Topeng pun Terkelupas Jatuh
Setelah aku menangis kepada ibuku, kami memutuskan untuk menunda diskusi tentang masa depan kami ke hari lain agar aku bisa berbicara dengan tenang.
Malam itu, aku meninggalkan kamarku dan menuju ke tujuanku. Aku menuju ke kamar tidur Euphie.
Banyak hal terjadi hari ini, dan jujur saja, aku sangat khawatir sampai kepalaku terasa seperti akan meledak, tetapi kurasa semuanya berjalan baik pada akhirnya.
Bukan berarti aku meragukan perasaan Euphie ketika dia mengatakan dia akan menyerahkan segalanya untukku. Tapi kurasa aku perlu berbicara dengannya sedikit lebih banyak sebelum aku bisa menerima perasaannya.
──Aku punya rahasia yang belum pernah kuceritakan kepada siapa pun. Tapi, aku merasa tidak apa-apa menceritakannya pada Euphie. Aku ingin Euphie mengetahui segalanya.
"......Euphie? Masih bangun?"
Aku mencoba mengetuk pintu kamar tidur Euphie dengan pelan. Rasa segan ini membuatku malu karena seolah menunjukkan ketidaktegasanku yang masih ragu-ragu.
Saat aku berpikir untuk kembali lagi besok jika tidak ada jawaban dan hendak memutar tumit, suara Euphie terdengar.
Pintu terbuka dan Euphie dengan pakaian tidurnya memperlihatkan wajahnya.
"Nona Anis?"
"A... ma, maaf, jam segini."
"Tidak, tidak apa-apa kok. Kalau mau masuk, silakan?"
Karena Euphie mempersilakan, aku pun masuk ke dalam kamar. Euphie kemudian duduk di tepi tempat tidur. Dia menepuk tempat tidur seolah mengundangku duduk di sebelahnya, jadi aku duduk di sana.
"Terima kasih, anu, sudah meluangkan waktu."
"Tidak. Saya juga berpikir bahwa saya harus membicarakan banyak hal dengan Nona Anis."
Karena Euphie mengatakannya dengan tenang, keteganganku pun sedikit mereda. Tapi, meski begitu kata-kata tak kunjung keluar dan aku jadi terdiam.
Selama itu, Euphie terus menunggu dengan tenang sampai aku mulai bicara. Waktu dalam keheningan itu pun, entah kenapa terasa nyaman. Saat larut dalam keheningan, kata-kata sedikit demi sedikit mulai tersusun.
"Pertama, aku berpikir apa yang harus kukatakan... tapi pertama-tama, Euphie, terima kasih."
"Saya tidak melakukan hal yang pantas diberi ucapan terima kasih, tapi..."
"Enggak. Keputusan Euphie yang ingin menjadi raja adalah jawaban yang kamu pilih setelah memikirkan aku, kan? Makanya... terima kasih."
Tapi, aku menyela dengan kata itu. Aku mengepalkan tangan sedikit lalu menatap Euphie.
"Aku senang, tapi aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Biar begini pun aku masih putri negeri ini. Sebagai negara, mungkin Euphie lebih pantas. Jika kontrak roh terwujud, mungkin tidak apa-apa jika Euphie menjadi ratu. Tapi... menyerah sejak awal, menurutku itu salah sebagai seorang putri."
"Bahwa Nona Anis menganggap penting status sebagai putri... tidak, sebagai putri dari Baginda dan Ratu, itu tersampaikan kepada saya."
Euphie menajamkan ekspresinya, lalu menundukkan kepalanya dengan tenang. Aku membelalakkan mata melihat Euphie yang tiba-tiba menunduk.
"Saya hanya fokus pada alasan mengapa Anda tidak ingin menjadi raja, dan tidak sepenuhnya memahami perasaan Anda. Saya mohon maaf."
"Ti, tidak! Aku tidak minta kamu minta maaf! Aku juga, jujur saja, kaget atau lebih tepatnya..."
Aku buru-buru mencoba menghentikan Euphie yang meminta maaf, tapi pada dasarnya aku datang ke sini untuk membicarakan hal itu. Aku tidak bermaksud bersikap setengah-setengah dan membuat Euphie bingung terus-menerus.
Aku menarik napas, lalu menarik napas dalam-dalam beberapa kali. Berkat Euphie, keteganganku sedikit berkurang. Mustahil untuk hilang sepenuhnya, tapi kalau begini aku rasa aku bisa menyampaikan apa yang ingin kusampaikan pada Euphie.
"......Ada alasan kenapa aku bersikeras menjadi seorang putri──menjadi anak Ayah dan Ibu."
"Alasan, ya?"
"Aku punya hal yang selama ini kurahasiakan. Rahasia milikku sendiri yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun. Aku takut hal itu diketahui lebih dari apa pun. Seberat itulah rahasia ini."
"......Siapa pun, kah? Apakah itu termasuk Ilia dan Tilty?"
"Ya. Tidak pernah kubilang pada siapa pun. ......Euphie adalah orang pertama yang ingin kuberitahu."
Saat aku berkata begitu, Euphie membelalakkan mata karena terkejut, lalu memperbaiki posisi duduknya dan menghadap ke arahku. Ekspresinya menegang, sampai-sampai aku merasakan sedikit tekanan.
"Jika Anda mengatakannya dengan seserius itu, maka saya harus mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Selama ini Nona Anis tidak berniat menceritakannya pada siapa pun, begitu kan?"
"......Ya. Aku berniat menyimpannya terus sampai mati."
Aku menarik napas dalam sekali lagi untuk menenangkan diri.
"Euphie, maukah kamu membawa rahasiaku bersama sampai ke liang lahat?"
"Ya, saya bersumpah. Saya tidak akan membocorkan rahasia yang Anda percayakan kepada siapa pun."
Tatapan lurus Euphie, dan gema kata-kata yang terangkai dari perasaan tulus, membuatku melangkah maju untuk terakhir kalinya. Aku mengucapkan rahasia yang selama ini kupikir tidak akan kuberitahukan pada siapa pun.
"──Aku, memiliki ingatan 'kehidupan sebelumnya'."
"......Kehidupan sebelumnya, katamu?"
Sambil menahan diri agar tidak gemetar, aku membuat pengakuan. Mendengarnya, Euphie terdiam.
Dia diam dengan ekspresi bingung, seolah memikirkan bagaimana harus mencerna kata-kataku. Aku pun melanjutkan kata-kataku.
"Aku mengingatnya saat aku mulai berakal. Ingatan saat 'aku yang bukan aku' masih hidup."
"......Maaf, saya kurang mengerti apa yang Anda katakan."
"Eeto, bagaimana bilangnya ya. Sebelum terlahir sebagai aku, aku hidup sebagai orang lain, dan ingatan itu, aku ingat kembali setelah terlahir sebagai aku."
"......Apakah hal seperti itu mungkin terjadi?"
"Buktinya adalah Magicology. Aku tidak berpikir 'ayo terbang dengan sihir', tapi karena aku yakin 'kalau pakai sihir pasti bisa terbang', makanya aku menciptakan Magicology."
"......Artinya sumber dasar Magicology adalah sesuatu yang ada dalam ingatan seseorang yang Nona Anis ingat kembali itu?"
"Ya. Ingatan hidup di dunia sebelumnya, singkatnya ingatan kehidupan masa lalu (reinkarnasi). Dengan ingatan kehidupan masa lalu ini aku merancang Magicology. Konsep reinkarnasi ini pun, adalah konsep yang umum dikenali di dunia itu, ada dalam pengetahuan dari ingatan yang kuingat kembali."
"......Begitu rupanya. Dari cerita Anda, dunia sebelumnya yang Nona Anis ingat itu sepertinya jauh lebih maju daripada di sini."
"Yah, begitulah. Aku tidak bisa menyangkalnya. Di dalamnya, fakta bahwa 'sihir' itu tidak nyata adalah perbedaan terbesar antara dunia sebelumnya dan dunia ini, mungkin."
Saat aku berkata begitu, Euphie membelalakkan mata menunjukkan keterkejutannya. Mungkin ini ekspresi paling terkejut dari semua reaksi dia yang pernah kulihat selama ini.
"Sihir tidak nyata? Bukan sekadar sihir tidak berkembang?"
"Setidaknya sejauh yang bisa kuingat. Tapi, ilmu pengetahuan yang disebut sains dan teknologi berkembang sebagai pengganti sihir."
"Peradaban di mana sihir tidak ada, ya. ......Magicology Nona Anis didasarkan pada pengetahuan dari ingatan masa lalu, kan? Artinya, itu adalah peradaban di mana hal seperti terbang di langit dimungkinkan tanpa menggunakan sihir......?"
"Benar loh?"
Ekspresi Euphie diwarnai sepenuhnya oleh emosi 'tidak mungkin'.
Dia tidak berpikir aku berbohong, tapi sepertinya dia tidak bisa membayangkannya. Melihat Euphie seperti itu, aku jadi tertawa tanpa sadar.
"Itu bukan hal yang aneh kok. Mereka mengembangkan alat sebagai pengganti sihir. Kalau dikasih contoh, mungkin alat transportasi seperti kereta kuda lebih mudah dimengerti ya?"
"Kereta kuda?"
"Ya. Di kehidupan sebelumnya kereta kuda sudah ditinggalkan, dan mobil besi yang bisa jalan sendiri tanpa butuh kuda ataupun sihir adalah hal yang wajar. Itu pun bukan cuma dipakai orang berstatus, tapi rakyat biasa juga menggunakannya."
"......Mobil besi yang berjalan sendiri tanpa butuh kuda, dan tanpa sihir......?"
"Ya. Lalu alasan kenapa aku berpikir bisa terbang di langit, itu karena kendaraan besi bernama pesawat terbang beterbangan keliling dunia. Ini juga kendaraan yang bisa digunakan siapa saja asalkan membayar uang. Tidak terbayang, ya?"
"......Begitu, ya. Kalau berpikir bahwa Anda mengetahui hal-hal seperti itu, saya bisa menerimanya. Hanya saja, tetap ada hal yang sulit dipahami. Jika itu dunia tanpa sihir, muncul pertanyaan dari mana sebenarnya ide Nona Anis terhadap sihir itu datang."
Euphie mengerutkan alis dan mengerang dengan ekspresi sulit. Aku tersenyum pahit melihatnya.
"Dari mana, atau mungkin...... begini, sihir memang tidak nyata tapi itu adalah materi umum dalam cerita impian. Makanya, banyak sekali cerita yang penuh dengan harapan dan doa. Jadi, aku rasa aku menggunakan imajinasiku, seandainya kekuatan yang tidak ada itu menjadi nyata."
"Justru karena itu cerita karangan, ya?"
"Ya. Tanpa sadar aku tertarik, dan kekaguman pada sihir tertinggal sangat jelas sampai mengubah nilai-nilaiku. Aku juga ingin mencoba menggunakan sihir, ingin mewujudkan sihir yang cuma imajinasi itu menjadi kenyataan. Itulah awalku."
"Apakah itu berarti sihir yang dipikirkan secara bebas seperti dongeng, bukan sihir yang dicari karena kebutuhan seperti kami para bangsawan?"
"Penafsiran itu yang paling mendekati. Makanya terlebih lagi, bagiku sihir adalah objek kekaguman."
Itulah titik awalku. Hari di mana aku mengetahui keberadaan sihir, mengulurkan tangan ke langit, dan menjadi kagum.
Apakah karena ada ingatan masa lalu aku jadi sangat kagum pada sihir, atau karena kagum pada sihir yang memicu bangkitnya ingatan masa lalu. Sekarang aku sudah tidak tahu lagi yang mana.
Karena itu aku terus mengagumi sihir. Meskipun itu adalah keajaiban yang tidak akan terwujud. Jika itu ada, aku pasti akan memecahkannya. Dan, aku akan menciptakan sihir yang bisa kugunakan.
Aku berlari sampai hari ini dengan membiarkan diriku terbawa oleh momentum keinginan itu.
"──Makanya, aku jadi takut......"
"......Nona Anis?"
"Aku tidak normal itu gara-gara ingatan masa lalu. Ingatan ini membuatku kagum pada sihir. Membuatku terobsesi sampai tidak bisa berhenti, dan membuatku berpikir hal lain selain itu tidak penting."
Aku memeluk tubuhku sendiri dan menunduk. Lalu memuntahkan emosi yang keruh dan kental seperti lumpur. Emosi berat yang bahkan kuhindari untuk dilihat sendiri.
"Seandainya, alasan aku tidak bisa menggunakan sihir adalah gara-gara ingatan masa lalu. Seandainya, kalau aku tidak mengingat masa lalu, aku berpikir mungkin aku bisa menjadi putri biasa, putri yang wajar yang tidak merepotkan siapa pun."
"Apa yang Anda katakan......?"
"──Apakah aku, benar-benar 'Anisphia Wynn Palettia'?"
Itu adalah kecemasan yang terus bersarang di dadaku.
Dunia dalam ingatan masa lalu penuh dengan hal-hal aneh jika dibandingkan dengan kehidupan sekarang, justru karena itulah aku terpengaruh. Diriku yang terpecah-pecah terpasang seperti kepingan puzzle, dan aku menjadi aku yang sekarang.
Meskipun mengingat masa lalu, aku adalah aku. Meskipun sangat terpengaruh, aku menganggap diriku adalah Anisphia Wynn Palettia.
Tapi, aku yang dilihat oleh orang yang mengetahui fakta ini──sebenarnya dilihat sebagai siapa?
"Isi dalam diriku bukanlah 'aku' yang murni. Apakah aku yang terlahir sebagai 'Anisphia Wynn Palettia' adalah aku yang sekarang? Bagaimana jika saat aku mengingat masa lalu, aku telah menghapus Anisphia yang seharusnya ada di sana? Memikirkan itu...... aku takut. Jangan-jangan aku──telah merebut anak mereka."
Terasa seolah Euphie menahan napas mendengar pengakuanku. Aku tidak bisa lagi menghentikan emosi yang kumuntahkan, dan membiarkannya meluap satu per satu.
"Aku kagum pada sihir, tapi tidak bisa menggunakan sihir. Makanya aku ingin penggantinya. Benar, aku cuma ingin dipuji! Aku ingin bukti bahwa meski agak aneh, aku bisa melakukan hal hebat!"
──Hanya saja, aku takut. Aku tidak tahu apakah aku boleh hidup di dunia ini seperti ini.
"Bisa bayangkan? Kalau mulai besok kamu harus hidup sebagai orang lain? Padahal semua ingatan ada, kamu bisa berpikir itu ingatanmu, tapi kamu mungkin orang lain. Kalau Ayah dan Ibu tahu itu, apa yang mereka pikirkan? ──Anak seperti ini, bukankah menjijikkan?"
Makanya aku memalingkan wajah. Karena tidak mungkin aku membiarkan hal seperti ini diketahui.
Aku terus berkata baik-baik saja untuk menipu diri. Aku hanyalah putri yang aneh. Dibenci pun tidak apa-apa.
Asalkan tidak dicurigai, itu sudah cukup. Meskipun asing, agar identitas keasingan itu tidak terbongkar.
Aku mulai mengenakan sosok ideal yang kugambarkan layaknya sebuah topeng.
Sampai-sampai diriku sendiri pun menganggap bahwa itulah diriku yang sebenarnya.
"Meski begitu aku dicintai. Makanya aku tidak ingin mengkhianati. Tapi, kalau bagaimanapun juga aku hanya dianggap aneh, aku hanya bisa menerobos. Aku berpikir begitu. Karena aku tidak punya senjata selain pengetahuan di kepalaku. Makanya aku menciptakan Magicology."
"......Itukah, rahasia yang Nona Anis pendam?"
"Ya. Aku tidak ingin menyadarinya sih. Habisnya, kalau terus menyadarinya, aku takut berpikir bahwa aku tidak bisa lagi menjadi anak Ayah dan Ibu, bahwa aku merebut anak mereka berdua. Apalagi, mungkin saja aku merebut masa depan negara ini. Semakin dipikirkan, semakin aku takut......"
Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Meski begitu aku tertawa cengengesan mencoba menutupinya.
Seharusnya aku bisa bicara lebih tenang, tapi mustahil. Justru karena aku menyadari diriku yang harus menjadi seorang putri, aku sangat ingin menceritakan 'dosa' ini kepada seseorang.
"Menjadi putri yang aneh itu...... mudah, loh. Itu menjadi 'aku'. Semakin dibilang aneh, semakin aku bisa memantapkan diri. Mencampur aduk semua kebohongan dan kebenaran, aku menciptakan diri yang terlihat seperti aku. Makanya, aku tidak peduli apa pun yang dikatakan orang."
Itu adalah──mungkin, 'penebusan dosa' yang diperbolehkan bagi aku yang telah merebut 'Anisphia' yang mungkin bisa hidup normal.
Bukan cuma kekaguman. Alasan aku terus berlari sampai sekarang adalah──karena lebih dari segalanya, aku tidak bisa mengakui diriku sendiri.
Makanya aku bilang aku suka diriku yang berjuang. ──Sambil mencaci maki diri sendiri lebih dari siapa pun.
Makanya aku pikir tidak apa-apa dikatakan apa pun. ──Demi menerima itu sebagai cacian yang pantas.
Makanya aku terus berpikir sihir itu luar biasa. ──Karena hanya itu sandaranku.
Mengungkapkan isi hati yang kusembunyikan bercampur kepalsuan itu menakutkan, tapi lebih dari itu rasanya membebaskan. Karena aku sudah memutuskan tidak akan memalsukan atau menyembunyikan apa pun di depan Euphie.
"Aku sadar dengan jelas kalau itu dosa adalah saat tersebar rumor bahwa aku mencoba membunuh Al-kun, mungkin."
"Saat ada cerita Anda berselisih dengan Tuan Algard......?"
"Ya. Aku yang palsu ini jangan sampai terlibat dengan takhta berikutnya."
"............Palsu?"
"Sudah aneh, isinya bukan putri pula, tidak ada cara menebusnya kan? Makanya aku menjauh. Gara-gara aku adalah aku, semuanya jadi berantakan. Makanya terlebih lagi, aku pikir aku harus menebusnya dengan mewarisi takhta."
Sejak perpisahan dengan Al-kun, aku sengaja membuat senyum, atau melakukan hal-hal yang membuatku dianggap bodoh. Tanpa sadar aku bersikap sampai topeng itu menjadi seolah isi hatiku yang sebenarnya.
Topeng itu mulai retak, tentu saja karena Al-kun sudah tidak ada. Kemungkinan harus mewarisi takhta membuat topeng isi hati yang palsu dan aku yang asli menjadi terpisah (disosiasi).
"Karena aku mengingat masa lalu, aku jadi mengacaukan semuanya. Kekagumanku pada sihir sampai sekarang tidak berubah, dan aku mencintai Ayah, Ibu, dan Al-kun. Tapi, meski mencintai, dosaku sebagai barang palsu itu──"
──Tidak akan hilang, kata-kata yang hendak kuucapkan itu terhenti. Sebagai gantinya, yang bergema adalah suara pipi yang ditampar.
Sesaat, aku tidak mengerti apa yang terjadi. Hanya pipiku yang panas. Rasa sakit menyerang terlambat. Rasanya kepalaku sedikit terguncang.
Saat mencoba memahami apa yang terjadi, aku menyadari Euphie dengan posisi seperti habis mengayunkan lengan sedang memelototiku.
Sampai di sini akhirnya aku bisa menyadari──bahwa pipiku ditampar oleh Euphie.
"──Anda itu, bodoh. Bodoh sekali......!"
"Euphie......?"
Aku belum pernah melihat Euphie semarah ini. Tanpa sadar aku hampir mundur ketakutan, tapi Euphie mencengkeramku dengan kekuatan yang mendorongku jatuh.
Kalah oleh dorongannya, aku jatuh ke tempat tidur, dan Euphie berada dalam posisi menindih sambil menatapku.
Euphie memperbaiki posisinya, lalu kembali menindihku dan mencengkeram kerah bajuku. Tatapannya tajam, matanya bergoyang seolah terbakar.
Aku hanya bisa menatap bengong air mata yang tumpah dari mata Euphie yang seperti itu.
"──Palsu, mana mungkin ada hal seperti itu!"
"Eh......?"
"Semuanya, semuanya pasti asli! Anda adalah, Anisphia Wynn Palettia!"
Sesaat, aku tidak bisa memahami dari lubuk hati apa yang dikatakan Euphie. Tapi, seolah menyiramku, Euphie menghantamkan kata-katanya.
"Putri negara kita yang mewarisi darah mulia! Meski tidak memiliki sihir, mengirimkan pencapaian agung pengganti sihir ke dunia ini! Meski aneh sebagai keluarga kerajaan, tetap tidak menyerah dan terus teguh memikirkan orang lain! Jika semua itu bukan asli, lalu apa itu!?"
"Euphie......?"
"Yang mengulurkan tangan pada saya adalah Anda! Bukan 'Putri Anisphia yang bukan Anda'. Yang menyelamatkan saya dari keputusasaan hari itu bukanlah orang lain selain Anda! Anda yang ada di sini yang menolong saya!"
Kerah bajuku masih dicengkeram dan diguncang-guncang ke atas dan ke bawah. Tubuhku yang terangkat dari kasur kembali dibenamkan ke kasur. Sebegitu putus asanya Euphie memohon padaku.
"Ada di sini, kan? Apa yang Anda rasakan, harapkan, inginkan, semuanya......!"
Euphie melepaskan jari yang mencengkeram kerahku, dan menelusuri di atas jantungku. Air mata Euphie jatuh menetes di atasnya.
"Anda yang Anda rasakan, Anda yang memikirkan saya, jelas ada di sini...... jangan bilang itu palsu."
"──, ──"
"Tapi, menyakitkan ya? Terus-menerus, selamanya. ......Rasa sakit itu saya tidak tahu. Saya tidak bisa bilang saya tahu. Tapi, justru karena itu izinkan saya mengatakannya, Nona Anis."
Euphie menangkupkan tangannya ke pipiku dan menempelkan dahinya. Mendekat sampai napas kami saling bersentuhan. Dan Euphie berkata dengan segenap perasaannya.
"──Bagiku, Anda adalah 'penyihir' nomor satu di dunia. Jadi busungkan dada Anda."
──Guncangan itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya saja hatiku rasanya mau hancur. Tidak, lebih tepatnya yang mau hancur bukan hati, tapi belenggu seperti rantai yang mengikat hatiku.
Kata-kata Euphie melelehkan semuanya. Ganjalan yang ada di hatiku, belenggu yang bahkan kuhindari untuk kulihat sendiri. Pasung yang saking eratnya mengikat, entah sejak kapan menyatu dengan hati. Melepas belenggu yang sama saja sudah melekat itu pasti sakit. Pasti akan membuat menangis.
Sekarang, aku merasa semuanya telah dimaafkan. Semua yang entah sejak kapan tidak bisa kumaafkan, sekarang sudah tidak penting lagi. Apa yang kuinginkan sekarang, sudah ada dalam genggaman tangan ini. Karena aku merasakan kenyataannya.
Tenggorokanku tercekat. Napasku sesak. Pandanganku penuh air mata sampai tidak bisa melihat apa-apa. Aku memeluk tubuh Euphie seolah bergantung padanya. Aku hanya ingin berteriak, tapi saking sesaknya sampai tidak bisa bernapas.
Aku menginginkan Euphie seperti orang yang meronta. Rasanya seperti orang yang akan tenggelam meraih jerami. Aku tidak ingin melepaskannya sama sekali, orang ini saja sudah cukup bagiku menjadi satu-satunya. Rasanya sangat menyakitkan sampai ingin menyambung napas, tapi rasa bahagia mendadak membanjiriku.
"Te, rima kasih......!"
──Terima kasih sudah diselamatkan. Terima kasih sudah menjadikanku 'penyihir'.
Aku tidak pernah ingin menjadi 'Raja'. Aku selalu ingin menjadi 'Penyihir'.
Seperti memberikan kereta labu pada Cinderella. Aku ingin mengantarkan kebahagiaan dan senyuman pada seseorang. Itu adalah mimpiku. Mimpi yang kupikir bisa kudapatkan tapi tak terjangkau.
──Habisnya aku adalah penyihir jahat. Mengacaukan negara, dan merusak senyuman seseorang. Tapi, bahkan aku yang seperti ini, jika ada kamu dalam genggaman tangan ini, mungkin aku bisa menjadi penyihir yang kuinginkan.
Aah, tidak bisa. Padahal aku ingin berterima kasih tapi bernapas pun susah. Aku ingin tersenyum dari lubuk hati dan menyampaikan rasa terima kasih, tapi sesak, hanya sesak.
──Karena itu, aku tidak tahu apa yang menyumbat napasku.
Rasanya lembut dan hangat.Dia menghembuskan napas ke arahku seolah mengingatkanku untuk bernapas.
Itu adalah napas Euphie. Bibir kami bertemu, saling bertukar kehangatan dan napas.
Keterkejutan itu hanya sesaat, aku menerimanya dengan perasaan seperti dalam mimpi dan melingkarkan tangan ke punggung Euphie. Setiap kali bersentuhan, rasanya sensasi waktu meleleh, dan perasaan yang terbendung meluap keluar bersama air mata.
"...Wha."
"...Wha?"
"...Whaaaaa──...! Me, memalukan...! Ja, jangan lihat......!"
Aku menutupi wajahku dengan kedua tangan. Wajahku terasa panas, benar-benar terbakar. Rasanya seperti ada api yang keluar dari wajahku.
Tunggu, kenapa Euphie menciumku? Dan kenapa aku menerimanya begitu saja!?
Saat aku dipermainkan oleh hawa panas yang meluap dari dalam diriku, Euphie kembali mendekatkan jaraknya seolah turun dari atas. Bibirnya menyentuh bibirku, dan ciuman kedua pun tercuri.
"...Fufu."
Melihat Euphie yang mengusap bibirnya sendiri dengan puas, aku merasakan guncangan seolah jantungku dicengkeram.
Aah, ini gawat. Aku benar-benar kalah telak. Dengan perasaan pasrah seperti itu, aku menutupi wajah dengan kedua tangan. Agar dia tidak melihat wajahku yang pasti sudah merah padam.
──Aku benar-benar telah jatuh cinta pada orang ini, pada Euphyllia Magenta.
"Ke, kenapa kamu menciumku...... Bodoh......!"
Ini sudah kelemahan orang yang jatuh cinta. Aku tidak bisa menatap langsung wajah yang dari dulu sudah kuanggap cantik dan imut itu. Aku tidak bisa membalas tatapan matanya yang menatapku dengan lembut.
Dengan takut-takut aku menggeser tanganku untuk melihat wajah Euphie. Euphie tersenyum dengan tenang, tapi entah kenapa matanya tidak ikut tersenyum. Aku merasakan hawa dingin merambat di punggungku, seolah mata yang menatapku itu hendak menangkap dan menjeratku.
"Karena saya ingin melakukannya. ......Nona Anis, perlihatkan wajah Anda. Saya ingin melakukannya sekali lagi."
"Ti──dak──mau──! Maksudku, turun dariku────! Le─pas─kan──!!"
Karena Euphie mencengkeram pergelangan tanganku dan menguncinya agar aku tidak bisa kabur, aku mencoba memberontak. Tidak, ternyata tenagamu kuat juga ya, Euphie!?
"Ingin melakukan itu, ciuman itu cuma boleh dilakukan dengan orang yang disuka, tahu......!"
"──Saya menyukai Anda."
Kata-kata yang dibisikkan di telingaku itu nyaris menghabisiku. Tapi, aku berusaha mati-matian untuk kabur. Aku merasa kalau terbawa suasana seperti ini, itu sangat tidak baik......!
"I, itu maksudnya rasa hormat atau persahabatan, kan! Pasti begitu, kan──!"
"Jika Anda menginginkannya, saya akan mempersembahkan kesetiaan ataupun persahabatan. Tapi, perasaan ini hanyalah saya mempersembahkan apa yang lahir dari diri saya kepada Anda, jadi jika bisa, saya ingin Anda menerimanya."
Saat tenagaku hilang karena suara yang dibisikkan di telinga, lengan Euphie melingkari tubuhku seolah menjeratku. Saat aku melirik ke samping, melihat mata basah Euphie dari jarak sedekat ini membuat jantungku berdegup ribut sejak tadi.
"──Sepihak, egois, ingin Anda menerimanya, tapi takut juga jika Anda menerimanya. Perasaan benar-benar tidak bisa dikendalikan ya, Nona Anis."
Kata-kata itu seolah melihat menembus isi hatiku. Euphie mengatakannya seolah-olah dia juga merasakan hal yang sama, dan kata-kata selanjutnya tercuri dariku.
Ciuman ketiga begitu intens hingga rasanya pikiranku hampir meleleh. Terlebih lagi, memanfaatkan ciuman itu, ada sesuatu yang seolah dihisap dan direbut dariku.
"Euphie...... tunggu......!"
"......Tidak mau."
Aku menyuarakan protes di sela-sela napas ciuman yang menggigit bibirku dengan manis. Bahkan selama itu, sesuatu terus mengalir keluar seolah ditarik paksa.
Saat aku menyadari bahwa yang ditarik keluar itu adalah kekuatan sihir, rasa kehilangan akibat kekuatan sihir yang keluar dan ciuman yang dalam membuatku tidak bisa melawan. Aku berteriak sebisa mungkin di sela-sela napas.
"Puhah! Eu, Euphie......! Tu, tungguuu......! Nnnnh──!?"
Berkali-kali aku menyuarakan agar dia berhenti, tapi Euphie mengabaikannya dan menghisap bibir serta lidahku.
Sensasi mati rasa yang manis yang seolah melelehkan otak dan pikiranku diberikan berkali-kali. Di tengah kondisi di mana aku perlahan tidak bisa memikirkan apa pun, aku bergantung pada Euphie.
Terseret oleh sensasi kekuatan sihir yang direbut seolah dasarnya jebol, kesadaranku jatuh ke dalam kegelapan seakan terputus begitu saja.
"......? Nona Anis? Nona Anis!? Nona Anis, sadarlah!?"
"Kyuu......"
Terakhir aku merasa Euphie memanggilku dengan panik, tapi aku melepaskan kesadaranku.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar