Majo to Ryouken V2 Prolog

Juli 04, 2026 | Metoya

Prolog: Penari Membara

Illustration Placeholder


Note:

Bado Grace menjadi Bud Grace

Heartland Pablo menjadi Hartland Pablo

Roro Dubell menjadi Rollo Duvel

1

Keindahan kakak perempuanku di masa lalu sering diibaratkan seperti sekuntum bunga.

Bunga merah yang mekar dengan penuh gairah, meski berada di tengah padang salju utara.

Pada usianya yang menginjak lima belas tahun, di "Malam Membara", kakakku menari dengan mengenakan pakaian yang dipilihkan oleh ayah kami. Ia menari di atas panggung yang didirikan di alun-alun, berlatar belakang kapal longship aerodinamis yang layarnya terkembang lebar menantang langit malam.

Aku menatap sosok kakakku yang sedang menari dari bawah panggung. Pemandangan itu masih kuingat dengan sangat jelas hingga saat ini.

Warna rok yang mengembang dari pinggangnya adalah merah. Gradasi warnanya semakin pekat ke arah keliman rok. Lipatan-lipatannya yang berombak mengingatkan pada kobaran api yang menyala-nyala. Merah adalah warna yang melambangkan "Dewi Perang Sriedda". Tentu saja, ayah sudah memperhitungkan hal itu saat memutuskan pakaian yang akan dikenakan kakak. Sebagai inkarnasi sang Dewi Perang, kakak memancarkan aura mistis dan keagungan yang tak tercela.

Tubuh ramping kakakku melompat mengikuti irama genderang.

Hembusan napasnya yang manis seolah menghanguskan malam yang membeku, dan tatapan matanya yang sayu membuat dada para pria berdebar kencang.

Di kedua ujung longship, beberapa perisai kayu bundar berwarna cerah dipasang berjejer. Kapal besar itu dirakit di tengah alun-alun yang dihujani rintik salju.

Jumlah pria yang mengelilingi kapal itu dengan mudah melampaui seribu orang. Ada yang membiarkan janggut lebat menutupi wajah mereka, ada pula yang mengepang rambut panjangnya dan membiarkannya tergerai. Postur tubuh dan usia mereka beragam. Namun, mereka semua adalah pejuang tangguh yang memiliki fisik yang mampu bertahan di tengah musim dingin yang ekstrem.

Mereka mengenakan helm yang menutupi hingga ke pangkal hidung, memukul-mukul kapak perang dan perisai kayu mereka. Mereka mengangkat pedang dan obor tinggi-tinggi sambil menggemakan sorak-sorai. Begitu banyak embusan napas yang mengepul di udara dingin. Keringat para pria yang berkerumun rapat itu berubah menjadi uap, membuat alun-alun terselimuti kabut putih.

Angin malam yang berembus kencang membuat kobaran api obor menari-nari dengan liar.

Tempo irama genderang yang semakin cepat, berpadu dengan melodi senar yang dipetik kencang. Mengikuti alunan suara bagpipe yang bergema tinggi, kakakku terus menari tanpa alas kaki di atas panggung, mengibaskan selendang merahnya.

Ia mengibaskan rok apinya, sesekali memperlihatkan kaki putihnya hingga ke pangkal. Terkadang ia meliukkan tubuhnya yang mungil, dan di saat lain ia membusungkan dadanya yang kecil. Melengkungkan pinggangnya dengan menggoda, seolah-olah sedang berdoa, ia menengadahkan dagu kecilnya ke langit.

Mata kanannya yang terbuka menatap provokatif ke arah para pria di bawahnya. Iris emerald green yang berkilauan ditimpa cahaya obor yang dinyalakan di atas panggung. Namun, hanya mata kanannya yang terbuka. Saat menari, kakak selalu memejamkan mata kirinya. Hanya pupil kanannya yang ia perlihatkan kepada para pejuang.

Warna mata orang Versia pada umumnya adalah biru muda. Karena itulah, kakakku yang memiliki sepasang mata emerald green sangatlah istimewa. Selain itu, ciri khas lain dari kakak adalah ujung telinganya yang sedikit runcing. Telinga yang tidak mencerminkan ciri khas orang Versia itu hanya ia perlihatkan di depan umum pada "Malam Membara", dengan rambut yang diikat ke atas.

Ketika alun-alun akhirnya dipenuhi dengan hawa panas, kakak memperkecil gerakannya.

Para musisi menurunkan volume permainan mereka, menyesuaikan dengan gerakan sang penari. Hanya suara genderang dengan ritme konstan yang terus bergema di alun-alun, bagaikan detak jantung.

Dan, dan, dan—. Dan, dan, dan—.

Kakak menghentakkan kakinya di atas panggung. Para pria meniru gerakan itu. Mengikuti ritme yang diciptakan kakak, mereka menginjak-injak lumpur bercampur salju yang mencair dengan kuat, sangat kuat.

"O!, O!, O!...! O!, O!, O!...!"

Duaar—. Setelah satu pukulan yang sangat keras, suasana mendadak sunyi senyap bak disiram air.

Ayahku, sang kepala suku, berteriak kepada para pejuang yang berkumpul.

"Kapalnya akan berangkat, nyalakan apinyaaa!!"

Sorak-sorai menggelegar, dan obor-obor dilemparkan silih berganti ke arah longship yang berada di belakang kakak. Musik kembali dimainkan, dan kakak melanjutkan tarian dewiku.

Obor yang dilemparkan dari segala arah dengan cepat membakar kapal kayu itu.

Di dalam kapal, selain tumpukan jerami dalam jumlah besar, juga dimuat berbagai macam hidangan mewah seperti daging rusa berbulu panjang dan babi hutan, mead (anggur madu), serta susu kambing. Selain itu, terdapat pula piring emas dan cawan perak, piala minuman dan pedang yang terbuat dari tanduk rusa yang diukir, kapak perang, dan perhiasan seperti kalung. Semuanya adalah hadiah untuk para pejuang yang telah gugur di medan perang.

Asap hitam yang mengepul tebal membumbung tinggi menuju langit yang tertutup awan tebal.

Setiap kali obor dilemparkan, bunga api meletup dan berterbangan di atas kapal.

Layar yang terselimuti asap berkibar-kibar ditiup angin kencang, dan terbakar dengan hebat.

Kobaran api menerangi malam yang istimewa ini dengan cahaya yang terang benderang. Kakak merentangkan kedua lengannya lebar-lebar. Wajahnya terselubung bayangan karena membelakangi cahaya. Tapi dia tersenyum—hanya itu yang bisa kulihat. Pipinya merona merah, menatap para pria dengan pandangan sayu, dan terus menari sambil memercikkan keringat.

Tarian semakin intens. Irama genderang semakin cepat. Para pria menghentakkan kaki mereka.

"O!, O!, O!...! O!, O!, O!...!"

Tiang kapal yang diselimuti api roboh dengan suara retakan yang keras, dan euforia yang menyelimuti alun-alun mencapai puncaknya. Di tengah sorak-sorai yang menggelegar, hujan bunga api menghanguskan langit malam. Tarian kakak tak kunjung usai. Musik tak kunjung berhenti. Ia melompat-lompat di atas panggung, membasahi bibirnya yang kering dengan ujung lidahnya. Terus memprovokasi para pejuang.

—Lebih lagi, lebih!

Setiap pejuang yang menatap ke atas panggung pasti mendengar suara itu. Suara kakak. Tekadnya.

—Lompatlah lebih tinggi! Bersoraklah lebih keras!

"Ahahahahaha!"

Dengan longship yang terbakar sebagai latar belakang, kakak tertawa sambil memancarkan kilau di mata emerald green-nya.

Kakak mempersembahkan tarian untuk mereka yang telah tiada. Sebagai inkarnasi sang Dewi Perang Sriedda. Atau mungkin, sebagai perwujudan Dewi Perang Sriedda itu sendiri. Tidak hanya memikat jiwa orang-orang yang telah mati, tetapi juga siapa saja yang melihatnya.

Keindahan kakak perempuanku di masa lalu sering diibaratkan seperti sekuntum bunga.

Bunga mekar yang memesona dan diselimuti api, meski berada di tengah padang salju utara.

Bunga yang tak boleh disentuh oleh siapa pun. Ayah telah menciptakannya agar menjadi seperti itu.

Tarian kakak yang dipertunjukkan pada "Malam Membara" itu berhasil memikat banyak orang Versia. Di antara para anggota Versia Heroi yang hadir di alun-alun itu, pastilah tidak ada satu pun yang tidak jatuh cinta padanya. Namun sang penari itu adalah milik ayahku, sang kepala suku. Tak ada seorang pun yang boleh mendekatinya.

Ayah mencintai kakak secara berlebihan.

Para pria yang baru kembali dari ekspedisi biasanya mempersembahkan sebagian dari emas dan barang jarahan mereka kepada ayah, tetapi ayah sangat menyukai barang-barang yang sekiranya akan disukai oleh seorang gadis muda. Tentu saja, itu semua untuk diberikan kepada kakak. Kabarnya, para bawahan yang ingin mengambil hati ayah akan berlomba-lomba merampas tiara atau pakaian wanita terlebih dahulu daripada koin emas atau makanan mewah saat mereka berada di wilayah penaklukan.

Ayah memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan apa pun yang diinginkan kakak, dan ia menugaskan empat orang pelayan wanita untuk mengurus semua kebutuhan kakak. Kakak harus meminta izin ayah jika ingin keluar rumah, dan peraturannya, salah satu dari pelayan ini harus selalu mendampinginya. Ke mana kakak pergi, apa yang ia lakukan, dengan siapa dan apa yang ia bicarakan—para pelayan itu akan melaporkan segalanya kepada ayah setiap kali kakak keluar.

Kakak tidak memiliki kebebasan. Ia selalu diawasi dan dikendalikan. Oleh karena itu, mereka yang terpikat dan ingin mengetahui lebih jauh tentangnya akan bertanya kepadaku, adiknya. Apa makanan kesukaannya? Apa bunga favoritnya? Kapan ia akan turun ke kota? Sebenarnya seperti apa sifatnya? Ketika ditanya seperti itu, aku akan berpikir sejenak, lalu menjawab bahwa ia adalah orang yang sering tertawa.

Ingatanku yang paling awal tentang kakak rasanya adalah saat kami bermain ayunan berdua. Ketika kakak masih kecil, karena ia tidak bebas pergi ke luar kastil, keempat pelayannya membuatkan sebuah ayunan dan menggantungnya di dahan pohon birch putih di dalam area kastil untuknya.

Di suatu pagi yang dingin dengan hamparan salju yang baru turun. Karena tak sabar menunggu gilirannya, kakak melompat ke atas ayunan yang sedang kududuki. Bukan dari belakang, melainkan dari depan. Ia berdiri sedemikian rupa hingga pergelangan kakinya mengapit pinggangku, dan mulai mengayunkan ayunan itu sambil berdiri. Ia merendahkan pinggulnya untuk menggoyangkan ayunan, lalu meluruskan lututnya untuk mendapatkan momentum.

Ayunan itu melaju semakin cepat dan mengayun semakin tinggi. Kehilangan kesempatan untuk melompat turun, aku hanya bisa mencengkeram tali ayunan dengan putus asa. Perasaan mual mengaduk-aduk perutku. Angin yang menerpa membuat ujung telingaku mati rasa. Seingatku, aku menutup mata rapat-rapat dan memohon padanya dengan sungguh-sungguh untuk berhenti karena itu menakutkan dan berbahaya. Tapi sejauh yang kuketahui, tak sekalipun kakak pernah mendengarkan pendapatku.

—Buka matamu, Pengecut.

Kakak selalu memanggilku "Pengecut" sejak kami masih kecil.

—Kau takut karena kau tidak bisa melihatnya. Kau takut karena kau tidak mau melihatnya.

Karena diejek, aku pun membuka mata. Saat aku mendongak dengan ragu-ragu, wajah kakak berada tepat di atasku.

Berlatarkan langit biru cerah tanpa awan sedikit pun, ia menatapku sambil tertawa.

Kakak semakin mempercepat laju ayunan. Pegunungan yang terlihat di balik tembok kastil putih seolah terbalik di belakang kepala kami. Rambut panjang kakak menari-nari tertiup angin di langit yang jernih, dan ujung telinganya yang runcing mengintip dari sela-sela rambutnya.

"Ahahahahaha!"

Kakak selalu tertawa. Tertawa lepas tanpa memedulikan pandangan orang lain. Suaranya selalu berhasil mengusir rasa pengecutku, dan memberiku keberanian. Suaranya membuatku, si "Pengecut", menjadi sedikit lebih kuat.

Sangat bertolak belakang dengan kakak yang dicintai oleh banyak orang, aku yang tertutup ini sangat pengecut dan lemah.

Justru karena aku selalu berada di dekat kakak yang merupakan inkarnasi dari keindahan, aku menyadari betapa buruk rupanya diriku sejak dini.

Hidung bengkokku yang tajam dan mata melototku adalah warisan dari ayah. Namun tak seperti ayah yang bertubuh besar dan kekar, tubuhku sangat kurus dan kerempeng, dengan tulang rusuk yang tercetak jelas. Aku tak ubahnya seperti anak rusa yang baru lahir. Kelemahan fisik yang bahkan membuatku tak sanggup mengayunkan kapak dengan benar adalah hal yang paling dihindari di Versia. Penampilanku yang buruk rupa itu semakin membuat sifatku menjadi rendah diri dan pengecut.

Sejak kecil, yang selalu membuat onar adalah kakak yang nakal.

Pernah suatu kali tulang lenganku dipatahkan oleh kakak yang mengayun-ayunkan pedang kayu, berdalih kami sedang bermain perampokan. Pernah juga aku diseret paksa karena ia ingin bermain petualangan, yang ujung-ujungnya membuat kami tersesat di hutan. Setiap kali kakak melanggar peraturan, keempat pelayan yang dimarahi oleh ayah sungguh membuatku merasa kasihan.

Ketika kakak mengatakan bahwa ia ingin pergi ke pasar loak yang diadakan setiap hari Minggu, aku mencegahnya dan berkata bahwa ia harus meminta izin ayah terlebih dahulu. Namun kakak tidak mendengarkan kata-kataku. Pada akhirnya, kakak, keempat pelayannya, dan bahkan aku yang ikut terseret masalah, disuruh berdiri berjejer dan dimarahi habis-habisan. Saat itu terjadi, kakak selalu melimpahkan kesalahannya padaku. Ia bilang bahwa akulah yang ingin pergi ke hutan, atau akulah yang ingin melihat pasar loak.

Ia beralasan bahwa ia hanya menemani adiknya. Aku yang pemalu ini tak mampu membantah, dan selalu berakhir dipukuli oleh ayah. Kakak melirik ke arahku, dan tertawa sinis lagi, pelan-pelan.

Suatu saat nanti, kakak berkata ia ingin keluar dari kastil ini. Ia tidak ingin sekadar bermain peran, ia ingin berpetualang sungguhan. Aku bisa dengan mudah membayangkan sosok kakak yang memimpin para pria tangguh, memimpin armada besar Versia, dan melesat menuju lautan lepas.

Orang yang pantas mewarisi takhta ayah dan menjadi raja pastilah bukan diriku. Kakaklah yang seharusnya menjadi pewaris ayah, dengan sifatnya yang ceria dan mudah bergaul, dipadukan dengan keberanian serta kecerdikannya. Ia memiliki bakat untuk itu. Jelas jauh lebih baik dariku.

Namun, kakak di masa itu pasti juga sudah menyadari bahwa petualangan semacam itu hanyalah impian yang tak akan pernah terwujud.

Ada alasan mengapa kakak tidak bisa memimpin kami, ras Versia Heroi. Kakak tidak dilahirkan untuk menjadi seorang Ratu. Ayah membuat kakak terlahir agar ia menjadi sang Dewi Perang Sriedda.

"Dewi Perang Sriedda" adalah dewi api yang muncul dalam mitologi Versia. Ia bertugas memandu jiwa para pejuang pemberani yang gugur dalam pertempuran menuju istana surgawi. Dengan mengenakan selendang merahnya, ia menari-nari bak kobaran api yang tertiup angin. Dikatakan bahwa ia adalah dewi yang penuh cinta, yang kecantikannya tak hanya memikat orang mati, tetapi juga para dewa di sekitarnya.

Namun anehnya, meskipun Dewi Perang Sriedda adalah dewi dalam mitologi Versia, ia bukanlah orang Versia. Warna matanya yang dikisahkan dalam mitologi adalah emerald green. Dan ujung telinganya runcing. Itu jelas bukan ciri fisik orang Versia. Ciri-ciri tersebut melambangkan Orang Ilf, ras yang menetap jauh di pedalaman (North Land). Dewi Perang Sriedda adalah seorang Ilf.

Itulah sebabnya ayah melarang kakak mengayunkan pedang kayu. Sebagai orang Versia, wajar bagi anak laki-laki maupun perempuan untuk bermain petualangan dan perampokan sejak kecil, namun ayah juga melarang semua itu.

Bagi kakak—dan hanya bagi kakak seorang—ia tidak diizinkan memiliki sifat kasar seperti orang Versia.

Itu karena darah orang Ilf mengalir dalam diri kakak. Kakak adalah anak ras campuran.

Sebagai raja yang memimpin ras Versia Heroi, ayah sengaja mencoba "menciptakan" seorang dewi demi meraih penghormatan tertinggi dari para pejuang. Untuk mewujudkan hal itu, ia menghamili seorang wanita Ilf yang ditawannya, dan memaksanya melahirkan. Jika bayinya laki-laki, ia akan membunuhnya. Jika warna matanya biru, ia juga akan membunuhnya. Dan yang akhirnya terlahir adalah kakak, yang hanya mata kanannya saja yang berwarna emerald green.

Saat menari di atas panggung, kakak telah dilatih agar tidak pernah membuka mata kirinya yang berwarna biru muda. Bagaimana jika suatu saat, secara tak sengaja ia membuka mata kirinya dan menghancurkan citra mitologisnya? Kakak yang kehilangan status sebagai "Dewi Perang Sriedda" mungkin sudah dibunuh oleh ayah.

Pada malam itu, kakak menari di ambang batas antara hidup dan mati.

2

Pada tahun yang sama saat kakak menari di "Malam Membara", ibuku meninggal dunia. Waktu itu kakak berumur lima belas tahun, dan aku berumur sepuluh tahun.

Ibuku dahulu adalah seorang wanita Versia yang berjiwa besar, periang, sangat peduli pada orang lain, dan gemar menolong. Berkat tubuhnya yang gempal, ia sangat kuat dan rajin bekerja. Meskipun ia adalah istri dari sang kepala suku dan bisa saja menyuruh orang lain, ketika kayu bakar menipis, ia tak segan-segan mengayunkan kapak tangan sendiri, dan ia tetap mencuci pakaian tanpa memedulikan tangannya yang kedinginan. Kepada para pelayan, ia dengan murah hati menyajikan masakan buatannya sendiri. Melihat hal itu, para pelayan wanita akan bergegas menghampiri dan membantu ibu. Ibuku memiliki bakat untuk menarik orang. Ketika orang-orang berkumpul, suasana akan menjadi semarak. Kastil Danau Bjorkoe tempat kami tinggal, berpusat di sekitar ibu.

Karena ibu selalu memperlakukan semua orang tanpa pandang bulu, ia juga memperlakukan kakak, yang tidak memiliki hubungan darah dengannya, layaknya anak kandungnya sendiri. Terkadang ia memarahinya dengan sungguh-sungguh, namun di saat lain ia memeluknya dengan penuh kasih sayang. Kakak pasti juga mencintai ibu yang seperti itu layaknya ibu kandungnya sendiri.

Wanita Versia tidak boleh hanya terus-menerus dilindungi. Ibu sering mengatakan hal itu pada kakak.

Ia mengajarkan bahwa wanita tidak berada di pihak yang dilindungi oleh pria, melainkan di pihak yang melindungi. Melindungi rumah, melindungi kehidupan, dan melindungi tempat para pria pulang. Itulah cara bertarung wanita Versia, kata ibu. Dan sesuai dengan kata-katanya, ibu selalu bekerja. Bersama para wanita lainnya, ia terus melindungi kampung halaman tempat para pria yang pergi berpetualang akan kembali.

Namun, ketika Perang Empat Binatang Buas yang melanda seluruh benua semakin memanas, hawa kelam mulai menyelimuti kota ras Heroi. Jumlah pria yang kembali setelah berlayar untuk mengusir orang Transmare, jelas semakin berkurang. Kalaupun mereka berhasil kembali, ada yang aneh dengan keadaan para pejuang yang terluka itu.

Para pejuang tangguh yang tak kenal takut itu gemetar ketakutan dengan wajah pucat pasi. Kisah perang yang mereka ceritakan pada kami, tak satupun yang tak mengerikan. Pertempuran besar di mana dataran dipenuhi oleh barisan para Knights dan prajurit. Sungai yang membentang di sepanjang benua dipenuhi mayat yang tak terhitung jumlahnya, dan permukaan airnya diceritakan berubah menjadi merah darah.

Dalam cerita mereka, muncul ordo kesatria emas yang berbaris dalam formasi dengan jumlah yang tak terhitung, dan seorang Assassin layaknya monster yang membantai tiga ratus orang dalam satu malam sendirian. Dan musuh yang membuat mereka serempak berkata "rasanya mustahil untuk menang" dan begitu mereka takuti, adalah para Sorcerers Amelia. "Sihir" yang mereka gunakan.

Aku menganggap pengalaman perang mereka layaknya dongeng dari negeri antah berantah. Alasan mengapa aku sering mengunjungi paviliun medis adalah karena aku merasa cerita-cerita ajaib mereka sangat menarik. Seandainya aku bisa benar-benar merasakan ketakutan—dan menyadari bahaya yang mengancam saat itu, mungkin tragedi mengerikan seperti ini tidak akan terjadi.

Ibu dan para wanita lainnya terus merawat orang-orang yang terluka sepulang dari perang dengan penuh pengabdian.

Namun peperangan itu tak kunjung usai. Jumlah mereka yang terluka hanya semakin bertambah. Sambil mendengarkan isak tangis para wanita yang kesepian karena kehilangan suami, serta rintihan para pria yang kehilangan tangan dan kaki mereka, ibu bekerja lebih keras daripada siapa pun. Dan mungkin karena kelelahan yang menumpuk, pada akhirnya ia jatuh pingsan.

Awalnya kami, dan mungkin ibu sendiri, berpikir bahwa keadaannya akan segera membaik jika ia beristirahat.

Namun, ibu tak kunjung beranjak dari ranjang sakitnya. Ia mengeluh bahwa tubuhnya terasa berat dan kepalanya selalu sakit. Nafsu makannya menurun drastis, dan tubuhnya yang gempal perlahan-lahan menjadi kurus kering. Entah penyakit apa yang dideritanya. Apakah itu racun, atau mungkin kutukan, penyebab dan cara penyembuhannya tak ada yang tahu. Tabib telah mencoba berbagai macam ramuan herbal, namun kondisi ibu semakin hari semakin memburuk.

Mungkin karena ia menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tidur, perasaannya menjadi sangat murung, dan sepertinya ia kehilangan gairah untuk melakukan apa pun. Terlihat jelas bahwa emosinya menjadi tidak stabil. Terkadang ia tiba-tiba menangis seolah menjadi orang yang berbeda, lalu marah meledak-ledak. Suatu ketika ia melempar barang ke arah orang yang datang menjenguknya, namun tak lama kemudian sikapnya berubah drastis menjadi sangat lembut dan memeluk kami erat-erat.

Bagaimana kami harus menghadapi ibu yang bertindak impulsif ini? Ayah, para pengikut, dan bahkan para wanita yang sangat menyayangi ibu, semuanya kewalahan menghadapi perubahan sikapnya. Akan tetapi, kami berdua tak pernah menyerah untuk menyembuhkan ibu. Ibu telah berjuang demi melindungi kampung halaman kami, hingga berakhir seperti ini. Tak sepantasnya ia kami abaikan. Aku ingin ibu yang ceria kembali. Aku ingin melihatnya tertawa lepas lagi.

Itulah sebabnya kami mencari informasi di berbagai literatur dengan sungguh-sungguh, dan memanjatkan doa kepada dewa-dewa Versia.

Namun doa kami tak pernah tersampaikan.

Suatu pagi, ibu tiba-tiba menghilang dari tempat tidurnya, dan mayatnya ditemukan di dasar jurang yang tertutup salju.

Dewa-dewa dalam mitologi Versia mengagungkan kematian dalam peperangan atau duel.

Jiwa mereka yang gugur dengan gagah berani akan dituntun oleh sang Dewi Perang Sriedda menuju surga, lalu diundang ke istana tempat para dewa bersemayam. Di sana mereka akan disambut dengan hangat dan dijamu dengan mewah, lalu terus berlatih untuk mempersiapkan diri menghadapi pertempuran berikutnya. Itulah kehidupan setelah mati yang dianggap paling terhormat sebagai seorang pejuang. Sebaliknya, mereka yang mati karena penyakit atau usia tua akan dianggap sebagai pihak yang lemah. Mereka yang mati tanpa menumpahkan darah tak akan dinaikkan ke surga, melainkan dijatuhkan ke dunia bawah (neraka).

Dewa-dewa Versia membenci orang yang lemah. Terlebih lagi, hukuman bagi mereka yang bunuh diri sangatlah tidak kenal ampun.

Orang-orang lemah yang dijatuhkan ke dunia bawah, tubuhnya akan diikat pada tiang dan dipanggang dengan api. Dimulai dari telapak kaki, tubuh mereka akan dibakar perlahan-lahan. Kulit melepuh, organ dalam hangus, dan meskipun hanya tersisa tulang belulang, di dunia bawah terdapat seekor "Anjing Berkepala Dua". Begitu anjing itu melolong, jiwa yang hampir sirna itu akan kembali ke tubuh para pendosa, dan siksaan api yang membakar itu akan terus berlanjut selamanya.

Pada malam badai petir ketika langit tertutup awan tebal, jeritan keputusasaan orang-orang yang bunuh diri yang dibakar hidup-hidup itu konon bisa terdengar sebagai suara angin. Saat masih kecil, suara itu sangat menakutkan, hingga aku dan kakak akan saling berpelukan dan menutup telinga kami sambil gemetaran, namun jika itu adalah suara ibuku tersayang... Jika membayangkan hal itu, kesedihan jauh lebih mendominasi daripada ketakutanku.

Mengapa ibu memilih untuk mengakhiri hidupnya? Aku yakin itu juga demi kampung halaman kami. Bukannya melindungi negara, ia malah menjadi beban, dan mungkin ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena hal itu. Aku pernah mendengarnya bergumam kepada tabib yang datang untuk memeriksa perkembangannya, memohon agar tabib itu membunuhnya saja.

Mereka yang mati karena usia tua, penyakit, atau bunuh diri, akan dipakaikan sepatu pada kaki mereka. Karena jalan menuju dunia bawah dianggap sangat panjang dan terjal, dengan rasa iba terhadap orang yang meninggal yang akan kasihan jika harus bertelanjang kaki, sepatu bersol tebal akan dipakaikan tepat sebelum jasad mereka dikremasi. Karena ibu adalah istri kepala suku, tidaklah aneh jika gerobak untuk mengangkutnya, dan juga rusa berbulu panjang yang menarik gerobak itu, ikut dilemparkan ke dalam api bersamanya.

Namun ayah berkata, "Biarkan dia berjalan kaki."

Jangankan kereta dorong, ayah bahkan menyuruh mereka membakarnya tanpa memakaikan sepatu. Ayah tidak memaafkan ibu yang telah bunuh diri. Ayah menatap jasad ibu, yang dianggap telah mencoreng wajahnya sebagai kepala suku, dengan pandangan meremehkan. Ia mendecakkan lidahnya ke arah ibu yang dibaringkan di tempat kremasi, dan bahkan tidak menunggu sampai tubuh ibu selesai dibakar.

Kakak menatap ayah yang seperti itu dengan tajam, sangat tajam.

3

Hal itu terjadi tak lama setelah ibu meninggal. Aku dan kakak menghindari pengawasan para pelayan, dan menyelinap keluar dari Kastil Danau Bjorkoe.

Tujuan kami adalah hutan lebat yang terletak di belakang danau. Hutan jenis konifer yang pernah kumasuki saat menemani kakak bermain petualangan. Saat itu, secara kebetulan kami menemukan sebuah kuil yang sudah lapuk di kedalaman hutan tempat kami tersesat.

Sebuah kuil kecil dari batu dengan desain yang sederhana. Ketika kutanyakan pada seorang kakek yang paling tahu segalanya di desa, ia bilang bahwa tempat itu adalah kuil yang dibangun oleh orang-orang Ilf, saat tanah ini masih menjadi milik mereka di masa lalu. Kenapa altar seperti ini didirikan di pedalaman hutan? Alasannya adalah—

"Karena ini adalah tempat yang sakral. Memang terasa agak dingin ya, Ane-sama...."

Kuil itu berdiri sendirian di sebuah lahan terbuka tempat pepohonan telah ditebang.

Pilar-pilar silinder berjajar di pintu masuk bangunan, dililit tanaman rambat berwarna hijau. Desainnya terlihat seperti langit-langit atap segitiga yang ditopang oleh beberapa pilar retak dan hancur. Suasana di sekitarnya mengisyaratkan bahwa tempat itu bisa runtuh kapan saja, membuat siapa pun ragu untuk masuk ke dalamnya.

"Dingin? Sangat sakral itu maksudnya dingin? Aku tidak merasakan apa-apa, lho?"

Namun, tanpa memedulikan suasananya yang menyeramkan, kakak melangkah lebih dulu memasuki kuil.

Di punggungnya yang mungil itu terpasang pedang satu tangan yang ia curi dari gudang senjata. Di kedua lengannya, ia mendekap guci abu ibu. Aku berseru "Tunggu!" dan bergegas mengejar punggung kakak.

Kuil ini dulunya juga merupakan tempat tinggal komunal para pendeta Ilf. Karena itu, bagian belakang bangunan ini merupakan area tempat tinggal. Namun, tujuan kami berdua adalah lantai utama yang berada tepat setelah pintu masuk. Ruang altar, tempat orang-orang dulunya berkumpul dan memanjatkan doa.

Cahaya matahari masuk dari celah jendela di dinding batu. Ruangan itu terasa dingin dan remang-remang.

Hampir tidak ada apa pun yang tersisa di ruang altar yang terbengkalai itu. Hanya ada sebuah meja kayu yang menempel di dinding dan rak pajangan bertingkat di sudut ruangan. Rak itu ditutupi kain merah tua, dan di atasnya berserakan piring datar yang pecah serta tempat lilin.

Aku menurunkan karung goni yang kubawa ke atas lantai batu. Ada banyak hal yang harus kulakukan sebelum malam tiba. Sambil melirik kakak yang meletakkan guci abu di rak pajangan, aku mengeluarkan buku sihir dari karung goni.

Alasan mengapa aku diam-diam menyembunyikan buku itu adalah karena aku tertarik dengan apa yang disebut "sihir" yang diceritakan oleh para prajurit yang kembali dari medan perang. Mungkin saja kekuatan itu bisa memberikanku kekuatan, bahkan untuk diriku yang begitu lemah dan tak mampu mengayunkan kapak perang dengan benar. Itulah sebabnya, ketika aku menemukan buku sihir itu di pasar loak yang memamerkan banyak barang jarahan dan hasil rampasan perang, aku sangat kegirangan hingga rasanya ingin melompat.

Buku itu adalah buku tua dengan halaman yang sudah menguning. Walau tua, sampul kulitnya terlihat megah, dan jika melihat teks dan ilustrasi di dalamnya, buku itu tampaknya telah disusun dengan sangat teliti. Di sampulnya tergambar lambang naga. Aku secara naluriah meyakini bahwa buku setebal dan seberat itu adalah asli.

Itu adalah buku dari agama lain. Tentu saja, buku itu ditulis dalam bahasa Transmare, dan aku sangat kesulitan untuk memahami isinya, tetapi secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orang-orang di kastil, perlahan-lahan aku mulai menerjemahkan isinya. Di dalam buku itulah tertulis keberadaan "Monster Iblis yang Membangkitkan Orang Mati".

Pearl Dragon—naga cantik yang seluruh tubuhnya tertutup sisik perak keputihan, konon memiliki mata berkilauan seperti permata dan tanduk seperti terumbu karang, serta memikat orang-orang dengan aromanya yang manis. Di buku itu tertulis bahwa suara teriakannya yang lembut memiliki kekuatan penyembuhan. Dikatakan bahwa dengan satu kali teriakan saja, ia mampu menyembuhkan luka seseorang, dan terkadang bahkan dapat membangkitkan orang yang sudah mati.

Naga yang mampu menyembuhkan luka manusia—jika aku mengandalkan naga dari negara musuh itu, mungkin aku bisa menyembuhkan penyakit ibu. Tentu saja, aku sempat berpikiran seperti itu. Dalam buku sihir itu, tertulis cara untuk memanggil naga tersebut. Namun, alasan mengapa aku tidak—lebih tepatnya, tidak bisa melakukan pemanggilan itu, ada penyebabnya.

Aku kekurangan bahan untuk melakukan pemanggilan. Untuk memanggil Pearl Dragon, aku membutuhkan bagian tubuh dari naga itu sendiri. Taring, tanduk, atau sisiknya—apa pun tidak masalah asalkan itu milik Pearl Dragon. Sekecil ujung kuku pun tidak apa-apa. Karena aku tidak berhasil menemukan bahan sekecil itu, ibu keburu meninggal dunia.

Dan pada hari ibu dikremasi.

Saat aku menangis tersedu-sedu karena menyadari ketidakberdayaanku sendiri, kakak mengelus punggungku. Aku mengadu padanya. Bahwa mungkin saja aku bisa menyelamatkan ibu, namun pada akhirnya tidak bisa. Dan pada saat itulah, akhirnya aku mengungkapkan keberadaan buku sihir itu kepadanya. Mendengar hal itu, kakak menjadi sangat marah. Mengapa aku tidak menceritakan hal itu kepadanya lebih awal?

Saat pemakaman, kakak mengenakan pakaian formal dan memakai sebuah kalung. Kalung indah dengan untaian cangkang kerang berwarna keperakan. Itu adalah hadiah pemberian ayah. Ayah menerima kalung itu sebagai persembahan dari harta rampasan saat ekspedisi militer. Apakah mungkin seorang bawahan memberikan barang palsu kepada sang kepala suku? Ketika kakak menyerahkan kalung itu kepadaku, intuisiku mengatakan: Ini adalah barang asli. Sisik Pearl Dragon yang selama ini kucari, ternyata selama ini terkalung di leher kakak.

Apakah caraku sudah benar? Apakah ibu benar-benar akan hidup kembali? Sesuai dengan apa yang tertulis di buku sihir, aku menggambar lingkaran sihir di lantai batu menggunakan kapur, dan menyalakan api pada beberapa lilin.

Selama mempersiapkan ritual, dadaku dipenuhi rasa cemas. Yang akan kupanggil adalah naga dari negara musuh. Belum tentu aku bisa mengendalikannya. Aku juga tidak yakin ayah akan memaafkanku jika tahu aku mencoba membawa ibu kembali dari dunia bawah. Hukuman macam apa yang akan dijatuhkan padaku jika hal ini ketahuan?

Ketika malam tiba, dan sudah saatnya untuk memulai pemanggilan, aku ketakutan dan berucap, "Sebaiknya kita persiapkan lagi sedikit lebih matang", tetapi kakak membentakku. Pengecut, apakah kau masih pantas disebut sebagai laki-laki Versia?

—Bahkan saat kita diam di sini, Mama terus-menerus dibakar oleh api dunia bawah. Apa kau bisa menahannya? Apa kau sanggup diam saja melihat Mama yang begitu baik hati itu menangis dan menjerit?

Wanita Versia tidak boleh hanya terus-menerus dilindungi. Jika ada hal yang benar-benar berharga, kau harus melindunginya dengan kedua tanganmu sendiri. Kakak menghunuskan pedangnya dengan mulus. Jika naga yang kami panggil mengamuk, kakak yang akan menebasnya dan membuatnya patuh. Itulah alasan mengapa pedang itu disiapkan.

—Tinggal sedikit lagi, Pengecut. Yang kau butuhkan sekarang hanyalah keberanian.

Ya, aku memang seorang pengecut. Aku penakut dan rendah diri. Tetapi saat itu, kakak ada di sisiku. Suaranya memberiku keberanian. Sang penari "Malam Membara" itu telah membuatku menjadi lebih kuat.

Kami memilih malam bulan purnama, saat kekuatan magis berada pada puncaknya. Cahaya bulan masuk dari jendela di dinding batu. Jika kau mendengarkan dengan saksama, kau bisa mendengar nyanyian serangga musim gugur. Suara burung hantu. Suara dahan pepohonan yang bergoyang.

Aku berlutut di depan lingkaran sihir, sambil terus menggumamkan puisi yang terdiri dari empat bait. Aku menyejajarkan cawan perak yang dipenuhi anggur dan sisik perak yang kulepaskan dari kalung kakak.

Kakak, dengan tangan yang tidak memegang pedang, mendekap guci abu ibu di dadanya. Ia berdiri di dekat lingkaran sihir, menatap prosesi pemanggilan dalam diam.

Puisi yang kugumamkan berbahasa Transmare. Isinya hanya puji-pujian dan penghormatan kepada naga. Menurut puisi itu, ketika manusia bersentuhan dengan eksistensi supernatural, mereka akan menyadari keburukan diri mereka sendiri, dan merasa malu akan keangkuhan mereka. —Tolong, kasihanilah hati yang buruk rupa ini. Tolong, sucikanlah tubuh yang kotor ini. Aku berdoa dan memohon agar ia bersedia menampakkan wujudnya walau hanya sekilas. Sesuai dengan apa yang tertulis dalam buku sihir.

Aku menangkupkan kedua tanganku, dan mengulang puisi itu berkali-kali. Kuil itu diselimuti kesunyian.

Perubahan pertama terlihat pada anggur di dalam cawan. Riak air muncul di permukaan cairan hitam itu, tumpah mengalir dari tepi cawan perak. Sisik perak itu perlahan memancarkan kilau berwarna pelangi tanpa suara.

"...Apakah dia sudah datang?"

Kakak bergumam pelan, tetapi aku tidak punya waktu untuk menjawabnya.

Aku terus melantunkan puisi. Suaraku secara alami menjadi lebih keras. Tiba-tiba, bagian tengah lingkaran sihir bersinar terang, dan aku secara refleks mengangkat tangan ke wajahku karena terlalu menyilaukan. Hawa dingin yang tidak normal menyentuh kulitku, membuat bulu kudukku merinding.

Uap mengepul dari tengah lingkaran sihir, memadamkan nyala lilin-lilin yang kiletakkan di sana-sini di dalam ruangan seketika.

Ruang altar pun perlahan diselimuti kabut tebal.

Aku langsung berdiri. Pandanganku terhalang dan aku tidak bisa melihat apa pun. Sosok kakak, bahkan lingkaran sihir yang kugambar di lantai pun tak terlihat. Aku hanya bisa melihat kabut tebal yang bergulung pelan di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela.

Lalu, aku mendengar suara samar dari balik kabut. Aku memicingkan mataku ke arah tengah ruangan.

—Hererere.... Hererere....

Itu adalah suara tangisan aneh yang belum pernah kudengar sebelumnya. Di atas lingkaran sihir, ada makhluk yang mengeluarkan suara bernada tinggi seperti burung. Dadaku berdegup kencang. Secara otomatis, pipiku mengembang membentuk senyuman. Pemanggilan ini berhasil. Aku berhasil memanggil naga dari negara seberang! Untuk melihat wujudnya, aku melangkah maju satu langkah—dan saat itulah.

"Hererererererere!!"

Membelah kabut, sepasang rahang dengan deretan gigi merangsek ke arah wajahku.

Krak!, tepat setelah gigi-gigi tajam itu mengatup, aku merasakan panas di tangan kananku yang terjulur ke depan. Cairan yang terciprat menyentuh pipiku, dan aku merasakan sensasi hangat. Saking terkejutnya, aku berteriak dan jatuh terduduk.

Yang muncul di hadapanku, memang benar seekor naga. Seekor bayi naga yang seukuran anak sapi. Namun, aku tak tahu apakah itu benar-benar "Pearl Dragon". Bayi naga yang kupanggil, tubuhnya membusuk.

Makhluk itu merangkak dengan keempat kakinya, dengan cakar melengkung di ujung jari-jarinya. Setiap kali ia berjalan, cakarnya bergesekan dengan lantai batu, menghasilkan suara gemeretak yang cepat dan berisik. Di bagian ketiak kaki depannya, terdapat sayap menyerupai kelelawar. Wujudnya persis seperti kadal raksasa. Lehernya tebal dan panjang, dan ekornya jauh lebih panjang dari itu. Di bagian belakang kepalanya terdapat benjolan-benjolan kasar, dan empat tanduk yang tadinya digambarkan "seperti terumbu karang", justru terlihat berantakan dan membentuk siluet yang terdistorsi.

Sisiknya berwarna kekuningan. Bahkan setiap kali ia bergerak, sisik itu terkelupas dan memperlihatkan dagingnya yang melepuh. Pupil mata yang digambarkan "seperti permata" kini terlihat keruh berwarna putih, dan salah satu bola matanya sudah terlepas dari rongganya.

Dan jangankan "aroma manis", bayi naga itu justru mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Bau kematian yang sangat tak tertahankan, seperti bangkai ikan yang dibuang di pantai—atau seperti bau anjing liar yang berada di ambang kematian.

Sesaat kemudian, barulah aku menyadari rasa sakit yang luar biasa di tangan kananku. Jari manis dan kelingkingku lenyap, dan darah menyembur keluar. Keduanya telah digigit hingga putus oleh bayi naga yang muncul dari balik kabut.

Sambil menyebarkan cairan hitam pekat dari mulut dan lubang hidungnya, bayi naga itu menjerit.

"Hererererere...!"

"Berdiri, Pengecut!"

Yang membelah kabut dan berlari menerjang adalah kakak. Ia mengayunkan pedangnya untuk menyingkirkan bayi naga itu dari hadapanku.

Dengan gagah berani, kakak terus menebas bayi naga itu. Bayi naga itu sedikit tersentak karena serangan tersebut, lalu menjerit dan mengancam kakak.

Menghadapi serangan sengit yang terjadi di depanku, aku tak bisa bergerak. Aku gagal, aku gagal...! Pemanggilannya sendiri mungkin berhasil. Aku berhasil memanggil seekor naga. Namun, entah apa yang salah, bayi naga yang dipanggil secara paksa itu kini berlumuran darah dan membusuk.

Bayi naga itu gemetar karena amarah. Atau mungkin ia terengah-engah karena kesakitan. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, dan mengarahkan gigi-giginya yang tajam ke arah kakak. Ekor panjangnya menghancurkan rak pajangan. Kaki depannya yang memiliki cakar menginjak guci abu yang jatuh, dan dari guci yang pecah itu, abu kremasi ibu berserakan.

Pedang kakak hanya menghantam kepala bayi naga itu, tanpa mampu memberikan luka fatal. Saat bertabrakan dengan moncong yang berusaha mencabik-cabik tubuh kurusnya, kakak terjatuh ke atas lingkaran sihir. Begitu kakak terlentang, bayi naga itu langsung menancapkan cakar di kaki depannya ke bahu kakak.

"Herererererere!!"

Entah air liur, entah darah. Cairan yang mengalir dari wajah bayi naga itu terciprat ke pipi kakak dan lantai batu. Kakak memalingkan wajahnya. Matanya menatapku. Mata spesialnya dengan warna biru muda dan emerald green, menatap ke arahku. Bayi naga itu mencengkeram wajah kakak dengan cakar melengkungnya. Ujung cakar yang tajam menancap ke dahi kakak, dan darah pun mulai menetes. Di saat itulah, untuk pertama kalinya aku mendengar jeritan melengking dari mulut kakak.

Kakak berteriak. Menghadap ke arahku.

—Tolong aku.

Kakak akan dibunuh—sambil memandangi pemandangan itu dari luar lingkaran sihir, aku mulai meragukan kewarasanku dan bertanya-tanya apakah aku sedang bermimpi.

Jika tidak, mana mungkin kakak yang tegar itu meneriakkan kata-kata "Tolong aku" kepada diriku yang pengecut ini? Mana mungkin sang penari "Malam Membara"—sang Dewi Perang Sriedda, mengulurkan tangannya pada pengecut ini, dengan air mata yang menggenang di matanya, memohon pertolongan?

Rasa sakit di tangan kanan yang tak tertahankan. Jeritan yang memekakkan telinga. Bau busuk kematian dari makhluk yang membusuk. Pemandangan berdarah yang terbentang di ruang altar berselimut kabut di dalam kuil yang telah menjadi reruntuhan. Semuanya terasa begitu tidak nyata, seolah aku sedang menyaksikan kisah dongeng yang entah dari mana. Aku ingin cepat-cepat terbangun dari mimpi buruk ini, hingga aku menutup kedua telingaku dan memejamkan mata rapat-rapat. Berharap agar tak ada lagi hal yang memantul di kedua bola mataku ini.

Namun kejadian pada hari itu adalah kenyataan.

Kami yang memanggil naga dari negara musuh telah membangkitkan kemurkaan ayah. Terutama saat mata kanan kakak terkoyak oleh naga itu dan ia kehilangan kecantikannya sebagai "Dewi Perang Sriedda", ayah tak pernah memaafkannya. Kakak yang biasanya selalu menyalahkanku atas segala kejahatannya, pada saat itu justru melindungiku, mengunci rapat mulutnya dan tak berkata apa-apa.

Sambil menengadah menatap kakak yang disalib, pada akhirnya ayah melontarkan satu pertanyaan.

—Siapa kau ini?

Produk gagal seorang dewi. Bukan orang Versia berdarah murni, bukan pula orang Ilf. Ia dicaci maki sebagai makhluk yang bukan siapa-siapa, namun kakak tak memberikan jawaban apa pun. Ia hanya memandang hampa ke arah salju yang terus turun ke atas tanah. Atas aba-aba ayah, sang kepala suku, api pun dinyalakan di kaki kakak yang terikat.