Featured Image

Tenten Kakumei V1 Ending

Metoya Februari 13, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Ending


Bukannya aku tidak mau segera bangun, sungguh! Tapi, kenyataannya aku baru sadar setelah pingsan selama tiga hari penuh setelah mengalahkan Naga itu. Penyebabnya? Konsumsi energi sihir yang berlebihan, efek balik dari overdosis Ramuan Sihir, dan kelelahan ekstrem. Tahu-tahu, aku sudah terbangun di kamarku di paviliun.

"Selamat pagi, Putri."

"……Ilia? Ini, paviliun……? ……Eh, bagaimana dengan Naganya!?"

"Tenanglah. Sudah tiga hari berlalu sejak Putri mengalahkan Naga itu."

"Sudah tiga hari!?"

"Dan Yang Mulia Raja berpesan untuk segera memberi tahu beliau begitu Anda sadar. Beliau akan datang berkunjung ke sini."

"Eh, tidak mau."

Kalau aku tidak pingsan, mungkin aku bisa kabur dengan berbagai alasan. Tapi kembali ke paviliun dalam keadaan pingsan setelah melesat pergi tanpa izin? Itu sudah pasti berujung pada ceramah panjang! Tidak mau, tolong larang beliau menjengukku!

"Kalau begitu, saya akan memanggil beliau."

"Ilia! Mari kita bicarakan ini! Kumohon, bantu aku meyakinkan Ayahanda……!"

"Mengenai hal itu, karena kesepakatan telah terjalin antara Yang Mulia Raja dan Nona Euphyllia, dengan sangat menyesal saya tidak bisa membantu Anda. Fufu."

"Jangan tertawa! Aduh, sakit sakit sakit!? Seluruh tubuhku rasanya sakit seperti ditarik-tarik!!"

"Kalau begitu saya permisi. Fufufu……"

"Tidak mau! Tunggu Ilia! Setidaknya beri aku waktu satu hari lagi……!"

Permohonanku yang putus asa sia-sia belaka. Ilia meninggalkan ruangan dengan wajah datar sambil meninggalkan tawa yang menyeramkan. Aku sempat berpikir untuk kabur, tapi kondisiku belum pulih sepenuhnya. Akhirnya, aku pasrah menerima nasib sambil menelan air mata.

Tak lama setelah Ilia keluar, Ayahanda muncul. Dan bukan hanya Ayahanda, tapi ada juga Euphie dan Duke Grantz. Saat melihat mereka, aku sudah merasa sangat tidak nyaman. Aku ingin lari secepat mungkin. Aku ingin balik kanan, tapi memutar leher saja rasanya sakit!

"……Akhirnya kau sadar juga, dasar anak bodoh yang eksentrik."

"Ayahanda, Anisphia sungguh bahagia Anda berkenan datang jauh-jauh ke tempat seperti ini! Bagaimana suasana hati Anda hari ini!?"

"Hahaha, apa kau tidak lihat urat yang menonjol di pelipisku ini?"

Ya, kelihatan jelas sekali. Ayahanda tertawa ceria, tapi tekanan dari senyumannya luar biasa mengerikan!

"Dasar bodoh!!"

"Hiii!"

Teriakan marah Ayahanda yang menggetarkan gendang telinga mengguncang otakku dengan tepat sasaran.

"Anggota keluarga kerajaan mana yang melesat paling depan ke garis depan, apalagi sampai menyerang Naga!? Kau bahkan menyeret Euphyllia, apa yang sebenarnya kau pikirkan, hah!?"

"I-Itu, ada alasan yang lebih tinggi dari awan dan lebih dalam dari lembah……"

"Haaah?"

"Maafkan aku!! Aku bertindak seenaknya!! Apalagi aku juga menyeret Euphie, bukan cuma diriku sendiri!!"

Tak kuat menahan tekanan Ayahanda, aku pun berteriak meminta maaf. Tekanan Ayahanda benar-benar terasa seperti aura hitam pekat yang siap menelanku.

Mendengar teriakanku, Ayahanda perlahan meredakan aura hitamnya, menghela napas panjang, lalu memijat pelipisnya dengan jari.

"……Benar-benar deh kau ini. Aku sudah mendengar laporannya dari Euphyllia. Katanya kalau kau tidak maju, kerusakannya akan jauh lebih besar."

"Hah?"

"Dengan kekuatan tempur biasa, kita hanya bisa berharap Naga itu kehabisan energi sihir. Atau mungkin bertarung menggunakan senjata energi sihir sepertimu, tapi orang yang bisa bertarung sepertimu sangatlah sedikit. Lagipula, butuh waktu untuk membawa orang-orang itu ke lokasi. Dalam hal meminimalkan kerusakan, tindakanmu jelas membuahkan hasil terbaik, itu tidak bisa disangkal."

Aku mengangguk setuju dengan perkataan Ayahanda. Naga itu menutupi seluruh tubuhnya dengan energi sihir, itulah yang membuatnya menjadi penguasa mutlak. Jika menggunakan sihir biasa, rasanya tidak akan tembus kecuali terus-menerus dihantam sihir berdaya ledak tinggi setingkat milik Euphie.

Kalau bertarung secara normal, kita hanya bisa mengincar kelelahan Naga dengan terus menyerangnya menggunakan sihir sampai energi sihirnya habis. Tapi cara itu tidak bisa menghentikan pergerakan Naga. Jadi korbannya pasti akan lebih banyak. Fakta bahwa aku maju dan menahan Naga, jika dilihat dari hasilnya saja, adalah yang terbaik.

"Tapi justru itulah yang menjadi masalah, dasar anak bodoh. Kau malah membuat situasinya jadi semakin rumit."

"Yah, aku sadar kalau aku bertindak seenaknya, tapi kalau ada orang yang selamat karenanya……"

"Benar. Aku ingin memujimu untuk hal itu. Tapi posisimu tidak memungkinkan hal tersebut. Terlebih lagi, kali ini kau benar-benar menjadi penghalang bagi Algard."

"Hah? Kenapa Al-kun?"

Aku benar-benar tidak mengerti kenapa nama Al-kun muncul di sini, jadi aku memiringkan kepalaku.

"Algard sangat ingin ikut serta dalam pembasmian Naga. Dia ingin menyelesaikan masalah ini dengan cara menghadapi Naga sebagai seorang Pangeran."

"……Eh, jadi aku benar-benar menghancurkan rencana Al-kun?"

"Dan kau melakukannya secara frontal."

Uwaaaah! Aku tidak dengar kalau ada rencana seperti itu! Lagipula bukannya Al-kun sedang dihukum skorsing!? Harusnya dia diam saja dong. Eh, tapi kalau aku yang bilang begitu, pasti Al-kun juga bakal bilang hal yang sama padaku!

"Kau pasti bertindak sesuka hati tanpa memedulikan sekitar seperti biasanya, tapi kali ini kau benar-benar tidak memikirkan situasinya sama sekali. Bagaimana sebenarnya isi kepalamu itu sampai bisa melakukan hal yang begitu ekstrem, astaga! Gara-gara itu, Algard kembali dihukum skorsing, dan penilaian terhadapmu terbelah menjadi dua."

"Antara putri gila yang bertindak semaunya sendiri, dan putri pemberani yang menghadapi Naga sendirian, semacam itu……?"

"Secara garis besar, pemahaman itu benar."

Ayahanda menghela napas panjang. Aku sih tidak masalah kalau penilaian terhadapku terbelah dua karena itu sudah biasa, tapi kalau disuruh memikirkan situasi, ya susah juga……

"……Bagaimana dengan kerusakan akibat Stampede?"

"Korban jiwa sedikit. Ada yang luka berat, tapi mengingat terjadi Stampede ditambah kemunculan Naga, kerusakannya sangat minim hingga mengejutkan."

"Syukurlah kalau begitu. Kalau bisa menyelamatkan seseorang, itu lebih baik daripada penilaian terhadapku."

Aku sudah lama menyerah soal menjadi anggota kerajaan yang baik. Ada hal yang lebih penting bagiku daripada penilaian orang lain. Pertama, fakta bahwa kerusakan pada pasukan ksatria dan para petualang tidak terlalu besar. Lalu, satu hal lagi. Malah, ini lebih penting bagiku.

"Lalu, material Naga itu punyaku kan karena aku yang mengalahkannya!?"

"Aku sudah tahu itu tujuanmu, tapi kau ini benar-benar……! Apa kau tidak tahu betapa berharganya benda itu bagi negara!?"

"Aku tidak minta semuanya, kok! Setidaknya aku tidak akan menyerahkan Batu Sihirnya! Itu adalah benda yang dipercayakan kepadaku!"

"Apa? Dipercayakan katamu?"

Ayahanda menatapku dengan curiga. Tatapan dari Euphie, Duke Grantz, dan Ilia yang berdiri diam juga menusukku. Aku sedikit gentar, tapi aku tidak bisa menyerahkan ini.

"Naga itu memercayakannya padaku. Jadi, setidaknya berikan Batu Sihir itu padaku."

"Tunggu, tunggu, Anis. Kau bilang kau berbicara dengan Naga itu!?"

"Bukankah itu cuma gumaman sendiri……?"

Ayahanda berteriak kaget, sementara Euphie bergumam sambil menahan napas. Aku sendiri juga masih sulit percaya, tapi mau bagaimana lagi kalau memang kami berbicara. Lagipula, meskipun tidak dipercayakan, aku tetap menginginkannya.

"Kurasa Naga itu bicara padaku karena akulah yang mengalahkannya. Terserah mau percaya atau tidak. Aku akan menerima hukuman karena bertindak sendiri. Jadi tolong, setidaknya berikan Batu Sihir itu padaku."

"……Haaah, kau selalu saja membawa masalah baru."

"……Yang Mulia, bolehkah saya bicara?"

"……Ada apa, Grantz."

"Selain mempertimbangkan penanganan pasca-insiden Naga, saya punya pemikiran mengenai imbalan dan hukuman bagi Putri Anisphia kali ini."

"……Katakanlah."

"Baik. Saat ini, fakta bahwa Naga telah dikalahkan tidak mungkin disembunyikan dari rakyat. Begitu juga fakta bahwa Putri Anisphia-lah yang berkontribusi dalam mengalahkannya. Dalam situasi seperti ini, memberikan hukuman yang menyalahkan tindakan mandiri Putri Anisphia secara besar-besaran bisa memicu antipati rakyat. Di sisi lain, jika tidak ada hukuman sama sekali, itu akan memicu antipati para bangsawan."

"Menghukum Anis membuat rakyat tidak terima, tapi tidak menghukumnya membuat bangsawan tidak terima, ya."

Ayahanda mengerang sambil mengerutkan kening dengan kesal mendengar perkataan Duke Grantz, dan Duke Grantz pun mengangguk.

"Hukuman bagi Putri Anisphia memang diperlukan. Namun, bagaimana jika saya tampil sebagai pendukung beliau secara resmi? Kita bisa mengatakan bahwa tindakan mandiri Putri Anisphia kali ini didorong oleh keinginan untuk memberikan pencapaian bagi Euphyllia."

"Ayah, apa yang Anda katakan?"

Euphie menatap Duke Grantz dengan mata terbelalak kaget. Aku juga sedikit terkejut.

"Kalau begitu, bukankah itu berarti aku memihak keluarga Adipati Magenta?"

"Memang begitu. Tapi, itu juga tidak sepenuhnya salah, kan?"

"Y-Ya, memang benar sih……"

Tujuan awalku mengajak Euphie menjadi asistenku memang agar dia bisa mendapatkan pencapaian untuk memulihkan reputasinya yang jatuh akibat pembatalan pertunangan. Dan kali ini, Euphie benar-benar berkontribusi besar dalam menahan Stampede dan mengalahkan Naga bersamaku. Bisa dibilang, semuanya berjalan sesuai rencanaku.

"Karena sudah terjadi, tidak bisa dipungkiri bahwa rencana Pangeran Algard telah hancur. Apalagi jika ini dikaitkan dengan pemulihan nama baik Euphyllia, maka ini akan menjadi konfrontasi langsung."

"Jadi kau mau menjadi pelindung Anis, Grantz?"

"Benar. Saya akan mengambil posisi sebagai pelindung, sekaligus menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga kerajaan dan secara khusus kepada Putri Anisphia."

"Itu artinya, Ayah berniat menarik Putri Anisphia ke dalam faksi Ayah?"

"Euphyllia. Faksiku pada dasarnya adalah faksi militer. Banyak yang secara diam-diam menyukai Putri Anisphia. Karena sudah berbenturan langsung dengan Pangeran Algard seperti ini, kita tidak bisa membiarkan posisi beliau terombang-ambing."

"I-Itu memang benar, tapi aku tidak mau terseret dalam masalah politik yang merepotkan!"

"Kali ini Anda terlalu menonjol, Putri. Anda harus merelakannya."

"T-Tidakkk!"

Ughhhh! Tapi ya, sejak memutuskan untuk melindungi Euphie, aku memang harus sedikit banyak berkonfrontasi dengan Al-kun. Awalnya kami memang berseberangan, tapi karena aku jarang tampil di muka umum, pihak sana juga tidak terlalu aktif mencoba menyingkirkanku.

Lagipula, aku sudah melepaskan hak penerus takhtaku, jadi aku mengambil sikap tidak akan menghalangi Al-kun menjadi Raja. Tapi karena Al-kun membatalkan pertunangan dengan Euphie secara tidak masuk akal, posisiku jadi naik secara relatif.

Ditambah lagi aku berhasil mengalahkan Naga, posisiku jadi semakin naik. Kalau alasannya dibuat menjadi kisah indah tentang pemulihan nama baik Euphie, pasti akan jadi topik pembicaraan yang lebih besar lagi. Kalau cuma jadi bahan pembicaraan buruk sih tidak apa-apa, tapi kalau dipuji secara normal itu malah tidak enak, merepotkan.

"Hah…… sepertinya aku tidak bisa menolak ya……"

"Putri Anisphia, anggap saja kejadian kali ini sebagai utang budi."

"Utang budi, ya?"

"Benar. Menggabungkan kejadian ini dengan kegagalan Pangeran Algard, pasti akan ada banyak pihak yang mencoba mendekati Anda. Saya akan menangani hal itu. Anggaplah itu sebagai utang budi."

"……Haa. Maksudnya, jadikan utang dulu, nanti harus kubayar?"

"Ini juga sebagai balasan karena telah menyelamatkan Euphyllia, tapi saya juga punya rencana sendiri."

Hmm, bagaimana ya. Jujur saja, aku tidak paham soal intrik politik. Lagipula, aku memang sengaja menjauh karena tidak mau terlibat dalam intrik semacam itu.

Tapi kali ini aku tidak bisa lari, karena akulah yang berbuat terlalu berlebihan. Ayahanda kesulitan menanganiku karena masalahnya terlalu besar. Aku tidak bisa meredam ketidakpuasan rakyat dan bangsawan sekaligus menghindari intrik politik sendirian. Kalau begitu, yang terbaik adalah meminta bantuan orang yang paham politik.

Duke Grantz menawarkan diri untuk mengambil peran itu. Artinya, dia akan menjadi pelindung politikku dalam masalah ini.

Tapi kalau aku menerimanya, aku mungkin akan dianggap masuk ke dalam faksi Duke Grantz. Bukan berarti aku tidak akur dengan orang-orang di faksi Duke Grantz, sih.

Duke Grantz adalah Perdana Menteri negara ini dan penasihat Ayahanda. Sekaligus dia juga pemimpin berbagai ordo ksatria di daerah dan organisasi yang bertanggung jawab atas pertahanan negara, "Kementerian Pertahanan". Jadi faksi Duke Grantz itu, seperti katanya sendiri, adalah faksi militer.

Saat aku beraktivitas sebagai petualang, aku pernah bertindak bersama ordo ksatria perbatasan, atau membantu mereka dalam bentuk misi. Hubunganku dengan Ksatria Pengawal Kerajaan juga tidak buruk.

Aku pernah diajari berpedang oleh mereka, dan meski dianggap aneh, aku rasa hubungan kami cukup baik. Tapi, aku tidak bisa langsung mengiyakan karena aku tidak bisa membaca sepenuhnya rencana Duke Grantz.

"……Duke Grantz, Anda tidak berniat menentang Al-kun menjadi Raja karena kejadian ini, kan?"

"Saya memang meragukan kualitasnya karena kejadian ini, tapi hal itu sudah setengah terbukti sejak dia meminta Euphyllia sebagai tunangan. Kecuali Pangeran Algard menjadi orang bodoh yang merugikan kepentingan negara, saya belum berencana melakukan apa pun dari sisi saya, kok."

Ugh, bagaimanapun juga aku tidak punya pilihan. Rasanya ingin mengurung diri saja, tapi karena masalahnya besar, akan timbul masalah kalau aku tidak tampil di muka umum. Kalau saja mereka bilang ini hal biasa, pasti lebih mudah. Tapi ini Naga, lho. Wajar kalau tidak bisa begitu, makanya Duke Grantz juga mengusulkan hal ini. Mau bagaimana lagi.

"……Baiklah, anggap saja satu utang budi. Bisakah Anda membantuku kali ini?"

"Dimengerti. Apakah Yang Mulia Raja juga setuju?"

"……Hah, tidak apa-apa. Lagipula, sejak hasilnya keluar, kau pasti sudah menyusun rencana tertentu kan, Grantz?"

"Diri ini adalah orang yang menunjukkan kesetiaan di sisi Yang Mulia demi kepentingan negara ini."

Saat Duke Grantz membungkuk dengan hormat, Ayahanda mengerutkan kening dengan wajah tidak suka. Kemudian, beliau menghela napas panjang dan menoleh ke arahku.

"Anis. Hukumanmu kali ini adalah menghadiri pesta perayaan dengan bersikap layaknya seorang putri. Itu hukumanmu. Mulai dari gaun sampai tingkah laku, kali ini tahanlah sikap ugal-ugalanmu itu dan bersikaplah anggun."

"Gueh!? Pesta perayaan pembasmian Naga!? Dan aku jadi bintang utamanya!?"

"Tentu saja, dasar bodoh! Kan kau yang melakukannya! Tunjukkan sikap bahwa kau akan berperilaku layaknya putri mulai sekarang, dan berusahalah sedikit untuk memadamkan api di sekitarmu!"

Jadi aku harus berpura-pura sudah bertobat dan akan menjadi putri yang baik mulai sekarang? Eh, tidak mau. Tapi sepertinya aku tidak boleh bilang tidak. Ugh, tapi tidak mau. Kenapa aku harus ikut pesta perayaan. Apalagi dengan syarat harus bersikap layaknya putri, pasti bikin sesak napas! Bersikap layaknya putri itu mustahil bagiku!

"Kalau begitu, di sana kita akan umumkan secara resmi bahwa Euphyllia telah menjadi asisten Putri Anisphia dan ikut andil dalam pencapaian kali ini. Ini kesempatan yang bagus."

"Uuuuuhhhh! Tidaaaak! Aku tidak mau bersikap layaknya putriiii!"

"Jangan merengek, dasar anak bodoh!"

Meskipun dimarahi Ayahanda, yang tidak mau ya tidak mau! Ah, aku jadi depresi sekarang. Rasanya ingin kabur dari sini.

"Euphyllia, bantu Anis mengulang pelajaran tata kramanya. Dan awasi dia agar tidak kabur."

"Baik, Yang Mulia."

"Aaaaaah, tidaaaak, aku tidak mau belajar tata krama lagiiiii!"

"Dansa juga. Belajarlah lagi sampai tidak memalukan sebagai anggota keluarga kerajaan."

"Tidaaaaaakkkkkkkkk!"

Teriakan protesku sepertinya tidak didengar, karena Ayahanda dan yang lainnya mulai berdiskusi meninggalkanku.

Ditinggalkan begitu saja, aku mengerang kesal, tapi tidak ada yang memedulikanku, jadi aku hanya bisa menunduk pasrah.

    * * *

Setelah diputuskan bahwa pesta perayaan pembasmian Naga akan diadakan, waktu berlalu dengan sangat cepat. Begitu kondisi tubuhku pulih, pengukuran untuk gaun baru segera dilakukan, dan pelajaran ulang tata krama serta dansa pun dimulai. Karena terakhir kali aku melakukannya saat masih kecil, pendidikannya jadi sangat dipadatkan karena aku sudah banyak melupakannya.

Euphie dan Ilia yang menjadi penanggung jawab pendidikan kilat ini sangat menakutkan. Sekali waktu, aku pernah mencoba kabur karena tidak tahan dengan pendidikan kilat yang terlalu intens, tapi aku ditangkap oleh mereka berdua. Sejak saat itu, mereka berdua mulai mengawasiku, jadi aku benar-benar menyerah untuk kabur.

Dan, hari pesta perayaan pun tiba dalam sekejap mata. Bahkan sebelum pesta dimulai, aku sudah kelelahan dan tidak bersemangat. Yang membuatku semakin depresi adalah gaun yang kukenakan. Gaun ini beratnya minta ampun sampai rasanya pundakku mau copot.

Padahal ini pekerjaan mendadak, tapi katanya Ilia sudah mengatur semuanya sejak lama agar gaun bisa disiapkan kapan saja. Dia benar-benar pelayan yang kompeten. Tapi aku tidak akan memaafkannya. Kapan dia mendesain gaun ini, dasar Ilia……

Gaun yang disiapkan untuk pesta perayaan kali ini adalah gaun yang sangat sempurna untuk dikenakan oleh anggota keluarga kerajaan. Kalau bukan aku yang memakainya, aku pasti akan jujur memujinya.

Gaun berwarna dasar merah muda lembut yang dihiasi dengan frill putih, dan sulamannya pun menggambarkan motif yang indah. Permata yang dikenakan juga memiliki hiasan yang mewah, semakin menonjolkan keindahan gaun tersebut.

Bayangan di cermin sama sekali tidak terlihat seperti diriku. Dengan riasan lengkap, aku bisa dibilang sebagai gadis cantik yang menawan. Tapi semakin aku melihat diriku sendiri, semakin aku merasa depresi.

"Sampai kapan kau mau cemberut begitu?"

"Ayahanda."

Saat aku sedang memelototi bayanganku di cermin, Ayahanda masuk ke ruangan. Di sampingnya ada Ilia. Mungkin karena aku sudah selesai ganti baju dan berdandan, jadi dia diizinkan masuk. Kami memang berencana masuk ke lokasi pesta bersama. Ah, sudah mau mulai ya, malasnya.

Saat aku menghela napas, Ayahanda menatapku lekat-lekat. Kemudian beliau menjatuhkan bahunya dan menghela napas lelah. Seolah melihat sesuatu yang menyedihkan.

"Kalau kau tutup mulut, kau terlihat sangat pantas jadi putri, padahal……"

"Tidak perlu komentar tambahan! Aku sendiri juga tidak pernah merasa pantas jadi putri, kok!"

Saat aku menjawab dengan kesal, Ayahanda mengangkat alis dan memelototiku.

"Astaga…… jangan bicara seperti itu saat acara berlangsung, Anis."

"……Baik, Ayahanda."

Aku menghela napas untuk kesekian kalinya, lalu menekan tombol di dalam diriku untuk mengubah kesadaran.

Menenangkan emosi, dan memandang diri sendiri secara objektif. Memisahkan emosi, dan menggerakkan diri sendiri dari luar.

Saat aku tersenyum tipis dan membungkuk pada Ayahanda, Ayahanda memasang wajah aneh. Wajah seperti baru saja melihat hantu. Biasanya aku akan memajukan bibir, tapi aku tetap tersenyum dan meraih tangan Ayahanda.

"Ayahanda juga, tolong hati-hati agar tidak memperlihatkan ekspresi itu kepada para bawahan Anda."

"……Benar-benar deh, berapa kali pun melihatnya, perubahanmu itu terlihat sangat mengerikan."

"Saya merasa terhormat."

Ayahanda berkata dengan nada heran bercampur helaan napas. Aku memiringkan kepala sedikit dan tersenyum pada Ayahanda. Ini adalah "Mode Tuan Putri" saat aku terpaksa harus bersikap layaknya anggota kerajaan. Apa pun yang dikatakan orang, aku akan tersenyum lembut dan membalas dengan kata-kata yang aman. Meski Ayahanda selalu merasa jijik melihatnya.

"Kalau begitu, mari kita berangkat. Mohon kawalannya, Ayahanda."

"……Umu."

"Saya berangkat, Ilia."

"Baik, Putri. Hati-hati di jalan."

Menjawab salam perpisahan Ilia dengan seadanya, aku melangkah masuk ke tempat pesta perayaan dengan dikawal oleh Ayahanda. Para bangsawan yang sudah hadir di pesta perayaan tampak sedang asyik berbincang-bincang.

Pesta perayaan juga merupakan ajang sosialisasi bagi para bangsawan, dan diperlukan untuk mendapatkan informasi. Nah, di antara mereka ini, berapa banyak ya yang benar-benar tulus senang karena aku berhasil mengalahkan Naga? Aku berjalan sambil memikirkan hal itu di sudut pikiranku.

"Yang Mulia Raja Orphans dan Yang Mulia Putri Anisphia memasuki ruangan!"

Dengan satu seruan dari pembawa acara, pandangan seluruh ruangan tertuju pada kami. Ayahanda berjalan dengan gagah, dan aku berjalan dengan punggung tegak. Pertama-tama, Ayahanda harus menyampaikan pidato sebagai Raja. Kami naik ke panggung yang telah disiapkan, dan Ayahanda memandang para bangsawan yang berkumpul.

"Semuanya, terima kasih telah berkumpul di pesta perayaan malam ini. Silakan bersantai, malam ini adalah malam perayaan. Pesta ini diadakan untuk merayakan keberhasilan putriku yang tidak berbakti, Anisphia, dalam mengalahkan Naga, bencana alam yang mengancam negara ini."

Saat Ayahanda memperkenalkanku, aku juga membungkuk dengan anggun layaknya seorang putri.

"Meskipun Anisphia telah mencapai prestasi yang gemilang, ia juga melakukan kesalahan yang harus dihukum, seperti bertindak sendiri tanpa izin. Namun, mengingat prestasinya, hal itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk memberinya hadiah. Dan, bukan hanya putriku yang berkontribusi besar dalam pembasmian Naga kali ini. Kepada hamba setiaku, Adipati Magenta, dan putrinya Euphyllia, silakan naik ke panggung!"

Sesuai instruksi Ayahanda dan rencana yang sudah disepakati, Duke Grantz dan Euphie membungkuk hormat lalu naik ke panggung. Duke Grantz mengenakan pakaian resmi yang lebih mewah dari biasanya.

Dan Euphie. Rambut putih peraknya disanggul ke atas, dan ia mengenakan gaun dengan gradasi warna dari biru tua ke biru muda. Kecantikannya yang diakui semua orang hari ini terlihat sangat menyilaukan, tak kalah dengan permata yang dikenakannya; benar-benar kecantikan yang tak terbantahkan.

"Hamba setiaku, Euphyllia putri Grantz. Kali ini kau telah mendampingi putriku yang egois dan menjadi salah satu faktor keberhasilan pembasmian Naga. Itu adalah tindakan yang sangat terpuji."

"Saya merasa sangat terhormat, Yang Mulia. Jika negara dalam bahaya, meskipun saya hanyalah seorang gadis, saya tidak akan ragu untuk berdiri di medan perang. Malahan, saya sangat berterima kasih karena telah diberikan kehormatan yang berlebihan bagi diri saya yang telah melakukan kesalahan ini. Selain itu, saya hanyalah seseorang yang ditunjuk sebagai asisten Putri Anisphia. Mohon anggap semua kehormatan saya sebagai kehormatan tuan saya. Semuanya adalah medali bagi putri Anda yang luar biasa."

Euphie berlutut dengan hormat sambil merangkai kata-kata. Dipuji setinggi langit begini biasanya membuatku malu, tapi sekarang aku memasang topeng senyuman agar tidak terlihat di wajahku.

"Umu. Euphyllia, kau telah memikul banyak beban. Bukan bermaksud sekadar menghibur, tapi aku berharap kau akan terus menunjukkan kesetiaanmu di sisi putriku yang tidak berbakti ini."

"Semuanya sesuai dengan kehendak Yang Mulia."

"Grantz, kau juga, kau telah membesarkan putri yang baik. Sekali lagi, aku ingin kau terus mendukungku seperti biasanya."

"Diri ini dan kesetiaan ini, kapan pun dan dalam situasi apa pun, adalah demi negara ini dan demi Yang Mulia."

Keluarga Adipati Magenta memberikan jawaban yang sempurna lalu membungkuk. Ayahanda mengangguk melihatnya, lalu mengalihkan pandangan padaku. Aku meletakkan kedua tangan di depan dan menghadap Ayahanda.

"Anisphia, prestasimu kali ini sungguh luar biasa. Namun, kau telah mengabaikan kewajibanmu sebagai anggota kerajaan. Sayang sekali aku tidak bisa memujimu sepenuhnya. Mulai sekarang, berusahalah untuk bersikap layaknya anggota kerajaan yang pantas."

"Saya akan berusaha agar tidak mempermalukan darah kerajaan yang mengalir di tubuh ini."

"Bekerjakeraslah agar kata-kata itu tidak menjadi kebohongan. Sekali lagi, kerja bagus, Anisphia. Batu Sihir Naga yang kau inginkan adalah milikmu. Terimalah juga material Naga, meskipun tidak semuanya."

Horeee! Sambil menahan agar tidak terlihat di wajah, aku bersorak dalam hati. Dengan ini Batu Sihir Naga jadi milikku! Senangnya! Usahaku tidak sia-sia! Ayahanda melirikku yang sedang kegirangan dalam hati, lalu menatap para bangsawan yang hadir.

"Seperti yang kalian ketahui, penelitian Ilmu Sihir Anisphia telah menyelamatkan negara kita dari bahaya kali ini. Aku berharap Anisphia akan terus melakukan hal-hal yang berguna bagi negara di masa depan. Euphyllia."

"Ya, Yang Mulia."

"Sekali lagi, sebagai asisten resmi Anisphia, aku ingin kau menunjukkan kemampuanmu."

"Saya mengerti. Saya akan mencari jalan yang benar bersama Putri Anisphia."

"Umu. Anisphia, jalan yang kau buka tidak diketahui ujungnya. Oleh karena itu, jangan sampai kau salah jalan."

"Akan saya ingat baik-baik."

"Bagus! Kalau begitu, semuanya! Hari ini adalah pesta untuk merayakan terhindarnya kita dari bencana! Nikmatilah sepuasnya!"

Setelah kata-kata Ayahanda selesai, semua orang kembali berbincang-bincang sesuai keinginan mereka. Saat aku turun ke lantai pesta, para bangsawan berduyun-duyun datang, mungkin untuk menyapaku. Bukan hanya aku, tapi Euphie, Duke Grantz, dan Ayahanda juga dikerumuni orang.

Ah, makanya aku benci ini! Tempat yang penuh dengan sosialisasi seperti ini! Sambil memikirkan berapa banyak dari bangsawan yang menyapaku dengan senyum ini benar-benar tulus senang atas prestasiku, aku membalas sapaan mereka.

"Yang Mulia Putri Anisphia, prestasi Anda kali ini sungguh luar biasa."

"Terima kasih. Pujian yang berlebihan untuk orang yang kurang mampu seperti saya."

"Tidak sama sekali. Izinkan saya juga menyapa, Tuan Putri."

"Terima kasih atas kesopanan Anda."

Aku meladeni bangsawan yang terus berdatangan menyapa dengan topeng senyuman yang merekat di wajahku. Tapi sedikit sekali bangsawan yang mau berlama-lama mengobrol denganku. Yang mengobrol lama adalah mereka yang bersama Euphie atau Ayahanda. Keduanya tampak diajak bicara dengan antusias dan pembicaraannya pun terlihat seru.

Aku kan biasanya tidak ikut acara sosial. Karena dikenal sebagai orang aneh, pasti tidak ada topik pembicaraan yang seru, dan pasti ada juga orang yang tidak suka hanya karena namaku tercatat sebagai anggota keluarga kerajaan.

Pasti tidak banyak orang yang percaya kalau aku akan bertobat dan bersikap layaknya putri, mengingat kelakuanku selama ini. Yah, setidaknya aku akan berusaha bersikap tenang untuk sementara waktu, setidaknya sampai masalah Al-kun selesai aku harus berusaha tidak menonjol.

"Yang Mulia Putri Anisphia, selamat malam. Apakah Anda menikmatinya?"

"Ya, terima kasih. ……Eh, Komandan Ksatria Sprout?"

Aku tanpa sadar membelalakkan mata melihat orang yang menyapaku. Topengku hampir saja lepas. Karena yang menyapaku adalah kenalanku.

"Lama tidak berjumpa. Senang melihat Anda sehat."

"Saya merasa terhormat disapa seperti itu oleh Komandan Ksatria Pengawal Kerajaan yang terhormat."

Ksatria Pengawal Kerajaan yang mulia, yang bertugas menjaga istana kerajaan dan kota di bawahnya. Dia adalah Komandan Ksatria dari pasukan yang konon berisi para elit di antara para ksatria.

Namanya Matthew Sprout. Kepala keluarga Count Sprout, dan orang yang berjasa mengajarkan ilmu bela diri padaku.

Dia adalah pria yang tampak ramah dengan rambut hijau tua dan mata hijau muda. Namun, tubuhnya adalah tubuh seorang pejuang yang terlatih. Meski terlihat ramah, di medan perang dia menunjukkan wajah sebagai komandan yang tenang dan ksatria yang gagah berani.

Karena sikapnya yang lembut sehari-hari dan kemampuannya sebagai ksatria, dia sering mendapat tatapan panas dari para pelayan istana meskipun sudah menikah. Bahkan sekarang pun aku bisa merasakan tatapan panas dari para nona muda di sekitar kami dari kejauhan.

"Anda tetap populer seperti biasanya ya, saya jadi iri."

"Anda bercanda, Yang Mulia Putri. Anda sendiri terlihat sangat manis hari ini, bukan?"

Komandan Sprout membalas ucapanku tanpa menghilangkan senyumannya. Sedikit ketegangan di pundakku pun mereda.

"Saya mendengar tentang prestasi Anda kali ini. Sebenarnya saya ingin berkomentar soal tindakan mandiri Anda, tapi berkat usaha Anda juga kerusakan pada pasukan ksatria bisa diminimalkan. Sekali lagi, izinkan saya berterima kasih."

"Tidak, tidak, situasi itu memungkinkan Ksatria Pengawal Kerajaan dikirim juga, kan. Saya sangat lega mendengar bahwa pasukan ksatria yang menangani Stampede kali ini tidak mengalami kerusakan besar."

"Saya juga menerima surat, lho. Isinya meminta saya menyampaikan rasa terima kasih kepada Tuan Putri."

"Wah, tolong sampaikan pada mereka untuk terus berjuang ya."

"Baik. ……Lalu, bagaimana? Bagaimana kesan Anda bertarung melawan Naga yang terkenal itu?"

Komandan Sprout menyipitkan mata dan mulai masuk ke topik utama. Aku memperbaiki postur tubuh dan menatap wajahnya.

"Saya rasa keputusan saya untuk maju adalah benar. Jika diserahkan pada ksatria konvensional, situasinya pasti akan berbeda."

"Apakah dia tangguh?"

"Lawan paling tangguh yang pernah saya hadapi. Untung saja Sapu Penyihir sudah selesai."

"Ah, benar juga. Sepertinya alat itu sangat efektif untuk bergegas ke lokasi kejadian seperti kali ini, dan juga untuk menghadapi monster yang terbang di udara, ya."

Mengangguk sekali, Komandan Sprout menatapku dengan tatapan yang membara.

"Alat sihir penemuan Yang Mulia Putri Anisphia sungguh luar biasa. ……Namun, apakah prospek produksi massal di masa depan masih sulit?"

Mendengar pertanyaan Komandan Sprout, aku tanpa sadar merusak topeng senyumanku dan tersenyum kecut.

"Saya senang dengan antusiasme Anda…… tapi sepertinya itu bukan hal yang patut dipuji."

"Saya ingin bilang 'apa maksud Anda', tapi…… saya mengerti perasaan Anda."

Mengikutiku, Komandan Sprout juga tersenyum kecut.

Komandan Sprout pernah membantuku dalam pengembangan Mana Blade, dan juga bekerja sama saat menyebarluaskan perlengkapan perlindungan diri untuk sebagian pelayan istana, jadi dia cukup menyukaiku.

Lebih dari itu, dia adalah orang yang menghargai alat sihir, dan pernah bilang ingin menjadikannya perlengkapan resmi ksatria jika diizinkan. Namun, dia juga orang yang sangat memahami kondisi dalam negeri ini. Sebagai Komandan Ksatria Pengawal Kerajaan, dia juga peka terhadap politik.

"Yang Mulia Raja pasti juga pusing memikirkannya."

"Saya mohon agar Anda terus mendukung Ayahanda di masa depan."

"Anda yang mengatakannya? Kalau begitu, bagaimana kalau Anda bersikap sedikit lebih anggun?"

Komandan Sprout berkata sambil tersenyum kecut. Komandan Sprout seumuran dengan Ayahanda dan juga berteman dengan beliau. Kalau bukan di tempat seperti ini, dia pasti sudah menegurku dengan nada yang lebih santai.

"……Dan juga, ada hal lain yang ingin saya sampaikan pada Yang Mulia Putri. Mengenai perlindungan Nona Euphyllia, saya benar-benar minta maaf. Mungkin bukan tempat saya untuk mengatakannya, tapi mohon terimalah permintaan maaf saya."

"Ah…… Navre-kun juga terlibat dalam keributan kali ini, ya. Saya turut bersimpati."

Melihat Komandan Sprout yang menundukkan kepala dengan wajah serius, aku juga memasang wajah masam. Di antara orang-orang yang terlibat dalam pembatalan pertunangan Euphie, ada putra Komandan Sprout.

Aku pernah dengar kalau Komandan Sprout juga akrab dengan Duke Grantz. Karena sesama orang tua akrab, pasti beliau sangat syok dengan kejadian kali ini. Orang ini kan orang baik.

"Komandan Sprout tidak perlu meminta maaf. Lagipula, ini juga kesempatan bagus bagi saya. Usaha Euphie juga sangat penting dalam pembasmian Naga kali ini. Bisa dibilang, hubungan ini terjalin karena kejadian itu. Tidak semuanya hal buruk kok. Tolong jangan dipikirkan."

"……Saya merasa tertolong dengan kata-kata Anda. Ah, ini bukan hal yang pantas dibicarakan di pesta perayaan, ya."

"Tidak, tidak apa-apa."

"Kalau begitu, karena saya sudah menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan, saya permisi dulu. ……Terakhir, Yang Mulia Putri. Sebagai Komandan Ksatria Pengawal Kerajaan, saya tidak bisa memuji tindakan Anda secara terbuka. Tapi dari lubuk hati terdalam, saya bersyukur Anda ada di negara ini."

Komandan Sprout menatap lurus ke arahku, lalu membungkuk dalam-dalam. Aku hanya bisa menatap kepala Komandan Sprout yang tertunduk karena terkejut dengan kata-katanya yang tiba-tiba.

Saat Komandan Sprout mengangkat wajahnya dan melihatku yang terperangah, dia menatapku dengan tulus dan melanjutkan.

"Tanpa Anda, banyak nyawa pasti akan hilang. Bahkan dengan mempertimbangkan keadaan Anda, saya dengan tulus berharap suatu hari nanti Anda akan naik ke panggung utama."

"……Kata-kata yang berlebihan bagi saya, Komandan Sprout."

"Meskipun hanya sedikit, saya mendoakan kesuksesan Anda di masa depan. Kalau begitu, saya permisi."

"Ya."

Komandan Sprout pergi dengan senyum ramah yang disukai banyak orang. Melihat punggungnya menjauh, aku menghela napas panjang. Sepertinya rasa terkejutku belum hilang sepenuhnya.

(……Kagetnya. Komandan Sprout juga kadang-kadang bicara seperti itu, ya.)

Senang sih dihargai, tapi sulit juga untuk menerimanya dengan jujur. Saat aku memikirkan hal itu, musik yang dimainkan di aula berubah. Sekarang saatnya berdansa, dan para putra bangsawan seusiaku mulai berdatangan untuk mengajakku berdansa.

Aku tersenyum seadanya sambil berusaha keras agar tidak melakukan kesalahan. Kalau sampai menginjak kaki orang, entah bakal jadi bahan tertawaan seperti apa.

Euphie dan Ilia sudah melatihku secara khusus agar hal itu tidak terjadi, tapi jujur saja aku agak trauma. Mulai sekarang aku harus latihan rutin supaya tidak lupa.

Dan setelah satu, dua kali berganti pasangan dansa, aku mulai lelah.

(Sebelum ajakan berikutnya datang, ayo kabur ke balkon……)

Aku buru-buru melarikan diri ke balkon. Musik dansa masih terus berlanjut dan suasananya makin meriah. Jadi sepertinya tidak ada orang yang datang ke balkon. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, aku melepaskan topeng putriku. Hanya dengan mengubah kesadaran saja rasanya sudah lega.

"……Aku memang tidak cocok dengan pesta sosial, ya."

Sebagai anggota kerajaan mungkin ini tidak pantas, tapi mau bagaimana lagi kalau memang tidak suka. Dari dulu aku dibilang aneh, dan dianggap sesat karena pemikiranku. Pandangan orang terhadapku selalu keras.

Aku hanya ingin menggunakan sihir. Setelah mengetahui keberadaannya, aku tidak bisa berhenti bermimpi. Jadi jika tidak bisa menggunakan cara biasa, aku akan pakai cara baru. Meski harus menghancurkan konsep yang sudah ada, aku ingin mendapatkan sihir. Jika bisa menggunakan sihir, aku bisa membuat seseorang tersenyum. Dan aku juga bisa tersenyum. Maka semua orang juga bisa bahagia.

"……Seandainya semudah itu, ya."

Tapi kenyataan itu kejam. Meskipun hanya tiruan, aku jadi bisa menggunakan sihir.

Namun hal yang meruntuhkan konsep lama itu tidak bisa diterima oleh banyak orang dan tidak diakui. Lama-kelamaan, aku tidak lagi meneliti Ilmu Sihir demi orang lain. Aku mulai berpikir untuk membuatnya demi diriku sendiri, dan kalau ternyata berguna bagi orang lain, ya baguslah.

Aku sadar bahwa orang yang memahamiku di dunia ini adalah minoritas. Kalau begitu, demi kaum minoritas itu saja sudah cukup. Lalu aku mengurung diri di paviliun. Tentu saja, ada orang yang menghargaiku seperti Komandan Sprout. Tapi mereka itu minoritas. Di negara ini, sedikit sekali orang yang bisa menerima pemikiranku.

"……Padahal aku cuma ingin meneliti sesuka hatiku, itu saja sudah cukup bagiku."

"──Ah, Putri Anis. Anda ada di sini rupanya."

"Hyehh!"

Suara yang tiba-tiba terdengar membuat bahuku terlompat. Saat aku berbalik, Euphie ada di sana. Euphie berjalan mendekat dan berdiri di sampingku. Kami berdua membelakangi pagar balkon, menatap aula pesta yang masih ramai.

"Apakah Anda sedang istirahat di sini?"

"Sudah tidak kuat. Aku tidak terbiasa dengan pesta sosial, dan dari awal juga tidak suka. Euphie sendiri sudah selesai?"

Mendengar pertanyaanku, Euphie mengerutkan alis dengan wajah bermasalah. Senyuman samar yang seolah kehilangan arah. Sambil menunduk, Euphie bergumam pelan.

"……Padahal saya sudah melatih Putri Anis dansa sebegitu kerasnya, tapi sungguh memalukan. Bersentuhan dengan pria rasanya agak menyesakkan……"

Ah, benar juga. Euphie baru saja diperlakukan dengan kejam oleh Al-kun. Meski sudah beberapa hari berlalu, kejadiannya masih baru. Wajar saja jika berdansa dengan pria terasa menyakitkan.

Akhirnya aku menyadari tangan Euphie sedikit gemetar. Melihat Euphie yang memeluk lengannya sendiri untuk menyembunyikan getaran itu, aku secara alami mengulurkan tangan dan meraih tangan Euphie.

"Ayo berdansa, Euphie!"

"Eh? Dengan Putri Anis?"

Saat mengajariku dansa, Euphie mengambil peran pria. Jadi aku tahu dia bisa berdansa. Tapi wanita berdansa dengan wanita di tempat umum itu tidak lazim. Makanya Euphie menunjukkan ekspresi bingung. Meski begitu, aku menggenggam tangan Euphie seolah mengajaknya.

"Di sini tidak banyak orang, siapa pun yang protes, aku tidak peduli. Kau bukannya benci dansa, kan? Jadi sayang kalau tidak dansa, kan."

"……Sayang, ya."

Mendengar kata-kataku, Euphie mengerjap-ngerjapkan mata lalu tertawa kecil. Saat Euphie membalas genggaman tanganku, aku menganggapnya sebagai persetujuan dan mulai memimpin dansa.

Meskipun perannya terbalik dari saat dia mengajariku, dansa kami sangat serasi. Hal itu terasa sangat lucu hingga kami saling berpandangan dan tertawa bersama.

Membayangkan kami berdansa bergandengan tangan di balkon yang terpisah dari pesta meriah itu pasti terlihat aneh di mata orang lain, membuatku tersenyum. Mungkin Euphie juga merasakan hal yang sama, karena ia bergumam pelan.

"……Konyol sekali ya, dua wanita berdansa bersama."

"Asal senang, tidak masalah kan?"

"Kalau dilihat Ayah dan yang lainnya, pasti mereka geleng-geleng kepala."

"Biarkan saja mereka geleng-geleng kepala! Apa gunanya dansa yang tidak menyenangkan!"

Kami melangkah dan berputar bersama. Akhirnya musik berhenti. Keheningan sesaat sebelum lagu berikutnya dimulai. Namun Euphie tidak melepaskan tanganku. Pandangan kami bertemu dengan tangan yang masih saling menggenggam. Tatapan Euphie hanya tertuju padaku seorang.

"……Hari itu, seandainya Putri Anis tidak membawa saya pergi. Terkadang saya memikirkan hal itu. Saya pasti akan menangis, hancur, membenci segalanya…… menjadi masa bodoh, dan mungkin rusak."

"……Iya."

"Tapi Anda membawa saya pergi. Baru sekarang saya bisa mengatakannya. Saya sangat senang, Putri Anis. Terima kasih banyak telah memberikan kesempatan kepada saya yang telah gagal dalam segalanya."

"Iya."

"Anda pasti akan melakukan hal nekat seperti membasmi Naga lagi di masa depan, kan. Anda juga pasti tidak suka acara sosial seperti ini. Tapi, kalau begitu, kekurangan Anda akan saya tutupi."

"……Euphie."

Tiba-tiba, cahaya bulan yang sempat tertutup awan menyinari Euphie yang menatapku lurus. Rambut putih peraknya berkilau memantulkan cahaya bulan, dan berayun lembut tertiup angin malam.

"Anda adalah orang penting yang tidak bisa saya alihkan pandangan darinya. Jadi, mohon bimbingannya mulai sekarang."

Sambil menautkan jari-jari tangan kami yang bergandengan, dan menempelkan tangan satunya lagi, Euphie tersenyum dan mengatakannya. Aku terpaku melihat senyuman Euphie itu.

Sihirku adalah sihir yang membuat seseorang tersenyum. Mimpi masa kecilku agar semua orang bisa tersenyum telah berubah bentuk. Mimpi masa kecil itu menjadi sedikit lebih dingin dan sempit saat dewasa.

Jangkauan tanganku sempit. Aku tidak lagi memimpikan panjang tanganku sendiri. Itulah sebabnya aku sangat yakin. Aku tidak akan melepaskan tangan yang kugenggam ini. Inilah kebahagiaan yang kuinginkan. Perasaan nyata itu menyalakan kehangatan seperti api di dadaku.

Kalau pesta membosankan ini selesai, aku akan punya waktu. Ayo kita ungkap lebih banyak hal yang belum diketahui. Ayo kita pergi melihat hal-hal yang belum pernah dilihat. Mari kita berikan bentuk pada hal-hal yang tidak berwujud.











Dan──aku akan terus hidup di dunia ini, mari kita nikmati kehidupan ini.

Saat ini, tanganku telah digenggam oleh orang yang sangat berharga. Seorang penyihir yang aku kagumi. Dia, yang begitu dekat dengan sosok idealku, telah meraih tanganku. Dan dia telah mengakuiku. Dia mengatakan padaku bahwa kekagumanku, dan sihirku, bukanlah suatu kesalahan.

Hal itu terasa bagaikan sebuah pengampunan. Bahwa aku boleh melangkah di jalan ini. Berkata bahwa aku tidak butuh pengakuan siapa pun sebenarnya hanyalah sikap sok kuat. Tentu saja lebih baik jika aku bisa diterima. Namun, aku sudah terlanjur terbiasa berjalan sendirian. Aku telah terlanjur menerima kenyataan bahwa aku tidak diakui.

Namun, mungkin saja. Jika bersama Euphie. Hal-hal yang tidak bisa kulakukan sendirian, mungkin akan bisa kulakukan jika bersamanya. Mungkin aku tidak perlu lagi membiarkan kehangatan di dada ini membeku.

Rasanya memalukan untuk menyampaikan perasaan yang masih belum pasti ini. Untuk menutupinya, aku menggelengkan kepala, lalu menyunggingkan senyuman tulus dari lubuk hati.

"Teruslah ikuti aku mulai dari sekarang, ya, Euphie!"

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar