Featured Image

Tenten Kakumei V3 C4

Metoya Februari 15, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Pilihan yang Dihadapkan

Aku menggenggam kembali tanganku yang gemetar karena gugup. Tempatku berdiri adalah di depan ruang kerja Ayah.

Meskipun hari libur, Ayah tetap datang ke istana, dan rasanya sungkan untuk menyapanya yang masih mengurung diri di ruang kerja bahkan setelah makan malam.

Meski begitu, jika terus begini aku tidak akan bisa melangkah ke mana pun. Sekalipun aku mencari jalan baru, jika aku tidak bisa meyakinkan orang ini terlebih dahulu, bahkan memiliki keinginan pun mungkin tidak akan diizinkan.

Aku membulatkan tekad, mengatur napas, lalu mengetuk pintu ruang kerja.

"Masuk."

Sambil menelan ludah mendengar suara Ayah dari dalam, aku membuka pintu.

Ayah yang sedang menghadap meja kerja mengangkat alisnya sedikit saat melihat sosokku, tetapi dia meletakkan penanya dan menatapku kembali.

"Tumben sekali kamu datang ke ruang kerja, Euphie."

"Maaf mengganggu malam-malam, Ayah. Bisakah saya meminta waktu sebentar?"

Aku bertanya sambil mengerahkan kekuatan pada tangan yang mengepal. Saat aku berusaha mati-matian menahan tubuh yang hampir gemetar, Ayah mengalihkan pandangan dariku dan berdiri dari kursinya.

"Duduklah."

Ayah menunjuk sofa untuk tamu. Aku dan Ayah duduk berhadapan dengan meja di antara kami.

"Ada urusan apa?"

Ayah bertanya dengan datar. Matanya menatapku seolah memelototi, tapi aku tahu ini adalah hal yang biasa bagi Ayah. Meski begitu, mengingat apa yang akan kubicarakan, rasa takut hampir meluap.

"……Saya ingin berkonsultasi dengan Ayah."

"Ho. Kamu berkonsultasi padaku, ya."

"Ayah. ……Apakah Raja berikutnya, benar-benar harus Putri Anis?"

Mendengar pertanyaanku, atmosfer yang menyelimuti Ayah berubah. Seketika udara di dalam ruangan menegang, membuatku merasa sesak napas dan hampir jatuh pingsan.

Sambil menahan rasa tertekan, aku menatap lurus ke arah Ayah. Beberapa saat Ayah membalas tatapanku, tapi tiba-tiba dia mengalihkan pandangan dengan menutup mata.

"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"

"……Saya berharap agar Putri Anis tidak menjadi Raja."

Aku berpikir apa kata-kata Ayah selanjutnya. Apakah teguran, atau kekecewaan. Apapun reaksinya, aku akan menerimanya, dengan pemikiran itu aku menegakkan punggung.

Tidak terlihat perubahan ekspresi pada Ayah. Entah berapa lama kami saling bertatapan, yang memecah keheningan yang membuat perut sakit itu adalah helaan napas Ayah.

"……Pertanyaan yang terlambat, tapi masalahnya adalah tidak ada keturunan lain yang bisa menjadi Raja selain Putri Anisphia. Meskipun ingin mencari pewaris darah kerajaan selain Putri Anisphia, syaratnya terlalu ketat. Singkatnya, saat ini tidak ada orang yang tepat selain Putri Anisphia. Kamu juga mengerti hal itu, kan? Euphyllia."

"……Ya."

"Itulah dasarnya. Kalau boleh jujur, jika ada orang yang memenuhi syarat, memang fakta bahwa kita harus mendukungnya. Sampai sekarang itu adalah Pangeran Algard. Tapi, Pangeran Algard itu sudah tidak ada. Maka aku berpendapat orang yang seharusnya menjadi Raja berikutnya adalah Putri Anisphia."

Mendengar jawaban Ayah, aku menggertakkan gigi. Meskipun aku sudah tahu, saat dihadapkan pada fakta secara gamblang, rasanya dadaku sakit seperti diremas.

"Sekarang kamu bilang tidak ingin Putri Anisphia menjadi Raja, lantas siapa selain dia yang akan menjadi Raja? Kerajaan berdiri karena ada Raja. Tanpa Raja, kerajaan akan kehilangan bentuknya sebagai negara. Jika itu terjadi, itu sama saja dengan bangsawan dan rakyat jelata kehilangan tempat bernaung. Hal itu harus dihindari. Menjaga negara, melindungi rakyat. Itulah tugas kita, para bangsawan."

Apa yang dikatakan Ayah memang benar. Kerajaan berdiri justru karena Raja memerintah negara. Karena itulah Raja berikutnya diperlukan. Demi melindungi Kerajaan Palettia.

Aku juga mengerti bahwa keluarga kerajaanlah yang harus memikul beban dan tanggung jawab itu. Meski begitu, senyuman Putri Anis yang seolah menutupi segalanya terbayang di benakku.

"Putri Anis bisa memecah belah negara. Beliau tidak memiliki bakat yang dituntut dari keluarga kerajaan."

"Justru karena itulah."

"Justru karena itulah…… maksud Ayah?"

"Kamu juga mengerti, kan? Negara ini telah menimbun distorsi yang besar dalam waktu yang lama. Wajar jika ada penolakan saat mencoba meluruskan distorsi itu."

"……Maksudnya pemutusan hubungan antara bangsawan dan rakyat jelata akibat kepercayaan roh?"

"Kesadaran hak istimewa bangsawan karena bisa menggunakan sihir. Agar Kerajaan Palettia bisa berdiri sebagai negara, perlindungan roh memang harus ada. Tapi, jika berlebihan hanya akan mengulangi tragedi Raja terdahulu."

"……Maksudnya kudeta di zaman Raja terdahulu?"

"Benar. Itu juga bisa dibilang insiden yang hampir memecah belah negara. Karena itulah Yang Mulia mencoba memerintah negara dengan mengutamakan keharmonisan. Jika dibilang hasilnya hanya menumpuk distorsi lebih lanjut, itu tidak bisa disangkal. Tapi, fakta bahwa rakyat bisa hidup tenang hingga hari ini juga benar. Mungkin ada cara untuk menghilangkan distorsi meskipun harus memecah negara. Tapi, Yang Mulia tidak memilih jalan itu."

Yang Mulia Orphans mungkin memilih untuk menjauhkan masa depan di mana negara terpecah belah. Tapi, itu tidak menghasilkan solusi mendasar. Hal itulah yang terhubung hingga hari ini.

Akibat kepercayaan roh yang berlebihan dan kesadaran hak istimewa sebagai bangsawan, Putri Anis menderita, dan Pangeran Algard juga tersesat.

"Jika dibilang mau bagaimana lagi, ya mau bagaimana lagi. Yang Mulia…… Orphans memiliki kekuatan untuk menciptakan keharmonisan, tapi tidak memiliki kekuatan untuk mengatasi pergolakan. Justru karena itulah Putri Anisphia diperlukan di negara ini."

"……Apakah karena Putri Anis adalah seorang bidah?"

"Bidah, ya. Memang benar dia bidah. Tapi, apa yang telah dilakukan bidah itu? Hanya bangsawan yang memusuhi Putri Anisphia. Rakyat akan menerima Putri Anisphia. Putri Anisphia memiliki kekuatan inovasi yang tidak dimiliki Orphans. Dia memiliki kekuatan untuk memimpin menuju masa depan yang tidak bisa terwujud di generasi kita."

"……Ayah sangat menilai tinggi Putri Anis, ya."

"Hanya sedikit orang yang membuatku merasa takut. Putri Anisphia adalah salah satu dari sedikit orang itu."

……Ayah takut pada Putri Anis? Mendengar penilaian yang tak terduga itu, aku membelalakkan mata dan menatap wajah Ayah lekat-lekat.

Kejutan ganda bahwa Ayah yang tampak tak kenal takut ini memiliki orang yang ditakuti, dan bahwa salah satu orang itu adalah Putri Anis.

"Aku rasa kamu juga mengerti, tapi Putri Anisphia adalah obat keras. Jika tidak perlu, sebaiknya dia tidak berdiri di panggung utama. Putri Anisphia akan mempercepat zaman terlalu banyak."

"……Zaman."

"Magologi itu seperti air dan minyak dengan tradisi negara kita yang berdiri di atas kepercayaan roh dan otoritas sihir. Tapi, aku berpendapat justru perubahan itulah yang dibutuhkan negara. Itulah alasanku mendukungnya."

Ayah menyandarkan punggungnya sambil menautkan jari-jari tangan, menatapku. Aku sangat mengerti bahwa ada tekad yang tak tergoyahkan di sana.

"Tapi, Putri Anisphia tidak memiliki keinginan untuk menjadi Raja. Itu mungkin karena ada Pangeran Algard. Tuan Putri entah kenapa sangat peka sejak kecil. Karena itu aku menyayangkannya. Justru karena itulah saat keluarga kerajaan memintamu sebagai tunangan, aku pikir itu kesempatan bagus."

"Kesempatan bagus?"

"Setelah Pangeran Algard menjadi Raja dan kamu menjadi Ratu, aku berniat membuat kalian menyadari situasi saat ini lagi, dan memasukkan Magologi Putri Anisphia ke dalam pemerintahan. Karena aku berniat menjadi pendukungnya. Di atas itu, yang kiharapkan dari Pangeran adalah kekuatan untuk menciptakan keharmonisan seperti Orphans. Tapi pedoman pendidikan, terutama di akademi, dikuasai oleh Kementerian Sihir. Itu menjadi bumerang."

Meski mengatakannya dengan datar, Ayah menundukkan pandangannya perlahan. Dari sikap itu aku membaca kelelahan Ayah, dan aku terkejut. Fakta bahwa Ayah yang tak pernah memperlihatkan celah menunjukkan kelelahan, itu pantas membuatku terkejut.

"Tidak berjalan sesuai keinginan. Kadang aku berharap Putri Anisphia menunjukkan semangat untuk berdiri sebagai Raja. Tapi untuk menjadi Raja, beliau terlalu baik hati. Itu adalah kelebihan, dan juga bisa menjadi kekurangan. Terutama jika berdiri sebagai Raja."

"Ayah……"

"Tapi, jika tidak ada penggantinya, kita tidak punya pilihan selain memajukan jarum zaman. Meskipun itu mungkin akan memecah belah negara. Jika terus begini, kita hanya menunggu kehancuran seperti membusuk perlahan. Negara ini butuh pemicu, Yuphie. Demi itu, Putri Anisphia harus memenuhi tugasnya sebagai keluarga kerajaan."

Ayah membuka mata dan menatapku. Di sana terkandung tekad yang tak tergoyahkan.

"Meminta Putri Anisphia menduduki takhta Raja. Aku menganggap itu adalah tanggung jawabku yang harus kupenuhi sebagai pemimpin bangsawan. Bahkan setelah mendengar pemikiranku, apakah kamu masih akan mencari jalan selain Putri Anisphia naik takhta?"

"……Saya."

Sejak bertanya padaku, Ayah terus menatap mataku. Aku sempat memalingkan muka sekali dari tatapan itu, tapi aku menggertakkan gigi geraham dan kembali menghadapi Ayah.

"Meskipun begitu, jika ada cara. Sekecil apapun kemungkinannya…… saya tidak bisa untuk tidak menyerah."

"Kenapa?"

"──Karena bagi saya, itu adalah hal yang benar-benar tidak ingin saya serahkan."

Karena keinginan ini bukan sebagai putri Duke Magenta, melainkan keinginan pribadi Euphyllia Magenta. Karena itu aku tidak bisa menyerah sampai akhir.

Untuk pertama kalinya hatiku berteriak begitu kuat ingin mewujudkannya, tidak ingin menyerah.

Aku sudah tidak bisa mengabaikan teriakan ini lagi. Meskipun tidak benar sebagai putri bangsawan, meskipun disangkal oleh siapa pun.

"Jika Putri Anis menjadi Raja, banyak orang akan terselamatkan, dan di saat yang sama akan banyak orang yang mengarahkan niat jahat padanya. Saya tidak tahu apakah yang menanti di depan sana adalah kemakmuran atau kemunduran. Tapi, ada satu hal yang jelas."

"Apa itu?"

"Di sana, tidak ada senyuman Putri Anis yang sebenarnya."

Aku tidak lagi memalingkan muka dari Ayah. Orang ini telah mendeklarasikan akan menjadikan Putri Anis sebagai Raja sebagai tugas bangsawan. Jadi jika aku mengambil sikap menentang itu, aku pasti akan ditegur.

Mungkin aku akan didesak ke situasi di mana aku tidak bisa bergerak. Tapi, aku tidak merasa bisa mengubah apa pun tanpa meyakinkan Ayah.

"Senyuman Putri Anisphia, ya. Apakah itu…… kau bilang lebih berat daripada masa depan negara?"

"Saya! Tidak ingin mengatakan 'mau bagaimana lagi karena demi negara'!"

Aku meninggikan suara, menatap balik mata Ayah seolah memelototi, sambil meletakkan tangan di dada.

"Masa depan negara itu berat. Saya juga mengerti itu tidak bisa digantikan dengan senyuman satu orang. Meski begitu saya tidak bisa bilang mau bagaimana lagi! Karena tidak bisa bilang begitu, saya tidak ingin menyerah! Sampai saya sendiri menyerah bahwa benar-benar tidak ada jalan lain selain Putri Anis menjadi Raja, saya tidak bisa membengkokkan tekad ini! Meskipun itu sebagai bangsawan…… sebagai putri Ayah berarti saya gagal!"

Bahkan jika harus membuang semua yang telah kubangun hingga kini, aku tidak peduli. Keinginan ini hidup begitu kuat hingga aku merasa tidak keberatan kehilangan status, keluarga, dan segalanya.

Rasa ini sudah tumbuh begitu besar hingga aku sendiri pun tak bisa menghentikannya. Bukan karena diminta siapa pun, tapi karena ini adalah keinginan yang kuharapkan sendiri, makanya tidak bisa ditekarn.

"……Meskipun kehilangan segalanya, ya."

Mendengar kata-kataku, Ayah menundukkan matanya dengan lembut dan tenang. Tidak terlihat menyalahkan, tidak juga menunjukkan kekecewaan, sepertinya beliau hanya menerima kata-kataku.

"Boleh kehilangan segalanya. Apakah kau memikirkan Putri Anisphia sampai rela mempertaruhkan segalanya?"

"Ya."

"Apakah itu kesetiaan? Ataukah balas budi? Atau simpati? Kenapa bisa mempertaruhkan sampai sebegitunya?"

Terhadap pertanyaan tenang Ayah, aku menundukkan mata seolah mengatur napas, lalu membuka mata lagi dan memberikan jawaban pada Ayah.

"──Hanya karena, saya mencintainya."

Kesetiaan, balas budi, simpati. Mungkin semua kata itu cocok. Emosi yang terjalin serumit itu, segala yang ada padaku menginginkannya. Hanya mencintai orang itu. Sampai aku merasa rela mempertaruhkan segalanya.











Bahwa saya diulurkan tangan terlebih dahulu, bahwa saya diberi cahaya bernama harapan dalam situasi yang tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya ingin melindungi orang yang dengan bangga menceritakan kemungkinan dari ketidaktahuan itu.

Alasannya cukup itu saja. Logika, nalar, bahkan melampaui semua itu, ada sesuatu yang ingin saya lindungi. Saya jadi bisa berpikir ingin hidup bebas, seperti yang dilakukan orang itu.

Ayah hanya menatapku. Setelah itu, tiba-tiba ekspresinya melunak dan dia menghela napas.

"……Jadi kamu juga mewarisi darah Magenta, ya."

"……Ya?"

Ayah mengatakan itu lalu mengalihkan pandangan dariku. Darah Magenta? Apa arti dari hal itu? Saat aku memiringkan kepala tanpa mengerti alasannya, Ayah kembali membuka mulut.

"Kamu tidak menginginkan Putri Anisphia naik takhta, kan? Jika ada orang lain yang bisa diangkat menjadi Raja, kamu menginginkan itu. ……Bukan berarti tidak ada caranya."

"Eh!?"

Jawaban Ayah begitu tak terduga sehingga aku mengeluarkan suara bingung.

Ada cara lain untuk mengangkat Raja tanpa menaikkan Putri Anis!? Aku menatap wajah Ayah karena tidak sepenuhnya percaya apa yang dikatakannya.

"Ada sesuatu yang secara fatal tidak dimiliki Putri Anisphia untuk menjadi Raja."

"……Bakat sihir?"

"Benar. Menjaga darah keluarga kerajaan berarti juga harus menjaga kekuatan itu. Justru karena itulah, betapapun banyak prestasi Magologi yang ditumpuk, mereka yang bersikeras pada tradisi tidak akan mengakui Putri Anisphia. Di situlah ada celah untuk masuk."

"Celah untuk masuk…… kah?"

"Keberadaan keluarga kerajaan ada untuk mewarisi bakat sihir yang dianugerahkan oleh roh. Jika hal itu bisa dipenuhi, ekstremnya, siapa pun yang menjadi Raja tidak masalah. Memang lebih baik jika garis keturunannya pekat, tapi ada cara untuk mengatasi legitimasi garis keturunan itu."

"Apakah ada cara seperti itu……!?"

Tanpa sadar aku memajukan tubuh dan bertanya pada Ayah. Jika ada cara seperti itu, mungkin Putri Anis tidak perlu menjadi Raja. Dadaku berdebar karena harapan itu.

"Tapi itu cara yang sangat tidak realistis."

"Itu sebenarnya apa……?"

"Sekarang ketika apa yang telah diwariskan selama ini hampir hilang, kita hanya perlu membangkitkannya kembali. Seperti yang dilakukan oleh Raja Pendiri Kerajaan Palettia."

Saat aku menyadari apa cara yang dimaksud Ayah, aku kehilangan kata-kata. Seperti yang dikatakan Ayah, itu adalah cara yang sangat tidak realistis.

Tenggorokanku bergetar. Sambil merasakan ludah yang kutelan jatuh ke perut, aku mengucapkan jawaban itu.

"──Kontrak Roh."

Mendengar kata-kata yang kuucapkan, Ayah mengangguk seolah membenarkan.

Kontrak Roh. Melakukan kontrak langsung dengan Roh Agung yang dikatakan memiliki kekuatan besar di antara para roh. Salah satu bagian dari legenda Raja Pendiri yang berhasil mendirikan Kerajaan Palettia.

Masuk akal jika Kontraktor Roh bisa mendirikan keluarga kerajaan baru. Jika Putri Anis berpotensi menghilangkan tradisi, itu juga salah satu caranya.

Hanya saja, di saat yang sama, memang benar itu tidak realistis. Mereka merahasiakan bagaimana mereka bisa menjadi seperti itu.

Kontraktor Roh muncul sesuka hati, dan sebagian besar dari mereka menjaga jarak dari duniawi. Aku pernah mendengar bahwa mereka sangat ketat hingga hanya mengizinkan kontak langsung dengan keluarga kerajaan.

"Kontraktor Roh mendapatkan pengakuan dari keluarga kerajaan dan mendirikan keluarga kerajaan baru. Jika menjadi kembalinya legenda, akan mudah untuk meyakinkan orang-orang. Lebih jauh lagi, jika ada darah keluarga kerajaan meskipun jauh, itu juga bisa menjadi salah satu alasan."

"I, itu……"

Sambil terbata-bata, aku mengeluarkan suara seperti mengerang. Kepalan tanganku gemetar, dan itu berubah menjadi getaran di seluruh tubuh dalam sekejap mata.

Ayah hanya menatapku. Jarak yang hanya dipisahkan meja terasa sangat jauh. Dan, kepada aku yang gemetar, Ayah melontarkan kata-kata yang menentukan.

"Jika berhasil melakukan Kontrak Roh── kamu juga mungkin bisa menduduki takhta Ratu. Bukan tidak mungkin juga untuk masuk ke keluarga kerajaan sebagai anak angkat. Awalnya kamu adalah tunangan Pangeran Algard. Kamu sudah diberi pendidikan yang cukup untuk masuk ke keluarga kerajaan. Yang memiliki syarat paling lengkap dibanding siapa pun tak lain adalah kamu."

Meskipun jauh, darah keluarga kerajaan mengalir di keluarga Duke Magenta. Ayah mengatakan bahwa jika memiliki kartu as berupa kembalinya legenda, bukan tidak mungkin bagiku untuk mengajukan diri sebagai pewaris takhta berikutnya.

"Apakah kamu punya tekad untuk berdiri sebagai Ratu? Euphyllia."

──Aku tidak bisa menjawab apa pun atas pertanyaan Ayah.

Saat aku membeku tanpa bisa berkata apa-apa, Ayah menghela napas pelan lalu berkata.

"Meskipun punya tekad, Kontrak Roh bukanlah sesuatu yang bisa dicapai dengan mudah. Tapi, jika tekad saja tidak bisa dibulatkan, kamu tidak berhak mengatakan tidak ingin Putri Anisphia naik takhta."

Dihadapkan pada kata-kata itu, aku hanya bisa menundukkan kepala.

    * * *

Aku yang tidak bisa berkata apa-apa karena pernyataan mengejutkan Ayah, disuruh keluar begitu saja dan kembali ke kamarku.

Tanpa berganti pakaian, aku menjatuhkan diri ke tempat tidur dan memejamkan mata. Meski begitu, rasa kantuk tidak datang. Pikiranku hanya berputar-putar.

"……Kontrak Roh."

Legenda yang bisa dibilang awal dari negara ini. Jika bisa melakukannya, aku mungkin bisa berdiri sebagai Ratu. Aku tidak pernah membayangkan kemungkinan seperti itu.

Emosiku mengamuk hingga aku tidak tahu nama apa yang harus kuberikan pada sesuatu yang meluap dari lubuk dada ini. Itu mengombang-ambingkanku tanpa ampun, merenggut rasa kantuk, nafsu makan, dan semangatku sampai ke akar-akarnya.

Apakah aku bisa menjadi Ratu menggantikan Putri Anis? Kecemasan itu mencengkeram dadaku. Sambil menekan dada perlahan, aku meringkuk membungkukkan punggung mencoba menghadapi emosiku sendiri.

(Kalaupun aku bisa menjadi Raja…… bisakah aku memenuhi tugasku sebagai Raja?)

Ini berbeda dengan mendukung Raja sebagai Ratu. Beratnya nyawa negara akan membebani pilihanku.

Sensasi yang mirip rasa mual meluap karena beratnya beban itu. Tapi, saat berpikir bahwa Putri Anis memikul beban yang sama, tanganku menjadi kuat.

Aku takut, dan mungkin juga bingung. Karena itu aku tidak tahu apa yang harus dipercaya. Entah berapa lama aku meringkuk menutup diri dalam cangkangku seperti itu.

Meskipun perlahan mengurai emosiku, itu tidak akan menghilang. Rasanya aku hampir berpikir lebih baik jika tidak mendengarnya, jika tidak mengetahui kemungkinan seperti itu.

Tetapi, mungkin ini juga bisa dianggap sebagai jalan terbaik menurutku. Jika aku bisa menjadi Raja berikutnya, kebebasan Putri Anis akan terjamin. Orang itu tidak akan memikul tugas sebagai Raja.

Jika aku menjadi Raja, aku juga bisa menggerakkan negara. Mungkin aku juga bisa mengusulkan untuk memasukkan Magologi dan alat sihir Putri Anis ke dalam kebijakan.

Justru itu, mungkin malah bentuk yang sebenarnya diinginkan oleh Putri Anis.

Tetapi, untuk itu ada hal yang harus dilalui. Itu adalah Kontrak Roh. Jadi pengandaian ini akhirnya hanya akan berakhir dalam lingkup mimpi belaka.

(Tapi…… jika benar-benar seandainya, aku bisa menggambarkan masa depan seperti itu……?)

Saat aku mencoba menggambarkan imajinasi itu di benakku, tiba-tiba telingaku menangkap suara sesuatu.

"……Nyanyian?"

Aku bangun dan menajamkan telinga. Lalu terdengar suara nyanyian yang misterius. Itu adalah lagu yang belum pernah kudengar. Dan sensasi bahwa itu bukan suara manusia menyerangku.

Merasakan keanehan itu, aku membuka mata. Nyanyian itu terdengar terus-menerus, seolah berbisik.

"……Lagu ini……?"

Di dalam kamar yang tenggelam dalam kegelapan malam, aku bangun mengandalkan cahaya bulan.

Lalu, cahaya berayun lembut di depan mataku. Saat aku refleks mengarahkan mata ke cahaya itu, ada keberadaan yang sulit dipercaya di sana.

Itu adalah kurcaci berselimut cahaya yang hanya seukuran telapak tangan. Ada sayap di punggungnya, dan dia terbang berputar-putar di sekelilingku. Aku merasakan sensasi yang akrab. Karena itu, aku memanggil nama keberadaan itu dengan terkejut.

"Roh……?"

Mendengar gumamanku, kurcaci bersayap──tidak, roh itu tersenyum lebar. Mengapa roh mengambil wujud seperti ini dan tersenyum seolah memiliki kehendak?

Aku menatap roh itu lekat-lekat sambil terjerumus dalam kebingungan. Roh itu sepertinya puas karena aku menyadarinya, lalu menembus jendela dan terbang keluar.

Aku membuka jendela seolah mengejarnya. Namun, sosok roh itu sudah tidak ada di sana.

"……Yang barusan, sebenarnya apa……? Tidak, daripada itu…… nyanyiannya……"

Aku penasaran dengan roh misterius yang tiba-tiba muncul, tapi nyanyian yang terdengar di telingaku sepertinya masih berlanjut. Sebenarnya di mana, dan siapa yang bernyanyi?

Seolah menjawab pertanyaanku, aku menyadari ada cahaya menari di taman keluarga Duke, di alun-alun yang bisa terlihat dari jendela.

Cahaya itu adalah roh yang tadi kuilangan jejaknya. Yang lebih mengejutkan lagi, cahaya yang diduga roh itu tidak hanya satu, tapi ada puluhan cahaya di sana.

──Di pusat berkumpulnya roh-roh itu, ada seorang gadis yang diterangi cahaya bulan.

Sosoknya yang mengayunkan rambut putih platinum yang hampir mencapai belakang lutut, tampak seperti penyihir yang keluar dari dongeng. Gadis yang usianya kira-kira sama denganku, dialah pemilik suara nyanyian misterius ini.

Roh-roh berkumpul menyesuaikan dengan suara nyanyiannya, dan menari sambil memancarkan cahaya. Saat aku kehilangan kata-kata melihat pemandangan fantastis itu, gadis tersebut mengarahkan pandangannya padaku.

Meskipun ada jarak, gadis itu terlihat tersenyum saat menemukanku. Intuisiku mengatakan bahwa dia yang diselimuti hawa yang sangat misterius itu bukan orang sembarangan.

"──Kunjungan mendadak ini merepotkan, lho."

Aku terkejut mendengar suara yang tiba-tiba terdengar. Di pintu masuk alun-alun taman, yang menegur gadis misterius itu adalah Ayah.

Gadis yang tadinya menatapku berputar, melangkah seolah mengarahkan pandangannya ke Ayah, mengibaskan rambutnya lalu berhadapan.

"Sudah lama tidak bertemu ya, Grantz."

Yang keluar dari mulut gadis itu adalah sapaan akrab. Aku hanya bisa mengamati situasi tanpa tahu berapa kali harus terkejut. Ayah yang menatap gadis itu, melihat ke arahku sejenak seolah menengadah, lalu menghela napas panjang.

"Tidak kusangka Anda akan keluar dari 'Hutan'. Sebenarnya ada urusan apa Anda ke rumah ini?"

"Kamu sadar, kan? Bisakah kamu memperkenalkannya? Karena aku datang jauh-jauh ke sini untuk itu."











"……Kalau begitu, silakan masuk. ──Nona Lumi."

Gadis yang dipanggil Lumi itu mengangguk dengan sikap seolah dihormati adalah hal yang wajar baginya. Lalu dia kembali menatapku ke atas, dan melambaikan tangannya dengan akrab ke arahku.

"Yuffie, biar kuperkenalkan dia padamu."

Ayah mengatakan hal itu tanpa mengarahkan pandangannya padaku yang sedang mencondongkan tubuh keluar dari jendela.

"Beliau ini adalah──'Kontraktor Roh', Nona Lumi."

Mendengar identitas sebenarnya yang diungkapkan Ayah, aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa mengeluarkan suara karena terlalu terkejut.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar