Featured Image

Tenten Kakumei V2 C1

Metoya Februari 13, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Kedamaian Sesaat


"Kalau begitu, Anis-sama, saya akan kembali ke sini besok."

"Ya, hati-hati di jalan, Euphie. Sampaikan salamku pada Nelshell-sama, ya."

Hari ini adalah hari libur, hari di mana Euphie, yang kini tinggal di istana terpisah, pulang sementara ke kediaman Keluarga Duke Magenta. Barang bawaannya sudah diserahkan kepada kusir kereta kuda yang menunggu di depan, jadi Euphie tidak membawa apa-apa.

Aku ikut datang ke pintu masuk untuk mengantar kepergiannya, namun Euphie hanya menatap wajahku dan tidak beranjak sedikit pun. Saat aku memiringkan kepala kebingungan, Euphie melangkah maju, memangkas jarak di antara kami.

"Dengar baik-baik, Anis-sama. Anda tidak boleh pergi ke tempat Tilty sembarangan, mengerti? Kalau mau pergi, saya tidak akan mengizinkannya kecuali saya ikut bersama Anda."

"Aku mengerti, kok. Lagipula, perkembangannya tidak ada masalah, jadi tidak perlu sekhawatir itu..."

"...Tolong jangan menyembunyikan apa pun dari saya. Saya mohon."

Meskipun bibirnya mengucapkan kata mohon, mata Euphie saat mencengkeram ujung baju saya memancarkan kilatan yang tidak menerima bantahan. Jika aku sampai menyembunyikan sesuatu darinya, tatapan seperti apa yang akan dia tujukan padaku nanti?

Sambil berkeringat dingin membayangkan hal itu, aku akhirnya berhasil menaikkan Euphie ke kereta kuda yang menuju kediaman Duke Magenta dan mengantarnya pergi. Setelah melihat kepergian Euphie, yang terus menatapku dengan sorot mata menyalahkan hingga detik terakhir, desela napas panjang meluncur keluar secara alami.

"...Euphie itu terlalu penhawatir, ya. Padahal aku sudah bilang tidak ada masalah."

"Meskipun begitu, yang namanya khawatir tetap saja khawatir."

Ilia, yang sedari tadi menunggu di belakang, mendekat ke sisiku dan berkata demikian. Mendengar ucapan Ilia, aku refleks menautkan kedua tangan di belakang kepala dan mengerucutkan bibir.

"Aku juga tidak melakukan percobaan tanpa rencana, tahu."

"Itu tidak akan ada artinya jika tidak tersampaikan kepada orang lain, Tuan Putri."

"Iya, iya, aku tahu, kok."

Saat aku menjulurkan lidah menanggapi omelan ringannya, Ilia melayangkan pukulan chop. Aku, yang lidahnya tidak sengaja tergigit, langsung berkaca-kaca dan menggeliat kesakitan di tempat.

"Ngomong-ngomong, Tuan Putri, tadi ada pesan dari istana kerajaan."

"Pesan? Dari istana?"

"Ya, segera setelah dipastikan bahwa Euphilia-sama telah kembali ke kediaman Duke Magenta, Tuan Putri diminta untuk menghadap ke istana. Ini adalah panggilan dari Yang Mulia."

"Ugh..."

Mendengar apa yang disampaikan Ilia, wajahku sontak berkerut. Sengaja menunggu sampai dipastikan Euphie kembali ke kediaman Duke Magenta baru menyuruhku datang, sungguh hanya memberikan firasat buruk.

"...A-aku tidak melakukan apa-apa, lho?"

Melihatku yang refleks membela diri, tatapan Ilia berubah menjadi tatapan datar yang menusuk. Lalu, dia menghela napas seolah lelah.

"Bukankah karena eksperimen Anda dengan Tilty-sama sudah tercium? Mengingat dua anak bermasalah sedang berkumpul, ada kemungkinan ini adalah interogasi."

"Ugh."

Aku dan Tilty punya 'catatan kriminal' sebelumnya, jadi aku tidak bisa menyangkalnya. Contohnya soal obat sihir itu. Karena sudah terlanjur dibuat, aku berpikir harus melaporkan isinya kepada Ayahanda.

Hasilnya, aku dimarahi habis-habisan sampai rasanya tidak ada habisnya. Namun, mungkin karena Ayahanda memikirkan fakta bahwa aku tidak bisa menggunakan sihir, beliau akhirnya mengizinkan penggunaannya.

Jika eksperimen itu kulakukan sendirian, Ayahanda mungkin tidak akan terlalu waspada, tapi begitu aku dan Tilty berkumpul, pengawasannya menjadi lebih ketat... Dan kenyataannya, sekarang kami memang sedang di tengah-tengah eksperimen itu, jadi ini gawat.

"...Menurutmu aku bakal dimarahi?"

"Memangnya Anda pikir Anda tidak akan dimarahi?"

Pertanyaan Ilia membuat bahuku lemas seketika. Euphie saja menunjukkan keberatan, jadi reaksi Ayahanda sudah bisa ditebak. Tapi, aku juga tidak mungkin tidak pergi.

"...Rasanya ingin kabur saja."

"Saya rasa Anda akan semakin dimarahi kalau kabur."

...Benar juga, ya. Sekali lagi, aku menunduk pasrah dan mendesah panjang.

* * *

"...Haaah, sampai juga akhirnya."

Begitu aku tiba di istana kerajaan, seorang pelayan istana memanduku. Tujuan kami adalah ruang kerja Ayahanda. Selama perjalanan itu, tatapan yang diarahkan padaku di dalam istana sungguh tidak membuat nyaman.

Kekacauan pembatalan pertunangan Algard, dan penaklukan naga. Dua kejadian yang terjadi tumpang tindih ini telah mengubah posisiku secara drastis.

Algard menerima hukuman atas kekacauan pembatalan pertunangan itu dan saat ini masih dalam masa tahanan rumah untuk interogasi. Di sisi lain, aku justru menorehkan prestasi dengan menaklukkan naga di saat yang bersamaan. Meskipun disebut prestasi, kebencian orang-orang terhadapku tidak berubah, malah aku diperlakukan seperti bisul yang harus dihindari.

Sikap orang-orang saat aku menuju ruang kerja Ayahanda bermacam-macam. Ada yang menghindariku, ada pula yang memandang dari kejauhan sambil berbisik-bisik.

Mereka yang memiliki kesan buruk terhadapku terutama adalah para bangsawan yang memegang jabatan di istana, sedangkan para ksatria dan pelayan justru menatapku dengan pandangan positif. Terpapar pada rasa suka dan benci yang begitu ekstrem membuat alisku berkerut.

(Aah, aku ingin cepat pulang... Setelah bertemu Ayahanda, aku akan langsung pulang.)

Sesampainya di ruang kerja yang dituju, pelayan mengetuk pintu dan memohon izin untuk masuk. Izin dari dalam segera terdengar, jadi aku pun melangkah masuk ke dalam ruang kerja.

"Ayahanda, Anisphia telah dat...ang..."

Melihat ke dalam ruang kerja, suaraku tanpa sadar memudar di akhir kalimat. Yang menungguku di dalam adalah Ayahanda, Duke Grantz, dan satu orang lagi.

Saat pandangan kami bertemu, aku segera balik kanan dan mencoba keluar dari ruangan. Namun, tanpa belas kasihan, pintu yang hendak kulewati telah ditutup oleh pelayan, memutus jalan keluarku.

"──Selamat datang, Anis."

Saat mendengar suara itu, rasa dingin seketika menjalar di punggungku hingga lututku terasa lemas. Tidak sekali pun aku pernah melupakan suara ini. Karena, itu adalah suara orang yang paling aku takuti di dunia ini...!











Orang itu bahkan lebih kecil dari aku yang sering disebut bertubuh mungil. Penampilannya pun terlihat tidak jauh berbeda usianya denganku. Wajahnya cantik, dipadukan dengan postur tubuhnya, membuatnya tampak sangat menggemaskan.

Akan tetapi, aku tahu betul bahwa itu hanyalah penampilan luarnya saja. Aura yang menyelimuti dirinya sangat tajam, dan mata biru tua yang menatapku itu tampak begitu garang hingga ke sudut-sudutnya.

Rambut merahnya yang panjang hingga mencapai pinggang diikat menjadi kepang, bergoyang sedikit mengikuti pergerakan wajahnya. Orang inilah yang paling aku takuti, sosok yang membuatku tak bisa berkutik. Ratu Kerajaan Palettia saat ini, alias ibuku──Sylphine Maise Palettia.

"I-Ibunda...!? Kenapa ada di sini!?"

Karena ada orang yang tak terduga di ruang kerja Ayahanda, aku tanpa sadar mengeluarkan suara yang melengking karena panik. Ibunda kemudian menghela napas panjang sambil memelototiku. Saat dipelototi oleh Ibunda, secara alami tubuhku langsung menyusut ketakutan.

"Kenapa? Kau tanya kenapa, Anis? Pembatalan pertunangan Algard, dan tindakan sewenang-wenangmu saat penaklukan naga. Jika mendengar laporan seperti ini, aku tidak bisa tenang menjalankan diplomasi. Aku baru saja kembali ke negara ini kemarin."

Ibunda memberitahuku dengan suara yang tajam. Meskipun penampilannya bisa saja terlihat lebih muda dariku jika salah lihat, siapa pun yang merasakan intimidasi darinya tidak akan bisa menganggap Ibunda sebagai sesuatu yang imut sesuai penampilannya. Meski berpenampilan seperti ini, beliau adalah seorang wanita perkasa yang konon memimpin di garis depan medan perang sebagai prajurit saat masih muda.

Beliau disebut-sebut sebagai yang terkuat di Kerajaan Palettia, dan bahkan sekarang kekuatannya dikatakan belum memudar. Seharusnya beliau sedang berkeliling ke negara lain sebagai diplomat, tapi begitu ya... ternyata sudah pulang...

"...Sudahlah, Anis. Duduklah dulu."

"Ba-baik."

Didorong dengan tenang oleh Ayahanda, aku duduk di sofa untuk tamu. Di hadapanku, Ayahanda dan Ibunda duduk berdampingan, sementara Duke Grantz duduk di sofa samping.

"...Jadi, Anis?"

I-Ingin kabur...! Aku ingin kabur sekarang juga tanpa mempedulikan apa pun...! Tekanan yang Ibunda berikan padaku sungguh mengerikan. Rasanya seperti ada tombak yang ditodongkan tepat di tenggorokanku.

"Sepertinya kau cukup bersemangat selama aku tidak ada. Namun, kulihat sifat tomboimu itu masih belum membaik. Aku jadi khawatir apakah aku harus mendidikmu lagi sebagai seorang ibu setelah sekian lama."

"Ya! Ibunda, saya sudah sangat merenung, dan saya berniat untuk bertobat serta hidup dengan bersih dan benar!"

Aku sama sekali tidak mau dididik oleh Ibunda! Didikan Ibunda yang berjiwa petarung itu, baru diingat saja sudah membuat tubuhku gemetar. Didikan Ibunda itu artinya pertarungan sungguhan, alias bahasa tubuh.

Aku juga sudah mengasah kemampuanku sebagai petualang dan cukup percaya diri, tapi aku tidak mau bertarung langsung melawan Ibunda! Aku tidak mau latihan yang disebut didikan itu...!

"...Yah, baiklah. Fakta bahwa penelitianmu memberikan kontribusi besar dalam penaklukan naga patut dihargai. Berusahalah agar ucapanmu tadi tidak menjadi bualaan belaka."

Ibunda menyipitkan mata memelototiku, tapi kemudian menutup matanya dan mengendurkan kekuatannya seolah menarik kembali senjatanya. Aku pun menghela napas lega. Trauma yang terpatri dalam diriku secara alami membuatku bersikap demikian, karena Ibunda tidak boleh dibuat marah.

"Itu... apa jangan-jangan saya dipanggil untuk diceramahi?"

"Itu hanya tambahan, dasar bodoh. ...Kami memanggilmu setelah memastikan Euphyllia kembali ke kediaman Duke Magenta. Topik utamanya ada di sana."

"Ah, jadi sengaja memilih waktu saat Euphie tidak ada, ya. Karena itu Duke Grantz juga ada di sini?"

"Ya."

Duke Grantz, yang merupakan asisten Ayahanda yang sibuk setiap hari, memang tidak jarang berada di istana kerajaan meskipun hari libur. Tapi, urusan apa yang sampai sengaja memanggilku agar tidak terdengar oleh Euphie...?

Saat aku memiringkan kepala kebingungan, Ibundalah yang memulai pembicaraan. Beliau berdeham, "Ehem," lalu membetulkan posisi duduknya dan menatap lurus ke arahku.

"Anis. Ada banyak hal yang ingin kukatakan mengenai tingkah lakumu yang aneh, tapi khusus kali ini, aku akan memujimu karena telah bertindak dengan baik."

"Ya?"

"Tindakanmu mengintervensi kejadian pembatalan pertunangan itu. ...Hari ini, kami memanggilmu karena ada pembicaraan mengenai Algard."

"Tentang Al-kun?"

"Benar. Karena waktunya bertepatan dengan serangan naga, kami tidak bisa melakukan interogasi terkait keributan pembatalan pertunangan sampai situasi agak tenang. Akhirnya informasinya baru saja terkumpul."

Menggantikan Ibunda yang membuka topik, Ayahanda menjelaskan isi pemanggilan hari ini. Tampaknya ini mengenai masalah Al-kun dan kawan-kawannya, yang interogasinya sempat terhenti karena bertepatan dengan serangan naga.

"Karena itukah kalian menjauhkan Euphie?"

"...Seharusnya Euphyllia juga ditanyai, tapi aku mendengar kondisi Euphyllia dari Orphans. Sebaiknya sekarang dia dibiarkan tenang dulu, bukan? Anis."

"...Iya. Untuk saat ini, itu, saya ingin dia dibiarkan tenang dulu. Dia baru saja mulai terbiasa dengan kehidupan di istana terpisah, saya tidak ingin membebaninya dengan tekanan batin yang tidak perlu."

Aku setuju dengan keputusan Ayahanda untuk menjauhkan Euphie dari pembicaraan ini. Sejak tinggal di istana terpisah, kurasa Euphie sudah jauh lebih tenang.

Mungkin karena pengaruh itu, Euphie terlihat mulai menunjukkan ekspresi aslinya sedikit demi sedikit. Karena itulah, membiarkan Euphie mendengar cerita tentang Al-kun dan yang lainnya saat ini terasa terlalu dini.

"Lalu kenapa memanggil saya?"

"Kau juga mau tidak mau harus mendengar cerita ini ke depannya. ...Bisa dibilang hasil penyelidikannya seburuk itu."

Ayahanda mengatakannya dengan tegas sambil memasang ekspresi seperti menelan pil pahit. Kalau Ayahanda sampai berkata begitu, seburuk apa hasilnya? Mendengarnya saja rasanya membuat perutku terasa berat. Firasatku mengatakan ini akan menjadi masalah yang sangat merepotkan...

Ayahanda tampak muram, tapi kurasa beliau yang paling mengerti bahwa masalah ini tidak akan selesai jika tidak dibicarakan. Ayahanda pun mulai berbicara perlahan tentang hal yang tampaknya berat untuk diucapkan.

"Aku sudah menanyai Algard dan para putra bangsawan yang terlibat dalam keributan itu, tapi... aku sampai memegangi kepalaku. Pertama, yang melakukan pelecehan terhadap Baroness Cyan bukanlah Euphyllia sendiri, melainkan para gadis bangsawan di sekitar Euphyllia. Mereka bersaksi bahwa mereka mencoba menjatuhkan Baroness Cyan atas kehendak Euphyllia."

Mendengar cerita itu lagi dari Ayahanda, aku pun tanpa sadar mengerutkan kening dan memasang wajah masam. Pantas saja Ayahanda sampai pusing...

"Artinya, Euphie sendiri tidak melakukan apa-apa?"

"Tampaknya Euphyllia pernah menegur langsung Baroness Cyan, tapi sejauh yang kudengar, itu masih dalam batas kewajaran. Malah, mengingat Baroness Cyan belum terbiasa dengan Akademi Bangsawan, sepertinya situasi memang mengharuskan dia untuk diperingatkan."

Euphie mungkin pernah menegur, tapi sepertinya dia tidak melakukan tindakan yang secara langsung menyakiti Baroness Cyan. Jadi, kerugian yang dialami Baroness Cyan sebenarnya adalah ulah gadis-gadis selain Euphie. Dan gadis-gadis itu mengklaim bahwa Euphie yang memberikan instruksi tersebut.

"Bukti kuatnya?"

"Tidak ada bukti yang jelas selain klaim bahwa mereka diperintah. Para gadis yang menjadi pelaku utama hanya bersikeras mengatakan demikian. Siapa yang melakukan pelecehan apa, belum bisa dipastikan secara spesifik, bahkan ada yang mengatakan Baroness Cyan hanya bereaksi berlebihan. Pelecehan terhadap Baroness Cyan juga beragam, sejujurnya sulit untuk dipahami seluruhnya."

"Ini penghinaan. Tidak kusangka begitu banyak orang yang berpikir bahwa Euphyllia, putri dari keluarga Duke Magenta kami, akan melakukan tindakan serendah itu demi menjatuhkan orang lain."

Sindiran Duke Grantz terdengar sangat tajam. Suaranya yang sama sekali tidak mengandung kehangatan emosi membuatku merinding. Tapi, ini benar-benar cerita yang "menjijikkan".

Tidak diketahui siapa yang sebenarnya melakukannya, dan mereka bersikeras melakukannya karena instruksi dari Euphie.

Cara mereka mengatakan "atas kehendak" itu juga menyebalkan. Kedengarannya seolah-olah mereka berkata: Euphie tidak menyuruh secara langsung, tapi karena Euphie sepertinya menginginkannya, atau karena kami menerima tekanan diam-diam, maka kami melakukannya. Alasan yang sangat pengecut.

"Sekarang, aku tidak tahu lagi kesaksian mana yang bisa dipercaya. Mereka yang menjaga jarak dari Euphyllia dan Baroness Cyan memberikan pendapat yang relatif tenang, tapi... karena mereka menjaga jarak, mereka tidak paham apa yang sebenarnya terjadi."

"Penyebabnya mungkin juga karena yang mengelilingi Baroness Cyan adalah para putra orang-orang yang sangat berpengaruh di akademi."

"Mulai dari Putra Mahkota, putra Komandan Ksatria Pengawal Kerajaan, putra Kepala Kementerian Sihir, putra serikat dagang terkemuka yang tak bisa diabaikan bangsawan... kalau dijajarkan begini, bingung juga harus bereaksi bagaimana."

Meskipun bilang bingung, mata Ibunda berkilat seolah siap menerkam musuh. Jika putra-putra yang bermasalah itu ada di depannya, mungkin tangan beliau sudah melayang.

"Tapi jika bertanya pada orang-orang yang dekat dengan pihak yang terlibat, kesaksian terbelah dua: ada yang bilang Euphyllia yang salah, atau ada yang bilang Baroness Cyan yang salah karena memancing ketidaksenangan Euphyllia."

"Kesaksiannya sampai terbelah begitu?"

"Ya... jika kesaksian begitu terpecah, kita harus mendengar langsung dari orang yang bersangkutan. Dalam waktu dekat, aku berencana memanggil Baroness Cyan bersama Baron Cyan ke istana. Di pertemuan itu, aku akan memastikan kepribadian gadis itu. Kau mau ikut hadir? Anis."

Baroness Cyan, ya. Kalau kubilang tidak penasaran, itu bohong. Ingatan masa lalu yang terlintas saat adegan pembatalan pertunangan Euphie, sebuah adegan yang kuingat dari cerita fiksi. Gadis yang berada di posisi pemicu untuk menghukum sang villainess, dilindungi oleh para pria persis seperti dalam adegan itu.

Hanya saja, ini hanyalah cerita fiksi. Aku tidak pernah menyangka hal seperti itu akan terjadi di dunia nyata, dan itu bukanlah sesuatu yang akan kuingat sampai aku melihat kejadiannya langsung. Seperti apa sebenarnya sosok Lainie Cyan, putri baron yang menjadi pusat keributan dari kejadian mustahil itu?

"Kalau boleh ikut hadir, saya tertarik."

"Baiklah. ...Entah kenapa, ini sedikit aneh."

"Ya? Aneh apanya?"

Ekspresi Ayahanda saat mengucapkan kata aneh terlihat serius. Beliau seperti merasakan ada yang janggal, tapi penyebabnya tidak jelas, seolah memendam sesuatu yang samar.

"Entah kenapa, orang-orang yang menanyai Baroness Cyan menjadi bersimpati padanya."

"Bersimpati?"

"Ya. ...Di antara mereka bahkan ada yang mulai berpikir mungkin Euphyllia juga bersalah."

"...Saya tidak tahu seperti apa anak itu, tapi setidaknya Euphie bukan anak yang akan menyakiti orang lain atas inisiatifnya sendiri."

"Ya, aku tahu. Aku juga percaya itu. Tapi fakta bahwa semua orang yang melakukan interogasi menjadi bersimpati pada Baroness Cyan sedikit menggangguku."

Memang kecenderungan yang mengkhawatirkan. Aku hanya mengenal Euphie jadi tidak bisa bicara banyak, tapi setidaknya aku tidak percaya Euphie berniat menjatuhkan atau menyakiti orang lain.

Tapi, rasanya terlalu banyak orang yang membela Baroness Cyan. Bukan hanya para putra bangsawan yang menjadi pusat keributan, tapi orang-orang yang melakukan interogasi pun mulai berkata Baroness Cyan tidak bersalah.

...Mana yang benar, dan apa yang sebenarnya terjadi? Akademi Bangsawan cenderung menjadi lingkungan tertutup, jadi sulit untuk mengetahui detailnya dari luar.

Rasanya seperti ada sesuatu yang bergerak di tempat yang tak terlihat. Kalau tidak ada apa-apa sih bagus, tapi kalau tidak ada apa-apa, tidak mungkin jadi pembicaraan seperti ini.

"Anis. Kau memang bodoh, tapi mungkin ada hal-hal yang hanya bisa dilihat olehmu. Aku akan meminjam kekuatanmu saat penilaian nanti. Selain itu, ke depannya akan semakin banyak situasi di mana kau harus tampil sebagai keluarga kerajaan. Ingatlah itu."

"Uge..."

"...Uge?"

"E-ehem! Ehem! Bukan apa-apa, Ibunda!"

Aku tanpa sadar mengeluarkan suara penolakan, tapi karena langsung ditegur Ibunda, aku berdeham untuk menutupinya. Mata Ibunda tetap tajam dan dingin, tapi aku berusaha keras memalingkan muka.

Melihat interaksiku dan Ibunda, Ayahanda memijat pangkal hidungnya dengan lelah dan menghela napas panjang.

"...Cerita dariku cukup sekian."

"Eh, cuma soal Baroness Cyan saja?"

"Benar. ...Kenapa, kau berulah lagi?"

"Tidak, sama sekali tidak, sedikit pun!"

Tampaknya kegiatanku pergi ke tempat Tilty tidak dipermasalahkan! Syukurlah, aman! Kalau dipikir-pikir, mungkin karena sibuk dengan urusan pembatalan pertunangan, perhatian terhadapku jadi berkurang.

...Oke, ayo kabur sebelum diinterogasi! Sepertinya pembicaraannya cuma ini!

"Kalau begitu, saya permisi dulu..."

"Tunggu, Anis."

Baru saja aku mengangkat pinggul untuk kabur, Ibunda memelototiku. Aku langsung menciut dan duduk kembali. U, uuh! I-Ingin kabur!

"...Kau tidak merepotkan Euphyllia, kan? Anis."

"Ti-tidak mungkin begitu, kok...?"

"Ara... bukankah kau tidak berani menatap mataku karena ada yang kau sembunyikan?"

"Ti-tidak, bukan begitu! Saya menjalani hari-hari dengan bekerja keras membanting tulang agar Euphie bisa hidup dengan hati yang tenang!"

"...Kalau begitu baguslah. Dengar ya? Anis. Kejadian kali ini saja sudah merupakan kesalahan keluarga kerajaan. Kita sudah sangat merepotkan keluarga Duke Magenta, dan kita berhutang budi. Kali ini, bersikaplah yang pantas sebagai keluarga kerajaan untuk membalas kesetiaan keluarga Duke Magenta. Lagipula, apa maksudmu keluarga kerajaan langsung terjun paling depan dalam penaklukan naga hanya karena kau petualang tingkat tinggi? Apalagi sampai menyeret Euphyllia...!"

"Hi, hieeee! Ujung-ujungnya diceramahi juga! Ayahanda pembohoong!!"

"Diam!"

Dibentak oleh Ibunda yang matanya naik seperti Ogre, aku hanya bisa membetulkan posisi duduk sambil berkaca-kaca.

Pemandangan Ayahanda yang menatapku dengan rasa takjub sekaligus kasihan meninggalkan kesan mendalam. Sedangkan Duke Grantz bersikap masa bodoh.

Ugh, kalau kasihan tolongin dong! Sambil membatin begitu, aku hanya bisa mengangguk-angguk menanggapi Ibunda yang menceramahiku panjang lebar...

* * *

"...Pengalaman yang mengerikan."

Aku menggerutu sambil berjalan sempoyongan di lorong istana. Sejak saat itu aku diperas habis-habisan oleh Ibunda, dan mental energiku terkuras drastis. Gara-gara itu, langkah kakiku saat pulang pun jadi goyah.

"...Tapi, ngomong-ngomong."

Tiba-tiba, aku menghentikan langkah dan berpikir. Itu tentang Euphie. Lebih tepatnya, apa yang terjadi pada Euphie di Akademi Bangsawan. Hal itu membuatku semakin penasaran.

Aku tidak bersekolah di Akademi Bangsawan. Jadi aku tidak tahu detail tempat macam apa itu.

Bagaimana Euphie menghabiskan waktunya di sana, dan bagaimana dia dipandang? Aku tahu Euphie anak yang baik. Tapi, itu adalah Euphie setelah pembatalan pertunangan. Sebelum itu, dia pasti dikenal sebagai nona muda yang sempurna.

Alasan Baroness Cyan dibela mungkin juga ada penyebabnya pada diri Euphie saat masih di akademi. Tapi, aku ragu untuk menanyakan hal itu langsung pada orangnya...

(Lagipula Euphie itu ada sisi tidak peduli pada dirinya sendiri...)

Kejadian itu menjadi luka yang cukup dalam bagi Euphie. Aku tidak ingin membuka kembali luka itu. Kalau begitu, sebaiknya aku bertanya pada orang lain, tapi aku tidak punya kenalan.

Kenalan bangsawan yang seumuran cuma Tilty yang terlintas di pikiran, dan Tilty juga tidak pergi ke akademi...

"Oya, Putri Anisphia. Jarang sekali Anda berhenti di istana."

Saat itu, ada seseorang yang memanggilku. Aku tersentak kaget mendengar suara itu. Yang memanggilku adalah Komandan Ksatria Pengawal, Sprout.

"Komandan Ksatria Sprout, selamat siang."

"Selamat siang. Jadi, ada apa gerangan? Jarang-jarang Anda ada di istana."

"Saya dipanggil oleh Ayahanda dan Ibunda. Ceramah, kena ceramah."

Saat aku mengatakannya dengan nada tidak puas sambil mengangkat bahu, Komandan Ksatria Sprout tersenyum kecut.

"Ratu Sylphine mengkhawatirkan Putri Anisphia, lho. Lagipula Anda memang bertindak nekat, jadi dimarahi dengan patuh juga tugas seorang anak."

"Begitu ya..."

Dimarahi kok jadi tugas, aku tidak mau ah. Saat berpikir begitu, ada sesuatu yang terlintas di benakku. Aku mengarahkan pandangan ke wajah Komandan Ksatria Sprout, dan menatapnya lekat-lekat.

Tiba-tiba ditatap lekat olehku, mata Komandan Ksatria Sprout membelalak. Karena aku tidak mengalihkan pandangan, dia mengerutkan kening dengan bingung.

"Anu, Putri Anisphia? Apakah ada sesuatu?"

"Komandan Ksatria Sprout, saya ada satu permintaan!"

"...Entah kenapa saya punya firasat buruk, tapi apa itu?"

Menghadapi Komandan Ksatria Sprout yang tersenyum kaku, aku menumpuk tanganku di atas tangannya sambil tersenyum lebar.

"Mendadak memang──tapi bisakah saya menumpang berkunjung ke kediaman Komandan Ksatria Sprout hari ini?"

* * *

Komandan Ksatria Pengawal Sprout memiliki seorang putra. Nama putranya adalah Navre Sprout. Dia adalah salah satu orang yang memihak Al-kun dan mengutuk Euphie saat keributan pembatalan pertunangan yang dipicu oleh Al-kun.

"...Tak kusangka Anda ingin mendengar cerita langsung dari putra saya."

"Saya juga tidak bisa tinggal diam dan tidak terlibat, kan!"

Saat ini, aku sedang berada di kereta kuda yang sama dengan Komandan Ksatria Sprout menuju kediaman keluarga Earl Sprout. Tujuannya adalah untuk bertanya pada Navre-kun tentang kejadian di Akademi Bangsawan.

Komandan Ksatria Sprout adalah orang yang sudah lama kukenal, seperti mengajariku ilmu pedang. Mungkin karena aku juga sering membantu ksatria di berbagai daerah saat beraktivitas sebagai petualang, dia adalah salah satu orang yang bersikap positif terhadapku.

Aku merasa bersalah karena memanfaatkan kebaikannya, tapi kalau bisa mendengar cerita dari pihak yang terlibat, itu lebih baik. Dia adalah salah satu orang yang mengutuk Euphie. Aku ingin mendengar langsung kenapa dia harus mengutuk Euphie.

"Bagaimana keadaan Navre-kun?"

"...Terlihat tenang, tapi dia sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan saya."

Komandan Ksatria Sprout yang biasanya berwajah ramah, kini memasang ekspresi masam. Oh begitu, seperti masa pemberontakan ya. Sebagai putra bangsawan, aku agak ragu apakah sikap itu boleh, sih.

Tapi, dia pasti bertindak karena merasa dirinya benar, jadi aku bingung harus bereaksi bagaimana.

"...Anda sudah dengar soal Baroness Cyan?"

"Ya. Putri Anisphia mendengarnya dari Yang Mulia?"

"Ya. Kata Ayahanda, banyak juga yang bersimpati pada Baroness Cyan..."

"Sepertinya putra saya juga salah satunya. Saya ingin mendesaknya kenapa pandangannya bisa sesempit itu. Padahal sebagai putra Komandan Ksatria, dia seharusnya bercita-cita untuk berperilaku yang tidak memalukan..."

Dari sikap Komandan Ksatria Sprout, terasa kebingungan dan kekecewaan terhadap Navre-kun. Rasa kecewa itu berarti dia menaruh harapan besar padanya, dan mungkin dia tidak menyangka putranya sendiri akan ikut andil dalam keributan pembatalan pertunangan.

"Saya rasa memang ada poin yang patut disimpati dari keadaan Baroness Cyan, tapi..."

"Eto, Baroness Cyan itu orang tuanya bangsawan yang dulunya rakyat jelata, kan?"

"Ya, dan juga... Baroness Cyan sebenarnya bukan putri bangsawan sejak lahir."

"Eh? Begitu ya?"

"Ya. Tapi kemungkinan besar ibunya memiliki darah bangsawan. Katanya dia adalah peninggalan dari wanita yang saling mencintai dengan Baron Cyan saat masa petualangnya."

"Eh, ada cerita begitu?"

"Ya. Secara kebetulan, Baron Cyan menemukan putrinya yang tinggal di panti asuhan, lalu membawanya pulang ke rumah. Saat pemeriksaan, diketahui dia memiliki bakat sihir, sehingga dia masuk ke Akademi Bangsawan."

"Hee... itu, memang bagaimana ya bilangnya, latar belakang yang rumit ya..."

Artinya ada kemungkinan ibu Baroness Cyan mewarisi darah bangsawan. Itu pasti tidak disukai oleh bangsawan turun-temurun.

"Ibu Baroness Cyan juga sudah meninggal, jadi kebenarannya tidak diketahui. Tapi fakta bahwa dia memiliki bakat sihir meski mantan anak rakyat jelata mungkin juga menjadi alasan yang memicu antipati."

"Begitu ya. Padahal seharusnya itu adalah kebijakan untuk menarik kembali bakat-bakat seperti itu ke negara. Mengangkat orang yang berjasa sebagai petualang menjadi bangsawan."

Itu kebijakan yang dilakukan di masa ayah dari Ayahanda, alias Kakekku. Kakek sudah meninggal saat aku lahir, jadi aku hanya mendengarnya dari cerita.

Sejarah Kerajaan Palettia itu panjang, dan semakin banyak darah bangsawan yang bercampur dengan rakyat jelata. Entah karena kawin lari, atau karena tidak bisa mempertahankan status. Karena itu, secara potensial ada orang-orang di kalangan rakyat jelata yang memiliki bakat sihir. Baroness Cyan mungkin salah satu dari mereka.

"Saya ingin mendengar pendapat jujur Anda, Komandan Ksatria Sprout, bagaimana menurut Anda tentang kejadian ini?"

"Bagaimana, maksudnya?"

"Tentang para putra orang berpengaruh yang kompak terperdaya oleh seorang putri baron. Entah kenapa saya tidak bisa menerimanya..."

"...Hasil penyelidikannya, hanya bisa dibilang dia bersih."

Dengan sikap yang tidak puas, Komandan Ksatria Sprout menggerutu.

"Kami sudah menyelidiki panti asuhan tempat Baroness Cyan dulu tinggal, dan juga rumah keluarga istri Baron Cyan, tapi tidak ada hal yang mencurigakan."

"Fumu... jadi tidak ada indikasi konspirasi?"

"Tidak bisa dipastikan seratus persen, tapi... setidaknya, saya rasa tidak ada yang mengarah ke Baroness Cyan."

"Kalau begitu, semakin aneh saja ya..."

Apa benar mereka membuat keributan pembatalan pertunangan hanya karena jatuh cinta? Itu juga aneh sih. Kalau benar begitu, kasihan sekali Euphie yang terseret masalah ini.

Selagi memikirkan hal itu, kereta kuda berhenti. Sepertinya kami sudah tiba di kediaman keluarga Earl Sprout.

Aku menerima eskort dari Komandan Ksatria Sprout dan bertamu ke kediaman Earl Sprout.

"Ini kamar Navre."

"Terima kasih, Komandan Ksatria Sprout."

Aku mengucapkan terima kasih sambil tersenyum pada Komandan Ksatria yang mengantarku sampai ke kamar. Nah, pertama-tama salam dulu. Sambil berpikir begitu, aku mengetuk pintu kamar.

"──Siapa?"

Lalu terdengar suara tajam dari dalam. Mendengar suara ketus yang seolah siap menerkam itu, aku tanpa sadar tertawa kecil. Oh begitu, sepertinya memang sedang memberontak. Kalau begitu aku juga punya ide. Dengan membulatkan tekad, aku menarik napas dalam-dalam.

"Serbuuu! Kunjungan ke tetangga sebelaaah!!"

"Tungguuuu, apaa!?"

Dengan penuh semangat, aku menendang pintu hingga terbuka lebar. Komandan Ksatria di sebelahku terkejut setengah mati, tapi aku tidak peduli! Momentum itu penting untuk mengejutkan lawan!

Navre-kun yang ada di dalam kamar membelalakkan mata dan pasang kuda-kuda. Reaksinya seperti ada perampok yang masuk. Oke, sesuai rencana! Terobos terus!

"Jangan bergerak! Saya Putri Anisphia Wynn Palettia!"

"Ha?"

"Lama tidak jumpa ya, Navre Sprout-kun!"

"............Eh? Tidak, anu... eh?"

Navre-kun memutar matanya bingung harus bereaksi bagaimana. Di belakangku, aku merasa Komandan Ksatria sedang memegangi kepalanya. Tapi aku tidak peduli!

Aku mendekati Navre-kun yang masih bengong, lalu meraih kedua tangannya seolah mengajak bersalaman dan mengguncangkannya naik turun. Navre-kun yang pasrah saja akhirnya mulai panik setelah menyadari kenyataan.

"Tu-Tuan Putri!? Eh, eegh!?"

"Umm, reaksi yang bagus. Saya merasakan darah mudanya, Komandan Ksatria Sprout!"

"Apa yang Anda lakukan!?"

"Saya mencoba mengejutkannya dengan salam yang sebisa mungkin tidak seperti keluarga kerajaan!"

"Saya tidak paham...!"

Komandan Ksatria Sprout memegangi kepalanya menanggapi jawabanku. Navre-kun menatapku dengan wajah yang masih tidak percaya. Fufun, permulaan yang cukup oke!

"Nah nah, sisanya biar sesama anak muda yang urus. Terima kasih atas panduannya!"

"Eh, tungg..."

Sekali lagi aku menutup pintu dengan semangat yang seolah hendak merusaknya. Dengan begitu, hanya tersisa aku dan dia di kamar Navre-kun. Pasti susah bicara kalau ada ayah kandungnya, kan.

"Jadi, lama tidak jumpa. Navre-kun!"

"Eh, ah, ya... sudah lama tidak bertemu...?"

Sepertinya rasa syoknya belum hilang sepenuhnya, Navre-kun menjawab dengan lesu.

Penampilan Navre-kun memiliki rambut hijau tua yang warnanya mirip dengan Komandan Ksatria, dan mata berwarna madu pucat. Dia tinggi dan ramping, tapi tidak terlihat lemah. Benar-benar seperti ksatria tampan yang keluar dari lukisan.

Kurasa gadis biasa tidak akan membiarkan wajah seperti ini lolos. Aku menyudahi pengamatanku terhadap Navre-kun dan langsung masuk ke topik utama.

"Aku datang hari ini karena ada yang ingin kutanyakan padamu. Karena katanya sedang dihukum kurungan, jadi aku menerobos paksa... ehem, datang tanpa kabar."

"...Apa yang ingin Putri Anisphia tanyakan pada saya?"

Rasa syok di awal pertemuan tampaknya sudah hilang, Navre-kun bertanya dengan ekspresi tegas. Kelihatan sekali dia waspada. Yah, wajar saja karena aku belum pernah bicara akrab dengan Navre-kun. Paling cuma berpapasan di Ksatria Pengawal.

"Aku tanya to the point saja. Aku ingin menanyakan niatmu yang sebenarnya, kenapa Navre-kun mengutuk Euphyllia Magenta?"

Mendengar pertanyaanku, terlihat kepahitan melintas di wajah Navre-kun. Seketika itu juga, aura yang dia tujukan padaku menjadi tajam. Wajar saja reaksinya begitu kalau disinggung alasan dia dikurung.

"Jangan salah paham, aku datang ke sini bukan untuk menyalahkanmu."

"...Apa?"

"Kamu sudah tahu kan aku mengambil Euphie sebagai asisten? Aku tidak menyangkal kalau aku ada di pihak Euphie, tapi bukan berarti aku berniat melakukan sesuatu padamu."

"...Anda minta saya percaya kata-kata itu?"

Dengan nada tidak percaya, Navre-kun melontarkan kata-kata itu seolah membuang ludah. Aku tersenyum berani menanggapi sikap Navre-kun itu.

"Sebaliknya aku tanya, memangnya apanya dariku yang bisa dipercaya!?"

"Anda bilang begitu tentang diri sendiri!?"

Saat aku membalasnya dengan nada setengah marah, Navre-kun berteriak seolah tidak habis pikir. Melihat dia sudah kehilangan temponya, aku langsung memberondongnya.

"Aku tahu kejam rasanya menyuruhmu bicara tiba-tiba. Tapi, jujur saja aku tidak peduli dengan keadaanmu."

"Tidak peduli...?"

"Aku tidak bisa memahami emosi kalian soal asmara, dan kurasa selama tidak membuat negara hancur, terserah kalian mau apa. Tapi soal Euphie itu beda. Anak itu sudah kuambil. Aku ingin menyelesaikan apa pun yang membebani pikirannya, dan kejadian kali ini terasa janggal. Makanya aku datang untuk mendengar cerita lengkap darimu. Navre-kun juga tidak puas, kan?"

"...Itu."

Mendengar kata-kataku, ekspresi Navre-kun semakin dipenuhi kepahitan. Tidak bisa menyembunyikan emosi saja sudah sama dengan mengatakan dia tidak puas.

"Kalau ketidakpuasan terhadap Euphie, aku bisa menjaminnya. Bagaimanapun juga, untuk sementara waktu Euphie tidak akan tampil di panggung publik, dan dia tidak akan dipanggil lagi sebagai tunangan Al-kun. Setidaknya saat ini, pertunangan berikutnya hampir mustahil, dan tidak berlebihan jika dibilang masa depannya sudah direnggut. Meskipun hal sebesar itu terjadi, aku sama sekali tidak paham apa yang sebenarnya terjadi."

Sekali lagi, aku menghela napas di sana lalu menatap kembali Navre-kun. Saat diucapkan lagi, keadaan Euphie saat ini memang mengenaskan. Karena itulah, aku ingin tahu.

"Orang luar tidak tahu urusan internal akademi. Makanya aku penasaran. Apa yang Navre-kun dan yang lainnya pikirkan saat bertindak. Bagi orang yang menjalankan negara, ini cerita yang bikin sakit kepala, tapi menurutku selama tidak menyusahkan orang lain, terserah saja. Tapi karena sudah terlibat, wajar kan kalau aku ingin mendengar ceritanya?"

Navre-kun tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya memasang wajah kaku dan menatapku tajam seolah ingin menembusku. Sungguh, aku tidak mengerti apa yang membuat Navre-kun begitu keras kepala.

"Bagiku, kalian hanya terlihat bersekongkol untuk menjatuhkan Euphie. Aku bahkan curiga jangan-jangan Baroness Cyan merencanakan konspirasi untuk menggulingkan negara."

"──Lainie tidak mengharapkan hal seperti itu!"

Navre-kun membentak seolah menolak dugaan yang kuucapkan. Tapi bagaimanapun aku ini seorang Putri, mungkin dia sadar sikapnya barusan gawat, jadi dia mengerutkan kening.

"Bicara saja sesukamu, tidak usah pedulikan lawan bicaramu keluarga kerajaan. Aku tidak akan mencari-cari kesalahan omonganmu. Aku hanya ingin mendengar suara hatimu. Sejauh yang kutahu Al-kun bukan orang bodoh, dan aku juga tidak menganggap Navre-kun bodoh. Manusia memang bisa berbuat salah, tapi tidakkah kau penasaran kenapa kalian bisa menjadi bodoh tanpa ada tanda-tanda sebelumnya?"

Al-kun mungkin biasa-biasa saja, tapi tidak bodoh. Yang diharapkan dari Al-kun bukanlah bakat individu, melainkan apakah dia bisa memimpin orang-orang di sekitarnya dengan baik.

Makanya kurasa Ayahanda mengharapkan kemampuan Al-kun dalam merebut hati orang di akademi, dan berharap dia bisa rukun dengan Euphie. Ayahanda dan yang lainnya pasti yang paling kecewa dengan kejadian ini, tapi aku juga masih punya cukup rasa sayang untuk merasa kecewa.

"Aku cuma dengar cerita dari sisi Euphie, dan kalau memang Euphie salah, menurutku itu harus diluruskan."

Mendengar perkataanku, Navre-kun memelototiku seolah curiga. Aku pun membalas tatapannya dengan kekuatan penuh pada mataku.

"Bagiku, Euphie adalah anak baik yang jujur dan pekerja keras. Meskipun ke depannya kehormatannya tercoreng sampai tidak bisa kembali ke pergaulan bangsawan, dia tidak akan kesulitan sebagai asisten. Hanya saja, aku merasa tidak baik jika membiarkan masalah ini begitu saja. Makanya aku ingin memperjelasnya."

Aku tidak gentar menghadapi Navre-kun dan mengatakan itu dengan tegas sambil menatapnya lurus-lurus. Yang menyerah duluan adalah Navre-kun. Dia mengalihkan pandangan dengan canggung. ...Kalau begini sepertinya aman untuk mendengar ceritanya, ya?

"...Tidak enak bicara sambil berdiri, mari duduk."

Navre-kun menarik kursi seolah menyerah, jadi aku duduk dengan tenang. Setelah aku duduk, Navre-kun pun duduk di kursi seberang.

"...Jujur saja, Anda mengatakan hal-hal yang terlalu tak terduga sampai saya merasa sedang masuk perangkap."

"Hahaha, masa sih?"

Saat aku tertawa untuk menutupinya, Navre-kun menghela napas lelah. Aku merasa agak bersalah, tapi aku ingin masalah ini menjadi jelas.

"Oke, topik utama. Mengutuk Euphie adalah kehendakmu sendiri, kan?"

"...Benar. Saya mendengar Lainie diperlakukan tidak adil, dan saya memutuskan untuk mengutuknya atas usulan Algard-sama yang juga mendengar hal yang sama."

"Al-kun yang mengusulkannya. Memangnya dari awal hubungannya dengan Euphie tidak baik, ya?"

"...Saya tidak tahu bagaimana Putri Anisphia memandang Nona Euphyllia, tapi bagi saya dia adalah orang yang dingin. Karena dia sempurna, dia tidak membiarkan siapa pun mendekat... orang yang seperti itu."

"Hmm? Euphie sedingin itu?"

"Setidaknya dari sudut pandang saya."

Navre-kun menatapku dengan tatapan menyelidik. Dia pasti sedang mengamati bagaimana reaksiku saat dibilang Euphie itu dingin.

Jujur saja, menurutku itu tidak masalah, sih. Euphie pada akhirnya akan menjadi Ratu dan bagian dari keluarga kerajaan. Jika dia berpikir tidak perlu memiliki emosi lebih dari yang diperlukan, maka sikap Euphie itu benar.

"Penilaian Navre-kun terhadap Euphie memang menarik, tapi sekarang lupakan dulu. Intinya kalian dipimpin Al-kun melakukan pembatalan pertunangan dan mengutuknya, kan. ...Lalu?"

"...Lalu, maksudnya?"

Mendengar pertanyaanku, Navre-kun memasang wajah curiga. Aku mengangkat bahu menanggapi responnya.

"Bukan, maksudku keuntungan apa yang ingin kalian dapatkan?"

"Keuntungan, keuntungan... Kami ingin meluruskan kesalahan!"

"Aku tidak peduli hal semacam itu. Jangan bawa-bawa kata benar atau semacamnya di topik ini, bicara pakai teori emosi tidak akan menyelesaikan apa pun."

Aku memperingatkan Navre-kun yang tampak akan marah. Meluruskan kesalahan dan menegakkan keadilan. Kurasa itu tindakan yang bagus. Tapi, itu cuma dalam cerita dongeng. Kalau dilakukan di dunia politik, itu akan jadi masalah. Apalagi kalau cuma berdasarkan emosi.

"Keuntungan kalian yang kumaksud adalah, kalian ingin mempublikasikan kejahatan Euphie, memaksanya minta maaf atas perlakuan tidak adil pada Nona Lainie, dan memperbaiki posisi Nona Lainie. Apakah ini bisa disebut keuntungan?"

"...Kalau dibilang begitu, mungkin memang begitu."

"Begitu ya. Kalau kalian bertindak karena begitu yakin, berarti Euphie benar-benar anak yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, ya? Wah, itu memang dingin."

Mendengar kata-kataku, Navre-kun menatapku dengan bingung. Tidak, kenapa? Aku cuma mau memastikan fakta kok. Aku cuma ingin mengejar apa pemicunya, dan bagaimana alurnya.

"Putri Anisphia ada di pihak Nona Euphyllia, kan...?"

"Kalau dari posisi pelindung sih aku di pihaknya. Tapi kalau Euphie punya kesalahan, menurutku itu harus diluruskan. Faktanya, Euphie memang ada kecenderungan berusaha untuk tidak terlalu membawa perasaan."

Jujur saja, kalau tidak ada celah untuk didekati, wajar orang jadi tidak suka. Jadi tidak bisa dihindari kalau kesempurnaan itu justru menciptakan musuh. Itu salah satu alasan yang mengundang situasi Euphie saat ini. Tapi, kalau ditanya apa sebaiknya membuat celah, itu sulit dijawab.

Berusaha menjadi sempurna bukanlah kesalahan. Jika ada kesalahan, menurutku itu adalah karena dia terpaku hanya pada menjadi sempurna.

"Aku bilang ini supaya tidak salah paham, aku membela Euphie karena Al-kun mengutuk Euphie secara sepihak. Kalau kalian sudah berdiskusi dan sepakat satu sama lain, aku tidak akan ikut campur. Ah, maaf, aku memang menyerbu masuk ke tempat acara sih..."

Kalau tidak ada kebetulan itu, aku tidak tahu apakah aku akan membela Euphie sampai sejauh itu. Kemungkinan aku tetap akan pergi merekrutnya karena sayang ada bakat yang terbuang sia-sia itu tidak nol, sih.

"Lagipula, kenapa kalian tidak berdiskusi dengan Euphie? Apa Euphie sekeras kepala itu sampai menolak negosiasi?"

Mendengar pertanyaanku, ekspresi Navre-kun berubah, tapi reaksinya terasa aneh. Reaksi bengong seperti tiba-tiba disiram air.

"...I-itu. Kami pikir dia tidak akan mau mendengar."

"Tidak mau mendengar? ...Jangan-jangan kalian langsung mengutuknya? Tanpa peringatan?"

Mendengar pertanyaanku, wajah Navre-kun menegang dan dia terdiam. Melihat Navre-kun yang terdiam, aku tidak bisa menahan desahan takjub. Kalau dia tidak merasa itu aneh, itu gawat sih.

"Navre-kun, coba pikir baik-baik. Dari sudut pandangku, apa yang kalian lakukan itu seperti mau perang tapi tidak menyatakan perang dulu, malah menjebak Euphie, tahu."

"Sebesar itu!?"

"Kalian mempertaruhkan harga diri bangsawan, jadi jelas sama saja dengan perang. Kalau tiba-tiba Navre-kun dibilang 'tindakanmu salah, jadi aku akan mengutukmu!' oleh seseorang, apa kau akan diam saja?"

Mendengar teguranku, wajah Navre-kun semakin pucat. Dia memegangi mulutnya dan membungkukkan punggung. Terdengar suara gumaman kecil "Bukan". Dilihat dari mana pun, ini tidak normal.

Aku menutup mulut menunggu Navre-kun tenang. Navre-kun menunduk diam beberapa saat, lalu perlahan mengangkat wajah menatapku.

"...Izinkan saya bertanya sekali lagi. Kenapa, Anda datang menanyakan keadaan pada saya...?"

"Aku cuma ingin tahu apa yang terjadi dan apa masalahnya. Kalau bikin masalah, tinggal introspeksi diri. Kalau harus menebus dosa, laporkan ke pihak yang berwenang. Kalau cuma butuh dimarahi biar jadi cerita lucu, ya biar bisa ditertawakan. ...Boleh aku tanya juga?"

Navre-kun yang sudah benar-benar tenang mengangguk pada pertanyaanku dengan wajah yang masih pucat.

"Kau jatuh cinta pada Nona Lainie?"

Navre-kun menutup matanya rapat-rapat. Seolah berusaha mengingat kenangan.

"...Saya pikir dia gadis yang manis. Sekaligus rapuh, dan saya pikir saya harus melindunginya. Lainie adalah gadis yang tetap tersenyum agar orang lain tidak menyadari kalau dia sedang susah. Jadi kalau ditanya apa saya jatuh cinta, mungkin saya memang tertarik padanya. Saya tidak bisa menyangkal itu..."

"...Begitu ya. Aslinya dia bukan anak bangsawan, kan. Tiba-tiba dimasukkan ke Akademi Bangsawan dan kesulitan, pasti rasanya ingin membantu. Apalagi kalau Nona Lainie anak yang baik."

Aku bisa mengerti perasaannya. Kalau aku ada di sana, mungkin aku juga ingin mengulurkan tangan. Tapi, tetap saja apa yang dilakukan Navre-kun dan kawan-kawannya tidak bisa dimaafkan.

"Kenapa kalian memilih menyelesaikannya dengan paksa? Itu yang tidak bisa kupahami, dan menurutku itu kegagalan kalian. Terus, Al-kun yang mengusulkan untuk mengutuknya, kan?"

"Ya..."

"Itu, apa Nona Lainie senang?"

"Eh?"

Navre-kun yang agak melamun, mendongak kaget mendengar pertanyaanku. Aku terus bertanya sambil menatap lurus wajah Navre-kun yang mendongak.

"Aku tanya apa Nona Lainie senang. Apa Nona Lainie bilang ingin kalian melakukan itu? Dari kesan yang kudengar, sepertinya dia bukan anak yang akan senang masalahnya diselesaikan dengan cara seperti ini."

Mendengar kata-kataku, Navre-kun berhenti bergerak seolah membeku. Dia mulai gemetar seperti sihirnya telah terlepas, dan menyusut sambil mencengkeram kedua lengannya sendiri.

"...Saya, ...aku... hanya, berniat baik, itu, demi dia... apa yang telah kulakukan...?"

Aku tidak menjawab gumaman Navre-kun yang menutupi wajah dengan kedua tangannya. Sebagai orang luar, aku hanya bisa mengatakan fakta yang teramati. Mungkin, jika dilihat dari sudut pandang yang tidak kuketahui, hasilnya terlihat akan benar dan baik.

Tapi, bagiku aku sama sekali tidak bisa membayangkan ceritanya akan berakhir baik. Sudah jelas akan gagal bagaimanapun caranya, tapi tetap melaksanakannya, hanya bisa dibilang bodoh.

"...Katanya penyakit cinta itu mirip demam. Apa yang kau lakukan tidak bisa ditarik kembali, tapi kau sedang sakit. Mungkin ada ruang untuk simpati di situ. Yang bisa kukatakan cuma turut berduka cita."

Aku tidak tega melontarkan kata-kata yang memojokkan Navre-kun yang kondisinya seperti ini. Lalu Navre-kun mengangkat wajah menatapku. Matanya yang kehilangan kekuatan tampak goyah tak tentu arah.

"...Dari sudut pandang Putri Anisphia, apakah kami salah?"

"Pikirkan baik-baik sendiri hasil dari apa yang kalian lakukan. Demam penyakit cintanya sudah turun dan kau sudah cukup dingin, kan. Mengubah sudut pandang adalah kemampuan wajib untuk mengejar kebenaran."

"...Anda orang yang keras ya."

Navre-kun menunduk lesu sepenuhnya. ...Kalau lebih lama lagi di sini dia cuma akan menderita. Sebaiknya aku mundur sekarang.

"Terakhir, izinkan aku bertanya. Nona Lainie bukan anak yang akan menjebak orang lain, kan?"

"...Ya. Saya rasa begitu."

"Begitu ya, kalau begitu ini hanya kesalahpahaman yang malang. Atau mungkin semuanya salah. Pasti bukan cuma Navre-kun yang salah."

Aku berdiri dan memunggungi Navre-kun. Aku sudah cukup mendengar apa yang ingin kudengar. Selanjutnya, apa pun yang terjadi pada Navre-kun, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku cuma bisa bilang berjuanglah.

Mungkin menyadari aku akan pergi, dengan tetap menunduk, Navre-kun bertanya dengan suara lemah.

"Izinkan saya juga bertanya. ...Dari sudut pandang Putri Anisphia, Nona Euphyllia itu orang yang seperti apa?"

"Euphie adalah anak yang hanya bisa menjadi Ratu. Sebagai penopang Raja, demi menjadi simbol yang membimbing negara, dia membunuh ego pribadinya. Karena itu dia menjadi anak baik yang dingin. Dia mencoba memikul peran sebagai Ratu, dan tidak bisa memilih jalan selain itu. Anak yang seperti itu."

"...Begitu, ya. Terima kasih."

Menanggapi suara Navre-kun di punggungku, aku mengatakan ini tanpa menoleh.

"Ini cuma ikut campur, tapi orang tua yang mau mengulurkan tangan pada anaknya meskipun melakukan kesalahan fatal itu ternyata ada banyak, lho. Kalau kau merasakannya, aku sarankan untuk bicara dengan ayahmu."

Aku tidak mendengar jawaban Navre-kun. Aku membuka pintu dan keluar kamar. Lalu aku bertatapan dengan Komandan Ksatria Sprout yang berdiri mematung di luar kamar.

Komandan Ksatria Sprout menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, lalu menundukkan kepala tanpa berkata apa-apa.

Saat sampai di samping Komandan Ksatria Sprout, aku menghentikan langkah dan bersuara.

"...Komandan Ksatria Sprout, untuk jaga-jaga saya peringatkan, ya."

"...Peringatan?"

"Entah kenapa, saya punya firasat buruk. ...Semoga saja tidak kena."

Hanya mengatakan itu, aku menutup mulut. Komandan Ksatria Sprout juga tidak mendesakku lebih jauh.

Aku terus berjalan melewati samping Komandan Ksatria Sprout menuju pintu keluar. Sambil memeluk firasat buruk yang sulit dijelaskan di dalam dada.

* * *

──Sejak mendengar cerita Navre-kun, firasat buruk ini tidak mau hilang.

Aku masuk ke bengkel dan tenggelam dalam pikiranku sendiri. Tapi dipikirkan berapa kali pun, jawabannya tidak ketemu. Informasi yang ada kurang untuk menghapus firasat buruk ini. Firasat buruk ini bersifat intuitif, tapi tidak jelas dari mana asalnya.

(...Lainie Cyan, putri baron, ya)

Rasanya seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi, bagaimanapun aku menyusun informasi yang ada, aku tidak bisa memperjelasnya. Itu membuatku gemas dan gelisah.

Aku mencoba mengusir rasa gelisah itu, tapi tidak ada ilham yang muncul. Untuk mengubah suasana hati, aku menghela napas dan mengangkat wajah, lalu di depanku ada wajah Euphie.

"Waaa!? Yu, Euphie!?"

"...Akhirnya Anda sadar. Saya sudah kembali."

"S-selamat datang kembali."

Entah Euphie yang menghilangkan hawa keberadaannya, atau aku yang sama sekali tidak menyadarinya. Pokoknya tatapan Euphie terasa sakit. Tatapan datar yang seolah menyalahkan diarahkan padaku.

"Katanya Anda berkunjung ke kediaman Earl Sprout, ya?"

"...Ilia, kau cerita ya...?"

Diam dong, dasar Ilia. Aku refleks mencoba mengelak, tapi tidak bisa menyusun kata-kata dengan baik. Saat aku mengalihkan pandangan karena kalah mental, Euphie menghela napas panjang.

"Bukankah saya sudah bilang jangan menyembunyikan apa pun?"

"...Kupikir bukan hal yang perlu diceritakan juga, sih."

"Untuk apa Anda pergi ke kediaman Earl Sprout?"

Aku merasakan tekanan dari Euphie yang seolah berkata dia tidak mengizinkan rahasia. Aku menyerah pada tekanan itu dan buka mulut.

"...Untuk bertanya tentang Baroness Cyan..."

"...Itu saja?"

"Dan juga, kenapa mereka mengutuk Euphie."

"...Kenapa tiba-tiba mulai menyelidiki hal seperti itu? Apa kemarin terjadi sesuatu?"

Menanggapi pertanyaan Euphie, aku hendak menutup mulut. Tapi Euphie menangkup pipiku dengan tangannya untuk menyamakan pandangan, memaksaku menatap ke arahnya. Melihat mata Euphie yang mendesak, aku tidak bisa diam saja.

"...Ayahanda, anu, beliau bertanya apakah aku mau hadir saat memanggil Baroness Cyan dalam waktu dekat untuk memastikan kepribadiannya... Jadi, aku berpikir ingin tahu anak seperti apa dia..."

"Saat saya sengaja pulang ke rumah orang tua, ya."

"Ayahanda, dan juga Ibunda merasa tidak enak. Khawatir akan membebani Euphie..."

"...Ratu Sylphine juga. Beliau sudah kembali, ya."

Tangan Euphie terlepas dari pipiku, dan Euphie menempelkan satu tangan di dahinya sambil menunduk dan menghela napas.

Aku jadi merasa tidak enak, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling bengkel.

"...Apakah saya sebegitu tidak bisa diandalkannya?"

"Euphie?"

"Memang saya tidak bisa bilang saya baik-baik saja. ...Tapi saya adalah asisten Anda. Saya ingin menjadi asisten Anda. Tapi rasanya seperti dibilang saya hanya merepotkan dan tidak bisa diandalkan. Saya sedikit sedih."

"Bu-bukan begitu! Bukan Euphie tidak bisa diandalkan, tapi kami tidak ingin menyakiti Euphie! Kau sudah cukup syok, kan? Padahal begitu, aku tidak ingin membebani pikiran Euphie..."

Mendengar kata-kata Euphie, aku tanpa sadar berdiri dan berkata sambil menyentuh bahunya. Lalu Euphie menggenggam tanganku. Tanganku digenggam erat dengan kedua tangannya, dan ditarik ke dada Euphie.

"Meskipun begitu, itu adalah tanggung jawab yang harus saya pikul. ...Jika Anis-sama merasa sanggup, tolong biarkan saya ikut memikulnya. Saya tidak suka ditinggalkan."

"...Euphie."

Tangan Euphie sedikit gemetar. Tapi tatapan yang lurus diarahkan padaku sangat sungguh-sungguh dan penuh dengan cahaya yang kuat.

Sungguh, anak ini terlalu berusaha untuk menjadi kuat. Padahal jadi lebih lemah juga tidak apa-apa. Tapi aku mengerti bahwa dibuatkan rasa sungkan seperti itu juga pasti menyakitkan bagi Euphie. Kalau begitu, melakukan seperti yang diinginkan Euphie sepertinya adalah yang terbaik.

"...Maaf karena mencoba menyembunyikannya."

"Ya. Saya mohon, biarkan saya ikut memikulnya bersama. Ini masalah saya."

"Ya, aku mengerti."

Aku maju selangkah, dan memeluk Euphie. Seharusnya aku tahu dia tidak akan puas hanya dengan dilindungi, tapi khusus untuk masalah pembatalan pertunangan ini, aku ragu untuk mengatakannya langsung.

Dia sendiri juga bilang, dia tidak bisa menjamin baik-baik saja. Tapi jika Euphie bilang ingin diberitahu, maka diam saja justru tidak jujur.

"...Sepertinya sudah selesai dengan baik, ya."

"Ilia."

Seolah sudah memperhitungkan saat percakapanku dan Euphie selesai, Ilia masuk ke dalam bengkel. Aku tanpa sadar menatap Ilia dengan tatapan datar. Aku sadar memang sebaiknya tidak disembunyikan dari Euphie, tapi ada perasaan rumit karena kalau Ilia tidak bilang, Euphie tidak akan sadar.

Menyadari tatapan datarku, Ilia tetap tanpa ekspresi, hanya matanya yang menyipit.

"Ini demi kalian berdua. Apakah saya lancang?"

"Tidak, saya terbantu. ...Anis-sama, Ilia juga melakukannya karena khawatir. Katanya Anis-sama sedang memikirkan sesuatu dengan serius."

...Memang benar aku sedang memikirkan sesuatu dengan serius, dan karena itu aku membuat mereka khawatir, jadi tidak ada ruang untuk membantah. Sambil mengerutkan kening, aku jadi tidak bisa berkata apa-apa.

"Jarang sekali Tuan Putri sampai sebingung itu."

"Ada apa sebenarnya?"

"...Dibilang ada ya ada, tapi aku cuma punya firasat buruk dan tidak bisa mengatakannya dengan jelas."

"Firasat buruk...?"

Euphie memasang wajah heran. Tapi Ilia berbeda. Ekspresi datarnya sedikit runtuh dan dia memasang wajah tidak suka.

"...Firasat buruk Tuan Putri, ya. Itu sungguh tidak menyenangkan."

"Ilia?"

"Firasat buruk Tuan Putri sering kali menjadi pertanda akan terjadinya hal yang benar-benar buruk. Tuan Putri memang sering bikin masalah, tapi motifnya sebagian besar adalah niat baik. Jika insting Tuan Putri merasakan sesuatu, itu hampir selalu disebabkan oleh niat jahat."

"Begitu kah?"

"Kupikir cuma kebetulan saja, lho..."

Saat firasat burukku bekerja, memang biasanya saat ada sesuatu yang didasari niat jahat sedang bergerak. Saat beraktivitas sebagai petualang pun tidak sedikit yang begitu. Seperti permintaan yang curang, atau indikasi kasus yang tersembunyi dalam permintaan. Firasat burukku dengan probabilitas tinggi bisa menebak hal-hal seperti itu.

Selain hal-hal yang benar-benar berbahaya, yang sering tertangkap instingku biasanya adalah gangguan atau pelecehan dari para petinggi Kementerian Sihir terhadapku. Seperti kata Ilia, aku tidak bisa menyangkal kalau dibilang bereaksi terhadap niat jahat. Meskipun aku tidak mau mengakuinya.

"...Kalau begitu pun, apa yang membuatku merasa firasat buruk?"

"Tuan Putri sendiri tidak tahu?"

"Makanya aku tidak tenang!"

"Yang Anis-sama tanyakan adalah tentang Baroness Cyan, kan?"

Mendengar nama Baroness Cyan dari Euphie membuatku sedikit khawatir, tapi aku menanggapi pembicaraan tanpa terlalu mempedulikannya.

"Benar, aku ingin tahu anak seperti apa dia. Cuma, rasanya dia bukan anak yang akan merencanakan konspirasi semacam itu..."

"Ya, saya juga berpikir begitu. ...Saya juga tidak merasa Baroness Cyan adalah orang jahat."

"Euphie juga?"

"Saya pernah menegur perilaku Baroness Cyan, tapi sepertinya dia sendiri juga merenung. Dia bukan anak yang sama sekali tidak mau mendengar peringatan, dan jika dibilang sekali, dia terlihat berusaha memperbaikinya. Malah karena kalau saya bicara sembarangan saya bisa dipelototi Algard-sama, saya sempat berpikir lebih baik membiarkannya sesukanya saja..."

Bahkan dari pandangan Euphie pun Baroness Cyan bukan anak nakal, ya. Makanya banyak orang yang bersimpati? Tapi, bukan berarti Euphie yang salah, kan? Entah kenapa di situ ada yang mengganjal.

"...Informasinya kurang nih, soal Baroness Cyan."

"Apakah firasat buruk itu dirasakan terhadap Baroness Cyan?"

"...Tidak tahu. Cuma, ada sesuatu yang menjijikkan. Situasi ini sendiri."

"Situasi ini sendiri?"

"Kalau aku bisa mengatakannya dengan jelas sih bagus... aaah, bikin geregetan!"

Yang bisa kukatakan dengan jelas adalah, aku merasa situasi ini aneh. Tapi aku tidak tahu pasti di mana letak kejanggalannya. Itu yang membuatku tidak tenang dan pusing.

"Rasanya, kepribadian Baroness Cyan yang kudengar dan situasinya tidak sinkron."

"...Masa, sih?"

"Iya. Begitu lho."

"Tidak sinkron bagaimana?"

"Baroness Cyan di mata Euphie adalah anak yang mau mendengarkan orang lain, dan aku masih bisa mengerti kalau latar belakangnya yang rumit menarik perhatian orang. Tapi, apa perlu sampai membawa pembatalan pertunangan dan penghukuman demi melindungi anak penurut seperti itu?"

"...Itu, apakah, begitu?"

"Menurutku begitu. Al-kun juga mikir apa sih... aah, tetap saja tidak lega..."

Aku tidak bisa menangkap penyebab yang mengarah pada situasi yang sudah jadi ini. Itu titik yang membuatku tidak lega. Meskipun mencoba menghitung mundur, aku tidak bisa sampai ke penyebabnya dari bukti situasi. Seperti tertutup kabut, tidak bisa kugenggam. Rasanya sungguh menjijikkan.

"Untuk sementara, jika dipikirkan pun tidak ketemu jawabannya, bagaimana kalau ditunda dulu? Memang tampaknya ada firasat buruk, tapi kalau tegang terus nanti malah cuma lelah."

"...Uurn, benar juga sih."

"Benar. Istirahatlah dulu, Anis-sama."

Kalau Ilia dan Euphie kompak menyuruhku istirahat, tidak baik juga menolak, aku sudah membuat mereka khawatir.

Namun, situasinya sudah mulai terlihat, tapi penyebab yang mengarah ke sana masih belum jelas.

Sebenarnya, apa yang ada di balik pembatalan pertunangan ini. Hawa bahwa ini tidak akan berakhir sederhana semakin kuat.

Dan, yang berada di pusaran itu adalah... Al-kun. Adik yang mewarisi darah yang sama denganku, yang sudah kuputus hubungannya. Seharusnya dia memimpin generasi berikutnya sebagai Raja negeri ini.

(...Sebenarnya apa yang kau lakukan, Al-kun...?)

Bayangan masa lalu yang kusembunyikan di dalam dada, membuatku merasakan sakit yang menusuk. Seolah ingin menghapus rasa sakit itu, aku menggelengkan kepala ke kiri dan kanan, mengusirnya dari kesadaranku.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar