Gadis Takdir
"Sangat cocok untuk Anda, Tuan Putri."
"...Terima kasih banyak."
Aku merasa lesu melihat diriku sendiri yang telah dirias oleh Ilia. Hari audiensi dengan Baroness Cyan tiba begitu cepat, dan aku didandani dengan pakaian yang pantas untuk seorang putri kerajaan agar bisa hadir di sana.
Meskipun aku tahu ini perlu, aku tetap tidak suka berdandan. Tanpa sadar, desahan melankolis keluar dari mulutku.
"Anis-sama."
"Euphie."
Seolah memastikan aku sudah selesai bersiap, Euphie masuk ke dalam. Euphie mengenakan pakaian biasanya. Hari ini Euphie bertugas menjaga rumah.
"Anda cantik sekali."
"Tidak usah basa-basi, kalau begitu aku berangkat ya."
"...Sebenarnya saya juga ingin ikut hadir, tapi kehadiran saya mungkin akan membuat pembicaraan menjadi rumit. Saya akan menunggu kepulangan Anis-sama di istana terpisah."
Euphie mengatakannya dengan ekspresi cemas. Sepertinya Euphie juga penasaran dengan Baroness Cyan. Hanya saja, aku juga menentang kehadiran Euphie, dan kurasa Ayahanda serta Ibunda juga tidak akan mengizinkannya. Dia hanya bisa menjaga rumah di istana terpisah.
"Aku akan menilainya dengan benar. Semoga saja tidak terjadi apa-apa."
Firasat buruk yang kurasakan sejak beberapa hari lalu masih belum jelas. Kuharap identitas rasa janggal itu bisa terungkap dalam audiensi hari ini. Untuk itu, aku harus mengamati Baroness Cyan dengan seksama.
Meninggalkan Euphie yang mengantar kepergian kami, aku dan Ilia menuju istana kerajaan. Sesampainya di istana, seorang pelayan memandu kami ke ruang tunggu.
Ruangan itu adalah ruang tunggu khusus keluarga kerajaan. Di sana, Ibunda sudah menunggu sambil duduk dengan anggun dan minum teh. Secara refleks aku hendak balik kanan, tapi bahuku ditahan dengan kuat oleh Ilia.
"Yang Mulia Ratu Sylphine, lama tidak berjumpa."
"Ilia, putriku selalu merepotkanmu, ya. Aku benar-benar berterima kasih."
"Kata-kata Anda terlalu berlebihan bagi saya."
Ilia melepaskan tangannya dari bahuku dan membungkuk hormat. Ibunda menatap Ilia dengan puas.
"Sungguh pelayan yang terlalu bagus untuk Anis. ...Kau mengerti kan agar tidak menyia-nyiakan pengabdiannya? Anis."
"Saya mengerti, kok..."
"...Dasar anak ini. Bikin pusing dengan cara yang berbeda dari Algard."
Tidak perlu menghela napas dengan sikap seolah sudah menyerah begitu juga, kan. Aku sadar kok kalau aku banyak dibantu Ilia, dan aku ingin membalas budinya dengan benar. Dia salah satu dari sedikit orang yang bisa kubilang ada di pihakku, jadi dia sudah seperti keluarga sendiri.
"Meskipun aku ingin pensiun, kalau kalian tidak bisa diandalkan, aku tidak akan pernah bisa pensiun..."
"Eh, Ibunda ada niat pensiun!?"
Padahal aku pikir Ibunda pasti akan aktif seumur hidup. Lalu Ibunda memelototiku dengan tatapan tajam.
"Tentu saja. Masa aku harus duduk di kursi diplomat selamanya? Generasi penerus tidak akan berkembang, dan aku pun tidak akan muda selamanya."
"...Ibunda bilang begitu?"
Jujur saja, mendengar Ibunda yang bisa dikira saudari perempuanku oleh orang lain bilang dirinya tidak muda lagi, kedengarannya cuma seperti lelucon. Diplomat sih mungkin, tapi sebagai petarung, Ibunda pasti aktif seumur hidup.
"...Ara, sepertinya Anis menganggapku masih sangat muda. Aku senang, apa itu artinya kau ingin sekali bertarung melawanku?"
"Tentu saja tidak! Mendidik generasi penerus itu juga penting! Saya rasa pemikiran Ibunda sangat luar biasa!"
"Kalau cuma pintar cari alasan begitu, lebih baik pikirkan dulu reaksi lawan bicaramu sebelum bicara. Sekalipun kau melepaskan hak waris takhta, kau tetap anggota keluarga kerajaan. Sebagai orang yang berdiri di atas, kau perlu mengamati reaksi lawan dan menunjukkan respon yang sesuai. Apa kau dengar, Anis!"
Hieeee! Kenapa setiap kali bertemu harus diceramahi sih, tidak adil! Aku menatap Ilia untuk meminta tolong, tapi dia malah tidak mau menatap mataku! Dasar tidak setia kawan!
"Padahal sebentar lagi kita harus menilai kepribadian Baroness Cyan... apa kau mengerti? Anis."
"Uuh, saya mengerti..."
"...Lalu, apa instingmu bekerja?"
Mendengar pertanyaan Ibunda, aku mengubah ekspresiku yang merajuk menjadi serius. Sepertinya pembicaraan serius dimulai dari sini.
"Setidaknya, saya rasa Baroness Cyan tidak punya motif tersembunyi apa pun."
"Begitu ya. Meski begitu, instingmu tetap terganggu?"
"Tidak terlalu jelas, tapi iya."
"Instingmu tidak bisa diremehkan. Hal yang tidak kusadari, sudut pandang yang tidak terpikirkan olehku, itu adalah senjatamu. Jika kau menyadari sesuatu sekecil apa pun, waspadalah."
"Bagaimana menurut Ibunda?"
Mendengar pertanyaanku, Ibunda sedikit menyipitkan mata dan membalas tatapanku. Jika di luar urusan pribadi, aku tidak akan takut pada Ibunda. Ini percakapan penting, jadi bukan waktunya untuk ciut nyali. Tatapan kami bertemu sesaat, lalu Ibunda mengalihkan pandangan dan menjawab.
"Aku tidak tahu. Tapi, faktanya memang ada sesuatu yang terjadi. Bukan berarti instingku bekerja sepertimu, tapi tidak ada salahnya berhati-hati."
"...Saya mengerti."
Rasa janggalku benar-benar hanya intuisi, tapi sepertinya Ibunda merasakan keanehan berdasarkan pengalaman hidupnya. Kurasa Ayahanda juga merasakan hal yang sama. Makanya beliau sengaja menyiapkan tempat audiensi ini.
"Mungkin aneh mengatakannya... tapi alasan aku merasa kau harus hadir adalah karena kau memiliki intuisi itu."
"Ibunda?"
"Kau memang putri yang liar dan tak terduga, tapi bukan berarti aku tidak mempercayaimu. Jika kau menyadari sesuatu, segera beritahu, mengerti? Jangan pernah bertindak gegabah."
"...Baik, Ibunda. Terima kasih."
Jujur saja, kadang aku merasa canggung dengan Ibunda. Tapi aku tidak bisa membencinya. Beliau orang yang tegas dan aku merasa tidak akan pernah bisa menang melawannya, tapi beliau sedikit mengakui keberadaanku. Aku bisa merasakan kalau beliau benar-benar ibuku. Karena itulah aku sangat menghormatinya.
Dan karena kami keluarga, jika ada yang bisa kulakukan untuk membantu, aku ingin melakukannya. Ini juga demi Euphie, dan aku harus menilai dengan benar anak seperti apa Baroness Cyan itu.
"──Sylphine, Anisphia. Sudah waktunya."
Pintu diketuk, dan yang masuk adalah Ayahanda. Sepertinya beliau datang untuk memanggil aku dan Ibunda.
Aku meninggalkan Ilia di ruang tunggu, dan kami sekeluarga menuju Ruang Audiensi. Jumlah orang di Ruang Audiensi sangat minim, dan pengawalnya pun hanya orang-orang kepercayaan Ayahanda seperti Komandan Ksatria Sprout.
Aku membaca suasana, menegakkan punggung agar tidak memalukan sebagai keluarga kerajaan sambil menunggu, lalu dua orang dipersilakan masuk ke Ruang Audiensi.
Salah satunya adalah pria bertubuh besar. Rambut cokelat tua dan mata abu-abu tajam yang berkilat menjadi ciri khasnya, dengan tubuh yang kekar. Sosoknya bisa dibilang sangat mengesankan.
Pria besar itu mengenakan pakaian gaya bangsawan, jadi maaf kata, terlihat agak salah kostum. Jika mendengar dia adalah Baron Dragus Cyan yang dulunya petualang, penampilannya jadi masuk akal.
Dan yang masuk berjalan selangkah di belakang Baron Cyan adalah gadis yang berada di samping Al-kun saat kejadian pembatalan pertunangan──Baroness Lainie Cyan.
Rambut hitam berkilau dan mata abu-abu yang cenderung menunduk. Saat bersanding di sebelah Baron Cyan, tubuhnya yang mungil terlihat mencolok. Penampilannya sangat rapuh, dan wajahnya yang tampak murung dipenuhi kesedihan. Benar-benar gadis yang cocok disebut gadis cantik yang malang.
"Baron Cyan. Dan putrinya, Lainie. Selamat datang."
Ayahanda menyapa Baron Cyan dan Nona Lainie yang berlutut. Baron Cyan yang tetap berlutut terlihat sangat tegang, sampai-sampai yang melihatnya pun jadi merasa kasihan. Tubuh sebesar itu bahkan terlihat menyusut kecil.
"Angkat wajahmu, aku izinkan bicara."
"Hamba! Kali ini putri hamba yang tidak berbakti telah melakukan ketidaksopanan yang luar biasa! Mohon, mohon ampunilah kami!"
Mungkin saking paniknya, meskipun sudah disuruh mengangkat wajah, Baron Cyan tetap menundukkan kepala dalam-dalam, seolah hendak bersujud. Bahkan, dia mulai memohon belas kasihan dengan suara lantang yang sesuai dengan postur tubuhnya.
Melihat keadaan Baron Cyan, Ayahanda sedikit mengerutkan kening, namun segera mengembalikan ekspresinya. Lalu sekali lagi, beliau mendesak Baron Cyan untuk mengangkat kepala.
"Tenanglah, Baron Cyan. Pertemuan ini diadakan untuk memperjelas kebenaran. Aku sama sekali tidak berniat menyalahkan dosa seseorang tanpa mengetahui kebenarannya. Pertama-tama, santailah dulu."
"...Hamba, mohon maaf. Kata-kata Yang Mulia sungguh menyentuh hati hamba."
Ekspresinya masih tegang, tapi Baron Cyan akhirnya mengangkat wajahnya. Jelas terlihat dia sangat kelelahan. Mengingat posisinya, Baron Cyan juga berada di posisi yang sulit. Dalam hal kesulitan sebagai ayah, mungkin tidak jauh berbeda dengan Ayahanda.
Aku tidak merasakan kesan buruk dari Baron Cyan. Dari sikapnya, kemungkinan bahwa pendidikan orang tua yang buruk menjadi penyebabnya, telah hilang dari pikiranku. Sambil berpikir begitu, aku mengalihkan pandangan dari Baron Cyan ke Nona Lainie. Wajah Nona Lainie yang masih berlutut tidak terlihat.
"Mengenai pembatalan pertunangan Algard dan Euphyllia, memang sejak awal sudah ada kesulitan. Di tengah situasi itu, kami mengetahui bahwa Algard mendekati putrimu dan menjalin hubungan asmara."
"A-asmara apanya... mengingat status kami, itu hal yang sangat mustahil. Jika hanya selir mungkin masih masuk akal, tapi putri hamba tidak pernah berpikir untuk menyingkirkan tunangan yang sah..."
"Kalau begitu, Algard yang mendekati secara sepihak?"
"Ti-tidak, hamba tidak bilang begitu! Memang benar karena Lainie adalah anak angkat, ada aspek pendidikan bangsawannya yang kurang memadai. Karena kekurangan itu, tampaknya dia sempat merepotkan Pangeran di akademi, namun meskipun dia berterima kasih atas bantuan itu, bukan berarti mereka menjalin hubungan asmara..."
"Namun, faktanya Algard terdorong oleh kemarahan demi Nona Lainie hingga memutuskan pembatalan pertunangan dan pemakzulan. Ini adalah fakta. Aku tidak bisa menganggap tidak ada perasaan asmara di sana."
Mendengar kata-kata Ayahanda, Baron Cyan tampak sangat ketakutan dan menyusutkan bahunya. Ayahanda memindahkan pandangannya dari Baron Cyan ke Nona Lainie.
"Lainie Cyan. Angkat wajahmu."
Didesak oleh Ayahanda, perlahan Nona Lainie mengangkat wajahnya. Kerapuhan yang seolah bisa menghilang kapan saja, meski ada ketegangan di wajahnya, tidak terlihat warna emosi. Matanya tidak memancarkan cahaya, seolah-olah kekosongan telah dituang ke dalamnya.
Dilihat lagi, dia benar-benar nona muda yang menggemaskan. Masuk akal jika suasana rapuh ini hilang dan dia tersenyum, pria mana pun akan terpesona. Gadis cantik yang jenisnya berbeda dari Euphie. Hanya saja jujur, dipadukan dengan ekspresinya, dia tidak terlihat seperti manusia. Mungkin aku akan percaya sesaat jika dibilang dia boneka.
"Aku izinkan bicara. Aku tanya terus terang... bukankah kau menjalin hubungan asmara dengan Algard?"
Saat Ayahanda bertanya, perhatian tertuju pada Nona Lainie. Di tengah perhatian itu, Nona Lainie membuka mulutnya.
"──Tidak."
Suaranya begitu indah hingga sejenak aku meragukan telingaku sendiri. Suara yang menyelinap masuk ke telinga dengan begitu halusnya, sampai-sampai aku merasa ilusi seolah tempat ini telah dikuasai hanya dengan satu suara itu.
"Itu hal yang sangat mustahil. Saya sama sekali tidak memikirkan hal yang begitu berlebihan bagi diri saya. Jika saya tidak mengatakan bahwa saya menyukai Algard-sama, itu bohong. Namun, saya sama sekali tidak berniat membuat masa depan keluarga kerajaan menjadi suram."
Semua orang terpaku mendengarkan suaranya yang berbicara dengan lantang dan jelas. Seolah-olah gerakan Nona Lainie yang menundukkan mata, bahkan getaran bibirnya saat mengambil napas sedikit pun, tidak boleh dilewatkan.
Berapa lama keheningan itu berlangsung? Seolah baru tersadar dari pengaruh suasana Nona Lainie, Ayahanda menyentakkan bahunya dan berdeham.
"...Begitu ya. Tampaknya tidak ada kebohongan dalam kata-katamu."
Udara yang tenang mulai mengalir seolah menyatukan suasana. ──Di sisi lain, aku diserang rasa janggal yang luar biasa.
(Menjijikkan...)
Perasaan seperti ada selaput tipis yang terbentang mulai menyebar. Tidak ada yang membantah Ayahanda, semua menurunkan pandangan seolah berkata 'mau bagaimana lagi'. Bahkan Ibunda sekalipun.
Semua orang seolah mengakui bahwa Nona Lainie tidak salah. Udara seperti itu menyebar. Rasa janggal terhadap udara itu semakin kuat, dan rasanya semakin menjijikkan.
Lalu, tiba-tiba rasa panas menjalar di "punggungku". Panas yang lahir dari punggung itu menyebar ke seluruh tubuh, dan tubuh yang terstimulasi oleh panas itu menjadi gatal. Kemudian, rasa gatal itu menggerakkan tubuhku tanpa kemauanku sendiri.
"──Haaatchiiiim!!"
Bersinku membuat seisi ruangan hening. Tatapan mata berpindah dari Nona Lainie dan terpusat padaku. Sebagai ganti rasa janggal yang seolah melapisi kesadaran tadi menghilang, kini tatapan dingin menusukku silih berganti.
(...Ah, gawat, senyuman Ibunda mengerikan sekali. Aku mungkin akan mati nanti.)
Ibunda tersenyum sambil memancarkan tekanan yang seolah bisa memenggal leherku kapan saja. Bahu Ayahanda gemetar hebat, dan Baron Cyan membelalakkan mata menatapku.
Nona Lainie pun membuka mulutnya karena terkejut. Di tengah semua orang yang tak bisa bergerak, Ayahandalah yang bergerak duluan.
"...Anis... kau ini... benar-benar...!"
"Bu, bukan! Ayahanda! Izinkan saya bicara! Anisphia ini, ada yang ingin saya sampaikan!"
"Aku tidak mau dengar alasan!"
"Bukan begitu! Tolong berikan saya waktu!"
"Eei, kau mau buang ingus atau apa!"
"Saya tidak bercanda, ini pembicaraan serius!"
Mendengar permohonanku, Ayahanda yang tadinya marah besar tampaknya menyadari sesuatu yang janggal dan menatapku lurus-lurus. Aku pun membalas tatapan Ayahanda dengan berani, dan mengatur napas terlebih dahulu.
"Ayahanda, pertama-tama bisakah saya minta ruangan ini dikosongkan dari orang lain?"
"Apa katamu? Apa yang mau kau lakukan, Anis?"
"Ada sedikit hal yang ingin saya tanyakan pada Nona Lainie. Ini mungkin menyangkut harga dirinya, jadi saya ingin memastikannya dengan jumlah orang sesedikit mungkin."
"Eh...?"
Yang bereaksi paling cepat terhadap permintaanku adalah Nona Lainie yang namanya kusebut. Sepertinya dia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan ini, wajahnya terlihat memucat karena ditunjuk langsung olehku yang seorang putri.
"...Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Anis."
"Ya, Ayahanda. Saya sampaikan bahwa ini adalah hal yang perlu didengar sebagai putri negeri ini."
"...Muu."
Aku mengedepankan posisiku yang biasanya jarang kugunakan untuk mengajukan usul pada Ayahanda. Ayahanda yang tadinya kecurigaannya terhadap Nona Lainie sudah hampir hilang, memasang wajah tidak mengerti apa yang sebenarnya kukhawatirkan, dan tampak ragu untuk memutuskan.
Yang mendorong punggung Ayahanda adalah Ibunda. Ibunda menatapku dengan ekspresi tegas sambil meletakkan tangannya dengan lembut di punggung Ayahanda.
"Baiklah, Yang Mulia."
"Sylphine...?"
"Saya percaya pada intuisi Anis. Jika anak ini sampai berkata begitu, mungkin dia telah menangkap sesuatu. Memastikan kebenarannya bisa dilakukan setelah itu."
Mendengar perkataan Ibunda, Ayahanda mengerutkan kening. Beliau menatap aku dan Nona Lainie bergantian, lalu mengerang pelan. Sebelum Ayahanda mengambil keputusan, Baron Cyan-lah yang maju ke depan.
"Tu, tunggu sebentar, Putri Anisphia! Putri hamba benar-benar tidak merencanakan apa pun...!"
"Tenanglah, Baron Cyan. Saya tidak mengajukan pembicaraan ini untuk menyalahkan atau menghukum Nona Lainie."
"Tapi!"
"Bisakah Anda mempercayai saya? Saya sama sekali tidak berniat menyakiti putri Anda."
Biasanya kata-kataku mungkin akan dianggap tidak bisa dipercaya dan dicari-cari kesalahannya, tapi kali ini aku harus memastikannya meski harus menggunakan gelar putri sebagai tameng. Jujur saja, aku sangat terbantu karena Ibunda langsung mempercayai penilaianku.
Permintaanku yang tiba-tiba membuat semua orang yang berkumpul di Ruang Audiensi saling berbisik pelan. Udaranya tidak terlalu positif, tapi karena Ibunda yang pertama kali mendukungku, situasinya menjadi sulit bagi mereka untuk membantah.
"Putri Anisphia, bukankah permintaan Anda ini agak terlalu mendadak?"
"...Earl Chartreuse."
Satu-satunya orang yang maju ke depan dan menyampaikan keberatan padaku adalah seorang pria berambut perak yang bertubuh gemuk. Dialah Earl Chartreuse, kepala Kementerian Sihir. Dia mengelus perut buncitnya yang tampak berat. Perut buncit itu entah karena faktor usia, atau kurang olahraga setiap hari. Atau mungkin karena dia menikmati kehidupan yang begitu makmur. Terus terang, bentuk tubuhnya tidak sedap dipandang.
Sekilas terlihat tenang, tapi itu hanya luarnya saja. Sejak dulu orang ini selalu melontarkan sindiran padaku, dan kami saling menganggap satu sama lain sebagai musuh bebuyutan. Meskipun begitu, posisinya sebagai Kepala Kementerian Sihir dan penasihat membuatnya tetap berada di sini.
Earl Chartreuse memandang berkeliling ke orang-orang di Ruang Audiensi sebelum melanjutkan perkataannya.
"Mengosongkan ruangan untuk menginterogasi nona muda yang lemah, bukankah mustahil menyuruhnya untuk tidak ketakutan?"
Menanggapi sindirannya yang sangat menyebalkan itu, aku menjawab dengan menempelkan topeng senyuman.
"Saya mengerti apa yang Earl Chartreuse katakan. Namun, tampaknya tidak ada orang lain selain saya yang menyadarinya, jadi saya angkat bicara. Jika itu salah, saya bisa saja menuduhnya dengan kecurigaan yang tidak berdasar. Kecurigaan dari keluarga kerajaan adalah sesuatu yang tidak boleh dipertontonkan di depan umum, bukan? Karena itulah saya mengajukan permintaan untuk berbicara langsung dengan Nona Lainie."
"Kecurigaan? Putri Anisphia, Anda mencurigai putri Baron Cyan?"
Tatapan Earl Chartreuse menyipit, memberikan tekanan seolah ingin menembusku. Agar tidak kalah dari tekanan itu, aku mengeraskan perut dan membusungkan dada.
"Apakah ada yang tidak puas dengan permintaan saya? Earl Chartreuse."
"...Tidak, saya hanya bertanya-tanya mengapa Anda begitu bersikeras ingin berbicara langsung dengan Nona Lainie. Jangan-jangan, Anda berniat mengancam Nona Lainie demi Nona Euphyllia yang Anda lindungi?"
...Udara di ruangan itu seketika menjadi dingin. Yang paling dingin, pastilah tidak lain adalah diriku sendiri.
"──Hanya itukah yang ingin Anda katakan? Earl Chartreuse."
Suaraku terdengar sangat dingin sampai-sampai aku sendiri merasa aneh. Berbanding terbalik dengan amarah yang mendidih dari lubuk perutku, kepalaku justru semakin dingin.
"Anda berpikir bahwa saya, yang hadir di sini sebagai keluarga kerajaan, akan melakukan perilaku seperti itu. Apakah saya boleh menganggap Anda berpikir demikian? Earl Chartreuse."
Alis Earl Chartreuse terangkat sesaat mendengar pertanyaanku. Aku sengaja menekankan status keluarga kerajaan sebagai konfirmasi terakhir apakah kata-kata itu pantas ditujukan kepada anggota keluarga kerajaan.
"...Tidak, Putri Anisphia adalah orang yang penyayang, namun ini hanyalah nasihat setia karena saya khawatir Anda mungkin salah mengambil keputusan."
"Kalau begitu kekhawatiran Anda tidak perlu. Peran saya di sini adalah untuk mengungkap kebenaran. Untuk itu, saya tidak akan memihak siapa pun. Saya bersumpah demi roh bahwa saya tidak akan menyakiti atau mengancam Nona Lainie."
Aku mengepalkan tangan dan meletakkannya di atas jantungku untuk menyatakan sumpah. Sebagai Kepala Kementerian Sihir, dia seharusnya tidak bisa mengabaikan sumpah yang melibatkan doa kepada roh ini. Benar saja, terlihat jelas wajah Earl Chartreuse berubah masam.
"Putri Anisphia sudah berkata sampai sejauh itu. Kalau begitu, bukankah seharusnya kita undur diri?"
"Duke Magenta..."
Yang menengahi suasana yang mulai memburuk itu adalah Duke Grantz. Setelah menatapku sekilas, Duke Grantz mengarahkan pandangannya pada Ayahanda.
Mungkin karena ditatap oleh Duke Grantz, Ayahanda akhirnya membulatkan tekadnya. Beliau menatapku lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Aku izinkan. Kita akan beri ruang untuk percakapan Anis dan Nona Lainie. Karena itu, kalian semua, mundurlah untuk sementara."
Deklarasi tegas Ayahanda membuat para bawahan yang dikumpulkan terdiam. Lalu satu per satu, mereka membungkuk dan meninggalkan Ruang Audiensi. Earl Chartreuse yang bertahan sampai akhir pun meninggalkan Ruang Audiensi tanpa berkata apa-apa.
"Sa, saya juga mohon izinkan hadir! Putri Anisphia!"
Yang maju ke depanku dan berlutut adalah Baron Cyan. Mungkin karena orang-orang sudah berkurang dia jadi bisa maju, dia memohon padaku dengan putus asa.
Aku bisa melihat Nona Lainie menatap punggung ayahnya dengan cemas. Aku menghela napas pelan, lalu berlutut untuk menyamakan pandangan dengan Baron Cyan.
"Baron Cyan, saya benar-benar tidak berniat menyakiti putri Anda. Jadi bisakah Anda mempercayai saya dan menunggu di luar?"
"...T-tapi...!"
"Baron Cyan, lebih dari itu sudah termasuk tidak sopan. Mari kita mundur bersama."
"Duke Magenta..."
Yang menegur Baron Cyan adalah Duke Grantz. Menyadari bahwa dia tidak bisa memohon lagi setelah ditegur Duke, Baron Cyan terdiam dengan kesal. Kesan saat dia menatap Nona Lainie dengan cemas sebelum didesak Duke Grantz untuk meninggalkan Ruang Audiensi sangat membekas.
Setelah orang-orang pergi, yang tersisa adalah Ayahanda, Ibunda, aku, dan Nona Lainie. Nona Lainie gemetar dengan wajah pucat seolah akan pingsan kapan saja. Melihat keadaannya, aku menatap Ayahanda dan Ibunda.
"Maaf, Ayahanda, Ibunda. Pertama-tama saya akan memastikannya di ruangan lain, bisakah kalian menunggu sampai saat itu?"
"Kami juga?"
"Tolong. Saya akan membiarkan Ilia mendampingi."
"...Baiklah. Segera setelah kekhawatiranmu teratasi, panggil kami. Mengerti?"
Aku mengangguk menanggapi peringatan Ibunda. Kemudian aku berjalan mendekati Nona Lainie. Karena aku mendekat, Nona Lainie menatapku dengan ketakutan.
"Salam kenal, Nona Lainie. Aku tidak bisa bilang jangan takut... tapi pertama-tama aku ingin kau ikut denganku. Anggap saja ini demi kebaikanmu, ya?"
"...Baik."
Seolah menyembunyikan gemetarnya, Nona Lainie menjawab pelan dan mengangguk. Aku memegang tangannya yang gemetar dan mengantarnya keluar dari Ruang Audiensi. Tujuan kami adalah ruang tunggu keluarga kerajaan tempat Ilia menunggu.
Selama tangannya kutarik, Nona Lainie gemetar begitu hebat hingga membuatku kasihan. Sambil memperhatikan Nona Lainie, kami masuk ke ruang tunggu keluarga kerajaan.
"...Tuan Putri? Apa yang terjadi?"
Ilia yang sedang menunggu di ruang tunggu mendekati kami dengan wajah heran.
Saat dia menyadari aku sedang mengantar Nona Lainie, ekspresinya berubah menjadi semakin bingung.
"Ada sedikit urusan. Nona Lainie, duduklah dulu."
Setelah memastikan Nona Lainie mengangguk, aku mendudukkannya di kursi. Gemetar tubuhnya membuat kursi berbunyi katakata, membuatku tahu dengan jelas bahwa Nona Lainie sedang dalam keadaan tegang. Ilia pun tampaknya merasa kasihan pada Nona Lainie, alisnya masih berkerut.
"Maaf ya tiba-tiba begini, ada hal yang benar-benar harus kupastikan."
"Pastikan...?"
"Aku ingin memeriksa dirimu sebentar."
"...Anu, saya, benar-benar tidak melakukan apa pun...!"
Wajah Nona Lainie memucat dan dia menggelengkan kepala. Jujur saja, aku tahu beban mentalnya sangat besar. Tapi aku tidak bisa mengiyakannya.
"Untuk membuktikannya, aku ingin kau percaya padaku. ...Ah, tidak. Aku sadar kau tidak akan percaya. Anggap saja ini perintah dari putri kerajaan dan patuhilah."
Perintah putri kerajaan. Kata-kata itu membuat Nona Lainie menyusut. Matanya yang basah oleh air mata menatapku, terdistorsi oleh ketakutan.
"Aku tahu ini tidak sopan. Nanti aku akan minta maaf sebanyak apa pun. Tapi kalau tidak diperjelas di sini, posisimu akan tidak menguntungkan."
"...Tidak mungkin..."
"Jawabannya cuma ya. Mengerti?"
"...Ya."
Nona Lainie menunduk sambil mengeluarkan suara putus asa. Aku berjalan ke belakang punggungnya dan menyentuh punggungnya dengan lembut.
"Hya, a, apa yang?"
"Diam. Aku tidak akan melakukan apa-apa."
"Ta, tapi..."
Aku mengabaikan reaksi Nona Lainie. Perlahan aku menjalankan ujung jariku menelusuri tubuhnya. Menelusuri tulang punggung, lalu dari bahu ke lengan secara berurutan sambil memusatkan kesadaran.
"...Permisi."
"Hyaa!?"
Tangan selanjutnya beralih ke dadanya. Sambil menahan Nona Lainie yang menjerit lucu dari belakang agar tidak bergerak, aku menyentuh dadanya dengan jari.
"...Begitu ya. Sudah cukup."
Aku melepaskan tanganku yang menahannya dari belakang dan membebaskan Nona Lainie. Nona Lainie memeluk tubuhnya sendiri dan menatapku dengan mata berkaca-kaca. Air mata yang menggenang sepertinya akan tumpah kapan saja.
Meskipun ini perlu, sepertinya menyentuh dadanya untuk memeriksa telah memicu rasa krisisnya. Sambil merasa sedikit canggung, aku menghela napas.
"Nona Lainie, aku akan menanyakan hal yang sangat tidak terduga sekarang."
"...Apa itu...?"
Masih memeluk tubuhnya dengan waspada, dia menjawab untuk mendesak pertanyaanku. Aku mencoba memilih kata-kata, tapi akhirnya memutuskan untuk bertanya langsung karena tidak tahu cara bertanya yang baik.
"──Kau, sadar tidak kalau kau menggunakan 'sihir'?"
"...E?"
Nona Lainie mengeluarkan suara bingung seolah tidak menduganya. Dia menggelengkan kepala seolah tidak mengerti apa yang kukatakan.
"...Begitu ya, tidak sadar ya. Ini benar-benar 'masalah yang merepotkan'..."
"Eh, anu, saya, menggunakan sihir..."
"Kau tidak sadar? Kau itu mencoba melakukan 'intervensi mental' padaku dengan sihir, lho?"
"............Eh?"
"Atau mungkin, sekarang pun masih. Rasanya merinding. Mungkin kau juga menggunakan sihir yang sama pada orang-orang yang ada di Ruang Audiensi tadi. Cuma, jujur saja ini bukan sihir biasa."
"Eeh...!? Sa, saya, t-tidak tahu! Saya tidak melakukan apa-apa!"
Wajah Nona Lainie yang tadinya pucat kini hampir memutih sepenuhnya saat dia menggelengkan kepala. Aku meletakkan tangan di kedua bahu Nona Lainie yang tampak hampir histeris, menahannya agar tetap duduk.
"Iya, aku paham! Aku sudah paham kalau Nona Lainie tidak menggunakannya atas kemauan sendiri! Aku juga sudah agak paham penyebabnya!"
"Penyebab...?"
"Nona Lainie. Kau, kemungkinan besar bukan manusia biasa."
Nona Lainie berhenti bergerak seolah tidak mengerti apa yang dikatakan padanya. Mata abu-abunya terbuka lebar, dan air mata yang menggenang di matanya jatuh.
"...Bu, bukan, manusia, biasa...?"
"Tuan Putri, apa maksudnya?"
"Inilah alasanku mengosongkan ruangan, firasatku yang tidak kuinginkan terjadi malah tepat sasaran... Dengar ya, Nona Lainie. Dengarkan dengan tenang, oke? Di jantungmu──ada sesuatu yang kurasa adalah 'Batu Sihir'."
Kata-kataku membuat Ilia pun berhenti bergerak. Terlihat jelas ekspresi terkejut mewarnai wajah mereka berdua.
"Ba, batu sihir itu... eh? Kenapa...?"
"...Itu, artinya, dia adalah monster...?"
Wajah Nona Lainie menegang karena ketakutan dan kebingungan, sementara Ilia bergumam dengan ekspresi kaget.
Benar, seharusnya hanya monster yang memiliki Batu Sihir. Manusia tidak mungkin punya Batu Sihir.
Artinya ada kemungkinan Nona Lainie bukan manusia. Tapi, itu hal yang mustahil. Jadi aku mengerti keterkejutan mereka berdua. Aku pun kaget kok.
"Aku menyadarinya juga kebetulan. Kebetulan, aku sudah memasang mantra pada diriku untuk menahan sihir Nona Lainie. Tapi karena kelihatannya tidak dilakukan dengan sengaja, Nona Lainie juga mungkin tidak sadar ada Batu Sihir di dalam tubuhmu, kan?"
"Ti, tidak mungkin... a, aku... bu, bukan manusia, kah...?"
"Tidak tahu. Belum bisa dipastikan, makanya aku mengosongkan ruangan. Agar tidak menambah kesalahpahaman terhadapmu."
"...Demi saya..."
Di sini Nona Lainie tampaknya mulai percaya bahwa kecurigaannya terhadapku sudah hilang, atau dia mengerti bahwa aku tidak berniat menyakitinya, dia terlihat rileks dan tenang.
"Ya. Tampaknya, kekuatan Batu Sihir yang kau miliki bekerja pada mental orang lain. Mungkin membuat mereka menyukaimu, atau memancing keinginan untuk melindungimu... sederhananya, kurasa itu kekuatan 'Pemikat'."
"...Pemikat, kah?"
Nona Lainie membelalakkan mata dan menanggapi kata-kataku dengan bengong. Aku mengangguk mantap.
"Benar. Jika itu benar adanya, rasa janggalku jadi masuk akal. Siapa pun ingin memihak Nona Lainie, jika itu adalah hasil dari terkena kekuatan pemikat dan diarahkan untuk melindungi Nona Lainie..."
"──Benarkah begitu!? Apa benar ada penyebab kenapa orang-orang menyukai saya secara tidak wajar!?"
Tiba-tiba Nona Lainie mencengkeramku dengan putus asa. Sambil menahan Nona Lainie, aku memutar bola mataku bingung.
"No, Nona Lainie?"
"Benarkah begitu!? Saya, selama ini, menggunakan kekuatan pemikat seperti itu!?"
"Yah, itu sih aku tidak tahu pasti... tapi kalau tidak sadar, kemungkinannya tinggi..."
Mendengar jawabanku, Nona Lainie kembali duduk di kursi seolah kehilangan tenaga. Air mata bercucuran dari kedua mata Nona Lainie yang tampak kosong seperti kehilangan jiwanya.
"Sa, say, saya... sejak dulu... disukai orang... tapi, karena itu, se, semua orang, jadi jahat, atau mengkhianati... di, dibully... itu, terus membuat saya takut... saya mencoba agar tidak terlalu disukai orang, agar tidak menonjol...!"
Aku bingung harus berbuat apa melihat Nona Lainie yang menangis sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya dan sesenggukan. Namun, sebelum aku bergerak, Ilia dengan lembut menyentuh bahu Nona Lainie seolah memeluknya.
Saat dipeluk Ilia, Nona Lainie menangis semakin keras seolah tak tertahankan lagi. Kesedihannya begitu dalam hingga aku pun hampir mengerutkan kening. Pasti ini adalah masalah yang sangat besar bagi Nona Lainie.
...Tapi, agak tidak terduga Ilia bisa sepeduli itu pada orang lain. Sepertinya Ilia melakukannya secara alami, aku jadi ngeri dengan besarnya pengaruh pemikat itu. Kekuatan Nona Lainie pasti asli.
(Tidak, tapi, bahaya juga ya...)
Di tubuh Nona Lainie bersemayam Batu Sihir yang diduga memiliki kekuatan pemikat. Aku bisa menyadari kekuatan Nona Lainie karena kebetulan, aku sedang melakukan penelitian bersama Tilty dan ada pengamatan yang sedang berjalan. Kalau tidak ada itu, mungkin aku juga sudah kena pemikat.
(...Bahaya banget, waktunya mepet sekali)
Jangankan Ayahanda, Ibunda saja tidak sadar. Kalau begitu murid-murid di Akademi Bangsawan tidak mungkin sadar kalau kena pemikat. Dipikir bagaimanapun kekuatan Nona Lainie terlalu berbahaya. Apa jadinya kalau ini dibiarkan begitu saja.
"...Tuan Putri."
Ilia menatapku sambil mengelus punggung Nona Lainie. Tidak bisa dibiarkan begini, tapi harus bagaimana ya. Pertama-tama harus bicara pada Ayahanda dan yang lainnya...
Setelah menunggu Nona Lainie tenang, aku meminta Ilia memanggil Ayahanda dan Ibunda. Nona Lainie yang menangis sampai matanya bengkak merah, kini duduk tenang meski masih sesenggukan.
"...Sudah tenang?"
"...Maaf saya jadi histeris."
"Tidak apa-apa. ...Tiba-tiba dibilang begitu, tidak mungkin bisa tenang kan?"
"Ya... tapi, entah kenapa saya merasa lega..."
"Lega?"
"...Bahwa sayalah yang membuat semua orang jadi aneh. Akhirnya saya bisa menerimanya..."
Meskipun berkata begitu, dadaku terasa sesak melihat Nona Lainie tersenyum lemah. Dia anak yang murni dan baik setelah diajak bicara. Anak yang begitu lembut, tidak pantas memiliki kekuatan khusus seperti itu.
Anak seperti itu, saat tahu dirinya memiliki kekuatan yang bisa membuat orang gila, hal pertama yang dipikirkannya adalah rasa lega, apakah cerita seperti itu boleh ada?
"...Apa sejak dulu sering begitu?"
"Ya. Apakah Anda tahu saya pernah tinggal di panti asuhan? Sejak saat itu."
"Panti asuhan... Kudengar Baron Cyan memungutmu setelah masuk panti asuhan, ibumu?"
"Awalnya saya bepergian dengan ibu, tapi ibu meninggal karena sakit saat saya masih kecil. Setelah itu saya dititipkan di panti asuhan."
"...Begitu ya."
Jika Nona Lainie punya Batu Sihir, kemungkinan penyebabnya ada pada ibunya. Sayang sekali ibunya sudah meninggal, tapi mungkin itu juga melegakan. Seandainya ibu Nona Lainie memiliki kekuatan yang sama...
"Tuan Putri, saya membawa Yang Mulia dan Ratu."
Suara Ilia menarik kesadaranku yang tenggelam dalam pikiran. Di belakang Ilia, Ayahanda dan Ibunda masuk, tampak sedikit terkejut melihat Nona Lainie yang matanya merah.
"Anis, apa ada yang kau ketahui?"
"Ya. Ibunda, Ayahanda. Mohon dengarkan dengan tenang."
Aku membetulkan posisi dudukku lalu memberitahu mereka berdua tentang Batu Sihir Nona Lainie. Mendengar tentang kekuatan pemikat, mereka berdua memasang wajah tidak percaya.
"Tak kusangka, ada manusia yang memiliki Batu Sihir..."
"Ya. Tapi, tidak bisa dibilang kekuatan itu berada di bawah kendali. Jadi kemungkinan kekuatan itu aktif tanpa pandang bulu membuat orang menyukainya, sehingga memicu keretakan dalam hubungan manusia."
"...Begitu, ya."
Ayahanda menghela napas sambil memegangi kepalanya yang tampak sakit. Aku juga ingin menghela napas rasanya.
Menggantikan Ayahanda yang terdiam, Ibunda melanjutkan pembicaraan. Beliau menatapku dengan ekspresi serius.
"Aku mengerti ceritanya. Lalu, menurutmu apa yang harus kita lakukan? Anis."
"...Hmm. Pertama-tama saya rasa kita perlu mencari cara untuk mengendalikan kekuatan Nona Lainie."
"Tapi, kekuatannya berbahaya. Untung saja kau menyadarinya secara kebetulan, tapi bahkan aku dan Yang Mulia tidak menyadarinya. Kekuatan itu bisa mengancam negara."
Mengancam negara, kata-kata Ibunda itu membuat Nona Lainie gemetar kecil. Ilia dengan lembut menopang Nona Lainie yang gemetar dengan wajah pucat pasi. Ibunda melirik Nona Lainie sekilas seolah mengamati keadaannya, tapi segera mengembalikan pandangannya padaku.
Memang kekuatan Nona Lainie berbahaya. Poin fatalnya adalah tidak ada yang sadar saat digunakan, dan kali ini untungnya Nona Lainie tidak sadar jadi hanya sampai tingkat ini.
Kekhawatiran Ibunda jika ini digunakan secara sengaja untuk menggoda seseorang bisa dimengerti. Apalagi Nona Lainie tidak menyadari kekuatannya jadi tidak bisa mengendalikannya. Kalau begitu, memutus akar masalah di sini mungkin pilihan yang tepat.
"Meskipun begitu, saya menentang untuk melenyapkan Nona Lainie."
"Kenapa?"
"Karena kita sudah memastikan preseden bernama Nona Lainie. Tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang memiliki kekuatan serupa. Maka, kita harus melindungi kekuatan itu sebagai objek penelitian negara."
Kalau Nona Lainie yang terakhir sih tidak apa-apa. Tapi, kalau ada orang lain yang memiliki kekuatan seperti Nona Lainie, Nona Lainie tidak boleh dilenyapkan.
Untungnya Nona Lainie sendiri anak yang sangat baik. Jika dibilang demi negara, dia pasti tidak akan menolak untuk dilindungi. Dan menurutku, menjadikan dia sebagai kolaborator untuk menganalisis kekuatannya sendiri pasti jauh lebih baik.
"Tidak ada jaminan Nona Lainie bisa mengendalikan kekuatannya di masa depan, kan?"
"Kalau begitu, saya yang tidak mempan terhadap pemikat Nona Lainie yang akan melindungi dan mengawasinya, kan?"
Lagipula kekuatan Nona Lainie berasal dari Batu Sihir. Itu sangat layak untuk kuteliti. Ada banyak keuntungan bagiku untuk melindunginya.
Ibunda menatapku lekat-lekat beberapa saat, lalu menutup mata dan menghela napas panjang.
"...Baiklah. Tapi, faktanya dia berbahaya. Jika kau tidak bisa menanganinya, tidak ada pilihan selain melenyapkannya. Kau akan mengambil tanggung jawab itu, begitu kan? Anis."
"Ya. Saya akan bertanggung jawab melindungi Nona Lainie."
Mendengar jawabanku, Ibunda meletakkan satu tangan di dahinya lalu membungkuk ke depan. Terlihat sangat lelah. Aku mengerti beban pikirannya besar, jadi aku tidak bisa berkata apa-apa.
"...Mengingat Algard, menitipkannya padamu mungkin bukan yang terbaik, tapi tidak ada pilihan lain. Kita akan batasi informasi sebisa mungkin, dan merahasiakan informasi tentang Nona Lainie. Begitu saja, ya?"
"...Benar juga. Aku mengerti kekhawatiran Sylphine, tapi memikirkan masa depan, jika Nona Lainie bisa mengendalikan kekuatannya sendiri, itu lebih baik."
Ibunda menatap Ayahanda seolah meminta konfirmasi. Ayahanda yang ditanya Ibunda mengangguk tanda setuju. Mendengar jawaban mereka berdua, aku menghela napas lega karena pembicaraan tentang Nona Lainie yang akan segera dilenyapkan sudah hilang.
"Lalu siapa saja yang boleh tahu dan sampai sejauh mana? Karena tidak bisa diungkapkan semuanya, orangnya harus dipilih dengan ketat, kan?"
"Umu. Kita beritahu Grantz, lalu kita harus jelaskan pada Baron Cyan. Meskipun diletakkan di bawah pengawasanmu, kita tidak bisa mempublikasikannya, perlu menyamakan cerita. Sebaiknya kita buat cerita Nona Lainie keluar rumah untuk pemulihan kesehatan, dan diam-diam ditempatkan di istana terpisahmu."
"Komandan Ksatria Sprout bilang putranya ikut serta dalam pemakzulan, kan. Dia pihak yang terkait, mari kita libatkan dia juga."
Aku tidak bisa melakukan manuver politik jadi serahkan saja pada mereka. Dan lingkungan istana terpisah sangat ideal untuk melindungi sekaligus menyembunyikan Nona Lainie. Karena aku membatasi orang keluar masuk, ada keuntungan tidak mudah dilihat orang. Lagipula tidak ada orang yang suka rela mendekatiku.
Dan aku akan meneliti Nona Lainie dan mencari penanggulangan untuk kekuatannya. Jujur saja, bagiku ini seperti mendapat durian runtuh, jadi aku tidak keberatan menerimanya.
"Nona Lainie. Maaf ya, tapi tidak ada pilihan selain setuju, jadi nurut saja ya."
"Tidak, justru saya yang merepotkan... jika disuruh menurut, saya akan menurut."
Wajah Nona Lainie masih pucat, tapi mungkin karena pembicaraan sudah mengerucut ke arah perlindungan olehku, dia menunjukkan keinginannya dengan jelas.
Tapi, tak disangka dia punya Batu Sihir, fakta yang luar biasa telah terungkap. Orang seperti itu akan dilindungi di bawah pengawasanku, meskipun tidak sopan, aku jadi merasa bersemangat.
"Anis, kau juga pasti akan repot... tapi lakukanlah dengan baik."
"Tentu saja! Ini objek penelitian yang sangat menarik. Saya merasa bertanggung jawab, tapi itu lain soal! Ini lain soal!"
"............Sungguh, bagian dirimu yang itu tuh yang tidak boleh."
"Eh?"
Ibunda menghela napas dengan takjub. Saat aku memiringkan kepala kebingungan, Ibunda menyipitkan mata dan memelototiku.
"Akan ada masalah besar kalau menempatkan Nona Lainie di istana terpisahmu, kan."
"Masalah?"
"Sekarang kau tinggal dengan siapa di istana terpisah?"
"...Ah."
Benar juga, sekarang di istana terpisah ada Euphie!? ...Tidak, tapi situasinya begini, Euphie harus mau menerimanya, tapi apa aku akan tinggal bersama Euphie dan Nona Lainie di istana terpisah mulai sekarang?
Aku tanpa sadar melihat Nona Lainie, dia memasang wajah yang sangat canggung. Ilia yang menopang Nona Lainie menatapku seolah melihat serangga.
...A, are? Ke, kenapa jadi begini ya...?
* * *
"──Hah. Begitu ya."
Diputuskan bahwa Nona Lainie akan dilindungi di istana terpisah. Tentu saja Nona Lainie perlu persiapan dan penjelasan kepada Baron Cyan, jadi dia baru akan masuk ke istana terpisah di kemudian hari.
Sebelum itu, aku harus menjelaskan kepada Euphie tentang masuknya Nona Lainie ke istana terpisah. Aku sudah bersiap-siap sebelum memberitahu Euphie, tapi... reaksi Euphie sangat datar.
Reaksinya yang seolah tidak bersemangat itu justru membuatku bingung. Aku tanpa sadar menatap Euphie untuk mengamati keadaannya.
Mungkin menyadari tatapanku, Euphie mengerutkan kening dengan agak bingung.
"Saya mengerti cerita tentang Nona Lainie. Kekuatan yang menjadi penyebab keributan itu tidak disadari, dan saya tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Nona Lainie. Malah karena dia orang langka yang memiliki Batu Sihir, saya tidak heran jika Anis-sama yang tidak terpengaruh pemikat melindunginya."
"...Euphie tidak masalah dengan itu?"
"Dibilang tidak masalah pun... Saya rasa melakukan itu adalah hal yang benar."
Euphie tampak benar-benar berpikir demikian dari lubuk hatinya. Melihat reaksi Euphie itu, aku tanpa sadar mengerutkan kening. Karena aku merasakan sebagian alasan kenapa Navre-kun dan yang lainnya menganggap Euphie manusia yang dingin.
Euphie benar-benar tidak merasakan apa pun terhadap Nona Lainie. Malah, dia dengan serius berpikir lebih baik melindunginya karena memahami keadaan Nona Lainie.
Orang biasa pasti akan marah. Tunangannya digoda, reputasinya dijatuhkan ke tanah. Tapi Euphie tidak begitu. Karena bagi Euphie itu tidak benar.
Karena berusaha menjadi sempurna, sepertinya dia meninggalkan emosi yang wajar dirasakan manusia. Jika dia berdiri sebagai Ratu, itu pasti benar, tapi sebagai manusia, aku hanya bisa berpikir itu salah besar.
"Anis-sama?"
"Nn... Euphie, itu lho. Aku cuma mikir kau boleh kok lebih marah atau apa."
"Hah..."
Euphie mengerutkan kening bingung mendengar kata-kataku dan terdiam. Pasti Euphie yang sekarang mengerti bagian dirinya yang bisa dibilang kekurangan itu. Makanya dia memasang wajah bingung dan tidak membalas perkataanku.
Tanpa sadar tanganku terulur ke arah Euphie. Aku mengulurkan tangan ke kepalanya, dan membelai rambutnya seperti menyisir.
Euphie yang tiba-tiba dielus kepalanya tampak sedikit terkejut, tapi dia membiarkanku mengelus kepalanya tanpa berkata apa-apa. Melihat matanya sedikit menyipit, aku pun merasa lega.
"Kira-kira bisa akur tidak kalau Nona Lainie datang ke istana terpisah?"
Setelah berhenti mengelus kepalanya, aku bertanya lagi pada Euphie. Sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena elusanku dengan jarinya, Euphie mengangguk.
"Ya, saya benar-benar tidak memikirkan apa pun tentang dia. Malah saya jadi merasa simpati. Kalau dipikir sekarang, ada beberapa hal yang masuk akal..."
"Meskipun tidak sadar, sampai memikat keluarga kerajaan sih ya... katanya itu juga sudah sejak lama."
"Itu... berat ya. Jika itu tanpa pandang bulu, berarti dia disukai oleh banyak orang tak dikenal, kan? Saya rasa itu menyakitkan. Saat di sekolah, tampaknya pernah ada keributan karena memperebutkan Nona Lainie, dan meskipun disukai orang karena kekuatan pemikat, sepertinya itu bukan demi kebaikan dia sendiri."
Sampai ada keributan ya. Tapi, kalau dipikir itu kekuatan yang tidak terkendali dan tanpa pandang bulu, mungkin itu wajar. Dibiarkan menyukai begitu saja, tapi tidak ada balasan rasa suka dari Nona Lainie, itu hanya akan jadi cinta bertepuk sebelah tangan.
Sulit bagi orang untuk terus memendam perasaan yang tidak berbalas. Orang yang merasa cintanya dikhianati mungkin akan bersikap kasar pada Nona Lainie. Kalau dipikir begitu, dia benar-benar malang.
"...Kalau dipikir begitu, seharusnya Euphie juga terpikat lho?"
"Memang faktanya saya memiliki kesan baik pada Nona Lainie, apakah ini efek pemikatnya? Alasan kenapa terlihat tidak berpengaruh, mungkin karena saya dididik secara menyeluruh untuk sengaja membuang emosi saat menilai orang."
"Ada baik dan buruknya, ya. Mungkin juga karena pemikat Nona Lainie tidak memiliki daya paksa sekuat itu."
Kalau begini sepertinya tidak ada masalah mempertemukan Euphie dan Nona Lainie. Sempat khawatir bakal jadi gimana. Jujur saja, dalam artian dipermainkan, keduanya sama-sama korban.
(...Meski dibuat supaya suka, tetap saja Al-kun yang sampai tergila-gila pada Nona Lainie itu yang salah, sih.)
Setelah tahu fakta pemikat itu, Ayahanda dan Ibunda juga tampak bingung bagaimana harus menangani Al-kun. Setidaknya sampai kekuatan pemikat Nona Lainie terungkap, dia akan dikenai tahanan rumah.
Jika Nona Lainie bisa mengendalikan kekuatannya, mungkin pemikatnya juga akan mereda. Setidaknya tindakan Al-kun kali ini benar-benar tidak waras.
(...Lagi ngapain sih, beneran. Dasar bodoh, Al-kun.)
* * *
Persiapan kedatangan Nona Lainie ke istana terpisah sudah selesai. Nona Lainie yang datang diam-diam agar tidak diketahui orang sekitar, terlihat sangat gelisah.
Di depan Nona Lainie ada Euphie, jadi wajar saja dia tidak tenang. Meskipun mereka tidak saling melakukan sesuatu secara langsung, mereka terlibat dalam perselisihan memperebutkan tunangan.
Dari sudut pandang Nona Lainie, status Euphie lebih tinggi, dan dia juga merasa bersalah karena telah membuat pembatalan pertunangan menjadi pasti. Melihat Lainie yang jelas-jelas ketakutan dan menyusut, Euphie tidak menunjukkan ekspresi khusus. Bukan dingin, tapi kosong. Dia tidak memiliki emosi apa pun. Yang melihat malah jadi deg-degan.
"Eeto... kalau begitu, mulai hari ini kita akan tinggal bersama di istana terpisah ini, ayo rukun ya!"
Aku mencoba bicara dengan nada ceria yang dilebih-lebihkan, tapi tetap tidak ada reaksi dari keduanya. Saat aku bingung harus bagaimana, yang membuka mulut duluan adalah Euphie.
"Nona Lainie."
Nona Lainie terlihat jelas menyentakkan bahunya dan menghadap Euphie. Tapi, kata-kata Euphie tidak berlanjut. Dia menatap Nona Lainie dengan ekspresi datar, dan Nona Lainie yang ditatap seperti katak yang dipelototi ular.
"...Maafkan saya. Saya juga tidak tahu wajah seperti apa yang pantas ditunjukkan di saat seperti ini."
"Eh...?"
"Saya sudah mendengar keadaan Nona Lainie. Saya pikir meskipun saya tidak memikirkan apa pun tentang itu, Anda pasti memikirkannya. Jadi, saya berpikir apakah lebih baik menyalahkan Anda, atau memaafkan Anda. Saya memikirkan mana yang akan membuat Anda paling tenang, tapi tidak berhasil ya..."
"Ti, tidak mungkin!? Tolong hentikan! Euphyllia-sama tidak perlu minta maaf! Semuanya salah saya...!"
Mendapat kata-kata maaf dari Euphie, Nona Lainie menggelengkan kepala sambil setengah histeris. Putri Duke yang berstatus tinggi, minta maaf pada orang yang telah dia rugikan, pasti bikin panik ya, pikirku sambil menonton seperti orang asing.
"Nona Lainie, apakah Anda menyalahkan diri sendiri karena Anda punya niat jahat untuk menjebak saya dan malu akan perbuatan itu?"
"Tidak! Tidak mungkin begitu! Saya sama sekali tidak berniat mencelakai Euphyllia-sama sedikit pun!"
"Kalau begitu, menganggap ketidakberuntungan yang Anda bawa sejak lahir sebagai dosa itu terlalu tidak masuk akal. Saya tidak menganggap situasi sekarang seburuk itu."
Mungkin untuk menenangkan Nona Lainie, kata-kata Euphie itu diucapkan dengan nada suara yang sangat lembut.
"Anda juga punya alasan sendiri, dan datang ke sini karena butuh bantuan. Maka, saya tidak bisa menepis tangan yang terulur itu."
Euphie berdiri, mendekat ke sisi Nona Lainie dan meraih tangannya. Euphie menatap Nona Lainie dengan ekspresi yang lebih lembut dibanding tadi. Nona Lainie yang tangannya dipegang tampak gelisah tidak tahu harus berbuat apa.
Euphie tidak mengatakan apa-apa. Nona Lainie berusaha mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa berkata-kata dan air matanya tumpah. Lalu seolah bersandar, dia menempelkan dahinya ke tangan Euphie.
"Maaf, kan saya...! Saya, telah membuat hidup Euphyllia-sama, hancur berantakan...!"
"Tidak semuanya buruk kok. Mungkin sebagai mantan calon ratu saya tidak boleh mengatakannya... tapi saya hidup cukup bahagia sekarang. Jadi Anda juga boleh hidup bahagia mulai sekarang."
Memaafkan dan mengakui orang lain. Kalau diucapkan mungkin terdengar mudah. Tapi kenyataannya, aku tahu betapa sulitnya itu.
Euphie yang bisa melakukannya secara alami memang hebat. Kupikir inilah kekuatan Euphie.
Pasti yang paling dibutuhkan Nona Lainie adalah kata-kata dari Euphie. Melihat Nona Lainie yang bersandar pada tangan Euphie sambil menangis tersedu-sedu tanpa bisa berkata-kata, aku berpikir demikian.
Mengetahui fakta yang tidak diketahuinya, takut pada kenyataan yang mendekat. Meskipun dibilang force majeure, dia bingung bagaimana menebus masa depan yang telah dia hancurkan, dan takut pada dosa itu. Itu hal yang wajar.
Meskipun ingin minta maaf, kalau perasaan itu tidak diterima, hanya akan berakhir sebagai kepuasan diri sendiri. Karena itu Euphie memaafkan, dan Nona Lainie dimaafkan. Aku merasa itu adalah hal yang membahagiakan.
"...Saya memperlihatkan hal yang memalukan."
Setelah menangis beberapa saat, Nona Lainie yang akhirnya tenang mendengus pelan dan mengusap matanya yang merah. Matanya merah, tapi ekspresinya terlihat lega.
Kami duduk kembali di kursi mengelilingi meja. Entah sejak kapan teh yang diseduh Ilia sudah disajikan, jadi aku membasahi tenggorokan dengan teh itu. Hmm, teh buatan Ilia yang enak seperti biasa.
"Nona Lainie, mulai sekarang mungkin akan banyak kesulitan, tapi karena sudah diundang ke istana terpisah ini, aku menganggapmu teman. Jadi kalau ada masalah boleh mengandalkanku, ya?"
"Baik, terima kasih. Putri Anisphia."
"Panggil Anis saja. Aku juga panggil Lainie ya."
Lainie memasang wajah sungkan, tapi ada pepatah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, kan. Aku tidak suka disungkanin di tempat pribadi.
Begitulah, istana terpisahku sedikit demi sedikit menjadi ramai.
* * *
"──Orang itu masih sulit ditebak seperti biasa, ya."
Suara yang tiba-tiba keluar. Yang bereaksi terhadap suara itu adalah suara orang lain yang terdengar kesal.
"Apa yang akan Anda lakukan? Tak kusangka orang itu akan bergerak. Kalau jadi begini rencananya..."
"Orang itu menggagalkan semua rencana kita, dan mengganggu dengan tepat seperti iblis."
Tonton, suara jari mengetuk meja bergema. Ruangan itu remang-remang, hanya sedikit cahaya yang samar-samar menampakkan siluet wajah orang.
"Tidak ada perubahan rencana, tapi harus dipercepat. Paling merepotkan kalau sampai jatuh ke tangan orang itu. Ternyata yang terakhir menghalangi adalah orang itu, ya."
"...Apa yang akan Anda lakukan?"
"Orang itu memang merepotkan, tapi bukan tanpa celah."
Cahaya bergoyang, cahaya yang menerangi siluet berpindah. Orang-orang yang bersembunyi di dalam kegelapan, berbicara sambil meleburkan diri ke dalam kegelapan itu.
"Celah untuk masuk ada banyak. Justru karena dia tahu itu, biasanya dia tidak keluar dari sarangnya."
"...Memang benar. Lalu, mana yang akan digunakan?"
"Yang efektif adalah menyodok harta karun yang dia simpan di sarangnya. Orang itu pasti terpaksa keluar. Karena orang itu adalah orang itu. Kita tinggal menjeratnya di situ. Kalau dikeluarkan dari sarang, sekutu orang itu sedikit."
"──Kalau begitu, laksanakan seperti itu. ...Kegagalan tidak dimaafkan, lho."
Salah satu orang yang melebur dalam kegelapan pergi. Satu orang, lalu satu orang lagi. Orang yang tertinggal di dalam kegelapan itu bergumam pelan.
"Aa, tidak boleh gagal. ──Karena ini, adalah yang terakhir."
Yurari, cahaya bergoyang lalu padam. Saat cahaya padam, kegelapan menyembunyikan bahkan siluet siapa pun itu.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar