Featured Image

My Mom Strongest Magical Girl V1 C6

Metoya Februari 13, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Ingin Menjadi Mahou Shoujo


"Waktunya Peringkat Gadis Penyihir minggu ini! Kali ini, Gadis Penyihir pendatang baru yang sedang hangat diperbincangkan itu berhasil masuk peringkat, lho!"

Setiap hari Senin. Peringkat Gadis Penyihir adalah segmen utama yang sudah menjadi tradisi di berita pagi. Kecuali Cherry Diamond yang tak tergoyahkan di posisi pertama sejak awal segmen ini dibuat, pada dasarnya ini hanyalah acara untuk mengecek pergantian peringkat dari posisi kedua hingga kesepuluh. Namun khusus hari ini, bahkan aku pun sangat penasaran dengan peringkat di posisi bawah.

"Luar biasa! Gadis Penyihir pembuat kehebohan yang baru debut minggu lalu! Plum Sapphire berhasil meraih posisi ketujuh pada kemunculan perdananya!"

Peringkat Plum Sapphire yang diumumkan dengan penuh semangat oleh penyiar wanita muda berparas cantik itu, berada di posisi ketujuh—hasil perjuangan yang lebih baik dari dugaanku.

"Posisi ketujuh, ya… Yah, kegagalan di awal itu sepertinya cukup berdampak."

Bagi seorang Gadis Penyihir, kesan pertama itu sangatlah penting. Meskipun dia sudah beraksi hebat dalam insiden di restoran waktu itu, kesan sebagai Gadis Penyihir menyedihkan yang diselamatkan oleh Cherry Diamond di pertarungan debutnya pasti sulit untuk dihapus.

"Ara ara, hebat sekali! Plum Sapphire-chan tiba-tiba langsung masuk peringkat lho!"

Sambil membereskan piring bekas sarapan, ibu yang mengenakan celemek tersenyum gembira. Memang benar seperti kata ibu, masuk peringkat itu hal yang hebat, tapi tujuan kami yang sebenarnya adalah untuk melampaui ibu. Meskipun ibu sendiri pasti tidak bermaksud meremehkan, tapi melihatnya ikut senang seolah-olah itu pencapaiannya sendiri... membuatku merasa keberadaan kami sedang diremehkan.

"Tunggu saja, Ibu. Sebentar lagi Plum Sapphire akan menyusul dan melampaui Cherry Diamond."

"Ufufufu, ibu menantikannya lho. Kalau saat itu tiba, apa mungkin itu akhirnya saat yang tepat buat Mama pensiun ya?"

Sambil menempelkan tangan di pipinya, ibu sama sekali tidak melunturkan senyum santainya. Kepercayaan diri mutlak dari sosok yang benar-benar kuat, yang sama sekali tidak berpikir bahwa dirinya akan kalah—benar-benar luar biasa.

"Walaupun begitu, Plum Sapphire-chan memang hebat, ya. Dia sudah menguasai Sihir Bawaan-nya, kan?"

"Ya, kekuatan yang menciptakan busur dan anak panah dari Maginal. Kemungkinan besar itu memang Sihir Bawaan Plum Sapphire... tapi entah kenapa aku merasa ada yang mengganjal."

Sekadar menciptakan senjata dari Maginal itu rasanya terlalu sederhana untuk ukuran Sihir Bawaan dari seorang Plum Sapphire yang punya bakat terkuat. Kalau tebakanku benar, kemampuan aslinya yang sesungguhnya pasti ada hal lain.

"Kalau sihirnya luar biasa dan gampang dimengerti kayak punya Ibu sih bakal jelas, tapi..."

"Benar juga. Tapi, Sihir Bawaan milik ibu itu penggunaannya benar-benar sangat sulit, lho? Kalau ibu menggunakannya di tengah kota, evakuasi penduduk pasti nggak bakal keburu dan bisa menyebabkan bencana besar."

"Yah, dalam kasus Ibu, sekadar melepaskan Maginal yang dikumpulkan atau membalutkannya ke tubuh lalu memukul lawan saja, daya hancurnya sudah melebihi jurus maut Gadis Penyihir biasa. Belakangan ini Ibu juga hampir nggak pernah pakai tongkat sihir lagi, kan."

Kalau diibaratkan dalam game pertarungan, keseimbangan kekuatannya itu seperti memberikan damage setara serangan spesial saat bar energi penuh, hanya dengan satu pukulan ringan (jab) dari ibu.

"Muu, jangan memperlakukanku seperti monster begitu dong."

"Aku nggak bermaksud begitu kok. Aku kan cuma memuji kehebatan Ibu."

"Benarkah? Shou-chan itu kadang kurang jelas kalau ngomong di saat-saat penting... Mama jadi khawatir jangan-jangan kamu ngasih kesalahpahaman aneh ke Nagi-chan atau Haruna-chan."

Aku menelan kembali kata-kata bantahan yang hampir keluar dari mulutku. Kalau dipikir-pikir, entah kenapa belakangan ini Nagi sering melampiaskan emosi yang anehnya terasa menempel dan membludak kepadaku. Aku terus membiarkannya karena takut untuk memastikannya, tapi anak itu pasti sedang salah paham besar.

"Dengar ya? Shou-chan, Mama ngerti kok perasaan anak cowok yang pengen kelihatan keren di depan anak cewek. Tapi, kalau harga diri itu malah melukai perasaan si cewek, itu sama sekali nggak ada artinya lho?"

"...Iya. Akan kuingat baik-baik."

"Bagus. Untuk Shou-chan yang penurut, Mama bakal kasih hadiah♡"

Ibu berjalan menghampiriku yang sedang menonton TV di sofa ruang tamu, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar hingga dadanya berguncang berat.

"Bukankah masih agak terlalu pagi buat pelukan sebelum berangkat sekolah?"

"Bukan itu. Ini ajakan untuk pelukan yang dilanjutin dengan gesek-gesek pipi lho♡"

Sambil menutup matanya, ibu memajukan rahang bawahnya seolah-olah meminta ciuman. Melihat orang dewasa yang usianya hampir empat puluh tahun merengek seperti itu pada putra remajanya yang berusia enam belas tahun, rasanya hampir membuatku pasrah...

"Eratttt! Gesek gesek gesek!"

"Aaan, Shou-chan agresif banget♡ Mama bisa rusak lho♡"

Bukan nalar, melainkan insting. Tubuhku bergerak mendahului pikiranku, mendambakan sentuhan fisik dengan ibu. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluk ibu, dan menggesekkan pipiku ke pipinya yang kenyal dan lembut itu. Daya tariknya itu benar-benar bagaikan lubang hitam (black hole).

"Pipi Shou-chan, hangat ya. Uryaryaryaa."

"Tunggu, jangan gerak-gerak, Ibu. Rambutnya kena hidungku..."

Aroma wangi ibu menusuk langsung ke rongga hidungku, merangsang pusat kenikmatan di otakku. Kalau aku mengonsumsi 'zat ibu' secara berlebihan seperti ini, bisa-bisa kewarasanku bakal hilang.

"S-Stop! Hari ini cukup sampai di sini, aku harus berangkat ke sekolah sekarang!"

"Eeeh? Hari ini kan masih ada banyak waktu luang."

"Memang sih, tapi pokoknya aku berangkat sekarang."

Sambil mencambuk kewarasanku yang sudah sekarat, aku mati-matian meraih kedua bahu ibu dan melepaskan pelukannya. Lalu aku mengambil tas yang kuletakkan di atas meja dan melangkah menuju pintu depan.

"Haaah, Shou-chan sepertinya sudah mulai mandiri dari ibunya, ya. Yah, wajar saja sih kalau minatmu pada Mama mulai berkurang kalau kamu diapit sama cewek-cewek imut kayak Haruna-chan dan Nagi-chan."

"Nggak, nggak mungkin begitu. Bagiku Ibu selamanya adalah nomor satu."

"Iih♡ Shou-chan bisa aja♡"

"Kalau gitu, aku berangkat ya."

"Hati-hati di jalan~♡"

Setelah melambaikan tangan membalas lambaian ibu yang tersenyum riang, aku membuka pintu depan dan keluar rumah. Biasanya di saat seperti ini, Haruna juga akan keluar dari rumah sebelah...

"...Dia, nggak keluar?"

Saat aku berangkat ke sekolah, sosok Haruna tidak terlihat. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupku. Bahkan di hari saat dia demam tinggi dan tidak masuk sekolah pun, dia selalu menyempatkan diri mengintip dari rumahnya tepat di saat aku keluar rumah... dan tak pernah absen tersenyum sambil mengucapkan "Hati-hati di jalan".

"Si bodoh itu... jangan-jangan."

Obsesi mengerikan untuk selalu bertatap muka denganku di setiap hari sekolah selama belasan tahun. Hal apa yang sedang dilakukan Haruna sampai ia rela mengorbankan rutinitas itu... aku akan segera tahu jawabannya.

"Hah, hah...! Tinggal, sedikiiit... lagi...!"

Setelah menunggu sejenak, dari kejauhan terdengar suara yang sudah sangat kukenal. Saat aku menoleh, kulihat sosok Haruna yang mengenakan jersey merah sedang berlari dengan napas tersengal-sengal.

"Gooool... Hah, hah...! Berhasil, hari ini juga selesai...!"

Haruna yang akhirnya berhenti di depan rumah sudah dalam kondisi kelelahan parah. Sambil bernapas terengah-engah dari bahunya dan menumpukan kedua tangannya di lutut untuk beristirahat, di kedua tangan dan kakinya masih terpasang pemberat (power ankle) seperti biasa. Sudah berapa jauh jarak yang ia tempuh dengan memakai pemberat semacam itu? Terlebih lagi, kalau dilihat lebih dekat, ada banyak sekali luka gores di wajah dan jari-jarinya, dan plester tertempel di sana-sini untuk menutupinya.

"...Hei, Haruna."

"Hae? Sh, Shou-kun?"

Mungkin karena dia terlalu fokus berlari, dia sampai tidak menyadari keberadaanku. Saat aku memanggilnya, Haruna tersentak kaget dan melompat mundur untuk menjaga jarak.

"Latihan yang waktu itu lagi... nggak, bukannya ini lebih berat dari yang kulihat sebelumnya?"

"I, iya. Menu latihan khusus langsung dari Izumi-san... aku, lipat gandakan porsinya jadi dua kali lipat."

Dua kali lipat dari menu latihan ibu? Itu adalah porsi latihan yang sangat ekstrem, sampai-sampai bisa merusak tubuh anak gadis SMA biasa kalau dia nekat melakukannya.

"Kamu, hari ini mulai latihan dari jam berapa?"

"Hnn. Hari ini aku mulai dari jam dua malam..."

Sekarang sekitar jam setengah delapan pagi, berarti setidaknya dia sudah latihan selama lima jam lebih...?!

"Lari sendirian di tengah malam buta begitu bahaya tahu, apalagi kamu cewek."

"M, maaf. Tapi, kalau aku nggak mulai jam segitu... aku nggak bakal sempat nyelesaiin semua porsi latihannya."

Haruna menundukkan pandangannya dengan canggung dan menggenggam erat ujung jersey-nya. Bukannya aku ingin menyangkal usaha keras Haruna, tapi...

"Kan udah kubilang sebelumnya, hentikan tindakan nggak masuk akal ini. Kalau diterusin..."

"Nggak mau! Habisnya, kalau aku nggak begini...!"

Aku nggak bakal bisa jadi Gadis Penyihir. Pasti itulah yang ingin dikatakan Haruna. Tapi, aku sama sekali tidak berniat untuk membenarkannya.

"Latihan sekeras apa pun nggak ada gunanya. Kamu nggak punya bakat untuk itu."

"Nggak bener kok! Kalau aku berusaha, aku pasti juga bisa!"

Dengan mata yang dipenuhi air mata, Haruna memohon dengan putus asa. Ah, aku tahu. Anak ini sejak dulu, kalau sudah memutuskan sesuatu, dia tidak akan pernah bisa dihentikan. Karena itulah, aku harus...

"Shou-kun. Tolong, ukur kecocokanku sekali lagi aja."

"Kecocokan? Pakai alat itu?"

"Iya. Kalau setelah ini ternyata angkaku tetap nggak naik..."

"Kamu bakal menyerah dengan patuh. Begitu, kan?"

Saat aku bertanya untuk memastikannya, Haruna ragu-ragu sejenak... lalu mengangguk kecil. Sepertinya dia sangat percaya diri dengan hasil usahanya selama ini.

"...Baiklah. Tapi kita ukurnya sepulang sekolah hari ini. Nagi juga bakal ikut hadir sebagai saksi."

"Nagi-chan juga? Kalau aku sih, sekarang juga nggak apa-apa lho?"

"Kalau hasilnya buruk nanti, aku bakal repot kalau kamu mengingkari janji dengan alasan kondisimu yang lagi capek begini. Terus kalau ada Nagi sebagai saksi, aku juga jadi nggak bisa melanggar janjiku padamu."

"Berarti... kalau kecocokanku naik, kamu bakal jadiin aku Gadis Penyihir, kan?"

"Nggak bisa langsung sih, tapi aku nggak bakal nyuruh kamu nyerah lagi. Lagian, kalau kamu emang punya bakat luar biasa sampai bisa ningkatin angka kecocokan sendiri, maka memberikan Magipura berharga itu padamu adalah hal yang sangat sepadan."

"Oke, aku setuju. Berarti penentuannya sepulang sekolah nanti ya!"

Ekspresi Haruna yang tadinya murung seketika berubah cerah, dan ia kembali ke rumahnya dengan wajah yang dipenuhi harapan.

"Ini janji lho, Shou-kun! Aku, pasti bakal membuktikannya padamu!"

Setelah ini dia pasti bakal mandi, lalu buru-buru bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Sepertinya bakal butuh waktu lama, dan kalau aku menunggunya, aku bisa-bisa ikut terlambat. Meski merasa sedikit bersalah, aku meninggalkan Haruna dan berangkat ke sekolah duluan.

"Heeen? Jadi kejadiannya begitu ya."

Setelah berangkat duluan dan tiba di sekolah, aku menjelaskan garis besar kejadiannya pada Nagi di kelas. Tentu saja, aku menghindari kata-kata tentang Gadis Penyihir agar tidak masalah jika didengar oleh teman sekelas, dan hanya memberitahunya bahwa aku akan mengukur ulang kecocokan Haruna sepulang sekolah nanti.

"Momono-san sudah berusaha sangat keras lho... apa kau sama sekali nggak berniat meminjamkan kekuatanmu untuk teman masa kecilmu itu?"

"Dengar ya. Kan udah kubilang, biaya buat nyoba tantangannya aja butuh sekitar dua ratus juta tahu? Kalau anak itu nggak punya bakat, uang dua ratus juta itu bakal lenyap sia-sia dalam sekejap."

"Ugh, kalau dibilang begitu... rasanya nyesek juga ya."

"Lagipula, saat ini aku sudah memilikimu. Aku nggak perlu buru-buru nyari kandidat baru lagi."

Saat aku menjawab begitu, Nagi memunculkan senyum menyeringai yang terlihat menyeramkan sampai-sampai merusak wajah cantiknya.

"Ufufufufu, benar juga. Karena aku ini penting buatmu, kan. Walaupun sekarang posisinya ketujuh... suatu saat nanti, aku ini yang bakal jadi juara satu dengan telak lho!"

"...Ternyata kau ngecek peringkatnya juga ya."

Pantas saja suasana hatinya lebih bersemangat dari biasanya. Tapi, alasan dia bersikap gembira mungkin bukan cuma itu saja.

"Ngomong-ngomong, Nagi. Seragammu itu... seragam pelaut juga sangat cocok buatmu."

"Hee? Aku udah nunggu-nunggu kapan kau bakal memujiku, akhirnya nyadar juga ya?"

Sampai kemarin Nagi masih memakai seragam dari sekolah sebelumnya, tapi hari ini dia sudah memakai seragam resmi SMA Kuran. Seragam pelaut tanpa lipatan kusut dan rok lipit itu sebenarnya adalah hal yang sudah biasa kulihat... tapi saat dipakai oleh gadis secantik Nagi, tetap saja ada kesan dan kekaguman tersendiri.

"Seragam tipe blazer sebelumnya memang bagus, tapi mungkin aku lebih suka yang ini."

"...Masa sih? Yah, kalau emang begitu... aku bakal kencan pakai seragam ini, khusus buatmu."

"Akan kunantikan. Biarkan aku membayar hadiah atas pertarunganmu sebelumnya dengan pantas."

Saat kami berdua sedang asyik mengobrol, tiba-tiba pintu kelas dibuka dengan kasar.

"S-Syukurlah... aku keburu! Selamat!"

Haruna meluncur masuk ke kelas dengan napas terengah-engah; seragamnya kusut dan rambutnya juga masih setengah kering. Sudah sangat jelas terlihat kalau dia habis mandi lalu buru-buru lari ke sekolah.

"Buset, Haruna-cchi! Style macam apa tuh, ini mah bukan bahan bercandaan lagi tahu?"

"Aduh-aduh. Anak ini beneran kacau nih~"

"Eh? Ah, maaf..."

"Sini ikut kita bentar! Kita-kita bakal dandanin lu."

Mungkin karena tidak tega melihat sesama perempuan berantakan seperti itu. Pasukan gyaru elite kebanggaan kelas kami langsung menarik lengan Haruna dan membawanya entah ke mana. Kemungkinan besar ke toilet perempuan, untuk merapikan penampilannya.

"...Momono-san, parah juga. Kalau dibiarin gitu kasihan."

"Ya. Karena itulah, aku harus memberikan pukulan terakhir padanya."

Aku mengeluarkan alat pengukur kecocokan Gadis Penyihir dari dalam tas, dan meletakkannya di atas meja. Lalu, aku menekan tombol hijau di bagian belakang alat itu... mengecek sistem perangkatnya. Setelah ini, aku tinggal menggunakan alat ini untuk membuat Haruna menyerah dari mimpinya. Meskipun hal itu akan melukainya, aku harus...

Waktu sepulang sekolah, di saat alunan alat musik dari klub instrumen tiup dan sorakan dari klub olahraga menggema dari sana-sini. Di ruang kelas kosong yang kedap suara dan tidak ada orang yang mendekat.

"Haruna, kau sudah siap?"

Sambil mengunci pintu, aku memanggil Haruna yang berdiri di tengah kelas.

"Iya... kapan pun boleh."

Mungkin karena dia sangat gugup, ekspresinya terlihat agak kaku.

"Momono-san, pasti nggak apa-apa kok. Kamu sudah berusaha sangat keras, kan?"

"Nagi-chan...! Nanti kalau aku udah jadi Gadis Penyihir, ayo kita bertarung bareng ya!"

Mendapat dukungan dari Nagi yang menjadi saksi, Haruna tampak sedikit lebih rileks. Melihat wajahnya yang seperti itu, aku merasakan nyeri yang menusuk di dalam dadaku. Apa yang akan kulakukan ini, dalam artian tertentu... adalah sesuatu yang sangat kejam.

"Nah, kesempatannya cuma satu kali. Aku akan mengecek kecocokanmu pakai alat ini."

Aku menyodorkan alat ukur kecil yang ada di tanganku kepada Haruna. Sisanya, tinggal dia menekan tombol merah yang ada di depan alat itu... dan hasilnya akan muncul.

"Aku... pasti bisa. Aku udah ngelakuin semua yang diajarin Izumi-san. Demi mewujudkan mimpi Shou-kun, aku udah berusaha sangat keras."

Gumamannya terdengar seolah-olah dia sedang berusaha menghapus rasa cemas di dalam dirinya sendiri. Namun, sekeras apa pun Haruna meyakinkan dirinya atau memercayainya, hasilnya sama sekali tidak akan berubah.

"...Ah."

Suara elektronik mekanis piiit terdengar menggema, dan jarum di alat ukur itu mulai bergerak. Hasilnya adalah...

"N-Nggak...! Ini...! Ini pasti bohong!"

Hasil pengukurannya adalah lima poin. Angka yang benar-benar sama persis dengan saat aku mengukurnya atas paksaan Haruna sebelumnya.

"Ini, alatnya rusak! Alatnya pasti aneh!"

Sambil menangis, Haruna mencoba membanting alat itu ke lantai dengan kuat. Aku menangkap tangannya, dan mengambil kembali alat pengukur itu darinya.

"Jangan keras kepala begitu. Haruna, alat ini berfungsi normal."

Aku diam-diam menekan tombol hijau di bagian belakang alat yang kuambil itu, lalu kali ini kuserahkan pada Nagi.

"Nagi, coba ukur dirimu juga."

"E, eh..."

Sambil merasa kebingungan Nagi menerima alat itu, dan menekan tombol merahnya dengan canggung. Seketika, alat itu kembali mengeluarkan suara mekanik yang melengking manis. Reaksinya jelas sangat berbeda dengan saat Haruna tadi. Lalu angka yang muncul di layarnya pun, sangat jauh berbeda digitnya dengan yang tadi.

"Sem, sembilan puluh tujuh..."

Waktu pertama kali aku bertemu Nagi, angka yang terukur dari insiden tak terduga itu adalah sembilan puluh lima. Dan sekarang, setelah melalui kebangkitan Gadis Penyihir dan pertarungan melawan monster... bakatnya pasti telah terasah semakin tajam.

"Ugh...! Tapi...!"

Dengan keringat yang merembes di keningnya, Nagi menoleh ke belakang dengan ekspresi pilu. Di sana, terlihat sosok Haruna yang wajahnya pucat pasi... sedang memeluk tubuhnya sendiri.

"A-Aku... k-kenapa...? Padahal, aku udah berusaha sekeras itu..."

"Haruna, sekarang kau sudah paham kan? Kamu nggak punya bakat jadi Gadis Penyihir."

Aku merasa mual pada diriku sendiri yang kikuk, karena hanya bisa berbicara dengan cara yang kasar seperti ini. Tapi, kebaikan setengah-setengah hanya akan membuat Haruna menaruh harapan kosong.

"Bahkan Nagi yang punya bakat besar pun hampir saja terluka parah di pertarungan debutnya. Kalau kau yang nggak punya bakat nekat jadi Gadis Penyihir, kemungkinan besar hasilnya bakal fatal dan nggak bisa diubah lagi."

"Meskipun begitu, aku nggak apa-apa kok...!"

"Mana boleh begitu!"

"Eh!?"

Terhadap Haruna yang terus mendesakku sambil memercikkan air matanya, tanpa sadar aku membentaknya dengan suara keras. Sebelumnya, aku tidak pernah marah sampai membentak Haruna seperti ini. Karena anak ini biasanya selalu santai dan bebas, si bodoh yang selalu ceria tanpa batas, dan meskipun kadang dia ngelunjak sampai bikin aku marah... bagiku, dia adalah teman masa kecilku yang berharga.

"Dinginkan kepalamu. Jangan bikin aku khawatir lebih dari ini."

"Habisnya, habisnyaaa... a-aku, cuma mau... ngewujudin mimpi Shou-kun...!"

Air mata dan ingusnya mengalir deras, saat Haruna mencoba menempel dan memohon padaku. Aku hendak melingkarkan lenganku ke punggungnya... tapi aku menahan diriku di saat-saat terakhir.

"Mimpi itu, bakal diwujudkan oleh Nagi. Karena itu... kembalilah ke kehidupan normalmu."

"...!"

Sebuah perkataan paling brengsek, tanpa sedikit pun rasa empati. Tapi, ini sudah yang terbaik. Lebih baik kalau Haruna jadi membenciku gara-gara ini.

"Shou-kun bodoh! Dasar Mazacon! Cowok playboy brengsek yang lupa kalau waktu kecil kita pernah latihan ciuman bareng! Tapi, meskipun gitu aku tetep sukaaaaa!"

Haruna memberondongku dengan kata-kata itu dalam satu tarikan napas, lalu mendorongku dan berlari pergi.

"I-Ini! Buka! Buka dong! Buka kek dasar pintu rongsokan!"

Dan dia berjuang keras untuk membuka kunci pintu selama puluhan detik. Setelah dia akhirnya mengerti caranya dan berhasil membuka kunci pintu itu...

"Uwaaaaaaaaaaaaan!"

Dia berlari keluar kelas, menangis melolong-lolong dengan sangat keras seperti anak kecil.

"...Haaah."

Karena rasa jijik pada diriku sendiri, hela napas panjang tanpa sadar keluar dari mulutku. Saat aku berjongkok tanpa tenaga, sebuah suara dingin terdengar dari atasku.

"Dasar pembuat cewek nangis."

"Aku bahkan merasa nggak punya hak, apalagi tenaga buat menyangkalnya."

"Shoutarou, kamu itu ya. Kenapa sih kamu harus sekikuk itu?"

"...Apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura bodoh. Kan udah berkali-kali kubilang, kebohongan nggak mempan padaku, kan?"

Nagi berjongkok mensejajarkan pandangannya denganku, dan menatapku dengan wajah seolah ia telah memahami segalanya.

"Alasan kenapa kamu berbohong seperti itu. Aku udah bisa menebak alasannya, tapi apa kamu beneran ngerasa kalau tindakanmu barusan itu benar?"

"Perasaanku itu, bukan hal yang penting. Yang terpenting adalah..."

"Ah iya iya, aku ngerti kok. Sampai harus berbuat seperti itu demi sesuatu yang ingin kamu lindungi, kan."

Gumam Nagi seolah merasa yakin, dan berdiri sambil menggembungkan pipinya.

"Teman masa kecil, ya. Rasanya bikin iri, deh."

Nagi duduk di sudut meja, menyilangkan kakinya, dan bergumam dengan suara pelan.

"...Shoutarou. Aku nggak bermaksud mengkritik caramu, tapi aku cuma mau kasih tahu satu hal ini saja."

"Ya, katakan saja apa pun tanpa sungkan."

"Barang yang benar-benar berharga itu, seringkali keberadaannya dianggap sebagai suatu hal yang wajar saja. Tapi, kalau kamu terlalu bergantung pada hal itu, di saat kamu menyadarinya nanti, semuanya mungkin sudah terlambat... hal-hal seperti itu benar-benar bisa terjadi, lho."

Kata-kata yang diucapkannya dengan segenap tenaga itu, mungkin berasal dari masa lalunya sendiri yang pernah menyudutkan keluarganya ke dalam posisi sulit. Peringatan tulus yang berdasarkan pengalaman pribadinya itu, pasti adalah hal yang benar. Namun, pada akhirnya aku justru memalingkan mataku dari jalan yang benar itu, demi mempertahankan egoku yang rapuh. Dan akibatnya, aku melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal. Andai saja saat itu, aku langsung mengejar Haruna... Kejadian semacam itu, mungkin tidak akan pernah terjadi.

Aku, Momono Haruna, adalah anak perempuan tunggal yang lahir di sebuah keluarga umum biasa yang bisa kau temukan di mana saja. Gadis kecil itu tidak pernah mengalami penyakit parah atau cedera besar, dan menjalani kehidupan sehari-hari yang damai dan bahagia. Merasakan kasih sayang yang melimpah dari kedua orang tuanya, dan hari-hari yang penuh dengan manja selayaknya anak seumurannya. Di rumah sebelah, tinggal seorang anak laki-laki tampan yang seumuran denganku. Anak itu hampir setiap hari datang bermain ke rumahku, kami makan bersama, dan juga mandi bersama. Itu sangat menyenangkan. Aku merasa sangat senang. Tanpa kusadari, aku mulai selalu memikirkan tentang anak laki-laki itu. Tapi, anak itu tidak pernah sekali pun tersenyum di hadapanku. Kalau aku mengajaknya bicara, dia akan membalasnya. Kalau aku memintanya melakukan sesuatu, dia akan mengabulkannya. Bahkan saat dihadapkan pada hamburger yang lezat, atau saat menonton anime yang lucu, dia tetap tidak tersenyum. Namun, aku berpikir alasan dia mau datang bermain ke rumahku setiap hari itu karena dia menyukaiku. Karena mau bagaimana lagi, aku pun berjanji bahwa aku bersedia menjadi istrinya nanti. Kalau dipikir-pikir sekarang, saat itu aku benar-benar masih sangat kekanak-kanakan, optimis, dan terlalu ceroboh, ya. Saat aku mengetahui kebenaran yang sesungguhnya adalah ketika aku sudah duduk di bangku SD. Tengah malam, saat aku terbangun untuk pergi ke toilet... aku mendengar suara Papa dan Mama yang sedang mengobrol di ruang tamu.

"Hei? Soal anak sebelah, si Shoutarou-kun, apa nggak ada cara buat mengatasinya?"

"Mengatasi apa maksudnya. Ya mau gimana lagi. Shoutarou-kun kan setiap hari menjaga rumah sendirian?"

"Meski begitu, membiarkannya terus bersama Haruna kita kayak kakak-adik sendiri begini, apa nggak masalah?"

"Izumi-san dari sebelah juga udah ngasih ucapan terima kasih dengan pantas ke kita. Lagian, aku juga menyayangi anak itu layaknya anakku sendiri."

"...Emang sih anak itu pintar dan penurut, tapi, kedekatannya sama Haruna itu terlalu berlebihan. Belakangan ini Haruna cuma ngomongin tentang anak itu terus... dia bahkan udah nggak mau diajak mandi bareng denganku lagi."

"Fufu, itu cuma rasa cemburu kan. Memalukan ah, cemburu sama anak kecil begitu."

"Ugh...!"

Mendengar percakapan kedua orang tuaku itu, otakku yang bodoh ini akhirnya menyadari sesuatu. Alasan Shou-kun selalu datang ke rumahku setiap hari adalah karena mamanya Shou-kun sedang tidak ada di rumah. Dan dia cuma dititipkan ke rumahku karena tidak ada pilihan lain. Rasa percaya diriku yang tak berdasar bahwa Shou-kun sangat menyukaiku, hancur berkeping-keping dengan suara bergemuruh di dalam diriku. Rasa sedih dan marah yang tak tahu harus kulampiaskan ke mana, tak kunjung hilang meskipun aku sudah masuk ke dalam selimut. Keesokan harinya, kepada Shou-kun yang datang ke rumahku seperti biasa... aku malah mengatakan hal yang sangat kejam.

"Mamanya Shou-kun itu, jahat banget ya."

Mungkin, dengan kecerdasan dangkal ala anak-anak, aku mencoba untuk bersimpati dengan Shou-kun. Aku mencoba menunjukkan padanya bahwa 'aku mengerti perasaanmu lho', 'aku ini orang yang memahami dirimu lho'. Yah, aku rasa kau pasti sudah bisa menebak kelanjutannya.

"Jangan ngomong buruk tentang ibuku!"

Strategiku itu, benar-benar gagal total.

"Ibuku itu...! Ibuku itu bertarung demi kedamaian dunia! Karena itu, makanya aku nggak apa-apa kok! Sesepi apa pun rasanya, sesakit apa pun rasanya, aku harus bisa menahannya!"

Shou-kun yang biasanya selalu bersikap cool, untuk pertama kalinya meluapkan emosinya dan membentakku. Air matanya mengalir deras, wajahnya merah padam... apakah dia sedang marah, atau sedang sedih, aku di masa kecil sama sekali tidak bisa memahaminya.

"Uuh, hiks...! Ta-Tapi, aku kasihan banget lihat Shou-kun...!"

"...Aku sama sekali nggak pantas dikasihani. Ibuku itu, adalah Gadis Penyihir terkuat di dunia. Dia adalah kebanggaanku."

"Gadis, penyihir...?"

"Orang yang paling menderita itu bukanlah aku, tapi ibuku. Setiap hari, bertarung mempertaruhkan nyawa melawan orang-orang jahat, dan nggak pernah sekalipun ngeluh walau tubuhnya penuh luka. Aku, sangat menghormati ibu yang seperti itu."

Cara bicaranya saat itu seolah-olah ia sedang meyakinkan dirinya sendiri. Meskipun masih sangat kecil, sosok Shou-kun yang mencoba menegarkan dirinya di balik topeng ketegarannya itu... terlihat sangat, sangat menyakitkan untuk dilihat.

"Karena itu, suatu hari nanti... aku pasti akan membebaskan ibu dari misinya. Aku akan menemukan Gadis Penyihir yang lebih kuat dari ibu, membesarkannya, agar ibu nggak perlu bertarung lagi. Itulah impianku."

Sambil mengepalkan tangannya, Shou-kun menceritakan impiannya kepadaku. Aku di masa lalu, mungkin tak bisa memahami separuh pun dari makna kata-katanya. Namun, saat itu juga... aku merasa bahwa aku harus mengatakannya dengan tegas.

"Kalau begitu, mimpiku adalah... mendukung impian Shou-kun! Kalau begitu, aku boleh terus bersamamu, kan?"

Yang terpenting bagiku, aku hanya ingin terus bersama Shou-kun. Berjalan di jalan yang sama. Ingin terus hidup bersama dengan dirinya. Untuk mewujudkan harapan itu, aku memutuskan... untuk mengejar mimpi Shou-kun bersama-sama. Tapi mungkin itu hanyalah angan-anganku yang terlalu tinggi. Pada akhirnya, aku sama sekali tidak memiliki kualifikasi untuk itu.

"Ugh, uuuuuuuugh! Ueaaaaaaah!"

Dari ingatan masa lalu yang berputar di otakku, aku langsung tersadar kembali ke dunia nyata. Rasa sakit di dada yang seakan mau meledak. Air mata dan isakan yang tak mau berhenti. Di sudut pandanganku yang kabur, pasti ada orang-orang yang melihatku dengan tatapan aneh saat aku berlari sambil menangis. Meskipun begitu, aku tidak menghentikan langkahku, aku terus berlari sampai rasanya kakiku hampir putus. Berlari, berlari, dan terus berlari. Aku terus berlari menuju tempat yang tidak ada orangnya. Keluar dari kawasan kota, dan ketika aku sampai di jalan setapak hutan yang sepi... matahari pun sudah sepenuhnya terbenam.

"Auugh!"

Akhirnya, kakiku yang kelelahan tersandung, dan aku jatuh tersungkur dengan keras.

"Ugh, aah..."

Biasanya, Shou-kun akan memasang wajah pasrah sambil berkata "Lagi ngapain sih kamu?" lalu membantuku berdiri. Tapi, sekarang di sampingku... Shou-kun tidak ada. Bukan, mungkin untuk selamanya... Shou-kun nggak akan pernah ada lagi di sisiku. Karena di mata Shou-kun, dia cuma bisa melihat Izumi-san... atau Nagi-chan yang punya bakat lebih hebat dari Izumi-san.

"Uwoobueaaaaaaaaaaah!"

Tangisan buruk rupa yang sama sekali nggak pantes buat anak gadis seumuranku. Aaah, karena kelakuanku yang kayak gini... makanya Shou-kun nggak pernah ngelihat aku sebagai perempuan sampai kapan pun.

"Uuuuuuugh! Uuuuuuuuugh!"

Saking kesal dan frustrasinya, aku memukul-mukul tanah berkali-kali dalam posisi tengkurap. Aku membencinya. Ketidakberdayaanku sendiri yang tidak memiliki bakat untuk jadi Gadis Penyihir. Sangat menyebalkan. Ketidakmampuanku untuk mengabulkan mimpi Shou-kun.

"Nggak mau, aku nggak mauuu...! A-Aku, nggak mau nyerahhhh...!"

Sebanyak apa pun aku menangis, atau berteriak, kenyataan tidak akan pernah berubah. Nggak akan ada orang yang bisa memahami keputusasaan ini. Perasaanku ini, nggak akan pernah tersampaikan kepada siapa pun. Seharusnya seperti itu, tapi...

"Nfuh♡ Hebat bangeeeet...♡ Maginal yang sepekat ini, baru pertama kali aku ngelihatnya♡"

"...Eh?"

Tiba-tiba, terdengar suara seorang wanita yang anehnya terdengar lengket dan menggoda dari atasku. Aku terkejut dan mendongak, dan dengan latar belakang langit malam... kulihat siluet seseorang yang sedang melayang di udara.

"Membuat Maginal di sekitar jadi sekeruh ini, keputusasaan yang sangat luar biasa lho. Atau jangan-jangan, bakat yang bisa mewujudkan hal itulah yang bisa dibilang luar biasa?"

Seorang wanita yang membiarkan rambut putihnya berkibar ditiup angin malam, sambil menggerakkan tubuhnya yang sintal dengan gaya yang sensual.

"K-Kaukah, monster...?"

Dua tanduk, sayap hitam, dan ekor yang menyerupai iblis. Dari bagian-bagian tubuhnya yang bukan manusia itu, sangat jelas kalau orang itu bukanlah Gadis Penyihir, melainkan monster.

"A-Aku harus la..."

"A~ra, nggak perlu kabur lho~? Nona, aku ini bukan musuhmu, kok."

Monster wanita itu dengan kecepatan luar biasa melesat ke depanku saat aku baru saja bangkit dan hendak melarikan diri.

"Hyiik!"

"Ufufu, Nona manis. Kau punya harapan yang ingin dikabulkan, kan? Dan karena itulah kau sangat mendambakan kekuatan."

Monster wanita yang mencengkeram kedua bahuku itu menatap langsung ke mataku dengan pupil matanya yang bersinar merah menyala.

"Iya, kan? Mau jadi kuat? Mau mendapatkan hal yang paling kau inginkan?"

"A-Apa maksudmu...?"

"Kau ini punya bakat yang luar biasa lho. Karena ituuu... bagaimana?"

Di tengah kegelapan malam, pupil matanya yang menyala secara misterius. Ini pasti adalah godaan dari seorang iblis. Tapi, bahkan jika aku harus menjual jiwaku pada iblis sekalipun...

"Nah, seraplah ini ke dalam tubuhmu. Agar wujudmu yang sesungguhnya bisa bangkit."

Benda yang digenggamkan ke tanganku adalah kristal yang terlihat persis seperti yang pernah Shou-kun perlihatkan kepadaku di masa lalu... tapi kristal ini berwarna hitam pekat.

"Shou-kun..."

Tidak ada keraguan ataupun kebimbangan lagi. Aku menggenggam erat kristal hitam itu dan──

Kesenangan terbesarku setelah pulang sekolah. Menikmati waktu makan malam berdua saja dengan ibu... seharusnya begitu, tapi.

"............"

"Shou-chan? Kamu melamun terus, ada apa? Padahal hari ini lauknya hamburger kesukaanmu lho."

"Ah, eh?"

Saat aku tersadar, dari seberang meja ibu sedang menatapku dengan tatapan khawatir. Tampaknya selama beberapa saat tadi pikiranku sedang melayang entah ke mana.

"Namanya juga anak sendiri, ibu bisa gampang nebaknya lho. Pasti terjadi sesuatu di sekolah, kan?"

"...Iya, yah begitulah."

"Ayo, ayo, ceritain ke Mama sini. Mama bakal dengerin curhatanmu kok."

Ibu menepuk dadanya, dan memancarkan senyum cerah yang menyilaukan. Biasanya aku akan terpesona dan terbuai oleh senyuman itu... tapi saat ini, kilaunya justru terasa menyiksa bagiku.

"Nggak, ini adalah masalah yang harus kuhadapi sendiri."

"Gitu, ya? Kamu nggak boleh nyimpan beban sendirian terus lho?"

"Iya. Kalau aku bener-bener udah mentok, aku pasti bakal konsultasi ke Ibu kok."

Sesaat setelah aku mengangguk sambil menyuapkan hamburger ke mulut. Tiba-tiba, ponsel ibu yang diletakkan di sudut meja mulai bergetar. Musik ini... itu nada dering panggilan masuk.

"Ara? Jam segini siapa ya... lho, ternyata ibu tetangga sebelah."

Ibu melirik layar ponselnya sebentar, dan mengangkat teleponnya setelah memastikan siapa yang menelepon.

"Ya, halo? Iya, ini Ichinose. Tumben sekali ada ap... Eh?"

Ibu yang awalnya tersenyum dan berbicara dengan nada setengah oktaf lebih tinggi dari biasanya. Namun, suaranya perlahan-lahan berubah menjadi suram... dan suasananya berubah menjadi tegang dan serius.

"Masa sih...! Tapi, iya. Mungkin anak saya tahu sesuatu. Saya tanyakan dulu padanya, bisa tolong tunggu sebentar?"

"Ibu, ada apa?"

"Shou-chan. Hari ini, kamu nggak pulang bareng sama Haruna-chan?"

"Eh? Enggak, hari ini kami pulang sendiri-sendiri sih, tapi..."

Aku bisa merasakan jantungku berdebar kencang. Kenapa nama Haruna tiba-tiba muncul di sini? Sampai menelepon cuma buat nanya apa kami pulang bareng atau enggak, sebenarnya apa yang terjadi...?

"Haruna-chan katanya masih belum pulang ke rumah sampai sekarang. Terlebih lagi, dia nggak bisa dihubungi sama sekali."

"A-Apa...!?"

"Kalau kamu tahu sesuatu, tolong kasih tahu Ibu. Sekecil apa pun informasinya."

Ibu bertanya padaku dengan sangat yakin. Jelas saja, karena sikapku sedari tadi sangat aneh dan kentara sekali... wajar saja dia curiga padaku.

"...Maaf. Hari ini, aku habis berantem sama Haruna."

"Sama Haruna-chan? Ah, pantesan..."

"Tolong sampaikan permintaan maafku ke Tante sebelah, Bu. Semuanya salahku."

Aku meletakkan mangkuk dan sumpitku di atas meja, lalu berdiri dari kursiku hanya dengan membawa ponselku.

"Tunggu! Shou-chan, kamu mau ke mana?"

"Aku mau cari anak itu! Kalau aku udah nemuin dia, aku bakal langsung hubungin Ibu!"

Karena merasa tidak bisa diam saja, aku berlari keluar dari rumah. Kenapa, aku nggak bertindak lebih awal. Setelah pulang ke rumah, aku sama sekali tidak mengecek apakah anak itu sudah pulang dengan selamat atau belum. Aku benar-benar mual dengan sifat pengecutku sendiri. Tapi sekarang bukan waktunya untuk merenungi kesalahanku. Pertama-tama aku harus mencari Haruna dan memastikan kalau dia aman!

"Hah, hah...! Haruna, di mana kau...?"

Dengan napas terengah-engah, aku berlari menyusuri jalanan malam... sambil terus berpikir. Tempat yang kemungkinan dituju oleh Haruna saat sedang menangis. Tempat di mana dia sering kabur kalau ada hal-hal buruk terjadi padanya.

"Jangan-jangan... di sana?"

Mempertaruhkan secercah harapan terakhirku, aku masuk ke dalam jalan setapak di hutan pinggiran kota. Di ujung hutan ini, terdapat tempat penyimpanan material bekas yang biasanya tidak pernah didatangi oleh siapa pun. Dulu, aku dan Haruna mencoba untuk menjelajahi tempat penyimpanan material itu... dan akhirnya tersesat. Berjalan sampai kaki kelelahan, tenggorokan kering, dan perut keroncongan. Ketika malam semakin larut, kami berdua meringkuk berpelukan di dalam pipa beton. Aku memeluk Haruna yang menangis dan mati-matian menenangkannya. Di saat diriku sendiri hampir hancur oleh rasa takut, orang yang berhasil menemukan kami adalah... Gadis Penyihir Cherry Diamond. Cherry Diamond memeluk kami dengan lembut, lalu terbang melesat menuju hamparan bintang di langit. Berada di ketinggian yang seolah-olah kami bisa menggapai bintang jika mengulurkan tangan. Pengalaman terbang di langit sambil merasakan hembusan angin yang menyejukkan itu, masih terus membekas... di dalam hati masa kecilku selamanya.

"Hah, hah, hah..."

Aku tidak tahu kenapa tempat ini tiba-tiba terlintas di pikiranku. Tapi, kalau memang Haruna ada di suatu tempat... aku merasa sangat yakin kalau dia ada di sini.

"Haruna...! Kau di mana? Harunaaa!"

Tumpukan material yang hampir tak ada bedanya dengan dulu. Sambil menyelinap melewati tumpukan itu, aku terus memanggil nama Haruna dengan sekuat tenaga. Nggak ada balasan. Apakah itu artinya dia nggak ada di sini? Saat aku memikirkan hal itu, dan hendak berbalik untuk kembali... di saat itulah.

"Aha, Shou-kun. Ternyata kamu beneran datang ya."

Aku bereaksi dan menoleh ke arah suara yang tidak asing lagi, dari arah belakangku. Tumpukan balok kayu yang tinggi. Siluet seseorang yang sedang duduk di puncaknya dan menatapku ke bawah adalah... tanpa diragukan lagi, teman masa kecilku, Haruna.

"Haruna, aku sangat mengkhawatirkanmu tahu!"

"Hei, kamu ingat nggak? Dulu, kita tersesat di sini... dan kita berdua gemetaran ketakutan di dalam pipa beton itu, kan."

Tanpa merespons perkataanku, Haruna mulai berbicara dengan suara yang datar tanpa intonasi. Di wajahnya, tak terlihat lagi raut kesedihan dan keputusasaan yang kulihat di ruang kelas kosong sepulang sekolah tadi. Jika harus diibaratkan, itu seperti... senyum polos dari seorang anak kecil yang baru saja dibelikan mainan impiannya.

"Waktu itu, Shou-kun bilang padaku. Aku ada di sini, aku yang akan melindungimu, katamu. Sejak saat itu, aku udah terpesona banget sama Shou-kun yang kelihatan sangat keren waktu ngomong gitu."

"Hei, Haruna...? Kamu ini, kenapa jadi begini?"

Meskipun kadang dia sering berdelusi sendiri dan mengoceh tanpa henti... dia tidak pernah sekalipun sepenuhnya mengabaikan perkataanku seperti ini. Dilihat dari mana pun, sosok di depanku ini jelas-jelas Haruna. Tapi, aku tidak bisa menepis perasaan bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.

"Saat itu lho. Aku juga bikin janji sama Shou-kun, kan? Kalau aku yang bakal ngewujudin mimpi Shou-kun."

"...Ya, aku ingat kok. Nggak sehari pun aku melupakan hal itu."

Untuk saat ini, agar bisa berbicara dengannya, aku mencoba merespons sesuai dengan arah pembicaraannya. Kemudian Haruna memiringkan kepalanya dengan heran... dan bangkit berdiri di atas tumpukan kayu itu.

"Hee? Gitu ya? Padahal kukira, kamu udah lupa lho."

Setelah menggumamkan kata-kata itu pelan, Haruna melangkah maju dan melompat turun dari atas tumpukan balok kayu.

"Hei, tunggu! Jangan!"

Gawat! Kalau dia melompat dari ketinggian segitu, bahkan jika dia berhasil mendarat dengan baik, cedera pasti tak bisa dihindari! Aku segera berlari untuk menangkap Haruna, tetapi sebelum aku mencapainya... sebuah keanehan terjadi pada tubuh Haruna.

"Nggak boleh dong, Shou-kun. Kalau kamu ngelakuin itu, nanti malah Shou-kun yang bakal terluka, kan."

"...Hah?"

Mengambang, perlahan-lahan melayang-layang. Tubuh Haruna yang seharusnya ditarik gravitasi dan jatuh ke tanah, tiba-tiba berhenti di udara... dan melayang naik.

"Apa-apaan...!"

"Ahahaha! Apa kamu kaget banget? Tapi, wajar sih ya. Soalnya aku yang sama sekali nggak punya bakat Gadis Penyihir, sekarang malah bisa terbang di langit pakai sihir lho."

Menyaksikan pemandangan mengejutkan di depan mataku ini, Haruna menertawaiku yang pikirannya sedang blank total. Apa yang sedang terjadi? Kenapa, Haruna bisa pakai sihir? Jangan-jangan, dia berhasil jadi Gadis Penyihir dengan usahanya sendiri? Nggak, mana mungkin ada hal kayak gitu...

"Shou-kun yang lagi bingung kelihatan manis juga lho. Tapi, aku nggak mau bikin Shou-kun bingung lebih lama lagi."

Entah karena ia merasa kasihan melihatku yang tak bisa berkata-kata karena tak mampu memahami situasinya. Haruna melangkah ke depanku seperti sedang menari-nari, dengan senyum jahil di wajahnya. Lalu, ia mengangkat telapak tangannya yang terbuka ke arah langit malam... dan berseru dengan lantang.

"Fallen Bloom!"

Bersamaan dengan seruan mantra itu, aura hitam pekat meledak dan menyembur dari bawah kaki Haruna. Aura itu membentuk pusaran layaknya badai tornado, dan membungkus seluruh tubuh Haruna dalam sekejap mata.

"Haruna...!"

Hempasan angin yang luar biasa kencang menerjang, dan aku secara refleks mundur perlahan sambil menutupi wajahku dengan lengan. Di ujung pandanganku yang buram, pusaran hitam itu perlahan-lahan mulai mereda.

"Nhaa♡ Shou-kun, gimana menurutmu?"

Saat kegelapan itu sirna, seorang gadis berdiri dengan diterangi cahaya bulan yang temaram. Sosok yang berdiri di sana... bukanlah teman masa kecil yang sangat kukenal itu lagi. Rambutnya yang tadinya berwarna merah muda kini berubah menjadi putih pucat seolah kehilangan pigmennya, dan diikat dengan gaya side-tail. Sepasang mata merah menyala yang dapat terlihat jelas di tengah malam yang gelap. Dan pakaian yang ia kenakan adalah Gaun Gothic berwarna hitam pekat dengan belahan yang mengekspos banyak kulit. Kostum yang sekilas mirip baju Gothic Lolita itu... jika harus diibaratkan, ia memancarkan aura mengerikan layaknya seorang Gadis Penyihir yang telah terjerumus ke dalam kegelapan.

"Kau, gimana caranya kau jadi Gadis Penyihir...?"

"Nfufufu♡ Bukan gitu, Shou-kun. Ini tuh, semacam... Gadis Penyihir Kegelapan (Dark Magical Girl) yang diciptakan oleh Shadow Nexus dengan memodifikasi Magipura, lho?"

"Gadis Penyihir, Kegelapan...? Nggak, tapi lebih penting lagi, Shadow Nexus katamu?"

"Iya. Saat aku menangis, ada Monster cewek yang baik hati yang mau minjemin kekuatannya padaku."

Sambil mengabaikan kebingungan dan kekacauanku, Haruna merangkai kata-katanya tanpa ragu sedikit pun. Seolah-olah sudah tidak bisa lagi membedakan antara yang baik dan yang benar, cahaya telah sepenuhnya menghilang dari matanya.

"Kau ditipu oleh monster itu, ya? Atau jangan-jangan, kau dikendalikan...!"

"Bukan kok. Shou-kun, semua ini... murni atas keinginanku sendiri. Aku yang menginginkannya, dan aku sendirilah yang memperoleh kekuatan ini."

Haruna dengan cepat menyangkal harapanku yang bertaruh pada kemungkinan sekecil apa pun itu.

"Diriku yang sekarang adalah Gadis Penyihir Kegelapan, Abyss Peach... bercanda ding."

Sambil tersenyum polos dengan mata keruhnya yang tak bercahaya, Haruna terus melanjutkan pembicaraannya.

"Jangan pasang wajah kayak gitu dong. Shou-kun, aku... akhirnya menemukan cara yang paling bagus tahu."

"Cara, yang bagus...? Ini, kau bilang hal semacam ini adalah cara yang bagus!?"

"Iya, kan? Aku yang nggak bisa jadi Gadis Penyihir, akhirnya bisa ngewujudin mimpi Shou-kun... ini satu-satunya cara."

Setelah menjawabnya, Haruna mengibaskan rok mininya... lalu melayang ringan di udara.

"Aku bakal ngalahin banyak Gadis Penyihir dengan kekuatan ini, menjadi semakin kuat... dan naik pangkat jadi petinggi di dalam Shadow Nexus. Kalau aku berhasil ngelakuin itu, suatu saat nanti aku bakal jadi yang paling berkuasa, kan?"

"Apa, yang kau bicarakan..."

"Kalau aku udah jadi Bos-nya Shadow Nexus, maka peperangan ini bakal berakhir. Rencana yang bagus, kan."

"Jangan bercanda...! Aku sama sekali nggak pernah mengharapkan hal seperti itu!"

"Kamu mengharapkannya kok. Karena impian Shou-kun adalah membebaskan Izumi-san dari pertarungan ini, kan."

Terbang melayang di langit malam, Haruna menatapku dari atas dengan bulan purnama di belakangnya.

"Sampai jumpa, Shou-kun. Aku, nggak peduli cara apa pun yang harus kupakai... aku pasti bakal ngewujudin mimpi Shou-kun."

"Tunggu! Haruna! Jangan pergi! Harunaaaaaaa!"

Seruan putus asaku berlalu dengan sia-sia, saat Haruna semakin menaikkan ketinggian terbangnya dan menghilang ke dalam kegelapan malam. Tanganku yang terulur hanya menggapai udara kosong, dan kakiku pun tersandung jatuh berguling-guling di tanah.

"Haru, na... Haruna...!"

Aku benar-benar tak bisa menelan kenyataan pahit yang terjadi tepat di depan mataku ini. Mungkin, saat ini aku sedang tertidur di kasur rumahku dan cuma bermimpi buruk. Hanya bisa menggantungkan diri pada delusi menyedihkan semacam itulah, satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat ini.

"U, uwoooooooooooooooooooooh!"

Hukuman terburuk yang harus kutanggung akibat dosa yang kubuat sendiri. Hancur di bawah tekanan salib yang begitu berat, ratapan yang keluar hingga membuat tenggorokanku serak. Ratapan itu takkan pernah sampai pada siapa pun, dan hanya terus bergema sia-sia memecah kesunyian di udara hampa.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar