Mahou Shoujo Terkuat
Haruna telah jatuh ke dalam kegelapan, dan berubah menjadi Gadis Penyihir Kegelapan (Dark Magical Girl). Aku tidak bisa mencegahnya, dan hanya bisa berdiri mematung menyaksikannya pergi. Sambil menelan keputusasaan yang mendalam, sisa-sisa rasa tanggung jawab di dalam diriku menggerakkan tubuhku... untuk menghubungi ibu.
"...Iya. Jadi tolong jangan khawatir. Kalau Haruna-chan sudah puas, aku yakin dia pasti bakal pulang kok."
Di ruang tamu rumahku. Di sebelahku yang sedang duduk di sofa dengan kepala tertunduk lesu... ibu sedang menelepon ibu Haruna untuk menjelaskan situasinya. Meskipun kubilang menjelaskan situasi, tentu saja ibu tidak mungkin menceritakan kebenarannya, jadi isi pembicaraannya hanyalah kebohongan belaka.
"Huft... untuk sementara, aku sudah bilang kalau Haruna-chan menginap di rumah temannya. Nagi-chan, maaf ya, tolong samakan ceritanya nanti."
"Baik, Izumi-san. Tenang saja. Aku juga bakal ngasih tahu keluargaku di rumah soal ini."
Nagi juga ada di sebelah ibu yang baru saja menutup teleponnya. Ibu memanggilnya ke sini karena merasa Nagi juga perlu mengetahui apa yang terjadi pada Haruna.
"Maaf ya sudah memanggilmu selarut ini."
"Nggak apa-apa kok, aku juga kepikiran soal Momono-san... dan aku juga khawatir sama keadaan Shoutarou."
Setelah mengatakan itu, Nagi duduk di sebelahku dan menempelkan tangannya di bahuku. Akan tetapi, kebaikannya itu... saat ini hanya terasa seperti rasa sakit yang menusuk dadaku.
"Shou-chan, ibu ngerti kok kalau kamu merasa sedih. Tapi, kalau kamu terus-terusan murung begitu, nggak bakal ada masalah yang selesai lho."
"Izumi-san, nggak usah ngomong kasar gitu juga bisa kan...!"
"Nggak, nggak apa-apa. Dimarahi dengan keras seperti itu... rasanya lebih baik bagiku."
Ini sama seperti saat ibu memarahi Nagi yang gagal di pertarungan debutnya waktu itu. Daripada memanjakan setengah-setengah, lebih baik bersikap tegas demi kebaikan di masa depan. Meskipun biasanya ibu lebih lembut dan ramah dari siapa pun, ia tidak pernah kenal kompromi jika sudah menyangkut batasan-batasan seperti ini.
"Untuk sekarang, mari kita rangkum poin-poin pentingnya. Haruna-chan merasa shock karena menyadari dirinya nggak punya bakat jadi Gadis Penyihir, lalu dia lari keluar dari sekolah. Setelah itu, dia bertemu dengan monster Shadow Nexus... dan diberi Magipura untuk berubah menjadi Gadis Penyihir Kegelapan. Begitu, kan?"
"Ya... dia bilang kalau Magipura itu dimodifikasi dan diciptakan oleh Shadow Nexus."
"Tapi, kenapa mereka ngasih barang kayak gitu ke Momono-san?"
"...Magipura adalah kristalisasi Maginal berdensitas tinggi. Bagi monster Shadow Nexus, benda itu seharusnya adalah racun yang sangat mematikan. Karena itulah mereka memberikannya pada anak manusia, kan."
Dan hasilnya, Haruna ternyata cocok dengan Magipura yang telah ternoda itu, lalu berubah menjadi Gadis Penyihir Kegelapan.
"Berdasarkan cerita Shou-chan, sepertinya dia nggak menunjukkan tanda-tanda dicuci otaknya. Jadi, kurasa Haruna-chan nggak bakal ngebocorin identitas asliku atau Nagi-chan ke organisasi itu sih..."
"Kalau memang begitu, nggak aneh kalau tempat ini udah diserang sejak tadi. Ditambah lagi, tujuan Haruna itu cuma satu... buat ngewujudin mimpiku. Aku yakin dia nggak bakal ngelakuin hal yang bakal membahayakanku."
Kalau Shadow Nexus sampai tahu identitas asli Cherry Diamond, target pertama mereka pasti adalah anak kandungnya, yaitu aku. Bagi Haruna pun, membongkar identitas Cherry Diamond adalah hal yang pasti ingin ia hindari.
"Ta, tapi kalau dalam kasusku bukannya beda cerita? Malahan, aku ini orang yang ngerebut posisi yang dia inginkan... dia pasti benci banget sama aku."
"Bisa jadi sih. Tapi aku nggak mau mikir kalau dia bakal ngelakuin hal sekejam itu."
"...Tapi nggak ada salahnya kita tetap waspada. Nagi-chan, keluargamu gimana?"
"Untungnya, seluruh keluargaku lagi liburan bareng karyawan perusahaan kami. Jadi sekarang aku cuma sendirian di rumah... kurasa nggak masalah sih."
"Syukurlah kalau begitu. Kalau gitu, kita harus nyelesaiin masalah ini sebelum keluargamu pulang."
"Tapi, kita sama sekali nggak punya petunjuk... gimana caranya?"
"Haruna bilang, dia bakal ngalahin Gadis Penyihir dan naik pangkat di organisasinya."
"Itu artinya... target anak itu adalah Gadis Penyihir, ya."
"Kalau begitu, apa Momono-san bakal muncul kalau kita lagi bertarung sama monster?"
Itu hanyalah kalimat yang diucapkan Nagi secara asal, seolah baru saja terpikirkan olehnya. Namun saat mendengarnya, aku dan ibu seketika memikirkan satu kemungkinan terburuk.
"...Jangan-jangan, tujuan Shadow Nexus yang sebenarnya adalah!"
"Iya, ibu juga sepemikiran denganmu. Nggak disangka mereka punya rencana semenakutkan ini."
"Eh? Eh? Apaan, emang maksudnya gimana?"
Satu-satunya yang belum memahami situasinya, yaitu Nagi, memiringkan kepalanya dengan bingung. Aku pun mulai menjelaskan tentang skenario terburuk yang dirancang oleh Shadow Nexus kepadanya.
"Kan udah pernah kubilang sebelumnya, tujuan utama Shadow Nexus adalah menghilangkan Maginal yang beracun bagi mereka, supaya mereka bisa bermigrasi ke Bumi. Dan Maginal itu aktif karena merespons emosi bahagia manusia, tapi langsung menyusut kalau manusia ngerasain takut atau putus asa."
"Makanya mereka pakai monster buat nakut-nakutin dan bikin manusia putus asa, kan?"
"Ya. Tapi di dunia saat ini, ada simbol harapan yang disebut Gadis Penyihir. Makanya orang-orang nggak terlalu ngerasa takut atau putus asa walau diserang Shadow Nexus."
"Simbol harapan bernama Gadis Penyihir... ah."
Setelah kujelaskan sampai sini, Nagi pasti sudah paham apa yang sedang kami khawatirkan. Ekspresinya dengan cepat berubah menjadi muram.
"Kalau eksistensi Gadis Penyihir Kegelapan yang jatuh ke dalam kegelapan muncul sebagai sekutu Shadow Nexus, lalu mengalahkan Gadis Penyihir yang notabene adalah simbol harapan..."
"Eksistensi Gadis Penyihir Kegelapan sebagai simbol keputusasaan akan tertanam di hati orang-orang, dan penyusutan Maginal bakal semakin cepat...?"
"Nggak cuma itu. Keadaannya bakal berubah jadi menakutkan, di mana orang-orang nggak bakal tahu kapan Gadis Penyihir—yang selama ini bertarung demi manusia—bakal berkhianat dan jatuh jadi Gadis Penyihir Kegelapan."
Kalau sudah begitu, kepercayaan dan harapan mutlak yang selama ini diberikan kepada Gadis Penyihir bisa ikut goyah. Bagi Shadow Nexus, itu adalah situasi yang sangat mereka idam-idamkan.
"Itu gawat banget dong! Terus kita harus gimana!"
"Mau nggak mau. Kita harus melumpuhkan dan mengamankan Haruna yang muncul sebagai Gadis Penyihir Kegelapan..."
"Masalahnya adalah, kita nggak tahu kapan dan di mana dia bakal muncul. Kalau ibu bisa datang tepat waktu sih, pasti bisa ibu atasi..."
Pihak musuh juga tidak bodoh. Mereka pasti tidak akan langsung mengadukannya dengan kekuatan tempur terbesar kita, Cherry Diamond. Kalau begitu, apakah target mereka adalah Gadis Penyihir yang kemampuannya lebih rendah? Tidak, sekadar mengalahkan Gadis Penyihir yang tidak terkenal tidak akan cukup untuk memberikan keputusasaan pada umat manusia.
"Kalau aku yang ada di posisi musuh... aku bakal mengincar Gadis Penyihir yang lagi hangat diperbincangkan akhir-akhir ini."
"Wah, kalau gitu cuma ada satu orang dong. Gadis Penyihir pendatang baru penuh harapan yang debutnya spektakuler, dan langsung menduduki posisi ketujuh di peringkat...!"
Nagi—atau lebih tepatnya Plum Sapphire—membusungkan dadanya sambil mendengus bangga (funsu). Yah, sebagian besar Gadis Penyihir yang masuk peringkat adalah veteran dan sangat berpengalaman. Plum Sapphire yang kekuatannya besar tapi pengalamannya masih minim, adalah target yang sangat sempurna buat dihabisi sejak awal sebelum ia menjadi ancaman besar di masa depan.
"Lagipula, Haruna pasti pengen bertarung denganmu."
"Ugh...! I-Iya juga, ya! Tapi, aku nggak bakal kalah dari Gadis Penyihir Kegelapan semacam itu kok!"
Nagi memang terlihat tegar, tapi mungkin di lubuk hatinya dia merasa sedikit takut. Ia menunjukkan senyum yang agak kaku, sambil bahunya sedikit gemetar.
"Tenang aja, Nagi-chan. Kalau Haruna-chan muncul, aku bakal langsung mengamankannya kok."
"Waaah... Nggak ada kata-kata yang lebih menenangkan dari itu deh rasanya."
Akan tetapi, keberadaan Gadis Penyihir terkuat Cherry Diamond seketika melenyapkan semua kecemasan Nagi. Selama ada ibu, apa pun yang dilakukan Haruna tidak akan menjadi ancaman yang berarti.
"Kalian berdua... maafkan aku. Padahal seharusnya, aku yang menyelesaikan masalah ini."
Gara-gara aku, Haruna jatuh ke dalam kegelapan, dan untuk menghentikannya, ibu dan Nagi jadi harus bertarung. Padahal aku nggak bisa ngelakuin apa-apa, dan cuma bisa nyerahin semuanya ke mereka berdua.
"Seandainya aku juga punya kekuatan buat bertarung...!"
"Ngomong apaan sih kamu, Shoutarou. Aku tahu betul kok kalau kamu udah berusaha keras selama ini."
"Benar kata Nagi-chan. Kamu udah ngelakuin banyak hal buat ibu, kan."
"Tapi, di saat-saat penting begini aku cuma bisa ngandelin orang lain."
Sebagai laki-laki, aku nggak bisa jadi Gadis Penyihir. Tapi, menurutku itu bukanlah... alasan yang bisa kupakai untuk lari dari pertarungan.
"...Gitu ya. Makanya kamu ngembangin bom asap waktu itu ya?"
"Benar. Walaupun nggak bisa jadi Gadis Penyihir, seenggaknya aku pengen nyoba ngebantu pertarungan kalian."
"Iya. Berkat itu, aku bisa ngalahin monster serangga yang menjijikkan itu. Jadi bisa dibilang, itu adalah hasil kerja sama kita berdua."
Nagi berkata begitu sambil menggenggam tanganku dengan lembut.
"Siapa pun yang bilang apa, kamu ini tetap partner-ku. Kalau nggak ada kamu, aku nggak bakal bisa ngelampauin Cherry Diamond yang kayak monster itu."
"Monster...? Hei, Nagi-chan? Barusan kamu bilang aku ini monster ya?"
"Nagi... Ya, kau benar. Dengan kekuatan kita berdua, kita bakal ngelampauin monster terkuat itu."
"Shou-chaaan? Shou-chan juga barusan bilang ibu monster, kan? Hei? Bener, kan?"
Di belakang kami berdua yang saling menggenggam tangan dan bertatapan, ibu melompat-lompat kecil protes. Itu sih kelihatan sangat imut, tapi aku saat ini... lagi nggak ada waktu buat terpesona sama pesona ibu.
"...Secara fisik, aku nggak bakal bisa menghentikan Haruna. Tapi, kalau aku menghadapinya secara langsung, mungkin aku bisa menyelamatkan hatinya."
"Iya. Makanya, tugas itu kuserahin ke kamu ya."
"...Ibu pasti bakal menghentikan Haruna-chan, dan ngebuka jalan biar Shou-chan bisa bicara sama dia."
Kami bertiga menumpukkan tangan kami, dan menyatakan tekad kami masing-masing. Demi menyelamatkan Haruna, teman masa kecilku yang terpenjara dalam kegelapan. Kami pun membulatkan tekad kami.
□
Monster eksekutif wanita Shadow Nexus, Meluruk, adik dari Ririmura. Rencana untuk menciptakan Gadis Penyihir Kegelapan menggunakan Magipura ternoda yang dititipkan oleh kakaknya, dan menggunakannya untuk menghancurkan simbol harapan umat manusia, yaitu Gadis Penyihir. Proses menemukan gadis berbakat dan berhasil mengubahnya menjadi Gadis Penyihir Kegelapan yang kuat berjalan lancar... tapi, Meluruk justru dihadapkan pada kejadian tak terduga.
"Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!"
Di sebuah dermaga pada larut malam. Di dalam gudang terbengkalai yang tak berpenghuni, jeritan Meluruk menggema. Wanita dengan tubuh sensual yang bisa membuat siapa pun menahan napas jika melihatnya itu... kini sedang menggeliat dengan ekspresi kesakitan, disiksa oleh sambaran petir hitam yang berderak (bachibachi).
"Ah, gaaah..."
"Halooo? Monster cewek, masih hidup?"
Meluruk yang tersungkur di lantai dan kehilangan tenaga bahkan untuk berdiri. Sosok yang menginjak punggungnya sambil menyapanya adalah Gadis Penyihir Kegelapan, Abyss Peach.
"K-Kauuu...! Kau pikir siapa yang... sudah memberimu kekuatan itu...?"
"Iya, soal itu aku makasih banget kok. Tapi ya, sekarang kan aku yang lebih kuat... jadi kamu harus nurut sama apa kataku, kan?"
Abyss Peach bergumam dengan suara rendah, lalu mendekatkan jari telunjuk tangan kanannya yang masih memercikkan petir hitam ke depan mata Meluruk.
"Udah lemah, jangan sok-sokan ngasih perintah dari atas ya. Ngerti?"
"Hyiik...! B-Baiklah...!"
"Pintar. Kalau kamu masih berani ngebantah, selanjutnya aku bakal beneran serius lho."
(Yang tadi itu, dia bilang belum serius...?)
Di antara para monster yang bernaung di Shadow Nexus, kekuatan Meluruk sama sekali tidak bisa dibilang lemah. Justru sebagai adik dari seorang eksekutif, posisinya seharusnya berada di tingkat atas. Akan tetapi, Abyss Peach berhasil melumpuhkannya hanya dengan satu jari. Perbedaan kekuatan yang terlalu jauh ini, membuat rencana Meluruk untuk mengendalikan Gadis Penyihir Kegelapan itu hancur berantakan.
"Nggak usah takut gitu, tenang aja. Aku pasti bakal ngalahin Gadis Penyihirnya kok."
"Ta-Tapi, siapa yang bakal jadi targetnya...?"
"Hnn. Pengen sih nyoba ngelawan Cherry Diamond, tapi kalau langsung ke hidangan utama (main dish) kayaknya terlalu cepat deh."
"Tapi, nggak peduli Gadis Penyihir mana yang kau lawan... Cherry Diamond pasti bakal datang ke sana. Kalau udah gitu, urusannya nggak bakal gampang."
Sebuah keyakinan yang lahir dari pengalaman menderita akibat Cherry Diamond selama lebih dari dua puluh tahun. Apa pun yang terjadi, Cherry Diamond pasti akan muncul dan menggagalkan rencana Shadow Nexus.
"Karena itulah, cukup dengan menghancurkan kota dalam wujud Gadis Penyihir... dan memberikan keputusasaan pada manusia, itu sudah..."
"Hei, bisa nggak jangan ngomong seolah-olah aku pasti bakal kalah?"
"Agwah! M-Maafkan saya!"
Abyss Peach menunjukkan ketidaksukaannya dengan menginjak punggung Meluruk lebih keras (guriguri). Meskipun begitu, dia sendiri juga sangat memahami seberapa besar ancaman dari Cherry Diamond.
"Hei, aku punya rencana, kamu mau bantu nggak?"
"B-Baik! Silakan perintahkan apa saja!"
"Gini lho. Terus, bisa nggak kamu sediain barang yang dipakai monster yang waktu itu ngelawan Cherry Diamond..."
Di kedalaman kegelapan yang pekat, Gadis Penyihir Kegelapan itu mulai bergerak diam-diam. Bahkan menaklukkan monster dengan kekuatannya sendiri, dan menyusun rencananya dengan matang. Hari penentuan takdir sedikit demi sedikit, namun pasti... semakin mendekat.
□
Semalaman telah berlalu sejak saat itu, dan fajar pun menyingsing. Pada akhirnya aku sama sekali tidak bisa tidur... dan menghabiskan waktuku dengan menjahit di ruang tamu.
"Pagi, Shoutarou. Pagi-pagi begini lagi ngapain?"
Sambil mengucek matanya karena mengantuk, Nagi datang dengan mengenakan piyama milik ibu. Karena keluarganya sedang tidak ada di rumah, atas saran ibu ia menginap di rumahku.
"Pagi, Nagi. Yah, semalam aku nggak bisa tidur."
"Kain hitam pekat ini... kostum buat apa?"
"Ya. Ini kostumku yang kusiapkan untuk mencegah identitasku ketahuan."
Aku mengambil kostum yang baru saja selesai kubuat itu, lalu membentangkannya untuk ditunjukkan padanya. Kostum dengan bahan dasar kain hitam yang terinspirasi dari bangsawan abad pertengahan. Aku juga sudah menyiapkan topi dan topeng secara terpisah, jadi kalau aku memakai ini, bahkan orang yang kukenal pun tidak akan menyadari identitasku.
"Kostummu... berarti, kamu juga bakal ikut ke medan pertarungan?"
"Iya, sebenarnya aku udah mikirin ini dari dulu. Aku nggak mau cuma menitipkan mimpiku padamu, aku juga mau ngelakuin apa yang kubisa. Gimana caranya biar aku bisa ngebantu pertarungan Gadis Penyihir."
Kostum inilah hasil dari kumpulan ide-ide tersebut.
"Di dalam jubah ini ada bom asap, bom kilat (flashbang), dan peralatan medis untuk P3K."
"Waktu itu kita emang tertolong sama bom asap itu sih... tapi jujur aja, bukannya ini bahaya?"
"Pasti bahaya lah. Tapi, aku mau ikut bertarung. Dan pastinya, aku mau nyelamatin Haruna...!"
Bagaimanapun juga, untuk bisa membujuk Haruna, aku harus pergi langsung ke medan pertempuran. Aku tidak mau hanya menunggu dan menyerahkan semuanya pada Nagi dan ibu.
"...Gitu ya. Berarti buatmu, yang paling penting itu..."
Nagi menggumamkan sesuatu dengan pelan, lalu menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Namun ia segera mengangkat wajahnya kembali, dan mengambil kostum buatanku itu.
"Hee? Kostum ini, lumayan juga kan?"
"Masa sih? Di anggota Klub Penggemar Cherry Diamond ada yang anak cosplayer lho. Aku dapet banyak ide dari dia."
"Klub penggemar ya. Kira-kira kapan ya aku juga bakal punya klub penggemar sendiri."
"Pasti bentar lagi juga ada. Kalau mau, aku yang bakal bikin klubnya buatmu."
"Ahahaha, boleh juga tuh. Tapi kan, kamu pakai kostum ini buat jadi partner-ku, kan? Malah jangan-jangan kamu yang bakal punya banyak fans nanti."
"Malah aku takutnya bakal dihujat habis-habisan tahu. Kalau soal itu, aku cuma bisa membuktikannya lewat aksiku nanti."
Klub penggemar Gadis Penyihir juga nggak semuanya sepemikiran. Di antara mereka, banyak juga yang tertarik karena paras cantik Gadis Penyihirnya, lalu memuja mereka layaknya idol. Adanya bayangan laki-laki misterius yang selalu berkeliaran di dekat Gadis Penyihir semacam itu, pasti nggak bakal disukai.
"Yah, aku kan jadi Gadis Penyihir demi dirimu. Popularitas atau fans mah aku nggak peduli."
Padahal waktu itu dia ngecek Peringkat Gadis Penyihir terus kegirangan pas tahu dia ada di posisi ketujuh lho. Meskipun aku berpikir begitu, aku menutup mulutku rapat-rapat agar tidak salah bicara.
"Intinya, aku bakal pakai kostum ini... dan membantumu sebagai ksatria misterius, Kamen Black (Topeng Hitam)."
"CUPUUUUU BANGET...! Dengar ya, kalau kau mau jadi partner-nya Plum Sapphire yang paling imut dan tak terkalahkan ini, pakai nama yang seleranya agak bagusan dikit dong."
Kamen Black... cupu, kah? Padahal menurutku ini bener-bener nama yang ngasih kesan... prajurit terkuat yang sempurna tanpa cacat, lho.
"Umm. Kalau kata Mama sih Kamen Black itu emang agak, kurang pas ya."
Saat aku merasa sedikit terguncang, ibu tiba-tiba muncul menyembulkan kepalanya dari balik sofa.
"Ibu? Sejak kapan di situ?"
"Ufufu, rahasia♡ Daripada itu, gimana kalau nama samaran Shou-chan... Knight Mask?"
"Izumi-san, itu juga cupu."
"Aaan, jahaaat!"
"Karena motif nama Gadis Penyihir itu buah dan permata... gimana kalau Fruit dan Gem (Permata) digabung jadi Fru-Gem!"
"Nggak, Nagi. Bukannya idemu itu juga kurang pas...?"
Meskipun dalam situasi seperti ini, kelakuan ceria mereka berdua tanpa sadar membuatku tersenyum. Bahkan tanpa berubah wujud, tanpa perlu bertarung sekalipun, mereka tetap bisa memberikan harapan bagi orang lain... Hal ini membuatku benar-benar menyadari esensi dari seorang Gadis Penyihir.
"Yah, soal nama kita pikirin lagi nanti aja... masalahnya rencana kita hari ini gimana."
"Kita bolos sekolah, terus stand-by di rumah sampai Momono-san muncul... mungkin gitu aja."
"Umm. Sebagai orang tua sih sebenarnya aku nggak mau kalian bolos sekolah, tapi ini kan keadaan darurat ya."
Saat kami bertiga sedang asyik berdiskusi. Ponselku yang diletakkan di atas meja tiba-tiba berdering. Orang yang repot-repot menelepon pagi-pagi buta begini... aku cuma kepikiran satu nama.
"Haruna...!"
Aku langsung meraih ponselku, dan setelah memastikan bahwa nama pemanggilnya adalah Haruna, aku segera mengangkatnya.
"Halo? Haruna, kan?"
"Iya, bener banget~. Selamat pagi, Shou-kun."
Suaranya terdengar sangat ceria tanpa beban, seolah-olah kejadian kemarin tidak pernah terjadi. Sambil merasa pusing mendengar ketidakwajaran suaranya itu, aku melirik ibu dan Nagi yang menatapku dengan cemas, lalu mengubah mode panggilanku ke speaker (loudspeaker).
"Haruna, kamu sekarang lagi di mana? Ayo kita ngobrol baik-baik."
"Ehehehe, diajak ngobrol sama Shou-kun seneng banget deh♡ Tapi untuk sekarang, aku nolak dulu ya."
"Kumohon. Ada hal yang benar-benar harus kusampaikan padamu!"
"...Heeen? Gitu ya, kalau kamu maksa gitu... aku kasih satu syarat."
"Syarat? Selama aku bisa ngelakuinnya..."
"Aku mau tanding lawan Izumi-san... lawan Cherry Diamond."
Mendengar ucapan Haruna dari ponsel, semua orang di ruangan ini seketika menahan napas. Tentu saja. Jangankan Plum Sapphire, entah kenapa dia malah secara spesifik menantang Cherry Diamond. Padahal Haruna juga pasti sangat paham seberapa besar kekuatan ibu.
"Lokasinya... di mana ya enaknya. Kalau di sekitar sini takut ketahuan tetangga, gimana kalau Shibuya?"
"Shibuya? Bahaya tahu bertarung di tempat ramai begitu!"
"Kalau nggak mau ya nggak apa-apa kok? Cuma ya, kalau kalian nggak datang... aku bakal ngamuk di Shibuya lho."
Daripada disebut ancaman, ini lebih seperti peringatan agar kami tidak bisa menolak. Dari sudut pandang Haruna yang sangat mengenal sifat ibu, dia pasti yakin seratus persen kalau ibu nggak bakal menolak tantangan ini.
"Haruna-chan, ibu denger semuanya kok. Ibu terima tantanganmu itu."
"Aha♡ Kalau gitu, sepuluh menit lagi kutunggu di perempatan Scramble Shibuya, ya! Kalau kalian telat sedetik aja, perempatan Scramble Shibuya-nya bakal kuubah jadi Scramble Egg (Telur Orak-Arik) lho!"
Setelah meninggalkan lelucon aneh, Haruna langsung memutus sambungan teleponnya.
"Scramble Egg...? Jangan-jangan ini semacam kode rahasia?"
"Nggak, Nagi. Kamu nggak usah nanggepin serius setiap candaannya Haruna kok."
Atau mungkin itu bukan candaan, melainkan deklarasi kejahatan bahwa dia bakal menghancurkan orang-orang yang berlalu-lalang di persimpangan itu menjadi hancur lebur seperti scramble egg... tapi kuharap bukan itu yang sebenarnya.
"Nagi-chan, sepertinya dia secara khusus menantangku. Jadi serahkan pertarungannya padaku, dan aku minta tolong padamu dan Shou-chan untuk melindungi dan mengevakuasi warga sipil."
"Baik. Aku bersumpah nggak bakal ada satu pun orang yang terluka!"
"Ibu juga, fokus aja untuk melumpuhkan dan menghentikan Haruna!"
Kami saling bertatapan, dan memastikan peran masing-masing. Setelah itu, ibu dan Nagi mengambil pose mereka masing-masing... dan menyerukan mantra transformasi mereka.
""Bloom!""
Kilas cahaya yang hangat menyapu ruangan, dan mereka berdua diselimuti oleh cahaya pucat. Pakaian yang mereka kenakan dalam sekejap berubah menjadi partikel cahaya, dan setelah menampakkan sosok mereka saat dilahirkan ke dunia... dalam sekejap mata berubah menjadi kostum Gadis Penyihir yang manis.
"Aku takkan menyerah pada takdir yang menyedihkan! Aku mempertaruhkan nyawaku untuk bertarung demi melindungi semua cinta dan harapan! Kekasih mungil kita semua! Gadis Penyihir Cherry Diamond!"
"Sekecil apa pun secercah kebahagiaan itu, aku tak akan membiarkan orang jahat menginjak-injaknya! Gadis Penyihir yang bersumpah untuk melindungi segalanya dengan kekuatan cinta! Plum Sapphire!"
Seperti adegan di dalam anime, ibu dan Nagi yang telah berhasil berubah wujud menjadi Gadis Penyihir, membacakan deklarasi (koujou) andalan mereka dengan pose yang sempurna. Meskipun aku agak ragu apakah perlu membacakan deklarasi di dalam rumah... yah, mungkin ada bagian dari diri mereka yang butuh ritual itu buat membangkitkan semangat.
"Oke, aku juga bakal ganti kostum sekarang! Habis itu, kita langsung berangkat ke Shibuya!"
Aku tidak mau kalah, dengan cepat aku melepas bajuku dan memakai kostum serba hitamku. Ukurannya pas banget. Mengibaskan jubahku, lalu memasang topeng dan topiku... transformasiku juga selesai.
"Wah! Knight Mask, cocok banget lho buatmu!"
"Lumayan juga, Fru-Gem! Sebagai partner-ku nilaimu pas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) lah!"
"Kamen Black... ah sudahlah."
Memang ada kendala karena namaku belum fix, tapi kami nggak boleh buang-buang waktu di sini. Kami harus berteleportasi ke Shibuya tempat Haruna menunggu secepat mungkin.
"Gerbangnya udah ibu buka. Ayo kita berangkat."
Dengan gerakan tangan yang sudah sangat terbiasa, Cherry Diamond menciptakan portal teleportasi berwarna biru pucat. Meskipun Plum Sapphire juga sudah lumayan jago, dia masih belum bisa menyamai tingkat akurasi dan kecepatan Cherry Diamond.
"Haruna... tunggu aku."
Sambil membulatkan tekadku, aku melompat ke dalam pusaran cahaya tersebut. Sensasi melayang sejenak menyelimutiku, pemandangan di sekitarku seketika terdistorsi... dan dengan cepat mengubah bentuknya. Seiring dengan distorsi yang semakin memudar, hiruk pikuk suara keramaian mulai terdengar di telingaku.
"Hups...!"
Sensasi kakiku menyentuh tanah. Saat aku tersadar, aku sudah berdiri tepat di tengah-tengah Persimpangan Scramble Shibuya. Tentu saja ada kerumunan besar orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarku... dan beberapa anak muda mulai menunjukkan reaksi penasaran saat melihat sosokku yang tiba-tiba muncul.
"Eh? Apaan tuh? Cosplay?"
"Jangan-jangan dia streamer atau semacamnya? Lagian, bukannya dia tadi tiba-tiba aja muncul ya?"
Saat sedikit kehebohan mulai menyebar di sekitarku.
"Hoooop."
"Hmph, sempurna banget mendarat di tengah-tengah. Penentuan koordinatmu keren banget ya."
Menyusulku, dua orang Gadis Penyihir—Cherry Diamond dan Plum Sapphire—muncul dari balik pusaran cahaya biru pucat di belakangku. Seketika itu juga, Persimpangan Scramble Shibuya langsung heboh luar biasa seolah-olah baru saja tersulut api.
"Uwoooooh! Ada Cherry Diamond! Gila, ini yang asli, woi!"
"Buset dah! Aku fans beratmu tahu!"
"Kyaaaah! Lucu bangett! Lihat ke sini doong!"
Seperti yang diharapkan dari peringkat satu popularitas Gadis Penyihir yang tak tergoyahkan, Cherry Diamond. Bahkan anak muda zaman sekarang yang katanya mulai kurang peduli sama Gadis Penyihir pun bisa seheboh ini.
"Hei! Emang kalian nggak lihat sosok Plum Sapphire di sini, hah?"
"Udah, udah, sabar. Lagipula, Cherry Diamond..."
"Iya, bener. Kebetulan perhatian orang-orang lagi tertuju ke sini, kita manfaatkan ini saja."
Gumam Cherry Diamond pelan, lalu menggunakan sihir terbangnya untuk melesat naik ke udara dengan lembut. Kemudian, dia berseru dengan suara lantang ke arah kerumunan yang berkumpul di bawahnya.
"Semuanya! Sebentar lagi akan ada serangan monster di tempat ini! Tolong segera evakuasi dari sini!"
Peringatan evakuasi yang dikeluarkan langsung oleh Gadis Penyihir. Mematuhi dan segera mencari tempat aman begitu mendengar peringatan itu, adalah pengetahuan umum di zaman sekarang yang bahkan sudah diketahui oleh anak SD. Akan tetapi, anak muda zaman sekarang kadang sangat egois, biarpun mereka tahu aturan itu.
"Woi, kalau kita tetap di sini kita bisa nonton pertarungan Gadis Penyihir langsung lho!"
"Pasti bakal viral kalau kita rekam terus upload!"
"Cherry Diamond-chaaaan! Semangaaat!"
Mengabaikan peringatan evakuasi, sekitar separuh dari anak-anak muda bodoh itu malah mengeluarkan ponsel mereka. Gawat, kalau begini mereka bakal menghalangi pertarungan melawan Haruna... pikirku.
"Hei? Suaraku tadi, nggak kedengeran ya?"
"""""...Hyiik!"""""
"Bisa tolong cepat lari pergi nggak? Kalau nggak, nanti bakal ada masalah besar lho?"
Dari arah Cherry Diamond yang melayang di atas kami... terdengar suara yang diselubungi aura amarah tipis. Bahkan aku yang merupakan putra kandungnya pun sampai gemetar dan nyaris mengompol saat merasakan tekanan dahsyatnya itu. Anak-anak muda manja yang nggak tahu aturan dan masih berada di sini itu, tentu saja nggak bakal sanggup menahannya.
"U, uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!"
Berawal dari satu orang yang ketakutan dan lari berteriak kencang... anak-anak muda yang lain pun mulai ikut berhamburan untuk menyelamatkan diri. Melihat orang-orang lari berhamburan seperti bayi laba-laba yang pecah dari telurnya, orang-orang di sekitarnya pun ikut memulai evakuasi. Alarm peringatan serangan monster juga pasti akan segera berbunyi, dengan begini area di sekitar sini akan segera steril dari warga sipil.
"Plum Sapphire, kamu nggak apa-apa?"
"...Kayaknya aku agak sedikit ngompol deh. Tapi kan ini kostum Gadis Penyihir, jadi masih aman kok."
Entah apanya yang aman, tapi untungnya Plum Sapphire yang merasakan tekanan aura ibu dari jarak sedekat ini hanya berakhir dengan keringat bercucuran di keningnya.
"Jangan lengah. Kita nggak tahu kapan anak itu bakal muncul..."
"Ahahahahahaha! Emang bener ya, Cherry Diamond itu hebat banget!"
Tepat saat aku memperingatkan Plum Sapphire. Dari entah berantah, terdengar suara tawa melengking tinggi bergema di udara.
"Padahal aku udah sengaja milih tempat yang ramai, tapi bisa-bisanya kalian beresin semudah itu yaa."
Sesosok siluet yang secara perlahan menurunkan ketinggiannya dari tempat yang jauh lebih tinggi daripada Cherry Diamond. Sosok itu tak lain adalah... Gadis Penyihir Kegelapan yang dibalut dengan kostum Gothic hitam legam, Abyss Peach.
"Areee? Jangan-jangan, orang bertopeng yang ada di situ itu...?"
Abyss Peach mendarat di persimpangan scramble, dan menatapku dengan tatapan heran. Mungkin karena ia tidak menyangka aku akan datang memakai kostum seperti ini, wajahnya pun mulai memerah seolah menahan tawa... dan tubuhnya mulai bergetar (purupuru).
"Pffft, fufufu...! Cocok banget kok sama kamu, hm. Keren!"
"Terima kasih atas pujiannya. Aku senang mendengarnya darimu."
"Maaf maaf, aku emang beneran mikir kalau kamu kelihatan keren kok. Cuma karena ini pertama kalinya aku ngelihat kamu seantusias ini, makanya aku... jadi ketawa."
Sambil memegangi perutnya, Abyss Peach tertawa terbahak-bahak (ketaketa). Kalau cuma melihat bagian ini saja, sosoknya yang tertawa tanpa beban itu... tidak ada bedanya dengan sosok Haruna yang dulu.
"Waktunya Peringkat Gadis Penyihir minggu ini! Kali ini, Gadis Penyihir pendatang baru yang sedang hangat diperbincangkan itu berhasil masuk peringkat, lho!"
Setiap hari Senin. Peringkat Gadis Penyihir adalah segmen utama yang sudah menjadi tradisi di acara berita pagi. Kecuali Cherry Diamond yang tak tergoyahkan di posisi pertama sejak awal segmen ini dibuat, pada dasarnya ini hanyalah acara untuk mengecek pergantian peringkat dari posisi kedua hingga kesepuluh. Namun khusus hari ini, bahkan aku pun sangat penasaran dengan peringkat di posisi bawah.
"Luar biasa! Gadis Penyihir pembuat kehebohan yang baru debut minggu lalu! Plum Sapphire berhasil meraih posisi ketujuh pada kemunculan perdananya!"
Peringkat Plum Sapphire yang diumumkan dengan penuh semangat oleh penyiar wanita muda berparas cantik itu, berada di posisi ketujuh—hasil perjuangan yang lebih baik dari dugaanku.
"Posisi ketujuh, ya… Yah, kegagalan di awal itu sepertinya cukup berdampak."
Bagi seorang Gadis Penyihir, kesan pertama itu sangatlah penting. Meskipun dia sudah beraksi hebat dalam insiden di restoran waktu itu, kesan sebagai 'Gadis Penyihir menyedihkan yang diselamatkan oleh Cherry Diamond di pertarungan debutnya' pasti sulit untuk dihapus.
"Ara ara, hebat sekali! Plum Sapphire-chan tiba-tiba langsung masuk peringkat lho!"
Sambil membereskan piring bekas sarapan, ibu yang mengenakan celemek tersenyum gembira. Memang benar seperti kata ibu, masuk peringkat itu hal yang hebat, tapi tujuan kami yang sebenarnya adalah untuk melampaui ibu. Meskipun ibu sendiri pasti tidak bermaksud meremehkan, tapi melihatnya ikut senang seolah-olah itu pencapaiannya sendiri... membuatku merasa keberadaan kami sedang diremehkan.
"Tunggu saja, Ibu. Sebentar lagi Plum Sapphire akan menyusul dan melampaui Cherry Diamond."
"Ufufufu, ibu menantikannya lho. Kalau saat itu tiba, apa mungkin itu akhirnya saat yang tepat buat Mama pensiun ya?"
Sambil menempelkan tangan di pipinya, ibu sama sekali tidak melunturkan senyum santainya. Kepercayaan diri mutlak dari sosok yang benar-benar kuat, yang sama sekali tidak berpikir bahwa dirinya akan kalah—benar-benar luar biasa.
"Walaupun begitu, Plum Sapphire-chan memang hebat, ya. Dia sudah menguasai Sihir Bawaan-nya, kan?"
"Ya, kekuatan yang menciptakan busur dan anak panah dari Maginal. Kemungkinan besar itu memang Sihir Bawaan Plum Sapphire... tapi entah kenapa aku merasa ada yang mengganjal."
Sekadar menciptakan senjata dari Maginal itu rasanya terlalu sederhana untuk ukuran Sihir Bawaan dari seorang Plum Sapphire yang punya bakat terkuat. Kalau tebakanku benar, kemampuan aslinya yang sesungguhnya pasti ada hal lain.
"Kalau sihirnya luar biasa dan gampang dimengerti kayak punya Ibu sih bakal jelas, tapi..."
"Benar juga. Tapi, Sihir Bawaan milik ibu itu penggunaannya benar-benar sangat sulit, lho? Kalau ibu menggunakannya di tengah kota, evakuasi penduduk pasti nggak bakal keburu dan bisa menyebabkan bencana besar."
"Yah, dalam kasus Ibu, sekadar melepaskan Maginal yang dikumpulkan atau membalutkannya ke tubuh lalu memukul lawan saja, daya hancurnya sudah melebihi jurus maut Gadis Penyihir biasa. Belakangan ini Ibu juga hampir nggak pernah pakai tongkat sihir lagi, kan."
Kalau diibaratkan dalam game pertarungan, keseimbangan kekuatannya itu seperti memberikan damage setara serangan spesial saat bar energi penuh, hanya dengan satu pukulan ringan (jab) dari ibu.
"Muu, jangan memperlakukanku seperti monster begitu dong."
"Aku nggak bermaksud begitu kok. Aku kan cuma memuji kehebatan Ibu."
"Benarkah? Shou-chan itu kadang kurang jelas kalau ngomong di saat-saat penting... Mama jadi khawatir jangan-jangan kamu ngasih kesalahpahaman aneh ke Nagi-chan atau Haruna-chan."
Aku menelan kembali kata-kata bantahan yang hampir keluar dari mulutku. Kalau dipikir-pikir, entah kenapa belakangan ini Nagi sering melampiaskan emosi yang anehnya terasa menempel dan membludak kepadaku. Aku terus membiarkannya karena takut untuk memastikannya, tapi anak itu pasti sedang salah paham besar.
"Dengar ya? Shou-chan, Mama ngerti kok perasaan anak cowok yang pengen kelihatan keren di depan anak cewek. Tapi, kalau harga diri itu malah melukai perasaan si cewek, itu sama sekali nggak ada artinya lho?"
"...Iya. Akan kuingat baik-baik."
"Bagus. Untuk Shou-chan yang penurut, Mama bakal kasih hadiah♡"
Ibu berjalan menghampiriku yang sedang menonton TV di sofa ruang tamu, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar hingga dadanya berguncang berat.
"Bukankah masih agak terlalu pagi buat pelukan sebelum berangkat sekolah?"
"Bukan itu. Ini ajakan untuk pelukan yang dilanjutin dengan gesek-gesek pipi lho♡"
Sambil menutup matanya, ibu memajukan rahang bawahnya seolah-olah meminta ciuman. Melihat orang dewasa yang usianya hampir empat puluh tahun merengek seperti itu pada putra remajanya yang berusia enam belas tahun, rasanya hampir membuatku pasrah...
"Eratttt! Gesek gesek gesek!"
"Aaan, Shou-chan agresif banget♡ Mama bisa rusak lho♡"
Bukan nalar, melainkan insting. Tubuhku bergerak mendahului pikiranku, mendambakan sentuhan fisik dengan ibu. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluk ibu, dan menggesekkan pipiku ke pipinya yang kenyal dan lembut itu. Daya tariknya itu benar-benar bagaikan lubang hitam (black hole).
"Pipi Shou-chan, hangat ya. Uryaryaryaa."
"Tunggu, jangan gerak-gerak, Ibu. Rambutnya kena hidungku..."
Aroma wangi ibu menusuk langsung ke rongga hidungku, merangsang pusat kenikmatan di otakku. Kalau aku mengonsumsi 'zat ibu' secara berlebihan seperti ini, bisa-bisa kewarasanku bakal hilang.
"S-Stop! Hari ini cukup sampai di sini, aku harus berangkat ke sekolah sekarang!"
"Eeeh? Hari ini kan masih ada banyak waktu luang."
"Memang sih, tapi pokoknya aku berangkat sekarang."
Sambil mencambuk kewarasanku yang sudah sekarat, aku mati-matian meraih kedua bahu ibu dan melepaskan pelukannya. Lalu aku mengambil tas yang kuletakkan di atas meja dan melangkah menuju pintu depan.
"Haaah, Shou-chan sepertinya sudah mulai mandiri dari ibunya, ya. Yah, wajar saja sih kalau minatmu pada Mama mulai berkurang kalau kamu diapit sama cewek-cewek imut kayak Haruna-chan dan Nagi-chan."
"Nggak, nggak mungkin begitu. Bagiku Ibu selamanya adalah nomor satu."
"Iih♡ Shou-chan bisa aja♡"
"Kalau gitu, aku berangkat ya."
"Hati-hati di jalan~♡"
Setelah melambaikan tangan membalas lambaian ibu yang tersenyum riang, aku membuka pintu depan dan keluar rumah. Biasanya di saat seperti ini, Haruna juga akan keluar dari rumah sebelah...
"...Dia, nggak keluar?"
Saat aku berangkat ke sekolah, sosok Haruna tidak terlihat. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupku. Bahkan di hari saat dia demam tinggi dan tidak masuk sekolah pun, dia selalu menyempatkan diri mengintip dari rumahnya tepat di saat aku keluar rumah... dan tak pernah absen tersenyum sambil mengucapkan "Hati-hati di jalan".
"Si bodoh itu... jangan-jangan."
Obsesi mengerikan untuk selalu bertatap muka denganku di setiap hari sekolah selama belasan tahun. Hal apa yang sedang dilakukan Haruna sampai ia rela mengorbankan rutinitas itu... aku akan segera tahu jawabannya.
"Hah, hah...! Tinggal, sedikiiit... lagi...!"
Setelah menunggu sejenak, dari kejauhan terdengar suara yang sudah sangat kukenal. Saat aku menoleh, kulihat sosok Haruna yang mengenakan jersey merah sedang berlari dengan napas tersengal-sengal.
"Gooool... Hah, hah...! Berhasil, hari ini juga selesai...!"
Haruna yang akhirnya berhenti di depan rumah sudah dalam kondisi kelelahan parah. Sambil bernapas terengah-engah dari bahunya dan menumpukan kedua tangannya di lutut untuk beristirahat, di kedua tangan dan kakinya masih terpasang pemberat (power ankle) seperti biasa. Sudah berapa jauh jarak yang ia tempuh dengan memakai pemberat semacam itu? Terlebih lagi, kalau dilihat lebih dekat, ada banyak sekali luka gores di wajah dan jari-jarinya, dan plester tertempel di sana-sini untuk menutupinya.
"...Hei, Haruna."
"Hae? Sh, Shou-kun?"
Mungkin karena dia terlalu fokus berlari, dia sampai tidak menyadari keberadaanku. Saat aku memanggilnya, Haruna tersentak kaget dan melompat mundur untuk menjaga jarak.
"Latihan yang waktu itu lagi... nggak, bukannya ini lebih berat dari yang kulihat sebelumnya?"
"I, iya. Menu latihan khusus langsung dari Izumi-san... aku, lipat gandakan porsinya jadi dua kali lipat."
Dua kali lipat dari menu latihan ibu? Itu adalah porsi latihan yang sangat ekstrem, sampai-sampai bisa merusak tubuh anak gadis SMA biasa kalau dia nekat melakukannya.
"Kamu, hari ini mulai latihan dari jam berapa?"
"Hnn. Hari ini aku mulai dari jam dua malam..."
Sekarang sekitar jam setengah delapan pagi, berarti setidaknya dia sudah latihan selama lima jam lebih...?!
"Lari sendirian di tengah malam buta begitu bahaya tahu, apalagi kamu cewek."
"M, maaf. Tapi, kalau aku nggak mulai jam segitu... aku nggak bakal sempat nyelesaiin semua porsi latihannya."
Haruna menundukkan pandangannya dengan canggung dan menggenggam erat ujung jersey-nya. Bukannya aku ingin menyangkal usaha keras Haruna, tapi...
"Kan udah kubilang sebelumnya, hentikan tindakan nggak masuk akal ini. Kalau diterusin..."
"Nggak mau! Habisnya, kalau aku nggak begini...!"
Aku nggak bakal bisa jadi Gadis Penyihir. Pasti itulah yang ingin dikatakan Haruna. Tapi, aku sama sekali tidak berniat untuk membenarkannya.
"Latihan sekeras apa pun nggak ada gunanya. Kamu nggak punya bakat untuk itu."
"Nggak bener kok! Kalau aku berusaha, aku pasti juga bisa!"
Dengan mata yang dipenuhi air mata, Haruna memohon dengan putus asa. Ah, aku tahu. Anak ini sejak dulu, kalau sudah memutuskan sesuatu, dia tidak akan pernah bisa dihentikan. Karena itulah, aku harus...
"Shou-kun. Tolong, ukur kecocokanku sekali lagi aja."
"Kecocokan? Pakai alat itu?"
"Iya. Kalau setelah ini ternyata angkaku tetap nggak naik..."
"Kamu bakal menyerah dengan patuh. Begitu, kan?"
Saat aku bertanya untuk memastikannya, Haruna ragu-ragu sejenak... lalu mengangguk kecil. Sepertinya dia sangat percaya diri dengan hasil usahanya selama ini.
"...Baiklah. Tapi kita ukurnya sepulang sekolah hari ini. Nagi juga bakal ikut hadir sebagai saksi."
"Nagi-chan juga? Kalau aku sih, sekarang juga nggak apa-apa lho?"
"Kalau hasilnya buruk nanti, aku bakal repot kalau kamu mengingkari janji dengan alasan kondisimu yang lagi capek begini. Terus kalau ada Nagi sebagai saksi, aku juga jadi nggak bisa melanggar janjiku padamu."
"Berarti... kalau kecocokanku naik, kamu bakal jadiin aku Gadis Penyihir, kan?"
"Nggak bisa langsung sih, tapi aku nggak bakal nyuruh kamu nyerah lagi. Lagian, kalau kamu emang punya bakat luar biasa sampai bisa ningkatin angka kecocokan sendiri, maka memberikan Magipura berharga itu padamu adalah hal yang sangat sepadan."
"Oke, aku setuju. Berarti penentuannya sepulang sekolah nanti ya!"
Ekspresi Haruna yang tadinya murung seketika berubah cerah, dan ia kembali ke rumahnya dengan wajah yang dipenuhi harapan.
"Ini janji lho, Shou-kun! Aku, pasti bakal membuktikannya padamu!"
Setelah ini dia pasti bakal mandi, lalu buru-buru bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Sepertinya bakal butuh waktu lama, dan kalau aku menunggunya, aku bisa-bisa ikut terlambat. Meski merasa sedikit bersalah, aku meninggalkan Haruna dan berangkat ke sekolah duluan.
□
"Heeen? Jadi kejadiannya begitu ya."
Setelah berangkat duluan dan tiba di sekolah, aku menjelaskan garis besar kejadiannya pada Nagi di kelas. Tentu saja, aku menghindari kata-kata tentang Gadis Penyihir agar tidak masalah jika didengar oleh teman sekelas, dan hanya memberitahunya bahwa aku akan mengukur ulang kecocokan Haruna sepulang sekolah nanti.
"Momono-san sudah berusaha sangat keras lho... apa kau sama sekali nggak berniat meminjamkan kekuatanmu untuk teman masa kecilmu itu?"
"Dengar ya. Kan udah kubilang, biaya buat nyoba tantangannya aja butuh sekitar dua ratus juta tahu? Kalau anak itu nggak punya bakat, uang dua ratus juta itu bakal lenyap sia-sia dalam sekejap."
"Ugh, kalau dibilang begitu... rasanya nyesek juga ya."
"Lagipula, saat ini aku sudah memilikimu. Aku nggak perlu buru-buru nyari kandidat baru lagi."
Saat aku menjawab begitu, Nagi memunculkan senyum menyeringai yang terlihat menyeramkan sampai-sampai merusak wajah cantiknya.
"Ufufufufu, benar juga. Karena aku ini penting buatmu, kan. Walaupun sekarang posisinya ketujuh... suatu saat nanti, aku ini yang bakal jadi juara satu dengan telak lho!"
"...Ternyata kau ngecek peringkatnya juga ya."
Pantas saja suasana hatinya lebih bersemangat dari biasanya. Tapi, alasan dia bersikap gembira mungkin bukan cuma itu saja.
"Ngomong-ngomong, Nagi. Seragammu itu... seragam pelaut juga sangat cocok buatmu."
"Hee? Aku udah nunggu-nunggu kapan kau bakal memujiku, akhirnya nyadar juga ya?"
Sampai kemarin Nagi masih memakai seragam dari sekolah sebelumnya, tapi hari ini dia sudah memakai seragam resmi SMA Kuran. Seragam pelaut tanpa lipatan kusut dan rok lipit itu sebenarnya adalah hal yang sudah biasa kulihat... tapi saat dipakai oleh gadis secantik Nagi, tetap saja ada kesan dan kekaguman tersendiri.
"Seragam tipe blazer sebelumnya memang bagus, tapi mungkin aku lebih suka yang ini."
"...Masa sih? Yah, kalau emang begitu... aku bakal kencan pakai seragam ini, khusus buatmu."
"Akan kunantikan. Biarkan aku membayar hadiah atas pertarunganmu sebelumnya dengan pantas."
Saat kami berdua sedang asyik mengobrol, tiba-tiba pintu kelas dibuka dengan kasar.
"S-Syukurlah... aku keburu! Selamat!"
Haruna meluncur masuk ke kelas dengan napas terengah-engah; seragamnya kusut dan rambutnya juga masih setengah kering. Sudah sangat jelas terlihat kalau dia habis mandi lalu buru-buru lari ke sekolah.
"Buset, Haruna-cchi! Style macam apa tuh, ini mah bukan bahan bercandaan lagi tahu?"
"Aduh-aduh. Anak ini beneran kacau nih~"
"Eh? Ah, maaf..."
"Sini ikut kita bentar! Kita-kita bakal dandanin lu."
Mungkin karena tidak tega melihat sesama perempuan berantakan seperti itu. Pasukan gyaru elite kebanggaan kelas kami langsung menarik lengan Haruna dan membawanya entah ke mana. Kemungkinan besar ke toilet perempuan, untuk merapikan penampilannya.
"...Momono-san, parah juga. Kalau dibiarin gitu kasihan."
"Ya. Karena itulah, aku harus memberikan pukulan terakhir padanya."
Aku mengeluarkan alat pengukur kecocokan Gadis Penyihir dari dalam tas, dan meletakkannya di atas meja. Lalu, aku menekan tombol hijau di bagian belakang alat itu... mengecek sistem perangkatnya. Setelah ini, aku tinggal menggunakan alat ini untuk membuat Haruna menyerah dari mimpinya. Meskipun hal itu akan melukainya, aku harus...
□
Waktu sepulang sekolah, di saat alunan alat musik dari klub instrumen tiup dan sorakan dari klub olahraga menggema dari sana-sini. Di ruang kelas kosong yang kedap suara dan tidak ada orang yang mendekat.
"Haruna, kau sudah siap?"
Sambil mengunci pintu, aku memanggil Haruna yang berdiri di tengah kelas.
"Iya... kapan pun boleh."
Mungkin karena dia sangat gugup, ekspresinya terlihat agak kaku.
"Momono-san, pasti nggak apa-apa kok. Kamu sudah berusaha sangat keras, kan?"
"Nagi-chan...! Nanti kalau aku udah jadi Gadis Penyihir, ayo kita bertarung bareng ya!"
Mendapat dukungan dari Nagi yang menjadi saksi, Haruna tampak sedikit lebih rileks. Melihat wajahnya yang seperti itu, aku merasakan nyeri yang menusuk di dalam dadaku. Apa yang akan kulakukan ini, dalam artian tertentu... adalah sesuatu yang sangat kejam.
"Nah, kesempatannya cuma satu kali. Aku akan mengecek kecocokanmu pakai alat ini."
Aku menyodorkan alat ukur kecil yang ada di tanganku kepada Haruna. Sisanya, tinggal dia menekan tombol merah yang ada di depan alat itu... dan hasilnya akan muncul.
"Aku... pasti bisa. Aku udah ngelakuin semua yang diajarin Izumi-san. Demi mewujudkan mimpi Shou-kun, aku udah berusaha sangat keras."
Gumamannya terdengar seolah-olah dia sedang berusaha menghapus rasa cemas di dalam dirinya sendiri. Namun, sekeras apa pun Haruna meyakinkan dirinya atau memercayainya, hasilnya sama sekali tidak akan berubah.
"...Ah."
Suara elektronik mekanis piiit terdengar menggema, dan jarum di alat ukur itu mulai bergerak. Hasilnya adalah...
"N-Nggak...! Ini...! Ini pasti bohong!"
Hasil pengukurannya adalah lima poin. Angka yang benar-benar sama persis dengan saat aku mengukurnya atas paksaan Haruna sebelumnya.
"Ini, alatnya rusak! Alatnya pasti aneh!"
Sambil menangis, Haruna mencoba membanting alat itu ke lantai dengan kuat. Aku menangkap tangannya, dan mengambil kembali alat pengukur itu darinya.
"Jangan keras kepala begitu. Haruna, alat ini berfungsi normal."
Aku diam-diam menekan tombol hijau di bagian belakang alat yang kuambil itu, lalu kali ini kuserahkan pada Nagi.
"Nagi, coba ukur dirimu juga."
"E, eh..."
Sambil merasa kebingungan Nagi menerima alat itu, dan menekan tombol merahnya dengan canggung. Seketika, alat itu kembali mengeluarkan suara mekanik yang melengking manis. Reaksinya jelas sangat berbeda dengan saat Haruna tadi. Lalu angka yang muncul di layarnya pun, sangat jauh berbeda digitnya dengan yang tadi.
"Sem, sembilan puluh tujuh..."
Waktu pertama kali aku bertemu Nagi, angka yang terukur dari insiden tak terduga itu adalah sembilan puluh lima. Dan sekarang, setelah melalui kebangkitan Gadis Penyihir dan pertarungan melawan monster... bakatnya pasti telah terasah semakin tajam.
"Ugh...! Tapi...!"
Dengan keringat yang merembes di keningnya, Nagi menoleh ke belakang dengan ekspresi pilu. Di sana, terlihat sosok Haruna yang wajahnya pucat pasi... sedang memeluk tubuhnya sendiri.
"A-Aku... k-kenapa...? Padahal, aku udah berusaha sekeras itu..."
"Haruna, sekarang kau sudah paham kan? Kamu nggak punya bakat jadi Gadis Penyihir."
Aku merasa mual pada diriku sendiri yang kikuk, karena hanya bisa berbicara dengan cara yang kasar seperti ini. Tapi, kebaikan setengah-setengah hanya akan membuat Haruna menaruh harapan kosong.
"Bahkan Nagi yang punya bakat besar pun hampir saja terluka parah di pertarungan debutnya. Kalau kau yang nggak punya bakat nekat jadi Gadis Penyihir, kemungkinan besar hasilnya bakal fatal dan nggak bisa diubah lagi."
"Meskipun begitu, aku nggak apa-apa kok...!"
"Mana boleh begitu!"
"Eh!?"
Terhadap Haruna yang terus mendesakku sambil memercikkan air matanya, tanpa sadar aku membentaknya dengan suara keras. Sebelumnya, aku tidak pernah marah sampai membentak Haruna seperti ini. Karena anak ini biasanya selalu santai dan bebas, si bodoh yang selalu ceria tanpa batas, dan meskipun kadang dia ngelunjak sampai bikin aku marah... bagiku, dia adalah teman masa kecilku yang berharga.
"Dinginkan kepalamu. Jangan bikin aku khawatir lebih dari ini."
"Habisnya, habisnyaaa... a-aku, cuma mau... ngewujudin mimpi Shou-kun...!"
Air mata dan ingusnya mengalir deras, saat Haruna mencoba menempel dan memohon padaku. Aku hendak melingkarkan lenganku ke punggungnya... tapi aku menahan diriku di saat-saat terakhir.
"Mimpi itu, bakal diwujudkan oleh Nagi. Karena itu... kembalilah ke kehidupan normalmu."
"...!"
Sebuah perkataan paling brengsek, tanpa sedikit pun rasa empati. Tapi, ini sudah yang terbaik. Lebih baik kalau Haruna jadi membenciku gara-gara ini.
"Shou-kun bodoh! Dasar Mazacon! Cowok playboy brengsek yang lupa kalau waktu kecil kita pernah latihan ciuman bareng! Tapi, meskipun gitu aku tetep sukaaaaa!"
Haruna memberondongku dengan kata-kata itu dalam satu tarikan napas, lalu mendorongku dan berlari pergi.
"I-Ini! Buka! Buka dong! Buka kek dasar pintu rongsokan!"
Dan dia berjuang keras untuk membuka kunci pintu selama puluhan detik. Setelah dia akhirnya mengerti caranya dan berhasil membuka kunci pintu itu...
"Uwaaaaaaaaaaaaan!"
Dia berlari keluar kelas, menangis melolong-lolong dengan sangat keras seperti anak kecil.
"...Haaah."
Karena rasa jijik pada diriku sendiri, hela napas panjang tanpa sadar keluar dari mulutku. Saat aku berjongkok tanpa tenaga, sebuah suara dingin terdengar dari atasku.
"Dasar pembuat cewek nangis."
"Aku bahkan merasa nggak punya hak, apalagi tenaga buat menyangkalnya."
"Shoutarou, kamu itu ya. Kenapa sih kamu harus sekikuk itu?"
"...Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh. Kan udah berkali-kali kubilang, kebohongan nggak mempan padaku, kan?"
Nagi berjongkok mensejajarkan pandangannya denganku, dan menatapku dengan wajah seolah ia telah memahami segalanya.
"Alasan kenapa kamu berbohong seperti itu. Aku udah bisa menebak alasannya, tapi apa kamu beneran ngerasa kalau tindakanmu barusan itu benar?"
"Perasaanku itu, bukan hal yang penting. Yang terpenting adalah..."
"Ah iya iya, aku ngerti kok. Sampai harus berbuat seperti itu demi sesuatu yang ingin kamu lindungi, kan."
Gumam Nagi seolah merasa yakin, dan berdiri sambil menggembungkan pipinya.
"Teman masa kecil, ya. Rasanya bikin iri, deh."
Nagi duduk di sudut meja, menyilangkan kakinya, dan bergumam dengan suara pelan.
"...Shoutarou. Aku nggak bermaksud mengkritik caramu, tapi aku cuma mau kasih tahu satu hal ini saja."
"Ya, katakan saja apa pun tanpa sungkan."
"Barang yang benar-benar berharga itu, seringkali keberadaannya dianggap sebagai suatu hal yang wajar saja. Tapi, kalau kamu terlalu bergantung pada hal itu, di saat kamu menyadarinya nanti, semuanya mungkin sudah terlambat... hal-hal seperti itu benar-benar bisa terjadi, lho."
Kata-kata yang diucapkannya dengan segenap tenaga itu, mungkin berasal dari masa lalunya sendiri yang pernah menyudutkan keluarganya ke dalam posisi sulit. Peringatan tulus yang berdasarkan pengalaman pribadinya itu, pasti adalah hal yang benar. Namun, pada akhirnya aku justru memalingkan mataku dari jalan yang benar itu, demi mempertahankan egoku yang rapuh. Dan akibatnya, aku melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal. Andai saja saat itu, aku langsung mengejar Haruna... Kejadian semacam itu, mungkin tidak akan pernah terjadi.
□
Aku, Momono Haruna, adalah anak perempuan tunggal yang lahir di sebuah keluarga umum biasa yang bisa kau temukan di mana saja. Gadis kecil itu tidak pernah mengalami penyakit parah atau cedera besar, dan menjalani kehidupan sehari-hari yang damai dan bahagia. Merasakan kasih sayang yang melimpah dari kedua orang tuanya, dan hari-hari yang penuh dengan manja selayaknya anak seumurannya. Di rumah sebelah, tinggal seorang anak laki-laki tampan yang seumuran denganku. Anak itu hampir setiap hari datang bermain ke rumahku, kami makan bersama, dan juga mandi bersama. Itu sangat menyenangkan. Aku merasa sangat senang. Tanpa kusadari, aku mulai selalu memikirkan tentang anak laki-laki itu. Tapi, anak itu tidak pernah sekali pun tersenyum di hadapanku. Kalau aku mengajaknya bicara, dia akan membalasnya. Kalau aku memintanya melakukan sesuatu, dia akan mengabulkannya. Bahkan saat dihadapkan pada hamburger yang lezat, atau saat menonton anime yang lucu, dia tetap tidak tersenyum. Namun, aku berpikir alasan dia mau datang bermain ke rumahku setiap hari itu karena dia menyukaiku. Karena mau bagaimana lagi, aku pun berjanji bahwa aku bersedia menjadi istrinya nanti. Kalau dipikir-pikir sekarang, saat itu aku benar-benar masih sangat kekanak-kanakan, optimis, dan terlalu ceroboh, ya. Saat aku mengetahui kebenaran yang sesungguhnya adalah ketika aku sudah duduk di bangku SD. Tengah malam, saat aku terbangun untuk pergi ke toilet... aku mendengar suara Papa dan Mama yang sedang mengobrol di ruang tamu.
"Hei? Soal anak sebelah, si Shoutarou-kun, apa nggak ada cara buat mengatasinya?"
"Mengatasi apa maksudnya. Ya mau gimana lagi. Shoutarou-kun kan setiap hari menjaga rumah sendirian?"
"Meski begitu, membiarkannya terus bersama Haruna kita kayak kakak-adik sendiri begini, apa nggak masalah?"
"Izumi-san dari sebelah juga udah ngasih ucapan terima kasih dengan pantas ke kita. Lagian, aku juga menyayangi anak itu layaknya anakku sendiri."
"...Emang sih anak itu pintar dan penurut, tapi, kedekatannya sama Haruna itu terlalu berlebihan. Belakangan ini Haruna cuma ngomongin tentang anak itu terus... dia bahkan udah nggak mau diajak mandi bareng denganku lagi."
"Fufu, itu cuma rasa cemburu kan. Memalukan ah, cemburu sama anak kecil begitu."
"Ugh...!"
Mendengar percakapan kedua orang tuaku itu, otakku yang bodoh ini akhirnya menyadari sesuatu. Alasan Shou-kun selalu datang ke rumahku setiap hari adalah karena mamanya Shou-kun sedang tidak ada di rumah. Dan dia cuma dititipkan ke rumahku karena tidak ada pilihan lain. Rasa percaya diriku yang tak berdasar bahwa Shou-kun sangat menyukaiku, hancur berkeping-keping dengan suara bergemuruh di dalam diriku. Rasa sedih dan marah yang tak tahu harus kulampiaskan ke mana, tak kunjung hilang meskipun aku sudah masuk ke dalam selimut. Keesokan harinya, kepada Shou-kun yang datang ke rumahku seperti biasa... aku malah mengatakan hal yang sangat kejam.
"Mamanya Shou-kun itu, jahat banget ya."
Mungkin, dengan kecerdasan dangkal ala anak-anak, aku mencoba untuk bersimpati dengan Shou-kun. Aku mencoba menunjukkan padanya bahwa 'aku mengerti perasaanmu lho', 'aku ini orang yang memahami dirimu lho'. Yah, aku rasa kau pasti sudah bisa menebak kelanjutannya.
"Jangan ngomong buruk tentang ibuku!"
Strategiku itu, benar-benar gagal total.
"Ibuku itu...! Ibuku itu bertarung demi kedamaian dunia! Karena itu, makanya aku nggak apa-apa kok! Sesepi apa pun rasanya, sesakit apa pun rasanya, aku harus bisa menahannya!"
Shou-kun yang biasanya selalu bersikap cool, untuk pertama kalinya meluapkan emosinya dan membentakku. Air matanya mengalir deras, wajahnya merah padam... apakah dia sedang marah, atau sedang sedih, aku di masa kecil sama sekali tidak bisa memahaminya.
"Uuh, hiks...! Ta-Tapi, aku kasihan banget lihat Shou-kun...!"
"...Aku sama sekali nggak pantas dikasihani. Ibuku itu, adalah Gadis Penyihir terkuat di dunia. Dia adalah kebanggaanku."
"Gadis, penyihir...?"
"Orang yang paling menderita itu bukanlah aku, tapi ibuku. Setiap hari, bertarung mempertaruhkan nyawa melawan orang-orang jahat, dan nggak pernah sekalipun ngeluh walau tubuhnya penuh luka. Aku, sangat menghormati ibu yang seperti itu."
Cara bicaranya saat itu seolah-olah ia sedang meyakinkan dirinya sendiri. Meskipun masih sangat kecil, sosok Shou-kun yang mencoba menegarkan dirinya di balik topeng ketegarannya itu... terlihat sangat, sangat menyakitkan untuk dilihat.
"Karena itu, suatu hari nanti... aku pasti akan membebaskan ibu dari misinya. Aku akan menemukan Gadis Penyihir yang lebih kuat dari ibu, membesarkannya, agar ibu nggak perlu bertarung lagi. Itulah impianku."
Sambil mengepalkan tangannya, Shou-kun menceritakan impiannya kepadaku. Aku di masa lalu, mungkin tak bisa memahami separuh pun dari makna kata-katanya. Namun, saat itu juga... aku merasa bahwa aku harus mengatakannya dengan tegas.
"Kalau begitu, mimpiku adalah... mendukung impian Shou-kun! Kalau begitu, aku boleh terus bersamamu, kan?"
Yang terpenting bagiku, aku hanya ingin terus bersama Shou-kun. Berjalan di jalan yang sama. Ingin terus hidup bersama dengan dirinya. Untuk mewujudkan harapan itu, aku memutuskan... untuk mengejar mimpi Shou-kun bersama-sama. Tapi mungkin itu hanyalah angan-anganku yang terlalu tinggi. Pada akhirnya, aku sama sekali tidak memiliki kualifikasi untuk itu.
"Ugh, uuuuuuuugh! Ueaaaaaaah!"
Dari ingatan masa lalu yang berputar di otakku, aku langsung tersadar kembali ke dunia nyata. Rasa sakit di dada yang seakan mau meledak. Air mata dan isakan yang tak mau berhenti. Di sudut pandanganku yang kabur, pasti ada orang-orang yang melihatku dengan tatapan aneh saat aku berlari sambil menangis. Meskipun begitu, aku tidak menghentikan langkahku, aku terus berlari sampai rasanya kakiku hampir putus. Berlari, berlari, dan terus berlari. Aku terus berlari menuju tempat yang tidak ada orangnya. Keluar dari kawasan kota, dan ketika aku sampai di jalan setapak hutan yang sepi... matahari pun sudah sepenuhnya terbenam.
"Auugh!"
Akhirnya, kakiku yang kelelahan tersandung, dan aku jatuh tersungkur dengan keras.
"Ugh, aah..."
Biasanya, Shou-kun akan memasang wajah pasrah sambil berkata "Lagi ngapain sih kamu?" lalu membantuku berdiri. Tapi, sekarang di sampingku... Shou-kun tidak ada. Bukan, mungkin untuk selamanya... Shou-kun nggak akan pernah ada lagi di sisiku. Karena di mata Shou-kun, dia cuma bisa melihat Izumi-san... atau Nagi-chan yang punya bakat lebih hebat dari Izumi-san.
"Uwoobueaaaaaaaaaaah!"
Tangisan buruk rupa yang sama sekali nggak pantes buat anak gadis seumuranku. Aaah, karena kelakuanku yang kayak gini... makanya Shou-kun nggak pernah ngelihat aku sebagai perempuan sampai kapan pun.
"Uuuuuuugh! Uuuuuuuuugh!"
Saking kesal dan frustrasinya, aku memukul-mukul tanah berkali-kali dalam posisi tengkurap. Aku membencinya. Ketidakberdayaanku sendiri yang tidak memiliki bakat untuk jadi Gadis Penyihir. Sangat menyebalkan. Ketidakmampuanku untuk mengabulkan mimpi Shou-kun.
"Nggak mau, aku nggak mauuu...! A-Aku, nggak mau nyerahhhh...!"
Sebanyak apa pun aku menangis, atau berteriak, kenyataan tidak akan pernah berubah. Nggak akan ada orang yang bisa memahami keputusasaan ini. Perasaanku ini, nggak akan pernah tersampaikan kepada siapa pun. Seharusnya seperti itu, tapi...
"Nfuh♡ Hebat bangeeeet...♡ Maginal yang sepekat ini, baru pertama kali aku ngelihatnya♡"
"...Eh?"
Tiba-tiba, terdengar suara seorang wanita yang anehnya terdengar lengket dan menggoda dari atasku. Aku terkejut dan mendongak, dan dengan latar belakang langit malam... kulihat siluet seseorang yang sedang melayang di udara.
"Membuat Maginal di sekitar jadi sekeruh ini, keputusasaan yang sangat luar biasa lho. Atau jangan-jangan, bakat yang bisa mewujudkan hal itulah yang bisa dibilang luar biasa?"
Seorang wanita yang membiarkan rambut putihnya berkibar ditiup angin malam, sambil menggerakkan tubuhnya yang sintal dengan gaya yang sensual.
"K-Kaukah, monster...?"
Dua tanduk, sayap hitam, dan ekor yang menyerupai iblis. Dari bagian-bagian tubuhnya yang bukan manusia itu, sangat jelas kalau orang itu bukanlah Gadis Penyihir, melainkan monster.
"A-Aku harus la..."
"A~ra, nggak perlu kabur lho~? Nona, aku ini bukan musuhmu, kok."
Monster wanita itu dengan kecepatan luar biasa melesat ke depanku saat aku baru saja bangkit dan hendak melarikan diri.
"Hyiik!"
"Ufufu, Nona manis. Kau punya harapan yang ingin dikabulkan, kan? Dan karena itulah kau sangat mendambakan kekuatan."
Monster wanita yang mencengkeram kedua bahuku itu menatap langsung ke mataku dengan pupil matanya yang bersinar merah menyala.
"Iya, kan? Mau jadi kuat? Mau mendapatkan hal yang paling kau inginkan?"
"A-Apa maksudmu...?"
"Kau ini punya bakat yang luar biasa lho. Karena ituuu... bagaimana?"
Di tengah kegelapan malam, pupil matanya yang menyala secara misterius. Ini pasti adalah godaan dari seorang iblis. Tapi, bahkan jika aku harus menjual jiwaku pada iblis sekalipun...
"Nah, seraplah ini ke dalam tubuhmu. Agar wujudmu yang sesungguhnya bisa bangkit."
Benda yang digenggamkan ke tanganku adalah kristal yang terlihat persis seperti yang pernah Shou-kun perlihatkan kepadaku di masa lalu... tapi kristal ini berwarna hitam pekat.
"Shou-kun..."
Tidak ada keraguan ataupun kebimbangan lagi. Aku menggenggam erat kristal hitam itu dan──
□
Kesenangan terbesarku setelah pulang sekolah. Menikmati waktu makan malam berdua saja dengan ibu... seharusnya begitu, tapi.
"............"
"Shou-chan? Kamu melamun terus, ada apa? Padahal hari ini lauknya hamburger kesukaanmu lho."
"Ah, eh?"
Saat aku tersadar, dari seberang meja ibu sedang menatapku dengan tatapan khawatir. Tampaknya selama beberapa saat tadi pikiranku sedang melayang entah ke mana.
"Namanya juga anak sendiri, ibu bisa gampang nebaknya lho. Pasti terjadi sesuatu di sekolah, kan?"
"...Iya, yah begitulah."
"Ayo, ayo, ceritain ke Mama sini. Mama bakal dengerin curhatanmu kok."
Ibu menepuk dadanya, dan memancarkan senyum cerah yang menyilaukan. Biasanya aku akan terpesona dan terbuai oleh senyuman itu... tapi saat ini, kilaunya justru terasa menyiksa bagiku.
"Nggak, ini adalah masalah yang harus kuhadapi sendiri."
"Gitu, ya? Kamu nggak boleh nyimpan beban sendirian terus lho?"
"Iya. Kalau aku bener-bener udah mentok, aku pasti bakal konsultasi ke Ibu kok."
Sesaat setelah aku mengangguk sambil menyuapkan hamburger ke mulut. Tiba-tiba, ponsel ibu yang diletakkan di sudut meja mulai bergetar. Musik ini... itu nada dering panggilan masuk.
"Ara? Jam segini siapa ya... lho, ternyata ibu tetangga sebelah."
Ibu melirik layar ponselnya sebentar, dan mengangkat teleponnya setelah memastikan siapa yang menelepon.
"Ya, halo? Iya, ini Ichinose. Tumben sekali ada ap... Eh?"
Ibu yang awalnya tersenyum dan berbicara dengan nada setengah oktaf lebih tinggi dari biasanya. Namun, suaranya perlahan-lahan berubah menjadi suram... dan suasananya berubah menjadi tegang dan serius.
"Masa sih...! Tapi, iya. Mungkin anak saya tahu sesuatu. Saya tanyakan dulu padanya, bisa tolong tunggu sebentar?"
"Ibu, ada apa?"
"Shou-chan. Hari ini, kamu nggak pulang bareng sama Haruna-chan?"
"Eh? Enggak, hari ini kami pulang sendiri-sendiri sih, tapi..."
Aku bisa merasakan jantungku berdebar kencang. Kenapa nama Haruna tiba-tiba muncul di sini? Sampai menelepon cuma buat nanya apa kami pulang bareng atau enggak, sebenarnya apa yang terjadi...?
"Haruna-chan katanya masih belum pulang ke rumah sampai sekarang. Terlebih lagi, dia nggak bisa dihubungi sama sekali."
"A-Apa...!?"
"Kalau kamu tahu sesuatu, tolong kasih tahu Ibu. Sekecil apa pun informasinya."
Ibu bertanya padaku dengan sangat yakin. Jelas saja, karena sikapku sedari tadi sangat aneh dan kentara sekali... wajar saja dia curiga padaku.
"...Maaf. Hari ini, aku habis berantem sama Haruna."
"Sama Haruna-chan? Ah, pantesan..."
"Tolong sampaikan permintaan maafku ke Tante sebelah, Bu. Semuanya salahku."
Aku meletakkan mangkuk dan sumpitku di atas meja, lalu berdiri dari kursiku hanya dengan membawa ponselku.
"Tunggu! Shou-chan, kamu mau ke mana?"
"Aku mau cari anak itu! Kalau aku udah nemuin dia, aku bakal langsung hubungin Ibu!"
Karena merasa tidak bisa diam saja, aku berlari keluar dari rumah. Kenapa, aku nggak bertindak lebih awal. Setelah pulang ke rumah, aku sama sekali tidak mengecek apakah anak itu sudah pulang dengan selamat atau belum. Aku benar-benar mual dengan sifat pengecutku sendiri. Tapi sekarang bukan waktunya untuk merenungi kesalahanku. Pertama-tama aku harus mencari Haruna dan memastikan kalau dia aman!
"Hah, hah...! Haruna, di mana kau...?"
Dengan napas terengah-engah, aku berlari menyusuri jalanan malam... sambil terus berpikir. Tempat yang kemungkinan dituju oleh Haruna saat sedang menangis. Tempat di mana dia sering kabur kalau ada hal-hal buruk terjadi padanya.
"Jangan-jangan... di sana?"
Mempertaruhkan secercah harapan terakhirku, aku masuk ke dalam jalan setapak di hutan pinggiran kota. Di ujung hutan ini, terdapat tempat penyimpanan material bekas yang biasanya tidak pernah didatangi oleh siapa pun. Dulu, aku dan Haruna mencoba untuk menjelajahi tempat penyimpanan material itu... dan akhirnya tersesat. Berjalan sampai kaki kelelahan, tenggorokan kering, dan perut keroncongan. Ketika malam semakin larut, kami berdua meringkuk berpelukan di dalam pipa beton. Aku memeluk Haruna yang menangis dan mati-matian menenangkannya. Di saat diriku sendiri hampir hancur oleh rasa takut, orang yang berhasil menemukan kami adalah... Gadis Penyihir Cherry Diamond. Cherry Diamond memeluk kami dengan lembut, lalu terbang melesat menuju hamparan bintang di langit. Berada di ketinggian yang seolah-olah kami bisa menggapai bintang jika mengulurkan tangan. Pengalaman terbang di langit sambil merasakan hembusan angin yang menyejukkan itu, masih terus membekas... di dalam hati masa kecilku selamanya.
"Hah, hah, hah..."
Aku tidak tahu kenapa tempat ini tiba-tiba terlintas di pikiranku. Tapi, kalau memang Haruna ada di suatu tempat... aku merasa sangat yakin kalau dia ada di sini.
"Haruna...! Kau di mana? Harunaaa!"
Tumpukan material yang hampir tak ada bedanya dengan dulu. Sambil menyelinap melewati tumpukan itu, aku terus memanggil nama Haruna dengan sekuat tenaga. Nggak ada balasan. Apakah itu artinya dia nggak ada di sini? Saat aku memikirkan hal itu, dan hendak berbalik untuk kembali... di saat itulah.
"Aha, Shou-kun. Ternyata kamu beneran datang ya."
Aku bereaksi dan menoleh ke arah suara yang tidak asing lagi, dari arah belakangku. Tumpukan balok kayu yang tinggi. Siluet seseorang yang sedang duduk di puncaknya dan menatapku ke bawah adalah... tanpa diragukan lagi, teman masa kecilku, Haruna.
"Haruna, aku sangat mengkhawatirkanmu tahu!"
"Hei, kamu ingat nggak? Dulu, kita tersesat di sini... dan kita berdua gemetaran ketakutan di dalam pipa beton itu, kan."
Tanpa merespons perkataanku, Haruna mulai berbicara dengan suara yang datar tanpa intonasi. Di wajahnya, tak terlihat lagi raut kesedihan dan keputusasaan yang kulihat di ruang kelas kosong sepulang sekolah tadi. Jika harus diibaratkan, itu seperti... senyum polos dari seorang anak kecil yang baru saja dibelikan mainan impiannya.
"Waktu itu, Shou-kun bilang padaku. Aku ada di sini, aku yang akan melindungimu, katamu. Sejak saat itu, aku udah terpesona banget sama Shou-kun yang kelihatan sangat keren waktu ngomong gitu."
"Hei, Haruna...? Kamu ini, kenapa jadi begini?"
Meskipun kadang dia sering berdelusi sendiri dan mengoceh tanpa henti... dia tidak pernah sekalipun sepenuhnya mengabaikan perkataanku seperti ini. Dilihat dari mana pun, sosok di depanku ini jelas-jelas Haruna. Tapi, aku tidak bisa menepis perasaan bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.
"Saat itu lho. Aku juga bikin janji sama Shou-kun, kan? Kalau aku yang bakal ngewujudin mimpi Shou-kun."
"...Ya, aku ingat kok. Nggak sehari pun aku melupakan hal itu."
Untuk saat ini, agar bisa berbicara dengannya, aku mencoba merespons sesuai dengan arah pembicaraannya. Kemudian Haruna memiringkan kepalanya dengan heran... dan bangkit berdiri di atas tumpukan kayu itu.
"Hee? Gitu ya? Padahal kukira, kamu udah lupa lho."
Setelah menggumamkan kata-kata itu pelan, Haruna melangkah maju dan melompat turun dari atas tumpukan balok kayu.
"Hei, tunggu! Jangan!"
Gawat! Kalau dia melompat dari ketinggian segitu, bahkan jika dia berhasil mendarat dengan baik, cedera pasti tak bisa dihindari! Aku segera berlari untuk menangkap Haruna, tetapi sebelum aku mencapainya... sebuah keanehan terjadi pada tubuh Haruna.
"Nggak boleh dong, Shou-kun. Kalau kamu ngelakuin itu, nanti malah Shou-kun yang bakal terluka, kan."
"...Hah?"
Mengambang, perlahan-lahan melayang-layang. Tubuh Haruna yang seharusnya ditarik gravitasi dan jatuh ke tanah, tiba-tiba berhenti di udara... dan melayang naik.
"Apa-apaan...!"
"Ahahaha! Apa kamu kaget banget? Tapi, wajar sih ya. Soalnya aku yang sama sekali nggak punya bakat Gadis Penyihir, sekarang malah bisa terbang di langit pakai sihir lho."
Menyaksikan pemandangan mengejutkan di depan mataku ini, Haruna menertawaiku yang pikirannya sedang blank total. Apa yang sedang terjadi? Kenapa, Haruna bisa pakai sihir? Jangan-jangan, dia berhasil jadi Gadis Penyihir dengan usahanya sendiri? Nggak, mana mungkin ada hal kayak gitu...
"Shou-kun yang lagi bingung kelihatan manis juga lho. Tapi, aku nggak mau bikin Shou-kun bingung lebih lama lagi."
Entah karena ia merasa kasihan melihatku yang tak bisa berkata-kata karena tak mampu memahami situasinya. Haruna melangkah ke depanku seperti sedang menari-nari, dengan senyum jahil di wajahnya. Lalu, ia mengangkat telapak tangannya yang terbuka ke arah langit malam... dan berseru dengan lantang.
"Fallen Bloom!"
Bersamaan dengan seruan mantra itu, aura hitam pekat meledak dan menyembur dari bawah kaki Haruna. Aura itu membentuk pusaran layaknya badai tornado, dan membungkus seluruh tubuh Haruna dalam sekejap mata.
"Haruna...!"
Hempasan angin yang luar biasa kencang menerjang, dan aku secara refleks mundur perlahan sambil menutupi wajahku dengan lengan. Di ujung pandanganku yang buram, pusaran hitam itu perlahan-lahan mulai mereda.
"Nhaa♡ Shou-kun, gimana menurutmu?"
Saat kegelapan itu sirna, seorang gadis berdiri dengan diterangi cahaya bulan yang temaram. Sosok yang berdiri di sana... bukanlah teman masa kecil yang sangat kukenal itu lagi. Rambutnya yang tadinya berwarna merah muda kini berubah menjadi putih pucat seolah kehilangan pigmennya, dan diikat dengan gaya side-tail. Sepasang mata merah menyala yang dapat terlihat jelas di tengah malam yang gelap. Dan pakaian yang ia kenakan adalah Gaun Gothic berwarna hitam pekat dengan belahan yang mengekspos banyak kulit. Kostum yang sekilas mirip baju Gothic Lolita itu... jika harus diibaratkan, ia memancarkan aura mengerikan layaknya seorang Gadis Penyihir yang telah terjerumus ke dalam kegelapan.
"Kau, gimana caranya kau jadi Gadis Penyihir...?"
"Nfufufu♡ Bukan gitu, Shou-kun. Ini tuh, semacam... Gadis Penyihir Kegelapan yang diciptakan oleh Shadow Nexus dengan memodifikasi Magipura, lho?"
"Gadis Penyihir, Kegelapan...? Nggak, tapi lebih penting lagi, Shadow Nexus katamu?"
"Iya. Saat aku menangis, ada Monster cewek yang baik hati yang mau minjemin kekuatannya padaku."
Sambil mengabaikan kebingungan dan kekacauanku, Haruna merangkai kata-katanya tanpa ragu sedikit pun. Seolah-olah sudah tidak bisa lagi membedakan antara yang baik dan yang benar, cahaya telah sepenuhnya menghilang dari matanya.
"Kau ditipu oleh monster itu, ya? Atau jangan-jangan, kau dikendalikan...!"
"Bukan kok. Shou-kun, semua ini... murni atas keinginanku sendiri. Aku yang menginginkannya, dan aku sendirilah yang memperoleh kekuatan ini."
Haruna dengan cepat menyangkal harapanku yang bertaruh pada kemungkinan sekecil apa pun itu.
"Diriku yang sekarang adalah Gadis Penyihir Kegelapan, Abyss Peach... bercanda ding."
Sambil tersenyum polos dengan mata keruhnya yang tak bercahaya, Haruna terus melanjutkan pembicaraannya.
"Jangan pasang wajah kayak gitu dong. Shou-kun, aku... akhirnya menemukan cara yang paling bagus tahu."
"Cara, yang bagus...? Ini, kau bilang hal semacam ini adalah cara yang bagus!?"
"Iya, kan? Aku yang nggak bisa jadi Gadis Penyihir, akhirnya bisa ngewujudin mimpi Shou-kun... ini satu-satunya cara."
Setelah menjawabnya, Haruna mengibaskan rok mininya... lalu melayang ringan di udara.
"Aku bakal ngalahin banyak Gadis Penyihir dengan kekuatan ini, menjadi semakin kuat... dan naik pangkat jadi petinggi di dalam Shadow Nexus. Kalau aku berhasil ngelakuin itu, suatu saat nanti aku bakal jadi yang paling berkuasa, kan?"
"Apa, yang kau bicarakan..."
"Kalau aku udah jadi Bos-nya Shadow Nexus, maka peperangan ini bakal berakhir. Rencana yang bagus, kan."
"Jangan bercanda...! Aku sama sekali nggak pernah mengharapkan hal seperti itu!"
"Kamu mengharapkannya kok. Karena impian Shou-kun adalah membebaskan Izumi-san dari pertarungan ini, kan."
Terbang melayang di langit malam, Haruna menatapku dari atas dengan bulan purnama di belakangnya.
"Sampai jumpa, Shou-kun. Aku, nggak peduli cara apa pun yang harus kupakai... aku pasti bakal ngewujudin mimpi Shou-kun."
"Tunggu! Haruna! Jangan pergi! Harunaaaaaaa!"
Seruan putus asaku berlalu dengan sia-sia, saat Haruna semakin menaikkan ketinggian terbangnya dan menghilang ke dalam kegelapan malam. Tanganku yang terulur hanya menggapai udara kosong, dan kakiku pun tersandung jatuh berguling-guling di tanah.
"Haru, na... Haruna...!"
Aku benar-benar tak bisa menelan kenyataan pahit yang terjadi tepat di depan mataku ini. Mungkin, saat ini aku sedang tertidur di kasur rumahku dan cuma bermimpi buruk. Hanya bisa menggantungkan diri pada delusi menyedihkan semacam itulah, satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat ini.
"U, uwoooooooooooooooooooooh!"
Hukuman terburuk yang harus kutanggung akibat dosa yang kubuat sendiri. Hancur di bawah tekanan salib yang begitu berat, ratapan yang keluar hingga membuat tenggorokanku serak. Ratapan itu takkan pernah sampai pada siapa pun, dan hanya terus bergema sia-sia memecah kesunyian di udara hampa.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!

Komentar
Tinggalkan Komentar