Featured Image

Tenten Kakumei V3 C7

Metoya Februari 15, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Hal yang Ingin Dipalingkan

Setelah melarikan diri dari istana kerajaan, aku berkeliaran tanpa tujuan. Saat ini, aku tidak ingin ditemukan oleh siapa pun, aku tidak ingin mendengar suara siapa pun, aku hanya ingin sendirian.

Saat aku melarikan diri dari istana kerajaan, tanpa kusadari aku malah sampai di kota kastil. Karena aku tidak berpakaian untuk menyamar, aku masuk ke gang belakang untuk menghindari terlihat dan bersembunyi.

"...Kenapa jadi begini, ya?"

Aku menyandarkan punggung ke dinding dan duduk memeluk lutut. Di sana, mungkin karena sedikit lengah, air mataku tumpah. Setelah itu, aku tidak bisa lagi menahan emosiku.

Aku ingin menangis dengan suara keras seperti anak kecil. Tapi, jika aku menangis, seseorang akan menemukanku. Jadi, aku hanya bisa menahan suara, membenamkan wajah ke lutut, dan menangis.

"...Oi oi, yang benar saja."

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berjongkok. Tapi suara dari atas membuatku buru-buru mengangkat wajah. Entah kenapa, Tomas ada di sana.

"...Tomas? Kenapa...?"

"Apa kau tahu betapa mencoloknya dirimu? Meskipun mengendap-endap, kau tetap mencolok. Aku mencarimu karena penasaran, ternyata malah jadi merepotkan... Aah, seharusnya aku tidak melakukannya!"

Tomas menekan wajah dengan tangannya sambil menghela napas panjang. Aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan kosong, lalu Tomas menutupi kepalaku dengan jaketnya.

"Bisa berdiri?"

"...Eh?"

"Karena sudah kutemukan, mana mungkin aku pura-pura tidak lihat. Kita pergi ke bengkelku, tutupi wajahmu dengan itu."

"...Un."

Sesuai arahan Tomas, aku berdiri dan berjalan sambil menahan jaket Tomas untuk menutupi wajahku. Selama itu, aku terus dituntun oleh Tomas.

Kami melewati jalan belakang untuk menghindari tatapan orang, dan mengambil jalan memutar yang lebih jauh dari biasanya untuk sampai di bengkel Tomas. Biasanya kami masuk lewat pintu depan, tapi hari ini lewat pintu belakang.

"Duduklah dulu."

"...Ya, maaf. Terima kasih."

"...Bikin kacau saja."

Tomas bergumam sambil menggaruk kepalanya dengan tampang terganggu. Setelah duduk sesuai arahan Tomas, aku memandang rumah Tomas dengan tatapan kosong.

Hanya beberapa kali aku pernah masuk dari belakang. Tomas tinggal sendiri, dan rumah yang dulunya ia tinggali bersama orang tuanya ini terasa terlalu luas untuk ditinggali seorang diri.

Saat aku mengedarkan pandangan, Tomas menyeduh teh dan membawakannya untukku.

"Nih, minum kalau mau. ...Ah, perlu dicicipi dulu untuk racun?"

"Tidak usah... Tidak mungkin Tomas meracuniku."

"Begitu ya."

Padahal aku memujinya, tapi dia malah mendecakkan lidah. Tidak masuk akal, pikirku sambil menyesap teh buatan Tomas. Mungkin karena bisa menghela napas lega, ketegangan dalam diriku terlepas, dan tenaga di seluruh tubuhku hilang.

"...Kalau sudah tenang, pulanglah. Perlu kukabari orang istana?"

"...Maaf, jangan... Sekarang, aku belum mau pulang, dan tidak ingin dikabari siapa pun..."

"...Merepotkan..."

"Di saat seperti ini, bukannya biasanya orang akan menghibur tanpa banyak bicara?"

"Kau berharap apa dariku. Pulanglah sebelum jadi keributan aneh, kau mengganggu."

"Mengganggu..."

Mendengar kata-kata itu, air mata perlahan menggenang. Saat aku hampir menangis lagi, Tomas memasang wajah kaget dan menggaruk kepalanya dengan kasar.

"Maaf, deh! Aku akan menyembunyikanmu, jadi tinggallah sesukamu! Tapi, pulanglah sebelum matahari terbenam! Juga, kalau jemputan datang, kau harus pulang!"

"...Apa akan datang?"

"Itu sih... Aah, ya sudah. Aku akan mendengarkan sambil lalu, jadi tumpahkan saja semuanya."

"...Boleh?"

"Kubilang aku akan mendengarkan sambil lalu."

Meski begitu, dia mau mendengarkan. Hal itu membuatku sangat senang sampai ingin menangis, dan aku merasa lega. Karena itu, kata-kata meluncur begitu saja dari mulutku.

Tentang Euphie yang mungkin bisa melakukan kontrak roh. Tentang dia yang ingin menjadi raja menggantikanku jika berhasil melakukan kontrak roh. Tentang dia yang mengatakan bahwa dia ingin melakukan hal nekat itu demi aku.

Tomas hanya diam mendengarkan. Semakin aku bercerita, dadaku semakin terasa sesak, dan aku memeluk tubuhku sendiri seolah ingin mengecilkan diri.

"...Bukannya bagi Nona Anis takhta itu tidak penting?"

"Memang tidak penting! Tapi itu karena ada Al-kun. Karena aku pikir Al-kun yang harusnya jadi raja, jadi takhta tidak penting. Tapi Al-kun sudah tidak ada. Yang harus memikul tanggung jawab raja adalah... aku."

Kalau tidak, aku tidak punya nilai sebagai seorang putri. Karena tidak bisa menggunakan sihir, aku sudah gagal sebagai keluarga kerajaan, jadi kalau dibilang tidak perlu menjadi raja pun... lalu kenapa aku menjadi seorang putri?

"Sekarang ini, bukannya kejam? Tapi aku harus menyerah. Mentang-mentang aku tidak cocok, mentang-mentang aku ingin mewujudkan mimpiku, itu tidak bisa dimaafkan. Tidak mungkin boleh dimaafkan...!"

"...Kenapa begitu? Kalau tidak jadi raja, Nona Anis bisa tetap seperti sekarang, kan? Kalau Nona Euphie jadi raja dan kesulitan, kau tinggal membantunya, apa itu tidak boleh?"

Tomas yang bersedekap dengan wajah masam mengatakan hal itu. Aku menggelengkan kepala.

"...Aku tidak tahu. Karena tidak tahu makanya jadi begini. Aku pikir betapa leganya kalau bisa begitu. Aku tidak mau memikul beban raja, aku tidak mau jadi raja yang tidak diakui siapa pun. Aku cuma ingin meneliti sihir lebih jauh, mengejar sihir yang bisa kugunakan lebih jauh lagi. Tapi, aku tidak bisa mengorbankan orang lain demi keselamatanku sendiri. Aku ini putri negeri ini, kalau itu saja tidak bisa kupikul... untuk apa aku terlahir sebagai putri?"

"Makanya, kenapa kau begitu mempedulikan status putri itu?"

Tomas bertanya dengan suara yang agak tajam. Sebenarnya apa alasanku begitu mempedulikan status putri ini? Meskipun mencoba berpikir, pikiran dan emosiku hanya bercampur aduk tanpa bisa menangkap apa pun.

"Entah putri atau bukan, Nona Anis tetaplah Nona Anis, kan?"

"Mungkin... begitu... tapi..."

"Aku tidak tahu kenapa Nona Anis tidak bisa jujur begitu, tapi jangan melakukan hal yang bikin khawatir. Ada orang yang mengkhawatirkanmu, kan."

Saat disebut orang yang khawatir, ada wajah yang terbayang. Wajah Euphie muncul. Ilia, Lainie, Ayah, dan—Ibu.

"...Tetap saja, tidak bisa."

"Hah? Apanya yang tidak bisa?"

"Aku, sebagai putri... harus melakukan apa yang harus dilakukan dengan benar..."

"Aku tidak mengerti soal keluarga kerajaan, tapi bukannya kau sudah melakukannya dengan hebat?"

Aku mengangkat wajah yang tadinya menunduk dan menatap Tomas. Tomas menatap lurus ke arahku.

"Memang kau tidak seperti putri biasa sih. Tapi kalau kau bilang mau jadi raja, ada orang yang senang kok. Sampai segitu hebatnya Nona Anis sudah berjuang, kan."

"Tapi... mereka tidak akan mengakuinya. Para bangsawan negeri ini tidak akan mengakuiku."

"Kalau begitu biarkan saja. Nona Anis tidak perlu memaksakan diri jadi raja. ...Aku khawatir. Aku cemas kau akan hancur kalau jadi raja. Kau terlalu baik."

...Apa aku baik? Aku tidak tahu. Aku hanya hidup dengan alasan karena aku ingin melakukannya. Aku pikir tidak ada gunanya mempedulikan penilaian orang lain. Aku tidak peduli apa yang dipikirkan orang.

Tapi, kalau naik takhta, aku tidak bisa bilang begitu. Tapi, aku tidak mau hidup di tengah orang-orang yang tidak mengakuiku. Aku juga tidak mau kehilangan kebebasanku.

Meskipun begitu, aku tidak bisa membuang status putriku. Ada diriku yang berbisik bahwa keegoisan semacam itu harus dibuang. Aku terus dipermainkan oleh dua emosi yang bertolak belakang. Aku tidak bisa berkata apa-apa, bahkan tidak bisa menyentuh teh yang diseduhkan Tomas.

Saat itulah. Pintu depan rumah Tomas, pintu masuk bengkel, digedor dengan keras.

"—Tomas! Apa kau ada? Ini Euphie! Kalau ada, jawablah!"

"Uwah!? N-Nona Euphie...?"

Suara yang tiba-tiba terdengar itu adalah suara Euphie yang terdengar mendesak. Aku tersentak dan gemetar. Tomas melihat keadaanku itu, lalu menghela napas pelan.

"...Janji, ya? Mengerti?"

Kalau jemputan datang, aku pulang. Aku mengerti. Sebenarnya aku sangat tidak mau, tapi karena sudah merepotkan Tomas, aku tidak bisa menolak. Melihat aku mengangguk, Tomas berjalan menuju bengkel.

Sambil melihat punggungnya, aku hanya bisa berjongkok memeluk lutut.

"...Nona Anis."

Tak lama kemudian, Euphie masuk. Napas Euphie tersengal, dan aku langsung tahu bahwa dia berlarian mencariku.

Emosi yang masih belum pasti dalam diriku membuatku memalingkan wajah, seolah menolak Euphie. Aku tidak tahu wajah seperti apa yang dipasang Euphie saat aku tidak merespons panggilannya.

"...Aku akan keluar sebentar. Kalau mau bicara, bicaralah dengan benar. Panggil aku kalau sudah selesai."

"Maafkan saya, Tomas. Saya merepotkanmu."

"Kalau kau berpikir begitu, pastikan tidak terjadi hal seperti ini lagi. ...Selesaikan sampai kalian berdua sama-sama puas."

Setelah berkata begitu, Tomas sepertinya menghilang ke arah bengkel depan. Yang tersisa hanya aku dan Euphie.

"...Nona Anis, pertama-tama, syukurlah Anda selamat."

"...Biarkan aku sendiri."

"Itu tidak bisa."

Euphie mendekat ke sisiku dan mengulurkan tangannya ke pundakku. Saat tangan Euphie hendak menyentuh pundak, aku menepisnya.

Euphie menatapku sambil memegang tangannya yang ditepis. Karena aku mengangkat wajah untuk menepis tangannya, pandangan kami bertemu. Euphie mengerutkan alis dengan ekspresi tajam.

Tapi, ekspresi itu entah kenapa melembut. Seolah-olah dia lega dari lubuk hatinya. Karena tidak mengerti kenapa Euphie memasang ekspresi seperti itu, aku menatap wajah Euphie lekat-lekat.

"...Kenapa kau memasang wajah seperti itu?"

"Rasanya saya akhirnya bisa memancing keluar perasaan Anda yang sebenarnya. Fufu, ini pertama kalinya kemarahan Nona Anis diarahkan pada saya, ya."

"Hah...?"

"Saya juga bisa menjadi musuh Anda. Saya bukan sekadar keberadaan yang dilindungi. Terkadang saya memiliki pendapat yang berbeda dengan Anda, dan keinginan kita mungkin bertentangan. Meskipun begitu, kita seharusnya bisa memastikan keinginan satu sama lain."

Euphie berkata begitu. Seolah menyampaikan bahwa dia bukan hanya sekadar dilindungi, tapi terkadang juga punya pemikiran yang berbeda denganku. Meski begitu, kita bisa berusaha untuk saling memahami.

"Jujur saja, saya tidak menyangka akan disenangi. Tapi, saya terkejut karena Nona Anis bereaksi lebih dari yang saya duga."

"...Maaf ya kalau berlebihan."

"Tidak, saya yang salah lihat. Ternyata menjadi seorang putri di dalam diri Nona Anis adalah hal yang jauh lebih penting daripada yang saya kira."

Euphie meraih tanganku. Kali ini aku tidak bisa menepisnya. Saat jari-jari Euphie bersentuhan dengan jariku, suhu tubuhnya tersalurkan.

Begitu merasakan suhu tubuh itu, kelenjar air mataku seketika jebol. Air mata tumpah tak terbendung, dan sambil menempelkan dahi seolah bergantung pada tangan Euphie, aku mengerang.

"Euphie itu... curang...! Aku juga...! Ingin menggunakan sihir...! Sihir yang... diakui oleh semua orang...! Kalau begitu, tidak akan ada siapa pun, tidak ada apa pun! Yang hilang...!"

Euphie begitu kusayangi, begitu hangat, dan karena itulah... aku membencinya. Orang yang memiliki apa yang tidak kumiliki. Orang yang paling mendekati ideal yang kuharapkan.

Rasa sayang ini hampir berbalik. Karena sayang, jadi benci. Euphie adalah anak yang baik, sangat baik, tapi rasanya aku hampir tidak bisa memaafkan itu. Karena itu, aku memuntahkan kata-kata seiring meluapnya emosi.

"Kalau Euphie saja boleh! Kalau bakat sihir adalah segalanya! Dari awal Euphie saja sudah cukup, kan!? Dari awal, semuanya! Andai saja Euphie yang jadi putri dari awal, kan bagus! Kenapa baru sekarang kau mengambil fakta bahwa aku adalah putri! Al-kun sudah tidak ada, jadi cuma aku yang tersisa untuk jadi raja! Makanya, itu kewajibanku! Aku yang harus memenuhinya!"

Aku memukul dada Euphie. Bergantung padanya, merasa kesal, sedih, benci, emosi yang bercampur aduk membuatku mengepalkan tangan dan memukulkannya ke dada Euphie. Berkali-kali, berkali-kali.

Meski begitu Euphie tidak goyah, dia menerima kepalan tanganku. Aku berpikir harus berhenti, tapi tanganku tidak mau berhenti. Bibir dan suaraku gemetar, semua kata-kataku bergetar menyedihkan.

"Aku ini putri, tapi...! Tidak diharapkan oleh siapa pun...! Tapi, aku sudah berusaha! Aku berjuang! Supaya tidak menghalangi Al-kun yang akan jadi raja! Tapi, tetap saja Al-kun menghilang! Gara-gara aku! Kalau begitu, apa yang seharusnya aku lakukan!?"

Masih teringat jelas sekarang, adik laki-lakiku yang telah pergi ke tempat jauh. Akulah yang mengacaukan hidup anak itu. Yang membuat bentuk keluarga kami menjadi aneh adalah—aku.

Makanya aku harus bertanggung jawab. Bukan orang lain, tapi aku.

"Kalau cuma aku yang bisa, aku akan menunaikan tugasku! Tapi, aku ini putri yang tidak dibutuhkan! Padahal Al-kun sudah tidak ada! Walaupun benci, walaupun tidak diakui, aku harus menjadi raja!"

Aku mencengkeram bahu Euphie, dan memuntahkan kata-kata seiring emosi yang menyembur keluar. Emosi yang telah jebol tak tahu caranya berhenti. Semuanya mengalir keluar bersama air mata.

"Aku suka sihir! Cuma suka sihir, dan ingin bisa menggunakannya! Tapi aku ini putri! Putri negeri ini... dan anak Ayah serta Ibu! Putri yang tidak diakui adalah anak mereka, dan Ibu menangis karenanya! Dia meminta maaf padaku! Padahal yang salah itu aku...! Karena aku anaknya, dan aku putri yang gagal! Makanya, makanya aku berjuang! Mulai sekarang pun, aku bisa berjuang...! Makanya... jangan jadikan aku anak yang tidak dibutuhkan...! Aku, tidak apa-apa kok...!"

Ingatan meluap bersama kata-kata. Ibu menangis memeluk aku yang masih kecil, yang tahu bahwa aku tidak bisa menggunakan sihir tapi tetap tidak menyerah membolak-balik buku dan melakukan penelitian.

Maafkan Ibu, katanya. Ibu yang begitu cantik, lembut, dan sangat kusayangi itu. Dia menangis karena aku. Maafkan Ibu karena tidak bisa memberimu bakat sihir, katanya.

Itu bukan tanggung jawab Ibu. Aku membuang hak pewaris takhta bukan hanya demi Al-kun. Aku juga ingin menyelamatkan Ibu. Aku adalah putri yang urakan, Ibu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Aku berharap dia berpikir begitu.

Dibenci orang itu tidak bisa dihindari. Jadi, biasakan saja. Terbiasa dibenci, terbiasa tidak diharapkan. Dengan begitu aku bisa bebas, dan tidak perlu membuat siapa pun sedih.

Jadi tidak apa-apa. Aku, tidak apa-apa. Karena, aku baik-baik saja. Aku bergumam berkali-kali—

"—Mana mungkin kamu baik-baik saja!"

Euphie membantah gumamanku dengan tegas.

Euphie mencengkeram bahuku dan menarikku lepas. Kemarahan tampak di wajah Euphie. Mungkin karena emosinya sedang memuncak, matanya berkaca-kaca oleh air mata.

"Orang yang menganggap orang lain selain dirinya penting, yang tidak bisa membiarkan orang lain, dan mengorbankan dirinya sendiri! Mana mungkin baik-baik saja dibenci semua orang tanpa diakui siapa pun! Tidak mungkin kau baik-baik saja! Makanya takhta itu akan melukaimu! Kau tidak akan diterima oleh negeri ini!"

"...Hentikan."

"Tapi, itu bukan salah Anda! Cara hidup keluarga kerajaan yang tidak bisa bahagia jika tidak punya bakat sihir, cara hidup bangsawan yang hanya menuntut pencapaian sihir, negeri yang tidak bisa membahagiakan orangnyalah yang salah!"

"Hentikan! Jangan bicara begitu sekarang! Biarpun begitu, negeri ini adalah negeri yang berusaha dilindungi Ayah dan Ibu! Aku cuma bisa merusaknya! Habisnya, seberapa pun aku berharap, aku tidak bisa menggunakan sihir! Aku tidak punya bakat! Euphie, yang bisa menggunakan sihir dengan wajar, mana mengerti perasaanku!!"

"—Anda sudah melindunginya, kan. Dengan kekuatan 'sihir' yang Anda percayai lebih dari siapa pun dan apa pun."

Mendengar kata-kata Euphie, aku lupa diri. Bibirku berkali-kali melahap udara, tapi aku tidak bisa bernapas. Hanya dengan rasa tidak percaya, aku menatap Euphie.

Mata Euphie, kekuatan tekad yang terpancar di matanya, menghancurkan kelemahanku yang ingin menganggap itu bohong. Aku tahu bahwa anak ini mengucapkan kata-kata yang benar-benar ia rasakan dari lubuk hatinya padaku.

"Sihir seharusnya bukan berarti kekuatan yang dianugerahkan roh. Sihir adalah sesuatu yang harus diwariskan sebagai bangsawan. Kebahagiaan untuk negeri, senyuman untuk rakyat. Itu adalah kekuatan untuk tujuan itu, dan seharusnya sebuah sumpah."

Euphie mengulurkan tangan dan memelukku erat. Kekuatannya, dan suhu tubuh Euphie yang tersalur langsung, seolah berpindah ke tubuhku.

"Anda memikirkan negeri ini lebih dari siapa pun, dan terus berjuang sendirian, kan. Meskipun tidak diakui siapa pun, Anda telah membuktikan bentuk sihir milik Anda sendiri, kan. Memangnya, siapa yang mengalahkan naga itu? Siapa yang menyadari identitas asli Lainie dan menghentikan amukan Tuan Algard? Semuanya berkat Anda, kan."

Euphie menyampaikan perasaannya seolah berbisik di telingaku. Dia mengakui apa yang telah kucapai.

Kalau diingat kembali, ini adalah hidup yang menyakitkan. Lebih banyak kegagalan dan keputusasaan, tapi aku terus berkeras kepala bahwa aku harus maju. Bahwa jalan ini adalah jalan yang kupilih dan kulewati atas keinginanku sendiri.

Tapi, kalau dibilang aku berlari seolah sedang diburu, aku tidak bisa menyangkalnya. Karena aku adalah putri produk gagal yang tidak bisa menggunakan sihir.

Aku membuang hak pewaris takhta bukan karena aku tidak peduli. Aku melepaskannya meski tahu bahwa itu adalah hal yang benar-benar penting.

Meskipun dipandang dengan tatapan jengah oleh Ayah, meskipun berkali-kali ditegur oleh Ibu, meskipun dibenci oleh Al-kun, asalkan semua orang bahagia. Begitulah, aku terus berharap.

Meskipun begitu, hanya sihir yang tidak bisa kulepaskan. Mengaguminya, putus asa, dan meski putus asa aku tidak bisa menyerah. Aku membuang banyak hal dan memalingkan muka. Tapi, sebenarnya...—

"Apa aku boleh... jadi putri...? Apa aku boleh jadi... anak Ayah dan Ibu...?"

—Selama ini, aku ingin mengatakannya dengan bangga. Bahwa aku adalah putri kalian.

Euphie memeluk tubuhku dengan erat. Seolah menenangkan tubuhku yang gemetar, hanya dengan erat. Kekuatan itu membuatku merasa bahwa aku ada di sini.

"Nona Anis, ayo pulang. Jika Anda mencari jawaban atas pertanyaan itu, orang yang seharusnya Anda tanya sedang menunggu kepulangan Anda."

Mendengar kata-kata itu, aku menangis tersedu-sedu seperti anak kecil dan bergantung pada Euphie. Seolah memuntahkan segalanya hingga saat ini, aku terus menangis.

Euphie memelukku yang seperti itu. Sampai aku tenang, terus, dan terus.

    * * *

Setelah puas menangis dan akhirnya aku tenang, kami meninggalkan Bengkel Persenjataan Gana. Tomas bilang dia akan menganggap tidak pernah mendengar apa pun, dan meminjamkanku jubah luar.

Aku yang baru saja selesai menangis tersedu-sedu tidak bisa menjawab dengan benar, tapi Tomas menepuk punggungku pelan. Dengan itu, perasaannya tersampaikan.

Sepanjang jalan kembali ke istana terpisah, Euphie berjalan duluan seolah menuntun tanganku.

"...Harus minta maaf pada semuanya."

"Benar. Terutama hadapilah Ratu dengan benar. Setelah Nona Anis kabur, kalau tidak diperiksa Lainie, beliau terlihat seakan bisa roboh kapan saja, tahu? Saat ini, Yang Mulia dan Ilia pasti sedang merawat beliau."

"Eh? Maksudnya... semuanya ada di istana terpisah?"

"Ilia hampir melompat keluar kalau saya tidak pergi, tapi saya pikir dia sedang tidak tenang jadi saya hentikan. Kasihan juga kalau hanya Lainie yang menemani Ratu dan Yang Mulia..."











"Euphie benar-benar nekat ya..."

"Ya, jika itu demi Anda, apa pun akan kulakukan."

...Ucapan Euphie barusan membuatku sedikit malu, sampai-sampai aku ingin melepaskan genggaman tangannya. Namun, kehangatan yang kurasakan di telapak tangan ini terlalu sayang untuk dilewatkan, jadi aku tidak bisa melepaskan tangan Euphie.

Begitu sampai di istana terpisah, aku melihat Ilia berlari menghampiri. Aku terkejut melihat Ilia berlari sekuat tenaga—suatu hal yang sangat tidak biasa baginya—hingga secara refleks aku bersembunyi di balik punggung Euphie.

"Nona Euphyllia! Tuan Putri...!"

"Tidak apa-apa. Sekarang beliau sudah tenang."

"...Tuan Putri."

Ekspresi Ilia, yang biasanya jarang goyah, kini terlihat sangat kacau. Sisa-sisa kegelisahan dan kecemasan masih tertinggal, menunjukkan ekspresi rumit yang belum sepenuhnya lega meski aku sudah menampakkan diri begini.

Aku tersenyum lemah pada Ilia yang seperti itu. Melihatku begitu, Ilia pun menghela napas panjang.

"...Mohon maaf, saya kehilangan kendali diri."

"Mmh-mmh, yang pertama kali kehilangan kendali itu aku, kok. ...Maaf ya, Ilia."

"Tidak, ini adalah kelalaian saya. Padahal sudah bertahun-tahun saya berada di sisi Tuan Putri, tapi saya begitu...!"

Aku terkejut melihat Ilia yang gemetar karena luapan emosi dalam suaranya. Aku tidak bermaksud membuat Ilia merasa bertanggung jawab, jadi aku pun merasa serbasalah.

"Ilia, pertama-tama kita harus menemui Ratu dan Baginda."

"...Benar juga."

"Nona Anis, mari kita pergi."

Euphie menarik tanganku seolah mengajakku masuk. Sesaat, rasa takut membuat langkahku hampir terhenti. Namun, kehangatan tangan Euphie memberikan kekuatan pada diriku yang pengecut ini.

Kami langsung menuju ruang tamu. Saat masuk, terlihat sosok Ayah yang sedang menggenggam tangan Ibu, serta Lainie yang mendampingi di sisi mereka. Di tempat yang agak berjarak, terlihat Grantz dan Lumi yang juga berjaga.

Ibu, yang didampingi oleh Lainie dan Ayah, tampak sangat lesu; ketegasan dan kewibawaannya yang biasa sama sekali tak berbekas. Pemandangan itu tumpang tindih dengan ingatan tentang Ibu di masa lalu, membuat perutku terasa sakit seolah dipelintir.

Tanpa sadar aku menggenggam tangan Euphie dengan erat, tetapi Euphie pun membalas genggamanku dengan sama kuatnya. Saat kami melakukan itu, Lainie adalah orang pertama yang menyadari kehadiran kami.

"Nona Anis! Nona Euphyllia!"

Mendengar suara Lainie, Ibu yang menyadari keberadaan kami langsung mengangkat wajahnya dengan cepat. Dengan mata terbelalak, Ibu menatapku. Beliau langsung melepaskan genggaman tangan Ayah dan berlari kencang menghampiriku.

"Anisphia!"

"...Ibu."

Begitu melihat wajahku dari dekat, langkah kaki Ibu yang tadinya begitu cepat mendadak terhenti, seolah kehilangan keseimbangan. Kemudian, beliau menatapku dengan ekspresi yang menyiratkan ketidaktahuan harus memasang wajah seperti apa.

Ayahlah yang menopang Ibu dari belakang, yang tampak seolah ingin bicara namun tak ada kata yang keluar. Ayah hanya menatapku dalam diam. Merasakan tekanan dari tatapan Ayah, aku pun menciutkan bahuku.

"Anisphia."

"...A-Ayah."

"Dasar bodoh...! Kenapa kau tidak mengatakan apa pun sampai keadaannya menjadi seperti ini!"

Aku gemetar mendengar hardikan Ayah. Melihat keadaanku itu, Ayah tersentak, lalu memasang ekspresi masam seolah menelan pil pahit sambil memijat pangkal hidungnya.

"Baginda, usulan saya juga menjadi penyebab kondisi Nona Anis. Mohon sertakan saya juga dalam teguran Anda."

"Euphyllia..."

"Selain itu... Nona Anis, apakah Anda ingin mengatakannya sendiri? Atau saya yang mewakilkan?"

Ditanya begitu oleh Euphie, aku sempat menahan napas sejenak, namun segera menggelengkan kepala. Saat itu Euphie melepaskan tanganku, jadi aku melangkah maju ke hadapan Ayah dan Ibu.

"...Ayah, Ibu, pertama-tama saya mohon maaf karena telah melakukan tindakan melarikan diri secara tiba-tiba."

Ayah dan Ibu tidak mengatakan apa-apa. Dengan kepala sedikit tertunduk dan tanpa sanggup melihat wajah mereka berdua, aku melanjutkan perkataanku.

"Saya pikir, saya baik-baik saja."

"...Baik-baik saja?"

"Karena saya adalah putri negeri ini, saya berniat memikulnya dengan benar. Karena saya seorang putri, saya pikir saya pasti bisa. Saya harus baik-baik saja..."

Aku berkata sambil berusaha mati-matian menahan suara yang hampir bergetar. Aku begitu gugup hingga rasanya ingin muntah, tapi aku berpikir bahwa aku harus mengatakannya dengan benar.

"Jika tidak, saya benar-benar akan gagal sebagai seorang putri. ...Saya tidak akan bisa menyebut diri saya sebagai putri kalian berdua."

Aku terlalu takut untuk melihat ekspresi seperti apa yang ditunjukkan Ibu. Aku juga mendengar Ayah menahan napas. Ah, jika bisa lari, rasanya aku ingin lari saja.

"Saya baik-baik saja. Jadi, lupakan saja apa yang dikatakan Euphie, saya yang akan—"

'Menjadi raja'. Kata-kata itu terhenti oleh pelukan Ibu yang mendekapku.

Tubuhnya sedikit lebih pendek dariku, namun tenaganya luar biasa kuat hingga terasa sedikit sakit. Ibu memelukku begitu erat seolah-olah akan meremukkanku.

"Anisphia! ...Kamu ini bodoh!"

Suara Ibu terdengar seperti menangis. Meski memelukku dengan erat, tubuh Ibu gemetar.

"Apanya yang baik-baik saja! Apa kamu pikir Ibu tidak memahami beban berat yang kamu pikul!? Betapa... betapa sebenarnya Ibu merasa bersalah padamu...! Kamu pasti tidak tahu bahwa Ibu memikirkan hal itu!"

"...Tidak, aku tahu. Karena itulah aku harus berjuang. Aku tidak pernah lupa bahwa Ibu pernah menangis karena tidak bisa memberikan bakat sihir padaku."

"Kalau begitu, kenapa tidak menyalahkan Ibu! Baik kamu maupun Algard, kenapa! Apa kamu mengerti perasaan seorang ibu yang berharap lebih baik dimaki saja! Ibulah yang membebankan segalanya pada kalian! Menuntut kalian harus begitu sebagai keluarga kerajaan! Padahal Ibu tahu apa yang orang katakan tentang kalian, tapi Ibu... Ibu malah memalingkan wajah dengan alasan harus mengurus diplomasi!"

Ibu berkata sambil menengadah menatap wajahku. Air mata telah membanjiri kedua matanya.

"Mana mungkin baik-baik saja! Kamu tidak menginginkan takhta, kan! Matamu selalu berbinar saat bicara tentang dunia luar dan pengetahuan sihir! Demi pergi ke dunia luar, kamu mengasah kemampuan berpedang sebagai pengganti sihir, melahirkan ide Magicology dan penemuan alat sihir! Ketika disuruh mempersembahkan prestasi itu semata-mata demi kerajaan, apa kamu pikir Ibu mengira hatimu tidak sakit!?"

"Ibu... itu... aku, hanya..."

"Hanya, hanya apa!?"

Dipelototi oleh Ibu dengan tatapan menyalahkan sembari beliau bersandar padaku membuat napasku rasanya mau berhenti. Meski begitu, aku harus mengatakannya pada Ibu dengan benar; dengan tekad itu, aku merangkai kata-kata.

"...Karena, aku adalah anak Ibu, dan putri negeri ini...! Karena aku tahu Ayah dan Ibu sudah berjuang keras! Aku tidak ingin menjadi pengganggu! Jika lebih baik tidak diharapkan, maka tidak apa-apa...! Aku hanya, setidaknya, ingin tetap menjadi putri kalian...!"

—Karena, kalau tidak begitu, aku tidak akan mengerti lagi apa arti aku terlahir sebagai seorang putri.

Aku hanyalah beban. Putri yang tidak diharapkan oleh siapa pun. Orang yang paling terluka saat dikatakan aku tidak berbakat adalah Ibu, dan yang paling menderita adalah Ayah. Seandainya aku terlahir sebagai putri yang wajar dan biasa, mereka pasti tidak perlu menderita.

Aku memang tidak bisa mengkhianati keinginanku sendiri, tapi bukan berarti aku tidak menyadari kasih sayang mereka berdua. Karena aku tahu aku dicintai, makanya ada aku yang sekarang ini.

Keluarga kerajaan tanpa bakat sihir itu fatal, tidak aneh jika aku diusir kapan saja. Namun Ayah dan Ibu tetap mencurahkan kasih sayang padaku. Meski mereka mengerutkan alis dan menghela napas melihat tingkahku, mereka tetap menatapku dengan lekat.

Karena aku tahu aku dicintai oleh mereka berdua, aku bersyukur terlahir di negeri ini. Meski banyak hal menyakitkan, aku bisa melaluinya karena aku bisa bermimpi.

Karena yang mengizinkanku bermimpi, tidak lain adalah Ayah dan Ibu. Maka, jika tenagaku benar-benar dibutuhkan, sudah sewajarnya sebagai seorang putri dan anak, aku ingin memenuhinya.

"Jika kalian bilang Euphie lebih baik menjadi raja... lalu kenapa aku menjadi putri...? Jika sejak awal lebih baik Euphie yang menjadi anak kalian, berarti aku tidak dibutuhkan...! Aku putri yang tidak dibutuhkan...!"

Karena itu, meskipun hal itu akan menyelamatkanku—aku tidak mau menerimanya. Karena aku adalah aku, aku telah membuat banyak orang menderita dan bingung. Al-kun dikirim ke perbatasan dan masalah pewarisan takhta mencuat. Kalau begini terus, aku akan menghancurkan negeri yang ingin dilindungi orang tuaku ini.

Itu tidak boleh terjadi. Kalau begitu, aku yang harus melakukannya. Aku yang harus memikulnya. Aku harus menunaikan tanggung jawab terlahir sebagai diriku—

"—Makanya, Ibu bilang kamu itu bodoh. Anisphia."

Ibu melepaskan pelukannya, lalu menangkupkan tangannya ke pipiku.

"Sejak kamu lahir, pernahkah sekali saja Ibu mengatakan kamu anak yang tidak dibutuhkan? Kamu benar-benar tidak mau mencoba memahami perasaan ibumu. Kamu pasti tidak tahu betapa bahagianya Ibu saat kamu lahir."

"...Ibu."

"Bakat sihir itu, jika kamu tidak menginginkannya, sebenarnya tidak penting. Ibu sadar, kamu selalu memikirkan perasaan kami. Tapi, Ibu terlena akan hal itu dan salah menilai."

Dengan mata basah dimana air mata terus menetes, Ibu tetap mencoba menatap wajahku. Tertular olehnya, pandanganku terhadap wajah Ibu pun mulai mengabur.

"Sebenarnya kamu tidak ingin menjadi raja. Kamu ingin meneliti sihir, dan menjadi penyihir, bukan? Terus-menerus, sejak kecil kamu berjuang demi itu, bukan? Apa kamu benar-benar yakin? Kalau jadi raja, kebebasanmu akan hilang. Apa kamu bahagia dengan itu?"

"...Aku tidak bisa, mengatakannya...!"

Pertanyaan yang curang. Mengajukan pertanyaan yang tidak bisa kujawab begitu. Tapi, dadaku terasa penuh. Jika Ibu mau melihatku dan menanyakan apakah aku baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku.

"Aku baik-baik saja, kok. Ibu... percayalah padaku? Sebagai putrimu, aku, ingin berjuang..."

"...Anak bodoh. Benar-benar, kamu ini bodoh...!"

Ibu kembali memelukku dengan erat. Aku pun melingkarkan tangan ke punggung Ibu. Aku tidak bisa memeluk sekuat Ibu. Meski begitu, aku mencari kehangatan Ibu seolah bergantung padanya.

"Anis..."

"...Ayah."

Ayah yang sedari tadi diam meletakkan tangannya di pundakku. Sambil memeluk Ibu, aku mendongak menatap Ayah. Ayah yang menatap wajahku berkata sambil menundukkan kepala seolah terkulai.

"...Maafkan Ayah."

"...Kenapa Ayah meminta maaf?"

"Ayah bergantung padamu, dan tidak bisa memberikan yang terbaik yang kau harapkan. Menganggapmu orang aneh yang mengurung diri di istana terpisah, menyalahkanmu akan hal itu, namun tidak bisa mengizinkan apa yang benar-benar kau inginkan."

"...Apa yang Ayah bicarakan?"

"—Ayah berpikir untuk menerima usulan Euphyllia."

Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Ayah. Aku kehilangan kendali diri dan hendak memprotes Ayah, tapi sebelum itu Ayah menahan pundakku.

"Tenanglah. Itu jika Euphyllia benar-benar berhasil melakukan kontrak roh."

"Ayah!"

"Nona Lumi mengatakan. Kontrak roh tidak akan terwujud jika yang bersangkutan tidak menginginkannya. Sebaliknya, jika dia menginginkannya, bagaimanapun juga itu takkan bisa dihentikan."

"Tidak mungkin...!"

Aku menatap Euphie seolah memohon. Namun, Euphie tidak mengubah ekspresinya seakan dia sudah membulatkan tekad. Dia benar-benar berpikir tidak masalah membuang segalanya demi aku.

"Kalau begitu, biar aku saja! Jika aku bisa melakukan kontrak roh—!"

"—Mustahil."

Yang menyangkal teriakanku adalah Lumi. Aku berteriak balik pada penyangkalan yang terdengar tanpa ampun itu.

"Kenapa mustahil bagiku!"

"Karena kamu adalah 'Marebito'."

'Marebito'. Satu kata itu membuatku menahan napas. Itu sama dengan kata yang pernah digunakan naga untuk menyebutku dulu.

"Sebenarnya apa itu Marebito... kenapa Marebito tidak mungkin melakukan kontrak roh!?"

"Marebito adalah sosok langka yang jiwanya tidak mengandung roh, murni, dan bisa berdiri sendiri."

Kata-kata yang diucapkan Lumi membuat mataku terbelalak. Itu karena fakta tersebut baru pertama kali kuketahui.

"Jiwanya... tidak mengandung roh...?"

"Segala makhluk yang hidup di dunia ini memiliki roh di dalam jiwanya. Roh yang terkandung dalam jiwa itu beresonansi dengan roh sejenis, lalu berubah menjadi sihir. Perbedaan bakat sihir tiap individu disebabkan oleh perbedaan roh yang ada di dalam jiwa mereka."

Aku membelalak mendengar penjelasan Lumi. Aku merasa penjelasannya masuk akal. Ini mungkin adalah kebenaran. Namun karena itulah, ini sekaligus berarti kemungkinan aku bisa menggunakan sihir telah tertutup sepenuhnya.

"Menjadi Marebito saja sudah luar biasa. Bisa hidup tanpa bergantung pada sihir maupun roh. Orang sepertimu selalu berdiri di garis depan perubahan zaman. Wadah pahlawan yang mengubah zaman. Sebenarnya, menurutku penemuanmu itu hebat. Makanya, secara pribadi aku ingin kamulah yang menjadi raja."

"Eh...?"

"Kontrak roh itu, seharusnya dijadikan masa lalu saja. Karena itu aku memberi peringatan agar tidak lahir kontraktor roh, dan jika perlu aku akan menceritakan kebenarannya. Alasan mengapa kontrak roh harus ditinggalkan. Kontrak roh mendatangkan keabadian. Kalau begitu, mengapa keluarga kerajaan kalian bisa ada?"

"Kenapa, keluarga kerajaan bisa ada...?"

Raja pertama adalah kontraktor roh. Kontraktor roh itu abadi. Ketika dua fakta itu terhubung, aku merasakan hawa dingin seolah ada es yang diselipkan ke punggungku.

Mengapa Raja abadi yang memiliki kekuatan mutlak itu, tidak bertahta sampai sekarang?

"Kontrak roh membuat orang menderita. Karena itu, sebagai pendahulu, aku memberikan peringatan. Itulah alasanku masih terus berada di negeri ini."

"Alasan berada di negeri ini... untuk mencegah lahirnya kontraktor roh?"

"Benar. Dan, alasannya sangat sederhana. Karena aku telah menyaksikan 'tragedi' yang disebabkan oleh kontrak roh."

Lumi yang berkata demikian tampak rapuh, seolah bisa menghilang kapan saja. Dia meletakkan tangan di dadanya, dan kembali menyatakan.

"Nama asliku adalah—Lumielle RenĂ© 'Palettia'. Putri dari Raja pertama yang mendampingi saat terakhirnya, sekaligus orang yang membangun fondasi keluarga kerajaan Palettia saat ini."

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar