Featured Image

Shiboyugi V9 Chapter 4

Metoya Februari 16, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

4. Setting Sun (The 82.5th Time)









(0/9)

<Phantom Thief> telah berakhir.

Pukul sepuluh malam──artinya, berakhir pada tahap di mana belum setengah dari waktu yang ditentukan berlalu. Karena semua pemain dari kubu Pencuri Hantu tewas atau keluar dari permainan, game ini ditutup lebih awal.

Secara aturan ini adalah pertarungan individu, namun jika harus diputuskan, bisa dikatakan ini adalah kemenangan pihak Keamanan. Dari dua puluh barang pameran, sembilan belas berhasil dipertahankan. Sementara jumlah korban tewas di kubu Pencuri Hantu adalah sembilan belas orang, jumlah korban tewas di pihak Keamanan hanya tujuh orang.

──Setidaknya, itulah ceritanya pada saat ini.

(1/9)

Di dalam mobil yang melaju kencang, cling, Airi membuka matanya.

(2/9)

Cahaya masuk dari jendela mobil.

Itu sinar matahari pagi. Dia naik ke mobil setelah menyelesaikan game pada malam hari. Sepertinya dia tertidur tepat selama satu malam.

"Selamat pagi, Airi-san."

Suara terdengar dari kursi pengemudi. Agen Airi.

"Dan juga, selamat. Atas penyelesaian ke-85 kali."

"Terima kasih," Airi mengucapkan terima kasih.

Game ke-85──<Highland Hill>, yah, itu tipe pelarian biasa. Tidak ada cedera khusus, dan dia langsung pulang tanpa pemeriksaan di rumah sakit.

Belakangan ini, selalu begini. Penyelesaian yang aman terus berlanjut. Karena sudah bertahun-tahun menjadi pemain, dia sudah benar-benar terbiasa.

"Kondisi Anda bagus ya. Kalau begini, mau lanjut sampai seratus kali?"

"Bagaimana ya......"

Airi memberikan jawaban yang samar. Agen itu tertawa basa-basi.

Suasananya agak canggung. Belum lama agen ini menjadi penanggung jawab Airi. Pendahulunya sepertinya dimutasi. Katanya pindah ke departemen manajemen dan eksekusi game. Airi tidak tahu banyak tentang budaya organisasi pihak manajemen, tapi apakah tempat itu dianggap sebagai posisi elit?

Mobil sedang melaju di dalam hutan. Bukan menuju rumah Airi, melainkan menuju rumah pengrajin prostetik (gitai). Dia ingat sudah waktunya perawatan. Pada game ke-30, jari kaki Airi hilang dan diganti dengan prostetik, dan dia memutuskan untuk pergi ke tempat pengrajin setiap beberapa bulan sekali untuk pemeriksaan.

Setelah berkendara beberapa saat menyelinap di antara pepohonan, mobil berhenti di tempat yang terbuka. Saat Airi turun, sebuah bangunan bergaya barat kuno berdiri megah tepat di dekatnya. Rumah pengrajin prostetik. Airi berdiri di depan pintu masuk, mengetuk sekadar formalitas, lalu memegang gagang pintu. Karena lokasinya tidak perlu mewaspadai pencuri, biasanya tidak dikunci, dan pengunjung boleh masuk sesuka hati.

Namun, hari ini, gagang pintu tidak berputar dan pintu tidak terbuka.

Terkunci. Ada apa ya, pikir Airi saat──

"Ah, maaf!"

Suara turun dari atas.

Dari jendela lantai dua. Seorang gadis yang seusia dengan Airi memunculkan wajahnya.

"Aku kunci pintunya. Aku turun bukain ya......"

Di tengah berbicara, gadis itu mengubah ekspresinya.

Bersamaan dengan itu, Airi juga mengubah ekspresinya. Karena dia mengenali gadis itu.

"Oya, bukannya ini Airi-san? Kebetulan sekali ya," katanya.

"......Busutake-san?" kata Airi.

Tidak salah lagi. Busutake. Gadis yang tampak tidak berbahaya yang ditemuinya di game beberapa waktu lalu.

"Busutake-san juga mengunjungi pengrajin?"

"Bukan, saya bukan begitu...... Saya diserahi tugas jaga rumah. Sekarang, Ayah sedang keluar......"

"Ayah? Anda putri pengrajin ini?"

"Iya dong—"

Setelah menjawab, Busutake masuk kembali ke dalam.

Sekitar sepuluh detik kemudian, langkah kaki mendekat, dan pintu terbuka.

"Ternyata Airi-san klien Ayah ya. ......Dilihat sekilas, sepertinya tidak ada bagian yang hilang sih......"

Menatap Airi dari kepala sampai ujung kaki, Busutake berkata.

"Datang untuk pemeriksaan rutin ya? Kalau cuma itu, saya juga bisa kok. Mau saya tangani?"

(3/9)

Airi dipersilakan masuk ke dalam rumah. Menaiki tangga bersama Busutake, dia dibawa ke bengkel kerja di mana mesin-mesin berserakan, dan duduk di kursi seperti yang disarankan.

Lalu, Airi memperlihatkan kaki telanjangnya. Jari-jari di kedua kaki, kesepuluh-sepuluhnya adalah barang tiruan. Lebih tepatnya, bukan hanya jari, tapi beberapa sentimeter punggung kaki juga merupakan prostetik. Bentuknya menyatu, model yang dipasang menutupi ujung kaki.

Busutake melepas beberapa sekrup kecil pengunci, dan melepaskan prostetik itu. Dia memasang prostetik lain yang mungkin untuk pemeriksaan. Kabel terpasang di setiap jari, dan semuanya memanjang ke atas meja. Ada juga yang terhubung ke osiloskop.

"Haii, kalau begitu, coba gerakkan jempol kiri—"

Sesuai instruksi Busutake, Airi mengirimkan perintah ke ujung kaki. Prostetik pemeriksaan bergerak, dan gelombang muncul di layar osiloskop.

Setelah mengotak-atik kabel, "Telunjuk tolong," kata Busutake. Airi melakukannya. Memeriksa jari tengah, jari manis, kelingking, dan melakukan hal yang sama pada kelima jari kanan.

"Sinyalnya tidak ada masalah ya."

Busutake kali ini mulai memeriksa prostetik yang dilepas tadi. Kepada dia yang mengotak-atik alat dengan tangan terampil, Airi mengajak bicara.

"Anda benar-benar keluarga pengrajin itu ya......"

"Nggak nyangka dia punya anak perempuan?"

"Bukan...... Begitu ya. Kalau dipikir-pikir, wajar saja ada," jawab Airi. "Saya pernah dengar kalau pekerjaan ini sistemnya warisan turun-temurun."

Pengrajin itu tidak terlalu suka membicarakan dirinya sendiri, tapi hal itu pernah didengarnya. Sepertinya keluarga itu sendiri berada dalam silsilah pengrajin prostetik, dan melakukan pekerjaan ini secara turun-temurun. Pengrajin itu terlihat paruh baya, jadi sama sekali tidak aneh jika memiliki anak seusia Busutake. Namun, Airi tidak pernah memikirkannya secara mendalam.

"Memang begitu. Sejak saya bisa mengingat, saya sudah diajari macam-macam lho."

"Kenapa jadi pemain?"

"Kakak saya yang diputuskan untuk mewarisi. Katanya saya tidak cocok. Jadi yah, saya pikir jadi pemain saja deh."

"Hal seperti itu, boleh?"

"Boleh-boleh saja kan? Tidak ada yang melarang tuh. Ada orang yang beralih dari pemain ke industri terkait, jadi sebaliknya juga boleh kan, menurut saya."

Mungkin karena pemeriksaan bagian itu sudah selesai, Busutake meletakkan prostetik kaki kiri di meja. Mulai memeriksa yang kaki kanan.

"Jadi, bagaimana?" dia mengajak bicara.

"Sudah ketemu Shiro-san kan? Sudah dipikirkan? Soal <Mikkai>......"

"......Ya," jawab Airi.

Beberapa waktu lalu, Airi dikunjungi oleh Shiro. Bukan pemain yang baru pertama kali ditemui. Dia pernah melihatnya dua atau tiga kali di game sebelumnya. Seharusnya pernah mengobrol sedikit juga.

Ceritanya sangat mengejutkan. Asal-usul <Game>. Rahasia seputar sembilan puluh sembilan kali. <Hak Istimewa Pencapai>. Ajakan ke <Mikkai>, tim yang bertujuan untuk itu. Karena jumlah informasinya terlalu banyak, hari itu dia menunda jawaban dan memintanya pulang dulu. Sejak saat itu, dia terus menunda jawaban sampai sekarang.

"Benarkah itu? Hal itu. Saya coba tanya ke agen saya, tapi dijawab <Tidak tahu>."

"Agen saya juga bilang tidak tahu tuh," jawab Busutake. "Mungkin hanya disampaikan ke lapisan terbatas di dalam manajemen."

"Busutake-san mempercayainya ya."

"Yah, saya rasa dia tidak bohong. Setidaknya Shiro-san menganggap itu kebenaran...... Kalaupun itu bohong besar, saya sih tidak masalah. Saya tidak terlalu tertarik pada <Hak Istimewa>."

"Kalau begitu, kenapa masuk <Mikkai>?"

"Wah...... kenapa ya."

Busutake tertawa menertawakan diri sendiri.

"Mungkin saya tergoda oleh Shiro-san. Soalnya dia memuji teknik saya tanpa merasa jijik. Gitu-gitu dia itu pintar mengambil hati orang lho. Meski penampilannya kayak Oresama (sok hebat)."

Hal itu juga dirasakan Airi. Saat bertemu dengannya tempo hari, dia ingat Shiro memuji-muji riwayat Airi yang sudah lebih dari 80 kali. Tentu saja, Airi tidak lantas berbesar kepala karena itu, malah justru waspada.

"Yah, saya sih begitu...... Orang lain juga mungkin mirip-mirip kan? Selain saya, ada anggota bernama Takami-san dan Maya-san, tapi keduanya sepertinya lebih tertarik pada sosok Shiro-san daripada soal <Hak Istimewa>. Jadi begitu deh, Airi-san juga tidak perlu memikirkan soal <Hak Istimewa>. <Mikkai> juga punya fungsi sebagai organisasi gotong royong, jadi dari situ saja sudah ada untungnya kok."

Begitu ya, Airi tidak menjawab demikian. Karena dia tidak ingin dianggap positif. Dia hanya mengangguk samar.

Kalau mau jujur, dia merasakan kecurigaan yang cukup besar pada manusia bernama Shiro. Benar-benar ada aura tidak baik seperti serigala. Soal <Mikkai>, sekilas terlihat seperti tawaran bagus, tapi kalau terpancing dan ikut begitu saja, nanti bakal dimakan. Ada firasat seperti itu. Intuisi Airi membunyikan alarm peringatan.

Hanya saja, meskipun berpikir begitu, jawabannya masih ditunda. Dia tidak menolak dengan tegas. Alasannya tidak jelas bahkan bagi Airi sendiri.

"Waktu ketemu sebelumnya, sudah 82 kali clear ya, Airi-san," kata Busutake.

"Sekarang sudah berapa kali? Sekitar 85 kali?"

"Tepat. Delapan puluh lima."

"Hebat ya. Kenapa Anda terus melanjutkannya sampai sebanyak itu?"

"......Kenapa ya......"

Kali ini, giliran Airi yang tertawa aneh.

Dia tidak memiliki alasan pasti yang bisa langsung dikeluarkan dari tas. Tidak seperti Yuuki yang menargetkan 99 kali, tidak juga seperti Shiro yang ingin menjadi raja manajemen. Dulu, saat baru mulai jadi pemain, memang ada alasan mendesak karena keuangan keluarga yang kritis, tapi saat melewati 30 kali masalah itu sudah hilang sepenuhnya, dan sekarang sudah ada tabungan yang cukup untuk keluarganya hidup bermain-main seumur hidup.

Namun, Airi masih terus bermain game setiap kali diajak agen. Tidak ada niat berhenti. Mengapa? Airi baru sekarang mengarahkan pikiran pada hal yang seharusnya dipikirkan lebih awal──dan kemudian, dia memeras sesuatu yang mirip jawaban.

"Saya rasa saya tertarik. Pada dunia ini."

"Maksudnya Anda melakukan ini karena <Game>-nya menarik?"

"Bukan...... bukan menyenangkan, tapi tertarik. Saya berpikir, kenapa ya melakukan hal seperti ini," Airi menjawab perlahan. "Soalnya, ini game pembunuhan lho? Mati kan. Tergila-gila pada hal seperti ini, jelas aneh."

"......Airi-san yang bilang begitu?"

"Orang-orang manajemen juga begitu. Mengelola dan mengawasi hal semacam ini dengan serius, bahkan bersembunyi dalam kegelapan dan beraktivitas selama ratusan tahun, itu sangat aneh. <Penonton> juga begitu. Saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang merasa terhibur dengan pertunjukan kejam."

"Ditolak mentah-mentah ya."

"Justru karena itulah, saya tertarik. Saya ingin memahami perasaan itu, makanya saya rasa saya terus berada di sini......"

Itu adalah jawaban yang diperas secara improvisasi, tapi ternyata cukup pas di hati Airi. Ingin menyentuh kegilaan. Itulah yang dipikirkannya. Karena itu adalah hal yang sama sekali tidak dimilikinya.

Dunia ini sudah gila.

Dan, tidak diragukan lagi, Shiro juga──.

Perawatan selesai, dan prostetik dipasang kembali. Sambil menggerakkan jari dari jempol ke kelingking secara berurutan, "Busutake-san," kata Airi.

"Bisakah Anda menyampaikan pesan pada Shiro-san? Saya sudah dapat kontak beliau tapi...... karena sudah menunda hampir dua bulan, jadi agak canggung."

"Boleh saja," kata Busutake. "Lalu, pesannya?"

"Tolong sampaikan, saya ingin sekali bekerja sama."

(4/9)

Suatu sore──.

Kagura berlari masuk ke toko buku bekas.

(5/9)

Debu beterbangan, berkilauan diterangi matahari sore. Kagura berlari menembusnya, menumpukan kedua tangan di meja kasir dan mencondongkan tubuh sambil berteriak,

"Kotono-san!"

"......Kh, duh......"

Segera setelah itu, dia memegang dada dan memasang ekspresi kesakitan.

Kotono yang berada di seberang meja kasir berkata dengan dingin, "Ngapain sih kamu."

"Luka di dada belum sembuh total kan. Jangan banyak gerak yang heboh ah."

"I, iya sih......"

"Kenapa buru-buru begitu?"

"Pinjam komputer."

Sambil memegang dada dengan satu tangan, tangan lainnya menunjuk ke bagian belakang toko.

"Ada kan? Komputer. Di belakang."

"Ada sih......"

"Hari ini harinya. Lelang. Karena ikut via situs web, butuh komputer."

Ah, begitu ya, pikirnya. Karena Kotono tidak terlibat dalam urusan Sana, dia tidak tahu tanggalnya.

"Tapi, kenapa di sini? Pakai di rumahmu sendiri dong."

"Di rumahku nggak ada komputer," jawab Kagura. "Katanya nggak bisa pakai HP...... aku udah konsultasi sama agen, katanya soal kompatibilitas perangkat atau apalah gitu......"

Anak muda zaman sekarang, pikir Kotono. Komputer saja tidak punya.

"Pakai punya sini nggak apa-apa? Itu barang bekas murah lho. Koneksi internetnya juga lemah."

"Asal Windows nggak masalah katanya. Harus install browser khusus, izinin itu aja."

Situs itu pasti ada di tempat yang disebut dark web. Jual beli mayat tidak mungkin dilakukan secara terang-terangan. Pengetahuan Kotono soal itu minim, tapi dia pernah dengar samar-samar soal akses pakai browser khusus. Juga bahwa itu tindakan yang berisiko terkena malware dan sejenisnya.

"Duh...... Jangan masukin virus aneh-aneh ya."

Meskipun berkata begitu, Kotono membiarkan Kagura masuk ke belakang.

Menyalakan komputer, dan menyerahkan pengoperasian pada Kagura. Dia mengeluarkan HP, membuka aplikasi pesan, dan sambil melirik panduan yang sepertinya didapat dari agen, dia melakukan pengaturan browser yang dimaksud.

Sambil menunggu itu selesai, Kotono mencoba bertanya.

"Lelangnya mulai jam berapa?"

"Lima belas menit lagi sih."

"Dasar bodoh! Kenapa mepet banget baru siap-siap!"

"Habisnya, aku nggak tahu......" Kagura membungkukkan punggung. "Aku niatnya udah kasih waktu luang lho. Maksud hati mau akses lebih awal pakai HP, eh nggak bisa. Makanya lari dash ke sini."

"Coba dulu sehari sebelumnya dong......"

Benar-benar orang yang ceroboh, pikir Kotono. Padahal dia mempertaruhkan nyawa demi hari ini.

Meskipun begitu, lima belas menit. Itu waktu yang cukup untuk menyelesaikan pengaturan browser, mengetik URL dengan ketikan yang kaku, dan mengakses situs. Pertama, hanya muncul dua kotak teks. Layar otentikasi. ID dan kata sandi sepertinya sudah diberitahukan sebelumnya, dan Kagura berhasil login dengan lancar.

Akhirnya yang muncul sepertinya adalah situs streaming video. Ada jendela besar di tengah layar, dan video sedang diputar.

Di sana, terlihat lima tempat tidur berjejer, dan di masing-masing tempat tidur dibaringkan seorang gadis. Semuanya memakai kostum tertentu, seperti kunoichi, gothic lolita, racing girl, dan lain-lain. Mungkin itu kostum yang mereka pakai saat mati di game.

Dan──salah satu dari mereka.

"Ada," kata Kagura pelan. "Itu Sana."

Gadis berkostum kunoichi yang dibaringkan di tempat tidur tengah──tidak salah lagi, itu Sana.

Dari wajahnya saja sudah tahu, dan dari teks penjelasan di samping pemutar video juga terbaca bahwa itu memang Sana. Profil kelima orang tersebut seperti nama pemain, nama asli, tinggi berat badan, three sizes, dan lain-lain tertulis rinci. Di dalamnya terselip kata-kata yang sepertinya istilah teknis yang tidak dimengerti. Seperti <Tanpa Penukaran> atau <Bisa Dipakai Sungguhan>. Dia bahkan tidak mau memikirkan artinya.

"Menjijikkan."

Gumam Kotono.

Dia kembali menyadari bahwa dunia ini memangsa gadis-gadis muda. Sebagai pemain atau perantara dia tidak terlalu merasakannya, tapi begitu berdiri di sudut pandang penonton, ternyata terlihat sangat menjijikkan.

Bagaimanapun, sepertinya kelima orang inilah yang akan dilelang hari ini.

"......Hadirin sekalian, apakah suara saya terdengar......"

Suara seorang pria mengalir dari pengeras suara monitor.

"Saya Haba, yang akan memandu acara hari ini. Terima kasih atas kedatangannya......"

Dengan nada seperti rapat penjelasan perusahaan atau semacamnya, lelang dimulai.

Pria pemandu bernama Haba itu menjelaskan cara lelang. Meskipun begitu, tidak ada yang aneh. Orang yang menawar harga tertinggi yang menang. Waktu berakhir ditentukan oleh pemandu. Tidak ada batas atas harga. Kira-kira begitu. Penawaran harga dilakukan dengan tombol di situs. Bukan sistem yang rumit. Bahkan si bodoh Kagura pun pasti bisa melakukannya tanpa masalah.

Setelah penjelasan selesai, kamera menyorot (zoom) gadis yang tidur di tempat tidur paling kiri. Sepertinya dimulai dari dia.

"Baiklah, dimulai dari harga dasar satu juta......"

Saat pria itu berkata begitu, penghitung angka muncul di sebelah layar. Satu juta yen, angka itu hanya muncul sesaat, dan angka itu bergerak dengan cepat. Tawaran masuk.

"Ya, Tuan Nomor 32 tiga juta yen. Tiga juta. ......Tiga setengah. Tuan Nomor 9 tiga setengah. Empat ratus. Empat setengah. ......Empat juta lima ratus ribu. Tuan Nomor 12. Ayo, bagaimana bagaimana......"

Baik Kotono maupun Kagura menatap angka yang bergerak itu lekat-lekat. Mereka tidak akan menawar untuk empat orang selain Sana, tapi melihat suhu persaingannya itu penting.

"Baru bilang sekarang sih, tapi ini lelang lho ya," kata Kotono.

"Ya."

"Berarti, nggak ada jaminan pasti bisa beli."

"Memang begitu. Aku sudah siapin dana yang cukup longgar kalau dilihat dari harga pasar sih, tapi dengar-dengar harganya bisa variatif banget. Gawat kalau harganya melambung tinggi."

"Sana-san kan manis. Putih, ramping, benar-benar kayak peri. Kualitas terbaik tuh."

"Iya ya...... Coba aja dia jelek."

Sambil mengobrol tanpa ketegangan seperti itu, lelang orang pertama selesai. Kotono tidak tahu apakah harga akhirnya tinggi atau rendah. Kotono tidak punya bayangan harga pasar mayat. Tapi, melihat wajah Kagura tidak tampak keguncangan, jadi diperkirakan harganya lebih rendah dari uang yang dimiliki Kagura.

Dengan cara yang sama orang kedua juga selesai tanpa kendala, dan akhirnya giliran Sana. Kagura memegang mouse.

"Nah, dari harga dasar...... Ups, langsung lima juta yen!"

Pria pemandu berteriak.

Sesuai kata-katanya, penghitung harga sudah menunjuk angka lima juta. Tujuh juta, sembilan juta, bergerak dengan semangat, dan meskipun baru saja dimulai, dalam sekejap sudah menembus angka sepuluh juta. Momentum yang tak sebanding dengan dua orang sebelumnya. Ternyata populer ya. Ada banyak orang selain Kagura yang mengincarnya dengan panas.

Kotono melihat ke arah Kagura. Wajahnya jelas memucat. Menatap layar lekat-lekat, mengklik mouse kachikachi berkali-kali untuk menawar, tapi segera disela orang lain dan posisi teratas direbut. Setiap kali itu terjadi, wajah Kagura semakin pucat, keringat di kulitnya bertambah, dan dia semakin membungkuk ke arah layar. Dia panik secara terang-terangan sampai terasa agak konyol. Kalau bukan situasi begini, Kotono pasti sudah menertawakannya.

Hanya dalam beberapa menit sejak penawaran dimulai, saat itu tiba.

Kagura memukul mouse dengan sangat kuat, dan memasukkan penawaran.

Jumlahnya cukup untuk membangun rumah pribadi dengan mewah.

Tapi, tidak bertahan lima detik, angka itu sudah tertimpa oleh penawaran yang lebih tinggi.

Itu yang terakhir, tangan Kagura berhenti. Melepaskan tangan dari mouse, dan menyandarkan punggung ke kursi lipat. Matanya menatap layar tanpa tenaga.

Kenaikan harga sudah melambat. Naik dalam kisaran seratus ribu yen. Jika dibiarkan begini, sebentar lagi akan selesai. Dengan kemenangan seseorang yang bukan Kagura──. Tapi Kagura tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Sudah habis.

"Nah, bagaimana. Apakah sudah tidak ada lagi......?"

Melihat harga tidak bergerak lagi, pria pemandu berkata.

Tentu saja, Kagura tidak merespon. Tidak bergerak juga. Kalau boleh dibilang, ekspresi Kagura jauh lebih putus asa daripada saat dia diberitahu tentang kematian Sana. Wajar saja. Karena Kagura berjuang keras hanya dengan ini sebagai harapannya.

Kotono meletakkan tangan di bahu Kagura.

Dia hendak berkata <Mau bagaimana lagi>──

Tiba-tiba, cahaya kembali ke mata Kagura.

Dan itu bukan cahaya yang baik. Cahaya kenekatan (brute courage).

Bakal ngelakuin hal gila nih anak, intuisi Kotono berkata, dan benar saja terjadi. Kagura kembali membungkuk ke depan, dan mencengkeram mouse. Seolah keheningan tadi bohong belaka, dia menekan tombol bertuliskan <+100> di situs web, dan memasukkan penawaran.

"......Ya, Tuan Nomor 15! Menambah satu juta lagi! Apakah sudah tidak ada lagi!"

Tolonglah berakhir saja, doa Kotono, tapi takdir benar-benar jahat.

"Tuan Nomor 27, tambah dua juta lagi! Penawar tertinggi adalah Tuan Nomor 27!"

Respon Kagura cepat. Dia menekan tombol yang sama tadi, kachikachi, dua kali.

"Kembali Tuan Nomor 15! Tuan Nomor 15! Ayo, bagaimana! ......Sudah tidak ada? Yakin? ......Kalau begitu, pemenangnya adalah Tuan Nomor 15!"

Begitu mendengar suara itu, tenaga Kagura hilang. Dia menyandarkan punggung ke kursi lipat lebih dalam dari tadi.

Kotono berpikir sandarannya bisa patah kalau dibebani seberat itu, jadi dia menahan punggung kursi dari belakang dengan tangan sambil bertanya,

"Over budget?"

Kagura tertawa kecil. "Banget......"

"Nilai tawaran ini, bayar belakangan kan."

"Ya. Sampai tenggat waktu, aku harus ikut game satu kali lagi entah gimana caranya......"

Bodoh sekali, pikir Kotono. Mau membahayakan diri lagi?

Dia sudah mendengar akhir cerita game sebelumnya. Katanya bertemu Yuuki. Luka di dadanya juga katanya perbuatan dia. Ikut game dalam kondisi terluka begitu sama saja bunuh diri.

Jujur saja, dia sama sekali tidak mengerti perasaan Kagura. Hanya demi mengambil kembali jenazah, kenapa sampai segitunya? Padahal itu tidak akan membuat dia hidup kembali──.

"…………"

Tapi, dia juga berpikir begini.

Yang menarik Kagura ke dunia game adalah dirinya. Sebagian dari situasi ini adalah tanggung jawab dirinya.

"......Kagura."

"Ya."

"Bisa janji pasti balikin?"

"Ya?"

Kotono mengeluarkan brankas kecil yang disembunyikan di bawah lemari. Memutar dial sesuai angka, memasukkan kunci yang selalu dibawanya ke lubang, dan membuka pintunya.

Dia melemparkan gepokan uang di dalamnya ke meja gedebuk.

"Bayar pakai itu. Kelebihannya."

Kagura membelalakkan mata sambil berkata, "Uang apa ini?"

"Biaya perantara."

Sambil menyisir rambut dengan tangan, Kotono menjawab.

"Tahu kan, kalau aku ini makelar. Ini total yang aku dapat dari manajemen selama ini. Kalau nggak salah, totalnya aku kenalin sembilan orang. Semuanya mati kecuali kamu sih."

"Walah......" Kagura mengambil gepokan uang itu.

"Agen datang, dan ngasih amplop uang. Katanya sih nggak masalah dibawa ke bank...... tapi entah kenapa aku takut, jadi kusimpan dalam bentuk tunai."

Zui, Kotono mendekatkan wajah ke Kagura.

"Kubilang sekali lagi ya, ini utang. Awas kalau nggak dibalikin."

(6/9)

Setelah itu, semuanya berjalan sangat cepat.

Berkat bantuan Kotono, Kagura tidak perlu berpartisipasi dalam game lagi. Dia membayar lunas jumlah lelang melalui agen Sana, dan sekitar satu minggu kemudian, jenazah Sana yang ditaruh dalam kotak kayu paulownia (kiribako) berukuran super besar sampai ke tempat Kagura. Saat kotak dibuka, ada Sana yang terbaring seolah sedang tidur di atas bantal, dan benar saja itu bukan sekadar jenazah, tapi sepertinya sudah diproses sebagai <Boneka>. Kulitnya merona merah, dan tampak segar. Kalau tidak ada rasa dingin yang mengerikan saat disentuh, pasti dikira masih hidup.

Dia membawa jenazah Sana ke rumah duka. Tentu saja bukan tempat biasa, tapi mitra yang bisa diajak bicara dan khusus menangani jenazah bermasalah. Dalam pemakaman, agen Sana dan Kotono juga hadir, dan setelah perpisahan singkat hanya bertiga termasuk Kagura, mereka menuju krematorium dan melakukan hal yang menjadi alasan fasilitas itu ada.

Lalu, demi mewujudkan janji dengan Sana, Kagura terbang ke luar negeri──biaya perjalanan, jadinya memalak Kotono. Bahkan biaya pemakaman pun dibayari olehnya. Pikirannya cuma fokus ke lelang jenazah, jadi dia sama sekali tidak memikirkan biaya-biaya lain itu. Artinya, dia merepotkan Kotono lagi.

"Karena aku yang bayarin, ajak aku juga dong."

Tuntut Kotono.

Karena itulah, Kotono juga ikut dalam perjalanan. Sejak kehilangan kedua kaki dan memakai kursi roda, sepertinya dia sama sekali tidak pernah bepergian jauh, jadi terlihat dia agak excited.

Di kota tepi laut yang indah, di tengah malam yang sunyi, Kagura dan Kotono berdiri di pelabuhan, mengeluarkan abu jenazah yang dibungkus kantong serut, dan menyebarkannya sekuat tenaga ke laut yang berwarna hitam. Mungkin melanggar hukum setempat, tapi masa bodoh.

"Selesai ya."

Kata Kotono.

"Selesai sudah......"

Jawab Kagura. Dia mencuci kedua tangan di laut untuk membilas setiap butir abu yang menempel di tangan.

"Sekarang mau gimana? Kamu beneran berhenti jadi pemain kan?"

"Ya...... Makanya, pengembalian uangnya harus ditunggu agak lama ya."

"Nggak apa-apa. Kalau dibalikin pakai uang hadiah game, nggak ada gunanya aku minjemin."

"Yah, paling cari kerja dulu...... pelan-pelan lah ya."

Artinya, kembali ke masa sebelum jadi pemain. Ditambah menanggung utang pula──. Tidak mati, tidak juga kabur membawa uang banyak, sungguh cara berakhir yang tidak keren.

Kagura merasakan perasaan aneh. Sejak selamat dari <Phantom Thief>──tidak──sejak mendengar kabar kematian Sana, dia terus begini. Seperti demam, seperti pikiran melayang entah ke mana──rasanya aneh bahwa dirinya masih hidup.

Kenyataannya memang begitu. Mengalahkan manusia seperti Sana, dirinya yang bertahan hidup. Bertemu ahli seperti Yuuki, tapi keberuntungan datang bertubi-tubi dan lolos dari maut.

Kenapa, manusia seperti ini malah panjang umur?

Aku ini, mulai sekarang harus bagaimana?

Kagura menatap kantong serut itu. Tentu saja, tidak ada jawaban yang kembali.

(7/9)

Suatu hari.

Yuuki terbangun di atas tempat tidur.

(8/9)

<Terbangun> mungkin kata yang agak kurang tepat. Karena itu bukan fenomena segar yang cocok dengan kata tersebut. Rasanya seperti saat berjuang keras di dalam rawa dan berhasil keluar sambil dilumuri air lumpur lengket──seperti saat menarik sekuat tenaga jendela yang bingkainya berderit dan relnya berkarat hingga macet total, lalu akhirnya terbuka setelah usaha keras──perasaan yang merayap perlahan tanpa rasa segar sama sekali.

Yang pertama terlihat adalah langit-langit. Di atas dasar putih, ada pola nyoro-nyoro yang mengingatkan pada belatung. Tipe yang sering ada di langit-langit rumah sakit. Pasti fasilitas medis yang dikelola manajemen──karena pemain tidak bisa berobat di rumah sakit biasa, tidak mungkin tempat lain. Sepertinya game sudah selesai. <Phantom Thief>──eeto, akhirnya, selesainya bagaimana ya──?

Sambil berpikir begitu dia mencoba bangun, tapi tidak bisa. Rasanya bukan ditahan. Cuma kurang tenaga. Apa ini. Sambil merasa heran, Yuuki melakukan gerakan yang setidaknya bisa dilakukan──menggoyangkan tubuh di tempat.

"Yuuki-san."

Suara terdengar.

Suara agen. Terlambat sedikit, wajahnya yang seperti Yuki-onna (Wanita Salju) masuk ke pandangan. Sepertinya dia ada di dekat situ.

"Anda sudah sadar ya...... Syukurlah."

Katanya, lalu melakukan sesuatu goso-goso di belakang kepala Yuuki. Mungkin menekan tombol panggil perawat.

"Saya sungguh senang dari lubuk hati. Bahwa Anda telah sadar kembali."

"Te, rima kasih."

Berniat menjawab dalam satu napas, tapi nadanya terputus-putus. Sama seperti tubuh yang tidak bergerak, suara juga tidak keluar dengan baik. Kenapa? Sambil menambah satu lagi pertanyaan, Yuuki terus menggoyangkan tubuh.

Melihat kondisi itu, agen berkata.

"Jangan memaksakan diri. Anda sudah tidur selama satu minggu lho......"

Langkah kaki mendekat, dan suara pintu geser terbuka terdengar. Seseorang masuk ke kamar. Agen menjauh dari Yuuki, dan mulai berbicara dengan orang itu. Mungkin perawat yang datang karena panggilan tadi. Selama percakapan mereka berdua, Yuuki terus bergerak mozo-mozo, dan akhirnya usahanya membuahkan hasil, dia berhasil mengangkat punggungnya.

Lalu──segera, dia menyadari keanehan.

Tubuh bagian bawahnya tertutup selimut, tapi bentuk tubuhnya yang menonjol di sana, kecil. Bagian di mana seharusnya ada kedua kaki, hilang sepenuhnya.

Dia mencoba menyentuh bagian itu untuk memastikan, tapi tangannya juga tidak ada. Baik kiri maupun kanan, membulat licin dari pertengahan lengan atas, dan beberapa benda seperti terminal tertanam di sana. Dia kenal mekanisme itu. Benda yang digunakan untuk menghubungkan prostetik dan tubuh hidup. Prosedurnya sudah selesai. Itu menunjukkan bahwa daging di ujung sana sudah hilang.

Yuuki perlahan mulai memulihkan ingatan terakhirnya. Ya, aku kalah. Dihajar oleh pencuri hantu itu, lalu saat berjalan di lorong, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, pencuri hantu kedua muncul.

Dan──.

"…………"

Bahkan bagi dirinya sendiri ini mengejutkan, emosinya tidak terlalu bergerak.

Dia pikir dia akan menangis atau berteriak lebih heboh. Tapi hanya ada kepasrahan. Akhirnya jadi begini juga, pikirnya.

Ternyata sesederhana ini ya. Awal dari akhir itu.

(9/9)

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar