Bertukar Kata, Membicarakan Masa Depan
──Hari ini adalah hari libur, namun istana terpisah dipenuhi ketegangan yang hening.
Di ruang tamu berkumpul banyak orang untuk ukuran istana terpisah. Ada aku, Euphie, Ilia, Lainie, Halphys, dan Gakkun.
Dan yang duduk di hadapan kami adalah trio dari Kementerian Sihir: Lang, Marion, dan Miguel.
Di tengah suasana yang sulit dijelaskan, yang pertama kali membuka mulut adalah Lang.
"Terima kasih banyak telah meluangkan waktu hari ini."
"Aku agak kaget Lang mau berkunjung ke istana terpisah lho."
Ya, kami bertatap muka seperti ini karena ada permintaan dari Lang. Saat dibilang ada hal yang ingin dibicarakan denganku, aku benar-benar penasaran ada apa.
Lang meminta agar Marion dan Miguel ikut serta, dan kami memberitahu bahwa jika perlu, Halphys dan Gakkun juga bisa hadir.
Aku tidak tahu pembicaraan apa ini, tapi karena diizinkan hadir, aku meminta mereka berdua ikut.
"Sudah bukan waktunya basa-basi lagi kan? Bisa langsung ke intinya?"
"Baik. Kalau begitu, izinkan saya bertanya terus terang. Yang Mulia Putri Anisphia, Yang Mulia Putri Euphilia, apa yang hendak Anda berdua lakukan terhadap Kementerian Sihir?"
"...Aku sudah pernah bilang, aku berharap bisa berdamai dengan Kementerian Sihir."
"Kalau begitu, bagaimana dengan Yang Mulia Putri Euphilia?"
"Saya ingin meninjau ulang struktur Kementerian Sihir. Mengingat masa depan, reformasi jangka panjang akan diperlukan."
"Namun, apakah tujuan Yang Mulia Putri sekalian sama sekali tidak menafikan peran Kementerian Sihir selama ini? Anda bilang berdamai, tapi sampai sejauh mana perdamaian yang Anda maksud?"
"...Saya akan membalas pertanyaan dengan pertanyaan, sebenarnya apa yang Lang khawatirkan?"
Ditanya balik oleh Euphie, Lang mengatupkan bibir dan memejamkan mata sejenak. Setelah jeda sesaat, Lang membuka mulut.
"Yang saya khawatirkan adalah──pembubaran Kementerian Sihir, Yang Mulia Putri Euphilia."
Mendengar itu, Euphie pun membelalakkan mata. Aku tidak pernah berpikir untuk membubarkan Kementerian Sihir, tapi apa kami terlihat akan melakukan hal itu sampai-sampai Lang khawatir?
"Jika Yang Mulia Putri Anisphia mendorong penyebaran ilmu sihir (magology) dan alat sihir, itu akan bertentangan dengan Kementerian Sihir. Karena itu, saya bisa memahami tujuan Yang Mulia Putri Euphilia untuk mereformasi organisasi. Namun, saya ingin tahu gambaran seperti apa yang Anda bayangkan setelah reformasi itu tercapai. Jika itu mengarah pada pembubaran Kementerian Sihir, saya merasa harus menyampaikan pendapat."
"Anda pikir kami bisa membubarkan Kementerian Sihir sesuka hati?"
"Sekarang mungkin mustahil. Tapi, jika salah satu dari Yang Mulia Putri naik takhta, hal itu mungkin saja terjadi."
"...Itu memang bisa dilakukan, tapi tidak perlu dilakukan, kan?"
"Kenapa?"
"Kenapa... kau pikir seberapa besar organisasi Kementerian Sihir di Kerajaan Palettia?"
"Ini bukan masalah skala. Masalahnya adalah apakah bagi Yang Mulia Putri sekalian, Kementerian Sihir layak dipertahankan atau tidak."
Lang menggelengkan kepala ke kiri dan kanan, merangkai kata dengan tenang namun penuh penekanan.
"Kebenaran Kontrak Roh telah terungkap, dan banyak orang mulai meragukan kepercayaan Roh itu sendiri. Mau tak mau kita sedang menyambut masa perubahan. Namun, kami telah lama mengabdi pada Kerajaan Palettia untuk menjaga tradisi dan kepercayaan. Menerima perubahan dengan segera bukanlah hal yang mudah."
"Aku rasa aku mengerti itu. Tidak, aku ingin mengerti. Makanya aku sama sekali tidak berpikir untuk membubarkan Kementerian Sihir. Meski seandainya aku atau Euphie yang terpilih menjadi raja berikutnya."
"Benar. Kementerian Sihir tidak tergantikan."
Peran Kementerian Sihir adalah penasihat politik, pelaksana upacara, penjaga dan pengelola data yang diperlukan untuk itu, serta pengembangan penelitian sejarah dan teknik sihir. Semuanya sangat diperlukan bagi negara ini.
"Aku tidak berpikir untuk mengusir penasihat dari kancah politik, dan Kementerian Sihir yang telah mengumpulkan pengalaman dan pengetahuan selama ini adalah yang paling tepat sebagai pelaksana upacara. Jadi pembubaran itu mustahil."
"Penelitian sihir juga perlu dilanjutkan di masa depan. Andaipun alat sihir menyebar, bukan berarti kebutuhan akan sihir hilang sepenuhnya. Saya justru berharap ilmu sihir Anis menyebar di Kementerian Sihir dan memicu kemajuan di bidang penelitian baru."
"Benar. Memang aku pernah berselisih dengan Kementerian Sihir, dan rasanya sulit akrab dengan orang yang pernah ribut, tapi bukan berarti aku berniat memperlakukan kalian dengan tidak adil. Kalau bisa aku ingin berdamai. Aku tulus berpikir begitu."
"...Ingin berdamai, ya. Apakah itu benar-benar isi hati Yang Mulia Putri Anisphia?"
"Isi hati tanpa kebohongan. Ini juga sudah pernah kubilang, aku juga introspeksi diri bahwa aku punya salah. Memang ada banyak hal yang tidak bisa kumaafkan, tapi bukan berarti aku menganggap keberadaan kalian jadi tidak diperlukan."
"Kalau begitu, Yang Mulia Putri Euphilia. Anda yakin bahwa ilmu sihir dan alat sihir yang ditemukan Yang Mulia Putri Anisphia akan mengubah negara ini, bukan? Di atas keyakinan itu, apa tujuan Anda turun tangan langsung mereformasi Kementerian Sihir, alih-alih berdiri bersama Yang Mulia Putri Anisphia?"
Mengalihkan sasaran pertanyaan dariku ke Euphie, Lang bertanya. Euphie menjawab pertanyaan Lang tanpa ragu sedikit pun.
"Alasan saya turun tangan mereformasi Kementerian Sihir adalah untuk menghubungkan tradisi masa lalu dengan masa depan yang akan dirajut Anis. Masa depan yang digambarkan Anis penuh dengan kemungkinan, tapi dalam kemungkinan itu seharusnya kita juga bisa menghubungkan masa lalu. Namun, ada jurang besar di antaranya yang membuatnya terputus. Mengatasi hal itulah yang saya anggap sebagai tugas saya."
"Anda menganggap tradisi yang kami wariskan terputus dari masa depan yang diusulkan Yang Mulia Putri Anisphia. Apakah Anda benar-benar yakin bisa menghubungkan keduanya?"
"Jika tidak bisa, salah satunya akan terbuang dan berakhir. Karena saya tidak menginginkan akhir seperti itu, saya berada di posisi ini sekarang."
Mendengar jawaban Euphie, Lang terdiam. Sampai sini hanya Lang yang bicara, Marion terlihat tegang, sedangkan Miguel meminta tambah teh dan bersikap santai secara tidak wajar. Agak bikin kesal.
"...Saya tidak bisa menyetujui pemikiran Yang Mulia Putri Anisphia. Bagaimanapun rasa penolakan itu tetap ada. Mungkin tidak akan pernah datang hari di mana saya menganggap ajaran Anda yang meremehkan ajaran lama dan keberadaan Roh itu benar."
Lang menghela napas seolah tak tahan lagi, lalu berkata demikian sambil menggelengkan kepala.
"...Itu sih mau bagaimana lagi. Aku memang melakukan hal-hal yang wajar dianggap begitu."
"Ya. Tapi, Anda yang dulu pasti tidak akan mengakuinya seperti ini. Anda telah memperbaiki perilaku Anda dan menunjukkan lewat tindakan untuk mendekat pada kami. Kalau begitu, sekarang giliran kami."
"...Lang?"
"Saya rasa reformasi Kementerian Sihir dan perampingan skala yang menyertainya tidak bisa dihindari. Meski begitu, saya mohon berikanlah kemudahan sebisa mungkin bagi mereka yang telah mengabdi pada negara hingga hari ini. Jika Anda bisa bersumpah, saya akan mempersembahkan kesetiaan saya pada Yang Mulia Putri sekalian."
Lang menundukkan kepala dalam-dalam. Aku melihat kepalan tangannya di atas lutut gemetar.
"...Selama kita hendak mengubah bentuk organisasi, pasti ada orang yang tidak cocok dan harus mundur. Tapi, saya mengerti permohonan Lang. Saya bersumpah akan berusaha agar banyak orang bisa menemukan jalan mereka."
"Aku juga berpikir lebih baik kalau tidak ada yang perlu dibuang. Memang banyak hal terjadi dengan Kementerian Sihir, tapi bukan berarti aku ingin kementerian itu hilang."
"Oke-oke, kalau begitu semuanya beres dengan damai. Bagus kan, Lang."
Miguel sengaja bicara tanpa membaca situasi. Lang menghela napas lelah, dan ketegangan di ruangan itu pun mencair.
"Ini bukan kesepakatan seluruh Kementerian Sihir, tapi Lang sudah membujuk orang-orang yang setuju di dalam kementerian dan bersiap untuk bekerja sama dengan Yang Mulia Putri sekalian."
"Begitu ya?"
"Ya iyalah, kalau dibiarkan begini, Yang Mulia Putri sekalian pasti terpaksa mengotak-atik personalia Kementerian Sihir, kan? Opini publik condong ke Yang Mulia Putri sekalian. Kalau tidak segera menawarkan titik temu dari pihak kami, cuma bakal jadi perselisihan berlarut-larut. Semakin lama waktu berlalu, semakin hilang keuntungannya. Tapi wajar kan kalau ada yang tidak setuju karena takut kehilangan posisi?"
"Itu sih aku mengerti."
"Di antara mereka, Lang sudah melakukan pendekatan pada orang-orang yang sepertinya bisa dibujuk. Omong-omong, sayalah yang dijadikan kacung untuk mengumpulkan informasi. Rencananya informasi yang kami kumpulkan mau diberikan ke Yang Mulia Putri sekalian biar dimanfaatkan, sebagai bahan negosiasi... tapi sepertinya di sana juga ada pemilik mata dan telinga yang hebat ya? Sering kali orang yang kami incar sudah didekati duluan. Ya kan, Nona yang di sana?"
Sambil tersenyum, Miguel menatap Lainie. Lainie mundur selangkah seolah takut, lalu Ilia maju selangkah dan memelototi Miguel dengan tatapan mengancam. Meski begitu Miguel tetap santai, sementara Marion memijat pangkal hidungnya dengan lelah.
"Tolong jaga sopan santunmu, Miguel. Lagipula saya tidak dengar kalau masalahnya jadi sebesar ini..."
"Karena Marion sudah memihak ke sana sejak awal, makanya aku minta tolong jadi asisten Yang Mulia Putri Euphilia. Yah, itu keuntungan jabatan lah."
"Saya tidak menyangkal soal keuntungan jabatan..."
"Soal itu saya minta maaf, Marion. Saya juga baru membulatkan pikiran ini belakangan ini. Karena saya tidak bisa memutuskan sebelum mengukur niat sebenarnya dari Yang Mulia Putri sekalian."
"Lang itu hati-hati. Dia sudah mengatur langkah supaya aman ke mana pun arah pembicaraannya."
"...Saya bersyukur tidak perlu bertarung dengan Anda, Lang."
"Belum diputuskan tidak akan bertarung. Jika saya menilai jalan yang Anda tempuh akan merugikan negara, saat itu posisi saya mungkin akan berubah."
"Benar juga. Saya harap kita bisa menjalin hubungan baik."
"...Kalau begitu, ada usulan yang ingin saya ajukan pada Yang Mulia Putri sekalian."
"Usulan?"
"Ada dua usulan. Pertama, saya ingin Yang Mulia Putri Euphilia menjadi pemimpin untuk menguasai Kementerian Sihir. Saya tahu Yang Mulia Putri Euphilia sudah bergerak, tapi itu masih hubungan antar individu, belum dikenal sebagai faksi. Karena itu, saya ingin bergerak agar pada kesempatan ini bisa diumumkan bahwa faksi yang dipimpin Yang Mulia Putri Euphilia telah terbentuk."
"...Benar. Seperti kata Lang, ini belum bisa disebut faksi. Tapi, jika bisa mendapatkan kerja sama Anda, saya akan sangat berterima kasih."
"Ke depannya, mari kita adakan pesta malam atau kesempatan lain untuk mengumumkannya. Bersamaan dengan pengumuman itu, idealnya para petinggi yang tidak kooperatif dengan Yang Mulia Putri Euphilia bisa mundur."
"...Apakah Anda yakin? Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti pengkhianatan lho?"
Euphie bertanya pada Lang dengan alis berkerut curiga. Lang menggelengkan kepala sebelum menjawab.
"Sekarang mereka masih bisa memilih mundur dengan terhormat. Jika sampai tahap ini pun tidak bisa membaca arus zaman, mereka tidak layak menduduki posisi penuh tanggung jawab. Bisa memilih untuk mundur juga merupakan kekuatan yang diperlukan."
"...Begitu ya."
Euphie mengangguk dengan ekspresi rumit menanggapi jawaban Lang. Aku juga mengerti perasaan Euphie.
Bukan berarti kami ingin menghancurkan lawan sampai tak bersisa. Kami ingin menghindari terciptanya benih dendam yang akan tersisa.
Meski berpikir begitu, ada pertarungan yang tak terelakkan. Tidak semua orang bisa diselamatkan. Memang ada orang seperti Lang, tapi tidak semuanya. Kami harus memilih siapa yang diselamatkan dan siapa yang tidak. Itulah tanggung jawab sebagai pemimpin.
(Karena aku benci memilih dan ingin lari dari hal itu, aku memang tidak cocok jadi raja ya...)
Aku menghela napas karena kembali disadarkan akan ketidakmampuanku. Tapi aku tidak boleh terus murung, jadi aku kembali fokus.
"Mengumumkan kembali terbentuknya faksi Euphie, itu usulan pertama kan? Usulan satu lagi?"
"Ini berkaitan dengan usulan pertama, saya ingin meminjam kebijaksanaan Yang Mulia Putri Anisphia."
"Kebijaksanaanku...?"
"Alasan menginginkan kebijaksanaan Yang Mulia Putri Anisphia adalah untuk menarik mereka yang bersikap netral di dalam Kementerian Sihir. Untuk itu, idealnya Kementerian Sihir dan Yang Mulia Putri Anisphia bisa mendirikan prestasi bersama."
Aku kehilangan kata-kata karena terlalu kaget. Tanpa sadar aku menatap Lang, mencari niat sebenarnya.
"Tadi saya sudah menyinggung sedikit, saya rasa perampingan skala Kementerian Sihir tak terelakkan. Alasannya, jika ilmu sihir dikenal luas, akan muncul orang-orang yang ingin menempuh jalan penelitian itu. Dalam kasus itu, saya khawatir akan terjadi diskriminasi terbalik antara peneliti konvensional dan peneliti ilmu sihir."
"...Diskriminasi terbalik ya. Maksudnya karena condong ke ilmu sihir, penelitian konvensional berpotensi diabaikan."
"Ya. Dan saya rasa itu adalah masa depan yang tak terelakkan."
"Lang sudah berpikir sampai sana ya. ...Memang, tidak bisa dibilang mustahil sih."
"...Apakah perlu sebegitu khawatirnya? Meski disebut alat sihir, saya rasa itu belum bisa menggantikan sihir..."
Euphie mengerutkan alis, tampak belum sepenuhnya yakin dengan krisis yang dirasakan Lang.
"Belum, ya. Tapi, mungkin bisa menggantikan lho, Euphie. Itulah yang gawat."
"Gawat, maksudnya?"
"Alasan Lang merasa krisis adalah karena dia membayangkan masa depan yang lebih jauh lagi, kan?"
"...Saya tidak menyangka justru Anda yang menunjukkannya."
Lang mengangkat bahu dengan heran dan menghela napas. Euphie masih memiringkan kepala karena belum paham. Justru Halphys yang bersuara.
"...Apakah krisis itu adalah kemunduran kepercayaan Roh?"
Kata-kata yang diucapkan Halphys membuat semua orang terdiam. Setelah keheningan yang menyakitkan telinga, Lang mengangguk dan menjawab.
"Ya. Kekhawatiran saya ada di sana. Suatu saat alat sihir akan menyebar, dan jika rakyat meningkatkan kemampuan melindungi diri sendiri, peran yang diemban bangsawan akan menipis. Itu akan menghilangkan kesempatan merasakan anugerah sihir, dan bisa berujung pada kemunduran kepercayaan."
"...Tidak, itu terlalu berlebihan kan?"
"Mungkin berlebihan, tapi kalau ada kemungkinannya, tidak bisa diabaikan kan?"
Gakkun bergumam lemah, tapi terdiam setelah dibalas Lang.
"Tunggu dulu, memang peran sihir itu sendiri mungkin berkurang, tapi alat sihir pun meniru sihir, dan bisa dibilang meminjam kekuatan Roh. Saya rasa tidak akan sampai terjadi situasi di mana kepercayaan Roh itu sendiri punah..."
Euphie menyela seolah tidak bisa menerimanya. Apa yang dikatakannya masuk akal, tapi aku tidak bisa bilang krisis yang dirasakan Lang itu kekhawatiran kosong.
"...Dalam kasus ini, mungkin bisa dibilang isi kepercayaannya yang tergantikan."
"Isinya tergantikan...?"
"Maksudnya rasa percaya yang selama ini ditujukan pada sihir, mungkin hanya akan tertuju pada alat sihir. Itu kalau salah langkah bisa berujung pada hilangnya budaya Roh itu sendiri."
Rasa syukur dan kepercayaan pada Roh pada dasarnya tidak berubah meski alat sihir menyebar. Tapi, tidak diragukan lagi itu akan mengubah bentuk kepercayaan Roh konvensional secara drastis.
"Ini cuma kemungkinan, tapi dengan alat sihir menjadi arus utama, masa depan di mana penyihir itu sendiri dianggap sesat pun mungkin terjadi. Soalnya orang yang tidak bisa pakai sihir lebih banyak kan."
"...Karena penyihir, jadi dianggap sesat?"
"Sekarang penyihir diterima di Kerajaan Palettia karena mereka menjalankan tugas sebagai bangsawan, tapi bagaimana kalau bangsawan tidak perlu lagi menjalankan tugas sebagai penyihir, dan tidak dibutuhkan siapa pun? Tergantikannya isi kepercayaan melahirkan kemungkinan terjadinya persekusi."
"...Ah."
Di situ Euphie membelalakkan mata seolah baru sadar.
Manusia takut pada hal yang menyimpang, dan menyingkirkannya. Itu hal yang tak terhindarkan. Terutama yang menanti setelah hilangnya rasa hormat pada penyihir adalah rasa iri dan takut terhadap mereka yang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki diri sendiri.
Bangsawan dihormati karena bisa menggunakan sihir. Jika keluar dari kategori bangsawan, penyihir hanyalah orang yang memiliki kekuatan berbahaya.
Kenyataannya, ada insiden di mana bandit penyihir yang bukan bangsawan menyebabkan kerusakan besar. Keberadaan dengan kekuatan luar biasa, tidak ada yang tahu kapan akan menyerang kita. Kalau ditanya apakah bisa membiarkan keberadaan seperti itu ada di dekat kita, kurasa mustahil.
"Rasa krisis Lang memang berlebihan. Tapi, tidak bisa dibilang masa depan yang mustahil terjadi. Apalagi hubungan bangsawan dan rakyat saat ini tidak bisa dibilang baik."
"...Jika masa depan seperti itu datang, saya merasa sangat hampa."
Ekspresi Lang tampak muram. Mudah untuk menertawakannya sebagai hal mustahil, tapi aku mengerti perasaannya yang tidak tenang setelah menemukan kemungkinan itu.
"Jika takdir kami adalah masa depan di mana penyihir pun tidak dibutuhkan, lalu apa arti bangsawan selama ini? Apakah kebanggaan kami hanyalah sesuatu yang salah, yang akan dilupakan oleh arus waktu? Jika begitu, untuk apa kami menjadi bangsawan?"
Sosok Lang yang menunduk sambil menempelkan tangan yang saling menggenggam ke kening mirip orang berdoa. Kata-katanya terdengar seperti pengakuan dosa.
Betapa dia menderita dan bingung. Aku tidak bisa tidak merasakan <i>deja vu</i> melihat sosoknya. Karena aku juga tahu penderitaan putus asa saat hampir tidak bisa mempercayai apa yang ingin dipercayai.
Peran bangsawan berakhir. Mengatakan itu mungkin mudah. Alat sihir menyebar, dan rakyat mungkin bisa menghadapi monster tanpa perlindungan bangsawan.
Apakah bangsawan yang tidak dibutuhkan lagi akan menjadi keberadaan tak bernilai? Apakah ada artinya bersikeras menjadi bangsawan? Idealku mungkin hanya akan merendahkan nilai mereka.
──Meski begitu, aku pikir itu salah.
"Lang. Aku, mengagumi sihir. Itulah awalnya. Bagiku penyihir adalah ideal yang harus dituju. Aku bukan membenci kalian. Aku hanya ingin menjadi seperti kalian."
──Tapi, aku tidak bisa. Aku tidak punya bakat sihir. Aku tidak bisa mencapai ideal yang kuinginkan, dan seberapa pun aku mencari jalan, tidak ada jalan yang benar.
"Meski begitu karena aku tidak bisa menyerah, aku bergantung pada ilmu sihir. Hanya ini sihir yang diizinkan untukku. Tapi, sihir ini tidak kulahirkan karena ingin menyangkal sihir yang sudah ada. Hanya saja, aku... ──ingin melihat mimpi yang sama bersama-sama."
Mengagumi sihir, menjalankan tugas sebagai penyihir, dan ingin menjadi seperti sosok yang dikagumi.
Di negara ini di mana nilai sihir adalah mutlak, orang yang tidak ahli sihir pasti akan lahir. Ada juga orang yang menderita sepertiku.
Nilai sihir saat ini bukanlah segalanya. Aku berharap sihir punya lebih banyak kemungkinan.
Tidak diakui, diremehkan, entah sejak kapan aku lupa mencari simpati orang lain. Tapi, aku ingin sihir menjadi sesuatu yang penuh mimpi dan harapan. Seperti bintang yang bersinar di langit malam, agar cahaya sekecil apa pun bisa kita temukan.
"Aku membuat sesuatu yang menghilangkan nilai bangsawan sebagai bangsawan. Aku tidak menyangkal itu, tapi itu salah. Aku hanya ingin membuat dunia di mana semua orang bisa bermimpi. Karena aku tidak tahan mimpi direnggut hanya karena bakat. Ingin bermimpi tidak ada hubungannya dengan status, kan?"
"...Ingin bermimpi, tidak ada hubungannya dengan status ya."
"Aku mungkin membunuh bangsawan sebagai peran. Tapi, bangsawan sebagai ideal adalah sesuatu yang juga kuimpikan. Itu tidak akan hilang. Tidak, aku tidak ingin menghilangkannya. Soalnya, itu kebanggaan negara ini kan? Meski peran bangsawan hilang, aku rasa tidak semua orang akan membuang harapan yang dititipkan pada bangsawan. Yang kuat melindungi yang lemah, dan karena memiliki kekuatanlah mereka memegang kebanggaan. Aku ingin dunia di mana semua orang bisa hidup dengan bangga, bukan karena mereka bangsawan, tapi meski bukan bangsawan pun."
Lang mengangkat wajah dan menatapku. Seolah mencoba membaca sesuatu dariku. Aku membalas tatapan Lang dengan membusungkan dada, karena tidak ada yang perlu dipermalukan.
"Apa kita berjalan melihat ke arah yang sebegitu bedanya? Lang. Ideologi dan cara pikir mungkin tidak bisa sama. Meski begitu, aku tidak merasa tempat yang kita tuju benar-benar berbeda."
"...Yang Mulia Putri Anisphia."
"Aku ingin masa depan di mana semua orang berbeda, dan semua orang dianggap luar biasa. Karena itu aku akan ikut mencarinya. Nilai agar penyihir yang telah menyelesaikan perannya sebagai bangsawan, bisa terus ada di tengah masyarakat mulai sekarang."
Mendengar kata-kataku, Lang menghela napas pelan. Ekspresinya saat mengangkat wajah setelah sempat memejamkan mata adalah ekspresi lembut yang baru pertama kali kulihat.
"Ada yang pernah menilai Anda sebagai putri yang paling mencintai sihir, namun tidak dicintai oleh sihir."
"...Pernah dibilang begitu ya."
"Terlepas dari apakah Anda dicintai sihir atau tidak, tidak berlebihan jika dikatakan perasaan Anda pada sihir adalah cinta sejati. Sekarang, rasanya saya bisa mengakui hal itu dengan jujur."
"...Tak kusangka akan datang hari di mana Lang berkata begitu padaku. Hidup memang tidak bisa ditebak ya."
Saling berkata begitu, kami memasang ekspresi yang sulit dijelaskan.
Karena suasana jadi aneh, kami minta teh diseduh ulang untuk menetralkan suasana. Setelah siap, semua yang sempat meninggalkan kursi kembali.
"Aku konfirmasi ulang ya, yang diinginkan Lang adalah rekonsiliasi antara aku dan Kementerian Sihir, dan karena penyebaran alat sihir berpotensi memengaruhi kepercayaan Roh, kamu ingin membangun kembali posisi bangsawan, atau lebih tepatnya penyihir, kan?"
"Ya. Saya pikir itu masih lama, tapi kalau sesuatu sudah terjadi baru bertindak, itu terlambat. Jika bisa bersiap, saya ingin bersiap dari sekarang."
"Hmm..."
Aku mengerang sambil bertopang dagu dengan siku di atas lutut. Merangkum kembali permintaan Lang membuatku sadar ini masalah sulit.
Menurut perkiraanku, meski masa depan yang dikhawatirkan Lang datang, itu masih puluhan tahun lagi. Meski bangsawan tidak lagi dibutuhkan sebagai penyihir, bangsawan punya pendidikan. Menggerakkan politik juga peran bangsawan.
Hanya saja, bukan berarti itu tidak tergantikan. Penyebaran alat sihir akan memberi manfaat besar bagi rakyat biasa. Jika hidup jadi mudah dan makmur, kesempatan mendapat pendidikan pun mungkin didapat. Jika begitu, tidak aneh jika muncul bangsawan birokrat yang berasal dari rakyat biasa.
Jika itu terjadi, nilai sebagai bangsawan pasti menipis. Ujung-ujungnya tidak dibutuhkan siapa pun, dan masa depan di mana penyihir dipersekusi sebagai orang sesat yang hanya punya kekuatan mungkin akan datang.
"Untuk menghindari masa depan seperti itu, mau tidak mau wujud bangsawan itu sendiri harus diubah ya."
"Selama negara berubah, bangsawan yang menggerakkan negara juga harus berubah. Tapi, kalau cuma disuruh berubah secara abstrak, semua orang cuma akan bingung. Perlu ada pedoman."
"...Ujung-ujungnya, dasar masalah ini adalah putusnya hubungan antara bangsawan dan rakyat biasa."
Jika masa depan di mana penyihir dipersekusi terjadi, penyebabnya adalah ketakutan dan iri hati terhadap penyihir. Sekarang karena ada premis bahwa penyihir sebagai bangsawan melindungi rakyat, mereka tidak dijauhi. Karena dibutuhkan untuk melindungi diri sendiri.
Saat premis ini hilang, kemungkinan masa depan yang dikhawatirkan Lang terjadi menjadi tinggi. Tapi saat zaman di mana bangsawan tidak perlu memimpin perlindungan rakyat tiba, idealnya hubungan baik sudah terbangun.
"Masalahnya adalah korupsi bangsawan. Kalau tidak memperbaiki hubungan dengan rakyat yang renggang karena hal itu, mustahil membangun hubungan baik..."
"Mengatasi putusnya hubungan bangsawan dan rakyat ya. Memang sangat disayangkan sebagai sesama bangsawan bahwa orang yang gagal sebagai bangsawan bertambah... jika alat sihir menyebar dan rakyat tidak lagi butuh perlindungan bangsawan, ada kekhawatiran hubungan akan semakin jauh."
"Kalau rakyat bisa melindungi diri sendiri, penyihir sebagai kekuatan tempur jadi tidak dibutuhkan. Jadi alangkah baiknya kalau sihir bisa berperan dalam hal selain perlindungan yang juga dihargai oleh rakyat..."
"Selain melindungi, ya..."
"Hmm... sihir penyembuhan sepertinya banyak permintaan... bagaimana kalau negara membuat sistem supaya pengobatan lebih mudah didapat dari sekarang?"
"Itu berguna, tapi hanya menguntungkan bagi yang bisa sihir penyembuhan. Menurut saya, kita harus menyebarkan nilai bangsawan itu sendiri secara lebih luas kepada rakyat."
"Menyadarkan kembali nilai bangsawan secara lebih luas, ya..."
Teguran Lang membuatku mengerang sambil mengerutkan alis. Ide bagus tidak langsung muncul begitu saja.
"Nilai bangsawan yang tidak bisa digantikan rakyat adalah sihir. Idealnya Kementerian Sihir memimpin untuk mendapatkan prestasi yang meningkatkan nilai sebagai penyihir itu."
"Artinya meski alat sihir menyebar, kita cukup membuktikan nilai sihir yang tidak bisa digantikan oleh alat sihir, begitu kan?"
Euphie berkata sambil meletakkan tangan di mulut seolah memikirkan sesuatu.
"Hal yang mustahil bagi alat sihir, dan hanya bisa dilakukan oleh sihir ya... sekarang jenis alat sihir masih sedikit jadi belum bisa menggantikan sihir, tapi sebaliknya jika dikembangkan seiring waktu, alat sihir akan bertambah, dan karena bisa dipakai siapa saja, suatu saat akan melampaui sihir."
"...Kalau begitu nilai penyihir pada akhirnya jadi apa dong?"
Gumam Gakkun membuat semua orang terdiam. Penyihir adalah bangsawan, dan jika bangsawan, misinya adalah melindungi negara dan menyejahterakan kehidupan.
Tanpa kekuatan sihir Kerajaan Palettia tidak bisa didirikan, tapi setelah alat sihir yang bisa menggantikan sihir lahir, sudah jelas zaman di mana menjadi penyihir memiliki nilai mutlak akan berakhir. Karena alat sihir tidak memilih pengguna dan bisa diproduksi banyak.
Terlebih lagi, alat sihir stabil karena merupakan alat. Penyihir bagaimanapun kemampuan sihirnya dipengaruhi oleh penggunanya.
"Hal yang hanya bisa dilakukan penyihir... Kontrak Roh?"
"Itu tidak boleh dong..."
Euphie berkata dengan tatapan datar seolah heran. Kita sedang berusaha membuat Kontrak Roh hilang dari sejarah, kalau malah dijadikan tujuan, itu namanya terbalik.
"...Tidak, tunggu dulu. Roh..."
Tiba-tiba, Euphie tenggelam dalam pikirannya sendiri seolah menyadari sesuatu. Apakah ada yang mengganggunya?
"...Lang, mungkin, ada kemungkinan semuanya bisa berjalan lancar."
"Benarkah itu?"
Lang berkata sambil menatap Euphie dengan bingung. Marion yang tadi memasang wajah sulit bersama Lang juga memberikan reaksi sama.
Lalu Miguel bersiul, menatap Euphie dengan senang dan berkata.
"Ooh, Yang Mulia Putri Euphilia punya rencana cadangan rupanya. Apa yang Anda pikirkan?"
"Sekarang saya belum bisa bilang pasti, jadi bolehkah saya minta kalian berkumpul lagi setelah saya memastikannya?"
Tidak ada yang keberatan dengan usulan Euphie, dan kunjungan Lang dan kawan-kawan pun berakhir dengan pembubaran sementara.
* * *
Malam itu, setelah makan malam dan mandi, aku minum teh bersama Euphie di kamar.
"Jadi, kemungkinan apa yang Euphie sadari?"
"Mendengar Kontrak Roh, sebenarnya saya teringat sesuatu. Tentang Lumi..."
"Lumi? Ada apa dengan Lumi?"
Kontraktor Roh Lumi, nama aslinya Lumielle René Palettia. Putri raja pertama, dan leluhur kami. Sekarang dia sesuka hati datang ke istana terpisah untuk minum teh, atau muncul mengganggu saat Ayahanda atau Duke Grantz sedang bekerja.
Dia tidak menampakkan diri kalau ada orang selain yang berkepentingan sih. Muncul dan hilang tiba-tiba, kupikir dia seperti siluman. Tapi, ada apa dengan Lumi itu?
"Saat bertemu Lumi, saya melihat roh yang berwujud fisik."
"Roh berwujud fisik...?"
"Ya. Wujudnya seperti kurcaci bersayap."
"Eh, apa itu. Benar-benar roh?"
"Saya yakin itu roh. Saat itu, Lumi sedang bernyanyi. Menyanyi juga bisa dibilang sejenis mantra. Jadi, saya pikir itu mungkin akibat sihir..."
"──Haruskah kubilang tepat sekali?"
Tiba-tiba suara itu terdengar. Kagetnya hanya sesaat, aku dan Euphie segera melemaskan bahu.
Di jendela yang disinari cahaya bulan, entah sejak kapan duduk seorang gadis dengan aura misterius──Lumi, yang kutatap dengan mata datar.
"...Bisa tidak muncul dengan cara yang lebih ramah jantung?"
"Ara, menjelaskan akal sehat manusia pada Kontraktor Roh itu pekerjaan yang sangat melelahkan lho?"
"Kamu melakukannya dengan sengaja kan, sifatmu benar-benar buruk!"
"Apakah itu pantas diucapkan olehmu, Anis?"
"Ah, berisik berisik!"
Aku jadi emosi pada Lumi yang menggodaku sambil terkikik. Yang paling menyebalkan adalah kalau dibalas aku malah jadi terpojok sendiri.
"Selamat malam, Lumi. Apakah dugaan saya benar?"
"Ya, Euphie. Seperti dugaanmu, roh itu berwujud fisik berkat sihir."
"Apakah itu sihir yang hanya mungkin karena Kontraktor Roh?"
"Ada beberapa syarat agar roh berwujud fisik, dan itu bukan sesuatu yang hanya bisa dipenuhi oleh Kontraktor Roh. Tentu saja, kalau Kontraktor Roh kurasa suatu saat akan bisa memahaminya secara naluriah."
"Syaratnya?"
"Bisa menggunakan sihir. Cuma itu. Di ujung sihir itulah ada perwujudan roh. Memberi kehendak, memberi pikiran, dan bergerak mandiri. Itu mirip dengan kelahiran kehidupan ya. Seperti dulu Dewa membawa roh ke dunia ini dan menciptakan segala sesuatu."
"Tiba-tiba skalanya jadi luar biasa besar ya..."
"Roh adalah serpihan dunia. Menggerakkan serpihan dunia itu dalam bentuk yang diinginkan, apalagi yang mandiri, berarti menyentuh wilayah Dewa. Yah, cuma sementara sih."
"Karena itu menyanyi?"
"Benar. Karena lagu adalah perasaan, doa, dan sejarah yang diwariskan manusia."
Lumi tersenyum lembut menatapku dan Euphie dengan kasih sayang. Aku merasa agak canggung, jadi aku memalingkan muka.
"Kontraktor Roh hanya lebih mudah menyampaikan bentuk yang diinginkan pada roh karena dirinya sendiri telah menjadi roh. Asal bisa membayangkan bentuknya, secara teori siapa pun bisa memanggil roh."
"Itu bagian sulitnya kan?"
"Tentu saja. ...Yah, kalau kalian sih sepertinya bakal bisa melewatinya dengan mudah."
"...Maksudnya?"
"Sihir adalah ilusi yang menumpuk perasaan pada roh dan mengembangkan sayap imajinasi. Menumpuk kata-kata, menjadi kepercayaan, dan menciptakan banyak keajaiban. Terhadap keajaiban itu, kalian membentuk wujud roh dengan mengetahui hukum dunia."
Sambil menggerakkan jari layaknya konduktor, Lumi merangkai kata seolah bernyanyi.
"Itu bukan ilusi, melainkan penguraian misteri berdasarkan gambaran nyata. Dengan memasukkan ilusi ke dalam gambaran nyata, kalian menemukan sihir baru. Kedua wujud ini bertentangan, namun sekaligus hidup berdampingan. Hanya titik awal dan prosesnya yang berbeda. Roh, dan dunia, tidak akan pernah menolaknya. Apa yang ingin kukatakan adalah... jalannya saling tumpang tindih."
──Kata-kata Lumi membuatku merasa seolah jantungku diremas.
Aku belum bisa memahami emosiku sendiri tentang apa yang kupikirkan dari kata-kata itu. Dari kondisiku itu, aku sadar aku menerima kejutan, tapi aku hanya bisa bingung karena tidak tahu isinya.
Sebelum aku memastikan perasaan tak pasti ini, Lumi tertawa terbahak-bahak.
"Ah, benar-benar tidak membosankan. Hidup lama itu ada gunanya juga. Kalau begitu, urusanku sudah selesai, silakan dilanjut berdua saja anak muda."
"Omonganmu kelebihan satu kalimat! Dasar ikut campur!"
Saat aku emosi dan berteriak, angin bertiup. Tanpa sadar aku memejamkan mata, dan Lumi sudah menghilang hanya menyisakan jejak angin yang bertiup.
"Ah sial, benar-benar egois dan seenaknya! Apa dia tidak mikir kalau merepotkan orang!?"
"...Anis, butuh cermin?"
"Maksudnya apa? Euphie."
"Entahlah, apa ya maksudnya."
Euphie pun ikut terkikik melihatku. Aku memanyunkan bibir dan memalingkan muka.
"Tapi, kita dapat petunjuk yang hampir mendekati jawaban ya."
"...Jangan-jangan Euphie, kamu mau menyuruh Kementerian Sihir melakukan perwujudan roh?"
"Perwujudan roh mustahil bagi alat sihir, kan? Alat sihir bisa menggunakan kekuatan roh, tapi mewujudkan roh itu sendiri untuk digunakan melakukan sesuatu itu terlalu repot."
"...Batu roh buatan saja susah payah ya. Memang perwujudan roh mungkin bukan ranah alat sihir. Kalau dibilang tujuan yang bermakna untuk dituju justru karena penyihir, memang benar sih."
Batu roh buatan yang kami pasang di gaun untuk presentasi alat sihir terbang, dipasang agar mengaktifkan sihir tertentu.
Suatu saat nanti, di ujungnya mungkin bisa memunculkan roh secara buatan, tapi kalau ditanya roh yang diwujudkan itu disuruh apa, perlu kemajuan teknologi satu tahap lagi dari sana.
Apakah perlu sampai begitu? Mungkin jawabannya tidak. Setidaknya sekarang lebih menguntungkan negara jika mengembangkan alat sihir lain.
"Tapi kalau penyihir beda. Jika ke depannya penyihir tidak lagi dibutuhkan sebagai kekuatan tempur negara, mereka harus berubah menjadi wujud yang berakar pada kehidupan rakyat. Tapi kalau tiba-tiba disuruh gunakan sihir untuk rakyat, pasti sulit."
"Ya... aku mengerti itu, tapi bukannya tidak nyambung dengan alasan mengejar perwujudan roh?"
Saat aku memiringkan kepala, Euphie tersenyum seperti anak kecil yang baru kepikiran ide jahil.
"Awalnya tidak perlu berguna, menurutku."
"...Tidak perlu berguna?"
"Penyihir bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan rakyat biasa. Asalkan itu tidak melukai orang, melainkan membuat orang merasakan sesuatu, menitipkan perasaan, dan menghubungkannya, bukankah itu bagus? Kalau dipikir begitu, menyuruh Kementerian Sihir yang memegang urusan upacara untuk melakukan perwujudan roh lewat nyanyian adalah hal yang sangat tepat, menurutku."
Seolah menceritakan mimpi dan idealisme, Euphie menambahkan kata-katanya.
"──Untuk menyampaikan pada generasi mendatang bahwa apa yang kita warisi itu seindah ini. Jika kekuatan yang tadinya untuk bertarung bisa menjadi penyembuh dan hiburan bagi orang-orang, saya pikir itu hal yang membahagiakan."
...Mendengar kata-kata Euphie, tanpa sadar aku mendesah kagum.
Awal mula sihir adalah harapan. Raja pertama mengadakan kontrak dengan roh demi melindungi senyuman dan kebahagiaan orang-orang berharga dari ketidakadilan.
Harapan itu kebablasan dan menjadi menyimpang, tapi diluruskan oleh Lumi yang mewarisi harapan itu. Dan harapan itu terus diwariskan.
Dan, sekarang. Kami hidup di masa kini dengan mewarisi harapan itu. Kami sedang mencoba mengubah masa depan yang akan kami tuju.
Kerajaan Palettia berdiri, zaman yang hanya mengandalkan raja berakhir, dan bangsawan yang berjalan bersama bertambah. Dan sekarang, zaman yang mengandalkan bangsawan pun akan berakhir.
Perjalanan Kerajaan Palettia selalu bersama sihir. Sihir untuk melindungi kebahagiaan seseorang terus mengulurkan tangannya. Dan jika sihir itu berubah menjadi sesuatu yang lebih bermakna daripada sekadar melindungi...──.
"──...Ya, itu mimpi yang indah. Itu benar-benar 'sihir' yang kuimpikan."
Bisa mendengar gambaran masa depan seindah itu dari Euphie lebih membahagiakan dari apa pun.
Keyakinan bahwa kami sekarang berjalan memeluk mimpi yang sama memberiku rasa aman. Aku jadi bisa merasa bahwa aku tidak sendirian.
"...Hei, Euphie. Boleh pegang tanganmu?"
"Tangan? ...Boleh. Sudah malam, ayo kita tidur."
Euphie bangkit dan mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambut tangan itu, ikut berdiri, dan kami berdua menuju tempat tidur.
Masuk ke dalam selimut sambil bergandengan tangan, kami berbaring bersisian. Saat menoleh ke arah Euphie, mata kami bertemu. Entah kenapa itu lucu, dan kami sama-sama tertawa kecil.
"Hei, Euphie."
"Ada apa, Anis?"
"Aku ingin menyebarkannya lebih luas. Seperti saat Dansa Udara, aku ingin lebih, lebih banyak orang tahu kalau sihir itu indah."
"Kalau Anis pasti bisa."
Ya. Sekarang aku rasa aku bisa mengatakannya dengan membusungkan dada.
──Karena ada kamu di sebelahku.
"...Kalau perwujudan roh berhasil, pemandangan seperti apa yang akan terlihat ya?"
"Pemandangan yang indah kok. Apa yang diperlihatkan Lumi membuat saya benar-benar berpikir begitu."
"Curang ah. Aku juga mau coba minta lain kali ah."
"...Tidak, tolong jangan lakukan itu."
"? Kenapa?"
Euphie menarik tanganku, lalu memelukku seolah menarikku ke dalam pelukannya.
"Karena yang nomor satu bagi Anda adalah saya. Jadi tidak boleh. Kalau Anda berpikir Lumi lebih indah... saya cemburu lho?"
"...Euphie lumayan posesif ya?"
"Habisnya, saya kan yang nomor satu bagi Anda."
Benar kan? Euphie yang tersenyum langsung mendekatkan wajah dan menciumku. Apakah membungkam bibirku itu artinya tidak mengizinkan bantahan?
Padahal aku tidak akan membantah, pikirku sambil membiarkan Euphie melakukan sesukanya.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar