Opening
"……Anis, ini adalah keputusan mutlak."
Ayah mengatakan hal itu dengan suara yang berat. Ini adalah ruang kerja di istana kerajaan. Ayah bertopang dagu di atas meja kerjanya dengan tangan yang saling bertaut, ekspresinya sangat keruh.
Duke Grantz yang berdiri menunggu di sisinya tampak seperti biasa. Ibu memasang ekspresi tenang, tetapi tangannya terkepal erat.
Aku menghela napas perlahan. Karena aku sudah bersiap sampai batas tertentu, aku tidak terkejut dengan apa yang Ayah sampaikan. Hanya saja, muncul perasaan pasrah bahwa akhirnya memang harus jadi begini.
Aku memasang senyum palsu untuk menutupi emosi yang mencuat ke permukaan. Senyum sempurna yang tidak akan membiarkan siapa pun merasakan kecemasan. Jika tidak begitu, aku tidak akan bisa bertahan ke depannya.
"Saya mengerti, Ayah. Saya sudah memperkirakannya, dan saya rasa ini juga hal yang tidak bisa dihindari."
"……Apa kau benar-benar tidak keberatan?"
Saat aku mengatakannya sambil tersenyum, Ayah bertanya tanpa mengubah ekspresi seriusnya. Mendengar itu, senyumku berubah menjadi senyum pahit.
"Ayah ini bagaimana, bukankah Ayah yang bilang ini keputusan mutlak? Saya juga mengerti bahwa tidak ada pilihan lain."
"Anis…… Kau."
Ekspresi Ibu runtuh, dia menatapku dengan alis berkerut. Namun, kata-kata selanjutnya tidak keluar. Menggantikan Ibu yang akhirnya terdiam, Duke Grantz membuka mulut.
"Kalau begitu, saya akan mengatur persiapan untuk pengumuman resminya dalam waktu dekat. Putri Anisphia, ini akan merepotkan Anda, tapi mohon kerja samanya."
"Saya mengerti, Duke Grantz. ……Ah, benar juga. Kalau begitu bagaimana dengan Euphie?"
"Biarkan Euphyllia tetap di sisi Anda untuk sementara waktu. Ini juga akan berhubungan dengan menunjukkan sikap keluarga Duke kami."
"Begitu, ya. Duke Grantz, justru sayalah yang mungkin akan banyak menyusahkan Anda, jadi mohon bantuannya."
"Baik, itu adalah tugas kami. Saya bersumpah di sini untuk mendukung punggung Anda dengan segenap kekuatan kami."
Duke Grantz meletakkan tangan di dada dan membungkuk dalam-dalam, lalu mengatakannya dengan kepala tetap tertunduk. Suara Duke Grantz sangat berat, sensasi yang seolah bergema hingga ke dasar perut menghampiriku.
"──Pemulihan Hak Suksesi Takhta. Saya pikir ini adalah hal yang tidak diinginkan bagi Putri Anisphia, tetapi saya memohon agar Anda memenuhi tugas sebagai anggota keluarga kerajaan Kerajaan Palettia."
* * *
"……Pemulihan hak suksesi takhta, ya?"
Setelah pemberitahuan Ayah di istana kerajaan selesai, aku kembali ke istana terpisah. Lalu, saat aku menjelaskan apa yang dikatakan Ayah kepada semuanya, yang pertama kali bersuara adalah Euphie. Ilia sedikit melebarkan matanya, sementara Lainie tampak tercengang.
"Yah, mau bagaimana lagi. Al juga sudah tidak ada."
──Sudah dua bulan berlalu sejak Al dicabut hak warisnya.
Kekacauan yang ditimbulkan Al, yang bermula dari pembatalan pertunangan, berubah menjadi keributan besar seperti menyodok sarang lebah di istana kerajaan karena petinggi Kementerian Sihir juga terlibat dalam konspirasi itu.
Pencabutan hak waris Al yang merupakan satu-satunya laki-laki di keluarga kerajaan dan pemegang hak suksesi takhta teratas, serta pengasingannya. Ditambah lagi dengan kejatuhan keluarga Chartreuse yang menjabat sebagai Kepala Kementerian Sihir yang memiliki kekuatan politik besar. Tentu saja butuh waktu untuk meredakan keributan besar ini.
Di sisi lain, aku sedang dalam masa pemulihan karena efek samping dari tato naga yang kugunakan dalam pertarungan melawan Al. Meskipun aku sudah bisa bergerak dalam seminggu, aku diperintahkan untuk beristirahat sampai sekarang untuk memantau perkembangannya.
Jadi, aku mengira pemanggilan hari ini adalah untuk menceramahiku karena telah bertindak nekat, tapi saat aku pergi untuk mendengarkannya, Ayah dan Ibu sudah menunggu dengan ekspresi tegang, dan dijelaskan bahwa hak suksesi takhtaku dipulihkan.
Tidak ada kehendakku di sana. Lagipula, tidak ada lagi pewaris dengan darah kerajaan yang cukup pekat untuk diberi hak suksesi takhta selain aku. Karena itulah, Ayah memutuskan pemulihan hak suksesi takhtaku. Aku tidak bisa menolaknya.
"……Apa Putri Anis baik-baik saja dengan itu?"
Yang bertanya padaku dengan suara kaku adalah Euphie. Di matanya, terlihat emosi tidak percaya dan tidak ingin percaya yang timbul tenggelam.
Melihat ekspresi Euphie yang seperti itu, aku malah tersenyum pahit. Itu karena Euphie terlihat lebih serius daripada aku.
"Itu titah langsung dari Raja, lho. Sepertinya aku tidak bisa main-main terus lagi."
"Umm…… kalau hak suksesi takhta dipulihkan, apakah itu berarti Raja berikutnya adalah Putri Anis?"
Lainie bertanya dengan ekspresi bingung. Mendengar pertanyaan itu, aku menghela napas sambil merasakan senyum pahitku semakin dalam.
"Entahlah. Karena Ratu yang memerintah itu belum ada presedennya, kalau mengikuti kebiasaan yang sudah-sudah, mungkin aku akan menerima pendamping ratu."
"Pendamping ratu itu……"
"Karena darah keluarga kerajaan harus dilestarikan. Kalau Al tidak bisa, maka aku yang harus melahirkan penerus."
Apa aku bisa mengatakannya seolah bukan apa-apa? Saat mengucapkannya sendiri, perutku terasa diperas dan rasa mual meluap. Aku menahannya agar tidak memuntahkannya, mengurungnya agar tidak terlihat di luar.
"Yah, lagipula ada masalah apakah aku akan diterima atau tidak yang menanti, sih!"
"……Meskipun hak suksesi takhta sudah kembali?"
"Soalnya aku tidak bisa menggunakan sihir. Kalau dilihat sebagai bangsawan, ini terlalu fatal."
Itulah alasan aku membuang hak suksesi takhta. Kerajaan Palettia yang menjalin kontrak dengan roh dan dianugerahi sihir. Yang dituntut dari keluarga kerajaan dan bangsawan adalah kemampuan sihir.
Kalau hanya tidak punya bakat, masih ada harapan. Tapi aku sama sekali tidak bisa menggunakan sihir. Meskipun aku menerima pendamping, belum tentu bakat yang kurang itu bisa tertutupi.
Walaupun darah keluarga kerajaan bisa tersisa, jika bakat sihir yang harus diwariskan pada darah itu tidak menurun, tidak ada artinya aku yang meneruskan.
Sebenarnya ada cara dengan mengadopsi anak bangsawan berpengaruh, tapi Ayah pasti ingin menghindari itu.
Soalnya kasus Kementerian Sihir baru saja terjadi. Kalau mengambil anak angkat, tidak aneh jika akan muncul orang-orang yang berlomba-lomba menyusun konspirasi demi menginginkan takhta.
Kerajaan Palettia sekilas tampak damai, tapi di dalamnya perebutan kekuasaan masih terus berlanjut. Buktinya adalah konspirasi yang dipicu oleh Al dan melibatkan petinggi Kementerian Sihir.
Akibat kejadian ini, momentum para bangsawan yang memuja supremasi sihir dan taat pada kepercayaan roh jadi terpatahkan.
Meskipun begitu, arus utama bangsawan Kerajaan Palettia adalah penganut kepercayaan roh. Mereka menuntut kemampuan sihir, pewarisan tradisi, dan ikatan dengan roh lebih dari apa pun dari keluarga kerajaan dan bangsawan. Karena itu, mereka tidak akan mengakuiku.
(Artinya, masalah yang bisa memecah belah negara masih tersisa segunung, kan.)
Justru karena itulah harus aku. Awalnya, Ayah berniat mengubah negara ini secara perlahan. Meskipun memakan waktu, lebih baik darah yang tertumpah sedikit saja. Dengan begitu, beliau mencoba meyakinkan orang-orang seiring berjalannya waktu dan mendorong perubahan secara perlahan.
Buktinya, meski tidak mengakuinya secara terbuka, Ayah menaruh harapan pada Magologi, dan alat sihir yang dihasilkan olehnya. Aku rasa alasan beliau tidak menghentikan penelitianku juga karena itu.
Jika alat sihir menyebar di kalangan rakyat jelata, kesenjangan antara bangsawan dan rakyat jelata bisa sedikit tertutupi.
Tapi, itu juga berarti rakyat jelata akan melangkah masuk ke wilayah sihir yang merupakan hak istimewa bagi para bangsawan. Itu adalah pengulangan konflik yang pernah terjadi di negara ini dulu.
Karena itu Ayah bersikap hati-hati. Kalau dibilang terlalu hati-hati sampai membiarkan konspirasi seperti kali ini terjadi, itu juga tidak bisa disangkal.
Gara-gara konspirasi keluarga Count Chartreuse yang merupakan kelompok radikal dalam faksi kepercayaan roh, kita kehilangan Al yang merupakan penerus. Kalau sudah begitu, yang tersisa sebagai keturunan langsung keluarga kerajaan hanyalah aku.
Makanya Ayah mengambil keputusan. Untuk mengakuiku sebagai pewaris takhta. Meskipun harus memaksakan perubahan, kita tidak bisa membiarkan posisi pewaris takhta kosong begitu saja dan membiarkan bangsawan faksi kepercayaan roh memegang kendali.
Distorsi yang membesar selama bertahun-tahun semakin memisahkan jarak antara bangsawan dan rakyat jelata. Padahal di antara rakyat pun tercampur darah bangsawan. Jurang ini suatu saat mungkin akan menjadi tragedi besar yang menyerang negara.
Karena itu, arus zaman harus diubah di sini. Meminjam kata-kata Al, kita harus menyelamatkan negara yang perlahan membusuk ini.
"Yah, karena itu mungkin untuk sementara akan jadi sibuk, tapi karena tidak terlalu berhubungan dengan Euphie dan Lainie, kalian santai saja."
"Bilang tidak berhubungan itu……"
"Euphie sebagai asisten penelitian Magologi, dan Lainie juga sebagai calon pelayan ada di istana terpisah ini. Aku tidak bisa melibatkan kalian berdua dalam hal-hal yang harus kulakukan sebagai pewaris takhta."
Mulai sekarang aku harus kembali melakukan berbagai hal sebagai keluarga kerajaan. Pertama-tama, aku harus memberitahu para bangsawan bahwa hak suksesi takhtaku telah dipulihkan.
Setelah itu, aku harus membangun landasan untuk menjadi Raja. Meskipun Duke Grantz akan menjadi pendukungku, aku harus menundukkan para bangsawan yang tidak mengakuiku.
Mungkin akan muncul hal-hal di mana aku harus menyusun berbagai rencana untuk menjalin koneksi, dan sejujurnya aku tidak punya bayangan harus mulai dari mana. Walau dibilang ini bayaran karena selama ini aku hidup bebas, aku tidak bisa menyangkalnya. Apa boleh buat.
Aku tidak bisa hidup bebas seperti sebelumnya. Kalau memikirkan itu rasanya jadi suram, dan sepertinya akan terlihat di wajahku. Aku menggelengkan kepala ke kiri dan kanan untuk mengusir rasa melankolis itu.
"……Ternyata aku lelah juga. Ini benar-benar pembicaraan yang mendadak, aku mau istirahat sebentar. Maaf ya jadi ribut begini."
"Putri Anis……"
Euphie memanggil namaku dengan cemas, tapi aku tersenyum dan melambaikan tangan ringan padanya. Aku meninggalkan ruangan tempat semua orang berada begitu saja, lalu menuju ke kamarku sendiri.
Aku membuka pintu kamarku, lalu menutupnya dengan tangan di punggung. Setelah menguncinya, barulah aku bisa menghela napas lega.
Saat ini, kurasa ekspresiku sudah hilang sepenuhnya. Setelah sendirian, akhirnya aku tidak perlu mempedulikan pandangan siapa pun. Sambil bersandar pada pintu yang terkunci, aku menekan wajahku dengan tangan. Rasanya sudah sulit untuk berdiri jika tidak bersandar pada sesuatu.
"……Aku sudah bersiap. Aku tahu, kalau Al sudah tidak ada, yang tersisa hanya aku. Karena itu, aku yang harus menggantikannya."
Aku bergumam seolah menasihati diri sendiri. Kalau tidak begitu, rasanya aku tidak akan sanggup menerima kenyataan ini.
Al sudah tidak ada. Raja berikutnya adalah aku. Betapapun tidak pantasnya aku, karena terlahir sebagai keluarga kerajaan, darah kerajaan harus diteruskan.
Demi itu, aku harus diakui oleh para bangsawan. Bahwa aku adalah keluarga kerajaan, dan pantas menjadi Raja berikutnya.
"──………hh!"
Aku menahan rasa mual yang meluap. Jangan dimuntahkan, jangan muntahkan apa pun. Tidak boleh ketahuan. Tidak boleh membiarkan mereka sadar. Tahan, anggap tidak terjadi apa-apa, jangan perlihatkan apa pun.
Aku juga mengerti. Seseorang harus memegang kendali negara. Kalau tidak, kita tidak akan bisa melindungi negara ini. Dan, hanya aku yang tersisa yang bisa mewarisi takhta.
"……Aku baik-baik saja."
Aku bukan anak kecil lagi. Aku berbeda dari masa kecilku yang hanya mengagumi sihir.
Aku berhasil mengembangkan alat sihir yang bisa terbang di langit. Aku bisa membuat sebagian sihir menjadi alat. Dengan kekuatan itu, aku bahkan sudah membuktikan bisa mengalahkan naga.
Aku yang sekarang punya kekuatan. Membuat para bangsawan yang menyangkal keberadaanku tunduk pun, harusnya bisa kulakukan sekarang. Asalkan aku memiliki tekad.
Makanya aku bisa tertawa. Makanya aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa. Kalau aku pasti bisa. Aku tidak punya pilihan selain melakukannya.
Aku menarik napas dalam-dalam sambil mengulanginya berkali-kali. Aku menjauhkan punggung yang kusandarkan di pintu, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
Pokoknya sekarang aku ingin tidur. Begitu membuka mata nanti, aku harus mulai bergerak melakukan banyak hal. Karena ada banyak hal yang harus dikerjakan.
Dalam perjalanan menuju tempat tidur, bayangan diriku di cermin meja rias tertangkap oleh mataku.
Rambut warna platinum yang dianggap simbol keluarga kerajaan, mata hijau muda seperti dedaunan muda, wajah yang meski sedikit baby face tapi bisa dibilang cukup cantik. Sosokku yang seperti itu terpantul di cermin.
──Di sana tidak ada ekspresi apa pun, aku yang bagaikan boneka berdiri diam di balik cermin.
Aku dengan sadar membuat senyuman. ……Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa membuat senyuman.
Aku terus hidup seperti itu. Aku terus menutupinya agar tidak memperlihatkan celah pada orang-orang yang membenciku.
Tidak ada yang berubah dari sebelumnya. Aku hanya perlu melakukannya seperti biasa. Aku berbicara pada diriku yang ada di cermin seolah menasihati diri sendiri.
"Aku baik-baik saja. Karena──"
──Aku adalah Anisphia Wynn Palettia. Putri dari negeri ini.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar