Featured Image

Tenten Kakumei V4 C2

Metoya Februari 15, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Garis Batas yang Saling Ditarik

"Selamat pagi, Yang Mulia Putri Anisphia."

"Selamat paagi."

"Selamat datang, Halphys, Gakkun. Selamat datang di istana terpisah."

Sehari setelah Halphys dan Gakkun mulai bertugas sebagai pelayan pribadiku, aku mengundang mereka berdua ke istana terpisah.

Mengingat masa depan, mereka berdua perlu mengetahui lebih banyak tentang ilmu sihir (Magology). Karena belum ada pekerjaan yang diminta oleh Duke Grantz, aku memanggil mereka untuk memperlihatkan alat-alat sihir secara langsung.

"Aku perkenalkan ya. Ini Ilia dan Lainie, pelayan yang melayaniku dan Euphie di istana terpisah. Kupikir Halphys setidaknya tahu wajah Lainie, kan."

"Seperti yang diperkenalkan, nama saya Ilia. Mohon bantuannya mulai sekarang."

"Saya Lainie. Jika ada keperluan, jangan sungkan untuk mengatakannya."

Bersamaan dengan perkenalanku, Ilia dan Lainie membungkuk hormat dengan sopan secara bersamaan. Aku merasa sedikit bangga melihat Lainie yang kini tak kalah anggun saat bersanding dengan Ilia.

"Aku... ah, bukan. Saya Gark Lampe dari Pasukan Pengawal Kerajaan."

"Saya juga dari Pasukan Pengawal Kerajaan, Halphys Nebels."

Gakkun sempat keceplosan memakai bahasa santai sejenak, tapi dia berhasil menyelesaikan salamnya layaknya seorang ksatria. Halphys juga membalas hormat dengan sopan, lalu mengarahkan pandangannya pada Lainie.

"Kita satu angkatan di Akademi Bangsawan, tapi saya tidak punya kesempatan untuk berbicara dengan Anda ya, Nona Lainie."

"...Tidak. Mengingat perilaku saya saat itu, wajar jika tidak terjalin hubungan apa pun. Sekali lagi, saya mohon maaf."

"Tidak perlu meminta maaf. Saya hanya berpikir alangkah baiknya jika kita bisa berteman karena satu angkatan. Mengingat kesulitan saat itu, Nona Lainie pasti juga mengalami masa sulit. Saya senang melihat Anda tampak sehat."

"Terima kasih, Nona Halphys."

Lainie menundukkan kepala pada Halphys dengan ekspresi sedikit canggung. Meski masih kaku, aku berharap mereka bisa berteman baik. Setelah selesai memperkenalkan Ilia dan Lainie, aku memandu Halphys dan Gakkun menuju laboratorium penelitian.

"Inikah ruang penelitian Yang Mulia Putri Anisphia...!"

Halphys berseru dengan suara yang menyiratkan kegembiraan saat memandang sekeliling ruang penelitian di istana terpisah. Di sebelahnya, Gark juga menatap sekeliling dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

"Di sinilah Yang Mulia Putri Anisphia melakukan penelitian ilmu sihir dan pengembangan alat sihir, ya."

"Banyak juga yang kupesan ke bengkel di kota bawah, tapi untuk yang bisa dibuat di sini, aku rakit sendiri. Sekarang karena sedang disuplai ke Pasukan Pengawal Kerajaan, banyak barang yang sedang keluar sih."

Aku mempersilakan mereka duduk, lalu menyeduh teh sambil mendemonstrasikan penggunaan teko penghangat—alat yang bisa dibilang paling sering digunakan di istana terpisah. Halphys sempat panik dan merasa sungkan karena aku yang menyiapkan teh, tapi aku minta dia tidak mempedulikan hal-hal kecil.

"Ini bagus ya. Kalau ada ini saat ekspedisi atau kegiatan luar ruangan, pasti praktis."

"Aku juga sangat terbantu dengan ini waktu masih aktif sebagai petualang."

"Kalau beraktivitas di luar, menyalakan api itu repot. Apalagi kalau ekspedisi di musim hujan, parah sekali."

Gakkun memandangi teko penghangat itu dengan kagum. Halphys juga mengangguk berkali-kali mendengar ucapan Gakkun.

Teko penghangat adalah alat sihir yang paling mudah digunakan dan punya kegunaan luas, jadi ini yang paling sering digunakan saat memperkenalkan alat sihir.

"Pola ukiran pada teko ini menggunakan cat yang terbuat dari bahan baku batu roh, dan fungsinya sama dengan rapalan mantra dalam sihir."

"Jadi begitu, untuk memproses ini diperlukan keahlian pengrajin ya. Memproduksi massal teko penghangat saja sepertinya bisa menciptakan lapangan kerja bagi para pengrajin, bukan?"

"Aku akan senang kalau bisa begitu. Hanya saja karena menggunakan batu roh api, sepertinya akan berdampak pada rumah tangga yang menggunakannya untuk perapian atau pemantik api. Kalau diproduksi dalam jumlah banyak, aku khawatir jumlah batu rohnya akan cukup atau tidak. Kalau harganya melambung tinggi juga bakal merepotkan."

"Artinya jika alat sihir menyebar, ada kemungkinan hal itu mempengaruhi konsumsi batu roh yang selama ini digunakan dalam kehidupan sehari-hari ya..."

"Menurutku tidak akan sampai terjadi kondisi 'tidak laku sama sekali' karena ini praktis. Justru aku lebih takut kalau terlalu laku. Karena cara hidup akan berubah drastis. Selama ini posisiku juga begitu, jadi baik sukses maupun gagal, aku tidak bisa mengambil tanggung jawab. Itulah salah satu alasan kenapa aku menunda penyebaran alat sihir."

Dasar pemikiran alat sihir berasal dari pengetahuan kehidupan sebelumnya. Pengetahuan dari dunia yang maju tanpa sihir; jika dibandingkan dengan standar hidup saat ini, kehidupan sebelumnya jelas jauh lebih praktis.

Alat sihir yang berasal dari pengetahuan dunia lain itu membawa dampak yang cukup merangsang di kehidupan sekarang. Itu adalah hal yang sudah sangat jelas sejak aku menggunakannya secara pribadi.

Teko penghangat yang bisa menjaga suhu air panas tanpa api, Mana Blade yang bisa dibawa-bawa dan bernilai tinggi sebagai senjata pertahanan diri. Serta berbagai alat sihir terbang yang berpotensi menjungkirbalikkan sarana transportasi yang ada selama ini.

Mengingat kembali alat-alat sihir yang ada saja, dampaknya pada masyarakat sudah terlalu besar.

"Apakah itu berarti apa yang dilakukan Nona Anisphia akan menjadi sesuatu yang sehebat itu!"

"Tidak, kurasa, tidak, juga sih... mungkin..."

Gakkun mengatakannya dengan nada kagum, tapi, yah, itu agak berlebihan. Pasti begitu. Kesannya aku seperti selalu membuat keributan setiap saat, kan?

"Benarkah begitu? Bukankah semua alat sihir itu adalah benda-benda yang bisa menerbangkan semua akal sehat yang ada selama ini?"

"Makanya selama ini aku menahan diri untuk menyebarkannya, dan meminta Pasukan Pengawal Kerajaan melakukan verifikasi sebagai persiapan awal, Gakkun."

"Nona Anisphia ini nekat atau hati-hati, aku jadi tidak paham..."

"Bagian nekatnya nekat, bagian hati-hatinya hati-hati. Artinya mengambil sisi baiknya saja."

"Itu bagus!"

Aku ikut tertawa melihat Gakkun yang tertawa lepas seolah berkata itu hal yang menyenangkan.

Mengingat perbedaan status, mungkin ini hal yang tidak sopan, tapi aku lebih terbiasa dengan suasana seperti ini. Meski Halphys terlihat menghela napas seolah ingin protes.

"Kalau bicara serius, selama ini aku mengabaikan pergaulan sosial dan tugas pemerintahan, jadi meski aku tahu kehidupan dan keadaan rakyat jelata, aku buta soal keadaan bangsawan. Yang menggerakkan politik sebenarnya adalah bangsawan, kan? Meski tahu apa yang diinginkan rakyat, aku tidak paham cara menggerakkan pihak atas."

"Ah... itu, memang benar."

Halphys mengiyakan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Mungkin karena dia menyadari bahwa hubunganku dengan bangsawan birokrat yang menggerakkan politik tidaklah baik.

Bangsawan birokrat kebanyakan berasal dari keluarga bergelar tinggi karena mereka bekerja di Kementerian Sihir atau memiliki hubungan erat dengan tempat itu.

Keluarga bergelar tinggi cenderung menghasilkan kaum elit dan cenderung mengabdikan diri pada kepercayaan Roh. Karena tingginya gelar dan besarnya keluarga sering kali berkaitan dengan kekuatan finansial, mereka bisa memberikan upaya lebih dalam pendidikan.

Jika wawasan semakin dalam, pemahaman terhadap kepercayaan Roh pun semakin dalam secara alami. Semakin taat sebuah keluarga pada kepercayaan Roh, semakin menyebalkan keberadaanku bagi mereka.

Bagaimanapun, aku adalah putri yang tidak bisa menggunakan sihir dan tidak menjalankan tugas sebagai keluarga kerajaan.

"Aku tidak berpikir keadaan ini baik, tapi bukan berarti ada yang bisa kulakukan. Sebagai faksi, Duke Grantz sudah menjadi pendukungku."

"Bangsawan militer... kebanyakan adalah bangsawan daerah atau bangsawan bergelar rendah ya."

"Duke Grantz membuat kesempatan kuliah alat sihir sebagai persiapan awal, kurasa itu juga karena beliau menyesuaikan denganku. Kalau bangsawan daerah, justru jaraknya lebih dekat denganku, atau lebih tepatnya ada titik temu."

"Anda kan pernah jadi petualang. Yah, tempat kami juga pernah berhutang budi."

"Tidak-tidak, aku juga. Karena itu, meminta persetujuan rakyat atau mengajak mereka bekerja sama sepertinya bisa dilakukan. Tapi pada akhirnya, untuk melakukan ini, tidak akan bisa jalan kalau persetujuan dari atas tidak turun."

Dulu aku berada dalam posisi bisa bernegosiasi langsung dengan Ayahanda, dan aku hanya menyebarkan alat sihir di sekitarku saja. Jadi bisa dibilang aku diizinkan, atau setidaknya dibiarkan sampai batas tertentu.

Tapi ke depannya tidak bisa begitu lagi. Baik Ayahanda, Duke Grantz, maupun Euphie yang menargetkan menjadi Ratu, berharap alat sihir menyebar ke seluruh negeri.

Menyebarkan alat sihir ke seluruh negeri tidak mungkin kulakukan sendirian bagaimanapun caranya. Karena itu aku meminjam kekuatan orang yang mampu. Tapi aku tidak ingin hanya terus meminjam. Yang kutuju adalah saling membantu.

"Aku merasa kita butuh sesuatu yang bisa disebarkan dengan sedikit lebih mudah."

"Maksudnya dengan alat sihir, begitu?"

"Ya. Alat sihir yang kubuat memang praktis, tapi orang yang tidak benar-benar menggunakannya tidak akan paham nilainya."

"Ah, kalau teko penghangat mungkin masih oke, tapi Mana Blade dan semacamnya mungkin begitu ya."

"Aku sadar pengetahuanku sangat bias, jadi aku ingin Halphys yang merupakan nona bangsawan sejati memberiku berbagai saran."

"Jika itu bisa membantu Yang Mulia Putri Anisphia, saya akan berusaha sekuat tenaga."

Halphys menjawab dengan meletakkan tangan di dada sambil memasang ekspresi penuh tekad. Sosok yang sangat bisa diandalkan. Kami yang ada di istana terpisah ini punya sisi yang buta terhadap akal sehat bangsawan pada umumnya. Euphie berasal dari keluarga Duke, Lainie mantan rakyat biasa, dan Ilia sudah meninggalkan rumah keluarganya.

Mungkin cara bilangnya agak kasar, tapi pendapat dari sudut pandang mereka berdua yang berada di lapisan menengah bangsawan atau di bawahnya sangatlah berharga. Membuat alat sihir menjadi lebih baik dari sekarang itu sudah tentu, tapi kalau boleh mengubah kata-katanya sedikit, kurasa peran alat sihir juga untuk mengisi kekurangan yang ada.

"Pada akhirnya, yang kurang adalah kartu as untuk meyakinkan pihak atas..."

"Kartu as untuk meyakinkan ya..."

"Ujung-ujungnya, yang bisa kulakukan cuma terpikir soal pengembangan alat sihir. Alat sihir yang ada sekarang mungkin diinginkan rakyat, tapi bukan sesuatu yang diinginkan oleh pihak atas, kan."

"Teko penghangat atau Mana Blade mungkin diinginkan oleh ordo ksatria atau petualang, tapi orang yang jago sihir pasti tidak butuh ya."

"Masih banyak orang yang meragukan alat sihir. Saya pikir penilaian mulai berubah sejak presentasi alat sihir terbang..."

Sampai di situ, Halphys menempelkan jari di bibirnya, mengerutkan alis seolah sedang memikirkan sesuatu yang sulit. Suara yang keluar selanjutnya pun terdengar berat.

"...Tidak, meski begitu mungkin masih sulit dijadikan kartu as untuk meyakinkan. Alat sihir terbang memang sangat merangsang dan punya efek promosi, tapi konsepnya terlalu baru."

"Hm? Aku tidak terlalu paham... maksudnya, itu tidak bisa dipakai?"

Menanggapi Gakkun yang bertanya sambil memiringkan kepala, Halphys menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan ekspresi sulit.

"'Alat sihir terbang' sudah cukup menunjukkan nilainya, jadi itu bagus. Tapi, misalnya kalau mau menyebarkan teko penghangat, diperkirakan peran batu roh api yang digunakan di setiap rumah tangga akan berubah drastis. Tadi Yang Mulia Putri Anisphia bilang menunda penyebaran karena tidak bisa mengambil tanggung jawab, tapi jika penyebaran benar-benar dimulai dan timbul masalah, menurutmu siapa yang akan menanganinya?"

"Siapa ya... karena yang membuat alat sihir adalah Nona Anisphia, jadi Nona Anisphia?"

"Tentu saja, kalau bicaranya soal menyempurnakan alat sihir, maka Yang Mulia Putri Anisphia yang akan bertanggung jawab. Tapi masalah yang dimaksud di sini, gampangnya adalah saat timbul kerugian."

"Kerugian?"

"Alat sihir tersebar. Tapi muncul kerugian. Di situ, entah mau kembali ke kehidupan semula, atau menyebarkan ulang barang yang sudah disempurnakan, negara harus bergerak. Dan kalau negara bergerak, berarti orang dan dana juga bergerak. Tuan Gark, sampai sini paham?"

"O-oh. Sampai situ aku masih agak paham."

"Kalau pasti sukses, siapa pun akan berinvestasi. Dan alat sihir terbang sudah menunjukkan kesuksesan. Tapi, itu konsep yang terlalu baru, dan untung-ruginya belum jelas."

"...O-oh?"

"...Kamu tidak apa-apa?"

Gakkun tampak seperti mau mengeluarkan asap dari kepalanya mendengar penjelasan Halphys. Sambil tersenyum kecut melihat keadaannya, aku menambahkan penjelasan untuk melengkapi.

"Sebagai contoh, anggaplah kita coba menyebarkan alat sihir terbang. Tapi ternyata sering terjadi kecelakaan, muncul kerugian, nanti jadi timbul pertanyaan 'benarkah ini aman untuk disebarkan?', kan?"

"...Benar juga. Entah mau tetap menyebarkan atau tidak, artinya perlu dilakukan sesuatu, kan?"

"Tapi, itu butuh uang. Alat sihir terbang belum terlihat jelas kerugiannya meski gagal, jadi kita bisa membawanya ke arah 'coba dulu saja'. Skenario terburuknya, kalau gagal ya pengembangannya dihentikan saja, selesai."

"Alat sihir terbang adalah sesuatu yang belum ada presedennya. Bisa dibilang 'ayo dicoba', karena kalaupun gagal, sesuatu yang tadinya tidak ada hanya akan kembali tidak ada. Tapi baik teko penghangat maupun Mana Blade, jika ada kemungkinan menggantikan atau bersaing dengan barang yang sudah ada, pasti akan ditanggapi dengan enggan. Karena kerugian saat gagal terlihat jelas."

"Itu karena perubahan ini mungkin akan membuat sebagian orang merugi. Misalnya, kalau Mana Blade tersebar dan pedang biasa jadi tidak laku, pandai besi akan susah, kan?"

"...Itu memang bikin susah pandai besi."

"Tapi, tiba-tiba muncul masalah pada Mana Blade dan akhirnya orang ingin pedang biasa dijual lagi. Tapi pandai besi sudah gulung tikar, dan jumlah pandai besi jadi kurang. Ada kemungkinan jadi begitu."

"...Itu akan jadi masalah yang sangat gawat."

Mendengar penjelasan kami, Gakkun mengerang sambil mengerutkan alisnya dengan susah payah. Lalu dia melontarkan pertanyaan sambil memiringkan kepala.

"...Jadi intinya apa? Mereka tidak mau berubah karena tidak mau rugi?"

"Tidak mau rugi, dan tidak mau melakukan perjudian yang mungkin akan merugi, itu mungkin lebih tepat? Jadi, daripada dibilang alat sihir sudah diakui, lebih tepatnya baru alat sihir terbang yang diakui."

"Kalau menyangkut nasib sendiri, itu hal yang wajar. Sering dikatakan bahwa atasanlah yang mengambil tanggung jawab... tapi bukan berarti ada banyak orang yang suka rela ingin mengambil tanggung jawab."

"Tapi, kalau begitu bukannya tidak akan ada yang berubah selamanya? Artinya cuma mau menyebarkan yang pasti sukses saja, kan? Tapi kenyataannya teko penghangat dan semacamnya sudah dibuat dan digunakan seperti ini, kalau rakyat jelata tahu ini praktis, bukannya mereka bakal jadi ingin?"

"...Benar. Tapi karena tidak berubah itulah, menurut saya Kerajaan Palettia sampai di titik ini dengan membawa berbagai masalah."

"...Begitu ya, begitu maksudnya. Ternyata begitu..."

Gakkun bersedekap seolah paham, lalu mengangguk berkali-kali dengan ekspresi serius. Halphys menghela napas seolah lelah.

Kenyataannya, negara ini terus berlanjut sampai hari ini tanpa berubah. Tapi kalau ditanya apakah akan terus berlanjut, jawabannya tidak. Kudeta yang terjadi di zaman Ayahanda, dan keributan pembatalan pertunangan yang dibuat Al-kun sudah membuktikannya.

"Kalau mau mengubah keadaan sekarang, jalannya secara garis besar ada dua. Mengubahnya sedikit demi sedikit dengan sabar, atau melakukan reformasi dengan siap berjudi."

"Penyebaran alat sihir itu berarti jadi perjudian?"

"Kalau tetap seperti sekarang, ya."

Jika Euphie tidak menjadi Tuan Putri, aku tidak punya pilihan selain melakukan perjudian itu. Kalau itu terjadi, negara pasti akan kacau. Lagipula, kemungkinan itu belum sepenuhnya hilang.

Karena itu yang harus kulakukan adalah meyakinkan orang-orang di sekitar dengan sabar. Hanya saja, aku tidak punya kartu as untuk meyakinkan mereka. Inilah masalahnya.

"Aku sedang memikirkan apakah ada ide bagus..."

"...Kalau begitu, bagaimana kalau kita coba pergi melihat-lihat ke arsip Kementerian Sihir?"

"Arsip Kementerian Sihir?"

"Ya. Di sana tersimpan laporan dari setiap wilayah. Dengan melihat catatan masa lalu, saya rasa kita bisa menyelidiki alat sihir seperti apa yang cocok untuk disebarkan."

"Uuun... memang benar sih... tapi arsip Kementerian Sihir ya..."

Waktu kecil sepertinya aku pernah masuk, tapi sejak berselisih, aku tidak pernah mampir lagi ke Kementerian Sihir. Itu sudah seperti wilayah musuh.

Tapi ucapan Halphys masuk akal. Yang kurang dariku saat ini adalah pengetahuan dan ide, mencari informasi untuk mengisi kekurangan itu adalah tindakan yang benar. Masalahnya hanyalah tempat yang kemungkinan memiliki informasi itu adalah wilayah kekuasaan Kementerian Sihir yang punya hubungan buruk denganku.

"...Anda tetap tidak berminat?"

"...Mengingat masa lalu sih. Tapi, aku tidak boleh bilang begitu terus, ya."

Situasinya sudah berubah dibanding dulu, dan aku tidak bisa terus-terusan menyeret masa lalu.

Lagipula aku bukan mau menyerbu masuk untuk melakukan sesuatu, aku cuma mau mencari data. Aku tidak melakukan hal buruk.

"Kalau begitu ayo kita pergi mengintip. Apa yang harus dicari ya... pertama dari jumlah penambangan batu roh mungkin. Lalu frekuensi penggunaan dan kegunaannya, kalau bisa tahu distribusi dan perbandingan tiap wilayah akan bagus, tapi mencari semuanya dalam sekali jalan sepertinya mustahil. Pertama kumpulkan data dan lengkapi informasinya..."

"...Anu, Nona Anisphia."

"Hm? Ada apa Gakkun. Wajahmu pucat sekali."

"Itu, jangan-jangan aku juga harus bantu?"

"Eh?"

Gakkun mengeluarkan keringat dingin, tapi aku membalasnya dengan senyuman lebar.

"Ayo, berjuang ya. Halphys, Gakkun!"

"Uwoooooh, mimpi buruk zaman Akademi Bangsawan bangkit kembaliii! Tumpukan tugasnyaaa!"

"Hahaha, aku tidak pernah masuk Akademi Bangsawan jadi aku tidak tahu apa-apa tuh."

Aku mulai berjalan menuju Kementerian Sihir sambil menyeret Gakkun yang enggan. Rasanya aku mendengar helaan napas Halphys yang mengejar dari belakang, tapi anggap saja itu cuma perasaanku!

* * *

Arsip di bawah naungan Kementerian Sihir itu sangat besar. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejarah yang telah dibangun Kerajaan Palettia selama ini tersimpan utuh di sini.

Sebagian dibuka untuk umum seperti perpustakaan, tapi itu pun hanya sebagian kecil. Aku pernah dengar bahwa di area yang hanya bisa dimasuki pegawai, tersimpan dokumen penting dan buku-buku yang dilarang.

Saat mengunjungi salah satu bagian arsip yang terbuka untuk umum, tatapan tidak sopan menghujam ke arahku. Terjadi kegaduhan, dan orang-orang yang berada di jalur kami menyingkir seolah ketakutan. Meski tidak ingin tahu, aku sadar orang-orang yang menjauh itu sedang berbisik-bisik.

"...Rasanya tidak enak ya."

"Mau bagaimana lagi."

Gakkun berbisik padaku dengan suara pelan. Suaranya terdengar agak kesal. Aku sudah menduganya, tapi diperlakukan seperti ini secara nyata tetap saja tidak menyenangkan.

"Pertama kita harus memastikan apakah data yang kita cari ada di bagian ini atau tidak, kan? Ayo tanya ke resepsionis."

"Biar saya yang memeriksanya, Yang Mulia Putri Anisphia tolong tunggu di sini."

"Kalau begitu aku minta tolong ya? Kami menunggu di sini. Kalau bergerak sembarangan sepertinya bakal mengganggu."

"Baik. Saya akan segera kembali."

Halphys berjalan cepat menuju meja resepsionis. Sementara itu, aku dan Gakkun jadi bengong menunggu. Jumlah tatapan sama sekali tidak berkurang, dan saat kami berhenti melangkah, bisik-bisik di sekitar terdengar secara alami.

"Yah. Jelas banget kita tidak disambut ya ini. Malah jadi ingin tertawa."

"...Benar juga."

"Gakkun jangan ikutan jadi sinis dong. Bikin keributan di sini itu dilarang keras lho."

"Aku tahu kok, soal itu. Cuma..."

"...Cuma? Apa?"

"...Aku cuma kembali disadarkan kalau perlakuan terhadap Anda itu buruk. Bikin muak..."

Gakkun memancarkan aura seolah ingin berdecak lidah kapan saja. Mata cokelat tuanya yang biasanya sipit seperti garis kini sedikit terbuka dan memelototi sekitar.

Berpikir bahwa dia marah demi aku, rasanya punggungku jadi gatal. Untuk menutupinya, aku menepuk-nepuk punggung Gakkun dengan keras.

"Jangan dipikirkan. Aku juga punya sisi yang harus diintrospeksi, jadi sama saja."

"...Aduh, sakit tahu? Bukannya nepuknya kekencengan?"

"Perasaanmu saja, perasaanmu saja!"

Mungkin karena semangatnya teralihkan oleh interaksiku, suasana mencekam dari Gakkun mereda.

Hampir bersamaan dengan Gakkun yang sudah tenang sepenuhnya, terdengar suara yang akrab di telinga.

"Anis? Anda datang ke sini?"

"Euphie."

Yang datang menghampiri adalah Euphie. Di tangannya ada buku yang didekap. Dan di belakang Euphie ada seorang pria berambut cokelat tua yang mengikutinya. Seorang pemuda yang tampak pendiam dan serius.

"Aku berpikir mau mencari data sebentar... ah, Euphie. Orang ini adalah Gakkun yang waktu itu kubilang jadi pelayan pribadiku."

"Tolong perkenalkan dengan nama asli dong!? Ehem, nama saya Gark Lampe."

"Saya sudah dengar ceritanya dari Anis. Mungkin akan ada banyak hal yang merepotkan, tapi mohon bantuannya ya."

Euphie membalas salam Gakkun dengan senyuman lembut. Gakkun tampak gugup, gerak-geriknya jadi tidak tenang.

Melihat Gakkun yang seperti itu, pemuda di belakang Euphie tertawa kecil. Seketika Gakkun melotot tajam ke arah pemuda itu.

"...Jangan ketawa, Marion."

"Maaf, Gark. Aku cuma khawatir kau terlalu tegang karena akhirnya bisa mewujudkan impian yang kau idamkan, jangan tersinggung ya."

"Tidak usah bilang yang tidak perlu!"

"...Gakkun, kenalan?"

"Saya terlambat memperkenalkan diri, Yang Mulia Putri Anisphia. Nama saya Marion Anti."

"Marion Anti... dari keluarga Earl Anti? Kalau begitu, tunangannya Halphys?"

"Ya. Halphys sudah banyak merepotkan Anda."

Marion membungkuk hormat dengan sopan sambil mendekap buku. Jadi orang ini tunangannya Halphys. Kalau disandingkan dengan Halphys, rasanya seperti pasangan ketua kelas.

"Saya satu angkatan dengan Gark di Akademi Bangsawan."

"Ah, jadi hubungannya begitu. Aku juga membawa Halphys ke sini, tapi dia sedang minta tolong resepsionis untuk memeriksa ketersediaan data..."

"...Begitu ya."

Hah, Euphie menghela napas yang terdengar agak sendu. Marion juga memasang senyum ambigu yang nyaris menjadi senyum kecut. Melihat keadaan mereka berdua, aku mengerutkan alis.

"...Jangan-jangan, lebih baik aku tidak datang ke sini?"

Menanggapi pertanyaanku, Euphie memasang ekspresi bingung harus menjelaskan bagaimana. Saat Euphie hendak membuka mulut setelah jeda sejenak, ada seseorang yang memanggilku lebih dulu.

"Permisi, Yang Mulia Putri Anisphia. Boleh minta waktunya sebentar?"

"...Lang?"

Orang yang berdiri di sana adalah orang yang tak terduga. Lang Voltaire, salah satu elit yang namanya tercatat di Kementerian Sihir, si kacamata pintar yang selalu memberikan kritik pedas padaku.

Hari ini pun dia memasang ekspresi yang tampak neurotik. Tidak, wajahnya terlihat 20 persen lebih garang dari biasanya.

Kupikir dia datang mau menyindir lagi, tapi di sebelahnya ada Halphys yang tampak bingung. Halphys sedikit membelalak saat menyadari keberadaan Marion, lalu mengangguk ringan. Sambil melirik keadaan itu, aku kembali menghadap Lang.

"Ada perlu apa denganku?"

"Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan mengenai keperluan Anda, jadi saya datang untuk menjelaskan. Bisakah kita bicara lebih detail di ruangan lain? Di sini banyak mata."

"...Benar juga."

Tidak mungkin bisa bicara di tempat yang dipenuhi tatapan tidak sopan begini. Aku tidak tahu apa yang ingin dibicarakan Lang, tapi tidak mendengarkan juga bukan pilihan.

"Kalau begitu silakan lewat sini. Yang Mulia Putri Euphilia, saya permisi dulu."

"...Ya, selamat bertugas. Lang."

"Kata-kata yang berlebihan. Marion, aku andalkan sisanya padamu."

Euphie yang disapa Lang tampak seperti agak berat hati saat pergi bersama Marion. Saat beranjak pergi, aku melihat Marion menepuk bahu Halphys dengan lembut.

Halphys juga tersenyum pada Marion dan mengangguk. Sambil merasa sedikit terhibur dengan pemandangan itu, aku kembali menghadap Lang.

Lang mengangguk sekali lalu membawa kami pindah dari arsip ke salah satu ruang tamu. Di tengah jalan, sambil menginstruksikan pelayan untuk menyiapkan teh, Lang mempersilakan kami duduk.

"Silakan duduk. Teh akan segera disiapkan."

"Aku ke sini bukan untuk minum teh sih... ceritanya panjang?"

"Tidak, saya rasa tidak akan lama. Berbicara berputar-putar pada Anda hanya akan membuang waktu. Sebelum teh datang, bolehkah saya langsung ke pokok permasalahan?"

"Silakan."

"Terima kasih. ...Pertama sebagai premis, Anda tahu bahwa sebagian arsip istana kerajaan dibuka untuk umum, bukan? Ini dibuka agar putra-putri yang belum cukup umur masuk Akademi Bangsawan, serta mereka yang bekerja sebagai pelayan di istana, bisa mendapatkan kesempatan belajar."

"Itu pengetahuan umum yang aku juga tahu, kan?"

Di antara pelayan dan dayang yang bekerja di istana kerajaan, ada yang bekerja sebagai bentuk pengabdian dari keluarga mereka.

Pengabdian ini juga mengandung arti sebagai tindakan penyelamatan bagi mereka yang ingin masuk Akademi Bangsawan tapi kekurangan biaya, dan tujuannya agar para pelajar yang kesulitan itu bisa belajar mandiri.

Dari situ jumlah pengguna bertambah, dan menjadi seperti perpustakaan saat ini. Karena itu aku juga pernah masuk waktu kecil, dan tempat ini populer di kalangan bangsawan yang suka membaca atau anak-anak kecil.

"Benar. Karena itu tidak ada batasan apa pun bagi Yang Mulia Putri Anisphia untuk mengunjungi arsip dan membaca buku. Namun yang ingin saya sampaikan adalah, data yang Yang Mulia Putri Anisphia cari tidak ada di bagian yang terbuka untuk umum."

"Begitu. ...Kamu tidak menyiapkan tempat ini cuma untuk bilang itu, kan?"

"Benar, ini juga masih premis."

"Jangan bertele-tele, Lang. Kamu mau aku melakukan apa?"

"Kalau begitu, singkatnya. Saya datang untuk memohon agar Anda menahan diri untuk tidak menggunakan arsip secara langsung untuk sementara waktu."

Lang menatapku lurus-lurus saat mengatakannya. Tanpa sadar aku menyipitkan mata, tapi yang bereaksi lebih dariku adalah Halphys dan Gakkun.

"Tuan Lang! Apa yang Anda katakan!?"

"Kenapa Yang Mulia Putri Anisphia harus menahan diri? Saya minta penjelasan yang masuk akal. Memangnya wewenang apa yang Anda punya untuk mengajukan hal seperti itu!"

"Ya ya, kalian berdua tenanglah."

Sambil menahan dua orang yang emosi itu, aku kembali mengarahkan pandangan pada Lang.

"...Ada alasannya, kan? Yah, aneh kalau dibilang tidak ada. Bagaimanapun hubungan saya dengan Kementerian Sihir itu sangat buruk. Karena hubungan itu?"

"Pertama saya ingin meluruskan kesalahpahaman, saya tidak memiliki wewenang untuk menghalangi penggunaan arsip oleh Yang Mulia Putri Anisphia. Saya hanya sekadar memohon."

"Artinya tidak ada daya paksa. Tapi Lang tidak ingin aku menggunakan arsip sekarang. Kenapa? Aku bukan Gakkun, tapi aku ingin mendengar alasan Lang."

Aku bertanya sambil mengamati sikap Lang. Lang menutup mulut sejenak, menghela napas berat, lalu mulai berbicara.

"Posisi Kepala Kementerian Sihir sedang kosong setelah kejahatan Earl Chartreuse yang merupakan kepala sebelumnya terbongkar. Sekarang mantan kepala sebelumnya yang menjadi pelaksana tugas, tapi belum bisa dikatakan situasi sudah terkendali sepenuhnya."

"Itu sih aku sudah dengar sekilas, tapi apa hubungannya dengan aku yang sebaiknya menahan diri?"

"Kementerian Sihir saat ini sangat gelisah. Terbongkarnya korupsi kepala kementerian, kejutan alat sihir terbang yang Anda presentasikan, Yang Mulia Putri Euphilia yang diadopsi keluarga kerajaan... dan, yang paling mengejutkan adalah—kebenaran Kontrak Roh."

Lang menatapku lurus sambil melontarkan kata-kata yang sarat akan emosi rumit.

Kebenaran Kontrak Roh telah diberitahukan Euphie kepada para bangsawan. Kontrak Roh adalah menyatukan diri dengan roh yang bersemayam di dalam diri, mengubah diri menjadi roh.

Tubuh menjadi abadi, dan jiwa berubah. Keterikatan untuk mempertahankan tubuh fisik menipis, dan akhirnya membuang tubuh fisik. Eksistensi yang membuang tubuh fisik itulah yang di masa lalu kita sebut sebagai Roh Agung.

Pengumuman ini membawa guncangan dan kebingungan besar bagi para bangsawan. Ini adalah peristiwa besar yang bisa menggoyahkan fondasi kepercayaan Roh. Di antara mereka, yang paling terdampak adalah para bangsawan yang berhubungan erat dengan Kementerian Sihir.

Ujung dari tujuan mereka yang memuja Roh sebagai sesuatu yang mutlak, ternyata adalah manusia yang telah berubah wujud. Hal itu menyebarkan riak seperti batu yang dilempar ke permukaan air.

Kekacauan ini sudah diprediksi. Karena itu tentu ada pemikiran untuk menahan pengumumannya. Tapi yang bersikeras mengumumkan kebenaran itu tidak lain adalah Euphie sendiri, yang telah menjadi Kontraktor Roh.

Menyelesaikan Kontrak Roh bukanlah hal mudah. Meski kebenarannya tersebar, tidak mungkin Kontraktor Roh akan langsung bermunculan. Justru Euphie berpikir tidak baik membiarkan kepercayaan Roh seperti sekarang tanpa mengetahui kebenarannya.

Aku paham bahwa Euphie akan kesulitan jika dielu-elukan tanpa orang-orang tahu apa-apa padahal dia telah mencapai prestasi hebat berupa Kontrak Roh.

Tapi kebenaran Kontrak Roh adalah obat keras. Karena itulah Euphie sendiri yang terjun ke Kementerian Sihir, tempat yang diprediksi akan mengalami kekacauan terbesar, untuk memegang kendali.

Jadi aku sudah tahu tanpa diberitahu bahwa Kementerian Sihir sedang gelisah, tapi melihat sikap Lang, sepertinya situasinya lebih buruk dari yang kuduga.

Di sini, semua orang terdiam sehingga keheningan yang berat meluas. Aku benar-benar merasa bersalah pada pelayan yang membawakan teh di saat seperti ini.

Setelah meminum teh untuk menetralkan suasana, aku kembali menghadap Lang.

"Aku mengerti situasinya, tapi aku masih belum melihat hubungannya dengan permintaannmu agar aku menahan diri menggunakan arsip?"

"Saat ini, banyak orang yang bekerja di Kementerian Sihir terdesak secara mental. Kecemasan akan hari esok, rasa tidak percaya pada sandaran hati karena goyahnya iman, dan posisi diri sendiri... banyak yang memendam ketakutan akan kehilangan segalanya. Akibat Yang Mulia Putri Anisphia, dan pengumuman Yang Mulia Putri Euphilia."

"...Terdesak, ya."

Mendengar ucapan Lang, aku memasang ekspresi yang sulit dijelaskan sambil menggaruk pipi.

Meski dibilang begitu, yang muncul di hatiku adalah kesan dingin: 'masa bodoh'.

"Kedengarannya seperti kalian khawatir dengan posisi kalian yang selama ini menindasku, karena sekarang posisiku jadi lebih baik."

"Meski ditafsirkan seperti itu, kami tidak bisa menyangkal apa pun. Karena itulah saya tidak ingin Yang Mulia Putri Anisphia berurusan dengan Kementerian Sihir. Anda pasti tahu bahayanya menyiksa binatang yang sedang terluka."

"...Sebegitu terdesaknya?"

"Akan saya jawab sampai pada taraf Yang Mulia Putri Euphilia pun kesulitan mengendalikannya."

Itu jawaban yang cukup untuk memahami bahwa situasinya lebih buruk dari dugaan. Sambil memijat pangkal hidung dengan jari, aku menghela napas panjang. Di situ Lang menambahkan kata-katanya.

"Saya pun punya pendapat sendiri mengenai situasi ini. Di atas itu, saya tidak tahu bagaimana rangsangan yang tidak perlu akan memperburuk keadaan. Ada orang-orang yang tidak tahu apa yang akan mereka perbuat karena terlalu terdesak. Jika Yang Mulia Putri Anisphia tidak menginginkan kami mengamuk, mohon pengertiannya."

"...Kalau didengar-dengar, bukannya itu cuma alasan sepihak kalian?"

Sebelum aku sempat bicara apa-apa, yang bereaksi adalah Gakkun yang menunggu di belakang.

"Nona Anisphia tidak melakukan apa-apa, kan? Lagipula minta izin lihat data itu hal yang biasa diminta departemen lain. Bagaimana bisa masuk akal kalau cuma Nona Anisphia yang tidak diizinkan?"

"Ga, Tuan Gark!"

Seolah tak tahan lagi, Gakkun memelototi Lang dengan mata yang sedikit terbuka. Meski Halphys mencoba menahan, Gakkun memancarkan aura seolah akan menyambar kerah baju Lang kapan saja.

Lang melirik Gakkun sekilas, lalu perlahan bangkit dari kursi. Kemudian dia datang ke hadapanku, berlutut, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Aku pun terkejut sampai membelalakkan mata.

"Seperti yang Anda katakan, saya pun sadar ini tidak masuk akal. Karena itu ini bukan paksaan, melainkan murni permohonan dari saya. Untuk saat ini, tolong tahan diri untuk tidak berhubungan dengan Kementerian Sihir. Jika butuh data, saya akan meluangkan tenaga untuk mengirimkannya ke istana terpisah di kemudian hari. Tolong sampaikan permintaan itu melalui seseorang, dan jangan datang langsung ke sini."

Melihat Lang sampai berlutut dan menundukkan kepala, Gakkun tidak bisa berkata apa-apa lagi dan memanyunkan bibirnya dengan ekspresi rumit.

"...Lang. Aku mengerti apa yang ingin kau sampaikan. Aku juga tidak menginginkan kekacauan di Kementerian Sihir. Jadi aku pikir aku bisa menerimanya."

"...Terima kasih."

"Hanya saja aku tidak bisa menerimanya dengan lega. ...Yang selama ini menindasku adalah kalian, kan."

"...Saya tidak menyangkal."

"Tapi, aku juga tidak bersikap supaya diakui oleh kalian. Jadi mari kita saling mengalah di sini. Aku tidak bermaksud memperburuk hubungan dengan kalian lebih dari ini. Itu bukan keinginanku. Kalau kau bilang akan mencarikan informasinya, mari kita akhiri pembicaraan ini. Angkat kepalamu."

Saat aku berkata begitu, Lang perlahan berdiri. Wajah datar yang seolah mematikan emosi, aku tidak mengenal Lang cukup dalam untuk bisa menebak isi hatinya dari ekspresi itu. Dan sekarang bukanlah saatnya mencoba untuk tahu.

"Kamu sudah dengar poin-poin yang perlu diselidiki dari Halphys, kan? Kalau mencari semua cakupannya berat, boleh dipilihkan yang direkomendasikan pustakawan. Kalau kurang nanti aku minta tambahan."

"Baik, saya mengerti."

"Kalau begitu, aku segera pergi ya. Ayo, Halphys, Gakkun."

Saat aku memanggil mereka berdua, mereka mengangguk dengan ekspresi yang masih terlihat rumit.

Sebelum kami keluar, Lang yang menatap kami tertangkap oleh pandanganku. Mungkin lebih baik aku diam saja, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya.

"Lang."

"...Ada apa?"

"Jika seandainya kau bisa melakukan Kontrak Roh, apakah kau ingin menggapainya? Meskipun harus berhenti menjadi manusia."

Lang tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya menatap balik diriku dalam diam. Aku melanjutkan kata-kataku tanpa menunggu jawaban Lang.

"Kamu tidak langsung menjawab ya. Tapi, ya. Kalau kamu langsung menjawab, aku mungkin bakal bingung."

"...Yang Mulia Putri Anisphia."

"Tidak apa-apa. Pasti itu juga benar. Apa yang Lang percayai selama ini juga tidak salah. Fakta bahwa perasaan dan harapan itu telah melindungi Kerajaan Palettia adalah kenyataan. Tapi, maaf ya."

Hatiku terasa keruh. Berderit, dan menjerit. ...Rasa sakit yang selama ini kuabaikan. Rasa sakit yang disadarkan. Suara hati yang selama ini ingin kuucapkan.

"──Aku tidak bisa menggunakan sihir meskipun bergantung pada tradisi. Aku tidak punya bakat sihir sedikit pun. Karena itu aku tidak bisa hidup di dunia yang menyuruhku menyerah."

Apakah suaraku bergetar? Kekhawatiran itu muncul, tapi kata-kata tidak mau berhenti.

"Tidak ada yang mau mengakuiku. Tidak ada yang mau mempercayaiku. Dibuang, dicaci maki, bahkan dianggap tidak bernilai, hidup dalam kondisi seperti itu sama saja dengan penyiksaan. Apa lebih baik aku mati saja? Apa tidak ada yang akan menderita kalau aku tidak dilahirkan?"

Kepalan tanganku gemetar. Aku menghela napas seolah menenangkan hati yang hampir meledak. Bukan ingin memaki, bukan ingin melukai. Tetap saja tidak bisa dihentikan. Aku hanya ingin berteriak dari lubuk hatiku.

Terus, terus, apa yang selama ini kutahan merembes keluar. Aku tahu, ini cuma pelampiasan. Meski begitu, ini adalah hal yang ingin kukatakan padanya, pada mereka semua sejak lama.

"Sekarang, apa yang kalian takutkan dariku. Kalianlah yang menyangkal hal itu. Kalau begitu, andai kalian menyangkalnya sampai akhir, aku tidak perlu segalau ini. Andai kalian bisa membuangku dengan alasan kita tidak bisa saling memahami, pasti lebih mudah. ...Kenapa sekarang? Kenapa baru sekarang kalian bilang begitu?"

Lang tidak menjawab apa pun. Dia menatapku tanpa mengalihkan pandangan. Mungkin baru kali ini aku ditatap selurus ini. Pasti, karena selama ini aku bahkan tidak bernilai untuk terpantul di matanya.

"Aku tahu tidak ada gunanya bilang begini. Aku harus melampaui ganjalan hati ini. Tapi ada batasnya. ...Lang."

Sebisa mungkin agar suara tidak bergetar. Meski berpikir begitu, getaran suara tidak bisa ditahan sepenuhnya.

"──Sampai kapan aku harus terus disangkal oleh kalian?"

Beritahu aku, kalau mau menolak, beritahu aku. Jangan cuma menolak, tolong mengertilah. Kalau tidak mau mengerti, ya sudahlah. Aku tidak tahu, tidak tahu apa-apa. Tidak mau lihat. Tidak mau dengar. Semuanya, semuanya, aku tidak mau menanggungnya lagi.

Luka yang dibongkar Euphie terasa sakit. Sakit, tapi aku tetap mengangkat wajah. Bukan cuma aku sendiri lagi yang menanggung rasa sakit luka ini. Karena itu aku bisa menatap ke depan.

"...Aku berniat untuk mendekat. Kalau itu mustahil, pilihannya cuma bertarung. Kalau bisa aku berharap ada jalan di mana kita tidak saling bertarung. Maaf sudah melampiaskan emosi."

"...Tidak."

Lang hanya mengatakan itu, dan tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya. Aku pun meninggalkan ruang tamu seolah memunggungi Lang.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar