Chapter 1: Anjing Hitam
1
Begitu lahir ke dunia, aku diberikan seekor anjing. Seekor
anak anjing yang diberi nama sama dengan namaku, “Roro”. Di Keluarga Dubell,
sudah menjadi adat untuk membiarkan anak yang baru lahir membesarkan seekor
anjing. Anjing tersebut harus memiliki usia yang sama dan nama yang sama dengan
sang anak.
Anjing yang diberikan kepada Roro memiliki telinga yang
terkulai. Kepala dan punggungnya berwarna cokelat tua, sedangkan bagian tubuh
lainnya berwarna putih. Matanya selalu tampak basah, dan Roro sangat menyukai tatapan
matanya yang lembut dan penuh kecerdasan.
Roro kecil dan Roro si anjing selalu bersama ke mana pun
mereka pergi. Roro si anjing yang dulunya bulat dan menggemaskan, dengan cepat
tumbuh besar dan mulai melindungi Roro kecil.
Bagi Roro yang kehilangan ibunya tepat saat ia lahir, Roro
si anjing adalah satu-satunya keluarga tempat ia bisa bermanja-manja. Saat
tidur dengan menjadikan perut anjing itu sebagai bantal adalah waktu yang
paling membahagiakan bagi Roro kecil. Perut itu terasa hangat dan lembut. Pada
hari-hari saat mereka bermain di bawah terik matahari, perut itu akan
mengeluarkan aroma yang sangat harum.
Ketika Roro berusia lima tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia
hampir tidak memiliki ingatan menghabiskan waktu bersama ayahnya yang
sakit-sakitan. Bagi Roro yang dibesarkan di rumah kakeknya, sosok sang ayah
hanya dianggap sebatas tetangga yang sesekali bertemu. Roro tidak menyukai
orang itu karena dia pendiam, berhati kecil, dan selalu menatapnya seolah
sedang melotot.
Oleh karena itu, ia tidak merasa sedih meski mendengar
ayahnya telah tiada. Namun, melihat begitu banyak pelayat yang menangis
mengenang ayahnya, entah mengapa dadanya terasa sesak, dan Roro sendiri merasa
bingung saat air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipinya.
Orang yang sudah mati tidak akan bisa ditemui lagi. Tidak
bisa disentuh, dan tidak bisa diajak bicara. Meskipun ayah bukan orang yang ia
sukai, ia merasakan kehilangan seolah-olah sebagian dari kehidupannya telah
lenyap. Kalau dipikir-pikir, bagi Roro, mungkin itulah pertama kalinya ia
merasakan kematian secara langsung.
Kala itu, sosok yang menjilati pipinya dan menghiburnya juga
adalah Roro si anjing. Roro pun memeluk Roro erat-ratit. Makhluk hidup tidak
bisa luput dari kematian. Sebagai contoh, dengan anjing yang sangat ia cintai
ini pun, suatu hari nanti mereka pasti harus berpisah. Baru membayangkan
kematian Roro saja, air matanya sudah mengalir tanpa henti.
Di sisi Roro, selalu ada Roro. Tempat dan waktu makan mereka
pun sama. Saat Roro kecil tidur di ranjang, Roro si anjing akan meringkuk di
tempat tidurnya di dalam kamar yang sama. Baik saat mandi maupun saat pergi ke
toilet, anjing itu akan setia menunggu di luar.
Begitu pula saat mengejar kelinci liar di hutan. Saat
mempraktikkan cara menggunakan berbagai senjata. Bahkan ketika menerima
pelajaran teori tentang sejarah, medis, dan teknik pembunuhan, Roro si anjing
akan berada di samping Roro, meletakkan dagunya di atas kaki depan lalu
tertidur.
Meski tidak memiliki orang tua, Roro tidak pernah merasa
kesepian sekalipun. Itu semua pasti karena Roro si anjing selalu berada di
sisinya setiap saat. Satu orang dan satu ekor ini adalah saudara, sahabat, dan
karena memiliki nama yang sama, mereka adalah diri mereka sendiri.
Ulang tahun yang kesepuluh. Demi menjadi seorang pembunuh
bayaran yang mandiri, Roro diberikan misi pertamanya. Dengan menyelesaikan misi
ini tanpa hambatan, anak-anak dari Keluarga Dubell akan meninggalkan sarang
sebagai seorang pembunuh bayaran yang hebat. Bisa dikatakan, ini adalah ritual
kedewasaan yang diperlukan untuk menjadi orang dewasa.
Target pembunuhan yang diperintahkan oleh kakeknya adalah
Roro si anjing.
Seorang pembunuh bayaran tidak bisa memilih target
pembunuhannya. Tidak boleh membawa perasaan pribadi ke dalam pekerjaan. Harus
mematuhi perintah majikan, dan menyelesaikan misi sesulit apa pun dengan rapi.
Itulah harga diri dan kebanggaan seorang pembunuh bayaran. Setidaknya bagi
Keluarga Dubell yang telah mengabdi pada keluarga Grace sebagai klan pembunuh
bayaran sejak zaman dahulu.
Bagi seorang anak yang baru berusia sepuluh tahun, rumah dan
keluarga adalah segalanya di dunia ini. Aturan rumah setara dengan aturan
dunia.
Membunuh anjing yang memiliki nama yang sama dengan dirinya,
yang telah berada di sisinya sejak lahir──dalam dunia tempat Roro hidup, hal
itu adalah akal sehat dan sesuatu yang lumrah untuk menjadi seorang pembunuh
bayaran yang mandiri. Semua orang di Keluarga Dubell menjadi dewasa dengan cara
seperti itu.
Di tengah pelatihan yang berat, ketika Roro menahan air mata
karena cedera yang tidak terduga atau saat hampir putus asa, kakeknya sering
berkata, “Menangislah”. Jangan menyamarkan rasa sakit. Menderitalah dengan
benar, dan terimalah.
──“Seorang pembunuh bayaran lahir dari ratapan.”
Semboyan Keluarga Dubell menunjukkan hal tersebut. Manusia
yang berhasil mengatasi rasa sakit yang menyayat hati atau pengalaman menyiksa
yang bahkan enggan untuk diingat kembali, akan menjadi lebih kuat. Profesi
sebagai pembunuh bayaran, yang merenggut nyawa seseorang secara tidak adil,
tidak akan bisa dijalankan kecuali seseorang telah memupuk tekad dan kekuatan
mental sebesar itu──Roro diajarkan demikian oleh kakeknya.
Saat Roro menggelengkan kepala dan berkata, “Aku tidak bisa
membunuhnya,” kakeknya menampar pipinya tanpa ampun.
"Menangis pun tidak apa-apa. Kau boleh berteriak
sekencang-kencangnya. Namun, itu hanya sampai hari ini. Rasa sakit karena
membantai belahan jiwamu sendiri yang telah menghabiskan waktu bersamamu
layaknya keluarga, akan menjadikanmu seorang pembunuh bayaran yang
mandiri."
Guk guk, guk guk, di depan kandang tempat anjing-anjing
menyalak, Roro meneteskan air mata yang deras bercucuran seraya mengertakkan
giginya. Di tangannya, tergenggam sebuah pisau belati yang masih berada di
dalam sarungnya.
Di samping Roro kecil, Roro si anjing merapatkan tubuhnya.
Entah tahu atau tidak dengan takdir kematiannya, ia mengendus dan mengesekkan
kepalanya ke paha Roro, merasa khawatir pada Roro yang berdiri mematung sambil
meneteskan air mata.
Roro kecil menekuk lututnya, lalu memeluk Roro si anjing.
"Tidak apa-apa," bisiknya pada telinga yang
terkulai itu, sambil mengelus punggungnya yang berwarna cokelat tua.
Jika harus membunuh, maka lakukanlah dalam sekali tebas. Ia
tidak ingin membuatnya menderita. Ia bahkan tidak ingin memberikan detik untuk
merasakan ketakutan akan kematian. Roro tahu metode untuk melenyapkan nyawa
hanya dalam sekejap mata. Karena selama ini, ia telah mempelajari teknik
tersebut.
Klan Keluarga Dubell, dimulai dari sang kakek, telah
mengepung Roro kecil dan Roro si anjing. Bahkan orang-orang dari keluarga Grace
yang mereka abdi pun turut menyaksikan kelahiran seorang pembunuh bayaran yang
baru. Melarikan diri tidak diizinkan.
Ayo bunuh. Laksanakan misimu. Karena itulah aturannya.
Karena itulah hal yang “lumrah” bagi Keluarga Dubell. Roro mengatupkan giginya
yang bergetar, lalu menarik pisau belati dari sarungnya.
Inilah dunia tempat Roro Dubell akan menjalani hidup──.
"……Persetan dengan semua ini."
Sambil menatap tajam kakeknya, Roro mengayunkan belatinya,
didesak oleh dunia.
2
Rombongan yang berangkat dari Campusfellow membentuk barisan
dan bergerak ke arah selatan. Tujuan mereka adalah Kerajaan Lowe.
Di dalam kereta kuda, selain menteri luar negeri yang
merupakan abdi dalem kepercayaan Bado dan para Meister, ada juga para
birokrat termasuk banyak diplomat yang turut naik. Memperhitungkan kehadiran
mereka di pesta nanti, mereka bahkan membawa serta tukang jahit hingga ahli
peracik parfum. Jumlah totalnya adalah lima puluh sembilan orang. Setengah dari
barisan tersebut adalah para kesatria dari Ordo Kesatria Besi dan Api yang
mengenakan baju besi dan menunggangi kuda.
Meskipun jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu dua
setengah hari jika memacu kuda cepat sepanjang hari, hal itu tidak berlaku jika
memimpin barisan yang terdiri dari kereta kuda dan kereta barang. Rombongan tersebut
membutuhkan waktu sekitar lima hari untuk sampai di Lowe sambil bermalam di
penginapan sepanjang jalan.
Di ujung jalan yang membentang di padang rumput, mulai
terlihat dinding kota yang menjulang tinggi. Sebuah negara yang mengelilingi
perimeter kota besarnya dengan dinding tinggi, menyerupai sebuah benteng itu
sendiri, itulah Lowe. Jalan setapak di padang rumput itu berlanjut menuju
gerbang kota yang tingginya luar biasa.
Di kedua sisi gerbang, tergantung kain tirai yang ukurannya
sangat besar. Di sana terlukis dua ekor singa yang saling berhadapan, berdiri
dengan kaki belakangnya seraya memamerkan taring mereka. Lambang singa yang
membanggakan surai megahnya adalah lambang keluarga Lowe, dinasti Raja Singa
yang telah menguasai tanah ini sejak zaman dahulu kala.
Komandan Kesatria Heartland yang berjalan di baris terdepan
rombongan menoleh ke belakang.
"Kibarkan bendera!"
Tepat sebelum melewati gerbang kota Lowe, Campusfellow pun
tidak mau kalah dan membiarkan bendera mereka menari ditiup angin. Bendera yang
dikibarkan ada dua jenis. Bendera yang bergambar landak yang merupakan lambang
keluarga Grace, dan bendera militer yang bergambar “landak yang punggungnya
berapi” yang merupakan lambang dari Ordo Kesatria Besi dan Api.
Seolah menyambut rombongan, suara terompet menggema tinggi
dari menara pengawas yang berada di puncak gerbang kota. Tabuhan drum dipukul
bertalu-talu, dan sekawanan burung merpati terbang ke langit musim gugur yang
cerah.
"Kyaaa! Megah sekali gerbangnya……!"
Dari jendela kereta kuda yang berada di tengah-tengah
barisan, seorang gadis menjulurkan tubuhnya. Rambutnya yang lembut dan melambai
ditiup angin berwarna seperti bulir padi, sedikit lebih cerah daripada warna
rambut Bado. Mata birunya yang berkilau tampak jernih seperti lautan Inatera.
Kulit Delirium Grace, putri tunggal dari Tuan Tanah Bado, sangat putih bersih
hingga pipinya akan langsung memerah jika ia sedang bersemangat.
Putri Campusfellow yang menginjak usia empat belas tahun
ini, mungkin karena kehilangan ibunya yang mendidik dengan keras di usia muda,
tumbuh menjadi anak yang paling manja dan bebas di seluruh kastil. Ia membenci
pakaian perjalanan yang sederhana, dan fakta bahwa ia sudah mengenakan gaun
koktail untuk pesta adalah karena ia sempat merajuk tidak mau naik ke kereta
kuda jika tidak memakai gaun berwarna cerah ini. Namun, sifat manjanya itu
tetap dituruti semata-mata karena dirinya yang penuh daya pikat itu dicintai
oleh siapa saja di kastil.
Delirium mendongak menatap gerbang kota Lowe yang semakin
terlihat mengintimidasi seiring mereka mendekat, lalu mengedipkan bulu matanya
yang panjang. Rombongan Campusfellow pun melintas di bawah gerbang kota yang
besar tersebut.
"Fuuuuh……!"
Delirium mendongak melihat gerbang kota yang berada tepat di
atas kepalanya. Bayangan jatuh menutupi wajahnya yang sedang menganga lebar.
"Baguslah kalau kau senang, Dely. Tapi jangan terlalu
kegirangan sampai terjatuh dari kereta kuda, ya."
Di sisi yang berlawanan dari jendela tempat Delirium
menjulurkan tubuhnya, Bado sedang menopang sikunya di bingkai jendela.
"Tetapi Ayah! Menghadapi kota yang begitu gemerlap
begini, sungguh permintaan yang sulit jika disuruh tidak kegirangan!"
Delirium menoleh ke belakang sambil masih menjulurkan
tubuhnya dari jendela.
"Lagipula, ini adalah Negara Kesatria, lho? Baik
ukuran maupun kegemerlapan kotanya sama sekali berbeda dengan Campusfellow yang
penuh dengan pengrajin penuh jelaga dan kampungan!"
"Jangan mengatakan hal yang membuat rakyat sedih,
Putri……. Jangan lupa bahwa negara kampungan itulah negara asalmu."
"Tentu saja, Ayah."
Senyuman penuh daya pikatnya masih menyisakan kepolosan
anak-anak.
"Dely tentu tetap mencintai Campusfellow, kok."
Begitu melewati gerbang kota yang terletak di sebelah utara
Lowe, sebuah pasar langsung terhampar di depan mata. Kedai-kedai yang menggelar
tenda kuning berjejer rapat tanpa celah di kedua sisi Jalan Kemenangan, yang
merupakan jalan utama kota. Pasar ini disebut Yellow Market karena
tenda-tenda kedainya diseragamkan dengan warna kuning. Ini adalah pasar
terbesar di seluruh Lowe.
Kota Lowe yang sisi baratnya menghadap ke laut juga memiliki
pelabuhan. Karena lokasinya yang strategis serta menjadi tempat berkumpulnya
orang dan komoditas, Kerajaan Lowe merupakan negara yang maju dalam hal
perdagangan dan pariwisata. Di pasar tersebut berjajar barang-barang langka,
mulai dari barang kerajinan dari Utara hingga buah-buahan dari Selatan. Dari
pakaian orang-orang yang lalu lalang, bisa diketahui bahwa mereka adalah
pengunjung yang berasal dari berbagai negara. Yellow Market kembali
dipenuhi oleh kesibukan yang meriah hari ini.
Di samping kereta kuda yang ditumpangi Bado dan Delirium,
Roro berkuda berdampingan.
"Roro," panggil Bado, memanggil pembunuh bayaran
yang setia ini ke dekatnya.
Mendongak menatap Roro yang berada di atas kuda mendekati
jendela, Bado menyerahkan selembar perkamen yang dilipat tiga.
"Bacalah."
Sambil memegang kendali kuda, Roro membukanya.
"Ini…… informasi mengenai Witches?"
"Benar. Aku menyuruh Shimei mengumpulkan informasi
terkait Witches, mulai dari rumor, insiden, hingga cerita pengantar
tidur. Beberapa di antaranya memang mencurigakan kredibilitasnya, tapi bukankah
ada asap kalau tidak ada api? Menurut Shimei, hal ini berharga untuk
diselidiki. Bagaimana menurutmu?"
"Jika Meister-sama berkata demikian, maka
pastilah begitu."
"Aku bertanya bagaimana pendapat dirimu sendiri.
Menurutmu, apakah ketujuh Witches yang tertulis di sana bisa
dikumpulkan?"
"Seekor anjing tidak memiliki opini."
Jawab Roro dengan dingin, lalu mengembalikan perkamen yang
telah dilipat rapi itu kepada Bado.
"Jika majikan berkata menginginkan Witches, maka
tugas anjing hanyalah mengumpulkannya."
"Kau pria yang membosankan. Kesetiaanmu yang terlalu
tinggi membuatmu tidak seru diajak bicara."
"Tidak apa-apa. Jika saya memberikan opini kepada
majikan, kakek akan memukul saya."
"Haha. Apakah anjing tua yang terbaring di tempat tidur
itu masih saja menakutkan?"
"Tentu saja menakutkan. Orang itu bahkan di hari saat
tubuhnya sedang sehat, masih saja mengasah senjata rahasia, lho. Entah siapa
yang berniat dia bunuh……"
"Itu malah bisa diandalkan. Jika suatu saat terjadi
perang, mungkin aku akan meminta bantuan mantan Anjing Hitam itu juga.
Kerajaan Lowe juga terkenal dengan peternakan lebahnya. Belilah madu yang
sangat manis sebagai oleh-oleh untuk membawanya pulang."
Setelah berkata demikian, Bado kembali menyerahkan perkamen
itu kepada Roro.
"Peganglah ini olehmu."
"Bukankah ini informasi penting?"
"Justru karena itulah aku mempercayakannya padamu.
Dengar, ketujuh Witches yang tertulis di sana akan menjadi kunci untuk menyelamatkan
Campusfellow. Kau tadi bilang, kan? Jika aku berkata menginginkannya, tugasmu
hanyalah mengumpulkannya."
Dari jendela kereta kuda kepada Roro yang berkuda di
sampingnya, Bado memberikan perintah.
"Aku menginginkan Witches. Bawa mereka semua tanpa
tersisa satu pun ke hadapanku."
"Hamba laksanakan."
Begitu Roro menundukkan pandangannya, Bado mengangguk puas.
"Bagus. Kalau begitu, pertama-tama mari kita pergi
untuk mendapatkan yang pertama, Mirror Witch."
"Hei Ayah. Nanti bolehkah aku berjalan-jalan di
pasar?"
Delirium duduk di kursi seberang, tepat di depan Bado.
"Jika tidak ada urusan apa pun setelah tiba di kastil.
Tapi ya biasanya, mereka tidak akan membiarkan tamu terhormat yang diundang
telantar begitu saja sejak hari pertama kedatangan. Jika ada perjamuan makan
atau sejenisnya, kau juga harus hadir, ya."
"Eeeh…… kalau begitu aku tidak bisa pergi ke pasar,
dong."
Delirium cemberut sambil terus mendesak.
"Lalu besok? Kalau besok boleh, kan?"
"Kalau besok…… yah, jika ada waktu."
"Benar, ya?! Janji, lho!"
Menunjukkan senyuman yang merekah, Delirium bangkit berdiri
di dalam kereta kuda. Kemudian tiba-tiba, ia membuka lebar pintu kereta kuda
yang sedang berjalan.
"Hei, Dely!"
"Roro, tangkap aku!"
Menepis larangan Bado, Delirium merentangkan kedua lengannya
ke arah Roro lalu melompat. Roknya yang berwarna cerah berkibar lebar ditiup
angin.
"Ups……!"
Roro buru-buru mengulurkan lengannya, menangkap tubuh
Delirium lalu menariknya ke atas kuda.
"Heii, Dely! Itu berbahaya, apa kau baru mau kapok
kalau sudah terluka?!"
Mengabaikan teriakan marah yang melayang dari kereta kuda di
belakang, Delirium mendekap erat leher Roro.
"Haha. Terima kasih, Roro. Aku menyayangimu."
"Anda ini benar-benar terlalu liar."
Delirium dengan cekatan berpindah ke punggung Roro. Ia
meletakkan tangannya di bahu Roro, lalu berdiri di atas pelana.
"Hei, Roro. Ayo pergi ke barisan yang lebih depan
lagi!"
Roro mengalihkan pandangannya ke arah Bado yang menopang
sikunya di bingkai jendela untuk meminta izin. Setelah memastikan Bado
mengibaskan telapak tangannya seolah menyuruhnya pergi ke sana, ia mendongak
menatap Delirium.
"Berpeganglah yang erat, ya."
Roro menyentak perut kudanya, memacunya menuju barisan
depan. Rombongan Campusfellow melewati Yellow Market dan memasuki
kawasan pemukiman dengan deretan rumah bata merah. Ini adalah distrik tempat
tinggal para pedagang yang sukses dalam perdagangan. Banyak bangunan megah
berlantai dua atau tiga di sini.
Di balkon yang menghadap ke jalan, sekilas terlihat gambaran
kehidupan para penghuninya yang beragam. Di salah satu balkon, seorang penjual
karpet sedang menjemur karpet-karpet indahnya yang berjejer. Di balkon yang
lain, sebuah pangkas rambut membuat pelanggannya duduk menghadap ke jalan sambil
merapikan rambutnya. Seolah-olah setiap balkon adalah sebuah panggung
pertunjukan kecil.
Ada juga balkon di mana orang-orang memainkan biola atau
akordeon. Di ujung tali yang diikatkan pada pagar pembatas, tergantung sebuah
vas bunga. Pasti untuk memasukkan uang tip ke dalamnya. Meskipun sang raja baru
saja dibunuh oleh seorang Witches, tampaknya kehidupan masyarakat tidak
berubah drastis. Musik yang riang mengalir di kota, dipenuhi dengan kebisingan
yang meriah.
Semakin mendekati pusat kota, Jalan Kemenangan semakin
menanjak.
"Ada kesatria di mana-mana, ya."
Gumam Delirium di atas kepala Roro sambil melihat sekeliling
kota. Seperti yang dikatakannya, sosok kesatria terlihat di berbagai sudut
kota. Karena para kesatria Lowe semuanya mengenakan zirah emas, mereka terlihat
sangat mencolok bahkan di tengah kota. Baik pelindung kepala, pelindung tangan,
maupun pelindung kaki, semuanya berwarna emas.
"Apakah Anda tahu?"
Roro mendongak menatap Delirium.
"Kudengar jumlah anggota ordo kesatria Lowe melebihi
lima ratus orang, lho."
"Heh! Kesatria serba emas seperti itu ada lima ratus
orang?"
"Benar. Jalan Kemenangan ini dibuat dengan ukuran yang
cukup lebar, bukan? Katanya, itu sengaja dilakukan agar ordo kesatria dalam
skala besar bisa melakukan parade kemenangan. Pasti terlihat sangat
mengintimidasi, ya. Menyaksikan para kesatria emas berbaris maju."
"Hmm…… Baru membayangkannya saja sudah membuat mataku
silau."
Delirium menyipitkan matanya.
"Lalu, apakah Anda tahu siapa komandan dari Ordo
Kesatria Singa Emas ini?"
"Tentu saja tahu! Raja Singa, kan?"
"Tebakan yang sangat tepat, saya kagum."
Raja dari Kerajaan Lowe dari generasi ke generasi dijuluki
sebagai “Raja Singa”. Sudah menjadi tradisi di Lowe bahwa raja ini juga
merangkap jabatan sebagai komandan Ordo Kesatria Singa Emas untuk memimpin para
kesatria. Kini setelah Raja Singa dibunuh oleh seorang Witches, posisi
komandan ordo kesatria pun berada dalam keadaan kosong.
"Dely menyukai negara ini."
"Oh ya. Padahal kita baru berjalan lurus di jalanan
saja."
"Apakah tidak ada seorang pangeran yang sebaya? Yang
tampan, berpenampilan bersih, dan terasa lembut."
"Wah, cepat sekali Anda sudah memikirkan pernikahan……
Namun sayangnya, tidak ada pangeran di sini. Hanya saja, Raja Singa tampaknya
memiliki seorang putri berusia delapan tahun dari mantan istrinya."
"Aku tahu anak itu. Snow White, kan? Yang dikabarkan
hilang."
Snow White Lowe dikabarkan menjadi salah satu dari sedikit
penyintas yang selamat dari Pernikahan Berdarah, tragedi di mana lebih
dari lima puluh orang termasuk Raja Singa dan para menteri senior dibantai.
Namun, keberadaannya tidak diketahui sejak hari terjadinya tragedi tersebut,
dan bahkan setelah sepuluh hari berlalu, nasibnya masih belum jelas.
"Jika dia ditemukan, apakah anak itu yang akan menjadi
Raja Singa berikutnya? Padahal dia seorang anak perempuan?"
"Entahlah. Itu urusan negara lain…… Namun tampaknya, di
antara generasi Raja Singa terdahulu, ada juga yang berjenis kelamin
wanita."
"Hmm."
"Delirium-sama juga harus berhati-hati, ya. Jika Anda
lengah melihat ke arah lain, Anda bisa diculik, lho."
"Astaga, Roro. Bukankah kau yang akan
melindungiku?"
"Saya akan berusaha sebaik mungkin. Namun, saya tidak
bisa melindungi sesuatu yang terus bergerak ke sana kemari."
"Tenang saja. Aku pasti akan bergerak ke mana-mana
bersama si Anjing Hitam, kok."
"……Padahal anjing pun punya kesibukan tersendek,
ya."
"Lihat, Roro! Kastil yang indah!"
Arah yang ditunjuk oleh Delirium adalah puncak bukit di atas
tanjakan. Di balik deretan atap bata merah yang berjejer, terlihat beberapa
atap berbentuk kerucut. Kastil Lowenstein yang tersohor sebagai “Sarang Singa”
berdiri dengan megahnya di sana.
3
Bado beserta para abdi dalem kepercayaan Campusfellow
dipandu masuk ke dalam kastil oleh petugas protokol yang menyambut mereka.
Komandan Kesatria Heartland yang tidak pernah melepaskan tombaknya turut
mendampingi, dan diikuti oleh enam orang kesatria Besi dan Api yang membawa dua
kotak kayu berisi barang persembahan menggunakan kereta dorong. Roro mengenakan
pakaian pelayan, berjalan mengikuti di barisan paling belakang rombongan. Jangan
pernah lalai memahami jalan keluar masuk saat pertama kali memasuki sebuah
bangunan──sesuai dengan ajaran kakeknya seperti itu, ia mengikuti sambil
mengingat rute dari gerbang kastil.
Kastil Lowenstein memiliki ukuran yang luas, persis seperti
penampakan luarnya. Rombongan yang dipimpin oleh petugas protokol itu tiba di
sebuah pekarangan tengah yang terbuka. Itu adalah sebuah pekarangan tengah yang
sangat luas dengan pancaran sinar matahari yang masuk. Rumput yang dirawat
dengan baik terhampar di sana, dan di beberapa tempat terdapat petak bunga di
mana berbagai macam bunga berwarna-warni tumbuh mekar dengan indahnya.
Kupu-kupu tampak menari di dekat kelopak bunga.
Di dekat bagian tengah pekarangan berdiri sebatang pohon ek
yang besar.
"Hoo. Ada taman seindah ini di dalam kastil……"
Rombongan tengah berjalan melewati koridor yang mengelilingi
pekarangan tengah. Itu adalah koridor dengan deretan pilar penyangga yang
berjejer. Karena Bado menghentikan langkahnya saat melihat pekarangan tengah,
orang-orang lainnya pun ikut berhenti. Petugas protokol berjalan mendekati
Bado.
"Pohon ek besar di sebelah sana konon telah berdiri
sejak Raja Singa pertama kali menginjakkan kaki di tanah ini. Kastil Lowenstein
ini dibangun sedemikian rupa hingga mengelilingi pohon besar tersebut. Dengan
kata lain, taman inilah yang menjadi pusat dari kastil. Tempat ini disebut Kotak
Mainan Raja."
Jika dilihat lebih dekat, rumput di dekat pohon besar itu
tampak botak, berubah menjadi sebidang tanah lapang yang terbuka. Menurut
petugas protokol, tempat itu berfungsi sebagai lapangan untuk saling mengadu
pedang. Dikatakan bahwa dua kali dalam setahun, turnamen ilmu pedang diadakan
di lapangan tersebut oleh para anggota ordo kesatria untuk menentukan juara di
setiap musimnya.
"Karena hasil dari turnamen tersebut sangat memengaruhi
tingkatan pangkat di dalam ordo kesatria, para kesatria tidak pernah melewatkan
latihan harian demi meraih hasil yang bagus dalam turnamen."
"Hee…… Benar-benar terasa seperti Negara Kesatria,
ya."
"Mari, Ruang Singgasana sudah dekat di depan.
Omura Lowe-sama telah menunggu."
Rombongan berjalan maju sambil melirik ke arah Kotak
Mainan Raja, lalu masuk ke dalam bangunan.
Omura Lowe memiliki tubuh yang obesitas. Di jari-jarinya
yang tebal berkilau beberapa batu permata, dan ia memancarkan aroma parfum yang
menyengat. Pakaian aneh dengan warna berbeda di sisi kiri dan kanan adalah mode
fesyen yang sempat tren di kalangan bangsawan beberapa waktu lalu. Di dagunya
tumbuh janggut tipis berwarna emas, namun terasa kurang meyakinkan sebagai
simbol kewibawaan. Kesan sebagai pedagang kaya terasa lebih kuat ketimbang
sebagai anggota keluarga kerajaan.
Di bahunya bertengger seekor bunglon yang terikat tali
leher. Ini pun merupakan bagian dari tren fesyen, hewan peliharaan yang sedang
populer di kalangan sebagian bangsawan.
"Ya ya, selamat datang di Negara Kesatria
Lowe!"
Omura Lowe menyambut Bado beserta rombongannya dengan
merentangkan kedua lengan. Ia semula duduk di singgasana yang seharusnya
diduduki oleh Raja Singa, tetapi langsung bangkit dari duduknya begitu Bado dan
yang lainnya tiba, lalu turun dari panggung singgasana. Ruang Singgasana
itu berukuran sangat luas. Langit-langitnya tinggi, dan saat mendongak ke atas,
tampak beberapa lembar kaca patri bergambar singa atau matahari berjejer.
Kaca-kaca itu berfungsi sebagai jendela pencahayaan yang meneruskan sinar
matahari yang berkilauan.
Roro menyadari ada sekitar sepuluh orang pria yang berdiri
di dekat dinding aula. Karena berada di pusat kastil, ia mengira mereka adalah
anggota Ordo Kesatria Singa Emas, namun mereka tidak mengenakan zirah emas.
Mereka mengenakan zirah pelat abu-abu standar. Dari posisi berdiri maupun
ekspresi santai mereka, mereka sama sekali tidak terlihat seperti kesatria yang
terlatih. Mereka adalah kelompok orang yang tidak pantas berada di Ruang
Singgasana. Siapakah mereka?
Satu-satunya orang yang mengenakan zirah emas di aula ini
adalah pria yang berdiri di belakang Omura. Walaupun tidak mengenakan pelindung
kepala, ia memakai jubah putih di punggungnya. Itu adalah bukti bahwa ia
merupakan pengawal jenderal yang termasuk dalam golongan elite di Ordo Kesatria
Singa Emas.
Omura yang turun dari panggung singgasana menjabat erat
tangan Bado.
"Akhirnya kita bisa bertemu, Tuan Grace! Saya merasa
terhormat Anda sudi datang langsung kemari. Bagaimana perjalanannya? Apakah
tidak ada kendala apa pun?"
"Berkat dukungan Anda, ini adalah perjalanan yang
menyenangkan. Profesi sebagai Tuan Tanah ini memang merepotkan, ya, bawaannya
ingin mengurung diri saja di kastil. Saya sangat berterima kasih kepada Tuan
Lowe yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk pergi ke luar."
Bado menyatukan alisnya untuk membuat raut wajah sedih, lalu
menumpangkan tangannya yang satu lagi di atas tangan Omura yang ia jabat.
"Terkait wafatnya Raja Singa secara mendadak akibat
bencana Witches tempo hari, saya sampaikan belasungkawa yang
sedalam-dalamnya dari lubuk hati saya."
"……Itu adalah insiden yang malang. Saya sendiri
kebetulan selamat karena terlambat tiba di lokasi acara…… namun kami kehilangan
banyak birokrat dan perwira militer yang hebat…… Walau demikian, sebagai adik
dari raja, saya tidak boleh terus-menerus larut dalam kesedihan. Saat ini,
meskipun hanya sementara, sayalah yang memegang kendali politik. Saya ingin
menunjukkan kepada negara-negara tetangga bahwa Lowe tidak akan kalah oleh
makhluk seperti Witches."
"Sikap yang luar biasa."
Bado memanggil Delirium ke dekatnya.
"Ini adalah putri tunggal saya. Mungkin karena tidak
ada sosok ibu, dia tumbuh menjadi anak yang agak liar."
Delirium menjumput ujung rok gaunnya, lalu menundukkan
kepalanya dengan takzim.
"Perkenalkan, nama saya Delirium Grace. Suatu
kehormatan besar bagi saya atas undangan untuk berkunjung ke kastil ini."
"Oho, seorang putri yang sangat cantik. Berapa
usiamu?"
"Saya menginjak usia empat belas tahun pada musim semi
lalu."
"Empat belas tahun! Wah wah, apanya yang liar, Tuan
Grace. Bukankah kecantikannya ini sanggup meruntuhkan sebuah kota! Dengan
kecantikan secantik ini, bukankah lamaran pernikahan tidak akan ada habisnya?
Bahkan bisa memicu peperangan!"
"Tidak. Pernikahan masih terlalu dini untuknya. Benar,
kan, Dely."
"Benar, Ayah. Dibandingkan dengan singa yang gagah
berani, pria mana pun akan terlihat kurang meyakinkan."
Delirium menunjukkan senyuman yang anggun. Tentu saja, itu
hanyalah senyuman formalitas belaka. Omura menurunkan sudut alisnya, lalu
tertawa dengan suara tinggi, "Hoho!"
"Sepertinya sang putri menyukai kesatria yang perkasa,
ya?"
"Terlepas dari hal itu, Tuan Lowe. Ada sesuatu yang
ingin saya persembahkan untuk Anda──"
Para kesatria Besi dan Api menjajarkan kereta dorong yang
memuat kotak kayu di depan Omura. Barang-barang yang dibawa adalah berbagai
persenjataan yang menjadi kebanggaan Campusfellow.
"Seperti yang Anda ketahui, persenjataan yang dibuat di
Campusfellow berbeda dengan senjata pada umumnya. Senjata-senjata ini disebut senjata
transformasi karena bentuknya bisa berubah sesuai situasi pertempuran. Kali
ini, kami membawa produk-produk pilihan dari senjata tersebut."
Bado mengambil sebuah gada berukuran kecil secara acak dari
dalam kotak kayu──sebuah senjata pemukul dengan beban di ujungnya. Saat bagian
gagangnya diputar──KLIK. Sebuah bilah pisau yang tajam dan panjang
melesat keluar dari ujung beban tersebut. Senjata itu bertransformasi dari
sebuah gada untuk menghancurkan baju besi menjadi sebuah pedang untuk menikam
celah baju besi demi menghabisi musuh.
"Hoo! Wah wah, ini benar-benar unik!"
Omura bertepuk tangan kegirangan.
"Memang tidak salah julukan Negara Api dan Besi Campusfellow
yang menampung banyak pandai besi. Saya paham hal begini karena dulu sempat
berkecimpung sedikit dalam perdagangan luar negeri, lho. Pedang atau zirah
buatan Campusfellow akan laku keras hanya dengan label buatan sana saja. Wah
wah, ini membuat saya semakin tidak sabar menantikan produk barunya…… benar,
kan?"
Omura menyunggingkan sudut mulutnya seraya menyeringai. Bado
pun membalasnya dengan senyuman menyeringai.
"Benar. Silakan nantikan produk baru tersebut──pedang
sihir."
Pedang sihir──Hal itu hanyalah sebuah alasan agar Lowe
bersedia menjual Witches kepada mereka. Bisa dikatakan, itu adalah
jebakan yang dipasang oleh Bado. Lowe tidak akan mungkin bersedia menjual
begitu saja seorang Witches yang merupakan tahanan penjahat pembunuh
raja. Karena itulah, Bado dan yang lainnya menyiapkan sebuah negosiasi palsu
yang tampak logis dan menguntungkan bagi pihak Lowe.
"Saat pedang sihir itu selesai nanti, Anda akan
memasok pedang tersebut secara eksklusif hanya untuk kami di Lowe…… Begitulah
poin transaksinya, bukan?"
Tawa Omura yang bergumam muhoho itu benar-benar murni
cerminan dari seorang pedagang. Lowe juga merupakan negara yang kuat dalam
perdagangan. Jika pedang sihir selesai dan mereka bisa memonopoli
penjualan grosirnya, maka kekuatan sihir tidak akan lagi menjadi
monopoli eksklusif dari Kerajaan Amelia. Negara-negara yang sedang berperang
dengan Amelia pasti akan berbondong-bondong menginginkan senjata ini.
Keuntungan yang didapat akan sangat masif. Dengan kata lain, transaksi
penyerahan Witches ke Campusfellow ini bukanlah kesepakatan yang buruk
bagi pihak Lowe.
Namun, itu semua dengan catatan jika cerita tersebut adalah
kenyataan. Pada kenyataannya, pembuatan pedang yang dialiri kekuatan sihir
belum pernah berhasil sekalipun. Yang penting Witches itu bisa
didapatkan terlebih dahulu. Setelah itu, mereka tinggal memberikan alasan bahwa
penelitian terlambat atau mengalami kegagalan untuk menjelaskan mengapa tidak
ada hasil yang dicapai.
Bado mulai berbicara dengan lancar tanpa terbata-bata.
"Para pandai besi di Campusfellow kami benar-benar
hebat. Tingkat akurasi pedang yang mereka tempa selalu berhasil membuat saya
takjub selaku Tuan Tanah mereka. Senjata yang sedang mereka kerjakan saat ini
adalah…… pedang sihir."
Itu bohong.
"Beberapa purwarupa sudah berhasil dibuat…… namun
aliran kekuatan sihirnya belum stabil."
Ini juga bohong.
"Menurut para pandai besi, cara satu-satunya adalah
dengan membedah orang yang benar-benar menggunakan kekuatan sihir untuk
mengurai mekanismenya…… Namun kami kesulitan. Kami tidak mungkin menangkap
paksa para Sorcerers dari Kerajaan Amelia, bukan? Di saat seperti
itulah, tragedi yang menimpa negara Anda terdengar oleh kami."
"Hmm. Momentum ini mungkin bisa dikatakan sebagai
takdir, ya……"
"Benar, ini pasti takdir. Pandai besi kami yang
membuat, dan kalian para kesatria yang menggunakannya. Pedang sihir ini
dipastikan akan menjadi jembatan yang menghubungkan Lowe dan
Campusfellow."
"Luar biasa. Mari kita bekerja sama!"
Omura memasang senyuman lebar, dan sekali lagi menjabat erat
tangan Bado. Namun, begitu Bado hendak masuk ke tahap pengaturan penyerahan
dengan berkata, “Kalau begitu mari kita segera membawa Witches……”,
bicaranya mendadak menjadi tidak lancar.
"Anu, sebenarnya terkait penyerahan itu…… saya ingin
Anda menunggu sebentar."
"……Menunggu?"
"Iya…… Begini, Mirror Witch adalah penjahat besar yang
membunuh Raja Singa, kan? Muncul suara-suara yang tidak ada habisnya yang
menyatakan bahwa tidak seharusnya kita menyerahkannya ke negara lain, tak
peduli seberapa besar keuntungan yang didapat. Kalau saya pribadi, sih? Saya
berpikir mendiang kakak──ah, maksud saya Raja Singa pasti akan memaafkannya
jika penjualan ini mendatangkan keuntungan bagi Lowe."
Omura memasang wajah masam sambil menggaruk bagian belakang
kepalanya berkali-kali.
"Masalahnya ada pada para kesatria…… Mereka benar-benar
ingin mengadilinya. Karena itulah, besok tepat di Ruang Singgasana ini,
sebuah pengadilan Witches akan dilangsungkan."
"Pengadilan Witches……?"
Bado menyatukan alisnya mendengar kata-kata tak terduga yang
keluar dari mulut Omura. Pengadilan Witches merupakan bagian dari budaya
agama Lucy. Karena tujuannya adalah untuk menguji apakah tersangka merupakan
seorang Witches atau bukan, akan sulit bagi orang awam untuk menilainya.
Biasanya, seorang Sorcerers yang akan bertindak sebagai hakimnya. Namun,
Lowe berada di luar wilayah agama Lucy. Seharusnya tidak ada Sorcerers
di sini.
"Pengadilan Witches adalah hal yang ganjil
dilakukan di sini. Sejak kapan warga Lowe menjadi penganut agama Lucy?"
"Bukan, bukan begitu, jangan salah paham. Walau disebut
pengadilan, itu hanya formalitas saja, kok."
Omura mengibaskan tangannya di depan wajah untuk membela
diri.
"Lagipula tanpa perlu diadili pun, sudah jelas bahwa
Mirror Witch adalah Witches sejati. Pengadilan besok tujuannya bukan
untuk menguji apakah dia Witches atau bukan, melainkan lebih ke arah
menghakimi penjahat pembunuh Raja Singa."
"Menghakimi penjahat……"
"Iya. Karena itu pengadilannya hanya formalitas, dan
hakim yang disiapkan pun bukan seorang Sorcerers. Artinya, ini hanyalah
sebuah pengadilan Witches sepihak. Menjatuhkan vonis bersalah pada
pembunuh Raja Singa, dan menunjukkan pertanggungjawaban kepada perwakilan
bangsawan negara tetangga serta rakyat jelata, jika tidak dilakukan maka Lowe
tidak akan bisa melangkah maju──begitulah pembelaan dari para kesatria."
"Jika demikian──"
Bado kembali menatap Omura dengan pandangan mata yang tajam.
Apakah ada kebohongan dalam kata-katanya──ia melanjutkan sambil mengamati
dengan saksama untuk memastikan tidak ada informasi yang terlewat dari ekspresi
wajah tersebut.
"Apakah Witches itu akan dibakar sampai mati
setelah pengadilan? Bukankah dimasukkan ke dalam kobaran api merupakan inti
dari pengadilan Witches? Jika tidak melihat Witches yang divonis
bersalah itu terbakar, para kesatria mungkin tidak akan puas, bukan?"
"Terkait hal itu, silakan tenang saja."
Omura tertawa lebar, mencoba mencairkan suasana yang sempat
menegang.
"Tentu saja negosiasi dengan Tuan Grace tetap berjalan!
Seperti yang tertulis dalam surat, besok malam setelah pengadilan selesai, kami
telah menyiapkan sebuah pesta skala besar untuk mempererat persahabatan antara
Campusfellow dan Lowe. Saya berencana menyerahkan Witches di acara
tersebut. Acara penyerahan Witches dipastikan akan menjadi simbol yang
menyatukan kedua negara kita!"
"……Hmm."
Bado melipat tangannya, tampak belum sepenuhnya menerima
penjelasan tersebut. Omura berbicara dengan cepat.
"Tenang saja, soal para kesatria, saya akan meyakinkan
mereka sebelum besok malam. Orang-orang yang akan menggunakan pedang sihir
adalah mereka. Jika kehebatan pedang itu dipamerkan, mereka pasti akan berebut
menginginkannya."
Lalu di saat itu, ada suara yang menyela percakapan mereka
berdua.
"Mohon maaf."
Suara interupsi yang ketus itu berasal dari pria yang
berjaga di belakang Omura. Di antara para prajurit yang berada di aula, dialah
satu-satunya yang dilengkapi dengan zirah emas dari Ordo Kesatria Singa Emas.
"Apa pun yang dikatakan oleh Yang Mulia Adik Raja,
perasaan kami para kesatria yang mengabdi pada Lowe tidak akan berubah."
Berperawakan tinggi dengan rambut pendek berwarna emas.
Wajah persegi yang dipenuhi rasa percaya diri. Tubuh yang sangat terlatih dan
proporsional untuk mengayunkan pedang bisa terlihat jelas bahkan dari balik
zirah pelat yang dikenakannya.
"Raja Singa-sama yang dibunuh oleh Witches juga
merupakan komandan kami. ……Tidak, yang dibunuh bukan hanya komandan
saja──"
Pria itu melangkah maju, menjajarkan posisinya dengan Omura.
"Wakil komandan, penasihat, serta para komandan pasukan
yang menghadiri upacara pernikahan juga dibantai dengan kejam oleh Witches
tersebut. Mengeksekusi wanita seperti itu saja tidak dilakukan malah menjualnya
ke negara lain…… Kesatria yang memiliki kesetiaan tinggi tidak akan pernah
mengizinkan hal itu. Oleh karena itu, kepada Tuan Grace, mohon jangan membawa
transaksi bisnis yang mencurigakan kepada Yang Mulia Adik Raja."
Bado mempertahankan raut wajahnya tanpa perubahan, lalu
mengalihkan pandangannya ke arah Omura.
"Tuan Lowe. Siapa dia?"
Sebelum Omura sempat membuka mulut, sang kesatria telah
menundukkan kepalanya seraya berkata, "Mohon maaf atas ketidaksopanan
saya."
"Saya lancang belum memperkenalkan diri. Nama saya
adalah Komandan Pengawal Jenderal dari Ordo Kesatria Singa Emas, Figaro
Kimberly."
"Tuan Kimberly. Apakah Anda menganggap bahwa penawaran
yang saya bawa adalah transaksi bisnis yang mencurigakan?"
"……Dengan segala hormat yang saya miliki."
Figaro menatap lurus kembali ke arah Bado.
"Yang disebut pedang sihir itu…… adalah sesuatu
yang tidak masuk akal, dan saya tidak akan mempercayainya sebelum melihatnya
dengan mata kepala saya sendiri. Lagipula, jikalau pedang yang dialiri
kekuatan sihir benar-benar bisa dibuat, saya rasa para kesatria tidak akan
sudi menggunakannya."
"Huu. Menarik sekali. Coba beri tahu aku. Kenapa
begitu?"
"Karena tanpa perlu menggunakan pedang mencurigakan
seperti itu pun, kami para kesatria sudah cukup kuat."
"Kau boleh saja berkata demikian."
Bado melipat tangannya sambil mengelus dagu.
"Kudengar di acara Pernikahan Berdarah tempo
hari, banyak kesatria yang turut hadir di sana. Namun, meski ini sangat tidak
mengenakkan untuk diucapkan, kalian tidak berdaya melawan Witches yang
menggunakan sihir. Karena itulah insiden tersebut memakan banyak korban,
bukan?"
"Itu karena upacara pernikahan sedang berlangsung,
sehingga para kesatria tidak membawa pedang mereka. Itu murni karena alasan
tersebut."
Figaro menundukkan pandangannya, lalu menggelengkan kepala
dengan ekspresi yang tampak sangat menyesal.
"Namun, Witches itu akhirnya berhasil ditangkap
oleh kami para pengawal jenderal yang bergegas datang ke kapel. Tentu saja,
yang kami gunakan adalah pedang dua tangan biasa. Sama sekali tidak dialiri
kekuatan sihir."
"……Hmm."
"Tadi Yang Mulia Adik Raja berkata bahwa pedang atau
zirah buatan Campusfellow akan laku keras hanya dengan label buatan sana saja……
Namun hal itu hanya berlaku untuk pedang atau zirah yang normal. Para kesatria
justru akan menarik diri dan waspada jika direkomendasikan senjata buatan
Campusfellow. Mereka akan bertanya, Senjata itu tidak akan bertransformasi,
kan?──begitu."
Orang-orang dari Campusfellow seketika menjadi agak riuh.
"Hei, Figaro," ucap Omura mencoba menyela dengan panik, namun Bado
menahannya.
"Tidak apa-apa, biarkan saja. Ini adalah masukan
berharga dari sisi pengguna. Aku ingin mendengar opini yang jujur tanpa ada
yang ditutupi. Apakah kalian sebegitu tidak menyukainya? Senjata
transformasi buatan kami."
"……Kami membencinya."
Topik pembicaraan telah berpindah dari pedang sihir
ke senjata transformasi milik Campusfellow. Figaro mengambil sebuah
pedang secara acak dari dalam kotak kayu hadiah dari Campusfellow. Sekilas itu
tampak seperti pedang satu tangan biasa. Sambil membolak-balik senjata itu
untuk mengamatinya dari berbagai sudut, ia menjawab pertanyaan Bado.
"Kami para kesatria berhasil menguasai teknik
mengayunkan pedang setelah melalui usaha keras yang sampai meneteskan darah.
Yang kami inginkan dari sebuah senjata adalah apakah senjata tersebut bisa
memfasilitasi keahlian yang telah kami pupuk ini tanpa ada hambatan──ups."
Entah karena tidak sengaja mengaktifkan mekanisme
senjatanya, bilah pedang tersebut mendadak terbagi menjadi beberapa ruas yang
tak terhitung jumlahnya, lalu melesat keluar layaknya sebuah pegas. Ujung
pedangnya menjulur lunglai menyentuh lantai.
Itu adalah senjata transformasi yang bilah pedangnya bisa
digunakan meliuk-liuk seperti cambuk. Melihat kekonyolan dari ujung pedang yang
menjulur lunglai tersebut, suara tawa kecil terdengar berbisik-bisik di sekitar
lokasi. Suara itu berasal dari para prajurit yang mengenakan zirah pelat
abu-abu di aula.
"Mohon maaf," ucap Figaro seraya membuang pedang
itu kembali ke dalam kotak.
"Demi melindungi majikan dan demi melindungi negara,
kami bertarung dengan kesungguhan hati. Jika senjatanya bertransformasi dengan
penuh rasa main-mail seperti ini, hal itu justru akan menjadi pengganggu. Yang
diinginkan oleh kami para kesatria sejati adalah pedang yang praktis.
Bukan mainan semacam ini──"
Lalu di saat itu──suara hantaman keras BAM bergema di
aula. Pandangan semua orang seketika terpusat pada Komandan Ordo Kesatria Besi
dan Api, Heartland, yang berada di belakang Bado.
"Aku tidak bisa membiarkan perkataanmu itu!"
Heartland yang menghentakkan ujung tombaknya ke lantai
berteriak dengan wajah yang memerah karena murka.
"Kesatria sejati menghindari senjata
transformasi, katamu?! Apakah kau sedang menghina kami yang menggunakan senjata
transformasi sebagai kesatria palsu? Kalau begitu silakan coba sendiri!
Seberapa hebat kekuatan yang dibanggakan oleh senjata yang kau ejek sebagai
mainan itu. Kau baru akan memahaminya setelah merasakan sendiri rasa
sakitnya!"
Bado melepaskan tawa kecil, lalu memberikan isyarat mata
kepada Omura.
"Mohon maaf, ya, orang kami ini memang agak
temperamental."
"Bukan, bukan, yang harus meminta maaf adalah pihak
kami. Figaro, minta maaflah."
Namun Figaro mengabaikan Omura, dan menaikkan suaranya ke
arah Heartland.
"Baiklah. Kalau begitu mari kita lakukan pertandingan
eksibisi. Apakah saya boleh memilih sendiri lawan tandingnya?"
"Huh! Sesuai harapan! Keangkuhanmu yang tinggi itu akan
kubakar sampai habis! Tapi apa maksudmu dengan memilih? Tanpa perlu memilih
pun, lawanmu adalah Komandan dari Ordo Kesatria Besi dan Api, yaitu aku
sendiri, Heartland!"
"Bukan, maaf."
Figaro mengalihkan pandangannya dari Heartland. Ia melangkah
maju ke depan deretan orang-orang dari Campusfellow, lalu mengamati wajah
mereka satu per satu seolah sedang menyeleksi. Kemudian ia bergumam pelan.
"……Bukan dirimu yang menarik perhatianku."
"……?"
"Tuan Grace," ucap Figaro seraya berbalik ke arah
Bado.
"Mohon maaf atas ketidaksopanan saya, namun bolehkah
Anda memberi tahu saya? Apakah di antara orang-orang ini ada yang merupakan Anjing
Hitam?"
"Anjing Hitam?"
"Benar, Anjing Pemburu dari Campusfellow.
Intelijen, pembunuhan, eksekusi pengkhianat…… Kebiasaan Anjing Hitam
adalah melakukan tindakan keji apa pun demi majikannya. Seorang pembunuh
bayaran yang kejam dan sangat kuat──Kudengar saat Perang Empat Binatang Buas
dahulu, pihak kami di Lowe juga dibuat sangat menderita olehnya."
"Haha."
Bado tertawa terpingkal-pingkal.
"Maaf, maaf. Memang benar ada pembunuh bayaran yang
dijuluki Anjing Hitam yang mengabdi pada keluarga Grace…… namun Perlang
Empat Binatang Buas itu adalah pertempuran yang terjadi lebih dari lima puluh
tahun yang lalu. Jika pembunuh bayaran yang aktif sebelum aku lahir itu masih
mengabdi padaku sekarang, dia pasti sudah menjadi kakek-kakek yang peot."
"Benar juga…… Jika dia masih aktif sampai sekarang, dia
pasti sudah tua, namun──"
Figaro berdiri di depan orang yang paling tua di antara
rombongan, Meister Shimei, namun setelah menatap wajahnya yang dipenuhi
kerutan, ia menggelengkan kepala dengan kecewa. ──“Bukan dirimu.”
"Namun tidak aneh jika ada orangnya, bukan? Penerus
yang mewarisi teknik pembunuhan tersebut beserta julukan Anjing Hitam──"
"Hmm. Tuan Kimberly memiliki imajinasi yang sangat
luas, ya."
Bado menyunggingkan senyuman kecut.
"Kalau begitu, saya akan memilihnya secara acak."
Figaro berjalan menyelinap di antara orang-orang dari
Campusfellow, menatap wajah setiap orang satu per satu.
"……Sudah kuputuskan. Orang yang akan menjadi lawan
tandingku adalah dirimu."
Jari yang ditunjuk oleh Figaro mengarah pada Roro yang
sedang bersiaga di barisan belakang.
"……Eh, saya?"
Tanpa membuang waktu, Heartland melangkah besar mendekati
Figaro.
"Bodoh! Apa kau ketakutan, Singa Emas! Dia ini bahkan
bukan seorang kesatria, tahu?!"
"Bukankah tidak masalah? Ini hanya untuk melihat
performa dari senjata transformasi. Lawannya tidak harus seorang kesatria,
kan."
"Yang Mulia!" ucap Figaro seraya berbalik ke arah
Omura.
"Mohon berikan izinnya. Saya ingin mengadu kemampuan
dengannya."
"Hmm. Kau ini memang merepotkan…… Bagaimana menurut
Anda, Tuan Grace. Saya pribadi sebenarnya juga ingin melihat pertempuran nyata
menggunakan senjata transformasi, sih……?"
"Haa. Jika Tuan Lowe berkata demikian, maka……"
Pandangannya bertemu dengan Roro yang tampak bingung,
membuat Bado mengangkat bahunya.
4
Semua orang meninggalkan Ruang Singgasana dan
berpindah menuju Kotak Mainan Raja. Mereka berkumpul di lapangan yang
berada di dekat pohon ek yang sempat mereka lirik beberapa saat lalu. Di tengah
lapangan ditarik garis pembatas, membentuk sebuah area pertandingan.
Campusfellow dan Lowe. Masing-masing kubu mulai melakukan persiapan
pertandingan di sisi lapangan yang saling berhadapan.
Para prajurit yang tadinya berada di aula juga telah
berpindah ke koridor yang mengelilingi pekarangan tengah. Mereka menunggu
pertandingan dimulai sambil bersandar pada pilar-pilar yang berjejer atau
mengobrol satu sama lain. Terlebih lagi, para kesatria Singa Emas serta para
pelayan yang bekerja di kastil yang mendengar keributan tersebut turut
berkumpul di koridor.
Karena Roro tidak membawa pelindung tubuh, pihak Lowe
menyiapkan sebuah zirah pelat untuknya. Itu adalah pelindung dada yang sudah
usang dan dipenuhi penyok di sana-sini, khas barang yang biasa digunakan untuk
latihan. Saat sedang mengenakan pelindung tubuh tersebut, Roro mendapatkan
kesempatan untuk berbicara dengan Bado.
"……Kenapa saya yang dipilih, ya?"
Roro merentangkan kedua tangannya ke samping sambil dibantu
dipasangkan pelindung dadanya oleh Heartland, melemparkan pertanyaan kepada
Bado yang berdiri di dekatnya.
"Apakah tidak ada hal yang mencurigakan yang terpikir
olehmu? Seperti kau memancarkan hawa membunuh karena marah senjata transformasi
dihina."
"Tidak mungkin. Hal sepele begitu tidak akan membuat
saya marah."
"Harusnya kau marah, dong! Dasar bodoh."
Putri Campusfellow, Delirium, meletakkan tangan di
pinggangnya sambil mengomel dengan kesal.
"Dely dan yang lainnya dihina, tahu?! Senjatanya, para
pengrajinnya, hingga ordo kesatria kita! Jika tidak marah melihat hal itu, kau
sudah tidak pantas menjadi rakyat Campusfellow!"
Delirium membuka lebar mata birunya, lalu mendekatkan
wajahnya tepat di depan hidung Roro.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika kalah. Bunuh saja
orang itu!"
"Jika dibunuh di sini, hal itu justru akan memicu
masalah diplomasi internasional……"
"Tidak, apa yang dikatakan putri itu benar!"
Pemasangan pelindung dada telah selesai, dan Heartland
memukul keras punggung Roro. Roro terdorong hingga terhuyung ke depan.
"Dengar, kau! Karena kau maju sebagai wakilku,
kekalahan sama sekali tidak diizinkan! Jangan lupa bahwa kehormatan
Campusfellow dipertaruhkan dalam satu pertandingan ini!"
"Berlebihan sekali…… Ya, saya akan berusaha
sebisanya."
"Jawaban macam apa yang kurang bersemangat itu! Kau
harus menang!"
Senjata yang diberikan padanya seolah dipaksakan adalah
senjata transformasi yang tadi dibuang oleh Figaro. Sebuah pedang satu tangan
yang bilahnya bisa memanjang. Roro menerimanya dengan pelindung tangan yang
ukurannya kebesaran dan longgar.
Kubu sebelah tampaknya sudah menyelesaikan persiapan mereka.
Figaro yang seluruh tubuhnya berkilau emas dari pelindung kepala hingga
pelindung kaki melangkah maju ke tengah lapangan. Roro pun maju ke area
pertandingan setelah mengenakan pelindung kepalanya.
"Roro," panggil Bado, membuatnya menoleh.
"Jujur saja, aku juga ingin menghajar orang itu, tapi
tempat untuk bertengkar bukan di sini. Kau mengerti, kan?"
"……Hamba laksanakan."
──TRING!
Terkena tangkisan pedang Figaro, Roro langsung terjatuh
terduduk dengan mudahnya.
"Mohon maaf. Saya menyerah!"
Karena pedang diangkat untuk melakukan serangan susulan,
Roro buru-buru mengarahkan telapak tangannya ke depan.
"……Menyerah? Jangan bercanda."
Melihat pemandangan yang memalukan itu, Figaro membuka
pelindung wajahnya dan menunjukkan raut wajah yang tidak senang.
"Bukankah kau mau menunjukkan kepadaku kehebatan dari
senjata itu? Coba transformasikan sekali saja. Atau jangan-jangan, benda itu
memang murni sebuah mainan?"
"Mohon ampuni saya. Jangankan seorang kesatria, saya
bahkan bukan seorang prajurit jelata. Saya yang hanya sebatas pelayan mana
mungkin bisa menjadi lawan tanding bagi seorang kesatria-sama……"
Cih, Figaro berdecak dengan kesal.
"Jika ingin pertandingan ini cepat selesai, coba
daratkan satu pukulan saja padaku."
"……Satu pukulan."
Tepat di saat Roro bangkit berdiri dengan terhuyung-huyung
dan memasang kuda-kuda, serangan Figaro kembali dilancarkan. Roro menghalau
dengan susah payah pedang Figaro yang diayunkan dengan keras sambil melangkah
mundur.
Suara sorakan dukungan dari pihak Campusfellow seperti
“Jangan mundur!” atau “Bunuh dia!” terdengar sampai ke punggungnya. Di sisi
lain, suasana bosan mulai mengalir di koridor yang mengelilingi pekarangan
tengah karena pertandingan yang berjalan berat sebelah.
Roro menahan ayunan pukulan Figaro dengan memosisikan bilah
pedangnya secara horizontal. Suara benturan logam yang nyaring bergema di
pekarangan tengah.
"Tadinya aku mengira kau adalah penerus dari Anjing
Hitam. Apakah dugaanku keliru? Hah?"
"…………"
"Hei, coba beri tahu aku. Kisah pembantaian tiga
ratus orang yang terkenal yang dilakukan oleh Anjing Hitam saat
Perang Empat Binatang Buas dulu, apakah itu kenyataan? Bagaimana cara dia membantai
tiga ratus orang hanya dalam waktu satu malam?"
Roro menatap balik wajah Figaro dari balik pelindung
kepalanya.
"……Kenapa kesatria-sama berpikir bahwa saya adalah
Anjing Hitam?"
"Bukan apa-apa, hanya insting saja."
Figaro mendorong pedangnya dengan kuat, mengempaskan posisi
Roro.
"Jika harus menyebutkan alasannya, di antara semuanya,
kaulah yang paling tidak merasa marah."
"……?"
"Senjata transformasi itu adalah kebanggaan kalian
warga Campusfellow, bukan? Padahal senjata itu sedang ditertawakan, tapi hanya
kau seorang yang tidak menunjukkan emosi sama sekali. Tidak marah, dan juga
tidak sedih. Begitu rupanya, seorang pembunuh bayaran memang tidak akan
mengumbar emosinya secara sembarangan, ya?"
"……Hee."
Sangat disayangkan, ia terpaksa menyetujui analisis
tersebut. Aturan untuk tidak menunjukkan emosi dan selalu bersikap tenang
memang telah ditanamkan secara keras oleh kakeknya, namun siapa sangka hal itu
justru menjadi petunjuk yang membongkar identitas aslinya.
Sambil menunggu Roro kembali ke tengah lapangan, Figaro
melanjutkan pertandingan. Dua kali, tiga kali suara benturan pedang bergema,
dan ujung pedang Figaro telah tertuju tepat di depan tenggorokan Roro.
"Bagaimana, apakah sudah saatnya kau mulai
serius?"
Dengan dagu yang tetap terangkat, Roro menggelengkan
kepalanya pelan berkali-kali.
"Tidak…… saya menyerah. Saya mengaku kalah."
"Jika kau tidak menghentikan sikap memalukanmu itu
segera──"
──BUG
"Ugh……"
Tiba-tiba Figaro merasakan hantaman keras di bagian
perutnya, membuatnya melangkah mundur. Apa yang sebenarnya terjadi──saat
melihat ke bawah, tampak bilah pedang Roro telah terbagi menjadi beberapa ruas
yang lunglai. Ujung pedang yang melesat keluar layaknya pegas telah menghantam
pelindung dada zirah pelat milik Figaro.
"Ooh…… Kuat sekali, ya. Zirah emas yang luar
biasa."
"……Sangat tidak bermutu."
Figaro segera memperbaiki posisinya dan bersiap dengan
pedangnya.
"Mau kuajarkan? Cara menggunakan pedang dari seorang
kesatria sejati."
"……Tidak perlu, terima kasih."
"Jangan berkata demikian. Cara pakainya adalah seperti
ini."
Figaro mengayunkan pedang yang digenggam kuat dengan kedua
tangannya sekuat tenaga. ──BLAM! Tubuh Roro yang terhantam di bagian
dada melayang ke udara, dan suara sorak-sorai membubung dari sekitar lokasi.
5
Di depan matanya, tampak dua buah batu permata berwarna biru
muda mengapung secara samar. Apakah itu batu aquamarine? Sungguh kilauan
yang sangat menyilaukan…… Tepat di saat ia sedang larut dalam perasaan
sentimental yang estetis seperti itu, kedua batu permata itu tampak berkedip
berkali-kali.
"Roro! Kau sudah sadar, ya!"
Pandangannya yang semula kabur mulai fokus membentuk wujud
nyata. Yang berada di depan hidung Roro adalah wajah Delirium yang sedang
mengintip ke arahnya. Dua buah batu permata biru itu ternyata adalah sepasang
mata biru yang basah. Saat ia menegakkan tubuh bagian atasnya, Delirium
langsung mendekap erat lehernya.
"Uwaaaan, syukurlah! Karena kau terpental dengan sangat
hebatnya tadi, aku mengira kau sudah mati, tahu. Dely menyuruhmu membunuhnya,
tahu? Bukan menyuruhmu mati! Dasar anjing bodoh. Bodoh!"
"Ini sakit, Delirium-sama. Dada saya sakit."
Tubuhnya terasa kaku dan napasnya terasa sesak. Tulang
rusuknya mungkin saja mengalami keretakan. Roro melihat ke sekeliling untuk
memastikan situasi. Tampaknya ia tadi tertidur dengan menjadikan paha Delirium
sebagai bantal. Itu adalah posisi yang tidak pantas dilakukan oleh seorang bawahan.
Jika sampai ketahuan oleh kakeknya, ia bisa dibunuh.
Roro sepertinya dibaringkan di atas sofa yang berada di
dekat dinding. Di tengah ruangan terdapat sofa yang mengelilingi meja, tempat
Bado dan Menteri Luar Negeri Edelweiss sedang duduk. Heartland berdiri di dekat
mereka sambil memegang tombaknya. Menyadari Roro telah sadar, Bado menoleh ke
belakang.
"Yo. Sudah bangun, ya."
"……Mohon maaf. Berapa lama saya tertidur?"
"Tidak terlalu lama, kok. Jangan dipikirkan."
Di langit-langit yang dipandang oleh Roro, tergantung sebuah
lampu kristal dengan lilin-lilin yang menyala. Di lantai terhampar karpet yang
tampak sangat mewah, dan di dinding terpasang hiasan berupa kepala rusa jantan
dengan tanduk yang megah. Ruangan ini adalah kamar tamu kelas satu yang dialokasikan
untuk Bado. Baik langit-langit maupun dindingnya, semuanya merupakan ruangan
serba emas yang berkilauan.
Heartland melangkah besar mendekati Roro.
"Roro, kau! Apa kau tidak punya rasa malu? Boro-boro
memamerkan kehebatan senjata transformasi, kau malah dihantam sampai terpental
begitu. Apa yang akan dipikirkan oleh para pandai besi di Campusfellow jika
melihat pemandangan memalukan itu……!"
Delirium mendekap kepala Roro ke dadanya.
"Sudahlah tidak apa-apa. Kau sudah merenunginya, kan?
Roro."
"Sudah kok~"
"Kau sama sekali tidak merenunginya, ya!"
"Sudahlah Heartland, jangan terlalu emosi begitu."
Bado turut memberikan pembelaan untuk Roro.
"Kau sengaja menerima pukulan itu, kan?"
"Karena jika tidak menerima pukulan, pertandingannya
seolah tidak akan berakhir……"
Meskipun ia tidak menyangka akan menerima pukulan telak yang
sampai membuatnya gagal memasang posisi bertahan. Menerima serangan itu juga
diniatkan sebagai bentuk peringatan bagi dirinya sendiri karena identitas
aslinya hampir terbongkar, namun tampaknya hal itu tidak perlu diutarakan
secara gamblang. Ia telah menunjukkan performa yang buruk di hadapan
majikannya. Roro hanya bisa menundukkan kepalanya.
Bado mengelus janggutnya yang tidak dicukur, lalu kembali
menghadap ke meja.
"Namun…… Figaro Kimberly, ya. Benar-benar pria yang
merepotkan yang muncul."
"Kendali praktis dari ordo kesatria tampaknya hampir
sepenuhnya berada di tangannya, ya."
Ucap Edelweiss sambil menuangkan teh dari teko ke dalam
cangkir.
"Jika dia menentang penyerahan Witches, maka……
negosiasi ini mungkin akan menjadi sulit, ya. Tuan Lowe berkata akan meyakinkan
para kesatria, namun melihat situasi tadi, yang terjadi justru sepertinya dia
yang akan diyakinkan oleh mereka."
"Benar. Pria seperti itu tidak akan mau mendengarkan
perkataan Omura. Wajahnya adalah tipe wajah orang yang menganggap dirinya
sendiri adalah yang nomor satu dalam segala hal. Gengsinya juga pasti sangat
tinggi. Tapi ya dia memang tampan, sih."
Setelah berkata demikian, Bado menunjuk Edelweiss dengan
dagunya.
"Kau menyukai tipe pria seperti itu, kan."
"Saya…… tidak menyukai orang yang mengejek sesuatu yang
dianggap berharga oleh orang lain."
Edelweiss memanyunkan bibir bawahnya, memasang raut wajah
yang masam. Meskipun dia seorang pria paruh baya, gesturnya menyerupai seorang
gadis. Edelweiss menggeser salah satu cangkir teh yang berisi teh herbal ke
hadapan Bado. Uapnya memancarkan aroma khas jeruk secara samar. Bado bergumam,
"Terima kasih," lalu mengangkat cangkir tersebut.
"Tapi, apa yang akan kita lakukan? Pengadilan Witches,
katanya…… Apakah Tuan Lowe benar-benar akan menyerahkan Witches setelah
pengadilan selesai? Bagi saya, hal itu rasanya sangat sulit dipercaya."
"Pasti akan sulit. Pengadilan Witches besok juga
mungkin saja merupakan rencana dari Figaro Kimberly yang ingin melenyapkan Witches,
lalu menghasut Omura untuk melangsungkannya. Karena dari yang kulihat, Omura
tampaknya sedang mengincar takhta Raja Singa berikutnya."
"……Pengadilan Witches yang menjadi ajang balas
dendam atas kematian raja adalah panggung yang sempurna sebagai batu pijakan
untuk menjadi Raja Singa berikutnya, ya."
Edelweiss melipat tangannya.
"Benar. Menjatuhkan vonis pada pembunuh Raja Singa
dengan sangat tegas di hadapan para bangsawan negara tetangga serta tokoh
penting kota──hal itu akan menjadi batu loncatan yang efektif untuk menjadi
Raja Singa berikutnya. Mungkin saja Omura telah diyakinkan oleh Figaro dengan
kata-kata seperti itu. Bahwa Witches tidak seharusnya dijual, melainkan
harus dimanfaatkan agar dirinya bisa menjadi Raja Singa……"
Putri dari Raja Singa, Snow White, hingga saat ini masih
belum ditemukan. Bagi Omura, ia pasti ingin membangun fondasi sebagai Raja
Singa berikutnya di celah kesempatan ini. Jika berpikir demikian, pengadilan Witches
adalah kesempatan yang sangat bagus bagi Omura untuk mendapatkan penilaian
positif dari sekitar.
"Kalau begitu, bukankah sebaiknya kita berasumsi bahwa Witches
tersebut akan dibakar di depan umum?"
Edelweiss menggelengkan kepalanya dengan wajah masam.
"Momen yang paling membuat rakyat jelata bersemangat
adalah saat orang jahat mati dengan cara yang tragis. Saya rasa kisah balas
dendam Tuan Lowe baru akan sempurna jika Witches itu dibakar sampai
mati."
"Hmm…… Hal itu juga ada benarnya, tapi"
Bado menyandarkan punggungnya ke sofa sambil menyilangkan
kakinya dengan tetap memegang cangkir teh.
"Ada satu hal lagi yang kukhawatirkan, yaitu apakah ada
Sorcerers yang akan muncul."
"Sorcerers?"
Mata Edelweiss membelalak.
"Bukankah pengadilan besok hanya formalitas belaka?
Bukankah hakim yang digunakan bukan seorang Sorcerers? Lagipula, Lowe
berada di luar wilayah agama Lucy. Tidak seharusnya ada Sorcerers di
sini."
"Benar, namun informasi bahwa bencana Witches
telah terjadi kemungkinan besar sudah tersampaikan ke Amelia juga. Jika mereka
mendengar bahwa Lowe mengadakan pengadilan Witches secara sepihak dan
menghakimi Witches tersebut, menurutmu, apakah mereka akan tinggal diam
melihatnya?"
"……Tidak mungkin mereka akan menyerang pengadilan,
kan."
"Entahlah. Bagaimana jika posisinya dibalik padamu?
Apakah kau tidak akan kesal jika ritual keagamaanmu ditiru oleh orang
lain?"
"Mungkin…… saja terjadi, ya."
Edelweiss menyentuhkan jarinya ke bibir dengan ekspresi
penuh kecemasan.
"……Agama Lucy memosisikan pengadilan Witches
sebagai ritual suci keagamaan. Mengingat mereka meniru ritual suci tersebut
meski hanya main-main, bagi pihak gereja hal itu akan dianggap sebagai bidah
yang tidak bisa dimaafkan."
"Bagi kita yang berencana untuk bermusuhan dengan
Amelia, kita tentu tidak ingin bertemu dengan Sorcerers di momen seperti
ini, kan. Walau kita tidak tahu apakah ada hal seperti sihir pembongkar
kebohongan, fakta bahwa kita diam-diam sedang menyiapkan perang tidak boleh
sampai terbongkar. Tidak bertemu dengan Sorcerers adalah pilihan
terbaik."
"Sebagai contoh……"
Edelweiss menelan ludah.
"Apakah ada kemungkinan bahwa Sembilan Utusan
yang akan datang……?"
"Skenario terburuknya, ya."
"…………"
Keheningan yang diliputi ketegangan turun menyelimuti mereka
berdua.
"Hei, Roro," ucap Delirium yang sedari tadi
mendengarkan percakapan Bado dan yang lainnya, seraya menoleh ke samping.
"Apa itu Sembilan Utusan? Apakah berbeda dengan Sorcerers?"
"Sembilan Utusan juga merupakan Sorcerers jika
diartikan dalam makna yang luas. Itu adalah gelar tingkat atas di kalangan Sorcerers."
Magang Sorcerers yang sedang menjalani pelatihan di
biara disebut sebagai “biarawan”. Jika perempuan, disebut “biarawati”. Setelah
menerima pembaptisan, mereka akan meninggalkan biara untuk menjadi seorang Sorcerers,
dan hanya orang-orang pilihan yang bisa menjadi Sembilan Utusan.
"Sesuai dengan namanya, Sembilan Utusan hanya berjumlah
sembilan orang saja di dunia ini. Dikatakan bahwa meski merupakan Sorcerers,
mereka masing-masing memiliki profesi yang spesifik."
"Heh. Profesi seperti apa?"
Roro melipat jarinya untuk menghitung seraya berkata,
"Kalau tidak salah……"
"Kardinal, Kesatria Suci, Penyihir Roh. Penyihir
Penyembuh, Penyihir Nekromansi, Ahli Alkimia──"
Ia mengingat kembali profesi-profesi yang ditanamkan oleh
kakeknya selama masa pelatihan.
"──Penyihir Pemanggil, Peramal, dan Badut…… Totalnya
ada sembilan orang."
Ia dipesan oleh kakeknya untuk sebisa mungkin menghindari
pertempuran dengan Sorcerers. Jikalau terpaksa berada dalam situasi di
mana harus bertarung, hal pertama yang harus dilakukan adalah membaca hukum
atau karakteristik sihir yang digunakan oleh lawan. Hanya dengan cara itulah
seseorang baru bisa bertarung secara seimbang dengan seorang Sorcerers.
Lalu, apa yang harus dilakukan jika dihadapkan pada situasi
bertarung dengan Sembilan Utusan? Jawaban dari kakeknya adalah, “Larilah
sekuat tenaga.”
"……Hmm. Apakah mereka kuat?"
"Tampaknya demikian. Sebagai contoh, seorang biarawan
dikabarkan memiliki kekuatan tempur yang setara dengan sepuluh orang prajurit
biasa. Seorang Sorcerers setara dengan lima puluh orang prajurit……
Menurutmu, berapa kekuatan tempur yang dimiliki oleh seorang Sembilan
Utusan?"
"Karena tingkatannya di atas Sorcerers, pasti
setara dengan seratus orang prajurit, kan?"
"Bukan. Kabarnya, seorang Sembilan Utusan memiliki
kekuatan tempur yang setara dengan satu buah kastil utuh."
"Satuannya sudah berbeda jauh, dong. Curang
sekali!"
"Itu membuktikan seberapa besar ancaman yang mereka
bawa. Faktanya, ada juga kisah di mana satu orang berhasil meruntuhkan sebuah
kastil."
"Bukankah itu hanya cerita yang dilebih-lebihkan
saja?"
Delirium menyatukan alisnya dengan penuh kecurigaan. Di saat
itu, pintu terbuka dan Meister Shimei masuk ke dalam ruangan.
"Tuan Bado. Saya sudah mengetahuinya, lokasi di mana Witches
itu dikurung."
Shimei duduk di sofa yang berada di serong depan Bado.
"Witches itu saat ini tampaknya ditahan di
sebuah penjara yang berada di pinggiran kota. Sebuah bangunan yang sunyi dan
tidak ada seorang pun yang mendekat. Namanya adalah──Penjara Besi."
"Pasti tempat yang sangat kokoh, ya."
Ucap Edelweiss dengan wajah masam dari kesan nama tempat
tersebut. Ia menuangkan teh herbal bagian Shimei dari teko ke dalam cangkir.
"Benar. Namun kabarnya Witches itu akan
dipindahkan malam ini. Demi pengadilan Witches yang akan dilangsungkan
besok."
"Hee. Dipindahkan ke mana?"
"Tempat tujuannya adalah di sini, Menara Kurungan
yang berada di dalam area kastil."
Setelah berkata demikian, Shimei menjumput gagang cangkir
teh yang digeser ke hadapannya dengan jarinya.
"Oh, apakah ini lemon balm? Aromanya sangat
harum."
Bado mengusap janggut dagunya sekali, lalu bergumam,
"Hmm." Kemudian ia menoleh ke belakang.
"Roro. Bisakah kau merebutnya?"
Orang yang terkejut hingga tersedak teh mendengar perkataan
tersebut adalah Shimei.
"Merebut, maksud Anda merebut Witches itu?
Apakah Anda serius dengan perkataan Anda, Tuanku?!"
"Benar sekali! Jika Witches itu direbut
sekarang, pihak kitalah yang paling pertama akan dicurigai, tahu?!"
Edelweiss pun ikut menimpali dengan suara yang meninggi.
Namun Bado melipat tangannya dengan santai.
"Tidak masalah, kita tinggal tidak meninggalkan bukti
saja, kan. Lagipula, pihak sanalah yang memutus janji terlebih dahulu."
Sambil merebahkan kepalanya di sandaran sofa, Bado sekali
lagi memastikan.
"Bisakah, Roro?"
"Jika majikan menyuruh untuk mengambilnya, tugas anjing
hanyalah mematuhinya."
"Kalau begitu saya juga akan ikut pergi!"
Orang yang membusungkan dadanya adalah Heartland.
"Jika terjadi pertempuran, kekuatan saya dipastikan
akan sangat dibutuhkan."
Ia bersiap dengan kedua tangannya memegang tombak kesayangan
yang selalu dibawanya, namun Roro menggelengkan kepala.
"Tidak perlu ikut, kok. Tubuh besar Tuan Heartland
justru akan menjadi pengganggu untuk operasi senyap."
"Ja…… Jangan sebut aku pengganggu, kau! Dalam operasi
semacam ini, dua orang tentu lebih baik daripada satu orang……"
Mengingat insiden pembasmian Direwolf maupun pertandingan
eksibisi dengan Figaro, kesempatan untuk unjuk gigi semuanya telah direbut oleh
Roro, sehingga Heartland ingin menggunakan momen ini untuk memulihkan nama
baiknya, namun──
"Kau tidak perlu pergi. Lindungi kami di sini."
"Tuan Bado…… Tapi, tetap saja……"
"Tidak boleh menolak, lho, Tuan Heartland. Kita harus
mematuhi perkataan majikan."
Roro melepaskan tawa tipis seolah merasa menang.
"Kesatria-sama silakan diam saja menunggu di sini.
Sementara itu, menjadi tangan dan kaki majikan demi menunjukkan kesetiaan
adalah tugas dari seorang pembunuh bayaran. Ah, sibuk sekali."
"Uuugh!"
Heartland mengembuskan napas gusar karena kesal, lalu menghentakkan
ujung tombaknya ke lantai.
"Roro. Setelah merebut Witches tersebut,
tinggalkan negara ini malam ini juga. Tergantung apakah Witches itu mau
kooperatif atau tidak…… namun jika memungkinkan, kau boleh kembali lebih dulu
ke Campusfellow."
"Hamba laksanakan."
Setelah memastikan jawaban Roro, Bado bertepuk tangan
sekali.
"Baiklah, pembicaraan selesai. Ayo segera dapatkan Witches
itu dan pulang."
Setelah berkata demikian, ia mendongak menatap langit-langit
dan dinding yang berkilauan emas.
"Di mana-mana semuanya gemerlap…… sama sekali tidak
membuat tenang, negara ini."
Suara gaungan burung gagak bergema dengan lantang di langit
senja yang diwarnai oleh matahari terbenam.
Sebuah hutan belukar yang terletak jauh dari jalan utama
Lowe, Jalan Kemenangan. Di kedalamannya, Penjara Besi berdiri terasing.
Itu adalah penjara kokoh tempat banyak tentara musuh dikurung, disiksa, dan
dieksekusi selama Perang Empat Binatang Buas yang pecah lima puluh tiga tahun
lalu. Sekarang, tempat itu digunakan untuk menahan para penjahat kelas berat.
Batu bata dindingnya disusun dengan metode kuno dari masa
lalu, membuat penampilan tuanya tampak seperti kastil kuno. Suasana mengerikan
menyelimuti tempat itu, seolah-olah kutukan dan ratapan para penjahat yang
terbunuh dengan kejam dapat terdengar dari sana.
Di sebuah lapangan di ujung tangga dari pintu masuk utama,
sebuah kereta barang yang ditarik dua ekor kuda tampak berhenti.
Atap bak keretanya melengkung membentuk lengkungan dan
ditutupi oleh terpal. Di dalam bak tersebut, sebuah penjara persegi
panjang──sebuah penjara kerangkeng──hendak dimasukkan.
Untuk saat ini, tidak ada apa pun di dalam penjara
kerangkeng itu, tetapi beban tersebut sudah cukup berat. Sekitar sepuluh orang
pekerja tampak bercucuran keringat di dahi mereka, menyatukan seruan mereka
untuk menaikkan penjara itu ke atas bak kereta.
Tepat di sampingnya, dua orang kesatria yang mengenakan
zirah emas tampak mengawasi pekerjaan tersebut.
Pelindung kepala yang mereka kenakan memiliki jambul putih
bersih, dan mereka memakai jubah di punggung mereka. Itu adalah bukti bahwa
mereka adalah bagian dari pasukan pengawal jenderal, kelompok elite yang
dipimpin oleh Figaro Kimberly-sama.
Jumlah kesatria seluruhnya ada lima orang. Tiga orang
sisanya berdiri melingkar di tempat yang agak jauh, bertukar obrolan santai.
Mereka semua adalah pengawal jenderal. Di dekat mereka, enam ekor kuda perang
yang mengenakan zirah kuda berwarna emas tampak tertambat.
Salah satu kesatria yang mengawasi pekerjaan──seorang
kesatria paruh baya dengan hidung betet, menghentikan salah seorang pekerja
dengan panggilan, “Hei.” Ia menyodorkan tali kepada pekerja itu, lalu
memberikan perintah, “Gunakan ini untuk menambatkan penjaranya.”
"Ikat dengan kencang supaya tidak terjatuh dari bak
kereta."
"Baik."
Pekerja muda itu memberikan jawaban yang kurang bersemangat,
lalu mengulurkan tangannya kepada kesatria tersebut. Entah bagian mana dari
sikapnya yang tidak menyenangkan bagi sang kesatria, ia menarik kembali talinya
dan urung menyerahkannya.
"Jawaban macam apa yang kurang bersemangat itu? Upahmu
akan kupotong."
"Ah, mohon maaf, tolong ampuni saya……"
Pemuda bertubuh mungil itu membungkukkan punggungnya,
menyatukan kedua tangannya untuk memohon ampun, namun kesatria berhidung betet
itu menggelengkan kepala.
"Tidak bisa, upahmu tetap dipotong. Jika tidak ingin
dipotong lebih banyak lagi, cepat amankan penjaranya."
Setelah berkata demikian, ia melemparkan tali itu kepada
sang pekerja. Sambil menunjuk pekerja yang buru-buru memungut tali tersebut, ia
menegaskan, “Aku akan memeriksanya nanti.”
"Jika tidak ingin ditebas sampai mati, lakukan dengan
benar. Lari!"
"Baik!"
Setelah memastikan pekerja itu berlari menuju bak kereta,
kesatria berhidung betet itu melepaskan tawa kepada kesatria yang satunya lagi.
"Astaga, harusnya dari awal bersikap begitu.
Orang-orang rendahan memang tidak tahu tata krama di hadapan kesatria-sama."
"Kau ini bisa saja. Bilang saja mau mencari uang jajan
tambahan."
Kesatria paruh baya berjanggut merah mengernyitkan wajah
mendengar perkataan rekannya yang berhidung betet itu.
Uang potongan upah dari pekerja muda itu pasti akan masuk ke
kantong kesatria berhidung betet tersebut.
"Bising ah. Ini uang untuk bersenang-senang setelah
selesai bekerja. Tidak ada salahnya mendapat tunjangan khusus sebesar itu, kan?
Lagipula, sosok yang akan kita pindahkan ini adalah Witches pembunuh
Raja Singa."
Si hidung betet berkata demikian sambil membusungkan dada,
namun di wajah si janggut merah, tampak gurat ketegangan yang jelas.
"Tapi, apakah ini benar-benar aman? Bagaimana jika Witches
itu mengamuk……"
"Jangan ketakutan begitu, dasar bodoh. Witches
yang sekarang tidak bisa menggunakan sihir, kok──"
Lalu, di saat itu, pintu utama Penjara Besi terbuka,
membuat mereka berdua seketika bungkam.
Para kesatria lain yang tadinya mengobrol santai juga ikut
berbalik, and para pekerja menghentikan aktivitas mereka.
Dari tangga di depan pintu, seorang wanita turun dengan
dipimpin oleh seorang kesatria.
Ia mengenakan jubah berwarna cokelat kemerahan, dengan
tudung kepala yang dipakai dalam-dalam sambil menunduk. Karena itulah, raut
wajahnya tidak bisa terlihat. Kedua pergelangan tangannya belenggu oleh borgol
batu berwarna putih. Dari belenggu tersebut menjulur seutas rantai, yang
ujungnya digenggam oleh kesatria yang memimpin di depan.
Di sisi kanan belakang dan kiri belakang sang Witches,
dua orang kesatria yang memegang tombak dalam posisi tegak tampak mengikuti di
belakang sambil menuruni tangga.
Kesatria yang memimpin di depan bereritak kepada sekeliling.
"Jangan ada yang menyentuh wanita ini! Jangan
mengajaknya bicara! Witches adalah malapetaka. Kutukannya bisa menular
pada kalian!"
Ia adalah wakil komandan pengawal jenderal. Tangan kanan
Figaro-sama. Selama masa penahanan, pengurusan sang Witches sepenuhnya
dilakukan langsung olehnya, dan orang lain bahkan tidak diizinkan untuk
mendekat. Bagi kesatria berhidung betet dan kesatria berjanggut merah, ini juga
pertama kalinya mereka melihat wujud sang Witches.
Dengan dipimpin oleh sang wakil komandan, Witches itu
melangkah turun ke lapangan dalam keadaan telanjang kaki.
Menerima semua pandangan dari para kesatria, ia berjalan
menuju kereta kuda barang.
Tepat di saat sang Witches melangkahkan kakinya di
atas papan yang melintang dari tanah menuju bak kereta, kesatria berhidung
betet menyadari bahwa pekerja muda tadi masih berada di atas bak kereta.
Kepada pekerja yang berdiri mematung sambil menatap sang Witches
itu, ia buru-buru membentak, “Bocah!”
"Jika pekerjaanmu sudah selesai, cepat turun!"
"……Baik."
Pekerja itu kembali memberikan jawaban yang kurang
bersemangat, lalu bersiap untuk melompat turun dari bak kereta. Di saat itulah,
dari celah poni hitamnya yang melengkung longgar, ia memperlihatkan sepasang
mata hijau gelapnya.
Roro yang menyamar sebagai pekerja melirik wajah sang Witches
dari sudut matanya.
Wajah sang Witches yang terhidden di balik tudung
dipasangkan sebuah topeng perak. Topeng yang menyerupai wajah wanita yang
sedang tersenyum itu tidak memiliki lubang untuk melihat bagi kedua matanya.
Kedua telinganya juga tertekan, dibuat dengan struktur yang mengisolasi dirinya
dari dunia luar. Itu adalah salah satu jenis alat pengekang yang disebut Topeng
Santa.
Witches itu dimasukkan ke dalam penjara kerangkeng
oleh tangan sang wakil komandan. Wakil komandan menambatkan rantai yang
menjulur dari borgol batu milik sang Witches ke jeruji besi. Sang Witches
tetap berdiri di dalam kerangkeng. Pintu kerangkeng pun dikunci.
Setelah memastikan proses tersebut selesai, kesatria
berhidung betet mengembuskan napas panjang. Walaupun sempat berlagak tangguh,
tampaknya ia merasa agak tegang saat benar-benar dihadapkan pada sosok Witches
di depan matanya.
"Borgol batu yang terpasang di pergelangan tangannya
berwarna putih, kan? Terus, ada guratan merahnya."
Si hidung betet berbisik kepada kesatria berjanggut merah.
"Itulah alat sihir untuk menyegel kekuatan sihir. Witches
yang tidak bisa menggunakan sihir hanyalah wanita biasa."
"……Bagian mananya yang mirip wanita biasa. Menyeramkan
sekali……"
Kesatria berjanggut merah menyahut dengan wajah masam.
Selama proses pemindahan, mereka berdua dijadwalkan untuk
naik ke atas bak kereta demi mengawasi penjara kerangkeng tersebut. Meskipun hanya
untuk waktu yang singkat sampai ke Kastil Lowenstein, berada di ruang yang sama
dengan seorang Witches benar-benar membuat nyali menciut.
Kedua kesatria membagikan koin perak kepada para pekerja,
lalu membubarkan mereka di tempat.
Tiga orang yang tadinya mengobrol santai, dua orang yang
memegang tombak, serta sang wakil komandan──keenam kesatria tersebut
menunggangi kuda perang mereka.
Di saat kereta kuda mulai melaju meninggalkan Penjara
Besi di belakang, ujung perbukitan sudah mulai diwarnai oleh warna biru
tua.
Di dalam terpal bak kereta tergantung sebuah lentera,
sehingga bagian dalamnya tetap terang remang-remang meskipun pintu keluar
masuknya ditutup. Di bagian depan bak kereta──tepat di belakang kursi
kusir──penjara kerangkeng ditambatkan menggunakan tali, sementara kesatria
berhidung betet dan kesatria berjanggut merah berdiri di bagian belakang bak
kereta sambil memegang tepian atap.
Menahan guncangan kereta kuda yang melonjak-lonjak.
Witches yang tadinya berdiri di dalam penjara
kerangkeng, perlahan duduk bersimpuh saat guncangan semakin hebat.
Dari balik terpal, terdengar suara roda yang menggilas
jalanan hutan serta suara derap kaki kuda yang menghentak tanah. Lentera tampak
berayun-ayun hebat dengan suara klang, klang.
Pada awalnya, kedua penjaga memosisikan diri menghadap
penjara kerangkeng untuk mengawasi sang Witches lekat-lekat, namun
terus-menerus menatap Witches yang bertopeng itu membuat nyali mereka
menciut, hingga akhirnya mereka berbalik memunggunginya.
Kesatria berhidung betet berkata dengan suara berbisik.
"Hei, apa kau sudah dengar? Kisah tentang Komandan
Kimberly yang beradu kemampuan dengan prajurit dari Campusfellow."
"Ah, yang di Kotak Mainan Raja, kan? Katanya
menang telak, ya."
"Lawan yang dikalahkan telak oleh komandan itu, lho.
Apa kau tahu siapa dia? Kabarnya dia adalah penerus dari Anjing Hitam."
"Hah? Serius? Si pembantai tiga ratus orang itu?"
Kerajaan Lowe juga dibuat sangat menderita oleh sosok Anjing
Hitam yang bergerak di bawah bayang-bayang selama Perang Empat Binatang Buas
dahulu.
Kisah tersebut diwariskan turun-temurun sebagai sebuah
cerita setelah melalui waktu selama lima puluh tahun. Khususnya kisah mengenai
pembantaian tiga ratus tentara musuh sendirian dalam waktu satu malam, menjadi
buah bibir di kalangan para kesatria sebagai legenda yang menyimbolkan
kengerian dari asal-usul Anjing Hitam yang tidak diketahui.
Apakah Assassin seperti itu benar-benar nyata atau
tidak──mereka berdua berada dalam kondisi setengah percaya, namun mereka sama
sekali tidak menyadari bahwa di belakang punggung mereka saat ini, sang penerus
Anjing Hitam yang sedang hangat dibicarakan telah mendarat tanpa menimbulkan
suara sedikit pun.
"Tapi,"
Kesatria berjanggut merah mengernyitkan wajahnya.
"Jika komandan menang telak…… artinya komandan lebih
kuat daripada Anjing Hitam? Yang benar saja."
"Lagipula jangan-jangan kisah pembantaian tiga ratus
orang itu hanya bualan belaka? Hanya dilebih-lebihkan saja saat disebarluaskan,
padahal aslinya sama sekali tidak sehebat itu, cerita semacam itu kan bisa
ditemukan di mana saja……"
Kesatria berhidung betet yang berbalik sambil berbicara,
mendadak menelan ludahnya.
Menyadari ada keanehan pada rekannya, kesatria berjanggut
merah ikut berbalik.
Di tengah-tengah bak kereta, berdiri seorang pria asing.
Pelindung kepala hitam, pelindung tangan hitam, dan
pelindung kaki hitam. Hanya pelindung dadanya yang tidak dikenakan, memperlihatkan
bagian dada dan perut yang dibalut oleh pakaian hitam. Mungkin karena alasan
itu, kesan tubuh yang sangat mungil terasa kuat darinya. Perawakannya tidak
terlalu tinggi, dan tidak memancarkan intimidasi maupun kengerian, namun karena
wajahnya disembunyikan di balik pelindung kepala, sama sekali tidak terasa
adanya hawa kehidupan ataupun tanda keberadaan darinya. Sensasi menyeramkan
seolah sedang berhadapan dengan hantu terasa menusuk kulit.
"……Siapa…… orang ini? Dari mana datangnya──"
Kesatria berhidung betet melangkah maju satu langkah.
Di detik berikutnya, dagunya dihantam oleh pelindung tangan,
membuatnya kehilangan kesadaran. Roro mencengkeram tepian zirah pelat milik
kesatria yang ambruk dari kedua lututnya tersebut, lalu membaringkannya perlahan
di atas papan lantai bak kereta.
Kesatria berjanggut merah membelalakkan matanya.
"……Apa. Penyusup?!"
Kesatria berjanggut merah merendahkan posisi tubuhnya,
mengambil sikap bertarung. Ia mencoba menarik pedang yang tergantung di
pinggangnya. Namun, gerakan kaki Roro yang melesat masuk dalam sekejap berhasil
mendorong kembali ujung gagang pedang tersebut menggunakan telapak tangannya.
Suara benturan nyaring tring bergema.
"Ugh……! Siapa di sana, ada musu──……!?"
Tenggorokannya dicengkeram kuat, membuat suaranya langsung
terputus.
Roro dengan cekatan berpindah ke punggungnya, lalu
melingkarkan lengan di lehernya. Ia menekan urat leher dengan akurat,
mencekiknya kuat-kuat. Tidak membutuhkan waktu lama sampai kesatria yang
wajahnya memerah padam itu memutar bola matanya dan pingsan.
Tubuh kesatria yang telah kehilangan kesadaran tersebut
kembali dibaringkan oleh Roro di atas papan lantai tanpa menimbulkan suara.
Dalam sekejap mata kedua kesatria telah pingsan, membuat bak
kereta kembali diselimuti oleh keheningan.
"…………"
Di atas bak kereta kuda yang terus melaju tanpa ada
perubahan, Roro menekuk salah satu lututnya di depan penjara kerangkeng.
Ia membuka pelindung wajah pada pelindung kepalanya,
memperlihatkan wajahnya.
"……Mohon maaf atas ketidaksopanan saya."
Witches yang dipasangkan Topeng Santa tidak
menunjukkan respons apa pun terhadap perkataan Roro.
Roro memasukkan tangannya ke dalam celah jeruji besi. Ia
menyingkap tudung kepala sang Witches, lalu memポートン
tali sabuk topeng menggunakan bilah pisau yang tertanam pada pelindung
tangannya.
Seperti apakah gerangan. Rupa dari Mirror Witch yang
mengayunkan sabit perak besar di hari pernikahan dan membantai secara keji
lebih dari lima puluh orang undangan termasuk Raja Singa. Saat yang dinanti
untuk berhadapan langsung akhirnya tiba, membuat Roro menelan ludahnya pelan.
Begitu Topeng Santa terlepas, sepasang pandangan mata
yang menghunjam tajam langsung tertuju ke arah Roro.
Mungkin karena efek masa penahanan yang telah mencapai lebih
dari sepuluh hari, pipinya tampak kempis, kulitnya pucat pasi, dan rambutnya
rusak. Namun di dalam mata merahnya, tersimpan tekad kuat untuk melawan
kemalangan yang menimpanya.
Sepasang mata yang ajaib, seolah mata itu sendiri dialiri
oleh kekuatan sihir. Menerima pantulan pancaran cahaya dari lentera, iris
merahnya tampak berkilau. Entah karena mewaspadai Roro, pandangan matanya
tampak sedikit bergetar.
"……Siapa?"
Witches itu bertanya. Suaranya kecil namun terdengar
jernih.
"……Nama saya Anjing Hitam. Orang yang mengabdi pada
Negara Api dan Besi Campusfellow."
"……Anjing Hitam?"
Witches itu memiringkan kepalanya sedikit. Entah
karena tidak tahu nama Anjing Hitam, atau tahu namun merasa curiga. Roro
berbicara sambil terus memperhatikan ekspresi wajah sang Witches.
"Saya rasa Anda adalah Permaisuri dari Kerajaan Lowe
sekaligus sang Mirror Witch──Teresalisa Lowe. Apakah dugaan saya tidak
keliru?"
Sepasang mata yang terbuka lebar menatap lekat-lekat
memantulkan wajah Roro. Orang yang sulit dibaca emosinya, begitu batin Roro.
"Witches……"
Teresalisa mengedipkan matanya perlahan sekali.
"……Apakah aku terlihat seperti seorang Witches
di matamu?"
Tiba-tiba, ketajaman yang dipancarkan oleh Teresalisa terasa
lenyap. Apakah ia sudah menurunkan kewaspadaannya. Emosi berikutnya yang terasa
dari pandangan mata itu adalah kesedihan.
Teresalisa menundukkan pandangannya. Bulu matanya yang
panjang tampak bergetar.
"Ada keperluan apa orang dari negara lain
denganku?"
"Saya datang untuk menyelamatkan Anda."
"Aku tidak mengerti. Tidak ada alasan bagiku untuk
diselamatkan oleh Campusfellow──"
Lalu, di saat itu. Tiba-tiba terpal yang menjuntai di bagian
depan bak kereta tersingkap, dan embusan angin kencang menerobos masuk.
Roro secara refleks melompat ke belakang, menurunkan
pelindung wajahnya untuk menyembunyikan wajah.
Lentera yang tergantung bergoyang hebat ditiup angin. Klang,
lentera itu jatuh terempas dan apinya padam.
Bagian dalam bak kereta yang ditutupi oleh terpal seketika
diselimuti oleh kegelapan dalam sekejap mata.
"Aku sudah menunggumu. Anjing Hitam."
Wajah pria yang memunculkan diri dari kursi kusir tidak
terlihat karena tertutup oleh kegelapan bayangan.
Namun, begitu mendengar suara yang angkuh dan arogan
tersebut──bisa langsung diketahui bahwa pria yang muncul adalah Komandan
Pengawal Jenderal, Figaro Kimberly-sama. Dengan latar belakang langit malam,
jubah putihnya berkibar ditiup angin seraya ia memanggul pedang di bahunya.
"Kau datang untuk merebut Mirror Witch, ya?"
"…………"
Roro tidak merespons. Ia tidak berniat untuk bertarung.
Tidak berniat juga untuk berdiskusi. Seperti yang dikatakannya, ia datang
kemari memang untuk merebut sang Witches. Karena posisinya sudah
ketahuan, apakah ia harus pergi saja.
"Ada apa, Tuan Kimberly!"
Kusir berbalik, menaikkan suaranya.
"Bukan apa-apa. Kau tetap pacu kereta kudanya menuju
kastil sesuai rencana."
Memberikan instruksi demikian kepada kusir, Figaro mengamati
Roro yang sekujur tubuhnya berbalut pakaian hitam. Walaupun bagian ujung jari
hingga sebelum siku ditutupi oleh pelindung tangan, tidak ada senjata yang
geggam di tangannya. Anjing Hitam tidak membawa senjata. Itu adalah salah satu
karakteristik yang diceritakan dalam kisah-kisah.
"Tangan kosong tidak masalah bagi dirimu, kan?"
"…………"
"Kalau begitu, kita bisa langsung mulai, kan!"
Sesaat setelah menyelesaikan kalimatnya, Figaro mengayunkan
pedang lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam bak kereta.
Roro menangkis jalur ayunan pedang tersebut menggunakan
pelindung tangannya untuk dialihkan. Ujung pedang Figaro yang terlempar merobek
terpal dengan robekan yang besar. Di tengah kegelapan, Figaro terus-menerus
mengayunkan pedangnya dengan liar. Roro melompat ke belakang untuk menghindar,
atau menangkis bilah pedang demi menghalau serangan bertubi-tubi tersebut.
Suara benturan logam dari besi yang saling beradu bergemuruh di dalam terpal.
Roro menahan pedang Figaro dengan menyilangkan pelindung
tangannya, lalu memosisikannya secara horizontal.
Figaro tidak ambil pusing, ia mendorong kuat menggunakan
tenaga kasarnya. Ujung dari pedang tersebut memotong terpal membentuk satu
garis lurus.
Terpal yang terobek menerima terpaan angin, mengembang
besar. Lalu terbelah oleh dorongan angin tersebut, membuat alat pengaitnya
terlepas satu per satu. Sreeet──blap!
Di detik berikutnya, terpal yang menutupi bak kereta terbang
melayang ke langit malam, memperlihatkan sosok rembulan di atas kepala.
Rembulan bulat yang seolah melelehkan langit malam.
Pepohonan yang mengapit jalanan hutan melesat ke belakang dengan kecepatan
tinggi.
Di sekitar kereta kuda barang, kuenam orang pasukan berkuda
tampak memacu kuda berdampingan. Dua orang kesatria bersiapa dengan tombak, dan
empat orang kesatria membawa busur panah. Tampaknya mereka sudah mengantisipasi
adanya serangan musuh, masing-masing telah menggenggam senjatanya.
"Komandan! Enam pasukan berkuda siap bertempur kapan
saja!"
"Tetapi di posisi kalian. Aba-aba akan kuberikan
nanti."
Di depan sang Witches yang dikurung dalam penjara
kerangkeng, sang kesatria dan Assassin saling berhadapan.
"Nah, pertunjukan sesungguhnya dimulai dari sini."
Figaro membunyikan lehernya dengan suara klek, klek,
lalu memutar bahunya.
"Kau adalah penjahat yang menyerang Witches yang
sedang dipindahkan. Tidak ada alasan bagimu untuk protes jikalau ditebas sampai
mati, kan?"
"…………"
"……Lalu sebelum itu. Aku sempat mencobanya tadi, tapi
pedang seringan ini memang tidak berguna."
Benda yang dibuang oleh Figaro ke atas papan lantai adalah
pedang satu tangan yang digunakannya bertarung sampai sekarang. Itu adalah
senjata transformasi buatan Campusfellow yang digunakan oleh Roro dalam
pertandingan eksibisi siang tadi.
Figaro sekali lagi menarik pedang dua tangan yang tergantung
di pinggangnya sendiri. Itu adalah pedang yang dibuat bukan untuk menyabet
lawan, melainkan untuk mencincangnya sampai hancur. Bobotnya terasa mantap dan
berbotot, terasa pas di kedua tangan Figaro.
"Memang pedang seorang kesatria harus seperti ini……
bukan begitu?"
"……"
Roro memungut pedang yang dibuang di dekat kakinya, lalu
untuk pertama kalinya membuka mulut sejak tiba di sini.
"……Dahulu kala. Sebuah monster raksasa menyerang armada
kapal milik orang-orang Transmare──"
"Ha……?"
Figaro menaikkan sebelah alisnya dengan posisi tetap bersiap
dengan pedangnya.
"Monster yang melompat di lautan layaknya terbang
dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata. Para petualang pemberani
bertarung sepanjang malam, namun lebih dari setengah awak kapal tewas dimangsa,
membuat armada kapal berada dalam kondisi hancur lebur──"
Sambil bercerita, Roro menyentuhkan kedua tangannya pada
gagang pedang satu tangan tersebut.
"Hingga akhirnya pagi menjelang, melihat monster yang
terdampar di atas geladak kapal membuat wajah para petualang pucat pasi.
Makhluk apa sebenarnya yang mereka lawan. Makhluk apa yang mereka temui di
tengah lautan luas. Itu adalah seekor kelabang raksasa seukuran paus. Para
petualang ketakutan menganggapnya sebagai utusan dewa, lalu memanggilnya dengan
penuh rasa takjub──"
Klik, saat gagang pedangnya diputar, beberapa bilah
duri melesat keluar dari kedua sisi bilah tajamnya. Setiap duri memiliki wujud
belah ketupat yang asimetris. Struktur tonjolan bergerigi yang berjajar di
kedua sisi bilah tajam tersebut memancarkan aura mengerikan layaknya seekor
kelabang.
"Scolopendra──itulah asal-usul dari nama pedang
ini."
"……Hei, hei. Aku tidak pernah dengar benda itu bisa
berubah menjadi seperti itu, lho?"
"Jika Anda sebegitu ingin mengetahuinya, akan saya
perlihatkan. Cara penggunaan sesungguhnya dari benda ini."
Sesaat setelah menyelesaikan kalimatnya, Roro mengayunkan
pedang lalu melesatkan kakinya maju.
7
Di sisi lain, Bado-sama dan rombongannya di Kastil
Lowenstein tengah diundang dalam acara perjamuan makan malam.
Rombongan dipersilakan masuk menuju ruang makan dengan meja
panjang yang diletakkan di tengah ruangan, yaitu Kamar Tamu Agung. Di
atas perapian yang dialiri kayu bakar, terpasang sebuah kepala rusa jantan. Di
dinding tergantung bendera bergambar singa, dan lemari yang dihiasi
pernak-pernik antik tampak berjajar, mungkin disediakan sebagai bahan obrolan.
Baik dinding maupun langit-langitnya kembali berkilau
diwarnai warna emas.
Mengapit meja panjang yang dipenuhi hidangan makanan, para
tokoh penting dari Lowe dan Campusfellow saling duduk berhadapan. Di hadapan
Bado-sama yang menduduki kursi kehormatan, ada sosok Omura.
"Aduh, aduh, aduh," ucap Omura sambil menurunkan
sudut alisnya dengan raut wajah tidak enak.
"Meskipun Anda sudah datang dari jauh, saya mohon maaf
karena tidak bisa memenuhi harapan Anda. Sebenarnya saya ingin segera
menyerahkan Witches itu, namun ini murni kesalahan saya karena tidak
berhasil meyakinkan para kesatria."
Sambil menusukkan pisau ke dalam pai berisi daging burung
dara, Bado-sama menggelengkan kepala seraya berkata, “Bukan masalah.”
"Kudengar para kesatria Lowe memiliki kesetiaan yang
tinggi. Jika demikian alasannya, saya bisa memaklumi perasaan mereka."
Setelah berkata demikian ia menghentikan gerakan tangannya,
lalu menaikkan wajah. Ia menatap lurus ke arah Omura.
"Namun Tuan Lowe sudah memberikan janji. Bahwa Witches
itu dipastikan akan diserahkan pada pesta persahabatan setelah pengadilan
selesai. Saya sama sekali tidak merasa khawatir, kok. Karena saya menaruh
kepercayaan penuh pada pihak Lowe."
Bado-sama meletakkan pisaunya, lalu mengangkat gelas yang
terisi anggur merah.
"Untuk persahabatan antara Lowe dan Campusfellow."
Omura pun ikut mengangkat gelasnya menyambut bersulang, lalu
menambahkan kalimatnya.
"Serta untuk pedang sihir yang akan menghasilkan
kekayaan masif."
Mereka berdua saling bertukar senyuman lebar, lalu menyesap
anggur merah mereka.
Di dekat Bado-sama, Delirium tampak duduk di kursinya. Di
sebelahnya diikuti oleh Meister Shimei, Menteri Luar Negeri Edelweiss,
serta para birokrat lainnya, dan di kursi paling ujung ditempati oleh Komandan
Kesatria Heartland. Karena menyantap makanan sambil memegang tombak tentu
merupakan tindakan yang tidak sopan, tombak kesayangannya disandarkan pada
dinding emas.
Semuanya tampak memotong pai daging burung dara mereka dalam
diam.
Pihak Lowe yang duduk di hadapan mereka juga menunjukkan
sikap yang sama, sangat minim bicara.
Berdasarkan perkenalan dari Omura, mereka adalah orang-orang
yang mengurus jalannya politik secara sementara, menggantikan para menteri
senior dari Raja Singa yang seluruhnya tewas dalam insiden Pernikahan
Berdarah. Khawatir roda pemerintahan akan terhenti, Omura mengumpulkan
mereka secara langsung.
Upaya membangun fondasi kekuatan untuk menjadi Raja Singa
berikutnya dengan mendahului Snow White tampaknya sedang berjalan dengan
lancar.
Pisau dari masing-masing orang yang memotong pai berbenturan
dengan piring datar memunculkan suara dentukan nyaring. Klek, klek──Kamar
Tamu Agung yang tidak dipenuhi obrolan tersebut diselimuti oleh keheningan
yang terasa berat.
Omura menartap lekat-lekat ke arah Delirium yang sedang
memiringkan gelas jus anggurnya.
"Apakah hidangannya sesuai dengan selera Anda, Nona
Delirium?"
Delirium menyunggingkan senyuman tipis.
"Iya, cita rasanya sangat anggun."
"Bagusan kalau begitu! Di dalam minuman Nona Delirium
sengaja dicampurkan sirup elderflower sebagai bumbu rahasianya, lho. Segar dan
manis, manis, kan?"
"Wah, dicampur sirup? Terima kasih banyak."
Kenapa cuma punya Dely yang dicampur? Menjijikkan…… pikiran
itu sama sekali tidak diperlihatkan di wajahnya, Delirium kembali tersenyum
sekali lagi. Sejak beberapa saat lalu, ia merasakan adanya tatapan mata yang
intens dari Omura yang duduk di posisi serong depannya. Rasanya tidak tenang
karena setiap gerak-geriknya seolah sedang diawasi.
Saat tidak sengaja menurunkan pandangannya ke atas meja, ia
terkejut mendapati seekor bunglon di sana. Makhluk yang sedang berjalan santai
menyelinap di antara hidangan makanan tersebut adalah hewan yang bertengger di
bahu Omura sebagai bagian dari aksesoris fesyennya.
Delirium merasakan seleranya makannya langsung lenyap, lalu
diam-diam menjulurkan lidahnya dengan ekspresi mual.
"Terlepas dari hal itu, Tuan Grace. Apakah Anda sudah
meminum teh herbal yang disediakan di kamar Anda?"
"Iya, saya sudah meminumnya. Aroma segar khas buah
jeruk itu…… adalah lemon balm, kan?"
"Wah. Seperti dugaan, Anda sangat mengetahuinya. Teh
itu merupakan komiditas impor yang didatangkan dari wilayah Elder, lho. Salah
satu barang favorit saya. Jika teh itu diteteskan madu khas Lowe, perpaduan
manisnya benar-benar tidak ada tandingannya. Nanti akan saya perintahkan untuk
disediakan lagi."
"Terima kasih banyak atas segala kebaikannya."
Bado-sama menundukkan kepalanya sedikit.
"Namun ini benar-benar negara yang luar biasa. Ke mana
pun mata memandang tampak berkilauan, diwarnai warna emas yang megah."
"Ini semua merupakan pencapaian luar biasa dari para
generasi Raja Singa terdahulu, termasuk mendiang kakak saya."
Omura mendongak menatap kepala rusa jantan yang terpasang di
atas perapian.
"Benda itu adalah rusa hasil buruan kakak saya."
"Hoo. Tanduknya sangat megah. Ukurannya lebih besar
daripada yang terpasang di kamar saya, ya."
"Karena para kesatria Lowe mengibaratkan diri mereka
sebagai singa, kami tidak memajang hiasan awetan singa. Sebagai gantinya kami
memajang kepala rusa. Ukuran tanduk tersebut digunakan untuk merepresentasikan
kekuatan diri sendiri."
"Begitu rupanya…… Bisa melumpuhkan rusa dengan ukuran
tanduk sebesar itu, mendiang Raja Singa pasti merupakan sosok pria yang sangat
gagah berani. Saya sangat ingin bertemu dengannya walau sekali……"
Bado-sama menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang tampak
sangat menyesal.
Omura juga ikut mengecilkan suaranya seolah sedang dirundung
kedukaan mendalam.
"Kakak yang agung kini telah tiada…… nasib negara ini
akan menjadi seperti apa…… saya benar-benar mengkhawatirkannya. Keponakan saya
tercinta, Snow White, juga masih belum ditemukan. Dengan kondisi seperti ini,
gelar Raja Singa akan berada dalam posisi yang tidak pasti……"
"Lho? Saya semula mengira bahwa Anda sendirilah yang
akan mewarisi gelar Raja Singa berikutnya."
"Ah tidak, tidak, orang seperti saya mana mungkin
pantas menggantikan posisi kakak."
"Namun pada kenyataannya, Anda mengkhawatirkan negara
dan mengumpulkan orang-orang yang bisa mengurus jalannya politik seperti ini.
Bukankah itu merupakan cerminan kebajikan diri Anda. Bukankah rakyat juga menginginkan
Anda untuk mewarisi gelar Raja Singa?"
"Jika rakyat memang menuntutnya, saya tidak keberatan.
Namun ada satu masalah……"
"Hoo, masalah…… apa itu?"
"Dibandingkan dengan para generasi singa terdahulu,
tubuh saya ini agak terlalu tambun."
"Ahahaha!"
"Ahahaha!"
Suara tawa bergema di seluruh Kamar Tamu Agung. Tentu
saja, orang yang tertawa hanyalah mereka berdua.
"Omong-omong, saya tidak melihat keberadaan Tuan
Komandan Pengawal Jenderal, ya?"
"Ah, dia sedang mengemban tugas untuk mengawal proses
pemindahan Witches. Belakangan ini entah kenapa gerombolan penjahat
semakin bertambah banyak."
"Lho, penjahat? Wah, situasi yang kurang menyenangkan,
ya."
"Tidak, tidak, bukan masalah besar, kok. Kimberly milik
kami merupakan salah satu orang paling berbakat di Ordo Kesatria Singa Emas.
Penjahat jenis apa pun pasti akan ditebasnya sampai habis. Yah, itu semua
dengan catatan jika makhluk seperti itu benar-benar memunculkan diri,
sih."
Terlepas dari hal tersebut, Omura mengalihkan topik
pembicaraan.
"Justru saya sangat ingin Tuan Anjing Hitam bisa hadir
di sini. Apakah efek dari terlempar oleh Kimberly kami siang tadi masih
berbuntut panjang……? Terkait hal itu saya benar-benar meminta maaf."
"Ah tidak, Tuan Lowe, Anda sepertinya salah paham.
Orang tadi bukan Anjing Hitam, kok. Hanya pembawa barang biasa yang tidak ada
hubungannya sama sekali, yang kebetulan bernasib sial menjadi sasaran amukan
sepihak."
"Namun jikalau kita berasumsi……" tambah Bado-sama.
"Jikalau kita berasumsi bahwa saat ini Anjing Hitam
masih mengabdi di kubu kami…… Dan jikalau Tuan Kimberly bertarung dengan
sungguh-sungguh melawan Anjing Hitam, kira-kira bagaimana hasilnya, ya? Saya
rasa Tuan Kimberly yang hebat itu pun akan langsung tewas seketika."
"Ah tidak, tidak, walau bertarung dengan
sungguh-sungguh pun, yang akan langsung tewas seketika pastilah pihak Anjing
Hitam, kan? Lagipula jika melihat duel siang tadi, ya begitu, kan? ……Ah mohon
maaf. Dia tadi hanyalah seorang pembawa barang biasa, ya?"
"Iya, dia hanyalah pembawa barang. Ini kan murni
pembicaraan jikalau saja, benar?"
"Ahahaha!"
"Ahahaha!"
Gaya bertarung Roro yang mengayunkan Scolopendra tidak bisa
dikategorikan ke dalam teknik ilmu pedang mana pun.
Itu murni karena struktur wujud pedangnya yang terlalu unik.
Meskipun merupakan pedang satu tangan dengan bilah gergaji, di detik berikutnya
pedang itu bisa meliuk layaknya cambuk, melesatkan ujung tajamnya dari arah
atas, bawah, kanan, maupun kiri.
Figaro berada dalam kondisi yang sepenuhnya terdesak untuk
bertahan.
──Makhluk apa orang ini. Jalur ayunan pedangnya tidak bisa
dibaca.
Roro mengayunkan pedang tersebut menggunakan tangan kanan
maupun tangan kiri, kedua-duanya secara bergantian.
Sesaat setelah menghalau bilah tajam yang diayunkan keras
dari atas kepala, di detik berikutnya ujung tajam senjata melesat dari bawah
kaki seolah hendak mengoyak tubuhnya. Serangan bertubi-tubi tersebut terlalu
cepat untuk bisa ditahan.
"Ugh……!"
Hingga akhirnya bilah tajam itu merobek kulit daging Figaro.
Bagian pahanya tergores dalam, membuat Figaro jatuh tersungkur.
Memanfaatkan celah kesempatan tersebut, Roro memputar
tumitnya lalu berlari menuju bagian depan penjara kerangkeng.
"……Witches-sama. Saya berniat mengeluarkan Anda
dari penjara kerangkeng ini, namun saya tidak memegang kuncinya. Saya akan
merampas kereta kuda barang ini sekaligus bersama diri Anda."
"Tunggu sebentar!"
Dengan kedua lengan yang tetap belenggu, Teresalisa bangkit
berdiri.
"Aku tidak pernah memintamu untuk menolongku. Kau sepertinya
salah paham. Aku bukan seorang Witches."
"……Bukankah Anda adalah Teresalisa Lowe-sama?"
"Itu, memang benar."
"Jika demikian, bukankah Anda adalah sang Mirror Witch
yang mengayunkan sabit perak?"
"Bukan. Aku hanyalah orang biasa yang dijatuhkan tuduhan
palsu seperti itu──Awas di belakangmu!"
Pedang Figaro diayunkan menyabet secara horizontal mengincar
leher Roro.
Roro merendahkan posisinya dengan berjongkok untuk
menghindar. Pedang yang meleset dari sasarannya menghantam jeruji besi dari
penjara kerangkeng.
"Kya!"
Suara benturan logam bergema, membuat Teresalisa yang berada
di dalam penjara kerangkeng jatuh terduduk.
"Gerakanmu lincah juga, dasar anjing kecil."
Figaro tidak menghentikan serangannya. Ia terus-menerus
mengayunkan pedangnya ke arah Roro yang melangkah mundur untuk mengambil jarak.
Ujung tajam dari pedang tersebut memotong tali yang menambatkan penjara kerangkeng
ke atas bak kereta.
Di atas jalanan hutan yang rusak, badan kereta kuda melonjak
hebat. Penjara kerangkeng yang salah satu tali penambatnya telah terputus
bergeser di atas papan lantai mengikuti guncangan kereta. Kerangkeng yang
semula berada tepat di belakang kursi kusir bergeser hingga mendekati bagian
tengah bak kereta.
Roro mencengkeram jeruji besi dari penjara kerangkeng,
menghindari serangan Figaro, lalu memanjat naik hingga ke bagian atap
kerangkeng tersebut.
"Alih-alih mirip anjing kecil, gerakanmu lebih
menyerupai monyet, ya?"
"Sedangkan Anda lebih menyerupai babi hutan ketimbang
singa. Embusan napas Anda terlalu berisik."
"Cih. ……Pasukan panah, bersiap!"
Mengikuti aba-aba dari Figaro, empat orang pasukan berkuda
memosisikan busur panjang mereka.
Arah ujung anak panah tertuju tentu saja tertuju ke arah
Roro yang sedang berjongkok di atas atap penjara kerangkeng.
"Lepaskan!"
Tepat di saat anak panah melesat lepas, Roro melompat ke
udara dari atas atap kerangkeng, melakukan gerakan berputar. Ia meliuk di udara
menghindari empat batang anak panah, lalu mendarat di atas papan lantai bak
kereta.
Tanpa memberikan jeda sedikit pun, sebuah tombak melesat
menjulur dari pasukan berkuda yang mendekati kereta barang.
"Yaaah!!"
Ujung tajam tombak menggores bagian pinggang Roro, dan di
saat ia sempat goyah, Figaro merangsek maju mendekat.
Roro menahan ayunan pukulan keras yang menghujam dari atas
kepala menggunakan bilah tajam Scolopendra. Suara benturan logam pecah di bawah
langit malam.
Kepada Figaro yang wajahnya berada dalam jarak dekat di
hadapannya, Roro berbicara.
"Kudengar para kesatria singa yang memiliki harga diri
tinggi menyukai pertarungan satu lawan satu, lho."
"Cih. Menanglah dengan cara yang mutlak──itulah
jalan kesatria milik keluarga Kimberly. Aku tidak ambl pusing mengenai metode
bertarung. Selama kemenangan bisa diraih."
"……Begitu rupanya, arogan sekali."
Roro mementalkan pedang Figaro, lalu memutar arah seraya
melancarkan ayunan pedangnya sendiri.
Kali ini giliran Figaro yang menahan serangan tersebut.
Kekuatan mereka berdua tampak beradu seimbang.
"Boleh saya bertanya? Apakah sang Permaisuri itu
benar-benar seorang Witches? Orang yang bersangkutan sendiri
menyangkalnya, lho."
"Dia adalah Witches. Kau menginginkannya, kan?
Jika tidak ingin melihatnya hangus dibakar, silakan rebut dari tanganku!"
Figaro mendorong balik lalu mementalkan pedang Roro.
Tanpa membuang waktu ia mengayunkan bilah pedangnya ke arah
kepala Roro.
Roro melesat menyelinap melewati celah di samping badan
Figaro, lalu mengaitkan tangannya ke kerah belakang zirah pelat milik sang
komandan. Menggunakan teknik layaknya gerakan berputar di tiang besi, ia
melesatkan tubuhnya ke udara, menjepit kepala Figaro menggunakan kedua pahanya.
Posisi bertengger terbalik di atas bahu.
Dengan posisi tetap menjepit Figaro menggunakan kakinya,
Roro memberikan momentum untuk melakukan putaran ke depan, mengempaskan tubuh
Figaro.
"Ugh……!"
Menghantam hingga menjebol tepian belakang bak kereta,
bagian tubuh bawah Figaro sempat terlempar ke luar dari kereta barang, namun ia
berhasil mencengkeram tepian bak kereta dengan susah payah. Daya tahannya di
luar dugaan kuat juga. Pedang dua tangan milik Figaro jatuh berguling ke tanah,
lenyap tertinggal di belakang.
Memanfaatkan celah ini, Roro kembali memosisikan diri
berdiri di depan Teresalisa.
"Teresalisa-sama. Apakah Anda mengenal Nyonya Gilly
yang bekerja bersama Anda di rumah itu tujuh tahun lalu?"
"Gilly……? Saya tidak mengenal orang dengan nama
tersebut."
"……Lalu bagaimana dengan panggilan Piggy?"
Tepat di detik ia membisikkan nama panggilan dari Nyonya
Gilly tersebut, ekspresi wajah Teresalisa tampak menegang sesaat.
Roro tidak melewatkan perubahan raut wajah tersebut.
"……Ternyata Anda mengetahuinya, ya?"
"Tunggu──"
Suara panggilan Teresalisa terinterupsi oleh aba-aba
teriakan dari Figaro.
"Lepaskan anak panah!"
Anak panah dilepaskan secara bertubi-tubi, membuat Roro
berlari mengelilingi bak kereta. Suara anak panah yang menancap di papan lantai
maupun tepian bak kereta berdentuk berkali-kali.
Pasukan berkuda dengan tombak di tangan kembali memperpendek
jarak mendekati kereta barang.
"Oooooh!!"
"Mengganggu sekali…… benar-benar."
──Jika kalian sebegitu inginnya bermain denganku.
Roro melompat ke arah kesatria yang menjulurkan tombaknya
dari atas kuda. Tanpa menahan momentum berlarinya, ia memijat gagang tombak
untuk berlari naik. Wujud tubuhnya berpindah dalam sekejap mata menuju bagian
punggung kesatria berkuda tersebut──.
"……Apa!?"
Bilah tajam Scolopendra langsung melilit leher kesatria yang
berbalik tersebut.
Leher sang kesatria ditarik paksa hingga membuatnya terjatuh
dari atas kuda. Tubuhnya menghantam permukaan tanah dengan keras.
Roro yang memosisikan diri berdiri di atas pelana kuda yang
sedang berlari, mengayunkan Scolopendra tanpa memberikan jeda untuk bernapas
sedikit pun. Bilah tajam yang meliuk layaknya seekor kelabang menjalar di udara
ke segala arah.
Menghantam zirah pelat milik pasukan panah yang berkuda di
dekatnya, memunculkan suara nyaring layaknya simbal yang dipukul keras menggema
di dalam hutan belukar. Pasukan panah menjerit keras lalu terjatuh dari
kudanya. Hanya dalam waktu yang teramat singkat, dua pasukan berkuda berhasil
dilumpuhkan.
"Serang, serang! Jangan sampai orang itu lolos!"
Dari atas bak kereta, Figaro memberikan suntikan semangat
kepada para kesatria.
Satu pasukan berkuda bertombak kembali merangsek mendekati
Roro. Disertai suara teriakan, sebuah sabetan horizontal diluncurkan dari arah
belakang. Bilah tajam tersebut seharusnya berhasil mengenai bagian punggung
Roro──namun sosok Roro sudah tidak ada lagi di atas pelana.
Ternyata Roro memosisinya dirinya bergelantungan dengan
melilitkan Scolopendra pada ujung tombak yang diangkat ke atas.
"Hih……!"
Kesatria itu secara refleks melepaskan genggaman tangannya
dari tombak, namun Roro sudah melompat tepat di atas kepalanya, dan lilitan
Scolopendra mengempaskan tubuh kesatria tersebut hingga terlempar. Korban jatuh
dari kuda yang ketiga lenyap tertinggal di belakang.
"Jangan biarkan lolos! Jika sampai lolos, hal itu akan
menjadi aib bagi pasukan pengawal jenderal! Bersiap!"
"Tuan Kimberly, kita akan keluar dari jalanan
hutan!"
Kusir berbalik ke arah bak kereta seraya berteriak.
Di arah tujuan mereka, bintik-bintik pancaran cahaya lentera
mulai terlihat. Kereta kuda barang sudah semakin dekat dengan pusat keramaian
kota.
8
"Hei Heartland. Coba datang kemari dan lihat ini,
tingginya luar biasa, lho!"
"……Tuan Bado, mohon jangan melupakan fakta bahwa benda
yang sedang Anda lihat adalah lubang kakus."
Heartland sedang mendampingi Bado-sama yang pamit pergi ke
toilet.
Bagian yang sedang diintip oleh Bado-sama adalah sebuah
lubang yang berada di fondasi bangunan. Toilet tersebut terletak di bagian
bangunan kastil yang menonjol ke luar, dan lubangnya terhubung langsung dengan
area terbuka di luar. Di kegelapan yang berada tepat di bawah lubang adalah
kolam penampungan limbah.
"Pemandangan seorang penguasa dari sebuah negara yang
mengintip ke dalam lubang kakus benar-benar tidak pantas diperlihatkan kepada
orang lain……"
"Mana ada yang melihat, sih. Kan tidak ada orang lain
di sini selain dirimu."
Bado-sama menurunkan celana linennya, lalu memosisikan
bokongnya tepat di lubang yang terbuka lebar tersebut.
Heartland berdiri di depan bilik kamar toilet yang gelap itu
sambil memegang tempat lilin di tangannya.
Toilet itu tidak memiliki pintu. Karena alasan itu, ia
memosisikan diri membelakanginya untuk berjaga-jaga.
"Ugh…… bagian bokongku terasa dingin sekali."
"Jika Anda merasa akan tergelincir jatuh, silakan
berteriak untuk memberi tahu saya."
Embusan angin malam menerobos masuk dari celah bangunan.
Toilet yang terbuat dari susunan batu tersebut terasa sangat dingin.
"Omong-omong bagaimana menurutmu. Apakah kau menikmati
acara jamuan makan malamnya?"
"Ya, sewajarnya saja."
"Bohong. Kalian semua sama sekali tidak kelihatan
sedang bersenang-senang, kok."
"……Baguslah kalau Tuan Bado kelihatan
menikmatinya."
"Aku ini adalah tipe orang yang bisa menikmati situasi
apa pun, tahu."
Heartland menundukkan kepalanya, menartap nyala api lilin
yang bergoyang.
"Pada kenyataannya…… saya terus bertanya-tanya pada
diri sendiri, apakah pantas saya berdiam diri seperti ini."
"Maksudmu soal acara jamuan makan malam?"
"Ah…… bukan, bagi Anda selaku Tuan Bado serta para
tokoh yang memegang kendali politik hal itu bukan masalah. Acara jamuan makan
malam yang berfungsi sebagai wadah diplomasi merupakan medan pertempuran bagi
orang-orang politik. Namun medan pertempuran saya…… medan pertempuran bagi
seorang kesatria, tempatnya bukan di sana."
"……Hmm."
"……Kesatria dari kubu sebelah, Figaro Kimberly, sempat
berkata bahwa ia sedang mengemban tugas mengawal pemindahan Witches. Ada
kemungkinan bahwa sekarang, tepat di detik ini juga, Roro sedang beradu pedang
melawan Kimberly…… Di saat situasi seperti itu terjadi, saya terus berpikir apa
sebenarnya yang sedang saya lakukan di sini…… Tuan Bado, saya──"
Heartland berbalik ke arah toilet.
"Apakah saya…… sudah berhasil memenuhi ekspektasi dari
Tuan Bado?"
Bado-sama yang tetap duduk di atas lubang kakus tampak menopang
dagunya di atas lutut.
"Kau sudah memenuhinya, kok. Biar kutegaskan padamu,
alasan kenapa aku bisa mengobrol santai penuh tawa dengan Omura yang
jelas-jelas punya niat busuk di dalam kepalanya itu adalah karena kau setia
menjagaku di sisiku. Jangan membuatku harus mengutarakan hal memalukan seperti
ini secara gamblang, ah."
"……Mohon maaf."
"Meski begitu, aku juga bisa memaklumi hasratmu yang
menggebu-gebu untuk segera terjun bertempur."
Bado-sama mengelus janggutnya lalu melepaskan tawa kecil.
"……Sejujurnya, saya merasa iri pada Roro. Padahal saya
sendiri juga memiliki kekuatan yang cukup untuk bertarung sepuasnya……"
"Semua ada porsinya masing-masing. Lagipula hubungan
antara kesatria dan pembunuh bayaran…… memangnya tidak bisa berjalan
beriringan, ya? Keluarga Pablo di kubu mu dan keluarga Dubell di kubu Roro juga
punya hubungan yang buruk sejak zaman dahulu kala. Padahal jika kedua kubu
digabungkan akan membentuk kesatuan cahaya dan bayangan. Aku pribadi berpikir
bahwa jika kalian menyatukan kekuatan, musuh sekuat apa pun dipastikan bisa
ditumbangkan."
"Karena kami memiliki harga diri tinggi bahwa dari
generasi ke generasi, kamilah para kesatria yang setia melindungi
Campusfellow…… Lagipula asal-usul keluarga tersebut tidak jelas. Walaupun lahir
di tanah yang sama, metode membesarkan anaknya sama sekali berbeda. Di keluarga
mereka ada adat untuk membunuh anjing, bukan?"
"Benar juga. Adat membunuh anjing yang memiliki nama
yang sama dan usia yang sama dengan dirinya saat menginjak usia sepuluh tahun,
kan?"
"Benar. Membunuh anjing kesayangan yang sudah
menghabiskan waktu bersama layaknya saudara kandung sejak masih bayi, lho? Bagi
saya, tindakan seperti itu tidak akan mungkin bisa saya lakukan.
Membanyangkannya saja membuat saya merinding."
"……Yah, memang benar begitu."
"Kakeknya yang dikabarkan aktif selama Perang Empat
Binatang Buas dahulu pasti juga seperti itu, kan? Seorang Assassin yang sangat
kejam dan tidak memiliki perasaan. ……Kesatria memupuk keteguhan hati yang kuat
dan melangkah ke jalan tersebut atas dasar keinginan diri sendiri. Namun
pembunuh bayaran berbeda. Mereka dibentuk dan diciptakan sejak masih
kecil."
Embusan angin malam menerobos masuk membuat nyala api tempat
lilin bergetar, memunculkan bayangan mereka berdua yang ikut bergoyang di dinding.
Heartland melanjutkan kalimatnya.
"Orang itu…… Roro, sekilas tampak seperti pemuda yang
ramah dan santai, namun ia memiliki sisi di mana ia akan menghukum sampai
hancur siapa saja yang menentang atau tidak disukainya. Terkadang saya
berpikir, apakah kendali emosinya sudah putus? ……Ada momen di mana saya
merasakannya sebagai sosok yang kejam."
Jangan-jangan saya──Heartland bergumam pelan dalam batinnya.
"Mungkin sebenarnya saya merasa takut kepadanya."
Kereta kuda barang berhasil keluar dari jalanan hutan, lalu
memacu dengan cepat melintasi jalan utama Lowe, Jalan Kemenangan.
Kondisi kota Lowe masih tetap meriah meskipun di malam hari.
Di kedua sisi Jalan Kemenangan, kedai makanan dan kedai
minuman tampak menyalakan lentera mereka. Suara musik yang riang serta suara
tawa terdengar di mana-mana. Gadis penjual bunga menyodorkan bunga ke arah
pejalan kaki, dan seorang pengemis tampak menangis untuk memancing rasa iba. Di
sudut-sudut jalan, para pelacur berdiri mengenakan korset ketat untuk
menonjolkan dada mereka seraya melambaikan tangan memberi isyarat ke arah para
pria yang mabuk.
Di tengah situasi tersebut, sebuah kereta kuda barang yang
dikawal oleh tiga pasukan berkuda melintas dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Orang-orang yang berada di jalanan seketika berlarian ke
tepi jalan menyelamatkan diri bak anak laba-laba yang kocar-kacir.
Roro yang memosisikan diri berdiri di atas pelana kuda
teringat kata-kata yang diucapkan oleh Delirium sesaat sebelum ia maju ke
pertandingan eksibisi di Kotak Mainan Raja siang tadi. Kalau tidak salah
kalimatnya adalah, “Bunuh saja orang itu”──.
"……Hamba laksanakan."
"Serang dia!"
Suara teriakan dari tiga pasukan berkuda yang tersisa entah
sejak kapan telah berubah menyerupai jeritan ketakutan.
Anak panah yang mereka lepaskan tidak berhasil mengenai
Roro. Sebaliknya, bilah pedang Scolopendra yang diayunkan Roro dengan akurat
merobek daging mereka. Semburan darah segar memancar dari bahunya, membuat
kesatria tersebut menjatuhkan busur panjangnya.
"Tunggu, tolong tunggu sebentar……!"
Kesatria yang sudah tidak memegang senjata itu berteriak,
namun lengannya ditarik paksa oleh lilitan Scolopendra hingga membuatnya
terjatuh dari atas kuda. Menghasilkan suara benturan keras di atas jalanan
berbatu, ia lenyap tertinggal di belakang.
Pasukan berkuda yang tersisa tinggal dua orang lagi──Roro
mencengkeram kendali kuda yang dirampasnya, lalu menaikkan kecepatannya. Ia
menyalip kereta kuda barang tempat Figaro berdiri, mengincar pasukan panah
berkuda yang berada di baris paling depan.
"Lemparkan busur panjangmu kemari!"
Teriak Figaro yang berada di atas bak kereta kepada pasukan
berkuda yang berada di dekatnya.
Menerima busur panjang yang dilemparkan dari atas kuda, ia
mengarahkan bidikannya ke arah Roro.
Roro sudah semakin dekat dengan pasukan berkuda di baris
terdepan. Dari posisi kereta kuda barang yang mengejar di belakang, bagian
punggung Roro terlihat dengan sangat jelas.
Roro berdiri di atas pelana, lalu melompat ke arah pasukan
berkuda di depannya. Tepat di detik ia mengayunkan Scolopendra ke arah pasukan
berkuda tersebut──Figaro melepaskan anak panahnya dari atas bak kereta.
Anak panah melesat lurus membelah angin, lalu menancap telak
di bagian bahu Roro.
"Ugh……!"
Roro kehilangan keseimbangan di udara, membuat tubuhnya
menghantam keras permukaan jalanan berbatu.
──Aku berhasil menjatuhkannya!
Melihat tubuh Roro yang terempas di belakang gerakan kereta
kuda, Figaro meyakini hal tersebut.
Namun, Roro yang sempat terpental di atas jalanan berbatu
dengan cekatan memutar tubuhnya di udara. Ujung tajam Scolopendra yang
dijulurkannya menghantam permukaan batu. Menggunakan hal itu sebagai pegas,
tubuh Roro melesat melompat jauh lebih tinggi ke udara.
"……Apa."
Dengan latar belakang malam berbulan, Roro kembali melakukan
satu putaran di udara. Arah hunjaman ujung tajam Scolopendra kali ini bukan
tertuju ke jalanan berbatu──melainkan ke kereta kuda barang. Ujung tajamnya
menghancurkan papan lantai bak kereta tempat Figaro berdiri, lalu menancap
kuat.
Menggunakan kekuatan elastisitas senjatanya, tubuh Roro
melesat merangsek mendekati bak kereta.
──Ah. Sialan.
Wajah Figaro langsung dicengkeram kuat oleh telapak tangan
Roro yang terbuka lebar.
Tubuhnya dipaksa jatuh terdorong ke arah belakang.
Tepat di saat kaki Roro memijat papan lantai bak kereta,
bagian punggung Figaro telah terempas menghantam papan lantai.
Serpihan kayu dari bak kereta yang hancur beterbangan ke
udara. Walaupun dilengkapi dengan zirah emas, hantaman keras tersebut sukses
membuat napasnya terasa sesak.
Saat menyadarinya, bilah tajam Scolopendra yang mengerikan
telah menempel tepat di depan tenggorokan Figaro.
──Apakah aku akan mati.
Figaro merasakan hal itu secara insting.
Pria yang berada di depan matanya saat ini memang
benar-benar sang Anjing Hitam. Ia memancarkan aura mengerikan yang tidak kalah
menakutkannya dengan Scolopendra. Menanglah dengan cara yang mutlak──semboyan
keluarga Kimberly terlintas di dalam kepala Figaro. Dengan kata lain, jangan
menantang pertempuran jika potensi kekalahan membayangi.
Mungkin ia memang tidak seharusnya memicu pertempuran
melawan Anjing Hitam sejak awal.
Bilah tajam ditekan ke lehernya, membuat Figaro memejamkan
matanya rapat-rapat.
"──Heartland. Kau telah keliru akan satu hal."
Ucap Bado-sama setelah selesai mengenakan celana linennya.
"Keliru…… maksud Anda?"
"Memang benar di keluarga Dubell ada adat untuk
membunuh anjing. Sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun tanpa terputus dari
generasi ke generasi leluhur mereka. Berdasarkan penuturan dari mantan Anjing
Hitam terdahulu, tindakan tersebut memiliki makna membunuh diri sendiri
sebagai seorang pembunuh bayaran, sebuah ritual kedewasaan yang sangat
penting."
Namun, Bado-sama menggelengkan kepalanya.
"Roro tidak membunuh anjingnya."
"Tidak membunuhnya……? Apakah tindakan seperti itu
diizinkan?"
Keluarga Pablo milik Heartland juga merupakan klan kesatria
yang sudah berjalan sejak lama. Karena alasan itulah ia bisa memahaminya.
Melanggar aturan keluarga sama saja dengan merendahkan martabat keluarga dan
para leluhur. Sebuah tindakan yang sama sekali tidak boleh dilakukan.
"Tentu saja tidak diizinkan. Orang-orang di keluarga
Dubell sangat murka. Walau demikian, Roro tetap melakukan perlawanan. Caranya
adalah dengan menjadikan sosok yang paling berharga bagi kakeknya sebagai
sandera."
"Sosok yang berharga…… Apakah Anjing Hitam juga
memiliki hal semacam itu……?"
"Ternyata ada, lho. Di luar dugaan."
Bado-sama saat itu baru berusia dua puluh lima tahun. Ia
belum menjabat sebagai pemimpin keluarga Grace, namun sebagai bagian dari
anggota keluarga majikan yang diabdi oleh keluarga Dubell, ia turut menyaksikan
tugas pertama yang dijatuhkan kepada Roro.
Di depan kandang tempat anjing-anjing menyalak. Roro yang
memegang pisau belati yang masih berada di dalam sarungnya meneteskan air mata
yang deras bercucuran seraya mengertakkan giginya. Ia menggenggam erat
belatinya. Namun Roro tetap tidak bisa membunuh anjing tersebut.
Sang kakek yang tidak tega melihat situasi tersebut
melangkah mendekati Roro.
"Jika kau tidak bisa membunuhnya, maka biarkan aku yang
membunuhnya."
Saat sang kakek mengayunkan lengannya, sebuah bilah tajam
melesat keluar dari pelindung tangan hitam yang dikenakannya.
"Aku benar-benar kecewa padamu. Kau tidak berbakat
menjadi pembunuh bayaran."
Pandangan mata yang dingin tanpa emosi tertuju ke arah Roro.
Roro memeluk Roro si anjing seraya berbisik, “Tidak
apa-apa.” Ia bangkit berdiri, berhadapan langsung dengan kakeknya. Sosok Anjing
Hitam aktif yang sudah menghabisi banyak nyawa manusia tanpa ampun.
"Minggir. Anjing itu harus dieksekusi."
"Nggak mau……! Aku tidak akan membunuhnya. Aku tidak
sudi menggunakan teknik membunuh untuk hal seperti ini!"
Jika metode membunuh tanpa rasa sakit, ia mengetahuinya.
Cara melenyapkan nyawa dalam sekejap tanpa memberikan jeda untuk merasakan
ketakutan akan kematian, hal itu telah dipelajarinya sampai sekarang. Namun
Roro menolak jika hal tersebut dipaksakan kepadanya.
"Teknik yang kupelajari adalah milikku. Aku akan
menggunakannya di saat aku ingin menggunakannya……!"
Kepada kakeknya yang melangkah maju satu langkah, Roro
menaikkan suaranya yang bergetar.
"Aku ingin menggunakan teknik ini bukan untuk membunuh,
melainkan untuk menghidupkan orang. Aku ingin menggunakannya untuk melindungi
orang yang berharga bagi diriku. Namun dengan kekuatanku yang sekarang, aku
tidak akan bisa menang melawan Kakek, tapi."
Roro mengatupkan giginya yang bergetar, lalu menarik pisau
belati dari sarungnya.
"Tapi jika membunuh diriku sendiri, aku bisa
melakukannya."
Setelah berkata demikian ia menempelkan bilah pisau tepat di
lehernya sendiri. Demi melindungi sosok yang paling berharga bagi dirinya, Roro
menjadikan sosok yang paling berharga bagi kakeknya──yahu dirinya sendiri──sebagai
sandera. Itu bukan sekadar gertakan murahan belaka. Sebuah negosiasi yang
mempertaruhkan nyawa.
Orang-orang yang menyaksikan ritual tersebut seketika panik,
membuat situasi sekitar menjadi riuh.
Hanya sang kakek seorang yang tetap diam mematung tanpa
pergerakan.
"Apakah kau berniat mencoreng nama baik keluarga
Dubell?"
"Apakah Kakek tidak merasa ada yang aneh?"
Wajah Roro tampak berkerut.
"Sebuah dunia di mana seseorang tidak diizinkan hidup
jika tidak membunuh keluarganya sendiri──"
Tepat di detik berikutnya saat sang kakek menghentak tanah
untuk memperpendek jarak, Roro menggoreskan bilah pisaunya.
"──persetan dengan semua itu."
Hanya menyisakan satu langkah lagi, namun tangan sang kakek
tidak berhasil menjangkaunya.
Semburan darah segar memancar dari leher yang tergores, lalu
tubuh Roro ambruk terjatuh.
"……Di bawah dagunya sampai sekarang masih menyisakan
bekas luka dari kejadian waktu itu."
Roro sempat berada dalam kondisi kritis antara hidup dan
mati. Namun pada kenyataannya, ia tidak berniat bunuh diri. Aku ingin
menggunakan teknik ini bukan untuk membunuh, melainkan untuk menghidupkan orang──sesuai
dengan kalimatnya tersebut, Roro memotong lehernya dengan menghindari titik
fatal. Orang yang ahli dalam teknik membunuh juga merupakan orang yang ahli
dalam teknik menghindari kematian. Walaupun potensi tewas akibat kehabisan
darah tetap saja sangat besar, sih.
Setelah tak sadarkan diri selama empat hari berturut-turut,
kalimat pertama yang diucapkan Roro saat terbangun diceritakan kepada Bado-sama
oleh kakeknya sendiri.
──……Apakah Roro boleh tetap hidup?
Entah kata “Roro” tersebut merujuk pada nama dirinya atau
nama anjingnya. Saat seorang cucu memohon izin apakah ia boleh tetap hidup atau
tidak, tidak banyak kakek yang sanggup menolaknya.
"Kejadian itu menjadi pemicu kakeknya memutuskan untuk
pensiun dan menanggalkan gelar Anjing Hitam. Lagipula klan mereka memang sudah
lama tidak terlibat dalam peperangan, sih. Momen yang pas untuk pensiun. Roro
si anjing sendiri berhasil menghabiskan sisa usianya dengan baik, dan mati di
usia tujuh belas tahun. Sangat panjang umur, kan?"
"……Kalau begitu, Roro telah mengabaikan tugas
pertamanya……?"
"Benar. Karena itulah kubilang dia bukan seorang
pembunuh bayaran. Kau salah paham di bagian itu. Orang yang mengabaikan
perintah pembunuhan sepertinya, jika diartikan secara ketat, hanyalah seorang
amatir. Dia adalah pembunuh bayaran magang."
"Magang……"
"Nyalinya besar, kan. Bagi anak seusia sepuluh tahun,
aturan rumah setara dengan aturan dunia. Memang ada sisi dari dirinya yang
membuat kita kesulitan menebak apa yang ada di dalam kepalanya, namun tetap
saja. Aku sudah terlanjur melihat sosoknya yang bertarung melawan dunia demi
melindungi apa yang berharga baginya, menggunakan pisau kecil dan tubuh
kecilnya tersebut."
Bado-sama melepaskan tawa terpingkal-pingkal sambil berjalan
menuju koridor.
"Karena alasan itulah, aku menyukainya."
Di atas bak kereta yang papan lantainya telah hancur, Figaro
berbaring terlentang. Roro tampak duduk di atas tubuhnya. Dari balik pelundung
kepala hitam yang didongakkan, terdengar embusan napas yang terengah-engah.
"Hah…… Hah……"
Bilah Scolopendra tetap menempel di leher Figaro, namun
tidak ada pergerakan lebih lanjut.
"……?"
Figaro merasakan hawa membunuh dari Roro perlahan lenyap
ditiup angin malam. Aura mengerikan yang sempat memuncak tampak berangsur
surut. Dari celah pelindung wajahnya, ia melihat sepasang mata hijau gelap yang
tampak ragu-ragu. Apakah ia sedang bimbang antara membunuhnya atau tidak?
──Bukan.
"……Kau, jangan-jangan."
Figaro mengernyitkan alisnya seolah tidak mempercayai
kesimpulan di dalam kepalanya.
"Belum pernah membunuh manusia, ya?"
"…………"
Kereta kuda barang tampaknya sudah mencapai batas
kemampuannya sejak tadi. Tiba-tiba salah satu rodanya terlepas, membuat dasar
bak kereta yang miring mengikis permukaan jalanan berbatu. Kusir buru-buru
menarik kendali untuk menghentikan laju kuda.
Suara ringkikan kuda bergema di tengah keheningan malam
kota.
Akibat dampak dari miringnya bak kereta, Figaro beserta dua
kesatria lain yang pingsan di atas papan lantai terlempar jatuh ke atas jalanan
berbatu. Roro menancapkan Scolopendra ke papan lantai untuk mempertahankan
posisinya agar tidak terjatuh.
Kereta kuda barang berhenti di tepi Jalan Kemenangan.
Penjara kerangkeng yang tertambat oleh seutas tali pada bak
kereta yang hancur berdiri bersandar pada bak tersebut. Di dalam kerangkeng,
Teresalisa tampak lunglai menyandarkan punggungnya pada jeruji besi. Tampaknya
kepalanya sempat terbentur akibat dampak guncangan tadi, membuat kesadarannya
agak terganggu.
"Engh…… ugh……"
Roro berjongkok di depan penjara kerangkeng.
"……Mohon maaf atas ketidaksopanan saya."
Ia memasukkan tangannya dari celah jeruji besi, memaksa
mulut Teresalisa untuk terbuka.
Borgol batu yang membelenggu kedua pergelangan tangan
Teresalisa merupakan alat sihir untuk menyegel kekuatan sihir. Saat ini ia
berada dalam kondisi tidak bisa menggunakan sihir. Artinya mustahil baginya
untuk mengubah warna lidahnya menggunakan sihir──namun.
Lidah Teresalisa yang dipastikan oleh Roro memiliki warna
merah yang normal seperti manusia pada umumnya. Bukan warna merah keunguan yang
menjadi karakteristik khas dari Mirror Witch.
──Apa maksud dari semua ini?
Apakah Teresalisa bukan seorang Witches? Jika
demikian, apakah transaksi penyerahan Witches itu murni hanya gertakan
sambal belaka?
"…………"
Hanya dalam sekejap mata ia larut dalam pikirannya──Roro
telah menurunkan kewaspadaannya terhadap lingkungan sekitar.
Mendengar suara desingan angin wus, wus, ia secara
refleks mengambil posisi bersiap. Kapak genggam yang melesat terbang berputar
bukan mengincar Roro, melainkan menghantam sosok yang sedang merangkak
mendekati bagian belakang Roro.
"Gyaaaaah……!!"
Di arah ia berbalik, Figaro menjatuhkan pedang yang
digenggamnya lalu tersungkur di atas jalanan berbatu. Sebuah kapak genggam
tampak tertancap dalam di bahu kanannya. Roro segera menyadarinya. Ia baru saja
diselamatkan oleh seseorang dari upaya sabetan pedang yang mengincar
punggungnya dari arah belakang. ──Namun, oleh siapa?
Ia memastikan arah datangnya kapak genggam tersebut, namun
hanya ada deretan rumah bata merah yang berjajar di sana, tidak terasa adanya
tanda keberadaan sama sekali. Hanya saja, teramat sedikit. Ia merasakan adanya
aroma khas yang terbawa angin malam.
──Aroma binatang……?
Satu pasukan berkuda yang tersisa tampak memacu kudanya
kembali ke lokasi. Namun mengingat fakta bahwa Teresalisa bukan seorang Witches,
Roro sudah tidak memiliki alasan lagi untuk bertarung. Walaupun identitas
pemilik kapak genggam mengganjal pikirannya, tidak ada alasan lagi baginya
untuk menetap di sini.
Masyarakat kota mulai berkumpul di sekitar kereta kuda.
Roro mengayunkan Scolopendra ke atas. Bilah pedang yang
menjulur melilit pagar pembatas dari deretan rumah yang berjajar di sepanjang
Jalan Kemenangan. Memanfaatkan kekuatan elastisitas senjatanya, Roro melompat
tinggi.
Ia memijat pagar pembatas balkon di lantai dua, lalu
berpindah ke lantai yang lebih atas menggunakan teknik yang sama.
Berhasil mencapai bagian atas atap bata merah, ia memastikan
kondisi Jalan Kemenangan yang berada di bawahnya.
Di sekitar kereta kuda barang and penjara kerangkeng yang
rusak, warga kota tampak berkerumun. Kesatria yang menunggangi kuda berteriak,
“Menjauhlah!” untuk membubarkan massa yang penasaran.
Saat menaikkan pandangannya, di bawah langit malam tampak
menara beratap kerucut dari Kastil Lowenstein menjulang tinggi.
Roro berjongkok di atas bata merah, memutar gagang
Scolopendra untuk menarik kembali duri-duri di kedua bilah tajamnya. Kemudian
ia memotong batang anak panah yang masih menancap di bahunya menggunakan bilah
pisau di pelindung tangannya.
Meskipun sudah melakukan pergerakan yang masif, ia gagal
merebut sang Witches. Misi dinyatakan gagal.
"Lagipula, wanita tadi bukan seorang Witches,
kan……?"
Rasanya berat untuk melaporkan hasil seperti ini kepada
majikannya.
"Hah…… melelahkan sekali……"
Roro mengembuskan napas panjang dengan gusar, lalu
menjatuhkan tubuhnya terlentang.
Embusen angin malam yang dingin berembus melewati bagian
atas atap bata merah.
9
Setelah insiden tersebut, Teresalisa dipindahkan ke atas
kereta kuda barang yang baru, lalu dibawa menuju Kastil Lowenstein sesuai
dengan rencana awal. Tempat yang dituju adalah Menara Kurungan. Sebuah
menara yang digunakan untuk menahan tahanan politik yang jumlahnya tidak
seberapa sejak Perang Empat Binatang Buas berakhir lima puluh tahun lalu.
Di lantai paling atas dari menara tersebut, sosok Teresalisa
berada.
Melalui pantulan cahaya obor yang diangkat oleh Figaro,
wujud Topeng Santa tampak samar di balik jeruji besi. Itu adalah topeng
yang sabuk talinya telah diganti dengan yang baru setelah dipotong oleh Roro. Pergelangan
tangan Teresalisa masih belenggu oleh borgol batu, and topeng tersebut menutup
rapat kedua mata, kedua telinga, serta mulutnya.
Figaro memasukkan obor yang dipegangnya ke dalam wadah
tempat obor yang berada di dekat pintu masuk penjara. Lengan kanannya mengalami
cedera akibat hantaman kapak genggam yang dilemparkan padanya, and saat ini
sudah mendapatkan penanganan darurat dengan dibalut kain mitela yang
menggantung di leher.
Menggunakan tangan kirinya saja, ia membuka pintu penjara,
lalu melepas topeng dari wajah Teresalisa yang sedang berlutut.
Di dalam pandangan mata Teresalisa yang terbuka, tampak
jeruji besi and sosok Omura yang berdiri di balik jeruji tersebut.
Melihat rupa wajah Teresalisa yang terekspos, Omura
menyatukan kedua tangannya seraya berkata, “Oho.”
"Memang tidak salah sosok wanita yang berhasil memikat
kakak saya. Meskipun sudah menghabiskan waktu penahanan selama lebih dari
sepuluh hari di dalam penjara, wah wah, kecantikan Anda sama sekali tidak
memudar, ya? Apakah kehidupan di Penjara Besi terasa nyaman bagi
Anda?"
"……Apakah Raja Singa-sama berada dalam kondisi
aman?"
Mata merah Teresalisa yang memantulkan sosok Omura tampak
menyala diwarnai kobaran kebencian yang teramat dalam.
"Tolong pertemukan saya dengannya. Apakah dia dikurung
di dalam menara ini?"
"Aduh, kira-kira bagaimana, ya."
Omura mengangkat bahunya. Senyuman menyeringai yang ia
tunjukkan murni merupakan cerminan dari watak yang rendahan.
"Jangan tertawa!"
Teresalisa menegakkan lututnya, merangsek mendekati Omura.
Meskipun terhalang oleh jeruji besi, intimidasi yang
dipancarkannya sukses membuat Omura memekik kecil and menarik tubuh bagian
atasnya ke belakang.
"Tenanglah!"
Figaro buru-buru mencengkeram bahu Teresalisa, memaksanya
untuk kembali berlutut.
"……Saya mohon. Pertemukan saya dengan raja."
Menatap ke arah Teresalisa yang menundukkan kepalanya, Omura
memasang senyuman penuh kepuasan yang kejam.
"Aduh, kasihan sekali…… Padahal kalian hampir
melangsungkan pernikahan, namun di saat-saat terakhir justru harus terpisahkan……
Kalau saya pribadi tentu saja ingin mempertemukan Anda dengannya jika
memungkinkan. Namun tolong jangan melupakan satu hal. Anda sedang dijatuhi
tuduhan sebagai seorang Witches. Dan kakak saya ditahan atas dosa karena
berencana menikah dengan seorang Witches──"
Raja Singa ditahan karena kesalahan dirinya──setiap kali
kalimat tersebut terngiang di telinganya, dada Teresalisa rasanya seperti
robek. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan air mata yang hampir
tumpah akibat rasa penyesalan yang mendalam.
"Anda memahaminya, kan? Hanya ada satu cara untuk
menyelamatkan kakak saya. Di pengadilan Witches besok, Anda harus
mengakui sendiri bahwa Anda adalah seorang Witches, and memberikan
kesaksian bahwa Anda telah memikat kakak saya menggunakan kekuatan sihir. Dengan
melakukan hal tersebut, posisi kakak saya akan berubah dari yang semula
dianggap sebagai antek kaki menjadi seorang korban, sehingga ia
bisa mendapatkan kembali harga dirinya sebagai Raja Singa yang sempat
runtuh."
"……Saya memahaminya."
Teresalisa menjawab dengan suara yang teramat lirih sambil
tetap menundukkan kepalanya.
"Saya tidak peduli apa yang akan terjadi pada diri saya
nanti. Saya akan menerimanya meskipun harus dibakar sampai mati sebagai seorang
Witches. Namun saya mohon, tolong selamatkan pria itu saja. Karena dia
sama sekali tidak memiliki kesalahan apa pun──"
"Iya, iya, saya sangat memahaminya, kok. Kekuatan cinta
yang luar biasa, ya?"
Omura mengangguk dengan ekspresi penuh kepuasan.
"Saya pribadi juga merasa sedih melihat kakak tercinta
harus dikurung atas dosa yang tidak dilakukannya. Aku ingin segera
mengeluarkannya. Oleh karena itu, tolong jangan melupakannya, ya? Bahwa saya
adalah sekutu bagi kalian berdua."
"…………"
Menerima isyarat dari Omura, Figaro melangkah keluar dari
bilik penjara tempat Teresalisa berada. Ia mengunci pintunya, lalu meninggalkan
area penjara.
Sambil melangkah menuruni tangga melingkar menara, Omura
tersenyum licik.
"Ya ampun, benar-benar wanita yang malang. Dia
benar-benar percaya bahwa kakak masih hidup, ya."
Figaro berjalan di belakang Omura menuruni tangga sambil
memegang obor di tangannya.
"Karena di Penjara Besi petugas pengurusnya
sengaja dibatasi, and kita menerapkan aturan ketat agar tidak ada informasi
luar yang bocor masuk, sih."
"Bagus sekali. Mengendalikan informasi yang
diberikan──inti rencananya ada di poin ini, tahu, Figaro. Apa kau tahu apa yang
dibutuhkan untuk bisa menggerakkan orang lain?"
"……Uang, maksud Anda?"
"Bukan. Harapan. Uang hanyalah salah satu bagian
dari harapan belaka. Manusia adalah makhluk yang bersedia melakukan tindakan
apa saja demi sebuah harapan yang mereka miliki. Bagi wanita itu, harapannya
adalah Raja Singa tercinta masih hidup──"
Suara langkah kaki klek, klek bergema seraya mereka
berdua terus berjalan menuruni menara.
"Oleh karena itu, agar wanita itu bersedia memberikan
kesaksian bahwa dirinya adalah seorang Witches, kita harus membuatnya
berpikir bahwa kakak masih hidup. Wanita itu harus tetap memegang peran sebagai
seorang Witches dengan baik. Jika tidak demikian, skenario di mana sosok
Omura Lowe ini berhasil menumbangkan Witches tidak akan bisa
tercipta."
"……Saya memahaminya. Seperti dugaan, Anda adalah Yang
Mulia Adik Raja yang penuh dengan siasat cerdik. Orang-orang dari Campusfellow
juga dipastikan tidak menyadari rencana kita ini."
"Iya, semuanya berjalan dengan sangat lancar. Kecuali
fakta bahwa kau gagal melumpuhkan Anjing Hitam, Figaro."
"……Mohon maaf yang sebesar-besarnya."
"Astaga. Padahal kita sudah memancing Anjing Hitam
keluar menggunakan pertandingan eksibisi, namun tingkat bahayanya saja gagal
kau ukur. Ditambah di saat dia memunculkan diri sebagai penyusup di hadapanmu,
kau bahkan tidak bisa melumpuhkannya. Apakah aku sudah terlalu berlebihan dalam
menilaimu?"
"……Namun silakan tenang saja, Yang Mulia. Jikalau sosok
yang kita hadapi adalah mantan Anjing Hitam yang ditakuti sebagai pembantai
tiga ratus orang dahulu mungkin ceritanya akan berbeda, namun Anjing Hitam yang
sekarang hanyalah pria lemah yang tidak bisa membunuh orang. Dia bukan ancaman
bagi──"
"Diamlah. Kau baru saja dikalahkan oleh pria lemah
tersebut, lho."
"…………"
Figaro langsung menelan ludahnya.
"Ya sudahlah. Anggap saja aku mempercayai perkataanmu
bahwa dia bukan ancaman. Tidak ada perubahan dalam rencana."
Begitu tiba di lantai satu, mereka berdua melangkah keluar
melewati pintu utama.
"Nah, besok adalah hari pengadilan Witches. Kita
akan menjadi sangat sibuk. Khufufu."
Omura menyatukan kedua telapak tangannya sambil
menggosokkannya, lalu meninggalkan Menara Kurungan dengan langkah kaki
yang ringan.