Majo to Ryouken V1 C2

Juli 04, 2026 | Metoya

Chapter 2: Pengadilan Penyihir

Illustration Placeholder


Putri Campusfellow, Delirium Grace, mengikat rambut pirangnya yang panjang di puncak kepalanya.

Memperlihatkan tengkuknya yang seputih susu, dan membebaskan dadanya yang di luar dugaan berukuran besar, yang biasanya tertekan kencang oleh korset. Setetes air mengalir menelusuri lengkungan dadanya, lalu menetes ke atas lututnya.

Delirium sedang duduk di tempat pembasuhan.

Ia menyuruh pelayannya, Cappuccino, duduk di hadapannya, dan membuat punggung gadis itu penuh busa dengan handuk linen.

"Hei, Cap! Jangan bergerak!"

"Nggak mau, ah……! Tolong ampuni saya. Fuhihi."

Di tempat pemandian yang terbuat dari marmer, suara kedua gadis itu menggema sejak pagi hari.

Menghadapi gerakan tangan Delirium yang gigih, Cappuccino menggeliat untuk meronta.

Meskipun Cappuccino berusia satu tahun lebih tua daripada Delirium, jika dibandingkan dengan Delirium yang tumbuh cepat, ia memiliki postur tubuh yang jauh lebih mungil dan ramping. Dadanya yang mungil, yang ia bersikeras masih dalam tahap pertumbuhan, membentuk lengkungan yang dangkal dan landai.

Ujung rambut bob hitamnya yang dipotong rata tampak basah oleh air hangat. Sekujur tubuhnya dipenuhi busa.

"Aduh, geli tahu! Fuhihi."

Di mata Cappuccino yang menggeliat menahan geli, bahkan air mata tampak menggenang. Sret, ujung jari Delirium menyelinap ke pinggang Cappuccino, memicu jeritan kecil, "Hih!"

"Tenanglah. Aku kan jadi tidak bisa membasuhmu!"

"Nggak mau lagi! Gerakan tangan Putri terlalu mesum, tahu!"

"Tentu saja begitu. Kan aku sengaja melakukannya!"

"Hah!? Kalau begitu, terima kasih banyak, ya!"

Cappuccino mengumpulkan busa di sekujur tubuhnya, lalu menggerak-gerakkan jarinya ke arah Delirium.

"Karena tidak enak jika terus-menerus dibasuh oleh Putri, sekarang gantian biarkan saya yang membasuh Anda. Saya akan menikmati dada Anda yang tampak lembut itu!"

"Kyaa, jangan sentuh! Aku tidak usah. Aku tidak kotor, kok!"

Delirium menyilangkan lengannya di depan dada, lalu melarikan diri ke arah bak berendam.

"A-Apa-apaan perkataan itu, seolah-olah saya ini kotor! Saya juga tidak kotor, tahu. Saya bersih!"

Cappuccino pun segera bangkit berdiri.

Ia mengejar Delirium yang melompat ke dalam bak berendam, memicu semburan air yang besar dengan suara byur.

Sementara itu di pemandian pria yang berada tepat di sebelahnya, di dalam bak berendam yang sangat luas, lima orang pria tampak membentuk lingkaran.

Mereka yang saling berhadapan dalam keadaan telanjang adalah orang-orang dari Campusfellow. Sang Tuan Tanah Bado, Meister Shimei, dan Menteri Luar Negeri Edelweiss. Ditambah Komandan Ordo Kesatria Besi dan Api, Heartland, serta Roro.

Sebuah pemandian besar yang dipenuhi uap air dengan dinding marmer yang dipoles berkilau.

Berbagai patung dengan desain yang rumit tampak menghiasi setiap sudut tempat tersebut. Tempat bersosialisasi yang sering dikunjungi oleh warga Lowe ini saat ini telah disewa sepenuhnya oleh pihak Campusfellow, sehingga tidak ada sosok lain di sana selain mereka berlima.

Di samping bak berendam, sebuah patung singa tampak duduk, dan air hangat yang disemburkan dari mulutnya yang terbuka menghantam permukaan air bak berendam.

"Hah. Benar-benar nikmat, ya."

Bado menumpangkan kedua sikunya di tepian bak berendam, lalu mengembuskan napas panjang tanda takjub.

"Apakah rakyat Lowe menikmati kemewahan seperti ini setiap pagi?"

Di tubuh Bado yang telanjang, beberapa luka lama tampak samar terlihat. Itu adalah sisa-sisa dari masa mudanya saat ia masih aktif mengayunkan pedang. Otot-otot yang dulunya terlatih layaknya seorang kesatria kini telah mengendur, dan karena terlalu banyak meminum bir, lingkar perutnya tampak tambun.

"Walaupun dikatakan rakyat, kemewahan ini pasti terbatas pada sebagian warga kelas atas yang sukses dalam bisnis. Semakin makmur suatu kota, kesenjangan antara kaya dan miskin akan semakin lebar."

Meister Shimei menyahut. Ia berendam hingga sebatas bahu, dengan handuk yang dilipat diletakkan di atas kepalanya.

"Namun, hanya patung itu yang tidak kusukai," ucap Bado seraya menunjuk ke arah patung singa yang terus menyemburkan air hangat.

"Melihat benda itu membuatku merasa seolah sedang berendam di dalam muntahan singa. Bagaimana sebenarnya mekanisme benda itu hingga bisa terus-menerus menyemburkan air hangat?"

"Di sebelah pemandian ini ada sebuah menara pengawas. Saat mengintip ke dalam, para budak tampak sibuk memutar kincir air. Kemungkinan besar aliran air hangat dialirkan dengan menggunakan hal itu sebagai daya penggeraknya."

"Budak? Bukankah penggunaan budak dilarang di sini?"

"Benar, Tuanku. Seingat saya hal itu sudah dilarang sejak generasi Raja Singa dua periode lalu. Namun, tampaknya ada celah yang dimanfaatkan."

"Haha. Orang-orang licik memang ada di mana-mana, ya."

Edelweiss berdeham, ekhem, menyudahi obrolan tidak penting mereka berdua. Pria berkepala plontos dengan tubuh rata-rata itu melilitkan handuk hingga sebatas dada, lalu berendam di dalam bak air.

"Keadaan di luar dugaan. Kenapa kita mengadakan rapat di tempat seperti ini? Kenapa tidak di kastil saja?"

"Begitulah," ucap Bado seraya mengangguk.

Di dalam Kastil Lowenstein tempat mereka bermalam sejak kemarin pun sebenarnya ada tempat pemandian. Namun Bado sengaja turun ke kota, menyewa pemandian besar yang biasa digunakan oleh para pedagang. Tentu saja, ada alasan di balik hal itu.

Hal itu berakar dari laporan Roro. Tadi malam, sosok yang memunculkan diri di hadapan Roro yang menyerang kereta barang demi merebut Witches adalah Figaro. Ia bahkan sampai menyiapkan Scolopendra, dan berkata "Aku sudah menunggumu" seolah-olah ia sudah mengantisipasi adanya serangan dari Anjing Hitam.

Merebut Witches yang sedang dipindahkan bisa dikatakan sebagai siasat tak terduga dari Bado. Mengingat negosiasi transaksi Witches masih berjalan, seharusnya sulit bagi pihak Lowe untuk memprediksi adanya serangan. Namun meski begitu, mereka justru sudah bersiap menyergap.

Artinya, ada kemungkinan informasi dari kubu kita telah bocor ke pihak Lowe.

"Tidak mungkin."

Shimei mengernyitkan wajahnya.

"Setidaknya dimulai dari panitera hingga para birokrat yang kubawa, tidak ada yang mengetahui mengenai operasi tadi malam."

"Tentu saja para diplomat di kubu saya juga tidak ada satu pun yang mengetahui mengenai serangan kemarin."

Edelweiss menimpali dengan cepat secara berturut-turut.

"Operasi untuk merebut Witches bukankah hanya dibicarakan di dalam ruangan itu saja. ……Jika demikian, pihak yang mencurigakan adalah para kesatria yang berjaga di depan ruangan, bukan?"

"Tidak mungkin!" teriak Heartland dengan suara yang meninggi.

"Saya sudah menyampaikannya kepada Tuan Bado, hubungan saya dengan seluruh anggota adalah hubungan di mana saya mengenali wajah orang tua, saudara, istri, bahkan anak-anak mereka. Mereka semua adalah orang-orang dengan kesetiaan yang tinggi. Saya berani menjamin tidak ada satu pun dari mereka yang berkhianat atau membelot."

"Iya. Aku juga tidak ingin berpikir bahwa ada pengkhianat di dalam Campusfellow."

Bado mengangguk mantap.

"Jika demikian, ada kemungkinan kamar tamu yang disediakan oleh Omura telah dipasangi sesuatu. Karena itulah kita menjauh dari kastil sebagai bentuk antisipasi."

Tentu saja di luar pemandian besar, para anggota Ordo Kesatria Besi dan Api telah disiagakan. Khusus untuk pemandian ini, sebelum masuk, Roro dan Heartland telah memeriksa setiap sudutnya untuk memastikan tidak ada hal yang aneh.

"Roro. Bisakah kau melaporkan kembali mengenai insiden serangan kereta barang tadi malam?"

"……Hamba laksanakan."

Roro menceritakan kronologi kejadian yang dilaporkannya kepada Bado tadi malam kepada semua orang yang berkumpul di sini.

Mengenai terjadinya pertempuran melawan Figaro Kimberly di atas kereta barang yang sedang melaju. Bahwa Permaisuri Teresalisa menyangkal dirinya seorang Witches, dan tidak memiliki niat untuk melarikan diri. Serta warna lidahnya yang bukan berwarna merah keunguan.

"Kalau begitu, apakah kita bisa menyimpulkan bahwa ── Permaisuri Teresalisa bukan seorang Witches?"

Edelweiss menegakkan punggungnya, lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah Roro.

"……Berdasarkan impresi saat berhadapan langsung."

Jawab Roro sambil menurunkan pandangan matanya ke arah permukaan air yang bergoyang.

"Ia tampak seperti wanita biasa yang dirundung kedukaan akibat dijatuhi tuduhan palsu. Mengimajinasikan orang itu membantai lebih dari lima puluh orang dengan kejam…… sama sekali tidak bisa kulakukan. Walaupun tampaknya ia mengetahui nama Nyonya Gilly…… mungkin saja itu hanya salah dengarku saja."

"Karena itulah kau tidak membawanya kemari?"

"Ya, hal itu juga…… salah satu alasannya, sih."

Roro mengalihkan pandangannya. Karena beban rasa bersalah akibat gagal mengemban misi, bicaranya menjadi berat.

Meskipun ramping, tubuh Roro yang proporsional berada dalam kondisi penuh luka. Bagian punggungnya yang terempas di atas jalanan berbatu kemarin terasa sakit setiap kali digerakkan, dan di bahu kanannya masih menyisakan bekas luka anak panah yang menyedihkan.

"Sudahlah, tidak perlu meratapi kegagalan itu, Roro!"

Raksasa Heartland yang bangga akan otot bajanya tertawa terpingkal-pingkal, lalu merangkul bahu Roro.

Roro mengernyitkan wajah menahan sakit, memutar bahunya untuk melepaskan lengan tebal tersebut. Entah karena senang atas kegagalan Roro, atau bangga karena kesatria dari kubu lawan berhasil menang melawan seorang pembunuh bayaran. Bagaimanapun juga, Heartland pagi ini terasa terlalu akrab.

"Kesatria itu kuat……. Kau pasti memahaminya juga dari kejadian kali ini, kan? Jika ada kesempatan berhadapan dengannya lagi lain kali, jangan ragu untuk memanggilku. Aku akan membantumu."

"Nggak mau."

"Jangan bilang tidak mau, dong. Kau ini benar-benar tidak menggemaskan, ya."

Bado berkata, "Nah," mengembalikan topik pembicaraan.

"Di sini muncul sebuah masalah. Jika Permaisuri Teresalisa bukan seorang Witches, artinya dia bukan pelaku yang memicu insiden Pernikahan Berdarah. ……Lalu, siapa yang membunuh Raja Singa?"

"Pihak yang paling diuntungkan dari kematian Raja Singa…… bukankah adik dari sang raja, Omura Lowe."

Edelweiss menopangkan tangan di pipi seraya memiringkan kepalanya sedikit.

"Jikalau dia memang mengincar takhta Raja Singa…… kakak kandungnya tentu akan menjadi penghalang, bukan? Membunuh kakaknya, lalu menjadikan sang Permaisuri sebagai kambing hitam dengan menuduhnya sebagai Witches pembunuh raja……? Apakah hal itu mungkin terjadi?"

"Sangat mungkin terjadi. Pada kenyataannya, dia sedang melangkah dengan pasti menuju takhta Raja Singa berikutnya. Pengadilan Witches yang dilangsungkan malam ini bisa dibilang murni merupakan panggung yang disiapkan untuk tujuan tersebut. Jangan-jangan Omura berniat mendeklarasikan pewarisan gelar Raja Singa di hadapan para bangsawan dan rakyat jelata yang berkumpul."

Bado melipat tangannya.

"Pewaris yang satunya lagi, Snow White, mungkin saja sudah tidak ada lagi di dunia ini."

Putri dari Raja Singa, Snow White Lowe, tidak diketahui keberadaannya sejak insiden Pernikahan Berdarah. Mengingat bagi Omura ia adalah penghalang terbesar kedua setelah Raja Singa, tidak aneh jika ia dihabisi secara diam-diam.

"Saya juga ingin menyampaikan satu hal."

Shimei mengeluarkan tangannya dari bak berendam. Ia memutar tubuhnya ke arah tiga orang selain Bado.

"Saya sudah menyampaikannya kepada Tuan Bado…… apakah kalian mengingatnya? Mengenai para prajurit yang berada di Ruang Singgasana kemarin. Mereka tidak dilengkapi dengan zirah emas. Berdasarkan hasil penyelidikan, mereka tampaknya merupakan tentara bayaran yang berbasis di kelompok kota pelabuhan. Kelompok tersebut dikabarkan bernama Ordo Tengkorak dan Kalajengking."

"Tengkorak? Menyeramkan sekali. Tentara bayaran, ya……"

Edelweiss menyatukan alisnya.

"Bisa dikatakan, mereka adalah pasukan pribadi Omura yang disewa dengan uang. Bagian yang menarik adalah pada hari terjadinya insiden Pernikahan Berdarah, kabarnya merekalah yang menahan Witches yang mengamuk tersebut."

Heartland menaikkan suaranya karena terkejut.

"Bukankah Witches itu ditangkap oleh para pengawal jenderal yang bergegas datang?"

Figaro kemarin memang berkata demikian. Bahwa mereka menangkap Witches tersebut menggunakan pedang kesatria biasa, bukan pedang sihir.

"Yang menangkapnya adalah tentara bayaran. Para pelayan kastil memberikan kesaksian seperti itu. Tidak salah lagi. Dengan dalih sebagai pengawal Omura yang menghadiri upacara pernikahan, beberapa tentara bayaran tampak keluar masuk kastil. Sebaliknya, para pengawal jenderal justru dibebastugaskan dari tugas penjagaan dengan alasan akan mengganggu jalannya upacara."

"……Penempatan yang sangat tidak wajar, ya."

Pada hari pernikahan, saat para pengawal jenderal mendengar keributan dan muncul di kapel tempat upacara berlangsung, Witches tersebut sudah dalam kondisi tertangkap. Dikabarkan bahwa di kapel tersebut, mayat-mayat mengenaskan dari para undangan termasuk Raja Singa terkapar bergelimpangan.

Edelweiss memegang bibir bawahnya seraya berpikir.

"Tuan Figaro Kimberly ternyata berbohong, ya…… Apakah dia juga termasuk salah satu dari komplotan pemberontak?"

"Kemungkinan besar begitu," jawab Bado.

"Tidak mungkin orang itu tidak mengetahui apa-apa."

Di insiden Pernikahan Berdarah, para petinggi Ordo Kesatria Singa Emas seluruhnya tewas. Jikalau Figaro tidak puas hanya dengan posisi sebagai komandan pengawal jenderal dan merupakan seorang ambisius yang ingin naik hingga ke posisi wakil komandan atau penasihat, tentu ada keuntungan baginya untuk membantu pemberontakan Omura.

Shimei bergumam, lalu melontarkan pertanyaan.

"Namun ganjil, ya. Kenapa Tuan Omura Lowe berniat menjual Permaisuri Teresalisa kepada kita? Jikalau dia memang melimpahkan kesalahan pada sang Permaisuri, bukankah seharusnya dia segera mengeksekusinya secepat mungkin untuk membungkam mulutnya."

"Kemungkinan besar hal itu karena Tuan Omura Lowe adalah seorang pedagang……"

Edelweiss menduga.

"Kudengar dia adalah orang yang gila uang. Menjual permaisuri yang sudah tidak dibutuhkannya lagi ke negara lain, lalu mendapatkan keuntungan dari pedang sihir──begitu, kan?"

"Namun, Figaro menentangnya. Dia adalah penjahat yang sudah susah payah dijatuhi tuduhan sebagai pembunuh Raja Singa. Daripada menyerahkannya ke pihak lain secara ceroboh, lebih baik mengeksekusinya dengan hukuman bakar untuk merebut hati ordo kesatria dan rakyat jelata. Jika posisinya di aku, aku pun akan melakukan hal yang sama. Dari sudut pandang Figaro, dia pasti berpikir, Omura keparat malah memulai negosiasi yang tidak perlu."

Bado mengembuskan napas panjang.

"Jikalau Permaisuri Teresalisa bukan seorang Witches, artinya kedatangan kita kemari murni merupakan kesia-siaan belaka. Kita berniat menipu, namun yang tertipu justru pihak kita sendiri, ya."

Tidak ada seorang pun yang membuka mulut, keheningan yang berat pun tercipta.

Suara aliran air hangat yang terus mengalir dari mulut singa terdengar menggema dengan teramat lantang.

"Baiklah. Mari kita pulang."

Bado mengambil keputusan.

"Hasil dari pengadilan Witches dipastikan sudah pasti bersalah. Permaisuri Teresalisa akan dibakar sampai mati. Jikalau Omura tidak goyah oleh desakan Figaro dan sang Permaisuri diserahkan ke tangan kita pun, sosok yang kita beli dengan uang banyak itu bukan seorang Witches. Jika demikian, tidak ada artinya bagi kita untuk menetap di sini."

Bado bangkit berdiri dari bak berendam.

"Benar-benar ekspedisi yang sama sekali tidak membawa keuntungan, ya. Yah, mari kita anggap untung saja kita menyadarinya sebelum tertipu."

"Apa yang harus kita katakan pada pihak Lowe untuk membatalkan kesepakatan dagang ini?"

Mengikuti langkah Bado, Edelweiss juga ikut bangkit berdiri. Ia mendekatkan handuk ke seputaran dadanya.

"Tidak perlu mengatakan apa-apa. Bagi pihak Lowe, kita adalah tamu tidak diundang yang dipanggil sepihak oleh Omura. Tidak akan ada yang menahan kita. Semuanya, perintahkan jajaran masing-masing untuk bersiap pulang. Kita akan berangkat hari ini juga."

"Siap!"

Rapat rahasia selesai. Heartland, Roro, dan Shimei memberikan jawaban mereka, lalu bangkit berdiri dari bak berendam. Bado menaikkan suaranya ke arah pemandian wanita yang terpisah oleh sekat dinding.

"Hei Dely! Kita pulang ke Campusfellow. Kalian juga bersiaplah!"

"Eeeh! Kita sudah mau pulang!?"

Dari balik dinding, suara Delirium terdengar.

"Padahal aku belum berjalan-jalan di pasar Lowe, lho!? Ayah kemarin kan sudah bilang! Saat Dely bilang ingin berjalan di pasar, Ayah bilang besok boleh! Padahal aku sudah tidak sabar untuk pergi ke pasar sekarang! Apakah Ayah mau memutus janji dengan Dely!?"

"Bukan begitu, situasinya sudah berubah──"

"Dely dulu pernah diajarkan begini oleh Ayah! Janji hanya boleh dilanggar jika itu ditujukan pada orang yang sudah kita putuskan tidak akan pernah kita ajak bicara lagi. Artinya Ayah sudah tidak mau berbicara lagi dengan Dely, ya!"

"Memang benar aku mengajarkan begitu. Tapi situasinya berubah, tolong pahamilah."

"…………"

"Dely?"

Tidak ada jawaban. Berdasarkan ajaran Bado bahwa tidak perlu berbicara dengan orang yang melanggar janji, tampaknya aksi protes sudah dimulai sejak dini.

Bado menundukkan kepalanya, lalu bertanya pada Roro.

"Roro. Bagaimana dengan kondisi tubuhmu? Jika kau bisa bergerak, aku ingin meminta bantuanmu untuk mengawal Dely."

"Terkait masalah luka, Anda tidak perlu khawatir. Bahu kanan saya memang masih belum bisa digerakkan, namun orang-orang di keluarga Dubell mahir menggunakan kedua belah tangan."

"Kalau begitu, sebelum kembali ke Kastil Lowenstein, bawalah Dely untuk mampir ke pasar."

"Hamba laksanakan."

"Heartland, aku juga meminta bantuanmu untuk berjaga-jaga. Ikutilah mereka."

"Siap! Dimengerti."

"Dely. Hanya sampai matahari membubung tinggi, ya? Setelah selesai, kembalilah ke kastil untuk bersiap pulang."

"Kyaaa! Terima kasih Ayah, aku menyayangimu!"

Di balik dinding, terdengar suara cipratan air yang melonjak.

"Sang putri sangat mahir dalam bernegosiasi, ya."

Shimei tertawa, dan Bado mengangkat bahunya seraya menghela napas.

"Ya ampun, masa depannya layak untuk dinantikan."

"Kyaaa! Hei, lihat ini! Berkilauan warna emas!"

Delirium berjalan dengan suasana hati yang sangat ceria melintasi pasar Yellow Market, yang kemarin hanya bisa ia pandang dari dalam kereta kuda.

Sambil mengangkat sepotong roti gandum hitam yang dilumuri banyak madu, ia menoleh ke belakang dengan langkah kaki yang melonjak riang.

Madu yang berkilauan diterpa sinar matahari pagi tampak persis seperti batu permata, bukan?

Delirium yang memenuhi mulutnya dengan roti menempelkan tangan di pipinya yang memerah.

"Mmm~ bahagianya."

Delirium berjalan mundur. Di belakangnya, Roro dan Cappuccino mengikuti dalam dua barisan.

"Anda sudah memakannya, Putri," ucap Cappuccino seraya menyipitkan matanya dengan nada menyalahkan.

"Makan sambil berjalan itu tidak sopan, lho," tambah Roro.

Heartland yang berjalan di barisan paling belakang memperingatkan Delirium dari atas kepala mereka berdua.

"Putri, tolong menghadap ke depan saat berjalan. Anda bisa terjatuh nanti."

Delirium menjawab dengan patuh, "Baik~" lalu memutar tubuhnya untuk terus berjalan ke depan.

Di dadanya, ia memeluk sebuah botol yang penuh berisi madu. Itu adalah madu yang baru saja dibelinya di pasar beberapa saat lalu. Tampaknya ia tidak bisa menahan diri hingga kembali ke kastil, dan sudah membukanya.

Demi menghindari masalah yang tidak perlu, Delirium mengenakan pakaian layaknya gadis kota biasa.

Rok panjang yang dihiasi motif tanaman rambat pada bagian ujungnya. Rambut pirangnya yang indah dan mencolok disembunyikan di balik penutup kepala.

Namun meski begitu, tampaknya pesonanya tetap sulit untuk disembunyikan, banyak dari para pria yang berpapasan menoleh melihat senyuman polosnya dengan madu yang menempel di pipi.

Setiap kali hal itu terjadi, Heartland akan menatap tajam untuk mengusir mereka.

Jalan tengah pasar dipenuhi oleh lalu lalang banyak orang.

Di kedai-kedai yang berjejer di kedua sisi jalan kecil, terpampang buah-buahan berwarna cerah dan ikan dengan bentuk yang aneh.

Ada juga beberapa kedai permainan seperti anak panah atau undian. Pemilik kedai bertepuk tangan untuk menarik pelanggan. Pasar dipenuhi oleh kegaduhan dan keramaian yang riuh.

"……Ah. Jikalau tahu akan berjalan di pasar, harusnya aku juga membawa pakaian biasa, ya."

Cappuccino memandang pakaian pelayannya sendiri sambil memanyunkan bibirnya. Rambut hitamnya yang dipotong rata masih tampak basah karena baru saja selesai mandi beberapa saat lalu.

"Hanya aku sendiri yang berpakaian seperti ini, rasanya mencolok sekali."

Roro yang berjalan di samping Cappuccino menyamar sebagai warga kota biasa. Mengenakan kemeja berwarna redup, dengan karung rami di tangannya.

Heartland juga memikul tombak yang ujungnya dibalut kain di bahunya, namun ia tetap mengenakan pakaian berbahan tipis. Layaknya warga kota yang kuat.

Hanya Cappuccino seorang yang tetap mengenakan pakaian pelayan dengan celemek putih berumbai dan rok panjang seperti biasanya. Di kepalanya terpasang white brim.

"Bukankah tidak apa-apa? Lagipula,"

Roro mencoba menenangkan Cappuccino yang tampak murung.

"Rasanya seperti seorang pelayan mungil yang bekerja di kediaman sekitar."

"Jangan sebut aku mungil."

Cappuccino melirik Roro dengan wajah cemberut. Ia merasakan adanya sedikit keanehan yang tidak biasa dari cara berjalan Roro.

"……Apakah tubuhmu masih terasa sakit?"

"Begitulah. Mungkin ada keretakan pada tulang rusukku…… Sebenarnya, setiap kali melangkahkan kaki rasanya sakit sekali sampai ingin menangis."

"Apakah kau bodoh…… Padahal pengawalan Putri bisa diserahkan pada para kesatria, dan kau tinggal tidur untuk beristirahat."

"Tidak apa-apa. Jikalau majikan menyuruh untuk pergi, ke mana pun arahnya tugas anjing adalah melangkah."

Roro melepaskan tawa, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.

"Lagipula aku juga kebetulan ingin membeli madu sebagai oleh-oleh untuk kakek."

"Madu semacam itu…… jikalau kau bilang, aku bisa membelikannya sebagai gantimu, padahal."

"Wah. Hari ini kau tidak biasanya bersikap lembut begini, menyeramkan. Ada apa, suasana hatimu sedang bagus?"

"Mau kutusuk, ya? Aku juga bisa bersikap lembut pada orang yang sedang terluka, tahu."

Cappuccino menatap tajam ke arah Roro. Di tangannya, cakar Direwolf yang diberikan oleh Roro tampak tergenggam.

"Kau masih menyimpannya, ya. Padahal lebih baik segera dijual saja."

"Nanti jikalau butuh uang saja. Benda ini bisa jadi jimat, kan? Tampaknya juga bisa digunakan sebagai senjata darurat. Aku lumayan menyukainya."

Cappuccino menjepit cakar tersebut di antara jari-jarinya, lalu mengayunkan dengan gerakan shush, shush.

"Hei, lihat, Roro! Ada yang aneh, tuh!"

Delirium menoleh. Arah yang ditunjuknya adalah seekor hewan besar berkaki empat. Memiliki punuk di punggungnya. Pedagang keliling yang menarik kendalinya menutupi seluruh kepalanya dengan kain.

"Itu adalah hewan yang bernama unta. Pedagang keliling itu tampaknya merupakan kaum pengembara yang membentuk karavan untuk menjajakan komoditas dagangnya. Mungkin mereka datang dari arah selatan."

"Hee. Apakah dagingnya enak, ya?"

"Dagingnya tidak untuk dimakan, kok. Kudengar pada dasarnya itu adalah hewan yang dikendarai layaknya kuda di padang pasir."

"Hee!"

Setiap kali menemukan hal yang aneh atau menarik perhatiannya, Delirium akan selalu menoleh ke arah Roro.

Saat berpapasan dengan sepasang suami istri yang sekujur tubuhnya berwarna hijau mulai dari topi, pakaian, hingga rambut, ia menaikkan suaranya karena takjub, "Wah."

"Kau lihat yang tadi? Bahkan ujung kukunya pun diwarnai hijau, lho!"

"Mungkin mereka adalah pelancong dari Negeri Oz. Kudengar di salah satu ibu kota negara tersebut, tren fesyen mewarnai sekujur tubuh dengan warna hijau sedang populer…… Kabarnya seluruh kota berwarna hijau, lho."

Roro memberikan penjelasan berdasarkan batas pengetahuan yang dimilikinya setiap kali Delirium menoleh.

"Roro, lihat itu! Ada orang yang aneh berdiri di sana!"

Delirium menghentikan langkahnya. Di arah yang ditunjuknya berdiri seorang pria mencurigakan dengan topeng dan tudung kepala. Sambil melambai-lambaikan ujung jubahnya yang terlalu besar, ia menaikkan suaranya, "Apakah Anda ingin buang hajat, apakah Anda ingin buang hajat~"

"Itu adalah toilet umum berjalan."

"Toilet umum berjalan!? Wow."

"Lihat, di dekat kakinya ada dua buah ember, kan? Orang-orang akan duduk di atasnya untuk buang hajat. Lalu pria itu akan menutupi dan menyembunyikannya menggunakan ujung jubah besarnya──"

Roro mendadak menghentikan kalimatnya.

"Hee. ……Dely tidak akan sudi menggunakannya sampai mati."

"Benar juga."

Roro merespons seraya tersenyum. Namun di sisi lain, di sudut pandang matanya, ia menangkap sosok seseorang. Seorang pria bertubuh besar yang menghadapkan sebagian badannya kemari sambil mengunyah roti gandum hitam di depan kedai.

Ini adalah ketiga kalinya Roro melihat sosok pria tersebut sejak berkunjung ke pasar. Di pintu masuk pasar. Saat mulai berjalan di jalan tengah. Dan sekarang. Dalam rentang waktu yang singkat, jumlahnya terlalu banyak untuk sebuah kebetulan. Ada potensi ia sedang dibuntuti.

"Terlepas dari hal itu, Putri~……"

Cappuccino mengeluarkan suara manja ke arah Delirium.

"Apakah perut Anda tidak lapar? Bukankah sekarang sudah memasuki waktu makan siang?"

"Aku sama sekali tidak lapar, kok."

"Itu karena Putri makan sepanjang jalan!"

Melihat Cappuccino yang mengomel dengan kesal, Delirium melepaskan tawa geli.

"Mau bagaimana lagi, ya. Kalau begitu mari kita cari restoran."

"Hore, daging! Saya ingin makan daging!"

"Tadi saya melihat ada papan penanda segitiga di tepi jalan."

Heartland menyela percakapan mereka berdua.

"Restoran bernama Jambul Merah Membara seharusnya berada di ujung jalan lurus ini."

"Anu…… mohon maaf."

Roro mengangkat tangannya sedikit.

"Ada barang yang lupa kubeli. Tuan Heartland, bisakah kutitipkan Putri padamu?"

"Ada yang lupa dibeli? Apa itu? Mau kutemani?"

"Ah…… tidak, tidak apa-apa. Silakan jalan duluan saja ke restoran."

"Hmm……? Memangnya kau mau beli apa?"

Heartland merasa curiga dengan sikap samar Roro.

"Pahami sendirilah, Heartland," ucap Delirium memberikan bantuan.

Ia mendekati Roro, lalu membisikkan sesuatu dengan pelan.

"……Roro, segera kembali setelah selesai dari toilet, ya?"

"Haha……"

"Ayo, kita jalan duluan."

Delirium yang tampaknya berasumsi bahwa Roro ingin pergi ke toilet, menarik lengan Heartland dan Cappuccino untuk mulai berjalan. Ke arah punggung tiga orang yang menjauh, Roro melambaikan tangan kecilnya.

──Nah.

Roro memperhatikan bagaimana pergerakan pria bertubuh besar yang ditangkap oleh sudut matanya tersebut.

Pria besar itu melepas kepergian Delirium dan yang lainnya dengan pandangan matanya, namun tidak berniat untuk mengikuti mereka. Apakah kecurigaan bahwa ia dibuntuti hanyalah asumsi sepihak dari Roro saja? Atau jangan-jangan──

──Targetnya adalah diriku……?

Roro mengubah arah langkahnya, berjalan menuju kedai perdagangan. Ia memperpendek jarak mendekati pria besar yang sedang mengunyah roti gandum hitam tersebut.

Pria besar itu jelas-jelas menunjukkan kegelisahan. Tingginya setara dengan Heartland. Bahunya bidang, dengan perut yang buncit membesar. Karena janggut yang menutupi bagian bawah wajahnya, ekspresinya sulit dibaca, namun ia tampak terkejut melihat Roro yang mendekat. Ia langsung menelan rotinya sekaligus, lalu melangkah pergi meninggalkan kedai seraya berlari.

"..."

Roro meyakininya. Pria besar itu memang sedang membuntutinya.

Roro menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sakit yang menusuk tulang rusuknya, lalu melesatkan kakinya maju.

Melintasi jalanan yang dipenuhi lalu lalang orang, pria besar itu berlari menyelinap di antara kerumunan. Kecepatannya tergolong luar biasa. Melakukan langkah manuver dan memiringkan tubuhnya untuk menghindari rintangan. Gerakan lincah yang membuat ukurannya yang besar terasa semu. Siapa sebenarnya orang ini──

Roro mengejar punggung besar tersebut, berlari melintasi pasar dengan deretan tenda kuning yang berjajar.

Di saat itu, ia merasakan adanya aroma yang familier. Ini adalah──aroma binatang yang diendusnya saat menyerang kereta barang tadi malam. Aroma dari orang yang melemparkan kapak genggam ke arah Figaro── Di pinggang pria besar itu tergantung dua bilah kapak genggam.

Pria besar itu memutar di jalan tengah, berlari melewati jalan kecil di antara kedai-kedai perdagangan. Roro mengikuti dari belakang. Jarak mereka berdua semakin lama semakin terkikis. Begitu keluar dari jalan kecil, area jalanan yang terbuka terhampar. Itu adalah jalan utama Lowe, Jalan Kemenangan. Pria besar itu mulai menyeberangi jalanan yang dilalui oleh lalu lalang kereta kuda.

Roro juga ikut keluar ke jalanan mengejarnya. Lengan yang diulurkannya hampir saja berhasil menjangkau punggung besar pria itu, namun di detik berikutnya──sang pria besar mencengkeram bagian belakang kereta kuda yang melintas di dekatnya, lalu melompat naik.

Tangan Roro menggapai ruang kosong.

Dengan posisi bersandar pada kereta kuda, pria besar itu melaju lurus melintasi Jalan Kemenangan meninggalkan lokasi. Kecepatannya sama sekali tidak bisa dikejar hanya dengan berlari. Roro yang berdiri mematung di tengah Jalan Kemenangan terpaksa melepas kepergian kereta kuda tersebut.

"..."

Namun, menyerah di sini rasanya menjengkelkan. Roro mengikat karung rami yang dipegangnya ke pinggang dengan cepat. Kemudian sambil mengabaikan rasa sakit di bahu kanan dan tulang rusuknya, ia berlari mengejar kereta kuda.

Dari arah belakang Roro yang sedang berlari di Jalan Kemenangan, seekor kuda melintas hendak mendahuluinya.

Tepat di detik kuda itu melintas di sampingnya, Roro mencengkeram pelana kuda tersebut, lalu dengan cekatan memanjat naik ke atas kuda.

"Apa……!? Siapa kau……!"

Sosok yang menungganginya adalah seorang pedagang keliling yang masih muda. Roro yang duduk di belakang punggungnya bergumam, "Mohon maaf," lalu menyelinapkan tangannya dari bawah ketiak sang pedagang untuk mencengkeram kendali kuda. Ia tidak menendang jatuh warga yang tidak bersalah tersebut. Dengan posisi tetap membiarkannya duduk di atas kuda, ia menghentak perut kuda menggunakan pijakan kakinya di atas kaki sang pedagang, memacu kuda untuk melesat cepat.

Mengeluarkan ringkikan tinggi, kuda yang kecepatannya semakin meningkat pesat mengejar kereta kuda yang melaju di depan. Pedagang keliling memekik, "Hih." Ritme hentakan kaki kuda yang memukul jalanan berbatu semakin cepat.

Roro menyipitkan matanya menembus embusan angin. Arah tujuan pandangannya tertuju pada kereta kuda tempat pria besar itu bersandar──

Begitu kuda berhasil mengejar kereta, Roro mengembalikan kendali kuda kepada sang pedagang, lalu berdiri di atas pelana.

Dari jendela kereta kuda yang melaju berdampingan, para wanita terhormat tampak melihat ke arahnya penuh keheranan. Menuju ke arah atap kereta tersebut, Roro melompat tinggi.

Sosok yang membuka mulutnya karena terkejut adalah pria besar yang bersandar di kereta. Pria yang seharusnya sudah berhasil dihindarinya justru sudah berada tepat di atas kepalanya. Ia buru-buru melepaskan genggaman tangannya dari kereta, lalu melompat ke tepi Jalan Kemenangan.

Pria besar itu berguling-guling di atas jalanan berbatu. Roro juga ikut melompat dari atas atap mengejar pria tersebut.

──Namun, ke arah Roro yang melompat di udara, sebuah kapak genggam dilemparkan oleh pria besar tersebut.

Roro memutar tubuhnya di udara, menghindar dari kapak genggam di detik-detik terakhir.

Di momen tersebut──Roro yang melirik kapak genggam yang berputar menangkap bentuk unik dari gagang kapak tersebut.

Mendarat di atas jalanan berbatu, Roro mengernyitkan wajah akibat guncangan yang mengikis tulang rusuknya.

Namun tidak ada waktu untuk meratapi rasa sakit. Kapak genggam itu──benda dengan gagang yang melengkung tidak wajar tersebut bukan kapak untuk menebang kayu. Itu adalah senjata lempar yang dilemparkan layaknya bumerang. Artinya──

──Akan kembali.

Roro berbalik ke belakang, menangkap kapak genggam yang berputar kembali ke arahnya. Ia langsung berguling di atas jalanan berbatu untuk mengalirkan dampak guncangan dari kapak tersebut. Ia bangkit berdiri untuk memastikan keberadaan sang pria besar.

Pria itu ternyata sudah berlari menuju gang dari tepi Jalan Kemenangan.

"..."

Aksi kejar-kejaran tampaknya masih berlanjut. Roro menundukkan kepala sambil memegang kapak genggam di tangannya, namun segera melangkahkan kakinya maju.

Delirium, Cappuccino, dan Heartland berada di restoran Jambul Merah Membara.

Itu adalah kedai yang di bagian pintu masuknya terlukis ayam dengan jambul merah berukuran sangat besar. Di dalam aula luas yang sanggup menampung lebih dari seratus orang, meja-meja persegi tampak diletakkan di beberapa titik. Kedai dipenuhi oleh keramaian banyak pelanggan.

Di dekat kaki para pelayan yang lalu lalang di sela-sela kursi, anjing-anjing liar tampak berkeliaran untuk memancing belas kasihan. Di atas lantai, tulang-tulang dengan sisa daging yang menempel dan serpihan roti tampak berserakan.

Rombongan Delirium menduduki kursi di dekat bagian tengah aula.

Di atas meja, hidangan makanan diantarkan satu per satu secara berturut-turut.

"Wah! Kelihatannya enak, ya!"

Melihat iga panggang yang dipotong dalam ukuran besar, Cappuccino menaikkan suaranya karena takjub. Di atas meja juga tersaji kol asam dan sup sayur yang kental. Di hadapan Delirium dan Heartland diletakkan hidangan omelet telur ayam yang dipadukan dengan potongan daging ikan kod.

"Bisa menyantap ikan bahkan di kedai makan biasa, memang tidak salah negara perdagangan, ya."

"Ikan-ikan yang langka memang banyak dijual di pasar juga, ya."

Ikan segar yang mudah membusuk akan menjadi komoditas mewah jika dikirim ke negara yang jauh dari lautan. Di Campusfellow, ini adalah hidangan yang tergolong jarang bisa disantap.

Di bagian dalam aula terdapat panggung pertunjukan, dan sebuah teater rakyat sedang dilangsungkan di sana. Tema pertunjukannya tampaknya merefleksikan kondisi sosial saat ini, di mana di antara jajaran karakter yang muncul ada yang menggunakan nama peran layaknya Raja Singa atau Permaisuri. Judul dari pertunjukan tersebut bernama Putri Salju.

"Cermin, oh cermin! Siapa gerangan wanita paling cantik di dunia ini?"

Witches jahat yang menipu raja demi menjadi permaisuri bertanya pada cermin besar yang tergantung di dinding.

"Sosok itu adalah Putri Salju, yang memiliki kulit seputih salju, pipi semerah darah, dan rambut hitam berkilau bak kayu ebony. Wahai Permaisuri──"

Witches yang murka mendengar jawaban cermin mengusir Putri Salju dari kastil.

Isi pertunjukan yang mengingatkan pada sosok Snow White yang hilang sejak insiden Pernikahan Berdarah.

Putri Salju yang diusir dari kastil dan tersesat di dalam hutan akhirnya bertemu dengan tujuh orang penambang batubara.

"Lho. Para pemeran itu adalah kaum Duergar, lho."

Ucap Heartland sambil melihat ke arah para penambang yang muncul di atas panggung.

Para penambang yang memikul beliung dan mengenakan topi kerucut seraya bernyanyi dengan riang semuanya berpostur tambun dan pendek. Kaum Duergar yang berhidung besar dan bertubuh pendek memiliki karakteristik yang khas, bisa langsung dikenali hanya dari penampilannya.

"Hee. Ada kaum Duergar di negara milik orang-orang Transmare, ganjil juga, ya."

Delirium berkata sambil memotong omeletnya.

Kaum Duergar adalah salah satu jenis penduduk asli yang telah mendiami benua sejak zaman dahulu kala. Karakteristik penduduk asli lainnya meliputi orang-orang Varcia dari Negara Utara, dan Kaum Elf. Sebaliknya, masyarakat di Kerajaan Lowe dan Campusfellow adalah orang-orang Transmare. Ras yang bermigrasi dari luar benua sekitar tiga ratus tahun lalu.

Bagi para penduduk asli, orang-orang Transmare adalah penjajah. Karena alasan itulah secara umum dikatakan bahwa penduduk asli dan orang-orang Transmare tidak bisa berjalan beriringan. Menemukan penduduk asli yang mendiami gunung salju atau kedalaman hutan di negara yang dipimpin oleh orang Transmare seperti Lowe merupakan hal yang ganjil.

Hal itu mungkin juga merupakan karakteristik khas dari negara perdagangan tempat berkumpulnya berbagai macam ras.

"Saya baru pertama kali melihat kaum Duergar,"

ucap Cappuccino setelah menelan iga panggangnya.

"Tubuh mereka kuat dan panjang umur, kan?"

"Iya. Kabarnya mereka sangat tangguh dan kuat."

Heartland memiringkan gelas anggurnya.

"Kudengar saat Perang Empat Binatang Buas dulu, pasukan militer Duergar juga sangat ditakuti."

"Eh, apakah kaum Duergar juga ikut bertempur di Perang Empat Binatang Buas?"

"Bagaimana sih, Cap. Kau ini mengabdi di keluarga Grace tapi tidak tahu mengenai Perang Empat Binatang Buas."

"Tentu saja tahu, kalau cuma hal itu."

Cappuccino cemberut.

"Perang besar yang terjadi di masa lalu, kan?"

Perang Empat Binatang Buas adalah pertempuran yang pecah di antara sesama orang Transmare.

Sekitar tiga ratus tahun lalu, orang-orang Transmare yang merampas benua dari tangan penduduk asli mendirikan beberapa negara di berbagai wilayah. Di antaranya, negara terbesar dengan kekuatan militer terkuat bernama Negara Awal Lupus. Negara ini dipimpin oleh sebuah keluarga kerajaan. Keluarga Lupus yang mengibarkan lambang keluarga bergambar serigala.

Keluarga Lupus menikmati kemakmuran dalam jangka waktu yang lama.

Mereka menyerap negara-negara sekitar dan memperluas wilayah kekuasaannya secara perlahan.

Namun lima puluh tiga tahun lalu──

Ada bawahan yang mengibarkan bendera pemberontakan melawan Keluarga Lupus. Keluarga Coody yang mengibarkan lambang keluarga bergambar naga putih.

Memanfaatkan situasi perang saudara tersebut, Kerajaan Lowe turut terjun bertempur demi memperluas wilayah kekuasaannya.

Orang-orang Transmare yang mendiami benua pun terbagi menjadi tiga kubu untuk saling bertempur.

"Keluarga Grace kita berada di kubu Keluarga Lupus, kan. Bukankah perang itu adalah pertempuran di antara sesama orang Transmare? Tidak ada kaum Duergar di sana, kan."

"Bukan, masih ada satu kubu lagi."

Heartland mengangkat jari telunjuknya ke arah Cappuccino.

"Memanfaatkan kekacauan perang, para penduduk asli membentuk aliansi dan turut terjun bertempur demi mengusir orang-orang Transmare. Aliansi Dricia Timur. Sebuah organisasi yang berpusat pada orang-orang Varcia dari Negara Utara, dan kaum Duergar juga termasuk di dalamnya."

"……Hohe. Begitu rupanya."

"Keluarga Lupus dengan serigala, Keluarga Coody dengan naga putih, Keluarga Lowe dengan singa, dan sebaliknya Aliansi Dricia Timur mengibarkan bendera aliansi bergambar paus pembunuh. Empat binatang buas saling menatap tajam. Karena itulah disebut Perang Empat Binatang Buas."

Perang Empat Binatang Buas yang dimulai lima puluh tiga tahun lalu berlangsung selama dua belas tahun.

Pihak yang menumbangkan Keluarga Lupus dan merampas wilayah kekuasaannya yang luas adalah Keluarga Coody.

Di tengah pertempuran, Keluarga Coody membuang kepercayaan yang sudah mengakar lama di kalangan orang Transmare, dan berpindah keyakinan ke agama Lucy yang memuja naga sebagai tuhan. Langkah mendapatkan kekuatan militer yang besar berupa sihir menjadi faktor penentu kemenangan yang mendominasi negara lain.

Negara besar yang dipimpin oleh Keluarga Coody inilah yang sekarang menjadi Kerajaan Amelia.

"……Jikalau dipikir-pikir, hubungan antara Kerajaan Lowe dan Campusfellow agak canggung, ya."

Delirium bergumam sambil menopang sebelah sikunya di atas meja. Di dekat kakinya, seekor anjing mendekat untuk memancing belas kasihan. Delirium memotong daging ikan kod menggunakan garpu, lalu melemparnya ke lantai. Anjing itu mengendus seraya langsung melahapnya.

"Kubu Lowe pun seharusnya menganggap Kerajaan Amelia yang tumbuh terlalu besar sebagai ancaman, kan? Jikalau demikian, kita seharusnya menyatukan kekuatan. Merebut Witches, menipu…… rasanya ini bukan saatnya bagi kita untuk saling bermusuhan."

"Hubungan antarnegara tampaknya tidak bisa berjalan semudah itu."

"Hmm. Jikalau aku, aku pasti akan memilih berteman baik. Karena hal itu kan demi kebaikan bersama."

Namun meski begitu, Delirium memasang wajah masam.

"Mungkin aku tidak akan bisa berteman baik dengan Omura. Benar juga, harusnya Snow White saja yang menjadi Raja Singa berikutnya. Jikalau demikian, sesama anak perempuan pasti bisa berteman akrab."

"……Jikalau dia masih hidup, hal tersebut mungkin saja bisa terjadi, ya."

Heartland bergumam dengan nada sedih.

"Apa-apaan nada bicara seolah dia sudah mati itu. Kan belum dipastikan, kan?"

"Ya memang begitu, sih, namun……"

Beberapa saat lalu di rapat rahasia pemandian besar, baru saja dibicarakan bahwa Snow White kemungkinan besar sudah mati. Heartland sendiri menganggap potensi tersebut sangat besar.

"Semoga saja dia masih hidup, ya."

Ucapan Cappuccino seraya berbalik menghadap ke arah panggung di depannya.

"Kudengar dia itu sangat cantik, lho. Aku juga ingin melihat wujud aslinya."

Di atas panggung, Mirror Witch yang menyamar sebagai nenek tua tampak berkunjung ke rumah satu lantai milik para penambang di dalam hutan. Ia mengetuk pintu pendek yang disesuaikan dengan ukuran tubuh para penambang sambil membungkukkan pinggangnya.

Lalu Putri Salju yang sedang menjaga rumah memunculkan wajahnya, "Siapa gerangan."

Kulitnya seputih salju, pipi dan bibirnya semerah darah, dan rambutnya berkilau bak kayu ebony. Putri Salju yang polos dan suci melangkah keluar menuruti perkataan si nenek tua.

Ia lalu menerima apel merah yang disodorkan tanpa menaruh kecurigaan sedikit pun.

"Wah. Apel yang tampak sangat lezat──"

Putri Salju berada di tengah panggung. Sambil menatap ke arah kursi penonton, ia menggigit apel beracun tersebut perlahan.

Arah pelarian pria besar itu adalah sebuah gang sempit yang diapit oleh bangunan bata merah. Anak tangga yang masing-masing berjumlah tiga tingkat tampak berjajar di beberapa titik, membentuk jalanan menanjak yang landai.

Sambil melompati anak tangga dalam sekali lompat, Roro mengejar punggung pria besar tersebut.

Di atas kepala, tali jemuran tampak membentang dari jendela ke jendela bangunan di kedua sisi. Tali jemuran yang dipenuhi pakaian dan seprai yang dijemur membentang dalam jumlah tak terhitung sebanyak jumlah jendela, memunculkan bayangan kain yang bergoyang ditiup angin di dalam gang.

Kecepatan berlari pria besar itu tidak menurun. Sebaliknya, stamina Roro yang lukanya belum sembuh total sudah hampir habis. Rasanya dampak kerusakan terus terakumulasi hanya dengan berlari.

Roro kembali mengendus aroma khas yang dipancarkan oleh pria besar tersebut.

"..."

Gerakan tubuh yang lincah, ditambah senjata lempar berupa kapak genggam. Menyembunyikan keberadaannya tergolong sangat mahir, namun tetap saja aroma khasnya tidak bisa disembunyikan seluruhnya. Pada umumnya ia tidak perlu menyembunyikan aroma binatang tersebut. Karena medan pertempuran utamanya adalah hutan. Roro menyadari profesi dari pria besar itu.

Ia adalah seorang pemburu. Tampak memiliki rasa percaya diri yang tinggi akan staminanya. Roro ingin segera menuntaskan hal ini secepat mungkin.

Sambil berlari cepat, Roro menarik napas dalam-dalam, bersiap menahan rasa sakit di tubuhnya.

Ia melangkahkan kakinya lebar-lebar, semakin meningkatkan akselerasi. Melakukan lompatan segitiga memanfaatkan dinding gang yang sempit, ia mencengkeram tali jemuran yang membentang di lantai dua. Membuat tali melengkung layaknya busur panah, ia melesat di udara memanfaatkan daya lenturnya. Dengan teknik yang sama, ia mencengkeram tali jemuran di lantai tiga yang membentang di depan, lalu melompat di udara.

Sambil melompat maju dari tali jemuran ke tali jemuran, ia menendang dinding samping, melewati bagian atas kepala pria besar yang sedang berlari. Kemudian, ia mendarat di depan pria tersebut.

"……Lho!?"

Melihat Roro yang mendadak turun di depan matanya, pria besar itu menghentikan langkahnya.

Pria besar itu memutar tumitnya, dan Roro buru-buru melemparkan kapak genggamnya.

Kapak genggam berputar dengan gerakan shurushurushuru, melintas tepat di samping wajah pria besar itu. Ia tersentak oleh momentum tersebut dan mematung sesaat. Memanfaatkan celah yang teramat singkat itu, Roro mencengkeram tangan besar sang pria.

"Tolong tunggu sebentar."

"Cih……!"

Pria besar itu berbalik.

Melihat tubuhnya yang besar di hadapan mata, rasanya seperti sedang berhadapan dengan seekor beruang.

"Kenapa kau membuntutiku? Siapa sebenarnya dirimu?"

"……! Tidak akan kubilang!"

Pria besar itu mendorong Roro menggunakan tenaga kasarnya. Punggung Roro menghantam dinding, membuatnya mengerang kecil.

Pria besar itu berbalik hendak melarikan diri kembali lewat jalan yang dilaluinya tadi──namun tepat di depan matanya, kapak genggam yang dilemparkan Roro sebelumnya tampak berputar kembali ke arahnya.

"!? Uwah……!!"

Kapak genggam menghantam telak dahi pria besar itu, membuatnya tumbang terlentang.

Roro menahan rasa sakit di tubuhnya seraya meletakkan tangan di pinggang.

"……Aku hanya ingin bicara. Tolong jangan melarikan diri."

"……Tidak bisa dipercaya. Bagaimana cara kau melakukannya tadi?"

Pria besar yang membangunkan tubuhnya bergumam sambil menatap kapak genggam yang berguling. Bagian yang menghantam dahi pria besar itu bukan bilah tajam kapak, melainkan bagian belakangnya. Bagian kepala kapak.

Tepat di detik kapak genggam mendekati wajahnya, pria besar itu sudah bersiap kepalanya akan hancur terbelah. Namun hal itu tidak terjadi. Itu murni karena Roro tidak memiliki niat untuk membunuhnya.

Melumpuhkan mangsa tanpa membunuhnya──pria besar itu terkejut melihat metode lempar yang spesial tersebut. Kapak genggam untuk melempar sejatinya dibuat agar bilah tajamnya menancap dalam pada mangsa. Lengkungan gagangnya juga didesain untuk penggunaan seperti itu. Memutarnya dengan arah terbalik dan membuatnya kembali layaknya bumerang merupakan teknik tingkat tinggi yang disebut lemparan terbalik. Bukan keahlian yang bisa dikuasai hanya dengan pelatihan setengah-setengah.

"……Apakah kau seorang pemburu?"

"Bukan, saya seekor anjing pemburu, kok."

"……Kau tidak membunuhku?"

"Tidak ada alasan untuk membunuh Anda. Semalam Anda sudah melemparkan kapak genggam untuk menyelamatkan saya, kan. Saya tidak akan membunuh orang yang sudah menyelamatkan nyawa saya, kok. Saya murni hanya ingin mengobrol saja."

"..."

Pria besar itu menundukkan kepala, tampak memikirkan sesuatu sejenak, namun tak lama kemudian ia memungut kapak genggamnya dan bangkit berdiri.

"……Mungkin kau bukan orang jahat…… Mau kah kau bertemu dengan Putri?"

"Putri?"

Roro memiringkan kepala sedikit. Pria itu mengucapkan nama dari seseorang.

"Iya. ……Snow White Lowe."

Dari kandang kuda yang berada di dalam area Kastil Lowenstein, kuda-kuda milik Campusfellow dikeluarkan satu per satu secara berturut-turut. Untuk memuat barang bawaan dan bersiap pulang.

Bado melihat proses para kesatria Besi dan Api menarik kuda-kuda dari tempat yang agak jauh. Ia berdiri sambil melipat tangan di dekat pilar koridor luar yang memiliki atap.

Langit yang ditatapnya tanpa disadari telah tertutup oleh awan tebal. Suara gemuruh petir yang terdengar di kejauhan membuat fokusnya teralih. Tampaknya hujan akan segera turun.

"……Tuan Bado."

Mendadak dipanggil, Bado menoleh ke belakang. Roro tampak berdiri dengan menundukkan pandangannya.

"Oh, kau sudah kembali, ya. Apakah Dely dan yang lainnya juga sudah kembali?"

"Iya. Mereka sudah mulai bersiap di kamar untuk pulang."

"Begitu. Apakah anak itu merasa puas?"

"Tampaknya demikian. Ia membeli banyak madu."

"Baguslah kalau begitu. Jikalau dia merasa senang, aku bisa menganggap ekspedisi ini tidak sepenuhnya sia-sia. Kau juga bersiaplah untuk pulang."

"Baik. Namun sebelum itu,"

Roro menaikkan wajahnya, melangkah satu langkah mendekati Bado. Kemudian ia mengecilkan suaranya.

"Ada seseorang yang ingin saya pertemukan dengan Anda."

"Siapa?"

"Jika di tempat ini……"

"……Hmm."

Bado menatap balik Roro yang memasang ekspresi serius, lalu mengelus janggut dagunya.

Tetesan air hujan yang mulai turun satu per satu menciptakan bercak noda di atas jalanan batu.

Masing-masing menunggangi seekor kuda, Roro memimpin jalan di depan Bado. Dua orang yang mengenakan jubah dan mengenakan tudung kepala dalam-dalam tersebut melaju melintasi tengah kota di bawah guyuran hujan yang deras.

Dari kawasan pemukiman dengan deretan bata merah, mereka berbelok menuju gang sempit yang tampak tidak tersentuh sinar matahari.

Bado mengikuti di belakang Roro, melihat ke sekeliling dari atas kuda. Di bawah bumbung rumah di tepi jalan, anak-anak berambut tipis dengan pipi kempis tampak berteduh dari hujan. Tidak ada satu pun yang berbicara, mereka hanya menatap ke arah sini lekat-lekat.

Di bawah bumbung rumah yang lain, seorang wanita tampak mendekam. Rambutnya berantakan, dan kulitnya rusak. Ia mengulurkan tangannya ke arah sini, menjajakan jasanya dengan suara yang serak, "Bagaimana, Mas~"

Dari jendela rumah-rumah yang berdiri rapat di dalam gang, sekilas terlihat kamar para penduduk. Sebuah ruangan sederhana yang tidak memiliki apa-apa. Di atas ranjang yang hanya berupa bentangan papan, seorang pria kurus kering tampak tertidur.

"……Tempat ini rasanya sangat kumuh, ya."

"Ini adalah kawasan kumuh Lowe, Kota Abu."

Jawab Roro sambil berbalik merespons gumaman Bado.

Begitu melewati gang sempit, area terbuka terhampar. Sebuah lapangan gundul yang hanya ditumbuhi rumput di beberapa titik. Mengelilingi tempat tersebut, beberapa rumah sederhana berbahan gips tampak berdiri saling berhadapan.

Roro menghentikan kudanya di depan salah satu rumah tersebut.

"Di sini tempatnya."

Rumah tersebut memiliki bumbung yang menonjol besar, dan area di bawah bumbung tampak terang remang-remang. Di baliknya ada pintu masuk rumah yang menyerupai gua, dan sekat tirai yang terbuat dari jajaran manik-manik tampak menjuntai.

Tepat di saat mereka berdua turun dari kuda, mungkin karena mendeteksi adanya tanda keberadaan, penghuni rumah memunculkan diri dari balik tirai manik-manik.

Bado terkejut saat melihat pria paruh baya yang dipenuhi janggut tersebut. Karena sosoknya yang bertubuh pendek dan tambun merupakan seorang Duergar.

"Ini adalah Tuan Dundugu. Kabarnya beliau menjabat sebagai komandan kelompok teater di panggung restoran yang berada di pasar."

Roro memperkenalkan kepada Bado.

"Asalnya beliau adalah seniman keliling yang terdampar di Lowe, karena ini adalah negara milik orang Transmare sehingga tidak ada pekerjaan dan luntang-lantung di jalan, dan sosok yang merekomendasikannya ke restoran secara mengejutkan ternyata adalah Raja Singa sendiri."

Kaum Duergar dengan wajah tegas itu melangkah mendekati Bado, lalu mengulurkan tangannya.

"Aku Dundugu."

"Saya Bado Grace."

Bado menegakkan punggungnya, menjabat tangan Dundugu yang kasar. Saat bertukar salam dengan kaum Duergar, tidak boleh membungkuk atau menekuk lutut demi menyesuaikan sudut pandang mata mereka. Karena hal itu akan menjadi indikasi bahwa kita memandang rendah mereka. Bado yang mengetahui hal tersebut memosisikan diri setara, berinteraksi dengan tetap menegakkan punggungnya.

"Kaum Duergar tidak pernah melupakan budi yang diterima. Jikalau putri dari Raja Singa sedang kesulitan, kami pasti akan membantunya."

"……Begitu rupanya."

"Biar kuda-kudanya kumasukkan ke kandang. Berikan kendalinya."

Setelah berkata demikian, Dundugu menerima kendali kuda dari Roro dan Bado.

"Mari kita masuk."

Roro melepas jubahnya yang basah. Ia menyibak tirai manik-manik yang menjadi pintu masuk rumah.

"Putri Snow White telah menunggu."

Snow White Lowe terkenal sebagai seorang gadis yang cantik.

Memang tidak salah rumor yang beredar, begitu batin Bado saat melihat Snow White yang duduk di hadapannya mengapit meja. Kulitnya seputih salju, dan pipinya tampak merona merah. Rambut hitamnya yang dipotong rata sebahu, yang tergolong teramat langka bagi orang yang mengalir darah keluarga Lowe, tampak indah dan berkilau.

Postur duduknya yang menegakkan punggung memancarkan aura yang tidak menyerupai anak berusia delapan tahun.

Pertemuan dilangsungkan di ruang tengah.

Apakah bangunan rumah itu sendiri dibuat oleh orang Transmare sehingga langit-langitnya tidak terlalu rendah, namun meja yang digunakan sangat rendah karena disesuaikan dengan spesifikasi kaum Duergar. Kursinya juga berukuran kecil layaknya untuk anak-anak. Snow White yang bertubuh mungil bisa mendudukinya tanpa kesulitan, namun Bado terpaksa duduk dengan membuka lebar kakinya.

Karena tidak ada sumber cahaya membuat bagian dalam ruangan tampak terang remang-remang, dan suara hujan yang terus turun di luar terdengar menggema.

Di belakang Bado tampak Roro bersiaga, dan di belakang Snow White berdiri sang pemburu tadi.

Pria dengan tubuh besar tersebut bernama Diethelm. Seorang pemburu yang sudah sejak lama menyuplai daging buruan ke Kastil Lowenstein, dan tampaknya memiliki hubungan kedekatan dengan Raja Singa dan Snow White. Ia juga merupakan penyintas yang selamat dari insiden Pernikahan Berdarah sama seperti Snow White.

Roro baru saja berkunjung ke rumah ini setelah diundang oleh Diethelm beberapa saat lalu. Ia bertemu dengan Snow White, dan mendengar fakta yang sebenarnya mengenai insiden Pernikahan Berdarah. Di saat itu ia diajukan sebuah permintaan, namun karena hal tersebut bukan sesuatu yang bisa diputuskan oleh insting Roro sendiri, ia membawa serta Bado selaku majikannya.

"Tuan Margrave Bado Grace."

Ucap Snow White sambil tetap menegakkan punggungnya.

"Saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan Anda untuk datang langsung kemari di bawah guyuran hujan."

Snow White menundukkan kepalanya dengan takzim. Sebuah gestur yang indah. Mata berbentuk badam miliknya yang menggemaskan menatap tajam menghunjam ke arah Bado dengan membawa sedikit ketegangan dan kecerdasan.

"……Putri Snow White. Saya sampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya dari lubuk hati saya."

Bado merespons salam balik dengan memosisikan lawan bicaranya bukan sebagai anak berusia delapan tahun, melainkan sebagai seorang putri dari suatu negara.

"Kesedihan akibat kehilangan ayah di hari pernikahan yang seharusnya membahagiakan tentu tidak akan bisa terukur. Kami mendengar bahwa tindakan keji tersebut dipicu oleh ulah seorang Witches. Namun tampaknya ada kekeliruan, ya."

"Benar seperti yang Anda katakan. Teresalisa bukan seorang Witches."

Snow White menegaskan kalimatnya.

"Akan saya ceritakan. Mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu."

Raja Singa ke-18, Prius Lowe, tidak memiliki janggut.

Rambut pirang yang lembut, dengan postur tubuh yang tinggi. Pria di akhir usia dua puluhan ini juga mengayunkan pedang sebagai komandan Ordo Kesatria Singa Emas. Meskipun bertipe fisik dengan otot dada yang bidang, ia adalah seorang raja yang mahir dalam hal militer dan sastra, dengan hobi membaca kumpulan puisi.

Tidak hanya pada para menteri dan kesatria, ia yang berinteraksi tanpa membeda-bedakan bahkan pada para pelayan kastil dan warga kota dicintai oleh banyak orang. Senyuman segarnya yang tanpa janggut membuat para wanita terhormat menaikkan suara histeris mereka.

Namun karakteristik tidak memiliki janggut ini merupakan hal yang tidak biasa bagi seorang Raja Singa.

Di salah satu koridor Kastil Lowenstein, tujuh belas lembar lukisan potret dari para generasi Raja Singa terdahulu tampak dipajang berjejer. Pria-pria yang dilukis di sana semuanya memelihara janggut dagu berwarna emas yang megah.

Bagi anggota keluarga Lowe yang mengibaratkan diri mereka sebagai singa, surai emas adalah simbol otoritas. Bahkan dua orang Raja Singa wanita yang ada di dalam sejarah memamerkan otoritas mereka dengan melilitkan kalung yang tampak berat berlapis-lapis sebagai pengganti janggut dagu.

Tepat di saat Prius yang naik takhta di usia sepuluh tahun tumbuh menjadi pemuda, neneknya yang merupakan Ibu Suri Agung memerintahkannya, "Peliharalah janggut dagu." Demi membuat lukisan potret raja mengikuti jejak para generasi Raja Singa terdahulu. Namun Prius yang memandangi deretan lukisan potret para leluhur justru tertawa menganggapnya konyol.

Mereka semua terlihat seperti salinan dari Raja Singa pertama. Siluet janggutnya yang lembut, bahkan sudut wajah formal mereka semuanya sama. Jikalau diacak, kita tidak akan tahu siapa yang merupakan generasi keberapa, begitu pikirnya.

Neneknya yang merupakan Ibu Suri Agung murka mendengar gurauan Prius.

"Namun bukankah kenyatannya begitu," ucap Prius seraya membuka tangan ke arah lukisan potret. Pada kenyataannya sang nenek memang tidak menyadarinya. Bahwa atas ulah tangan Prius, posisi generasi keempat dan ketujuh sudah saling ditukar sejak tiga bulan lalu.

Sang nenek langsung bungkam tidak bisa membantah sepatah kata pun. Dengan demikian, pada lembar lukisan potret ke-18 yang dipajang di koridor, untuk pertama kalinya menampilkan sosok Raja Singa pria tanpa janggut dengan senyuman yang segar.

Prius membenci cara hidup yang menuntut bagaimana seharusnya sosok singa atau sosok raja bersikap.

Hal itu juga bisa dilihat dari metodenya dalam memilih permaisuri.

Berdasarkan tradisi, putri yang menjadi permaisuri harus memiliki rambut pirang. Karena jikalau tidak demikian, janggut dari penerus takhta yang akan lahir suatu saat nanti tidak akan berwarna emas. Oleh karena itu, jajaran kandidat perjodohan yang dibawa oleh sang nenek semuanya merupakan wanita cantik berambut pirang yang polanya serupa.

Menolak semuanya tanpa kompromi, putri yang dicari sendiri oleh Prius adalah anak perempuan dari seorang marquis yang memimpin wilayah kekuasaan kecil. Warna rambutnya yang berkilau adalah hitam.

Permaisuri ini sayangnya meninggal dunia sesaat setelah melahirkan Snow White.

Delapan tahun setelah kejadian tersebut, sosok yang dipilih Prius sebagai permaisuri berikutnya adalah──Teresalisa Maiden. Seorang pelayan yang datang dari negara lain dan bekerja di kastil.

Pemburu hutan, Diethelm, sudah keluar masuk kastil sejak ia masih kecil.

Prius yang usianya tidak terpaut jauh sangat menyukai pria pendiam ini.

Saat pergi meninggalkan kota Lowe untuk berburu rusa, ia pasti akan memanggil Diethelm. Ia bahkan sempat merekrutnya dengan berkata, "Maukah kau bergabung ke ordo kesatria kami?" karena melihat keahlian Diethelm dalam mengayunkan kapak genggam.

Mengingat perbedaan kasta yang teramat jauh, Diethelm menolaknya, namun sang raja tetap saja mengajaknya di setiap ada kesempatan. Setiap kali hal itu terjadi, Diethelm akan menggaruk kepalanya dengan wajah bingung, namun di dalam hatinya ia merasa bangga karena komandan dari ordo kesatria yang agung bersedia mempercayai kemampuannya.

Ia tidak terkejut saat mendengar raja semacam itu memilih pelayan kastil sebagai permaisuri, bukan dari kalangan bangsawan. Diethelm yang sering keluar masuk kastil sudah berulang kali melihat sosok Teresalisa yang akan menjadi permaisuri di dalam kastil. Ia memang seorang wanita cantik yang mencolok. Namun, bagian di mana ia menyadari bahwa alasan raja memilihnya bukan hanya sebatas hal itu saja terjadi tepat sebelum upacara pernikahan dilangsungkan. Saat tangannya ditarik oleh Snow White untuk menuju ke ruang tunggu Teresalisa.

Di dalam ruangan tempat para penata rias dan peracik parfum lalu lalang dengan sibuk, Teresalisa memasang wajah tegang seraya bergumam, "Aku gugup sekali……" Di hadapan Snow White dan Diethelm, ia mengangkat rok gaunnya dan bertanya penuh kecemasan, "Apakah ini tidak aneh……?"

"Aku…… tidak cocok memakainya. Karena aku belum pernah mengenakan gaun semegah ini sebelumnya."

Teresalisa mengenakan gaun merah sewarna buah apel yang matang.

Roknya yang memiliki lipatan berlapis-lapis mengembang lembut, dan semakin melebar di bagian bawah kaki. Di atas kain sutra yang berkilau, tersemat sulaman renda yang halus. Warna merah yang memikat tampak serasi dengan kulit putih Teresalisa.

Di lehernya yang terbuka, sebuah kalung perak tampak berkilau. Di kedua telinganya, anting dengan desain yang serupa tampak bergoyang. Rambut indahnya yang berkilau diikat rapi di puncak kepalanya.

Diethelm terpesona hingga tidak bisa mengeluarkan patah kata pun.

Sebagai gantinya, Snow White bergumam.

"……Sangat cantik."

Snow White yang biasanya berbicara dengan ceria tampak menunduk malu-malu.

Teresalisa memiringkan kepalanya sedikit, "Ada apa?"

"Karena terlalu cantik…… rasanya seperti melihat orang lain."

"Sama saja, kok. Walaupun penampilanku berubah, aku tidak akan berubah."

Setelah berkata demikian, Teresalisa melepas pita yang terpasang di pinggang gaunnya. Ia menghiasi kepala Snow White menggunakan pita sewarna apel tersebut.

"Lihat. Sekarang kita kembar, kan."

Teresalisa tersenyum, lalu menyuruh Snow White berdiri di depan cermin tiga sisi.

Snow White mencerahkan wajahnya, lalu mendekap erat Teresalisa.

"Aku senang sekali."

Diethelm yang melihat momen tersebut dari dekat ingin menyampaikan ucapan selamat kepada Teresalisa. Namun karena dirinya tidak memiliki pendidikan, ia tidak tahu bagaimana cara mengutarakan perasaan ini melalui kata-kata.

"……Seorang pemburu yang baik harus memiliki insting yang tajam."

Ia berusaha keras mencari kata-kata dengan caranya sendiri.

Teresalisa menaikkan wajahnya, menunggu kalimat dari Diethelm.

"……Aku adalah pemburu yang andal. Tuan Prius yang mengatakannya sendiri. Artinya, instingku tajam. Dan aku yang seperti itu, berpikir bahwa kau adalah orang yang baik. Orang baik seharusnya bahagia──"

"..."

"Oleh karena itu, berbahagialah."

Menyadari bahwa Diethelm sedang memberikan ucapan selamat untuknya, Teresalisa memperlihatkan gigi gingsulnya.

"Terima kasih."

Di momen tersebut, Diethelm menyadarinya. Prius tidak jatuh cinta hanya karena kecantikan wajahnya belaka. Raja kami pasti jatuh cinta pada senyuman tanpa beban ini.

Upacara pernikahan dilangsungkan di kapel yang berada di dalam Kastil Lowenstein.

Kapel yang sanggup menampung sekitar tujuh puluh orang tersebut merupakan tempat untuk memanjatkan doa kepada Dewa Perang Vayaris, keyakinan yang sudah dipeluk oleh orang-orang Transmare sejak zaman dahulu kala. Pengantin dari keluarga Lowe dari generasi ke generasi diwajibkan untuk mengikat janji pernikahan atas nama Dewa Perang Vayaris.

Di bagian tengah kapel terhampar karpet yang panjang, dan bangku-bangku panjang tampak berjajar rapi mengapit jalan tersebut.

Menghadap langsung ke arah altar, di dinding sebelah kanan berjajar empat buah jendela besar. Di masing-masing jendela terpasang kaca patri. Di setiap kaca patri terlukis sebatang pohon ek, mengambil tema empat musim, ada yang ditumbuhi daun hijau di bawah terik matahari, atau kering meranggas di tengah salju.

Di samping setiap pohon ek selalu ada sosok singa. Sosok singa tersebut bertransformasi menjadi sosok raja manusia seiring dengan bergantinya musim. Melambangkan sosok Raja Singa pertama.

Upacara dilangsungkan dengan khidmat.

Snow White dan Diethelm duduk di barisan paling depan.

Prius dan Teresalisa yang berdiri di depan altar saling menggandeng tangan, mengucapkan janji pernikahan kepada Dewa Perang Vayaris. Para undangan mendengarkan ucapan tersebut dalam diam.

Jajaran orang yang hadir adalah mereka yang memiliki hubungan dekat dengan raja. Ibu Suri Agung, para menteri senior termasuk perdana menteri dan para menteri lainnya. Kemudian para bangsawan yang memiliki ikatan dengan keluarga Lowe. Serta para perwira militer seperti wakil komandan dan penasihat dari Ordo Kesatria Singa Emas juga menduduki kursi mereka.

Di antara mereka, sosok Komandan Pengawal Jenderal, Figaro Kimberly, juga terlihat hadir.

Tepat di saat janji pernikahan mereka berdua hampir selesai. Memecah keheningan, pintu utama terbuka lebar.

"Tunggu, hentikan pernikahan itu!"

Para undangan serempak menoleh ke belakang.

Sosok yang memunculkan diri adalah Omura Lowe yang berbalut pakaian formal berwarna emas.

Meskipun lahir di keluarga Lowe, ia adalah adik raja yang sama sekali tidak menaruh ketertarikan pada politik, dan hanya sibuk berkecimpung dalam bisnis perdagangan di luar kastil. Sang adik raja yang tidak memunculkan wujudnya meskipun diundang ke upacara, mendadak memunculkan diri di tahap ini dan berteriak meneriakkan hal yang ganjil.

"Kakak sudah ditipu. Wanita yang hendak Kakak nikahi itu adalah seorang Witches!"

Besarnya antusiasme membuat ruang sidang seketika menjadi agak riuh.

Omura membawa seorang nenek tua dengan punggung bungkuk di sampingnya. Mengenakan tudung kepala dalam-dalam, dan berbalut jubah lusuh yang kotor. Wanita yang bertopang pada tongkat, menyerupai seorang pengemis.

"Nenek tua ini telah mengumpulkan keberanian untuk memberikan kesaksian kepadaku."

Omura mencengkeram kedua bahu si nenek tua, memaksanya berdiri di depannya.

"Dialah penyintas yang selamat dari bencana Witches yang dipicu oleh wanita itu. Ayo, perlihatkan luka dari kejadian waktu itu kepada semuanya!"

Didesak oleh Omura, si nenek tua melepas tudung kepalanya, memperlihatkan wajahnya.

Melihat rupa wajah tersebut, para undangan menahan napas. Di wajah si nenek tua tergores luka robek yang menyedihkan. Luka yang robek besar dari dahi hingga ke ujung mulut melintasi mata kirinya, dan mata tersebut hancur memutih keruh.

Dengan langkah kaki yang tidak stabil, si nenek tua melangkah maju satu langkah, dua langkah.

"Witches itu," arah jari yang kurus kering bak ranting mati menunjuk ke arah Teresalisa yang berada di depan altar.

"mencincang suamiku menggunakan sabit perak besar, dan merobek wajahku ini saat melangkah pergi."

Teresalisa membelalakkan matanya karena terkejut.

Si nenek tua memohon kepada Raja Singa Prius yang berdiri di dekatnya.

"Saya mohon sadarlah, Yang Mulia Raja Singa! Wanita itu adalah Witches yang menyusup masuk sebagai pelayan ke kediaman, membunuh penghuni rumah, dan merampas harta benda. Kali ini ia berniat merampas kastil ini……!"

Witches──keberadaan yang tabu tersebut ceritanya juga sampai ke telinga masyarakat Lowe yang berada di luar wilayah agama Lucy. Rumor mengenai penggunaan sihir untuk menghancurkan kastil atau negara juga terdengar. Jikalau permaisuri yang dipilih oleh Raja Singa adalah makhluk tersebut, tentu akan menjadi insiden besar yang menggoncang negara.

"Hentikan bualanmu!"

Sosok yang berteriak adalah Ibu Suri Agung yang juga merupakan nenek dari Omura.

"Apakah kau berniat menghancurkan upacara pernikahan ini? Wanita yang kau tunjuk saat ini, meskipun bukan dari kalangan bangsawan, adalah wanita yang akan masuk ke keluarga Lowe. Menghinanya sama sekali tidak akan kuizinkan. Bawa nenek tua kotor itu dan cepat keluar dari sini!"

"……Tidak, Nenek. Yang harus keluar adalah sang Witches."

Omura yang menyuruh si nenek tua mundur bertepuk tangan dua kali.

Seketika dari belakang punggungnya──pintu utama yang terbuka lebar dimasuki oleh gerombolan pria bersenjata yang merangsek masuk. Orang-orang dengan kapak di tangan, dan orang-orang dengan pedang yang tergantung di pinggang. Semuanya dilengkapi dengan zirah pelat. Mereka adalah tentara bayaran dari Ordo Tengkorak dan Kalajengking yang disewa oleh Omura di pelabuhan.

Jumlah yang masuk ke kapel sekitar tiga puluh orang. Empat orang di antaranya berlari di atas karpet yang menuju ke arah altar. Mereka berniat membawa pergi Teresalisa. Enggan membiarkan hal itu terjadi, para kesatria yang hadir melangkah maju ke depan. Di saat yang sama, para tentara bayaran menarik pedang mereka satu per satu.

Salah satu kesatria berteriak. ── "Apa yang dilakukan para penjaga!"

Para pengawal jenderal yang seharusnya melindungi kapel tidak kunjung memunculkan diri.

Dan para kesatria yang menghadiri upacara, tidak ada satu pun yang membawa pedang mereka. Hanya satu orang saja, pengecualian bagi Komandan Pengawal Jenderal, Figaro.

Figaro melaksanakan tugasnya, memosisikan diri seolah melindungi Prius dan Teresalisa, berdiri menghadang di depan empat tentara bayaran yang mendekati altar. Tangannya menyentuh gagang pedang yang tergantung di pinggangnya.

Di belakang punggung Figaro, Prius berteriak.

"Omura! Kau, apa kau menyadari apa yang sedang kau lakukan?"

"Kakak sendiri bagaimana. Aku melakukan ini murni demi kebaikan Lowe, lho. Mengingat adanya potensi bahwa wanita itu adalah seorang Witches, kita tidak bisa membiarkannya begitu saja, kan? Ia harus diajukan ke pengadilan Witches!"

"Pengadilan Witches, kau bilang……?"

"Iya. Karena dengan cara apa lagi Kakak bisa membuktikan? Bahwa perasaan Kakak yang mencintai wanita itu bukan dipicu oleh sihir milik Witches."

"……Bodoh. Aku tidak sedang terkena sihir apa pun."

"Jikalau demikian jangan-jangan, Kakak melangsungkan pernikahan meskipun tahu dia seorang Witches? Jika begitu, itu justru menjadi masalah yang teramat serius, lho."

"Kau benar-benar lancang……!"

"Tuan Prius."

Sosok yang menahan Prius yang sedang murka adalah Teresalisa yang berdiri di dekatnya.

"Saya akan pergi. Mari kita ikuti pengadilannya. Jikalau dengan cara itu kecurigaan bisa dibersihkan."

"……Teresalisa."

Teresalisa melangkah maju atas dasar keinginan dirinya sendiri. Area di sekitarnya dikepung oleh empat orang tentara bayaran.

"Oleh karena itu saya mohon…… buktikanlah di pengadilan."

Teresalisa menoleh ke belakang sekali saja. Ia berusaha keras menunjukkan senyuman keteguhan hatinya.

"Bahwa perasaan Anda sama sekali bukan karena efek sihir."

"……Tentu saja."

Menerima sorotan pandangan mata dari para undangan, Teresalisa berjalan dengan anggun menuju pintu utama. Tidak ada rasa takut. Ia menaruh kepercayaan penuh bahwa Prius pasti akan menyelamatkannya.

"Bersiaplah kau, Omura."

Prius yang berada di depan altar menatap tajam ke arah Omura yang berdiri di hadapannya.

"Saat terbukti bahwa Teresalisa bukan seorang Witches, tidak akan ada lagi tempat bagimu di Lowe──"

"Omura!!"

Memotong kalimat Prius, suara teriakan datang dari Ibu Suri Agung. Menepis pegangan dari kesatria yang berada di dekatnya, ia melangkah lebar-lebar dengan bahu yang tegap di atas karpet tengah. Ia mendekati Omura yang berada di depan pintu utama.

Ia berdiri di depan pria itu, lalu mendaratkan tamparan keras di pipinya yang bulat.

"Dasar kau, aib bagi keluarga Lowe! Kandidat permaisuri berikutnya diajukan ke pengadilan Witches, hal itu sendiri sudah merupakan sebuah penghinaan! Tidak perlu menunggu sampai pengadilan selesai. Pergilah dari negara ini sekarang juga!!"

Omura mengelus pipinya yang membengkak merah, lalu menjilat bibirnya yang terluka robek.

"Selalu saja…… Nenek hanya bersikap dingin kepadaku, ya."

Kemudian, ia merampas pisau belati dari tentara bayaran yang berdiri di dekatnya, lalu menikamkannya ke perut sang nenek.

"Ah……?"

Omura menarik pisau belatinya, lalu menikamnya kembali. Berkali-kali, berkali-kali. Darah segar memancar melompat ke atas karpet.

Melihat pemandangan yang teramat sulit dipercaya tersebut, orang-orang di sekitar tidak sanggup mencerna situasi yang terjadi.

"Segala tindak-tandukku selalu saja kau kritik……! Mati kau, nenek tua. Mati, nenek tua……!!"

Sosok yang bergerak berikutnya adalah Komandan Pengawal Jenderal, Figaro. Bukan pedang dua tangan yang tergantung di pinggangnya, melainkan sebuah pisau belati yang dikeluarkannya. Kemudian ia menikamkannya ke perut Prius yang berada di belakangnya.

"Apa……!?"

Prius mencengkeram kuat bahu Figaro.

"……Kau berkhianat, Figaro……!"

"……Orang yang mengkhianati negara ini bukankah dirimu sendiri."

Figaro yang membisikkan kalimat tersebut di telinga Prius menggoreskan pisau belatinya secara horizontal.

Prius yang perutnya robek tersungkur ambruk bersandar pada tubuh Figaro.

Diethelm yang berada di barisan paling depan menyaksikan pemandangan tersebut.

"Tuan Prius……!!"

Dipicu oleh kejadian tersebut, para tentara bayaran mulai menebas para undangan satu per satu secara berturut-turut. Kesatria tua yang menjabat sebagai penasihat robek lehernya, dan wanita terhormat bergaun anggun tertembus dadanya oleh pedang. Jeritan dan teriakan ketakutan menggema di seluruh kapel.

Omura melemparkan pisau belatinya ke atas punggung sang nenek yang tumbang di dekat kakinya.

"Hah……!! Rasanya lega sekali!!"

Omura melangkah keluar menuju koridor dari pintu utama, lalu memegang daun pintu ganda. Sebelum menutupnya, ia melihat ke sekeliling kapel tempat pembantaian sedang dilangsungkan. Di depan altar, Prius tampak terkapar dalam posisi tengkurap. Anak tangga landai yang menuju ke arah altar basah diwarnai darah segar yang mengalir dari tubuh Prius.

"Selamat tinggal, Kakak! Serahkan pengurusan Lowe kepadaku."

Omura mengucapkan kalimat perpisahan seraya melepaskan tawa, lalu menutup pintu.

Snow White berada dalam kondisi syok setelah melihat ayahnya dihabisi tepat di depan mata kepalanya sendiri.

Tubuh mungilnya dipeluk dan diangkat oleh Diethelm. Pintu utama telah terkunci. Ia mencari jalan lain untuk keluar. Yang ditangkap oleh pandangan matanya adalah empat buah jendela yang berada di dinding kapel. Empat lembar kaca patri.

"Tunggu sebentar……!"

Diethelm menurunkan Snow White sesaat, lalu mengangkat bangku panjang tempat duduk para undangan. Kemudian ia menghantamkannya kuat-kuat ke arah kaca patri.

Suara hancur yang masif menggema, dan serpihan kaca berwarna-warni beterbangan.

Di luar jendela adalah parit benteng, dan memiliki perbedaan ketinggian yang melebihi perkiraannya. Di telinga Diethelm yang sempat goyah, suara Figaro terdengar.

"Di mana Snow White berada!!"

Tidak ada waktu untuk bimbang. Diethelm kembali memeluk dan mengangkat Snow White yang sedang linglung, lalu melompat ke luar jendela.

Membentur dinding benteng seraya merosot turun, ia mendarat di dalam air limbah dengan posisi punggung terlebih dahulu. Dampak guncangan membuat napasnya terasa sesak.

"Apakah kau baik-baik saja, Snow White…… apakah ada luka?"

Di dalam pelukan lengannya, Snow White menegangkan tubuhnya, dan bibirnya tampak bergetar.

Mendengar suara teriakan seperti "Ada yang kabur" atau "Kejar mereka" di atas kepala, Diethelm mendongak ke atas.

Para tentara bayaran tampak melihat ke arah parit benteng dari jendela yang hancur. Di antara jajaran pria kasar dipenuhi janggut tersebut, sosok Figaro juga terlihat.

Beberapa orang tampak mulai mencondongkan badannya mencoba melewati bingkai jendela, membuat Diethelm melesat berlari menimbulkan cipratan air. Keluar dari parit benteng ia merampas seekor kuda di kandang kuda, lalu memacunya melintasi kota secara membabi buta. Ia menoleh ke belakang berkali-kali untuk memastikan apakah ada pasukan pengejar atau tidak. Di dalam pelukan lengannya, sosok Snow White berada. Menekuk tubuhnya, dan bergetar.

Di tangan sang putri, pita sewarna apel yang didapat dari Teresalisa tampak tergenggam. Karena digenggam terlalu kuat, wujudnya hancur berkerut-kerut.

Mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam Pernikahan Berdarah──Snow White menceritakan kebenaran di balik insiden tersebut dengan tenang.

Bado mendengarkan dengan saksama kata-kata yang diuraikan secara logis dan terstruktur tersebut.

Curah hujan semakin deras. Agar suaranya tidak kalah oleh suara hujan, Snow White berbicara dengan lantang.

"──Oleh karena itu, Teresalisa bukanlah seorang Witches. Ia hanyalah permaisuri malang yang dimanfaatkan oleh siasat Omura Lowe. Oleh karena itu,"

Snow White menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Saya mohon. Pinjamkanlah kekuatan Anda kepada kami. Tolong selamatkan Teresalisa."

Diethelm yang berdiri di belakangnya juga ikut menundukkan kepala, seakan menyusul permohonan tersebut.

Bado melipat tangannya. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang terlalu kecil, lalu mengelus janggut dagunya.

"Menyelamatkan, apakah itu berarti menerobos penjara dan membawanya kabur?"

"Benar."

Snow White menaikkan wajahnya. Ia menatap lekat-lekat ke arah Bado sekali lagi.

"Diethelm yang berada di sini sudah sejak lama mencari celah untuk mengeluarkan Teresalisa dari penjara. Kemarin, saat mendengar bahwa Teresalisa akan dipindahkan dari Penjara Besi ke kastil, ia mengawasi dengan harapan mungkin ada celah untuk melarikannya."

Kemarin malam, Diethelm ternyata juga menunggang kuda dan membuntuti kereta barang dari belakang.

"Namun, di kereta kuda yang dinaiki Teresalisa, ternyata sudah ada yang bertarung di sana. Siapa gerangan penjahat itu? Dari hasil Diethelm menguping pembicaraan para kesatria yang berkumpul untuk mengurus insiden tersebut, tampaknya penjahat itu adalah Anjing Hitam dari Campusfellow."

Snow White memberikan jeda sesaat.

"……Menyelamatkan Teresalisa yang telah dimasukkan ke dalam Menara Kurungan bukanlah hal yang mudah. Mungkin akan sulit jika Diethelm melakukannya sendirian. Namun, jika Tuan Anjing Hitam bersedia membantu, saya yakin……"

"Putri Snow White."

Bado bertanya dengan tenang.

"Apakah Anda mengetahui alasan mengapa kami mencoba merebut Permaisuri Teresalisa semalam?"

"……Saya mendengar bahwa Anda semua dari Campusfellow datang untuk membeli Witches."

"Benar, tepat sekali. Kami mencoba merebutnya karena kami mengira dia adalah seorang Witches."

Namun ternyata, ia bukanlah seorang Witches──Bado melanjutkan kalimatnya.

"Jikalau demikian, kehadiran kami di sini tidak ada artinya lagi. Sebenarnya, kami sudah bersiap-siap untuk pulang sekarang."

"Tunggu sebentar."

Snow White menaikkan suaranya seolah mencoba menahannya agar tidak pergi.

"Memang benar Teresalisa bukanlah seorang Witches. Namun, ia adalah seorang permaisuri."

Sambil berkata demikian, ia menurunkan pandangannya ke atas meja. Matanya tampak bergetar.

Ia pasti sedang berpikir. Perkataan apa yang bisa digunakan untuk menahan Bado pergi──.

"Karena Anda telah menyelamatkan permaisuri, saya akan memberikan imbalan. Dalam jumlah yang sangat banyak. Oleh karena itu──"

"Namun bagi Anda yang sekarang ini, imbalan seberapa besar yang bisa Anda siapkan?"

Pertanyaan tersebut menusuk Snow White dengan kekejaman yang nyata.

"Apa keuntungan bagi kami, Putri? Andaikata kami menanam budi kepada Anda yang telah kehilangan kastil dan menjadi buronan. Apa manfaatnya bagi Campusfellow?"

"……Namun, saya berjanji. Saat saya menjadi Raja Singa berikutnya, saya pasti──"

"Sayang sekali, hal itu tampaknya akan sulit."

Bado menggelengkan kepalanya.

"Alasan mengapa Omura Lowe menggelar lelucon konyol seperti pengadilan Witches ini──sudah pasti karena ia mengincar takhta Raja Singa berikutnya. Ia berniat melimpahkan dosa pembunuh Raja Singa kepada Permaisuri Teresalisa di pengadilan, lalu menempatkan dirinya sendiri sebagai adik tragis yang kakaknya dibunuh."

Bado menjelaskan secara perlahan.

Nada bicaranya memang tenang, namun kenyataan yang disodorkannya sangatlah kejam bagi Snow White.

"Dan rencana tersebut, untuk saat ini berjalan dengan sangat lancar."

………… "Tidak peduli apa kebenarannya, jika dilihat dari sudut pandang masyarakat luas. Omura yang menjatuhkan vonis bersalah kepada Permaisuri Teresalisa akan menjadi pahlawan tragis yang berhasil mengatasi kesedihan dan membalaskan dendam sang kakak. Dialah yang akan dinilai sebagai sosok yang paling pantas menjadi Raja Singa berikutnya. Tidak akan ada yang menentangnya. Orang-orang terdekat raja semuanya telah dibunuh dalam insiden Pernikahan Berdarah, ditambah lagi pewaris yang satunya lagi yaitu Anda, kondisinya tidak diketahui apakah masih hidup atau sudah mati."

"……Namun, saya."

Snow White memaksakan suaranya keluar, namun ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Matanya yang sedari tadi menatap lurus ke arah Bado mulai berkaca-kaca. Snow White yang mengatupkan bibirnya rapat-rapat buru-buru menundukkan kepalanya.

Tetesan air mata yang tidak bisa disembunyikannya jatuh menetes membasahi meja.

………… Suara hujan memenuhi ruangan.

Setelah keheningan sesaat, Snow White mengeluarkan suara yang bergetar.

"Saya mohon. Suatu saat nanti, saya pasti…… akan memberikan imbalannya. Oleh karena itu……"

"Meskipun kita masih berada di tengah diskusi."

Bado bangkit berdiri.

"Saya ingin beristirahat sebentar. Roro, ikut aku."

"Baik," sahut Roro seraya mengikuti dari belakang. Bado keluar dari ruangan bersama Roro.

Mereka menyibak tirai manik-manik, lalu melangkah ke luar. Udara luar yang dingin membuat tubuh mereka menyusut kedinginan.

Di bawah bumbung rumah yang remang-remang, Bado yang melipat tangannya langsung berkata pada Roro begitu membuka mulut.

"Anak perempuan yang sangat tegar. Benarkah dia baru berusia delapan tahun?"

"Seandainya Raja Singa tidak dibunuh, ia pasti akan tumbuh menjadi seorang putri yang bisa menandingi Delirium-sama."

"Atau mungkin, melampaui Dely. Saat aku berusia delapan tahun, aku masih berlarian ke sana kemari dengan ingus yang meler. Jikalau ayahku dibantai dengan kejam tepat di depan mataku, aku tidak merasa bisa bangkit kembali dari keterpurukan."

Namun Snow White bersikap dengan tegar. Bahkan bukan hanya itu, ia menguraikan secara rinci detail dari insiden Pernikahan Berdarah yang mungkin saja tidak ingin diingatnya kembali.

"……Taktik yang bagus."

Bado mengelus janggut dagunya seraya mengangguk.

"Demi bernegosiasi dengan kita, kebenaran di balik insiden ini harus diceritakan langsung dari mulut anak itu. Tidak boleh diwakilkan oleh pemburu yang berdiri di belakangnya. Anak itu, yang posisinya jauh lebih tragis, harus bersikap tegar sambil menahan air mata memohon bantuan kita. Jika tidak demikian, pada umumnya orang tidak akan berpikir untuk menyelamatkan orang lain hingga harus menanggung risiko."

"Apakah untuk memancing belas kasihan?"

"Memancing belas kasihan untuk memanfaatkan kita."

Bado tertawa kecil, kuku.

"Luar biasa. Ia pasti tahu, bagaimana cara memanfaatkan dirinya sendiri agar efektif untuk menggerakkan kita. Anak itu mengukur sendiri nilai keberadaan dirinya, dan melakukan negosiasi. ……Namun perhitungannya masih kurang matang."

Bado bergumam.

"Jikalau aku hanyalah seorang paman biasa yang tidak memikul tanggung jawab apa-apa, aku mungkin akan langsung menyanggupi apa pun permintaannya jika diminta sambil menangis oleh anak seperti itu. Namun sayang sekali, aku bukanlah orang yang seperti itu. Memohon dengan hanya mengandalkan empati kepada seorang Tuan Tanah adalah taktik yang bodoh. Jikalau ini adalah negosiasi antarnegara, yang harus dilakukan pertama kali adalah menawarkan keuntungan bagi pihak lawan."

"Keuntungan bagi Campusfellow…… maksud Anda."

"Benar. Jikalau ia sampai mengetahui bahwa kita datang untuk membeli Witches, ia cukup menghasut kita dengan berkata, 'Permaisuri Teresalisa adalah Witches yang sesungguhnya. Anda harus merebutnya'. Kemudian, setelah membiarkan kita merebut sang permaisuri dan mencegahnya dibakar hidup-hidup, ia tinggal mengkhianati kita dan membawa lari sang permaisuri…… contohnya seperti itu."

"Namun, kita sudah mengetahui sejak awal bahwa sang permaisuri bukanlah seorang Witches."

"Iya. Oleh karena itu jikalau sang putri mengajukan negosiasi semacam itu, aku berencana untuk langsung meninggalkan meja pembicaraan."

"……Niat yang buruk."

"Dasar bodoh. Negara tidak akan bisa dilindungi jika kita tidak memiliki niat yang buruk."

Bado mendengus pendek dari hidungnya, hmph.

Di lapangan di depan rumah, anak-anak dengan pipi kempis tampak bermain memercikkan air dari genangan air di bawah guyuran hujan. Bado menatap anak-anak tersebut dengan pandangan kosong.

"……Begini, aku pada dasarnya sangat membenci orang yang sedari awal hanya berniat mengandalkan kekuatan orang lain. Orang yang piawai menghasut orang lain sementara dirinya sendiri tidak menanggung risiko, dan berniat mencapai tujuannya menggunakan kekuatan orang lain sudah pasti akan menemui kegagalan. Karena tekad mereka tidak cukup kuat."

………… "Namun sang putri memiliki tekad tersebut. Memanfaatkan kekuatan kita adalah satu-satunya cara bertarung yang bisa dilakukan oleh gadis sekecil itu saat ini dengan segenap kemampuannya. Ia memanfaatkan kondisinya sendiri yang baru saja kehilangan orang tua, menceritakan hal yang tidak ingin ia ingat kembali, dan mempertaruhkan jiwa raganya untuk memancing belas kasihan. Air mata itu, pastilah bukan sekadar akting."

Air mata terakhir yang dialirkan oleh Snow White bukanlah sarana untuk memohon belas kasihan, melainkan wujud rasa penyesalan atas ketidakberdayaan dirinya yang gagal meyakinkan Bado.

Sesaat kemudian, Bado bertanya pada Roro dengan nada yang kurang yakin.

"……Itu bukan akting, kan?"

"Jikalau itu hanyalah akting belaka, masa depannya sungguh sangat menakutkan."

"Jikalau itu akting, artinya aku sudah tertipu mentah-mentah, tahu? Kekalahan total."

Di langit yang ditatapnya, awan kelabu yang muram tampak membentang luas.

"Lagi pula karena hujan ini, kita juga jadi tidak bisa segera berangkat meninggalkan Lowe. Namun, satu-satunya hal baik dari turunnya hujan ini adalah, mereka tidak bisa segera melaksanakan hukuman bakar setelah pengadilan selesai."

Bado mengembuskan napas panjang.

"Setelah pengadilan selesai, posisi sang permaisuri akan berubah dibandingkan kemarin. Menculik penjahat yang divonis langsung oleh Omura yang akan menjadi Raja Singa berikutnya, hmmm……. Memburuknya hubungan dengan Lowe sudah tidak bisa dihindari."

Kemungkinan besar, pihak Campusfellow juga terpaksa harus menyembunyikan Snow White dan rombongannya. Keuntungan yang didapat tidak ada, namun risiko yang ditanggung sangatlah besar.

"Jikalau Shimei mendengarnya, dia pasti akan pingsan, lho?"

"'Apakah Anda sudah gila!? Tuanku!'"

"Oh. Kau pandai menirukannya, ya."

Untuk sesaat, mereka berdua mendengarkan suara hujan secara berdampingan.

Seolah menyisipkannya pelan-pelan ke dalam suara hujan, Bado menurunkan perintahnya.

"Bisakah kau merebutnya, Roro."

"Hamba laksanakan."

Roro menjawab seraya menundukkan pandangannya. Bado merasakan ada sesuatu yang berbeda dari biasanya dalam gestur tersebut.

"……Kau, sepertinya merasa senang, ya."

"Tidak, seekor anjing tidak memiliki opini."

"Bohong. Kau pasti sudah tahu situasinya akan menjadi seperti ini sehingga kau membawaku kemari, kan?"

"Nah," sahut Roro seraya membuang muka.

Bado mengacak-acak rambut hitamnya yang ikal.

"Berani-beraninya memanfaatkan majikan. Dasar anjing kecil yang kurang ajar."

Bado berkata demikian seraya melangkah masuk kembali ke dalam ruangan.

Roro juga mengikuti di belakangnya, menyibak tirai manik-manik.

Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Snow White, Bado dan Roro menaiki kuda mereka.

Di tengah guyuran hujan, ada suara yang memanggil untuk menghentikan langkah Roro yang hendak meninggalkan rumah Dundugu.

"Anjing Hitam," sosok yang menaikkan suaranya dan keluar dari bawah bumbung rumah adalah Diethelm. Meskipun terguyur hujan, ia berlari menghampiri Roro yang berada di atas kuda.

"Ada apa?"

"Tetap di sana tidak apa-apa. Dengarkan aku."

Diethelm menahan Roro yang hendak turun dari kuda dengan tangannya. Ia membawa sebuah kotak kayu paulownia.

"Ini…… adalah barang titipan dari Raja Singa──"

Berdasarkan cerita Diethelm. Di Kerajaan Lowe, ada sebuah tradisi di Hari Pertengahan Musim Panas (Midsummer) untuk meramal peruntungan di tahun tersebut. Caranya adalah dengan membelah tempurung kura-kura, dan melihat pertanda baik atau buruk dari bentuk retakannya.

Tradisi ini lebih kuat makna ritualnya, dan tingkat keakuratannya tidak terlalu tinggi. Biasanya, Prius maupun orang-orang di sekitarnya tidak akan terlalu memusingkan hasil dari ramalan tersebut.

Namun, bentuk retakan pada tahun ini adalah sesuatu yang membuat sang peramal wajahnya pucat pasi.

──Mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk pada diri Anda, Paduka.

Prius menertawakan hasil tersebut dan mengabaikannya, namun tampaknya hal itu tetap mengganjal di sudut hatinya. Suatu hari, ia memanggil Diethelm dan menitipkan sebuah kotak kayu paulownia.

"Raja berkata kepadaku, jika terjadi sesuatu pada dirinya, tolong serahkan kotak ini kepada Permaisuri."

Diethelm menurunkan pandangannya ke arah kotak kayu paulownia yang dipegangnya dengan kedua tangan. Di atas tutup maupun sisi samping kotak tersebut, terukir motif gelombang. Sebuah gembok tampak terpasang di sana, sehingga kotak tersebut tidak bisa dibuka.

"Aku terus berusaha mencari cara untuk menyerahkan ini kepada Permaisuri. Namun aku tidak bisa mendekati Penjara Besi. Kesatria yang berjaga terlalu banyak, dan aku juga tidak bisa menyerang kereta barang saat proses pemindahan. Namun, jikalau dirimu, kau pasti bisa menjangkau Permaisuri yang dikurung di Menara Kurungan──"

Diethelm menyodorkan kotak kayu paulownia tersebut kepada Roro.

"Aku akan menitipkannya padamu. Aku mohon. Tolong sampaikan kepada Permaisuri."

………… Roro melirik ke arah Bado untuk meminta persetujuan. Bado mengangguk sekali, lalu Roro menerima kotak kayu paulownia itu dari atas kuda.

"Apa isi di dalamnya?"

"Aku juga tidak tahu. Namun, ini adalah barang yang sangat berharga bagi Permaisuri. Raja berkata demikian."

Roro mencoba menggoyang kotak kayu tersebut. Tuk, terdengar suara sesuatu berbenturan di dalamnya.

"……Aku suka hujan. Karena membuat hati terasa sedih."

Sepasang mata yang tampak curiga mengejar tetesan air hujan yang mengalir turun di atas kaca patri.

Pancaran cahaya berwarna biru, hijau, dan oranye menerangi wajah seorang gadis. Usianya sekitar pertengahan belasan tahun. Kepalanya ditutupi oleh wimple, sejenis penutup kepala wanita yang biasa digunakan oleh biarawati (sister). Ujung lengan seragam biarawati yang dikenakannya sangat panjang hingga menutupi ujung jarinya, dan ujung roknya sangat pendek hingga memperlihatkan paha putihnya.

Melintasi bagian atas hidungnya, tertulis kata conviction (hukuman).

Gadis itu berdiri di dekat jendela kapel yang menjadi lokasi insiden Pernikahan Berdarah. Itu adalah tempat kejadian di mana lebih dari lima puluh orang termasuk Raja Singa beserta menterinya dibantai dengan kejam hanya dalam kurun waktu sebelas hari yang lalu.

Bangku panjang yang digunakan pada saat upacara telah disingkirkan seluruhnya. Noda darah telah dibersihkan, dan karpet juga telah diganti. Dari empat buah jendela kaca patri yang terpasang, salah satunya yang hancur tampak ditutupi oleh papan kayu, namun fungsi ruangan sebagai kapel masih bisa digunakan dengan baik.

Namun karena tragedi tersebut masih segar dalam ingatan, hanya sedikit orang yang dengan sukarela mau mengunjungi kapel tersebut.

Di bagian tengah dari kapel yang menyimpan kenangan buruk tersebut, saat ini hanya ada satu buah meja bundar yang diletakkan terasing. Di atas meja tersebut, tersaji ayam panggang utuh dengan rempah-rempah yang menumpuk di pinggiran piringnya, sup kaya sayuran, dan beberapa jenis roti. Di empat kursi yang tersedia, duduk tiga orang.

"Hei, Ferocactus! Cepat duduk, dasar kau! Ini waktunya makan, tahu!"

Seorang pria jangkung yang duduk di kursinya berteriak kepada gadis di dekat jendela.

Sudut mata yang menurun, dengan batang hidung yang mancung. Pria berusia pertengahan dua puluhan kelahiran negara selatan. Memiliki raut wajah yang tegas, dan janggut yang tidak dicukur tampak sangat cocok untuknya. Namun, rambut palsu putih yang dikenakannya sangat janggal dan tidak natural. Rambut palsu dengan ujung ikal di atas kedua telinga itu adalah pakaian resmi yang biasa dikenakan oleh seorang hakim pengadilan.

Biarawati Ferocactus yang dipanggil oleh pria itu hanya melirik sekilas ke arah meja, lalu mengabaikannya.

Pria itu memegang cangkir tembaga di tangannya, menjatuhkan kursinya dan bangkit berdiri.

"Hei dasar kau, beraninya kau mengabaikanku, Fero! Orang yang berdiri dari tempat duduk tanpa alasan saat makan adalah hal yang paling kubenci di dunia ini! Jangan berdiri dong dari kursimu, woi!"

"Kau sendiri juga sedang berdiri, lho, Radgini."

Ucap seorang wanita yang duduk di seberang pria itu, dipisahkan oleh meja.

Ia mengenakan topi wanita bertepi lebar, dan tubuhnya dibalut gaun koktail. Meskipun topi maupun gaunnya berwarna hitam kelam bak kegelapan, hanya sarung tangan yang menutupi hingga sikunya saja yang tampak putih berkilau. Bibirnya dipulas dengan lipstik berwarna merah menyala. Ia terlihat seperti seorang wanita muda, namun area di sekitar matanya dililit oleh perban tebal berlapis-lapis, sehingga seluruh wajahnya tidak bisa terlihat. Bagaimana caranya ia bisa melihat juga masih menjadi misteri.

"Tapi begini lho, Anemone."

Radgini menumpukan kedua tangannya di atas meja seraya mengadu.

"Hal semacam ini tidak bisa kumaafkan. Gadis itu, boro-boro mau duduk di kursinya saat makan, dia malah mengabaikan perkataan senioarnya sepertiku, lho? Iya, kan. Apakah ada hal yang lebih menyedihkan dari ini? Dia sama sekali tidak menghormatiku!"

"Mau bagaimana lagi, kan. Anak itu hanya mau mendengarkan perkataan dari Guru saja, sih."

"Aku tidak mau, aku ingin dihormati, tahu!"

Ferocactus masih berdiri mematung di dekat jendela kaca patri.

"Ah…… perasaan sedih terus menumpuk di dalam hatiku."

Sambil memancarkan kesan sentimental, ia menelusuri kaca patri menggunakan jari telunjuknya.

"Ah…… akan lahir. Sesuatu akan segera lahir."

"Hei, woi, Ferocactus. Apakah kau mendengarnya, dasar kau! Aku ingin dihormati!"

"Diam!!"

Suara Ferocactus bergema di dalam kapel.

"Saat ini, lagu yang bagus akan segera lahir!"

"Diam kau bilang!? Jangan bercanda kau keparat, aku tidak akan membiarkanmu menyanyi, ya? Tidak akan pernah aku biarkan. Cepat duduk di kursimu, dasar bodoh!"

Di detik berikutnya, seolah didorong oleh gejolak yang memuncak, Ferocactus melantunkan suara nyanyiannya yang menggema.

"Cepatlah~, duduk di kursimu, dasar bodohhhh"

"Setidaknya nyanyikan perasaan yang sedih kek, dasar kau!"

Ferocactus yang terus bernyanyi, dan Radgini yang terus memaki.

Anemone tersenyum kepada satu orang lagi yang duduk di kursinya. Sang adik raja, Omura Lowe.

"Lihat, kan? Sudah saya bilang. Meskipun Anda makan siang bersama orang-orang ini, tidak akan ada hal baik yang terjadi, lho. Hati Anda akan terus merasa jengkel, kan?"

"Ah tidak, tidak……" Omura berusaha mempertahankan senyumannya, namun ekspresinya terlihat canggung.

"Ini adalah makan siang yang menyenangkan, benar-benar sangat menyenangkan……"

"Astaga! Tuan Lowe."

Anemone mengarahkan pandangan matanya, yang seharusnya tidak bisa melihat akibat balutan perban, ke arah bahu Omura.

"Benda itu, bunglon, ya? Dekorasi yang sangat menggemaskan."

Ucap Anemone seraya menjilat bibir merahnya. Bunglon yang bertengger di bahu Omura mungkin merasakan bahaya, sehingga ia mencoba bersembunyi dengan menyamarkan warnanya menyerupai warna emas dari pakaian Omura.

"Ara-ara……?"

Sebelum Anemone merasa tersinggung, Omura buru-buru mengubah topik pembicaraan.

"Terlepas dari hal itu! Saya sangat berterima kasih kepada Anda semua. Pengadilan Witches memang tidak akan bisa dilangsungkan tanpa kehadiran para hakim, bukan? Namun terkait lokasi makan siang ini…… apakah Anda semua benar-benar yakin tempat ini tidak apa-apa?"

Awalnya acara jamuan makan ini direncanakan untuk dilangsungkan di Kamar Tamu Agung, namun yang tiba-tiba mengusulkan ingin makan di kapel pada menit-menit terakhir adalah Anemone ini. Omura tidak memahami apa niat di baliknya.

"Karena tempat ini terasa sangat luar biasa, bukan?"

Anemone menjawab sambil memotong paha ayam menggunakan pisau dan garpu.

"Seolah-olah kutukan dan ratapan para kesatria yang tewas dalam penyesalan karena gagal melindungi raja bisa terdengar, membuatku merasa…… merinding penuh gairah."

Anemone meletakkan ujung jarinya di pipi dengan luwes, menunjukkan ekspresi penuh ekstase. Saat ia hendak membawa paha ayam yang tertusuk di garpunya ke mulut, ia justru mengayunkan garpunya dan membuang paha ayam tersebut ke lantai.

Niat di balik tindakannya sungguh tidak bisa dipahami. Omura diam-diam mengintip ke bawah meja. Paha ayam yang seharusnya dijatuhkan ke kakinya tidak terlihat di mana pun. Karena tidak mengerti maksudnya, ia hanya bisa melepaskan tawa hambar, “Haha……”

"Apa pun itu, di pengadilan Witches hari ini, sekali lagi saya memohon bantuan Anda semua. Meskipun situasinya berbeda dari biasanya sehingga mungkin akan terasa merepotkan, namun──"

"Sama sekali tidak merepotkan, kok. Lagipula vonisnya sudah ditentukan."

Radgini menegakkan kursinya, lalu duduk dengan posisi mengangkang. Ia mencengkeram ayam panggang dengan tangannya, lalu menekankannya ke tumpukan rempah-rempah yang berada di pinggiran piring. Ia memasukkan ayam yang dilumuri rempah-rempah secara berlebihan tersebut ke dalam mulutnya yang terbuka lebar.

"Benar. Permaisuri Teresalisa bersalah. Setelah itu, kita tinggal membiarkan kesaksian para saksi mengalir lancar, dan selesai."

Anemone menuangkan anggur merah ke dalam cangkirnya. Jarak antara cangkir di tangan kirinya dan teko di tangan kanannya teramat jauh. Anggur merah yang mengalir menyerupai air terjun itu berhenti tepat di batas bibir cangkir.

"……Guru."

Gumam Ferocactus pelan. Entah sejak kapan ia sudah kembali ke meja, membuat Omura terkejut sesaat. Ferocactus duduk di kursinya dengan tenang.

Radgini mengangkat jari telunjuknya.

"Ah benar juga, biarkan aku mengeluhkan satu hal. Kenapa kalian tidak mengenakan pakaian hakim?"

Radgini menunjuk ke arah Anemone dan Ferocactus menggunakan jarinya yang lengket oleh minyak ayam. Mereka berdua mengenakan pakaian seperti biasanya, sementara hanya Radgini seorang yang berganti pakaian menggunakan jubah hakim resmi yang disediakan di ruangan.

Anemone mengangkat cangkirnya yang terisi penuh dengan anggur merah dengan gerakan tangan yang elegan. Ia mendekatkan bibir merahnya ke bibir cangkir layaknya sedang memberikan ciuman, lalu menyesapnya sedikit.

"Aku akan membalik pertanyaannya. Mengapa kau justru mengenakannya? Tidak memakainya pun tidak masalah, kan."

Setelah berkata demikian, ia menuangkan sisa anggur merah di cangkirnya ke lantai dengan suara tumpah yang keras.

Omura sekali lagi mengintip ke arah kaki Anemone. Namun, lantai batu yang seharusnya basah oleh anggur merah sama sekali tidak basah. Bahkan tidak ada bekas cairan yang tumpah sedikit pun. Ke mana hilangnya anggur merah tersebut? Mengapa wanita ini membuang hidangan makanan yang sudah susah payah disiapkan? Ia benar-benar tidak mengerti maksudnya.

"……? ?"

"Tentu saja aku mengenakannya, wajar dong. Mengingat pakaian ini sudah disediakan! Coba lihat ini."

Radgini kembali bangkit berdiri, merentangkan kedua lengannya untuk memamerkan pakaiannya. Kursinya jatuh dengan suara berdentuk keras.

Jubah atas yang terbuat dari kain felt yang dijahit rapi dengan benang emas itu memang terlihat mewah seperti penampilannya, namun sayangnya ujung jubahnya teramat panjang. Kancing jubah yang membentang dari kerah depan hingga ke bawah lutut, semuanya dikancingkan satu per satu dengan telaten oleh Radgini.

"Kancing pakaian ini ada dua puluh delapan buah, tahu! Susah sekali memakainya. Dua puluh delapan buah lho!? Ini sudah gila. Saat baru mengancingkan empat belas buah, aku merasa pusing menyadari bahwa itu baru setengahnya."

"Hei, Tuan Lowe. Kami sebenarnya tidak perlu mengenakannya, kan?"

"Iya…… begitulah. Saya hanya menyiapkannya di ruangan sebagai formalitas saja……"

Jawaban seperti apa yang sebaiknya diucapkan agar tidak memancing amarah kedua belah pihak.

Omura menyeka keringat dingin yang mengucur di dahinya menggunakan sapu tangan.

"Hah!? Ternyata tidak wajib dipakai. Padahal aku sudah terlanjur memakainya. Kalian juga harus memakainya!"

"Bising ah. Kau tinggal melepasnya saja, kan."

"Tidak mau, padahal kau tahu kan, kancingnya ada dua puluh delapan buah!?"

Di antara mereka berdua yang saling berdebat, Ferocactus menatap ke arah ayam panggang utuh.

Entah kenapa ia tampak sedikit menangis.

"Hah……. Aku ingin bertemu Guru."

"Ah, benar juga," ucap Omura kembali mengubah topik pembicaraan secara paksa.

"Apakah Guru masih…… belum kunjung tiba?"

Ada satu orang hakim lagi. Ia masih belum memunculkan sosoknya, padahal pria yang dipanggil Guru itu masih merupakan sosok yang bisa diajak berdiskusi, namun──.

"Dia tidak akan datang, lho."

Anemone menjawab dengan dingin.

"Guru tidak akan menghadiri acara seperti jamuan makan atau pesta makan malam di tempat sosialisasi semacam ini. Maklumlah, karena ia adalah tipe orang rumahan yang memiliki sifat sebagai seorang peneliti."

"Oh…… begitu, ya."

"Selain itu, beliau tampaknya juga menolak posisi sebagai hakim. Guru tidak akan bersedia melakukan hal yang membosankan."

"Eeeh!? Jikalau demikian, untuk apa dia dipanggil kemari……"

"Tenang saja. Bukankah masih ada kami di sini. Pengadilan adalah perkara yang mudah, mudah sekali."

"Haa……"

Omura memberikan jawaban yang dipenuhi rasa cemas. Di seberang meja, Ferocactus tampak bermain-main menusukkan pisau dan garpunya ke ayam panggang utuh.

Setelah makan siang berakhir dan para hakim meninggalkan kapel, meja makan langsung dirapikan dengan cepat. Para pelayan dengan sibuk menata peralatan makan ke atas troli.

Seorang pelayan mengangkat gagang cangkir. Mendadak gagang tersebut terlepas, membuat sisa anggur merah di dalam cangkir tumpah berhamburan ke atas meja.

"Ah, maaf."

"Aduh, jangan menambah pekerjaan, dong."

Pelayan senior mengeluh seraya mencengkeram sebuah piring ceper. Mendadak separuh dari piring tersebut hancur meleleh, jatuh ke atas meja. Piring tersebut meleleh layaknya keju yang dipanaskan.

"Eh……!"

Ini adalah pertama kalinya mereka melihat peralatan makan rusak dengan cara seperti ini. Para pelayan terkejut.

Benda yang meleleh bukan hanya piring dan gagang cangkir saja. Sendok perak, pinggiran kendi wadah tulang, hingga tulang ayam di dalamnya semuanya ikut meleleh. Sandaran kursi yang jatuh pun ornamen emasnya meleleh hancur berantakan, mengubah kursi tersebut menjadi barang tidak berguna.

Malam hari. Pengadilan Witches untuk Permaisuri Teresalisa dilangsungkan di Ruang Singgasana.

Di sisi kiri dan kanan aula luas yang diposisikan saling berhadapan, kursi penonton (gallery) ditata secara bertingkat seperti tangga, dan banyak orang yang duduk di sana. Mulai dari para pejabat kota seperti kepala distrik atau wali kota, ketua guild yang bermarkas di kota pelabuhan, hingga ketua pedagang besar yang mengelola pasar juga tampak hadir.

Satu sisi kursi penonton dikhususkan untuk kursi pejabat kota Lowe, sementara sisi lainnya adalah kursi tamu asing. Di antara para bangsawan dari negara tetangga Lowe, para pejabat dari Campusfellow juga duduk di sana. Bado, Shimei, dan Edelweiss duduk berjajar di barisan depan, dan di tingkat yang lebih tinggi di belakang mereka, Roro dan Heartland duduk mengapit Delirium.

Mulai dari pintu utama hingga ke kursi terdakwa yang diletakkan di depan panggung singgasana, sebuah karpet panjang tampak membentang di lorong yang diapit oleh kursi penonton. Di kedua sisinya, obor tampak ditegakkan dengan jarak yang sama. Nyala api yang berkobar hebat membuat suhu ruangan terasa panas.

Orang-orang menantikan pengadilan dimulai dengan penuh ketidaksabaran.

"Hei, Roro. Ada biarawati, lho."

Delirium berbisik kepada Roro.

"Jangan-jangan dia adalah seorang Sorcerers? Tapi seharusnya di Lowe tidak ada Sorcerers, kan?"

Arah yang ditunjuk oleh tatapan mata Delirium adalah bagian depan aula──di samping tangga yang menuju ke arah singgasana. Di sana terdapat sebuah meja panjang, tempat tiga orang hakim duduk. Gadis yang duduk di tengah memang mengenakan pakaian biarawati lengkap dengan wimple di kepalanya.

Roro menyipitkan matanya.

"Pengadilan ini sepertinya meniru metode pengadilan Witches milik agama Lucy, ya. Para hakim itu mungkin juga sengaja meniru gaya para Sorcerers……? Lihat, pria yang memakai rambut palsu itu benar-benar terlihat seperti seorang hakim, kan."

Pria muda yang duduk di samping gadis tersebut mengenakan rambut palsu berwarna putih yang bagian ujungnya melengkung di atas telinga, sebuah penampilan khas hakim pengadilan. Namun di sisi yang berlawanan, wanita yang duduk di sana mengenakan gaun hitam pekat layaknya seorang wanita bangsawan. Meskipun terhalang oleh topinya yang lebar, matanya tampaknya dililit oleh perban.

"……Benar-benar orang-orang yang tidak serasi, ya."

Di singgasana yang merupakan posisi hakim ketua, Omura Lowe duduk dengan megah.

Di bawah panggung singgasana, tampak sosok Figaro yang dilengkapi dengan zirah emas. Bahunya terluka akibat hantaman kapak genggam, membuat lengan kanannya harus digantung menggunakan kain mitela. Untuk memudahkannya mencabut pedang menggunakan tangan kiri, pedangnya digantung di sisi kanan pinggangnya.

Roro bersiaga mengantisipasi kemunculan Ordo Tengkorak dan Kalajengking yang merupakan pasukan pribadi Omura, namun sosok mereka sama sekali tidak terlihat di dalam aula. Hari ini, yang berdiri berjaga mengamankan dinding Ruang Singgasana adalah para pengawal jenderal yang mengenakan zirah emas.

Lonceng berdentang dari luar kastil.

Pintu utama aula terbuka dengan khidmat. Orang-orang di kursi penonton menghentikan obrolan mereka, menahan napas.

Sosok yang memunculkan diri dari balik pintu adalah sang terdakwa, Teresalisa. Mengenakan jubah berwarna cokelat kemerahan, dengan tudung kepala yang dipakai dalam-dalam. Dan sama seperti saat pemindahan, wajahnya dipasangkan Topeng Santa yang menutupi mata, telinga, dan mulutnya. Pergelangan tangannya belenggu oleh borgol batu, dan rantai yang mengikatnya ditarik oleh seorang pemandu.

Orang yang memandu tersebut bukanlah seorang kesatria. Melainkan sosok aneh yang menutupi seluruh wajahnya dengan topeng berparuh burung. Apakah ini juga merupakan bagian dari pertunjukan yang meniru sosok Sorcerers? Ia mengenakan topi bertepi lebar, dan berbalut jubah.

Pergelangan tangannya ditarik oleh pemandu bertopeng paruh, Teresalisa berjalan di atas karpet yang diapit oleh kursi penonton. Suara gesekan rantai terdengar bergemerincing.

"Dasar Witches!"

Dari kursi penonton, sebuah suara makian terdengar.

"Pembunuh Raja Singa!" "Pergilah dari Lowe!"

"Hukuman bakar!" "Cepat bunuh dia!" "Dasar Malapetaka! Mati kau!"

Orang-orang secara serempak melemparkan cacian dan makian kepada Teresalisa.

Entah itu adalah perkataan dari orang-orang yang bersedih atas kematian Raja Singa, atau kebencian seseorang yang menyebar, atau mungkin hanya sekadar ikut-ikutan. Apapun alasannya, suara-suara tersebut tidak terdengar oleh Teresalisa yang telinganya disumbat oleh Topeng Santa. Meskipun demikian, makian tersebut terus berlanjut hingga Teresalisa tiba di kursi terdakwa.

Pemandu tersebut mengaitkan rantai yang terhubung pada borgol batu Teresalisa ke tepi kursi terdakwa.

"Harap tenang!"

Omura yang menjabat sebagai hakim ketua bangkit berdiri dan berteriak.

"Pengadilan yang akan dilangsungkan setelah ini adalah pengadilan suci untuk menghakimi pembunuh Raja Singa. Saya mohon agar Anda semua menjaga lisan Anda. Mari kita laksanakan dengan tertib!"

Setelah keheningan kembali menyelimuti aula, Omura memberikan isyarat kepada pemandu yang berdiri di dekat kursi terdakwa.

Pemandu tersebut melepaskan jubah Teresalisa. Kursi penonton menjadi sedikit riuh. Apakah ini juga merupakan bagian dari pertunjukan, Teresalisa dipakaikan sebuah gaun. Gaun berwarna apel matang yang dikenakannya di hari Pernikahan Berdarah.

Topeng Santa dilepaskan. Teresalisa yang wajahnya terekspos, menatap tajam ke sekeliling.

Sorotan mata merahnya yang tajam membuat orang-orang di kursi penonton sedikit bergidik.

"Harap tenang! Harap tenang!"

Sambil tetap duduk di singgasana, Omura kembali menaikkan suaranya.

Mata Teresalisa yang dipenuhi amarah menatap tajam ke arah Omura di atas panggung singgasana.

"Permaisuri Teresalisa. Sepertinya Anda sedang dijatuhi tuduhan sebagai seorang Witches."

Hakim yang melangkah maju ke depan kursi terdakwa melontarkan pertanyaannya.

Pria yang memakai rambut palsu berwarna putih, Radgini.

"Bagaimana? Apakah Anda mengakui bahwa diri Anda adalah seorang Witches?"

………… Teresalisa menatap Omura dari balik celah poni rambutnya yang tergerai.

Omura yang bersandar angkuh di atas singgasana mengangguk tipis──dengan nuansa seolah berkata, Kau mengerti, kan. Bagi Teresalisa yang diberitahu bahwa Raja Singa Prius masih hidup dan ditahan karena kesalahan dirinya, satu-satunya jalan yang tersisa hanyalah mengakui bahwa dirinya adalah seorang Witches.

Karena Omura telah berjanji, jika ia mau mengakuinya, maka Prius akan dibebaskan.

"Bagaimana, Terdakwa. Apakah Anda mengakuinya? Atau Anda menyangkalnya?"

"……Saya mengakuinya."

Kursi penonton menjadi riuh.

Radgini memegang selembar perkamen, lalu melanjutkan.

"Sekitar sembilan tahun yang lalu. Di kota pelabuhan Sauro, Republik Inatera. Satu keluarga dari keluarga Darcoil yang sukses mengumpulkan kekayaan dari produksi gabus dibantai dengan kejam oleh seorang pelayan yang bekerja di kediaman mereka. Berdasarkan kesaksian dari saksi mata yang selamat, pelayan yang saat itu berusia sekitar sepuluh tahun menciptakan sabit perak besar dari sebuah cermin tangan──"

Ini sudah pasti Witches, gumam Radgini dengan nada masam.

"Karena gadis tersebut memiliki lidah berwarna merah keunguan, ia pun dikenal dengan sebutan Magenta Witch. Apakah ini adalah diri Anda?"

………… "Apakah bukan Anda?"

"……Saya mengakuinya. Itu adalah saya."

"Kalau begitu, mari kita panggil penyintas dari bencana Witches tersebut kemari."

Radgini mengangkat tangannya. Menjadikan hal itu sebagai aba-aba, wanita bangsawan bergaun hitam yang duduk di kursi hakim, Anemone, bangkit berdiri. Anemone menuntun nenek tua yang sedang bersiaga dengan menempelkan tangan di punggungnya, membawanya ke mimbar saksi.

Itu adalah nenek tua yang wajahnya memiliki luka robek yang menyedihkan dari dahi hingga ke ujung mulut.

Mimbar saksi terletak di posisi serong kiri depan kursi terdakwa. Posisinya lebih dekat ke panggung singgasana dibandingkan kursi terdakwa.

Radgini menundukkan pandangannya ke arah perkamen di tangannya, lalu melontarkan pertanyaan kepada nenek tua di mimbar saksi.

"Keluarga Darcoil tempat Anda dilahirkan, sukses dalam industri gabus dan memiliki banyak aset. Namun sekitar sembilan tahun lalu, secara malang keluarga Anda tertimpa bencana Witches, suami Anda dan orang-orang yang bekerja di kediaman Anda dibunuh oleh Witches. Apakah hal ini benar?"

"Itu benar."

Nenek tua itu merespons dengan suara yang bergetar.

"Kejadian tersebut menjadi pemicu keruntuhan keluarga Darcoil, dan saat ini kabarnya Anda menyambung hidup dengan berdagang kain bekas. Lalu, kapan Anda bertemu kembali dengan Magenta Witch?"

"Menjelang akhir musim semi tahun ini. Saya dipanggil oleh Tuan Figaro Kimberly dan mengunjungi Lowe. Karena ada sosok yang dicurigai sebagai Witches, saya diminta untuk memastikannya. Meskipun namanya telah berubah, saya tidak akan mungkin melupakan mata merah terkutuk itu."

Nenek tua menunjuk Teresalisa, lalu mengajukan gugatan kepada hakim ketua, Omura.

"Wanita itu adalah Malapetaka. Kali ini, ia datang ke kastil ini untuk membawa bencana!"

"Terdakwa," ucap Radgini menghadap Teresalisa seraya merentangkan tangannya secara dramatis.

"Ia berkata demikian. Apakah ada bantahan?"

………… Teresalisa meletakkan lengannya di tepi kursi terdakwa, lalu menundukkan wajahnya.

Bahunya tampak bergetar kecil.

"Tidak ada, ya? Kalau begitu, seperti halnya Anda menyerang keluarga Darcoil saat masih kecil, kali ini Anda mengincar kekayaan Kastil Lowenstein, menyusup dengan menyamar sebagai pelayan. Anda mengakui hal ini, kan?"

"……Saya mengakuinya."

Teresalisa tetap menundukkan kepalanya.

"Bagus. Dan Anda tidak puas hanya dengan merampas harta benda, Anda juga berniat merampas negara ini. Negara besar Lowe ini. Oleh karena itu Anda merayu Raja Singa, dan merapal sihir agar ia melamar Anda. Apakah Anda mengakuinya?"

"……Saya mengakuinya."

"Dan pada hari pernikahan. Di hari Pernikahan Berdarah──"

Radgini menatap Teresalisa yang menundukkan kepalanya di kursi terdakwa.

"Identitas Anda sebagai seorang Witches dibongkar oleh Omura Lowe berdasarkan aduan dari Nyonya Darcoil. Anda yang melawan penangkapan, mengeluarkan sabit perak besar dari cermin tangan menggunakan sihir, lalu pertama-tama Anda membunuh Ibu Suri Agung──"

Teresalisa menaikkan wajahnya.

"……Eh?"

"──Kemudian berikutnya, Anda memenggal kepala Raja Singa Prius Lowe."

Mata Teresalisa terbelalak karena terkejut. Di dalam mata merahnya, pantulan sosok Radgini tampak jelas.

"Apakah Anda mengakuinya?"

"……Apa yang kau katakan?"

Bibir Teresalisa tampak bergetar. Pria ini, baru saja mengatakan apa? Apakah ia salah dengar?

"Memenggal…… kepalanya? Itu bohong."

"Bukan, itu bukan kebohongan. Andalah yang membunuhnya. Apakah Anda tidak mengakuinya?"

Teresalisa mendongak menatap Omura di atas panggung singgasana.

"Apakah aku yang membunuhnya?"

Omura hanya menggerakkan alisnya tanpa memberikan jawaban.

Teresalisa mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula yang sunyi senyap. Tidak ada para menteri senior yang menyayangi Raja Singa. Tidak ada para kesatria. Tidak ada Ibu Suri Agung. Tidak ada Snow White. Sosok para sekutu Raja Singa Prius Lowe yang hadir di upacara pernikahan tidak ada di mana pun. Yang ada di sini hanyalah orang-orang yang berada di bawah pengaruh Omura Lowe.

"……Tidak mungkin. Ini tidak mungkin."

Teresalisa menggelengkan kepalanya dengan kuat seolah tidak percaya.

"Terdakwa! Apakah Anda tidak mengakuinya? Bahwa Anda yang membunuhnya──"

"……Aku tidak mengakuinya. Untuk apa aku membunuh raja!? Orang yang…… ingin kubunuh adalah!"

Teresalisa mencondongkan tubuhnya dari kursi terdakwa. Rantai yang mengikatnya bergesekan menghasilkan suara berdenting.

"Dirimu, Omura!! Turunlah kemari, dasar pengecut!!"

Menerima isyarat dari Figaro, dua orang pengawal jenderal menekan Teresalisa.

"Oh, betapa buruk rupanya……. Inikah wujud seorang Witches?"

Dari atas panggung singgasana, Omura memiringkan wajahnya dengan ekspresi duka, memandang rendah Teresalisa.

Radgini melanjutkan jalannya persidangan.

"Kalau begitu, mari kita panggil saksi berikutnya."

Menggantikan nenek tua, saksi yang berdiri di mimbar saksi adalah seorang pria yang mengenakan tudung hijau. Pria paruh baya dengan tubuh kurus dan kecil, yang benar-benar memancarkan kesan penakut. Tangan kanannya mencengkeram mulut kantong kulit yang dipegangnya, dan tangan kirinya menopang dasar kantong tersebut. Tangannya tampak sedikit bergetar.

Radgini menurunkan pandangannya ke arah perkamen.

"Namanya Keranzo. Tampaknya ia adalah pemburu yang sudah sejak lama menyuplai daging buruan ke Kastil Lowenstein. Apakah tidak ada yang keliru?"

"……Iya. Tidak ada yang keliru."

Sambil tetap ditekan tubuhnya oleh dua pengawal jenderal, Teresalisa menyatukan alisnya. Pemburu yang menyuplai daging ke kastil seharusnya adalah Diethelm. Ia belum pernah melihat apalagi mendengar nama pria seperti itu.

"Kalau begitu, Keranzo. Apakah Anda menerima sebuah permintaan dari Witches yang ditahan di Penjara Besi?"

"Iya……. Daripada disebut permintaan, hal itu lebih mirip seperti sebuah perintah──"

"Tunggu."

Teresalisa berteriak dari kursi terdakwa.

"Aku tidak mengenalnya. Aku belum pernah bertemu dengannya. Pria seperti itu──"

"Terdakwa harap tenang. Saksi, silakan dilanjutkan. Perintah seperti apa……?"

Radgini menahan Teresalisa dan menyuruh Keranzo untuk melanjutkan.

"Iya……. Jika saya menolak perintah tersebut, ia mengancam akan membunuh keluarga saya menggunakan kutukan, sehingga saya sangat tidak berani menolaknya……"

"Terdakwa memerintahkan Anda untuk melakukan apa."

"Memerintahkan saya untuk membunuh Snow White Lowe yang kabur ke hutan. Dan sebagai buktinya, ia menyuruh saya untuk membawa jantungnya kemari……"

"Lalu, apa yang Anda lakukan?"

"Saya membunuhnya."

Kepanikan menyebar di kursi penonton, dan suara riuh rendah mulai terdengar. Kepanikan yang sama juga melanda Teresalisa. Pria itu baru saja dengan jelas mengatakan bahwa ia telah membunuh Snow White.

"Kantong apa yang Anda pegang di tangan Anda itu?"

"Ini adalah bukti, yang saya bawa kemari."

"Bolehkah saya melihatnya?"

Radgini mengulurkan tangannya.

Keranzo mengangguk beberapa kali dengan cepat. Ia turun dari mimbar saksi dan berjalan ke arah Radgini. Tepat di depan kursi terdakwa, Keranzo berniat menyerahkan kantong kulit itu kepada Radgini.

──Namun, tangan Radgini tergelincir, dan kantong kulit itu jatuh ke kakinya.

Brak, percikan darah membasahi lantai batu. Benda yang berhamburan ke luar dari dalam kantong kulit adalah organ dalam. Usus dan hati yang bersimbah darah berserakan di atas lantai, mewarnai lantai dengan warna merah pekat.

Beberapa orang di kursi penonton yang panik bangkit berdiri. Jeritan nyaring bergema di seluruh aula.

Bado dan Roro yang baru saja bertemu langsung dengan Snow White menyadari bahwa organ dalam tersebut bukanlah miliknya. Kemungkinan besar itu hanyalah organ dalam binatang buas yang dimasukkan ke dalam kantong. Namun, bagi orang-orang di kursi penonton yang tidak mengetahui bahwa Snow White masih hidup, organ dalam yang tumpah beserta darah segar tersebut terlihat sebagai milik Snow White.

"Bohong, kan……?"

Melihat darah tersebut, wajah Delirium menjadi pucat pasi.

Teresalisa yang tidak mengetahui situasinya juga bereaksi serupa. Melihat organ dalam yang berserakan tepat di depannya, ia memalingkan wajah dan ambruk jatuh berlutut. Makian dan cacian dilemparkan dari kursi penonton.

"Pembunuh! Bakar hidup-hidup!" "Bunuh Witches itu! Jangan biarkan lebih banyak korban berjatuhan!"

"Bersalah! Bersalah! Bersalah! Bersalah!"

"Mohon ketenangannya. Harap tenang!"

Setelah Radgini menenangkan kursi penonton, Omura bangkit berdiri dengan khidmat.

"Dasar Witches hina……!"

Ucapnya dengan nada mencela.

"Tidak hanya Raja Prius yang dicintai oleh rakyat, kau bahkan sampai membunuh pewarisnya, Putri Snow White. Sudah terbukti jelas bahwa kau adalah seorang Witches. Kau tidak puas hanya dengan kediaman keluarga kaya, kau bahkan berniat menguasai Kerajaan Lowe ini untuk dirimu sendiri. Ambisi jahat itu, sama sekali tidak bisa kuabaikan."

Omura merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, lalu menyuarakan seruannya ke seluruh aula.

"Kepada seluruh rakyat, aku bertanya pada kalian. Apakah kita harus memberikan belas kasihan pada wanita ini, dan memaafkannya?"

Kursi penonton kembali menjadi riuh. Seruan untuk memberikan hukuman dan membakarnya hidup-hidup mulai terdengar.

"Kalau begitu, bukankah kita harus menjatuhkan hukuman padanya? Apakah aku ini, sebagai pengganti kakakku yang telah wafat──"

Omura menarik napas sesaat, lalu kembali menyuarakan seruannya hingga bergema di seluruh penjuru aula.

"Harus menjadi Raja Singa yang baru!?"

Tepuk tangan bergemuruh di aula. Omura mengangguk, lalu tersenyum puas.

Mengangkat tangannya ke atas kepala, ia menunggu hingga tepuk tangan mereda, lalu menjatuhkan maklumat.

"Permaisuri Teresalisa──Mirror Witch yang membunuh Raja Singa Prius, Putri Snow White, dan berniat merampas Lowe. Malapetaka yang keberadaannya hanya mendatangkan penderitaan bagi banyak orang. Aku tidak akan membiarkanmu memberikan penderitaan yang lebih banyak lagi bagi Lowe. Jadilah abu, dan sucikanlah dirimu──"

Kemudian, ia semakin menaikkan suaranya.

"Atas nama Raja Singa ke-19, aku menjatuhkan hukuman bakar pada dirimu!"

Tepuk tangan meriah kembali bergema dari kursi penonton.

Hampir seluruh pengunjung bangkit berdiri, menyambut lahirnya Raja Singa yang baru, dan vonis yang dijatuhkan oleh sang raja. Hanya rombongan dari Campusfellow saja yang tidak bertepuk tangan dan menyaksikannya dari pinggir.

Bado yang menopang pipinya pada kakinya yang dilipat bergumam.

"Sandiwara skala sebesar ini, aku belum pernah melihatnya……"

Roro melihat ke bawah ke arah Teresalisa di kursi terdakwa dari kursi penonton. Wajah yang telah kehilangan semangat hidup itu kembali ditutup dengan Topeng Santa oleh pemandu bertopeng paruh burung.

Sesaat setelah pengadilan Witches berakhir, Teresalisa segera dibawa kembali ke Menara Kurungan di kompleks Kastil Lowenstein. Karena api tidak bisa menyala saat hujan, hukuman bakar akan dilaksanakan besok pagi, setelah hujan reda.

Hingga saat itu, Teresalisa akan ditahan di dalam penjara di lantai teratas Menara Kurungan.

Mengingat kemungkinan Anjing Hitam akan kembali muncul, pengamanan di sana sangat ketat. Pintu masuk menara dijaga ketat oleh ksatria ahli, dan meskipun hanya Teresalisa seorang yang dipenjarakan di menara tersebut, para ksatria berpatroli di setiap lantai secara rutin.

Di depan penjara di lantai teratas, sebuah obor menyala. Wakil komandan pengawal jenderal dijadwalkan untuk berjaga semalaman suntuk. Ia juga adalah pria yang selalu mengurus Teresalisa saat berada di Penjara Besi.

Untuk membuat Teresalisa mengaku bahwa ia adalah seorang Witches di pengadilan, mereka sama sekali tidak boleh membiarkannya mendengar informasi bahwa Raja Singa sudah mati.

Karena itulah, ia yang selalu berjaga agar tidak ada seorang pun yang bisa mendekati Teresalisa. Wakil komandan pengawal jenderal ini memiliki dahi yang lebar, namun dengan cambang dan janggut yang lebat dan menyatu. Namanya Roberto.

"Aku serahkan sisanya padamu, Roberto."

Figaro yang memegang obor di tangannya berkata kepada Roberto yang berdiri di depan penjara. Meskipun sebenarnya ia ingin menepuk pundaknya untuk memberinya semangat, lengan kanan yang tidak memegang obor itu digantung dengan kain selempang (kain mitela).

"……Apakah Anjing Hitam itu, akan muncul?"

"Entahlah."

Roberto juga ikut dalam proses pemindahan Witches tadi malam. Dengan kata lain, ia sudah melihat sendiri dengan mata kepalanya kengerian Anjing Hitam, dan sangat memahaminya. Ia adalah satu dari dua orang yang selamat dari jatuh dari kuda dalam pasukan kavaleri. Tapi itu karena ia tidak bertarung. Sebagai orang yang melihat pertempuran Anjing Hitam dari dekat, membayangkan bahwa pria itu akan muncul kembali mengincar Teresalisa membuat bulu kuduknya berdiri, tak peduli seberapa kuat ia mencoba memberanikan diri.

"Malam ini mungkin kau akan merasa tidak tenang jika berjaga sendirian. Untuk berjaga-jaga, aku akan menambah jumlah ksatria di sini juga."

Berkata demikian pada Roberto yang wajahnya menegang karena cemas, Figaro pun berbalik.

Sebelum menuruni tangga spiral, ia melirik sekilas ke balik jeruji besi.

Teresalisa di dalam sel dipakaikan jubah berwarna cokelat kemerahan di atas gaun merahnya. Meskipun rantai yang menghubungkan pergelangan tangannya telah dilepas, belenggu batu yang mengikat kedua pergelangan tangannya dan Topeng Santa yang menutupi wajahnya tetap terpasang. Teresalisa akan menghabiskan malam terakhirnya dalam keadaan seperti itu. Topengnya baru akan dilepas besok, tepat sebelum ia dibakar hidup-hidup.

Tugas Figaro adalah berjaga agar narapidana ini tidak kabur sampai saat itu tiba. Anjing Hitam dari Campusfellow yang menginginkan Witches bisa saja datang untuk merebutnya seperti tadi malam.

Ia menempatkan personel hingga besok pagi, dan tidak akan melonggarkan pengawasan. Ia tidak berniat membiarkan Anjing Hitam masuk ke dalam menara selangkah pun. Tapi Figaro tidak tahu. Tak peduli seberapa banyak orang yang ditempatkan, asalkan ada kegelapan, Anjing Hitam bisa menyembunyikan dirinya di mana saja. Saat Figaro melangkahkan satu kakinya ke tangga spiral──.

Dari sudut di samping sel yang tidak terjangkau cahaya obor, bayangan hitam melompat keluar.

Roro yang mengenakan pelindung kepala hitam dan pelindung tangan hitam, tanpa suara melingkarkan lengannya di leher Roberto dari belakang.

Tepat sebelum kesadarannya memudar, Roberto mengerang pelan.

Suara yang sangat pelan yang hampir tenggelam oleh suara hujan yang bergema di menara. Namun Figaro secara refleks melepaskan obor di tangan kirinya. Ia tidak bisa menggunakan tangan kanannya karena digantung dengan kain selempang. Dengan hanya menggunakan tangan kirinya, ia mencabut pedang di pinggangnya dan memutar tubuhnya ke belakang.

Pedang yang diayunkannya dengan gerakan memutar menyapu membentur pelindung tangan Roro yang menyerang dari atas tangga. Suara benturan logam bergema di tangga spiral.

"……Ternyata kau datang juga. Anjing Hitam."

"……Mengayunkan pedang dua tangan dengan satu tangan, sepertinya merepotkan ya."

"Jangan remehkan aku!"

Figaro mengayunkan pedangnya ke atas dengan sekuat tenaga. Ia menangkis pelindung tangan Roro, lalu tanpa jeda mengayunkan pedangnya ke bawah.

Roro dengan mudah menghindari bilah pedang yang diayunkan dari atas kepalanya, lalu menendang dan mendorong pelat besi (plate armor) Figaro dari atas tangga. Figaro terhuyung-huyung mundur menuruni beberapa anak tangga.

"Ugh……"

"Omong-omong, Scolopendra adalah pedang satu tangan lho. Mau kupinjamkan?"

"……Diam. Sudah kubilang jangan meremehkanku!"

Figaro sekali lagi mengayunkan pedangnya tinggi-tinggi. Ia melangkah maju, memberikan serangan telak pada Roro yang berada di atas tangga.

Roro juga menghindari ini dengan mudah, tapi Figaro melakukan tindakan tak terduga. Ia menarik lengan kanannya dari kain selempang dan meluruskannya. Di ujung lengannya, tergenggam sebuah belati. Kekuatan genggamannya mungkin belum pulih, karena pisau itu diikat kuat-kuat dengan perban.

"……Ups."

Serangan dari lengan kanan yang ia kira tidak bisa digunakan. Roro memutar tubuhnya dan menghindar di saat-saat terakhir. ──Tapi, pada saat itu, karung rami yang digantungkan di pinggangnya terkoyak.

Kotak kayu paulownia yang jatuh dari dalam karung terguling dan berhenti di dekat kaki Figaro dengan suara yang bergemerincing. Itu adalah kotak kayu paulownia yang dititipkan oleh Diethelm pada Roro, untuk diserahkan kepada Permaisuri Teresalisa.

Figaro melihat ke bawah ke arah kotak itu, lalu mengernyitkan alisnya.

"……Hah? Kenapa kau membawa ini."

"Apakah Anda tahu apa isinya?"

Figaro membalikkan pegangan pedang dua tangan di tangan kirinya, lalu mengayunkan ujung pedangnya ke atas kotak itu. Dengan suara pecahan, tutup kotak kayu paulownia itu terbelah. Dari dalamnya, keluar sebuah cermin tangan.

"Sudah kuduga…… Ini seharusnya milik Tuan Prius."

Di cermin tangan putih itu, melilit hiasan ular.

Teresalisa yang duduk di dalam sel berada di dalam kegelapan. Karena Topeng Santa memblokir segalanya, ia tidak bisa melihat apa-apa, tidak bisa mendengar apa-apa. Hanya detak jantungnya sendiri yang ia rasakan.

Ia bertahan hidup dengan susah payah. Mata untuk menangis dan mulut untuk bersuara ditutup. Kebebasan tangannya dirampas, dan orang yang paling disayanginya direnggut darinya. Namun mengapa──kenapa ia masih bisa hidup?

Tiba-tiba seseorang menyentuh topengnya, membuat tubuh Teresalisa menegang. Sabuk topeng dipotong, dan pandangannya terbuka. Ia mengernyitkan wajah karena cahaya obor.

"Selamat malam."

Orang yang membawa obor dan menekuk lutut di depannya adalah Roro. Pelindung kepalanya diangkat, memperlihatkan wajahnya.

Pintu sel terbuka. Di depan sel, wakil komandan pengawal jenderal Roberto dan Figaro tergeletak.

"Saya sempat salah paham."

Roro berkata dengan suara berbisik.

"Warna lidah Magenta Witch, bukan berwarna magenta. Tapi warna biasa, seperti milik kita. Dia hanya mengubahnya menjadi warna magenta dengan sihir, kan?"

………… Roro mengeluarkan cermin tangan dari karung rami di pinggangnya. Melihat cermin tangan putih dengan hiasan ular melilit di gagangnya, Teresalisa merasa terguncang. Kenapa ia membawa cermin tangan yang seharusnya sudah ia lepaskan itu──.

Roro menatap mata merah misterius itu.

"Anda, sebenarnya adalah seorang Witches, kan?"

Di bagian belakang cermin tangan, terukir kecil nama "A.Fygi".

Itu adalah cermin tangan yang dipegang oleh Magenta Witch yang diceritakan oleh Nyonya Gilly.