Gadis Vampir yang Gundah
Kisah hidupku, Lainie Cyan, mungkin bisa dibilang penuh liku-liku.
Aku dibesarkan bersama ibuku dalam sebuah perjalanan. Bahkan ingatan itu pun berasal dari masa ketika aku masih sangat kecil, jadi hanya sedikit hal yang kuingat tentang ibu.
Wajahnya saja tidak begitu jelas dalam ingatanku. Meski begitu, aku ingat dia adalah ibu yang lembut dan sangat kusayangi. Karena itulah, perpisahan dengannya terasa begitu menyakitkan.
Di tengah perjalanan, ibu jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Entah apakah sudah dibicarakan sebelumnya, aku kemudian dititipkan di panti asuhan.
Yang semakin memojokkanku, yang sudah murung karena kehilangan ibu, adalah perselisihan dengan anak-anak lain di panti asuhan. Ada anak laki-laki yang jahil padaku, tapi kemudian mereka malah berebut dan saling bentak karena aku. Melihat itu, anak-anak perempuan mengataiku sombong. Hampir tak ada waktu bagiku untuk merasa tenang.
Setelah terbiasa dengan hari-hari seperti itu dan mulai beranjak dewasa, aku bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai ayahku. Mengejutkannya, ayahku adalah seorang bangsawan, dan aku pun dibawa ke rumah ayah untuk menjadi putri bangsawan.
Dan sekarang, aku bekerja sebagai pelayan pribadi untuk para Tuan Putri di negeri ini.
Hanya dengan menengok ke belakang sedikit saja, benar-benar banyak hal yang terjadi. Aku dipungut oleh Nona Anis dan Nona Euphilia yang telah menolongku, lalu terseret dalam konspirasi yang direncanakan oleh Tuan Algard. Kejadian saat itu meninggalkan kesan yang begitu kuat hingga terkadang masih muncul dalam mimpiku.
Meski mengetahui identitas asliku bukan manusia melainkan vampir, dan seharusnya aku tak bisa protes jika dipenggal karena dianggap berbahaya, mereka malah menolongku. Aku benar-benar berterima kasih dari lubuk hati terdalam kepada orang-orang yang menempatkanku di sisi mereka dan membimbingku. Sampai-sampai aku sangat ingin membalas budi mereka.
"...Padahal cuma itu saja, lho."
Gumamanku terdengar sangat lemah. Sambil berendam di bak mandi istana terpisah, aku tenggelam dalam lamunan.
Pekerjaanku belakangan ini adalah membantu Nona Euphilia. Mengantar dokumen ke berbagai departemen, mendengarkan petisi untuk Nona Euphilia, dan saat menghadiri rapat, aku membaca emosi para peserta untuk mencari orang yang bersimpati.
Ini juga merupakan penerapan kekuatan vampir, di mana aku menyampaikan hasil pengamatanku kepada Nona Euphilia agar bisa digunakan untuk membangun hubungan antarmanusia.
Setelah mencobanya, kurasa hasilnya cukup baik. Aku senang bisa membantu Nona Euphilia, dan juga merasa bangga.
Karena itulah, banjir tawaran pertunangan yang datang silih berganti jujur saja merupakan kesalahan perhitungan. Aku sama sekali tidak menyangka akan ada tawaran pertunangan untukku yang telah memicu masalah besar itu.
Aku yang telah menyesatkan Tuan Algard, yang seharusnya menjadi raja berikutnya. Rasanya aneh jika ada yang menginginkan orang sepertiku.
Tapi jika dipikirkan bahwa mereka ingin mendapatkan koneksi dengan Nona Anis dan yang lainnya, itu masuk akal. Hal itu lumrah di kalangan bangsawan, pernikahan adalah koneksi antar keluarga, dan aku pun paham kalau ada kepentingan di dalamnya.
Karena itu aku tidak berniat bertunangan dengan siapa pun. Aku tidak mau pertunangan yang hanya didasari motif tersembunyi, lagipula aku adalah vampir. Jika aku punya anak, kemungkinan besar sifat itu akan menurun ke anakku.
Jujur saja, aku juga agak muak. Meski dibilang suka atau merasakan takdir denganku, aku tidak merasakan apa-apa. Karena aku tidak bisa mempercayai apa pun, kata-kata itu tidak menyentuh hatiku.
Mungkin aku memang tidak cocok hidup sebagai nona bangsawan. Padahal ada orang yang benar-benar menyukaiku, tapi aku malah merasa itu merepotkan.
...Terkadang aku merasa benci pada diriku yang tampak begitu dingin. Padahal aku hanya ingin membalas budi. Seharusnya aku cukup hidup dengan memikirkan hal itu saja.
"Lainie, masih berendam?"
"Uwaa!? N-Nona Ilia!?"
Suara yang tiba-tiba terdengar membuatku kaget hingga air di bak mandi berguncang. Saat menoleh ke arah suara, Nona Ilia berdiri di sana.
Rambut merah kecokelatannya yang biasanya diikat kini terurai. Saat melepas pakaian, tubuh indahnya yang bahkan bisa memikat sesama wanita pun terlihat jelas. Karena terbiasa melihat Nona Ilia dalam penampilan biasanya, sosok Nona Ilia yang polos seperti saat baru lahir memberikan kesan yang sama sekali berbeda, membuatku gugup lebih dari yang seharusnya.
"Masih mau berendam?"
"T-tidak! Saya akan keluar sebelum mengganggu!"
"...Kalau begitu, karena tidak mengganggu, bisakah kamu menunggu sebentar?"
"Eh?"
"Soalnya saya ingin bicara sedikit dengan Lainie."
Dibilang ingin bicara secara khusus membuatku bingung. Jantungku berdebar dengan irama yang berbeda dari sebelumnya, bertanya-tanya apakah aku melakukan kesalahan yang membuatku akan dimarahi.
Menolak bukanlah pilihan. Jadi aku hanya memandangi Nona Ilia yang sedang membersihkan diri.
(...Kesan beliau benar-benar berbeda saat rambutnya digerai ya.)
Nona Ilia yang biasanya, meski punya sisi jahil, adalah orang yang kaku dan gila kerja. Beliau jarang terlihat goyah dan bisa melakukan apa saja sendirian.
Sejak beliau mengajariku banyak hal agar bisa bekerja sebagai pelayan, Nona Ilia sungguh hebat. Karena itulah aku mengaguminya layaknya seorang guru.
Kupikir Nona Ilia juga menyayangiku. Bukan kebaikan yang memanjakan, tapi beliau memarahiku dengan tegas dan memberikan nasihat demi kebaikanku. Justru karena itulah, aku jadi waspada saat beliau bilang ingin bicara secara khusus.
Saat aku sedang mengerang bingung, Nona Ilia yang sudah selesai membersihkan diri masuk ke bak mandi dan duduk di sebelahku. Rambutnya digulung dengan handuk agar tidak masuk ke air.
Saat duduk di sebelahnya, aku terpesona oleh kecantikan Nona Ilia. Entah itu daya tarik wanita dewasa atau apa, yang jelas itu membuatku merasa tak tenang.
Nona Ilia yang duduk di sebelahku tidak langsung membuka mulut. Keheningan di antara kami terasa agak berat bagiku. Jadi aku curi-curi pandang ke arah Nona Ilia.
Saat aku berpikir tidak boleh begini terus dan hendak menyapanya, Nona Ilia membuka mulut.
"Apakah sudah agak tenang?"
"Eh? Ah... soal waktu makan malam ya? Sudah tidak apa-apa kok."
Saat mengobrol santai setelah makan malam, aku sempat menangis karena kata-kata Nona Anis dan Nona Euphilia, rupanya beliau mengkhawatirkan hal itu.
Aku benar-benar merasa dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa. Kurasa ini adalah sebuah kebahagiaan. Karena itu aku ingin semakin menghargai perasaan yang meresap ke dalam dada ini.
Saat aku berpikir begitu, Nona Ilia menatapku. Di matanya tampak tersirat rasa khawatir.
"...Benar-benar tidak apa-apa?"
"Benar-benar tidak apa-apa kok."
"Tapi, itu pasti menjadi beban berat bagimu, kan? Ajakan dari para pria itu. Nona Euphilia saja sampai berhati-hati sejak kejadian itu."
"Itu..."
Ditunjukkan fakta yang samar-samar kusadari oleh Nona Ilia membuatku terdiam.
Aku juga merasakan Nona Euphilia menjaga jarak tertentu dengan pria. Pegawai Kementerian Sihir kebanyakan laki-laki, dan ada juga yang punya motif tersembunyi terhadap Nona Euphilia.
Entah apakah Nona Euphilia bisa membedakan orang-orang seperti itu, beliau bersikap dingin sampai membuat merinding.
"Penyebabnya pasti pembatalan pertunangan dengan Tuan Algard ya. Mungkin karena menjaga perasaan saya, beliau tidak pernah mengatakannya sih..."
"Ya. Bahkan bagi Nona Euphilia sekalipun, itu menjadi luka hati yang beliau pendam. Lainie, kamu juga sama, kan."
"...Saya juga?"
"Posisi kalian memang berbeda, tapi tetap saja kamu terluka sama parahnya dengan Nona Euphilia. Karena itulah saya khawatir apakah itu menjadi beban bagimu."
"...Masa sih. Saya rasa tidak begitu kok?"
"Jika kamu merasa begitu, ya sudah. Tapi saya tetap khawatir."
"...Jadi Anda mengkhawatirkan saya ya."
Mengetahui beliau ingin bicara karena alasan itu membuat dadaku terasa hangat. Rasa geli yang membuatku ingin menggeliat perlahan menyebar ke seluruh tubuh.
"Tidak apa-apa kok. Cuma saya merasa tidak enak hati karena merepotkan Nona Anis dan yang lainnya..."
"Mau bagaimana lagi. Menolak bangsawan yang gelarnya lebih tinggi oleh orang yang posisinya lebih rendah itu berbahaya dalam banyak hal."
"...Merepotkan ya."
Tanpa sadar aku bergumam pelan. Rasanya aku ingin berteriak, lantas apa yang harus kulakukan.
Padahal aku tidak ingin merepotkan siapa pun. Padahal aku sedang berusaha keras membalas budi yang kuterima. Padahal aku hanya ingin hidup dengan memikirkan balas budi saja.
"...Merepotkan ya. Benar juga, kamu terlihat benar-benar menikmati hidup sejak datang ke istana terpisah."
"Nona Ilia...?"
"Lainie, ini cuma berandai-andai lho? Apakah kamu bersedia bertunangan meski hanya pura-pura untuk keluar dari situasi ini? Menurut saya itu cara yang paling cepat."
"...Pertunangan pura-pura, ya."
Aku menggumamkan kata itu dan berpikir. Tapi, rasa berat yang muncul dari dalam perut membuatku menggelengkan kepala.
"...Saya tidak mau bertunangan meski pura-pura. Ujung-ujungnya saya akan merepotkan pasangan saya."
"Kalau begitu, idealnya adalah tidak ada lamaran pertunangan sama sekali ya."
"Benar. Meski saya merasa bersalah pada Ayah, saya lebih memilih hidup sebagai pelayan dan mendukung masa depan Nona Anis dan yang lainnya daripada hidup sebagai nona bangsawan. Jadi saya tidak ingin memikirkan pertunangan atau pernikahan."
Mungkin egois, pikirku. Meski begitu, aku berharap bisa hidup seperti itu. Jika bisa hidup sambil membalas budi orang-orang yang menolongku, pasti hidupku akan memuaskan.
"...Bukan berarti tidak ada cara sih."
"Apa ada cara yang bagus?"
Jika ada caranya, pikirku sambil menatap lurus Nona Ilia dan bertanya. Nona Ilia memejamkan mata sejenak, lalu menatap balik padaku dengan mata terbuka.
Gerakan itu membuat firasat tertentu menjalar di punggungku. Aku tidak langsung tahu firasat apa itu. Sebelum aku memastikan wujud firasat itu, Nona Ilia membuka mulut.
"Mengambil cara yang sama dengan Nona Anisphia."
"...Cara yang sama dengan Nona Anis?"
"Umumkan saja kalau ketertarikan cintamu adalah pada sesama perempuan. Orang itu berhasil kabur dengan meneriakkan hal ini ke mana-mana."
"Ah, begitu ya..."
"Kalau begitu saya rasa pria yang mendekat akan berkurang, dan akan lebih mudah mengandalkan Nona Anisphia dan yang lainnya, tapi..."
Pasti itu usulan yang bagus. Seperti kata Nona Ilia, menjauhkan pria dengan mengumumkan ketertarikan pada sesama perempuan itu efektif. Buktinya Nona Anis sudah melakukannya.
Tapi, ada sesuatu seperti endapan di dalam hati yang menghalangiku untuk mengangguk.
"...Kamu tidak suka?"
"Bukan tidak suka, ya. Bukan tidak suka, tapi, anu, bagaimana ya..."
Nona Ilia dengan sabar menunggu kata-kataku yang tersendat. Aku menghela napas perlahan, berusaha merangkai kata untuk perasaan yang mengganjal ini.
"...Saya, tidak bisa dengan cinta itu sendiri. Rasanya entah kenapa menakutkan."
"...Menakutkan?"
"Bagi saya, cinta itu adalah hal yang telah mengacaukan banyak hal. Makanya saya takut..."
Bagi saya, cinta adalah hal yang mengerikan. Jika terjalin dalam bentuk yang benar, mungkin akan jadi sesuatu yang indah seperti Nona Anis dan Nona Euphilia. Tapi, dua orang yang seindah itu pun sempat berselisih, berbenturan, saling menyakiti, baru kemudian mencapai hubungan yang sekarang.
Cinta maupun kasih sayang, itu memberikan kekuatan besar pada manusia. Begitu besar hingga bisa menghancurkan jika salah langkah. Aku sama sekali tidak merasa bisa menanggung hal semacam itu.
Karena itulah aku menahan napas. Aku tidak ingin menonjol. Aku ingin tetap tidak diperhatikan oleh siapa pun. Baik saat di panti asuhan, maupun setelah diambil Ayah dan menjadi bangsawan, diriku yang lemah menangis sambil memeluk lutut di suatu tempat.
"Saya takut. Saya takut jika ada yang menyukai saya, saya akan membuat orang itu jadi aneh. Kalau cuma sekadar suka atau persahabatan sih tidak apa-apa. Tapi cinta itu menakutkan. Saya tidak tahan melihat orang jadi aneh..."
Kekuatan vampir sudah bisa kucapai kendalinya. Kurasa aku tidak lagi membuat orang lain menyukaiku secara sembarangan.
Tapi, meski begitu, ketakutan bahwa jika salah langkah sedikit saja aku akan membuat seseorang melakukan kesalahan lagi, tidak pernah hilang.
Takut, tidak ingin menyentuhnya, ingin menjauhkannya. Dari hubungan bernama pertunangan, cinta atau kasih sayang mungkin akan tumbuh. Jika memikirkan kapan dan kepada siapa hal itu akan menunjukkan taringnya, aku sama sekali tidak bisa berharap menginginkannya.
Jadi cukup memandang dari jauh saja. Itu saja sudah cukup bagiku.
"...Kamu anak yang jauh lebih baik dari yang kamu kira lho, Lainie."
"Ehm, terima kasih...?"
"Sejak datang ke istana terpisah sampai hari ini, saya terus mengawaimu. Kamu bukan anak yang lemah ataupun tidak bertanggung jawab. Tapi, mungkin kamu sangat sensitif dan punya bagian hati yang lembut."
"...Itu, bukannya berarti lemah?"
"Jika sensitif disebut lemah, maka itu mungkin lemah. Tapi, justru karena sensitif, bukankah perasaan yang kamu miliki itu indah bagaikan permata yang dipoles?"
Kata-kata Nona Ilia yang disampaikan dengan lugas membuat pipiku memanas. Rasanya tubuhku yang sudah hangat karena air mandi jadi semakin panas.
"Sejak datang ke sini kamu berkembang, dan hal yang bisa kamu lakukan bertambah. Percayalah pada dirimu sendiri. Saat kamu menawarkan diri membantu Nona Euphilia, meski khawatir, saya pikir itu kesempatan bagus. Kamu adalah orang yang bisa menghasilkan hal-hal indah seperti Nona Anisphia dan Nona Euphilia."
Pujian yang tiba-tiba itu menggelitik hatiku. Aku menggeliat dan membenamkan diri ke air sampai mulut.
"Kamu takut justru karena kamu sensitif. Mungkin bagi kamu, cinta itu serapuh itu, namun kuat, dan menusuk dengan tajam."
"...Mungkin begitu ya."
Aku mengeluarkan mulut dari air dan menjawab pelan. Rapuh, namun kuat, dan karena itulah menusuk dengan tajam. Kupikir itu merangkum kesanku terhadap cinta dengan indah.
"Karena itu, mungkin mengucapkan ini akan melukaimu ya."
"...Eh?"
"Lainie. ──Bagaimana kalau dengan saya?"
Sesaat, aku tidak bisa memahami apa yang diucapkannya. Tidak, meski sesaat berlalu pun aku tidak bisa paham. Tidak mau paham. Hanya bunyi kata-kata itu yang seolah bergaung berulang kali di kepalaku.
Karena itu aku hanya bisa menatap balik Nona Ilia. Nona Ilia memasang ekspresi tenang seperti biasa. Tapi, kenapa ya. Aku merasa ekspresi itu bukan ekspresi yang biasa beliau tunjukkan secara alami.
Tenggorokanku terasa kering kerontang. Sambil menelan ludah, aku melontarkan pertanyaan untuk meminta jawaban.
"Nona Ilia, itu, maksudnya..."
"Saya menyayangi kamu. Sebagai junior, sebagai rekan kerja, dan, sebagai manusia."
"...Bohong."
"Bukan bohong, ini perasaan saya yang sebenarnya. ...Kalau terus diam saja, situasi tidak akan berubah. Saya mengerti perasaanmu yang tidak ingin merepotkan orang lain. Mengingat kekuatan dan masa lalumu, saya juga bisa membayangkan betapa menyakitkannya pembicaraan terkait cinta bagimu. Meski begitu, saya ingin menyampaikannya padamu."
"Ke-kenapa..."
Dalam kebingungan, hanya kata-kata itu yang bisa kugumamkan. Lalu tangan Nona Ilia terulur ke pipiku. Saat tangan Nona Ilia menyentuh pipi, tubuhku gemetar seolah membeku.
"Saya tidak tahan lagi."
"Tidak tahan...?"
"Lainie terlihat sangat bahagia sejak datang ke sini. Kamu belajar dengan baik dari ajaran saya, dan tersenyum bersama Nona Anisphia dan yang lainnya. Meski punya masa lalu yang menyakitkan, saya menemukan nilai yang tak ternilai pada senyumanmu. Saya tidak tahan melihat itu hilang."
Suhu jari Nona Ilia, saat ini terasa lebih panas dari apa pun. Hanya itu yang bisa kurasakan.
"──Kalau pasangannya saya, tidak bolehkah? Lainie."
Menjadikan Nona Ilia sebagai kekasih, lalu menolak pertunangan. Itu mungkin efektif. Tapi begitu menyadari fakta itu dengan jelas, aku merasakan tekanan berat yang membuatku ingin muntah.
"...Tidak boleh, apa yang, Anda katakan...? Suka sama saya? Bohong, itu bohong..."
"Lainie..."
"Soalnya, Nona Ilia kan terkena sihir pemikat saya, jadi rasa suka itu, salah, itu salah...!"
Itu pasti bukan keinginan Nona Ilia yang sebenarnya. Soalnya, kalau tidak begitu, itu salah.
Benar. Itu pasti perasaan palsu yang kutanamkan, aku disukai itu aneh, salah, dan──!
(──Ah, aku, melakukannya lagi ya...?)
Pandanganku menjadi gelap. Mungkin aku lagi-lagi memaksakan rasa suka pada seseorang demi melindungi diriku sendiri. Dan orang itu adalah Nona Ilia, orang yang mengajariku banyak hal dan membimbingku, aku...
Saat aku hampir pingsan karena kebingungan, tanganku ditarik oleh Nona Ilia. Tubuhku yang sempoyongan lebih dari dugaan bersandar pada Nona Ilia, dan aku mendengar suara detak jantungnya.
"...Kamu pusing karena terlalu lama berendam ya. Saya salah tempat bicara."
"Nona Ilia, saya..."
"Ayo naik. Tenangkan diri dulu, setelah itu biarkan saya bicara lagi."
Bicara? Untuk apa? Apa perlu? ...Tidak, mungkin perlu. Soalnya, aku harus minta maaf, harus menebus kesalahan.
"Maaf, kan."
"Lainie?"
"Lagi-lagi aku, bikin orang, salah paham, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku...!"
Beginilah aku menumpuk dosa. Hatiku sedih seolah mau pecah, dan sakit sampai rasanya ingin mati.
Karena itu aku hanya bisa meminta maaf berulang kali. Kenapa aku tidak bisa berubah. Kenapa aku selemah ini.
Fakta itu menyedihkan, dan aku hanya bisa terus mengutuk diriku sendiri.
* * *
Keesokan harinya, aku menjadi penghuni tempat tidur. Kepalaku pening, dan tubuhku lemas tak berdaya. Tenggorokanku gatal, dan sesekali batuk.
Yang duduk di sebelahku adalah Nona Tilty. Beliau menatapku sambil mengerutkan alis dengan kesal.
"Masuk angin karena kelamaan berendam ya. Dasar bikin repot orang saja. Aku diseret Nona Anis ke sini karena katanya Lainie demam tinggi lho? Mana pagi-pagi buta lagi."
"Maaf, kan..."
Dokter yang bisa memeriksa kondisiku terbatas. Aku sangat berterima kasih pada Nona Tilty yang datang menanggapi panggilan mendadak di situasi seperti ini.
Tapi, endapan gelap muncul di suatu tempat di hatiku. Ah, begini lagi aku merepotkan orang lain.
"Katanya ngobrol lama sama Ilia di kamar mandi? Tumben sekali Ilia melakukan kesalahan begitu?"
"...Saya yang, salah. Nona Ilia tidak..."
"Ilia itu sudah cerita semuanya lho. Dari dulu dia memang seperti topeng besi yang susah ditebak isi kepalanya, tapi tempat dan isi pengakuannya gila juga ya."
"Nona Ilia, cerita semuanya!?"
Tanpa sadar aku memekik. Tak kusangka Nona Ilia akan mengaku semuanya. Kalau begitu semua orang sudah tahu? Termasuk soal aku yang membuat Nona Ilia jadi aneh?
Saat aku hampir pingsan karena putus asa, Nona Tilty mendengus seolah mengejek.
"Kamu juga kena sial ya, benar-benar deh."
"...Anu, Nona Tilty."
"Apa?"
"Saya... melakukannya lagi ya...? Tanpa sadar menggunakan sihir pemikat pada Nona Ilia..."
Saat aku bertanya dengan suara gemetar pada Nona Tilty, beliau memasang ekspresi terkejut, lalu menjadi sangat kesal hingga amarahnya merembes keluar.
"Lainie."
"Y-ya..."
"Kamu tidak melakukan apa-apa. Hentikan khayalan bodoh itu."
"T-tapi!"
"Kamu sudah bisa mengendalikan kekuatanmu, dan tidak mengaktifkannya secara sembarangan. Kalau kamu pikir stres karena bingung atau lemah memicu sihir pemikat, aneh kalau aku tidak merasakan pengaruhnya. Andaipun aktif secara tidak sadar, itu cuma 'pemikat', bukan 'cuci otak'."
Teguran tajam yang menyalahkan itu membuatku merasa seolah ada pisau yang ditodongkan ke leher. Nona Tilty tampak semarah itu padaku.
"Kalau kamu berpikiran begitu, kasihan Ilia. Buang kesalahpahaman bodoh itu sekarang juga."
"...Tapi, Nona Ilia bilang suka pada saya."
"Hah. Kamu mau bilang kamu pakai sihir pemikat tanpa sadar? Bodoh ya?"
Nona Tilty mendengus, dan memotong ucapanku dengan tegas seolah membuangnya.
"Memang kekuatan Lainie belum sepenuhnya terpecahkan. Hal yang bisa kamu lakukan juga bertambah. Mungkin saja reaksi pertahanan yang lebih kuat dari sebelumnya aktif. Tapi, itu tidak mutlak. Buktinya sekarang, aku marah sampai rasanya ingin memukulmu sekuat tenaga. Tapi kamu tidak mencoba melindungi diri, dan tidak mencoba memikatku. Aku tegaskan padamu."
Seolah menepis, Nona Tilty berkata datar dengan suara menahan amarah.
"Sekarang, kamu meragukan dirimu sendiri itu artinya, kamu juga meragukan aku yang memeriksamu, Ilia yang menyayangimu dan berusaha melakukan sesuatu, serta perasaan Nona Anis dan Nona Euphilia yang khawatir dan mencoba tetap di istana terpisah, tahu? Sadarlah."
"Bukan... saya, tidak bermaksud begitu!"
"Makanya kubilang, buang kesalahpahaman bodoh itu. Aku takjub dengan ketidaksadaran Ilia, tapi aku juga benar-benar takjub dengan kesalahpahamanmu. Minta maaflah padaku yang sudah dipanggil ke sini."
"...Maafkan saya."
"Kamu pikir cukup cuma minta maaf?"
"Eh...?"
Disuruh minta maaf makanya aku minta maaf, tapi setelah minta maaf malah disalahkan karena minta maaf, aku jadi tidak tahu harus berbuat apa.
Nona Tilty bilang itu salah pahamku. Aku tidak memaksakan rasa suka pada siapa pun. Kalau begitu ucapan Nona Ilia yang bilang suka padaku itu tulus...?
"...Tidak, Nona Ilia, cuma karena saya sepertinya akan berada dalam posisi sulit, jadi beliau mengatakannya karena peduli saja, kan."
"Lainie, kamu sebegitu inginnya menghina Ilia?"
"Me, menghina, saya tidak menghina!"
"Yang kamu katakan itu berarti tidak ada manusia yang akan menyukaimu, tahu. Ilia sudah bilang suka padamu, tapi kamu meragukannya, berarti dia tidak dipercaya sampai segitu ya?"
"Bukan! Bukan berarti saya tidak percaya Nona Ilia! Tapi, tidak ada alasan untuk memprioritaskan saya, kan!"
"Kenapa?"
"Kenapa itu... soalnya..."
──Soalnya yang harus diprioritaskan Nona Ilia nomor satu itu haruslah Nona Anis.
Aku tahu betapa Nona Ilia menyayangi Nona Anis. Jadi yang istimewa bagi Nona Ilia haruslah Nona Anis. Bukan tempat yang boleh kugantikan.
Aku berpikir begitu, tapi tidak bisa mengucapkannya. Meski bertanya kenapa pada diri sendiri, jawabannya tidak muncul.
Saat aku terdiam, Nona Tilty duduk di tepi tempat tidur membelakangiku.
"Kelihatan jelas kamu lagi mikir hal bodoh. Yah, Ilia yang waktunya tidak pas, kikuk, dan bahkan tidak paham perasaannya sendiri juga salah sih."
"Nona Ilia... tidak salah apa-apa..."
"...Benar, Ilia tidak salah apa-apa. Makanya Lainie juga tidak salah."
"Tapi, soalnya, aku, merepotkan, dan bikin Nona Ilia jadi aneh..."
"Benar. Makanya tidak salah. Tapi, itu juga salah pahammu. Menjadi aneh itulah yang benar. Bagi Ilia, begitulah adanya."
Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Nona Tilty. Saat aku mengangkat wajah yang menunduk dan melihat Nona Tilty, beliau hanya menolehkan wajahnya ke arahku.
"Seberapa tahu kamu tentang Ilia? Kamu tahu betapa gilanya perempuan itu?"
"...Saya tidak mengerti apa yang ingin Anda katakan."
"Benar juga, sebelum Nona Euphilia dan Lainie datang, perempuan itu adalah orang bodoh yang tak tertolong."
Huh, sambil mendengus Nona Tilty menatap ke kejauhan. Nada bicaranya terdengar kesal, tapi suaranya menyiratkan rasa kasihan.
"Detailnya, tanya saja sama Tuan Putri yang lagi menguping di balik pintu itu?"
"...Tidak, suasananya tidak memungkinkan untuk masuk, kan."
Saat Nona Tilty melihat ke arah pintu dan berkata begitu, Nona Anis masuk. Beliau menyipitkan mata dan memelototi Nona Tilty seolah tidak terima.
Nona Tilty berdiri, menepuk bahu Nona Anis yang masuk, lalu berpapasan keluar kamar.
"Kondisi fisik tidak ada masalah. Aku tidak menerima konsultasi masalah hati, jadi sisanya urus sendiri dengan baik."
"Makasih, Tilty."
"Jangan libatkan aku dalam pertengkaran orang pacaran yang tidak perlu."
Berkata begitu, Nona Tilty menutup pintu. Yang tersisa di kamar hanya aku dan Nona Anis. Rasa bersalah yang membuncah membuatku mengucapkan kata maaf.
"...Mohon maaf, Nona Anis."
"Tidak apa-apa. Pekerjaanku bukan sesuatu yang mendesak. Daripada itu, aku mengkhawatirkan Lainie."
Nona Anis duduk di tepi tempat tidur tempat Nona Tilty tadi berada, membelakangiku.
Karena sekarang aku tidak ingin wajahku dilihat, aku sangat berterima kasih Nona Anis membelakangiku.
Tapi merasakan Nona Anis ada di dekatku, perasaan yang perlahan meluap akhirnya keluar dari mulutku.
"...Saya."
"Ya."
"Saya, sangat, benci diri sendiri, sudah, sesak, ingin menghilang... merepotkan, orang terus, padahal ingin balas budi, tapi tidak bisa, sudah, semuanya jadi benci, rasanya, dan takut."
"Ya."
Kacau balau. Tidak bisa menjadi kalimat yang baik, aku merangkai kata-kata yang terputus-putus seperti orang sesak napas. Itu pun maknanya tidak nyambung, aku sendiri jadi tidak paham.
Meski begitu, Nona Anis mengangguk dan mendengarkan dengan tenang. Beliau sama sekali tidak melihat ke sini, tapi beliau pasti ada di sana mendengarkan suaraku.
"Saya, sudah, tidak tahu, harus bagaimana."
"...Aku sudah dengar dari Ilia apa yang terjadi kemarin."
Hanya dengan Nona Anis mengatakan itu, tubuhku membeku dingin seolah ditusuk paku es. Aku menundukkan wajah, dan tubuhku gemetar kedinginan.
"Lainie, angkat wajahmu."
Nona Anis memanggilku dengan suara menenangkan. Aku menggertakkan gigi, mengangkat wajah sambil terus menangis.
Nona Anis memasang ekspresi rumit, terlihat senang tapi juga sangat bingung. Aku tidak mengerti kenapa beliau memasang ekspresi seperti itu, jadi aku pun bingung.
"Lainie, pertama-tama tenanglah. Ayo tarik napas dalam-dalam pelan-pelan."
Nona Anis mengelus punggungku dengan lembut. Karena aku mengangkat wajah, tanganku yang memeluk kepala jadi goyah tak menentu, dan Nona Anis menggenggam tanganku dengan tangannya yang bebas.
Sampai aku tenang, Nona Anis terus menggenggam tanganku dan mengelus punggungku. Aku menarik napas dalam-dalam sesuai instruksi Nona Anis.
"Sudah tenang?"
"...Ya. Maaf, kan."
"Tidak apa-apa. Kalau begitu, ayo ngobrol sedikit denganku."
"............?"
"Begini lho, Lainie. Aku, sekarang kaget banget, sampai tidak tahu harus senang atau merasa kesepian. Tidak kusangka, Ilia yang itu lho. Tapi, mungkin itu hal yang bagus."
"Eh...?"
Aku tidak bisa memahami apa yang dikatakan Nona Anis, dan jadi bengong. Bagus? Apanya?
"Lainie itu, mungkin berpikir kalau Ilia menyukaimu karena dikutuk oleh kekuatanmu sendiri, kan? Tapi, andaikan memang begitu, aku tidak bisa menganggap itu hal buruk. Malahan aku pikir bagus kalau dikutuk."
"Kenapa...? Kenapa Anda bicara begitu...?"
"Ilia itu, tidak punya rasa keterikatan (obsesi), tahu."
Nona Anis bergumam pelan dengan nada kesepian. Suaranya lemah seolah beliau bingung harus bagaimana dan akhirnya menyerah.
"Mungkin baru-baru ini aku bisa memahaminya dengan benar. Ilia itu, karena tidak dicintai dengan benar, ada bagian dirinya yang agak rusak sebagai manusia. Aku merasa itu juga karena dia bersamaku. Hubungan manusia kami sangat sempit, dan kami bisa hidup tanpa mempedulikan orang lain."
"...Nona Ilia juga, pernah bilang dirinya bukan manusia yang punya hati."
"Yang membuatnya begitu adalah aku, kan."
Nona Anis berkata dengan nada mencemooh diri sendiri. Ekspresinya saat menunduk terlihat menyedihkan.
"Kamu tahu keadaan Ilia? Cerita kalau dia diperlakukan tak lebih dari boneka atau bidak politik oleh orang tua kandungnya."
"...Saya pernah mendengarnya dari Nona Ilia."
"Begitu ya. Aku tidak menyesal telah memaksa Ilia menjadi pelayan pribadiku, dan kalau aku menyesal, kurasa itu hanya akan membuat Ilia marah. Tapi fakta bahwa aku membangun hubungan yang menyimpang dengan Ilia, dan membiarkan penyimpangan itu, tidak bisa diubah."
"...Itu, tapi, bukannya itu hal yang tidak bisa dihindari?"
"Benar. Masa lalu tidak bisa diubah, dan mungkin aku akan mengambil pilihan yang sama berapa kali pun."
Dengan tegas Nona Anis menyatakan tanpa ragu.
"Aku tidak bisa melepaskan Ilia, dan tidak bisa membengkokkan pendirianku. Aku tidak bisa mengubah Ilia. Kurasa hubungan aku dan Ilia memang seperti itu."
Nona Anis berkata begitu sambil tersenyum. Itu senyuman dari hati. Ekspresi yang menunjukkan tidak ada yang perlu disesali.
"Kami sama-sama berpikir tidak perlu berubah. Makanya kami tidak mencoba menuntut satu sama lain lebih dari yang diperlukan. Asal bisa merasa nyaman itu sudah cukup, asal bisa bersama tanpa merasa sesak itu sudah cukup."
Nona Anis mengucapkan kata-kata itu sambil mengelus dadanya sendiri. Seolah memastikan hal berharga satu per satu dengan hati-hati.
"Tapi, aku bertemu Euphie, dan Ilia bertemu Lainie. Meski hubungan kami tidak berubah, hubungan kami dengan orang sekitar berubah. Itu juga akan berujung pada perubahan diri kami sendiri. Rasanya agak sepi, tapi itu hal yang wajar, bahkan seharusnya disyukuri. Lagipula, apa pun alasannya, aku sungguh senang Ilia bisa menyukai seseorang dari lubuk hatinya. ...Karena kalau aku, aku cuma bisa melindungi Ilia tapi tidak bisa mengubahnya."
"Nona Anis..."
"Kalau tidak begitu, kami akan kehilangan hubungan di mana kami tidak perlu saling berubah. Itu menakutkan bagiku, dan pasti Ilia juga tidak menginginkannya dariku. Soalnya kami adalah orang terdekat bagi satu sama lain, kan? Makanya kami paling santai satu sama lain. Asal ada satu sama lain itu sudah cukup. Tidak butuh lebih dari itu."
Tiba-tiba Nona Anis memeluk kepalaku. Aku sedikit kaget tapi tidak melawan. Dari balik dada yang menempel, terdengar suara detak jantung.
"Hubungan yang memanjakan di mana kita bisa tetap nyaman memang enak sih. Tapi, kita tidak bisa ke mana-mana, dan tidak bisa mengubah apa-apa. Karena tidak perlu berubah. Aku merasa bahagia karena perasaanku tersampaikan pada Euphie, tapi di sisi lain aku jadi sangat khawatir pada Ilia. Karena aku jadi ingin berubah."
"...Begitu ya?"
"Ya. Makanya, aku benar-benar lega saat Ilia bilang dia senang memperhatikan dan merawat Lainie. Hubungan apa pun tidak masalah, asalkan Ilia bisa berubah."
"...Meskipun itu karena sihir pemikat vampir, dan dibuat supaya menyukai saya?"
"Kalau tidak begitu, kurasa Ilia tidak akan bisa berubah. Kalau tidak berubah, meski aku berubah, Ilia akan tetap sama. Cuma mengikutiku dengan rasa hormat dan cinta, tapi tidak akan menjadi hubungan yang lebih maju dari itu. Tidak akan mencari pemicu untuk berubah. ...Yang begitu itu, sepi, kan."
"Sepi... ya?"
"Aku ada di sini sekarang karena ada Euphie yang menginginkanku. Aku mengejar kembali mimpi yang tak bisa kulepaskan tapi sempat kuserahkan. Aku jadi sadar betul kalau itu adalah kebahagiaan. Makanya aku berharap Ilia juga punya orang seperti itu. Kalau itu Lainie, aku senang."
"Tapi, itu bukan perasaan yang diinginkan Nona Ilia sendiri, kan...?"
"Apakah Lainie yang menentukan hal itu?"
Suara yang mirip teguran tajam membuatku tersentak. Nona Anis memegang bahuku untuk menegakkan tubuhku dan menjauhkan jarak yang tadi menempel.
Nona Anis memasang ekspresi seperti marah, dan menghadap lurus padaku. Kekuatannya membuatku ingin memalingkan muka.
"Aku bukan tidak mengerti perasaan takut Lainie. Aku juga mengerti kamu menganggap itu tanggung jawabmu. Tapi ya, izinkan aku bilang ini. Kumohon, jangan berpaling dari Ilia."
"Berpaling...?"
"Aku berpikir, apakah ada yang bisa kukatakan tentang perubahan Ilia. Ilia pasti tidak akan berkonsultasi padaku, dan pasti tidak pada Euphie juga. Mengandalkan orang lain, Ilia pasti tidak akan melakukannya. ...Tidak bisa melakukannya."
Suara berat Nona Anis yang seolah memuntahkan darah membuatku menelan ludah.
"Bagiku, fakta bahwa Ilia yang seperti itu, tetap mengucapkan keinginannya sendiri, terasa luar biasa. Bukan karena keperluan tugas, bukan kata-kata yang harus diucapkan karena kewajiban. Aku tidak ingin kamu menyia-nyiakan kata-kata yang diinginkan Ilia hanya karena perasaan tidak suka."
"...Nona Anis, tapi, saya..."
"Aku mengerti Lainie menganggap kekuatannya menakutkan. Perasaan itu penting, menurutku. Tapi jangan lupa. Itu sama dengan ilmu sihir (magology)-ku. Yang penting adalah cara penggunaannya. Kamu membuat Ilia melangkah maju dengan kekuatan itu. Bagiku itu kejutan, dan hal yang membahagiakan."
Nona Anis mengatakannya seolah berdoa. Suaranya begitu lembut, menyiratkan perasaannya pada Nona Ilia. Benar-benar terasa bahwa Nona Anis sangat menyayangi Nona Ilia.
"Aku tidak bisa bilang terimalah perasaan Ilia. Tapi, jangan lari dari menghadapinya. Kalau butuh waktu, sampaikanlah padanya. Kalau memang tidak bisa, sampaikan juga. Tidak mengatakan apa-apa adalah hal yang paling kejam. ...Tapi kalau, ada sedikit saja perasaan boleh menerima Ilia, aku ingin kamu berjalan bersamanya."
"...Bagi Nona Anis, Nona Ilia itu sosok seperti apa?"
Tanpa sadar aku bertanya pada Nona Anis. Nona Anis tertawa bingung. Lalu mengerang seolah berpikir, sebelum membuka mulut lagi.
"...Susah ya. Tuan dan pelayan adalah yang paling mudah dimengerti sih. Terasa seperti keluarga juga, mungkin tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi, yang pasti dia orang yang berharga."
"...Bagaimana pendapat Nona Anis tentang saya yang memikat Nona Ilia?"
"Hmm. Tidak gimana-gimana? Soalnya itu keadaan kahar (tidak bisa dihindari). Tapi, kalau gara-gara pemikat Lainie, Ilia jadi berpikir boleh, atau malah ingin menjadi kekasih orang selain aku... agak kesal juga ya."
Jawaban yang tidak terduga membuatku membelalakkan mata. Aku tidak menyangka Nona Anis akan bilang kesal, jadi aku menatapnya lekat-lekat.
Nona Anis tampak agak malu, namun memasang ekspresi yang sangat rumit.
"Bukan cemburu, dan mungkin kata kesal juga tidak tepat. Tapi, kalau diungkapkan dengan kata-kata, terpikirnya kesal. ...Mungkin karena dia selalu ada di sisiku. Padahal begitu, dia perlahan menjauh dariku. Itu membuatku kesal, sedih, tapi, sangat senang."
Rasanya, seperti sedang memamerkan harta karun. Senyuman Nona Anis begitu manis hingga membuatku terpesona.
Pasti sulit mengungkapkannya dalam satu kata. Tapi, ekspresi itu menunjukkan segalanya. Di sana aku menemukan sesuatu yang mulia.
Nona Anis tulus menyayangi Nona Ilia, dan mendoakan kebahagiaannya. Tapi Nona Anis hanya mendorong punggung Nona Ilia menuju kebahagiaan. Seolah berkata bahwa yang harus menerimanya adalah aku.
Fakta itu, masih belum bisa kuterima dengan baik.
"...Nona Anis, saya, rasanya seperti mau tenggelam, sesak, dan sangat takut. Saya, meski jadi bahagia, tidak tahu apakah bisa tetap bahagia... itu, menakutkan. Menakutkan...!"
Selama ini menyakitkan. Selama ini berat. Setiap hari seperti tenggelam dan meronta.
Datang ke sini, aku bahagia. Benar-benar bahagia. Aku ingin terus menghabiskan waktu seperti ini.
Kehilangan kebahagiaan bagiku lebih menakutkan dari apa pun. Gemetar, meringkuk, dan ingin menolak segalanya.
Seolah menenangkanku yang seperti itu, Nona Anis menyampaikan kata-kata yang lembut namun kuat.
"Tidak apa-apa. Karena kamu bisa merasa takut. Meski tak berdaya sepertiku, aku tidak bisa berpikir biarlah begitu. Pasti dirimu sendiri, dan orang yang memikirkanmu tidak akan membiarkannya. Yang tidak boleh kamu lupakan adalah, ada orang yang akan menolongmu jika kamu sendiri yang meminta tolong."
Sambil memelukku seolah mendekat, Nona Anis melontarkan pertanyaan yang menukik ke inti.
"──Di antara orang yang kamu harapkan datang menolong... apakah ada Ilia?"
* * *
Beberapa jam setelah Nona Anis memastikan aku sudah tenang dan keluar kamar. Terdengar suara ketukan pintu, dan kesadaranku yang setengah tertidur terbangun.
"Lainie, ini saya. Boleh masuk?"
Suara yang terdengar adalah suara Nona Ilia. Kesadaranku semakin pulih dan menjadi jelas. Aku menahan napas, lalu menarik napas dalam-dalam sekali.
"...Silakan masuk."
"Permisi."
Nona Ilia mengucapkan salam lalu masuk. Pertama, aku kaget melihat wajahnya. Karena di bawah mata Nona Ilia terlihat jelas lingkaran hitam.
"Apakah ada waktu sekarang?"
"Tidak apa-apa... anu, Nona Ilia, mata panda Anda parah sekali, Anda baik-baik saja?"
"Kemarin saya tidak bisa tidur. Tapi kondisi fisik tidak masalah. Daripada itu, Lainie tidak apa-apa? Kemarin gara-gara saya, kamu jadi harus mendengarkan omongan panjang lebar, saya benar-benar minta maaf."
"Jangan minta maaf. Kalau minta maaf... saya jadi bingung."
"...Begitu ya. Mau saya buatkan teh?"
"Boleh minta tolong?"
Kalau mau bicara, lebih baik ada teh. Sambil mendengarkan suara Nona Ilia menyiapkan teh, aku memejamkan mata dan merangkum pikiranku.
Saat memejamkan mata, Nona Ilia duduk di kursi yang tersedia sambil meletakkan cangkir teh di meja samping. Aku bangun dan mengambil teh, lalu meminumnya sedikit.
Mungkin karena haus, rasanya sangat enak. Sambil merasakan mulutku rileks secara alami, kenangan lama terstimulasi.
"...Teh buatan Nona Ilia, saya sangat menyukainya."
"Saya senang kamu bilang begitu."
"Ya, sungguh. Saya senang, Nona Anis baik pada saya, Nona Euphilia memaafkan saya, diputuskan tinggal di istana terpisah, meski cemas, saya masih bisa mengingat rasa lega yang sama besarnya."
Kemudian, waktu hening mengalir di antara kami. Yang mengakhiri keheningan itu adalah Nona Ilia.
"...Sekali lagi, saya benar-benar minta maaf soal semalam. Saya sadar itu terlalu mendadak."
"Tidak... memang sih, saya kaget banget."
"...Jika mengganggu, silakan lupakan saja sebagai omongan orang melindur."
"Saya tidak menganggapnya mengganggu!"
Tanpa sadar aku menyangkal Nona Ilia dengan suara yang lebih keras dari dugaan. Nona Ilia sedikit membelalakkan mata, lalu setengah bangkit seolah mengkhawatirkan tubuhku.
"Maaf bersuara keras. ...Saya tidak menganggapnya mengganggu. Cuma, saya kaget dan tidak bisa langsung memutuskan..."
"Itu wajar. ...Hanya saja, saya tidak bisa membayangkan cara bicara yang baik, jadi akhirnya cuma menyampaikan perasaan pada kamu. Karena saya sama sekali tidak memikirkan beban Lainie, jadinya seperti ini."
"...Apakah Nona Ilia mengajukan usulan itu karena kasihan pada saya?"
Aku bertanya pada Nona Ilia sambil menahan suara yang hampir gemetar. Nona Ilia tersenyum tipis. Ekspresi yang terasa rapuh, seolah akan menghilang kapan saja.
"Jika ditafsirkan begitu... mungkin memang begitu ya."
"...Anda tidak menyangkalnya?"
"Saya sendiri juga bingung. Sama bingungnya dengan fakta bahwa saya tidak bisa memahami perasaan saya sendiri. Tapi saya tidak tahu harus bagaimana, saya cuma ingin melakukan sesuatu sebelum kamu mengharapkan hal yang tidak kamu inginkan, dan kepala saya jadi penuh dengan hal itu."
Itu kata-kata yang tidak dipilih, melainkan apa yang dipikirkan langsung dikeluarkan. Aku merasa itu suara hati Nona Ilia yang murni.
Mendengar itu, apa yang kurasakan. ...Bukan cuma Nona Ilia, aku pun jadi tidak mengerti perasaanku sendiri.
Hanya sedih. Dan menjadi sesak seolah tenggelam dan tak bisa bernapas. Tubuhku gemetar, dan aku berusaha keras menahan agar gigi gerahamku tidak berbunyi.
Untuk menyembunyikan getaran, aku mencengkeram lengan dan menancapkan kuku. Rasa sakit itu sedikit membuatku tenang. Jujur, aku tidak menyangka diriku akan sesulit ini mempercayai itikad baik orang lain.
Tapi, meski begitu aku tidak ingin lari dan tidak menghadapinya. Namun, mengucapkan permohonan yang harus kuucapkan itu sangat menakutkan.
"...Lainie. Tidak perlu memaksakan diri lho."
Suara lembut Nona Ilia membuatku membelalakkan mata. Suara itu tidak terdengar seperti suara yang dikeluarkan Nona Ilia.
Nona Ilia memasang ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Senyuman yang lembut, tapi tampak menderita, dan sangat kesepian. Dadaku terasa sesak.
Bukan, bukan wajah seperti ini yang ingin kulihat...!
"Saya dipikirkan sampai membuatmu bingung begitu ya. Mengetahui itu saja sudah cukup bagi saya. Maaf sudah membuatmu susah..."
"B, bukan, bukan begitu! Ini, saya yang salah...! Saya yang, seenaknya jadi takut, jadi tidak percaya...! Nona Ilia tidak salah!"
"Tidak. Jika membuatmu susah, seharusnya saya tutup mulut."
"──Saya! Susah karena saya senang!!"
Tanpa sadar aku jadi emosi dan berteriak. Ekspresi rumit Nona Ilia runtuh, matanya mengerjap-ngerjap lebar.
Pada Nona Ilia yang seperti itu, aku merasakan sedikit kemarahan yang tidak masuk akal. Emosiku yang jebol tak terbendung, dan aku memelototi Nona Ilia.
"Mau jadi kekasih demi saya, mau melakukan sesuatu demi saya, mana mungkin saya tidak suka dipikirkan begitu! Anda tahu tentang saya! Tahu monster macam apa saya! Tahu apa yang saya lakukan pada Anda! Tapi, malah mau menerima... kenapa bilang begitu! Saya jadi berharap, kan...!"
"...Lainie?"
"Tapi, sebanyak saya berharap, sebanyak itu juga saya dikhianati! Meski bilang suka padaku, mereka seenaknya memaki kalau aku mengkhianati. Semua menyalahkan aku, bilang aku yang salah! Aku juga ingin percaya orang, ingin disukai secara normal, tidak ingin dibenci. Tidak perlu jadi istimewa, tapi semua seenaknya menganggapku istimewa, dan akhirnya memaki kalau aku yang salah!"
Baik saat jadi yatim piatu, maupun setelah jadi nona bangsawan. Meski bilang suka, aku tidak bisa memenuhi harapan, dan dianggap mengkhianati.
Dan aku belajar. Bahwa aku tidak boleh menyukai siapa pun.
Satu-satunya yang boleh dianggap istimewa, cuma Ibu. Kenangan bahagia adalah sandaranku. Ibu dalam ingatan tidak akan berubah selamanya, jadi boleh dianggap istimewa sepuasnya.
Meski diambil Ayah dan diberi tempat bernaung, aku tidak bisa langsung beradaptasi. Kehidupan di Akademi Bangsawan pun tidak lebih baik dari kehidupan panti asuhan.
Hanya dengan tidak kelaparan saja sudah hal yang luar biasa, kurasa. Itu pasti benar, tapi hatiku selalu ketakutan, menolak segalanya dan menyerah.
"Pada diriku yang seperti itu, Nona Anis menunjukkan jalan. Nona Euphilia memaafkan. Nona Ilia mengajari cara hidup! Padahal itu saja sudah cukup, sisanya harus aku yang usahakan! ...Tidak boleh, manja, lebih dari ini...!"
Aku tidak ingin diperlakukan dengan lembut. Karena aku tahu kalau sekali saja manja, aku tidak akan bisa keluar.
Aku tahu kalau diriku tidak kuat. Tidak bisa seperti Nona Anis, maupun Nona Euphilia.
Setidaknya agar tidak mengganggu. Jika bisa, aku ingin mendorong punggung orang-orang itu, mendukung mereka, itu saja sudah cukup. Bahkan itu pun tak terkabul, bukannya terkabul malah jadi pengganggu, diriku yang menyedihkan ini membuat putus asa.
"Benar-benar tidak apa-apa dengan saya yang begini...? Bukannya itu cuma simpati...? Kalau cuma kasihan pada saya, kalau cuma berpikir begitu...!"
"Lainie."
Tanpa sadar air mata tumpah. Suaraku gemetar menjadi tangisan.
Melihatku yang seperti itu, Nona Ilia berdiri dari kursi, dan menempelkan keningnya padaku. Tangannya menangkup pipiku, dan jarinya mengusap pipi seolah menyeka air mata.
"Saya bukan manusia yang punya hati, Lainie. Saya hanya menerima berada di sisi Nona Anisphia karena nyaman. Karena itu menguntungkan. Tapi, kamu berbeda. Kamu memilih sendiri untuk datang, kan. Ingin berada di sisi beliau, ingin lebih berguna. Saya mengetahuinya karena menerima sihir pemikatmu. Bahwa hanya dengan melayani saja tidak akan didapatkan... perasaan hati yang terpenuhi."
"Nona Ilia..."
"Mungkin itu emosi yang dimiliki siapa saja, tapi saya tidak bisa memahaminya. Karena saya manusia yang cacat. Tapi, karena Lainie memberitahu saya, saya rasa saya bisa berubah sedikit demi sedikit. Dengan pertumbuhanmu, saya diajarkan apa yang ada di ujung pertumbuhan itu. Saya bisa merasakan makna dari apa yang telah saya kumpulkan. Kamulah yang menyadarkan saya."
Nona Ilia berbicara padaku dengan nada menghibur. Seolah mencoba menyampaikan makna yang beliau temukan dalam apa yang telah kulakukan.
"Melalui kamu, saya bisa mengetahui banyak hal. Perilakumu yang manusiawi, memikirkan orang lain, dan berusaha maju meski sangat takut, itu sangat mulia. Alasan saya ingin menolongmu adalah karena saya merasa sosokmu yang berjuang itu sangat berharga. Jika bisa terus melayani Nona Anisphia dan Nona Euphilia bersamamu seperti ini. Saya merasa itu pasti hal yang membahagiakan. Karena itu saya ingin menjauhkan hal-hal yang menghalangi usahamu, dan melindungimu."
Nona Ilia menjauhkan keningnya, dan menatap lurus ke mataku. Aku mengatupkan bibir rapat-rapat. Seperti melarikan diri dari tatapan Nona Ilia, aku memalingkan muka.
"...Saya, vampir lho...?"
"Ya."
"Kalau dijadikan kekasih, saya, akan menjadikan Nona Ilia istimewa lho?"
"Tidak masalah."
"Saya juga bakal ingin banyak darah, dan bakal melukai Anda sebanyak itu, dan saya rasa saya bakal banyak menuntut yang egois."
"Saya akan berusaha mengabulkannya."
"Saya... kalau dikhianati orang lagi, tidak tahu bakal melakukan apa lho...?"
"...Apakah Lainie berpikir saya akan mengkhianati?"
Suara Nona Ilia sedikit merendah. Aku menggelengkan kepala ke kiri dan kanan menyangkalnya.
"......Saya, takut jadi egois. Soalnya, saya tidak mau kehilangan apa-apa lagi......"
"Kalau begitu, saya akan berusaha agar Lainie tidak cemas."
"......Saya bakal tanya mana yang lebih penting, saya atau Nona Anis lho."
Mendengar pertanyaanku, Nona Ilia memasang ekspresi seolah dipaksa makan sesuatu yang asam. Lalu setelah mengerang, beliau membuka mulut.
"............Kenapa bertanya seperti itu."
"Anda tidak akan memilih saya?"
"......Begitu ya, itu memang keegoisan yang sulit ya."
"......Benar kan. Sifat saya buruk lho, sebenarnya."
Nona Ilia mengerutkan alis dengan bingung, tapi segera menghela napas lalu memelukku. Pelukan tiba-tiba membuatku tidak bisa berbuat apa-apa, dan aku pun berada dalam pelukan Nona Ilia.
"Tapi, meski saya memilih Lainie dalam pertanyaan itu, kamu tidak akan senang, kan."
"......Kenapa Anda berpikir begitu?"
"Karena kamu menyayangi Nona Anisphia, Nona Euphilia, dan banyak orang lain. Makanya kamu tidak bisa memprioritaskan diri sendiri, kan? Kalau dipilih pun, kamu akan berpikir kamu yang memaksanya memilih, kan?"
Tebakan Nona Ilia membuatku hampir tak bisa bernapas. Air mata mendesak keluar, napasku tersendat. Tidak bisa menyangkal. Karena aku juga membayangkan hal yang sama dengan yang dikatakan Nona Ilia.
"Karena itu jangan katakan hal yang menguji seperti itu."
"......Nona Ilia."
"Jangan membandingkan nilaimu dengan orang lain, Lainie. Kamu cukup menjadi dirimu sendiri. Tidak perlu membebankan alasan, nilai, atau apa pun pada dirimu. Hal semacam itu, selama kamu adalah kamu, akan datang dengan sendirinya. Saya tidak ragu untuk melindungimu. Jadi, tolong biarkan diri Anda dilindungi."
Nona Ilia melepaskan pelukannya, dan meletakkan tangan di bahuku. Lalu mendekatkan wajahnya...... dan mendaratkan ciuman yang bersentuhan dengan bibirku.
Saat aku mengembuskan napas halus, aku memahami apa yang dilakukan Nona Ilia dan tubuhku menegang. Tapi...... tidak benci.
Berkali-kali, berkali-kali, mematuk, atau bersentuhan, Nona Ilia mendaratkan ciuman. Setiap kali bersentuhan, sensasi menggelitik yang membuat merinding menjalar di punggung, dan tenaga keluar dari tubuhku.
Saat aku hampir terbuai mimpi, sisa akal sehatku mulai melawan. Aku meletakkan tangan di dada Nona Ilia, mendorongnya untuk mengambil jarak.
"Nona Ilia, kenapa, ciuman...!"
"Karena meski bilang akan melindungi, sepertinya kamu tidak percaya dari hati, jadi saya pikir lebih cepat kalau diajarkan lewat tubuh dengan tindakan. Kalau dipikir-pikir, kamu lebih cepat paham kalau dibiasakan daripada diajarkan ya."
"Bukan, tapi, meski begitu...!"
"Tidak suka?"
Pertanyaan Nona Ilia membuat pipiku panas seketika. Karena ada diriku yang merasa tidak benci. Tapi, hal semacam itu memalukan untuk diucapkan.
Dicium tidak benci, malah hampir menerimanya. Soalnya senang. Senang disayang sebegitu rupa. Tapi, takutnya juga sama besarnya.
Kalau tenggelam dalam kehangatan ini, tamat sudah. Karena berpikir begitu, tubuhku mencoba melawan. Tapi ada juga diriku yang tidak ingin melawan, dan karena semuanya tidak selaras, aku jadi tidak bisa bergerak.
"Tu... tung, tunggu! Tunggu dulu...! Tidak boleh, Nona Ilia...!"
"Apanya yang tidak boleh. Jawab dengan jelas."
"I, itu... ci, ciuman dan semacamnya..."
"Kenapa? Karena tidak suka dilakukan oleh saya?"
"Bu, bukan begitu...! Sayanya, yang tidak boleh!"
"Itu saya sudah tahu."
"Eeeh!?"
Nona Ilia menyipitkan mata seperti kucing, dan tersenyum dengan sudut bibir terangkat. Rasa dingin merambat di punggungku.
"Saya pikir kamu tidak puas karena pasangannya saya, tapi sepertinya bukan begitu ya. Kalau begitu saya putuskan penyebab kamu jadi 'tidak boleh' ada pada dirimu. Sebagai pembimbingmu, saya harus mendidikmu secara menyeluruh."
"Pe, pendidkan... i, ini rasanya ada yang salah!"
"Kalau begitu coba yakinkan saya. Dengan alasan yang bisa saya terima."
Krieeet, suara tempat tidur berderit. Nona Ilia dengan posisi menindihku, menatapku ke bawah.
Ditatap dengan mata itu, aku tidak bisa melawan. Soalnya ini mata Nona Ilia saat membimbingku. Karena aku tahu aku salah, aku jadi makin tidak bisa bergerak.
"Kalau begitu mari kita mulai pelajarannya. Sampai kita memastikan bagaimana kita ingin bersikap satu sama lain. Waktunya masih banyak, jadi mari kita bicara sampai puas, Lainie."
* * *
"...Bukan, begini lho? Kalau pembicaraannya selesai dengan baik sih aku senang ya? Tapi kenapa Lainie jadi kayak ulat bulu di atas kasur begitu?"
"Yang Mulia Putri Anisphia, ini adalah hasil diskusi sampai kami sama-sama puas."
Ilia bilang mau melihat keadaan Lainie, jadi dia melempar perasaanku yang tadinya was-was entah ke mana dengan semangat yang luar biasa, tapi bagaimana pendapat Anda soal itu? Nona Ilia.
Aku menatap gundukan selimut yang masih gemetar dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
"Ah... lalu?"
"Sebagai masa percobaan, kami memutuskan untuk membuat masa percobaan pacaran."
"Masa percobaan pacaran."
Tanpa sadar aku mengulangi. Apa itu.
"Saya juga masih belum bisa mengendalikan perasaan ini sepenuhnya. Lainie juga ingin memastikan perasaannya sendiri, jadi kami sepakat. Karena itu kami ingin memastikannya pelan-pelan seiring berjalannya waktu."
"B, begitu... tapi, kenapa Lainie jadi ulat bulu?"
"Saya tahu kalau pacar itu harus dimanja."
Guncang, guncang, gumpalan selimut berguncang hebat. Tidak, serius deh, diapakan sih dia?
Karena penasaran, aku menatap wajah Ilia. Lalu Ilia tersenyum lembut bagaikan bunga yang mekar. Senyum yang begitu menyilaukan sampai membuatku menoleh dua kali.
Jujur, aku sempat cemas akan jadi bagaimana, tapi aku lega karena sepertinya tidak berakhir buruk.
Setelah itu, aku menyerahkan Lainie pada Ilia, dan meninggalkan kamar. Sekarang, mungkin lebih baik membiarkan mereka berdua sendiri.
Karena itu, biar aku saja yang membuat makan malam hari ini. Euphie pasti lapar saat pulang nanti.
Meski keterikatannya pada makanan sudah hilang sejak menjadi Kontraktor Roh, tidak memberinya makan apa-apa bisa merusak kesehatannya.
"Lainie juga baru sembuh, jadi mungkin yang ringan-ringan saja ya. Roti, sup, dan..."
Sambil memikirkan menu, aku jadi membayangkan ekspresi seperti apa yang akan dibuat Euphie saat pulang nanti. Apakah dia akan terkejut, atau dia akan merasa heran.
Membayangkan hal itu agak menyenangkan. Sedikit, ya, ada sedikit rasa sedih, tapi di dalam hatiku penuh dengan sukacita dan doa restu. Perasaan itu meluap, hingga tanpa sadar terucap dari mulutku.
"Syukurlah, Ilia. Terima kasih, Lainie."
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar