Featured Image

Tenten Kakumei V1 C3

Metoya Februari 13, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Kuliah Ilmu Sihir oleh Sang Putri Reinkarnasi


"Fufu, masalah Euphie juga sudah beres, ayo kita bersantai sejenak!"

Beberapa hari setelah secara resmi menampung Euphie di paviliun, segalanya akhirnya mulai tenang. Sebaliknya, istana kerajaan tampaknya sedang kacau balau akibat insiden pembatalan pertunangan tersebut. Ilia yang diam-diam mengumpulkan informasi memberitahuku tentang hal itu.

Pertama-tama, Al-kun dan para putra bangsawan lain yang memelopori pembatalan pertunangan itu kabarnya telah dijatuhi hukuman skorsing, dan proses interogasi sudah dimulai. Gara-gara itu, kudengar seisi istana sedang heboh-hebohnya.

Aku memang penasaran bagaimana kelanjutannya, tapi bagi kami yang mengurung diri di paviliun, hal itu tidak terlalu berpengaruh. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mulai mengerjakan sesuatu di bengkel kerjaku sekalian untuk bersantai.

Bengkel kerjaku yang ada di paviliun ini dipenuhi dengan purwarupa alat sihir dan cetak biru yang berserakan di mana-mana. Aku bahkan melarang Ilia masuk tanpa izinku, makanya tempat ini gampang sekali berantakan.

Bukannya aku sengaja memberantakannya, tapi tahu-tahu kondisinya sudah membuat Ilia mengerutkan kening saja. Aku tidak bermaksud buruk kok, ini cuma kebiasaan yang sulit dihilangkan.

"Mumpung Euphie sudah ada di sini, haruskah aku memulai eksperimen baru? Tapi, apa yang harus kubuat dulu, ya..."

Sambil bergumam, aku mengeluarkan buku catatanku. Buku ini kugunakan untuk mencatat gambaran atau ide-ide dari ingatan kehidupan masa laluku yang tiba-tiba melintas di kepalaku.

Aku adalah anomali di dunia ini. Sejak mendapatkan kembali ingatan masa laluku, aku sadar betul bahwa pola pikir dan kesadaranku lebih condong pada kehidupan masa laluku.

Sama seperti bagaimana aku tiba-tiba mengingat masa laluku, bukan tidak mungkin kesadaran itu juga bisa tiba-tiba menghilang. Untuk mengantisipasi kemungkinan itu, aku selalu berusaha mencatat semuanya dengan sedetail mungkin.

Bukan bermaksud muluk-muluk sebagai bukti bahwa aku pernah hidup atau semacamnya, sih. Aku cuma ingin meninggalkan apa yang bisa kutinggalkan. Untungnya, untuk saat ini sepertinya aku tidak akan lenyap dari dunia ini dalam waktu dekat.

"Hmm, setidaknya aku harus menghindari eksperimen yang terlalu mencolok untuk saat ini. Kalau begitu, eksperimen yang menghabiskan banyak bahan baku harus ditunda dulu... Benar juga, aku juga ingin mendengar pendapat Euphie, jadi mari kita mulai dengan menyamakan pemahaman kami terlebih dahulu..."

"Putri, bolehkah saya masuk?"

Saat sedang berpikir sendirian, mau tidak mau aku jadi sering berbicara sendiri. Saat pikiranku sedang berputar-putar, pintu bengkel kerjaku diketuk. Suara yang terdengar dari luar adalah suara Ilia. Aku yang tadinya tenggelam dalam lautan pikiran langsung tersadar dan segera mengangkat wajah untuk membalas panggilannya dari balik pintu.

"Silakan masuk~!"

"Permisi."

Setelah aku memberi izin, Ilia mengucapkan salam dan masuk ke dalam bengkel. Di belakang Ilia, ternyata ada Euphie yang ikut bersamanya. Tanpa sadar mataku membulat. Aku segera memperbaiki sikapku dan menyapanya.

"Selamat datang di bengkel kerjaku, Euphie. Aku menyambutmu dengan senang hati."

"Permisi. ...Jadi ini adalah bengkel kerja Putri Anis?"

"Benar. Ada banyak purwarupa yang berserakan, jadi tolong jangan sembarangan menyentuhnya, ya?"

Mendengar peringatanku, Euphie melangkah masuk ke dalam ruangan dengan ragu-ragu dan sedikit ketakutan.

Barang-barang yang benar-benar berbahaya sudah kuamankan, jadi kurasa tidak akan ada masalah. Tapi kadang-kadang ide yang muncul saat begadang, atau barang yang kubuat saat sedang iseng, bisa berubah menjadi sesuatu yang sama sekali tidak lucu, lho.

Di meja tempatku biasanya hanya duduk berhadapan berdua dengan Ilia, kini ditambahkan satu kursi untuk Euphie. Setelah Euphie duduk, Ilia mulai menyiapkan teh. Selain kehadiran Euphie, pemandangan bengkel ini tetap sama seperti biasanya.

"Lalu, ada apa?"

"Tidak apa-apa. Karena saya sudah menjadi asisten Anda, saya pikir mungkin ada yang bisa saya bantu..."

"Ah, apa kondisi tubuhmu sudah baik-baik saja? Sudah lebih tenang? Pasti berat kan, baru saja pindah ke lingkungan yang baru."

"Tidak, saya sudah tidak apa-apa. Daripada tidak melakukan apa-apa, saya merasa tidak tenang jika tidak melakukan sesuatu."

Ini adalah wajah bermasalah Euphie yang akhir-akhir ini sudah menjadi pemandangan biasa. Memang benar, kalau disuruh diam saja tanpa melakukan apa-apa, mungkin rasanya malah bikin gelisah. Kalau dia sendiri yang bilang tidak apa-apa, mari kita libatkan dia secara aktif!

"Kalau begitu, pertama-tama aku ingin menyamakan berbagai pemahaman denganmu, Euphie."

"Menyamakan pemahaman, maksudnya?"

"Iya. Euphie sudah tahu kan kalau aku tidak bisa menggunakan sihir?"

Meskipun Euphie menunjukkan ekspresi sedikit ragu, ia perlahan menganggukkan kepalanya.

Di Kerajaan Palettia, hampir semua bangsawan bisa menggunakan sihir. Di lingkungan seperti itu, seberapa besar bakat yang dimiliki, seberapa banyak kapasitas energi sihirnya, dan seberapa banyak afinitas elemen sihir yang dikuasai menjadi penentu status sosial seseorang.

Dalam hal itu, aku benar-benar tidak kompeten. Aku memiliki energi sihir, tetapi tubuhku memiliki kondisi di mana aku tidak bisa menggunakan sihir. Kondisi ini adalah bawaan sejak lahir dan bukan sesuatu yang bisa berubah seiring waktu; inilah salah satu hasil dari penelitianku.

"Yah, aku sudah punya perkiraan dasar mengenai alasan kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir..."

"...Eh? Tunggu sebentar, Putri Anis."

"Hm, ada apa?"

"Anda punya perkiraan tentang alasan kenapa Anda tidak bisa menggunakan sihir? Saya baru pertama kali mendengar hal itu..."

"Memang aku tidak pernah punya kesempatan untuk mengumumkannya, kok. Wajar kalau kau tidak tahu."

Euphie menatapku dengan wajah penuh kecurigaan. Aku memang tidak menyebarkannya karena itu bukan hal yang perlu diceritakan kepada semua orang, lagipula itu hanya akan memicu keributan yang tidak perlu.

Oleh karena itu, hasil penelitian ini hanya diketahui oleh segelintir orang, termasuk Ayahanda. Aku hanya pernah menceritakannya kepada beberapa petinggi di lembaga penelitian roh dan sihir.

"Intinya, seperti yang kau lihat, kurasa akal sehatku dan akal sehatmu cukup berbeda, kan? Itulah mengapa aku mengusulkan agar kita menyamakan pemahaman kita. Kalau kita akan melakukan penelitian bersama mulai sekarang, akan sulit kan kalau kita tidak menyamakan perbedaan pemahaman kita dulu?"

"...Begitu rupanya. Saya mengerti."

Euphie mengangguk dengan wajah serius. Anak yang penurut memang bagus, hal itu membuatku bersemangat dan aku langsung berdiri dengan antusias. Aku pun membawa sebuah papan tulis portabel ke dekat kami.

Suasananya jadi mirip seperti guru tempat bimbingan belajar, begitu rasanya. Mengabaikan diriku yang sibuk bersiap-siap untuk menjelaskan, Ilia dengan tenang menyajikan teh untuk Euphie. Kerja bagus, Ilia!

"Nah, sebagai premis dasarnya, penggunaan sihir itu meminjam kekuatan roh. Benar kan? Murid Euphie!"

"...Murid?"

"Bawa asyik saja!"

"Haa...?"

Meskipun kebingungan dengan sikapku yang tiba-tiba bersemangat, Euphie mencoba menenangkan diri dan menjawab pertanyaanku.

"Umm. Sihir bekerja dengan cara berinteraksi dengan roh yang ada di mana-mana di dunia ini, dan menggunakan energi sihir sebagai bayarannya untuk mewujudkan sihir. Lalu, saya diajari bahwa setiap orang memiliki sifat energi sihir yang cocok dengan roh tertentu, dan itulah yang menjadi afinitas saat menggunakan sihir."

"Yap. Sampai di situ adalah pengetahuan umum."

Sesuai dugaan dari Sang Nona Adipati Jenius. Jawaban yang sangat ideal dan patut dicontoh. Membayangkan betapa kerasnya dia belajar, rasanya sedikit menyedihkan. Bagaimanapun juga, Euphie benar-benar anak yang baik.

Nah, mari kita kembali ke topik. Prosedur untuk menggunakan sihir yang dijelaskan Euphie memang tidak salah. Sihir di dunia ini dieksekusi melalui perantara roh.

Dan jenis roh sangatlah beragam. Pertama ada roh primordial, yaitu roh cahaya dan kegelapan yang diyakini sudah ada sejak awal mula terciptanya dunia. Lalu ada Empat Roh Besar yaitu api, air, tanah, dan angin yang konon lahir saat Dewa Pencipta menciptakan dunia. Ada juga roh subspesies yang diyakini berasal dari turunan Empat Roh Besar; intinya jenis roh itu sangat banyak. Eksistensi roh-roh yang tak terhitung jumlahnya inilah yang menjadikan bangsawan Kerajaan Palettia memiliki status sebagai bangsawan.

"Afinitas sihir yang Euphie sebutkan tadi adalah apakah seseorang memiliki kecocokan dengan roh tersebut atau tidak. Dengan kata lain, itu adalah standar yang menentukan apakah seseorang mahir menggunakan sihir elemen tersebut, kan?"

"Benar. Di akademi pun kami diajari seperti itu."

"Sangat bagus! Tapi, bagian intinya baru dimulai dari sini. Pemahamanku melangkah satu tahap lebih dalam dari itu."

"Satu tahap lebih dalam, maksudnya?"

Mendengar kata-kataku, Euphie memiringkan kepalanya dan menyuarakan keraguannya. Pemahaman Euphie adalah apa yang disebut sebagai akal sehat di dunia ini. Tapi aku adalah seorang peneliti Ilmu Sihir yang mendobrak akal sehat. Aku mengangguk sekali, lalu mengacungkan telunjukku.

"Euphie. Bicara soal dasarnya, tahukah kau bagaimana energi sihir yang cocok dengan roh itu ditentukan?"

"...Soal itu, saya tidak tahu. Saya hanya bisa menjawab bahwa itu mungkin berhubungan dengan kondisi tubuh atau keturunan."

"Fufu, maaf, maaf. Pertanyaanku agak sedikit menjebak, ya."

Seperti yang dikatakan Euphie, afinitas adalah ciri khas yang melekat pada individu masing-masing. Terkadang afinitas sihir diwariskan dari orang tua, tapi tidak selalu pasti diturunkan. Oleh karena itu, tidak ada yang punya jawaban pasti tentang bagaimana kecocokan dengan roh itu ditentukan.

"Kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir? Untuk memecahkan misteri ini, aku harus mencari tahu penyebabnya. Makanya, pertama-tama aku memulai penelitianku dari bagaimana afinitas sihir itu ditentukan."

"...Umm, saya tahu ini tidak sopan, tapi izinkan saya bertanya. Apakah Anda benar-benar tidak bisa menggunakan sihir...?"

Dengan ekspresi canggung namun terlihat sudah membulatkan tekad, Euphie melontarkan pertanyaan itu padaku.

Meskipun topik ini memotong pembicaraan, aku tidak bisa untuk tidak menjawabnya. Euphie terlihat sungkan menanyakannya mungkin karena fakta bahwa aku tidak bisa menggunakan sihir adalah topik yang sangat sensitif.

"Aku benar-benar tidak bisa menggunakannya. Soalnya, aku sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran atau hawa keberadaan roh."

"...Begitu ya."

"Kudengar kalau kita punya roh yang cocok, kita bisa merasakan hawa dan keberadaan mereka, tapi aku sama sekali tidak bisa merasakannya. Dan karena ini kondisi bawaan sejak lahir, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa."

Aku sendiri tidak memahaminya, tetapi orang yang bisa menggunakan sihir kabarnya bisa merasakan keberadaan roh. Dan jika mereka bisa merasakan roh tersebut, meskipun ada yang ahli dan ada yang tidak, mereka tetap bisa mengaktifkan sihir.

Pada titik di mana aku sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran roh, itu berarti aku tidak bisa menggunakan sihir. Orang-orang sering bilang alasannya karena doaku pada roh kurang khusyuk sehingga mereka tidak mau meminjamkan kekuatannya, atau hal-hal semacam itu. Tapi, itulah akal sehat yang berlaku di dunia ini. Faktanya, elemen "berdoa" memang sangat penting dalam menggunakan sihir di dunia ini.

"Untuk menggunakan sihir, berdoa kepada roh itu sangat penting. Sangat penting bagi perapal untuk menyampaikan gambaran yang jelas mengenai sihir macam apa yang ingin mereka gunakan kepada roh. Benar, kan?"

"Benar. Untuk memperdalam pemahaman tentang sihir, pada awalnya disarankan untuk merapalkan mantra. Jika sudah mahir, merapal mantra tidak lagi diperlukan, tetapi untuk ritual skala besar dan sejenisnya, rapalan mantra masih sering digunakan."

Aku mengangguk puas mendengar jawaban Euphie. Hal pertama yang dibutuhkan untuk memicu sihir adalah merasakan kehadiran roh. Kedua, perapal harus menyampaikan imajinasi yang tepat kepada roh. Terakhir, jumlah energi sihir yang dikeluarkan untuk memicu sihir tersebut menjadi sangat penting. Secara kasar, begitulah prosesnya.

Dan aku sudah gagal sejak tahap pertama, makanya aku tidak bisa menggunakan sihir. Dengan kata lain, ketidakmampuanku merasakan eksistensi roh itulah masalah utamanya.

"Kenapa aku tidak bisa merasakan kehadiran roh? Untuk memecahkan misteri itu, aku mulai mempertanyakan, sebenarnya 'roh' itu apa sih?"

"...Bukankah roh ya tetap roh?"

Euphie mengerutkan alisnya dan menyuarakan keheranannya. Memang benar roh ya roh. Tapi bukan itu maksudku, batinku sambil tersenyum kecut.

"Roh konon sudah ada sejak dunia ini diciptakan, tapi apakah roh itu makhluk hidup? Atau mereka adalah wujud nyata dari fenomena alam? Bagaimana menurutmu? Bisakah kau menjelaskan logika dan alasan keberadaan roh secara runtut, Euphie?"

"Itu..."

"Mungkin karena roh sudah ada sejak zaman dulu dan dianggap sebagai hal yang lumrah, makanya orang-orang tidak pernah mempertanyakannya. Tapi bagiku, roh adalah entitas yang tidak diketahui. Itulah sebabnya aku menelitinya, meneliti tentang roh."

Dari penyelidikanku tentang roh, aku menemukan fakta bahwa terlepas dari perbedaan elemennya, roh dalam bentuk aslinya sama-sama melayang bebas di udara. Selain itu, roh tidak memiliki wujud fisik. Singkat kata, mereka murni adalah roh alam yang tercipta dari alam itu sendiri. Roh-roh yang melayang di udara ini tidak memiliki kehendak sendiri, paling-paling mereka hanya memiliki insting seperti makhluk hidup pada umumnya. Bisa dibilang roh pada dasarnya tidak pernah bertindak atas inisiatif mereka sendiri.

"Ini bagian yang penting, roh itu memakan energi sihir sebagai makanannya, tahu."

"Energi sihir? Energi sihir adalah makanan bagi para roh?"

"Benar. Inilah bagian yang menarik dari roh. Pada dasarnya, mereka tidak memiliki kehendak seperti kita; mereka adalah entitas yang bergerak berdasarkan insting. Sama seperti kita bernapas dan makan untuk bertahan hidup, roh sepertinya bertahan hidup dengan menjadikan energi sihir sebagai makanannya."

Euphie mendengarkan penjelasanku dengan mulut terbuka sedikit. Ekspresi Euphie itu terlihat sangat lucu sampai-sampai aku tanpa sadar terkikik pelan.

Faktanya, kenapa roh menginginkan energi sihir? Kenapa sihir bisa aktif jika kita memberikan energi sihir sebagai bayarannya? Yang menjadi fokusku adalah, seperti apa mekanisme dan proses yang terjadi hingga sihir itu bisa terwujud?

"Sekarang kita sudah tahu bahwa roh menginginkan energi sihir. Kalau begitu, energi sihir itu sebenarnya apa, ya? Murid Euphie!"

"...Kalau saya jawab 'energi sihir ya energi sihir', jawaban itu pasti salah, kan?"

"Tepat sekali."

"Bolehkah saya balik bertanya? Menurut Anda sendiri, energi sihir itu hal yang seperti apa, Putri Anis?"

"Pertanyaan yang bagus. Aku suka caramu beradaptasi dengan situasi. Nah, apa itu energi sihir, ya? Kalau diibaratkan, energi sihir itu seperti darah tak berwujud yang menetes dari jiwa."

"...Darah tak berwujud?"

"Itu cuma perumpamaan dariku saja agar lebih mudah dibayangkan, lho."

Mengapa roh menginginkan energi sihir? Kesimpulan yang kudapat dari pertanyaan ini adalah bahwa energi sihir merupakan makanan bagi para roh.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, apa sebenarnya energi sihir itu? Aku mendefinisikannya sebagai sesuatu seperti darah yang tidak memiliki wujud fisik.

"Bagaimana Anda bisa mendapatkan pemikiran seperti itu...?"

Euphie menatapku dengan sorot mata penuh ketakjuban seolah sedang melihat sesuatu yang sangat ajaib. Yah, begitulah. Ini semacam petunjuk, atau lebih tepatnya semacam kecurangan yang hanya bisa kupikirkan karena aku adalah aku.

Soalnya aku adalah reinkarnator. Tubuhku memang manusia yang lahir di dunia ini, tapi isinya berbeda. Makanya, saat mencari tahu penyebab kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir, pemikiran itu muncul.

Jangan-jangan, fakta bahwa aku bereinkarnasi, eksistensiku sendirilah yang menjadi penyebab utamanya.

Dari situlah penyusunan hipotesisku dimulai. Kalau diingat-ingat lagi, rasanya sungguh membuat nostalgia.

"Setiap orang memiliki afinitas yang berbeda-beda. Kadang afinitas diwariskan melalui darah, tapi kadang juga tidak. Jika energi sihir setiap orang memiliki keunikan tersendiri, dari manakah asal keunikan tersebut?"

Tidak ada aturan baku mengenai kecocokan seseorang dengan roh. Memang ada faktor genetika keturunan darah, tapi itu bukan segalanya. Kalau begitu, pasti ada alasan yang jauh lebih fundamental. Seandainya penyebab utamanya adalah karena aku merupakan anomali di dunia ini, maka kesimpulannya hanya satu.

"Sesuatu yang menentukan afinitas terhadap roh, aku mendefinisikannya sebagai sesuatu yang berasal dari jiwa."

Euphie mendengarkan teoriku dengan wajah yang sangat serius. Aku mulai menggambar diagram sederhana beserta penjelasannya di papan tulis. Suasananya jadi makin mirip seperti sedang mengajar di kelas, membuat semangatku semakin menggebu-gebu.

"Energi sihir adalah kekuatan spiritual tak kasatmata yang tumpah dari jiwa. Dan roh adalah entitas spiritual tanpa wujud fisik yang ada di dunia. Jika kita berasumsi bahwa roh adalah entitas yang memakan energi sihir, maka kita bisa membuat hipotesis mengapa imajinasi dan doa sangat penting dalam merapal sihir."

"Hipotesis tentang pemicu sihir?"

"Benar. Bagaimana sihir bisa terwujud sebagai sihir? Aku berpendapat bahwa roh itu sendiri berubah wujud menjadi sihir."

"Roh berubah wujud menjadi sihir, maksud Anda?"

"Tepat. Dengan kata lain, aku mendefinisikan sihir sebagai proses memberikan bentuk kepada roh yang tidak memiliki wujud fisik, lalu memanifestasikannya dalam bentuk yang disebut sihir."

Setelah menuliskan rangkuman poinnya di papan tulis layaknya sebuah judul utama, aku menoleh kembali ke arah Euphie sambil tersenyum. Euphie menatapku dengan wajah terperangah. Wajahnya persis seperti orang yang baru saja bertemu dengan alien yang tidak dikenal.

Yah, bagi Euphie ini memang benar-benar hal yang tidak diketahui. Lagipula, aku hanya pernah menjelaskan teori ini sedetail ini kepada segelintir orang. Dan saat itu pun reaksi mereka kurang lebih sama seperti ini.

"Roh yang diubah bentuknya adalah sihir...? Bukankah sihir itu aktif karena roh memanifestasikan apa yang didoakan oleh perapal kepadanya...?"

"Pada umumnya orang-orang berpikir seperti itu. Tapi aku berpikir begini: roh tidak memiliki kehendak, mereka hanya entitas yang melayang-layang di dunia. Kita memberi mereka makanan berupa energi sihir dan mengubah wujud mereka menjadi sihir, sehingga mereka mendapatkan wujud fisik."

"Namun, lalu apa yang terjadi pada roh yang telah berubah menjadi sihir itu?"

"Mereka kembali ke wujud asalnya, kan? Memangnya pada dasarnya roh itu sesuatu yang akan menghilang setelah menggunakan sihir?"

Wujud asli roh adalah sesuatu yang tidak memiliki wujud fisik. Jadi, tidak masalah jika mereka kehilangan bentuk sihir mereka. Toh, dari awal mereka memang eksistensi yang tidak memiliki wujud fisik.

"Memang kalau dipikir-pikir begitu, sih... Tapi..."

Euphie bergumam pelan dan mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri. Yah, ini waktu yang pas untuk istirahat sejenak, pikirku sambil membasahi tenggorokan dengan teh hitam buatan Ilia.

Ngomong-ngomong, aku juga sudah menyusun hipotesis tentang bagaimana kapasitas energi sihir ditentukan. Energi sihir ibarat darah bagi jiwa. Dan di saat yang sama, ia juga diperlukan untuk membentuk jiwa itu sendiri.

Menurut definisiku, energi sihir adalah sesuatu yang meluap dan tumpah dari wadah yang disebut jiwa. Di dalam jiwa terdapat sumber penghasil energi sihir. Jika kita menganggap jiwa sebagai sebuah wadah, sumber energi sihir tersebut akan terus terisi untuk menyusun jiwa itu.

Jumlah energi sihir yang dibutuhkan oleh jiwa tidak akan pernah tumpah, tetapi jika jumlahnya melebihi kapasitas wadah jiwa, energi sihir itu akan dikeluarkan ke luar tubuh. Kelebihan inilah yang kemudian menjadi energi sihir yang bisa digunakan. Roh jenis apa yang menyukai energi sihir inilah yang akan menentukan afinitas sihir yang dikuasai orang tersebut, dan kapasitas energi sihir ditentukan oleh seberapa banyak energi sihir yang tumpah keluar.

"Ini juga masih sebatas hipotesis, tapi karena roh tidak memiliki kesadaran, secara insting mereka tertarik pada energi sihir. Oleh karena itu, mereka menyerahkan diri mereka pada kesadaran entitas yang memberi mereka energi sihir. Sihir adalah sebuah prosedur untuk mengubah eksistensi roh, dan menurut teoriku, sihir bukan berarti roh memiliki kesadaran dan dengan sengaja mengabulkan keinginan si perapal."

Begitu aku menyelesaikan penjelasanku, seperti yang sudah kuduga, Euphie memasang wajah masam. Reaksi yang sudah bisa kutebak ini membuatku tanpa sadar tersenyum kecut. Aku sudah tahu kalau dia akan bereaksi seperti ini.

Kerajaan Palettia memiliki sejarah panjang menjadikan roh sebagai sahabat. Itulah cikal bakal lahirnya kepercayaan yang memuja roh. Kepercayaan ini menganggap roh sebagai tetangga yang harus dihormati.

Dari sudut pandang penganut kepercayaan tersebut, pemikiranku ini benar-benar ajaran sesat yang luar biasa. Itulah sebabnya aku tidak pernah membicarakan teori ini sembarangan. Karena secara tersembunyi, penganut kepercayaan roh di negara ini sangatlah banyak. Mengingat keadaan seperti itu, karena Euphie akan menjadi rekanku, aku merasa harus memberitahunya.

"...Selama ini saya menganggap keberadaan energi sihir dan roh sebagai sesuatu yang sudah semestinya, dan saya tidak pernah terpikir untuk mempertanyakan 'mengapa' mereka ada."

"Aku juga cuma mencari tahu karena terdesak kebutuhan saja, makanya aku bisa sampai pada teori ini. Nah, setelah paham mekanismenya, aku pun bisa membuat hipotesis mengapa aku tidak bisa menggunakan energi sihir."

Singkatnya, kesimpulannya adalah kualitas energi sihirku tidak disukai oleh roh.

Aku memang memiliki energi sihir, itu tidak salah. Tetapi aku tidak bisa menggunakan sihir. Di sinilah letak hipotesisku: roh menggunakan energi sihir sebagai makanannya agar bisa mempertahankan eksistensi mereka.

Roh secara tidak sadar akan mencari energi sihir yang cocok dengan mereka. Kecocokan inilah yang kemudian diakui oleh manusia sebagai afinitas perapal sihir. Misalnya, jika seseorang memiliki energi sihir yang disukai oleh roh air, maka ia akan mendapatkan afinitas sihir air. Singkatnya, afinitas seseorang bisa berubah-ubah tergantung pada apakah energi sihirnya disukai oleh roh atau tidak.

"Sebagai informasi tambahan, menurutku asal-usul bangsawan dan keluarga kerajaan bermula sejak mereka menjalin kontrak dengan roh."

"Apakah itu yang dinamakan Kontrak Roh?"

Kontrak Roh. Ini adalah istilah yang memiliki makna sangat besar di Kerajaan Palettia.

Menurut hipotesisku, roh dianggap tidak memiliki kehendak. Namun, ada entitas yang dianggap sebagai pengecualian. Entitas tersebut adalah Roh Besar, sebuah eksistensi tingkat tinggi yang terbentuk dari kumpulan roh yang bersatu. Eksistensi ini terkadang juga disebut sebagai Dewa.

Orang-orang yang menjalin Kontrak Roh adalah mereka yang membuat perjanjian dengan Roh Besar dan meminjam kekuatannya. Mereka muncul dalam banyak legenda dan cerita rakyat. Di Kerajaan Palettia, para pengikat Kontrak Roh inilah yang disebut-sebut sebagai leluhur pertama keluarga kerajaan dan kaum bangsawan. Bahkan konon Raja Pertama yang agung juga merupakan salah satunya.

Kalau kita menyelidiki cerita rakyat dan legenda yang tersisa di berbagai daerah, memang ada catatan yang menyiratkan bahwa Roh Besar bisa berbicara dengan manusia menggunakan kehendak mereka sendiri. Fakta ini tidak sejalan dengan sifat roh yang sudah kuteliti.

Oleh karena itu aku berpikir begini: eksistensi Roh Besar bukanlah sekadar roh tingkat tinggi, melainkan sebuah entitas yang wujudnya sudah menjadi sangat padat sehingga roh-roh tersebut memiliki kehendak sendiri.

Aku sebenarnya ingin mendengarkan ceritanya langsung untuk memastikan kebenarannya, tapi kudengar para pengikat Kontrak Roh umumnya memiliki nilai-nilai kehidupan yang terlepas dari dunia fana dan lebih sering hidup menyendiri. Aku pernah memohon pada Ayahanda agar diizinkan bertemu mereka sekali saja, tapi permintaanku ditolak mentah-mentah. Konon mereka dilindungi oleh negara, tetapi mereka lebih memilih untuk tidak ikut campur kecuali dalam keadaan darurat negara.

"Orang yang menjalin kontrak dengan Roh Besar konon mendapatkan kekuatan yang jauh melampaui sihir biasa. Itulah sebabnya negara-negara berlomba-lomba merekrut orang-orang yang telah berkontrak dengan roh tersebut."

"Ada kisah yang mengatakan bahwa begitulah awal mula terbentuknya Kerajaan Palettia, di mana hal itu kemudian berkembang menjadi sistem kasta bangsawan. Sihir yang bisa digunakan oleh para bangsawan dianggap sebagai sisa-sisa berkah dari Kontrak Roh yang dibuat oleh leluhur kita."

Karena kejadian itu sudah terjadi di masa yang sangat lampau, tak ada yang bisa mengetahui kebenarannya kecuali jika kita menggali catatan-catatan kuno. Menyelidiki sejarah memang salah satu bentuk romantisme tersendiri, tapi romantisme yang harus kukejar saat ini adalah hal yang berbeda.

Gara-gara sejarah berdirinya negara ini, kemampuan menggunakan sihir menjadi hal yang sangat diagung-agungkan, yang mana membuat orang sepertiku yang tidak bisa menggunakan sihir merasa sedikit sesak napas.

"Entah apakah karena keturunan yang pernah berkontrak dengan roh lantas kualitas energi sihir mereka berubah menjadi sesuatu yang disukai roh atau tidak, kita tidak tahu. Tapi mari kita kesampingkan dulu hal itu. Kita kembali ke topik awal, ya?"

"Oh, kita melantur tanpa sadar, ya. Baik, silakan."

"Yang membuat pembicaraannya melantur kan aku. Nah, karena aku memiliki energi sihir yang tidak cocok dengan roh, sekalipun aku ingin menggunakan sihir, aku tidak bisa memanggil roh yang bersedia mengubah wujudnya menjadi sihir untukku."

"Itulah sebabnya Putri Anis mengembangkan alat-alat sihir?"

Kembali ke topik utama, Euphie juga kembali merapikan ekspresi wajahnya dan mengambil postur siap mendengarkan. Setelah meneguk teh hitam buatan Ilia sekali lagi, aku pun melanjutkan penjelasanku.

"Karena aku memiliki energi sihir, sayang kan kalau tidak dimanfaatkan. Ditambah lagi, aku sangat ingin menggunakan sihir, dan tak masalah bagiku kalau bentuknya bukan sihir yang diciptakan oleh roh."

Sekadar informasi, alasan mengapa rakyat jelata tidak bisa menggunakan sihir adalah karena mereka tidak memiliki sisa-sisa jejak keturunan pengikat Kontrak Roh. Kasus langka di mana rakyat jelata bisa menggunakan sihir biasanya karena mereka adalah anak di luar nikah dari seorang bangsawan.

Sejarah Kerajaan Palettia sudah sangat panjang. Ada kalanya seorang bangsawan harus membuang gelarnya, atau melarikan diri dari keluarganya untuk hidup bersama rakyat jelata. Dengan sejarah yang begitu panjang, anomali semacam itu sangat wajar terjadi.

Meskipun hal ini kadang-kadang bisa memicu sedikit masalah, tapi itu cerita untuk lain waktu, jadi mari kita bahas kapan-kapan saja.

"Karena aku tidak punya bakat, aku harus bisa membalikkannya dengan usaha keras. Dan setelah melalui berbagai penemuan, aku sampai pada titik ini."

"Dan semua itu berujung pada pengembangan alat-alat sihir, ya."

"Benar sekali. Pertama-tama, aku mencari tahu apakah ada cara untuk menggunakan energi sihir tanpa perlu menggunakan perantara roh."

Kelebihan energi sihir di dalam tubuh akan dilepaskan ke luar dan kemudian menghilang begitu saja di udara. Jika energi sihir tersebut tidak menarik perhatian roh, maka ia bisa dibilang sebagai sumber daya yang terbuang sia-sia. Aku memutuskan untuk meneliti apakah aku bisa memanfaatkannya untuk hal lain.

"Hal pertama yang menarik perhatianku adalah Batu Roh. Kau pasti tahu benda itu, kan?"

"Tentu saja. Batu Roh adalah kristalisasi dari kekuatan roh, konon bisa ditambang di tempat berkumpulnya para roh, atau dianugerahkan langsung oleh Roh Besar."

"Ya. Dan aku memutuskan untuk menyelidiki sebenarnya apa wujud asli dari benda itu."

"? Wujud asli, maksud Anda?"

"Karena itu kan bukan cuma batu biasa. Kalau kita tidak menyelidiki bagaimana batu itu bisa terbentuk dan prinsip-prinsip di baliknya, kita tidak akan bisa mengungkap misterinya, kan."

"...Begitu rupanya. Anda rupanya selalu memandang segala sesuatu dengan sikap analitis seperti itu, ya."

Euphie mengangguk kagum, padahal aku sama sekali tidak merasa sedang melakukan hal yang istimewa. Yah sudahlah, mari kembali ke topik.

Batu kristal yang menyimpan kekuatan roh, itulah Batu Roh. Dengan adanya Batu Roh ini, bahkan rakyat biasa sekalipun bisa meminjam kekuatan roh meski dalam skala terbatas. Akan tetapi, kegunaan Batu Roh jauh lebih terbatas bila dibandingkan dengan sihir asli.

Contohnya, Batu Roh Api hanya bisa digunakan sebagai pengganti perapian. Batu Roh Air bisa mengeluarkan air, tapi cuma sebatas itu saja. Batu Roh Angin bisa menghasilkan angin, tapi kekuatannya tidak cukup untuk menerbangkan seseorang. Batu Roh Tanah bisa membuat tanah menjadi subur, tapi tidak bisa menciptakan guncangan hebat di bumi. Intinya, batu ini cuma bisa menghasilkan sesuatu selevel sihir yang kualitasnya sudah diturunkan.

"Nah, topik utamanya adalah bagaimana Batu Roh ini bisa terbentuk. Secara sederhana, aku berpendapat bahwa itu semacam mayat dari para roh."

"...Hah?"

Lagi-lagi wajah Euphie berubah menjadi wajah terperangah untuk yang kesekian kalinya hari ini.

Bukannya aku sengaja memilih kata-kata provokatif demi menikmati reaksi Euphie, lho. Tapi demi mempermudah pemahaman, istilah yang paling tepat untuk menggambarkan Batu Roh adalah semacam fosil roh.

"Batu Roh adalah kristalisasi dari roh, hasil akhir dari roh yang membeku menjadi sebuah materi fisik. Makanya, kurasa menyebutnya sebagai 'mayat' adalah istilah yang paling pas..."

"...Mendengarnya disebut begitu, entah kenapa benda yang tadinya terasa sebagai anugerah malah memberikan kesan buruk, ya."

Euphie berkomentar dengan ekspresi wajah yang campur aduk. Aku cukup paham bagaimana perasaan Euphie, tapi sungguh, aku tidak bisa memikirkan istilah lain yang lebih pas. Kalau kusebut 'fosil', toh pada dasarnya roh tidak memiliki wujud fisik. Jadi kalau aku bilang 'gumpalan roh', kedengarannya kurang mengena.

Aku juga sadar kok kalau kesannya jadi buruk. Buktinya, aku sampai dimusuhi oleh Kementerian Sihir—sebuah institusi riset yang berisi elit-elit pengguna sihir. Meskipun ada juga sih beberapa dari mereka yang mau mendengarkan pendapatku.

"Tapi pas coba diselidiki secara mendalam, realitanya memang tidak jauh beda dari itu. Berbeda dengan makhluk hidup pada umumnya, roh mungkin tidak terlalu memedulikan konsep kematian, jadi kurasa mereka pada dasarnya kebal terhadap perasaan semacam dendam atau penyesalan. Meski mungkin ceritanya bakal beda kalau kita bicara soal Roh Besar yang memiliki kehendak yang jelas."

"Apakah memang seperti itu..."

Wajah Euphie tampak masih belum bisa menerima sepenuhnya. Yah, reaksi Euphie ini adalah reaksi yang sangat wajar di negara ini. Yang terpenting adalah poin bahwa Batu Roh merupakan gumpalan roh yang memadat menjadi benda padat akibat faktor tertentu.

Batu Roh lebih mudah ditemukan di daerah yang kaya akan alam dan penuh dengan kehidupan. Kurasa Kerajaan Palettia memiliki keseimbangan alam dan populasi yang sangat pas sehingga menciptakan lingkungan yang ideal bagi kemunculan Batu Roh. Lingkungan yang ideal ini terdiri dari alam yang memungkinkan lahirnya para roh, dan manusia yang menghasilkan energi sihir sebagai sumber makanan roh hidup saling berdampingan.

Jika pergi jauh ke pedalaman alam, kita bisa mendapatkan Batu Roh dengan tingkat kemurnian dan kualitas tinggi. Tapi kalau hanya mencari Batu Roh untuk kebutuhan hidup sehari-hari, menambang di sekitar permukiman penduduk pun sudah cukup. Itulah sebabnya Batu Roh menjadi komoditas vital yang tidak bisa dipisahkan dari Kerajaan Palettia. Dari sekadar untuk meringankan pekerjaan sehari-hari hingga menjadi produk andalan ekspor negara. Karena itulah banyak orang yang merasa sangat bersyukur atas keberadaan Batu Roh.

"Jadi bernostalgia rasanya. Waktu itu Putri menggunakan tumpukan Batu Roh Angin untuk terbang ke langit, dan akhirnya malah menancap di tembok kastel."

Tiba-tiba, saat sedang menyeduh teh yang baru, Ilia menggumamkan hal itu. Mendengar gumaman Ilia, wajahku sontak langsung berkerut saking kesalnya. Ilia, diamlah... kau tidak perlu membahas hal itu...! Lihat tuh, Euphie jadi geleng-geleng kepala mendengarnya!

"Menancap, katanya..."

"Waktu itu aku benar-benar mengira tubuhku bakal hancur berkeping-keping."

"Sekarang sih mungkin terdengar lucu kalau diceritakan, tapi waktu kejadian itu sempat memicu kepanikan besar..."

Tapi, berkat kegagalan itulah aku bisa menyadari bahwa tubuhku tidak sepenuhnya kosong dari energi sihir, dan juga bisa mulai mempertanyakan wujud asli dari Batu Roh. Jadi, anggap saja hasilnya sepadan. Aku jadi paham betul dengan sifat-sifat Batu Roh: kalau jumlahnya sedikit, benda itu tidak akan bisa bekerja sekuat sihir yang kuidam-idamkan, dan aku juga tidak bisa menggunakannya sebebas menggunakan sihir asli.

"Semenjak kejadian itu, proses trial and error serta pencarianku yang tiada henti dimulai. Butuh waktu nyaris sepuluh tahun hingga akhirnya aku bisa mencapai titik ini."

"Dan itulah asal mula Anda dijuluki sebagai Putri Eksentrik, ya..."

"Iya, begitulah ceritanya. Habisnya, aku benar-benar ingin bisa menggunakan sihir, apa pun caranya. Bahkan sampai sekarang pun aku belum merasa puas. Aku sudah berhasil menemukan cara memanfaatkan energi sihir yang menguap dari dalam tubuh menggunakan alat sihir. Setelah ini, aku hanya perlu terus mengembangkannya untuk memperbanyak variasi jenis alatnya."

"Begitu rupanya. ...Lalu, kenapa Anda memilih saya sebagai asisten Anda?"

Euphie memiringkan kepalanya, penasaran. Bisa dibilang sifat dasar Euphie dan aku bagaikan bumi dan langit. Aku ini si biang kerok yang selalu diabaikan roh, sedangkan Euphie adalah gadis populer yang selalu dicintai roh. Benar-benar bikin iri saja, apa-apaan afinitas semua elemen itu.

"Karena aku ingin bisa melihat berbagai macam sihir secara langsung. Dan juga, kau punya spesifikasi cheat karena memiliki afinitas semua elemen sihir tanpa ada cacat fisik sama sekali. Pokoknya makhluk misterius banget."

"Cheat...? ...Umm, apa saya terlihat seaneh itu di mata Anda?"

"Aneh dong. Eksistensi Euphie itu benar-benar tidak masuk akal, tahu."

Faktanya, dari hasil penelitian, kapasitas energi sihir yang terlalu besar itu sangat berpotensi menimbulkan berbagai masalah. Dan itu adalah semacam 'penyakit' yang khusus cuma ada di dunia ini.

Yaitu penyakit yang berkaitan dengan energi sihir. Contohnya, ada kasus di mana energi sihir berlebih yang seharusnya tidak diperlukan terjebak di dalam tubuh, dan akhirnya malah memberikan beban berat pada tubuh dan mental orang tersebut.

Ada banyak kasus di mana ketidakseimbangan energi sihir memengaruhi kondisi fisik dan mental penderitanya, seperti membuat tubuh jatuh sakit. Mendengar penjelasanku ini, wajah Euphie langsung pucat pasi. Soalnya, jumlah afinitas sihir yang dikuasai Euphie benar-benar tidak normal, dan kapasitas energi sihirnya juga sangat, sangat besar.

Kenapa bisa muncul gejala penyakit seperti itu? Seperti yang sudah kujelaskan, energi sihir adalah sesuatu yang tumpah dari jiwa. Oleh karena itu, jika keseimbangan antara tubuh dan jiwa tidak stabil, salah satunya atau bahkan keduanya akan langsung terkena imbasnya.

Menurutku, konsep ini sejalan dengan pepatah dari kehidupan masa laluku yang mengatakan bahwa 'penyakit bermula dari pikiran'. Penduduk di dunia ini jauh lebih rentan terhadap kelainan fisik dan mental semacam ini. Kurasa fenomena ini adalah sesuatu yang eksklusif hanya terjadi di dunia yang berpenghuni roh ini.

Karena itulah, tampaknya ada banyak kasus di kalangan bangsawan di mana energi sihir yang tidak bisa dilepaskan ke luar tubuh menyebabkan mereka menderita penyakit mental atau justru kondisi tubuh mereka yang menurun. Apabila energi sihir yang semestinya dikeluarkan dari tubuh justru tertahan di dalam, energi tersebut bisa menyebabkan gejala layaknya akar tanaman yang membusuk. Akibatnya, jiwa tidak sanggup lagi menahan kapasitas energi sihir yang sudah mencapai batas jenuh, dan perlahan-lahan jiwa tersebut akan terdistorsi. Distorsi pada jiwa ini akan menyebabkan kondisi mental tidak stabil dan memberikan beban tambahan yang merusak pada fisik.

Ini adalah penemuan yang sangat krusial. Namun, informasi ini belum disebarluaskan, atau lebih tepatnya tidak disebarluaskan secara umum. Meski aku yang menemukannya, aku tidak bisa serta-merta mengumumkan kebenarannya begitu saja, ditambah lagi aku bukan seorang dokter. Aku juga khawatir informasi ini bisa menimbulkan kepanikan jika tersebar secara sembarangan, jadi masalah ini aku percayakan kepada Ayahanda untuk diurus.

Sepertinya Ayahanda langsung memerintahkan penelitian lebih lanjut, dan setelah hipotesisku terbukti benar, mereka langsung mengambil tindakan. Karena bagaimanapun aku adalah pencetusnya, jadi mereka tetap memberikan laporan kepadaku.

"Jika energi sihir saya adalah jenis yang disukai oleh para roh, maka seharusnya saya terhindar dari kekhawatiran semacam itu, bukan?"

"Bisa juga sebaliknya, lho. Ada bahaya di mana energimu terlalu banyak dikonsumsi oleh roh, sampai-sampai sumber energi esensial yang dibutuhkan oleh jiwa pun ikut termakan. Akibatnya, kau bisa jatuh sakit atau bahkan cacat seumur hidup. Kurasa Euphie ini benar-benar dilindungi dewa sampai-sampai kau bisa memiliki keseimbangan yang sedemikian ajaibnya. Kau ini mungkin jenius langka yang hanya muncul beberapa ratus, atau bahkan seribu tahun sekali."

"...Daripada disebut jenius, saya justru lebih kaget mendengar fakta bahwa jumlah energi sihir bisa menjadi pemicu sebuah penyakit."

Memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar menahan takut, Euphie menggumam pelan dengan wajah pucat. Benar-benar deh, aku sangat berterima kasih kepada Duke Grantz dan Nyonya Nershell yang telah melahirkan Euphie dengan sehat walafiat.

"Kesimpulannya, dalam hal energi sihir, semakin seimbang, maka semakin baik. Tak peduli seberapa banyak atau sedikitnya kapasitasnya. Entah kau pernah dengar atau belum, tapi standar pemeriksaan kesehatan sekarang telah mencakup penelitian tentang energi sihir, di mana kapasitasnya akan dikonfirmasi berdasarkan penguasaan kemampuan menggunakan sihir dari individu terkait."

"Ah, jadi karena alasan itulah selalu ada sesi pengukuran dalam kelas sihir di akademi..."

Meskipun kita tidak bisa menjelaskan alasannya secara gamblang, kita tetap bisa melakukan tindakan preventif. Aku dengar, beberapa tahun setelah aku menemukan teori ini, akademi sihir mulai mengukur kapasitas energi sihir dan membandingkannya dengan tingkat penguasaan kemampuan sihir siswa secara berkala untuk mendeteksi apakah ada kejanggalan dalam statistik mereka.

Tentu saja, energi sihir bukanlah satu-satunya penyebab gangguan kejiwaan. Kita tidak bisa menyalahkan energi sihir untuk segala hal, kalau tidak, orang-orang yang memiliki kapasitas energi sihir besar atau mereka yang ahli menggunakan sihir bisa-bisa malah menjadi sasaran penindasan yang tidak beralasan. Soal ini, aku dengar Ayahanda juga menanganinya dengan sangat berhati-hati.

"Kudengar pernah ada kasus di mana anak-anak yang emosinya tidak stabil karena memiliki energi sihir besar perlahan menjadi lebih tenang setelah mempelajari sihir dan meningkatkan kemahirannya, sehingga kondisi mental mereka stabil kembali. Tentu itu bukan jaminan mutlak, mengingat terkadang orang bisa mudah meledak-ledak kalau ada sesuatu yang tidak berjalan lancar. Intinya, energi sihir hanyalah salah satu faktor penyebabnya."

"Meskipun demikian, fakta bahwa Anda berhasil mengungkap penyebab utamanya merupakan kemajuan yang sangat revolusioner, Putri."

Euphie mengangguk setuju dengan ekspresi penuh kekaguman. Mendapatkan respons seperti itu sejujurnya membuatku sangat bahagia. Rasanya aku ingin sedikit pamer, tapi karena tatapan Ilia sangat menakutkan, kuurungkan saja niatku.

"Apakah meneliti hal-hal semacam ini adalah tugas dari Ilmu Sihir?"

"Oh tidak, ini murni temuan sampingan. Terlebih lagi ini di luar bidang keahlianku, jadi sering kali aku hanya bisa berbicara sebatas asumsi. Hal-hal semacam ini seharusnya memang diserahkan pada para ahli untuk diteliti lebih dalam. Walaupun aku mempelajari sihir, tapi aku ini bukan penyihir sungguhan, apalagi seorang dokter."

Ilmu Sihir pada dasarnya adalah disiplin ilmu yang aku ciptakan agar diriku yang tidak memiliki kemampuan sihir bisa menggunakan sihir. Ini tidak lebih dari mereplikasi pengetahuan sains dari masa laluku ke dalam bentuk alat sihir yang disamarkan seolah-olah berfungsi layaknya sihir. Fungsi utamanya ya memang cuma untuk itu, tapi kadang-kadang bisa muncul temuan sampingan semacam ini juga.

"Bagiku pribadi, Ilmu Sihir itu sekadar salah satu tolak ukur caraku memandang segala sesuatu di dunia ini."

Bukannya sama sekali tidak ada peneliti yang meneliti sihir itu sendiri, hanya saja orientasi penelitian mereka lebih condong ke arah ranah teologi, agama, atau semacamnya, sehingga aku memiliki hubungan yang sangat buruk dengan mereka. Sebaliknya, penelitianku ini justru mendapat tanggapan yang sangat baik dari kalangan peneliti sihir bermazhab praktis, dan mereka bahkan terang-terangan menunjukkan kekaguman padaku.

Temuanku mengenai anomali akibat ketidakseimbangan fisik dan energi sihir seolah membuka mata mereka. Bahkan, pernah ada yang berterima kasih secara pribadi kepadaku karena temuanku ini sangat berdampak positif bagi metode pembelajaran mereka sendiri maupun cara mereka mendidik murid-murid mereka.

Tapi tetap saja ya! Sering banget! Orang-orang yang bisa menggunakan sihir itu! Menyebalkan! Bikin iri tahu! Mereka selalu mengecapku sebagai pembuat onar! Meremehkanku! Baru teringat saja sudah membuatku darah tinggi.

Waktu awal-awal dulu, mereka benar-benar meremehkan alat sihirku sampai rasanya aku mau meledak saking marahnya! Makanya sampai sekarang dendam itu masih melekat di hatiku! Tak akan pernah kumaafkan, awas kalian orang-orang Kementerian Sihir! Meskipun aku sadar tidak semuanya bersifat seperti itu, tapi sejujurnya aku benci sekali pada orang-orang elit di Kementerian Sihir itu. Bahkan mendekat pun aku tak sudi.

"...Putri Anis?"

Sedang asyik bernostalgia di dalam pusaran aura gelap dendam masa laluku, Euphie menatapku dengan sorot mata khawatir. Wah, gawat, gawat. Aku harus mempertahankan ketenanganku.

Kementerian Sihir adalah salah satu faksi politik raksasa di negara ini, suara mereka sangat berpengaruh. Tapi aku benci orang-orang itu. Karena mereka mensakralkan sihir yang notabene adalah hak istimewa kaum bangsawan, dan selalu bersikap arogan serta merendahkan rakyat biasa atau mereka yang tidak memiliki bakat sihir.

Sungguh, aku sangat membenci paham rasis elitisme semacam itu. Aku paham betul kalau kemampuan sihir adalah tolak ukur status sosial di sini. Tapi, kuharap itu bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Yah, mungkin aneh juga sih mendengarnya dari mulut orang sepertiku, yang sedemikian terobsesi pada sihir sampai-sampai menciptakan berbagai alat sihir. Lagian, ini kan setengahnya murni demi menyalurkan hobiku.

"Umm, apa kita melantur terlalu jauh? Tadi kita bahas apa, ya."

"Kita sedang membahas tentang penyamaan pemahaman mengenai Ilmu Sihir. Memang, semua penjelasan tadi adalah topik yang sangat berpotensi memicu kerancuan jika tidak disamakan sejak awal."

"Ah, iya, benar. Entah sejak kapan pembahasannya malah lebih dominan ke roh dan energi sihir alih-alih Ilmu Sihir. Ya wajar sih, karena dua hal itu memang tidak bisa dipisahkan."

"Bahkan bila Anda menyebutnya Ilmu Sihir, esensinya masih belum bisa dipahami sepenuhnya oleh orang awam. Hanya saja, sering terdengar selentingan kalau Anda kerap mengunjungi lokasi pembangunan. Seperti di proyek saluran pembuangan kotoran, atau lokasi perbaikan jalan raya."

"Ah, kalau soal itu... ya. Intinya sih, Ayahanda yang salah..."

Mengenai proyek saluran air kotor, semuanya bermula dari isengku menceritakan pengetahuan samar-samar yang kumiliki pada Ayahanda, yang rupanya ditanggapi dengan sangat serius olehnya. Dan tahu-tahu saja, aku sudah didapuk sebagai asisten pengawas lapangan yang merangkap sebagai konsultan. Ide itu berawal dari obrolan santai dengan Ayahanda tentang bagaimana memiliki sistem saluran air bawah tanah bakal sangat membantu menata estetika kota serta menangani limbah sanitasi, atau semacamnya.

Selain itu, aku juga bilang padanya kalau limbah kotoran mungkin bisa menjadi sumber penyakit. Mengingat kembali cerita yang dulu kusampaikan dengan terbata-bata, Ayahanda benar-benar mendengarkannya dan memerintahkan validasi yang serius.

Setelahnya, aku benar-benar lupa soal percakapan dengan Ayahanda tersebut, sampai suatu hari, setelah melalui evaluasi bertahun-tahun lamanya, aku ditunjuk menjadi salah satu penanggung jawab proyek baru tersebut. Waktu itu aku sampai ngamuk-ngamuk bilang, "Aku belum dikasih tahu! Aku tidak punya waktu untuk meneliti kalau begini!" Tapi ya, berkat kejadian itu, aku jadi mencurahkan segenap tenagaku merancang alat sihir khusus proyek konstruksi. Aku sama sekali tidak menyesal, sih.

"Proyek gorong-gorong sanitasi air itu memang sangat mendadak sampai aku sendiri kaget, tapi soal jalan raya itu karena banyak monster yang muncul di sekitarnya. Sebenarnya sih niat utamaku untuk memburu material dari monster-monster itu. Jadi, dengan dalih melakukan sidak lapangan, aku pergi berburu monster..."

"Apa sih yang sebenarnya sedang dilakukan oleh seorang putri negara ini...?"

Euphie menatapku lekat-lekat dengan tatapan setengah tidak percaya. Ugh, mata tajammu itu sungguh mengintimidasi, Euphie! Tak sanggup menerima tekanannya, aku mulai bertingkah gelisah dan membuang muka.

"B-Bukan begitu, lho. Maksudnya... itu kan pencitraan yang bagus, seolah-olah sang putri kerajaan rela terjun langsung melakukan inspeksi lapangan, kan...?"

"Topiknya bukan itu, Putri! Apalagi niat tersembunyi Anda benar-benar berbeda dari kedok awalnya!"

"Saya juga kalau boleh ikut menyela, saya pernah ditinggal kabur berulang kali dengan hanya ditinggali secarik surat pesan. Singkat cerita, saya lalu bilang padanya, 'Kalau Anda memang sebegitu ngototnya ingin pergi ke luar, setidaknya lakukan pekerjaan yang berguna,' lalu saya melemparnya ke lokasi perbaikan jalan raya."

Tambahan dari Ilia membangkitkan gelombang nostalgia di hatiku. Dulu aku benar-benar... hidup dengan sangat bebas. Sekarang sih aku sudah jauh lebih kalem. Eh, sejujurnya itu karena penelitianku sekarang sudah sampai di tahap penyelesaian dan aku lebih fokus melakukan uji coba serta perbaikan, sih!

Sungguh banyak drama pelarian epik di mana aku mencari seribu satu cara kabur dari istana, lalu dikejar-kejar oleh Pasukan Ksatria Pengawal Kerajaan dan Pasukan Pengawal Pelayan Wanita yang entah sejak kapan dibentuk itu. Kalau dipikir-pikir, kurasa aku dijadikan sasaran latihan tempur berjalan oleh Pasukan Ksatria Pengawal Kerajaan.

"Yah, ternyata kita sudah mengobrol panjang lebar. Kuliah hari ini kita cukupkan sampai di sini dulu. Pastikan kau mempelajari materi ini kembali nanti, ya!"

"Fufu, baiklah. Saya mengerti."

Euphie tertawa kecil. Saat aku menatapnya dengan terheran-heran, Euphie mungkin menyadari bahwa ia baru saja tertawa, lalu dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan dan kembali ke ekspresi wajah datarnya yang biasa.

Melihat reaksinya itu, aku tertawa geli sampai bahuku terguncang. Kemudian Euphie memelototiku dengan tatapan kesal, yang malah membuatku semakin tertawa kegirangan karena merasa lucu.

Meskipun perlahan, jika Euphie mulai terbiasa dengan kehidupan di sini, tidak ada hal lain yang lebih menggembirakan dari itu. Itulah yang kurasakan di penghujung hari ini.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar