Kunjungan Rumah Sang Putri Reinkarnasi
Setelah diskusi yang melibatkan Ayahanda dan Duke Grantz selesai, aku berjalan menyusuri lorong kastel kerajaan bersama Euphie. Keputusan dari diskusi tadi adalah menitipkan Euphie untuk sementara waktu di paviliun tempat tinggalku.
Lagipula, ada banyak kamar kosong di paviliun, jadi kami hanya perlu menyiapkan satu kamar untuk Euphie.
Meski disebut paviliun, tempat itu pada awalnya dibangun oleh Ayahanda untuk mengisolasiku. Karena secara teknis bangunannya adalah paviliun istana, tentu saja ada banyak kamar yang memang dirancang untuk ditinggali. Mungkin rencananya, setelah aku pergi nanti, tempat itu akan digunakan sebagai paviliun biasa.
Oleh karena itu, menyiapkan satu kamar tidaklah merepotkan. Barang-barang yang dibutuhkan Euphie untuk tinggal di paviliun akan dibawa menyusul saat kami pergi berkunjung ke kediaman Adipati Magenta nanti.
Jadi, di sinilah kami, berjalan berdampingan di lorong. Namun sepanjang jalan, Euphie tidak memulai percakapan apa pun. Ia hanya berjalan satu langkah di belakangku, membuatku merasa canggung.
"Hei, Euphie. Mulai hari ini kau akan menginap di paviliunku, apa ada sesuatu yang kaukhawatirkan?"
"Tidak, tidak ada yang khusus. Jika ada peraturan yang harus diikuti, saya akan mematuhinya..."
"Tidak ada peraturan yang rumit kok. Lagipula isinya cuma aku dan pelayan pribadiku, jadi kau bisa lebih santai, tahu?"
"Haa..."
Hmm, responsnya benar-benar tidak bersemangat. Apa dia sedang gugup, atau memang tipe anak yang pendiam, ya?
Karena dia tunangan Al-kun, aku pernah melihat wajahnya dari kejauhan atau menyapanya sekilas. Tapi kalau mengobrol langsung begini, dia tidak terlalu antusias menanggapi, jadi aku bingung mau bahas apa.
Aku paham sih, tidak mungkin dia bisa bersikap ceria setelah baru saja mengalami pembatalan pertunangan. Tapi sungguh, aku tidak bisa membiarkan Euphie begitu saja. Kalau sudah begini, haruskah aku pakai cara paksa!?
"Yosh! Euphie, ayo kita cepat pergi ke paviliun! Di saat seperti ini kau butuh penyegaran!"
"Eh?"
Aku dengan cepat mengangkat tubuh Euphie yang masih kebingungan dan menggendongnya ala tuan putri. Apakah aku yang jadi tuan putrinya? Ah, lupakan hal-hal sepele seperti itu! Aku langsung berlari dengan kencang.
"E-Eh!? Putri Anisphia! Kenapa Anda menggendongku!? T-Tolong turunkan saya!!"
"Sudah, sudah, tidak apa-apa! Ayo, lebih cepat lebih baik!"
"S-Saya bisa berjalan sendiri! L-Lagi pula, dilihat orang...!"
Aku tidak peduli, tidak peduli! Mengabaikan protes Euphie, aku terus berlari kencang menyusuri lorong kastel kerajaan.
Euphie awalnya mencoba melawan, tapi begitu aku mulai berlari, dia langsung memeluk bajuku dengan erat.
"B-Berlari di lorong sambil menggendong orang...! Anda benar-benar tidak tahu aturan!"
"Ahahaha! Baru sadar, ya!?"
Lihat tuh, meskipun kami berpapasan dengan para ksatria dan pelayan yang bekerja di istana, mereka hanya tersenyum kecut dan pura-pura tidak melihat kami! Ini sudah jadi pemandangan biasa, biasa kok!
Wajah Euphie sedikit memerah, mungkin karena tidak ingin wajahnya dilihat orang, ia meringkuk di dalam gendonganku. Karena itu membuatnya lebih mudah dibawa, aku tidak berkomentar apa-apa.
Aku terus berlari untuk menghindari tatapan orang-orang di sepanjang jalan. Dan akhirnya kami tiba di paviliunku yang terletak di sudut kawasan kastel kerajaan. Saat aku menurunkan Euphie di depan pintu masuk, dia langsung mengambil jarak dariku.
"Ini paviliunku, Euphie."
"...Saya sudah tahu."
Euphie mengangguk sambil menghela napas panjang. Sambil mengamati reaksinya, aku bersiap membuka pintu. Namun belum sempat aku membukanya, pintu paviliun itu sudah terbuka dari dalam. Yang membukanya adalah seorang wanita berseragam pelayan. Rambut cokelat kemerahannya diikat rapi ke belakang, dan mata birunya menatapku datar tanpa emosi.
"Aku pulang! Ilia!"
"Selamat datang kembali, Putri."
Menyambutku dengan suara yang datar setelah membungkuk hormat, dia adalah Ilia, pelayan pribadiku yang sudah menemaniku selama bertahun-tahun. Sikapnya yang tak ramah itu sudah jadi setelan pabriknya.
"Putri. Bolehkah saya bertanya?"
"Ada apa? Ilia."
"Mengapa Putri Adipati Euphyllia, tunangan Pangeran Algard, bersama Anda?"
"Dia akan menginap di sini mulai hari ini!"
"Begitu. Walau saya tidak mengerti apa-apa, apakah saya harus menyiapkan kamar untuknya?"
Ilia menggumam sambil mengangkat bahunya. Euphie menatap Ilia dengan pandangan aneh seolah melihat makhluk ganjil. Jangan salah sangka, Ilia memang aslinya begini.
"Hmm, hari ini sudah larut, pakai kamarku saja ya? Euphie."
"...Eh? P-Putri Anis!?"
"Tenang saja, aku tidak bermaksud aneh-aneh kok!"
"Bukan berarti saya memperbolehkannya...!"
"Ilia, siapkan teh dulu, ya!"
"Baik, dimengerti."
Karena Ilia mempersilakan kami masuk, aku melangkah masuk ke dalam paviliun.
Euphie sepertinya masih ingin protes, tapi dia menurut dan masuk. Kami langsung menuju ke salon paviliun. Ruangan ini biasanya digunakan saat ada tamu, dan di sini sudah tersedia peralatan minum teh.
"Nona Euphyllia, silakan duduk."
"...Terima kasih."
Dipersilakan duduk di sofa mewah khas paviliun kastel kerajaan, Euphie pun duduk. Saat aku duduk di sofa yang berhadapan dengannya, Ilia mulai menyiapkan teh.
Melihat Ilia menyiapkan teh, Euphie menatap dengan penuh minat. Mungkin ini terlihat asing baginya, tapi benda ini adalah "Teko Pemanas" yang sudah biasa digunakan di paviliun ini.
Benda ini adalah alat sihir yang digunakan dengan cara meletakkannya di atas dudukan khusus, fungsinya untuk menjaga air tetap panas. Karena airnya dijaga pada suhu yang pas untuk menyeduh teh, kami bisa langsung menyajikan teh kapan saja.
"...Apakah ini air panas? Sepertinya Anda tidak menyalakan api, apakah ada mekanisme tertentu di dudukannya?"
"Itu adalah alat sihir pemanas yang menggunakan Batu Roh Api. Karena sudah diatur untuk menjaga suhunya tetap konstan, kelebihannya kita bisa langsung menyiapkan air panas untuk menyeduh teh seperti ini."
Soalnya repot kalau harus merebus air setiap saat. Dengan memanfaatkan mekanisme ini, di paviliun ini aku bisa mengeluarkan air panas layaknya dari keran air di kehidupan masa laluku.
"Mengatur suhunya memang butuh usaha sih. Tapi sekali dibuat, benda ini sangat praktis karena bisa dipakai berulang kali asalkan ada Batu Roh Api. Selain untuk teh, ini juga bisa digunakan untuk air mandi."
"Berkat benda ini, saya tidak perlu lagi memasukkan tangan ke air dingin saat mencuci piring."
"Begitu rupanya..."
Melihat Euphie yang mengangguk kagum, aku membusungkan dadaku dengan bangga. Berdasarkan ingatan dari masa laluku, aku melakukan penelitian Ilmu Sihir karena aku ingin mewujudkan kemudahan dari masa laluku ke dunia ini. Teko pemanas adalah salah satu hasilnya.
Alat sihir ini adalah hasil temuanku selama proses penelitian Ilmu Sihir. Ayahanda juga menyukai beberapa di antaranya dan menggunakannya secara pribadi. Teko pemanas ini salah satu favoritnya; katanya ia sering merebus air dan menyeduh teh sendiri saat harus lembur mengurus pemerintahan, karena merasa memanggil pelayan itu terlalu merepotkan.
"Silakan, Nona Euphyllia."
"Terima kasih."
Euphie menghela napas lega setelah meminum teh yang disiapkan dengan cepat oleh Ilia. Karena bagianku juga sudah disajikan, aku meminumnya seteguk untuk membasahi tenggorokanku. Hmm, enak.
"Teko pemanas ini praktis dan bagus, ya. Sepertinya masih banyak cara lain untuk memanfaatkannya."
"Iya, kan? Di paviliun ini sih barang ini sudah jadi barang wajib."
"Benar. Meskipun praktis, tapi karena 'terlalu praktis', itu jadi masalah tersendiri."
"Begitu... kah?"
Mendengar kata-kata Ilia tentang 'terlalu praktis', Euphie memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Tentu saja, karena alat sihir seperti yang ada di paviliun ini tidak tersedia di luar sana. Kalau sudah terbiasa hidup di sini, Anda akan kesulitan saat harus pergi ke luar."
"Kan ada Ilia sebagai pelayan pribadiku, jadi tidak masalah."
"Berkat Anda, saya tidak punya harapan untuk dipindahkan ke tempat kerja lain, jadi saya benar-benar terkurung di sini."
Ilia pura-pura menangis tersedu-sedu. Tapi wajahnya tetap datar, jadi malah kelihatan menyeramkan. Kalau mau akting, tolong lebih niat sedikit dong.
"Aku senang lho, karena Ilia selalu merawatku dari dulu."
"Orang yang mengubur semua jalan keluarku agar tidak bisa kabur ini bicaranya lain, ya."
"Hahaha, ada ya orang jahat yang melakukan hal seperti itu!"
"Ya, begitulah. Saya hanya bisa takjub ternyata ada manusia yang sifatnya mirip iblis."
"Aku manusia lho, Ilia. Apa matamu baik-baik saja?"
Ya ampun, Ilia ini selalu saja begini. Padahal dia yang paling banyak menikmati manfaat dari alat-alat sihirku.
Tapi, kami bisa saling berbalas komentar seperti ini karena kami sudah kenal lama. Aku sudah menyukai Ilia sejak dulu, dan aku sering menyapanya sejak dia masih bekerja di istana utama. Mungkin karena itu, Ayahanda tiba-tiba menugaskannya untuk menjadi pengawalku.
Sejak saat itu, banyak hal terjadi pada kami, dan sekarang kami punya hubungan di mana kami bisa bertukar obrolan ringan bercampur nada tidak sopan seperti ini. Sikap Ilia ini juga memang kuinginkan. Aku benci hal-hal yang terlalu kaku, jadi aku menganggapnya sebagai sosok yang sangat berharga. Namun, tentu saja orang lain akan menganggap hubungan kami ini aneh.
Kenyataannya, Euphie sampai membelalakkan matanya melihat obrolan kami. Meskipun dia pelayan pribadiku, wajar saja kalau Euphie kaget melihatku berbicara seakrab ini dengan orang yang berbeda status.
"Lalu, Putri. Mengapa Anda membawa Nona Euphyllia, tunangan Pangeran Algard, kemari?"
"Ah. Tadi Al-kun mengumumkan pembatalan pertunangannya dengan Euphie di depan umum, jadi aku menculiknya kemari untuk melindunginya."
"...Anda benar-benar tidak masuk akal seperti biasa, ya. Kenapa Anda bisa ada di sana juga tidak jelas, ditambah lagi pembatalan pertunangan di depan umum. Oleh Pangeran Algard? Kalau ini lelucon, ini lelucon yang sangat buruk."
Ilia mengutarakan pendapatnya dengan wajah penuh keraguan. Reaksi orang normal pasti begitu, kan. Euphie dikenal sebagai putri dari Adipati Magenta yang telah diakui sebagai calon Ratu berikutnya, dan harapan orang-orang terhadapnya pasti sangat besar, tetapi Al-kun malah membatalkan pertunangannya. Ayahanda pasti sangat pusing sekarang.
"Sayangnya ini kenyataan. Kau tahu kan, kenyataan itu selalu lebih gila dari imajinasi manusia?"
"Begitu ya, kalau yang bicara orang sinting nomor satu, kedengarannya jadi lebih meyakinkan."
"Tidak sopan! Tidak sopan!"
Meski kubilang tidak sopan, tapi obrolanku dengan Ilia selalu seperti ini. Ini sudah seperti candaan bagi kami. Tapi kalau kami terlalu asyik mengobrol sendiri, Euphie terlihat semakin canggung. Menyadari reaksi Euphie, Ilia berdeham untuk menetralkan suasana.
"Lalu? Untuk apa Anda membawa Nona Euphyllia kemari?"
"Aku berencana menjadikannya asistenku dan membiarkannya meraih pencapaian untuk menutupi rumor buruk akibat pembatalan pertunangannya!"
"...Anda waras?"
Aku mengangguk pada Ilia yang menatapku dengan mata ikan mati. Tiba-tiba ekspresi Ilia berubah menjadi suram dan dia menatap Euphie. Tatapannya itu... persis seperti orang yang melihat sapi yang akan disembelih.
Ditatap seperti itu, Euphie memasang wajah sangat kebingungan. Ilia menghela napas dan kembali menatapku. Matanya memancarkan campuran antara rasa kasihan dan jijik.
"...Anda akhirnya benar-benar gila, ya. Sungguh sangat disayangkan, Putri. Saya tahu Anda sering membuat orang menderita tanpa sadar, tapi saya tidak menyangka Anda akhirnya dengan sadar menjebak orang lain."
"Hah...? Ini malah kebalikannya, tahu!?"
"Uwaah, ternyata ini murni niat baik, ya. Iblis ini mengatakannya dengan niat baik murni. Nona Euphyllia, saya turut berduka cita dari lubuk hati yang paling dalam..."
Ilia membungkuk dengan ekspresi yang sangat tulus. Euphie yang menerima perlakuan itu menjadi panik dan menatapku serta Ilia secara bergantian dengan kebingungan. Ujung bibirku sedikit berkedut.
"Ilia. Bukankah itu sedikit keterlaluan?"
"Huft... Dengar, Putri. Saya sadar betul bahwa sayalah yang paling mengerti apa konsekuensi dari semua ini, karena saya sudah terjebak dan tak bisa lari lagi. Oleh karena itu, izinkan saya bicara."
Ilia berdeham pelan lalu kembali berbicara padaku. Entah kenapa, sikap Ilia sekarang ini persis seperti sedang menasihati anak kecil yang nakal, dan ia bahkan melebih-lebihkan gerakannya dengan menghela napas berat.
"Putri, apa Anda akhirnya benar-benar kehilangan akal sehat? Oh, tidak, Anda memang sudah gila dari dulu, ya. Ilia merasa sangat sedih."
"Perkataanmu itulah yang menyedihkan, Ilia!? Penilaianmu padaku jahat sekali!"
Meskipun aku protes, Ilia memalingkan wajahnya seolah tidak peduli. Benar-benar urat malunya sudah putus. Tapi justru karena itulah aku menyukainya.
Kemudian, kali ini Ilia menatap Euphie dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.
"Nona Euphyllia, tolong jangan bertindak gegabah."
"Y-Ya?"
"Jangan dengarkan rayuan manis dari iblis ini. Mengerti? Sekali Anda menggenggam tangannya, itu adalah akhir dari segalanya. Jiwa Anda akan terseret dan Anda tak akan bisa kembali lagi."
"E-Eh...?"
"Ilia, maukah kau membahas soal penilaianmu yang terlalu kejam ini?"
Aku menatapnya tajam sebagai bentuk protes, tapi Ilia membalas tatapanku dengan pandangan iba. Sungguh tidak bisa dipahami.
"...Apakah ini sesuatu yang perlu Anda peringatkan sekeras itu?"
Euphie melirikku dengan tatapan penuh kecurigaan. Ah, kepercayaanku padanya merosot tajam! Mendengar pertanyaan Euphie, Ilia menghela napas panjang dan memijat pelipisnya.
"Meskipun itu 'hanya soal hasil akhir'. Masalahnya, ada banyak persoalan rumit di baliknya."
"Jadi karena itu Anda tidak menyarankannya?"
"Benar. Tapi jika Nona Euphyllia memang menginginkannya dari lubuk hati terdalam dan datang ke pihak kami dengan pemahaman penuh, maka saya tidak berhak mengatakan apa-apa. Namun, apakah Anda sudah mendapat penjelasan lengkapnya?"
Ditegur oleh Ilia, aku tanpa sadar memalingkan wajah. B-Bukan begitu, lho?
"...Bukan begitu, tahu. Aku baru berniat menjelaskannya nanti. Toh di paviliun ada barang aslinya, kan? Bakal lebih gampang ngejelasinnya kalau sambil lihat langsung, kan?"
"Saya selalu pusing melihat Anda selalu bertindak impulsif tanpa perencanaan yang matang."
"Aku bukannya tidak memikirkannya sama sekali, lho!"
"Iya, iya. Bagaimanapun, Nona Euphyllia. Apakah Anda menyadari bahwa Putri ini ibarat obat keras?"
"...Ya, saya rasa saya tidak bisa menyangkalnya."
Aku disebut obat keras. Yah, aku tidak berniat menyangkalnya sih. Terlebih lagi, aku sendiri menyadari hal itu. Itulah sebabnya aku juga memahami kekhawatiran Ilia.
"Nona Euphyllia. Satu hal yang bisa saya pastikan adalah, tawaran Putri ini murni niat baik. Meskipun mungkin ada sedikit kepentingan pribadi, tapi ini demi kebaikan Anda."
"Ya, saya agak mengerti tentang hal itu, tapi..."
"Namun, bukan itu masalah utamanya. Masalahnya adalah apakah Anda benar-benar memahami makna bahwa Putri adalah obat keras?"
"...Apa maksudnya?"
Euphie mengernyitkan alisnya dengan ragu. Sepertinya ia belum sepenuhnya paham apa yang dikhawatirkan Ilia. Dan reaksi itu justru menjadi bukti bahwa kekhawatiran Ilia beralasan.
"Penemuan Putri melalui Ilmu Sihir memang luar biasa. Teko pemanas ini saja bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan."
"Benar, saya rasa itu adalah penemuan yang sangat luar biasa."
"Iya. Jika alat ini tersebar luas, kehidupan rakyat pasti akan meningkat. Namun, di sanalah letak permasalahannya."
"...Eh?"
Euphie mengeluarkan suara lirih penuh kebingungan. Tentu saja, karena tadi kami sedang memuji betapa hebatnya penemuan alat sihir ini, namun tiba-tiba saja dibilang bahwa hal itu justru menjadi sumber masalahnya.
Melihat reaksi Euphie, Ilia menghela napas pelan lalu menutup matanya.
"Sekali seseorang mengetahuinya, dia tidak akan bisa melupakannya. Kemudahan ini, kenyamanan ini. Karena itulah, orang tak akan bisa kembali ke masa sebelum mereka mengenalnya. Singkatnya, ini adalah jalan searah."
"Sampai segitunyakah?"
"Ini sama seperti bertanya apakah Anda bisa merampas kembali api dari orang-orang yang sudah belajar cara menggunakannya."
Ilia mengabaikan protesku dengan sangat mulus. Euphie menyentuh dagunya dengan alis berkerut, tampak sedang berpikir keras. Kemudian, ia mengangkat wajahnya seolah memahami sesuatu.
"...Ah, begitu rupanya. Itulah mengapa ini disebut jalan searah, jalan yang tak bisa kembali. Begitu seseorang merasakan kehidupan dengan alat sihir, mereka tidak akan mau kembali ke kehidupan yang tidak praktis."
"Benar. Itulah alasannya. Alat sihir itu 'terlalu praktis'. Dunia yang dilihat oleh Putri sangat sulit bagi kita untuk dipahami. Oleh karena itu, sekali Anda mengetahuinya, Anda tak akan bisa kembali. Karena Anda sudah tahu nilai dari alat-alat tersebut."
Aku mengerti apa yang ingin dikatakan Ilia. Penemuan-penemuan Ilmu Sihirku didasarkan pada konsep dan ide-ide yang belum ada di dunia ini. Dunia yang memiliki sihir ini memiliki alur perkembangan peradaban yang berbeda dengan masa laluku. Karena ada sihir, otoritas bangsawan dan keluarga kerajaan tidak akan pernah pudar.
Tetapi justru karena adanya sihir, ada teknologi yang tidak berkembang jika dibandingkan dengan masa laluku. Karena itulah, alat sihirku selalu menjadi pusat perhatian, sekaligus dianggap sebagai aliran sesat. Sama halnya seperti tidak ada seorang pun di dunia ini yang terpikir untuk terbang menggunakan sihir.
Dunia ini memiliki akal sehat dan peradabannya sendiri. Di dunia ini, pengetahuan yang kumiliki adalah sesuatu yang asing. Justru karena aku bisa membawa konsep dan ide-ide yang belum lahir di dunia inilah... Itulah mengapa Ilmu Sihir memiliki potensi untuk membalikkan rumor buruk tentang pembatalan pertunangannya.
"Oleh karena itu, saya tidak menyarankan Anda melangkah di jalan ini jika hanya dengan niat setengah hati."
Ilia menegaskan kata-katanya seolah merangkum penjelasannya. Ekspresi wajah Euphie masih diselimuti kebimbangan. Untuk mencairkan suasana yang mulai terasa berat, aku pun bertepuk tangan.
"Nah, nah, mari kita pikirkan itu nanti saja. Kau pasti sudah sangat lelah hari ini, kan? Ayo istirahat!"
Aku langsung berdiri dan menggendong Euphie ala tuan putri.
Euphie yang sedang melamun terlambat bereaksi, sehingga ia sudah berada di dalam pelukanku sebelum sempat melawan.
"Tunggu, Putri Anis, lagi-lagi...!"
"Kalau begitu, selamat malam, Ilia! Sampai jumpa besok!"
"Baik, selamat beristirahat. Putri, Nona Euphyllia."
Sambil terus menggendong Euphie yang meronta-ronta protes, aku berlari menyusuri lorong paviliun menuju kamarku.
Awalnya Euphie mencoba melawan, tapi mungkin karena sadar itu sia-sia, ia akhirnya menyerah dan terdiam. Aku membenarkan posisinya di gendonganku, lalu tersenyum padanya.
"Tenang saja, aku benar-benar tidak akan macam-macam, kok."
"............"
"Jangan menatapku dengan tatapan curiga begitu dong..."
Sebenarnya, kalau aku minta pada Ilia, dia pasti bisa langsung menyiapkan kamar untuk Euphie. Kemampuannya yang berlebihan itu sungguh sangat berguna. Tapi, aku tidak ingin membiarkan Euphie sendirian untuk saat ini. Aku tak bisa berhenti mengkhawatirkannya.
Sambil memikirkan hal itu, aku akhirnya tiba di kamarku. Aku menurunkan Euphie, membuka pintu, lalu mempersilakannya masuk. Kamarku sangat mewah, sesuai dengan statusku sebagai anggota keluarga kerajaan. Kasurnya pun sangat luas, lebih dari cukup untuk kami berdua.
Di atas meja, berserakan tumpukan buku dan kertas dokumen. Selain itu, ada lemari pakaian besar yang sepertinya berlebihan, serta berbagai macam alat sihir, seperti teko pemanas, yang menyesaki ruangan.
Alat-alat sihir yang kugunakan di kamar ini adalah reka ulang dari barang-barang sehari-hari yang kuingat dari masa laluku. Misalnya, "pengering rambut". Biasanya Ilia yang mengurus penampilanku, tapi kalau dia sedang sibuk, aku harus bisa mengurusnya sendiri.
Euphie menatap alat-alat sihir di kamarku dengan penuh minat, mungkin karena benda-benda itu terlihat sangat asing baginya.
"Nah, Euphie. Ayo ganti baju! Biar aku yang melepaskan bajumu!"
"Eh, t-tidak perlu, saya tidak bisa membiarkan Putri Anis melakukan hal seperti itu...!"
"Sudah, sudah, tidak apa-apa."
Melepaskan gaun sendirian itu sangat merepotkan, tahu. Makanya aku tidak terlalu suka memakai gaun. Walaupun begitu, sebagai keluarga kerajaan, aku tetap dituntut untuk memakainya.
Oleh karena itu, aku biasanya memakai pakaian pesanan khusus yang merupakan perpaduan antara gaun berdesain seragam ksatria dan pakaian ksatria sungguhan. Modelnya mirip seperti gaun militer dari masa laluku.
Tapi sudahlah, aku mulai melepaskan gaun Euphie agar ia bisa mengganti bajunya. Pada awalnya Euphie memang menolak, tapi akhirnya ia menyerah dengan terpaksa.
Aku harus berhati-hati agar gaunnya tidak kusut. Sesuai dugaan dari keluarga Adipati Magenta, kain dan teksturnya sangat bagus dan terlihat mahal.
"Ah, ini dia. Ini baju tidurku, silakan dipakai. Mungkin agak sedikit kekecilan, sih."
Tinggi badan Euphie lebih tinggi dariku. Memang benar tubuhku agak mungil, tapi postur tubuh Euphie yang langsing ini benar-benar luar biasa. Meski ukuran dadanya tidak terlalu menonjol, namun lekuk tubuhnya yang sangat proporsional itu sampai membuatku menghela napas kagum. Sama sekali tidak ada bagian yang berlebihan, inikah yang namanya proporsi emas?
Aku? Aku pernah ditertawakan oleh Ilia karena tubuhku yang mungil ini. ...Tapi aku tidak peduli, kok.
"Ugh, baiklah, aku juga akan ganti baju, jadi kamu boleh ke kasur duluan."
"...Kalau begitu, saya permisi."
Mungkin karena sudah tak punya tenaga untuk membantah, Euphie yang sudah selesai berganti baju berjalan menuju kasur.
Setelah memastikan Euphie sudah di kasur, aku juga segera berganti baju. Aku memakai baju tidur yang warnanya berbeda dengan yang kupinjamkan pada Euphie, lalu aku mematikan lampu kamar.
Ruangan itu seketika menjadi gelap gulita. Aku mengalirkan energi sihir ke lampu alat sihir yang terpasang di samping kasur. Cahaya remang-remang yang lembut perlahan menerangi seisi ruangan.
Setelah memastikan lampunya menyala, aku naik ke atas kasur dan menghadap Euphie. Euphie yang sudah berada di kasur menyipitkan matanya dan menatapku dengan penuh kewaspadaan.
Sambil tersenyum canggung melihat reaksi Euphie, aku masuk ke dalam selimut dan memanggilnya dengan lambaian tangan.
"Ayo, Euphie, silakan."
"...Permisi."
Tetap menjaga jarak, Euphie masuk ke dalam selimut dan berbaring. Wajah kami diterangi oleh cahaya remang-remang.
Aku kembali menatap wajah Euphie dengan saksama. Wajahnya benar-benar cantik, tipe kecantikan yang tak akan pernah membuat bosan seberapa lama pun dipandang. Tiba-tiba, aku menyadari bahwa Euphie terlihat tidak nyaman dengan tatapanku.
"Maaf, maaf. Pasti susah tidur kalau terus ditatap begini, ya."
"...Anda itu."
"Hm?"
"...Anda ini, sebenarnya orang yang seperti apa?"
Sebuah pertanyaan pelan meluncur dari mulut Euphie. Pertanyaan abstrak yang tidak jelas apa yang sebenarnya ingin ia tanyakan. Wajah Euphie diwarnai oleh kecemasan dan kebingungan. Melihat keadaan Euphie, bibirku perlahan menyunggingkan senyuman.
"Aku adalah aku. Putri bermasalah yang sinting dari negara ini. Orang aneh dan tak terduga yang rumornya mengatakan bahwa tak ada seorang pun yang tahu apa isi kepalanya."
"...Banyak yang ingin saya tanyakan, tapi bukan itu maksud saya."
"Apakah itu sebegitu anehnya? Misalnya, soal aku yang tanpa sungkan selalu ingin mengurusmu begini?"
Mungkin karena tebakanku tepat sasaran, Euphie langsung terdiam. Meskipun begitu, ia tak memalingkan pandangannya dariku. Ditatap dengan pandangan seolah ingin menembus isi kepalaku itu, aku tanpa sadar tertawa pelan.
"Alasannya ada banyak, kok. Ada karena rasa suka secara pribadi, ada juga karena ada maunya. Kalau harus diungkapkan dengan kata-kata, aku bisa menyebutkan banyak alasan, tapi untuk saat ini, semua itu tidak terlalu penting bagiku."
"...Tidak penting?"
Euphie balik bergumam dengan nada kebingungan. Setelah mengangguk, aku melepaskan pandanganku dari Euphie dan menatap langit-langit kamar.
"Menurutku, manusia itu adalah makhluk yang digerakkan oleh perasaannya; entah itu tertawa, bersedih, ataupun marah. Karena itulah, aku tidak bisa membiarkanmu sendirian begitu saja, Euphie."
"...Kenapa begitu?"
"Karena kau terlihat sangat payah dalam hal menangis, marah, maupun tertawa!"
Saat aku menyatakannya dengan tegas dan kembali menatap Euphie, ia melebarkan matanya karena terkejut dan menatapku dengan mulut yang sedikit terbuka. Melihat ekspresinya itu, aku sendiri sadar bahwa tatapanku melembut.
"Dari kejauhan, aku sudah sering melihatmu berkali-kali, tahu."
"...Benarkah?"
"Iya. Kau selalu terlihat sempurna, kan? Kau selalu tersenyum agar bisa menjadi teladan bagi semua orang, dan saat tidak diperlukan, wajahmu akan kembali sepenuhnya datar tanpa ekspresi. Benar-benar sosok putri adipati yang sempurna! ...Mungkin karena itulah, saat aku melihatmu di sana tadi, aku tak bisa membiarkanmu begitu saja."
"...Saya tidak mengerti maksud Anda. Apakah hanya karena Anda melihat saya di tempat pesta itu?"
"Soalnya, baik kau yang saat itu, maupun kau yang sekarang, sama sekali tidak terlihat sempurna. Baik cara menangismu, maupun cara marahmu. Karena itulah, aku berpikir mungkin kau hanya bisa menekan dan menyembunyikan emosimu, tapi sangat kesulitan untuk melakukan hal sebaliknya."
Euphie memang sempurna. Baik sebagai calon Ratu maupun sebagai putri adipati. Gerak-geriknya yang elegan, pengetahuannya yang luas, serta bakatnya yang melimpah ruah. Dilihat dari sudut pandang mana pun, menurutku Euphie adalah sosok nona muda yang sempurna.
Akan tetapi, bagaimana jika kesempurnaannya itu dilukai dan kehilangan maknanya? Bagaimana jika ia sendiri yang berpikir seperti itu? Apa yang akan tersisa dari anak ini? Bakatnya memang tidak akan hilang. Usahanya juga tidak akan lenyap begitu saja. Namun, seandainya ia kehilangan makna dari semua waktu yang telah ia korbankan selama ini, lalu apa yang tersisa darinya?
"Kalau dia adalah anak yang bisa menangis sendiri, atau marah sendiri, aku pasti akan menyuruhnya berjuang. Aku akan bilang padanya untuk melakukan apa pun yang dia mau. Tapi di mataku, kau terlihat tidak bisa melakukan hal-hal itu, Euphie. Mana mungkin aku bisa mengabaikanmu kalau begitu."
"...Hanya karena alasan itu?"
"Tentu saja bukan cuma itu. Sudah kubilang berkali-kali, aku juga punya rasa suka dan ada maunya. Tapi, aku benar-benar ingin membuatmu bisa menyuarakan keinginanmu dari lubuk hatimu yang paling dalam. Jadi, itulah alasanku yang paling penting."
Dari balik selimut, aku menjulurkan tanganku dan menyentuh tangan Euphie. Sesaat, tangannya tersentak kaget, tetapi ia tak menepis sentuhanku.
Aku pun menarik dan memeluknya erat. Memeluknya hingga wajahnya terbenam di dadaku, lalu menepuk-nepuk punggungnya dengan ritme teratur layaknya sedang menenangkan anak kecil.
"Kau sudah berjuang sangat keras. Kerja bagus, sekarang istirahatlah yang tenang."
"────"
Aku tak bisa melihat ekspresi seperti apa yang ditunjukkan Euphie saat wajahnya terbenam di dadaku. Namun, aku bisa merasakan tangannya mencengkeram bajuku dengan lemah.
Ia juga tak berusaha mendorongku menjauh. Menjadikan Euphie yang seperti itu sebagai guling pelukku, aku pun memejamkan mata.
Tubuh Euphie yang tadinya sedikit gemetar, entah sejak kapan mulai rileks seakan ia telah jatuh tertidur. Setelah memastikannya, aku yang juga menyerahkan kesadaranku pada rasa kantuk pun ikut terlelap bersamanya.
* * *
Keesokan harinya setelah menginapkan Euphie di paviliun, aku sedang bersiap-siap untuk pergi menuju kediaman Adipati Magenta.
Euphie yang menginap semalam sudah kembali lebih dulu ke kediamannya. Karena dia harus berganti pakaian dan bersiap untuk menyambutku. Itulah sebabnya, kereta penjemputnya datang pagi-pagi sekali saat jalanan masih sepi, dan dia berangkat lebih awal.
"Putri, silakan bersiap untuk berganti pakaian. Jangan sampai Anda tidak sopan saat berkunjung ke kediaman Adipati Magenta."
"Iya, iya, aku tahu kok."
Setelah membungkuk dalam-dalam, Ilia menunjuk ke arah lemariku. Melihat kode dari Ilia yang menyuruhku memakai gaun resmi hari ini, aku menghela napas sambil mengangkat bahuku dengan melebih-lebihkan.
"Kita akan menjemput putri kesayangan dari keluarga Adipati Magenta, lagipula ada masalah soal Al-kun juga, jadi kali ini aku akan menurutimu dengan ngoceh."
"Oh Tuhan...! Putri yang biasanya tak bisa diatur layaknya hewan buas atau monster kini bersedia untuk menurut... Jangan-jangan besok ajal saya akan tiba...!"
"Kau terlalu berlebihan, tahu."
"Terlepas dari hal itu, sebaiknya kita mulai dengan mandi dulu."
Baru saja ia meratap dengan akting berlebihan layaknya aktris teater, di detik berikutnya Ilia sudah kembali memasang wajah datar dan tenang seperti biasa. Aduh, pelayan ini benar-benar ada-ada saja...
"Setelah mandi, kita pilih gaunnya, lalu dandan. Ah, dan juga..."
"Ilia, saat kau mendandaniku, kenapa kau kelihatan sangat bersemangat begitu...?"
Jujur saja, aku sangat benci berdandan. Soalnya, biasanya aku memakai pakaian resmi hanya saat aku terpaksa harus menghadiri acara sosial yang sebenarnya tak ingin kudatangi. Entah karena kesan burukku terhadap acara sosial atau apa, pokoknya aku tak punya kesan baik soal kegiatan berdandan.
Melihatku yang jadi tak bersemangat karena memikirkan hal itu, Ilia hanya mengangguk dengan wajah datarnya seperti biasa.
"Bunga itu memang diciptakan untuk dikagumi. Sama seperti Putri yang mengagumi bunga, begitu pula dengan saya."
"...Iya, iya, aku mengerti. Aku akan diam saja, jadi cepat selesaikan ini."
Kehilangan tenaga untuk membalas kata-kata Ilia, aku hanya bisa tersenyum kecut sambil mengangguk. Tanpa terasa, diriku sudah dipoles habis-habisan olehnya.
Dulu aku sering melawannya, tapi setelah sekian lama bersamanya, aku sadar bahwa melawannya pun tak ada gunanya, jadi sekarang aku hanya pasrah menerima nasib.
Maka di sinilah aku, menatap bayangan diriku sendiri di cermin yang dihias dengan make-up sampai rasanya seperti bukan diriku sendiri. Gairah Ilia ini benar-benar luar biasa, sungguh. Mungkin ini mirip dengan gairahku terhadap sihir. Memikirkan hal itu, membuat penderitaanku saat didandani jadi sedikit lebih tertahankan.
Tiba-tiba, aku menatap bayangan Ilia dari cermin. Meski usianya sudah mendekati tiga puluhan, kulitnya masih terlihat sangat awet muda. Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda penuaan. Dia masih sama persis seperti hari pertama aku melihatnya dan menyukainya.
Malahan, kecantikannya yang semakin terpancar setiap harinya bisa dibilang sebagai cuci mata bagiku. Ilia benar-benar bekerja dengan sangat baik, dan dia adalah orang langka yang bisa kuajak bicara dengan santai. Aku benar-benar bersyukur Ilia yang menjadi pelayan pribadiku.
"Ilia itu cantik, ya."
"Anda bercanda. Ini juga berkat alat-alat penemuan untuk kecantikan yang Putri berikan pada saya."
"Aku serius, lho. Sejak kecil aku sudah berpikir begitu. Makanya aku semangat membuat penemuan itu."
"Sungguh membuat saya bernostalgia. Pada suatu hari tiba-tiba Anda mulai berlari-lari keliling kastel..."
"Ah, iya, itu... waktu itu aku ditangkap dari belakang, kan?"
"Benar. Dan sejak saat itulah. Semenjak Anda mulai mengembangkan alat-alat sihir, Anda jadi makin sering terluka dan melakukan hal-hal nekat. Kalau tidak luka gores, ya memar; luka Anda seakan tidak pernah ada habisnya."
Ilia berbicara sambil mengikat rambutku dengan tatapan menerawang penuh nostalgia. Apa yang Ilia ceritakan adalah kisah kegagalanku di masa lalu. Itu adalah serpihan kenangan yang aku dan Ilia bagi bersama.
Kenangan saat aku mengingat kehidupan masa laluku dan dadaku berdebar karena keberadaan sihir. Namun, kemudian aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku tidak bisa menggunakannya. Lalu, momen saat aku memutuskan untuk menciptakan alat-alat sihir. Di saat-saat itu, selalu ada Ilia di sampingku. Apa jadinya aku jika Ilia tidak ada? Terkadang aku memikirkan hal itu. Tapi karena aku benci jika Ilia sampai mengetahui isi pikiranku, aku memajukan bibirku dengan manja.
"Memang sih aku sering gagal, tapi tanpa kegagalan tidak akan ada kesuksesan, tahu."
"Jika memang begitu, maka kegagalan terbesar saya adalah saat saya gagal menjauh dari Anda, Putri."
Melihat dari pantulan cermin, hal yang jarang terjadi, bibir Ilia melengkung membentuk senyuman tipis. Aku membelalakkan mata melihat ekspresi Ilia itu. Sangat jarang bagi Ilia yang selalu berwajah datar untuk menunjukkan ekspresinya.
"...Memangnya kesuksesan apa yang kau dapatkan? Ilia."
"Kesuksesan untuk berada di momen ini sekarang."
"...Berlebihan."
Mendengar ucapan Ilia, aku tanpa sadar menggumam karena malu. Padahal itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan, ya ampun. Namun, Ilia malah mulai tertawa kecil. Merasa sedikit kesal, aku menggembungkan pipiku.
"Selera Ilia benar-benar aneh."
"Anda sendirilah yang aneh, Putri."
Senyum Ilia semakin mengembang. Meskipun kami sudah saling kenal selama lebih dari sepuluh tahun, raut wajahnya sama sekali tidak berubah sejak hari pertama kenangan kami. Ia membuatku merasa bahwa ia akan selalu menjadi Ilia tak peduli seberapa banyak waktu berlalu. Aku jarang mengatakannya langsung padanya, tapi aku sangat bersyukur ia selalu ada di sisiku.
Makanya, kalau aku bilang aku menganggapnya seperti kakak perempuan, dia pasti akan marah dan bilang itu terlalu lancang.
Memang sih, mungkin bukan kakak. Mungkin sebutan "partner" lebih cocok untuk menggambarkan hubungan kami ini.
Saat aku sedang memikirkan hubungan kami, Ilia menghentikan tangannya yang sedang mengikat rambutku dan mulai mempermainkan rambutku dengan menggulung-gulungnya. Rambutku yang sedikit ikal memang sering tersangkut di jari Ilia.
"...Apa sih, Ilia."
"Bukan apa-apa, saya hanya merasa sangat bahagia bisa terus berada di sisi Anda seperti ini. Karena saya merasa pernikahan bukanlah satu-satunya pilihan bahagia bagi seorang wanita."
"Ah... uhm, soal itu..."
Ucapan Ilia membuatku langsung mati kutu. Sambil membelitkan rambutku di jarinya, Ilia membelai kepalaku dengan lembut. Rambutku pun terlepas dari jarinya dan terurai ke bawah.
"Tidak apa-apa, Putri. Gelar bangsawan keluarga saya sangat rendah, jadi saya ini hanyalah bidak untuk pernikahan politik. Jika dipikir-pikir, tidak berlebihan jika saya katakan bahwa saat ini saya telah 'menikah' dengan Anda, Putri. Berkat Anda, saya diperlakukan dengan sangat baik."
Ilia mengatakannya dengan bangga, seolah ia sangat puas dengan hal itu. Sebaliknya, aku malah memasang wajah sedikit tidak suka. Tentu saja, itu karena aku jadi teringat tentang keluarga asli Ilia.
Ilia adalah putri dari keluarga Viscount (Muda-Wali). Orang tuanya sangat gila kekuasaan, dan mereka mencari keluarga yang bisa dinikahi Ilia demi meningkatkan pengaruh keluarga mereka. Alasannya bekerja sebagai pelayan di kastel kerajaan juga merupakan bagian dari rencana itu.
Siapa tahu ia bisa menarik perhatian putra pewaris dari keluarga bangsawan bergengsi. Dan kalau beruntung, mereka bisa mendekatkan diri dengan bangsawan kuat.
Dengan niat kotor seperti itulah Ilia dipekerjakan sebagai pelayan di istana. Di sanalah aku pertama kali menaruh hati padanya. Karena hubungannya denganku membuatnya sulit mendapatkan calon suami, orang tuanya pun habis kesabaran dan berencana menjodohkannya secara paksa dengan orang yang tak diinginkannya. Mendengar itu, aku melakukan tindakan yang cukup ekstrem demi bisa menahannya tetap di sisiku.
Setelah melewati berbagai lika-liku, jadilah Ilia yang sekarang ini. Karena merasa ini kesempatan yang bagus, aku pun sering melibatkannya dalam penelitian Ilmu Sihirku. Walaupun aku tidak bisa memastikan apakah itu hal yang baik untuknya atau tidak.
Awalnya, keluarga Ilia menyambut baik kenyataan bahwa Ilia berada di bawah naunganku. Tapi setelah aku melepaskan hak penerus takhtaku dan sering membuat masalah, kabarnya mereka mulai menjaga jarak darinya. Bagiku sih itu bagus, soalnya aku kurang suka dengan mereka.
Mengingat hal itu membuat mood-ku jadi jelek. Padahal Ilia selalu bilang padaku untuk tidak memikirkannya, karena hubungannya dengan keluarganya memang sudah dingin sejak awal. Karena semua kejadian itu juga, Ilia berhenti menggunakan nama keluarganya. Ia bilang kalau ia sama saja sudah diusir dari keluarganya, jadi aku juga berusaha untuk tidak mengungkitnya.
Bagiku, Ilia tetaplah Ilia. Tidak peduli dia putri dari keluarga mana. Aku melibatkannya karena aku suka pada Ilia. Kalau Ilia merasa bahagia dengan hal itu, maka itu sudah cukup. Itulah jalan terbaik bagi kami berdua.
"Mulai sekarang, terus temani aku menjalani kehidupan yang penuh kejutan ini, ya? Ilia."
"Sesuai keinginan Anda, Putri. Tapi terlepas dari itu, saya tidak akan memberi ampun saat harus mendisiplinkan Anda."
Mendengar jawaban Ilia, aku pun tertawa geli. Berkat kehadirannyalah aku bisa menjadi diriku yang sekarang. Aku meresapi kebahagiaan ini, merasa bahwa rasa terima kasihku saja tidak akan pernah cukup.
"Fufu, penyamaranku sebagai putri yang sempurna sudah selesai... Aku akan memberimu pujian, Ilia!"
"Apa maksud Anda, Anda ini kan memang tuan putri yang asli."
Saat aku bercanda untuk menutupi rasa maluku, Ilia memukulku, menghasilkan suara tepukan yang renyah. Diselingi obrolan ringan dengan Ilia seperti itu, aku pun selesai bersiap-siap dan masuk ke kereta kuda yang akan membawaku ke kediaman Adipati Magenta dengan dandanan ala putri yang sempurna. Ilia duduk di hadapanku sebagai pendampingku. Karena aku tidak memakai gaun bergaya ksatria seperti biasanya, duduk saja rasanya sudah tidak nyaman.
Keluarga Adipati Magenta adalah keluarga bangsawan tua. Sejarah mereka sangat panjang, dan mereka juga memiliki hubungan darah jauh dengan keluarga kerajaan Palettia, jadi bisa dibilang kami adalah kerabat. Meskipun karena sejarahnya yang sangat panjang, garis keturunan kami sebenarnya tidak terlalu dekat. Keluarga Adipati Magenta adalah bangsawan terkemuka dan bersejarah yang telah mengabdi sebagai menteri setia kepada raja negara ini secara turun-temurun. Kudengar Duke Grantz juga merupakan teman masa kecil Ayahanda yang menghabiskan masa muda bersama.
Karena hubungan orang tua kami, aku pernah berkunjung ke kediaman Adipati Magenta untuk bermain saat masih kecil. Tapi kunjungan itu terjadi saat aku dan Al-kun masih belum saling berselisih.
Setelah posisi kami berdua ditetapkan, aku pun perlahan menjauh dari keluarga Adipati Magenta. Sejujurnya, ini terasa sangat berat. Walaupun aku sudah memakai gaun, rasanya ingin kulepas saja. Tapi kalau memikirkan tempat yang akan kutuju, aku tidak bisa berkata begitu. Karena tempat yang akan kudatangi adalah kediaman keluarga Adipati Magenta.
Oleh karena itu, aku harus menguatkan niatku seolah ini adalah kunjungan pertamaku ke sana. Saat aku sedang memikirkan hal itu, gerbang pintu masuk kediaman Adipati Magenta mulai terlihat.
"Ayo kita turun, Ilia."
"Baik, Putri."
Saat aku turun dari kereta sambil dikawal oleh Ilia, seorang kepala pelayan tua berdiri di barisan depan bersama dengan para pelayan wanita yang berjejer rapi di pintu masuk rumah, dan mereka membungkuk serempak. Itu adalah pemandangan membungkuk yang sangat indah dan rapi, sampai-sampai rasanya aku ingin bertepuk tangan melihatnya.
"Selamat datang, Yang Mulia Putri Anisphia."
"Terima kasih. Sesuai dugaan dari para pelayan keluarga Adipati Magenta, kalian sangat terlatih."
"Itu adalah pujian yang sangat luar biasa bagi kami. Tuan kami sudah menunggu di dalam. Mari, silakan lewat sini."
Karena hari ini aku datang sebagai seorang putri, aku harus sadar diri untuk menggunakan gaya bicara dan sikap yang sesuai. Meskipun pipiku rasanya sudah mau kram, tapi karena kunjunganku kali ini juga untuk meminta maaf atas nama keluarga kerajaan kepada keluarga Adipati Magenta, aku harus menahannya. Hari ini aku adalah putri, seorang putri.
Setelah saling berbasa-basi, kepala pelayan keluarga adipati membukakan pintu rumah untukku. Dipandu oleh kepala pelayan tersebut, aku berjalan menyusuri lorong rumah keluarga adipati. Saat melewati gerbang tadi aku sudah memikirkannya, tapi rumah ini benar-benar luar biasa megahnya. Sesuai dugaan dari kediaman keluarga Adipati Magenta yang bersejarah panjang.
Saat aku dipandu menuju ruang tamu, di sana sudah berdiri Euphie, Duke Grantz, dan seorang wanita. Wanita yang memancarkan aura lembut itu adalah Nershell Magenta sang Istri Adipati; dengan kata lain, ia adalah istri dari Duke Grantz sekaligus ibu dari Euphie. Rambutnya berwarna perak panjang yang hampir mencapai punggung, sebagian ia ikat dan sisanya ia biarkan tergerai menutupi bahunya.
Nyonya Nershell adalah sosok yang memancarkan kecantikan anggun dari usia matangnya. Matanya yang berwarna hijau muda memancarkan keteguhan hati yang kuat. Ternyata sorot mata tajam memang sudah menjadi ciri khas keluarga Adipati Magenta.
Meskipun wajah Euphie lebih mirip ayahnya, aku mengangguk dalam hati menyadari bahwa sorot mata tajamnya adalah turunan genetik dari kedua orang tuanya. Ngomong-ngomong, walaupun aku belum pernah berbincang dengannya, seingatku Euphie punya seorang adik laki-laki. Kalau tidak salah adiknya itu lebih mirip Nyonya Nershell, ya?
Karena sudah sangat lama tak berjumpa dengan Nyonya Nershell, tanpa sadar aku menatapnya lamat-lamat. Lalu mata kami pun bertemu. Ah, gawat, aku tak boleh kehilangan sopan santun dan harus segera memberi salam dengan hormat.
"Selamat pagi, Nona Euphyllia, Duke Grantz. Dan juga, lama tak berjumpa, Nyonya Nershell. Suatu kebanggaan luar biasa bisa berjumpa dengan Anda sekalian seperti ini."
"Ah, tidak. Justru kamilah yang merasa sangat terhormat Anda berkenan meluangkan waktu untuk hadir, Yang Mulia Putri Anisphia."
Saat aku membungkukkan badan untuk memberi salam, Duke Grantz maju selangkah dan membalas salamku. Mengangkat kepalaku, aku menggeleng pelan.
"Tawaran yang kuberikan pada Nona Euphyllia kali ini murni berasal dari kehendakku yang paling dalam. Oleh karena itu, justru kamilah yang seharusnya bersikap hormat kepada Anda sekalian. Lebih dari apa pun, atas tindakan tercela dari adik saya, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Walaupun pihak istana sudah meminta maaf secara resmi, saya secara pribadi juga ingin menyampaikan penyesalan saya."
Memasang wajah penuh penyesalan, aku membungkuk dalam-dalam; kali ini bukan sebagai bentuk sapaan, melainkan untuk menyampaikan permintaan maaf yang tulus. Tiba-tiba, suara penolakan dari Duke Grantz dan Nyonya Nershell serempak menghentikanku.
"Tolong angkat kepala Anda, Yang Mulia Putri Anisphia."
"Benar sekali. Justru Andalah yang telah menolong Euphie kami yang tercinta. Dan lagi, karena Anda telah memberikan berbagai kemudahan semacam ini, seharusnya kamilah yang berterima kasih; kami tak pantas menerima permintaan maaf Anda."
Didesak secara bertubi-tubi oleh Duke Grantz dan Nyonya Nershell, aku jadi tak punya alasan untuk terus menunduk. Segera mengangkat kepala, aku lalu duduk di tempat yang telah disediakan. Ilia berdiri bersiaga di belakangku, sedangkan keluarga Adipati Magenta duduk berjajar di seberangku, saling berhadapan.
"Sudah lama sekali kita tak berjumpa, ya, Nyonya Nershell. Saya turut senang melihat Anda tampak dalam keadaan sehat walafiat."
"Tentu saja, Yang Mulia Putri Anisphia juga tampak begitu sehat. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali Anda berkunjung ke kediaman kami."
Nyonya Nershell tertawa pelan, suaranya mengalun merdu bak lonceng kecil; ia menutup mulutnya dengan anggun sembari tersenyum.
Tatapan yang ia tujukan padaku penuh dengan kehangatan; membuatku sedikit menggoyangkan tubuhku karena merasa tak terbiasa. Jujur saja, aku tidak terbiasa menerima afeksi yang tulus begini, soalnya selama ini aku lebih sering diperlakukan secara dingin.
"Semasa kecil dulu, saya masih punya banyak kesempatan untuk berkunjung... Namun, sejak pertunangan dengan Algard diputuskan, saya pun mulai menjaga jarak dengan keluarga Adipati Magenta."
"Benar. Walaupun kami sama sekali tak menduga insiden kali ini bakal terjadi, tapi sejak lama kami memang sudah sering mendengar bahwa hubungan Euphie dengan Pangeran Algard tak berjalan dengan baik. Daripada hal ini terus disembunyikan, bukankah akan jauh lebih baik jika semua ini terungkap di awal agar kita bisa segera mengambil langkah maju?"
Nyonya Nershell mengatakannya dengan senyuman yang merekah lebar, tapi astaga, auranya sangat mengintimidasi!
Jika Duke Grantz mengintimidasi dengan wajah datarnya, Nyonya Nershell justru menyerang menggunakan senyumannya. Sekarang aku paham betul kenapa orang-orang sering bilang tatapan putri mereka, Nona Euphyllia, terasa begitu tajam. Ini pasti sudah mengalir di darah mereka; garis keturunan keluarga ini benar-benar tidak main-main.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, mataku kembali bertatapan dengan Nyonya Nershell. Secara refleks, aku menyunggingkan senyuman canggung, namun bibirku sempat berkedut sebentar.
"Suamiku dan Euphie telah menceritakan semuanya. Apabila Euphie sendiri yang menginginkannya, maka saya pun akan melepasnya pergi dengan senang hati."
Seolah memahami kecanggunganku, Nyonya Nershell berinisiatif mengganti topik pembicaraan. Aku menghela napas lega mendengarnya.
Mencoba memulihkan fokus, aku segera memperbaiki posisi dudukku. Karena mulai dari sini adalah intinya, aku harus mengerahkan seluruh konsentrasiku.
"Suatu kehormatan besar bagi saya karena Anda sekalian berkenan menyetujui usulan ini. Sebagai anggota keluarga kerajaan yang pernah menodai kehormatan ini, saya mohon, izinkanlah saya untuk menebus kesalahan tersebut. Putri kesayangan keluarga Adipati Magenta, Nona Euphyllia, akan saya jaga sepenuh hati dan dengan penuh tanggung jawab. Saya bersumpah atas nama keluarga kerajaan."
Tegas, aku menyampaikannya seraya menatap lurus ke arah ayah dan ibu keluarga Adipati Magenta tersebut. Mendengar sumpahku itu, Euphie menatapku dengan pandangan aneh, sementara Nyonya Nershell tampak menahan tawa hingga bahunya sedikit berguncang. Menyadari hal tersebut, Duke Grantz mengangkat bahunya ringan, lalu menimpali.
"Anda terlihat sangat menjaga tata krama hari ini, ya, Yang Mulia Putri Anisphia. Mendengar Anda bersumpah atas nama keluarga kerajaan, mau tak mau membuat saya ingin tertawa."
"Hei, Duke Grantz!?"
Ya... ya ampun, padahal aku sendiri juga sadar sih, tapi apa harus dibicarakan secara blak-blakan begitu!? Padahal dari tadi aku sudah berjuang keras memakai topeng putri yang elegan! Dari belakangku pun aku bisa mendengar hela napas panjang Ilia.
Hei, ini bukan salahku, kan. Apa? Kelakuanku sehari-hari? Wah, aku tidak kenal dengan orang itu.
"Ayolah, Duke Grantz, aku juga tahu bagaimana cara menyesuaikan diri dengan situasi!"
"Oh, mohon maaf atas kelancangan saya. Saya sama sekali tidak menduga Anda bisa bersikap sebegitu resminya."
Mengangkat bahu dengan segaris senyuman tipis, entah mengapa Duke Grantz kali ini terlihat agak jahil. Ukh, ternyata pria ini punya sisi menyebalkan juga, ya...
"Keseriusan Yang Mulia Putri Anisphia telah tersampaikan dengan sangat baik pada kami. Kami titipkan putri kami, Euphie, pada Anda."
"Tentu saja! Saya akan membanjirinya dengan segunung kasih sayang!"
Menjawab Duke Grantz yang menunduk hormat dalam-dalam padaku, aku pun membalasnya dengan senyum lebar dan suara lantang. Tentu saja, kalau Euphie ikut bersamaku, semua proyek penelitian itu bakal berjalan dengan super lancar! Fufufu...
Ah, benar juga. Saat menciptakan alat sihir baru, aku sangat membutuhkan bantuan seseorang yang bisa merapal sihir. Aku punya cadangan energi sihir, tapi aku tidak punya kemampuan untuk merapalnya. Ketidakmampuan ini sungguh sangat merepotkan. Namun dari sanalah awal mula terciptanya alat-alat sihir itu. Dan sekarang, si jenius Euphie bakal membantuku merisetnya sebagai asistenku. Mulai sekarang, hidup penelitianku bakal seindah bunga mawar yang sedang merekah!
Tengah melambung tinggi dalam euforia itu, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas. Omong-omong, bagaimana nasib akademi Euphie selanjutnya, ya? Mengingat kekacauan sebesar itu, kurasa mustahil baginya untuk bisa terus bersekolah di sana seolah tidak terjadi apa-apa.
"Maaf, Duke Grantz. Bagaimana dengan rencana Euphie ke depannya? Maksud saya, terkait statusnya di Akademi Bangsawan..."
"Terkait dengan posisi dan status Euphie ke depannya, masih akan kami bicarakan lebih lanjut... Namun, sepertinya akan sulit baginya untuk bisa kembali bersekolah dalam waktu dekat."
"Ya, saya juga berpikir demikian."
"Kami akan membicarakannya secara mendalam dengan Yang Mulia Raja, dan setelah semuanya diputuskan, kami akan segera mengabarkannya pada Anda."
"Saya mengerti. Jika ada yang bisa saya bantu, tolong jangan sungkan untuk mengatakannya."
"Tentu. ...Baiklah, Anda sudah bisa bersantai sekarang, Yang Mulia Putri Anisphia."
"...Padahal saya sudah bersusah payah akting jadi putri yang baik lho, Anda kejam sekali! Duke Grantz."
Aku tahu dia bermaksud baik, tapi jangan-jangan dia berpikir kalau bersikap tenang layaknya putri bangsawan itu mustahil buatku, ya? Memang mustahil sih! Kalau aku boleh bersantai, ya sudah, aku mau santai saja!
Seketika aku melemaskan postur tubuhku dan mencari posisi duduk ternyaman, mengundang tawa geli dari Nyonya Nershell, sementara Euphie hanya bisa tersenyum masam. Biarin! Pokoknya aku ini putri yang bandel!
"Yang Mulia Putri Anisphia, sekali lagi, mohon bantuan Anda untuk menjaga Euphie."
"Siap! Malahan, saya yang bakal lebih banyak merepotkannya nanti, jadi kita impas!"
"Fufu, baiklah. Kalau begitu, mari kita mulai berkemas untuk kepindahan Euphie. Ayo, Euphie."
"Baik, Ibu. Saya pamit undur diri sebentar, Putri Anis."
Demi mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke paviliunku nanti, Euphie dan ibunya menunduk pamit lalu meninggalkan ruang tamu. Setelah melepas kepergian mereka berdua, Duke Grantz mengalihkan atensinya kepadaku.
"Yang Mulia Putri Anisphia, izinkan saya sekali lagi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya."
"Duke Grantz, Anda tidak perlu repot-repot berterima kasih. Malahan, kedatangan Euphie nanti bakal sangat membantu saya."
Mendengar jawabanku itu, raut wajah Duke Grantz seketika berubah. Ketajaman matanya tetap sama, namun kali ini ia menatapku seolah mampu melihat menembus isi jiwaku, membuatku merasakan sedikit hawa dingin menjalar di punggungku.
"...Sebelumnya, saya sempat berpikir bahwa Anda sama sekali tidak memiliki pandangan yang positif terhadap saya."
"Hah? Memangnya kenapa Anda bisa berpikir begitu?"
Tak menyangka kalimat itu yang akan keluar dari mulutnya, aku memiringkan kepalaku dengan penuh keheranan. Darimana dia bisa menyimpulkan kalau aku tidak menyukainya?
Singkatnya, Duke Grantz adalah tangan kanan Ayahanda. Posisinya dalam kancah politik sangat kuat, dan yang lebih penting, dia adalah sahabat karib, orang kepercayaan, sekaligus sekutu politik utama Ayahanda. Jadi, mana mungkin aku punya pandangan buruk soal dirinya, aku benar-benar tak habis pikir.
Melihat kebingunganku, suara kekehan rendah tiba-tiba lolos dari tenggorokan Duke Grantz. Terkejut dengan tawanya yang tiba-tiba, aku membelalakkan mataku tak percaya.
"Anda ternyata sama sekali tidak berubah sejak dulu, ya. Yang Mulia Putri Anisphia."
"? Eh... Begitukah?"
"Benar. Secara terang-terangan menolak pertunangan, dan menumpuk prestasi gemilang guna mewujudkannya. Sejak dulu, Yang Mulia Raja selalu saja dibuat pusing oleh tingkah laku Anda. Saya sendiri menjadi saksi mata atas itu semua."
Duke Grantz bergumam dengan nada yang menyiratkan kerinduan masa lalu, menampilkan sisi emosional yang amat langka darinya. Namun, semua itu cuma membuatku makin bingung. Maksudku, kalau itu ditujukan buat putrinya sendiri sih masuk akal, tapi kenapa dia menatapku dengan raut wajah seperti itu?
"Malahan, bukankah justru Anda yang tidak menyukaiku, Duke Grantz?"
"Nah, entahlah, kalau soal itu."
Membiarkan pertanyaan itu menggantung dengan seulas senyum penuh arti di bibirnya, teka-teki mengenai apa yang sebenarnya bercokol di kepala Duke Grantz pun belum juga terjawab. Hal ini mengundang rasa tidak puas dariku, alis mataku tanpa sadar saling bertaut.
"Tetaplah menjadi diri Anda yang sekarang ini, Yang Mulia Putri Anisphia. Tolong, jaga Euphie baik-baik."
"Haa..."
Meskipun masih ada yang mengganjal di hatiku, paling tidak tampaknya dia tidak memiliki prasangka buruk tentangku, jadi ya sudahlah. Mengesampingkan semuanya, kuputuskan untuk berhenti mencecarnya dengan pertanyaan.
"Kalau begitu, saya mohon undur diri. Saya harus mengurus pekerjaan saya."
"Ah, tidak, silakan. Kamilah yang harusnya berterima kasih karena Anda telah berkenan menyisihkan waktu Anda yang berharga."
Tentu saja, Duke Grantz pastilah orang yang amat sibuk. Apalagi Al-kun baru saja menciptakan skandal besar-besaran, waktunya untuk berbincang di sini pastilah teramat sangat berharga. Setelah melepaskan kepergian Duke Grantz yang melangkah pergi dengan elegan sesaat usai berpamitan, tinggallah aku dan Ilia berdua di ruangan tersebut.
Sontak saja beban di bahuku terangkat selagi hela napas meluncur panjang. Menyaksikan hal ini, Ilia langsung melontarkan tegurannya.
"Putri, Anda ini kelewat santai. Tolong tahanlah sedikit sampai kita kembali ke paviliun nanti."
"Iya, iya. Cerewet banget sih kamu, Ilia."
"Terima kasih atas pujiannya."
Aku tidak sedang memujinya lho, ya ampun. Namun, aku merasa sedikit lebih lega karena keteganganku tadi sedikit mereda. Setelah itu, kami dihidangkan teh oleh kepala pelayan keluarga Adipati Magenta dan menunggu dengan tenang.
Sepertinya Ilia sedang berdiskusi banyak hal dengan kepala pelayan; dari perihal teh sampai hal-hal yang berkaitan dengan Euphie. Paviliunku tidak punya pelayan lain selain Ilia, jadi ia jugalah yang bakal mengurus segala keperluan Euphie kelak, wajar jika ada setumpuk pertanyaan yang harus dipastikannya. Kalau aku sih sudah terbiasa mengurus diriku sendiri, tapi rasanya bakal beda ceritanya dengan Euphie.
Karena tak ada kegiatan lain, aku hanya bersantai mendengarkan sayup-sayup obrolan Ilia dan kepala pelayan itu sampai akhirnya Euphie dan Nyonya Nershell kembali lagi.
"Maaf membuat Anda menunggu lama, Putri Anis."
"Apakah persiapanmu sudah beres?"
"Ya. Karena memang sedari awal tak banyak barang yang perlu saya bawa..."
Sembari mengatakannya, kedua alis Euphie sedikit menurun seiring dengan sebuah senyum masam yang terukir di wajahnya. Raut wajahnya memancarkan sekelumit kesenduan.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, aku menengok ke arah Nyonya Nershell, lalu kutemukan ia juga tengah tersenyum kikuk dengan alis yang berkerut. Eh, ada apa? Apa yang terjadi?
"Apa terjadi sesuatu?"
"...Tadi saya sempat bertengkar sedikit dengan adik saya."
"Eh? Kalian bertengkar kenapa?"
Adik Euphie tidak ikut campur dalam pertemuan ini, lantas aku sama sekali tidak bisa menebak hal apa yang memicu pertengkaran di antara dua saudara itu. Sembari menatap kebingunganku, senyum canggung kembali merekah di wajah Euphie.
"Maafkan saya, Putri Anis. Ini murni masalah internal keluarga kami, jadi..."
Euphie nampak kesulitan menentukan ekspresi yang tepat untuk ia tampilkan; raut wajah yang sering kali kulihat pada dirinya belakangan ini. Bertengkar dengan adik di tengah sesi packing, apa sebenarnya yang terjadi. Tergerak oleh rasa penasaranku, aku mengalihkan tatapanku kepada Nyonya Nershell, yang sedetik kemudian mendeham lalu membalas tatapanku.
"Adik Euphie, secara teknis, bisa dibilang dia masih terlalu bergantung pada kakaknya. Dia tak bisa menerima rencana Euphie yang harus tinggal di istana untuk sementara waktu, makanya terjadi adu mulut di antara mereka berdua..."
"Ah... Begitu rupanya, wajar saja kalau itu memancing keributan..."
Kalau dipikir-pikir, memang masuk akal. Terlepas dari statusku dan Al-kun, pastilah muncul kecemasan tatkala kakak tercintanya dititipkan pada anggota keluarga kerajaan, yaitu pihak yang menyulut prahara pembatalan pertunangan ini sedari awal.
Kendati begitu, opsi ini tetap jutaan kali lipat lebih aman dibandingkan membiarkan Euphie terkurung di kediamannya ini. Memang lokasinya ada di dalam kawasan istana kerajaan, tapi di paviliun milikku itu sangat jarang ada yang bertamu, otomatis kontak dengan orang luar pun sangat terbatas.
Faktor inilah yang meyakinkan Duke Grantz untuk merestui rencana ini sedari awal. Meski meminta adiknya untuk serta merta memahaminya rasanya tak akan mudah. Aduh, rumit juga ya masalahnya.
"Keterbatasannya menahan emosi kala diajak berbincang dengan kepala dingin membuat kami memutuskan untuk tak memanggilnya kemari. Maafkan kami telah membuat Anda merasa gelisah, Yang Mulia Putri Anisphia."
"Sama sekali tidak. Bagaimanapun juga, ini semua salah keluarga kami karena telah membuat keluarga Anda sekalian merasa cemas tanpa alasan yang jelas."
Aku bisa memaklumi alasan adiknya itu bersikap seperti itu. Apabila diusut-usut, toh semua kekacauan ini memang berakar pada tindakan kami.
Memikirkan hal tersebut, aku melihat Nyonya Nershell menggelengkan kepalanya. Dengan ekspresi serius, beliau menatapku dan mulai melanjutkan kalimatnya. Nada suaranya sedikit mengandung teguran.
"Meskipun begitu, ini tetap akan menjadi peluang bagus baginya untuk dapat mengamati hal-hal baru selagi terpisah dari kakaknya. Meskipun mungkin sedikit merepotkan Anda, kami sungguh-sungguh merasa berterima kasih karena Anda berkenan mengasuh Euphie."
"Oh, mohon, tolong angkat kepala Anda, Nyonya Nershell! Anda tak perlu merasa tak enak karena hal ini juga banyak menguntungkan saya!"
Menyaksikan Nyonya Nershell menundukkan kepalanya dalam-dalam, aku memohon padanya untuk mengangkat kepalanya dengan nada sedikit panik. Aku ini cuman orang egois yang cuma mau menuruti hawa nafsuku sendiri, maka ditanggapi seserius ini sungguh membuatku serba salah.
"Tidak usah khawatir. Saya akan memastikan untuk mengukir pencapaian luar biasa yang bakal mengejutkan seluruh negeri ini, supaya kelak Euphie dapat kembali berdiri di tengah-tengah lingkungan sosial. Dengan cara begitu, martabat Euphie juga bakal terjaga, dan si adik juga tidak akan khawatir lagi nantinya."
"Astaga, putri kami rupanya diberkahi oleh garis nasib yang luar biasa beruntung karena sampai sejauh ini, hingga mendapatkan ucapan semacam itu dari Anda, Yang Mulia Putri Anisphia."
"Ibu..."
Gelak tawa ringan milik Nyonya Nershell seakan membasuh sendu dari wajah Euphie dan merelaksasi keadaan di ruangan itu. Nyonya Nershell perlahan merangkum sepasang tangan Euphie ke dalam genggamannya dan menggenggamnya erat-erat.
"Euphie. Sejauh apa pun engkau dari sisiku, doa ibu senantiasa akan terus menyertai kebahagiaanmu. Menyikapi situasi saat ini, tak bisa dipungkiri bahwa kami juga ikut andil bersalah karena sedari dini cuman menyiapkanmu untuk duduk di singgasana sang Ratu. Selama kau berada di luar sana, janganlah pedulikan apa pun urusan tentang keluarga kita; pusatkanlah perhatianmu untuk memahami dirimu sendiri."
Suara itu sangat lembut dan sarat akan afeksi yang melimpah ruah. Memantau dari samping bersama Ilia, aku menyaksikan Euphie mengangguk mantap atas nasihat ibunya.
Dan setelahnya, guna kembali menuju ke paviliun tempat aku bernaung, kami akhirnya melangkah menuju kereta dan pergi beranjak meninggalkan pekarangan keluarga Adipati Magenta. Saat itulah, kulihat sepasang mata Euphyllia tak henti-hentinya menatap kediaman tempat ia diasuh selama ini sampai wujud rumah itu tak terlihat lagi.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar