Majo to Ryouken V1 C1

Juli 04, 2026 | Metoya

Chapter 1: Anjing Hitam

Illustration Placeholder


Begitu lahir ke dunia, aku diberikan seekor anjing. Seekor anak anjing yang diberi nama sama dengan namaku, “Roro”. Di Keluarga Dubell, sudah menjadi adat untuk membiarkan anak yang baru lahir membesarkan seekor anjing. Anjing tersebut harus memiliki usia yang sama dan nama yang sama dengan sang anak.

Anjing yang diberikan kepada Roro memiliki telinga yang terkulai. Kepala dan punggungnya berwarna cokelat tua, sedangkan bagian tubuh lainnya berwarna putih. Matanya selalu tampak basah, dan Roro sangat menyukai tatapan matanya yang lembut dan penuh kecerdasan.

Roro kecil dan Roro si anjing selalu bersama ke mana pun mereka pergi. Roro si anjing yang dulunya bulat dan menggemaskan, dengan cepat tumbuh besar dan mulai melindungi Roro kecil.

Bagi Roro yang kehilangan ibunya tepat saat ia lahir, Roro si anjing adalah satu-satunya keluarga tempat ia bisa bermanja-manja. Saat tidur dengan menjadikan perut anjing itu sebagai bantal adalah waktu yang paling membahagiakan bagi Roro kecil. Perut itu terasa hangat dan lembut. Pada hari-hari saat mereka bermain di bawah terik matahari, perut itu akan mengeluarkan aroma yang sangat harum.

Ketika Roro berusia lima tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia hampir tidak memiliki ingatan menghabiskan waktu bersama ayahnya yang sakit-sakitan. Bagi Roro yang dibesarkan di rumah kakeknya, sosok sang ayah hanya dianggap sebatas tetangga yang sesekali bertemu. Roro tidak menyukai orang itu karena dia pendiam, berhati kecil, dan selalu menatapnya seolah sedang melotot.

Oleh karena itu, ia tidak merasa sedih meski mendengar ayahnya telah tiada. Namun, melihat begitu banyak pelayat yang menangis mengenang ayahnya, entah mengapa dadanya terasa sesak, dan Roro sendiri merasa bingung saat air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipinya.

Orang yang sudah mati tidak akan bisa ditemui lagi. Tidak bisa disentuh, dan tidak bisa diajak bicara. Meskipun ayah bukan orang yang ia sukai, ia merasakan kehilangan seolah-olah sebagian dari kehidupannya telah lenyap. Kalau dipikir-pikir, bagi Roro, mungkin itulah pertama kalinya ia merasakan kematian secara langsung.

Kala itu, sosok yang menjilati pipinya dan menghiburnya juga adalah Roro si anjing. Roro pun memeluk Roro erat-ratit. Makhluk hidup tidak bisa luput dari kematian. Sebagai contoh, dengan anjing yang sangat ia cintai ini pun, suatu hari nanti mereka pasti harus berpisah. Baru membayangkan kematian Roro saja, air matanya sudah mengalir tanpa henti.

Di sisi Roro, selalu ada Roro. Tempat dan waktu makan mereka pun sama. Saat Roro kecil tidur di ranjang, Roro si anjing akan meringkuk di tempat tidurnya di dalam kamar yang sama. Baik saat mandi maupun saat pergi ke toilet, anjing itu akan setia menunggu di luar.

Begitu pula saat mengejar kelinci liar di hutan. Saat mempraktikkan cara menggunakan berbagai senjata. Bahkan ketika menerima pelajaran teori tentang sejarah, medis, dan teknik pembunuhan, Roro si anjing akan berada di samping Roro, meletakkan dagunya di atas kaki depan lalu tertidur.

Meski tidak memiliki orang tua, Roro tidak pernah merasa kesepian sekalipun. Itu semua pasti karena Roro si anjing selalu berada di sisinya setiap saat. Satu orang dan satu ekor ini adalah saudara, sahabat, dan karena memiliki nama yang sama, mereka adalah diri mereka sendiri.

Ulang tahun yang kesepuluh. Demi menjadi seorang pembunuh bayaran yang mandiri, Roro diberikan misi pertamanya. Dengan menyelesaikan misi ini tanpa hambatan, anak-anak dari Keluarga Dubell akan meninggalkan sarang sebagai seorang pembunuh bayaran yang hebat. Bisa dikatakan, ini adalah ritual kedewasaan yang diperlukan untuk menjadi orang dewasa.

Target pembunuhan yang diperintahkan oleh kakeknya adalah Roro si anjing.

Seorang pembunuh bayaran tidak bisa memilih target pembunuhannya. Tidak boleh membawa perasaan pribadi ke dalam pekerjaan. Harus mematuhi perintah majikan, dan menyelesaikan misi sesulit apa pun dengan rapi. Itulah harga diri dan kebanggaan seorang pembunuh bayaran. Setidaknya bagi Keluarga Dubell yang telah mengabdi pada keluarga Grace sebagai klan pembunuh bayaran sejak zaman dahulu.

Bagi seorang anak yang baru berusia sepuluh tahun, rumah dan keluarga adalah segalanya di dunia ini. Aturan rumah setara dengan aturan dunia.

Membunuh anjing yang memiliki nama yang sama dengan dirinya, yang telah berada di sisinya sejak lahir──dalam dunia tempat Roro hidup, hal itu adalah akal sehat dan sesuatu yang lumrah untuk menjadi seorang pembunuh bayaran yang mandiri. Semua orang di Keluarga Dubell menjadi dewasa dengan cara seperti itu.

Di tengah pelatihan yang berat, ketika Roro menahan air mata karena cedera yang tidak terduga atau saat hampir putus asa, kakeknya sering berkata, “Menangislah”. Jangan menyamarkan rasa sakit. Menderitalah dengan benar, dan terimalah.

──“Seorang pembunuh bayaran lahir dari ratapan.”

Semboyan Keluarga Dubell menunjukkan hal tersebut. Manusia yang berhasil mengatasi rasa sakit yang menyayat hati atau pengalaman menyiksa yang bahkan enggan untuk diingat kembali, akan menjadi lebih kuat. Profesi sebagai pembunuh bayaran, yang merenggut nyawa seseorang secara tidak adil, tidak akan bisa dijalankan kecuali seseorang telah memupuk tekad dan kekuatan mental sebesar itu──Roro diajarkan demikian oleh kakeknya.

Saat Roro menggelengkan kepala dan berkata, “Aku tidak bisa membunuhnya,” kakeknya menampar pipinya tanpa ampun.

"Menangis pun tidak apa-apa. Kau boleh berteriak sekencang-kencangnya. Namun, itu hanya sampai hari ini. Rasa sakit karena membantai belahan jiwamu sendiri yang telah menghabiskan waktu bersamamu layaknya keluarga, akan menjadikanmu seorang pembunuh bayaran yang mandiri."

Guk guk, guk guk, di depan kandang tempat anjing-anjing menyalak, Roro meneteskan air mata yang deras bercucuran seraya mengertakkan giginya. Di tangannya, tergenggam sebuah pisau belati yang masih berada di dalam sarungnya.

Di samping Roro kecil, Roro si anjing merapatkan tubuhnya. Entah tahu atau tidak dengan takdir kematiannya, ia mengendus dan mengesekkan kepalanya ke paha Roro, merasa khawatir pada Roro yang berdiri mematung sambil meneteskan air mata.

Roro kecil menekuk lututnya, lalu memeluk Roro si anjing.

"Tidak apa-apa," bisiknya pada telinga yang terkulai itu, sambil mengelus punggungnya yang berwarna cokelat tua.

Jika harus membunuh, maka lakukanlah dalam sekali tebas. Ia tidak ingin membuatnya menderita. Ia bahkan tidak ingin memberikan detik untuk merasakan ketakutan akan kematian. Roro tahu metode untuk melenyapkan nyawa hanya dalam sekejap mata. Karena selama ini, ia telah mempelajari teknik tersebut.

Klan Keluarga Dubell, dimulai dari sang kakek, telah mengepung Roro kecil dan Roro si anjing. Bahkan orang-orang dari keluarga Grace yang mereka abdi pun turut menyaksikan kelahiran seorang pembunuh bayaran yang baru. Melarikan diri tidak diizinkan.

Ayo bunuh. Laksanakan misimu. Karena itulah aturannya. Karena itulah hal yang “lumrah” bagi Keluarga Dubell. Roro mengatupkan giginya yang bergetar, lalu menarik pisau belati dari sarungnya.

Inilah dunia tempat Roro Dubell akan menjalani hidup──.

"……Persetan dengan semua ini."

Sambil menatap tajam kakeknya, Roro mengayunkan belatinya, didesak oleh dunia.

Rombongan yang berangkat dari Campusfellow membentuk barisan dan bergerak ke arah selatan. Tujuan mereka adalah Kerajaan Lowe.

Di dalam kereta kuda, selain menteri luar negeri yang merupakan abdi dalem kepercayaan Bado dan para Meister, ada juga para birokrat termasuk banyak diplomat yang turut naik. Memperhitungkan kehadiran mereka di pesta nanti, mereka bahkan membawa serta tukang jahit hingga ahli peracik parfum. Jumlah totalnya adalah lima puluh sembilan orang. Setengah dari barisan tersebut adalah para kesatria dari Ordo Kesatria Besi dan Api yang mengenakan baju besi dan menunggangi kuda.

Meskipun jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu dua setengah hari jika memacu kuda cepat sepanjang hari, hal itu tidak berlaku jika memimpin barisan yang terdiri dari kereta kuda dan kereta barang. Rombongan tersebut membutuhkan waktu sekitar lima hari untuk sampai di Lowe sambil bermalam di penginapan sepanjang jalan.

Di ujung jalan yang membentang di padang rumput, mulai terlihat dinding kota yang menjulang tinggi. Sebuah negara yang mengelilingi perimeter kota besarnya dengan dinding tinggi, menyerupai sebuah benteng itu sendiri, itulah Lowe. Jalan setapak di padang rumput itu berlanjut menuju gerbang kota yang tingginya luar biasa.

Di kedua sisi gerbang, tergantung kain tirai yang ukurannya sangat besar. Di sana terlukis dua ekor singa yang saling berhadapan, berdiri dengan kaki belakangnya seraya memamerkan taring mereka. Lambang singa yang membanggakan surai megahnya adalah lambang keluarga Lowe, dinasti Raja Singa yang telah menguasai tanah ini sejak zaman dahulu kala.

Komandan Kesatria Heartland yang berjalan di baris terdepan rombongan menoleh ke belakang.

"Kibarkan bendera!"

Tepat sebelum melewati gerbang kota Lowe, Campusfellow pun tidak mau kalah dan membiarkan bendera mereka menari ditiup angin. Bendera yang dikibarkan ada dua jenis. Bendera yang bergambar landak yang merupakan lambang keluarga Grace, dan bendera militer yang bergambar “landak yang punggungnya berapi” yang merupakan lambang dari Ordo Kesatria Besi dan Api.

Seolah menyambut rombongan, suara terompet menggema tinggi dari menara pengawas yang berada di puncak gerbang kota. Tabuhan drum dipukul bertalu-talu, dan sekawanan burung merpati terbang ke langit musim gugur yang cerah.

"Kyaaa! Megah sekali gerbangnya……!"

Dari jendela kereta kuda yang berada di tengah-tengah barisan, seorang gadis menjulurkan tubuhnya. Rambutnya yang lembut dan melambai ditiup angin berwarna seperti bulir padi, sedikit lebih cerah daripada warna rambut Bado. Mata birunya yang berkilau tampak jernih seperti lautan Inatera. Kulit Delirium Grace, putri tunggal dari Tuan Tanah Bado, sangat putih bersih hingga pipinya akan langsung memerah jika ia sedang bersemangat.

Putri Campusfellow yang menginjak usia empat belas tahun ini, mungkin karena kehilangan ibunya yang mendidik dengan keras di usia muda, tumbuh menjadi anak yang paling manja dan bebas di seluruh kastil. Ia membenci pakaian perjalanan yang sederhana, dan fakta bahwa ia sudah mengenakan gaun koktail untuk pesta adalah karena ia sempat merajuk tidak mau naik ke kereta kuda jika tidak memakai gaun berwarna cerah ini. Namun, sifat manjanya itu tetap dituruti semata-mata karena dirinya yang penuh daya pikat itu dicintai oleh siapa saja di kastil.

Delirium mendongak menatap gerbang kota Lowe yang semakin terlihat mengintimidasi seiring mereka mendekat, lalu mengedipkan bulu matanya yang panjang. Rombongan Campusfellow pun melintas di bawah gerbang kota yang besar tersebut.

"Fuuuuh……!"

Delirium mendongak melihat gerbang kota yang berada tepat di atas kepalanya. Bayangan jatuh menutupi wajahnya yang sedang menganga lebar.

"Baguslah kalau kau senang, Dely. Tapi jangan terlalu kegirangan sampai terjatuh dari kereta kuda, ya."

Di sisi yang berlawanan dari jendela tempat Delirium menjulurkan tubuhnya, Bado sedang menopang sikunya di bingkai jendela.

"Tetapi Ayah! Menghadapi kota yang begitu gemerlap begini, sungguh permintaan yang sulit jika disuruh tidak kegirangan!"

Delirium menoleh ke belakang sambil masih menjulurkan tubuhnya dari jendela.

"Lagipula, ini adalah Negara Kesatria, lho? Baik ukuran maupun kegemerlapan kotanya sama sekali berbeda dengan Campusfellow yang penuh dengan pengrajin penuh jelaga dan kampungan!"

"Jangan mengatakan hal yang membuat rakyat sedih, Putri……. Jangan lupa bahwa negara kampungan itulah negara asalmu."

"Tentu saja, Ayah."

Senyuman penuh daya pikatnya masih menyisakan kepolosan anak-anak.

"Dely tentu tetap mencintai Campusfellow, kok."

Begitu melewati gerbang kota yang terletak di sebelah utara Lowe, sebuah pasar langsung terhampar di depan mata. Kedai-kedai yang menggelar tenda kuning berjejer rapat tanpa celah di kedua sisi Jalan Kemenangan, yang merupakan jalan utama kota. Pasar ini disebut Yellow Market karena tenda-tenda kedainya diseragamkan dengan warna kuning. Ini adalah pasar terbesar di seluruh Lowe.

Kota Lowe yang sisi baratnya menghadap ke laut juga memiliki pelabuhan. Karena lokasinya yang strategis serta menjadi tempat berkumpulnya orang dan komoditas, Kerajaan Lowe merupakan negara yang maju dalam hal perdagangan dan pariwisata. Di pasar tersebut berjajar barang-barang langka, mulai dari barang kerajinan dari Utara hingga buah-buahan dari Selatan. Dari pakaian orang-orang yang lalu lalang, bisa diketahui bahwa mereka adalah pengunjung yang berasal dari berbagai negara. Yellow Market kembali dipenuhi oleh kesibukan yang meriah hari ini.

Di samping kereta kuda yang ditumpangi Bado dan Delirium, Roro berkuda berdampingan.

"Roro," panggil Bado, memanggil pembunuh bayaran yang setia ini ke dekatnya.

Mendongak menatap Roro yang berada di atas kuda mendekati jendela, Bado menyerahkan selembar perkamen yang dilipat tiga.

"Bacalah."

Sambil memegang kendali kuda, Roro membukanya.

"Ini…… informasi mengenai Witches?"

"Benar. Aku menyuruh Shimei mengumpulkan informasi terkait Witches, mulai dari rumor, insiden, hingga cerita pengantar tidur. Beberapa di antaranya memang mencurigakan kredibilitasnya, tapi bukankah ada asap kalau tidak ada api? Menurut Shimei, hal ini berharga untuk diselidiki. Bagaimana menurutmu?"

"Jika Meister-sama berkata demikian, maka pastilah begitu."

"Aku bertanya bagaimana pendapat dirimu sendiri. Menurutmu, apakah ketujuh Witches yang tertulis di sana bisa dikumpulkan?"

"Seekor anjing tidak memiliki opini."

Jawab Roro dengan dingin, lalu mengembalikan perkamen yang telah dilipat rapi itu kepada Bado.

"Jika majikan berkata menginginkan Witches, maka tugas anjing hanyalah mengumpulkannya."

"Kau pria yang membosankan. Kesetiaanmu yang terlalu tinggi membuatmu tidak seru diajak bicara."

"Tidak apa-apa. Jika saya memberikan opini kepada majikan, kakek akan memukul saya."

"Haha. Apakah anjing tua yang terbaring di tempat tidur itu masih saja menakutkan?"

"Tentu saja menakutkan. Orang itu bahkan di hari saat tubuhnya sedang sehat, masih saja mengasah senjata rahasia, lho. Entah siapa yang berniat dia bunuh……"

"Itu malah bisa diandalkan. Jika suatu saat terjadi perang, mungkin aku akan meminta bantuan mantan Anjing Hitam itu juga. Kerajaan Lowe juga terkenal dengan peternakan lebahnya. Belilah madu yang sangat manis sebagai oleh-oleh untuk membawanya pulang."

Setelah berkata demikian, Bado kembali menyerahkan perkamen itu kepada Roro.

"Peganglah ini olehmu."

"Bukankah ini informasi penting?"

"Justru karena itulah aku mempercayakannya padamu. Dengar, ketujuh Witches yang tertulis di sana akan menjadi kunci untuk menyelamatkan Campusfellow. Kau tadi bilang, kan? Jika aku berkata menginginkannya, tugasmu hanyalah mengumpulkannya."

Dari jendela kereta kuda kepada Roro yang berkuda di sampingnya, Bado memberikan perintah.

"Aku menginginkan Witches. Bawa mereka semua tanpa tersisa satu pun ke hadapanku."

"Hamba laksanakan."

Begitu Roro menundukkan pandangannya, Bado mengangguk puas.

"Bagus. Kalau begitu, pertama-tama mari kita pergi untuk mendapatkan yang pertama, Mirror Witch."

"Hei Ayah. Nanti bolehkah aku berjalan-jalan di pasar?"

Delirium duduk di kursi seberang, tepat di depan Bado.

"Jika tidak ada urusan apa pun setelah tiba di kastil. Tapi ya biasanya, mereka tidak akan membiarkan tamu terhormat yang diundang telantar begitu saja sejak hari pertama kedatangan. Jika ada perjamuan makan atau sejenisnya, kau juga harus hadir, ya."

"Eeeh…… kalau begitu aku tidak bisa pergi ke pasar, dong."

Delirium cemberut sambil terus mendesak.

"Lalu besok? Kalau besok boleh, kan?"

"Kalau besok…… yah, jika ada waktu."

"Benar, ya?! Janji, lho!"

Menunjukkan senyuman yang merekah, Delirium bangkit berdiri di dalam kereta kuda. Kemudian tiba-tiba, ia membuka lebar pintu kereta kuda yang sedang berjalan.

"Hei, Dely!"

"Roro, tangkap aku!"

Menepis larangan Bado, Delirium merentangkan kedua lengannya ke arah Roro lalu melompat. Roknya yang berwarna cerah berkibar lebar ditiup angin.

"Ups……!"

Roro buru-buru mengulurkan lengannya, menangkap tubuh Delirium lalu menariknya ke atas kuda.

"Heii, Dely! Itu berbahaya, apa kau baru mau kapok kalau sudah terluka?!"

Mengabaikan teriakan marah yang melayang dari kereta kuda di belakang, Delirium mendekap erat leher Roro.

"Haha. Terima kasih, Roro. Aku menyayangimu."

"Anda ini benar-benar terlalu liar."

Delirium dengan cekatan berpindah ke punggung Roro. Ia meletakkan tangannya di bahu Roro, lalu berdiri di atas pelana.

"Hei, Roro. Ayo pergi ke barisan yang lebih depan lagi!"

Roro mengalihkan pandangannya ke arah Bado yang menopang sikunya di bingkai jendela untuk meminta izin. Setelah memastikan Bado mengibaskan telapak tangannya seolah menyuruhnya pergi ke sana, ia mendongak menatap Delirium.

"Berpeganglah yang erat, ya."

Roro menyentak perut kudanya, memacunya menuju barisan depan. Rombongan Campusfellow melewati Yellow Market dan memasuki kawasan pemukiman dengan deretan rumah bata merah. Ini adalah distrik tempat tinggal para pedagang yang sukses dalam perdagangan. Banyak bangunan megah berlantai dua atau tiga di sini.

Di balkon yang menghadap ke jalan, sekilas terlihat gambaran kehidupan para penghuninya yang beragam. Di salah satu balkon, seorang penjual karpet sedang menjemur karpet-karpet indahnya yang berjejer. Di balkon yang lain, sebuah pangkas rambut membuat pelanggannya duduk menghadap ke jalan sambil merapikan rambutnya. Seolah-olah setiap balkon adalah sebuah panggung pertunjukan kecil.

Ada juga balkon di mana orang-orang memainkan biola atau akordeon. Di ujung tali yang diikatkan pada pagar pembatas, tergantung sebuah vas bunga. Pasti untuk memasukkan uang tip ke dalamnya. Meskipun sang raja baru saja dibunuh oleh seorang Witches, tampaknya kehidupan masyarakat tidak berubah drastis. Musik yang riang mengalir di kota, dipenuhi dengan kebisingan yang meriah.

Semakin mendekati pusat kota, Jalan Kemenangan semakin menanjak.

"Ada kesatria di mana-mana, ya."

Gumam Delirium di atas kepala Roro sambil melihat sekeliling kota. Seperti yang dikatakannya, sosok kesatria terlihat di berbagai sudut kota. Karena para kesatria Lowe semuanya mengenakan zirah emas, mereka terlihat sangat mencolok bahkan di tengah kota. Baik pelindung kepala, pelindung tangan, maupun pelindung kaki, semuanya berwarna emas.

"Apakah Anda tahu?"

Roro mendongak menatap Delirium.

"Kudengar jumlah anggota ordo kesatria Lowe melebihi lima ratus orang, lho."

"Heh! Kesatria serba emas seperti itu ada lima ratus orang?"

"Benar. Jalan Kemenangan ini dibuat dengan ukuran yang cukup lebar, bukan? Katanya, itu sengaja dilakukan agar ordo kesatria dalam skala besar bisa melakukan parade kemenangan. Pasti terlihat sangat mengintimidasi, ya. Menyaksikan para kesatria emas berbaris maju."

"Hmm…… Baru membayangkannya saja sudah membuat mataku silau."

Delirium menyipitkan matanya.

"Lalu, apakah Anda tahu siapa komandan dari Ordo Kesatria Singa Emas ini?"

"Tentu saja tahu! Raja Singa, kan?"

"Tebakan yang sangat tepat, saya kagum."

Raja dari Kerajaan Lowe dari generasi ke generasi dijuluki sebagai “Raja Singa”. Sudah menjadi tradisi di Lowe bahwa raja ini juga merangkap jabatan sebagai komandan Ordo Kesatria Singa Emas untuk memimpin para kesatria. Kini setelah Raja Singa dibunuh oleh seorang Witches, posisi komandan ordo kesatria pun berada dalam keadaan kosong.

"Dely menyukai negara ini."

"Oh ya. Padahal kita baru berjalan lurus di jalanan saja."

"Apakah tidak ada seorang pangeran yang sebaya? Yang tampan, berpenampilan bersih, dan terasa lembut."

"Wah, cepat sekali Anda sudah memikirkan pernikahan…… Namun sayangnya, tidak ada pangeran di sini. Hanya saja, Raja Singa tampaknya memiliki seorang putri berusia delapan tahun dari mantan istrinya."

"Aku tahu anak itu. Snow White, kan? Yang dikabarkan hilang."

Snow White Lowe dikabarkan menjadi salah satu dari sedikit penyintas yang selamat dari Pernikahan Berdarah, tragedi di mana lebih dari lima puluh orang termasuk Raja Singa dan para menteri senior dibantai. Namun, keberadaannya tidak diketahui sejak hari terjadinya tragedi tersebut, dan bahkan setelah sepuluh hari berlalu, nasibnya masih belum jelas.

"Jika dia ditemukan, apakah anak itu yang akan menjadi Raja Singa berikutnya? Padahal dia seorang anak perempuan?"

"Entahlah. Itu urusan negara lain…… Namun tampaknya, di antara generasi Raja Singa terdahulu, ada juga yang berjenis kelamin wanita."

"Hmm."

"Delirium-sama juga harus berhati-hati, ya. Jika Anda lengah melihat ke arah lain, Anda bisa diculik, lho."

"Astaga, Roro. Bukankah kau yang akan melindungiku?"

"Saya akan berusaha sebaik mungkin. Namun, saya tidak bisa melindungi sesuatu yang terus bergerak ke sana kemari."

"Tenang saja. Aku pasti akan bergerak ke mana-mana bersama si Anjing Hitam, kok."

"……Padahal anjing pun punya kesibukan tersendek, ya."

"Lihat, Roro! Kastil yang indah!"

Arah yang ditunjuk oleh Delirium adalah puncak bukit di atas tanjakan. Di balik deretan atap bata merah yang berjejer, terlihat beberapa atap berbentuk kerucut. Kastil Lowenstein yang tersohor sebagai “Sarang Singa” berdiri dengan megahnya di sana.

Bado beserta para abdi dalem kepercayaan Campusfellow dipandu masuk ke dalam kastil oleh petugas protokol yang menyambut mereka. Komandan Kesatria Heartland yang tidak pernah melepaskan tombaknya turut mendampingi, dan diikuti oleh enam orang kesatria Besi dan Api yang membawa dua kotak kayu berisi barang persembahan menggunakan kereta dorong. Roro mengenakan pakaian pelayan, berjalan mengikuti di barisan paling belakang rombongan. Jangan pernah lalai memahami jalan keluar masuk saat pertama kali memasuki sebuah bangunan──sesuai dengan ajaran kakeknya seperti itu, ia mengikuti sambil mengingat rute dari gerbang kastil.

Kastil Lowenstein memiliki ukuran yang luas, persis seperti penampakan luarnya. Rombongan yang dipimpin oleh petugas protokol itu tiba di sebuah pekarangan tengah yang terbuka. Itu adalah sebuah pekarangan tengah yang sangat luas dengan pancaran sinar matahari yang masuk. Rumput yang dirawat dengan baik terhampar di sana, dan di beberapa tempat terdapat petak bunga di mana berbagai macam bunga berwarna-warni tumbuh mekar dengan indahnya. Kupu-kupu tampak menari di dekat kelopak bunga.

Di dekat bagian tengah pekarangan berdiri sebatang pohon ek yang besar.

"Hoo. Ada taman seindah ini di dalam kastil……"

Rombongan tengah berjalan melewati koridor yang mengelilingi pekarangan tengah. Itu adalah koridor dengan deretan pilar penyangga yang berjejer. Karena Bado menghentikan langkahnya saat melihat pekarangan tengah, orang-orang lainnya pun ikut berhenti. Petugas protokol berjalan mendekati Bado.

"Pohon ek besar di sebelah sana konon telah berdiri sejak Raja Singa pertama kali menginjakkan kaki di tanah ini. Kastil Lowenstein ini dibangun sedemikian rupa hingga mengelilingi pohon besar tersebut. Dengan kata lain, taman inilah yang menjadi pusat dari kastil. Tempat ini disebut Kotak Mainan Raja."

Jika dilihat lebih dekat, rumput di dekat pohon besar itu tampak botak, berubah menjadi sebidang tanah lapang yang terbuka. Menurut petugas protokol, tempat itu berfungsi sebagai lapangan untuk saling mengadu pedang. Dikatakan bahwa dua kali dalam setahun, turnamen ilmu pedang diadakan di lapangan tersebut oleh para anggota ordo kesatria untuk menentukan juara di setiap musimnya.

"Karena hasil dari turnamen tersebut sangat memengaruhi tingkatan pangkat di dalam ordo kesatria, para kesatria tidak pernah melewatkan latihan harian demi meraih hasil yang bagus dalam turnamen."

"Hee…… Benar-benar terasa seperti Negara Kesatria, ya."

"Mari, Ruang Singgasana sudah dekat di depan. Omura Lowe-sama telah menunggu."

Rombongan berjalan maju sambil melirik ke arah Kotak Mainan Raja, lalu masuk ke dalam bangunan.

Omura Lowe memiliki tubuh yang obesitas. Di jari-jarinya yang tebal berkilau beberapa batu permata, dan ia memancarkan aroma parfum yang menyengat. Pakaian aneh dengan warna berbeda di sisi kiri dan kanan adalah mode fesyen yang sempat tren di kalangan bangsawan beberapa waktu lalu. Di dagunya tumbuh janggut tipis berwarna emas, namun terasa kurang meyakinkan sebagai simbol kewibawaan. Kesan sebagai pedagang kaya terasa lebih kuat ketimbang sebagai anggota keluarga kerajaan.

Di bahunya bertengger seekor bunglon yang terikat tali leher. Ini pun merupakan bagian dari tren fesyen, hewan peliharaan yang sedang populer di kalangan sebagian bangsawan.

"Ya ya, selamat datang di Negara Kesatria Lowe!"

Omura Lowe menyambut Bado beserta rombongannya dengan merentangkan kedua lengan. Ia semula duduk di singgasana yang seharusnya diduduki oleh Raja Singa, tetapi langsung bangkit dari duduknya begitu Bado dan yang lainnya tiba, lalu turun dari panggung singgasana. Ruang Singgasana itu berukuran sangat luas. Langit-langitnya tinggi, dan saat mendongak ke atas, tampak beberapa lembar kaca patri bergambar singa atau matahari berjejer. Kaca-kaca itu berfungsi sebagai jendela pencahayaan yang meneruskan sinar matahari yang berkilauan.

Roro menyadari ada sekitar sepuluh orang pria yang berdiri di dekat dinding aula. Karena berada di pusat kastil, ia mengira mereka adalah anggota Ordo Kesatria Singa Emas, namun mereka tidak mengenakan zirah emas. Mereka mengenakan zirah pelat abu-abu standar. Dari posisi berdiri maupun ekspresi santai mereka, mereka sama sekali tidak terlihat seperti kesatria yang terlatih. Mereka adalah kelompok orang yang tidak pantas berada di Ruang Singgasana. Siapakah mereka?

Satu-satunya orang yang mengenakan zirah emas di aula ini adalah pria yang berdiri di belakang Omura. Walaupun tidak mengenakan pelindung kepala, ia memakai jubah putih di punggungnya. Itu adalah bukti bahwa ia merupakan pengawal jenderal yang termasuk dalam golongan elite di Ordo Kesatria Singa Emas.

Omura yang turun dari panggung singgasana menjabat erat tangan Bado.

"Akhirnya kita bisa bertemu, Tuan Grace! Saya merasa terhormat Anda sudi datang langsung kemari. Bagaimana perjalanannya? Apakah tidak ada kendala apa pun?"

"Berkat dukungan Anda, ini adalah perjalanan yang menyenangkan. Profesi sebagai Tuan Tanah ini memang merepotkan, ya, bawaannya ingin mengurung diri saja di kastil. Saya sangat berterima kasih kepada Tuan Lowe yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk pergi ke luar."

Bado menyatukan alisnya untuk membuat raut wajah sedih, lalu menumpangkan tangannya yang satu lagi di atas tangan Omura yang ia jabat.

"Terkait wafatnya Raja Singa secara mendadak akibat bencana Witches tempo hari, saya sampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya dari lubuk hati saya."

"……Itu adalah insiden yang malang. Saya sendiri kebetulan selamat karena terlambat tiba di lokasi acara…… namun kami kehilangan banyak birokrat dan perwira militer yang hebat…… Walau demikian, sebagai adik dari raja, saya tidak boleh terus-menerus larut dalam kesedihan. Saat ini, meskipun hanya sementara, sayalah yang memegang kendali politik. Saya ingin menunjukkan kepada negara-negara tetangga bahwa Lowe tidak akan kalah oleh makhluk seperti Witches."

"Sikap yang luar biasa."

Bado memanggil Delirium ke dekatnya.

"Ini adalah putri tunggal saya. Mungkin karena tidak ada sosok ibu, dia tumbuh menjadi anak yang agak liar."

Delirium menjumput ujung rok gaunnya, lalu menundukkan kepalanya dengan takzim.

"Perkenalkan, nama saya Delirium Grace. Suatu kehormatan besar bagi saya atas undangan untuk berkunjung ke kastil ini."

"Oho, seorang putri yang sangat cantik. Berapa usiamu?"

"Saya menginjak usia empat belas tahun pada musim semi lalu."

"Empat belas tahun! Wah wah, apanya yang liar, Tuan Grace. Bukankah kecantikannya ini sanggup meruntuhkan sebuah kota! Dengan kecantikan secantik ini, bukankah lamaran pernikahan tidak akan ada habisnya? Bahkan bisa memicu peperangan!"

"Tidak. Pernikahan masih terlalu dini untuknya. Benar, kan, Dely."

"Benar, Ayah. Dibandingkan dengan singa yang gagah berani, pria mana pun akan terlihat kurang meyakinkan."

Delirium menunjukkan senyuman yang anggun. Tentu saja, itu hanyalah senyuman formalitas belaka. Omura menurunkan sudut alisnya, lalu tertawa dengan suara tinggi, "Hoho!"

"Sepertinya sang putri menyukai kesatria yang perkasa, ya?"

"Terlepas dari hal itu, Tuan Lowe. Ada sesuatu yang ingin saya persembahkan untuk Anda──"

Para kesatria Besi dan Api menjajarkan kereta dorong yang memuat kotak kayu di depan Omura. Barang-barang yang dibawa adalah berbagai persenjataan yang menjadi kebanggaan Campusfellow.

"Seperti yang Anda ketahui, persenjataan yang dibuat di Campusfellow berbeda dengan senjata pada umumnya. Senjata-senjata ini disebut senjata transformasi karena bentuknya bisa berubah sesuai situasi pertempuran. Kali ini, kami membawa produk-produk pilihan dari senjata tersebut."

Bado mengambil sebuah gada berukuran kecil secara acak dari dalam kotak kayu──sebuah senjata pemukul dengan beban di ujungnya. Saat bagian gagangnya diputar──KLIK. Sebuah bilah pisau yang tajam dan panjang melesat keluar dari ujung beban tersebut. Senjata itu bertransformasi dari sebuah gada untuk menghancurkan baju besi menjadi sebuah pedang untuk menikam celah baju besi demi menghabisi musuh.

"Hoo! Wah wah, ini benar-benar unik!"

Omura bertepuk tangan kegirangan.

"Memang tidak salah julukan Negara Api dan Besi Campusfellow yang menampung banyak pandai besi. Saya paham hal begini karena dulu sempat berkecimpung sedikit dalam perdagangan luar negeri, lho. Pedang atau zirah buatan Campusfellow akan laku keras hanya dengan label buatan sana saja. Wah wah, ini membuat saya semakin tidak sabar menantikan produk barunya…… benar, kan?"

Omura menyunggingkan sudut mulutnya seraya menyeringai. Bado pun membalasnya dengan senyuman menyeringai.

"Benar. Silakan nantikan produk baru tersebut──pedang sihir."

Pedang sihir──Hal itu hanyalah sebuah alasan agar Lowe bersedia menjual Witches kepada mereka. Bisa dikatakan, itu adalah jebakan yang dipasang oleh Bado. Lowe tidak akan mungkin bersedia menjual begitu saja seorang Witches yang merupakan tahanan penjahat pembunuh raja. Karena itulah, Bado dan yang lainnya menyiapkan sebuah negosiasi palsu yang tampak logis dan menguntungkan bagi pihak Lowe.

"Saat pedang sihir itu selesai nanti, Anda akan memasok pedang tersebut secara eksklusif hanya untuk kami di Lowe…… Begitulah poin transaksinya, bukan?"

Tawa Omura yang bergumam muhoho itu benar-benar murni cerminan dari seorang pedagang. Lowe juga merupakan negara yang kuat dalam perdagangan. Jika pedang sihir selesai dan mereka bisa memonopoli penjualan grosirnya, maka kekuatan sihir tidak akan lagi menjadi monopoli eksklusif dari Kerajaan Amelia. Negara-negara yang sedang berperang dengan Amelia pasti akan berbondong-bondong menginginkan senjata ini. Keuntungan yang didapat akan sangat masif. Dengan kata lain, transaksi penyerahan Witches ke Campusfellow ini bukanlah kesepakatan yang buruk bagi pihak Lowe.

Namun, itu semua dengan catatan jika cerita tersebut adalah kenyataan. Pada kenyataannya, pembuatan pedang yang dialiri kekuatan sihir belum pernah berhasil sekalipun. Yang penting Witches itu bisa didapatkan terlebih dahulu. Setelah itu, mereka tinggal memberikan alasan bahwa penelitian terlambat atau mengalami kegagalan untuk menjelaskan mengapa tidak ada hasil yang dicapai.

Bado mulai berbicara dengan lancar tanpa terbata-bata.

"Para pandai besi di Campusfellow kami benar-benar hebat. Tingkat akurasi pedang yang mereka tempa selalu berhasil membuat saya takjub selaku Tuan Tanah mereka. Senjata yang sedang mereka kerjakan saat ini adalah…… pedang sihir."

Itu bohong.

"Beberapa purwarupa sudah berhasil dibuat…… namun aliran kekuatan sihirnya belum stabil."

Ini juga bohong.

"Menurut para pandai besi, cara satu-satunya adalah dengan membedah orang yang benar-benar menggunakan kekuatan sihir untuk mengurai mekanismenya…… Namun kami kesulitan. Kami tidak mungkin menangkap paksa para Sorcerers dari Kerajaan Amelia, bukan? Di saat seperti itulah, tragedi yang menimpa negara Anda terdengar oleh kami."

"Hmm. Momentum ini mungkin bisa dikatakan sebagai takdir, ya……"

"Benar, ini pasti takdir. Pandai besi kami yang membuat, dan kalian para kesatria yang menggunakannya. Pedang sihir ini dipastikan akan menjadi jembatan yang menghubungkan Lowe dan Campusfellow."

"Luar biasa. Mari kita bekerja sama!"

Omura memasang senyuman lebar, dan sekali lagi menjabat erat tangan Bado. Namun, begitu Bado hendak masuk ke tahap pengaturan penyerahan dengan berkata, “Kalau begitu mari kita segera membawa Witches……”, bicaranya mendadak menjadi tidak lancar.

"Anu, sebenarnya terkait penyerahan itu…… saya ingin Anda menunggu sebentar."

"……Menunggu?"

"Iya…… Begini, Mirror Witch adalah penjahat besar yang membunuh Raja Singa, kan? Muncul suara-suara yang tidak ada habisnya yang menyatakan bahwa tidak seharusnya kita menyerahkannya ke negara lain, tak peduli seberapa besar keuntungan yang didapat. Kalau saya pribadi, sih? Saya berpikir mendiang kakak──ah, maksud saya Raja Singa pasti akan memaafkannya jika penjualan ini mendatangkan keuntungan bagi Lowe."

Omura memasang wajah masam sambil menggaruk bagian belakang kepalanya berkali-kali.

"Masalahnya ada pada para kesatria…… Mereka benar-benar ingin mengadilinya. Karena itulah, besok tepat di Ruang Singgasana ini, sebuah pengadilan Witches akan dilangsungkan."

"Pengadilan Witches……?"

Bado menyatukan alisnya mendengar kata-kata tak terduga yang keluar dari mulut Omura. Pengadilan Witches merupakan bagian dari budaya agama Lucy. Karena tujuannya adalah untuk menguji apakah tersangka merupakan seorang Witches atau bukan, akan sulit bagi orang awam untuk menilainya. Biasanya, seorang Sorcerers yang akan bertindak sebagai hakimnya. Namun, Lowe berada di luar wilayah agama Lucy. Seharusnya tidak ada Sorcerers di sini.

"Pengadilan Witches adalah hal yang ganjil dilakukan di sini. Sejak kapan warga Lowe menjadi penganut agama Lucy?"

"Bukan, bukan begitu, jangan salah paham. Walau disebut pengadilan, itu hanya formalitas saja, kok."

Omura mengibaskan tangannya di depan wajah untuk membela diri.

"Lagipula tanpa perlu diadili pun, sudah jelas bahwa Mirror Witch adalah Witches sejati. Pengadilan besok tujuannya bukan untuk menguji apakah dia Witches atau bukan, melainkan lebih ke arah menghakimi penjahat pembunuh Raja Singa."

"Menghakimi penjahat……"

"Iya. Karena itu pengadilannya hanya formalitas, dan hakim yang disiapkan pun bukan seorang Sorcerers. Artinya, ini hanyalah sebuah pengadilan Witches sepihak. Menjatuhkan vonis bersalah pada pembunuh Raja Singa, dan menunjukkan pertanggungjawaban kepada perwakilan bangsawan negara tetangga serta rakyat jelata, jika tidak dilakukan maka Lowe tidak akan bisa melangkah maju──begitulah pembelaan dari para kesatria."

"Jika demikian──"

Bado kembali menatap Omura dengan pandangan mata yang tajam. Apakah ada kebohongan dalam kata-katanya──ia melanjutkan sambil mengamati dengan saksama untuk memastikan tidak ada informasi yang terlewat dari ekspresi wajah tersebut.

"Apakah Witches itu akan dibakar sampai mati setelah pengadilan? Bukankah dimasukkan ke dalam kobaran api merupakan inti dari pengadilan Witches? Jika tidak melihat Witches yang divonis bersalah itu terbakar, para kesatria mungkin tidak akan puas, bukan?"

"Terkait hal itu, silakan tenang saja."

Omura tertawa lebar, mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang.

"Tentu saja negosiasi dengan Tuan Grace tetap berjalan! Seperti yang tertulis dalam surat, besok malam setelah pengadilan selesai, kami telah menyiapkan sebuah pesta skala besar untuk mempererat persahabatan antara Campusfellow dan Lowe. Saya berencana menyerahkan Witches di acara tersebut. Acara penyerahan Witches dipastikan akan menjadi simbol yang menyatukan kedua negara kita!"

"……Hmm."

Bado melipat tangannya, tampak belum sepenuhnya menerima penjelasan tersebut. Omura berbicara dengan cepat.

"Tenang saja, soal para kesatria, saya akan meyakinkan mereka sebelum besok malam. Orang-orang yang akan menggunakan pedang sihir adalah mereka. Jika kehebatan pedang itu dipamerkan, mereka pasti akan berebut menginginkannya."

Lalu di saat itu, ada suara yang menyela percakapan mereka berdua.

"Mohon maaf."

Suara interupsi yang ketus itu berasal dari pria yang berjaga di belakang Omura. Di antara para prajurit yang berada di aula, dialah satu-satunya yang dilengkapi dengan zirah emas dari Ordo Kesatria Singa Emas.

"Apa pun yang dikatakan oleh Yang Mulia Adik Raja, perasaan kami para kesatria yang mengabdi pada Lowe tidak akan berubah."

Berperawakan tinggi dengan rambut pendek berwarna emas. Wajah persegi yang dipenuhi rasa percaya diri. Tubuh yang sangat terlatih dan proporsional untuk mengayunkan pedang bisa terlihat jelas bahkan dari balik zirah pelat yang dikenakannya.

"Raja Singa-sama yang dibunuh oleh Witches juga merupakan komandan kami. ……Tidak, yang dibunuh bukan hanya komandan saja──"

Pria itu melangkah maju, menjajarkan posisinya dengan Omura.

"Wakil komandan, penasihat, serta para komandan pasukan yang menghadiri upacara pernikahan juga dibantai dengan kejam oleh Witches tersebut. Mengeksekusi wanita seperti itu saja tidak dilakukan malah menjualnya ke negara lain…… Kesatria yang memiliki kesetiaan tinggi tidak akan pernah mengizinkan hal itu. Oleh karena itu, kepada Tuan Grace, mohon jangan membawa transaksi bisnis yang mencurigakan kepada Yang Mulia Adik Raja."

Bado mempertahankan raut wajahnya tanpa perubahan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Omura.

"Tuan Lowe. Siapa dia?"

Sebelum Omura sempat membuka mulut, sang kesatria telah menundukkan kepalanya seraya berkata, "Mohon maaf atas ketidaksopanan saya."

"Saya lancang belum memperkenalkan diri. Nama saya adalah Komandan Pengawal Jenderal dari Ordo Kesatria Singa Emas, Figaro Kimberly."

"Tuan Kimberly. Apakah Anda menganggap bahwa penawaran yang saya bawa adalah transaksi bisnis yang mencurigakan?"

"……Dengan segala hormat yang saya miliki."

Figaro menatap lurus kembali ke arah Bado.

"Yang disebut pedang sihir itu…… adalah sesuatu yang tidak masuk akal, dan saya tidak akan mempercayainya sebelum melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Lagipula, jikalau pedang yang dialiri kekuatan sihir benar-benar bisa dibuat, saya rasa para kesatria tidak akan sudi menggunakannya."

"Huu. Menarik sekali. Coba beri tahu aku. Kenapa begitu?"

"Karena tanpa perlu menggunakan pedang mencurigakan seperti itu pun, kami para kesatria sudah cukup kuat."

"Kau boleh saja berkata demikian."

Bado melipat tangannya sambil mengelus dagu.

"Kudengar di acara Pernikahan Berdarah tempo hari, banyak kesatria yang turut hadir di sana. Namun, meski ini sangat tidak mengenakkan untuk diucapkan, kalian tidak berdaya melawan Witches yang menggunakan sihir. Karena itulah insiden tersebut memakan banyak korban, bukan?"

"Itu karena upacara pernikahan sedang berlangsung, sehingga para kesatria tidak membawa pedang mereka. Itu murni karena alasan tersebut."

Figaro menundukkan pandangannya, lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi yang tampak sangat menyesal.

"Namun, Witches itu akhirnya berhasil ditangkap oleh kami para pengawal jenderal yang bergegas datang ke kapel. Tentu saja, yang kami gunakan adalah pedang dua tangan biasa. Sama sekali tidak dialiri kekuatan sihir."

"……Hmm."

"Tadi Yang Mulia Adik Raja berkata bahwa pedang atau zirah buatan Campusfellow akan laku keras hanya dengan label buatan sana saja…… Namun hal itu hanya berlaku untuk pedang atau zirah yang normal. Para kesatria justru akan menarik diri dan waspada jika direkomendasikan senjata buatan Campusfellow. Mereka akan bertanya, Senjata itu tidak akan bertransformasi, kan?──begitu."

Orang-orang dari Campusfellow seketika menjadi agak riuh. "Hei, Figaro," ucap Omura mencoba menyela dengan panik, namun Bado menahannya.

"Tidak apa-apa, biarkan saja. Ini adalah masukan berharga dari sisi pengguna. Aku ingin mendengar opini yang jujur tanpa ada yang ditutupi. Apakah kalian sebegitu tidak menyukainya? Senjata transformasi buatan kami."

"……Kami membencinya."

Topik pembicaraan telah berpindah dari pedang sihir ke senjata transformasi milik Campusfellow. Figaro mengambil sebuah pedang secara acak dari dalam kotak kayu hadiah dari Campusfellow. Sekilas itu tampak seperti pedang satu tangan biasa. Sambil membolak-balik senjata itu untuk mengamatinya dari berbagai sudut, ia menjawab pertanyaan Bado.

"Kami para kesatria berhasil menguasai teknik mengayunkan pedang setelah melalui usaha keras yang sampai meneteskan darah. Yang kami inginkan dari sebuah senjata adalah apakah senjata tersebut bisa memfasilitasi keahlian yang telah kami pupuk ini tanpa ada hambatan──ups."

Entah karena tidak sengaja mengaktifkan mekanisme senjatanya, bilah pedang tersebut mendadak terbagi menjadi beberapa ruas yang tak terhitung jumlahnya, lalu melesat keluar layaknya sebuah pegas. Ujung pedangnya menjulur lunglai menyentuh lantai.

Itu adalah senjata transformasi yang bilah pedangnya bisa digunakan meliuk-liuk seperti cambuk. Melihat kekonyolan dari ujung pedang yang menjulur lunglai tersebut, suara tawa kecil terdengar berbisik-bisik di sekitar lokasi. Suara itu berasal dari para prajurit yang mengenakan zirah pelat abu-abu di aula.

"Mohon maaf," ucap Figaro seraya membuang pedang itu kembali ke dalam kotak.

"Demi melindungi majikan dan demi melindungi negara, kami bertarung dengan kesungguhan hati. Jika senjatanya bertransformasi dengan penuh rasa main-mail seperti ini, hal itu justru akan menjadi pengganggu. Yang diinginkan oleh kami para kesatria sejati adalah pedang yang praktis. Bukan mainan semacam ini──"

Lalu di saat itu──suara hantaman keras BAM bergema di aula. Pandangan semua orang seketika terpusat pada Komandan Ordo Kesatria Besi dan Api, Heartland, yang berada di belakang Bado.

"Aku tidak bisa membiarkan perkataanmu itu!"

Heartland yang menghentakkan ujung tombaknya ke lantai berteriak dengan wajah yang memerah karena murka.

"Kesatria sejati menghindari senjata transformasi, katamu?! Apakah kau sedang menghina kami yang menggunakan senjata transformasi sebagai kesatria palsu? Kalau begitu silakan coba sendiri! Seberapa hebat kekuatan yang dibanggakan oleh senjata yang kau ejek sebagai mainan itu. Kau baru akan memahaminya setelah merasakan sendiri rasa sakitnya!"

Bado melepaskan tawa kecil, lalu memberikan isyarat mata kepada Omura.

"Mohon maaf, ya, orang kami ini memang agak temperamental."

"Bukan, bukan, yang harus meminta maaf adalah pihak kami. Figaro, minta maaflah."

Namun Figaro mengabaikan Omura, dan menaikkan suaranya ke arah Heartland.

"Baiklah. Kalau begitu mari kita lakukan pertandingan eksibisi. Apakah saya boleh memilih sendiri lawan tandingnya?"

"Huh! Sesuai harapan! Keangkuhanmu yang tinggi itu akan kubakar sampai habis! Tapi apa maksudmu dengan memilih? Tanpa perlu memilih pun, lawanmu adalah Komandan dari Ordo Kesatria Besi dan Api, yaitu aku sendiri, Heartland!"

"Bukan, maaf."

Figaro mengalihkan pandangannya dari Heartland. Ia melangkah maju ke depan deretan orang-orang dari Campusfellow, lalu mengamati wajah mereka satu per satu seolah sedang menyeleksi. Kemudian ia bergumam pelan.

"……Bukan dirimu yang menarik perhatianku."

"……?"

"Tuan Grace," ucap Figaro seraya berbalik ke arah Bado.

"Mohon maaf atas ketidaksopanan saya, namun bolehkah Anda memberi tahu saya? Apakah di antara orang-orang ini ada yang merupakan Anjing Hitam?"

"Anjing Hitam?"

"Benar, Anjing Pemburu dari Campusfellow. Intelijen, pembunuhan, eksekusi pengkhianat…… Kebiasaan Anjing Hitam adalah melakukan tindakan keji apa pun demi majikannya. Seorang pembunuh bayaran yang kejam dan sangat kuat──Kudengar saat Perang Empat Binatang Buas dahulu, pihak kami di Lowe juga dibuat sangat menderita olehnya."

"Haha."

Bado tertawa terpingkal-pingkal.

"Maaf, maaf. Memang benar ada pembunuh bayaran yang dijuluki Anjing Hitam yang mengabdi pada keluarga Grace…… namun Perlang Empat Binatang Buas itu adalah pertempuran yang terjadi lebih dari lima puluh tahun yang lalu. Jika pembunuh bayaran yang aktif sebelum aku lahir itu masih mengabdi padaku sekarang, dia pasti sudah menjadi kakek-kakek yang peot."

"Benar juga…… Jika dia masih aktif sampai sekarang, dia pasti sudah tua, namun──"

Figaro berdiri di depan orang yang paling tua di antara rombongan, Meister Shimei, namun setelah menatap wajahnya yang dipenuhi kerutan, ia menggelengkan kepala dengan kecewa. ──“Bukan dirimu.”

"Namun tidak aneh jika ada orangnya, bukan? Penerus yang mewarisi teknik pembunuhan tersebut beserta julukan Anjing Hitam──"

"Hmm. Tuan Kimberly memiliki imajinasi yang sangat luas, ya."

Bado menyunggingkan senyuman kecut.

"Kalau begitu, saya akan memilihnya secara acak."

Figaro berjalan menyelinap di antara orang-orang dari Campusfellow, menatap wajah setiap orang satu per satu.

"……Sudah kuputuskan. Orang yang akan menjadi lawan tandingku adalah dirimu."

Jari yang ditunjuk oleh Figaro mengarah pada Roro yang sedang bersiaga di barisan belakang.

"……Eh, saya?"

Tanpa membuang waktu, Heartland melangkah besar mendekati Figaro.

"Bodoh! Apa kau ketakutan, Singa Emas! Dia ini bahkan bukan seorang kesatria, tahu?!"

"Bukankah tidak masalah? Ini hanya untuk melihat performa dari senjata transformasi. Lawannya tidak harus seorang kesatria, kan."

"Yang Mulia!" ucap Figaro seraya berbalik ke arah Omura.

"Mohon berikan izinnya. Saya ingin mengadu kemampuan dengannya."

"Hmm. Kau ini memang merepotkan…… Bagaimana menurut Anda, Tuan Grace. Saya pribadi sebenarnya juga ingin melihat pertempuran nyata menggunakan senjata transformasi, sih……?"

"Haa. Jika Tuan Lowe berkata demikian, maka……"

Pandangannya bertemu dengan Roro yang tampak bingung, membuat Bado mengangkat bahunya.

Semua orang meninggalkan Ruang Singgasana dan berpindah menuju Kotak Mainan Raja. Mereka berkumpul di lapangan yang berada di dekat pohon ek yang sempat mereka lirik beberapa saat lalu. Di tengah lapangan ditarik garis pembatas, membentuk sebuah area pertandingan. Campusfellow dan Lowe. Masing-masing kubu mulai melakukan persiapan pertandingan di sisi lapangan yang saling berhadapan.

Para prajurit yang tadinya berada di aula juga telah berpindah ke koridor yang mengelilingi pekarangan tengah. Mereka menunggu pertandingan dimulai sambil bersandar pada pilar-pilar yang berjejer atau mengobrol satu sama lain. Terlebih lagi, para kesatria Singa Emas serta para pelayan yang bekerja di kastil yang mendengar keributan tersebut turut berkumpul di koridor.

Karena Roro tidak membawa pelindung tubuh, pihak Lowe menyiapkan sebuah zirah pelat untuknya. Itu adalah pelindung dada yang sudah usang dan dipenuhi penyok di sana-sini, khas barang yang biasa digunakan untuk latihan. Saat sedang mengenakan pelindung tubuh tersebut, Roro mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Bado.

"……Kenapa saya yang dipilih, ya?"

Roro merentangkan kedua tangannya ke samping sambil dibantu dipasangkan pelindung dadanya oleh Heartland, melemparkan pertanyaan kepada Bado yang berdiri di dekatnya.

"Apakah tidak ada hal yang mencurigakan yang terpikir olehmu? Seperti kau memancarkan hawa membunuh karena marah senjata transformasi dihina."

"Tidak mungkin. Hal sepele begitu tidak akan membuat saya marah."

"Harusnya kau marah, dong! Dasar bodoh."

Putri Campusfellow, Delirium, meletakkan tangan di pinggangnya sambil mengomel dengan kesal.

"Dely dan yang lainnya dihina, tahu?! Senjatanya, para pengrajinnya, hingga ordo kesatria kita! Jika tidak marah melihat hal itu, kau sudah tidak pantas menjadi rakyat Campusfellow!"

Delirium membuka lebar mata birunya, lalu mendekatkan wajahnya tepat di depan hidung Roro.

"Aku tidak akan memaafkanmu jika kalah. Bunuh saja orang itu!"

"Jika dibunuh di sini, hal itu justru akan memicu masalah diplomasi internasional……"

"Tidak, apa yang dikatakan putri itu benar!"

Pemasangan pelindung dada telah selesai, dan Heartland memukul keras punggung Roro. Roro terdorong hingga terhuyung ke depan.

"Dengar, kau! Karena kau maju sebagai wakilku, kekalahan sama sekali tidak diizinkan! Jangan lupa bahwa kehormatan Campusfellow dipertaruhkan dalam satu pertandingan ini!"

"Berlebihan sekali…… Ya, saya akan berusaha sebisanya."

"Jawaban macam apa yang kurang bersemangat itu! Kau harus menang!"

Senjata yang diberikan padanya seolah dipaksakan adalah senjata transformasi yang tadi dibuang oleh Figaro. Sebuah pedang satu tangan yang bilahnya bisa memanjang. Roro menerimanya dengan pelindung tangan yang ukurannya kebesaran dan longgar.

Kubu sebelah tampaknya sudah menyelesaikan persiapan mereka. Figaro yang seluruh tubuhnya berkilau emas dari pelindung kepala hingga pelindung kaki melangkah maju ke tengah lapangan. Roro pun maju ke area pertandingan setelah mengenakan pelindung kepalanya.

"Roro," panggil Bado, membuatnya menoleh.

"Jujur saja, aku juga ingin menghajar orang itu, tapi tempat untuk bertengkar bukan di sini. Kau mengerti, kan?"

"……Hamba laksanakan."

──TRING!

Terkena tangkisan pedang Figaro, Roro langsung terjatuh terduduk dengan mudahnya.

"Mohon maaf. Saya menyerah!"

Karena pedang diangkat untuk melakukan serangan susulan, Roro buru-buru mengarahkan telapak tangannya ke depan.

"……Menyerah? Jangan bercanda."

Melihat pemandangan yang memalukan itu, Figaro membuka pelindung wajahnya dan menunjukkan raut wajah yang tidak senang.

"Bukankah kau mau menunjukkan kepadaku kehebatan dari senjata itu? Coba transformasikan sekali saja. Atau jangan-jangan, benda itu memang murni sebuah mainan?"

"Mohon ampuni saya. Jangankan seorang kesatria, saya bahkan bukan seorang prajurit jelata. Saya yang hanya sebatas pelayan mana mungkin bisa menjadi lawan tanding bagi seorang kesatria-sama……"

Cih, Figaro berdecak dengan kesal.

"Jika ingin pertandingan ini cepat selesai, coba daratkan satu pukulan saja padaku."

"……Satu pukulan."

Tepat di saat Roro bangkit berdiri dengan terhuyung-huyung dan memasang kuda-kuda, serangan Figaro kembali dilancarkan. Roro menghalau dengan susah payah pedang Figaro yang diayunkan dengan keras sambil melangkah mundur.

Suara sorakan dukungan dari pihak Campusfellow seperti “Jangan mundur!” atau “Bunuh dia!” terdengar sampai ke punggungnya. Di sisi lain, suasana bosan mulai mengalir di koridor yang mengelilingi pekarangan tengah karena pertandingan yang berjalan berat sebelah.

Roro menahan ayunan pukulan Figaro dengan memosisikan bilah pedangnya secara horizontal. Suara benturan logam yang nyaring bergema di pekarangan tengah.

"Tadinya aku mengira kau adalah penerus dari Anjing Hitam. Apakah dugaanku keliru? Hah?"

"…………"

"Hei, coba beri tahu aku. Kisah pembantaian tiga ratus orang yang terkenal yang dilakukan oleh Anjing Hitam saat Perang Empat Binatang Buas dulu, apakah itu kenyataan? Bagaimana cara dia membantai tiga ratus orang hanya dalam waktu satu malam?"

Roro menatap balik wajah Figaro dari balik pelindung kepalanya.

"……Kenapa kesatria-sama berpikir bahwa saya adalah Anjing Hitam?"

"Bukan apa-apa, hanya insting saja."

Figaro mendorong pedangnya dengan kuat, mengempaskan posisi Roro.

"Jika harus menyebutkan alasannya, di antara semuanya, kaulah yang paling tidak merasa marah."

"……?"

"Senjata transformasi itu adalah kebanggaan kalian warga Campusfellow, bukan? Padahal senjata itu sedang ditertawakan, tapi hanya kau seorang yang tidak menunjukkan emosi sama sekali. Tidak marah, dan juga tidak sedih. Begitu rupanya, seorang pembunuh bayaran memang tidak akan mengumbar emosinya secara sembarangan, ya?"

"……Hee."

Sangat disayangkan, ia terpaksa menyetujui analisis tersebut. Aturan untuk tidak menunjukkan emosi dan selalu bersikap tenang memang telah ditanamkan secara keras oleh kakeknya, namun siapa sangka hal itu justru menjadi petunjuk yang membongkar identitas aslinya.

Sambil menunggu Roro kembali ke tengah lapangan, Figaro melanjutkan pertandingan. Dua kali, tiga kali suara benturan pedang bergema, dan ujung pedang Figaro telah tertuju tepat di depan tenggorokan Roro.

"Bagaimana, apakah sudah saatnya kau mulai serius?"

Dengan dagu yang tetap terangkat, Roro menggelengkan kepalanya pelan berkali-kali.

"Tidak…… saya menyerah. Saya mengaku kalah."

"Jika kau tidak menghentikan sikap memalukanmu itu segera──"

──BUG

"Ugh……"

Tiba-tiba Figaro merasakan hantaman keras di bagian perutnya, membuatnya melangkah mundur. Apa yang sebenarnya terjadi──saat melihat ke bawah, tampak bilah pedang Roro telah terbagi menjadi beberapa ruas yang lunglai. Ujung pedang yang melesat keluar layaknya pegas telah menghantam pelindung dada zirah pelat milik Figaro.

"Ooh…… Kuat sekali, ya. Zirah emas yang luar biasa."

"……Sangat tidak bermutu."

Figaro segera memperbaiki posisinya dan bersiap dengan pedangnya.

"Mau kuajarkan? Cara menggunakan pedang dari seorang kesatria sejati."

"……Tidak perlu, terima kasih."

"Jangan berkata demikian. Cara pakainya adalah seperti ini."

Figaro mengayunkan pedang yang digenggam kuat dengan kedua tangannya sekuat tenaga. ──BLAM! Tubuh Roro yang terhantam di bagian dada melayang ke udara, dan suara sorak-sorai membubung dari sekitar lokasi.

Di depan matanya, tampak dua buah batu permata berwarna biru muda mengapung secara samar. Apakah itu batu aquamarine? Sungguh kilauan yang sangat menyilaukan…… Tepat di saat ia sedang larut dalam perasaan sentimental yang estetis seperti itu, kedua batu permata itu tampak berkedip berkali-kali.

"Roro! Kau sudah sadar, ya!"

Pandangannya yang semula kabur mulai fokus membentuk wujud nyata. Yang berada di depan hidung Roro adalah wajah Delirium yang sedang mengintip ke arahnya. Dua buah batu permata biru itu ternyata adalah sepasang mata biru yang basah. Saat ia menegakkan tubuh bagian atasnya, Delirium langsung mendekap erat lehernya.

"Uwaaaan, syukurlah! Karena kau terpental dengan sangat hebatnya tadi, aku mengira kau sudah mati, tahu. Dely menyuruhmu membunuhnya, tahu? Bukan menyuruhmu mati! Dasar anjing bodoh. Bodoh!"

"Ini sakit, Delirium-sama. Dada saya sakit."

Tubuhnya terasa kaku dan napasnya terasa sesak. Tulang rusuknya mungkin saja mengalami keretakan. Roro melihat ke sekeliling untuk memastikan situasi. Tampaknya ia tadi tertidur dengan menjadikan paha Delirium sebagai bantal. Itu adalah posisi yang tidak pantas dilakukan oleh seorang bawahan. Jika sampai ketahuan oleh kakeknya, ia bisa dibunuh.

Roro sepertinya dibaringkan di atas sofa yang berada di dekat dinding. Di tengah ruangan terdapat sofa yang mengelilingi meja, tempat Bado dan Menteri Luar Negeri Edelweiss sedang duduk. Heartland berdiri di dekat mereka sambil memegang tombaknya. Menyadari Roro telah sadar, Bado menoleh ke belakang.

"Yo. Sudah bangun, ya."

"……Mohon maaf. Berapa lama saya tertidur?"

"Tidak terlalu lama, kok. Jangan dipikirkan."

Di langit-langit yang dipandang oleh Roro, tergantung sebuah lampu kristal dengan lilin-lilin yang menyala. Di lantai terhampar karpet yang tampak sangat mewah, dan di dinding terpasang hiasan berupa kepala rusa jantan dengan tanduk yang megah. Ruangan ini adalah kamar tamu kelas satu yang dialokasikan untuk Bado. Baik langit-langit maupun dindingnya, semuanya merupakan ruangan serba emas yang berkilauan.

Heartland melangkah besar mendekati Roro.

"Roro, kau! Apa kau tidak punya rasa malu? Boro-boro memamerkan kehebatan senjata transformasi, kau malah dihantam sampai terpental begitu. Apa yang akan dipikirkan oleh para pandai besi di Campusfellow jika melihat pemandangan memalukan itu……!"

Delirium mendekap kepala Roro ke dadanya.

"Sudahlah tidak apa-apa. Kau sudah merenunginya, kan? Roro."

"Sudah kok~"

"Kau sama sekali tidak merenunginya, ya!"

"Sudahlah Heartland, jangan terlalu emosi begitu."

Bado turut memberikan pembelaan untuk Roro.

"Kau sengaja menerima pukulan itu, kan?"

"Karena jika tidak menerima pukulan, pertandingannya seolah tidak akan berakhir……"

Meskipun ia tidak menyangka akan menerima pukulan telak yang sampai membuatnya gagal memasang posisi bertahan. Menerima serangan itu juga diniatkan sebagai bentuk peringatan bagi dirinya sendiri karena identitas aslinya hampir terbongkar, namun tampaknya hal itu tidak perlu diutarakan secara gamblang. Ia telah menunjukkan performa yang buruk di hadapan majikannya. Roro hanya bisa menundukkan kepalanya.

Bado mengelus janggutnya yang tidak dicukur, lalu kembali menghadap ke meja.

"Namun…… Figaro Kimberly, ya. Benar-benar pria yang merepotkan yang muncul."

"Kendali praktis dari ordo kesatria tampaknya hampir sepenuhnya berada di tangannya, ya."

Ucap Edelweiss sambil menuangkan teh dari teko ke dalam cangkir.

"Jika dia menentang penyerahan Witches, maka…… negosiasi ini mungkin akan menjadi sulit, ya. Tuan Lowe berkata akan meyakinkan para kesatria, namun melihat situasi tadi, yang terjadi justru sepertinya dia yang akan diyakinkan oleh mereka."

"Benar. Pria seperti itu tidak akan mau mendengarkan perkataan Omura. Wajahnya adalah tipe wajah orang yang menganggap dirinya sendiri adalah yang nomor satu dalam segala hal. Gengsinya juga pasti sangat tinggi. Tapi ya dia memang tampan, sih."

Setelah berkata demikian, Bado menunjuk Edelweiss dengan dagunya.

"Kau menyukai tipe pria seperti itu, kan."

"Saya…… tidak menyukai orang yang mengejek sesuatu yang dianggap berharga oleh orang lain."

Edelweiss memanyunkan bibir bawahnya, memasang raut wajah yang masam. Meskipun dia seorang pria paruh baya, gesturnya menyerupai seorang gadis. Edelweiss menggeser salah satu cangkir teh yang berisi teh herbal ke hadapan Bado. Uapnya memancarkan aroma khas jeruk secara samar. Bado bergumam, "Terima kasih," lalu mengangkat cangkir tersebut.

"Tapi, apa yang akan kita lakukan? Pengadilan Witches, katanya…… Apakah Tuan Lowe benar-benar akan menyerahkan Witches setelah pengadilan selesai? Bagi saya, hal itu rasanya sangat sulit dipercaya."

"Pasti akan sulit. Pengadilan Witches besok juga mungkin saja merupakan rencana dari Figaro Kimberly yang ingin melenyapkan Witches, lalu menghasut Omura untuk melangsungkannya. Karena dari yang kulihat, Omura tampaknya sedang mengincar takhta Raja Singa berikutnya."

"……Pengadilan Witches yang menjadi ajang balas dendam atas kematian raja adalah panggung yang sempurna sebagai batu pijakan untuk menjadi Raja Singa berikutnya, ya."

Edelweiss melipat tangannya.

"Benar. Menjatuhkan vonis pada pembunuh Raja Singa dengan sangat tegas di hadapan para bangsawan negara tetangga serta tokoh penting kota──hal itu akan menjadi batu loncatan yang efektif untuk menjadi Raja Singa berikutnya. Mungkin saja Omura telah diyakinkan oleh Figaro dengan kata-kata seperti itu. Bahwa Witches tidak seharusnya dijual, melainkan harus dimanfaatkan agar dirinya bisa menjadi Raja Singa……"

Putri dari Raja Singa, Snow White, hingga saat ini masih belum ditemukan. Bagi Omura, ia pasti ingin membangun fondasi sebagai Raja Singa berikutnya di celah kesempatan ini. Jika berpikir demikian, pengadilan Witches adalah kesempatan yang sangat bagus bagi Omura untuk mendapatkan penilaian positif dari sekitar.

"Kalau begitu, bukankah sebaiknya kita berasumsi bahwa Witches tersebut akan dibakar di depan umum?"

Edelweiss menggelengkan kepalanya dengan wajah masam.

"Momen yang paling membuat rakyat jelata bersemangat adalah saat orang jahat mati dengan cara yang tragis. Saya rasa kisah balas dendam Tuan Lowe baru akan sempurna jika Witches itu dibakar sampai mati."

"Hmm…… Hal itu juga ada benarnya, tapi"

Bado menyandarkan punggungnya ke sofa sambil menyilangkan kakinya dengan tetap memegang cangkir teh.

"Ada satu hal lagi yang kukhawatirkan, yaitu apakah ada Sorcerers yang akan muncul."

"Sorcerers?"

Mata Edelweiss membelalak.

"Bukankah pengadilan besok hanya formalitas belaka? Bukankah hakim yang digunakan bukan seorang Sorcerers? Lagipula, Lowe berada di luar wilayah agama Lucy. Tidak seharusnya ada Sorcerers di sini."

"Benar, namun informasi bahwa bencana Witches telah terjadi kemungkinan besar sudah tersampaikan ke Amelia juga. Jika mereka mendengar bahwa Lowe mengadakan pengadilan Witches secara sepihak dan menghakimi Witches tersebut, menurutmu, apakah mereka akan tinggal diam melihatnya?"

"……Tidak mungkin mereka akan menyerang pengadilan, kan."

"Entahlah. Bagaimana jika posisinya dibalik padamu? Apakah kau tidak akan kesal jika ritual keagamaanmu ditiru oleh orang lain?"

"Mungkin…… saja terjadi, ya."

Edelweiss menyentuhkan jarinya ke bibir dengan ekspresi penuh kecemasan.

"……Agama Lucy memosisikan pengadilan Witches sebagai ritual suci keagamaan. Mengingat mereka meniru ritual suci tersebut meski hanya main-main, bagi pihak gereja hal itu akan dianggap sebagai bidah yang tidak bisa dimaafkan."

"Bagi kita yang berencana untuk bermusuhan dengan Amelia, kita tentu tidak ingin bertemu dengan Sorcerers di momen seperti ini, kan. Walau kita tidak tahu apakah ada hal seperti sihir pembongkar kebohongan, fakta bahwa kita diam-diam sedang menyiapkan perang tidak boleh sampai terbongkar. Tidak bertemu dengan Sorcerers adalah pilihan terbaik."

"Sebagai contoh……"

Edelweiss menelan ludah.

"Apakah ada kemungkinan bahwa Sembilan Utusan yang akan datang……?"

"Skenario terburuknya, ya."

"…………"

Keheningan yang diliputi ketegangan turun menyelimuti mereka berdua.

"Hei, Roro," ucap Delirium yang sedari tadi mendengarkan percakapan Bado dan yang lainnya, seraya menoleh ke samping.

"Apa itu Sembilan Utusan? Apakah berbeda dengan Sorcerers?"

"Sembilan Utusan juga merupakan Sorcerers jika diartikan dalam makna yang luas. Itu adalah gelar tingkat atas di kalangan Sorcerers."

Magang Sorcerers yang sedang menjalani pelatihan di biara disebut sebagai “biarawan”. Jika perempuan, disebut “biarawati”. Setelah menerima pembaptisan, mereka akan meninggalkan biara untuk menjadi seorang Sorcerers, dan hanya orang-orang pilihan yang bisa menjadi Sembilan Utusan.

"Sesuai dengan namanya, Sembilan Utusan hanya berjumlah sembilan orang saja di dunia ini. Dikatakan bahwa meski merupakan Sorcerers, mereka masing-masing memiliki profesi yang spesifik."

"Heh. Profesi seperti apa?"

Roro melipat jarinya untuk menghitung seraya berkata, "Kalau tidak salah……"

"Kardinal, Kesatria Suci, Penyihir Roh. Penyihir Penyembuh, Penyihir Nekromansi, Ahli Alkimia──"

Ia mengingat kembali profesi-profesi yang ditanamkan oleh kakeknya selama masa pelatihan.

"──Penyihir Pemanggil, Peramal, dan Badut…… Totalnya ada sembilan orang."

Ia dipesan oleh kakeknya untuk sebisa mungkin menghindari pertempuran dengan Sorcerers. Jikalau terpaksa berada dalam situasi di mana harus bertarung, hal pertama yang harus dilakukan adalah membaca hukum atau karakteristik sihir yang digunakan oleh lawan. Hanya dengan cara itulah seseorang baru bisa bertarung secara seimbang dengan seorang Sorcerers.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika dihadapkan pada situasi bertarung dengan Sembilan Utusan? Jawaban dari kakeknya adalah, “Larilah sekuat tenaga.”

"……Hmm. Apakah mereka kuat?"

"Tampaknya demikian. Sebagai contoh, seorang biarawan dikabarkan memiliki kekuatan tempur yang setara dengan sepuluh orang prajurit biasa. Seorang Sorcerers setara dengan lima puluh orang prajurit…… Menurutmu, berapa kekuatan tempur yang dimiliki oleh seorang Sembilan Utusan?"

"Karena tingkatannya di atas Sorcerers, pasti setara dengan seratus orang prajurit, kan?"

"Bukan. Kabarnya, seorang Sembilan Utusan memiliki kekuatan tempur yang setara dengan satu buah kastil utuh."

"Satuannya sudah berbeda jauh, dong. Curang sekali!"

"Itu membuktikan seberapa besar ancaman yang mereka bawa. Faktanya, ada juga kisah di mana satu orang berhasil meruntuhkan sebuah kastil."

"Bukankah itu hanya cerita yang dilebih-lebihkan saja?"

Delirium menyatukan alisnya dengan penuh kecurigaan. Di saat itu, pintu terbuka dan Meister Shimei masuk ke dalam ruangan.

"Tuan Bado. Saya sudah mengetahuinya, lokasi di mana Witches itu dikurung."

Shimei duduk di sofa yang berada di serong depan Bado.

"Witches itu saat ini tampaknya ditahan di sebuah penjara yang berada di pinggiran kota. Sebuah bangunan yang sunyi dan tidak ada seorang pun yang mendekat. Namanya adalah──Penjara Besi."

"Pasti tempat yang sangat kokoh, ya."

Ucap Edelweiss dengan wajah masam dari kesan nama tempat tersebut. Ia menuangkan teh herbal bagian Shimei dari teko ke dalam cangkir.

"Benar. Namun kabarnya Witches itu akan dipindahkan malam ini. Demi pengadilan Witches yang akan dilangsungkan besok."

"Hee. Dipindahkan ke mana?"

"Tempat tujuannya adalah di sini, Menara Kurungan yang berada di dalam area kastil."

Setelah berkata demikian, Shimei menjumput gagang cangkir teh yang digeser ke hadapannya dengan jarinya.

"Oh, apakah ini lemon balm? Aromanya sangat harum."

Bado mengusap janggut dagunya sekali, lalu bergumam, "Hmm." Kemudian ia menoleh ke belakang.

"Roro. Bisakah kau merebutnya?"

Orang yang terkejut hingga tersedak teh mendengar perkataan tersebut adalah Shimei.

"Merebut, maksud Anda merebut Witches itu? Apakah Anda serius dengan perkataan Anda, Tuanku?!"

"Benar sekali! Jika Witches itu direbut sekarang, pihak kitalah yang paling pertama akan dicurigai, tahu?!"

Edelweiss pun ikut menimpali dengan suara yang meninggi. Namun Bado melipat tangannya dengan santai.

"Tidak masalah, kita tinggal tidak meninggalkan bukti saja, kan. Lagipula, pihak sanalah yang memutus janji terlebih dahulu."

Sambil merebahkan kepalanya di sandaran sofa, Bado sekali lagi memastikan.

"Bisakah, Roro?"

"Jika majikan menyuruh untuk mengambilnya, tugas anjing hanyalah mematuhinya."

"Kalau begitu saya juga akan ikut pergi!"

Orang yang membusungkan dadanya adalah Heartland.

"Jika terjadi pertempuran, kekuatan saya dipastikan akan sangat dibutuhkan."

Ia bersiap dengan kedua tangannya memegang tombak kesayangan yang selalu dibawanya, namun Roro menggelengkan kepala.

"Tidak perlu ikut, kok. Tubuh besar Tuan Heartland justru akan menjadi pengganggu untuk operasi senyap."

"Ja…… Jangan sebut aku pengganggu, kau! Dalam operasi semacam ini, dua orang tentu lebih baik daripada satu orang……"

Mengingat insiden pembasmian Direwolf maupun pertandingan eksibisi dengan Figaro, kesempatan untuk unjuk gigi semuanya telah direbut oleh Roro, sehingga Heartland ingin menggunakan momen ini untuk memulihkan nama baiknya, namun──

"Kau tidak perlu pergi. Lindungi kami di sini."

"Tuan Bado…… Tapi, tetap saja……"

"Tidak boleh menolak, lho, Tuan Heartland. Kita harus mematuhi perkataan majikan."

Roro melepaskan tawa tipis seolah merasa menang.

"Kesatria-sama silakan diam saja menunggu di sini. Sementara itu, menjadi tangan dan kaki majikan demi menunjukkan kesetiaan adalah tugas dari seorang pembunuh bayaran. Ah, sibuk sekali."

"Uuugh!"

Heartland mengembuskan napas gusar karena kesal, lalu menghentakkan ujung tombaknya ke lantai.

"Roro. Setelah merebut Witches tersebut, tinggalkan negara ini malam ini juga. Tergantung apakah Witches itu mau kooperatif atau tidak…… namun jika memungkinkan, kau boleh kembali lebih dulu ke Campusfellow."

"Hamba laksanakan."

Setelah memastikan jawaban Roro, Bado bertepuk tangan sekali.

"Baiklah, pembicaraan selesai. Ayo segera dapatkan Witches itu dan pulang."

Setelah berkata demikian, ia mendongak menatap langit-langit dan dinding yang berkilauan emas.

"Di mana-mana semuanya gemerlap…… sama sekali tidak membuat tenang, negara ini."

 

Suara gaungan burung gagak bergema dengan lantang di langit senja yang diwarnai oleh matahari terbenam.

Sebuah hutan belukar yang terletak jauh dari jalan utama Lowe, Jalan Kemenangan. Di kedalamannya, Penjara Besi berdiri terasing. Itu adalah penjara kokoh tempat banyak tentara musuh dikurung, disiksa, dan dieksekusi selama Perang Empat Binatang Buas yang pecah lima puluh tiga tahun lalu. Sekarang, tempat itu digunakan untuk menahan para penjahat kelas berat.

Batu bata dindingnya disusun dengan metode kuno dari masa lalu, membuat penampilan tuanya tampak seperti kastil kuno. Suasana mengerikan menyelimuti tempat itu, seolah-olah kutukan dan ratapan para penjahat yang terbunuh dengan kejam dapat terdengar dari sana.

Di sebuah lapangan di ujung tangga dari pintu masuk utama, sebuah kereta barang yang ditarik dua ekor kuda tampak berhenti.

Atap bak keretanya melengkung membentuk lengkungan dan ditutupi oleh terpal. Di dalam bak tersebut, sebuah penjara persegi panjang──sebuah penjara kerangkeng──hendak dimasukkan.

Untuk saat ini, tidak ada apa pun di dalam penjara kerangkeng itu, tetapi beban tersebut sudah cukup berat. Sekitar sepuluh orang pekerja tampak bercucuran keringat di dahi mereka, menyatukan seruan mereka untuk menaikkan penjara itu ke atas bak kereta.

Tepat di sampingnya, dua orang kesatria yang mengenakan zirah emas tampak mengawasi pekerjaan tersebut.

Pelindung kepala yang mereka kenakan memiliki jambul putih bersih, dan mereka memakai jubah di punggung mereka. Itu adalah bukti bahwa mereka adalah bagian dari pasukan pengawal jenderal, kelompok elite yang dipimpin oleh Figaro Kimberly-sama.

Jumlah kesatria seluruhnya ada lima orang. Tiga orang sisanya berdiri melingkar di tempat yang agak jauh, bertukar obrolan santai. Mereka semua adalah pengawal jenderal. Di dekat mereka, enam ekor kuda perang yang mengenakan zirah kuda berwarna emas tampak tertambat.

Salah satu kesatria yang mengawasi pekerjaan──seorang kesatria paruh baya dengan hidung betet, menghentikan salah seorang pekerja dengan panggilan, “Hei.” Ia menyodorkan tali kepada pekerja itu, lalu memberikan perintah, “Gunakan ini untuk menambatkan penjaranya.”

"Ikat dengan kencang supaya tidak terjatuh dari bak kereta."

"Baik."

Pekerja muda itu memberikan jawaban yang kurang bersemangat, lalu mengulurkan tangannya kepada kesatria tersebut. Entah bagian mana dari sikapnya yang tidak menyenangkan bagi sang kesatria, ia menarik kembali talinya dan urung menyerahkannya.

"Jawaban macam apa yang kurang bersemangat itu? Upahmu akan kupotong."

"Ah, mohon maaf, tolong ampuni saya……"

Pemuda bertubuh mungil itu membungkukkan punggungnya, menyatukan kedua tangannya untuk memohon ampun, namun kesatria berhidung betet itu menggelengkan kepala.

"Tidak bisa, upahmu tetap dipotong. Jika tidak ingin dipotong lebih banyak lagi, cepat amankan penjaranya."

Setelah berkata demikian, ia melemparkan tali itu kepada sang pekerja. Sambil menunjuk pekerja yang buru-buru memungut tali tersebut, ia menegaskan, “Aku akan memeriksanya nanti.”

"Jika tidak ingin ditebas sampai mati, lakukan dengan benar. Lari!"

"Baik!"

Setelah memastikan pekerja itu berlari menuju bak kereta, kesatria berhidung betet itu melepaskan tawa kepada kesatria yang satunya lagi.

"Astaga, harusnya dari awal bersikap begitu. Orang-orang rendahan memang tidak tahu tata krama di hadapan kesatria-sama."

"Kau ini bisa saja. Bilang saja mau mencari uang jajan tambahan."

Kesatria paruh baya berjanggut merah mengernyitkan wajah mendengar perkataan rekannya yang berhidung betet itu.

Uang potongan upah dari pekerja muda itu pasti akan masuk ke kantong kesatria berhidung betet tersebut.

"Bising ah. Ini uang untuk bersenang-senang setelah selesai bekerja. Tidak ada salahnya mendapat tunjangan khusus sebesar itu, kan? Lagipula, sosok yang akan kita pindahkan ini adalah Witches pembunuh Raja Singa."

Si hidung betet berkata demikian sambil membusungkan dada, namun di wajah si janggut merah, tampak gurat ketegangan yang jelas.

"Tapi, apakah ini benar-benar aman? Bagaimana jika Witches itu mengamuk……"

"Jangan ketakutan begitu, dasar bodoh. Witches yang sekarang tidak bisa menggunakan sihir, kok──"

Lalu, di saat itu, pintu utama Penjara Besi terbuka, membuat mereka berdua seketika bungkam.

Para kesatria lain yang tadinya mengobrol santai juga ikut berbalik, and para pekerja menghentikan aktivitas mereka.

Dari tangga di depan pintu, seorang wanita turun dengan dipimpin oleh seorang kesatria.

Ia mengenakan jubah berwarna cokelat kemerahan, dengan tudung kepala yang dipakai dalam-dalam sambil menunduk. Karena itulah, raut wajahnya tidak bisa terlihat. Kedua pergelangan tangannya belenggu oleh borgol batu berwarna putih. Dari belenggu tersebut menjulur seutas rantai, yang ujungnya digenggam oleh kesatria yang memimpin di depan.

Di sisi kanan belakang dan kiri belakang sang Witches, dua orang kesatria yang memegang tombak dalam posisi tegak tampak mengikuti di belakang sambil menuruni tangga.

Kesatria yang memimpin di depan bereritak kepada sekeliling.

"Jangan ada yang menyentuh wanita ini! Jangan mengajaknya bicara! Witches adalah malapetaka. Kutukannya bisa menular pada kalian!"

Ia adalah wakil komandan pengawal jenderal. Tangan kanan Figaro-sama. Selama masa penahanan, pengurusan sang Witches sepenuhnya dilakukan langsung olehnya, dan orang lain bahkan tidak diizinkan untuk mendekat. Bagi kesatria berhidung betet dan kesatria berjanggut merah, ini juga pertama kalinya mereka melihat wujud sang Witches.

Dengan dipimpin oleh sang wakil komandan, Witches itu melangkah turun ke lapangan dalam keadaan telanjang kaki.

Menerima semua pandangan dari para kesatria, ia berjalan menuju kereta kuda barang.

Tepat di saat sang Witches melangkahkan kakinya di atas papan yang melintang dari tanah menuju bak kereta, kesatria berhidung betet menyadari bahwa pekerja muda tadi masih berada di atas bak kereta.

Kepada pekerja yang berdiri mematung sambil menatap sang Witches itu, ia buru-buru membentak, “Bocah!”

"Jika pekerjaanmu sudah selesai, cepat turun!"

"……Baik."

Pekerja itu kembali memberikan jawaban yang kurang bersemangat, lalu bersiap untuk melompat turun dari bak kereta. Di saat itulah, dari celah poni hitamnya yang melengkung longgar, ia memperlihatkan sepasang mata hijau gelapnya.

Roro yang menyamar sebagai pekerja melirik wajah sang Witches dari sudut matanya.

Wajah sang Witches yang terhidden di balik tudung dipasangkan sebuah topeng perak. Topeng yang menyerupai wajah wanita yang sedang tersenyum itu tidak memiliki lubang untuk melihat bagi kedua matanya. Kedua telinganya juga tertekan, dibuat dengan struktur yang mengisolasi dirinya dari dunia luar. Itu adalah salah satu jenis alat pengekang yang disebut Topeng Santa.

Witches itu dimasukkan ke dalam penjara kerangkeng oleh tangan sang wakil komandan. Wakil komandan menambatkan rantai yang menjulur dari borgol batu milik sang Witches ke jeruji besi. Sang Witches tetap berdiri di dalam kerangkeng. Pintu kerangkeng pun dikunci.

Setelah memastikan proses tersebut selesai, kesatria berhidung betet mengembuskan napas panjang. Walaupun sempat berlagak tangguh, tampaknya ia merasa agak tegang saat benar-benar dihadapkan pada sosok Witches di depan matanya.

"Borgol batu yang terpasang di pergelangan tangannya berwarna putih, kan? Terus, ada guratan merahnya."

Si hidung betet berbisik kepada kesatria berjanggut merah.

"Itulah alat sihir untuk menyegel kekuatan sihir. Witches yang tidak bisa menggunakan sihir hanyalah wanita biasa."

"……Bagian mananya yang mirip wanita biasa. Menyeramkan sekali……"

Kesatria berjanggut merah menyahut dengan wajah masam.

Selama proses pemindahan, mereka berdua dijadwalkan untuk naik ke atas bak kereta demi mengawasi penjara kerangkeng tersebut. Meskipun hanya untuk waktu yang singkat sampai ke Kastil Lowenstein, berada di ruang yang sama dengan seorang Witches benar-benar membuat nyali menciut.

Kedua kesatria membagikan koin perak kepada para pekerja, lalu membubarkan mereka di tempat.

Tiga orang yang tadinya mengobrol santai, dua orang yang memegang tombak, serta sang wakil komandan──keenam kesatria tersebut menunggangi kuda perang mereka.

Di saat kereta kuda mulai melaju meninggalkan Penjara Besi di belakang, ujung perbukitan sudah mulai diwarnai oleh warna biru tua.

Di dalam terpal bak kereta tergantung sebuah lentera, sehingga bagian dalamnya tetap terang remang-remang meskipun pintu keluar masuknya ditutup. Di bagian depan bak kereta──tepat di belakang kursi kusir──penjara kerangkeng ditambatkan menggunakan tali, sementara kesatria berhidung betet dan kesatria berjanggut merah berdiri di bagian belakang bak kereta sambil memegang tepian atap.

Menahan guncangan kereta kuda yang melonjak-lonjak.

Witches yang tadinya berdiri di dalam penjara kerangkeng, perlahan duduk bersimpuh saat guncangan semakin hebat.

Dari balik terpal, terdengar suara roda yang menggilas jalanan hutan serta suara derap kaki kuda yang menghentak tanah. Lentera tampak berayun-ayun hebat dengan suara klang, klang.

Pada awalnya, kedua penjaga memosisikan diri menghadap penjara kerangkeng untuk mengawasi sang Witches lekat-lekat, namun terus-menerus menatap Witches yang bertopeng itu membuat nyali mereka menciut, hingga akhirnya mereka berbalik memunggunginya.

Kesatria berhidung betet berkata dengan suara berbisik.

"Hei, apa kau sudah dengar? Kisah tentang Komandan Kimberly yang beradu kemampuan dengan prajurit dari Campusfellow."

"Ah, yang di Kotak Mainan Raja, kan? Katanya menang telak, ya."

"Lawan yang dikalahkan telak oleh komandan itu, lho. Apa kau tahu siapa dia? Kabarnya dia adalah penerus dari Anjing Hitam."

"Hah? Serius? Si pembantai tiga ratus orang itu?"

Kerajaan Lowe juga dibuat sangat menderita oleh sosok Anjing Hitam yang bergerak di bawah bayang-bayang selama Perang Empat Binatang Buas dahulu.

Kisah tersebut diwariskan turun-temurun sebagai sebuah cerita setelah melalui waktu selama lima puluh tahun. Khususnya kisah mengenai pembantaian tiga ratus tentara musuh sendirian dalam waktu satu malam, menjadi buah bibir di kalangan para kesatria sebagai legenda yang menyimbolkan kengerian dari asal-usul Anjing Hitam yang tidak diketahui.

Apakah Assassin seperti itu benar-benar nyata atau tidak──mereka berdua berada dalam kondisi setengah percaya, namun mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di belakang punggung mereka saat ini, sang penerus Anjing Hitam yang sedang hangat dibicarakan telah mendarat tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

"Tapi,"

Kesatria berjanggut merah mengernyitkan wajahnya.

"Jika komandan menang telak…… artinya komandan lebih kuat daripada Anjing Hitam? Yang benar saja."

"Lagipula jangan-jangan kisah pembantaian tiga ratus orang itu hanya bualan belaka? Hanya dilebih-lebihkan saja saat disebarluaskan, padahal aslinya sama sekali tidak sehebat itu, cerita semacam itu kan bisa ditemukan di mana saja……"

Kesatria berhidung betet yang berbalik sambil berbicara, mendadak menelan ludahnya.

Menyadari ada keanehan pada rekannya, kesatria berjanggut merah ikut berbalik.

Di tengah-tengah bak kereta, berdiri seorang pria asing.

Pelindung kepala hitam, pelindung tangan hitam, dan pelindung kaki hitam. Hanya pelindung dadanya yang tidak dikenakan, memperlihatkan bagian dada dan perut yang dibalut oleh pakaian hitam. Mungkin karena alasan itu, kesan tubuh yang sangat mungil terasa kuat darinya. Perawakannya tidak terlalu tinggi, dan tidak memancarkan intimidasi maupun kengerian, namun karena wajahnya disembunyikan di balik pelindung kepala, sama sekali tidak terasa adanya hawa kehidupan ataupun tanda keberadaan darinya. Sensasi menyeramkan seolah sedang berhadapan dengan hantu terasa menusuk kulit.

"……Siapa…… orang ini? Dari mana datangnya──"

Kesatria berhidung betet melangkah maju satu langkah.

Di detik berikutnya, dagunya dihantam oleh pelindung tangan, membuatnya kehilangan kesadaran. Roro mencengkeram tepian zirah pelat milik kesatria yang ambruk dari kedua lututnya tersebut, lalu membaringkannya perlahan di atas papan lantai bak kereta.

Kesatria berjanggut merah membelalakkan matanya.

"……Apa. Penyusup?!"

Kesatria berjanggut merah merendahkan posisi tubuhnya, mengambil sikap bertarung. Ia mencoba menarik pedang yang tergantung di pinggangnya. Namun, gerakan kaki Roro yang melesat masuk dalam sekejap berhasil mendorong kembali ujung gagang pedang tersebut menggunakan telapak tangannya.

Suara benturan nyaring tring bergema.

"Ugh……! Siapa di sana, ada musu──……!?"

Tenggorokannya dicengkeram kuat, membuat suaranya langsung terputus.

Roro dengan cekatan berpindah ke punggungnya, lalu melingkarkan lengan di lehernya. Ia menekan urat leher dengan akurat, mencekiknya kuat-kuat. Tidak membutuhkan waktu lama sampai kesatria yang wajahnya memerah padam itu memutar bola matanya dan pingsan.

Tubuh kesatria yang telah kehilangan kesadaran tersebut kembali dibaringkan oleh Roro di atas papan lantai tanpa menimbulkan suara.

Dalam sekejap mata kedua kesatria telah pingsan, membuat bak kereta kembali diselimuti oleh keheningan.

"…………"

Di atas bak kereta kuda yang terus melaju tanpa ada perubahan, Roro menekuk salah satu lututnya di depan penjara kerangkeng.

Ia membuka pelindung wajah pada pelindung kepalanya, memperlihatkan wajahnya.

"……Mohon maaf atas ketidaksopanan saya."

Witches yang dipasangkan Topeng Santa tidak menunjukkan respons apa pun terhadap perkataan Roro.

Roro memasukkan tangannya ke dalam celah jeruji besi. Ia menyingkap tudung kepala sang Witches, lalu memポートン tali sabuk topeng menggunakan bilah pisau yang tertanam pada pelindung tangannya.

Seperti apakah gerangan. Rupa dari Mirror Witch yang mengayunkan sabit perak besar di hari pernikahan dan membantai secara keji lebih dari lima puluh orang undangan termasuk Raja Singa. Saat yang dinanti untuk berhadapan langsung akhirnya tiba, membuat Roro menelan ludahnya pelan.

Begitu Topeng Santa terlepas, sepasang pandangan mata yang menghunjam tajam langsung tertuju ke arah Roro.

Mungkin karena efek masa penahanan yang telah mencapai lebih dari sepuluh hari, pipinya tampak kempis, kulitnya pucat pasi, dan rambutnya rusak. Namun di dalam mata merahnya, tersimpan tekad kuat untuk melawan kemalangan yang menimpanya.

Sepasang mata yang ajaib, seolah mata itu sendiri dialiri oleh kekuatan sihir. Menerima pantulan pancaran cahaya dari lentera, iris merahnya tampak berkilau. Entah karena mewaspadai Roro, pandangan matanya tampak sedikit bergetar.

"……Siapa?"

Witches itu bertanya. Suaranya kecil namun terdengar jernih.

"……Nama saya Anjing Hitam. Orang yang mengabdi pada Negara Api dan Besi Campusfellow."

"……Anjing Hitam?"

Witches itu memiringkan kepalanya sedikit. Entah karena tidak tahu nama Anjing Hitam, atau tahu namun merasa curiga. Roro berbicara sambil terus memperhatikan ekspresi wajah sang Witches.

"Saya rasa Anda adalah Permaisuri dari Kerajaan Lowe sekaligus sang Mirror Witch──Teresalisa Lowe. Apakah dugaan saya tidak keliru?"

Sepasang mata yang terbuka lebar menatap lekat-lekat memantulkan wajah Roro. Orang yang sulit dibaca emosinya, begitu batin Roro.

"Witches……"

Teresalisa mengedipkan matanya perlahan sekali.

"……Apakah aku terlihat seperti seorang Witches di matamu?"

Tiba-tiba, ketajaman yang dipancarkan oleh Teresalisa terasa lenyap. Apakah ia sudah menurunkan kewaspadaannya. Emosi berikutnya yang terasa dari pandangan mata itu adalah kesedihan.

Teresalisa menundukkan pandangannya. Bulu matanya yang panjang tampak bergetar.

"Ada keperluan apa orang dari negara lain denganku?"

"Saya datang untuk menyelamatkan Anda."

"Aku tidak mengerti. Tidak ada alasan bagiku untuk diselamatkan oleh Campusfellow──"

Lalu, di saat itu. Tiba-tiba terpal yang menjuntai di bagian depan bak kereta tersingkap, dan embusan angin kencang menerobos masuk.

Roro secara refleks melompat ke belakang, menurunkan pelindung wajahnya untuk menyembunyikan wajah.

Lentera yang tergantung bergoyang hebat ditiup angin. Klang, lentera itu jatuh terempas dan apinya padam.

Bagian dalam bak kereta yang ditutupi oleh terpal seketika diselimuti oleh kegelapan dalam sekejap mata.

"Aku sudah menunggumu. Anjing Hitam."

Wajah pria yang memunculkan diri dari kursi kusir tidak terlihat karena tertutup oleh kegelapan bayangan.

Namun, begitu mendengar suara yang angkuh dan arogan tersebut──bisa langsung diketahui bahwa pria yang muncul adalah Komandan Pengawal Jenderal, Figaro Kimberly-sama. Dengan latar belakang langit malam, jubah putihnya berkibar ditiup angin seraya ia memanggul pedang di bahunya.

"Kau datang untuk merebut Mirror Witch, ya?"

"…………"

Roro tidak merespons. Ia tidak berniat untuk bertarung. Tidak berniat juga untuk berdiskusi. Seperti yang dikatakannya, ia datang kemari memang untuk merebut sang Witches. Karena posisinya sudah ketahuan, apakah ia harus pergi saja.

"Ada apa, Tuan Kimberly!"

Kusir berbalik, menaikkan suaranya.

"Bukan apa-apa. Kau tetap pacu kereta kudanya menuju kastil sesuai rencana."

Memberikan instruksi demikian kepada kusir, Figaro mengamati Roro yang sekujur tubuhnya berbalut pakaian hitam. Walaupun bagian ujung jari hingga sebelum siku ditutupi oleh pelindung tangan, tidak ada senjata yang geggam di tangannya. Anjing Hitam tidak membawa senjata. Itu adalah salah satu karakteristik yang diceritakan dalam kisah-kisah.

"Tangan kosong tidak masalah bagi dirimu, kan?"

"…………"

"Kalau begitu, kita bisa langsung mulai, kan!"

Sesaat setelah menyelesaikan kalimatnya, Figaro mengayunkan pedang lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam bak kereta.

Roro menangkis jalur ayunan pedang tersebut menggunakan pelindung tangannya untuk dialihkan. Ujung pedang Figaro yang terlempar merobek terpal dengan robekan yang besar. Di tengah kegelapan, Figaro terus-menerus mengayunkan pedangnya dengan liar. Roro melompat ke belakang untuk menghindar, atau menangkis bilah pedang demi menghalau serangan bertubi-tubi tersebut. Suara benturan logam dari besi yang saling beradu bergemuruh di dalam terpal.

Roro menahan pedang Figaro dengan menyilangkan pelindung tangannya, lalu memosisikannya secara horizontal.

Figaro tidak ambil pusing, ia mendorong kuat menggunakan tenaga kasarnya. Ujung dari pedang tersebut memotong terpal membentuk satu garis lurus.

Terpal yang terobek menerima terpaan angin, mengembang besar. Lalu terbelah oleh dorongan angin tersebut, membuat alat pengaitnya terlepas satu per satu. Sreeet──blap!

Di detik berikutnya, terpal yang menutupi bak kereta terbang melayang ke langit malam, memperlihatkan sosok rembulan di atas kepala.

Rembulan bulat yang seolah melelehkan langit malam. Pepohonan yang mengapit jalanan hutan melesat ke belakang dengan kecepatan tinggi.

Di sekitar kereta kuda barang, kuenam orang pasukan berkuda tampak memacu kuda berdampingan. Dua orang kesatria bersiapa dengan tombak, dan empat orang kesatria membawa busur panah. Tampaknya mereka sudah mengantisipasi adanya serangan musuh, masing-masing telah menggenggam senjatanya.

"Komandan! Enam pasukan berkuda siap bertempur kapan saja!"

"Tetapi di posisi kalian. Aba-aba akan kuberikan nanti."

Di depan sang Witches yang dikurung dalam penjara kerangkeng, sang kesatria dan Assassin saling berhadapan.

"Nah, pertunjukan sesungguhnya dimulai dari sini."

Figaro membunyikan lehernya dengan suara klek, klek, lalu memutar bahunya.

"Kau adalah penjahat yang menyerang Witches yang sedang dipindahkan. Tidak ada alasan bagimu untuk protes jikalau ditebas sampai mati, kan?"

"…………"

"……Lalu sebelum itu. Aku sempat mencobanya tadi, tapi pedang seringan ini memang tidak berguna."

Benda yang dibuang oleh Figaro ke atas papan lantai adalah pedang satu tangan yang digunakannya bertarung sampai sekarang. Itu adalah senjata transformasi buatan Campusfellow yang digunakan oleh Roro dalam pertandingan eksibisi siang tadi.

Figaro sekali lagi menarik pedang dua tangan yang tergantung di pinggangnya sendiri. Itu adalah pedang yang dibuat bukan untuk menyabet lawan, melainkan untuk mencincangnya sampai hancur. Bobotnya terasa mantap dan berbotot, terasa pas di kedua tangan Figaro.

"Memang pedang seorang kesatria harus seperti ini…… bukan begitu?"

"……"

Roro memungut pedang yang dibuang di dekat kakinya, lalu untuk pertama kalinya membuka mulut sejak tiba di sini.

"……Dahulu kala. Sebuah monster raksasa menyerang armada kapal milik orang-orang Transmare──"

"Ha……?"

Figaro menaikkan sebelah alisnya dengan posisi tetap bersiap dengan pedangnya.

"Monster yang melompat di lautan layaknya terbang dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata. Para petualang pemberani bertarung sepanjang malam, namun lebih dari setengah awak kapal tewas dimangsa, membuat armada kapal berada dalam kondisi hancur lebur──"

Sambil bercerita, Roro menyentuhkan kedua tangannya pada gagang pedang satu tangan tersebut.

"Hingga akhirnya pagi menjelang, melihat monster yang terdampar di atas geladak kapal membuat wajah para petualang pucat pasi. Makhluk apa sebenarnya yang mereka lawan. Makhluk apa yang mereka temui di tengah lautan luas. Itu adalah seekor kelabang raksasa seukuran paus. Para petualang ketakutan menganggapnya sebagai utusan dewa, lalu memanggilnya dengan penuh rasa takjub──"

Klik, saat gagang pedangnya diputar, beberapa bilah duri melesat keluar dari kedua sisi bilah tajamnya. Setiap duri memiliki wujud belah ketupat yang asimetris. Struktur tonjolan bergerigi yang berjajar di kedua sisi bilah tajam tersebut memancarkan aura mengerikan layaknya seekor kelabang.

"Scolopendra──itulah asal-usul dari nama pedang ini."

"……Hei, hei. Aku tidak pernah dengar benda itu bisa berubah menjadi seperti itu, lho?"

"Jika Anda sebegitu ingin mengetahuinya, akan saya perlihatkan. Cara penggunaan sesungguhnya dari benda ini."

Sesaat setelah menyelesaikan kalimatnya, Roro mengayunkan pedang lalu melesatkan kakinya maju.

Di sisi lain, Bado-sama dan rombongannya di Kastil Lowenstein tengah diundang dalam acara perjamuan makan malam.

Rombongan dipersilakan masuk menuju ruang makan dengan meja panjang yang diletakkan di tengah ruangan, yaitu Kamar Tamu Agung. Di atas perapian yang dialiri kayu bakar, terpasang sebuah kepala rusa jantan. Di dinding tergantung bendera bergambar singa, dan lemari yang dihiasi pernak-pernik antik tampak berjajar, mungkin disediakan sebagai bahan obrolan.

Baik dinding maupun langit-langitnya kembali berkilau diwarnai warna emas.

Mengapit meja panjang yang dipenuhi hidangan makanan, para tokoh penting dari Lowe dan Campusfellow saling duduk berhadapan. Di hadapan Bado-sama yang menduduki kursi kehormatan, ada sosok Omura.

"Aduh, aduh, aduh," ucap Omura sambil menurunkan sudut alisnya dengan raut wajah tidak enak.

"Meskipun Anda sudah datang dari jauh, saya mohon maaf karena tidak bisa memenuhi harapan Anda. Sebenarnya saya ingin segera menyerahkan Witches itu, namun ini murni kesalahan saya karena tidak berhasil meyakinkan para kesatria."

Sambil menusukkan pisau ke dalam pai berisi daging burung dara, Bado-sama menggelengkan kepala seraya berkata, “Bukan masalah.”

"Kudengar para kesatria Lowe memiliki kesetiaan yang tinggi. Jika demikian alasannya, saya bisa memaklumi perasaan mereka."

Setelah berkata demikian ia menghentikan gerakan tangannya, lalu menaikkan wajah. Ia menatap lurus ke arah Omura.

"Namun Tuan Lowe sudah memberikan janji. Bahwa Witches itu dipastikan akan diserahkan pada pesta persahabatan setelah pengadilan selesai. Saya sama sekali tidak merasa khawatir, kok. Karena saya menaruh kepercayaan penuh pada pihak Lowe."

Bado-sama meletakkan pisaunya, lalu mengangkat gelas yang terisi anggur merah.

"Untuk persahabatan antara Lowe dan Campusfellow."

Omura pun ikut mengangkat gelasnya menyambut bersulang, lalu menambahkan kalimatnya.

"Serta untuk pedang sihir yang akan menghasilkan kekayaan masif."

Mereka berdua saling bertukar senyuman lebar, lalu menyesap anggur merah mereka.

Di dekat Bado-sama, Delirium tampak duduk di kursinya. Di sebelahnya diikuti oleh Meister Shimei, Menteri Luar Negeri Edelweiss, serta para birokrat lainnya, dan di kursi paling ujung ditempati oleh Komandan Kesatria Heartland. Karena menyantap makanan sambil memegang tombak tentu merupakan tindakan yang tidak sopan, tombak kesayangannya disandarkan pada dinding emas.

Semuanya tampak memotong pai daging burung dara mereka dalam diam.

Pihak Lowe yang duduk di hadapan mereka juga menunjukkan sikap yang sama, sangat minim bicara.

Berdasarkan perkenalan dari Omura, mereka adalah orang-orang yang mengurus jalannya politik secara sementara, menggantikan para menteri senior dari Raja Singa yang seluruhnya tewas dalam insiden Pernikahan Berdarah. Khawatir roda pemerintahan akan terhenti, Omura mengumpulkan mereka secara langsung.

Upaya membangun fondasi kekuatan untuk menjadi Raja Singa berikutnya dengan mendahului Snow White tampaknya sedang berjalan dengan lancar.

Pisau dari masing-masing orang yang memotong pai berbenturan dengan piring datar memunculkan suara dentukan nyaring. Klek, klek──Kamar Tamu Agung yang tidak dipenuhi obrolan tersebut diselimuti oleh keheningan yang terasa berat.

Omura menartap lekat-lekat ke arah Delirium yang sedang memiringkan gelas jus anggurnya.

"Apakah hidangannya sesuai dengan selera Anda, Nona Delirium?"

Delirium menyunggingkan senyuman tipis.

"Iya, cita rasanya sangat anggun."

"Bagusan kalau begitu! Di dalam minuman Nona Delirium sengaja dicampurkan sirup elderflower sebagai bumbu rahasianya, lho. Segar dan manis, manis, kan?"

"Wah, dicampur sirup? Terima kasih banyak."

Kenapa cuma punya Dely yang dicampur? Menjijikkan…… pikiran itu sama sekali tidak diperlihatkan di wajahnya, Delirium kembali tersenyum sekali lagi. Sejak beberapa saat lalu, ia merasakan adanya tatapan mata yang intens dari Omura yang duduk di posisi serong depannya. Rasanya tidak tenang karena setiap gerak-geriknya seolah sedang diawasi.

Saat tidak sengaja menurunkan pandangannya ke atas meja, ia terkejut mendapati seekor bunglon di sana. Makhluk yang sedang berjalan santai menyelinap di antara hidangan makanan tersebut adalah hewan yang bertengger di bahu Omura sebagai bagian dari aksesoris fesyennya.

Delirium merasakan seleranya makannya langsung lenyap, lalu diam-diam menjulurkan lidahnya dengan ekspresi mual.

"Terlepas dari hal itu, Tuan Grace. Apakah Anda sudah meminum teh herbal yang disediakan di kamar Anda?"

"Iya, saya sudah meminumnya. Aroma segar khas buah jeruk itu…… adalah lemon balm, kan?"

"Wah. Seperti dugaan, Anda sangat mengetahuinya. Teh itu merupakan komiditas impor yang didatangkan dari wilayah Elder, lho. Salah satu barang favorit saya. Jika teh itu diteteskan madu khas Lowe, perpaduan manisnya benar-benar tidak ada tandingannya. Nanti akan saya perintahkan untuk disediakan lagi."

"Terima kasih banyak atas segala kebaikannya."

Bado-sama menundukkan kepalanya sedikit.

"Namun ini benar-benar negara yang luar biasa. Ke mana pun mata memandang tampak berkilauan, diwarnai warna emas yang megah."

"Ini semua merupakan pencapaian luar biasa dari para generasi Raja Singa terdahulu, termasuk mendiang kakak saya."

Omura mendongak menatap kepala rusa jantan yang terpasang di atas perapian.

"Benda itu adalah rusa hasil buruan kakak saya."

"Hoo. Tanduknya sangat megah. Ukurannya lebih besar daripada yang terpasang di kamar saya, ya."

"Karena para kesatria Lowe mengibaratkan diri mereka sebagai singa, kami tidak memajang hiasan awetan singa. Sebagai gantinya kami memajang kepala rusa. Ukuran tanduk tersebut digunakan untuk merepresentasikan kekuatan diri sendiri."

"Begitu rupanya…… Bisa melumpuhkan rusa dengan ukuran tanduk sebesar itu, mendiang Raja Singa pasti merupakan sosok pria yang sangat gagah berani. Saya sangat ingin bertemu dengannya walau sekali……"

Bado-sama menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang tampak sangat menyesal.

Omura juga ikut mengecilkan suaranya seolah sedang dirundung kedukaan mendalam.

"Kakak yang agung kini telah tiada…… nasib negara ini akan menjadi seperti apa…… saya benar-benar mengkhawatirkannya. Keponakan saya tercinta, Snow White, juga masih belum ditemukan. Dengan kondisi seperti ini, gelar Raja Singa akan berada dalam posisi yang tidak pasti……"

"Lho? Saya semula mengira bahwa Anda sendirilah yang akan mewarisi gelar Raja Singa berikutnya."

"Ah tidak, tidak, orang seperti saya mana mungkin pantas menggantikan posisi kakak."

"Namun pada kenyataannya, Anda mengkhawatirkan negara dan mengumpulkan orang-orang yang bisa mengurus jalannya politik seperti ini. Bukankah itu merupakan cerminan kebajikan diri Anda. Bukankah rakyat juga menginginkan Anda untuk mewarisi gelar Raja Singa?"

"Jika rakyat memang menuntutnya, saya tidak keberatan. Namun ada satu masalah……"

"Hoo, masalah…… apa itu?"

"Dibandingkan dengan para generasi singa terdahulu, tubuh saya ini agak terlalu tambun."

"Ahahaha!"

"Ahahaha!"

Suara tawa bergema di seluruh Kamar Tamu Agung. Tentu saja, orang yang tertawa hanyalah mereka berdua.

"Omong-omong, saya tidak melihat keberadaan Tuan Komandan Pengawal Jenderal, ya?"

"Ah, dia sedang mengemban tugas untuk mengawal proses pemindahan Witches. Belakangan ini entah kenapa gerombolan penjahat semakin bertambah banyak."

"Lho, penjahat? Wah, situasi yang kurang menyenangkan, ya."

"Tidak, tidak, bukan masalah besar, kok. Kimberly milik kami merupakan salah satu orang paling berbakat di Ordo Kesatria Singa Emas. Penjahat jenis apa pun pasti akan ditebasnya sampai habis. Yah, itu semua dengan catatan jika makhluk seperti itu benar-benar memunculkan diri, sih."

Terlepas dari hal tersebut, Omura mengalihkan topik pembicaraan.

"Justru saya sangat ingin Tuan Anjing Hitam bisa hadir di sini. Apakah efek dari terlempar oleh Kimberly kami siang tadi masih berbuntut panjang……? Terkait hal itu saya benar-benar meminta maaf."

"Ah tidak, Tuan Lowe, Anda sepertinya salah paham. Orang tadi bukan Anjing Hitam, kok. Hanya pembawa barang biasa yang tidak ada hubungannya sama sekali, yang kebetulan bernasib sial menjadi sasaran amukan sepihak."

"Namun jikalau kita berasumsi……" tambah Bado-sama.

"Jikalau kita berasumsi bahwa saat ini Anjing Hitam masih mengabdi di kubu kami…… Dan jikalau Tuan Kimberly bertarung dengan sungguh-sungguh melawan Anjing Hitam, kira-kira bagaimana hasilnya, ya? Saya rasa Tuan Kimberly yang hebat itu pun akan langsung tewas seketika."

"Ah tidak, tidak, walau bertarung dengan sungguh-sungguh pun, yang akan langsung tewas seketika pastilah pihak Anjing Hitam, kan? Lagipula jika melihat duel siang tadi, ya begitu, kan? ……Ah mohon maaf. Dia tadi hanyalah seorang pembawa barang biasa, ya?"

"Iya, dia hanyalah pembawa barang. Ini kan murni pembicaraan jikalau saja, benar?"

"Ahahaha!"

"Ahahaha!"

Gaya bertarung Roro yang mengayunkan Scolopendra tidak bisa dikategorikan ke dalam teknik ilmu pedang mana pun.

Itu murni karena struktur wujud pedangnya yang terlalu unik. Meskipun merupakan pedang satu tangan dengan bilah gergaji, di detik berikutnya pedang itu bisa meliuk layaknya cambuk, melesatkan ujung tajamnya dari arah atas, bawah, kanan, maupun kiri.

Figaro berada dalam kondisi yang sepenuhnya terdesak untuk bertahan.

──Makhluk apa orang ini. Jalur ayunan pedangnya tidak bisa dibaca.

Roro mengayunkan pedang tersebut menggunakan tangan kanan maupun tangan kiri, kedua-duanya secara bergantian.

Sesaat setelah menghalau bilah tajam yang diayunkan keras dari atas kepala, di detik berikutnya ujung tajam senjata melesat dari bawah kaki seolah hendak mengoyak tubuhnya. Serangan bertubi-tubi tersebut terlalu cepat untuk bisa ditahan.

"Ugh……!"

Hingga akhirnya bilah tajam itu merobek kulit daging Figaro. Bagian pahanya tergores dalam, membuat Figaro jatuh tersungkur.

Memanfaatkan celah kesempatan tersebut, Roro memputar tumitnya lalu berlari menuju bagian depan penjara kerangkeng.

"……Witches-sama. Saya berniat mengeluarkan Anda dari penjara kerangkeng ini, namun saya tidak memegang kuncinya. Saya akan merampas kereta kuda barang ini sekaligus bersama diri Anda."

"Tunggu sebentar!"

Dengan kedua lengan yang tetap belenggu, Teresalisa bangkit berdiri.

"Aku tidak pernah memintamu untuk menolongku. Kau sepertinya salah paham. Aku bukan seorang Witches."

"……Bukankah Anda adalah Teresalisa Lowe-sama?"

"Itu, memang benar."

"Jika demikian, bukankah Anda adalah sang Mirror Witch yang mengayunkan sabit perak?"

"Bukan. Aku hanyalah orang biasa yang dijatuhkan tuduhan palsu seperti itu──Awas di belakangmu!"

Pedang Figaro diayunkan menyabet secara horizontal mengincar leher Roro.

Roro merendahkan posisinya dengan berjongkok untuk menghindar. Pedang yang meleset dari sasarannya menghantam jeruji besi dari penjara kerangkeng.

"Kya!"

Suara benturan logam bergema, membuat Teresalisa yang berada di dalam penjara kerangkeng jatuh terduduk.

"Gerakanmu lincah juga, dasar anjing kecil."

Figaro tidak menghentikan serangannya. Ia terus-menerus mengayunkan pedangnya ke arah Roro yang melangkah mundur untuk mengambil jarak. Ujung tajam dari pedang tersebut memotong tali yang menambatkan penjara kerangkeng ke atas bak kereta.

Di atas jalanan hutan yang rusak, badan kereta kuda melonjak hebat. Penjara kerangkeng yang salah satu tali penambatnya telah terputus bergeser di atas papan lantai mengikuti guncangan kereta. Kerangkeng yang semula berada tepat di belakang kursi kusir bergeser hingga mendekati bagian tengah bak kereta.

Roro mencengkeram jeruji besi dari penjara kerangkeng, menghindari serangan Figaro, lalu memanjat naik hingga ke bagian atap kerangkeng tersebut.

"Alih-alih mirip anjing kecil, gerakanmu lebih menyerupai monyet, ya?"

"Sedangkan Anda lebih menyerupai babi hutan ketimbang singa. Embusan napas Anda terlalu berisik."

"Cih. ……Pasukan panah, bersiap!"

Mengikuti aba-aba dari Figaro, empat orang pasukan berkuda memosisikan busur panjang mereka.

Arah ujung anak panah tertuju tentu saja tertuju ke arah Roro yang sedang berjongkok di atas atap penjara kerangkeng.

"Lepaskan!"

Tepat di saat anak panah melesat lepas, Roro melompat ke udara dari atas atap kerangkeng, melakukan gerakan berputar. Ia meliuk di udara menghindari empat batang anak panah, lalu mendarat di atas papan lantai bak kereta.

Tanpa memberikan jeda sedikit pun, sebuah tombak melesat menjulur dari pasukan berkuda yang mendekati kereta barang.

"Yaaah!!"

Ujung tajam tombak menggores bagian pinggang Roro, dan di saat ia sempat goyah, Figaro merangsek maju mendekat.

Roro menahan ayunan pukulan keras yang menghujam dari atas kepala menggunakan bilah tajam Scolopendra. Suara benturan logam pecah di bawah langit malam.

Kepada Figaro yang wajahnya berada dalam jarak dekat di hadapannya, Roro berbicara.

"Kudengar para kesatria singa yang memiliki harga diri tinggi menyukai pertarungan satu lawan satu, lho."

"Cih. Menanglah dengan cara yang mutlak──itulah jalan kesatria milik keluarga Kimberly. Aku tidak ambl pusing mengenai metode bertarung. Selama kemenangan bisa diraih."

"……Begitu rupanya, arogan sekali."

Roro mementalkan pedang Figaro, lalu memutar arah seraya melancarkan ayunan pedangnya sendiri.

Kali ini giliran Figaro yang menahan serangan tersebut. Kekuatan mereka berdua tampak beradu seimbang.

"Boleh saya bertanya? Apakah sang Permaisuri itu benar-benar seorang Witches? Orang yang bersangkutan sendiri menyangkalnya, lho."

"Dia adalah Witches. Kau menginginkannya, kan? Jika tidak ingin melihatnya hangus dibakar, silakan rebut dari tanganku!"

Figaro mendorong balik lalu mementalkan pedang Roro.

Tanpa membuang waktu ia mengayunkan bilah pedangnya ke arah kepala Roro.

Roro melesat menyelinap melewati celah di samping badan Figaro, lalu mengaitkan tangannya ke kerah belakang zirah pelat milik sang komandan. Menggunakan teknik layaknya gerakan berputar di tiang besi, ia melesatkan tubuhnya ke udara, menjepit kepala Figaro menggunakan kedua pahanya. Posisi bertengger terbalik di atas bahu.

Dengan posisi tetap menjepit Figaro menggunakan kakinya, Roro memberikan momentum untuk melakukan putaran ke depan, mengempaskan tubuh Figaro.

"Ugh……!"

Menghantam hingga menjebol tepian belakang bak kereta, bagian tubuh bawah Figaro sempat terlempar ke luar dari kereta barang, namun ia berhasil mencengkeram tepian bak kereta dengan susah payah. Daya tahannya di luar dugaan kuat juga. Pedang dua tangan milik Figaro jatuh berguling ke tanah, lenyap tertinggal di belakang.

Memanfaatkan celah ini, Roro kembali memosisikan diri berdiri di depan Teresalisa.

"Teresalisa-sama. Apakah Anda mengenal Nyonya Gilly yang bekerja bersama Anda di rumah itu tujuh tahun lalu?"

"Gilly……? Saya tidak mengenal orang dengan nama tersebut."

"……Lalu bagaimana dengan panggilan Piggy?"

Tepat di detik ia membisikkan nama panggilan dari Nyonya Gilly tersebut, ekspresi wajah Teresalisa tampak menegang sesaat.

Roro tidak melewatkan perubahan raut wajah tersebut.

"……Ternyata Anda mengetahuinya, ya?"

"Tunggu──"

Suara panggilan Teresalisa terinterupsi oleh aba-aba teriakan dari Figaro.

"Lepaskan anak panah!"

Anak panah dilepaskan secara bertubi-tubi, membuat Roro berlari mengelilingi bak kereta. Suara anak panah yang menancap di papan lantai maupun tepian bak kereta berdentuk berkali-kali.

Pasukan berkuda dengan tombak di tangan kembali memperpendek jarak mendekati kereta barang.

"Oooooh!!"

"Mengganggu sekali…… benar-benar."

──Jika kalian sebegitu inginnya bermain denganku.

Roro melompat ke arah kesatria yang menjulurkan tombaknya dari atas kuda. Tanpa menahan momentum berlarinya, ia memijat gagang tombak untuk berlari naik. Wujud tubuhnya berpindah dalam sekejap mata menuju bagian punggung kesatria berkuda tersebut──.

"……Apa!?"

Bilah tajam Scolopendra langsung melilit leher kesatria yang berbalik tersebut.

Leher sang kesatria ditarik paksa hingga membuatnya terjatuh dari atas kuda. Tubuhnya menghantam permukaan tanah dengan keras.

Roro yang memosisikan diri berdiri di atas pelana kuda yang sedang berlari, mengayunkan Scolopendra tanpa memberikan jeda untuk bernapas sedikit pun. Bilah tajam yang meliuk layaknya seekor kelabang menjalar di udara ke segala arah.

Menghantam zirah pelat milik pasukan panah yang berkuda di dekatnya, memunculkan suara nyaring layaknya simbal yang dipukul keras menggema di dalam hutan belukar. Pasukan panah menjerit keras lalu terjatuh dari kudanya. Hanya dalam waktu yang teramat singkat, dua pasukan berkuda berhasil dilumpuhkan.

"Serang, serang! Jangan sampai orang itu lolos!"

Dari atas bak kereta, Figaro memberikan suntikan semangat kepada para kesatria.

Satu pasukan berkuda bertombak kembali merangsek mendekati Roro. Disertai suara teriakan, sebuah sabetan horizontal diluncurkan dari arah belakang. Bilah tajam tersebut seharusnya berhasil mengenai bagian punggung Roro──namun sosok Roro sudah tidak ada lagi di atas pelana.

Ternyata Roro memosisinya dirinya bergelantungan dengan melilitkan Scolopendra pada ujung tombak yang diangkat ke atas.

"Hih……!"

Kesatria itu secara refleks melepaskan genggaman tangannya dari tombak, namun Roro sudah melompat tepat di atas kepalanya, dan lilitan Scolopendra mengempaskan tubuh kesatria tersebut hingga terlempar. Korban jatuh dari kuda yang ketiga lenyap tertinggal di belakang.

"Jangan biarkan lolos! Jika sampai lolos, hal itu akan menjadi aib bagi pasukan pengawal jenderal! Bersiap!"

"Tuan Kimberly, kita akan keluar dari jalanan hutan!"

Kusir berbalik ke arah bak kereta seraya berteriak.

Di arah tujuan mereka, bintik-bintik pancaran cahaya lentera mulai terlihat. Kereta kuda barang sudah semakin dekat dengan pusat keramaian kota.

"Hei Heartland. Coba datang kemari dan lihat ini, tingginya luar biasa, lho!"

"……Tuan Bado, mohon jangan melupakan fakta bahwa benda yang sedang Anda lihat adalah lubang kakus."

Heartland sedang mendampingi Bado-sama yang pamit pergi ke toilet.

Bagian yang sedang diintip oleh Bado-sama adalah sebuah lubang yang berada di fondasi bangunan. Toilet tersebut terletak di bagian bangunan kastil yang menonjol ke luar, dan lubangnya terhubung langsung dengan area terbuka di luar. Di kegelapan yang berada tepat di bawah lubang adalah kolam penampungan limbah.

"Pemandangan seorang penguasa dari sebuah negara yang mengintip ke dalam lubang kakus benar-benar tidak pantas diperlihatkan kepada orang lain……"

"Mana ada yang melihat, sih. Kan tidak ada orang lain di sini selain dirimu."

Bado-sama menurunkan celana linennya, lalu memosisikan bokongnya tepat di lubang yang terbuka lebar tersebut.

Heartland berdiri di depan bilik kamar toilet yang gelap itu sambil memegang tempat lilin di tangannya.

Toilet itu tidak memiliki pintu. Karena alasan itu, ia memosisikan diri membelakanginya untuk berjaga-jaga.

"Ugh…… bagian bokongku terasa dingin sekali."

"Jika Anda merasa akan tergelincir jatuh, silakan berteriak untuk memberi tahu saya."

Embusan angin malam menerobos masuk dari celah bangunan. Toilet yang terbuat dari susunan batu tersebut terasa sangat dingin.

"Omong-omong bagaimana menurutmu. Apakah kau menikmati acara jamuan makan malamnya?"

"Ya, sewajarnya saja."

"Bohong. Kalian semua sama sekali tidak kelihatan sedang bersenang-senang, kok."

"……Baguslah kalau Tuan Bado kelihatan menikmatinya."

"Aku ini adalah tipe orang yang bisa menikmati situasi apa pun, tahu."

Heartland menundukkan kepalanya, menartap nyala api lilin yang bergoyang.

"Pada kenyataannya…… saya terus bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah pantas saya berdiam diri seperti ini."

"Maksudmu soal acara jamuan makan malam?"

"Ah…… bukan, bagi Anda selaku Tuan Bado serta para tokoh yang memegang kendali politik hal itu bukan masalah. Acara jamuan makan malam yang berfungsi sebagai wadah diplomasi merupakan medan pertempuran bagi orang-orang politik. Namun medan pertempuran saya…… medan pertempuran bagi seorang kesatria, tempatnya bukan di sana."

"……Hmm."

"……Kesatria dari kubu sebelah, Figaro Kimberly, sempat berkata bahwa ia sedang mengemban tugas mengawal pemindahan Witches. Ada kemungkinan bahwa sekarang, tepat di detik ini juga, Roro sedang beradu pedang melawan Kimberly…… Di saat situasi seperti itu terjadi, saya terus berpikir apa sebenarnya yang sedang saya lakukan di sini…… Tuan Bado, saya──"

Heartland berbalik ke arah toilet.

"Apakah saya…… sudah berhasil memenuhi ekspektasi dari Tuan Bado?"

Bado-sama yang tetap duduk di atas lubang kakus tampak menopang dagunya di atas lutut.

"Kau sudah memenuhinya, kok. Biar kutegaskan padamu, alasan kenapa aku bisa mengobrol santai penuh tawa dengan Omura yang jelas-jelas punya niat busuk di dalam kepalanya itu adalah karena kau setia menjagaku di sisiku. Jangan membuatku harus mengutarakan hal memalukan seperti ini secara gamblang, ah."

"……Mohon maaf."

"Meski begitu, aku juga bisa memaklumi hasratmu yang menggebu-gebu untuk segera terjun bertempur."

Bado-sama mengelus janggutnya lalu melepaskan tawa kecil.

"……Sejujurnya, saya merasa iri pada Roro. Padahal saya sendiri juga memiliki kekuatan yang cukup untuk bertarung sepuasnya……"

"Semua ada porsinya masing-masing. Lagipula hubungan antara kesatria dan pembunuh bayaran…… memangnya tidak bisa berjalan beriringan, ya? Keluarga Pablo di kubu mu dan keluarga Dubell di kubu Roro juga punya hubungan yang buruk sejak zaman dahulu kala. Padahal jika kedua kubu digabungkan akan membentuk kesatuan cahaya dan bayangan. Aku pribadi berpikir bahwa jika kalian menyatukan kekuatan, musuh sekuat apa pun dipastikan bisa ditumbangkan."

"Karena kami memiliki harga diri tinggi bahwa dari generasi ke generasi, kamilah para kesatria yang setia melindungi Campusfellow…… Lagipula asal-usul keluarga tersebut tidak jelas. Walaupun lahir di tanah yang sama, metode membesarkan anaknya sama sekali berbeda. Di keluarga mereka ada adat untuk membunuh anjing, bukan?"

"Benar juga. Adat membunuh anjing yang memiliki nama yang sama dan usia yang sama dengan dirinya saat menginjak usia sepuluh tahun, kan?"

"Benar. Membunuh anjing kesayangan yang sudah menghabiskan waktu bersama layaknya saudara kandung sejak masih bayi, lho? Bagi saya, tindakan seperti itu tidak akan mungkin bisa saya lakukan. Membanyangkannya saja membuat saya merinding."

"……Yah, memang benar begitu."

"Kakeknya yang dikabarkan aktif selama Perang Empat Binatang Buas dahulu pasti juga seperti itu, kan? Seorang Assassin yang sangat kejam dan tidak memiliki perasaan. ……Kesatria memupuk keteguhan hati yang kuat dan melangkah ke jalan tersebut atas dasar keinginan diri sendiri. Namun pembunuh bayaran berbeda. Mereka dibentuk dan diciptakan sejak masih kecil."

Embusan angin malam menerobos masuk membuat nyala api tempat lilin bergetar, memunculkan bayangan mereka berdua yang ikut bergoyang di dinding.

Heartland melanjutkan kalimatnya.

"Orang itu…… Roro, sekilas tampak seperti pemuda yang ramah dan santai, namun ia memiliki sisi di mana ia akan menghukum sampai hancur siapa saja yang menentang atau tidak disukainya. Terkadang saya berpikir, apakah kendali emosinya sudah putus? ……Ada momen di mana saya merasakannya sebagai sosok yang kejam."

Jangan-jangan saya──Heartland bergumam pelan dalam batinnya.

"Mungkin sebenarnya saya merasa takut kepadanya."

Kereta kuda barang berhasil keluar dari jalanan hutan, lalu memacu dengan cepat melintasi jalan utama Lowe, Jalan Kemenangan.

Kondisi kota Lowe masih tetap meriah meskipun di malam hari.

Di kedua sisi Jalan Kemenangan, kedai makanan dan kedai minuman tampak menyalakan lentera mereka. Suara musik yang riang serta suara tawa terdengar di mana-mana. Gadis penjual bunga menyodorkan bunga ke arah pejalan kaki, dan seorang pengemis tampak menangis untuk memancing rasa iba. Di sudut-sudut jalan, para pelacur berdiri mengenakan korset ketat untuk menonjolkan dada mereka seraya melambaikan tangan memberi isyarat ke arah para pria yang mabuk.

Di tengah situasi tersebut, sebuah kereta kuda barang yang dikawal oleh tiga pasukan berkuda melintas dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Orang-orang yang berada di jalanan seketika berlarian ke tepi jalan menyelamatkan diri bak anak laba-laba yang kocar-kacir.

Roro yang memosisikan diri berdiri di atas pelana kuda teringat kata-kata yang diucapkan oleh Delirium sesaat sebelum ia maju ke pertandingan eksibisi di Kotak Mainan Raja siang tadi. Kalau tidak salah kalimatnya adalah, “Bunuh saja orang itu”──.

"……Hamba laksanakan."

"Serang dia!"

Suara teriakan dari tiga pasukan berkuda yang tersisa entah sejak kapan telah berubah menyerupai jeritan ketakutan.

Anak panah yang mereka lepaskan tidak berhasil mengenai Roro. Sebaliknya, bilah pedang Scolopendra yang diayunkan Roro dengan akurat merobek daging mereka. Semburan darah segar memancar dari bahunya, membuat kesatria tersebut menjatuhkan busur panjangnya.

"Tunggu, tolong tunggu sebentar……!"

Kesatria yang sudah tidak memegang senjata itu berteriak, namun lengannya ditarik paksa oleh lilitan Scolopendra hingga membuatnya terjatuh dari atas kuda. Menghasilkan suara benturan keras di atas jalanan berbatu, ia lenyap tertinggal di belakang.

Pasukan berkuda yang tersisa tinggal dua orang lagi──Roro mencengkeram kendali kuda yang dirampasnya, lalu menaikkan kecepatannya. Ia menyalip kereta kuda barang tempat Figaro berdiri, mengincar pasukan panah berkuda yang berada di baris paling depan.

"Lemparkan busur panjangmu kemari!"

Teriak Figaro yang berada di atas bak kereta kepada pasukan berkuda yang berada di dekatnya.

Menerima busur panjang yang dilemparkan dari atas kuda, ia mengarahkan bidikannya ke arah Roro.

Roro sudah semakin dekat dengan pasukan berkuda di baris terdepan. Dari posisi kereta kuda barang yang mengejar di belakang, bagian punggung Roro terlihat dengan sangat jelas.

Roro berdiri di atas pelana, lalu melompat ke arah pasukan berkuda di depannya. Tepat di detik ia mengayunkan Scolopendra ke arah pasukan berkuda tersebut──Figaro melepaskan anak panahnya dari atas bak kereta.

Anak panah melesat lurus membelah angin, lalu menancap telak di bagian bahu Roro.

"Ugh……!"

Roro kehilangan keseimbangan di udara, membuat tubuhnya menghantam keras permukaan jalanan berbatu.

──Aku berhasil menjatuhkannya!

Melihat tubuh Roro yang terempas di belakang gerakan kereta kuda, Figaro meyakini hal tersebut.

Namun, Roro yang sempat terpental di atas jalanan berbatu dengan cekatan memutar tubuhnya di udara. Ujung tajam Scolopendra yang dijulurkannya menghantam permukaan batu. Menggunakan hal itu sebagai pegas, tubuh Roro melesat melompat jauh lebih tinggi ke udara.

"……Apa."

Dengan latar belakang malam berbulan, Roro kembali melakukan satu putaran di udara. Arah hunjaman ujung tajam Scolopendra kali ini bukan tertuju ke jalanan berbatu──melainkan ke kereta kuda barang. Ujung tajamnya menghancurkan papan lantai bak kereta tempat Figaro berdiri, lalu menancap kuat.

Menggunakan kekuatan elastisitas senjatanya, tubuh Roro melesat merangsek mendekati bak kereta.

──Ah. Sialan.

Wajah Figaro langsung dicengkeram kuat oleh telapak tangan Roro yang terbuka lebar.

Tubuhnya dipaksa jatuh terdorong ke arah belakang.

Tepat di saat kaki Roro memijat papan lantai bak kereta, bagian punggung Figaro telah terempas menghantam papan lantai.

Serpihan kayu dari bak kereta yang hancur beterbangan ke udara. Walaupun dilengkapi dengan zirah emas, hantaman keras tersebut sukses membuat napasnya terasa sesak.

Saat menyadarinya, bilah tajam Scolopendra yang mengerikan telah menempel tepat di depan tenggorokan Figaro.

──Apakah aku akan mati.

Figaro merasakan hal itu secara insting.

Pria yang berada di depan matanya saat ini memang benar-benar sang Anjing Hitam. Ia memancarkan aura mengerikan yang tidak kalah menakutkannya dengan Scolopendra. Menanglah dengan cara yang mutlak──semboyan keluarga Kimberly terlintas di dalam kepala Figaro. Dengan kata lain, jangan menantang pertempuran jika potensi kekalahan membayangi.

Mungkin ia memang tidak seharusnya memicu pertempuran melawan Anjing Hitam sejak awal.

Bilah tajam ditekan ke lehernya, membuat Figaro memejamkan matanya rapat-rapat.

"──Heartland. Kau telah keliru akan satu hal."

Ucap Bado-sama setelah selesai mengenakan celana linennya.

"Keliru…… maksud Anda?"

"Memang benar di keluarga Dubell ada adat untuk membunuh anjing. Sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun tanpa terputus dari generasi ke generasi leluhur mereka. Berdasarkan penuturan dari mantan Anjing Hitam terdahulu, tindakan tersebut memiliki makna membunuh diri sendiri sebagai seorang pembunuh bayaran, sebuah ritual kedewasaan yang sangat penting."

Namun, Bado-sama menggelengkan kepalanya.

"Roro tidak membunuh anjingnya."

"Tidak membunuhnya……? Apakah tindakan seperti itu diizinkan?"

Keluarga Pablo milik Heartland juga merupakan klan kesatria yang sudah berjalan sejak lama. Karena alasan itulah ia bisa memahaminya. Melanggar aturan keluarga sama saja dengan merendahkan martabat keluarga dan para leluhur. Sebuah tindakan yang sama sekali tidak boleh dilakukan.

"Tentu saja tidak diizinkan. Orang-orang di keluarga Dubell sangat murka. Walau demikian, Roro tetap melakukan perlawanan. Caranya adalah dengan menjadikan sosok yang paling berharga bagi kakeknya sebagai sandera."

"Sosok yang berharga…… Apakah Anjing Hitam juga memiliki hal semacam itu……?"

"Ternyata ada, lho. Di luar dugaan."

Bado-sama saat itu baru berusia dua puluh lima tahun. Ia belum menjabat sebagai pemimpin keluarga Grace, namun sebagai bagian dari anggota keluarga majikan yang diabdi oleh keluarga Dubell, ia turut menyaksikan tugas pertama yang dijatuhkan kepada Roro.

Di depan kandang tempat anjing-anjing menyalak. Roro yang memegang pisau belati yang masih berada di dalam sarungnya meneteskan air mata yang deras bercucuran seraya mengertakkan giginya. Ia menggenggam erat belatinya. Namun Roro tetap tidak bisa membunuh anjing tersebut.

Sang kakek yang tidak tega melihat situasi tersebut melangkah mendekati Roro.

"Jika kau tidak bisa membunuhnya, maka biarkan aku yang membunuhnya."

Saat sang kakek mengayunkan lengannya, sebuah bilah tajam melesat keluar dari pelindung tangan hitam yang dikenakannya.

"Aku benar-benar kecewa padamu. Kau tidak berbakat menjadi pembunuh bayaran."

Pandangan mata yang dingin tanpa emosi tertuju ke arah Roro.

Roro memeluk Roro si anjing seraya berbisik, “Tidak apa-apa.” Ia bangkit berdiri, berhadapan langsung dengan kakeknya. Sosok Anjing Hitam aktif yang sudah menghabisi banyak nyawa manusia tanpa ampun.

"Minggir. Anjing itu harus dieksekusi."

"Nggak mau……! Aku tidak akan membunuhnya. Aku tidak sudi menggunakan teknik membunuh untuk hal seperti ini!"

Jika metode membunuh tanpa rasa sakit, ia mengetahuinya. Cara melenyapkan nyawa dalam sekejap tanpa memberikan jeda untuk merasakan ketakutan akan kematian, hal itu telah dipelajarinya sampai sekarang. Namun Roro menolak jika hal tersebut dipaksakan kepadanya.

"Teknik yang kupelajari adalah milikku. Aku akan menggunakannya di saat aku ingin menggunakannya……!"

Kepada kakeknya yang melangkah maju satu langkah, Roro menaikkan suaranya yang bergetar.

"Aku ingin menggunakan teknik ini bukan untuk membunuh, melainkan untuk menghidupkan orang. Aku ingin menggunakannya untuk melindungi orang yang berharga bagi diriku. Namun dengan kekuatanku yang sekarang, aku tidak akan bisa menang melawan Kakek, tapi."

Roro mengatupkan giginya yang bergetar, lalu menarik pisau belati dari sarungnya.

"Tapi jika membunuh diriku sendiri, aku bisa melakukannya."

Setelah berkata demikian ia menempelkan bilah pisau tepat di lehernya sendiri. Demi melindungi sosok yang paling berharga bagi dirinya, Roro menjadikan sosok yang paling berharga bagi kakeknya──yahu dirinya sendiri──sebagai sandera. Itu bukan sekadar gertakan murahan belaka. Sebuah negosiasi yang mempertaruhkan nyawa.

Orang-orang yang menyaksikan ritual tersebut seketika panik, membuat situasi sekitar menjadi riuh.

Hanya sang kakek seorang yang tetap diam mematung tanpa pergerakan.

"Apakah kau berniat mencoreng nama baik keluarga Dubell?"

"Apakah Kakek tidak merasa ada yang aneh?"

Wajah Roro tampak berkerut.

"Sebuah dunia di mana seseorang tidak diizinkan hidup jika tidak membunuh keluarganya sendiri──"

Tepat di detik berikutnya saat sang kakek menghentak tanah untuk memperpendek jarak, Roro menggoreskan bilah pisaunya.

"──persetan dengan semua itu."

Hanya menyisakan satu langkah lagi, namun tangan sang kakek tidak berhasil menjangkaunya.

Semburan darah segar memancar dari leher yang tergores, lalu tubuh Roro ambruk terjatuh.

"……Di bawah dagunya sampai sekarang masih menyisakan bekas luka dari kejadian waktu itu."

Roro sempat berada dalam kondisi kritis antara hidup dan mati. Namun pada kenyataannya, ia tidak berniat bunuh diri. Aku ingin menggunakan teknik ini bukan untuk membunuh, melainkan untuk menghidupkan orang──sesuai dengan kalimatnya tersebut, Roro memotong lehernya dengan menghindari titik fatal. Orang yang ahli dalam teknik membunuh juga merupakan orang yang ahli dalam teknik menghindari kematian. Walaupun potensi tewas akibat kehabisan darah tetap saja sangat besar, sih.

Setelah tak sadarkan diri selama empat hari berturut-turut, kalimat pertama yang diucapkan Roro saat terbangun diceritakan kepada Bado-sama oleh kakeknya sendiri.

──……Apakah Roro boleh tetap hidup?

Entah kata “Roro” tersebut merujuk pada nama dirinya atau nama anjingnya. Saat seorang cucu memohon izin apakah ia boleh tetap hidup atau tidak, tidak banyak kakek yang sanggup menolaknya.

"Kejadian itu menjadi pemicu kakeknya memutuskan untuk pensiun dan menanggalkan gelar Anjing Hitam. Lagipula klan mereka memang sudah lama tidak terlibat dalam peperangan, sih. Momen yang pas untuk pensiun. Roro si anjing sendiri berhasil menghabiskan sisa usianya dengan baik, dan mati di usia tujuh belas tahun. Sangat panjang umur, kan?"

"……Kalau begitu, Roro telah mengabaikan tugas pertamanya……?"

"Benar. Karena itulah kubilang dia bukan seorang pembunuh bayaran. Kau salah paham di bagian itu. Orang yang mengabaikan perintah pembunuhan sepertinya, jika diartikan secara ketat, hanyalah seorang amatir. Dia adalah pembunuh bayaran magang."

"Magang……"

"Nyalinya besar, kan. Bagi anak seusia sepuluh tahun, aturan rumah setara dengan aturan dunia. Memang ada sisi dari dirinya yang membuat kita kesulitan menebak apa yang ada di dalam kepalanya, namun tetap saja. Aku sudah terlanjur melihat sosoknya yang bertarung melawan dunia demi melindungi apa yang berharga baginya, menggunakan pisau kecil dan tubuh kecilnya tersebut."

Bado-sama melepaskan tawa terpingkal-pingkal sambil berjalan menuju koridor.

"Karena alasan itulah, aku menyukainya."

Di atas bak kereta yang papan lantainya telah hancur, Figaro berbaring terlentang. Roro tampak duduk di atas tubuhnya. Dari balik pelundung kepala hitam yang didongakkan, terdengar embusan napas yang terengah-engah.

"Hah…… Hah……"

Bilah Scolopendra tetap menempel di leher Figaro, namun tidak ada pergerakan lebih lanjut.

"……?"

Figaro merasakan hawa membunuh dari Roro perlahan lenyap ditiup angin malam. Aura mengerikan yang sempat memuncak tampak berangsur surut. Dari celah pelindung wajahnya, ia melihat sepasang mata hijau gelap yang tampak ragu-ragu. Apakah ia sedang bimbang antara membunuhnya atau tidak?

──Bukan.

"……Kau, jangan-jangan."

Figaro mengernyitkan alisnya seolah tidak mempercayai kesimpulan di dalam kepalanya.

"Belum pernah membunuh manusia, ya?"

"…………"

Kereta kuda barang tampaknya sudah mencapai batas kemampuannya sejak tadi. Tiba-tiba salah satu rodanya terlepas, membuat dasar bak kereta yang miring mengikis permukaan jalanan berbatu. Kusir buru-buru menarik kendali untuk menghentikan laju kuda.

Suara ringkikan kuda bergema di tengah keheningan malam kota.

Akibat dampak dari miringnya bak kereta, Figaro beserta dua kesatria lain yang pingsan di atas papan lantai terlempar jatuh ke atas jalanan berbatu. Roro menancapkan Scolopendra ke papan lantai untuk mempertahankan posisinya agar tidak terjatuh.

Kereta kuda barang berhenti di tepi Jalan Kemenangan.

Penjara kerangkeng yang tertambat oleh seutas tali pada bak kereta yang hancur berdiri bersandar pada bak tersebut. Di dalam kerangkeng, Teresalisa tampak lunglai menyandarkan punggungnya pada jeruji besi. Tampaknya kepalanya sempat terbentur akibat dampak guncangan tadi, membuat kesadarannya agak terganggu.

"Engh…… ugh……"

Roro berjongkok di depan penjara kerangkeng.

"……Mohon maaf atas ketidaksopanan saya."

Ia memasukkan tangannya dari celah jeruji besi, memaksa mulut Teresalisa untuk terbuka.

Borgol batu yang membelenggu kedua pergelangan tangan Teresalisa merupakan alat sihir untuk menyegel kekuatan sihir. Saat ini ia berada dalam kondisi tidak bisa menggunakan sihir. Artinya mustahil baginya untuk mengubah warna lidahnya menggunakan sihir──namun.

Lidah Teresalisa yang dipastikan oleh Roro memiliki warna merah yang normal seperti manusia pada umumnya. Bukan warna merah keunguan yang menjadi karakteristik khas dari Mirror Witch.

──Apa maksud dari semua ini?

Apakah Teresalisa bukan seorang Witches? Jika demikian, apakah transaksi penyerahan Witches itu murni hanya gertakan sambal belaka?

"…………"

Hanya dalam sekejap mata ia larut dalam pikirannya──Roro telah menurunkan kewaspadaannya terhadap lingkungan sekitar.

Mendengar suara desingan angin wus, wus, ia secara refleks mengambil posisi bersiap. Kapak genggam yang melesat terbang berputar bukan mengincar Roro, melainkan menghantam sosok yang sedang merangkak mendekati bagian belakang Roro.

"Gyaaaaah……!!"

Di arah ia berbalik, Figaro menjatuhkan pedang yang digenggamnya lalu tersungkur di atas jalanan berbatu. Sebuah kapak genggam tampak tertancap dalam di bahu kanannya. Roro segera menyadarinya. Ia baru saja diselamatkan oleh seseorang dari upaya sabetan pedang yang mengincar punggungnya dari arah belakang. ──Namun, oleh siapa?

Ia memastikan arah datangnya kapak genggam tersebut, namun hanya ada deretan rumah bata merah yang berjajar di sana, tidak terasa adanya tanda keberadaan sama sekali. Hanya saja, teramat sedikit. Ia merasakan adanya aroma khas yang terbawa angin malam.

──Aroma binatang……?

Satu pasukan berkuda yang tersisa tampak memacu kudanya kembali ke lokasi. Namun mengingat fakta bahwa Teresalisa bukan seorang Witches, Roro sudah tidak memiliki alasan lagi untuk bertarung. Walaupun identitas pemilik kapak genggam mengganjal pikirannya, tidak ada alasan lagi baginya untuk menetap di sini.

Masyarakat kota mulai berkumpul di sekitar kereta kuda.

Roro mengayunkan Scolopendra ke atas. Bilah pedang yang menjulur melilit pagar pembatas dari deretan rumah yang berjajar di sepanjang Jalan Kemenangan. Memanfaatkan kekuatan elastisitas senjatanya, Roro melompat tinggi.

Ia memijat pagar pembatas balkon di lantai dua, lalu berpindah ke lantai yang lebih atas menggunakan teknik yang sama.

Berhasil mencapai bagian atas atap bata merah, ia memastikan kondisi Jalan Kemenangan yang berada di bawahnya.

Di sekitar kereta kuda barang and penjara kerangkeng yang rusak, warga kota tampak berkerumun. Kesatria yang menunggangi kuda berteriak, “Menjauhlah!” untuk membubarkan massa yang penasaran.

Saat menaikkan pandangannya, di bawah langit malam tampak menara beratap kerucut dari Kastil Lowenstein menjulang tinggi.

Roro berjongkok di atas bata merah, memutar gagang Scolopendra untuk menarik kembali duri-duri di kedua bilah tajamnya. Kemudian ia memotong batang anak panah yang masih menancap di bahunya menggunakan bilah pisau di pelindung tangannya.

Meskipun sudah melakukan pergerakan yang masif, ia gagal merebut sang Witches. Misi dinyatakan gagal.

"Lagipula, wanita tadi bukan seorang Witches, kan……?"

Rasanya berat untuk melaporkan hasil seperti ini kepada majikannya.

"Hah…… melelahkan sekali……"

Roro mengembuskan napas panjang dengan gusar, lalu menjatuhkan tubuhnya terlentang.

Embusen angin malam yang dingin berembus melewati bagian atas atap bata merah.

Setelah insiden tersebut, Teresalisa dipindahkan ke atas kereta kuda barang yang baru, lalu dibawa menuju Kastil Lowenstein sesuai dengan rencana awal. Tempat yang dituju adalah Menara Kurungan. Sebuah menara yang digunakan untuk menahan tahanan politik yang jumlahnya tidak seberapa sejak Perang Empat Binatang Buas berakhir lima puluh tahun lalu.

Di lantai paling atas dari menara tersebut, sosok Teresalisa berada.

Melalui pantulan cahaya obor yang diangkat oleh Figaro, wujud Topeng Santa tampak samar di balik jeruji besi. Itu adalah topeng yang sabuk talinya telah diganti dengan yang baru setelah dipotong oleh Roro. Pergelangan tangan Teresalisa masih belenggu oleh borgol batu, and topeng tersebut menutup rapat kedua mata, kedua telinga, serta mulutnya.

Figaro memasukkan obor yang dipegangnya ke dalam wadah tempat obor yang berada di dekat pintu masuk penjara. Lengan kanannya mengalami cedera akibat hantaman kapak genggam yang dilemparkan padanya, and saat ini sudah mendapatkan penanganan darurat dengan dibalut kain mitela yang menggantung di leher.

Menggunakan tangan kirinya saja, ia membuka pintu penjara, lalu melepas topeng dari wajah Teresalisa yang sedang berlutut.

Di dalam pandangan mata Teresalisa yang terbuka, tampak jeruji besi and sosok Omura yang berdiri di balik jeruji tersebut.

Melihat rupa wajah Teresalisa yang terekspos, Omura menyatukan kedua tangannya seraya berkata, “Oho.”

"Memang tidak salah sosok wanita yang berhasil memikat kakak saya. Meskipun sudah menghabiskan waktu penahanan selama lebih dari sepuluh hari di dalam penjara, wah wah, kecantikan Anda sama sekali tidak memudar, ya? Apakah kehidupan di Penjara Besi terasa nyaman bagi Anda?"

"……Apakah Raja Singa-sama berada dalam kondisi aman?"

Mata merah Teresalisa yang memantulkan sosok Omura tampak menyala diwarnai kobaran kebencian yang teramat dalam.

"Tolong pertemukan saya dengannya. Apakah dia dikurung di dalam menara ini?"

"Aduh, kira-kira bagaimana, ya."

Omura mengangkat bahunya. Senyuman menyeringai yang ia tunjukkan murni merupakan cerminan dari watak yang rendahan.

"Jangan tertawa!"

Teresalisa menegakkan lututnya, merangsek mendekati Omura.

Meskipun terhalang oleh jeruji besi, intimidasi yang dipancarkannya sukses membuat Omura memekik kecil and menarik tubuh bagian atasnya ke belakang.

"Tenanglah!"

Figaro buru-buru mencengkeram bahu Teresalisa, memaksanya untuk kembali berlutut.

"……Saya mohon. Pertemukan saya dengan raja."

Menatap ke arah Teresalisa yang menundukkan kepalanya, Omura memasang senyuman penuh kepuasan yang kejam.

"Aduh, kasihan sekali…… Padahal kalian hampir melangsungkan pernikahan, namun di saat-saat terakhir justru harus terpisahkan…… Kalau saya pribadi tentu saja ingin mempertemukan Anda dengannya jika memungkinkan. Namun tolong jangan melupakan satu hal. Anda sedang dijatuhi tuduhan sebagai seorang Witches. Dan kakak saya ditahan atas dosa karena berencana menikah dengan seorang Witches──"

Raja Singa ditahan karena kesalahan dirinya──setiap kali kalimat tersebut terngiang di telinganya, dada Teresalisa rasanya seperti robek. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan air mata yang hampir tumpah akibat rasa penyesalan yang mendalam.

"Anda memahaminya, kan? Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan kakak saya. Di pengadilan Witches besok, Anda harus mengakui sendiri bahwa Anda adalah seorang Witches, and memberikan kesaksian bahwa Anda telah memikat kakak saya menggunakan kekuatan sihir. Dengan melakukan hal tersebut, posisi kakak saya akan berubah dari yang semula dianggap sebagai antek kaki menjadi seorang korban, sehingga ia bisa mendapatkan kembali harga dirinya sebagai Raja Singa yang sempat runtuh."

"……Saya memahaminya."

Teresalisa menjawab dengan suara yang teramat lirih sambil tetap menundukkan kepalanya.

"Saya tidak peduli apa yang akan terjadi pada diri saya nanti. Saya akan menerimanya meskipun harus dibakar sampai mati sebagai seorang Witches. Namun saya mohon, tolong selamatkan pria itu saja. Karena dia sama sekali tidak memiliki kesalahan apa pun──"

"Iya, iya, saya sangat memahaminya, kok. Kekuatan cinta yang luar biasa, ya?"

Omura mengangguk dengan ekspresi penuh kepuasan.

"Saya pribadi juga merasa sedih melihat kakak tercinta harus dikurung atas dosa yang tidak dilakukannya. Aku ingin segera mengeluarkannya. Oleh karena itu, tolong jangan melupakannya, ya? Bahwa saya adalah sekutu bagi kalian berdua."

"…………"

Menerima isyarat dari Omura, Figaro melangkah keluar dari bilik penjara tempat Teresalisa berada. Ia mengunci pintunya, lalu meninggalkan area penjara.

Sambil melangkah menuruni tangga melingkar menara, Omura tersenyum licik.

"Ya ampun, benar-benar wanita yang malang. Dia benar-benar percaya bahwa kakak masih hidup, ya."

Figaro berjalan di belakang Omura menuruni tangga sambil memegang obor di tangannya.

"Karena di Penjara Besi petugas pengurusnya sengaja dibatasi, and kita menerapkan aturan ketat agar tidak ada informasi luar yang bocor masuk, sih."

"Bagus sekali. Mengendalikan informasi yang diberikan──inti rencananya ada di poin ini, tahu, Figaro. Apa kau tahu apa yang dibutuhkan untuk bisa menggerakkan orang lain?"

"……Uang, maksud Anda?"

"Bukan. Harapan. Uang hanyalah salah satu bagian dari harapan belaka. Manusia adalah makhluk yang bersedia melakukan tindakan apa saja demi sebuah harapan yang mereka miliki. Bagi wanita itu, harapannya adalah Raja Singa tercinta masih hidup──"

Suara langkah kaki klek, klek bergema seraya mereka berdua terus berjalan menuruni menara.

"Oleh karena itu, agar wanita itu bersedia memberikan kesaksian bahwa dirinya adalah seorang Witches, kita harus membuatnya berpikir bahwa kakak masih hidup. Wanita itu harus tetap memegang peran sebagai seorang Witches dengan baik. Jika tidak demikian, skenario di mana sosok Omura Lowe ini berhasil menumbangkan Witches tidak akan bisa tercipta."

"……Saya memahaminya. Seperti dugaan, Anda adalah Yang Mulia Adik Raja yang penuh dengan siasat cerdik. Orang-orang dari Campusfellow juga dipastikan tidak menyadari rencana kita ini."

"Iya, semuanya berjalan dengan sangat lancar. Kecuali fakta bahwa kau gagal melumpuhkan Anjing Hitam, Figaro."

"……Mohon maaf yang sebesar-besarnya."

"Astaga. Padahal kita sudah memancing Anjing Hitam keluar menggunakan pertandingan eksibisi, namun tingkat bahayanya saja gagal kau ukur. Ditambah di saat dia memunculkan diri sebagai penyusup di hadapanmu, kau bahkan tidak bisa melumpuhkannya. Apakah aku sudah terlalu berlebihan dalam menilaimu?"

"……Namun silakan tenang saja, Yang Mulia. Jikalau sosok yang kita hadapi adalah mantan Anjing Hitam yang ditakuti sebagai pembantai tiga ratus orang dahulu mungkin ceritanya akan berbeda, namun Anjing Hitam yang sekarang hanyalah pria lemah yang tidak bisa membunuh orang. Dia bukan ancaman bagi──"

"Diamlah. Kau baru saja dikalahkan oleh pria lemah tersebut, lho."

"…………"

Figaro langsung menelan ludahnya.

"Ya sudahlah. Anggap saja aku mempercayai perkataanmu bahwa dia bukan ancaman. Tidak ada perubahan dalam rencana."

Begitu tiba di lantai satu, mereka berdua melangkah keluar melewati pintu utama.

"Nah, besok adalah hari pengadilan Witches. Kita akan menjadi sangat sibuk. Khufufu."

Omura menyatukan kedua telapak tangannya sambil menggosokkannya, lalu meninggalkan Menara Kurungan dengan langkah kaki yang ringan.