rollo segera menyerang sisa kavaleri. Tiap ia bergerak, bahu kanannya dan tulang rusuknya yang retak terasa nyeri, namun saat ia melihat ke arah April dengan ujung matanya, tubuhnya berdesir seketika. Si wanita telanjang berwarna perak itu ibarat akrobatik yang cantik. Berlompat dari satu kuda ke kuda lainnya, kemudian mengayunkan sabit besarnya untuk memenggal kepala musuhnya dengan anggun.

──Aku tidak boleh kalah.

Rollo juga melompat-lompat dari satu kuda ke kuda lainnya, mengurangi jumlah prajurit kavaleri.

"Apa yang kalian lakukan, kalian ini tak berguna. Benar-benar sangat tak berguna!!"

Sambil mengacak-acak rambut hitam panjangnya, Sorcerers yang berada di gerobak itu jelas-jelas terlihat panik.

Rollo mendarat di atas gerobak tempat Sorcerers itu berada, dan menodongkan pedangnya untuk menahan pergerakan Sorcerers itu. Sorcerers itu tidak memegang apa pun di tangannya. Justru, ia terlihat sangat ketakutan melihat pendekatan Rollo dan menjaga jarak hingga ke tepi gerobak. Jika Rollo menyerangnya sekarang, ia bisa langsung mengalahkannya, namun lawannya adalah seorang Sorcerers, jadi melompat asal-asalan saja sama sekali bukan pilihan.

"Sihir seorang Sorcerers itu tak jauh beda layaknya senjata tersembunyi"──ia teringat pada kata-kata Teresalisa.

Kalau begitu, tipe sihir apakah yang digunakan oleh Sorcerers yang ada di depannya ini?

"…Kalau dilihat dari betapa enggannya ia mendekat, mungkin ia bukan Enhancement-type…?"

Di belakang Rollo, April pun mendarat.

"Benar. Tapi jika mendengarkan kisah dari Perdana Menteri sebelumnya, kurasa orang ini adalah tipe penginvasi (Invasion-type)."

"Tipe Penginvasi (Invasion-type)… itu tipe yang belum Anda jelaskan, ah, ehh?"

Rollo menoleh, lalu menelan ludah karena terkejut.

Suara yang didengarnya memang suara Teresalisa, tapi yang berdiri di belakangnya adalah April. Di atas kepala perak mulusnya terbentuk sebuah mulut, dan suara itu keluar dari sana.

"Kaget aku… Kamu bisa berbicara ya rupanya."

"Biasa aja. Lagian aku cuman bikin telinga, mulut, sama tenggorokan."

April meletakkan tangan di pinggangnya dan menjawabnya dengan sedikit malas.

"Tipe penginvasi akan mencampuri pikiran targetnya melalui kelima indra. Mereka sangat menyukai gaya pertarungan yang merayap diam-diam dengan pendekatan berlika-liku. Misalnya dengan menyebarkan kabut energi sihir, atau mencampurnya ke makanan. Jadi kalau sampai dia maju ke garis depan seperti ini dan kalau memang dia bertipe penginvasi, bisa dikatakan dia orang yang bodoh."

Sorcerers berambut hitam panjang menatap keduanya dari sela-sela rambut poninya dengan mata yang terbuka lebar.

"Karena perapalnya kebanyakan bermain diam-diam dan misterius, sepertinya tipe ini paling tidak disukai oleh Sorcerers lain, kan?"

Mengeretakkan gigi-giginya, lawan itu menerjang Rollo dengan kuku-kukunya yang tajam.

"Kiiiiiiiiihh…!!"

"Jangan, kau tak boleh menyentuhnya... Ah, mau coba sekali?"

"Eh..."

Lengan Rollo yang sudah menyiapkan pedangnya untuk menangkis, tiba-tiba dihentikan oleh genggaman April.

Karena ragu-ragu, Sorcerers yang jauh lebih pendek dari Rollo itu langsung menubruk dada Rollo. Segera setelah dia merangkulkan kedua tangannya ke punggung Rollo. Langit malam yang tadinya kelabu mendadak memancarkan cahaya, dan semuanya berubah menjadi merah darah.

Ngiing, suara nyaring terdengar di telinganya membuat wajahnya berkerut. Mual yang mendadak menyerang membuat ia memegangi mulutnya.

Kereta yang terus bergoyang ini membuat kakinya tak stabil. Rasanya seakan-akan ia berada di alam mimpi.

Para serdadu Amelia di sebelah kereta kuda yang menunggangi kuda, semua terdiam menatapnya.

Di wajah mereka terdapat sebuah lubang yang sangat besar, dan hutan yang sedang berlalu dapat terlihat menembus melalui lubang itu.

Semua orang menatap Rollo tanpa sepatah kata pun. Bahkan lubang yang sama terdapat pada wajah April yang berdiri di sebelahnya.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Wanita si Sorcerers yang masih memeluk Rollo perlahan menengadahkan wajahnya.

Wajah wanita itu juga memiliki lubang besar, dengan juntaian rambut hitam yang terlihat menutupi kepalanya.

Rollo merinding. Wanita itu menusukkan kuku-kukunya pada telinga Rollo, menarik tubuhnya lebih dekat.

Lubang di wajahnya pelan-pelan didekatkan ke depan hidung Rollo.

Terasa seakan akan tertelan dalam lubang itu, Rollo mengeluarkan jeritan kecil──lalu tiba-tiba.

Pats mimpi buruk itu pun seketika berakhir. Menangkup wajah Rollo dengan kedua tangannya dan mengintip wajahnya dari jarak dekat adalah Teresalisa. Dia melepaskan tangannya dan menyipitkan mata merahnya, lalu tersenyum licik.

"…Eh? Witches-sama?"

"Bagaimana? Tadi diperlihatkan apa?"

"…Orang-orang bolong."

"Apaan tuh, serrrem."

Teresalisa membalikkan badannya. Langit telah berubah kembali menjadi kelabu pekat yang tertutup awan dari warna merah tadi. Di sini, di atas kereta yang sedang berlaju kencang menyusuri jalanan, Rollo telah kembali. Sama halnya dengan para serdadu Amelia yang berlari bersebelahan. Tak ada lubang pada wajah mereka.

"…Apakah tadi saya… diperlihatkan sebuah mimpi?"

"Mungkin saja mimpi, mungkin saja halusinasi, tapi tentu saja bukan sesuatu yang nyata."

"Mundur... Mundur!"

Pria yang tampaknya kapten berteriak, dan mereka pun memperlambat kecepatan kuda mereka.

Tiba-tiba Rollo melihat sekeliling bak kereta, dan kembali mengacungkan pedangnya.

"Sorcerers-nya tidak ada. Apakah ia melarikan diri...?"

"Aku telah menjatuhkannya." Teresalisa menunjuk ujung bak kereta yang ternyata sudah retak dan hancur berantakan.

"Untuk menghadapi sihir bertipe penginvasi, strategi utamanya adalah bertarung dengan banyak orang. Kalau saja yang diserang sihirnya itu aku, sudah pasti tamat karena tak ada lagi yang bisa mematahkan sihirnya."

"…Begitu rupanya. Ah, jangan-jangan saya tadi dijadikan sebagai umpan?"

"Benar sekali. Kamu sudah merasakan keempat tipe sihir ya sekarang. Kalau sudah kenal sama sihir, nggak ada yang perlu ditakutkan lagi, kan? Sihir itu ternyata biasa aja."

"Tentu saja... Dibandingkan Sorcerers yang mengejar kita, Andalah yang paling menakutkan, Witches-sama."

"Hei. Kenapa kamu malah melupakan janjimu yang tak akan menakutiku saat di depan tempat persembunyian tadi."

Menatap sinis ke arah Rollo seolah mengkritiknya, seluruh badan Teresalisa seketika berubah menjadi warna perak.

"…Eh!"

"Karena aku udah ajarin soal sihir, janji traktir canelé sepuasnya harus ditepati ya!"

Setelah berkata begitu, sosok Teresalisa perak langsung berubah menjadi cairan, hancur berantakan di lantai dan menghilang dari pandangan.

Ternyata sosok itu hanyalah hasil transformasi April. Saat Rollo menoleh ke arah barisan kereta terakhir, Teresalisa yang sesungguhnya tengah berdiri di sana. Ternyata, sedari awal ia tak melangkah sedikitpun dari sana dan berhasil mengalahkan keempat Sorcerers dari jarak tersebut.

Bertekad untuk kembali bergabung dengan barisan di depannya, Rollo melempar pedangnya dan berniat merampas kuda yang menarik kereta itu.

──Pada saat itu. Salah satu serdadu Amelia yang melompat ke atas kereta bergegas datang dan menebas punggung Rollo dengan pedang di tangannya. Tepat sebelum tebasan itu mengenainya, Rollo yang menyadari keberadaannya langsung berbalik.

Kecurigaan muncul karena ia tak punya senjata lagi, ia tak sanggup menahan ayunan pedang itu. Tepat di saat itu, Rollo mencoba menahan gagang pedangnya, tetapi karena tak sebanding dengan tenaga ayunannya, ia terdorong jatuh di atas papan kereta.

"Hah, hah, hah...!"

Di depan wajah Rollo, serdadu itu tampak terengah-engah. Seorang prajurit berkulit putih, berambut pirang dengan sudut matanya yang menukik ke bawah. Serdadu yang membeli salep lemon balm abal-abalan yang ditawarkan Rollo──pria yang mengatakan bahwa ia telah meninggalkan istri tercintanya di kampung halamannya.

Kerutan tajam muncul di dahi pria itu. Matanya merah padam karena amarah, melotot tajam pada Rollo yang telah berhasil ditundukkannya. Tapi tak lama kemudian, dari lubang hidung dan mulutnya menetes darah merah kental. Jarak antar tarikan napasnya menjadi semakin panjang, dan perlahan raut mukanya menjadi hampa.

"Hah... hah... Hah..."

Tak lama setelah pria itu ambruk tak bertenaga, Rollo segera mendorong tubuhnya menjauh.

Pada bagian sisi perut pria itu, telah tertancap pisau belati yang ditusukkan oleh Rollo seketika saat ia terdorong jatuh tadi. Rollo pun bangun. Tangannya terasa lembap akibat lumuran darah, perasaan yang sangat tidak mengenakkan.

"Kamu tidak apa-apa...?"

Menyadari keanehan yang terjadi, Teresalisa memanggil Rollo dari atas kereta di depannya.

"Saya tidak apa-apa! Saya akan segera bergabung dengan kalian!"

Rollo membalas teriakan Teresalisa dengan nyaring, dan ia pun segera membersihkan telapak tangannya yang penuh darah di atas lantai kayu kereta.

Rombongan kereta kuda yang berhasil meloloskan diri dari sergapan prajurit kuda Amelia terus berpacu sepanjang malam melintasi yang diguyur hujan. Hingga keesokan harinya, menjelang petang, mereka akhirnya tiba di pos penjagaan <Winter Proof>.

Sesuai dengan perkataan kedua penjaga gerbang yang mendatangi Campusfellow, pos penjagaan yang diapit oleh tebing curam itu terhindar dari invasi tentara Amelia.

Di bawah komando Perdana Menteri Brasserie, kapal untuk berlayar menuju utara melalui segera dipersiapkan. Sebuah perahu sungai beratap panjang dengan bagian bawah lambung kapal yang dangkal. Rombongan yang awalnya menumpangi sembilan gerobak kereta kuda, kini beralih ke tiga buah perahu. Terhitung termasuk para penjaga pos, totalnya ada sekitar tujuh puluh satu orang.

Di bawah guyuran hujan yang dingin, mereka bergegas mempersiapkan diri. Senjata, pakaian untuk suhu ekstrem, hingga ransum perbekalan segera dimasukkan ke dalam perahu-perahu yang tertambat di tepi dermaga. Semuanya adalah pasokan perbekalan yang selalu tersimpan di pos.

Dari kedua pelayan wanita yang saling mengangkat sebuah peti kayu, Kona yang berjalan di depan seketika berhenti.

Inedit, yang berada di belakangnya pun tersandung.

"Hei! Jangan berhenti mendadak begitu, Kona!"

"Itu... Ada di sana lagi."

Mengikuti tatapan Kona, di tengah guyuran hujan, seekor burung gagak bertengger di atas tiang kayu dermaga.

"Maksudmu si gagak? Burung semacam itu kan di mana-mana juga ada. Masa kamu nggak pernah lihat?"

"Kemarin, sewaktu kita beristirahat beberapa kali di , dia juga selalu ada. Mata sebelahnya merah, jadi sangat gampang untuk dikenali. Mungkin dia mengikuti kita terus."

"Hah? Matanya merah?"

Inedit menajamkan pandangannya ke arah wajah burung gagak tersebut.

Memang benar apa yang dikatakan Kona, mata kanan burung gagak itu berkilau merah bagaikan permata rubi.

"…Benar juga ya. Menyeramkan... Pasti ini bukan pertanda kesialan, kan."

Inedit meletakkan peti kayu di atas dermaga, mengambil sebuah kerikil yang tersangkut di celah papan lantai, dan melemparnya ke arah burung gagak itu.

"Jangan, Inedit. Kasihan burungnya."

Tanpa mengindahkan teguran Kona, batu yang dilemparkan Inedit tepat mengenai dahi burung gagak itu.

"Kena!"

"Gaaaak...!!"

Burung gagak merentangkan sayapnya yang mengilap dan langsung terbang ke langit yang diguyur hujan.

6

"Aduh..."

Pemuda berkulit cokelat mengusap dahinya yang terbalut sorban.

Ia sepertinya berusia pertengahan remaja. Wajahnya yang masih tampak kekanak-kanakan berkerut tak suka.

"Ada sesuatu yang menarik, kah?"

Seorang wanita yang berdiri di sebelahnya bertanya dengan suara lembut. Ia juga berkulit kecokelatan.

"…Ah. Nama pelayan Campusfellow tadi sudah masuk dalam daftar yang akan kubunuh."

Pemuda itu merespons dengan penuh kebencian tanpa beranjak dari sofa panjangnya. Hanya mata sebelah kirinya yang bersinar merah kemilau.

Pemuda itu merupakan salah satu dari Sembilan Rasul, Apostle Ketiga: "Elementaler".

"Baru sadar. Aku suka yang badannya agak gendutan. Sosok yang bulat tanpa sudut tajam, ditambah dengan senyumannya yang ramah. Benar-benar sangat menenteramkan, orang yang sangat bisa disayangi. Dibanding dia, apaan sih pelayan berambut hitam yang congkak itu. Brengsek. Berani-beraninya melempariku batu..."

Saat pemuda itu membuka matanya yang sempat terpejam sejenak, cahaya merah pada irisnya kembali normal menjadi hitam seperti sedia kala.

"Tampaknya mereka menuju utara. Saat ini mereka ada di perbatasan dengan ."

"Ke ? Jauh sekali mereka melarikan diri."

Wanita tersebut masih berdiri sambil menyandarkan pinggangnya ke sandaran sofa panjang.

Meskipun kulitnya sama cokelatnya dengan sang pemuda, tudung kepala (wimple) dan jubah birawati (habit) yang membalut seluruh tubuhnya berwarna putih suci. Jubah birawati putih merupakan penanda bahwa ia adalah seorang pengajar di biara. Dia adalah Sorcerers yang ulung sekaligus Rasul Ketujuh: "Summoner".

Sebutah pedang berornamen indah menggantung di pinggangnya, sementara di dekat kakinya tergeletak sebuah peti mati beroda.

"…Kemungkinan besar, tujuan mereka ke utara adalah untuk memanfaatkan aliansi mereka."

Seorang pria yang usianya mendekati akhir dua puluhan turut menimpali percakapan keduanya. Sebuah topi bulu hewan berwarna hitam yang berkilau—sebuah topi yang tampak sangat berkualitas dan mahal—menutupi matanya. Walau wajahnya tak sepenuhnya terlihat, dari garis hidungnya yang mancung, pipinya yang tirus, serta rahangnya yang terbentuk rapi, bisa dipastikan bahwa ia memiliki paras yang tampan.

Tinggi, kurus, dengan lengan dan tungkai yang panjang, sambil membawa sebuah tongkat. Ia memancarkan aroma parfum manis dari rusa kasturi—musk. Rasul Kedelapan, "Fortune Teller", meneruskan kata-katanya.

"Berdasarkan kabar dari Kadipaten Lowe, kudengar Campusfellow bersekutu dengan para Versian. Tentu saja, untuk berperang dengan penuh semangat melawan kita, Kerajaan Amelia. Jadi sudah pasti mereka akan mencari perlindungan pada bangsa barbar tersebut. Coba ikuti mereka sedikit lebih jauh. Kebenarannya akan segera terungkap."

"Hah. Ogah, sudah selesai tugasku."

Elementaler bersandar lebih santai di sofa. Tangannya disilangkan di belakang kepala sebagai bantal, lalu ia menaikkan kakinya ke kursi di depannya. Tangan satunya digunakan untuk menarik syalnya hingga menutupi sebagian wajahnya.

"Aku benci cuaca dingin. Pengintaian selesai. Bangunkan aku kalau Lucy-sama sudah datang."

Ia menggosok hidungnya keras-keras, lalu menutup matanya.

"Hei, Pembuat Topi!" ──Fortune Teller memang biasa dipanggil "Pembuat Topi".

"Maukah kau menerima hadiah dari Puru?"

Seorang gadis berlari riang ke arah ketiga orang tersebut dengan senyum merekah. Ia memakai baju serba putih dengan rambut mengembang panjang. Rok pendek yang ia kenakan memiliki sedikit sentuhan warna merah. Usianya sekitar remaja, dan tak menggunakan alas kaki apapun. Di pundaknya, ia memikul sebuah karung yang cukup besar. Gadis itu lalu merogoh ke dalam karung di kakinya, mengeluarkan sebuah stoples seukuran telapak tangan, dan memberikannya pada sang Fortune Teller.

"Ini dia, lemon balm. Barang mewah yang langsung dipetik dari wilayah Elder, lho. Pembuat Topi suka pesta teh, kan? Tapi tadi aku sempat khawatir sih. Soalnya Pembuat Topi punya segalanya, aku pikir kamu mungkin juga udah punya ini."

"Terima kasih, Pulcinella. Aku memang hobi koleksi teh herbal dari seluruh dunia, tapi lemon balm pemberianmu yang satu ini tak ada duanya di muka bumi ini. Herbal istimewa ini, akan kuseduh di hari yang juga istimewa."

"Heheh! Syukurlah kalau kamu suka."

Pulcinella memberikan senyumannya yang sumringah ke arah si Pembuat Topi.

Kemudian, ia menoleh ke arah remaja berkulit gelap──si Elementaler, dan menyerahkan sebuah kalung. Perhiasan berhias batu mulia yang terlalu mewah jika hanya dianggap sekadar "hadiah".

"Woi, apa maksudnya ini, Puru? Jangan-jangan kau mau kasih hadiah ke semua orang, ya?"

"Yap! Kan udah lama banget kita semua nggak kumpul bareng, kan! Puru mikir, buat ngerayain pertemuan ini, mending kasih kado ke semuanya. Dari beberapa hari lalu aku udah mikir, kira-kira hadiah apa ya yang bisa bikin semuanya seneng?"

Namun tiba-tiba ia memasang tampang sedih, "Tapi maaf ya," ucapnya saat beralih ke Summoner.

"Cuma kamu yang aku gak tahu bakal seneng dikasih apa... Makanya, ini."

Yang dikeluarkan Pulcinella dari dalam kantongnya adalah selembar perkamen panjang yang sudah sobek. Terdapat tulisan dengan tinta yang luntur berbunyi "Kupon Melakukan Apa Saja". Summoner yang menerimanya, hanya bisa tertawa canggung.

"…Dengan kupon ini, Pulcinella, kau mau melakukan apa saja untukku?"

"Iya! Mau pakai sekarang? Boleh banget lho dipake sekarang! Ada yang dimau nggak?"

"Hmm... Sayangnya, hasrat materialku cukup rendah. Kalau ada kesempatan, akan kugunakan."

"Yaaah!"

Suara imut khas Pulcinella bergema di aula utama gereja dengan langit-langitnya yang sangat tinggi.

Markas besar agama Lucy, "Twinkle Cathedral", berdiri tepat di tengah ibu kota Kerajaan Amelia. Ini karena Kerajaan Amelia adalah kerajaan paling makmur di seluruh benua. Sebagai agama resmi negara, katedral yang berada di pusat ibu kota ini juga menyandang gelar sebagai katedral terbesar dan paling memukau di seluruh benua.

Pada hari Minggu, ribuan orang pengikut agama Lucy (Lucian) berkumpul untuk berdoa. Kapasitas ruang katedralnya bahkan mencapai ribuan. Dinding dan langit-langitnya dipenuhi lukisan dan pahatan bertema naga, yang merupakan karya seni tingkat tertinggi yang dikerjakan oleh para ahli pada masa pembangunannya. Pola geometris simetris di langit-langit lengkungnya memberikan kesan megah yang mampu menekan perasaan para umat yang menatapnya.

Sinar matahari membanjiri ruang katedral dari jendela-jendela atap (skylight) yang terletak sangat tinggi.

Pencahayaan alami ini telah diatur oleh para pengrajin sedemikian rupa sehingga pada jam-jam tertentu, cahayanya akan langsung menyorot pada dua patung khusus.

Patung pertama memperlihatkan sosok perempuan yang mendekap sayang seorang bayi, yang konon diambil dari perut seekor naga putih yang terbunuh. Bagi para umat, wanita ini adalah Bunda Suci yang merawat bayi tersebut dan menamainya "Lucy".

Sedangkan patung kedua merupakan pria pendosa besar yang berhasil mengalahkan sang naga putih tersebut. Pria brewok dengan hanya berbalut cawat itu, menunjukkan penyesalannya dengan cara menumpuk batu besar di atas lututnya yang dilipat saat ia duduk bersimpuh. Praktik menyusun batu yang dilakukan umat Lucy saat ini sebagai perlambang "Penebusan Dosa", berasal dari postur pria inilah.

Terdapat tangga besar di bagian depan katedral, yang menuju altar di atasnya. Di rak pajangan yang bertingkat, berjajar berbagai perlengkapan upacara suci seperti tempat lilin dan piring perak.

Sebuah kursi megah berdesain bak singgasana diletakkan di hadapan altar, walau kursi itu sedang tak berpenghuni.

Bagi katedral yang dapat memuat hingga ribuan jamaah, hari ini, umat yang hadir hanyalah berjumlah sembilan orang saja. Mereka tidak lain adalah sembilan Rasul, para murid langsung Lucy.

Di pinggiran anak tangga yang mengarah ke altar, terlihat sesosok gadis remaja di awal belasan, duduk di atas kursi roda yang dirakit dari kayu.

Gaun gothic warna hitam penuh dengan ruffles, lengkap dengan tudung renda yang rumit, menjadi pilihan gaya fashion gadis itu. Wajahnya yang mungil sangat pucat, hal yang membuat lisptik tipis warna merah di bibirnya menjadi semakin kentara.

Tampilannya yang cantik sebagai gadis muda, sangat tidak sepadan dengan tutur katanya yang kasar dan menyebalkan.

"Kau ngelakuin kesalahan konyol, kan? Haa? Terus mau tanggung jawab kayak gimana?"

Duduk tegak dari kursi roda kayunya, gadis itu melirik ke arah pria bertopeng di depannya.

"Reputasi Sembilan Rasul bakalan hancur kalau Witches yang udah susah-susah ketangkap malah lolos. Malu, sumpah aku malu setengah mati tahu nggak! Karena lu yang lepasin, mending lu buru kejar dia terus dieksekusi deh? Sama ya, mending lu ngaku aja dari sekarang. Yang ngambil pergelangan tangan dari lab-ku itu pasti lu kan? Paru, cepet balikin!"

Si gadis mengangkat sebelah lengannya dan memutarnya berulang-ulang di udara dekat kepalanya. Sebuah instruksi untuk melakukan manuver putar balik setengah lingkaran. Seseorang pengikut di belakangnya yang bertugas mendorong kursi roda pun segera tanggap dan memutar balik kursi roda gadis itu ke belakang persis seperti yang di perintahkan.

Pelayan milik Rasul Kelima "Necromancer" itu berwujud sosok dengan kulit hitam pekat bergelimang tambalan luka jahitan di mana-mana. Pelayan itu hanya sekadar bediri membisu seraya mengerjapkan matanya pelan, sejenak lalu meraih pegangan kursi roda si gadis. Ia spontan mengendalikan jalannya saat kursi roda sang tuan sedikit miring tatkala ia memberontak kencang menukik ke bawah.

"Woi, kuping lu masih fungsi kagak, Parmigiano!"

Tudingan Necromancer menyasar pada orang yang duduk di baris paling ujung bagian depan itu. Kepalanya dipasangi dengan sebuah topeng paruh burung yang menutupi keseluruhan wajahnya. Lelaki itu hanya memaparkan buku tebal yang terbentang meluas menutupi tempurung lututnya. Jemari sang pria yang dibungkus selubung sarung tangan nampak lincah membelai lembar per halamannya. Pada setiap lembar halamannya terpampang jajaran not-not nada yang padat rapi tersusun. Bila diamati seksama rupa buku yang dimaksud adalah lembar kompilasi paduan aransemen partitur nyanyian.

Sang Rasul Keenam sang "Alchemist" pelan-pelan menengadahkan wajah topengnya menengok ke arah si gadis mungil cerewet tersebut.

"Sudah dari tadi kok saya dengarkan. Telinga saya sangat peka tidak seperti Anda yang harus membentak keras layaknya anjing kecil memekik teriak begitu."

"Lah jadi mana bukti pertanggungjawaban lu. Mau langsung pergi ke arah Utara, kan lu? Paru!"

"Cukup simpel saja, saya sangat benci. Dan lagi perlu diingat seberapa sering dibilangin kok lu tetap ngeyel nuduh saya mengambil potongan daging-daging mati itu. Tangan yang saya persembahkan itu punya kekhasan daya tarik akan sensasi kental jiwa estetika dan bernuansa suci bening yang hidup memancarkan nilai karya yang sungguh murni. Tidak ada yang bisa memikat jiwa seniku jika dibandingkan sama potongan bangkai bergelimang murahan seperti punya Anda tersebut."

"Maksud lu? Baru saja lu ngatain karya dark art punyaku sebagai benda rendahan sampah? Haa, woi Paru!"

"Berisik, dasar jalang jelek. Bangsat luh."

Pria yang sedari tadi cuma menyender di penyangga belakang salah satu bangku deretan jemaat itu lantas bersuara muak memecah ketegangan dan ketidaknyamanan melengking di pojokan altar ini.

Postur tubuh gagah atletis nan tampan pria itu tampak menyegarkan dibaluti lapisan jubah jubah kulit serigala bulu putih cerah merumbai di kedua pundaknya. Karismanya menonjol memperlihatkan bentuk tegap kuatnya sebagai serdadu sejati. Cacat besar menyayat sobek memanjang bibirnya secara lurus mendatar. Sebuah pedang tempur jenis claymore tajam tergantung anggun mengilap terukir membalut balut tubuh sang pejuang di bagian punggungnya.

Rasul Kedua yaitu sang "Paladin" itu melengkungkan garis muka melayangkan kebosanan akibat nada memekik melengking Necromancer.

"Udah tau kan kalau mustahil. Jangan maksa orang gila mesum tangan yang sama sekali nggak punya minat ke takhta atau Mirror Witch tuh. Sedari awal ngelepas dia dikirim ke kerajaan Lowe sudah kekeliruan mutlak."

Gadis lumpuh penguasa kursi roda beralih mencari pelampiasan target pelampiasan umpatan kekesalannya.

"Terus lu yang mau nggantiin dia cabut memburu ke sana gitu? Soalnya yang denger-dengar komplotan Campusfellow sedang mencoba menyeberang ngikut memohon sumbangan kekuatan bala tentara klan barbar perbatasan utara Versia, gitu lho hah? Bikin sakit perut nggak sih! Membela mati-matian melawan kita Amelia dengan harapan sekongkol dan ditolong sama manusia tak berbudi barbar liar. Ya ampun, apa barusan saya nge-hina?"

Senyum picik licik menghina pun tersungging lebar mengejek melengkungkan dahi kerdil sang Necromancer guna meneruskan sindiran penghinaan beruntun pada sang Paladin malang.

"Coba sana sempetin mampir silaturahmi reuni di perburuan kampung asalmu Witches. Bukannya kalau membunuh emang lu paling jagonya? Versia."

Sebuah sorot tajam mengerikan langsung dihujamkan melirik menekan si gadis kecil oleh kedua pancaran bola mata bening biru membara. Dari sela seringai mulut sinis taring melengkung menampakkan amarah emosi meluap-luap.

"…Tutup mulut lu, dasar bangsat rupa ancur. Mau mati lu, ha."

"Haaaa? Kagak ngerti standar visual estetik ya lu? Emang dasar barbar bodoh! Versiaaaa!"

Dua ledakan pancaran tenaga sihir antara sang "Paladin" berpadu bentrok menderu bersitegang menyambar bergejolak hebat dan Necromancer yang kian memuncak meruncing seketika di udara.

Goresan pertarungan gesekan saling tikam kapan pun bakal dihelat sebentar detik lagi yang mana akan membuat situasi meruncing meledak fatal di satu momen.

Terpecah seketika berkat sebuah pijakan konyol langkah tapak telanjang bocah lincah. Gadis cantik yang sedang kegirangan senyum menenteng barang dan memanggul sekantong kresek tas buntalan di atas kepalanya menyela di antara keduanya, ia adalah si gadis bernama Pulcinella.

Ia tersenyum menawan seakan salah alamat membuahkan raut muka yang nampak bodoh. Dari celah barangnya diambil sepotong balok bongkahan paha ham sapi berjejal tebal diputar-putar dibungkus tali goni jahit rapi. Tak ambil repot, lalu menyerahkan suguhan daging segar langsung ke mulut paha besar ksatria.

"Ini lho! Tuan Serigala, pasti sangat lapar kan sama daging-daging, kamu doyan kan?"

"Hah? Minggir lu, bukannya dah kukasih tau kan, jauh-jauh sana dari kami hah?"

"……Ugh kenapa mesti galak banget begitu sih. Kalo gitu ini, kutaruh letakin di sini ya?"

Alis dan sudut mulut Pulcinella sedikit turun menyesali tolakan. Ia menaruh sekotak bungkusan paket itu di pangkuan salah satu bangku deretan. Di waktu sama di momen sesudah mengambil lagi bongkahan lain mirip paketnya untuk kemudian menyuguhkan ke depan wajah anak perempuan Necromancer sang pengendara kursi roda.

"Ta-da! Hadiah dariku loh ini, pasti Puru tau kan kalau kamu emang penggemar tubuh jenazah dan mati gitu?"

Barang paket daging yang dihidangkan Necromancer tak ubahnya sekadar serpihan replika persis yang telah di tawarkan sang Paladin.

Pembalut goni melilit buntalan sepotong balok bongkahan ham olahan daging tebal.

"Gila kali ini kan cuma daging cincang ham masak tolol!"

Pulcinella seakan memicing sebal dan tak peduli seraya lagi-lagi ia menyodorkan sebentuk persembahan berikutnya di kantungnya.

"Silakan ini, spesial untukmu Paru!" Gadis itu memberikan sepotong gumpalan lengan busuk tangan mayat seorang wanita membusuk lalu diberikannya kepada si Alchemist berhelm topeng pelatuk Parmigiano.

"Waw... Nah ini mantap."

"Woii! Hei luh Pulcinella! Darimana asal lu dapetin tangan itu ah!"

Ledakan teriakan Necromancer menjerit garang membentak marah ke sosok kerdil Parmigiano tatkala tangannya menujuk tangan yang baru dikasih si Pulcinella, sekian hitungan berselang.

"UAAAAARRGHHHHHHHHHHH……!!"

Lolongan menjerit gila kesakitan mencabik hening terlantun memilukan bersorak ke sekeliling telinga. Memantul bergaung keluar dari bangku belakang tubuh dari seorang kesatria gagah Paladin di saat dirinya berbaring terlentang tiduran. Ia terbelalak berdiri sambil terjengkang melengking syok gemetar. Spontan sang pemuda pria kekar lari mendekati merengkuh wanita untuk memegang dan menenangkannya dalam dekap pundaknya.

Bongkahan gelombang mahkota emas yang tergerai indah menyelimuti panjang badan si wanita terurai halus memancar kilauan sutra emas bersinar.

Saking rimbun gelombang mahkota indah kuning membelit panjang di bawah kakinya sendiri, Rasul Keempat si "Healer", tak terlihat walau secercah pun lekuk tubuh dan auranya kecuali sekadar bayang samar-samar. Sepotong kecil pucuk bibir warna persik dan ujung rupa garis tirus kecil mencuat mungil nan cantik manis. Bentuk posturnya walau teramat langsing terbalut proporsi buah dadanya bulat, indah padat di bagian depan dengan proporsional anggunnya yang seksi. Perawakan kemilau bersinar rambut panjang diurai sangat tertata rapi terpapar elok disoroti pantulan kilat pijaran kehangatan surya sinar matahari memancarkan keelokan paripurnanya yang luhur eksotis seakan memancarkan cahaya. Satu-satunya anomali tragis terpampang yakni hilangnya interaksi kemampuan membalas ucapan karena ada celah mengerikan pada tempurung rongga tengkorak kepalanya ditembus paksa bacokan ujung kapak maut dengan sisi pegangan memanjang besi meruncing berdarah tajam tersayat meruncing kaku secara diagonal lurus sampai ujung langit.

"Ssst... tak usah cemas. Tenang. Sudah gapapa lagi kan. Cuma kaget sebentar. Tidak ada yang salah di sini."

Pria ksatria Paladin perlahan menyingkap belaian mesra di mahkota helai pirangnya. Dengan elusan manis tersebut ia berhasil membuat diam terlelap perempuan tersebut.

Bersamaan sekejap saat setelah itu, matanya tajam membidik memelototi membara mendelik bengis ke kursi roda Necromancer, seakan membongkar segala kesabarannya merengut kasar giginya dengan sinis sambil berdecih mencela geram tajam.

"Dasar sialan lu. Ini karena bacot jerit memekik mu teriak-teriak gak penting tahu nggak, ini yang bangunin dianya gara-gara lo nyari gara-gara bangsat."

"Aahhh? Lantas apa itu artinya lu salahin gue sepenuhnya hah? Bukannya gila ah kalau gitu. Terus gue diam bae gitu dan ini semua kan karena Puru brengsek ini udah ngerampok tanganku dong."

"Ya iyalah! Nih Rapunzel ada ini buat lu deh!"

Dikeluarkannya segel pelindung tas tersebut memunculkan pedang panjang lurus yang dibungkus rapi lalu menggenggam pisau beracun di sebelah depan kemudian diluruskan menyorong wanita pirang "Healer" di tangan Pulcinella.

"Karena sekadar cuma kapak perak semata mana ada serunya tah kan? Aku mau masukin tambahan nusuk di dahi kapala biar klop ya."

"……Ngomong apaan lu barusan, sialan lu"

Serabut amarah tegang seketika bergetar mencoreng kening kulit Paladin, dan pria tersebut lalu merengut berdiri menempatkan posisi badan di depannya menatap menekan sang lawan bersitegang.

Dibalik perlindungan, tanpa daya mengiyakan serangkaian adegan, terlihat wanita yang Healer itu memiringkan leher karena ada sebuah tebasan kapak dalam yang membelah batok kepalanya.

"Berhenti Pulcinella,"

Perempuan birawati berbaju suci murni Summoner maju ke muka Pulcinella dan langsung membendung langkah maju menengahi dari jarak perkelahian di sisinya.

"Dia sama sekali bukan dari kemauannya tertancap ujung bilah kapak di kepalanya loh, tak perlulah kau menambahkan lukanya."

"Oh iya ya?"

Mata bola hitam Pulcinella itu melingkar membesar, melirik Summoner.

"Ya kan bisa diwajarin juga..." Pembuat Topi alias Fortune Teller ikut menyisip selipan kata sela pada adu debat pertikaian Necromancer tersebut.

"Masalah mengurus si Mirror Witch ini sebenarnya tak mesti ditarik dipaksa dikejar ke ujung duniakan? Misal memang mereka diungsikan oleh sekutu Campusfellow, paling banter toh bukan perkara mematikan pula bukan?"

"Lu itu otak bodoh apa bebal? Sih."

Mata Necromancer membidik runcing melengkung dari atas, mendenguskan kata sinis sambil memicing menyipit benci dari tatap muka.

"Semua berkaitan pamor. Menyangkut nama besar. Kapan ksatria pecundang bodoh semacam pasukan prajurit rendah sekelas kerajaan Lowe sanggup melumpuhkan menjerat penjahat besar sekalas nenek sihir yang bikin onar sementara Sembilan Rasul dewa kecolongan dan justru bikin buron itu lari melenggang lepas? Ini sungguh sangat memalukan martabat menjatuhkan kemuliaan Dewi Lucy yang luhur."

"Kemuliaan... emang berani ngomong soal kemuliaan dengan bibir lu itu?" Ejek tajam tertawa mengecil mencibir ucapan Necromancer oleh Fortune Teller.

"Walau demikian kini Sri Ratu Amelia telah puas senang kok. Bahkan kita sudah meraup 'Kerajaan Kesatria' Lowe dan berhasil mengganyang Campusfellow si negara pembuat api. Sudah sepadan dan pantas kok untuk kemenangan, sudahlah di ikhlaskan."

Tiba tiba sergapan dengusan berdecih ketus merendahkan dari Paladin.

"Hah. Ratu merasa puas katanya. Benar, jika simpanan Ratu aja ngoceh gitu, yah begitulah faktanya mungkin."

"……Eh? Kau barusan sedang menghujat Ratu kita, Ratu Amelia ya?"

Dengan santai namun beringas, Fortune Teller mengangkat mukanya sembari mengutarakan ancaman. Tongkat diangkat dan disandarkan santai ke sebelah bahu kanannya. Paladin tak ciut menyambut tatapan permusuhannya kembali.

Udara keruh panas kental mendera ruangan tersebut. Sesaat lagi, dari deretan adu silang umpat tadi mendadak Necromancer berteriak membanting putar menoleh ke sisi berteriak pada si Pulcinella.

"Hei goblok dasar luh, Puru! Balik serahkan tangan curian gue tadi cepet! Kalau tak gue, itu tangan maha karya estetik yang ─"

"Mending tak usah dipikir deh, bawa mulu kek barang busuk kek gitu mah."

Parmigiano, Alchemist dengan kasar, seraya menenteng sebuah telapak lengan membusuk yang dilontarkannya memantul membanting dengan nyaring mengenai tepat dari dahi sang Necromancer yang kemudian menabrak tersungkur ke sisi kaki pangkunya.

"Awas yaaa! Kurang ajar beraninya luh ngelempar haaaah...!!"

"Haaaaaaaghhhhhh...!!"

Jeritan tangis dari Healer meledak kembali memilukan histeris tak tertahankan di sela rentetan bentakan. Seisi segenap relung atap bangunan ibadah berdengung memantul sahut gaung hingar riuh menyatu berderu kencang dalam pusaran keramaian hiruk tak berujung.

Di antara kebisingan ruangan gereja, sang pendeta tinggi berusia paruh baya turun ke depan batas pijakan anak tangga menuju panggung pelataran suci. Ia merupakan yang tertua dan sebagai yang terhormat dalam golongan dewa yang tak lain sang "Cardinal".

Menggunakan topi berkerut yang berbentuk lonjong di kepala bertatah dengan desain khas kardinal Katolik, beserta separuh pelindung topeng lempengan emas murni separuh membungkus bagian mata sebelah. Tangannya memegang menjulurkan sebuah bilah tingkat batang pusaka suci memanjang dengan ukuran luar biasa yang menampakkan figur rupa bentuk bentang raksasa seekor kepala hewan bersayap sang dewa ular naga yang membentang lebarnya yang tak terbilang elok.

Cardinal mulai memeriksa barisan ruangan kapel dari posisi pelataran mimbar anak tangganya lalu meraung bergaung keras meresap di seantero relung-relung kalbu umat sekalian.

"Cukup hentikanlah sekalian kalian, Hentikann...!!"

Gema dengungan suaranya berat kental membelenggu relung perut mendiamkan kedelapan anggota Apostle lain membungkam seisi lisan-lisannya seketika.

"Seharusnya dari amarah yang meledak membara ialah musuh serta ketidaksukaan agung dewi murni, Lucy yang paling tidak dikehendakinya. Bukankah amat naif para utusan rasul pembimbing arah nasib kebangkitan hamba agamanya malah tak mampu menyensor serta menghakimi nafsunya belaka, akan bagaimana pertanggungjawaban pada pengikut? Sekarang juga aku serukan tenangkan kalbu dirimu bersihkan niat."

Seketika kesunyian tak bersisa terbungkam menyerap tetesan ciprat ke lantai seketika hening bisu membisu memutus suara hingar-bingar, tatkala itu di antara senyap kesunyian katedral berangsur maju seorang diri sosok yang memacu langkahan kecilnya mengentakkan suara dari tepak sepatu lari tak beralas di porselen merangsek maju si bocah Pulcinella di depan mata Cardinal.

"Lihat ini, sebuah sekotak kejutan untuk sang pendeta suci, Cardinal kita!"

Lompatan riang bersuara bernada nyaring merdu ditawarkan langsung seraya menyorong suguhan kado kayu dengan senyum penuh merekah bersuka. Menembus ruangan suci yang penuh kaku menghening menyengat, dengung getar mendecit sayap mendengung dengung ribut bersenggama memuakkan memekakkan selaput dengar. Benda apa gerangan yang tersimpan dalam isi wadah kado kayu persegi tersebut rupanya──.

"Lalat loh, lalat. Yang mulia Cardinal kan penggemar favorit si lalat kan ya? Aku kerja susah capek mati-matian nangkap nyari di alam biar mulia senang memakannya dengan nikmat okeh?"

Geeroogghh...Cardinal sekejap meringik mengunyah meludah ludah liur yang nyangkut mual ditenggorokan memuntahkannya ngilu menyiksa pita tekak suaranya. Sebelah belahan kelopak dari selubung wajah asli tanpa terbungkus pelat emas dari sang Kardinal menonjol menyembul besar melotot liar tajam menganga kaku ibarat dua buah pandangan dari katak. Rahang dan mulutnya terkunci bergetar kertak mengertak di bibir gigi hingga menggesek ngilu tak wajar sebelum tangannya menghempas melanting buang jatuhkan kardus kayu di pangkuannya jauh terbang menghantam berserakan.

"Ah."

Persis berbarengan sekon ucapan decak kaget teriakan dari si Pulcinella terdengar nyaring, tumpukan kepakan segerombol kerubungan kumpulan biang gerombol serangga menyembur seketika saat hantaman peti jatuh terbuka di bawah pijakan kaki lantai beterbangan liar berhambur memenuhi panggung altar melintasi selubung plafon kapel.

"Hahahaha..."

Sembari pundaknya bergetar santai selendang kain punggung bulu singa serigala mengayun dengan tawa sinis santai tertawa bebas terkekeh adalah Paladin belaka.

"Maafkan saja dia pak suci tua. Marah adalah pantangan terbesar kebencian yang harus dijauhkan murni Lucy ya kan?"

Cardinal mulai mendongak tegap memandang lurus memusat memfokus tajam kepada pemuda Paladin lewat hadapan pintu mimbar altar pijakan sana.

"Hoh? Hawa beringas yang ganas meledak dan mendidih ini apaan jadinya ha, itu mau elu buang arahin mau numpahin semuanya ke gue ta maksud lu"

Begitu menyahut geram melontarkan gigitan gigi gigi geraham, Paladin maju mendekat melangkah menatap melayangkan niat menantang berkelahi ── Di ambang pintu ruangan katedral berbunyi geretak krek.

Tirai daun pembatas pintu berganda membelah seketika menampakkan seorang anak perawan kecil mungil yang tak berdosa dan murni rambut seputih salju menampakkan perawakannya di garis seberang lorong.

Jika ditebak wajah rautnya masih menginjak pada sekitaran batas remaja masa awal. Anak perawan belia suci dibungkus satu lapis tunik baju satu terusan benang rajut polos bersih warna dasar serba putih menapaki jalan tak bersandal alas memasuki bentangan bentang karpet di tengah jalan utama kapel megah dengan santai gemulai langkah tenangnya merambah mendekati arah panggung jemaat altarnya tersebut.

Mata bola birunya semacam memancarkan sendu aura letih kelesuan layaknya birunya luas taburan rasi kerlip sinar bintik lautan senja dari peraduan angkasa menyilau menakjubkan berkilau indah berkilatan memikat menyinari seisi.

Limpahan matahari membias lewat celah panel bingkai skylight dan membentuk jalur terangnya langsung turun menjatuh sorotnya membelai hangat memoles cahyanya menyelusup mengiringi bayangan langkah gadis di jalan ke mimbar katedral tersebut. Dipadu bersama pergerakan lenggang pijak nan teratur dari sorotan penerang cahaya matahari murni menjunjung sakral nan cemerlang dari penjelmaan anak belia perawan itu membuat ilusi sekakan dirinya sebagai cahaya pelita yang murni membangkit terang silau memancarkan kilau cahyanya dari dasar jiwanya membelai lembut menghangatkan udara yang redup di sela peraduan.

Binatang naga sebesaran setubuh anak kecil peliharaan mungil anjing rumahan ── merupakan spesies perwujudan anak dari keturunan ras Mutiara Pearl Dragon mutiara murni putih putih cerah, mengintai buntut mengitar setia sebagai penjaga di bawah ujung kakinya merayap patuh bersetia manja menuntun kemana pun anak belia bidadari putih salju suci tersebut berkelana di jejaknya.

Kemunculan datangnya kedatangan murni sang dewi suci suci, si perawan belia perawan Lucy di tengah perseteruan mendadak melongsorkan tekanan di semua tempat katedral itu perlahan mengubah seketika drastis dan berbalik arah menggetarkan dan mendadak memutar hawa merinding teramat menusuk tulang ke beku.

Namun kekakuan yang menghening sesaat tersebut sama sekali nihil dari hawa peperangan yang menakutkan, namun ia beralih merupakan nuansa hening suci menentramkan nan diam yang sunyi terbalut syahdu wibawa ketenangan magis rohani mengheningkan khusyuk membisu yang luhur dan murni murni tenang dan murni sakral yang murni jernih menyucikan luhur.

Cardinal yang sebelumnya dengan hati penuh emosi mendidihkan angkara menyiksa mendendam nafsu murkanya menyulut geram marah seketika itu juga dan Paladin yang sebelumnya gahar emosi frustasi dengan luapan murkanya hilang dan redup padam menyusut sirna dan lebur tumpul seketika meredam menyejukkan segala rasa tak puas yang di dalam benak memanas menyulut menyingkirkan semua luapan tak menentu.

Dari kursi pangkuan memanjangkan lurus tungkai santainya beserta tidur dan melepaskan jemu menenangkan memejam menyendiri mata, sang "Elementaler" hingga keluhan jeritan mengerang teriak membentak ribut kalut dan gaduh dari sang "Healer" tadi dengan kilat senyap serempak.

Sembilan Rasul itu menghening merendahkan rupa tunduk dengan hening dengan penuh takzim mendirikan tubuh punggung mendengak dengan rapi berjajar merapikan membisu kaku lurus tertata membuat sap rapi barisan beriring membentuk shaf mengular berhadapan pintu pembuka altar pelataran dengan sikap taat yang bersimpuh.

Secara serempak barisan sekumpulan manusia tersebut bersama menjatuhkan tangannya menutup letak ke atas tepat menyilang merengkuh pangkuan bidang melipat rongga tangannya dada merapat rapi menyilang dada murni tegak khidmat menyilang menindih tangan kanannya. Di waktu jari menjentik merunduk perlahan menekan lipatan dahi menyilang di dekat jari mungil membentuk lekuk membikin wujud figur kerucut menajam "sudut rahang tanduk" lantas lalu melancipkan sisa jarinya menggenggam menyatu bentuk "rongga kerongkongan memoncong" memadukan membuat bayang membentuk postur rupa lukis siluet lambang "gigi moncong Naga" merapat telunjuk. Tangan di belahan kiri lurus tegap meregang menarik menahan bergegas belakang menarik merenggut belahan belakang bokong memilin menyibak dan menghela sisi buntut memegangi batas potongan bawah tepi bagian rumbai baju, menyempurnakan beribadat persembahan doa merendahkan takzim dengan khidmat hening syahdu memberikan salam penyembah murni menghamba seikhlas tulus hormat sejati kepada junjungan dewa murni Lucy dengan membungkuk sujud hormat sejenak perlahan pelan menghamba dan menyorot merendahkan leher hormat murni tulus tunduk di pelupuk kaki dari Dewi luhur murni Lucy.

Dan sang Necromancer dalam bungkusan tubuh balutan di kursi lumpuhnya serta Si Ahli Alkimia yang membalut kepalanya dari topeng kedok moncong perawakan burung lalu perempuan bertudung pakaian penutup dada memutih pelindung murni birawati Summoner di ikuti ahli ramal pesulap peramal bertopi Fortune Teller beriring mensejajarkan dan si tukang topeng senyum komikal "Harlequin" membariskan ikut menunduk seraya menundukkan murni bersama sejenak pula pulcinella.

Dewi Suci luhur murni gadis suci mungil Lucy yang menyilau pelan lewat terus meretas langkah kakinya berjalan perlahan mendamaikan syahdu melewati dari kesembilan murid barisan patuh para murid-murid tersebut bergegas menduduki singgasana persembahan takhta menuju tempat duduk pelataran mimbarnya naik menguasai kursi pelataran tempat tertinggi dan bermartabat takhta tersebut.

Melabrak dari posisi mundur menjauh melempar diri membalik ke depan menduduki dan bertahta pada dudukan kursi megahnya bersantai mendarat bertahta mendiamkan punggung dan anak mungil mutiara naga meloncat santai pelan manja merebahkan pelan dan menghinggap di tengah belahan rengkuhan paha kakinya duduk terlelap dan meringkuk pelan lembut dan lelap.

"Aku mau mencoba bertemu dengan orang itu."

Pria bertopeng Alchemist Parmigiano tengah menguraikan detail rentetan kejadian mengenai kesalahan melepaskan Mirror Witch lolos melarikan lari menghilang dari genggaman dan membeberkan laporan dari fakta-fakta cerita perihal dari tragedi lolosnya sang buronan kepada dewa luhur di pelataran mimbar dan tepat sesudah pencerahan pelaporan kejadian entah gerangan dari mana pemantik minat menyulut ketertarikan hatinya merasukinya ia bergumam pelan di tengah diam sepi hening luhur murni mengucapkan rintik gumaman merdu kecil bisiknya yang lemah dari bibir mungil dan mendesak kecil melontar perlahan.

Para Rasul Kesembilan menyebarkan membuyarkan dan terurai tak tuntas menyibak di masing masing letak bangku kapel merenggang kembali dan menyendiri menepati posisi menyendiri kembali lagi terpecah pecah posisi menyeling membaur menempati mengisi kursi jemaat tersebut. Di sela segenap perhimpunan jemaat di bangku deretan tersebut di baris takhta orang satu saja dengan pengecualian duduk menduduki kursi roda cacat si Necromancer itu menaikkan bergegas mengangkat menyeruak mengajukan menukas ke atas dan berseru mendarat melontarkan teriak meladeni menanggapi dari gundah permintaan dan membalas menentang memenuhi menyanggupi ucapan dari Lucy suci berseru mengangkat lantang murni bersuara.

"Jikalau perkenan di berikan dan sudi izinkan untuk saya! Karena murni ini dari dari kerelaan tulus luhur perintah rindu Dewi yang Suci Tuan Ratu Lucy dan mendamba berkenan menghendaki luhur murni berkeinginan saya Necromancer ini mengutus memacu tenaga demi menyeret Mirror Witch membawa rupa tersebut berserah dan tersungkur untuk persembahan Anda melayani dari kehendak ini bakal siap."

Mendengar nada ucapan tersebut dengan kilat seketika membanting muka Parmigiano mendaratkan pandangannya kepada gadis dengan pandangan sinis pelatuk tajam tatapan dari rupa topeng matanya yang tajam mendaratkan menelikung dengan sinis tajam sebentar lalu segera beralih dan berpaling kembali fokus kepada Dewi memusatkan hormatnya kembali pada Dewi suci murni menengadah menatap sang Dewi luhur dengan tulus sambil menempelkan mendaratkan menyentuh dengan pelan perlahan letak tangan menghamba sujud merapat ke sela rengkuhan dadanya.

"Tidak suci murni Dewi tidak, sepatutnya posisi tugasku untuk maju membenahi kewajiban tugas tanggungan ini patut mutlak milik dari wewenang peranku ini saja. Kesalahan membiarkan kecerobohan kesalahan melarikan luput musuh adalah luput murni kelalaian murni di perankan dan dikerjakan saya mutlak seutuhnya sendiri."

"HAAAAAHH-!? Hehe iya ya emang kenyataannya kegoblokan mutlak tolol emang kesalahan pure mutlak punya dosa nyata nyata di tanganmu Paru bener juga. Si goblok konyol dan pecundang hina kek lu mana bisa dan mampu menuntaskan hajat dari memenuhi titah menunaikan suci rindu Dewi murni kehendak dambaan murni Tuan Putri Lucy dan menyanggupi impian suci ini sanggup membelenggu murni murni ini dengan luhur sanggup murni melaksanakannya takkan pernah kau sanggup murni murni sanggup mampu."

Mendengar ledakan makian sengit melengking nyaring Necromancer itu, Paladin kembali berdecih dengan muak dan menuturkan decak lidah yang jengkel.

"Cih... ya udah tak apa repot ya. Sini gua aje dah bantu pergi bantuin luh nanganin kerjain beres."

Sembari malas beringsut mengacak-acak mengangkat meluruskan kusut rambut surai serigala membelah bangun tegak melangkah bangun mendirikan badan merenggangkan raga tegap dari tempat sofa bangkunya bangkit murni tegap murni bangun menegakkan diri bangkit.

" Utara perbatasan itu kebetulan ya tempat dan asal lahir dan tanah dari leluhur. Pas kebetulan lagi pengen lewat buat pulang rute pulang mudik mampir sekalian aku angkut gue cidukin buat seret tarik bawa seret deh pulangnya ke murni mari buat murni elu sekalian. Sekalian kan murni kebetulan buat ngangkut sosok yang lu sebut buronan Mirror Witch atau siapa pun yang buronan buronannya tuh sekalian dah."

"Hei hei woi woi woi woi!? Lho kampung lu di sana bukannya kata lu dulu benci terus lu hempasin buang ngusir putus putus hubungan kampung kan elu tuh dulu lu bilang ya kan! Si brengsek barbar Versia!"

"Biar aku saja."

Berikut giliran yang beranjak dan merenggang memisahkan barisan bangkit keluar adalah wanita yang membungkus menenggelamkan suci murni balutan membungkus dalam suci rupa pakaian sehelai putih biarawati murni murni yakni Cocolco Sang Summoner.

"Aku kan berasal dan keturunan berlatar berdarah suku dan lahir dan membesar dari kehidupan perantau Drifter masa lalu kan? Dan katanya dia dan masa lalunya perawan cermin dari perempuan ini masa itu juga juga katanya sejalan seiras masa dulunya punya latar seiras denganku senasib dulu konon dia berasal dari kaum seirasku dulu punya perantau senasib Drifter yang sama kan katanya ada rumor menyebar itu rumor kudengar?"

"Terus? Lah apa ada korelasinya apa manfaat peduli hubungannya hah peduli banget lu apa hah?"

Menyingkirkan rentetan cibiran sinis pertanyaan si Necromancer itu, Summoner merangkul ramah menahan meredam mencuekkan rentetan tudingan tajam sengit dan mencemooh dengan senyuman luhur senyuman kalem dan memberikan balas murni murni dan membalas anggun menawan melontarkan seulas tulus ramah tawa tulus nan mekar senyum.

"Bantuan lewat menggunakan kendaraan dari tunggangan Magical Beast andalan pemanggil panggilanku tungganganku menempuh perjalanan memangkas pelesir ke perjalanan perantauannya nggak akan bertele-tele nggak butuh menempuh kelana waktu lama kan waktunya dipersingkat menghemat waktu panjang perantauan tak kan merenggut lama nggak bakalan panjang. Rasanya sangat wajar mutlak sesuai masuk logika aku wajar pas dari perantauan untuk mutlak ditunjuk ke tugas murni pengutusan pencarian yang pas kriteria ini luhur wajar kurasa luhur pas menunaikannya luhur murni ini pas sesuai wajar kurasa. Namun saja sayang...... saat ini ku murni aku krisis dari stok suplai perbendaharaan korban cadangan jiwa pasokan hamba pendosa dari tawananku kosong hampa perbekalanku tidak tersisa satupun budak pendosa tawananku dan nihil sama sekali hampa habis ludes. Jikalau murni murni lu ikhlas kalau sekiranya kamu ikhlas rela dan sudi apakah anak yang jadi sudi bersedia berkenan menyumbang murni memberikan rela dan ikhlas mau meluangkan dan murni berikan serahkan pengikut dari pelayan anak murni hambamu sudi untuk serahkan pelayan perawat mendorong murni untuk kursi roda lumpuh hamba budak pembantu pelayan kursi roda cacat lu itu pada milikku buat gue ya murni buat gue kalau sudi?"

"…Apa? Jangan konyol, dia itu Ilf Hitam tahu? Spesies yang sangat langka."

Necromancer menjawab dengan mengerutkan dahinya. Summoner hanya menghela napas pasrah, lalu menoleh ke arah Pulcinella. Dari ujung jarinya, ia menjepit dan mengibar-ngibarkan secarik tiket yang baru saja diterimanya.

"Pulcinella. Sekaranglah saatnya menggunakan tiket ini. Bisakah kau berikan anak itu padaku?"

"Aha! Boleh banget!"

Mungkin karena sangat senang telah diandalkan, Pulcinella berlari menghampiri Summoner dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Setelah menerima tiket tersebut, ia mengarahkan telapak tangannya kepada Necromancer—tepatnya kepada pelayan Ilf Hitam yang sedang mendorong kursi roda di belakangnya. Begitu Pulcinella menurunkan lengannya dengan kuat, ploop!—seluruh tubuh pelayan itu tenggelam dan lenyap ke dalam lantai batu di bawah kakinya.

Sesaat kemudian, Pulcinella merogohkan tangannya ke dalam kantong kainnya. Ia menggenggam dan menarik keluar kerah baju seseorang. Pelayan Ilf Hitam yang baru saja menghilang ke dalam lantai kini telah berpindah tempat ke dalam kantong Pulcinella.

"Taraaa~! Ini dia, hadiah untukmu."

Ilf Hitam yang masih memasang wajah tanpa ekspresi itu kini berdiri di samping Summoner.

Summoner mendirikan peti mati yang sedari tadi dibaringkannya di samping kursi panjang.

"Tapi anak ini sepertinya tidak punya jiwa, apa tidak apa-apa?"

"Tidak masalah. Yang diinginkan oleh Magical Beastku hanyalah darah pendosa."

"…Oi. Bajingan kalian semua."

Kehilangan pelayannya, Necromancer memelototi mereka berdua dengan urat menonjol di dahinya.

"Kubilangin sekali lagi ya…? Jauh-jauh dari karya seni milikku."

Di saat ia baru saja mengulurkan lengannya ke depan, Cardinal dalam jubah merahnya melangkah dan berdiri di belakang kursi rodanya.

"Hentikan. Ini di hadapan Lucy-sama."

"…Berisik, diam kau, Katak. Jangan coba-coba memerintahku."

──Lalu tiba-tiba, pada saat itulah Lucy memanggil nama Summoner. "Cocolco Luka."

Semua seketika terdiam dan mendongak menatap Lucy yang berada di atas altar. Menahan napas, menanti kata-kata selanjutnya.

"Aku mengandalkanmu, ya."

"…!"

Momen keputusan pun telah dijatuhkan. Necromancer mengatupkan bibirnya menahan kekesalan, sementara Summoner Cocolco bergetar gembira karena namanya telah dipanggil.

"Serahkan kepada saya, Lucy-sama. Pasti akan saya bawa Mirror Witch ke hadapan Anda."

Cocolco membuka tutup peti mati yang telah ditegakkannya. Peti itu memiliki engsel, sehingga fungsinya sama seperti pintu. Ia memasukkan pelayan Ilf Hitam itu ke dalamnya. Sesaat setelah ia menutup pintunya dengan pelan, terdengar suara memanggil dari belakangnya.

"Cocolco."

Pemuda berkulit cokelat bersorban──Elementaler berdiri tepat di belakang Cocolco.

" itu luas lho. Memangnya kau tahu Mirror Witch akan pergi ke arah mana?"

"Tenang saja. Kalau aku mengunjungi permukiman bangsa Versia, pasti akan segera ketemu. Di daerah sana, orang yang bisa memakai sihir tidaklah banyak. Kalau aku melacak dari desas-desus atau mengikuti jejak energi sihirnya, aku pasti bisa langsung menemukannya. Kau mengkhawatirkanku, ya?"

"Gak, bukan gitu juga sih."

Dihadapkan pada senyum penuh kasih sayang dari Cocolco, pemuda itu menundukkan pandangannya dengan canggung.

"…Tapi ya, lawanmu adalah Witches najis. Hati-hati ya."

"Ya, aku mengerti. Terima kasih."

Tiba-tiba, dari celah di bawah peti mati, merembes keluar cairan kental berwarna merah gelap kehitaman. Ketika Cocolco kembali membuka pintu peti mati itu, darah yang mengalir tumpah menggenangi lantai batu. Di dalam peti mati yang gelap gulita bagaikan jurang tak berdasar itu, sosok pelayan tadi sudah tak berbekas. Sebagai gantinya, yang berada di dalam sana adalah──.

"Nyaaaan." ──Seekor kucing.

Seekor kucing hitam berbulu lebat yang secara keseluruhan tampak bulat dan menggemaskan. Bulu di ujung kedua telinganya sangat panjang dan melengkung menyerupai tanduk. Mata hijaunya tampak kosong, entah ke arah mana ia sedang memandang. Kucing hitam yang melompat keluar dari dalam peti ke atas lantai batu yang bersimbah darah itu mengenakan sebuah pita putih melingkar di lehernya.

Kucing itu mendongak menatap Cocolco dan kembali mengeong, "Nyaaaan."

Baru saja kucing itu menempelkan pantatnya pada lantai yang penuh darah, dalam sekejap kepalanya mulai membelah dari bagian hidungnya. Layaknya sebuah kelopak bunga yang mekar. Apa yang muncul dari dalam wajah yang terbelah itu bukanlah tengkorak, melainkan tentakel berwarna merah muda. Ratusan tentakel yang menggeliat dan berkerumun. Pemandangan itu begitu menjijikkan hingga Pulcinella terang-terangan memperlihatkan ekspresi muak di wajahnya.

Tanpa memedulikan tatapan yang lain, Cocolco mengangkat peti mati itu sambil menghela napas "Yossh," dan melilitkan tentakel si kucing hitam ke peti mati tersebut. Kucing hitam itu, sedikit demi sedikit, mulai menelan seluruh peti mati yang jelas-jelas jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri melalui bagian kepalanya.

"Kalau begitu, Lucy-sama. Saya berangkat dulu."

Cocolco berbalik menghadap Lucy di atas altar, menempelkan kedua tangannya di depan dada untuk membentuk formasi "Naga". Sambil sedikit mengangkat rok putih panjangnya dengan tangan kanan, ia pun menunduk memberi hormat.

Kemudian, ia mengedarkan pandangan kepada para delapan Rasul lainnya yang berkumpul di aula dan memamerkan sebuah senyuman.

"Semuanya, selamat tinggal. Sampai kita bertemu lagi nanti."

Berbalik arah, Cocolco menginjakkan kakinya masuk ke dalam kepala kucing hitam tersebut. Sama halnya dengan saat ia menelan peti mati, tentakel-tentakel yang menggeliat itu pun menyedot dan menelan seluruh tubuh Cocolco ke dalam secara perlahan. Setelah menelannya, kepala yang terbelah lebar itu kembali menutup rapat dan berubah wujud menjadi wujud kucing imut seperti sedia kala.

Disaksikan oleh para Sembilan Rasul, kucing hitam yang sempat mengeong menggemaskan itu berlari kencang menuju jendela yang sedang terbuka. Ia melompat ke tepian jendela dan menerjunkan diri ke hamparan kota ibu kota yang terbentang di bawahnya.

Di tengah udara bebas, sayap hitam menyerupai sayap kelelawar pun merentang dari punggung si kucing hitam, lalu meluncur terbang dengan mulus.

Summoner mampu mengendalikan Magical Beast. Wajah yang bisa terbelah dan sayap di punggungnya jelas menunjukkan bahwa makhluk ini tak lazim. Namun, jejak tapak kaki bersimbah darah di atas lantai batu yang mengarah ke pinggir jendela, sama sekali tak ada bedanya dengan tapak kaki milik kucing lucu pada umumnya.