Featured Image

Tenten Kakumei V1 C5

Metoya Februari 13, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Sang Putri Reinkarnasi Terus Mendambakan Sihir


Sejarah Kerajaan Palettia berjalan beriringan dengan jejak para roh. Dikisahkan bahwa awal mula berdirinya negara ini adalah ketika Raja Pertama menjalin kontrak dengan Roh Besar yang disembah bagaikan dewa, dan menjadikan roh sebagai sahabat untuk memimpin rakyat. Pencapaian besar itu terus dipuja hingga zaman modern, terbawa sampai hari ini.

Itulah sebabnya di Kerajaan Palettia, Batu Roh yang merupakan anugerah dari para roh diperlakukan sebagai benda yang sangat berharga. Sejak dahulu kala, benda ini dijaga ketat sebagai penopang kehidupan sehari-hari maupun sebagai persembahan dalam ritual keagamaan.

Pengambilan Batu Roh tersebut, terutama jika mencari kualitas yang terbaik, mengharuskan seseorang untuk pergi jauh ke pedalaman alam yang asri. Dan di pedalaman alam seperti itu, pada umumnya terdapat "Monster".

Monster adalah ancaman bagi umat manusia yang memiliki ekosistem mirip dengan hewan. Perbedaan antara monster dan hewan adalah kemampuan mereka dalam menggunakan sihir. Terlebih lagi, monster sangatlah kejam; mereka menyerang hewan di sekitar, monster lain, bahkan manusia.

Pengambilan Batu Roh memiliki kaitan erat dengan pembasmian monster-monster ini. Entah karena di mana ada monster di situ ada Batu Roh, atau justru monsterlah yang mendiami tempat di mana Batu Roh berada.

Apa pun alasannya, untuk mengambil Batu Roh, seseorang harus memasuki wilayah kekuasaan monster, sehingga pertempuran tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, negara pun mengerahkan ksatria untuk memberikan dukungan dalam perburuan monster dan pengambilan Batu Roh.

Namun demikian, wajar jika permintaan yang tinggi membutuhkan tenaga kerja yang banyak pula. Pasukan ksatria yang tersebar di seluruh negeri pun sulit dikatakan mampu memberikan dukungan yang cukup untuk memenuhi semua permintaan tersebut.

Di saat seperti itulah para pengelana yang mencintai kebebasan dan romantisme, yang disebut sebagai Petualang, mengambil peran. Petualang adalah profesi yang diakui oleh negara dan menerima dukungan dari pemerintah. Pekerjaan mereka bisa dibilang mirip dengan "serabutan" agar lebih mudah dipahami.

Misalnya, menjadi pengawal pedagang yang berpindah dari satu kota ke kota lain. Misalnya juga, menyelesaikan masalah-masalah kecil yang tidak bisa ditangani oleh organisasi besar seperti pasukan ksatria. Petualang adalah profesi yang melekat erat dengan kehidupan masyarakat.

Hal yang mereka incar sebagai petualang ternama adalah meraih ketenaran dan kekayaan melalui pembasmian monster. Meskipun negara memelopori pembasmian monster, organisasi besar seperti pasukan ksatria sering kali tidak bisa bergerak dengan mudah. Di saat itulah petualang yang gesit bisa bergerak lebih dulu.

Terkadang, informasi yang dibawa oleh petualang yang bergerak lebih awal justru menjadi penggerak bagi negara. Meski merupakan profesi yang mempertaruhkan nyawa, imbalannya sangat besar. Mulai dari uang hadiah yang melimpah, hingga dalam beberapa kasus, mereka diakui kehormatannya oleh negara dan diangkat menjadi bangsawan.

Itulah sebabnya para petualang menerima permintaan pembasmian monster demi mencari kemuliaan.

──Namun, tidak semua orang bisa menggenggam kejayaan tersebut. Kenyataan terkadang menunjukkan taringnya dengan begitu kejam. Bagi sekelompok petualang tertentu, momen itu adalah sekarang.

"Sial, sialan! Aku tidak pernah dengar ada yang seperti itu! Ah, sial!!"

Seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian khas petualang berteriak dengan nada gusar.

Dia adalah seorang veteran yang sudah lama berkecimpung sebagai petualang. Meski tidak memiliki pencapaian yang gemilang, faktanya dia masih bisa bertahan sebagai petualang aktif di usia segini adalah hal yang langka. Sederhana namun teguh, itulah penilaian orang-orang di sekitarnya terhadapnya.

Saat itu, dia sedang mengunjungi "Hutan Hitam", sebuah hutan raksasa yang terkenal sebagai lokasi penambangan sumber daya roh di Kerajaan Palettia sekaligus habitat para monster. Wilayah ini telah banyak dijelajahi, dan banyak orang yang berpengalaman berpetualang di sini. Oleh karena itu, tempat ini sering dipilih sebagai lokasi bagi petualang pemula untuk mencari pengalaman.

Nama Hutan Hitam berasal dari kegelapan yang diciptakan oleh pepohonan yang menjulang tinggi. Dikatakan bahwa semakin jauh seseorang masuk ke pedalaman, sinar matahari bahkan tidak bisa menembus masuk, sehingga tidak ada yang mengetahui gambaran utuh dari hutan ini.

Di balik hutan raksasa ini terdapat pegunungan yang belum terjamah, namun tidak ada orang gila yang mau pergi sejauh itu. Penjelajahan berpusat pada area yang masih bisa dimasuki, sehingga banyak orang yang sudah hafal dengan seluk-beluk hutan tersebut. Karena itulah tempat ini sangat cocok bagi para petualang baru untuk menumpuk pengalaman.

Pria petualang veteran itu pun sedang mengajarkan pengalamannya kepada para pemula. Dia menerima peran sebagai pendidik dan pengawas bagi pemimpin kelompok petualang yang masih muda.

Membawa para pemula yang bercita-cita menjadi petualang dan mengajarkan peraturan di Hutan Hitam. Seharusnya itu adalah permintaan yang mudah. Setidaknya itulah yang dia pikirkan, begitu juga dengan para petualang pemula tersebut. Namun, saat ini mereka sedang berlari kencang menembus hutan yang rimbun dan lebat.

Ya, seolah-olah mereka sedang dikejar dan melarikan diri dari sesuatu. Ekspresi mereka saat menerobos hutan terdistorsi oleh rasa cemas dan ketakutan.

"L-Leader! Bagaimana ini, bagaimana dengan benda itu!?"

"Tidak ada bagaimana-bagaimana lagi! Pertama-tama kita harus keluar dari hutan, lalu lapor ke Guild dan pasukan ksatria!"

Tanpa menghentikan langkah kakinya sedikit pun, salah seorang petualang pemula berteriak ketakutan dalam kepanikannya. Yang membalas teriakan itu adalah si petualang veteran. Suaranya terdengar penuh penekanan, mungkin karena dia sendiri pun tidak bisa menyembunyikan keguncangan batinnya.

"Tapi, apa benda 'seperti itu' bisa diatasi bahkan oleh pasukan ksatria sekalipun!?"

"Benda seperti itu". Petualang pemula lainnya berteriak seolah mengutuk sesuatu yang sangat ia takuti. Suara teriakan itu bergetar karena ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.

"Kita tidak punya pilihan selain mengumpulkan sebanyak mungkin orang untuk mengatasinya!"

"Tapi!"

"Kalau benda 'seperti itu' dibiarkan berkeliaran, jangankan desa, seisi kota pun akan lenyap!"

Petualang veteran itu berteriak seolah membentak para pemula yang terus meratap. Namun, bukan berarti dia tidak merasa takut. Meski begitu, rasa tanggung jawab terhadap para pemula ini dan keberanian yang terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun berhasil menekan rasa takutnya. Berkat dialah, mereka bisa mendapatkan instruksi dan mengambil langkah untuk melarikan diri bersama-sama. Namun, hanya itu yang bisa dia lakukan.

Sambil menggertakkan gigi hingga seolah mau hancur, petualang veteran itu berteriak dengan penuh kekesalan. Ia meneriakkan nama sosok yang mereka takuti. Nama dari ancaman yang kini mendekati Kerajaan Palettia.

"──'Naga', kau pasti bercanda! Sialan!!"

    * * *

Beberapa hari telah berlalu sejak penyelesaian Arc-en-ciel yang kubuat untuk Euphie. Aku telah sepenuhnya kembali ke rutinitas sehari-hariku, yaitu melatih fisik.

Setelah melemaskan tubuh dengan teliti di halaman tengah paviliun, aku menyiapkan Mana Blade dan memastikan jurus-jurusku. Aku memeriksa gerakan tubuhku sendiri dan menyelaraskannya dengan gambaran ideal yang ada di pikiranku.

Gerakan-gerakan yang telah kupelajari melalui pengulangan berkali-kali itu kupastikan satu per satu dengan cermat. Jika sudah tenggelam dalam penelitian, aku sering kali mengabaikannya, namun dalam kondisi normal, latihan jurus ini selalu kulakukan sebagai rutinitas harian.

Belakangan ini aku sedikit mengabaikannya karena sibuk mengembangkan Arc-en-ciel milik Euphie, jadi aku harus melakukannya dengan teliti. Saat aku sedang memeriksa serangkaian jurus sambil terus menggerakkan tubuh, Euphie datang menghampiriku. Melihat Arc-en-ciel yang tergantung di pinggangnya, aku merasa sedikit bangga.

"Selamat pagi, Putri Anis."

"Oh, Euphie. Selamat pagi."

"Sedang latihan jurus?"

"Aku menjadikannya rutinitas kalau sedang tidak fokus meneliti. Kalau cuma duduk di depan meja terus, nanti gerakanku jadi tumpul."

"Begitu ya, saya rasa itu hal yang bagus."

Euphie mengangguk setuju. Namun, ia segera memiringkan kepalanya dengan heran.

"……Maaf jika saya lancang, tapi jurus Anda sedikit berbeda dari jurus resmi, ya?"

"Ah, maksudmu gaya pedangku?"

Aku balik bertanya untuk memastikan maksud pertanyaan Euphie. Euphie pun mengangguk setuju.

"Benar. Dasar-dasarnya memang diajarkan oleh pasukan ksatria, tapi itu pun cuma teknik dasar saja. Jadi gaya bertarungku sekarang ini sudah sangat condong ke gaya bebas buatan sendiri."

"Apakah Anda memiliki kesempatan untuk belajar pedang selain dari pasukan ksatria……?"

Mendengar jawabanku, Euphie menampakkan ekspresi curiga dan memiringkan kepalanya. Dari belakang Euphie, Ilia datang mendekat sambil membawa handuk dan minuman. Ilia langsung menghampiriku dan mengusap wajahku dengan handuk.

"Meskipun dasar pedang Putri ditempa di pasukan ksatria, namun kemampuannya itu dipupuk melalui pertempuran sungguhan."

"Pertempuran sungguhan? ……Ah, Putri Anis kan pernah bertugas sebagai pengawas dan pengawal dalam proyek perbaikan jalan raya, ya."

Ekspresi Euphie berubah seolah ia sudah mengerti. Namun Ilia mengangkat bahu dan menghela napas panjang.

"Bukan hanya itu saja, sebenarnya……"

Mendengar gumaman Ilia, Euphie memasang ekspresi heran. Saat Euphie baru saja hendak bertanya pada Ilia, sesuatu muncul dan memotong perkataannya.

Itu adalah burung merpati pos. Karena aku mengenali merpati itu, tanpa sadar mataku membulat. Merpati pos itu terbang lurus ke arahku dan hinggap di lenganku. Di kakinya terikat sebuah surat.

"Wah, wah, di saat seperti ini? Ada apa ya?"

"……Putri Anis, dari manakah merpati pos itu berasal?"

"Tunggu sebentar, ya. Aku harus memastikan isinya dulu. Ini adalah kiriman untuk urusan darurat."

"Darurat……?"

Mendengar jawabanku, Euphie bergumam sambil mengernyitkan dahi. Aku ingin menjawabnya, namun aku harus memastikan isinya terlebih dahulu, jadi aku membuka segel surat itu. Isi dokumen yang dibawa merpati pos itu sangat singkat. Hal itu langsung membuatku mengerti apa yang sedang terjadi.

"……Ahahahaha!"

"……Putri Anis!?"

Setelah melihat isinya…… aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyeringai. Tawa aneh pun lolos dari mulutku, membuat Euphie menatapku dengan wajah bertanya-tanya. Namun, aku tidak punya waktu untuk memedulikan Euphie saat ini.

"Ah, ini benar-benar masalah darurat! Luar biasa! Ilia! Aku mau bersiap-siap dulu! Aku harus segera berangkat!"

"Putri Anis!? K-Ke mana!?"

Euphie berusaha menahanku saat aku hendak berlari untuk bersiap-siap. Karena lenganku tiba-tiba ditarik, aku hampir saja kehilangan keseimbangan. Setelah menghentikan langkah karena tertahan, Euphie sempat memasang wajah bersalah sesaat, namun ia segera merapikan ekspresinya dan mendesakku.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Dari mana asal kabar darurat itu?"

"Nona Euphyllia, yang barusan itu adalah merpati pos dari Guild Petualang."

"Guild Petualang!? Tunggu sebentar, mengapa Putri Anis menerima kabar pemanggilan dari Guild Petualang!?"

Ilia menjawab sebagai penggantiku. Euphie pun meninggikan suaranya karena terkejut.

"Kenapa ya, karena aku sudah terdaftar sebagai petualang, dan lagi, aku adalah petualang peringkat tinggi."

Euphie mengerjap-ngerjapkan matanya seolah tidak mengerti jawabanku. Untuk memberikan bukti, aku menunjukkan tanda pengenal yang tergantung di leherku dan biasanya kuselipkan di balik baju. Di tanda pengenal itu terukir nama dengan desain yang sangat rumit. Tentu saja itu bukan nama asliku!

Di dunia petualang, terdapat peringkat yang menunjukkan kemampuan dan status seseorang. Permintaan yang bisa diterima oleh petualang dikelola oleh Guild, dengan mekanisme di mana permintaan yang tersedia akan berbeda tergantung peringkatnya.

Peringkat petualang disimbolkan dengan logam yang beredar di Kerajaan Palettia. Urutannya adalah Perunggu, Perak, dan Emas. Seseorang memulai dari tingkat Perunggu, lalu naik ke tingkat menengah yang disebut tingkat Perak. Dan di atas itu, tingkat Emas adalah bukti dari petualang peringkat tinggi, di mana tanda pengenal mereka pun dilapisi warna yang sesuai dengan tingkatan tersebut.

Melihat tanda pengenal berwarna emas yang menunjukkan peringkat petualang kelas atas, Euphie menatapku dengan wajah tak percaya. Aku mengerti perasaannya. Dia pasti heran kenapa aku punya benda seperti itu.

"Mengapa Yang Mulia Putri menjadi seorang petualang!? Apalagi peringkat tinggi tingkat Emas!?"

"Yah, begitulah. Saat aku ikut mendampingi di lokasi konstruksi sebagai penasihat. Waktu itu aku menginginkan material dari monster yang dikalahkan. Jadi kupikir, bukankah bagus kalau aku terdaftar sebagai petualang agar bisa mencari dana penelitian sendiri? Nah, karena aku terus melakukannya, tanpa sadar aku sudah sampai ke peringkat tinggi. Ayahanda juga sempat pusing saat aku menunjukkan tanda pengenal ini padanya."

"Tentu saja! Saya sangat memahami perasaan Yang Mulia Raja!"

Euphie berteriak kencang hingga telingaku berdenging, membuatku refleks menutup telinga. Dulu saat ketahuan Ayahanda, aku juga pernah diteriaki seperti ini, rasanya jadi bernostalgia.

"Iya, maaf, aku mengerti kenapa Euphie marah. Tapi sekarang bukan saatnya untuk meributkan hal itu."

Permintaan merpati pos dari Guild Petualang. Itu kemungkinan besar dikirimkan ke seluruh petualang peringkat tinggi. Jadi, surat itu bukan ditujukan khusus padaku, melainkan disebarkan kepada semua petualang tingkat Emas. Artinya, isi surat tersebut benar-benar sangat mendesak.

"Keadaannya benar-benar gawat. Mungkin kabar ini juga akan segera sampai ke telinga Ayahanda."

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Stampede akan segera datang. Skalanya cukup besar, dan sepertinya situasinya sangat merepotkan."

"Stampede!?"

Euphie berteriak dengan suara penuh kewaspadaan. Stampede; hanya dengan satu kata itu, siapa pun yang tinggal di Kerajaan Palettia pasti paham bahwa ini adalah masalah besar.

Fenomena di mana monster dalam jumlah besar meluap keluar karena faktor tertentu disebut sebagai Stampede. Biasanya pasukan ksatria dan petualang melakukan pembasmian atau pengurangan jumlah monster agar Stampede tidak terjadi, namun terkadang hal itu tetap saja terjadi.

"Penyebab Stampede ada dua. Pertama, murni karena monster berkembang biak secara berlebihan. Monster yang terlalu banyak akan berebut wilayah, dan pihak yang kalah akan mencari tempat tinggal baru sehingga mendekati desa atau kota terdekat. Penyebab kedua adalah jika muncul 'sosok besar' yang membuat kawanan monster tersebut terpaksa melarikan diri."

Monster, bagaimanapun juga, adalah makhluk hidup. Selama mereka makhluk hidup, tempat tinggal mereka tidaklah tak terbatas, jadi wajar jika terjadi perebutan. Namun, jika manusia ikut terseret ke dalamnya, maka kita harus mengatasinya.

Saat Stampede terjadi, hal pertama yang harus dilakukan adalah membendung pergerakan monster yang muncul dalam jumlah besar. Jika hanya lonjakan jumlah monster biasa, ini saja sudah cukup, namun ceritanya akan berbeda jika ada sosok besar yang muncul.

Dalam kasus ini, selain menangani Stampede, kita juga harus menghadapi sosok besar tersebut di saat yang bersamaan. Ini akan menjadi masalah yang sangat besar.

"Sosok besar…… maksud Anda, muncul 'Pemilik Batu Sihir'?"

"Tepat sekali, Euphie."

Individu yang sangat kuat di antara para monster disebut sebagai Pemilik Batu Sihir. Monster juga memiliki ras dan jenis. Pemilik Batu Sihir adalah individu yang muncul seolah-olah mengalami mutasi di antara monster-monster tersebut.

Hal yang merepotkan dari Pemilik Batu Sihir adalah mereka menggunakan sihir yang unik. Meski ada kecenderungan umum berdasarkan rasnya, ada juga individu yang menggunakan sihir yang sama sekali berbeda. Itulah mengapa Pemilik Batu Sihir memiliki tingkat bahaya yang sangat tinggi. Alasan mereka disebut Pemilik Batu Sihir adalah karena di dalam tubuh mereka terdapat kristal yang disebut Batu Sihir. Dan konon, semakin lama individu tersebut hidup, semakin berkualitas pula Batu Sihir yang dimilikinya.

Oleh karena itu, monster Pemilik Batu Sihir yang sering terlihat biasanya diberikan nama panggilan khusus. Tujuannya agar para petualang baru tidak salah mengira mereka sebagai monster biasa. Urusan melawan Pemilik Batu Sihir biasanya diserahkan kepada petualang peringkat tinggi tingkat Emas. Itulah betapa berbahayanya lawan yang satu ini.

"Pokoknya karena situasinya seperti itu, aku harus segera berangkat."

"Makanya tunggu sebentar! Ah, saya bingung mau tanya dari mana dulu! Lalu kenapa Putri Anis yang harus pergi!?"

Euphie menarik kerah belakangku saat aku hendak berbalik pergi, menahanku. Aku tercekik sampai mengeluarkan suara aneh dan terbatuk-batuk. Saat aku berbalik, wajah Euphie tampak terdistorsi oleh kebingungan dan kegusaran.

"Lagipula! Putri Anis kan tidak bisa menggunakan sihir!? Tak peduli seberapa tingginya peringkat Emas Anda, itu tetap berbahaya! Saya tidak bisa membiarkan Anda pergi ke tempat yang sudah jelas berbahaya!"

"Tapi, di antara petualang peringkat tinggi juga ada kok yang tidak bisa pakai sihir……"

Ayah dari putri Baron Cyan yang disukai Al-kun juga seperti itu. Baron Cyan adalah mantan petualang yang prestasinya diakui sehingga ia dianugerahi gelar Baron sebagai bangsawan baru. Saat mendengar namanya, aku merasa pernah mendengarnya di suatu tempat, dan belakangan aku baru ingat kalau aku pernah mendengar namanya karena dia mantan petualang.

Tentu saja, di antara petualang yang sukses ada juga yang bisa pakai sihir. Seperti putra kedua bangsawan yang tidak mewarisi gelar, keturunan bangsawan yang jatuh miskin, atau anak di luar nikah bangsawan. Orang-orang seperti itu sering kali menjadi petualang peringkat tinggi. Memang bisa pakai sihir itu sendiri sudah menjadi keuntungan besar.

Namun, kenyataannya itu bukan segalanya. Aku punya senjata berupa alat sihir, dan berkat hasil dari penelitian Ilmu Sihirku, aku punya kemampuan yang cukup untuk diakui sebagai petualang peringkat tinggi.

"Aku mengerti perasaan Euphie. Aku juga tahu kau mengkhawatirkanku. Tapi meski dilarang, aku tetap akan pergi."

"Kenapa begitu!? Ilia, kenapa kau juga tidak menghentikannya!?"

Euphie berteriak seolah bertanya-tanya kenapa aku tidak mau mengerti. Mungkin karena merasa percuma bicara padaku, ia mengalihkan pandangannya pada Ilia.

Ilia yang menjadi pusat perhatian Euphie hanya menghela napas dan menggelengkan kepala. Ekspresi kepasrahan tampak di wajahnya. Dengan nada menasihati, Ilia pun berujar.

"Sayang sekali, beliau bukan tipe orang yang akan mendengarkan nasihat. Anda sudah paham sendiri, kan?"

"Mana mungkin!"

"Fakta bahwa Putri adalah petualang peringkat tinggi, dan kenyataan bahwa beliau berpengalaman membasmi monster Pemilik Batu Sihir yang memiliki nama panggilan, semuanya adalah benar. Ini bukan hal baru lagi, Nona Euphyllia."

"Kh……! Apakah Yang Mulia Raja tidak memberikan hukuman!?"

"Tentu saja Ayahanda akan mengabaikannya! Beliau sudah menyerah sejak lama sekali!"

"Ah, Anda benar-benar orang yang keterlaluan!"

Euphie berteriak sambil menatap ke langit. Yah, aku pun punya alasan kenapa aku tidak bisa mundur. Meskipun dilarang, aku harus pergi untuk menangani Stampede kali ini.

"Euphie, aku benar-benar menginginkan Batu Sihir itu."

"……Batu Sihir?"

"Penyebab Stampede kali ini hampir pasti adalah Pemilik Batu Sihir. Terlebih lagi, ini adalah jenis lawan yang jika dilewatkan sekarang, tidak akan pernah bisa didapatkan lagi. Jadi selama aku adalah aku, tak peduli siapa pun yang melarang, aku akan tetap pergi. Aku harus pergi."

"……Batu Sihir memang bukti kehormatan, tapi Anda bukan tipe orang yang mengejar kehormatan, kan?"

Euphie bertanya sambil memberikan tatapan tajam padaku. Memang benar Batu Sihir adalah benda yang didapatkan oleh penakluknya sebagai bukti kehormatan. Namun, aku tidak butuh hal semacam kehormatan.

"Yang aku butuhkan adalah Batu Sihir itu sendiri. Itulah sebabnya aku menjadi petualang, dan telah menumpuk prestasi hingga mencapai peringkat petualang kelas atas."

"Apa yang membuat Anda sebegitu terdorongnya……?"

"……Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan detailnya. Aku pasti akan pergi. Hal ini sangat penting bagiku."

Aku mengatakannya sambil menatap lurus ke mata Euphie yang mulai berkaca-kaca karena sedih. Ini adalah hal yang tidak bisa kutawar. Jadi tak peduli seberapa keras pun Euphie membujukku, aku tidak akan goyah dan tidak berniat untuk mundur. Saat aku menatap Euphie dengan perasaan itu, ia menghela napas panjang dan menundukkan pandangannya.

"……Jadi Anda tetap bersikeras untuk pergi?"

Mendengar pertanyaan Euphie, aku mengangguk mantap. Sambil terus menatap lurus padanya, sepertinya Euphie akhirnya mengalah, karena ia pun mengembuskan napas pelan.

"……Baiklah. Kalau begitu, setidaknya biarkan saya mendampingi Anda. Meskipun hanya sebagai pendamping pasukan ksatria, saya juga memiliki pengalaman dalam pembasmian monster. Kumohon, bawalah saya serta."

"Eh!? Membawa Euphie serta, tapi, kan kau dititipkan oleh Duke Grantz padaku, kalau terjadi sesuatu bagaimana aku menjelaskannya nanti……!"

"Bukankah hal itu juga berlaku untuk Putri Anis? Apa alasannya Anda boleh pergi sementara saya dilarang?"

Mendengar argumen balik dari Euphie, aku hanya bisa mengerang. Jika ia bicara begitu, aku pun tidak bisa membantahnya. Jika aku bilang Euphie dilarang ikut, maka argumen bahwa aku yang kedudukannya lebih tinggi darinya justru lebih dilarang lagi adalah hal yang sangat masuk akal. Dengan kata lain, menolak keikutsertaan Euphie sama saja dengan menolak keberangkatanku sendiri. Singkatnya, aku tidak bisa menolaknya.

"Saya berada di sini sebagai asisten Anda. Saya rasa saya memiliki hak untuk mengetahui apa yang Anda inginkan. Benar, bukan?"

"……Huft, kalau kau bicara sejauh itu, baiklah."

Kali ini giliranku yang menghela napas dalam-dalam. Diskusi ini sudah pasti tidak akan menemui titik temu jika diteruskan. Di saat waktu yang mendesak ini, mau tidak mau aku harus membawa Euphie.

"Tapi aku tidak punya waktu untuk menjelaskan perlahan, jadi aku akan menjelaskannya di perjalanan, oke? Kita akan terbang ke lokasi menggunakan Sapu Penyihir."

"…………Kita akan naik benda itu lagi. Baiklah, saya sudah siap mental."

Saat kubilang kita akan pergi dengan Sapu Penyihir, Euphie sempat ragu sejenak, namun ia segera memantapkan ekspresinya dan mengangguk mantap. Melihat tingkah laku Euphie itu membuatku merasa lucu dan sedikit tertawa.

"Kalau begitu, lebih cepat lebih baik! Ini akan jadi pekerjaan besar!"

"Omong-omong Putri Anis, apakah Anda sudah memastikan informasi tentang monster yang menjadi penyebab Stampede kali ini?"

"Tentu saja. Makanya Guild Petualang sampai terburu-buru mengirim merpati pos. Karena lawan kali ini adalah sosok besar yang dikenal oleh siapa pun."

Sosok itu adalah simbol fantasi bahkan di kehidupanku yang dulu. Sosok besar yang disebut sebagai yang terkuat di dunia ini. Begitu mendengar namanya, siapa pun akan merasa ngeri, namun di saat yang sama mereka memimpikan ketenaran yang didapat dengan mengalahkannya. Sosok semacam itulah lawannya.

"──Lawannya adalah seekor 'Naga'."

Pembantai Naga, atau Dragon Killer. Meskipun dunia telah berubah, hal itu tetap menjadi bukti kehormatan yang diidamkan oleh siapa pun. Terhadap Euphie yang menahan napas, aku memberikan senyuman menantang.

    * * *

Aku menerima kabar itu saat sedang membereskan dokumen pemerintahan yang seakan tidak pernah berkurang.

Pintu ruang kerja Raja dipukul dengan sangat keras seolah hendak dihancurkan. Mendengar laporan dari ksatria yang datang dengan wajah pucat, aku tidak bisa menahan suaraku untuk tidak berteriak.

"Naga muncul katamu!? Bodoh, apa kau mau bilang dia terbang dari balik pegunungan!? Apa ini bukan salah lapor!?"

"Sayangnya ini benar, Yang Mulia Orphans! Ini adalah laporan resmi dari Guild Petualang sebagai urusan darurat! Mohon instruksi Anda!"

"Uuuugh……! Masalah bertumpuk di atas masalah! Sebarkan pesan! Kita adakan rapat darurat atas nama Raja! Segera kumpulkan semua orang!!"

Meskipun merasakan sakit kepala mendengar laporan ksatria itu, aku tetap mengambil keputusan dan memberikan instruksi sebagai seorang Raja. Sambil melepas kepergian para ksatria yang melesat keluar dari ruang kerja setelah menerima perintahku, aku mengusap area lambungku.

"Sial……! Masalah Algard saja sudah membuatku pusing, kenapa sekarang harus Naga pula!"

Naga. Di dunia ini, itu adalah salah satu simbol dari ancaman maut. Puncak dari rantai makanan yang ditakuti oleh siapa pun. Selain kekuatannya yang luar biasa, hal yang merepotkan dari Naga adalah kenyataan bahwa mereka "bisa terbang".

Laporan penampakan Naga sangatlah sedikit, dan jarang sekali ada orang yang pernah melihat wujudnya secara langsung. Itulah sebabnya ancaman kemunculannya sanggup membuat bulu kuduk berdiri dan memberikan dampak yang membekukan punggung. Serangan Naga sudah bisa dibilang sebagai bencana alam.

Meskipun menelusuri sejarah Kerajaan Palettia, tidak ada catatan atau legenda tentang serangan Naga. Namun, kisah tentang negara lain yang hancur oleh Naga sangatlah terkenal. Itulah skala bencana yang bisa ditimbulkan oleh monster bernama Naga.

"Tenang. Tenanglah……! Tapi, tapi bagaimana cara mengatasinya……!"

Lawannya adalah seekor Naga. Selain kekuatan fisiknya sebagai makhluk hidup, hal yang paling merepotkan adalah kemampuannya untuk terbang. Sekalipun garis pertahanan telah dibangun, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa jika ia terbang melintas di atas kepala.

Akan bagus jika Naga itu pergi begitu saja seperti badai yang berlalu, namun karena Stampede telah terjadi, hal itu tidak bisa diabaikan. Pasalnya, monster cenderung mengincar dan memangsa monster lainnya.

Karena Stampede sedang terjadi, ada kemungkinan besar Naga tersebut menganggap monster-monster itu sebagai mangsa. Jika kita mengalahkan monster yang merupakan mangsanya, hal itu pasti akan memancing amarahnya. Saat aku sedang menahan kepalaku yang sakit memikirkan cara mengatasinya, terdengar suara ketukan pintu. Suara dari balik pintu yang menyusul kemudian membuatku terbelalak.

"──Ayahanda, ini Algard. Mohon izinkan saya masuk."

"Algard!? Bukankah seharusnya kau sedang dihukum skorsing…… tidak, lupakan, masuklah! Ada perlu apa!"

Meskipun sedikit terguncang mendengar suara yang tak terduga dari balik pintu, aku tetap mengizinkan Algard masuk. Di balik pintu, tampak sosok putraku yang tanpa ekspresi seolah sedang menekan emosinya.

Semenjak kejadian pengumuman pembatalan pertunangan terhadap Euphyllia kemarin dan saat interogasi selama masa skorsing, entah mengapa putraku ini mulai memancarkan aura yang sulit ditebak. Meskipun alasan kesibukan pemerintahan bukanlan pembelaan yang tepat, aku sadar aku tidak cukup memahami putraku ini.

(Yah, hal itu juga berlaku untuk kakaknya yang pembuat onar itu……)

Yang terlintas di benakku justru sosok Anisphia yang selalu tersenyum optimis, kontras dengan Algard. Anisphia sulit dipahami dalam artian tidak ada yang tahu apa yang akan ia perbuat, namun pada Algard, aku merasakan ketidakjelasan yang misterius. Saat aku sedang memikirkan hal itu, Algard mulai berbicara.

"Mohon maaf atas kelancangan saya, Ayahanda. Saya mendengar kabar mengenai kemunculan seekor Naga."

"……Astaga, dalam masa skorsing pun kau masih bisa mendengar kabar dari mana saja. Lalu ada perlu apa kau kemari?"

Sambil menghela napas aku menanyakan maksud kedatangannya, dan jawaban yang kuterima sungguh mengejutkan.

"Mohon izinkan saya untuk ikut serta dalam pembasmian Naga, Ayahanda."

"……Apa yang kau katakan?"

Aku mengernyitkan dahi mendengar permintaan Algard yang tiba-tiba. Menghadapi wajahku yang menunjukkan ketidaksenangan, Algard tetap tenang tanpa mengubah ekspresinya dan melanjutkan perkataannya.

"Singkatnya, saya menginginkan kehormatan."

"Kehormatan? Dan untuk itu kau berniat terjun langsung membasmi Naga!?"

"Benar. Ada sesuatu yang saya inginkan. Jika saya berhasil menuntaskan pembasmian Naga ini, saya ingin meminta apa yang saya harapkan sebagai imbalannya. Untuk itu, saya sudah siap mempertaruhkan nyawa saya."

Pembantai Naga. Itu adalah kemuliaan besar yang akan diakui oleh siapa pun. Begitu ya, Algard mengatakan ia mencari kehormatan karena ada sesuatu yang ia inginkan. Alasan itu cukup masuk akal untuk bisa dipahami.

Namun, justru itulah yang membuatku sedih. Aku bahkan merasa kesal kenapa Algard tidak mau mengerti. Karena, aku bisa membayangkan apa yang kemungkinan besar diharapkan oleh Algard.

"……Algard. Apakah kau sebegitu tidak menyukai Euphyllia? Apakah kau sebegitu menginginkan putri Baron tersebut? Aku tidak mengerti. Aku tidak memahamimu, Algard. Bukankah putri Baron itu bisa kaujadikan selir saja? Aku memang tidak memiliki selir, tapi bukan berarti sebagai seorang Raja dilarang memiliki selir. Mengapa kau begitu keras kepala menolak Euphyllia?"

Algard menginginkan pembatalan pertunangan dengan Euphyllia. Terlebih lagi, itu adalah sebuah penghakiman yang melibatkan banyak orang di sekitarnya.

Meskipun dakwaannya dibacakan, jujur saja isinya hanya hal-hal yang sepertinya hanyalah fitnah belaka. Aku sempat curiga apakah Algard telah menjadi buta karena cinta. Namun, aku tidak melihat tanda-tanda itu pada Algard. Tidak ada gairah yang meluap-luap di sana, ia justru terasa dingin dan sangat kalkulatif.

"Saya tidak punya waktu untuk menjelaskan isi hati saya secara detail, Ayahanda. Saya juga tidak meminta Anda untuk menjanjikan imbalan apa pun sekarang."

Algard terus merangkai kata-katanya dengan sangat tenang dan dingin.

"Namun, saya tidak bisa hanya berdiam diri dan pasrah begitu saja. Hanya berjalan di atas jalan yang telah ditentukan, hanya menerima apa yang diberikan. Apakah Raja semacam itu yang benar-benar dibutuhkan oleh negara ini?"

"……Apa maksudmu, Algard?"

"Selama aku punya bakat sihir, selama aku laki-laki. Apa Anda pikir suara-suara yang membisikkan hal itu tidak sampai ke telingaku?"

Aku menundukkan pandanganku dengan penuh penderitaan mendengar perkataan Algard. Karena perkataan Algard itu membuatku merenungkan apa maknanya. Sejak kapan sebenarnya, Anisphia dan Algard, hubungan kakak beradik itu benar-benar rusak secara fatal?

Dulu saat masih kecil semuanya masih baik-baik saja. Semasa kecil, Anisphia dan Algard sangat akrab hingga selalu bersama. Memang benar ada masa di mana Anisphia membawa Algard pergi, membuat masalah, dan mereka tertawa bersama. Namun, semenjak Anisphia menemukan jalan Ilmu Sihir, segalanya perlahan mulai menjadi kacau.

Meski tidak punya bakat sihir, Anisphia memiliki pemikiran revolusioner dan kemampuan bertindak untuk mewujudkan pemikirannya tersebut. Itulah sebabnya, hal itu justru berujung pada penderitaan Algard. Orang-orang di sekitar mulai mencibir bahwa Algard tidak memiliki bakat yang bersinar. Di saat aku sedang pusing memikirkan apa yang harus kulakukan, Anisphia dan Algard pun berselisih.

Setelah hubungan mereka rusak hingga tidak bisa diperbaiki lagi, keduanya mulai menempuh jalan yang berbeda. Anisphia melepaskan hak penerus takhtanya atas kemauannya sendiri dan menempati posisinya saat ini. Menjadi Putri Eksentrik, seorang pembuat onar yang tidak seperti anggota keluarga kerajaan. Aku yakin itu adalah bentuk perhatian Anisphia dengan caranya sendiri.

Segalanya demi Algard yang merupakan anak laki-laki dan pewaris takhta. Anisphia menganggap dirinya tidak memiliki bakat untuk didukung. Jika demikian, hal yang bisa kulakukan adalah mendidik Algard sebagai pewaris takhta yang sah. Aku telah mencurahkan segenap jiwa dan ragaku demi misi melindungi negara yang kelak akan diwariskan kepada anakku.

Aku menginginkan Euphyllia sebagai pendamping bagi Algard yang mau tidak mau harus kukatakan biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan Anisphia, dan aku pun bernegosiasi dengan Grantz untuk memastikan masa depan yang kokoh. Aku berusaha agar persaingan faksi tidak semakin memanas demi menyatukan negara, dan bekerja keras membangun negara yang damai.

Di tengah situasi itu, pencapaian Anisphia justru menarik perhatian, entah itu dalam arti baik maupun buruk. Banyak yang mencemooh Anisphia sebagai pencetus Ilmu Sihir yang sesat, namun di sisi lain ada juga sekelompok orang yang menunjukkan pemahaman padanya.

Maka seseorang akan membisikkan sesuatu. Seandainya hal yang kurang dari Anisphia itu bisa dilengkapi, maka mungkin…… Aku tahu ada orang-orang yang membandingkan Anisphia dengan Algard.

Namun demikian, Raja berikutnya tetaplah Algard. Saat aku naik takhta sebagai Raja, negara ini sedang sangat kacau. Mengingat masa lalu itu saja sudah membangkitkan rasa penyesalan yang mendalam. Itulah mengapa aku tidak ingin putraku, Algard, merasakan penderitaan yang sama denganku.

Aku merasa sudah memberikan segalanya yang bisa kuberikan, namun aku tidak bisa memahami apa yang dipikirkan oleh Algard yang menerima pemberian itu. Sungguh menyedihkan jika dipikirkan sekarang. Sejujurnya aku mulai tidak tahu apa sebenarnya tindakan yang benar.

Meskipun begitu, aku adalah seorang Raja. Aku boleh berhenti sejenak, namun aku tidak boleh berbalik arah.

"Algard. Memang benar, jika kau memiliki ketenaran karena telah membasmi Naga, maka kedudukanmu akan menjadi kokoh. Jika atas dasar itulah kau memiliki sebuah harapan, maka saat ini negara memang membutuhkan kekuatan sekecil apa pun. Aku akan bertanya sekali lagi, kau benar-benar siap mempertaruhkan nyawamu?"

"Benar. Usulan ini saya sampaikan dengan kesiapan mental penuh."

"Baiklah. Akan aku atur. Aku izinkan kau menghadiri rapat darurat secara khusus. Lalu……"

Tepat saat aku hendak melanjutkan pembicaraan dengan Algard, suara ketukan kembali bergema. Untuk ketiga kalinya, bahkan aku pun tidak bisa menyembunyikan kekesalanku. Meskipun dalam keadaan darurat, tapi ini sudah ketiga kalinya! Sambil merasa kesal, aku berteriak ke arah pintu.

"Apalagi sekarang!"

"Y-Yang Mulia! Gawat! Putri Anisphia!"

Mendengar suara laporan ksatria yang panik itu, aku merasakan firasat buruk yang luar biasa. Yang terlintas di benakku adalah sosok putriku yang datang dengan senyum lebar untuk memamerkan penemuannya. Dan yang ada di tangannya adalah……

"Ada laporan penampakan Putri Anisphia terbang pergi bersama Putri Adipati Euphyllia menggunakan alat sihir itu!"

Seingatku dia terdaftar sebagai petualang dan telah mendapatkan sertifikasi peringkat tinggi. Jika ingatanku benar, petualang peringkat tinggi akan diprioritaskan untuk menerima informasi permintaan darurat jika terjadi sesuatu.

Mengingat sampai di situ, aku merasakan punggungku merinding. Aku ingin berharap itu bukan apa yang kupikirkan. Namun hanya satu hal itulah yang terlintas.

"Ke mana Anisphia terbang pergi!? Katakan!"

"K-Kemungkinan besar ke arah Hutan Hitam!"

"……Dasar anak bodoh ituuuuu!!"

Merasakan sakit kepala terhebat hari ini, aku hanya bisa berteriak sekeras-kerasnya dari lubuk hatiku.

    * * *

"Hatchi! Uuuh, kena angin ternyata memang terasa agak dingin ya. Euphie tidak apa-apa? Tidak kedinginan?"

"……Bagaimana Anda bisa tetap bersikap sesantai itu, Putri Anis?"

Sensasi terbang di angkasa sambil merasakan hembusan angin adalah hal yang sudah biasa bagiku, namun tidak bagi Euphie. Genggaman tangannya di pinggangku sangat kuat, dan tubuh kami saling menempel erat. Wajar saja dia sampai berjuang sekuat tenaga agar tidak jatuh.

Menempel seerat ini membuatku merasakan suhu tubuh Euphie dan rasanya jadi aneh. Bukan hanya suhu tubuhnya, aku bahkan seolah bisa mendengar suara detak jantungnya, dan ditambah rasa dingin karena angin, aku jadi merasakan keberadaan Euphie dengan sangat kuat. Karena jika terlalu disadari aku bisa merasa aneh, aku menggelengkan kepalaku sedikit.

Sapu Penyihir ini bisa melaju lebih cepat daripada kuda. Demi Euphie yang belum terbiasa dengan ketinggian, aku mengaturnya agar tidak terlalu tinggi, namun karena kami bisa melompati rintangan, kami bisa melaju dengan mulus.

"Putri Anis, ada sesuatu yang ingin saya konfirmasi."

Karena ia memelukku dari belakang, suara Euphie terdengar tepat di telingaku. Meski terasa sedikit geli, aku harus menjawab pertanyaannya. Sambil tetap menatap ke depan, aku membalasnya.

"Ada apa? Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Alasan Putri Anis menginginkan Batu Sihir. Alasan Anda menjadi petualang juga karena hal itu, kan?"

"Alasanku jadi petualang bukan cuma karena Batu Sihir, sih. Material monster juga termasuk."

Penelitianku tidak diakui oleh negara, jadi aku harus mencari uang sendiri. Bukannya aku tidak mendapatkan uang sama sekali, sih. Aku juga pernah mendapatkan anggaran sebagai bentuk imbalan karena menyalurkan beberapa alat sihir untuk negara.

Namun, uang negara pada dasarnya digunakan demi rakyat. Meskipun penemuan alat sihirku pada akhirnya berguna bagi seseorang, penelitian Ilmu Sihirku tetaplah penelitian pribadi. Mengingat kondisi negara ini, aku tidak bisa melakukan penelitian secara besar-besaran.

"Tapi, menginginkan Batu Sihir adalah alasan utamaku. Karena itulah bahan baku yang sedang aku teliti paling giat saat ini."

"Menjadikan Batu Sihir sebagai bahan baku? Bagaimana caranya……?"

"Soal ini, meskipun kukatakan pun orang-orang tidak akan percaya, makanya aku jarang menceritakannya. Sebenarnya, menurutmu apa itu Batu Sihir?"

Aku balik bertanya menanggapi pertanyaan Euphie. Singkatnya, apa itu Batu Sihir? Euphie memberikan jawaban setelah terdiam sejenak.

"Batu Sihir adalah inti…… dari monster Pemilik Batu Sihir, bisa dibilang begitu?"

"Itulah pendapat yang umum. Katanya alasan monster Pemilik Batu Sihir sangat kuat hingga dianggap berbahaya adalah karena Batu Sihir memungkinkan mereka menggunakan sihir yang unik. Tapi, mengapa Batu Sihir tercipta? Mengapa Batu Sihir menjadi sumber kekuatan? Itulah sebabnya aku meneliti Batu Sihir."

"Dan jika Anda menginginkannya, berarti Anda telah menemukan sesuatu tentang Batu Sihir, ya?"

"Iya. Yang kutemukan adalah bahwa Batu Sihir merupakan sejenis varian Batu Roh yang mengalami perubahan sifat di dalam tubuh monster."

"Apa……!? Anda bilang Batu Sihir adalah varian dari Batu Roh!?"

Euphie berteriak kaget tepat di telingaku, membuatku sedikit terkejut. Namun, reaksi semacam itu sudah dalam jangkauan perkiraanku. Tanpa terpengaruh, aku terus terbang.

"Benar. Batu Sihir tercipta karena monster menyerap roh dan menciptakan Batu Roh yang telah berubah sifat di dalam tubuhnya. Itulah sebabnya monster Pemilik Batu Sihir bisa menggunakan sihir unik, justru karena mereka memiliki Batu Sihir tersebut."

"……Saya sungguh sulit memercayai cerita semacam itu."

"Makanya sudah kubilang kan, orang-orang tidak akan percaya."

Batu Roh dianggap sebagai benda suci di negara ini. Meskipun itu adalah varian, siapa yang mau percaya kalau Batu Sihir yang didapat dari monster yang merugikan manusia ternyata adalah varian dari Batu Roh? Pasti hanya akan dianggap sebagai omong kosong dan berakhir diabaikan. Itulah sebabnya hasil penelitian ini hanya diketahui oleh segelintir orang.

"Sama seperti bagaimana Batu Roh bisa memicu fenomena atribut jika dialiri energi sihir, Batu Sihir pun bisa mengeluarkan kekuatannya jika dialiri energi sihir. Namun Batu Sihir memiliki keterikatan yang sangat dalam dengan monster. Jika hanya dialiri energi sihir saja, ia tidak akan memberikan efek apa pun."

"Lalu, metode pemanfaatan seperti apa yang Putri Anis temukan pada Batu Sihir?"

Itulah inti yang ingin ditanyakan Euphie. Setelah aku menjelaskan tentang Batu Sihir sejauh ini, wajar jika ia berpikir Batu Sihir tidak bisa digunakan begitu saja. Toh memang belum pernah digunakan secara nyata.

"Agar Batu Sihir bisa mengeluarkan efeknya, harus ada media yang menerima efek tersebut, kalau tidak ya tidak ada gunanya. Jadi jika ditanya bagaimana cara menggunakannya, aku berpikir untuk menggunakan Batu Sihir itu pada diriku sendiri."

"Menggunakan Batu Sihir pada diri sendiri……?"

Genggaman tangan di pinggangku menguat hingga aku tanpa sadar mengeluarkan suara aneh. Euphie mencondongkan tubuhnya ke depan hingga jarak kami semakin rapat.

"Apakah hal semacam itu mungkin dilakukan……? Tidak, bukankah itu berbahaya?"

"Aku sudah melakukan uji klinis dengan benar, kok! Tenang saja, tenang saja! Keamanannya tidak ada masalah! Aku sudah menetapkan teknologinya sejak awal aku beraktivitas sebagai petualang, jadi itu sudah lama sekali."

"……Apa yang Anda lakukan benar-benar buruk bagi kesehatan jantung. Saya sangat bersimpati dengan perasaan Yang Mulia Raja."

Dari belakang aku bisa mendengar Euphie menghela napas panjang seolah ingin memegangi kepalanya, namun aku hanya membalasnya dengan senyum kecut. Aku juga merasa sudah memberikan banyak beban pikiran, lho.

"Tapi, kalau tidak begitu, aku tidak bisa menggunakan sihir."

"……Putri Anis?"

Euphie menggumamkan suara cemas menanggapi gumamanku. Namun, aku tetap tidak menghentikan perkataanku.

"Kekuatan Batu Sihir itu, bisa dibilang adalah sumber dari sihir unik monster tersebut. Itu bukan sesuatu yang terwujud karena kita memohon atau berdoa pada roh. Itu adalah bukti eksistensi monster Pemilik Batu Sihir itu sendiri. Begitulah jenis sihirnya, sihir unik Pemilik Batu Sihir. Itulah mengapa aku menginginkan Batu Sihir. Karena Batu Sihir adalah hal yang dibutuhkan olehku yang tidak bisa menggunakan sihir roh yang semestinya."

Karena melakukan hal itulah bukti terkuat bahwa aku adalah aku. Lagipula aku tidak bisa melupakan titik awalku.

Tak peduli seberapa keras pun aku memikirkannya, aku tidak bisa melupakannya. Ini adalah tantangan yang dimulai sejak aku mengingat masa laluku, mengagumi sihir, dan dihadapkan pada kenyataan bahwa aku tidak memiliki bakat.

"……Jadi karena itulah Putri Anis menginginkan Batu Sihir Naga?"

"Benar. Karena lawannya adalah seekor Naga!"

Suaraku pasti terdengar penuh harap. Aku tahu Euphie mungkin tidak menyukainya, namun aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku. Begitu besarnya daya tarik nama Naga itu bagiku hingga tak bisa berhenti.

"Jangankan monster, Naga dianggap sebagai ras yang mendekati puncak makhluk hidup. Mana mungkin aku tidak menginginkan Batu Sihirnya. Jika aku bisa menggunakan kekuatan itu dengan teknologiku, membayangkannya saja sudah membuatku tidak bisa diam."

"Apa yang sebenarnya Anda cari di balik semua itu?"

Kekuatan tangan Euphie di pinggangku entah mengapa terasa berubah. Meski kekuatannya sama, namun perbedaannya terasa seolah bukan lagi untuk menahan, melainkan untuk memeluk.

"Ilmu Sihir Anda luar biasa. Alat-alat sihir juga diciptakan demi orang lain. Namun teknologi untuk menggunakan Batu Sihir terasa mengerikan bagi saya. Bukankah itu seperti menanamkan kekuatan monster ke dalam diri sendiri?"

"……Ya. Apa yang Euphie katakan tidak salah. Jika kau bilang teknologi ini seolah mengubah diriku menjadi monster, aku tidak bisa menyangkalnya."

"……Meskipun begitu, Anda tetap menginginkannya? Untuk apa?"

Sebuah pantangan yang bisa mengubah diri menjadi monster. Untuk apa aku melakukan itu semua sampai menggunakan cara seperti itu. Jawaban untuk pertanyaan itu sudah ada. Sudah sejak lama, itu adalah keinginan yang selalu bersemayam di dadaku.

"Karena itulah keinginanku. Jika aku tidak bisa menggunakan sihir dengan cara biasa, aku tidak punya pilihan selain memilih cara ini. Karena ada keinginan yang benar-benar ingin aku wujudkan."

"Keinginan Putri Anis?"

"Aku ingin menjadi penyihir. Aku ingin menunjukkan bahwa sihir ada untuk membuat seseorang tersenyum. Aku tidak keberatan jika sihirku memiliki bentuk yang berbeda dari orang lain. Jika ada ancaman maka aku ingin kekuatan untuk menghadapinya, aku ingin menciptakan alat yang membuat hidup lebih mudah agar semua orang bisa tersenyum. Aku ingin menjadi penyihir seperti itu. Ini bukan impian yang bisa kulepaskan hanya karena aku tidak bisa menggunakan sihir biasa."

Ah, benar. Sejak aku menjadi diriku, aku tidak pernah bisa menghapus kekaguman pada sihir ini. Terkadang aku menganggapnya seperti kutukan, namun hanya perasaan inilah yang tidak bisa kukhianati agar aku tetap menjadi diriku sendiri.

"Aku ingin tahu. Aku ingin memastikan apa yang ada di depan sana. Aku ingin memastikan apa yang bisa kulakukan. Dan mungkin saja ada orang lain yang akan menempuh jalan yang sama denganku. Aku ingin menjadi pelopor bagi orang-orang tersebut."

Oleh karena itu, lanjutku. Aku melemparkan kata-kataku pada Euphie seolah sedang berdoa dan berharap.

"Aku harap kau tidak menghentikanku. Sampai pada saat aku benar-benar salah arah dan benar-benar tidak bisa diapa-apakan lagi. Aku juga punya niat tersembunyi dengan berpikir kalau itu Euphie, kau pasti bisa menghentikanku. Euphie kan si jenius aliran lurus, kan? Aku pun sejujurnya tidak ingin menjadikan negara sebagai musuh."

"……Apakah Anda berniat menjadikan negara sebagai musuh?"

"Meskipun aku tidak ingin begitu, aku tahu apa yang kulakukan tidak akan bisa diterima oleh semua orang. Aku selalu memikirkan kemungkinan terburuknya. Bukannya aku tidak pernah berpikir untuk pergi meninggalkan negara ini."

Ilmu Sihir adalah pemikiran sesat di Kerajaan Palettia. Di negara yang menganggap roh sebagai sahabat dan sosok yang harus dihormati ini, ada banyak sekali orang yang tidak menyukaiku karena aku memperlakukan Batu Roh layaknya alat dan mencoba membongkar misteri serta mendalaminya.

Aku juga pernah merasakan pengalaman buruk. Begitu menyakitkan dan menyesakkan, hingga aku berkali-kali berpikir untuk membuang semuanya saja. Negara ini terasa keras bagiku untuk bertahan hidup. Semakin aku mencoba menjadi diriku sendiri, semakin aku merasa sesak napas. Namun demikian, alasan aku tetap berada di sini sebenarnya sangatlah sederhana.

"Meskipun begitu, aku ingin tetap mencintai negara ini. Negara di mana sihir yang kukagumi berada, orang tuaku yang menerimaku meski aku tidak bisa pakai sihir dan punya pemikiran sesat, hingga rakyat negara ini yang sering bersinggungan denganku selama aku menjadi petualang. Lebih dari apa pun, aku sangat mencintai budaya negara ini yang berjalan beriringan dengan sihir."

Meskipun ada orang yang membenciku, meskipun para bangsawan yang bisa menggunakan sihir yang kukagumi itu sangat menjauhiku. Aku tetap tidak bisa menghapus perasaan kagum pada sihir ini. Justru karena itulah, orang-orang itu terasa berharga bagiku.

Tak peduli seberapa sering pun aku disebut sebagai orang aneh yang sesat, aku adalah Putri dari negara ini. Karena aku adalah anggota keluarga kerajaan, aku bisa memajukan penelitian Ilmu Sihirku sejauh ini. Aku merasa ingin membalas budi kepada negara ini setidaknya sebanding dengan apa yang telah kudapatkan.

"Naga bisa terbang. Itu adalah ancaman besar bagi negara. Orang yang bisa menghadapinya di negara ini sangat terbatas. Mereka adalah harta negara ini. Namun dengan bertarung melawan Naga, orang-orang itu mungkin akan gugur. Itulah sebabnya aku yang harus pergi. Aku punya teknologi untuk terbang dan bisa menghadapi Naga. Alasan terbesarnya adalah demi diriku sendiri, tapi bagaimanapun juga aku merasa punya kesadaran sebagai anggota keluarga kerajaan."

"……Putri Anis, Anda……"

"Lagipula tahu tidak, penyihir itu menggunakan sihirnya demi membuat seseorang tersenyum! Aku ingin menunjukkan kalau sihirku ada untuk saat-saat seperti ini!"

Aku mencurahkan seluruh isi hatiku kepada Euphie. Jika dipikir-pikir, kurasa aku bahkan belum pernah bercerita sejauh ini kepada Ilia maupun Ayahanda. Entah mengapa, orang pertama yang kujadikan tempat curahan hati adalah Euphie.

Apakah itu hanya kebetulan, atau ada alasan yang aku sendiri belum menyadarinya. ……Mana pun boleh.

Ini adalah hal yang ingin kusampaikan kepada Euphie yang telah bersedia ikut denganku. Hal-hal yang kubutuhkan agar aku bisa menjadi diriku sendiri. Hal-hal yang harus kulakukan agar aku tetap menjadi diriku sendiri. Aku harap kau bisa memahami hal itu.

Tiba-tiba Euphie menyandarkan seluruh tubuhnya padaku. Tubuh kami yang sudah menempel kini menjadi semakin rapat. Kekuatan lengan Euphie yang memelukku pun semakin menguat.

"Bagi saya, bisa menggunakan sihir adalah hal yang wajar. Saya tidak pernah berpikir untuk apa sihir itu digunakan. Itulah mengapa bagi saya, keberadaan Anda terlihat sangat menyilaukan."

Merasakan emosi dari perkataan Euphie membuatku menahan napas sesaat. Perkataan Euphie terdengar begitu tulus hingga aku ingin sekali menoleh ke belakang.

"Saya pun mulai merasa ingin melihat apa yang ada di depan sana. Masa depan dari jalan yang saya tempuh bersama Anda."

"Euphie……"

"Di jalan yang kutempuh bersama Anda ini, saya yakin bisa menemukan apa yang selama ini hilang dari diri saya. Saya merasa yakin akan hal itu. Jadi kumohon jangan melakukan hal yang nekat. Keinginan Anda pasti sangat mulia. Namun, perasaan itulah yang membuat saya takut Putri Anis akan terbawa pergi jauh. Saya takut kehilangan Anda."

Kehangatan lengan Euphie dan kata-kata yang ia sampaikan menggetarkan sesuatu jauh di dalam lubuk hatiku. ……Ah, benar juga. Mungkin karena itulah alasannya haruslah Euphie; sepertinya aku baru saja melihat jawaban dari pertanyaanku tadi.

Kata-katanya belum bisa terangkai dengan jelas. Tapi aku merasa telah mendekati jawabannya. Sama seperti Euphie yang mencoba menemukan sesuatu, aku pun ingin menemukan sesuatu pada Euphie. Euphie adalah jenius yang paling mendekati penyihir ideal yang kuidam-idamkan melebihi siapa pun. Dia adalah sosok yang seolah-olah menggambarkan gambaran idealku, dan dia juga sempurna sebagai seorang nona muda.

Namun, semakin aku mengenalnya, Euphie ternyata adalah gadis yang sangat kaku dan tipe anak yang tidak bisa dibiarkan sendirian.

Mungkin justru karena aku menyukai Euphie, aku ingin ia melihat jalan yang kutempuh. Justru kepada dialah, sosok yang berada di ujung jalan yang tidak bisa kutempuh. Dan Euphie pun berharap ingin melihat masa depan dari jalan yang kutempuh. Kata-kata itu memberikan kekuatan yang lebih besar dari apa pun bagiku.

"Tenang saja. Aku tidak akan mati, dan aku tidak berniat berhenti di sini. Jadi Euphie, ayo kita lihat apa yang ada di ujung jalan ini bersama-sama! Kita jadikan Naga ini cuma sebagai pembuka saja!"

"……Meskipun hal itu membuat saya pusing, tapi benar juga ya. Sepertinya itulah ciri khas Putri Anis. Padahal menurut saya tindakan Anda tidak masuk akal, tapi entah mengapa, saya merasa tidak seharusnya menghentikan Anda. Kalau begitu, saya akan mendampingi Anda. Sebagai asisten, di sisi Anda."

Euphie mengatakannya dengan suara yang seolah sedang tersenyum. Suaranya terdengar sangat ceria hingga aku ingin menoleh ke belakang. Aku merasa sangat senang sekaligus sedikit geli, hingga aku pun ikut tertawa.

Meskipun terlihat bodoh karena kami sedang menuju pembasmian Naga, namun ini adalah konfirmasi penting bagiku. Hingga aku berharap Euphie pun merasakan hal yang sama.

"Nah, Euphie! Ayo kita percepat! Aku ingin menambah kecepatan, jadi bisa tolong bantu dengan sihir angin?"

"Akhirnya ada kerja sama yang pantas untuk seorang asisten…… mohon jangan melakukan hal nekat secara berlebihan, ya?"

Euphie berkata demikian, namun dengan perasaan yang semenyenangkan ini, aku merasa sepertinya aku akan melakukan hal yang nekat. Sambil meresapi kegembiraan yang meluap dari lubuk hati, aku pun berpikir demikian.

    * * *

Kabar mengenai kemunculan Naga telah sampai dengan selamat di Guild Petualang berkat bantuan para petualang yang menemukannya. Setelah menerima laporan tersebut, Guild Petualang segera menetapkan status siaga tinggi dan menyebarkan informasi ke berbagai pihak.

Lambat laun, siapa pun mulai merasakan pertanda datangnya Stampede; ketegangan menyelimuti pasukan ksatria yang menjaga sekitar Hutan Hitam serta para petualang yang sedang menginap di daerah tersebut. Wajar saja bagi mereka. Kejadian Stampede saja sudah cukup untuk memicu kewaspadaan tinggi, apalagi kali ini penyebab Stampede-nya adalah seekor Naga.

"Cepat! Percepat evakuasi warga desa! Bentuk formasi perang! Sebelum Stampede tiba!!"

"Hei, kau menghalangi jalan! Hati-hati!"

"Keluarkan semua persediaan obat yang ada! Jangan pelit kalau tidak mau mati!!"

Teriakan amarah membahana, semua orang berlarian untuk bersiap menghadapi pertempuran yang sudah di depan mata. Di tengah hiruk-pikuk itu, ada sekelompok orang yang tampak terpojok seolah tidak tahu harus ke mana.

Mereka adalah para petualang pemula yang baru saja kembali dari Hutan Hitam dan membawa kabar kemunculan Naga tersebut.

"B-Bagaimana ini……?"

"Bagaimana apanya…… ada Naga dan Stampede, lho?"

"Tidak ada bagaimana-bagaimana lagi. Kita juga harus tetap di sini dan bertarung."

Kalimat yang tenang itu diucapkan oleh si petualang veteran kepada para pemula yang sedang dilanda kepanikan. Para pemula menatapnya dengan pandangan tak percaya.

"Kalau melarikan diri sekarang pun, kita akan habis jika terkejar oleh Stampede dari belakang. Lebih baik tetap di sini dan bertarung bersama pasukan ksatria, peluang bertahan hidupnya lebih tinggi."

"T-Tapi Leader! Ada Stampede dan Naga! Apa yang bisa kita lakukan!?"

"Aku mengerti perasaanmu. Jadi kalian boleh ikut bersama para pengungsi. Jika alasannya sebagai pengawal, tidak akan ada masalah yang berarti."

"……Leader sendiri akan pergi bertarung?"

"Yah, aku tahu sebenarnya ini waktu yang tepat untuk mundur, sih."

Merespons pertanyaan itu, ia memberikan senyum kecut. Kemudian ia mengangkat bahu dengan gerakan yang berlebihan.

"Sayangnya kali ini lawannya terlalu kuat. Daripada mati saat melarikan diri, lebih baik mempertaruhkan nyawa untuk keberanian konyol di akhir hayat, itu lebih menarik. Mungkin ini bisa jadi persembahan terakhir bagi hidupku yang tidak memiliki pencapaian gemilang sebagai petualang. Lagipula aku memang berniat pensiun setelah kalian semua sudah mandiri."

Menanggapi perkataan pria yang mengangkat bahu itu, salah satu petualang pemula melangkah maju. Ekspresinya menunjukkan kemarahan, bukan sekadar kebingungan.

"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kunci menjadi petualang yang hebat adalah berumur panjang!? Jangan kejar ketenaran, tapi hargailah nyawamu! Selama masih hidup, kita bisa bangkit berkali-kali! Bukankah Leader sendiri yang mengajarkan hal itu kepada kami!?"

"Ah, benar sekali. Tapi jika kita semua mundur bersama-sama, kita bisa saja dicap sebagai pengecut. Meskipun lawannya adalah sesuatu yang tidak mungkin dikalahkan. Tapi jika aku tetap tinggal sendirian, hal itu bisa dijadikan sebuah kisah kepahlawanan."

Sambil menepuk pundak petualang pemula yang maju tadi, ia mengatakannya dengan ekspresi yang sangat tenang dan pasrah. Melihat ekspresi yang seolah sudah tercerahkan itu, si petualang pemula itu terdiam dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

"Katakan saja kalau kalian akan membalaskan dendamku, jadikan penyesalan di hari kalian melarikan diri itu sebagai motivasi. Bagaimana? Bukan ide yang buruk, kan?"

Mendengar perkataannya, siapa pun menahan napas. Petualang pemula yang ada di depannya mengepalkan tangan hingga bergetar karena rasa kesal atau mungkin ketakutan. Akhirnya, salah satu temannya mulai terisak.

"Tapi kalau begitu! Jika kami tetap tinggal pun kami dianggap bodoh karena tidak tahu kapan harus mundur, dan jika kami mundur pun kami akan disebut pengecut! Tidak ada pilihan yang bagus!!"

"Petualang memang seperti itu. Makanya kita harus berumur panjang. Jika mati, tidak akan ada kesempatan lagi. Dan jika ada kesempatan, pertaruhkan nyawa di sana. Itulah sebabnya aku mengajarkan agar kau menghargai nyawamu."

"……Padahal biasanya kau suka membentak, tapi kali ini kau tidak membentak kami ya, Leader."

"Aku ingin terlihat sebagai orang baik di saat-saat terakhir, tahu. Petualang itu kan suka pamer gengsi."

Mendengar jawabannya, petualang pemula yang tadi menatap tajam itu menggigit bibirnya. Lambat laun, dari kejauhan mulai terdengar suara raungan dan suara gemuruh tanah yang semakin mendekat. Hal itu kembali memicu rasa takut para petualang. Hati mereka menjadi kacau hingga rasanya ingin segera lari dari sana.

"Masih sempat-sempatnya kalian gemetar! Jika mengaku petualang, berpikirlah sendiri dan segera bergerak!!"

"……Kh, akhirnya kau membentak juga! Sialan!!"

Sambil memasang wajah yang antara ingin menangis atau marah, petualang pemula yang maju tadi berteriak menanggapi gertakan pria tersebut. Si petualang veteran tersenyum kecut dalam hati, merasa seandainya bukan dalam situasi seperti ini, ia tidak akan mendesak pengambilan keputusan secepat ini.

Tepat saat ia hendak berteriak sekali lagi untuk memberikan semangat, terdengar kebisingan yang berbeda dari suara pertanda datangnya Stampede.

"──Minggir, minggir! Aku sudah tiba!!"

Suara itu terdengar sangat tidak pas dengan situasi saat ini, dan justru karena itulah suara tersebut terdengar jelas oleh siapa pun. Tak disangka, suara itu terdengar dari atas. Dan yang turun dari langit adalah dua orang gadis.

"……Kau bercanda, kan?"

Pria veteran itu bergumam dengan wajah terperangah, namun ada nada kegembiraan dalam suaranya. Siapa pun menolehkan pandangan pada dua orang gadis yang turun dari langit tersebut. Ia sangat mengenal sosok yang berdiri dengan gagah sambil membawa alat yang bentuknya mirip sapu ajaib.

Bahkan para ksatria yang tadi sibuk bersiap-siap pun seketika terdiam dari teriakan mereka. Salah satu gadis itu memiliki rambut emas keputihan yang melambai, sebuah "simbol keluarga kerajaan". Siapa pun memahami apa maknanya; memahami siapa sebenarnya gadis itu.

Di tengah keheningan itu, si petualang veteran yang tadi terperangah mulai tertawa terbahak-bahak seolah sedang melihat sesuatu yang sangat lucu.

"Ha, hahaha, hahahahaha! Begitu ya, begitu! Ternyata kalau kau yang bergerak, kau bisa sampai ke sini tepat waktu meskipun dari Ibukota! Apa kau benar-benar gila!? Hei, kalian semua! Lihat, si gila sudah tiba! Si gila kelas kakap sudah datang!!"

Para petualang pemula kebingungan melihat Leader mereka yang tadi terlihat putus asa kini malah berbicara dengan nada penuh kegembiraan. Namun, tanpa memedulikan mereka, pria itu terus melanjutkan perkataannya.

"Orang aneh yang muncul bagaikan angin jika ada monster langka! Si eksentrik yang bertarung menggunakan alat-alat aneh! Masalah besar yang paling dibanggakan negara ini yang meski wajahnya cantik tapi kelakuannya luar biasa! Berdasarkan statusnya yang bisa ditebak dari warna rambutnya yang tidak disembunyikan itu, ia disebut dengan nama panggilan ini! Namanya adalah 'Putri Penjarah Perburuan'!!"

"──Siapa itu! Siapa yang barusan memanggilku 'Marauder'!? Sudah berkali-kali kubilang, panggil aku 'Mad', tahu!!"

Sepertinya orang yang bersangkutan tidak terima dengan julukan itu, karena ia langsung memprotes dengan semangat. Dialah sang Putri Kerajaan yang meski tidak bisa menggunakan sihir, namun namanya tersohor karena kepribadian dan tingkah lakunya yang tidak mencerminkan keluarga kerajaan. Di saat yang sama, ia adalah orang yang dipanggil dengan julukan tersebut dengan rasa hormat dan kasih sayang oleh rakyatnya. Yang Mulia Putri Anisphia Wynn Palettia. Dialah sang harapan nyata untuk mendobrak situasi ini.

    * * *

Begitu tiba setelah perjalanan udara, entah siapa orangnya, tapi aku dipanggil dengan nama panggilan yang tidak terhormat itu. Apa-apaan sih Marauder, aku tidak melakukan hal sampai sejauh itu, tahu! Padahal kalau dipanggil 'Mad' dalam artian pengembang alat sihir gila aku masih bisa terima! Siapa yang kau sebut penjarah!?

"Yang Mulia Putri Anisphia!? Dan juga Putri Adipati Euphyllia…… mengapa Anda berdua ada di sini!?"

Salah satu ksatria, yang jika dilihat dari hiasan zirahnya pasti adalah sang komandan, langsung menyapa kami terlebih dahulu.

Ekspresinya menunjukkan campuran berbagai emosi. Aku memang pernah beberapa kali mendampingi pasukan ksatria yang menjaga sekitar Hutan Hitam sebagai petualang, jadi aku mengerti jika ia bingung saat aku muncul tiba-tiba begini.

"Aku datang karena menerima panggilan darurat untuk petualang peringkat tinggi. Ah, Euphie di sini mendampingiku sebagai asisten."

"Tidak, saya tahu Yang Mulia Putri Anisphia adalah petualang peringkat tinggi, tapi meskipun demikian, untuk seseorang sekelas anggota keluarga kerajaan! Ini bukan sekadar Stampede biasa, Anda tahu!?"

"Jadi kalau Stampede biasa, tidak aneh jika beliau ada di sini ya……"

Euphie bergumam pelan di sampingku, tapi aku mengabaikannya dengan sangat mulus. Yah, habisnya, Stampede adalah kesempatan besar untuk mendapatkan material monster dalam jumlah banyak, kan. Sambil memikirkan hal itu, aku berdeham untuk menutupi ekspresiku.

"Kau pasti tahu kalau menceramahiku tentang sikap keluarga kerajaan hanya akan membuang-buang waktu, kan? Bagaimana situasinya?"

"……Ah, sudahlah! Anda memang bisa diandalkan, tapi sungguh buruk bagi kesehatan jantung, Yang Mulia! Saat ini, seluruh pasukan ksatria kami beserta para petualang yang ada di lokasi sedang membangun garis pertahanan. Namun……"

"Iya. Jika ini Stampede biasa tidak masalah, tapi di belakang sana ada Naga yang menunggu. Jika Naga itu merangsek masuk saat kita sedang sibuk menahan laju monster di garis pertahanan, kekacauan tidak akan terhindarkan."

"……Benar. Jika itu terjadi, kerusakannya akan sangat dahsyat. Kemungkinan terburuknya adalah kehancuran total."

Aku mengangguk setuju pada sang komandan ksatria yang menjawab dengan nada tegang. Ternyata situasinya memang tidak terlalu bagus.

"Namun jika kita tidak melakukan apa-apa, ada kemungkinan besar monster-monster yang meluap akan meluluhlantakkan segalanya dan kerusakannya akan semakin besar. Terlebih lagi jika Naga itu terbang melintas di atas kepala kita, ia bisa mencapai desa dan kota sekitar, atau yang terburuk bisa sampai ke Ibukota. Itulah sebabnya kita ingin menghentikannya di sini. Benar kan?"

Jika ini Stampede biasa, kita hanya perlu membangun garis pertahanan dan bersiap untuk menyerang balik, namun masalahnya kali ini adalah keberadaan Naga di belakang sana.

Monster memiliki kecenderungan untuk saling memangsa. Entah karena ingin menyerap kekuatan atau sekadar perebutan wilayah, persaingan antar monster sangatlah sengit. Terlebih monster Pemilik Batu Sihir biasanya adalah individu kuat yang menyendiri dan jarang bergerombol. Dan monster di sekitarnya pun cenderung menyerangnya seolah ia adalah mangsa yang lezat.

Itulah sebabnya Pemilik Batu Sihir bisa memicu terjadinya Stampede, namun Naga yang menjadi lawan kali ini memiliki kemampuan terbang, jadi percuma saja membuat pertahanan jika ia bisa terbang melintas di atas kepala. Namun, jika ia merangsek ke medan perang karena mengejar monster yang melarikan diri yang merupakan mangsanya, kekacauan sudah pasti akan terjadi.

Tapi, saat ini ada aku di sini. Satu-satunya "kekuatan tempur yang bisa terbang" di negara ini.

"Izinkan saya bertanya lebih dulu. Apakah Anda serius? Tidak, apakah Anda masih waras?"

"Aku sebenarnya ingin balik bertanya banyak hal padamu, tapi aku serius dan aku masih waras. Jika Naga itu muncul, akulah yang akan menghadapinya."

Mendengar jawabanku, sang komandan ksatria menahan napas dan menatapku. Ia tampak bimbang sejenak sambil mengernyitkan dahi dan mengerang. Aku hanya bisa tersenyum kecut melihatnya. Aku menghargai rasa khawatirmu padaku, tapi keadaannya tidak memungkinkan untuk hanya diam saja.

"Mungkin ini lebih mudah untuk kau terima. Ini adalah perintah dariku sebagai Putri Kerajaan Palettia. Selama aku menghadapi Naga tersebut, aku ingin kalian menahan laju Stampede. Ah, aku juga akan ikut membantu membersihkan monster-monster pembukanya, jadi tolong hitung juga bagian material untukku ya!"

"……Benar-benar, Anda ini. Seandainya saya bisa menggunakan alat sihir itu, saya pasti akan menawarkan diri untuk pergi."

"Mana mungkin aku membiarkan orang awam melakukan pertempuran udara."

"Malah membiarkan anggota keluarga kerajaan bertarung melawan Naga itulah yang sangat tidak masuk akal."

Euphie mengangguk seolah setuju dengan ucapan komandan ksatria, namun aku sengaja mengabaikannya. Pokoknya, dengan mengeluarkan perintah sebagai Putri, aku sudah punya alasan kuat agar pihak lain menuruti kemauanku. Mungkin.

"Intinya kita tidak punya waktu. Aku akan bergerak sebagai pasukan penyerang gesit (skirmisher), jadi aku ingin kalian mempersiapkan segalanya dan fokus memberikan dukungan sampai Naga itu muncul. Jika Naga muncul, urusan Stampede aku serahkan pada kalian."

"Jika itu adalah perintah, saya tidak punya pilihan selain mematuhinya. Terlebih lagi, meskipun dilarang pun Anda pasti akan tetap melesat pergi dan tidak mendengarkan. Lagipula, Anda pasti tidak memberi tahu Yang Mulia Raja lagi kali ini, kan?"

"……A-Aku sudah menitipkan pesan pada Ilia, kok."

Jawaban asal-asalanku itu membuat Euphie dan sang komandan ksatria memberikan tatapan tajam seolah ingin bilang "Bukan itu maksudnya, tahu!".

"Namun, membiarkan Yang Mulia Putri sampai membantu membersihkan monster pembuka…… Jika Anda akan menghadapi Naga, bukankah seharusnya Anda menghindari kelelahan fisik yang tidak perlu……?"

"Apa kau berniat merebut jatah materialku!?"

"Ah, i-iya…… baiklah, saya mengerti……"

Aku mengangguk mantap pada komandan ksatria yang memasang ekspresi pasrah. Stampede itu tidak terjadi setiap hari, tahu!? Ya, kalau terjadi setiap hari juga bakal jadi masalah besar sih, jadi untungnya memang jarang terjadi.

Tapi, kalau bukan di saat-saat seperti ini, akan sulit untuk mengumpulkan material dalam jumlah banyak sekaligus! Pekerjaan utamaku kan bukan petualang.

"Lalu, anu. Apakah Putri Adipati Euphyllia juga akan ikut mendampingi……?"

"Saya mendampingi Putri Anis dengan niat tersebut."

"……Apakah Anda membutuhkan pengawalan?"

"Hanya jika ada pasukan elit yang tidak akan merepotkan saya."

"Hahaha, Anda bercanda. ……Baiklah, saya mengerti, berarti pengawalan tidak diperlukan."

Komandan ksatria bergumam sambil tersenyum kecut dan menghela napas. Menjadi petualang peringkat tinggi itu bukan cuma sekadar nama, tahu. Meski aku yang mengatakannya sendiri, menurutku aku termasuk salah satu yang terkuat di negara ini.

Sebagai informasi tambahan, meskipun lawannya adalah bangsawan yang bisa pakai sihir, aku punya kepercayaan diri untuk bisa mengalahkannya. Pasalnya, kebanyakan bangsawan lebih suka berdiri di barisan belakang sambil merapal sihir. Meskipun ada juga yang menguasai ilmu pedang sebagai bagian dari etika, tapi jika tujuannya bukan untuk menjadi ksatria, maka mereka bukan tandinganku jika aku sudah mendekat.

Dan lagi, dalam artian tertentu, aku adalah musuh alami bagi para penyihir. Mana Blade milikku memiliki efek samping untuk menebas sihir, berbeda dengan pedang biasa. Meskipun tidak berpengaruh pada sihir yang memiliki wujud fisik padat, Mana Blade sangat cocok untuk membelah sihir. Dulu saat aku melakukan latihan tanding dengan petualang peringkat tinggi yang bisa pakai sihir, dia sampai menggerutu habis-habisan padaku; itu adalah kenangan yang indah.

"Malahan, akulah yang akan menjadi pengawal bagi Euphie. Euphie, kalau tidak ada orang di sekitarmu, kau bisa melakukan pembersihan dengan sihir skala besar, kan?"

"……Saya akan mengerahkan seluruh kemampuan saya. Saya berjanji akan memberikan kontribusi yang tidak memalukan nama saya."

"Bagus, kalau begitu sepertinya lebih baik jika ada pengawalan. Aku akan melindungi Euphie sambil memancing monster mendekat. Lalu Euphie akan menghabisi mereka dengan sihir."

"Baik."

"Jika Naga muncul, aku akan mundur ke belakang sejenak untuk berganti peran dengan kalian. Setelah itu aku yang akan menghadapi Naga. Saat Naga muncul, apakah Euphie bisa beralih memberikan dukungan dari belakang?"

"……Apakah Anda berniat menghadapi Naga itu sendirian?"

"Karena ini akan menjadi pertempuran udara, apa kau bisa memberikan dukungan dalam kondisi seperti itu?"

Pernyataanku membuat Euphie mengernyitkan dahi dengan raut wajah serius. Konsep pertempuran udara masih belum ada di dunia ini. Akan sangat merepotkan jika ia mencoba memberikan dukungan namun malah salah tembak mengenaku. Lebih efisien jika kekuatan Euphie digunakan untuk menyapu bersih Stampede.

"Jika Stampede berhasil disapu bersih, mungkin Naga itu akan mundur. Ini soal efisiensi. Kau mengerti kan, Euphie?"

"……Meskipun saya mengerti, tetap saja ada bagian dari diri saya yang tidak bisa menerimanya."

"Aku tahu, aku juga sadar kalau akulah yang membuatmu memasang wajah seperti itu. Namun tetap aku katakan, semua akan baik-baik saja."

"……Saya percaya pada Anda, Putri Anis."

Saat aku meletakkan tangan di bahunya, Euphie meraih tangan itu dan menggenggamnya dengan kedua tangan seolah sedang berdoa, lalu menempelkan dahinya di tanganku. Sesaat Euphie terdiam dalam posisi itu, namun setelah mendengar suara Stampede yang semakin mendekat dari kejauhan, ia melepaskan tanganku.

"Mari kita berangkat, Putri Anis."

"Iya. Aku menantikan kemampuanmu yang sebenarnya, Euphie."

Aku belum tahu seberapa kuat Euphie jika ia bertarung dengan serius. Jadi sejujurnya, aku sangat menantikan untuk melihatnya.

"Semoga Anda berdua selamat. Saya mendoakan keberuntungan bagi Anda di medan perang."

"Komandan ksatria, kau juga ya. Kalau kau sampai gugur, aku jadi sulit untuk datang ke Hutan Hitam lagi! Ayo kita minum teh lagi kapan-kapan!"

Sambil bersikap ceria di hadapan komandan ksatria yang memberikan hormat paling khidmat, aku melesat pergi bersama Euphie. Di antara pintu masuk Hutan Hitam dan garis pertahanan terbentang dataran luas dengan jalan yang menuju ke dalam hutan, dan dari sela-sela pepohonan, terlihat para monster berlarian keluar dengan gila-gilaan. Sesaat lagi, kawanan monster itu akan meluap keluar dan menyerang.

"Wah, jumlahnya banyak sekali ya. Seandainya ini Stampede biasa, aku pasti sudah kegirangan!"

"Putri macam apa yang kegirangan karena ada Stampede……"

"Putri Eksentrik, tentu saja. Nah, saatnya."

Sambil membalas gumaman Euphie yang menghela napas, aku merogoh pakaianku dan mengeluarkan sebuah botol portabel. Di dalamnya terdapat obat butiran, dan melihat obat tersebut membuat Euphie mengernyitkan dahi.

"……Putri Anis, benda apa itu?"

"Inilah salah satu puncak dari hasil penelitianku. Berbeda dengan alat sihir, benda ini sepertinya tidak akan bisa dipublikasikan secara umum. Ini adalah obat yang dibuat dengan cara menghancurkan dan mencampur Batu Sihir. Aku menyebutnya 'Obat Sihir'."

Benda ini bisa dibilang mirip dengan narkotika dari kehidupan masa laluku. Butuh banyak percobaan dan kegagalan sampai benda ini bisa terwujud.

Namun, teknologi ini adalah benda berbahaya yang tidak boleh disebarluaskan. Itulah sebabnya aku menyebutnya Obat Sihir sebagai bentuk pengingat bagi diriku sendiri.

"Obat yang berbahan baku Batu Sihir!?"

"Benar. Aku mencampurkan banyak hal lain juga sih. Karena konsumsi berlebihan bisa memberikan efek buruk, butuh waktu bertahun-tahun untuk meramu dosisnya."

"……Nanti saya akan meminta penjelasan detail mengenai hal itu, mengerti?"

Euphie memelototiku dengan wajah yang sangat menyeramkan. Sambil mengangkat bahu untuk mengabaikannya, aku memasukkan salah satu butiran obat itu ke dalam mulutku.

"Ah, iya. Ada sedikit efek samping, tapi jangan khawatir ya."

"Apa benar-benar tidak apa-apa!?"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Cuma sedikit merasa bersemangat, atau seolah belenggu akal sehatnya terlepas, ya semacam itulah rasanya."

"Mendengarnya saja sudah membuat saya yakin kalau itu sama sekali tidak apa-apa!?"

Sambil mendengarkan suara protes Euphie, aku mengunyah butiran obat di mulutku dengan semangat. Rasa obat yang hancur itu, jujur saja, sangatlah buruk. Aku terpaksa menelannya meski rasanya ingin membuatku muntah.

Efek Obat Sihir bereaksi dalam sekejap. Setelah sensasi seolah dunia berputar sesaat, yang datang kemudian adalah rasa bahagia yang luar biasa, seolah-olah tanganku baru saja menyentuh ambang kenikmatan tertinggi.

"……Fufu, fufufu! Ahahahaha!"

Ah, ini mulai terasa menyenangkan. Perburuan akan segera dimulai. Terlebih lagi, ada sosok besar yang belum pernah kulihat sebelumnya menanti di sana, bohong namanya jika aku tidak merasa senang. Jadi wajar saja kalau aku sampai tertawa. Sudut bibirku terangkat karena kegembiraan yang membakar diri.

Efek Obat Sihir menyebar ke seluruh tubuh. Ini memberikan efek yang sama dengan sihir penguat tubuh yang biasa digunakan para ksatria untuk meningkatkan kemampuan fisik mereka. Namun, karena ramuan ini diracik secara khusus hanya untuk memfokuskan pada efek tersebut, hasilnya melampaui sihir penguat tubuh biasa. Hal ini memungkinkan seseorang untuk melakukan gerakan-gerakan layaknya monster.

"Putri Anis……"

Aku melambaikan tangan dengan santai untuk menenangkan Euphie yang tampak khawatir.

"Tenang saja, tenang saja! Kalau begitu, aku akan berburu secukupnya dulu! Kalau kau mau pakai sihir, berikan kode padaku ya! Aku akan segera mundur!"

Aku menyiapkan Mana Blade di kedua tangan dan mulai berlari. Hampir bersamaan saat aku berlari menuju hutan, gerombolan terdepan dari Stampede monster mulai menampakkan diri.

"Ahahahaha! Mereka datang! Kalau begitu, aku pun, akan…… tancap gaaaaassss!!"

Aku menghentakkan kakiku kuat-kuat dan melesat maju menyapu permukaan tanah. Saat aku menyalurkan energi sihir ke Mana Blade di kedua tanganku, bilah energi sihir pun terbentuk. Ada berbagai macam jenis monster yang datang menerjang.

Ada monster yang berwujud seperti serigala, ada yang seperti kera, bahkan ada monster yang berwujud bunga raksasa yang bisa berjalan. Berbagai macam makhluk yang di kehidupan masa laluku hanya diceritakan sebagai makhluk khayalan kini muncul berbondong-bondong.

Kawanan monster itu serentak menunjukkan taringnya untuk menyerangku. Namun──sudah terlambat.

"Satu."

Aku menebas leher monster sejenis serigala yang melompat menyerang paling depan. Selanjutnya, aku menusuk monster sejenis kera yang hendak menerjang dari belakang menggunakan Mana Blade di tanganku yang lain.

"Dua."

Begitu saja aku mengayunkan monster yang tertusuk itu membentuk lingkaran seolah hendak melemparkannya, lalu menggunakan Mana Blade di tangan satunya untuk menebas bagian batang dan tubuh bunga raksasa tepat di pangkalnya. Darah dan cairan tubuh monster yang kusembelih itu memercik dan membasahi tubuhku di saat kami saling berpapasan.

"Tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, dan ini yang kesepuluh!"

Berkat penguatan tubuh dari Obat Sihir, dunia yang kupahami terasa melambat. Aku memenggal leher monster yang mendekat, membelah tubuh mereka, dan terkadang menendang hingga mematahkan tulang leher mereka.

Suaraku saat menghitung jumlah monster yang kusembelih terdengar sangat riang. Bagaimana tidak, semua monster yang kusembelih ini akan menjadi bahan penelitianku, mana mungkin aku tidak tertawa kegirangan.

"Ada Gray Wolf, Killer Ape, dan Mandrake! Ah, di sana juga ada Cockatrice! Sesuai dugaan dari Hutan Hitam! Kyaaa! Bukankah ini luar biasa!!"

Aku menyadari kalau suasanaku sedang melambung tinggi dan aku menunjukkan senyuman yang penuh gairah. Itulah sebabnya aku tidak bisa berhenti untuk ikut serta dalam Stampede!

Namun, ada yang mengganggu kegembiraanku. Itu adalah seekor monster berbulu berukuran besar yang berjalan dengan dua kaki, seekor Troll. Ia mendekat sambil mengayunkan gada kayu yang tampak kasar. Terlebih lagi, ia datang sambil menginjak-injak monster yang telah kusembelih.

"──Tunggu sebentar."

Suasana hatiku yang menyenangkan jadi rusak. Tanpa sadar aku mengeluarkan suara rendah yang menekan emosi sambil memelototi Troll tersebut. Apa-apaan sih makhluk ini?

"Materialnya jadi rusak, tahu!!"

Makhluk ini menghalangi, aku harus segera menghabisinya. Sekalian saja aku sapu bersih semua yang mencoba mendekat.

Sambil berpikir demikian, aku menyalurkan lebih banyak energi sihir ke Mana Blade. Merespons kehendakku, cahaya Mana Blade semakin terang dan bilahnya mulai berubah bentuk. Panjang bilah yang telah berubah itu kini melebihi tinggi badanku sendiri. Aku berputar satu kali sambil memegang Mana Blade, bagaikan baling-baling kincir angin.

Aku menebas tubuh Troll tersebut beserta gada kayu yang hendak ia ayunkan, dan sekaligus membelah kawanan monster yang mencoba mengikuti di belakang Troll itu menjadi dua.

"Mati sana."

Makhluk tidak beradab yang merusak materialku lebih cocok terkapar di tanah. Tanpa kusadari, area di sekitarku telah dipenuhi oleh bangkai monster. Meskipun begitu, Stampede tidak akan berakhir hanya dengan skala segini. Monster-monster yang mencoba keluar dari pedalaman dan monster-monster yang berhenti karena ketakutan melihatku saling bertabrakan satu sama lain.

"Ah! Kalau mereka berdesakan begitu, materialnya kan jadi rusak!!"

Tanpa sadar karena kemarahan tersebut, aku hendak melangkah maju satu langkah lagi. Saat itulah kejadiannya.

"Putri Anis, tolong mundur!!"

Kesadaranku yang tadi melambung tinggi seketika menjadi tenang kembali. Itu adalah suara Euphie. Menyadari itu adalah kodenya, aku melompat mundur sekuat tenaga sejauh mungkin ke belakang. Saat aku menoleh, tampak sosok Euphie, dan aku pun mendarat tepat di sampingnya.

Begitu aku tiba di dekatnya, aku bisa merasakan dengan jelas betapa energi sihir Euphie sedang meluap-luap. Seolah-olah ia sedang menggetarkan seluruh dunia. Di sekelilingnya, cahaya yang sepertinya adalah para roh terbang menari seolah sedang dalam tahap persiapan untuk mewujud menjadi sihir, membentuk lingkaran sihir yang sangat indah hingga membuatku terpana.

"Di sini kuharapkan sangkar panas yang membara, selimuti segala yang tertangkap pandangan, dan ubahlah segalanya menjadi abu."

Suara Euphie yang lantang itu terdengar bagaikan suara sang penguasa. Atau lebih tepatnya, ini sihir dengan rapalan mantra, kan!? Padahal jika itu Euphie, ia bisa menggunakan sihir biasa tanpa rapalan, jadi sihir dengan gambaran yang jelas ditambah rapalan mantra seperti ini akan menghasilkan kekuatan yang seperti apa──.

"──'Explosion'."

Sihir yang diumumkan dengan tegas itu mulai mewujudkan bentuknya. Seperti yang diucapkan Euphie, sebuah sangkar panas yang membara pun muncul. Hawa panas yang menyebar dalam bentuk setengah bola itu membakar habis kawanan monster di sana. Bahkan angin panas yang bertiup sebagai dampaknya terasa seolah membakar kulit. Wajah Euphie yang menatap sangkar api setengah bola yang berkobar sambil menyiapkan Arc-en-ciel itu tampak datar tanpa ekspresi, hingga terasa mengerikan.

Aku──benar-benar terpana melihatnya hingga dadaku berdebar kencang. Aku sadar ini juga pengaruh dari Obat Sihir. Namun, meskipun aku tidak sedang berada di bawah pengaruh obat tersebut, aku pasti akan tetap terpana melihat sosok Euphie.

Kepada ia yang mengendalikan sihir yang kukagumi layaknya ia sedang bernapas. Kepada bakat itu, keberadaan bernama Euphyllia itu sendiri telah sepenuhnya memikat hatiku. Begitulah cantiknya ia di mataku.

"……Tunggu, Euphie! Material dari monster yang sudah kukalahkan ikut terbakar juga! Semuanya jadi abu!"

"Eh?"

Tadi aku sempat terhanyut oleh pesona Euphie, namun aku segera tersadar dan berteriak. Mungkin karena teriakanku itu bersamaan dengan habisnya durasi sihir tersebut, sangkar panas itu mulai mengecil dan menghilang. Kemudian, Euphie mengarahkan tatapan tajam yang penuh keheranan sambil menghela napas panjang.

"……Dalam situasi seperti ini pun, Anda ini benar-benar……"

"Habisnya!"

"……Sepertinya saya benar-benar harus meminta penjelasan detail mengenai obat itu nanti, mengerti!?"

Entah mengapa, aku menatap padang yang telah hangus terbakar itu dengan perasaan menyesal. Tapi sihir Euphie memang luar biasa. Jujur saja, aku sampai menelan ludah melihat kekuatannya yang sedahsyat itu. Inilah yang asli, inilah sang jenius. Orang pilihan yang berhasil menjangkau ranah yang sangat kuidam-idamkan.

Aku hanya bisa merasa kagum. Sambil memikirkan hal itu aku menatap wajah Euphie, namun sebuah suara menarik kembali kesadaranku. Ya, itu adalah suara yang sangat pantas disebut sebagai raungan.

"……Putri Anis."

"Aku tahu. Kita mundur sejenak, Euphie."

Saat aku mengangguk merespons instruksi Euphie dan mulai mundur menuju garis pertahanan, itulah saatnya. Hampir bersamaan saat sekelompok ksatria dan petualang maju menggantikan posisi kami, bayangan itu muncul di langit.

Tubuh raksasa yang jauh lebih besar daripada manusia. Sosoknya yang agung sanggup membangkitkan rasa hormat sekaligus ngeri. Meskipun dilihat dari jauh, siluetnya sudah tidak salah lagi. Naga itu akhirnya menampakkan dirinya.

Naga sering kali dibilang mirip dengan kadal, namun itu salah besar. Lebih tepat jika dikatakan ia mirip dengan monster raksasa (kaiju) dari kehidupan masa laluku.

Bentuk tubuhnya seolah memungkinkan untuk berjalan dengan dua kaki, ditambah sayap yang agung. Lalu sepasang tangan dengan cakar yang tajam serta taring yang mengerikan. Jika hanya menyebutkan hal-hal itu, mungkin kau hanya membayangkan sosok yang menyeramkan, namun keindahan sisik merah yang menutupi seluruh tubuhnya serta tanduknya yang anggun memancarkan keindahan sebagai makhluk hidup. Ia sudah bisa disebut sebagai karya seni yang bergerak.

"Itu, seekor Naga……!"

Entah karena bereaksi terhadap sihir skala besar milik Euphie, atau karena marah karena monster yang merupakan mangsanya dibantai oleh manusia. Atau mungkin hanya karena kesadaran akan wilayah kekuasaannya. Aku tidak tahu pasti.

Namun, yang aku tahu adalah──sosok itu adalah keberadaan yang sangat memikat bagiku hingga rasanya ingin segera kugenggam. Dadaku berdebar karena kegembiraan yang tak terbendung.

"Luar biasa! Benar-benar luar biasa! Ada makhluk seperti itu di dunia ini! Dunia ini memang selalu menakjubkan!"

Aku sudah melihat banyak monster selama ini. Di antaranya tentu saja ada monster Pemilik Batu Sihir. Ada juga yang memancarkan aura keberadaan yang sanggup membuat siapa pun menahan napas. Namun, saat ini, di depan mataku ada sosok yang memancarkan aura keberadaan yang seolah menghapus seluruh ingatan tentang monster-monster yang pernah kutemui sebelumnya.

Seluruh tubuhku bergetar seolah darahku sedang mendidih. Sekarang aku akan menantang sosok tersebut. Menantang sosok yang terbang di angkasa layaknya seorang penguasa, seolah menyatakan bahwa tidak ada musuh bagi dirinya.

"Putri Anis……"

Kesadaranku tertuju pada Euphie yang memanggil dengan nada khawatir. Aku memberikan senyuman padanya yang tampak cemas.

"Tenang saja! Daripada itu lihatlah, Euphie! Ada sosok yang sedemikian mengagumkan di dunia ini! Ah, Naga itu benar-benar luar biasa, rasanya seperti sedang bermimpi! Jika aku bisa mengolah Batu Sihir milik Naga itu, kira-kira hal apa yang akan bisa kulakukan nantinya!?"

Aku ingin tahu lebih banyak. Segala hal tentang sosok Naga tersebut tanpa terkecuali. Aku ingin membongkar semuanya. Dan pada akhirnya menjadikannya kekuatanku. Demi melangkah lebih jauh dari sekarang, menuju tempat yang belum pernah dicapai oleh siapa pun.

"Yang Mulia Putri Anisphia!"

"Komandan Ksatria!"

"……Saya membawakan ini karena saya pikir Anda akan membutuhkannya."

Gabungan pasukan ksatria dan petualang mulai bergerak untuk menyerang balik Stampede. Orang yang seharusnya memimpin pasukan tersebut datang untuk mengantarkan Sapu Penyihir milikku. Aku tersenyum dan menerima Sapu Penyihir tersebut.

"Terima kasih. Sesuai rencana, aku akan naik ke langit. Bisa aku titipkan Euphie padamu?"

"Dimengerti. Sekali lagi, semoga keberuntungan menyertai Anda di medan perang."

Meskipun memasang ekspresi yang rumit, komandan ksatria itu tetap memberikan doa untukku. Aku mengangguk pada Euphie, lalu menaiki Sapu Penyihir dan menggenggam gagangnya kuat-kuat dengan satu tangan. Di tangan satunya yang tidak memegang sapu, aku sudah menyiapkan Mana Blade; persiapanku sudah matang.

"Euphie, kalau begitu, aku berangkat sebentar ya!"

Aku sudah tidak tahan lagi. Dengan perasaan itu, aku menyalurkan energi sihir ke Sapu Penyihir dan melesat ke langit bagaikan anak panah yang dilepaskan dari busur. Di tempat yang kutuju, seekor Naga sedang terbang dengan tenang seolah-olah tidak ada musuh bagi dirinya.

Naga itu tadinya terbang dengan tenang, namun seolah-olah baru saja menyadari keberadaanku, ia mengalihkan pandangannya padaku. Gerakannya yang mirip seperti manusia yang mendengar suara kepakan sayap serangga itu membuatku tertawa.

"Salam kenal! Dan rasakan iniiii!!"

Sambil berteriak dalam kegembiraan, aku mencoba menebas Naga tersebut saat kami berpapasan menggunakan bilah energi sihir Mana Blade yang panjangnya sudah melebihi tinggi badanku sendiri.

Namun, bilah pedang itu tertahan oleh sisik Naga. Tidak, deskripsi itu kurang tepat. Jika dipaksakan, lebih tepat dikatakan bahwa "bilah pedangku tersangkut" daripada sekadar tertahan.

"Kh, apa-apaan ini……!"











Aku melemahkan energi sihir untuk menurunkan daya mata pedang. Saat bilah energi sihir itu kehilangan fungsinya sebagai pedang, ia pun kehilangan daya cengkeramnya pada sisik Naga, dan sebagai gantinya, gaya sentrifugal yang tersisa menghempaskanku. Sambil berusaha mengembalikan posisi tubuh, aku menyadari bahwa sang Naga kini mengarahkan pandangannya padaku.

Naga itu memutar tubuh raksasanya di udara dalam satu putaran penuh. Dan yang datang ke arahku adalah──ekornya!

"Cih!!"

Aku menyalurkan energi sihir ke Sapu Penyihir untuk berakselerasi mendadak, menukik sedikit ke bawah untuk menghindari hantaman ekor itu. Saat aku mencoba naik kembali, aku sadar bahwa Naga itu telah mengambil posisi di atasku. Kali ini, Naga itu membuka mulutnya. Mulut yang cukup besar untuk menelan manusia bulat-bulat, dengan deretan taring yang mengerikan berbaris di dalamnya, kini mendekat ke arahku.

"Jangan harap aku mau dimakan!!"

Untuk menjauh dari jangkauan taring Naga, aku memutar seluruh tubuhku secara horizontal sambil melaju dengan kecepatan penuh. Suara rahang yang beradu terdengar sangat dekat; seandainya aku terlambat sedetik saja, taring itu pasti sudah mencabik-cabikku.

Punggungku merinding, dan bibirku menyunggingkan senyum kaku. Untuk menekan rasa takut yang hendak muncul, aku berteriak.

"Maju sini!"

Aku memutar tubuhku, membalikkan arah terbang untuk kembali berhadapan dengan Naga.

Sekali lagi aku mengaktifkan bilah energi sihir Mana Blade dan menebasnya dari depan. Namun lagi-lagi, sensasi tersangkut itu menghalangiku. Bilah pedangku bahkan tidak bisa menggores sisiknya sedikit pun.

"Lalu kenapaaaa!!"

Jika dayanya kurang, aku hanya perlu menambahnya. Aku menuangkan lebih banyak lagi energi sihir ke dalam Mana Blade. Merespons energi sihir yang meluap, bilah Mana Blade bersinar semakin terang. Tiba-tiba, bilah itu "tergelincir" seolah kehilangan hambatan yang tadinya menahannya.

"──Hah?"

Sambil memperbaiki genggamanku pada Mana Blade yang nyaris terlepas, aku melihat ke arah tebasan tadi. Di sana, Naga itu berdarah akibat luka lurus yang tercipta dari tebasan pedangku. Sensasi apa tadi? Apakah karena aku membelah sensasi tersangkut itu begitu saja?

"──GWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOHHH!!"

Raungan yang tidak hanya menggetarkan gendang telinga, tapi juga seluruh tubuh, keluar dari mulut Naga. Entah karena rasa sakit atau kemarahan karena terluka. Yang aku tahu hanyalah kesadaran yang berupa aura membunuh yang sangat kuat kini diarahkan padaku dari Naga tersebut.

"Akhirnya kau mengakuiku sebagai ancaman, ya? Benar! Aku ada di sini, tahu!"

Meski sensasi tersangkut itu membuatku penasaran, tapi bukan berarti seranganku tidak mempan!

Aku kembali mencengkeram Sapu Penyihir dan Mana Blade, bersiap menghadapi Naga. Tepat saat aku hendak mendekat untuk menebasnya lagi, Naga itu membusungkan dadanya dan menarik tubuhnya ke belakang.

"Apa yang──!?"

Jawaban atas pertanyaan yang baru saja hendak keluar dari mulutku adalah badai angin. Aku terhempas oleh angin kencang yang diciptakan dari kepakan sayapnya hingga tidak bisa bergerak.

"Ga, wat──!"

Karena posisiku berhadapan langsung, aku dihantam angin kencang dari depan dan berusaha mengembalikan kendali terbangku. Saat aku memiringkan tubuh membelakangi Naga untuk mengubah lintasan mengikuti arus angin, mataku terbelalak.

Cahaya redup mulai menyala di dalam mulut Naga. Fenomena itu sangat mirip dengan apa yang kulihat sebelum sihir Euphie aktif tadi. Otakku, tidak, seluruh sel di tubuhku berteriak. ──Lari!

"U, a, aaaaaaaaaaaaaaaaaahhh!!"

Aku berteriak seolah ingin merobek tenggorokanku sendiri sambil menyalurkan energi sihir ke Sapu Penyihir.

Naga itu mengumpulkan cahaya di mulutnya seolah sedang menarik napas, dan yang ditembakkan ke arahku adalah──kilatan cahaya. Setidaknya, hanya itu yang bisa kupahami. Kilatan cahaya itu disertai gelombang kejut yang seolah meretakkan ruang, menyapu bersih awan di langit.

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak tahu, tapi di tengah kebingungan itu, hanya satu hal yang bisa kupahami.

"Jatuh……!"

Mungkin karena indra spasialku lumpuh akibat terkena dampak ledakan, aku tidak tahu ke arah mana aku sedang menuju. Saat aku berusaha keras mengembalikan kendali, aku merasakan sensasi seolah ada sesuatu yang terlepas dari tubuhku. Sensasi dingin yang tiba-tiba, seolah disiram air es.

(──Gawat, efek Ramuan Sihir, habis……!)

Ramuan Sihir memiliki batas waktu. Demi keamanan, aku meraciknya agar efeknya tidak bertahan terlalu lama, dan hal itu kini menjadi bumerang bagiku. Otakku yang tiba-tiba kehilangan rasa kegembiraan itu menjadi kacau karena rentetan kejadian ini, dan akhirnya aku baru sadar bahwa tanah semakin mendekat sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa.

(Mati, tidak, mendarat, setidaknya, kurangi dampak, Mana Shield, pengisian energi sihir, aktifkan, apa sempat!?)

Aku berusaha menyatukan pikiran yang terputus-putus untuk meminimalkan kerusakan.

Untungnya, tempat aku jatuh sepertinya kosong. Tampaknya agak jauh dari medan pertempuran utama. Kalau begini, setidaknya aku bisa mendarat tanpa menimbulkan korban di sekitarku──.

"──Putri Anis!!"

Sebuah suara putus asa terdengar memotong pikiranku. Saat itu juga, kesadaranku sempat terputus sesaat akibat benturan seolah ada yang menangkapku.

    * * *

"Nona Euphyllia, mohon mundur dulu! Sihir skala besar tadi tidak cocok untuk pertempuran jarak dekat yang kacau. Jika Anda bisa menggunakan sihir penyembuhan, kami mohon bantuan Anda di sana!"

"……Baiklah, saya akan menuju ke sana."

Itu terjadi setelah Putri Anis terbang menuju Naga. Saya mundur ke garis belakang sesuai permintaan Komandan Ksatria. Memang benar sihir saya bisa memberikan efek yang besar, namun sulit untuk menggunakannya di tengah pertempuran yang kacau.

Mungkin karena itulah saya dipercaya untuk memberikan dukungan garis belakang menggunakan sihir penyembuhan yang penggunanya terbatas. Saya juga memahami pentingnya dukungan garis belakang.

Selain itu, mungkin mereka juga berharap saya bisa menjadi pengawal bagi yang terluka selama perawatan. Lagipula, saya rasa ada alasan lain yaitu mereka tidak mungkin membiarkan seorang putri adipati berada di garis depan.

Mungkin karena sihir yang saya lepaskan tadi efektif, momentum Stampede tidak terlalu kuat, dan jumlah korban luka yang dibawa masuk pun tidak banyak. Karena itulah, kesadaran saya mau tidak mau tertuju ke langit.

Saat melihat Putri Anis terbang lurus menghadapi Naga, saya hampir pingsan rasanya. Sepertinya serangan pertamanya gagal, karena beliau menghindar dengan cara melesat melewatinya.

Saya bisa melihat dengan jelas Putri Anis membalas serangan meski diserang balik oleh Naga. Kemudian, Mana Blade milik Putri Anis memancarkan cahaya yang belum pernah saya lihat sebelumnya dan diayunkan ke arah Naga.

Saat itu, saya melihat sisik Naga seolah menahan bilah energi sihir tersebut. Kilauan sisik Naga itu, terlihat seolah seluruh tubuhnya diselimuti oleh energi sihir.

(Itu, jangan-jangan…… Perisai Energi Sihir?)

Secara teori, prinsipnya sama dengan Mana Blade atau Mana Shield yang digunakan Putri Anis. Namun, Putri Anis pernah bilang bahwa saat ini sulit untuk membuat sesuatu yang bisa menutupi seluruh tubuh.

Bahwa Naga, ras yang dianggap sebagai puncak para monster, mampu melakukan hal itu membuat saya tanpa sadar mengepalkan tangan. Untuk melukai Naga itu, hanya serangan dengan daya hancur besarlah yang akan efektif. Atau mungkin, bertarung sampai energi sihir Naga itu habis.

(Apakah Putri Anis bisa melakukannya sendirian……?)

Tadi saya diperlihatkan bagaimana beliau mengacaukan barisan awal Stampede, membuat saya paham bahwa beliau adalah orang yang di luar nalar, dan "hanya" tidak bisa menggunakan sihir biasa. Meski begitu, kecemasan di dada ini tidak mau hilang.

Dan momen itu pun tiba. Mungkin karena menganggap Putri Anis yang telah melukainya sebagai ancaman, Naga itu menciptakan angin kencang dengan sayapnya.

Jujur saja, saya merasa sulit percaya bahwa tubuh raksasa itu bisa terbang hanya dengan sayap fisik. Namun kini saya menemukan jawabannya. Jika kita menganggap bahwa sayap itu merapal sihir yang memungkinkannya terbang, maka semuanya masuk akal.

Melihat Putri Anis yang berusaha tetap terbang meski terhempas angin kencang, Naga itu mengambil tindakan lebih lanjut.

Itu adalah tanda-tanda akan aktifnya "sihir" yang bahkan bisa saya rasakan dari sini. Gelombang energi sihir yang membuat bulu kuduk berdiri dan seluruh tubuh gemetar. Saya yakin, manusia tidak akan bisa bertahan jika terkena serangan semacam itu. Dan Putri Anis berada tepat di jalur tembakannya.

"JANGAN!"

Bersamaan dengan teriakan refleks saya, arus cahaya ditembakkan ke arah Putri Anis. Itu hanyalah gelombang energi sihir murni, namun justru karena itulah, itu adalah kilatan kekerasan yang murni bertujuan untuk menghancurkan.

Serangan yang bahkan menggetarkan udara itu memiliki kekuatan seolah hendak membelah langit. Saya melihat Putri Anis berhasil menghindarinya, namun beliau jatuh menukik dengan kecepatan tinggi ke arah tanah. Untungnya tidak ada siapa-siapa di arah jatuhnya, tapi dengan kecepatan seperti itu, beliau bisa mati.

──Putri Anis, akan mati.

Saya berlari tanpa memedulikan apa pun. Meski saya tahu lari dengan penguatan tubuh pun tidak akan sempat mengejar jarak sejauh ini, tapi saya tetap merasa harus segera ke sana. Saat itu, saya dikuasai oleh pemikiran tersebut.

Setiap kali melihat Putri Anis yang semakin dekat dengan tanah, rasanya hanya suara detak jantung saya sendiri yang terdengar; momen di mana konsentrasi saya meningkat hingga batas maksimal.

Sesuatu di dalam diri saya "pecah". Di ujung kondisi ekstrem itu, yang saya inginkan hanyalah sampai ke tempat orang itu berada. Sensasi aneh melintas di benak saya. Ibaratnya seperti kepingan-kepingan yang berserakan akhirnya menyatu membentuk sebuah wujud. Saya menyerahkan diri pada sensasi yang bahkan saya sendiri tidak bisa memahaminya sepenuhnya itu.

(Kecepatan, lebih lagi, lebih cepat daripada berlari di tanah, lebih cepat lagi, menuju ke tempat orang itu──!)

'Benar, sama seperti yang dia lakukan.'

Kaki yang menjejak tanah kini melayang ke udara, dan saya "terbang" lurus ke depan. Jarak dengan Putri Anis yang semakin dekat membuat jantung saya berdegup kencang seolah akan meledak, dan saya memaksakan diri menyela tepat di titik pendaratannya.

"──Putri Anis!!"

Tubuh yang masih menyisakan efek penguatan fisik berhasil menangkap Putri Anis yang jatuh dengan kuat. Meski begitu, dampaknya tidak bisa diredam sepenuhnya, dan saya pun jatuh tertimpa tubuhnya.

"Kh, uhuk…… uhuk, uhuk!"

"Putri Anis! Apakah Anda baik-baik saja!?"

"Euphie……? Eh? Kau…… menangkapku……?"

Mungkin karena kesadarannya masih kabur akibat dampak jatuh, Putri Anis bertanya sambil memegangi kepalanya.

Namun, beliau segera tersadar, memfokuskan pandangannya, dan menatap tajam ke langit. Kemudian beliau merogoh pakaiannya dan mengeluarkan botol berisi Ramuan Sihir.

Melihat hal itu, secara refleks saya mencengkeram tangan Putri Anis. Putri Anis menatap saya dengan terkejut dan bingung.

"Euphie?"

"Apakah Anda masih mau bertarung? Sendirian? Baru saja Anda hampir mati, tahu!?"

Belum pernah saya merasa dada saya sesakit ini, seolah mau pecah. Saya hanya berteriak sambil napas terengah-engah mengikuti dorongan emosi saya.

"Obat itu juga ada efek sampingnya, kan? Padahal Anda tidak bisa bertarung tanpa bergantung padanya! Padahal cuma itu yang Anda miliki! Kenapa Anda berpikir untuk menantang monster seperti itu tanpa bisa menggunakan sihir!?"

Harus melawan monster, harus melindungi negara, itu adalah kewajiban bangsawan.

Bagi saya yang dibesarkan sebagai bangsawan, itu adalah ajaran yang sudah mendarah daging. Tapi Putri Anis berbeda. Orang ini tidak bisa menggunakan sihir, dan sebagai anggota keluarga kerajaan pun beliau dijauhi dan dianggap pembuat onar.

Saya tidak bisa memahami orang ini yang berani menghadapi Naga yang bahkan para bangsawan pun enggan melawannya. Bukan kewajiban, bukan pula misi, tapi mengapa beliau masih mau bertarung.

"Mengapa Anda──"

"──Alasannya sederhana."

Kenapa. Hei, kenapa? Mengapa Anda, mengapa Anda.

──Masih bisa tertawa seperti itu?

    * * *

"Mengapa Anda──"

Kesadaranku yang sempat kabur akibat jatuh kini mulai jernih kembali. Dan Euphie bertanya padaku, mengapa. Kata-kata untuk menjawabnya langsung muncul di benakku. Aku yakin, saat mengucapkan kata-kata yang harus kusampaikan itu, aku pasti sedang tersenyum.

"──Alasannya sederhana. 'Karena itulah penyihir menurut pandanganku'."

Aku sudah merasakan sendiri betapa mengerikannya ancaman Naga itu. Sekarang setelah efek Ramuan Sihir hilang, jujur saja aku sangat ketakutan hingga tubuhku gemetar. Aku sendiri merasa mungkin aku sudah gila.

──Meskipun begitu, aku tidak ingin lari. Hatiku berteriak bahwa aku tidak ingin menyerah begitu saja di sini.

Ingin bisa menggunakan sihir. Ingin mendalami Ilmu Sihir lebih jauh. Ingin mengembangkan lebih banyak alat sihir. Aku tidak menyangkal semua itu. Itulah tenaga pendorong yang menggerakkanku. Tapi, hal yang ada di dasar keinginan itu sebenarnya sangatlah sederhana.

Itu adalah hal yang terus tersimpan di dadaku sejak hari itu, hari yang menjadi pemicu aku menjadi diriku yang sekarang.

"Benda itu merenggut senyum orang-orang, sesuatu yang tidak boleh dibiarkan begitu saja. Makanya aku bertarung. Karena itulah penyihir menurut pandanganku. Penyihir yang kubayangkan selalu menggunakan sihir demi senyum seseorang. Makanya aku bertarung melawannya. Kalau aku lari di sini, aku tidak bisa lagi menyebut diriku penyihir."

Kurasa ini hanyalah keras kepalaku saja. Sesuatu yang kubutuhkan agar aku tidak menyerah pada idealismeku. Jika aku menyerah sekarang, itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kudapatkan kembali.

"Lagipula, aku bisa menggunakan sihir yang cukup untuk melawan Naga, kok."

Meskipun aku tidak bisa menggunakan sihir biasa, jika aku punya kekuatan untuk membusungkan dada dan berkata "Inilah sihirku", maka itu sudah cukup.

Bukan kewajiban. Bukan tanggung jawab. Juga bukan misi. Hanya doa dan harapan yang kusumpahkan pada diriku sendiri. Aku bertarung demi diriku yang ingin menjadi seperti itu. Bukan karena ingin berbakti pada orang lain. Bukan karena ingin merasa puas dengan mengorbankan diri demi orang lain. Aku ingin melihat pemandangan yang kuinginkan. Hanya itu saja ceritanya.

"Tersenyumlah, Euphie. Aku tidak apa-apa kok. Kali ini aku akan melakukannya dengan lebih baik. Lagipula, kau bilang ingin melihat mimpi itu bersamaku, kan? Mengabulkan keinginan seseorang adalah tugas penyihir, tahu."

Aku mengagumi sihir. Karena sihir bisa membuat semua orang tersenyum. Makanya aku tidak akan menyerah untuk menjadi penyihir. Makanya aku harus pergi. Setelah menyampaikan perasaanku, aku mencoba melepaskan tangan Euphie untuk kembali terbang ke langit. Namun, tangan Euphie justru menggenggam tanganku semakin erat.

"Saya, tidak mengerti."

"Euphie."

"Tapi, tapi jika hal itu, jika perasaan itulah yang membiarkan saya berada di sini, maka saya ingin melindunginya. Makanya saya tidak ingin membiarkan Anda pergi. Saya tidak ingin Anda mati."

Sambil meneteskan satu, hanya satu bulir air mata, Euphie memohon dengan ekspresi putus asa. Aku tidak bisa memalingkan pandanganku. Kata-kata yang diucapkan Euphie sambil menatap lurus ke arahku, meski sambil menahan rasa sakit, bergema di dalam diriku tanpa tersisa.

"Jika dengan tidak pergi sekarang Anda akan berhenti menjadi diri Anda sendiri! Maka setidaknya bawalah saya serta. Saya tidak akan menjadi beban. Saya ingin memahami sihir Anda. Saya sudah menangkap sensasi cara terbang di langit. Saya bisa memberikan dukungan. Saya juga bisa memberikan pertahanan sihir. Saya bisa menopang Anda. Jadi, jadi, kumohon──jangan pergi, sendirian……!"

Kedua tangannya yang mencengkeram tanganku terasa seolah sedang memanjatkan doa. Perasaan Euphie seolah tersalurkan, kehangatan tangan Euphie meresap ke dalam diriku. Menenangkan tubuhku yang gemetar ketakutan, dan hatiku yang terburu-buru ingin segera bertarung.

"Jangan pergi sendirian, ya."

Aku, tidak sendirian. Euphie, sosok yang paling dekat dengan "penyihir" yang kukagumi melebihi siapa pun, mencoba untuk mendampingiku. Ia bilang ingin melihat mimpi mustahilku ini bersamaku.

Padahal wajar saja kalau dia marah karena aku nekat, atau merasa heran, atau bahkan menyerah padaku. Tapi dia tetap memaafkanku.

"Baiklah, aku tidak akan pergi. Aku tidak akan pergi sendirian."

"Putri Anis."

"Tapi, aku harus menghentikannya. Jadi aku harus pergi. Sendirian memang berat buatku. Jadi Euphie──maukah kau menemaniku?"

Aku tidak tahu di mana garis finisnya, dan belum pernah ada orang yang berkata sejauh ini padaku. Saat dikatakan lagi seperti ini, aku jadi tidak percaya diri, dan rasanya aku mungkin tidak akan bisa membalas perasaannya.

Tapi jika dia bilang aku boleh menjadi diriku sendiri, aku ingin memegang teguh hal itu. Jika untuk itu aku harus membawanya bersamaku. Kumohon, aku ingin dia menemaniku.

"Ya. ……Ya."

Euphie mengangguk menjawab pertanyaanku. Ia tersenyum dengan ekspresi paling cantik yang pernah kulihat darinya selama ini.

"Jika itu yang Anda inginkan. Saya akan menemani Anda ke mana pun."

"……Euphie ini berlebihan banget, sih."

Aku bangkit dengan kekuatanku sendiri. Sekali lagi aku mengulurkan tangan yang sempat kulepaskan itu kepada Euphie.

"Sekalian karena sudah berlebihan, ayo kita pergi mencetak prestasi. Euphie. Ayo kita pergi berburu Naga!"

"Baik!"

Euphie menjawab panggilanku dengan suara lantang, lalu meraih tanganku dan berdiri.

Setelah membantu Euphie berdiri, aku mengeluarkan botol berisi Ramuan Sihir. Aku takut efek samping dari konsumsi berturut-turut nantinya, tapi aku tidak boleh memedulikannya sekarang.

Dengan penuh tekad, aku mengunyah dan menelan dua butir sekaligus. Efek Ramuan Sihir seketika melambungkan perasaanku, dan vitalitas memenuhi seluruh tubuhku. Meski begitu, aku berusaha agar tidak kehilangan kendali atas kesadaranku. Setelah menarik napas dalam-dalam, aku menaiki Sapu Penyihir dan menatap Euphie.

"Naiklah!"

Euphie mengangguk dan naik di belakangku. Aku merasakan tangannya melingkar di pinggangku dan memelukku erat. Setelah memastikannya, aku kembali terbang ke angkasa. Naga itu masih melayang di sana.

Seolah-olah ia sedang menungguku. Aku tidak tahu bagaimana ekspresinya, tapi saat ia memamerkan giginya, itu terlihat seperti seringaian yang menyeramkan.

"Sombong sekali……!"

Rasa takut telah tergantikan oleh semangat bertarung berkat Ramuan Sihir. Rasa ngeri terhadap Naga pun kuubah menjadi semangat juang, dan aku mengaktifkan Mana Blade untuk menyerang. Naga itu sepertinya juga belajar, ia tidak menangkisnya melainkan mencoba menghindar.

"Putri Anis! Dugaan saya, Naga itu menutupi seluruh tubuhnya dengan perisai energi sihir!"

"Eh? Seluruh tubuh dengan perisai energi sihir? Itu artinya……"

"Secara teori, prinsipnya sama dengan Mana Blade. Jadi saya rasa itulah alasan mengapa Mana Blade bisa ditahan. Sebaliknya, jika kita bisa menembusnya, serangan itu akan efektif!"

"Begitu ya, jadi sensasi aneh saat menebas waktu itu karena hal tersebut!"

Berarti Naga itu pun jelas mulai mewaspadai Mana Blade. Fakta bahwa Mana Blade bisa membelah sesuatu yang terbuat dari sihir berarti itu bisa menembus pertahanan utama Naga. Karena perisai energi sihir juga bisa dibilang sihir!

"Hati-hati dengan sayapnya! Saya rasa yang menopang penerbangan tubuh raksasa itu adalah sihir unik Naga! Dan sayapnyalah yang memungkinkan hal itu!"

"Seperti angin kencang tadi ya! Oke, kalau begitu yang harus diincar adalah……!"

""Sayap!!""

Suaraku dan Euphie bersatu. Kami menghindari ekor Naga yang diayunkan untuk menjaga jarak. Sambil berputar mulus, aku membidik target.

"Euphie, aku ingin menempel pada Naga itu, tapi untuk mengejutkannya kita harus berakselerasi mendadak! Apa kau bisa membuat kita berakselerasi dengan aba-abaku!?"

"Baik! Saya lakukan!"

"Nyawaku ada di tanganmu!"

"Sudah sejak tadi saya pegang!"

Aku mencengkeram Sapu Penyihir lebih erat dan memusatkan kesadaran untuk terbang. Targetnya adalah sayap, potong satu saja sudah cukup. Aku memacu sapu di angkasa untuk menangkap momen itu.

Naga itu juga sepertinya memusatkan perhatian pada kami, sehingga sulit untuk mengambil posisi di belakangnya. Ia selalu menjaga posisi agar tetap menghadap ke arah kami.

"'Wind Cutter'."

Di tengah situasi itu, sihir yang dilepaskan Euphie menyerang Naga. Bilah angin yang diciptakan oleh roh angin itu hancur berkeping-keping tanpa bisa menembus perisai energi sihir Naga.

Namun, gerakan Naga itu terhenti sesaat. Pada saat itulah, aku berteriak sekuat tenaga.

"Kh, sekaraaang!!"

Merespons aba-abaku, Euphie mempercepat laju terbang kami. Kecepatan yang seolah menarik paksa tubuh itu membuat darah mendesir ke kepala. Di ujung kesadaran yang berkedip-kedip, kami terbang melesat melewati samping wajah Naga. Saat menoleh, aku melihat punggung Naga. Melihat punggung itu, aku melepaskan tanganku dari Sapu Penyihir.

Hanya sesaat aku melayang di udara, sebelum Naga itu menoleh, aku menyalurkan energi sihir ke Mana Blade dan menggenggamnya dengan kedua tangan. Aku mengangkat Mana Blade tinggi-tinggi di atas kepala, lalu mengayunkannya sekuat tenaga.

"Kali ini, kaulah yang jatuh──!!"

Satu tebasan. Tebasan sepenuh tenaga menghujam pangkal sayapnya. Guncangan perlawanan saat pedang menancap terasa lebih kuat dari sebelumnya. Apa dia memperkuat energi sihir yang menyelimuti tubuhnya!? Atau karena ini bagian vital jadi pertahanan energi sihirnya lebih tebal!?

"Masa, bodoooooh────!!"

Potong, potong, potonglah sampai putus. Hanya dengan harapan itu aku terus mengalirkan energi sihir ke Mana Blade. Dan tiba-tiba, hambatan itu lenyap, dan bilah energi sihir yang terayun mulus itu berhasil memotong sayap Naga dari pangkalnya.

"GWOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA────!?"

Raungan yang terdengar seperti jeritan membahana, dan keseimbangan Naga itu runtuh, lalu ia jatuh ditarik oleh gravitasi bumi. Sebelum aku benar-benar jatuh ke tanah, aku meraih Sapu Penyihir dengan satu tangan dan menurunkan ketinggian secara bertahap untuk mendarat. Saat mendarat, pandanganku berkunang-kunang akibat penggunaan energi sihir yang mendadak dan efek Ramuan Sihir.

"Putri Anis!"

"……Kh, aku tidak apa-apa."

Euphie memeluk tubuhku yang sempoyongan. Karena Euphie memelukku dan menahan tubuhku bersama Sapu Penyihir, aku bisa melepaskan pegangan tangan. Tadi itu, aku pasti tidak akan bisa memotongnya dengan satu tangan.

Setelah mendarat, aku melepaskan Sapu Penyihir. Sambil menahan diri agar tidak ambruk, aku menatap tempat jatuhnya Naga. Akan merepotkan kalau jatuhnya ke dalam hutan, tapi Naga itu jatuh tepat di tengah dataran.

"Kalau dengan begitu dia tidak bisa terbang lagi, sisanya kita bisa bertarung di darat……!"

Sambil berharap demikian, aku menatap Naga yang bangkit di tengah kepulan debu. Naga itu mengarahkan matanya yang tajam, seolah sedang memelototi kami.

Saat berikutnya, aku menahan napas. Cahaya itu berkumpul di mulutnya. "Breath" akan datang.

"Putri Anis! Menyingkirlah!"

Mendengar teriakan panik Euphie, aku hendak mengangguk, namun saat aku mengalihkan pandangan──aku tidak bisa bergerak.

"──Tidak bisa."

"Eh?"

"Di belakang…… adalah medan perang!"

Di kejauhan di belakang kami, terlihat pasukan ksatria dan petualang yang sedang menahan laju Stampede. Itu jelas masih dalam jangkauan tembak Breath. Jika kami menghindar di sini, seluruh area itu akan tersapu bersih.

Bagi Naga, manusia maupun monster tidak ada bedanya. Semuanya sama-sama makanannya, dan ia pasti tidak akan ragu untuk mengubah semuanya menjadi debu. Karena itulah aku tidak bisa mundur dari sini.

Apa yang harus kulakukan, apa yang harus kulakukan, apa yang harus kulakukan. Aku mengulang kata-kata yang sama dalam hati dengan panik.

Dan jawaban yang kutemukan sungguh sangat sederhana sampai-sampai aku sendiri merasa heran. Aku mengembalikan Mana Blade yang tadi kugunakan ke holdernya, dan mencabut Mana Blade yang satu lagi.

"Euphie, bertahanlah dengan kekuatan penuh. Jangan biarkan Breath mencapai medan perang, gunakan cara apa pun."

"Putri Anis, apa yang akan Anda lakukan!?"

"──Aku akan membelah serangan itu."

Itu juga "sihir". Dan tidak ada elemen fisik di dalamnya. Itu murni tembakan energi sihir, makanya seharusnya bisa "dibelah" dengan Mana Blade. Masalahnya adalah, ini membutuhkan output daya besar yang belum pernah aku coba sebelumnya. Mendengar perkataanku, Euphie terdiam seribu bahasa, lalu berteriak panik.

"Itu…… itu mustahil!"

"Tidak ada cara lain."

"Kalau kita segera menyingkir dari jalur tembak……"

"Tapi kalau Breath itu ditembakkan begitu saja, aku akan menyesal seumur hidup."

Karena itulah aku tidak bisa mundur. Aku tidak bisa lagi menatap Euphie. Breath itu sedang menunggu momen untuk dilepaskan kapan saja.

"Mana Blade, Limit Release."

Aku melepaskan pembatas yang biasanya membatasi output maksimal Mana Blade. Secara teori, aku bisa memasukkan energi sihir sebanyak apa pun ke dalam Mana Blade.

Namun karena Mana Blade adalah alat, ia memiliki batasan. Pembatas ini adalah tindakan pencegahan untuk membatasi output agar Mana Blade tidak hancur sendiri. Itulah sebabnya aku melepaskan pembatas itu.

Jika aku tidak melepaskan pembatasan output, aku tidak akan bisa membelah Breath Naga. Apakah energiku akan habis duluan sebelum berhasil membelah Breath Naga, ataukah Mana Blade yang dilepas limiternya akan hancur duluan karena tidak kuat menahan beban. Dipikirkan bagaimana pun, ini adalah perjudian yang sangat merugikan bagiku.

"Tapi, sudah terlambat untuk mundur."

Aku yang tidak diberkahi bakat sihir selalu bertaruh pada perjudian yang merugikan. Karena hanya itu pilihan yang kupunya. Berapa kali pun gagal, meski terkadang kalah dalam taruhan, aku pasti akan mengulanginya lagi.

"Jika ada hal yang hanya bisa dipilih pada saat ini, aku akan terus memilihnya sendiri agar tidak menyesali pilihanku."

Mencoba melawan Naga hanya dengan sebilah pedang, bukankah ini kisah kepahlawanan yang konyol. Bisikan itu muncul dari dalam diriku, entah dari sisi yang tenang atau yang sedang kegirangan. Karena itulah aku bisa tersenyum. Padahal mungkin di detik berikutnya aku akan tertelan oleh Breath itu dan lenyap.

"Aku tidak cocok jadi putri, dan aku juga tidak butuh gelar pahlawan pembantai naga. Hanya satu hal yang tidak bisa kuserahkan. Demi bisa menyebut diriku penyihir, jika aku tidak bisa membuat yang mustahil menjadi mungkin, aku tidak pantas menyebut diriku penyihir!!"

Jadi, aku tidak akan minta maaf. Euphie.

"──Saya mengerti. Silakan, ikuti kata hati Anda."

Ya.

"Karena itu, perlihatkanlah pada saya. Saya akan melindungi. Baik Anda, maupun punggung Anda, akan saya lindungi."

Aku tahu.

"Karena saya, akan menyaksikannya──!!"

Terima kasih, Euphie.

Kemudian, kilatan cahaya yang seolah membakar mata memancar. Breath yang ditembakkan dari Naga mewarnai pandanganku menjadi putih. Melawan pandangan yang memutih itu, aku hanya menatap lurus ke depan dan mengayunkan Mana Blade dari atas.

"Aaa, aaaaaaaaaaaaaaaaa, aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa────!!"

Ibaratnya, ini adalah tindakan nekat seperti mencoba membelah arus deras dengan pedang. Tentu saja itu bukan sesuatu yang bisa dibelah dengan pedang. Siapa pun pasti mengerti hal itu.

Tapi, ──meskipun begitu, pedang yang kugenggam ini bukanlah pedang biasa. Pedang ini adalah sihir.

Benda yang hanya bisa diciptakan di dunia ini. Sesuatu yang melampaui logika yang kutahu, yang tercipta dari hukum dunia ini. Aku tahu. Aku mengaguminya. Kemungkinan tak terbatas yang kubayangkan sejak aku menjadi diriku.

──Jika ada sihir, langit pun bisa kuterbang.

Itu berarti tidak ada yang mustahil bagi manusia. Jika di dunia tanpa sihir saja hal itu bisa dilakukan, maka di dunia ini kita seharusnya bisa melangkah lebih jauh lagi. Makanya, ya, makanya!

"──Yang namanya mustahil itu, adalah sesuatu yang harus dibuat menjadi mungkin, tahuuuuu!!"

Energi sihir kurang, kalau kurang tinggal tuangkan lagi. Lalu apa itu energi sihir? Energi sihir adalah sesuatu yang tumpah dari jiwa. Kalau begitu, masih bisa diperas. Kalau butuh jiwaku, ambil saja lagi!!

Sensasi seolah sesuatu yang tak terlihat dalam diriku terkelupas. Aku hanya terus berharap dan berdoa sambil mengerahkan tenaga agar tidak tersapu dalam cahaya itu. Potong, potong, potonglah. Hanya potonglah.

Dalam waktu yang terasa seperti keabadian, di tengah pandangan yang dipenuhi cahaya putih──tiba-tiba aku melihat warna langit.

Dunia yang tadinya tak terlihat karena cahaya kini mulai mendapatkan kembali warna dan bentuknya seolah sedang terbelah.

Aku melihat luka lurus terukir dari dada hingga perut Naga yang berdiri di ujung pandanganku. Dan seolah baru teringat bahwa ia telah terluka, darah menyembur keluar dengan deras. Darah membasahi bumi, dan Naga itu berlutut tanpa suara. Begitu saja ia ambruk ke tanah seolah kehilangan tenaga. Aku sama sekali tidak bisa percaya bahwa itu adalah pemandangan nyata. Di situlah, seolah baru teringat, aku mengembuskan napas.

"Kh, ha, ah."

Tenggorokanku terasa seperti terbakar. Seluruh tubuhku sakit tanpa terkecuali. Rasa sakit yang membuatku merasa seluruh keberadaanku sedang berderit. Meski begitu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melangkah maju memastikan hasil perbuatanku.

Entah sudah berapa lama aku berjalan. Saat menginjak darah Naga yang membasahi bumi, barulah aku merasa bisa mengukur jarak dengan Naga itu. Naga yang kulihat dari dekat itu terluka, dan meski terkapar di tanah, ia masih bernapas. Kemudian, mata Naga itu menatapku. Namun, aku merasa tidak ada warna permusuhan di sana.

"──Luar biasa, wahai Orang Asing."

Tiba-tiba, aku mendengar suara yang seolah bergema langsung di otakku. Aku membelalakkan mata dan menatap Naga itu.

"……Suara tadi, apakah itu Anda?"

Naga bisa bicara? Apakah kecerdasannya setinggi itu? Orang Asing itu maksudnya aku?

Karena terlalu mendadak, pikiranku belum bisa tersusun rapi, dan aku hanya bisa menatap Naga dengan bengong.

"Benar. Wahai Orang Asing yang ganjil. Jika aku harus mati di tanganmu, mungkin itu juga takdir. Sungguh aneh, tapi cara hidupmu hanya bisa disebut sebagai sesuatu yang menghibur."

"……Tiba-tiba diajak bicara begini, itu, bikin kaget…… maaf……?"

Karena tidak menyangka ia akan bicara padaku, aku secara refleks mengucapkan kata maaf. Naga itu tampak menyipitkan matanya seolah mengantuk.

"Wahai Orang Asing yang sungguh ganjil. Mengapa kau meminta maaf seperti itu?"

"……Aku tidak menyangka bisa bertukar kata. Padahal aku mencoba membunuhmu secara sepihak."

"Itu berlaku untuk kita berdua. Aku pun hanya memilih kata-kata karena ini adalah saat-saat terakhirku. Sebaliknya banggalah, seperti serpihan kehidupan orang-orang yang telah kau jadikan makanan dalam tubuhmu itu."

"……Hal seperti itu pun kau tahu?"

Mungkin yang dimaksud Naga itu adalah Ramuan Sihir yang berbahan dasar Batu Sihir. Bahkan hal seperti itu pun dia tahu, seberapa tinggi sebenarnya kecerdasan Naga ini.

"Orang Asing yang seganjil dirimu, mungkin tidak akan ada banyak."

"Orang Asing itu, maksudnya aku? Kenapa kau memanggilku begitu?"

"Orang yang membuka jalan dengan jiwanya sendiri meski hanya spesies kerdil bernama manusia. Orang langka yang terkadang muncul di dunia ini untuk membunuh makhluk yang telah mencapai puncak sepertiku."

Aku merasa sedang mendengar cerita yang luar biasa. Ah, efek Ramuan Sihir pun entah sejak kapan sudah habis. Kegembiraanku mereda, dan perasaan bahwa aku telah melakukan hal yang sangat gila mulai meluap.

Kemudian kelopak mata Naga mulai turun. Gerakannya begitu lambat hingga membuatku yakin bahwa Naga ini akan segera mati.

"……Aku ingin berbincang lebih banyak denganmu."

"Tidak perlu ada perbincangan di antara kita."

Gumamanku yang penuh harap dipotong begitu saja dengan lugas.

"Aku tidak tahu apa yang kau cari. Aku tidak tahu, tapi aku bisa meramalkan apa yang ada di ujung jalanmu. Dan, kau akan memangsaku seperti yang telah kau lakukan selama ini."

Matanya yang menyipit tampak seperti hendak tidur, tapi juga terlihat seperti sedang tersenyum. Dari nada suaranya, aku hanya bisa membayangkan Naga itu sedang menunjukkan ekspresi seperti itu.

"Oleh karena itu, suatu hari nanti kau pun akan sampai di sana. Jika kau memangsaku, maka aku pun akan bersamamu. ──Akan kuramalkan. Suatu saat nanti, kau pun akan menjadi Naga."

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Bibirku hanya gemetar, aku merasa harus mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata yang muncul.

"Orang Asing sepertimu, mungkin hanya kau seorang. Sungguh takdir yang aneh. ……Kau membutuhkannya, bukan? Untuk itulah kau bertarung denganku dan menang. Sebagai pemenang, silakan lakukan sesukamu, termasuk terhadap mayatku."

"……Kau tidak membenciku?"

"……Kukuku, hahahahaha! Membenci? Kau bilang membenci! Sungguh hal yang menghibur. Kalau begitu, wahai Orang Asing yang melahap dan menelan banyak nyawa. Aku akan 'mengutukmu'. Dan 'memberkatimu'. Menggunakan mayatku saja tidak cukup. Ukirlah pada jiwamu. Pikullah simbol keberadaanku ini selamanya!"

Kata-kata yang bergema di otakku terasa penuh kekuatan. Aku merasakan sensasi asing seolah ada sesuatu yang ditanamkan ke dalam diriku, membuat punggungku merinding. Itu seperti "kata-kata", dan seperti "pengetahuan". Sesuatu yang tak terlukiskan dengan kata-kata telah terukir dalam diriku.

Itu adalah sesuatu yang diukirkan, namun juga terasa seperti doa. Mengapa aku merasa seolah-olah ini mungkin sesuatu yang dipercayakan kepadaku? Ah, aku ingin memahaminya lebih dalam, tapi waktunya tidak ada.

"……Namaku Anisphia Wynn Palettia. Orang yang membunuh dan memangsamu."

Sebelum Naga itu menghembuskan napas terakhir, aku menyebutkan namaku sendiri.

Aku tidak tahu seberapa besar arti dari tindakanku itu, tapi aku tidak bisa membiarkan sosok ini pergi tanpa mengatakan apa-apa. Naga itu tampak sedikit menggetarkan matanya.

"……Palettia? Nama itu, begitu rupanya! Kuhahaha! Keturunan dari anak kesayangan 'Roh' itu ya. Sungguh ironis bahwa Orang Asing lahir dari garis keturunan itu! Ah, Anisphia. Orang yang telah berhasil membunuhku. Kumohon, kumohon 'terkutuklah engkau'."

Dengan sangat tenang, seolah menerima segalanya, Naga itu menutup matanya setelah meninggalkan kata-kata yang bisa terdengar sebagai "keduanya". Setelah menyaksikannya, aku pun perlahan memejamkan mata.

Agar tidak melupakan bahwa keberadaan agung ini pernah benar-benar hidup. Aku memanjatkan doa dalam diam seolah mengukirnya dalam diriku. Saat sedang berdoa, tubuhku goyah dan kakiku terasa lemas.

Saat aku hendak jatuh ke belakang, seseorang menopangku dengan memelukku dari belakang.

"Putri Anis!"

Yang memelukku adalah Euphie. Dengan bantuan Euphie, aku berhasil menegakkan tubuh dan berbalik menghadapnya. Euphie menatap wajahku dengan mata berkaca-kaca penuh kekhawatiran.

"Apakah kesadaran Anda jelas? Anda mulai berjalan dengan pandangan kosong dan menggumamkan sesuatu sendirian?"

"……Eh? Euphie tidak mendengarnya?"

Euphie sepertinya benar-benar tidak tahu apa-apa. Jadi, Naga itu hanya berbicara padaku. Aku ingin bicara lebih banyak, sepertinya Naga itu mengetahui hal-hal yang belum kupahami atau tidak kuketahui. Dia juga mengatakan hal-hal yang membuatku penasaran……

"……Benar juga, bagaimana dengan Stampede!?"

Bukan waktunya untuk berlarut dalam perasaan. Bagaimana nasib Stampede yang disebabkan oleh Naga itu? Aku jadi merasa sudah selesai karena Naga sudah kalah, tapi itu juga penting.

"Sepertinya bersamaan dengan jatuhnya Naga, mereka mulai kembali ke hutan. ……Lihatlah."

Euphie tersenyum tipis dan mengarahkan pandangannya ke belakang. Saat aku memasang telinga, terdengar sorak-sorai kemenangan. Memastikan hal itu, tubuhku kembali terasa lemas.

"……Begitu ya, tidak ada kerusakan di belakang ya, syukurlah kalau begitu……"

"……Anda benar-benar bertindak nekat."

"Kali ini aku tidak bisa menyangkalnya……"

"……Syukurlah Anda selamat."

Lengan Euphie memelukku erat. Begitu eratnya hingga aku bisa merasakan tubuh Euphie sedikit gemetar.

Kalau disuruh melakukannya sekali lagi pun akan sulit, dan kalau bisa aku tidak ingin melakukannya lagi. Aku juga sudah merenung. Tapi, meskipun begitu, jika situasi yang sama benar-benar terjadi lagi, aku rasa aku akan bangkit lagi.

Tapi, kalau sampai membuat Euphie gemetar seperti ini. Lain kali aku ingin melakukannya dengan sedikit lebih baik. Aku ingin menambah pilihanku. Alat, pengetahuan, dan cara untuk itu, ternyata semuanya masih kurang.

"……Jalan masih panjang, ya."

Menyerahkan tubuhku pada Euphie, aku merasa seperti akan pingsan kapan saja. Tapi ada hal yang harus kulakukan. Aku menaruh tangan di tubuh Euphie dan berdiri sendiri.

"Putri Anis?"

"……Aku ingin melakukannya. Karena ini adalah titipan."

Aku mendekati Naga yang sudah tidak bergerak dan mengambil Mana Blade. Sambil menyentuh tubuhnya untuk mencari letaknya, aku menguliti sisiknya dan membelah dagingnya menuju target yang kutemukan.

"……Ketemu."

Jauh di dalam dada, bersama dengan jantungnya, benda itu ada di sana. Batu Sihir Naga. Benda yang indah bagaikan permata itu sudah lebih dari cukup untuk dipajang sebagai barang bukti kehormatan. Aku memisahkannya dari jantung dengan hati-hati.

"……Besar sekali ya ini. Bagaimana membawanya?"

Sesuai dugaan dari ukuran tubuh Naga yang raksasa, ukuran Batu Sihirnya membuatku tersenyum kecut.

Tiba-tiba, terdengar suara derap kuda dari kejauhan. Sepertinya orang-orang dari pasukan ksatria sedang menuju ke sini. Ah, sepertinya aku harus minta tolong mereka untuk mengangkutnya.

Berpikir sampai di situ, aku mengembuskan napas sambil melemaskan tubuh. Sejak tadi seluruh tubuhku sakit luar biasa, dan kesadaranku kabur. Tapi kalau pasukan ksatria datang, aku harus meminta tolong untuk urusan selanjutnya……

"……Putri Anis, tolong jangan memaksakan diri."

"……Maaf, Euphie. Aku sedikit lelah……"

Saat aku berkata begitu, Euphie memelukku dengan penuh kasih sayang. Kehangatan lengan Euphie yang memelukku terasa sangat nyaman, dan tubuhku yang sakit karena kelelahan sangat mensyukurinya.

Lama-kelamaan kesadaranku semakin menjauh. Gawat, padahal ada banyak hal yang harus kulakukan setelah ini. Tapi, kali ini aku benar-benar kelelahan. Menggerakkan satu jari pun rasanya sudah sulit. Jadi biarkan aku istirahat sebentar saja. Cuma sebentar kok. Aku akan segera bangun.

"──……Anda benar-benar telah bekerja keras. Putri Anis."

Sebelum kesadaranku benar-benar hilang, aku merasa mendengar kata-kata Euphie yang diucapkan dengan suara yang sangat lembut dan penuh kasih sayang.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar