Tekad yang Tak Diinginkan
──Bangun tidur di pagi hari rasanya benar-benar mengerikan. Sambil merasa muram, aku menatap langit-langit istana terpisah lalu menghela napas dalam-dalam.
"……Perutku, berat……"
Ini, pasti karena stres. Ah, aku sudah tidak tahan. Terlalu banyak hal yang harus diingat kembali sebagai keluarga kerajaan. Bangsawan yang kutemui menatapku dengan tatapan menghindar, dan aku juga harus bisa melihat makna sebenarnya di balik kata-kata manis mereka yang mencoba menyelidiki isi perutku.
"……Ah, hari ini tidak ada jadwal apa-apa ya."
Ayah pasti sudah menyadari kalau aku sudah mencapai batasnya. Seharian ini, aku tidak punya jadwal apa pun. Rasanya seperti pesan tak terucap dari Ayah yang menyuruhku istirahat dengan tenang.
Kalau saatnya manja, ya manja saja. Mengingat kelakuanku selama ini, kalau aku mengatakannya pada Ayah mungkin aku akan dimarahi. Tapi, kalau terus begini rasanya aku akan hancur. Terlalu menyesakkan, sampai-sampai aku hanya bisa berpikir bahwa aku memang tidak cocok menjadi keluarga kerajaan.
Saat aku sedang menatap langit-langit dengan kening berkerut, terdengar suara ketukan di pintu. Saat pintu terbuka, Ilia muncul. Melihatku terkapar di atas tempat tidur, dia mengerutkan kening dan menghela napas.
"……Selamat pagi, Tuan Putri. Sarapannya bagaimana?"
"Makan…… tapi yang ringan saja, kalau berat mungkin tidak masuk……"
"Saya sudah menduga Anda akan berkata begitu. Karena bukan makanan yang pantas disantap di ruang makan, silakan ke ruang tamu. Saya akan menyuruh Lainie menyiapkan teh."
"Makasih, Ilia. Kau benar-benar membantu."
"……Itu sudah tugas saya."
Aku sedikit terhibur dengan sikap Ilia yang memperlakukanku seperti biasa. Setelah dia membantuku bersiap, kami menuju ruang tamu.
Di ruang tamu, Lainie sedang bergumam sambil menempelkan jari di bibirnya. Dia tampak sangat serius, mungkin sedang mengulang kembali langkah-langkah menyeduh teh yang diajarkan Ilia.
"Pagi, Lainie."
"Ah, selamat pagi. Putri Anis."
"Kelihatannya kamu sedang berjuang ya. Ilia galak tidak?"
"Tidak kok, Nona Ilia memperlakukan saya dengan baik."
"Lainie cepat tanggap, jadi mengajarnya pun menyenangkan."
Ilia tampak sedikit bangga saat membicarakan Lainie. Saat aku tertawa melihat betapa senangnya dia memiliki murid yang cepat belajar, dia memelototiku.
"Sepertinya Anda ingin mengatakan sesuatu?"
"G-gak ada kok?"
Saat aku memalingkan wajah untuk menghindari tatapan tajam Ilia, terdengar ketukan di pintu. Lainie yang mendengar suara ketukan itu pergi untuk membuka pintu.
"Ah, Putri Euphyllia. Selamat datang kembali!"
"Aku pulang. ……Apa sedang ada keributan lagi?"
Euphie yang baru kembali dari kediaman Duke Magenta ada di sana. Mungkin suara dari dalam terdengar sampai luar, makanya dia bertanya begitu pada Lainie. Lainie mengangguk sambil tersenyum pahit dengan alis berkerut seolah bingung.
Ya, rasanya lega melihat Euphie kembali, seperti suasana yang biasa.
"Selamat datang kembali, Euphie."
"Ya, Putri Anis. ……Ini mendadak, tapi ada yang ingin saya bicarakan dengan Putri Anis. Bolehkah saya minta waktu sebentar?"
"? Bicara? Ada apa?"
"Tentang masa depan. Saya sudah meminta tolong pada Ayah, dan juga sudah mendapatkan waktu dari Yang Mulia dan Ratu."
Mendengar kata-kata Euphie, ekspresiku menegang. Cerita yang sampai membuat Euphie meminta waktu Ayah dan Ibu melalui Duke Grantz, firasatku mengatakan ini pasti bukan cerita biasa.
Euphie terlihat seperti biasa, tapi apakah cuma perasaanku saja kalau ada yang janggal? Entah kenapa dadaku berdebar.
"Saya telah menemukan apa yang harus saya lakukan. Saya ingin Putri Anis, serta Yang Mulia dan Ratu mendengarkannya."
Mendengar kata-kata Euphie yang penuh tekad, aku hanya bisa mengangguk meski merasa tertekan.
* * *
Karena Euphie bilang dia ingin Ilia dan Lainie juga mendengarkan, kami semua pergi ke istana kerajaan bersama-sama. Sepertinya Ayah sudah meluangkan waktu, jadi kami langsung diantar ke ruang kerja.
Yang menunggu di dalam adalah Ayah dan Ibu, lalu Duke Grantz dan…… seorang gadis yang tidak pernah kulihat.
Rambut putih platinum, mata emas kehijauan, gadis dengan penampilan seperti penyihir itu memancarkan aura yang tidak biasa. Aku tanpa sadar menahan napas karena auranya.
"Sudah datang ya, Anis."
"Ayah…… anak itu siapa?"
"Anis, jangan tidak sopan pada beliau. Beliau ini adalah……"
"Salam kenal, Tuan Putri? Aku Lumi. Kalau kusebut Kontraktor Roh, apa kau paham?"
"……Haaaah!?"
Tanpa sadar aku berteriak kaget pada gadis yang memperkenalkan diri sebagai Lumi. Kontraktor Roh? Anak yang kelihatannya seumuran denganku ini……?
"Kenapa Kontraktor Roh ada di sini……?"
"Karena urusanku, lho. Aku ada urusan dengan anak ini, jadi kami bergerak bersama."
Sambil berkata begitu, Lumi menunjuk Euphie. Euphie juga menerimanya seolah itu hal yang wajar. Eh? Kenapa jadi begitu?
Yang bingung sepertiku adalah Lainie dan Ilia. Ayah, Ibu, dan Duke Grantz tampaknya tidak mempedulikannya. Mengabaikan kebingungan kami, Euphie mulai berbicara.
"Yang Mulia, Ratu. Terima kasih telah meluangkan waktu hari ini."
"Aku dengar dari Grantz ada yang ingin dibicarakan, ternyata dari Euphyllia? Aku tidak menyangka Nona Lumi juga akan ikut……"
"Karena saya ingin hal ini sampai ke telinga Yang Mulia secepat mungkin, jadi saya memaksa Ayah untuk menyampaikannya pada Yang Mulia."
"Tidak apa-apa. Tidak masalah, Euphyllia. ……Tapi, sebenarnya apa yang akan kau bicarakan……"
Ayah mengelus perutnya seolah ingin bilang perutnya sakit. Jujur saja, aku juga merasakan hal yang sama.
"Mari kita duduk dulu. Karena saya rasa ini bukan pembicaraan yang akan selesai dengan mudah."
"Umu…… Ilia, Lainie, kalian juga duduklah. Tidak perlu sungkan dengan orang-orang di sini."
"Apakah boleh?"
"Tidak masalah. Euphyllia juga membawamu dengan maksud itu, kan?"
"Ya. Jika berkenan, silakan."
Karena disuruh oleh Ayah dan Euphie bersamaan, Ilia dan Lainie yang tadinya berdiri menunggu akhirnya duduk juga. Meskipun sofanya besar, karena jumlah orangnya banyak jadi terasa cukup sempit.
Di sofa yang kududuki ada Ilia dan Lainie, Euphie duduk bersama Duke Grantz dan Lumi, dan di sebelah Ayah ada Ibu.
Setelah memastikan semua orang duduk, Euphie berdehem kecil lalu membuka mulut.
"Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih kembali karena telah meluangkan waktu. Kali ini ada permohonan yang ingin saya ajukan kepada Yang Mulia."
"……Hmm. Apakah keberadaan Nona Lumi di sini ada hubungannya?"
"Ya. Sangat berhubungan."
Ayah bertanya sambil menatap Euphie dengan ekspresi tegang. Euphie mengangguk pada Ayah lalu merangkai kata-kata.
"Yang Mulia, Ratu. Pertama-tama saya sampaikan laporannya. Bakat saya telah ditemukan oleh Nona Lumi, dan saya dinyatakan memiliki kualifikasi."
"……Apa katamu? Apakah itu, benar!?"
Ayah menunjukkan keterkejutan dengan semangat seolah akan berdiri dari kursi. Ibu juga menutup mulut dengan tangan dan membelalakkan mata kaget.
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan, jadi aku menatap wajah Euphie.
"Kualifikasi itu…… kualifikasi apa?"
"Kontrak Roh, lho. Ceritanya anak ini punya wadah yang cukup untuk mencapai Kontrak Roh yang baru."
"……Eeeeeeeeh!?"
Yang menjawab pertanyaanku adalah Lumi. Aku berteriak kaget karena Lumi melontarkan hal yang luar biasa itu dengan enteng.
"Ko-Kontrak Roh itu…… Euphie yang?"
Pencapaian besar yang sama dengan Raja Pendiri yang mendirikan Kerajaan Palettia. Mendengar bahwa Euphie punya kemungkinan untuk mencapainya, aku terlalu kaget sampai tidak tahu harus pasang muka seperti apa.
Hanya saja, berbeda denganku yang kaget polos, Ayah dan Ibu memegangi kepala mereka dengan wajah bingung.
"……Jangan-jangan Euphyllia, kau berniat menjadi Kontraktor Roh?"
"Saya berniat begitu."
"Meskipun sudah tahu kebenaran tentang Kontraktor Roh?"
"Ya."
Mendengar jawaban Euphie, wajah Ayah semakin garang. ……Jangan-jangan Ayah merasa tidak senang kalau Euphie berhasil melakukan Kontrak Roh? Tapi, kenapa?
"Euphyllia, menjadi Kontraktor Roh itu berarti…… akan sulit hidup di dunia fana, lho."
"Eh? Ibu, apa maksudnya itu?"
"……Anis. Nona Lumi terlihat umur berapa?"
"Umur berapa…… ya terlihat seumuran denganku sih."
"Beliau ini ya, sudah berwujud seperti ini sejak pertama kali kami bertemu. ……Sejak puluhan tahun yang lalu."
Mendengar kata-kata Ibu, aku mengalihkan pandangan ke Lumi yang sedang bersandar di sofa dengan tidak tertarik. Sudah berwujud seperti ini sejak puluhan tahun yang lalu itu berarti……?
"Kontraktor Roh itu…… jangan-jangan tidak bisa tua?"
"Benar juga ya. Kurasa aku belum sampai seribu tahun sih, Tuan Putri?"
Belum sampai seribu tahun, katanya. Artinya dia pasti sudah berumur ratusan tahun.
Kalau jadi Kontraktor Roh bakal jadi awet muda? Terlebih lagi karena jelas melampaui umur manusia, ada kemungkinan juga abadi.
Lainie yang menyadari kemungkinan itu menatap Lumi dengan tajam. Jika Kontraktor Roh benar-benar awet muda dan abadi, itu adalah idealisme yang dicari oleh leluhur vampir.
"……Euphie, apa kau tidak keberatan dengan itu?"
Kenapa Euphie berpikir tidak masalah menjadi Kontraktor Roh, menjadi awet muda dan abadi. Tiba-tiba aku jadi tidak mengerti apa yang dipikirkan Euphie.
"Ya. Kontrak Roh sangat penting untuk mengabulkan keinginan saya."
"Keinginan Euphie?"
"Ya. Yang Mulia, Ratu. Jika saya menjadi Kontraktor Roh, ada hal yang ingin saya minta dikabulkan."
"Permintaan, katamu?"
"──Saya ingin diangkat sebagai anak angkat keluarga kerajaan."
"…………Ha?"
Siapa yang mengeluarkan suara bingung itu? Mungkin aku, mungkin Ayah, atau mungkin Ibu. Atau mungkin suara semua orang tumpang tindih. Soalnya, selain Duke Grantz dan Lumi, semua orang tercengang mendengar kata-kata Euphie.
"……Tu, tunggu. Tunggu!? Apa yang kau katakan, Euphyllia!? Mengangkatmu jadi anak angkat, lelucon macam apa itu!? Pertama-tama kenapa bisa jadi bicara begitu!?"
"Tujuan saya adalah──untuk menerima hak suksesi takhta dari Yang Mulia."
Kali ini Ayah benar-benar ternganga kaget sampai terjengkang. Di sebelahnya, Ibu menutup mulut dengan tangan karena kaget. Aku membeku karena tidak mengerti apa yang dikatakan Euphie.
"M, menginginkan hak suksesi takhta? K, kau? Tu, tunggu…… tunggu dulu…… Grantz! Apa maksudnya ini!? Kenapa Euphyllia tiba-tiba bicara begini!?"
"Aku juga tidak menyetujuinya. Hanya saja, Euphyllia sudah membulatkan tekad untuk menentangku. Lagipula ini bukan cerita yang tidak menguntungkan bagi kita. Jadi aku putuskan tidak masalah memasukkannya sebagai salah satu pilihan dan mengizinkannya bicara."
"Euphie, menentang Duke Grantz!?"
Itu mustahil, atau lebih tepatnya karena itu Euphie, cerita yang tak terbayangkan.
Bilang ingin hak suksesi takhta juga aneh, dan wajar kalau Duke Grantz menentang.
"Hal seperti itu tidak mungkin diizinkan! Kenapa, hal bodoh seperti itu……!"
Ibu yang sudah mendapatkan kembali sikap biasanya hendak berbicara, tapi terdiam karena tatapan tajam dari Euphie. Kebingunganku semakin dalam melihat aura Euphie yang sampai bisa membungkam Ibu.
"Keinginan saya hanya satu. Saya tidak bisa memaafkan Putri Anis menjadi Raja."
"Ke, kenapa……?"
"Wajar jika Anda terkejut. Saya juga sadar ini tidak sopan. Tapi, ini juga demi negara ini. Saya rasa Yang Mulia dan Ratu juga memahami hambatan besar bagi Putri Anis untuk menjadi Raja. Dan juga, kemungkinan yang akan terjadi setelahnya."
"……Apa yang ingin kau katakan, Euphyllia."
"Putri Anis tidak akan pernah diakui oleh bangsawan negara ini. Tidak punya bakat sihir, hanya karena satu hal itu. Itu adalah hal yang tidak bisa dibalikkan betapapun banyaknya prestasi Magologi dan alat sihir yang ditumpuk."
"……Jadi, kau minta diberi hak suksesi takhta?"
"Saya sudah menerima pendidikan sebagai Ratu selama bertahun-tahun. Awalnya pertunangan dengan Pangeran Algard adalah untuk membawa bakat saya ke dalam keluarga kerajaan, kan? Saya rasa saya memiliki kualifikasi yang cukup untuk meyakinkan para bangsawan."
"Me, memang kau putri keluarga Duke, tapi hubungan darah keluarga Duke Magenta dan keluarga kerajaan terlalu jauh!"
"Benar! Mengangkatmu yang merupakan putri keluarga Duke Magenta sebagai anak angkat itu mustahil!"
Baik Ayah maupun Ibu memprotes Euphie seolah mengatakan mereka tidak bisa menerimanya. Tapi, kata-kata yang seolah menepis protes mereka berdua terlontar dari Duke Grantz.
"Jika usulan ini diterima, Euphyllia akan memutuskan hubungan sepenuhnya dengan keluarga Duke Magenta. Kalian tidak perlu khawatir soal hubungan dengan keluargaku, Orphans, Sylphine."
"Grantz!? Kau…… kau, apa yang kau katakan!? Memutuskan hubungan sepenuhnya!?"
"Kalian bilang hubungan keluarga Duke Magenta dan keluarga kerajaan akan jadi masalah, kan? Kalau begitu, aku tidak berniat menjadi pendukung saat Euphyllia menjadi anak angkat kalian berdua. Aku tidak berniat mengubah pedoman agar Putri Anisphia menjadi Ratu ke depannya."
"Itu justru tindakan nekat!? Sama saja kau bilang akan membuang Euphie sendirian!!"
"Justru karena itulah Kontrak Roh. Jika berhasil mencapai prestasi yang sama dengan Raja Pendiri, saya rasa bisa meyakinkan bangsawan yang condong pada kepercayaan roh. Keluarga Duke Magenta kami telah memenuhi tugas sebagai bangsawan utama sebagai kerabat jauh keluarga kerajaan. Menghadapi krisis kelangsungan keluarga kerajaan ini, saya tidak sayang pada diri sendiri. Saya akan mengubah diri ini menjadi landasan baru, dan melahirkan Raja baru."
"I, itu……"
"Bukankah Anda setuju bahwa cara ini memungkinkan menyambut Raja berikutnya dengan lebih damai daripada Putri Anis menduduki takhta Ratu?"
Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Euphie. Aku mengerti, tapi aku tidak mau mengerti. Otakku menolak untuk memahaminya. Rasanya aku ingin menutup telinga saja.
Aku ingin seseorang menyangkalnya. Kontrak Roh itu bukan prestasi yang bisa dicapai dengan mudah. Bahwa tidak pasti akan diterima sebagai Raja berikutnya hanya karena prestasi itu.
"Euphie, kenapa……? Kau sadar kan betapa kacaunya hal yang kau bicarakan?"
Kumohon katakan ini lelucon buruk. Meski aku mengatakannya dengan perasaan memohon, jawaban Euphie hanya menghantamkan kenyataan seperti mimpi buruk padaku.
"Jika saya berhasil melakukan Kontrak Roh, Putri Anis tidak perlu menduduki takhta yang tidak diinginkan."
"……Tunggu, tunggu dulu! Euphie, aku tidak ingat pernah memintamu melakukan hal itu!"
"Ya. Ini adalah sumpah yang saya putuskan sendiri untuk dipenuhi. Saya tidak ingin Anda menjadi Raja."
"……Kau serius bicara begitu? Tidak sopan sekali kau!?"
"Jika dengan itu perselisihan bisa dihindari, dan yang terpenting ada senyuman Anda, saya tidak keberatan. Apakah Putri Anis benar-benar berpikir bahwa Anda bisa menjadi Raja dan memimpin negara ini?"
"Apa yang……"
"Anda mungkin bisa menjadi Raja. Anda juga mungkin bisa mengubah negara ini. Tapi, bakat Anda tidak akan diterima oleh negara ini sekarang. Akan banyak darah yang mengalir dalam perubahan itu. Dan, Anda akan menyesal karena memaksakan penderitaan pada rakyat."
"……Memang benar, aku tidak punya bakat sihir. Aku tahu aku tidak akan diterima oleh bangsawan negara ini. Kalaupun bisa, paling-paling cuma bisa mengubah negara secara paksa, lalu mewariskannya ke generasi berikutnya! Aku sendiri yang paling tahu itu! Tapi, meski begitu! Itu tidak menjadi alasan untuk membiarkan Euphie memikul beban negara!! Euphie bersaing memperebutkan takhta denganku? Itu beda kasusnya dengan aku bersaing dengan Al lho!?"
Aku hanya punya legitimasi darah. Al punya legitimasi darah dan bakat sihir. Selain itu Al laki-laki, dan wajar kalau dia jadi Raja.
Tapi kalau aku dan Euphie, kami hanya punya salah satu. Euphie punya bakat sihir yang melimpah, aku punya legitimasi darah yang diwariskan.
Mana yang akan diterima? Itu tergantung orangnya. Akhirnya, itu mungkin akan mengarah pada pertikaian. Makanya aku tidak bisa mengakui apa yang mau dilakukan Euphie. Tidak ada alasan untuk mengakuinya.
"──Meskipun begitu, jika saya bisa menjadi Raja, saya bisa melindungi impian Anda!"
Justru karena itulah, aku benar-benar terpukul oleh kata-kata yang diteriakkan Euphie dengan kuat.
Itu bukan demi negara, apalagi demi rakyat. Itu adalah perasaan yang ditujukan hanya untukku seorang.
"Saya juga menerima pendidikan untuk masuk ke keluarga kerajaan. Saya juga punya rekam jejak sebagai putri bangsawan. Ketidakhormatan akibat pembatalan pertunangan juga sudah Anda bersihkan."
"Hh……! Tapi, meski begitu!"
"Saya lebih cocok untuk hidup di dunia bangsawan sebagai Raja daripada Anda. Anda mungkin bisa melakukannya, tapi Anda pasti punya impian yang lebih ingin diwujudkan. Bukan begitu? Bukankah Anda mencintai sihir, menjelaskannya, dan ingin menyampaikan kehebatannya pada lebih banyak orang!? Menjadi Raja, dan menghabiskan Magologi demi prestasi pastilah bukan keinginan Anda!"
Aku tidak bisa membantah. Itu adalah keinginan yang tak pernah hilang dari dadaku. Tapi, tidak boleh. Soalnya, itu egois. Itu keegoisan yang sudah tidak diizinkan lagi untukku.
Dulu ada Al. Makanya aku pikir tidak ada hubungannya denganku. Tapi, Al sudah tidak ada. Keluarga kerajaan yang tersisa hanya aku. Makanya aku harus memenuhi tugasku.
Padahal aku berpikir begitu, tapi hatiku goyah oleh kata-kata Euphie selanjutnya.
"Saya lebih ahli dalam menjalankan peran yang diberikan daripada Anda. Baik itu Ratu, maupun Raja wanita, beratnya tidak berubah. Justru, tanpa menyangkal diri saya yang hidup seperti itu, saya sendiri yang ingin menjadi Raja. Jika di ujung sana ada impian Anda."
"Mimpiku……"
"Ingin mendekati misteri sihir, dan terus mengejarnya. Anda boleh menginginkannya. Tidak, saya izinkan. Jika saya menjadi Raja, Anda pun adalah rakyat. Dan juga menjadi keluarga. Saya ingin Anda mewujudkan impian Anda. Karena impian itulah yang akan memakmurkan negara ini."
Kami yang berdiri saat perdebatan memanas saling berhadapan dan bertukar pandang. Tanpa mengalihkan pandangan, Euphie mendekatiku dan mengulurkan tangannya padaku.
"Meskipun keinginan saya tidak terkabul, saya bersumpah akan berada di sisi Anda dan membantu pemerintahan Anda. Dan jika terkabul, saya ingin melindungi impian Anda dan melihatnya bersama. Anda menjadi bebas adalah harapan dan keinginan saya. Kita seharusnya bisa saling bergandengan tangan tanpa harus berselisih. Karena itu, Putri Anis. Tolong raih tangan saya. Sekarang giliran saya."
"Apa yang…… giliran Euphie……?"
"──Untuk menyelamatkan Anda dari kenyataan di mana Anda hanya bisa putus asa dan menerimanya."
Mendengar kata-kata itu, aku menatap tangan Euphie. Tangan yang diulurkan padaku, yang pasti akan menolongku. Tanganku mencoba meraih tangan itu.
Saat tangan kami hampir bersentuhan──tanganku menepis tangan Euphie dengan keras.
"……Eh?"
Yang terkejut akan hal itu, pasti aku sendiri lebih dari siapa pun. Aku sempat berpikir boleh meraih tangan Euphie. Jika Euphie ikut memikul bersamaku, penderitaan tanggung jawab berat ini akan menjadi ringan.
Kalau Euphie bilang tidak apa-apa, ya tidak apa-apa kan. Pasti ada diriku yang berbisik seperti itu. Meskipun begitu──aku merasa sangat takut pada tangan yang diulurkan Euphie.
Napas sesak. Pandanganku kabur karena tidak bisa bernapas. Tidak boleh, aku tidak boleh menangis di sini.
"Gak boleh, lho…… jangan bilang begitu, jangan biarkan aku bergantung……!"
"Putri Anis……?"
"Kalaupun semua yang dibilang Euphie berjalan lancar, dan kau dapat hak suksesi takhta, hak suksesimu tidak akan lebih tinggi dariku yang anak kandung! Aku ini Tuan Putri! Betapapun aku tidak diterima, aku ini Tuan Putri negeri ini! Kalau peran itu juga diambil oleh Euphie…… apa nilai yang tersisa dariku!?"
Euphie menatapku dengan ekspresi tercengang. Duke Grantz itu juga sedikit membelalakkan mata. Lainie menutup mulutnya, dan Ilia menatapku seolah melihat sesuatu yang tak bisa dipercaya.
"……Anis……?"
──Dan Ayah serta Ibu sedang menatapku. Keduanya membelalakkan mata sampai batasnya, bahkan Ibu memanggil namaku dengan suara gemetar.
Aku memahami makna kata-kata yang baru saja kumuntahkan, dan membekap mulutku.
Bukankah selama ini aku sendiri yang selalu bilang kalau aku tidak punya nilai sebagai seorang Tuan Putri? Padahal begitu, kenapa baru sekarang aku tidak bisa menerimanya? Aku, habisnya, aku!
Aku tidak tahu, sudah, aku tidak ingin tahu apa-apa lagi. Semuanya jadi kacau balau. Pikiranku diaduk-aduk, emosiku juga jadi berantakan.
Aku hanya bisa berteriak kenapa, kenapa, dan bahkan itu pun tak ingin kuluapkan, tapi rasa mualnya parah sekali. Sekalian saja aku ingin memuntahkan semuanya.
Tapi, jika aku meluapkan perasaan ini, aku tidak akan bisa kembali lagi. Karena itu aku takut dilihat oleh semua orang, aku ingin menghilang dari tempat ini, dan secara impulsif aku berlari menuju pintu.
"Tunggu, Anis! ──Tunggu, Anisphia!!"
Seseorang memanggil namaku. Dengan suara menyedihkan yang seolah menusuk telinga. Aku ingin menutup telinga dari suara itu, ingin pergi ke tempat di mana suara itu tidak bisa menjangkauku, dan tanpa mempedulikan pandangan siapa pun, aku berlari sekuat tenaga menembus bagian dalam istana.
──Aku, melarikan diri. Tanpa tahu apa yang menyakitkan, ataupun apa yang menakutkan.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar