Chapter 3: Ratapan
1
Teresalisa Maiden mulai bekerja di Kastil Lowenstein sekitar
satu tahun yang lalu. Tepat setelah ia terdampar di Kerajaan Lowe.
Teresalisa yang berusia delapan belas tahun mencari
pekerjaan di guild kota. Asalkan bisa bekerja sebagai pelayan, ia tidak
pilih-pilih tempat kerja. Walaupun di kediaman kecil pun tidak masalah, namun
kemampuan melayani Teresalisa yang telah berpindah-pindah ke berbagai kediaman
dan mengumpulkan pengalaman sebagai pelayan sangatlah luar biasa dibandingkan
dengan pelayan lainnya. Saat guild mengadakan tes praktik untuk mengukur
kemampuan melayani tersebut, Teresalisa yang meraih nilai peringkat atas pun
menarik perhatian Kepala Pelayan Kastil Lowenstein.
Bekerja di kastil adalah pengalaman pertamanya. Di luar
dugaan, kehidupan di sana menyenangkan. Mungkin karena saking ramainya lalu
lalang manusia hingga disebut sebagai "Negara Perdagangan",
rekan-rekan pelayan pun bersikap toleran terhadap Teresalisa yang merupakan
orang dari negara lain, dan lingkungan kerja yang diisi oleh banyak orang
terasa jauh lebih meriah daripada kediaman mana pun yang pernah ia singgahi
selama ini.
Sebelumnya Teresalisa hidup berpindah-pindah ke berbagai
tempat dengan mengubah namanya dan mengubah tempat tinggalnya. Karena ia bisa
menggunakan sihir sejak pertama kali ia bisa mengingat, ia sudah terbiasa
dipanggil sebagai malapetaka dan dibenci oleh orang-orang yang melihatnya.
Kehidupan yang dipenuhi ketegangan demi mewaspadai kehadiran
Sorcerers yang bisa muncul kapan saja juga sudah menjadi hal yang lumrah
baginya. Hanya saja, ia memiliki ketertarikan pada cara hidup sebagai manusia
biasa.
Setiap kali melihat senyuman bahagia orang-orang yang
tinggal di berbagai kediaman tempatnya dipekerjakan sebagai pelayan selama ini,
ia merasa heran. Mengapa mereka bisa tertawa dengan begitu gembiranya. Apakah
karena mereka hidup tanpa ada rasa khawatir sedikit pun? Karena mereka terbebas
dari keseharian di mana mereka harus membunuh atau dibunuh? Pernahkah dirinya
sendiri tertawa dengan tulus dan gembira seperti itu.
Jika memungkinkan, Teresalisa ingin menjadi seorang manusia.
Kerajaan Lowe adalah "Negara Kesatria" yang dahulu
pernah bertempur melawan Kerajaan Amelia di Perang Empat Binatang Buas.
Walaupun keluar masuknya para Sorcerers tidak dilarang, jumlah mereka
teramat sedikit. Dengan bekerja di Kastil Lowe, untuk pertama kalinya
Teresalisa mendapatkan ketenangan yang sederhana. Ia berpikir, mungkin di sini,
keinginannya untuk hidup sebagai manusia bisa terwujud.
Oleh karena itu, suatu hari, Teresalisa memutuskan untuk
melepaskan cermin tangan yang dimilikinya sejak kecil. Sihirnya bermanifestasi
melalui cermin tangan tersebut. Ia memasukkan benda yang menjadi simbol dirinya
sebagai seorang Witcheses itu ke dalam sebuah kotak kayu paulownia.
Di tengah kabut pagi yang menyelimuti, Teresalisa menyelinap
keluar dari Kastil Lowenstein, lalu menuju ke hutan belukar di pinggiran kota.
Ia meletakkan kotak kayu paulownia itu di dalam lubang yang digalinya di tanah,
lalu menutupinya dengan tanah. Bersumpah bahwa ia tidak akan pernah menggunakan
sihir lagi. Berharap bahwa nama "Teresalisa" yang digunakannya di
negara ini akan menjadi namanya yang terakhir.
Sekitar tiga bulan sejak ia mulai bekerja di kastil,
Teresalisa telah menemukan sebuah tempat favorit di dalam area kastil. Tempat
itu berada di atas dinding kastil yang menghubungkan satu menara pengawas
dengan menara pengawas lainnya. Sebuah lorong penghubung terbuka yang sepi dan
terpapar angin. Jarang ada orang yang bersusah payah naik hingga ke lantai
paling atas seperti ini. Bekerja di tengah banyak orang memang menyenangkan,
namun Teresalisa juga menghargai waktu sendirian di mana ia bisa merilekskan
bahunya dan bersantai.
Sambil meletakkan tangannya di atas dinding batu yang
tingginya mencapai sebatas dada, ia memandangi matahari terbenam yang perlahan
tenggelam di cakrawala. Ia sangat menyukai pemandangan luar biasa yang bisa
terlihat dari sana. Pemandangan kota Lowe yang dipenuhi bata merah mulai
diwarnai oleh warna senja. Di seberangnya, permukaan laut memantulkan sinar matahari,
berkilauan dengan indahnya.
Bisa memonopoli pemandangan matahari terbenam di cakrawala
sendirian, tidak ada kemewahan yang lebih besar dari ini.
Sesaat sebelum matahari terbenam sepenuhnya, lampu-lampu
mulai menyala satu per satu di pemandangan kota di bawah sana. Area di sekitar
Jalan Kemenangan terlihat sangat terang. Malam yang meriah pun tiba.
Di sepanjang dinding batu, terdapat sebuah bangku batu.
Begitu matahari terbenam, Teresalisa akan duduk di sana dan
menatap bulan yang mengambang di langit.
Bulan melelehkan kegelapan malam tanpa suara. Teringat akan
masa lalunya, ia menadahkan tangannya ke atas.
Teresalisa menghabiskan masa kecilnya di karavan "Kaum
Pengembara". Pemimpin yang mengepalai rombongan yang terdiri dari sekitar
empat puluh orang tersebut adalah orang tua asuhnya.
Saat baru saja dilahirkan, Teresalisa dipungut oleh karavan
tersebut.
Cerita itu ia dengar dari sang pemimpin. Pada suatu malam
yang dilanda badai. Sebuah kereta kuda yang memaksakan diri melintasi
pegunungan tergelincir jatuh. Keesokan paginya, sang pemimpin beserta yang
lainnya yang menyusuri dasar jurang untuk mencari barang berharga menemukan
seorang bayi yang menangis tersedu-sedu di dalam kereta kuda yang dipenuhi
mayat. Bayi yang menggenggam erat cermin tangan putih itulah Teresalisa.
Sebagai bagian dari "Kaum Pengembara", Teresalisa
menghabiskan waktunya dengan berpindah-pindah ke berbagai tempat bersama
mereka.
Tidak memiliki tempat menetap, terus-menerus mengembara, dan
melakukan perdagangan serta pertunjukan adalah cara hidup mereka. Jarak
perpindahan dari satu kota ke kota lainnya teramat panjang. Garis punggung
gunung berbatu yang tidak pernah berubah, kaktus yang sesekali terlihat, serta
suara derap kuku kuda dan roda yang tak terhitung jumlahnya──. Hari-hari
membosankan yang hanya menyisakan kenangan-kenangan tersebut.
Di malam-malam saat ia tidak bisa tidur, ia sering
merebahkan diri di kereta barang yang berguncang dan menatap langit malam. Di
langit, bulan selalu mengambang, menatap Teresalisa ke bawah dengan tenang.
──Kau ini, tidak pernah bosan terus mengikutiku, ya.
Melihat ke bawah pada orang seperti dirinya, bagian mananya
yang menarik. Teresalisa kecil mengulurkan tangannya ke arah bulan. Meskipun
hari-hari tersebut terasa membosankan, jika dipikir-pikir sekarang, mungkin itu
adalah salah satu dari sedikit momen ketenangan dalam hidupnya yang singkat.
Kini ia telah meninggalkan karavan. Mengubah namanya, mengubah kehidupannya,
dan tidak ada lagi orang yang mengenal dirinya yang dulu. Kecuali bulan itu,
yang terus mengikutinya tanpa merasa bosan──.
Hari itu adalah malam yang memancarkan tanda-tanda awal
musim panas. Angin malam yang membelai kulitnya yang sedikit berkeringat terasa
nyaman. Teresalisa yang sedang dalam suasana hati yang baik duduk di bangku
batu seperti biasanya, lalu bersenandung sambil menatap bulan.
Lagu yang sering dinyanyikan oleh sang pemimpin saat sedang
dalam suasana hati yang baik seraya menggenggam kendali kuda di kursi kusir.
"──Sungguh melodi yang sangat indah."
Tiba-tiba ditegur oleh sebuah suara, Teresalisa langsung
menutup mulutnya.
Saat menoleh ke arah datangnya suara, ia terkejut melihat
sosok yang berdiri di depan menara pengawas.
Pria yang berdiri di sana adalah Raja Singa Prius Lowe.
Dengan rambut pirang dan postur tinggi, usianya yang masih
di akhir dua puluhan terbilang muda, dan ia tidak memiliki janggut yang
merupakan hal langka bagi seorang Raja Singa. Layaknya seorang komandan ordo
kesatria yang mengayunkan pedangnya sendiri, tubuhnya yang terlatih bisa
terlihat jelas bahkan dari balik mantel kulit sapi dan jubah yang dikenakannya.
Tidak heran rekan-rekan pelayannya sering memekik histeris saat membicarakan
sang raja, ia memang raja yang jantan dan tampan.
Teresalisa bangkit berdiri dari bangku, lalu membungkuk
dalam-dalam.
"……Mohon maafkan kelancangan saya."
Setelah berkata demikian ia dengan cepat memutar tumitnya,
berniat untuk meninggalkan tempat tersebut.
Tanpa jeda, sebuah suara menghentikan punggungnya.
"Tunggu sebentar. Melodi barusan, sepertinya aku pernah
mendengarnya di suatu tempat……. Apa judul lagunya?"
"…………"
Jika raja menyuruhnya menunggu, ia tidak punya pilihan
selain menghentikan langkahnya. Teresalisa menoleh ke belakang.
"Saya tidak mengetahui judulnya. Sepertinya lagu itu
adalah lagu yang menyebar dari mulut ke mulut di kalangan 'Kaum
Pengembara'."
Ingin segera dibebaskan, Teresalisa menjawab dengan cepat.
"Hoo, lagu 'Kaum Pengembara'……? Apakah kau berasal dari
'Kaum Pengembara'?"
"…………"
Gawat, Teresalisa panik di dalam hatinya.
"Kaum Pengembara" yang tidak memiliki tanah
diposisikan pada status sosial yang rendah. Terkadang mereka disebut sebagai
tempat persembunyian bagi orang-orang jahat seperti pencuri atau penipu, dan
khususnya di kalangan orang kaya, ada yang memandang orang-orang yang sekadar
berasal dari "Kaum Pengembara" layaknya melihat seorang penjahat.
Padahal karena alasan itulah ia telah berhasil menyembunyikan identitas aslinya
dengan baik di guild.
Sebelum Teresalisa yang sempat bingung memikirkan cara untuk
mengelak, Prius telah membuka mulutnya terlebih dahulu.
"Kalau tidak salah, mereka adalah orang-orang yang
utamanya mengembara di benua, menjual barang atau melakukan pertunjukan
jalanan, kan? Aku memang pernah mendengarnya, namun ini adalah pertama kalinya
aku bertemu dengan orang yang berasal dari sana. Kumohon, ceritakanlah kisahnya
kepadaku."
Prius yang berjalan mendekat duduk di bangku batu, lalu
menepuk bagian di sebelahnya seolah menyuruh Teresalisa untuk duduk di sana.
Mendapati perkembangan yang tidak terduga, Teresalisa
terdiam. Berdua saja dengan raja, dan disuruh menceritakan masa lalunya? Yang
benar saja.
"……Apakah itu, sebuah perintah?"
"Tentu saja bukan. Ini murni hanya permohonan."
"Kalau begitu, saya menolaknya."
"Oh…… eh, kau tidak mau?"
"Permisi."
Teresalisa membalikkan punggungnya kepada raja, lalu
meninggalkan bangku favoritnya.
Teresalisa menyukai saat-saat ia memandangi pemandangan
dalam kesunyian seorang diri di tempat ini. Ia tidak sedang ingin mengobrol
dengan siapa pun. Apalagi jika lawan bicaranya adalah raja. Mengobrol dengan
sosok yang bisa memecatnya hanya dengan satu patah kata akan sangat menguras
tenaga karena ia harus terlalu berhati-hati.
Dirampasnya waktu yang paling ia nantikan dalam sehari
membuat Teresalisa merasa kesal. Biarpun dia adalah raja, ini sudah
keterlaluan. Ia memutuskan bahwa besok ia akan duduk di bangku itu lebih lama
untuk menebus waktu hari ini.
Namun keesokan harinya, saat Teresalisa naik ke dinding
kastil, sang raja ternyata sudah duduk di bangku batu tersebut.
"Yo," sapa Prius seraya mengangkat tangannya.
"Ceritakan padaku, kisah tentang 'Kaum
Pengembara'."
"…………"
Teresalisa memberikan bungkukan yang dalam dan indah, lalu
memutar tumitnya.
Keesokan harinya, dan hari berikutnya lagi, Prius selalu
duduk di bangku tersebut. Setiap kali melihat wajahnya, Teresalisa akan
membungkuk dan meninggalkan dinding kastil. Apakah ia berencana untuk datang
kemari setiap hari? Ia telah kehilangan tempat favoritnya, yang ironisnya
direbut oleh sang raja.
Kemudian di hari berikutnya lagi. Teresalisa mencoba menunda
waktunya dari biasanya, dan naik ke dinding kastil setelah matahari terbenam.
Mungkin karena menyerah mengira Teresalisa tidak akan datang hari ini, sosok
Prius tidak terlihat di bangku batu.
Teresalisa merasa lega, lalu duduk di bangku. Walaupun ia
tidak bisa melihat matahari terbenam, ia masih bisa menatap bulan yang
mengambang di langit.
Namun Prius segera memunculkan dirinya. Teresalisa
mengangkat pinggulnya berniat pergi.
"Tunggu, tunggu, aku mengerti. Jangan sebegitu tidak
menyukainya. Aku tidak akan menyuruhmu duduk di sebelahku."
Prius menahan Teresalisa, dan ia sendiri justru duduk
bersila di atas jalanan batu di lorong.
"Aku di sini saja cukup."
Teresalisa menggelengkan kepalanya. Ia semakin tidak bisa
duduk santai di bangku.
"……Saya tidak bisa membiarkan raja duduk di tempat
seperti itu."
"Jangan dipikirkan. Di sini, aku murni hanya akan
memakan ini saja."
Ucap Prius seraya meletakkan keranjang di sampingnya. Yang
dikeluarkannya adalah kue panggang.
"Canele!!"
Teresalisa tanpa sadar menaikkan suaranya.
Yang dikeluarkan Prius adalah canele yang berjajar di atas
piring kayu. Kue mewah dengan tekstur luar yang dipanggang renyah, dan bagian
dalam yang lembut. Permukaannya dilapisi lilin lebah yang dipanen di Lowe, dan
saat digigit, rasa manis yang elegan akan memenuhi seluruh mulut.
Bagi status sosial Teresalisa, itu adalah barang yang sangat
jarang bisa didapatkan.
"Hehe. Melihat wajahmu yang meneteskan air liur itu,
tampaknya informasi dari Kepala Pelayan bahwa makanan favoritmu adalah canele
tidak meleset, ya?"
"……Air liur saya, tidak menetes, kok."
Teresalisa menyeka sudut mulutnya. Hanya saja, fakta bahwa
ia menyukai canele memang benar adanya. Baru beberapa hari yang lalu ia
dimarahi oleh Kepala Pelayan karena memakan tiga buah canele lebih banyak dari
yang lain yang disumbangkan ke dapur.
"……Anda menanyakan makanan favorit saya kepada Kepala
Pelayan? Jika Anda melakukan hal semacam itu, akan muncul kecurigaan yang
memicu rumor aneh, lho."
"Bukan sekadar kecurigaan, rumor itu tidak salah, kok.
Lagipula aku memang ingin menarik perhatianmu."
"…………"
Raja yang aneh, pikir Teresalisa. Apakah seorang raja memang
memiliki indra perasa yang sedikit berbeda dari orang awam? Bagi Teresalisa
yang tidak mengenal raja lain selain dirinya, ia tidak memiliki bahan untuk
membandingkan.
"Canele, apakah kau juga ingin memakannya?"
Prius membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menggigit canele
mewah tersebut dengan lahap.
"……Anda benar-benar pria yang licik. Apakah Anda
berniat memancing saya dengan cara itu?"
"Tentu saja tidak? Ini semua adalah milikku."
"Eh."
Mendengar Teresalisa mengeluarkan suara konyol, Prius
tertawa kecil, "Kukuku". Itu adalah senyuman layaknya seorang anak
laki-laki yang berhasil melancarkan kejahilannya.
"Namun, jika kau mau menceritakan kisah 'Kaum
Pengembara' kepadaku, aku bisa membaginya sebagai imbalan, lho?"
"……Ugh."
Bahkan Teresalisa yang ingin menikmati pemandangan sendirian
pun tidak bisa menang melawan godaan canele.
Pada akhirnya ia menceritakan kisah masa kecilnya sesuai
dengan permintaan Prius. Namun karena raja sedang duduk di jalanan batu,
seorang pelayan tidak mungkin duduk santai di bangku.
Sambil melihat bangku yang kosong di samping, keduanya duduk
di atas jalanan batu. Jarak di antara mereka masih berjauhan.
Prius membungkus tiga buah canele menggunakan sapu
tangannya, lalu memberikannya kepada Teresalisa.
Canele yang dimakan oleh raja rasanya berkali-kali lipat
lebih manis dan lezat daripada yang disumbangkan ke dapur.
Teresalisa dan Prius mulai bertemu setiap malam di atas
dinding kastil yang sepi.
Bagi Teresalisa sendiri, ia merasa tidak berniat untuk
janjian bertemu, namun setiap kali naik ke dinding kastil untuk melihat
matahari terbenam, ia mulai berpikir apakah hari ini Prius sudah datang atau
belum.
Jarak antara mereka berdua yang duduk di jalanan batu
semakin hari semakin menyusut. Lambat laun mereka mulai duduk di masing-masing
ujung bangku, dan jarak mereka menjadi cukup dekat hingga tangan Teresalisa
bisa menjangkau piring kayu berisi canele tanpa perlu dibungkus sapu tangan
lagi.
Di hari saat hujan turun, karena mereka tidak bisa keluar ke
lorong penghubung di atas dinding kastil, keduanya menghabiskan waktu di dalam
menara pengawas. Musim telah berganti menjadi awal musim gugur. Prius
membawakan teh herbal lemon balm yang hangat, lalu menambahkan madu ke dalam cangkir
Teresalisa.
"Teh herbal yang manis dan lezat seperti ini…… baru
pertama kali saya merasakannya."
"Ini dipesan khusus dari wilayah Elder. Favoritku,
lho?"
Prius tersenyum bangga, memberikan izin kepada Teresalisa
untuk menikmati kemewahan yang terlalu berlebihan bagi seorang pelayan.
Sedikit demi sedikit setiap harinya, Teresalisa menceritakan
kisah masa kecilnya di karavan sebagai ganti canele. Garis punggung gunung
berbatu yang dilihatnya dari bak kereta, kaktus yang berdiri sebatang kara di
hamparan tanah, dan suara derap kuku kuda serta roda yang tak terhitung
jumlahnya. Ia menceritakan pemandangan yang telah ia lihat kepada Prius.
Sekawanan kereta kuda yang baknya ditutupi oleh terpal.
Bulan yang mengambang di langit malam akan selalu mengikuti tanpa kenal lelah
ke mana pun mereka pergi.
Teresalisa berniat menceritakan betapa keras dan
menderitanya hidup sebagai pengembara. Namun Prius justru merasa iri dengan
masa kecil Teresalisa. Ia berkata bahwa ia juga ingin mencoba kehidupan seperti
itu.
Teresalisa menggelengkan kepalanya. Pria yang dibesarkan di
lingkungan nyaman seperti Prius pasti tidak bisa menangkap maksud ceritanya
dengan baik. Hal itu membuatnya merasa kesal sekaligus sedih. Ia ingin
menyampaikan perasaan yang dipendamnya dengan lebih jelas. Ingin membuatnya
mengerti. Tidak ada hal yang pantas dicemburui. Karena Teresalisa justru
melarikan diri dari karavan karena membenci kehidupan nomaden semacam itu.
Melihat Teresalisa menjadi cemberut, Prius merasa
kebingungan.
"Habisnya bisa bepergian bebas tanpa terikat oleh apa
pun itu adalah hal yang luar biasa, kan? Setiap hari, esok yang berbeda dari
hari ini sudah menunggu kita, kan? Kalau aku, aku yakin bisa menikmati seluruh
keseharian itu, lho."
"……Walaupun keseharian itu adalah batas antara hidup
dan mati?"
Kehidupan di karavan sama sekali bukan kehidupan seperti
yang dibayangkan oleh Prius. Demi bertahan hidup, tidak jarang mereka melakukan
tindakan kejahatan. Teresalisa sempat ragu, namun ia menceritakan tentang
perampokan rumah yang dilakukannya atas perintah sang pemimpin karavan. Jikalau
harus melukai orang lain demi bertahan hidup, maka sudah pasti hidup aman di
kastil jauh lebih baik. Ia ingin Prius memahami hal tersebut.
"……Tugas saya adalah, masuk ke dalam kediaman sebagai
budak, lalu menyelidiki kekayaan mereka serta apakah ada penjaga atau
tidak."
"Kaum Pengembara" pada umumnya tidak melakukan
tindak kejahatan semacam itu.
Namun karavan yang memungut Teresalisa bukanlah karavan
biasa. Sang pemimpin menjual anak-anak sebagai budak ke kediaman pedagang kaya
atau bangsawan, lalu menyuruh mereka melakukan pengintaian. Kemudian di waktu
saat pengawasan paling lengah, mereka menyuruh anak-anak itu membuka kunci dari
dalam, lalu orang-orang dewasa akan menerobos masuk untuk merampok. Itulah
modus operandi karavan yang dipimpin oleh orang tersebut.
"……Bagi saya yang dibesarkan di karavan, kehidupan
semacam itulah yang terasa lumrah."
Sang pemimpin sangat mengandalkan Teresalisa yang merupakan
seorang Witcheses, dan memprioritaskannya untuk dikirim sebagai budak
dibandingkan anak-anak lainnya. Teresalisa yang berkulit putih dan bermata
indah sangat populer khususnya di wilayah selatan, dan akan langsung terjual
dengan harga setinggi apa pun.
Jikalau situasi berubah menjadi berbahaya, gunakan sihir
untuk segera melarikan diri──sang pemimpin berkata demikian, namun tak peduli
meskipun ia bisa menggunakan sihir, bagi anak perempuan berusia sepuluh
tahunan, kehidupan di kediaman yang tidak diketahui kapan kedoknya akan
terbongkar sungguh teramat menakutkan.
Setelah tumbuh menjadi gadis remaja, ada kalanya ia
dipanggil ke tempat tidur majikannya. Sebagai cara untuk menjaga kesuciannya,
Teresalisa mengubah warna lidahnya menggunakan sihir. Ketika ia menjulurkan
lidahnya yang berwarna merah keunguan yang tampak beracun dan memohon dengan
lemah, “Saya sedang sakit,” seluruh majikan akan langsung kehilangan selera dan
mengusir Teresalisa dari tempat tidur mereka. Skenario terburuknya adalah ia
akan diusir dari kediaman tersebut, namun jika itu terjadi, ia tinggal mencari
target baru. Daripada Teresalisa kehilangan keperawanannya, sang pemimpin
mengizinkannya melakukan hal tersebut.
Pada dasarnya, perampokan dilakukan setelah penghuni rumah
tertidur lelap. Namun jika pengintaiannya kurang matang, atau sedang bernasib
sial, mau tidak mau hal tersebut akan berujung pada pertempuran. Ada kalanya
Teresalisa terpaksa harus menggunakan sihirnya untuk bertarung.
Ia membenci harus bertarung melawan orang-orang yang
merawatnya di kediaman tersebut. Oleh karena itu, Teresalisa selalu berhadapan
dengan mereka seraya memohon di dalam hatinya agar mereka tidak menyerangnya.
Memohon agar mereka melepaskannya. Memohon agar mereka tidak mendekat. Karena
jika mereka mendekat, ia terpaksa harus membunuh mereka──. Oleh karena itu,
sebagai senjata yang dibentuk dengan sihir, ia memilih sesuatu yang bisa
memberikan ketakutan pada orang-orang dalam sekali pandang──sebuah sabit besar.
Sambil menutupi identitasnya sebagai seorang Witcheses,
Teresalisa menceritakan pengalamannya kepada Prius. Memilih kata-katanya dengan
saksama, dan dengan sopan. Ia menceritakan betapa menderitanya hal itu.
"……Maafkan aku."
Begitu Teresalisa selesai berbicara, Prius menundukkan
kepalanya.
"Aku sama sekali tidak menyadari betapa berbahayanya
kehidupan yang kau jalani."
Teresalisa terkejut. Apakah seorang raja juga bisa
menundukkan kepala untuk meminta maaf.
"……Tidak. Saya sendirilah yang telah menceritakan hal
yang tidak perlu. Mohon maafkan saya……"
Ia menceritakannya bukan demi sebuah canele. Bukan karena
diminta, melainkan karena Teresalisa sendiri yang ingin didengarkan. Ia sendiri
yang memutuskan untuk menceritakannya. Ia merasa menyesal atas hal itu.
Prius juga ganti menceritakan sebuah kisah kepada
Teresalisa. Kisah masa kecilnya sendiri.
Karamnya kapal dagang yang ditumpangi kedua orang tuanya
terjadi tepat setelah Prius merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh. Di usia
sepuluh tahun, Prius telah memikul tanggung jawab besar sebagai "Raja
Singa".
"Melihat para abdi dalem yang menangis tersedu-sedu
atas kematian orang tuaku, aku mati-matian menahan air mata. Aku merasa bahwa
aku satu-satunya yang tidak boleh menangis. Karena seekor singa tidak akan menangis
di depan orang lain."
Duduk di bangku batu, Prius tersenyum kepada Teresalisa.
"Pada saat itulah untuk pertama kalinya aku menjadi
'Raja'."
Mendengar ceritanya, kali ini giliran Teresalisa yang
menundukkan kepala seraya meminta maaf, "Maafkan saya."
Sama halnya seperti Prius yang tidak begitu memahami
"Kaum Pengembara", Teresalisa juga tidak begitu memahami seorang
raja. Raja yang ia kira hanya hidup bersantai di kastil rupanya selalu
memikirkan bagaimana cara memperbaiki kehidupan rakyat yang mendiami negara
ini.
"Teresalisa. Bagaimana pendapatmu tentang negara
ini?"
Prius bangkit dari bangku, lalu berdiri di depan dinding
batu.
Matahari yang terbenam di cakrawala sedang mewarnai
pemandangan kota bata merah dengan warna jingga.
Berlatarkan pemandangan yang terhampar luas, Prius
merentangkan kedua lengannya.
"Kau telah melihat berbagai negara sebagai bagian dari
'Kaum Pengembara', kan? Dibandingkan dengan negara-negara yang pernah kau
kunjungi, bagaimana dengan Lowe? Di matamu, bagaimana negara ini terlihat?"
Duduk di bangku, Teresalisa berpikir sejenak sebelum
menjawab.
"……Tampak berkilauan. Rakyat negara ini sangat
mencintai negara mereka sendiri. Mereka merasa bangga menjadi rakyat Lowe.
Negara yang seperti itu adalah negara yang penuh semangat dan kuat──"
"Hanya saja──" Teresalisa menggantungkan
kalimatnya.
Meskipun sulit diucapkan, ia harus menyampaikannya.
Karena raja di hadapannya ini pasti tidak mengharapkan
pujian palsu belaka.
"Semakin kota ini bersinar terang, bayangannya juga
akan semakin pekat. Di balik Jalan Kemenangan yang gemerlap, di kawasan kumuh
'Kota Abu' banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan menderita dalam
kemiskinan. Para budak yang seharusnya dilarang juga masih diperjualbelikan
secara sembunyi-sembunyi. Negara ini masih dalam tahap perkembangan. Saya rasa
negara ini sedang dalam proses tumbuh menuju negara ideal yang dicita-citakan
oleh Yang Mulia Raja Singa."
"……Ya, analisis yang luar biasa. Kau memperhatikannya
dengan sangat baik."
Prius mengangguk dalam-dalam.
"Aku ingin menjadikan negara ini lebih baik lagi. Tidak
hanya bagi kaum kaya yang sukses dalam perdagangan, melainkan juga bagi kaum
miskin dan penduduk selain orang-orang Transmare, aku ingin mereka bisa
membusungkan dada dan merasa bangga sebagai rakyat Lowe. Aku ingin menjadi raja
yang bisa menerangi setiap sudut gelap di kota ini. Apakah aku bisa menjadi
raja yang seperti itu?"
"Pasti bisa."
Teresalisa langsung menjawab dengan mantap.
"Yang Mulia Raja Singa mampu berada di sisi rakyat.
Mampu membuat orang-orang bersemangat. Bagaikan matahari, Anda bisa membuat
kota ini bersinar. Karena Yang Mulia Raja Singa sesungguhnya telah menjadi raja
yang seperti itu."
Lalu, setelah berpikir sejenak, ia menambahkan.
"……Saya sangat menyukai pemandangan yang terlihat dari
tempat ini. Melihat warna merah batu bata yang semakin pekat akibat sinar
matahari terbenam, dan menyaksikan seluruh kota berkilauan memantulkan cahaya.
Saya merasa bahagia karena bisa memonopoli pemandangan seperti itu sendirian.
Berpikir bahwa tidak ada kemewahan yang lebih besar dari ini. Namun──"
Teresalisa memperlihatkan gigi gingsulnya, lalu tertawa
riang tanpa beban.
"Senja yang kulihat bersama Yang Mulia Raja Singa,
entah mengapa terasa jauh lebih indah."
Embusan angin sore musim gugur bertiup, membuat rambut
panjang Teresalisa melambai lembut. Ujung rambutnya yang menari ditiup angin
terkena sinar matahari senja, berkilau layaknya benang emas. Prius terdiam
terpaku oleh kecantikan tersebut.
"……Teresalisa."
"Iya, ada apa?"
Teresalisa memiringkan kepalanya sedikit.
"Bolehkah aku menciummu?"
"Hah!?"
Terkejut oleh permintaan yang tidak terduga, Teresalisa
menarik bahunya dan menutupi mulutnya dengan punggung tangan.
"Pria brengsek. Anda menganggap saya ini apa? Jika Anda
hanya ingin bermain-main, tolong cari pelayan lain saja."
"Begitu, ya, maaf. Kalau begitu mari kita
menikah."
"Hah……?"
Teresalisa mengerutkan alisnya, merasa semakin marah.
"Bicara apa Anda ini. Tolong hentikan lelucon
Anda!"
"Aku serius. Hal yang sudah lama kupikirkan. Sama
sepertiku yang membuat kota ini bersinar, kau akan membuat diriku bersinar.
Teresalisa, karena kau akan menjadi kekuatan hidupku. Maukah kau terus
mendukungku di sisiku mulai dari sekarang?"
Prius berdiri di depan Teresalisa, lalu mengulurkan
tangannya.
"…………"
Apakah orang ini serius? Teresalisa menatap balik mata Prius
untuk mencari makna di balik kata-katanya. Namun karena terbentur oleh tatapan
lurus Prius, Teresalisa menundukkan pandangannya sambil tetap duduk di bangku.
Ia tidak mencoba menyambut uluran tangan tersebut.
"……Tidak boleh. Yang Mulia Raja Singa sama sekali tidak
mengenal diri saya."
"Aku mengenalmu, kok."
Jawab Prius.
"Kau adalah pelayan di kastil ini, dan berasal dari
'Kaum Pengembara'."
"Hanya itu saja yang Anda ketahui. Mungkin saya
menyembunyikan hal lain."
"Contohnya?"
"Contohnya……. Contohnya,"
Dengan penuh tekad, Teresalisa bangkit berdiri dari bangku.
"Jikalau saya──"
──adalah seorang Witcheses, apa yang akan Anda
lakukan.
Teresalisa menatap tajam ke arah Prius yang mundur
selangkah. Namun kata-kata yang ingin diucapkannya tersangkut di tenggorokan.
Ia sama sekali tidak bisa mengeluarkannya.
"Jikalau kau, apa?"
"……Tidak. Bukan apa-apa."
Teresalisa menutupi wajahnya dan kembali menunduk.
"Maksud saya, Yang Mulia Raja Singa adalah penguasa
suatu negara, jadi tidak seharusnya menikah dengan wanita dengan asal-usul yang
tidak jelas seperti saya. Sebaiknya Anda memikirkannya lebih matang
lagi──"
"Soal asal-usul yang tidak jelas, aku tidak peduli sama
sekali. Entah kau pelayan kastil, atau berasal dari 'Kaum Pengembara'.
Contohnya…… ya, andaikan pun kau adalah seorang Witcheses."
"Eh."
Teresalisa mendongak dengan wajah terkejut.
Entah sebuah kebetulan atau tidak, Prius mengucapkan kata
yang tidak bisa diucapkan oleh Teresalisa.
Tangan besarnya membelai lembut pipi Teresalisa. Prius
menatap mata merah Teresalisa yang tampak bergetar penuh kecemasan dengan penuh
kasih sayang. Bulu matanya yang bergetar tampak berkilau terkena cahaya
matahari senja.
"……Karena itu jangan lupa. Orang yang membuatku jatuh
cinta adalah dirimu yang berdiri di sini sekarang. Tak peduli siapa pun dirimu
sebenarnya, aku akan terus mencintaimu."
Iris matanya yang cerah tampak berkaca-kaca oleh air mata.
Teresalisa mengedipkan matanya sekali.
"……Anda benar-benar raja yang aneh, ya."
Wajahnya memerah, dan ia memalingkan pandangannya seolah
ingin melarikan diri dari tatapan lembut Prius.
"A-Asal Anda tahu saja, ciuman ini adalah, ciuman
pertamaku, lho."
"Aku mengerti, jadi jangan menangis lagi. Karena aku
ingin kau terus tersenyum."
"Siapa juga yang menangis……!"
"Ya, kau benar."
Setelah berkata demikian, Prius menyentuhkan bibirnya dengan
lembut.
Di langit yang mulai diwarnai warna biru tua, bulan putih
tampak mengambang. Bulan yang selalu mengikuti tanpa merasa bosan itu, hari ini
pun menatap Teresalisa dari atas sana.
Gadis kecil yang di hari itu mengulurkan tangannya ke bulan
dari atas bak kereta, kini telah berubah seiring dengan kedewasaannya. Mengubah
nama, mengubah kehidupan, dan berhenti menjadi seorang Witcheses.
Dipeluk erat dalam pelukan Prius, Teresalisa merasakan
kedamaian. Bahkan dirinya yang selama ini hidup sebagai seorang Witcheses
pun, mulai saat ini mungkin akan bisa tersenyum bahagia, itulah yang ada di
dalam benaknya.
2
Di dinding sel penjara tempat Teresalisa ditahan, terdapat
sebuah jendela besar setinggi pinggang.
Jendela itu tidak dilengkapi dengan kaca. Sekilas tampak
seperti jalan untuk melarikan diri, namun tempat ini adalah lantai paling atas Menara
Kurungan. Para penjahat yang pernah mencoba melarikan diri dari sana
semuanya tewas terjatuh. Tidak ada satu pun yang berhasil lolos dengan selamat.
Terpaan angin dan hujan yang terus-menerus masuk dari
jendela besar itu menggoyangkan nyala api obor yang dipegang oleh Roro.
Di dalam sel yang pintunya terbuka, Roro yang berjongkok
sedang berhadapan dengan Teresalisa yang duduk di lantai.
Teresalisa terus menunduk dan tidak berniat mengangkat
wajahnya. Dari penampilannya saja terlihat jelas bahwa ia sangat kelelahan dan
putus asa.
Roro menyodorkan cermin tangan titipan dari Diethelm kepada
Teresalisa, namun wanita itu enggan menerimanya.
"…………"
Roro kembali menyimpan cermin tangan itu ke dalam karung
rami, lalu mengeluarkan setumpuk kunci. Kunci yang dirampasnya dari Figaro yang
telah dikalahkannya. Dari tumpukan tersebut, ia memilih kunci berwarna putih
dengan garis merah, yang bentuknya sama dengan borgol batu yang mengekang kedua
pergelangan tangan Teresalisa.
"Sepertinya ini adalah kunci untuk borgol tangan Anda.
Saya akan melepaskannya sekarang, ya."
Borgol batu yang mengekang pergelangan tangan Teresalisa
juga berfungsi sebagai alat sihir penyegel kekuatan sihir. Jika dilepaskan, ia
pasti akan bisa menggunakan sihir kembali. Namun, meskipun Roro mendekat dengan
bertumpu pada kedua lututnya, Teresalisa tetap tidak mau mengulurkan tangannya.
"……Untuk apa kau datang kemari."
Teresalisa bertanya dengan nada bergumam sambil tetap
menundukkan kepala.
"Untuk membawa Anda pergi dari sini. Saya tidak akan
membiarkan Anda dihukum bakar. Berbeda dengan insiden penyerangan kereta kuda
semalam, ini bukanlah kehendak dari Campusfellow. Melainkan atas permintaan
Putri Snow White."
Snow White. Mendengar nama itu, Teresalisa langsung
mengangkat wajahnya.
"……Dia masih hidup?"
"Ia masih hidup. Berkat bantuan Tuan Diethelm, ia
selamat dari insiden Pernikahan Berdarah dan saat ini sedang
menyembunyikan diri. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Anda."
"Tunggu, kalau begitu bagaimana dengan Tuan
Prius?"
Teresalisa bertanya dengan tatapan memohon.
Roro menggelengkan kepalanya pelan.
"……Sangat disayangkan. Satu-satunya yang selamat dari Pernikahan
Berdarah hanyalah Putri Snow White dan Tuan Diethelm saja."
"…………"
"Putri Snow White sangat berharap bisa menyelamatkan
Anda. Ia merasa kasihan pada Anda yang dimanfaatkan oleh Omura Lowe dan
dijadikan kambing hitam sebagai seorang Witcheses, lalu meminta bantuan
kami untuk menolong Anda."
"……Anak itu rupanya masih menganggapku sebagai
permaisuri yang malang, ya. Bukannya dijadikan kambing hitam, aku ini memang
benar-benar seorang Witcheses. Berbohong, demi bisa menjadi seorang
permaisuri. Hal itu adalah fakta."
Teresalisa bangkit berdiri, mengambil jarak seolah ingin
menjauh dari Roro.
Roro mengikuti gerakannya dengan pandangan mata. Cahaya obor
di tangannya memantulkan bayangan besar Teresalisa ke dinding yang dingin.
"……Situasi ini, ibaratnya disebabkan oleh diriku
sendiri."
Ia mengingat dengan jelas sosok nenek bermata kiri buram
yang menuduhnya di persidangan. Dulu ia pernah menyusup ke kediaman Darcoil
sebagai pelayan. Ketika identitas aslinya terbongkar, ia mengayunkan sabit
besarnya untuk bertarung. Yang melukai nenek itu, memang benar adalah sihir
milik Teresalisa.
Insiden Pernikahan Berdarah bukanlah perbuatan
Teresalisa. Namun, insiden itu juga tidak sepenuhnya didalangi oleh Omura dari
awal hingga akhir. Omura mengetahui informasi bahwa Teresalisa adalah seorang Witcheses,
lalu memanfaatkannya untuk merebut takhta.
Jika demikian, penyebab asalnya berada pada dirinya sendiri.
Teresalisa sangat menyesali keputusannya datang ke Lowe. Ia sangat menyesali
pertemuan dengan Prius──dan menyalahkan dirinya sendiri yang ingin mengecap
kebahagiaan.
Masa lalunya saat mengayunkan sabit besar sebagai Mirror Witches
akhirnya berbalik menjeratnya, dimanfaatkan oleh Omura untuk membunuh Prius.
Masa lalu yang berusaha disembunyikannya, malah membunuh pria yang dicintainya.
Mata merahnya berkaca-kaca oleh air mata. Saking kesalnya,
ia menggigit bibirnya dengan kuat.
"……Seharusnya aku tidak pernah datang ke Lowe."
Dengan tubuh yang lunglai, Teresalisa duduk di ambang
jendela. Angin yang berhembus kencang menerbangkan rambut panjangnya.
Roro bangkit berdiri seraya memegang obor.
Kondisi Teresalisa sudah sangat lemah. Sangat jelas
terlihat, bahkan dibandingkan dengan kondisinya saat bertemu di atas kereta
kuda semalam.
"Apakah Anda berniat dibakar hidup-hidup……?"
"……Raja Singa meninggal dunia akibat diriku yang
seorang Witcheses, aku tidak punya muka lagi untuk bertemu Snow White.
Di negara yang sudah tidak ada Tuan Prius ini…… tidak ada lagi alasan bagiku
untuk terus hidup. Aku akan menerima kematian ini apa adanya."
Tatapannya menusuk Roro. Teresalisa berkedip perlahan
sekali.
"Akan tetapi, aku tidak akan dibakar hidup-hidup."
Gumam Teresalisa, lalu bangkit berdiri di atas ambang
jendela.
"Aku tidak akan membiarkan semuanya berjalan sesuai
rencana Omura──"
Jika drama pembalasan dendam atas pembunuhan kakaknya yang
direncanakan Omura baru akan tuntas dengan hukuman bakar untuk Teresalisa, maka
ia akan mengakhiri hidupnya sendiri sebelum itu terjadi. Bukan sebagai seorang Witcheses,
melainkan sebagai seorang permaisuri yang malang.
Teresalisa merebahkan tubuhnya ke belakang, menjatuhkan
dirinya ke luar jendela.
"Eh, tungg──"
Roro seketika melempar obornya dan menghentakkan kakinya ke
lantai. Dalam sekejap ia mendekati jendela dan melompat ke ambang jendela.
Ia mengulurkan lengannya sekuat tenaga untuk meraih tubuh
Teresalisa yang sudah hampir jatuh keluar jendela.
3
Setelah pengadilan Witcheses selesai, rombongan
Campusfellow yang tertahan oleh hujan yang tiba-tiba turun akhirnya ikut serta
dalam pesta yang diselenggarakan oleh Omura sesuai jadwal semula.
Itu adalah pesta penyambutan untuk mempererat hubungan
antara Campusfellow dan Lowe. Di dalamnya juga terdapat agenda penyerahan
Mirror Witches yang baru saja dijatuhi hukuman bersalah.
Rombongan Campusfellow diarahkan ke tempat yang bukan Ruang
Singgasana maupun Kamar Tamu Agung. Melainkan sebuah aula kecil yang
dapat menampung sekitar tujuh puluh orang. Di depan pintu masuk, para pengawal
jenderal dari Lowe berjaga-jaga, memeriksa agar para tamu tidak membawa senjata
masuk. Demi acara pesta, siapapun yang membawa pedang diminta untuk
menyerahkannya.
"Apa katamu? Tidak bisa. Tombak ini tidak akan
kuserahkan."
Seorang pria bertubuh besar berdebat karena dilarang membawa
tombaknya masuk. Itu adalah Heartland.
"Ini adalah benda yang sangat kuperlukan untuk
melindungi tuanku. Jangan khawatir, aku tidak akan mengayun-ayunkannya
sembarangan."
"Namun, ini sudah aturannya."
"Kalian ini benar-benar tidak bisa diberi kelonggaran
sedikit pun!"
Seseorang menyentuh punggung besar pria itu. Saat menoleh,
tampak seorang gadis dengan pakaian biarawati berdiri di belakangnya.
"Tombak yang mengesankan ya. Apakah ini tombak yang
sudah membunuh banyak orang?"
"Siapa kau……?"
Mata yang sayu dan tampak mengantuk itu menatap lurus ke
arah Heartland. Ferocactus.
Tanpa mempedulikan Heartland yang kebingungan, Ferocactus
menoleh kepada para pengawal jenderal.
"Orang ini boleh lewat. Tidak apa-apa meskipun ia
membawa tombaknya."
Para pengawal jenderal saling bertukar pandang, namun
mengikuti instruksi gadis itu dan mengizinkan Heartland masuk.
Memasuki aula, Heartland melihat ke belakang dengan tatapan
tidak yakin. Apakah gadis itu memiliki otoritas lebih tinggi daripada para
pengawal jenderal? Ferocactus terus menyapa para Kesatria Besi dan Api yang
tiba di aula satu per satu, menjabat tangan dan memeluk mereka. Ia juga memeluk
tiba-tiba Cappuccino yang datang bersama Delirium, membuatnya terkejut. Gadis
itu sepertinya tidak tahu jarak.
Menyapukan pandangan ke seluruh ruangan aula, orang-orang
Lowe, dengan Omura sebagai pusat, duduk di mimbar paling ujung. Di sisi kiri
dan kanan Omura, para penasihat utamanya telah mengambil posisi. Di kursi
paling ujung, duduk seorang hakim dengan rambut palsu putihnya. Itu adalah
Radgini. Ia sudah mulai meneguk anggur merah meskipun belum dilakukan prosesi
bersulang.
Matahari telah terbenam. Nyala api lilin berkelip di
mana-mana, di sepanjang dinding aula maupun di atas meja-meja. Di lantai,
tersusun banyak meja panjang yang tertata rapi.
Bado dan Meister Shimei berada di barisan paling
depan. Di atas meja sudah dihiasi dengan hidangan lezat. Ayam panggang utuh,
kue daging, dan tong-tong kecil berisi anggur merah telah disiapkan.
Aula tersebut memiliki rancangan balkon di lantai dua yang
bisa memandang langsung ke lantai satu, di mana sekelompok musisi sedang
memainkan musik riang. Mereka memainkan musik penyambutan bagi tamu dari
Campusfellow yang terus berdatangan.
"Benar-benar sambutan yang hangat."
Bado menggumam sambil mendongak ke arah kelompok musisi
tersebut.
Karena acara penyambutan ini juga akan menjadi momen
penyerahan Witcheses secara rahasia, tamu yang diundang hanyalah dari
pihak Campusfellow. Tak peduli status mereka, mulai dari para kesatria hingga
para pengikut, kursi telah dipersiapkan bagi semuanya. Benar-benar pesta yang
sangat royal.
"Pada akhirnya Tuan Lowe sepertinya memang tidak punya
niatan untuk menyerahkan Witcheses itu. Sambutan ini kemungkinan besar
hanyalah formalitas semata."
Shimei yang duduk di sebelah Bado menyahut seraya menuangkan
anggur merah ke cangkir kayu.
"Memang benar, setelah disambut sebaik ini, mungkin
kita tidak akan bisa marah jika ia berkata tidak bisa menyerahkannya."
Acara ini sepertinya dirancang untuk memperbaiki hubungan
yang mungkin retak jika negosiasi dibatalkan. Itu sebabnya mereka menjamu
Campusfellow dengan hidangan berlimpah. Namun, Bado tidak merasa terganggu
meskipun negosiasi tersebut batal. Toh, saat pandangan Omura teralihkan pada
acara ini, Anjing Hitam dijadwalkan akan membawa Teresalisa kabur.
"Tetapi suasananya tidak nyaman, ya."
Bado menunjuk ke arah kesatria-kesatria emas yang berdiri di
pinggir panggung dan di dinding dengan menggunakan dagunya.
"Jika ini adalah bentuk keramahan, mereka juga harus
ikut minum, kan."
Dengan wajah tegang, mereka terus menatap ke satu titik
dengan zirah emas mereka yang berkilau di bawah temaram cahaya lilin. Seperti patung
yang menjadi hiasan.
"Mereka sangat tekun dalam pekerjaannya. Kudengar, para
kesatria Lowe dilarang meminum alkohol selama mereka mengenakan zirah."
Shimei memberikan cangkir yang sudah dituangi anggur merah
kepada Bado.
"Omong-omong, di mana Edelweiss? Kurang etis jika
Menteri Luar Negeri terlambat ke acara pertemuan seperti ini."
"Entahlah. Ia ada di pengadilan Witcheses tadi,
namun……"
Shimei memutar pandangannya. Sosok pria botak setengah baya
itu tidak tampak di mana pun.
Pada saat itu, di mimbar bagian depan aula, Omura berdiri
sambil memegang piala perak. Alunan musik pun berhenti.
"Tamu-tamu dari Campusfellow yang terhormat, selamat
datang. Hari ini sungguh hari yang luar biasa. Kita berhasil menghukum Witcheses
pembunuh Raja Singa dan menuntaskan dendam kakakku. Hari ini pula aku, Omura
Lowe, resmi menyandang gelar 'Raja Singa'. Merupakan sebuah kehormatan bisa
merayakan hari peringatan ini bersama Anda sekalian dari Campusfellow."
Walaupun upacara penobatan resmi menjadi Raja Singa masih
akan lama, di atas kepala Omura sudah terpasang sebuah mahkota emas yang
berkilauan.
"Silakan nikmati hidangan dan minuman, rayakanlah malam
di Lowe ini sepuasnya. Witcheses itu akan segera kami bawa──"
"……?"
Bado mengerutkan dahi. Bertentangan dengan dugaannya, apakah
Omura benar-benar berniat menyerahkan Witcheses tersebut?
"Demi masa depan Lowe dan Campusfellow!"
Omura mengangkat piala peraknya. Diikuti oleh para hadirin
di aula, mereka masing-masing mengangkat cangkir. Musik ceria kembali bergema
di seluruh ruangan.
Beberapa saat setelah pesta dimulai, sosok Delirium tidak
terlihat di dalam aula.
"……Apa? Pembicaraan apa yang mengharuskan aku?"
Lawan bicaranya yang menatapnya dengan tatapan heran adalah
Anemone, hakim yang mengenakan gaun hitam. Ia membisiki Delirium bahwa ada hal
penting yang hanya boleh diketahui oleh sang putri, lalu menariknya keluar
hingga ke lorong. Anemone memandang sekeliling, memastikan bahwa lorong
tersebut sepi.
"Tolong pinjamkan telinga Anda."
Saat Anemone mendekatkan wajahnya ke Delirium, pada saat
itulah.
Sebuah tentakel hitam tiba-tiba muncul dari bayangan di
bawah kaki Anemone. Tentakel-tentakel tersebut melilit tubuh Delirium bagai
pusaran air, menggabungkan diri dan membentuk wujud.
"……!!"
Wujud yang melingkarkan lengannya ke punggung Delirium itu
adalah sosok pria yang sama hitamnya dengan bayangan. Ia membekap mulut
Delirium dengan satu tangan, dan lengannya yang lain melilit tubuh sang putri
dari belakang.
Di bawah cengkeraman pria tersebut, kaki Delirium mulai
tenggelam ke dalam bayangan Anemone. Dalam sekejap, tubuhnya tersedot
sepenuhnya ke dalam kegelapan. Lorong kembali seperti semula, tenang tanpa
bekas apa pun. Hanya sayup-sayup suara orang-orang yang bersuka ria terdengar
dari balik pintu aula.
"Hoho……!"
Anemone menutupi mulutnya dengan senyuman kecil, lalu
melangkah pergi ke arah yang berlawanan dari aula.
"Maaf……. Putri tidak ada di mana pun……"
Cappuccino berjalan menuju meja baris terdepan, lalu
berkata. Karena Bado sedang tidak ada di tempatnya, Shimei yang memegang anggur
merah menoleh.
"Apa? Bukankah ia hanya pergi ke toilet?"
"Awalnya saya juga berpikir begitu dan mengecek ke
sana, namun ia tak terlihat di mana-mana……"
"Hmm……. Ini tentang sang putri tomboi kita.
Jangan-jangan ia keluyuran lalu tersesat……. Biar kusampaikan pada Tuan Bado.
Tunggu sebentar."
Shimei mengalihkan pandangannya ke Bado yang berdiri di
depan mimbar.
Bado sedang menyampaikan salam hormat kepada Omura yang
menduduki mimbar.
"Selamat atas penobatan Anda sebagai Raja Singa,
Tuan."
Bado menampakkan senyuman ramah, memegang cangkir kayu
berisi anggur di tangannya.
"Ya, terima kasih."
Omura memandang Bado sekilas dari mimbarnya, dan dengan agak
angkuh mengangkat cangkir peraknya.
"…………"
Jawabannya terasa sangat dingin. Senyuman yang dipalsukan di
wajahnya tadi malam telah hilang sama sekali. Apakah ia menjadi begitu tinggi
hati karena penobatan sebagai Raja Singa?
"Terkait penyerahan Witcheses itu──"
Di saat Bado sedang berbicara, seorang kesatria tiba-tiba
naik ke atas mimbar dan berlutut di sebelah Omura. Ia membisikkan sesuatu
kepadanya. Meskipun Bado sedang berbicara, Omura membiarkannya dan membisikkan
balasan kepada kesatria itu.
Kesatria itu kemudian turun dari mimbar, berlari melewati
Bado menuju pintu depan aula. Bado menoleh dan memperhatikan punggung kesatria
tersebut. Lalu, kesatria itu menutup pintu depan aula.
Sebuah perasaan aneh dan ganjil mulai merasuk.
"…………"
Bado kembali menyapukan pandangannya ke seluruh aula.
Menatap lurus ke mimbar tempat Omura duduk, di sisi kanan
aula, empat jendela besar berjajar. Jendela tersebut dihiasi kaca patri.
Melalui kaca patri yang berwarna-warni itu, terpampang gambar sebatang pohon ek
dan seekor singa. Ada tiga kaca patri yang menggambarkan perubahan musim, musim
semi, musim panas, dan musim gugur. Singa berubah menjadi manusia di setiap
musim, namun, kaca patri keempat yang seharusnya menggambarkan musim dingin,
tidak ada.
Apakah jendela keempat itu pecah? Terlihat papan kayu
ditutupi di sana.
Bado menggunakan ujung kakinya untuk membalik karpet yang
digelar di bawah kakinya. Terlihat ubin batu dengan pola geometris. Pola ini
sangat umum ditemukan di kapel-kapel tempat Dewa Perang Vayaris disembah──.
Di sana, terlihat sisa-sisa bercak darah kehitaman yang
belum sepenuhnya terhapus bersih.
"……Tempat ini adalah"
Aula kecil ini adalah kapel. Tempat di mana insiden Pernikahan
Berdarah terjadi, di mana lebih dari lima puluh orang, termasuk Raja Singa
Prius Lowe, dibantai. Para kesatria yang tangguh, dalam keadaan tak bersenjata,
dikurung dan dibunuh di kapel ini.
Situasi ini terasa sangat mirip. Menyadari musik yang riang
telah berhenti, Bado menatap ke arah balkon lantai dua. Sosok kelompok musisi
yang sebelumnya berada di sana, telah menghilang.
"──Permisi, Tuan Grace. Kita tadi sedang berbicara.
Tentang penyerahan Witcheses, apa yang Anda katakan?"
Omura menunduk menatap Bado dari mimbarnya. Ia tak lagi
memalsukan senyuman sopannya, melainkan memasang wajah yang menyeringai sinis.
Bado menatap tajam ke arah Omura, mengerutkan dahinya.
"……Mengapa?"
Syush──.
Sebuah anak panah busur silang (crossbow) menembus perut
Bado.
Bado secara refleks menatap perutnya. Darah segar berwarna
merah menetes ke sisi perutnya.
Di balkon lantai dua, yang sebelumnya menjadi tempat musisi
bermain, kini berdiri kesatria-kesatria dengan memegang busur silang. Syush,
syush, anak panah dilepaskan satu demi satu, mengenai punggung dan paha
Bado.
Bado terhuyung-huyung, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh
tersungkur.
"Tuan Badooo!!"
Melihat kejadian itu, Shimei berteriak panik. Ia langsung
bangkit dari kursinya. Di saat yang sama, seorang kesatria berbaju zirah emas
melangkah ke belakangnya. Kesatria itu merangkul lengan dari arah belakang. Di
tangannya, ia memegang sebilah pisau belati.
Dalam satu tarikan kuat, pisau itu mengoyak leher Shimei
secara horizontal, dan darah menyembur keluar dengan deras.
"A-Apa…… ini……?"
Wajah Cappuccino yang berdiri berhadapan dengan Shimei
memercik darah segar.
"Kyaaaaaaaa……!!"
Di samping Shimei yang jatuh lemas ke lantai, Cappuccino
menjerit histeris.
Suara pedang yang dicabut bergema di dalam kapel. Kesatria
Singa Emas yang berdiri di sepanjang dinding mulai menyerang para tamu. Utusan
dari Campusfellow tidak mampu memahami apa yang terjadi, karena serangan yang
datang sangat tiba-tiba. Ketakutan, mereka berlarian menyelamatkan diri,
sementara pedang-pedang berayun menghabisi mereka satu per satu.
Seorang birokrat muda kepalanya ditebas dengan pedang ganda.
Para Kesatria Besi dan Api yang bertarung tanpa senjata dikepung dari depan dan
belakang, perut mereka tertusuk. Seorang peracik parfum wanita yang bersembunyi
di bawah meja ditarik keluar dan pedang ditusukkan ke punggungnya.
Bado mematung dan memandang ke sekeliling, menyaksikan
pembantaian massal yang tengah terjadi.
Meja-meja panjang terjungkal, dan makanan berserakan. Di
tengah ratapan dan jeritan kesakitan, semburan darah menyebar ke segala
penjuru. Hampir enam puluh utusan dari Campusfellow dibantai tanpa
perlawanan──. Apa yang terpampang di depan mata tampak seperti sebuah neraka.
──Apa ini. Apa yang sedang terjadi……?
Pemandangan yang tidak masuk akal ini membuat Bado merasa
pusing. Suara-suara mulai menjauh. Apakah ini mimpi buruk──. Di tengah
keterkejutan Bado, Heartland menutupi tubuhnya. Panah busur silang menancap di
punggungnya.
"Ugh……!!"
"Heartland……!"
Heartland yang melindungi Bado dengan menjadikan tubuhnya
sebagai perisai, menahan rasa sakit sambil menggertakkan giginya.
"Tuan Bado, mohon maaf!"
Heartland merangkul Bado yang tidak bisa bergerak karena
cedera pada paha. Ia memindahkannya ke bawah meja agar terhindar dari jangkauan
tembakan panah busur silang.
Heartland sendiri segera berdiri dan berteriak, suaranya
menggelegar ke seluruh kapel.
"Ordo Kesatria Besi dan Api, jangan gentar! Lindungi
warga Campusfellow!"
Heartland mengetukkan ujung tombaknya ke lantai. Bam, bam,
mengiringi kata-kata penyemangatnya.
"Jika kalian tidak punya pedang, rebut milik musuh!
Gunakan kursi, meja, atau apa pun yang bisa dijangkau! Tidak ada alasan untuk
takut. Kita adalah Kesatria Besi dan Api. Kita akan mengubah cara bertarung
sesuai dengan kondisi pertempuran……!!"
Heartland mengayunkan tombaknya, mengubah bentuk senjatanya.
Dengan sedikit titik di atas tempat cengkeraman sebagai
porosnya, banyak mata pisau membuka layaknya kipas. Bukannya tiga atau empat
mata pisau, mata pisau yang bercabang dari tombak tersebut membentuk siluet
pohon. Inilah senjata favorit Heartland yang mampu membunuh banyak musuh dalam
satu tusukan──bentuk lain dari "Pohon Jeruk".
Para Kesatria Campusfellow tak bersenjatakan pedang. Namun,
sebagian dari mereka yang pagi ini ditugaskan untuk mempersiapkan kepulangan,
telah mengenakan perisai lengan dan pelindung kaki untuk persiapan perjalanan,
lalu mengikuti pesta. Perisai yang mereka miliki rata-rata memiliki fitur untuk
mengubah bentuk.
Seorang Kesatria Besi dan Api merentangkan pelindung
lengannya untuk menangkis pedang yang diarahkan padanya. Perisai lengannya
terbuka membentuk lingkaran seperti perisai dalam sekejap. Kesatria lain
menyembunyikan pisau belati dalam pelindung lengannya. Ada pula yang
menyembunyikan puluhan pisau kecil di ikat pinggangnya.
Masih bisa bertarung. Kesatria Besi dan Api membalas
serangan pembantaian ini.
Omura menuruni tangga dari mimbarnya. Dengan pengawalan para
pengawal jenderal, ia menuju ke pintu belakang di dekat mimbar.
"Tunggu! Omura!"
Bado melihat kepergiannya dan dengan cepat bangkit dengan
berpegangan pada meja.
"Kenapa……? Kenapa kalian menyerang Campusfellow pada
saat seperti ini?"
Omura berhenti, lalu menoleh.
"Apa-apaan bertanya kenapa? Apa kau tidak sadar?
Campusfellow telah menipu kami, berusaha merebut Witcheses itu. Kalian
mengelabui kami dengan janji membuat pedang sihir, namun mencoba menipu
aku. Dosa kalian adalah meremehkan martabat Lowe yang luhur ini."
Informasi kita telah bocor ke pihak musuh──.
Memang benar, kami berencana untuk menipu Lowe. Namun hal
yang sama berlaku untuk pihak mereka. Negosiasi antar negara sering melibatkan
penipuan, itu hal yang lumrah. Seharusnya Omura yang berprofesi sebagai
pedagang, memahami hal ini dengan baik. Jika pembantaian ini adalah balasan
karena mereka ditipu, maka hal ini benar-benar tidak proporsional.
Bado berusaha memprotes.
"Hentikan pembantaian ini……. Jika Tuan Tanah mereka
tewas dengan cara seperti ini, para kesatria yang masih berada di Campusfellow
tidak akan tinggal diam. Akan terjadi peperangan!"
"Ahaha!"
Omura tertawa.
"Apakah Campusfellow berani menantang negara besar
seperti Lowe? Memangnya kalian punya waktu untuk itu? Bukankah saat ini kalian
sedang sibuk menghadapi Kerajaan Amelia yang semakin mendekat?"
"…………"
Bado mengerutkan wajahnya dengan bingung. Omura benar.
Ancaman terbesar saat ini adalah Kerajaan Amelia. Untuk itulah Bado dan
rombongan berencana mengumpulkan Witcheses. Namun dari mana Omura bisa
mengetahui hal tersebut? Seberapa banyak informasi rahasia yang telah bocor──.
"Tapi tenanglah, Tuan Grace. Aku akan menjadikan
Campusfellow menjadi negara yang jauh lebih makmur dari sekarang."
"Apa maksudmu……?"
Omura tidak menjawab, hanya menyipitkan mata dengan keji
lalu pergi berlalu.
Tepat setelah itu. Dari pintu belakang, sekawanan pria
dengan zirah pelat abu-abu menerobos masuk dengan kapak dan pedang di tangan
mereka. Mereka adalah pasukan pribadi Omura, tentara bayaran Ordo Tengkorak dan
Kalajengking.
4
"Eungh…… Hmm……"
Delirium terbangun di sebuah kamar di dalam Kastil
Lowenstein.
Tempat ia menegakkan tubuh bagian atasnya adalah di atas
sebuah ranjang yang besar.
"……Hah?"
Rambutnya berantakan, dan sepatunya telah dilepaskan. Namun,
gaun koktail yang dikenakannya masih sama dengan yang dipakainya saat
menghadiri pesta. Delirium berusaha mengingat kembali memorinya. Seorang wanita
bangsawan bergaun hitam mengajaknya keluar ke lorong karena ada pembicaraan
rahasia──lalu ia diserang oleh bayangan wanita itu. Apakah hal itu hanya salah
lihat saja……?
Sejak saat itu, sudah berapa lama waktu berlalu. Delirium
melihat ke sekeliling ruangan. Itu adalah kamar yang tidak memiliki jendela. Di
beberapa tempat lilin-lilin tampak menyala, dan api juga sudah berkobar di
dalam perapian.
Bagian dalam kamar terasa sangat hangat hingga membuatnya
sedikit berkeringat.
Itu adalah ruangan yang luas. Sebuah penyekat besar
diletakkan di sana, memisahkan area ranjang dengan area di sebelahnya.
Di atas lemari besar yang diletakkan di dekat dinding,
terpajang kalung dari suatu suku, miniatur kapal, dan kotak perhiasan.
Memberikan kesan seperti kumpulan oleh-oleh dari berbagai negara. Alih-alih
dipajang sebagai dekorasi, benda-benda itu terlihat berantakan berserakan.
Beberapa buah topi yang dihiasi bulu-bulu mencolok tampak
tergantung di dinding, dan sebuah peta benua tertempel di sana.
Dan di tempat ini pun, sama seperti di Kamar Tamu Agung,
sebuah kepala rusa jantan awetan tampak terpasang di dinding. Ukuran tanduknya
jauh lebih besar dan megah daripada kepala rusa awetan mana pun yang pernah
dilihatnya selama ini.
"Keren, kan? Tanduk rusa itu."
Mendadak ditegur oleh sebuah suara, Delirium menoleh ke belakang.
Dari balik penyekat, Omura memunculkan wajahnya.
"Setelah upacara penobatan selesai dan aku resmi
mewarisi gelar Raja Singa, aku berencana untuk memajangnya di Kamar Tamu
Agung."
Omura berkata demikian seraya melangkah mendekati ranjang.
"Masyarakat di negara Lowe mengibaratkan diri mereka
sebagai singa. Ukuran tanduk rusa hasil buruan adalah bukti dari kekuatan yang
dimiliki. Namun karena aku tidak berburu, aku membelinya dengan menggelontorkan
uang dalam jumlah besar. Bukankah hal ini juga merupakan salah satu pembuktian
kekuatan? Kekuatan itu, bisa dibeli dengan uang."
"……Merampas rusa hasil buruan orang lain, bukankah itu
merupakan tindakan dari seekor herder (hyena)?"
Delirium menyahut penuh sindiran, namun Omura hanya
mengangkat bahunya saja.
"Mungkin kau masih belum memahaminya…… kehebatan dari
diriku ini. Sambil berjalan waktu, akan kuajarkan kepadamu perlahan-lahan. Nah,
aku membawakan jus anggur yang segar dan manis untukmu, lho."
Sambil tetap berdiri di dekat ranjang, Omura menyodorkan
cangkir perak di tangannya kepada Delirium.
"Bahkan sirup elderflower favorit sang putri pun
sudah dicampurkan di dalamnya."
"Tidak perlu. Aku mau kembali ke pesta."
"Oh, o-o. Sebaiknya jangan lakukan itu."
Tepat di saat Delirium membalikkan punggungnya berniat turun
dari ranjang, Omura mencengkeram bahunya.
"Jangan sentuh!"
Delirium secara refleks menepis tangan tersebut. Akibat
sentakan itu, jus anggur dari cangkir perak tumpah dan membasahi bagian dada
Omura. Di atas pakaian mewah berkilau emas miliknya, noda merah kehitaman
tampak meluas.
"Ugh……!! Dasar kau. Patuhilah perkataanku!"
Omura murka, lalu menggunakan tangannya yang tidak memegang
cangkir untuk mendaratkan tamparan di pipi Delirium.
"Kya!"
Delirium memegang pipinya yang ditampar, memasang wajah
terpaku. Namun hal itu hanya terjadi sesaat. Ia mengatupkan tinjunya kuat-kuat,
lalu membalas memukul pipi Omura.
"Ugh."
Omura mengerang kecil, namun pukulan dari lengan yang kurus
tersebut tidak memberikan dampak kerusakan yang berarti baginya.
Omura mencengkeram pergelangan tangan Delirium. Sambil
menaikkan lututnya untuk memanjat ke atas ranjang, ia membuang cangkir perak
tersebut. Kemudian ia mencengkeram pergelangan tangan Delirium yang satunya
lagi yang sedang meronta, lalu memaksanya jatuh terdorong ke belakang.
Kepala Delirium tenggelam di atas bantal. Di atas bagian
perutnya, tubuh tambun tersebut mendudukinya.
"Apa yang kau lakukan!? Lepaskan aku!"
"Begitu rupanya, kau memang benar-benar kuda liar yang
merepotkan…… Namun ya begitulah, semakin liar kuda yang sombong, kepuasan saat
berhasil menjinakkannya akan terasa luar biasa."
Omura mendekatkan hidungnya ke leher Delirium seolah hendak
mengendus aromanya. Suara napasnya yang mendengus-dengus menyerupai seekor
babi.
Kedua lengannya dicengkeram sehingga tidak bisa digerakkan.
Delirium menghentakkan kakinya dan menggelengkan kepalanya untuk meronta.
"Kyaaaa! Siapa saja! Tolong! Siapa saja tolong
aku!!"
"Sia-sia saja, kok. Rombongan dari Campusfellow tidak
akan pernah datang menolongmu. Tidak, mereka tidak akan bisa datang."
"Apa!? Apa maksud perkataanmu itu!"
"Saat ini, mereka sedang dibantai sebagai hukuman atas
kelancangan mereka yang berniat menipu diriku selaku Raja Singa."
"……Pembantaian?"
"Baik ayahmu, kesatria yang melindungimu, maupun para
pelayanmu. Orang-orang yang berharga bagimu semuanya sedang dihabisi tanpa
tersisa satu pun sekarang. Anggap saja ini sebagai reka ulang dari insiden Pernikahan
Berdarah."
Mata biru jernih Delirium terbelalak karena terkejut.
Melihat ekspresi wajah tersebut, Omura melepaskan tawa yang
keras.
"Ahaha! Benar-benar ekspresi wajah yang luar biasa! Aku
ini sangat, sangat menyukai wajah wanita cantik yang menangis dengan jelek,
tahu? Saat melihat orang sombong yang penuh percaya diri dihancurkan
kesombongannya dan diinjak-injak, rasanya memicu gairah cinta yang luar
biasa."
Omura menjilat bibirnya seraya memperlihatkan tawa
menyeringai.
Delirium menatap tajam ke arah wajah tersebut.
"……Bohong. Aku tidak percaya."
"Tidak percaya pun tidak apa-apa. Toh kau akan segera
mengetahuinya nanti."
Melihat Delirium yang sudah mulai tenang, Omura melepaskan
cengkeraman dari kedua pergelangan tangannya, lalu mengulurkan tangan ke arah
korset di bagian perutnya. Berniat melepaskan tali yang saling melilit demi
melepaskan korset tersebut. Namun tali yang terikat kuat tidak bisa dilepaskan
dengan mudah. Omura merasa jengkel, lalu berdecak dengan kesal.
──Kesatria Besi dan Api tidak akan mungkin kalah.
Delirium menatap ke arah langit-langit. Matanya mulai
berkaca-kaca, namun ia mengatupkan gigi belakangnya kuat-kuat menahan air mata
agar tidak tumpah.
──Pembantaian tidak akan mungkin terjadi. Karena Kesatria
Campusfellow itu kuat!
"Wah! Putri Delirium yang cantik dan malang."
Omura menegakkan tubuhnya. Ia menyerah melepaskan tali
korset, lalu mencengkeram kerah depan gaun. Sekali lagi ia mendekatkan ujung
hidungnya ke wajah Delirium secara paksa. Delirium secara refleks memalingkan
wajahnya. Akibat sentakan itu, air matanya tumpah mengalir.
Ke arah profil wajah samping yang dipalingkan tersebut,
Omura berbisik dengan pelan.
"Sehebat apa pun kekuatan Kesatria Besi dan Api, mereka
tidak akan mungkin bisa menang melawan seorang Sorcerers, kan?"
"……Sorcerers?"
Sorcerers adalah kekuatan militer eksklusif milik
Kerajaan Amelia. Kenapa Kerajaan Lowe yang seharusnya bermusuhan bisa
membicarakan tentang Sorcerers. Di dekat telinga Delirium yang sedang
kebingungan, Omura melanjutkan kalimatnya.
"Kerajaan Amelia saat ini terus memperluas wilayah
kekuasaannya dengan cepat. Ancaman tersebut dalam waktu dekat dipastikan juga
akan mendekati Lowe. Jikalau demikian apa yang harus dilakukan? Apakah kami
juga harus mengerahkan kesatria untuk bertempur melawan Amelia?"
Ah tidak, tidak, kesatria tidak akan mungkin bisa menang
melawan seorang Sorcerers──setelah berkata demikian Omura menggelengkan
kepalanya.
"Kalian dari Campusfellow sepertinya berniat
menggunakan Witcheses sebagai sarana untuk melawan kekuatan sihir para Sorcerers,
namun itu bukan metode bertarung yang cerdas, lho. Pilihanku berbeda."
Omura menyipitkan matanya.
"Lowe menggelontorkan uang dalam jumlah besar kepada
Kerajaan Amelia, dan diizinkan untuk tetap eksis sebagai negara bawahan
mereka."
"Bohong…… artinya kau sudah menjual negaramu
sendiri?"
"Ini murni kesepakatan dagang, kok. Di belakang kami
ada Amelia yang mendukung. Jikalau keluarga Grace berhasil dihancurkan, sebagai
imbalannya dari Amelia, aku akan mendapatkan otoritas atas Campusfellow──"
Delirium menatap langsung ke arah Omura. Di dalam mata
birunya, senyuman menyeringai Omura yang rendahan tampak terpantul.
"Tanpa mengetahui hal tersebut, kalian datang
mengantarkan nyawa dengan sukarela. Sangat disayangkan keluarga Grace sudah
berakhir. Kau akan menjadi istriku, dan Campusfellow dalam waktu dekat akan
menjadi milikku."
"Kau menipunya, dasar pengecut……!"
"Jikalau tidak licik, kita tidak akan bisa bertahan
menang. Lagipula ini adalah peperangan, lho, Putri."
Omura menggunakan tenaga kasarnya untuk membuka paksa kerah
gaun Delirium.
Tulang selangka yang putih dan belahan dadanya terekspos,
membuat Delirium menaikkan teriakan histeris yang besar.
Di dalam kapel, pertempuran yang bersimbah darah masih terus
berlanjut.
Tanpa bisa keluar dari pintu utama yang terkunci rapat,
orang-orang dari Campusfellow terus menerima serangan bertubi-tubi dari
Kesatria Singa Emas dan tentara bayaran Ordo Tengkorak dan Kalajengking.
Namun meski begitu, para Kesatria Besi dan Api bertarung
dengan sangat baik. Kewajiban untuk melindungi para birokrat dan pengikut yang
tidak bisa bertarung──rasa tanggung jawab tersebut membakar semangat bertarung
para Kesatria Besi dan Api. Ada yang merebut pedang dari tangan musuh, dan ada
pula yang berhadapan melawan musuh hanya dengan mengandalkan pisau belati.
Setelah berhasil keluar dari kondisi panik akibat serangan mendadak, situasi
sekitar sedikit demi sedikit mulai membaik.
Bado yang terluka menopang tubuhnya di tepi meja, berusaha
keras untuk mencerna situasi pertempuran. Sambil mewaspadai tembakan busur
silang dari lantai dua, ia melihat ke sekeliling lingkungan sekitar. Tenanglah,
ia berkata pada dirinya sendiri. Jikalau tenang, ia bisa menyusun strategi.
Jikalau memiliki strategi, kehancuran total bisa dihindari. Kesatria Besi dan
Api memiliki kekuatan sebesar itu.
Heartland menjulurkan tombak transformasinya, Tangering
Tree, menikam dada tiga orang kesatria secara bersamaan. Saat bagian
gagangnya diputar dan ditarik kembali ke arahnya, bilah tajam yang membuka
layaknya rantai dan dedaunan menarik masuk ke dalam gagang, mencincang hancur
dada para kesatria sekaligus. Jeritan kesakitan yang mendalam menyebar diwarnai
semburan darah segar.
Melihat pemandangan yang teramat mengenaskan secara langsung
di depan mata kepala sendiri memicu keraguan bagi musuh untuk merangsek maju
menyerang. Para Kesatria Singa Emas yang berjaga menghalau pergerakan Heartland
tampak goyah ketakutan.
"Heartland, bentuk satu formasi barisan kelompok."
Bado memanggil Heartland.
"Kita tidak tahu bagaimana kondisi di pintu belakang.
Skenario terburuknya kita akan menjadi tikus yang terjebak di dalam kantong.
Jikalau demikian, bentuk satu formasi barisan kelompok untuk melakukan
penerobosan dari depan."
"Siap……!"
Heartland menghentakkan ujung tombaknya ke lantai, menaikkan
suaranya ke arah para kesatria yang sedang bertempur.
"Berkumpullah! Ordo Kesatria Besi dan Api!!"
Jumlah rombongan dari Campusfellow yang semula berjumlah
hampir enam puluh orang, saat ini telah terkikis hingga menyisakan hampir
separuhnya saja. Sebagian besar dari mereka yang masih bertahan hidup adalah
para kesatria. Meister Shimei telah tewas, dan sosok Cappuccino juga
tidak terlihat.
Bado bertanya di balik punggung Heartland yang sedang
bersiap dengan tombaknya.
"Delirium tidak ada di sini. Bisakah kau mencarinya?"
"Prioritas utama kita saat ini adalah meloloskan Tuan
Bado keluar dari kastil."
"Dasar bodoh. Aku tidak apa-apa, kok. Begitu berhasil
keluar dari kapel, segera pergi cari Delirium."
Kemudian, ia menambahkan satu hal lagi.
"Edelweiss juga tidak ada. Tampaknya ia juga tidak
datang ke kapel."
Apakah ia menyadari situasi pembantaian ini? Jikalau ia
masih hidup, ada kemungkinan ia sedang bersembunyi di suatu tempat di dalam
kastil.
"Ada hal yang ingin kutanyakan padanya. Jikalau
menemukannya, bergabunglah bersamanya."
"Dimengerti."
Heartland menaikkan suaranya ke arah para Kesatria Besi dan
Api yang berkumpul.
"Baiklah, posisikan non-prajurit di bagian tengah
formasi kelompok, dan kita merangsek maju melintasi pintu utama──"
Lalu di saat itu, kata-kata Heartland terinterupsi oleh
teriakan histeris yang memekakkan telinga.
"Aaaaaaaah……!!"
Rombongan secara refleks mengalihkan pandangan mata ke arah
datangnya suara, dan menahan napas melihat pemandangan yang tersaji.
Hakim Radgini yang mengenakan rambut palsu berwarna putih
tampak mencengkeram kepala salah seorang Kesatria Besi dan Api menggunakan
kedua belah tangannya. Dari telapak tangan yang mencengkeram kuat tersebut, uap
putih tampak menyembur keluar.
Sambil tetap mencengkeram kepala kesatria yang meronta-ronta
kesakitan dari arah depan, Radgini mengintip ke arah ekspresi wajah sang
kesatria yang terus menaikkan teriakan histerisnya.
"Aaaaaaaah……!!"
"Ada apa? Hah? Ah, kalau cuma berteriak begitu aku
tidak paham, tahu. Berbicaralah dengan jelas."
Radgini memiringkan kepalanya sedikit, wajahnya diwarnai
senyuman penuh kepuasan yang kejam.
Suara teriakan kesatria tersebut akhirnya terputus, dan
Radgini melepaskan cengkeraman tangannya. Dari kepala kesatria yang ambruk
terjatuh, uap dalam jumlah besar tampak membubung bergoyang. Kulit wajahnya
meleleh, memperlihatkan struktur tulang tengkoraknya.
"Ah~ ternyata sudah mati. Para kesatria terlalu lemah,
membosankan sekali."
Menghadap ke arah orang-orang dari Campusfellow yang
mematung ketakutan, Radgini merentangkan kedua lengan tangannya.
"Apakah kalian berpikir masih bisa meloloskan diri
hidup-hidup dari sini? Tidak akan kubiarkan terjadi, tahu, woi. Dengar, ya.
Mengizinkan target melarikan diri tepat di detik-detik sebelum dihabisi adalah
hal yang paling kubenci di dunia ini."
"……Fero, sih, menyukai teater drama."
Di dekat bagian tengah kapel, seorang biarawati tampak
berdiri. Ia juga merupakan salah satu dari jajaran hakim pengadilan.
"Namun, ada orang-orang yang berkata membenci teater
drama. Berkata bahwa alunan musik yang mengalir di keseharian dan menyampaikan
dialog melalui nyanyian adalah hal yang tidak alami. Di dalam keseharian
orang-orang yang seperti itu, pastilah tidak ada gejolak hasrat untuk
bernyanyi, ya. Kasihan sekali."
Entah kepada siapa ia berbicara, dan apa yang sedang
dibicarakannya. Pandangan mata sang gadis memang tertuju ke arah rombongan
Campusfellow, namun mata sayunya yang tampak linglung seolah sedang menatap ke
arah ruang kosong.
"Hei, Radgini."
Ferocactus menatap ke arah Radgini.
"Apakah aku sudah boleh bernyanyi?"
"Iya. Hancurkan saja semuanya."
Radgini mengangguk.
Sorotan cahaya mulai memancar di dalam matanya yang
linglung. Menyeringai lebar, Ferocactus memperlihatkan jajaran giginya yang
bergerigi di bawah hidungnya yang tertulis kata “conviction”.
──"Kihihi."
"Tra la la, la~♪"
Ferocactus mengangkat kedua lengan tangannya yang
tersembunyi di balik ujung lengan panjang pakaian biarawatinya, melakukan
gerakan angkat tangan.
Di momen tersebut, tanpa ada tanda-tanda awal sedikit pun,
dinding batu dari kapel seketika bergolak berkobar dilanda kobaran api secara
bersamaan.
Kobaran api di dinding muncul dari ketinggian setara dengan
tinggi tubuh Ferocactus, mengelilingi seluruh lantai dalam satu putaran
lingkaran. Bagian dalam kapel yang semula remang-remang seketika diterangi oleh
cahaya yang benderang dalam sekejap.
Para Kesatria Singa Emas maupun para tentara bayaran yang
berada di dalam kapel menaikkan suara terkejut mereka penuh kebingungan.
Rombongan Campusfellow yang membentuk satu formasi barisan
kelompok juga dicekam ketakutan menghadapi kejadian yang teramat tidak
realistis tersebut. Tidak mungkin dinding batu bisa mendadak berkobar dilanda
api tanpa adanya pemantik api sedikit pun. Ini sudah melampaui batas pemahaman
manusia. Ini adalah──
"……Sihir, ya."
Bado bergumam.
"Kalian keparat, apakah kalian seorang Sorcerers!?"
Heartland melangkah maju satu langkah ke depan seolah
melindungi orang-orang, lalu bersiap dengan tombaknya.
"Tepat sekali, kami adalah Sorcerers."
Radgini tersenyum licik dalam hati.
"Kobaran api ini. Apa sebenarnya yang menjadi pemantik
api hingga bisa berkobar seperti ini…… kalian semua pasti tidak mengetahuinya,
kan? Mau diajarkan oleh Tuan Radgini yang baik hati ini? Hah?"
Radgini menyodorkan tangan kanannya agar bisa terlihat oleh
Heartland dan yang lainnya.
"Yang disebut Sorcerers adalah kemampuan meresap
mana yang berada di alam ke dalam tubuh untuk memancarkan kekuatan sihir.
Mengumpulkan kekuatan yang membubung dari dalam tubuh ke tangan untuk
dilepaskan, atau membentuk wujudnya demi dimanifestasikan nyata. Apakah
terlihat?"
Heartland menyatukan alisnya dengan posisi tetap bersiap
dengan tombaknya. Di sekitar tangan Radgini, sesuatu yang menyerupai aura putih
remang-remang tampak terlihat secara samar. Seolah-olah dari pergelangan tangan
hingga ujung jarinya diselimuti oleh kobaran api putih.
"Terlihat, kan? Aku memberikan warna pada kekuatan
sihir yang dimanifestasikan. Teknik untuk mengubah kekuatan sihir menjadi ini
dan itu seperti ini, disebut sebagai 'sihir'."
"Sebuah informasi yang menarik, namun."
Bado melangkah maju ke depan seraya menyeret kakinya.
"Kenapa kau menceritakan hal itu kepada kami?"
"Tentu saja agar kalian bisa mati dengan membawa
penyesalan yang mendalam. Jikalau mengetahui seberapa agung dan kuatnya seorang
Sorcerers, bukankah akan mempermudah kalian untuk merenungi betapa
bodohnya taktik kalian yang berniat mengumpulkan Witcheses untuk
melakukan perlawanan?"
「…………」
Bado kehilangan kata-kata. Bahkan rencana untuk mengumpulkan
Witcheses dari seluruh benua demi melawan Kerajaan Amelia pun telah
bocor sampai ke telinga mereka.
"Nah, yang disebut sihir ini memiliki karakteristik
yang berbeda secara spesifik pada masing-masing individu Sorcerers. Poin
yang ingin kusampaikan ada di bagian itu. Sihir milik Ferocactus, 'Pessimist's
Love', menggunakan kekuatan sihir yang dipancarkannya sendiri sebagai
pemantik api untuk berkobar."
"Kyaa, bodoh. Kenapa kau mengatakannya? Mengenai sihir
milik Ferocactus."
Radgini menoleh ke belakang, lalu menunjuk ke arah
Ferocactus yang memasang wajah cemberut.
"Bising ah, dasar bodoh. Sihir milikmu itu akan terasa
lebih menarik jika mekanismenya dibongkar, tahu."
Radgini kembali menghadap ke arah Bado, lalu melanjutkan
penjelasannya.
"Kenapa dinding batu bisa mendadak berkobar? Jikalau
mengetahui rahasianya, sebenarnya bukan hal yang istimewa. Anak itu, sebelumnya
sudah menyusuri dinding lantai ini dalam satu putaran lingkaran, lalu
menempelkan pemantik api yang tidak terlihat oleh pandangan mata kalian.
Menggunakan hal itu layaknya jerami atau kayu bakar untuk memicunya berkobar
sekaligus."
Sambil menatap wajah orang-orang dari Campusfellow satu per
satu, Radgini mengangkat jari telunjuknya.
"Bagi yang memiliki kepekaan yang tajam pasti sudah
menyadarinya, kan? Sebelum masuk ke dalam kapel beberapa saat lalu, ada
orang-orang yang menjabat tangan biarawati itu di pintu masuk, kan. Ada juga
yang dipeluk? Sebagai peringatan untuk kalian keparat…… pemantik apinya
menempel sangat lekat di tubuh kalian, lho?"
"Uwaaaaaah……!!"
Seorang birokrat muda tidak sanggup menahan ketakutan lagi,
lalu berlari menuju ke arah pintu utama. Berniat melarikan diri ke tempat yang
tidak terjangkau oleh pandangan mata para Sorcerers, namun Ferocactus
secara refleks mengarahkan jarinya menunjuk pria tersebut──"Ta-ran~♪"
Di detik berikutnya, tubuh birokrat muda tersebut berkobar
dilanda api yang hebat.
Birokrat itu ambruk dari kedua lututnya seraya berlari, lalu
tumbang kehilangan kekuatannya. Tubuhnya masih terus berada dalam kondisi
terbakar.
Radgini tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi
perutnya.
"Kobaran api Ferocactus tidak akan pernah bisa padam.
Selama pemantik api yang menempel belum hangus terbakar habis. Orang yang
disentuh olehnya akan terus terbakar hingga menjadi abu. Menghemat tenaga untuk
proses kremasi, bukankah luar biasa?"
Lalu di saat itu, percikan api beterbangan melesat,
menghanguskan bagian bahu Radgini. "Ouw," Radgini menepuk kuat api
yang menempel di bahunya untuk dipadamkan.
"……Meskipun api yang memercik melompat bisa padam,
sih."
Orang-orang dari Campusfellow kakinya memaku di lantai
akibat dirundung ketakutan. Benar-benar kewalahan dan terintimidasi sepenuhnya
oleh sihir para Sorcerers.
Sosok yang pertama kali bergerak adalah Heartland. Demi
menghancurkan situasi, ia menghentakkan ujung tombaknya ke lantai untuk
membakar semangat. Ia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, lalu melesat maju
menyerang Radgini.
"Oooooh!!"
Dengan tetap mempertahankan bentuk tombak standar, ia
mengayunkan besar Tangering Tree, menghujamkan mata tombak ke arah
kepala Radgini. Radgini menghindarinya dengan gerakan kaki yang lincah.
"Berikan serangan balasanmu, Sorcerers!!"
Heartland mengayunkan tombaknya dua kali, tiga kali secara
bertubi-tubi, memaksa Radgini melangkah mundur.
"Sihir milikmu yang melumatkan sesuatu pasti juga
memiliki nama, kan?"
"Iya, tentu saja ada. Sihir spesifik milikku murni 'hanya
melumatkan saja'."
Radgini tersenyum penuh percaya diri, lalu memosisikan
tangan kanannya membentuk pisau tangan, menusukkannya ke kerah depan jubah
hakmnya.
Juuu, uap membubung meluncur dari tangan kanannya
yang merosot hingga ke pusar, melelehkan dan melepaskan puluhan kancing baju
seolah sedang memotongnya menggunakan pisau tajam. Kemudian ia mencengkeram
kerah depan menggunakan kedua tangannya, mementalkan sisa kancing yang ada
seraya memamerkan bidang dadanya secara gamblang.
Di balik jubah hakimnya, ia sama sekali tidak mengenakan
pakaian apa pun. Walaupun berwujud siluet yang ramping, tubuhnya yang terlatih
tampak terekspos jelas. Setelah membuang pakaian jubahnya, Radgini kini berada
dalam kondisi bertelanjang dada pada tubuh bagian atasnya. Jajaran bulu dada
yang jantan dipadukan dengan rambut palsu putih yang memberi kesan intelektual
benar-benar memunculkan kombinasi penampilan yang tidak selaras.
Sambil memosisikan tombaknya bersiap ke arah depan,
Heartland berteriak ke arah para kesatria di belakangnya.
"Apa yang kalian lakukan! Bawa Tuan Bado dan cepat
meloloskan diri dari sini!!"
Para Kesatria Besi dan Api secara serempak berlari menuju ke
arah pintu utama. Namun tentu saja para Kesatria Singa Emas dan para tentara
bayaran yang menetap di dalam kapel tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Sambil mengayunkan pedang, mereka kembali menyerang rombongan Campusfellow.
Bado meminjam bahu dari salah seorang kesatria, melangkah
menuju ke arah pintu utama melintasi kapel yang sedang berkobar dilanda api
seraya ditopang tubuhnya.
Ke arah rombongan yang mengincar pintu utama tersebut,
Ferocactus mengarahkan jarinya menunjuk mereka.
"Tra la la la la, la~♪"
Orang-orang yang sedang berlari satu per satu terbakar dan
menaikkan jeritan kesakitan. Di antara orang-orang yang tubuhnya dilanda
kobaran api, mengejutkannya ada juga sosok Kesatria Singa Emas. Ternyata orang
yang ditempeli pemantik api oleh Ferocactus bukan hanya dari kalangan rombongan
Campusfellow saja.
"Ah, salah target, deh."
Tidak ada niat lain. Murni hanya karena kejahilannya saja
membuat para Kesatria Singa Emas yang ikut menjadi korban wajahnya menjadi
pucat pasi, lalu menghentikan langkah kaki mereka.
Memanfaatkan celah kesempatan tersebut, Bado beserta
orang-orang yang tidak disentuh oleh Ferocactus bergegas menuju ke arah pintu
utama, meninggalkan orang-orang yang sedang terbakar──.
Di sisi lain, Heartland masih terus mengayunkan tombaknya
menyerang Radgini. Uap membubung meluncur dari gagang tombak yang dicengkeram
kuat oleh tangannya, membuat Heartland buru-buru menarik kembali tombaknya.
"……Ugh!"
Celah yang teramat singkat di momen tersebut berhasil
dimanfaatkan. Radgini yang berhasil merangsek masuk ke dalam jangkauan jarak
dekat ganti mencengkeram kuat leher Heartland. Dari leher yang dicengkeram
suara juuu diiringi kepulan uap meluncur, membuat Heartland
mengernyitkan wajahnya akibat rasa sakit yang teramat luar biasa.
"Eunghhhhh……!!"
Heartland mencengkeram pergelangan tangan Radgini,
menggunakan tenaga kasarnya untuk melepaskan tangan tersebut dari lehernya.
Sret, kulit lehernya terkelupas meleleh. Tanpa
membuang waktu ia mengayunkan tombaknya untuk mengambil jarak seraya melakukan
serangan halangan.
Napas Heartland tampak terengah-engah dari dadanya.
──Mengejutkan. Apakah ini metode bertarung dari seorang Sorcerers……?
Sosok Sorcerers yang ada di dalam benaknya secara
samar diimajinasikan sebagai tipe petarung barisan belakang yang melepaskan
bola api dari jarak jauh atau menjatuhkan sambaran petir. Namun kenyataan yang
dihadapinya bagaimana. Radgini adalah tipe petarung spesialis pertempuran jarak
super dekat.
Gaya bersiap maupun gerakan langkah kakinya, dari sudut
pandang mana pun jelas terlihat sebagai tipe aliran bela diri fisik. Mengingat
hanya dengan dicengkeram saja sudah bisa memberikan dampak kerusakan yang
besar, merangsek masuk ke dalam jangkauan jarak dekat akan langsung terhubung
pada luka fatal. Menggunakan tombak tentu akan sangat kesulitan untuk bisa
mengimbangi kecepatannya.
──Ternyata menumbangkannya adalah perkara yang sulit, ya…….
Tanpa memberikan jeda untuk bernapas sedikit pun, Radgini
terus merangsek maju memperpendek jarak. Staminanya juga tampak masih sangat
melimpah.
Sambil melakukan langkah mundur untuk mengambil jarak,
Heartland menjulurkan mata tombaknya tinggi-tinggi ke langit. Benda yang jatuh
melayang dari atas kepalanya adalah bendera panjang lambang keluarga Lowe yang
tergantung berlapis-lapis di balkon lantai dua. Karena kobaran api di dinding
memercik melompat, separuh dari bendera tersebut dalam kondisi terbakar.
Heartland melilit bendera yang sedang terbakar tersebut di udara menggunakan
tombaknya, lalu menghujamkan tombak yang ujungnya dipenuhi kobaran api ke arah
kepala Radgini yang melangkah merangsek maju.
Dua kali, tiga kali ia mengayunkan besar tombaknya untuk
mematikan momentum pergerakan Radgini, lalu menghantamkan bendera yang terbakar
itu tepat mengincar ke arah wajahnya. Sambil menyilangkan lengannya untuk
mengambil posisi bertahan, percikan api berhamburan di sekitar wajah Radgini.
"Cih…… merepotkan sekali!"
Memanfaatkan celah tersebut, Heartland memutar tumitnya. Ia
berlari sekuat tenaga menuju ke arah pintu utama kapel.
Di depan pintu utama yang tertutup rapat, orang-orang dari
Campusfellow tampak berdesakan merangsek maju.
Mengelilingi posisi mereka, para Kesatria Singa Emas dan
para tentara bayaran tampak bersiap dengan pedang mereka, namun karena
mewaspadai sihir milik Ferocactus membuat tidak ada seorang pun yang berani
melangkah maju ke depan. Sebagai gantinya Ferocactus sendiri yang berlari
menuju ke arah pintu utama. Sambil menggulung lengan bajunya, kedua belah ujung
tangan yang direntangkannya tampak merah membara dilanda api.
Ia berniat menempelkan langsung pemantik apinya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian lolos, lho."
Seorang pelayan dipeluk dari arah belakang punggungnya,
membuat tubuhnya seketika berkobar dilanda api diiringi suara teriakan histeris
yang melengking. Kobaran api memercik melompat, menghanguskan pakaian dan
rambut orang-orang yang berada di sekitarnya.
Kesatria yang meminjamkan bahunya untuk menopang tubuh Bado
berada tepat di samping pelayan yang berkobar dilanda api tersebut. Terkejut
oleh pelayan yang mendadak mengeluarkan api, tanpa sadar ia melepaskan pegangan
tangannya dari tubuh Bado.
"Ugh……"
Kehilangan penopang tubuhnya, Bado tumbang terjatuh di atas
lantai. Rasa sakit yang teramat luar biasa yang sulit ditahan menusuk bagian
perut, bahu, serta pahanya yang masih tertancap anak panah busur silang.
Di tengah situasi tersebut, kedua belah tangan Ferocactus
yang membara tampak mendekat merangsek maju.
Tepat di detik-detik sebelum tangan tersebut menyentuh bahu
Bado──"Minggir kau!!" Heartland yang berhasil merangsek maju setelah
mencerai-beraikan jajaran Kesatria Singa Emas di sekitarnya, mengayunkan tombak
menghujam tepat mengincar kepala Ferocactus.
"Ups……"
Melompat ke samping untuk menghindari mata tombak,
Ferocactus mengambil jarak menjauh.
"Aku tidak akan mengizinkanmu menyentuh Tuan Bado
meskipun hanya seujung jari saja!"
Sambil mengikuti pergerakan wujud sang gadis menggunakan
mata tombaknya, Heartland melirik Bado dari sudut matanya.
"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan Bado!?"
"……Mohon maaf, ya. Tindak-tandukku saat ini justru
menjadi beban bagi kalian."
"Tolong jangan melontarkan perkataan yang lemah. Itu
sama sekali tidak menyerupai diri Anda!"
Heartland mengangkat tubuh Bado, lalu memanggulnya di atas
bahu.
Sambil memosisikan diri berniat mendobrak hancur pintu
utama, ia mendaratkan hantaman tendangan kaki sekali, dua kali──di momen
itulah.
"Ferocactus!! Jangan biarkan orang itu lolos!"
"Tentu saja tidak akan kubiarkan, kok. Bakarlah!"
Radgini berteriak, lalu Ferocactus menjulurkan kedua lengan
tangannya ke arah Heartland.
Di detik berikutnya, mulai dari bahu hingga ke punggung
Heartland mengeluarkan api. Berkobar dalam skala yang besar.
"Ugh……!?"
Tepat sebelum acara pesta dimulai, di pintu masuk kapel,
punggung Heartland memang sempat disentuh oleh Ferocactus. Sama halnya seperti
orang-orang lain yang telah berkobar dilanda api, pemantik api Ferocactus
ternyata sudah menempel di tubuhnya.
Punggungnya berkobar mengeluarkan api yang besar, membuat
Heartland menurunkan tubuh Bado yang dipanggul di bahunya ke samping.
"Tuan Bado. Apakah tubuh Anda tidak ikut
terbakar?"
"Dasar bodoh! Yang sedang terbakar itu adalah dirimu
sendiri, tahu!"
"Bukan masalah besar, hal sepele seperti ini……!!"
Namun meskipun dalam kondisi demikian, Heartland tetap tidak
menghentikan pergerakannya.
Sambil mengabaikan sepenuhnya kobaran api di punggungnya, ia
menerjangkan seluruh badannya menghantam pintu utama.
"Ooooooooooh……!!"
Pintu terbuka lebar akibat hantaman yang melesat keras,
Heartland mendekap tubuh Bado di samping badannya, lalu melompat keluar menuju
ke lorong.
Orang-orang dari Campusfellow yang masih bisa menggerakkan
tubuhnya tampak mengikuti di belakangnya secara berturut-turut.
5
Di lantai paling atas dari Menara Kurungan.
Teresalisa membiarkan kakinya tetap berada di ambang
jendela, sementara bagian punggungnya dipalingkan jatuh ke luar jendela. Karena
bagian tengah dari borgol tangan yang mengekang kedua pergelangan tangannya
dicenckeram kuat oleh tangan kiri Roro, tubuhnya berada dalam kondisi
bergelantungan di udara.
Roro memosisikan kakinya menapak di ambang jendela,
mencondongkan badannya ke arah luar. Tangan kirinya mencengkeram borgol tangan
Teresalisa, dan tangan kanan yang tersisa digunakan untuk mencengkeram bingkai
jendela di sampingnya. Ia menopang tubuh Teresalisa yang bergelantungan hanya
dengan mengandalkan satu lengan kiri saja. Rasa sakit yang teramat luar biasa
menusuk bahu kanannya yang semalam tertancap anak panah akibat Figaro, membuat
Roro mengernyitkan wajahnya.
Di luar menara dalam posisi terlentang, rambut panjang
Teresalisa tampak menari liar ditiup oleh badai kencang.
Di luar menara yang diguyur hujan deras sekujur lingkungan
diselimuti oleh kegelapan kelam. Jubah berwarna cokelat kemerahan yang dipakai
di bahu Teresalisa terlepas, lalu lenyap tenggelam di dalam kegelapan. Ujung
gaun merahnya yang terekspos tampak berkibar ditiup angin.
"……Ugh. Jangan, menghalangiku."
Teresalisa menaikkan kepalanya, menatap tajam ke arah Roro.
"Tentu saja akan kuhalangi! Saya akan sangat kesulitan
jika Anda melompat jatuh tepat di depan mata saya. Padahal saya sedang berusaha
untuk menolong Anda, tahu."
"Bukankah sudah kubilang bahwa tindakanmu itu adalah
bantuan yang tidak diperlukan. Aku murni hanya ingin mati saja!"
"Kenapa begitu? Karena Anda seorang Witcheses?"
"Benar, karena aku seorang Witcheses! Karena
meskipun seorang Witcheses, aku mencoba berpura-pura hidup sebagai
manusia biasa. Aku bodoh. Seharusnya aku tidak pernah datang ke Lowe.
Seharusnya aku tidak pernah bekerja di kastil──"
Tetesan air hujan menghantam wajahnya. Wajah Teresalisa
tampak berkerut.
"Seharusnya aku tidak pernah berniat untuk menikah.
Seharusnya aku tidak pernah mencintai seseorang……! Dilahirkan sebagai seorang Witcheses……
aku sama sekali tidak menginginkannya. Seharusnya aku tidak pernah dilahirkan
ke dunia ini……!"
Merasakan kesedihan dan keputusasaan yang mendalam, ia
meluapkan penyesalannya menembus badai kencang yang berhembus liar.
Air mata yang tumpah memancar tampak berhamburan ditiup oleh
angin.
"Akibat kesalahan diriku, Prius harus tewas! Karena
aku, menutupi fakta bahwa aku adalah seorang Witcheses──"
"……Tolong tunggu sebentar. Tunggulah!"
Roro memberikan kekuatan pada tangan kirinya yang
mencengkeram borgol tangan.
"Salah! Beliau pasti sudah mengetahuinya sejak awal.
Sang Raja Singa pasti tahu bahwa Anda adalah seorang Witcheses."
"……?"
"Sang Raja Singa mendekati Anda justru karena Anda
adalah seorang Witcheses!"
Mendengar kata-kata Roro, Teresalisa menyatukan alisnya.
Agar suaranya tidak tenggelam terhapus oleh badai kencang,
Roro menaikkan suaranya dengan lantang.
"Cermin tangan! Cermin tangan putih yang hendak
diserahkan kepada Anda itu adalah benda titipan dari Tuan Diethelm. Dan Tuan
Diethelm menerimanya sebagai titipan dari sang Raja Singa sendiri. Berpesan
agar menyerahkannya kembali kepada Anda jikalau terjadi sesuatu pada
dirinya──cermin tangan itu, dari awal bukankah merupakan milik Anda sendiri!
Benda yang Anda buang dan kubur di dalam tanah!"
"……Bagaimana bisa, kau mengetahuinya──"
"Bawahan dari Figaro sempat melihat sosok Anda saat
sedang menguburnya, lho."
Hal itu merupakan informasi yang didengarnya langsung dari
mulut Figaro saat bertarung di depan sel penjara beberapa saat lalu.
Bawahan setia dari Figaro yang menjabat sebagai wakil
komandan pengawal jenderal, Roberto, pada suatu hari di waktu pagi buta secara
kebetulan melihat sosok pelayan kastil yang menyelinap keluar dari kastil. Dan
karena merasakan adanya keanehan dari gerak-geriknya, ia memutuskan untuk
membuntutinya dari belakang.
Ia melihat langsung momen saat Teresalisa mengubur kotak
kayu paulownia di dalam tanah.
Roberto menggali kembali kotak kayu paulownia tersebut, lalu
melaporkannya kepada atasannya, Figaro. Sebuah cermin tangan putih dengan
karakteristik yang khas berupa hiasan lilitan ular di gagangnya. Di bagian
belakang terukir nama “A.Fygi”.
Saat dilakukan proses penyelidikan, diketahui bahwa benda
tersebut merupakan milik dari yang mengibarkan lambang keluarga bergambar ular.
Namun seluruh anggota keluarga tersebut telah tewas akibat insiden tergelincir
jatuh saat berkendara di pegunungan wilayah selatan delapan belas tahun lalu.
Kereta kuda dikabarkan telah dijarah oleh "Kaum Pengembara", dan
seluruh barang berharga telah dirampas habis. Mayat mereka ditinggalkan begitu
saja di dalam kereta kuda, namun hanya mayat anak perempuan dari keluarga
tersebut yang saat itu baru berusia satu tahun yang tidak kunjung ditemukan.
Melalui proses penyelidikan detail mengenai cermin tangan
tersebut, Figaro akhirnya berhasil mencapai informasi mengenai seorang Witcheses.
Seorang gadis kecil yang dijuluki sebagai Magenta Witches yang
mengayunkan sabit perak terutama di sekitar wilayah Republik Inatera.
Diceritakan bahwa Witcheses kecil tersebut selalu membawa cermin tangan
putih dengan hiasan lilitan ular di gagangnya tanpa pernah melepaskannya dari
tubuhnya.
Figaro berhasil menemukan nenek tua dari keluarga Darcoil
yang merupakan korban dari keganasan Magenta Witches. Kemudian ia
membawanya ke kastil, lalu memperlihatkan sosok Teresalisa yang sedang bekerja
dari kejauhan. Berdasarkan kesaksian dari nenek tua tersebut, ia mendapatkan
keyakinan mutlak bahwa Teresalisa memang benar-benar merupakan sang Magenta Witches,
lalu melaporkannya kepada Raja Singa Prius selaku komandan pengawal jenderal.
Prius menerima cermin tangan tersebut dari Figaro, lalu
berkata ingin memastikan sendiri menggunakan mata kepalanya sendiri mengenai
sosok Witcheses tersebut. Dan setelah mengetahui bahwa Teresalisa sering
naik ke dinding kastil setiap kali waktu sore tiba, ia melangkah pergi untuk
menemuinya.
──Aku sudah memberikan peringatan, lho.
Figaro berkata demikian saat bertarung beradu pedang melawan
Roro.
Demi melindungi negara ini, ia berhasil menemukan sosok Witcheses.
Namun sang Raja Singa justru menyuruh untuk menyerahkan urusan tersebut kepada
dirinya sendiri, dan sama sekali tidak berniat untuk mengeliminasi sang Witcheses.
Bahkan bukan hanya itu, beliau malah berkata akan menikahinya. Jangan-jangan
raja telah berada di bawah pengaruh kekuatan sihir──jikalau terus dibiarkan,
negara ini akan dirampas oleh Witcheses. Berpikir demikian membuat
Figaro memilih membelakangi raja, lalu melaporkan perkara ini kepada adik raja,
Omura Lowe.
Omura memanfaatkan fakta tersebut untuk mengincar takhta
Raja Singa. Bukti bahwa Teresalisa seorang Witcheses berupa cermin
tangan berada di tangan Prius. Karena alasan itulah sebagai gantinya ia
memosisikan nenek tua dari keluarga Darcoil yang merupakan korban bencana Witcheses
untuk berdiri di mimbar saksi.
"──Oleh karena itu, sang Raja Singa sudah
mengetahuinya," Roro mengajukan pembelaannya kepada Teresalisa.
"Beliau melangsungkan pernikahan dengan Anda dengan
posisi sudah tahu bahwa Anda adalah seorang Witcheses!"
"……Bagaimana bisa."
──Soal asal-usul yang tidak jelas, aku tidak peduli sama
sekali.
Kalimat perkataan Prius yang diucapkan di atas dinding
kastil waktu itu kembali terngiang di telinganya.
──Entah kau pelayan kastil, atau berasal dari 'Kaum
Pengembara'.
──Contohnya…… ya, andaikan pun kau adalah seorang Witcheses.
"Beliau sudah mengetahuinya? Sejak awal, selama
ini……?"
Ujung jari Roro sudah mulai mati rasa. Baik tangan kanan
yang mencengkeram bingkai jendela maupun tangan kiri yang mencengkeram borgol
batu Teresalisa. Terpapar oleh daya tarik bobot tubuh dua orang yang miring ke
luar jendela membuat jarinya terlepas satu per satu.
"Tak peduli bagaimana pun Anda adalah seorang Witcheses──Keberadaan
yang memicu ketakutan, dihindari, dan dibenci hanya dengan sebatas hidup saja.
Namun, seharusnya tidak ada alasan bagi Anda untuk berputus asa. Anda masih
bisa bertarung. Masih terlalu dini bagi Anda untuk mati. Karena Anda, tidak
sendirian."
Roro menatap langsung ke arah Teresalisa menggunakan mata
hijau gelapnya yang jernih.
"Tidak apa-apa meskipun Anda seorang Witcheses.
Hiduplah sebagai seorang Witcheses. Karena Prius Lowe mencintai Anda
dengan posisi sudah tahu bahwa Anda adalah seorang Witcheses!"
──Karena itu jangan lupa. Orang yang membuatku jatuh cinta
adalah dirimu yang berdiri di sini sekarang.
──Tak peduli siapa pun dirimu sebenarnya, aku akan terus
mencintaimu.
Kata-kata perkataan Prius bangkit kembali di dalam benak
Teresalisa. Seolah memberikan izin baginya untuk terus hidup.
"……Anda benar-benar, raja yang aneh……"
Di momen tersebut, di salah satu sudut bangunan kastil yang
lokasinya terhitung teramat jauh dari Menara Kurungan, kobaran api
tampak membumbung tinggi. Di tengah sekujur lingkungan redup kelam yang diguyur
hujan, kobaran api merah yang besar memunculkan wujudnya.
Roro menaikkan wajahnya. Menatap ke arah kobaran api yang
membumbung di salah satu sudut kastil, ia menyatukan alisnya.
Teresalisa juga dalam posisi terlentang menatap terbalik ke
arah kobaran api tersebut. Kastil milik sang raja sedang terbakar. Kobaran api
tersebut memicu kemarahan dan kebencian yang sempat padam di dalam dada
Teresalisa untuk kembali bergejolak meluncur naik. Bagaimana bisa, negara yang
dicintai oleh Prius ini dibiarkan dirampas oleh adik raja yang licik. Tindakan
seperti itu sama sekali tidak boleh diizinkan──.
"Witcheses-sama!" Roro menaikkan suaranya
yang ketus.
"Saya berniat melepaskan borgol tangan Anda, namun
kuncinya berada di tangan kanan saya."
Roro hanya menggunakan pandangan matanya saja untuk
menunjukkan tangan kanan yang mencengkeram bingkai jendela. Lingkaran dari
setumpuk kunci tampak tersangkut di ujung jarinya. Namun jikalau ia melepaskan
tangan kanannya, mereka berdua dipastikan akan langsung terlempar jatuh ke luar
jendela.
Meskipun demikian, Roro sudah tidak memiliki sisa kekuatan
lagi untuk menarik tubuh mereka berdua naik ke atas.
"Lagipula, saya sudah mencapai batas kekuatan…… Saya
akan melepaskan borgol tangan Anda di saat kita terjatuh nanti, apakah Anda
bisa melakukan sesuatu menggunakan sihir?"
"……Anjing Hitam. Apakah kau membawa cermin
tanganku?"
"Ada, kok. Di dalam karung rami yang tergantung di
pinggang saya……"
Cermin tangan yang seharusnya sudah dibuangnya kini telah
kembali melalui perantara tangan Prius. Seolah-olah Prius sedang memberikannya
perintah untuk bertarung. Teresalisa memejamkan matanya dalam posisi tetap
terlentang, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Baiklah. Sang Mirror Witches akan meminjamkan
kekuatannya kepadamu. Namun ada satu syarat."
Setelah berkata demikian ia kembali menaikkan kepalanya.
Mata merahnya yang berkobar menatap tajam menghunjam ke arah Roro.
"Nyawa Omura akan kuhabisi oleh tanganku sendiri."
"……Hamba laksanakan."
Roro merasakan tubuhnya merinding menghadapi hasrat membunuh
dari sang Witcheses.
"Kalau begitu tidak apa-apa. Mari kita jatuh."
Roro melepaskan genggaman tangan kanannya dari bingkai jendela
seolah membiarkannya tergelincir.
Mereka berdua terjatuh secara terbalik meluncur ke bawah
dari lantai paling atas Menara Kurungan.
Roro memilih kunci berwarna putih dari setumpuk kunci di
udara, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci dari borgol batu yang mengekang
kedua pergelangan tangan Teresalisa. Memutarnya dalam sekejap untuk melepaskan
kekangan.
Tanpa membuang waktu Teresalisa merapal mantranya── “Cermin,
oh cermin”.
Dari dalam karung rami yang tergantung di pinggang Roro,
cairan berwarna perak meluap keluar dalam jumlah yang masif. Cairan dalam
jumlah besar yang menyerupai air raksa tersebut berkumpul memusatkan wujudnya
di bagian punggung Teresalisa.
Sambil tetap terjatuh meluncur ke bawah, Teresalisa mendekap
erat tubuh Roro di dadanya.
Di detik berikutnya, layaknya seekor burung yang
merentangkan sayapnya, cairan yang menempel di punggung Teresalisa melebar luas
dalam skala yang besar. Wujud yang terbentuk murni merupakan sepasang sayap
perak.
"Luar biasa……"
Sambil tetap mendekap erat Teresalisa, Roro menyaksikan
secara langsung fenomena ajaib yang teramat misterius tersebut.
Sepasang sayap perak mengepakkan sayapnya, membuat posisi
tubuh mereka berdua berputar menempatkan kaki di bagian bawah. Sayap kembali
mengepakkan sayapnya dua kali, mematikan akselerasi kecepatan jatuh meluncur ke
bawah, membawa mereka berdua semakin dekat dengan permukaan tanah.
Begitu jarak dengan permukaan tanah dirasa sudah cukup
dekat, Roro melepaskan genggaman tangannya dari Teresalisa lalu melompat turun.
Tepat di saat Teresalisa mendarat di tanah, sepasang sayap
perak meleleh kembali menjadi cairan, membentuk satu kesatuan wujud layaknya
seekor slime berukuran besar.
Teresalisa mengulurkan tangannya ke arah Roro.
"Terima kasih karena sudah mengantarkan cermin tanganku."
Roro mengeluarkan cermin tangan dari kantong di pinggangnya,
lalu menyerahkannya kembali kepada Teresalisa.
Begitu Teresalisa mengarahkan cermin tangannya ke arah slime
di dekat kakinya, slime tersebut tersedot masuk ke dalam permukaan
cermin. Dari sudut pandang Roro, pemandangan tersebut benar-benar murni terasa
ganjil. Ia menunjuk ke arah cermin tangan yang dipegang oleh Teresalisa.
"……Apakah komoditas berwarna perak tadi…… merupakan
makhluk hidup?"
"Bukan makhluk hidup, kok. Karena benda itu bergerak
murni berdasarkan kehendak dari diriku sendiri."
Teresalisa mengayunkan cermin tangannya seolah sedang
menyendok sesuatu. Cairan berwarna perak lenyap masuk ke dalam cermin tangan.
"Hee…… benda yang misterius, ya."
"Namun ia memiliki nama, lho."
"Nama? Nama seperti apa?"
"April. Katanya itu adalah nama asliku. Orang tua
asuhku yang memberitahuku. Di cermin tangan ini juga terukir huruf inisial
namanya."
"Eh. Jikalau demikian, apakah saya sebaiknya memanggil
Anda sebagai Nona April?"
"Panggil Teresalisa saja tidak apa-apa. Karena
keseharian di masa saat aku dipanggil dengan nama tersebut sama sekali tidak
kuingat. Terlepas dari hal itu──"
Teresalisa mendongak menatap ke arah kobaran api bangunan
kastil yang terbakar di tengah keheningan malam.
"Lokasi itu adalah kapel. Tempat di mana upacara
pernikahan kami dilangsungkan…… Orang-orang dari Campusfellow saat ini berada
di mana?"
"Seharusnya acara pesta persahabatan dengan Lowe sedang
dilangsungkan di sana. Lokasi ruangannya tidak diinformasikan, namun……
jangan-jangan, mereka melangsungkannya di kapel……"
"Sangat mungkin terjadi, lho. Sebaiknya kita bergegas.
Kobaran api itu…… dipicu oleh kekuatan sihir."
"Eh……? Jikalau dipicu sihir, artinya ada Sorcerers?
Kenapa bisa ada Sorcerers di Lowe."
"Aku tidak mengetahuinya. Apakah demi pengadilan Witcheses
untukku…… atau Omura sedang merencanakan siasat busuk tertentu."
「…………」
Roro mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Menghadapi situasi
yang tidak bersahabat memicu firasat buruk di dalam hatinya.
6
Sejak awal pembantaian massal di kapel dimulai, Cappuccino
terus bersembunyi di bawah meja.
Baik di saat dinding batu berkobar dilanda api akibat sihir
milik Ferocactus, maupun di saat Heartland dan rombongannya meloloskan diri
keluar melintasi pintu utama, ia terus gemetar di bawah meja hingga kehilangan
celah waktu untuk ikut melangkah keluar.
Di tangannya, cakar Direwolf yang diberikan oleh Roro tampak
tergenggam erat. Roro berkata benda ini bisa menjadi jimat pelindung. Di saat
seperti sekarang ini ia sangat ingin dilindungi. Ingin diselamatkan.
Menggunakan tangannya yang bergetar, ia mencengkeram cakar tersebut kuat-kuat.
"……Tolong selamatkan saya. Tuan Roro……"
Mengejar sisa rombongan Campusfellow yang meloloskan diri,
para Kesatria Singa Emas, para tentara bayaran, serta dua orang Sorcerers
tampak melangkah pergi meninggalkan kapel. Menyisakan beberapa orang Kesatria
Singa Emas yang menetap di kapel, berlarian ke sana kemari mencoba memadamkan
kobaran api yang membumbung tinggi.
Jikalau terus bersembunyi di bawah meja seperti ini, bantuan
tampaknya tidak akan kunjung datang. Cappuccino mengumpulkan keberaniannya
untuk merangkak keluar dari bawah meja. Sambil merendahkan posisi tubuhnya agar
tidak ketahuan oleh para kesatria, ia mengincar pintu utama yang telah didobrak
hancur oleh Heartland. Ia harus segera bergabung dengan orang-orang dari
Campusfellow secepat mungkin.
Sambil menyembunyikan keberadaan dirinya, ia melirik dari
sudut matanya ke arah orang-orang dari Campusfellow yang telah bertumbangan
tewas. Orang yang punggungnya tertembus oleh pedang. Orang yang tubuhnya hangus
terbakar. Semuanya adalah wajah-wajah yang ia kenali. Cappuccino mengertakkan
giginya seraya melangkah keluar menuju ke lorong dari kapel yang sedang
terbakar.
Tidak ada orang di lorong, namun suara teriakan lantang dan
suara derap langkah kaki yang berlari terdengar di kejauhan.
Ada potensi para Kesatria Singa Emas maupun para tentara
bayaran sedang berkumpul di sana. Menyadari kehadiran para Kesatria Singa Emas
yang datang dari arah kiri lorong, Cappuccino buru-buru memalingkan
punggungnya. Ia melangkah cepat dengan posisi bersandar pada dinding menjauhi
arah mereka.
Sebagai bagian dari rombongan Campusfellow, jikalau
identitas dirinya ketahuan oleh kesatria Lowe, ia dipastikan akan langsung
dibunuh. Walaupun tidak mengetahui alasannya, situasi pembantaian massal ini
memang mengarah pada hal tersebut. Para Kesatria Singa Emas, para tentara
bayaran, dan para Sorcerers memang sedang mengincar nyawa orang-orang
dari Campusfellow. Apakah orang-orang yang berhasil keluar dari kapel
sebelumnya sudah berhasil meloloskan diri dengan selamat. Membayangkan wajah
Delirium dan Roro memicu air mata kesedihan mengalir akibat rasa takut yang
mendalam.
"……Semuanya, ada di mana……?"
Dari arah jalan di depannya, suara teriakan kesakitan
seorang pria terdengar.
Cappuccino melangkah maju ke depan dengan penuh rasa takut.
Dengan posisi tetap melangkah menyusuri lorong, ia keluar menuju ke koridor
luar yang mengelilingi pekarangan tengah. Tempat tersebut adalah lokasi di mana
Roro dan Figaro melangsungkan pertandingan eksibisi siang kemarin, Kotak
Mainan Raja.
Sebuah pekarangan tengah yang sangat luas dengan dikelilingi
oleh koridor yang dipenuhi jajaran pilar penyangga. Rumput yang dirawat dengan
baik terhampar di sana, dan petak bunga di mana bunga-bunga tumbuh mekar
diposisikan di beberapa titik. Di dekat bagian tengah pekarangan berdiri
sebatang pohon ek yang besar, memamerkan daun-daun berwarna kuning di jajaran
dahan dan dedaunan yang melebar luas.
Karena obor tampak dinyalakan di beberapa pilar penyangga
koridor yang berjejer, area pekarangan tengah yang diguyur hujan terasa luar
biasa terang remang-remang.
Orang-orang dari Campusfellow yang melarikan diri melintasi
lorong tampak berlari secara terpisah mencerai-beraikan diri melintasi
pekarangan tengah yang terbuka dan koridor luar. Ada beberapa lorong yang
menghubungkan area pekarangan tengah menuju ke bagian dalam bangunan. Namun
dari arah lorong mana pun, para Kesatria Singa Emas tampak merangsek maju
berdatangan. Berpikir di sana tidak bisa dan di sini juga tidak bisa membuat
orang-orang dari Campusfellow terpaksa mundur hingga tersudut di pekarangan
tengah.
Di belakang punggung mereka, Ferocactus tampak merangsek
maju mendekat.
Seorang Kesatria Besi dan Api bersiap dengan pedang hasil
rampasan, memberikan perlawanan terhadap kobaran api yang melilit kedua belah
tangan Ferocactus. Namun pedang yang diayunkannya sama sekali tidak berhasil
mengenai Ferocactus yang gerakannya teramat cepat. Menjadi korban terbakar
hanya tinggal menunggu masalah waktu saja.
Heartland memeluk dan membawa Bado bersamanya seraya diseret
tubuhnya. Keluar dari koridor luar menuju ke area pekarangan tengah yang
diguyur hujan deras. Bagian punggungnya masih terus berada dalam kondisi
terbakar.
Ia berniat menembus pekarangan tengah mengincar koridor luar
di sisi seberang, namun di belakang punggungnya Radgini tampak merangsek maju
mengejar.
"Dingin sekali sikapmu, mau pergi ke mana, sih!"
Heartland secara refleks menoleh ke belakang, memosisikan
tombaknya sebagai perisai untuk menahan telapak tangan Radgini. Akibat dampak
guncangan dari benturan tersebut, tubuh Bado terempas jatuh di atas permukaan
rumput.
"Ugh…… Tuan Bado. Mohon maaf yang
sebesar-besarnya!!"
Heartland mengayunkan tombaknya, memaksa Radgini untuk
mundur menjauh.
Ia berniat segera mendekap dan membangunkan kembali tubuh
Bado yang tumbang terjatuh, namun Bado menepis tangan tersebut.
"……Jangan pedulikan aku, aku bisa berdiri
sendiri."
「…………」
Bado menegakkan tubuh bagian atasnya. Heartland
memperhatikan kondisi tersebut seraya berpikir mati-matian di dalam kepalanya.
Metode untuk membuat majikannya tetap bertahan hidup. Metode untuk
meloloskannya keluar dari kastil ini. Sambil berpikir, ia kembali memosisikan
tombaknya bersiap ke arah sang Sorcerers yang bertelanjang dada dan
mengenakan rambut palsu. Setidaknya, jikalau orang ini tidak ditumbangkan,
mereka tidak akan bisa meloloskan diri dengan selamat.
Jikalau demikian mulai dari titik ini, mereka akan mengambil
pergerakan terpisah.
"……Tuan Bado. Saya yang akan memancing perhatian orang
ini. Selama waktu tersebut, mohon segeralah melarikan diri."
"……Aku tidak memiliki niatan untuk menjadikanmu sebagai
perisai pelindung. Jikalau bertarung, menanglah. Ini perintah."
「…………」
Heartland tidak memberikan jawaban. Ia tidak sanggup
memberikan jawaban. Karena ia tidak tahu apakah bisa menang atau tidak. Justru
karena alasan itulah, ia ingin dirinya dimanfaatkan sebagai perisai pelindung.
Ia memberikan kekuatan pada tangan yang mencengkeram tombak. Kekalahan sama
sekali tidak boleh diizinkan terjadi lagi. Heartland memosisikan mata tombak
menghadap ke bawah, melangkah maju satu langkah, dua langkah memberikan
serangan halangan kepada Radgini.
Radgini mempertahankan jangkauan jarak tertentu, melangkah
mundur sebanyak jarak langkah maju dari Heartland. Berbeda dengan Heartland
yang menatap tajam dengan wajah serius, kedua lengan tangannya direntangkan
lebar-lebar memamerkan ekspresi penuh kelonggaran.
"Kau, menarik juga, ya. Hah? Punggungmu sedari tadi
terus terbakar, lho. Apakah tidak terasa panas?"
Meskipun kekuatan sihir yang dililitkan di telapak tangannya
tidak terlihat oleh pandangan mata, tetesan air hujan yang menyentuh tangan
Radgini langsung memunculkan suara juu diiringi kepulan uap yang lenyap
terhapus seluruhnya.
"……Level sepele seperti ini. Sama sekali tidak terasa
panas."
Sambil memunculkan keringat buncah di dahinya, Heartland
membusungkan dadanya menahan gengsi. Terpapar oleh guyuran hujan yang turun di
pekarangan tengah membuat kekuatan kobaran api mengecil, namun api milik
Ferocactus tidak akan pernah bisa padam sebelum targetnya hangus terbakar
habis. Dengan posisi kekuatan sihir yang berfungsi sebagai pemantik api masih
menempel lekat, punggung Heartland terus berada dalam kondisi terbakar.
Saat menyadarinya, Heartland ternyata sudah tiba di dekat
bagian tengah pekarangan. Di dekat kakinya ditarik garis putih yang
mengindikasikan posisi berdiri saat pertandingan dimulai. Tempat ini adalah
lapangan untuk saling mengadu pedang.
Radgini juga berdiri tepat di atas garis putih di sisi
seberangnya. Demi menjauhkan Radgini dari posisi Bado, Heartland mengira ia
telah berhasil mendesak musuh mundur, namun siapa sangka ternyata dirinyalah
yang telah digiring hingga ke lokasi ini.
Di koridor luar dan di atas permukaan rumput sekitar, para
Kesatria Besi dan Api yang masih bertahan hidup tampak bertempur menghadapi
perlawanan dari para Kesatria Singa Emas, para tentara bayaran, serta
Ferocactus.
Di tengah-tengah pusat pekarangan yang dipenuhi gaungan
teriakan lantang dan jeritan kesakitan tersebut, Heartland dan Radgini saling
berdiri berhadapan.
Radgini menggerakkan lehernya, melakukan lompatan-lompatan
kecil.
"Nama mu siapa?"
"……Komandan , Heartland Pablo!"
"Ternyata seorang komandan, ya. Begitu rupanya……
'landak yang punggungnya berapi'."
Sambil menunjuk ke arah lencana Ordo Kesatria Besi dan Api
yang dijahit di lengan baju Heartland, Radgini melepaskan tawa. Lencana landak
yang punggungnya berapi memunculkan rupa yang serupa dengan kondisi Heartland
saat ini yang punggungnya sedang terbakar.
Radgini merentangkan kedua lengan tangannya, merendahkan
posisi pinggangnya untuk bersiap.
"Nah, mari kita mulai pertandingan babak kedua.
Heartland Pablo."
"……Baiklah. Majulah kau, Sorcerers!"
Merespons kalimatnya, Heartland mengayunkan tombaknya seraya
memutar, membuka lebar bilah tajam dari Tangering Tree.
Sementara itu, sebagian dari rombongan Campusfellow yang
berlari menembus pekarangan tengah berhasil menemukan lorong yang tingkat
pengamanan penjagaannya tergolong longgar di sudut koridor luar. Melalui jalur
tersebut melintasi bagian dalam kastil, ada potensi mereka bisa meloloskan diri
hingga ke luar kastil dengan selamat.
"Ke arah sana! Lari!"
Sambil dilindungi tubuhnya oleh dua orang kesatria yang
memegang pedang hasil rampasan, tiga orang birokrat mulai melesat berlari.
Menginjak-injak bunga di petak bunga, mereka berlari lurus
secara membabi buta mengincar sudut pekarangan tengah. Di belakang punggung
mereka Ferocactus tampak merangsek maju mengejar. Namun di lorong bagian depan
tidak terlihat adanya sosok Kesatria Singa Emas maupun para tentara bayaran.
Sosok yang berdiri menghalangi di depan lorong murni hanya ada seorang wanita bangsawan
bergaun hitam seorang diri saja──.
"Ara-ara, ternyata pertunjukannya sudah dimulai,
ya?"
Wanita bangsawan yang mengenakan topi wanita bertepi lebar
berwarna hitam dan menutupi area matanya menggunakan balutan perban tebal
merupakan salah satu dari jajaran hakim pengadilan. Anemone.
"Tolong singkirkan tubuh Anda…… dari sana!"
Kesatria Besi dan Api yang memimpin di barisan paling depan
tidak mengetahui identitasnya. Mengira wanita bangsawan tersebut murni hanya
sebatas kalangan bangsawan biasa belaka, ia berlari seraya mengarahkan ujung
pedangnya dan melontarkan kalimatnya. Anemone sama sekali tidak menggeser
posisinya dari lokasi tersebut. Jikalau demikian mereka tinggal menghindari
posisinya, namun tepat di detik kesatria muda berniat melintas melewatinya,
pergelangan kakinya dicengkeram kuat oleh sesuatu.
Tubuhnya terdorong ke depan, kesatria tersebut tumbang
terjatuh. Saat melihat ke bawah, tampak sebuah lengan berwarna hitam pekat yang
mencengkeram kuat pergelangan kakinya mencuat keluar dari bayangan yang jatuh
di bawah kaki Anemone.
"……A-Apa…… benda ini."
Mengikuti di belakang kesatria yang memimpin di depan, empat
orang rombongan ikut menghentikan langkah kaki mereka.
"Kalian berniat melarikan diri ke mana? Padahal tragedi
sesungguhnya baru akan dilangsungkan setelah ini──"
Dari dalam bayangan yang jatuh di bawah kaki Anemone, satu
buah lengan kembali mencuat keluar. Bahunya mencuat, dadanya mencuat,
memperlihatkan siluet tubuh pria kurus kering dengan tulang rusuk yang menonjol
mencuat keluar. Seluruh tubuh pria tersebut berwarna hitam pekat, serupa dengan
warna bayangan. Wajahnya yang memiliki struktur tidak rata menyerupai barang
buatan, tidak memancarkan adanya kehendak emosi sedikit pun.
Di atas hidung pada wajah tersebut, sebuah guratan garis
lurus horizontal terbuka. Di atas bagian kepala yang terbuka lebar ke arah atas
dan bawah, jajaran gigi yang serupa dengan manusia tampak berbaris rapat,
memperlihatkan bahwa bagian itulah yang merupakan mulut sesungguhnya dari
bayangan tersebut.
Pria yang terlahir dari bayangan tersebut mengangkat
pergelangan kaki dari kesatria muda yang dicengkeramnya. Menggunakan tangannya
yang satu lagi ia mencengkeram kuat kepala kesatria tersebut, lalu melahap
wajahnya sekaligus. Suara jeritan maut dari sang kesatria menggema di salah
satu sudut pekarangan tengah.
Satu kesatria yang tersisa dan tiga orang birokrat memaku di
lantai akibat dirundung guncangan batin yang teramat luar biasa menyaksikan
pemandangan yang teramat mengerikan tersebut.
Pria bayaran melahap tubuh kesatria muda menggunakan mulut
besarnya secara bertahul. Setelah selesai melahap seluruh tubuhnya, wajah yang
dipalingkannya saat berbalik ganti berubah wujud memiliki rupa wajah yang
serupa dengan kesatria muda yang baru saja dilahapnya tadi.
Tubuh pria bayangan yang bangkit berdiri seketika berubah
wujud dengan kecepatan yang luar biasa. Wujud fisiknya yang bertelanjang dada
ganti berubah mengenakan pakaian yang serupa dengan kesatria, dan di tangannya,
sebuah pedang yang serupa dengan yang digenggam kesatria tampak dibentuk nyata.
Hanya saja seluruh tubuhnya tetap berwarna hitam pekat,
dengan titik fokus kedua belah matanya yang tampak kosong tidak selaras.
"Hohoho. Anak muda memang memiliki struktur daging yang
padat, ya, Tatakari."
“Kesatriaku tercinta”──bayangannya sendiri memiliki
kemampuan untuk menyalin wujud dari kesatria yang dilahapnya. Sihir spesifik
milik Anemone. Bayangan tersebut dijuluki oleh Anemone dengan sebutan “Tatakari”.
Di dalam bahasa daerah di pedalaman Republik Inatera, memiliki makna “terlalu
mencintai hingga rasanya ingin membunuh”.
"Oooooon…… Ooooohon……"
Tatakari memancarkan suara raungan yang dipenuhi rasa
kepedihan yang mendalam. Sebuah suara yang menyerupai desingan angin yang
terdengar di malam yang dilanda badai kencang. Kesatria yang tersisa bersiapa
dengan pedangnya, memosisikan diri di depan tiga orang birokrat. Menuju ke arah
posisinya, Tatakari melompat menerjang.
Cappuccino berada di sudut pekarangan tengah. Posisinya
terletak tepat di jalur garis diagonal dari lokasi Tatakari yang sedang
membantai orang-orang dengan kejam. Tragedi pembantaian massal sedang
dilangsungkan di berbagai sudut pekarangan tengah. Orang-orang yang berlari
melintasi koridor luar dikepung oleh para Kesatria Singa Emas dan para tentara
bayaran, dan di bagian tengah pekarangan, Heartland yang punggungnya terbakar
sedang berhadapan melawan Radgini. Jumlah rombongan dari Campusfellow sudah
hampir tidak ada lagi yang tersisa.
Ferocactus menghentikan langkah kakinya karena mangsa
buruannya telah dirampas oleh Tatakari. Ia memutar pandangan matanya ke
sekeliling lingkungan sekitar, mencari mangsa baru. Dan setelah menemukan sosok
Cappuccino yang sedang gemetar ketakutan di sudut pekarangan tengah, ia
menyeringai lebar.
Cappuccino seketika menegangkan tubuhnya.
──Aku harus melarikan diri. Aku harus segera bersembunyi di
suatu tempat secepat mungkin.
Meskipun di dalam kepalanya berpikir demikian, kakinya
dirundung getaran hebat hingga tidak bisa digerakkan. Air mata tumpah memancar,
dan ia menghirup ingusnya. Ia mendekap erat jimat pelindungnya di dadanya.
Cappuccino menyadarinya secara samar dalam batinnya. Ah begitu rupanya, diriku
akan tewas di tempat ini──.
"Cap!"
Mendengar suara yang familier di belakang punggungnya,
Cappuccino menoleh ke belakang. Dari lorong yang terhubung dengan kapel, Roro
tampak berlari merangsek maju datang mendekat. Mengenakan pakaian装束
spesifik pembunuh bayaran berwarna hitam, pelindung wajah pada pelindung
kepalanya diposisikan terbuka ke atas. Melihat wujud fisiknya memicu rasa lega
di dalam hati Cappuccino, namun ia buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat
seraya menaikkan teriakan lantangnya dengan wajah yang berkerut akibat air mata
yang tumpah memancar.
"Tunggu, jangan mendekat! Tolong jangan mendekat!"
Roro menghentikan langkah kakinya di koridor luar.
"……Saya, sudah disentuh olehnya, lho."
"……?"
Di belakang punggung Cappuccino, Ferocactus mengarahkan
jarinya menunjuk ke arah punggung tersebut. Cappuccino telah disentuh oleh
Ferocactus di pintu masuk kapel. Tubuh mungilnya sempat didekap erat olehnya.
"Ugh……!"
Di detik berikutnya, Cappuccino yang menaikkan jeritan kecil
seketika diselimuti oleh kobaran api dalam sekejap mata tepat di depan mata
kepala Roro sendiri.
"Cap……!?"
"Minggir kau, Anjing Hitam."
Teresalisa melesat menyelinap melewati celah di samping
badan Roro yang sedang terkejut luar biasa.
Di saat yang sama ia mengangkat cermin tangannya
tinggi-tinggi, memunculkan cairan berwarna perak dalam jumlah yang masif dari
permukaan cermin.
"Padamkan apinya, April!"
Cairan dalam sekejap mata langsung mendekap bagian tubuh
atas Cappuccino yang sedang terbakar. Seolah sedang menekan kuat kobaran api
yang muncul menggunakan tenaga kasarnya. Cappuccino yang bagian tubuh atasnya
didekap oleh cairan menapakkan lututnya di atas permukaan rumput, lalu tumbang
terjatuh ke depan.
Teresalisa segera menarik kembali cairan miliknya. Begitu
cermin tangan di tangannya diayunkan, cairan berwarna perak memusatkan wujudnya
masuk kembali ke dalam permukaan cermin. Seiring dengan berpindahnya cairan,
rupa wajah Cappuccino tampak terlihat kembali. Kobaran api yang memancar dari
badanya telah padam seluruhnya. Roro berlari mendekati posisi Cappuccino, lalu
mendekap erat tubuhnya yang lemas di dalam pelukan lengannya.
"Cap……! Sadarlah kau!"
Cappuccino tetap memejamkan kedua belah matanya tanpa
memberikan respons. Ujung rambut hitamnya tampak berkerut akibat efek panas
api, dan pakaian pelayannya berada dalam kondisi hangus terbakar. Roro
menempelkan jarinya ke urat leher Cappuccino untuk mencari denyut nadi. Deg,
deg, ia merasakan adanya detak jantung yang teramat sedikit secara samar.
"Apakah anak itu, masih hidup?"
Teresalisa melirik ke arah Cappuccino dari sudut matanya
dengan posisi tetap mewaspadai Ferocactus yang berada di depannya.
"Tidak apa-apa, kok. Ia masih hidup."
"Begitu. Syukurlah."
"Apa…… yang sebenarnya terjadi?"
"Di tubuh anak itu menempel lekat kekuatan sihir dalam
jumlah yang masif. Kemungkinan besar kekuatan sihir itulah yang berfungsi
sebagai pemantik api hingga memicunya terbakar. Karena itulah aku melumatkan
kekuatan sihir tersebut menggunakan April. ……Orang yang menempelkan pemantik
api adalah, dia itu."
"Lho. Sang Mirror Witches?"
Ferocactus memasang wajah linglung seraya memiringkan
kepalanya sedikit.
"Bukankah seharusnya kau dikurung di dalam bilik
penjara?"
Teresalisa mengayunkan cermin tangannya. Dari permukaan
cermin kembali memunculkan cairan berwarna perak dalam jumlah yang masif,
membentuk sebuah lengkungan di atas kepala Teresalisa lalu mengeras nyata.
Menerima pantulan pancaran cahaya dari obor yang menyala di pilar penyangga, di
atas bilah tajam maupun gagang yang berkilauan megah tersemat ukiran halus
berupa tanaman rambat dan dedaunan yang saling melilit. Benda tersebut
memunculkan wujud nyata sebuah sabit besar yang bentuknya persis seperti yang
dipeluk oleh dewa kematian.
"Tindakanmu tidak boleh dilakukan, lho, Mirror Witches.
Keluar sesuka hatimu seperti itu. Biarkan Fero menangkapmu."
Ferocactus memicu kedua belah tangannya berkobar dilanda
api, lalu melesat berlari merangsek maju menyerang Teresalisa.
"……Meskipun sudah lama aku tidak mengayunkan sabit
besar ini, sih."
Teresalisa juga ikut mengayunkan sabit perak besarnya seraya
melesat berlari maju.
"Namun jikalau hanya untuk ditangkap oleh seorang
biarawati, kemampuanku dipastikan belum seburuk itu, tahu."
Mereka berdua bertempur beradu kekuatan di tengah pekarangan
tengah yang diguyur hujan. Tangan Ferocactus yang diselimuti kobaran api
melesat mendekat hendak menyentuh tubuh Teresalisa──tepat di detik-detik
terakhir. Teresalisa menghindarinya menggunakan gerakan langkah manuver, lalu
menghujamkan bilah tajam sabit dari atas kepala Ferocactus.
"Ah, wa. Ugh……"
Ferocactus secara refleks menghindari mata sabit, lalu
mundur dengan kecepatan yang luar biasa── Teresalisa kembali mengayunkan besar
sabitnya untuk melancarkan serangan susulan tanpa memberikan jeda. Ferocactus
terdesak oleh agresi serangan tersebut, kembali melangkah mundur menjauh──namun
gagang maupun bilah tajam dari sabit perak besar milik Teresalisa bisa
memanjang secara fleksibel mengikuti kehendak dari dirinya sendiri.
"Kyaaaaaah……!!"
Bagian bahunya tergores dalam oleh bilah tajam yang
memanjang jauh di luar dugaan, membuat Ferocactus menaikkan jeritan kesakitan
yang mendalam.
7
"Minggir, dasar mesum, mesum!"
Di atas ranjang, Delirium menggelepar-gelepakkan kakinya di
bawah tindihan bokong Omura yang menungganginya.
Ia menyilangkan lengan di depan dada, menyembunyikan belahan
dadanya yang terbuka. Payudaranya yang berisi dan tertekan oleh lengannya
membuat napas Omura semakin memburu.
"Oho. Anda cukup dewasa sebelum waktunya ya,
Putri."
Omura yang masih menungganginya dengan sibuk melepas kancing
atasannya. Ia melepaskan dan membuang atasannya yang kotor terkena jus anggur,
memperlihatkan perutnya yang buncit. Matanya tetap tertuju pada dada Delirium
meskipun ia sedang melepas pakaian.
"Nah, kau bilang kau menyukai singa, kan.
Berbahagialah. Padahal aku berniat memanjakanmu sepuasnya sebagai istri Raja
Singa."
"Berisik! Kau itu babi, kan! Babi. Raja Babi!"
Delirium menarik kakinya yang ditindih oleh bokong Omura
sekuat tenaga. Ia menggerak-gerakkan kakinya untuk menendang wajah dan perut
Omura. Namun, pergelangan kakinya segera dicengkeram.
Kakinya diangkat secara paksa, sehingga paha putihnya
terekspos.
"Kyaaaa!"
Delirium menahan roknya yang tersingkap menggunakan
tangannya.
Omura menyelipkan tubuhnya di antara kedua paha yang terbuka
itu, lalu menindih tubuh Delirium.
"Bagus, bagus! Teruslah meronta. Suasananya jadi
semakin memanas, nih."
"Tolong. Siapa saja, siapa saja──"
Omura mendekatkan bibirnya ke ujung hidung Delirium yang
sedang berteriak.
Delirium memalingkan wajahnya. Pipinya dijilat oleh lidah
tebal Omura.
"Jangan…… Nng!!"
Pada saat itulah. Delirium yang memalingkan wajahnya melihat
sesuatu yang mustahil di samping ranjang.
Yang jatuh di atas karpet adalah pergelangan tangan manusia.
Pergelangan tangan itu berdiri dengan menggunakan kelima jarinya layaknya kaki.
Permukaan potongannya berwarna hitam, sangat rapi seolah-olah dipotong bersih
menggunakan pisau pemotong tulang. Tidak ada setetes darah pun yang mengalir.
Apa, itu.
Di depan Delirium yang membelalakkan matanya, pergelangan
tangan itu bergerak seperti melangkah.
"Aku sungguh tidak tahan melihatnya."
Tiba-tiba terdengar suara pria yang lembut, yang jelas bukan
suara Omura──.
Tiba-tiba, Omura mengangkat separuh badannya dengan
terkejut.
"G-Guh…… o……?"
Melihatnya mengerang, sebuah pergelangan tangan tampak
mencekik leher tebalnya. Itu adalah pergelangan tangan lain yang berbeda dari
yang jatuh di lantai tadi. Omura meronta kesakitan dan menancapkan kukunya
untuk melepaskan tangan itu. Namun, pergelangan tangan itu tidak mau lepas.
Permukaan potongan pergelangan tangan ini juga berwarna hitam, dan tidak ada
setetes darah pun yang mengalir.
"……Apa yang terjadi?"
Omura akhirnya mengeluarkan busa dari mulutnya, memutih
matanya, lalu jatuh terlentang. Delirium menyadari bahwa di belakangnya,
berdiri seseorang.
Ia mengenakan topi bertepi lebar dan jubah hitam. Di
wajahnya, ia mengenakan topeng dengan paruh besar yang menyerupai burung. Di
tangannya, ia memegang tas kulit sapi yang bersudut kaku.
Delirium merasa tidak asing dengan sosok aneh tersebut.
Orang itu adalah pemandu yang menarik rantai yang terhubung pada borgol batu
Teresalisa saat pengadilan Witches.
"……Siapa kau?"
Delirium menarik seprai untuk menutupi dadanya yang terbuka.
Sosok misterius itu menurunkan pandangannya ke arah
pergelangan tangan yang masih terus mencekik leher Omura.
"Hei, kau tidak boleh membunuhnya."
Nada bicaranya terdengar seperti sedang memarahi dengan
lembut seekor anjing yang nakal. Pergelangan tangan itu dengan patuh
mendengarkan kata-katanya, lalu mengendurkan cekikannya.
"Selamat malam, Nona Delirium Grace."
Pria misterius itu berdiri di samping ranjang dan menatap
lurus ke arah Delirium. Ekspresinya sama sekali tidak terlihat karena tertutup
topeng. Rasanya seolah sedang ditatap tanpa ekspresi, membuatnya merasa tidak
tenang.
"Nama saya Parmigiano Reggiano."
"……Parmi……giano."
"Anda yang merupakan putri dari Campusfellow,
seharusnya diserahkan kepada pria ini sebagai salah satu bentuk hadiah,
tetapi……"
Parmigiano meletakkan tas kulit sapinya di atas karpet, lalu
melepas sarung tangan kirinya. Ia mengulurkan tangannya yang terbuka itu kepada
Delirium yang berada di atas ranjang. Jari-jarinya putih, ramping, dan indah.
"Melihat tangan yang indah itu dirusak oleh binatang
buas yang jelek, sungguh tak bisa kutoleransi."
"…………"
Meski waspada, Delirium menurunkan kakinya dari ranjang. Ia
adalah sosok yang tidak jelas asal-usulnya. Namun, kenyataannya pria itu telah
menyelamatkannya dari cengkeraman jahat Omura.
"……Terima kasih."
Delirium mengucapkan terima kasih. Ia kemudian menerima
uluran tangan itu dengan wajar dan berdiri.
Parmigiano membungkus tangan Delirium dengan tangannya yang
satu lagi.
"……Syukurlah Anda selamat, sungguh."
Pada detik berikutnya, Delirium merasa pusing dan kesadarannya
mulai memudar.
Tubuhnya yang kehilangan tenaga dan ambruk dari lututnya
itu, ditangkap dan dipeluk oleh Parmigiano.
8
Roro membaringkan Cappuccino yang pingsan di koridor, lalu
memandang ke sekeliling pekarangan tengah untuk mencari sosok Bado. Pekarangan
tengah telah berubah menjadi medan pertempuran. Di lapangan bagian tengah,
Heartland sedang bersiap dengan tombaknya menghadapi salah satu hakim. Bado
duduk menyandarkan punggungnya pada pilar koridor.
"Apakah Anda baik-baik saja, Bado-sama."
Roro segera berlari mendekati Bado. Bado, yang terkena panah
crossbow di perut, bahu, dan pahanya, bernapas dengan tersengal-sengal.
Wajahnya pucat pasi.
Roro berlutut di sisinya dan menerima penjelasan singkat
mengenai situasinya dari Bado. Bahwa pesta persahabatan itu adalah sebuah
jebakan, dan informasi pihak Campusfellow telah bocor sepenuhnya. Bahwa mungkin
ada pengkhianat di antara mereka. Dan Bado mengatakan bahwa sosok Delirium
tidak terlihat di mana pun.
"Temukan Delirium. Harus ketemu."
Apakah luka yang dideritanya terasa sakit, Bado meringis.
Bagian perut yang tertembus panah tampak memerah karena darah yang merembes.
Roro berusaha menceriakan suaranya untuk memberikan
keberanian kepada Bado.
"Ada satu kabar baik. Permaisuri Teresalisa memang benar
seorang Witches. Beliau akan bekerja sama dengan kita."
"Begitu, ya……"
"Sekarang pun beliau sedang bertarung melawan salah
satu Sorcerers. Mari kita tinggalkan kastil ini sekarang juga. Setelah
memastikan keselamatan Bado-sama, kita akan mencari Delirium-sama──"
Di tengah perkataannya, Bado memotong ucapan Roro dengan
berkata, "Sebelum itu." Arah yang ditunjuk oleh matanya adalah bagian
tengah pekarangan. Lapangan pertarungan. Heartland sedang mengayunkan tombaknya
melawan Radgini yang terus merangsek maju.
"……Heartland sedang kesulitan. Bantulah dia."
Sambil menguapkan tetesan air hujan yang menyentuhnya,
telapak tangan Radgini menjulur maju.
Uap dalam jumlah besar mengepul dengan suara mendesis juu
dari gagang tombak kesayangan Tangering Tree yang dicengkeramnya.
"Nguuuh……!!"
Heartland memutar tombaknya untuk menepis Radgini.
Di lapangan yang diterangi obor dari koridor, pertarungan
satu lawan satu antara Heartland dan Radgini terus berlanjut. Punggung
Heartland masih terus terbakar. Tenggorokannya, yang dicengkeram erat saat
pertarungan di kapel, tampak melepuh dengan menyedihkan.
Tangering Tree, yang memiliki banyak mata pisau dan
membanggakan kekuatan tak tertandingi dalam pertempuran melawan banyak musuh
sekaligus, tidak bisa menunjukkan kekuatannya seperti yang diharapkan ketika
menghadapi Radgini yang memiliki gaya pertarungan jarak dekat.
Mata pisaunya yang menyebar seperti dahan dan daun bisa
menembus banyak orang dalam satu tusukan, tetapi karena dahan dan daun itu
besar, ayunannya menjadi lambat. Jika musuh berhasil masuk ke dalam jarak
dekat, ia harus menyembunyikan bilahnya ke dalam gagang satu per satu untuk
bisa mengayunkan tombak dengan cepat.
"……Fuh…… fuuh……"
Napas Heartland mulai tidak beraturan. Hujan yang turun
mengguyur wajahnya yang pucat pasi tanpa darah. Terdesak dan hanya bisa
bertahan bukanlah hal yang ia inginkan. Ia harus secepatnya membawa Bado keluar
dari kastil ini. Ia harus segera mengalahkan Radgini, namun pergerakan tubuhnya
jelas semakin melambat.
Menyadari ujung jarinya yang memegang tombak sedikit
gemetar, Heartland mencengkeram gagangnya lebih kuat. Ia tidak takut terhadap Sorcerers.
Namun, jika ini terus berlanjut, ia mungkin tidak akan bisa melindungi Bado.
Itulah yang ia takutkan.
Apakah ada orang…… yang mau membawa lari Bado-sama…….
Tanpa sadar, Heartland melirik mencari sosok Bado dengan
sudut matanya. Hal itu menciptakan sebuah celah. Radgini melangkah maju dan
dalam sekejap memasuki jarak dekat Heartland.
"Khawatir dengan majikanmu, ya? Bikin cemburu saja,
Heartland. Tatap mataku baik-baik."
"Kuh…… sial──"
Heartland secara refleks menegakkan tombaknya dan
menjadikannya tameng. Radgini mencengkeram gagang tersebut. Dan dengan tangan
kirinya, ia mencengkeram kuat pergelangan tangan kanan Heartland yang sedang
memegang tombak. Uap mendesis dari pergelangan tangan Heartland.
"Gwaaah……!!"
"Hahaha! Sakit? Pasti sakit, kan!"
Meskipun ia mencoba untuk menghempaskan tangan itu, ia tidak
memiliki kekuatan. Heartland melancarkan sundulan ke wajah Radgini. Namun,
Radgini tidak gentar. Radgini, yang mengembalikan kepalanya yang sempat
terpental, hidungnya mengalirkan darah, namun kedua tangannya masih
mencengkeram kuat pergelangan tangan dan gagang tombak Heartland.
"Hei, ada apa!?"
Radgini mengintip wajah Heartland. Ia menjilat darah hidung
yang menetes di bibirnya dengan lidahnya.
"Kau harus lebih melawan lagi, lho. Kalau tidak,
tanganmu bisa putus, tahu?"
"……Kuh. Fuuh……!"
Saat itu, Radgini menyadari siluet seseorang yang mendekat dengan
melompat. Anjing Hitam yang mengenakan pelindung tangan hitam dan helm
hitam──Roro, dalam sekejap melangkah masuk ke jarak dekat Radgini dan
mengayunkan pelindung tangannya.
Radgini secara refleks melepaskan kedua tangannya dari
Heartland, memiringkan tubuh bagian atasnya ke belakang untuk menghindari
pelindung tangan itu──dan pada saat yang sama, ia menangkap pelindung tangan
itu dan menghentikan pergerakan Roro.
"Hei, hei……. Siapa kau ini?"
Dari ujung pelindung tangan yang dicengkeram oleh Radgini dan
mengeluarkan uap, sebuah bilah pisau tampak mengintip.
"Benar-benar pengganggu yang tidak tahu aturan, ya…….
Aku ini, paling benci dengan orang yang menyela pertarungan satu lawan satu
antar pria, tahu?"
Dengan cepat, Radgini menggunakan tangan kanannya yang bebas
untuk mencengkeram wajah topeng helm Roro.
Helm Roro mengeluarkan uap dan mulai meleleh.
"Ugh……!"
Di saat itu, Heartland mengayunkan tombaknya dari arah bawah
kaki Radgini seolah hendak mencongkelnya. Ketika Radgini melompat mundur,
Heartland segera mengarahkan ujung tombaknya untuk menahannya. Ia menatap Roro
dari sudut matanya.
"……Apa yang kau lakukan? Bawa Bado-sama pergi dan
larilah."
Kerusakan pasti sudah terakumulasi. Heartland bernapas
dengan dada naik turun.
Topeng Roro meleleh dan melepuh, memperlihatkan sisi kiri
wajahnya.
"Saya juga ingin melakukannya. Tapi, ini perintah
Bado-sama. Ia menyuruh kita bekerja sama untuk mengalahkan Sorcerers
ini."
"Apakah kita bisa mengalahkannya……? Termasuk pria ini,
mungkin ada tiga atau lebih Sorcerers di sini."
"Saya tidak tahu. Tapi…… saya rasa itu bukan hal yang
mustahil."
Roro menoleh ke samping. Heartland pun mengikuti arah
pandangannya.
Di seberang pekarangan tengah, Teresalisa sedang mengayunkan
sabit perak besarnya. Dengan gaun merah yang berkibar, ia mempermainkan
Ferocactus yang tangannya diselimuti api.
"Karena kita memiliki Mirror Witch di pihak
kita."
Ke dalam Kotak Mainan Raja, para Kesatria Singa Emas
berkumpul satu per satu. Untuk bertarung bersama para Sorcerers dan
menghabisi orang-orang Campusfellow, mereka memunculkan diri di koridor yang
mengelilingi pekarangan tengah.
Di antara mereka, ada sosok Figaro yang lengan kanannya
digantung dengan kain mitela. Ia telah dikalahkan oleh Roro di Menara Kurungan
dan pingsan, tetapi ia telah sadar dan datang ke sini.
Segalanya sudah dimulai. Sebagian besar orang-orang
Campusfellow sudah tewas. Di atas rumput pekarangan tengah dan di koridor,
banyak mayat bergelimpangan.
Sepintas, yang masih bertarung hanyalah Roro dan Heartland
yang berhadapan dengan Radgini di tengah lapangan, serta Teresalisa yang sedang
bertarung melawan Ferocactus.
Witches yang dijadwalkan akan dibakar besok tidak
boleh dibiarkan kabur dari sini.
"Apa yang kalian lihat dengan bengong begitu! Cepat
tangkap Witches itu!"
Figaro berteriak kepada para Kesatria Singa Emas yang
berdiri mematung di koridor.
"Jangan sampai kalah cepat dari para Sorcerers
itu! Tangkap wanita itu meskipun kalian harus menebasnya! Ingat, jika kalian
membiarkan 'Pembunuh Raja Singa' kabur, anggap saja itu aib bagi seorang
kesatria……!!"
Mendengar teriakan keras Figaro, para kesatria kembali
mengarahkan pedang mereka satu per satu, dan dengan sorak sorai, mereka
berhamburan ke pekarangan tengah.
Teresalisa, sambil menghindari kedua tangan Ferocactus yang
terbakar, melirik bilah pedang kesatria yang menyerang dari belakangnya, lalu
memiringkan tubuh bagian atasnya ke belakang. Ia menghindari pedang yang
diayunkan dari atas kepalanya, dan tanpa jeda, ia memutar tubuhnya untuk
mengelak dari ujung pedang yang menjulur dari samping.
Pedang-pedang diayunkan bertubi-tubi ke arah Teresalisa.
Teresalisa menghindari semuanya, atau menahannya dengan gagang sabit besarnya,
lalu menepisnya. Ia berputar seperti sedang menari dan mengayunkan sabit
besarnya, mementalkan kepala seorang kesatria menggunakan bagian atas sabitnya.
"Gwaah……!!"
Melompati kesatria yang berguling di atas rumput,
kesatria-kesatria lain datang menyerang. Teresalisa menusuk tenggorokan mereka
dengan ujung belakang gagang sabit besar, atau mengayunkan bagian atas sabitnya
untuk memukul mereka. Seberapa banyak pun ia diserang, ia tidak ingin membunuh
para Kesatria Singa Emas. Karena para kesatria Lowe ini adalah bawahan Prius.
Namun, bagi Ferocactus, hal itu berbeda.
"Ugh, apaan sih orang-orang ini……!?"
Ferocactus bertabrakan dengan para kesatria yang dihempaskan
dan ditepis oleh Teresalisa, sehingga ia tidak bisa mendekati Teresalisa.
Ferocactus sama sekali tidak memiliki niat untuk bekerja sama dengan para
kesatria. Bagi Ferocactus, mereka hanyalah pengganggu yang menghalangi
pertarungannya dengan Teresalisa.
"Minggir, kalian mengganggu……!!"
Ia menyalakan pemantik api yang telah ia tempelkan pada para
kesatria saat mereka saling bertabrakan dan bersentuhan sekaligus.
Dalam sekejap, lengan, kepala, bahu, dan bagian tubuh lain
dari para kesatria yang mengepung mereka berdua terbakar. Pemantik api yang
ditempelkan memang hanya sedikit, tetapi nyala api yang berkobar secara
serentak itu menerangi pekarangan tengah dengan terang.
Para kesatria itu panik, dan jeritan mereka bergema di bawah
langit yang hujan.
"Waaaaaah……!!" "Tolong padamkan!!"
"Panas, panas, panasss……!" "Tolong aku!"
──Pada saat itu, Teresalisa melemparkan sabit besarnya ke
atas.
Saat ia mengayunkan lengannya yang kosong ke arah bawah
kakinya, pada detik berikutnya. Sabit besar itu berubah menjadi cairan dan
meledak. Cairan perak yang terbagi menjadi tak terhitung jumlahnya turun
seperti hujan meteor, menempel di bagian tubuh para kesatria yang terbakar.
Api yang menerangi pekarangan tengah itu langsung padam
dalam sekejap.
Sebagai gantinya, api yang menyelimuti kedua tangan
Ferocactus semakin membesar.
"Jangan matikan! Ini api Fero. Jangan sembarangan
mematikan api Fero……!!"
Ia memelototi Teresalisa dengan tajam, lalu berlari terbawa
amarah.
Ke arah Teresalisa yang tidak memegang apa pun, Ferocactus
mengangkat lengannya yang terbakar──tetapi, tepat sebelum tangannya membakar
wajah Teresalisa, Ferocactus menghentikan langkahnya karena rasa sakit yang
menusuk seluruh tubuhnya.
"……Ah."
Di depan hidung Ferocactus yang membelalakkan mata dan
memuntahkan darah, Teresalisa menatap wajahnya dari depan. Profil wajah
keduanya diterangi oleh api yang menyelimuti lengan Ferocactus yang terangkat.
"……Saat bertarung melawan pengguna sihir tipe
manipulasi, kau harus selalu memperhatikan keadaan sekitarmu."
Cairan perak yang masih menempel di tubuh para kesatria
berubah menjadi duri-duri yang tak terhitung jumlahnya, dan menusuk tubuh
Ferocactus dari segala arah.
Saat Teresalisa mengepalkan kelima jarinya yang terbuka,
duri-duri perak itu terlepas dari tubuh Ferocactus dan menyusut kembali ke arah
para kesatria. Ferocactus yang kehilangan penopangnya pun ambruk di atas rumput
yang basah oleh hujan.
"……Sial."
Figaro, yang mengamati para kesatria yang terbakar dari
koridor, berdecak kesal. Walaupun menyebalkan, kesatria biasa tidak akan bisa
menandingi Witches itu. Bahkan jika dirinya yang sedang memakai
gendongan lengan maju, ia tidak akan bisa menangkapnya. Apa yang harus ia
lakukan──saat Figaro memikirkan langkah selanjutnya agar Witches itu
tidak kabur, seorang wanita berdiri di sampingnya.
"Ya ampun……. Gawat, ya."
Wanita bangsawan bergaun hitam, Anemone, membawa seorang
pria bayangan hitam──Tatakari di sisinya. Tatakari, yang menyalin wajah
kesatria muda, duduk di kaki Anemone layaknya anjing besar yang setia. Sambil
membelai wajah Tatakari yang matanya tidak fokus dengan penuh kasih sayang,
Anemone bergumam.
"Untuk melawan Witches, memakan satu pemuda saja
tidak cukup, ya. Tatakari?"
"Ooon……. Ooon……"
Tatakari mengeluarkan suara rengekan yang menyedihkan.
"Anak manis. Ayo makan sedikit lagi agar tubuhmu
menjadi lebih besar, ya."
Anemone menoleh ke arah Figaro.
"Kau, meskipun terluka tapi kelihatannya kuat, ya.
Maukah kau dimakan sedikit?"
"……Hah?"
Dalam sekejap, wajah Tatakari yang berjongkok di samping
Anemone terbelah secara horizontal dari atas hidungnya. Di dalam kepala yang
terbuka ke atas dan bawah itu, tampak deretan gigi.
Tatakari yang membuka mulutnya lebar-lebar melompat ke arah
kepala Figaro.
"Oooooooon……!"
"Ugh……!!"
Figaro secara refleks melompat ke belakang. Ia mencengkeram
bahu kesatria paruh baya yang berdiri di sebelahnya dan menjadikannya tameng.
Tatakari menggigit wajah kesatria paruh baya itu. Jeritan
kesatria bergema di seluruh koridor.
Teresalisa mengumpulkan kembali cairan perak yang menempel
pada para kesatria ke tangannya. Ia kembali membentuk wujud sabit besar dan
memeluknya dengan kedua lengannya.
"Masih mau lanjut?"
Para kesatria yang tersisa mengepung Teresalisa sambil
menghunuskan pedang mereka. Namun, tidak ada satu pun yang bergerak. Tidak ada
peluang menang melawan Witches itu. Terlebih lagi, melihat rekan-rekan
mereka yang terbakar diselamatkan oleh wanita itu, semangat mereka untuk
memusuhinya telah memudar.
"Witches-sama!"
Roro, yang sedang berhadapan dengan Radgini di lapangan,
memanggil Teresalisa. Ia menunjuk ke arah punggung Heartland yang berdiri di
sebelahnya.
"Bisakah Anda memadamkan api di tubuhnya juga?"
"……Kau terus terbakar sedari tadi? Sulit
dipercaya."
Teresalisa melangkah maju ke arah Heartland yang punggungnya
terbakar, dan pada saat itulah. Mendengar suara dentuman keras yang
menghancurkan sesuatu dari belakang, Teresalisa menoleh. Sosok yang
menghancurkan langit-langit dan pilar koridor lalu muncul di pekarangan tengah
adalah seorang pria raksasa dengan tubuh bagian atas yang membengkak.
Ia memakai zirah pelat hitam dan memegang pedang dua tangan
raksasa berwarna hitam. Senjata, kulit, dan seluruh tubuh pria raksasa itu
berwarna hitam pekat. Ia memiliki delapan leher. Di antaranya, ada wajah
kesatria muda Campusfellow yang pertama kali dimakan, dan juga wajah kesatria
paruh baya Lowe yang dijadikan tameng oleh Figaro.
Bayangan Anemone yang telah memakan delapan kesatria,
Tatakari, tubuhnya membesar seiring dengan massa yang dimakannya. Kekuatan dan
senjatanya setara dengan delapan kesatria. Namun, tubuhnya yang membengkak itu
tidak proporsional; ia lebih terlihat obesitas daripada berotot kekar.
Bum, bum, Tatakari berjalan dengan langkah berat di
atas rumput, dan kemudian ia mulai berlari menuju Teresalisa. Sambil berlari,
ia mengangkat pedang dua tangan raksasanya yang terbentuk dari delapan pedang
yang disatukan.
"Oooooooon……!"
"Apa-apaan benda ini, menjijikkan."
Di atas kepala Teresalisa yang mendongak kaget, pedang
Tatakari diayunkan turun.
Rumput terbelah, dan tanah pun terlempar ke udara.
"Witches-sama……!!"
"Kau tidak punya waktu untuk melihat ke arah
lain……!"
Radgini juga mulai bergerak. Ia merentangkan lengannya dan
mendekati Roro yang perhatiannya teralihkan oleh Tatakari.
"Ugh……!"
Roro mengayunkan lengan kanannya ke bawah, dan bilah pedang
yang terlipat di pelindung tangannya pun memanjang, lalu ia bersiap.
"……Hoo. Pedang tersembunyi, ya. Menarik juga."
Radgini, yang telah berada di jarak dekat, berjongkok untuk
menghindari tebasan horizontal pedang itu. Ia segera membuka kelima jarinya dan
mencengkeram kuat leher Roro. ──Bersamaan dengan suara juwa, Roro
merasakan sakit seperti terbakar di lehernya, dan pada detik berikutnya, sebuah
tombak diayunkan turun di antara keduanya.
Heartland menyela di antara mereka. Ia melancarkan serangan
beruntun menggantikan Roro.
Sambil menyusup di antara ujung tombak yang diayunkan secara
vertikal, horizontal, dan diagonal, Radgini mencari celah untuk masuk ke jarak
dekat Heartland. Ayunan tombaknya besar-besar. Pasti ada celah yang muncul──.
Pada saat tombak diayunkan sangat kuat ke bawah, Radgini bergerak maju. Ia
menyelinap di bawah ujung tombak dan mendekati dada Heartland──namun, tepat
setelah itu, Roro muncul melompati punggung Heartland.
"Ugh……!!"
Radgini secara refleks melompat mundur, tetapi lengan
kanannya telah disayat oleh bilah pedang Roro. Radgini memiringkan kepalanya.
"……Haha. Yang besar jadi pengecoh, yang kecil yang
menebas, ya. Kalian ini merepotkan."
Heartland berlari untuk menyerang lagi. Roro pun menyusul di
belakangnya.
Saat itu, Teresalisa yang berlari datang melompat ke atas
kepala Heartland. Sambil memutar tubuhnya di udara, ia melepaskan sabit
besarnya yang diarahkan ke punggung Heartland──.
"Padamkan apinya, April……!"
Dalam sekejap, sabit besar perak itu mencair, dan menempel
di punggung Heartland seolah menyelimutinya.
"Uwoh……! Apa-apaan ini."
"Tidak apa-apa, Heartland-san. Witches-sama akan
memadamkan apinya untuk Anda."
Tubuh raksasa Tatakari yang mengejar Teresalisa melompati
kepala kedua orang itu.
"Oooooooon……!"
Teresalisa, yang mendarat di lapangan, menarik lengan yang
ia julurkan ke arah Heartland mendekat ke pinggangnya. Seirama dengan gerakan
itu, cairan yang menempel di punggung Heartland kembali membentuk wujud sabit
besar dan kembali ke tangan Teresalisa. Benda itu berputar-putar di udara.
Di jalur lintasannya, ada Tatakari──.
"Oooon……!!"
Tatakari yang tersayat lebar dari bahu hingga punggung
melolong ke arah langit.
Permukaan luka yang menganga itu berbuih-buih, perlahan
menutup dan beregenerasi.
"……Sesuai dugaanku. Sepertinya aku harus menemukan
penggunanya."
Gumam Teresalisa seraya menangkap kembali sabit besarnya.
Tatakari mengangkat pedang dua tangannya yang besar dan
mulai mengejar Teresalisa lagi. Teresalisa pun membalikkan badan, lalu berlari
melintasi pekarangan tengah dengan Tatakari di belakangnya.
Teresalisa menekuk lututnya di depan koridor dan melompat
tinggi. Tujuan lompatannya adalah tempat yang lebih tinggi dari koridor. Tempat
yang mungkin tidak bisa dijangkau oleh tangan Tatakari──dinding kastil.
Teresalisa mengalirkan kekuatan sihir ke kakinya dan berlari miring ke atas
dinding. Namun, mengejar di belakangnya, Tatakari menendang rumput dan ikut
melompat.
"Ugh……!"
Pergerakan Tatakari ternyata sangat tinggi. Ia menembus
dinding kastil dengan jari-jarinya yang terbuka dan ujung kakinya, dan ia terus
mengejar Teresalisa dengan gigih, seolah-olah memanjat dinding tersebut. Suara
benda hancur bergema di sekitar, dan puing-puing yang pecah berjatuhan ke
pekarangan tengah.
Teresalisa terus berlari sejajar dengan tanah di sepanjang
dinding kastil yang mengelilingi pekarangan tengah. Tatakari mengejarnya sambil
terus melolong.
Dengan latar belakang kejar-kejaran yang tidak biasa itu, di
tengah lapangan, Heartland sedang mengayunkan tombaknya dengan ganas. Radgini
menghindari ujung tombak itu. Dari sudut buta, Roro menyembunyikan hawa
keberadaannya dan menusukkan pisaunya.
"Cih…… berengsek."
Terdesak oleh kombinasi serangan mereka berdua, Radgini
tidak bisa melakukan serangan balik.
Api yang sebelumnya membakar punggung Heartland telah padam.
Aliran pertarungan berpihak pada mereka berdua──namun.
Sebuah kejadian tak terduga menimpa mereka.
Gagang Tangering Tree, yang telah berkali-kali
dicengkeram dan terus dilelehkan oleh Radgini, patah menjadi dua tepat di saat
itu.
"A-Apa……!?"
Radgini tidak menyia-nyiakan celah yang tercipta saat
Heartland terkejut. Ia melangkah maju dengan lebar, dan dalam sekejap merangsek
mendekati Heartland. Tangan kirinya, yang mengeluarkan uap, menembus perut
Heartland.
"Nguuuh……!!"
"Heartland-san!"
Heartland melempar tombaknya yang patah, lalu mencengkeram
lengan Radgini yang menembus perutnya. Ia mencengkeram lengan itu erat-erat
agar tidak lepas, lalu berteriak kepada Roro.
"Sekarang! Bunuh dia……"
Radgini berdecak, dan mencoba menarik tangan kirinya dari
perut Heartland. Namun, lengannya dicengkeram kuat-kuat oleh Heartland sehingga
ia tidak bisa bergerak.
"Jangan bercanda, keparat……!"
Radgini yang merasa kesal menggunakan tangan kanannya yang
bebas untuk mencengkeram erat wajah Heartland.
"Ngaaaaaaaah……!!"
Uap membubung dari wajah Heartland.
Roro mengayunkan bilah pada pelindung tangannya.
Ia bisa saja memenggal kepala Radgini. Ia bisa saja menusuk
perutnya hingga mati. Namun, Roro mengayunkan pisaunya dan memotong lengan
kanan Radgini yang sedang mencengkeram wajah Heartland.
"Gyaaaaaah……!!"
Radgini, yang lengannya putus dari siku ke bawah, menjerit
kesakitan karena rasa sakit yang luar biasa, dan ia menarik lengan kirinya dari
perut Heartland.
"Lenganku…… lenganku. Aku tidak akan memaafkan kalian.
Aku tidak akan membiarkan kalian mati dengan mudah……!"
Dengan urat biru yang menonjol di pelipisnya dan mata yang
memerah, Radgini melotot ke arah mereka berdua.
"Aku sudah memutuskannya. Baru saja. Aku akan
melelehkan kalian sedikit demi sedikit dari ujung kaki……. Dari pergelangan
kaki, paha, biji kemaluan, organ dalam, secara perlahan, perlahan. Aku
benar-benar tidak akan membiarkan kalian mati dengan mudah……"
Udara bergetar. Roro merasakan sesuatu yang aneh. Topeng
pelindung helm Roro, bagian kirinya telah dicengkeram oleh Radgini dan meleleh.
Di pipi kirinya yang bersentuhan dengan udara, ia merasakan sakit yang menusuk.
Aku ini……! Paling benci rasa sakit, tahu……!!
Dari celana dan sepatu bot yang dikenakan Radgini, serta
dari tanah tempat ia berdiri, uap mengepul. Saat dilihat, pelindung tangan Roro
dan pakaian yang dikenakan Heartland juga mengeluarkan uap dengan suara juu.
Segala sesuatu di sekitar Radgini sedang meleleh. Padahal mereka bahkan tidak
disentuhnya──.
Sihir yang sebelumnya hanya diselimutkan pada kedua
tangannya, kini kehilangan kendali, mungkin karena rasa sakit. Segala sesuatu
yang bersentuhan dengan sihir itu, akan meleleh. Itulah sihir bawaan Radgini──Hanya
Melelehkan Saja (Just Melt).
"……Apakah Anda baik-baik saja, Heartland-san?"
Heartland memungut bagian ujung dari Tangering Tree
yang patah menjadi dua. Meski gagangnya menjadi pendek, itu tidak berarti ia
tidak bisa mengayunkannya. Bilah pisaunya yang banyak telah disembunyikan di dalam.
"……Dasar bodoh. Padahal tadi itu adalah
kesempatan."
Gumam Heartland sambil menyeka darah di mulutnya.
Tentu saja, itu ditujukan kepada Roro yang tidak bisa
membunuh musuhnya.
"……Maafkan saya."
"Akan kuajarkan jalan kesatriaku padamu. Jika kau memiliki
sesuatu yang ingin kau lindungi, jangan ragu untuk membunuh. Hal itu hanya akan
membuat pedangmu tumpul. Sayang sekali. Kau itu──"
Heartland berdiri berdampingan dengan Roro dan mengarahkan
tombaknya.
"Kau adalah seorang Assassin, kan?"
"……Iya."
Roro menatap Heartland dari sudut matanya. Separuh wajah
Heartland yang dicengkeram dengan kuat tadi tampak memerah dan melepuh.
Punggungnya terbakar, perutnya tertusuk, ia seharusnya tidak dalam kondisi yang
memungkinkan untuk bertarung. Fakta bahwa ia masih bisa berdiri saja sudah
merupakan sebuah keajaiban.
"Gemeretakkan gigimu!"
Radgini menjulurkan lengan kirinya ke depan, lalu mulai
berlari ke arah mereka berdua.
"Aku akan melelehkan kalian dengan rasa sakit yang luar
biasa, kalian bangsat!!"
"Saya akan maju."
Roro melangkah maju seolah-olah melindungi Heartland yang
terluka.
Saat jaraknya dengan Radgini semakin dekat, ia merasakan
perih seperti terbakar di pipi kirinya yang bersentuhan dengan udara. Semakin
ia mendekati Radgini, jumlah uap yang mengepul dari seluruh tubuhnya semakin
bertambah. Jika ia tidak segera membereskannya, ia mungkin akan segera tidak
bisa bertarung──.
Roro, yang merangsek ke depan Radgini, menangkis lengan
kirinya dengan pelindung tangan dan mengayunkan pisaunya. Radgini menyeimbangkan
tubuhnya dengan satu tangan kirinya, dengan cekatan menghindari pisau Roro.
Serangan kedua, serangan ketiga, serangan beruntun Roro yang tidak berhenti
memaksanya mundur.
"Aaah…… sialan!!"
Radgini menggertakkan giginya. Ia menghentikan langkahnya
dengan tekad siap ditebas, dengan sengaja membiarkan pisau Roro mengenai bagian
bahunya. Dengan begitu ia menghentikan gerakan Roro, lalu ia menggunakan lengan
kirinya untuk mencekik leher Roro.
"Haha!! Kena kau──" Pada detik itu juga, Roro
menendang perut Radgini.
Radgini terhuyung-huyung, dan punggungnya membentur batang
pohon ek yang berdiri di dekat lapangan.
"Guh……!!"
Radgini menegakkan tubuhnya dan melangkah maju. Roro
menginjak lututnya, lalu berlari naik ke bahunya. Ia melompat jauh dengan
menggunakan bahu Radgini sebagai pijakan──menendang Radgini kembali ke batang
pohon, dan melakukan salto di atas kepala Heartland yang menyusul dengan cepat
dari belakang.
"Heartland-san!"
"Oooooooh……!!"
Tombak yang diayunkan Heartland menembus perut Radgini,
menusuknya seperti sate ke batang pohon──pada saat itu juga, Heartland memutar
gagangnya yang patah, dan menyebarkan dahan dan daun Tangering Tree.
"Gohah……!!"
Dengan suara zapa, bilah-bilah pisau yang tak
terhitung jumlahnya menyebar dari gagang tombak, membelah tubuh Radgini menjadi
dua dari atas ke bawah.
Karena benturan itu, banyak daun kuning berguguran dari
pohon ek yang dahannya membentang luas.
Roro mendarat di belakang Heartland.
Tubuh bagian atas Radgini bertumpu pada bilah Tangering
Tree yang menancap di batang pohon yang tebal. Tubuh bagian bawahnya
terguling di akar pohon. Kepalanya menunduk dan tidak bergerak sedikit pun.
Lengan kirinya terkulai lemas.
Sehebat apa pun Sorcerers yang menggunakan teknik
misterius, ia pasti tidak mungkin selamat setelah serangan ini. Uap yang
sebelumnya mengepul dari pelindung tangan Roro dan daerah sekitarnya juga telah
menghilang. Rasa sakit yang menusuk pipi kirinya juga telah hilang.
"……Kita berhasil. Heartland-san."
Roro berdiri di samping Heartland. Heartland masih dalam
posisi menghunuskan tombaknya, kaku tak bergerak.
Di tengah hujan yang turun deras, wajahnya menunduk sehingga
tidak terlihat.
"……Heartland-san?"
Bersamaan dengan berakhirnya pertarungan dengan Sorcerers,
Heartland pun menghembuskan napas terakhirnya.
"Oooooooon……!!"
"……Gigih sekali, astaga."
Pria raksasa dengan delapan leher, Tatakari, terus menerjang
tanpa henti layaknya babi hutan, terus mengejar punggung Teresalisa.
Teresalisa, yang mendarat di atas rumput, melompat masuk ke koridor yang
mengelilingi pekarangan tengah. Para kesatria yang ada di koridor itu lari
ketakutan melihat Tatakari yang mendekat.
Tatakari yang bertubuh besar tidak bisa masuk ke dalam
koridor. Sebagai gantinya, ia mengayunkan pedang raksasanya secara horizontal
ke arah Teresalisa yang sedang berlari di koridor. Bilah pedang hitamnya itu
menghancurkan pilar-pilar koridor beserta obor-obor yang ada di sana satu per
satu.
"Kuh……"
Teresalisa membentur puing-puing yang terpelanting, lalu
jatuh ke lantai.
Tatakari mengulurkan tangannya ke Teresalisa yang jatuh.
Dengan tangan hitamnya yang besar dan setara dengan delapan orang, ia
menggenggam batang tubuh Teresalisa, lalu menyeretnya dari koridor ke
pekarangan tengah.
"Oooooooon……"
Tatakari mendekatkan Teresalisa yang ia genggam di tangannya
ke wajahnya yang setara dengan delapan orang.
Teresalisa menunjukkan ekspresi penderitaan. Ia mencoba
memelintir tubuhnya, tetapi kekuatan Tatakari terlalu besar sehingga ia tidak
bisa melarikan diri.
"Hohoho! Rasakan itu, Mirror Witch……!"
Melihat Teresalisa tertangkap, Anemone muncul di pekarangan
tengah.
Ia mendongak menatap Teresalisa yang digenggam oleh
Tatakari, lalu tertawa dengan penuh kemenangan.
"Tatakari-ku ini bilang ia ingin meremasmu hingga
hancur sekarang juga. Tapi tidak boleh. Kau akan dibakar besok, kan? Daripada
dihancurkan dalam sekejap, kau harus mati dengan cara yang jauh, jauh lebih
menyiksa. Sayang sekali, ya? Padahal sedikit lagi kau bisa kabur, ya?"
"Kuh……"
"Menyesallah. Witches sepertimu, mencoba kabur
dariku dan Tatakari, butuh seratus tahun──"
Namun, di saat itulah Anemone menghentikan kata-katanya. Ia
menyadarinya. Teresalisa yang digenggam oleh Tatakari, tidak memegang apa pun
di tangannya.
"……Kau, ke mana kau simpan sabit besarmu?"
"……Akhirnya kau keluar juga. Sorcerers."
──Syuut.
"Ara……?"
Tiba-tiba, kepala Anemone terpenggal, dan ia tumbang dengan
darah menyembur dari potongan lehernya.
Di belakangnya, berdiri sosok manusia perak yang telah
mengayunkan sabit besar perak. Boneka yang memiliki tubuh wanita dan kepala
berbentuk seperti telur──sebuah bentuk manusia yang diciptakan dari cairan
perak.
Teresalisa memanggilnya, "April".
"Oooooooon……"
Tatakari perlahan lenyap karena penggunanya telah tewas.
Teresalisa yang turun ke atas rumput, menatap ke arah kepala
Anemone yang menggelinding.
"Menyesallah. Sorcerers sepertimu, mencoba
mengalahkan diriku dan April──"
Di belakangnya, delapan mayat yang telah dimakan oleh
bayangan berjatuhan ke atas rumput.
Teresalisa mengelus dadanya yang sebelumnya digenggam dan
ditekan kuat.
"Butuh seratus tahun, terlalu cepat. ──Uhuk."
9
Roro memotong lencana "Landak yang Punggungnya Terbakar
(Fire Hedgehog)" dari lengan Heartland yang sudah tidak bergerak. Untuk
membawa kembali lambang kebanggaannya ini ke kampung halamannya, Campusfellow.
Ia berlari kembali ke arah Bado yang menyandarkan
punggungnya pada pilar koridor. Bado bernapas dengan dangkal.
Mengangkat pelindung wajah helmnya yang meleleh di bagian
kiri, Roro berlutut di samping Bado.
"……Saya minta maaf. Kita telah kehilangan Heartland-san."
"Ini bukan salahmu, kau tidak perlu meminta maaf."
Wajah Bado terlihat semakin memburuk. Darah yang merembes di
perutnya meluas.
Teresalisa mendekat ke arah mereka berdua.
"……Anda adalah Tuan Tanah Campusfellow, kan?"
Teresalisa menunduk menatap Bado dan bertanya.
Bado mendongak melihat sosoknya dan tersenyum tipis.
"……Jadi kau adalah Mirror Witch. Aku sudah lama
ingin bertemu denganmu."
"Anda adalah majikan dari Anjing Hitam, kan? Anda telah
membebaskan saya dari penjara. Saya sangat berterima kasih."
"……Yah, kita saling menguntungkan. Kami hanya meminjam
kekuatanmu untuk──"
Tiba-tiba, Bado merasakan ketakutan yang tidak bisa
dijelaskan dan menelan kembali kata-katanya.
Roro dan Teresalisa juga merasakan udara di sekitar mereka
menjadi sangat tegang, dan mereka berdua secara bersamaan menoleh ke arah
pekarangan tengah. Di koridor seberang, ada seseorang yang berdiri.
Orang itu mengenakan topi bertepi lebar, memakai jubah hitam,
dan memegang tas kulit sapi. Wajahnya tertutup topeng berparuh besar sehingga
tidak terlihat. Itu adalah orang yang memandu Teresalisa masuk ke ruang sidang
saat pengadilan Witches. Ia memanggul seorang wanita bergaun di bahu
kanannya.
"Delirium-sama……!"
Roro bangkit berdiri. Delirium tampaknya pingsan, ia lemas
dan tidak bergerak.
"……Apa yang sebenarnya telah terjadi di sini?"
Pria berparuh, Parmigiano, memandang ke seluruh pekarangan
tengah dari koridor. Radgini terbelah dua di depan pohon ek, Ferocactus
tergeletak di rumput, dan kepala Anemone telah terpenggal. Ia memiringkan
topeng burungnya, seolah bertanya-tanya apa yang terjadi saat ia tidak ada.
"……Siapa orang itu. Apakah dia seorang Sorcerers?"
Bado bergumam sambil tetap menyandarkan punggungnya pada
pilar, memandang ke arah koridor seberang.
Yang menjawab adalah Teresalisa.
"Kekuatan sihir yang aneh dan topeng burung ini…….
Kemungkinan besar, dia adalah salah satu dari Sembilan Utusan. Utusan
Keenam──Sang Alkemis (Alchemist)."
Itu adalah profesi tingkat tinggi yang berada di atas Sorcerers
biasa. Sembilan Utusan, yang konon dapat menghancurkan sebuah kastil sendirian.
Salah satunya berdiri di depan mereka. Dan parahnya lagi, ia sedang memanggul
Delirium.
"……Apakah kita berdua bisa mengalahkannya?"
Roro dengan pelan bertanya kepada Teresalisa.
"……Jika kita beruntung."
"Mirror Witch……"
Paruh Parmigiano mengarah pada Teresalisa.
"Aku tidak bisa membiarkanmu lolos. Aku bisa dimarahi
oleh Lucy-sama nanti."
"…………"
Teresalisa mengayunkan cermin tangannya. Ia kembali
menciptakan sabit besar perak, lalu memeluknya dengan kedua lengannya.
"Roro──"
Bado menaikkan wajahnya. Roro kembali berlutut di samping
Bado.
"Rebut kembali Delirium, dan langsung kabur dari kastil
ini."
Mendengar kata-katanya itu, Roro merasa bimbang.
"Bagaimana dengan Bado-sama?"
"Aku akan tetap di sini. Kalian bawa Delirium, dan
tinggalkan Lowe malam ini juga."
"……Tidak bisa. Bado-sama juga harus ikut."
"Tidak boleh. Ini perintah."
Bado berkata dengan nada tegas, lalu balas menatap Roro.
"Aku juga mengerti bahwa pria berparuh itu bukanlah
orang biasa. Dengan luka seperti ini, aku hanya akan menjadi beban. Kalian
tidak akan bisa kabur jika membawaku. Tapi…… pastikan kalian membawa
Delirium."
"……Tetapi."
"Dengar, Anjing Hitam!"
Bado mencengkeram kerah baju Roro yang sedang ragu, dan
sengaja memanggilnya Anjing Hitam.
"Yang harus kau lindungi bukanlah aku……! Melainkan masa
depan Campusfellow. Jika kalian semua musnah di sini, aku tidak akan
memaafkanmu. Pikirkanlah keberlangsungan Campusfellow sebagai prioritas
utamamu……"
Bado menatap mata hijau tua Roro. Bado, yang biasanya
bertanya "Bisa kau lakukan?" untuk memastikan, kini memberikan
perintah dengan kuat.
"Pergilah……!!"
"……Dimengerti."
Roro berdiri, lalu melepaskan helmnya. Ia berdiri
bersebelahan dengan Teresalisa.
"Witches-sama. Maukah Anda meminjamkan kekuatan
Anda?"
"Aku berutang budi pada kalian. Akan kubalas di
sini."
"Saat ini kita tidak memiliki kemewahan untuk bertarung
dengan Sembilan Utusan. Kita akan merebut putri dan melarikan diri dari
kastil."
"……Baik. Aku akan menciptakan celah."
Parmigiano melangkah dari koridor ke atas rumput. Ia
berjalan melintasi pekarangan tengah. Ia memegang tas di tangan kirinya, dan
memanggul Delirium di bahu kanannya. Kedua tangannya tidak bebas. Namun,
posturnya sama sekali tidak menunjukkan celah. Merasakan tatapannya dari balik
topeng, mereka merasa gelisah.
Teresalisa mengarahkan sabit peraknya yang besar, sementara
Roro menjulurkan bilah pedang dari pelindung lengannya. Saat yang menentukan
telah tiba.
"Saya akan pergi."
Mengumpulkan semangatnya, Roro melangkah maju. Teresalisa
menyahut.
"Saat kau melakukan kontak dengannya, empat detik
kemudian aku akan menebas secara horizontal."
"……Mengerti."
Roro melangkah maju, berlari melintasi rumput yang basah
oleh hujan.
Dalam sekejap ia mendekati Parmigiano, lalu mengayunkan
bilah pelindung tangan kanannya ke arah bahu kiri pria itu. Parmigiano
menghindarinya dengan mencondongkan tubuhnya ke belakang. Roro menggunakan
lengan kanan dan kirinya untuk mengayunkan pisaunya secara beruntun. Parmigiano
menghindari semuanya, atau menangkisnya dengan tas di tangan kirinya.
Lawannya hanya menggunakan satu tangan. Serangan Roro jauh
lebih banyak. Dalam sepersekian detik ia menemukan celah, lalu ia mengarahkan
bilah lengan kirinya ke batang tubuh Parmigiano.
Namun, pelindung tangan itu ditangkap dan dihentikan oleh
sesuatu yang tidak terduga──sebuah pergelangan tangan.
"……!?"
Pergelangan tangan dengan potongan melintang berwarna hitam
itu melayang di udara dan mencengkeram lengan kiri Roro. Selanjutnya,
pergelangan tangan lain yang melompat dari jubah Parmigiano mencengkeram leher
Roro.
──Apakah ini, sihir……!?
Namun, tidak ada waktu untuk terkejut. Empat detik setelah
Roro menyentuh Parmigiano──Teresalisa yang telah mendekat tepat di samping
mereka berdua, mengayunkan sabit besarnya ke belakang. Ia mengayunkan sabitnya
secara horizontal, mengarah ke batang tubuh Parmigiano.
Roro melompat, memutar tubuhnya sejajar dengan tanah untuk
keluar dari lintasan sabit itu.
Di saat yang sama, Parmigiano secara refleks berjongkok,
menghindari bilah sabit besar tersebut.
Pergelangan tangan itu masih menempel di leher dan lengan
kiri Roro yang melompat di udara. Roro dihempaskan telentang ke atas rumput
seolah-olah ditekan dari atas oleh kedua pergelangan tangan itu.
"……Ugh."
Dari jubah Parmigiano, pergelangan tangan berhamburan keluar
satu per satu. Pergelangan tangan itu juga melilit leher, lengan, dan kaki
Teresalisa yang baru saja mengayunkan sabit besarnya, lalu menghempaskan
tubuhnya ke atas rumput seperti Roro.
Hanya dalam sekejap, mereka berdua telah dikekang oleh
pergelangan tangan yang tak terhitung jumlahnya.
Di tengah hujan, yang berdiri hanyalah Parmigiano seorang.
──Setidaknya begitu kelihatannya.
Di belakang Parmigiano, ada sosok Roro.
Roro memanfaatkan celah sesaat untuk merebut Delirium yang
dipanggul di bahu Parmigiano.
Parmigiano melihat ke bawah kakinya. Seharusnya ia telah
menekan Roro di atas rumput──dan benar saja, Roro memang tergeletak di atas
rumput. Roro──telah menjadi dua orang tanpa disadari.
Roro yang terbaring di tanah menggunakan bilah pelindung
tangannya untuk menusuk punggung tangan dari pergelangan tangan yang
mencengkeram lengan kirinya. Darah menyembur dari punggung tangan itu.
Tampaknya tangan itu menerima kerusakan, sehingga kekuatan tekanannya
mengendur. Roro juga mengayunkan pisaunya ke pergelangan tangan yang
mencengkeram lehernya, dan memotong jari-jarinya.
Saat kekuatan pergelangan tangan yang menekan tubuhnya
melemah, Roro segera berdiri. Ia segera mengejar Roro yang satu lagi yang
berlari menjauh.
Sosok Roro yang sedang memanggul Delirium perlahan-lahan berubah
menjadi Teresalisa.
"Berat……! Dia ini putrimu, kan, kau yang bawa."
Melihat punggung mereka berdua yang berlari menjauh,
Parmigiano memiringkan kepalanya. ──Lalu, Teresalisa yang ini? Di kakinya,
Teresalisa tergeletak sambil dikekang oleh banyak pergelangan tangan. Kali ini,
ada dua orang Teresalisa.
Teresalisa, yang telah menyerahkan Delirium kepada Roro,
menoleh ke belakang saat berlari melintasi rumput di halaman.
"Ulur waktunya, April!!"
"……Aha, begitu rupanya."
Parmigiano bergumam, dan di bawah kakinya, sosok Teresalisa
yang terbaring itu berubah bentuk dengan aneh. Dalam sekejap, sosok itu berubah
menjadi cairan perak yang langsung menempel di kaki Parmigiano. Cairan itu
seketika mengeras dan menjadi belenggu yang menahan Parmigiano di tempat.
"…………"
"Jangan biarkan mereka kabur! Kejar!!"
Figaro berteriak kepada para Kesatria Singa Emas dari
koridor.
Lorong-lorong yang menghubungkan halaman tengah ke dalam
kastil semuanya dipenuhi oleh para kesatria. Mereka tidak akan bisa keluar jika
tidak mengalahkan kesatria-kesatria itu. Roro, yang berlari sambil memanggul
Delirium di bahunya, menoleh ke arah Teresalisa.
"Witches-sama……! Apakah Anda masih bisa
bertarung……!"
"Tidak mau, merepotkan!"
Teresalisa mengayunkan cermin tangannya. Cairan perak yang
muncul dari permukaan cermin berubah bentuk menjadi tali dan memanjang ke atas
dinding kastil yang mengelilingi pekarangan tengah. Tepat ketika Teresalisa
memeluk Roro dari belakang, tali perak itu menyusut, menarik tubuh ketiga orang
itu naik ke atas dinding kastil.
Roro memijakkan kakinya di puncak dinding kastil, lalu
menatap halaman tengah sekali lagi.
Para Kesatria Singa Emas dan tentara bayaran telah keluar ke
halaman tengah, dan mereka sedang menatap ke arah kelompok Roro.
Bado juga sedang menatap Roro, sambil menyandarkan
punggungnya pada pilar koridor.
Bado tersenyum tipis setelah memastikan keselamatan Delirium,
dan bibirnya sedikit bergerak.
──Aku mengandalkanmu.
Roro merasa ia mendengar suara itu dengan jelas di
telinganya.