Penyamaran di Kota Kastel
Aku sempat cemas apakah benar-benar boleh pergi menyamar hanya berdua saja, tapi akhirnya aku kalah oleh desakan Putri Anis. Dan sekarang, aku sedang pergi ke kota bawah bersama Putri Anis.
Aku tidak mengenakan pakaian yang biasa kupakai, melainkan membalut diri dengan pakaian sederhana seperti yang dikenakan rakyat jelata. Rambut perak platinumku yang mencolok diikat dan disembunyikan di dalam topi.
Putri Anis yang berada di sebelahku juga menyembunyikan rambutnya ke dalam topi. Meski begitu, wajah Putri Anis memang manis, dan walau mengenakan pakaian sederhana, beliau sama sekali tidak terlihat seperti gadis rakyat jelata. Apa dengan begini benar-benar bisa dibilang menyamar?
"Lewat sini, Euphie."
"Ah, baik. Putri Anis... bukan, anu, Anis..."
Karena sedang menyamar, aku dilarang menggunakan gelar kehormatan, tapi itu sulit bagiku. Aku harus sadar untuk memanggil nama tanpa gelar yang tidak biasa kulakukan, dan saat aku menghela napas, Putri Anis mulai terkikik.
"Fufu, cepatlah terbiasa, ya? Euphie."
"......Akan saya usahakan."
"Sebenarnya aku ingin gaya bicaramu juga sedikit lebih santai, sih. Tapi, Euphie kan aslinya memang sopan, jadi itu mungkin terlalu sulit, ya?"
Sambil merasa pipiku memanas melihat Putri Anis yang tertawa riang, aku menundukkan wajah.
Entah karena malu, atau karena bingung. Apa aku sendiri jadi terbawa suasana karena penyamaran yang tidak biasa ini......
"Apa Euphie sering datang ke kota bawah?"
"Kalau ikut Ayah pernah, sih......"
Karena status sebagai putri Duke pasti membuat rakyat merasa segan, aku tidak terlalu menyukai peninjauan. Meski begitu, saat masih menjadi tunangan Pangeran Algard, aku berpikir bahwa aku harus merasakan banyak hal dari kehidupan rakyat, rasanya sedikit bernostalgia.
Posisiku sekarang terkatung-katung. Aku berada di istana terpisah sebagai asisten penelitian Magologi, tapi belakangan ini Putri Anis sibuk terlibat dalam urusan pemerintahan sehingga penelitian itu sendiri terhenti.
Meski begitu, Putri Anis tidak membicarakan soal politik padaku. Mungkin beliau sedang bersikap peka padaku. Aku yang bernaung di bawah Putri Anis sebagai asisten, kalau dibilang boleh bersantai, aku malah jadi tidak punya kegiatan apa-apa.
Dulu aku berusaha agar pantas menjadi Ratu berikutnya, tetapi sekarang tekanan itu tidak ada, dan aku sadar bahwa aku dilindungi oleh Putri Anis. Meskipun hal itu terasa menyakitkan di hati……
"Di sini, Euphie."
Suara Putri Anis membawaku kembali ke kenyataan dari lamunanku. Sepertinya kami sudah sampai di tujuan.
Tempat kami tiba adalah sebuah bengkel kota yang tidak ada istimewanya. Skalanya bisa dibilang kecil di antara bengkel-bengkel di kota bawah ini. Sepertinya ini bukan tempat untuk produksi massal, melainkan toko yang melayani pelanggan perorangan.
Ayah pernah memberitahuku bahwa meskipun sama-sama disebut bengkel, penanganannya akan berbeda tergantung pada produk yang ditangani, lingkungan, dan pemilik bengkelnya.
Bengkel yang besar biasanya didukung oleh pedagang yang berpengaruh, dan mereka sangat peka terhadap peluang bisnis.
Di sisi lain, toko skala kecil yang dibuka sendiri oleh pemilik bengkel biasanya berisi orang-orang yang berjiwa pengrajin, dan cenderung memiliki idealisme yang kuat terhadap pekerjaan mereka.
Memang, jika ingin menangani penemuan Magologi, wajar untuk memilih bengkel kecil dengan pengrajin yang terampil seperti ini.
Nama toko yang tertulis di papan nama adalah "Bengkel Senjata Gana". Putri Anis membuka pintu di bawahnya tanpa mengetuk dan langsung masuk ke dalam.
"Thomas! Aku masuk!"
"T-tunggu dulu, Putri Anis…… Anis!"
Saat aku buru-buru menyusul masuk, pemandangan yang menyambutku persis seperti yang digambarkan. Di sana berdiri seorang pemuda yang tampan.
Rambut cokelat mudanya dipotong kasar, dan mata merah kecokelatannya tajam dan runcing. Tubuhnya yang kekar dan terlatih membuatku berpikir dia tidak kalah dari seorang ksatria.
Jika harus menyebutkan kekurangannya, itu adalah tidak adanya ekspresi ceria di wajahnya. Apakah dia pemilik tempat ini, orang yang dipanggil Thomas oleh Putri Anis?
Meskipun Putri Anis membuka pintu dan masuk secara tiba-tiba, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menghela napas panjang, mengerutkan kening, dan memasang ekspresi tercengang.
"……Putri Anis, ya. Kau terlambat sekali."
"Hai, Thomas! Apa barang yang kutitipkan sudah jadi?"
"Hmph. Sudah selesai, cepat ambil sana."
Aku tercengang melihat interaksi mereka berdua. Walaupun sedang menyamar, dia pasti tahu kalau Putri Anis adalah seorang Putri Raja. Aku bingung harus menilai sikap ini sebagai ketidaksopanan atau keakraban.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, tatapan Thomas beralih kepadaku. Setelah menatapku dengan curiga, dia kembali menatap Putri Anis.
"Siapa dia?"
"Asistenku. Aku kan sudah bilang mau membawanya?"
"……Ah, pengguna benda itu ya. Ini bukan tempat bersih yang biasa dikunjungi Nona Muda sepertinya, lho."
Thomas bergumam dengan sikap seolah hendak berdecak lidah. Ngomong-ngomong, aku teringat cerita Putri Anis sebelumnya bahwa dia membenci bangsawan.
Di sini, daripada salam yang kaku, mungkin lebih baik menyapa dengan santai. Berpikir demikian, aku menghela napas lalu menghadap ke arah Thomas.
"Salam kenal, nama saya Euphie. Saya akan sangat terbantu jika Anda tidak menanyakan nama keluarga saya."
"Aku tahu. Kau jadi buah bibir di mana-mana, Nona Putri Duke Magenta. Apa Putri Anis merebut tunangan dari Pangeran Algard?"
"Tidak, tidak, aku tidak merebutnya!? Kan sudah kubilang ada banyak hal yang terjadi?"
"Hmph…… kalau pertengkaran bangsawan, lakukan di tempat lain sesuka kalian. Aku tidak mau terlibat."
Thomas berkata dengan ekspresi yang jelas-jelas muak. Wajahnya tergolong tampan dan maskulin, tapi ekspresi yang ditunjukkannya selalu garang.
"Ayo, Thomas. Euphie sudah memperkenalkan diri, jadi Thomas juga harus memperkenalkan diri dong."
"……Thomas Gana, ti…… dak, saya Thomas Gana."
"Tidak perlu kaku begitu. Hari ini yang datang ke sini hanyalah Euphie biasa. Jadi tolong bersikap seperti biasa saja."
"……Begitu ya. Syukurlah kalau begitu."
Setelah aku sampaikan bahwa tidak perlu hormat berlebihan, sikapnya sedikit melunak. Sepertinya dia tidak pandai bersikap formal, tapi dia sepertinya bukan orang jahat. Mungkin dia hanya orang yang sulit dipahami khas seorang pengrajin.
"Jadi, Thomas? Arc-en-ciel bagaimana?"
Thomas yang ditanya oleh Putri Anis mengelap tangannya, lalu pergi ke belakang dan kembali dengan membawa Arc-en-ciel.
"Coba cabut dan pastikan sendiri."
"Baiklah."
Aku menerima Arc-en-ciel yang masih berada dalam sarungnya dari Thomas. Saat tanganku menyentuh gagangnya, sensasi yang kembali tidak berbeda sama sekali dengan sebelum patah.
Sentuhannya begitu alami hingga aku tidak merasa pedang ini pernah lepas dari tanganku. Saat aku mencabutnya dari sarung dan memasang kuda-kuda, tidak ada rasa janggal. Sepertinya tidak ada masalah saat dialiri sihir, jadi aku menghela napas lega.
"Hasil yang luar biasa. Sama sekali tidak berubah dari sebelumnya."
Aku sangat bersyukur pedang ini bisa diperbaiki sesempurna ini. Tanpa Arc-en-ciel, aku jadi benar-benar tidak tenang. Seperti kata Ilia, sekali mengetahui kenyamanan alat sihir, kita benar-benar tidak bisa kembali ke kehidupan sebelumnya.
Saat aku sedang meresapi kembalinya Arc-en-ciel dengan penuh haru, aku menyadari Thomas sedang menatapku dengan mata sedikit terbelalak.
"……Anu, ada apa?"
"Tidak. ……Dari yang barusan, aku tahu kalau kau benar-benar menggunakannya. Karena rekomendasi Putri Anis, aku pikir bisa dipercaya, tapi aku masih setengah ragu sampai melihatnya sendiri……"
Ah, begitu rupanya. Aku mengangguk mengerti. Dia adalah tipe orang yang sepertinya punya idealisme tinggi sebagai pengrajin. Ditambah lagi, karena dia membenci bangsawan, dia pasti khawatir bagaimana karyanya diperlakukan.
Aku merasa sedikit mengerti alasan Putri Anis meminta Thomas membuat senjata yang berhubungan dengan alat sihir.
"Sekarang saya malah tidak tenang kalau tidak ada Arc-en-ciel. Terima kasih atas barang yang luar biasa ini, Thomas."
"……Begitu ya."
Thomas mengangguk kecil mendengar jawabanku. Apakah hanya perasaanku saja kalau dia terlihat puas?
Kali ini, Thomas menyipitkan mata seolah sedang memikirkan sesuatu. Lalu entah apa yang dipikirkannya, dia mengalihkan pandangan ke Putri Anis yang sedang melihat-lihat barang di bengkel dengan santai.
"Putri Anis, aku beri uang jajan, bisakah tolong belikan makanan apa saja di warung kaki lima?"
"Eh, boleh!?"
"T-tunggu dulu!?"
Tanpa sadar aku berkomentar, tapi aku tidak salah, kan!? Dia keluarga kerajaan lho, meskipun datang menyamar, dia tetap keluarga kerajaan lho!? Mana ada alasan boleh memperlakukan beliau seperti anak kecil begitu!?
Lalu, Putri Anis juga jangan terlihat senang begitu! Meskipun menyamar, Anda itu keluarga kerajaan! Jangan senang dikasih uang jajan!
"Aku ingin bicara sebentar."
"……Hmm? Kurasa tingkat kesulitannya terlalu tinggi kalau mau merayunya, lho?"
Mengabaikan aku yang kebingungan, entah kenapa mereka berdua mulai berbicara dengan nada seolah saling mengerti. Aku tidak bisa memahami situasinya dan hanya bisa melihat wajah mereka bergantian.
"Bukan pembicaraan yang ada hubungannya dengan asmara begitu. ……Jadi pergi tidak? Atau tidak?"
"Aku khawatir karena Thomas itu kaku kalau bicara, sih. Yah, sebaiknya aku pergi saja, kan?"
"Ya. Karena ini pembicaraan yang terutama tidak bisa didengar oleh 'Putri Anisphia'."
Apa yang dibicarakan Thomas? Aku mengerutkan kening mendengar cara bicaranya yang sengaja menekankan status Putri.
Dia menyuruh Putri Anis pergi karena ingin bicara denganku? Apa yang ingin dibicarakan oleh orang yang baru kutemui hari ini denganku? Aku sama sekali tidak punya bayangan.
Putri Anis memasang ekspresi berpikir sejenak, lalu mengangguk kecil.
"Oke. Kalau begitu aku pergi belanja dulu ya."
Mendengar persetujuan itu, Thomas mengeluarkan uang dan memberikannya pada Putri Anis. Putri Anis menerimanya dan langsung pergi begitu saja dengan santai.
Aku hendak menahannya secara refleks, tapi karena penasaran dengan ucapan Thomas tadi, aku membiarkan Putri Anis pergi.
"……Maaf ya. Tiba-tiba membuat kita hanya berdua saja."
Thomas menyapaku dengan ekspresi bersalah. Sepertinya Thomas punya kebiasaan menggaruk kepala saat merasa bingung. Meskipun ekspresinya selalu garang, jika bisa memahami emosi dari gerak-geriknya, mungkin dia sebenarnya orang yang cukup ekspresif.
"Tidak apa-apa. ……Apa tidak ada orang lain di bengkel ini?"
"Tidak ada. Aku sadar kalau aku ini orang yang aneh. Bekerja sendirian sampai aku puas dengan hasilnya lebih cocok dengan sifatku. ……Ngomong-ngomong, tidak enak kalau bicara sambil berdiri, ada kursi untuk tamu. Mungkin tidak nyaman untukmu, tapi……"
Thomas membawakan kursi, jadi aku memutuskan untuk menerima tawaran itu dengan tulus. Thomas juga membawa kursi yang sama, dan kami duduk berhadapan.
"……Apa menurutmu Putri Anis itu orang aneh?"
"Itu…… sudah sampai tahap di mana saya meragukan apakah kata akal sehat itu ada untuknya."
"Begitu ya. Tapi, aku menganggap dia orang yang baik."
"Ya, saya juga berpendapat demikian."
Jika tidak, aku tidak akan berada di sini. Tanpa Putri Anis, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku sekarang.
Setelah pertunanganku dibatalkan oleh Pangeran Algard, aku kehilangan makna keberadaanku. Jika dibiarkan begitu saja, hatiku mungkin sudah hancur, dan sementara itu kerajaan mungkin sudah berubah menjadi sesuatu yang lain.
Keberadaanku sekarang adalah berkat Putri Anis yang bertindak. ……Itulah sebabnya aku merasa tidak berdaya.
"……Hei, Nona Euphie. Boleh aku tanya terus terang?"
Yang menarikku kembali saat hampir tenggelam dalam pikiran adalah pertanyaan Thomas.
Ekspresi Thomas jauh lebih serius daripada sebelumnya, seolah dia telah membulatkan tekad. Rasa harus menghadapinya dengan sungguh-sungguh muncul di matanya, membuatku menegakkan punggung.
"Ya, ada apa?"
"……Raja berikutnya, apakah benar Putri Anis?"
Mendengar kata-kata Thomas, aku menahan napas sejenak. Aku tidak tahu kenapa Thomas menanyakan hal itu. Tapi aku rasa dia orang yang bisa dipercaya. Karena pemikiran itu, aku membuka mulut dengan jujur.
"Saat ini, yang memegang hak suksesi takhta adalah Putri Anis. Kabar bahwa Pangeran Algard telah dicabut hak warisnya sudah tersebar, bukan?"
"Ya, makanya aku ingin memastikan. Apakah Raja berikutnya adalah Putri Anis atau bukan."
"Ya. Saya rasa akan begitu."
"……Begitu ya."
Mendengar jawabanku, Thomas menghela napas dengan ekspresi yang jelas-jelas tidak senang.
Melihat ekspresi Thomas yang seperti itu, aku menjadi cemas.
Apakah bahkan dari sudut pandang rakyat, Putri Anis tetap dianggap tidak pantas sebagai keluarga kerajaan? Makanya dia cemas siapa yang akan menjadi Raja berikutnya dan ingin menanyakannya. Tapi karena tidak ingin didengar oleh Putri Anis, dia memintanya pergi?
……Tapi, jika begitu, kenapa dia bertanya padaku? Apakah hanya karena aku yang bisa menjawabnya?
"Nona Euphie, apakah itu sudah pasti?"
"……Apakah Anda sebegitu cemasnya jika Putri Anis menjadi Raja?"
Saat aku bertanya begitu, ekspresi Thomas runtuh. Aku tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan ekspresi itu.
Kekesalan, kepedihan, kecemasan. Ekspresi rumit yang seolah mencampurkan berbagai emosi. Rasanya aku baru saja melihat ekspresi yang sulit digambarkan ini. Rasa déjà vu itu melintas di dadaku.
"Bukan cemas seperti yang Nona Euphie khawatirkan. Putri Anis selalu memikirkan kehidupan kami, rakyat jelata."
Ekspresi Thomas berubah drastis menjadi lembut. Itu juga terlihat bangga, seolah sedang memamerkannya.
"Tidak sedikit hal yang membaik karena Putri Anis memberikan pendapat kepada Raja. Orang itu berdiri dari sudut pandang kami, menyarankan apa yang dibutuhkan dan apa yang harus dilakukan. Dia bilang itu hal yang wajar, tapi bagi keluarga kerajaan dan bangsawan, tidak begitu, kan?"
Menjadikan kata-kata itu sebagai jeda, ekspresi Thomas kembali menjadi garang. Tatapannya padaku juga semakin tajam, membuatku merasa seolah sedang disalahkan.
"Bangsawan itu banyak yang tidak tertarik bagaimana rakyat jelata hidup. Makanya mereka tidak bisa mengerti apa kesusahan kami, bahkan tidak mengerti bahwa ada masalah yang sedang terjadi."
"……Itu, memang benar. Bangsawan adalah bangsawan, dan rakyat jelata adalah rakyat jelata. Tapi, saya juga berpikir bahwa sekat ini harus diatasi."
"……Syukurlah kalau ada orang yang berkata begitu."
Mendengar jawabanku, Thomas melembutkan ekspresinya. Sepertinya aku berhasil bersikap untuk tidak memancing rasa antipatinya.
"Bangsawan memikul tanggung jawab sebagai ganti mendapatkan kekayaan dan status. Tanggung jawab besar untuk melindungi negara ini. Putri Anis berkata begitu. ……Tapi, justru karena itulah aku semakin membenci bangsawan. Tepatnya, aku membenci orang-orang yang menggunakan hak istimewa mereka sebagai bangsawan untuk menindas rakyat jelata."
Mungkin ada kejadian di masa lalu, Thomas mengatakannya dengan nada suara yang bahkan menyiratkan kebencian. Mendengar kata-kata itu, aku hanya bisa menundukkan pandangan.
Bangsawan memiliki tanggung jawab yang setara dengan statusnya. Melupakan tanggung jawab dan bersikap sewenang-wenang bukanlah sosok bangsawan yang seharusnya.
Tentu saja, tidak semua bangsawan bersikap sewenang-wenang. Tapi, sulit untuk menyampaikan hal itu kepada rakyat jelata seperti Thomas. Itu bukanlah kata-kata yang bisa sampai kepada orang yang pernah menjadi korban bangsawan yang sewenang-wenang.
Karena itulah mereka terpisah dalam kategori bangsawan dan rakyat jelata. Padahal seharusnya itu bukan sesuatu yang memisahkan.
"Bukan berarti aku menyuruh para Tuan Bangsawan hidup seperti kami. Kalau aku tahu bagaimana kehidupan bangsawan, aku juga mungkin bisa sedikit menerimanya. ……Pasti banyak sulitnya juga, kan?"
"Tidak bisa dibilang…… santai, ya."
Tanpa sadar aku menjawab dengan senyum pahit. Mungkin karena aku memasang ekspresi seperti itu, Thomas juga menatapku dengan sedikit rasa simpati.
"Aku pun begitu. Jadi kalau kita saling memenuhi tanggung jawab, itu sudah cukup. ……Bukan, bukan itu yang ingin kubicarakan. Ya, soal Putri Anis. Kalau orang itu, dalam artian tersebut sangat bisa dipercaya. Aku rasa banyak orang selain aku yang berpikir begitu. Kalau Putri Anis yang jadi Raja, ya."
"……Tapi, Anda terlihat tidak senang di mata saya."
Saat aku menunjukkan hal itu, Thomas menghela napas panjang seolah mendengus. Dia melemaskan bahunya, tersenyum tipis, dan menggelengkan kepalanya pelan ke kiri dan kanan.
"……Kau sadar, ya. Yah, begitulah. Aku tidak terlalu senang."
"Itu, kenapa?"
"Orang itu mungkin bisa menjadi Raja, tapi dia tidak cocok untuk menjadi Raja."
Kata-kata Thomas memberiku kejutan yang tidak sedikit. Bisa menjadi Raja, tapi tidak cocok. Kata-kata itu tersangkut di suatu tempat dalam diriku, membunyikan lonceng peringatan.
Glek, aku menelan ludah. Setelah jeda sesaat, aku bertanya pada Thomas untuk memastikan apa perasaan ini.
"Putri Anis tidak cocok jadi Raja? Memang beliau orang yang tak terduga, tapi……"
"Bukan, bukan tidak cocok dalam artian itu…… Orang itu, terlalu banyak menanggung beban, kan."
Kata-kata Thomas yang memotong ucapanku memanggil hawa dingin yang seolah meremas jantungku.
Memang dari sikap Putri Anis terhadapku, Lainie, dan Pangeran Algard, aku bisa merasakan rasa tanggung jawabnya. Seperti yang dikatakan Thomas, dia pasti juga menghadapi rakyat dengan tulus dan memikirkan banyak hal.
"Tapi, saya rasa itu adalah bakat yang baik sebagai Raja, sebagai orang yang berdiri di atas. Jika bebannya terlalu berat, kami para bawahan akan membantunya……"
"Bukan begitu. Putri Anis memang bisa menjadi Raja. Mungkin ada sisi di mana dia cocok. Tapi, meskipun bisa, ada hal lain yang lebih cocok untuk orang itu, kan?"
"──Hh, itu……"
Poin yang ditunjukkan Thomas adalah fakta yang tidak bisa disangkal. Aku berpikir Putri Anis memiliki kualitas sebagai Raja. Tapi aku juga tahu bahwa Putri Anis tidak menginginkan takhta.
Bahwa yang benar-benar ingin Putri Anis abdikan dalam hidupnya adalah penelitian sihir, atau dengan kata lain penelitian Magologi.
Tapi, meski begitu, yang memiliki hak suksesi takhta dan mewarisi garis keturunan kerajaan adalah Putri Anis. Baik dia menginginkannya atau tidak. Itulah…… yang namanya keluarga kerajaan.
Padahal aku berpikir begitu, tapi kata-kata Thomas selanjutnya membuatku terpukul.
"──Punya bakat untuk bisa melakukannya, dan dipaksa melakukannya karena itu, adalah hal yang berbeda, kan."
Guncangan seolah kepalaku dipukul benda tumpul menjalariku. Sambil merasa pusing dan hampir jatuh dari kursi, aku mengepalkan tangan dan mengeluarkan kata-kata.
"……Tapi ada tanggung jawab. Bagi bangsawan, bagi keluarga kerajaan."
"Meskipun begitu, negara ini tidak punya preseden Ratu, kan. Apa itu benar-benar harus Putri Anis yang menanggungnya? Kalaupun jadi Raja dia bisa meneruskan penelitian Magologi sih bagus, tapi tidak akan begitu, kan? Seharusnya kalau dalam kondisi normal, tidak aneh kalau kau datang mengambil pedangmu lebih cepat dari ini."
Seperti yang ditunjukkan Thomas. Putri Anis dikejar oleh kesibukan sehari-hari dan belum menyentuh penelitian Magologi. Memikirkan ke depannya, persiapan mental dan pengetahuan untuk menjadi Raja, serta tugas pemerintahan yang akan mengejarnya, apakah Putri Anis punya waktu untuk melakukan penelitian?
Dan, jika Putri Anis berhenti meneliti Magologi, apakah ada orang yang bisa meneruskannya? Menyebarkan alat sihir yang sudah ada ke dunia mungkin bisa terwujud. Tapi apakah ide-ide baru akan lahir?
Jika berpikir begitu, bagi Magologi, Putri Anis adalah keberadaan yang tak tergantikan. Tapi, sekarang sebagai keluarga kerajaan pun, Putri Anis adalah satu-satunya.
Aku tidak bisa memikirkan cara untuk menyelaraskan dua hal besar ini. Tapi, jika mencoba melakukannya, itu akan memakan tenaga yang luar biasa. Hanya itu yang aku tahu.
"Kalau orang itu jadi Raja…… dia tidak akan bebas lagi. Itu sepertinya akan membunuh pesona orang itu. Kalau dia menetapkan dirinya sebagai Raja, orang itu tidak akan datang ke sini lagi."
"Itu……"
"Orang itu bersikap tak terduga dan seolah tak tahu aturan, tapi dia tahu batasannya. Jadi kalau sudah jadi Raja, dia tidak akan pernah datang ke sini lagi. Setidaknya, sebagai 'Putri Anis yang biasa'."
"……Anda sangat mengenal Putri Anis, ya."
Mendengar kata-kata yang terlontar begitu saja dari mulutku, Thomas memasang ekspresi yang sulit dijelaskan. Wajah yang tampak malu, tapi juga tampak tidak suka. Lalu, tangannya kembali terulur ke kepalanya.
"Soalnya orang itu tidak berubah sejak kecil. ……Ah, mungkin karena itu ya. Makanya aku mungkin jadi lebih cemas kalau Putri Anis akan berubah. Putri Anis yang datang ke sini selalu bersinar. Bagi kami yang tidak bisa menggunakan sihir, banyak hal yang bisa kami rasakan sama dengannya. Kami semua berharap pada Putri Anis. Bahwa dia adalah orang yang mendengarkan cerita kami dan membicarakan impian."
"……Pasti, itu tidak akan berubah meskipun beliau menjadi Raja."
"Orangnya sih iya. Tapi, apakah lingkungan sekitarnya akan mengizinkan?"
Lingkungan tidak akan mengizinkan. Jika hal itu dikatakan, aku tidak bisa menyangkal apa pun. Jika Putri Anis menjadi Raja, hal-hal yang tidak diizinkan akan bertambah.
Aku pun, pasti akan menjadi salah satu pasak itu. Raja harus bersikap sebagai Raja dan memimpin rakyat. Karena ada tanggung jawab itu.
Tapi, jika begitu, Putri Anis akan kehilangan kebebasannya. Itu juga tidak bisa disangkal. Mudah untuk membayangkan Putri Anis mematikan hatinya demi itu dan menjadi sosok Raja yang seharusnya.
Karena orang itu bisa melakukannya. Alur di mana Putri Anis menjadi Raja mungkin tidak bisa dihindari dilihat dari sudut pandang mana pun. Tapi──.
"──Menjadi Raja, apa dengan begitu Putri Anis bisa bahagia?"
……Mendengar kata-kata yang ditanyakan Thomas, aku akhirnya kehilangan kata-kata.
Karena, aku menyadarinya. Tidak, aku pasti ingin berpura-pura tidak melihatnya.
Bukankah aku melihatnya dengan mata kepala sendiri? Padahal begitu, jika menyadarinya, aku akan dihadapkan pada ketidakberdayaanku, pada mimpi yang takkan terwujud, dan dipukul telak oleh kenyataan.
──Fakta bahwa kata-kata "Jadilah Raja" adalah kata-kata kutukan yang merenggut kebahagiaan dari Putri Anis.
Apanya yang mendukung? Aku hanya bisa melindungi Putri Anis dalam bentuk dukungan semata. Karena hanya itu yang ada, aku hanya bisa percaya dan meyakini bahwa itu benar.
──Hal itu kembali terukir kuat dan dalam di diriku.
"……O-oi……"
Suara bingung Thomas membuatku sadar bahwa aku sedang menangis. Bersamaan dengan kesadaran itu, air mataku tumpah seolah bendungan air mataku jebol.
Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku ingin menangis meraung-raung? Aku tidak tahu, aku tidak tahu, tapi aku bahkan tidak ingin mengeluarkan suara tangisan ini, jadi aku memeluk tubuhku sendiri sambil meringkuk.
"──Jaga Kakak."
Pangeran Algard, aku ternyata memang manusia yang tidak becus.
Aku pada akhirnya hanyalah seorang putri bangsawan. Meskipun disebut jenius, aku tidak memiliki kekuatan untuk mengubah apa pun.
Sekarang aku mengerti perasaan Anda sampai terasa menyakitkan. Sampai-sampai aku hampir memiliki keinginan yang sama, bahwa jika keinginan bisa terkabul meskipun harus menghancurkan dunia.
──Meski begitu, aku adalah Euphyllia Magenta. Putri keluarga Duke Magenta, dan harus menjadi seorang putri Duke.
Karena itu aku harus menjadikan Putri Anis sebagai Raja. Demi melindungi negara ini. Betapa kejamnya kontradiksi ini.
Aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku adalah manusia yang hanya bisa hidup sesuai aturan seperti ini. Entah apakah itu menyedihkan, menjengkelkan, atau aku ingin marah, aku tidak tahu, aku hanya bisa mengerang sambil menekan emosi yang mengamuk.
* * *
Setelah itu, suasana dengan Thomas menjadi canggung sehingga kami tidak bisa mengobrol.
Setelah tenang, aku meminta izin membasuh wajah karena tidak mungkin memperlihatkan bekas air mata pada Putri Anis, dan untuk berjaga-jaga aku menggunakan sihir penyembuhan pada diriku sendiri.
Setelah memastikan bengkak di mata sudah reda dan aku selesai bersiap, Putri Anis kembali. Putri Anis dan Thomas saling bertukar kata-kata ringan, lalu kami meninggalkan Bengkel Senjata Gana begitu saja.
Dan sekarang, sambil berjalan aku memakan makanan asing yang dibeli oleh Putri Anis. Makanan yang dimakan langsung dengan tangan, dan karena tidak terbiasa, aku jadi kesulitan.
Ini adalah masakan berupa adonan roti tipis yang mengapit berbagai macam isian, dan aku menggigitnya sedikit demi sedikit agar isiannya tidak tumpah dari sela-selanya. Lalu, mungkin karena aku terlihat lucu, Putri Anis tertawa terkikik.
Sambil merasa malu, aku melanjutkan makan dengan cara yang tidak biasa ini. Aku memiliki kesan bahwa inilah rasa yang dimakan oleh rakyat jelata.
Dibandingkan dengan makanan yang biasa kumakan, rasanya kasar dan hambar, tapi entah kenapa rasanya anehnya menggugah selera. Kalau ditanya suka atau tidak, mungkin tidak, tapi karena terlalu berbeda dari apa yang pernah kumakan selama ini, kata segar mungkin lebih cocok.
Setelah menghabiskan suapan terakhir, aku mengarahkan pandangan ke kota. Suara orang-orang yang bersemangat terdengar bahkan tanpa perlu menajamkan telinga. Sudah lama sekali aku tidak keluar ke kota bawah, tapi dulu aku bepergian dengan kereta kuda.
Ini pertama kalinya aku berjalan dengan kakiku sendiri sambil memandangi pemandangan kota, dan tanpa sadar mataku terpaku.
"Jadi, apa Thomas bilang sesuatu?"
"Uhuk! Uhuk……!"
Saat itulah. Putri Anis bertanya padaku seolah mengintip wajahku, dan aku tersentak kaget. Karena momentum itu aku hampir tersedak, dan menepuk dadaku beberapa kali.
Putri Anis mengusap punggungku dengan panik, dan kesadaranku yang sempat melayang jauh kembali.
"K-kau baik-baik saja?"
"……Saya baik-baik saja. Jadi, tadi Anda bertanya apakah Thomas mengatakan sesuatu, kan. Tidak ada yang khusus, kok. Kami cuma mengobrol ringan saja."
"Untuk ukuran obrolan ringan, kelihatannya pikiranmu tidak ada di sini. Aku jadi sedikit khawatir."
"Itu……"
Aku memikirkannya setelah berbicara dengan Thomas. Bahwa menyuruh Putri Anis menjadi Raja adalah sebuah kutukan.
Karena dia keluarga kerajaan. Sangat mudah untuk mengatakan hal itu. Tapi meskipun begitu, tidak ada orang lain yang bisa menggantikan posisi Raja. Jika Putri Anis menerima suami yang pantas, mungkin ceritanya akan berbeda.
……Tidak, itu pun pada dasarnya pasti sama. Kutukan yang ditimpakan pada Putri Anis adalah "belenggu kebebasan".
Manusia wajar memiliki belenggu besar atau kecil, tapi bagi bakat Putri Anis, belenggu sebagai keluarga kerajaan terlalu berat. Sampai-sampai aku berpikir tidak ingin membebankannya padanya.
Karena itu, aku tidak bisa mengucapkannya. Karena, yang paling mengerti hal itu tak lain adalah Putri Anis sendiri. Dan jika aku mengucapkannya, dia pasti akan merasa bersalah. Bahwa dia telah membuatku mengatakannya karena mengkhawatirkannya.
Orang ini, karena dia orang yang seperti itu. Makanya, aku tidak bisa mengatakan apa-apa.
"……Sepertinya Thomas khawatir karena Putri Anis sudah lama tidak datang, lho."
"Hmm. Terus, pakai 'Putri' lagi."
"……Mohon maafkan saya."
"Gak boleeeh."
Aku memandangi wajah Putri Anis yang tertawa senang dengan tatapan kosong. Belakangan ini beliau pasti sangat sibuk. Waktu untuk melanjutkan penelitian Magologi juga sudah tidak ada. Waktu untuk bertemu dengan para bangsawan semakin bertambah.
Karena itu aku jadi berpikir. Apakah senyuman ini adalah senyuman yang tulus? Apakah di baliknya beliau memendam kecemasan besar, atau sedang merasa menderita?
Itu yang tidak aku mengerti. Seperti aku yang tidak bisa memahami penderitaan Pangeran Algard.
(……Mungkin, Tilty menyadari hal itu makanya dia marah.)
Mengingat sosok Tilty yang sangat marah beberapa waktu lalu, bersamaan dengan rasa paham, rasa sakit yang menusuk menjalar di dadaku. Itu menusuk semakin dalam, dan perlahan memperlebar lukanya.
Saat aku hampir mengerutkan kening karena rasa sakit itu, Putri Anis memanggil namaku dengan nada tidak puas. Sekalian tangannya juga terulur, dan ditempelkan di pipiku.
"Euphie?"
"……M-maafkan saya."
"Nada bicaramu kaku."
"I-itu, a-anu, m-mencubit pipi itu…… mmm……!"
Wajahku diapit oleh kedua tangannya dan diremas-remas. Meskipun aku berhasil lolos dari tangan Putri Anis, rasa lelah menyerangku.
"Mau bagaimana lagi. Karena Al sudah tidak ada, jadi aku yang harus melakukan sesuatu, kan."
Saat aku sedang menghela napas, Putri Anis mengucapkan kata-kata yang membuat tubuhku membeku.
Tanpa sadar aku menghentikan langkah dan menatap wajah Putri Anis. Apa jangan-jangan dia sadar, dengan pemikiran itu saat aku melihat Putri Anis, dia tersenyum canggung.
Ekspresi itu persis sama dengan ekspresi yang dia tunjukkan pada Tilty sebelumnya, dan imajinasi yang melintas tadi membuatku menggigit bibirku kuat-kuat.
Putri Anis tersenyum. Tapi, jika senyum ini adalah kepalsuan, Putri Anis……!
"Semuanya mau bagaimana lagi, aku sudah terbiasa dari dulu. Walaupun mengeluh tidak akan ada yang berubah. Lagipula kalau tidak diputuskan siapa Raja berikutnya bakal gawat, kan? Baik negara, maupun orang-orangnya."
"……Apakah Putri Anis, benar-benar tidak apa-apa dengan itu?"
Aku tidak tahan dan akhirnya melontarkan pertanyaan itu. Padahal aku sudah menduga apa jawaban Putri Anis, padahal aku tahu itu akan memperdalam kutukan bagi Putri Anis.
Ekspresi Putri Anis yang ditanya tidak runtuh, dia hanya tersenyum santai dan berkata.
"Tidak baik sih, tapi itu hal yang harus dilakukan oleh seseorang, kan."
Dikatakan begitu dengan nada bicaranya yang biasa, aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ini pertama kalinya aku merasa begitu tidak berdaya karena kata-kata tidak bisa keluar dengan baik dan tidak bisa menyampaikan apa pun.
Padahal sejak awal aku bahkan tidak punya jawaban dalam diriku tentang apa yang harus kukatakan pada Putri Anis. Tapi, aku hanya bisa melontarkan kata-kata yang sia-sia mengikat Putri Anis.
Rasanya menjengkelkan, menyakitkan, dan menyedihkan. Aku menggigit bibirku sampai hampir putus. Putri Anis memegang tanganku yang seperti itu, dan berkata dengan ceria.
"Hal seperti itu tidak penting, ayo keliling kota? Ini kan kenikmatan menyamar!"
Putri Anis menarik tanganku dan mulai berlari. Aku tidak pernah berlari sambil ditarik tangannya, jadi aku berusaha sekuat tenaga agar tidak jatuh.
Orang ini selalu begini. Tak terduga, melakukan apa pun sesuka hati, dan kemudian melampauinya. Hal yang menyakitkan, hal yang menyedihkan. Dan menyelesaikannya di jalan yang dia tempuh.
Rasanya jika tidak bergandengan tangan aku akan tertinggal. Aku, menggenggam erat tangan Putri Anis. Seolah memohon, jangan tinggalkan aku.
"……Putri Anis."
Memanggil namanya, menanyakan sesuatu. Tapi, kata-kataku tidak terbentuk dan menghilang menjadi helaan napas. Padahal ada hal yang harus kupastikan, tapi aku tidak bisa membentuk dengan jelas dalam diriku apa hal yang harus kupastikan itu.
"──Tidak apa-apa kok, Euphie. Aku, tidak apa-apa, kok."
Mungkin mendengar gumamanku, dia bilang tidak apa-apa, dan Putri Anis tertawa seperti biasa.
Benar, tidak ada yang berubah dari biasanya. Orang ini, mengucapkan kata-kata itu tanpa berubah.
Sikap itu membuatku merasakan kejanggalan. Dan, padahal aku tidak boleh membiarkannya begitu saja, aku sama sekali tidak tahu apa yang kulewatkan.
Ah, tolong beritahu aku seseorang. Ini pertama kalinya aku memohon ajaran kepada orang lain seperti ini. Tolong, tolong beritahu aku. Apa yang harus kulakukan.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!

Komentar
Tinggalkan Komentar