Featured Image

Tenten Kakumei V4 C1

Metoya Februari 15, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Menyambut Rekan Baru

"Selamat pagi, Duke Grantz."

"Selamat pagi, Yang Mulia Putri Anisphia."

Aku mengunjungi ruang kerja Duke Grantz yang berada di dalam istana kerajaan. Karena belakangan ini aku hampir selalu bekerja bersama Duke Grantz, aku sudah terbiasa dengan hal ini.

Jabatan Duke Grantz adalah Perdana Menteri. Terus terang saja, beban kerjanya tidak wajar. Setelah mulai bekerja bersama, aku jadi sadar betul bahwa Ayahanda dan Duke Grantz bekerja sangat keras sampai rasanya kepala bisa pecah. Dalam artian tertentu, tidak heran jika mereka disebut menelantarkan keluarga.

Aku dengar Ibunda sudah mundur dari jabatannya sebagai diplomat untuk membantu Ayahanda, jadi beban mereka sedikit berkurang. Tapi tetap saja, merelakan hari libur sudah menjadi hal yang lumrah bagi mereka. Ini benar-benar lingkungan kerja rodi yang tidak sehat, aku jadi khawatir dengan kesehatan mereka.

Meskipun terlambat, aku kembali menyadari betapa banyaknya beban pikiran yang kuberikan pada mereka. Fakta bahwa Ayahanda terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya pasti karena beban pikiran yang bertumpuk-tumpuk. Aku benar-benar minta maaf.

...Di sisi lain, Duke Grantz yang sama sekali tidak terlihat menua dan tidak menunjukkan rasa lelah itu benar-benar seperti monster yang menakjubkan. Euphie juga begitu, apakah keluarga Duke Magenta itu sebenarnya keturunan manusia super?

"Jadi Duke Grantz, apa jadwal hari ini? Apa ada jadwal kuliah saya lagi?"

"Tidak, hari ini tidak ada jadwal kuliah, dan tidak ada jadwal peninjauan juga. Pada kuliah sebelumnya, informasi untuk ksatria daerah secara garis besar sudah tersebar merata."

"Ah, begitu ya. Kalau begitu apa yang sebaiknya saya lakukan?"

"Karena pekerjaan yang mendesak sudah tidak ada, pekerjaan utamanya adalah pemilihan alat sihir yang akan disebarluaskan dan uji coba operasionalnya. Jika ada ide pengembangan baru, Anda boleh memprioritaskan hal itu."

"Boleh begitu?"

"Saat ini, tidak ada masalah yang mengharuskan Yang Mulia Putri Anisphia untuk turun tangan. Sosialisasi sudah selesai, tapi penyebaran alat sihir yang sebenarnya masih butuh waktu lama. Verifikasi alat sihir sedang ditangani oleh sebagian Pasukan Pengawal Kerajaan, namun ini juga memakan waktu. Memang perlu bagi Yang Mulia Putri Anisphia untuk menelitinya, tapi belum saatnya."

"Hah... begitu ya."

"Setelah penyebaran dimulai, pekerjaan mungkin akan bertambah, tapi untuk saat ini Anda boleh memprioritaskan pengembangan. Jika Anda mengkhawatirkan urusan pemerintahan, itu adalah tanggung jawab Yang Mulia Putri Euphilia."

Mendengar Duke Grantz menyebut "Yang Mulia Putri Euphilia", aku memasang ekspresi yang ambigu.

Sejak Euphie diadopsi dan memutus hubungan dengan keluarga Duke Magenta, Duke Grantz mulai memanggil Euphie dengan sebutan Tuan Putri.

Aku tidak bisa berkata apa-apa melihat mereka berdua yang secara menyeluruh tidak bersikap sebagai ayah dan anak, melainkan memegang teguh posisi sebagai Tuan Putri dan vasal. Rasanya aku kagum tapi juga agak heran, dan timbul sedikit rasa bersalah.

Hanya saja, karena aku pernah melihat Euphie berdecak lidah pada Duke Grantz setelah hubungan mereka menjadi seperti sekarang, aku merasa hubungan mereka justru menjadi lebih sehat. Saat baru datang ke istana terpisah, Euphie terlihat seperti menganggap ajaran Duke Grantz adalah hal yang mutlak.

Jika begitu, hubungan saat ini di mana mereka bisa berbenturan secara langsung dan saling mengasah kemampuan mungkin lebih baik. Tapi karena Duke Grantz sepertinya sering memberikan tugas sulit pada Euphie, aku berharap dia bisa sedikit berbelas kasih. Kenapa? Karena dampak ketidakpuasan Euphie itu lari ke aku!

"Sekian pembicaraan mengenai rencana ke depan, namun pada kesempatan ini saya ingin menempatkan seseorang di sisi Yang Mulia Putri Anisphia."

"Ya? Maksudnya Anda akan memberikan bawahan sebagai asisten saya?"

"Benar. Mempertimbangkan penyebaran di masa depan, akan lebih baik jika ada lebih banyak orang yang bisa memahami pemikiran Yang Mulia Putri Anisphia. Sebagai langkah awal, ada dua orang yang ingin saya rekomendasikan. Karena merangkap sebagai pengawal, mereka adalah orang yang dikirim dari ordo ksatria."

"Kiriman dari ordo ksatria... Ah, selain sebagai asisten dan pengawal, ini juga untuk antisipasi pengajaran penggunaan alat sihir?"

"Saat ini Pasukan Pengawal Kerajaan memegang peran tersebut dengan menerima pengajaran langsung dari Yang Mulia Putri Anisphia, namun suatu saat nanti akan dibutuhkan tenaga ahli yang bisa mengemban tugas pengajaran secara khusus."

"Aku juga ingin mengembangkan alat sihir, jadi tidak bisa terus-terusan mengajar saja ya."

Belakangan ini aku sibuk mondar-mandir mempersiapkan penyebaran alat sihir yang sudah ada, jadi aku tidak punya waktu untuk membuat alat sihir baru, dan tenaga kerja seperti itu pasti akan makin dibutuhkan ke depannya. Kalau personel itu disiapkan dengan pertimbangan tersebut, aku tentu saja ingin menerimanya dengan senang hati.

"Saya sudah memanggil mereka ke sini, bolehkah saya minta Anda menemui mereka?"

"Ya, silakan."

Setelah aku menyetujui, Duke Grantz membunyikan lonceng untuk memberi isyarat. Tak lama kemudian, dua orang masuk ke dalam ruangan.

Salah satunya adalah seorang gadis dengan rambut cokelat terang yang dikepang. Warna matanya biru jernih, dan entah kenapa dia memberikan kesan seperti seorang ketua kelas. Kacamata yang dipakainya mungkin menjadi salah satu faktor yang membuatnya terlihat seperti itu.

Satu orang lagi adalah seorang pemuda bertubuh kekar dan terlatih. Rambut hitamnya dipotong pendek rapi, dan dia memiliki mata sipit yang sulit dibedakan apakah sedang terbuka atau tertutup. Kalau diperhatikan baik-baik, warna matanya cokelat tua, dan wajahnya mengingatkanku pada patung Buddha dari kehidupan sebelumnya.

Gadis itu baru pertama kali kulihat, tapi pemuda yang tampak seperti ksatria berwajah Buddha itu sepertinya tidak asing. Saat aku memiringkan kepala kebingungan, kedua orang itu membungkuk hormat dalam-dalam.

"Senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya, Yang Mulia Putri Anisphia. Nama saya Halphys Nebels. Saya putri dari keluarga Viscount Nebels."

"Saya Gark Lampe! Saya tergabung sebagai anggota magang Pasukan Pengawal Kerajaan!"

Gadis yang bernama Halphys menyapa dengan sopan layaknya seorang nona bangsawan, sedangkan pemuda bernama Gark menyapa dengan wajah sedikit tegang. Mendengar nama itu, aku teringat sesuatu dan memukul telapak tanganku dengan kepalan tangan.

"Kupikir wajah siapa yang pernah kulihat, ternyata Gakkun!"

Pemuda yang kupanggil Gakkun ini kutemui saat aku masih aktif sebagai petualang.

Aku berpartisipasi dalam latihan lapangan gabungan antara ordo ksatria dan petualang yang diadakan di wilayah Baron Lampe, dan saat itulah kami bertemu. Waktu itu Gakkun masih magang di ordo ksatria keluarganya.

"Gakkun... Sa-saya merasa terhormat Anda mengingatnya..."

"Sudah berapa tahun ya? Eh, anggota Pasukan Pengawal Kerajaan? Bagaimana dengan ordo ksatria keluargamu?"

"Saat ini saya bermaksud memperluas wawasan di Pasukan Pengawal Kerajaan. Kali ini, saya merasa sangat terhormat dipilih menjadi pelayan pribadi Putri Anisphia."

"Oh begitu. Aku jadi sedikit kaget."

"Menyambung tali silaturahmi memang hal yang sangat baik, tapi bolehkah saya menjelaskan terlebih dahulu? Yang Mulia Putri Anisphia."

"Ups. Maaf, Duke Grantz. Silakan."

Aku jadi tak sengaja menyimpang dari pembicaraan karena bertemu kenalan lama. Aku kembali membetulkan posisi dudukku.

"Kalau begitu. Mulai sekarang saya harap Anda bisa menempatkan Halphys Nebels dan Gark Lampe di sisi Anda. Halphys adalah pegawai sipil magang yang ditempatkan di Pasukan Pengawal Kerajaan, dan Gark juga masih ksatria magang, namun mereka adalah orang-orang yang bisa diharapkan di masa depan. Saya memilih mereka dengan mempertimbangkan kecocokan dengan Yang Mulia Putri Anisphia, jadi saya rasa tidak akan ada masalah."

"Saya akan berusaha semampu saya. Mohon bimbingannya."

Setelah mengucapkan sepatah kata, Halphys menatapku dengan antusias. Tatapan itu begitu menyilaukan seolah sedang melihat idola, sampai-sampai membuatku ingin sedikit memundurkan badan. Baru kali ini aku mendapatkan tatapan penuh kekaguman yang begitu besar dari seorang nona bangsawan.

"Kalau begitu, sekali lagi. Aku Anisphia Wynn Palettia. Mohon bantuannya mulai sekarang."

Saat aku mengajak bersalaman, mereka berdua menjabat tanganku dengan agak tegang. Seolah telah memperhitungkan selesainya perkenalan diri, Duke Grantz berbicara.

"Kalau begitu Yang Mulia Putri Anisphia, sekian dari saya. Jika jadwal selanjutnya sudah diputuskan, saya akan mengirim utusan, jadi sampai saat itu silakan habiskan waktu Anda dengan bebas."

"Baiklah. Kalau begitu hari ini aku ingin mempererat hubungan dengan dua orang ini. Kalau ada apa-apa, tolong segera hubungi aku."

Setelah memastikan Duke Grantz mengangguk, aku membawa dua orang itu meninggalkan ruang kerja.

"Nah, ayo kita bicara di tempat yang agak tenang."

"Baik. Sesuai keinginan Yang Mulia Putri Anisphia."

Halphys menjawab dengan sikap yang masih belum sepenuhnya rileks. Aku ingin kami cepat akrab supaya dia bisa lebih santai. Gakkun juga terlihat tegang, tapi tidak sekaku Halphys.

Aku bertanya pada pelayan istana apakah ada tempat yang enak untuk mengobrol, dan mereka menyarankan taman dalam. Sambil meminta disiapkan teh, kami pun pindah tempat.

Taman dalam istana kerajaan juga merupakan tempat istirahat bagi orang-orang yang bekerja di istana. Di taman dalam itu ada satu area yang sangat mewah, dan tempat ini diperlakukan hampir khusus untuk keluarga kerajaan.

Saat Ibunda masih menjabat sebagai diplomat, sesekali beliau kembali dan memanggilku ke sini untuk menceramahiku, pikirku sambil menerawang jauh. Bagi Halphys dan Gakkun yang biasanya tidak punya kesempatan masuk ke sini, tempat ini terasa sangat agung dan membuat segan.

"...Duduk dulu saja."

"P-permisi."

Gakkun dengan sigap menarikkan kursi untuk kami. Tepat setelah Gakkun duduk paling akhir, teh yang kupesan datang. Aku senang karena ada sedikit kue pendamping teh juga.

"Sekali lagi salam kenal, ya? Kalian berdua. Pertama-tama kita bicara soal apa ya?"

"Saya baru pertama kali bertemu Anda, tapi apakah Anda sudah kenal dengan Tuan Gark?"

"Saat aku masih aktif sebagai petualang, aku pernah beraksi bersama Ordo Ksatria Lampe. Halphys dan Gakkun bertemu setelah masuk ordo ksatria?"

"Bukan, saya sudah berteman sedikit dengan Tuan Gark sejak dulu. Dia satu angkatan dengan tunangan saya di Akademi Bangsawan."

"Oh, jadi yang benar-benar baru pertama kali bertemu itu cuma aku dan Halphys ya. Kalau begitu santai saja. Aku tidak terlalu suka suasana kaku, dan aku ingin kita bisa akrab dalam berbagai hal."

"Y-ya..."

"Meskipun kamu terlalu sungkan, orangnya seperti ini lho? Halphys."

"T-Tuan Gark!"

Halphys sedikit panik melihat Gakkun yang langsung mengubah sikapnya menjadi santai.

Sambil menatap Gakkun yang seperti itu, aku tersenyum menyeringai.

"Dibandingkan sikap Gakkun saat pertama kali bertemu, ini sama sekali belum terhitung tidak sopan lho."

"Tunggu, tolong jangan terlalu mengungkit masa lalu dong! Nona Anisphia!"

"Kalau tidak salah 'Tuan Putri, kalau datang cuma buat main-main, pulang sana! Kami di sini tidak sedang main-main tahu!' ya?"

Saat aku menggali ingatan masa lalu dan mengingat ucapan Gakkun, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, gemetar dan kejang-kejang karena malu.

"Setelah itu, aku menghajarnya habis-habisan kan. Dibandingkan itu, ini masih jauh lebih baik."

"Benar-benar, soal itu, saya sudah insaf! Bisakah Anda tidak mengungkitnya lagi?"

Gakkun mengerang seperti mau menangis. Benar-benar cerita yang membuat nostalgia. Itu cerita saat namaku belum terkenal sebagai petualang, dan pertemuan kami diawali dengan dia yang memarahiku karena baru sadar aku seorang putri.

"Padahal cuma latihan gabungan, tapi malah bertepatan dengan serangan monster dan jadi pertempuran kacau balau. Di antara para magang, cuma Gakkun yang bisa bertarung dengan benar melawan monster, makanya aku ingat betul."

"...Sejak saat itu Nona Anisphia memang benar-benar hebat. Dulu saya berpikir suatu saat orang ini pasti akan mengubah negara, tapi ternyata kejadiannya malah lebih hebat dari dugaan saya."

Gakkun berkata begitu sambil menggaruk kepalanya dengan kasar. Terpancar jelas rasa sayang dan hormat dalam ucapannya, membuat rasa geli menjalar di punggungku.

"Benar sekali. Saya sudah lama ingin mendekatkan diri dengan Yang Mulia Putri Anisphia, dan saya senang akhirnya keinginan itu terwujud."

"Halphys juga. Memangnya kita pernah punya titik temu...?"

"Tidak ada titik temu langsung. Kalaupun ada, mungkin hanya sebatas saya satu angkatan dengan Yang Mulia Putri Euphilia dan Nona Lainie?"

"Lho, Halphys seangkatan sama Euphie dan Lainie?"

"Tidak ada hubungan lebih dari sekadar satu angkatan. Karena faksi saya berbeda dengan Yang Mulia Putri Euphilia, saya tidak pernah menyapa ataupun disapa. Sedangkan Nona Lainie, situasi saat itu kan begitu..."

"Ah, iya. Lainie ya... mau bagaimana lagi..."

Lainie saat zaman Akademi Bangsawan dikelilingi oleh Al-kun dan orang-orang merepotkan di sekitarnya, jadi wajar saja.

"Kalau beda faksi dengan Euphie, apa jangan-jangan faksi Kementerian Sihir?"

"Ya, benar begitu."

"Kalau begitu, bukannya tidak terlalu bagus kalau Halphys jadi pelayan pribadiku? Apa tidak apa-apa?"

"Meski disebut faksi Kementerian Sihir, kami adalah pihak netral. Dilihat dari sudut pandang Yang Mulia Putri Anisphia, kami adalah bangsawan yang bersikap oportunis..."

"Ah, maksudnya begitu ya."

Maksudnya faksi Kementerian Sihir yang bersikap masa bodoh terhadapku.

Yang membenciku terutama adalah kaum radikal di dalam Kementerian Sihir, dan kelompok ini yang paling besar. Sebaliknya, kaum minoritas adalah orang-orang yang menilai ilmu sihirku (Magology) layak dipertimbangkan.

Sisanya adalah kekuatan yang bersikap netral dan oportunis, membagi kementerian menjadi tiga. Perbandingan antara kaum radikal, netral, dan yang menoleransi kira-kira enam banding tiga banding satu.

"Presentasi alat sihir terbang adalah pemicu besarnya, tapi bahkan sebelum itu saya sudah ingin berkenalan dengan Yang Mulia Putri Anisphia."

"Sebelum presentasi? Kenapa?"

"Memalukan untuk diakui... kemampuan sihir saya tidak terlalu bagus. Tunangan saya bekerja di Kementerian Sihir, tapi itulah alasan kenapa saya menjadi pegawai sipil di Pasukan Pengawal Kerajaan."

"Pada dasarnya Kementerian Sihir dan Ordo Ksatria memang tidak akur sih..."

Halphys mengungkapkan keadaannya dengan ekspresi sedikit muram. Seolah mengiyakan, Gakkun menggumam pelan. Isi pembicaraan itu membuatku ikut memasang wajah masam.

Kementerian Sihir adalah kumpulan elit, tapi jarang turun ke lapangan. Dari sudut pandang Ordo Ksatria, mereka dianggap terlalu asyik berpolitik dan tidak mempedulikan lapangan.

Sebaliknya, pihak Kementerian Sihir sering meremehkan dan menganggap ksatria sebagai gonggongan pecundang yang tidak lolos seleksi ketat. Karena itu, Ordo Ksatria dan Kementerian Sihir sering tidak akur.

Di dalam Pasukan Pengawal Kerajaan tidak banyak orang yang bersikap begitu, tapi ksatria daerah cenderung membenci bangsawan birokrat di ibukota.

Aku menduga penyebabnya juga karena mereka dijauhkan dari politik akibat dampak kudeta yang terjadi di zaman Ayahanda. Pokoknya, dendamnya sudah mendarah daging.

"Mengenai sihir, karena saya tidak punya bakat, apa boleh buat. Tapi, saya pernah hampir merasa tidak percaya pada Roh karena keadaan yang tidak bisa diubah ini."

"...Halphys, itu."

"Saya tahu. Itu membuat saya gagal sebagai bangsawan Kerajaan Palettia. Tapi perasaan itu tetap tidak bisa hilang."

Ekspresi Halphys saat menceritakan hal itu terlihat sangat kesepian dan menyakitkan.

"Berkali-kali saya membaca buku pelajaran sihir dan literatur yang bisa dijadikan referensi. Saya memperbaiki kehidupan sehari-hari dan tidak pernah melewatkan doa pada Roh, saya berdoa lebih sungguh-sungguh dari sebelumnya. Meski begitu, hari-hari di mana tidak ada yang berubah terasa menyesakkan, dan rasanya sakit sekali. Karena tidak tahan, saya pernah berkonsultasi pada orang tua dan guru. Tapi, mereka semua mengatakan hal yang sama. Katanya itu karena doa saya tidak tulus. Selama saya masih menyimpan rasa tidak percaya, kemampuan sihir saya tidak akan meningkat..."

Perasaan Halphys yang tersampaikan dari pengakuannya membuatku merasa simpati sampai terasa sakit. Rasa sakit itu sama dengan rasa sakit yang kupendam selama bertahun-tahun.

Di Kerajaan Palettia di mana kemampuan sihir adalah nilai seorang bangsawan, aku tahu betul betapa menyakitkannya jika kemampuan itu tidak berkembang.

Betapa pun berdoa, betapa pun berharap. Aku juga mengerti perasaan ingin mengutuk kenyataan yang tidak berubah sedikit pun.

"Saya ingin berubah. Jika bisa, saya berpikir ingin menjadi seperti Anda walau sedikit saja. Hari itu, melihat sosok Yang Mulia Putri Anisphia menari bebas di langit, saya semakin tidak bisa menahan keinginan itu. Karena itu saya benar-benar senang bisa mendapatkan kesempatan ini."

Halphys yang tadi berwajah muram kini menatapku lurus dengan tatapan penuh tekad.

Semangat itu menggetarkan hatiku. Kalau aku lengah, rasanya air mata bisa tumpah. Anak yang merasakan sakit yang sama denganku, tetap berusaha melangkah menuju impiannya.

Karena itulah aku bertekad kuat. Aku ingin membantunya, aku tidak boleh mengabaikan antusiasme ini.

"Meskipun belajar ilmu sihir (Magology), bukan berarti kemampuan sihirmu akan meningkat, dan aku tidak tahu apakah itu akan mengarah pada harapanmu. Tapi, dengan mempertimbangkan hal itu, aku ingin membantu Halphys. Karena itu aku akan menjadi kekuatan bagi Halphys, dan aku ingin Halphys juga menjadi kekuatanku."

"Ya, mohon bantuannya!"

Halphys menjawab dengan lantang. Senyumannya benar-benar bisa diandalkan. Aku pun secara alami ikut tersenyum.

"Nilai sihirku juga tidak terlalu bagus. Meski tidak sebanding dengan Halphys, aku berniat menjalaninya dengan serius, jadi mohon bantuannya, Nona Anisphia."

"Ya, ya. Mohon bantuannya ya, Gakkun."

"...Dari tadi ingin kubilang, bisakah Anda memanggil namaku dengan normal!?"

"Eeh...? Habisnya Gakkun gampang dipanggil sih?"

"Perlakuan padaku kok rasanya agak sembarangan ya? Apa cuma perasaanku saja? Hei, Nona Anisphia!?"

Gakkun memprotes dengan nada tidak puas. Melihat interaksi kami, Halphys tersenyum, dan suara tawanya bergema pelan di taman dalam.

* * *

Malam itu, setelah selesai makan malam dan mandi, aku berbincang dengan Euphie di kamarku.

Sejak Euphie diadopsi dan menjadi Tuan Putri, dia jadi cukup sibuk. Karena waktu kami beraktivitas bersama berkurang, setidaknya untuk menutupi hal itu kami membuat waktu mengobrol di malam hari seperti ini, tapi...

"Jadi, menurutku anak bernama Halphys dan Gakkun itu ke depannya akan belajar banyak di sisiku, dan bisa menjadi batu loncatan untuk menyebarluaskan ilmu sihir."

"...Hee."

"...Euphie-san?"

Tanpa sadar aku memanggilnya dengan akhiran '-san'. Alasannya karena Euphie menatapku dengan ekspresi datar dan tatapan mata yang tidak memperlihatkan warna emosi. A-apa aku mengatakan sesuatu yang membuatnya bad mood!?

"Anda bersemangat sekali menceritakan soal anak bernama Halphys itu ya, saya tidak berpikir begitu lho?"

"Eh? Tidak, anu, Euphie-san?"

"Saya tidak berpikir begitu lho?"

"Kamu mengatakannya karena kamu berpikir begitu kan?"

"Saya tidak berpikir begitu lho?"

"...Cemburu ya?"

"Menurut Anis, bagaimana?"

Tiba-tiba, ucapan Tilty si teman burukku terngiang di otakku.

'Anak itu, kelihatannya saja kalem tapi sebenarnya lumayan pencemburu lho, hati-hati saja.'

Aku teringat dia yang mengatakan itu juga mulai menjaga jarak secara terang-terangan saat jarakku terlalu dekat dengannya.

Seketika rasa dingin merambat di punggungku. Saat aku dengan takut-takut kembali menatap Euphie, dia menatapku dengan senyuman yang jelas-jelas tidak sedang tertawa.

"Anu, bukan, bukan begitu, salah..."

"...Bercanda kok."

Hawa dingin lenyap, dan Euphie tersenyum seperti biasa. Apa benar cuma bercanda? Aku jadi menatap Euphie dengan tatapan curiga.

"Nona dari keluarga Viscount Nebels, dan satu angkatan dengan saya di Akademi Bangsawan, kan? Kalau begitu tunangannya adalah orang yang saya kenal juga."

"Begitu ya?"

"Dia orang yang sering bersikap baik pada saya di Kementerian Sihir. Putra bungsu keluarga Earl Anti."

"Ah, keluarga Earl Anti ya. Aku mengerti."

Keluarga Earl Anti adalah keluarga yang memegang jabatan menengah di Kementerian Sihir.

Mereka salah satu bangsawan berpengaruh di kubu netral, dan aku juga tahu kalau kepala keluarga serta putra sulungnya bekerja di Kementerian Sihir.

Aku pernah bertukar kata dengan mereka berdua, tapi aku ingat mereka adalah tipe orang yang tidak goyah meski didesak atau dibujuk.

"Orang-orang dari kubu radikal sudah kehilangan kekuatan, jadi kekuatan terbesar di Kementerian Sihir saat ini adalah kubu netral. Justru karena bukan musuh dan bukan teman, sulit untuk meyakinkan mereka."

"Bukan musuh dan bukan teman, ya."

Itu memang merepotkan. Kalau teman bisa diajak kompromi, kalau musuh tinggal pikirkan cara menghancurkannya. Tapi kalau mau menarik kubu netral menjadi teman, butuh alasan untuk membuat mereka berpindah haluan.

"Menghindari masalah kalau kebablasan akan jadi ketidakpedulian. Bisa dibilang karena bukan urusan sendiri, jadi tidak sepenuh hati... Saya kembali disadarkan akan hal itu dalam urusan yang berkaitan dengan Kementerian Sihir. Mereka terlalu terpaku pada tradisi."

"Terpaku pada tradisi berarti tidak ada lahan untuk menerima perubahan, ya..."

"Tepat sekali. Bisa dibilang hampir tidak ada sumber daya manusia untuk reformasi."

Tampaknya penguasaan Kementerian Sihir tidak berjalan mulus sampai-sampai Euphie ingin mengeluh.

Meski menjadi Kontraktor Roh dan disebut layak menjadi pemimpin tradisi Kerajaan Palettia yang diwariskan selama ini, Euphie berharap bisa menyebarluaskan ilmu sihir dan alat sihir yang kuusulkan sebagai angin baru.

Tapi, Kementerian Sihir bersikap pasif terhadap perubahan yang hendak kami bawa. Fakta bahwa mereka tidak bermusuhan justru menjadi bagian yang merepotkan.

Menolak perubahan, dan mengurung diri dalam cangkang karena tidak ingin mengubah cara hidup yang selama ini ada. Ini berdampak fatal pada reformasi yang diinginkan Euphie.

"Jujur saja, kalau cuma membuat mereka tunduk sih saya bisa melakukannya semau saya."

"Ya... tapi kamu tidak mau memaksa mereka tunduk, kan."

"Ya. Saya memilih jalan ini karena saya ingin mengubah negara ini. Saya tidak ingin memilih jalan yang memaksa mereka tunduk..."

Hah, Euphie menghela napas. Terlihat sedikit kelelahan di wajahnya.

"Euphie, ayo ke tempat tidur."

"Anis?"

"Kalau kamu tidak mengambilnya sampai habis, aku bisa membagi manaku."

Kalau diambil setiap hari rasa lelahku tidak akan hilang, tapi kalau cuma membagi sedikit untuk memanjakannya sih tidak apa-apa. Dibandingkan tenaga yang kukeluarkan, jelas Euphie jauh lebih berat bebannya.

Aku masuk ke tempat tidur duluan, lalu Euphie menyusul masuk. Begitu berbaring, dia mendekatiku dan memelukku sambil membenamkan wajahnya di dadaku.

Dia menghela napas panjang sambil menekan-nekan keningnya ke dadaku, lalu diam tak bergerak. Sambil mengelus kepala Euphie, aku berbicara dengan nada menghibur.

"Ayo kita lakukan pelan-pelan tanpa terburu-buru. Lalu kita pikirkan bersama, ya? Cara meyakinkan orang-orang Kementerian Sihir."

"...Anis kan dibenci sama orang-orang itu."

Euphie berkata dengan nada merajuk. Itu terlihat sangat sesuai dengan usianya dan tampak manis.

"Justru karena dibenci, mungkin aku bisa memikirkan ide yang tidak terpikirkan oleh Euphie. Pokoknya tidak usah berjuang sendirian. Euphie kan punya Ilia, juga punya Lainie yang mendukung."

"...Ya, tentu saja. Saya mengerti kok."

Euphie mengangkat wajah yang dibenamkan di dadaku, lalu mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman ringan. Setelah mematuk bibirku beberapa kali, dia mendekatkan bibirnya ke leherku.

Saat bibir Euphie menyentuh tengkukku, rasa panas perlahan menyebar dari sana. Tubuhku otomatis tersentak merasakan sensasi seolah panas itu disedot.

Bersamaan dengan sensasi seolah bagian dalam kepalaku meleleh, manaku ditarik keluar. Selama itu, aku terus mengelus kepala Euphie. Sensasi rambutnya yang halus di jari terasa nyaman.

"...Sebenarnya, saya sedikit bohong."

"Hm?"

Setelah melepaskan bibirnya, tiba-tiba Euphie bergumam pelan.

"Saya cemburu pada Nona Halphys."

"...Lho, aku tidak melihat Halphys dengan pandangan seperti itu lho?"

"Saya tahu kok. Bukan dalam arti itu, tapi dulu kan saya juga asisten Anis?"

Sambil memelukku, Euphie menatapku dengan pandangan ke atas. Mata berwarna mawar itu bergetar, dan sejujurnya, Euphie yang memasang ekspresi merajuk sesuai usianya itu terlihat sangat manis.

"Arc-en-ciel, dan beberapa alat sihir lain kita buat bersama... tapi, saat berpikir bahwa ke depannya hal itu akan jadi sulit—saya juga merasa sedikit kesepian, tahu?"

"Euphie..."

"Saya tahu ini hal yang diperlukan demi masa depan yang kita harapkan."

Tapi, gumam Euphie sambil memanyunkan bibirnya. Dia kembali membenamkan wajahnya di dadaku, menempelkan keningnya dengan manja sambil bergumam.

"Tapi, sebenarnya saya juga ingin berada di sisi Anda tanpa terikat apa pun. Saya ingin menjadi orang nomor satu bagi Anda melebihi siapa pun. ...Makanya saya jadi cemburu saat Anda menceritakan Nona Halphys dengan begitu bersemangat."

"Uuuh...!"

Kenapa anak ini mengucapkan hal yang begitu manis sih? Apa dia iblis kecil?

"Bagiku yang nomor satu itu Euphie kok. Meski berjauhan, selamanya kamu adalah yang nomor satu bagiku. Orang yang paling mendukung impianku, orang yang paling kusukai."

Aku menangkup pipi Euphie, memintanya mengangkat wajah lalu mendaratkan ciuman di keningnya.

Saat berpikir dia cemburu, aku tetap saja merasa senang. Karena aku bisa merasakan bahwa aku istimewa bagi Euphie.

Karena itulah aku ingin memanjakannya. Aku juga paling suka Euphie, dan aku sering berpikir alangkah indahnya jika bisa terus bersama seperti Euphie.

"Kita memilih jalan ini agar kita bisa terus bersama, agar hal itu bisa diakui oleh semua orang. Tenang saja, jalan yang kita tempuh akan terus bersama."

Aku menepuk punggung Euphie dengan berirama. Saat aku menepuk punggungnya seperti menimang anak kecil, Euphie semakin merapatkan tubuhnya.

"Aku sangat menyukaimu, Anis."

"Aku juga sangat menyukaimu."

Euphie mendekatkan wajahnya dan menciumku. Kali ini ciuman yang lebih lama daripada sekadar mematuk. Aku memejamkan mata merasakan keberadaan satu sama lain. Momen ini sungguh berharga dan membahagiakan.

Aku ingin menjadi lebih bahagia, dan aku juga ingin membahagiakan Euphie. Dan kalau bisa, aku ingin lebih banyak orang juga merasakan hal yang sama.

Aku ingin memperbanyak kebahagiaan yang besar, dan menjadi bahagia bersama semuanya. Aku berharap demikian dari lubuk hatiku.

"...Halphys kan sudah punya tunangan, jadi tidak boleh lho?"

"Tunggu. Aku tidak sembarangan sama siapa saja tahu!? Aku tidak sebejat itu lho!?"

"Meski Anis berpikir begitu, siapa tahu tanpa sadar Anda mencuri hati seseorang. Soal itu, Anda tidak bisa dipercaya..."

"Eeh...?"

Saat aku berpikir itu terlalu berlebihan, mata Euphie mulai terlihat serius.

Gawat, pikirku, tapi sudah terlambat. Euphie memelukku dengan erat seolah takkan membiarkanku lari.

"Tidak boleh, ya...?"

"Meski dibilang tidak boleh...!"

"Kalau Anda pikir bisa dimaafkan karena tidak sadar, saya harus memberitahu bahwa itu salah, kan?"

"Euphie? Aku sudah bilang hari ini cuma boleh ngemil lho!?"

"Ya, kalau ngemil boleh kan? Berapa kali pun."

Euphie yang tersenyum manis menciumku seolah menyumbat kata-kata bantahanku. Tangannya terulur menahan bagian belakang kepalaku.

Kalau ngemil berkali-kali itu sama saja dengan makan biasa kan! Pada akhirnya, aku baru bisa mengatakan itu pada Euphie setelah pagi tiba.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar