Featured Image

Tenten Kakumei V3 C8

Metoya Februari 15, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Demi Siapa Sihir Itu Ada

 ──Itu adalah kisah lama. Zaman di mana tanah ini belum menjadi milik siapa pun.

 Tanah yang penuh dengan alam ini adalah tanah yang keras bagi manusia untuk bertahan hidup. Ancaman monster yang lahir dari alam yang subur menyerang tanpa ampun, menambah jumlah korban jiwa dengan kejam.

 Namun, mereka tidak punya tempat tujuan. Mereka adalah kaum pengembara yang melarikan diri dari api peperangan dan hanya bisa lari ke tanah tempat para monster bersemayam ini.

 Suatu hari, seorang pemuda berteriak di tengah hari-hari yang hanya berisi kelelahan. Mengapa ketidakadilan seperti ini dibiarkan? Jika ada keselamatan, dia tidak peduli apa pun yang harus dikorbankan sebagai gantinya. Mohon berikanlah keselamatan, pintanya.

 Ada sosok yang menjawab keinginan tulus itu. Itu adalah roh yang memenuhi tanah subur ini. Roh itu menjawab teriakan sang pemuda dan mengikat kontrak.

 Itulah awal dari Kerajaan Putih, tanah yang tidak ternoda oleh apa pun, Kerajaan Palettia.

    * * *

"Nona Lumi adalah... keluarga kerajaan...? Dan lagi putri dari Raja pertama...?"

 Ayah dan Ibu adalah orang yang paling terkejut mendengar pengakuan Lumi, tidak, Lumielle. Lumielle mengangkat bahu melihat mereka berdua.

 Melihat rambut platinum yang bergoyang saat itu, aku jadi yakin. Itu adalah warna rambut yang muncul dalam garis keturunan keluarga kerajaan. Itu bisa menjadi bukti bahwa Lumielle adalah leluhur kami.

"Itu fakta. Jadi bisa dibilang aku adalah saksi hidup sejarah Kerajaan Palettia."

"...Jika Anda benar-benar putri Raja pertama, mengapa Anda menyangkal kontrak roh yang dilakukan Raja pertama yang membangun Kerajaan Palettia?"

 Mendengar pertanyaanku, Lumielle memasang wajah tanpa ekspresi seperti boneka. Aku sadar bahwa ekspresi itu bukan karena dia menekan emosinya, melainkan ekspresi kosong yang muncul karena sisa-sisa emosi yang sudah terkikis habis.

"Justru karena itulah yang membunuh Ayah, tidak... yang merusaknya."

"Merusaknya...?"

"Kerajaan Palettia dibangun pada zaman di mana pembukaan lahan di tanah yang penuh monster ini belum sejuah sekarang. Rakyat tanpa raja yang terdampar di sini terus-menerus terancam oleh monster. Aku dengar itu adalah situasi yang kejam di mana kehancuran total bisa terjadi kapan saja. Justru karena situasi itulah, Ayah sampai pada kontrak roh. Itu adalah awal dari komedi, sekaligus tragedi."

"Komedi mungkin bisa dimengerti, tapi tragedi...?"

 Cara bicara Lumielle yang mengganjal membuatku bergumam tanpa sadar. Lumielle mengangguk sekali lalu melanjutkan ceritanya.

"Menurutmu, apa itu kontrak roh?"

"Eh, apa itu maksudnya... kontrak dengan roh...?"

"Secara spesifik?"

 Tidak ada yang bisa menjawab saat ditanya begitu. Fakta bahwa "telah melakukan kontrak dengan roh" itu sendiri disebut kontrak roh, dan detailnya tidak tercatat di mana pun. Karena itu sampai sekarang pun masih menjadi misteri.

"Target kontrak dalam kontrak roh adalah diri sendiri."

"Diri sendiri...?"

"Lebih tepatnya adalah separuh dari diri sendiri—roh itu sendiri yang bercampur dalam jiwa."

 Lumielle berkata sambil meletakkan tangan di dadanya. Tadi Lumielle berkata bahwa roh bercampur dalam jiwa setiap kehidupan. Target roh yang dikontrak dalam kontrak roh adalah roh yang terkandung dalam jiwa sendiri. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa artinya itu.

"Jiwa mencari roh untuk mengisi bagian dirinya yang hilang. Semakin banyak roh yang dicari, semakin tinggi kemurniannya sebagai roh. Itu menunjukkan bahwa kekuatan yang terhubung dengan dunia menjadi semakin kuat."

"Kemurnian sebagai roh..."

"Benar. Dan kontrak roh berarti menyatukan jiwa sendiri sepenuhnya dengan roh."

"Menyatukan sepenuhnya...!? Makanya jadi tidak tua dan tidak mati!?"

 Aku berteriak karena terkejut. Kenapa kontraktor roh itu abadi? Jawabannya sederhana.

 'Menjadi kontraktor roh'. Itu berarti 'berubah menjadi roh'.

 Roh adalah pecahan dunia. Dan roh itu abadi, tidak menua dan tidak membusuk. Meskipun bisa berubah wujud menjadi batu roh, kekuatan dan eksistensinya tidak akan rusak.

"Benar. Kontraktor roh adalah mereka yang mengubah jiwa mereka menjadi roh melalui kontrak roh. Pada saat itu, tubuh hanyalah 'wadah' bagi roh. Karena roh tidak berubah dan tidak membusuk."

"Kondisi wadahnya jadi tetap...?"

"Itulah mekanisme kenapa kontraktor roh tidak bisa tua dan mati. Tapi, keabadian ini punya kelemahan."

"Kelemahan...?"

"Roh pada dasarnya bukan keberadaan yang memiliki wadah. Jadi... mereka mulai melenceng dari eksistensi sebagai manusia. Jika perbedaannya semakin besar, mereka bahkan akan membuang wadahnya. Orang-orang menyebut keberadaan kontraktor roh yang telah membuang wadahnya dengan sebutan ini. —'Roh Agung'."

"...Kh! Apa-apaan itu...! Kalau itu benar, berarti roh yang kita sembah selama ini dulunya adalah manusia!?"

"Bukankah sudah kubilang begitu? Manusia pada awalnya menyebut mereka yang menjadi penyelamat manusia dan kehilangan wujud manusianya sebagai dewa. Sikap terhadap roh itu menjadi kepercayaan, dan hanya berubah menjadi agama."

"...Yang benar saja...!"

 Ini tidak bisa diberitahukan kepada mereka yang percaya pada pemujaan roh. Misteri yang kita percayai, pada akhirnya adalah buatan manusia. Dan itu sama saja seperti mengorbankan manusia sebagai tumbal.

 Kontrak roh bukanlah sesuatu yang mistis, bukan pula penyelamat manusia. Fakta itu terasa sangat berat.

"Selain itu, ada masalah pada kontrak roh itu sendiri. Jika berasimilasi dengan roh melalui kontrak roh, berarti harus membuang eksistensi sebagai manusia. Itu adalah harga kontraknya. Jika tidak membuang kemanusiaan, kontrak roh tidak akan terwujud. Dan kontraktor roh akan terikat pada keinginan yang mendasari kontrak tersebut."

"Terikat pada keinginan...?"

"Itulah yang mengundang tragedi bagi kontraktor roh. Ayah menginginkan kebahagiaan rakyat. Beliau ingin rakyat tidak menderita dan semuanya bahagia. Demi itu, beliau mempersembahkan hidupnya sebagai manusia, dan menjadi raja yang menjadikan roh sebagai teman yang patuh."

 Lumielle berbicara sampai di situ, lalu menundukkan matanya sejenak. Gerakan yang seolah menyembunyikan kesedihan.

"Melalui kontrak roh, Ayah meminjam kekuatan roh dan menciptakan sihir. Demi memperbanyak rakyat yang bisa menggunakan sihir itu, kontrak roh semakin menyebar. Semua orang mengerahkan kekuatan demi rakyat, demi saudara yang menderita. Itulah awal mula keluarga kerajaan dan bangsawan. Tapi..."

"...Tapi?"

"Berkat sihir, pembukaan lahan berjalan lancar, dan fondasi kerajaan terbentuk. Kehidupan rakyat terlihat membaik secara nyata. Namun, keserakahan manusia tidak ada batasnya."

 Suara Lumielle yang dingin membelah udara seperti pisau. Aku merinding merasakan kemarahan yang begitu dingin. Itu adalah bukti betapa tajam dan dinginnya emosi Lumielle.

"Doa yang mengharapkan kehidupan yang lebih baik, berganti menjadi hasrat yang menginginkan kemewahan lebih. Raja yang bangkit demi negara karena doa, berubah menjadi raja yang mengabulkan hasrat, bukan menjawab doa."

"Itu..."

"Apa kau mengerti? Perasaanku melihat rakyat yang dicintai semakin terwarnai oleh keserakahan, dan Raja yang tanpa ragu sedikit pun, tanpa menggerakkan alis sedikit pun, menginvasi dan memusnahkan negara lain karena menganggap melindungi keserakahan itu adalah kebahagiaan Raja. Dan, awalnya aku tidak meragukan hal itu. Itulah kontrak roh. Ia melahirkan monster yang membuang segalanya selain keinginan yang ingin dikabulkan."

"...Tidak meragukan apa pun?"

"Jadilah anak Raja, itu adalah kontrakku. Jadilah abadi seperti Raja, jadilah simbol bagi rakyat. Singkatnya, aku adalah cadangan jika terjadi sesuatu pada Raja. Bagi rakyat, Raja hanyalah alat pengabul keinginan yang nyaman untuk mewujudkan harapan mereka sendiri. Makanya mereka terus memohon hasrat mereka pada Raja! Menurutmu bagaimana hasilnya!?"

 Dengan senyuman seolah hanya bisa tertawa di hadapan keputusasaan, Lumielle berteriak seakan berbicara kepada semua orang yang ada di sana.

"Raja abadi yang tidak menua, menendang manusia seperti sampah dengan kekuatan yang luar biasa! Menjawab keinginan rakyat, tidak hanya mengusir penjajah, tapi sebaliknya membakar habis negara yang diinvasi sampai ke akarnya! Hei, kalau kalian jadi aku, apa yang akan kalian lakukan? Menurut kalian apa yang benar?"

 Meskipun tertawa, suara Lumielle terdengar sangat kering. Sampai sekering ini, pasti Lumielle sudah berulang kali memikirkannya. Membayangkan itu membuat dadaku sakit.

"Makanya aku menghancurkan ayahku sendiri!! Karena aku merasa Ayah salah!"

 Mendengar teriakan Lumielle, aku mengepalkan tangan. Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama. Mungkin, jika berada di situasi yang sama, aku akan memilih pilihan yang sama.

 Bahwa raja seperti itu, monster seperti itu, tidak boleh ada. Karena aku berpikiran begitu.

"Demi menghentikan amukan rakyat dan negara! Untungnya, kekuatan sihir tetap diwariskan kepada anak-anak meskipun tidak melakukan kontrak roh. Makanya aku mengatur agar kontrak roh hilang dari sejarah! Negara ini sudah tidak butuh kontrak roh! Rakyat yang menginginkan monster seperti itu, lebih baik musnah saja sekalian!"

 Lumielle bercerita sampai di situ, lalu menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan seolah menunjukkan penyesalan yang masih belum hilang. Apa yang telah dilihat oleh wanita yang hidup dalam waktu yang lama ini, sepertinya tersampaikan hanya dari ekspresinya.

"...Meskipun begitu, ada juga kontraktor roh yang tetap lahir. Pada akhirnya ada yang berubah menjadi Roh Agung dan menghilang. Jika seseorang berpikir boleh mengorbankan diri demi mengabulkan keinginan, kontrak roh tidak bisa dihentikan. Tapi, jumlah kontraktor berkurang karena keluarga kerajaan dan bangsawan yang mewarisi kekuatan sihir mengubah negara. Hasilnya, sisa-sisa kontrak roh tertinggal sebagai sihir dan menjadi kekuatan bangsawan. Kekuatan itu melindungi negara ini. ...Walaupun itu melahirkan tragedi lain lagi, ya."

 Tatapan Lumielle yang penuh perhatian tertuju pada Ayah, Ibu, dan Tuan Grantz. Merekalah yang terseret dalam perselisihan yang terjadi justru karena bangsawan mewarisi kekuatan sihir.

 Mungkin bukan berarti ada sesuatu atau seseorang yang jelas-jelas salah. Karena jika tidak begitu, kami tidak akan ada di sini hari ini. Tapi, kita tidak bisa terus-menerus salah.

 Pasti awalnya benar, lalu perlahan-lahan hal yang benar itu menjadi salah dan buruk.

 Makanya harus diperbaiki. Ini adalah cerita tentang itu. Memang benar ini adalah komedi, dan tak lain hanyalah tragedi.

"Makanya, kontraktor roh menjadi raja lagi hanyalah pengulangan masa lalu. Apa kau benar-benar menginginkannya? Siapa yang bisa menjamin kau tidak akan salah jalan, Euphyllia?"

 Mendengar pertanyaan Lumielle yang menuntut, Euphie memejamkan mata sejenak. Dan mata yang kembali terbuka itu menatapku. Dokiri, jantungku berdegup.

"Tidak, ini bukan pengulangan zaman. Nona Lumielle, saya menginginkan kontrak roh bukan untuk membangkitkan kembali kekuasaan raja berdasarkan kontrak roh. Saya hanya menginginkan kontrak roh demi legitimasi untuk mendapatkan takhta."

"Apa bedanya? Kalau begitu, untuk apa kau menjadi raja?"

"Untuk mengakhiri tradisi yang telah diwariskan ini dengan benar. Semuanya demi menyerahkannya ke era yang baru. Pemimpinnya... sudah ada di sini."

 Dengan suara tenang, Euphie mengatakan itu pada Lumielle. Tatapan Lumielle beralih dari Euphie kepadaku. Tatapan semua orang tanpa sadar tertuju padaku.

"Saya akan mengakhiri era sihir yang telah saya warisi selama ini. Dan untuk menyerahkan masa depan serta harapan yang dibangun Nona Anis kepada rakyat negeri ini. Itulah arti saya menjadi raja. Demi membangun zaman di mana sihir bukan lagi hak istimewa bangsawan, tapi siapa pun bisa meraihnya jika mereka menginginkannya. Sebagai fondasi masa depan itu, saya akan menjadi legenda terakhir."

"...Kau akan mendirikan kembali kekuasaan raja kuno yang diinginkan semua orang, lalu menyangkalnya? Kau akan mengakhirinya sebagai simbol zaman lama demi zaman baru yang dibangun anak ini?"

"Saya sadar bahwa itulah takdir yang harus saya penuhi."

"Kalau hanya mengubah zaman, kau tidak perlu menjadi fondasinya, kan?"

"Mungkin tidak perlu. Tapi, itu tidak boleh."

 Euphie berjalan ke arahku, mendekat sampai jarak yang bisa dijangkau tangan. Di mata yang menatapku itu terkandung kelembutan yang hangat.

"Nona Anis sendirian hanya bisa mengubah zaman ini dengan cara menghancurkannya. Hanya dengan menyangkal nilai-nilai yang ada selama ini, lalu menulis ulang zaman baru di atasnya. Itu—adalah pengkhianatan."

"...Pengkhianatan?"

 Lumielle mengerutkan alis dengan heran. Kepada Lumielle yang seperti itu, Euphie melanjutkan kata-katanya.

"Sihir adalah harapan untuk masa depan. Makanya kita dikagumi. Tapi, sihir yang seharusnya menjadi penyelamat terus menyangkal Nona Anis. Tidak memberinya sihir, bahkan menyangkal hal baru yang ditemukannya sebagai sihir, dan hanya memuji kejayaan serta tradisi masa lalu. Jika ini tidak disebut pengkhianatan, lalu disebut apa?"

 Tiba-tiba pandanganku menjadi buram. Meskipun aku berkedip beberapa kali pandanganku kembali, tapi segera buram lagi.

 Tangan yang diulurkan Euphie membelai pipiku. Dari sentuhan jari Euphie, aku sadar bahwa aku sedang menangis.

"Saya tidak ingin membiarkan sihir mengkhianati Nona Anis lebih dari ini. Jika dibilang saya adalah jenius sihir, maka saya yang harus menunjukkannya lebih dari siapa pun. Saya harus membuat orang percaya lebih dari siapa pun. Bahwa sihir adalah harapan menuju masa depan yang bisa dikagumi."

"Euphie..."

"Saya akan menjadi raja. Raja untuk menyebarluaskan impian Anda di negeri ini. Karena itu, Anda tidak perlu menjadi raja. Anda boleh mengejar apa yang ingin Anda jadikan tujuan. Saya akan mengafirmasi Anda lebih dari siapa pun, Nona Anis."

 ──Sihir, mengkhianatiku? ...Benar juga, ia mengkhianatiku. Padahal aku begitu mengagumi sihir, tapi aku tidak bisa menggunakannya.

 Meski begitu rasa kagumku tidak berhenti, aku mencoba memecahkan misteri sihir bahkan dengan menggunakan pengetahuan kehidupan sebelumnya. Aku berhasil menciptakan alat sihir agar aku sendiri bisa menggunakan sihir. Bahkan itu pun disangkal, dan dikatakan tidak pantas bagi keluarga kerajaan. Tidak ada hari di mana aku tidak merasa sesak.

 Entah sejak kapan aku berhenti berharap. Tidak diakui siapa pun tidak apa-apa. Meski begitu, aku sangat menyukai sihir. ...Itu saja sudah cukup.

"Sudah, cukup."

 Aku memegang tangan Euphie yang membelai pipiku, dan menurunkannya perlahan. Bersama air mata, sesuatu yang mengendap di hati ikut jatuh. Rasa kesal, sedih, marah, dendam, rasa sakit. Rasanya semua itu meleleh.

"Sudah cukup, kok."

 Jadi, tidak apa-apa. Sudah—kau tidak perlu mencoba menyelamatkan demi aku lagi.

"Terima kasih, Euphie. Tapi, ya? ──Aku, baik-baik saja."

 Wajah Euphie terdistorsi. Tampak menderita, sedih, bahkan bercampur kemarahan. Aah, ternyata Euphie juga bisa memasang wajah seperti ini, entah kenapa aku merasa lega.

 Daripada membuat orang berhenti menjadi manusia──lebih baik menyerah saja. Sudah, benar-benar sudah cukup.

 Jika sihir yang kupercayai bisa berguna bagi orang-orang di masa depan. Aku tidak keberatan menjadi raja. Meskipun itu bukan dalam bentuk yang kuinginkan, meskipun kedepannya aku disangkal oleh banyak orang.

 Walau hanya satu orang, Euphie yang paling kukagumi dari siapa pun telah mengakuiku. Bukankah itu sudah cukup? Aku sudah cukup terbalaskan. Makanya sudah tidak apa-apa, Euphie.

 Aku tahu kau tidak akan terima meskipun aku bilang begitu. Tapi, karena itulah.

"Euphie. Aku tidak akan mengalah. Tapi aku juga mengerti Euphie tidak bisa mengalah. Karena itu, ayo bertanding. Kalau kau kalah dariku──jangan pernah bilang ingin jadi raja lagi."

 Aku mendorong Euphie menjauh. Jarak yang tercipta seolah menunjukkan penolakanku.

 Euphie tidak perlu menyelamatkanku. Aku sudah diselamatkan lebih dari cukup. Aku baik-baik saja. Aku bisa berdiri. Aku bisa mempercayai sihirku. Betapa pun pedih dan menyakitkannya, aku tidak akan kalah.

 Karena itu, aku tidak akan membiarkanmu menukarnya dengan kehilangan segalanya.

"Kita berdebat pun tak ada yang mau mengalah, kan. Kalau begitu, mau duel atau apa pun, kita harus menentukannya dengan itu. Kalau hanya dengan itu kita bisa sama-sama terima."

"...Baiklah."

"Euphyllia!?"

"Apa yang kalian bicarakan!?"

"Ayah, Ibu. Kami tidak bisa mendengarkan perkataan kalian. Kami sama-sama tidak bisa mengalah. Kalau begitu, harus ada yang dipaksa mengalah."

 Menahan Ayah dan Ibu yang mencoba melerai, aku menatap tajam Euphie. Seolah setuju dengan kata-kataku, cahaya tekad yang kuat menyala di mata Euphie.

"Saya tidak ingin menjadikan Anda raja."

"Aku tidak ingin membiarkanmu mengorbankan segalanya."

"Kita sejajar (tidak ada titik temu), ya."

"Sejajar, ya."

"Kalau begitu──"

"──Ayo kita selesaikan."

 Jangankan bakat sihir, dalam hal kepintaran maupun taktik politik pun aku kalah dari Euphie.

 Meski begitu, aku terlahir sebagai putri. Sebagai keluarga kerajaan langsung, aku tidak bisa menyerahkan takhta begitu saja. Apalagi jika lawan mencoba mempertaruhkan keberadaannya sendiri demi mendapatkan takhta itu.

 Tidak perlu berkorban demi aku. Karena aku sudah diselamatkan lebih dari cukup.

    * * *

 Di tempat aku berhadapan dengan Al-kun, kali ini aku berhadapan dengan Euphie.

 Di kedua tanganku tergenggam Mana Blade, dan di tangan Euphie tergenggam Arc-en-ciel.

 Semua orang juga keluar seolah ingin menyaksikan pertarungan kami. Tapi, aku segera mengarahkan kesadaranku pada Euphie. Ada perasaan bertanya-tanya kenapa jadi begini.

 Hari itu, pesta malam akademi yang secara kebetulan kumasuki saat tes terbang malam. Di sana aku bertemu Euphie yang berdiri terpaku dan menangis.

 Sekarang, Euphie yang berdiri di depanku tidak menyisakan bayangan masa itu. Dia diselimuti hawa yang dingin seperti es dan tajam seperti pisau. Jika aku lengah sedikit saja pada aura itu, aku pasti akan tertelan.

"...Euphie. Terakhir kalinya aku tanya. Kau tidak mau mengubah pikiranmu?"

"Saya rasa ini perlu. Untuk mengakhiri zaman lama, harus ada yang mewarisi seluruh zaman lama itu lalu mengakhirinya. Seseorang harus memikulnya. Sebagaimana Nona Anis memikul zaman baru, harus ada seseorang yang memikul zaman lama."

"Karena itu kau bilang tidak apa-apa berhenti jadi manusia? Kau bilang tidak apa-apa kau yang memikulnya? Tanpa bantuan berlebihan seperti itu pun, aku bisa mengubah negara ini."

"Kalau cuma mengubah mungkin bisa. Tapi, Nona Anis sendirian hanya bisa mengakhiri zaman lama dengan menghancurkannya. Seseorang harus menghubungkan masa depan yang Anda gambarkan dengan masa lalu yang telah dibangun negeri ini."

"Meski begitu, aku tidak bisa menerima Euphie dijadikan korban!"

 Seiring dengan meluapnya emosiku, bilah Mana Blade terbentang. Dengan perasaan yang mirip dengan kejengkelan, aku memelototi Euphie.

 Meski begitu Euphie tidak goyah sedikit pun. Dia hanya membalas tatapanku lurus-lurus.

"Saya pun tidak ingin menjadikan Anda korban negara. Itu sejatinya bukan hal yang harus Anda pikul. Kelalaian sayalah yang membuat Anda memikul beban berat yang tidak perlu."

"Kalau kau bicara soal Al-kun, itu bukan tanggung jawab Euphie saja! Kalau ditelusuri ke akarnya, akulah yang salah! Yang harus bertanggung jawab adalah aku!"

"Mengapa harus Anda sendirian yang memperbaiki penyimpangan yang telah ditumpuk negara ini? Justru itulah yang bukan tanggung jawab yang harus Anda pikul sendirian."

 Sambil menatapku lurus, Euphie mengarahkan ujung Arc-en-ciel dan memasang kuda-kuda.

"Saya mengakui nilai Magicology. Apalagi saya ada di sisi Anda, dan merasakan kemungkinannya. Anda adalah keberadaan yang tidak boleh hilang demi membangun masa depan negara ini ke depannya. Termasuk impian dan hati Nona Anis, semuanya dibutuhkan. Karena itu saya tidak boleh kalah dari Anda!"

"Kenapa...? Kenapa bisa bilang sampai segitu...?"

"Itu perlu agar Anda tidak menyerah pada harapan terhadap sihir. Jika sihir tidak menyelamatkan Anda, Anda akan menyerah pada sihir. Anda akan menghabiskannya bukan untuk diri sendiri, tapi untuk negara. Rakyat mungkin selamat, tapi Anda selamanya tidak akan selamat. Sihir yang ingin Anda percayai akan hilang."

"Hal seperti itu... tidak akan..."

 Kata-kata penyangkalan yang spontan keluar terasa lemah bahkan bagiku sendiri. Euphie melanjutkan seolah mendesak.

"Tidak, memang begitu. Memang sihir saat ini mungkin belum mencapai idealisme Anda. Karena sihir yang dibawa oleh roh hanyalah cerminan dari keinginan manusia."

"Euphie...!"

"Nona Anis, saya percaya. Pasti sihir ideal Anda bisa terbang lebih tinggi lagi. Saat itu, Anda yang terbang di langit telah membuktikannya."

 Rambut Euphie bergoyang lembut. Seolah menunjukkan gejolak kekuatan sihir Euphie sendiri.

"Sihir dan idealisme Anda. Itu bukanlah hal yang saling membenci, ataupun saling tolak-menolak. Keduanya bisa bergandengan tangan menuju masa depan. Karena itulah, akhirilah zaman kuno! Berikan masa depan baru bagi negeri ini! Sebagai perwakilan penyihir yang mendampingi Anda, demi mengafirmasi idealisme yang Anda gambarkan! Negeri ini masih terlalu dini untuk menyerahkan masa depan pada Anda, dan idealisme Anda masih terlalu muda!"

 Mata Euphie tampak membara. Meskipun matanya basah dan bergetar, cahaya tekad yang terkandung di dalamnya terlihat seperti api.

"Suatu saat zamanmu akan datang. Saya akan membangun zaman di mana Anda diharapkan. Saya ingin hidup di zaman itu bersama Anda."

"Meski begitu, aku tidak bisa berpikir ingin mewujudkan idealismeku sampai harus mengorbankan Euphie! Tidak perlu melakukan sampai sejauh itu pun tidak apa-apa! Aku──"

"──Saya tidak akan membiarkan Anda bilang! Bahwa Anda baik-baik saja! Karena Anda tidak baik-baik saja, sekarang! Anda menangis, kan!! Kalau tidak terus bilang baik-baik saja, itu karena Anda tidak baik-baik saja, kan!"

"──Jangan dibilang...!"

"Tidak, saya akan mengatakannya berapa kali pun! Saya tidak akan membiarkan Anda bilang baik-baik saja padahal tidak! Seperti yang Anda lakukan pada saya! Berapa kali pun! Saya akan meraih tangan Anda!"

 ──Di antara kami, angin berhembus.

 Pendapat kami sejajar, tidak akan pernah bertemu. Padahal saling menyayangi, tapi sangat jauh. Seolah ingin memangkas jarak yang terpisah itu, kami saling melangkah maju.

 Seolah menyesuaikan dengan Mana Blade yang kuayunkan dengan kecepatan penuh untuk merenggut kesadaran Euphie, Euphie membalutkan sihir pada Arc-en-ciel dan menahannya.

 Bilah sihir saling beradu, sihir yang terkikis memercik seperti bunga api. Kuda-kuda kami tidak goyah. Tapi Arc-en-ciel Euphie hanya satu, sedangkan Mana Blade-ku ada dua. Aku mengayunkan Mana Blade yang tidak tertahan ke arah leher Euphie.

 Serangan itu dihindari Euphie dengan langkah kaki seperti menari, tepat di saat-saat terakhir. Jarak dengan bilah pedang hanya seujung jari. Euphie yang menghindar dengan gerakan minimal kembali melangkah, dan Arc-en-ciel mendekat dari atas.

 Aku secara refleks menendang tanah dan melompat ke belakang. Tapi, aku baru sadar itu kegagalan saat melihat sihir Euphie aktif.

" 'Air Needle'!"

 Aku melompat ke samping menghindari jarum udara yang ditembakkan berbarengan dengan tusukan. Terhadap aku yang berlarian menghindar, Euphie melepaskan tusukan bertubi-tubi ke udara dalam satu tarikan napas.

 Tak terhitung Air Needle menggerus tanah. Aku memperbaiki kuda-kuda dan berlari memutar di sekitar Euphie untuk menghindar.

 Napas Euphie terputus dan rentetan Air Needle berhenti. Bersamaan dengan momen itu, aku melangkah kuat seolah menerjang masuk ke pertahanannya.

"Kh────kh!"

 Kalau mengincar leher mungkin bisa merenggut kesadaran, tapi targetnya terlalu sempit. Kalau begitu yang diincar adalah badan. Mana Blade yang ditebas mendatar ditahan oleh Arc-en-ciel.

 Bilah pedang kami kembali terpisah seolah saling menolak. Memanfaatkan momentum pantulan itu, aku mengayunkan Mana Blade satunya lagi. Saat aku berpikir ini kena, Euphie menendang tanah dan melompat menghindar sambil memutar tubuh. Gerakan itu bagaimanapun dipikirkan hanya bisa dianggap melawan gravitasi.

(──Kh, melayang!? Penerapan sihir terbang!?)

 Reaksiku terlambat karena gerakan yang tak terduga. Euphie berputar di udara, lalu mengayunkan Arc-en-ciel secara mendatar.

 Aku mengangkat Mana Blade untuk menahan, tapi bilah sihirnya lebih berat dari dugaan. Sihir yang saling tolak-menolak rasanya akan menembus bilah masing-masing, jadi aku menahannya dengan tsuba (pelindung tangan) seolah mengadunya dengan pedang fisik Arc-en-ciel.

 Dalam posisi seperti saling dorong pedang dengan Euphie yang mendarat di tanah, kami saling melotot. Euphie memamerkan giginya dengan ekspresi putus asa yang belum pernah kulihat sebelumnya. Melihat Euphie yang seperti itu, aku spontan berteriak.

"Kenapa, sampai begitu... sampai sebegitu putus asanya──kh!!"

 Aku menepis Arc-en-ciel, dan membiarkan emosi mengambil alih, aku menghantamkan sihir ke dalam tato segel dan menyeret keluar sihir naga. Aku menyalurkan sihir itu ke bilah sihir dan menghantamkannya pada Euphie.

 Padahal aku lebih banyak menyerang, tapi pergerakan Euphie sangat terampil. Bisa dimengerti bahwa itu adalah gerakan hasil latihan berulang-ulang dengan dasar yang kokoh. Karena dasar ilmu pedangku dan Euphie itu sama.

 Euphie yang ortodoks, dan aku yang di luar pakem karena pengalaman petualang. Meski begitu jika dasarnya sama, jarak serang kami akan mirip.

 Mungkin karena itulah, setiap kali pedang beradu, kerja keras Euphie tersampaikan padaku. Bahwa Euphie benar-benar hidup dengan usaha keras.

 Selama ini mungkin Euphie hanya bisa menjalani cara hidup yang telah ditentukan. Mungkin itu adalah kekurangan yang memalukan. Meski begitu, Euphie telah hidup dengan sungguh-sungguh.

 Kalau begitu Euphie pantas mendapatkan balasan. Aneh kalau anak yang sudah berjuang tidak mendapatkan balasan.

"Makanya, tidak apa-apa...! Aku, baik-baik saja!"

"──Kata-kata yang sama, saya kembalikan utuh pada Anda!"

 Kali ini Euphie menghantamkan Arc-en-ciel. Euphie membalas kata-kataku yang terucap saat kami saling menebas.

"Saya baik-baik saja! Saya tidak menganggap ini pengorbanan! Daripada itu! Membiarkan Anda mewarisi takhta padahal tahu Anda akan terluka, itu jauh lebih tidak bisa saya maafkan!"

"Kan sudah kubilang itu kewajibanku...!"

"Kamilah yang selama ini membuat Anda membuang kewajiban itu! Baru sekarang disuruh memungutnya lagi dan memikul kewajiban, mana mungkin bisa diterima!? Anda boleh bilang tidak mau!"

"Kan sudah kubilang aku tidak mau!!"

 Aku menepis serangan Euphie dengan sekuat tenaga. Aku mengambil jarak seolah menolak, dan bernapas dengan bahu naik turun. Aku menipu diri dengan menggenggam erat tangan yang hampir gemetar.

"Euphie pantas mendapatkan balasan! Habisnya kau sudah banyak terluka, kan! Terluka sampai tidak tahu harus bagaimana! Padahal mulai sekarang kau bisa bebas, dan hidup sesuka hatimu! Kenapa malah mau memikul beban demi aku!? Pikirkanlah kebahagiaanmu sendiri!"

"Kenapa Anda hanya memaafkan orang lain, tapi tidak bisa berpikir untuk memaafkan diri sendiri!!"

 Euphie berteriak seolah memarahi. Teriakan itu menusuk dadaku hingga terasa sakit.

"Meskipun ada orang yang sedih karena Anda tidak bahagia, dan Anda menepisnya dengan bilang Anda baik-baik saja! Itu tidak membuat orang itu bahagia!"

"Kalau begitu jangan berharap demi aku! Sakit tahu! Sesak tahu! Aku tidak minta diharapkan demi aku! Tidak perlu menggantikanku!"

"──Ya, benar. Tidak ada yang bisa menggantikan Anda, Nona Anis."

 Emosi yang meluap tadi menjadi tenang seolah bohong, dan Euphie menatapku dengan ekspresi yang bahkan menyiratkan kesedihan seolah memohon padaku.

"Tidak ada yang bisa menggantikan Anda. Siapa yang bisa menggantikan Anda?"

"...Euphie."

"Menjadi raja! Saya pun bisa menggantikannya! Tapi Anda adalah satu-satunya! Ide Anda, impian Anda, masa depan yang Anda gambarkan! Jika itu hilang karena menjadi raja, saya tidak butuh raja semacam itu! ──Saya hanya ingin Anda tetap menjadi diri Anda apa adanya!!"

 Perasaan yang seolah dihempaskan padaku. Itu seakan membuat retakan di hatiku. Aku menggelengkan kepala dengan liar dan berteriak seperti menjerit.

"Hentikan! Aku tidak butuh! Hal seperti itu... bukan hal yang boleh kuharapkan!"

"Kalau begitu saya yang berharap! Saya akan terus melindungi harapan Anda sampai Anda merasa boleh memaafkan diri sendiri!"

"Kh...!"

"Jika Anda bilang keinginan menjadi raja itu asli! Jika Anda bilang itu keinginan dari lubuk hati, buat saya menerimanya! Anda juga bilang begitu, kan! Bahwa akan membuat saya menerimanya! Bagaimana saya bisa terima! Padahal Anda begitu... terluka begini!"

"──Bukan!!"

 Kalau cuma rasa sakit segini, aku bisa tahan. ──Makanya, jangan diungkap.

 Kalau cuma kepedihan segini, aku tidak apa-apa. ──Makanya, jangan dibeberkan.

 Kesedihan segini, bisa kulupakan. ──Makanya, jangan dicari tahu.

"──Benci! Benci! Benci, benci, benci! Aku benci!! Aku membencinya!!"

 Siapa? Apa? Aku, benci apa? Tanpa tahu alasannya hatiku retak. Menjerit dan hancur. ...Tapi, apa yang sedang hancur ini?

 Hatiku berantakan, pikiranku tercerai-berai. Aku sudah tidak tahu lagi.

"Boleh kan! Kalau tidak ada yang terluka! Kalau aku menyerah, kalau aku terima, itu selesai! Selesai kan! Kenapa, kenapa kau mendesakku sampai begini!? Demi aku katanya, apa Euphie benar-benar berpikir tidak ingin menyakitiku!? Kalau begitu hentikan! Sudah cukup! Sudah cukup! Aku sudah dipikirkan sampai lebih dari cukup!!"

 Makanya, kumohon, menyerahlah. Menyerahlah akan aku. Aku sudah tidak apa-apa.

"Saya tidak tahu bagaimana sakitnya luka yang ada pada Anda. Saya mungkin bisa mendampingi luka itu, tapi mungkin tidak bisa menyembuhkannya."

 Euphie berbicara dengan tenang. Tapi dia tidak melonggarkan kuda-kudanya. Itu bukti dia belum menyerah.

"Saya tidak bisa memaafkan hal yang melukai Anda. Saya tidak bisa memaafkan Anda menyerah karena rasa sakit luka itu. Saya tidak bisa memaafkan dunia yang mencoba mematahkan mimpi Anda. Tapi, dunia ini masih mencoba menyangkal hanya dengan keberadaan Anda. Saya ingin mengubah dunia yang seperti itu. Jika perasaan itu dikatakan melukai Anda..."

 Euphie menghela napas pelan. Dengan senyum lembut, dia menatap lurus hanya kepadaku. Dan kata-kata yang diucapkan Euphie menggoreskan luka di hatiku.

"Biar saya saja yang menjadi luka Anda. Menjadi bekas luka yang membuat Anda tidak menyerah. Jika luka yang saya buat, saya bisa menebusnya. Kalau mau membenci, bencilah saya. Saya tidak akan segan berusaha untuk melampaui kebencian itu. Meskipun dibenci oleh Anda, didendam oleh Anda, berapa kali pun──saya akan terus mendoakan kebahagiaan Anda."

 Dengan ekspresi jernih, tanpa sedikit pun kekeruhan. Dia menyampaikan perasaan yang seakan membelah hati.

"Meskipun Anda menangis, meskipun Anda mencoba menyerah, saya tidak akan memaafkannya. Saya akan membebankan itu pada Anda sebagai tanggung jawab Anda yang telah memperlihatkan mimpi pada saya, Nona Anis. ──Saya ingin Anda bahagia. Lebih dari siapa pun di dunia ini."

 ──Aah, betapa kejamnya orang ini.

 Tenagaku rasanya mau hilang seolah ada lubang yang terbuka di hati. Aku hampir menjatuhkan Mana Blade yang kugenggam erat.

 Curang. Kalau kau bilang tidak akan mengalah apa pun yang kulakukan, aku sudah tidak punya kata-kata lagi untuk menghentikan Euphie. Sampai melakukan sejauh itu, dan bilang ingin membahagiakanku.

 Sakit. Terlalu sakit, sampai aku ingin menangis. Rasa panas berkumpul di balik mata, dan air mata hampir menggenang. Aku mengusap mata untuk mengusirnya.

"── Bentuk Imajiner: Jantung Naga (Dragon Heart)"

 Aku memenuhi seluruh tubuh dengan sihir naga. Tubuhku berderit seolah ingin menjerit.

 Air mata tumpah dan tak mau berhenti. Aku menggenggam erat tangan yang rasanya mau lemas, dan memelototi Euphie. ──Aku belum boleh membiarkan hati ini patah.

 Karena aku belum menghadapinya dengan kekuatan penuh. Makanya, aku tidak boleh mengangguk.

"Ternyata aku tidak bisa terima dengan kata-kata. Kalau begitu, kau bisa menerima ini kan!? Kalau mau mundur sekarang saatnya!? Kalau kau mati aku tidak akan memaafkanmu, dan akan membencimu seumur hidup! Aku juga tidak mau mengalah! Aku tidak mau membiarkan Euphie maju ke jalan yang pasti menderita! Makanya aku──tidak boleh kalah darimu! Aku tidak mau kalah!!"

 Mana Blade mengeluarkan suara berderit. Tapi tidak hancur. Waktu lawan Al-kun memang rusak, tapi kali ini bebannya dibagi ke dua pedang. Karena itu ada kelonggaran untuk meningkatkan kekuatannya.

 Bahkan Al-kun yang menjadi vampir bisa kuberi luka fatal yang hampir membuatnya lumpuh. Kalau Euphie menerima ini mentah-mentah──aku benar-benar mungkin akan membunuhnya.

 Seperti berdoa, aku berharap semoga dia mundur di sini. Tapi, aku tahu. Euphie yang menghadapiku dengan wajah tanpa keraguan itu sama sekali tidak akan mundur.

"──Jika itu diperlukan untuk menghentikan air mata Anda, saya tidak akan kalah. Saya akan menerima semuanya."

"──Aku benci, pembohong...!"

 Aku melepaskan serangan terbesar yang bisa kulakukan saat ini pada Euphie. Bilah sihir yang dialiri sihir naga semakin membesar, tidak bisa mempertahankan bentuknya dan mengambil wujud seperti cakar.

 Keraguan sesaat, dan seolah menepis keraguan itu aku mengayunkan Mana Blade. Sambil berharap, jika kau berniat menerimanya, coba terima ini.

 Sambil menatap bilah sihir yang mendekat, Euphie memasang Arc-en-ciel di depan. Cahaya menyala di matanya. Merah, biru, kuning, hijau, ungu, putih, memantul seperti prisma.

 Saat itu, sihir yang menyelimuti sekeliling Euphie meningkatkan tekanan intimidasinya.

"──Berkumpul, dan bercampurlah."

 Terdengar suara Euphie. Gumaman yang disertai sifat anorganik seolah kehilangan emosi.

"──Bercampur, dan jadilah."

 Kualitas sihir Euphie berubah. Perubahan yang sampai bisa dirasakan oleh kulit. Kekuatan yang berkumpul dengan Arc-en-ciel sebagai pusatnya membentuk pusaran, dan mulai bergemuruh seolah angin sedang menangis.

 Cahaya menyala pada Arc-en-ciel. Enam warna cahaya yang menyala itu seolah terhisap dan meleleh ke dalam Arc-en-ciel. Dan──bilah sihir berwarna pelangi terbentang mekar seperti bunga.

"──Nona Anis!"

 Terdengar suara Euphie memanggil namaku dengan keras. Mata yang menyimpan kilauan seperti pelangi menatapku dengan tekad yang kuat.

 Mataku terampas oleh mata itu. Hanya di saat ini, ilusi seolah-olah hanya ada aku dan Euphie di dunia ini menyerangku.

"Inilah kekuatan saya yang Anda tunjukkan, dan masa depan yang diimpikan itu sendiri! Betapa pun Anda mencoba menyerah, saya yang akan menunjukkannya──!"

 Euphie mendeklarasikan dengan kuat. Itu pasti wilayah yang belum terjangkau oleh tangan siapa pun. Bahkan kontraktor roh masa lalu pun belum sampai ke sana.

 Kristal yang lahir dari perpaduan legenda tertua dan pencapaian agung terbaru.

 Ilusi yang bisa diciptakan justru karena dia yang paling dekat dengan puncak sihir dibandingkan siapa pun, wujud nyata dari mimpi itu muncul di hadapanku.

 Cahaya pelangi semakin memusat dan mendapatkan kontur seperti kristal. Seolah-olah, "Pedang Pelangi" yang tercipta dari "Batu Roh".

 Euphie mengangkat pedang pelangi yang mulai bersinar menyilaukan, dan mengayunkannya lurus ke arah serangan bilah sihir yang kulepaskan dari depan.

"── Arc-en-ciel "

 Nama yang sama dengan pedang sihir di tangannya yang dulu kuhadiahkan, terangkai oleh suara Euphie.

 Dan pandanganku terbakar oleh kilatan cahaya. Di dalam cahaya yang menyilaukan──aku, melihat pelangi.

 Bersamaan dengan cahaya pelangi yang mendekat dengan dahsyat, kesadaranku terputus seolah hanyut oleh cahaya.

    * * *

 Kesadaran yang terputus kembali. Di balik kelopak mata, pelangi sesaat sebelum kesadaranku putus masih tercetak jelas.

 Perlahan aku membuka mata. Yang pertama kali terbentang adalah langit biru. Aku segera tahu bahwa aku terbaring telentang.

 Entah berapa lama kesadaranku hilang. Mana Blade yang seharusnya ada di kedua tanganku tidak ada, dan aku mengedarkan pandangan.

"...Nona Anis."

 Di sana terlihat Euphie yang duduk berlutut.

 Di tangan Euphie, ada Mana Blade yang seharusnya kugenggam. Arc-en-ciel sudah masuk ke dalam sarungnya, dan aku memahami apa yang terjadi.

 ...Aah, aku, kalah ya. Kenyataan itu menyerang, dan aku kehilangan tenaga. Aku jadi lemas sampai tidak ingat bagaimana caranya memberi tenaga pada tubuh.

"...Euphie."

"Ya."

"...Sangat, indah."

 Cahaya seperti pelangi yang masih tersisa di benakku. Yang kupikirkan hanya satu──sangat indah.

 Cahaya itu, tidak bisa kuciptakan. Saat aku mengakuinya, air mata menetes deras dari mataku.

 Aku merasa senang bisa melihat pelangi yang indah itu. Karena itulah, aku jadi sadar sesadarnya.

 Bahwa cahaya itulah yang tak henti-hentinya dikejar oleh para bangsawan dan penyihir negeri ini.

"Mana mungkin... aku bisa menang..."

 Kalau cuma kuat, aku juga tidak berniat kalah.

 ──Tapi, itu adalah doa itu sendiri. Perasaan mulia yang dipersembahkan kepada dunia. Satu serangan yang menggambarkan hal itu. Aku melihat sesuatu yang indah. Sampai teringat kembali rasa kagum seperti saat pertama kali mengetahui keberadaan sihir.

"...Euphie."

"Ya."

"...Curang."

"Ya."

"...Curang tahu...!"

 Aku juga, ingin mencoba menggunakan sihir seperti itu. Iri, kesal, dendam.

 Euphie yang memiliki semua yang kuinginkan, begitu menyebalkan sampai tak tertahankan.

"Nona Anis. Anda-lah yang membuat saya sampai ke titik ini."

 Tapi, Euphie berkata begitu. Sambil memegang tanganku, menggenggamnya seolah membungkus dengan lembut.

"Sendirian saya tidak akan sampai. Sendirian saya tidak akan bisa sebegitu mencintai dunia ini. Karena dunia ini ada Anda──dunia ini, begitu indah."

 Euphie menarik tanganku, dan memeluk aku yang bangun seolah menangkapku.

"Karena dunia di mana Anda berada begitu indah. Saya tidak ingin kehilangan hari-hari di mana saya hidup sekarang ini. Jika Anda juga berpikir ini indah, tolong... ──cintailah diri Anda sendiri juga."

 Kata-kata itu terlalu meresap ke dalam hati yang sudah berlubang total. Meskipun bersiap menolak, itu hanya perlawanan sia-sia. Aku hanya bisa menerimanya.

"Euphie... a, ku... aku..."

"Ya. Saya mendengarkan."

"Maafkan aku...! Aku... tidak baik-baik saja...! Aku tidak bisa terus baik-baik saja...!"

 Mustahil, bagiku mustahil. Jika dibilang semua orang tidak akan terima kalau bukan "sihir" seindah itu, aku tidak bisa mencapainya. Jika keindahan itu adalah raja yang diinginkan semua orang, raja yang bisa kujalani hanyalah gumpalan keanehan semata.

 Aku sudah mengakuinya. Euphie jauh, jauh lebih unggul. Dia bisa menjadi raja yang disambut semua orang.

 Tapi, tapi ya? Apa aku boleh besar kepala...? Bahwa Euphie bisa sampai ke sana karena ada aku. Jika kau bilang sihirku yang membuatmu bersinar sampai sebegitu rupa.

 ──Aku, boleh begitu kan? Bolehkan aku menganggap itu sebagai pemenuhan kewajibanku...?

"Nona Anis, saya sudah bilang, kan? Suatu saat zaman di mana Anda diharapkan akan datang. Tidak masalah jika Anda tidak mencapainya sendirian. Saya akan menarik tangan Anda. Saya membutuhkan──Anda, bukan orang lain."

 ...Aku tidak tahu nama apa yang pantas untuk perasaan yang muncul ini. Aku menangis seperti anak kecil dan bergantung pada Euphie. Menangis tanpa bisa menahan diri, terus meraung seolah memuntahkan segalanya selama ini.

 Selama itu, Euphie terus mengelus punggungku. Sentuhan tangan itu seolah menyelamatkanku. Aku hanya bisa berpikir begitu, dan membiarkan diriku hanyut dalam dorongan emosi yang meluap.

 ...Sudah berapa lama waktu berlalu sejak saat itu. Akhirnya aku tenang, dan dibantu berdiri seolah ditarik tangannya oleh Euphie.

 Bersamaan dengan aku berdiri, Ibu berlari menghampiriku. Tapi, sebelum tangannya sampai padaku, kakinya berhenti, tangan yang terulur dan pandangannya mengembara.

 Melihat sosoknya itu, aku meminta Euphie melepaskan tanganku dan berdiri di depan Ibu. Ibu menunduk seolah tidak bisa menatap mataku.

"...Anis, Ibu..."

"Ibu. ...Maafkan aku. Ternyata, bagiku... jadi raja itu, sepertinya mustahil."

 Aku tidak bisa tersenyum dengan baik, jadinya senyum aneh seperti orang bingung, tapi aku rasa aku berhasil mengatakannya pada Ibu sambil tersenyum. Rasa bersalah menyebar memenuhi dada, dan aku ingin menangis lagi.

"Maafkan aku... jadi putri yang tidak becus."

"──Kalau begitu kamu seharusnya menyalahkan Ibu sebagai ibu yang tidak becus!"

 Apakah permintaan maafku menyulut kemarahan Ibu, suara Ibu bergema keras.

"Kamu harusnya membenci Ibu sebagai ibu tak berdaya yang tidak bisa memancing keluar perasaan sesungguhnya putrinya, dan tak bisa menjadi sandaran!"

"Ibu, itu... habisnya, aku..."

"Tanggung jawab siapa kamu tidak bisa menggunakan sihir!? Bukan tanggung jawabmu, kan!? Padahal begitu, terus disuruh memikulnya, mana mungkin tidak menyakitkan!? Padahal Ibu tahu, tapi Ibu membiarkanmu menyerah dengan alasan kewajiban keluarga kerajaan...!"

"...Meski begitu, aku adalah anak Ibu."

 Aku memeluk Ibu yang gemetar menahan tangis. Karena aku tahu Ibu juga ingin dimaafkan, seperti halnya aku ingin dimaafkan. Jadi, sudah tidak apa-apa.

"Aku, ingin menjadi putri yang bisa dibanggakan oleh Ibu dan yang lain..."

"Anis...?"

"Aku pikir kalau aku bisa menggunakan sihir, dengan begitu aku bisa menyebut diriku sebagai putri dengan bangga..."

"Kh, kamu...! Hal seperti itu...! Kenapa... bagaimana bisa...!"

 Ibu tidak bisa berkata-kata, melingkarkan tangan ke punggungku dan gemetar. Aku memeluk erat tubuh kecil itu.

"...Maafkan aku, Ibu. Karena aku tahu betul aku dicintai, makanya rasanya sesak. Aku yang terlahir tidak wajar ini, hanya bisa memilih cara hidup seperti ini..."

"Kamu... kenapa... sampai begitu...!"

"Karena melihat Ibu menyalahkan diri sendiri karena aku tidak bisa menggunakan sihir... itu menyakitkan."

 Mendengar kata-kataku, Ibu mengangkat wajah. Ibu yang memasang ekspresi terkejut, akhirnya wajahnya terdistorsi seperti terluka, tapi setelah menggertakkan gigi gerahamnya sekali, beliau mengangkat wajah lagi.

"Apanya yang putri tidak becus. Bagian mananya dari kamu yang tidak becus. Kamu adalah putri hebat... yang terlalu berharga buat Ibu."

"Ibu..."

"Karena Ibu tidak bisa diandalkan, kamu jadi tidak bisa bilang apa-apa, ya. Maafkan Ibu tidak membiarkanmu mengatakannya. Akulah yang seharusnya memohon ampun."

"Aku tidak ingin Ibu meminta maaf."

"Ya, itu juga Ibu tahu. Makanya rasanya sesesak ini, ya. Tapi, kalau Ibu lari di sini, Ibu tidak bisa menyebut diri sebagai ibumu. Anis."

 Ibu melepaskan pelukanku, dan memegang kedua tanganku. Saat itu, ekspresi yang dipasang Ibu sangatlah lembut. Satu aliran air mata yang menetes sangat berkesan bagiku.

"...Syukurlah Ibu bisa mendengar perasaanmu yang sebenarnya. Anis. Kamu tidak mau jadi raja, kan?"

"...Iya."

"Kamu juga merasa sakit jika Euphie menjadi raja sebagai gantinya, kan? Karena terasa seperti mengorbankannya."

"Iya..."

"Kalau begitu, tolong bantulah negeri ini dengan cara kamu sendiri. Pasti, kalau kamu, kamu bisa melakukannya. Kalau ternyata kamu mau jadi raja, berjuanglah. Kalaupun tidak jadi raja, kamu pasti bisa memikirkan banyak cara untuk membantu negara. Jadi percayalah pada dirimu sendiri. Jatidirimu adalah kekuatan terbesarmu. Karena Ibu yang selama ini terus terbantu olehmu yang mengatakannya, Ibu jamin."

"...Ibu...!"

"Selama ini, kamu terus berjuang, ya. Tapi, sudah tidak perlu berjuang sendirian lagi."

 Mendengar kata-kata itu, rasanya air mata ingin meluap lagi. Aku memeluk leher Ibu seolah bergantung. Ibu memelukku dengan erat.

 Itu saja sudah cukup. Rasanya hidupku selama ini telah terbayar.

 Bukan nilai sebagai keluarga kerajaan, tapi rasanya nilai diriku yang ingin diakui, telah diakui oleh orang yang kuinginkan pengakuannya.

 Rasanya Euphie sedang menjaga aku yang seperti itu. Hal itu terasa seperti keselamatan yang tak terkira bagiku.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar