Majo to Ryouken V1 C3

Juli 04, 2026 | Metoya

Chapter 3: Ratapan

Illustration Placeholder


Teresalisa Maiden mulai bekerja di Kastil Lowenstein sekitar satu tahun yang lalu. Tepat setelah ia terdampar di Kerajaan Lowe.

Teresalisa yang berusia delapan belas tahun mencari pekerjaan di guild kota. Asalkan bisa bekerja sebagai pelayan, ia tidak pilih-pilih tempat kerja. Walaupun di kediaman kecil pun tidak masalah, namun kemampuan melayani Teresalisa yang telah berpindah-pindah ke berbagai kediaman dan mengumpulkan pengalaman sebagai pelayan sangatlah luar biasa dibandingkan dengan pelayan lainnya. Saat guild mengadakan tes praktik untuk mengukur kemampuan melayani tersebut, Teresalisa yang meraih nilai peringkat atas pun menarik perhatian Kepala Pelayan Kastil Lowenstein.

Bekerja di kastil adalah pengalaman pertamanya. Di luar dugaan, kehidupan di sana menyenangkan. Mungkin karena saking ramainya lalu lalang manusia hingga disebut sebagai "Negara Perdagangan", rekan-rekan pelayan pun bersikap toleran terhadap Teresalisa yang merupakan orang dari negara lain, dan lingkungan kerja yang diisi oleh banyak orang terasa jauh lebih meriah daripada kediaman mana pun yang pernah ia singgahi selama ini.

Sebelumnya Teresalisa hidup berpindah-pindah ke berbagai tempat dengan mengubah namanya dan mengubah tempat tinggalnya. Karena ia bisa menggunakan sihir sejak pertama kali ia bisa mengingat, ia sudah terbiasa dipanggil sebagai malapetaka dan dibenci oleh orang-orang yang melihatnya.

Kehidupan yang dipenuhi ketegangan demi mewaspadai kehadiran Sorcerers yang bisa muncul kapan saja juga sudah menjadi hal yang lumrah baginya. Hanya saja, ia memiliki ketertarikan pada cara hidup sebagai manusia biasa.

Setiap kali melihat senyuman bahagia orang-orang yang tinggal di berbagai kediaman tempatnya dipekerjakan sebagai pelayan selama ini, ia merasa heran. Mengapa mereka bisa tertawa dengan begitu gembiranya. Apakah karena mereka hidup tanpa ada rasa khawatir sedikit pun? Karena mereka terbebas dari keseharian di mana mereka harus membunuh atau dibunuh? Pernahkah dirinya sendiri tertawa dengan tulus dan gembira seperti itu.

Jika memungkinkan, Teresalisa ingin menjadi seorang manusia.

Kerajaan Lowe adalah "Negara Kesatria" yang dahulu pernah bertempur melawan Kerajaan Amelia di Perang Empat Binatang Buas. Walaupun keluar masuknya para Sorcerers tidak dilarang, jumlah mereka teramat sedikit. Dengan bekerja di Kastil Lowe, untuk pertama kalinya Teresalisa mendapatkan ketenangan yang sederhana. Ia berpikir, mungkin di sini, keinginannya untuk hidup sebagai manusia bisa terwujud.

Oleh karena itu, suatu hari, Teresalisa memutuskan untuk melepaskan cermin tangan yang dimilikinya sejak kecil. Sihirnya bermanifestasi melalui cermin tangan tersebut. Ia memasukkan benda yang menjadi simbol dirinya sebagai seorang Witcheses itu ke dalam sebuah kotak kayu paulownia.

Di tengah kabut pagi yang menyelimuti, Teresalisa menyelinap keluar dari Kastil Lowenstein, lalu menuju ke hutan belukar di pinggiran kota. Ia meletakkan kotak kayu paulownia itu di dalam lubang yang digalinya di tanah, lalu menutupinya dengan tanah. Bersumpah bahwa ia tidak akan pernah menggunakan sihir lagi. Berharap bahwa nama "Teresalisa" yang digunakannya di negara ini akan menjadi namanya yang terakhir.

Sekitar tiga bulan sejak ia mulai bekerja di kastil, Teresalisa telah menemukan sebuah tempat favorit di dalam area kastil. Tempat itu berada di atas dinding kastil yang menghubungkan satu menara pengawas dengan menara pengawas lainnya. Sebuah lorong penghubung terbuka yang sepi dan terpapar angin. Jarang ada orang yang bersusah payah naik hingga ke lantai paling atas seperti ini. Bekerja di tengah banyak orang memang menyenangkan, namun Teresalisa juga menghargai waktu sendirian di mana ia bisa merilekskan bahunya dan bersantai.

Sambil meletakkan tangannya di atas dinding batu yang tingginya mencapai sebatas dada, ia memandangi matahari terbenam yang perlahan tenggelam di cakrawala. Ia sangat menyukai pemandangan luar biasa yang bisa terlihat dari sana. Pemandangan kota Lowe yang dipenuhi bata merah mulai diwarnai oleh warna senja. Di seberangnya, permukaan laut memantulkan sinar matahari, berkilauan dengan indahnya.

Bisa memonopoli pemandangan matahari terbenam di cakrawala sendirian, tidak ada kemewahan yang lebih besar dari ini.

Sesaat sebelum matahari terbenam sepenuhnya, lampu-lampu mulai menyala satu per satu di pemandangan kota di bawah sana. Area di sekitar Jalan Kemenangan terlihat sangat terang. Malam yang meriah pun tiba.

Di sepanjang dinding batu, terdapat sebuah bangku batu.

Begitu matahari terbenam, Teresalisa akan duduk di sana dan menatap bulan yang mengambang di langit.

Bulan melelehkan kegelapan malam tanpa suara. Teringat akan masa lalunya, ia menadahkan tangannya ke atas.

Teresalisa menghabiskan masa kecilnya di karavan "Kaum Pengembara". Pemimpin yang mengepalai rombongan yang terdiri dari sekitar empat puluh orang tersebut adalah orang tua asuhnya.

Saat baru saja dilahirkan, Teresalisa dipungut oleh karavan tersebut.

Cerita itu ia dengar dari sang pemimpin. Pada suatu malam yang dilanda badai. Sebuah kereta kuda yang memaksakan diri melintasi pegunungan tergelincir jatuh. Keesokan paginya, sang pemimpin beserta yang lainnya yang menyusuri dasar jurang untuk mencari barang berharga menemukan seorang bayi yang menangis tersedu-sedu di dalam kereta kuda yang dipenuhi mayat. Bayi yang menggenggam erat cermin tangan putih itulah Teresalisa.

Sebagai bagian dari "Kaum Pengembara", Teresalisa menghabiskan waktunya dengan berpindah-pindah ke berbagai tempat bersama mereka.

Tidak memiliki tempat menetap, terus-menerus mengembara, dan melakukan perdagangan serta pertunjukan adalah cara hidup mereka. Jarak perpindahan dari satu kota ke kota lainnya teramat panjang. Garis punggung gunung berbatu yang tidak pernah berubah, kaktus yang sesekali terlihat, serta suara derap kuku kuda dan roda yang tak terhitung jumlahnya──. Hari-hari membosankan yang hanya menyisakan kenangan-kenangan tersebut.

Di malam-malam saat ia tidak bisa tidur, ia sering merebahkan diri di kereta barang yang berguncang dan menatap langit malam. Di langit, bulan selalu mengambang, menatap Teresalisa ke bawah dengan tenang.

──Kau ini, tidak pernah bosan terus mengikutiku, ya.

Melihat ke bawah pada orang seperti dirinya, bagian mananya yang menarik. Teresalisa kecil mengulurkan tangannya ke arah bulan. Meskipun hari-hari tersebut terasa membosankan, jika dipikir-pikir sekarang, mungkin itu adalah salah satu dari sedikit momen ketenangan dalam hidupnya yang singkat. Kini ia telah meninggalkan karavan. Mengubah namanya, mengubah kehidupannya, dan tidak ada lagi orang yang mengenal dirinya yang dulu. Kecuali bulan itu, yang terus mengikutinya tanpa merasa bosan──.

Hari itu adalah malam yang memancarkan tanda-tanda awal musim panas. Angin malam yang membelai kulitnya yang sedikit berkeringat terasa nyaman. Teresalisa yang sedang dalam suasana hati yang baik duduk di bangku batu seperti biasanya, lalu bersenandung sambil menatap bulan.

Lagu yang sering dinyanyikan oleh sang pemimpin saat sedang dalam suasana hati yang baik seraya menggenggam kendali kuda di kursi kusir.

"──Sungguh melodi yang sangat indah."

Tiba-tiba ditegur oleh sebuah suara, Teresalisa langsung menutup mulutnya.

Saat menoleh ke arah datangnya suara, ia terkejut melihat sosok yang berdiri di depan menara pengawas.

Pria yang berdiri di sana adalah Raja Singa Prius Lowe.

Dengan rambut pirang dan postur tinggi, usianya yang masih di akhir dua puluhan terbilang muda, dan ia tidak memiliki janggut yang merupakan hal langka bagi seorang Raja Singa. Layaknya seorang komandan ordo kesatria yang mengayunkan pedangnya sendiri, tubuhnya yang terlatih bisa terlihat jelas bahkan dari balik mantel kulit sapi dan jubah yang dikenakannya. Tidak heran rekan-rekan pelayannya sering memekik histeris saat membicarakan sang raja, ia memang raja yang jantan dan tampan.

Teresalisa bangkit berdiri dari bangku, lalu membungkuk dalam-dalam.

"……Mohon maafkan kelancangan saya."

Setelah berkata demikian ia dengan cepat memutar tumitnya, berniat untuk meninggalkan tempat tersebut.

Tanpa jeda, sebuah suara menghentikan punggungnya.

"Tunggu sebentar. Melodi barusan, sepertinya aku pernah mendengarnya di suatu tempat……. Apa judul lagunya?"

"…………"

Jika raja menyuruhnya menunggu, ia tidak punya pilihan selain menghentikan langkahnya. Teresalisa menoleh ke belakang.

"Saya tidak mengetahui judulnya. Sepertinya lagu itu adalah lagu yang menyebar dari mulut ke mulut di kalangan 'Kaum Pengembara'."

Ingin segera dibebaskan, Teresalisa menjawab dengan cepat.

"Hoo, lagu 'Kaum Pengembara'……? Apakah kau berasal dari 'Kaum Pengembara'?"

"…………"

Gawat, Teresalisa panik di dalam hatinya.

"Kaum Pengembara" yang tidak memiliki tanah diposisikan pada status sosial yang rendah. Terkadang mereka disebut sebagai tempat persembunyian bagi orang-orang jahat seperti pencuri atau penipu, dan khususnya di kalangan orang kaya, ada yang memandang orang-orang yang sekadar berasal dari "Kaum Pengembara" layaknya melihat seorang penjahat. Padahal karena alasan itulah ia telah berhasil menyembunyikan identitas aslinya dengan baik di guild.

Sebelum Teresalisa yang sempat bingung memikirkan cara untuk mengelak, Prius telah membuka mulutnya terlebih dahulu.

"Kalau tidak salah, mereka adalah orang-orang yang utamanya mengembara di benua, menjual barang atau melakukan pertunjukan jalanan, kan? Aku memang pernah mendengarnya, namun ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan orang yang berasal dari sana. Kumohon, ceritakanlah kisahnya kepadaku."

Prius yang berjalan mendekat duduk di bangku batu, lalu menepuk bagian di sebelahnya seolah menyuruh Teresalisa untuk duduk di sana.

Mendapati perkembangan yang tidak terduga, Teresalisa terdiam. Berdua saja dengan raja, dan disuruh menceritakan masa lalunya? Yang benar saja.

"……Apakah itu, sebuah perintah?"

"Tentu saja bukan. Ini murni hanya permohonan."

"Kalau begitu, saya menolaknya."

"Oh…… eh, kau tidak mau?"

"Permisi."

Teresalisa membalikkan punggungnya kepada raja, lalu meninggalkan bangku favoritnya.

Teresalisa menyukai saat-saat ia memandangi pemandangan dalam kesunyian seorang diri di tempat ini. Ia tidak sedang ingin mengobrol dengan siapa pun. Apalagi jika lawan bicaranya adalah raja. Mengobrol dengan sosok yang bisa memecatnya hanya dengan satu patah kata akan sangat menguras tenaga karena ia harus terlalu berhati-hati.

Dirampasnya waktu yang paling ia nantikan dalam sehari membuat Teresalisa merasa kesal. Biarpun dia adalah raja, ini sudah keterlaluan. Ia memutuskan bahwa besok ia akan duduk di bangku itu lebih lama untuk menebus waktu hari ini.

Namun keesokan harinya, saat Teresalisa naik ke dinding kastil, sang raja ternyata sudah duduk di bangku batu tersebut.

"Yo," sapa Prius seraya mengangkat tangannya.

"Ceritakan padaku, kisah tentang 'Kaum Pengembara'."

"…………"

Teresalisa memberikan bungkukan yang dalam dan indah, lalu memutar tumitnya.

Keesokan harinya, dan hari berikutnya lagi, Prius selalu duduk di bangku tersebut. Setiap kali melihat wajahnya, Teresalisa akan membungkuk dan meninggalkan dinding kastil. Apakah ia berencana untuk datang kemari setiap hari? Ia telah kehilangan tempat favoritnya, yang ironisnya direbut oleh sang raja.

Kemudian di hari berikutnya lagi. Teresalisa mencoba menunda waktunya dari biasanya, dan naik ke dinding kastil setelah matahari terbenam. Mungkin karena menyerah mengira Teresalisa tidak akan datang hari ini, sosok Prius tidak terlihat di bangku batu.

Teresalisa merasa lega, lalu duduk di bangku. Walaupun ia tidak bisa melihat matahari terbenam, ia masih bisa menatap bulan yang mengambang di langit.

Namun Prius segera memunculkan dirinya. Teresalisa mengangkat pinggulnya berniat pergi.

"Tunggu, tunggu, aku mengerti. Jangan sebegitu tidak menyukainya. Aku tidak akan menyuruhmu duduk di sebelahku."

Prius menahan Teresalisa, dan ia sendiri justru duduk bersila di atas jalanan batu di lorong.

"Aku di sini saja cukup."

Teresalisa menggelengkan kepalanya. Ia semakin tidak bisa duduk santai di bangku.

"……Saya tidak bisa membiarkan raja duduk di tempat seperti itu."

"Jangan dipikirkan. Di sini, aku murni hanya akan memakan ini saja."

Ucap Prius seraya meletakkan keranjang di sampingnya. Yang dikeluarkannya adalah kue panggang.

"Canele!!"

Teresalisa tanpa sadar menaikkan suaranya.

Yang dikeluarkan Prius adalah canele yang berjajar di atas piring kayu. Kue mewah dengan tekstur luar yang dipanggang renyah, dan bagian dalam yang lembut. Permukaannya dilapisi lilin lebah yang dipanen di Lowe, dan saat digigit, rasa manis yang elegan akan memenuhi seluruh mulut.

Bagi status sosial Teresalisa, itu adalah barang yang sangat jarang bisa didapatkan.

"Hehe. Melihat wajahmu yang meneteskan air liur itu, tampaknya informasi dari Kepala Pelayan bahwa makanan favoritmu adalah canele tidak meleset, ya?"

"……Air liur saya, tidak menetes, kok."

Teresalisa menyeka sudut mulutnya. Hanya saja, fakta bahwa ia menyukai canele memang benar adanya. Baru beberapa hari yang lalu ia dimarahi oleh Kepala Pelayan karena memakan tiga buah canele lebih banyak dari yang lain yang disumbangkan ke dapur.

"……Anda menanyakan makanan favorit saya kepada Kepala Pelayan? Jika Anda melakukan hal semacam itu, akan muncul kecurigaan yang memicu rumor aneh, lho."

"Bukan sekadar kecurigaan, rumor itu tidak salah, kok. Lagipula aku memang ingin menarik perhatianmu."

"…………"

Raja yang aneh, pikir Teresalisa. Apakah seorang raja memang memiliki indra perasa yang sedikit berbeda dari orang awam? Bagi Teresalisa yang tidak mengenal raja lain selain dirinya, ia tidak memiliki bahan untuk membandingkan.

"Canele, apakah kau juga ingin memakannya?"

Prius membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menggigit canele mewah tersebut dengan lahap.

"……Anda benar-benar pria yang licik. Apakah Anda berniat memancing saya dengan cara itu?"

"Tentu saja tidak? Ini semua adalah milikku."

"Eh."

Mendengar Teresalisa mengeluarkan suara konyol, Prius tertawa kecil, "Kukuku". Itu adalah senyuman layaknya seorang anak laki-laki yang berhasil melancarkan kejahilannya.

"Namun, jika kau mau menceritakan kisah 'Kaum Pengembara' kepadaku, aku bisa membaginya sebagai imbalan, lho?"

"……Ugh."

Bahkan Teresalisa yang ingin menikmati pemandangan sendirian pun tidak bisa menang melawan godaan canele.

Pada akhirnya ia menceritakan kisah masa kecilnya sesuai dengan permintaan Prius. Namun karena raja sedang duduk di jalanan batu, seorang pelayan tidak mungkin duduk santai di bangku.

Sambil melihat bangku yang kosong di samping, keduanya duduk di atas jalanan batu. Jarak di antara mereka masih berjauhan.

Prius membungkus tiga buah canele menggunakan sapu tangannya, lalu memberikannya kepada Teresalisa.

Canele yang dimakan oleh raja rasanya berkali-kali lipat lebih manis dan lezat daripada yang disumbangkan ke dapur.

Teresalisa dan Prius mulai bertemu setiap malam di atas dinding kastil yang sepi.

Bagi Teresalisa sendiri, ia merasa tidak berniat untuk janjian bertemu, namun setiap kali naik ke dinding kastil untuk melihat matahari terbenam, ia mulai berpikir apakah hari ini Prius sudah datang atau belum.

Jarak antara mereka berdua yang duduk di jalanan batu semakin hari semakin menyusut. Lambat laun mereka mulai duduk di masing-masing ujung bangku, dan jarak mereka menjadi cukup dekat hingga tangan Teresalisa bisa menjangkau piring kayu berisi canele tanpa perlu dibungkus sapu tangan lagi.

Di hari saat hujan turun, karena mereka tidak bisa keluar ke lorong penghubung di atas dinding kastil, keduanya menghabiskan waktu di dalam menara pengawas. Musim telah berganti menjadi awal musim gugur. Prius membawakan teh herbal lemon balm yang hangat, lalu menambahkan madu ke dalam cangkir Teresalisa.

"Teh herbal yang manis dan lezat seperti ini…… baru pertama kali saya merasakannya."

"Ini dipesan khusus dari wilayah Elder. Favoritku, lho?"

Prius tersenyum bangga, memberikan izin kepada Teresalisa untuk menikmati kemewahan yang terlalu berlebihan bagi seorang pelayan.

Sedikit demi sedikit setiap harinya, Teresalisa menceritakan kisah masa kecilnya di karavan sebagai ganti canele. Garis punggung gunung berbatu yang dilihatnya dari bak kereta, kaktus yang berdiri sebatang kara di hamparan tanah, dan suara derap kuku kuda serta roda yang tak terhitung jumlahnya. Ia menceritakan pemandangan yang telah ia lihat kepada Prius.

Sekawanan kereta kuda yang baknya ditutupi oleh terpal. Bulan yang mengambang di langit malam akan selalu mengikuti tanpa kenal lelah ke mana pun mereka pergi.

Teresalisa berniat menceritakan betapa keras dan menderitanya hidup sebagai pengembara. Namun Prius justru merasa iri dengan masa kecil Teresalisa. Ia berkata bahwa ia juga ingin mencoba kehidupan seperti itu.

Teresalisa menggelengkan kepalanya. Pria yang dibesarkan di lingkungan nyaman seperti Prius pasti tidak bisa menangkap maksud ceritanya dengan baik. Hal itu membuatnya merasa kesal sekaligus sedih. Ia ingin menyampaikan perasaan yang dipendamnya dengan lebih jelas. Ingin membuatnya mengerti. Tidak ada hal yang pantas dicemburui. Karena Teresalisa justru melarikan diri dari karavan karena membenci kehidupan nomaden semacam itu.

Melihat Teresalisa menjadi cemberut, Prius merasa kebingungan.

"Habisnya bisa bepergian bebas tanpa terikat oleh apa pun itu adalah hal yang luar biasa, kan? Setiap hari, esok yang berbeda dari hari ini sudah menunggu kita, kan? Kalau aku, aku yakin bisa menikmati seluruh keseharian itu, lho."

"……Walaupun keseharian itu adalah batas antara hidup dan mati?"

Kehidupan di karavan sama sekali bukan kehidupan seperti yang dibayangkan oleh Prius. Demi bertahan hidup, tidak jarang mereka melakukan tindakan kejahatan. Teresalisa sempat ragu, namun ia menceritakan tentang perampokan rumah yang dilakukannya atas perintah sang pemimpin karavan. Jikalau harus melukai orang lain demi bertahan hidup, maka sudah pasti hidup aman di kastil jauh lebih baik. Ia ingin Prius memahami hal tersebut.

"……Tugas saya adalah, masuk ke dalam kediaman sebagai budak, lalu menyelidiki kekayaan mereka serta apakah ada penjaga atau tidak."

"Kaum Pengembara" pada umumnya tidak melakukan tindak kejahatan semacam itu.

Namun karavan yang memungut Teresalisa bukanlah karavan biasa. Sang pemimpin menjual anak-anak sebagai budak ke kediaman pedagang kaya atau bangsawan, lalu menyuruh mereka melakukan pengintaian. Kemudian di waktu saat pengawasan paling lengah, mereka menyuruh anak-anak itu membuka kunci dari dalam, lalu orang-orang dewasa akan menerobos masuk untuk merampok. Itulah modus operandi karavan yang dipimpin oleh orang tersebut.

"……Bagi saya yang dibesarkan di karavan, kehidupan semacam itulah yang terasa lumrah."

Sang pemimpin sangat mengandalkan Teresalisa yang merupakan seorang Witcheses, dan memprioritaskannya untuk dikirim sebagai budak dibandingkan anak-anak lainnya. Teresalisa yang berkulit putih dan bermata indah sangat populer khususnya di wilayah selatan, dan akan langsung terjual dengan harga setinggi apa pun.

Jikalau situasi berubah menjadi berbahaya, gunakan sihir untuk segera melarikan diri──sang pemimpin berkata demikian, namun tak peduli meskipun ia bisa menggunakan sihir, bagi anak perempuan berusia sepuluh tahunan, kehidupan di kediaman yang tidak diketahui kapan kedoknya akan terbongkar sungguh teramat menakutkan.

Setelah tumbuh menjadi gadis remaja, ada kalanya ia dipanggil ke tempat tidur majikannya. Sebagai cara untuk menjaga kesuciannya, Teresalisa mengubah warna lidahnya menggunakan sihir. Ketika ia menjulurkan lidahnya yang berwarna merah keunguan yang tampak beracun dan memohon dengan lemah, “Saya sedang sakit,” seluruh majikan akan langsung kehilangan selera dan mengusir Teresalisa dari tempat tidur mereka. Skenario terburuknya adalah ia akan diusir dari kediaman tersebut, namun jika itu terjadi, ia tinggal mencari target baru. Daripada Teresalisa kehilangan keperawanannya, sang pemimpin mengizinkannya melakukan hal tersebut.

Pada dasarnya, perampokan dilakukan setelah penghuni rumah tertidur lelap. Namun jika pengintaiannya kurang matang, atau sedang bernasib sial, mau tidak mau hal tersebut akan berujung pada pertempuran. Ada kalanya Teresalisa terpaksa harus menggunakan sihirnya untuk bertarung.

Ia membenci harus bertarung melawan orang-orang yang merawatnya di kediaman tersebut. Oleh karena itu, Teresalisa selalu berhadapan dengan mereka seraya memohon di dalam hatinya agar mereka tidak menyerangnya. Memohon agar mereka melepaskannya. Memohon agar mereka tidak mendekat. Karena jika mereka mendekat, ia terpaksa harus membunuh mereka──. Oleh karena itu, sebagai senjata yang dibentuk dengan sihir, ia memilih sesuatu yang bisa memberikan ketakutan pada orang-orang dalam sekali pandang──sebuah sabit besar.

Sambil menutupi identitasnya sebagai seorang Witcheses, Teresalisa menceritakan pengalamannya kepada Prius. Memilih kata-katanya dengan saksama, dan dengan sopan. Ia menceritakan betapa menderitanya hal itu.

"……Maafkan aku."

Begitu Teresalisa selesai berbicara, Prius menundukkan kepalanya.

"Aku sama sekali tidak menyadari betapa berbahayanya kehidupan yang kau jalani."

Teresalisa terkejut. Apakah seorang raja juga bisa menundukkan kepala untuk meminta maaf.

"……Tidak. Saya sendirilah yang telah menceritakan hal yang tidak perlu. Mohon maafkan saya……"

Ia menceritakannya bukan demi sebuah canele. Bukan karena diminta, melainkan karena Teresalisa sendiri yang ingin didengarkan. Ia sendiri yang memutuskan untuk menceritakannya. Ia merasa menyesal atas hal itu.

Prius juga ganti menceritakan sebuah kisah kepada Teresalisa. Kisah masa kecilnya sendiri.

Karamnya kapal dagang yang ditumpangi kedua orang tuanya terjadi tepat setelah Prius merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh. Di usia sepuluh tahun, Prius telah memikul tanggung jawab besar sebagai "Raja Singa".

"Melihat para abdi dalem yang menangis tersedu-sedu atas kematian orang tuaku, aku mati-matian menahan air mata. Aku merasa bahwa aku satu-satunya yang tidak boleh menangis. Karena seekor singa tidak akan menangis di depan orang lain."

Duduk di bangku batu, Prius tersenyum kepada Teresalisa.

"Pada saat itulah untuk pertama kalinya aku menjadi 'Raja'."

Mendengar ceritanya, kali ini giliran Teresalisa yang menundukkan kepala seraya meminta maaf, "Maafkan saya."

Sama halnya seperti Prius yang tidak begitu memahami "Kaum Pengembara", Teresalisa juga tidak begitu memahami seorang raja. Raja yang ia kira hanya hidup bersantai di kastil rupanya selalu memikirkan bagaimana cara memperbaiki kehidupan rakyat yang mendiami negara ini.

"Teresalisa. Bagaimana pendapatmu tentang negara ini?"

Prius bangkit dari bangku, lalu berdiri di depan dinding batu.

Matahari yang terbenam di cakrawala sedang mewarnai pemandangan kota bata merah dengan warna jingga.

Berlatarkan pemandangan yang terhampar luas, Prius merentangkan kedua lengannya.

"Kau telah melihat berbagai negara sebagai bagian dari 'Kaum Pengembara', kan? Dibandingkan dengan negara-negara yang pernah kau kunjungi, bagaimana dengan Lowe? Di matamu, bagaimana negara ini terlihat?"

Duduk di bangku, Teresalisa berpikir sejenak sebelum menjawab.

"……Tampak berkilauan. Rakyat negara ini sangat mencintai negara mereka sendiri. Mereka merasa bangga menjadi rakyat Lowe. Negara yang seperti itu adalah negara yang penuh semangat dan kuat──"

"Hanya saja──" Teresalisa menggantungkan kalimatnya.

Meskipun sulit diucapkan, ia harus menyampaikannya.

Karena raja di hadapannya ini pasti tidak mengharapkan pujian palsu belaka.

"Semakin kota ini bersinar terang, bayangannya juga akan semakin pekat. Di balik Jalan Kemenangan yang gemerlap, di kawasan kumuh 'Kota Abu' banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan menderita dalam kemiskinan. Para budak yang seharusnya dilarang juga masih diperjualbelikan secara sembunyi-sembunyi. Negara ini masih dalam tahap perkembangan. Saya rasa negara ini sedang dalam proses tumbuh menuju negara ideal yang dicita-citakan oleh Yang Mulia Raja Singa."

"……Ya, analisis yang luar biasa. Kau memperhatikannya dengan sangat baik."

Prius mengangguk dalam-dalam.

"Aku ingin menjadikan negara ini lebih baik lagi. Tidak hanya bagi kaum kaya yang sukses dalam perdagangan, melainkan juga bagi kaum miskin dan penduduk selain orang-orang Transmare, aku ingin mereka bisa membusungkan dada dan merasa bangga sebagai rakyat Lowe. Aku ingin menjadi raja yang bisa menerangi setiap sudut gelap di kota ini. Apakah aku bisa menjadi raja yang seperti itu?"

"Pasti bisa."

Teresalisa langsung menjawab dengan mantap.

"Yang Mulia Raja Singa mampu berada di sisi rakyat. Mampu membuat orang-orang bersemangat. Bagaikan matahari, Anda bisa membuat kota ini bersinar. Karena Yang Mulia Raja Singa sesungguhnya telah menjadi raja yang seperti itu."

Lalu, setelah berpikir sejenak, ia menambahkan.

"……Saya sangat menyukai pemandangan yang terlihat dari tempat ini. Melihat warna merah batu bata yang semakin pekat akibat sinar matahari terbenam, dan menyaksikan seluruh kota berkilauan memantulkan cahaya. Saya merasa bahagia karena bisa memonopoli pemandangan seperti itu sendirian. Berpikir bahwa tidak ada kemewahan yang lebih besar dari ini. Namun──"

Teresalisa memperlihatkan gigi gingsulnya, lalu tertawa riang tanpa beban.

"Senja yang kulihat bersama Yang Mulia Raja Singa, entah mengapa terasa jauh lebih indah."

Embusan angin sore musim gugur bertiup, membuat rambut panjang Teresalisa melambai lembut. Ujung rambutnya yang menari ditiup angin terkena sinar matahari senja, berkilau layaknya benang emas. Prius terdiam terpaku oleh kecantikan tersebut.

"……Teresalisa."

"Iya, ada apa?"

Teresalisa memiringkan kepalanya sedikit.

"Bolehkah aku menciummu?"

"Hah!?"

Terkejut oleh permintaan yang tidak terduga, Teresalisa menarik bahunya dan menutupi mulutnya dengan punggung tangan.

"Pria brengsek. Anda menganggap saya ini apa? Jika Anda hanya ingin bermain-main, tolong cari pelayan lain saja."

"Begitu, ya, maaf. Kalau begitu mari kita menikah."

"Hah……?"

Teresalisa mengerutkan alisnya, merasa semakin marah.

"Bicara apa Anda ini. Tolong hentikan lelucon Anda!"

"Aku serius. Hal yang sudah lama kupikirkan. Sama sepertiku yang membuat kota ini bersinar, kau akan membuat diriku bersinar. Teresalisa, karena kau akan menjadi kekuatan hidupku. Maukah kau terus mendukungku di sisiku mulai dari sekarang?"

Prius berdiri di depan Teresalisa, lalu mengulurkan tangannya.

"…………"

Apakah orang ini serius? Teresalisa menatap balik mata Prius untuk mencari makna di balik kata-katanya. Namun karena terbentur oleh tatapan lurus Prius, Teresalisa menundukkan pandangannya sambil tetap duduk di bangku. Ia tidak mencoba menyambut uluran tangan tersebut.

"……Tidak boleh. Yang Mulia Raja Singa sama sekali tidak mengenal diri saya."

"Aku mengenalmu, kok."

Jawab Prius.

"Kau adalah pelayan di kastil ini, dan berasal dari 'Kaum Pengembara'."

"Hanya itu saja yang Anda ketahui. Mungkin saya menyembunyikan hal lain."

"Contohnya?"

"Contohnya……. Contohnya,"

Dengan penuh tekad, Teresalisa bangkit berdiri dari bangku.

"Jikalau saya──"

──adalah seorang Witcheses, apa yang akan Anda lakukan.

Teresalisa menatap tajam ke arah Prius yang mundur selangkah. Namun kata-kata yang ingin diucapkannya tersangkut di tenggorokan. Ia sama sekali tidak bisa mengeluarkannya.

"Jikalau kau, apa?"

"……Tidak. Bukan apa-apa."

Teresalisa menutupi wajahnya dan kembali menunduk.

"Maksud saya, Yang Mulia Raja Singa adalah penguasa suatu negara, jadi tidak seharusnya menikah dengan wanita dengan asal-usul yang tidak jelas seperti saya. Sebaiknya Anda memikirkannya lebih matang lagi──"

"Soal asal-usul yang tidak jelas, aku tidak peduli sama sekali. Entah kau pelayan kastil, atau berasal dari 'Kaum Pengembara'. Contohnya…… ya, andaikan pun kau adalah seorang Witcheses."

"Eh."

Teresalisa mendongak dengan wajah terkejut.

Entah sebuah kebetulan atau tidak, Prius mengucapkan kata yang tidak bisa diucapkan oleh Teresalisa.

Tangan besarnya membelai lembut pipi Teresalisa. Prius menatap mata merah Teresalisa yang tampak bergetar penuh kecemasan dengan penuh kasih sayang. Bulu matanya yang bergetar tampak berkilau terkena cahaya matahari senja.

"……Karena itu jangan lupa. Orang yang membuatku jatuh cinta adalah dirimu yang berdiri di sini sekarang. Tak peduli siapa pun dirimu sebenarnya, aku akan terus mencintaimu."

Iris matanya yang cerah tampak berkaca-kaca oleh air mata. Teresalisa mengedipkan matanya sekali.

"……Anda benar-benar raja yang aneh, ya."

Wajahnya memerah, dan ia memalingkan pandangannya seolah ingin melarikan diri dari tatapan lembut Prius.

"A-Asal Anda tahu saja, ciuman ini adalah, ciuman pertamaku, lho."

"Aku mengerti, jadi jangan menangis lagi. Karena aku ingin kau terus tersenyum."

"Siapa juga yang menangis……!"

"Ya, kau benar."

Setelah berkata demikian, Prius menyentuhkan bibirnya dengan lembut.

Di langit yang mulai diwarnai warna biru tua, bulan putih tampak mengambang. Bulan yang selalu mengikuti tanpa merasa bosan itu, hari ini pun menatap Teresalisa dari atas sana.

Gadis kecil yang di hari itu mengulurkan tangannya ke bulan dari atas bak kereta, kini telah berubah seiring dengan kedewasaannya. Mengubah nama, mengubah kehidupan, dan berhenti menjadi seorang Witcheses.

Dipeluk erat dalam pelukan Prius, Teresalisa merasakan kedamaian. Bahkan dirinya yang selama ini hidup sebagai seorang Witcheses pun, mulai saat ini mungkin akan bisa tersenyum bahagia, itulah yang ada di dalam benaknya.

Di dinding sel penjara tempat Teresalisa ditahan, terdapat sebuah jendela besar setinggi pinggang.

Jendela itu tidak dilengkapi dengan kaca. Sekilas tampak seperti jalan untuk melarikan diri, namun tempat ini adalah lantai paling atas Menara Kurungan. Para penjahat yang pernah mencoba melarikan diri dari sana semuanya tewas terjatuh. Tidak ada satu pun yang berhasil lolos dengan selamat.

Terpaan angin dan hujan yang terus-menerus masuk dari jendela besar itu menggoyangkan nyala api obor yang dipegang oleh Roro.

Di dalam sel yang pintunya terbuka, Roro yang berjongkok sedang berhadapan dengan Teresalisa yang duduk di lantai.

Teresalisa terus menunduk dan tidak berniat mengangkat wajahnya. Dari penampilannya saja terlihat jelas bahwa ia sangat kelelahan dan putus asa.

Roro menyodorkan cermin tangan titipan dari Diethelm kepada Teresalisa, namun wanita itu enggan menerimanya.

"…………"

Roro kembali menyimpan cermin tangan itu ke dalam karung rami, lalu mengeluarkan setumpuk kunci. Kunci yang dirampasnya dari Figaro yang telah dikalahkannya. Dari tumpukan tersebut, ia memilih kunci berwarna putih dengan garis merah, yang bentuknya sama dengan borgol batu yang mengekang kedua pergelangan tangan Teresalisa.

"Sepertinya ini adalah kunci untuk borgol tangan Anda. Saya akan melepaskannya sekarang, ya."

Borgol batu yang mengekang pergelangan tangan Teresalisa juga berfungsi sebagai alat sihir penyegel kekuatan sihir. Jika dilepaskan, ia pasti akan bisa menggunakan sihir kembali. Namun, meskipun Roro mendekat dengan bertumpu pada kedua lututnya, Teresalisa tetap tidak mau mengulurkan tangannya.

"……Untuk apa kau datang kemari."

Teresalisa bertanya dengan nada bergumam sambil tetap menundukkan kepala.

"Untuk membawa Anda pergi dari sini. Saya tidak akan membiarkan Anda dihukum bakar. Berbeda dengan insiden penyerangan kereta kuda semalam, ini bukanlah kehendak dari Campusfellow. Melainkan atas permintaan Putri Snow White."

Snow White. Mendengar nama itu, Teresalisa langsung mengangkat wajahnya.

"……Dia masih hidup?"

"Ia masih hidup. Berkat bantuan Tuan Diethelm, ia selamat dari insiden Pernikahan Berdarah dan saat ini sedang menyembunyikan diri. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Anda."

"Tunggu, kalau begitu bagaimana dengan Tuan Prius?"

Teresalisa bertanya dengan tatapan memohon.

Roro menggelengkan kepalanya pelan.

"……Sangat disayangkan. Satu-satunya yang selamat dari Pernikahan Berdarah hanyalah Putri Snow White dan Tuan Diethelm saja."

"…………"

"Putri Snow White sangat berharap bisa menyelamatkan Anda. Ia merasa kasihan pada Anda yang dimanfaatkan oleh Omura Lowe dan dijadikan kambing hitam sebagai seorang Witcheses, lalu meminta bantuan kami untuk menolong Anda."

"……Anak itu rupanya masih menganggapku sebagai permaisuri yang malang, ya. Bukannya dijadikan kambing hitam, aku ini memang benar-benar seorang Witcheses. Berbohong, demi bisa menjadi seorang permaisuri. Hal itu adalah fakta."

Teresalisa bangkit berdiri, mengambil jarak seolah ingin menjauh dari Roro.

Roro mengikuti gerakannya dengan pandangan mata. Cahaya obor di tangannya memantulkan bayangan besar Teresalisa ke dinding yang dingin.

"……Situasi ini, ibaratnya disebabkan oleh diriku sendiri."

Ia mengingat dengan jelas sosok nenek bermata kiri buram yang menuduhnya di persidangan. Dulu ia pernah menyusup ke kediaman Darcoil sebagai pelayan. Ketika identitas aslinya terbongkar, ia mengayunkan sabit besarnya untuk bertarung. Yang melukai nenek itu, memang benar adalah sihir milik Teresalisa.

Insiden Pernikahan Berdarah bukanlah perbuatan Teresalisa. Namun, insiden itu juga tidak sepenuhnya didalangi oleh Omura dari awal hingga akhir. Omura mengetahui informasi bahwa Teresalisa adalah seorang Witcheses, lalu memanfaatkannya untuk merebut takhta.

Jika demikian, penyebab asalnya berada pada dirinya sendiri. Teresalisa sangat menyesali keputusannya datang ke Lowe. Ia sangat menyesali pertemuan dengan Prius──dan menyalahkan dirinya sendiri yang ingin mengecap kebahagiaan.

Masa lalunya saat mengayunkan sabit besar sebagai Mirror Witches akhirnya berbalik menjeratnya, dimanfaatkan oleh Omura untuk membunuh Prius. Masa lalu yang berusaha disembunyikannya, malah membunuh pria yang dicintainya.

Mata merahnya berkaca-kaca oleh air mata. Saking kesalnya, ia menggigit bibirnya dengan kuat.

"……Seharusnya aku tidak pernah datang ke Lowe."

Dengan tubuh yang lunglai, Teresalisa duduk di ambang jendela. Angin yang berhembus kencang menerbangkan rambut panjangnya.

Roro bangkit berdiri seraya memegang obor.

Kondisi Teresalisa sudah sangat lemah. Sangat jelas terlihat, bahkan dibandingkan dengan kondisinya saat bertemu di atas kereta kuda semalam.

"Apakah Anda berniat dibakar hidup-hidup……?"

"……Raja Singa meninggal dunia akibat diriku yang seorang Witcheses, aku tidak punya muka lagi untuk bertemu Snow White. Di negara yang sudah tidak ada Tuan Prius ini…… tidak ada lagi alasan bagiku untuk terus hidup. Aku akan menerima kematian ini apa adanya."

Tatapannya menusuk Roro. Teresalisa berkedip perlahan sekali.

"Akan tetapi, aku tidak akan dibakar hidup-hidup."

Gumam Teresalisa, lalu bangkit berdiri di atas ambang jendela.

"Aku tidak akan membiarkan semuanya berjalan sesuai rencana Omura──"

Jika drama pembalasan dendam atas pembunuhan kakaknya yang direncanakan Omura baru akan tuntas dengan hukuman bakar untuk Teresalisa, maka ia akan mengakhiri hidupnya sendiri sebelum itu terjadi. Bukan sebagai seorang Witcheses, melainkan sebagai seorang permaisuri yang malang.

Teresalisa merebahkan tubuhnya ke belakang, menjatuhkan dirinya ke luar jendela.

"Eh, tungg──"

Roro seketika melempar obornya dan menghentakkan kakinya ke lantai. Dalam sekejap ia mendekati jendela dan melompat ke ambang jendela.

Ia mengulurkan lengannya sekuat tenaga untuk meraih tubuh Teresalisa yang sudah hampir jatuh keluar jendela.

Setelah pengadilan Witcheses selesai, rombongan Campusfellow yang tertahan oleh hujan yang tiba-tiba turun akhirnya ikut serta dalam pesta yang diselenggarakan oleh Omura sesuai jadwal semula.

Itu adalah pesta penyambutan untuk mempererat hubungan antara Campusfellow dan Lowe. Di dalamnya juga terdapat agenda penyerahan Mirror Witches yang baru saja dijatuhi hukuman bersalah.

Rombongan Campusfellow diarahkan ke tempat yang bukan Ruang Singgasana maupun Kamar Tamu Agung. Melainkan sebuah aula kecil yang dapat menampung sekitar tujuh puluh orang. Di depan pintu masuk, para pengawal jenderal dari Lowe berjaga-jaga, memeriksa agar para tamu tidak membawa senjata masuk. Demi acara pesta, siapapun yang membawa pedang diminta untuk menyerahkannya.

"Apa katamu? Tidak bisa. Tombak ini tidak akan kuserahkan."

Seorang pria bertubuh besar berdebat karena dilarang membawa tombaknya masuk. Itu adalah Heartland.

"Ini adalah benda yang sangat kuperlukan untuk melindungi tuanku. Jangan khawatir, aku tidak akan mengayun-ayunkannya sembarangan."

"Namun, ini sudah aturannya."

"Kalian ini benar-benar tidak bisa diberi kelonggaran sedikit pun!"

Seseorang menyentuh punggung besar pria itu. Saat menoleh, tampak seorang gadis dengan pakaian biarawati berdiri di belakangnya.

"Tombak yang mengesankan ya. Apakah ini tombak yang sudah membunuh banyak orang?"

"Siapa kau……?"

Mata yang sayu dan tampak mengantuk itu menatap lurus ke arah Heartland. Ferocactus.

Tanpa mempedulikan Heartland yang kebingungan, Ferocactus menoleh kepada para pengawal jenderal.

"Orang ini boleh lewat. Tidak apa-apa meskipun ia membawa tombaknya."

Para pengawal jenderal saling bertukar pandang, namun mengikuti instruksi gadis itu dan mengizinkan Heartland masuk.

Memasuki aula, Heartland melihat ke belakang dengan tatapan tidak yakin. Apakah gadis itu memiliki otoritas lebih tinggi daripada para pengawal jenderal? Ferocactus terus menyapa para Kesatria Besi dan Api yang tiba di aula satu per satu, menjabat tangan dan memeluk mereka. Ia juga memeluk tiba-tiba Cappuccino yang datang bersama Delirium, membuatnya terkejut. Gadis itu sepertinya tidak tahu jarak.

Menyapukan pandangan ke seluruh ruangan aula, orang-orang Lowe, dengan Omura sebagai pusat, duduk di mimbar paling ujung. Di sisi kiri dan kanan Omura, para penasihat utamanya telah mengambil posisi. Di kursi paling ujung, duduk seorang hakim dengan rambut palsu putihnya. Itu adalah Radgini. Ia sudah mulai meneguk anggur merah meskipun belum dilakukan prosesi bersulang.

Matahari telah terbenam. Nyala api lilin berkelip di mana-mana, di sepanjang dinding aula maupun di atas meja-meja. Di lantai, tersusun banyak meja panjang yang tertata rapi.

Bado dan Meister Shimei berada di barisan paling depan. Di atas meja sudah dihiasi dengan hidangan lezat. Ayam panggang utuh, kue daging, dan tong-tong kecil berisi anggur merah telah disiapkan.

Aula tersebut memiliki rancangan balkon di lantai dua yang bisa memandang langsung ke lantai satu, di mana sekelompok musisi sedang memainkan musik riang. Mereka memainkan musik penyambutan bagi tamu dari Campusfellow yang terus berdatangan.

"Benar-benar sambutan yang hangat."

Bado menggumam sambil mendongak ke arah kelompok musisi tersebut.

Karena acara penyambutan ini juga akan menjadi momen penyerahan Witcheses secara rahasia, tamu yang diundang hanyalah dari pihak Campusfellow. Tak peduli status mereka, mulai dari para kesatria hingga para pengikut, kursi telah dipersiapkan bagi semuanya. Benar-benar pesta yang sangat royal.

"Pada akhirnya Tuan Lowe sepertinya memang tidak punya niatan untuk menyerahkan Witcheses itu. Sambutan ini kemungkinan besar hanyalah formalitas semata."

Shimei yang duduk di sebelah Bado menyahut seraya menuangkan anggur merah ke cangkir kayu.

"Memang benar, setelah disambut sebaik ini, mungkin kita tidak akan bisa marah jika ia berkata tidak bisa menyerahkannya."

Acara ini sepertinya dirancang untuk memperbaiki hubungan yang mungkin retak jika negosiasi dibatalkan. Itu sebabnya mereka menjamu Campusfellow dengan hidangan berlimpah. Namun, Bado tidak merasa terganggu meskipun negosiasi tersebut batal. Toh, saat pandangan Omura teralihkan pada acara ini, Anjing Hitam dijadwalkan akan membawa Teresalisa kabur.

"Tetapi suasananya tidak nyaman, ya."

Bado menunjuk ke arah kesatria-kesatria emas yang berdiri di pinggir panggung dan di dinding dengan menggunakan dagunya.

"Jika ini adalah bentuk keramahan, mereka juga harus ikut minum, kan."

Dengan wajah tegang, mereka terus menatap ke satu titik dengan zirah emas mereka yang berkilau di bawah temaram cahaya lilin. Seperti patung yang menjadi hiasan.

"Mereka sangat tekun dalam pekerjaannya. Kudengar, para kesatria Lowe dilarang meminum alkohol selama mereka mengenakan zirah."

Shimei memberikan cangkir yang sudah dituangi anggur merah kepada Bado.

"Omong-omong, di mana Edelweiss? Kurang etis jika Menteri Luar Negeri terlambat ke acara pertemuan seperti ini."

"Entahlah. Ia ada di pengadilan Witcheses tadi, namun……"

Shimei memutar pandangannya. Sosok pria botak setengah baya itu tidak tampak di mana pun.

Pada saat itu, di mimbar bagian depan aula, Omura berdiri sambil memegang piala perak. Alunan musik pun berhenti.

"Tamu-tamu dari Campusfellow yang terhormat, selamat datang. Hari ini sungguh hari yang luar biasa. Kita berhasil menghukum Witcheses pembunuh Raja Singa dan menuntaskan dendam kakakku. Hari ini pula aku, Omura Lowe, resmi menyandang gelar 'Raja Singa'. Merupakan sebuah kehormatan bisa merayakan hari peringatan ini bersama Anda sekalian dari Campusfellow."

Walaupun upacara penobatan resmi menjadi Raja Singa masih akan lama, di atas kepala Omura sudah terpasang sebuah mahkota emas yang berkilauan.

"Silakan nikmati hidangan dan minuman, rayakanlah malam di Lowe ini sepuasnya. Witcheses itu akan segera kami bawa──"

"……?"

Bado mengerutkan dahi. Bertentangan dengan dugaannya, apakah Omura benar-benar berniat menyerahkan Witcheses tersebut?

"Demi masa depan Lowe dan Campusfellow!"

Omura mengangkat piala peraknya. Diikuti oleh para hadirin di aula, mereka masing-masing mengangkat cangkir. Musik ceria kembali bergema di seluruh ruangan.

Beberapa saat setelah pesta dimulai, sosok Delirium tidak terlihat di dalam aula.

"……Apa? Pembicaraan apa yang mengharuskan aku?"

Lawan bicaranya yang menatapnya dengan tatapan heran adalah Anemone, hakim yang mengenakan gaun hitam. Ia membisiki Delirium bahwa ada hal penting yang hanya boleh diketahui oleh sang putri, lalu menariknya keluar hingga ke lorong. Anemone memandang sekeliling, memastikan bahwa lorong tersebut sepi.

"Tolong pinjamkan telinga Anda."

Saat Anemone mendekatkan wajahnya ke Delirium, pada saat itulah.

Sebuah tentakel hitam tiba-tiba muncul dari bayangan di bawah kaki Anemone. Tentakel-tentakel tersebut melilit tubuh Delirium bagai pusaran air, menggabungkan diri dan membentuk wujud.

"……!!"

Wujud yang melingkarkan lengannya ke punggung Delirium itu adalah sosok pria yang sama hitamnya dengan bayangan. Ia membekap mulut Delirium dengan satu tangan, dan lengannya yang lain melilit tubuh sang putri dari belakang.

Di bawah cengkeraman pria tersebut, kaki Delirium mulai tenggelam ke dalam bayangan Anemone. Dalam sekejap, tubuhnya tersedot sepenuhnya ke dalam kegelapan. Lorong kembali seperti semula, tenang tanpa bekas apa pun. Hanya sayup-sayup suara orang-orang yang bersuka ria terdengar dari balik pintu aula.

"Hoho……!"

Anemone menutupi mulutnya dengan senyuman kecil, lalu melangkah pergi ke arah yang berlawanan dari aula.

"Maaf……. Putri tidak ada di mana pun……"

Cappuccino berjalan menuju meja baris terdepan, lalu berkata. Karena Bado sedang tidak ada di tempatnya, Shimei yang memegang anggur merah menoleh.

"Apa? Bukankah ia hanya pergi ke toilet?"

"Awalnya saya juga berpikir begitu dan mengecek ke sana, namun ia tak terlihat di mana-mana……"

"Hmm……. Ini tentang sang putri tomboi kita. Jangan-jangan ia keluyuran lalu tersesat……. Biar kusampaikan pada Tuan Bado. Tunggu sebentar."

Shimei mengalihkan pandangannya ke Bado yang berdiri di depan mimbar.

Bado sedang menyampaikan salam hormat kepada Omura yang menduduki mimbar.

"Selamat atas penobatan Anda sebagai Raja Singa, Tuan."

Bado menampakkan senyuman ramah, memegang cangkir kayu berisi anggur di tangannya.

"Ya, terima kasih."

Omura memandang Bado sekilas dari mimbarnya, dan dengan agak angkuh mengangkat cangkir peraknya.

"…………"

Jawabannya terasa sangat dingin. Senyuman yang dipalsukan di wajahnya tadi malam telah hilang sama sekali. Apakah ia menjadi begitu tinggi hati karena penobatan sebagai Raja Singa?

"Terkait penyerahan Witcheses itu──"

Di saat Bado sedang berbicara, seorang kesatria tiba-tiba naik ke atas mimbar dan berlutut di sebelah Omura. Ia membisikkan sesuatu kepadanya. Meskipun Bado sedang berbicara, Omura membiarkannya dan membisikkan balasan kepada kesatria itu.

Kesatria itu kemudian turun dari mimbar, berlari melewati Bado menuju pintu depan aula. Bado menoleh dan memperhatikan punggung kesatria tersebut. Lalu, kesatria itu menutup pintu depan aula.

Sebuah perasaan aneh dan ganjil mulai merasuk.

"…………"

Bado kembali menyapukan pandangannya ke seluruh aula.

Menatap lurus ke mimbar tempat Omura duduk, di sisi kanan aula, empat jendela besar berjajar. Jendela tersebut dihiasi kaca patri. Melalui kaca patri yang berwarna-warni itu, terpampang gambar sebatang pohon ek dan seekor singa. Ada tiga kaca patri yang menggambarkan perubahan musim, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Singa berubah menjadi manusia di setiap musim, namun, kaca patri keempat yang seharusnya menggambarkan musim dingin, tidak ada.

Apakah jendela keempat itu pecah? Terlihat papan kayu ditutupi di sana.

Bado menggunakan ujung kakinya untuk membalik karpet yang digelar di bawah kakinya. Terlihat ubin batu dengan pola geometris. Pola ini sangat umum ditemukan di kapel-kapel tempat Dewa Perang Vayaris disembah──.

Di sana, terlihat sisa-sisa bercak darah kehitaman yang belum sepenuhnya terhapus bersih.

"……Tempat ini adalah"

Aula kecil ini adalah kapel. Tempat di mana insiden Pernikahan Berdarah terjadi, di mana lebih dari lima puluh orang, termasuk Raja Singa Prius Lowe, dibantai. Para kesatria yang tangguh, dalam keadaan tak bersenjata, dikurung dan dibunuh di kapel ini.

Situasi ini terasa sangat mirip. Menyadari musik yang riang telah berhenti, Bado menatap ke arah balkon lantai dua. Sosok kelompok musisi yang sebelumnya berada di sana, telah menghilang.

"──Permisi, Tuan Grace. Kita tadi sedang berbicara. Tentang penyerahan Witcheses, apa yang Anda katakan?"

Omura menunduk menatap Bado dari mimbarnya. Ia tak lagi memalsukan senyuman sopannya, melainkan memasang wajah yang menyeringai sinis.

Bado menatap tajam ke arah Omura, mengerutkan dahinya.

"……Mengapa?"

Syush──.

Sebuah anak panah busur silang (crossbow) menembus perut Bado.

Bado secara refleks menatap perutnya. Darah segar berwarna merah menetes ke sisi perutnya.

Di balkon lantai dua, yang sebelumnya menjadi tempat musisi bermain, kini berdiri kesatria-kesatria dengan memegang busur silang. Syush, syush, anak panah dilepaskan satu demi satu, mengenai punggung dan paha Bado.

Bado terhuyung-huyung, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh tersungkur.

"Tuan Badooo!!"

Melihat kejadian itu, Shimei berteriak panik. Ia langsung bangkit dari kursinya. Di saat yang sama, seorang kesatria berbaju zirah emas melangkah ke belakangnya. Kesatria itu merangkul lengan dari arah belakang. Di tangannya, ia memegang sebilah pisau belati.

Dalam satu tarikan kuat, pisau itu mengoyak leher Shimei secara horizontal, dan darah menyembur keluar dengan deras.

"A-Apa…… ini……?"

Wajah Cappuccino yang berdiri berhadapan dengan Shimei memercik darah segar.

"Kyaaaaaaaa……!!"

Di samping Shimei yang jatuh lemas ke lantai, Cappuccino menjerit histeris.

Suara pedang yang dicabut bergema di dalam kapel. Kesatria Singa Emas yang berdiri di sepanjang dinding mulai menyerang para tamu. Utusan dari Campusfellow tidak mampu memahami apa yang terjadi, karena serangan yang datang sangat tiba-tiba. Ketakutan, mereka berlarian menyelamatkan diri, sementara pedang-pedang berayun menghabisi mereka satu per satu.

Seorang birokrat muda kepalanya ditebas dengan pedang ganda. Para Kesatria Besi dan Api yang bertarung tanpa senjata dikepung dari depan dan belakang, perut mereka tertusuk. Seorang peracik parfum wanita yang bersembunyi di bawah meja ditarik keluar dan pedang ditusukkan ke punggungnya.

Bado mematung dan memandang ke sekeliling, menyaksikan pembantaian massal yang tengah terjadi.

Meja-meja panjang terjungkal, dan makanan berserakan. Di tengah ratapan dan jeritan kesakitan, semburan darah menyebar ke segala penjuru. Hampir enam puluh utusan dari Campusfellow dibantai tanpa perlawanan──. Apa yang terpampang di depan mata tampak seperti sebuah neraka.

──Apa ini. Apa yang sedang terjadi……?

Pemandangan yang tidak masuk akal ini membuat Bado merasa pusing. Suara-suara mulai menjauh. Apakah ini mimpi buruk──. Di tengah keterkejutan Bado, Heartland menutupi tubuhnya. Panah busur silang menancap di punggungnya.

"Ugh……!!"

"Heartland……!"

Heartland yang melindungi Bado dengan menjadikan tubuhnya sebagai perisai, menahan rasa sakit sambil menggertakkan giginya.

"Tuan Bado, mohon maaf!"

Heartland merangkul Bado yang tidak bisa bergerak karena cedera pada paha. Ia memindahkannya ke bawah meja agar terhindar dari jangkauan tembakan panah busur silang.

Heartland sendiri segera berdiri dan berteriak, suaranya menggelegar ke seluruh kapel.

"Ordo Kesatria Besi dan Api, jangan gentar! Lindungi warga Campusfellow!"

Heartland mengetukkan ujung tombaknya ke lantai. Bam, bam, mengiringi kata-kata penyemangatnya.

"Jika kalian tidak punya pedang, rebut milik musuh! Gunakan kursi, meja, atau apa pun yang bisa dijangkau! Tidak ada alasan untuk takut. Kita adalah Kesatria Besi dan Api. Kita akan mengubah cara bertarung sesuai dengan kondisi pertempuran……!!"

Heartland mengayunkan tombaknya, mengubah bentuk senjatanya.

Dengan sedikit titik di atas tempat cengkeraman sebagai porosnya, banyak mata pisau membuka layaknya kipas. Bukannya tiga atau empat mata pisau, mata pisau yang bercabang dari tombak tersebut membentuk siluet pohon. Inilah senjata favorit Heartland yang mampu membunuh banyak musuh dalam satu tusukan──bentuk lain dari "Pohon Jeruk".

Para Kesatria Campusfellow tak bersenjatakan pedang. Namun, sebagian dari mereka yang pagi ini ditugaskan untuk mempersiapkan kepulangan, telah mengenakan perisai lengan dan pelindung kaki untuk persiapan perjalanan, lalu mengikuti pesta. Perisai yang mereka miliki rata-rata memiliki fitur untuk mengubah bentuk.

Seorang Kesatria Besi dan Api merentangkan pelindung lengannya untuk menangkis pedang yang diarahkan padanya. Perisai lengannya terbuka membentuk lingkaran seperti perisai dalam sekejap. Kesatria lain menyembunyikan pisau belati dalam pelindung lengannya. Ada pula yang menyembunyikan puluhan pisau kecil di ikat pinggangnya.

Masih bisa bertarung. Kesatria Besi dan Api membalas serangan pembantaian ini.

Omura menuruni tangga dari mimbarnya. Dengan pengawalan para pengawal jenderal, ia menuju ke pintu belakang di dekat mimbar.

"Tunggu! Omura!"

Bado melihat kepergiannya dan dengan cepat bangkit dengan berpegangan pada meja.

"Kenapa……? Kenapa kalian menyerang Campusfellow pada saat seperti ini?"

Omura berhenti, lalu menoleh.

"Apa-apaan bertanya kenapa? Apa kau tidak sadar? Campusfellow telah menipu kami, berusaha merebut Witcheses itu. Kalian mengelabui kami dengan janji membuat pedang sihir, namun mencoba menipu aku. Dosa kalian adalah meremehkan martabat Lowe yang luhur ini."

Informasi kita telah bocor ke pihak musuh──.

Memang benar, kami berencana untuk menipu Lowe. Namun hal yang sama berlaku untuk pihak mereka. Negosiasi antar negara sering melibatkan penipuan, itu hal yang lumrah. Seharusnya Omura yang berprofesi sebagai pedagang, memahami hal ini dengan baik. Jika pembantaian ini adalah balasan karena mereka ditipu, maka hal ini benar-benar tidak proporsional.

Bado berusaha memprotes.

"Hentikan pembantaian ini……. Jika Tuan Tanah mereka tewas dengan cara seperti ini, para kesatria yang masih berada di Campusfellow tidak akan tinggal diam. Akan terjadi peperangan!"

"Ahaha!"

Omura tertawa.

"Apakah Campusfellow berani menantang negara besar seperti Lowe? Memangnya kalian punya waktu untuk itu? Bukankah saat ini kalian sedang sibuk menghadapi Kerajaan Amelia yang semakin mendekat?"

"…………"

Bado mengerutkan wajahnya dengan bingung. Omura benar. Ancaman terbesar saat ini adalah Kerajaan Amelia. Untuk itulah Bado dan rombongan berencana mengumpulkan Witcheses. Namun dari mana Omura bisa mengetahui hal tersebut? Seberapa banyak informasi rahasia yang telah bocor──.

"Tapi tenanglah, Tuan Grace. Aku akan menjadikan Campusfellow menjadi negara yang jauh lebih makmur dari sekarang."

"Apa maksudmu……?"

Omura tidak menjawab, hanya menyipitkan mata dengan keji lalu pergi berlalu.

Tepat setelah itu. Dari pintu belakang, sekawanan pria dengan zirah pelat abu-abu menerobos masuk dengan kapak dan pedang di tangan mereka. Mereka adalah pasukan pribadi Omura, tentara bayaran Ordo Tengkorak dan Kalajengking.

"Eungh…… Hmm……"

Delirium terbangun di sebuah kamar di dalam Kastil Lowenstein.

Tempat ia menegakkan tubuh bagian atasnya adalah di atas sebuah ranjang yang besar.

"……Hah?"

Rambutnya berantakan, dan sepatunya telah dilepaskan. Namun, gaun koktail yang dikenakannya masih sama dengan yang dipakainya saat menghadiri pesta. Delirium berusaha mengingat kembali memorinya. Seorang wanita bangsawan bergaun hitam mengajaknya keluar ke lorong karena ada pembicaraan rahasia──lalu ia diserang oleh bayangan wanita itu. Apakah hal itu hanya salah lihat saja……?

Sejak saat itu, sudah berapa lama waktu berlalu. Delirium melihat ke sekeliling ruangan. Itu adalah kamar yang tidak memiliki jendela. Di beberapa tempat lilin-lilin tampak menyala, dan api juga sudah berkobar di dalam perapian.

Bagian dalam kamar terasa sangat hangat hingga membuatnya sedikit berkeringat.

Itu adalah ruangan yang luas. Sebuah penyekat besar diletakkan di sana, memisahkan area ranjang dengan area di sebelahnya.

Di atas lemari besar yang diletakkan di dekat dinding, terpajang kalung dari suatu suku, miniatur kapal, dan kotak perhiasan. Memberikan kesan seperti kumpulan oleh-oleh dari berbagai negara. Alih-alih dipajang sebagai dekorasi, benda-benda itu terlihat berantakan berserakan.

Beberapa buah topi yang dihiasi bulu-bulu mencolok tampak tergantung di dinding, dan sebuah peta benua tertempel di sana.

Dan di tempat ini pun, sama seperti di Kamar Tamu Agung, sebuah kepala rusa jantan awetan tampak terpasang di dinding. Ukuran tanduknya jauh lebih besar dan megah daripada kepala rusa awetan mana pun yang pernah dilihatnya selama ini.

"Keren, kan? Tanduk rusa itu."

Mendadak ditegur oleh sebuah suara, Delirium menoleh ke belakang.

Dari balik penyekat, Omura memunculkan wajahnya.

"Setelah upacara penobatan selesai dan aku resmi mewarisi gelar Raja Singa, aku berencana untuk memajangnya di Kamar Tamu Agung."

Omura berkata demikian seraya melangkah mendekati ranjang.

"Masyarakat di negara Lowe mengibaratkan diri mereka sebagai singa. Ukuran tanduk rusa hasil buruan adalah bukti dari kekuatan yang dimiliki. Namun karena aku tidak berburu, aku membelinya dengan menggelontorkan uang dalam jumlah besar. Bukankah hal ini juga merupakan salah satu pembuktian kekuatan? Kekuatan itu, bisa dibeli dengan uang."

"……Merampas rusa hasil buruan orang lain, bukankah itu merupakan tindakan dari seekor herder (hyena)?"

Delirium menyahut penuh sindiran, namun Omura hanya mengangkat bahunya saja.

"Mungkin kau masih belum memahaminya…… kehebatan dari diriku ini. Sambil berjalan waktu, akan kuajarkan kepadamu perlahan-lahan. Nah, aku membawakan jus anggur yang segar dan manis untukmu, lho."

Sambil tetap berdiri di dekat ranjang, Omura menyodorkan cangkir perak di tangannya kepada Delirium.

"Bahkan sirup elderflower favorit sang putri pun sudah dicampurkan di dalamnya."

"Tidak perlu. Aku mau kembali ke pesta."

"Oh, o-o. Sebaiknya jangan lakukan itu."

Tepat di saat Delirium membalikkan punggungnya berniat turun dari ranjang, Omura mencengkeram bahunya.

"Jangan sentuh!"

Delirium secara refleks menepis tangan tersebut. Akibat sentakan itu, jus anggur dari cangkir perak tumpah dan membasahi bagian dada Omura. Di atas pakaian mewah berkilau emas miliknya, noda merah kehitaman tampak meluas.

"Ugh……!! Dasar kau. Patuhilah perkataanku!"

Omura murka, lalu menggunakan tangannya yang tidak memegang cangkir untuk mendaratkan tamparan di pipi Delirium.

"Kya!"

Delirium memegang pipinya yang ditampar, memasang wajah terpaku. Namun hal itu hanya terjadi sesaat. Ia mengatupkan tinjunya kuat-kuat, lalu membalas memukul pipi Omura.

"Ugh."

Omura mengerang kecil, namun pukulan dari lengan yang kurus tersebut tidak memberikan dampak kerusakan yang berarti baginya.

Omura mencengkeram pergelangan tangan Delirium. Sambil menaikkan lututnya untuk memanjat ke atas ranjang, ia membuang cangkir perak tersebut. Kemudian ia mencengkeram pergelangan tangan Delirium yang satunya lagi yang sedang meronta, lalu memaksanya jatuh terdorong ke belakang.

Kepala Delirium tenggelam di atas bantal. Di atas bagian perutnya, tubuh tambun tersebut mendudukinya.

"Apa yang kau lakukan!? Lepaskan aku!"

"Begitu rupanya, kau memang benar-benar kuda liar yang merepotkan…… Namun ya begitulah, semakin liar kuda yang sombong, kepuasan saat berhasil menjinakkannya akan terasa luar biasa."

Omura mendekatkan hidungnya ke leher Delirium seolah hendak mengendus aromanya. Suara napasnya yang mendengus-dengus menyerupai seekor babi.

Kedua lengannya dicengkeram sehingga tidak bisa digerakkan. Delirium menghentakkan kakinya dan menggelengkan kepalanya untuk meronta.

"Kyaaaa! Siapa saja! Tolong! Siapa saja tolong aku!!"

"Sia-sia saja, kok. Rombongan dari Campusfellow tidak akan pernah datang menolongmu. Tidak, mereka tidak akan bisa datang."

"Apa!? Apa maksud perkataanmu itu!"

"Saat ini, mereka sedang dibantai sebagai hukuman atas kelancangan mereka yang berniat menipu diriku selaku Raja Singa."

"……Pembantaian?"

"Baik ayahmu, kesatria yang melindungimu, maupun para pelayanmu. Orang-orang yang berharga bagimu semuanya sedang dihabisi tanpa tersisa satu pun sekarang. Anggap saja ini sebagai reka ulang dari insiden Pernikahan Berdarah."

Mata biru jernih Delirium terbelalak karena terkejut.

Melihat ekspresi wajah tersebut, Omura melepaskan tawa yang keras.

"Ahaha! Benar-benar ekspresi wajah yang luar biasa! Aku ini sangat, sangat menyukai wajah wanita cantik yang menangis dengan jelek, tahu? Saat melihat orang sombong yang penuh percaya diri dihancurkan kesombongannya dan diinjak-injak, rasanya memicu gairah cinta yang luar biasa."

Omura menjilat bibirnya seraya memperlihatkan tawa menyeringai.

Delirium menatap tajam ke arah wajah tersebut.

"……Bohong. Aku tidak percaya."

"Tidak percaya pun tidak apa-apa. Toh kau akan segera mengetahuinya nanti."

Melihat Delirium yang sudah mulai tenang, Omura melepaskan cengkeraman dari kedua pergelangan tangannya, lalu mengulurkan tangan ke arah korset di bagian perutnya. Berniat melepaskan tali yang saling melilit demi melepaskan korset tersebut. Namun tali yang terikat kuat tidak bisa dilepaskan dengan mudah. Omura merasa jengkel, lalu berdecak dengan kesal.

──Kesatria Besi dan Api tidak akan mungkin kalah.

Delirium menatap ke arah langit-langit. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia mengatupkan gigi belakangnya kuat-kuat menahan air mata agar tidak tumpah.

──Pembantaian tidak akan mungkin terjadi. Karena Kesatria Campusfellow itu kuat!

"Wah! Putri Delirium yang cantik dan malang."

Omura menegakkan tubuhnya. Ia menyerah melepaskan tali korset, lalu mencengkeram kerah depan gaun. Sekali lagi ia mendekatkan ujung hidungnya ke wajah Delirium secara paksa. Delirium secara refleks memalingkan wajahnya. Akibat sentakan itu, air matanya tumpah mengalir.

Ke arah profil wajah samping yang dipalingkan tersebut, Omura berbisik dengan pelan.

"Sehebat apa pun kekuatan Kesatria Besi dan Api, mereka tidak akan mungkin bisa menang melawan seorang Sorcerers, kan?"

"……Sorcerers?"

Sorcerers adalah kekuatan militer eksklusif milik Kerajaan Amelia. Kenapa Kerajaan Lowe yang seharusnya bermusuhan bisa membicarakan tentang Sorcerers. Di dekat telinga Delirium yang sedang kebingungan, Omura melanjutkan kalimatnya.

"Kerajaan Amelia saat ini terus memperluas wilayah kekuasaannya dengan cepat. Ancaman tersebut dalam waktu dekat dipastikan juga akan mendekati Lowe. Jikalau demikian apa yang harus dilakukan? Apakah kami juga harus mengerahkan kesatria untuk bertempur melawan Amelia?"

Ah tidak, tidak, kesatria tidak akan mungkin bisa menang melawan seorang Sorcerers──setelah berkata demikian Omura menggelengkan kepalanya.

"Kalian dari Campusfellow sepertinya berniat menggunakan Witcheses sebagai sarana untuk melawan kekuatan sihir para Sorcerers, namun itu bukan metode bertarung yang cerdas, lho. Pilihanku berbeda."

Omura menyipitkan matanya.

"Lowe menggelontorkan uang dalam jumlah besar kepada Kerajaan Amelia, dan diizinkan untuk tetap eksis sebagai negara bawahan mereka."

"Bohong…… artinya kau sudah menjual negaramu sendiri?"

"Ini murni kesepakatan dagang, kok. Di belakang kami ada Amelia yang mendukung. Jikalau keluarga Grace berhasil dihancurkan, sebagai imbalannya dari Amelia, aku akan mendapatkan otoritas atas Campusfellow──"

Delirium menatap langsung ke arah Omura. Di dalam mata birunya, senyuman menyeringai Omura yang rendahan tampak terpantul.

"Tanpa mengetahui hal tersebut, kalian datang mengantarkan nyawa dengan sukarela. Sangat disayangkan keluarga Grace sudah berakhir. Kau akan menjadi istriku, dan Campusfellow dalam waktu dekat akan menjadi milikku."

"Kau menipunya, dasar pengecut……!"

"Jikalau tidak licik, kita tidak akan bisa bertahan menang. Lagipula ini adalah peperangan, lho, Putri."

Omura menggunakan tenaga kasarnya untuk membuka paksa kerah gaun Delirium.

Tulang selangka yang putih dan belahan dadanya terekspos, membuat Delirium menaikkan teriakan histeris yang besar.

Di dalam kapel, pertempuran yang bersimbah darah masih terus berlanjut.

Tanpa bisa keluar dari pintu utama yang terkunci rapat, orang-orang dari Campusfellow terus menerima serangan bertubi-tubi dari Kesatria Singa Emas dan tentara bayaran Ordo Tengkorak dan Kalajengking.

Namun meski begitu, para Kesatria Besi dan Api bertarung dengan sangat baik. Kewajiban untuk melindungi para birokrat dan pengikut yang tidak bisa bertarung──rasa tanggung jawab tersebut membakar semangat bertarung para Kesatria Besi dan Api. Ada yang merebut pedang dari tangan musuh, dan ada pula yang berhadapan melawan musuh hanya dengan mengandalkan pisau belati. Setelah berhasil keluar dari kondisi panik akibat serangan mendadak, situasi sekitar sedikit demi sedikit mulai membaik.

Bado yang terluka menopang tubuhnya di tepi meja, berusaha keras untuk mencerna situasi pertempuran. Sambil mewaspadai tembakan busur silang dari lantai dua, ia melihat ke sekeliling lingkungan sekitar. Tenanglah, ia berkata pada dirinya sendiri. Jikalau tenang, ia bisa menyusun strategi. Jikalau memiliki strategi, kehancuran total bisa dihindari. Kesatria Besi dan Api memiliki kekuatan sebesar itu.

Heartland menjulurkan tombak transformasinya, Tangering Tree, menikam dada tiga orang kesatria secara bersamaan. Saat bagian gagangnya diputar dan ditarik kembali ke arahnya, bilah tajam yang membuka layaknya rantai dan dedaunan menarik masuk ke dalam gagang, mencincang hancur dada para kesatria sekaligus. Jeritan kesakitan yang mendalam menyebar diwarnai semburan darah segar.

Melihat pemandangan yang teramat mengenaskan secara langsung di depan mata kepala sendiri memicu keraguan bagi musuh untuk merangsek maju menyerang. Para Kesatria Singa Emas yang berjaga menghalau pergerakan Heartland tampak goyah ketakutan.

"Heartland, bentuk satu formasi barisan kelompok."

Bado memanggil Heartland.

"Kita tidak tahu bagaimana kondisi di pintu belakang. Skenario terburuknya kita akan menjadi tikus yang terjebak di dalam kantong. Jikalau demikian, bentuk satu formasi barisan kelompok untuk melakukan penerobosan dari depan."

"Siap……!"

Heartland menghentakkan ujung tombaknya ke lantai, menaikkan suaranya ke arah para kesatria yang sedang bertempur.

"Berkumpullah! Ordo Kesatria Besi dan Api!!"

Jumlah rombongan dari Campusfellow yang semula berjumlah hampir enam puluh orang, saat ini telah terkikis hingga menyisakan hampir separuhnya saja. Sebagian besar dari mereka yang masih bertahan hidup adalah para kesatria. Meister Shimei telah tewas, dan sosok Cappuccino juga tidak terlihat.

Bado bertanya di balik punggung Heartland yang sedang bersiap dengan tombaknya.

"Delirium tidak ada di sini. Bisakah kau mencarinya?"

"Prioritas utama kita saat ini adalah meloloskan Tuan Bado keluar dari kastil."

"Dasar bodoh. Aku tidak apa-apa, kok. Begitu berhasil keluar dari kapel, segera pergi cari Delirium."

Kemudian, ia menambahkan satu hal lagi.

"Edelweiss juga tidak ada. Tampaknya ia juga tidak datang ke kapel."

Apakah ia menyadari situasi pembantaian ini? Jikalau ia masih hidup, ada kemungkinan ia sedang bersembunyi di suatu tempat di dalam kastil.

"Ada hal yang ingin kutanyakan padanya. Jikalau menemukannya, bergabunglah bersamanya."

"Dimengerti."

Heartland menaikkan suaranya ke arah para Kesatria Besi dan Api yang berkumpul.

"Baiklah, posisikan non-prajurit di bagian tengah formasi kelompok, dan kita merangsek maju melintasi pintu utama──"

Lalu di saat itu, kata-kata Heartland terinterupsi oleh teriakan histeris yang memekakkan telinga.

"Aaaaaaaah……!!"

Rombongan secara refleks mengalihkan pandangan mata ke arah datangnya suara, dan menahan napas melihat pemandangan yang tersaji.

Hakim Radgini yang mengenakan rambut palsu berwarna putih tampak mencengkeram kepala salah seorang Kesatria Besi dan Api menggunakan kedua belah tangannya. Dari telapak tangan yang mencengkeram kuat tersebut, uap putih tampak menyembur keluar.

Sambil tetap mencengkeram kepala kesatria yang meronta-ronta kesakitan dari arah depan, Radgini mengintip ke arah ekspresi wajah sang kesatria yang terus menaikkan teriakan histerisnya.

"Aaaaaaaah……!!"

"Ada apa? Hah? Ah, kalau cuma berteriak begitu aku tidak paham, tahu. Berbicaralah dengan jelas."

Radgini memiringkan kepalanya sedikit, wajahnya diwarnai senyuman penuh kepuasan yang kejam.

Suara teriakan kesatria tersebut akhirnya terputus, dan Radgini melepaskan cengkeraman tangannya. Dari kepala kesatria yang ambruk terjatuh, uap dalam jumlah besar tampak membubung bergoyang. Kulit wajahnya meleleh, memperlihatkan struktur tulang tengkoraknya.

"Ah~ ternyata sudah mati. Para kesatria terlalu lemah, membosankan sekali."

Menghadap ke arah orang-orang dari Campusfellow yang mematung ketakutan, Radgini merentangkan kedua lengan tangannya.

"Apakah kalian berpikir masih bisa meloloskan diri hidup-hidup dari sini? Tidak akan kubiarkan terjadi, tahu, woi. Dengar, ya. Mengizinkan target melarikan diri tepat di detik-detik sebelum dihabisi adalah hal yang paling kubenci di dunia ini."

"……Fero, sih, menyukai teater drama."

Di dekat bagian tengah kapel, seorang biarawati tampak berdiri. Ia juga merupakan salah satu dari jajaran hakim pengadilan.

"Namun, ada orang-orang yang berkata membenci teater drama. Berkata bahwa alunan musik yang mengalir di keseharian dan menyampaikan dialog melalui nyanyian adalah hal yang tidak alami. Di dalam keseharian orang-orang yang seperti itu, pastilah tidak ada gejolak hasrat untuk bernyanyi, ya. Kasihan sekali."

Entah kepada siapa ia berbicara, dan apa yang sedang dibicarakannya. Pandangan mata sang gadis memang tertuju ke arah rombongan Campusfellow, namun mata sayunya yang tampak linglung seolah sedang menatap ke arah ruang kosong.

"Hei, Radgini."

Ferocactus menatap ke arah Radgini.

"Apakah aku sudah boleh bernyanyi?"

"Iya. Hancurkan saja semuanya."

Radgini mengangguk.

Sorotan cahaya mulai memancar di dalam matanya yang linglung. Menyeringai lebar, Ferocactus memperlihatkan jajaran giginya yang bergerigi di bawah hidungnya yang tertulis kata “conviction”. ──"Kihihi."

"Tra la la, la~"

Ferocactus mengangkat kedua lengan tangannya yang tersembunyi di balik ujung lengan panjang pakaian biarawatinya, melakukan gerakan angkat tangan.

Di momen tersebut, tanpa ada tanda-tanda awal sedikit pun, dinding batu dari kapel seketika bergolak berkobar dilanda kobaran api secara bersamaan.

Kobaran api di dinding muncul dari ketinggian setara dengan tinggi tubuh Ferocactus, mengelilingi seluruh lantai dalam satu putaran lingkaran. Bagian dalam kapel yang semula remang-remang seketika diterangi oleh cahaya yang benderang dalam sekejap.

Para Kesatria Singa Emas maupun para tentara bayaran yang berada di dalam kapel menaikkan suara terkejut mereka penuh kebingungan.

Rombongan Campusfellow yang membentuk satu formasi barisan kelompok juga dicekam ketakutan menghadapi kejadian yang teramat tidak realistis tersebut. Tidak mungkin dinding batu bisa mendadak berkobar dilanda api tanpa adanya pemantik api sedikit pun. Ini sudah melampaui batas pemahaman manusia. Ini adalah──

"……Sihir, ya."

Bado bergumam.

"Kalian keparat, apakah kalian seorang Sorcerers!?"

Heartland melangkah maju satu langkah ke depan seolah melindungi orang-orang, lalu bersiap dengan tombaknya.

"Tepat sekali, kami adalah Sorcerers."

Radgini tersenyum licik dalam hati.

"Kobaran api ini. Apa sebenarnya yang menjadi pemantik api hingga bisa berkobar seperti ini…… kalian semua pasti tidak mengetahuinya, kan? Mau diajarkan oleh Tuan Radgini yang baik hati ini? Hah?"

Radgini menyodorkan tangan kanannya agar bisa terlihat oleh Heartland dan yang lainnya.

"Yang disebut Sorcerers adalah kemampuan meresap mana yang berada di alam ke dalam tubuh untuk memancarkan kekuatan sihir. Mengumpulkan kekuatan yang membubung dari dalam tubuh ke tangan untuk dilepaskan, atau membentuk wujudnya demi dimanifestasikan nyata. Apakah terlihat?"

Heartland menyatukan alisnya dengan posisi tetap bersiap dengan tombaknya. Di sekitar tangan Radgini, sesuatu yang menyerupai aura putih remang-remang tampak terlihat secara samar. Seolah-olah dari pergelangan tangan hingga ujung jarinya diselimuti oleh kobaran api putih.

"Terlihat, kan? Aku memberikan warna pada kekuatan sihir yang dimanifestasikan. Teknik untuk mengubah kekuatan sihir menjadi ini dan itu seperti ini, disebut sebagai 'sihir'."

"Sebuah informasi yang menarik, namun."

Bado melangkah maju ke depan seraya menyeret kakinya.

"Kenapa kau menceritakan hal itu kepada kami?"

"Tentu saja agar kalian bisa mati dengan membawa penyesalan yang mendalam. Jikalau mengetahui seberapa agung dan kuatnya seorang Sorcerers, bukankah akan mempermudah kalian untuk merenungi betapa bodohnya taktik kalian yang berniat mengumpulkan Witcheses untuk melakukan perlawanan?"

…………

Bado kehilangan kata-kata. Bahkan rencana untuk mengumpulkan Witcheses dari seluruh benua demi melawan Kerajaan Amelia pun telah bocor sampai ke telinga mereka.

"Nah, yang disebut sihir ini memiliki karakteristik yang berbeda secara spesifik pada masing-masing individu Sorcerers. Poin yang ingin kusampaikan ada di bagian itu. Sihir milik Ferocactus, 'Pessimist's Love', menggunakan kekuatan sihir yang dipancarkannya sendiri sebagai pemantik api untuk berkobar."

"Kyaa, bodoh. Kenapa kau mengatakannya? Mengenai sihir milik Ferocactus."

Radgini menoleh ke belakang, lalu menunjuk ke arah Ferocactus yang memasang wajah cemberut.

"Bising ah, dasar bodoh. Sihir milikmu itu akan terasa lebih menarik jika mekanismenya dibongkar, tahu."

Radgini kembali menghadap ke arah Bado, lalu melanjutkan penjelasannya.

"Kenapa dinding batu bisa mendadak berkobar? Jikalau mengetahui rahasianya, sebenarnya bukan hal yang istimewa. Anak itu, sebelumnya sudah menyusuri dinding lantai ini dalam satu putaran lingkaran, lalu menempelkan pemantik api yang tidak terlihat oleh pandangan mata kalian. Menggunakan hal itu layaknya jerami atau kayu bakar untuk memicunya berkobar sekaligus."

Sambil menatap wajah orang-orang dari Campusfellow satu per satu, Radgini mengangkat jari telunjuknya.

"Bagi yang memiliki kepekaan yang tajam pasti sudah menyadarinya, kan? Sebelum masuk ke dalam kapel beberapa saat lalu, ada orang-orang yang menjabat tangan biarawati itu di pintu masuk, kan. Ada juga yang dipeluk? Sebagai peringatan untuk kalian keparat…… pemantik apinya menempel sangat lekat di tubuh kalian, lho?"

"Uwaaaaaah……!!"

Seorang birokrat muda tidak sanggup menahan ketakutan lagi, lalu berlari menuju ke arah pintu utama. Berniat melarikan diri ke tempat yang tidak terjangkau oleh pandangan mata para Sorcerers, namun Ferocactus secara refleks mengarahkan jarinya menunjuk pria tersebut──"Ta-ran~"

Di detik berikutnya, tubuh birokrat muda tersebut berkobar dilanda api yang hebat.

Birokrat itu ambruk dari kedua lututnya seraya berlari, lalu tumbang kehilangan kekuatannya. Tubuhnya masih terus berada dalam kondisi terbakar.

Radgini tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

"Kobaran api Ferocactus tidak akan pernah bisa padam. Selama pemantik api yang menempel belum hangus terbakar habis. Orang yang disentuh olehnya akan terus terbakar hingga menjadi abu. Menghemat tenaga untuk proses kremasi, bukankah luar biasa?"

Lalu di saat itu, percikan api beterbangan melesat, menghanguskan bagian bahu Radgini. "Ouw," Radgini menepuk kuat api yang menempel di bahunya untuk dipadamkan.

"……Meskipun api yang memercik melompat bisa padam, sih."

Orang-orang dari Campusfellow kakinya memaku di lantai akibat dirundung ketakutan. Benar-benar kewalahan dan terintimidasi sepenuhnya oleh sihir para Sorcerers.

Sosok yang pertama kali bergerak adalah Heartland. Demi menghancurkan situasi, ia menghentakkan ujung tombaknya ke lantai untuk membakar semangat. Ia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, lalu melesat maju menyerang Radgini.

"Oooooh!!"

Dengan tetap mempertahankan bentuk tombak standar, ia mengayunkan besar Tangering Tree, menghujamkan mata tombak ke arah kepala Radgini. Radgini menghindarinya dengan gerakan kaki yang lincah.

"Berikan serangan balasanmu, Sorcerers!!"

Heartland mengayunkan tombaknya dua kali, tiga kali secara bertubi-tubi, memaksa Radgini melangkah mundur.

"Sihir milikmu yang melumatkan sesuatu pasti juga memiliki nama, kan?"

"Iya, tentu saja ada. Sihir spesifik milikku murni 'hanya melumatkan saja'."

Radgini tersenyum penuh percaya diri, lalu memosisikan tangan kanannya membentuk pisau tangan, menusukkannya ke kerah depan jubah hakmnya.

Juuu, uap membubung meluncur dari tangan kanannya yang merosot hingga ke pusar, melelehkan dan melepaskan puluhan kancing baju seolah sedang memotongnya menggunakan pisau tajam. Kemudian ia mencengkeram kerah depan menggunakan kedua tangannya, mementalkan sisa kancing yang ada seraya memamerkan bidang dadanya secara gamblang.

Di balik jubah hakimnya, ia sama sekali tidak mengenakan pakaian apa pun. Walaupun berwujud siluet yang ramping, tubuhnya yang terlatih tampak terekspos jelas. Setelah membuang pakaian jubahnya, Radgini kini berada dalam kondisi bertelanjang dada pada tubuh bagian atasnya. Jajaran bulu dada yang jantan dipadukan dengan rambut palsu putih yang memberi kesan intelektual benar-benar memunculkan kombinasi penampilan yang tidak selaras.

Sambil memosisikan tombaknya bersiap ke arah depan, Heartland berteriak ke arah para kesatria di belakangnya.

"Apa yang kalian lakukan! Bawa Tuan Bado dan cepat meloloskan diri dari sini!!"

Para Kesatria Besi dan Api secara serempak berlari menuju ke arah pintu utama. Namun tentu saja para Kesatria Singa Emas dan para tentara bayaran yang menetap di dalam kapel tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sambil mengayunkan pedang, mereka kembali menyerang rombongan Campusfellow.

Bado meminjam bahu dari salah seorang kesatria, melangkah menuju ke arah pintu utama melintasi kapel yang sedang berkobar dilanda api seraya ditopang tubuhnya.

Ke arah rombongan yang mengincar pintu utama tersebut, Ferocactus mengarahkan jarinya menunjuk mereka.

"Tra la la la la, la~"

Orang-orang yang sedang berlari satu per satu terbakar dan menaikkan jeritan kesakitan. Di antara orang-orang yang tubuhnya dilanda kobaran api, mengejutkannya ada juga sosok Kesatria Singa Emas. Ternyata orang yang ditempeli pemantik api oleh Ferocactus bukan hanya dari kalangan rombongan Campusfellow saja.

"Ah, salah target, deh."

Tidak ada niat lain. Murni hanya karena kejahilannya saja membuat para Kesatria Singa Emas yang ikut menjadi korban wajahnya menjadi pucat pasi, lalu menghentikan langkah kaki mereka.

Memanfaatkan celah kesempatan tersebut, Bado beserta orang-orang yang tidak disentuh oleh Ferocactus bergegas menuju ke arah pintu utama, meninggalkan orang-orang yang sedang terbakar──.

Di sisi lain, Heartland masih terus mengayunkan tombaknya menyerang Radgini. Uap membubung meluncur dari gagang tombak yang dicengkeram kuat oleh tangannya, membuat Heartland buru-buru menarik kembali tombaknya.

"……Ugh!"

Celah yang teramat singkat di momen tersebut berhasil dimanfaatkan. Radgini yang berhasil merangsek masuk ke dalam jangkauan jarak dekat ganti mencengkeram kuat leher Heartland. Dari leher yang dicengkeram suara juuu diiringi kepulan uap meluncur, membuat Heartland mengernyitkan wajahnya akibat rasa sakit yang teramat luar biasa.

"Eunghhhhh……!!"

Heartland mencengkeram pergelangan tangan Radgini, menggunakan tenaga kasarnya untuk melepaskan tangan tersebut dari lehernya.

Sret, kulit lehernya terkelupas meleleh. Tanpa membuang waktu ia mengayunkan tombaknya untuk mengambil jarak seraya melakukan serangan halangan.

Napas Heartland tampak terengah-engah dari dadanya.

──Mengejutkan. Apakah ini metode bertarung dari seorang Sorcerers……?

Sosok Sorcerers yang ada di dalam benaknya secara samar diimajinasikan sebagai tipe petarung barisan belakang yang melepaskan bola api dari jarak jauh atau menjatuhkan sambaran petir. Namun kenyataan yang dihadapinya bagaimana. Radgini adalah tipe petarung spesialis pertempuran jarak super dekat.

Gaya bersiap maupun gerakan langkah kakinya, dari sudut pandang mana pun jelas terlihat sebagai tipe aliran bela diri fisik. Mengingat hanya dengan dicengkeram saja sudah bisa memberikan dampak kerusakan yang besar, merangsek masuk ke dalam jangkauan jarak dekat akan langsung terhubung pada luka fatal. Menggunakan tombak tentu akan sangat kesulitan untuk bisa mengimbangi kecepatannya.

──Ternyata menumbangkannya adalah perkara yang sulit, ya…….

Tanpa memberikan jeda untuk bernapas sedikit pun, Radgini terus merangsek maju memperpendek jarak. Staminanya juga tampak masih sangat melimpah.

Sambil melakukan langkah mundur untuk mengambil jarak, Heartland menjulurkan mata tombaknya tinggi-tinggi ke langit. Benda yang jatuh melayang dari atas kepalanya adalah bendera panjang lambang keluarga Lowe yang tergantung berlapis-lapis di balkon lantai dua. Karena kobaran api di dinding memercik melompat, separuh dari bendera tersebut dalam kondisi terbakar. Heartland melilit bendera yang sedang terbakar tersebut di udara menggunakan tombaknya, lalu menghujamkan tombak yang ujungnya dipenuhi kobaran api ke arah kepala Radgini yang melangkah merangsek maju.

Dua kali, tiga kali ia mengayunkan besar tombaknya untuk mematikan momentum pergerakan Radgini, lalu menghantamkan bendera yang terbakar itu tepat mengincar ke arah wajahnya. Sambil menyilangkan lengannya untuk mengambil posisi bertahan, percikan api berhamburan di sekitar wajah Radgini.

"Cih…… merepotkan sekali!"

Memanfaatkan celah tersebut, Heartland memutar tumitnya. Ia berlari sekuat tenaga menuju ke arah pintu utama kapel.

Di depan pintu utama yang tertutup rapat, orang-orang dari Campusfellow tampak berdesakan merangsek maju.

Mengelilingi posisi mereka, para Kesatria Singa Emas dan para tentara bayaran tampak bersiap dengan pedang mereka, namun karena mewaspadai sihir milik Ferocactus membuat tidak ada seorang pun yang berani melangkah maju ke depan. Sebagai gantinya Ferocactus sendiri yang berlari menuju ke arah pintu utama. Sambil menggulung lengan bajunya, kedua belah ujung tangan yang direntangkannya tampak merah membara dilanda api.

Ia berniat menempelkan langsung pemantik apinya.

"Aku tidak akan membiarkan kalian lolos, lho."

Seorang pelayan dipeluk dari arah belakang punggungnya, membuat tubuhnya seketika berkobar dilanda api diiringi suara teriakan histeris yang melengking. Kobaran api memercik melompat, menghanguskan pakaian dan rambut orang-orang yang berada di sekitarnya.

Kesatria yang meminjamkan bahunya untuk menopang tubuh Bado berada tepat di samping pelayan yang berkobar dilanda api tersebut. Terkejut oleh pelayan yang mendadak mengeluarkan api, tanpa sadar ia melepaskan pegangan tangannya dari tubuh Bado.

"Ugh……"

Kehilangan penopang tubuhnya, Bado tumbang terjatuh di atas lantai. Rasa sakit yang teramat luar biasa yang sulit ditahan menusuk bagian perut, bahu, serta pahanya yang masih tertancap anak panah busur silang.

Di tengah situasi tersebut, kedua belah tangan Ferocactus yang membara tampak mendekat merangsek maju.

Tepat di detik-detik sebelum tangan tersebut menyentuh bahu Bado──"Minggir kau!!" Heartland yang berhasil merangsek maju setelah mencerai-beraikan jajaran Kesatria Singa Emas di sekitarnya, mengayunkan tombak menghujam tepat mengincar kepala Ferocactus.

"Ups……"

Melompat ke samping untuk menghindari mata tombak, Ferocactus mengambil jarak menjauh.

"Aku tidak akan mengizinkanmu menyentuh Tuan Bado meskipun hanya seujung jari saja!"

Sambil mengikuti pergerakan wujud sang gadis menggunakan mata tombaknya, Heartland melirik Bado dari sudut matanya.

"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan Bado!?"

"……Mohon maaf, ya. Tindak-tandukku saat ini justru menjadi beban bagi kalian."

"Tolong jangan melontarkan perkataan yang lemah. Itu sama sekali tidak menyerupai diri Anda!"

Heartland mengangkat tubuh Bado, lalu memanggulnya di atas bahu.

Sambil memosisikan diri berniat mendobrak hancur pintu utama, ia mendaratkan hantaman tendangan kaki sekali, dua kali──di momen itulah.

"Ferocactus!! Jangan biarkan orang itu lolos!"

"Tentu saja tidak akan kubiarkan, kok. Bakarlah!"

Radgini berteriak, lalu Ferocactus menjulurkan kedua lengan tangannya ke arah Heartland.

Di detik berikutnya, mulai dari bahu hingga ke punggung Heartland mengeluarkan api. Berkobar dalam skala yang besar.

"Ugh……!?"

Tepat sebelum acara pesta dimulai, di pintu masuk kapel, punggung Heartland memang sempat disentuh oleh Ferocactus. Sama halnya seperti orang-orang lain yang telah berkobar dilanda api, pemantik api Ferocactus ternyata sudah menempel di tubuhnya.

Punggungnya berkobar mengeluarkan api yang besar, membuat Heartland menurunkan tubuh Bado yang dipanggul di bahunya ke samping.

"Tuan Bado. Apakah tubuh Anda tidak ikut terbakar?"

"Dasar bodoh! Yang sedang terbakar itu adalah dirimu sendiri, tahu!"

"Bukan masalah besar, hal sepele seperti ini……!!"

Namun meskipun dalam kondisi demikian, Heartland tetap tidak menghentikan pergerakannya.

Sambil mengabaikan sepenuhnya kobaran api di punggungnya, ia menerjangkan seluruh badannya menghantam pintu utama.

"Ooooooooooh……!!"

Pintu terbuka lebar akibat hantaman yang melesat keras, Heartland mendekap tubuh Bado di samping badannya, lalu melompat keluar menuju ke lorong.

Orang-orang dari Campusfellow yang masih bisa menggerakkan tubuhnya tampak mengikuti di belakangnya secara berturut-turut.

Di lantai paling atas dari Menara Kurungan.

Teresalisa membiarkan kakinya tetap berada di ambang jendela, sementara bagian punggungnya dipalingkan jatuh ke luar jendela. Karena bagian tengah dari borgol tangan yang mengekang kedua pergelangan tangannya dicenckeram kuat oleh tangan kiri Roro, tubuhnya berada dalam kondisi bergelantungan di udara.

Roro memosisikan kakinya menapak di ambang jendela, mencondongkan badannya ke arah luar. Tangan kirinya mencengkeram borgol tangan Teresalisa, dan tangan kanan yang tersisa digunakan untuk mencengkeram bingkai jendela di sampingnya. Ia menopang tubuh Teresalisa yang bergelantungan hanya dengan mengandalkan satu lengan kiri saja. Rasa sakit yang teramat luar biasa menusuk bahu kanannya yang semalam tertancap anak panah akibat Figaro, membuat Roro mengernyitkan wajahnya.

Di luar menara dalam posisi terlentang, rambut panjang Teresalisa tampak menari liar ditiup oleh badai kencang.

Di luar menara yang diguyur hujan deras sekujur lingkungan diselimuti oleh kegelapan kelam. Jubah berwarna cokelat kemerahan yang dipakai di bahu Teresalisa terlepas, lalu lenyap tenggelam di dalam kegelapan. Ujung gaun merahnya yang terekspos tampak berkibar ditiup angin.

"……Ugh. Jangan, menghalangiku."

Teresalisa menaikkan kepalanya, menatap tajam ke arah Roro.

"Tentu saja akan kuhalangi! Saya akan sangat kesulitan jika Anda melompat jatuh tepat di depan mata saya. Padahal saya sedang berusaha untuk menolong Anda, tahu."

"Bukankah sudah kubilang bahwa tindakanmu itu adalah bantuan yang tidak diperlukan. Aku murni hanya ingin mati saja!"

"Kenapa begitu? Karena Anda seorang Witcheses?"

"Benar, karena aku seorang Witcheses! Karena meskipun seorang Witcheses, aku mencoba berpura-pura hidup sebagai manusia biasa. Aku bodoh. Seharusnya aku tidak pernah datang ke Lowe. Seharusnya aku tidak pernah bekerja di kastil──"

Tetesan air hujan menghantam wajahnya. Wajah Teresalisa tampak berkerut.

"Seharusnya aku tidak pernah berniat untuk menikah. Seharusnya aku tidak pernah mencintai seseorang……! Dilahirkan sebagai seorang Witcheses…… aku sama sekali tidak menginginkannya. Seharusnya aku tidak pernah dilahirkan ke dunia ini……!"

Merasakan kesedihan dan keputusasaan yang mendalam, ia meluapkan penyesalannya menembus badai kencang yang berhembus liar.

Air mata yang tumpah memancar tampak berhamburan ditiup oleh angin.

"Akibat kesalahan diriku, Prius harus tewas! Karena aku, menutupi fakta bahwa aku adalah seorang Witcheses──"

"……Tolong tunggu sebentar. Tunggulah!"

Roro memberikan kekuatan pada tangan kirinya yang mencengkeram borgol tangan.

"Salah! Beliau pasti sudah mengetahuinya sejak awal. Sang Raja Singa pasti tahu bahwa Anda adalah seorang Witcheses."

"……?"

"Sang Raja Singa mendekati Anda justru karena Anda adalah seorang Witcheses!"

Mendengar kata-kata Roro, Teresalisa menyatukan alisnya.

Agar suaranya tidak tenggelam terhapus oleh badai kencang, Roro menaikkan suaranya dengan lantang.

"Cermin tangan! Cermin tangan putih yang hendak diserahkan kepada Anda itu adalah benda titipan dari Tuan Diethelm. Dan Tuan Diethelm menerimanya sebagai titipan dari sang Raja Singa sendiri. Berpesan agar menyerahkannya kembali kepada Anda jikalau terjadi sesuatu pada dirinya──cermin tangan itu, dari awal bukankah merupakan milik Anda sendiri! Benda yang Anda buang dan kubur di dalam tanah!"

"……Bagaimana bisa, kau mengetahuinya──"

"Bawahan dari Figaro sempat melihat sosok Anda saat sedang menguburnya, lho."

Hal itu merupakan informasi yang didengarnya langsung dari mulut Figaro saat bertarung di depan sel penjara beberapa saat lalu.

Bawahan setia dari Figaro yang menjabat sebagai wakil komandan pengawal jenderal, Roberto, pada suatu hari di waktu pagi buta secara kebetulan melihat sosok pelayan kastil yang menyelinap keluar dari kastil. Dan karena merasakan adanya keanehan dari gerak-geriknya, ia memutuskan untuk membuntutinya dari belakang.

Ia melihat langsung momen saat Teresalisa mengubur kotak kayu paulownia di dalam tanah.

Roberto menggali kembali kotak kayu paulownia tersebut, lalu melaporkannya kepada atasannya, Figaro. Sebuah cermin tangan putih dengan karakteristik yang khas berupa hiasan lilitan ular di gagangnya. Di bagian belakang terukir nama “A.Fygi”.

Saat dilakukan proses penyelidikan, diketahui bahwa benda tersebut merupakan milik dari yang mengibarkan lambang keluarga bergambar ular. Namun seluruh anggota keluarga tersebut telah tewas akibat insiden tergelincir jatuh saat berkendara di pegunungan wilayah selatan delapan belas tahun lalu. Kereta kuda dikabarkan telah dijarah oleh "Kaum Pengembara", dan seluruh barang berharga telah dirampas habis. Mayat mereka ditinggalkan begitu saja di dalam kereta kuda, namun hanya mayat anak perempuan dari keluarga tersebut yang saat itu baru berusia satu tahun yang tidak kunjung ditemukan.

Melalui proses penyelidikan detail mengenai cermin tangan tersebut, Figaro akhirnya berhasil mencapai informasi mengenai seorang Witcheses. Seorang gadis kecil yang dijuluki sebagai Magenta Witches yang mengayunkan sabit perak terutama di sekitar wilayah Republik Inatera. Diceritakan bahwa Witcheses kecil tersebut selalu membawa cermin tangan putih dengan hiasan lilitan ular di gagangnya tanpa pernah melepaskannya dari tubuhnya.

Figaro berhasil menemukan nenek tua dari keluarga Darcoil yang merupakan korban dari keganasan Magenta Witches. Kemudian ia membawanya ke kastil, lalu memperlihatkan sosok Teresalisa yang sedang bekerja dari kejauhan. Berdasarkan kesaksian dari nenek tua tersebut, ia mendapatkan keyakinan mutlak bahwa Teresalisa memang benar-benar merupakan sang Magenta Witches, lalu melaporkannya kepada Raja Singa Prius selaku komandan pengawal jenderal.

Prius menerima cermin tangan tersebut dari Figaro, lalu berkata ingin memastikan sendiri menggunakan mata kepalanya sendiri mengenai sosok Witcheses tersebut. Dan setelah mengetahui bahwa Teresalisa sering naik ke dinding kastil setiap kali waktu sore tiba, ia melangkah pergi untuk menemuinya.

──Aku sudah memberikan peringatan, lho.

Figaro berkata demikian saat bertarung beradu pedang melawan Roro.

Demi melindungi negara ini, ia berhasil menemukan sosok Witcheses. Namun sang Raja Singa justru menyuruh untuk menyerahkan urusan tersebut kepada dirinya sendiri, dan sama sekali tidak berniat untuk mengeliminasi sang Witcheses. Bahkan bukan hanya itu, beliau malah berkata akan menikahinya. Jangan-jangan raja telah berada di bawah pengaruh kekuatan sihir──jikalau terus dibiarkan, negara ini akan dirampas oleh Witcheses. Berpikir demikian membuat Figaro memilih membelakangi raja, lalu melaporkan perkara ini kepada adik raja, Omura Lowe.

Omura memanfaatkan fakta tersebut untuk mengincar takhta Raja Singa. Bukti bahwa Teresalisa seorang Witcheses berupa cermin tangan berada di tangan Prius. Karena alasan itulah sebagai gantinya ia memosisikan nenek tua dari keluarga Darcoil yang merupakan korban bencana Witcheses untuk berdiri di mimbar saksi.

"──Oleh karena itu, sang Raja Singa sudah mengetahuinya," Roro mengajukan pembelaannya kepada Teresalisa.

"Beliau melangsungkan pernikahan dengan Anda dengan posisi sudah tahu bahwa Anda adalah seorang Witcheses!"

"……Bagaimana bisa."

──Soal asal-usul yang tidak jelas, aku tidak peduli sama sekali.

Kalimat perkataan Prius yang diucapkan di atas dinding kastil waktu itu kembali terngiang di telinganya.

──Entah kau pelayan kastil, atau berasal dari 'Kaum Pengembara'.

──Contohnya…… ya, andaikan pun kau adalah seorang Witcheses.

"Beliau sudah mengetahuinya? Sejak awal, selama ini……?"

Ujung jari Roro sudah mulai mati rasa. Baik tangan kanan yang mencengkeram bingkai jendela maupun tangan kiri yang mencengkeram borgol batu Teresalisa. Terpapar oleh daya tarik bobot tubuh dua orang yang miring ke luar jendela membuat jarinya terlepas satu per satu.

"Tak peduli bagaimana pun Anda adalah seorang Witcheses──Keberadaan yang memicu ketakutan, dihindari, dan dibenci hanya dengan sebatas hidup saja. Namun, seharusnya tidak ada alasan bagi Anda untuk berputus asa. Anda masih bisa bertarung. Masih terlalu dini bagi Anda untuk mati. Karena Anda, tidak sendirian."

Roro menatap langsung ke arah Teresalisa menggunakan mata hijau gelapnya yang jernih.

"Tidak apa-apa meskipun Anda seorang Witcheses. Hiduplah sebagai seorang Witcheses. Karena Prius Lowe mencintai Anda dengan posisi sudah tahu bahwa Anda adalah seorang Witcheses!"

──Karena itu jangan lupa. Orang yang membuatku jatuh cinta adalah dirimu yang berdiri di sini sekarang.

──Tak peduli siapa pun dirimu sebenarnya, aku akan terus mencintaimu.

Kata-kata perkataan Prius bangkit kembali di dalam benak Teresalisa. Seolah memberikan izin baginya untuk terus hidup.

"……Anda benar-benar, raja yang aneh……"

Di momen tersebut, di salah satu sudut bangunan kastil yang lokasinya terhitung teramat jauh dari Menara Kurungan, kobaran api tampak membumbung tinggi. Di tengah sekujur lingkungan redup kelam yang diguyur hujan, kobaran api merah yang besar memunculkan wujudnya.

Roro menaikkan wajahnya. Menatap ke arah kobaran api yang membumbung di salah satu sudut kastil, ia menyatukan alisnya.

Teresalisa juga dalam posisi terlentang menatap terbalik ke arah kobaran api tersebut. Kastil milik sang raja sedang terbakar. Kobaran api tersebut memicu kemarahan dan kebencian yang sempat padam di dalam dada Teresalisa untuk kembali bergejolak meluncur naik. Bagaimana bisa, negara yang dicintai oleh Prius ini dibiarkan dirampas oleh adik raja yang licik. Tindakan seperti itu sama sekali tidak boleh diizinkan──.

"Witcheses-sama!" Roro menaikkan suaranya yang ketus.

"Saya berniat melepaskan borgol tangan Anda, namun kuncinya berada di tangan kanan saya."

Roro hanya menggunakan pandangan matanya saja untuk menunjukkan tangan kanan yang mencengkeram bingkai jendela. Lingkaran dari setumpuk kunci tampak tersangkut di ujung jarinya. Namun jikalau ia melepaskan tangan kanannya, mereka berdua dipastikan akan langsung terlempar jatuh ke luar jendela.

Meskipun demikian, Roro sudah tidak memiliki sisa kekuatan lagi untuk menarik tubuh mereka berdua naik ke atas.

"Lagipula, saya sudah mencapai batas kekuatan…… Saya akan melepaskan borgol tangan Anda di saat kita terjatuh nanti, apakah Anda bisa melakukan sesuatu menggunakan sihir?"

"……Anjing Hitam. Apakah kau membawa cermin tanganku?"

"Ada, kok. Di dalam karung rami yang tergantung di pinggang saya……"

Cermin tangan yang seharusnya sudah dibuangnya kini telah kembali melalui perantara tangan Prius. Seolah-olah Prius sedang memberikannya perintah untuk bertarung. Teresalisa memejamkan matanya dalam posisi tetap terlentang, lalu menarik napas dalam-dalam.

"Baiklah. Sang Mirror Witches akan meminjamkan kekuatannya kepadamu. Namun ada satu syarat."

Setelah berkata demikian ia kembali menaikkan kepalanya. Mata merahnya yang berkobar menatap tajam menghunjam ke arah Roro.

"Nyawa Omura akan kuhabisi oleh tanganku sendiri."

"……Hamba laksanakan."

Roro merasakan tubuhnya merinding menghadapi hasrat membunuh dari sang Witcheses.

"Kalau begitu tidak apa-apa. Mari kita jatuh."

Roro melepaskan genggaman tangan kanannya dari bingkai jendela seolah membiarkannya tergelincir.

Mereka berdua terjatuh secara terbalik meluncur ke bawah dari lantai paling atas Menara Kurungan.

Roro memilih kunci berwarna putih dari setumpuk kunci di udara, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci dari borgol batu yang mengekang kedua pergelangan tangan Teresalisa. Memutarnya dalam sekejap untuk melepaskan kekangan.

Tanpa membuang waktu Teresalisa merapal mantranya── “Cermin, oh cermin”.

Dari dalam karung rami yang tergantung di pinggang Roro, cairan berwarna perak meluap keluar dalam jumlah yang masif. Cairan dalam jumlah besar yang menyerupai air raksa tersebut berkumpul memusatkan wujudnya di bagian punggung Teresalisa.

Sambil tetap terjatuh meluncur ke bawah, Teresalisa mendekap erat tubuh Roro di dadanya.

Di detik berikutnya, layaknya seekor burung yang merentangkan sayapnya, cairan yang menempel di punggung Teresalisa melebar luas dalam skala yang besar. Wujud yang terbentuk murni merupakan sepasang sayap perak.

"Luar biasa……"

Sambil tetap mendekap erat Teresalisa, Roro menyaksikan secara langsung fenomena ajaib yang teramat misterius tersebut.

Sepasang sayap perak mengepakkan sayapnya, membuat posisi tubuh mereka berdua berputar menempatkan kaki di bagian bawah. Sayap kembali mengepakkan sayapnya dua kali, mematikan akselerasi kecepatan jatuh meluncur ke bawah, membawa mereka berdua semakin dekat dengan permukaan tanah.

Begitu jarak dengan permukaan tanah dirasa sudah cukup dekat, Roro melepaskan genggaman tangannya dari Teresalisa lalu melompat turun.

Tepat di saat Teresalisa mendarat di tanah, sepasang sayap perak meleleh kembali menjadi cairan, membentuk satu kesatuan wujud layaknya seekor slime berukuran besar.

Teresalisa mengulurkan tangannya ke arah Roro.

"Terima kasih karena sudah mengantarkan cermin tanganku."

Roro mengeluarkan cermin tangan dari kantong di pinggangnya, lalu menyerahkannya kembali kepada Teresalisa.

Begitu Teresalisa mengarahkan cermin tangannya ke arah slime di dekat kakinya, slime tersebut tersedot masuk ke dalam permukaan cermin. Dari sudut pandang Roro, pemandangan tersebut benar-benar murni terasa ganjil. Ia menunjuk ke arah cermin tangan yang dipegang oleh Teresalisa.

"……Apakah komoditas berwarna perak tadi…… merupakan makhluk hidup?"

"Bukan makhluk hidup, kok. Karena benda itu bergerak murni berdasarkan kehendak dari diriku sendiri."

Teresalisa mengayunkan cermin tangannya seolah sedang menyendok sesuatu. Cairan berwarna perak lenyap masuk ke dalam cermin tangan.

"Hee…… benda yang misterius, ya."

"Namun ia memiliki nama, lho."

"Nama? Nama seperti apa?"

"April. Katanya itu adalah nama asliku. Orang tua asuhku yang memberitahuku. Di cermin tangan ini juga terukir huruf inisial namanya."

"Eh. Jikalau demikian, apakah saya sebaiknya memanggil Anda sebagai Nona April?"

"Panggil Teresalisa saja tidak apa-apa. Karena keseharian di masa saat aku dipanggil dengan nama tersebut sama sekali tidak kuingat. Terlepas dari hal itu──"

Teresalisa mendongak menatap ke arah kobaran api bangunan kastil yang terbakar di tengah keheningan malam.

"Lokasi itu adalah kapel. Tempat di mana upacara pernikahan kami dilangsungkan…… Orang-orang dari Campusfellow saat ini berada di mana?"

"Seharusnya acara pesta persahabatan dengan Lowe sedang dilangsungkan di sana. Lokasi ruangannya tidak diinformasikan, namun…… jangan-jangan, mereka melangsungkannya di kapel……"

"Sangat mungkin terjadi, lho. Sebaiknya kita bergegas. Kobaran api itu…… dipicu oleh kekuatan sihir."

"Eh……? Jikalau dipicu sihir, artinya ada Sorcerers? Kenapa bisa ada Sorcerers di Lowe."

"Aku tidak mengetahuinya. Apakah demi pengadilan Witcheses untukku…… atau Omura sedang merencanakan siasat busuk tertentu."

…………

Roro mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Menghadapi situasi yang tidak bersahabat memicu firasat buruk di dalam hatinya.

Sejak awal pembantaian massal di kapel dimulai, Cappuccino terus bersembunyi di bawah meja.

Baik di saat dinding batu berkobar dilanda api akibat sihir milik Ferocactus, maupun di saat Heartland dan rombongannya meloloskan diri keluar melintasi pintu utama, ia terus gemetar di bawah meja hingga kehilangan celah waktu untuk ikut melangkah keluar.

Di tangannya, cakar Direwolf yang diberikan oleh Roro tampak tergenggam erat. Roro berkata benda ini bisa menjadi jimat pelindung. Di saat seperti sekarang ini ia sangat ingin dilindungi. Ingin diselamatkan. Menggunakan tangannya yang bergetar, ia mencengkeram cakar tersebut kuat-kuat.

"……Tolong selamatkan saya. Tuan Roro……"

Mengejar sisa rombongan Campusfellow yang meloloskan diri, para Kesatria Singa Emas, para tentara bayaran, serta dua orang Sorcerers tampak melangkah pergi meninggalkan kapel. Menyisakan beberapa orang Kesatria Singa Emas yang menetap di kapel, berlarian ke sana kemari mencoba memadamkan kobaran api yang membumbung tinggi.

Jikalau terus bersembunyi di bawah meja seperti ini, bantuan tampaknya tidak akan kunjung datang. Cappuccino mengumpulkan keberaniannya untuk merangkak keluar dari bawah meja. Sambil merendahkan posisi tubuhnya agar tidak ketahuan oleh para kesatria, ia mengincar pintu utama yang telah didobrak hancur oleh Heartland. Ia harus segera bergabung dengan orang-orang dari Campusfellow secepat mungkin.

Sambil menyembunyikan keberadaan dirinya, ia melirik dari sudut matanya ke arah orang-orang dari Campusfellow yang telah bertumbangan tewas. Orang yang punggungnya tertembus oleh pedang. Orang yang tubuhnya hangus terbakar. Semuanya adalah wajah-wajah yang ia kenali. Cappuccino mengertakkan giginya seraya melangkah keluar menuju ke lorong dari kapel yang sedang terbakar.

Tidak ada orang di lorong, namun suara teriakan lantang dan suara derap langkah kaki yang berlari terdengar di kejauhan.

Ada potensi para Kesatria Singa Emas maupun para tentara bayaran sedang berkumpul di sana. Menyadari kehadiran para Kesatria Singa Emas yang datang dari arah kiri lorong, Cappuccino buru-buru memalingkan punggungnya. Ia melangkah cepat dengan posisi bersandar pada dinding menjauhi arah mereka.

Sebagai bagian dari rombongan Campusfellow, jikalau identitas dirinya ketahuan oleh kesatria Lowe, ia dipastikan akan langsung dibunuh. Walaupun tidak mengetahui alasannya, situasi pembantaian massal ini memang mengarah pada hal tersebut. Para Kesatria Singa Emas, para tentara bayaran, dan para Sorcerers memang sedang mengincar nyawa orang-orang dari Campusfellow. Apakah orang-orang yang berhasil keluar dari kapel sebelumnya sudah berhasil meloloskan diri dengan selamat. Membayangkan wajah Delirium dan Roro memicu air mata kesedihan mengalir akibat rasa takut yang mendalam.

"……Semuanya, ada di mana……?"

Dari arah jalan di depannya, suara teriakan kesakitan seorang pria terdengar.

Cappuccino melangkah maju ke depan dengan penuh rasa takut. Dengan posisi tetap melangkah menyusuri lorong, ia keluar menuju ke koridor luar yang mengelilingi pekarangan tengah. Tempat tersebut adalah lokasi di mana Roro dan Figaro melangsungkan pertandingan eksibisi siang kemarin, Kotak Mainan Raja.

Sebuah pekarangan tengah yang sangat luas dengan dikelilingi oleh koridor yang dipenuhi jajaran pilar penyangga. Rumput yang dirawat dengan baik terhampar di sana, dan petak bunga di mana bunga-bunga tumbuh mekar diposisikan di beberapa titik. Di dekat bagian tengah pekarangan berdiri sebatang pohon ek yang besar, memamerkan daun-daun berwarna kuning di jajaran dahan dan dedaunan yang melebar luas.

Karena obor tampak dinyalakan di beberapa pilar penyangga koridor yang berjejer, area pekarangan tengah yang diguyur hujan terasa luar biasa terang remang-remang.

Orang-orang dari Campusfellow yang melarikan diri melintasi lorong tampak berlari secara terpisah mencerai-beraikan diri melintasi pekarangan tengah yang terbuka dan koridor luar. Ada beberapa lorong yang menghubungkan area pekarangan tengah menuju ke bagian dalam bangunan. Namun dari arah lorong mana pun, para Kesatria Singa Emas tampak merangsek maju berdatangan. Berpikir di sana tidak bisa dan di sini juga tidak bisa membuat orang-orang dari Campusfellow terpaksa mundur hingga tersudut di pekarangan tengah.

Di belakang punggung mereka, Ferocactus tampak merangsek maju mendekat.

Seorang Kesatria Besi dan Api bersiap dengan pedang hasil rampasan, memberikan perlawanan terhadap kobaran api yang melilit kedua belah tangan Ferocactus. Namun pedang yang diayunkannya sama sekali tidak berhasil mengenai Ferocactus yang gerakannya teramat cepat. Menjadi korban terbakar hanya tinggal menunggu masalah waktu saja.

Heartland memeluk dan membawa Bado bersamanya seraya diseret tubuhnya. Keluar dari koridor luar menuju ke area pekarangan tengah yang diguyur hujan deras. Bagian punggungnya masih terus berada dalam kondisi terbakar.

Ia berniat menembus pekarangan tengah mengincar koridor luar di sisi seberang, namun di belakang punggungnya Radgini tampak merangsek maju mengejar.

"Dingin sekali sikapmu, mau pergi ke mana, sih!"

Heartland secara refleks menoleh ke belakang, memosisikan tombaknya sebagai perisai untuk menahan telapak tangan Radgini. Akibat dampak guncangan dari benturan tersebut, tubuh Bado terempas jatuh di atas permukaan rumput.

"Ugh…… Tuan Bado. Mohon maaf yang sebesar-besarnya!!"

Heartland mengayunkan tombaknya, memaksa Radgini untuk mundur menjauh.

Ia berniat segera mendekap dan membangunkan kembali tubuh Bado yang tumbang terjatuh, namun Bado menepis tangan tersebut.

"……Jangan pedulikan aku, aku bisa berdiri sendiri."

…………

Bado menegakkan tubuh bagian atasnya. Heartland memperhatikan kondisi tersebut seraya berpikir mati-matian di dalam kepalanya. Metode untuk membuat majikannya tetap bertahan hidup. Metode untuk meloloskannya keluar dari kastil ini. Sambil berpikir, ia kembali memosisikan tombaknya bersiap ke arah sang Sorcerers yang bertelanjang dada dan mengenakan rambut palsu. Setidaknya, jikalau orang ini tidak ditumbangkan, mereka tidak akan bisa meloloskan diri dengan selamat.

Jikalau demikian mulai dari titik ini, mereka akan mengambil pergerakan terpisah.

"……Tuan Bado. Saya yang akan memancing perhatian orang ini. Selama waktu tersebut, mohon segeralah melarikan diri."

"……Aku tidak memiliki niatan untuk menjadikanmu sebagai perisai pelindung. Jikalau bertarung, menanglah. Ini perintah."

…………

Heartland tidak memberikan jawaban. Ia tidak sanggup memberikan jawaban. Karena ia tidak tahu apakah bisa menang atau tidak. Justru karena alasan itulah, ia ingin dirinya dimanfaatkan sebagai perisai pelindung. Ia memberikan kekuatan pada tangan yang mencengkeram tombak. Kekalahan sama sekali tidak boleh diizinkan terjadi lagi. Heartland memosisikan mata tombak menghadap ke bawah, melangkah maju satu langkah, dua langkah memberikan serangan halangan kepada Radgini.

Radgini mempertahankan jangkauan jarak tertentu, melangkah mundur sebanyak jarak langkah maju dari Heartland. Berbeda dengan Heartland yang menatap tajam dengan wajah serius, kedua lengan tangannya direntangkan lebar-lebar memamerkan ekspresi penuh kelonggaran.

"Kau, menarik juga, ya. Hah? Punggungmu sedari tadi terus terbakar, lho. Apakah tidak terasa panas?"

Meskipun kekuatan sihir yang dililitkan di telapak tangannya tidak terlihat oleh pandangan mata, tetesan air hujan yang menyentuh tangan Radgini langsung memunculkan suara juu diiringi kepulan uap yang lenyap terhapus seluruhnya.

"……Level sepele seperti ini. Sama sekali tidak terasa panas."

Sambil memunculkan keringat buncah di dahinya, Heartland membusungkan dadanya menahan gengsi. Terpapar oleh guyuran hujan yang turun di pekarangan tengah membuat kekuatan kobaran api mengecil, namun api milik Ferocactus tidak akan pernah bisa padam sebelum targetnya hangus terbakar habis. Dengan posisi kekuatan sihir yang berfungsi sebagai pemantik api masih menempel lekat, punggung Heartland terus berada dalam kondisi terbakar.

Saat menyadarinya, Heartland ternyata sudah tiba di dekat bagian tengah pekarangan. Di dekat kakinya ditarik garis putih yang mengindikasikan posisi berdiri saat pertandingan dimulai. Tempat ini adalah lapangan untuk saling mengadu pedang.

Radgini juga berdiri tepat di atas garis putih di sisi seberangnya. Demi menjauhkan Radgini dari posisi Bado, Heartland mengira ia telah berhasil mendesak musuh mundur, namun siapa sangka ternyata dirinyalah yang telah digiring hingga ke lokasi ini.

Di koridor luar dan di atas permukaan rumput sekitar, para Kesatria Besi dan Api yang masih bertahan hidup tampak bertempur menghadapi perlawanan dari para Kesatria Singa Emas, para tentara bayaran, serta Ferocactus.

Di tengah-tengah pusat pekarangan yang dipenuhi gaungan teriakan lantang dan jeritan kesakitan tersebut, Heartland dan Radgini saling berdiri berhadapan.

Radgini menggerakkan lehernya, melakukan lompatan-lompatan kecil.

"Nama mu siapa?"

"……Komandan , Heartland Pablo!"

"Ternyata seorang komandan, ya. Begitu rupanya…… 'landak yang punggungnya berapi'."

Sambil menunjuk ke arah lencana Ordo Kesatria Besi dan Api yang dijahit di lengan baju Heartland, Radgini melepaskan tawa. Lencana landak yang punggungnya berapi memunculkan rupa yang serupa dengan kondisi Heartland saat ini yang punggungnya sedang terbakar.

Radgini merentangkan kedua lengan tangannya, merendahkan posisi pinggangnya untuk bersiap.

"Nah, mari kita mulai pertandingan babak kedua. Heartland Pablo."

"……Baiklah. Majulah kau, Sorcerers!"

Merespons kalimatnya, Heartland mengayunkan tombaknya seraya memutar, membuka lebar bilah tajam dari Tangering Tree.

Sementara itu, sebagian dari rombongan Campusfellow yang berlari menembus pekarangan tengah berhasil menemukan lorong yang tingkat pengamanan penjagaannya tergolong longgar di sudut koridor luar. Melalui jalur tersebut melintasi bagian dalam kastil, ada potensi mereka bisa meloloskan diri hingga ke luar kastil dengan selamat.

"Ke arah sana! Lari!"

Sambil dilindungi tubuhnya oleh dua orang kesatria yang memegang pedang hasil rampasan, tiga orang birokrat mulai melesat berlari.

Menginjak-injak bunga di petak bunga, mereka berlari lurus secara membabi buta mengincar sudut pekarangan tengah. Di belakang punggung mereka Ferocactus tampak merangsek maju mengejar. Namun di lorong bagian depan tidak terlihat adanya sosok Kesatria Singa Emas maupun para tentara bayaran. Sosok yang berdiri menghalangi di depan lorong murni hanya ada seorang wanita bangsawan bergaun hitam seorang diri saja──.

"Ara-ara, ternyata pertunjukannya sudah dimulai, ya?"

Wanita bangsawan yang mengenakan topi wanita bertepi lebar berwarna hitam dan menutupi area matanya menggunakan balutan perban tebal merupakan salah satu dari jajaran hakim pengadilan. Anemone.

"Tolong singkirkan tubuh Anda…… dari sana!"

Kesatria Besi dan Api yang memimpin di barisan paling depan tidak mengetahui identitasnya. Mengira wanita bangsawan tersebut murni hanya sebatas kalangan bangsawan biasa belaka, ia berlari seraya mengarahkan ujung pedangnya dan melontarkan kalimatnya. Anemone sama sekali tidak menggeser posisinya dari lokasi tersebut. Jikalau demikian mereka tinggal menghindari posisinya, namun tepat di detik kesatria muda berniat melintas melewatinya, pergelangan kakinya dicengkeram kuat oleh sesuatu.

Tubuhnya terdorong ke depan, kesatria tersebut tumbang terjatuh. Saat melihat ke bawah, tampak sebuah lengan berwarna hitam pekat yang mencengkeram kuat pergelangan kakinya mencuat keluar dari bayangan yang jatuh di bawah kaki Anemone.

"……A-Apa…… benda ini."

Mengikuti di belakang kesatria yang memimpin di depan, empat orang rombongan ikut menghentikan langkah kaki mereka.

"Kalian berniat melarikan diri ke mana? Padahal tragedi sesungguhnya baru akan dilangsungkan setelah ini──"

Dari dalam bayangan yang jatuh di bawah kaki Anemone, satu buah lengan kembali mencuat keluar. Bahunya mencuat, dadanya mencuat, memperlihatkan siluet tubuh pria kurus kering dengan tulang rusuk yang menonjol mencuat keluar. Seluruh tubuh pria tersebut berwarna hitam pekat, serupa dengan warna bayangan. Wajahnya yang memiliki struktur tidak rata menyerupai barang buatan, tidak memancarkan adanya kehendak emosi sedikit pun.

Di atas hidung pada wajah tersebut, sebuah guratan garis lurus horizontal terbuka. Di atas bagian kepala yang terbuka lebar ke arah atas dan bawah, jajaran gigi yang serupa dengan manusia tampak berbaris rapat, memperlihatkan bahwa bagian itulah yang merupakan mulut sesungguhnya dari bayangan tersebut.

Pria yang terlahir dari bayangan tersebut mengangkat pergelangan kaki dari kesatria muda yang dicengkeramnya. Menggunakan tangannya yang satu lagi ia mencengkeram kuat kepala kesatria tersebut, lalu melahap wajahnya sekaligus. Suara jeritan maut dari sang kesatria menggema di salah satu sudut pekarangan tengah.

Satu kesatria yang tersisa dan tiga orang birokrat memaku di lantai akibat dirundung guncangan batin yang teramat luar biasa menyaksikan pemandangan yang teramat mengerikan tersebut.

Pria bayaran melahap tubuh kesatria muda menggunakan mulut besarnya secara bertahul. Setelah selesai melahap seluruh tubuhnya, wajah yang dipalingkannya saat berbalik ganti berubah wujud memiliki rupa wajah yang serupa dengan kesatria muda yang baru saja dilahapnya tadi.

Tubuh pria bayangan yang bangkit berdiri seketika berubah wujud dengan kecepatan yang luar biasa. Wujud fisiknya yang bertelanjang dada ganti berubah mengenakan pakaian yang serupa dengan kesatria, dan di tangannya, sebuah pedang yang serupa dengan yang digenggam kesatria tampak dibentuk nyata.

Hanya saja seluruh tubuhnya tetap berwarna hitam pekat, dengan titik fokus kedua belah matanya yang tampak kosong tidak selaras.

"Hohoho. Anak muda memang memiliki struktur daging yang padat, ya, Tatakari."

“Kesatriaku tercinta”──bayangannya sendiri memiliki kemampuan untuk menyalin wujud dari kesatria yang dilahapnya. Sihir spesifik milik Anemone. Bayangan tersebut dijuluki oleh Anemone dengan sebutan “Tatakari”. Di dalam bahasa daerah di pedalaman Republik Inatera, memiliki makna “terlalu mencintai hingga rasanya ingin membunuh”.

"Oooooon…… Ooooohon……"

Tatakari memancarkan suara raungan yang dipenuhi rasa kepedihan yang mendalam. Sebuah suara yang menyerupai desingan angin yang terdengar di malam yang dilanda badai kencang. Kesatria yang tersisa bersiapa dengan pedangnya, memosisikan diri di depan tiga orang birokrat. Menuju ke arah posisinya, Tatakari melompat menerjang.

Cappuccino berada di sudut pekarangan tengah. Posisinya terletak tepat di jalur garis diagonal dari lokasi Tatakari yang sedang membantai orang-orang dengan kejam. Tragedi pembantaian massal sedang dilangsungkan di berbagai sudut pekarangan tengah. Orang-orang yang berlari melintasi koridor luar dikepung oleh para Kesatria Singa Emas dan para tentara bayaran, dan di bagian tengah pekarangan, Heartland yang punggungnya terbakar sedang berhadapan melawan Radgini. Jumlah rombongan dari Campusfellow sudah hampir tidak ada lagi yang tersisa.

Ferocactus menghentikan langkah kakinya karena mangsa buruannya telah dirampas oleh Tatakari. Ia memutar pandangan matanya ke sekeliling lingkungan sekitar, mencari mangsa baru. Dan setelah menemukan sosok Cappuccino yang sedang gemetar ketakutan di sudut pekarangan tengah, ia menyeringai lebar.

Cappuccino seketika menegangkan tubuhnya.

──Aku harus melarikan diri. Aku harus segera bersembunyi di suatu tempat secepat mungkin.

Meskipun di dalam kepalanya berpikir demikian, kakinya dirundung getaran hebat hingga tidak bisa digerakkan. Air mata tumpah memancar, dan ia menghirup ingusnya. Ia mendekap erat jimat pelindungnya di dadanya. Cappuccino menyadarinya secara samar dalam batinnya. Ah begitu rupanya, diriku akan tewas di tempat ini──.

"Cap!"

Mendengar suara yang familier di belakang punggungnya, Cappuccino menoleh ke belakang. Dari lorong yang terhubung dengan kapel, Roro tampak berlari merangsek maju datang mendekat. Mengenakan pakaian装束 spesifik pembunuh bayaran berwarna hitam, pelindung wajah pada pelindung kepalanya diposisikan terbuka ke atas. Melihat wujud fisiknya memicu rasa lega di dalam hati Cappuccino, namun ia buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat seraya menaikkan teriakan lantangnya dengan wajah yang berkerut akibat air mata yang tumpah memancar.

"Tunggu, jangan mendekat! Tolong jangan mendekat!"

Roro menghentikan langkah kakinya di koridor luar.

"……Saya, sudah disentuh olehnya, lho."

"……?"

Di belakang punggung Cappuccino, Ferocactus mengarahkan jarinya menunjuk ke arah punggung tersebut. Cappuccino telah disentuh oleh Ferocactus di pintu masuk kapel. Tubuh mungilnya sempat didekap erat olehnya.

"Ugh……!"

Di detik berikutnya, Cappuccino yang menaikkan jeritan kecil seketika diselimuti oleh kobaran api dalam sekejap mata tepat di depan mata kepala Roro sendiri.

"Cap……!?"

"Minggir kau, Anjing Hitam."

Teresalisa melesat menyelinap melewati celah di samping badan Roro yang sedang terkejut luar biasa.

Di saat yang sama ia mengangkat cermin tangannya tinggi-tinggi, memunculkan cairan berwarna perak dalam jumlah yang masif dari permukaan cermin.

"Padamkan apinya, April!"

Cairan dalam sekejap mata langsung mendekap bagian tubuh atas Cappuccino yang sedang terbakar. Seolah sedang menekan kuat kobaran api yang muncul menggunakan tenaga kasarnya. Cappuccino yang bagian tubuh atasnya didekap oleh cairan menapakkan lututnya di atas permukaan rumput, lalu tumbang terjatuh ke depan.

Teresalisa segera menarik kembali cairan miliknya. Begitu cermin tangan di tangannya diayunkan, cairan berwarna perak memusatkan wujudnya masuk kembali ke dalam permukaan cermin. Seiring dengan berpindahnya cairan, rupa wajah Cappuccino tampak terlihat kembali. Kobaran api yang memancar dari badanya telah padam seluruhnya. Roro berlari mendekati posisi Cappuccino, lalu mendekap erat tubuhnya yang lemas di dalam pelukan lengannya.

"Cap……! Sadarlah kau!"

Cappuccino tetap memejamkan kedua belah matanya tanpa memberikan respons. Ujung rambut hitamnya tampak berkerut akibat efek panas api, dan pakaian pelayannya berada dalam kondisi hangus terbakar. Roro menempelkan jarinya ke urat leher Cappuccino untuk mencari denyut nadi. Deg, deg, ia merasakan adanya detak jantung yang teramat sedikit secara samar.

"Apakah anak itu, masih hidup?"

Teresalisa melirik ke arah Cappuccino dari sudut matanya dengan posisi tetap mewaspadai Ferocactus yang berada di depannya.

"Tidak apa-apa, kok. Ia masih hidup."

"Begitu. Syukurlah."

"Apa…… yang sebenarnya terjadi?"

"Di tubuh anak itu menempel lekat kekuatan sihir dalam jumlah yang masif. Kemungkinan besar kekuatan sihir itulah yang berfungsi sebagai pemantik api hingga memicunya terbakar. Karena itulah aku melumatkan kekuatan sihir tersebut menggunakan April. ……Orang yang menempelkan pemantik api adalah, dia itu."

"Lho. Sang Mirror Witches?"

Ferocactus memasang wajah linglung seraya memiringkan kepalanya sedikit.

"Bukankah seharusnya kau dikurung di dalam bilik penjara?"

Teresalisa mengayunkan cermin tangannya. Dari permukaan cermin kembali memunculkan cairan berwarna perak dalam jumlah yang masif, membentuk sebuah lengkungan di atas kepala Teresalisa lalu mengeras nyata. Menerima pantulan pancaran cahaya dari obor yang menyala di pilar penyangga, di atas bilah tajam maupun gagang yang berkilauan megah tersemat ukiran halus berupa tanaman rambat dan dedaunan yang saling melilit. Benda tersebut memunculkan wujud nyata sebuah sabit besar yang bentuknya persis seperti yang dipeluk oleh dewa kematian.

"Tindakanmu tidak boleh dilakukan, lho, Mirror Witches. Keluar sesuka hatimu seperti itu. Biarkan Fero menangkapmu."

Ferocactus memicu kedua belah tangannya berkobar dilanda api, lalu melesat berlari merangsek maju menyerang Teresalisa.

"……Meskipun sudah lama aku tidak mengayunkan sabit besar ini, sih."

Teresalisa juga ikut mengayunkan sabit perak besarnya seraya melesat berlari maju.

"Namun jikalau hanya untuk ditangkap oleh seorang biarawati, kemampuanku dipastikan belum seburuk itu, tahu."

Mereka berdua bertempur beradu kekuatan di tengah pekarangan tengah yang diguyur hujan. Tangan Ferocactus yang diselimuti kobaran api melesat mendekat hendak menyentuh tubuh Teresalisa──tepat di detik-detik terakhir. Teresalisa menghindarinya menggunakan gerakan langkah manuver, lalu menghujamkan bilah tajam sabit dari atas kepala Ferocactus.

"Ah, wa. Ugh……"

Ferocactus secara refleks menghindari mata sabit, lalu mundur dengan kecepatan yang luar biasa── Teresalisa kembali mengayunkan besar sabitnya untuk melancarkan serangan susulan tanpa memberikan jeda. Ferocactus terdesak oleh agresi serangan tersebut, kembali melangkah mundur menjauh──namun gagang maupun bilah tajam dari sabit perak besar milik Teresalisa bisa memanjang secara fleksibel mengikuti kehendak dari dirinya sendiri.

"Kyaaaaaah……!!"

Bagian bahunya tergores dalam oleh bilah tajam yang memanjang jauh di luar dugaan, membuat Ferocactus menaikkan jeritan kesakitan yang mendalam.

"Minggir, dasar mesum, mesum!"

Di atas ranjang, Delirium menggelepar-gelepakkan kakinya di bawah tindihan bokong Omura yang menungganginya.

Ia menyilangkan lengan di depan dada, menyembunyikan belahan dadanya yang terbuka. Payudaranya yang berisi dan tertekan oleh lengannya membuat napas Omura semakin memburu.

"Oho. Anda cukup dewasa sebelum waktunya ya, Putri."

Omura yang masih menungganginya dengan sibuk melepas kancing atasannya. Ia melepaskan dan membuang atasannya yang kotor terkena jus anggur, memperlihatkan perutnya yang buncit. Matanya tetap tertuju pada dada Delirium meskipun ia sedang melepas pakaian.

"Nah, kau bilang kau menyukai singa, kan. Berbahagialah. Padahal aku berniat memanjakanmu sepuasnya sebagai istri Raja Singa."

"Berisik! Kau itu babi, kan! Babi. Raja Babi!"

Delirium menarik kakinya yang ditindih oleh bokong Omura sekuat tenaga. Ia menggerak-gerakkan kakinya untuk menendang wajah dan perut Omura. Namun, pergelangan kakinya segera dicengkeram.

Kakinya diangkat secara paksa, sehingga paha putihnya terekspos.

"Kyaaaa!"

Delirium menahan roknya yang tersingkap menggunakan tangannya.

Omura menyelipkan tubuhnya di antara kedua paha yang terbuka itu, lalu menindih tubuh Delirium.

"Bagus, bagus! Teruslah meronta. Suasananya jadi semakin memanas, nih."

"Tolong. Siapa saja, siapa saja──"

Omura mendekatkan bibirnya ke ujung hidung Delirium yang sedang berteriak.

Delirium memalingkan wajahnya. Pipinya dijilat oleh lidah tebal Omura.

"Jangan…… Nng!!"

Pada saat itulah. Delirium yang memalingkan wajahnya melihat sesuatu yang mustahil di samping ranjang.

Yang jatuh di atas karpet adalah pergelangan tangan manusia. Pergelangan tangan itu berdiri dengan menggunakan kelima jarinya layaknya kaki. Permukaan potongannya berwarna hitam, sangat rapi seolah-olah dipotong bersih menggunakan pisau pemotong tulang. Tidak ada setetes darah pun yang mengalir.

Apa, itu.

Di depan Delirium yang membelalakkan matanya, pergelangan tangan itu bergerak seperti melangkah.

"Aku sungguh tidak tahan melihatnya."

Tiba-tiba terdengar suara pria yang lembut, yang jelas bukan suara Omura──.

Tiba-tiba, Omura mengangkat separuh badannya dengan terkejut.

"G-Guh…… o……?"

Melihatnya mengerang, sebuah pergelangan tangan tampak mencekik leher tebalnya. Itu adalah pergelangan tangan lain yang berbeda dari yang jatuh di lantai tadi. Omura meronta kesakitan dan menancapkan kukunya untuk melepaskan tangan itu. Namun, pergelangan tangan itu tidak mau lepas. Permukaan potongan pergelangan tangan ini juga berwarna hitam, dan tidak ada setetes darah pun yang mengalir.

"……Apa yang terjadi?"

Omura akhirnya mengeluarkan busa dari mulutnya, memutih matanya, lalu jatuh terlentang. Delirium menyadari bahwa di belakangnya, berdiri seseorang.

Ia mengenakan topi bertepi lebar dan jubah hitam. Di wajahnya, ia mengenakan topeng dengan paruh besar yang menyerupai burung. Di tangannya, ia memegang tas kulit sapi yang bersudut kaku.

Delirium merasa tidak asing dengan sosok aneh tersebut. Orang itu adalah pemandu yang menarik rantai yang terhubung pada borgol batu Teresalisa saat pengadilan Witches.

"……Siapa kau?"

Delirium menarik seprai untuk menutupi dadanya yang terbuka.

Sosok misterius itu menurunkan pandangannya ke arah pergelangan tangan yang masih terus mencekik leher Omura.

"Hei, kau tidak boleh membunuhnya."

Nada bicaranya terdengar seperti sedang memarahi dengan lembut seekor anjing yang nakal. Pergelangan tangan itu dengan patuh mendengarkan kata-katanya, lalu mengendurkan cekikannya.

"Selamat malam, Nona Delirium Grace."

Pria misterius itu berdiri di samping ranjang dan menatap lurus ke arah Delirium. Ekspresinya sama sekali tidak terlihat karena tertutup topeng. Rasanya seolah sedang ditatap tanpa ekspresi, membuatnya merasa tidak tenang.

"Nama saya Parmigiano Reggiano."

"……Parmi……giano."

"Anda yang merupakan putri dari Campusfellow, seharusnya diserahkan kepada pria ini sebagai salah satu bentuk hadiah, tetapi……"

Parmigiano meletakkan tas kulit sapinya di atas karpet, lalu melepas sarung tangan kirinya. Ia mengulurkan tangannya yang terbuka itu kepada Delirium yang berada di atas ranjang. Jari-jarinya putih, ramping, dan indah.

"Melihat tangan yang indah itu dirusak oleh binatang buas yang jelek, sungguh tak bisa kutoleransi."

"…………"

Meski waspada, Delirium menurunkan kakinya dari ranjang. Ia adalah sosok yang tidak jelas asal-usulnya. Namun, kenyataannya pria itu telah menyelamatkannya dari cengkeraman jahat Omura.

"……Terima kasih."

Delirium mengucapkan terima kasih. Ia kemudian menerima uluran tangan itu dengan wajar dan berdiri.

Parmigiano membungkus tangan Delirium dengan tangannya yang satu lagi.

"……Syukurlah Anda selamat, sungguh."

Pada detik berikutnya, Delirium merasa pusing dan kesadarannya mulai memudar.

Tubuhnya yang kehilangan tenaga dan ambruk dari lututnya itu, ditangkap dan dipeluk oleh Parmigiano.

Roro membaringkan Cappuccino yang pingsan di koridor, lalu memandang ke sekeliling pekarangan tengah untuk mencari sosok Bado. Pekarangan tengah telah berubah menjadi medan pertempuran. Di lapangan bagian tengah, Heartland sedang bersiap dengan tombaknya menghadapi salah satu hakim. Bado duduk menyandarkan punggungnya pada pilar koridor.

"Apakah Anda baik-baik saja, Bado-sama."

Roro segera berlari mendekati Bado. Bado, yang terkena panah crossbow di perut, bahu, dan pahanya, bernapas dengan tersengal-sengal. Wajahnya pucat pasi.

Roro berlutut di sisinya dan menerima penjelasan singkat mengenai situasinya dari Bado. Bahwa pesta persahabatan itu adalah sebuah jebakan, dan informasi pihak Campusfellow telah bocor sepenuhnya. Bahwa mungkin ada pengkhianat di antara mereka. Dan Bado mengatakan bahwa sosok Delirium tidak terlihat di mana pun.

"Temukan Delirium. Harus ketemu."

Apakah luka yang dideritanya terasa sakit, Bado meringis. Bagian perut yang tertembus panah tampak memerah karena darah yang merembes.

Roro berusaha menceriakan suaranya untuk memberikan keberanian kepada Bado.

"Ada satu kabar baik. Permaisuri Teresalisa memang benar seorang Witches. Beliau akan bekerja sama dengan kita."

"Begitu, ya……"

"Sekarang pun beliau sedang bertarung melawan salah satu Sorcerers. Mari kita tinggalkan kastil ini sekarang juga. Setelah memastikan keselamatan Bado-sama, kita akan mencari Delirium-sama──"

Di tengah perkataannya, Bado memotong ucapan Roro dengan berkata, "Sebelum itu." Arah yang ditunjuk oleh matanya adalah bagian tengah pekarangan. Lapangan pertarungan. Heartland sedang mengayunkan tombaknya melawan Radgini yang terus merangsek maju.

"……Heartland sedang kesulitan. Bantulah dia."

Sambil menguapkan tetesan air hujan yang menyentuhnya, telapak tangan Radgini menjulur maju.

Uap dalam jumlah besar mengepul dengan suara mendesis juu dari gagang tombak kesayangan Tangering Tree yang dicengkeramnya.

"Nguuuh……!!"

Heartland memutar tombaknya untuk menepis Radgini.

Di lapangan yang diterangi obor dari koridor, pertarungan satu lawan satu antara Heartland dan Radgini terus berlanjut. Punggung Heartland masih terus terbakar. Tenggorokannya, yang dicengkeram erat saat pertarungan di kapel, tampak melepuh dengan menyedihkan.

Tangering Tree, yang memiliki banyak mata pisau dan membanggakan kekuatan tak tertandingi dalam pertempuran melawan banyak musuh sekaligus, tidak bisa menunjukkan kekuatannya seperti yang diharapkan ketika menghadapi Radgini yang memiliki gaya pertarungan jarak dekat.

Mata pisaunya yang menyebar seperti dahan dan daun bisa menembus banyak orang dalam satu tusukan, tetapi karena dahan dan daun itu besar, ayunannya menjadi lambat. Jika musuh berhasil masuk ke dalam jarak dekat, ia harus menyembunyikan bilahnya ke dalam gagang satu per satu untuk bisa mengayunkan tombak dengan cepat.

"……Fuh…… fuuh……"

Napas Heartland mulai tidak beraturan. Hujan yang turun mengguyur wajahnya yang pucat pasi tanpa darah. Terdesak dan hanya bisa bertahan bukanlah hal yang ia inginkan. Ia harus secepatnya membawa Bado keluar dari kastil ini. Ia harus segera mengalahkan Radgini, namun pergerakan tubuhnya jelas semakin melambat.

Menyadari ujung jarinya yang memegang tombak sedikit gemetar, Heartland mencengkeram gagangnya lebih kuat. Ia tidak takut terhadap Sorcerers. Namun, jika ini terus berlanjut, ia mungkin tidak akan bisa melindungi Bado. Itulah yang ia takutkan.

Apakah ada orang…… yang mau membawa lari Bado-sama…….

Tanpa sadar, Heartland melirik mencari sosok Bado dengan sudut matanya. Hal itu menciptakan sebuah celah. Radgini melangkah maju dan dalam sekejap memasuki jarak dekat Heartland.

"Khawatir dengan majikanmu, ya? Bikin cemburu saja, Heartland. Tatap mataku baik-baik."

"Kuh…… sial──"

Heartland secara refleks menegakkan tombaknya dan menjadikannya tameng. Radgini mencengkeram gagang tersebut. Dan dengan tangan kirinya, ia mencengkeram kuat pergelangan tangan kanan Heartland yang sedang memegang tombak. Uap mendesis dari pergelangan tangan Heartland.

"Gwaaah……!!"

"Hahaha! Sakit? Pasti sakit, kan!"

Meskipun ia mencoba untuk menghempaskan tangan itu, ia tidak memiliki kekuatan. Heartland melancarkan sundulan ke wajah Radgini. Namun, Radgini tidak gentar. Radgini, yang mengembalikan kepalanya yang sempat terpental, hidungnya mengalirkan darah, namun kedua tangannya masih mencengkeram kuat pergelangan tangan dan gagang tombak Heartland.

"Hei, ada apa!?"

Radgini mengintip wajah Heartland. Ia menjilat darah hidung yang menetes di bibirnya dengan lidahnya.

"Kau harus lebih melawan lagi, lho. Kalau tidak, tanganmu bisa putus, tahu?"

"……Kuh. Fuuh……!"

Saat itu, Radgini menyadari siluet seseorang yang mendekat dengan melompat. Anjing Hitam yang mengenakan pelindung tangan hitam dan helm hitam──Roro, dalam sekejap melangkah masuk ke jarak dekat Radgini dan mengayunkan pelindung tangannya.

Radgini secara refleks melepaskan kedua tangannya dari Heartland, memiringkan tubuh bagian atasnya ke belakang untuk menghindari pelindung tangan itu──dan pada saat yang sama, ia menangkap pelindung tangan itu dan menghentikan pergerakan Roro.

"Hei, hei……. Siapa kau ini?"

Dari ujung pelindung tangan yang dicengkeram oleh Radgini dan mengeluarkan uap, sebuah bilah pisau tampak mengintip.

"Benar-benar pengganggu yang tidak tahu aturan, ya……. Aku ini, paling benci dengan orang yang menyela pertarungan satu lawan satu antar pria, tahu?"

Dengan cepat, Radgini menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk mencengkeram wajah topeng helm Roro.

Helm Roro mengeluarkan uap dan mulai meleleh.

"Ugh……!"

Di saat itu, Heartland mengayunkan tombaknya dari arah bawah kaki Radgini seolah hendak mencongkelnya. Ketika Radgini melompat mundur, Heartland segera mengarahkan ujung tombaknya untuk menahannya. Ia menatap Roro dari sudut matanya.

"……Apa yang kau lakukan? Bawa Bado-sama pergi dan larilah."

Kerusakan pasti sudah terakumulasi. Heartland bernapas dengan dada naik turun.

Topeng Roro meleleh dan melepuh, memperlihatkan sisi kiri wajahnya.

"Saya juga ingin melakukannya. Tapi, ini perintah Bado-sama. Ia menyuruh kita bekerja sama untuk mengalahkan Sorcerers ini."

"Apakah kita bisa mengalahkannya……? Termasuk pria ini, mungkin ada tiga atau lebih Sorcerers di sini."

"Saya tidak tahu. Tapi…… saya rasa itu bukan hal yang mustahil."

Roro menoleh ke samping. Heartland pun mengikuti arah pandangannya.

Di seberang pekarangan tengah, Teresalisa sedang mengayunkan sabit perak besarnya. Dengan gaun merah yang berkibar, ia mempermainkan Ferocactus yang tangannya diselimuti api.

"Karena kita memiliki Mirror Witch di pihak kita."

Ke dalam Kotak Mainan Raja, para Kesatria Singa Emas berkumpul satu per satu. Untuk bertarung bersama para Sorcerers dan menghabisi orang-orang Campusfellow, mereka memunculkan diri di koridor yang mengelilingi pekarangan tengah.

Di antara mereka, ada sosok Figaro yang lengan kanannya digantung dengan kain mitela. Ia telah dikalahkan oleh Roro di Menara Kurungan dan pingsan, tetapi ia telah sadar dan datang ke sini.

Segalanya sudah dimulai. Sebagian besar orang-orang Campusfellow sudah tewas. Di atas rumput pekarangan tengah dan di koridor, banyak mayat bergelimpangan.

Sepintas, yang masih bertarung hanyalah Roro dan Heartland yang berhadapan dengan Radgini di tengah lapangan, serta Teresalisa yang sedang bertarung melawan Ferocactus.

Witches yang dijadwalkan akan dibakar besok tidak boleh dibiarkan kabur dari sini.

"Apa yang kalian lihat dengan bengong begitu! Cepat tangkap Witches itu!"

Figaro berteriak kepada para Kesatria Singa Emas yang berdiri mematung di koridor.

"Jangan sampai kalah cepat dari para Sorcerers itu! Tangkap wanita itu meskipun kalian harus menebasnya! Ingat, jika kalian membiarkan 'Pembunuh Raja Singa' kabur, anggap saja itu aib bagi seorang kesatria……!!"

Mendengar teriakan keras Figaro, para kesatria kembali mengarahkan pedang mereka satu per satu, dan dengan sorak sorai, mereka berhamburan ke pekarangan tengah.

Teresalisa, sambil menghindari kedua tangan Ferocactus yang terbakar, melirik bilah pedang kesatria yang menyerang dari belakangnya, lalu memiringkan tubuh bagian atasnya ke belakang. Ia menghindari pedang yang diayunkan dari atas kepalanya, dan tanpa jeda, ia memutar tubuhnya untuk mengelak dari ujung pedang yang menjulur dari samping.

Pedang-pedang diayunkan bertubi-tubi ke arah Teresalisa. Teresalisa menghindari semuanya, atau menahannya dengan gagang sabit besarnya, lalu menepisnya. Ia berputar seperti sedang menari dan mengayunkan sabit besarnya, mementalkan kepala seorang kesatria menggunakan bagian atas sabitnya.

"Gwaah……!!"

Melompati kesatria yang berguling di atas rumput, kesatria-kesatria lain datang menyerang. Teresalisa menusuk tenggorokan mereka dengan ujung belakang gagang sabit besar, atau mengayunkan bagian atas sabitnya untuk memukul mereka. Seberapa banyak pun ia diserang, ia tidak ingin membunuh para Kesatria Singa Emas. Karena para kesatria Lowe ini adalah bawahan Prius.

Namun, bagi Ferocactus, hal itu berbeda.

"Ugh, apaan sih orang-orang ini……!?"

Ferocactus bertabrakan dengan para kesatria yang dihempaskan dan ditepis oleh Teresalisa, sehingga ia tidak bisa mendekati Teresalisa. Ferocactus sama sekali tidak memiliki niat untuk bekerja sama dengan para kesatria. Bagi Ferocactus, mereka hanyalah pengganggu yang menghalangi pertarungannya dengan Teresalisa.

"Minggir, kalian mengganggu……!!"

Ia menyalakan pemantik api yang telah ia tempelkan pada para kesatria saat mereka saling bertabrakan dan bersentuhan sekaligus.

Dalam sekejap, lengan, kepala, bahu, dan bagian tubuh lain dari para kesatria yang mengepung mereka berdua terbakar. Pemantik api yang ditempelkan memang hanya sedikit, tetapi nyala api yang berkobar secara serentak itu menerangi pekarangan tengah dengan terang.

Para kesatria itu panik, dan jeritan mereka bergema di bawah langit yang hujan.

"Waaaaaah……!!" "Tolong padamkan!!" "Panas, panas, panasss……!" "Tolong aku!"

──Pada saat itu, Teresalisa melemparkan sabit besarnya ke atas.

Saat ia mengayunkan lengannya yang kosong ke arah bawah kakinya, pada detik berikutnya. Sabit besar itu berubah menjadi cairan dan meledak. Cairan perak yang terbagi menjadi tak terhitung jumlahnya turun seperti hujan meteor, menempel di bagian tubuh para kesatria yang terbakar.

Api yang menerangi pekarangan tengah itu langsung padam dalam sekejap.

Sebagai gantinya, api yang menyelimuti kedua tangan Ferocactus semakin membesar.

"Jangan matikan! Ini api Fero. Jangan sembarangan mematikan api Fero……!!"

Ia memelototi Teresalisa dengan tajam, lalu berlari terbawa amarah.

Ke arah Teresalisa yang tidak memegang apa pun, Ferocactus mengangkat lengannya yang terbakar──tetapi, tepat sebelum tangannya membakar wajah Teresalisa, Ferocactus menghentikan langkahnya karena rasa sakit yang menusuk seluruh tubuhnya.

"……Ah."

Di depan hidung Ferocactus yang membelalakkan mata dan memuntahkan darah, Teresalisa menatap wajahnya dari depan. Profil wajah keduanya diterangi oleh api yang menyelimuti lengan Ferocactus yang terangkat.

"……Saat bertarung melawan pengguna sihir tipe manipulasi, kau harus selalu memperhatikan keadaan sekitarmu."

Cairan perak yang masih menempel di tubuh para kesatria berubah menjadi duri-duri yang tak terhitung jumlahnya, dan menusuk tubuh Ferocactus dari segala arah.

Saat Teresalisa mengepalkan kelima jarinya yang terbuka, duri-duri perak itu terlepas dari tubuh Ferocactus dan menyusut kembali ke arah para kesatria. Ferocactus yang kehilangan penopangnya pun ambruk di atas rumput yang basah oleh hujan.

"……Sial."

Figaro, yang mengamati para kesatria yang terbakar dari koridor, berdecak kesal. Walaupun menyebalkan, kesatria biasa tidak akan bisa menandingi Witches itu. Bahkan jika dirinya yang sedang memakai gendongan lengan maju, ia tidak akan bisa menangkapnya. Apa yang harus ia lakukan──saat Figaro memikirkan langkah selanjutnya agar Witches itu tidak kabur, seorang wanita berdiri di sampingnya.

"Ya ampun……. Gawat, ya."

Wanita bangsawan bergaun hitam, Anemone, membawa seorang pria bayangan hitam──Tatakari di sisinya. Tatakari, yang menyalin wajah kesatria muda, duduk di kaki Anemone layaknya anjing besar yang setia. Sambil membelai wajah Tatakari yang matanya tidak fokus dengan penuh kasih sayang, Anemone bergumam.

"Untuk melawan Witches, memakan satu pemuda saja tidak cukup, ya. Tatakari?"

"Ooon……. Ooon……"

Tatakari mengeluarkan suara rengekan yang menyedihkan.

"Anak manis. Ayo makan sedikit lagi agar tubuhmu menjadi lebih besar, ya."

Anemone menoleh ke arah Figaro.

"Kau, meskipun terluka tapi kelihatannya kuat, ya. Maukah kau dimakan sedikit?"

"……Hah?"

Dalam sekejap, wajah Tatakari yang berjongkok di samping Anemone terbelah secara horizontal dari atas hidungnya. Di dalam kepala yang terbuka ke atas dan bawah itu, tampak deretan gigi.

Tatakari yang membuka mulutnya lebar-lebar melompat ke arah kepala Figaro.

"Oooooooon……!"

"Ugh……!!"

Figaro secara refleks melompat ke belakang. Ia mencengkeram bahu kesatria paruh baya yang berdiri di sebelahnya dan menjadikannya tameng.

Tatakari menggigit wajah kesatria paruh baya itu. Jeritan kesatria bergema di seluruh koridor.

Teresalisa mengumpulkan kembali cairan perak yang menempel pada para kesatria ke tangannya. Ia kembali membentuk wujud sabit besar dan memeluknya dengan kedua lengannya.

"Masih mau lanjut?"

Para kesatria yang tersisa mengepung Teresalisa sambil menghunuskan pedang mereka. Namun, tidak ada satu pun yang bergerak. Tidak ada peluang menang melawan Witches itu. Terlebih lagi, melihat rekan-rekan mereka yang terbakar diselamatkan oleh wanita itu, semangat mereka untuk memusuhinya telah memudar.

"Witches-sama!"

Roro, yang sedang berhadapan dengan Radgini di lapangan, memanggil Teresalisa. Ia menunjuk ke arah punggung Heartland yang berdiri di sebelahnya.

"Bisakah Anda memadamkan api di tubuhnya juga?"

"……Kau terus terbakar sedari tadi? Sulit dipercaya."

Teresalisa melangkah maju ke arah Heartland yang punggungnya terbakar, dan pada saat itulah. Mendengar suara dentuman keras yang menghancurkan sesuatu dari belakang, Teresalisa menoleh. Sosok yang menghancurkan langit-langit dan pilar koridor lalu muncul di pekarangan tengah adalah seorang pria raksasa dengan tubuh bagian atas yang membengkak.

Ia memakai zirah pelat hitam dan memegang pedang dua tangan raksasa berwarna hitam. Senjata, kulit, dan seluruh tubuh pria raksasa itu berwarna hitam pekat. Ia memiliki delapan leher. Di antaranya, ada wajah kesatria muda Campusfellow yang pertama kali dimakan, dan juga wajah kesatria paruh baya Lowe yang dijadikan tameng oleh Figaro.

Bayangan Anemone yang telah memakan delapan kesatria, Tatakari, tubuhnya membesar seiring dengan massa yang dimakannya. Kekuatan dan senjatanya setara dengan delapan kesatria. Namun, tubuhnya yang membengkak itu tidak proporsional; ia lebih terlihat obesitas daripada berotot kekar.

Bum, bum, Tatakari berjalan dengan langkah berat di atas rumput, dan kemudian ia mulai berlari menuju Teresalisa. Sambil berlari, ia mengangkat pedang dua tangan raksasanya yang terbentuk dari delapan pedang yang disatukan.

"Oooooooon……!"

"Apa-apaan benda ini, menjijikkan."

Di atas kepala Teresalisa yang mendongak kaget, pedang Tatakari diayunkan turun.

Rumput terbelah, dan tanah pun terlempar ke udara.

"Witches-sama……!!"

"Kau tidak punya waktu untuk melihat ke arah lain……!"

Radgini juga mulai bergerak. Ia merentangkan lengannya dan mendekati Roro yang perhatiannya teralihkan oleh Tatakari.

"Ugh……!"

Roro mengayunkan lengan kanannya ke bawah, dan bilah pedang yang terlipat di pelindung tangannya pun memanjang, lalu ia bersiap.

"……Hoo. Pedang tersembunyi, ya. Menarik juga."

Radgini, yang telah berada di jarak dekat, berjongkok untuk menghindari tebasan horizontal pedang itu. Ia segera membuka kelima jarinya dan mencengkeram kuat leher Roro. ──Bersamaan dengan suara juwa, Roro merasakan sakit seperti terbakar di lehernya, dan pada detik berikutnya, sebuah tombak diayunkan turun di antara keduanya.

Heartland menyela di antara mereka. Ia melancarkan serangan beruntun menggantikan Roro.

Sambil menyusup di antara ujung tombak yang diayunkan secara vertikal, horizontal, dan diagonal, Radgini mencari celah untuk masuk ke jarak dekat Heartland. Ayunan tombaknya besar-besar. Pasti ada celah yang muncul──. Pada saat tombak diayunkan sangat kuat ke bawah, Radgini bergerak maju. Ia menyelinap di bawah ujung tombak dan mendekati dada Heartland──namun, tepat setelah itu, Roro muncul melompati punggung Heartland.

"Ugh……!!"

Radgini secara refleks melompat mundur, tetapi lengan kanannya telah disayat oleh bilah pedang Roro. Radgini memiringkan kepalanya.

"……Haha. Yang besar jadi pengecoh, yang kecil yang menebas, ya. Kalian ini merepotkan."

Heartland berlari untuk menyerang lagi. Roro pun menyusul di belakangnya.

Saat itu, Teresalisa yang berlari datang melompat ke atas kepala Heartland. Sambil memutar tubuhnya di udara, ia melepaskan sabit besarnya yang diarahkan ke punggung Heartland──.

"Padamkan apinya, April……!"

Dalam sekejap, sabit besar perak itu mencair, dan menempel di punggung Heartland seolah menyelimutinya.

"Uwoh……! Apa-apaan ini."

"Tidak apa-apa, Heartland-san. Witches-sama akan memadamkan apinya untuk Anda."

Tubuh raksasa Tatakari yang mengejar Teresalisa melompati kepala kedua orang itu.

"Oooooooon……!"

Teresalisa, yang mendarat di lapangan, menarik lengan yang ia julurkan ke arah Heartland mendekat ke pinggangnya. Seirama dengan gerakan itu, cairan yang menempel di punggung Heartland kembali membentuk wujud sabit besar dan kembali ke tangan Teresalisa. Benda itu berputar-putar di udara.

Di jalur lintasannya, ada Tatakari──.

"Oooon……!!"

Tatakari yang tersayat lebar dari bahu hingga punggung melolong ke arah langit.

Permukaan luka yang menganga itu berbuih-buih, perlahan menutup dan beregenerasi.

"……Sesuai dugaanku. Sepertinya aku harus menemukan penggunanya."

Gumam Teresalisa seraya menangkap kembali sabit besarnya.

Tatakari mengangkat pedang dua tangannya yang besar dan mulai mengejar Teresalisa lagi. Teresalisa pun membalikkan badan, lalu berlari melintasi pekarangan tengah dengan Tatakari di belakangnya.

Teresalisa menekuk lututnya di depan koridor dan melompat tinggi. Tujuan lompatannya adalah tempat yang lebih tinggi dari koridor. Tempat yang mungkin tidak bisa dijangkau oleh tangan Tatakari──dinding kastil. Teresalisa mengalirkan kekuatan sihir ke kakinya dan berlari miring ke atas dinding. Namun, mengejar di belakangnya, Tatakari menendang rumput dan ikut melompat.

"Ugh……!"

Pergerakan Tatakari ternyata sangat tinggi. Ia menembus dinding kastil dengan jari-jarinya yang terbuka dan ujung kakinya, dan ia terus mengejar Teresalisa dengan gigih, seolah-olah memanjat dinding tersebut. Suara benda hancur bergema di sekitar, dan puing-puing yang pecah berjatuhan ke pekarangan tengah.

Teresalisa terus berlari sejajar dengan tanah di sepanjang dinding kastil yang mengelilingi pekarangan tengah. Tatakari mengejarnya sambil terus melolong.

Dengan latar belakang kejar-kejaran yang tidak biasa itu, di tengah lapangan, Heartland sedang mengayunkan tombaknya dengan ganas. Radgini menghindari ujung tombak itu. Dari sudut buta, Roro menyembunyikan hawa keberadaannya dan menusukkan pisaunya.

"Cih…… berengsek."

Terdesak oleh kombinasi serangan mereka berdua, Radgini tidak bisa melakukan serangan balik.

Api yang sebelumnya membakar punggung Heartland telah padam.

Aliran pertarungan berpihak pada mereka berdua──namun. Sebuah kejadian tak terduga menimpa mereka.

Gagang Tangering Tree, yang telah berkali-kali dicengkeram dan terus dilelehkan oleh Radgini, patah menjadi dua tepat di saat itu.

"A-Apa……!?"

Radgini tidak menyia-nyiakan celah yang tercipta saat Heartland terkejut. Ia melangkah maju dengan lebar, dan dalam sekejap merangsek mendekati Heartland. Tangan kirinya, yang mengeluarkan uap, menembus perut Heartland.

"Nguuuh……!!"

"Heartland-san!"

Heartland melempar tombaknya yang patah, lalu mencengkeram lengan Radgini yang menembus perutnya. Ia mencengkeram lengan itu erat-erat agar tidak lepas, lalu berteriak kepada Roro.

"Sekarang! Bunuh dia……"

Radgini berdecak, dan mencoba menarik tangan kirinya dari perut Heartland. Namun, lengannya dicengkeram kuat-kuat oleh Heartland sehingga ia tidak bisa bergerak.

"Jangan bercanda, keparat……!"

Radgini yang merasa kesal menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk mencengkeram erat wajah Heartland.

"Ngaaaaaaaah……!!"

Uap membubung dari wajah Heartland.

Roro mengayunkan bilah pada pelindung tangannya.

Ia bisa saja memenggal kepala Radgini. Ia bisa saja menusuk perutnya hingga mati. Namun, Roro mengayunkan pisaunya dan memotong lengan kanan Radgini yang sedang mencengkeram wajah Heartland.

"Gyaaaaaah……!!"

Radgini, yang lengannya putus dari siku ke bawah, menjerit kesakitan karena rasa sakit yang luar biasa, dan ia menarik lengan kirinya dari perut Heartland.

"Lenganku…… lenganku. Aku tidak akan memaafkan kalian. Aku tidak akan membiarkan kalian mati dengan mudah……!"

Dengan urat biru yang menonjol di pelipisnya dan mata yang memerah, Radgini melotot ke arah mereka berdua.

"Aku sudah memutuskannya. Baru saja. Aku akan melelehkan kalian sedikit demi sedikit dari ujung kaki……. Dari pergelangan kaki, paha, biji kemaluan, organ dalam, secara perlahan, perlahan. Aku benar-benar tidak akan membiarkan kalian mati dengan mudah……"

Udara bergetar. Roro merasakan sesuatu yang aneh. Topeng pelindung helm Roro, bagian kirinya telah dicengkeram oleh Radgini dan meleleh. Di pipi kirinya yang bersentuhan dengan udara, ia merasakan sakit yang menusuk.

Aku ini……! Paling benci rasa sakit, tahu……!!

Dari celana dan sepatu bot yang dikenakan Radgini, serta dari tanah tempat ia berdiri, uap mengepul. Saat dilihat, pelindung tangan Roro dan pakaian yang dikenakan Heartland juga mengeluarkan uap dengan suara juu. Segala sesuatu di sekitar Radgini sedang meleleh. Padahal mereka bahkan tidak disentuhnya──.

Sihir yang sebelumnya hanya diselimutkan pada kedua tangannya, kini kehilangan kendali, mungkin karena rasa sakit. Segala sesuatu yang bersentuhan dengan sihir itu, akan meleleh. Itulah sihir bawaan Radgini──Hanya Melelehkan Saja (Just Melt).

"……Apakah Anda baik-baik saja, Heartland-san?"

Heartland memungut bagian ujung dari Tangering Tree yang patah menjadi dua. Meski gagangnya menjadi pendek, itu tidak berarti ia tidak bisa mengayunkannya. Bilah pisaunya yang banyak telah disembunyikan di dalam.

"……Dasar bodoh. Padahal tadi itu adalah kesempatan."

Gumam Heartland sambil menyeka darah di mulutnya.

Tentu saja, itu ditujukan kepada Roro yang tidak bisa membunuh musuhnya.

"……Maafkan saya."

"Akan kuajarkan jalan kesatriaku padamu. Jika kau memiliki sesuatu yang ingin kau lindungi, jangan ragu untuk membunuh. Hal itu hanya akan membuat pedangmu tumpul. Sayang sekali. Kau itu──"

Heartland berdiri berdampingan dengan Roro dan mengarahkan tombaknya.

"Kau adalah seorang Assassin, kan?"

"……Iya."

Roro menatap Heartland dari sudut matanya. Separuh wajah Heartland yang dicengkeram dengan kuat tadi tampak memerah dan melepuh. Punggungnya terbakar, perutnya tertusuk, ia seharusnya tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk bertarung. Fakta bahwa ia masih bisa berdiri saja sudah merupakan sebuah keajaiban.

"Gemeretakkan gigimu!"

Radgini menjulurkan lengan kirinya ke depan, lalu mulai berlari ke arah mereka berdua.

"Aku akan melelehkan kalian dengan rasa sakit yang luar biasa, kalian bangsat!!"

"Saya akan maju."

Roro melangkah maju seolah-olah melindungi Heartland yang terluka.

Saat jaraknya dengan Radgini semakin dekat, ia merasakan perih seperti terbakar di pipi kirinya yang bersentuhan dengan udara. Semakin ia mendekati Radgini, jumlah uap yang mengepul dari seluruh tubuhnya semakin bertambah. Jika ia tidak segera membereskannya, ia mungkin akan segera tidak bisa bertarung──.

Roro, yang merangsek ke depan Radgini, menangkis lengan kirinya dengan pelindung tangan dan mengayunkan pisaunya. Radgini menyeimbangkan tubuhnya dengan satu tangan kirinya, dengan cekatan menghindari pisau Roro. Serangan kedua, serangan ketiga, serangan beruntun Roro yang tidak berhenti memaksanya mundur.

"Aaah…… sialan!!"

Radgini menggertakkan giginya. Ia menghentikan langkahnya dengan tekad siap ditebas, dengan sengaja membiarkan pisau Roro mengenai bagian bahunya. Dengan begitu ia menghentikan gerakan Roro, lalu ia menggunakan lengan kirinya untuk mencekik leher Roro.

"Haha!! Kena kau──" Pada detik itu juga, Roro menendang perut Radgini.

Radgini terhuyung-huyung, dan punggungnya membentur batang pohon ek yang berdiri di dekat lapangan.

"Guh……!!"

Radgini menegakkan tubuhnya dan melangkah maju. Roro menginjak lututnya, lalu berlari naik ke bahunya. Ia melompat jauh dengan menggunakan bahu Radgini sebagai pijakan──menendang Radgini kembali ke batang pohon, dan melakukan salto di atas kepala Heartland yang menyusul dengan cepat dari belakang.

"Heartland-san!"

"Oooooooh……!!"

Tombak yang diayunkan Heartland menembus perut Radgini, menusuknya seperti sate ke batang pohon──pada saat itu juga, Heartland memutar gagangnya yang patah, dan menyebarkan dahan dan daun Tangering Tree.

"Gohah……!!"

Dengan suara zapa, bilah-bilah pisau yang tak terhitung jumlahnya menyebar dari gagang tombak, membelah tubuh Radgini menjadi dua dari atas ke bawah.

Karena benturan itu, banyak daun kuning berguguran dari pohon ek yang dahannya membentang luas.

Roro mendarat di belakang Heartland.

Tubuh bagian atas Radgini bertumpu pada bilah Tangering Tree yang menancap di batang pohon yang tebal. Tubuh bagian bawahnya terguling di akar pohon. Kepalanya menunduk dan tidak bergerak sedikit pun. Lengan kirinya terkulai lemas.

Sehebat apa pun Sorcerers yang menggunakan teknik misterius, ia pasti tidak mungkin selamat setelah serangan ini. Uap yang sebelumnya mengepul dari pelindung tangan Roro dan daerah sekitarnya juga telah menghilang. Rasa sakit yang menusuk pipi kirinya juga telah hilang.

"……Kita berhasil. Heartland-san."

Roro berdiri di samping Heartland. Heartland masih dalam posisi menghunuskan tombaknya, kaku tak bergerak.

Di tengah hujan yang turun deras, wajahnya menunduk sehingga tidak terlihat.

"……Heartland-san?"

Bersamaan dengan berakhirnya pertarungan dengan Sorcerers, Heartland pun menghembuskan napas terakhirnya.

"Oooooooon……!!"

"……Gigih sekali, astaga."

Pria raksasa dengan delapan leher, Tatakari, terus menerjang tanpa henti layaknya babi hutan, terus mengejar punggung Teresalisa. Teresalisa, yang mendarat di atas rumput, melompat masuk ke koridor yang mengelilingi pekarangan tengah. Para kesatria yang ada di koridor itu lari ketakutan melihat Tatakari yang mendekat.

Tatakari yang bertubuh besar tidak bisa masuk ke dalam koridor. Sebagai gantinya, ia mengayunkan pedang raksasanya secara horizontal ke arah Teresalisa yang sedang berlari di koridor. Bilah pedang hitamnya itu menghancurkan pilar-pilar koridor beserta obor-obor yang ada di sana satu per satu.

"Kuh……"

Teresalisa membentur puing-puing yang terpelanting, lalu jatuh ke lantai.

Tatakari mengulurkan tangannya ke Teresalisa yang jatuh. Dengan tangan hitamnya yang besar dan setara dengan delapan orang, ia menggenggam batang tubuh Teresalisa, lalu menyeretnya dari koridor ke pekarangan tengah.

"Oooooooon……"

Tatakari mendekatkan Teresalisa yang ia genggam di tangannya ke wajahnya yang setara dengan delapan orang.

Teresalisa menunjukkan ekspresi penderitaan. Ia mencoba memelintir tubuhnya, tetapi kekuatan Tatakari terlalu besar sehingga ia tidak bisa melarikan diri.

"Hohoho! Rasakan itu, Mirror Witch……!"

Melihat Teresalisa tertangkap, Anemone muncul di pekarangan tengah.

Ia mendongak menatap Teresalisa yang digenggam oleh Tatakari, lalu tertawa dengan penuh kemenangan.

"Tatakari-ku ini bilang ia ingin meremasmu hingga hancur sekarang juga. Tapi tidak boleh. Kau akan dibakar besok, kan? Daripada dihancurkan dalam sekejap, kau harus mati dengan cara yang jauh, jauh lebih menyiksa. Sayang sekali, ya? Padahal sedikit lagi kau bisa kabur, ya?"

"Kuh……"

"Menyesallah. Witches sepertimu, mencoba kabur dariku dan Tatakari, butuh seratus tahun──"

Namun, di saat itulah Anemone menghentikan kata-katanya. Ia menyadarinya. Teresalisa yang digenggam oleh Tatakari, tidak memegang apa pun di tangannya.

"……Kau, ke mana kau simpan sabit besarmu?"

"……Akhirnya kau keluar juga. Sorcerers."

──Syuut.

"Ara……?"

Tiba-tiba, kepala Anemone terpenggal, dan ia tumbang dengan darah menyembur dari potongan lehernya.

Di belakangnya, berdiri sosok manusia perak yang telah mengayunkan sabit besar perak. Boneka yang memiliki tubuh wanita dan kepala berbentuk seperti telur──sebuah bentuk manusia yang diciptakan dari cairan perak.

Teresalisa memanggilnya, "April".

"Oooooooon……"

Tatakari perlahan lenyap karena penggunanya telah tewas.

Teresalisa yang turun ke atas rumput, menatap ke arah kepala Anemone yang menggelinding.

"Menyesallah. Sorcerers sepertimu, mencoba mengalahkan diriku dan April──"

Di belakangnya, delapan mayat yang telah dimakan oleh bayangan berjatuhan ke atas rumput.

Teresalisa mengelus dadanya yang sebelumnya digenggam dan ditekan kuat.

"Butuh seratus tahun, terlalu cepat. ──Uhuk."

Roro memotong lencana "Landak yang Punggungnya Terbakar (Fire Hedgehog)" dari lengan Heartland yang sudah tidak bergerak. Untuk membawa kembali lambang kebanggaannya ini ke kampung halamannya, Campusfellow.

Ia berlari kembali ke arah Bado yang menyandarkan punggungnya pada pilar koridor. Bado bernapas dengan dangkal.

Mengangkat pelindung wajah helmnya yang meleleh di bagian kiri, Roro berlutut di samping Bado.

"……Saya minta maaf. Kita telah kehilangan Heartland-san."

"Ini bukan salahmu, kau tidak perlu meminta maaf."

Wajah Bado terlihat semakin memburuk. Darah yang merembes di perutnya meluas.

Teresalisa mendekat ke arah mereka berdua.

"……Anda adalah Tuan Tanah Campusfellow, kan?"

Teresalisa menunduk menatap Bado dan bertanya.

Bado mendongak melihat sosoknya dan tersenyum tipis.

"……Jadi kau adalah Mirror Witch. Aku sudah lama ingin bertemu denganmu."

"Anda adalah majikan dari Anjing Hitam, kan? Anda telah membebaskan saya dari penjara. Saya sangat berterima kasih."

"……Yah, kita saling menguntungkan. Kami hanya meminjam kekuatanmu untuk──"

Tiba-tiba, Bado merasakan ketakutan yang tidak bisa dijelaskan dan menelan kembali kata-katanya.

Roro dan Teresalisa juga merasakan udara di sekitar mereka menjadi sangat tegang, dan mereka berdua secara bersamaan menoleh ke arah pekarangan tengah. Di koridor seberang, ada seseorang yang berdiri.

Orang itu mengenakan topi bertepi lebar, memakai jubah hitam, dan memegang tas kulit sapi. Wajahnya tertutup topeng berparuh besar sehingga tidak terlihat. Itu adalah orang yang memandu Teresalisa masuk ke ruang sidang saat pengadilan Witches. Ia memanggul seorang wanita bergaun di bahu kanannya.

"Delirium-sama……!"

Roro bangkit berdiri. Delirium tampaknya pingsan, ia lemas dan tidak bergerak.

"……Apa yang sebenarnya telah terjadi di sini?"

Pria berparuh, Parmigiano, memandang ke seluruh pekarangan tengah dari koridor. Radgini terbelah dua di depan pohon ek, Ferocactus tergeletak di rumput, dan kepala Anemone telah terpenggal. Ia memiringkan topeng burungnya, seolah bertanya-tanya apa yang terjadi saat ia tidak ada.

"……Siapa orang itu. Apakah dia seorang Sorcerers?"

Bado bergumam sambil tetap menyandarkan punggungnya pada pilar, memandang ke arah koridor seberang.

Yang menjawab adalah Teresalisa.

"Kekuatan sihir yang aneh dan topeng burung ini……. Kemungkinan besar, dia adalah salah satu dari Sembilan Utusan. Utusan Keenam──Sang Alkemis (Alchemist)."

Itu adalah profesi tingkat tinggi yang berada di atas Sorcerers biasa. Sembilan Utusan, yang konon dapat menghancurkan sebuah kastil sendirian. Salah satunya berdiri di depan mereka. Dan parahnya lagi, ia sedang memanggul Delirium.

"……Apakah kita berdua bisa mengalahkannya?"

Roro dengan pelan bertanya kepada Teresalisa.

"……Jika kita beruntung."

"Mirror Witch……"

Paruh Parmigiano mengarah pada Teresalisa.

"Aku tidak bisa membiarkanmu lolos. Aku bisa dimarahi oleh Lucy-sama nanti."

"…………"

Teresalisa mengayunkan cermin tangannya. Ia kembali menciptakan sabit besar perak, lalu memeluknya dengan kedua lengannya.

"Roro──"

Bado menaikkan wajahnya. Roro kembali berlutut di samping Bado.

"Rebut kembali Delirium, dan langsung kabur dari kastil ini."

Mendengar kata-katanya itu, Roro merasa bimbang.

"Bagaimana dengan Bado-sama?"

"Aku akan tetap di sini. Kalian bawa Delirium, dan tinggalkan Lowe malam ini juga."

"……Tidak bisa. Bado-sama juga harus ikut."

"Tidak boleh. Ini perintah."

Bado berkata dengan nada tegas, lalu balas menatap Roro.

"Aku juga mengerti bahwa pria berparuh itu bukanlah orang biasa. Dengan luka seperti ini, aku hanya akan menjadi beban. Kalian tidak akan bisa kabur jika membawaku. Tapi…… pastikan kalian membawa Delirium."

"……Tetapi."

"Dengar, Anjing Hitam!"

Bado mencengkeram kerah baju Roro yang sedang ragu, dan sengaja memanggilnya Anjing Hitam.

"Yang harus kau lindungi bukanlah aku……! Melainkan masa depan Campusfellow. Jika kalian semua musnah di sini, aku tidak akan memaafkanmu. Pikirkanlah keberlangsungan Campusfellow sebagai prioritas utamamu……"

Bado menatap mata hijau tua Roro. Bado, yang biasanya bertanya "Bisa kau lakukan?" untuk memastikan, kini memberikan perintah dengan kuat.

"Pergilah……!!"

"……Dimengerti."

Roro berdiri, lalu melepaskan helmnya. Ia berdiri bersebelahan dengan Teresalisa.

"Witches-sama. Maukah Anda meminjamkan kekuatan Anda?"

"Aku berutang budi pada kalian. Akan kubalas di sini."

"Saat ini kita tidak memiliki kemewahan untuk bertarung dengan Sembilan Utusan. Kita akan merebut putri dan melarikan diri dari kastil."

"……Baik. Aku akan menciptakan celah."

Parmigiano melangkah dari koridor ke atas rumput. Ia berjalan melintasi pekarangan tengah. Ia memegang tas di tangan kirinya, dan memanggul Delirium di bahu kanannya. Kedua tangannya tidak bebas. Namun, posturnya sama sekali tidak menunjukkan celah. Merasakan tatapannya dari balik topeng, mereka merasa gelisah.

Teresalisa mengarahkan sabit peraknya yang besar, sementara Roro menjulurkan bilah pedang dari pelindung lengannya. Saat yang menentukan telah tiba.

"Saya akan pergi."

Mengumpulkan semangatnya, Roro melangkah maju. Teresalisa menyahut.

"Saat kau melakukan kontak dengannya, empat detik kemudian aku akan menebas secara horizontal."

"……Mengerti."

Roro melangkah maju, berlari melintasi rumput yang basah oleh hujan.

Dalam sekejap ia mendekati Parmigiano, lalu mengayunkan bilah pelindung tangan kanannya ke arah bahu kiri pria itu. Parmigiano menghindarinya dengan mencondongkan tubuhnya ke belakang. Roro menggunakan lengan kanan dan kirinya untuk mengayunkan pisaunya secara beruntun. Parmigiano menghindari semuanya, atau menangkisnya dengan tas di tangan kirinya.

Lawannya hanya menggunakan satu tangan. Serangan Roro jauh lebih banyak. Dalam sepersekian detik ia menemukan celah, lalu ia mengarahkan bilah lengan kirinya ke batang tubuh Parmigiano.

Namun, pelindung tangan itu ditangkap dan dihentikan oleh sesuatu yang tidak terduga──sebuah pergelangan tangan.

"……!?"

Pergelangan tangan dengan potongan melintang berwarna hitam itu melayang di udara dan mencengkeram lengan kiri Roro. Selanjutnya, pergelangan tangan lain yang melompat dari jubah Parmigiano mencengkeram leher Roro.

──Apakah ini, sihir……!?

Namun, tidak ada waktu untuk terkejut. Empat detik setelah Roro menyentuh Parmigiano──Teresalisa yang telah mendekat tepat di samping mereka berdua, mengayunkan sabit besarnya ke belakang. Ia mengayunkan sabitnya secara horizontal, mengarah ke batang tubuh Parmigiano.

Roro melompat, memutar tubuhnya sejajar dengan tanah untuk keluar dari lintasan sabit itu.

Di saat yang sama, Parmigiano secara refleks berjongkok, menghindari bilah sabit besar tersebut.

Pergelangan tangan itu masih menempel di leher dan lengan kiri Roro yang melompat di udara. Roro dihempaskan telentang ke atas rumput seolah-olah ditekan dari atas oleh kedua pergelangan tangan itu.

"……Ugh."

Dari jubah Parmigiano, pergelangan tangan berhamburan keluar satu per satu. Pergelangan tangan itu juga melilit leher, lengan, dan kaki Teresalisa yang baru saja mengayunkan sabit besarnya, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas rumput seperti Roro.

Hanya dalam sekejap, mereka berdua telah dikekang oleh pergelangan tangan yang tak terhitung jumlahnya.

Di tengah hujan, yang berdiri hanyalah Parmigiano seorang. ──Setidaknya begitu kelihatannya.

Di belakang Parmigiano, ada sosok Roro.

Roro memanfaatkan celah sesaat untuk merebut Delirium yang dipanggul di bahu Parmigiano.

Parmigiano melihat ke bawah kakinya. Seharusnya ia telah menekan Roro di atas rumput──dan benar saja, Roro memang tergeletak di atas rumput. Roro──telah menjadi dua orang tanpa disadari.

Roro yang terbaring di tanah menggunakan bilah pelindung tangannya untuk menusuk punggung tangan dari pergelangan tangan yang mencengkeram lengan kirinya. Darah menyembur dari punggung tangan itu. Tampaknya tangan itu menerima kerusakan, sehingga kekuatan tekanannya mengendur. Roro juga mengayunkan pisaunya ke pergelangan tangan yang mencengkeram lehernya, dan memotong jari-jarinya.

Saat kekuatan pergelangan tangan yang menekan tubuhnya melemah, Roro segera berdiri. Ia segera mengejar Roro yang satu lagi yang berlari menjauh.

Sosok Roro yang sedang memanggul Delirium perlahan-lahan berubah menjadi Teresalisa.

"Berat……! Dia ini putrimu, kan, kau yang bawa."

Melihat punggung mereka berdua yang berlari menjauh, Parmigiano memiringkan kepalanya. ──Lalu, Teresalisa yang ini? Di kakinya, Teresalisa tergeletak sambil dikekang oleh banyak pergelangan tangan. Kali ini, ada dua orang Teresalisa.

Teresalisa, yang telah menyerahkan Delirium kepada Roro, menoleh ke belakang saat berlari melintasi rumput di halaman.

"Ulur waktunya, April!!"

"……Aha, begitu rupanya."

Parmigiano bergumam, dan di bawah kakinya, sosok Teresalisa yang terbaring itu berubah bentuk dengan aneh. Dalam sekejap, sosok itu berubah menjadi cairan perak yang langsung menempel di kaki Parmigiano. Cairan itu seketika mengeras dan menjadi belenggu yang menahan Parmigiano di tempat.

"…………"

"Jangan biarkan mereka kabur! Kejar!!"

Figaro berteriak kepada para Kesatria Singa Emas dari koridor.

Lorong-lorong yang menghubungkan halaman tengah ke dalam kastil semuanya dipenuhi oleh para kesatria. Mereka tidak akan bisa keluar jika tidak mengalahkan kesatria-kesatria itu. Roro, yang berlari sambil memanggul Delirium di bahunya, menoleh ke arah Teresalisa.

"Witches-sama……! Apakah Anda masih bisa bertarung……!"

"Tidak mau, merepotkan!"

Teresalisa mengayunkan cermin tangannya. Cairan perak yang muncul dari permukaan cermin berubah bentuk menjadi tali dan memanjang ke atas dinding kastil yang mengelilingi pekarangan tengah. Tepat ketika Teresalisa memeluk Roro dari belakang, tali perak itu menyusut, menarik tubuh ketiga orang itu naik ke atas dinding kastil.

Roro memijakkan kakinya di puncak dinding kastil, lalu menatap halaman tengah sekali lagi.

Para Kesatria Singa Emas dan tentara bayaran telah keluar ke halaman tengah, dan mereka sedang menatap ke arah kelompok Roro.

Bado juga sedang menatap Roro, sambil menyandarkan punggungnya pada pilar koridor.

Bado tersenyum tipis setelah memastikan keselamatan Delirium, dan bibirnya sedikit bergerak.

──Aku mengandalkanmu.

Roro merasa ia mendengar suara itu dengan jelas di telinganya.