Prolog: Penari Membara
Note:
Bado Grace menjadi Bud Grace
Heartland Pablo menjadi Hartland Pablo
Roro Dubell menjadi Rollo Duvel
1
Keindahan
kakak perempuanku di masa lalu sering diibaratkan seperti sekuntum bunga.
Bunga
merah yang mekar dengan penuh gairah, meski berada di tengah padang salju
utara.
Pada
usianya yang menginjak lima belas tahun, di "Malam Membara",
kakakku menari dengan mengenakan pakaian yang dipilihkan oleh ayah kami. Ia
menari di atas panggung yang didirikan di alun-alun, berlatar belakang kapal longship
aerodinamis yang layarnya terkembang lebar menantang langit malam.
Aku
menatap sosok kakakku yang sedang menari dari bawah panggung. Pemandangan itu
masih kuingat dengan sangat jelas hingga saat ini.
Warna rok
yang mengembang dari pinggangnya adalah merah. Gradasi warnanya semakin pekat
ke arah keliman rok. Lipatan-lipatannya yang berombak mengingatkan pada kobaran
api yang menyala-nyala. Merah adalah warna yang melambangkan "Dewi
Perang Sriedda". Tentu saja, ayah sudah memperhitungkan hal itu saat
memutuskan pakaian yang akan dikenakan kakak. Sebagai inkarnasi sang Dewi
Perang, kakak memancarkan aura mistis dan keagungan yang tak tercela.
Tubuh
ramping kakakku melompat mengikuti irama genderang.
Hembusan
napasnya yang manis seolah menghanguskan malam yang membeku, dan tatapan
matanya yang sayu membuat dada para pria berdebar kencang.
Di kedua
ujung longship, beberapa perisai kayu bundar berwarna cerah dipasang
berjejer. Kapal besar itu dirakit di tengah alun-alun yang dihujani rintik
salju.
Jumlah
pria yang mengelilingi kapal itu dengan mudah melampaui seribu orang. Ada yang
membiarkan janggut lebat menutupi wajah mereka, ada pula yang mengepang rambut
panjangnya dan membiarkannya tergerai. Postur tubuh dan usia mereka beragam.
Namun, mereka semua adalah pejuang tangguh yang memiliki fisik yang mampu
bertahan di tengah musim dingin yang ekstrem.
Mereka
mengenakan helm yang menutupi hingga ke pangkal hidung, memukul-mukul kapak
perang dan perisai kayu mereka. Mereka mengangkat pedang dan obor tinggi-tinggi
sambil menggemakan sorak-sorai. Begitu banyak embusan napas yang mengepul di
udara dingin. Keringat para pria yang berkerumun rapat itu berubah menjadi uap,
membuat alun-alun terselimuti kabut putih.
Angin
malam yang berembus kencang membuat kobaran api obor menari-nari dengan liar.
Tempo
irama genderang yang semakin cepat, berpadu dengan melodi senar yang dipetik
kencang. Mengikuti alunan suara bagpipe yang bergema tinggi, kakakku
terus menari tanpa alas kaki di atas panggung, mengibaskan selendang merahnya.
Ia
mengibaskan rok apinya, sesekali memperlihatkan kaki putihnya hingga ke
pangkal. Terkadang ia meliukkan tubuhnya yang mungil, dan di saat lain ia
membusungkan dadanya yang kecil. Melengkungkan pinggangnya dengan menggoda,
seolah-olah sedang berdoa, ia menengadahkan dagu kecilnya ke langit.
Mata
kanannya yang terbuka menatap provokatif ke arah para pria di bawahnya. Iris emerald
green yang berkilauan ditimpa cahaya obor yang dinyalakan di atas panggung.
Namun, hanya mata kanannya yang terbuka. Saat menari, kakak selalu memejamkan
mata kirinya. Hanya pupil kanannya yang ia perlihatkan kepada para pejuang.
Warna
mata orang Versia pada umumnya adalah biru muda. Karena itulah, kakakku yang
memiliki sepasang mata emerald green sangatlah istimewa. Selain itu,
ciri khas lain dari kakak adalah ujung telinganya yang sedikit runcing. Telinga
yang tidak mencerminkan ciri khas orang Versia itu hanya ia perlihatkan di
depan umum pada "Malam Membara", dengan rambut yang diikat ke
atas.
Ketika
alun-alun akhirnya dipenuhi dengan hawa panas, kakak memperkecil gerakannya.
Para
musisi menurunkan volume permainan mereka, menyesuaikan dengan gerakan sang
penari. Hanya suara genderang dengan ritme konstan yang terus bergema di
alun-alun, bagaikan detak jantung.
Dan, dan,
dan—. Dan,
dan, dan—.
Kakak
menghentakkan kakinya di atas panggung. Para pria meniru gerakan itu. Mengikuti
ritme yang diciptakan kakak, mereka menginjak-injak lumpur bercampur salju yang
mencair dengan kuat, sangat kuat.
"O!,
O!, O!...! O!, O!, O!...!"
Duaar—. Setelah satu pukulan yang sangat
keras, suasana mendadak sunyi senyap bak disiram air.
Ayahku,
sang kepala suku, berteriak kepada para pejuang yang berkumpul.
"Kapalnya
akan berangkat, nyalakan apinyaaa!!"
Sorak-sorai
menggelegar, dan obor-obor dilemparkan silih berganti ke arah longship
yang berada di belakang kakak. Musik kembali dimainkan, dan kakak melanjutkan
tarian dewiku.
Obor yang
dilemparkan dari segala arah dengan cepat membakar kapal kayu itu.
Di dalam
kapal, selain tumpukan jerami dalam jumlah besar, juga dimuat berbagai macam
hidangan mewah seperti daging rusa berbulu panjang dan babi hutan, mead (anggur
madu), serta susu kambing. Selain itu, terdapat pula piring emas dan cawan
perak, piala minuman dan pedang yang terbuat dari tanduk rusa yang diukir,
kapak perang, dan perhiasan seperti kalung. Semuanya adalah hadiah untuk para
pejuang yang telah gugur di medan perang.
Asap
hitam yang mengepul tebal membumbung tinggi menuju langit yang tertutup awan
tebal.
Setiap
kali obor dilemparkan, bunga api meletup dan berterbangan di atas kapal.
Layar
yang terselimuti asap berkibar-kibar ditiup angin kencang, dan terbakar dengan
hebat.
Kobaran
api menerangi malam yang istimewa ini dengan cahaya yang terang benderang.
Kakak merentangkan kedua lengannya lebar-lebar. Wajahnya terselubung bayangan
karena membelakangi cahaya. Tapi dia tersenyum—hanya itu yang bisa kulihat.
Pipinya merona merah, menatap para pria dengan pandangan sayu, dan terus menari
sambil memercikkan keringat.
Tarian
semakin intens. Irama genderang semakin cepat. Para pria menghentakkan kaki
mereka.
"O!,
O!, O!...! O!, O!, O!...!"
Tiang
kapal yang diselimuti api roboh dengan suara retakan yang keras, dan euforia
yang menyelimuti alun-alun mencapai puncaknya. Di tengah sorak-sorai yang
menggelegar, hujan bunga api menghanguskan langit malam. Tarian kakak tak
kunjung usai. Musik tak kunjung berhenti. Ia melompat-lompat di atas panggung,
membasahi bibirnya yang kering dengan ujung lidahnya. Terus memprovokasi para
pejuang.
—Lebih
lagi, lebih!
Setiap
pejuang yang menatap ke atas panggung pasti mendengar suara itu. Suara kakak.
Tekadnya.
—Lompatlah
lebih tinggi! Bersoraklah lebih keras!
"Ahahahahaha!"
Dengan longship
yang terbakar sebagai latar belakang, kakak tertawa sambil memancarkan kilau di
mata emerald green-nya.
Kakak
mempersembahkan tarian untuk mereka yang telah tiada. Sebagai inkarnasi sang Dewi
Perang Sriedda. Atau mungkin, sebagai perwujudan Dewi Perang Sriedda itu
sendiri. Tidak hanya memikat jiwa orang-orang yang telah mati, tetapi juga
siapa saja yang melihatnya.
Keindahan
kakak perempuanku di masa lalu sering diibaratkan seperti sekuntum bunga.
Bunga
mekar yang memesona dan diselimuti api, meski berada di tengah padang salju
utara.
Bunga
yang tak boleh disentuh oleh siapa pun. Ayah telah menciptakannya agar menjadi
seperti itu.
Tarian
kakak yang dipertunjukkan pada "Malam Membara" itu berhasil
memikat banyak orang Versia. Di antara para anggota Versia Heroi yang hadir di
alun-alun itu, pastilah tidak ada satu pun yang tidak jatuh cinta padanya.
Namun sang penari itu adalah milik ayahku, sang kepala suku. Tak ada seorang
pun yang boleh mendekatinya.
Ayah
mencintai kakak secara berlebihan.
Para pria
yang baru kembali dari ekspedisi biasanya mempersembahkan sebagian dari emas
dan barang jarahan mereka kepada ayah, tetapi ayah sangat menyukai
barang-barang yang sekiranya akan disukai oleh seorang gadis muda. Tentu saja,
itu semua untuk diberikan kepada kakak. Kabarnya, para bawahan yang ingin
mengambil hati ayah akan berlomba-lomba merampas tiara atau pakaian wanita
terlebih dahulu daripada koin emas atau makanan mewah saat mereka berada di
wilayah penaklukan.
Ayah
memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan apa pun yang diinginkan kakak, dan ia
menugaskan empat orang pelayan wanita untuk mengurus semua kebutuhan kakak.
Kakak harus meminta izin ayah jika ingin keluar rumah, dan peraturannya, salah
satu dari pelayan ini harus selalu mendampinginya. Ke mana kakak pergi, apa
yang ia lakukan, dengan siapa dan apa yang ia bicarakan—para pelayan itu akan
melaporkan segalanya kepada ayah setiap kali kakak keluar.
Kakak
tidak memiliki kebebasan. Ia selalu diawasi dan dikendalikan. Oleh karena itu,
mereka yang terpikat dan ingin mengetahui lebih jauh tentangnya akan bertanya
kepadaku, adiknya. Apa makanan kesukaannya? Apa bunga favoritnya? Kapan ia
akan turun ke kota? Sebenarnya seperti apa sifatnya? Ketika ditanya seperti
itu, aku akan berpikir sejenak, lalu menjawab bahwa ia adalah orang yang sering
tertawa.
Ingatanku
yang paling awal tentang kakak rasanya adalah saat kami bermain ayunan berdua.
Ketika kakak masih kecil, karena ia tidak bebas pergi ke luar kastil, keempat
pelayannya membuatkan sebuah ayunan dan menggantungnya di dahan pohon birch
putih di dalam area kastil untuknya.
Di suatu
pagi yang dingin dengan hamparan salju yang baru turun. Karena tak sabar
menunggu gilirannya, kakak melompat ke atas ayunan yang sedang kududuki. Bukan
dari belakang, melainkan dari depan. Ia berdiri sedemikian rupa hingga
pergelangan kakinya mengapit pinggangku, dan mulai mengayunkan ayunan itu
sambil berdiri. Ia merendahkan pinggulnya untuk menggoyangkan ayunan, lalu
meluruskan lututnya untuk mendapatkan momentum.
Ayunan
itu melaju semakin cepat dan mengayun semakin tinggi. Kehilangan kesempatan
untuk melompat turun, aku hanya bisa mencengkeram tali ayunan dengan putus asa.
Perasaan mual mengaduk-aduk perutku. Angin yang menerpa membuat ujung telingaku
mati rasa. Seingatku, aku menutup mata rapat-rapat dan memohon padanya dengan
sungguh-sungguh untuk berhenti karena itu menakutkan dan berbahaya. Tapi sejauh
yang kuketahui, tak sekalipun kakak pernah mendengarkan pendapatku.
—Buka
matamu, Pengecut.
Kakak
selalu memanggilku "Pengecut" sejak kami masih kecil.
—Kau
takut karena kau tidak bisa melihatnya. Kau takut karena kau tidak mau
melihatnya.
Karena
diejek, aku pun membuka mata. Saat aku mendongak dengan ragu-ragu, wajah kakak
berada tepat di atasku.
Berlatarkan
langit biru cerah tanpa awan sedikit pun, ia menatapku sambil tertawa.
Kakak
semakin mempercepat laju ayunan. Pegunungan yang terlihat di balik tembok
kastil putih seolah terbalik di belakang kepala kami. Rambut panjang kakak
menari-nari tertiup angin di langit yang jernih, dan ujung telinganya yang
runcing mengintip dari sela-sela rambutnya.
"Ahahahahaha!"
Kakak
selalu tertawa. Tertawa lepas tanpa memedulikan pandangan orang lain. Suaranya
selalu berhasil mengusir rasa pengecutku, dan memberiku keberanian. Suaranya
membuatku, si "Pengecut", menjadi sedikit lebih kuat.
Sangat
bertolak belakang dengan kakak yang dicintai oleh banyak orang, aku yang
tertutup ini sangat pengecut dan lemah.
Justru
karena aku selalu berada di dekat kakak yang merupakan inkarnasi dari
keindahan, aku menyadari betapa buruk rupanya diriku sejak dini.
Hidung
bengkokku yang tajam dan mata melototku adalah warisan dari ayah. Namun tak
seperti ayah yang bertubuh besar dan kekar, tubuhku sangat kurus dan kerempeng,
dengan tulang rusuk yang tercetak jelas. Aku tak ubahnya seperti anak rusa yang
baru lahir. Kelemahan fisik yang bahkan membuatku tak sanggup mengayunkan kapak
dengan benar adalah hal yang paling dihindari di Versia. Penampilanku yang
buruk rupa itu semakin membuat sifatku menjadi rendah diri dan pengecut.
Sejak
kecil, yang selalu membuat onar adalah kakak yang nakal.
Pernah
suatu kali tulang lenganku dipatahkan oleh kakak yang mengayun-ayunkan pedang
kayu, berdalih kami sedang bermain perampokan. Pernah juga aku diseret paksa
karena ia ingin bermain petualangan, yang ujung-ujungnya membuat kami tersesat
di hutan. Setiap kali kakak melanggar peraturan, keempat pelayan yang dimarahi
oleh ayah sungguh membuatku merasa kasihan.
Ketika
kakak mengatakan bahwa ia ingin pergi ke pasar loak yang diadakan setiap hari
Minggu, aku mencegahnya dan berkata bahwa ia harus meminta izin ayah terlebih
dahulu. Namun kakak tidak mendengarkan kata-kataku. Pada akhirnya, kakak,
keempat pelayannya, dan bahkan aku yang ikut terseret masalah, disuruh berdiri
berjejer dan dimarahi habis-habisan. Saat itu terjadi, kakak selalu melimpahkan
kesalahannya padaku. Ia bilang bahwa akulah yang ingin pergi ke hutan, atau
akulah yang ingin melihat pasar loak.
Ia
beralasan bahwa ia hanya menemani adiknya. Aku yang pemalu ini tak mampu
membantah, dan selalu berakhir dipukuli oleh ayah. Kakak melirik ke arahku, dan
tertawa sinis lagi, pelan-pelan.
Suatu
saat nanti, kakak berkata ia ingin keluar dari kastil ini. Ia tidak ingin
sekadar bermain peran, ia ingin berpetualang sungguhan. Aku bisa dengan mudah
membayangkan sosok kakak yang memimpin para pria tangguh, memimpin armada besar
Versia, dan melesat menuju lautan lepas.
Orang
yang pantas mewarisi takhta ayah dan menjadi raja pastilah bukan diriku.
Kakaklah yang seharusnya menjadi pewaris ayah, dengan sifatnya yang ceria dan
mudah bergaul, dipadukan dengan keberanian serta kecerdikannya. Ia memiliki
bakat untuk itu. Jelas jauh lebih baik dariku.
Namun,
kakak di masa itu pasti juga sudah menyadari bahwa petualangan semacam itu
hanyalah impian yang tak akan pernah terwujud.
Ada
alasan mengapa kakak tidak bisa memimpin kami, ras Versia Heroi. Kakak tidak
dilahirkan untuk menjadi seorang Ratu. Ayah membuat kakak terlahir agar ia
menjadi sang Dewi Perang Sriedda.
"Dewi
Perang Sriedda" adalah dewi api yang muncul dalam mitologi Versia. Ia
bertugas memandu jiwa para pejuang pemberani yang gugur dalam pertempuran
menuju istana surgawi. Dengan mengenakan selendang merahnya, ia menari-nari bak
kobaran api yang tertiup angin. Dikatakan bahwa ia adalah dewi yang penuh
cinta, yang kecantikannya tak hanya memikat orang mati, tetapi juga para dewa
di sekitarnya.
Namun
anehnya, meskipun Dewi Perang Sriedda adalah dewi dalam mitologi Versia, ia
bukanlah orang Versia. Warna matanya yang dikisahkan dalam mitologi adalah emerald
green. Dan ujung telinganya runcing. Itu jelas bukan ciri fisik orang
Versia. Ciri-ciri tersebut melambangkan Orang Ilf, ras yang menetap jauh di
pedalaman (North Land). Dewi Perang Sriedda adalah seorang Ilf.
Itulah
sebabnya ayah melarang kakak mengayunkan pedang kayu. Sebagai orang Versia,
wajar bagi anak laki-laki maupun perempuan untuk bermain petualangan dan
perampokan sejak kecil, namun ayah juga melarang semua itu.
Bagi
kakak—dan hanya bagi kakak seorang—ia tidak diizinkan memiliki sifat kasar
seperti orang Versia.
Itu
karena darah orang Ilf mengalir dalam diri kakak. Kakak adalah anak ras
campuran.
Sebagai
raja yang memimpin ras Versia Heroi, ayah sengaja mencoba
"menciptakan" seorang dewi demi meraih penghormatan tertinggi dari
para pejuang. Untuk mewujudkan hal itu, ia menghamili seorang wanita Ilf yang
ditawannya, dan memaksanya melahirkan. Jika bayinya laki-laki, ia akan
membunuhnya. Jika warna matanya biru, ia juga akan membunuhnya. Dan yang
akhirnya terlahir adalah kakak, yang hanya mata kanannya saja yang berwarna emerald
green.
Saat
menari di atas panggung, kakak telah dilatih agar tidak pernah membuka mata
kirinya yang berwarna biru muda. Bagaimana jika suatu saat, secara tak sengaja
ia membuka mata kirinya dan menghancurkan citra mitologisnya? Kakak yang
kehilangan status sebagai "Dewi Perang Sriedda" mungkin sudah
dibunuh oleh ayah.
Pada
malam itu, kakak menari di ambang batas antara hidup dan mati.
2
Pada
tahun yang sama saat kakak menari di "Malam Membara", ibuku
meninggal dunia. Waktu itu kakak berumur lima belas tahun, dan aku berumur
sepuluh tahun.
Ibuku
dahulu adalah seorang wanita Versia yang berjiwa besar, periang, sangat peduli
pada orang lain, dan gemar menolong. Berkat tubuhnya yang gempal, ia sangat
kuat dan rajin bekerja. Meskipun ia adalah istri dari sang kepala suku dan bisa
saja menyuruh orang lain, ketika kayu bakar menipis, ia tak segan-segan
mengayunkan kapak tangan sendiri, dan ia tetap mencuci pakaian tanpa
memedulikan tangannya yang kedinginan. Kepada para pelayan, ia dengan murah
hati menyajikan masakan buatannya sendiri. Melihat hal itu, para pelayan wanita
akan bergegas menghampiri dan membantu ibu. Ibuku memiliki bakat untuk menarik
orang. Ketika orang-orang berkumpul, suasana akan menjadi semarak. Kastil Danau
Bjorkoe tempat kami tinggal, berpusat di sekitar ibu.
Karena
ibu selalu memperlakukan semua orang tanpa pandang bulu, ia juga memperlakukan
kakak, yang tidak memiliki hubungan darah dengannya, layaknya anak kandungnya
sendiri. Terkadang ia memarahinya dengan sungguh-sungguh, namun di saat lain ia
memeluknya dengan penuh kasih sayang. Kakak pasti juga mencintai ibu yang
seperti itu layaknya ibu kandungnya sendiri.
Wanita
Versia tidak boleh hanya terus-menerus dilindungi. Ibu sering mengatakan hal
itu pada kakak.
Ia
mengajarkan bahwa wanita tidak berada di pihak yang dilindungi oleh pria,
melainkan di pihak yang melindungi. Melindungi rumah, melindungi kehidupan, dan
melindungi tempat para pria pulang. Itulah cara bertarung wanita Versia, kata
ibu. Dan sesuai dengan kata-katanya, ibu selalu bekerja. Bersama para wanita
lainnya, ia terus melindungi kampung halaman tempat para pria yang pergi
berpetualang akan kembali.
Namun,
ketika Perang Empat Binatang Buas yang melanda seluruh benua semakin memanas,
hawa kelam mulai menyelimuti kota ras Heroi. Jumlah pria yang kembali setelah
berlayar untuk mengusir orang Transmare, jelas semakin berkurang. Kalaupun
mereka berhasil kembali, ada yang aneh dengan keadaan para pejuang yang terluka
itu.
Para
pejuang tangguh yang tak kenal takut itu gemetar ketakutan dengan wajah pucat
pasi. Kisah perang yang mereka ceritakan pada kami, tak satupun yang tak
mengerikan. Pertempuran besar di mana dataran dipenuhi oleh barisan para Knights
dan prajurit. Sungai yang membentang di sepanjang benua dipenuhi mayat yang tak
terhitung jumlahnya, dan permukaan airnya diceritakan berubah menjadi merah
darah.
Dalam
cerita mereka, muncul ordo kesatria emas yang berbaris dalam formasi dengan
jumlah yang tak terhitung, dan seorang Assassin layaknya monster yang
membantai tiga ratus orang dalam satu malam sendirian. Dan musuh yang membuat
mereka serempak berkata "rasanya mustahil untuk menang" dan begitu
mereka takuti, adalah para Sorcerers Amelia. "Sihir"
yang mereka gunakan.
Aku
menganggap pengalaman perang mereka layaknya dongeng dari negeri antah
berantah. Alasan mengapa aku sering mengunjungi paviliun medis adalah karena
aku merasa cerita-cerita ajaib mereka sangat menarik. Seandainya aku bisa
benar-benar merasakan ketakutan—dan menyadari bahaya yang mengancam saat itu,
mungkin tragedi mengerikan seperti ini tidak akan terjadi.
Ibu dan
para wanita lainnya terus merawat orang-orang yang terluka sepulang dari perang
dengan penuh pengabdian.
Namun
peperangan itu tak kunjung usai. Jumlah mereka yang terluka hanya semakin
bertambah. Sambil mendengarkan isak tangis para wanita yang kesepian karena
kehilangan suami, serta rintihan para pria yang kehilangan tangan dan kaki
mereka, ibu bekerja lebih keras daripada siapa pun. Dan mungkin karena
kelelahan yang menumpuk, pada akhirnya ia jatuh pingsan.
Awalnya
kami, dan mungkin ibu sendiri, berpikir bahwa keadaannya akan segera membaik
jika ia beristirahat.
Namun,
ibu tak kunjung beranjak dari ranjang sakitnya. Ia mengeluh bahwa tubuhnya
terasa berat dan kepalanya selalu sakit. Nafsu makannya menurun drastis, dan
tubuhnya yang gempal perlahan-lahan menjadi kurus kering. Entah penyakit apa
yang dideritanya. Apakah itu racun, atau mungkin kutukan, penyebab dan cara
penyembuhannya tak ada yang tahu. Tabib telah mencoba berbagai macam ramuan
herbal, namun kondisi ibu semakin hari semakin memburuk.
Mungkin
karena ia menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tidur, perasaannya
menjadi sangat murung, dan sepertinya ia kehilangan gairah untuk melakukan apa
pun. Terlihat jelas bahwa emosinya menjadi tidak stabil. Terkadang ia tiba-tiba
menangis seolah menjadi orang yang berbeda, lalu marah meledak-ledak. Suatu
ketika ia melempar barang ke arah orang yang datang menjenguknya, namun tak
lama kemudian sikapnya berubah drastis menjadi sangat lembut dan memeluk kami
erat-erat.
Bagaimana
kami harus menghadapi ibu yang bertindak impulsif ini? Ayah, para pengikut, dan
bahkan para wanita yang sangat menyayangi ibu, semuanya kewalahan menghadapi
perubahan sikapnya. Akan tetapi, kami berdua tak pernah menyerah untuk menyembuhkan
ibu. Ibu telah berjuang demi melindungi kampung halaman kami, hingga berakhir
seperti ini. Tak sepantasnya ia kami abaikan. Aku ingin ibu yang ceria kembali.
Aku ingin melihatnya tertawa lepas lagi.
Itulah
sebabnya kami mencari informasi di berbagai literatur dengan sungguh-sungguh,
dan memanjatkan doa kepada dewa-dewa Versia.
Namun doa
kami tak pernah tersampaikan.
Suatu
pagi, ibu tiba-tiba menghilang dari tempat tidurnya, dan mayatnya ditemukan di
dasar jurang yang tertutup salju.
Dewa-dewa
dalam mitologi Versia mengagungkan kematian dalam peperangan atau duel.
Jiwa
mereka yang gugur dengan gagah berani akan dituntun oleh sang Dewi Perang
Sriedda menuju surga, lalu diundang ke istana tempat para dewa bersemayam. Di
sana mereka akan disambut dengan hangat dan dijamu dengan mewah, lalu terus
berlatih untuk mempersiapkan diri menghadapi pertempuran berikutnya. Itulah
kehidupan setelah mati yang dianggap paling terhormat sebagai seorang pejuang.
Sebaliknya, mereka yang mati karena penyakit atau usia tua akan dianggap
sebagai pihak yang lemah. Mereka yang mati tanpa menumpahkan darah tak akan
dinaikkan ke surga, melainkan dijatuhkan ke dunia bawah (neraka).
Dewa-dewa
Versia membenci orang yang lemah. Terlebih lagi, hukuman bagi mereka yang bunuh
diri sangatlah tidak kenal ampun.
Orang-orang
lemah yang dijatuhkan ke dunia bawah, tubuhnya akan diikat pada tiang dan
dipanggang dengan api. Dimulai dari telapak kaki, tubuh mereka akan dibakar
perlahan-lahan. Kulit melepuh, organ dalam hangus, dan meskipun hanya tersisa
tulang belulang, di dunia bawah terdapat seekor "Anjing Berkepala Dua".
Begitu anjing itu melolong, jiwa yang hampir sirna itu akan kembali ke tubuh
para pendosa, dan siksaan api yang membakar itu akan terus berlanjut selamanya.
Pada
malam badai petir ketika langit tertutup awan tebal, jeritan keputusasaan
orang-orang yang bunuh diri yang dibakar hidup-hidup itu konon bisa terdengar
sebagai suara angin. Saat masih kecil, suara itu sangat menakutkan, hingga aku
dan kakak akan saling berpelukan dan menutup telinga kami sambil gemetaran,
namun jika itu adalah suara ibuku tersayang... Jika membayangkan hal itu,
kesedihan jauh lebih mendominasi daripada ketakutanku.
Mengapa
ibu memilih untuk mengakhiri hidupnya? Aku yakin itu juga demi kampung halaman
kami. Bukannya melindungi negara, ia malah menjadi beban, dan mungkin ia tidak
bisa memaafkan dirinya sendiri karena hal itu. Aku pernah mendengarnya bergumam
kepada tabib yang datang untuk memeriksa perkembangannya, memohon agar tabib
itu membunuhnya saja.
Mereka
yang mati karena usia tua, penyakit, atau bunuh diri, akan dipakaikan sepatu
pada kaki mereka. Karena jalan menuju dunia bawah dianggap sangat panjang dan
terjal, dengan rasa iba terhadap orang yang meninggal yang akan kasihan jika
harus bertelanjang kaki, sepatu bersol tebal akan dipakaikan tepat sebelum
jasad mereka dikremasi. Karena ibu adalah istri kepala suku, tidaklah aneh jika
gerobak untuk mengangkutnya, dan juga rusa berbulu panjang yang menarik gerobak
itu, ikut dilemparkan ke dalam api bersamanya.
Namun
ayah berkata, "Biarkan dia berjalan kaki."
Jangankan
kereta dorong, ayah bahkan menyuruh mereka membakarnya tanpa memakaikan sepatu.
Ayah tidak memaafkan ibu yang telah bunuh diri. Ayah menatap jasad ibu, yang
dianggap telah mencoreng wajahnya sebagai kepala suku, dengan pandangan
meremehkan. Ia mendecakkan lidahnya ke arah ibu yang dibaringkan di tempat
kremasi, dan bahkan tidak menunggu sampai tubuh ibu selesai dibakar.
Kakak
menatap ayah yang seperti itu dengan tajam, sangat tajam.
3
Hal itu
terjadi tak lama setelah ibu meninggal. Aku dan kakak menghindari pengawasan
para pelayan, dan menyelinap keluar dari Kastil Danau Bjorkoe.
Tujuan
kami adalah hutan lebat yang terletak di belakang danau. Hutan jenis konifer
yang pernah kumasuki saat menemani kakak bermain petualangan. Saat itu, secara
kebetulan kami menemukan sebuah kuil yang sudah lapuk di kedalaman hutan tempat
kami tersesat.
Sebuah
kuil kecil dari batu dengan desain yang sederhana. Ketika kutanyakan pada
seorang kakek yang paling tahu segalanya di desa, ia bilang bahwa tempat itu
adalah kuil yang dibangun oleh orang-orang Ilf, saat tanah ini masih menjadi
milik mereka di masa lalu. Kenapa altar seperti ini didirikan di pedalaman
hutan? Alasannya adalah—
"Karena
ini adalah tempat yang sakral. Memang terasa agak dingin ya, Ane-sama...."
Kuil itu
berdiri sendirian di sebuah lahan terbuka tempat pepohonan telah ditebang.
Pilar-pilar
silinder berjajar di pintu masuk bangunan, dililit tanaman rambat berwarna
hijau. Desainnya terlihat seperti langit-langit atap segitiga yang ditopang
oleh beberapa pilar retak dan hancur. Suasana di sekitarnya mengisyaratkan
bahwa tempat itu bisa runtuh kapan saja, membuat siapa pun ragu untuk masuk ke
dalamnya.
"Dingin?
Sangat sakral itu maksudnya dingin? Aku tidak merasakan apa-apa,
lho?"
Namun,
tanpa memedulikan suasananya yang menyeramkan, kakak melangkah lebih dulu
memasuki kuil.
Di
punggungnya yang mungil itu terpasang pedang satu tangan yang ia curi dari
gudang senjata. Di kedua lengannya, ia mendekap guci abu ibu. Aku berseru
"Tunggu!" dan bergegas mengejar punggung kakak.
Kuil ini
dulunya juga merupakan tempat tinggal komunal para pendeta Ilf. Karena itu,
bagian belakang bangunan ini merupakan area tempat tinggal. Namun, tujuan kami
berdua adalah lantai utama yang berada tepat setelah pintu masuk. Ruang altar,
tempat orang-orang dulunya berkumpul dan memanjatkan doa.
Cahaya
matahari masuk dari celah jendela di dinding batu. Ruangan itu terasa dingin
dan remang-remang.
Hampir
tidak ada apa pun yang tersisa di ruang altar yang terbengkalai itu. Hanya ada
sebuah meja kayu yang menempel di dinding dan rak pajangan bertingkat di sudut
ruangan. Rak itu ditutupi kain merah tua, dan di atasnya berserakan piring
datar yang pecah serta tempat lilin.
Aku
menurunkan karung goni yang kubawa ke atas lantai batu. Ada banyak hal yang
harus kulakukan sebelum malam tiba. Sambil melirik kakak yang meletakkan guci
abu di rak pajangan, aku mengeluarkan buku sihir dari karung goni.
Alasan
mengapa aku diam-diam menyembunyikan buku itu adalah karena aku tertarik dengan
apa yang disebut "sihir" yang diceritakan oleh para prajurit
yang kembali dari medan perang. Mungkin saja kekuatan itu bisa memberikanku
kekuatan, bahkan untuk diriku yang begitu lemah dan tak mampu mengayunkan kapak
perang dengan benar. Itulah sebabnya, ketika aku menemukan buku sihir itu di
pasar loak yang memamerkan banyak barang jarahan dan hasil rampasan perang, aku
sangat kegirangan hingga rasanya ingin melompat.
Buku itu
adalah buku tua dengan halaman yang sudah menguning. Walau tua, sampul kulitnya
terlihat megah, dan jika melihat teks dan ilustrasi di dalamnya, buku itu
tampaknya telah disusun dengan sangat teliti. Di sampulnya tergambar lambang
naga. Aku secara naluriah meyakini bahwa buku setebal dan seberat itu adalah
asli.
Itu
adalah buku dari agama lain. Tentu saja, buku itu ditulis dalam bahasa
Transmare, dan aku sangat kesulitan untuk memahami isinya, tetapi secara
sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orang-orang di kastil, perlahan-lahan aku
mulai menerjemahkan isinya. Di dalam buku itulah tertulis keberadaan "Monster
Iblis yang Membangkitkan Orang Mati".
Pearl
Dragon—naga
cantik yang seluruh tubuhnya tertutup sisik perak keputihan, konon memiliki
mata berkilauan seperti permata dan tanduk seperti terumbu karang, serta
memikat orang-orang dengan aromanya yang manis. Di buku itu tertulis bahwa
suara teriakannya yang lembut memiliki kekuatan penyembuhan. Dikatakan bahwa
dengan satu kali teriakan saja, ia mampu menyembuhkan luka seseorang, dan
terkadang bahkan dapat membangkitkan orang yang sudah mati.
Naga yang
mampu menyembuhkan luka manusia—jika aku mengandalkan naga dari negara musuh
itu, mungkin aku bisa menyembuhkan penyakit ibu. Tentu saja, aku sempat
berpikiran seperti itu. Dalam buku sihir itu, tertulis cara untuk memanggil
naga tersebut. Namun, alasan mengapa aku tidak—lebih tepatnya, tidak bisa
melakukan pemanggilan itu, ada penyebabnya.
Aku
kekurangan bahan untuk melakukan pemanggilan. Untuk memanggil Pearl Dragon,
aku membutuhkan bagian tubuh dari naga itu sendiri. Taring, tanduk, atau
sisiknya—apa pun tidak masalah asalkan itu milik Pearl Dragon. Sekecil
ujung kuku pun tidak apa-apa. Karena aku tidak berhasil menemukan bahan sekecil
itu, ibu keburu meninggal dunia.
Dan pada
hari ibu dikremasi.
Saat aku
menangis tersedu-sedu karena menyadari ketidakberdayaanku sendiri, kakak
mengelus punggungku. Aku mengadu padanya. Bahwa mungkin saja aku bisa
menyelamatkan ibu, namun pada akhirnya tidak bisa. Dan pada saat itulah,
akhirnya aku mengungkapkan keberadaan buku sihir itu kepadanya. Mendengar hal
itu, kakak menjadi sangat marah. Mengapa aku tidak menceritakan hal itu
kepadanya lebih awal?
Saat
pemakaman, kakak mengenakan pakaian formal dan memakai sebuah kalung. Kalung
indah dengan untaian cangkang kerang berwarna keperakan. Itu adalah hadiah
pemberian ayah. Ayah menerima kalung itu sebagai persembahan dari harta
rampasan saat ekspedisi militer. Apakah mungkin seorang bawahan memberikan
barang palsu kepada sang kepala suku? Ketika kakak menyerahkan kalung itu
kepadaku, intuisiku mengatakan: Ini adalah barang asli. Sisik Pearl Dragon
yang selama ini kucari, ternyata selama ini terkalung di leher kakak.
Apakah
caraku sudah benar? Apakah ibu benar-benar akan hidup kembali? Sesuai dengan
apa yang tertulis di buku sihir, aku menggambar lingkaran sihir di lantai batu
menggunakan kapur, dan menyalakan api pada beberapa lilin.
Selama
mempersiapkan ritual, dadaku dipenuhi rasa cemas. Yang akan kupanggil adalah
naga dari negara musuh. Belum tentu aku bisa mengendalikannya. Aku juga tidak
yakin ayah akan memaafkanku jika tahu aku mencoba membawa ibu kembali dari
dunia bawah. Hukuman macam apa yang akan dijatuhkan padaku jika hal ini
ketahuan?
Ketika
malam tiba, dan sudah saatnya untuk memulai pemanggilan, aku ketakutan dan
berucap, "Sebaiknya kita persiapkan lagi sedikit lebih matang",
tetapi kakak membentakku. Pengecut, apakah kau masih pantas disebut sebagai
laki-laki Versia?
—Bahkan
saat kita diam di sini, Mama terus-menerus dibakar oleh api dunia bawah. Apa
kau bisa menahannya? Apa kau sanggup diam saja melihat Mama yang begitu baik
hati itu menangis dan menjerit?
Wanita
Versia tidak boleh hanya terus-menerus dilindungi. Jika ada hal yang
benar-benar berharga, kau harus melindunginya dengan kedua tanganmu sendiri.
Kakak menghunuskan pedangnya dengan mulus. Jika naga yang kami panggil
mengamuk, kakak yang akan menebasnya dan membuatnya patuh. Itulah alasan
mengapa pedang itu disiapkan.
—Tinggal
sedikit lagi, Pengecut. Yang kau butuhkan sekarang hanyalah keberanian.
Ya, aku
memang seorang pengecut. Aku penakut dan rendah diri. Tetapi saat itu, kakak
ada di sisiku. Suaranya memberiku keberanian. Sang penari "Malam
Membara" itu telah membuatku menjadi lebih kuat.
Kami
memilih malam bulan purnama, saat kekuatan magis berada pada puncaknya. Cahaya
bulan masuk dari jendela di dinding batu. Jika kau mendengarkan dengan saksama,
kau bisa mendengar nyanyian serangga musim gugur. Suara burung hantu. Suara
dahan pepohonan yang bergoyang.
Aku
berlutut di depan lingkaran sihir, sambil terus menggumamkan puisi yang terdiri
dari empat bait. Aku menyejajarkan cawan perak yang dipenuhi anggur dan sisik
perak yang kulepaskan dari kalung kakak.
Kakak,
dengan tangan yang tidak memegang pedang, mendekap guci abu ibu di dadanya. Ia
berdiri di dekat lingkaran sihir, menatap prosesi pemanggilan dalam diam.
Puisi
yang kugumamkan berbahasa Transmare. Isinya hanya puji-pujian dan penghormatan
kepada naga. Menurut puisi itu, ketika manusia bersentuhan dengan eksistensi
supernatural, mereka akan menyadari keburukan diri mereka sendiri, dan merasa
malu akan keangkuhan mereka. —Tolong, kasihanilah hati yang buruk rupa ini.
Tolong, sucikanlah tubuh yang kotor ini. Aku berdoa dan memohon agar ia
bersedia menampakkan wujudnya walau hanya sekilas. Sesuai dengan apa yang
tertulis dalam buku sihir.
Aku
menangkupkan kedua tanganku, dan mengulang puisi itu berkali-kali. Kuil itu
diselimuti kesunyian.
Perubahan
pertama terlihat pada anggur di dalam cawan. Riak air muncul di permukaan
cairan hitam itu, tumpah mengalir dari tepi cawan perak. Sisik perak itu
perlahan memancarkan kilau berwarna pelangi tanpa suara.
"...Apakah
dia sudah datang?"
Kakak
bergumam pelan, tetapi aku tidak punya waktu untuk menjawabnya.
Aku terus
melantunkan puisi. Suaraku secara alami menjadi lebih keras. Tiba-tiba, bagian
tengah lingkaran sihir bersinar terang, dan aku secara refleks mengangkat
tangan ke wajahku karena terlalu menyilaukan. Hawa dingin yang tidak normal
menyentuh kulitku, membuat bulu kudukku merinding.
Uap
mengepul dari tengah lingkaran sihir, memadamkan nyala lilin-lilin yang
kiletakkan di sana-sini di dalam ruangan seketika.
Ruang
altar pun perlahan diselimuti kabut tebal.
Aku
langsung berdiri. Pandanganku terhalang dan aku tidak bisa melihat apa pun.
Sosok kakak, bahkan lingkaran sihir yang kugambar di lantai pun tak terlihat.
Aku hanya bisa melihat kabut tebal yang bergulung pelan di bawah cahaya bulan
yang masuk dari jendela.
Lalu, aku
mendengar suara samar dari balik kabut. Aku memicingkan mataku ke arah tengah
ruangan.
—Hererere....
Hererere....
Itu
adalah suara tangisan aneh yang belum pernah kudengar sebelumnya. Di atas
lingkaran sihir, ada makhluk yang mengeluarkan suara bernada tinggi seperti
burung. Dadaku berdegup kencang. Secara otomatis, pipiku mengembang membentuk
senyuman. Pemanggilan ini berhasil. Aku berhasil memanggil naga dari negara
seberang! Untuk melihat wujudnya, aku melangkah maju satu langkah—dan saat itulah.
"Hererererererere!!"
Membelah
kabut, sepasang rahang dengan deretan gigi merangsek ke arah wajahku.
Krak!, tepat setelah gigi-gigi tajam
itu mengatup, aku merasakan panas di tangan kananku yang terjulur ke depan.
Cairan yang terciprat menyentuh pipiku, dan aku merasakan sensasi hangat.
Saking terkejutnya, aku berteriak dan jatuh terduduk.
Yang
muncul di hadapanku, memang benar seekor naga. Seekor bayi naga yang seukuran
anak sapi. Namun, aku tak tahu apakah itu benar-benar "Pearl Dragon".
Bayi naga yang kupanggil, tubuhnya membusuk.
Makhluk
itu merangkak dengan keempat kakinya, dengan cakar melengkung di ujung
jari-jarinya. Setiap kali ia berjalan, cakarnya bergesekan dengan lantai batu,
menghasilkan suara gemeretak yang cepat dan berisik. Di bagian ketiak kaki
depannya, terdapat sayap menyerupai kelelawar. Wujudnya persis seperti kadal
raksasa. Lehernya tebal dan panjang, dan ekornya jauh lebih panjang dari itu.
Di bagian belakang kepalanya terdapat benjolan-benjolan kasar, dan empat tanduk
yang tadinya digambarkan "seperti terumbu karang", justru
terlihat berantakan dan membentuk siluet yang terdistorsi.
Sisiknya
berwarna kekuningan. Bahkan setiap kali ia bergerak, sisik itu terkelupas dan
memperlihatkan dagingnya yang melepuh. Pupil mata yang digambarkan "seperti
permata" kini terlihat keruh berwarna putih, dan salah satu bola
matanya sudah terlepas dari rongganya.
Dan
jangankan "aroma manis", bayi naga itu justru mengeluarkan bau
busuk yang menyengat. Bau kematian yang sangat tak tertahankan, seperti bangkai
ikan yang dibuang di pantai—atau seperti bau anjing liar yang berada di ambang
kematian.
Sesaat
kemudian, barulah aku menyadari rasa sakit yang luar biasa di tangan kananku.
Jari manis dan kelingkingku lenyap, dan darah menyembur keluar. Keduanya telah
digigit hingga putus oleh bayi naga yang muncul dari balik kabut.
Sambil
menyebarkan cairan hitam pekat dari mulut dan lubang hidungnya, bayi naga itu
menjerit.
"Hererererere...!"
"Berdiri,
Pengecut!"
Yang
membelah kabut dan berlari menerjang adalah kakak. Ia mengayunkan pedangnya
untuk menyingkirkan bayi naga itu dari hadapanku.
Dengan
gagah berani, kakak terus menebas bayi naga itu. Bayi naga itu sedikit
tersentak karena serangan tersebut, lalu menjerit dan mengancam kakak.
Menghadapi
serangan sengit yang terjadi di depanku, aku tak bisa bergerak. Aku gagal, aku
gagal...! Pemanggilannya sendiri mungkin berhasil. Aku berhasil memanggil
seekor naga. Namun, entah apa yang salah, bayi naga yang dipanggil secara paksa
itu kini berlumuran darah dan membusuk.
Bayi naga
itu gemetar karena amarah. Atau mungkin ia terengah-engah karena kesakitan. Ia
membuka mulutnya lebar-lebar, dan mengarahkan gigi-giginya yang tajam ke arah
kakak. Ekor panjangnya menghancurkan rak pajangan. Kaki depannya yang memiliki
cakar menginjak guci abu yang jatuh, dan dari guci yang pecah itu, abu kremasi
ibu berserakan.
Pedang
kakak hanya menghantam kepala bayi naga itu, tanpa mampu memberikan luka fatal.
Saat bertabrakan dengan moncong yang berusaha mencabik-cabik tubuh kurusnya,
kakak terjatuh ke atas lingkaran sihir. Begitu kakak terlentang, bayi naga itu
langsung menancapkan cakar di kaki depannya ke bahu kakak.
"Herererererere!!"
Entah air
liur, entah darah. Cairan yang mengalir dari wajah bayi naga itu terciprat ke
pipi kakak dan lantai batu. Kakak memalingkan wajahnya. Matanya menatapku. Mata
spesialnya dengan warna biru muda dan emerald green, menatap ke arahku.
Bayi naga itu mencengkeram wajah kakak dengan cakar melengkungnya. Ujung cakar
yang tajam menancap ke dahi kakak, dan darah pun mulai menetes. Di saat itulah,
untuk pertama kalinya aku mendengar jeritan melengking dari mulut kakak.
Kakak
berteriak. Menghadap ke arahku.
—Tolong
aku.
Kakak
akan dibunuh—sambil memandangi pemandangan itu dari luar lingkaran sihir, aku
mulai meragukan kewarasanku dan bertanya-tanya apakah aku sedang bermimpi.
Jika
tidak, mana mungkin kakak yang tegar itu meneriakkan kata-kata "Tolong
aku" kepada diriku yang pengecut ini? Mana mungkin sang penari "Malam
Membara"—sang Dewi Perang Sriedda, mengulurkan tangannya pada
pengecut ini, dengan air mata yang menggenang di matanya, memohon pertolongan?
Rasa
sakit di tangan kanan yang tak tertahankan. Jeritan yang memekakkan telinga.
Bau busuk kematian dari makhluk yang membusuk. Pemandangan berdarah yang terbentang
di ruang altar berselimut kabut di dalam kuil yang telah menjadi reruntuhan.
Semuanya terasa begitu tidak nyata, seolah aku sedang menyaksikan kisah dongeng
yang entah dari mana. Aku ingin cepat-cepat terbangun dari mimpi buruk ini,
hingga aku menutup kedua telingaku dan memejamkan mata rapat-rapat. Berharap
agar tak ada lagi hal yang memantul di kedua bola mataku ini.
Namun
kejadian pada hari itu adalah kenyataan.
Kami yang
memanggil naga dari negara musuh telah membangkitkan kemurkaan ayah. Terutama
saat mata kanan kakak terkoyak oleh naga itu dan ia kehilangan kecantikannya
sebagai "Dewi Perang Sriedda", ayah tak pernah memaafkannya.
Kakak yang biasanya selalu menyalahkanku atas segala kejahatannya, pada saat
itu justru melindungiku, mengunci rapat mulutnya dan tak berkata apa-apa.
Sambil
menengadah menatap kakak yang disalib, pada akhirnya ayah melontarkan satu
pertanyaan.
—Siapa
kau ini?
Produk
gagal seorang dewi. Bukan orang Versia berdarah murni, bukan pula orang Ilf. Ia
dicaci maki sebagai makhluk yang bukan siapa-siapa, namun kakak tak memberikan
jawaban apa pun. Ia hanya memandang hampa ke arah salju yang terus turun ke
atas tanah. Atas aba-aba ayah, sang kepala suku, api pun dinyalakan di kaki
kakak yang terikat.