Demi Siapa Mahkota Itu Ada
(──Definisi, dimulai)
Pikiranku yang dingin bekerja dengan baik. Jika bakat Al-kun tidak berubah sejak kecil, dia memiliki kecocokan dengan air dan es. Jika kecocokan itu tidak berubah drastis setelah menjadi vampir, dia pasti akan menyerang dengan sihir dua atribut itu.
Tapi itu belum pasti. Informasi untuk mencapai definisi masih kurang. Kalau begitu aku hanya bisa mengamati pergerakan Al-kun. Seolah ingin memamerkan teknik, aku memangkas jarak dengan Al-kun sekaligus dan menebas. Al-kun menghindari serangan pertamaku, menendang tanah dan mundur untuk mengambil jarak.
"──'Water Cutter'!"
Bilah air mendekat. Kali ini aku mengayunkan Mana Blade untuk menangkisnya. Menerobos percikan air yang berhamburan, aku menendang tanah lagi tanpa mengurangi kecepatan untuk mendekati Al-kun lagi.
Tinggal selangkah lagi untuk masuk ke jarak serang, Al-kun mengayunkan lengannya seperti konduktor. Seolah memanggil kembali air yang seharusnya sudah tersebar, bilah air yang tak terhitung jumlahnya terbentuk dan ditembakkan ke arahku dengan jeda waktu. Aku memaksakan diri mengubah gerakan maju menjadi lompatan ke samping, dan berguling untuk membetulkan posisi.
(Pencegatannya bagus, tapi cuma itu.)
Sihir Al-kun memang terampil. Hanya saja, cuma terampil. Tidak sehalus Euphie. Juga tidak seganas Tilty. Kalau begini masih dalam jangkauan yang bisa kutangani.
Bilah air kembali menyerang berturut-turut. Aku memompakan mana ke segel di punggungku, menyeret keluar mana naga. Dari punggung ke lengan, dari lengan ke Mana Blade. Mengayunkan Mana Blade mendatar seperti menggambar garis lurus, aku menebas semua bilah air yang mendekat sekaligus.
"──'Water Lance'!"
Mungkin menilai bilah air hanya akan ditepis, kali ini yang mendekat adalah tombak air raksasa. Ini mustahil ditepis sambil bergerak. Aku memampatkan mana yang dipanjangkan untuk menepis bilah air dengan memendekkan bilah pedang.
"──Haaah!"
Bersamaan dengan nafas pendek yang kuhembuskan, aku membelah tombak air itu menjadi dua. Tombak air yang melaju kencang ke arahku terbelah oleh bilah Mana Blade, kehilangan bentuk tombaknya dan berubah menjadi air biasa.
Namun, serangan susulan tidak berhenti di situ. Air yang berhamburan menunjukkan gerakan aneh di udara. Air itu membungkusku, berubah bentuk menjadi sangkar bulat. Sangkar air itu bergetar, melebar dan menyusut secara tidak beraturan.
(Kalau bilahnya tidak dipanjangkan tidak akan sampai...)
Kalau begitu, saat aku hendak membelah semuanya sekaligus dengan mengisi ulang mana, ada celah sesaat. Aku merasakan hawa dingin menusuk kulit seperti duri.
"──Gawa...!"
"──'Icicle Prison'!!"
Kata 'gawat' yang hendak kuucapkan terpotong di tengah. Sangkar air yang mengurungku mendekatiku seolah menumbuhkan duri ke bagian dalam sangkar. Sangkar itu semakin menyempit, menghilangkan tempat untuk lari. Tidak baik memanjangkan bilah pedang setengah-setengah saat hendak mengisi mana.
Air yang tidak bisa kuhindari melilitku, dan membeku mulai dari bagian yang melilit. Melihat air yang mulai membeku, aku melompat keluar dengan paksa menembus sangkar air. Air yang kutembus membeku terlambat, aku mengumpulkan mana di tangan dan mengupas es itu seperti mengupas sisik.
Melompat seperti memantul, aku menginjak tanah dengan kuat untuk mematikan momentum. Saat itu, sekeliling menjadi gelap. Saat aku melihat ke atas, palu air raksasa sedang mendekat untuk meremukkanku.
"──'Water Hammer'"
Palu besar air yang diayunkan lebar-lebar. Aku menghembuskan napas pendek dan menendang tanah. Tujuanku adalah Al-kun yang sedang dalam posisi mengayunkan palu. Ayunannya terlalu besar, jadi ada celah!
Merendahkan posisi seolah merayap di tanah, aku melompat maju dengan langkah lebar dan momentum kuat untuk menghindari palu besar air. Tanpa mematikan momentum itu, aku mendekati Al-kun sambil memutar seluruh tubuh, Mana Blade berputar di sekelilingku seperti baling-baling kincir angin.
Bilah mana Mana Blade menyayat Al-kun. Meski diterangi cahaya bulan di malam hari, cahaya Mana Blade meninggalkan kilatan pedang yang sangat jelas. Sisa cahaya menghilang seperti menarik ekor, dan terlambat dari itu, darah menyembur dari lengan Al-kun.
"Gaaah...!"
(Cih... dangkal!)
Mungkin Al-kun juga memutar tubuh untuk menghindar, tebasan yang seharusnya membelah dada hanya berakhir menyayat lengan. Aku melewati samping Al-kun. Tidak bisa mematikan momentum sepenuhnya, posisiku sempat goyah. Tanpa melawan arus, aku mengambil ukemi (teknik jatuh), menancapkan Mana Blade ke tanah dan mengangkat wajah.
Al-kun memegangi lengannya, tapi darah yang mengalir menutup luka itu seolah diputar ulang.
(Penyembuhan? ...Bukan, bukan cuma itu. Kemampuan regenerasi vampir juga digabungkan ya. Luka segitu langsung tertutup dan selesai...)
Tampaknya lebih merepotkan dari dugaanku, gumamku dalam hati.
"──'Icicle Lance'!"
Al-kun yang lukanya sudah menutup segera beralih menyerang. Aku menjatuhkan tombak es yang ditembakkan dengan Mana Blade yang bilahnya kupanjangkan sambil mundur selangkah. Terus melangkah seperti menari, maju lagi. Memangkas jarak dengan Al-kun.
Al-kun mengangkat lengan yang tadi terluka. Keropeng yang menutup luka bergoyang gunya-gunya, membuat tangan Al-kun menggenggam tombak air berwarna darah. Tombak itu mengeras dengan cepat, dan dia melepaskan tusukan ke arahku.
Aku menghindari tombak itu dengan jarak sehelai rambut, beberapa helai rambutku terpotong. Tanpa mempedulikan itu aku melangkah lebih dalam. Masuk ke pertahanan Al-kun yang terbuka lebar, merendahkan tubuh, menendang tanah dengan kuat dan menghantamkan lutut.
"Ker... ras...!"
Aku mengerutkan kening karena kekerasannya yang seolah ada sesuatu yang ditanam di dalamnya. Al-kun tidak bisa dibilang tanpa luka, tapi efeknya kurang dari yang kuduga. Mungkin penguatan tubuh, tidak, mungkin penerapan perubahan fisik vampir.
(Sudah kuduga, sifat vampir itu terlalu merepotkan...!)
Bisa dibilang vampir adalah ras yang sangat terspesialisasi untuk bertahan hidup. Pertahanan dengan perubahan fisik, kemampuan regenerasi, jika dijadikan musuh aku benar-benar merasakan betapa merepotkannya itu.
Al-kun menendang seolah tidak suka aku masuk ke pertahanannya. Aku menahannya dengan menyilangkan lengan sambil melompat mundur mengambil jarak. Sambil mengibas-ngibaskan lengan yang kesemutan untuk menutupi rasa sakitnya, aku kembali menghadap Al-kun.
Al-kun mengarahkan ujung jarinya padaku. Peluru air terbentuk di jari itu, dan melesat ke arahku.
"──'Water Bullet'"
Aku secara refleks hendak menepis peluru air yang mendekat dengan Mana Blade──firasat buruk muncul.
Saat aku menghindari peluru dengan mengelakkan leher ke samping, terdengar suara hantaman berat dari belakang yang tidak terdengar seperti air biasa. Setetes keringat mengalir di pipiku.
(Apa...? Bukan cuma air... ada isinya?)
Sambil memiringkan badan mengecek ke belakang, di tempat peluru mendarat ada batu kerikil yang menggelinding. Sepertinya kerikil es dicampur di dalam peluru air. Jarak tembak sih urusan nanti, tapi kalau aku mencoba membelahnya dengan Mana Blade karena mengira itu peluru air, mungkin bahaya.
"Kelemahanmu yang hanya bisa mengandalkan alat sihir adalah alat sihir itu sendiri. Aku tahu Mana Blade, alat sihir itu, lemah terhadap benturan fisik."
"Kau pikir itu sudah cukup buat melawanku? Pandanganmu naif, Al-kun."
"Naif atau tidak, kita coba saja."
Meskipun aku sok kuat, faktanya kelemahanku memang diserang. Sambil berpikir harus mengatasinya, aku melihat Al-kun mengangkat lengan ke langit.
Aku tersentak dan melihat ke atas. Di sana terlihat kerikil es yang tak terhitung jumlahnya terbentuk di langit, sama seperti yang ditembakkan tadi. Kerikil es seukuran kepalan tangan berbentuk limas segitiga tajam, menunggu waktu untuk turun dari langit.
"──'Icicle Rain'"
Hujan kerikil es turun ke arahku atas perintah Al-kun. Tidak mungkin ditepis dengan Mana Blade, aku tidak bisa mengatasi serangan area.
Lari juga sepertinya tidak sempat, dan kalau sembarangan ambil jarak malah jadi bulan-bulanan Al-kun. Mundur di sini adalah langkah buruk.
(Kalau begitu──bagaimana dengan ini!?)
Aku memanggil mana naga dengan Segel Ukir, dan dengan menyelimutinya aku bisa menggunakan mana naga. Kalau begitu, secara paradoks apa yang bisa dilakukan naga seharusnya bisa kulakukan juga.
Yang teringat adalah kilatan cahaya yang membuatku merasakan kematian yang ditembakkan ke arahku. Tidak perlu sebesar itu, justru tembakkan dengan imej menyebarkannya!
"──'────────'!!"
Itu bisa disebut auman naga, gelombang kejutnya menyebar bersamaan dengan nafas yang kuhembuskan.
Hujan kerikil es yang hendak mendekatiku hancur berantakan di udara satu per satu, hanya sisa-sisanya yang menghujani diriku.
Serpihan es berkilauan memantulkan cahaya bulan. Aku dan Al-kun saling berhadapan sambil dihujani serpihan es.
"...Mengerikan sekali."
Gumam Al-kun pelan. Matanya menatapku tanpa berpaling. Mata merah tua yang berbeda dari sebelumnya. Di mata itu rasanya aku melihat berbagai warna emosi.
Emosi yang bercampur terlalu rumit hanya memberitahuku betapa besarnya emosi itu. Al-kun menatapku dengan tatapan yang nyaris gila.
"Tapi, ironis ya. Meski menunjukkan kekuatan sebesar ini, kau hanya ditakuti. Dicaci sebagai sesat, dan nilainya tidak diakui."
"...Aku yang paling tahu kalau aku ini sesat, kok."
"Apa gunanya bersikap tenang? Kalau kau tahu dirimu sesat tapi tidak bisa berhenti menjadi sesat, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan? Sampai segitunya, apa yang ingin kau jadikan dirimu? Jawab, coba jawab, Anisphia Wynn Palettia!"
Al-kun berteriak seolah ingin membongkar emosi yang kutenggelamkan, yang kudesak ke dasar hati. Di sana ada kemarahan. Di sana ada kebencian. Dia berteriak bahwa dia tidak bisa memaafkan sampai tak tertahankan lagi. Emosi negatif itu pasti adalah apa yang kuberikan pada Al-kun.
...Sakit. Bukan fisik, tapi hatiku sakit tak tertahankan. Sekali, aku menggigit bibir. Rasa sakit itu membuatku tetap tenang.
"Aku adalah aku. Tidak bisa jadi siapa pun selain aku. Aku cuma orang yang mendambakan sihir, itu saja."
"Aa, benar. Aku tahu. Bahwa kau adalah orang yang seperti itu."
"...Al-kun."
"Kalau begitu, makin tidak ada pilihan lain selain ini. Kalau tidak, aku bahkan tidak bisa menjadi diriku sendiri. Aku tidak bisa terus menjadi roda gigi, juga tidak bisa menjadi sosok yang seharusnya! Yang dibutuhkan cuma seseorang untuk orang lain! Di sana tidak ada aku... tidak ada! Aku tidak dilahirkan untuk menjadi hal seperti itu!"
"Meskipun itu adalah kebahagiaan yang diharapkan untukmu?"
"Kebahagiaan macam apa! Disuruh jadi boneka kosong, disuruh jadi Raja demi harmoni manusia! Raja yang tidak punya nilai sebagai diriku sendiri, Raja untuk apa itu!? Demi rakyat!? Demi bangsawan!? Demi negara!? Hal semacam itu tidak ada bedanya dengan tumbal!!"
Al-kun menjerit histeris. Dia menelanjangi hatinya, seolah memamerkan luka yang menyiksa hatinya. Di situ aku merasa untuk pertama kalinya, akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan Al-kun setelah sekian lama.
Selama ini ada rasa janggal yang terasa jauh, seperti terhalang dinding. Seperti tidak berada di tempat yang sama meski berbicara dengan Al-kun, seperti pandangan mata tidak bertemu, rasa janggal itu mulai hilang.
Tapi, justru karena itu──aku, harus menyangkal Al-kun.
"Baru sekarang, ngomong apa sih?"
"Apa...?"
"Raja, keluarga kerajaan, semuanya simbol. Cukup jadi simbol saja. Tidak ada yang menuntut kepribadian pada simbol. Kalaupun menuntut kepribadian, itu cuma harus unggul, dan punya pesona yang menarik orang. Emosi yang wajar itu cuma pengganggu. Apa kau tidak diajari begitu?"
"Aa, benar! Aku diajari begitu! Bahwa itu hal yang diperlukan untuk menjadi Raja! Lalu bagaimana denganmu! Kau yang dibilang asalkan punya bakat sihir boleh bersikap apa adanya itu apa! Kalau punya pesona yang menarik orang adalah syarat Raja bahagia, berarti aku dari awal tidak punya hak untuk mendapatkan kebahagiaan, begitu kan!"
Teriakan Al-kun hampir membuatku memalingkan wajah. Meski begitu, aku tidak boleh memalingkan wajah.
Sebenarnya mungkin aku harus menghadapinya lebih cepat. Meski begitu aku menutup mata, menutup telinga. Aku hidup dalam kedamaian di tempat yang nyaman bagiku yaitu istana terpisah.
──Aku lari. Aku yang paling tahu kalau aku sesat. Meski begitu realita hanya menyesakkan bagiku yang tidak bisa menyerah pada sihir. Aku juga tahu kalau mengejar idealku akan membuat dunia heboh. ...Meski begitu, kerinduan ini tidak bisa dihentikan.
Ada orang yang nasibnya jadi kacau gara-gara aku yang seperti itu. Itu Al-kun. Napasku gemetar menghadapi kenyataan yang disodorkan lagi padaku.
"...Kalau cuma keluarga kerajaan biasa, pasti tidak akan mikir begitu ya, apa yang salah ya. Kita salah mulai dari mana ya. Al-kun."
"Semuanya. Semuanya salah, kan. Mungkin salah sejak negara ini ada dan kita dilahirkan. Meski begitu──apa karena itu bisa menyerah? Kalau dibilang dilahirkan untuk merasakan ini, aku akan hancurkan! Negara seperti ini, dunia seperti ini!"
"...Bodoh, Al-kun. Kau, bodoh."
Kenapa, jadi begini sih. Aa, mungkin aku yang salah. Tapi aku jadi ingin mengatakannya. Soalnya kau beruntung kan, jauh lebih beruntung dariku.
"──Al-kun, kesalahanmu adalah, kau tidak bisa menikmati hidup."
"Apa...?"
"Mulai sekarang pun boleh, nikmati saja. Karena hidup tidak menyenangkan makanya mikir yang enggak-enggak. Kalau gitu ubah saja. Kan gitu saja. Dendam lah, benci lah, aku tidak mau mengubah dunia dengan hal-hal seperti itu. Meskipun aku tidak bisa pakai sihir, sihir itu sesuatu yang mulia."
──Benar, cuma itu yang tidak ingin kugoyahkan dalam diriku, apa pun yang disangkal.
"Aku sampai sekarang masih percaya. Aku percaya dan mendambakan sihir. Selamanya, mulai sekarang pun. Itu saja sudah cukup, bahagia kok."
"Tidak ingin mengubah dunia, juga tidak ingin mengubah diri sendiri. Meskipun tahu itu tidak sejalan dengan dunia, kau tetap bilang begitu?"
Al-kun bertanya sambil menatapku dengan memamerkan gigi. Aku menundukkan mata sekali. Berapa kali pun ditanya, jawabanku tidak akan berubah.
"──Karena itulah, artinya menjadi diriku."
Wajah Al-kun terdistorsi mendengar jawabanku. Itu benar-benar ekspresi murka yang dipenuhi kemarahan.
"Aku benci dirimu yang setengah-setengah itu! Aku benci kau... dari lubuk hati, aku hanya bisa membencimu! Betapa kesombongan itu membuatku menelan pil pahit! Maju di jalanmu sendiri tanpa mau tahu, pasti bahagia sekali ya!"
Tombak darah yang digenggam di tangan Al-kun berubah menjadi sesuatu yang ganas, menunjukkan hati Al-kun. Menjadi senjata untuk menyakiti dan melukai orang.
"Aku──akan melampauimu, harus melampauimu. Kalau tidak diubah, tidak bisa maju!"
"...Biarkan aku bilang satu hal, Al-kun."
Kepada Al-kun yang mengamuk marah, aku berkata dengan tenang. Menarik napas, mengatur napas, kata-kata yang kuucapkan mirip dengan doa.
"Kalau begitu, nikmatilah. Selama ini kau menjalani hidup yang tidak kau inginkan, kan. Kalau kau bilang aku yang memaksamu menjalaninya, aku tidak menyangkal. Kalau begitu nikmatilah mulai sekarang, ini keinginanmu kan? Melampauiku, berdiri di arena yang sama denganku, menguasai negara dengan kekuatan, itu jalan yang kau inginkan lebih dari apa pun, kan? Kalau begitu──setidaknya, aku akan menemanimu sampai kau puas."
Maaf, aku tidak bisa bilang begitu. Berat ya, dibilang begitu pun tidak akan tersampaikan. Yang bisa kulakukan adalah menerima semuanya. Betapa pun mendesaknya, aku tidak bisa membiarkan keinginan Al-kun terwujud.
Aku tidak bisa mengakui cara negara berjalan di mana kehendak pun dikuasai oleh kekuatan.
"Sampai kau kelelahan, sampai kau bilang tidak bisa maju lagi, aku akan menemanimu. Setelah itu aku akan mengalahkanmu. Semuanya, semuanya, lampiaskan padaku. Setelah itu akan kukatakan padamu. ──Bodoh banget sih mau menang melawanku, gitu!"
Benar-benar anak bodoh, Al-kun. Tapi, aku juga bodoh sih. Baru sadar setelah menerima dalam bentuk seperti ini. Makanya, setidaknya izinkan aku berharap ini.
"Tertawalah lebih banyak, marahlah lebih banyak, bersedihlah lebih banyak, dan nikmatilah. Datanglah padaku sampai kau bisa berpikir bahwa momen inilah momen terbaik dalam hidupmu. Setelah itu, akan kuhancurkan semuanya. Anisphia Wynn Palettia adalah orang bodoh yang gagal jadi keluarga kerajaan, putri nyentrik yang tak tertolong. Itulah posisiku! Aku──dengan tanggung jawab sebagai keluarga kerajaan, menyangkalmu."
"Benar-benar orang yang sombong! ──Karena itulah, aku akan melampauimu! Aku dari awal tidak punya apa-apa. Jika hanya bisa bergantung pada kesesatan, jika kau menghalangi di sana, akan kulampaui! Aa, demi ini! Semuanya demi ini! Aku hanya bisa diselamatkan dengan hasil ini! Kakak... tidak, Anisphia Wynn Palettia! Mari kita tentukan di sini siapa yang pantas menjadi Raja!"
"...Padahal sama-sama nggak mau takhta, impas kali ya. Benar-benar sia-sia ya, kita."
Tanpa sadar aku tersenyum kecut. Kami benar-benar bodoh, dan tak tertolong. Benar-benar tidak punya muka untuk bertemu Ayahanda dan Ibunda saking maafnya.
Emosi yang terkurung di dasar hati, sedikit demi sedikit kuapungkan. Sedih, kesal, dan marah juga. Tapi, justru karena itu aku dan Al-kun sama.
Emosi kami tumpang tindih seperti garpu tala yang beresonansi. Saling tidak bisa mengakui, saling tidak suka, saling harus menyangkal. Tanpa bertukar kata, lewat tatapan, lewat udara, kami mengerti.
Jujur saja, hati ini berat. Kenapa harus melakukan pertengkaran sia-sia begini, kepala dingin berpikir begitu. Tapi, bukan begitu. Bukan begitu. Sudah tidak ada penyelesaian dengan logika. Betapa pun sia-sianya, penyelesaian emosi yang keruh ini tidak bisa berakhir dengan indah.
"Benar-benar cuma pertengkaran ya."
"...Hah, begitu rupanya. Tepat sekali."
"Pertengkaran skala yang nggak lucu sih. Tapi, cuma pertengkaran. Bagi kami, ini pertengkaran. Aa, kalau dipikir-pikir aku nggak pernah bertengkar sama Al-kun ya."
"...Begitukah?"
"Iya. Soalnya Al-kun itu, benar-benar──jujur, dan anak baik sih."
Maaf ya. Aku, tahu kok. Al-kun itu jujur, anak baik, dan pekerja keras. Makanya kan? Kau jadi tidak bisa memaafkanku. Kau jadi berpikir tidak bisa jadi Raja kalau ada aku.
"...Makanya kau itu sombong. Sepihak tahu, kau itu. Sejak hari itu──"
"...?"
Al-kun sedikit mengalihkan pandangan. Tapi, itu cuma sesaat. Tatapan kami kembali bertaut. Melihat Al-kun mengambil kuda-kuda, aku juga mengambil kuda-kuda.
"Maju sini, Al-kun. Setelah menerima semuanya, aku akan menyangkalmu."
"Akan kubuat kau sadar, Kakak. Bahwa tidak selamanya kakak yang berjalan di depan."
"Akan kubuat kau menyesal setengah mati! Akan kubuat kau menangis sejadi-jadinya sampai kau merasa bodoh karena pernah punya pikiran bodoh untuk menantangku!"
"Yang menangis itu kau, Kakak! Aku akan membuatmu menangis, ya! Jika kau bilang menyangkal kebodohanku, aku akan menyangkal kesombonganmu!"
"Aa, begitu. Kalau gitu biar kubersikap supaya dibilang sombong deh! ──Akan kuselamatkan kau, Al-kun! Kemarahan, kebencian, kesedihan, ketidakpuasan, semuanya! Terima semuanya ya!"
"──...Kh... A... Anisphiaaa──!!"
Hari ini, dengan ekspresi paling murka, Al-kun menerjang ke arahku. Aku pun melangkah maju untuk menyambut Al-kun. Langkah itu sangat berat. Meski begitu, seolah mengibaskannya agar tidak kalah, aku menendang tanah dengan kuat.
Entah karena terlalu banyak tenaga, atau karena emosi tak terbendung. Setetes air mata jatuh.
* * *
──Jika bisa kembali ke masa lalu. Bisakah aku tidak menampar pipiku sendiri yang bodoh ini?
Mendengar percakapan Anis-sama dan Algard-sama, aku berpikir demikian. Tanpa sadar aku menggigit bibir sampai berdarah.
Namun, sekarang bukan waktunya menyesali kekuranganku. Sihir penyembuhan yang kuberikan pada Lainie sama seperti menuang air ke wadah yang dasarnya bolong. Meski begitu itu bukan alasan untuk menyerah.
Dengan pikiran yang nyaris menjadi obsesi bahwa aku tidak akan punya muka di hadapan siapa pun jika membiarkan Lainie mati begini, aku terus menuangkan kesadaran pada sihir penyembuhan. Tapi, luka Lainie tidak ada tanda-tanda menutup. Keringat yang muncul karena kelelahan mengalir di pipiku.
Lalu, tangan Lainie membalas genggaman tanganku yang sedang memberikan sihir penyembuhan. Lainie yang kesadarannya samar, memfokuskan pandangannya padaku sambil batuk bercampur darah.
"Eu... phylli... a... sa..."
"Jangan bicara!"
"...Anda dengar... kan...?"
Entah tidak mendengar laranganku, Lainie merangkai kata-kata meski terputus-putus.
"...Anis... sama... Al... gard-sama... saya... paham, kok..."
"Paham...?"
"Ha, harus... tidak menyerah... bagi dirinya... tidak, bisa diapa-apakan lagi... tapi, meski, menyakitkan... cuma bisa... menjerit... seperti itu..."
"...Menjerit?"
Bagi Lainie, apakah percakapan Anis-sama dan Algard-sama terdengar seperti jeritan? Aku, kurang paham. Hanya saja, aku dipaksa mengerti bahwa mereka berdua sangat menderita, dan karena menderita itulah mereka harus bertarung.
Ada suaraku yang menyalahkan diriku sendiri di suatu tempat, bahwa seharusnya ada yang bisa kulakukan sebelum jadi begini. Tangan Lainie terulur ke pipiku yang hampir menggigit bibir lagi karena kesal.
"...Kh..., Eu, phyllia... sama...! Ada per... mintaan..."
"Lainie? Permintaan?"
"Darah... kalau ada, mana... Batu Sihir... bisa diregenerasi..."
Aku melihat harapan pada kata-kata yang diucapkan Lainie terputus-putus.
Meregenerasi Batu Sihir, kata Lainie. Untuk itu butuh mana, artinya ingin menghisap darah.
"Tunggu sebentar, sekarang, darah..."
"──Tidak, Euphyllia-sama tetap di situ. Saya yang berikan."
Saat aku bingung bagaimana cara memberikan darah pada Lainie, Ilia yang memegang tangan Lainie di sisi berlawanan denganku bersuara. Ilia mendekatkan wajahnya ke wajah Lainie.
"Permisi, Lainie-sama."
"Ili..., mph!?"
Ilia menggigit bibirnya sampai putus, dan mencium Lainie sambil mengalirkan darah. Lainie membelalakkan mata, tapi memejamkan mata erat-erat dan melingkarkan tangan ke punggung Ilia. Lainie gemetar seolah menahan sesuatu, tapi tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang bersinar berkilauan di dalam luka di dadanya.
Dari situ sangat dramatis. Daging terisi seolah tidak pernah ada luka, kulit kembali seperti semula. Kecepatan regenerasi yang melebihi dugaan membuatku membelalakkan mata, dan tanpa sadar menghentikan sihir penyembuhan.
"──Kh... i... ah...! Ggh...!"
"Lainie!?"
"Sa, kit... bohong... meski regenerasi... sakitnya... tidak hilang... kh, ...eh? Kenapa, Algard-sama, bisa bergerak... gak mungkin... sakit... sakiiit...!"
Mungkin karena sakit, Lainie menggeliat kesakitan sambil memegangi dada, bahkan melepaskan diri dari Ilia.
Luka bisa regenerasi, tapi rasa sakitnya tidak hilang? Kalau begitu, Algard-sama yang bergerak santai sambil beregenerasi seperti itu, sebenarnya diserang rasa sakit yang luar biasa...?
Ilia memeluk Lainie yang gemetar kesakitan, memeluknya untuk menenangkannya. Saat aku hendak memberikan sihir penyembuhan lagi yang sempat terhenti pada Lainie, Lainie mencengkeram tanganku sambil bernapas susah payah.
"...Jangan, Euphyllia-sama... mananya... sayang..."
"Lainie, tapi."
"Euphyllia-sama juga, lho...!"
"Ya...?"
"Ja, jangan ditahan... saya, tidak apa-apa, kok..."
Mungkin karena sakit dia tidak bisa bicara lebih banyak. Lainie bernapas kasar sambil menyandarkan kepala pada Ilia. Aku terkejut dengan kata-kata yang diucapkan Lainie.
(...Menahan? Aku, menahan apa?)
Aku tidak mengerti kenapa Lainie melontarkan kata-kata itu padaku, dan hanya bisa bengong.
"...Bukankah Euphyllia-sama ingin menghentikannya?"
Yang bicara menggantikan Lainie adalah Ilia. Ilia berkata padaku sambil memeluk Lainie dengan cemas.
"...Saya, tidak punya hak maupun kekuatan untuk menghentikan. Saya juga tidak punya kata-kata untuk menghentikan mereka berdua. Jadi saya hanya bisa melihat."
"...Ilia."
"Bukan tempat saya untuk bicara... tapi terkadang, mengikuti kata hati sendiri itu penting. Lainie-sama biar saya yang jaga. Jadi, Euphyllia-sama juga..."
Mengikuti kata hati? Hatiku, ingin bagaimana? Apakah aku menahan diri seperti kata Lainie? Tapi, sejujurnya perasaanku sama dengan Ilia.
Melihat mereka berdua bertarung seperti itu, mengetahui perasaan mereka, bagaimana bisa aku bilang ingin menghentikannya. Aku adalah salah satu yang menyebabkan hasil ini, apakah aku punya hak itu?
Saat keraguan berputar-putar di kepalaku, suara yang tidak menyenangkan bergema. Suara anorganik seperti ada sesuatu yang hancur.
Tidak mungkin, pikirku sambil mengarahkan pandangan. Di sana terlihat sosok Mana Blade yang baru saja hancur dan terbang di udara.
"──Anis-sama!"
* * *
──Hancur. Mana Blade-ku. Salah satu dari dua bilah hilang, aku melompat mundur secara refleks untuk mengambil jarak dari Al-kun.
Mundur adalah langkah buruk bagiku yang tidak punya sarana serangan jarak jauh. Tapi aku terpaksa mundur. Karena satu tangan untuk menahan serangan Al-kun telah hilang. Apa yang tadinya ditahan dengan dua tangan tidak bisa ditahan dengan satu Mana Blade.
Al-kun mengendalikan cambuk air dengan terampil untuk menyerangku. Mungkin dia beralih strategi karena serangan area luas bisa menghentikan gerakanku tapi tidak bisa menjadi penentu.
Cambuk air ini merepotkan. Di dalamnya ada kerikil es, dan saat bersentuhan langsung membeku memberikan dampak. Ini sangat tidak cocok dengan Mana Blade.
"Ha, haha! Hahahahahaha! Hancur! Hancur kan! Gimana rasanya senjata andalanmu hancur! Tanpa alat sihir kekuatanmu sama saja berkurang setengah!"
"Cih!"
Ngomong seenaknya! Tapi karena faktanya begitu dan aku tidak bisa menyangkal, jadi makin kesal!
Pokoknya gawat banget. Kalau begini terus aku bakal kalah perlahan. Satu Mana Blade tidak bisa menangkis serangan Al-kun. Kalau terus dipermainkan dari jarak jauh, tidak ada peluang menang.
"Cuma segini! Kakak!"
Al-kun berteriak. Al-kun boleh saja menyombongkan kemenangan sekarang, tapi dia malah menunjukkan kemarahan. Berteriak seolah tidak terima.
"Berakhir sampai di sini!? Cuma segini batasmu? Mana mungkin! Apa yang kau ragukan! Aku berniat membunuhmu! Aku benci kau sampai ingin membunuhmu! Tapi kau bilang mau menerima itu! Terus mau menyangkal! Mau menyelamatkan! Kau tersandung kesombonganmu sendiri ya! ──Jangan bercanda! Lihat aku, Kakak! Apa aku, tidak berharga untuk masuk dalam pandanganmu!!"
Teriakan Al-kun membuatku menggigit bibir. Aku tahu dia berniat membunuh. Al-kun datang dengan niat membunuh yang telanjang, dan aku tahu semua kemarahan yang dia rasakan padaku.
Hadapi, lihat ke sini. Al-kun meneriakkan itu dengan seluruh tubuhnya. Aku tahu, aku sudah paham semuanya demi itu. Berdiri di arena yang sama, mencari kesesatan juga.
──Semuanya demi memperlihatkan keberadaan dirinya padaku.
Aku terus memalingkan wajah. Kupikir tidak ada hubungannya denganku, tidak ada yang bisa kulakukan. Karena aku sudah membuang hak waris takhta. Kupikir itu demi kebaikan Al-kun.
Dibilang bukan begitu pun tidak mudah diterima. Karena, meski begitu, meski dibenci, meski jaraknya jauh──Al-kun adalah adikku. Adik manis yang tangannya kutarik untuk kubawa keluar.
"Kh, aaah!"
Aku menghindari cambuk air yang mendekat sambil meraung. Sambil mengambil jarak dari Al-kun, aku mengepalkan tangan yang kehilangan Mana Blade, dan memukul pipiku sendiri. Maksudnya suruh samain semuanya kan. Aku tahu kok, Al-kun. Aku tahu keinginan Al-kun.
(──Datanglah dengan niat membunuh, itu kan maksudmu)
Dia ingin aku menghadapinya dengan niat membunuh. Dia bilang dia sampai sejauh ini demi itu, aku tahu. Alasan aku tidak bisa menanggapinya adalah karena masih ada rasa sayang pada Al-kun dalam diriku.
──Tapi, itu mungkin penghinaan terbesar baginya. Aku tahu, aku tahu kok.
Kalau kau bilang hanya dengan itu kau bisa terima. Kalau kau bilang hanya dengan berhadapan seperti itu kau bisa diselamatkan... aku juga, akan membulatkan tekad.
Hidup sebagai Anisphia, bukan berarti aku tidak pernah membunuh orang. Petualang terkadang harus mengambil nyawa orang. Tapi, sebisa mungkin aku tidak ingin mengambil nyawa orang. Dibilang naif pun aku tidak bisa menyerahkan prinsip itu.
Lagipula kalau monster sih sudah banyak kubunuh. Bukannya aku ragu mengambil nyawa. Cuma butuh tekad. Karena, aku tahu pasti aku sendiri yang akan terluka. Meski begitu, aku sudah memutuskan untuk menghadapinya.
"──Benar-benar adik yang bodoh!!"
Aku mengalirkan mana yang beredar di tubuh ke segel di punggung. Bukan untuk memproduksi mana naga, tapi untuk menyatukannya sepenuhnya dengan manaku. Mana naga yang selama ini kukendalikan dengan membungkusnya dalam selaput manaku, kini kumasukkan ke dalam tubuhku sendiri.
Aura yang menyelimuti seluruh tubuh menjadi lebih pekat. Aura ini khususnya membentuk tanduk naga, tapi rasanya jadi lebih jelas. Panas yang seolah membakar pikiran dari ujung menjalar ke seluruh tubuh.
Dengan memasukkan mana naga secara langsung ke dalam tubuh, "kutukan" menggerogotiku sekaligus. Kekuatan yang tidak bisa ditampung tubuh manusia, rasanya tubuhku mau meledak kapan saja. Meski begitu aku tidak melepaskan tali kekang yang mengendalikan kekuatan itu.
Makanlah, manaku, diriku ini. Kau sudah jadi bagian dariku, mengamuklah sesukamu. Di dalam benakku, rasanya aku mendengar auman naga yang bergema seperti sisa suara.
"──'Tipe Imajiner: Jantung Naga (Dragon Heart)'!!"
Pengendalian langsung mana naga, inilah kartu as-ku.
Aku menuangkan mana naga yang mengamuk di seluruh tubuh ke dalam Mana Blade. Terdengar suara retakan Mana Blade seolah menjerit.
Meski begitu aku tidak berhenti menuangkan mana. Kalau tidak menuangkan kekuatan segini banyak aku tidak bisa mengalahkan Al-kun, jadi tidak ada pilihan selain all-out sampai hancur.
"Aaaaaaaahhhhh────!!"
Tebasan cahaya yang dulu membelah nafas naga, kini kulepaskan dengan mana naga.
Bentuk bilah mana yang dituangi mana berlebihan, sudah lebih mirip cakar daripada pedang.
Al-kun menciptakan tameng air yang tak terhitung jumlahnya untuk menahan dan menghapus serangan itu.
Satu lapis, dua lapis, tiga lapis, empat lapis, meski terhalang dinding, tebasanku tidak berhenti.
Lima lapis, enam lapis, tujuh lapis, delapan lapis. ──Dan, dalam sekejap dinding air itu terpotong.
Luka lurus memanjang diagonal dari dada hingga ketiak Al-kun. Darah menyembur seolah baru ingat, tapi darah Al-kun mencoba membuat keropeng untuk regenerasi.
"Belum, belum...! Aku, akuuu!!"
Kaki Al-kun gemetar. Seolah berdiri saja sudah maksimal, tapi dia tidak jatuh. Aa, tidak bisa. Al-kun tidak akan berhenti kalau begini terus.
Mana Blade hancur dengan suara keras. Dengan ini mustahil menangkis serangan Al-kun. Jadi harus diselesaikan sebelum Al-kun bisa bergerak lagi.
(Kalau Al-kun, tidak berhenti──)
──...Harus dibunuh.
Targetnya jantung. Bagian di mana dia memasukkan Batu Sihir yang direbut dari Lainie, selangkah, aku menuju Al-kun sambil mengerahkan kekuatan kaki yang bisa mencungkil tanah. Jarak menyempit, wajah Al-kun semakin terlihat jelas.
"Dengan iniii! Berakhiraaa!!"
Wajah Al-kun terdistorsi kesakitan. Emosi yang mengamuk diarahkan padaku, seolah memelototiku. Tinggal selangkah lagi, saat tangan hampir sampai──Al-kun, tiba-tiba melembutkan ekspresinya.
(──...Kenapa, pasang wajah begitu)
Kenapa, kau tersenyum lega begitu. Tunggu, aku tidak menduga itu. Soalnya, Al-kun membenciku, membenciku sampai ingin membunuhku. Makanya kalah dariku pasti sangat menyebalkan, tapi, kenapa, kenapa.
Seranganku sudah akan dilancarkan. Pikiran terasa memanjang dan terlihat slow motion. Sambil bertanya kenapa, gerakanku tidak berhenti, dan jari-jariku tegak lurus hendak menembus jantung Al-kun.
Cakar naga yang dibentuk oleh aura akan merobek jantung Al-kun. Itu adalah akhir yang sudah pasti. Aku memejamkan mata. Karena aku tidak bisa memahami ekspresi Al-kun. Seolah memalingkan wajah dari apa yang akan kulakukan, dari akhir itu.
──Tapi, yang disentuh tanganku bukan sensasi daging empuk, melainkan sensasi besi keras.
"Eh...?"
Karena benturan tak terduga, aku jatuh ke belakang karena pantulan. Saat buru-buru mengangkat wajah, aku melihat rambut perak berkibar dan jatuh.
Itu Euphie. Euphie berguling di tanah dengan momentum kuat karena benturan, dan jatuh agak berjarak dari Al-kun. Dan, sesuatu jatuh berputar-putar di udara di antara kami.
Arc-en-ciel. Saat menancap di tanah, dia patah seolah berkata tugasnya sudah selesai. Aku hanya bisa bengong, terpaku tanpa mengerti apa yang terjadi. Kenapa Euphie ada di situ?
Yang sampai ke telingaku yang bengong adalah suara Euphie. Euphie bangun dengan tangan gemetar, sambil memelototiku. Air mata menetes dari matanya. Meski begitu ekspresinya terlihat marah, bukan menangis.
"──...Kh! Apa gunanya saling bunuh karena hal begini! Kalian berdua sama-sama bodoh! Kalau begitu aku tidak punya pilihan selain menghentikannya, kan! Sebagai bawahan! Sebagai mantan tunangan!"
Karena teriakan Euphie itu, aku akhirnya bisa mendapatkan kembali rasa kenyataan.
"...Euphie..."
"Kalian tidak mau bertarung sampai pasang wajah begitu, kan...! Tidak mau membunuh, kan! Tapi malah bertarung! Saling melukai! Dasar bodoh!"
Euphie yang itu berteriak dengan suara keras seolah menggugat. Mendengar teriakan itu, tenagaku hilang. Seketika rasa lelah menindih seluruh tubuh.
Kalau Euphie tidak menghentikanku tadi, aku pasti sudah membunuh Al-kun. Tapi itu tidak terjadi. Aku tidak tahu emosi apa yang harus kurasakan tentang itu.
Tapi, belum selesai. Aku bangkit dengan tubuh gemetar. Mana naga yang tersisa tadi sudah hilang. Tubuhku berderit karena efek samping Segel Ukir. Memasukkan kekuatan keberadaan di luar nalar seperti naga secara langsung ternyata memang memaksakan diri.
Meski begitu aku tidak berhenti melangkah. Sambil menyeret kaki, aku menuju ke sisi Al-kun.
Al-kun terlentang dengan tangan dan kaki terbuka menatap langit. Tidak ada tanda-tanda dia mau bangun meski aku mendekat.
"...Al-kun."
Aku coba memanggil. Tapi, Al-kun tidak mengarahkan pandangan padaku. Al-kun tetap menatap langit jauh. Dalam posisi itu, Al-kun perlahan membuka mulut.
"...Cuacanya cerah ya."
"...?"
"Hari-hari hidup sebagai pangeran, aku tidak merasakan apa-apa. Senang, marah, sedih, atau menikmati sesuatu. Aku harus berdiri di depan negara, dan memimpin. Di sana tidak perlu emosi pribadi, atau kepribadian. Aku yang paling tahu kalau aku tidak punya bakat, jadi aku memotong sendiri hal-hal yang menghambatku..."
Satu per satu, Al-kun terus bercerita. Emosi yang tadi mengamuk kini hening bagai bohong. Suaranya yang bisa dibilang tenang masuk dengan mudah ke telinga.
"Kupikir begitu saja sudah cukup. ...Aku juga sama-sama memalingkan wajah. Lainie menyadarkanku. Rasa suka pada seseorang yang dirasakan karena pemikat, doa, harapan, aku juga tahu hal yang sama. Aku terus, terus mencoba melupakannya."
"Al-kun...?"
"...Karena cuacanya cerah, aku melihat ke atas. Orang yang ada di langit seperti itu, aku cuma tahu satu orang."
...Aku tidak bisa membuka mata. Betapa leganya kalau aku ambruk begitu saja. Aku menggertakkan gigi sekuat tenaga untuk menahan perasaan yang hampir terucap.
"...Kakak, ingat tidak?"
"...Apa?"
"Waktu kita ikut Ayahanda berkunjung ke suatu tempat, hari di mana kita kabur dari mansion."
"...Iya."
Masa lalu yang jauh, hari di mana aku masih diizinkan menarik tangan Al-kun. Hari itu, aku membawa Al-kun keluar. Tujuannya mencari Batu Roh, niatnya petualangan kecil.
Al-kun waktu itu adalah anak yang pasif dan kurang inisiatif, yang hanya ikut kalau tangannya kutarik. Aku ingin membuat Al-kun tertawa, jadi aku membawanya keluar seperti biasa. Apa yang kulakukan di tempat kunjungan itu hanyalah perpanjangan dari kebiasaan itu.
"Di sana kita diserang monster. Kakak tinggal untuk membiarkanku lari, dan aku lari. Aku bersembunyi supaya tidak ketahuan, dan matahari perlahan tenggelam. Aku gemetar sendirian menahan napas. Aku ingin pergi mencari Kakak berkali-kali untuk memastikan Kakak selamat, tapi tidak bisa bergerak. Yang menemukanku waktu itu juga Kakak."
"...Benar juga."
"...Aku selalu ditarik tangannya oleh Kakak. Kakak mengajariku banyak, banyak hal. Sampai hari itu, rasanya aku benar-benar manusia... ──Sampai Kakak, mendorongku menjauh."
──Benar, aku mendorong Al-kun menjauh. Sejak hari itu, hubungan kami berubah.
Setelah membiarkan Al-kun lari, aku mengulur waktu menggunakan Batu Roh. Di situ aku diselamatkan oleh ksatria yang menyadari keanehan. Tapi, Al-kun tidak kunjung ketemu. Aku cemas jangan-jangan dia diserang monster lain.
Saat akhirnya menemukan Al-kun, aku benar-benar lega dari lubuk hati. Aku hanya senang dengan polosnya karena Al-kun selamat. Tapi, sejak hari itu rumor mulai beredar.
──Rumor bahwa aku mencoba membunuh Al-kun karena cemburu.
Waktu itu aku sudah tahu kalau aku tidak bisa menggunakan sihir. Makanya aku mulai meneliti Batu Roh, dan berkali-kali menyeret Al-kun ikut.
Sekarang karena sudah ada hasil berupa alat sihir, suara yang menyalahkanku secara terbuka tidak terlalu terdengar. Tapi, waktu itu lingkungan sekitar benar-benar keras padaku.
'Putri Anisphia iri pada Pangeran Algard yang punya bakat sihir.'
'Pasti dia pura-pura main dengan polos padahal mau membunuh, makanya selalu sembunyi-sembunyi.'
'Kalau Pangeran Algard mati, takhta jadi milik Putri Anisphia. Itu tujuannya kan.'
Aku tahu rumor itu saat hendak menjenguk Al-kun. Aku sangat bingung karena dituduh hal yang tidak pernah kupikirkan.
Aku tidak pernah membenci Al-kun. Tidak pernah terpikir untuk membunuhnya. Tapi kami keluarga kerajaan. Untuk menentukan Raja berikutnya, kami harus mengerti posisi kami.
Makanya aku memutuskan untuk membuang hak waris takhta. Aku membujuk Ayahanda dan Ibunda, mencoba menunjukkan bahwa aku tidak punya niat menjadi Raja, pokoknya aku tidak punya niat jahat pada Al-kun.
Setelah menjaga jarak dengan Al-kun, dan akhirnya rumor bahwa aku mencoba membunuh Al-kun hilang, aku berkata pada Al-kun dengan senyuman.
'──Dengan ini, Al-kun bisa jadi Raja! Tenang saja ya!'
Dan──Al-kun murka. Aku tidak mengerti kenapa Al-kun marah, dan hanya bisa menatap bengong kepergian Al-kun yang gemetar karena marah.
Sejak itu jarak antara aku dan Al-kun menjauh. Al-kun mulai mengabaikanku, dan kami pun mulai menghindari kontak satu sama lain.
Begitulah jarak kami menjauh secara alami, dan hubungan kami tidak pernah membaik. Kupikir begitu saja sudah cukup. Aku tidak berniat sok jadi kakak sampai merepotkan Al-kun. Asal negara sehat, itu cukup. Raja yang diharapkan adalah Al-kun, begitu aku meyakinkan diri.
"...Selalu ada yang berbisik. Jangan kalah dari Putri Anisphia, Putri Anisphia sebenarnya iri pada Pangeran, jangan pernah lengah. Tuan Putri dirasuki iblis. Kalau dianggap kakak nanti dijegal."
Mendengar gumaman pelan Al-kun, aku mengepalkan tangan sampai sakit. Aku ingin berteriak siapa yang bilang begitu.
Aku tidak pernah berpikir begitu, dan tidak akan melakukannya. Penghinaan yang terlalu kejam. Kalau cuma bilang padaku tidak apa-apa. Tapi, siapa yang membisikkan itu sebagai niat jahat pada Al-kun?
"Bukan seseorang, tapi semua orang. Setidaknya di sekitarku tidak ada yang membenarkan Kakak. Semua orang menertawakan Kakak. Sepertinya aku juga disuruh begitu. Makanya aku memalingkan wajah. Kalau tidak berurusan denganmu hatiku tidak akan kacau. Untuk hidup sebagai Raja, hal seperti ini tidak perlu, pikirku."
...Harus bilang apa. Kata-kata apa yang harus kuucapkan. Hei, Al-kun. Aku, tidak tahu.
"...Hei, Kakak."
"...Apa?"
"Kenapa membuang hak waris takhta. Kenapa, orang yang jauh lebih pintar dariku, yang bisa memikirkan orang lain, dicaci tidak pantas jadi Raja? Aku sudah tidak tahu untuk apa Raja ada. Aku jadi tidak mengerti..."
Mendengar kata-kata yang diucapkan seperti ratapan itu, aku merasakan sakit yang paling parah hari ini. Aa, rasanya ingin mati saja, rasa bersalah dan penyesalan mencabik-cabik hatiku.
Tapi, meski begitu aku tidak bisa menghibur Al-kun. Karena, tetap saja Al-kun yang harus jadi Raja. Setidaknya, di Kerajaan Palettia ini itulah yang benar.
"...Aku ini sesat. Putri yang tidak bisa pakai sihir tidak boleh memerintah negara. Sejarah yang dibangun Kerajaan Palettia tidak mengizinkan. Makanya Al-kun adalah Pangeran, dan Raja berikutnya."
Betapa pun aku mendambakannya, betapa pun aku menginginkan takhta, ada hal yang mutlak kurang dariku. Bakat sihir, hal yang kucari tanpa henti.
"Aku tidak bisa pakai sihir. Cuma itu saja, sudah tidak pantas."
"Kalau begitu aku pantas? Darah, status, tradisi, sihir, apa aku yang cuma punya itu boleh jadi Raja? Aku... tidak berpikir begitu."
Kuat, seolah membuang ludah. Tapi juga pasrah, Al-kun bergumam.
"Mungkin aku bisa jadi Raja yang melakukan apa yang disuruh. Mungkin bisa membuat negara yang tenang, lambat, dan damai. Karena ada Euphyllia..."
Aku melihat di sudut pandanganku Euphie yang gemetar sambil berlutut saat namanya dipanggil. Memang kalau berdua mungkin bisa menjalankan pemerintahan yang stabil. Tapi, Al-kun berpikir tidak bisa lebih dari itu. Makanya Al-kun tidak mengakui Euphie.
Seolah berkata bahwa hanya dengan tenang dan stabil saja negara tidak bisa diperintah.
"Apa arti kemampuan sihir dalam politik? Itu hal yang berbeda kan? Memang bagus untuk dipuji. Tapi, apa gunanya menuntut itu juga pada Raja? Aa, aku dan Euphyllia pasti bisa melakukan apa yang disuruh. Tapi, yang tidak bisa ya tidak bisa. Meskipun tahu, aku tidak punya kekuatan. Kalaupun bilang ke Euphyllia... entah dia mau dengar atau tidak."
"...Itu."
Aku mendengar Euphie tergagap. Meski begitu, aku membantah Al-kun.
"Euphie, pasti mengerti kalau dibilang. Dia pasti mau berpikir bersama."
"...Hmph. Kalau begitu pada saat aku tidak bisa menghormati orang yang bisa jadi bawahan setia, berarti kapasitas aku juga cuma segitu."
Al-kun berkata seolah menyindir diri sendiri. Senyum yang terdistorsi sinis itu, menyakitkan untuk dilihat.
"Kalau begitu, apa sebaiknya Kakak yang jadi Raja. Aku pernah berpikir begitu."
"...Kenapa."
"Kau sering mendengarkan suara rakyat. Mengatasi ketidakpuasan rakyat, dan menciptakan hal yang membantu bangsawan juga. Kalau itu tidak disebut inovatif lalu apa? Jika ide dan kebijaksanaan itu berguna bagi negara, bukankah itu Raja yang diharapkan rakyat?"
Aku tidak bisa membalas apa-apa. Aku juga tidak bisa bilang itu mustahil bagiku.
"...Tapi, negara ini tidak menerimamu. Bukan rakyat, tapi negara. Orang-orang yang menggerakkan negara tidak akan pernah mengakui Kakak. Negara yang menolak hal yang lebih baik dan hanya terpaku pada tradisi mungkin punya kejayaan masa lalu tapi tidak punya masa depan. Kalau begitu... harus dihancurkan sekali, kan?"
"...Kau berpikir begitu, gara-gara aku?"
Karena aku menemukan jalan bernama ilmu sihir. Karena aku mencetak prestasi bernama alat sihir. Makanya, Al-kun jadi berpikir harus menghancurkannya. Al-kun tidak menjawab pertanyaanku. Hanya, hanya menatap langit.
"...Aku tidak bisa mencapainya. Jenius yang sebenarnya, yang benar-benar memikirkan rakyat, yang bisa mendapatkan kualifikasi yang pantas adalah Kakak. ...Bukan aku."
Tangan Al-kun diletakkan menutupi mata. Sekali, bibir Al-kun bergetar. Bernapas seperti diperas, dia bergumam seolah memuntahkannya.
"──Seharusnya aku tidak usah lahir."
"...Al, kun."
"Kalau gara-gara aku ada, aku melukai Kakak, dan dilukai Kakak, kalau harus merasakan perasaan seperti ini aku... tidak ingin, dilahirkan...!"
Air mata mengalir di pipi Al-kun. Saat melihat itu pandanganku kabur.
Sudah tidak terlihat apa-apa lagi. Mataku panas, kalau tidak menggertakkan gigi aku pasti sudah menangis.
"Kakak... sakit ya rasanya, tidak bisa menjadi orang yang kita inginkan...!"
...Selama hidup penyesalan itu banyak. Meski begitu kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Hanya, harus terus hidup sambil memeluk semua rasa sakit ini.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa pada Al-kun yang terus menangis, juga tidak bisa mengulurkan tangan. Aku hanya bisa berdiri terpaku seperti orang bodoh.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar