Featured Image

Shiboyugi V8 Chapter 3

Metoya Februari 16, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

3. Inner Turmoil (73.5th Time)















(0/42)

Shiro menutup teleponnya.

"Hah," dia menghela napas panjang.

(1/42)

Pembicaraan itu berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Rencananya hanya mengobrol sebentar, mengajak Yuuki bergabung dengan <Mikkai>, lalu selesai—tapi pembicaraan malah merembet hingga membahas tentang <Hak Istimewa>. Saat dia memeriksa durasi panggilan, angka yang tertera di layar sudah cukup untuk dikategorikan sebagai pembicaraan panjang pada umumnya. Rasa lelah yang sepadan dengan angka tersebut kini tampak jelas pada rahang dan tenggorokan Shiro.

Akan tetapi—meskipun sudah bersusah payah begitu, hasilnya belum bisa dikatakan sukses. Yuuki, yang seharusnya sudah menanyakan apa yang perlu ditanyakan, mendapatkan jawaban yang perlu diungkapkan, dan menghapus keraguannya terhadap Shiro, nyatanya malah memberikan jawaban mengenai ajakan masuk ke <Mikkai> dengan kalimat:

"Biarkan aku berpikir dulu."

Begitulah jawabannya.

"……Kenapa?"

Sebagai luapan perasaan yang wajar, Shiro bertanya.

Jujur saja, saat itu dia merasa agak kesal.

"Apakah kamu masih mencurigaiku?"

"Tidak, bukan begitu juga, sih……. Entahlah, ada sesuatu yang masih mengganjal."

Bukankah itu artinya dia curiga? pikir Shiro.

"Bisa dibilang aku belum sepenuhnya mencerna situasinya, atau arah tujuanku belum mantap……. Karena aku ingin meluangkan waktu untuk memikirkannya matang-matang, bisakah kamu menundanya sebentar?"

"……Baik, aku mengerti."

Meskipun sebenarnya dia sama sekali tidak terima, Shiro menjawab demikian.

"Aku tidak ingin mendesak dari sisi sini, jadi silakan pertimbangkan dengan tenang. Jika Yuuki-san sudah memiliki kesimpulan yang pasti, tolong hubungi aku kembali."

"Ya. Akan kulakukan."

Begitulah akhirnya pembicaraan itu selesai. Sambil menatap ponsel yang kini sunyi, "hah," Shiro kembali menghela napas.

Ternyata orang yang tidak terlalu peka ya—pikirnya. Dia berharap Yuuki akan memberikan keputusan dengan tegas, tapi gadis itu malah memberikan respon yang bertele-tele dan tidak jelas. Apakah orang seperti itu benar-benar yang terkuat di kalangan ini? Tidak, justru karena itulah dia begitu? Apakah karena dia luar biasa curiga dan berhati-hati di atas kehati-hatian, dia bisa bertahan hidup lebih lama dari siapa pun?

Yah—biarpun begitu, tidak diragukan lagi bahwa ini adalah satu langkah maju. Sebelumnya dia bilang <Aku tidak mau>, tapi kali ini <Biarkan aku berpikir>. Itu adalah frasa yang lebih positif. Sedikit demi sedikit, sikap gadis itu mulai condong ke arah yang positif. Jika ditangani dengan sabar, lambat laun dia pasti bisa ditarik menjadi sekutu—Shiro adalah orang yang lebih suka menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat, namun khusus untuk hal ini, dia harus meluangkan waktu dan menanganinya dengan teliti, bahkan jika harus sedikit membengkokkan prinsipnya.

Karena gadis itu adalah orang kunci yang tak tergantikan dalam rencananya—.

(2/42)

Jika harus menggambarkan dirinya dalam satu kata, itu pastilah <Gaki> (Hantu Kelaparan), pikir Shiro.

Dia lapar. Tanpa henti. Rasa lapar yang tak terpuaskan dan dahaga yang tak tersembuhkan. Itulah yang terus-menerus menggerakkan Shiro sejak dia lahir—. Dia lahir dari keluarga yang cukup terpandang, rumahnya luas dan memiliki aset, bahkan jika dia hanya makan dan tidur saja, dia bisa menjalani hidup tanpa masalah, namun, semua itu sama sekali tidak cukup untuk memuaskan rasa lapar Shiro. Dia menginginkan lebih. Dia menginginkan sesuatu yang lebih besar, yang luar biasa, yang bisa memuaskannya.

Awalnya, dia mencari itu dalam sepak bola. Dia memiliki gaya bermain yang penuh semangat, sampai-sampai dikatakan mengalirkan darah sebagai ganti keringat, dan meskipun dia mencetak prestasi yang tak tertandingi, sifatnya yang mudah panas itu membawa bencana. Suatu ketika dia memukul pelatihnya dengan parah, dan jalannya di sana pun terputus.

Kehilangan tempat untuk mencurahkan hasratnya, saat Shiro berkeliaran di kota dengan perasaan suram, dia bertemu dengan seorang agen pencari bakat. Wanita itu tampaknya tahu tentang insiden kekerasan yang dilakukan Shiro, dan dengan kalimat ajakan—ada tempat yang sangat cocok untuk orang sepertimu—dia mengundang Shiro ke dunia game.

Panggung partisipasi pertamanya adalah <Under Realm>, sebuah game kompetitif yang bertemakan konflik mafia. Shiro yang biasanya tidak mudah goyah—terkejut dengan ini. Game pembunuhan sungguhan. Dunia di mana gadis-gadis muda saling merenggut nyawa. Meskipun begitu, jika itu adalah <Pertarungan>, maka itu adalah bidang keahlian Shiro. Membangkitkan jiwa kompetitif bawaannya, Shiro menghadapi game tersebut. Mungkin karena pengalamannya di dunia kompetisi sepak bola yang keras, Shiro berhasil menumbangkan pemain lain, bertahan hidup, dan memajukan permainan dengan baik.

Namun—seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan.

Dunia batin Shiro mulai menunjukkan pola yang aneh.

Dia menyadari bahwa dirinya mulai merasa tenang di dunia ini—. Dunia di mana peluru beterbangan, jeritan tak henti-hentinya terdengar, dan cipratan darah putih yang lembut melekat di tubuh, rasanya begitu akrab di hatinya. Seolah-olah dia berada di dalam rahim ibunya, atau seolah-olah dia pernah melakukan hal yang sama di kehidupan sebelumnya, sebuah ketenangan yang merambat naik dari dasar jiwanya memenuhi dadanya.

Berkat sensasi itu Shiro berhasil menamatkan game dan bertahan hidup, tetapi sebagai gantinya, dia menjadi sangat terguncang. Bukan hanya karena syok telah berpartisipasi dalam game pembunuhan. Dia merasa takut pada dirinya sendiri yang begitu mudah beradaptasi dengan game itu dan bahkan merasakan ketenangan yang mendalam. Dia tidak bilang dia membenci hal semacam ini. Dia memang tipe yang berdarah panas, dan dia pernah melakukan tindak kekerasan. Ada bagian dari dirinya yang sedikit bangga akan hal itu. Tapi, ini sungguh tidak wajar. Dia ingat apa yang dilakukannya pada tahap akhir game pertamanya. Dia membelah dada musuh dengan pisau berburu yang tebal, merenggut jantungnya dengan tangan kosong, dan membunuhnya. Hati Shiro merasakan kegembiraan atas tindakan itu, dan pada saat yang sama, dia merasa takut pada dirinya yang seperti itu.

Ketakutan itu akhirnya berubah menjadi kecurigaan.

Apa aku ini? Apa sebenarnya aku ini yang bisa senang dengan hal semacam itu?

(3/42)

Shiro memutuskan untuk menelusuri asal-usulnya.

Ini pertama kalinya dia merasa ingin melakukan hal seperti itu. Dia tidak peduli masa lalu. Masa kini dan masa depan. Dia selalu hidup dengan anggapan bahwa dua hal itulah segalanya. Dia tahu bahwa keluarga aslinya adalah keluarga terpandang yang cukup bersejarah, tetapi karena itulah, ini adalah pertama kalinya dia menggali hal itu dengan serius.

Nama asli Shiro adalah Kurari Shirou. Keluarga Kurari secara turun-temurun adalah tokoh terkemuka di sebuah kota daerah tertentu. Mereka memiliki konglomerasi dengan perusahaan induk bernama Kurari Holdings yang berada di puncak, dan tentu saja secara ekonomi, politik, maupun budaya, mereka mengakar kuat di kota itu dan memegang kekuasaan yang besar. Bahwa Shiro yang lahir dari keluarga seperti itu adalah gumpalan hasrat dan jiwa kompetitif memang masuk akal, tetapi itu tidak menjelaskan sensasi yang dia rasakan di dunia game. Pasti ada sesuatu yang lain. Pasti ada sesuatu dalam keluargaku.

Dengan pemikiran itu dia terus menyelidiki rumah keluarganya—namun, fakta yang bisa menjawab keraguan Shiro tidak ditemukan meskipun dia memeriksa keluarga Kurari dari sudut ke sudut. Tokoh lokal. Itu saja. Kalaupun ada sisi gelapnya, paling-paling hanya sekadar memiliki sedikit hubungan dengan sindikat kejahatan setempat.

Shiro memperluas target penyelidikannya hingga ke kerabat jauh—dan suatu ketika, dia mengetahui adanya sebuah rumah terbengkalai di pinggiran kota yang termasuk dalam wilayah kekuasaan keluarga Kurari. Kabarnya, itu adalah tempat tinggal seseorang yang paling nyentrik di antara keluarga, kakak dari kakek buyut Shiro—dengan kata lain, paman buyutnya. Jangan kan orangnya, istilah paman buyut pun baru pertama kali didengar Shiro, tapi bagaimanapun, sejak orang tersebut meninggal, rumah itu kosong tanpa penghuni, hampir tidak ada yang mengurusnya, bangunannya membusuk dan halamannya dipenuhi rumput liar, nilai aset tanahnya pun kini hampir tidak ada, berubah menjadi benda tak berguna. Jujur saja, Shiro tidak berharap ada apa-apa di sana, tapi karena kebetulan dia sedang menemui jalan buntu dalam penyelidikannya, dia pergi ke rumah tua itu dengan motivasi setengah sekadar mencari suasana baru.

Namun, di sana, dia mendapatkan hasil yang tak terduga.

Dari bangunan tua dengan gaya arsitektur yang jarang terlihat di zaman modern, dia menemukan beberapa dokumen yang gayanya bahkan lebih tua lagi. Buku kuno yang dia tunjukkan kepada Yuuki tempo hari adalah salah satunya—meskipun isinya hampir tidak bisa dipahami, namun, bahkan dari bagian kecil yang bisa dimengerti saja, itu menunjukkan sisi gelap yang pekat. Dokumen-dokumen itu membuat Shiro sangat bersemangat. Aku menemukan petunjuknya, dia yakin. Shiro bertekad untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai dokumen ini.

Namun—dia tidak bisa melakukannya.

Saat meninggalkan rumah itu, di perjalanan pulang.

Shiro diculik.

(4/42)

Orang-orang dari <Pihak Manajemen>, dia segera tahu.

Sebab, <Jenis Mobil> dan <Penampilan> mereka sama. Saat Shiro sedang berjalan di jalanan, sebuah mobil hitam berhenti di jalan raya di sampingnya, dan beberapa staf berjas hitam turun. Tidak ada pertanyaan <Apakah persiapan Anda sudah selesai?> seperti saat game pertamanya—saat <Under Realm> dulu, mereka menarik lengan Shiro seolah tanpa tanya jawab, dan menyeretnya ke dalam mobil. Selanjutnya, bukan tipe pil melainkan obat tidur tipe cair dalam suntikan, yang juga diberikan kepada Shiro tanpa tanya jawab, membuatnya tertidur.

Saat Shiro bangun berikutnya, dia berada di dalam ruangan. Ruangan yang membosankan dengan hanya satu meja dan dua kursi. Mengingatkan pada ruang interogasi yang sering dilihat di drama atau film. Shiro duduk di salah satu kursi itu dalam keadaan terikat tali.

Dan, di seberang meja, duduk seseorang lainnya.

Seorang anak kecil. Penampilannya membingungkan, apakah dia anak SD atau SMP. Memiliki aura androgini, tapi kemungkinan besar, laki-laki. Garis matanya berada pada ketinggian yang hampir sama dengan Shiro. Tidak mungkin anak itu memiliki tinggi duduk yang sama dengan Shiro yang berpostur tinggi, jadi dia pasti menyesuaikan ketinggian kursi, atau mungkin meletakkan alas di atas kursi.

"Halo."

Kata anak itu.

"Kurari Shirou, ya."

"……Ya."

Meski agak ragu, Shiro menjawab dengan jujur.

"Anda sendiri, siapa?"

"Kalau hanya nama, mungkin kamu sudah mendengarnya."

Setelah memberi pendahuluan itu, anak itu menjawab.

"Kuryu, panggilannya. Tidak ada marga, tidak ada nama depan, hanya itu namanya."

Itu nama yang tidak diketahuinya. Bahwa itu adalah nama yang dibisik-bisikkan di antara para pemain, Shiro saat itu belum mengetahuinya.

"Aku adalah pengelola dari <Game> yang kamu ikuti tempo hari, manajernya."

Maka, Shiro menerima penjelasan dari Kuryu.

Namun, dikatakan dengan suara anak-anak, sulit untuk langsung percaya.

"Anda tidak terlihat cukup umur untuk memimpin organisasi," tanya Shiro.

"Maaf soal itu. Aku sebenarnya sangat ingin tampil dengan sosok yang berwibawa, tapi aku baru saja berganti tubuh belum lama ini. Jadi maaf kalau penampilanku begini."

Cara bicaranya datar. Meskipun warna suaranya seperti anak-anak, nada bicaranya dewasa.

Dan itu bukan seperti anak kecil yang berlagak dewasa. Misalnya, seperti perawat yang tanpa mengubah ekspresi menusukkan jarum suntik ke lengan pasien—seperti hakim yang tetap dengan datar menjatuhkan vonis berat—ada semacam minimnya emosi yang berasal dari pengalaman panjang. Bahwa hal seperti itu dimiliki oleh anak yang masih bau kencur, sungguh menyeramkan.

"Ada perlu apa?" kata Shiro.

"Bukan undangan game berikutnya, kan?"

"Bukan. Aku memanggilmu…… begini ya," Kuryu berpikir sejenak, "Sejujurnya, aku memanggilmu karena ingin segera bertemu saja."

"Maksudnya?"

"Begini lho, sebenarnya aku juga belum memutuskan bagaimana harus bersikap. Kasus seperti ini tidak diwariskan dari pendahulu……. Bahkan, sampai baru-baru ini aku tidak menyadari bahwa ada orang sepertimu."

Cerita yang tidak jelas. Shiro mengerutkan kening.

"Kamu, di rumahmu ada silsilah keluarga?" tanya Kuryu.

Tanpa tahu arah pembicaraannya, Shiro menjawab. "Tidak ada, tapi saya pernah memeriksa catatan sipil."

Itu adalah hal pertama yang dia lakukan saat menelusuri asal-usulnya. Dalam sistem negara saat ini, silsilah bisa ditelusuri hingga sekitar seratus lima puluh tahun lalu. Jika ingin menelusuri lebih jauh dari itu, perlu menyewa profesional di bidangnya untuk menyelidiki berbagai literatur, dan tentu saja Shiro sudah mengajukan permintaan, tapi sepertinya tidak ada catatan yang tersisa sehingga hasilnya tidak memuaskan.

"Di antara leluhur yang bisa ditelusuri lewat catatan sipil, seharusnya ada orang bernama Kokonoe Tsuzuji. Benar tidak?"

"Kenapa Anda tahu?"

"Ada, atau tidak?"

"……Benar. Ada."

"Dia itu, kalau dilihat dari sisiku, adalah cicit."

Tanpa menghilangkan kedatarannya sama sekali, Kuryu berkata.

"Sebaliknya, ada orang bernama Kokonoe Kunitatsu yang merupakan kakek buyut dari sudut pandang Tsuzuji—itulah sosokku jika dilihat dalam kerangka sosial. Artinya, aku dan kamu memiliki hubungan darah. Keturunan langsung."

Karena dikatakan dengan begitu tenang, Shiro bingung harus bereaksi apa. Dia tidak bisa membalas sepatah kata pun.

Mengabaikan Shiro yang seperti itu, Kuryu menghitung dengan jari kedua tangannya. "……Hmm."

"Keturunan sepuluh generasi setelahnya, ya. Adakah nama untuk menyebut hubungan kekerabatan seperti ini?"

"……Apakah maksud Anda…… Anda mewarisi nama leluhur saya?"

Shiro bertanya.

Tentu saja, pasti begitu maksudnya. Orang yang hidup beberapa generasi sebelum Shiro—tidak mungkin masih hidup. Tidak mungkin juga seorang anak kecil begini. Masuk akal untuk memahaminya demikian.

"Kamu boleh berpikir begitu, tidak masalah."

Jawab Kuryu.

"Sebenarnya sedikit lebih rumit dari itu, sih……. Yah, itu bukan intinya. Masalahnya adalah, kamu adalah keberadaan yang harus kami perhatikan."

Kuryu mengarahkan mata bulat yang kekanak-kanakan itu, hanya bagian itu saja yang tampak seperti anak-anak, kepada Shiro.

"Keturunan langsung dari Manajer Umum <Pihak Manajemen>. Tidak kusangka sama sekali ada yang seperti itu. Apalagi, tampaknya kamu bermain dengan cukup bagus, bukan?"

"……Anda bilang Anda tidak menyadarinya tadi. Kenapa?"

"Pendahulu tidak mewariskannya……. Tidak, mungkin pendahulu juga tidak menyadarinya? Mungkin bahkan generasi pertama pun tidak tahu. Kuryu sepertinya tidak tertarik pada keluarga. Aku sendiri tidak habis pikir. Tidak tertarik pada keluarga tapi membuat anak."

Jawaban yang tidak jelas, pikir Shiro. Mungkin memang tidak berniat membuatnya paham. Nada bicara Kuryu hampir seperti bergumam pada diri sendiri.

"Hanya saja, nama keluarga Kurari terdengar tidak asing," lanjut Kuryu.

"Aku berusaha membaca profil pemain baru……. Di situ aku menemukanmu. Aku berpikir <jangan-jangan> karena nama Kurari itu, dan setelah diperiksa…… begitulah. Aku senang bisa bertemu denganmu, wahai keturunanku."

Sebenarnya, belum ada bukti. Orang bernama Kuryu ini hanya mengatakannya saja.

Namun, secara intuitif Shiro tahu bahwa inilah jawaban yang dia cari. Astaga—ternyata leluhurku terlibat dalam dunia ilegal seperti ini.

"Sepertinya bukan hanya aku yang terkejut."

Kuryu melihat menembus isi hati Shiro.

"Yah, wajar saja. Aneh rasanya mengatakannya sendiri, tapi ini organisasi ilegal. Pasti kamu sangat terkejut."

"……Menakutkan ya. Takdir itu."

Shiro berusaha merangkai kata-kata.

"Hubungan yang sempat terputus, bisa tersambung kembali dalam bentuk seperti ini……"

"Sepakat."

"──Dokumen kuno itu."

Shiro mengalihkan pembicaraan.

"Apakah ada hubungannya dengan kegiatan kalian?"

"……Aaah……. Itu ya," jawab Kuryu. "Benar, ada soal itu juga. ……Aku balik bertanya, dari mana kamu menemukannya?"

"Dari rumah tua kerabat. Meskipun sudah jadi reruntuhan."

"Begitu ya. Yah, tidak aneh juga kalau masih tersisa……"

Kuryu jeda sejenak,

"Seperti dugaanmu, itu semua diterbitkan oleh kami. Atau harus kukatakan…… oleh kelompok yang menjadi cikal bakal kami. Karena bentuk organisasi juga berubah-ubah seiring zaman. Omong-omong, kamu bisa membaca isinya?"

"Mana mungkin. Saya angkat tangan."

"Kalau bisa membacanya, pasti menarik lho, itu."

Kuryu tersenyum tipis.

"Terutama di antaranya, selebaran…… kalau sekarang mungkin disebut pamflet…… isinya pasti akan menarik bagimu. Kalau mau, aku bisa menerjemahkannya ke bahasa modern secara lisan untukmu."

"Bolehkah?"

"Toh, kalau diselidiki pun bakal ketahuan," kata Kuryu. "Tapi, kalau dalam prosesnya dokumen itu dibawa ke suatu institusi, kami akan sedikit repot. Ada risiko aktivitas kami terungkap. Kami bisa saja menyitanya secara paksa karena takut akan hal itu, tapi kemungkinan kamu sudah memotretnya dan mengirimkannya ke seseorang tidak bisa dikesampingkan, dan menyentuh aset pribadi secara paksa bukanlah gaya kami. Kalau begitu, lebih baik kami beritahu saja isi dokumennya dari sini."

Lagipula, lanjut Kuryu.

"Melakukan itu—mungkin bisa menjadi stimulus yang bagus untuk menggerakkan manusia sepertimu."

Kuryu menatap dengan tatapan yang seolah menembus dirinya.

Sedikit, detak jantung Shiro meningkat.

"Aku tidak tahu banyak tentang manusia sepertimu," kata Kuryu sambil tetap menatap matanya. "Tapi…… menurutku, kamu pasti memiliki nafsu yang luar biasa kuat dibandingkan orang biasa, bukan? Ingin melakukan sesuatu yang besar. Ingin menjadi orang besar. Kamu tidak bisa memaafkan dirimu yang tidak seperti itu. Menjadi biasa-biasa saja, menjadi tidak spesial, adalah aib yang tak tertahankan bagimu, dan kamu ingin menghapusnya sesegera mungkin. Kamu menjalani setiap hari dengan perasaan seperti itu. Benar tidak?"

Sambil berhati-hati agar emosinya tidak tampak di wajah, Shiro menjawab. "Kenapa…… Anda berpikir begitu?"

"Karena aku juga dulu begitu. Kalau kamu mewarisi darahku, tidak aneh jika kamu merasakan kegelisahan yang sama."

Shiro menatap mata Kuryu.

Dilihat begini, dia menyadari bahwa mata itu mirip dengan miliknya. Mata yang berbinar, khas keluarga Kurari. Mata yang menjadi bukti hasrat yang meluap-luap.

"Nah, kalau begitu mari kuceritakan," kata Kuryu.

"Tentang isi dokumen itu. Tentang permainan macam apa yang sedang kami mainkan—"

(5/42)

Brak.

Shiro melempar dokumen itu ke meja ruang tamu.

(6/42)

Itu adalah buku kuno yang dia tunjukkan pada Yuuki tempo hari. Sejak saat itu, buku itu dibiarkan tergeletak di ruang tamu rumahnya, dan jika ada waktu luang, dia iseng mengambilnya.

Shiro menatap buku kuno yang tergeletak agak miring setelah dilempar ke meja. Melihat ini, dia teringat kejadian waktu itu. Sesaat setelah menjadi pemain. Saat menemukan ini dari rumah tua kerabat. Saat bertemu sosok tak terduga dalam perjalanan pulang—. Shiro berada dalam posisi yang sedikit istimewa dibandingkan pemain lain. Keturunan langsung pendiri <Pihak Manajemen>, dan dia mendengar langsung darinya tentang hak istimewa penyelesaian sembilan puluh sembilan kali.

Tentu saja, Shiro tidak menelan mentah-mentah ucapan Kuryu dan melakukan verifikasi informasi. Agen Shiro, orang-orang di industri sekitar, <Penonton> game, pemain yang sudah pensiun, dan pihak-pihak terkait lainnya dia hubungi sebanyak mungkin, dan setelah yakin bahwa hal itu tampaknya benar, barulah Shiro menekuni game ini.

Menjadi keturunan Kuryu tidak membawa keuntungan khusus bagi Shiro. Atau lebih tepatnya—selain percakapan waktu itu, tidak ada sama sekali. Setelah itu, tidak ada kontak lagi dari Kuryu, dan tingkat kesulitan game setelahnya pun tidak tampak menurun. Tidak ada pilih kasih, sepertinya begitu. Tindakan semacam itu—ketidakadilan dalam game—tampaknya adalah hal yang paling dibenci oleh <Pihak Manajemen>. Saat ini Shiro sudah mencatat tiga puluh dua kali penyelesaian, tapi dia menaklukkan semua game dengan kekuatannya sendiri, dan sistem pendukungnya yaitu <Mikkai> juga dia bangun sepenuhnya dengan kekuatannya sendiri.

Dan tentu saja—sengketa ini pun, dia berniat menyelesaikannya dengan kekuatannya sendiri.

Interkom berbunyi.

Shiro tidak bergerak. Meskipun dia tidak keluar, di rumahnya ada pelayan. Dari arah lorong, terdengar suara langkah kaki pat-pat yang sepertinya milik Kokone, lalu terdengar suara pintu depan dibuka. Suara seseorang melepas sepatu dan masuk, suara percakapan ringan antara orang itu dan Kokone, lalu suara langkah kaki seseorang mendekat ke ruang tamu. Di situ barulah, Shiro hanya menggerakkan pandangannya, menatap ke arah pintu masuk ruang tamu.

Seorang gadis muda masuk ke ruang tamu.

Gadis yang memiliki kesan suram. Dia mengenakan Hanfu (pakaian tradisional Tiongkok), dan ujungnya begitu panjang hingga menyentuh lantai. Sangat mengingatkan pada sesuatu berbau Tiongkok yang memiliki nama putri seperti Orihime atau Otohime. Dia menyukai pakaian seperti ini. Mungkin dia sadar sedang membangun karakter. Bagaimanapun, dia adalah <Putri>.

Awahime, namanya.

Nama aslinya tidak diketahui. Tapi, dia adalah rekan Shiro. Salah satu anggota <Mikkai>—setidaknya, sampai saat ini.

Shiro berhati-hati untuk tidak melepaskan pandangannya dari Awahime yang berjalan ke arahnya. Melakukan hal itu sangatlah penting. Soalnya, dia bisa tiba-tiba menghilang dari depan mata—gadis yang kabarnya tipe <kehadiran tipis> semasa sekolah ini, memiliki keahlian utama menghilangkan hawa keberadaannya sendiri. Teknik berjalan yang dikembangkan oleh <Mikkai> dan disebarkan di antara para pemain—dia adalah pemilik aslinya, dan justru itulah yang menjadi penyebab sengketa ini.

Untungnya, dia tidak sampai kehilangan jejak gadis itu. Awahime duduk di sofa di seberang Shiro, dan keduanya berada dalam posisi saling berhadapan.

"Lama tidak bertemu, Awahime-san," kata Shiro.

"Aku senang kita bisa mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi."

"Aku benci yang bertele-tele."

Tanpa salam, Awahime berkata.

Cara bicara yang meminimalkan kata-kata seperti ini disukai Awahime.

"Aku juga begitu," jawab Shiro.

"Makanya, aku akan mengatakan tuntutanku secara langsung. ……Tiga ratus juta. Dengan itu, aku akan menyimpan senjataku."

"Jangan bicara hal konyol."

Shiro menyandarkan berat badannya ke sofa.

"Apa dasar Anda mengeluarkan angka itu? Yah, aku bisa membayangkannya sih……"

"Kamu telah merenggut hidupku. Itu adalah jumlah yang pantas sebagai kompensasinya."

Gaji seumur hidup di negara ini, kira-kira segitu ya. Dua ratus juta atau dua ratus lima puluh juta, angka semacam ini kesannya punya rentang yang cukup lebar. Mungkin belum ada survei skala besar yang bisa dipercaya—mungkin karena ucapan Awahime terlalu konyol, Shiro malah memikirkan hal yang tidak berhubungan dengan pokok masalah.

"Aku tidak bisa membayarnya," kata Shiro.

"Meski aku pemain, jumlah segitu……"

"Tidak mungkin. Padahal punya rumah dan tanah seluas ini."

"Maksudmu aku harus menjualnya? ……Itu pun masih kurang. Aku sudah pakai banyak, tahu."

"Kalau tidak bisa bayar, sebagian boleh ditunda," kata Awahime. "Setelah kamu menyelesaikan rencanamu, bayarlah sisanya. Murah kan, dibandingkan dengan <Hak Istimewa> yang akan kamu dapatkan."

"Sepertinya diskusi ini melenceng dari pokok masalah," bantah Shiro. "Bisa bayar atau tidak bisa bayar, sejak awal bukan itu masalahnya. Jumlahnya bukan masalah. Ini masalah moral. Aku tidak akan membayar untuk hal yang tidak bisa kuterima."

"Yang melanggar moral itu kau!"

Awahime menggebrak meja.

"Seharusnya janjinya hanya disebarkan di dalam tim! Makanya! Aku mengajarkannya! Tapi kau! Menyebarkannya tanpa permisi!"

Awahime menggebrak meja berkali-kali.

Setiap kali dia melakukan tindakan intimidasi itu, hati Shiro menjadi dingin. Bukan dingin karena takut. Dingin karena rasa hina dan jengkel.

"Bunyi dung-dung itu, apakah bermaksud mengancam?"

Melihat saat yang tepat, Shiro berkata.

"Apakah Anda paham arti gerakan itu? Intimidasi itu hanya efektif pada lawan yang secara fisik lebih lemah dari diri sendiri lho. Apakah Anda berpikir begitu?"

"…………"

Awahime berhenti mendadak.

Dan—saat berikutnya.

Dia menghilang.

Padahal Shiro sudah memperhatikannya—tapi dia gagal mengikuti gerakannya. Di mana? Pergi ke mana? Saat Shiro menggerakkan pandangannya ke kiri dan kanan,

Tangan Awahime yang muncul dari bawah meja mencengkeram pergelangan kaki Shiro.

Pergelangan kakinya ditarik, Shiro diseret ke bawah meja. Di bawah meja—meskipun begitu, karena ini adalah meja rendah yang tingginya pas dengan sofa, tidak ada ruang bagi dua orang manusia untuk berada di bawahnya. Terdorong oleh punggung Awahime, meja segera tergeser ke samping, dan yang tersisa adalah Awahime dan Shiro yang bergulat. Karena posisinya Awahime di atas dan Shiro di bawah, Shiro dipaksa dalam pertarungan yang tidak menguntungkan. Sementara itu Awahime mengeluarkan pisau dengan ujung tajam dari balik bajunya, dan mencoba menancapkan ujungnya ke tubuh Shiro—

Namun, saat itu.

Beberapa ekor gagak terbang ke arah mereka berdua.

Lebih tepatnya, harus dikatakan terbang ke arah Awahime. Karena semua gagak itu menjadikan Awahime sebagai target serangan, bukan Shiro. Satu ekor menyerang rambut Awahime, satu ekor pipinya, satu ekor matanya, menyerang dengan menusuk atau mematuk menggunakan paruh yang tajam.

Awahime mengibaskan gagak dengan satu tangan, sambil mengayunkan tangan satunya lagi—tangan yang memegang pisau, tapi sesaat sebelumnya Shiro nyaris berhasil lolos dari bawah Awahime. Pisau itu membelah udara dan menancap di karpet yang terhampar di bawah sofa dan meja. Pisau itu tidak dicabut kembali. Karena saat itu, Awahime sudah kewalahan menangkis serangan gagak.

"……Jangan pikir bisa lolos dengan ini!"

Awahime tetap berteriak ke arah Shiro.

"Aku akan datang lagi! Sampai aku menerima apa yang seharusnya kuterima, aku tidak akan mundur!"

Berkata begitu, Awahime melompat ke balik sofa.

Segera, Shiro juga memutar ke balik sofa.

Namun, dia sudah menghilang tanpa jejak. Yang ada di sana hanyalah beberapa ekor gagak yang tadi menyerang Awahime. Gagak-gagak itu juga tampaknya kehilangan jejak Awahime, dan melihat ke sekeliling dengan bingung. Tidak bisa dipungkiri mereka terlihat seperti sedang kebingungan.

Bunyi brakk terdengar dari agak jauh.

Suara pintu depan dibuka dan ditutup. Dilihat dari waktunya, kemungkinan Awahime yang membunyikannya. Dia mundur karena melihat situasi tidak menguntungkan.

Namun—bagaimana caranya dia pindah sampai ke pintu depan? Seperti teleportasi. Meskipun selama ini Shiro sering dibuat kagum oleh tekniknya, dia kembali merasakan kedahsyatannya. Benda yang terlalu ajaib untuk disebut teknik. <Mikkai> membuat teknik berjalan dengan merujuk pada tekniknya, tapi sama sekali tidak sebanding dengan teknik aslinya.

Jika dia berniat, kapan saja dia bisa membunuh Shiro—

"──Bahaya sekali tuh, Bos."

Suara itu menghentikan pemikiran Shiro.

Tepat di samping Shiro, berdiri seorang gadis berwajah licik. Dia merentangkan lengannya secara horizontal, dan seekor gagak bertengger di lengan itu.

Anggota <Mikkai>—Takazo.

"Terima kasih."

Kata Shiro.

Dia meminta Takazo mengawasi pertemuan tadi dari balik bayangan. Jika terjadi kekerasan, agar dia segera menerbangkan gagak dan melakukan intervensi.

"Mau gimana? Bos," tanya Takazo.

"Dia bilang bakal datang lagi tuh."

"Ya……"

"Kalau dikasih uang sedikit, kurasa dia bakal diam kok."

Takazo mengeluarkan wadah kecil dari saku. Isinya makanan hewan. Itu untuk anjing, tapi karena gagak adalah omnivora, tidak masalah. Takazo memberi makan gagak yang bertengger di lengannya.

"Takazo-san juga dengar kan. Aku tidak bisa bayar," kata Shiro.

"Gak perlu bayar lunas semuanya juga kali. Yah, mungkin tiga ribu atau empat ribu…… kasih aja dengan dalih <Uang Damai>. Dengan begitu dia bakal terima kok. Orang tipe begitu, kadang-kadang gampang nyerahnya lho."

"Apa iya begitu," Shiro merasa ragu. "Meski sesaat dia terima, bukankah sebentar lagi ketidakpuasannya akan membara lagi? Seandainya kita bayar lunas tiga ratus juta pun, saat kita berhasil mencapai rencana, dia pasti bakal bilang <Minta bagian dong>. Menurut pengamatanku, dia adalah jenis orang seperti itu. Orang yang pandai membenarkan diri sendiri, berlagak jadi korban, dan meneriakkan tuntutan yang tidak masuk akal dengan lantang."

"Jadi, kau mau terus melawannya?"

"Tidak. Kupikir lebih baik membuatnya dalam bentuk yang tidak meninggalkan masalah di kemudian hari."

"Maksudnya?"

"Bukan uang damai—tapi membayar biaya permintaan kerja."

"…………"

"Itu lebih murah dan lebih menenangkan."

Shiro mengeluarkan ponselnya. "Sebenarnya, aku sudah bicara dengan <Kontraktor> sebelumnya……" katanya.

"Hanya dengan satu kontak, mereka akan segera mengerjakan <Pekerjaan> itu. Mereka adalah kontraktor yang menjual kecepatan kerja. Dalam satu jam, mereka pasti sudah mengirimnya ke alam baka……"

Shiro mengoperasikan ponselnya untuk menghubungi <Kontraktor> itu.

"Takazo-san. Lokasi dia, masih terlacak kan?"

"Aaah…… seharusnya sih begitu,"

Takazo menjawab.

"Kalau ada yang keluar masuk bangunan ini, gagak-gagak itu otomatis mengejarnya. Aku gak tahu si Awahime keluar dari mana, tapi seharusnya mereka mengejarnya. Sesuai permintaanmu sebelumnya, persiapannya sudah beres."

"Kameranya?"

"Itu juga, sesuai permintaan. Aku minta tolong Dokutake, di leher gagak-gagak itu sudah dipasangi kamera. Detailnya tanya dia aja deh…… tapi, ternyata ini demi mengantisipasi situasi seperti ini ya?"

"Ya, benar."

Takazo menghembuskan napas yang seperti siulan tapi bukan siulan.

"Hei, Bos," katanya.

"Apa?"

"Aku sih, dari dulu benci banget sama yang namanya manusia."

"Aku tahu. Karena benci manusia makanya jadi pawang hewan, kan."

"Tapi, aku suka sama kau lho."

Takazo membuat senyum yang sudah licik menjadi makin licik.

"Kenapa ya? ……Apa karena kau bukan manusia?"

Lancang sekali, pikir Shiro. Takazo kadang-kadang punya cara pandang yang menyimpang begini. Meskipun dia termasuk orang yang cocok dengannya, tapi soal poin itu Shiro kurang suka. Dengan sedikit nada kesal, "Bicara apa sih?" jawab Shiro.

"Ini tindakan wajar. Hanya mengikuti alur yang seharusnya."

(7/42)

Meninggalkan kediaman Shiro, Awahime berjalan di jalan malam.

Kepalanya dipenuhi dengan ketidakpuasan. <Ditolak mentah-mentah>, mungkin itulah istilah untuk sikap Shiro tadi—tak termaafkan. Dia tidak suka tuntutannya sama sekali tidak dihormati.

Dia bilang <Aku akan datang lagi> pada Shiro—tapi, bicara sebanyak apa pun Shiro tidak akan mengubah pendapatnya. Dia adalah jenis manusia seperti itu. Tidak punya pemikiran untuk mencari kompromi, tipe orang yang mencoba menerobos semua negosiasi dengan sikap arogan.

Diskusi tidak ada gunanya. Dia harus mengambil langkah paksa.

Ancam Shiro dengan cara apa pun, dan tuntut uang darinya. Apa yang sebaiknya dilakukan? Menculik Shiro sendiri, atau anggota <Mikkai>? Itu mungkin agak terlalu polos. Pihak sana pasti sudah memprediksi Awahime akan berpikir begitu, jadi penjagaan terhadap Shiro dan orang-orang di sekitarnya pasti diperketat. Kalaupun berhasil menculik salah satu anggota <Mikkai>, melihat Shiro yang berdarah dingin itu, dia mungkin akan dengan mudah membuang satu rekannya. Jangan yang seperti itu. Harus memegang sesuatu yang lebih menentukan. Apa itu kira-kira?

"──Yuuki ya."

Gumam Awahime.

Nama itu, dia dengar sebelum menjauh dari <Mikkai>. Orang kunci yang tak tergantikan bagi rencana Shiro—sebaiknya hubungi dia.

Bukan untuk menahan badannya dan meminta uang tebusan pada Shiro. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu pada Yuuki yang tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Kabarnya dia pemain yang sangat jago, jadi kalaupun mau melakukannya pasti sulit.

Bukan itu, dalam kasus ini, hanya dengan melakukan kontak saja bisa menjadi kartu negosiasi. Bagaimanapun juga, Shiro sedang dalam posisi menawarkan kesepakatan pada Yuuki. Di situ, Awahime melakukan kontak. Dan, dia akan menceritakan secara rinci perlakuan kejam dan tidak manusiawi yang diterimanya dari Shiro. Jika dia memberitahu bahwa manusia bernama Shiro punya sisi gelap, bahwa dia adalah manusia bejat yang sama sekali tidak layak dipercaya, apa yang akan terjadi? ──KABOOM! Game over. Jika dia mengancam Shiro dengan bayangan kehancuran masa depan itu, dia pasti akan menelan tuntutan Awahime.

Awahime tahu alamat Yuuki. Soalnya, dia pernah mendengarnya dari Kokone sambil mengobrol santai. Gadis dengan aura seperti hantu. Penampilannya berantakan, selalu pakai baju olahraga. Meskipun pemain ahli dan sangat kaya, entah kenapa, dia terus tinggal di apartemen bobrok bernama Tochinoki-sou, begitulah penilaian Kokone.

Awahime mengeluarkan ponsel. Mengetik nama apartemen di formulir pencarian, dan mencari lokasinya.

(8/42)

Omong-omong, saat ini, ada dua kesalahan perhitungan pada diri Awahime.

Pertama, tepat saat Awahime mencari lokasi Tochinoki-sou—di atas kepalanya, ada sekawanan gagak yang mengawasinya. Di leher gagak-gagak itu, terikat kamera kecil berharga mahal yang harga per gramnya melebihi platinum, dan sosok Awahime dengan resolusi tinggi yang sepadan dengan harga itu terus-menerus dikirimkan ke tempat Shiro dan kawan-kawannya—tanpa diketahui oleh Awahime.

Tentu saja, ini adalah gagak-gagak yang dilatih oleh Takazo. Bahwa dia bisa melakukan sampai sejauh ini, Awahime tidak tahu. Meskipun sesama anggota <Mikkai>, mereka tidak saling mengetahui semua keahlian masing-masing. Jika menggunakan imajinasi, itu cukup bisa diprediksi, tapi alasan Awahime tidak memikirkannya, apakah karena dia gemetar karena marah, atau karena kebiasaan orang yang percaya diri dengan tekniknya sendiri yang tanpa sadar meremehkan keahlian orang lain.

Dan, kesalahan perhitungan satu lagi adalah, dia mengira dirinya adalah pihak yang menyerang. Awahime berpikir bahwa meskipun ada serangan balik dari Shiro, setidaknya akan ada jeda waktu beberapa hari. Namun, tim pembunuh bayaran yang dibayar biaya permintaannya oleh Shiro, adalah pekerja cepat kesukaan Shiro. Kelompok yang menjadikan kerja cepat sebagai nilai jual utama, di mana rekan seprofesi biasanya menyelesaikan satu pekerjaan dalam beberapa hari hingga beberapa minggu, mereka menyelesaikannya dalam satu dua hari. Jika diberi informasi tentang target sebelumnya, periodenya menjadi lebih singkat, dan mereka bisa menyelesaikan permintaan hanya dalam beberapa jam.

Makanya—kasus ini, akan melihat penyelesaiannya hari ini juga.

(9/42)

Bel kamar Yuuki berbunyi.

(10/42)

Yuuki yang selesai menelepon Shiro, pergi ke sekolah, dan pulang. Dia meletakkan tas berisi buku pelajaran kelas tiga di meja, mengganti seragam pelaut dengan baju olahraga, dan saat baru saja menghela napas lega, bel berbunyi.

Saat Yuuki membuka pintu depan, seorang nenek berdiri di sana. Pemilik apartemen ini—Tochinoki-sou. Penampilannya memberikan kesan nenek-nenek yang galak, tapi Yuuki tahu dia tidak sejahat penampilannya. Sifatnya kasar, dan saat keributan <Red Bear> tempo hari, dia dengan berani menghadapi gerombolan gadis nakal dengan memegang pisau dapur di kedua tangannya.

"Makanannya sudah siap. Sini lu."

Kata Ibu Kos.

Bahwa akan diadakan perjamuan makan malam, dia sudah mendengarnya sebelumnya. Yuuki mengikuti Ibu Kos berjalan, dan bertamu ke kamarnya, kamar 101.

Di sana, sudah ada dua gadis. Salah satunya adalah gadis bertubuh mungil seperti burung kecil, Enchou Yashiroi. Satu lagi, kontras dengan Enchou, adalah gadis yang memiliki tinggi badan semampai, Ramona Squire. Tetangga Yuuki di Tochinoki-sou, dan tiga orang termasuk Yuuki ini adalah semua penghuni apartemen ini.

Enchou dan Ramona duduk di dekat meja yang diletakkan di tengah ruangan. Meja rendah tipe yang bisa diubah menjadi Kotatsu di musim dingin. Di atasnya berjejer berbagai peralatan makan, dan di tengahnya, bagaikan benteng utama kastil, sebuah panci yang diletakkan di atas kompor bertengger dengan gagahnya. Saat Ibu Kos membuka tutup panci, uap mengepul naik, dan bau cabai menusuk hidung Yuuki. Sepertinya panci pedas.

Yuuki dan Ibu Kos juga duduk di tempat kosong dekat meja. Setelah saling melempar satu dua salam seadanya, dengan aba-aba "Selamat makan", perjamuan dimulai.

Hal seperti ini, kadang-kadang terjadi.

Dengan frekuensi satu atau dua kali sebulan, mendapat panggilan dari Ibu Kos, dan diadakan pertemuan. Acara rutin Tochinoki-sou.

Hanya saja, keadaannya jauh berbeda dari sebelumnya. Dulu hanya dipanggil untuk diceramahi, tapi belakangan ini seperti ini, dia mentraktir makan malam. Sepertinya ada perubahan suasana hati dalam diri Ibu Kos. Penyebabnya pun, Yuuki sudah punya dugaan.

Soalnya, bulan Maret tahun ini—yaitu, saat masa pergantian tahun ajaran, terjadi hal ini. Saat Yuuki dan yang lainnya dipanggil Ibu Kos seperti biasa dan sedang diceramahi,

"Anu!"

Teriak Akane.

Tsuwabuki Akane. Mantan penghuni apartemen ini, dan anggota <Red Bear>, gadis nakal.

"Saya, mau pindah," kata Akane.

"……Apa?" jawab Ibu Kos dengan tampang tak menduga.

"Tempo hari, maaf sudah merepotkan. Terima kasih banyak untuk waktu yang lama ini……"

<Tempo hari> yang dimaksud di sini adalah saat Akane dan Yuuki terlibat cekcok dengan <Red Bear>. Menurut yang didengar Yuuki waktu itu, Akane akan melanjutkan kuliah di prefektur tetangga. Jadi, dia pindah hanya karena apartemen ini tidak nyaman untuk pergi kuliah, tapi sepertinya tersampaikan secara salah pada Ibu Kos. Dia mengira Akane keluar karena sudah tidak suka apartemen ini.

Demi menghindari berkurangnya penghuni lebih dari ini, Ibu Kos melancarkan strategi penahanan. Berhenti ceramah, dan gantinya mentraktir makan. Kemungkinan besar begitulah dugaannya, pikir Yuuki, dan Ramona serta Enchou juga memiliki pandangan yang sama. Yah, bagi Yuuki dan kawan-kawan, karena cuma merasa beruntung bisa makan gratis, mereka tidak meluruskan kesalahpahaman itu dan ikut menikmati jamuan.

Sambil mendengarkan acara larut malam dengan tensi santai yang disiarkan TV di ruangan, Yuuki menyumpit isi panci. Panci (Nabe) adalah masakan yang sebagian besar bahannya adalah sayuran, dan dalam kasus panci ini pun demikian. Karena pola makan Yuuki jauh dari sayuran, dia berpikir untuk menyuplainya sebanyak mungkin pada kesempatan ini. Memindahkan sawi putih yang menggunung dari panci ke piring kecil, memindahkannya dari piring kecil ke dalam mulut, dan setelah membilas sawi yang menyerap banyak kuah pedas itu dengan teh oolong, Yuuki teringat ada hal yang harus dikatakan.

"Ngomong-ngomong, ini agak telat sih," Yuuki membuka pembicaraan. "Terima kasih semuanya sudah meluangkan waktu. Meskipun ini jam yang cukup larut untuk makan malam……"

"Aaah. Gak masalah kok."

Sambil tetap mengarahkan pandangan ke TV, Ibu Kos menjawab. Enchou dan Ramona juga mengangguk balik seolah tidak masalah.

Waktu saat ini jam sepuluh malam. Sangat larut untuk makan malam. Karena sekolah malam, tubuh Yuuki baru bisa bebas paling cepat jam segini.

"Ngomong-ngomong, Yuuki-san."

Tanya Ramona.

"Soal tes, apakah tidak ada masalah?"

"Ah…… ya," ngomong-ngomong belum bilang ya, pikir Yuuki, "Berkat bantuanmu, aku berhasil naik kelas dengan selamat. Terima kasih."

"Sama-sama."

Melintasi tahun ajaran, Yuuki menjadi kelas tiga. Dia harus ikut ujian susulan untuk tes bahasa Inggris, dan kenaikan kelasnya sempat terancam, tapi berkat bantuan Ramona yang penutur bahasa Inggris, dia berhasil lolos.

Serangkaian percakapan selesai, dan untuk sementara mereka semua menyantap panci. Tanpa ada tanda-tanda apa pun, "Ngomong-ngomong," Enchou membuka mulut.

"Ramona-san. Kalau dalam bahasa Inggris, apakah disebut masakan stamina juga?"

"Hah?" jawab Ramona.

"Panci ini lho……. Panci pedas semacam ini kan sering disebut masakan stamina. Apakah sebutan semacam itu ada di luar negeri?"

"Saya tidak pernah dengar ya……. Makanan yang dianggap menambah stamina, ada sih."

"Contohnya, seperti apa?"

"Contohnya…… teh hijau, kacang-kacangan, daging ayam, karbohidrat yang belum diproses, dan lain-lain."

Agak beda ya barisannya, pikir Yuuki. Cuma seperti makanan yang bagus untuk tubuh. Mungkin itu bahasa Inggris buatan Jepang.

"Entah kenapa aku pernah dengar kata yang mirip, Power Lunch, itu apa sih?" tanya Yuuki.

"Power lunch itu…… makan siang yang diambil saat melakukan rapat bisnis. Sama sekali tidak berhubungan dengan masakan stamina."

Percakapan yang santai. Percakapan saat makan memang cenderung menjadi santai.

"Ngomong-ngomong nih."

Saat itu, tanpa aba-aba Ibu Kos berkata.

"Dalam waktu dekat, gue mau berhenti jadi ibu kos."

"Eh……"

Tiba-tiba disodori topik berat, Yuuki dan yang lain kehabisan kata-kata.

"Yah, udah tua juga," lanjut Ibu Kos. "Ngerjain semuanya sendiri juga udah mulai berat, gue pikir mau serahin ke perusahaan manajemen aja."

"Aah, begitu ya……"

Kata Ramona. Apartemen ini saat ini dikelola seratus persen secara mandiri oleh Ibu Kos.

"Lagian, gue kan bisa aja mati mendadak kapan aja. Saat itu, kalau masih pengelolaan mandiri, bakal bikin repot kerabat yang mewarisi. Mending masukin tangan orang luar dari sekarang kan."

"Jangan ngomong yang nggak-nggak dong……" kata Yuuki.

"Mau nggak-nggak atau iya-iya. Manusia suatu saat bakal mati."

Begitulah, sambil mencampurkan topik yang terlalu berat dan terlalu ringan dengan pas, perjamuan makan malam berlanjut.

Di sini, di antara empat orang ini, belum ada yang tahu.

Bahwa ada mobil yang mendekati apartemen ini.

(11/42)

Awahime pergi ke jalan besar dan menyetop taksi. Membuka alamat Tochinoki-sou di aplikasi peta, dan berkata "Ke sini" pada sopir. "Siap," jawab sopir om-om dengan nada terbiasa, dan melajukan taksi. Setelah beberapa waktu berlalu,

"Neng, masih muda ya."

Dia mengajak bicara.

"Masih pelajar?"

Dalam hati Awahime merasa repot. Bukan hanya taksi, tapi salon, toko baju, Awahime tidak suka tipe pekerja yang mengajak bicara seperti ini. Bagi manusia introvert seperti Awahime, percakapan membutuhkan biaya yang sangat besar.

"Bukan," dia menggeleng.

"Aku melakukan pekerjaan yang tidak terlalu ingin kukatakan pada orang lain. Mohon pengertiannya."

"……Aah, begitu……"

Sopir itu mengintip sosok Awahime lewat kaca spion, dan,

"Yah, gitu ya. Kalau nggak mau bilang ya nggak apa-apa, tapi di zaman sekarang ini, nggak ada pekerjaan hina kok. Jangan dipikirin."

Terhadap kata-kata yang mungkin diucapkan begitu saja itu, "Trims," Awahime juga menjawab begitu saja.

Tidak ada pekerjaan hina, ya. Kata-kata yang seperti perwakilan dari basa-basi. Adanya pepatah seperti ini sendiri adalah bukti bahwa banyak manusia yang sangat memikirkannya. Secara prinsip bilang begitu, tapi semua orang ingin menjadi orang mulia. Dan, orang yang tidak bisa mewujudkan itu, menghabiskan seumur hidup dengan perasaan menyedihkan. Diberi jatah pelit yang sama sekali tidak mirip dengan apa yang benar-benar diinginkan, apa boleh buat dipeluk erat-erat, dan harus hidup dengan entah bagaimana menemukan makna di dalamnya. Awahime sangat membenci dunia semacam ini.

Bahwa Awahime adalah rakyat jelata yang hina, pasti, sudah ditentukan sejak lahir. Tidak punya otak yang bisa mengenali konsep rumit, sedikit olahraga saja napas langsung putus, tangan tidak terampil dan tidak punya sensibilitas yang tergerak oleh seni, juga tidak bisa bertingkah sosial dan mengamankan tempat dalam kelompok. Hampir tidak ada yang bisa disebut kelebihan, dan dia berpikir dengan polos, aku tidak mau menjalani hidup dengan wadah seperti ini, jadi entah sejak kapan Awahime berusaha untuk menghapus keberadaannya sendiri. Agar tidak disadari sekitar, agar tidak diperhatikan, menghapus hawa keberadaan dan membiarkan segalanya berlalu adalah seni bertahan hidup Awahime.

Itu, lama-kelamaan berubah menjadi keahlian khusus. Jika Awahime sedikit berniat, tak seorang pun bisa menyadari keberadaannya. Mengembangkan sendiri teknik berjalan sembunyi-sembunyi yang tidak berbunyi dan bahkan tidak menimbulkan angin secepat apa pun dia bergerak, segera membaca area yang menjadi titik buta dari pandangan orang lain dan berlatih untuk bisa masuk ke sana, operasi plastik wajah dan mengatur bentuk tubuh, menyesuaikan tubuhnya agar berpenampilan tidak mencolok sebisa mungkin. Selain itu dia menggunakan banyak teknik lain, tapi dia sendiri tidak tahu berapa jumlah totalnya. Saat memberikan teknik pada <Mikkai> dia membahasakan sebagian, tapi sebagian besar sudah menjadi darah daging Awahime, dan sudah menjadi kebiasaan tingkat tinggi yang bahkan tak disadarinya lagi.

Bagi Awahime, itu adalah hal pertama yang bisa disebut keahlian khusus.

Dengan menguasai ini, hidup Awahime menjadi sedikit lebih bebas. Dia tidak lagi dipandang aneh meski keluar dengan pakaian berantakan, jika melihat orang menyebalkan di kota dia bisa diam-diam menjegal kakinya agar jatuh, dan saat barang yang dipegang tidak sesuai dengan isi dompet, lahir pilihan untuk membawanya pulang tanpa membayar.

Selama menikmati permainan bodoh semacam itu, di hati Awahime ada dua jenis perasaan. Rasa superioritas diam-diam bahwa tak ada yang bisa menyadari dirinya, dan rasa rendah diri bahwa bakatnya hanya untuk hal semacam ini. Terjepit di antara dua hal ini, Awahime merasa kepribadiannya yang sudah menyimpang menjadi semakin menyimpang.

Saat itulah. Dia mengenal dunia game.

Saat sedang jalan-jalan di kota—tentu saja saat tidak sedang <Menghapus> dirinya—dia direkrut. Dunia game pembunuhan. Terkejut bahwa hal semacam itu ada, tapi bahkan di dunia itu keahlian Awahime bisa digunakan tanpa masalah. Mungkin aku menemukan panggilan jiwaku, pikirnya. Menguasai keahlian khusus, mendapatkan tempat, dia memeluk harapan tipis bahwa hidupnya mungkin akan mulai berputar dengan baik mulai sekarang.

Tapi—kenyataannya tidak begitu.

"……?"

Saat itu, Awahime mengerutkan kening di kursi belakang taksi.

Sedikit, dia merasa mual di dada.

Itulah cara kerja intuisi Awahime. Saat ada firasat buruk, Awahime merasakannya di dada. Melihat ke belakang, memeriksa kendaraan di belakang lewat kaca pintu bagasi. Namun, hanya dengan itu, dia tidak tahu apa-apa.

Meski berpikir mungkin dia terlalu khawatir, untuk jaga-jaga, Awahime menegur sopir taksi. "Anu, maaf."

"Ya."

"Aku akan bayar lebih, jadi tolong ngebut semaksimal mungkin. Aku buru-buru."

"Boleh aja sih…… tapi kenapa?"

"Terus, tolong hati-hati jangan masuk jalan tikus sebisa mungkin. Lewat jalan besar yang mencolok saja. Tolong ya."

"Makanya, kenapa sih?"

"Udah, lakuin aja."

(12/42)

Dari percakapan itu, beberapa puluh meter di belakang—.

Di dalam sebuah mobil, seorang pria berdecak lidah.

(13/42)

"……Mungkin sadar dia."

Pria yang duduk di kursi pengemudi berkata. Pria berbadan besar dan gemuk.

"Apanya?"

Tanya pria di kursi penumpang. Pria cebol yang kakinya tidak sampai ke lantai mobil. Dia memegang ponsel secara horizontal, sedang main game aplikasi.

"Targetnya lah, siapa lagi," jawab si pria besar pengemudi. "Dia nengok ke sini tadi. Kayaknya sadar kalau dikejar."

"Nggak mungkin lah. Kita juga nggak ngebuntutin secara mencolok kok. Nggak mungkin ketahuan lah."

"Belum tentu juga."

Ada suara dari kursi belakang.

Di sana, berbaring pria ketiga. Pria jangkung yang bahkan terlihat kesempitan di dua kursi belakang.

"Target kali ini, pemain game pembunuhan kan? Penciuman bertahan hidupnya pasti tajam. Cuma didekati orang kayak kita aja, langsung ketahuan gitu lho."

"Dunia makin gila ya, ada orang-orang yang ngeluarin duit buat begituan," kata si pria cebol. "Yah, klien kita juga sebelas dua belas sih……"

Apa yang disebut pembunuh bayaran adalah bisnis pria-pria ini.

Apalagi, mereka lumayan berduit. Cepat, murah, kasar. Dengan tiga poin ini sebagai slogan penjualan, mereka menerima lebih banyak pekerjaan daripada rekan seprofesi.

Rekan-rekan seprofesi sekalian pemikirannya kuno sih jadi nggak maju-maju, pikir para pria itu. Di dunia pembunuh bayaran masih merajalela kebiasaan bisnis lama, masih banyak pelaku usaha yang menerapkan sistem warisan turun-temurun, dan karena kolusi antar pelaku usaha semacam itu biaya permintaan jadi mahal secara tidak wajar, juga terobsesi aneh untuk membereskan tanpa meninggalkan bukti jadi kerjanya lambat. Di situ para pria ini mengubahnya. Menerima permintaan dengan harga wajar, dan mementingkan penyelesaian kerja dengan cepat meskipun agak kasar. Hasilnya, mereka menjadi keberadaan yang selangkah lebih maju dari rekan seprofesi.

Cara kerja cepat itu, bisa dibilang tampak pada situasi saat ini. Meskipun belum ada lima belas menit sejak menerima permintaan resmi dari klien kali ini—wanita jangkung bernama Shiro itu—mereka sudah mengumpulkan personel, mengumpulkan alat yang diperlukan, dan sedang mengejar target.

"Coba kasih jarak dikit deh."

Si jangkung di kursi belakang berkata.

"Meskipun nggak nempel di posisi yang terlihat, lokasi target ketahuan kan?"

"Ya."

Si cebol di kursi penumpang mengoperasikan ponsel yang dipegangnya.

Di layar, gambar ditampilkan. Gambar jalanan ini yang diambil dari atas. Taksi yang ditumpangi target, dan mobil yang dikendarai para pria itu, juga tertangkap jelas di dalamnya.

Gambar ini disediakan oleh klien. Katanya direkam dengan kamera yang diikatkan di leher gagak. Baru pertama kali menerima penyediaan informasi dengan cara unik seperti itu, tapi jika merujuk ini, lokasi bisa diketahui tanpa harus menguntit dengan melihat langsung. Para pria itu membelokkan mobil ke jalan samping, meloloskan diri dari pandangan target sambil terus mengejar.

Setelah sekitar dua puluh menit berlalu, mobil target berhenti. Itu di depan apartemen bobrok yang sepertinya sudah dibangun puluhan tahun lalu. Mungkin rumah target. Agak merepotkan kalau perumahan bersama, tapi keamanannya yang tampak lemah itu menguntungkan. Para pria itu memarkir mobil agak jauh dari apartemen. Turun, dan mengejar target.

Saat itu, si pria jangkung mengoperasikan mesin seukuran genggaman tangan. Alat yang bentuknya mirip transceiver—tapi, dibandingkan itu ada banyak antena yang berdiri dari bagian atas kepalanya, dan tujuannya bertolak belakang dengan transceiver. Bukan alat untuk berkomunikasi dengan orang lain, tapi agar orang lain tidak bisa berkomunikasi. Memancarkan gelombang radio gangguan yang kuat ke seluruh area sekitar, dan bisa membuat alat komunikasi di sekitarnya tidak bisa digunakan.

Singkatnya—jamming sinyal.

Setelah menyalakan sakelar alat itu, si jangkung melihat ponsel. Bisa dipastikan tulisan <Di Luar Jangkauan> muncul di pojok kanan atas layar.

(14/42)

Di depan apartemen, sebuah mobil berhenti.

Suara itu, didengar oleh Yuuki dan kawan-kawan.

(15/42)

"……Ada yang datang?"

Menghentikan sumpit yang sedang menyodok panci, Yuuki berkata.

"Datang ya," jawab Ramona.

Mobil berhenti di depan bangunan. Hal yang sangat biasa, tapi dalam situasi ini tidak biasa. Penghuni apartemen semuanya berkumpul di sini, dan jam segini tidak mungkin ada pengiriman paket. Agen Yuuki—kemungkinan itu muncul di kepala, tapi harusnya masih terlalu cepat untuk undangan game.

Biarpun begitu, karena itu kemungkinan yang paling besar, Yuuki berdiri. "Aku cek dulu," pamitnya, keluar dari kamar 101, menyelinap keluar apartemen dan membiarkan dirinya terpapar sinar bulan.

Lalu, seorang gadis muda, baru saja turun dari taksi.

Pakaiannya agak aneh. Pakaian Jepang—tapi agak beda. Hanfu ya namanya. Wajahnya cantik, tapi anehnya memberikan kesan tidak mencolok. Wajah yang seolah-olah diambil rata-ratanya lewat pemrosesan gambar dari wajah seratus manusia. Katanya manusia cenderung menyukai wajah rata-rata, entah dengar di mana. Bisa dibilang tipe wanita cantik yang seperti itu.

Wajah rata-rata itu, dia arahkan ke Yuuki.

Seketika, wajah itu berubah menjadi ekspresi kegembiraan rata-rata.

(16/42)

Nah, saat ini.

Pengawasan terhadap Awahime masih berlanjut. Di tiang listrik sekitar apartemen, beberapa ekor gagak bertengger seolah menyatu dalam kegelapan, dan kedua mata yang seperti mutiara hitam serta lensa kamera yang terpasang di lehernya, semuanya diarahkan pada Awahime dan yang lain—tentu saja Awahime, bahkan Yuuki pun tidak tahu.

Lalu—ini juga hal yang tidak bisa diketahui oleh mereka berdua—pertemuan keduanya terjadi beberapa detik sebelum para pembunuh bayaran menggunakan jammer sinyal. Oleh karena itu, modul nirkabel untuk mengirimkan gambar kamera berfungsi tanpa masalah, dan mengirimkan sosok mereka berdua dalam resolusi tinggi ke tempat Shiro dan kawan-kawan.

Bahwa salah satu anggota <Mikkai> yang mengawasi gambar itu—Dokutake, menunjukkan keterkejutan luar biasa sampai nyaris jatuh dari kursi, tentu saja mereka berdua tidak tahu.

Bahwa tepat saat itu dia menyemburkan teh yang ada di mulutnya, dan membasahi unit komputer, keyboard, mouse, dan enam monitor yang ada di depannya secara merata, tentu saja mereka juga tidak tahu.

(17/42)

Uhuk, uhuk, Dokutake terbatuk. Setelah batuk sekitar tiga kali, dia tenang.

Dokutake menumpuk tisu yang ada di dekatnya dan mengelap mesin-mesin itu. Namun, harus dikatakan bahwa dia agak panik. Sama sekali bukan situasi untuk mengelap dengan santai, dan lagipula, meski dilap pun dia tidak bisa melanjutkan pengawasan.

Sebab—tiba-tiba, gambar di monitor berhenti.

"Eh…… ap, apa ini?"

Gambar di monitor berhenti tepat saat menangkap gambar mengejutkan tadi—kontak antara Awahime dan Yuuki. Bukan sekadar mereka berdua tidak bergerak, tapi gambarnya sendiri berhenti. Bukan karena monitornya rusak. Tidak akan rusak hanya karena kena semburan teh sedikit. Kemungkinan besar, terjadi masalah di pihak kamera.

Ini adalah kamar Dokutake. Anggota <Mikkai> semuanya memiliki kamar pribadi di kediaman Shiro. Karena <Mikkai> berisi orang-orang unik, keadaan kamarnya pun beragam. Kamar Dokutake, tampak seperti toko barang rongsokan, mesin-mesin campur aduk menyebar tak hanya di meja, tapi di rak, bahkan di lantai. Barang yang lumayan mahal pun dengan santai digeletakkan di lantai, dan kalau tidak jalan hati-hati bisa langsung rugi ratusan ribu yen, jadi selain Dokutake tak ada yang mau masuk. "Berusin dong," sering dibilang begitu, dan baru beberapa jam lalu, Takazo yang datang mengambil kamera untuk dipasang di gagak juga menyinggungnya, "Bukan berantakan tahu. Ini terakumulasi," Dokutake mencoba melontarkan lelucon orang sains, tapi sayangnya sepertinya tidak tersampaikan dengan baik pada Takazo.

Dokutake cukup kuat dalam hal mesin sampai-sampai bisa memberantakkan seisi kamar. Yang menyiapkan kamera pengawas Awahime adalah Dokutake, dan yang mengoper ke para pembunuh bayaran juga Dokutake. Untuk memastikan jalannya pekerjaan, dia sendiri juga menonton gambarnya. Sampai Awahime menggunakan taksi dan kembali ke rumahnya tidak ada masalah—tapi di sana, muncul tokoh yang tak terduga. Dia kaget setengah mati.

Kenapa, Yuuki muncul. Gimana ceritanya? Apa dia kebetulan tinggal di apartemen yang sama dengan Awahime? Tidak, beda. Memang itu bukan rumah Awahime. Dia tidak pulang ke rumah, tapi menuju tempat Yuuki. Alamatnya, mungkin dia dengar dari Shiro atau Kokone. Alamat Awahime maupun alamat Yuuki, Dokutake tidak tahu. Dia terus mengawasi, tapi tidak mengenali situasi dengan benar.

Kenapa Awahime, mencoba menghubungi Yuuki—?

Kira-kira, dia bisa membayangkannya. Darah Dokutake terasa surut drastis.

"……Shiro-san! Gawat! Gawat nih!"

Sambil berkata begitu, Dokutake keluar kamar.

Dia mencoba berteriak, tapi karena rumahnya luas suaranya tidak sampai. Dokutake mengirim pesan lewat ponsel, dan sambil berteriak gawat-gawat, dia menuju kamar Shiro.

Di lorong tengah jalan, dia berpapasan dengan Shiro.

"──Benarkah?"

Tanya Shiro sebagai pembuka kata.

Bukan <Ada perlu apa?> tapi <Benarkah?> karena dia sudah menjelaskan situasinya lewat pesan. Dokutake memperlihatkan layar ponsel. Foto dari gambar monitor tadi. Awahime dan Yuuki, keduanya tertangkap jelas.

"……Sepertinya benar," kata Shiro.

Dia memasang wajah yang tampak tenang. Namun, Dokutake tahu bahwa sikap itu hanya luarnya saja, dalam hatinya pasti panik. Orang ini punya sisi seperti ini. Sekilas terlihat tenang dan penuh perhitungan, tapi sebenarnya lumayan panikan dan tindakannya juga kasar.

"Soal Yuuki-shi, sudah dibilang ke para pembunuh bayaran?" tanya Dokutake.

"Belum. Karena tidak ada perlunya."

"Tapi, biarpun begitu, dalam situasi ini mereka tidak akan bertindak kan……? Ada orang yang tidak berhubungan lho."

"Tidak bisa dipastikan." Shiro menggeleng. "Mereka kelompok yang mengutamakan kerja kasar kan……. Mungkin mereka akan membunuh Yuuki-san sekalian. Pokoknya aku hubungi. Kalau mereka bertindak dalam situasi ini, bakal gawat dalam banyak hal."

Shiro mengoperasikan ponselnya. Menempelkan ke telinga sebentar, menjauhkan, mengoperasikan lagi dan menempelkan ke telinga. Arti dari gerakan itu, meskipun dilihat dari kejauhan puluhan meter pun akan ketahuan—gerakan saat telepon susah tersambung.

Kenapa tidak tersambung, pikir Dokutake. Jangan-jangan, untuk menghalangi panggilan ke polisi, mereka menggunakan jammer sinyal. Kalau begitu ponsel pembunuh bayaran sendiri juga tidak bisa dipakai, dan matinya kamera juga bisa dijelaskan.

Akhirnya, Shiro menyimpan ponselnya. "Aku akan ke sana langsung," katanya.

"Permisi. Aku mau panggil agen dulu."

"E, eh……"

Shiro berjalan cepat di lorong.

Sambil mengikutinya, "……Emang keburu……?" tanya Dokutake.

Pertanyaan dengan subjek yang ambigu. Keburu, untuk apa? Kalau tidak keburu, apa yang akan terjadi bagaimana?

Shiro menjawab. "Aku tidak mau memikirkan soal itu."

(18/42)

"Yuuki-san, ya."

Di bawah atap Tochinoki-sou—gadis ber-Hanfu itu berkata pada Yuuki.

"Tahu aku?" tanya Yuuki.

"Tahu. Aku mencarimu."

Mendengar kata-kata itu, Yuuki memasang wajah sulit.

"……Pola ini lagi……" gumamnya pelan.

"Eh? Apa?"

"Enggak, bukan apa-apa. Eeem……"

Gimana ya, pikir Yuuki. Kalau lanjut bicara begini, berarti harus meninggalkan perjamuan makan malam. Padahal sudah digeser waktunya demi dirinya, kalau pergi di tengah jalan rasanya nggak enak, tapi membiarkan gadis ini menunggu juga rasanya nggak tega.

Coba tanya dulu deh ada perlu apa, pikir Yuuki, dan saat dia hendak membuka mulut—

Namun, saat itu.

Klik, suara itu terdengar dari jauh.

(19/42)

"……Kh!"

Tubuh bergerak secara refleks.

Melompat mundur, kembali ke bawah atap apartemen. Sambil menempelkan punggung ke dinding, mengarahkan kewaspadaan ke sekitar.

Terhadap gerakan Yuuki yang seperti itu,

"Kenapa?"

Gadis ber-Hanfu itu bertanya—

—Dari jarak super dekat, sampai wajah dan wajah hampir menempel.

"Uwaah……!?"

Gara-gara itu, Yuuki melompat mundur satu langkah lagi.

"Ka, kapan mendekatnya?"

"Kenapa?"

Kali ini dari jarak yang wajar, gadis ber-Hanfu itu bertanya.

"……Nggak dengar?" jawab Yuuki dengan suara kecil.

"Apaan?"

"Klik, suara plastik gitu."

Yuuki menunjukkan dengan isyarat apa arti suara itu. Tangan kanan mengepal ringan, tangan kiri menarik dari depan ke belakang.

"Kemungkinan—suara menarik slide pistol."

Tidak ada bukti pasti, tapi dia merasa begitu. Di negara ini, itu adalah benda yang normalnya tidak boleh dimiliki, tapi bagaimanapun Yuuki adalah pemain, kapan dan di mana pun benda semacam itu muncul tidaklah aneh. Buktinya saat insiden <Red Bear> tempo hari pun—meskipun itu revolver—dia pernah mengalami pertemuan tak terduga.

Yuuki menatap gadis ber-Hanfu itu. "Jangan-jangan temanmu ya," katanya dengan suara tegas.

"Saat perhatian teralihkan obrolan, dari jauh Dor…… strategi semacam itu bukan?"

"Bu, bukan," gadis ber-Hanfu menggeleng. "Justru musuh. Shiro mungkin mengirim Hitman."

"Shiro?"

Munculnya nama yang tak terduga. Yuuki mengulanginya.

"Datang secepat ini…… padahal aku sudah memastikan tidak ada mobil yang membuntuti……"

"Berarti datang naik sepeda kali," Yuuki asal ngomong lelucon yang muncul di kepala, "……Bukan, eem……"

Ceritanya jadi agak ruwet nih, pikir Yuuki.

Saat memegang jidat, memutar otak apa yang harus ditanyakan—

Kali ini, dari lantai atas, terdengar suara seperti seseorang melompat ke atap.

(20/42)

Enchou melompat ke atas atap Tochinoki-sou.

(21/42)

Enchou menyukai tempat tinggi.

Dia menyukainya karena bisa merasakan kebebasan—itu salah satu alasannya, tetapi dia juga menyukainya karena alasan yang lebih praktis. Dengan menempatkan diri di posisi dengan pemandangan luas, dia secara harfiah bisa <melihat situasi dari atas>. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, dia memutuskan untuk naik ke tempat tinggi terlebih dahulu.

Dalam kasus ini, <sesuatu> itu adalah suara kokang pistol. Meskipun samar, dia mendengarnya dengan jelas. Enchou segera—membuka pintu kasa kamar Ibu Kos—keluar, memanjat dengan mengandalkan unit luar AC atau pipa yang menempel di dinding apartemen, dan dengan cepat melompat ke atas atap.

Sambil memegang penangkal petir untuk menopang berat badannya, Enchou memandang ke sekeliling. Tochinoki-sou adalah apartemen dua lantai. Sebagai bangunan, tingginya tidak seberapa, tetapi karena bangunan di sekitarnya juga memiliki ketinggian yang hampir sama, pemandangannya cukup jelas.

Di dalam pemandangan itu, Enchou melihat bayangan yang bergerak.

Para pria sedang berjalan di jalan malam. Penampilan mereka, sekilas, terlihat seperti pegawai kantoran, tetapi mereka memancarkan aura yang kental bahwa mereka bukan orang baik-baik. Mereka berjalan dengan pose khas memasukkan satu tangan ke dalam jas, dan artinya sudah jelas. Mereka menyembunyikan pistol di balik baju mereka.

Dia mengamati para pria itu lebih teliti. Menurut kedua mata Enchou yang sangat awas di malam hari karena tuntutan pekerjaannya, beberapa dari pria itu sepertinya bukan orang Jepang—dengan menambahkan informasi itu, Enchou menyadari identitas para pria tersebut. Mereka mungkin adalah kelompok pembunuh bayaran pendatang baru. Enchou pernah mendengar desas-desus bahwa kelompok semacam itu sedang bangkit saat dia pulang ke rumah orang tuanya tempo hari. Kabarnya, mereka merebut pelanggan dari kontraktor lama dengan harga yang lebih murah dibandingkan rekan seprofesi dan kerja yang cepat. Industri pembunuh bayaran adalah dunia yang sangat eksklusif, dan biasanya jika ada pendatang baru, mereka akan disingkirkan secara fisik melalui kolusi antar keluarga lama, tetapi dalam kasus ini, tampaknya sulit untuk menyingkirkan mereka karena ada organisasi kriminal luar negeri yang menyokongnya. Dampaknya juga sampai ke keluarga Enchou, di mana jumlah pekerjaan mulai berkurang akhir-akhir ini, dan seluruh kerabat mengeluh karenanya, tetapi sebagai Enchou yang melakukan pekerjaan pembunuh bayaran dengan setengah hati, dia hanya berharap semoga bisnis keluarganya bangkrut begitu saja.

Nah—siapa target mereka? Enchou? Atau mungkin Yuuki-san? Bisa juga Ramona atau Ibu Kos. Mungkin sisa-sisa <Red Bear> yang mengajukan permintaan karena kejadian tempo hari. Mobil tadi—yang sepertinya sudah menghilang dari depan apartemen—mungkin adalah mobil para pembunuh bayaran itu. Bagaimanapun juga, harus dianggap bahwa semua orang di apartemen berada dalam bahaya. Enchou juga sudah mendengar reputasi tentang <pekerjaan kasar> mereka. Mungkin mereka berencana membunuh semua orang untuk membungkam saksi.

Enchou mengeluarkan ponselnya. Dia berniat menelepon 110—tetapi, di ponsel Enchou sudah tertera tulisan <Di Luar Jangkauan>. Mereka pasti menggunakan pengacau sinyal. Itu adalah cara umum pembunuh bayaran untuk memutus komunikasi.

Kalau begitu—.

Menelusuri kembali jalan yang dilaluinya, Enchou kembali ke kamar 101. Ramona dan Ibu Kos—mungkin karena gerakan akrobatik Enchou—sedang menganga. Enchou pun membuka mulut dan berkata "Telepon rumah."

"Apakah ada telepon rumah di kamar ini?"

"Eh?"

"Ini penting," kata Enchou dengan tenang namun tegas. "Jawab ya atau tidak."

"A, aaah..." Ibu Kos tampak sedikit tertekan, "Tapi, taruh di mana ya. Udah lama nggak dipake. Soalnya isinya telepon iseng melulu, jadi kabelnya gue cabut—"

Saat itu.

Terdengar suara pretek kecil.

Lalu, lampu kamar, televisi, dan kipas angin berhenti secara bersamaan.

"......Kh..."

Sambil menatap satu-satunya cahaya yang tersisa di ruangan—api kompor, Enchou menggertakkan gigi.

Mati lampu. Dia berpikir bisa berkomunikasi lewat kabel—tapi kabel listriknya diputus. Kemungkinan besar, kabel telepon juga sudah diputus.

"Lho? Ada apa..."

Sambil berkata begitu, Ramona menyalakan ponselnya untuk dijadikan penerangan darurat.

"──Tunggu! Ramona-san."

Enchou berkata dengan panik. Dia merampas ponsel dari tangan Ramona dan menelungkupkannya ke lantai. Bersamaan dengan itu, dia mematikan api kompor untuk memutus semua sumber cahaya dari ruangan.

"Jangan nyalakan lampu. Bicara juga dengan suara pelan. Tolong."

"......B, baik..."

Ramona seharusnya belum paham betul situasinya, tapi mungkin karena aura menakutkan Enchou, dia menjawab begitu.

"Ibu Kos, Ramona-san, jangan keluar dari kamar ini," kata Enchou pada keduanya. "Saya tahu kalian penasaran dengan keadaan di luar, tapi tolong tetaplah di sini. Tutup semua pintu, kunci juga, dan jangan biarkan siapa pun masuk. Abaikan saja kalau bel berbunyi. Lalu... carilah telepon rumah selembut mungkin tanpa menyalakan lampu. Siapa tahu kabel teleponnya masih aman."

Listrik padam mungkin karena kabel listrik yang ditarik ke apartemen dipotong. Sulit membayangkan mereka memotong kabel listrik tapi tidak memotong kabel lain—seperti telepon atau serat optik—tapi kemungkinan mereka terlewat juga tidak nol. Patut dicoba.

"Telepon rumah bisa dipakai meski mati lampu, kan? Kalau tersambung, tolong telepon 110. Bilang saja ada orang mencurigakan berkeliaran di apartemen dan terdengar suara seperti tembakan, saya rasa itu cukup."

"Woi, suara tembakan apaan lu..."

Ibu Kos berkata, tapi Enchou mengabaikannya. "Lalu, kalau seandainya ada yang mendobrak masuk—"

Enchou mengeluarkan dua benda kecil dari sakunya.

"Gunakan ini untuk melindungi diri."

Satu adalah pulpen yang agak tebal. Satu lagi adalah power bank. Meskipun memiliki fungsi sebagaimana mestinya, fungsi utama benda-benda ini ada di tempat lain. Enchou memegang pulpen dan baterai di masing-masing tangan, lalu menekan tombolnya, dan percikan api bzzzt memercik di antara dua elektroda yang dipasang diam-diam di tempat yang tidak terlihat sekilas.

Itu adalah alat kejut listrik (taser) tersembunyi.

"Silakan."

Enchou menyerahkannya kepada Ramona dan Ibu Kos.

"Anu, eum..." Ramona bertanya sambil menerimanya. "Yayoi-san, kenapa Anda memiliki benda seperti ini...?"

"......Saya satu kaum dengan Yuuki-san."

Jawab Enchou.

Dia pikir itu sudah cukup untuk menjelaskannya. Karena dia tahu bahwa tempo hari, Ramona terlibat urusan dengan Yuuki.

"Karena tidak ada waktu, penjelasan rincinya nanti saja. ......Kalau begitu, sampai nanti."

Kata Enchou meninggalkan pesan, lalu melewati jendela dan keluar dari kamar 101. Dia bergerak diam-diam di ruang sempit yang ada di antara rumah warga sebelah—area yang sulit dilihat oleh musuh.

(22/42)

Di dalam kegelapan, seorang pria memutar-mutar ujung pisaunya.

"Kena."

Gumamnya pelan.

Di ujung pandangannya, ada kabel listrik. Kabel yang ditarik dari tiang listrik ke apartemen, semuanya tidak ada yang selamat. Putus dan menjuntai lemas.

Pria itulah yang memotongnya. Pria itu adalah ahli lempar pisau. Dia memiliki latar belakang unik sebagai mantan seniman jalanan, dan asalkan berada dalam jarak lempar, dia bisa mengenai sasaran dengan akurasi seratus persen. Untuk memotong kabel listrik apartemen, menggunakan pisau lebih mudah mengenai sasaran daripada membidik dengan pistol, dan suaranya juga lebih kecil, jadi pria itu yang mengemban peran ini.

Saat dia menyimpan pisau yang tidak perlu dilempar lagi ke balik bajunya—

Ada sensasi aneh di leher pria itu.

Awalnya dia pikir ada serangga yang hinggap. Namun, rasanya terlalu kuat untuk itu. Lehernya sedang dicekik—begitu menyadarinya, pria itu menyentuh lehernya, tapi sepertinya benang yang mencekik leher pria itu terlalu tipis dan sudah membenam ke dalam leher, sehingga tidak bisa dilepaskan.

Pria itu tidak tahu kapan dia kehilangan kesadaran. Saat dia sadar berikutnya, pria itu sudah tergeletak di atas beton. Itu adalah gang sempit yang terasa sesak bahkan untuk lebar bahu pria itu. Tepat di sebelahnya, terlihat dinding luar apartemen yang tadi. Mungkin ini ruang celah antara Tochinoki-sou dan bangunan di sebelahnya.

Di mulut pria itu, ada sensasi tangan yang lembut. Ada seorang gadis berpakaian hijau di depannya—dan dia membekap mulut pria itu seolah mencengkeram wajahnya.

"──Mulai sekarang."

Kata gadis itu.

"Jawablah dengan suara pelan hanya saat saya izinkan. Kalau melanggar, saya bunuh."

Itu bukan <aku akan membunuhmu> yang diucapkan gadis remaja biasa. Nada bicaranya lebih bernuansa administratif daripada agresif. Itu adalah cara bicara manusia yang menggunakan kekerasan semata-mata sebagai alat. Hanya dengan satu kalimat itu, dia tahu gadis itu adalah rekan seprofesi.

Bahkan sekarang, benang masih melilit leher pria itu. Ujungnya dipegang oleh si gadis. Artinya dia siap mencekik leher kapan saja—sepertinya bukan hanya leher, tapi seluruh tubuhnya juga diikat, sehingga pria itu tidak bisa bergerak dengan leluasa.

"Anda rekan seprofesi, kan? Jawab ya atau tidak."

Berkata begitu, gadis itu melepaskan tangan dari mulut pria itu. "......Ya," jawab si pria.

"Siapa targetnya. Jawab."

"A... gadis bernama Awahime. Bukan kau."

"Tidak ada orang seperti itu di apartemen."

Pria itu bingung. Tidak mungkin. Targetnya pasti pulang ke apartemen itu.

"Sebenarnya siapa. Jawab."

"Nggak bohong!" Pria itu sadar suaranya terlalu keras, "......Tadi, ada taksi berhenti di depan apartemen, kan. Dia turun dari situ..."

Gadis itu memasang wajah heran.

Melihat itu, pria itu juga merasa heran. Gimana sih? Apakah dia juga tidak paham situasinya? Atau sebenarnya, kenapa ada rekan seprofesi di sini? Apakah Awahime memanggilnya sebelumnya—?

"Saya dengar pekerjaan kalian kasar. Bukankah rencananya mau membereskan seluruh penghuni apartemen sekalian?"

"Mana mungkin."

Set, gadis itu menarik benang. Leher pria itu tercekik. Dengan saluran napas yang tertekan, dia membela diri, "Bu, kan."

"Kalau bunuh banyak orang, bakal jadi masalah besar, kan. Kami nggak akan melakukan itu..."

Itu bukan bohong. Para pria itu tidak suka jika menjadi insiden besar. Gaya mereka memang tidak ragu meninggalkan bukti atau membuat keributan—tapi mereka tidak melakukan pembantaian sembarangan. Karena jika skala insidennya besar, aparat berwenang akan melakukan penyelidikan dengan serius.

Meskipun gadis itu menatapnya dengan curiga, dia tampaknya cukup puas untuk saat ini. "Lalu, satu lagi," tanyanya.

"Kalian, totalnya ada—"

Baru sampai di situ gadis itu bicara, terdengar suara langkah kaki.

Langkah kaki dari apartemen. Gadis itu menarik tangan yang memegang benang dengan kuat. Leher pria itu tercekik. Karena seluruh tubuhnya diikat rapat, dia tidak bisa melakukan perlawanan yang berarti, dan kesadaran pria itu memudar. Pemandangan terakhir yang dilihat pria itu adalah gadis itu membuka jendela di dekatnya dan masuk ke salah satu kamar apartemen.

(23/42)

Yuuki dan Awahime mendengar suara langkah kaki.

(24/42)

"......Datang," kata Awahime.

"......Datang ya," jawab Yuuki.

Keduanya menempelkan telinga ke lantai. Untuk mendengarkan suara langkah kaki <Hitman> yang sebentar lagi akan datang ke apartemen.

Untuk sementara, Yuuki membawa Awahime kembali ke kamarnya sendiri, kamar 107. Keduanya menempelkan telinga ke lantai di pintu masuk (genkan), dan berbicara dengan suara pelan. Baru saja dia berhasil menanyakan bahwa nama gadis itu adalah Awahime, dan saat hendak beralih ke pembicaraan yang lebih rinci—mereka mendengar suara langkah kaki.

Dan itu adalah langkah kaki beberapa orang. Di telinga Yuuki terdengar seperti tiga orang. Volume dan interval suaranya terdengar berbeda-beda. Mungkin postur tubuh ketiga orang itu bervariasi.

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, saat dia menempelkan telinganya semakin kuat ke lantai—langkah kaki itu menghilang. Ketiganya berhenti. Suara yang sepertinya percakapan dan suara logam beradu terdengar bersamaan. Ini mungkin—

"......Mereka melihat kotak pos?"

Gumam Yuuki pelan.

"Tapi, kenapa...?"

Di pintu masuk Tochinoki-sou, terdapat kotak pos untuk setiap pintu. Yang tidak digunakan ditutup dengan lakban, jadi jika diperiksa, jumlah penghuni dan lokasi mereka akan diketahui dengan sendirinya. Tapi, kenapa mereka memeriksanya? Padahal Awahime bukan penghuni sini—.

"Mereka pikir aku penghuni apartemen ini."

Jawab Awahime.

"Aku tidak memberitahu rumahku pada orang-orang <Mikkai>. Karena aku turun dari taksi dan masuk ke gedung, mereka salah paham dan mengira aku pulang ke rumah."

"Begitu ya..."

Kalau begitu, gawat. Tiga hitman itu mulai sekarang akan memeriksa kamar satu per satu. Yang pertama dikunjungi tentu saja kamar 101 yang paling dekat dengan pintu masuk. Entah bagaimana cara mereka bertamu. Mungkin memencet bel secara normal, atau mungkin membongkar kunci dan menerobos masuk. Bagaimana respon Ibu Kos dan yang lainnya terhadap hal itu juga tidak diketahui. Karena target hitman hanyalah Awahime, seharusnya tidak berbahaya, tapi mengingat Ibu Kos yang berdarah panas, ada kemungkinan berkembang menjadi masalah aneh. Dia tidak bisa diam saja melihat situasi ini.

Begitu pikir Yuuki, lalu dia berdiri. Dia hendak membuka pintu dan keluar, tapi—

"──Tunggu."

Lengan baju olahraganya ditahan oleh Awahime.

"Mau apa?"

"Nggak usah khawatir, aku nggak akan bilang soal kamu kok."

Jawab Yuuki. Tanpa sadar dia menggunakan kata ganti kedua yang agak kasar. Dia memanggil lawan bicara yang tidak terlalu bersahabat dengan sebutan seperti ini.

Saat Yuuki keluar ke lorong, sesuai dugaan, ada tiga orang pria. Juga sesuai dugaan, mereka sedang membicarakan sesuatu di depan kotak pos, dan lagi-lagi sesuai dugaan, ketiga orang itu memiliki postur tubuh yang berbeda-beda. Besar, Pendek, dan Jangkung, begitu dia memberi julukan dalam hati.

"Permisi! Cari siapa ya?"

Tanya Yuuki, berpura-pura tidak tahu apa-apa.

"Bukan orang apartemen sini, kan?"

Suara keras itu sepertinya sampai ke tempat ketiga pria itu. Para pria itu menoleh ke arah Yuuki. "O, pas banget," kata pria Pendek.

"Neng, mau tanya sebentar dong."

"Apaan?"

"Di apartemen ini, ada orang bernama Awahime nggak?"

Sambil mengobrol, ketiga pria itu mendekat dengan santai. Yuuki tidak bergerak dari tempatnya.

"Anaknya agak suram, pake baju kayak Kimono gitu. Tahu nggak?"

"Enggak... nggak tahu tuh. Ada fotonya atau apa gitu?"

"Nih, ini."

Pria Pendek itu memperlihatkan layar ponselnya.

Meskipun begitu, tidak terlihat jelas. Karena ada jarak yang lumayan antara para pria itu dan Yuuki.

Namun Yuuki berbohong, "Nggak pernah lihat tuh."

"Bukan orang sini kali. Apartemen yang mirip kayak gini kan ada di mana-mana. Salah tempat kali, Mas."

"Gitu ya—"

Berkata begitu, si pria Pendek menyimpan ponsel ke balik jasnya.

Dan—saat dia menarik tangannya kembali, dia menggenggam pistol.

Sebelum pria Pendek itu memancarkan niat membunuh, Yuuki sudah bergerak. Dengan cepat membuka pintu, menutupnya, dan saat dia kembali ke dalam kamar 107 dari lorong, terdengar suara tembakan dor dor dor.

"......Kasar amat sih...!"

Yuuki menyampaikan kesannya.

Mungkin mereka berniat menyakiti sedikit untuk memaksanya mengatakan yang sebenarnya. Dengan ini keraguan sudah hilang. Mereka adalah kelompok penjahat. Yuuki merasa lega dia sudah keluar.

Tanpa perlu menempelkan telinga ke lantai lagi, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Yuuki mengeluarkan ponselnya. Tentu saja, untuk menelepon polisi. Yuuki memang melakukan pekerjaan ilegal dan tidak membayar pajak dengan benar, tapi masa bodoh dengan itu. Akan dia ajarkan apa akibatnya main pistol sembarangan di negara ini. Yuuki menekan tombol panggilan darurat di layar kunci ponsel dan hendak menelepon 110 seketika, tapi—

Namun, entah kenapa, tidak ada sinyal.

"Percuma."

Kata Awahime.

"Ponselku juga, di luar jangkauan."

Dengan ponsel di tangan, Awahime menepuk jidatnya sendiri.

"Pasti di-jamming. Salah satu dari tiga orang itu pasti bawa pengacau sinyal. Aku akan hancurkan dan hentikan itu. Negosiasi dengan Shiro, baru setelah itu."

Berkata begitu, Awahime memancarkan aura siap tempur. Dia berniat melawan ketiga orang itu.

"......Aku nggak tahu detail masalahnya," kata Yuuki.

"Jangan libatkan penghuni apartemen. Mau nggak mau tarung di sini sih oke lah karena terlanjur, tapi kalau sampai ada penghuni yang terluka, aku nggak akan bantu kamu."

Meskipun tidak tahu apa urusan Awahime, Yuuki memberikan peringatan keras seperti itu.

"Aku tahu."

Jawab Awahime, dan—

Dari tempat itu, dia menghilang begitu saja.

Yuuki terkejut dan melihat sekeliling. Dia menyadari jendela kamar terbuka.

"......Kapan keluarnya," gumamnya.

(25/42)

Ketiga pria itu berjalan cepat.

Tujuan mereka bukan pintu kamar 107—melainkan jendela kamar itu. Untuk menerobos masuk secara paksa, lewat sana lebih menguntungkan.

Apartemen ini hampir tidak memiliki celah dengan bangunan di sebelahnya. Hanya ada jalan sempit yang nyaris tak bisa disebut jalan—jalan kecil yang lebih diperuntukkan untuk menaruh unit luar AC atau meteran gas daripada untuk lalu lalang orang. Para pria itu berjalan berbaris memanjang di tempat seperti itu, menuju jendela kamar 107.

Di tengah jalan, mereka melewati unit luar AC. Pria Jangkung yang berjalan paling depan di antara bertiga, memeriksa bagian belakang unit itu. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, dia melewati samping unit luar AC dan terus maju.

Di situ, ada bayangan bergerak di belakang para pria.

Awahime yang bersembunyi di balik unit luar AC tadi, menyerang ketiga orang itu dari belakang.

(26/42)

Menipu mata manusia itu mudah, pikir Awahime.

Mata manusia itu sembrono, dan otaknya lebih sembrono lagi. Apalagi, orang yang bersangkutan tidak merasa dirinya sembrono. Makanya mudah ditipu. Saat menguasai seni <Menghapus> diri sendiri—Awahime yang sempat mempelajari fisiologi tubuh manusia dan psikologi secara kilat, tahu betul betapa sembrononya persepsi manusia. Dia menganggap manusia tak lebih dari monyet yang naik pangkat.

Bagi Awahime yang seperti itu, muncul dari tempat yang seharusnya sudah diperiksa lawan adalah hal sepele. Kemungkinan besar, secara fisik, sosok Awahime sempat terlihat oleh si pria. Tapi, sekadar <terpantul di mata> dan menyadari bahwa itu <terlihat> adalah hal berbeda. Ada jurang pemisah yang besar di sana. Pengalaman ajaib di mana barang yang dicari berpuluh-puluh menit karena dikira <hilang>, ternyata ada di depan mata sejak awal, pasti pernah dialami sebagian besar manusia setidaknya sekali—apa yang <dilakukan> Awahime pada para pria itu sama dengan hal tersebut. Lolos dengan cerdik dari persepsi si pria Jangkung, dan berhasil melakukan serangan mendadak dari belakang, Awahime pertama-tama menyerang pria Pendek yang berjalan paling belakang.

Nah—Awahime yang merupakan ahli menghilangkan hawa keberadaan sekaligus pemain, juga paham tentang tata cara serangan mendadak. Menggunakan lengan baju Hanfu untuk membekap mulut si Pendek, dan lengan baju satunya untuk mencekik lehernya. Si Pendek meronta-ronta, tapi dua orang di depannya tidak sadar. Awahime berharap bisa membunuhnya dalam kesunyian seperti ini, tapi—

──Namun, pria Pendek itu menyadari fakta bahwa dia bisa menendang unit luar AC tepat di sebelahnya.

Pria itu benar-benar melakukannya. Dua orang di depan menoleh.

Awahime juga sudah memikirkan kemungkinan itu. Pistol yang direbut dari pria Pendek, diarahkan Awahime ke pria Besar dan pria Jangkung. Senjata di satu tangan, perisai di tangan lain—singkatnya begitulah. Sambil menjadikan pria Pendek yang saat itu sudah pingsan karena dicekik sebagai perisai, Awahime menembak ke arah dua musuh yang tersisa.

Akan tetapi—perkiraan Awahime meleset lagi. Pistol pria Pendek itu kalibernya lebih besar dari dugaan, pelatuknya berat, dan hentakannya juga besar. Lengan kurus Awahime kesulitan menanganinya, dan semua peluru yang ditembakkan meleset dari sasaran. Setelah menembak tiga kali, meleset dua kali, dan nyaris hanya satu yang menyerempet bahu si pria Besar, para pria itu melakukan serangan balik. Ini juga kesalahan perhitungan bagi Awahime—para pria itu lebih kasar dari yang diduganya—pria Pendek sama sekali tidak berfungsi sebagai perisai, dan si Besar serta si Jangkung yang masing-masing sudah mengeluarkan pistol mereka, menembak tanpa ragu. Awahime menyembunyikan diri di balik unit luar AC.

Awahime melepaskan si Pendek. Setelah memberinya makan timah panas di dalam mulut benda yang sudah diketahui tak berguna itu, dia kembali <Menghapus> dirinya.

(27/42)

Inilah cara bertarung Awahime.

Dengan cepat <Memunculkan> dan <Menghapus> dirinya, bertarung sambil terus-menerus lolos dari pandangan lawan. Dalam hal saling bunuh, teknik ini tak terkalahkan—Awahime yang telah bertarung di lebih dari tiga puluh game, jangan kan terpojok, pengalaman nyaris celaka pun hampir tak pernah dialaminya. Jika game tipe pertarungan, cukup dengan <Menghapus> diri sedikit, dia bisa memasak lawan sesuka hati, dan untuk game tipe pelarian, jika hambatannya adalah <Musuh> yang disiapkan manajemen, teknik Awahime bisa digunakan tanpa masalah, dan untuk tipe murni yang hambatannya berupa jebakan atau medan pun, ada sedikit keuntungan di bagian teknik bergerak cepat. Menurut cerita yang didengarnya dari agen, ada mitos <Dinding Tiga Puluh> di kalangan ini, di mana kesialan yang tak masuk akal terjadi pada game yang mendekati ke-30 dan tingkat kelangsungan hidup pemain menurun drastis, tapi sejujurnya Awahime tidak merasa ada hal semacam itu. Dia curiga itu cuma takhayul.

Walaupun, kalau soal pertemuan yang sial, dia punya pengalaman.

Di game ketiga puluh, dia bertemu dengan iblis itu—Shiro.

Itu adalah game bernama <Heavenly Sky>, game yang berlatar di pesawat terbang, dibuat dengan pembagian dua kubu: kru dan pembajak. Awahime yang berada di kubu kru dan mengenakan kostum pramugari, berbicara dengan Shiro yang juga mengenakan kostum pramugari.

Shiro yang mendengar tentang <Teknik> yang dimiliki Awahime, berkata,

"Luar biasa!"

Dengan wajah penuh kegembiraan.

Lalu dia mulai—bisa dibilang—merayu Awahime. Teknikmu luar biasa. Aku mencari orang yang memiliki teknik unik sepertimu. Aku ingin dekat dengan orang cerdas sepertimu. Tolong, masuklah ke tim kami──. Terhadap serangan Shiro yang bisa disebut pujian mematikan itu, Awahime, menyedihkannya, jadi tersipu. Diperlakukan istimewa seperti itu adalah pertama kali dalam hidupnya. Tanpa tahu bahwa itu adalah modus operandi Shiro yang biasa—Awahime diundang ke <Mikkai>.

<Mikkai>. Kelompok yang dibentuk Shiro. Tampaknya itu adalah tempat berkumpulnya pemain yang <Memiliki teknik unik>. Awahime memang begitu—tapi tujuan dari kelompok <Mikkai> tampaknya adalah mengumpulkan pemilik keahlian langka yang tidak ada duanya di satu tempat, membagikan teknik itu di dalam tim, dan mencoba meningkatkan kemampuan pemain.

Saat Awahime bergabung, selain Shiro ada dua pemain lain yang terdaftar. Takazo dan Dokutake. Keduanya adalah karakter yang cukup nyentrik, tapi karena Awahime juga nyentrik, mereka cocok, dan kehidupan di <Mikkai> cukup menyenangkan. Selain itu, berbagai teknik yang didapat dari <Mikkai> semakin meningkatkan level Awahime sebagai pemain.

Lambat laun, tiba giliran Awahime memberikan teknik. Sesuatu yang telah dia asah seumur hidup, <Diubah jadi kata-kata>, <Dibuat agar bisa dijelaskan>, <Dibuat agar bisa dilakukan siapa saja>, lalu <Dijual>—bukan berarti dia tidak keberatan dengan situasi itu, tapi karena dia sudah menerima paket pendidikan duluan, dan dia menerima penjelasan Shiro bahwa itu hanya akan dibagikan di dalam tim, Awahime melakukan pengembangan <Teknik Berjalan>. Karena harus dibuat agar bisa dipelajari siapa saja, sebagian besar teknik yang digunakan Awahime tidak bisa dimasukkan, hasilnya, benda yang jadi itu bagi Awahime hanya sebatas keterampilan dasar, tapi tetap saja bagi Shiro dan yang lain itu membawa manfaat besar, dan mereka sangat senang. Melihat anggota <Mikkai> berlatih cara berjalan yang sama dengan dirinya dan menguasainya, Awahime merasakan sensasi di bawah sadarnya seolah sebagian dirinya dipotong, tapi dia memaksakan diri mengabaikan perasaan itu.

Dia tidak bisa mengabaikannya lagi sekitar beberapa bulan setelah pengembangan teknik berjalan.

Di sebuah game, dia melihat pemain selain <Mikkai> menggunakan teknik berjalan itu.

Perasaan Awahime saat itu sulit diungkapkan. Seolah jiwanya dicabut—seolah identitasnya dirampas—bayangan menjijikkan muncul di kepalanya seolah keberadaan dirinya dihancurkan, diratakan, dan disebarkan begitu tipis hingga tak bisa lagi disebut dirinya sendiri. Dia tidak sadar bahwa dia begitu terikat pada teknik itu.

Begitu game selesai, Awahime langsung mendesak Shiro. Ada orang bukan <Mikkai> yang memakai teknik berjalanku. Apa maksudnya itu.

"Aah... Soal itu ya," jawabnya dengan santai.

"Teknik berjalan itu, sengaja kuputuskan untuk disebarkan. Demi meningkatkan ketenaran <Mikkai> dan mendapatkan anggota lebih banyak... Itu akan lebih menguntungkan kita dalam jangka panjang, kan?"

Awahime mengungkit soal janji. Seharusnya janjinya hanya diajarkan pada orang <Mikkai>.

Menanggapi itu, wajah Shiro berubah menjadi bengong. Dengan sikap seolah dia benar-benar lupa sampai detik ini, dia menjawab.

"Emang iya ya?"

Setelah itu, Awahime tidak ingat apa yang dia bicarakan. Tapi, dia ingat dia mengamuk sejadi-jadinya. Kalau dipikir sekarang, itu langkah buruk. Kalau dia mendesak dengan tenang, setidaknya dia bisa memancing kata maaf. Mungkin ada sedikit ganti rugi. Menyerang dengan membabi buta membuat sikap Shiro mengeras. Dari <Diskusi> antar manusia, misinya berubah menjadi <Pembasmian Monster>. Gara-gara itu negosiasi jadi rumit dan semakin rumit, hingga sampai pada kondisi sekarang.

Wajah bengong Shiro itu, masih diingat Awahime sampai sekarang.

Kalau tahu begitu mending kujotos saja, pikirnya. Saking marahnya, pilihan itu malah tidak terpikirkan. Seolah melampiaskan penyesalan, di dalam imajinasinya, Awahime membunuh Shiro yang berwajah itu ratusan kali. Takkan kumaafkan. Karena telah merenggut hidupku. Kubunuh di dalam kepala. Dengan segala macam cara, lagi, lagi, lagi, dan lagi──

Wajah itu, berubah menjadi wajah pria Jangkung.

(28/42)

Wajah pria Jangkung itu ditembus peluru.

Pria itu tumbang. Lubang masuk dan lubang keluar peluru—total dua lubang menumpahkan darah, menyipratkannya ke lantai beton. Sosok itu ditatap Awahime dengan dingin.

Itu di luar apartemen. Di tempat parkir kecil yang disediakan di belakang bangunan. Dia sampai di sini saat bertarung dengan dua pria tadi, dan pertarungan itu baru saja berakhir. Bukan hanya pria Jangkung, pria Besar juga mati tertembak di wajah di sebelahnya. Pria Pendek juga mati di gang sempit tadi. Bahwa dia sudah membunuh ketiga-tiganya—bahwa hawa membunuh sudah hilang dari sekitar, Awahime memastikannya.

"──Hebat."

Saat itu, ada suara yang menyapa Awahime.

Entah sejak kapan, Yuuki ada di dekatnya.

"......Kapan datangnya."

Pertanyaan yang sama persis itu dilemparkan Awahime.

"Menghilangkan hawa keberadaan itu aku jago lho. Meski nggak sejago kamu," kata Yuuki.

Dia mendekati pria Jangkung, dan melakukan pemeriksaan badan. Awahime memeriksa yang satu lagi—yaitu pria Besar. Yang mendapat <Hadiah> adalah Yuuki. Dari saku dalam jas yang dipakai pria Jangkung, keluar alat dengan antena berdiri tegak yang mengingatkan pada gaya punk, dan saat Yuuki mengotak-atiknya, sinyal ponsel Awahime pulih.

"Nyambung," kata Awahime.

"Syukurlah."

Jawab Yuuki, lalu dia sendiri mengeluarkan ponsel. Melihat pemandangan mengerikan di sekitar, "Aku akan hubungi agenku, boleh kan?" katanya.

"Soalnya harus minta dibereskan..."

"Ya. Kuserahkan padamu," jawab Awahime.

Soal penghilangan bukti, lebih baik diserahkan pada agen Yuuki. Di sini juga ada tempat yang harus ditelepon. Awahime membuka riwayat panggilan ponsel, menekan nomor paling atas, dan mencoba menghubungi Shiro──

Itulah momen paling bodoh bagi Awahime malam ini.

(29/42)

Di kamar 101.

Enchou membaca bahwa hawa membunuh telah menghilang.

(30/42)

Saat ini, Enchou berada di kamar 101.

Di dalam kamar, dia melindungi Ramona dan Ibu Kos.

Meskipun begitu, tidak pernah ada bahaya yang mendekat. Mungkin berkat Yuuki. Dari suara yang terdengar dari luar kamar, Enchou memahami situasi secara garis besar. Yuuki bertarung dengan tiga pria yang menerobos masuk ke apartemen—dan menang. Bisa diperkirakan menang karena hawa membunuh telah hilang dari sekitar apartemen. Itu berarti pembunuh bayaran sudah musnah, dan Yuuki menang.

Setelah itu, Enchou memastikan sinyal ponsel pulih. Mungkin pengacau sinyalnya dimatikan atau dihancurkan. Dengan ini bisa menelepon polisi—tapi, sekarang, melapor tidaklah diinginkan. Karena Yuuki diperkirakan telah membunuh para pembunuh bayaran itu. Maka Enchou menghubungi supporter-nya sendiri—mitra yang selalu membantunya dalam pekerjaan—sebagai gantinya.

Sambil melakukan itu, Enchou menajamkan sarafnya.

Dengan ini setidaknya, berkurang tiga orang.

Tapi, tidak boleh lengah—karena pembunuh bayaran masih tersisa lebih dari setengah.

(31/42)

Ya.

Benar sekali.

Saat ini, di Tochinoki-sou, yang memiliki pemahaman benar hanyalah Enchou—bahwa total pria itu ada sepuluh orang. Tiga mobil masing-masing berisi tiga, tiga, dan empat orang, mengejar Awahime dan datang ke apartemen ini. Satu di antaranya dibuat pingsan oleh Enchou, dan tiga orang lagi dibunuh oleh Awahime, jadi saat ini ada enam orang yang masih sehat. Enam orang ini adalah <Pengawas> yang bertugas melakukan pemulihan jika target melarikan diri. Mereka tidak langsung menerobos ke apartemen, melainkan bersembunyi dengan menekan hawa keberadaan semaksimal mungkin di sekitarnya. Karena tidak ada hawa keberadaan, tentu saja mereka juga tidak memancarkan niat membunuh—baik Yuuki maupun Awahime tidak bisa menyadari keberadaan mereka. Mereka salah mengira bahwa tiga orang Besar-Pendek-Jangkung itu adalah seluruh tim pembunuh bayaran.

──Terlebih lagi.

Ini adalah hal yang bahkan Enchou tidak tahu, tim yang dibentuk untuk pembunuhan Awahime bukan hanya sepuluh orang ini.

Di gedung serbaguna yang jauh dari apartemen—di atapnya, ada dua pria lagi yang bersiap.

Satu orang mengawasi apartemen dengan teropong, dan satu lagi dengan scope senapan runduk (sniper).

Senapan runduk—benda semacam itu tidak akan mereka bawa dalam pekerjaan biasa. Bagi para pria itu, itu adalah benda tak berguna. Bertentangan dengan filosofi <Pekerjaan Cepat>. Memilih lokasi penembakan, membidik dengan hati-hati, menekan pelatuk—semuanya adalah pekerjaan yang sangat merepotkan bagi para pria itu.

Alasan mereka tetap menyiapkan tim penembak jitu adalah karena target kali ini memiliki skill khusus. Dari klien, Shiro, mereka sudah mendengar tentang kemampuannya. Pemain game pembunuhan, dan kemampuan membaca niat membunuhnya tajam. Terlebih lagi, memiliki skill khusus untuk menghapus hawa keberadaannya sendiri. Tiba-tiba menghilang tanpa tanda, atau entah kenapa tidak bisa disadari padahal berjalan di depan mata—saat mendengar cerita seperti itu dari Shiro mereka sulit percaya, tapi untuk jaga-jaga, mereka memutuskan untuk mengambil langkah antisipasi. Menyiapkan tim penembak jitu, dan menembak dari jarak jauh di mana membaca atau menghapus hawa keberadaan tidak akan mempan.

Hasilnya, persiapan itu membuahkan hasil—mungkin begitulah kesimpulannya.

Pria penembak jitu menangkap sosok target yang keluar ke tempat parkir apartemen.

Dia menekan pelatuk senapan.

──Yang bisa menyadari fakta itu lebih dulu, adalah Yuuki.

(32/42)

Di tempat parkir apartemen.

Yang bisa menyadari fakta itu lebih dulu, adalah Yuuki.

Lebih cepat dari peluru, lebih cepat dari suara tembakan, bahkan lebih cepat dari kilatan muzzle flash──<Hawa Membunuh> yang kuat yang dikirimkan bak telepati, memberikan kekuatan pada tubuh Yuuki. Akan ditembak, intuitifnya berkata.

Bersamaan dengan intuisi, aliran waktu menjadi lambat. Hal yang biasa terjadi. Otak yang telah ditempa habis-habisan sebagai pemain, meningkatkan kemampuan pemrosesan sementara dalam situasi ekstrem. Seolah berenang dalam cairan kental—seolah waktu yang melambat melekat di kulit—di dalam sensasi itu, Yuuki bergerak. Hampir tidak ada yang bisa dilakukan. Dilihat dari arah hawa membunuh, muncul prediksi bahwa akan ada <Sniper> dari gedung jauh, jadi menggeser posisi seluruh bagian tubuh dari tangan, kaki, badan, hingga kepala agar lolos dari garis tembak, adalah hal maksimal yang bisa dilakukan Yuuki.

Saat itu, secara kebetulan, pandangan Yuuki mengarah ke Awahime. Dia juga sepertinya merasakan pertanda dan mengambil tindakan menghindar, tapi sayangnya itu terlambat satu tempo dibandingkan Yuuki. Yuuki, maaf saja, setengah sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi sesaat lagi, dan menggerakkan mata kirinya dengan tajam untuk memperhatikan kepala Awahime.

Gumpalan putih lembut, meledak.

(33/42)

Aliran waktu kembali.

Awahime roboh ke tanah.

"......Kh...!!"

Ketakutan yang membabi buta menyerang Yuuki seolah saraf perasanya dipukul dengan batu.

Tindakan Yuuki dari sana sangat tepat. Yuuki yang memperbaiki posturnya yang agak goyah karena tindakan menghindar, berlari sekuat tenaga menghampiri Awahime—hal semacam itu tidak dilakukannya. Itu sia-sia. Soalnya, kepalanya tertembak. Tidak mungkin selamat. Jadi yang bisa dilakukan Yuuki hanyalah tidak mengulangi nasib yang sama—karena itu dia berlari cepat, membuka pintu belakang yang menghubungkan tempat parkir ke apartemen, dan menyembunyikan diri di dalam ruangan, tetapi saat menoleh ke arah tempat parkir ketika hendak menutup pintu, dia mengetahui bahwa persepsinya salah.

Awahime, berdiri.

Sambil menumpahkan gumpalan putih lembut dari kepalanya—dia berlari ke arah sini.

Benda seperti kapas putih ini adalah darah yang berubah. Modifikasi tubuh yang diberikan secara luas kepada pemain—lewat <Proses Pengawetan> (Anti-Decay), darah yang bersentuhan dengan udara berubah menjadi gumpalan putih lembut. Dengan itu luka tertutup, pendarahan berhenti, dan biasanya bisa selamat dari cedera fatal sekalipun—tapi, itu otak lho? Apakah bisa tetap hidup? Tidak—atau sebenarnya peluru tidak mengenai langsung, hanya menyerempet permukaannya saja? Apapun itu Yuuki membiarkan Awahime masuk ke apartemen dan menutup pintu. Pintu itu terbuat dari baja tipis, bukan benda yang cukup kokoh untuk menahan peluru, jadi Yuuki dan Awahime pindah lebih jauh ke dalam bangunan.

"A, gu..."

Awahime mengeluarkan erangan yang tidak berbentuk kata-kata.

Melihat dari dekat semakin jelas—kepalanya terluka. Bukan sekadar menyerempet. Jumlah gumpalan putih lembut yang meluap jelas banyak, dan baik dari ekspresi maupun kata-kata Awahime, terlihat tanda-tanda kerusakan otak.

Yuuki tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan untuk menyapa "Kamu nggak apa-apa?" pun dia ragu. Dilihat dari mana pun tidak tidak apa-apa, dan bahkan untuk menjawab <Nggak apa-apa> pun, bagi Awahime sekarang pasti sangat sulit. Dia tidak ingin memberikan beban seperti itu.

Setelah waktu singkat yang entah bisa disebut <Ragu> atau tidak—Yuuki mengeluarkan ponsel. Menyampaikan permintaan tambahan pada agen untuk menyiapkan rumah sakit. Dia menekan nomor paling atas dari riwayat panggilan dan menempelkan ponsel ke telinga.

"──Di, a."

Sebelum telepon itu tersambung, Awahime mencengkeramnya.

"Dia, dia, di, dia itu."

"A, apa?" jawab Yuuki dengan bingung.

"Dia itu──jangan percaya."

Wajah Awahime tidak terlihat. Dia mencengkeram dengan posisi membenamkan wajah ke dada Yuuki, dan dari sisi Yuuki hanya terlihat kepala yang tertutup gumpalan putih lembut. Dalam posisi itu Awahime berkata.

"Dia, menipuku. Kamu juga bakal ditipu..."

Dia berkata lagi.

"Dirampas. Aku. Kalau percaya dia, kamu juga bakal begitu..."

Setelah kata-kata itu, napas yang menerpa dada menghilang.

Dia tidak merasakan hembusan napas lagi dari Awahime. Tidak merasakan kekuatan cengkeraman lagi. Tidak merasakan denyut nadi lagi. Yuuki bergerak sedikit, dan mengguncang tubuh Awahime.

"Awahime-san?"

(34/42)

Telepon Shiro tersambung.

(35/42)

Itu di dalam mobil yang dikemudikan agen Shiro.

Meminta agen mengeluarkan mobil, mereka sedang menuju apartemen tempat tinggal Yuuki. Selama itu juga, Shiro terus menelepon kelompok pembunuh bayaran. Dan—pada tahap apartemen sudah di depan mata, akhirnya telepon tersambung.

"Ya."

Hanya dengan dua huruf itu (dalam bahasa Jepang) lawan bicara menjawab dengan suara yang terdengar kasar.

"Ini Shiro," beritahunya singkat.

"Ooh, Bos Shiro. Ada apa nih?"

"Saya batalkan permintaannya. Segera hentikan tindakan kalian."

"Hah...? Maksudnya gimana?"

"Gawat kalau dieksekusi di sana. Di sana bukan rumah target. Itu..." Shiro bingung memilih kata, "......Rumah kenalan pemain saya. Saya tidak ingin merepotkan dia. Jadi tolong batalkan."

"Hah. Tapi ya Bos, dibilang berhenti pun, harusnya bilang lebih cepet dong. Udah telat nih."

"Kalian yang tidak angkat telepon, kan."

"Hehe, iya juga ya. Habis sinyal dimatiin sih," pria itu tertawa, "Pokoknya gitu deh, Bos. Dibilang berhenti juga nggak bisa. Udah kejadian soalnya."

"Kalian membunuhnya?"

"Nggak tahu ya... gimana tuh. Mungkin belum mati sih."

"Yang mana yang benar."

"Gini lho, tadi menurut penembak jitu, kepalanya kena tembak sih kena. Cuma, kayaknya abis itu masih gerak... Apa ya namanya itu. Eeeto, Pengawet apa gitu..."

"Maksudnya <Proses Pengawetan>?"

Jawab Shiro. Soal itu sudah diberitahukan sebelumnya. "Ah, iya itu," jawab pria itu.

"Mungkin berkat itu, kayaknya masih hidup. Dia lari kabur ke dalem apartemen. Kami nggak tahu apakah sekarang dia masih hidup atau nggak. Jadi gitu deh... Bos, mau dibatalin sekarang juga? Udah bikin ribut banget di apartemen sih, kayaknya udah nggak ngaruh mau ngerepotin atau nggak."

"Mundur," kata Shiro. "Pemberesan akan kami lakukan dari sini. Soal biaya permintaan... begini saja, kalau dia mati saya bayar penuh, kalau tidak mati pun saya bayar setengah. Bagaimana?"

"Waduh Bos, kalau setengah sih repot kita. Soalnya udah pake orang sama peluru—"

Tanpa mendengar sampai akhir, Shiro menutup telepon.

Lalu, mengarahkan pandangan ke samping. Shiro duduk di kursi belakang mobil, dan di sebelahnya ada Kokone. "Kokone-san, pinjamkan ponselmu," kata Shiro.

"......Anda mau menelepon Yuuki-san?" tanya Kokone.

"Adakah alasan selain itu?"

Kokone tidak mengatakan apa-apa lagi, membuka kunci ponsel dan menyerahkannya pada Shiro. Dengan segera dia menelepon Yuuki, dan menempelkan ponsel ke telinga.

(36/42)

Ponsel Yuuki bergetar.

Tidak ada nada dering. Karena situasinya begini, dia mengaturnya ke mode getar. Yuuki mengangkat telepon masih dalam posisi dicengkeram Awahime. Terdengar salam "Selamat malam" dari Shiro.

"......Ada perlu apa, jam segini."

"Maafkan saya telah merepotkan Anda kali ini."

"Ngomong apa sih?"

"Saya bicara tentang kejadian yang baru saja menyeret Yuuki-san. ......Saya sudah menarik tim pembunuh bayaran itu. Keselamatan Yuuki-san tidak akan terancam lagi mulai sekarang. Apakah Anda sekarang ada di dekat rumah?"

"Ya."

"Syukurlah. Saya juga sekarang sudah sampai di dekat apartemen. Begitu sampai, saya ingin bertemu langsung dan menjelaskan tentang kejadian kali ini. Saya ingin bertemu di depan apartemen, apakah tidak masalah?"

"Ya. Aku tunggu—"

Saat Yuuki hendak menjawab begitu, dia mendengar suara mobil berhenti.

Sepertinya tidak perlu menunggu lagi. Yuuki membaringkan Awahime yang sudah diam itu pelan-pelan di tempat, lalu keluar dari apartemen. Sambil waspada terhadap sniper dia mengintip sekitar, dan melihat sebuah mobil hitam berhenti di jalan. Pintu kursi belakang terbuka, dan Shiro turun.

"Maaf mengganggu malam-malam begini," kata Shiro.

"Nggak... kayaknya ini udah bukan level 'mengganggu' lagi deh..."

"Tidak," kata Yuuki dengan tegas.

"Jangan bawa-bawa keributan internal kalian ke sini."

"......Melihat sikap Anda, sepertinya Anda sudah tahu rinciannya. Apakah Anda sudah bertemu Awahime-san?"

"Sudah."

"Dia sekarang ada di mana?"

"Mati."

Yuuki mengedikkan dagu menunjuk lorong apartemen. Meskipun dari sini sosok Awahime tidak terlihat.

"Mungkin, lho ya. Aku sudah menghubungi rumah sakit manajemen lewat agen. Mati atau hidup bakal ketahuan di sana."

"Anda dengar apa dari dia?"

"Katanya mau <menjelaskan>. Kenapa malah aku yang ditanya-tanya terus."

"Maafkan saya."

Kata Shiro. Permintaan maaf yang terlihat hanya formalitas.

Setelah itu, Shiro membuat hening sejenak. Artinya cuma satu dari dua hal. Hening karena memikirkan urutan cerita, atau hening karena sedang mengarang cerita. Akhirnya, "Begini ya..." Shiro membuka pembicaraan.

"Sepertinya dia mencoba menghubungi Yuuki-san. Dia mungkin bermaksud meniupkan rumor bohong yang tidak-tidak pada Anda, dan berencana menggagalkan transaksi saya dan Yuuki-san."

"Rumor bohong?"

"Ya. Belakangan ini dia terjangkit waham penganiayaan (paranoia)... Dia merasa tekniknya dicuri oleh <Mikkai>. Teknik berjalan yang saya ceritakan tempo hari itu—sumber aslinya adalah skill Awahime-san. Tentu saja, tidak ada fakta pencurian, kami mendapat penyediaan teknik setelah mendapat persetujuan sebelumnya, tapi entah kenapa di dalam kepalanya itu menjadi <Dicuri>. Lalu, dia menuntut ganti rugi pada <Mikkai>."

Shiro melanjutkan tanpa tersendat.

"Kalau bicara jumlah konkretnya, tiga ratus juta. Katanya, karena saya <Telah merenggut hidupnya>. Mungkin dia menghitungnya dari gaji seumur hidup di negara ini... tapi bagi kami, tidak ada alasan maupun kewajiban untuk membayar. Saya menolaknya dengan tegas. Dan, dia yang kesal karena negosiasi tidak berjalan lancar, terpikir untuk menghubungi Yuuki-san... begitulah ceritanya. Apa yang sebenarnya dia pikirkan, saya tidak tahu pastinya. Apakah dia berharap negosiasi akan lancar jika mendekati Yuuki-san yang merupakan orang terpenting bagi kami... atau dia berniat meniupkan hal yang tidak-tidak untuk merusak kepercayaan terhadap <Mikkai>... atau mungkin dia berniat membunuh Yuuki-san sebagai bentuk gangguan pada <Mikkai>. Bagaimanapun, saya sama sekali tidak menyangka dia akan mengambil tindakan seperti itu. Karenanya Yuuki-san jadi terseret. Saya benar-benar minta maaf atas kejadian ini."

Shiro menundukkan kepala pada Yuuki. Kepala itu, meski menunduk, masih lebih tinggi dari Yuuki.

Yuuki menelaah cerita Shiro. Karena Yuuki tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia hanya bisa bicara soal kesan—tapi dia merasa, agak mencurigakan. Terasa ada hawa pemutarbalikan fakta yang khas dari orang yang pandai bicara. Setidaknya ada satu bagian pemutarbalikan besar yang terlihat. Bagian tentang melepaskan pembunuh bayaran ke arah Awahime—dalam cerita Shiro, disamarkan dengan santai.

Tanpa menunggu respon Yuuki, Shiro mengangkat kepala.

"Yah ampun, saya benar-benar dibuat repot olehnya," katanya.

"Orang yang punya teknik itu memang cenderung nyentrik ya... Tapi dia luar biasa parah. Bukan manusia yang bisa hidup dalam kelompok. Apa sih yang dipikirkan orang suram seperti itu? Apa yang harus dilakukan sampai bisa memutarbalikkan fakta seperti itu? ......Yah, pokoknya, saya tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi. Mohon kerjasamanya mulai sekarang."

Yuuki memejamkan mata.

Mengingat kembali kata-kata terakhir Awahime sekali lagi.

Dia, menipuku. Kamu juga bakal ditipu──.

<Dia> itu pasti Shiro. Apakah kata-kata bahwa Awahime <Ditipu> dan <Dirampas> itu kebenaran atau delusi, Yuuki tidak tahu. Dari posisi Yuuki, tidak ada cara untuk mengetahuinya.

Tapi—itu tersampaikan. Hal semacam ini, bisa tersampaikan. Sebelumnya juga ada beberapa kesempatan. Kata-kata yang dilontarkan dengan mengikis jiwa, kata-kata yang keluar dari lubuk hati terdalam, Yuuki secara alami bisa membacanya. Mungkin karena dirinya yang kurang hidup ini merindukan hal-hal semacam itu. Bahwa gadis bernama Awahime itu telah mempersembahkan sesuatu, lalu menerima pengkhianatan yang kejam, hal itu tersampaikan tanpa perlu mencari bukti.

"Shiro," kata Yuuki.

"Ya."

"Soal <itu> malam ini, maaf ya."

"Ya?"

"Itu lho, padahal udah dijelasin macem-macem soal <Hak Istimewa>, tapi aku malah menunda masuk <Mikkai>. Soal itu."

"Aah..." Shiro menjawab dengan tampak paham. "Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Tapi kenapa bicara soal itu?"

"Aku sendiri juga heran, lho. Kenapa aku enggan ya. Waktu ketemu tempo hari juga, aku merasa agak aneh... Baik soal cerita <Hak Istimewa>, maupun penyediaan paket pendidikan, padahal itu cuma menguntungkan buatku, tapi aku merasa nggak mau menerimanya. Entah kenapa ada kesan nggak mau menyentuhnya. Itu aneh banget rasanya."

"Hah."

"Tapi, akhirnya aku tahu alasannya."

Yuuki menatap mata Shiro, dan berkata.

"Aku, benci sama kamu."

(37/42)

Yuuki memperhatikan dengan seksama agar tidak melewatkan perubahan sekecil apa pun di ekspresi Shiro.

Namun, tidak ada perubahan. Apakah itu berarti tidak ada keguncangan—atau dia terguncang tapi menutupinya dengan sempurna. Yang mana pun itu, kata-kata yang harus dilanjutkan Yuuki tetap sama.

"Sorry ya. Udah jauh-jauh datang, malah dibilangin gini."

Yuuki meletakkan tangan di dadanya sendiri.

"Tapi, ini isi hatiku. Aku tahu identitas perasaan ini. Aku benci kamu, tahu."

Kalau dipikir-pikir, mungkin ini pertama kalinya dia membenci orang. Dalam hidupnya selama ini, Yuuki yang hanya memiliki hubungan antarmanusia yang tipis, tidak pernah menyukai seseorang secara istimewa, juga tidak pernah membencinya. Perasaan seperti ini baru baginya. Karena terlalu tidak terbiasa, butuh waktu selama ini untuk mengetahui identitasnya.

"Setiap kata yang kamu ucapkan aku nggak suka. Setiap tingkah lakumu nggak bisa aku terima. Aku nggak mau terlibat sama kamu lagi selamanya. Aku mau kamu ada di dunia yang nggak ada hubungannya sama aku. Ini bukan soal untung rugi di permukaan, tapi secara fisiologis aku nggak bisa. Instingku bilang aku nggak boleh terlibat."

Tanpa menunggu jawaban Shiro, Yuuki melanjutkan kata-katanya.

"Makanya, aku nggak akan gabung sama kamu. Percuma kamu pakai segala tipu muslihat. Soalnya aku benci kamu. Bawa oleh-oleh apa pun percuma. Saat itu tersentuh tanganmu, bagiku itu jadi nggak menarik lagi. Bagaimanapun aku nggak akan gabung sama kamu. Meskipun aku bisa menyambut <Waktu yang Pantas>, aku nggak akan panggil kamu. ......Padahal udah diajarin macem-macem sih, tapi aku sarankan kamu pilih orang lain buat rencanamu."

Baru sampai di situ Yuuki bicara, dia mendengar suara mobil berhenti.

Di dekat apartemen, satu mobil lagi berhenti. Bukan mobil hitam—melainkan ambulans putih bersih, tapi tidak salah lagi itu dikirim dari rumah sakit yang berafiliasi dengan manajemen. Dari mobil yang datang diam-diam tanpa menyalakan sirine itu, turun beberapa orang. Salah satunya adalah agen Yuuki.

"Yuuki-san. Pemain yang terluka itu──"

Mendengar kata-kata agen, Yuuki menunjuk ke arah lorong. Setelah melihat agen dan beberapa staf masuk ke apartemen, Yuuki kembali menatap Shiro.

"Ya udah, jadi gitu ya," katanya.

"Selamat tinggal. Semoga kita nggak ketemu lagi."

(38/42)

Malam semakin larut, dan fajar menyingsing.

(39/42)

Sama seperti saat berangkat, Shiro pulang naik mobil agen.

Dia tidak ingat betul kejadian selama itu. Pikirannya tidak bisa fokus. Apakah dia syok, atau sedih, dia sendiri tidak tahu. Dia bahkan tidak tahu kondisi hatinya sendiri. Saat sadar dia sudah sampai rumah, kembali ke kamar, menghempaskan diri ke kasur yang sudah disiapkan Kokone, dan memejamkan mata.

Tapi, dia tidak bisa jatuh tertidur. Dia tersiksa oleh sensasi menjijikkan seolah otaknya diaduk-aduk sehingga tidak bisa tidur. Apakah benar dia syok. Tidak tahu. Shiro terus menekan tubuhnya ke kasur untuk beberapa saat, tapi karena tetap tidak bisa tidur, dia terpikir untuk jalan-jalan sebentar.

Saat keluar, langit sudah mulai memutih. Sudah subuh. Sudah selama itu ya waktunya berlalu, pikir Shiro. Apakah dia berbaring di kasur lebih lama dari yang dikira—atau dia merasa tidak tidur, tapi sebenarnya ada waktu di mana dia terlelap. Bagaimanapun, ini subuh. Waktu yang paling nyaman dalam satu hari, Shiro menggunakannya untuk berjalan-jalan di sekitar rumah.

Saat itulah.

"──Sepertinya kau sedang kacau ya, keturunanku."

Dia terlambat menyadari bahwa suara itu ditujukan padanya. Karena dia sedang melamun.

Dia juga terlambat menyadari bahwa itu suaranya. Karena pertemuan ini sudah cukup lama—sekitar satu tahun jika dihitung waktu—tidak terjadi.

Shiro menoleh. Tepat di trotoar yang sedang dilewati Shiro, di titik yang baru saja dilewati Shiro beberapa detik lalu, ada seorang anak. Penampilan yang dulunya berada di antara anak SD dan SMP, kini telah tumbuh hingga bisa dipastikan sebagai anak SMP. Tingginya bertambah, tubuhnya membesar, dan jakunnya mulai terlihat. Sebagai pertumbuhan satu tahun anak dalam masa pertumbuhan, itu pertumbuhan yang sehat. Hanya saja, suasana androgini dan aura berpengalaman yang tidak seperti anak-anak, masih tetap sama.

"......Kuryu."

Nama anak itu diucapkan Shiro.

"Ya, Kuryu. Lama tidak bertemu, keturunanku."

"Kenapa ada di sini?"

"Pergerakan pemain sih selalu kupantau," jawab Kuryu. "Terutama—saat pemain saling berselisih di luar game."

Ketegangan menjalar di diri Shiro. Seharusnya tidak tampak di wajah, tapi "Tenang saja," kata Kuryu.

"Soal itu, pihak manajemen tidak berniat ikut campur. Di luar game, kalian bebas. Selama tidak melakukan hal yang mengancam keberlangsungan kami. ......Makanya, aku datang cuma karena penasaran saja."

Kuryu duduk di pagar pembatas trotoar.

"Sepertinya jadi gawat ya. Apakah rencananya mau mendompleng pemain bernama Yuuki itu? Kalau begitu, bisa dibilang kau salah langkah."

"......Saya tahu," jawab Shiro sambil memilah kata-kata selanjutnya. Karena dia tidak bisa menilai sejauh mana Kuryu tahu masalahnya.

"Tapi, ini kecelakaan. Saya tidak tahu Awahime menuju tempat Yuuki-san. Terseretnya dia itu adalah hasil dari situasi."

"Apa benar begitu? Aku nggak tahu detailnya sih... Tapi dari kesan yang kulihat, bukannya memang mustahil merayu pemain bernama Yuuki itu? Sepertinya dia tidak suka dengan manusia sepertimu, tuh."

"…………"

"Wajar sih," Kuryu menggelengkan kepala seolah berkata 'yare-yare'. "Soalnya, kau itu rakusnya kelihatan banget sih──meski mengucapkan kata-kata manis di telinga, sebenarnya kelihatan banget ideologi 'asal aku senang'. Tercium bau binatang buas yang tidak segan menginjak orang lain demi nafsu sendiri. Sisi gelapmu sama sekali nggak tertutupi. Manusia kelas satu itu peka sama yang begitu."

Di situ Kuryu tertawa "Heh" seolah teringat sesuatu.

"Ngomong-ngomong kau ini—aku dengar sekilas sih, katanya kau juga gagal menaklukkan <Guru> ya?"

Saat itu, Shiro.

Merasakan sesuatu yang mirip rasa malu—hal yang jarang baginya. Perasaan seolah titik lemahnya ditusuk, seolah hal yang tak ingin dikatakan malah dikatakan. Tentu saja, itu hanya kiasan, Shiro tidak mengakuinya karena tidak mungkin dia punya perasaan seperti itu. Dia juga tidak menunjukkannya di wajah.

"Harusnya saat kegagalan itu, kau belajar dengan benar," kata Kuryu.

"Bahwa ada lawan yang tidak mempan dengan caramu. ......Yah, pokoknya, kau sudah membuat dia marah. Rencanamu jadi sia-sia, lalu mau bagaimana? Kalau begini terus tidak akan jadi seperti yang kau mau. <Hak Istimewa> bakal jadi miliknya, dan kau sama sekali tidak dapat untung."

"──Tidak."

Shiro menjawab.

Tanpa sadar, Shiro sudah kembali normal. Mungkin karena kata-kata Kuryu.

"Tidak akan begitu. Kalau dia tidak bisa dipakai, tinggal pakai orang lain. Masih banyak cara. Yang mendapatkan <Hak Istimewa> adalah saya. Yang akan menjadi penerus Anda adalah—saya ini. Sama sekali bukan dia."

"Begitu ya."

Kata Kuryu.

"Kalau begitu, aku tetap berharap padamu. Keturunanku."

(40/42)

Sedikit sebelum waktu itu.

Yuuki sedang berpikir.

(41/42)

Pekerjaan para staf yang datang ke apartemen sungguh cekatan.

Dalam sekejap mereka menaikkan Awahime ke tandu, memasukkannya ke ambulans, dan pergi. Selama serangkaian pekerjaan itu—dan selama suara mesin mobil menjauh, Yuuki berpikir. Tentang hal yang tidak sedikit hubungannya dengan kejadian kali ini—tentang <Hak Istimewa>.

Malam ini, saat menelepon Shiro, dia diberitahu identitasnya. Hak Istimewa pencapaian 99 kali clear—itu adalah jenis hal yang kalau didengar orang akan berpikir <Oalah, itu toh>. Bahkan bisa dibilang klise.

Singkatnya, posisi manajer umum (General Manager) dari pihak manajemen.

<Manajemen> game pembunuhan. Yuuki tahu betul betapa besarnya kekuatan itu. Memiliki dana dan organisasi yang cukup untuk mengatur game berskala besar, memiliki banyak <Penonton> yang royal membayar, memiliki teknologi terdepan sains modern yang diwakili oleh <Proses Pengawetan>, dan juga kemampuan eksekusi untuk segera membasmi kekuatan perlawanan jika muncul. Mereka juga memiliki kontinuitas untuk terus beraktivitas selama puluhan tahun tanpa mempublikasikan semua kegiatan itu.

Seluruh <Manajemen> itu—organisasi yang bisa disebut raja dunia bawah—akan menjadi miliknya. Berapa estimasi nilainya? Setidaknya, jauh lebih mahal dari satu nyawa manusia. Imbalan yang pantas untuk mempertaruhkan nyawa.

Meskipun begitu—jujur saja.

Bagi Yuuki, itu bukan imbalan yang terlalu menggetarkan hati. Yuuki tidak tertarik pada uang maupun kekuasaan. Angka 99 itu sendiri jauh lebih berat. Saat mendengar fakta tentang <Hak Istimewa> dari Shiro, Yuuki dalam hati merasa lega. Karena dia tidak merasakan apa-apa. Keberadaan <Hak Istimewa> tidak membiaskan atau merusak hati Yuuki. Dia berpikir itu hanya bonus yang menyertai tujuan 99 kali.

Tapi—ada manusia yang mengincarnya dengan serius. Shiro. Pemain dengan rambut seperti serigala. Wanita yang dari penampilannya saja sudah terlihat memiliki hasrat kuat itu, masuk akal jika dia sangat tertarik pada <Hak Istimewa> tersebut. Dan, demi itu, dia tidak segan mengirim pembunuh bayaran pada mantan rekannya, bahkan membunuhnya.

Kepada Shiro yang seperti itu, Yuuki menyatakan permusuhan.

Fakta itu, sebenarnya, apa artinya?

"......Apa begini sudah benar ya..."

Gumam Yuuki.

Dalam kejadian ini, Yuuki jadi <Membuat Musuh>. Hal yang jarang bagi dirinya. Tidak berteman akrab secara khusus dengan siapa pun, juga tidak bermusuhan, dengan sikap seperti itulah Yuuki menjadi pemain selama bertahun-tahun. Membuat musuh secara sadar—seperti kasus si Nona waktu itu—hanya dilakukannya segelintir kali. Padahal kerusakan tubuhnya sudah menumpuk dan situasinya gawat, melakukan tindakan seperti itu terasa seperti langkah buruk.

Tapi, dia merasa harus melakukannya.

Insting Yuuki berkata bahwa dia harus menjauhkan orang itu.

Bagaimanapun, ludah yang sudah dibuang tidak bisa dijilat kembali. Dia harus merespon situasi ini. Yuuki menelepon agen yang seharusnya sekarang sedang berada di ambulans.

Saat telepon tersambung, "Ah, halo, Agen-san──" dia menyampaikan keperluannya.

"Ada yang mau aku minta tolong nih. Bisa dengerin nggak?"

(42/42)

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar