Para Ibu yang Memikirkan Anaknya
Itu terjadi beberapa hari setelah kami pergi menyamar ke kota bawah. Aku menerima undangan dari Ratu Sylphine untuk datang ke istana kerajaan dan menghadiri pesta teh pribadi.
Aku mengira Putri Anis juga diundang, tetapi sosoknya tidak terlihat. Jadi, yang menghadiri pesta teh yang diadakan di taman istana kerajaan itu hanyalah aku, Ratu, dan Lainie yang ikut sebagai pendampingku.
Lainie yang berdiri menunggu di belakangku tampak sangat gugup, mengingat dia berada di hadapan Ratu. Tanpa mempedulikan Lainie yang seperti itu, Ratu mengucapkan salam.
"Apakah kamu sehat-sehat saja? Euphyllia."
"Ya. Saya menjalani hari-hari dengan baik tanpa kekurangan suatu apa pun."
Ratu mengangguk puas mendengar jawabanku, tetapi terlihat ada kelelahan di wajahnya. Itu hal yang wajar. Sejak kasus yang disebabkan oleh Pangeran Algard, aku mendengar bahwa Ratu telah mundur dari posisinya sebagai diplomat dan sibuk mengurus pengetatan urusan dalam negeri.
Saat ini, para bangsawan Kerajaan Palettia sedang gempar. Karena Pangeran Algard yang seharusnya menjadi Raja berikutnya telah dicabut hak warisnya, dan Putri Anis menjadi pemegang hak suksesi takhta urutan pertama.
Ilia bercerita bahwa mereka yang selama ini bersikap dingin pada Putri Anis kini ragu menentukan sikap; ada yang mulai mencari muka, ada yang bersikap menunggu dan melihat, pergerakannya bermacam-macam.
Terdengar juga pembicaraan bahwa Putri Anis harus mengangkat seorang pendamping ratu, tetapi Putri Anis adalah orang yang pernah mendeklarasikan tidak ingin menikah seumur hidup.
Mengingat situasi saat ini, meskipun ada deklarasi tersebut, para bangsawan mau tidak mau harus menjadikannya topik pembicaraan. Itu semua mungkin berasal dari kecemasan akan masa depan, tetapi jika memikirkan kelelahan mental Putri Anis, aku bahkan merasa kesal.
"Euphyllia. Anis…… bagaimana keadaannya?"
"……Bagaimana, maksud Anda?"
Setelah sedikit ragu-ragu, Ratu melontarkan pertanyaan yang ambigu. Aku bingung harus menjawab apa, jadi aku balik menanyakan maksudnya.
Ratu yang biasanya selalu tampak anggun dan tegar, kini terlihat sedikit lusuh, mungkin karena kelelahan. Suaranya saat menanyakan tentang Putri Anis pun tidak bertenaga, dan keraguan tampak timbul tenggelam di ekspresinya.
"Situasinya sudah banyak berubah sejak saat itu, apakah ada yang berubah dari Anis?"
"……Benar juga. Saya rasa dia seperti biasa. Tetapi, jika memikirkan masa depan, saya rasa dia berpikir perlu untuk mengarahkan kesadarannya pada politik."
"Begitu. Apakah dia terlihat tidak puas akan hal itu?"
"……Itu, saya tidak bisa mengatakannya."
Apakah Ratu mengkhawatirkan Putri Anis, atau sedang mencari-cari kesalahannya? Yang manapun itu, hanya sedikit yang bisa kujawab. Meskipun aku berpikir Putri Anis merasa tidak puas dengan situasi saat ini, jika ditanya sampai sejauh mana ketidakpuasan itu, aku tidak bisa menjawabnya.
Belakangan ini, aku merasa bagian dalam diri Putri Anis menjadi lebih sulit dipahami daripada sebelumnya. Karena itu, aku hanya bisa memberikan jawaban yang ambigu.
Mendengar jawabanku, Ratu menghela napas panjang. Beliau tidak bisa menyembunyikan kelelahannya, dan melihat kondisinya yang tampak murung membuatku mengkhawatirkan kesehatannya.
"……Begitu. Hari ini aku ingin mendengar tentang Anis. Lainie, kamu juga duduklah."
"Eh!? Ta, tapi saya……"
Lainie yang berdiri menunggu di belakangku bersuara bingung karena perintah tiba-tiba untuk duduk. Melihat Lainie yang seperti itu, Ratu berkata sambil memasang ekspresi yang mirip senyum pahit.
"Pesta teh ini hanya alasan. Aku ingin mendengar cerita dari orang-orang yang berada di sisi putriku. Sebenarnya aku juga ingin Nona dari keluarga Marquis Claret datang, tapi aku ditolak."
"Ti-Tilty menolak undangan pesta teh Ratu!?"
Lainie bersuara kaget, dan dalam hati aku juga merasakan kejutan yang sama. Menolak undangan pesta teh dari Ratu adalah hal yang seharusnya tidak terpikirkan bagi seorang putri bangsawan. Namun, bagian yang membuat sakit kepala adalah aku bisa memaklumi kalau itu Tilty…….
"Apa boleh buat. ……Sepertinya aku dibenci olehnya."
"……Justru, saya rasa orang yang disukai Tilty bisa dihitung jari……"
"Fufu…… benar juga. Lainie, apakah kamu juga membenciku? Meski aku sadar kalau wajar saja jika kamu takut padaku."
"Ti, tidak! Tidak ada hal seperti itu!"
"Kalau begitu aku ingin kamu duduk. Hari ini aku berniat berada di sini bukan sebagai Ratu, tapi sebagai ibu Anis. Bisakah kamu juga mendengarkan ceritaku sebagai orang yang berada di sisi Anis?"
Mendengar Ratu berkata dengan suara lembut, Lainie akhirnya luluh dan duduk di kursi yang telah disediakan dengan ekspresi sungkan. Setelah memastikan itu, Ratu melanjutkan pembicaraan.
"Anis belakangan ini berjuang dengan sangat keras. Seolah masa lalu itu bohong. Tapi, karena perubahannya yang terlalu drastis…… jujur saja, aku bingung."
"Soal bingung, jika memikirkan Putri Anis yang dulu, saya bisa mengerti……"
"Ya, sejak hari anak itu bilang ingin membuang hak suksesi takhta, aku berusaha untuk tidak menganggapnya hanya sebagai seorang putri. Aku berpikir itu akan membantu mengembangkan potensinya."
Setelah berkata sampai di situ, Ratu menghela napas dan menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Warna penderitaan tampak jelas di ekspresinya.
"Itu mungkin menjadi bumerang. Aku, tidak mengerti anak itu."
"……Ada benarnya juga jika dibilang siapa yang bisa memahami Putri Anis."
"Jika kepada kalian juga begitu, apakah itu disengaja?"
"……Disengaja, maksud Anda?"
Mendengar gumaman Ratu, hawa dingin yang familiar menjalar di punggungku. Itu sangat mirip dengan hawa dingin yang kurasakan saat berbicara dengan Thomas beberapa hari lalu.
Ratu meletakkan tangan di dahinya dan melanjutkan kata-katanya bercampur helaan napas.
"Anak itu sendiri memang memiliki pemikiran dan kepribadian yang eksentrik, tapi rasanya dia memanipulasi kesan orang lain setelah memahami sifatnya sendiri. Karena itu, aku tidak tahu Anis yang mana yang merupakan Anis yang sebenarnya."
"Ratu……"
Ratu berkata seolah meratap dengan sikap lemah yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya. Itu pasti wajahnya sebagai pribadi, bukan sebagai Ratu. Tersampaikan dengan jelas bahwa Ratu menderita sebagai seorang ibu terhadap anaknya sendiri.
"Kasus kali ini, kalau boleh jujur pasti tidak disukai oleh anak itu. Karena dia tidak segan-segan menyatakan di depan umum bahwa dia tidak ingin mewarisi takhta. Makanya, saat melihat anak itu bersikap pantas sebagai keluarga kerajaan, aku jadi tidak mengerti, apa yang dia pikirkan. Itu benar-benar membuatku cemas, dan aku ingin mendengar cerita dari kalian. Aku juga sudah coba tanya pada Orphans, tapi……"
"……Apa kata Yang Mulia?"
"……Biarkan dia sendiri, katanya. Dan juga bahwa aku sebaiknya tidak ikut campur."
Begitukah kata Yang Mulia. ……Mengapa Yang Mulia berkata demikian kepada Ratu? Aku rasa Putri Anis sama sekali tidak membenci Ratu. Meskipun sepertinya dia merasa canggung, dia pasti tidak akan merasa tidak senang jika dikhawatirkan.
……Tidak, apakah justru karena itu? Karena jika Putri Anis mengetahui perasaan Ratu, dia akan merasa bersalah.
"Aku tidak apa-apa," katanya. Sosok Putri Anis yang tersenyum dan berkata seperti itu melintas di benakku, membuatku tanpa sadar menggigit bibir.
"……Bagaimana Anis belakangan ini? Bagaimana dia menghabiskan waktu di depan kalian?"
"……Belakangan ini dia sering bilang 'mau bagaimana lagi'. Dia pasti punya ketidakpuasan terhadap situasi saat ini. Tapi saya rasa orang itu tetap akan menjadi Raja. Meskipun, dia harus membekukan hatinya. Karena dia adalah orang yang bisa melakukannya jika diperlukan. Tidak, mungkin lebih tepat dibilang dia 'bisa' melakukannya."
Mendengar jawabanku, Ratu mengembuskan napas panjang dan berat. Ekspresi yang tadinya penuh penderitaan kini bercampur dengan rasa penyesalan, dan bahunya benar-benar terkulai.
"……Aku dibuat sadar sepenuhnya bahwa aku telah gagal mendidik anak-anakku. Algard menjadi muram dan memeluk pemikiran berbahaya. Anis karena kecerdasannya jadi menguasai cara membunuh hatinya. ……Tidak, hal itu tidak salah bagi Anis sebagai keluarga kerajaan. Tapi, itu pasti akan menghancurkan apa yang telah dipupuk oleh anak itu."
Yang dituntut dari seorang Raja adalah keadilan. Semakin baik seorang Raja, semakin emosi pribadi tidak diperlukan. Karena Raja ada untuk memimpin rakyat.
……Aku mengerti, fakta itu terlalu berat bagi Putri Anis. Justru karena dia bebas, justru karena dia punya mimpi, belenggu tanggung jawab sebagai keluarga kerajaan terlalu berat.
"Sekarang, aku harus bilang apa pada anak itu. Aku hanya bisa berinteraksi dengannya sebagai Ratu. Tolong tertawalah."
"Mana mungkin, tertawa itu! Lagipula, itu hanya prasangka Ratu semata. Putri Anis tidak berpikir seperti itu!"
Tanpa sadar aku meninggikan suara dan menyela Ratu. Ratu tampak terkejut matanya membulat, mungkin karena tidak menyangka aku akan meninggikan suara.
Ekspresi itu tumpang tindih dengan Putri Anis, membuatku merasa ingin menangis. Karena aku benar-benar merasakan bahwa Ratu memang ibu Putri Anis.
"Maafkan aku. ……Sepertinya aku juga cukup terpukul."
Aku jadi lemah, ya. Aku hanya bisa terdiam melihat Ratu yang tersenyum kelelahan. Rasa ketidakberdayaan yang pahit menyebar, bahwa aku juga tidak bisa melakukan apa pun untuk orang ini.
──Saat aku berpikir demikian, aku melihat Lainie yang duduk di sebelahku bangkit dari kursinya.
"Ratu, maaf lancang, apa rencana Anda setelah ini?"
"……? Setelah ini aku berencana kembali bekerja."
"Kalau begitu, tolong istirahatlah sebentar selama pesta teh ini saja. Jika berkenan, saya akan perlihatkan kekuatan saya."
"……Kekuatanmu?"
"Masih dalam tahap coba-coba sih…… tapi kekuatan saya mungkin bisa menghibur hati Ratu."
Lainie menatap Ratu dengan mata yang menyimpan tekad. Di dalam pupil merah yang menunjukkan bahwa dia adalah vampir, ada cahaya misterius yang berkedip-kedip.
Tentu saja Ratu juga mengerutkan kening. Kekuatan vampir yang dimiliki Lainie adalah sesuatu yang bisa mengguncang negara tergantung cara penggunaannya. Wajar jika beliau menunjukkan kewaspadaan.
"……Sebenarnya, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Putri Anis yang mengajari saya. Bahwa kekuatan saya jika digunakan dengan baik mungkin bisa digunakan untuk meredakan rasa sakit hati."
"……Jadi, kamu mau menggunakan pesona vampir, tidak, kekuatan interferensi mental kepadaku?"
"Jika Ratu mempercayai saya, saya akan melakukan yang terbaik. Sebagai teman Putri Anis."
Mendengar kata-kata tegas Lainie, Ratu sedikit membelalakkan mata, lalu menundukkan pandangan seolah ragu.
Entah berapa lama beliau diam, Ratu membuka mata dan mengangguk kepada Lainie.
"……Baiklah. Kekuatanmu memang perlu dipastikan. Biarlah aku merasakannya sendiri dengan tubuhku."
Seolah sudah membulatkan tekad, Ratu menatap lurus ke mata Lainie. Lainie sempat menegang sesaat saat ditatap oleh Ratu, tapi segera tersenyum dan bergerak ke sisi Ratu.
Lainie berlutut, memegang tangan Ratu, dan menatapnya dari bawah sambil mulai berbicara.
"Ratu, apakah Putri Anis yang membuat hati Anda sakit?"
"Ya. Aku mengkhawatirkan anak itu."
"Apakah itu karena beliau tidak memperlihatkan isi hatinya sama sekali?"
Mendengar pertanyaan Lainie, ekspresi Ratu sedikit menegang, tapi seolah menepis keraguan, beliau menggelengkan kepala sekali lalu mengangguk.
"……Aku takut karena tidak bisa menebak apa yang dipikirkan anak itu."
"Ya. Kalau begitu, tolong lihat mata saya. ……Itu hanya kekhawatiran Ratu yang tidak berdasar. Beliau sangat menghormati dan menyayangi Ratu. Pengetahuan sebagai keluarga kerajaan adalah hal yang beliau warisi dari Ratu. Hanya saja, karena situasinya berbeda dari sebelumnya, beliau berpikir harus lebih menguatkan hati."
"……Begitu, kah?"
Seiring suara Lainie yang bercerita, kelopak mata Ratu perlahan turun, dan matanya mulai sayu.
Apakah ini aman, pikirku sambil setengah berdiri, tapi Lainie menempelkan jari telunjuk di bibirnya menghentikanku.
Setelah memastikan aku berhenti bergerak, Lainie melanjutkan dengan suara lembut. Pemandangan itu, tampak seolah dia sedang menyanyikan lagu pengantar tidur.
"Ini tentang Putri Anis, lho. Kalau situasi sudah tenang, dia pasti akan mengusulkan kebijakan untuk mendorong Magologi. Kalau begitu, dia akan jadi Putri Anis yang biasa. Tutup mata Anda, dan coba bayangkan."
"……Benar, juga. Anak itu pasti akan mengatakannya……"
Seolah menuruti kata-kata Lainie, Ratu menutup mata dan tersenyum santai seolah tenaganya dilepaskan.
"Bukankah ada Putri Anis yang berkonsultasi pada Ratu tentang seberapa jauh dia boleh bertindak? Dia melontarkan hal-hal yang tidak masuk akal dengan senyum lebar."
"Fufu…… benar-benar seperti terbayang di mata……"
"Ya. Nah, sekarang, Ratu mungkin merasa agak melayang, tapi jangan ragu, dan rilekslah. Bagaimana Ratu akan menjawab Putri Anis yang melontarkan hal tak masuk akal itu?"
"Pertama…… dengarkan…… ceritanya…… tanya apa yang kamu pikirkan……"
Seperti sedang mengigau, Ratu merangkai kata-kata putus-putus. Dan, tiba-tiba tubuhnya gemetar.
"Anis…… aku, bahkan padamu…… tangan ini…… tidak sampai, itu……"
Setetes air mata jatuh dari mata Ratu yang terpejam. Beliau lalu menyandarkan tubuh di kursi, dan terdengar suara napas tidur yang tenang.
Melihat itu, Lainie mengembuskan napas panjang dan melemaskan tubuh. Ada keringat di dahinya.
"……Lainie, apa yang kamu lakukan?"
"Saya menumpulkan rasa sakit hatinya. Kalau ditumpulkan terlalu kuat, sugestinya akan masuk terlalu dalam, jadi saya hanya mendorong beliau untuk bermimpi."
Sambil mempedulikan Ratu yang sedang tidur dan menyesuaikan posisinya agar nyaman, Lainie menjawab.
"Kalau bangun sugestinya juga akan hilang, tapi saya harap beliau bisa melihat mimpi indah walau sedikit dan mengistirahatkan hati serta tubuhnya."
Interferensi mental yang merupakan karakteristik vampir. Menggunakannya untuk meredakan rasa sakit hati. Dan, menerapkan kekuatan itu untuk memperlihatkan mimpi. Apakah ini pemanfaatan efektif kekuatan vampir yang dikatakan Putri Anis?
"……Sejak kapan kamu bisa melakukan hal seperti ini?"
"Hari libur, Ilia menemani saya. ……Sebenarnya saya ingin menghibur hati Putri Anis sedikit saja, tapi tidak bisa."
"……Kamu sudah mencobanya?"
"Entah apakah tato naga itu menangkis sugesti dengan sendirinya, tapi tidak mempan."
"Ternyata begitu. ……Tapi, dibandingkan Lainie, saya benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa ya."
Fakta bahwa Lainie juga berusaha melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku membuatku mengepalkan tangan. Lalu Lainie memiringkan kepala dengan heran.
"Eeh? ……Memang sih Putri Anis punya sisi overprotektif terhadap Putri Euphyllia."
"……Lainie juga berpikir begitu?"
"Putri Anis kan lunak sama orang di lingkupnya? Di antara mereka, saya rasa beliau sangat peka terhadap Putri Euphyllia."
"Itu…… benar juga. Ada kejadian dengan Pangeran Algard juga sih."
"Putri Anis menghindari bicara soal politik dengan Putri Euphyllia, kan. Saya tidak punya pengetahuan untuk ikut dalam topik itu. Jadi kalau ada yang bisa memberi pendapat pada Putri Anis, saya rasa itu Putri Euphyllia, lho?"
"……Saya?"
"Mungkin orang yang paling dipercaya Putri Anis untuk membuka hati adalah Putri Euphyllia. Meskipun beliau punya rasa kasih sayang pada Yang Mulia dan Ratu, ada sisi di mana beliau menarik garis batas……"
"Tapi, yang sudah lama bersamanya adalah Ilia, kan?"
Aku tidak terlalu bisa menerimanya jadi aku menyebut nama Ilia. Lalu Lainie menggelengkan kepala ke kiri dan kanan menyangkal.
"Justru karena sudah lama bersama, Ilia bilang dia tidak bisa menghentikannya. Lagipula Putri Anis bukan tipe yang akan berhenti kalau dibilangin."
Lainie sepertinya menjadi lebih akrab dengan Ilia dari yang kuduga. Memang, meskipun Ilia memberi pendapat, rasanya tidak mungkin dia mengatakan hal yang bertentangan dengan kehendak Putri Anis.
"……Lalu, kenapa saya?"
"Ini cuma pendapat saya sih, tapi saya rasa karena kalian setara."
"Setara? Saya dan Putri Anis?"
"Posisi saya terlalu rendah, dan Ilia juga karena sudah melayani lama jadi terpaku pada hubungan tuan dan pelayan. Beliau menarik garis batas dengan Yang Mulia dan Ratu. Jadi saya rasa orang yang bisa dianggap setara oleh Putri Anis itu sedikit."
"……Begitukah?"
"Saya hidup dengan memperhatikan ekspresi orang lain. Aneh sih kalau bilang sendiri, tapi saya bisa membedakan hal seperti itu. Mungkin itu karakteristik vampir."
Setelah tersenyum sedikit canggung, Lainie melanjutkan kata-katanya.
"Putri Anis itu karena lunak pada orang di lingkupnya, dia susah membiarkan orang masuk ke dalam hatinya. Dan orang yang Putri Anis biarkan masuk ke dalam hatinya, saya rasa adalah orang yang harus dilindungi oleh Putri Anis."
"……Kalau dipikir-pikir, memang benar begitu."
Kami, tidak tahu akan jadi apa jika tidak dilindungi oleh Putri Anis.
Putri Anis yang menerima kami yang seperti ini memang baik, dan juga lunak. Justru karena dia tahu dirinya seperti itu, dia tidak membiarkan orang lain melangkah masuk.
"Di antara mereka, saya pikir yang paling mendekati setara dengan Putri Anis adalah Putri Euphyllia."
"……Saya selalu ditolong oleh Putri Anis. Tidak bisa dibilang setara sama sekali."
"Itu mungkin karena Putri Euphyllia terus menolong Putri Anis selama ini, lho?"
"Saya, menolong Putri Anis……?"
"Terlepas dari kenyataannya, saya rasa berkat Putri Euphyllia-lah Putri Anis bisa bertindak sesuka hati tanpa mempedulikan statusnya sebagai keluarga kerajaan. Beliau bilang karena Putri Euphyllia mendukung Pangeran Algard, jadi beliau tidak khawatir apa-apa. Jadi pasti, Putri Anis berpikir karena ulahnya dia telah membuat Putri Euphyllia menderita, jadi dia ingin membiarkanmu santai."
"Itu…… saya bisa mengerti, tapi, saya……!"
Saya bisa mengerti, tapi saya tidak bisa menerimanya. Bukan hanya tidak mendukung Pangeran Algard, saya malah tidak bisa mendampingi penderitaannya, dan mengundang hal yang tak bisa diperbaiki.
Itu adalah tanggung jawab saya, bukan tanggung jawab yang harus dipikul Putri Anis. Saat aku menggenggam tanganku erat karena pemikiran itu, Lainie memegang tanganku. Ekspresinya saat menatapku terlihat sedikit marah.
"Jangan berpikir hanya Anda yang salah. ……Saya juga jadi merasa tidak enak."
"……Ah. ……Maafkan saya, Lainie."
"Saya juga dibilangin sama Putri Anis untuk menganggap tidak ada cara lain. Apapun hasilnya, usaha yang dilakukan sampai saat itu tidak akan hilang, katanya."
Sambil mengelus tanganku dengan lembut, Lainie melembutkan ekspresinya dan melanjutkan.
"Saya rasa karena Putri Euphyllia melakukan tugas sebagai calon Ratu dengan baik, makanya ada Putri Anis yang sekarang. Jadi bukankah sekarang beliau berpikir ini gilirannya untuk menolong?"
Karena selama ini beliau bertindak sesuka hati dan membuatku menderita? Karena beliau mengakui apa yang telah kulakukan, kali ini beliau mencoba menunaikan tanggung jawabnya?
Kalau begitu, apakah kali ini aku yang harus bebas? Tapi, aku tidak tahu kebebasan apa yang kuinginkan. Bahkan sekarang pun, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Karena aku tidak bisa menjadi seperti Putri Anis. Aku yang seperti ini, apa yang harus kulakukan agar bisa dibilang setara dengan orang itu?
Aku yang hanya dilindungi, apa yang harus kusampaikan? Sebenarnya apa yang ingin kusampaikan? Aku masih belum tahu.
Setelah itu, Ratu yang sudah istirahat cukup bangun dan pesta teh pun bubar.
Setelah membangunkan Ratu, tepat sebelum berpisah, Ratu bertanya pada Lainie apakah boleh meminta kekuatannya lagi, dan sosok Lainie yang kebingungan sangat berkesan bagiku.
Karena melihat sosok itulah aku berpikir. Aku harus mencarinya. Apa yang harus kulakukan sekarang. Sesuatu yang bisa membuatku puas.
Hanya bakat sihir saja tidak cukup. Hanya pengetahuan dari pendidikan yang telah kupupuk saja, masih belum cukup. Sesuatu yang bisa kubanggakan sebagai alasan keberadaanku, telah hilang dariku.
──Jika itu tidak ditemukan…… aku tidak bisa melangkah ke mana pun.
* * *
"──Yuphie, pikiranmu melayang, lho."
"Eh……? Ah…… mohon maaf, Ibu."
Kesadaranku tersita oleh kenangan masa lalu, dan aku tersadar berkat teguran Ibu yang duduk di kursi seberang.
Hari ini hari libur, hari di mana aku pulang ke rumah orang tuaku. Ibu mengajakku minum teh, tapi sepertinya perhatianku terpecah.
"Baru pertama kali ya Yuphie melamun saat sedang minum teh. Apakah aku saja kurang untuk menemanimu?"
"……Saya minta maaf."
"Aku tidak sedang menyalahkanmu, kok. Kalau kamu masih tunangan Pangeran Algard dan berada di posisi calon Ratu berikutnya, aku pasti sudah memarahimu."
Mendengar perkataan Ibu yang tertawa kecil, aku merasa seolah ada beban diletakkan di pundakku.
Lalu tiba-tiba Ibu membetulkan postur duduknya dan menghadap ke arahku. Ekspresinya menegang, dan secara alami aku juga menegakkan punggung.
"Kalau ada masalah, kamu boleh berkonsultasi padaku, lho? Karena selama ini kamu tidak pernah mengandalkan ibumu."
"……Ibu."
"Terlihat terampil padahal kaku, kamu persis Grantz, Yuphie. Ada masalah apa?"
Ditanya dengan lembut oleh Ibu, aku menggenggam tangan yang kuletakkan perlahan di atas lutut. Seolah didorong, aku menyuarakan perasaanku.
"Saya dihadapkan pada kekurangan dan ketidakberdayaan saya, dan merasa tidak berguna. Padahal saya pikir tidak boleh begini terus, tapi saya tidak tahu harus bagaimana……"
"Jadi begitu…… Yuphie, kamu putri kebanggaanku, putri yang penurut dan berhasil. ……Kamu yang seperti itu baru pertama kali menabrak tembok ya. Tapi, apa benar itu masalahmu?"
"……Eh?"
"Begini-begini aku juga orang tua. Aku pikir alasan kamu mengkhawatirkan ketidakmampuanmu adalah karena ada seseorang yang terkait dengan itu…… bukankah begitu?"
Tebakan Ibu membuat jantungku melompat seolah tepat sasaran. Ibu melanjutkan bicaranya tanpa mempedulikan keadaanku.
"Saat masih jadi tunangan Pangeran Algard, kamu bisa melakukan apa pun yang diminta. Kamu punya bakat, dan apa yang dituntut darimu juga cocok dengan sifatmu. Makanya kamu tidak pernah tersandung, kan."
Memang aku tidak pernah merasa sakit saat melakukan apa yang diminta. Aku tidak bilang itu tidak berat, tapi aku tidak pernah merasa galau atau ingin melarikan diri.
"Kamu berubah, Yuphie."
"……Begitukah?"
"Setelah pertunangan dibatalkan Pangeran Algard dan kamu tinggal di tempat Putri Anisphia, kamu terlihat paling hidup dari sebelumnya. Itu pasti terwujud karena Putri Anisphia. Beliau adalah orang yang tidak terikat akal sehat dan bertindak tak terduga seolah mewarnai ulang segalanya. Yuphie sedang galau itu, soal Putri Anisphia, kan?"
"……Ya."
"Sekali-sekali mengandalkan orang tua juga boleh, lho? Apa yang kamu risaukan, apa yang membuatmu menderita. Kadang dengan menceritakannya pada seseorang, perasaan jadi lebih lega."
Mendengar kata-kata lembut Ibu, dadaku serasa diremas. Napasku tercekat, dan aku sadar ekspresiku sedikit terdistorsi.
Apakah benar boleh mengucapkan perasaan ini, keraguan muncul. Mata Ibu yang menatapku yang sedang bimbang sangat lembut, seolah menunggu kata-kataku.
Tatapan itu mengubah kebimbanganku menjadi keluhan lemah yang ingin memuntahkan perasaan ini.
"Saya, ingin menolong Putri Anis. Saya tidak ingin melihat sosoknya menderita, ataupun wajah sedihnya…… tapi, saya menderita karena tidak menemukan apa yang bisa saya lakukan."
"Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan. Kamu bukan orang yang tidak bisa menyadari itu. Jadi inti masalahmu bukan di situ, Yuphie. Apa keinginanmu yang sebenarnya? Bukankah kamu menderita sekali karena itu tidak bisa terwujud?"
Karena keinginan tidak terwujud makanya aku menderita. Lalu, apa keinginanku yang tak terwujud itu? Aku sadar bahwa keinginan yang muncul dari pertanyaan itu adalah sesuatu yang tidak boleh diucapkan.
Karena itu aku refleks menutup mulut dengan tangan. Kepada aku yang seperti itu, Ibu yang entah sejak kapan sudah mendekat mengulurkan tangannya.
"Yuphie."
"……Ibu."
Tangan Ibu mengelus kepalaku perlahan. Seolah mencoba mengeluarkan kata-kata yang tertutup rapat. Kehangatan tangan yang lembut itu membuat kelenjar air mataku tiba-tiba kendur.
Itu menjadi pemicu bagiku untuk menyuarakan isi hatiku dengan perasaan seolah memuntahkan darah.
"Ibu…… saya── tidak ingin Putri Anis, menjadi Raja……"
Sebagai putri bangsawan yang menopang keluarga kerajaan, sebagai mantan tunangan Pangeran Algard, itu adalah keinginan yang tidak pantas diucapkan. Tapi, itulah isi hatiku yang sebenarnya.
Betapapun aku berniat mendukungnya, aku tahu bahwa Putri Anis adalah orang yang paling tidak menginginkan hal itu. Karena aku juga sudah melihat betapa menderitanya Putri Anis untuk menelan tanggung jawab berat menjadi Raja.
Tapi, salah satu penyebab orang itu harus memikul tanggung jawab berat itu ada padaku. Kegagalanku mendukung Pangeran Algard telah mengundang situasi saat ini. Jika memikirkan hal itu, aku hanya merasa tidak berguna, menyesal, dan air mata rasanya ingin keluar.
Lainie bilang aku dan Putri Anis setara. Tapi, aku sama sekali tidak merasa setara.
──Karena, aku telah berbuat kesalahan. Tidak bisa menjalankan peran yang seharusnya.
Aku berpikir mulut mana yang pantas bicara bahwa aku tidak ingin Putri Anis menjadi Raja sekarang. Meski begitu, aku tidak suka Putri Anis yang menyelamatkanku menderita dan harus menerima perubahan yang tidak diinginkannya.
Air mata yang mengalir tanpa sadar jatuh menuruni pipi. Begitu menyadari air mata itu, isak tangis pun hampir tumpah. Ibu memelukku yang seperti itu. Beliau membelai kepalaku dengan tangan lembut seperti yang dilakukan pada anak kecil.
"Keinginanmu itu mungkin pemikiran yang tidak benar bagi seorang putri bangsawan. Tapi, itulah keinginan Yuphie, ya. Tidak ingin Putri Anisphia menjadi Raja. Tapi, keinginan itu tidak akan pernah terkabul. Kamu menderita karena merasa tidak berhak memiliki keinginan seperti itu, kan?"
"……Ibu."
"Penderitaanmu itu, bukan cuma tanggung jawabmu, tapi juga tanggung jawab kami."
Ibu berkata begitu sambil memeluk kepalaku. Suara itu dengan mudah masuk ke telinga dan bergema di hati.
"Pengaruh Putri Anisphia terlalu besar, baik dalam arti positif maupun negatif. Sampai-sampai Yang Mulia Orphans dan Ratu Sylphine pun kewalahan. Lalu, apa yang seharusnya dilakukan? Meski bisa bertanya, sudah tidak bisa diubah lagi. Tidak bisa diulang lagi."
"Saya tahu…… makanya bagi saya, memiliki keinginan seperti ini pun, tidak dimaafkan……!"
Aku bergumam tanpa bisa menyembunyikan getaran dalam suaraku. Lalu Ibu berhenti memelukku, meletakkan tangan di kedua bahuku, dan mengubah posisi untuk berhadapan.
"……Yuphie, kamu adalah wanita berbakat yang diinginkan oleh keluarga kerajaan. Putri kebanggaan kami. Jadi, jika kamu benar-benar sudah membulatkan tekad untuk melangkah, jalan apapun itu Ibu akan mendukungmu."
"……Ibu?"
"Grantz hidup dengan benar sebagai kepala keluarga Duke Magenta. Tapi, menjadi benar belum tentu bisa dibilang baik. Menjadi sempurna dan kecemburuan orang sekitar adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Meski begitu, orang itu berharap kamu menjadi benar. Itulah orang yang menjadi ayahmu."
Ayah yang dibicarakan Ibu memang orang yang seperti itu. Sebagai Duke yang memimpin bangsawan negeri ini, orang yang menuntut dirinya untuk tegas demi menjaga harga diri.
Sebagai putrinya, aku berusaha untuk menjadi benar. Seolah menjiplak cara hidup itu. Aku pikir itulah jalan yang harus kutempuh. Tapi aku sudah tidak bisa melangkah di jalan itu.
Apakah hanya dengan menjadi benar Putri Anis akan selamat? Untuk menyelamatkan orang yang selama ini tertindas oleh kebenaran, apa gunanya kebenaran semacam ini?
Kepada aku yang didorong oleh pemikiran seperti itu, Ibu berkata dengan lembut, namun seolah melepaskanku.
"Cobalah cari. Jalan yang benar-benar ingin kamu tempuh. Waktunya tidak banyak. Sampailah saat itu, berjuanglah sekuat tenaga, berpikirlah, lalu tentukan jalanmu. Atas keinginanmu sendiri sebelum ditentukan oleh orang lain. Meskipun itu adalah keinginan yang seharusnya tidak dimiliki bangsawan, jika itu adalah hal yang tidak bisa kamu serahkan, cobalah untuk mempertahankannya. Kamu tidak menginginkan Putri Anisphia naik takhta, kan?"
"……Bolehkah, saya menginginkannya?"
Kepada aku yang bertanya dengan takut-takut, Ibu melembutkan ekspresinya lalu berkata.
"Tidak boleh, lho. Tapi, jika kamu benar-benar memutuskan begitu, orang yang bisa menghalangimu hanya segelintir. Kamu punya kekuatan sebesar itu. Karena, kamu adalah putri orang itu dan aku."
Ibu tersenyum sambil menempelkan dahinya ke dahiku. Sambil merasakan panas dari dahi itu, aku membiarkan pikiranku berkelana.
Tidak ingin Putri Anis menjadi Raja. Itu keinginan yang terlambat.
Aku yang dibesarkan sebagai putri bangsawan menyangkal keras bahwa itu adalah keinginan yang tidak boleh diharapkan. Meski begitu, senyuman Putri Anis tidak mau hilang dari benakku.
Saat pertunanganku dibatalkan tanpa alasan jelas oleh Pangeran Algard, dia mengulurkan tangan tanpa ragu.
Sejak datang ke istana terpisah, dia mencoba mendekatkan jarak dan bersentuhan sampai aku bingung. Tanpa sadar hatiku terselamatkan oleh keceriaannya yang tanpa sungkan itu.
Profil wajah orang itu yang terlihat sangat menikmati dari lubuk hati saat membicarakan sihir dan mimpi, tampak benar-benar bahagia.
Meski waktunya singkat, itu sudah menjadi sesuatu yang tak tergantikan bagiku, dan menggerakkan hati ini.
Saya ingin melindungi senyuman orang itu yang tertawa tanpa bayang-bayang apa pun. Jika memang ada jalan di mana hal itu benar-benar bisa terwujud, saya akan……──.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar