Bagaikan Membayangkan Pelangi
Kejadian ini bermula beberapa hari setelah kami terbiasa melakukan tanya jawab dalam bentuk sesi pelajaran untuk menyamakan pemahaman kami.
Karena sesi pelajaran ini sudah mulai stabil, aku pun memberikan pelajaran Ilmu Sihir kepada Euphie dengan Ilia sebagai asisten. Fufu, rasanya seperti menjadi guru! Entah mengapa semangatku jadi sangat menggebu-gebu!
"Oleh karena itu, hari ini aku berpikir untuk mencoba membuat alat sihir sungguhan!"
"Haa, apakah benda itu bisa dibuat semudah itu?"
"Aku sudah memilih dan membawa benda yang bisa dibuat, kok. Lihat, ini adalah teko pemanas yang juga kau gunakan, Euphie!"
"Ta-daaa!" ucapku dengan mulut sendiri sambil meletakkan komponen-komponen teko pemanas yang belum dirakit di depan Euphie. Sambil memandangi Euphie yang melihat benda itu dengan penuh minat, aku mengambil salah satu komponennya.
"Mekanisme alat sihir itu tidak sesulit itu. Hanya saja, memang membutuhkan keahlian teknis."
"Keahlian teknis?"
"Benar. Nah, sekarang pertanyaan. Apa yang dibutuhkan untuk memperdalam imajinasi dalam menggunakan sihir?"
"...Rapalan mantra?"
"Tepat sekali! Lebih tepatnya, sangat penting untuk menyampaikan kepada roh mengenai fungsi seperti apa yang kau inginkan."
Ini adalah hal yang disampaikan sendiri oleh Euphie pada pelajaran sebelumnya. Tentu saja, Euphie memiliki pemahaman yang sama.
"Bagian ini sangatlah krusial bagi alat sihir. Di sinilah keahlian teknik pengukiran dibutuhkan."
"...Bukankah itu berarti pembuatannya tidaklah mudah?"
"Kalau pemrosesannya, iya. Tapi kalau merakit dan menjelaskan mekanismenya, itu tidak sesulit itu, kok. Ayo, mari kita lihat langsung."
Yang kupelihatkan pada Euphie adalah bagian dudukan teko yang merupakan inti dari fungsi teko pemanas tersebut. Aku menunjuk bagian itu agar Euphie memperhatikannya.
"Dengan memasang Batu Roh Api pada dudukan ini, mekanismenya akan menghasilkan panas. Di sinilah teknik rapalan yang kukatakan tadi digunakan."
"Teknik rapalan...?"
Sambil menimpali, Euphie memiringkan kepalanya dengan heran. Aku pun melanjutkan sambil terkekeh pelan.
"Bukan berarti alat sihir ini bisa bicara, tapi coba lihat bagian dalam dudukan ini."
"...Ada huruf-huruf yang terukir, ya? Apakah ini teks rapalan sihir?"
"Mirip seperti itu. Secara spesifik, ini adalah semacam sirkuit untuk menginstruksikan bagaimana teko pemanas ini bekerja, atau bagaimana aku ingin ia bekerja."
Euphie menelusuri dudukan teko pemanas itu dengan kagum. Di sana memang terukir huruf-huruf. Jika diibaratkan dengan duniaku yang dulu, mungkin ini bisa disebut sebagai program untuk menjalankan alat sihir.
"Jika kau mengalirkan energi sihir beratribut api ke sini, benda ini bisa digerakkan bahkan tanpa Batu Roh, tapi tidak semua orang memiliki afinitas atribut api. Itulah sebabnya lebih baik menggunakan Batu Roh."
"Hanya dengan mengukir huruf, hal semacam itu bisa dilakukan...?"
"Makanya dibutuhkan keahlian teknik pemrosesan. Seperti menggunakan cat khusus yang dicampur serbuk Batu Roh untuk mengukir hurufnya. Atau dudukannya sendiri terbuat dari logam paduan yang dicampur dengan Batu Roh. Kau tahu kan, ada Batu Roh tanpa atribut. Benda yang biasanya cuma dipakai untuk hiasan keramaian itu."
"Hiasan keramaian...? Anu, memang benar kegunaannya sedikit, tapi karena itu tetaplah Batu Roh yang sah, benda itu bahkan digunakan dalam upacara keagamaan, lho...?"
"Makanya kubilang itu hiasan keramaian."
Euphie menghela napas panjang. Iya, aku mengerti apa yang ingin kau katakan. Batu Roh adalah benda yang patut disyukuri hanya dengan keberadaannya saja. Begitu pula dengan Batu Roh yang tidak memiliki atribut.
Tetapi, karena Batu Roh tanpa atribut hanya bisa diisi energi sihir saja, kegunaannya memang sering dipertanyakan. Memang sih, karena benda itu bisa menyebarkan energi sihir ke udara jika dihancurkan, benda itu sering digunakan untuk merayakan upacara atau festival dengan cara menghancurkannya.
Lalu untuk obat? Jika diisi energi sihir lalu diproses menjadi bubuk, benda itu bisa menjadi obat pemulih energi sihir. Tapi rasanya pahit luar biasa. Aku pernah mencoba meminumnya sekali, dan rasanya kapok sampai tidak mau meminumnya lagi.
Terlepas dari itu, masih banyak misteri mengenai Batu Roh tanpa atribut. Apakah itu roh yang mengkristal sebelum memiliki atribut, atau awalnya punya atribut tapi kehilangannya karena terlalu sering digunakan.
Itu adalah tema penelitian yang sangat menarik, tapi karena memprioritaskan cara agar aku bisa memakai sihir, penelitian itu jadi tertunda. Suatu saat nanti aku ingin menyelidikinya secara mendalam.
"Kembali ke topik utama, ternyata pemrosesannya memakan waktu dan tenaga yang cukup besar, ya..."
"Tentu saja. Tapi dengan begini, siapa pun asalkan memiliki energi sihir bisa mengoperasikan alat sihir. Selain itu, ini juga bisa memperluas lapangan kerja bagi para pengrajin. Jika ada lapangan kerja, orang-orang akan punya lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan nafkah."
Kerajaan Palettia diberkati dengan masa perdamaian yang stabil dan panjang. Kudengar sebelum dan sesudah Ayahanda naik takhta, kondisi negara cukup kacau, tetapi Ayahandalah yang menstabilkannya.
Namun, sedamai apa pun, kesenjangan antara kaya dan miskin pasti akan muncul. Faktanya, di Ibukota pun ada daerah kumuh bagi para pengungsi, dan aku tahu ada orang-orang miskin yang kesulitan mencari makan untuk hari esok.
Aku memang tidak bisa menyelamatkan mereka semua, tetapi jika permintaan meningkat, maka tenaga kerja untuk memasoknya akan dibutuhkan. Sebenarnya, aku punya pemikiran agar Ayahanda lebih gencar menyebarluaskan pengembangan alat sihir ini sebagai kebijakan negara, tapi di posisiku sekarang, itu mustahil.
Hak suksesi takhta dan pertarungan politik itu benar-benar merepotkan. Saat aku memikirkan hal itu, Euphie menatapku dengan mata membulat.
"Ada apa?"
"...Tidak. Saya hanya terkejut karena Putri Anis baru saja mengatakan hal yang terdengar sangat mencerminkan anggota keluarga kerajaan."
"Aku ini memang anggota keluarga kerajaan, tahu!?"
Mendengar sanggahanku, Ilia yang berwajah datar tiba-tiba saja tertawa. Saat aku melototinya, dia langsung mengusap mulutnya dan memasang wajah seolah tidak terjadi apa-apa. Rasanya ingin kucubit-cubit pipinya itu.
"P-Pokoknya! Pada dasarnya, di antara pekerjaan rakyat jelata itu ada yang namanya pengrajin ukir atau pandai besi, jadi bukankah lebih baik jika kita memanfaatkannya dengan efektif?"
"I-Iya. Anda benar..."
Suasananya entah mengapa jadi sedikit canggung. Hei, biar begini aku juga masih anggota keluarga kerajaan, lho? Bukannya aku tidak peduli pada kehidupan rakyat, tahu?
Sambil bertanya-tanya pada diri sendiri siapa sebenarnya yang sedang kuberi pembelaan ini, aku merakit teko pemanas itu bersama Euphie. Pemrosesannya memang sulit, tetapi merakit komponen yang sudah jadi itu sangatlah mudah.
Lagipula, kita hanya perlu menggabungkan bagian-bagiannya sesuai urutan. Dudukan yang menjadi inti fungsi teko pemanas, lalu wadah luar yang diproses agar panas di dalam tidak keluar. Kemudian, memasang Batu Roh atribut api ke bagian intinya.
Setelah itu, tinggal memastikan secara visual apakah tidak ada kesalahan pada teks di dudukan yang berfungsi menjalankan teko pemanas, apakah kalimat pengaman sudah tercantum, lalu setelah dirakit, alirkan energi sihir untuk memastikan apakah benda itu berfungsi.
"Nah, dengan ini sudah terkonfirmasi kalau fungsinya berjalan lancar."
"Ternyata kalau hanya merakitnya saja memang mudah, ya..."
"Pemrosesannya memang butuh keahlian pengrajin, tapi kalau pemrosesannya sudah selesai, anak kecil pun bisa merakitnya."
"Begitu rupanya... Setelah menyentuhnya langsung seperti ini, saya sadar bahwa alat sihir benar-benar penemuan yang luar biasa."
"Kau berpikir begitu?"
"Iya. Saya memikirkannya dari lubuk hati yang paling dalam."
Euphie mengangguk sambil memberikan sedikit senyuman. Hatiku terasa hangat melihat Euphie yang mulai menunjukkan emosinya. Ah, aku benar-benar senang bisa melihat ekspresi seperti itu.
Namun, kalau alat sihirku dipuji, aku jadi merasa tidak sabar. Kalau dia sudah terkejut dan memberikan apresiasi sebesar ini hanya dengan teko pemanas, kira-kira penilaian seperti apa yang akan dia berikan untuk "benda itu"?
"Baiklah! Kalau begitu, selanjutnya aku akan memperkenalkan alat sihir andalan yang sudah mendapatkan cap persetujuan dari Ayahanda!"
"Alat sihir andalan?"
"Fufu-n... Jreng-jreng! Ini dia!"
Aku merogoh bagian balik rokku, dan mengangkat "benda itu" yang tadinya terselip di wadah pada paha agar terlihat oleh Euphie. Melihat benda di tanganku, Euphie menatapnya dengan penuh keraguan.
"Itu... gagang pedang? Bentuknya sedikit aneh."
Benar. Yang kupegang di tanganku adalah sebuah gagang pedang tanpa "mata pedang".
Terdapat ceruk di pangkal gagangnya, dan sebuah Batu Roh terpasang di lubang tersebut. Selain itu, dari sudut mana pun kau melihatnya, benda ini tidak bisa disebut sebagai apa pun selain gagang pedang.
"Seperti yang kau lihat, ini gagang pedang. Aku mendesainnya dengan meniru pedang panjang umum yang digunakan para ksatria."
"Mengapa hanya gagangnya saja?"
"Begini saja sudah cukup, kok. Ini adalah salah satu karya yang bisa kubanggakan karena paling kalem dan memiliki kegunaan yang sangat tinggi di antara alat sihir yang kukembangkan! Nah, ini!"
"Eh, ah, haa...?"
Dengan bingung, Euphie menerima gagang pedang itu dariku yang sedang sangat bersemangat. Dengan ragu, Euphie memegang gagang pedang itu dan mengobservasinya. Ia memastikan beratnya, dan mencoba mengambil posisi bersiap.
Lalu, mata Euphie tertuju pada pangkal pedang, bagian ceruk di mana Batu Roh terpasang.
"Benda ini juga alat sihir, kan? Apakah bisa digunakan jika dialiri energi sihir?"
"Mau mencobanya?"
"……Kalau begitu, izinkan saya."
Sesuai anjuran, Euphie mulai menyalurkan energi sihir ke gagang pedang tersebut. Bereaksi terhadap energi sihir yang dialirkan secara perlahan dan hati-hati, Batu Roh pada gagang pedang mulai memancarkan kilauan. Sesaat kemudian, sebuah lingkaran sihir muncul seolah merespons energi sihir Euphie, dan cahaya meluap dari gagang pedang tersebut, membentuk sebuah mata pisau.
Lama-kelamaan cahaya yang berpendar itu semakin kuat hingga menjadi sebuah "Mata Pedang Cahaya". Melihat hal itu, Euphie membelalakkan matanya dan mengembuskan napas kagum.
"Ini adalah 'Pedang Sihir' yang menciptakan mata pedang dari energi sihir. Dibandingkan pedang biasa, beratnya hanya seberat gagangnya saja. Jika perlu, bobot mata pedangnya bisa disesuaikan dengan selera pengguna! Bagaimana kalau satu untuk perlindungan diri wanita!?"
"Putri Anis, kenapa Anda bicara seperti pedagang……?"
"Bawa asyik saja! Rasanya seperti acara belanja di televisi! Meski telepon atau televisi belum ada di dunia ini, tapi dalam hal seperti ini semangat itu penting! Mungkin!"
"Namun, ini sungguh luar biasa. Dari penampilannya, panjang mata pedangnya setara dengan pedang panjang biasa, bukan? Tapi beratnya memang benar-benar hanya seberat gagangnya, dan seperti yang Putri Anis katakan, ini luar biasa jika dianggap sebagai alat perlindungan diri bagi wanita. Sangat praktis untuk dibawa-bawa juga. Wanita atau anak-anak pun sanggup memegangnya dengan baik. Apakah bilah energi sihir ini benar-benar bisa memotong?"
"Tentu saja. Hanya saja, aku tidak menyarankannya untuk adu bentrok senjata (tsubazeriai), karena akan memberi beban berlebih pada Batu Roh yang membentuk mata pedangnya. Kelemahannya adalah agak rentan terhadap benturan fisik. Ah, tapi kalau adu bentrok sesama pedang sihir sepertinya tidak apa-apa. Ini hanya efek samping, tapi benda ini sangat berguna untuk menangkis sihir."
Euphie tampak terkesan sambil mengambil posisi bersiap dengan pedang tersebut untuk memastikan kenyamanannya. Yah, tampilannya memang hanya pedang dengan bilah cahaya. Meski tidak cocok untuk adu bentrok senjata dan lemah terhadap benturan fisik, bobotnya ringan dan biaya pembuatannya pun terjangkau. Ini adalah salah satu dari sedikit penemuanku yang dipuji habis-habisan oleh Ayahanda.
Nama pengembangannya adalah "Mana Blade". Secara eksperimental, senjata ini telah diadopsi sebagai alat perlindungan diri oleh beberapa pelayan istana yang bisa dipercaya.
Karena hanya berupa gagang pedang, membawanya jadi sangat mudah. Aku sendiri membawanya dengan menyelipkannya di kantong yang terpasang di paha. Karena hanya gagang, mudah untuk disembunyikan, sangat cocok sebagai senjata rahasia.
"Bagaimana dengan kekuatannya?"
"Itu juga tergantung pengaturan. Pembagian bentuk atau kekuatannya bisa disesuaikan dengan selera. Tapi karena menggunakan Batu Roh, jika Batu Rohnya menerima beban berlebihan dan rusak, benda ini tidak bisa digunakan sampai batunya diganti. Selain itu, semakin banyak permintaan untuk mata pedangnya, semakin banyak energi sihir yang dikonsumsi. Untuk masa pakainya, saat ini masih dalam tahap pengujian. Oh ya, Ayahanda lebih senang dengan versi perisainya, 'Mana Shield', daripada Mana Blade ini. Menyebalkan sekali!"
"Perisai dari teknologi ini…… itu memang sangat berguna."
Aku mengakui kalau itu memang berguna, tapi aku ingin orang-orang merasakan sisi romantis dari Mana Blade ini! Ngomong-ngomong, karena berbahaya jika disebarluaskan, yang memiliki Mana Shield saat ini hanyalah Ayahanda dan Ilia. Untuk Ayahanda sebagai perlindungan diri, sedangkan untuk Ilia, aku memberikannya sebagai hadiah.
Ayahanda sempat bertanya apakah bisa dibuat menjadi baju zirah, tapi jika harus menutupi seluruh tubuh, pengaturannya terlalu sulit jadi mustahil. Alasan utamanya karena pedang dan perisai tidak memiliki bagian yang bergerak (range of motion). Untuk membuatnya seperti baju zirah, aku harus membuat bagian yang bisa bergerak mengikuti tubuh, dan pengaturannya menjadi terlalu rumit sehingga aku menyerah.
"Benda ini tidak serbaguna karena lemah terhadap serangan fisik yang bermassa. Bukannya tidak berpengaruh sama sekali, sih. Tapi itu akan mempercepat kerusakan Batu Roh, jadi aku tidak menyarankannya."
"Berapa banyak massa yang dianggap berbahaya?"
"Waktu aku mencoba menahan bongkahan batu jatuh yang ukurannya lebih besar dari manusia tepat dari depan, senjatanya langsung hancur."
"……Anda mencobanya?"
Aku memalingkan muka saat Euphie menegurku dengan suara tajam dan dingin. Aku mencoba berdeham dengan sengaja untuk mengalihkan pembicaraan, tapi tatapan Euphie tetap terasa dingin.
"L-Lihat! Di antara sihir juga ada kan sihir yang menciptakan bilah tajam? Nah, Mana Blade ini adalah tiruan dari sihir itu!"
"……Meskipun penggunanya sedikit, ya. Biasanya hanya mereka yang bercita-cita masuk ke korps ksatria yang menggunakannya. Namun, sering dikatakan bahwa lebih baik menggunakan sihir biasa saja……"
"Memang benar, kecuali di ruangan tertutup yang sempit atau semacamnya. Yah, makanya ini adalah peralatan untuk orang yang memiliki energi sihir tapi tidak bisa menggunakan sihir."
Terutama ditujukan untukku. Atau lebih tepatnya, aku membuatnya karena aku ingin menggunakannya. Mengayunkan pedang yang terbuat dari cahaya adalah impianku. Bukannya aku tidak melatih tubuhku, tapi bagaimanapun aku ini wanita. Selain itu, ada hasil tak terduga di mana para pelayan menggunakannya untuk perlindungan diri, jadi ini adalah salah satu karya sukses di antara penemuanku.
"Batu Roh tanpa atribut yang biasanya tidak dimanfaatkan juga bisa digunakan secara efektif."
"Begitu rupanya. Omong-omong, apa yang terjadi jika mata pedangnya dibentuk dengan Batu Roh yang memiliki atribut?"
"Ribetnya minta ampun."
"Ribetnya minta ampun, ya……"
"Waktu aku mencoba membalutnya dengan api, gagangnya hampir terbakar dan tanganku melepuh. Waktu mencoba memadatkan air, kalau tetap berupa air tidak bisa jadi bilah tajam, tapi saat dijadikan es, malah gagangnya ikut membeku dan tanganku kena frostbite. Untuk angin, pengaturannya terlalu sulit sampai-sampai meledak sendiri. Kalau tanah, bukannya jadi pedang malah jadi gada, ya, begitulah……"
Aku juga pernah memikirkannya, pedang atribut! Tapi bagi aku yang tidak bisa menggunakan sihir, membentuk mata pedang dengan Batu Roh beratribut itu mustahil. Bagaimanapun, aku tidak punya "rasa"-nya. Itu yang menyedihkan.
Bagaimana cara menentukan syarat pengaturannya, dan bagaimana cara memberikan atribut tanpa merusak fungsi dasar pedang sihir, itulah masalahnya. Karena ribet, aku menundanya untuk sementara.
"Tapi, kalau Euphie sepertinya bisa, kan? Bukan pakai Batu Roh, tapi memberikan atribut dengan sihirmu sendiri."
"Begitu rupanya……"
"Iya. Makanya aku terpikir untuk membuatkan satu pesanan khusus untukmu, Euphie."
"Untuk saya?"
Euphie membelalakkan matanya dan menatap wajahku. Aku membalas tatapannya dengan senyuman.
"Anggap saja ini sebagai hadiah perayaan karena sudah datang ke sini. Kalau kau juga mengerti ilmu pedang, ini pasti berguna, kan? Aku pikir ini bisa membantu merespons serangan mendadak lebih cepat daripada merapal sihir."
"……Apakah tidak apa-apa?"
"Kalau buat pesanan khusus, aku ingin mencoba menambahkan berbagai macam modifikasi! Malah ini hitungannya hobiku, jadi jangan sungkan!"
Sambil berkata demikian, aku meraih kedua tangan Euphie. Euphie yang tangannya digenggam tampak terperangah sejenak, namun ia tersenyum sedikit malu lalu mengangguk.
"Kalau begitu, saya terima tawaran Anda dengan senang hati. ……Jika demikian, sebenarnya saya memiliki sebuah permintaan."
Setelah melepaskan tanganku, Euphie tampak berpikir sejenak sebelum menggumamkan permintaannya.
Mendengar permintaan dari Euphie, aku membelalakkan mata, lalu rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Begitu menyenangkannya permintaan Euphie itu. Sambil menahan tawa, aku menunjukkan senyum penuh percaya diri.
"Luar biasa, Euphie. Memang benar-benar keputusan tepat mengajakmu!"
"Saya hanya mencoba mengatakannya saja…… apakah itu mungkin dilakukan?"
"Mengucapkan kata 'mustahil' sebelum mencoba itu melanggar prinsip hidupku!"
Aku mengatakannya untuk menenangkan Euphie yang tampak sedikit khawatir dengan alis berkerut.
Dengan perasaan menggebu-gebu, aku menyeringai lebar. Nah, saatnya waktu uji coba yang menyenangkan dimulai! Aku jadi bersemangat sekali! Ufufufu!
* * *
Saat membuka mata, langit-langit yang masih terasa asing menyambutku. Hanya butuh sedetik bagiku untuk mengingat bahwa aku telah pindah ke paviliun istana. Aku pun bangkit dari tempat tidur.
Aku menggelengkan kepala untuk mengusir rasa kantuk dan kelesuan yang masih tersisa saat terbangun. Rasa tidak nyaman akibat kurang tidur belakangan ini masih tertinggal di tubuhku, membuatku menghela napas tanpa sadar.
"Nona Euphyllia, selamat pagi. Bolehkah saya masuk?"
Tiba-tiba, suara Ilia, pelayan Putri Anis, terdengar dari balik pintu. Akhir-akhir ini dia selalu mendampingiku untuk membantu kehidupanku di paviliun ini.
Meski aku menghargai kebaikan itu, hatiku masih menyimpan sesuatu yang keruh, dan aku merasakan ketidaknyamanan seolah ada roda gigi yang bergeser dalam diriku.
Tak ingin menunjukkan keletihan itu, aku menarik napas dalam-dalam untuk mengubah suasana hati, lalu menyapa Ilia yang ada di balik pintu.
"Saya sudah bangun, Ilia. Terima kasih seperti biasanya setiap pagi. Silakan masuk."
Setelah aku mempersilakan masuk, Ilia membungkuk hormat lalu melangkah ke dalam ruangan. Setelah itu, seperti biasa aku merapikan diri lalu menuju ruang makan. Semenjak datang ke sini, pakaianku bukan lagi pakaian yang kubawa sendiri, melainkan baju terusan (dress) yang dipadukan dengan gaya ksatria yang diberikan oleh Putri Anis.
Kudengar desain ini adalah pesanan khusus dari Putri Anis yang memang tidak suka memakai gaun dalam kesehariannya. Kesannya mungkin sedikit unik, tapi masih dalam tahap wajar.
Putri Anis memberikannya padaku setelah Ilia melakukan beberapa penyesuaian, namun karena aku merasa risi memperlihatkan kaki, aku meminta agar rok yang dipakai di bawah baju terusan itu diganti menjadi rok panjang.
Tiba-tiba, saat aku menyadari kesadaranku melantur ke dalam pikiran, ternyata aku sudah selesai berganti pakaian. Aku memijat pelipis untuk menguatkan diri. Kemudian, aku menyadari keberadaan Putri Anis yang tidak terlihat.
"Ilia, di mana Putri Anis……?"
"Kalau beliau, sudah melesat pergi sejak tadi. Secara menyamar."
"……Melesat pergi secara menyamar adalah ekspresi yang cukup aneh, ya."
"Itu hal yang biasa bagi beliau."
Ilia menjawab dengan suara datar seperti biasa. ……Benar juga. Akhir-akhir ini aku jarang melihat Putri Anis. Beliau sedang sibuk ke sana kemari untuk membuatkan Mana Blade untukku, tapi karena ingin memberiku kejutan, beliau tidak memperlihatkan prosesnya padaku.
Meskipun aku merasa senang dengan kebaikan Putri Anis, aku tidak punya pekerjaan di paviliun ini. Makan di waktu yang ditentukan, lalu sisanya adalah waktu luang. Ini adalah cara menghabiskan waktu yang tidak pernah terpikirkan dalam hidupku sebelumnya. Jujur saja, aku merasa bingung dan kesulitan.
Sampai beberapa waktu lalu, aku hampir tidak punya waktu untuk bernapas karena harus belajar dan menjalani pendidikan calon Ratu; aku selalu tegang karena harus mempelajari banyak hal. Namun, semenjak Pangeran Algard membatalkan pertunangannya, tempatku bernaung menjadi tidak jelas sampai keributan ini mereda.
Mengingat masalah ini sudah menjadi sangat besar, kurasa aku tidak akan kembali menjadi tunangannya lagi. Hati Pangeran Algard sudah tidak tertuju padaku lagi. Aku justru terkejut dengan kenyataan bahwa aku tidak terlalu merasa terluka dengan hal itu. Seolah-olah segala sesuatunya telah menjadi kering.
Karena itulah, hanya melihat waktu berlalu begitu saja terasa menyiksa. Suasana hatiku menjadi sangat suram.
"……Putri Anis, apakah beliau belum selesai?"
Setelah selesai sarapan dan tidak ada pekerjaan, wajah Putri Anis langsung terlintas di pikiranku.
Bagaimanakah sebenarnya perasaanku terhadap Putri Anis? Beliau terlihat ceria dan santai, namun sebenarnya memikirkan banyak hal. Aku rasa beliau orang yang baik, tetapi cara berpikir dan cara pandangnya terlalu berbeda dariku, sehingga aku selalu terkejut setiap kali menyadari perbedaan itu.
Mulai dari pandangan Ilmu Sihir, kegunaan alat sihir, hingga perspektif perluasan lapangan kerja yang diciptakan oleh alat sihir. Aku mulai bertanya-tanya mengapa beliau dicemooh sebagai Putri Eksentrik atau dianggap sebagai kegagalan anggota kerajaan. Memang benar, sebelum berbicara langsung, kesan pertamaku terhadap Putri Anis tidaklah baik.
Seorang pembuat masalah yang melakukan hal-hal tak terduga dan liar. Itulah rumor yang kuketahui tentang Putri Anis. Sosok bodoh yang terobsesi pada penemuan alat sihir yang sulit dipahami, mengurung diri di paviliun untuk melakukan penelitian ajaib setiap hari, dan tidak menjalankan tugasnya sebagai anggota kerajaan.
Kudengar hubungan beliau dengan Pangeran Algard tidak baik, jadi aku hanya sesekali melihatnya dari kejauhan.
Namun sekarang, aku berada dalam posisi sebagai asistennya; hidup memang tidak bisa ditebak. ……Berbicara soal tidak ditebak, begitu pula dengan apa yang kupikirkan tentang beliau.
Apakah aku menyukainya, atau membencinya. Aku bahkan tidak tahu hal itu. Beliau terasa jauh, mengejutkan, dan sulit dinilai. Meskipun aku yakin beliau orang yang baik, ada sesuatu yang terasa mengganjal.
Jika memungkinkan, aku ingin memberikan jawaban atas perasaan yang tak menentu ini, namun aku semakin merasa gemas karena belum bisa bertemu langsung dengan orangnya.
"……Apa yang harus saya lakukan, ya."
Sambil terus melamun, aku melangkah keluar menuju halaman tengah paviliun. Halaman tengah ini tampaknya tidak dirancang untuk diperlihatkan pada orang lain, mungkin karena Putri Anis tidak mengizinkan orang masuk. Karena itu, pemandangannya terasa sepi.
Meski perawatan minimal tetap dilakukan, pemandangan yang lengang itu merayap masuk ke dalam hatiku. Entah mengapa, aku merasa seolah sedang jatuh, atau sedang kehilangan sesuatu.
Rasanya seperti pijakanku akan runtuh. Helaan napas panjang pun lolos dari bibirku. Saat ini, aku tidak punya hal yang harus dilakukan. Tidak ada yang mengejarku, tidak ada kewajiban. Aku tidak tahu apakah ini rasa kesepian atau hampa. Aku tidak tahu, tidak tahu. Aku tidak tahu apa pun.
Aku hanya mengulanginya seperti benda yang rusak. Seolah-olah ada lubang besar di dalam hatiku.
Aku mencoba menepuk pipi dengan kedua tangan untuk menyemangati diri, tapi suasana hatiku tetap tidak cerah. Tepat saat aku hendak menghela napas pasrah, saat itulah kejadiannya.
"A-ha! Ternyata kau di sini! Akhirnya ketemu juga, Euphie!"
Orang yang memanggilku dengan suara lantang adalah Putri Anis. Saat melihat wajahnya, aku sontak terperangah. Ada lingkaran hitam di bawah mata Putri Anis, jelas sekali beliau kurang tidur.
Rambutnya diikat miring ke kiri dan kanan seperti biasa, tapi tampak sedikit berantakan. Pakaiannya juga sedikit kusut, memperlihatkan dengan jelas bahwa beliau baru saja bekerja sampai beberapa saat yang lalu.
Meskipun begitu, senyuman cerahnya yang menyilaukan seperti matahari tidak berubah. Dan aku menyadari bahwa Putri Anis sedang menggenggam sebuah "Pedang". Bentuknya adalah rapier biasa.
Yang unik adalah bagian pegangannya. Pelindung tangan melengkung (guard) untuk melindungi punggung tangan dihiasi dengan ukiran halus, dan terlihat enam warna Batu Roh terpasang di sana. Inilah hal yang membuat Putri Anis sibuk belakangan ini.
"Putri Anis, itu……"
"Ehehe, maaf membuatmu menunggu! Mana Blade khusus untuk Euphie, sudah jadi!"
Putri Anis membusungkan dada dengan bangga. Sambil tersenyum sangat puas, beliau menyerahkan pedang itu padaku.
"Mata pedangnya terbuat dari logam paduan yang dicampur Batu Roh agar menjadi konduktor energi sihir! Meski sudah disambung dan dipasangi Batu Roh, aku tidak tahu efisiensi transmisi energi sihirnya sebelum dicoba. Kalau berhasil, ini akan membantu memberikan atribut pada mata pedang! Selain itu, ini barang mewah yang bisa membantu penggunaan sihir biasa juga! Wah, aku sudah berjuang keras, lho!"
Sambil menerima pedang tersebut meski sedikit terdesak oleh semangat bicara Putri Anis yang cepat, aku memandangi pedang di tanganku. Beratnya sesuai dengan tampilannya, seperti rapier biasa. Namun saat menggenggamnya, aku segera tahu bahwa ini bukan pedang biasa.
Seolah-olah dari ujung tanganku yang menyentuhnya, pedang ini merespons dan bersahutan dengan energi sihirku. Aku pernah merasakan sensasi yang mirip dengan ini. Namun, benda yang kugenggam dulu bukanlah pedang. Untuk memastikannya, aku mengangkat wajah dan menatap Putri Anis.
"Ini hanya sebuah ide awal, tapi saya tidak menyangka Anda benar-benar bisa menyertakan fungsi 'Tongkat Sihir' di dalamnya……"
Tongkat Sihir (Magic Wand). Benda yang banyak dimiliki oleh kaum bangsawan sebagai bagian dari etika mereka. Sebuah alat bantu sihir yang dipasangi Batu Roh yang sesuai dengan afinitas pengguna untuk membantu sihir andalan mereka.
Tongkat sihir sendiri bukan barang yang langka. Namun, benda yang bisa digunakan sebagai pedang sekaligus memiliki fungsi tongkat sihir belum pernah ada sebelumnya. Selain bentuk tongkat, paling-paling hanya dalam bentuk cincin atau sejenisnya. Berawal dari ide spontan itu, aku mengusulkannya pada Putri Anis, tapi tak disangka beliau benar-benar mewujudkannya……
"Yah, mumpung membuat, aku ingin membuatnya dengan sungguh-sungguh! Ah, tapi ini belum benar-benar jadi produk final. Kita harus melakukan penyesuaian kecil seiring berjalannya waktu!"
Putri Anis berkata demikian sambil tersenyum puas. Aku bisa merasakan betapa beliau sangat menikmati proses penemuan alat sihir ini.
"Benar juga, Euphie! Maaf jika mendadak, tapi mau mencoba mencobanya? Di sini kan halaman tengah, jadi tidak masalah kalau pakai sihir, kan!"
"……Benar juga."
"Tunggu sebentar, aku ambilkan sarung tangan pelindung dulu!"
"A-Anis! Tidak perlu terburu-buru begitu……!"
Putri Anis berlari pergi dengan tergesa-gesa. Aku tanpa sadar menjulurkan tangan ke arah punggungnya, tapi karena tidak ada yang bisa kuraih, tanganku hanya menggapai udara. Mau tak mau aku kembali menggenggam pedang sihir di tanganku.
Sensasi yang mirip dengan gema suara terasa dari pedang sihir. Sensasi aneh seolah ada sesuatu dalam diriku yang beresonansi dengan pedang ini. Sesuatu yang bersahutan seperti detak jantung yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Meski aku merasa bingung dengan sensasi aneh yang baru pertama kali kurasakan ini, rasanya benda ini menyatu dengan tubuhku secara alami. Meski tubuh dan jiwaku terasa terpisah, aku tidak merasa benci maupun takut. Sensasi ajaib semacam itu menyelimutiku.
"Maaf membuatmu menunggu, Euphie!"
Kesadaranku yang tadi tenggelam dalam upaya memastikan sensasi pedang sihir kembali pulih karena suara ceria Putri Anis. Aku menggelengkan kepala sekali untuk melepaskan diri dari sensasi aneh itu, lalu menatap Putri Anis.
"Putri Anis, pedang ini……"
"Ah, iya. Aku yang menggambar pola hiasan dan desainnya, tapi pedang aslinya aku minta tolong pada pandai besi kenalanku. Bagaimana menurutmu?"
"……Saya rasa ini pedang yang sangat bagus."
Itu adalah kejujuran dari dasar hatiku. Bahkan jika dilihat sebagai pedang biasa pun, ini adalah karya yang luar biasa. Aku bisa merasakannya meskipun tanpa menghitung sensasi aneh yang kurasakan saat memegangnya.
"Karena aku biasanya cuma minta dibuatkan gagang pedang saja, pandai besinya jadi sangat bersemangat!"
"Apakah itu sebabnya Anda pergi ke luar?"
"Iya. Aku ingin mempertemukan kalian kalau ada kesempatan nanti. Daripada itu, ayo kita coba!"
"……Ya, baiklah."
Setelah mengenakan sarung tangan yang kuterima dari Putri Anis, aku kembali memegang pedang sihir tersebut. Meskipun tidak menyentuhnya secara langsung, sensasi aneh itu tetap bergema di dalam diriku, menyebar seolah meresap ke seluruh tubuh. Aku mencoba memikirkan sensasi apa ini sebenarnya, namun tidak menemukan jawaban.
Bahkan, sensasi itu sepertinya menangkap setiap keraguan yang muncul dan membenamkannya dalam diriku. Anehnya, aku bisa merasakan hatiku menjadi tenang.
(Ini sama sekali tidak tidak menyenangkan. Malah terasa sangat nyaman……)
Aku memejamkan mata, membiarkan diriku larut dalam sensasi ajaib tersebut. Resonansi sesuatu yang mirip suara menjadi semakin kuat, dan saat ritmenya mulai selaras, aku perlahan membuka mata.
Pedang ini terasa sangat menyatu denganku. Seolah-olah pedang ini adalah bagian dari diriku; saat aku menyalurkan energi sihir ke pedang sihir ini, ia seolah bergetar karena gembira. Dan di pusatnya, sudah pasti ada enam warna Batu Roh.
"……Putri Anis, saya akan mencoba menggunakan sihir. Tolong menjauhlah."
"Oke! Ah, di sana ada target, jadi boleh kau arahkan ke sana."
Sesuai arahan Putri Anis, aku melihat ke depan dan memang ada target yang sepertinya digunakan untuk latihan. Sambil menarik napas dalam-dalam berulang kali, aku mengarahkan ujung pedang ke target tersebut.
Hal yang dibutuhkan dalam menggunakan sihir adalah mempersembahkan dan menyampaikan gambaran yang jelas kepada roh. Dan seolah-olah sihir yang tergambar di benakku mencoba untuk mewujud, getaran muncul di ujung pedang, dan mulai dari sini, sensasinya sudah tidak berbeda dengan apa yang biasa kulakukan.
Doa, harapan, keinginan. Di sini aku mempersembahkan energi sihirku kepada roh untuk memberinya wujud. Yang tercipta adalah bola api.
"‘Fireball’."
Sesaat setelah aku mengucapkannya dan gambaran di benakku menjadi sangat jelas, bola api muncul dari ujung pedang dan melesat terbang. Kemudian, benturan. Bola api itu meledak seolah membakar target tersebut. Setelah memastikan serangan itu mengenai sasaran, aku mengembuskan napas perlahan. Tenaga pun dilepaskan dari tubuhku yang tadi sempat tegang.
"Wah, hebat, hebat! Bagaimana rasanya?"
Setelah melihat Fireball milikku mendarat tepat di sasaran, Anis-sama bertanya sambil bertepuk tangan kecil. Sebelum menjawab pertanyaannya, tanpa sadar aku menundukkan pandangan dan menatap pedang sihir di tanganku.
"Sangat lancar. Sebagai media tongkat sihir, saya rasa ini adalah benda terbaik yang pernah saya gunakan. Mungkin berkat ukiran Batu Rohnya, indra saya dalam merasakan roh jadi meningkat. Berkat itu, membayangkan perapalan sihir jadi jauh lebih mudah."
"Syukurlah kalau begitu!"
Anis-sama menampakkan kegembiraannya dengan senyum lebar, seolah-olah ia hendak melompat memelukku. Aku pun menahannya dengan satu tangan agar ia tidak benar-benar menerjangku.
"Ehm, mumpung sedang di sini, mari kita coba juga fungsinya sebagai pedang sihir."
Sambil berkata demikian, aku membetulkan posisi kuda-kudaku. Aku memasang posisi seigan sambil menyalurkan energi sihir ke dalam pedang.
(Yang akan kumasukkan adalah... mari kita pakai elemen air.)
Bukannya karena tadi sudah memakai api, sih. Roh air pun menjawab sesuai dengan gambaran di benakku. Seolah merespons energi sihir yang kupersembahkan, air mulai berpusar menyelimuti mata pedang dan membentuk bilah yang utuh.
"...Pembentukan mata pedang. 'Water Blade'."
"Ooh! Keren! Benar-benar jadi pedang utuh!"
Anis-sama terlihat sangat bersemangat menatap bilah air yang kubuat dengan mata berbinar-binar. Bilah air itu terbentuk mengikuti mata pedang rapier sehingga terlihat seperti longsword.
Meskipun aku tersenyum kecut melihat tingkah ceria Anis-sama, di dalam hati aku terkejut karena energi sihir dapat tersalurkan dengan begitu mulus. Untuk menyembunyikan keterkejutanku, aku mencoba mengayunkan pedang sihir yang telah memiliki bilah air itu satu-dua kali, namun bilahnya sama sekali tidak terlihat akan goyah. Berat pedangnya pun hanya bertambah sedikit, membuatku tanpa sadar mengeluarkan suara kagum.
"Ini... bagaimana ya mengatakannya, sungguh menarik."
"Padahal aku tidak bisa mewujudkannya sampai seperti itu, Euphie memang hebat ya!"
"Ah, Anis-sama! Bahaya kalau Anda tiba-tiba menerjang begitu!"
Aku terkejut melihat Anis-sama yang tiba-tiba melompat memelukku, sehingga secara refleks aku mengalihkan arah pedang sebelum menyambut pelukannya.
Awalnya ia terus memelukku dengan erat sambil terlihat sangat senang, namun tiba-tiba suasananya menjadi sunyi dan Anis-sama berhenti bergerak.
"...Anis-sama?"
Ada apa gerangan? Merasa penasaran, aku mencoba mengguncang bahunya.
Seketika mataku membelalak saat melihat tubuh Anis-sama yang nyaris merosot jatuh. Aku segera melepaskan pedangku dan menahan tubuhnya. Tepat saat aku merasa merinding dan hawa dingin menjalar di punggungku... terdengarlah suara dengkuran halus Anis-sama.
"...Astaga, orang ini benar-benar."
Aku benar-benar dibuat heran olehnya. Karena posisi yang mendadak tadi, aku akhirnya duduk di sana dan menjadikannya pangkuan untuknya. Aku membiarkan kepala Anis-sama bersandar di pangkuanku sambil menatap wajahnya.
Wajahnya terlihat sangat puas, dan ia menunjukkan ekspresi yang seolah-olah sangat merasa aman.
"...Dia bekerja sekuat tenaga, atau mungkin, dia hanya terlalu polos. Benar-benar seperti anak kecil yang bertubuh besar."
Orang yang meski lebih tua dariku, namun terlihat jauh lebih muda daripada usia aslinya. Meski begitu, aku dipaksa memahami bahwa isinya adalah sosok yang benar-benar mewujudkan berbagai julukan anehnya. Mengingat ia bisa menciptakan pedang sihir ini dengan begitu mudah, ia benar-benar orang yang berada di luar standar.
"...Bahkan pada Algard-sama pun, saya tidak pernah memberikan pangkuan seperti ini."
...Ah, sebenarnya apa yang telah kulakukan selama ini? Padahal aku seharusnya menjadi suami-istri dengan Algard-sama, namun aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk melakukan interaksi seperti ini dengannya. Aku hanya terlalu terpaku untuk menjadi seorang Ratu, hingga meninggalkan sisi kemanusiaanku.
Mungkin itu jugalah alasannya. Mengapa Algard-sama dan orang-orang lainnya membuangku. Meski disebut sebagai calon Ratu, aku tidak bisa memperdalam hubunganku dengan Algard-sama.
Itu adalah kegagalan besar bagiku. Namun, justru karena kegagalan itulah aku berada di sini sekarang. Menyadari ada bagian dari diriku yang berpikir demikian, aku pun tertawa mengejek diri sendiri atas kehinaan pikiranku.
Kenyataan bahwa aku gagal tidak akan hilang. Namun, rasa bahagia yang berhasil kugenggam saat ini terasa hangat hingga membuatku merinding. Aku tidak ingin melepaskannya, namun di sisi lain, menerimanya pun terasa menyesakkan napas. Seiring dengan kesadaran itu, aku merasakan bagian belakang mataku perlahan memanas.
"...Saya iri kepada Anda, Anis-sama."
Kata-kata yang terucap itu adalah kejujuran yang paling dalam bagiku. Begitu aku menyadarinya, aku tidak bisa lagi melarikan diri. Ah, bagiku... cahaya orang ini terasa terlalu hangat dan menyilaukan.
Tes. Setitik air mata jatuh ke pipi Anis-sama. Aku menyadari bahwa itu adalah tetesan yang mengalir dari pipiku sendiri, lalu aku mengusap pipi Anis-sama dengan jari. Berusaha agar jangan sampai membangunkannya, dan agar cahaya serta kehangatan itu tidak menjadi suram.
Ada bagian dari diriku yang merasa tidak ingin dilihat dalam keadaan hina seperti ini saat ia terbangun nanti. Aku masih belum bisa sepenuhnya memahami perasaan ini. Satu hal yang pasti adalah aku merasa iri kepada Anis-sama.
Ah, andai saja aku bisa menjadi seperti orang ini, meski hanya seujung kuku. Tanpa sadar, aku menyadari bahwa aku terus mengharapkan hal itu.
* * *
"Wah, maaf ya! Karena eksperimennya sukses, rasa lelahku langsung keluar sekaligus!"
Beberapa saat kemudian, Anis-sama yang telah terbangun meminta maaf sambil tertawa ceria. Aku menggelengkan kepala untuk menunjukkan bahwa aku tidak keberatan.
"Tidak apa-apa, saya tidak keberatan. Malah, terima kasih atas benda luar biasa ini."
"Hehe! Aku juga senang saat membuatnya! Aku yang harus berterima kasih!"
Melihat Anis-sama yang menunjukkan kegembiraannya dengan seluruh tubuh seolah benar-benar bahagia dari lubuk hati, aku pun hampir ikut tersenyum. Tiba-tiba, Anis-sama meletakkan tangan di dagunya seolah sedang berpikir.
"Ngomong-ngomong, aku harus memberi nama untuk pedang sihir milik Euphie."
"Nama?"
"Iya. Habisnya kalau cuma dipanggil Mana Blade, ini sudah terlalu berbeda. Hmm, nama ya. Nama apa yang bagus?"
Anis-sama menyilangkan tangan dan mengeluarkan suara yang menandakan ia sedang berpikir keras. Meski ia tampak kebingungan memikirkan nama pedang ini, aku sendiri tidak memiliki keinginan khusus, jadi aku hanya terdiam memperhatikannya.
"Hmm, Rainbow... bukan, ah, benar, itu dia!"
"Itu?"
"Iya! Arc-en-ciel! Mari kita beri nama pedang itu Arc-en-ciel!"
"...Arc-en-ciel. Kalau tidak salah itu kata yang berarti 'pelangi', bukan?"
"Benar! Soalnya Euphie punya banyak sekali afinitas atribut sihir! Kurasa itu sangat cocok karena penuh warna seperti pelangi, kan? Terasa sangat pas untuk Euphie!"
Warna pelangi, itu seperti diriku. Aku tanpa sadar menatap wajah Anis-sama yang memberikan perumpamaan seperti itu. Pelangi adalah jembatan cahaya yang membentang di langit. Mengingat jembatan cahaya di langit yang terasa fantastis dan indah itu membuat perasaanku menjadi sedikit suram.
(Itu... bukankah nama yang terlalu berlebihan bagi saya?)
Diriku tidaklah semarak pelangi. Aku justru merasa diriku adalah orang yang membosankan. Namun, jika Anis-sama menyukainya, bukankah sebaiknya aku menerima nama itu demi beliau? Maka dari itu, aku sengaja mengangkat sudut bibirku untuk tersenyum.
"Terima kasih, Anis-sama. Itu nama yang sangat indah."
Saat aku mengucapkan terima kasih, Anis-sama membelalakkan mata dengan heran. Lalu, kali ini ia menatapku begitu lekat seolah-olah hendak melubangi wajahku.
Aku menjadi bingung karena tiba-tiba ditatap sedemikian rupa. Namun, Anis-sama tidak mengatakan apa pun. Saat aku bertanya-tanya harus berbuat apa, aku melihat Ilia menampakkan dirinya dari dalam paviliun.
"Putri, jika Anda sudah kembali, tolong rapikan penampilan Anda. Anda terlihat sangat berantakan."
"Maaf, maaf. Tadi aku terlalu bersemangat."
"Baguslah kalau begitu."
Anis-sama tertawa cekikikan, sementara Ilia berbicara dengan datar, namun aku bisa melihat sudut bibirnya sedikit terangkat. Aku merasa ada rasa kasih sayang dan kepercayaan yang tulus di antara mereka berdua.
...Tiba-tiba, detak jantungku berpacu dengan irama yang tidak menyenangkan. Terkejut dengan hal yang mendadak ini, aku menaruh tangan di dada. Sebenarnya ada apa ini? Ini adalah sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya...
"──Nona Euphyllia?"
Aku mengangkat wajah saat merasakan tangan seseorang menyentuh bahuku. Di sana sudah ada Ilia tanpa kusadari. Entah mengapa ia menatap wajahku dengan ekspresi yang serius. Aku membelalakkan mata karena tidak tahu apa yang terjadi, dan hanya bisa menatap balik wajahnya.
"Hei, Euphie? Apa kau merasa tidak enak badan?"
"Eh? Ah, bahkan Anis-sama pun...?"
"Coba pinjamkan dahimu sebentar ya."
Bahkan Anis-sama pun ikut bersuara dengan nada khawatir. Padahal aku tidak merasa sedang sakit, namun Anis-sama menangkup pipiku dengan kedua tangannya lalu menempelkan dahinya ke dahiku.
Awalnya aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Begitu aku mulai menyadari bahwa suhu tubuhku sedang diukur, aku menjadi sangat bingung karena jarak yang tiba-tiba menyempit dengan Putri Anis hingga gerakanku terhenti.
"Hmm, bukankah ini agak demam!? Ilia, mungkin dia kena flu!"
"Itu tidak bagus, ya."
Putri Anis yang tiba-tiba menjauhkan dahinya berteriak dengan panik. Kemudian, Ilia mengangguk seolah mengikuti perkataannya. Eh, tidak, saya tidak sedang flu, tapi...?
"Euphie, kembali ke kamar! Tidak boleh, kau harus istirahat tenang!"
"A-Anu, kalian berdua? Saya baik-baik saja kok..."
"Ilia, tolong simpan Arc-en-ciel! Aku akan membawa Euphie ke tempat tidur!"
Suara protes kecilku sama sekali tidak didengar. Putri Anis dengan cepat mengambil Arc-en-ciel dariku, lalu mengangkat tubuhku.
Ah, situasi ini benar-benar seperti saat aku dibawa pergi dari hadapan Pangeran Algard, hingga aku segera menyerah. Aku sudah belajar bahwa melawan dalam kondisi seperti ini hanyalah sia-sia.
Begitu saja aku digendong dan dibawa oleh Putri Anis. Sesampainya di kamar yang telah disiapkan untukku, Putri Anis dengan cepat mengganti pakaianku menjadi baju tidur, lalu aku langsung dibaringkan di atas kasur.
"Mungkin karena terlalu lama terkena angin luar, ya? Atau lebih tepatnya, karena kau memberiku pangkuan tadi... Aduh, pokoknya aku benar-benar minta maaf, ya..."
"T-Tidak. Itu bukan masalah besar..."
"Akan terlambat kalau sampai menjadi parah! Tunggu sebentar, aku akan ambilkan obat!"
"A-Putri Anis!?"
Aku hanya bisa tertegun melihat Putri Anis yang berlari melesat pergi bagaikan angin puyuh. Rasanya aku telah membuatnya khawatir secara berlebihan, dan dengan perasaan bersalah, aku menarik selimut hingga menutupi mulutku.
"...Apa yang sedang saya lakukan sebenarnya?"
Begitu gumaman itu lolos dari bibirku, rasa hampa yang kurasakan sejak pagi tiba-tiba menyerang sekaligus. Saat memejamkan mata, kelopak mataku terasa sangat berat, hingga rasanya aku tidak ingin membukanya lagi.
Entah sudah berapa lama aku memejamkan mata. Hal berikutnya yang membuatku membuka mata adalah suara pintu yang dibuka dengan keras. Yang melompat masuk tentu saja Putri Anis.
"Maaf menunggu, Euphie! Ah, pertama-tama mari kita ukur suhu tubuhmu sekali lagi."
Putri Anis mendekat ke sisi tempat tidur, lalu naik ke atas kasur dengan berlutut hingga posisinya seolah menindihku. Begitu saja ia menempelkan dahinya ke dahiku untuk mengukur suhu.
Di jarak sedekat itu hingga deru napas satu sama lain terdengar, suhu tubuh Putri Anis yang menyentuh dahiku entah mengapa terasa sangat nyaman hingga membuatku memejamkan mata. Setelah mengukur suhu beberapa saat, Putri Anis menjauh dengan wajah yang tampak serius.
"Hmm, demam ringan? Tapi akan menakutkan kalau sampai memburuk. Untuk sekarang, minumlah obat ini dulu. Euphie, bisakah kau bangun?"
"Ya, kondisi saya tidak seburuk itu, jadi..."
Sesuai anjuran Putri Anis, aku mencoba membangunkan tubuh bagian atasku. Saat itu, Putri Anis memberikan tangannya untuk membantuku sehingga aku bisa duduk dengan mudah.
Orang ini benar-benar penuh perhatian. Sambil memikirkan hal itu, aku menatap Putri Anis yang menyodorkan obat di tangannya. Aku menerimanya dan memasukkannya ke dalam mulut.
...Kalau dipikir-pikir, ini mungkin pengalaman pertamaku disuruh minum obat dan beristirahat dengan tenang. Selama ini aku selalu menjaga kondisi tubuhku dengan sempurna.
Terlebih lagi, sebagai calon Ratu, aku tidak boleh menunjukkan celah sedikit pun. Walaupun lawan bicaraku adalah anggota keluarga. Mengingat hal itu, diperhatikan seperti ini terasa sangat baru bagiku.
Putri Anis membawakan air untuk meminum obat, jadi aku segera meminumnya hingga habis dan menelan obat tersebut. Setelah memastikan aku meminum obatnya, Putri Anis mengembuskan napas lega. Mungkin karena sudah merasa tenang, tangan Putri Anis mengusap kepalaku dengan lembut.
"Istirahatlah yang tenang ya, Euphie. Wajar saja kalau pikiranmu tidak tenang setelah pindah lingkungan. Karena kondisimu tidak terlalu buruk, mungkin ini hanya kelelahan mental. Jadi jangan memaksakan diri, ya."
"Maafkan saya karena telah merepotkan Anda..."
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Lagipula Euphie sudah memberiku ide untuk membuat Arc-en-ciel. Wah, semangat kreasiku benar-benar meluap! Ya, menurutku sendiri itu adalah karya yang bagus!"
Putri Anis mengatakannya sambil tersenyum senang setelah menidurkanku kembali. Melihat ekspresi itu, perasaan hangat sekaligus emosi yang berat melintas di dadaku dalam kadar yang sama.
...Apakah aku memang sedang tidak sehat? Rasanya perasaanku benar-benar tidak tenang. Karena aku belum pernah mengalami hal seperti ini, aku tidak tahu cara menghadapinya...
"Euphie."
Saat aku hampir tenggelam dalam pikiran, Putri Anis memanggil namaku.
Tangan Putri Anis menyentuh tanganku dengan lembut seolah membungkusnya. Saat merasakan kehangatan tangan Putri Anis, aku merasa suhu tubuhku memang lebih rendah darinya.
Berada dalam sentuhan hangat yang sangat nyaman itu justru membuatku merasa seolah-olah aku akan meleleh dan menghilang. Seperti timbangan yang goyah dan tidak stabil, aku merasa kewalahan dengan perasaan ini.
"...Saya sungguh memalukan."
Karena terus-menerus merasa goyah, aku menggumamkan kata-kata itu dengan lirih.
Padahal jika itu diriku yang sebelumnya, aku tidak akan menunjukkan sisi menyedihkan seperti ini. Tiba-tiba Putri Anis menatapku dengan wajah sedikit kesal, lalu menyentil dahiku dengan jarinya. Rasa sakit yang ringan itu membuatku secara refleks memejamkan mata.
"Sudah kubilang! Euphie tidak memalukan kok. Aku juga yang kurang perhatian. Iya, harusnya aku lebih sering mengurusmu!"
"Tetapi, saya telah membuat Anda khawatir seperti ini..."
"Mau kau sehat atau tidak, aku akan tetap mengkhawatirkanmu sesuka hatiku."
Kata-kata itu, serta kehangatan yang menyentuh tanganku, memicu dorongan yang membuatku tidak mengerti lagi siapa diriku. Karena tidak ingin sisi diriku yang tak bisa dipahami ini diketahui, aku memejamkan mata dan memalingkan wajah dari Putri Anis.
"Sungguh, Euphie ini benar-benar kaku, ya."
"...Biar begini, jari-jemari saya cukup terampil. Menyulam pun merupakan bagian dari etika seorang wanita..."
"Bukan itu maksudku. Sebagai manusia, kau itu sangat kaku, Euphie."
Jari Putri Anis mencolek pipiku.
"Tidak apa-apa. Boleh kok, meskipun kau diperlakukan dengan lembut oleh seseorang."
Putri Anis mengatakannya dengan suara yang sangat lembut. Kata-kata itu membuat bagian dalam dadaku terasa sesak hingga terasa menyakitkan, membuatku menaruh tangan di dada seolah ingin mencengkeramnya.
Namun, rasa sakit itu sama sekali tidak terasa buruk. Meski tidak buruk tapi terasa menyakitkan, dan meskipun menyakitkan aku tidak ingin melepaskannya.
Aku tidak mengenal perasaan ini. Perasaan yang membuatku ingin menghilang saat disentuh, aku tidak mengenal hal seperti ini. Meskipun aku memejamkan mata seolah menolak, perasaan yang perlahan muncul ini tidak mau hilang.
"...Putri Anis."
"Ya."
"...Saya, tidak mengerti tentang diri saya sendiri."
"Ya."
"...Apa yang harus saya lakukan?"
"Hmm, kalau menurutku sih, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, Euphie."
"Kalau saya bahkan tidak tahu apa itu?"
Putri Anis menjawab sambil menggenggam tanganku untuk menjawab pertanyaan yang terputus-putus itu. Ia bilang aku boleh berharap. Tapi, aku bahkan tidak tahu lagi apa yang aku inginkan.
Malahan, akan lebih baik jika aku diminta melakukan sesuatu. Berikanlah aku sebuah peran, atau sesuatu yang harus kupenuhi. Jadi, kumohon perintahkanlah aku. Malahan, jika Anda, sebagai anggota keluarga kerajaan, menginginkan sesuatu dariku.
"...Euphie."
Berlawanan dengan isi hatiku, Putri Anis memanggil namaku dengan suara yang tenang sebelum melanjutkan.
"Jika kau tidak tahu apa yang kau inginkan, atau apa yang kau harapkan, mari kita cari bersama-sama secara perlahan. Sampai hari di mana kau menemukan hal yang benar-benar ingin kau lakukan, tertawalah bersamaku di sini. Temanilah keegoisanku. Sampai hari itu tiba nanti, aku akan membebaskanmu."
Meskipun itu bukan kata-kata yang kuharapkan, meskipun itu terasa menyakitkan hingga dadaku sesak. Namun aku yang tidak sanggup menolak kata-kata itu, tak akan bisa melepaskan kehangatan yang menyakitkan ini.
Tangan Putri Anis terasa hangat, dengan suhu yang nyaman. Namun rasanya aku akan meleleh. Bagi saya, Anda terlalu menyilaukan, hal yang Anda lihat pun terlalu berbeda, seolah Anda mengetahui banyak hal yang masih belum saya ketahui. Jika memang begitu, Anda. Jika itu Anda.
──Bukankah sebenarnya Anda tahu apa yang saya cari?
Kata-kata yang ingin kutanyakan itu pada akhirnya tidak menjadi suara. Aku hanya memejamkan mata tanpa sadar dalam kehangatan yang diberikan oleh Putri Anis.
* * *
"...A-re?"
Saat tersadar, ruangan sudah menjadi gelap. Matahari telah sepenuhnya terbenam dan malam telah tiba.
Satu-satunya cahaya yang menerangi ruangan adalah cahaya remang-remang dari alat sihir. Begitu penglihatanku yang baru bangun menyesuaikan diri dengan cahaya, rasa kantuk pun menghilang. Sepertinya aku tertidur begitu saja, dan Putri Anis yang tadi menggenggam tanganku sudah tidak ada di sana.
Meski begitu, rasanya kehangatannya masih tertinggal di telapak tanganku, hingga aku mengepalkan tangan seolah tidak ingin membiarkan panas itu hilang.
"...Tenggorokan saya terasa kering, ya."
Tenggorokan yang mengeluh haus adalah bukti bahwa tubuhku membutuhkan cairan. Aku mengambil gelas yang ada di atas meja samping tempat tidur, lalu memanggil roh air agar mengeluarkan air untukku.
Setelah meminum air dan membasahi tenggorokanku, aku bisa bernapas lega. Namun, aku tidak bisa memikirkan apa pun dan hanya bisa melamun. Aku merasa sudah benar-benar kehilangan semangat, tetapi aku pun tidak punya keinginan untuk melakukan sesuatu.
Entah sudah berapa lama aku melamun. Pintu terbuka dengan pelan dan aku menolehkan pandangan.
Ilia berdiri di balik pintu yang terbuka itu. Setelah melihat kondisiku, ia mengangguk sekali lalu melangkah masuk.
"Anda sudah bangun, Nona Euphyllia?"
"...Ilia, sudah berapa lama saya tidur?"
"Hampir setengah hari. Seperti yang Putri katakan, sepertinya kelelahan mental langsung bereaksi pada tubuh Anda. Selain karena perubahan lingkungan, saya rasa perubahan perasaan Anda juga berpengaruh besar. Tolong jaga diri Anda baik-baik. Putri sangat mengkhawatirkan Anda, lho."
"...Saya akan menyampaikan terima kasih padanya di lain hari. Ilia, terima kasih juga untukmu."
"Saya sangat menghargainya. ...Apakah Anda ingin saya siapkan teh?"
Mungkin dia menyadari aku sedang memegang gelas. Terhadap usulan Ilia, aku ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Setelah melihatku mengangguk, Ilia mengalirkan energi sihir ke teko pemanas yang juga dipasang di kamarku dan mulai menyiapkan air panas. Selama itu, aku melamun sambil melihat sosok Ilia yang menyiapkan teh. Tiba-tiba Ilia menyadari tatapanku dan membalas pandanganku.
"Ada sesuatu?"
"...Tidak, tidak ada apa-apa."
"Kalau begitu, karena saya ingin berbicara, tolong berikan sebuah topik pembicaraan."
"...Hah?"
"Silakan."
Meskipun disuruh begitu, aku merasa kesulitan. Mungkin ekspresi wajahku saat ini terlihat sangat menyedihkan. Melihat kondisiku, Ilia mengangguk sekali.
"Begitu rupanya. Ini ternyata cukup parah, ya."
"...Parah? Apakah saya yang parah?"
"Benar. Melihat Anda mengingatkan saya pada diri saya yang dulu, rasanya punggung saya jadi merinding."
"Apa maksud perkataan itu...?"
Karena tidak bisa menangkap maksud dari kata-kata Ilia, aku pun menanyakannya. Ilia memalingkan wajah dariku dan menjawab sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Apakah sangat sulit bagimu untuk melakukan hal-hal di luar tugasmu?"
"────"
"Ekspresi Anda bilang kalau tebakan saya tepat sasaran. Ya, ya. Saya sangat mengerti."
Kata-kata Ilia memberikan dampak yang sangat mengejutkan bagiku. Rasanya menyakitkan saat hal itu diungkapkan dengan kata-kata. Karena memang aku tidak pernah berpikir ingin melakukan hal lain di luar peran yang diminta dariku.
"Mungkin memang hobinya menyeret orang-orang seperti itu, ya, Putri kita itu."
Sambil menatap wajah Ilia yang menghela napas antara merasa pusing sekaligus heran, aku menyuarakan pertanyaan yang muncul di hati.
"...Ilia, hubungan seperti apa yang kau miliki dengan Putri Anis?"
Menanggapi pertanyaanku, Ilia tetap berwajah datar namun sedikit memiringkan kepalanya.
"Entahlah? Sulit untuk menjelaskannya dalam satu kata. Jika dipaksakan, mungkin hubungan majikan dan pelayan."
"Untuk disebut majikan dan pelayan, itu, menurut saya Ilia agak kurang sopan..."
Sikap Ilia terhadap Putri Anis jujur saja jika secara normal, tidaklah aneh jika ia dihukum penggal. Meskipun begitu, Putri Anis tampaknya sangat percaya padanya, dan aku merasa ada hubungan kepercayaan yang kuat di antara mereka berdua.
"Putri benci jika dihormati secara berlebihan. Bagi saya, sebenarnya saya ingin menghormatinya dari lubuk hati terdalam. Namun jika saya tidak bercanda dalam kadar tertentu, Putri akan merasa sesak napas. Karena itulah saya meladeni candaannya."
"...Begitu... rupanya?"
"Benar, karena itulah kami memiliki hubungan seperti itu."
"Hubungan seperti itu, ya..."
Ilia bilang ia ingin menghormati Putri Anis. Namun karena Putri Anis benci dihormati, ia bersikap tidak sopan seperti yang diinginkan Putri Anis. Dan itu pun pada akhirnya justru karena ia menghormati beliau.
Itu memang terasa aneh, atau lebih tepatnya aku menyadari bahwa itu adalah hubungan yang tidak bisa digambarkan dalam satu kata.
"Dulu saya juga orang yang terpaku pada cetakan."
"...Orang yang terpaku pada cetakan?"
"Benar. Saya tidak pernah mempertanyakan kata-kata orang tua saya. Jika disuruh mengincar pernikahan yang menguntungkan, saya melakukannya. Bahkan ketika disuruh menikah dengan seorang kakek tua kolektor barang unik sebagai ganti dari dukungan finansial untuk keluarga, saya tidak merasa ragu."
"...Itu, anu."
Bagaimana aku harus mengatakannya? Dia bercerita seolah-olah sedang melempar topik obrolan ringan, padahal isinya sangat berat. Aku tidak tahu apakah kata "terpaku pada cetakan" sudah cukup untuk menggambarkan hal itu.
"Namun, cara hidup yang sesuai cetakan itu dihancurkan berkeping-keping oleh Putri. Sekarang, terhadap orang tua saya di rumah, perasaan saya dipenuhi dengan kata 'rasakan itu'."
"...Ilia ternyata orang yang cukup unik, ya."
"Saya sangat menghargainya."
...Kurasa itu bukan pujian. Merasa ritmeku menjadi kacau, aku memijat pelipis. Sesaat aku berpikir apakah aku dan dia mirip, tapi kurasa itu hanya perasaanku saja. Tidak, mungkin memang benar begitu.
"Karena itulah, dalam arti yang berbeda dari Putri, saya pun tidak bisa membiarkan Nona Euphyllia begitu saja."
"Eh?"
"Perbedaan antara Nona Euphyllia dan saya adalah apakah kita dicintai sebagai seorang manusia atau tidak."
"Dicintai sebagai seorang manusia...?"
"Benar. Anda yang bisa 'merasa bimbang' selain dalam menjalankan tugas, berbeda dengan saya."
"...Karena saya merasa bimbang?"
Apakah aku sedang bimbang? ...Tidak, ya. Pasti benar begitu. Karena itulah Ilia memberikan perumpamaan agar aku lebih mudah mengungkapkannya dengan kata-kata.
"...Ilia, maukah kau mendengarkan saya? Saya juga merasa ingin sedikit berbicara."
"Ya."
"Sejak kecil, saya selalu berusaha untuk menjadi diri yang tidak memalukan sebagai calon Ratu dan putri adipati. Itu bukan karena seseorang memaksa saya memilihnya, tetapi karena saya berpikir semua orang menginginkan saya yang seperti itu."
Meskipun aku mulai bercerita, Ilia tidak menghentikan tangannya. Ia mengeluarkan daun teh yang sudah disiapkan bersama perlengkapan teko pemanas dan melanjutkan persiapan.
"...Ilia bilang saya merasa bimbang, dan memang benar saya sedang bimbang. Saat ini saya merasa tidak ada yang diminta dari saya. Hal itu membuat saya merasa seolah pijakan saya telah menghilang..."
"Anda selama ini merasa bahwa mewujudkan idealisme yang diminta adalah nilai dari diri Anda, ya."
"...Saya tidak bisa menyangkalnya."
Saat aku tersenyum kecut, persiapan teh sepertinya sudah selesai. Aroma teh menggoda penciumanku, membuat perasaanku tenang, lalu aku menerima cangkir beserta tatakannya dan meminum teh itu sedikit.
"...Di suatu tempat dalam hati, saya merasa terburu-buru, bertanya-tanya apakah boleh begini saja. Saya menyadari bahwa saya tidak lagi dibutuhkan sebagai calon Ratu maupun putri adipati. Meskipun begitu, saya tidak mengerti siapa diri saya sebenarnya..."
Terhadap gumamanku, Ilia tidak memberikan balasan apa pun. Ia hanya berdiri diam dengan tenang. Aku meminum teh itu sekali lagi. Kali ini rasanya lebih akrab di lidah dibandingkan tegukan pertama saat melewati tenggorokanku. Setelah terdiam sejenak, Ilia akhirnya angkat bicara.
"Nona Euphyllia. Anda adalah orang yang sangat penurut."
"? Ha, haa...?"
"Anda jauh lebih mudah diurus daripada Putri kita yang merupakan anak bermasalah yang eksentrik itu. Saya jamin."
"...Anu? Ilia?"
"Karena itulah, silakan merasa bimbang sesuka hati Anda. Hanya saja, jawaban dari kebimbangan itu haruslah Anda sendiri yang memutuskannya. Bukan menjadi diri yang diinginkan orang lain, melainkan diri yang Anda inginkan sendiri. Selama waktu mencari diri Anda itu, Putri pasti akan memberikan waktu sebanyak apa pun yang Anda butuhkan. Kalaupun sudah terlambat, dia toh akan bilang akan mengurus Anda sampai akhir, palingan begitu."
Mendengar kata-kata Ilia, aku mengangkat wajah dan menatapnya. Wanita yang biasanya menunjukkan ekspresi tenang itu ternyata sedang tertawa kecil dengan sedikit mengangkat sudut bibirnya.
Tatapannya itu terasa sangat hangat. Namun aku merasa itu berbeda dengan Putri Anis. Aku bertanya-tanya apa perbedaannya. Dan itu pastilah perbedaan intensitas panasnya.
Kehangatan Putri Anis terasa seolah membuatku meleleh dan menghilang. Kehangatan Ilia terasa lebih lembut dari itu, namun suhunya sangat menenangkan, begitulah yang kurasakan.
Dengan merasakannya secara nyata, sesuatu yang tidak pasti yang berdenyut di dalam dadaku sepertinya mulai mendapatkan bentuknya sedikit demi sedikit.
"...Saya belum bisa mengungkapkannya dengan baik, tapi."
"Ya."
"...Saya ingin berpikir bahwa datang ke paviliun ini adalah hal yang bagus."
"Begitu ya."
Ya, begitu. Begitu aku membalasnya, percakapan dengan Ilia pun terputus. Namun, percakapan yang datar ini pun terasa cukup bagiku. Meskipun aku sendiri tidak menangkap alasannya, aku berpikir demikian. Suatu saat nanti, aku ingin mengungkapkan perasaan ini dengan kata-kata.
...Ah, syukurlah. Sepertinya aku sudah berhasil menemukan hal yang ingin kulakukan dengan mantap. Pada saat itu, rasa lega dan kegembiraan meluap dalam diriku. Sekarang, aku pasti bisa tersenyum secara alami.
"Terima kasih, Ilia. Saya juga harus berterima kasih pada Putri Anis, ya. Saya hanya terus menerima kebaikan saja."
"Tidak apa-apa. Lagipula Putri pasti akan berkata demikian, karena beliau orang yang terlalu baik hati."
Melihat Ilia yang berkata sambil menggelengkan kepala, aku sedikit tertawa geli. Terlalu baik hati memang kata yang tepat untuk menggambarkan Putri Anis.
"Memang benar begitu. ...Kalau begitu, apakah Ilia juga orang yang baik hati?"
"...Anda bercanda. Saya hanya mengikuti keinginan Putri saja kok."
"Begitukah. ...Anu, Ilia. Bolehkah saya bertanya lebih banyak tentang Putri Anis? Rasanya tidak tenang jika saya hanya terus menerima kebaikan seperti ini. Saya ingin mengenal beliau lebih jauh agar bisa membalasnya sedikit saja."
"Tentu, jika saya yang diminta, silakan tanyakan apa saja. ...Namun sebelum itu, bagaimana kalau tehnya ditambah lagi?"
Melihat cangkir teh yang tanpa kusadari sudah kosong, aku tersenyum kecut lalu mengangguk.
Sepertinya malam kami akan menjadi sedikit lebih panjang.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!


Komentar
Tinggalkan Komentar