Pertanda Perubahan yang Meluas
Sudah sekitar satu bulan berlalu sejak insiden penyebaran Papan Pikiran yang tak sengaja kucetuskan, atau yang juga dikenal sebagai insiden kegilaan Duke Magenta.
Dalam kurun waktu ini, Papan Pikiran menyebar dengan cepat di istana kerajaan, diterima dengan jeritan sukacita dan ratapan. Sukacita karena berkurangnya pekerjaan manual, dan ratapan adalah jeritan orang-orang yang pekerjaannya bertambah karena efisiensi tugas.
Kurasa ratapan para pendatang baru yang direkrut sebagai asisten pegawai sipil itu cukup besar, atau mungkin cuma perasaanku saja. Duke Grantz, itu bukan mainan lho. Cuma sedang bekerja? Begitu ya...
Ngomong-ngomong, sepertinya Papan Pikiran juga menjadi hadiah yang bagus bagi Euphie untuk memperkuat posisinya di Kementerian Sihir. Aku dengar langsung dari orangnya kalau faksi-faksi mulai bersatu di bawah pimpinan Euphie.
Meski mereka memiliki perasaan rumit terhadapku, Papan Pikiran yang bisa mengefisienkan pekerjaan dokumen ternyata sangat berguna sampai-sampai mereka sangat menginginkannya. Tapi mereka sungkan memintanya padaku, dan sempat ketakutan kalau-kalau aku bilang tidak akan mendistribusikannya ke Kementerian Sihir.
Lalu Euphie langsung bernegosiasi denganku dan memperkenalkannya ke Kementerian Sihir, sehingga mereka pun lega. Bagiku, kalau pekerjaan Kementerian Sihir jadi efisien dan penataan serta penyusunan ulang dokumen berjalan lancar, aku tidak keberatan sama sekali.
Jadi pekerjaan utamaku belakangan ini adalah pengecekan produk dan pengiriman Papan Pikiran, serta membangun dasar hubungan sekaligus menyapa saat pengiriman.
Omong-omong, Ayahanda menyuruhku memberi jeda setidaknya dua bulan untuk alat sihir baru. Kali ini benar-benar jadi keributan besar sih, ya. Maaf, aku menyesal.
Pekerjaan konfirmasi pengiriman bisa diselesaikan di sela-sela waktu, jadi keseharian kami belakangan ini adalah mengumpulkan informasi dari buku-buku yang dipinjam dari Kementerian Sihir dan menjadikannya data.
Halphys sepertinya ahli dalam pekerjaan seperti ini, dia mengerjakannya dengan rajin dan efisien. Kerjanya sangat cekatan sampai terkadang aku berpikir, mungkin cukup Halphys sendirian saja.
Di sisi lain, yang payah adalah Gakkun. Mungkin karena pada dasarnya dia tidak ahli dalam pekerjaan yang mengharuskan duduk di meja, dia sering menyerah dengan cepat.
Wajar saja kalau suntuk karena terus-terusan menghadapi meja, jadi jadwal hari ini diputuskan bukan bekerja di bengkel istana terpisahku, melainkan meninjau Pasukan Pengawal Kerajaan.
"Wah, sedang latihan ya. Semuanya sudah mulai terbiasa menggunakan Mana Blade belum?"
Di hadapanku, para ksatria yang memegang Mana Blade sedang saling berhadapan.
Mana Blade yang kuberikan pada Pasukan Pengawal Kerajaan digunakan oleh unit uji coba yang dibentuk dengan merekrut orang-orang dari Pasukan Pengawal Kerajaan. Orang-orang yang sedang berlatih tanding di hadapanku sekarang adalah mereka.
Ada seseorang yang mengawasi mereka sebagai instruktur. Dia adalah orang yang sangat kucenal, dan begitu melihatku, ekspresinya langsung melunak.
Karena tubuhnya besar, wajah garangnya saat diam memang menakutkan, tapi saat tertawa, dia memancarkan keramahan dan kebaikan hati.
"Oh, Yang Mulia Putri Anisphia, selamat datang."
"Selamat bekerja, Baron Cyan."
Dia adalah Baron Dragus Cyan, alias ayahnya Lainie. Baron Cyan yang naik status menjadi bangsawan berkat prestasinya sebagai petualang kini bertugas sebagai instruktur unit uji coba operasional alat sihir.
Karena mantan rakyat biasa, dia tidak bisa menggunakan sihir, tapi justru karena itulah pemahamannya terhadap alat sihir cepat dan pengalamannya pun kaya. Karena itu dia dipilih sebagai instruktur.
Memang tidak bisa dipungkiri ada sedikit unsur nepotisme, tapi latar belakangnya sebagai petualang membuatku mudah berkomunikasi dengannya, dan aku menganggapnya orang yang tepat.
"Bagaimana? Pengoperasian Mana Blade-nya?"
"Ya, setiap hari keinginan saya agar ini segera menyebar luas semakin kuat. Mungkin ada yang merasa cemas dengan bilah sihir yang tidak berwujud fisik, tapi memilikinya sebagai senjata cadangan saja sudah lebih dari cukup. Ini juga pasti efektif untuk menghadapi monster yang menggunakan sihir."
Baron Cyan yang tersenyum penuh percaya diri terlihat sangat bisa diandalkan. Meski sudah lama meninggalkan garis depan, katanya dia tidak pernah absen berlatih. Kalau hanya melihat kemampuan berpedang, dia termasuk jajaran atas di dalam ordo ksatria.
Dan yang hebat dari Baron Cyan bukan cuma kemampuan berpedangnya. Baron Cyan memiliki keseimbangan yang baik antara keberanian untuk menghadapi kesulitan dan ketenangan untuk menilai situasi.
Baron Cyan tidak bangkit hanya dengan modal kemampuan pedang. Karena itulah dia masih disegani sebagai kepala keluarga Baron hingga sekarang.
Dibandingkan bangsawan murni, tentu dia tidak sempurna. Tapi sebagai Baron yang naik dari bawah, kurasa dia sudah melakukan yang terbaik.
Siapa sangka, menjadi instruktur ilmu pedang mungkin adalah panggilan jiwa bagi Baron Cyan. Aku pernah dengar cerita dari Lainie kalau ayahnya terlihat sangat hidup sejak diserahi pekerjaan ini.
Baron Cyan mengalami banyak hal karena masalah Lainie, tapi aku jujur merasa senang karena situasinya berubah menjadi baik.
"Sudah lama tidak berjumpa, Baron Cyan."
"Selamat bertugas."
"Ooh, Tuan Gark dan Nona Halphys. Saya dengar kalian berjuang di bawah Yang Mulia Putri Anisphia. Syukurlah kalian terlihat sehat."
Setelah aku, Gakkun dan Halphys menyapa, Baron Cyan tersenyum lebar.
Baron Cyan yang sering muncul di Pasukan Pengawal Kerajaan sebagai instruktur tampaknya sudah kenal dengan mereka berdua. Sambil saling menyapa dengan hangat, aku kembali mengamati para ksatria yang sedang mengayunkan Mana Blade.
"Namun, meski sudah mulai terbiasa, kemampuan kami masih jauh di bawah Yang Mulia Putri Anisphia. Saya kembali menyadari kehebatan Anda."
"......Hm? Menurutku Mana Blade tidak terlalu sulit kok......"
"Apa yang Anda katakan. Yang Mulia Putri Anisphia bisa mengubah jangkauan pedang sesuka hati, bukan? Itu bukan hal yang bisa ditiru dengan mudah."
"Itu cuma menyesuaikan jumlah mana agar pedang mencapai jangkauan yang terlihat, atau mengubah bentuknya saja kok?"
"Mengucapkannya sih mudah, tapi bagaimana menurutmu? Tuan Gark. Pendapat Anda yang dinilai unggul dalam penggunaan alat sihir di antara Pasukan Pengawal Kerajaan."
"Tiba-tiba jangkauan senjata berubah itu menakutkan, tahu? Lagipula melakukan penyesuaian sedetail itu sambil bertarung itu sulit. Kalau tidak paham situasi secara menyeluruh, bisa bahaya kalau kena teman sendiri, dan entah sempat atau tidak merespons kalau diserang dari samping sebelum sempat menarik bilah yang dipanjangkan."
Saat Baron Cyan melempar pertanyaan padanya, Gakkun menjawab dengan wajah masam.
Apa sesulit itu ya? Mungkin apa yang kupikirkan terpancar di wajahku, karena Gakkun jadi memanyunkan bibirnya. Halphys juga tersenyum kecut.
Melihat reaksi mereka berdua, Baron Cyan tertawa kecil seolah menganggapnya lucu.
"Sepertinya Yang Mulia Putri Anisphia sulit melihat penilaian yang tepat jika menyangkut diri sendiri."
"Hmm...... begitu ya......"
Memang benar belakangan ini aku agak kurang percaya diri dengan penilaian diri sendiri. Tapi menerima penilaian orang lain mentah-mentah juga rasanya kurang pas, jadi aku tidak bisa bilang apa-apa.
"Baron Cyan! Boleh minta waktunya sebentar?"
"Hm? Ada apa?"
Saat aku sedang bicara dengan Baron Cyan, para ksatria yang sedang berlatih berkumpul.
Mungkin pas waktunya istirahat. Saat aku berpikir begitu, tatapan mereka terpusat padaku.
"Jika Yang Mulia Putri Anisphia berkenan meluangkan waktu, kami ingin diajarkan trik menggunakan Mana Blade!"
Suara itu dipenuhi antusiasme yang meluap-luap. Tanpa sadar aku memundurkan badan.
Mengikuti ksatria yang memimpin, ksatria lain juga serempak berseru, "Mohon bantuannya!"
"Hmm...... Bagaimana? Yang Mulia Putri Anisphia."
"Kalau sekadar memberi contoh sih boleh? Tidak mungkin aku mengajar satu per satu, tapi bagaimana kalau ada perwakilan untuk latihan tanding?"
"Jika Yang Mulia Putri Anisphia berkenan. Kalau begitu...... lawannya, bagaimana kalau kita minta Tuan Gark?"
"Eh."
Gakkun yang tiba-tiba ditunjuk menatap Baron Cyan dengan terkejut.
"Boleh nih?"
"Di tempat ini, saya rasa Tuan Gark yang paling tepat. Adakah yang keberatan?"
Saat Baron Cyan meminta konfirmasi pada para ksatria, mereka serempak menjawab tidak ada keberatan. Gakkun menatap para ksatria dengan wajah makin bingung.
"Gakkun, kamu sekuat itu ya?"
"Tidak, tidak begitu kok?"
Karena penasaran, aku bertanya pada Gakkun, tapi dia menggelengkan kepala dengan kuat.
"Memang kalau bicara kekuatan total ditambah sihir, Gark tidak bisa dibilang ksatria yang menonjol."
"Tapi kalau soal adu pedang murni, hanya sedikit orang yang bisa menembus pertahanan Gark."
"Aku cuma pernah lihat Komandan Ksatria dan Baron Cyan yang bisa menembus pertahanan Gark sih."
"Maksudnya kalau cuma kemampuan pedang, dia sekuat itu?"
Saat aku bertanya, para ksatria memasang ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Serangan Gark sih biasa saja...... tapi pertahanannya gila-gilaan bagusnya."
"Kalau tidak berniat menghancurkannya dengan sihir, tidak ada harapan menang."
"Jadi soal memancing kemampuan penuh lawan, Gark bisa dibilang yang terbaik di Pasukan Pengawal Kerajaan!"
"Dibilang begitu aku jadi agak penasaran. Gakkun, mau coba tanding?"
"......Kalau disuruh sih saya lakukan."
Meski mengangkat bahu seolah bilang 'yare-yare', Gakkun mulai memutar-mutar bahunya menunjukkan semangat.
Sejak menerima Celestial, aku belum punya kesempatan menggunakan Mana Blade, jadi sudah lama aku tidak memegangnya. Aku menerima dua bilah, dan Gakkun satu bilah, lalu kami saling berhadapan.
Para ksatria berbaris di sekeliling kami, dan Baron Cyan berdiri di tengah sebagai wasit. Halphys mengambil posisi di dekatnya.
"Kalau begitu, saya akan menjadi saksi pertandingan kalian berdua. Saya, Dragus Cyan, akan bertindak sebagai wasit. Kedua belah pihak, hormat!"
Sesuai formalitas, aku dan Gakkun saling memberi hormat lalu mengambil kuda-kuda. Kuda-kuda Gakkun adalah posisi bawah dengan ujung pedang sedikit lebih rendah dari posisi horizontal. Matanya yang sedikit terbuka mewaspadai gerakanku tanpa lengah.
Pertama-tama sebagai pemanasan, aku melancarkan serangan. Serangan yang mengincar leher ditangkis dengan ayunan ke atas.
Dari situ, pertukaran serangan pedang dimulai. Jika Mana Blade kanan ditangkis, aku mengayunkan Mana Blade kiri. Berkali-kali mengulang serangan dan pertahanan, dari tebasan ke bawah lalu tebasan menyilang ke atas, terkadang diselingi tusukan, aku terus menyerang Gakkun.
"──Haha."
Tawa keluar dari mulutku. Sejak tadi aku terus menyerang dan Gakkun tidak membalas. Memang benar aku tidak memberinya celah untuk membalas, tapi tetap saja ada hal yang membuatku tertawa.
──Karena Gakkun tidak bergerak "selangkah" pun selama pertarungan ini.
Tentu saja dia memutar tubuh menyesuaikan gerakanku. Tapi hanya itu. Kakinya seolah hanya bergerak di dalam lingkaran yang sudah ditentukan.
Meski begitu, seranganku tidak tembus. Pedang Gakkun sangat terampil dan cepat.
Kecepatan reaksinya terhadap seranganku sangat cepat. Serangan untuk menangkis dilakukan seminimal mungkin, dan kuda-kudanya segera kembali seperti semula.
Diserang dari sudut mana pun, dengan serangan apa pun, posturnya tidak goyah. Karena itulah ada ketegangan yang membuatku merasa jika aku sembarangan melakukan serangan besar, celah itu akan dimanfaatkan.
Rasanya seperti mengayunkan pedang ke arah tembok. Sederhana, kokoh, namun tajam.
Setiap kali pedang beradu, aku bisa melihatnya. Ini adalah hasil ketekunan Gakkun. Gaya pedang kaku yang ditempa dengan melatih diri terus-menerus. Gaya yang lurus dan jujur ingin mencapai puncak, dengan kegigihan seolah berkata akan menahan serangan apa pun.
Tidak ada keindahan seperti tarian, tidak ada kemewahan yang memukau mata. Teknik yang diasah hanya untuk menghasilkan efek maksimal dengan gerakan minimal. Tidak ada keindahan dekoratif, justru karena itulah bentuk pedangnya terasa indah.
Dan aku gemetar merasakan besarnya semangat dan kekuatan dari usaha yang dia kerahkan sepenuhnya tanpa ragu. Tidak banyak lawan yang membuatku merinding di tengah pertarungan. Kalau harus menyebut nama di antara mereka, tentu saja Euphie.
(Tidak bisa ditembus seperti Euphie, malah jadi ingin ketawa rasanya.)
Memang mungkin Gakkun tidak ahli dalam menyerang. Entah terlalu hati-hati, dia tidak dengan mudah memakan umpan celah yang sengaja kutunjukkan.
Kalau ini Euphie, aku pasti sudah panik berpikir harus menyerang dengan agresif untuk menembusnya atau situasi akan dibalikkan dengan sihir kuat.
Tapi sebaliknya, Gakkun tidak punya kartu as untuk membalikkan keadaan seperti Euphie. Jadi aku punya keleluasaan untuk fokus menyerang.
Meski begitu, tetap tidak bisa ditembus. Diserang di mana pun dan bagaimana pun, dia merespons dan menangkisnya. Karena dasarnya kuat, dia bisa segera merespons gaya pedang apa pun.
Mengatakannya mudah, tapi melaksanakannya sulit. Namun, Gakkun mewujudkannya. Aku yakin dia tidak sadar betapa hebatnya hal itu.
Dalam teknik pedang murni, aku tidak bisa menembus Gakkun. Aku tidak akan kalah, tapi aku juga tidak bisa menang. Pantas saja para ksatria lain memasang wajah begitu.
"......Hebat ya, Gakkun. Kamu benar-benar berusaha keras sejak saat itu ya? Tidak bisa dibandingkan dengan saat kita bertemu."
"Saya merasa terhormat menerima pujian Anda."
Gakkun membalas kata-kataku yang terucap seperti helaan napas dengan datar. Napasnya sama sekali tidak terengah, dan tidak terlihat goyah. Rasanya dia seperti Golem atau semacamnya.
Lebih baik aku menganggap fisik dan staminanya lebih unggul dariku. Belakangan ini aku agak malas latihan jadi napasku hampir habis. Sambil berpikir harus melatih ulang fisikku, aku mengangkat sudut bibirku.
"......Gakkun, boleh pakai Penguatan Tubuh (Body Strengthening)?"
"Ya, silakan saja."
"Oke, terima kasih. ──Kalau begitu, aku naikkan levelnya ya."
Mengarahkan kesadaran pada segel ukir di punggung, aku menarik mana naga. Menyalurkan kekuatan yang meluap itu ke kaki, aku memangkas jarak dengan Gakkun.
Di situ Gakkun untuk pertama kalinya menggerakkan kaki secara aktif, mundur untuk membuang dampak benturan sambil menerima seranganku.
"Ugh......!"
Ekspresi Gakkun yang tadi diam kini terdistorsi menahan sakit. Gakkun pasti juga menggunakan Penguatan Tubuh, tapi dari segi output, jelas aku lebih unggul.
Jadi seharusnya aku unggul dalam kekuatan, tapi tetap saja benteng besinya tidak bisa ditembus.
Gaya yang berbeda dengan gayaku yang terbentuk dari intuisi dan pengalaman tempur nyata. Teknik pedang yang lurus dan jujur, lebih dari diriku.
Mungkin arah usaha kami mirip. Dan mungkin dia menguasainya karena tidak menyimpang ke sana-sini sepertiku.
Kalau dunia ini ditentukan hanya oleh kemampuan pedang, Gakkun pasti sudah dinilai lebih tinggi. Karena itulah aku merasa sayang.
Andai saja, ada guru yang bisa membimbing Gakkun ke tempat yang lebih tinggi.
Andai saja, ada rival yang bisa bersaing dengan Gakkun.
Justru karena pedang yang hanya menghadapkan diri pada diri sendiri, aku merasa pedang Gakkun kurang satu langkah lagi.
"Kemampuan yang bagus, sungguh. Tapi──!"
Aku melompat mundur jauh, mengambil jarak sambil mengayunkan Mana Blade lebar-lebar. Jarak dengan Gakkun menjauh, tapi hanya Mana Blade yang memanjang, mengincar sisi perut Gakkun.
Gakkun menjejak bumi dengan kuat sambil menahan seranganku.
Saat aku menangkis serangan itu, aku langsung melenyapkan bilah Mana Blade. Sebagai gantinya, aku mengalirkan mana ke Mana Blade yang satu lagi dan meningkatkan outputnya.
Gerakan ini kulakukan setelah yakin Gakkun mengambil posisi untuk menahan serangan. Dengan begini, aku bisa mengejar kemampuan respons Gakkun. Lebih jauh lagi, untuk melampaui kemampuan respons Gakkun, aku melompat ke arahnya seolah berbalik arah sambil memperkuat output bilah pedang.
Memangkas jarak seketika dengan Penguatan Tubuh, dan memaksimalkan output Mana Blade. Gakkun yang baru saja menahan seranganku sempat kaku sesaat, tapi tubuhnya segera bereaksi.
Bilah Mana Blade kami saling beradu, memercikkan bunga api──dan bilah mana dari Mana Blade-ku melengkung elastis.
Bilah mana yang melengkung seperti cambuk itu menodongkan ujungnya ke leher Gakkun. Bersamaan dengan ujung bilah yang tertuju ke lehernya, gerakan Gakkun terhenti.
Sambil memasang ekspresi menyedihkan seolah sangat tidak puas, Gakkun menghela napas panjang.
"......Aku kalah."
Gakkun menunduk lesu sambil menyatakan kekalahannya. Bersamaan dengan itu, sorak-sorai membahana dari para ksatria. Baron Cyan-lah yang menenangkan para ksatria yang seolah lupa diri itu.
"Kalian berdua, kerja bagus. Ini pasti akan menjadi contoh untuk latihan di masa mendatang. Seperti yang diharapkan dari Yang Mulia Putri Anisphia, pergerakan yang luar biasa. Dan Tuan Gark yang menjadi lawannya juga memiliki kemampuan yang sungguh luar biasa."
"Kalau soal penggunaan Mana Blade, aku tidak bisa mengalah dengan mudah. Tapi sebagai sesama pengguna pedang, agak menyesal juga tidak bisa mengalahkan Gakkun hanya dengan teknik pedang murni."
"Tidak, aku sudah kewalahan cuma buat bertahan...... lagipula, mengubah jangkauan senjata itu benar-benar terlalu merepotkan. Apalagi Nona Anis punya daya ledak tinggi, jadi meski bisa dikejar, Nona Anis bisa membawa situasi ke kondisi di mana serangan berikutnya tak terkejar. Itu benar-benar luar biasa."
Gakkun mengatakannya sambil tersenyum cerah. Tidak terasa ada penyesalan atas kekalahannya di sana. Justru mungkin aku yang merasa sedikit menyesal.
Belakangan ini aku agak santai, jadi aku berpikir mungkin sebaiknya aku melatih diri lagi.
* * *
Setelah latihan tanding dengan Gakkun, aku berpisah dengan para ksatria dan pindah ke ruangan lain bersama Baron Cyan. Sampai saat-saat terakhir sebelum meninggalkan tempat itu, suara pujian dan pertanyaan tak henti-hentinya terdengar.
Tak lama setelah masuk ruangan, teh yang disiapkan pelayan disajikan. Setelah membasahi tenggorokan yang kering, Baron Cyan mengucapkan kata-kata penghargaan.
"Terima kasih sudah menerima permintaan mendadak ini. Ini pasti akan menjadi pemicu semangat yang baik bagi mereka."
"Ini juga demi penyebaran alat sihir, jadi tidak masalah. Kalau ada yang bisa kubantu, bilang saja tanpa sungkan, Baron Cyan."
"Terima kasih atas kata-kata yang membesarkan hati. Sejak menerima tugas ini, saya menjalani hari-hari yang memuaskan. Sepertinya pekerjaan yang menggerakkan tubuh seperti ini memang lebih cocok untuk saya."
Baron Cyan mengatakannya dengan senyum lembut.
Saat pertama kali bertemu, kalau tidak salah saat Lainie menghadap Ayahanda terkait insiden pembatalan pertunangan. Baron Cyan yang saat itu pucat pasi dan tak punya kelonggaran hati, kini bisa hidup dengan leluasa seperti ini, aku benar-benar merasa lega.
Saat aku memikirkan hal itu, aku merasa suasana di sekitar Baron Cyan berubah. Sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu, tapi terlihat ragu dan bergulat dengan batinnya sendiri.
"Baron Cyan? Jangan-jangan, kamu memindahkan tempat ke sini karena ada yang ingin dibicarakan denganku?"
"......Mohon maaf, ternyata terlihat di sikap saya ya. Memalukan sekali."
"Itu tidak masalah...... ada masalah apa?"
"Bukan soal pekerjaan, melainkan masalah keluarga saya...... tapi tidak bisa dibilang sama sekali tidak berhubungan dengan Yang Mulia Putri Anisphia, jadi saya bingung apakah benar menceritakannya pada Anda."
"Keluarga? Ada masalah dengan keluarga Baron Cyan......?"
"Melihat reaksi Anda, sepertinya Lainie juga belum menyampaikan apa pun pada Yang Mulia Putri Anisphia. Kalau begitu, rasanya tidak pantas jika saya yang menyampaikannya......"
"Ah...... kalau Lainie sih memang sepertinya bakal diam saja."
Lainie anak yang sangat rendah hati dan punya rasa tanggung jawab tinggi. Jadi sangat wajar jika dia berpikir tidak ingin merepotkan kami dengan urusan keluarganya.
Tapi masalah keluarga Baron Cyan yang berhubungan denganku itu apa ya? Aku tidak bisa membayangkannya.
"Nanti aku akan bilang kalau aku yang memaksamu cerita, jadi bisakah kamu ceritakan?"
"......Anu, Yang Mulia Putri Anisphia. Apakah sebaiknya kami meninggalkan ruangan?"
Halphys menatap wajahku dan Baron Cyan bergantian dengan takut-takut.
Memang aku juga tidak tahu apakah masalah keluarga Baron Cyan boleh didengar oleh Halphys dan yang lainnya.
Saat aku menatap Baron Cyan untuk meminta konfirmasi, dia menggelengkan kepala ke kiri dan kanan.
"Kalau boleh, saya harap kalian juga mendengarkannya. Karena ada kemungkinan bencana yang sama akan menimpa kalian."
"Bencana......?"
"......Saat ini, keluarga kami dibanjiri tawaran pertunangan untuk Lainie."
"Ya? Tawaran pertunangan?"
Aku membelalakkan mata mendengar cerita yang tak terduga. Halphys dan Gakkun juga bengong. Tapi Baron Cyan yang mengungkapkannya justru mengerutkan wajah dengan ekspresi susah.
"Saya rasa Anda sudah tahu bahwa saat ini Lainie sering muncul di Kementerian Sihir sebagai sekretaris Yang Mulia Putri Euphilia. Di sana banyak orang yang jatuh hati pada Lainie...... setidaknya begitulah pengakuan mereka, tapi mungkin yang serius hanya sekitar tiga puluh persen, sisanya tujuh puluh persen punya motif tersembunyi."
"Ah...... benar juga, aku benar-benar lupa kalau masalah seperti itu bisa muncul."
Tanpa sadar aku menepuk jidat dan mengerang. Memang benar aku pernah dengar dari Euphie kalau popularitas Lainie diam-diam sedang naik daun.
Pada dasarnya, Lainie anak yang sopan, serius, dan ramah. Ditambah lagi dia sangat pandai menyelami hati orang dengan memanfaatkan kemampuan vampirnya. Di bidang itu, dia punya kemampuan yang sangat praktis sampai bisa dibilang curang, dan dia menggunakannya dengan didukung kepribadiannya.
Perilakunya itu berperan seperti penyegar suasana di Kementerian Sihir. Orang-orang yang ingin menjalin hubungan dengan Euphie tapi ragu karena posisi atau hubungan denganku, kini jadi lebih sering berkomunikasi berkat rekomendasi atau perantara Lainie.
Di balik layar, kemampuan intervensi mental vampir milik Lainie sangat berguna. Meski disebut intervensi, itu hanya sekadar membaca emosi yang muncul di permukaan, tapi respons tulus dan penuh kebaikan yang didasari hal itu membuat banyak orang luluh, dan suasana secara keseluruhan jadi lebih cair.
Tentu saja, orang-orang yang bermusuhan atau punya niat jahat sudah dijauhkan secara halus sejak awal. Katanya ada juga yang mencoba mendekat secara paksa, tapi Euphie menanganinya dengan tegas.
Aku dengar hasilnya berjalan lancar. Tapi mendengar laporan Baron Cyan, mungkin efeknya justru terlalu berlebihan.
"Berbeda denganku dan Euphie, Lainie adalah putri Baron, apalagi bangsawan yang naik dari rakyat biasa. Bagi keluarga yang ingin mendekati kami, dia adalah mangsa empuk ya......"
"Jika sesama keluarga Baron, atau setara dengan keluarga Viscount yang merupakan keluarga istri saya, kami masih bisa menolaknya. Tapi kalau sudah tingkat Earl atau Marquis......"
"Ada yang datang?"
"Ya...... bahkan banyak surat yang datang."
"Banyak surat. Wah, tapi kalau dibilang jatuh hati di Kementerian Sihir, di sana memang banyak bangsawan tinggi, jadi wajar saja ya......"
Itu sulit ditangani oleh Baron Cyan, atau bisa dibilang hampir mustahil. Menolak tawaran bangsawan tinggi dengan sembarangan hanya akan membawa masa depan yang merepotkan.
"Lainie juga bilang dia ingin bekerja sebagai pelayan dan tidak berniat bertunangan untuk saat ini. Jadi kami harus menolak pihak sana, tapi jika terjadi perselisihan dengan bangsawan tinggi, kami tidak bisa menanganinya. Karena itu meski berat hati, saya pikir tidak ada cara lain selain meminjam kekuatan Yang Mulia Putri sekalian."
"Benar, itu respons yang tepat."
Kalau Baron Cyan bilang tidak bisa menolak karena posisinya rendah, wajar kalau mengandalkan kami. Justru itu sangat membantu kami, tapi......
"Hanya saja sepertinya Lainie merasa tidak enak hati. Dia minta agar hal ini dirahasiakan dulu dari Yang Mulia Putri sekalian karena dia sendiri yang akan menyampaikannya......"
"Kalau ini lamaran pribadi, memang masalah Lainie. Tapi kalau tujuannya untuk mengambil hati aku dan Euphie, ini bukan lagi masalah pribadi atau keluarga saja. Aku malah berharap diberitahu lebih cepat."
"Mohon maaf......"
"Nanti aku yang akan memarahi Lainie. Bilang saja dia terlalu sungkan padahal sudah sejauh ini."
Kalau kami ikut campur dalam tawaran pertunangan Lainie, pasti orang-orang di sekitar akan bicara macam-macam. Kurasa Lainie memikirkan hal itu sehingga tidak bisa mengatakannya sendiri.
Tapi pernikahan Lainie bukan hanya masalah antar faksi, tapi juga masalah Lainie sendiri dan masalah kami.
Jujur saja, sulit rasanya membayangkan Lainie yang menyembunyikan identitas vampirnya bisa menikah secara normal.
Justru karena itulah, aku berharap Lainie mau mengandalkan kami. Rasa tanggung jawab yang terlalu kuat juga merepotkan ya. Pasti bercampur dengan rasa bersalah dan trauma juga.
"Baron Cyan, alasan Anda menceritakan ini pada kami juga adalah......"
"Saya dengar Tuan Gark belum punya tunangan, dan Nona Halphys juga...... belakangan ini, saya sering mendengar pembicaraan semacam itu, jadi saya lancang merasa khawatir."
Mendengar ucapan Baron Cyan, wajah Halphys terlihat muram.
"......Terima kasih atas perhatian Anda."
"Halphys juga ada masalah?"
"Sejak dulu saya disarankan untuk membatalkan pertunangan dengan Tuan Marion. Keluarga Earl Anti sekarang memiliki kekuatan di dalam Kementerian Sihir, jadi banyak orang yang ingin menjalin hubungan meski bukan dengan pewaris utama."
Mendengar cerita Halphys, aku menepuk jidat dan menghela napas panjang.
Aku juga paham kalau bagi bangsawan, hubungan antar keluarga itu penting. Aku tahu ada keluarga yang menikah hanya berdasarkan kontrak tanpa melibatkan perasaan.
Tapi kalau sudah berlebihan, apalagi terjadi di sekitarku, aku tidak bisa menahannya. Terlebih jika itu melahirkan orang yang bersedih.
"Halphys, kalau ada masalah, kamu juga boleh konsultasi padaku lho?"
"Terima kasih, Yang Mulia Putri Anisphia. Jika benar-benar terjadi situasi yang tidak bisa saya tangani sendiri, saya akan berkonsultasi. Tapi kemungkinan besar tidak apa-apa......"
Halphys mengucapkan terima kasih sambil menurunkan alisnya dengan canggung. Aku hanya bisa memasang ekspresi yang sulit dijelaskan menanggapi jawabannya.
* * *
"Lainie, merahasiakan sesuatu itu boleh, tapi ada hal-hal yang tidak boleh dirahasiakan lho?"
Malam itu, begitu selesai makan di istana terpisah dan masuk waktu bersantai, aku langsung mengatakannya pada Lainie.
Lainie membeku mendengar ucapanku, dan Euphie serta Ilia menatap Lainie dengan curiga.
"Anu, Nona Anis, bicara soal apa ya......?"
"Hari ini aku bertemu Baron Cyan."
"......Ayah."
Terdengar gumaman pelan seperti erangan, "Dia cerita ya...". Lainie menundukkan kepala sambil menutupi mata dengan satu tangan.
"Kamu pikir bisa menanganinya sendiri? Kalau begitu aku cuma bisa bilang kamu bodoh. Pasti kamu menundanya karena tidak ingin merepotkan kami, kan?"
"Ugh......"
"Anis? Ada apa dengan Lainie?"
"......Euphie, belakangan ini kamu sering bersama Lainie, ada yang berubah tidak?"
"......Tidak, tidak ada yang terpikirkan."
"Bagaimana dengan reaksi orang sekitar terhadap Lainie?"
"Sepertinya makin banyak orang yang membuka hati. Suasana Kementerian Sihir juga jadi lebih cerah...... ah."
Euphie berhenti bicara, berkedip seolah menyadari sesuatu, lalu mengerutkan alis dengan susah payah. Dia memijat pangkal hidungnya yang berkerut lalu menghela napas panjang.
"......Saya lupa. Jadi begitu ya."
"......Ah. Jangan-jangan ada tawaran pertunangan yang datang?"
Saat Ilia yang juga menyadarinya bertanya pada Lainie, Lainie memalingkan muka ke arah lain dan terdiam.
"Aku dengar tawaran datang dari Earl dan Marquis juga lho? Mana mungkin Baron Cyan bisa menolaknya? Kalau salah langkah bisa ribut lho?"
"......Saya mengerti. Tapi......"
"Kalau kamu berpikir bisa bicara langsung dengan orangnya sendiri, itu juga tidak boleh lho? Mereka tahu kalau mengganggu Lainie, aku dan Euphie akan bergerak, tapi kemungkinan terburuk bisa saja terjadi."
Orang yang terdesak, atau orang yang terlalu percaya diri, kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Kalau aku yang bilang sih tidak meyakinkan, jadi tidak kuucapkan.
"Lainie, tolong lebih sadar diri. Tidak boleh terjadi apa-apa padamu. Kekuatanmu itu sangat penting. Selain itu, aku juga mengkhawatirkan dirimu. Kalau Lainie kesulitan, kami akan membantu sekuat tenaga. Karena kami menyayangimu."
"Benar. Kalau tidak ada Lainie, mungkin kami tidak akan berkumpul seperti ini, dan yang lebih penting, saya sedih kalau tidak diandalkan. Bukankah kamu sendiri yang menawarkan diri menemani saya karena ingin membantu kami?"
"Itu...... saya ingin membalas budi...... tapi malah merepotkan......"
"Itu namanya terlalu sungkan, Lainie. Bukankah kita sama-sama saling membantu?"
"Saya jadi berpikir jangan-jangan saya membebani Lainie karena ketidakmampuan saya. Jadi, masalah selevel ini tidak perlu dipikirkan."
"Nona Anis...... Nona Euphilia......"
Mendengar kata-kata kami, mata Lainie berkaca-kaca. Dia mencoba menghapusnya dengan jari, tapi air mata terus mengalir.
"Kalau ada satu saja yang kurang, hubungan kita sekarang tidak akan ada. Memang tidak semua hal yang terjadi sampai hari ini itu benar, tapi termasuk kesalahan pun, itulah yang membentuk masa kini. Tidak ingin merepotkan orang sekitar itu bagus, tapi aku ingin kamu juga menghargai perasaan kami yang menyayangimu."
"......Baik."
"Maaf kami tidak menyadarinya lebih cepat. Pasti berat ya, tidak bisa menyelesaikannya sendiri tapi juga tidak bisa mengatakannya pada kami?"
Lainie menggelengkan kepala ke kiri dan kanan sambil terus sesenggukan. Meski agak jauh, aku tahu napasnya gemetar. Dia pasti berusaha menahan isak tangis yang hampir keluar.
Setelah menunggu Lainie tenang, aku kembali membuka pembicaraan.
"Lainie, sampaikan pada Baron Cyan untuk bilang bahwa tawaran pertunangan ditolak karena aku dan Euphie ingin menahanmu sebagai pelayan di istana terpisah. Lalu untuk tawaran dari bangsawan tinggi yang sepertinya tidak bisa ditolak sendiri, alihkan ke sini biar kami yang membalas."
"Mohon maaf...... akan saya sampaikan pada Ayah......"
"Tidak apa-apa, kami juga salah karena lalai mengambil langkah pencegahan padahal sudah menduganya."
"Benar. Mengingat posisinya, dia mangsa yang empuk, dan yang terpenting Lainie kan manis."
"Nona, Nona Euphilia?"
Saat Lainie menatap Euphie dengan wajah merah dan panik, Euphie tertawa kecil. Menyadari dirinya digoda, Lainie menggembungkan pipi dan menatap Euphie dengan tatapan protes.
Melihat mereka berdua yang begitu akrab membuatku tersenyum. Mengingat awal pertemuan mereka, bisa akrab sampai begini sudah seperti keajaiban.
Tapi, saat aku tidak sengaja mengalihkan pandangan, sosok Ilia tertangkap mataku. Ilia menatap Lainie dengan pandangan kosong.
Merasakan aura Ilia yang sulit dijelaskan dan tampak rapuh itu, aku mengerutkan alis.
(Hmm, situasi ini bikin cemas dalam berbagai hal. Mungkin sebaiknya memikirkan langkah antisipasi. Tapi, walaupun mau antisipasi, perasaan Lainie yang paling penting...... harus bagaimana ya.)
Meski aku dan Euphie berusaha melindungi Lainie, pasti akan ada orang yang mencoba mengganggu. Ini bukan solusi mendasar, jadi itu adalah kemungkinan yang bisa diperkirakan.
Sebenarnya ada cara dengan mencari seseorang yang bisa diceritakan soal keadaan Lainie dan melakukan pertunangan palsu, tapi Lainie pasti tidak mau.
Kuharap tidak terjadi apa-apa, tapi sepertinya tidak akan begitu. Memikirkan kerepotan di masa depan, aku menghela napas pelan.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar