Malam Kegilaan pun Tiba
"Apakah Anis-sama dan yang lainnya baik-baik saja...?"
"Apakah Anda khawatir? Nona Lainie."
Ilia-sama bertanya padaku yang bergumam pelan. Istana terpisah tanpa kehadiran Anis-sama dan yang lainnya terasa sangat sunyi dan tenang. Aku melemaskan bahu, lalu meminum teh yang diseduh oleh Ilia-sama.
Tidak pernah terpikir olehku bahwa aku akan tinggal di istana kerajaan, apalagi di istana terpisah. Sejak lahir aku bepergian dibawa oleh Ibu, dan setelah Ibu meninggal, aku tinggal di panti asuhan.
Hidupku setelah kehilangan Ibu sangatlah berantakan. Anak-anak panti asuhan jahat padaku, dan terjadi perkelahian dengan anak lain yang melihat hal itu. Anak laki-laki memperebutkanku, sedangkan anak perempuan bilang aku besar kepala, pokoknya aku tidak diberkati dalam hubungan antarmanusia.
Tersiksa oleh hubungan manusia yang tidak aku inginkan, entah sejak kapan aku berhenti berharap pada orang-orang di sekitarku. Titik balik dari hari-hari seperti itu adalah pertemuan dengan Ayah.
Katanya aku sangat mirip bagai pinang dibelah dua dengan Ibu, dan setelah mendengar keadaanku serta mengetahui bahwa aku adalah anaknya, Ayah membawaku pulang dan mencoba membesarkanku sebagai anak bangsawan. Ayah sangat menyesali karena telah membiarkanku menjalani hidup yang sulit selama ini dan tidak bisa melindungi Ibu.
Sepertinya Ibu Tiri menikah dengan Ayah setelah mengetahui bahwa Ayah mencintai Ibu. Karena itu, meskipun aku menjadi putri yang tidak memiliki hubungan darah dengannya, beliau menyambutku dengan sangat hangat. Hal itu sungguh membahagiakan, kebahagiaan yang sulit dipercaya.
Saat secara kebetulan mengetahui bahwa aku bisa menggunakan sihir, mereka ikut senang seolah itu terjadi pada diri mereka sendiri. Mereka menyarankan aku masuk Akademi Bangsawan karena itu pasti akan berguna bagiku. Meski ada rasa cemas, aku ingin melakukan sesuatu demi keluarga baru yang telah menyambutku dengan begitu hangat ini.
(...Tapi, tak kusangka aku adalah vampir dan memiliki kekuatan misterius...)
Setelah diberitahu lagi, hal-hal yang selama ini tidak bisa dipahami pun jadi masuk akal. Karena itu, semakin aku mengingat kembali kehidupan di Akademi Bangsawan, semakin sakit hatiku. Seandainya aku bisa menyadari kekuatanku sendiri, hal seperti ini tidak akan terjadi.
Anis-sama bilang itu di luar kendali. Tapi, aku telah melakukan hal yang kejam. Aku menyesatkan perasaan orang lain, dan membuat banyak orang melakukan hal yang tidak bisa diperbaiki lagi. Aku tidak tahu bagaimana harus menebus dosa ini.
Sekarang pun aku hanya dilindungi, dan belum bisa membalas budi sedikit pun pada Anis-sama dan yang lainnya. Padahal aku tidak ingin terus menjadi tamu, tapi tetap saja tidak ada yang bisa kulakukan...
"Nona Lainie."
"Hya!"
Tsun, keningku disentil dengan jari. Ilia-sama menghela napas dengan posisi jari masih menunjuk.
"Kalau terlalu banyak berpikir, keberuntungan bisa lari lho."
"Ilia-sama..."
"Bukan bermaksud menghibur, tapi semakin sulit suatu masalah, semakin butuh waktu untuk menyelesaikannya. Jika bisa diselesaikan dengan mudah, tidak akan ada orang yang khawatir atau menderita. ...Nanti dingin lho?"
Seperti yang dikatakannya, aku baru minum seteguk dan belum meminum tehnya sama sekali. Memang benar harus diminum sebelum dingin, pikirku sambil menyesapnya lagi. Sejak diambil oleh keluarga bangsawan, kesempatan minum teh jadi bertambah. Aku tidak begitu paham kenapa minum teh membuat perasaan lega. Tapi, aku tidak membencinya.
Ilia-sama yang menyiapkan teh dan bekerja dengan cekatan itu terlihat keren. Padahal secara status aku seharusnya lebih tinggi, tapi beliau memanggilku dengan sebutan 'Nona' karena beliau seorang pelayan. ...Aku jadi mengagumi sosoknya itu.
"Ada apa?"
"Tidak, tidak ada."
Aku adalah vampir, jadi sulit untuk hidup secara normal. Kalau memikirkan masa depan, tentu ada rasa cemas. Kalau begitu, mari kita pikirkan bagaimana cara hidup yang baik.
Yang pertama kali terlintas adalah Ilia-sama. Pelayan, jika aku bisa bekerja seperti Ilia-sama di sisi Anis-sama, mungkin aku bisa membalas budi. ...Kapan-kapan, aku mau minta diajarkan pekerjaan pelayan ah.
──Saat aku berpikir begitu. Tiba-tiba, lampu di salon tempat kami berada padam.
"Eh?"
Sekarang malam hari. Jika lampu mati, seketika semuanya menjadi gelap gulita. Saat aku bingung apa yang terjadi, mulutku dibekap.
"Diam."
Yang berbisik di telingaku adalah Ilia-sama. Suaranya terdengar tegang.
"Nona Lainie, dengarkan dengan tenang. ──Ada penyusup yang masuk ke istana terpisah."
"Eh?"
"Istana terpisah, seperti yang Anda tahu, kekurangan tenaga. Anis-sama sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk, tapi tak kusangka hari ini akan tiba..."
"Makanya lampunya mati...?"
"Mungkin dihentikan darurat untuk mengantisipasi pencurian atau perampasan alat sihir. Tanpa pengetahuan alat sihir, tidak bisa dinyalakan kembali. ...Masalahnya adalah penyusupnya."
Glek, aku menelan ludah. Ada penyusup, fakta itu membuat jantungku berdegup kencang dok dok sampai rasanya tidak enak, detaknya semakin cepat. Ilia-sama mengelus punggungku untuk menenangkan napasku yang hampir memburu.
"...A-apa yang harus kita lakukan?"
"...Ayo keluar dari istana terpisah. Kita harus menuju istana kerajaan dan minta perlindungan. Berbahaya kalau terus bersembunyi di sini dan ketahuan. Untungnya saya hafal struktur istana terpisah. Sampai batas tertentu saya bisa bergerak meski memejamkan mata."
Memang Ilia-sama yang sudah lama bekerja di istana terpisah sepertinya bisa bergerak meski penglihatannya terganggu. Ilia-sama memegang tanganku yang gemetar dan membantuku berdiri.
"Tahan napas, jangan bersuara. Hati-hati dengan suara langkah. Kalau ada tanda-tanda orang, kita sembunyi. Kalau mau menjawab, remas tangan saya sekali, kalau mau saya berhenti, dua kali. Mengerti?"
Aku meremas tangannya sekali sesuai instruksi yang dibisikkan di telingaku. Ilia-sama menarik tanganku dan kami bergerak di dalam istana terpisah yang tenggelam dalam kegelapan.
Saat keluar ke lorong, cahaya bulan masuk dari jendela. Ilia-sama bergerak diam-diam menghindari cahaya itu. Aku pun menahan napas sekuat tenaga, berusaha tidak mengeluarkan suara, dan mengikutinya.
(Tapi, siapa sebenarnya...?)
Anis-sama sekarang sedang mengadakan seminar yang diminta Kementerian Sihir di istana kerajaan. Apa mereka mengincar itu? Tujuannya materi naga? Atau alat sihir? Entah untuk mengalihkan ketegangan atau apa, pikiranku berputar-putar.
Tiba-tiba, aku merasakan kejanggalan. Tapi, aku tidak tahu apa yang aneh. Meskipun tahu ada yang aneh, alasannya tidak jelas. Tepat saat aku hendak meremas tangan Ilia-sama dua kali karena keraguan itu.
"──Ini! Nona Lainie, permisi!"
"Eh!?"
"Penglihatan yang buruk jadi bumerang! ──Kabut! Mungkin racun, jangan dihirup! Kita keluar lewat jendela, pegangan yang kuat!"
Kabut. Akhirnya aku paham identitas kejanggalan itu, udara lembab karena kabut. Karena gelap aku tidak sadar kalau kabut sudah memenuhi ruangan. Peringatan bahwa itu mungkin racun membuatku menahan napas. Bersamaan dengan itu Ilia-sama menggendongku menyamping dan berlari menuju jendela terdekat.
Ilia-sama menabrak jendela dengan bahunya seolah melindungiku, dan jendela pecah karena momentum itu. Ilia-sama dan aku terlempar ke udara, dan pandangan seketika terbuka oleh cahaya bulan.
"──Reaksimu cepat seperti biasa. Tapi, kurang teliti."
Saat suara itu terdengar di telingaku, kupikir aku berhalusinasi. Bersamaan dengan itu Ilia-sama melepaskan tangannya, dan aku berguling di tanah. Saat aku mengangkat wajah sambil menahan sakit di tubuh, aku melihat Ilia-sama mengibaskan roknya seolah menarik kelimannya, dan bersamaan dengan itu merapal sihir.
"──'Fire Arrow'!"
Panah api terbentuk, dan melesat ke arah suara yang kudengar tadi. Cahaya sisa panah api menerangi profil wajah Ilia-sama. Di wajah itu, terpampang warna kepanikan dan keterkejutan.
Panah api yang dilepaskan Ilia-sama menghilang seolah terhalang sesuatu. Jika dilihat baik-baik, itu adalah dinding es. Dari balik dinding es itu, sesuatu memanjang dengan cepat.
"──Kh, a!?"
Sesuatu yang memanjang dengan cepat itu adalah cambuk air. Meliuk di udara seperti ular, dan menembus bahu Ilia-sama. Ilia-sama yang secara refleks menendang tanah untuk menghindar, terhempas dan dipaku ke tanah.
"──Ilia-sama!!"
Darah Ilia-sama berhamburan. Tercium aroma darah yang sudah berkali-kali kuminum itu. Aku menjerit dan mencoba berlari mendekati Ilia-sama, tapi lenganku dicengkeram.
Wajah orang yang mencengkeram lenganku diterangi cahaya bulan, terpampang jelas. Aku hanya bisa bergumam "kenapa" dengan perasaan tidak percaya.
"──Aku tidak akan minta maaf. Juga tidak akan minta pengampunan. ...Hanya sangat disayangkan, Lainie."
──Detik berikutnya, rasa sakit seperti dicungkil menjalar di dadaku, dan pandanganku berubah menjadi merah.
* * *
(...Ingin pulang ah...)
Seminar yang diminta Kementerian Sihir berakhir dengan aman, dan hatiku penuh dengan perasaan melankolis.
Euphie yang memberikan presentasi luar biasa sedang dikelilingi banyak orang dan mengobrol, Tilty dengan cerdik mengambil makanan dan menikmatinya di sudut ruangan. Aku juga tadinya mau ambil sedikit makanan dan menunggu acaranya selesai, tapi...
"Putri Anisphia, seminar kali ini sangat luar biasa. Bagaimana jika Anda berbincang-bincang dengan saya?"
"Ya? ...E-eto."
Saat jamuan makan dimulai dan aku hendak mengambil makanan untuk menjadi "hiasan dinding" (diam di pinggir), seorang pemuda menghalangiku. Rambut perak bergelombang, dan mata ungu yang misterius. Kesan sekilas adalah pemuda yang terlihat gugup.
Rasanya pernah lihat, tapi namanya tidak muncul. Saat aku bingung, pemuda itu membungkuk ala bangsawan lalu memperkenalkan diri.
"Saya Moritz Chartreuse. Meskipun saya tidak pernah berinteraksi langsung dengan Tuan Putri..."
Aku ingat, putra Earl Chartreuse kan!? Eh, kenapa dia repot-repot bicara padaku? Lagipula, kenapa dia ada di sini? Bukannya sedang dihukum kurungan? Al-kun dan Navre-kun masih dikurung lho.
"Saya sangat berhutang budi pada Putri Anisphia. Dan karena saya juga telah merepotkan Anda, saya ingin meminta kesempatan untuk meminta maaf..."
"Saya, kenapa? Saya tidak ada hubungan langsung dengan Anda, kan."
"Tentang Euphyllia-sama. Saya juga dimarahi ayah agar merenungi kecerobohan saya. Meskipun berkat kecerdikan Putri Anisphia, saya merasa telah melakukan hal yang sangat tidak sopan..."
"Hah..."
Moritz ya? Orang ini, tersenyum tapi tidak tahu apa yang dipikirkannya. Senyum bangsawan yang tipikal itu membuatku memasang ekspresi aneh.
Lawan yang sulit ditebak isi perutnya. Meskipun mulutnya bilang begitu, tidak jelas bagaimana dia memandang Euphie. Dan aku tidak merasakan ketulusan dalam permintaan maaf Moritz.
"Kali ini, sayalah yang mengusulkan tempat ini. Demi kesempatan memulihkan nama baik. Saya harap Anda bisa mengingat nama saya."
"...Boleh tanya alasannya? Bukannya Anda akrab dengan Al-ku... Algard?"
Mengejutkan bahwa putra Kepala Kementerian Sihir yang merencanakan seminar ini. Jujur saja tidak terduga. Apalagi dia awalnya ada di pihak Al-kun, jadi motifnya tidak terlihat.
"Setelah kejadian kemarin, saya juga mengubah pemikiran saya... saya ingin merencanakan seminar karena ingin mendengar penjelasan langsung dari Tuan Putri yang mengembangkan alat sihir yang selama ini saya hindari."
"Aneh juga bukan Kementerian Sihir yang memimpin, tapi Anda yang mengusulkannya... Lagipula mengubah pemikiran itu maksudnya apa?"
"Mohon dianggap bahwa saya ingin mendapat kesempatan untuk diajari langsung oleh Putri Anisphia tentang ilmu sihir yang selama ini tidak bisa saya hargai."
...Tetap saja mencurigakan. Sulit menangkap niat sebenarnya, jadi aku tidak mau meladeninya.
"Begitu ya. Tapi, sekarang kan sudah beralih ke jamuan makan, pasti banyak orang lain selain saya yang bisa diajak bicara, kan?"
"Anda tidak mau berbincang dengan saya? ...Apakah Anda masih marah atas kebodohan saya?"
"...Ha?"
Tidak, aku tidak peduli sama sekali tentangmu. Tapi aku tidak bisa mengatakannya, jadi aku berpikir dengan kepala yang mulai sakit harus bagaimana.
Tiba-tiba, saat mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, aku bertatapan dengan Tilty yang jadi hiasan dinding. Dia menatapku seolah berkata 'lagi ngapain sih', tapi itu yang ingin kutanyakan. Pas banget, jadikan Tilty alasan buat kabur!
"Maaf, saya ada perlu bicara sebentar dengan teman..."
"Teman Tuan Putri? Kalau begitu, bisakah Anda memperkenalkannya pada saya?"
Tunggu, kenapa dia maksa banget sih. Terus terang mengganggu tahu!? Pokoknya menjauh dulu. Rasanya menyeramkan.
"Teman saya pemalu, jadi mohon pengertiannya."
"Aaah, Putri Anisphia! Jangan berkata begitu!"
Ke, keras kepala! Lagipula gesturnya berlebihan! Suaranya juga keras! Tuh kan, perhatian jadi tertuju padaku karena dikira ada apa-apa.
Ah, Tilty memelototiku. Itu tatapan yang bilang 'jangan ke sini'! Dasar tidak setia kawan, tolongin dong!
"Anu, Tuan Putra Earl Chartreuse. Saya tidak memikirkan apa pun, jadi permintaan maaf tidak perlu."
"Kalau begitu hati saya tidak tenang! Tolong bicaralah dengan saya sampai Anda memaafkan saya...! Bagaimana saya harus mengungkapkan penyesalan saya ini!"
Di, dia makin ngotot!? Tanpa sadar alisku hampir berkerut di pangkal hidung, jadi aku mengeraskan wajah untuk menahannya. Apa sih? Tiba-tiba kenapa? Emosinya tidak stabil? Lagipula gimana cara kaburnya nih!?
"Banyak mata yang melihat. Tolong tahan diri Anda. Seminar malam ini sudah selesai, jadi mungkin lain kali..."
"Tolonglah...!"
Tidak bisa, sepertinya dia tidak mau mendengarkan. Saat aku hendak menolak dengan tegas sekali lagi dan berbalik pergi.
──Kiiiinn, suara melengking bergema dari kejauhan. Semua orang di ruangan juga mendengarnya, aku membelalakkan mata. Aku tahu suara ini. Tidak mungkin tidak tahu. Karena ini adalah barang yang kukembangkan.
"──Ilia...?"
Ini berasal dari alat peringatan darurat yang kuserahkan pada Ilia. Istana terpisah agak jauh dari istana kerajaan, tapi tidak terlalu jauh juga. Ini disiapkan untuk mengantisipasi keadaan darurat, sekaligus untuk keamanan, agar bisa memberitahu istana kerajaan jika terjadi sesuatu padaku.
Mendengar suara alarm yang belum pernah digunakan sampai hari ini, aku segera mencoba berlari keluar. Tapi, gerakanku dihalangi.
"Apa itu, suara tadi!? Kumpulkan orang-orang di sini! Jangan biarkan keluar!!"
Sambil mencengkeram lenganku, Moritz berteriak memberi perintah. Orang-orang yang berbisik-bisik bertanya suara apa itu, dan orang-orang yang mulai mengumpulkan orang sesuai perintah Moritz mencoba berkumpul di satu tempat.
Tapi, aku tidak bisa mempedulikan arus orang itu. Namun, aku tidak bisa bergerak karena lenganku dicengkeram.
"Tunggu, lepaskan!"
"Tidak boleh! Sebelum diketahui suara apa tadi, tidak boleh keluar dari ruangan...!"
"Itu suara alat sihirku! Terjadi sesuatu di istana terpisah!"
"...Kalau begitu, semakin tidak boleh! Berbahaya, jadi tolong tenanglah...! Ada siapa, siapa saja di sini! Putri Anisphia sedang mengamuk! Tolong bantu saya!"
Siapa yang mengamuk!? Kekuatan Moritz mencengkeram lenganku sangat kuat, jarinya menancap. Karena sakit dan kesal, terdengar suara putus di dalam kepalaku.
Seolah merespon emosiku, panas menjalar dari "punggung" ke seluruh tubuh. Mana bocor dari tubuhku seolah mendidih. Mana muncul dari seluruh tubuh seperti aura tipis, dan aku mencengkeram lengan Moritz dengan momentum itu.
"Gii, gyaaaaaaa!? Gaaaa, aaah, le, lepaskan! Lepaskaaan!?"
Terdengar suara krek krek tulang berderit dan daging diremas. Mendengar Moritz menjerit menyedihkan, aku yang sudah putus urat sabarnya memamerkan gigi dan berkata.
"──Itu kata-kataku! Lepaskan... kubilang lepassskaaan!!"
Sambil tetap mencengkeram lengan Moritz dengan satu tangan, aku mengayunkan lengan lebar-lebar dan menghempaskannya. Dengan momentum itu akhirnya tangan Moritz terlepas dari lenganku. Bersamaan dengan itu, jeritan yang menusuk gendang telinga bergema.
Semua orang menatapku. Dengan ketakutan, dengan ngeri. Mana yang mengamuk merespon kemarahanku masih menyelimuti tubuhku seperti api yang bergoyang.
"Na... Naga...!"
Seseorang berkata sambil menunjukku dengan suara gemetar. Tanpa sadar aku berdecak lidah, tapi aku tidak peduli. Aku harus segera menuju istana terpisah.
"──Apa yang kalian lakukan! Uhuk...! Tangkap, Putri Monster ini!!"
Jeritan histeris bergema. Itu suara Moritz. Dia memelototiku dengan mata merah. Itu adalah kemarahan, sekaligus bercampur ketakutan.
Moritz yang berada di posisi lebih rendah dariku, saat bertatapan denganku mencoba menjauh dengan merangkak. Tapi tangan dan kakinya yang meronta tidak bergerak dengan baik, jadi dia tidak bisa menjauh.
"Hi, hiiia, dasar, monster!!"
Dan, tak disangka Moritz mencoba menembakkan sihir padaku seolah sudah gila. Apa dia benar-benar mau menembak, aku ragu sesaat dan gerakanku terlambat. Peluru mana sederhana ditembakkan ke arahku.
Aku secara refleks mengangkat tangan untuk melindungi diri, tapi di saat itu ada bayangan yang menerobos masuk dengan cepat.
Yang menerobos masuk adalah Euphie. Entah sejak kapan dia mengambilnya, Euphie menghunus Arc-en-ciel dan mengeluarkan bilah mana, lalu menebas peluru mana yang ditembakkan Moritz hingga lenyap.
"Yu, Yuphilliaaa!!"
Melihat Euphie yang menerobos dengan indah, ekspresi Moritz berubah menjadi jelek dan jahat. Kebencian, dendam, iri hati, semua emosi hitam pekat itu bergejolak dari Moritz.
Namun, Euphie hanya meliriknya sekilas, lalu segera menatapku seolah kehilangan minat. Dia mengulurkan tangan yang tidak memegang Arc-en-ciel padaku.
"Anis-sama!"
"Euphie! Ke jendela arah istana terpisah!"
Aku meraih tangan Euphie, dan kami berdua berlari. Sepertinya Euphie sudah menemukan rute terpendek menuju istana terpisah. Saat kami berdua berlari menuju jendela, beberapa orang berdiri menghalangi jalan sambil memegang tongkat sihir.
"──Minggir! Apa-apan kalian menghalangi jalan Tuan Putri!"
Mendengar bentakan Euphie yang penuh intimidasi, gerakan orang-orang yang menghalangi jalan terhenti. Di saat itu, kegelapan menyebar seolah merembes dari lantai.
Kegelapan itu menjerat kaki orang-orang selain aku dan Euphie. Saat aku membelalakkan mata melihat pemandangan orang-orang yang gerakannya dikunci oleh kegelapan yang merayap naik, suara terdengar dari belakang.
"Apaan sih, apaan sih? Eh? Lagi seru-seruan ya! Pemberontakan? Pemberontakan kah? Tapi ya, dia lagi panik tuh. Bisa tolong jangan ganggu? Biar aku yang ladeni kalian...! Ayo ayo! Kenapa diam saja!!"
"Tilty!"
Dasar bodoh itu, pakai sihir tanpa menahan diri! Kegelapan yang merayap itu sihir Tilty. Tidak hanya di lantai, kegelapan yang meluap dari seluruh ruangan mengikat orang-orang tanpa pandang bulu dan mengunci gerakan mereka.
"Kombinasi atribut... seindah ini, dan kontrolnya juga hebat...!"
Euphie berseru kagum melihat sihir Tilty. Tilty punya kemampuan yang bisa menandingi Euphie kalau saja tidak punya masalah fisik. Cuma, fisiknya itu masalah utamanya!
"Lagi ngapain, Anis-sama! Cepat pergi sana! Ganggu tahu!"
"Kau sendiri ngapain, bodoh!"
"Udah sana! Kubilang biar aku yang urus sini! Mau ikut terseret!?"
Teriakan Tilty membuatku ragu sejenak. Tapi suara tadi tidak bisa hilang dari telingaku. Wajah Ilia muncul di benakku yang ragu, dan itu mengusir keraguanku.
"Jangan berlebihan, atau membunuh siapa pun ya, Tilty bodoh! Euphie!"
"Baik!"
Aku dan Euphie berlari menuju jendela sambil bergandengan tangan. Saat hampir sampai jendela, aku maju selangkah lebih dulu. Bersamaan dengan itu, Euphie melepaskan sihir angin lebih dulu, dan suara pecahan jendela bergema.
Aku dan Euphie melompat keluar ke udara. Lalu Euphie menarik lenganku dan memelukku. Euphie mengeratkan pelukannya padaku dan menatap ke arah istana terpisah.
"Kita terbang!"
"Tolong!"
Sihir terbang Euphie aktif, dan kami meluncur lurus menuju istana terpisah. Dan di luar istana terpisah, terlihat sosok orang diterangi cahaya bulan.
"Euphie! Di sana!"
Mendengar instruksiku, Euphie mengubah arah, dan jarak dengan tanah semakin dekat. Saat hampir sampai, aku melepaskan diri dari tangan Euphie dan mendarat. Euphie mendarat belakangan, dan kami melihat pemandangan itu.
──Lainie tergeletak bersimbah darah merah. Di samping Lainie, ada Ilia yang berjongkok sambil memegangi bahu. Tubuh Ilia gemetar kecil.
Aku menahan napas. Di seberang Lainie dan Ilia, ada satu orang yang berdiri. Awan bergeser karena angin, dan cahaya bulan yang tadinya terhalang menjadi terang.
Yang berdiri di sana adalah──seorang pemuda yang rambut platinumnya "sangat mirip denganku" berkibar. Bajunya yang mungkin dirobek sembarangan untuk membelah dadanya, basah oleh darah.
Dan, mata yang bertatapan denganku... berwarna merah tua yang sangat tidak menyenangkan.
"──...Persiapan yang matang. Bagaimanapun caranya, apa pun yang dilakukan. Ternyata pada akhirnya kau yang menghalangi, ya."
Mendengar suara itu, aku secara alami mengepalkan tinju. Terdengar suara tulang berderit, dan kuku menancap di telapak tangan. Menelan suara "kenapa" yang hampir keluar, aku memelototi dia──memelototi Al-kun.
"...Ini, apa maksudnya semua ini...? Algard-sama!"
"...Euphyllia, ya."
Al-kun menatap Euphie dengan tatapan terganggu. Euphie juga menatap Al-kun dengan wajah tidak percaya.
Aku maju selangkah. Al-kun tidak bergerak. Euphie menghunus Arc-en-ciel dan bersiaga, waspada terhadap Al-kun. Aku terus berjalan sampai ke samping Ilia dan Lainie. Karena aku datang, Ilia mengangkat wajahnya.
"...Anis, sama."
Ekspresi wajah Ilia saat mendongak terlihat kosong melompong. Bahunya tertembus, darah terus mengalir tanpa henti. Tangan di sisi bahu yang tertembus itu diletakkan dengan lemah di atas tangan Lainie.
"...A... sa, ya... mo, mohon... ma, af..."
"Sudah, jangan bicara."
Aku bicara singkat pada Ilia yang gemetar katakata, lalu berlutut dan mengintip Lainie. Lainie masih bernapas dangkal. Dadanya terbuka dengan menyedihkan. Mungkin karena darah naik beberapa kali, Lainie batuk bercampur darah.
"Lainie."
"...A... Anis... sa, ma...?"
Tatapan Lainie yang tidak fokus tertuju padaku. Melihatku, ekspresinya sedikit mengendur seolah lega. Bersamaan dengan itu wajahnya perlahan memburuk.
"...A, sa, ya..."
"Bertahanlah. Tidak apa-apa, sadarlah."
"...Ani... Al... sama... Ba... tu..."
Meskipun suaranya tidak keluar dengan baik, dia berusaha keras menyampaikan sesuatu, aku meletakkan jari dengan lembut di bibir Lainie. Tidak perlu bicara lagi.
"Aku mengerti. Sisanya serahkan padaku. ...Euphie! Perawatan mereka berdua, kuserahkan padamu."
Aku berteriak dengan suara rendah, menumpahkan emosi yang kutekan. Bersamaan dengan aku berdiri, Euphie berlutut menggantikanku. Sambil memegang Arc-en-ciel di satu tangan, dia mulai menyembuhkan luka Ilia dengan sihir penyembuhan.
"...Kh... Anis-sama. Ilia mungkin bisa... tapi Lainie..."
"Aku tahu. Tapi, Lainie itu vampir. Masih ada kemungkinan."
"Tapi! Ini, jelas-jelas Batu Sihirnya──"
"──Aku tahu, aku tahu kok. Tapi tolong lakukan semampumu. Kumohon."
"...Saya, mengerti."
Terus terang luka Lainie fatal. Dadanya dibelah seolah mengincar jantung. Fakta bahwa dia masih bernapas saja sudah merupakan keajaiban.
Fakta itu menunjukkan bahwa Lainie mulai menyimpang dari manusia. Keajaiban itu dibawa oleh Batu Sihir Lainie. Tapi, Lainie yang sekarang tidak punya Batu Sihir itu. Pasti sudah direbut. Dan yang merebutnya adalah──.
"...Sudah selesai bicaranya?"
"...Salam kenal ya, Al-kun."
Al-kun hanya berdiri diam. Angin berhembus di antara kami, dan cahaya bulan yang awannya tersingkap menerangi kami.
"Seminar Kementerian Sihir itu ulahmu, Al-kun?"
"Entahlah. Itu kan ide Moritz?"
"Kau tahu itu artinya kau menyembunyikannya atau tidak..."
Aku menghela napas. Moritz pasti ingin menjauhkanku dari istana terpisah. Tujuannya agar Al-kun bisa melaksanakan tujuannya di istana terpisah. Yaitu, merampas Batu Sihir Lainie.
Kesimpulan yang bisa ditarik adalah──ada kemungkinan Al-kun dan Moritz menyadari bahwa Lainie adalah vampir. Dan fakta bahwa Kementerian Sihir mendukungnya berarti keluarga Earl Chartreuse yang menjabat sebagai kepala juga bersekongkol.
"Kau benar-benar meremehkanku ya."
"Siapa yang pertama kali meremehkan? Tindakan sewenang-wenang saat penaklukan naga juga pasti bikin Ayahanda pusing."
"...Memangnya kau tidak terpikat oleh Lainie? Tega sekali kau membunuhnya."
"Aku menyukai Lainie. ──Terus? Apa itu bisa jadi alasan?"
Apa yang kau katakan, Al-kun mengatakannya dengan nada heran. Aku tanpa sadar menahan napas. Sepertinya dia tidak bohong. Al-kun benar-benar menyukai Lainie dari lubuk hatinya, dan sambil berpikir begitu dia mencungkil jantung Lainie.
"Sebagai keluarga kerajaan, kita dididik agar tidak boleh salah mengambil keputusan karena dipermainkan emosi sendiri. Emosi itu nomor dua."
"...Jadi kau tidak ragu merebut Batu Sihir dari Lainie? Kau pikir itu benar-benar keputusan yang tepat? Jawab aku, Al-kun. ──Jelaskan bagaimana dirimu menjadi vampir itu tidak salah sebagai keluarga kerajaan!"
Di dada Al-kun ada bekas luka lurus. Seperti bekas luka setelah menanamkan sesuatu lalu menutupnya. Dan dari perubahan warna matanya, apa yang dilakukan Al-kun sudah sangat jelas.
Tujuan Al-kun adalah Batu Sihir Lainie untuk menjadi vampir. Dia memisahkanku dari istana terpisah, dan mengincar Lainie yang hanya bisa tinggal di istana terpisah karena tidak bisa keluar.
"Lagipula bagaimana kau tahu dia vampir? Bagaimana kau sadar, dan kenapa tidak lapor ke Ayahanda! Apalagi sampai mau memanfaatkan kekuatan itu!"
"──Cuma kau yang tidak pantas bilang begitu. Apa itu, semacam 'aura naga'? Itu juga sama saja dengan aku yang mencari kekuatan vampir, kan?"
Mendengar teguran Al-kun, aku terdiam. Benar, aura ini menggunakan kekuatan "naga". Dalam hal itu, aku tidak bisa menyangkal jika dibilang tidak ada bedanya dengan Al-kun yang mencoba menjadi vampir.
Hanya saja, aku tidak memasukkan Batu Sihir secara langsung, tapi "mengukirnya di kulit". Aku melarutkan materi seperti Batu Sihir naga, dan mengukir segel berbentuk naga di punggung dengan cat khusus yang kubuat.
Segel ini memakan manaku, dan menghasilkan mana naga. Aku seperti mendapatkan mana naga secara tidak langsung. Ini metode memasukkan kekuatan monster yang mirip tapi berbeda dengan memasukkan Batu Sihir langsung ke dalam tubuh. Aku menyebut metode ini "Segel Ukir".
Di Kerajaan Palettia, segel di punggung aslinya untuk menandai penjahat berat. Makanya awalnya Euphie juga memasang wajah masam. Tapi aku menenangkannya dengan bilang ini perlu.
Saat Segel Ukir ini diaktifkan, aura akan muncul membentuk naga. Orang-orang di aula yang ketakutan tadi mungkin karena melihat auraku.
"...Posisi aku dan Al-kun beda."
"Benar. Kau adalah putri yang membuang hak waris takhta, dan aku adalah Putra Mahkota pewaris takhta pertama. Posisinya beda."
"Kalau begitu, kenapa."
"Awalnya, ini jalan terakhir. Gara-gara kau mengacaukan rencanaku habis-habisan, aku terpaksa melakukannya sendiri."
"Rencana...?"
"Untuk memastikan takhtaku, aku akan menggunakan kemampuan vampir Lainie untuk menguasai negara."
"...Ha?"
Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Al-kun. Menggunakan kekuatan vampir untuk menguasai negara? Untuk memastikan takhta? Isinya terlalu gila sampai kepalaku pusing.
"Kegagalan pertama adalah kau, Euphyllia."
"...Saya?"
Sambil memberikan sihir penyembuhan pada Lainie, Euphie bergumam bingung. Al-kun mendengus kesal dan melanjutkan.
"Kau tidak terpengaruh oleh pemikat Lainie. Tidak, bahkan jika terpengaruh, kau tidak goyah. Untuk menyukseskan rencanaku, Euphyllia itu penghalang. Makanya aku mencoba menyingkirkanmu. Karena aku pikir dengan kemampuan Lainie, aku bisa meruntuhkan posisimu meski agak memaksa."
"A...pa...?"
Euphie tidak bisa berkata-kata. Karena konsentrasinya buyar, sihir penyembuhan yang diarahkan ke Lainie hampir terputus. Aku melihat keringat deras mengalir dari dahi Euphie yang buru-buru memusatkan kembali kesadarannya pada sihir.
"Salah perhitungan berikutnya adalah kau, Kakak."
"...Karena aku mengambilnya demi memulihkan posisi dan nama baik Euphie?"
"Benar. Di sini aku dipisahkan dari Lainie, dan diperintahkan tahanan rumah. Tidak bisa bergerak terang-terangan, kontak dengan Lainie juga diputus. Aku berharap Ayahanda dan yang lainnya melunakkan keputusan karena pemikat Lainie, tapi itu juga dihancurkan oleh Kakak. Termasuk usahamu mendapatkan kebebasan dengan prestasi penaklukan naga, kau benar-benar menggangguku sampai bikin muak."
"Kenapa bikin rencana seperti itu. Tanpa melakukan itu pun, Al-kun adalah Raja berikutnya. Tidak perlu bergantung pada kekuatan vampir...!"
Aku hampir berteriak karena tidak percaya. Tapi, dengan suara yang lebih keras, Al-kun memotong kata-kataku.
"──Kalau kau mengatakannya dengan serius, berarti kau benar-benar tidak tertarik pada apa pun, dan hanya tenggelam dalam keinginanmu sendiri ya."
Tatapan Al-kun menajam, menatapku seolah ingin menembusku. Hawa membunuh yang dingin yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
"Menurutmu berapa banyak orang yang benar-benar mengakui dari lubuk hati bahwa aku adalah Raja berikutnya negeri ini? Jangan bilang kau tidak pernah mendengar suara yang bilang, 'Seandainya Putri Anisphia punya bakat sihir'."
Mendengar kata-kata Al-kun, aku hampir menggigit bibir dan menunduk. Tidak bisa kubilang tidak ada suara seperti itu. Aku sendiri juga pernah memikirkannya.
Seandainya aku punya bakat untuk menggunakan sihir dengan bebas. Aku juga tahu ada orang yang bilang kalau aku bisa pakai sihir, mereka bisa memuji ilmu sihir dengan jujur.
"Kau sadar, kan? Makanya kau tidak pernah mau bikin masalah. Kau bukannya tidak diakui bakatnya. ──Tapi ditakuti, bukankah begitu?"
"...Tidak tahu, aku tidak peduli soal itu."
"Kau itu, monster."
Dibilang monster, kata-kata itu menusuk dada lebih dalam dari yang kuduga. Aku sering dibilang sesat, tapi belum pernah dibilang monster. Tawa kering tanpa sadar keluar dari mulutku.
"Manusia biasa tidak bisa mengejar monster. ──Kalau begitu harus mendapatkannya kan, harus berubah wujud kan. Kalau cuma di situ ada jalannya."
"Salah! Raja yang diharapkan dari Al-kun bukan raja yang seperti itu. Raja yang menghargai hubungan antarmanusia, bergandengan tangan dengan semua orang, dan memerintah negara dengan harmoni!"
"──Kalau itu bukan Raja pajangan, lalu apa namanya!?"
Terhadap bantahanku, Al-kun berteriak keras seolah marah besar. Dibalas dengan momentum yang kuat oleh Al-kun, kata-kataku terhenti. Sementara itu kemarahan Al-kun tampaknya semakin membara.
"Hubungan antarmanusia? Bergandengan tangan? Aku──aku sudah melihatnya! Keadaan bangsawan negeri ini! Jurang yang menganga dengan rakyat jelata! Semua itu adalah distorsi yang dibangun oleh Kerajaan Palettia itu sendiri! Bangsawan yang bersikap sombong, tidak menganggap rakyat yang tak bisa sihir sebagai manusia! Anugerah bernama sihir berubah menjadi simbol kekuasaan, hanya memperbesar kekayaan dan harga diri yang buruk rupa! Benar, sihir adalah segalanya! Darah keluarga kerajaan cuma hiasan! Aku cuma tumbal buat Euphyllia! Cuma Raja yang dipasangkan buat Euphyllia! Aku cuma roda gigi untuk mempertahankan negara ini! Di sana, tidak ada aku! Tidak perlu ada aku!!"
Itu adalah jeritan yang sangat menyedihkan, seperti memuntahkan darah. Bahunya gemetar karena napas yang dihembuskan. Matanya naik, dipadukan dengan mata merah tua, ekspresinya berubah menjadi seperti iblis.
"Tidak akan berubah! Tidak akan berubah! Selama cara negara ini berjalan tidak berubah, negara ini akan tetap stagnan! Dan akan terus berulang! Garis keturunan! Otoritas! Tradisi! Sihir! Ujung-ujungnya ke situ! Kalau begitu jurang dengan rakyat tidak akan tertimbun! Kau pikir berapa banyak darah bangsawan yang tercampur ke rakyat selama sejarah panjang sampai hari ini!? Makanya Raja terdahulu menetapkan! Untuk mengambil kembali darah bangsawan itu, akan memberikan gelar bangsawan untuk memuji kehormatan rakyat jelata! Saat ditetapkan begitu, apa yang dilakukan bawahan!"
Itu zaman sebelum Ayahanda, zaman Kakek kami. Dalam masa yang panjang, darah bangsawan bercampur dengan rakyat jelata, dan orang-orang yang memiliki potensi bakat sihir mulai bermunculan di kalangan rakyat jelata.
Dan saat itu, penyihir yang bukan bangsawan terkenal jahat sebagai bandit. Kakek tidak menyukai benih api yang bersemayam secara potensial dalam rakyat seperti itu. Beliau menetapkan kebijakan untuk mengambil kembali darah itu sebagai bangsawan ke dalam negara──dan kemudian, menghadapi pemberontakan bawahan.
Itu pemberontakan oleh mereka yang tidak setuju rakyat jelata dijadikan bangsawan. Mereka tidak mengakui penyihir yang bukan bangsawan, dan juga tidak mengakui menjadikan mereka bangsawan, negara hampir terbelah.
Waktu itu, kakak Ayahanda yang merupakan Putra Mahkota berdiri sebagai pemimpin pemberontakan, dan negara selangkah lagi menuju kehancuran total. Generasi orang tua kami seperti Ayahanda, Ibunda, dan Duke Grantz-lah yang berperan aktif di zaman itu.
Karena kejadian itu, apakah kesadaran berubah? Tidak juga. Selama bertahun-tahun, negara ini hidup bersama sihir. Sejarah, tradisi, dan otoritas yang dibangun oleh sihir tidak akan punah. Jika dibilang jurang dalam dan tak terlihat antara bangsawan yang bisa sihir dan rakyat jelata yang tidak bisa sihir adalah distorsi yang dibangun negara ini, aku tidak punya kata-kata untuk menyangkal.
"Negara ini sakit, seperti pohon raksasa yang mulai membusuk perlahan. Seseorang harus menumbuhkan tunas baru! Tapi, tidak ada yang melihat ke sana! Bahkan mereka yang disebut jenius percaya tanpa ragu bahwa mempertahankan masa kini adalah yang terbaik, semua orang hanya terpukau pada bakat yang cemerlang dan mengikutinya saja!"
Aku tahu betul bahwa teriakan Al-kun membuat Euphie menahan napas. Tentu saja aku tahu siapa yang dimaksud Al-kun.
"Kalau begitu harus direbut! Kekuatan untuk menghancurkan akal sehat yang tak bisa diubah! Kekuatan untuk itu! Meskipun itu menyimpang dari jalan manusia, aku bukan Raja pajangan...! Apa nilainya Raja yang bukan dirinya sendiri! Raja yang cuma buat mengikat negara yang terus membusuk, hanyalah pasak belaka!"
"...Al-kun."
"Aku yang paling tahu kalau aku tidak punya bakat. Tidak unggul dalam apa pun, sekeras apa pun berusaha cuma bisa sampai tingkat 'bisa dicapai kalau berusaha'! Benar, karena ada kau! Kakak! Bukan, Anisphia Wynn Palettia!"
Sengaja memanggil nama, Al-kun mengatakannya seolah menghempaskan suara. Nama sebagai putri kerajaan terasa berat menindih bahuku.
Aku selalu ingin lari dari berat itu, makanya seharusnya sudah kubuang. Tanggung jawab sebagai putri pertama──hak waris takhta sudah kulepaskan.
"Ejekan terhadapmu adalah kebalikan dari rasa takut! Semua orang takut pada ide inovatifmu! Bagi bangsawan yang ingin mempertahankan status quo, tidak ada monster yang lebih menakutkan dari ini!"
Sambil mengayunkan lengan, Al-kun berteriak dengan suara yang bergetar. Dia memanggilku monster, seolah sedang mengutukku.
"Terlebih lagi kau mengancam otoritas bangsawan! Ide sesat bernama ilmu sihir! Produk mengerikan bernama alat sihir! Wajar rakyat menginginkanmu, wajar bangsawan takut padamu! Bagimu rakyat adalah perintis yang tak dikenal, dan bagi bangsawan kau adalah monster yang bersembunyi di negara! Hebat sekali! Orang bodoh dan monster, tidak bisa dibandingkan!"
"...Makanya, kau juga mencari kekuatan? Kau tahu betapa berbahayanya kekuatan itu?"
"Kekuatan yang diperlukan. Untuk menguasai negara ini! Untuk mengubah cara berjalannya! Aku akan berdiri di puncak, dan mendirikan bentuk negara yang baru! Benar, itu yang kau tinggalkan! Hak yang kau buang! Masa depan yang tidak kau pilih! Kalau masa depan yang dibuang, tidak ada salahnya kan kalau kupungut!?"
Suara Al-kun terdengar jauh sesaat. Rasa berpijak di tanah hilang sesaat. Meski begitu aku berdiri. Sekarang, berdiri di sini. Berdiri di depan matanya.
"...Al-kun, aku tanya satu hal."
Sambil bicara, tanganku terulur ke Mana Blade yang tergantung di holder. Sambil menggenggam Mana Blade di kedua tangan, aku menatap lurus Al-kun dan bertanya.
"──Bagimu, sihir itu apa?"
"──Kutukan, Kakak."
...Jawaban Al-kun terdengar. Suara yang penuh dengan dendam seolah berkata itu sangat menjijikkan.
"Aa, benar. Kutukan. Sihir, darah keluarga kerajaan, status pangeran, citra ideal yang diberikan, sosok yang seharusnya begitu, semuanya adalah kutukan bagiku. Hal yang membuat diriku kosong. Kalau begitu hancurkan semuanya. Jika tidak kehilangan maka tidak bisa melihat ujungnya, aku rela membuang semuanya."
"Begitu ya."
Sekali, aku menengadah ke langit. Bulan bersinar menyilaukan. Aku menutup mata perlahan seolah menyimpan kesilauan itu di balik kelopak mata.
Rasa yang meluap ini, harus kuberi nama apa. Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu. Menenggelamkan emosi tanpa nama ke dasar hati, aku membuka mata.
"──Baiklah, 'Algard'. Itu, mungkin memang hal yang kubuang."
Tenangkan suara, bunuh emosi. Pikiran berlebih tidak perlu. Semuanya mendingin. Segel Ukir punya efek samping yang sama dengan obat sihir, semangat bertarung mudah meluap. Panas yang berputar di dalam diriku itu kutekan ke dalam hati, kukurung dalam tangan, seolah meremukkannya.
"Tapi, aku tidak bisa mengakuinya. Jika kau bilang akan memungut masa depan yang kubuang, maka aku akan memungut hak 'sekarang' yang kau buang."
──Negara ini mungkin sakit, itu tidak bisa disangkal.
Tapi aku memilih untuk membiarkannya. Tentu saja, aku mengulurkan tangan sebisa mungkin. Aku berdoa agar setidaknya satu orang lebih banyak bisa tersenyum. ──Meski begitu, aku menyerah untuk mengubah cara negara ini berjalan.
Waktu yang lama, wujud sihir, mungkin telah mendistorsi manusia. Bangsawan terseret dalam distorsi itu, dan mungkin berubah menjadi sesuatu yang tidak diinginkan rakyat. Sekarang sihir mungkin hanya menjadi simbol kekuasaan, dan alat pemuas nafsu.
Meski begitu, jika aku mencoba mengubahnya. Bisa kubayangkan dengan mudah bahwa itu hanya bisa dilakukan dengan cara yang menghancurkan negara ini. ...Makanya aku menyerah.
"Apa kau tahu untuk apa aku bertingkah aneh sampai disebut nyentrik? Ya, meskipun kubilang demi kau, kau pasti menyebutnya kutukan. Tapi reformasi memaksakan perubahan. Untuk perubahan itu harus memberikan rasa sakit. Kenapa harus buru-buru reformasi sampai segitunya? Raja pajangan? Bagus dong, kalau keluarga kerajaan aman berarti bukti negara damai. Apa masalahnya dengan itu?"
Makanya aku selalu berpikir, lebih baik kau yang jadi Raja. Al-kun. Mungkin tidak berbakat, tapi aku tahu kau anak pekerja keras dan sabar. Aku percaya kau anak yang bisa menyelesaikannya sampai akhir meski butuh waktu.
"Cuma bisa melakukan apa yang bisa dilakukan manusia? Wajar dong, kan manusia. Lakukan sekuat tenaga, berjuanglah dalam batas kemampuan manusia, kan bagus. Bukan dengan kekuatan, tapi titipkan harapan dan kata-kata."
Al-kun sampai mengira aku monster, ternyata aku memang mencolok ya. Tapi, aku pikir itu demi kau. Kalau aku dianggap tidak pantas, kupikir tidak akan ada yang punya ide bodoh untuk mengangkatku.
"Apakah perubahan dengan kekuatan, dominasi, benar-benar yang diinginkan rakyat? Kau yang tidak mengerti itu──tidak punya hak menyebut diri Raja."
Aku menarik tanganmu, membawamu pergi ke banyak tempat. Aku menceritakan mimpiku padamu. Kenangan saat kau tertawa, sudah lama sekali tapi aku masih ingat.
Gara-gara aku, aku banyak merepotkanmu ya. Kalau kau jadi begini gara-gara aku, ya sudah. Ya sudah, aku akan ambil tanggung jawab sebagai kakak.
"──Lagipula, apa kau sombong berpikir bisa menang melawanku di 'arena yang sama'? Algard."
"──Kakak!!"
"Kalau kau bilang kekuatan adalah segalanya, kalahkan aku. Kau seharusnya cukup menjadi Raja yang baik. Raja yang banyak berpikir, berdiskusi, berbagi idealisme dengan orang lain, memegang tangan seseorang, dan menghubungkan lingkaran, kau seharusnya diajari menjadi Raja seperti itu."
"Bagimu mungkin itu sosok Raja yang bernilai, tapi! Kalau begitu tidak ada yang bisa diubah! Raja seperti itu tidak punya kekuatan untuk mengubah masa kini!"
"──Nilai untuk melindungi masa kini itu! Aku tidak mengakui Raja yang menyangkalnya!"
Ayahanda bukan Raja yang agresif. Kekurangan wibawanya bahkan ditutupi oleh Ibunda dan Duke Grantz. Tapi, Ayahanda adalah Raja yang menganggap baik jika orang tumbuh dengan tenang dan bebas.
Aku banyak dimaafkan. Ayahanda memaafkan kebebasanku. Tapi, apa yang kudapatkan adalah apa yang tidak diberikan kepada Al-kun. Akhirnya aku mengerti itu sekarang.
Bagimu, harapan dan doa kami hanya menjadi kutukan ya. Aku yang tidak menyadari itu, mungkin benar-benar berdosa. Padahal kakak beradik sedarah, tapi sudah jadi sangat jauh.
"Di negara yang diperintah Raja 'bukan manusia', tidak ada masa depan negara, tidak ada kebahagiaan rakyat."
"Tidak, salah. Ada hal yang 'tidak bisa diubah oleh manusia biasa'. Jika tidak maju meski harus menghancurkannya, tidak akan ada hari esok bagi negara maupun rakyat!"
"Meskipun itu benar! Rakyat dan negara tidak akan tahan dengan perubahan drastis! Semakin panjang sejarah yang dibangun, rasa sakitnya semakin parah!"
"Makanya kau cuma takut! Untuk mengubah! Untuk memikul! Apa yang kau bicarakan! Apa yang bisa kau salahkan! Kau... memangnya punya hak apa!"
"──Menghentikan adik yang gila. Itu hak sebagai kakak."
"Sekarang, baru ngomong kosong!"
"Ya, benar-benar──sudah terlambat ya."
Benar-benar sudah terlambat sampai tidak bisa diapa-apakan lagi. Meski begitu, ada hal yang tidak bisa kuserahkan.
"Aku tidak akan membiarkan sihir berubah jadi kutukan. Sihir terbuat dari doa untuk hari esok, dan harapan akan kebahagiaan. ──Aku akan membuktikannya."
"Itu baru terlambat! Siapa yang mau dengar omonganmu! Kalau negara tidak dibelah, tidak akan sampai! Jurang antara rakyat jelata dan bangsawan tidak akan tertimbun kalau begini terus, cuma bakal makin menyimpang!"
"Meski begitu, aku tidak bisa membiarkan negara yang akan dibelah sekarang. Lagipula, apa kau benar-benar berpikir bisa mengubah negara dengan cara itu? Algard."
Seolah menyalahkan Al-kun, tapi juga memohon. Apakah kau benar-benar berpikir begitu, aku bertanya. Meskipun tahu hanya jawaban yang tidak diinginkan yang akan kembali.
"──Hentikan, jangan lihat aku dengan mata itu! Jangan menilaiku! Jangan mengasihaniku!"
"Algard..."
"Aku akan mengubahnya! Harus mengubahnya! Realita yang berlumuran lumpur ini! Keadaan negara yang menua dan tenggelam! Siapa pun itu! Aku tidak akan biarkan menghalangiku!"
"...Aa, sungguh. Semuanya anak bodoh yang tidak bisa membanggakan orang tua, maaf ya Ayahanda, Ibunda."
Aku memasang kuda-kuda Mana Blade. ──Sudah tidak perlu waktu untuk bertukar kata yang tidak nyambung.
"Bersiaplah, Algard. ──Aku menyangkal definisimu."
* * *
──Algard Von Palettia adalah pangeran yang biasa-biasa saja. Tentu saja, dia juga berusaha. Namun, sekeras apa pun usaha berdarah-darah yang dilakukannya, di hadapan kilauan bakat, tidak ada yang melihatnya. Itulah realita menyedihkan yang diberikan padanya.
Yang berdiri di sampingnya adalah Euphyllia Magenta, putri Duke yang disebut dicintai oleh roh. Bisikan bahwa dia terlihat inferior jika bukan pangeran selalu sampai ke telinganya.
Dan, yang selalu dibandingkan dengannya adalah Putri Anisphia Wynn Palettia yang disebut ujung tombak kesesatan. Ide ilmu sihir dan penemuan alat sihir, meskipun ada pro dan kontra, sangat menarik perhatian.
Algard tidak punya apa-apa. Tidak ada bakat yang memukau, tidak ada ide dramatis. Makanya dia butuh kekuatan. Jika usaha sekeras apa pun tidak membuat orang melihatnya, maka tidak ada pilihan selain mengubah dunia.
──Aa, tragedi yang luar biasa. Tidak ada yang selamat dalam tragedi ini.
──Algard Von Palettia tidak akan pernah bisa bahagia selamanya.
Karena mereka yang tidak memiliki sayap, tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan menari bebas di langit.
──Anisphia Wynn Palettia juga tidak akan pernah bisa bahagia selamanya.
Meskipun memiliki sayap, dia terikat oleh pasak bernama negara dan tidak bisa mendapatkan kebebasan.
──...Jika ada perbedaan.
Mereka yang bisa menari di langit, punya hak memilih untuk menapakkan kaki di tanah.
Mereka yang tidak punya sayap, tidak punya pilihan untuk memilih sesuatu.
──Ini adalah cerita tentang kakak dan adik yang seperti itu.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!

Komentar
Tinggalkan Komentar