Featured Image

Tenten Kakumei V3 C1

Metoya Februari 15, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Kegundahan yang Tak Kunjung Sirna


"Dia itu benar-benar bodoh, ya? Apa Putri Euphyllia tidak berpikir begitu?"

Yang berbicara padaku dengan nada kesal adalah Tilty. Dia terlihat jelas sedang merajuk dan tidak puas.

Setelah keributan yang disebabkan oleh Pangeran Algard beberapa waktu lalu, Tilty yang sedang dalam masa pemulihan akhirnya bisa kembali ke kehidupan sehari-hari, dan menjadikan ini kesempatan untuk memulai kembali pemeriksaan kesehatan Lainie.

Karena Tilty dikurung di kamarnya selama masa pemulihan, dia tidak tahu bagaimana situasi di luar. Dia bilang baru-baru ini saja dia mengetahui semuanya.

Pada saat itu, kabar tentang pemulihan hak suksesi takhta Putri Anis sudah mulai menyebar di kalangan bangsawan. Sejak mendengar kabar itu, Tilty mulai menyebarkan kekesalannya.

Yang tersisa di istana terpisah adalah aku dan Lainie, sementara Putri Anis pergi ke istana kerajaan ditemani Ilia. Sejak hak suksesi takhtanya dipulihkan, waktu yang dihabiskan Putri Anis di istana terpisah menjadi sangat sedikit.

Pasti dia sangat sibuk. Tilty tampaknya merasa tidak senang bahkan dengan hal itu, dia mengerutkan kening dan berdecak lidah berkali-kali.

"Hari ini juga tidak ada di istana terpisah karena ada urusan di istana kerajaan? Pertemuan dengan bangsawan? Hmph, baru sekarang. Lagipula tidak ada yang akan mengakui dia menjadi Raja, jadi sebaiknya dia cepat-cepat mengadopsi anak bangsawan berpengaruh saja."

"Apa yang Anda katakan, Tilty. Itu sudah termasuk tidak sopan, lho."

"Hah, masa bodoh. Aku tidak peduli betapa tidak kompetennya orang di atas sana. Itu bukan urusanku."

Padahal dia bilang tidak peduli, tapi dia terlihat kesal. Kalau ditunjukkan, dia akan semakin kesal, jadi aku berhenti mendesaknya.

Sebenarnya aku ingin Tilty memeriksa kesehatan Putri Anis juga, tapi entah kenapa Putri Anis sepertinya menghindari Tilty, dan sejak saat itu mereka berdua belum bertatap muka.

Putri Anis akan tersenyum pahit jika aku membicarakan Tilty, dan Tilty akan menjadi gumpalan kekesalan seperti sekarang jika aku membicarakan Putri Anis. Aku jadi ingin memegangi kepalaku memikirkan apa yang harus kulakukan.

"Putri Euphyllia juga pasti kerepotan, ya?"

"Tidak, saya tidak terlalu……"

"Masa, sih? Putri Euphyllia juga dipermainkan oleh situasi, kan. Padahal tunangan Pangeran, tapi pertunangannya dibatalkan, lalu dipungut oleh Tuan Putri dan jadi asisten penelitian, tapi nyatanya sudah tidak terpakai lagi. Meski begitu masih bisa pasang wajah tenang."

Tilty melontarkan kata-kata yang terus terang. Meskipun berbagai hal menusuk hatiku, aku menggelengkan kepala untuk menutupinya. Aku juga sudah terbiasa menahan desahan yang hampir keluar.

"Soal saya tidak apa-apa. Apa Lainie baik-baik saja?"

"Y-ya……"

Lainie yang terlihat sungkan karena tidak bisa masuk ke dalam percakapan menjawab dengan suara pelan.

Pakaian Lainie bukan pakaian biasa, melainkan seragam pelayan. Lainie yang diajari sebagai calon pelayan oleh Ilia sedikit demi sedikit tumbuh sebagai seorang pelayan. Luka yang dideritanya akibat Pangeran Algard pun, entah karena daya regenerasi vampir, sama sekali tidak meninggalkan bekas luka sedikit pun.

Meskipun begitu, tidak diragukan lagi bahwa itu adalah luka berat yang sampai mengoyak jantung. Karena itu dia diperiksa oleh Tilty seperti ini. Sejauh ini, tidak ada masalah khusus jadi aku tidak terlalu khawatir.

"Lainie jujur dan baik, ya, beda jauh dengan Tuan Putri aneh di luar sana."

"A-ahaha……"

Lainie tersenyum pahit untuk menutupi suasana saat Tilty mulai melontarkan kata-kata kasar lagi. Aku tidak tahan dan bertanya pada Tilty.

"Tilty, apa Anda sebegitu tidak puasnya dengan pemulihan hak suksesi takhta Putri Anis?"

"Hmph. Justru bukankah yang harusnya merasa tidak puas itu kamu? Putri Euphyllia."

"……Soal tidak puas atau tidak, saya tidak dalam posisi untuk mengatakannya."

"Posisi. Ya, posisi, ya. Dia itu keluarga kerajaan, dan kau meskipun dari keluarga Duke tetaplah bangsawan biasa. Kalau dipikirkan dari segi posisi, itu jawaban yang sempurna. Memang hebat, Nona Sempurna kalau bicara beda, ya."

Sindiran Tilty membuatku mengerutkan kening. Tapi, saat merasakan emosi kuat yang terkandung di mata Tilty, aku jadi tidak bisa berkata apa-apa.

"Masa bodoh. Karena punya posisi jadi harus jadi Raja? Coba saja biarkan dia jadi Raja. Pasti bakal jadi kacau balau."

"S-sampai segitunya Anda mengatakannya……?"

"Dia jadi Raja itu berarti hanya akan jadi masalah, tahu."

Lainie juga tampak bingung dengan Tilty yang menegaskan hal itu. Aku sendiri merasa mengerti betapa sulitnya jika Putri Anis menjadi Raja berikutnya.

Sebagai premis, Putri Anis tidak memiliki bakat sihir yang dituntut sebagai keluarga kerajaan Kerajaan Palettia. Meskipun dia bisa menorehkan prestasi melalui Magologi, itu akan dianggap sesat dan sebagian besar bangsawan tidak akan menerimanya dengan baik.

Selain itu, Putri Anis sudah lama menjauh dari pergaulan bangsawan. Meskipun Ayah berdiri sebagai pendukung, menarik para bangsawan untuk berpihak padanya pasti akan sangat sulit. Sekalipun dia benar-benar menjadi Raja, tidak ada artinya jika para bawahan tidak mengikutinya.

"Saya mengerti. Bahwa Putri Anis tidak akan diterima dengan senang hati. Tapi, mendukung hal itu adalah tugas kami para bangsawan……"

"Ya, gagal. Baru mulai sudah payah. Putri Euphyllia, siapa yang menyuruhmu bicara soal posisi atau politik?"

"……Kalau begitu, apa yang menjadi masalah……?"

"Tidak bisa diajak bicara. Kau mau mengulangi kesalahan yang sama seperti saat dengan Pangeran Algard?"

Kata-kata Tilty membuat darahku rasanya naik ke kepala. Meskipun tenggorokanku terasa tercekat, aku menekan dada dan menahan diri.

Jika tidak segera kutahan, rasanya aku akan menerjang Tilty. Besarnya dorongan yang muncul membuat wajahku memucat.

"Nona Tilty! Itu sudah keterlaluan! Putri Euphyllia juga bukannya tidak memikirkan apa-apa, tahu!?"

"……Aku tahu."

Menggantikan aku yang membeku, Lainie membelalakkan matanya dan membentak Tilty.

Lalu Tilty juga memalingkan wajah dengan ekspresi canggung. Udara canggung mengalir, tapi seolah ingin mengubahnya, Tilty membuka mulut sambil tetap memalingkan wajah.

"……Maaf, aku cuma melampiaskan kekesalan. Kalau mau komplain harusnya aku bilang ke Putri Anis."

"……Tidak."

"Astaga! Pokoknya, semua ini salah dia! Baru sekarang bicara hak suksesi takhta! Untuk apa dia membuang hak suksesi takhta kalau begitu! Malah dengan mudahnya mengambilnya kembali!"

"……Tapi, kalau Putri Anis tetap melepaskan hak suksesi takhtanya, apa yang akan terjadi?"

"……Kalau Putri Anis tetap melepaskannya, tidak ada kandidat berikutnya, kan."

"Apa tidak ada orang lain yang punya garis keturunan untuk jadi kandidat selain Putri Anis?"

Terhadap pertanyaan Lainie, Tilty menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan sambil mengerutkan kening.

"Keturunan langsung yang tersisa selain Pangeran Algard hanya Putri Anis. Sebenarnya, kalau punya darah kerajaan, keluarga Duke juga bisa masuk kandidat, tapi kalau membiarkan keluarga Duke yang sekarang mewarisi takhta, bakal banyak masalah."

"Jika hak suksesi takhta Putri Anis tidak kembali, takhta akan diserahkan kepada bangsawan berpengaruh, atau mengadopsi putra yang cakap sebagai anak angkat. Kalau begitu, sudah jelas perebutan kekuasaan akan menjadi lebih sengit dari sekarang. Bisa-bisa mengarah pada pertikaian antar sesama bangsawan."

Aku mengangguk pada penjelasan Tilty sambil menambahkan kata-kata untuk melengkapinya.

Lainie mengusap lengannya dengan ekspresi seolah merasa merinding. Karena ini bukan topik yang menyenangkan bagiku juga, suaraku secara alami merendah.

"……Kalau begitu, berarti memang harus Putri Anis yang memegang hak suksesi takhta, ya? Tapi, para bangsawan tidak akan mengakui Putri Anis……"

"Soalnya Putri Anis tidak punya bakat yang dibutuhkan sebagai keluarga kerajaan, fatal banget, kan."

"Lalu harus bagaimana dong!? Bukankah itu terlalu egois!?"

Meskipun Lainie meninggikan suaranya, aku hanya bisa memasang ekspresi rumit. Tilty juga memasang ekspresi yang serupa.

"Para bangsawan faksi kepercayaan roh pasti ingin menjatuhkan Putri Anis. Kalau begitu, mereka sendiri, atau anak-anak mereka mungkin bisa mewarisi takhta baru."

"……Terlalu egois, hal seperti itu. Padahal itu yang menyebabkan Putri Anis dan Pangeran Algard berselisih, apa kekuasaan sebegitu pentingnya?"

Lainie menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan seolah tidak bisa mengerti. Tanpa sadar aku menatapnya seolah melihat sesuatu yang menyilaukan.

"……Sedikit sekali bangsawan yang bisa berpikir seperti itu. Makanya, masalah semacam ini tidak pernah habis di Kerajaan Palettia sejak dulu."

"……Sejak dulu, ya?"

"Iya. Kamu belajar sejarah, kan? Tahu cerita sebelum Yang Mulia Orphans naik takhta?"

"Umm…… cerita tentang kakaknya yang waktu itu Putra Mahkota melakukan kudeta, ya?"

"Cerita yang berhubungan erat dengan ayahmu. Raja terdahulu, kakeknya Putri Anis, mengambil kebijakan bukan hanya untuk darah bangsawan yang sudah bercampur dengan rakyat jelata, tapi juga untuk mengangkat rakyat jelata yang cakap menjadi bangsawan. Tapi, kebijakan ini mengundang penolakan keras dari para bangsawan faksi militer saat itu."

Bangsawan Kerajaan Palettia memiliki obsesi yang kuat terhadap garis keturunan. Ada aspek hubungan antar keluarga, tapi yang terpenting adalah agar kekuatan sihir yang diwarisi dari leluhur juga diwariskan kepada anak cucu.

Karena itulah kesadaran untuk memisahkan status bangsawan dan rakyat jelata secara tegas sangat mengakar di antara para bangsawan, dan kudengar sebelum Yang Mulia Orphans naik takhta, tren itu lebih kuat daripada sekarang.

"Zaman di mana semua orang berpikir kalau darah rakyat jelata bercampur dengan bangsawan, darahnya akan menipis. Kawin lari dengan rakyat jelata, atau bersatu dengan mereka itu hal yang tabu. Semua orang sepakat bilang kalau dulu jauh lebih parah daripada sekarang."

"……Makanya kakaknya Yang Mulia Orphans melakukan kudeta?"

"Benar. Kerajaan Palettia saat itu ada pergerakan untuk membedakan posisi bangsawan dan rakyat jelata dengan lebih tegas daripada sekarang."

"Makanya ketidakpuasan rakyat jelata juga menumpuk lebih dari sekarang. Katanya saking parahnya sampai tidak aneh kalau terjadi keruntuhan internal kapan saja, lho?"

Ingin menjadikan bangsawan sebagai kelas istimewa. Sisa-sisa itu masih ada sampai sekarang. Rumor tentang bangsawan yang sewenang-wenang tidak pernah putus, dan banyak juga rakyat jelata yang memendam ketidakpuasan dan ketakutan terhadap bangsawan seperti itu. Padahal seharusnya itu bukan sosok bangsawan yang ideal.

"Aku balik ke topik, ya? Terlepas dari pemicunya, kudeta sudah terjadi. Masalahnya di sini adalah yang melakukan kudeta adalah bangsawan militer saat itu. Hampir semua bangsawan faksi petarung berbalik menjadi musuh. Hebat juga Yang Mulia Orphans waktu itu bisa mempertahankan negara."

"Itu…… pasti karena keberadaan Ayah dan Ratu Sylphine sangat besar."

"Benar juga, tidak berlebihan kalau bilang posisi mereka berdua sekarang ada karena jasa memadamkan kudeta. Mereka kan orang-orang hebat yang katanya sudah bersaing memperebutkan posisi terkuat sejak saat itu."

"Hee…… Ayahnya Putri Euphyllia juga orang hebat, ya."

Aku hanya bisa tersenyum canggung menanggapi pujian jujur Lainie terhadap Ayah.

Ayah yang menguasai berbagai macam sihir, serta menunjukkan bakat dalam seni bela diri dan politik. Aku juga dibilang mirip Ayah, tapi sejujurnya aku tidak merasa bisa mengejarnya.

"……Eh? Kalau begitu kenapa keluarga Duke Magenta tidak bisa? Keluarga Duke kan berarti darah keluarga kerajaan juga mengalir di sana?"

"Memang benar keluarga Duke Magenta juga memasukkan darah keluarga kerajaan. Tapi, itu cerita dari generasi yang sudah cukup lama. Dengan kepekatan darah keluargaku, meskipun punya hak suksesi takhta, kurasa urutannya akan sangat jauh di belakang."

"Lagipula tidak mungkin menjadikan anak keluarga Duke Magenta sebagai anak angkat keluarga kerajaan. Ada banyak masalah."

"Masalah?"

"Setelah mengakhiri kudeta, Duke Magenta mereorganisasi bangsawan faksi petarung yang berada di pihak yang kalah dan berdiri di atas mereka. Hal itu berubah menjadi faksi baru yang dipimpin oleh Duke Magenta, tapi justru karena itu garis keturunan keluarga Duke Magenta tidak bisa menjadi Raja. Bisa-bisa malah jadi menggunakan kembali bangsawan yang dulu melakukan kudeta. Kementerian Sihir pasti akan menentang keras hal itu."

"……Kenapa Kementerian Sihir menentang?"

Lainie mengerucutkan bibirnya saat kata Kementerian Sihir muncul. Sepertinya kesan terhadap Kementerian Sihir menjadi sangat buruk sejak kasus Pangeran Algard. Jujur saja, aku juga tidak bisa menyangkal kalau punya perasaan buruk terhadap Kementerian Sihir.

"Karena banyak bangsawan yang tergabung dalam Kementerian Sihir adalah faksi yang mendukung kenaikan takhta Yang Mulia Orphans. Saat kudeta terjadi, Yang Mulia Orphans menarik Kementerian Sihir yang merupakan faksi netral ke dalam kubunya untuk melawan. Berkat jasa itu, Kementerian Sihir menaikkan posisinya secara besar-besaran dan mendapatkan kekuasaan seperti sekarang."

"Begitu rupanya?"

"Kementerian Sihir awalnya adalah organisasi untuk meneliti sihir atau memperdalam kepercayaan terhadap roh. Jadi posisinya seperti wadah kebijaksanaan, atau penasihat. Cuma setelah kekuasaannya menguat, sistem organisasinya juga berubah. Terdengar bagus kalau dibilang mengemban ujung tombak budaya negara, tapi akhirnya cuma jadi tua bangka lapuk yang terikat pada kejayaan masa lalu."

"Tilty, itu keterlaluan."

Karena kata-katanya sudah terlalu kasar, aku menegurnya. Pokoknya, Kementerian Sihir selain sebagai lembaga penelitian, juga memiliki peran menyusun dan mengelola sejarah masa lalu, serta mengurus acara-acara.

Karena itulah mereka faksi netral, tapi mungkin berubah setelah diminta bantuan oleh Yang Mulia Orphans saat kudeta.

"Kementerian Sihir mementingkan otoritas sihir, baik atau buruknya. Memuji pendiri Kerajaan Palettia, menjadikan roh sebagai teman, dan hidup bersama hati mereka. Mewarisi tradisi dan budaya, serta berusaha menjaganya. Makanya tidak cocok dengan Putri Anis. Putri Anis itu inovatif, sedangkan Kementerian Sihir itu konservatif."

"Oh, begitu……"

"Hanya saja, Kementerian Sihir kali ini melakukan kesalahan besar. Karena dalang keributan, Count Chartreuse, sudah dihukum dan posisinya sebagai kepala kosong, seharusnya mereka tidak bisa bergerak banyak. Makanya Yang Mulia Raja mungkin mencoba membiarkan Putri Anis memperkuat landasannya mumpung sekarang. Adanya Duke Magenta sebagai pendukung juga merupakan wujud dari peta kekuatan semacam itu."

"……Umm, kalau begitu apa tidak ada orang lain selain dari keluarga Duke Magenta?"

"Keluarga Duke lain juga ada yang dihancurkan karena memihak kudeta sebelumnya, atau meski keluarganya tersisa tapi kepalanya dieksekusi, jadi benar-benar tidak ada orang yang bisa mewarisi takhta yang tersisa."

"Gawat dong!"

"Iya. Makanya satu-satunya yang seharusnya bisa jadi Raja berikutnya, Pangeran Algard, seharusnya benar-benar dibesarkan dengan hati-hati…… Aku sampai kasihan pada Yang Mulia Raja."

Tilty mengangkat bahu dan berkata. Pangeran Algard memang pasti sangat disayang. Dimulai dari aku sebagai tunangannya, putra-putra bangsawan berpengaruh disiapkan sebagai kandidat ajudan, aku rasa dia sangat diistimewakan.

"Apa kemampuan sihir itu sebegitu pentingnya? Saya tidak mengerti. Bagaimana kemampuan sihir berhubungan dengan tugas pemerintahan Raja? Bukankah tidak ada hubungannya langsung dengan politik?"

Seperti yang dikatakan Lainie, tidak banyak hal dalam pengelolaan negara yang berhubungan dengan kemampuan sihir. Tilty menjawab menggantikan aku yang terdiam karena tidak bisa berkata apa-apa.

"Makanya sihir itu kutukan. Dulu bangsawan harus memimpin untuk melindungi rakyat. Pembukaan lahan sudah maju dan kehidupan juga sudah stabil, tapi tetap saja kekuatan sihir diperlukan saat keadaan darurat. Bersiap itu penting. Tidak menipiskan darah, menuntut untuk menjadi penyihir bukanlah hal yang salah bagi Kerajaan Palettia. Itu adalah kewajiban mereka yang memiliki kekuatan, dan yang harus memimpin untuk memenuhinya adalah keluarga kerajaan."

"……Makanya keluarga kerajaan dituntut memiliki bakat sihir?"

Terhadap pertanyaan Lainie yang seperti mengerang, Tilty mengangguk pelan. Aku juga tidak bisa mengucapkan kata penyangkalan.

Tidak menipiskan darah, itu berarti harus terus menjadi penyihir. Untuk melindungi Kerajaan Palettia yang rentan terhadap bahaya monster, kekuatan sihir diperlukan. Jadi bisa dimengerti kalau sihir menjadi simbol otoritas.

"Hanya saja, sekarang ini ada berapa banyak bangsawan yang bisa punya cita-cita setinggi itu?"

"……Itu."

"Banyak penyihir hebat yang disebut elit masuk ke Kementerian Sihir. Lalu ikut campur dalam politik dan terikat pada kejayaan masa lalu. Meskipun Duke Magenta melawan, bangsawan di bawahnya dipaksa membangun kembali keluarga karena membereskan sisa kudeta, atau menjadi penguasa wilayah agar dijauhkan dari pusat, atau ditempatkan di ordo ksatria perbatasan. Makanya pengaruh politik sebagai faksi itu lemah. Negara ini perlahan, tapi pasti sedang diwarnai oleh kewibawaan Kementerian Sihir."

Tilty mengatakannya dengan nada kuat seolah-olah itu menjengkelkan. Yang Mulia Orphans menjadi Raja, dan Kementerian Sihir yang membantunya meningkatkan posisi dan kekuasaannya.

Dan mereka mencoba mewarnai negara ini dengan pemikiran mereka sendiri, apakah itu yang ingin dikatakan Tilty?

"Makanya Putri Anis itu racun keras. Baik atau buruk, dia akan mengubah negara ini terlalu banyak."

"Karena ada alat sihir?"

"Itu juga, tapi…… masalah terbesarnya adalah Putri Anis tidak menyucikan sihir."

Aku tanpa sadar mengangguk mendengar perkataan Tilty. Putri Anis sepertinya memiliki iman yang sangat tipis terhadap roh. Misalnya, dia punya pendapat pribadi yang bisa menyebut batu roh sebagai bangkai roh.

Terhadap keberadaan mulia yang biasanya harus didoakan, Putri Anis memiliki pemahaman yang mau dibilang tidak sopan pun tidak bisa disangkal. Justru karena itulah Putri Anis memiliki pemikiran Magologi dan sampai menciptakan alat sihir. Tapi, itu tidak bisa diterima oleh Kementerian Sihir.

"Bukan karena Putri Anis menciptakan keberadaan yang disebut alat sihir yang menimbulkan gesekan dengan Kementerian Sihir. Masalah besarnya adalah Putri Anis 'tidak percaya' pada roh."

"Karena tidak percaya, ya?"

"Dia tahu roh itu ada, dan mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang patut disyukuri. Tapi bagi Putri Anis, roh bukanlah sesuatu yang mutlak. Batu roh yang katanya pemberian dari roh saja dia pakai habis-habisan demi eksperimen tanpa ragu. Bisa bayangkan kan bagaimana sikap itu dilihat oleh Kementerian Sihir yang ingin menjaga tradisi dan kepercayaan?"

Lainie mengangguk berat mendengar kata-kata Tilty yang diucapkan sambil menyipitkan mata.

Jurang yang terbentang antara Putri Anis dan Kementerian Sihir sangat besar dan dalam. Putri Anis juga bukannya meremehkan roh, tapi jika ditanya apakah dia melihatnya sebagai objek kepercayaan, jawabannya tidak.

"Ini cuma andai-andai, tapi kalau Putri Anis disambut oleh semua orang dan bisa menjadi Ratu, Kerajaan Palettia mungkin akan mengalami kemajuan yang belum pernah ada dalam sejarah. Tapi, justru itulah masa depan yang ingin dihindari oleh Kementerian Sihir."

"……Kenapa?"

"Naiknya Putri Anis berarti penyebaran alat sihir juga akan meluas. Dan juga pemikiran Putri Anis itu sendiri. Tapi, pemikiran Putri Anis bisa-bisa menggerogoti hak istimewa bangsawan."

"……Hak istimewa?"

"Bangsawan adalah bangsawan justru karena memiliki kewajiban melindungi negara. Melawan monster, melindungi negara, mengemban politik, dan memimpin rakyat. Yang menopang otoritas bangsawan itu adalah sihir. Makanya bangsawan bangga bisa menggunakan sihir."

"Tapi, Putri Anis punya alat sihir. Alat sihir adalah sesuatu yang bisa dibilang sihir yang bisa digunakan baik oleh bangsawan maupun rakyat jelata. Kalau itu jadi hal yang biasa, menurutmu apa yang akan terjadi? Lainie."

Lainie terdiam sambil mengerutkan kening seperti sedang berpikir keras. Lalu mungkin karena teringat sesuatu, dia mengucapkan jawabannya dengan takut-takut.

"……Rakyat jelata tidak akan membutuhkan perlindungan bangsawan lagi……?"

Aku mengangguk seolah membenarkan jawaban yang diucapkan Lainie. Mungkin inilah alasan besar kenapa Putri Anis dan Kementerian Sihir saling bermusuhan.

Sihir adalah hak istimewa dan keuntungan bagi bangsawan. Karena itulah bangsawan memiliki posisi seperti sekarang.

Tapi, apa yang akan terjadi jika rakyat jelata bisa melindungi diri mereka sendiri?

Padahal jurang antara bangsawan dan rakyat jelata saja terus melebar. Apa yang akan terjadi jika rakyat jelata yang tidak puas dengan bangsawan bisa mendapatkan alat sihir dengan mudah?

Itu pasti akan menjadi ancaman bagi bangsawan. Dan, Putri Anis sudah memberitahukan kinerja alat sihir kepada dunia.

"Tentu saja tidak akan jadi cerita di mana rakyat jelata berpisah jalan dengan bangsawan hari ini atau besok, atau dalam beberapa tahun. Tapi kalau rakyat jelata mendapatkan kekuatan yang tidak kalah dari bangsawan, tidak bisa dibilang tidak akan ada rakyat jelata yang mencoba melawan bangsawan yang bersikap sewenang-wenang. Tidak, justru aneh kalau tidak ada, kan."

"……Benar, juga."

Lainie mengangguk pelan. Di ekspresinya terkandung emosi pahit.

Apakah Lainie juga pernah mengalami hal yang membenarkan perkataan Tilty?

Aku tidak mengerti penderitaan rakyat jelata. Makanya aku tidak bisa berempati. Tapi, aku sudah cukup sadar bahwa membiarkannya tanpa mengerti adalah hal yang menakutkan.

"……Apakah rakyat, menginginkan perubahan?"

Baik Tilty maupun Lainie tidak segera menjawab pertanyaanku. Tilty dengan wajah serius, sementara Lainie tampak seperti tidak bisa mengeluarkan suara karena berusaha memilih kata-kata.

"Aku tidak tahu sampai soal rakyat. Aku bangsawan, dan aku juga pengurung diri. Lagipula yang kubicarakan juga cuma cerita yang kudengar."

"Kalau begitu, bagaimana dengan Lainie?"

"……Saya tidak tahu. Saya dibesarkan di panti asuhan. Dunia yang saya tahu itu sempit, saya tidak bisa bicara soal apa yang dipikirkan rakyat jelata lain. Tapi……"

"……Tapi?"

"Saya rasa jumlah anak yatim piatu bertambah. Alasannya menjadi yatim piatu bermacam-macam, ada yang murni karena orang tuanya miskin dan terpaksa membuangnya, atau ada anak yang lahir di keluarga bangsawan tapi tidak diakui……"

"……Anak yatim piatu bertambah?"

"Iya. Bahkan setelah saya diambil, saya rasa jumlahnya terus bertambah setiap tahun."

Bertambahnya anak yatim piatu berarti banyak rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Jika mereka sendiri tidak bisa mengatasinya dengan kekuatan sendiri, mereka tidak punya pilihan selain membuang anak ke panti asuhan.

Aku tidak berpikir Yang Mulia atau Ayah tidak tahu kenyataan itu. Meski begitu, apakah mereka tidak bisa mengulurkan tangan pada rakyat yang menderita kemiskinan karena situasinya tidak memungkinkan?

"Yang paling tahu kehidupan rakyat jelata pastinya Putri Anis. Dia kan jadi petualang, sering turun ke kota bawah, dan dengan santainya keluar dari ibu kota kerajaan. Jadi tidak aneh kalau dia tahu. Kehidupan seperti apa yang dijalani rakyat, dan apa yang mereka pikirkan tentang bangsawan."

"Itu, memang benar sih……"

"……Ini cuma andai-andai, tapi kalau rakyat jelata benar-benar menderita, dan keadaannya sudah sangat mendesak sampai harus ada yang bertindak, dia pasti akan lebih panik. Walaupun ada jurang antara bangsawan dan rakyat jelata, kurasa itu belum fatal."

Aku tanpa sadar setuju dengan perkataan Tilty. Putri Anis adalah orang yang baik hati. Orang yang bisa bergerak demi rakyat dalam jangkauan kemampuannya.

Jika Putri Anis benar-benar melihat situasi yang tidak bisa ditolong lagi, aku rasa dia akan bergerak lebih cepat. Meskipun itu berarti harus berselisih dengan Pangeran Algard.

"Putri Anis menolak kemungkinan suksesi takhta habis-habisan sampai Pangeran Algard tidak ada. Dia berharap itu lebih baik. Perselisihan dengan Pangeran Algard mungkin salah satu alasannya, tapi dia selalu mengukur seberapa besar dia menyusahkan orang lain seperti itu. Ternyata, dia memperhatikan dengan detail sampai batas mana dia bisa dimaafkan."

"……Tapi meskipun Putri Anis jadi Raja, akhirnya akan tetap berselisih dengan bangsawan faksi kepercayaan roh, kan?"

Mendengar pertanyaan Lainie, aku dan Tilty kembali terdiam. Jika Putri Anis yang tidak bisa menggunakan sihir menjadi Raja, dan jika ada sesuatu yang bisa menggantikan sihir, itu adalah Magologi dan alat sihir. Jika itu sekali saja sampai ke tangan rakyat, rakyat pasti akan menginginkan kekuatan yang lebih besar.

Sekali dimulai, arus itu tidak akan bisa dihentikan. Jika begitu, perselisihan dengan bangsawan faksi kepercayaan roh yang ingin melindungi hak istimewa mereka tidak akan terhindarkan. Kalau salah langkah, penyebaran alat sihir bisa memicu kudeta kedua.

Tilty dan Lainie pasti juga membayangkan hal seperti itu. Keheningan yang tidak menyenangkan menyebar di ruangan.

"──Aku pulaaang!"

Terdengar suara ceria yang riang di sana. Yang membuka pintu dengan semangat dan masuk ke dalam adalah Putri Anis.

Kami membelalakkan mata melihat Putri Anis yang masuk tiba-tiba. Putri Anis hanya tersenyum lebar, tapi gerakannya terhenti saat matanya bertemu dengan Tilty.

"Eh, lho? Tilty, masih di sini……? Kirain sudah pulang, lho……"

Putri Anis menggoyangkan badannya seolah mencoba menutupi sesuatu entah kenapa, sambil tersenyum pahit. ……Kenapa ya, aku merasakan sesuatu yang janggal pada sikap itu.

Saat aku sedang heran, Tilty berjalan cepat mendekati Putri Anis. Putri Anis mencoba mundur, tapi Tilty lebih cepat memperpendek jarak.

Tilty langsung mencengkeram kerah baju Putri Anis. Aku panik dan mencoba menengahi, tapi terhenti saat melihat ekspresi Tilty.

"……Kau, pasang tampang apa itu."

"Ah, tidak, itu, lho, memang sih aku salah karena menghindarimu……"

"──Kau tahu kan bukan itu maksudku!"

Ekspresi Tilty terdistorsi oleh kemarahan. Bersamaan dengan itu, dia menggertakkan gigi gerahamnya seolah sangat kesal, dan memelototi Putri Anis sambil tetap mencengkeram kerahnya.

Di sisi lain, Putri Anis yang masih dicengkeram hanya tertawa canggung. Dia mengeluarkan suara tawa untuk menutupi suasana, tapi tidak ada tenaga dalam suara itu.

Aku benar-benar tertelan oleh keadaan dua orang yang aneh itu. Yang memisahkan mereka berdua adalah Ilia yang mengikuti dari belakang Putri Anis.

"Nona Tilty, tolong jangan lebih dari itu……"

"……Bodoh, kau benar-benar bodoh! Kalau kau bersikap begitu, aku juga tidak mau tahu lagi!"

"……Iya, maaf ya?"

"Ada soal tato juga, aku akan tetap memeriksamu. Tapi, aku tidak mau melihat wajahmu di sini, jadi mulai sekarang kau yang datang padaku. Lagipula kau keluar saat hari pemeriksaan Lainie, kan? Kalau kau mau melakukan hal seperti itu, terserah saja. Tapi kalau kau datang ke tempatku, jangan pernah perlihatkan senyum tempelan itu lagi. Muak aku melihatnya. Kalau kau perlihatkan lagi, kuhajar kau!"

Jelas sekali apa yang dikatakan Tilty itu kacau. Dia bilang akan memeriksa, tapi tidak mau melihat wajahnya. Meskipun begitu, Putri Anis mengangguk seolah itu hal yang wajar.

Interaksi yang aneh, tapi entah kenapa dua orang itu terlihat nyambung, membuatku merasakan hawa dingin yang tak jelas asalnya. Aku bahkan merasa seolah jantungku dicengkeram oleh rasa dingin itu.

(Ini, sebenarnya apa……?)

──Aku tidak tahu, makanya…… takut.

Sampai berpikir begitu, aku terperangah. Aku takut. Melihat interaksi dua orang ini, karena aku tidak tahu apa maknanya. Tapi, intuisiku berbisik bahwa aku tidak boleh melewatkan kejanggalan ini.

Selagi aku berpikir, "Aku pulang!" teriak Tilty lalu pergi keluar.

Karena terlalu cepat, tidak ada yang bisa mengikuti, hanya Ilia yang mengejar Tilty untuk mengantarnya. Yang tertinggal di ruangan adalah aku, Lainie, dan Putri Anis.

"……Ah, gagal deh. Hmm, nanti harus minta maaf……"

Putri Anis menghela napas sambil menggaruk kepala. Sosoknya yang menjatuhkan bahu terlihat sedang murung. ……Tapi, ekspresi itu tetaplah senyum canggung.

"Putri Anis."

"Maaf ya, jadi bikin kaget. Aku sudah menduga bakal begini makanya aku menghindari Tilty, tapi aku lengah karena mengira dia sudah pulang."

"Itu tidak masalah, tapi……"

"Jangan pedulikan Tilty. Yah, memang salahku sih, tapi dimarahi juga gimana ya……"

……Apa cuma perasaanku saja? Padahal aku ingin menganggapnya cuma perasaan saja, tapi keraguan tidak bisa hilang.

(Putri Anis, Anda sekarang, melihat ke mana, dan bicara dengan siapa……?)

Jelas-jelas ada di depan mata, tapi tatapannya tidak bertemu. Cuma hal sepele begitu, tapi hawa dinginku tidak berhenti. Aku merasa tidak bisa menghilangkan ilusi bahwa aku seolah tidak masuk dalam pandangan Putri Anis.

Aku tidak tahu kenapa aku berpikir begitu. Makanya takut. Ketakutan seperti ini, aku tidak tahu. Makanya saat tatapan Putri Anis terarah padaku, entah kenapa aku merasa sangat lega.

"Ah, benar juga Euphie. Hari ini sepertinya sudah selesai, jadi aku punya usul nih!"

"Usul…… kah?"

"Iya, itu lho. Arc-en-ciel! Kamu minta diperbaiki, kan?"

Saat pertarungan antara Putri Anis dan Pangeran Algard, bilah Arc-en-ciel yang kugunakan sebagai pengganti perisai saat aku menerobos masuk patah jadi dua, jadi aku meminta Putri Anis memperbaikinya.

Aku dengar ada pandai besi langganan di kota bawah, tapi katanya sekarang dititipkan pada orang itu.

"Ya, jadi aku ingin sekali memperkenalkan Euphie pada pandai besi itu. Kesempatan bagus, kan."

"Itu, artinya pergi ke kota bawah bersama Putri Anis?"

"Iya! Sedikit menyamar! Butuh ganti suasana, kan?"

"Itu boleh saja, tapi…… bagaimana dengan pengawal?"

Meskipun menyamar, Putri Anis adalah keluarga kerajaan. Sambil merasakan firasat buruk yang berbeda dari sebelumnya, aku bertanya pada Putri Anis. Jawaban Putri Anis adalah sesuatu yang kejam yang mengkhianati harapanku.

"Tidak perlu pengawal, kan, kalau saling mengawal tidak masalah! Terus, aku sudah bilang ke Ayah jadi kurasa nanti ada yang mengikuti dari belakang? Tidak perlu dipikirkan."

"……Apa tidak apa-apa begitu?"

"Baru sekarang?"

Dulu bisa bebas karena ada Pangeran Algard, tapi Putri Anis yang sekarang adalah satu-satunya pewaris takhta, lho!?

Berpikir begitu, saat aku hendak memberikan nasihat, Putri Anis memeluk lenganku. Lalu dia menatapku dengan tatapan memohon.

"……Tidak boleh?"

Aku hendak melontarkan kata tidak boleh, tapi mulutku terasa berat melihat ekspresi memohon Putri Anis.

Aku mengalihkan pandangan ke Lainie seolah meminta bantuan, tapi Lainie tersenyum pahit tipis dan menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Seolah berkata, menyerah saja.

"Nee? Boleh kan, Euphie?"

Pada Putri Anis yang berkata dengan suara manja, aku tidak punya pilihan selain menyerah.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar