Prolog: Kesaksian Nyonya Gilly
1
──Witches tidak merasakan sakit.
Karena sudah menjadi legenda yang diturunkan seperti itu,
Nyonya menyuruh kami para pelayan untuk menyiapkan cambuk. Sebuah cambuk berkuda
dengan ujung yang pendek.
Sambil memukulkan cambuk itu ke telapak tangannya sendiri,
Nyonya berdiri di depan Noah. Nah, apa yang harus kulakukan padamu──. Beliau
menyunggingkan senyum jahat yang seolah menyuarakan isi hatinya itu.
Noah yang terikat di kursi meronta-ronta seraya memutar
tubuhnya. Ia menggeram seperti binatang buas, mengeluarkan suara seperti Uooh
atau Guooh. Entah dia sedang marah, atau ketakutan.
Dia meneriakkan sesuatu, tetapi karena mulutnya disumbat,
aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas……. Matanya terbelalak, pipinya
memerah. Dengan ekspresi yang sangat mengerikan, dia menatap tajam Nyonya dan
kami yang berdiri di dekat dinding.
Ruangan itu biasanya digunakan sebagai ruang ganti para
pelayan. Di dekat dinding berjajar cermin tiga sisi, dan di atas mejanya, bedak
serta sisir berserakan karena belum dirapikan.
Di ruangan itu, selain kami para pelayan, ada Kepala
Pelayan, para petugas keamanan kota, dan juga Pastur-sama.
Namun semua orang bungkam. Hanya suara Gatak, gatak
dari tubuh Noah yang menggeliat di kursi yang bergema di seluruh ruangan.
Begitulah, pengadilan Witches sepihak oleh Nyonya pun
dimulai.
"Apakah kau seorang Witches, atau bukan. Aku
akan memastikannya dengan pukulan cambuk ini."
Nyonya berkata demikian.
Witches tidak merasakan sakit──karena itu jika kau
ingin membersihkan kecurigaanmu, berteriaklah sekencang-kencangnya dan
tunjukkan rasa sakitmu. Berkata demikian, beliau menyingkap ujung seragam
pelayan Noah, memperlihatkan pahanya.
Kulit putihnya disabet cambuk, dan jeritan yang menyerupai
ringkikan kuda pun terdengar.
Anak itu…… Noah, merasa kesakitan.
Bukan sekadar akting, tapi sungguhan.
Pipinya semakin memerah, air mata menggenang di matanya, dan
dia menangis menjerit-jerit.
Meskipun begitu, Nyonya terus mengayunkan cambuknya.
Berkali-kali, berkali-kali.
Pastur-sama yang tidak tega melihatnya sempat menahan
pergelangan tangan Nyonya sekali.
"Hentikan. Para Sorcerers akan segera tiba.
Interogasi Witches ini seharusnya diserahkan kepada mereka."
Beliau menyarankan hal itu, namun tidak mungkin Nyonya mau
mendengarkan perkataan orang lain selain Tuan. Nyonya menepis tangan
Pastur-sama, dan mengayunkan cambuknya semakin keras.
Apakah sakit? Apakah tidak sakit? Kalau kau tidak berteriak
dengan benar, aku tidak akan tahu, kan──.
Aku tidak sanggup melihat Noah yang menangis tersedu-sedu,
lalu memejamkan mata rapat-rapat.
Aku merasa takut, dan ngeri. Aku sangat menyesal telah
membocorkan rahasia yang disembunyikan anak itu kepada Nyonya. Padahal, mungkin
hanya aku satu-satunya yang bisa menjadi sekutunya.
Noah pada awalnya adalah anak budak yang dibeli oleh Tuan.
Sekitar dua minggu sebelum pengadilan Witches sepihak
itu, ia datang dibawa oleh Tuan. Hanya berbalut sehelai pakaian kain, dan
memeluk sebuah cermin tangan di dadanya sebagai satu-satunya barang miliknya.
Aku selalu berpikir bahwa budak biasanya diperlakukan dengan
kasar dan terlihat dekil. Namun, Noah tidak seperti itu.
Tidak ada satu pun memar di tubuhnya, dan rambutnya yang
dipotong rata telah disisir dengan rapi.
Iris merah yang bersinar di mata bulatnya yang
berkedip-kedip tampak seperti batu rubi.
Kulit putihnya seperti susu yang baru diperah.
Usianya dikatakan baru melewati dua belas tahun. Ia tampak
seperti budak kelas atas, jadi pastilah ia dijual dengan harga yang sangat
mahal.
"Bagaimana, cantik, bukan?"
Kata Tuan, lalu menyuruh Noah berdiri di depan Nyonya.
Seolah memamerkan barang antik yang ditemukan saat
bepergian, beliau berkata,
"Ini temuan yang luar biasa."
Nyonya menunjukkan kemarahannya. Tuan yang pergi untuk
membeli rempah-rempah malah pulang membawa seorang gadis budak bersama dengan
dua karung lada, jadi wajar saja jika Nyonya marah.
Namun pada akhirnya, atas keputusan tunggal Tuan, Noah mulai
bekerja sebagai pelayan di rumah ini.
Jangan-jangan dia itu wanita simpanan──. Entah dari mana,
rumor seperti itu mulai beredar. Bahwa Tuan membeli anak itu sebagai simpanan
di perjalanannya, dan menyusupkannya di antara kami para pelayan. Benar-benar
rumor yang rendahan. Tidak ada seorang pun di rumah ini yang menyukai anak
budak ber-asal usul tidak jelas itu.
Namun bagiku, anak itu sama sekali tidak terlihat seperti
itu.
Noah dengan caranya sendiri berusaha mempelajari tata krama
dan aturan rumah ini, dan aku tahu bahwa anak yang biasanya cemberut dan tidak
ramah itu bisa tersipu malu layaknya anak seusianya jika dipuji.
Suatu ketika, aku tidak sengaja melihat Noah menyembunyikan
susu dan roti yang disajikan untuk makan siang ke dalam saku celemeknya. Karena
dia menyelinap keluar rumah secara diam-diam, aku menjadi penasaran dengan
kepergiannya dan membuntutinya untuk melihat ke mana dia pergi.
Noah berjongkok di salah satu sudut taman.
Saat aku mengintip, ternyata ada keluarga kucing yang
bersembunyi di balik semak-semak, dan induk kucing yang sedang berbaring tampak
memeluk anak-anaknya di perutnya. Ternyata Noah membagi susu dan rotinya untuk
kucing-kucing ini.
Menyadari kehadiranku, Noah buru-buru berdiri, menunduk
dengan canggung dan berkata dengan suara kecil,
"Tolong rahasiakan ini."
Saat aku mengangguk dan berkata,
"Tentu saja,"
dia tersenyum lega.
Saat itulah aku pertama kali mengetahui bahwa dirinya yang
pendiam, tidak ramah, dan cantik bak boneka antik itu, memperlihatkan gigi
gingsul di sudut mulutnya ketika ia tersenyum.
Sejak saat itu, kami berdua selalu menyisihkan setengah dari
susu dan roti kami masing-masing untuk diberikan kepada kucing-kucing itu.
Walaupun Noah lebih muda dariku, dia terlihat anggun dan
dewasa, sama sekali tidak terlihat seperti berasal dari kalangan budak.
Terpesona oleh profil wajahnya dari samping dengan bulu matanya yang lentik,
aku bahkan sempat berkhayal…… jangan-jangan dia adalah seorang putri bangsawan
yang telah jatuh miskin.
Ketika aku menceritakan khayalan ini kepadanya, Noah
memperlihatkan cermin tangannya hanya kepadaku.
Cermin tangan putih yang dipeluknya di dada saat pertama
kali datang ke rumah ini. Jika dilihat lebih dekat, ternyata itu adalah barang
yang sangat mewah. Permukaan cerminnya dipoles dengan indah, dan di gagangnya
melilit hiasan ular putih yang menawan.
Saat cermin itu dibalik, terlihat nama "A.Fygi"
terukir kecil di bagian bawahnya. Noah bersikeras bahwa Keluarga Fygi ini
adalah garis keturunannya yang sebenarnya. Meskipun dulunya mereka adalah
bangsawan, sekarang mereka telah jatuh miskin dan lenyap.
Apakah dia mengatakan yang sebenarnya, atau sekadar
menanggapi khayalanku saja. Kebenaran dari hal yang tidak bisa dipastikan itu
tidaklah penting. Lagipula, entah itu kebohongan atau kenyataan, tidak mengubah
fakta bahwa Noah itu cantik, dan mengobrol bersamanya adalah hal yang sangat
menyenangkan.
Namun, seharusnya aku lebih waspada terhadap keadaan
sekitar. Karena kecerobohanku inilah yang pada akhirnya memberikan alasan bagi
Nyonya yang memang ingin mengusir Noah dari rumah.
Pada waktu itu, aku dipanggil Piggy.
"Piggy, apa yang kamu lakukan sembunyi-sembunyi
dengannya?"
Nyonya menanyakan hal itu saat aku sedang mengikat rambut
pirangnya di puncak kepalanya, untuk persiapan perjalanannya ke salon istana.
"Kudengar kau sering menghilang setelah makan.
Sepertinya kau diam-diam pergi ke luar rumah bersamanya. Kenapa?"
"……Itu, anu."
Aku ragu. Apakah aku harus membongkar rahasia kami bahwa
kami memberikan susu dan roti kepada kucing-kucing yang tersesat di taman, atau
tidak──.
Namun Nyonya kemungkinan besar sudah mengetahui rahasia ini.
"Jangan-jangan kalian memberi makan kucing liar atau
semacamnya?"
"Eh……"
Nyonya yang mencurigai hubungan antara Noah dan Tuan, selalu
mencari-cari kesempatan. Sebuah alasan yang sah untuk menyakiti Noah dan
mengusirnya dari rumah.
"Hei Piggy, menurutku, anak itu jangan-jangan seorang Witches."
Sambil menambahkan titik tahi lalat buatan di wajahnya yang
terpantul di cermin tiga sisi, Nyonya mengatakannya seolah-olah hanya sambil
lalu.
Witches──. Tidak perlu dikatakan lagi, mereka adalah
wanita jahat yang menyalahgunakan sihir tanpa pembaptisan dan melakukan segala
hal demi ego serta keserakahan pribadi. Sebuah bencana yang membawa kemalangan
bagi banyak orang.
Melihatku gemetar, Nyonya menceritakan kisah yang katanya ia
dengar di salon beberapa hari yang lalu. Kisah tentang Witches berlidah
merah keunguan (Magenta) yang sedang menghebohkan wilayah selatan.
Di Republik Inatera yang terletak di selatan──di kota
pelabuhan Sauro.
Terjadi insiden di mana seorang gadis yang dibeli sebagai
budak membantai para penghuni rumah dan merampok harta benda mereka. Menurut
kesaksian korban yang selamat dari tragedi tersebut, gadis itu berdiri memeluk
sabit besar berwarna perak di tengah mayat-mayat yang bergelimpangan. Katanya,
lidah yang dijulurkannya berwarna merah keunguan yang tampak beracun──.
Kota pelabuhan Sauro yang menjadi panggung insiden itulah,
tempat di mana Tuan pergi untuk membeli rempah-rempah.
Menurut Nyonya, gadis budak Noah yang dibeli Tuan itu pasti
adalah sang Magenta Witch tersebut.
"Tidak mungkin begitu……"
protesku.
"Karena lidah Noah tidak berwarna merah keunguan."
tambahku.
Namun Nyonya menatapku dan tertawa,
"Piggy yang bodoh."
"Jika anak itu benar-benar seorang Witches,
bukankah mudah baginya untuk mengubah warna lidahnya agar tersembunyi?"
"Kalau begitu…… kita tidak punya cara untuk memastikan
apakah Noah itu Witches atau bukan."
"Benar. Tidak bisa dipastikan dari warna lidahnya…….
Tapi Witches punya ciri-ciri lain, kan? Seperti tidak merasakan sakit,
atau tidak bisa tenggelam di air……"
Nyonya meletakkan jari telunjuk di dagunya dan memiringkan
kepalanya sedikit.
"Kalau tidak salah, ada juga ciri seperti ini. Witches
diam-diam membesarkan hewan peliharaan iblis…… atau semacamnya. Nah, makanya
aku bertanya padamu, Piggy. Apa yang kamu lakukan sembunyi-sembunyi
bersamanya?"
Aku gemetar secara refleks, sampai menjatuhkan sisir dari
tanganku.
"Tidak bisa mengatakannya? Piggy."
Nyonya memungut sisir yang jatuh ke lantai, lalu sambil
menyerahkannya kepadaku, beliau berbisik di telingaku.
"Kalau begitu, aku anggap kau juga…… seorang Witches,
ya?"
"Bukan, aku……"
"Aku apa?"
"Aku…… hanya──"
"Kau disuruh, kan? Oleh Witches itu. Untuk
membagi makan siangmu, karena dia ingin memberi makan hewan
peliharaannya."
"……──"
Aku tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk melawan
Nyonya.
Noah yang terus dicambuk menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Ekspresinya tidak terlihat karena terhalang rambutnya yang berantakan, tetapi
aku ingat pemandangan di mana air liur yang menetes dari bibirnya jatuh ke
pahanya yang bengkak memerah.
Saat itulah pintu dibuka dengan kasar, dan tiga orang Sorcerers-sama
masuk ke dalam ruangan.
Yang pertama kali masuk adalah seorang Sorcerers-sama
paruh baya yang mengenakan tudung. Beliau memiliki janggut dan garis wajah yang
tegas.
Berjalan cepat menuju Noah, beliau mengeluarkan lengannya
dari celah jubahnya. Begitu saja, ketika beliau mengarahkan ujung jarinya ke
langit-langit, mengejutkannya, Noah beserta kursi tempat ia terikat melayang
ringan ke udara.
Kemudian Sorcerers-sama itu mendorong ruang kosong di
depannya dengan telapak tangan. Kursi yang diduduki Noah bergerak meluncur di
udara mengikuti gerakan tangan itu, lalu mendarat dengan sendirinya di dekat
jendela.
Itu adalah pertama kalinya aku melihat sihir. Berbeda dengan
sihir para Witches yang diperoleh melalui jalan sesat, sihir dari para Sorcerers
yang telah menerima pembaptisan yang benar adalah mukjizat sejati.
Dari dua Sorcerers-sama yang tersisa, seorang Sorcerers
wanita memerintahkan Nyonya dan kami untuk menjauh dari Witches itu dan
merapat ke dinding. Di kedua bahu wanita itu hinggap tiga ekor burung kecil
berwarna merah, biru, dan kuning, membuat pemandangan itu terasa begitu ajaib.
"……Anda, jangan bilang Anda menjatuhkan hukuman main
hakim sendiri?"
Melihat cambuk yang dipegang Nyonya, Sorcerers wanita
itu bertanya dengan nada menyalahkan.
Nyonya hanya mengangkat bahunya dengan raut wajah tidak
senang.
"Bodoh."
Ucap seorang Sorcerers-sama muda yang tinggi jangkung
dengan nada mencemooh. Ia menyandang tas besar di bahunya. Kepada Sorcerers
berjanggut ia melanjutkan,
"Sepertinya ini informasi palsu."
lanjutnya.
"Kalau gadis ini adalah Magenta Witch, orang-orang ini
pasti sudah dibantai sejak tadi."
Sorcerers-sama muda itu berjalan mendekati Noah, lalu
memotong sumbat mulutnya dengan pisau. Ia mencengkeram dagu Noah yang pingsan
dan mengintip ke dalam mulutnya.
"……Tuh, kan. Lidahnya juga tidak berwarna merah
keunguan (Magenta). Kasihan sekali."
"Jangan lengah. Itu kebiasaan burukmu."
Sorcerers-sama berjanggut menatap tajam Sorcerers
muda dengan kerutan di antara kedua alisnya.
"Jangan lupa akan kemungkinan bahwa lawan kita adalah Witches.
Dia mungkin mengubah warna lidahnya dengan sihir. Coba pastikan dengan
Silence."
"Baik, baik, mengerti."
Sorcerers-sama muda itu mengeluarkan sebuah botol
kecil dari tasnya.
Hal ini baru kuketahui belakangan, tetapi cairan merah yang
dikeluarkan Sorcerers-sama tersebut dinamakan ramuan Silence, dan
katanya cairan itu memiliki efek untuk memusnahkan mana yang menjadi sumber sihir.
Para Sorcerers bermaksud menggunakan obat tersebut
untuk memeriksa apakah ada sihir pengubah warna yang dilemparkan pada lidah
Noah.
Sorcerers-sama muda itu mengocok botol kecilnya
hingga berbusa, lalu menuangkan ramuan tersebut ke dalam mulut Noah.
Jika dengan ini sihirnya terurai dan warna lidahnya berubah
menjadi merah keunguan (Magenta), maka akan terbukti bahwa Noah adalah seorang Witches.
Sebaliknya, jika warna lidahnya tetap tidak berubah, maka akan terbukti bahwa
ia hanyalah seorang pelayan malang.
Lalu…… perubahan seperti apa yang akan terlihat, kami
menahan napas seraya memperhatikan situasinya. Cairan merah yang meluap dari
dalam mulut Noah mengalir menetes di pipinya.
Sesaat setelah itu──uap menyembur keluar dari seluruh tubuh
Noah yang terikat di kursi.
Pada saat itu, aku berpikir bahwa siapa pun akan menjadi
seperti itu jika diteteskan cairan merah tersebut. Bahwa memang begitulah
efeknya, orang yang disiram cairan itu seluruh tubuhnya akan diselimuti uap.
Namun, ketiga Sorcerers-sama seketika memasang posisi
siaga secara serempak, dan udara di ruangan tersebut langsung terasa tegang dan
mencekam.
Tak lama kemudian, uap itu berangsur-angsur menghilang, dan
keributan terjadi di dalam ruangan.
Jangankan membicarakan warna lidah, yang terikat di kursi
itu ternyata bukanlah Noah.
Setelah uap menghilang, yang terlihat adalah renda halus
yang dijahit pada ujung rok. Korset yang diikat kencang, dengan belahan dada
yang menyembul. Serta rambut pirang yang berantakan. Di bawah sudut matanya
yang melotot hingga bagian putihnya terlihat, tampak jelas tahi lalat buatan
yang selalu senang digambar oleh Nyonya.
Kami menahan napas, merasa kebingungan. Tentu saja.
Bagaimana tidak, Noah yang seharusnya terikat di kursi, dalam sekejap telah
berubah wujud menjadi Nyonya.
Hal berikutnya yang terpikirkan hanyalah satu.
Lalu, di mana Nyonya yang satu lagi……? Secara otomatis
pandangan semua orang terpusat pada Nyonya yang memegang cambuk di hampir
tengah-tengah ruangan. ──Siapakah dia sebenarnya?
Tepat setelah itu, Sorcerers-sama berjanggut
berteriak.
"Kalian, menjauhlah dari wanita itu──"
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, tenggorokan Sorcerers-sama
itu tertembus dan terkoyak oleh seutas kawat. Itu adalah kawat perak yang
panjangnya menyerupai tombak.
Kawat tersebut menjulur dari tangan seseorang yang berwujud
Nyonya. Wanita itu memegang sebuah cermin tangan berwarna putih. Cermin tangan
dengan hiasan lilitan ular, yang diam-diam pernah diperlihatkan Noah hanya
kepadaku.
Sosok tak dikenal yang berwujud Nyonya itu merentangkan
lengannya, seolah menunjuk ke arah Sorcerers-sama dengan ujung cermin
tangannya. Kawat perak itu tampak menjulur dari ujung cermin tangan tersebut.
Ketika wanita itu mengayunkan lengannya ke samping, kawat
yang menancap tadi merobek tenggorokan Sorcerers-sama, dan semburan
darah dalam jumlah besar memancar ke atas bak air mancur.
Percikannya bahkan mencapai langit-langit. Cermin tiga sisi,
karpet, dan Nyonya yang terikat di kursi basah oleh darah segar, sementara Sorcerers
yang tenggorokannya terkoyak ambruk di atas kedua lututnya.
Jeritan dan teriakan ketakutan bergema di seluruh ruangan.
Di tengah semua orang yang berdesak-desakan menuju pintu,
dua Sorcerers-sama melangkah maju dan berhadapan dengan sosok misterius
tersebut.
Sosok yang berwujud Nyonya itu mengayunkan cermin tangannya
kuat-kuat. Seketika, kawat perak itu meliuk seperti cambuk dan kembali ke arah
tangannya. Kawat tersebut tersedot masuk ke dalam cermin.
Selanjutnya, dia memutar cermin tangannya di atas kepala.
Lalu, yang muncul dari permukaan cermin adalah secarik kain
yang berkilau bak sutra. Entah bagaimana mekanismenya. Sebuah tirai perak besar
keluar dari cermin tangan itu dan menutupi seluruh tubuhnya.
Begitu tirai itu tersingkap, yang muncul di baliknya adalah
seseorang berseragam pelayan dengan celemek, dan rambut yang dipotong rata
sebahu. Noah berdiri di sana, mengedipkan mata merahnya.
Entah sejak kapan mereka bertukar tempat.
Setidaknya, ketika pengadilan Witches sepihak itu
dimulai, Nyonya yang berdiri itu sudah menjadi Noah.
"Dasar Witches……!"
Ucap Sorcerers-sama muda dengan penuh kebencian, lalu
menjatuhkan tas yang disandangnya ke lantai.
Lalu ia mengayunkan kedua lengannya ke atas kepala. Padahal
seharusnya ia tidak memegang apa pun selain tasnya, tetapi ketika ia menurunkan
lengannya, sebuah pedang besar telah tergenggam di tangannya.
Tidak, bukan hanya itu. Dari ruang kosong, pedang-pedang
terus bermunculan satu per satu, menancap di lantai seolah mengelilingi Sorcerers-sama
muda tersebut. Jumlahnya lima, atau enam. Mungkin saja mendekati sepuluh bilah.
Kemudian, dari bahu Sorcerers-sama wanita satu lagi,
tiga ekor burung kecil terbang lepas. Tiba-tiba tubuh masing-masing membesar
seukuran anak anjing, dengan bulu yang tetap sama namun bentuk fisiknya
terdistorsi, berubah wujud menjadi burung monster bertanduk tajam dan
bertaring. Dua burung monster merentangkan sayapnya di atas kepala Sorcerers
wanita, sementara satu ekor lagi berada di dekat kakinya dalam posisi merangkak
layaknya hewan berkaki empat menggunakan sayapnya sebagai kaki depan, seraya
memamerkan taringnya.
Ini sihir── batinku sambil menahan napas.
Namun tidak seperti sebelumnya, ini bukanlah saatnya untuk
merasa takjub melihat mukjizat. Terdorong oleh para pelayan yang
berdesak-desakan menuju pintu, aku akhirnya terjatuh ke lantai.
Saat aku mendongak, Noah berdiri di sana.
Walaupun ia sedang dihadapkan pada niat membunuh dari dua
orang Sorcerers. Gadis itu berdiri dengan tenang, seakan sama sekali
tidak memahami situasi krisis yang mengancamnya.
Noah mengayunkan cermin tangannya. Seketika, kali ini cairan
menyerupai air raksa muncul dari permukaan cermin.
Cairan itu membumbung ke udara dan melukiskan lengkungan di
atas kepala Noah. Lengkungan perak itu mulai dipenuhi ukiran halus berupa
tanaman rambat dan dedaunan yang saling melilit. Benda bercahaya yang mengeras
itu adalah sebuah sabit. Sabit besar yang bentuknya persis seperti yang dipeluk
oleh dewa kematian.
Itu pun pasti merupakan sihir.
Aku telah diajarkan bahwa sihir para Witches yang
digunakan di jalan sesat itu adalah sesuatu yang hina dan buruk rupa.
Akan tetapi saat melihatnya langsung di depan mataku.
Pemandangan gadis bertubuh mungil yang berdiri memeluk sabit besar itu, meski
tidak pantas diucapkan…… sungguh seindah sebuah lukisan.
Tiba-tiba, pandanganku bertemu dengan mata Noah yang
menunduk menatapku.
Aku berpikir, aku akan dibunuh. Demi menyelamatkan diri
sendiri aku telah mengkhianati anak itu dan mengadukan rahasianya──keberadaan
anak-anak kucing yang dia sembunyikan, kepada Nyonya. Padahal aku juga ikut
memberi makan anak-anak kucing itu, tapi aku berpura-pura tidak tahu dan
melimpahkan semua kesalahan hanya kepada Noah.
Dadaku terasa sesak oleh rasa bersalah.
"……Maafkan aku."
Permintaan maaf meluncur begitu saja dari mulutku. Mendengar
itu, anak tersebut mengangkat bahunya dengan raut wajah salah tingkah. Persis
seperti saat dia ketahuan olehku sedang diam-diam memberikan roti kepada anak
kucing.
Ia menyipitkan mata merahnya, lalu menjulurkan lidahnya
sedikit. Ekspresi dan auranya benar-benar Noah yang sangat kukenal, tetapi
warna lidah itu memang benar-benar diwarnai oleh warna merah keunguan (Magenta)
yang tampak berbisa.
2
"──Sesuai kekhawatiran Nyonya, Noah adalah seorang Witches.
Anak itu── Magenta Witch itu datang ke rumah ini demi membunuh kami dan
merampas harta benda."
Nyonya Gilly yang berdiri di ujung meja panjang melipat
tangannya di depan tubuhnya yang montok.
Matanya menatap lurus ke arah lilin di atas meja.
Para pria yang duduk berjajar di kedua sisi meja
mendengarkan kesaksian wanita itu dalam diam.
"Pertarungan antara para Sorcerers-sama dan Witches
tersebut sangatlah mengerikan. Seluruh ruangan bersimbah darah…… lengan yang
terpotong bergelimpangan. Aku…… aku lemas ketakutan, bahkan tidak bisa
menggerakkan tubuhku sedikit pun sampai Witches itu pergi dari
ruangan──"
Pemandangan seperti apa yang sedang dikenang oleh mata
Nyonya Gilly yang memantulkan cahaya api itu, para pria di sana tidak bisa
membayangkannya. Namun, hal itu pastilah sesuatu yang sangat kejam.
"……Maaf. Mulai dari sini, aku tidak terlalu
ingat……"
Nyonya Gilly yang sedari tadi memberikan kesaksian dengan
tenang, menundukkan pandangannya dan bicaranya pun terputus.
Keheningan turun menyelimuti sebuah ruangan di Kastil
Campusfellow. Keheningan yang terasa berat.
Kesaksian telah selesai. Namun, tak satu pun dari sepuluh
pria yang saling berhadapan di meja panjang itu mencoba membuka mulut. Mereka
menutup rapat mulut mereka dengan ekspresi muram. Seolah-olah mereka telah
terkena aura jahat Witches melalui kesaksian Nyonya Gilly.
Lilin-lilin yang berjejer di atas meja menerangi wajah para
pria tersebut.
Mereka adalah para abdi dalem dan tokoh penting yang
memegang kendali politik Campusfellow. Perdana Menteri yang merupakan pemimpin
eksekutif, serta para menteri dari berbagai departemen yang mengurus diplomasi,
keuangan, dan lain-lain. Komandan dari ordo kesatria pelindung Campusfellow,
Ordo Kesatria Besi dan Api, juga turut hadir di kursi paling ujung.
Hanya saja, karena sifatnya yang merupakan rapat rahasia,
tidak ada panitera yang hadir untuk mencatat isi diskusi.
"Mulai dari sini, biarkan aku yang──"
Yang memecah keheningan dengan dehaman adalah Shimei,
seorang lelaki tua yang mengenakan jubah kebesaran. Ia bangkit dari tempat
duduknya, menyeret ujung jubahnya yang terlalu panjang, dan berdiri di samping
Nyonya Gilly.
Jubah berwarna ungu itu adalah lambang seorang birokrat dan
Meister. Meski tubuhnya kurus kering bak ranting mati, di dalam kepalanya yang
berambut putih dan mulai menipis itu, tersimpan berbagai pengetahuan,
pengalaman, serta solusi untuk memecahkan masalah sulit. Shimei jugalah yang
membawa Nyonya Gilly, seorang penyintas bencana Witches, dari negara
lain.
"Setelah membunuh tiga Sorcerers di ruangan
tersebut, Witches itu juga bertarung dengan dua biarawan yang berjaga di
luar rumah. Ia membunuh mereka semua, lalu meninggalkan kediaman itu. Dua orang
petugas keamanan kota yang terseret dalam pertempuran, serta Pastur dan enam
pelayan rumah, mengalami luka-luka."
Dari ujung meja panjang, Shimei menatap lurus ke bagian
dalam ruangan.
"Itulah rincian dari bencana Witches yang
disebut Mimpi di Siang Bolong Tremolo, yang terjadi tujuh tahun lalu di kota
perdagangan Tremolo. Bagaimana menurut Anda, Tuanku──"
Di sana, duduklah sang penguasa Campusfellow yang memimpin
kesepuluh pria tersebut.
"Apa kau masih berpikir bahwa Magenta Witch ini adalah
lawan yang bisa diajak bicara baik-baik?"
Sang Tuan Tanah, Bado Grace, sedang menopang dagu di
sandaran lengan kursinya.
Sambil mengelus janggutnya yang tidak dicukur, ia bergumam,
"Hmm." Usianya pertengahan tiga puluhan. Rambut panjangnya yang halus
berwarna seperti bulir padi, dengan leher tebal yang berurat. Tubuhnya kasar
dan liar, layaknya seorang kesatria yang ahli bertarung.
Meskipun ia sadar bahwa punggung kuda adalah tempat di mana
ia merasa paling nyaman, karena posisinya sebagai pewaris keluarga Grace, ia
harus rela duduk di kursi itu sebagai penguasa Campusfellow.
Di belakang Bado, tergantung lambang keluarga Grace yang bergambar
pedang dan landak berukuran besar.
"Pertama-tama, terima kasih atas cerita yang berharga
ini, Nyonya."
Bado menatap Nyonya Gilly dengan pandangan tajam, lalu
mengangkat jari telunjuknya.
"Hanya satu hal yang mengganjal pikiranku."
Para pria yang duduk di meja panjang serempak mengalihkan
pandangan mereka ke arah Bado.
"Kau yang menyaksikan seluruh kejadian pertarungan itu,
tidak terluka sedikit pun?"
"Iya…… Mungkin berkat perlindungan Naga, atau hanya
keberuntungan belaka."
Menjawab pertanyaan sang Tuan Tanah, Nyonya Gilly menyahut
dengan ketakutan.
"Begitu rupanya. Lalu satu hal lagi. Bagaimana dengan
anak-anak kucing itu?"
"Anak kucing……?"
"Keluarga anak kucing yang diam-diam diberi roti dan
susu oleh Witches itu. Bagaimana nasib mereka?"
"Eh…… itu. Karena mereka adalah hewan peliharaan iblis
milik sang Witches, orang-orang Sorcerers dari gereja menyuruh
untuk──"
"Jangan bilang mereka dibunuh?"
"……Tidak, karena aku mengira hal itu akan terjadi,
aku…… melepaskan mereka pada malam hari saat bencana Witches itu
terjadi……"
"Kerja bagus!"
"Tuan Grace!"
Meister Shimei menyela.
"Apa yang sedang Anda cemaskan? Kita sekarang sedang
membicarakan ancaman Witches yang mengerikan. Apakah Anda mendengarnya
dengan saksama? Tragedi yang dialami oleh nyonya ini."
"Aku mendengarnya. Hanya saja, alih-alih sebuah
tragedi, bagiku ini lebih terasa seperti kisah balas dendam yang
melegakan."
"Melegakan……? Apanya dari cerita tadi yang──"
"Nyonya ini, masih hidup."
Bado menunjuk ke arah Nyonya Gilly.
"Dia masih hidup meskipun telah mengkhianati dan
mengadukan Witches itu. Padahal dia tertinggal karena lemas ketakutan.
Beberapa pelayan lain yang terseret dalam pertempuran terluka, tapi dia tidak
terluka sedikit pun. Malah ada kemungkinan dia dilindungi oleh sang Witches."
Bado tersenyum ke arah Nyonya Gilly seraya berkata,
"Benar, kan?"
"Artinya, Witches itu telah memaafkannya."
Setelah berkata demikian, ia melanjutkan kata-katanya kepada
wanita berpostur montok tersebut.
"Meskipun kau menceritakannya sambil menangis, bagi
dirimu yang dulu selalu direndahkan dengan panggilan Piggy, bukankah ini adalah
cerita yang melegakan?"
"……Bukan begitu."
"Sebenarnya kau pasti merasa tertarik. Bukan kepada Sorcerers,
melainkan kepada Witches. Karena itulah kau melepaskan anak-anak kucing
yang mungkin saja adalah hewan iblis peliharaan itu. Jauh di lubuk hatimu, kau
merasa bahwa Witches itu bisa diajak bicara, bukan?"
"Itu……"
Nyonya Gilly menunduk dan terdiam. Ia adalah seorang
penganut agama Lucy (Lucian) yang taat dan memuja Naga. Mana mungkin ia bisa
mengatakan bahwa dirinya merasa tertarik pada Witches yang dicap sebagai
kejahatan oleh gereja.
"……Cukup sampai di sini."
Shimei mempersilakan Nyonya Gilly untuk keluar. Wanita itu
membungkuk dalam-dalam, lalu berjalan menuju pintu. Shimei menemaninya dan
menyerahkan nyonya tersebut kepada prajurit di balik pintu.
Setelah pintu tertutup sepenuhnya, Bado menyandarkan
punggungnya dalam-dalam ke kursi.
"Seorang gadis yang masuk ke rumah sebagai budak,
kemudian membunuh keluarganya dan merampas harta benda mereka, Magenta Witch,
ya…… Kalau saat itu dia baru saja melewati usia dua belas tahun, berarti
usianya sekarang sekitar sembilan belas tahun."
"Setelah tujuh tahun berlalu, saat ini ia disebut
sebagai Mirror Witch."
Yang merespons adalah pria yang duduk di serong kiri Bado,
Brasserie. Ia mengenakan seragam dengan bahu lancip yang dihiasi benang emas
dan perak. Itu adalah seragam hitam yang dikenakan oleh Perdana Menteri
Campusfellow dari generasi ke generasi. Ia adalah seorang pria tegas dengan
kumis yang tajam.
"Kelihatannya memang mirip dengan rincian insiden
Pernikahan Berdarah. ……Menyusup masuk sebagai pelayan, lalu membunuh
orang-orang yang tinggal di sana. Modus operandi Witches ini sepertinya
tidak berubah sejak tujuh tahun yang lalu."
Insiden Pernikahan Berdarah yang disinggung oleh Perdana
Menteri Brasserie adalah bencana Witches yang terjadi di Kerajaan Lowe,
yang berjarak sekitar dua setengah hari perjalanan dengan kuda cepat dari
Campusfellow.
Kejadian itu berawal dari kisah Raja Singa dari Kerajaan
Lowe yang jatuh hati pada seorang pelayan yang bekerja di kastil.
Pernikahan antara Raja Singa dan pelayan tersebut
dilangsungkan di kapel dalam kastil. Namun di tengah acara, identitas asli
pelayan itu sebagai Witches terbongkar. Lebih dari lima puluh orang,
termasuk anggota keluarga kerajaan, menteri-menteri senior, dan para kesatria
yang menghadiri upacara tersebut, dibantai oleh sang Witches.
Kejadian itu baru berlalu sembilan hari yang lalu.
"Kukuk…… Hebat juga nyalinya."
Bado tertawa sambil menopang dagu di sandaran lengannya.
"Witches yang biasanya menargetkan rumah orang
kaya dan mengamuk, akhirnya mengarahkan sasarannya ke sebuah kastil
kerajaan."
Di kapel yang dipenuhi dengan mayat-mayat yang
terpotong-potong, Witches yang gaunnya ternoda darah merah cerah itu
dikabarkan berdiri sambil memeluk sabit besar berwarna perak. Dengan kata lain,
itulah kondisi saat ini dari Magenta Witch yang diceritakan oleh Nyonya Gilly.
"Apanya yang hebat. Ini bukan bahan lelucon."
Meister Shimei yang telah kembali ke tempat duduknya menegur
dengan wajah cemberut.
Perdana Menteri Brasserie melipat tangannya dan melirik
Bado.
"Bado-sama, apakah Anda sudah mendengar kondisi kapel
tersebut? Mayat-mayat tanpa kepala maupun anggota tubuh berserakan dan
menciptakan genangan darah di mana-mana…… Tempat perayaan itu berubah menjadi
gambaran neraka."
"Kudengar di antaranya ada juga mayat yang hangus
terbakar……"
Pria paruh baya berkepala plontos yang duduk di serong kanan
Bado, Edelweiss, menimpali.
"Ini bukan perbuatan manusia. Membayangkannya saja
membuat bulu kudukku berdiri."
Edelweiss mengusap lengannya sendiri, seolah memeluk tubuhnya.
Pria dengan tubuh rata-rata ini mengenakan jubah abu-abu besar. Lencana bulu
yang terpasang di dadanya adalah lambang bahwa ia menjabat sebagai Menteri Luar
Negeri.
"Tapi, kenapa Witches itu mengincar Lowe?"
Bado mengelus janggutnya, seolah bergumam.
Edelweiss menggelengkan kepalanya sambil masih memasang
wajah berkerut.
"Karena Kerajaan Lowe berada di luar wilayah penganut
agama Lucy, di sana tidak ada para Sorcerers yang menjadi musuh alami Witches.
Bagi Witches, lingkungan itu pasti memudahkan pergerakannya. ……Dan hal
yang sama juga berlaku untuk Campusfellow ini. Karena tempat ini juga berada di
luar wilayah agama Lucy, tidak ada Sorcerers yang bisa menahan kekuatan Witches.
Saya menentangnya, Bado-sama."
Edelweiss memperbaiki posisi duduknya dan menatap Bado
dengan penuh ketegasan.
"Menjadikan Witches sebagai sekutu adalah
tindakan yang gegabah. Makhluk itu adalah bencana. Bencana yang membawa
kemalangan bagi manusia, tahu? Betapa berbahayanya Witches bisa dipahami
bahkan oleh kita yang bukan penganut agama Lucy, hanya dari mendengarkan cerita
tadi. Jika kita mengundang bencana masuk ke negara ini, skenario terburuknya,
Campusfellow bisa hancur!"
"Ya, tentu saja akan hancur."
Bado mengangguk, menerima protes Edelweiss yang seolah
hampir menangis itu.
"Bagaimanapun juga, jika keadaan ini terus berlanjut,
Campusfellow akan dihancurkan oleh Kerajaan Amelia."
"……Ugh."
Menghadapi fakta yang tak terhindarkan itu, Edelweiss
menelan ludah.
Kerajaan Amelia yang dipimpin oleh Ratu Amelia, terus
memperluas wilayahnya dengan kekuatan militer yang luar biasa. Api peperangan
mereka telah mendekat hingga ke depan mata Campusfellow.
Tentara Amelia mulai menguasai Sungai Berdarah (Bloody
River), jalur perdagangan utama Campusfellow, sekitar tiga bulan yang lalu.
Sebelumnya, sungai yang dilalui kapal dari berbagai negara ini tidak pernah dikenakan
tarif. Namun, Amelia menempatkan banyak tentara dan membangun pintu air di
sana. Mereka mulai membebankan pajak yang sangat tinggi secara sepihak kepada
negara-negara yang menggunakan sungai tersebut.
Khususnya dalam hal ekspor-impor persenjataan, mereka
menuntut pajak yang sangat tidak masuk akal.
Tentu saja Campusfellow telah melayangkan protes, tetapi
syarat pengurangan pajak dari Amelia adalah Campusfellow harus menerima anggota
kerajaan yang memiliki gelar bangsawan lebih tinggi dari keluarga Grace. Dengan
kata lain, mereka menyuruh keluarga Grace untuk menyerahkan wilayah kekuasaan
mereka. Itu adalah syarat yang tidak mungkin bisa diterima.
"Bagaimana kondisi ekonomi kita? Buku besar pasti merah
semua."
Saat Bado bertanya, Menteri Keuangan menggelengkan kepalanya
dengan lesu.
"Dengan kondisi sekarang di mana kita dipajak setiap
kali memberangkatkan kapal, semakin kita melanjutkan perdagangan, semakin
miskin pula kita. Kalau begini terus, Campusfellow akan bangkrut dalam waktu
sekitar setengah tahun."
Bagi Campusfellow yang menampung banyak pandai besi dan
menjadikan pembuatan senjata serta zirah sebagai industri utama, ekspor
persenjataan adalah sumber pendapatan yang sangat besar. Jika hal itu ditutup,
kelemahan negara sudah bisa dipastikan akan terjadi.
Saat ini, kondisi Campusfellow ibarat leher yang sedang
dicekik perlahan dengan benang sutra.
"Kau juga sangat merasakannya, kan, Edelweiss?
Peperangan ini sudah dimulai."
"…………"
Kondisi di mana negara ini sedikit demi sedikit didesak oleh
Kerajaan Amelia yang besar, sangat dipahami oleh Edelweiss selaku Menteri Luar
Negeri.
Campusfellow sama sekali bukan negara yang kaya. Bahkan
Kastil Campusfellow tempat sang Tuan Tanah tinggal pun sudah tua dan banyak
celah yang membuat angin masuk. Pakaian kulit yang dikenakan Bado juga terlalu
sederhana untuk ukuran seorang Tuan Tanah, tak jauh beda dengan pakaian para
pedagang keliling.
Jika Tuan Tanahnya saja seperti itu, rakyat jelatanya tentu
lebih miskin lagi. Namun meski begitu, masyarakat Campusfellow menjalani hidup
dengan sepenuh hati setiap harinya. Mereka bekerja keras di pertanian, pandai
besi, dan perdagangan untuk mencari nafkah, dan hidup dengan damai.
Penindasan dari negara besar Amelia yang tiba-tiba menimpa
mereka sangatlah berat.
Bado yakin akan satu hal.
"Amelia pasti akan menyerang tempat ini. Penindasan ini
hanyalah batu loncatan. Jika kita menyuarakan bahwa tindakan mereka itu
sewenang-wenang, mereka akan menggunakan hal itu sebagai dalih untuk
mengirimkan pasukan. Karena itulah, kita bekerja sama dengan Negara Utara
(Northland)."
Bado dan warga Campusfellow juga tidak hanya diam melihat
agresi Amelia. Ada cara untuk melawan. Yaitu, dengan bersekutu bersama negara
yang bermusuhan dengan Amelia.
Negara Utara juga merupakan mitra dagang Campusfellow.
Perjanjian rahasia telah disepakati.
"Walaupun orang-orang Varcia terkenal barbar, pria-pria
Utara itu sangat tangguh. Jika kita bisa menjadikan mereka sekutu, tidak ada
yang lebih bisa diandalkan daripada mereka. Tapi meskipun begitu──"
Bado menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Meskipun begitu, kita tetap tidak akan bisa menang
melawan Amelia."
Ya, tidak akan bisa menang. Sudah pasti. Bahkan dengan
senjata terkuat buatan Campusfellow dan pasukan terkuat yang terdiri dari
pria-pria Varcia yang tangguh, mereka tidak akan bisa menang melawan Amelia.
"Kenapa begitu, Brasserie?"
Bado menyilangkan kakinya dan membuka tangannya ke arah
Brasserie yang duduk di serong kiri.
"……Karena Kerajaan Amelia memiliki Sorcerers,
bukan?"
"Benar. Masalahnya ada pada para Sorcerers.
Sihir yang mereka gunakan."
Kerajaan Amelia juga merupakan negara agama. Agama yang ditetapkan
sebagai agama negara oleh Amelia──Agama Lucy yang memuja Naga. Hanya penganut
agama inilah yang bisa menjadi Sorcerers. Jumlah mereka sekitar tiga
hingga empat ratus orang. Jika dihitung sebagai tentara satu negara, jumlahnya
memang sedikit, tetapi kekuatan mereka sudah cukup menjadi ancaman besar.
Mereka yang menggunakan mukjizat yang disebut sihir itu
kabarnya mampu menyembuhkan prajurit yang terluka, menembakkan bola api tanpa catapult,
dan bahkan ada yang bisa terbang di udara. Kerajaan Amelia memonopoli para Sorcerers
ini. Itulah sebabnya, negara tersebut dijuluki Amelia, Negara Naga dan Sihir.
"Untuk bertarung melawan mereka, apa yang kita
butuhkan? Kita punya senjata kebanggaan. Kita juga punya prajurit terkuat. Kita
punya kemarahan dan tekad untuk melawan ketidakadilan. Lalu apa yang
kurang──"
Kali ini, Bado merentangkan tangannya ke arah Edelweiss yang
duduk di serong kanannya.
"Kau mengerti, kan, Edelweiss."
"……Sihir, maksud Anda?"
"Tepat sekali. Yang kita butuhkan adalah mereka yang
bisa menggunakan sihir selain para Sorcerers."
Mendekati inti pembicaraan, Bado menegakkan tubuhnya.
"Sihir itu kabarnya bersumber dari kekuatan misterius
di alam yang disebut mana. Orang-orang Sorcerers berlatih di biara, dan
mempelajari cara untuk mengendalikannya──yakni memperoleh sihir. Tetapi di
dunia ini, ada para jenius yang bisa menggunakan sihir secara alami tanpa
melewati pelatihan maupun ajaran──"
Sambil berkata demikian, Bado tersenyum menyeringai.
"Tentu saja, bagi agama Lucy yang ingin memosisikan sihir
sebagai mukjizat yang diajarkan secara eksklusif oleh mereka, hal ini tidak
menyenangkan. Mereka mengajarkan kepada orang-orang bahwa mereka yang
menggunakan sihir tanpa pembaptisan adalah bencana yang harus dijauhi, lalu
menyebut mereka sebagai Witches dan menganiaya mereka. Merekalah yang
kita butuhkan."
"……Anda sudah gila……"
Seseorang menggumam pelan.
Hal itu memicu para pria yang duduk di meja untuk mulai
bertukar pendapat satu sama lain dengan riuh.
"Apakah Anda menyuruh kami memilih antara dihancurkan
oleh Sorcerers atau dihancurkan oleh Witches?"
"Selama tidak ada jaminan bahwa kita bisa mengendalikan
Witches, kita hanya akan membahayakan nyawa rakyat."
"Apakah kita sudah tidak bisa berharap pada negosiasi
dengan Amelia? Tidak perlu sampai melakukan serangan balasan."
Ruangan kembali memanas oleh berbagai perdebatan.
Namun, dari semua pendapat yang ada, tak satu pun yang
menyetujui rencana Bado untuk menjadikan Witches sebagai sekutu.
"Bagaimana kalau kita menjadi negara bawahan Amelia
saja? Itu bukan pilihan yang buruk sebagai jalan koeksistensi."
"Bodoh. Apa kau tidak tahu ada negara-negara yang
hancur karena dieksploitasi oleh Amelia? Sekali saja kita menundukkan kepala,
kau tahu seberapa arogan tuntutan yang akan mereka ajukan?"
"Amelia adalah negara perang. Berapa banyak pun
senjata, tak akan pernah cukup bagi mereka. Jika kita menjadi negara bawahan
mereka, mereka pasti akan menyuruh kita menyerahkan seluruh pedang dan perisai
yang kita miliki."
"Tetapi, menjadikan bencana seperti Witches
sebagai sekutu, saya belum pernah mendengar strategi semacam itu."
"Kita harus lebih berhati-hati dalam hal ini. Ini
adalah situasi krusial yang menentukan keberlangsungan negara, Anda harus
lebih──"
BAM──!
Suara pukulan keras yang menggelegar bak gempa bumi bergema
di ruangan, membuat mereka yang tengah berdebat langsung menciut.
"Semuanya, diamlah! Bado-sama sedang berbicara."
Di ujung meja panjang, seorang pria bertubuh besar
menggelegarkan suaranya. Dadanya bidang dan terlatih, dengan leher yang tebal.
Rahangnya persegi, dan mulutnya tertutup rapat. Pria ini, yang bahkan tidak
melepaskan tombak kesayangannya saat duduk di dalam ruangan, usianya masih awal
dua puluhan. Di antara semua orang di ruangan, dia adalah yang termuda, namun
auranya cukup untuk membungkam para pendebat.
Komandan Kesatria Heartland. Di lengan atas dan punggungnya
yang kekar, terjahit lencana bertuliskan Landak Berapi (Fire Hedgehog). Lambang
yang sangat mirip dengan lambang keluarga Grace itu merupakan lambang Ordo
Kesatria Besi dan Api.
"Terima kasih, Heartland. Tapi,"
Di ruangan yang kini sunyi senyap, Bado kembali membuka
mulutnya.
"Sudah kubilang jangan melakukan suara BAM itu
lagi, kan. Lantainya jadi bolong, tahu, cuma di tempat dudukmu saja."
Bado menunjuk ke arah lantai di kaki Heartland.
Karena Heartland yang selalu duduk di ujung meja selalu
menghentakkan ujung tombaknya setiap kali perdebatan memanas, lantai batu di
bawah kakinya pun terkikis. "Siap!" Heartland memberikan jawaban yang
lantang, tetapi hal ini selalu terjadi. Dia pasti akan melakukannya lagi.
"Nah," ucap Bado, mencoba mengendalikan suasana
kembali, lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Kekhawatiran kalian memang beralasan. Shimei membawa
Nyonya Gilly ke mari pasti untuk menunjukkan betapa menakutkannya Witches,
tetapi sebaliknya, setelah mendengar ceritanya aku malah semakin yakin. Witches
adalah lawan yang bisa diajak bicara baik-baik."
Bado meninggalkan tempat duduknya dan mulai berjalan di
belakang para pria yang duduk.
"Demi melindungi negara ini dari agresi Amelia, aku menginginkan
Witches. Witches yang tersebar di seluruh benua."
Sosok Bado yang berjalan mengelilingi meja diikuti oleh
pandangan para pria yang duduk.
"Orang-orang agama Lucy yang ingin menjadikan Witches
sebagai penjahat, pastinya akan menyebarkan cerita dengan melebih-lebihkannya.
Bahwa Witches adalah entitas yang sangat mengerikan. Berbahaya, bencana
yang tidak boleh didekati, dan semacamnya──"
Kukuku── sambil berjalan, Bado tertawa riang.
"Bagus, biarkan saja mereka disebut bencana. Tidak
masalah jika mereka dianggap malapetaka. Kisah-kisah tentang Witches
itu, semakin kejam semakin bagus. Bukankah itu bukti betapa para penganut agama
Lucy──para Sorcerers, sangat menakuti Witches itu? Ayo beri tahu
aku. ──Kisah Witches seperti apa yang kalian ketahui?"
Ditepuk pundaknya, seorang birokrat dengan ragu menjawab,
"Eh, kalau tidak salah……"
"Di desa miskin Eidlhorn saat terjadi kelaparan,
seorang Witches yang kelaparan mengubah manusia dan ternak menjadi kue
dengan sihirnya lalu……"
"Lalu memakannya. Candy Witch, kan. Bagus."
Bado kemudian menunjuk birokrat lain yang duduk di seberang
meja.
"Kalau kau, bagaimana? Coba ceritakan, seperti apa Witches
yang kau ketahui?"
"Saya──mari kita lihat…… Saya pernah mendengar bahwa di
dasar laut Republik Inatera, tinggal Sea Witch yang bisa mengabulkan permintaan
apa pun. Tetapi, sebagai gantinya, ia akan meminta hal yang paling berharga
bagi orang tersebut……"
"Kalau tentang Negeri Oz," birokrat lain
mengangkat tangannya sedikit.
"Yang terkenal adalah West Witch pembunuh saudara, yang
membunuh saudarinya sendiri yang sesama Witches……"
"Benar juga," sahut Bado menimpali sambil memutari
meja.
"Bicara soal yang terkenal, di Negara Utara ada Kastil
Beku yang tidak bisa dihuni manusia, kan? Kalau tidak salah itu ulah Witches
yang mana……?"
Ditepuk pundaknya dengan pelan oleh Bado, Meister Shimei
menghela napas.
"……Snow Witch, Tuanku. Jika Anda menyebutkan Witches
yang menghancurkan satu kastil, ada juga Thorn Witch. Kalau yang ini entah di
hutan mana kisahnya diturunkan……"
"Kalau yang dihancurkan hanya kastil, itu masih
mendingan."
Sela Perdana Menteri Brasserie.
"Kudengar kota malam Rondcliff dihancurkan oleh
sekelompok pasukan terbang yang muncul dari seberang benua. Sang kaisar wanita
yang memimpin pasukan berpenampilan aneh itu, kabarnya menyebut dirinya sendiri
sebagai Moon Witch."
"Ada banyak, kan, cerita-cerita itu."
Setelah mengelilingi meja panjang, Bado kembali duduk di
kursinya.
"Dan di Negara Kesatria Lowe, Mirror Witch
tengah ditawan──"
Menerima semua pandangan dari para pria yang duduk di meja,
Bado tersenyum penuh percaya diri.
"Pertama-tama, kita jadikan dia sebagai sekutu."
"Tetapi Mirror Witch itu sedang ditangkap
sebagai tahanan, lho? Apakah Lowe akan semudah itu menyerahkan wanita yang
membunuh Raja Singa?"
Shimei mengangkat salah satu alisnya. Bado menggelengkan
kepala.
"Jangan khawatir, aku sudah mengaturnya.
Edelweiss."
Menerima isyarat dari Bado, Edelweiss meletakkan sebuah
surat yang tersegel di atas meja.
Segel dengan lambang keluarga Lowe, yakni lambang singa,
sudah terbuka.
"Balasan dari surat yang kukirim ke Lowe tempo hari
baru saja tiba pagi ini. Adik kandung Raja Singa yang terbunuh, Omura Lowe,
telah menyetujui transaksi jual-beli Witches yang ditangkap itu. Namun
dengan satu syarat, aku harus datang langsung ke Lowe untuk mengambilnya."
"Dia bermaksud memanggil Bado Grace, penguasa dari satu
negara dan satu kastil, hanya dengan selembar surat tanpa mengirimkan
utusan?" Shimei berdiri dengan emosi. "Kurang ajar! Lowe dari dulu
memang arogan."
"Yah, jangan terlalu marah, Shimei."
Bado menunjukkan telapak tangannya untuk menenangkan Shimei.
"Karena Raja Singa sudah meninggal, Lowe sekarang
sedang diguncang soal siapa yang akan duduk di takhta berikutnya. Sebagai pihak
yang memiliki hak waris, Omura pastinya ingin menunjukkan otoritas dan luasnya
relasi pertemanannya dengan memanggil Tuan Tanah dari negara lain."
"Apakah dia bisa dipercaya?" tanya Brasserie.
"Lowe itu negara yang pernah bermusuhan dengan kita,
lho."
"Itu cerita lebih dari lima puluh tahun yang lalu. Tapi
untuk berjaga-jaga, kita bawa cukup banyak kesatria."
Bado mengalihkan pandangannya ke ujung meja.
"Heartland, tolong siapkan kesatria-kesatria yang
tangguh, ya, sekitar…… tiga puluh orang. Lawan kita adalah negara yang
menampung banyak kesatria. Kita juga tidak boleh kalah, ayo lakukan dengan
meriah."
"Siap! Segera setelah pembasmian Direwolf selesai, kami
akan langsung berangkat."
Suara Heartland menggema di ruangan.
"Oh, benar juga. Direwolf, ya……"
Direwolf, sejenis serigala raksasa sebesar beruang yang
hidup berkelompok, baru muncul di distrik barat Campusfellow kemarin. Tiga ekor
Direwolf yang melompati pagar dan masuk ke lahan pertanian telah membantai
banyak petani.
Ada kemungkinan kawanan itu masih bersembunyi di hutan dekat
permukiman. Para penduduk gemetar ketakutan oleh ancaman Direwolf. Ordo
Kesatria Besi dan Api saat ini sedang membentuk formasi untuk melakukan
pembasmian Direwolf tersebut.
"Kapan pasukan pembasmi akan berangkat?"
"Siap! Persiapan sudah selesai. Segera setelah hujan
dari semalam reda, kami berencana untuk masuk ke hutan."
"Begitu. ……Berarti ekspedisi ke Lowe dilakukan setelah
pembasmian selesai, ya. Ya ampun, masalahnya benar-benar menumpuk."
Menyandarkan punggung ke kursi, Bado menatap langit-langit.
Namun tak lama kemudian, ia menegakkan tubuhnya seolah
mengingat sesuatu.
"Bagaimana dengan Anjing Hitam? Apa dia juga ikut dalam
pembasmian?"
Anjing Hitam──. Mendengar nama itu, Heartland terang-terangan
memasang wajah muak.
"Tentu saja tidak. Dia bukan anggota ordo kesatria. Dia
tidak mau memakai zirah, bahkan menolak membawa pedang. Pria lemah seperti itu
sama sekali tidak bisa disebut seorang kesatria."
"Ya ampun…… Hubungan kalian memang benar-benar buruk,
ya."
"Saya menyuruhnya berjaga di depan hutan. Sebenarnya
saya bahkan enggan memberinya tugas itu. Jujur saja, dia tidak bisa dipercaya.
Pekerjaan tidak jelas semacam pembunuh bayaran (Assassin) itu──"
3
Kaa kaa, kaa kaa──.
Di langit setelah hujan, sekawanan burung gagak terbang
berputar.
Karena langit tertutup awan tebal, keadaan sekitar terlihat
redup.
Burung gagak dalam jumlah yang tak terhitung hinggap di
dahan-dahan pohon, mengeluarkan suara parau yang memekakkan telinga. Di ujung
pandangan kawanan gagak itu, berdirilah sebuah orang-orangan sawah.
Orang-orangan sawah sederhana, hanya berupa kepala besar yang ditancapkan di
ujung tiang kayu ke tanah. Namun, ukurannya sangat besar sampai-sampai harus
didongak.
Di atas kepala raksasa itu, seorang pria duduk sambil
memeluk satu lututnya.
Rambut hitamnya ikal di bagian ujung, dengan pelindung
tangan berwarna hitam. Meskipun ia adalah seorang pemuda di akhir usia belasan
tahun, wajahnya terlihat kekanak-kanakan, dengan siluet tubuh mungil yang bisa
disalahartikan sebagai wanita. Mata hijaunya yang gelap terus menatap
lekat-lekat ke arah hutan yang terhampar di depannya. Karena mungkin bosan, ia
mengguling-gulingkan cakar serigala yang melengkung di tangannya.
Tidak ada orang lain di sekitarnya. Daerah ini sangat dekat
dengan lahan pertanian tempat Direwolf muncul kemarin. Para penduduk telah
dievakuasi karena takut Direwolf akan kembali lagi.
Pria itu sendirian, terus menatap hutan lebat di depannya.
Tahun ini sering sekali turun hujan. Entah karena hal itu
mengurangi hasil panen musim gugur, menurut cerita pengembara yang mengunjungi
Campusfellow, hewan-hewan liar yang kelaparan mulai turun dari gunung.
Mungkin alasan tiga ekor Direwolf, yang biasanya berhabitat
jauh di kedalaman hutan dan tidak pernah keluar dari wilayah kekuasaannya,
memasuki wilayah Campusfellow juga untuk mencari makanan.
Sebelas petani yang sedang memanen di lahan tewas dibantai,
delapan prajurit gerbang yang bergegas datang setelah mendengar keributan
terbunuh, dan mungkin karena memilih daging yang empuk, lima orang yang terdiri
dari wanita dan anak-anak diculik.
Lokasi kejadian berada dalam kondisi yang sangat
mengenaskan. Mayat-mayat yang terkoyak, serta keluarga yang ditinggalkan
menangis meratap. Pria itu kembali mengingat pemandangan yang disaksikannya
kemarin di tengah hujan.
"…………"
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, pria itu pun menoleh
ke arah lahan pertanian.
"Gyaaah……! Becek, becek! Sepatuku jadi kotor semua,
menyebalkan!"
Sambil mengangkat ujung pakaian pelayannya, dengan cipratan
lumpur di mana-mana, seorang gadis bertubuh mungil datang menghampiri.
Cappuccino, yang mengerutkan alisnya dengan raut wajah tidak senang, adalah
pelayan yang mengabdi di keluarga Grace.
Matanya yang agak naik di sudut memberinya kesan sombong,
ditambah rambut hitam yang dipotong rata sebahu. Mungkin karena tubuh mungil
dan rampingnya, ia terlihat lebih muda dari usianya yang lima belas tahun. Di
pipinya terdapat bintik-bintik freckles.
"Uweek…… Apaan, tuh……?"
Cappuccino mendongak menatap orang-orangan sawah yang besar
itu, dan raut wajahnya yang sudah tidak ramah semakin berkerut.
"Jangan bilang, itu dari Direwolf kemarin……?"
Pria yang duduk di atas kepala orang-orangan sawah itu
mengintip dari balik celah rambut hitam ikalnya, menatap tajam gadis di bawah.
"Ambil ini."
Ia melempar cakar serigala yang sedari tadi digulingkannya
di tangan tanpa basa-basi.
"Wa, wa."
Cappuccino menangkapnya dengan tergesa-gesa.
"Ueeh, masih ada darahnya, menjijikkan."
"Cakar Direwolf bisa jadi jimat. Bisa dijual mahal,
lho."
"Eh, sungguh?"
Mata Cappuccino langsung berbinar-binar, tetapi ia segera
menyipitkan matanya dengan curiga.
"Tadi saya dengar dari orang ordo kesatria, lho? Anda
meninggalkan tugas jaga dan masuk ke hutan sendirian. Anda pergi membasmi
Direwolf, ya."
"Lagi pula, aku tidak perlu mengikuti perintah mereka.
Aku bukan anggota ordo kesatria."
"Biar begitu, kan berbahaya. Kalau mau pergi, harusnya
pergi bersama para kesatria yang lain, dong."
"Nggak mau. Kenapa aku harus menunggu orang-orang yang
cuma jadi beban itu."
"Walah, jahat sekali bicaranya. Makanya Anda dibenci,
tahu."
"Tidak apa-apa. Dibenci juga merupakan pekerjaan
Assassin."
"Pekerjaan yang aneh, ya!"
Cappuccino menjepit cakar yang diterimanya di sela-sela jarinya,
lalu mengayunkannya dengan suara shush, shush.
"Sampai mencabut cakarnya begini…… Memangnya tidak
apa-apa melakukan hal seperti ini? Bagaimana kalau bos kawanannya membawa
teman-temannya kemari untuk balas dendam."
"Direwolf itu pintar. Mereka tahu apa akibatnya jika
melompati pagar dan menginjakkan kaki di tanah Campusfellow. Tahu balasan apa
yang akan diterima jika memangsa penduduk. Mereka tahu diri dan sadar akan
batasan mereka. Mereka tidak sebodoh itu untuk melawan orang yang telah
mengalahkan bos mereka."
"……Eh? Jadi maksudnya, yang ini adalah…… bos
kawanannya……?"
"Cap. Bukannya kau datang ke sini karena ada
perlu?"
"Ah, benar juga. Pesan dari Bado-sama untuk Roro-san.
Katanya, Segera datang ke kastil."
"Segera? Katakan sejak awal, kek."
Pria yang melompat dari atas kepala orang-orangan sawah
itu──Roro, mendarat di tanah tanpa suara sedikit pun.
"Aku akan membiarkan benda ini berdiri di sini untuk
sementara waktu, tolong sampaikan pada para kesatria supaya jangan
menyentuhnya."
Begitu Roro menjauh dari orang-orangan sawah, burung gagak
yang bertengger di pepohonan langsung berbondong-bondong menyerbu kepalanya.
Kaa kaa, kaa kaa, kaa kaa──!
"Nggak mau ah. Bilang saja sendiri……"
Cappuccino mendongak menatap kepala yang dipatuk gagak-gagak
itu, lalu menggigil sesaat. Memang, jika sesuatu seperti milik bos kawanan
dipajang begini, keberanian para Direwolf pasti akan hancur, namun──.
"Benar-benar…… orang-orangan sawah dengan selera yang
buruk."
Apa yang dilihat oleh bos Direwolf yang menjadi penguasa
hutan di saat-saat terakhir kematiannya.
Wajah kematiannya dengan lidah yang menjulur keluar itu,
tampak seolah-olah terdistorsi oleh ketakutan yang amat sangat.