Sang Putri Reinkarnasi Tidak Bisa Berhenti Tiba-Tiba
"...Huft, astaga."
Aku meregangkan bahuku yang kaku hingga terdengar bunyi berderak. Di hadapanku terdapat tumpukan dokumen, dan ketegangan yang menyelimutiku sedikit mereda setelah menyelesaikan target urusan pemerintahan hari ini. Ya ampun, tugas seorang Raja itu tak peduli seberapa keras aku berusaha setiap harinya, sama sekali tidak pernah berkurang.
"Yang Mulia, terima kasih atas kerja keras Anda dalam urusan pemerintahan hari ini."
"Sudahlah, Grantz. Tidak usah terlalu formal begitu."
Orang yang menyapaku itu bisa dibilang sebagai perwakilan bangsawan di negara ini; Kepala Keluarga Adipati Magenta sekaligus sahabat baikku yang menjabat sebagai Perdana Menteri Kerajaan Palettia, Grantz Magenta.
Dan aku, yang disapa oleh Grantz, adalah Raja Kerajaan Palettia saat ini, Orphans Il Palettia. Aku baru saja menyelesaikan satu tahap dari tugas beratku sebagai seorang Raja.
"Grantz, aku akan menyeduh teh. Kau juga minumlah."
"Kalau begitu, saya akan menemani Anda, Yang Mulia."
"Sudah kubilang jangan kaku begitu. Mulai dari sini, biarkan aku berbicara bukan sebagai Raja, melainkan sebagai seorang teman."
"...Aku mengerti, Orphans."
Mendengar nada bicara Grantz yang menjadi santai, aku mengangguk puas. Walaupun kami sama-sama sudah melewati pertengahan usia tiga puluhan, aura awet muda Grantz sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda memudar.
Padahal di pihakku uban sudah sangat terlihat jelas, dan entah karena kelelahan atau apa, aku terlihat lebih tua dari umur asliku. Perbedaan ini bukannya tak terduga. Toh, aku juga belum berada di usia yang bisa disebut sebagai lelaki tua.
Sejarah keluarga Adipati Magenta yang merupakan keluarga asal Grantz sangatlah panjang. Mewarisi darah keluarga kerajaan, keluarga Adipati Magenta mewarisi warna rambut yang mendekati warna emas keputihan yang merupakan simbol keluarga kerajaan. Namun, seiring berjalannya generasi, warnanya mulai berubah menjadi rona yang berbeda dari keluarga kerajaan. Warnanya mungkin lebih condong ke perak daripada emas keputihan.
Lalu, di atas segalanya, ciri khas utama Grantz adalah matanya. Sepasang mata cokelat kemerahan itu memiliki ketajaman yang menekan seolah menyimpan api yang menyala, membuat siapa pun yang bertatapan dengannya bisa bergetar ketakutan. Entah untung atau sial, tatapan mata ini sepertinya juga diwarisi oleh putra dan putrinya. Entah sudah berapa kali aku berpikir bahwa mereka adalah keluarga yang sangat mudah dikenali.
"...Anak itu memang meniru orang tuanya, ya."
Sambil membunyikan lonceng untuk menyuruh pelayan istana menyiapkan teh, aku menggumamkan keluh kesah bersamaan dengan sebuah helaan napas.
Mungkin karena mendengar gumamanku, Grantz menatapku sambil duduk di kursi di hadapanku.
"Ada apa? Apa kau sedang pusing memikirkan soal anak lagi?"
"Tidak pernah ada hari di mana aku tidak pusing memikirkannya!"
Aku membalas perkataan Grantz dengan nada setengah kesal, saat ia bertanya sambil sedikit mengangkat sudut bibirnya seakan sedang menggodaku.
Anak Grantz, terutama putrinya yaitu Euphyllia, sudah kuanggap sangat manis layaknya putri kandungku sendiri.
Memang ada alasan karena dia adalah tunangan putraku, Algard. Namun, alasan yang lebih besar yang membuatku berpikir begitu tak lain karena ulah si "pembuat onar" itu, putri kandungku sendiri.
"Akhir-akhir ini dia memang tenang, tapi aku malah ketakutan setengah mati, jangan-jangan ini adalah pertanda sebelum datangnya badai."
"Putri Anisphia itu memang memiliki sifat layaknya anak yang dilahirkan dari badai, kan."
"Apanya yang lucu sampai kau tertawa begitu? Bagiku sama sekali tidak ada yang lucu, Grantz."
Setelah mengetuk pintu, seorang pelayan masuk dengan memberi hormat, menyajikan teh, lalu pergi. Aku meminum teh yang baru diseduh itu dan menghela napas panjang.
"Padahal anak itu sudah berumur tujuh belas tahun, tapi kenapa tidak ada tanda-tanda dia akan bersikap tenang..."
"Kalau dia bersikap tenang, itu bukan Putri Anisphia lagi, kan?"
"Hentikan, kau membuatku depresi..."
"Mau bagaimana lagi. Kita sendiri yang membiarkan tingkah laku Putri Anisphia."
Grantz membawa cangkir teh ke mulutnya dengan gerakan yang elegan. Mendengar perkataan Grantz, aku hanya bisa mengerutkan wajah seolah baru saja mengunyah serangga pahit. Mungkin karena stres, aku merasakan perutku terasa berat. Dengan perasaan getir, aku menghela napas dalam-dalam.
"Kenapa masalah di dunia ini tidak pernah ada habisnya, ya."
Aku benar-benar telah menua, bahkan sering dibilang terlihat bukan seperti pria berumur empat puluhan, melainkan lima puluhan. Rambut emas keputihanku yang merupakan bukti keluarga kerajaan telah kusam, dan ubannya semakin terlihat jelas.
Kerutan di wajahku pun terus bertambah mungkin karena banyak beban pikiran. Akhir-akhir ini, aku merasa depresi setiap kali melihat penampilanku sendiri di cermin. Tekanan dan tanggung jawab yang berat sebagai seorang Raja tentu menjadi beban tersendiri bagiku. Apalagi ditambah jika memikirkan putri kandungku yang tiada hentinya menimbulkan masalah tanpa ampun, perutku rasanya sakit sekali.
"Tapi, bukankah beban pikiranmu itu akan sedikit berkurang sebentar lagi?"
"Hm.... Apa kau sedang membicarakan Algard dan Euphyllia?"
"Mereka juga akan segera lulus. Ke depannya, kesempatan mereka untuk benar-benar tampil sebagai calon Raja dan calon Ratu akan bertambah. Dengan begitu, kesempatan mereka untuk memimpin yang lain dengan inisiatif sendiri juga akan bertambah."
"...Semoga saja bisa berjalan selancar itu."
"...Apa kau mengkhawatirkan rumor yang itu?"
Mendengar keluhanku, Grantz bertanya sambil menyipitkan matanya. Aku mengangguk sebagai jawabannya.
"Aku juga sudah mengonfirmasinya pada Euphyllia, tapi... Algard itu. Boleh-boleh saja menjadikan putri Baron sebagai simpanannya, tapi akan gawat jika ia tidak menjaga batasan."
"Meskipun informasi dari dalam akademi sulit bocor, rumor itu tetap saja terdengar sampai ke telinga kita. Dengan kata lain, itu berarti masalah ini sudah sangat tersebar di luar sana."
Rumor yang dimaksud adalah kabar bahwa Algard menjadikan seorang putri Baron sebagai simpanan tertutupnya. Kabar tentang Euphyllia yang melihat hal itu dan berulang kali menegurnya sudah menyebar di kalangan bangsawan yang suka bergosip.
Akademi Bangsawan, karena sifatnya, mau tidak mau sangat tertutup, sehingga informasi jarang menyebar ke luar. Meskipun begitu, fakta bahwa rumor tentang Algard bisa sampai ke telinga kami, itu berarti rumor ini sudah menjadi pembicaraan yang ramai. Kalau memikirkan hal itu, perutku rasanya berdenyut sakit.
"...Maaf, Grantz. Padahal pertunangan ini terjadi karena keluarga kerajaan memaksakan kehendak..."
"Menahan hati seorang tunangan juga merupakan tugas Euphyllia. Anda benar bahwa Pangeran Algard harus menjaga batasan kesopanan, tetapi kita hanya bisa berdoa semoga ini menjadi obat yang baik untuk mereka."
Grantz menjawab dengan datar, tetapi itu semata-mata karena pria ini setia pada tugasnya, bukan berarti dia tidak memiliki rasa kasih sayang. Justru karena cintanya itulah ia memberikan pendidikan yang keras pada Euphyllia yang kelak akan berdiri sebagai calon Ratu.
Di permukaan, Kerajaan Palettia memang terlihat damai. Namun, di tempat-tempat yang tak kasat mata, ada banyak masalah yang tersembunyi. Memikirkan masa depan, aku merasa cemas jika membiarkan Algard menopang negara ini sendirian. Karena itulah aku menginginkan Euphyllia, yang telah menunjukkan bakatnya sejak kecil, untuk menjadi tunangannya.
Akan tetapi, melihat hubungan mereka berdua, aku sama sekali tidak melihat mereka saling mencintai. Sepertinya tidak ada perasaan lebih dari sekadar kewajiban di antara keduanya. Tentu saja, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang aneh dalam pertunangan bangsawan.
Namun, di saat aku merasa cemas melihat mereka berdua, malah muncul rumor ini. Hal ini benar-benar membuatku pusing.
"Tapi, bukankah Euphyllia bilang bahwa ia akan mengurusnya?"
"Memang benar... Tapi meskipun pernikahan ini diinginkan oleh keluarga kerajaan, jika beban ini hanya dibebankan pada Euphyllia semata, maka kita tak punya pilihan lain selain membatalkan pertunangannya."
Aku tidak bisa mengangguk dengan mudah, tapi jika Euphyllia menginginkannya, aku harus mempertimbangkan untuk membatalkan pertunangan ini. Lagipula, pihak keluarga kerajaanlah yang awalnya menginginkan pertunangan ini, sangat tidak masuk akal jika terus-terusan membiarkan pihak lain membereskan kekacauan yang dibuat oleh keluarga kerajaan.
Oleh karena itu, aku pernah bertanya pada Euphyllia apakah dia ingin membatalkan pertunangannya. Meski begitu, Euphyllia menjawab untuk menyerahkan semuanya padanya. Pada akhirnya, aku memanfaatkan kebaikan hati Euphyllia, tapi apakah semuanya benar-benar berjalan lancar...?
Di saat aku merasakan kecemasan seperti itu. Tiba-tiba, pintu ruangan diketuk dengan sangat keras.
"Yang Mulia Raja! Ada laporan darurat!"
"Laporan darurat...? Ada apa!"
"Putri Anisphia berkunjung ke kastel kerajaan menggunakan alat sihir terbang itu! Beliau meminta audiensi dengan Yang Mulia!"
"Ulah apa lagi yang diperbuat gadis bodoh itu!?"
Tanpa sadar aku berteriak dengan suara keras. Kenapa anak itu tidak bisa diam barang sebentar saja...!
"Lalu, anu..."
"Anu apa!? Jangan diam saja, cepat laporkan!"
"Maafkan hamba! Mengenai Putri Anisphia, entah mengapa beliau membawa serta Nona Euphyllia Magenta bersamanya. Dan kalau melihat situasinya... sepertinya beliau baru saja menculiknya!"
Mendengar laporan itu, mataku berkunang-kunang dan sesaat kesadaranku hampir menghilang. Aku menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri untuk mencoba mengembalikan kesadaranku. Meskipun begitu, amarah yang meluap di dadaku tak kunjung reda dan meluncur keluar dari mulutku.
"...Apa yang kau perbuat, gadis nakal!! Cepat bawa dia kemari sekarang juga!!"
* * *
"Semoga suasana hati Anda sedang baik, Ayahanda! Maafkan kedatanganku yang tiba-tiba ini!"
"Anis! Kali ini apa lagi yang kau perbuat!? Kenapa kau juga membawa Euphyllia bersama denganmu!?"
Uwaah, Ayahanda benar-benar dalam keadaan murka. Tapi ya, wajar sih kalau dia marah begitu.
Menculik... ehem, membawa Nona Euphyllia keluar dari tempat pesta malam Akademi Bangsawan, aku langsung menuju ke kastel kerajaan dan meminta audiensi dengan Ayahanda. Nona Euphyllia sedang pingsan karena syok, jadi aku terus menggendongnya di punggungku. Hehe, ternyata bahkan bagi Nona Euphyllia yang katanya adalah putri adipati yang sempurna sekalipun, terbang di udara secara tiba-tiba menjadi pengalaman yang sangat mengerikan, ya.
"Tenangkan diri Anda, Yang Mulia. Yang Mulia Putri Anisphia, sudah lama kita tidak bersua."
"Eh? Duke Grantz juga ada di sini rupanya? Ini bisa dibilang kebetulan yang sangat menguntungkan ya."
Ternyata ada orang yang tak terduga di ruang kerja Ayahanda. Dia adalah ayah dari Nona Euphyllia, sekaligus Duke Grantz yang terkenal sebagai tangan kanan Ayahanda. Kalau melihat apa yang mau kubicarakan, ini sangat menguntungkan.
"...Euphyllia, sampai kapan kau mau berada dalam posisi seperti itu?"
"...Uuu...? Kh, A-Ayah!? M-Maafkan saya! Putri Anisphia!"
Bereaksi terhadap suara teguran dari Duke Grantz, Nona Euphyllia dengan cepat mengangkat wajahnya dan mencoba turun dari punggungku. Saat aku melepaskan tanganku darinya, Nona Euphyllia langsung menundukkan kepalanya hingga nyaris berlutut di lantai.
"Ah, tidak usah dipikirkan. Duke Grantz juga, tolong untuk saat ini bersikaplah sedikit lembut pada Nona Euphyllia. Keadaannya saat ini sedang sedikit tidak stabil."
"Anis, jelaskan! Apa yang telah kau lakukan kali ini? Kenapa kau membawa Euphyllia?"
"Yah, sebenarnya aku sedang menguji penerbangan malam dengan 'Sapu Penyihir', tapi karena bintang-bintangnya terlalu indah, aku jadi mengalihkan pandanganku. Lalu aku tak sengaja ikut serta mendadak ke acara pesta malam Akademi Bangsawan!"
"...Dasar kau, anak bodoh!!"
Saat aku melapor dengan jujur, Ayahanda langsung berdiri dengan keras dan mendaratkan kepalan tangannya di atas kepalaku.
Saking sakitnya, mataku sampai berkunang-kunang. Rasanya sangat sakit hingga bagian belakang mataku terasa panas dan aku hanya bisa memegangi kepalaku.
"Sakit, Ayahanda! Jahat sekali!"
"Berisik! Dasar kau ini, kau ini benar-benar!"
"Aku ini juga sudah merenung lho!?"
"Kalau kau memang merenung, jangan diulangi! Berapa kali kau harus mengulang kesalahan sampai kau belajar!"
"Ayahanda, jika seseorang takut akan kegagalan, maka tidak akan ada kemajuan bagi umat manusia!"
"Makanya aku bilang lakukan pencegahan! Mengulanginya terus-menerus itu adalah puncak kebodohan, dasar anak bodoh! Kepalamu itu bukan cuma untuk pajangan, kan!"
Satu pukulan lagi mendarat di kepalaku. Saking sakitnya, aku langsung berjongkok memegangi kepalaku.
Uuuh, pukulan Ayahanda itu sungguh sakit tahu...! Jahat banget sih, ish!
"...Ehem. Bolehkah saya menyela? Putri Anisphia."
Duke Grantz terbatuk pelan dan memanggilku. Ayahanda yang tadinya mengamuk, mungkin teringat akan keberadaan Duke Grantz sehingga mulai tenang, dan meredakan amarahnya. Yah, atau lebih tepatnya wajahnya terlihat pucat.
Tatapan tajam Duke Grantz mengarah seolah memelototi dan menembus tubuhku. Meski terasa sedikit tidak nyaman, ini adalah Duke Grantz, aku menganggapnya hal biasa dan memperbaiki postur tubuhku.
"Ada apa? Duke Grantz."
"Lalu, mengapa Anda datang ke kastel kerajaan bersama Euphyllia?"
"Ah, benar juga! Aku datang untuk melaporkan hal itu! Ayahanda!"
"Ada apa, Anis."
"Al-kun bilang dia mau membatalkan pertunangannya dengan Nona Euphyllia."
"............Hah?"
Ada jeda yang sangat panjang sebelum akhirnya Ayahanda sepenuhnya mematung. Duke Grantz yang berdiri di sampingnya juga sedikit melebarkan matanya, seolah baru saja mendengar sesuatu yang tak terduga.
"...Maaf, Anis. Entah karena kelelahan aku mungkin salah dengar, tadi kau bilang apa?"
"Makanya kubilang, Al-kun mau membatalkan pertunangannya dengan Nona Euphyllia."
"Hah?"
"Pembatalan pertunangan."
"Siapa dengan siapa?"
"Al-kun dan Nona Euphyllia."
Saat aku menyodorkan fakta itu berulang kali kepada Ayahanda, mulutnya menganga lebar dan ia hanya bisa berdiri terpaku karena terkejut. Aku mencoba melambaikan tangan di depan wajahnya, tetapi ia tidak bereaksi sama sekali.
Ayahanda yang akhirnya kembali sadar, memijat pelipisnya dan bertanya dengan suara gemetar.
"Algard, mengatakan hal itu?"
"Dari tadi kan sudah kubilang begitu!"
"...Maaf. Aku benar-benar ingin menganggap ini sebagai mimpi buruk, tapi apakah itu kenyataan?"
Dengan nada suara yang jelas tidak percaya, Ayahanda mengalihkan pandangannya ke arah Nona Euphyllia. Nona Euphyllia yang kembali ditatap oleh Ayahanda tampak sangat ketakutan, ia menundukkan pandangannya dan menggumam kecil dengan pundak yang merosot.
"...Benar. Kemampuan saya tidak mencukupi, saya sangat memohon maaf."
Kemudian Nona Euphyllia menundukkan kepalanya tanpa daya. Saking rapuhnya ia terlihat, aku menaruh tanganku di bahunya. Merasakan getaran dari bahunya, aku mengerucutkan bibirku.
Siapa pun pasti akan jadi begini, kan. Tiba-tiba diumumkan pembatalan pertunangan di tengah acara pesta semacam itu. Tak peduli seberapa sempurnanya Nona Euphyllia—tidak, justru karena dia sangat sempurnalah syok yang ia terima pasti sangat besar.
"...Bagaimana mungkin! Anak bernama Algard itu, apa yang sebenarnya ia pikirkan!? Dia sama sekali tidak memberitahuku apa pun!? Apalagi di tengah acara pesta malam!?"
"Tenangkan diri Anda, Yang Mulia."
"Bagaimana aku bisa tenang!"
"Uhm, Ayahanda. Aku mengerti kemarahan Ayahanda, tapi Nona Euphyllia baru saja menerima syok berat, jadi jangan berteriak terlalu keras..."
Saat aku menegurnya, Ayahanda menekan suaranya dengan ekspresi seperti baru saja mengunyah serangga pahit. Duke Grantz yang berdiri di sebelahnya menghela napas pelan, dan mengarahkan pandangannya pada Nona Euphyllia.
"...Euphyllia."
"Kh, maafkan saya, Ayah... Karena saya tidak berguna, hal seperti ini..."
Mendengar panggilan Duke Grantz, Nona Euphyllia menundukkan kepalanya seolah tak sanggup lagi mengangkat wajahnya. Getarannya perlahan semakin kuat, rasanya aku tidak tega melihatnya.
"Aku memang yang membawa kabar ini, tapi intinya karena keadaan Nona Euphyllia sedang kurang baik, bolehkah kami duduk?"
"O-Oh, ya. Tentu saja..."
Mendengar usulku, Ayahanda mengangguk, lalu kami duduk di sofa tamu. Di sebelahku duduk Ayahanda, sedangkan di depan kami duduk Nona Euphyllia dan Duke Grantz.
Setelah duduk dan sedikit menenangkan diri, Ayahanda berdeham lalu mulai berbicara. Ada raut penderitaan yang sangat jelas tergambar di wajahnya. Yah, itu wajar saja, sih.
"...Maaf karena aku kehilangan kendali tadi. Tapi, aku benar-benar tak bisa memercayainya..."
"Tapi itu benar-benar terjadi, Ayahanda."
Ayahanda benar-benar memegangi kepalanya dengan pusing. Ya wajar saja, karena pertunangan Al-kun dan Nona Euphyllia adalah pertunangan antara calon Raja dan calon Ratu. Pertunangan antara keduanya memiliki makna yang sangat besar. Apalagi lawannya adalah Nona Euphyllia, putri dari keluarga Adipati Magenta.
Karena itulah pembatalan pertunangan tidak akan bisa disetujui dengan mudah. Fakta bahwa Al-kun berani mengumumkannya bisa dibilang sebagai tindakan yang tak masuk akal, jadi wajar saja jika Ayahanda sampai bereaksi begini.
"...Maaf, Grantz. Mau tak mau aku harus mengakui bahwa penilaianku terlalu naif."
Menundukkan kepalanya seperti menahan sakit kepala, Ayahanda menggumam pelan sambil menekan perutnya yang sepertinya benar-benar sakit. Namun, mendengar permintaan maaf dari Ayahanda, Duke Grantz menggelengkan kepalanya perlahan.
"Orang sekelas Yang Mulia tidak seharusnya meminta maaf semudah itu. ...Euphyllia."
"...Iya."
"Aku sudah mendengar kabar bahwa hubunganmu dengan Pangeran Algard tidak mengalami perkembangan. Sungguh disayangkan hal ini bisa terjadi."
"...Maafkan saya."
"Permintaan maaf tidak diperlukan. Yang harus kau pikirkan sekarang adalah bagaimana tindakanmu ke depannya."
"Saya bersedia menerima hukuman apa pun."
Mendengar kata-kata Duke Grantz, Nona Euphyllia menunjukkan ekspresi pedih, seolah-olah ia sedang menunggu hukuman yang akan dijatuhkan padanya. Alis Duke Grantz berkedut kecil melihat Nona Euphyllia yang seperti itu. Percakapan dua orang ini terasa begitu tegang hingga aku tanpa sadar menyela.
"Ehem. ...Duke Grantz, bolehkah saya menyela sedikit?"
"Ada apa gerangan, Putri Anisphia."
"Mungkin benar Anda tidak bermaksud untuk memarahinya, Duke Grantz. Tapi, Nona Euphyllia pasti sedang kebingungan karena semua ini terjadi secara tiba-tiba. Bagaimana kalau Anda bersikap sedikit lebih lembut padanya? Dan juga Nona Euphyllia. Wajar saja jika kamu terkejut dengan semua ini, tapi santai saja, oke? Karena orang-orang yang ada di sini, termasuk diriku, pasti ada di pihakmu."
Mendengar kata-kataku, Nona Euphyllia mengangkat kepalanya. Dia menatapku dengan ekspresi seolah tidak mengerti apa yang baru saja kukatakan. Aku mencoba tersenyum padanya.
"Untuk sementara! Mari kita rapikan situasinya dulu! Ayahanda juga pastinya sudah menangkap beberapa hal, kan?"
"...Kalau kau mengatakan hal yang waras begini, entah kenapa rasanya tidak masuk akal bagiku."
"Kejam sekali!?"
"Ini karena ulahmu sendiri, dasar bodoh!"
Sungguh tidak bisa dipahami. Yah, terserah lah. Saat aku tanpa sadar mengerucutkan bibirku, Ayahanda tiba-tiba mengucapkan terima kasih kepadaku.
"Anis. Masalah kau menerobos masuk ke pesta malam Akademi Bangsawan akan kita urus nanti. Tapi, meski kebetulan, aku berterima kasih karena kau telah melindungi Euphyllia."
"Iya, itu memang benar-benar murni kebetulan, sih."
"Kita harus segera meminta penjelasan dari Algard. Pertama-tama aku harus memerintahkannya untuk dihukum skorsing..."
"Ah, Ayahanda. Sepertinya ada beberapa orang lain yang ikut terlibat, jadi sebaiknya Anda mengamankan mereka juga."
Ayahanda memasang wajah enggan. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan obat lambung yang sering ia konsumsi. Melihat Ayahanda menelan obat itu, entah mengapa aku bisa merasakan aura kesedihan menyelimutinya. Memang masalahnya cukup berat, tapi kurasa berurusan denganku memang membuatnya lelah. Ya, tentu saja aku sadar kalau diriku ini biang masalah, lho?
Namun, seharusnya aku tidak ikut campur dalam masalah ini. Meski aku adalah keluarga kerajaan, aku sudah membuang hak penerus takhtaku.
Oleh karena itu, aku tak punya niat sedikit pun untuk ikut campur dalam perselisihan terkait takhta. Tapi kali ini benar-benar di luar kendali alias murni ketidaksengajaan. Yah, itu bisa diurus nanti.
"Menyelidiki kronologi dan isi kejadian memang penting, tetapi ada hal yang harus dibereskan setelahnya. Secara spesifik, mengenai masa depan Nona Euphyllia."
"...Masa depan Euphyllia, ya."
Ayahanda menggumam dengan suara getir yang dipenuhi dengan penyesalan mendalam. Saat ini, terlepas dari apakah pengumuman pembatalan pertunangan yang dilakukan Al-kun itu punya dasar atau tidak, masalahnya adalah karena hal ini dilakukan di depan umum, kejadian ini telah dilihat oleh banyak orang.
Apa yang membuat ini buruk adalah, pernikahan Nona Euphyllia di masa depan akan menjadi sangat sulit. Sekali diucapkan, deklarasi pembatalan pertunangan tak bisa dianggap tidak pernah terjadi. Dan lagi, tidak mungkin juga menyuruh Nona Euphyllia balikan dengan Al-kun.
Jika sudah begini, masalah berikutnya adalah masa depan Nona Euphyllia. Pembatalan pertunangan adalah bahan tertawaan yang sangat bagus di dunia sosial. Terutama bagi Nona Euphyllia yang sebelumnya dianggap sebagai calon Ratu. Terlebih lagi, keluarga asalnya, keluarga Adipati Magenta, adalah keluarga bergengsi yang telah meninggalkan banyak pencapaian yang tidak membuat malu nama adipati.
Berita bahwa Nona Euphyllia yang seperti itu mengalami pembatalan pertunangan akan menjadi mangsa empuk untuk dicemooh. Dengan begini, akan ada masalah besar dalam menentukan calon tunangan berikutnya.
Sekali dibuang oleh keluarga kerajaan, kandidat untuk bertunangan dengan nona muda ini akan menjadi sangat terbatas. Ini adalah masalah besar. Dengan kata lain, kehidupan Nona Euphyllia sebagai seorang nona bangsawan ke depannya telah mengalami kerusakan yang fatal. Itu pun hanya karena keegoisan sepihak keluarga kerajaan. ...Ya, ini buruk dalam berbagai arti.
"...Dengan bakat yang dimiliki Euphyllia, kita juga tidak bisa dengan ceroboh mengeluarkannya ke luar negeri..."
"Menikahkan Nona Euphyllia ke luar negeri memang sangat sulit, ya. Bagaimana tidak, dia ini putri adipati jenius! Anak jenius yang langka! Anak yang dicintai oleh roh! Rumor tentang Nona Euphyllia sangat sering terdengar di telingaku!"
Nona Euphyllia adalah seorang nona muda yang sangat menonjol di antara teman-teman sebayanya. Bukan hanya dalam hal etika pergaulan, tetapi ia juga menunjukkan bakat yang luar biasa dalam sihir dan ilmu bela diri, benar-benar sosok yang pantas disebut sebagai anak jenius.
Ditambah lagi, Nona Euphyllia memiliki paras yang sangat jelita. Dengan rambut perak dan kulit putih yang cocok dengan kehadirannya yang memancarkan wibawa sebagai seorang putri adipati, jika ada kekurangan yang harus disebutkan, mungkin tatapan matanya yang tajam. Namun, jika dia bertindak sebagai calon Ratu, wibawa seperti itu justru sangat dibutuhkan.
Oleh karena itu, banyak suara dari mana-mana yang menyatakan bahwa Nona Euphyllia sangat cocok untuk menjadi Ratu berikutnya. Aku juga sering mendengar rumor itu, dan saat aku melihatnya dari kejauhan, aku harus mengakui bahwa aku merasa kalah telak sebagai seorang wanita. Ya, bukannya aku pernah memoles diriku sebagai seorang wanita, sih.
Mungkin karena jarak kemampuan kami yang begitu jauh, rasanya seperti ada rasa hormat dari diriku untuknya. Sejak kecil, ia telah menunjukkan bakat yang luar biasa, sehingga keluarga kerajaan memintanya untuk menjadi tunangan. Kekuatannya tak terhingga, dan betapa hebatnya Nona Euphyllia telah diceritakan berkali-kali.
Karena itulah, tak mungkin menikahkannya ke luar negeri. Kekuatan Nona Euphyllia akan secara langsung menjadi kekuatan bagi negara asing tersebut. Jika sudah begini, kita tak punya pilihan yang bagus.
Namun, di dalam negeri pun, berapa banyak orang yang bersedia bertunangan dengan nona muda yang pernah berselisih dengan keluarga kerajaan. Apalagi Nona Euphyllia adalah seorang putri adipati, mencari pasangan yang sepadan dengan statusnya itu sudah seperti mencari jalan di pintu yang sangat sempit.
Singkat kata, situasinya benar-benar buntu dalam banyak hal. Saat aku melirik ke arah Nona Euphyllia, dia hanya menunduk dengan aura kelam yang menyelimutinya.
Tak heran. Pendidikan calon Ratu pasti sangatlah berat. Ia dibesarkan untuk memikul beban negara di masa depan, dan pasti telah mengorbankan banyak hal lain untuk itu. Sedangkan aku, aku berlari sekencang mungkin untuk melarikan diri dari tanggung jawab itu.
Sejujurnya, ada kemungkinan beban itu beralih ke pundak Nona Euphyllia karena aku melarikan diri. Karenanya, aku juga merasa tak bisa membiarkan Nona Euphyllia sendirian dalam situasi ini.
Bahkan tanpa perlu kutunjuk, Ayahanda pasti sudah menyadari betapa suramnya masa depan Nona Euphyllia.
Di saat seperti ini, aura intimidasi dari Duke Grantz yang diam membisu terasa sedikit menyeramkan. Tapi, ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah. Kecuali jika ia bisa mencetak sebuah pencapaian yang besar. ...Hm? Pencapaian yang besar? Saat itulah, ping, sebuah ide brilian terlintas di benakku.
"Ayahanda!"
"Ada apa, kenapa tiba-tiba kau berteriak!"
"Mengenai masa depan Nona Euphyllia, apakah pemahaman kita sama bahwa kalian sedang kebingungan mencari calon tunangan baru untuknya?"
"...Ya, memang begitu, tapi kenapa? Entah kenapa aku punya firasat buruk soal ini."
"Anisphia di hadapanmu ini, punya ide brilian!"
Seketika, wajah Ayahanda terlihat sangat muak. Ayahanda kurang ajar banget dari tadi! Kemudian, Duke Grantz yang diam sedari tadi juga mengarahkan pandangannya padaku. Tekanan dari tatapannya sangat kuat. Ia menatapku seolah ingin melubangi diriku, membuatku merasa tidak nyaman.
"Putri Anisphia, ide brilian apakah itu?"
"Ya. Saat ini, Nona Euphyllia dihadapkan pada pembatalan pertunangan, dan sebagai nona bangsawan, ia telah menderita luka yang sangat dalam. Terlebih lagi, Nona Euphyllia memiliki bakat yang langka. Meskipun kita ingin mencarikannya tunangan baru, kemungkinannya kandidat yang tersisa akan sangat ketat, sehingga situasinya menjadi sangat tidak menentu."
"Pasti akan jadi seperti itu. ...Lalu, ide brilian apa yang kau maksud? Entah kenapa firasat burukku semakin menjadi-jadi."
"Hahaha, Anda keterlaluan. Dalam pembatalan pertunangan kali ini, meskipun hal itu dilakukan secara sepihak oleh Al-kun dan kesalahan sepenuhnya ada di pihak keluarga kerajaan, fakta bahwa Nona Euphyllia gagal mencegah deklarasi tersebut tidak akan pernah hilang."
Meskipun dalam insiden ini Al-kun yang bersalah sepenuhnya, suara-suara yang meragukan kemampuan Nona Euphyllia karena gagal mencegah hal itu pasti akan muncul. Toh segalanya sudah terjadi, jadi mau bagaimana lagi.
"Jika saya mengatakannya seperti ini, maka Nona Euphyllia pun jadi punya tanggung jawab..."
"Itu adalah fakta. Bahwa saya gagal menghentikan Pangeran Algard, merupakan kelalaian dari pihak saya."
"Ya. Kesalahan yang pernah terjadi tidak akan mudah hilang. Namun, memperbaiki kesalahan itu sangatlah mungkin. Untuk itu, Nona Euphyllia hanya perlu membangun pencapaian baru."
Duke Grantz tak memalingkan pandangannya dariku barang sedetik pun, menatapku agar tak terlewat satu kata pun. Di tengah ketegangan yang ganjil itu, mungkin karena tak sabar, Ayahanda bertanya padaku dengan ekspresi curiga.
"...Jadi apa maksudmu? Berhenti berbelit-belit, cepat sampaikan intinya."
"Kalau begitu, saya akan langsung ke intinya. ──Ayahanda, Duke Grantz! Tolong berikan Nona Euphyllia padaku!!"
Satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan atmosfer di ruangan ini adalah "membeku". Mendengar ucapanku, wajah Ayahanda seketika menegang, dan Duke Grantz sedikit melebarkan matanya.
Kemudian, sang subjek yang sedang dibicarakan, Nona Euphyllia, mengangkat wajah dan menatapku seolah bertanya apa maksud ucapanku. Aku tersenyum pada Nona Euphyllia, lalu kembali menghadap Ayahanda dan Duke Grantz.
"Aku akan membahagiakan Nona Euphyllia dengan segenap kemampuanku! Kumohon izinkanlah!"
"Tunggu-tunggu-tunggu! Omong kosong gila apa lagi yang kau bicarakan ini!?"
Dengan wajah pucat pasi, Ayahanda segera berdiri dan memelototiku. Siapa yang bicara gila!? Aku benar-benar serius tahu!
"Putri Anisphia. Menginginkan Euphyllia, apakah maksud di balik perkataan Anda tersebut?"
Duke Grantz bertanya dengan gayanya yang biasa. Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaannya.
"Saya ingin mengundang Nona Euphyllia untuk menjadi asisten saya."
"...Asisten, kah?"
Nona Euphyllia memiringkan kepalanya dengan raut wajah kebingungan. Terlihat agak manis. Aku ingin mengelusnya. Mungkin merasakan isi hatiku, tatapan Ayahanda menjadi lebih tajam. Berusaha memperbaiki situasi, aku pun berdeham.
"Aku rasa Anda sudah tahu bahwa aku adalah pencetus 'Ilmu Sihir', dan aku membutuhkan Nona Euphyllia sebagai asisten saat aku sedang meneliti atau mempublikasikan Ilmu Sihir."
"...Meski mungkin tak masuk akal, Putri Anisphia. Apakah Anda bermaksud membiarkan Euphyllia memublikasikan hasil pencapaian Ilmu Sihir tersebut agar menjadi pencapaian miliknya?"
"Benar! Anda sangat jeli, Duke Grantz!"
Ilmu Sihir adalah nama penelitian yang kugunakan untuk menciptakan kembali hal-hal yang pernah kulihat sekilas dalam ingatanku tentang kehidupan masa lalu, serta untuk memecahkan misteri sihir dengan menggunakan pemikiran tersebut. Ilmu Sains Sihir, disingkat Ilmu Sihir. 'Sapu Penyihir' milikku juga salah satu hasil dari pemikiran bahwa aku ingin terbang dengan menggunakan sihir.
"Meskipun secara perlahan, Ilmu Sihir yang telah diakui setelah dikonfirmasi oleh Ayahanda telah menyebar di masyarakat. Namun, karena suatu keadaan, aku menahan diri untuk memublikasikannya sebagai pencapaian besar di depan publik."
"Ilmu Sihir lahir dari pemikiran yang revolusioner. Begitu juga alat-alat sihir yang diciptakan darinya. Hal itu akan membawa dampak yang terlalu besar bagi Kerajaan Palettia. ...Begitu, kan?"
"Iya. Oleh karena itu, aku mengusulkan pada Ayahanda agar pencapaian Ilmu Sihir tidak disebarluaskan secara besar-besaran. Akan sangat merepotkan jika orang-orang mulai mengatakan bahwa akulah yang lebih pantas menjadi Raja berikutnya."
Al-kun memang adikku, tapi karena ia adalah anak laki-laki, hak penerus takhta lebih diprioritaskan padanya. Namun, meskipun kondisiku begini, aku juga seorang anggota kerajaan, jadi aku "pernah" memiliki hak suksesi. Ya, itu adalah cerita masa lalu.
Lihat kan, aku tidak bisa menggunakan sihir. Meski aku adalah seorang putri, karena aku tidak bisa menggunakan sihir, sekalipun aku memiliki pencapaian dalam Ilmu Sihir, jika ditilik dari sejarah berdirinya negara ini, aku tidak akan bisa diterima sebagai seorang Raja.
Singkatnya, Kerajaan Palettia adalah negara yang berkembang bersama sihir. Raja Pertama menjalin kontrak dengan para roh, dan mereka berjalan bersama. Kemudian, beliau membangun negara ini menggunakan sihir yang dianugerahkan oleh para roh.
Kemudian, para bangsawan berjalan bersama Raja sebagai pelayan, dan Kerajaan Palettia pun terbentuk. Karena itulah, kemampuan menggunakan sihir sangatlah penting bagi anggota kerajaan. Namun, ironisnya, aku yang merupakan anggota keluarga kerajaan sama sekali tidak bisa menggunakan sihir.
Semua orang tidak tahu bagaimana harus memperlakukanku. Aku akhirnya memutuskan, jika aku tidak bisa menggunakan sihir, maka aku akan meneliti sihir yang bisa kugunakan. Itulah mengapa aku membuang hak penerus takhtaku sejak aku memutuskan untuk meneliti Ilmu Sihir. Karena aku pikir, kalaupun aku menyimpannya, itu hanya akan memicu konflik yang tidak perlu.
Pada awalnya Ayahanda sangat menentangnya, tapi pada waktu itu aku bertindak terlalu ekstrem hingga ia akhirnya menyerah. Dan dengan begitu, meski aku tetap terdaftar di keluarga kerajaan, aku hanya menjadi seorang putri nama saja yang tidak terlibat dalam urusan politik.
"Padahal begitu, belakangan ini Ayahanda sering melimpahkan banyak pekerjaan padaku, jadi aku merasa aneh karena aku mendadak jadi lumayan terkenal."
"Kebalikannya, justru kebalikannya! Karena kau sangat mencolok, maka aku mempekerjakanmu agar aku bisa lebih mudah mengendalikanmu, gadis eksentrik tak tahu diri!"
"Eee...?"
Tapi, bukankah melimpahkan urusan negara yang merepotkan itu padaku adalah hal yang curang?
Karena ini masih bersinggungan dengan hobiku, biasanya aku tidak pernah komplain. ...Ups, pembicaraannya jadi melantur. Aku harus kembali ke topik utama.
"Bagiku, asalkan Ilmu Sihir tersebar luas, itu tidak jadi masalah. Tapi, aku tidak berniat tampil di panggung utama. Jadi, bagaimana kalau aku melakukan penelitian bersama dengan Nona Euphyllia, dan menjadikannya sebagai pencapaian bagi Nona Euphyllia?"
"...Tentu. Ini jelas memiliki nilai yang cukup untuk membalikkan skandal pembatalan pertunangannya."
"Bukan? Lalu, ini dia hal pentingnya. Aku tidak bisa menggunakan sihir. Aku sangat menginginkan seorang asisten yang bisa menggunakan sihir, dan dalam hal ini, Nona Euphyllia adalah sosok yang sangat, sangat kuinginkan!"
"...Saya?"
"Benar! Kamu sangat berbakat sebagai seorang bangsawan, punya kemampuan dalam ilmu bela diri, dan punya afinitas terbanyak dengan berbagai elemen sihir dalam sejarah, benar-benar anak kesayangan roh! Menyebut Nona Euphyllia sebagai harta Kerajaan Palettia bukanlah sesuatu yang berlebihan!"
Sihir di dunia ini dianggap sebagai berkah dari para roh. Nona Euphyllia terkenal karena kemampuannya dalam menggunakan berbagai macam sihir.
Terus terang saja, aku sangat menginginkannya. Seperti yang baru saja kubilang, aku sangat, sangat menginginkannya. Karena ini penelitian pribadiku dan karena reputasiku yang seperti ini, citraku di kalangan bangsawan biasa sangatlah buruk.
Jadi, meskipun aku menginginkan seorang asisten, aku tak bisa mempekerjakan satu pun. Dan di sanalah hadir Nona Euphyllia! Mungkin terdengar buruk kalau kubilang aku memanfaatkan batalnya pertunangan ini, tapi tak ada alasan bagiku untuk melepaskan kesempatan emas ini. Lagipula, pada akhirnya ini juga demi kebaikan Nona Euphyllia!
"...Saya juga berpikir bahwa usulan Anda sangat masuk akal."
"Tuh, kan! Ya? Makanya Ayahanda, boleh kan?"
"Anis. ...Apakah kau ingat perkataan yang kau ucapkan saat kau bilang ingin membuang hak penerus takhta?"
Ayahanda menyilangkan tangan di dadanya dan menatapku dengan wajah yang sangat masam. Perkataan yang mana, ya? Aku memiringkan kepala, tapi karena segera teringat, aku langsung memukulkan kepalan tanganku ke telapak tangan lainnya.
"...Ah, maksudnya soal deklarasi yang itu."
Tiba-tiba, entah karena dia juga teringat, Duke Grantz ikut bergumam sambil menghela napas panjang. Melihat reaksi Ayahanda dan Duke Grantz, Nona Euphyllia tampak kebingungan dan mengalihkan pandangannya pada mereka berdua.
"Ayah, um... Pembicaraan apa itu?"
"...Ketika Putri Anisphia menyatakan ingin menyerahkan hak penerus takhta, ia berkata seperti ini: 'Saya tidak sudi menikah dengan pria. Kalau urusan kasih sayang, saya lebih suka mengasihi wanita!' Begitulah."
Mendengar kata-kata Duke Grantz, Nona Euphyllia membelalakkan matanya dan menatapku. Aku merasa jarak di antara kami tiba-tiba melebar. Yah, gimana ya, itu kan niat asliku.
"Habisnya, aku tak mau menikah dan punya anak."
"Dasar kau iniiiiii!!"
"Gyaaaaaaa!? Sakit!! Cengkeraman kepalanya sakit banget! Ampun, Ayahanda! Tolong lepaskan!!"
Ayahanda meneriakkan amarah dengan segenap tenaga, sambil mencengkeram kepalaku. Jari-jari Ayahanda menekan wajahku! Lagipula dia mengangkatku sampai kakiku tidak menyentuh tanah! Tunggu, ini beneran sakit!!
"Berani-beraninya kau memperlakukan sikap dan kewajiban seorang anggota kerajaan bagaikan sampah...!"
"Sakit sakit sakit! T-Tapi...! Meninggalkan garis keturunanku, yang bahkan tidak bisa menggunakan sihir ini, sebagai penerus darah keluarga kerajaan... bukankah itu salah sasaran...! Aku sama sekali tidak salah!"
"Jelas-jelas salah besar, anak bodoh! Ilmu Sihirmu itu memang pantas dihargai, tapi jangan berani-beraninya kau bilang tidak mau menikah!"
"Tolong diingat kata-kataku itu! Aku pernah bilang asalkan aku membuahkan hasil, aku tidak perlu menikah seumur hidup! Aduh aduh! Ayahanda, wajahku nanti penyok! Penyok lho...!"
"Bila dibandingkan dengan sakit lambung yang kualami pada masa itu, ini tidak ada apa-apanya!"
Ayahanda membuangku begitu saja seakan melempar sampah. Ah, gila sakit banget. Kukira wajahku bakal hancur.
Memang, saat aku menyatakan hal itu, semuanya jadi kacau balau bagaikan neraka yang riuh redam. Aku harus mengakui, aku juga sedikit menyesal. Namun, karena itu isi hatiku yang sebenarnya, cepat atau lambat pasti akan terbongkar juga. Makanya aku mendahului untuk menghancurkan akarnya dari awal.
Akibatnya, gosip mulai menyebar luas kalau aku "menyukai sesama jenis".
Aku sih tidak membantah kalau aku menyukai perempuan! Lagian bukannya aku juga membenci pria, tapi ketika urusannya menyangkut soal asmara, pertunangan, atau pernikahan, aku mendadak jadi sangat muak mendengarnya.
"...Putri Anisphia. Bolehkah saya bertanya satu hal?"
"Tentu, ada apa Duke Grantz?"
"Menginginkan Euphyllia sebagai asisten, apakah benar-benar hanya bermakna 'asisten' dalam arti harfiah?"
Duke Grantz menatapku tepat di mata tanpa berkedip sedikitpun. Karena sudah sangat terbiasa, tatapan yang seolah ingin menelanjangi pikiranku ini sama sekali tidak mempan lagi.
"Hmm. Tidak juga, aku memang sangat terpesona akan pesonanya sebagai bangsawan dan kemampuannya menggunakan sihir, namun untuk memperjelas..."
"Memperjelas?"
"Nona Euphyllia adalah tipeku!"
"Demi dewa diamlah, Anis!"
"Saya menolak!"
"Dan berani-beraninya kau memasang raut wajah semenyebalkan itu...!"
Aku berlari bersembunyi di balik sofa yang diduduki Duke Grantz dan yang lainnya agar wajahku tidak dicengkeram lagi. Saat aku menoleh, pandanganku tepat bertemu dengan Nona Euphyllia, lalu ia sedikit menjaga jarak dariku.
Agak syok, sih. Tapi ya, mau bagaimana lagi. Aku juga tidak pernah menyangkal gosip itu. Namun, akan susah membujuknya kalau kubiarkan begitu saja.
"Ah, anu, maksudnya, aku tidak akan pernah menyentuh orang yang tidak mau disentuh kok, dan bukan berarti aku mau dengan siapa saja, lho? Aku juga bukan seorang playboy atau semacamnya, jadi kamu tidak perlu khawatir soal hal-hal begitu. Alasan utamanya karena aku punya segudang alasan untuk bisa lebih akrab sama Nona Euphyllia."
"...Denganku?"
"Habisnya kamu itu kan tunangannya Al-kun, jadi aku tidak bisa asal mengajakmu minum teh bareng! Sejujurnya, walaupun keadaannya sedang buruk, tapi aku benar-benar menyambut ini dengan tangan terbuka! Untuk Nona Euphyllia mungkin ini adalah bencana, tapi hei, bagaimana menurutmu? Mau tidak meneliti Ilmu Sihir bersamaku?"
"...Apakah karena saya bisa berguna untuk Anda?"
Tersenyum miring seakan mengejek diri sendiri, Nona Euphyllia memalingkan wajahnya dariku. Aku sangat mengerti bagaimana terpuruknya perasaan seseorang yang baru saja mengalami pembatalan pertunangan secara mendadak.
"Kalau memang begitu, itu benar adanya. Tapi, aku juga bisa bilang kalau alasannya bukan itu."
"...?"
"Nona Euphyllia bebas menentukannya, alasan apa pun yang mau kaupilih. Anggap saja aku ingin menolong Nona Euphyllia karena kau terlihat kesakitan dan menderita. Kamu bebas memercayai kata-kata itu, atau menggunakan alasan lain juga tak apa."
Mendengar kata-kataku, Nona Euphyllia terbelalak kaget. Aku menjulurkan tanganku ke wajahnya dan membelai lembut pipinya. Dengan tangan yang berada di pipinya, kualihkan pandangannya agar menatap langsung kepadaku. Meski jarak kami menjadi sangat dekat, berkat itu aku kembali memastikan bahwa Nona Euphyllia benar-benar seorang yang cantik jelita.
Dulu, saat aku sering melihatnya dari jauh, ia selalu terlihat tanpa ekspresi, atau menampilkan senyuman kaku layaknya contoh yang tergambar di sebuah lukisan. Namun, perempuan di hadapanku ini sekarang terlihat tak punya tenaga lagi untuk menyembunyikan perasaannya, matanya basah karena kebingungan dan kecemasan.
"Kalau kau tidak memercayaiku, kau bisa pasrah menerima alasan bahwa ini karena kau berguna bagiku. Aku juga tidak akan menyangkalnya. Tapi kalau suatu saat nanti kata-kata bahwa aku 'ingin menolongmu' itu sudah bisa kauyakini, maka percayalah."
Sambil membelai kepala Nona Euphyllia dengan penuh kelembutan, aku meneruskan kata-kataku. Berharap dengan tulus agar rasa sakit dan penderitaan yang dipikul Nona Euphyllia bisa sedikit berkurang.
"Bisa memercayainya nanti-nanti saja tak apa. Oleh karena itu, kuharap Nona Euphyllia bersedia mengikutiku dengan alasan yang kauinginkan, atau alasan apa pun yang mau kaupilih."
Nona Euphyllia hanya bisa terus mematung sembari menatapku kosong. Ekspresinya tampak seperti seorang anak kecil yang tersesat dan kebingungan harus berbuat apa.
"Euphyllia."
Suara yang merebut pandangan Nona Euphyllia itu berasal dari Duke Grantz. Duduk tepat di sebelah Nona Euphyllia, posisinya kini berseberangan denganku.
Menatap putrinya dengan wajah sedatar topeng kayu, Duke Grantz perlahan mengembuskan napas panjang dan berkata.
"...Maafkan ayah."
Permintaan maaf Duke Grantz yang tiba-tiba bahkan sanggup membuat mataku terbelalak kaget. Ayahanda juga terbelalak kaget, dan yang paling terguncang dari semua reaksi itu tak lain adalah Nona Euphyllia. Menatap pria itu dengan pandangan yang tak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakannya.
"Ayah?"
"Euphyllia. Sebagai calon Ratu, sebagai seorang putri dari keluarga Adipati Magenta, engkau selalu bekerja keras tanpa rasa malu. Namun, sejak awal sayalah yang memaksamu agar menjadi sosok yang demikian."
Dengan sangat perlahan seakan tengah memilah-milah kata. Benar, Duke Grantz seakan merangkai setiap kata demi kata untuk mencoba menyampaikan sesuatu. Di mataku, pria itu tidak terlihat seperti seorang adipati, melainkan seorang ayah yang kikuk. Menyembunyikan ketajaman matanya dan menggantinya dengan nada suara dan ekspresi yang diselimuti penyesalan, pria itu pun melanjutkan.
"Saat engkau mengabulkan apa yang kupinta darimu, saya pikir terus mendorongmu adalah sesuatu yang benar. Sebagai seorang ayah yang tegas, dan sebagai seseorang yang memikul nama besar Adipati Magenta, saya menganggap itulah sikap yang tepat."
"...Apa, apa maksud perkataan Ayah!?"
"Ayah hanya merasa, bahwa mungkin saya telah melakukan sebuah kesalahan."
Seolah tak memercayai apa yang didengarnya, Nona Euphyllia seketika mencondongkan tubuhnya ke depan. Sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan gusar. Di dalam matanya terpancar kilatan kegelisahan, atau lebih tepatnya ketakutan.
"Saya bisa menjadi seperti ini sepenuhnya berkat ajaran dari Ayah! Saya tak pernah menyesali hal itu sedikit pun! Apalagi menganggap Ayah telah berbuat kesalahan, hal semacam itu tak pernah terlintas di pikiranku! Semua kesalahan mutlak karena saya yang kurang ajar! Hanya karena kecerobohan saya sebagai putri adipati, dan juga sebagai calon Ratu, saya tidak lebih dari seorang anak bodoh yang menodai nama baik keluarga kita!"
"Tidak ada anak bodoh di keluargaku."
Itu adalah kata-kata sangkalan yang kuat yang mampu membelah tangisan menyayat hati Nona Euphyllia dalam sekali tebas. Meskipun aku juga terkejut mendengarnya, tapi sepertinya Nona Euphyllia jauh lebih terkejut lagi sampai bahunya tersentak. Seluruh tubuh Nona Euphyllia bergetar hebat setelah mendengar kata-kata Duke Grantz.
Meskipun mulutnya terus membuka dan menutup seakan ingin mengatakan sesuatu, namun sepertinya ia tak mampu merangkainya menjadi kata-kata. Menatap lurus ke arah Nona Euphyllia yang tak mampu berkata-kata, Duke Grantz melanjutkan bicaranya.
"Engkau telah merespons ekspektasiku dengan sangat baik. Bahkan respons tersebut sudah sangat berlebihan, hingga mencapai apa pun yang kuidam-idamkan. ...Kini, ayah meragukan apakah dalam hal itu pernah ada kemauan dari dirimu sendiri. Kalaupun memang tidak ada, maka semuanya mutlak karena dosa saya."
Gestur Duke Grantz yang tengah berbicara tanpa emosi itu sama sekali tidak menggambarkan auranya yang penuh wibawa seperti biasanya. Mustahil, rasanya sangat sulit dipercaya bahwa ini adalah kata-kata dari Duke Grantz dari keluarga Adipati Magenta, keluarga paling elite di antara bangsawan tertinggi. Namun, kurasa rentetan kata-kata itu pastilah berasal dari hati nurani Duke Grantz yang terdalam. Meski begitu, Nona Euphyllia berteriak histeris tak sanggup untuk menerima hal tersebut.
"Apa yang Ayah katakan...? Kumohon hentikan, Ayah. Kumohon jangan katakan hal seperti itu. Jika Anda mengatakan hal-hal seperti itu, saya tak akan mengerti apa yang harus saya lakukan!"
"Benar. Engkau tidak mengerti. Engkau bahkan tak paham, bahwa saat engkau merasa menderita, engkau berhak untuk mencari pertolongan."
Ekspresi Duke Grantz seketika goyah. Itu hanyalah perubahan kecil, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia sedang tersenyum pahit karena serba salah. Tangan Duke Grantz terjulur dan mengusap pelan kepala Nona Euphyllia. Mendapat elusan itu, Nona Euphyllia menatap Duke Grantz dengan raut wajah tak percaya.
"Benar-benar mirip anak kecil ya, Euphie."
Dengan sentuhan lembut seakan menenangkan Nona Euphyllia, meskipun terlihat kikuk, Duke Grantz tetap membelai kepalanya. Seperti layaknya orang tua pada umumnya.
"Hatimu sudah berhenti berkembang rupanya. Ketika engkau kesulitan maka mengeluhlah kesulitan, ketika engkau menderita maka mengeluhlah menderita, engkau dipaksa tumbuh besar tanpa pernah diajari hal-hal semacam itu. Engkau ini masih saja Euphie kecil. Sedangkan ayah, saya hanya bisa mengajarimu untuk selalu menjaga penampilan di luar saja."
Mendengar kata-kata Duke Grantz, wajah Nona Euphyllia langsung meleyot. Mengubah wajahnya yang seakan ingin menangis, namun di saat yang sama, ia tak bisa menyembunyikan kemarahannya, menciptakan rona ekspresi yang tak dapat dijabarkan hanya dalam satu kata.
"Tolong hentikan, Ayah. Saya tak mau lagi mendengar Ayah merendahkan diri sendiri, sekalipun itu mengenai diri Anda sendiri...! Yang pantas disalahkan karena ketidakbergunaannya adalah saya!"
Teriakan Nona Euphyllia tadi menjadi bukti betapa sayangnya dia pada Duke Grantz. Seolah-olah menegaskan bahwa pengakuan ayahnya itu adalah sebuah kesalahan, bahwa yang bersalah adalah dirinya sendiri. Dan mustahil jika yang terjadi malah sebaliknya. Namun, di tengah semua teriakan Nona Euphyllia, Duke Grantz malah tersenyum kecut.
"Jika engkau merasa tidak becus, maka itu artinya ayah juga tidak becus, bukan. Baik itu sebagai orang tua, maupun sebagai manusia. Karena ayah membayangkanmu kelak akan memikul beban negara, maka saya menaruh ekspektasi yang tinggi padamu. Selain itu, saya selalu mendidik dan memberlakukan disiplin yang keras padamu untuk mempersiapkanmu menghadapi segala cobaan yang mungkin akan kauhadapi. Namun, ayah sadar bahwa semua itu tak lebih dari sebuah baju zirah tanpa mampu membentuk karakter pribadimu. Memalukan sekali, bukan."
"Ayah...!"
Nona Euphyllia menolak ajaran ayahnya, merengek sambil terus menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dari balik matanya, air mata meluncur bebas berkat hentakan dari gelengan kepalanya.
Tangan Duke Grantz yang tersibak karena kibasan Nona Euphyllia kini menyentuhnya guna mengusap air mata sang putri tercinta. Ia menyentuhnya perlahan bagaikan barang rapuh yang gampang pecah.
"Akan kuizinkan. Meskipun ini adalah perjodohan yang dikehendaki oleh sang Raja sendiri, jika engkau ingin mundur, maka ayah akan mengabulkannya."
"...Kh!"
"Jadi katakan pada ayah, Euphie. ...Apakah menjadi seorang Ratu sangat menyakitkan bagimu?"
Nona Euphyllia menggigit bibirnya seakan mencoba mengirisnya di saat mendengar pertanyaan dari Duke Grantz. Tetapi, sebelum gigi itu berhasil merobek bibirnya, tubuh Nona Euphyllia perlahan kehilangan seluruh tenaganya. Seolah-olah ketegangan yang tadi dirasakannya tiba-tiba putus bagaikan benang. Tak pelak lagi, ia menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya.
"...Maafkan saya, Ayah. Sudah... Saya sudah tidak sanggup lagi..."
Nona Euphyllia mengembuskan napas panjang dengan sedikit tegang seolah sedang menahan isak tangisnya, lalu menggumamkan kata-katanya. Suaranya terdengar seakan ia siap menangis tersedu-sedu detik itu juga. Dengan tenang, Duke Grantz mengangguk menerima semua perkataan Nona Euphyllia.
"Begitu rupanya... Ayah mengerti. Terima kasih karena sudah mau membicarakannya pada ayah."
"...Iya. Seharusnya saya lebih bisa mengandalkan Ayah. Namun saya merasa, orang-orang akan mengatakan bahwa saya tidak pantas menjadi Ratu selanjutnya jika saya hanya berlindung di bawah nama besar orang tua."
"Niatmu itu memang penting. Namun, terkadang bisa mengarahkan orang dengan baik juga merupakan tugas dari seorang bangsawan yang baik."
"...Baik."
Pada Nona Euphyllia yang mengangguk lemah, Duke Grantz mengembuskan napas panjang seakan merasa lega. Lalu, Duke Grantz meletakkan tangannya di atas pundak Nona Euphyllia dan berkata.
"Euphie, ayah sarankan agar engkau pergi ke kediaman Putri Anisphia. Namun tetap, yang memutuskannya adalah dirimu."
"Eh...?"
"Di saat seperti ini, pasti akan ada interogasi tajam mengenai urusan yang tidak-tidak. Sangat mudah ditebak apa yang akan terjadi jika orang-orang mengetahui posisimu saat ini."
Dalam kondisi saat ini, bila Nona Euphyllia muncul di depan umum, ia akan berakhir menjadi pusat pergunjingan. Skenario terbaiknya ia bakal dibombardir oleh berbagai pertanyaan, atau yang lebih buruk, ia bakal menjadi target empuk caci maki. Pokoknya ini adalah skandal gila-gilaan, jadi bakal aneh kalau tidak menimbulkan kegemparan massal.
"...Lalu kenapa, saya harus pergi ke kediaman Putri Anisphia?"
Dengan tak bertenaga Nona Euphyllia mengangkat pandangannya. Di sisi lain, Duke Grantz memicingkan matanya dengan tegang menatapku sejenak lalu melanjutkan.
"Kau pasti tahu kalau paviliun, yaitu kediaman Putri Anisphia, terletak jauh dari bangunan utama walau masih di kawasan istana, bukan. Tempat itu jauh lebih terpencil daripada kediaman kita. Terlebih lagi, ini di dalam wilayah istana. Kalau ada apa-apa, ayah bisa bergegas ke sana dengan mudah, dan itu tempat yang paling bagus untuk bersembunyi. Ditambah lagi, ada tawaran khusus dari Putri Anisphia. Ayah pribadi tidak merasa itu tawaran yang buruk."
"Ayah..."
"Engkau telah berjuang dengan sangat keras hingga hari ini. Engkau pasti membutuhkan setidaknya satu masa di mana engkau tidak sedang menjadi seorang putri adipati, atau pun sebagai kandidat Ratu berikutnya. Yang Mulia Putri Anisphia tidak menuntut status apa pun darimu."
"Yah, itu memang benar sih."
Alasanku menginginkan Nona Euphyllia adalah murni karena kualitas individunya semata. Seakan mendengar gumamanku barusan, Duke Grantz terlihat sengaja menganggukkan kepalanya dengan tegas pada Nona Euphyllia.
Tersirat jelas bahwa raut wajah Duke Grantz tak lain adalah sebagai sosok seorang ayah. Figur seorang ayah yang hanya menghendaki kesejahteraan untuk putrinya, Nona Euphyllia.
"Cobalah luangkan waktu menjauh dari ayah untuk merenungkan, bagaimana caramu melangkah ke depannya. Euphie."
"Akan tetapi, bukankah hal itu akan merepotkan keluarga..."
"Keadaan ayah, atau keluarga adipati, tidak akan oleng hanya karena perkara sesepele ini. Apakah engkau tidak memercayai ayah?"
Duke Grantz bertanya pada Nona Euphyllia, beralih dari persona ayah kepada persona seorang adipati. Sejenak menelan ludah, Nona Euphyllia perlahan menggelengkan kepalanya.
"...Bukan, bukan bermaksud begitu."
"Kalau begitu, sisanya tinggal keinginan hatimu... tapi sangat kejam jika aku memaksamu untuk langsung memutuskannya sekarang."
Melepaskan pandangannya dari Nona Euphyllia, Duke Grantz mengalihkan matanya kepadaku. Menyadari tatapannya itu, aku menanggapinya dengan anggukan.
"Bagaimana pun juga, kita harus segera mengusut akar permasalahannya. Sangat memuakkan jika sampai ada campur tangan dari pihak yang tidak perlu sementara itu dilakukan. Oleh karena itu, Putri Anisphia, bersediakah Anda untuk mengamankan Euphie barang sejenak? Sedangkan untuk masalah Euphie menerima atau menolak penawaran Anda, kurasa bisa diputuskan saat itu, atau setelah masalah ini kelar, bukan?"
"Benar sekali, saya menerimanya dengan senang hati!"
Asyik! Tanpa sadar aku membalas Duke Grantz dengan luapan kegembiraan seakan-akan ingin melompat kesenangan.
Melihatku yang melompat kegirangan, Ayahanda memijat pelipisnya menahan sakit dan menggerutu pelan.
"...Anis. Kumohon, tolong jangan berbuat yang aneh-aneh lagi."
"Anda sangat kurang ajar, Ayahanda!"
"Sama sekali tidak sebanding dengan kelakuanmu sehari-hari!!"
Ketika aku mencoba protes atas keluh kesahnya, Ayahanda mengusap wajahnya yang kuyu seakan kelelahan. Tidak masuk akal.
Nona Euphyllia, yang juga tidak berminat untuk menolak setelah dibujuk sampai sejauh itu oleh Duke Grantz, kini memandangiku dengan gelisah. Lalu aku menyunggingkan senyuman canggung dan menjulurkan tanganku ke arahnya.
"Nona Euphyllia, mungkin hanya untuk sesaat saja, tapi mohon bantuannya, ya?"
"...Iya. Putri Anisphia."
"Panggil saja Anis. Sebagai gantinya, bolehkah aku memanggilmu Euphie?"
"Eh? B-Boleh saja, tapi..."
"Yey! Sekali lagi, mohon bantuannya ya! Euphie!"
Seraya menggenggam tangannya yang terjulur ragu-ragu, aku mengayunkannya naik turun dengan perlahan seraya menebar senyum riang. Tersipu bingung sembari menurunkan alisnya, tapi akhirnya Euphie pun ikut tersenyum.
Suatu hari nanti, kuharap, senyuman ini kelak akan menjadi senyum tulus yang muncul langsung dari lubuk hatinya. Ya Tuhan, aku benar-benar tak bisa menahan diri untuk mengharapkannya dari dasar hatiku.
* * *
"...Apakah ini benar-benar tidak apa-apa? Grantz."
Ini adalah obrolan setelah semua diskusi rampung dan setelah melepas kepergian Anis beserta Euphyllia. Aku melemparkan pertanyaan tersebut pada Grantz. Grantz mematung bisu, tatapannya lekat tertuju pada pintu tempat kepergian mereka berdua.
"Ini mungkin pilihan yang terbaik. Dampak dari dibatalkannya pertunangan ini terlalu besar bagi Euphie untuk bisa aktif kembali di lingkungan sosial pada waktu dekat."
"Benarkah itu yang terbaik? Kau sadar kan itu Anis? Apa benar-benar tidak akan jadi masalah?"
"Apa Anda sebegitu tidak percayanya pada Putri?"
Saya menutup mulut, tak bisa serta-merta mengiayakan pertanyaannya. Jika boleh jujur, ide dari Anis sering kali membuahkan hasil. Tingkah lakunya yang ceroboh dan melenceng jauh dari aturan memang menjadi kekurangannya, namun, kelebihannya yang lain dengan mudah bisa menutupi cacat kelakuannya. Jika bukan karena perilakunya sehari-hari yang serampangan itu, akan sangat mudah bagiku untuk mengakuinya tanpa rasa jengkel.
Kerutan muncul di pelipisku dengan sendirinya selagi rahangku mengencang tanpa kusadari. Memijat dahiku dengan ujung jemari, aku melepaskan keluh kesah yang sarat akan beban.
"Seandainya Euphie sampai dijadikan miliknya pun, itu bukanlah hal yang buruk."
"Grantz!?"
"Bicara soal kemungkinan, Yang Mulia. Ditambah lagi, menyerahkan Euphie kepada Putri Anisphia memiliki keuntungannya tersendiri."
"Maksudmu?"
Seketika, tak mampu mengurai benang pikiran Grantz, kusipitkan mataku ke arah pria itu. Tatapan Grantz bersirobok denganku, mata kami pun saling beradu.
"Tergantung arah berjalannya waktu, mungkin Pangeran Algard harus turun takhta."
"............Jangan bilang."
Kusuarakan isi benakku saat mengintip tepat ke wajah Grantz. Menelaah cara pikirnya bukanlah hal yang sukar mengingat hubungan panjang persahabatan kami. Sungguhpun begitu, pikiranku yang tak serta merta membenarkan gagasannya barusan tak lain karena terlampau aneh di mataku.
Grantz tetap menampilkan ekspresinya yang tenang kendati melihat kebingunganku, sungguhpun begitu, kilatan keteguhan di matanya menceritakan segalanya. Itulah bukti paling terang betapa keras kepala tekad Grantz sebenarnya.
"Seandainya mendesak, hamba akan bertindak, Yang Mulia. Bahkan jika Yang Mulia Putri Anisphia menolaknya sekalipun."
Merespons ketegasan Grantz yang berapi-api, aku akhirnya menemukan kata-kataku kembali. Akan tetapi, reaksiku diwarnai oleh tawa yang pahit.
Bagaimana reaksi putri si biang keonaran itu kalau prediksi Grantz benar-benar terwujud? Tak butuh waktu lama untuk membayangkan respons Anisphia di kepalaku.
"...Anak itu pasti akan meronta-ronta menolaknya."
"Untuk alasan itu pulalah kita harus melempar umpannya ke hadapannya mulai dari detik ini. Yang mana bisa diartikan sebagai rantai kekang."
"Kau menganggapnya semacam hewan buas, ya."
"Lebih condong ke satwa langka, saya rasa."
"Tidak keliru juga."
Meskipun statusnya adalah putri negara ini, mau tak mau harus kusetujui metode pendekatannya padanya.
Aku membalas perbincanganku dengan sahabatku ini sambil mengangkat kedua pundak, keteganganku sedikit mereda tanpa kusadari. Memang urusannya sangat memusingkan, tapi aku tak dapat menutup mata begitu saja dengan masalah ini. Bergantung pada situasi nanti, apa yang dikhawatirkan Grantz benar-benar dapat berubah menjadi realita.
Hal itu sudah dapat dipastikan tak sesuai dengan kemauan Anis. Kenyataan bahwa Algard turun dari singgasananya. Serta apa arti dari ini semua bagi masa depan Anis. Wajahku tanpa sadar melukiskan raut yang tak bisa digambarkan hanya dengan memikirkannya.
Menyadari ekspresiku ini, Grantz pastilah mengerti apa yang tengah kupikirkan. Meskipun begitu, ia menyampaikan kata-katanya dengan seulas senyuman sinis yang melekat di bibirnya.
"──Aku ingin melihatnya. Sosok Putri Anisphia itu menjadi seorang 'Raja'."
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar