Featured Image

Shiboyugi V9 Chapter 3

Metoya Februari 16, 2026 Komentar
Metoya Translation
SHIBOYUGI VOLUME 9

3. Phantom Thief (The 82nd Time)









(0/39)

Suatu hari.

Di sebuah alun-alun, dua orang manusia sedang berbincang.

(1/39)

Salah satunya adalah wanita bertubuh ramping dan tinggi. Dia adalah sosok legendaris yang pernah aktif di dunia game pembunuhan dengan nama Hakushi, pemegang rekor kemenangan beruntun sebanyak sembilan puluh lima kali.

Satu lagi adalah seorang anak laki-laki berpenampilan androgini. Namanya Kuryu. Dia adalah sosok yang menjabat sebagai pemimpin <Manajemen> yang mengelola dunia game pembunuhan.

Pertemuan ini bisa terwujud berkat perjuangan panjang Hakushi. Selama kurang lebih dua setengah tahun sejak berhenti menjadi pemain, Hakushi menyelidiki pihak manajemen. Dia berusaha menyingkap tabir yang membuat organisasi ini penuh misteri. Usahanya berhasil. Hakushi mengetahui segalanya tentang manajemen, dan sebagai bonus, dia bahkan berhasil mewujudkan pertemuan dengan Kuryu, pemimpinnya.

"Ngomong-ngomong, ada satu hal yang sangat ingin kutanyakan," kata Hakushi.

"Apa itu?"

Dengan nada dewasa yang tidak sesuai dengan penampilannya, Kuryu menjawab.

"Soal <Dinding Tiga Puluh>. Apakah itu benar-benar ada?"

Itu adalah <Kutukan> yang bersarang di dunia ini. Fenomena aneh di mana di sekitar game ke-30, banyak kejadian tak terduga yang biasanya tidak mungkin terjadi muncul, dan tingkat kelangsungan hidup pemain menurun drastis.

"Aah...... Begitu ya," Kuryu menggaruk ujung hidungnya. "Kalau ditanya ada atau tidak, yah, mungkin ada. Sepertinya banyak dipercaya oleh para pemain."

"Bukan pihak manajemen yang memanipulasinya, kan?"

"Tentu saja tidak. Pemain yang berpartisipasi diperlakukan adil tanpa memandang riwayat mereka. Kami tidak akan membuat pengaturan yang merugikan hanya karena ini game ke-30."

Kuryu mengeluarkan tablet dari tas yang diletakkan di kakinya. Sambil mengoperasikannya tap-tap, dia melanjutkan kata-katanya.

"Kami juga menyadari rumor <Dinding Tiga Puluh> itu. Kami bahkan pernah mencoba membuat statistiknya. Kesimpulannya, tidak ada fakta bahwa tingkat kelangsungan hidup menurun atau lebih mudah cedera hanya karena berada di sekitar game ke-30. Harus dikatakan bahwa sebagai fenomena, itu tidak nyata."

Berkata begitu, Kuryu menyerahkan tablet itu kepada Hakushi. File PDF terbuka, dan semua halamannya penuh dengan berbagai grafik. Inikah <Statistik> yang dia maksud.

Hakushi menatap layar. Tatapan matanya tampak ragu.

"Kau tidak terima?" tanya Kuryu.

"Apakah bagi pemain, rasanya senyata itu? Dari sisi kami, tidak jelas kenapa cerita seperti itu bisa muncul."

"......Ya," jawab Hakushi seolah bergumam. "Aku sering mendengar cerita pemain yang menghadapi kejadian tak terduga saat mendekati tiga puluh kali. Aku sendiri juga begitu. Terlepas dari mekanisme terjadinya, aku pikir fenomena itu benar-benar ada. Tak disangka itu hanya takhayul belaka......"

"Hmm. Menarik."

Kuryu meletakkan tangan di dagu.

"Meskipun tidak nyata, mungkin ada faktor yang membuat orang mudah berilusi demikian. Tiga puluh kali itu, di antara pemain pun termasuk segelintir orang yang punya kemampuan hebat. Tidak akan mudah kalah dengan cara biasa. Dilihat dari sisi lain, jika kalah, itu terbatas pada kasus di mana terjadi kejutan besar. Pasti disertai dengan kejadian tak terduga."

"Jadi maksudmu, mereka merasa seolah <Sedang dikerjai>?"

"Mungkin begitu. Kalau dipikir-pikir menarik juga...... Bisa dibilang paradoks kompetisi. Semakin jago, semakin sulit mendapatkan kekalahan yang bisa diterima. Hanya hal-hal yang tidak masuk akal, menghina, dan sulit dihilangkan yang tersisa dan melekat di depan mata. Orang yang seharusnya bermain lebih serius dari siapa pun, malah diberi perlakuan yang paling kejam."

Kuryu mengarahkan pandangan ke Hakushi.

"Itu tidak terbatas pada tiga puluh kali saja, kan. Tubuhmu itu juga, pasti hilang karena kebetulan yang tidak masuk akal, bukan?"

Hakushi tidak menjawab.

Namun, jika diingat kembali, memang begitu. Dia ingat betul semua game yang melibatkannya. Juga akhir ceritanya. Game ke-83, dan ke-90. Game yang menyebabkan Hakushi rusak parah, keduanya──.

Tiba-tiba, wajah muridnya muncul di benaknya. Sudah lama tidak menghubungi, tapi jika dia terus menyelesaikan game dengan lancar, mungkin sekarang sudah sekitar delapan puluh kali.

Apakah dia juga akan menempuh jalan yang sama?

(2/39)

Yuuki terbangun di atas sofa yang keras.

(3/39)

Sofa dan meja tanpa hiasan, wastafel, microwave, kulkas, TV kecil, dan peralatan lain yang diperlukan untuk kehidupan modern tersedia lengkap. Namun, suasana kehidupannya terlalu minim, tidak terasa seperti apartemen satu kamar. Lebih berkesan seperti ruang istirahat karyawan di toserba atau restoran. Yuuki yang sudah lama tidak kerja paruh waktu, tidak punya alasan untuk bangun di kamar seperti ini. Dia segera mengerti bahwa <Game> telah dimulai.

Hal itu juga jelas terlihat dari penampilannya sendiri. Bukan baju olahraga kesayangannya, bukan juga seragam pelaut sekolah, Yuuki terbalut mantel berwarna krem. Di kepalanya terpasang topi dengan bentuk yang agak aneh. Ada pinggiran di depan dan belakang, dan di puncaknya ada pita kecil. Kalau tidak salah namanya topi deerstalker. Sesuai namanya, aslinya adalah topi berburu, tapi di zaman modern digunakan sebagai simbol detektif. Sepertinya ini adalah cosplay detektif.

Turun dari sofa dan keluar kamar, lorong luas menyambut Yuuki. Lampu yang tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap menyala, memberikan suasana tenang pada ruangan. Di kedua sisi dinding tergantung lukisan dengan jarak yang sama. Jumlahnya cukup banyak, jadi sepertinya bukan sekadar hiasan interior. Mungkin sedang dipamerkan. Apakah ini museum seni?

Sambil berjalan di lorong, Yuuki menyadari ada sesuatu di saku mantelnya. Sebuah smartphone. Tepenya berbeda dengan yang dimiliki Yuuki. Ini item game. Saat menekan tombol daya, sepertinya tidak dikunci, layar beranda langsung muncul.

Di pojok kiri atas layar terdapat aplikasi dengan ikon seperti museum seni, dan saat dibuka, peta yang sepertinya denah bangunan ini muncul. Lokasi Yuuki saat ini juga ditunjukkan, dan sepertinya dia berada di lorong lantai dua. Aplikasi khusus game ini──sering terlihat di taman hiburan, tapi baru pertama kali melihat yang ditujukan untuk satu fasilitas saja.

Untuk sementara, Yuuki mengandalkan peta dan menuju ruangan terluas──aula depan di lantai satu. Dalam situasi di mana aturan dan tujuan belum diketahui, teori dasarnya adalah menuju ruangan luas terlebih dahulu.

Benar saja, di sana sudah berkumpul pemain selain Yuuki. Pakaian mereka beragam. Ada yang berpakaian detektif seperti Yuuki, ada yang memakai mantel lusuh seperti polisi kriminal, ada juga yang berpakaian rapi seperti polisi biasa. Jumlahnya, setelah dihitung kasar, sekitar empat puluh orang.

"Halo......"

Yuuki menyapa gadis-gadis itu.

"Apa sudah ada penjelasan aturan atau semacamnya?"

"Belum, mungkin sebentar lagi......"

Suara gadis yang hendak menjawab terpotong oleh bunyi bzzzt.

Monitor dengan penyangga yang dipasang di aula depan menampilkan gambar. Boneka berpakaian inspektur polisi yang sepertinya bisa muncul di acara anak-anak tampil besar di layar, dan mengeluarkan suara sambil menggerakkan mulut (lip-sync).

"Di museum seni ini, surat ancaman dari komplotan pencuri hantu telah tiba......"

(4/39)

Dengan nada bicara yang teatrikal, aturan main yang disampaikan oleh <Pemeran Penjelas> adalah sebagai berikut.

Rupanya, museum seni ini menjadi incaran komplotan pencuri hantu. Terhadap total dua puluh barang pameran besar dan kecil seperti patung perunggu, mahkota, kalung, dan lain-lain, telah diterima surat ancaman yang berbunyi <Kami datang untuk mengambilnya>. Melindungi barang-barang itu adalah misi yang dibebankan kepada Yuuki dan para pemain sisi <Keamanan>.

Para <Pencuri Hantu> juga sepertinya adalah pemain. Mereka berjumlah total dua puluh orang, dan syarat penyelesaian game bagi mereka adalah masing-masing harus mencuri satu atau lebih barang pameran.

Setiap satu barang dicuri, sisi keamanan akan diberi penalti. Oleh pihak manajemen, alat penyuntik obat keras telah ditanam di dalam tubuh Yuuki dan kawan-kawan, dan begitu barang pameran dibawa keluar gedung, satu orang akan dipilih secara acak dan alat itu akan aktif. Racun akan menyebar ke tubuhnya, dan seketika menyebabkan kematian. Pemain sisi keamanan totalnya ada empat puluh orang, jadi dalam kasus terburuk, dua puluh dari empat puluh orang itu akan mati.

Durasi permainan adalah satu malam. Waktu saat ini pukul delapan malam, dan waktu berakhirnya game adalah pukul lima pagi keesokan harinya. Dijamin bahwa para pencuri hantu baru akan menyerbu setidaknya setelah pukul sembilan malam, artinya Yuuki dan kawan-kawan diberi waktu persiapan selama satu jam.

Satu jam──waktu yang nanggung, bisa dibilang lama bisa juga sebentar, tapi bagaimanapun, sebaiknya selesaikan urusan dengan cepat. Yuuki dan yang lain mulai bersiap untuk game. Karena jumlah orangnya banyak, tidak ada waktu untuk saling memperkenalkan diri, tapi tanpa perlu begitu pun, ada sejumlah orang yang mengenal Yuuki. Ahli yang kali ini sudah mencapai kali ke-82──tentu saja tidak ada yang lebih berpengalaman dari itu, jadi secara alami Yuuki yang mengambil alih komando sisi keamanan.

Berdiri di depan kelompok, Yuuki berkata. "Berdasarkan penjelasan aturan tadi......"

"Saat barang pameran dicuri, pemain yang menanggung penalti ditentukan secara acak. Artinya, tanggung jawab atas kegagalan akan menimpa seluruh kelompok. Sehebat apa pun individu pemain bermain, itu saja tidak bisa menjamin kelangsungan hidup. Ini benar-benar pertarungan kelompok."

Yuuki menepuk dadanya sendiri.

"Aku memang punya sedikit lebih banyak pengalaman dibanding yang lain, tapi aku tidak bisa melewati game ini sendirian. Kerjasama semua orang dibutuhkan. Agar tidak ada yang harus mati, mari kita targetkan perfect game. Kita lindungi semua barang pameran."

Ini bukan gertakan untuk menaikkan moral. Dia benar-benar berniat melakukannya. Karena aturan penalti yang jatuh secara acak, untuk bertahan hidup dengan pasti, tidak ada pilihan selain menang telak (shutout).

Tidak akan membiarkan satu pun dicuri. Pihak musuh akan dimusnahkan.

(5/39)

Di dalam bus yang melaju kencang, Kagura terbangun.

(6/39)

Sebelum membuka mata, dia berpikir, ini bus.

Karena sensasi khas bus mendatangi panca indra Kagura secara bergerombol. Rasa kursi yang agak tidak nyaman, getaran yang sedikit terasa, udara yang panas dan pengap──. Saat membuka mata, benar saja. Jendelanya tertutup sehingga tidak bisa melihat luar, tapi itu jelas di dalam bus besar.

Bukan hanya Kagura, sepertinya ada sekitar dua puluh penumpang lain. Saling berpandangan, dan berbisik-bisik. Tampak bingung.

Kagura juga bingung. Dilihat dari situasinya tidak salah lagi <Game> sudah dimulai, tapi kasus seperti ini baru pertama kali. Pemain biasanya bangun di lokasi game, tidak pernah sedang dalam transportasi.

Apakah ada kesalahan──? Pikiran Kagura itu ditepis ketika monitor yang terpasang di beberapa tempat di bus menyala, dan menampilkan <Pemeran Penjelas> yang berpenampilan seperti pencuri hantu.

"Selamat datang, para pemain. Di <Phantom Thief>......"

Dari nama game dan penampilan <Pemeran Penjelas>, Kagura jadi penasaran dan melihat dirinya sendiri. Dia dipakaikan kostum jas berekor (tailcoat) dan topi silk hat. Penampilan <Pencuri Hantu> yang sering dilihat di segala jenis karya fiksi. Mengarahkan pandangan ke kursi sekitar dan mengamati kostum pemain lain, sepertinya kostumnya bervariasi tergantung orangnya. Ada yang memakai bodysuit bahan enamel, ada juga yang memakai kain penutup kepala seperti Nezumi Kozo (pencuri budiman ala Jepang). Pokoknya, semacam <Pencuri> ya.

"Sebentar lagi, bus ini akan tiba di museum seni. Dari sana kalian......"

<Pemeran Penjelas> menceritakan aturannya. Seperti yang bisa ditebak dari kostum yang dipakaikan ini, sepertinya ini game mencuri benda seni. Katanya, masing-masing orang cukup mencuri satu saja dari dua puluh barang pameran yang ada, yang mana saja boleh, untuk menyelesaikan game.

Sepertinya aturannya tidak rumit. Bagi Kagura yang tidak percaya diri dengan otaknya, ini menguntungkan. Rencananya ini akan menjadi game terakhir, dan dia bersyukur game ini dimulai dengan pertanda baik. Meskipun detailnya belum tahu──

Kalau cuma satu, harusnya bisa dicomot.

(7/39)

Di peta aplikasi khusus pada terminal game yang dimiliki Yuuki dan kawan-kawan, lokasi barang pameran ditunjukkan. Dari dua puluh titik yang tersebar seolah ditaburkan di seluruh bangunan, Yuuki dan kawan-kawan menuju ruang pameran yang dekat dari aula depan.

Di tengah ruangan terpasang kotak kaca, dan di dalamnya tersimpan salah satu key item──tongkat kerajaan (scepter) yang dihiasi permata besar. <Pemeran Penjelas> bilang semua dua puluh barang pameran ada di dalam kotak kaca. Itu properti yang dibuat untuk game, mungkin tidak benar-benar bernilai seni, tapi tetap saja terlihat spesial, jadi sepertinya tidak akan tertukar di tengah game.

Yuuki mengetuk kotak kaca tok-tok. Kesannya tidak rapuh, tapi juga tidak terlihat terlalu keras.

"Kalau bisa sih, pengen disembunyiin di mana gitu ya......" kata Yuuki.

"Katanya itu dilarang kan," jawab pemain lain.

Menurut <Pemeran Penjelas>, pemain sisi keamanan dilarang memecahkan kotak dengan sengaja. Jika itu terjadi, penalti juga akan diberikan secara acak kepada salah satu pemain. Walaupun, jika pihak pencuri hantu sudah memecahkan kotaknya, barang pameran itu boleh dipindahkan dengan bebas.

"Yah, di karya bertema pencuri hantu juga nggak pernah lihat adegan yang ngasih antisipasi kayak gitu sih. ......Ngomong-ngomong, kenapa sih polisi di dunia itu malah nunggu dalam kondisi dipamerkan begitu?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Yuuki, dan mereka lanjut menuju gudang. Di sana, sudah disiapkan pistol sejumlah orang dan peluru yang cukup. Di antara mereka memang ada yang berpakaian polisi, tapi tidak perlu menangkap pencuri hantu, dibunuh pun tidak masalah. Yuuki juga berpikir dengan strategi menang KO yaitu memusnahkan pencuri hantu daripada bertahan sampai fajar.

Mengenakan sarung pistol di pinggang, dan menjejali saku baju dengan amunisi sampai penuh, Yuuki dan kawan-kawan berkeliling museum seni satu putaran. Bangunan luas tiga lantai, dengan banyak ruangan. Satu hal yang agak aneh, tidak ada tempat yang terlihat seperti pintu keluar-masuk──pintu depan dan jendela semuanya tertutup, dan keadaan di luar tidak bisa dilihat.

Dari mana para pencuri hantu akan masuk? Tidak ada penyebutan dari <Pemeran Penjelas>. Karena mereka pencuri hantu, apakah mereka punya rute penyusupan rahasia? Namun, sepertinya Yuuki dan kawan-kawan tidak punya waktu untuk mencari tahu hal itu. Karena bangunannya cukup luas, setelah berkeliling satu putaran, waktu sampai pukul sembilan malam tinggal sedikit. Tidak ada cara lain selain memahami kartu lawan di tengah pertarungan.

"Sudah waktunya bersiap," kata Yuuki.

(8/39)

Bus berhenti. Saat Kagura dan yang lain keluar, tempat itu adalah tempat parkir luas yang diratakan. Agak jauh dari sana, berdiri sebuah gedung besar. Museum seni yang ada dalam cerita <Pemeran Penjelas>.

Dilihat dari jauh pun, bangunan itu memiliki struktur yang aneh. Semua jendela tertutup, dan pintu masuk pun tidak ada. Fasilitas yang dibuat khusus untuk game. Sekilas terlihat tidak bisa keluar-masuk, tapi sebenarnya, Kagura dan kawan-kawan tahu bahwa masuk dan keluar bisa dilakukan dengan bebas.

Dua puluh pemain masing-masing mengeluarkan terminal yang merupakan item game. Smartphone pasaran yang telah dimodifikasi. Saat membuka aplikasi khusus yang berikon seperti museum seni, berbagai informasi ditampilkan, seperti rute untuk menyusup ke dalam gedung, posisi kamera pengawas di dalam gedung, dan yang paling penting, lokasi barang pameran.

Inilah keuntungan yang diberikan kepada para pencuri hantu. Lebih dari cukup untuk menutupi kerugian jumlah empat puluh lawan dua puluh.

"Baiklah, ayo berjuang,"

Kata seseorang. Sembilan belas orang lainnya mengangguk-angguk.

Siapa yang akan mencuri barang pameran yang mana, sudah didiskusikan di dalam bus. Yang diincar Kagura adalah bros yang bertatahkan batu berwarna merah muda.

Dua puluh pencuri hantu menyebar dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyusup ke museum seni. Kagura tentu saja berniat melakukan hal yang sama, tapi──

"Hei, mau kerja sama nggak?"

Dia disapa oleh pemain lain.

Siapa ya, pikir Kagura. Di dalam bus mereka sudah saling memperkenalkan diri, tapi karena Kagura pikun, dia segera lupa nama orang. Tapi, seingatnya, dia adalah orang yang cukup berpengalaman dengan rekor lima belas kali.

"Kerja sama?" Kagura mengerutkan kening.

"Ini pertarungan individu kan, game ini. Kalaupun dua orang kerja sama mencuri barang pameran, yang clear cuma satu orang kan."

"Ya. Makanya, kita berdua ambil dua."

Orang lima belas kali itu membuka peta museum seni dari aplikasi khusus di terminal, dan memperlihatkannya pada Kagura.

"Barang pameran yang ditangani Kagura-san, bros di ruangan ini kan?"

"Iya sih."

"Barang pameran saya juga ada di ruangan tepat di sebelahnya. Artinya begini lho, kita menyusup dari lorong ini......" Dia mengetuk layar dengan jari. "Jalan begini, keliling dua ruangan berurutan, lalu kabur dari titik ini. Dengan begitu kita berdua clear game."

"Yah, mungkin begitu sih."

"Pihak keamanan ada empat puluh orang kan. Artinya, satu barang pameran dijaga oleh dua orang. Kalau mencuri sendirian, kalah jumlah. Saya pikir kita juga harus bersatu, bagaimana menurutmu?"

Saat melihat sekeliling, pemain lain juga berkumpul dalam kelompok dua atau tiga orang. Mungkin pendapatnya sama.

Kagura berpikir. Tidak, berpikir itu tidak akurat. Kagura sangat payah dalam segala tindakan yang menggunakan otak, jadi daripada berpikir, lebih tepat dikatakan dia bertanya pada hatinya. Yang bisa dilakukannya hanyalah memutuskan berdasarkan kesan samar-samar. Dia hidup hanya dengan mengandalkan ini.

Akhirnya, intuisi Kagura menurunkan wahyu.

"......Enggak deh. Aku sendiri aja."

Jawabnya.

"Kalau mau kerja sama, cari orang lain saja."

(9/39)

Barang seni totalnya ada dua puluh. Keamanan empat puluh orang.

Artinya, secara hitungan, satu barang pameran bisa dijaga oleh dua orang.

Namun, kenyataannya, yang berjaga di sekitar kotak kaca dibatasi tiga puluh orang. Mempertimbangkan lingkungan sekitar dan pengalaman masing-masing pemain, satu barang pameran dijaga oleh satu atau dua orang.

Dari sepuluh orang yang tersisa, dua orang ditempatkan di ruang monitor. Ruangan ini ada di lantai dua. Banyak monitor diletakkan di sana hingga cukup terang tanpa menyalakan lampu, dan bisa melihat rekaman kamera pengawas di dalam gedung secara sekilas. Jika sosok pencuri hantu terlihat di salah satunya, mereka akan segera melapor.

Dan, delapan orang sisanya adalah pasukan gerak cepat (mobile unit). Delapan orang ini tidak memiliki peran tetap. Mereka bergerak bebas di dalam gedung, mengusir pencuri hantu yang masuk secepat mungkin, mencari rute penyusupan, atau bergegas sebagai bala bantuan saat ada barang pameran yang diincar secara berkelompok. Beban kerjanya banyak, dan butuh penilaian yang fleksibel, jadi pemain yang berpengalaman di antara empat puluh orang yang mengembannya. Tentu saja, Yuuki juga termasuk dalam segmen ini.

Delapan orang dibagi menjadi empat pasang dan menyebar ke seluruh penjuru gedung. Yuuki dan rekannya sedang berjalan di lorong lantai tiga. Modelnya void (atap terbuka ke bawah), jika melihat ke bawah bisa melihat lantai dua.

"Peta ini menarik ya."

Rekan Yuuki berkata. Kedua matanya tertuju pada layar terminal. Peta aplikasi khusus sedang terbuka.

"Bukan peta biasa? Akurasi GPS-nya kelihatannya bagus sih......" jawab Yuuki.

"Bukan cuma itu lho. Misalnya sekarang, peta lantai tiga yang muncul...... GPS biasa tidak bisa mengidentifikasi sumbu Z. Tidak tahu ada di lantai berapa."

Benar juga, pikirnya. Peta aplikasi khusus ini tampilannya otomatis berubah saat berpindah lantai. Karena berfungsi begitu wajar, dia tidak sadar sampai ditunjukkan.

"Mungkin di lokasi dipasangi antena, dan dapat informasi dari situ juga ya. Survei pemetaan zaman sekarang itu nggak cuma mengandalkan info dari satelit, tapi juga masukin koreksi berdasarkan hubungan posisi dengan base station atau device di sekitar...... Konsepnya sama kali ya. Dibuat dengan baik lho ini. Kerjanya bagus ya."

Hmm-hmm, dia mengangguk-angguk.

Orang yang kagum pada hal aneh ya──sambil berpikir begitu, Yuuki memanggil namanya.

"Busutake (Dokutake)-san, paham mesin ya ternyata."

Nama pemain yang aneh, pikirnya. Nggak boleh bilang busu (jelek) ke anak gadis. Kenapa namanya bisa begitu ya? Padahal penampilannya terlihat tenang dan sama sekali tidak terasa ada <Racun>-nya. Rambutnya yang mengembang lembut memang sedikit mengingatkan pada tudung jamur, mungkin itu alasannya.

"Ya, lumayanlah," jawab Busutake. "Baik hardware maupun software, saya jamah semuanya secara merata."

"Dilihat dari orang sains, gimana? Game kayak gini."

"Gimana apanya?"

"Itu lho, game pembunuhan kayak gini kan sering muncul trickster orang sains. Bikin bom dari bahan di sekitar lah, atau meretas komputer pusat manajemen lah...... Terus pihak pengelola jadi kalang kabut. Yang kayak gitu gimana? Bisa nggak sih? Sebenarnya."

"Aah. Wah, gimana ya."

Busutake tertawa. Tawa yang tidak jelas antara basa-basi atau senyum pahit, tawa saat menepis sesuatu.

"Kalau soal kali ini, saya rasa sulit ya. Bahan yang berguna juga minim, terminalnya juga sudah saya coba otak-atik tapi proteksinya kelihatannya kuat...... Atau justru, Yuuki-san bukannya pernah dengar cerita kayak gitu? Sudah lama kan."

"Nggak terlalu dengar sih...... Kalau yang pertama kali mungkin, tapi yang kedua dan seterusnya kan ikut secara sukarela. Mungkin karena pemberontaknya memang sedikit. Ah, tapi, aku pernah dengar cerita orang yang ikut serta sambil masukin alat pelacak di lambung."

"Gimana jadinya? Hasilnya."

"Dihancurkan saat pemeriksaan fisik sebelumnya."

Dia tidak bilang bahwa dialah pelakunya.

"Yah, soal itu pasti mereka teliti ya. Kelihatannya sudah mengadakan pertunjukan sejak ratusan tahun lalu, pasti nggak ada lubang yang mudah ditembus."

"Iya ya......"

Sambil menimpali, telinga Yuuki bereaksi pada frasa <Ratusan tahun>.

Lho, dia tahu soal itu? Yuuki ingin bertanya, tapi terminal di saku bergetar memotongnya. Saat dilihat, foto diposting di ruang obrolan aplikasi khusus. Postingan dari pemain ruang monitor, sepertinya foto rekaman kamera pengawas yang diambil pakai HP.

Di sana, terlihat sosok yang sepertinya pemain. Bukan berpakaian detektif seperti Yuuki, bukan polisi kriminal atau polisi berseragam, tapi terbalut bodysuit hitam. Jelas sekali, penampilan orang yang merencanakan <Penyusupan>.

Pencuri hantu.

Karena Yuuki sudah menghafal posisi setiap kamera pengawas, dia segera tahu lokasinya. Di samping tangga lantai dua──tepat di bawah lorong void ini. Artinya, ini kasus yang harus ditangani Yuuki dan rekannya.

Zudan, terdengar suara menendang lantai.

Saat menoleh ke samping, Busutake melompati pegangan tangan, dan melompat ke udara.

──Dia terjun.

"Ah...... Busutake-san!?"

Yuuki memegang pegangan tangan dan mencondongkan tubuh.

Saat itu, Busutake sudah sedang jatuh ke lantai dua. Dia memutar tubuh dengan lincah di udara, dan sambil menghadapkan wajah ke sini,

"Saya duluan!"

Katanya.

Segera setelah itu, Busutake menghantam lantai dua.

Void ini tingginya hampir sepuluh meter. Jarak yang bisa merenggut nyawa jika salah mendarat, tapi dia berguling-guling goro-goro di lantai dan berhasil membuang dampak benturan dengan baik. Tidak mati, tidak terlihat terluka, bahkan sambil melambaikan tangan ke arah Yuuki, dia berlari menuju lokasi foto tadi.

Apakah dia──ahli parkour?

"......Orang aneh......"

Sambil bergumam, Yuuki menuju tangga terdekat.

(10/39)

Game ini, bisa dibilang ada tiga tantangan bagi kubu pencuri hantu.

Pertama, menyusup dan bergerak sambil menghindari kamera pengawas. Kedua, menghindari keamanan dan mencuri barang pameran. Ketiga, membawanya keluar gedung dengan selamat.

Dari saringan tiga lapis itu, Chiyo tersangkut di jaring pertama.

Hanya delapan detik setelah berhasil menyusup dari salah satu lukisan yang dipamerkan di lorong lantai dua──dari jalan rahasia yang dipasang di baliknya. Informasi tentang posisi dan sudut semua kamera pengawas sudah diberikan kepada para pencuri hantu, tapi tidak semua pemain bisa menggunakannya dengan benar. Orang bodoh, ada di mana-mana.

Sampai sosok Chiyo yang mengendap-endap di lorong dengan bodysuit hitam pekat tertangkap kamera, delapan detik. Sampai dikenali oleh pemain ruang monitor, tambah dua detik. Sampai laporan sampai ke pemain sisi keamanan, tujuh detik. Sampai Busutake yang paling dekat tiba di lokasi, butuh sepuluh detik.

Apa yang terjadi di sana, hampir tidak bisa disebut pertarungan. Busutake mengarahkan pistol, dan menembak dua kali punggung Chiyo yang belum paham betul situasi dan merasa sedang melakukan aksi stealth. Busutake mendekati Chiyo yang jatuh di lantai dan meronta kesakitan, lalu menembak kedua kakinya masing-masing satu kali. Semua proses ini tidak memakan waktu sepuluh detik, dan kurang dari satu menit sejak menyusup ke gedung, harapan Chiyo untuk menyelesaikan game pun putus.

(11/39)

"Gu, ah──"

Sambil menyipratkan gumpalan putih lembut ke sekitarnya, gadis ber-bodysuit itu meronta. <Proses Pengawetan> memang hebat. Meskipun menerima empat peluru di tubuhnya, itu tidak menjadi luka fatal, dan dia bisa menderita dengan元気 (segar bugar).

"Kubunuh lho. Kalau nggak diam."

Maka, Busutake berbisik begitu.

Ditambah kata-kata ancaman, saat ujung laras pistol yang masih panas ditekan ke pelipis, nyalinya ciut juga dan gadis ber-bodysuit itu menjadi diam.

"To, tolong."

"Itu tergantung sikapmu ya. Nona Pencuri, namanya?"

"Chiyo......"

Busutake menyadari bagian saku bodysuit Chiyo menggembung. Saat diperiksa, dua item keluar. Barang yang sama dengan yang dibagikan ke pemain sisi keamanan──yaitu, pistol dan terminal smartphone.

Saat menekan tombol daya terminal, dengan kurang ajarnya dia memasang kata sandi, layar kunci muncul.

"Chiyo-san. Kasih tahu password-nya."

"......2032......"

Di layar beranda, ada aplikasi khusus juga. Peta museum seni, ruang obrolan, dan beberapa fitur yang sama dengan aplikasi sisi keamanan, tapi ada juga yang unik seperti posisi kamera pengawas dan rute penyusupan ke gedung.

Kena kau, pikir Busutake. Dengan ini, kartu lawan sudah terbuka semua.

"Ah...... kerja bagus, Busutake-san."

Saat menoleh ke arah suara, ada Yuuki. Dia menyusul.

"Orang-orang pencuri hantu juga sepertinya bawa yang mirip dengan punya kita."

Sambil melapor, Busutake mengangkat terminal dan pistol yang disita dengan kedua tangan.

"Gimana? Masih hidup sih, mau diinterogasi?"

"Tidak," Yuuki menggeleng. "Tidak ada waktu. Lambat laun, pencuri hantu lain juga akan menyerbu. Kita harus menangani itu...... Habisi saja."

"Sip."

Busutake menjawab singkat, lalu menembak.

Kepala Chiyo berguncang sedikit. Yang tadinya panik, ekspresinya berhenti total, dan dari lubang peluru di dahi, gumpalan putih lembut meluap kecil.

Cepat sekali berakhirnya ya, rasa Busutake. Tidak ada teriakan kematian yang berlebihan seperti di film, tidak ada BGM sedih. Hal-hal suci seperti <Jiwa>, <Hati>, atau <Semangat> tidak terlihat di mana pun. Hanya, rusak, begitu saja. Dia pikir pada akhirnya manusia hanyalah sistem. Sama seperti mobil atau pesawat. Sistem yang memiliki mekanisme rumit. Hanya itu saja, bukan sesuatu yang perlu diistimewakan dibanding yang lain.

Setelah memastikan tanpa ragu bahwa Chiyo sudah mati, saat melihat ke arah Yuuki, dia sedang menunduk melihat terminal. "Datang," gumamnya kecil.

"Katanya tiga orang menyusup di lantai satu. Ayo."

"Oke."

Yuuki berlari. Busutake mengikutinya dari belakang.

Busutake menatap punggungnya yang membelah angin dengan postur indah. Sosok itu, tampak tak berdaya.

"......"

Busutake menatap pistol di tangannya.

Ah, tidak boleh, pikirnya. Jangan sampai timbul rasa ingin tahu yang aneh──.

(12/39)

Kagura mengingat masa lalu.

(13/39)

Pertemuan kedua dengan Sana──saat sedang berkeliling taman hiburan bersamanya. Waktunya makan siang, mereka masuk ke restoran di dalam taman. Memesan makanan mahal khas taman hiburan tanpa ragu, dan sambil menunggu pesanan, keduanya melakukan percakapan ini.

"Kagura-san itu, biasanya ngapain?" tanya Sana.

"Hmm, apanya?" Kagura balik bertanya.

"Kerja atau apa gitu...... Atau mahasiswa?"

"Aah...... Bukan mahasiswa kok. Pekerja lepas (freeter) kali ya. Tapi sejak jadi pemain, belum kerja sehari pun sih."

"Maksudnya hidup dari uang hadiah game?"

"Yup. Soalnya kan, sekali main dapat jutaan gitu. Jadi males kerja biasa kan."

"Apaan sih......"

Sana berkata dengan nada tak habis pikir.

"Itu mempertaruhkan nyawa lho. Kalau mati, semuanya hilang lho."

"Yah...... emang sih. Tapi gimana ya, nggak kerasa nyata gitu. Mati pun, selain diri sendiri nggak ada yang susah juga. Kalau saatnya tiba ya terjadilah, gitu rasanya."

Itulah watak manusia bernama Kagura. Sangat datar, dan tidak bisa serius dalam hal apa pun. Bahwa dia bisa bersikap seperti itu bahkan terhadap nyawanya sendiri, baru diketahuinya setelah berpartisipasi dalam <Game>──tapi pada dasarnya dia memang manusia sembrono. Makanya dia jadi pengangguran yang suka main-main.

Entah kenapa Kagura jadi merasa bersalah. Dibandingkan Sana yang terpaksa bertarung karena <Kontrak> dengan manajemen, dirinya cuma <Ingin uang buat main>. Perbedaan keseriusannya luar biasa.

"Duh, maaf ya."

"Nggak, bukan hal yang perlu dimaafkan sih......"

Sana menyipitkan mata, menatap Kagura lekat-lekat. Setelah jeda beberapa detik seolah memikirkan sesuatu, "Kagura-san."

"Kamu nggak bisa nembak pistol kan waktu itu."

Game sebelumnya──pasti soal <Undead Mall>. Waktu itu, Kagura membawa pistol, tapi tidak bisa menggunakannya dengan benar. Dia pikir itu bukan hal yang bisa dilakukan tanpa latihan.

"Yah gitulah...... Habisnya, tiba-tiba dikasih barang gituan. Mana ngerti."

"Supaya nggak jadi <Tiba-tiba>, semua orang latihan lho."

"Latihan...... di mana? Luar negeri?"

Kokuri, Sana mengangguk.

"Kagura-san, punya paspor?"

(14/39)

Rute penyusupan yang dipilih Kagura adalah saluran ventilasi.

Seperti film Hollywood zaman dulu, merayap maju di dalam saluran──membongkar lubang angin di tengah jalan, dan menyusup ke museum seni.

Itu di pojok lantai dua. Tanpa perlu memasang telinga, suara-suara berbahaya terdengar dari sana-sini. Suara tembakan, jeritan. Dia benar-benar merasakan <Game> sedang bergerak. Entah kapan dirinya juga akan terseret dalam kekacauan ini. Kagura mengeluarkan pistol dari saku jas berekornya, dan memegangnya dengan kedua tangan.

Pistol. Dia paham cara menggunakannya. Karena dibawa Sana ke lapangan tembak negara tetangga dan berlatih habis-habisan. Bukan hanya ini, pelatihan yang diperlukan sebagai pemain, Kagura sudah diajari semuanya oleh Sana. Katanya sering terjadi pemain senior mengajarkan dasar-dasar bertahan hidup pada pemula, tapi kenapa dia mau repot-repot mengurus Kagura? Harusnya hampir tidak ada elemen yang membuat orang ingin membantu──. Mungkin karena tingkah laku Kagura terlalu bodoh, dia jadi berpikir <Nggak bisa dibiarin>.

Bagaimanapun, pelatihan itu menolong Kagura. Demi membeli jenazah Sana, Kagura sudah berpartisipasi dalam enam game dalam satu setengah bulan terakhir, dan dia berhasil melewatinya tanpa cedera parah. Dan, ini adalah yang terakhir──tanggal pelelangan jenazah sudah dipastikan, dan mengingat tenggang waktunya, game ini mungkin akan jadi yang terakhir.

Sambil berhati-hati agar tidak terekam kamera pengawas yang dipasang di mana-mana, Kagura mulai bergerak. Menuju ruangan tempat bros dipamerkan.

Namun──baru saja mulai, dia menabrak rintangan.

Begitu berbelok di lorong pertama, dia berpapasan dengan sepasang pemain.

Wajah dan pakaian yang tidak dikenal. Bukan kubu pencuri hantu. Pemain sisi keamanan.

"......!!"

Kagura, dan pasangan itu, refleks mengarahkan pistol.

Dalam situasi seperti ini, yang menentukan adalah gerakan awal. Siapa yang lebih cepat membidik dan menembak duluan, dia yang menang. Dengan kata lain, semuanya bergantung pada pelatihan sebelumnya──milik Kagura tampaknya lebih unggul dari pasangan itu, dan berturut-turut dua peluru ditembakkan dari pistol Kagura, masing-masing terhisap ke tengah alis pasangan itu dan mengakhiri nyawa mereka.

Di depan dua mayat yang tergeletak di lantai, gawat nih, pikir Kagura. Area ini adalah titik buta kamera pengawas. Tindakan pertempuran barusan, maupun mayat dua orang ini, seharusnya tidak terekam. Tapi, rekaman dua orang yang masuk ke titik buta pasti ada, jadi jika mereka hilang kabar, wajar jika dicurigai <Terjadi sesuatu>.

Awal yang buruk. Apakah kebetulan menabrak pemain yang sedang patroli? Tidak, timing-nya terlalu pas. Jangan-jangan mereka sengaja datang ke sini? Rute penyusupan ventilasi sudah ketahuan, dan mereka datang ke sini untuk memastikannya──begitukah? Mungkin ada seseorang dari kubu pencuri hantu yang terminalnya dirampas, dan semua informasi sudah bocor. Jika begitu, game ini akan menjadi berat.

Terminal Kagura bergetar. Di ruang obrolan aplikasi khusus, ada postingan dengan foto. Sepertinya foto salah satu pemain sisi keamanan yang diambil dari sudut serong atas. Memakai mantel yang mengingatkan pada detektif, dan memancarkan aura yang bikin merinding bahkan lewat foto. Ada teks di bawahnya──.

<Hati-hati! Ada Yuuki di keamanan. Pemain ahli dengan rekor lebih dari 70 kali>

"......Yuuki?"

Nama itu, Kagura tahu.

(15/39)

Yuuki mengarahkan pandangan ke serong atas.

(16/39)

Dari lantai satu tingkat di atas yang merupakan void, dia merasakan tatapan.

Di sana, tidak ada sosok siapa pun, tapi Yuuki tidak berpikir <Ah perasaan saja>. Dia punya kepercayaan mutlak pada kemampuan indranya. Pasti tadi ada yang melihat.

Tapi, sekarang tidak ada waktu untuk mempedulikan hal itu. Di terminal Yuuki, bahkan di detik ini laporan penemuan pencuri hantu terus berdatangan, dan dia berlarian di dalam gedung untuk menanganinya. Dia sudah berpisah dengan Busutake. Kalau memikirkan keamanan dia ingin bergerak berdua atau lebih, tapi tenaga kerjanya kurang untuk melakukan itu.

Yuuki berlari, menuju salah satu ruang pameran di lantai dua. Dari dalam ruangan, terdengar suara tembakan. Sedang baku tembak. Setelah mengisi penuh silinder pistol dengan peluru, Yuuki menerobos masuk, dan menemukan dua orang keamanan dan tiga pencuri hantu. Tiga musuh itu semuanya bersembunyi di balik benda, tapi dari sudut Yuuki terlihat jelas. Lebih cepat dari reaksi mereka terhadap penyusup, Yuuki mengarahkan pistol. Pikiran melintas di benaknya.

Apakah di sini?

Bukan. Belum, bukan di sini.

Memberikan kematian pada ketiganya dengan bidikan yang akurat tanpa cela, dan setelah memulihkan ketertiban, Yuuki buru-buru pergi.

Mengisi peluru, menuju tujuan berikutnya. Kali ini kamar sudut di lantai tiga──menemukan dua pencuri hantu yang hendak masuk kamar, dan dengan cepat mengirim mereka ke alam baka. Berikutnya, depan tangga lantai satu. Di lorong tengah jalan dia melihat pencuri hantu yang bergerak sendiri jadi sekalian dibereskan, lalu saat menuju lokasi, dia menemukan tiga orang yang baru saja turun dari lubang angin langit-langit. Masing-masing satu peluru, tepat mengenai titik vital dan membunuh mereka. Karena enam peluru revolver habis, sambil mengisi ulang peluru, Yuuki masih terus berlarian──.

Di sela-sela itu, dia membuka ruang obrolan terminal dan melihat sekilas postingan yang berjejer, dan dia tahu gadis-gadis selain Yuuki juga bekerja dengan baik──sudah semua dua puluh pencuri hantu terdeteksi, dan dua belas di antaranya berhasil dihabisi. Lancar, pikir Yuuki. Dengan kecepatan ini, tak lama lagi akan musnah semua.

Sambil menyimpan terminal ke saku mantel, Yuuki memasang wajah serius.

Jujur saja, dia sedikit tegang. Sejak masuk ke angka 80-an selalu begitu. Gurunya pun mulai mengandalkan tubuh buatan di sekitar angka ini. Perasaan seperti firasat apakah sudah waktunya juga ada──tapi apakah terlalu khawatir?

"......Ups."

Terminal yang baru saja dimasukkan ke saku bergerak, seperti hewan peliharaan yang tidak suka tempat gelap.

Saat dilihat, ada postingan baru di ruang obrolan. Laporan dari ruang monitor. Diawali dengan kata [DARURAT]. Sudah disepakati untuk menambahkan ini di awal jika laporannya berurgensi tinggi.

Menurut laporan itu, barang pameran telah dicuri. Lokasinya lantai satu. Sangat dekat dari posisi Yuuki. Jika dibawa keluar gedung, penalti akan terjadi. Harus direbut kembali sebelum itu.

Setelah memberikan stempel yang berarti <Aku yang pergi> pada postingan tersebut, Yuuki menuju ke sana.

(17/39)

Pada titik ini, bisa dibilang game sudah memasuki pertengahan.

Waktunya masih jam sembilan setengah──baru tiga puluh menit sejak pencuri hantu menyerbu──tapi sudah lima belas pemain mati. Rinciannya, dua belas dari kubu pencuri hantu, tiga dari sisi keamanan. Saat ini, satu barang pameran baru saja jatuh ke tangan pencuri hantu, tapi belum ada yang dibawa keluar gedung. Target perfect game yang dicanangkan Yuuki masih terjaga.

Hasil yang wajar. Dalam perkembangan game sejauh ini tidak ada kelalaian di sisi keamanan. Penempatan pemain, komunikasi satu sama lain, komitmen masing-masing, semuanya tanpa cela. Kubu pencuri hantu juga menyusun strategi minimal, tapi secara keseluruhan pihak sini lebih unggul, dan hasilnya sesuai dengan itu.

Bagaimanapun, keberadaan Yuuki di sisi keamanan sangat berpengaruh──meskipun banyak pemain yang berpengalaman secara individu, pemain yang kaya pengalaman dalam mengoperasikan kelompok skala puluhan orang tidaklah banyak. Yuuki yang telah menumpuk pengalaman delapan puluh dua kali tidak memiliki titik buta. Seperti gurunya dulu, dia berada dalam posisi yang sangat dekat dengan kesempurnaan sebagai pemain.

Oleh karena itu──.

Jika dia kalah, itu hanya karena kebetulan belaka.

Yuuki tidak tahu tentang percakapan yang terjadi di sebuah alun-alun beberapa bulan lalu. Tentang apa yang disebut Kuryu sebagai <Paradoks Kompetisi>, tentang apa yang dialami Hakushi di game ke-83 dan ke-90, dia sama sekali tidak tahu.

Bahwa itu bertentangan dengan keinginan Yuuki, dia tidak mungkin menyadarinya. Yuuki saat ini sedang mencari <Kekalahan yang bisa diterima>. Matahari terbenam sebagai pemain yang suatu saat akan datang, dia mencari momen yang pantas untuk itu. Namun, hal semacam itu tidak akan pernah datang──yang ada justru perlakuan yang tidak masuk akal, memalukan, dan mengejek. Jika tidak begitu, itu tidak cukup untuk mengancamnya.

Jika boleh dibocorkan sedikit lebih awal.

Matahari terbenam itu, justru akan datang kali ini.

Tentang takdir yang menantinya, Yuuki belum tahu.

(18/39)

Nama pemain, Yuuki.

Nama itu, pernah didengar Kagura dari Kotono.

Setelah jadi pemain pun, dia sering mengunjungi toko buku bekas Kotono──suatu hari, saat dia datang menjelang tutup toko, Kotono sedang cemberut. Sepertinya diganggu pelanggan yang menyebalkan.

Kotono mengeluarkan botol sake dari kulkas toko. Sepertinya belum minum alkohol, tapi dengan tatapan yang sudah mantap,

"Temenin minum,"

Katanya pada Kagura.

Yah, kalau bisa minum gratis tidak ada alasan menolak. Di dalam toko yang rolling door-nya sudah diturunkan, Kagura bersulang dengan Kotono.

Setelah puas mengeluh tentang kesulitan dalam melayani pelanggan, Kotono bercerita tentang dirinya. Bukan hanya sebagai perantara game, ternyata dia juga pernah jadi pemain. Di game kelimanya──game pelarian bernama <Scrap Building>, katanya dia bertemu Yuuki.

"Orang aneh pokoknya,"

Begitu Kotono menilainya.

"Tapi, dia ahli yang luar biasa. Dengar dari rumor angin, katanya sekarang pun masih jadi pemain...... kalau begitu, jumlah clear-nya pasti sudah banyak banget."

"Heh......" Kagura menimpali, "Kalau ketemu di suatu tempat, nanti kusalamin deh."

"Nggak, nggak, mending jangan."

Kotono mengibaskan tangannya yang merah sampai ujung jari dengan kencang.

"Orang itu hantu. Kalau lihat hantu, jangan disapa. Kalau terlibat──kita bakal ikut terseret ke dunia sana lho."

(19/39)

Bersama cerita tentang Yuuki, dia jadi teringat wajah merah Kotono.

Kagura tersenyum pahit──tapi, senyum itu segera ditarik kembali. Sungguh bukan situasi untuk tertawa.

Saat ini, Kagura hampir berada di lantai dua──hampir, karena dia sedang duduk di tangga yang terhubung dengan lantai satu. Pantatnya menempel di ujung lorong lantai dua, tapi kedua kakinya menjorok ke tangga.

Di tangannya, tidak ada barang pameran. Dia kabur dengan tangan kosong. Sesuai rencana, dia berhasil menerobos masuk ke ruangan tempat bros berada, tapi dia kesulitan melawan dua penjaga, dan saat sedang alot, dua bala bantuan musuh datang lagi. Empat lawan satu jelas kalah, pikir Kagura, jadi dia buru-buru kabur, dan sambil jatuh bangun dia berhasil melepaskan diri dari penjaga yang mengejar, tapi saat itu dia sudah jauh dari ruangan bros. Menyerang lagi akan sulit.

Singkatnya dia gagal total, tapi ini bukan hanya cerita Kagura. Pencuri hantu lain pun sepertinya mengalami nasib serupa. Laporan gemilang bahwa berhasil mencuri barang pameran dan sukses melarikan diri──tidak muncul di ruang obrolan. Semuanya dihadang keamanan, dan mengalami nasib lari tunggang langgang atau dibunuh.

Lawan tangguh. Sangat terorganisir. Mungkin karena ada si Yuuki itu di sana──katanya lebih dari tujuh puluh kali, pasti dia yang memimpin di sana. Kemampuannya pasti tak sebanding dengan pemain sembarangan.

"Ampun deh......"

Keluh Kagura.

Kenapa sih, yang kayak gitu muncul. Padahal kalau kali ini berhasil, semuanya bakal lancar. Modal perang mungkin cukup. Persiapan untuk ikut lelang beberapa hari lagi juga sudah beres. Tapi──di saat-saat terakhir, malah ketemu iblis.

Gimana nih. Nyerah soal bros, dan incar barang pameran lain? Kalau sudah begini, kesepakatan barang yang ditangani sudah tidak berlaku lagi. Mungkin lebih baik cari yang penjagaannya lemah, dan serang di situ. Atau mulai sekarang minta kerja sama pencuri hantu lain? Tidak, apakah sebaiknya keluar dulu dan atur ulang strategi──.

Karena tenggelam dalam pikiran, dia terlambat menyadari langkah kaki yang mendekat.

Ah, gawat, saat Kagura berpikir begitu, di bordes tangga yang terlihat di bawah, seorang pemain muncul.

(20/39)

Dia naik dari lantai satu.

Penampilannya topeng hitam pekat dan jaket hitam pekat. Sepertinya pemain kubu pencuri hantu. Mungkin karena lari menaiki tangga dengan terburu-buru, napasnya terengah-engah parah, tapi dadanya tidak terlihat kembang kempis──karena di dadanya, dia memeluk sesuatu yang berkilauan. Gaun yang dijahit dengan banyak permata.

Salah satu barang pameran. Berhasil diamankan ya.

"Ah...... E-eto, Kagura-san!"

Gadis bertopeng itu mengenali sosok Kagura.

"Anu, ini! Tolong terima! Pass!"

Sambil berteriak lantang begitu, dia melempar gaun itu.

"Eh......!?"

Kagura terkejut dengan hal yang tiba-tiba itu. "A, ap-"

Bahkan saat kata-katanya tersendat, gaun itu terus terbang. Karena cuma kain, dia terkena hambatan udara yang besar, tapi terbang dengan lintasan parabola yang bisa diterima, dan Kagura dengan panik berhasil menangkapnya.

Sambil merasakan sentuhan sutra yang halus, Kagura berkata. "Anu, makasih......"

"Tapi, kenapa dikasih? Kalau dibawa sendiri──"

Itu terjadi sebelum dia selesai bicara.

Dari pelipis kanan gadis bertopeng, gumpalan putih lembut meledak.

Ditembak kepalanya oleh seseorang──. Kagura buru-buru melarikan diri. Tentu saja, sambil memeluk gaun di tangannya.

Begitu rupanya, pikir Kagura. Dia sedang dikejar. Karena berada di bawah bordes jadi sosoknya tidak terlihat, dan suara langkah kakinya juga cuma terdengar satu orang, tapi ada pemain sisi keamanan yang membidik gadis bertopeng itu. Saat merasa sudah tamat, dia menemukan Kagura di atas tangga, dan refleks melempar gaun itu, begitu ya.

Kagura menaikkan sudut bibirnya.

Bersyukur. Beruntung. Ibarat ketiban duren runtuh. Hidupku, kalau dipikir-pikir isinya begini melulu. Game pertama juga lolos berkat beginner's luck, game zombie juga diselamatkan Sana dengan pas. Setiap kali terdesak, keberuntungan yang pas datang menyelamatkan. Tidak, justru karena itulah nyawanya masih tersambung sampai sekarang. Karena tidak punya kemampuan yang pasti, dia hanya bisa bertahan hidup berkat kebetulan.

Sebagai pemain mungkin itu kondisi yang sangat memalukan, tapi masa bodoh. Bukan ingin terlihat jago. Tujuannya cuma mengambil kembali Sana, itu saja. Mau kebetulan atau keberuntungan, asal bisa bertahan hidup ya bagus.

Kagura berlari di lantai dua. Menuju pintu keluar-masuk terdekat dari sini.

(21/39)

Kagura senang dengan keberuntungan yang datang tak terduga──.

Sebenarnya, dia kurang bersyukur. Dia mengalami keberuntungan yang lebih besar dari yang dikiranya. Sampai gaun ini berada di tangan Kagura, beberapa kebetulan telah bertumpuk.

Pertama, sebagai dasarnya, gaun ini adalah yang paling mudah dicuri di antara dua puluh barang pameran. Di dekat kotak kaca hanya ada satu penjaga, dan lokasinya relatif dekat dengan pintu keluar-masuk. Pada tahap menentukan penempatan keamanan, Yuuki dan kawan-kawan tidak bisa mengetahui lokasi pintu keluar-masuk, sehingga kelemahan ini tercipta.

Pemain bertopeng──Kudan, pergi mengambil gaun bersama dua pencuri hantu lainnya, dan terjadi baku tembak dengan satu penjaga itu. Di sini, lebih beruntungnya lagi, peluru Kudan yang seharusnya baru pertama kali pegang pistol seumur hidup, terhisap ke kepala penjaga seperti ditarik magnet. Kudan dan kawan-kawan yang menyingkirkan penjaga memecahkan kotak kaca, mencuri gaun, dan menuju pintu keluar-masuk terdekat──yang ada di dekat tangga lantai dua.

Akan tetapi, pada titik ini, laporan masuk ke pihak keamanan melalui ruang monitor, dan sialnya monster terkuatlah yang dikirim──pemain ke-82, Yuuki. Ahli yang sudah dikenal oleh para pencuri hantu ini muncul tanpa suara di hadapan Kudan dan kawan-kawan, melepaskan dua peluru, dan seketika menewaskan dua pencuri hantu selain Kudan.

Selanjutnya, dia mengarahkan pistol ke Kudan juga, dan menarik pelatuk──

"......Hah!?"

Yuuki membuat wajah terkejut.

Dari revolvernya──peluru tidak ditembakkan.

Dari ekspresi yang seolah berkata <Nggak mungkin> <Kenapa sih>, Kudan menilai itu bukan kehabisan peluru. Pasti pelurunya macet (misfire). Berapa persentase peluru macet? Tidak tahu, tapi pasti probabilitasnya sangat rendah. Sangat beruntung.

Berkat itu, Yuuki terpaksa mengganti pistol, dan di celah itu Kudan sampai di tangga. Sambil berlari naik dia menengok ke belakang, dan sosok Yuuki yang mengarahkan pistol ke sini terlihat di pandangannya──dua kali macet berturut-turut, tidak mungkin diharapkan. Sampai di sini saja, Kudan sadar. Dalam beberapa detik lagi, peluru akan menembus otakku, dan aku tidak akan merasakan apa-apa lagi.

Namun, saat itu, dia menemukan seseorang yang sedang duduk di atas tangga. Kalau tidak salah, namanya Kagura. Perasaan yang lahir dalam diri Kudan saat inilah puncak dari tumpukan kebetulan. Yaitu, perasaan tanpa pamrih. Aku sudah tamat. Kalau begitu setidaknya, kutitipkan pada manusia yang punya kemungkinan.

Kudan berteriak.

"Kagura-san! Ini, tolong terima!"

Segera setelah itu, otaknya diaduk-aduk oleh peluru.

(22/39)

Sambil melihat gadis bertopeng itu roboh gontai──

Sial, pikir Yuuki.

(23/39)

Ada temannya di atas tangga. Sepertinya kejar-kejaran ini belum diizinkan berakhir. Yuuki menggigit bibir──kalau saja tidak macet tadi, tidak akan jadi begini.

Buru-buru menaiki tangga, sampai di bordes. Saat melihat ke lantai dua, sudah tidak ada siapa-siapa, tapi suara langkah kaki yang menjauh terdengar di telinga. Benar saja, seseorang menerima gaun itu.

Mengejar suara langkah kaki, Yuuki menyusuri lorong lantai dua. Saat berbelok di tikungan pertama, sosok pencuri hantu yang memeluk gaun terlihat di ujung lorong──sepertinya dia menyadari Yuuki mendekat di belakang, dia menoleh ke sini hanya dengan lehernya.

Dengan pencuri hantu itu, sesaat, mata bertemu.

Jantung Yuuki, dok, bergerak.

Mata manusia yang sudah bulat tekadnya, pikirnya.

Yuuki tahu betul bahwa itulah yang paling merepotkan. Manusia yang sudah membulatkan tekad, akan mengeluarkan kemampuan lebih dari sekadar skill semata, dan menuntaskan tujuannya. Yuuki yang sudah lama di industri ini sangat paham hal itu. Ada kalanya dia yang menuntaskan, dan banyak juga dia yang dikalahkan oleh orang seperti itu.

Dia melontarkan pertanyaan pada hatinya.

Apakah di sini?

Jawabannya ada. Tidak tahu. Mungkin saja.

(24/39)

Ngomong-ngomong.

Gini-gini, manusia bernama Kagura punya sisi sensitif (naive).

Dari fakta dia merasa minder (complex) terhadap Sana pun, itu sudah jelas. Karena dia manusia sembrono, dia selalu merasa rendah diri terhadap manusia yang tidak begitu.

Saat berjalan di sudut kota, dan melihat poster iklan yang menampilkan artis berwajah cantik, dia merasa muak. Gue tiap hari numpuk usaha, lha lu? Rasanya kayak dibilangin gitu, jadi sakit hati. Apakah orang lain tidak begitu? Kenapa keberadaan seperti itu malah dielu-elukan? Perasaan yang hampir seperti dendam tak beralasan, tapi sulit dihapus, dan menjadi salah satu ketidakpuasan yang merajalela di keseharian Kagura.

Begitu melihat sosok Yuuki, yang menyembur di hati Kagura juga jenis kemarahan seperti itu.

Ahli yang lebih dari 70 kali? Hebat bener. Sampai jadi segitu, pasti usahanya keras ya. Tapi.

Mentang-mentang kamu manusia super yang tak terkalahkan.

Nggak sudi aku diinjak-injak sesuka hati.

(25/39)

Mengesampingkan soal mental──Yuuki tahu bahwa pencuri hantu lawannya ini tangguh.

Pertama, saat Yuuki berbelok di tikungan, dia langsung melihat ke sini. Daya pengamatan yang hebat. Harusnya suara langkah kakinya hampir tidak terdengar, tapi apakah dia mendengar volume suara yang sangat kecil itu? Atau dia memperkirakan berdasarkan jarak? Atau murni intuisi? Bagaimanapun, tidak mudah dilakukan. Teknik yang mahir.

Terlebih lagi, pencuri hantu itu mengarahkan pistol ke Yuuki, dan bidikannya sangat tepat. Kalau melihat moncong pistol, bisa tahu apakah pelurunya akan terbang ke arah sini atau tidak. Jika pelatuk ditarik dalam kondisi itu, peluru akan menembus tubuh Yuuki. Pistol yang diarahkan secara refleks biasanya tidak mudah kena──kemungkinan besar dia sudah menerima pelatihan sebelumnya. Entah siapa, tapi sepertinya dia punya guru yang bagus.

Yuuki kembali ke balik tikungan yang tadi dilewatinya, menyembunyikan diri dari pencuri hantu. Setelah memastikan suara tembakan terdengar dan peluru menancap di dinding bukan di tubuh, Yuuki membungkuk sedikit, dan berbelok lagi di tikungan. Membidik pencuri hantu dengan cepat dengan pistol.

Namun, saat itu, pencuri hantu juga sudah mengambil langkah pertahanan──mengangkat gaun barang pameran tinggi-tinggi, dan membiarkannya berkibar di belakangnya.

Kain begitu tidak mungkin menahan peluru. Berkat rok yang panjangnya nggak guna itu sosok si pencuri hantu hampir tertutup, dan sulit membidik dengan tepat, tapi kalau sekadar mengenai bagian tubuh mana saja sih bisa dilakukan tanpa masalah. Pertahanan bukan dalam arti itu, intinya adalah fakta bahwa itu key item game.

Artinya──apakah boleh menembak tembus gaun itu, itulah pertanyaannya. Secara aturan, perusakan barang pameran tidak diizinkan. Karena jika dibuat kondisi di mana pencuri hantu tidak bisa mencurinya, akan timbul masalah pada kelangsungan game. Sama seperti perusakan kotak kaca oleh pihak keamanan yang menjadi penalti, perusakan barang pameran juga akan dikenai penalti. Seberapa parah kerusakan yang dianggap <Perusakan>, batas pastinya tidak dinyatakan oleh <Pemeran Penjelas>, tapi sudah dikonfirmasi saat penjelasan aturan bahwa sekadar satu hiasan lepas atau lecet sedikit tidak akan dihukum.

Apakah menembus gaun dengan peluru bisa dibilang tidak masalah──?

Yuuki menyipitkan mata.

Agak meragukan, tapi dia putuskan <Bisa>. Nilainya sebagai barang seni mungkin hancur, tapi bukan kerusakan yang membuatnya tidak bisa dicuri. Harusnya tidak masalah. Toh, kalau dicuri juga kena penalti──daripada direbut, hancurkan saja sekalian.

Membidik sekitar dada pencuri hantu, dia menarik pelatuk. Gaun berlubang. Dengan jeritan pendek dia roboh di tempat. Gaun terlepas dari tangan, berhenti berkibar, dan jatuh menutupi dirinya.

Dan──lorong menjadi sunyi senyap.

Pencuri hantu tidak menunjukkan gerakan. Tidak terlihat menderita, diam saja telungkup di lantai. Apakah mati. Apakah pingsan. Atau jangan-jangan──pura-pura mati. Kalau bisa ingin menembakkan peluru tambahan untuk memastikan hidup matinya, tapi gaun itu masalahnya. Kalau ditembak dua tiga kali, mungkin bakal gawat.

Oleh karena itu, Yuuki mendekati pencuri hantu dengan langkah mengendap-endap. Tak perlu dikatakan lagi, dengan kewaspadaan maksimal. Jika ada gerakan sedikit saja, jika ada hawa membunuh, Yuuki punya kesiapan dan kepercayaan diri untuk mengambil tindakan yang tepat seketika.

──Namun.

Ahli sepertinya pun, serangan balik tanpa gerakan awalan (pre-motion) sama sekali, di luar dugaan.

Di mantel Yuuki, lubang peluru 9mm tercipta.

(26/39)

Serangan balik dadakan ini dibantu oleh beberapa keberuntungan.

Pertama, karena terkena peluru, Kagura kehilangan kesadaran selama beberapa detik. Berkat itu, tanpa sengaja dia jadi pura-pura mati.

Saat sadar, sambil merasakan dadanya jin-jin (sakit berdenyut) seperti ditaruh di atas kompor, Kagura sadar dia ditembak tembus lewat gaun. Apa-apaan. Barang pameran lho. Emang boleh ditembak ya.

Kalau gitu, aku juga bakal lakuin, pikirnya. Untungnya, Kagura berada dalam kondisi bisa mewujudkannya──dia jatuh dalam posisi telungkup, tapi kebetulan, lengan kanannya masuk ke bawah tubuh, dan tangan kanan yang memegang pistol menyentuh pinggang kiri. Jika menembak sambil menekuk pergelangan tangan dengan baik, dia bisa menembak ke belakang menembus gaun tanpa mengubah posisi sedikit pun.

Latihan menembak tanpa melihat (no-look shooting) juga sudah lumayan dilakukannya. Mengandalkan sensasi pergelangan tangan saja, dia bisa menerbangkan peluru kira-kira ke arah yang diinginkan. Masalahnya target──yaitu posisi Yuuki. Karena tidak ada suara langkah kaki atau gesekan baju seperti hantu, posisinya tidak diketahui tanpa melihat langsung. Hampir menembak mengandalkan insting. Tapi, Kagura melihat kemungkinan kenanya lumayan ada. Tembakan pistol adalah serangan garis. Meski tidak tahu posisi pastinya, asal kena jalur tembaknya saja cukup.

Berdasarkan pemikiran itu, diam-diam menarik pelatuk──dan Kagura mendapatkan keberuntungan lebih lanjut. Sambil menyingkirkan gaun dengan kuat, bangkit, dan membalikkan badan ke belakang, dia melihat Yuuki yang menderita sambil memegang perut. Kena.

Kepada Yuuki yang seperti itu, Kagura mengarahkan moncong pistol.

Pihak Yuuki pun, mengarahkan pistol ke Kagura.

Bukan hanya lengan, kaki juga bergerak. Keduanya melangkahkan kaki maju mendekati lawan. Meskipun memegang pistol, mereka mencoba mendekat──keduanya merasa itu lebih menguntungkan. Kagura tidak tahu apa motif Yuuki, tapi dari sisinya, dia bisa menjelaskan alasannya dengan jelas.

Kagura menangkap gaun yang tadi ditepis dan masih melayang-layang di udara.

Melemparkannya ke depan.

Membuat sekat di antara keduanya.

Tertutup kain, wajah Yuuki jadi tidak terlihat, tapi pasti dia kaget. Dia pasti ragu untuk menembak benda ini. Kenapa saat Kagura jatuh tadi tidak ada serangan susulan? Karena tertutup gaun. Mungkin dia pikir satu tembakan masih aman, tapi kalau banyak bakal gawat.

Tapi, Kagura menodongkan pistol ke gaun──ke Yuuki yang ada di baliknya. Dia memperkirakan satu tembakan lagi masih bisa. Andaikata itu membuat barang pameran rusak, asalkan bisa menghabisi Yuuki, itu harga yang murah. Kalau dibunuh, clear atau apa pun tidak ada gunanya.

Kagura, menembak.

Nah, kena di mana? Kagura menatap gaun yang jatuh bebas──

Saat basari, gaun itu jatuh ke lantai.

Di seberang sana, tidak ada siapa-siapa.

Kagura refleks mengarahkan pandangan ke kanan.

Kenapa kanan, bukan kiri? Intuisi. Tidak ada dasarnya. Tapi, bagaimanapun di sana ada sosok Yuuki yang bergerak sambil merendahkan posisi──pistol di tangan kanannya sudah membidik ke sini.

Perintah darurat dikeluarkan ke otot seluruh tubuh. Cepat. Bergerak. Geser posisi──! Apakah dia menjatuhkan tubuh tepat sebelum suara tembakan terdengar, atau dia lemas karena mendengar suara tembakan, dengan timing yang sangat tipis hingga tak bisa dibedakan orang lain, Kagura menghindari peluru.

Sambil memperbaiki posisi, Kagura tidak bisa menahan rasa terkejut. Utsusemi (teknik ninja mengganti tubuh) katanya!? Baru pertama kali lihat. Beneran ada ya. Dilihat sekilas, pada Yuuki tidak terlihat bekas peluru selain satu di perut. Dihindari──cuma tidak diserang balik saja, harusnya sudah untung.

Kagura mengarahkan pistol ke Yuuki.

Akan tetapi, sebelum pelatuk ditarik habis, ada tindakan pertahanan Yuuki──memukul laras pistol dengan tangan kiri yang dibentuk seperti pisau tangan (shuto), menggeser arah moncong pistol. Sesaat kemudian, peluru ditembakkan──tapi terbang ke arah yang sama sekali salah.

Kali ini, giliran Yuuki yang menodongkan pistol ke wajah Kagura, dan menembak.

Lalu, Kagura menggerakkan leher dengan lincah menghindar, dan sambil melakukan itu dia membidik ulang pistolnya, mengincar Yuuki lagi──.

Pertarungan tembak jarak dekat seperti ini mungkin khas bagi pemain. Karena ada efek <Proses Pengawetan>, luka tembak tidak selalu menjadi cedera fatal. Buktinya, baik Kagura maupun Yuuki, meski sudah menerima satu peluru masing-masing, masih bergerak dengan lincah. Bagi pemain, pistol bukanlah senjata pembunuh pasti, kecuali ditembakkan ke titik vital dari jarak super dekat yang tak bisa dielak, tidak akan jadi pukulan penentu.

Keduanya bertarung sengit. Membidik, dihindari, membidik, dielakkan. Kalau dihitung angka cuma sekitar sepuluh atau dua puluh detik, tapi bagi Kagura, itu waktu yang sangat padat di mana dia tak bisa lengah sedikit pun. Dan saat penentuan pun tiba. Kagura menekan pergelangan tangan kanan Yuuki untuk melumpuhkan pistolnya, sambil mencoba membidik dia dengan pistol di tangan satunya.

Namun──.

Saat itu, Yuuki tersenyum tipis.

Dia menjatuhkan pistol yang dipegang di tangan kanan seolah menggelincirkannya.

Diterima oleh tangan kiri Yuuki yang sudah menunggu tepat di bawahnya. Sungguh cekatan, bukan hanya menangkap, tapi digenggam dalam kondisi siap tembak segera.

Moncong pistol mengarah ke jantung Kagura.

Gawat──pikir Kagura. Pistol Kagura belum selesai membidik dengan tepat. Pihak sana, satu detik lebih cepat. Aku kalah. Dia menyadarinya.

Dia melihat jari telunjuk di pelatuk pistol Yuuki bergerak.

Kagura bahkan tidak sanggup lagi melihatnya, dan memejamkan mata.

Tuhan, tolong──!

Satu suara tembakan terdengar.

(27/39)

Hari ketiga di taman hiburan. Kagura dan Sana sudah puas bermain, dan jam tutup sudah dekat. Matahari terbenam, jumlah pengunjung berkurang, dan secara visual pun terlihat waktu perpisahan mendekat.

Di area yang bermotif kota pelabuhan, Sana membuka pembicaraan.

"Pernah mikirin nggak, soal setelah mati?"

Agak kaget dengan pertanyaan yang tidak santai itu, Kagura menjawab.

"Nggak pernah sih. Bodo amat nggak sih? Soal setelah mati gitu."

Sama seperti tidak peduli pada nyawanya sendiri, dia juga tidak tertarik soal setelah mati. Penemuannya terlambat dan mayatnya membusuk di rumah pun tak masalah, atau preferensi seksualnya ketahuan dari buku di rak pun biarin aja. Bodo amatlah, itulah perasaan jujurnya.

"Aku, ingin kembali ke laut."

Sambil bersandar di pagar dan memandang kota pelabuhan tiruan, Sana berkata.

"Aku ingin abu jenazahku disebar di laut. Terus, jadi makanan makhluk laut, dan keliling dunia."

"Hmm...... Mau dimakan ikan ya. Aneh banget seleramu."

"Jangan bilang selera."

Sana memelototi ke sini. Karena sudah hari ketiga, mereka sudah akrab sampai bisa saling ejek begini.

"──Yah, kalau Sana mati, nanti aku lakuin deh."

Makanya, ini juga, kata-kata yang dilontarkan tanpa pikir panjang.

"Saat itu, mungkin aku juga udah mati sih......"

Ngomong-ngomong aku pernah janji gitu ya, ingat Kagura.

Mungkin karena itulah. Dia ingin mengambil kembali jenazahnya.

(28/39)

Sedikit cahaya masuk ke pandangan Yuuki.

(29/39)

Hampir, tidak terlihat.

Tidak, bisa dibilang tidak terlihat sama sekali. Tidak ada satu pun informasi yang berarti. Hanya cahaya lampu langit-langit yang masuk dari sisi agak kiri pandangan.

Kepala sakit gan-gan. Wajah panas. Apa ini. Apa yang terjadi? Jangan-jangan──pingsan? Kapan terakhir kali hal itu terjadi di tengah game? "......Sakit......" sambil mengerang, Yuuki bangun.

Saat mengelupas gumpalan putih lembut yang menempel di sekitar mata kiri, penglihatannya agak pulih. Tapi, masih belum terlihat jelas. Sepertinya ada luka di sekitar mata kiri──karena mata kanan Yuuki sudah kehilangan penglihatan sejak awal, kalau ini juga rusak dia bakal buta total.

Yuuki ingat bahwa dia ditembak oleh pencuri hantu itu. Yuuki merekam momen di mana moncong pistol lawan menyemburkan api hanya belasan sentimeter di depan wajahnya. Kena itu, Yuuki pingsan. ──Dia kalah.

Dilihat dari kondisi lukanya, sepertinya tulang pipi kirinya hancur terserempet. Kalau sudutnya geser sedikit saja, dia pasti mati. Ditembak di wajah dan cuma pingsan, bisa dibilang beruntung. Karena itu situasi dengan timing yang sangat ketat, mungkin bidikan pencuri hantu itu kurang pas. Atau mungkin Yuuki tanpa sadar menggerakkan kepala. Bisa juga keduanya.

Dengan penglihatan yang agak kurang, Yuuki melihat sekeliling. Tidak ada sosok pencuri hantu. Tidak ada gaun. Sepertinya sudah kabur.

"Kena deh......"

Sambil berkata begitu, dia melihat tangan kiri.

Bicara soal timing saja, harusnya Yuuki unggul sesaat. Tapi, dengan tangan kiri yang kesemutan ini, dia tidak bisa menghasilkan tenaga yang cukup untuk menarik pelatuk. Tentu saja, Yuuki juga tahu itu, dan dalam pertarungan sampai titik ini dia menggunakan pistol hanya dengan tangan kanan dari awal sampai akhir. Dalam situasi itu, dia pikir tidak ada cara lain, jadi dia mencoba bertaruh──dan kalah taruhan, itulah intinya.

Yuuki melihat terminal. Selama bertarung satu ronde, banyak postingan baru di ruang obrolan. Yang terbaru bukan dari pemain lain, tapi pemberitahuan dari manajemen.

Bunyinya begini.

<[PEMBERITAHUAN] Karena barang pameran dicuri, penalti telah dilaksanakan kepada Nogami-san.>

Sepertinya pencuri hantu itu sudah berhasil kabur. Harapan perfect game sudah hilang dengan ini.

Meski begitu, tidak ada waktu untuk murung. Game masih berlanjut. Dengan kondisi begini, dia mungkin tidak bisa lagi melakukan aksi lincah melompat-lompat, tapi kontribusi seperti memberi instruksi di ruang monitor masih bisa dilakukan.

Yuuki menggerakkan kaki menuju ke sana.

(30/39)

Saat ini.

Jujur saja, Yuuki sedikit lega.

Saat melihat Kagura, jantungnya berdegup kencang. Karena ada firasat jangan-jangan di sini saatnya. Adanya kejadian tak terduga peluru macet tepat sebelumnya juga melemahkan hatinya.

Tapi, hasilnya tidak begitu. Meski terluka, segini bagi pemain cuma luka ringan. Semua yang tidak meninggalkan cacat permanen tidak dihitung. Eksekusi penalti pun, untungnya tidak menargetkan Yuuki. Sebenarnya dia kalah dan nyaris mati, tapi Yuuki malah menganggapnya berhasil lolos dari bahaya.

Tidak, bahkan ada perasaan lebih dari itu. Soalnya sudah lama sekali tidak kalah. Bertarung sekuat tenaga, dan kalah. Perasaan segar seperti no-side setelah pertandingan olahraga──

Sampai di sini.

Hawa membunuh yang mengandung kebencian, menyentuh kulit Yuuki.

Tanpa sadar, tubuhnya bergerak.

(31/39)

Melompat ke depan sekuat tenaga.

Bukan karena ada dasarnya. Hanya intuisi bahwa harus melompat.

Segera setelah itu, terdengar suara tembakan. Lintasan peluru tidak terlihat, tapi kemungkinan besar, melewati koordinat di mana Yuuki berada sekian detik yang lalu.

Mendarat, berguling di lantai. Tidak boleh berhenti sesaat pun──entah siapa, tapi tidak boleh memberi waktu penyerang ini untuk membidik. Dengan gerakan mulus Yuuki bangkit, dan lari. Dor, dor, suara tembakan susulan terdengar putus-putus.

Setelah beberapa kali suara tembakan, rasa sakit seperti terbakar menjalar di kaki kiri Yuuki. Kehilangan keseimbangan, dan jatuh tersungkur. Kali ini, kesadaran sok santai untuk terus bergerak tidak tersisa di Yuuki, dia bertumpu tangan di lantai secara normal, dan berhenti. Celah itu dimanfaatkan. Suara tembakan bergema berkali-kali berturut-turut, bahu, dada, dan lengan kiri serta bagian lainnya, satu per satu melaporkan kerusakan.

Saat serangan berhenti, Yuuki sudah tidak bisa bergerak dengan leluasa. Menggeliat saja susah payah, tidak bisa berdiri, tidak bisa lari. Lebih dari sekadar sakit jadi tidak bisa bergerak──terasa nuansa yang lebih mutlak. Rasanya seperti roda giginya dicabuti di sana-sini. Apakah salah satu peluru yang banyak mengenainya melukai organ penting?

Seperti ulat, Yuuki memutar tubuhnya mozo-mozo, dan mengarahkan pandangan ke penyerang.

Ada satu orang yang berjalan ke sini sambil melakukan reload peluru revolver.

Ditebak dari pakaiannya, orang dari kubu pencuri hantu. Ciri khasnya mata kanannya tertutup──sama seperti Yuuki, sepertinya kehilangan penglihatan mata kanan. Satu pistol di tangan, satu lagi di sarung dada, tapi bukan hanya itu, ada sebilah pedang di pinggangnya. Sarungnya dihiasi dekorasi, berkilau norak gira-gira. Salah satu barang pameran, pedang upacara.

Wajahnya penuh kebencian. Wajah yang benar-benar seperti menemukan musuh bebuyutan. Kenapa? Yuuki punya dugaan. Karena dia mengenali wajah itu.

Hawa dingin yang menyeramkan menjalar di punggung.

Ini, gawat.

(32/39)

Sambil berjalan tap tap menuju Yuuki──.

Mononobe mengingat kembali percakapan di rumah sakit.

(33/39)

Setelah bersusah payah menyelesaikan <Gimickry Mansion>, Mononobe pergi ke rumah sakit. Dalam pertunjukan ini, dukungan medis sangat lengkap. Luka yang timbul akibat game, semuanya bisa disembuhkan──begitu, pikirnya.

"Buta?"

Dengan wajah yang mata kanannya diperban, Mononobe bertanya.

Di ruang periksa. Dokter yang duduk di depan Mononobe mengangguk kokuri.

"Bola mata itu, sebenarnya organ yang daya pemulihannya lumayan lho...... Dalam kasus ini, cara melukainya yang kurang bagus kali ya. Kalau disayat lebar pakai benda tajam yang tumpul, yah, susah sih."

Nada bicaranya datar. Sama sekali tidak terdengar seperti sedang menjelaskan tentang cedera yang meninggalkan cacat permanen. Pasti dia sering menemui kasus seperti ini, sampai emosinya tidak tergerak lagi satu per satu, tapi bagi Mononobe ini adalah satu-satunya tubuh miliknya. Tolong jangan pasang wajah tanpa ekspresi begitu.

"Katanya dikerjai Yuuki ya," kata dokter. "Kadang ada yang datang kok, gadis yang begitu...... Yah, anggap saja biaya belajar. Lain kali, sebaiknya pilih lawan kalau mau berantem."

Apaan tuh? pikir Mononobe. Cara ngomongnya kayak aku yang salah. Nggak masuk akal.

Pasti akan kubalas dendam. Dia bersumpah. Apakah itu hasil pertarungan adil, atau akal sehat dunia pemain, dia tidak peduli. Karena sudah membuatku cacat, akan kuberi balasan yang setimpal. Selama hidupnya pun, dia selalu begitu.

Sejak saat itu, Mononobe menyelam dalam ke industri ini, dan mulai mencari Yuuki. Berpartisipasi dalam game yang mengundangnya sebanyak mungkin, tak terasa sudah yang ke-15, dan dirinya sendiri sudah menjadi lumayan ahli.

Dan, di kali ke-15 ini akhirnya ketemu.

Saat menerima laporan lewat aplikasi khusus bahwa ada Yuuki di pihak keamanan, gigi roda di dalam otak Mononobe bergeser. Penyelesaian game dikesampingkan, dia berjalan keliling gedung. Teringat butuh alat, di tengah jalan dia mengambil pedang barang pameran, tapi tidak keluar gedung, melainkan mencari Yuuki.

Saat menemukan dia berjalan di lorong sambil menumpahkan gumpalan putih lembut, Mononobe meledak (puttsun). Menghantamkan semua peluru dari dua pistol padanya, pertama-tama merampas kebebasan tubuhnya.

Nah, kesenangannya baru dimulai. Dia mencabut pedang dari sarungnya.

(34/39)

Seperti sarungnya, bilah pedangnya juga ada hiasannya. Kelihatannya tidak terlalu praktis.

Tapi, dia sudah memastikan matanya tidak tumpul. Setidaknya bisa dipakai sebagai pedang. Justru dalam kasus ini, lebih baik agak tumpul. Karena tujuannya bukan membunuh, melainkan menyiksa.

Mononobe mengayunkan pedang, pertama-tama menghantam kaki kiri Yuuki. Terjadi sesuatu di tengah-tengah antara <Memotong> dan <Menghancurkan>. Daging sobek, gumpalan putih lembut menyembur, tapi tidak sampai putus. Hasil yang sesuai selera Mononobe yang kelihatannya sangat sakit. Mengabaikan Yuuki yang menjerit kesakitan, dua kali, tiga kali, dia mengayunkan ke tempat yang sama, dan setelah membuat sayatan cukup dalam Mononobe mencengkeram kaki itu, dan memisahkannya dari tubuh seolah mencabutnya.

Kalau cuma begitu mungkin bisa sembuh, jadi dia menginjak-injaknya seolah menggosokkannya ke lantai, menghancurkan darah, lemak, jaringan otot, dan memerasnya keluar dari potongan. Saat kaki kiri sudah beko-beko (penyok-penyok) seperti sedotan yang digigit hancur, Mononobe menyingkirkannya ke samping, dan mengembalikan pandangan ke tubuh utama Yuuki. Berikutnya, kaki kanan.

Setelah melakukan prosedur yang sama pada semua anggota gerak dan menyisakan badannya saja, Mononobe menaiki Yuuki. Belum mati. Sepertinya juga tidak pingsan. Dengan mata kosong, dia melihat ke arah Mononobe. Dia menusukkan jari telunjuk dan tengah ke mata kanan Yuuki, mengaduk-aduknya guri-guri, dan mencungkil bola matanya. Sensasi aneh antara keras dan lunak. Membantingnya ke tanah dan menginjaknya dengan sepatu. Dia berpikir mau mencungkil mata kiri juga, tapi sepertinya tulang pipi kirinya rusak, dan kehancurannya sampai ke rongga mata di atasnya. Kalau sembarangan memasukkan jari, bisa-bisa dia yang terluka. Ini nanti saja.

Mononobe memegang pedang lagi, dan menusukkannya ke perut Yuuki. Tidak ada teriakan. Saat itu sepertinya dia sudah kehilangan kesadaran. Memanfaatkan itu, dia menggerakkan bilah pedang maju mundur kiri kanan guri-guri. Melukainya dengan teliti agar jangan sampai sembuh total. Setelah selesai, kali ini dia menyusurkan bilah pedang di dada, menyobek daging ke kiri dan kanan, mengekspos tulang rusuk.

Sesaat, ada ingatan yang bangkit di benak Mononobe. Ingatan tidak menyenangkan saat sekolah alam SD, dipaksa membedah ikan mentah hanya dengan mengandalkan penjelasan kakek lokal yang suaranya serak parah dan sulit didengar. Di sini bahkan tidak ada kakek itu. Tidak ada panduan cara membedah. Pokoknya, potong tulang sembarangan, dan copoti satu per satu.

Mengupas dinding pertahanan yang mengganggu, dan maju lebih dalam──

Itu, muncul.

Jantung. Berdenyut dengan semangat tanpa tahu apa yang terjadi pada tubuhnya.

Cara membunuhnya sudah diputuskan <Ini>. Remas jantungnya sampai hancur, lalu bunuh. Dia terus memikirkannya. Bagaimana cara melakukannya agar perasaan paling lega. Sering memimpikan saat ini. Mononobe memasukkan tangan ke dalam tubuh Yuuki, dan menggenggam jantungnya. Merasakan suhu tubuh yang sedikit lebih tinggi dari suhu permukaan, dan detak yang ritmis.

Perlahan, menambah kekuatan pada tangan. Jantung Yuuki berdenyut kuat dan cepat seolah tidak mau. Di dalam tubuh Mononobe, ada sesuatu yang datang. Ah. Ah. Ah. Dia harus mengakui bahwa dirinya terangsang (excited). Tidak rela. Padahal aku sama sekali tidak suka hal seperti ini. Orang itu juga begitu. Padahal cuma mau kasih <Peringatan> dengan tamparan di pipi satu kali saja. Gara-gara orang itu pasang wajah begitu. Makanya, jadi tereskalasi. Bukan salahku. Aku dijebak.

Saat sadar, pandangannya berwarna putih. Kedua mata berkunang-kunang, dan isi kepala jadi kabur. Awalnya Mononobe pikir dia agak terlalu excited, tapi karena perlahan tangannya jadi tidak bertenaga, dia menyadari ada yang tidak beres. Apa ya, aneh, selagi bertanya-tanya begitu, keanehan itu menaikkan voltasenya. Merasakan tekanan dan dekompresi bergantian seolah pompa angin disambungkan ke otak, rasa panas dan menggigil hidup berdampingan seolah flu parah, pandangan berkedip hitam putih seolah tubuh bingung mau pingsan atau hilang kesadaran.

Kesadarannya terurai berantakan, dan Mononobe roboh ke lantai.

(35/39)

Fuh, Busutake meniup moncong pistol.

(36/39)

Berjalan dengan langkah ringan di lorong, mendekat ke sisi Yuuki.

Mayat pencuri hantu yang kepalanya ditembak dan roboh menindih Yuuki mengganggu, jadi ditendang ke sudut lorong. Setelah itu, Busutake melihat Yuuki lagi.

"Waduh...... Parah banget kena hajarnya,"

Busutake menyampaikan kesannya.

Sebenarnya, sampai mana yang disebut Yuuki, itu bagian yang sulit. Sepertinya keempat anggota gerak dan mata kirinya dicabut (mata kanannya yang dicabut, mata kiri rusak karena tembakan sebelumnya), tapi apakah hanya badan dan kepala yang tersisa ini yang disebut Yuuki? Atau tangan kaki yang hancur parah dan sepertinya mustahil disambung lagi ini juga, sementara, harus dihitung sebagai bagian darinya?

Bagaimanapun, dia dihajar habis-habisan. Tapi nyawanya selamat──sepertinya tidak sadar, tapi dadanya naik turun. Jantungnya bergerak juga bisa dipastikan secara visual. Sepertinya organ fatal belum disentuh. Kalau dibiarkan begini bakal gawat, tapi tidak akan mati dalam satu dua jam.

Dilihat dari lukanya, pencuri hantu itu tujuannya menyiksa Yuuki. Ironisnya karena itulah dia tidak membunuhnya sampai tuntas. Apakah punya dendam dari game masa lalu? Kalau sudah 82 kali, pasti banyak masalah seperti itu.

Agar tidak menghalangi jalan, dia memindahkan badan dan anggota gerak Yuuki ke sudut lorong, lalu Busutake melepas jaket kostumnya dan menyelimuti Yuuki. Sekilas, akan terlihat seperti sudah mati. Jika ada yang lewat sini pun, tidak akan ada yang mau mengganggunya.

Saat ini, hanya ini yang bisa dilakukan Busutake. Sisanya, menyelesaikan game lebih cepat demi dia. Waktu selesai yang ditetapkan adalah fajar nanti, tapi jika semua pencuri hantu dihabisi dan kemungkinan situasi bergerak hilang, langkah penyelesaian dini harusnya bisa diambil. Selesaikan dengan cepat, dan angkut Yuuki ke rumah sakit sesegera mungkin. Itu yang terbaik.

Meskipun statusnya <Musuh>, lebih baik dia tetap hidup. Bukan tidak ada harapan bisa baikan di masa depan. Manusia yang punya harapan 99 kali sangat sedikit, sayang kalau hilang. Lagipula, tergantung perkembangannya, mungkin dia bisa jadi subjek eksperimenku──.

"Bertahanlah ya, Yuuki-san,"

Sambil membelitkan sabuk bersarung pedang ke pinggangnya, Busutake berkata.

"Kalau bisa pulang hidup-hidup, sampaikan salam pada Ayah......"

(37/39)

Menyeret tubuh yang sakit, Kagura keluar dari gedung.

(38/39)

Di lorong lantai dua, ada jalur pelarian. Salah satu panel lantai ternyata pintu rahasia, dan ada lorong yang tersambung sampai ke luar gedung. Cahaya bulan menyinari Kagura, angin malam menerpa kulit, bersamaan dengan itu notifikasi masuk ke terminal. Dari manajemen.

<[PEMBERITAHUAN] Kagura-san telah mencuri barang pameran (Gaun).>

Begitu bunyinya.

Lalu, konfeti bertebaran di layar, dan fanfare murahan berbunyi. Clear game terkonfirmasi──syukurlah, Kagura mengelus dada lega. Meskipun gaun bolong, sepertinya tetap dianggap clear.

"Kerja bagus, Kagura-san."

Seseorang menyapa.

Wanita berjas hitam. Agen manajemen.

Dan, ada dua orang. Salah satunya wajah yang dikenal, agen penanggung jawab Kagura. Satunya lagi siapa ya──baru saja Kagura berpikir begitu, dia mengangguk ringan.

"Salam kenal. Saya agennya Sana," katanya.

Ah, begitu, sambil berpikir begitu Kagura membalas anggukan. Pernah bicara di telepon beberapa kali jadi suaranya ingat, tapi baru pertama kali bertemu langsung.

Di dekat keduanya, ada tandu dengan roda. Disebut stretcher. Benda yang dipakai untuk mengangkut orang sakit ke ambulans. "Ayo, silakan naik," agen Kagura menunjuknya dengan tangan.

"Sakit kan. Kami angkut."

Memang, dadanya ditembak dan sakitnya luar biasa. Manfaatkan saja tawaran ini. Berbaring di atas stretcher, Kagura melemaskan seluruh tubuh.

Satu agen di depan dan satu di belakang, mengangkut Kagura dengan semangat. Agen Sana yang ada di depan dan dalam posisi menatap Kagura,

"Sungguh, bikin deg-degan saja......"

Katanya.

"Soal lelang, prosedur partisipasi sudah selesai tanpa kendala. Silakan jalani pengobatan dengan tenang."

Terima kasih──mengeluarkan kata-kata pun sakit, jadi Kagura merespon dengan wajah. Tersampaikan nggak ya?

"Habis ini berhenti ya, Kagura-san," kata agen Kagura. "Bakal sepi nih. Padahal berbakat, sayang banget."

"Mending cepetan berhenti, kerjaan kayak gini," jawab agen Sana.

"Ara, pernyataan bermasalah tuh."

"Fakta kok. Masalah apanya."

Sambil para agen mengobrol begitu, mereka sampai di area berkumpulnya ambulans. Saat stretcher dilipat dan dimasukkan ke dalam kendaraan, Kagura melirik ke samping, dan melihat sosok agen yang sedang berdebat sengit dengan petugas medis entah soal apa.

Wanita yang kesannya seperti Yuki-onna (Wanita Salju).

(39/39)

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar