Featured Image

My Mom Strongest Magical Girl V1 Epilog

Metoya Februari 13, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Epilog


Insiden monster yang terjadi di Shibuya pada pagi hari, saat matahari belum bersinar terik.

Sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari, insiden itu tidak diliput terlalu besar... baik aksi Gadis Penyihir pendatang baru penuh harapan, Plum Sapphire, maupun eksistensi Gadis Penyihir Kegelapan pertama dalam sejarah, pada akhirnya semuanya memudar di hadapan aksi heroik Cherry Diamond.

Dan, beberapa hari setelah kejadian itu.

Keseharian kami setelah berhasil menyelamatkan Haruna yang sempat ternoda oleh kegelapan, telah berubah sedikit.

"Sialan! Kenapa! Tuan Full Metal Gamegoras yang baru saja bangkit kembali ini, bisa dikalahkan oleh gadis-gadis ingusan seperti kalian!"

Layaknya sebuah rutinitas, yang menghalangi monster yang menyerang kota itu adalah Gadis Penyihir berwarna merah muda dan biru.

"Plum Sapphire-chan! Aku udah nyetrum monster kura-kuranya nih!"

Gadis Penyihir merah muda yang mempermainkan monster dengan gerakan lincahnya dan memanipulasi kekuatan petir, Peach Ruby.

"Bagus, Peach Ruby! Serahkan pukulan terakhirnya padaku!"

Dan, Gadis Penyihir biru yang melepaskan kekuatan dahsyat melalui anak panah dengan akurasi mutlak, Plum Sapphire.

"Ugyaaaaaaaaaaah! T-Tidak mungkiiiiiin!"

Menerima serangan kombinasi yang sangat serasi dari mereka berdua, monster Full Metal Gamegoras pun tumbang dalam sekejap.

Sambil menahan hembusan angin ledakannya dengan jubah kostumku, aku mengecek situasi kerusakan di sekitar.

"Peach Ruby, ada korban yang butuh pertolongan di dekat reruntuhan sebelah sana! Plum Sapphire, tolong perbaiki gedung yang hampir runtuh itu!"

""Siaaaap!""

Saat mereka berdua bertarung, aku cuma bisa memandu evakuasi warga dan memberikan sedikit bantuan kecil, tapi kemampuanku yang sesungguhnya baru keluar setelah pertarungan selesai.

Demi menekan kerusakan akibat serangan monster seminimal mungkin, aku memberikan instruksi kepada mereka berdua.

"Permisi! Maaf! Kami ingin mewawancarai kalian semua!"

Tiba-tiba saja, kru peliput berita yang sedari tadi menantikan pertarungan berakhir langsung berkerumun menghampiriku.

Kalau dibiarkan terkepung seperti ini, urusannya bakal jadi repot.

Aku mengeluarkan bom asap dari balik jubahku, lalu melemparkannya ke depan para kru peliput.

"Kyaaaaah! Uhuk, uhuk uhuk uhuk!"

"Maaf saja, tapi kami menolak untuk diwawancarai!"

Demi mencegah identitasku terbongkar, aku sengaja merendahkan suaraku saat berteriak.

Setelah itu, aku langsung menerobos kepulan asap dan berlari menghampiri mereka berdua yang sudah selesai melakukan proses pemulihan.

"Ayo pergi!"

"Iya, iyaaa. Hari ini giliranku, kan!"

Peach Ruby meraih tanganku, lalu melompat ringan sebelum berakselerasi dengan kecepatan penuh.

Dalam sekejap mata, kami sudah terbang tinggi hingga ke ujung langit.

"Tunggu dulu! Jangan tinggalkan aku!"

Plum Sapphire segera mengejar dari belakang, dan kami bertiga pun terbang berdampingan di langit.

"Muuu! Padahal aku udah nyiapin kencan di udara berdua aja sama Shou-kun!"

"Kencan apanya! Kau kan udah puas dapet posisi sebagai adiknya Shoutarou, kan? Serahkan posisi pacarnya padaku!"

"Nggak mau! Itu kan urusan yang berbeda! Karena aku juga udah jadi Gadis Penyihir, aku bakal merengek minta ini-itu ke Shou-kun tahu!"

"Kaaah! Aku nggak bakal ngebiarin itu terjadi!"

"Lagian Nagi-chan juga! Waktu itu kan kamu udah ngerelain Shou-kun buatku!"

"Itu kan gara-gara terpaksa karena kau lagi jatuh ke dalam kegelapan!"

Sambil membawaku bergelantungan di udara, mereka berdua mulai cekcok dengan berisik.

Padahal pas bertarung mereka sangat kompak, kenapa ujung-ujungnya selalu jadi begini sih.

"Hei, kalian berdua. Gimana kalau kita lanjutin obrolannya setelah sampai di rumah?"

"Ah, benar juga. Aku juga mau ngebahas rencana kencan hadiah kita selanjutnya!"

"Kalau begitu aku juga ikut! Ayo kita adain acara nginep bareng atau semacamnya!"

Meskipun masih saling bersaing, mereka berdua mengulurkan tangan kanan ke depan, memunculkan portal teleportasi di udara.

"Sip, ayo kita pulang."

Setelah itu, kami bertiga bersama-sama melompat ke dalam portal teleportasi tersebut.

Detik berikutnya. Dalam sekejap, kami sudah tiba di ruang tamu rumah yang sudah sangat kukenal.

"Kami pulang~"

"Ufufufu, selamat datang kembali. Sepertinya hari ini giliranku nggak ada, ya."

Baru saja kami tiba, ibu yang sedang dalam wujud Cherry Diamond menyambut kedatangan kami.

Eh, aneh deh? Bukannya hari ini ibu harusnya libur karena kami yang bakal turun ke lapangan?

"Oh, ini? Setelah kalian berangkat, ternyata ada monster yang muncul di Shikoku lho. Karena Gadis Penyihir di sana kelihatannya lagi kerepotan, jadi ibu pergi ke sana sebentar buat ngebantu mereka♡"

Ibu tersenyum ceria sambil memberikan kedipan sebelah matanya.

Pergi ngebantu katanya... Apa itu artinya saat kami bertiga sedang mati-matian mengalahkan satu monster, ibu sudah pergi ke Shikoku, mengalahkan monster di sana, terus pulang lagi?

"Haaah... Benar-benar nggak bisa ditandingi, deh."

"Ibu nggak bakal kalah dari anak-anak muda lho~?"

"Ya, biarpun begitu... kami pasti bakal ngelampauin Ibu."

Saat aku menjawabnya, aku merasakan sentuhan yang lembut di tangan kanan dan kiriku.

Saat aku menoleh, Nagi dan Haruna yang berdiri di sisi kanan dan kiriku sedang menggenggam erat tanganku.

"Fufufu, menarik juga. Sampai sekarang, udah banyak Gadis Penyihir yang ngomong besar kayak gitu... tapi belum ada satu pun yang berhasil membuktikannya lho."

Sambil menempelkan tangan di pipinya, ibu tetap mempertahankan sikap tenang dan percaya dirinya.

Itu pasti karena kebanggaannya sebagai sosok yang telah berdiri di puncak para Gadis Penyihir selama lebih dari dua puluh tahun.

"Aku nggak bakal kalah! Aku pasti bakal jadi Gadis Penyihir nomor satu, terus jadi istrinya Shou-kun!"

"Maaf aja ya, itu harusnya kata-kataku. Posisi nomor satu dan Shoutarou itu adalah milikku!"

Giri giri giri. Sambil menarik kedua lenganku dengan tenaga yang seolah-olah mau merobeknya, mereka berdua melontarkan deklarasi perang kepada ibu. Sebagai seorang laki-laki, terjepit di antara gadis-gadis cantik... seharusnya ini adalah situasi yang menggembirakan, sih.

"Wah wah, repot juga ya. Shou-chan, kamu mau jadiin yang mana sebagai istrimu?"

"...Aku kurang ngerti soal hal-hal kayak gitu."

Perasaanku pada Haruna itu lebih mirip dengan cinta keluarga seperti yang kurasakan pada ibu, dan meskipun aku memang merasa tertarik pada Nagi sebagai lawan jenis... tapi kalau ditanya apakah itu melebihi perasaanku pada Haruna, rasanya sulit untuk dijawab.

Lebih tepatnya, kalau aku langsung memberikan jawaban sekarang... salah satu dari mereka kemungkinan besar bakal berubah jadi Gadis Penyihir Kegelapan lagi, jadi aku nggak bisa ngomong sembarangan.

""Gununununuuuuuuu!""

Makanya, kalau cuma dengan mengorbankan lenganku ketarik sampai mau copot, biarlah seperti ini untuk sementara waktu.

Lebih tepatnya, tolong biarkan saja seperti ini, kumohon.

"Ara ara. Kalau lihat dari kondisinya, kelihatannya nggak bakal cepat selesai nih masalahnya. Kalau gitu..."

Haruna dan Nagi terus menarikku dari kiri dan kanan dengan kekuatan yang mengerikan.

Melirik mereka berdua, ibu merentangkan kedua tangannya...

"Untuk sementara waktu, teruslah jadi Shou-chan kesayangan Mama, ya?"

Ibu memelukku dengan lembut, menggesekkan pipinya yang kenyal ke pipiku sambil mengeluarkan suara manja.

"...Iya, itu yang terbaik."

""Apanya yang terbaaaaaik!""

Jeritan cemburu dari Haruna dan Nagi saling tumpang tindih.

Akan tetapi, rasa sakit karena lenganku ditarik maupun suara teriakan marah yang memekakkan telinga ini... rasanya bukan apa-apa.

Perasaan bahagia karena dipeluk dengan lembut oleh ibu yang sangat kusayangi ini.

"Nfufu. Mama saaayang banget sama Shou-chan!"

Hal itu adalah "sihir" terkuat dan tak terkalahkan, yang mampu menyelesaikan segala masalah di dunia ini.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar