Featured Image

Tenten Kakumei V2 C4

Metoya Februari 14, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Nilai Ilmu Sihir


Setelah pemeriksaan fisik Lainie di kediaman terpisah Marquis Claret, Tilty mulai sering keluar masuk istana terpisah. Tujuan utamanya adalah pemeriksaan fisik lanjutan untuk Lainie.

Karena Ilia sedang ada urusan di istana kerajaan dan tidak ada di tempat, maka yang berada di salon istana terpisah hanya ada aku, Euphie, Lainie, dan Tilty berempat. Tilty menyembunyikan wajahnya dengan veil hitam saat keluar, jadi terlihat sangat mencurigakan. Apa dia sebenci itu pada sinar matahari?

"Jadi, soal Lainie, ternyata impuls menghisap darah itu mulai muncul, ya?"

"Iya..."

Topik yang diangkat Tilty adalah tentang impuls menghisap darah Lainie. Sejak mengaktifkan Batu Sihir, Lainie mulai mengalami impuls menghisap darah layaknya vampir. Mungkin merasa bersalah karena impuls yang mulai muncul di tubuhnya sendiri, Lainie kembali menyusut ketakutan.

"Sepertinya mana yang biasanya diproduksi tubuh diambil oleh Batu Sihir, dan ketika tubuh merasakan kekurangan mana, itu muncul dalam bentuk impuls menghisap darah untuk mencoba mengambil mana dari orang lain."

Vampir bisa mengambil mana yang terkandung dalam darah dan menjadikannya milik sendiri dengan cara menghisap darah. Umumnya transfer mana bukanlah hal yang mudah, dan jika tidak dilakukan antar orang yang kecocokannya sangat baik, efeknya tidak akan sepadan.

Selain itu, jika mengambil mana orang lain, akan timbul gejala seperti mabuk, jadi tidak bisa menerima dalam jumlah banyak. Makanya ini metode pengisian yang hanya diketahui segelintir orang, tapi sepertinya vampir ahli dalam menjadikan mana orang lain sebagai miliknya melalui perantara Batu Sihir.

"Hmm? Jadi kau membiarkannya menghisap darah? Terus, kalau dihisap darahnya tidak akan jadi vampir juga, kan?"

"Iya, selama tidak sengaja mencoba melakukannya... Dan juga, darahnya dari Ilia-sama..."

"Aku dan Euphie juga sempat membiarkannya menghisap sekali, tapi mengingat status, Ilia tidak setuju. Jadi petugas suplai mana Lainie jadi tugas Ilia."

Aku dan Euphie membiarkannya menghisap darah kami demi perbandingan, tapi Ilia bersikeras tidak mengizinkan kami melakukannya terus-menerus, jadi saat impuls menghisap darah Lainie muncul, Ilia yang memberikan darahnya.

"Tapi aneh juga ya. Sejak mulai menyadari Batu Sihir, secara alami jadi ingat cara menggunakannya."

"Iya. Entah karena menggunakan Batu Sihir atau bukan, sensasinya berbeda dibanding orang lain jadi saya agak kesulitan, tapi..."

"Tapi, cara penggunaannya juga khas vampir, kan. Sepertinya hipotesis bahwa Batu Sihir menyimpan pengalaman yang sudah-sudah itu benar."

"Vampir itu, bisa dibilang sistem sihir yang diwariskan oleh mereka yang memiliki Batu Sihir vampir."

Lainie awalnya pandai sihir air. Sekarang pun dia meningkatkan kemampuannya dengan fokus pada sihir air. Di antaranya ada sihir yang bahkan sulit bagi Euphie, yang membuat kami terkejut.

Menurut Tilty, sihir yang digunakan Lainie bukan sihir biasa, melainkan berkat anugerah Batu Sihir vampir yang dimiliki Lainie.

Hipotesisnya adalah anugerah ini berupa Batu Sihir vampir yang menjadi semacam perangkat memori, yang mewariskan pengetahuan yang tersimpan dengan cara mewariskan Batu Sihir, dengan tujuan mencapai kebenaran.

Batu Sihir itu sendiri jika tidak disadari akan terus diwariskan ke generasi berikutnya, dan mencoba menghubungkan ambisi besar pencarian kebenaran dengan mewariskan pengetahuan dan pengalaman kepada orang yang beruntung membangunkannya. Bahkan terasa ada obsesi di sana.

"Bagaimanapun juga, syukurlah perkembangannya stabil. Bukan cuma Lainie, tapi Anis-sama juga."

"Dalam artian tertentu, kedatangan Lainie sangat membantu. Jadi banyak referensi."

Eksperimen pengamatan perkembangan yang kulakukan bersama Tilty sekarang juga lancar. Dalam artian tertentu, aku merasa kedatangan Lainie ke istana terpisah di waktu ini mungkin adalah petunjuk roh.

Lainie juga sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di istana terpisah, dan belakangan ini belajar bersama Euphie. Lainie bukan jenius, tapi dia pekerja keras. Sosoknya yang berusaha keras mengingat apa yang diajarkan itu terlihat manis dan menyenangkan bahkan tanpa kekuatan pemikat.

...Entah kenapa aku juga jadi ikut disuruh belajar, sih. Kenapa jadi begini...?

(Yah, selama Euphie kelihatan senang sih tidak apa-apa...)

Meskipun belakangan ada kasus Lainie, aku menyesal karena terlalu sungkan pada Euphie sampai tidak memberinya pekerjaan sebagai asisten. Memang sih aku minta dia mengurus kondisi tubuhku dan mengawasiku, tapi mungkin itu membuatnya tidak merasa berkontribusi.

Di tengah situasi itu, dia terlihat cukup senang mengajari aku dan Lainie belajar, jadi aku lega. Aku tidak bisa menyangkal kalau dibilang ada hal yang harus kupelajari sebagai keluarga kerajaan. Meskipun begitu, belajar tata krama itu, yah, menurutku agak merepotkan sih.

Analisis tentang ekologi vampir dan pengendalian kekuatan juga sedikit demi sedikit mengalami kemajuan, dan sudah hampir dipastikan bahwa pemikat Lainie yang aktif sendiri tidak akan menjadi masalah jika dia berada di lingkungan yang tenang.

Hasil penyelidikan sudah dikirim ke Ayahanda dan Ibunda, dan kurasa dari mereka juga sudah disampaikan ke orang-orang yang mengetahui keadaan ini. Sejauh ini, tidak ada masalah besar yang terjadi.

(Damai sekali ya...)

Kalau bisa, kuharap tidak terjadi apa-apa terus seperti ini. Belakangan ini mulai dari pembatalan pertunangan Al-kun, serangan naga, sampai konfirmasi keberadaan vampir, kalau dijajarkan rasanya terlalu banyak masalah yang terjadi.

Semoga damai. Tepat setelah aku berdoa kecil dalam hati, Ilia yang sedang keluar kembali. Melihat ekspresinya, aku merasakan firasat yang sangat buruk.

Sekilas Ilia terlihat tanpa ekspresi seperti biasa, tapi ekspresi dan aura yang menyelimutinya terasa tegang.

"Saya kembali. ...Tuan Putri."

"Selamat datang kembali, Ilia. ...Ada apa? Terjadi sesuatu?"

"...Ya, sangat disayangkan."

Melihat Ilia menghela napas panjang, aku tanpa sadar ingin menengadah ke langit. Kalau Ilia sampai bilang begitu, berarti hal yang sangat disayangkan telah terjadi. Masalah muncul tepat setelah aku berdoa supaya damai, probabilitas macam apa ini?

"Apa yang terjadi?"

"Undangan untuk Tuan Putri telah tiba. ...Dari Kementerian Sihir."

Kementerian Sihir. Amplop yang disodorkan Ilia bersamaan dengan ucapan itu memang dari Kementerian Sihir. Aku tanpa sadar mengerutkan kening sedalam-dalamnya.

"Kenapa dari Kementerian Sihir..."

"Apa ada masalah?"

Lainie yang tidak tahu detail perseteruanku dengan Kementerian Sihir bergumam bingung. Ingin kujawab, tapi aku harus cek isinya dulu. Aku membuka segel dan memeriksa surat dari Kementerian Sihir.

"...Uwa, merepotkan..."

Tanpa sadar aku bergumam dengan suara rendah. Lainie menyusut ketakutan, tapi aku tidak punya waktu untuk mempedulikannya. Surat dari Kementerian Sihir itu memang semerepotkan itu.

"Anis-sama? Apa isinya?"

"...Mereka minta diadakan seminar tentang materi naga. Singkatnya, mereka minta dijelaskan materi naga itu sebenarnya mau dipakai buat apa, jelaskan kegunaannya."

Kalimatnya menggunakan gaya bahasa bangsawan, dengan sesekali menyelipkan sindiran tajam seperti biasa. Isinya seperti yang kukatakan. Mereka ingin aku memberikan seminar kepada orang-orang Kementerian Sihir tentang kegunaan materi naga yang kuterima sebagai imbalan.

Euphie yang mendengar isinya dariku mengambil surat itu sambil mengerutkan kening. Dan seiring dia memeriksa isinya, ekspresi Euphie menjadi suram.

"...Anis-sama, apa maksudnya ini?"

"Hmph. Paling mereka cuma mau cari-cari kesalahanku, terus kalau bisa mau ambil materinya, kan! Dulu juga pernah kok! Waktu itu materi lain sih!"

Materi yang kugunakan untuk penelitian itu kukumpulkan dengan biaya sendiri. Jadi pada dasarnya Kementerian Sihir tidak punya hak untuk protes tentang materi apa yang kugunakan. Tapi, ada kalanya Kementerian Sihir mencari-cari kesalahanku.

Yaitu dengan menuduh bahwa alat sihir itu ilegal, bisa dibilang seperti inkuisisi agama. Aku sendiri tidak akan kenapa-napa, tapi pengembangan alat sihir bisa dihentikan karena dianggap tidak pantas, dan dalam beberapa kasus barang yang sedang dikembangkan bisa disita.

"Eeh!? Itu artinya, seperti Buku Terlarang, mereka menganggap penemuan Anis-sama sebagai barang terlarang dan mencoba menyitanya?"

Mendengar penjelasanku, Lainie membelalakkan mata kaget. Syukurlah Lainie juga merasa itu keterlaluan, aku jadi lega.

"Benar. Memang benar ada barang buatanku yang tidak sesuai dengan kepercayaan, atau memberikan pengaruh tertentu. Aku juga tidak masalah kalau itu dinilai berdasarkan diskusi yang benar. Tapi mereka itu cuma mau menjegal orang saja!"

"Aku paham... aku juga pernah kena."

Tilty bergumam dengan nada kesal, setuju dengan kekesalanku. Dalam kasus Tilty, yang disita adalah obat baru. Hanya saja bedanya denganku, Tilty jadi malas setelah kejadian itu dan memutuskan tidak mempublikasikan obat baru lagi meskipun berhasil meraciknya.

Aku juga kalau berhasil membuat penemuan, biasanya langsung membawanya ke Ayahanda dulu daripada ke Kementerian Sihir. Supaya Ayahanda yang memutuskan apakah perlu dilaporkan ke Kementerian Sihir atau tidak. Biasanya kalau kubilang Ayahanda sudah mengizinkan, mereka tidak akan terlalu rewel, tapi kadang mereka mengambil langkah duluan.

Yaitu saat mereka tahu kapan aku mendapatkan materi. Sejak mulai beraktivitas sebagai petualang, aku tidak kesulitan mendapatkan materi dengan memburu monster sendiri.

Karena itulah aku jadi sering terlihat orang atau digosipkan. Kementerian Sihir mulai sering mencari gara-gara juga sejak saat itu.

"Kementerian Sihir melakukan hal seperti itu juga?"

"Melakukan kok, cuma bukan berarti ilegal."

"Kenapa begitu!?"

"Kalau aku belum menentukan kegunaannya, Kementerian Sihir akan mencoba membelinya dengan alasan ingin mengamankan materi tersebut. Itu bisa disebut transaksi yang sah."

"Membeli?"

Lainie memiringkan kepala dengan heran. Wajahnya menunjukkan dia tidak mengerti kenapa jadi bicara soal pembelian. Aku menjelaskan sambil menghela napas.

"Kementerian Sihir itu isinya elit semua, dananya juga cukup. Baik anggaran organisasi maupun aset pribadi. Jadi kalau aku belum menentukan kegunaannya, mereka mendesak supaya mereka yang beli. Terus kalau aku tolak, mereka bakal diam-diam menjelek-jelekkan aku, bilang serakah lah, melakukan eksperimen mencurigakan lah, macam-macam deh."

"...Kepala Kementerian Sihir itu ayahnya Moritz-sama, kan?"

"Ah, benar juga."

"...Hal kejam seperti itu, apa dimaafkan?"

"Tidak dimaafkan, tapi Kementerian Sihir punya kekuasaan dan posisi yang memungkinkan hal itu merajalela."

Kalau bilang begini saja Kementerian Sihir memang terdengar seperti kumpulan orang menyebalkan, tapi mereka kerja kok. Kalau dibilang apa yang mau kulakukan atau capai tidak sejalan dengan pekerjaan, pemikiran, dan filosofi Kementerian Sihir itu salah, aku terpaksa mengakuinya.

"Lagipula tidak semua orang di Kementerian Sihir begitu. Ada juga peneliti yang murni diakui karena kemampuan sihir dan prestasi gemilangnya. Tapi, kalau posisi sebagai politisinya makin kuat, ya mau bagaimana lagi."

Kementerian Sihir juga merupakan penasihat pemerintahan negara. Kesadaran elitnya tinggi, dan mereka bangga bahwa merekalah yang memimpin budaya dan ketertiban negara. Makanya jadi berenturan denganku.

Dari sisi Kementerian Sihir, mereka mungkin berpikir 'padahal kami sudah mengalah, tapi Tuan Putri itu...'. Makanya kalau aku diam saja karena belum menentukan kegunaan materi, mereka kesal, tapi kalau aku mengucapkan gagasan yang buruk, mereka akan meributkannya habis-habisan.

"...Moritz-sama memang, saya pikir sedikit tinggi hati sih..."

"Bukan cuma putra Earl Chartreuse saja. Orang-orang di Kementerian Sihir itu yang parah. Lagipula, tembok pemisah antara bangsawan dan rakyat jelata itu besar. Bisa menggunakan sihir atau tidak itu hal yang sangat besar di negara ini, lho? Lainie juga paham, kan?"

Mendengar teguranku, Lainie mengatupkan bibirnya. Lainie juga dari rakyat jelata menjadi bangsawan, dan kebetulan punya bakat sihir jadi dimasukkan ke akademi. Jadi dia pasti tahu betul, mau tidak mau, betapa besarnya jurang antara yang bisa menggunakan sihir dan yang tidak.

Dan, aku ini keluarga kerajaan tapi bodoh karena tidak bisa menggunakan sihir. Aku sadar bahwa dalam artian tertentu, keberadaanku lebih menjengkelkan daripada rakyat jelata.

"Tapi, waktunya buruk sekali ya? Materi naga itu mencolok sih. Jangan-jangan mereka memang mencari kesempatan buat alasan?"

"Aaaah! Hentikan, beneran deh! Apalagi waktunya buruk banget! Mau nolak juga nggak bisa!"

Kenapa waktunya buruk, karena kalau menolak tawaran Kementerian Sihir di sini, pasti bakal jadi gosip. Sampai sekarang aku tidak peduli seberapa jatuh penilaian terhadap diriku sendiri.

Tapi sekarang tidak boleh. Sekarang aku sedang menampung Euphie untuk memulihkan nama baiknya, dan ditambah lagi melindungi Lainie. Kalau memancing Kementerian Sihir di sini, kemungkinan besar mereka berdua akan terseret.

Euphie mungkin masih bisa memulihkan diri nanti, tapi gawat kalau Lainie jadi gosip. Kalau perhatian tertuju pada Lainie, Earl Chartreuse bisa tahu kalau aku menginterogasi Lainie.

Kalau dibilang belakangan ini tidak melihat Lainie gara-gara aku melakukan sesuatu, aku bakal sangat kesulitan. Terus kalau ketahuan aku melindungi Lainie, entah gosip apa yang bakal disebar.

Artinya saat ini, menolak tawaran Kementerian Sihir adalah situasi yang tidak baik.

"Jadi situasinya kau harus menjelaskan semacam gagasan atau rencana ke Kementerian Sihir, ya. Gimana? Pastinya kau belum berniat mempublikasikan 'itu', kan?"

"Tentu saja! Maksudku, 'itu' tidak akan kupublikasikan! Harus memikirkan rencana lain... aah sial, dasar Kementerian Sihir...!"

Materi naga adalah barang langka. Aku tidak berniat menyerahkan bagianku sedikit pun.

Tapi, membiarkan nama baikku jatuh di saat seperti ini akan menyusahkan Euphie dan Lainie. Tapi, tidak terpikir ide yang bisa memuaskan Kementerian Sihir.

"...Anis-sama, bisakah serahkan pada saya?"

"Euphie?"

Euphie yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu dengan tangan di dagu, tiba-tiba mengangkat wajah dan memberi usul. Aku membelalakkan mata mendengar usulan Euphie yang bisa dibilang tiba-tiba itu.

"Serahkan pada Euphie itu... maksudnya?"

"Saya sadar Anis-sama dibenci oleh Kementerian Sihir. Tapi, menolak prosedur resmi akan membuat situasi kita tidak baik. Tapi, bagaimana kalau saya?"

"...Maksudnya Euphie yang maju secara terbuka?"

"Jujur, saya belum sepenuhnya memahami perseteruan Anis-sama dan Kementerian Sihir. Tapi, saya mengerti alasannya adalah perilaku Anis-sama sehari-hari, pemikiran ilmu sihir, dan keberadaan alat sihir. Kalau begitu, saya berpikir jika saya yang menengahi, gesekan bisa diredam."

Aku tanpa sadar menahan napas melihat tatapan serius Euphie. Mungkin Kementerian Sihir tidak suka aku punya banyak materi naga, dan cuma waspada kalau-kalau aku berbuat ulah. Jadi bisa dianggap mereka memancing untuk melihat reaksiku.

Bagaimanapun juga ada perseteruan antara aku dan Kementerian Sihir, jadi kalau aku maju secara terbuka, pasti bakal ribut dengan Kementerian Sihir. Tapi, bagaimana kalau bukan aku, melainkan Euphie yang maju?

"Boleh juga, kan? Yang dibenci Kementerian Sihir itu Anis-sama, kalau Yuphillia-sama kurasa reaksinya bakal beda, menurutku sih oke-oke aja lho?"

Tilty berkata begitu. Kalau dibilang oke atau tidak, menurutku juga oke. Kalau soal negosiasi dengan bangsawan, kurasa Euphie yang seorang putri Duke dan sudah menerima pendidikan sebagai calon ratu akan bisa melakukannya lebih baik dariku.

Jujur saja, sampai sekarang tidak ada orang yang bisa berdiri menengahi dan bernegosiasi antara aku dan Kementerian Sihir. Ilia juga karena tidak masuk akademi dan langsung menjadi pelayan di istana, jadi diremehkan oleh orang-orang Kementerian Sihir.

Paling-paling cuma Ayahanda, tapi soal alat sihir dan materi, Ayahanda posisinya netral. Ayahanda pada dasarnya membereskan kekacauan yang kubuat, tapi karena tidak setuju denganku, beliau tidak bisa diandalkan.

"...Meskipun itu Euphie, kalau ada di sampingku mungkin bakal dikomentari juga lho?"

"Anis-sama."

Euphie mengerutkan kening mendengar perkataanku. Aku pun sadar kalau aku terlalu sungkan. Benar juga, kalau Euphie mau melakukannya, yang harus kulakukan adalah mendukungnya.

"...Aku mengerti. Tapi, meskipun Euphie yang maju, kita harus mengajukan dan menjelaskan rencana yang tidak bisa diprotes Kementerian Sihir. Harus memikirkan rencana itu..."

"Soal itu, saya juga punya satu usulan."

──Isi usulan yang diajukan Euphie kepada aku yang sedang pusing itu, sungguh mengejutkan bagiku.


Pada hari seminar, kami sedang bersiap-siap untuk pergi ke istana kerajaan.

Katanya setelah seminar ada jamuan makan prasmanan kecil, tapi seminar tetaplah seminar. Ilia bilang sebaiknya pakai gaun, tapi aku menolak dengan tegas.

"Anis-sama, sudah siap?"

"Tilty."

Tilty yang menyembunyikan wajah dengan veil seperti biasa saat keluar menyapaku.

Tumben-tumbenan Tilty bilang mau ikut dengan kami ke seminar hari ini. Secara nama sih dia datang sebagai kolaborator, tapi katanya dia cuma mau nonton dari kursi VIP.

Soalnya dia biasanya mengurung diri, dan hubungannya dengan Kementerian Sihir buruk, jadi tidak dapat undangan. Sebenarnya, tidak salah kalau dibilang kolaborator. Kali ini, yang menyiapkan "menu utama" untuk dibawa ke Kementerian Sihir adalah Euphie, tapi yang menemaninya melakukan verifikasi adalah Tilty.

"Anis-sama, Tilty, maaf menunggu."

Saat aku sedang bicara dengan Tilty, Euphie datang membawa Ilia dan Lainie di belakangnya. Hari ini sepertinya Ilia berdandan dengan semangat, Euphie didandani lebih cantik dari biasanya.

"Ara, kalau dandan cantik juga ya? Anis-sama."

"Yah, Euphie kan cantik."

Karena Tilty mengatakannya dengan nada menggoda, aku membalasnya sambil mengangguk setuju. Melihat kami, Euphie menghela napas takjub.

"Bicara apa sih... Daripada itu, sudah waktunya. Mari berangkat."

"Iya. Kalau begitu Ilia, Lainie, tolong jaga rumah ya."

"Baik, Tuan Putri."

"Semangat ya!"

Ilia seperti biasa, dan Lainie mengantar kami dengan senyuman. Lainie sepertinya sudah akrab dengan Ilia selama tinggal di istana terpisah, dan meskipun ada efek pemikat, perubahan Ilia yang menaruh perhatian pada orang selain aku adalah perubahan yang bagus.

Diantar oleh Ilia dan Lainie, kami menuju istana kerajaan dari istana terpisah. Waktu seminar adalah malam hari, dan cahaya bulan menerangi jalan menuju istana kerajaan.

Seminar yang diadakan di istana kerajaan bukan hal yang langka. Di istana kerajaan ada beberapa aula yang disiapkan untuk pertemuan seperti pesta. Hari ini kami akan menggunakan salah satunya. Karena hanya dipimpin oleh Kementerian Sihir, skalanya bukan aula besar.

Saat masuk ke istana kerajaan dan hampir sampai di aula, aku menyadari ada seseorang yang berdiri. Melihat orang itu, aku mengerutkan kening. Karena itu wajah yang kukenal dalam artian yang tidak menyenangkan.

"Lama tidak berjumpa, Putri Anisphia."

Pria muda bertubuh tinggi ramping, sekilas memberi kesan cerdas. Rambut peraknya diikat di punggung, dan dia memakai kacamata. Mata di balik kacamata itu berwarna biru dingin, memberikan kesan dingin secara keseluruhan. Dia membungkuk sopan memberi salam.

"...Halo, Tuan Putra Earl Voltaire."

"Panggil Lang saja tidak apa-apa. ...Sepertinya saya sudah berkali-kali bilang begitu."

Dia berkata sambil membetulkan letak kacamata dengan jari. Gerakan itu sudah sering kulihat. Benar-benar orang yang bikin kesal ya dia ini!

Lang Voltaire, putra sulung keluarga Earl Voltaire dan calon penerus. Dia orang yang hebat di antara anak muda Kementerian Sihir, dan punya pengaruh besar. Faktanya, bukan cuma omong doang, kemampuan sihirnya juga katanya jempolan. Katanya, soalnya aku belum pernah lihat kemampuan aslinya.

"Saya menawarkan diri menjadi pemandu untuk rombongan Putri. Mohon kerjasamanya."

"Repot-repot amat. Pemandu kan bisa disuruh ke orang yang posisinya lebih rendah, kan?"

"Aneh sekali Anda berkata begitu. Di hadapan Pembunuh Naga yang menyelamatkan negara, bahkan saya pun akan terlihat kusam."

"Pintar sekali bicaranya..."

Kelihatannya memujiku, tapi tidak ada rasa hormat di situ. Tapi juga tidak menampakkan rasa jijik, jadi benar-benar datar.

"Yang ikut sebagai asisten adalah, dari keluarga Marquis Claret..."

"Tilty Claret. Aku cuma saksi, datang cuma buat lihat apakah hasil penelitian yang kulakukan dinilai dengan benar atau tidak."

"...Jika Anda mempermasalahkan kejadian beberapa tahun lalu, silakan kirimkan surat protes resmi ke Kementerian Sihir, kami akan menindaklanjutinya."

"Bisa emangnya? Pemuja fanatik yang wawasannya sempit cuma lihat sihir dan roh doang."

"...Meskipun putri Marquis, sebaiknya Anda menjaga mulut."

Sesaat, pipi Lang berkedut, tapi dia mengatakannya seolah tidak terjadi apa-apa. Tilty juga sepertinya tidak berniat menyerang kalau tidak disinggung, dia melipat tangan dan diam seribu bahasa.

"...Dan, Nona Euphyllia putri Duke Magenta."

"Ya."

Euphie maju selangkah, berhadapan dengan Lang. Lalu, Lang membelalakkan mata sesaat. Kemudian dia berdeham untuk menutupinya, lalu meletakkan tangan di dada dan membungkuk dalam-dalam. Euphie membelalakkan mata karena tiba-tiba dibungkuki.

"Tuan Putra Earl Voltaire?"

"Panggil Lang saja. Saya sudah lama ingin bertemu dengan Anda, Nona Euphyllia. Bertemu dalam bentuk seperti ini, saya merasa sangat disayangkan. Perihal pembatalan pertunangan, hati Anda pasti sangat sakit. Saya turut prihatin..."

"...Tidak ada alasan bagi Lang-sama untuk menundukkan kepala pada saya. Tolong angkat kepala Anda."

Euphie tampak sedikit bingung karena Lang tiba-tiba menundukkan kepala, tapi segera memasang ekspresi layaknya seorang putri bangsawan dan berkata dengan tenang. Karena disuruh begitu oleh Euphie, Lang mengangkat wajahnya. Meski begitu ekspresinya tetap pahit.

"...Saya sudah mendengar rumor tentang Anda. Tepat ketika saya berpikir ingin Anda mempertimbangkan untuk masuk ke Kementerian Sihir setelah lulus, saya meragukan telinga saya saat mendengar kabar tak terduga itu. Saya sangat menyayangkannya."

"Saya berterima kasih Anda menilai saya setinggi itu. Namun, perihal pembatalan pertunangan itu saya juga punya salah. Dalam seminar kali ini, saya bermaksud memulihkan nama baik sebagai asisten Anis-sama."

"...Sebagai asisten Putri, ya."

Nada bicara Lang yang tadinya agak ringan menjadi sedikit berat. Tatapan yang sekilas diarahkan padaku terlihat seperti memelototi.

"...Tidak enak bicara sambil berdiri. Kami sudah menyiapkan ruang tunggu sampai waktunya tiba. Mari saya antar."

Karena Lang mempersilakan, kami pun menuju ruang tunggu bersama-sama. Selama itu, tidak ada percakapan. Di ruang tunggu yang diantar Lang, para pelayan yang menunggu membungkuk memberi salam.

Setelah dipersilakan duduk oleh Lang, para pelayan mulai menyiapkan teh. Melihat mereka menyalakan api menggunakan sihir karena tidak ada alat sihir terasa agak segar.

"Sekali lagi, saya berterima kasih karena telah memenuhi permintaan Kementerian Sihir kali ini."

"Kalau ditolak bakal berisik, kan."

Saat aku mendengus dan berkata begitu, alis Lang berkerut tajam di pangkal hidungnya.

"Mohon dimengerti bahwa itu karena nilai materi naga sangat tinggi, Putri Anisphia."

"Kan nggak dibawa semua, jadi nggak apa-apa kan? Naga itu aku yang kalahkan, jadi aku punya hak mendapatkan materinya."

"Saya selalu bilang, kami tidak mengatakan ini karena ingin mengambil materi dari Anda. Demi melakukan transaksi dengan harga yang wajar, memperkaya kas negara, dan mengembalikannya kepada rakyat..."

"Itu kan idealisme Lang. Kalau kenyataannya memang begitu, aku nggak bakal protes. Karena nggak begitu makanya aku protes."

"Jika yang Anda maksud adalah reputasi buruk Anda, kenapa Anda tidak bisa mengerti bahwa itu karena perilaku Putri Anisphia juga bermasalah?"

Percikan api menyambar di antara tatapan mataku dan Lang. Makanya aku benci ketemu dia, elit Kementerian Sihir dan "siswa teladan ideal" seperti di gambar...

"Boleh saya bicara satu hal? Lang-sama."

Yang melerai saling pelotot antara aku dan Lang adalah Euphie. Euphie menatap Lang dengan tenang.

"Ada apa, Nona Euphyllia."

"Malu rasanya mengakui saya belum lulus dari akademi. Jadi saya tidak tahu detail tentang Kementerian Sihir. Juga tentang hubungan Anda dengan Anis-sama. Kalau cuma dengar dari Anis-sama pasti ada bias. Kalau boleh saya ingin mendengar penjelasan dari Lang-sama."

"Penjelasan, maksudnya?"

"Saya merasa Kementerian Sihir bersikap agak terlalu keras terhadap Anis-sama. Jika itu kesalahpahaman, bukankah itu menyedihkan bagi kedua belah pihak? Saya bisa menduga perseteruan kalian cukup dalam sampai Anis-sama jadi sekeras ini. Tapi, saya pikir tugas saya sebagai asisten adalah menjadi jembatan di antaranya."

...Tanpa sadar aku memasang wajah seperti menelan pil pahit. Kalau ditengahi begini aku jadi tidak bisa bilang apa-apa.

Saat aku melirik wajah Lang, tatapannya lurus tertuju pada Euphie. Lang mengulurkan jari ke kacamatanya, membetulkan posisinya.

"Begitu ya. Saya agak penasaran bagaimana Anda mendengar tentang kami, Kementerian Sihir, dari Anis-sama... tapi kalau dibilang kami bersikap keras, itu demi kebaikan Putri Anisphia sendiri."

"Begitu. Artinya ada masalah pada Anis-sama, ya?"

"Saya tanya balik, apakah Nona Euphyllia tidak merasakan apa-apa pada Putri Anisphia?"

"Konkretnya, seperti apa?"

"Tidakkah menurut Anda tindakan yang kurang bermartabat itu terlalu mencolok sebagai keluarga kerajaan?"

"Itu tidak bisa saya sangkal."

Euphie, kau tidak menyangkal bagian itu ya! Cuma aku tidak bisa mengucapkannya. Kalau aku buka mulut sepertinya tidak bakal ada hal baik, jadi aku diam saja minum teh. Tilty juga membuang muka seolah tidak peduli.

"Kami Kementerian Sihir, sebagai pihak yang diharapkan memikul masa depan Kerajaan Palettia dan garda terdepannya, merasa harus menegur tindakan Putri Anisphia yang tak bisa dibiarkan itu."

"Lalu, bagaimana dengan reputasi buruk yang disebar setelah menolak transaksi materi?"

"Dalam masyarakat bangsawan, ada orang yang mulutnya ringan jika melihat celah. Mungkin ada orang yang kebablasan menjelek-jelekkan karena terlalu ingin menegur."

"Bagaimana dengan Anda? Lang-sama."

Mendengar pertanyaan Euphie, alis Lang terangkat sedikit. Mungkin karena pengaruh ekspresinya yang sedikit goyah, dia membetulkan kacamatanya lagi dengan jari.

"Saya tidak mengerti kenapa Anis-sama membuat Kementerian Sihir bertekad untuk menegur sampai sejauh itu. Tidak punya sopan santun sebagai keluarga kerajaan, saya mengerti. Saya juga setuju dengan ini. Tapi, benarkah hanya itu?"

"...Justru saya yang ingin tanya, apa yang ingin Nona Euphyllia tanyakan?"

"Kementerian Sihir menyalahkan Anis-sama, apakah karena menganggap ilmu sihir itu objek regulasi sama seperti Buku Terlarang? Apakah karena Anda berpikir demikian?"

Mata Lang menyipit. Aku merasa matanya menatapku dengan kebencian sekilas. Aku tidak mau bertatapan mata jadi aku mengalihkan pandangan.

"Ilmu sihir, ilmu sihir ya... Bagaimana pendapat Nona Euphyllia?"

"Banyak hal yang aneh dan sulit dipahami. Tapi, kadang saya kagum karena itu pemikiran yang menyentuh kebenaran."

"...Kementerian Sihir pun mengakui kegunaan alat sihir yang berkontribusi besar dalam penaklukan naga. Dan ilmu sihir yang melahirkan alat sihir itu bernilai. Itu juga diakui oleh Yang Mulia Raja. Tapi..."

"Tapi?"

"──Pemikiran itu, terlalu sesat."

Lang menyatakannya dengan suara tegas.

"Ilmu sihir Anis-sama banyak poin yang sulit dipahami. Dan saya khawatir sudut pandang serta pemikirannya yang bisa memutarbalikkan kepercayaan roh itu terlalu tidak pantas bagi keluarga kerajaan negeri ini."

...Ah, benar juga. Sudah bertahun-tahun, hal itu terus dikatakan padaku. Sejak aku tahu aku tidak bisa menggunakan sihir, sejak hari aku tidak menyerah untuk menggunakan sihir meskipun begitu.

Jika aku tidak diizinkan menjadi penyihir biasa, jika aku hanya diizinkan memilikinya dengan cara yang disebut sesat. Aku tidak bisa menyerah mengejar sihirku sendiri meskipun harus memusuhi semua orang.

Aku mengerti bahwa pemikiranku sesat, dan bisa meruntuhkan kepercayaan roh yang menjadi dasar negara ini. Makanya aku juga mengerti sepenuhnya kalau dibenci itu wajar.

"──Begitu ya."

Suara tenang Euphie menyelinap masuk ke telingaku yang tenggelam dalam pikiran.

"Anis-sama memiliki pemikiran sesat itu tidak pantas sebagai keluarga kerajaan. Saya juga bisa memahaminya. Tapi, apakah itu berarti Anis-sama tidak layak sebagai keluarga kerajaan?"

"...Apa maksud Anda?"

Lang mengerutkan kening, menatap Euphie. Euphie menegakkan punggung, duduk dengan postur bagus sambil melanjutkan kata-katanya.

"Bisakah orang yang ditutup telinganya menikmati musik? Bisakah dia membicarakan makna dari hal yang tidak bisa dinikmatinya? Apakah benar mengharapkan kata-kata yang sama dari dia yang tidak diberikan apa yang wajar kita dapatkan? Jika tidak diberikan itu adalah hukuman, dosa apa yang telah Anis-sama lakukan?"

Euphie menyusun kata-kata seolah bernyanyi dengan lantang. Aku tanpa sadar mendengarkan dengan mulut setengah terbuka.

Euphie tidak melihatku, hanya menatap lurus ke depan. Sosoknya yang tak tergoyahkan itu seolah menunjukkan bahwa itulah sosok putri Duke yang disebut sempurna.

"Apakah Anis-sama tidak beriman sejak awal? Apakah dia memeluk pemikiran sesat sejak awal? Apakah Anis-sama tidak pernah sekalipun mencoba mendekat pada roh? Lalu, dosa apa yang sebenarnya Anis-sama lakukan? Tidak dianugerahi bakat sihir karena memeluk pemikiran yang bertentangan dengan iman? Atau karena tidak diberi perlindungan? Sebenarnya, mana yang lebih dulu? Lang-sama, bagaimana menurut Anda?"

...Menakutkan. Pertama kalinya aku merasa takut pada Euphie. Tidak ada emosi sama sekali dalam pertanyaan itu. Hanya murni menanyakan jawaban. Tidak ada emosi Euphie sendiri di sana.

──Seperti cermin. Pertanyaan Euphie memaksa lawan bertanya pada diri sendiri tentang kebenarannya sendiri.

Jika ada celah, itu akan mencekik leher sendiri tanpa ampun. Pertanyaan yang membuat ilusi seperti itu membuat keringat dingin mengalir di punggungku.

Lang tidak menjawab apa-apa. Terlihat setetes keringat mengalir dari dahinya, menelusuri pipinya. Tatapannya terus tertuju pada Euphie seolah tidak diizinkan berpaling.

Lalu, tiba-tiba Euphie tersenyum lembut. Dia mengambil tanganku yang duduk di sebelahnya, dan menggenggamnya lembut. Aku tanpa sadar bingung dengan kehangatan tangannya.

"Apakah Anis-sama benar-benar sesat, atau hanya menemukan ranah baru. Itu bukan hal yang bisa saya putuskan sendiri. Tapi, saya melihat cahaya dalam ilmu sihir. Saya percaya itu bukan sesuatu yang menyangkal roh atau sihir, tapi jalan yang bisa berdampingan dan berjalan bersama. Saya harap hari ini saya bisa menyampaikan pemahaman itu kepada banyak orang. Jadi saya harap Anda bisa menikmati seminar hari ini."

Bersamaan dengan Euphie menutup kata-katanya, terdengar suara ketukan pintu. Sepertinya waktunya seminar sudah tiba saat kami asyik bicara.

"Kalau begitu mari kita pergi."

Yang berdiri pertama kali juga Euphie. Sambil menarik tangan yang masih digenggamnya, Euphie menatapku dan tersenyum padaku.

* * *

Saat masuk ke aula seminar dengan panduan pemandu, tatapan mata secara alami tertuju pada kami. Di atas panggung tempatku menuju, tersimpan Sapu Penyihir yang sudah dititipkan ke Kementerian Sihir sebelumnya.

Naik ke panggung bersama Euphie dan Tilty, aku mengarahkan pandangan ke orang-orang yang datang mendengarkan seminar di aula, dan membungkuk.

Reaksi terhadap kami beragam. Sesuai dugaanku, banyak orang yang melihat dengan tatapan menilai. Yang tak terduga adalah, ada tidak sedikit orang yang mencoba mendengarkan pembicaraan kami dengan antusias.

Tidak bisa mengamati peserta terus. Aku menarik napas dan mengatur napas. Meskipun sudah berunding dengan Euphie, bagian seminar tentang interpretasi alat sihir dan ilmu sihir harus aku yang lakukan, jadi harus semangat.

"Hadirin sekalian, selamat malam. Saya Anisphia Wynn Palettia yang akan memimpin seminar hari ini. Saya sangat senang seminar ini bisa diadakan hari ini. Hari ini, akan menjadi seminar tentang kegunaan materi naga yang saya kalahkan beberapa waktu lalu."

Sambil berusaha tidak bicara terlalu cepat, tepuk tangan jarang-jarang muncul menanggapi salamku. Setelah menunggu tepuk tangan reda, aku menarik napas sekali.

"Tanpa basa-basi lagi, saya ingin memulai seminarnya. Sebelum menjelaskan kegunaan materi naga, ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan kepada Anda sekalian. Yaitu alat sihir terbang ini, Sapu Penyihir."

Aku mengambil Sapu Penyihir, mengangkatnya sampai setinggi dada, dan memegangnya agar mudah dilihat oleh orang-orang yang mendengarkan seminar.

"Meskipun ini penemuan yang menggunakan Batu Roh Angin, bagian-bagian kecilnya juga didiskusikan dengan pengrajin. Meskipun butuh usaha untuk membuatnya, dengan Sapu Penyihir ini manusia bisa melangkah ke wilayah yang belum terjamah, yaitu langit."

Keuntungan yang bisa kutawarkan dengan Sapu Penyihir adalah perbaikan akses transportasi. Di Kerajaan Palettia, jika perjalanan jarak jauh, sarana transportasinya adalah kuda. Yang naik kuda biasanya ksatria, dan orang yang tidak bisa mengendalikan kuda biasanya menggunakan kereta kuda.

Kuda harganya mahal jika memikirkan usaha untuk membesarkan dan merawatnya. Sapu Penyihir juga tidak bisa dibilang murah, tapi kalau sudah belajar cara menggunakannya, dia lebih penurut daripada kuda.

Jujur, aku tidak terbiasa naik kuda. Kereta kuda juga kalau lewat jalan yang tidak rata bakal goyang, jadi aku tidak terlalu suka naik.

Sebaliknya Sapu Penyihir mengkonsumsi mana pengendaranya, tapi tidak kenal lelah. Kuda itu makhluk hidup jadi harus diistirahatkan, tapi Sapu Penyihir tidak perlu. Melihat satu poin ini saja kegunaan Sapu Penyihir sudah terbukti.

"Tentu saja tidak punya kekuatan untuk menarik gerobak, tapi perpindahan antara ibukota dan kota tetangga, desa, dan desa tetangganya lagi akan menjadi jauh lebih mudah. Inilah kelebihan Sapu Penyihir yang saya buat."

"Putri Anisphia, boleh saya bertanya?"

Seorang pria mengangkat tangan memperhitungkan saat penjelasanku jeda.

"Saya sangat paham bahwa keuntungan yang dibawa oleh alat sihir terbang itu luar biasa. Tapi, bukankah hari ini seminar untuk menjelaskan kegunaan materi naga?"

"Ya. Tapi karena penjelasan Sapu Penyihir sangat penting sebagai pengetahuan awal, saya minta waktu duluan. Naga yang saya lawan kemarin, saya pastikan sayapnya menghasilkan medan gaya khusus yang memberikan efek mengapungkan tubuh raksasa itu di udara. Ini akan sangat berguna bagi pengembangan Sapu Penyihir."

"Penjelasan dari sini biar saya yang ambil alih, Anis-sama."

Euphie yang selama ini menunggu di sampingku membungkuk dan maju ke depan. Sesuai rencana, aku mundur ke belakang sambil memeluk Sapu Penyihir.

Sedikit kegaduhan terjadi melihat Euphie maju menggantikanku. Kepada orang-orang itu, Euphie kembali membungkuk.

"Saya Euphyllia Magenta yang bertugas sebagai asisten Putri Anisphia. Saya sangat senang Kementerian Sihir mengadakan tempat seperti ini, dan memberi kesempatan untuk membicarakan masa depan yang prospektif berkat ilmu sihir. Dari sini saya ingin menyertakan penjelasan dari sudut pandang penyihir, jadi dengan segala kerendahan hati saya ingin mengambil alih penjelasannya."

"Sudut pandang penyihir, ya?"

"Ya. Saat bertempur dengan naga kemarin, saya juga sudah mencoba terbang dengan Sapu Penyihir sebelumnya. Dengan pengalaman ini, saya membuktikan bahwa terbang dengan sihir itu mungkin."

"Apa!"

Kegaduhan terbesar hari ini terjadi. Terbang di langit dengan sihir, apalagi terbang dengan kekuatan sendiri, membuat tatapan orang-orang Kementerian Sihir tertuju pada Euphie dengan penuh minat.

"...Hebat ya, sampai berubah warna matanya begitu."

Karena mundur ke belakang, Tilty yang ada di posisi sebelah berkata dengan nada menyindir. Saat aku menegur Tilty, Euphie membuka mulut untuk melanjutkan penjelasan.

"Terbang dengan sihir itu mungkin, tapi butuh latihan untuk terbang. Karena ada banyak masalah juga, ke depannya saya berniat merangkumnya menjadi laporan dan buku panduan. Dan karena sayalah yang mewujudkan penerbangan dengan sihir, saya yakin bisa menyebutkan masalah penerbangan dengan alat sihir dan penerbangan dengan sihir."

"Keduanya punya masalah masing-masing, apakah pemahaman itu benar?"

Ditanya lagi, Euphie mengangguk mantap. Benar, dua metode penerbangan telah ditemukan, tapi saat ini keduanya memiliki masalah.

Pertama penerbangan dengan sihir, ini murni sulit mengendalikan sihirnya. Terlebih lagi butuh bakat sihir untuk terbang di langit. Terutama sihir angin, dan butuh sense yang memungkinkan kontrol presisi tinggi.

"Penguasaan sihir terbang itu sulit, dan meskipun bisa dikuasai, konsumsi mananya boros, dan pengendaliannya sulit."

"Fumu... artinya pilih-pilih orang ya."

"Ya. Setelah merasakannya sendiri, untuk menguasainya selain saya, mungkin butuh kemampuan setara Ratu Sylphine atau ayah saya."

Kegaduhan harapan yang awalnya muncul, akhirnya berubah menjadi desahan kekecewaan. Sihir terbang yang bahkan jenius Euphie bilang sulit dikendalikan. Butuh banyak bakat, dan kalau dibilang cuma segelintir orang yang bisa, aku yang tidak bisa sihir pun paham itu gerbang yang sempit.

"Di sisi lain Sapu Penyihir, alat ini sangat unggul dalam hal tidak memilih bakat penggunanya. Namun, di saat yang sama bisa dibilang teknologinya secara keseluruhan masih belum matang. Jadi harus dikatakan terbang di langit dengan Sapu Penyihir sangat berbahaya."

Masalah Sapu Penyihir adalah ketidakmatangan sebagai alat dan teknologi. Soalnya, Sapu Penyihir yang kubuat dengan imej idealku tidak dirancang untuk digunakan orang lain.

Aku bisa terbang karena punya imej jelas tentang penyihir yang terbang dengan sapu, tapi menyuruh orang lain terbang dengan cara yang sama itu hampir mustahil. Lagipula kata Tilty yang jarang olahraga, mempertahankan postur saat terbang itu susah.

Ditambah lagi risiko saat jatuh juga ditunjukkan. Meskipun bisa terbang, Euphie bilang bentuk sapu tidak disukai jika ingin menyebarluaskan alat sihir terbang ke dunia. ...Padahal aku suka kalau dipakai sendiri sih.

"Karena itulah kami berpikir menggunakan materi naga untuk alat sihir terbang."

"Materi naga untuk alat sihir terbang?"

"Ya. Karena struktur tubuh dan bagian naga bisa menjadi katalis sihir, kami berpikir bisa membuat alat sihir terbang yang lebih aman dengan memasukkan materi naga. Kami sudah menyiapkan dokumen gambar rancangan, silakan diperiksa."

Dokumen yang disiapkan oleh semua orang di istana terpisah dibagikan ke seluruh aula untuk dilihat.

Itu adalah benda yang bentuknya berbeda dari Sapu Penyihir, meskipun tetap memperhatikan tubuh naga. Bentuk alat sihir terbang baru yang terpikirkan setelah kelemahan Sapu Penyihir ditunjukkan.

"Karena seperti naga yang menari di langit, kami memberi nama sementara 'Air Dra'. Bedanya dengan Sapu Penyihir adalah bisa memfiksasi tubuh seperti naik kuda. Dengan memasang pegangan sebagai ganti tali kekang, postur stabil bisa dipertahankan. Hanya saja, untuk mewujudkan struktur ini, materi naga sangat diperlukan."

Euphie bilang naik kuda, tapi imejku adalah kendaraan "motor" di kehidupan sebelumnya. Cuma bukan motor biasa, tapi bentuknya seperti jetski. Larinya bukan di atas air, tapi di atas langit sih!

Bentuk ini dipilih karena bentuknya mudah diterima manusia di dunia ini, dan perlu meniru struktur naga untuk menggunakan kembali materinya. Ditambah lagi aku mengingat motor dari pengetahuan kehidupan sebelumnya dan mencocokkannya, hasilnya jadi bentuk yang sekarang.

"Jika penelitian berlanjut, ada harapan bisa diproduksi massal tanpa menggunakan materi naga. Bukan hanya perbaikan akses transportasi, dengan menyiapkannya satu di kediaman bangsawan, bisa merespon urusan mendadak di wilayah, dan jika diserang perampok bisa melarikan diri darurat, kami rasa bisa ditawarkan untuk berbagai kegunaan."

"...Begitu ya. Memang kalau dibilang terbang dengan sapu itu aneh..."

"Ini juga bentuknya masih aneh, tapi kalau bisa diterapkan seperti naik kuda jadi lebih familiar ya."

Dibilang aneh. Yah, kalau dipikir-pikir aku tidak menyangkal sih, tapi perasaanku rumit. Tapi, aku disadarkan lagi bahwa membuat bentuk yang bisa diterima orang itu penting. Mana Blade diterima juga karena bentuknya mudah dipahami, ya.

"...Sekian penjelasan tentang kegunaan materi naga. Dan kami ingin meminta waktu Anda sekalian sedikit lagi."

...Lho, Euphie? Memangnya ada rencana ngomong apa lagi? Saat aku bingung, Euphie membuka mulut dengan tenang.

"Efek ekonomi yang dibawa oleh alat sihir terbang adalah seperti yang kami jelaskan barusan. Namun, saya khawatir orang-orang Kementerian Sihir akan memiliki keraguan bahwa penemuan Anis-sama adalah penistaan terhadap roh dan dewa."

Euphie, kau nekat bahas itu!? Ada banyak orang yang jelas-jelas berubah warna wajahnya lho!? Tilty juga sampai menyemburkan tawa dan menahannya! Tunggu, kenapa tiba-tiba mulai bicara soal itu!?

Entah sadar atau tidak kalau aku sedang panik, Euphie melanjutkan kata-katanya.

"Memang ide Anis-sama terlihat berani dan tidak ada sebelumnya, atau dengan kata lain tidak bisa dipahami orang lain. Saya sendiri mengerti jika dilihat demikian. Namun, jika saya boleh menyampaikan sebagai orang yang melihat dari dekat, ilmu sihir adalah wujud penghormatan kepada roh yang bentuknya berbeda dari kepercayaan roh."

Euphie hanya berbicara dengan lantang. Perhatian seluruh aula tertuju pada sosok Euphie yang berpidato dengan gagah. Termasuk aku juga tidak bisa melepaskan pandangan. Semua orang tertelan oleh kata-kata dan aura Euphie.

"Mengetahui dunia, mengetahui hukum alam, mengetahui sihir, semuanya bersatu melahirkan ilmu sihir. Ilmu sihir adalah ilmu pengetahuan, dan sama sekali bukan sesuatu yang meremehkan iman atau tradisi."

Euphie menyatakannya dengan tegas. Memang aku punya pemikiran yang berbeda dari orang lain. Tapi penemuan ilmu sihir dan alat sihir lahir justru karena aku lahir dan tumbuh di negara ini. Euphie mengatakan demikian.

...Hanya dengan kata-kata itu, dadaku rasanya sesak.

"Justru ilmu sihir lahir karena adanya tradisi dan kebijaksanaan yang kita warisi selama ini. Saya berpikir bahwa kelahiran Anis-sama di negara ini adalah sesuatu yang patut dibanggakan."

Euphie menatapku dan tersenyum. Senyuman itu benar-benar terlihat lembut, dan entah kenapa mataku terasa panas. Hal memalukan seperti itu, kalau dibilang langsung di depan muka pasti bakal merah padam kan! Hentikan, ini tempat seminar lho!?

Dia pasti tidak sadar kalau aku memprotes dalam hati. Euphie kembali mengalihkan pandangan dariku ke aula. Membusungkan dada, dan meletakkan satu tangannya di atas dada itu.

"Tolong jangan menghakiminya sebagai sesat, tapi bukalah mata, lihat, dengar, dan pikirkanlah. Ilmu sihir adalah sesuatu yang menempuh jalan pembelajaran. Mengetahui masa lalu, merasakan masa kini, dan melihat masa depan."

Tiba-tiba seseorang meletakkan tangan di bahuku. Itu tangan Tilty. Ekspresi Tilty tersembunyi veil, tapi aku tahu dia sedang tertawa geli.

Jangan menertawakan, aku sedang tidak bisa bercanda nih!

"Jangan memutus jalan pembelajaran sendiri. Semuanya bersama kehendak dan nama roh, saya ingin menyampaikan kepada Anda sekalian bahwa Anis-sama tidak dianugerahi perlindungan roh bukan karena tidak berbakat, melainkan karena roh mengakui bakat itu."

Ada orang yang begitu mengakui aku. Ada Euphie yang berdiri di depan, membelaku.

Aku diberkati keberuntungan. Ada Ilia, ada Ayahanda dan Ibunda, ada segelintir orang yang memahamiku dan membantuku. Itu saja sudah benar-benar membahagiakan.

Ditolak itu menyakitkan. Bukannya tidak terluka, dan perasaan ingin diakui selalu tersisa di dadaku. Rasanya perasaan itu telah dimaafkan.

...Aku mengusap cepat dengan lengan baju agar tidak ketahuan kalau panas di balik mata sudah menjadi air mata yang jatuh.

"Sejak kebangkitan negara kita yang dimulai dari kontrak dengan roh, sudah berapa lama waktu berlalu? Saya berpikir. Sekaranglah saatnya kita berjalan bersama perubahan. Bersama fondasi yang telah kita lalui sampai sini, saya ingin membidik masa depan bersama Anda sekalian. Saya hanya berharap hari ini menjadi langkah pertama untuk hari yang baik itu."

Euphie membungkuk dan menyelesaikan pidatonya. Tepuk tangan pelan dan tenang terdengar. Lalu suara tepuk tangan perlahan bertambah, dan sedikit demi sedikit suara tepuk tangan menyelimuti seluruh aula.












 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar