Perayaan Ulang Tahun Anisphia
Beberapa hari setelah malam pembicaraan dengan Lumi, Euphie mengumpulkan anggota yang sama seperti sebelumnya di istana terpisah.
"Perwujudan roh melalui nyanyian...?"
Orang yang pertama kali mengeluarkan suara kaget bercampur bingung atas usulan Euphie adalah Lang. Di tengah sebagian besar orang yang terkejut, Miguel tertawa senang.
"Mewujudkan roh dengan nyanyian? Itu terdengar seperti cerita dongeng saja."
"Jika bisa diwujudkan, kita bisa menarik perhatian baik dari bangsawan maupun rakyat biasa. Selain itu, dengan melihat wujud roh, kita bisa mengharapkan efek pendalaman iman."
"...Memang jika perwujudan roh menjadi mungkin, itu bisa dikaitkan dengan pemulihan kehormatan bangsawan, tapi bukankah itu prestasi agung yang hanya mungkin dilakukan oleh Kontraktor Roh?"
"Mengenai hal itu, saya sudah mendapat pesan dari Nona Lumi bahwa itu tergantung usaha. Saya sendiri baru sebentar menjadi Kontraktor Roh, tapi saya paham logikanya. Jadi, suatu saat pasti bisa dicapai."
Lang terdiam mendengar jawaban Euphie, memijat pangkal hidungnya seolah menahan sakit kepala.
"Saya mengerti kecemasan Anda. Tapi, perwujudan roh adalah hal yang pernah dimimpikan semua orang, bukan? Jika bisa merasakan keberadaan roh di dekat kita dan melihat wujudnya."
"...Saya tidak menyangkal hal itu."
"Karena belum ada preseden, wajar jika harus try and error. Tapi, hal ini layak dikejar. Saat ini, hanya Kontraktor Roh yang bisa mewujudkan roh dengan nyanyian. Suatu saat saya rasa saya juga bisa melangkah ke ranah itu, tapi jika orang yang bukan kontraktor mencoba menguasainya dengan cara biasa, pasti butuh usaha yang luar biasa sulit. Dan orang yang telah mewujudkan berbagai masalah sulit itu tidak lain adalah Anis."
"...Artinya, kita akan membuat alat sihir untuk membantu perwujudan roh?"
Yang tersentak dan mengangkat wajah adalah Halphys. Euphie mengangguk puas menanggapi jawaban itu.
"Menganggap lagu sebagai mantra, dan mewujudkan roh untuk sementara waktu. Jika prosedurnya dipahami tapi kekuatannya kurang, kita tinggal membuat alat untuk menutupi kekurangan itu."
"Begitu ya. Kalau begitu, itu juga bisa jadi bukti perdamaian antara Kementerian Sihir dan Yang Mulia Putri Anisphia, jadi bagaimanapun hasilnya akan menguntungkan."
Miguel menjentikkan jarinya dan berkata dengan riang. Memang benar begitu. Siapa sih yang tidak ingin melihat perwujudan roh sekali seumur hidup?
Untuk itu, jika kita membuatnya seolah-olah aku dan Kementerian Sihir bekerja sama melakukan penelitian, kita bisa memberitahukan bahwa kami telah berdamai.
Jika jembatan itu dianggap sebagai jasa Euphie, kita bisa mendorong Euphie sebagai perwakilan Kementerian Sihir, dan posisi Kementerian Sihir yang dikhawatirkan Lang pun bisa ditingkatkan.
"Tapi, bisakah kita membuat alat sihir semacam itu...?"
Lang bergumam dengan ekspresi serius. Seketika pandangan semua orang terpusat padaku.
"Hmm, menurut hipotesis saya, roh itu mengubah wujud dengan menerima kehendak manusia, jadi kita cukup memperkuat hubungan dengan roh dan membuat gambaran sihir menjadi lebih konkret..."
"Menurut perasaan saya juga, saya rasa kita bisa mewujudkan roh dengan prosedur yang dikatakan Anis."
"Ujung-ujungnya, imajinasi... menyampaikan perasaan pada roh, dan membiarkan mereka menerimanya itu yang penting. Kalau tujuannya itu, saya pikir alat penguat seperti tongkat sihir (Wand) itu bagus."
"Alat penguat seperti tongkat sihir ya... Tapi, meski dibilang ini perpanjangan dari sihir, saya sama sekali tidak punya bayangan bagaimana cara menyublimasikan sihir agar perwujudan roh bisa terwujud."
Lang berkata sambil menghela napas, dan beberapa orang mengangguk setuju.
"Hmm, kurasa tidak perlu berpikir sesulit itu deh?"
"...Maksud Anda?"
"Roh kan ada di sana, jadi kurasa cukup dengan berharap ingin melihat wujudnya saja. Aku sih tidak tahu, tapi kalian semua bisa merasakan keberadaan roh, kan?"
"Kami merasakannya, tapi bukan berarti kami bisa merasakan kehendak mereka lho?"
"Kehendak roh adalah cermin dari kehendak manusia. Jadi cukup berdoa 'perlihatkan wujudmu', itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Coba pikirkan? Kontraktor Roh pertama tidak benar-benar bisa menggunakan sihir, kan? Sihir lahir setelah kontrak dengan roh terjalin."
"...Ah."
Mendengar ucapanku, Euphie membelalakkan mata seolah baru menyadari titik butanya. Bagi orang yang bisa menggunakan sihir sebagai hal yang wajar, itu mungkin seperti bernapas, tapi jika ditelusuri sampai ke asalnya, seharusnya tidak ada penyihir sejak lahir.
"Makanya Kontrak Roh ada lebih dulu daripada sihir. Perwujudan roh memang ada di perpanjangan garis sihir, tapi itu bukan sesuatu yang berkembang ke masa depan, melainkan menelusuri kembali masa lalu, bukan? Di zaman di mana belum ada yang mengenal sihir sebagai sihir, Kontrak Roh telah dilakukan. Roh benar-benar ada. Jadi daripada kemampuan sihir, kurasa cukup satu harapan ingin melihat wujudnya saja."
"...Saya mengerti."
Lang mengangguk dengan suara mengerang. Seolah meresapi sesuatu.
Melihat keadaannya, aku jadi menambahkan kata-kataku.
"Bagaimana ya, hmm. Susah mengungkapkannya dengan kata-kata tapi... kalau roh adalah cermin bagi manusia, kita harus menyampaikannya dengan harapan yang tulus..."
"Menyampaikan harapan, ya."
"Ya. Aku akan mengakhiri zaman di mana bangsawan melindungi negara sebagai penyihir. Jika alat sihir menyebar, bangsawan tidak perlu lagi berdiri di garis depan. Itu akan mengubah cara kita berinteraksi dengan roh yang sudah berlangsung sejak kontrak pertama. Tapi, justru karena itulah aku ingin menyampaikannya. Bahwa kontrak yang pertama kali dibuat sudah tidak kita butuhkan lagi. Tapi, kita tidak akan lupa bahwa kita selalu bersama roh."
Mendengar kata-kataku, Lang mengangkat wajah dan menatapku lekat-lekat. Bukan cuma Lang. Semua orang yang ada di sini mendengarkan kata-kataku dengan tenang.
"Meski cara berinteraksi berubah, nilai roh tidak berubah. Yang berubah adalah manusianya. Tapi, ada hal yang tidak boleh diubah. Peran bangsawan akan berubah, tapi janji yang dibuat dengan roh tidak berubah. Yaitu agar manusia bahagia. Kepada roh yang telah menjawab harapan awal itu, sampaikanlah bahwa hanya hal itu yang tidak akan berubah."
"...Itukah yang akan berujung pada perwujudan roh?"
"Kalau aku sih ingin menyampaikannya. Terima kasih karena selama ini sudah menjadi kekuatan bersama kami."
Aku meletakkan tangan di dada dengan lembut, seolah memastikan perasaan di lubuk hati.
"Cara hidup manusia berubah, tapi harapan awal tidak ingin diubah. Mulai sekarang pun ingin terus berjalan bersama roh. Karena itulah ada lagu, ada doa, dan ada harapan. Kalau perasaan ini tersampaikan, kalau mereka mau mencerminkan harapan kita, mungkin mereka mau mewujudkan diri."
Dari raja pertama ke Lumi, lalu dari Lumi ke generasi Ayahanda. Dan sekarang, harapan dan doa itu diwariskan kepada kami. Sejarah Kerajaan Palettia selalu bersama sihir. Dan awal mula sihir adalah demi kebahagiaan manusia.
Bukan berarti roh punya kehendak yang jelas. Meski begitu, roh terus mendampingi manusia. Karena keberadaan mereka yang tak berubah itulah, aku mengerti kenapa manusia ingin memanjatkan doa.
"Bagaimanapun wujudnya berubah, jangan lupakan niat awal. Masa lalu memanjangkan jalan ke masa kini, dan masa kini ke masa depan. Agar tidak hilang di dalam waktu itu, kita harus mewariskannya."
Aku mengatakannya sambil mencengkeram dada. Agar perasaan ini tidak terlepas, agar tidak menghilang.
"──Bahwa kita bahagia. Bahwa kita berubah demi menjadi bahagia. Meski begitu, kita tidak melupakan rasa syukur pada roh. Kita ingin menyampaikan bahwa mulai sekarang pun kita akan terus bersama, dengan gembira."
Pasti, jika kita bisa menyampaikan bahwa harapan ini asli, roh akan memperlihatkan wujudnya.
Bukan sebagai sesuatu yang diubah wujudnya menjadi sihir, tapi sebagai cermin pantulan doa dan harapan kita. Aku ingin mempercayai itu.
"Itu...──"
Yang mengeluarkan suara tercengang adalah Lang. Dia mengalihkan pandangan dariku, menutup mulut yang sempat hendak mengatakan sesuatu. Lalu Lang menghela napas seolah mengatur napas, dan berkata.
"...Saat ini, saya rasa tidak akan muncul ide yang lebih baik dari ini. Jika demikian, kita harus mengerahkan seluruh tenaga untuk perwujudan roh melalui nyanyian."
"Benar. Nah, kembali ke topik, alat sihir seperti apa yang bagus, kan?"
"Tergantung bagaimana cara menggunakannya, tapi idealnya adalah sesuatu yang bisa digunakan dalam upacara."
"Alat sihir yang bisa membantu nyanyian untuk mewujudkan roh, dan tidak masalah jika ditampilkan dalam upacara ya... benda apa yang bagus ya."
Kalau bicara nyanyian, yang pertama terlintas adalah mikrofon. Apa pakai tongkat sihir sebagai pengganti mikrofon untuk menyanyi?
"──... 'Alat musik'."
Tiba-tiba, terdengar gumaman pelan yang membuat semua orang terdiam.
Arah pandangan semua orang tertuju pada──Halphys. Gumaman itu membuat semua orang menghentikan gerakan.
"Alat sihir berbentuk alat musik... kalau itu, sepertinya bisa dibuat, kan? Anu, misalnya setiap komponen diberi fungsi seperti tongkat sihir, atau semacamnya. Bagaimana menurut Anda...?"
"...Ah, benar juga. Dalam upacara pasti ada pertunjukan orkestra, jadi banyak kesempatan untuk menggunakan alat musik, kan?"
Gakkun berkata sambil menepuk tangannya.
"Alat musik ya. Kalau dipikir-pikir, Papan Pikiran juga punya struktur yang mirip dengan alat musik tuts, dan hampir semua bangsawan belajar alat musik sebagai etika. Dasarnya sudah ada agar mudah diterima oleh bangsawan."
Miguel bergumam sambil tersenyum lebar seolah kagum.
"Sepertinya sudah diputuskan, bukan? Lang, bagaimana menurutmu?"
"...Benar juga. Saya juga merasa itu sangat menarik. Jika kita bisa mengubah alat musik—yang punya hubungan erat dengan lagu dan sudah meresap sebagai etika bangsawan—menjadi alat sihir, dan menghasilkan perwujudan roh sebagai hasilnya, mungkin orang-orang tua keras kepala itu pun bisa dibungkam."
"Lang, kamu bilang akan mengumpulkan orang dalam waktu dekat, kan? Jika faksi menjadi cukup besar untuk memegang kendali di dewan, bisakah kita memasukkannya ke dalam jadwal upacara yang akan diadakan dalam waktu dekat?"
"Benar, Yang Mulia Putri Euphilia. Jika ingin menarik perhatian, memulihkan posisi Kementerian Sihir, dan sekaligus mengumumkan secara besar-besaran bahwa perdamaian telah tercapai, kita harus memasukkannya ke dalam acara besar."
"Ya, pertama-tama kita perlu menguasai faksi. Nanti saya ingin mencocokkan personel, apakah boleh?"
"Tidak masalah. Sementara itu, saya ingin meminta Yang Mulia Putri Anisphia untuk membuat alat sihir berbentuk alat musik, apakah Anda bersedia?"
"Oke! Aku akan coba konsultasi dengan para pengrajin!"
* * *
Setelah menetapkan tujuan, kami mulai bergerak untuk menyelesaikan tugas masing-masing.
Euphie sibuk membujuk dan merekrut orang untuk bergabung dengan faksinya bersama Lang dan yang lainnya, dengan ditemani Lainie.
Sementara itu, aku menjalani hari-hari bolak-balik antara istana dan kota bawah bersama Halphys dan Gakkun.
Saat aku membawa pembicaraan ingin dibuatkan purwarupa alat musik sihir kepada para pengrajin, mereka menerimanya dengan senang hati.
"Alat musik sihir ya. Benda seperti apa yang harus dibuat?"
"Mau menjadikan tongkat sihir sebagai referensi? Woi, ada yang panggil pengrajin tongkat sihir ke sini! Tuan Putri Anisphia mau bikin alat sihir baru katanya! Seret lehernya kalau perlu!"
"Tapi, bagaimana caranya bikin alat musik jadi alat sihir? Apa batu rohnya dipasang begitu saja?"
"Tergantung mau bikin pakai alat musik apa. Kalau yang akrab sama bangsawan, biola kali ya?"
"Bisa sih dihias pakai batu roh, tapi kalau cuma begitu kurang menarik..."
"Gimana kalau batu rohnya dicampur sekalian? Ada kan cat yang pakai batu roh?"
"Itu dia! Kalau memengaruhi suara harus dipikirkan lagi, tapi ayo dicoba!"
...Dan seterusnya, sampai-sampai menjadi cerita lucu di mana pembicaraan terus berlanjut bahkan sebelum aku sempat menyela.
Di antara mereka, yang aktif berpendapat adalah Halphys. Mungkin karena dia punya pengalaman bermain biola jadi lebih mudah beropini, dia bertukar pendapat dengan antusias.
Dan, begitu badai ide selesai, mereka langsung mulai membuat purwarupa.
Awalnya aku juga pergi melihat proses pembuatannya, tapi atas permintaan Duke Grantz, pertemuan dengan bangsawan dan kuliah alat sihir dimulai kembali.
Jadi aku memutuskan untuk menyerahkan peninjauan bengkel sepenuhnya pada Halphys. Karena agak khawatir membiarkannya pergi sendirian, Euphie mengirim Marion dari Kementerian Sihir, jadi mereka berdua yang bergerak.
Suatu hari, setelah hari-hari yang sibuk berlalu, aku dipanggil oleh Ayahanda dan Ibunda. Saat aku muncul di ruang kerja, Ayahanda dan Ibunda yang sedang menghadapi Papan Pikiran mengangkat wajah secara bersamaan.
"Sudah datang ya, Anis."
"Selamat bekerja, Ayahanda, Ibunda. Bagaimana kondisi Papan Pikirannya?"
"Tidak buruk. Yang membuat kami tidak bisa bilang 'bagus' dengan jujur adalah salah Grantz."
"...Soal itu aku tidak salah apa-apa, jadi jangan menatapku dengan mata seperti itu."
Ayahanda dan Ibunda menatapku dengan tatapan tajam, tapi Duke Grantz kan memang gila kerja dari dulu, dan secara keseluruhan aku ingin kalian bilang syukurlah efisiensi kerja meningkat.
"Yah, duduklah. Sebenarnya ada hal yang harus kami sampaikan padamu."
"Hal yang harus disampaikan, ya?"
"Hmm. Sebenarnya kami sudah menyetujuinya, tapi penjelasan detailnya akan disampaikan oleh orang yang akan datang sebentar lagi."
"Siapa yang datang?"
"Orang yang sangat kau kenal."
Ibunda berkata dengan senyum jahil yang jarang terlihat. Hmm, siapa ya? Saat aku memiringkan kepala, terdengar suara ketukan pintu.
"Ayah Mertua, Ibu Mertua, maaf menunggu lama."
"Lho? Euphie."
"Ah, Anis sudah datang duluan ya. Selamat bekerja, Anis."
Yang masuk ke ruang kerja adalah Euphie. Sambil tersenyum, dia duduk di sebelahku. Di kursi seberang duduk Ayahanda dan Ibunda, posisi kami saling berhadapan.
"...Euphie, jangan-jangan kamu bergerak merahasiakan sesuatu dariku?"
"Tidak kok? Cuma, baru sampai tahap bisa dibicarakan saja."
Aku mencoba bertanya dengan nada menyelidik pada Euphie, tapi dia hanya membalas dengan senyuman. Kami sama-sama sibuk belakangan ini, tapi cerita apa yang sampai harus minta persetujuan Ayahanda dan Ibunda?
"Lalu? Ayahanda dan Ibunda bilang aku harus dengar penjelasan detailnya dari Euphie."
"Ya. Saya rasa Anis juga sudah dengar dari Halphys, tapi kabarnya beberapa purwarupa 'Alat Musik Sihir' (Magakki) sudah jadi."
Alat sihir berbentuk alat musik mulai disebut "Alat Musik Sihir", dan aku sudah mendengar laporan bahwa purwarupanya sudah jadi.
Hanya saja, bukan berarti tujuan perwujudan roh sudah berhasil. Hasil eksperimen menunjukkan ada efek amplifikasi yang mirip dengan tongkat sihir, tapi karena bentuknya alat musik jadi susah dipakai, dan efeknya tidak sebaik tongkat sihir.
Sebagai gantinya, ada karakteristik yang tidak dimiliki tongkat sihir, yaitu efek amplifikasi sihir bertahan selama permainan musik berlangsung, dan jangkauan efeknya luas.
Cuma karena efek amplifikasinya tidak terlalu wah, sepertinya tidak bisa dipakai untuk pertempuran nyata. Mungkin kalau penelitian lebih lanjut menemukan titik terang dalam metode pemrosesan, akan ada prospek masa depan, tapi saat ini belum bisa dibilang berguna.
"Saya sudah melapor pada Ayah Mertua juga, tapi dilihat dari tujuan perwujudan roh, ini baru hasil setingkat langkah pertama. Meski begitu, fakta bahwa ini langkah pertama menuju mimpi besar juga benar, jadi untuk pengumumannya, kami memutuskan untuk mendemonstrasikannya pada upacara yang akan diadakan dalam waktu dekat."
"Eh, mendadak sekali!?"
"Ada alasan kenapa harus buru-buru... salah satunya karena tekanan terhadap Kementerian Sihir semakin parah. Pengaruh Anis yang banyak menjalin hubungan dengan bangsawan mulai terlihat nyata."
"Eh."
"Pasti ulah Grantz..."
"Dia masih tak kenal ampun ya... aku jadi simpati."
Duke Grantz, apa yang dilakukan orang itu diam-diam!? Saat aku bengong, Euphie berkata sambil tersenyum kecut.
"Orang itu tidak mengubah kebijakannya untuk menjadikan Anis sebagai Ratu. Wajar saja dia melakukan gangguan."
"...Benar juga ya!?"
"Meski tahu harapan kita, itu urusan lain baginya. Kalau saya tidak becus, dia berniat menjatuhkan saya tanpa ampun lho."
Euphie menyipitkan mata sedikit, dan menyunggingkan senyum mengancam. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhku, jadi tanpa sadar aku menggosok lenganku.
Ayahanda dan Ibunda juga memalingkan wajah dari Euphie dengan canggung. Aku pun dipenuhi perasaan ingin memalingkan muka dari kenyataan.
"Alasan satu lagi adalah, semakin lambat waktu upacara yang direncanakan untuk mempublikasikan Alat Musik Sihir, semakin hilang efektivitasnya, jadi kami ingin segera mengambil langkah."
"...Waktunya semakin lambat?"
"Soalnya sudah lewat dari hari yang seharusnya diadakan."
"...Maksudnya upacara yang tidak bisa diadakan sesuai jadwal aslinya? Emangnya ada ya?"
Saat aku memiringkan kepala karena tidak ingat, entah kenapa Ibunda memasang ekspresi seperti mengunyah serangga pahit. Ayahanda juga memasang wajah yang sulit dijelaskan. Lalu Ayahanda berdeham, dan melanjutkan kata-kata Euphie.
"Wajar kalau kau lupa. Soalnya itu upacara yang sudah ditunda bertahun-tahun."
"...Emangnya ada apa ya?"
"Perayaan Ulang Tahunmu."
"...Ya?"
"Makanya, kukatakan itu Perayaan Ulang Tahunmu! Sejak kau melepaskan hak pewaris takhta dan mulai bertingkah seperti orang bodoh, kami berhenti mengadakannya, tahu!"
Tanpa sadar aku melongo. Memang benar ada Perayaan Ulang Tahun untuk anggota keluarga kerajaan. Waktu kecil aku juga dirayakan dengan benar, tapi sudah beberapa tahun berlalu sejak tidak diadakan lagi.
Begitu ya, kalau begitu wajar aku lupa. Lagipula ulang tahun asliku sudah lewat. Wajar kalau tidak sadar.
"Tunggu, Perayaan Ulang Tahunku!? Kenapa!?"
"Pada dasarnya Perayaan Ulang Tahun Anis tidak diadakan lagi karena Anis membuang hak pewaris takhta dan melepaskan diri sebagai keluarga kerajaan. Tapi, jika ditelusuri penyebabnya ada pada Kementerian Sihir. Untuk menunjukkan rekonsiliasi kedua belah pihak dan mengumumkan bahwa kedua pihak telah bekerja sama, mengadakan Perayaan Ulang Tahun Anis adalah hal yang tepat."
"Aku mengerti maksudnya... tapi, Perayaan Ulang Tahunku...?"
"Dengan mengadakan Perayaan Ulang Tahunmu yang sudah bertahun-tahun tidak diadakan, ini juga kesempatan bagus untuk menyatakan bahwa Anis akan berdiri tegak sebagai keluarga kerajaan mulai sekarang."
"Ini permintaan dari Kementerian Sihir, tapi sebagai orang tua maupun Raja, jika bisa mengadakannya termasuk menggantikan perayaan yang selama ini tidak bisa dirayakan, itu menguntungkan dalam banyak hal."
"...Tapi, bukannya sudah terlambat?"
"Justru karena sudah terlambat. Lagipula ide awalnya dari Kementerian Sihir, lebih tepatnya dari Lang."
"Lang?"
"Karena itu adalah upacara yang paling efektif untuk memberitahukan bahwa Kementerian Sihir telah berdamai dengan Anis. Dengan merayakannya termasuk yang selama ini tidak diadakan, kita bisa menyebarluaskan bahwa mereka telah mengakuimu."
"...Mengakuiku, ya."
"Ya, meski hasilnya agak lemah, keberadaan Alat Musik Sihir akan memberikan dorongan. Karena itulah, kami ingin segera melaksanakan Perayaan Ulang Tahun Anis."
"Mudah bagiku memerintahkan pelaksanaannya, tapi... Anis, aku minta konfirmasimu dulu."
"Kalau alasannya dijabarkan sebanyak ini, aku tidak bisa menolak."
Kalau ditanya apakah aku ingin diadakan, perasaanku agak rumit karena rasanya sudah terlambat.
Tapi, bukan berarti aku minta jangan diadakan. Meski aku yang punya hajat, rasanya belum terlalu nyata.
"Kalau begitu, karena sudah mendapat persetujuan. Anis, bisakah kamu menyerahkan uji kinerja purwarupa Alat Musik Sihir pada saya dan Kementerian Sihir?"
"Eh?"
"Saya dengar dari awal yang memimpin dan memberi saran adalah Halphys, kalau begitu sekalian saja, saya ingin Anis memastikannya dengan mata kepala sendiri saat Perayaan Ulang Tahun nanti. Karena ini Perayaan Ulang Tahun yang berharga, anggap saja hasil Alat Musik Sihir itu sebagai hadiah dari Kementerian Sihir."
"Begitu ya? Hmm, memang aku ingin ini jadi prestasi Kementerian Sihir, jadi aku tidak keberatan menyerahkan sisanya... tapi artinya aku tidak ada kerjaan sampai Perayaan Ulang Tahun?"
"Apa yang kau katakan, Anis. Jika sudah diputuskan akan mengadakan Perayaan Ulang Tahun, jadwalnya pasti segera ditentukan. Dan, hari-harinya terbatas. Selama itu kau harus memilih gaun untuk pesta, dan kalau perlu, peninjauan ulang tata krama juga harus dimasukkan."
"Eh."
Mendengar ucapan Ibunda, aku memasang wajah seperti mengunyah serangga pahit. Seketika mata Ibunda melotot naik.
"Sampai-sampai selama ini penundaannya dilakukan, jadi ini perlu untuk memberitahukan dengan tegas bahwa kau telah kembali sebagai keluarga kerajaan!"
Ibunda, kenapa Anda bersemangat sekali? Saya hampir terbakar oleh antusiasme Anda. Tanpa sadar aku menatap Euphie dan Ayahanda seolah memohon bantuan, tapi Ayahanda memalingkan muka, dan Euphie hanya tersenyum lebar.
"Mulai hari ini aku akan mengurusmu untuk sementara waktu. Mengerti kan? Anis."
"Eh."
"Jawabannya?"
"...Ba, baik."
Eh, jangan-jangan Ibunda sendiri yang akan mendidik ulang aku? Dicek tata krama lagi? Dan tadi bilang bikin gaun baru? Aku merasa pusing memikirkan masa depan yang akan menimpaku. Aku sangat ingin kabur.
"...Mumpung ada kesempatan, biarkan mereka merayakanmu dari hati."
"Sebelum dirayakan, sepertinya aku bakal dimarahi sampai mati lho!?"
"Ara, apakah itu pengakuan bahwa dirimu memang kurang kompeten? Begitu ya, aku jadi bersemangat nih? Anis."
"Ini sih, ngomong apa saja malah jadi bumerang, kan!?"
Aku hanya bisa berteriak dengan suara tercekat pada Ibunda yang tersenyum lebar. Aku kan rencananya mau dirayakan, tapi kenapa sudah dipastikan bakal menderita sebelum dirayakan?
Ini benar-benar aneh!!
* * *
Di tengah kelelahan luar biasa karena Ibunda menempel padaku untuk pengecekan ulang tata krama ala Spartan dan bergerak cepat untuk menyelesaikan gaun, tanpa sadar hari Perayaan Ulang Tahunku tiba. Terlalu cepat. Jujur saja, ingatanku sampai hari ini rasanya mau hilang.
Karena Perayaan Ulang Tahunku diadakan kembali setelah sekian tahun, kota bawah benar-benar heboh seperti festival. Memanfaatkan momen pesta, kedai-kedai berderet, dan orang-orang yang penuh semangat minum dan bernyanyi dengan ribut.
Parade keluarga kerajaan bergerak membelah semangat orang-orang itu. Aku mengenakan gaun yang dipesan khusus untuk hari ini, duduk di sebelah Euphie sambil melambaikan tangan.
Orang-orang yang bergegas datang untuk melihat parade sekilas, melambaikan tangan balik pada kami dengan senyuman.
"Semangatnya luar biasa seperti biasa ya."
"Anggap saja itu bukti negara ini makmur, dan kalau setelah ini berjalan lancar, tidak ada lagi yang perlu dikeluhkan."
"Benar juga."
Aku diam-diam bertukar kata dengan Euphie di sela-sela parade. Melihat kehebohan festival ini, setidaknya sepertinya tidak ada masalah di pihak rakyat.
Aku merasa tidak enak pada ksatria yang berpatroli menjaga keamanan, tapi kuharap mereka menganggap menjaga pemandangan ini sebagai kehormatan dan berjuang.
Setelah ini akan diadakan Perayaan Ulang Tahunku yang dipimpin oleh Kementerian Sihir. Kalau ini berjalan lancar, tidak ada keluhan. Tapi jujur, karena aku hampir tidak terlibat dalam isinya, aku tidak tahu bagaimana jadinya.
Dengan perasaan setengah berharap dan setengah cemas, aku memutuskan untuk berkonsentrasi pada tugas melambaikan tangan pada rakyat.
* * *
Lalu setelah parade selesai, kami istirahat sebentar lalu ganti baju.
Selama itu matahari sudah terbenam sepenuhnya, dan malam telah tiba. Di aula istana kerajaan, para bangsawan berbincang-bincang sesuka hati.
Aku mengatur napas melihat pemandangan yang belakangan ini sudah sangat biasa kulihat, lalu memberi hormat bersama Euphie dan memasuki tempat acara.
"Yang Mulia Putri Anisphia dan Yang Mulia Putri Euphilia memasuki ruangan!"
Di tengah tatapan seluruh aula yang berkumpul, yang pertama kali kutemukan adalah Halphys dan Marion.
Mereka berdua mengenakan pakaian yang pantas untuk pesta malam. Melihat Halphys yang berdandan, kalau dirias dengan benar dia tampak seperti nona muda yang manis biasa.
Padahal dia boleh lebih percaya diri, tapi dia sepertinya susah bangga pada diri sendiri yang membuatku gemas, tapi melihatnya bersanding dengan Marion, aku pikir mereka memang serasi.
"Halphys! Marion!"
"Nona Euphilia, Nona Anisphia, selamat malam."
"Selamat malam, Halphys, Marion."
"Ya! Yang Mulia Putri Anisphia. Sekali lagi selamat ulang tahun."
"Terima kasih. Meski ulang tahun aslinya sudah lewat lama sih. Dirayakan begini setelah sekian lama rasanya tidak tenang."
"Berkat ini Kementerian Sihir diberkati kesempatan untuk memulihkan nama baik..."
"Ya... tinggal berharap sisanya berjalan lancar."
"Benar."
Setelah berbincang sebentar, Halphys dan Marion menghilang ke dalam kerumunan.
Setelah Halphys dan Marion pergi, orang-orang datang silih berganti untuk menyapa. Meski sempat menjauh dari dunia sosial cukup lama, sepertinya aku akhirnya mulai terbiasa.
Yah, masih kalah dibanding Euphie yang bersosialisasi dengan percaya diri di sebelahku sih. Dia melanjutkan percakapan semulus air mengalir. Aku masih sering tertawa untuk menutupi kecanggunganku.
"Yang Mulia Putri Anisphia, Yang Mulia Putri Euphilia. Sebentar lagi sambutan dari Kementerian Sihir yang bertugas sebagai pembawa acara akan dimulai. Mohon berpindah ke kursi di atas panggung."
"Ara, sudah waktunya? Ya, baiklah."
"Mari kita pergi, Anis."
Menyudahi salam, aku dipandu oleh kepala pelayan, menuju kursi keluarga kerajaan di atas panggung bersama Euphie.
Memikirkan akhirnya Alat Musik Sihir akan diperkenalkan membuat dadaku berdebar. Kalau bisa sih aku ingin diterima tanpa penolakan, tapi...
"Mu, sudah datang ya. Anis, Euphie."
Di kursi keluarga kerajaan di atas panggung, Ayahanda dan Ibunda sudah duduk. Kami duduk berdampingan dengan Euphie di kursi yang tersisa.
"Anis, apakah kamu bersosialisasi dengan benar?"
"Ya, lumayan."
"...Euphie?"
"Ibu Mertua, Anis juga masih belum terbiasa, tapi kalau sering dilakukan pasti akan baik-baik saja."
"...Kalau Euphie bilang begitu, anggap saja begitu."
Ibunda melontarkan pertanyaan yang agak bikin merinding, tapi aku selamat. Duh, jangan kasih tekanan di acara perayaan begini dong, menyebalkan ah.
Saat aku berusaha memalingkan muka dari tatapan Ibunda, yang naik ke atas panggung adalah Lang. Lang yang berdiri di panggung memandang para peserta yang berkumpul di aula, lalu berdeham sebelum berbicara agar terdengar ke seluruh aula.
"Para hadirin sekalian, mohon tenang. Sekali lagi, mulai saat ini kami akan melaksanakan upacara perayaan ulang tahun Yang Mulia Putri Anisphia. Saya, Lang Voltaire, akan bertindak sebagai pembawa acara."
Dengan satu suara dari Lang, tatapan para peserta yang sedang berbincang terpusat pada Lang. Lang memastikan suasana sudah hening sebelum berpaling kepada kami.
"Sekali lagi, Yang Mulia Putri Anisphia. Meski terlambat dari hari kelahiran yang sebenarnya, kami mengucapkan terima kasih karena telah mempercayakan peran penyelenggara Perayaan Ulang Tahun kepada Kementerian Sihir."
"...Kata-kata itu terlalu berlebihan bagi saya yang selama ini mengabaikan tugas sebagai keluarga kerajaan. Mulai sekarang saya akan menyadari kembali kebanggaan dan kesadaran sebagai keluarga kerajaan, dan memenuhi tugas saya. Kali ini, tanpa usulan Kementerian Sihir, kesempatan ini pasti akan tertunda sampai tahun depan. Izinkan saya mengucapkan terima kasih sekali lagi."
Sambil merasakan tekanan tatapan Ibunda dari samping, aku membalas ucapan layaknya seorang putri. Setelah balasan selesai, tekanan dari Ibunda menghilang seperti mengempis. A-aku berhasil melewatinya, kan?
"Demi memenuhi harapan Anda, kami juga siap menghadapi Perayaan Ulang Tahun hari ini dengan segenap tenaga. ...Adapun, tradisi Perayaan Ulang Tahun selama ini adalah mempersembahkan kata-kata ucapan selamat dan menerima berkat dari batu roh untuk merayakan kelahiran."
Kata-kata Lang ditujukan kepada kami sekaligus kepada para peserta di aula. Keheningan di aula terasa semakin tegang.
"Namun, sekarang di saat penyebaran alat sihir yang diusulkan Yang Mulia Putri Anisphia sudah di depan mata, kami memutuskan bahwa ritual konvensional yang mengonsumsi batu roh dalam jumlah besar harus ditinjau ulang. Kami Kementerian Sihir dianugerahi misi oleh negara untuk mewarisi dan menceritakan budaya serta tradisi. Namun, kami harus mengubah budaya yang telah dibangun selama ini sesuai dengan zaman. Agar tradisi tidak terputus oleh perubahan, dan demi menyampaikan pada generasi mendatang bahwa masa kini ada karena mewarisi masa lalu."
Pidato Lang berlanjut. Lang memberi jeda seolah mengatur napas. Reaksi orang-orang yang menerima kata-kata itu pun beragam.
"Berharap acara oleh Kementerian Sihir kali ini menjadi tradisi baru yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Cahaya dan kegelapan purba, empat elemen api, tanah, air, angin, perlindungan seluruh roh yang ada di dunia ini semoga ada di sini. Dengan ucapan selamat ini, kami merayakan ulang tahun Yang Mulia Putri Anisphia, dan memanjatkan doa pada roh. Inilah berkat yang kami persembahkan. ──Orkestra, maju!"
Setelah membacakan ucapan selamat, Lang menyatakan dengan lantang. Bersamaan dengan itu, di panggung yang disiapkan terpisah dari panggung kami, para pemusik yang membawa alat musik masuk dari belakang.
Alat musik yang dibawa para pemusik semuanya adalah instrumen dawai. Yang menarik perhatian adalah warna alat musiknya. Alat musik itu diberi warna putih, merah, cokelat, biru, hijau, dan hitam, seolah mewakili setiap roh.
"Hari ini, dengan permainan Alat Musik Sihir yang diproduksi dengan menerapkan teknologi pemrosesan yang juga digunakan pada alat sihir, kami mempersembahkan lagu untuk merayakan ulang tahun Yang Mulia Putri Anisphia, dan memohon perlindungan roh. Hadirin sekalian, mohon dengarkan sejenak──"
Lang memberi hormat, mengangkat wajah, dan memberi isyarat mata pada konduktor yang berdiri di depan para pemusik. Konduktor yang menerima isyarat mata Lang mengangguk dengan ekspresi yang agak kaku karena tegang.
Cahaya di aula diredupkan, dan saat suasana menjadi remang-remang, konduktor mengangkat tongkatnya.
──Dan permainan pun dimulai.
Lagu yang dimainkan adalah lagu umum untuk merayakan hari ulang tahun di Kerajaan Palettia.
Manusia dan roh saling mendekat, hidup bergandengan tangan. Mohon berikan perlindungan dan berkat kepada anak-anak yang lahir di negeri ini. Lagu yang sarat dengan permohonan dan doa seperti itu.
Keterampilan para pemusik juga tidak perlu diragukan. Permainan yang nyaman di telinga sedang dialunkan. Saat aku menyipitkan mata dan mendengarkan dengan saksama, aku menyadari Euphie yang duduk di sebelahku tersentak sejenak.
"──Anis."
Euphie memanggil namaku dengan suara agak melengking. Saat aku berpikir tumben sekali Euphie bersuara di tengah pertunjukan, sesuatu melintas di sudut pandanganku.
Di aula yang cahayanya diredupkan, cahaya berkelap-kelip bergoyang. Enam warna cahaya redup melayang-layang, berkedip seiring irama musik. Bentuknya samar, kekuatan cahayanya maupun keberadaannya semuanya tipis.
──Meski begitu, roh benar-benar ada di sana.
Melihat roh-roh yang mewujud, Euphie tersenyum sambil menyipitkan mata. Mungkin karena dia Kontraktor Roh dia merasakan sesuatu yang mendalam, dia mengembuskan napas seolah terharu.
Roh-roh yang terbang berkeliling menarik ekor cahaya enam warna yang melayang di udara mulai berkumpul di dekatku. Dan, cahaya yang tumpah berjatuhan seperti serbuk sari.
Itu seolah-olah mereka menaburkan serbuk sari cahaya padaku. Melihat pemandangan yang sangat fantastis itu, aku menahan napas dan mengulurkan tangan seolah ingin menadah serbuk sari itu. Lalu satu per satu roh yang berbalut cahaya mendekat seolah menyentuhku, lalu terbang berhamburan ke seluruh aula seolah sedang bermain-main.
"Batu roh adalah hadiah dari roh. Roh adalah serpihan dunia, dan cermin yang memantulkan kehendak manusia. Jika dimainkan dengan penuh harap, roh akan muncul menjawab doa. ...Ini adalah berkat yang tak terbantahkan. Pemandangan yang Anda tunjukkan."
"...Hebat, indah sekali."
Tanpa sadar aku mendesah kagum. Tampaknya semua peserta juga merasakan hal yang sama, meski dalam kegelapan, aku tahu semua mata mengikuti cahaya yang terbang mengelilingi aula.
Permainan masuk ke bagian klimaks, dan permainan para pemusik semakin penuh semangat. Dan, akhir datang seolah meresapi sisa nada. Suara perlahan menghilang, dan bersamaan dengan berakhirnya permainan, cahaya roh pun lenyap.
Tak lama kemudian──dipicu oleh seseorang yang mulai bertepuk tangan seolah baru teringat, aula seketika diliputi suara tepuk tangan. Aku pun lupa diri dan memberikan tepuk tangan untuk para pemusik.
Dengan wajah puas karena telah menyelesaikan tugas, para pemusik membungkuk hormat meski keringat bercucuran di dahi. Lalu, saat aku memperhatikan para pemusik, aku sadar Lang sudah datang ke dekat kursi keluarga kerajaan.
"Yang Mulia Putri Anisphia."
"Lang."
"...Selamat ulang tahun, dari lubuk hati saya yang terdalam. Semoga perlindungan dan berkat roh menyertai Anda!"
Lang berlutut dan memberi hormat. Sekali lagi, tepuk tangan dan sorak-sorai membahana dari aula.
Aku menatap sosok Lang dalam keadaan tertegun. Tiba-tiba Euphie menggenggam tanganku. Pandanganku beralih dari Lang ke arah Euphie.
Karena gerakan itu, ada sesuatu yang mengalir di pipiku. Aku baru sadar itu air mata sesaat kemudian, dan begitu sadar aku menangis, kelenjar air mataku langsung terstimulasi. Euphie menatapku dengan mata seolah melihat anak kecil.
"...Aku, diberkati oleh dunia ini ya. Oleh orang-orang yang hidup di negeri ini, dan oleh roh yang mendampingi."
"Ya. Selama ini Anda merasa baik-baik saja menjadi sesat dan tidak mengharapkan diberkati. Tapi, berkat ini adalah berkat yang tidak akan lahir jika Anda tidak ada. Anis."
Euphie mengulurkan tangan dan menghapus air mataku. Meski begitu air mataku tidak berhenti, dan butiran-butiran air mata terus jatuh.
"Anda, sekarang, hidup dengan diberkati oleh dunia ini. Hidup itu dihargai. Jadi tersenyumlah."
"...Ya."
Air mata tidak berhenti. Tapi, biarkan saja tidak berhenti. Perlahan aku berdiri, dan dengan air mata yang masih mengalir, aku menghadap Lang.
"Lang──terima kasih, sudah merayakanku. Sekarang, aku benar-benar senang dari lubuk hatiku."
"...Kata-kata yang berlebihan bagi saya."
Lang perlahan berdiri dari posisi berlutut dan menatapku. Di wajahnya tersungging senyum lembut.
".....Saya masih belum bisa menilai apakah wujud ilmu sihir ini adalah wujud yang pantas bagi negeri ini. Tapi, saya telah menemukan satu hal yang pasti bisa saya percayai."
"...Apa itu?"
"Bahwa masa depan yang kita tuju itu dekat. Hanya jalan yang ditempuh saja yang berbeda. Manusia seharusnya hidup untuk menjadi bahagia. Saya dengan memanjatkan doa pada roh, dan Anda dengan membuka masa depan, kita berjalan menuju masa depan yang bahagia. Terkadang bahu kita bersenggolan, atau saling menghalangi jalan. Meski begitu──ada kebahagiaan yang didapat dengan saling memahami."
Lang meletakkan tangan di dada, sedikit menundukkan kepala dan berkata seolah meresapi kata-katanya.
"──Hari ini, bisa hadir di momen ini adalah kebanggaan dan kebahagiaan bagi saya."
......Kata-kata Lang membuat air mata semakin meluap. Menghembuskan napas yang gemetar, aku perlahan mengatur napas sambil mengulurkan tangan pada Lang.
Melihat tangan yang kuulurkan, Lang mengangkat kepala dan menatapku dengan heran.
"Saat berdamai, kita berjabat tangan. Aku melakukan ini untuk menunjukkan bahwa aku ingin melanjutkan hubungan ini."
"......Yang Mulia Putri Anisphia."
"──Bolehkah aku menuju masa depan bersama kalian di negeri ini?"
Lang menatap tanganku sejenak. Lalu, perlahan tangan Lang menggenggam tanganku.
"──Saya bersumpah untuk belajar bersama, melangkah bersama, dan melindungi bersama hingga akhir, dan saya mengharapkan hal yang sama dari Anda."
Mendengar kata-kata Lang, aku tersenyum lebar. Bersamaan dengan itu, tepuk tangan yang gemuruh membahana dari seluruh aula.
Mendengar suara tepuk tangan yang memberitakan berkat, aku dan Lang saling bertatapan. Lalu, kami berdua pun tertawa seolah tak tertahankan.
* * *
"Lang, kerja bagus."
"......Miguel ya."
Setelah menyelesaikan upacara yang dipersembahkan untuk Yang Mulia Putri Anisphia, aula kembali menjadi tempat bersosialisasi. Tampaknya semua orang menjadi cukup banyak bicara, mungkin karena sedang membicarakan keharuan malam ini.
Di sudut ruangan, aku yang bersandar di dinding seolah bersembunyi, memanggil nama Miguel yang menyelinap tanpa suara sambil mendengus.
Miguel dengan sikap santai seperti biasa, berdiri di sebelahku sambil ikut bersandar di dinding. Di tangannya tergenggam gelas anggur.
"Lega rasanya mendapat pujian tulus dari Yang Mulia Putri Anisphia itu?"
"......Hmph."
"Oi oi, aku memujimu lho? Bagus, kan. Wajah Kementerian Sihir juga terselamatkan, kan?"
"Entahlah. Aku hanya ingin berdoa semoga kegembiraan ini bukan hanya untuk sekali ini saja."
"Kamu juga tidak jujur ya."
Miguel menghela napas seolah heran. Melihat sikapnya, aku hanya mengangkat bahu.
"......Performa Alat Musik Sihir masih belum memadai. Kami sudah mencoba beberapa kali, tapi tergantung kemampuan pemusiknya, ada kalanya roh tidak bisa dipanggil. Selain itu, pemusik yang sama pun belum tentu bisa memanggil roh setiap saat. Ini masih teknologi yang tidak stabil."
"Bisa sampai sejauh ini dalam waktu singkat sudah cukup bagus kok."
"Itu juga berkat penelitian yang dikumpulkan oleh Yang Mulia Putri. ......Ini bukan jasaku. Ini hanyalah hasil yang dibawa oleh Yang Mulia Putri melalui jalan yang berputar."
"Kau benar-benar tidak jujur ya!"
Miguel berkata sambil menatapku dengan heran, tapi kemudian wajahnya berubah seolah melihat sesuatu yang ajaib.
Sambil menangkap sosok Miguel di sudut pandanganku, yang kulihat adalah Yang Mulia Putri Anisphia yang sedang berbincang dengan Yang Mulia Putri Euphilia.
"......Mungkin saja, ini sebenarnya hal yang sederhana."
"Apanya?"
"Jika kesopanan dibalas dengan kesopanan, atau mungkin──jika begitu, mungkin kami bisa membangun hubungan yang berbeda sejak awal. Aku hanya berpikir begitu. Meski itu hanya pengandaian yang mustahil."
Aku hanya menganggapnya gadis nekat yang tidak tahu aturan, keberadaan yang memalukan sebagai keluarga kerajaan.
Aku terkejut dengan perubahan diriku sendiri yang mulai berpikir bahwa pandangan itu mungkin hanyalah prasangka belaka.
Bahkan sekarang, faktanya aku masih merasakan penolakan dan keengganan terhadap teori yang beliau ajukan. Tapi, tidak sampai membuatku tidak ingin mendengarnya.
Memang benar jalan yang hendak kami tempuh berbeda. Tapi, aku tidak bisa lagi berpikir bahwa tempat yang beliau tuju adalah tempat yang sama sekali berbeda dengan tempat yang kutuju.
Karena itulah, mungkin ada jalan untuk melangkah bersama. Setidaknya, hari ini jalan Yang Mulia Putri Anisphia dan jalanku masih bersinggungan. ......Meski itu adalah hal yang sulit untuk dikomentari.
"......Mungkin memang ada hubungan yang berbeda. Tapi meski begitu, justru karena itulah kita sampai di sini, kan?"
"......Benar juga."
"Untuk saat ini, itu sudah cukup. Pokoknya, kerja bagus."
Miguel mengangkat gelas anggurnya sedikit. Aku pun mengangkat gelas anggurku untuk menyambutnya.
Gelas yang diangkat ke posisi yang sama saling bersentuhan. Dan suara denting gelas anggur pun berbunyi dengan pelan.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar