Featured Image

Shiboyugi V8 Chapter 2

Metoya Februari 05, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

2. Mossy Grove (The 73rd Time)








(0/39)

Yuki berhasil menyelesaikan "Mobius Kitchen".

Ini adalah game dengan tema pertarungan memasak. Para Player mengenakan kostum koki, mengerahkan seluruh kemampuan mereka, dan memasak dalam batas waktu yang ditentukan. Masakan itu kemudian dimakan oleh "Anak-anak" yang berperan sebagai juri—mereka adalah staf manajemen yang juga muncul saat "Halloween Night"—dan dilakukan pemungutan suara. Tiga puluh persen terbawah dengan penilaian terendah akan mengalami Game Over.

Meskipun Yuki menjalani hidup yang jauh dari kata masak-memasak, untungnya game ini bukan pertarungan individu melainkan pertarungan tim beranggotakan tiga orang. Ada fase persiapan di mana tim saling berebut untuk mengambil bahan makanan, sehingga ada kesempatan bagi Yuki untuk beraksi. Ia menyingkirkan Player dari tim lain dengan kekuatan fisik, mendapatkan bahan makanan berkualitas dalam jumlah besar untuk dimasak—sebuah tindakan tanpa ampun yang jika di manga masak-memasak pasti merupakan perilaku peran penjahat. Yuki berhasil lolos dari game ini.

Yuki berhasil menyelesaikan "Hazard Plant".

Ini adalah game tipe melarikan diri yang ortodoks, di mana Player harus keluar dari pabrik yang penuh dengan jebakan. Namun, ciri khasnya adalah seluruh fasilitas dipenuhi dengan bahan kimia berbahaya, sehingga semua Player mengenakan pakaian pelindung. Pakaian itu kaku dan sulit digerakkan, sehingga, misalnya, ketika ada jebakan anak panah yang melesat, sulit untuk menghindar dengan cepat. Selain itu, Player harus bermain sambil berhati-hati agar pakaian pelindung tidak rusak, bukan hanya tubuh mereka sendiri. Game ini menuntut pola pikir yang sangat berbeda dari tipe melarikan diri biasanya, tetapi itu bukan game yang cukup ganas untuk mengancam Yuki saat ini, dan ia berhasil lolos tanpa masalah besar.

Yuki berhasil menyelesaikan "White Shark".

Panggungnya berada di atas kapal yang terombang-ambing. Di laut sekitarnya, bersembunyi hiu raksasa dan ganas yang berencana menghancurkan kapal serta memakan para korban yang hanyut—yaitu para Player. Para Player harus memukul mundur hiu tersebut. Meskipun senjata seperti pistol dan harpun dimuat di kapal, para Player sepakat bahwa menembakkannya secara membabi buta ke arah hiu yang berenang di dalam laut tidak akan efektif. Mereka pun menyusun strategi untuk memancing hiu sampai batas tertentu.

Baru ketika hiu menyerang, kapal bocor, dan hiu mendekat untuk memangsa para korban yang kakinya terendam air, serangan dilakukan. Setelah pertarungan selama tiga hari tiga malam—pada akhirnya Yuki menembakkan peluru ke dalam mulut hiu dan mengakhiri hidupnya. Meskipun harus membayar harga berupa lengan kiri yang tergigit putus, ia berhasil lolos.

Yuki berhasil menyelesaikan "Moist Jungle".

Ini adalah game dengan tema bertahan hidup di hutan rimba. Para Player mengenakan pakaian etnik layaknya suku pedalaman, dan tanpa peralatan yang memadai selain itu, mereka harus melarikan diri dari hutan yang lembap. Dekorasi sebagai sebuah game sama sekali tidak dilakukan kecuali drone untuk syuting dan kostum, yang berarti hiasan semacam itu tidak diperlukan karena alam itu sendiri sudah menjadi ancaman yang cukup.

Hutan itu memiliki lingkungan yang sangat keras hingga membuat orang kagum bagaimana mereka bisa menemukan tempat seperti ini. Pohon-pohon setinggi langit tumbuh tidak beraturan sehingga langit hampir tidak terlihat, tanah di mana-mana ditumbuhi rumput liar dan daun-daun setajam pedang yang melukai kulit hanya dengan berjalan, hujan lebat turun hampir setiap hari seolah-olah ada yang menyemprotkan air dari langit, dan setiap makhluk hidup di sana entah menggigit atau menyengat. Dua puluh dua Player termasuk Yuki berpartisipasi, tetapi yang selamat hanya lima orang. Itu adalah game yang sangat keras di antara yang diikuti Yuki belakangan ini, tetapi bagaimanapun, ia berhasil lolos.

Dengan demikian, Yuki akhirnya—

(1/39)

Di dalam hutan, Yuki membuka matanya.

(2/39)

Lebih tepatnya, ia terbangun di kursi belakang mobil Agen.

Dan, mobil itu sedang berhenti di dalam hutan. Dengan mata yang masih mengantuk, Yuki menatap kosong pemandangan hijau tua yang terbingkai oleh jendela mobil.

Bukan hutan rimba yang lembap.

Ini sudah di luar game.

"Selamat pagi, Yuki-san,"

Sapa Agen yang duduk di kursi pengemudi.

"...Terima kasih..."

Sambil menjawab demikian, Yuki bangun dari posisinya.

Ia mengingat situasinya secara singkat. Yuki yang berhasil keluar dari hutan dan menyelesaikan game, segera diselamatkan oleh helikopter yang datang. Karena Agen-nya Yuki ikut serta di dalamnya, Yuki memintanya untuk menuju ke tempat ini. Setelah itu ia diberi obat tidur, tertidur, dan ketika bangun ia sudah berada di dalam hutan.

"Aku pergi dulu," kata Yuki, lalu turun dari mobil.

"Selamat jalan," jawab Agen, lalu menambahkan, "—Ah, benar juga."

"Saya lupa mengatakannya. Selamat atas penyelesaian game yang ketujuh puluh, Yuki-san."

Mendengar kata-kata itu, Yuki menoleh, dan dengan senyum pahit,

"Terima kasih."

Balasnya.

(3/39)

Ya.

Akhirnya, ia sampai di titik ini. Tujuh puluh kali penyelesaian game—ia telah melangkah hingga tujuh puluh persen dari target sembilan puluh sembilan kali. Dalam sejarah dunia game, Player yang mencapai titik ini mungkin hanya segelintir orang, seperti gurunya yang mencapai sembilan puluh lima kali, atau sosok yang kabarnya mencapai sembilan puluh delapan kali di masa lalu. Ini adalah rekor besar yang tak terbantahkan.

Namun—berlawanan dengan rekor tersebut, wajah Yuki tidak tampak cerah. Perasaan mahakuasa yang sempat mengisi Yuki beberapa waktu lalu kini telah meredup. Kemampuan indra yang diperoleh dari pertarungan melawan ilusi masih tetap tajam, dan berkat itu ia bisa menyelesaikan empat game sebelumnya dengan selamat, tetapi di sisi lain, ia merasakan tanda-tanda masalah baru—. Ia sudah menduga bahwa "hal itu" pada akhirnya akan muncul, tetapi ini lebih cepat dari perkiraan. Sepertinya dunia memang tidak membiarkanku hidup tenang—Yuki menghela napas ringan, lalu mengangkat wajahnya.

Di dalam hutan, berdiri sebuah rumah besar.

Itu adalah rumah bergaya Barat dengan penampilan romantis yang sepertinya hanya bisa dilihat di buku teks sejarah. Itu adalah rumah tempat tinggal Pengrajin Tubuh Buatan.

Pengrajin Tubuh Buatan—tokoh di industri pendukung yang memberikan tubuh baru bagi Player yang kehilangan bagian tubuhnya akibat "Game". Jari tengah hingga jari kelingking tangan kiri Yuki adalah tiruan yang dibuat oleh pengrajin ini, dan untuk perawatan, ia rutin berkunjung seperti ini.

Di depan rumah, jalan beraspal membentang. Yuki menyusuri jalan itu, berdiri di ambang pintu, dan mengetuknya. Karena ini adalah bangunan di pegunungan terpencil di mana pencuri pun tak mungkin datang, pintunya tidak dikunci, dan tidak ada bel pintu. Pengunjung diperbolehkan masuk begitu saja, tetapi sebagai formalitas, ia selalu mengetuk. Seperti biasa, tidak ada jawaban dari ketukan itu, jadi Yuki membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam rumah.

Sudah berapa kali ia berkunjung ke sini—setidaknya kakinya sudah cukup terbiasa untuk melangkah tanpa ragu dan langsung menuju bengkel kerja si pengrajin. Yuki mengetuk pintu bengkel dengan ringan lagi, dan karena tidak ada jawaban, ia masuk begitu saja.

Di dalam bengkel tidak ada orang. Berbagai mesin perkakas mulai dari seukuran microwave hingga seukuran kulkas, peralatan yang tergantung di dinding, meja kerja penuh goresan kecil yang memancarkan aura sering dipakai, semuanya diam tak bergerak dan sunyi. Tidak ada orang—Yuki segera tahu bahwa itu tidak benar. Karena sudah lama kenal, ia sangat tahu tabiat pengrajin ini. Jika ada pengunjung, bukannya menyambut dengan jujur, dia malah bersembunyi di suatu tempat di ruangan itu, lalu tiba-tiba melompat keluar untuk mengejutkan lawan bicaranya dan menikmatinya. Yuki yang dulu sering tertipu oleh kejahilan ini, tapi sekarang itu tidak mempan lagi.

"—Pengrajin-san, selamat siang."

Kata Yuki.

Ia mengetuk-ngetuk lantai di depannya dengan tumit sepatunya.

"Bisa tolong periksa jari buatanku?"

Suara Yuki terserap ke dalam lantai.

Setelah hening kembali selama beberapa detik,

"...Kok bisa tahu sih?"

Suara itu terdengar dari bawah lantai.

Panel lantai yang disamarkan dengan cerdik hingga sekilas tak terlihat pun terbuka, dan dari ruang penyimpanan di bawah lantai, seorang pria setinggi sekitar satu meter muncul. Perawakan pendek yang khas, berjanggut lebat, dan tubuh berotot—tidak salah lagi, itu adalah Paman Pengrajin Tubuh Buatan.

"Padahal ruang bawah tanah ini baru saja ditambah..."

Kata pengrajin sambil menutup panel.

"Belakangan ini, firasatku jadi makin tajam," jawab Yuki.

"Hee..."

Pengrajin itu menatap Yuki, "Melihat kondisimu, sepertinya baru banget selesai game ya."

Pandangan pengrajin tertuju pada wajah Yuki. Lebih tepatnya ke pipi kiri, di mana terdapat luka lecet yang didapat di hutan rimba. Cedera Player biasanya diperbaiki oleh pihak manajemen setelah game berakhir, tetapi luka lecet ringan yang tidak perlu repot-repot disembuhkan akan dibiarkan begitu saja.

"Ya," jawab Yuki sambil menyentuh lukanya.

"Kali ini, sudah yang ketujuh puluh kali."

"Ooh, begitu ya. Selamat ya."

"Ano, jadi, soal pemeriksaan jari ini..."

Sambil menggerakkan jari tengah hingga kelingking tangan kirinya, Yuki berkata.

"Aku tahu biasanya Anda mengerjakannya dengan teliti... tapi kali ini, bisakah Anda memeriksanya dengan sangat seksama agar tidak ada yang terlewat?"

"...Hn?" kata Pengrajin. "Ngomong begitu, berarti ada yang gak beres sama gerakannya?"

"Justru sebaliknya, aku akan lebih senang kalau memang ada yang gak beres di situ."

Yuki menepuk lengan kirinya dengan tangan kanan. Bukan bagian buatan, melainkan bagian yang asli.

"Kalau tidak ada masalah pada jari buatan... berarti masalahnya ada di sini."

(4/39)

Yuki menyadarinya saat sedang memainkan "Moist Jungle".

Ada rasa tidak nyaman di tangan kirinya, meskipun hanya sedikit. Gerakannya kaku seolah jari-jarinya kedinginan, dan ada sensasi menggelitik seperti kesemutan namun bukan kesemutan, mirip seperti saat masuk ke kolam berlistrik lemah, yang menyelimuti seluruh tangan kirinya.

Apakah tubuh buatannya rusak?—awalnya ia berpikir begitu, tetapi rasa tidak nyaman itu juga merambat ke bagian tubuh aslinya, jadi itu tidak bisa menjelaskannya. Ia mencoba menghangatkan tangan kirinya atau mengistirahatkannya sejenak, tetapi tidak membaik. Ia pikir mungkin akan sembuh jika dibiarkan sebentar, tetapi satu hari berlalu, dua hari berlalu, bahkan saat game mendekati akhir, rasa tidak nyaman itu tidak mereda. Lambat laun, Yuki mulai berpikir bahwa gangguan ini bukan sementara, melainkan sesuatu yang lebih serius.

Kalau dipikir-pikir—sudah berapa kali ia mengalami kerusakan pada lengan kirinya? Baru-baru ini digigit putus oleh hiu di "White Shark", dipotong juga di "Snow Room", ditusuk di "Royal Palace", dan ia mencungkil dagingnya sendiri di "Cloudy Beach". Berulang kali dipotong dan disambung. Meskipun ada "Perawatan Pengawetan", bukan berarti bisa dikembalikan seperti semula tanpa batas. Mainan model plastik pun jika lengannya sering dilepas-pasang, sambungannya akan longgar. Tubuh manusia apalagi. Nyatanya, guru Yuki—Hakushi—mengalami nasib itu di akhir karirnya.

Akhirnya tiba juga—saat di mana tubuhnya mulai rusak.

Meski begitu, kemungkinan kerusakan pada tubuh buatan juga tidak bisa dikesampingkan, jadi Yuki datang ke rumah pengrajin. Yuki menjalani pemeriksaan jari buatan. Hasilnya—

"Gak ada cacat nih,"

Kata pengrajin dengan tegas.

"Sejauh pengamatanku, ini berfungsi sempurna kok."

"Begitu ya..."

Jawab Yuki. Ia tidak bisa melihat wajahnya sendiri, tapi ia yakin wajahnya pasti muram.

Melihat Yuki yang seperti itu, si Pengrajin mengarahkan pandangannya dan bertanya, "Mau diperiksa juga yang bagian situ?"

"Eh... Emangnya bisa?"

"Yah, tentu aja gak bisa di sini. Tapi kayak waktu mata kanan dulu, aku bisa hubungkan ke rumah sakit di bawah naungan 'Penyelenggara', gimana? Itu maksudku."

Mata kanan Yuki mengalami kebutaan. Penglihatannya mulai menurun sejak suatu waktu, tetapi fakta itu baru terungkap sekitar sebelum "Halloween Night". Kalau tidak salah waktu itu, si Pengrajin yang menyadari penurunan penglihatan Yuki menghubungi Agen, lalu urusannya diproses.

Karena itu tawaran yang sangat membantu, Yuki menjawab, "Tolong."

"Oke. Lebih baik segera dihubungi kan?"

Yuki mengangguk. Si Pengrajin berkata "Siaap" dan menyalakan komputer yang ada di bengkel. Membuka aplikasi email, dan mengetik di keyboard dengan bunyi kata-kata.

"Tapi, tujuh puluh kali ya..." gumam si Pengrajin.

"Kalau sudah main sebanyak itu, yah, memang sudah waktunya mulai bahaya sih."

Mendengar ucapan itu, jantung Yuki berdegup kencang.

Benar juga—pikirnya. Orang ini memiliki pengetahuan di bidang itu. Pengrajin tubuh buatan khusus Player—pelanggannya pasti ada yang setara dengan Yuki, atau bahkan Player yang lebih berpengalaman. Setidaknya ada satu contoh nyata, yaitu Hakushi, guru Yuki. Pengrajin ini pasti melihat dari dekat dan detail bagaimana tubuh Hakushi melemah dan proses perkembangannya.

"Ano, Pengrajin-san."

Yuki bertanya. Ia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Kalau tidak salah, Pengrajin-san itu..."

"Maksudmu soal gurumu?"

Jawaban yang mendahului itu membuat jantung Yuki berdegup lagi.

"...Benar. Katanya Anda yang membuat tubuh buatannya."

"Yap. Dulu aku yang ngerjain."

"Kudengar... Guru juga mengalami hal seperti ini, kan?"

"......"

Si Pengrajin sudah selesai mengetik email. Ia menyentuh janggutnya dengan tangan yang dilepas dari keyboard.

"Sebenarnya aku berusaha gak ngomongin privasi pelanggan sih..."

Ia memberi pendahuluan, lalu,

"Yah, karena kamu muridnya, cerita dikit gak apa-apa kali ya. ...Memang begitu kejadiannya. Kalau 'itu'-mu memang benar-benar kerusakan tubuh lho ya."

"Kalau tidak salah, beliau mulai memodifikasi tubuhnya sejak sekitar delapan puluh kali, kan?"

"Tahu aja kamu. Dengar dari gurumu?"

"Bukan. Saya dengar dari kenalan Guru."

Secara spesifik, dari Player bernama Koyomi. Ia ingat pernah mendengarnya sekilas di akhir "Cloudy Beach". Karena angka itu ada di kepalanya, Yuki berpikir, "Agak terlalu cepat ya".

"Iya bener, sekitar delapan puluh kali lah," kata si Pengrajin.

"Kalau begitu, kasus saya ini agak terlalu cepat dong..."

"Gak juga kok. Mulai ngotak-ngatik tubuh emang sekitar delapan puluh kali, tapi momen sadar ada yang gak beres pasti lebih awal dari itu. Kira-kira sama kayak kamu sekarang lah. Jadi ya, bisa dibilang progresnya kurang lebih sama kecepatannya."

Meskipun si Pengrajin berkata begitu, tapi "sama" itu justru masalah.

Progresnya kurang lebih sama dengan Guru.

Lalu, bagaimana?

Apakah hasil akhirnya juga akan sama—?

(5/39)

Kokone mematikan api kompor.

(6/39)

Di atas kompor, terdapat satu wajan. Isinya adalah campuran daging potong dadu dan daging giling, keduanya sudah matang sempurna. Kokone mengambil mangkuk yang diletakkan di samping kompor, dan memasukkan isinya—sayuran cincang yang sudah ditumis—ke dalam wajan. Ia menambahkan berbagai rempah-rempah, dan mengaduknya dengan baik agar semuanya tercampur rata—

"Minggir."

—Dan, saat itu, seseorang menegur Kokone.

Tepat di samping Kokone, Maya berdiri.

Itu adalah dapur ruang makan di rumah Shirou. Lebar lorong dapur lebih luas daripada rumah tangga biasa, cukup untuk orang berpapasan, tetapi jika tuan rumah bilang "minggir", maka itu berarti menghalangi. "Maafkan saya," kata Kokone sambil menunduk dan menepi ke pinggir lorong.

Maya melewati samping Kokone dan menuju kulkas di bagian dalam dapur. Ketika dia kembali ke depan Kokone, kedua tangannya membawa camilan. Keripik kentang dengan rasa yang kuat dan satu set kopi susu.

"Tolong secukupnya saja. Sebentar lagi makan malam," kata Kokone.

"Berisik. Kayak emak-emak aja lo."

Maya menjawab dengan nada sangat kesal, mengalihkan pandangan dari Kokone, dan melihat berbagai bahan makanan yang berjejer di dapur. Tortila, saus salsa, keju parut, guacamole, dan beberapa bahan lainnya.

"Taco juga hampir sama kayak camilan, kan," kata Maya.

"...Masa sih?"

Meskipun termasuk kategori makanan cepat saji, Kokone berpikir ada batas yang jelas dengan camilan. Tapi, sadar akan posisinya sebagai pelayan, ia tidak membantah.

Bagaimanapun Maya pergi, dan Kokone melanjutkan pekerjaannya. Dengan daging taco yang baru saja dibuat, semua bahan sudah lengkap, jadi ia beralih ke pembentukan. Dari bahan yang disiapkan, sekitar setengahnya dibentuk menjadi taco, dan setengah sisanya dibiarkan begitu saja agar bisa dibuat sendiri sesuai selera.

Ketika Kokone membawa piring besar berisi taco yang sudah jadi menuju meja makan, di sana Maya sedang makan keripik kentang dan minum kopi susu secara bergantian.

"Maya-san. Bisakah Anda memanggil yang lain?" tanya Kokone. "Tangan saya penuh untuk menata peralatan makan..."

"......"

Maya meninggalkan meja tanpa kata dan keluar dari ruang makan. Mungkin dia menyetujuinya. Maya memang temperamental terhadap orang selain Shirou, tapi ternyata permintaannya cukup mudah dituruti. Kokone yang sudah bekerja di sini selama beberapa bulan sangat memahami hal itu.

Saat Kokone selesai menyiapkan makan malam sepenuhnya, Maya kembali. Dia membawa empat orang lainnya. Total lima orang, tanpa melakukan diskusi khusus, duduk di kursi yang mengelilingi meja makan sesuka hati mereka.

Totalnya, lima orang.

Tiga di antaranya adalah orang-orang yang menghubungi Yuki beberapa hari lalu—Shirou, Maya, dan Agen-nya Shirou. Dua orang sisanya adalah sosok yang asing bagi Yuki, tetapi tentu saja, bagi Kokone mereka adalah orang yang sudah dikenal.

Salah satu dari mereka adalah gadis yang sekilas terlihat memiliki kepribadian buruk. Matanya anehnya besar, tulang pipinya menonjol, bibirnya tipis, dan dia memiliki kulit mengilap yang mengingatkan pada reptil. Wajahnya sama sekali tidak jelek, justru bisa dikategorikan cantik, tetapi kecantikannya memberikan perasaan tidak enak. Kecantikan yang seolah menyembunyikan sesuatu di baliknya, seperti dilapisi semen dari atas—seakan-akan dia menjadi cantik sebagai hasil dari membenci, mendiskriminasi, dan menyingkirkan hal-hal jelek dan kotor setiap hari. Namanya Takami, dan Kokone tahu betul bahwa dia adalah orang yang busuk hatinya, persis seperti penampilannya.

Orang yang satu lagi, kontras dengan itu, tampak seperti orang yang sangat berbudi luhur. Mata, hidung, dan tentu saja mulutnya, semua bagian wajahnya memberi kesan seolah selalu tersenyum. Faktanya dia memang sering tertawa, dan ketika berbicara, dia berbicara dengan suara agak tinggi dan sangat cepat. Memberikan kesan orang desa dan mahasiswa jurusan sains. Kokone tahu namanya Busutake, dan dia adalah orang baik sesuai penampilannya. Tentu saja, itu jika ada orang baik di dunia game pembunuhan ini.

Kelima orang ini tinggal bersama di sini.

Kelompok kecil yang dibentuk oleh Shirou—anggota dari apa yang dia sebut sebagai "Mikkai" (Pertemuan Rahasia).

"—Silakan. Kokone-san juga duduklah."

Kata Shirou.

"Untungnya, kursinya juga lebih."

Sesuai kata-katanya, meja makan itu untuk enam orang, jadi ada satu kursi tersisa.

"Baik," jawab Kokone, lalu duduk di kursi itu.

Kemudian makan malam dimulai dengan mulus. Mereka mengucapkan "Selamat makan" bergantian, dan mengambil taco sesuai selera masing-masing. Shirou lebih banyak mengambil taco yang sudah jadi. Maya juga hanya mengambil yang sudah jadi, tapi bukannya langsung dimakan, dia menambahkan saus salsa lebih banyak baru memakannya. Selain itu, kopi susu yang diminumnya tadi juga diikutkan dalam makan malam. Si Agen sepertinya suka merakit sendiri. Takami juga membuat taco sendiri, tapi karena dia benci daging, dia menyingkirkan daging taco dari bahannya. Soal menyingkirkan bahan, Busutake lebih ekstrem lagi, dia menunjukkan kebiasaan makan pilih-pilih dengan menaburkan garam pada tortila dan hanya memakan itu saja. Kokone mengawasi pemandangan makan itu dengan tenang, tetapi atas ucapan Shirou, "Kokone-san juga makanlah," ia menurut dengan patuh dan mengambil taco.

Makan malam berlanjut, dan ketika perut mereka sudah cukup terisi, Shirou dan yang lainnya mulai mengobrol ringan.

"Sudah cukup menyebar ya, soal 'itu'," kata Agen. "Karena pekerjaan, saya sering melihat rekaman game... saya sering melihatnya. Player yang menggunakan teknik itu."

"Begitu ya," jawab Shirou.

"Ngomong-ngomong, belakangan ini aku tidak melihat Awahime-san ya," kata Busutake dengan suara aneh ala mahasiswa sains. "Orang itu, apa kabarnya sekarang?"

Awahime adalah nama anggota "Mikkai". Hingga beberapa waktu lalu dia tinggal di sini, tetapi baru-baru ini dia meninggalkan rumah dan sejak itu tidak menampakkan wajahnya.

"Sepertinya dia marah soal masalah itu," jawab Shirou. "Kalau diusik sembarangan malah bisa jadi bumerang, jadi saya biarkan saja. Semoga suasana hatinya membaik..."

Pembicaraan tentang Yuki juga muncul. "Ngomong-ngomong, gimana tuh si itu," kata Takami.

"Yang namanya Yuki itu. Gimana kelanjutannya?"

"...Belum ada kemajuan, ya," Shirou mengangkat bahu. "Soal ini juga, untuk saat ini saya biarkan dulu. Kalau didesak terlalu agresif, dia malah bisa makin keras kepala... Yah, saya akan cari kesempatan di suatu tempat untuk menghubunginya lagi."

"Gak ada kandidat lain yang bagus selain dia? Si Yuki itu, dengar ceritamu kayaknya ribet banget orangnya. Mending pindah ke orang lain aja kali."

"Itu juga sudah saya pikirkan. Sebenarnya, ada beberapa orang lain yang saya incar. Di antara mereka yang paling menjanjikan adalah... Player bernama Maguma, tapi orang ini juga baru mencapai enam puluh kali sekian."

"Gimana orangnya?"

"Yang ini juga sepertinya tidak mudah ditangani. Player yang menonjol kurang lebih memang begitu, sih. Yuki-san jumlah penyelesaiannya lebih banyak, dan dia juga aktif mengejar sembilan puluh sembilan kali, jadi pada dasarnya lebih baik melanjutkan dengan dia sebagai rencana utama. Meskipun dia orang yang sulit."

"......"

Mendengar percakapan itu, Kokone diserang kecemasan.

Majikannya—Shirou.

Penyelamatnya—Yuki.

Ketika dua orang ini bertemu lagi nanti, apa yang akan terjadi?

Membayangkan hal itu, ia merasa sangat cemas.

(7/39)

Kokone sudah melayani rumah ini selama beberapa bulan.

Sebagian besar situasinya seperti yang ia ceritakan pada Yuki tempo hari. Kokone menafkahi diri sebagai pelayan khusus Player, dan sebagai klien pertamanya, ia dipekerjakan oleh Shirou. Dalam beberapa bulan, ia sudah memahami kepribadian wanita itu secara garis besar. Tingkah laku dan ucapannya selalu teatrikal, nafsu akan segala hal sangat besar, dan—demi tujuan, dia tidak memilih-milih cara, memiliki kepribadian yang sangat licik.

Kelicikan itu kini diarahkan pada Yuki.

Tampaknya Shirou menunjukkan ketertarikan pada Yuki—kata "tampaknya" karena Kokone tidak tahu banyak tentang rencana Shirou. Sebagai pelayan, Kokone tidak diberitahu tentang rencana Shirou. Ia juga tidak tahu isi dari apa yang disebutnya "waktu yang tepat". Namun, ia tahu Shirou mendekati Yuki untuk menarik keuntungan tertentu.

Sesuatu akan terjadi—ia merasakannya. Hubungannya dengan Yuki hampir sekadar kebetulan, dan meskipun tidak terlalu mengenalnya, ia merasa Yuki adalah orang yang tangguh. Mungkin ada kemiripan dengan Shirou. Jika dua orang seperti itu bersentuhan—jika terlalu dekat hingga terjadi gesekan—bukankah akan terjadi sesuatu yang luar biasa? Itu adalah kecemasan yang samar, tapi entah kenapa, terus melekat di dada Kokone dan tidak mau pergi. Saat kontak tempo hari—waktu itu Kokone diperintah oleh Shirou dan terpaksa mengundang Yuki, tapi dalam hati ia berharap Yuki menolaknya. Orang ini berbahaya, harus segera menjauh, kalau bukan karena posisinya sebagai pelayan, ia ingin mengatakan itu.

Untungnya, tempo hari tidak terjadi apa-apa.

Tapi, kontak kedua, ketiga pasti akan terjadi. Saat itu bagaimana? Bisakah selesai dengan aman? Pada Shirou, pada Yuki, dan pada Kokone sendiri—apa yang akan terjadi?

Kokone tidak tahu. Ia hanya bisa mengawasi keadaan—.

—Faktanya.

"Saat itu" yang dikhawatirkan Kokone datang lebih cepat dari yang ia duga.

Secara spesifik—sekitar satu bulan setelah pesta taco di rumah Shirou, dalam sebuah game tertentu.

Dalam pertarungan ketujuh puluh tiga bagi gadis hantu itu.

(8/39)

Yuki terbangun di dalam hutan.

(9/39)

Pemandangan yang penuh warna hijau mengalir masuk ke kepalanya yang masih linglung karena baru bangun.

Belakangan ini sering banget berhubungan dengan hutan ya—pikir Yuki. Game ketujuh puluh berlatar di hutan rimba, dan sedikit sebelumnya ia juga mengalami "Mine Forest", game yang berlatar di hutan belukar. Saat mengunjungi pengrajin tubuh buatan pun ia pergi ke hutan.

Namun, kesan hutan ini berbeda dari semua hutan itu. Singkatnya—hutan ini sangat indah. Tidak, ungkapan seperti ini mungkin terdengar salah seolah mengatakan hutan rimba atau hutan belukar itu kotor, tapi bagaimanapun, hutan ini begitu indah hingga menyentuh hati manusia yang minim rasa seni seperti Yuki. Pohon-pohon yang berjajar semuanya indah seolah dirawat dengan sepenuh hati oleh ahli bonsai, lumut yang menyebar di permukaan tanah membuatmu berpikir andai kau jadi batu kau ingin diselimuti lumut seperti ini, udaranya jernih seolah menyembuhkan tubuh setiap kali bernapas, dan suara gesekan daun serta ranting bahkan memiliki gaung yang sensual. Hutan seperti di lukisan, seperti keluar dari dongeng, hutan yang membuatmu heran jika tempat ini tidak terdaftar sebagai warisan dunia.

Di dalam hutan seperti itu, Yuki terbangun.

—Di atas pohon yang sangat besar.

"Eh...!?"

Yuki yang mulai sadar mengenali situasinya dan terkejut.

Pantas saja titik pandangnya tinggi—ternyata di atas pohon. Tepatnya, sebuah tempat tidur gantung terpasang dengan dahan pohon besar sebagai penyangganya, dan ia ditidurkan di atasnya.

Yuki dengan takut-takut melongokkan kepala dari tempat tidur gantung dan melihat ke bawah. Jarak ke tanah mungkin sekitar sepuluh meter. Cukup tinggi. Di tempat macam apa mereka meletakkanku, Yuki mengeluh dalam hati kepada "Penyelenggara".

Lalu, ia melihat penampilannya sendiri dengan saksama.

Seperti biasa—Yuki dibalut dalam kostum game. Pakaian bernuansa hijau dan putih, memiliki kesan etnik dan kuno yang mengingatkan pada abad pertengahan Eropa.

Melihat desain itu, Yuki berpikir "Jangan-jangan", lalu menyentuh telinganya sendiri. Benar saja, ada hiasan telinga palsu yang terpasang, membuatnya seolah-olah memiliki telinga panjang—. Bahkan Yuki pun tahu bahwa ciri utama "makhluk itu" adalah telinga panjang. Kalau tidak salah, kesalahpahaman seperti permainan pesan berantai di masa awal fantasi adalah alasan kenapa telinga mereka dianggap panjang.

Itu adalah kostum Elf.

Cosplay ras suci yang pantas untuk hutan yang indah.

(10/39)

Yuki turun dari tempat tidur gantung, lalu turun dari pohon. Yuki si anak modern tidak punya pengalaman memanjat pohon yang layak, apalagi pengalaman turun, tapi ia berhasil melakukannya tanpa kesulitan dan mendarat di tanah.

Kemudian, Yuki memeriksa peralatannya.

Dilihat berapa kali pun, ini adalah kostum Elf. Barang bawaannya hanya satu kantong di pinggang.

Saat kantong itu dibuka, benda aneh keluar dari dalamnya. Bentuknya mirip masker mata—tapi bahannya dari kulit, dan tali di kedua sisinya tidak terikat. Sesaat Yuki tidak tahu alat apa ini, tapi setelah mencari lebih dalam di kantong dan menemukan banyak batu seukuran genggaman tangan, ia menyadari identitasnya.

"...Jangan-jangan, ini ketapel batu?"

Gumam Yuki sambil menatap alat itu.

Tentu saja, tidak ada jawaban.

Tapi, tidak salah lagi. Ini sling atau ketapel pelontar batu—ia pernah melihat cara penggunaannya di TV saat kecil. Bagian yang seperti masker mata ini membungkus batu, lalu diputar-putar dengan tali untuk mendapatkan gaya sentrifugal, kemudian dilepaskan untuk melempar dengan kuat. Salah satu senjata paling primitif dari semua senjata, dan benda yang jarang terlihat di zaman modern.

Yuki telah diajari berbagai penanganan senjata oleh gurunya, tapi yang ini jelas belum pernah ia coba. Ia mencoba berlatih sedikit. Memasang batu kerikil, memegang tali di kedua sisi, memutarnya dengan bunyi hyun hyun, dan melepaskan salah satu tali di saat yang tepat—

Batu yang terlepas itu melesat dengan kuat.

Menancap dengan bunyi zdon di batang pohon yang ada di depan.

"Oooh..."

Yuki mengeluarkan suara kagum sambil mendekati pohon itu.

Batu itu tertanam di pohon. Ini menunjukkan betapa kuatnya senjata ini.

Sepertinya bisa digunakan tanpa masalah—kalau mau dicari kekurangannya, arah lemparannya sedikit melenceng dari yang dibayangkan, tapi itu pasti bisa disesuaikan seiring penggunaan. Yuki mencabut batu dari batang pohon untuk mengambilnya kembali, lalu menyimpannya bersama ketapel ke dalam kantong.

Menginjak tanah yang tertutup lumut dan rumput kering, Yuki berjalan-jalan di sekitar situ.

Sambil berjalan, ia berpikir. Game macam apa kali ini? Diberi senjata—berarti diharapkan ada pertarungan. Lawannya Player lain? Atau musuh yang disiapkan penyelenggara? Apakah kostum Elf berhubungan dengan isi game? Tidak banyak yang Yuki tahu tentang Elf. Cuma sebatas terampil, berumur panjang, dan penjaga hutan. Kalau menebak isi game dari citra itu—apakah sebagai penjaga hutan harus melawan penyerbu yang biadab—?

"......"

Yuki meremas dan membuka tangan kirinya berulang kali.

—Bergerak.

Memang bergerak.

Tetapi, gerakan itu jelas—

"—Permisi."

(11/39)

Seseorang berbisik di telinganya.

"...Hah!?"

Yuki melompat.

Baru-baru ini ia sadar, dirinya punya kebiasaan melompat pyon saat terkejut. Kebiasaan itu aktif juga saat ini, ia melompat, dan sambil begitu ia menoleh ke belakang.

Di sana berdiri seorang gadis dengan tubuh kurus seperti benang wol.

Yuki ingat wajah itu. "...Keito (Benang Wol)?" ucapnya.

"Lama tidak bertemu, Yuki-san."

Disertai tawa fuhihi yang tidak elegan, Keito menjawab.

Ya—itu Keito. Gadis yang memiliki nama Player Keito (Benang Wol) sesuai penampilannya ini adalah salah satu Player yang dikenal Yuki. Pertama kali bertemu di game kesepuluh, "Scrap Building", dan setelah itu pernah bertemu juga saat kasus Shion.

"...Halo,"

Sambil menjawab, Yuki mengamati Keito.

Sama seperti Yuki, dia memakai kostum Elf. Detail pakaiannya berbeda, tapi nuansa hijau dan putih serta telinga panjangnya sama. Karena tubuhnya yang kurus kering, kesannya lebih mirip peri daripada Elf.

"Masih lanjut jadi Player ya..." kata Yuki.

"Ya, lumayan lah. Meski tidak sesering Yuki-san."

Percakapan seperti ini, rasanya pernah dilakukan sebelumnya, atau mungkin tidak.

"Muncul dari mana kamu?" tanya Yuki.

"Sama sekali gak terasa hawa keberadaannya..."

"...Fuhi, begitu ya."

Keito menyeringai. Apa sih orang ini, menjijikkan, pikir Yuki. Apakah dulu dia orang yang suka menyeringai begini?

"Biasa saja kok, cuma mendekat dari belakang. Sambil menghapus hawa keberadaan," kata Keito.

"Menghapus hawa keberadaan...?"

Mana mungkin. Kalau di luar game mungkin saja, tapi di dalam game, tidak mungkin tidak menyadari orang yang mendekat dari belakang. Terutama belakangan ini, kemampuan indranya semakin tajam—.

"Saya latihan teknik berjalan yang itu lho," jawab Keito.

"Teknik berjalan?" tanya Yuki.

"Lho, tidak tahu?"

Keito memasang wajah terkejut,

"Belakangan ini, sedang tren di antara para Player. 'Ini'."

Berkata begitu, Keito mulai berjalan sempoyongan di tempat itu.

Jalan terhuyung-huyung yang biasa dilakukan orang mabuk. Apa-apaan nih, pikir Yuki, tapi saat ia mengamati keadaan itu—

Tiba-tiba, Keito menghilang futt dari tempat itu.

Nyaris saja, ia bisa melihat bayangan bergerak ke arah kanan, jadi Yuki menoleh ke kanan. Ia menangkap sosok Keito lagi dalam pandangannya.

"Fu," Keito tertawa singkat, lalu,

"Hebat kan, 'ini'. Ringan banget rasanya kayak menggerakkan karakter video game."

Selanjutnya Keito mondar-mandir di tempat itu. Saat jalan sempoyongan tadi juga begitu, tapi—sama sekali tidak ada suara langkah kaki. Meskipun dikurangi fakta bahwa tanah tertutup lumut sehingga sulit berbunyi, ini adalah langkah sunyi yang sangat ahli.

"Apalagi, karena suara langkah kaki sama sekali tidak ada, hawa keberadaan juga hilang... Bisa bebas melakukan aksi diam-diam atau serangan dadakan. Sejak menguasai ini, menaklukkan game jadi jauh lebih mudah lho..."

"Hee..."

Ada teknik seperti ini ya, pikir Yuki.

Baru pertama kali dengar. Kata Keito "sedang tren", tapi karena Yuki bukan tipe yang sering mengobrol akrab dengan Player lain, ini pertama kalinya ia mengetahui keberadaannya.

Ngomong-ngomong, Shirou tempo hari juga muncul tiba-tiba tanpa hawa keberadaan. Mungkin dia menggunakan teknik berjalan ini. Memang kalau didekati dengan "ini", Yuki sekalipun sepertinya sulit menyadarinya.

"...Tapi ya,"

Kata Keito sambil mengangkat sudut bibirnya.

"Ternyata mempan juga pada Yuki-san, teknik ini. Mumpung ada kesempatan, saya coba tadi..."

"......"

Yuki jadi agak kesal.

Karena itu, ia memutuskan untuk meniru teknik berjalan tersebut. Ia sudah mengamati gerakan Keito tadi dengan saksama, dan merasa sepertinya bisa melakukannya. Yuki meniru jalan sempoyongan itu, dan—

"—Begini kah."

Dalam sekejap, ia mendekat ke arah Keito.

Lumut dan daun kering di kakinya berhamburan bat.

"Waah...!?"

Karena pendekatan tiba-tiba itu, Keito kaget dan jatuh terduduk. Sambil membuat pantat dan kedua tangannya penuh lumut, matanya berputar kaget, "A, a..." ucapnya.

"Su, sudah tahu ya? Sebenarnya..."

"Enggak, baru pertama kali lihat, tapi aku coba tiru."

Saat dicoba bergerak, ia jadi paham mekanismenya. Melenturkan dan meluruskan beberapa bagian tubuh secara bersamaan—seperti pegas—untuk mewujudkan akselerasi mendadak. Jalan sempoyongan di tahap awal itu tujuannya mungkin untuk memindahkan pusat gravitasi tubuh secara konstan sebelumnya, agar beban tubuh berkurang saat bergerak cepat.

"...Curang..."

Kata Keito sambil berdiri.

"Padahal saya butuh dua bulan buat menguasainya..."

"Salah sendiri pamer dengan bangga," kata Yuki.

Meskipun begitu—pikirnya. Apakah ke depannya "ini" akan jadi perlengkapan standar Player? Kalau dibilang sedang tren, tidak aneh jika kapan saja bertemu orang yang tahu "ini". Muncul teknik yang merepotkan. Sepertinya berjalan santai sambil mengandalkan skill deteksi hawa keberadaan seperti selama ini, sebaiknya dihentikan.

Tapi, teknik semacam ini, siapa dan di mana yang menemukannya—?

"Ah, iya, bukan waktunya main-main."

Kata Keito.

"Yuki-san, bisa ikut saya? Ada tempat berkumpul di dekat sini."

(12/39)

Seperti kata Keito, sekitar sepuluh menit berjalan kaki, ada tempat yang agak terbuka di hutan.

Tempat itu—dalam istilah Keito "tempat berkumpul"—dipenuhi banyak gadis. Tepatnya tidak terhitung jumlahnya, tapi kesan Yuki sekitar empat puluh orang. Tanpa terkecuali semuanya memakai kostum Elf.

Di tengah tempat berkumpul, berdiri sebuah gubuk. Bangunan sederhana yang hanya terdiri dari atap dan dinding tanpa pintu, mengingatkan pada halte bus di pedesaan. Di ruang kecil yang cukup untuk satu orang duduk, benar-benar ada satu orang yang duduk. Bukan gadis muda—melainkan seorang nenek keriput. Telinganya panjang dan memakai kostum Elf, tapi sepertinya bukan Player. Mungkin pihak ketiga yang disiapkan penyelenggara. Tetua Elf, begitulah kira-kira.

"Mu, mu, mu, mu."

Nenek itu, begitu melihat sosok Yuki, mulai berbicara.

"Datang...! Mereka, lagi! Datang untuk memburu kita! Ah, ah, mengerikan..."

Sambil melakukan gerakan berlebihan seperti pendongeng Rakugo, nenek itu berkata demikian.

"...?"

Sesaat, Yuki tidak menangkap maksudnya, tapi,

"Sepertinya, nenek itu semacam 'Penjelas'."

Keito memberikan penjelasan.

"Soalnya game Elf sih... Tidak mungkin penjelasannya pakai mesin. Mereka sengaja menempatkan staf manajemen."

"Aah..." Yuki mengeluarkan suara paham.

Tergantung game-nya, kadang ada peran yang ditempatkan untuk menjelaskan aturan. Biasanya penjelasan lewat suara mesin atau lewat monitor—tapi penyelenggara mungkin berpikir alat-alat canggih seperti itu tidak cocok dengan game Elf.

Ngomong-ngomong tidak kelihatan kamera juga, pikir Yuki. Sebagai Game yang merupakan pertunjukan, biasanya disiapkan kamera pengawas atau drone syuting untuk merekam para Player. Tapi, sejauh ini belum lihat satu pun. Tidak mungkin "tidak ada", jadi kemungkinan mereka menggunakan kamera kecil yang tidak mencolok.

"Tapi, meski dibilang 'Penjelas', dia gak ngasih tahu hal yang berguna sih..."

Kata Keito.

"Cuma bilang 'mereka datang berburu' terus-terusan. Siapa 'mereka', 'kapan' mereka datang, ditanya pun tidak dijawab. Karena dia staf manajemen, takut juga kalau memaksa bertanya... Karena tidak tahu apa-apa, jadi untuk sementara, kami semua menyusuri hutan dan mengumpulkan Player. Karena itulah saya memanggil Yuki-san."

"Berburu" di "Hutan" ya, pikir Yuki.

Agak mengingatkan pada "Candle Woods", pikirnya juga. Kali ini panggungnya hutan asli, dan sepertinya tidak ada topografi labirin—tapi membayangkan dari cerita si nenek, konten game-nya mungkin mirip. Game di mana harus lari atau melawan "mereka" yang nanti akan datang ke hutan ini.

"Ngomong-ngomong,"

Kata Keito.

"Syukurlah Yuki-san ada di pihak kita. Bisa diandalkan... Kali ini juga mohon bantuannya ya."

Basa-basi kah. Padahal tadi meremehkan dengan bilang "ngomong-ngomong", pikir Yuki.

"Belum tentu lho," jawab Yuki. "Mungkin gak bakal bisa diandalkan seperti waktu di 'Scrap Building'..."

"...? Maksudnya?"

Yuki tidak menjawab.

Diam-diam, ia mengarahkan kesadarannya ke tangan kiri. Tangan kiri yang rasa tidak nyamannya tak kunjung hilang.

(13/39)

Pemeriksaan yang seharusnya dilakukan, sudah dilakukan.

Beberapa hari setelah perawatan pengrajin tubuh buatan—Yuki naik mobil Agen menuju rumah sakit, dan menjalani berbagai pemeriksaan sama seperti saat mata kanannya bermasalah.

Hasilnya juga mirip dengan mata kanannya. Plastisitas saraf atau apalah—Yuki mendapat penjelasan yang rumit, tapi yang akhirnya ia pahami adalah sebagai berikut: Bukan sekadar perasaan, tapi tangan kiri Yuki memang benar-benar melambat gerakannya. Masalahnya bukan pada tangan kiri itu sendiri, tapi pada saraf di lengan atas kiri. Tangan bukanlah organ yang se-delicate bola mata, jadi tidak akan menurun fungsinya dengan sendirinya seperti mata kanan. Namun, tentu saja, jika lengan kiri mengalami cedera lebih lanjut, kemungkinan fungsinya menurun sangat besar.

Berbeda dengan mata kanan, kali ini ada pilihan untuk menggantinya dengan tubuh buatan, dan Yuki sempat mempertimbangkannya, tapi disarankan oleh Pengrajin, "Sebaiknya biarkan tetap asli dulu". Rasa tidak nyamannya masih ringan jadi keuntungan menggantinya dengan tubuh buatan tipis, dan sekali diganti, tidak bisa dikembalikan lagi. Karena itulah, Yuki, secara fisik tidak berubah dari sebelumnya, namun secara mental membawa keyakinan untuk menghindari cedera lebih lanjut, menantang game ketujuh puluh tiga ini—"Mossy Grove".

Para Player terus menyusuri hutan. Yuki juga berjalan di hutan dan mengetahui bahwa tempat ini dikelilingi oleh dinding batu yang sangat tinggi. Dinding alami. Tiga sisi di antaranya sepertinya memang dinding batu asli, tapi satu sisi sisanya terlihat seperti tumpukan batu buatan. Mungkin dibuat oleh "Penyelenggara" untuk dijadikan panggung game. Sepertinya tidak bisa keluar. Area game yang dikelilingi dinding batu—soal luasnya, karena hutannya lebat jadi sulit dipahami, tapi kesan Yuki "tidak terlalu luas".

Di dalam hutan, masih ada Player yang tidur, atau Player yang belum bergabung dengan kelompok, dan jika digabungkan dengan empat puluh orang tadi, jumlahnya sekitar lima puluh orang. Tepat saat semuanya berkumpul di tempat pertemuan—atau lebih tepatnya, mungkin memang menunggu momen itu—nenek Elf melompat seolah tersambar petir.

"...Datang, datang, datang!" teriaknya.

"Mereka datang! Lari, lari, lari lari lari...!"

Dan, tepat setelah itu—

Terdengar suara baling-baling helikopter, bababababa.

Kemudian, helikopter benar-benar menampakkan wujudnya.

Tepat di atas tempat berkumpul—melewati sudut di mana langit biru terlihat karena hutan terbuka. Suara baling-baling mendekat, muncul dari balik bayangan pohon, lalu menghilang lagi, dan suara baling-baling menjauh; seluruh rangkaian kejadian itu disadari sepenuhnya oleh sekitar lima puluh Elf.

"...Barusan itu,"

Yang pertama membuka mulut adalah Keito.

"Helikopter, kan..."

"Sepertinya begitu..."

Jawab Yuki.

Benar-benar alat peradaban. Kemungkinan besar itu adalah—"mereka" yang dimaksud si nenek, musuh para Elf. Tidak jelas apakah yang menumpang adalah Player lain atau pembunuh bayaran yang disiapkan penyelenggara, tapi yang jelas, game akhirnya dimulai.

Yuki mengarahkan pandangan ke arah menghilangnya helikopter. Suara baling-baling masih terdengar, menjaga volume yang konstan. Artinya helikopter tidak mendekat ataupun menjauh. Sedang hovering—agar "seseorang" yang menumpang di sana bisa turun ke tanah dengan aman.

"Ayo kita lihat."

Kata Yuki.

"Kita harus lihat sekarang berapa jumlah lawannya, dan bagaimana peralatannya."

"...Seriusan nih...?"

Keito berkata dengan wajah enggan. Wajah Player lain juga mirip.

"Nenek tadi bilang 'lari' lho."

"Itu cuma anjuran, bukan paksaan."

Omong-omong, nenek itu sudah menghilang. Dia mematuhi ucapannya sendiri kepada para Elf dan lari kabur. Tugasnya sebagai "Penjelas" sudah selesai, sepertinya.

Karena disuruh "lari" bukan "kalahkan", syarat kemenangan Elf mungkin hanya bertahan hidup. Sama seperti "Candle Woods". Tapi, seperti yang dilakukan Guru di game itu, strategi menyingkirkan ancaman untuk memastikan kelangsungan hidup juga bisa dipertimbangkan di game ini, dan kalaupun tidak sampai sejauh itu, mengetahui spesifikasi lawan sejak dini itu penting.

"Cuma lihat sebentar dari jauh. Di dalam hutan kok, gak bakal ketahuan," kata Yuki.

"Justru selayaknya Elf, kita intip dari atas pohon."

(14/39)

Waktu yang sama.

Para Player yang menumpang helikopter turun ke tanah.

(15/39)

Tali diturunkan di tempat yang pohonnya relatif jarang di hutan yang lebat itu.

Melalui tali itu, para Player turun bergiliran. Yang pertama mendarat di tanah adalah gadis bernama Iidate. Iidate—karena tahu ini sudah wilayah musuh—mengawasi sekitar dengan waspada sambil menunggu gadis-gadis lain turun.

Dari tujuh Player yang ada di helikopter, hanya Iidate yang punya pengalaman rappelling (turun dengan tali), enam orang lainnya tidak bisa turun semulus Iidate. Persiapannya lambat, atau tersangkut di tengah jalan, memakan waktu cukup lama, tetapi tidak ada serangan musuh di tengah jalan, dan akhirnya semua orang berhasil menapak tanah dengan selamat, mengantar kepergian helikopter yang telah menyelesaikan tugasnya.

Demikianlah, di dalam hutan, ada tujuh gadis mengenakan baju loreng.

Baju loreng/kamuflase. Kostum game ini. Nuansanya kasual seperti pakaian game survival, tapi senapan kecil yang dipeluk masing-masing di tangan mereka bukanlah tiruan, melainkan senjata asli yang keseriusannya bisa dirasakan hanya dari beratnya.

Iidate mengangkat sedikit senapannya. Harus dipegang dua tangan begini dibilang 'senapan kecil', kalau dipikir-pikir aneh juga ya—pikirnya, sambil melihat sekeliling lagi. Setelah memastikan "hal itu" masih terasa,

"Kita diawasi."

Katanya dengan suara pelan kepada enam orang lainnya.

Keenam orang itu serempak menunjukkan wajah terguncang.

"Di, diawasi katanya... da, da, dari mana?"

Salah satu dari enam orang itu bertanya dengan nada gagap.

"Tidak tahu," jawab Iidate.

"Tapi, bukan cuma satu orang. Rasanya dilihat dari berbagai arah..."

Keenam orang itu mengarahkan laras senapan ke berbagai arah sambil melihat sekeliling.

Iidate menyadari tatapan itu saat para Player sedang turun dari tali.

Diawasi—oleh komplotan Elf. Sosok mereka sudah dikonfirmasi dari dalam kabin saat helikopter melewati tempat yang tampak seperti lapangan tadi. Helikopter terbang dengan suara bising, dan proses penurunan juga memakan waktu lama, jadi tidak aneh jika para Elf bisa melacak lokasi ini. Fakta bahwa mereka bersembunyi berarti mereka mewaspadai pihak ini. Bisa diasumsikan mereka sudah cukup memahami aturan game ini.

Iidate dan kawan-kawan menerima penjelasan aturan di dalam helikopter. Singkatnya ini game "Perburuan", dalam waktu dua belas jam, mereka harus membunuh lebih dari dua puluh tim musuh yang berpakaian Elf. Berapa total jumlah Elf, apa yang terjadi jika batas waktu dua belas jam habis—itu tidak diberitahukan, tapi keduanya bisa dibayangkan. Mempertimbangkan tingkat kelangsungan hidup, Elf mungkin sekitar lima puluh orang, dan jika dua belas jam berlalu, apapun metodenya pasti game over.

"Gimana nih?"

Iidate ditanya. "Tetap diawasi begini rasanya gak enak, ayo segera pindah," jawabnya.

"Kalau mata-mata pengawasnya hilang syukurlah, dan kalaupun mereka mengejar, mungkin mereka bakal memperlihatkan ekornya saat itu. ...Seperti yang disepakati di dalam helikopter, kita bergerak dalam satu kelompok. Oke."

Iidate menasihati keenam orang itu.

Kerja sama itu wajib, pikirnya. Dari pengamatan sekilas dari helikopter tadi, peralatan pihak sini memang beberapa tingkat di atas—tapi jumlah pihak sana jauh lebih unggul. Jika mereka memanfaatkan keunggulan jumlah dan menyerang serentak dari berbagai arah, sulit untuk menanganinya sendirian. Bergerak dalam kelompok itu wajib.

Aku harus tegas—rasa tanggung jawab itu ada pada Iidate. Dia sempat mengobrol ringan dengan enam orang lainnya di helikopter, dan tampaknya Iidate lah yang paling kaya pengalaman sebagai Player maupun pengalaman pertempuran di hutan. Karena itu, dia yang harus melakukannya. Memimpin enam orang ini dengan benar, dan membawa tim menuju kemenangan—.

"Ayo jalan."

Kata Iidate, dan melangkahkan kaki pertamanya yang penuh tanggung jawab.

Namun, tidak ada langkah kedua.

Niat membunuh yang menyembur dengan dahsyat bagaikan geyser membuat Iidate menoleh.

Gadis berbaju loreng yang berada tepat di belakangnya, menodongkan senapan ke arah Iidate.

(16/39)

Suara tembakan itu didengar Yuki dari atas pohon di dekat situ.

(17/39)

Bersama beberapa Player, Yuki pergi mengintai. Saat mendekati titik helikopter hovering, terlihat gadis-gadis berbaju loreng sedang turun dengan tali. Agar tidak ketahuan mereka, Yuki dan yang lainnya bersembunyi diam-diam dan beralih ke mode pengawasan. Ada Player yang bersembunyi di semak jauh, ada yang di balik pohon jauh, dan dalam kasus Yuki—mengambil risiko lebih besar, memanjat pohon tepat di dekat titik pendaratan, dan mengintip lawan dari balik dahan dan dedaunan.

Lalu—ia melihat sesuatu yang luar biasa.

Player yang tampak memimpin kelompok itu, ditembak oleh Player yang berada tepat di belakangnya. Terlebih lagi—bukan satu tembakan, tapi lima, sepuluh, dan akhirnya seluruh peluru dalam satu magazine senapan dimuntahkan, membunuhnya dengan sangat teliti hingga tidak menyisakan keraguan. Player yang ditembak itu memuntahkan gumpalan putih akibat "Perawatan Pengawetan", jatuh, dan tidak bergerak sedikit pun.

Pertikaian sesama teman.

"—Berisik banget sih, sok ngatur."

Player yang menembak itu meludah dengan kata-kata seperti itu.

Suara yang tidak asing. Siapa ya—pikir Yuki, dan mengarahkan mata pengamatannya, tapi gadis itu memakai helm jadi wajahnya tidak terlihat jelas.

"A, a..."

Salah satu gadis berbaju loreng berkata. Gadis yang bicaranya gagap.

"Apa yang kamu lakukan, ka, ka, kamu."

"Hah?"

Sambil mengganti magazine senapan, Player penembak menjawab.

"Apa? Ada masalah?"

"Ti, ti, tidak..."

"Hmph."

Berkata begitu, gadis itu melakukan perusakan lebih lanjut pada gadis yang baru saja dia bunuh. Membalik mayat itu dengan kasar, membuka ransel yang digendongnya—karena pakaiannya mirip tentara mungkin lebih baik disebut ransel tempur—dan menggeledah isinya.

Di sela kegiatan itu, dia melepas helm yang dipakainya.

Bahkan dari sudut pandang Yuki, wajahnya jadi terlihat. Mengetahui identitasnya, "Uwah..." Yuki menahan napas.

Dia itu—Player juga ternyata?

(18/39)

Maya melepas helmnya.

(19/39)

Dia benci helm. Benci segala jenis penutup kepala. Karena rambut jadi lepek dan tidak enak dilihat. Di dalam helikopter pun dia mau melepasnya, tapi Iidate cerewet bilang "Lebih baik dipakai", jadi terpaksa dia pakai terus, tapi sekarang sudah tidak perlu lagi. Maya melepas helm dan membuangnya sembarangan di situ.

Membuka ransel Iidate. Isinya persis sama dengan ransel Maya, jadi karena kebanyakan barang tidak perlu dua buah, barang jarahannya terbatas. Secara spesifik, magazine berisi amunisi, dan barang kesukaan yaitu permen karet. Dia segera membuka bungkusnya dan melemparnya ke mulut.

Setelah selesai menggeledah ransel, Maya melirik senapan yang dipegang Iidate. Ini juga harus diambil dengan benar. Jenis senapannya sama dengan yang Maya punya, peluru dan magazine-nya kompatibel, jadi dia membiarkan badan senapannya, dan hanya melepas serta mengambil magazine-nya dari badan senapan.

Lalu, dia hendak meninggalkan tempat itu, tapi—.

Dari belakang Maya, terdengar langkah kaki mengikuti.

Saat menoleh, lima Player lainnya mengikuti.

Menepikan permen karet yang sedang dikunyah ke pinggir mulut, "Pergi sana," kata Maya.

"Eh, tapi, katanya lebih baik bergerak dalam kelompok..."

"Yang ngomong gitu udah mati kan, goblok."

Maya menunjuk mayat Iidate dengan senapannya.

"Gue benci nyamain langkah sama orang. Terserah kalau kalian mau jalan bareng-bareng, tapi jangan maksa gue. Dah."

Meninggalkan kata-kata itu, Maya mulai berjalan lagi. Kali ini tidak ada yang mengikuti.

Disuruh-suruh orang ogah, menyamakan langkah juga ogah.

Biar gue lakukan sesuka hati gue.

(20/39)

Yuki melanjutkan pengawasan terhadap tim baju loreng.

Maya pergi, dan lima orang yang ditinggalkan tampak bingung sejenak, lalu memutuskan untuk bergerak bersama. Mereka berbaris dan pergi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan sekitar setengah dari Maya. Yang tertinggal hanyalah mayat Iidate.

Setelah keadaan begitu—Yuki turun dari pohon.

Mendekati mayat Iidate, dan memungut senapan yang jatuh di sampingnya.

Sambil menyembunyikan diri di semak terdekat, Yuki memeriksanya. Jenis senapan yang baru pertama kali dilihatnya, tapi dia paham kategori "Senapan Kecil", jadi dia tahu cara menggunakannya. Menarik tuas kokang di samping dan mengintip kamar pelurunya.

Peluru yang memancarkan kilau tumpul ada di sana.

Ya, pelurunya masih tersisa. Meskipun magazine-nya dibawa pergi oleh Maya, tapi senapan itu sendiri—untuk satu peluru yang sudah masuk ke kamar peluru—tertinggal di sini. Yang biasa disebut "One in the chamber". Sering lihat di film-film.

Artinya, dia berhasil merebut senjata dengan mulus—meski cuma satu peluru, tapi perkembangan yang terlalu menguntungkan ini membuat Yuki merasa aneh alih-alih senang. Player bernama Maya itu, sepertinya temannya Shirou, dan dikira bakal sangat tangguh—apa jangan-jangan tidak sehebat itu? Yuki memungut magazine yang dibuang Maya, dan memasangnya sekadar untuk tampilan. Dengan ini, secara tampilan, tidak ada bedanya dengan kondisi normal.

Yuki memeriksa senapan itu. Senapan serbu—Assault Rifle. Jangkauan tembak yang dicakup benda ini cukup luas. Bisa memuntahkan hujan peluru ke lawan di depan mata seperti yang dilakukan Maya tadi, atau mengintip jauh lewat scope yang terpasang di atasnya dan melakukan tembakan jarak jauh. Yuki punya pengalaman menangani tembakan Submachine Gun di game keempat puluh empat—"Cloudy Beach", tapi dia tidak percaya diri bisa terus menampilkan performa seperti itu secara stabil, lagi pula jangkauan senapan ini lebih besar dari itu. Kalau dibidik dari jauh, ini ancaman besar.

Fakta ini—harus disampaikan dengan benar kepada yang lain.

Yuki mengambil beberapa batu kecil dari kantongnya. Memandang sekeliling, dan meletakkannya di akar pohon raksasa yang menurutnya paling besar dalam pandangannya. Dengan susunan yang sudah disepakati sebelumnya—agar informasi yang ingin disampaikan tersampaikan dengan benar.

Bersamaan dengan selesainya penempatan batu kecil itu, terdengar suara tembakan di kejauhan.

Itu menandakan dimulainya game yang sesungguhnya.

(21/39)

Keito mendengar suara tembakan.

(22/39)

Secara refleks, dia meringkuk di tempat.

Tapi, sepertinya peluru itu tidak mengincar Keito, karena tidak ada kerusakan yang terjadi pada Keito maupun hutan di sekitarnya. Dalam posisi meringkuk, dia melihat ke sana kemari, chiro, chiro, dan setelah yakin dirinya aman, Keito perlahan bangkit dan menepuk lumut di tubuhnya.

Suara tembakan. Kali ini, tembakan tunggal. Tadi Keito juga mendengar suara tembakan, dan itu suara rentetan. Senapan yang bisa menembak dalam mode tunggal dan rentetan. Suara tembakan yang mengincar seseorang selain dirinya—apakah orang itu mati atau masih hidup, tentu saja Keito tidak mengkhawatirkannya. Kepalanya selalu penuh dengan dirinya sendiri. Keselamatan diri adalah yang pertama, yang kedua tidak ada. Itulah watak manusia bernama Keito.

Karena itu, Keito tidak pergi melakukan pengintaian musuh yang berbahaya. Sama seperti kebanyakan Elf, dia lari ke arah berlawanan dari perginya helikopter, dan bersembunyi di hutan. Apakah Elf dibunuh dalam jumlah tertentu—atau batas waktu habis—syarat akhir game tidak diketahui secara pasti, tapi pokoknya, dia berencana menunggu diam sampai terjadi sesuatu.

Namun, dia tidak diam di satu tempat terus menerus, melainkan berpindah-pindah sambil melihat kesempatan. Untuk mencari "sesuatu". Sebelumnya di tempat berkumpul dia sudah berunding dengan Elf lain, dan menyepakati untuk meletakkan "itu" di sekitar akar pohon raksasa. Keito terus bergerak sambil memeriksa akar setiap pohon yang dianggap raksasa sejauh mata memandang. Menggunakan teknik berjalan itu, menghapus hawa keberadaan sebisa mungkin, namun, tetap saja, sambil melewatkan waktu dengan ketakutan tidak tahu kapan akan ditembak.

Sama sekali tidak bertemu Player lain. Atau lebih tepatnya—berusaha agar tidak bertemu. Kalau semak bergoyang, atau ada suara langkah kaki, jika merasakan sedikit saja hawa keberadaan Player lain, Keito bersembunyi di tempat itu dan menunggu hawa itu hilang. Begini caranya tentu saja tidak akan bertemu. Karena berpikir itu mungkin hawa "musuh", dia ragu untuk berkontak dengan Player lain. Bukan cuma Keito, Elf lain juga rata-rata melakukan hal ini. Ini berarti sesama teman tidak bisa saling bertukar informasi, dan karena itulah Keito mencari "sesuatu" itu.

Satu jam, atau dua jam setelah suara tembakan mulai terdengar—.

Saat merasakan waktu yang tidak sebentar telah berlalu, Keito menemukannya.

Di samping akar sebuah pohon, belasan batu kecil diletakkan.

"Tergeletak"—bukan, melainkan "diletakkan", itu bisa terlihat jika diamati dengan baik.

Inilah yang dicari Keito. Batu kecil yang mungkin diletakkan oleh Elf yang pergi mengintai ini adalah alat sandi yang mirip dengan beras lima warna atau tali simpul ninja, dan dari cara penyusunan serta jumlahnya, bisa menyampaikan informasi sampai tingkat tertentu. Keito menatap batu kecil itu—dan membaca isi seperti "Musuh ada enam orang", "Lima di antaranya bergerak bersama, satu bergerak sendiri", "Membawa senapan laras panjang". Keito tanpa sadar menyunggingkan senyum karena bisa mendapatkan informasi musuh tanpa mengambil risiko.

Alat sandi ini juga, belakangan mulai dikenal di antara para Player. Sama seperti teknik berjalan itu, kabarnya dikembangkan oleh kelompok tertentu. Metode penyampaian tanpa kata-kata—kali ini menggunakan batu kecil, tapi alatnya tidak terbatas itu, bisa pakai ranting pohon, daun, tetesan air, dan kalau mau bahkan tidak butuh alat, bisa pakai gerakan tubuh kecil, suara batuk, suara sedot ingus, gerakan mata, informasi bisa dikirim dengan segala cara. Selain itu, dibanding kekuatannya, mempelajarinya sangat mudah, nyatanya sebelum helikopter datang Keito mengajari Yuki sebentar dan dia langsung paham. Metode luar biasa yang tak ada celanya. Ada saja orang yang memikirkan hal cerdas ya—pikir Keito dengan sungguh-sungguh.

Ini juga—berkat kelompok bernama "Mikkai" itu.

(23/39)

Keito mengetahui keberadaan kelompok itu bersamaan dengan saat dia tahu tentang teknik berjalan tersebut. Dia diajari tentang teknik berjalan oleh Player kenalannya, tapi pada saat yang sama, dia juga mendengar tentang pengembangnya.

"Mikkai" (Pertemuan Rahasia).

Sepertinya kelompok yang berencana meretas dunia game pembunuhan ini secara teknis. Mereka mengembangkan dan memiliki paket edukasi yang membantu penaklukan game, dan teknik berjalan serta alat sandi ini adalah sebagian darinya. Yang memimpin kelompok adalah Player berambut seperti serigala bernama Shirou. Nama itu pernah didengar Keito dalam rumor, tapi dia belum pernah bertemu langsung.

Kabarnya, "Mikkai" selalu merekrut anggota baru—mempublikasikan sebagian teknologi yang mereka miliki tujuannya adalah promosi untuk menyebarkan nama "Mikkai" dan kegiatan mereka. Bagi Keito yang mendapat banyak manfaat dari teknik berjalan itu, dia sangat ingin bergabung dengan "Mikkai" itu dan berbagi teknik lainnya, tapi dia belum pernah bertemu langsung dengan anggota "Mikkai".

Bisakah dia mendapatkan kesempatan bertemu suatu saat nanti di suatu tempat—.

Keito berpikir demikian, tetapi dia belum tahu.

Bahwa tepat saat ini, di game ini, dia berada di tempat yang sama dengan anggota "Mikkai".

Dan, dalam arti tertentu, dia akan berhasil melakukan kontak dengan anggota tersebut.

(24/39)

Beberapa jam lagi berlalu. Tentu saja, tidak ada jam di hutan ini jadi ini waktu yang dirasakan Keito, tapi bagaimanapun sudah beberapa jam. Selama itu Keito mendengar beberapa suara tembakan, dan meski tidak tahu pastinya, mungkin beberapa Elf telah kehilangan nyawa. Di antara korban yang entah berapa jumlahnya itu, Keito tidak termasuk. Dia terus bersembunyi di dalam hutan, melihat sekeliling dengan sangat hati-hati, dan berhasil bertahan hidup.

Suatu ketika—kedua mata Keito terpaku ke satu arah.

Dia menemukan beberapa batu kecil diletakkan di akar pohon yang agak jauh.

Jelas sekali diletakkan oleh orang. Alat sandi itu. Keito menyipitkan mata menatap batu kecil itu. Karena jaraknya jauh, dia tidak bisa membaca pesan yang ingin disampaikan batu itu—tapi setidaknya, dia tahu bahwa pesan itu adalah pesan yang tidak diketahui Keito. Berbeda dengan yang diletakkan Elf pengintai tadi. Informasi lain lagi—misalnya syarat akhir game, atau situasi terkini—mungkin seseorang meletakkannya untuk menyampaikan hal itu. Aku harus memastikannya, pikir Keito. Dia berdiri diam-diam, dan bergerak sambil menyembunyikan diri di balik semak-semak.

Saat itu, fakta bahwa Keito menggunakan teknik berjalan tersebut menjadi penentu nasib.

Langkah kaki yang agak sempoyongan seperti orang mabuk—karena gerakan itu posisi kepala Keito selalu berubah, dan karenanya, dia terhindar dari situasi terburuk yaitu kepala tertembak. Peluru senapan yang datang dengan kecepatan dahsyat hampir seribu meter per detik dari kejauhan ratusan meter, masuk dari bahu kanan Keito, tembus ke punggung, dan hanya menghancurkan daging atau tulang yang ada di jalurnya hingga remuk.

"Gya... Gyaaaaaaa!?"

Tentu saja, Keito menjerit dengan lantang.

(25/39)

Di kejauhan di mana jeritan itu hanya terdengar samar-samar—.

Cih, Maya mendecakkan lidah.

(26/39)

Maya berada di atas pohon.

Di atas batang yang cukup tebal untuk menopang berat satu manusia, dia duduk sambil membidik dengan senapan.

Melalui scope senapan, Maya mengintip ke kejauhan. Yang terlihat di balik lensa hanyalah—batu kecil yang diletakkan Maya untuk memancing musuh, dan darah putih berbusa. Sosok Elf pemilik darah itu—gadis kurus seperti benang wol—tidak ada di mana pun. Titik tembaknya buruk, gagal membunuh. Dia kabur. Maya melihat Elf itu lari ke balik pohon, tapi senapan ini tidak memiliki kekuatan untuk menembus pohon itu. Tidak ada lagi cara menyerang dari sini.

Sekali lagi, dengan volume lebih keras dari tadi, Maya mendecakkan lidah.

Elf itu adalah target kesepuluh bagi Maya. Sembilan sebelumnya sudah dibunuh dengan rapi. Elf pertama yang ditemui—alias korban pertama Maya—diinterogasi dan Maya tahu bahwa mereka saling bertukar informasi lewat batu penanda. Alat sandi yang dikembangkan Busutake dari "Mikkai".

Maya memikirkan strategi untuk memanfaatkannya balik. Meletakkan beberapa batu penanda palsu, mengambil posisi di mana bisa melihat semuanya, dan menembak Elf yang datang dengan lugu. Untuk mencegah sistemnya ketahuan, dia harus repot-repot memungut dan menata ulang batu setiap kali membunuh satu orang, tapi bahkan dengan menghitung kerepotan itu, ini sistem yang sangat efisien dan kuat, dan sejauh ini dia berhasil membunuh delapan Elf—sembilan kalau menghitung yang pertama diinterogasi.

Tapi, yang kesepuluh ini masalah. Player bertubuh kurus seperti benang itu berjalan sempoyongan padahal tidak terluka. Dia tahu gerakan itu. Teknik berjalan yang berasal dari anggota "Mikkai" bernama Awahime. Gara-gara itu kepalanya selalu bergoyang, tidak mudah membidiknya, tapi demi menyembunyikan sistem jebakan ini, diinginkan kematian instan lewat headshot, jadi Maya mencobanya.

Dan—gagal total.

Maya turun dari pohon. Menuju ke tempat Player tadi. Gagal membunuh dan malah dibiarkan menjerit, tapi baru itu saja. Fakta bahwa batu penanda itu adalah "umpan" belum terbongkar. Apakah dia tidak terpikir untuk berteriak memberitahu temannya, atau memang tidak berniat memberitahu—yang manapun itu, Maya harus segera ke sana dan membungkam mulut Player itu.

—Harus.

Itu adalah kata yang paling dibenci Maya.

Secara impulsif, Maya hendak mendecakkan lidah untuk ketiga kalinya.

Tapi, dia urungkan. Makin dilakukan, makin numpuk kesalnya.

(27/39)

Belakangan ini, dia merasa lebih mudah kesal dari biasanya.

Dasarnya memang tipe temperamental, tapi belakangan ini parah. Dia menyadarinya saat menembak mati Player bernama Iidate itu. Meskipun sikap sok ngaturnya menyebalkan, membunuh teman tanpa perlu itu terlalu sembrono. Benar-benar agak tidak tenang.

Penyebabnya jelas.

Gara-gara perempuan bernama Yuki itu.

Partner Maya—Shirou, sepertinya tergila-gila padanya. Saat kontak pertama tempo hari, tatapan yang Shirou tujukan pada Yuki mengandung komponen yang sama dengan yang biasa dipancarkan pada Maya. Komponen yang tidak pernah dipancarkan pada anggota "Mikkai" lainnya. Itu adalah—rasa suka. Perasaan yang diwakili huruf "Cinta", Shirou miliki untuk Yuki.

Itu yang tidak disukainya.

Cinta orang itu seharusnya dicurahkan semua untuk dirinya—harus dicurahkan. Soal "Mikkai" juga sebenarnya dia tidak suka. Dia ingin berduaan saja. Karena tidak ingin menghalangi rencana Shirou, dia bersabar soal "Mikkai"—tapi kali ini tidak bisa. Maya merasakan kebencian naluriah pada perempuan hantu itu. Jujur dia ingin Shirou berhenti berurusan dengan orang seperti itu. Tapi, karena dia orang kunci dalam rencana Shirou, Maya tidak bisa menuntut dengan keras, dan sebagai gantinya, Maya melampiaskan kemarahannya pada segala sesuatu yang terlihat.

Sambil berjalan cepat di hutan, Maya memasukkan tangan ke saku dada baju lorengnya.

Mengeluarkan terminal kecil. Mungkin disebut PDA, benda kuno yang dipakai sebelum smartphone lahir, tebal, berat, dan layarnya kecil. Di layar kecil itu, ditampilkan sisa waktu dan penghitung jumlah pembunuhan Elf. Kemajuan game dinilai berdasarkan ini. Tidak jelas bagaimana cara menentukan hidup-mati Elf, tapi mungkin dengan mengukur denyut nadi lewat sensor yang ditanam di tubuh. Angka penghitung tidak berbeda dengan saat diperiksa tadi. Fakta yang menunjukkan bahwa Elf seperti benang itu masih hidup.

Menyimpan terminal, Maya mendekati Elf itu. Dia memang kabur, tapi tidak sulit mengejarnya—karena gumpalan putih "Perawatan Pengawetan" menjadi penunjuk jalan. Tidak butuh waktu lama bagi Maya untuk menemukan Elf itu. Kepada dia yang meringkuk kecil di dalam semak-semak, Maya mengarahkan moncong senapan dan menaruh jari di pelatuk—.

Namun, saat ini.

Maya tidak tahu. Bahwa wanita hantu yang membuatnya kesal itu, saat ini juga, berpartisipasi dalam game yang sama.

Memungut senapan yang dia buang, bahkan melucuti baju loreng, helm, dan ransel dari mayat Iidate, dan melanjutkan game sambil menghindari pelacakan lawan dengan "menyamar".

Dan—senapan yang dibawa wanita itu, tepat saat ini, sedang diarahkan ke Maya.

Perut Maya meledak.

(28/39)

Yuki menarik pelatuk senapan.

(29/39)

Menerima suara tembakan di gendang telinga. Menerima hentakan di bahu melalui popor senapan.

Membayar dua harga itu, peluru ditembakkan. Amunisinya cuma satu ini. Tidak bisa latihan, harus langsung praktik. Apakah pelurunya terbang ke target dengan benar—tentu saja dia tidak bisa memastikan lintasannya dengan mata, tapi satu detik setelah tembakan, Maya jatuh ke tanah sambil mengerang kesakitan, jadi Yuki yakin tembakannya kena sasaran dengan tepat.

Yuki menuju ke tempat Maya berada.

Berlari dengan mengayunkan tangan yang terbungkus baju loreng. Baju ini hasil lucutan dari Player malang yang dibunuh Maya. Artinya dia menyamar. Dalam game yang menjadikan senapan berjangkauan cukup jauh sebagai senjata utama, konfirmasi sosok musuh dilakukan dari jarak yang lumayan jauh. Identifikasi individu sulit. Penyamaran sangat efektif. Yuki memeluk senapan, memakai baju loreng, memakai helm untuk menyembunyikan telinga Elf, dan menggendong ransel—isinya hampir semua dibawa Maya dan lima orang lainnya—meniru sosok musuh dari kepala sampai ujung kaki.

Dengan begitu Yuki menyelesaikan pertahanan tingkat tertentu. Entah berkat itu atau bukan, beberapa jam berlalu tanpa kontak dengan musuh—lalu dia mendengar suara tembakan dan jeritan di dekatnya. Saat menuju ke arah suara, dia melihat sosok Keito dan Maya. Sebenarnya tidak perlu ikut campur, tapi prinsip game Yuki adalah "Altruisme". Kalau bisa menjual budi pada orang lain, kesempatan itu tidak akan dilewatkan. Yuki membidik dengan senapan, mengembalikan satu peluru yang diabaikan Maya kepadanya—dan bergegas ke lokasi untuk penanganan lebih lanjut.

Saat Yuki sampai, Maya sudah menghilang. Melihat sekeliling, dia menemukan Keito yang meringkuk di semak-semak. Dari punggungnya meluap gumpalan putih. Pasti ditembak Maya.

"A, a, Yuki-san..."

Kata Keito.

"Itu, batu penandanya, batunya, itu jebakan."

Yuki sudah menduga sebagian besar situasinya. "Bisa gerak?" tanya Yuki sambil mengarahkan senapan untuk mewaspadai Maya—senapan kosong yang tidak ada pelurunya.

(30/39)

"...kk...!!"

Maya menahan suara sambil bersembunyi di balik pohon.

Melihat bagian yang tertembak.

Berlubang. Perutnya berlubang, dan gumpalan putih menyembur keluar. Tidak bisa dipercaya—situasi di mana tubuhnya berlubang. Berkat "Perawatan Pengawetan" pendarahan berhenti, tapi tidak tahu gejala sisa apa yang akan tertinggal, dan bicara soal saat ini, sinyal rasa sakit dalam jumlah besar yang rasanya tidak perlu sebanyak ini menyiksa otak Maya dengan denyutan tajam.

Tapi, dia tidak boleh bersuara. Napasnya juga tidak boleh kasar. Harus diam dan bersembunyi—. Ditembak. Oleh siapa? Karena sibuk bersembunyi dia tidak melihat wajah penembak dengan jelas, tapi dia memastikan orang itu pakai baju loreng. Ditembak teman sendiri—? Bukan. Salah satu Elf menyamar. Merebut baju Iidate.

Selain kesadaran itu, Maya juga menyadari asal satu peluru ini. Satu peluru di kamar peluru. Bodoh sekali. Melakukan kecerobohan mendasar seperti itu. Maya ingin melontarkan kata-kata kotor, tapi karena tidak bisa bersuara, dia hanya menggerakkan mulutnya.

Lalu, dia berpikir dengan kuat.

Penghinaan. Tidak bisa dimaafkan. Tidak tahu siapa, tapi pasti gue bunuh.

(31/39)

Yuki membawa Keito meninggalkan tempat itu.

Komposisinya adalah Yuki berdiri mengawal di samping Keito yang bergerak dengan merangkak. Meskipun senapannya sudah kosong setelah tembakan tadi, dia tetap membawanya. Gertakan itu penting. Itu pelajaran dari guru Yuki yang satunya lagi, Player buta—Rinrin.

Keito yang seharusnya paham cara menghapus hawa keberadaan dengan teknik berjalan itu, sepertinya tidak bisa melakukannya dalam kondisi punggung tertembak dan merangkak—bergerak sambil napas kasar dan mengerang menyedihkan bercampur air mata. Yuki menempelkan kain di luka punggungnya untuk mencegah jejak gumpalan putih tertinggal, tapi karena kecepatan kaburnya lambat, kalau mau dikejar pasti mudah.

Namun, hawa keberadaan Maya tidak terasa. Ada kemungkinan teknik berjalan itu juga, jadi tidak bisa yakin "tidak ada"—tapi setidaknya tidak terasa "ada". Apakah dia mundur? Atau tidak bisa bergerak karena sakit, atau pingsan? Yuki sangat berharap begitu, tapi tetap terus waspada—bergerak bersama Keito—dan melewati sudut di mana banyak sinar matahari menembus dedaunan.

—Saat itu.

Mata Yuki menangkap kilatan cahaya chika-chika.

(32/39)

Benar-benar, waktu yang sama.

Maya memastikan identitas lawan dari jarak dekat.

Sebelum berpikir, tenaga sudah terkumpul di jari telunjuknya.

(33/39)

"...!!"

Yuki secara refleks mengeluarkan kakinya.

Menendang Keito hingga terpental, memindahkan posisinya secara paksa.

Dan, Yuki sendiri juga bergerak. Menendang tanah dengan kuat untuk melompat, dan bersamaan dengan bersembunyi di balik pohon terdekat—dia mendengar suara tembakan. Bukan satu, bukan three-burst, tapi suara tembakan yang lebih banyak. Saat Yuki melongokkan wajah dari balik pohon untuk mengintip, di area tempat Yuki dan Keito berada tadi, terlihat lumut beterbangan, daun kering beterbangan, dan peluru beterbangan—cara terbangnya memberitahu perkiraan lintasan peluru, jadi Yuki menelusurinya balik dan mengarahkan mata ke sumber tembakan.

Dia menemukan Maya yang sedang membidik dengan senapan di atas pohon.

Dia melacak Yuki dan Keito dalam kesunyian, memanjat pohon, lalu menembak—. Kilatan cahaya tadi pasti pantulan lensa scope.

Sama sekali tidak sadar. Dalam kondisi terluka, bisa melakukan aksi selevel ini—bukan amatir. Meskipun ada ketidakkonsistenan di sana-sini seperti menembak teman, melewatkan satu peluru di kamar, lupa melepas scope—tidak diragukan lagi, dia kuat.

Selagi Yuki yakin akan hal itu, penembakan terus berlanjut. Padahal Yuki maupun Keito sudah tidak ada di sana, Maya terus menembakkan peluru yang tidak mengenai apa-apa. Beberapa detik berlalu, amunisi di magazine habis, dan suara tembakan berhenti. Terdengar suara kasha, kasha, sepertinya sedang mengganti magazine.

"Fu, fufu."

Terdengar suara tawa.

"Tuh kan benar! Ternyata elo orang yang menyebalkan itu!"

Ada volume suara dan kejelasan yang tidak tampak seperti orang terluka.

"Lo keluar buat dibunuh sama gue kan! Iya kan!? Kalau enggak, kebetulan macam ini gak mungkin ada! Sesuai harapan, gue bakal bunuh lo! Gue bunuh lo!"

Isi ucapannya agak tidak dimengerti—tapi sepertinya, Maya melontarkan kata-kata itu dengan kesadaran bahwa lawannya adalah Yuki. Dia ingat pernah dipelototi oleh wanita itu saat bertemu tempo hari. Dalam hidup Yuki kadang ada kejadian seperti ini. Tanpa sebab yang jelas, dia dilimpahi rasa benci yang luar biasa. Mungkin secara tidak sadar dia melakukan perilaku yang membuat jenis orang tertentu kesal.

Yuki mengarahkan pandangan ke arah Keito. Tadi dia menendangnya ke balik pohon—tapi dia sudah menghilang entah kapan. Sepertinya dia kabur meninggalkan Yuki. Bilang terima kasih kek, pikir Yuki—tapi kalau dipikir-pikir, dia sudah diajari teknik berjalan itu oleh Keito, jadi mungkin bisa diartikan Yuki yang membalas budi. Bagaimanapun, dia harus lolos dari situasi ini sendirian.

Yuki meletakkan senapan.

Dari kantongnya, dia mengeluarkan ketapel batu.

(34/39)

Maya turun dari pohon. Berjalan dengan langkah lebar, mengejar jejak Yuki.

Rasa sakitnya sudah hilang. Kegembiraan yang menetralkan semua rasa sakit itu dan bahkan berlebih, memenuhi dadanya.

Perempuan itu—ikut serta dalam game ini. Sebagai musuh pula. Kesempatan untuk membunuh. Bukankah ini kesempatan pas untuk menghabisinya secara terang-terangan? Meski seumur hidup tidak beragama, hanya di saat seperti ini Maya percaya ini pasti kehendak Tuhan. Artinya "lakukan". Tidak bisa dipikirkan lain. Kalau melewatkan kesempatan ini justru bakal kualat. Mau tidak mau harus dilakukan. Bunuh dia sedikit lalu—

Dan, aku akan rahasiakan dari Darling.

Ah, tidak masalah.

Orang secerdas dia, pasti akan menemukan rencana yang tidak perlu mengandalkan perempuan itu.

Maya memutar ke balik pohon tempat Yuki lari, dan menodongkan senapan.

Tentu saja, sosok wanita itu sudah tidak ada di sana. Maya mengawasi sekitar—dan—menemukan wanita berbaju loreng yang bergerak sambil menyembunyikan diri dengan menyusup di bawah pohon rendah atau semak belukar.

Segera Maya mengarahkan senapan dan menembak—tapi wanita itu lebih dulu bersembunyi di balik pohon. Sepertinya dia memprediksi tembakan. Apa dia punya mata di punggung, Maya merasa kesal, kalau gitu gue tembak dari jarak lebih dekat, pikirnya, dan melangkahkan kaki ke depan.

Namun, di situ, Yuki kembali menampakkan diri dari balik pohon.

Di tangan kanannya, ada sesuatu yang diputar-putar.

Ketapel batu—. Senjata yang dibagikan ke Elf. Bukan pertama kalinya Maya melihat "itu". Elf pertama yang dibunuh—Elf yang diinterogasi dan membocorkan soal batu penanda—menggunakannya untuk melawan Maya.

Tapi—meski dibilang menggunakan, Player itu sama sekali tidak bisa menguasai senjata yang asing bagi manusia modern seperti ketapel batu, jadi, melihatnya digunakan dengan benar adalah yang pertama kali ini. Jujur, harus diakui dia meremehkan kekuatannya. Dia pikir tidak jauh beda dengan melempar batu biasa. Kalau cuma segitu, buat apa repot-repot pakai alat—. Batu kerikil terbang dengan kecepatan tiga kali lipat dari bayangan, menghantam kaki kiri Maya dengan telak, membuatnya tidak bisa berdiri dan Maya pun jatuh ke tanah. Sambil merasakan tekstur daun kering yang kasar di pipinya, dia merevisi pemahamannya tentang benda bernama ketapel batu.

Saat Maya bangkit dan membidik ulang dengan senapan, sosok Yuki sudah lebih besar dari sebelumnya. Mendekat—dia berlari ke arah sini. Berlari, mendekat, sampai jarak di mana senapan tidak efektif, dan berencana menghajar Maya dengan tangan kosong. Tapi—masih jauh untuk mencapai itu. Jaraknya masih cukup. Baik secara waktu maupun jarak, masih ada jeda untuk menembak wanita itu. Maya membidik kepala Yuki, dan menekan pelatuk—

—Sesaat sebelumnya, dia sadar.

Di kepala Yuki, tidak ada helm.

Tadi harusnya dipakai. Ke mana perginya?

Jawaban atas pertanyaan itu segera diberikan. Helm yang terbang sambil menggambar parabola—dengan lihai menyelinap di antara pandangan Maya—menghantam kepala Maya dengan keras. Bunga api berhamburan di depan mata, ada waktu kosong dalam kesadaran. Dia melempar helmnya—bersamaan dengan menyadari itu, dalam pandangan yang belum pulih Maya tetap menekan pelatuk. Suara tembakan terdengar, hentakan terasa, jadi sepertinya peluru keluar, tapi fakta bahwa tak satu pun peluru mengenai Yuki—karena dia dipukul dengan keras—Maya menyadarinya.

Demikianlah, panggung pertarungan beralih ke adu jotos. Maya melakukan perlawanan sekuat tenaga, tapi harus mengakui bahwa lawannya satu atau dua tingkat lebih hebat. Dalam waktu kurang dari satu menit Maya ditaklukkan. Wajahnya dipukul berkali-kali, kedua lengannya ditahan dengan lutut, posisinya diduduki (mount position), dan senapannya direbut. Moncong senapan yang semenit lalu adalah miliknya, dan tatapan dingin Yuki yang memegangnya, dilihat oleh Maya. Dia melihat jari Yuki yang sudah berada di pelatuk, bergerak.

—Mati lo.

Ingin bilang begitu, tapi mulutnya terasa kebas dan tidak bisa bicara.

Jadi, Maya mengacungkan jari tengah di dalam hatinya.

Dia mendengar bunyi kachiri.

(35/39)

Yuki mendengar bunyi kachiri.

Itu suara pelatuk ditarik, dan hammer yang terlepas memukul pin.

Akan tetapi—peluru tidak keluar.

(36/39)

Kachiri, kachiri, dia mencoba menarik pelatuk beberapa kali.

Tapi, tidak ditembakkan. Peluru tidak keluar.

Kenapa ini, pikir Yuki. Kehabisan peluru—harusnya tidak. Senapan ini baru ditembakkan beberapa kali sejak terakhir ganti magazine. Tidak mungkin kosong. Kalau begitu—macet? Meskipun senjata yang disiapkan penyelenggara, malfungsi itu ada. Kalau begitu betapa beruntungnya orang ini—pikir Yuki sambil memelototi Maya,

Saat itu, dari saku dada baju lorengnya, terdengar suara.

Suara bercampur noise. Ada komunikasi masuk ke transceiver atau semacamnya.

"...sai. Sudah selesai, Maya-san."

Terdengar begitu.

Suara itu membuat Yuki mundur dari atas Maya. Maya yang kedua lengannya bebas, memasukkan tangan ke saku dada, mengeluarkan terminal kecil—bentuknya lebih tebal dari smartphone—dan melihat layarnya.

Lalu, dia tertawa sinis.

"Selesai katanya,"

Ucapnya, dan memperlihatkan layar ke Yuki.

Di layar LCD yang tidak bisa dibilang besar atau mudah dilihat itu, tampaknya ditampilkan status kemajuan game. Tidak semua informasi di layar bisa dibaca, tapi ada penghitung di bagian bawah, dan terlihat angka digital "20".

Dengan itu, Yuki mengerti segalanya. Angka "20" itu adalah jumlah ketentuan. Norma yang dibebankan pada Maya dan kawan-kawan—jumlah Elf yang harus dibunuh. Itu, baru saja terpenuhi. Game sudah berakhir. Senapan tidak bisa ditembakkan mungkin karena itu. Mekanisme kontrol yang mengunci otomatis jika syarat clear terpenuhi pasti sudah ditanamkan.

Saat Yuki sampai pada dugaan itu—dari langit terdengar suara baling-baling helikopter.

Sama dengan yang didengar beberapa jam lalu. Tak lama kemudian, staf manajemen yang sepertinya turun dari helikopter datang dalam jumlah banyak. Beberapa dari mereka membawa tandu medis, menaikkan Maya yang terluka, dan membawanya pergi.

Setelah melihat semua itu, Yuki membuang senapan ke sekitarnya.

Lalu berkata.

"...Hoki banget tuh orang."

(37/39)

Demikianlah—bagaimanapun juga, game telah berakhir.

(38/39)

Meskipun berakhir dengan cara yang seperti dihentikan di tengah-tengah—pokoknya sudah berakhir. Bukan hanya Maya, bukan hanya gadis-gadis berbaju loreng, kubu Elf termasuk Yuki pun disambut oleh staf manajemen dan dipulangkan.

Karena tidak mengalami cedera yang berarti, Yuki langsung pulang ke rumah. Yuki terbangun di kamar 107 Asrama Tochinoki, menyimpan kostum Elf yang ada di samping bantal ke dalam lemari, berdoa tiga menit, melakukan refleksi game, dan menyelesaikan rutinitas biasanya tanpa masalah. Setelah semua prosedur selesai, waktu masih sore, dan jika bergegas, sepertinya masih keburu untuk waktu sekolah. Yuki berganti ke seragam pelaut, memakai sepatu pantofel, dan pergi ke kota di senja hari.

Saat itu—ada telepon masuk ke ponselnya.

Melihat layar, nomor Kokone yang didaftarkan tempo hari tertera. Yuki menekan tombol jawab, menempelkan smartphone ke telinga dan berkata "Halo".

"—Selamat atas penyelesaian game-nya, Yuki-san."

Jelas itu suara manusia yang bukan Kokone.

Atau lebih tepatnya, itu Shirou.

"...Ada apa, Kokone," kata Yuki. "Kok suaramu lebih serak daripada sebelumnya."

"Lelucon itu kurang tajam ya."

"Ada perlu apa."

"Saya pikir ini kesempatan yang bagus, jadi saya menghubungi Anda. Rupanya, Anda baru saja bertanding dengan Maya kami. Saya sudah mendengarnya."

Informasinya cepat juga, pikir Yuki.

"Dengar dari mana? Bukannya dia masih di rumah sakit penyelenggara?"

Setelah game berakhir, jalan yang ditempuh Player terbagi menjadi dua. Satu adalah rute langsung pulang ke rumah seperti Yuki kali ini. Dan satu lagi—kemungkinan besar Maya kali ini begitu—adalah rute dibawa ke rumah sakit penyelenggara untuk menyembuhkan luka yang didapat di game. Saat ini seharusnya Maya masih di rumah sakit di bawah naungan penyelenggara. Selama itu dia pasti ditidurkan, dan tidak mungkin bisa menghubungi Shirou.

Tapi,

"Bukan dengar dari Maya-san kok," jawab Shirou.

"Saya punya hubungan yang lumayan akrab dengan Agen. Saya dalam posisi bisa mendapatkan informasi lebih banyak dari biasanya. ...Bagaimana? Kuat kan, dia?"

"Yah, lumayan lah."

Sebenarnya cukup bikin deg-degan, tapi dia menjawab dengan sedikit merendah.

"Hebat kan. Dia itu, baru Player keempat kali lho."

"Hee..."

Gak kelihatan begitu sih, pikir Yuki. Tapi, kalau dipikir-pikir, memang ada ketidakkonsistenan aneh dalam kekuatannya. Itu mungkin karena dia pemula.

"Dia tidak memiliki bakat khusus sebagai Player. Itu, dalam beberapa bulan saja bisa dipoles sampai segitu. Dengan memanfaatkan paket edukasi kami."

"Paket edukasi itu apa?"

"Ah, benar juga. Saya belum cerita ke Yuki-san ya..."

Setelah jeda sejenak yang mungkin digunakan untuk menimbang alur pembicaraan, Shirou bercerita.

"Hal semacam itulah yang sedang kami kembangkan. Paket edukasi yang melatih skill sebagai Player dan mengubahnya menjadi sosok yang unggul. Seperti yang Yuki-san tahu betul—di dunia ini, belajar dari pengalaman itu sangat sulit, kan? Pengalaman sendiri saja tidak cukup. Belajar dari luar itu wajib. 'Seberapa' kuat how-to (tata cara) yang bisa didapat dengan 'seberapa' cepat, itulah yang menentukan performa Player. Benar kan?"

Dia tidak menjawab "benar", tapi Yuki kurang lebih setuju. Alasan utama Yuki bisa bertahan sampai hari ini dan melewati berbagai musuh serta tantangan sulit adalah karena dia mendapat bimbingan langsung dari Hakushi, Player terkuat di masanya.

"Karena itu, saat mulai jadi Player, saya memutuskan untuk memegang itu. Yang menguasai dunia ini bukan kekerasan ataupun otak. Tapi 'Pendidikan'. Orang yang memegang how-to yang lebih kuat akan menguasai dunia. Mengumpulkan pengetahuan yang tersebar di antara para Player, memurnikannya, dan memonopoli paket edukasi yang paling kuat. Yah, masih separuh jalan sih..."

Yuki mendengar suara tarikan napas. Suara Shirou yang mengoceh panjang lebar mengambil kembali oksigen yang hilang.

"Dia bisa dibilang sampel untuk membuktikan how-to kami. Sejauh mana kami bisa mengangkat orang yang benar-benar amatir, untuk memastikan itu, saya menariknya jadi rekan. ...Kalau Anda sudah bertarung langsung dengannya, ceritanya jadi cepat. Anda pasti sudah menyadari khasiat paket edukasi kami, kan, Yuki-san."

"Mau bilang apa?"

"Pengetahuan kami—akan kami tawarkan pada Yuki-san."

Shirou melanjutkan.

"Ke dalam tim kami—saya menyebutnya 'Mikkai'—tolong, bergabunglah. Kami menyambut Anda."

"......"

Yuki paham arah pembicaraannya.

Ini kelanjutan negosiasi tempo hari. Dia mencoba menarik Yuki jadi teman. Karena oleh-oleh tempo hari tidak disukai, dia menyiapkan oleh-oleh lain.

"...Masih mau menggoda?" tanya Yuki.

"Pacarmu habis kubabak-belur lho."

"Pacar, ya."

Mungkin pilihan kata itu lucu baginya, Shirou terkekeh kusukusu.

"Saya tidak peduli kok. Itu kan di dalam game. Apakah petarung profesional akan membenci lawannya hanya karena dihajar habis-habisan di pertandingan? Sama seperti itu."

Benar juga sih, pikir Yuki. Player saling melukai itu hal wajar, dan Yuki sendiri tidak menyimpan dendam atau kebencian pada Maya.

"Aku sudah jadi Player lebih lama dari orang bernama Maya itu," kata Yuki. "Kalau aku pakai paket edukasi kalian, emang ada manfaatnya?"

"Sangat ada. Bahkan untuk Player berpengalaman seperti Yuki-san, pengetahuan kami berguna. Misalnya... Anda tahu teknik berjalan yang belakangan ini sering digunakan di antara para Player?"

"Ah."

"Itu kami yang kembangkan. Berasal dari skill milik Player bernama Awahime yang tergabung dalam 'Mikkai'. Soal itu, kami sengaja mempublikasikannya untuk promosi... tapi selain itu, masih banyak teknologi orisinal yang dimonopoli oleh 'Mikkai'. Beberapa di antaranya pasti berguna juga bagi Yuki-san."

"Imbalannya apa? 'Waktu yang tepat' itu lagi?"

"Bukan... Soal itu, untuk sementara lupakan saja tidak apa-apa. Tiba-tiba dibilang begitu, Anda pasti bingung. Tempo hari saya terlalu terburu-buru mendesak. Saya introspeksi."

Yuki tidak melewatkan syarat "untuk sementara" yang disisipkan.

"Tanpa 'itu' pun, saya ingin menarik Yuki-san. Sebagai Player aktif, mungkin Andalah sosok dengan jumlah penyelesaian terbanyak—jika Anda meminjamkan pengetahuan itu, 'Mikkai' bisa makin maju. Bagi Yuki-san juga, jika menerapkan paket edukasi kami, pasti akan mencapai lompatan lebih jauh sebagai Player. Akan sangat berkontribusi pada penyelesaian game kesembilan puluh sembilan. Cerita yang menguntungkan kedua belah pihak."

Penyelesaian game kesembilan puluh sembilan—.

Sepertinya Shirou tahu lebih banyak tentang itu daripada Yuki.

"...'Hadiah Istimewa Pencapai Target'."

Gumam Yuki. "Ya?" Shirou balik bertanya.

"'Hadiah Istimewa Pencapai Target', tempo hari kamu bilang begitu kan."

"Ah, iya."

"Kamu main game demi mengincar itu. Benar kan?"

"Sebagai tujuan utama, benar."

"Terus, emangnya boleh menjadikan aku teman?"

"...? Maksudnya?"

"Anggaplah aku masuk 'Mikkai' itu. Aku terima paket edukasi seperti katamu, dan berkat itu juga aku berhasil mencapai sembilan puluh sembilan kali. Kalau begitu yang dapat 'Hadiah' itu aku dong? Kamu gak masalah dengan itu?"

"......"

"Atau, 'Hadiah' itu bukan sesuatu yang cuma dikirim ke satu orang saja? Kalau 'waktu yang tepat' datang dan aku menunjukmu, kamu bisa dapat bagian tertentu... atau semacam itu?"

Jawaban tidak langsung datang. Setelah beberapa saat, "...Fumu," kata Shirou.

"Jika Anda mau, haruskah saya ceritakan sekarang di sini? Tentang 'itu'."

"Boleh?"

"Sepertinya saya malah mengundang kecurigaan yang tidak perlu," lanjut Shirou.

"Jika tujuan saya tidak jelas dan mencurigakan, saya akan membukanya. Sebagai bahan negosiasi pun sepertinya tidak terlalu menarik... Soal bergabung dengan 'Mikkai', silakan putuskan setelah semua informasi lengkap. Bagaimana?"

Yuki berpikir. Bukannya tidak ada keraguan untuk mendengarkan tentang "itu". Angka sembilan puluh sembilan yang ditetapkannya sebagai tujuan demi tujuan—jika makna lain ditambahkan ke sana, perubahan apa yang akan muncul di hatiku? Ada kecemasan itu.

Tapi, ia ingin tahu tujuan Shirou, dan toh suatu saat akan tahu juga. Yuki menjawab.

"Ceritakan."

(39/39)

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar