Mahou Shoujo dan Pendukungnya
Beberapa hari telah berlalu sejak kegagalan debut Gadis Penyihir Plum Sapphire.
Akhirnya tiba juga hari Sabtu di akhir pekan. Aku mengenakan pakaian kasual yang sederhana: kaus dalaman putih yang dipadu dengan setelan hitam, dan celana jeans denim... sembari merapikan gaya rambutku.
"Ibu, kalau dandananku seperti ini bagaimana menurut Ibu?"
Riasan tipis dan penataan rambut sudah selesai, aku sudah siap berangkat. Untuk memastikan, aku meminta pendapat pada ibu yang seperti biasa masuk ke kamarku tanpa permisi dengan wajah menyeringai menggoda (nimanima).
"Kalau menurut ibu sih ini masih terlalu polos, lho. Coba pakai aksesori di lenganmu atau..."
"Ini bukan zaman Heisei tahu, gaya pakai aksesori lengan yang bunyi gemerincing gitu udah nggak zaman."
"Ara, masa sih? Padahal bahan dasar wajah Shou-chan itu udah bagus, jadi menurut ibu nggak apa-apa kalau kamu dandan lebih mencolok lagi lho."
"Aku nggak perlu tampil mencolok kok. Yang penting penampilanku cukup pantas biar nggak bikin malu pasanganku, dan cukup mencolok buat menonjolkan pesona pasanganku secara maksimal, itu udah pas banget."
Walaupun aku tidak melakukan hal seperti itu, Sanjou pasti sudah akan menarik perhatian orang-orang di sekitar. Kalau dipikir-pikir seperti itu... apa aku juga harus berdandan sedikit lebih niat lagi ya?
"...Aku cuma bakal nambahin pakai kalung aja deh."
"Iya, iya, lakukanlah sesukamu♡ Tapi ingat, mentang-mentang besok hari Minggu, kamu nggak boleh kelewat batas lho ya? Tapi, kalau emang suasananya mendukung buat pulang pagi juga nggak apa-apa sih..."
"Aku berangkat!"
Sebelum ibu membicarakan hal-hal yang semakin liar, aku buru-buru keluar dari kamar. Lalu saat aku baru menuruni separuh anak tangga, aku mendengar jeritan pilu ibu dari dalam rumah.
"Aaaaaaan! Shou-chan! Jangan lupakan pelukan sebelum berangkatnyaaaa~!"
Pelukan sebelum berangkat, katanya? Cowok mana yang mau melakukan hal seperti itu dengan ibunya sebelum pergi kencan dengan seorang gadis...
"...Erat."
"Eratttt♡"
Pada akhirnya, aku menyerap energi ibu sebanyak-banyaknya sampai puas. Walaupun rasanya berat untuk berpisah, aku tetap harus berangkat di waktu yang mepet agar tidak terlambat ke tempat pertemuan.
□
Di tengah perjalanan bergegas menuju stasiun untuk menuju tempat pertemuan dengan Sanjou. Saat aku memotong jalan melewati sebuah taman sebagai jalan pintas... entah dari mana, aku mendengar suara yang tidak asing lagi.
"Sei! Yaa! Tooryaaa!"
Suara gadis imut yang sangat terngiang-ngiang di telinga. Aku menghentikan langkahku, dan mengarahkan pandanganku ke sudut taman dari mana suara itu berasal... dan di sana kulihat Haruna yang mengenakan jersey olahraga, sedang melontarkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi ke sebuah sansak yang digantung di pohon.
Gerakannya sangat lincah bagaikan petarung papan atas. Akan tetapi, di kedua tangan dan kakinya terpasang pemberat (power ankle) yang terlihat jauh lebih berat daripada yang kulihat sebelumnya.
"Haruna? Kamu lagi ngapain?"
"Heh? Ah, Shou-kun!"
Saat aku menyapanya dari belakang, Haruna menoleh ke arahku sambil menyeka keringat di dahinya. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat seperti habis kehujanan... Sudah berapa lama anak ini melakukan hal seperti ini?
"Mmm! Rapi banget dandanannya, emang kamu mau pergi ke mana?"
"Oh, aku mau pergi belanja sebentar sama Sanjou."
"...Heeen? Berarti ini hadiah 'itu' yang waktu itu ya?"
"Yah, kira-kira begitulah... tapi lupakan soal aku. Kamu, akhir-akhir ini terus-terusan ngelakuin latihan yang nggak masuk akal ini, kan?"
"Ugh...! Enggak kok. Lagian ini belum sampai dibilang nggak masuk akal..."
Haruna memalingkan pandangannya dengan canggung, dan mulai menggerak-gerakkan badannya dengan gelisah sambil menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung. Sejak dulu, ini adalah kebiasaannya saat dia menyembunyikan sesuatu yang membuatnya merasa bersalah.
"Dengar ya, Haruna. Kan udah pernah kubilang sebelumnya, kamu itu..."
"Da, daripada mikirin itu! Shou-kun, bukannya kamu harus buru-buru?"
Haruna yang berteriak menyela kata-kataku, langsung berpindah ke belakangku dan mulai mendorong punggungku.
"Sebenarnya aku nggak rela sih, tapi aku tahu Nagi-chan udah berusaha keras... jadi khusus hari ini, aku bakal melepaskanmu!"
"Hei, Haruna. Pembicaraan kita..."
"Udah nggak apa-apa, nggak apa-apa. Mumpung akal sehatku masih sedikit tersisa, cepat pergi sanaaaaa."
Sambil menanggapi kata-kataku dengan sikap bercanda, Haruna terus mendorongku hingga keluar dari taman. Padahal aku ingin berbicara lebih tenang dengannya... tapi kalau aku melakukan itu, aku pasti akan terlambat datang ke tempat pertemuan dengan Sanjou.
"...Intinya, Haruna. Jangan lakukan latihan yang nggak masuk akal lagi ya."
"Iyaaaaa. Mulai sekarang aku bakal latihan yang sewajarnya aja kok."
Entah dia benar-benar mengerti atau tidak. Sambil tersenyum mengelak, Haruna melambaikan tangannya mengantarku pergi... aku pun mulai berjalan. Dan aku berpikir. Aku tidak boleh memberikan harapan palsu lagi pada Haruna. Apapun yang terjadi, aku harus membujuknya... agar dia menyerah untuk menjadi Gadis Penyihir.
"...Nyesek banget rasanya. Cuma bisa ngelepasin kepergian orang yang paling aku suka buat kencan sama cewek lain..."
Samar-samar aku merasa mendengar gumaman pelan Haruna dari belakangku. Aku secara refleks menoleh ke belakang, namun sosok Haruna sudah tidak ada di sana.
"Yooosh! Ayo mulaaiiii!"
Tak lama kemudian, dari arah taman, terdengar seruan semangat yang terdengar tidak wajar saking cerianya.
□
Alun-alun air mancur yang mulai sepi dari lalu lalang orang-orang menjelang waktu makan siang.
"Maaf, apa kau menunggu lama?"
"Nggak, aku juga baru saja sampai."
Aku yang entah bagaimana berhasil tiba di tempat pertemuan sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan, disambut oleh sosok Sanjou yang tidak mengenakan seragam sekolah seperti biasanya... melainkan pakaian kasual.
Rambut panjangnya yang biasa dibiarkan tergerai kini ditata dengan gaya side-tail (kuncir samping) yang bergelombang lembut, dan riasan natural tipis yang ia gunakan semakin menonjolkan pesona aslinya secara maksimal.
Blus putih yang dipadu dengan rok flare biru dongker model high-waist, menciptakan gaya berbusana dengan tingkat keanggunan (seiso) yang tinggi. Kemampuannya mengenakan pakaian tersebut dengan sangat menawan, pasti berkat postur tubuhnya yang proporsional dan aura kebangsawanan bawaannya.
Para pria yang berlalu lalang di sekitarnya pun melirik-lirik ke arahnya, bahkan mereka tampak mempertimbangkan untuk tetap menyapanya meskipun ia sedang bersama seorang pria... itu semua bisa dibilang sangat wajar terjadi.
"...Apaan sih. Jangan menatapku lekat-lekat begitu."
"Kalau ada gadis secantik ini di depan mata, wajar kan kalau tanpa sadar terus menatapnya?"
"Kosakatamu payah banget. Memangnya nggak ada kata-kata lain yang lebih puitis gitu?"
"Kau yang sekarang ini benar-benar cantik... dan saat memikirkan kalau aku bisa menghabiskan waktu bersamamu hari ini, aku merasa sangat bahagia. Kalau begini ceritanya, ini bukan sekadar hadiah buatmu, tapi malah jadi hadiah besar buatku kan?"
"Ngh... Boleh juga. Untuk saat ini aku kasih nilai kelulusan. Terus, dandananmu juga... nggak buruk kok."
Dari wajah cemberutnya, Sanjou melonggarkan pipinya menjadi senyum malu-malu (nihera), lalu mengulurkan tangannya ke arahku.
"Ayo, gandeng aku."
"Baik, Yang Mulia."
Saat aku meraih tangan Sanjou, dia langsung menautkan jari-jarinya ke jari-jariku. Genggaman yang sering disebut genggaman sepasang kekasih ini... membuat dadaku berdebar lebih kencang daripada sekadar berpegangan tangan biasa, dan aku yakin ini bukan cuma perasaanku saja.
"Sepanjang hari ini, pas kita jalan kaki, kita harus terus bergandengan kayak gini. Ngerti?"
"Aku justru sangat mengharapkannya. Malah, tadinya aku yang mau minta begitu padamu."
"...Hmph, sepertinya kau juga sudah mulai menyadari pesonaku sedikit demi sedikit, ya."
Sanjou mendengus bangga, dan membusungkan dadanya dengan wajah kemenangan. Sikapnya yang tidak terasa seperti bentuk kepedean berlebihan ini, menunjukkan betapa tingginya tingkat kecantikan yang dimilikinya.
"Ngomong-ngomong, apa ada barang tertentu yang mau kau incar untuk belanja hari ini?"
"Iya. Sebenarnya, aku mau beli hadiah untuk keluargaku."
"Hadiah untuk keluarga?"
"Ya. Berkat bantuanmu krisis di perusahaan kami sudah berlalu... tapi semua anggota keluargaku selama ini sudah bekerja sangat keras melampaui batas mereka. Jadi ini juga sekalian sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras mereka."
"Hee? Kamu baik banget ya, Sanjou."
"Nggak juga, hal semacam ini kan wajar. Lagian, soal caramu memanggilku Sanjou itu lho."
Sanjou mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dan menatapku dari bawah seolah ingin menyampaikan sesuatu. Tatapan itu tidak lain adalah tekanan yang seolah berkata "Kamu ngerti kan maksudku apa?".
"Bener juga ya. Manggil pakai nama keluarga itu terasa kaku kayak sama orang asing... mulai sekarang apa boleh aku panggil kamu Nagi?"
Saat aku bertanya begitu, genggaman tangan Sanjou menguat. Kemudian ia sedikit gemetar (wanawana), dan sudut bibirnya sedikit berkedut.
"E, eeh... Kalau gitu aku juga, bakal manggil kau Shoutarou."
"Ya, aku nggak keberatan kok. Kalau gitu, ayo kita berangkat... Nagi."
"Iya, ayo berangkat... Shoutarou."
Interaksi ini benar-benar terasa seperti pasangan kekasih baru yang masih malu-malu. Kalau saja ibu ada di sini, dia pasti bakal menjadikan pemandangan ini sebagai lauk buat ngabisin tiga mangkuk nasi putih dengan lahap.
"Selain keluargaku, kau ini orang pertama yang memanggil namaku tanpa embel-embel, tahu."
"Aku juga begitu. Ibu manggil aku Shou-chan, dan Haruna manggil aku Shou-ku... eh, nggak deng, bukan apa-apa."
Gawat, gawat. Menyebutkan nama gadis lain saat sedang berkencan adalah hal tabu yang mutlak tidak boleh dilakukan. Untuk mengalihkan pembicaraan, lebih baik aku membuka topik lain.
"Oh ya, Nagi fobia sama serangga, kan?"
"...Bukan sekadar fobia lagi. Waktu kecil, aku pernah mengalami kejadian yang lumayan traumatis."
"Itu... kayaknya mending aku nggak usah dengar detailnya deh."
"Heh, iya juga. Aku juga... nggak mau mengingatnya lagi."
"Apa ada hal lain lagi yang kau benci? Kalau penanggulangan soal serangga sih udah kuselesaikan, tapi aku ingin tahu hal-hal lain demi persiapan ke depannya."
"Pokoknya aku benci hal-hal yang kotor. Nggak sampai mysophobia (takut kotor berlebihan) sih, tapi..."
"Dimengerti. Kalau begitu, sebaiknya kita menghindari pertarungan melawan monster tipe serangga atau tipe limbah kotoran ya."
"Kalau tipe serangga sih aku paham, tapi tipe kotoran...? Emangnya ada monster kayak gitu?"
"...Cepat atau lambat kau pasti bakal ketemu kok. Saat itu terjadi, aku pasti akan menyelamatkanmu."
"Iiiiiih...! Nggak mau ketemuuu...!"
Sambil bertukar obrolan ringan seperti itu, kami berjalan melewati taman dan tiba di depan mal perbelanjaan besar yang menjadi tujuan kami.
Karena ini hari libur, tempat ini dipenuhi oleh pengunjung keluarga di mana-mana. Tentu saja, di antara mereka juga banyak pasangan muda-mudi yang sedang berkencan seperti aku dan Nagi.
"Yocchin♡ Aku capek nih♡ Gimana dong, eeeng♡"
"Mau gimana lagi deh♡ Mihorin, kita istirahat di sana yuk♡"
Lengket, lengket, lengkett. Sepasang kekasih bodoh (bakappuru) yang bermesraan sampai-sampai bikin mual, berjalan melewati kami. Nagi menatap kepergian mereka dengan tatapan tajam seolah sedang mengobservasi.
"Jadi ada yang kayak gitu juga ya..."
"Nggak, nggak, nggak mungkin. Kumohon, tolong jangan bilang kalau kau mau meniru mereka."
"Apaan sih. Kita kan kayak kalah dari mereka gitu, rasanya jadi kesal tahu."
"Menang kalah apanya..."
Lagipula, pasangan semacam itu bahkan tidak pantas berdiri di panggung kompetisi. Mengabaikan dua sejoli yang sedang tenggelam dalam dunia mereka sendiri itu, sebagian besar orang di sekitar sini justru terpesona oleh kecantikan Nagi dan hanya memusatkan perhatian padanya.
Saat ini juga, tokoh utama di dunia ini... tidak lain adalah Nagi. Nggak akan ada yang peduli dengan kemesraan (chichikuriai) karakter mob macam mereka itu.
"Sudahlah, kau mau beli hadiah buat keluargamu, kan? Ayo pergi."
"Ih, tunggu dulu. Setidaknya, gandeng lenganku kek...!"
Saat Nagi merapat padaku, aroma manis eau de cologne menggelitik hidungku. Aroma khas perempuan yang berbeda dari ibu maupun Haruna ini... membuat dadaku sedikit berdesir.
"Nfufu... Rasanya enak juga. Cowok iseng yang menyebalkan juga nggak pada mendekat, dan jalan bareng cowok tampan (ii otoko) itu bikin perasaan superior-ku memuncak."
"Mengesampingkan apakah aku ini cowok tampan atau bukan, berjalan bersama pacar memang memberikan perasaan superior tersendiri ya."
Namun di saat yang bersamaan, aku bisa merasakan tatapan yang bercampur antara rasa cemburu dan kebencian dari orang-orang di sekitar kami. Ini mungkin berbeda dengan 'pajak ketenaran' (yumei-zei)... tapi mungkin bisa dibilang, risiko (taika) dari memiliki sesuatu yang bernilai luar biasa akan selalu ada di mana pun berada.
"...Ngomong-ngomong, anggota keluarga Nagi itu ada kedua orang tua, sama kakak laki-laki dan perempuan, kan?"
"Iya. Sebenarnya sih aku pengen ngasih hadiah liburan ke pemandian air panas (onsen) buat seluruh keluarga... tapi biayanya itu lho."
"Kalau cuma segitu sih, biar aku..."
"Dengar ya, hal semacam ini harusnya dibayarkan pakai uang sakuku sendiri, kan. Kalau aku ngasih hadiah dari traktiranmu, nggak ada artinya dong."
"...Benar juga ya. Aku yang kurang peka, maaf."
"Nggak apa-apa kok. Tapi sebagai gantinya, kamu harus benar-benar membantuku memilih hadiahnya, ya?"
"Serahkan saja padaku. Aku bakal milihin hadiah terbaik yang paling pantas buat keluargamu."
"Kalau kamu jadi kelewat bersemangat gitu, aku malah jadi agak takut lho."
"Tentu saja aku bakal bersemangat. Lagipula, kedua orang tuamu juga adalah orang-orang yang penting bagiku."
"Eh...? Maksudnya...?"
Karena aku punya tanggung jawab telah menyeret putri mereka yang berharga ke dalam pertarungan yang berbahaya. Dan yang paling penting, mereka adalah orang-orang berjasa yang telah melahirkan dan membesarkan bakat terbaik bernama Nagi ini.
"Suatu hari nanti, aku ingin datang menyapa (untuk berterima kasih) dengan benar."
"A, apa...!? Kalau yang itu (menyapa orang tua untuk pernikahan) sih masih terlalu dini tahu!"
"Masa sih? Kalau bisa malah aku ingin memenuhi tanggung jawabku (karena telah menjadikanmu Gadis Penyihir) sekarang juga lho."
"Ta, tanggung jawab...! Kamu, sampai sebegitunya memikirkanku..."
Entah kenapa Nagi menatapku dengan mata berkaca-kaca dan wajah yang sedikit merona. Tatapan itu benar-benar terlihat seperti tatapan seorang gadis yang sedang jatuh cinta kepada orang yang disayanginya, lho...?
"...Aku mengerti perasaanmu. Tapi, kita kan masih pelajar. Mulai sekarang, mari kita pelan-pelan memperpendek jarak di antara kita... dan suatu saat nanti, mari kita bicarakan (pertunangan) di tempat yang resmi."
Apa cuma mau menyapa orang tuanya saja butuh persiapan seformal itu? Ah udahlah, lagian situasinya sama sekali nggak mendukung buat nanyain hal itu.
"Kalau kau setuju dengan hal itu, aku nggak keberatan kok."
"Fufufufufu...♪"
Ditarik lengannya oleh Nagi yang sudah sepenuhnya kembali ceria, kami mulai berkeliling ke toko-toko di dalam mal perbelanjaan. Untuk mencari hadiah, kami terutama melihat-lihat aksesori dan barang pernak-pernik, lalu sesekali berhenti untuk melihat barang yang menarik perhatian kami.
"Ah, lihat! Dress ini, lucu kan?"
"Ya. Tapi, kurasa itu agak terlalu kekanak-kanakan buat Nagi. Kalau mau, yang ini gimana?"
"Eeeh? Model kayak gitu aku udah punya..."
"Begitu ya? Kalau gitu, kencan kita berikutnya kamu mau pakai itu nggak?"
"...Iya. Aku bakal pakai itu dengan sangat cantik sampai-sampai kamu kaget!"
Sudah berapa lama ya sejak aku terakhir kali menghabiskan waktu seperti ini. Selama beberapa tahun terakhir, aku terlalu fokus untuk menciptakan Gadis Penyihir terkuat... dan menghabiskan sebagian besar waktu liburku untuk melakukan persiapan itu. Aku tidak pernah pacaran dengan perempuan, dan kencan hanyalah konsep yang kuketahui sebatas teori saja.
"Ternyata nggak buruk juga."
"Hm? Kamu bilang sesuatu?"
"Nggak, bukan apa-apa. Lebih baik kita lanjut, gimana kalau toko pernak-pernik di sebelah sana itu?"
"Wah, tokonya punya atmosfer yang bagus ya. Shoutarou, seleramu lumayan juga."
Toko pernak-pernik yang kupilih adalah toko yang menjual berbagai ornamen dan pajangan dari berbagai budaya luar negeri. Mulai dari barang kecil yang lucu, sampai patung ukiran kayu raksasa yang bikin bingung mau ditaruh di mana, pemandangan barang-barang yang dipajang di sana benar-benar spektakuler.
"Karena kita udah jalan-jalan, perutku juga udah mulai kerasa lapar, nih. Sebaiknya kita cepat putusin hadiahnya dan pergi makan siang."
"Kalau begitu, aku tahu restoran Italia yang bagus di dekat sini. Restoran itu dikelola oleh kenalanku dari Klub Penggemar Cherry Diamond, dan dia selalu memberikan layanan spesial buatku."
"Wah, asyik banget. Kalau gitu hari ini kita makan di sana aja... nyaa."
Nagi mengambil sebuah pajangan kucing, membawanya ke sebelah wajahnya, dan menirukan suara kucing. Hah? Kok dia ini bisa imut banget, sih.
"Di rumah, semua keluargaku suka kucing... tapi karena semuanya alergi, kami nggak bisa memeliharanya."
"Kalau begitu, hadiah pajangan kucing pasti bakal bikin mereka senang, kan?"
"Hnnn. Tapi, kucing yang ini... agak terlalu gendut deh kayaknya."
"Malah kelihatan lucu dan menggemaskan kan."
"Masa sih? Kalau gitu, untuk kakak laki-lakiku aku pilih yang ini. Selanjutnya, hadiah buat kakak perempuanku!"
Nagi menyimpan pajangan kucing dengan wajah agak galak (futebuteshii) itu, dan beralih mencari hadiah selanjutnya.
"Cangkir anjing ini... mungkin mirip sama kakakku."
Melihatnya mengambil barang satu per satu dan mengamatinya lekat-lekat... benar-benar sangat manis. Andai saja waktu seperti ini bisa terus berlanjut selamanya. Begitulah, aku tanpa sadar memikirkan hal-hal yang sama sekali bukan sifatku.
□
Setelah berhasil memilih hadiah untuk keluarga Nagi, kami tiba di sebuah restoran untuk makan siang yang sedikit terlambat. Pemilik restoran yang sudah kukenal menyambut kami dengan senyuman dan menyiapkan meja yang bagus di dekat jendela.
"Nnnh~~~~♡"
Di atas meja, tersaji berbagai hidangan rekomendasi dari si pemilik restoran. Mulai dari Pizza Neapolitan ortodoks yang menunjukkan kemampuan chef secara langsung, Seafood Pasta yang menggunakan banyak bahan musiman. Sampai Carpaccio Salad dengan irisan salmon dan bawang bombai. Ditambah dengan pelayanan spesial, mereka sengaja menyajikan jus anggur di dalam gelas wine agar kami yang masih di bawah umur ini juga bisa merasakan atmosfer yang mewah.
"Tempatnya tenang dan bikin santai, nggak nyangka ada tempat tersembunyi sebagus ini...♡"
"Syukurlah kalau kamu senang."
Nagi sepertinya sangat menyukai tempat ini, ia menyuapkan makanan ke mulutnya dengan senyuman paling lebar yang pernah kulihat. Akan tetapi, berbeda dengan nafsu makannya yang kuat, gerak-geriknya saat makan sangat anggun dan ia sama sekali tidak melanggar table manner. Kalau soal itu, dia memang benar-benar terasa seperti putri seorang presiden direktur, ya.
"Harganya juga terjangkau, kalau restoran ini diliput TV pasti bakal lebih laris manis, kan?"
"Kata pemiliknya sih, dia pengen nyisain ruang kosong buat jaga-jaga... siapa tahu suatu hari nanti Cherry Diamond datang ke restorannya, jadi dia nggak bakal kehabisan tempat duduk."
"Hee? Tapi, karena kau ini orangnya..."
"Pemiliknya tentu nggak menyadarinya, tapi ibu datang ke sini beberapa kali dalam sebulan, lho."
Identitasnya memang tak bisa diungkapkan, tapi ibu sangat berterima kasih dari lubuk hatinya karena bisa menyantap hidangan terbaik buatan penggemarnya.
"Apa suatu saat nanti, aku juga bakal punya penggemar seperti itu ya."
"Pasti dong. Setidaknya, saat ini aku sudah menjadi penggemar beratmu yang melebihi siapa pun di dunia ini."
"Shoutarou..."
Seolah sudah diatur waktunya, BGM (Backgruond Music) restoran berganti menjadi musik yang moody. Lalu, pandanganku dan Nagi saling bertemu... dan saat wajah kami mulai saling mendekat.
"Ups, maaf."
Ponselku bergetar di dalam saku, dan suasana romantis di antara kami seketika buyar.
"...Dari siapa? Jangan-jangan, cewek lain?"
"Bukan, ini notifikasi dari aplikasi peringatan dini kemunculan monster. Rupanya ada monster kuat yang muncul di daerah Tohoku (Timur Laut Jepang)."
Saat aku memberitahunya sambil mengecek layar ponselku, ekspresi Nagi langsung menegang.
"Monster? Kalau gitu, aku juga...!"
"Nggak usah, di daerah Tohoku juga ada Gadis Penyihir... dan Cherry Diamond juga pasti sudah berangkat ke sana. Lupakan soal Gadis Penyihir hari ini, dan nikmati saja waktu santaimu."
"...Iya, aku ngerti."
Bagi Nagi, ia pasti sangat ingin segera menebus kekalahan di pertarungan debutnya yang tragis itu secepatnya. Akan tetapi, karena ia terus memulihkan diri dan belum melakukan latihan dengan benar sejak saat itu, jika ia memaksakan diri maju ke medan perang sekarang, kemungkinan besar ia akan gagal lagi.
"Nggak usah terburu-buru, nanti pasti ada ke..."
Saat aku hendak merangkai kata-kata untuk menghibur Nagi yang sedang murung—tepat pada saat itulah.
"Eh?"
Tiba-tiba, sinar matahari yang masuk dari jendela terhalang oleh sesuatu... dan bagian dalam restoran seketika menjadi gelap. Lalu, saat semua pelanggan di dalam restoran mengarahkan pandangannya ke luar jendela untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Gugegegegegegeeeeee!"
Makhluk yang menempel di kaca jendela itu adalah kecoak. Bukan, bukan sekadar kecoak biasa... ukurannya jauh melampaui ukuran manusia, dan di kaki depannya terdapat lima jari yang menyerupai tangan manusia.
"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!"
Setelah keheningan sesaat, diawali dengan jeritan salah satu pelanggan wanita, seisi restoran langsung jatuh ke dalam kondisi sedikit panik.
"Jangan-jangan, itu monster...!?"
Mustahil, saat ini seharusnya monster sedang muncul di wilayah Tohoku. Tak kusangka monster akan muncul di dua tempat yang berjauhan secara bersamaan...!
"M-Monster serangga... ah, aaaah...!"
Tunggu, ini bukan waktunya melamun memikirkan hal itu! Melihat monster tipe serangga tepat di depan matanya, Nagi seketika kaku karena shock.
"Nagi! Ayo lari!"
Aku meraih tangan Nagi, dan buru-buru berlari menjauh dari jendela. Namun sesaat kemudian, monster itu mengayunkan salah satu lengannya ke atas... dan dengan satu pukulan kuat, ia menghancurkan kaca jendela berkeping-keping.
"Baaauuu... Baunya tercium baaauuu. Aku merasakan gelombang Maginal yang dipenuhi kebahagiaan yang menjijikkaan!"
Monster yang telah masuk ke dalam restoran itu menggerak-gerakkan antena di dahinya (pikopiko). Jadi dia mendeteksi area di mana Maginal sedang aktif dengan antena itu, dan datang menyerang. Tujuan dari organisasi jahat Shadow Nexus adalah untuk memicu ketakutan dan keputusasaan pada manusia, sehingga Maginal akan menyusut. Ruang sederhana dan bahagia di siang hari seperti ini pun tampaknya termasuk dalam target eliminasi mereka.
"Dasar manusiiaaaa... Kalian tidak akan bisa lariii!"
Saat monster itu mengangkat kedua lengannya, sejumlah besar serangga yang tak terhitung jumlahnya merayap keluar dari balik punggungnya. Dan gerombolan serangga itu langsung menuju ke arah orang-orang yang melarikan diri... hingga menutupi dan memblokir pintu keluar restoran.
"Geggegge! Kalau aku, Tuan Insec-jacker yang turun tangan, hasilnya akan seperti iniiii. Berbeda jauh dengan adikku yang payah waktu itu lhooo?"
Adik yang payah katanya? Kalau dipikir-pikir, wujud orang ini... mirip banget dengan monster serangga Insec-hacker yang dilawan Plum Sapphire saat debutnya. Namanya juga mirip, sudah hampir bisa dipastikan kalau dia ini adalah kakaknya.
"Ugh, uaaah... Shoutarou...! S, seranggan yaaaa...!"
Karena fobia serangga yang parah, dan juga trauma kekalahannya tempo hari... Nagi menggigil ketakutan sambil berpegangan erat pada lenganku. Jangankan Nagi, meskipun ia tidak ketakutan sekalipun, situasi saat ini benar-benar bisa dibilang sangat buruk.
"Hiiiieeee! Siapa pun, tolong kami, siapa puuuuun!"
"Tolong selamatkan anak-anak saja, setidaknya selamatkan anak-anak!"
Satu-satunya pintu keluar dan masuk restoran telah tertutup oleh serangga, sementara di arah jendela ada Insec-jacker. Belasan pelanggan dan beberapa staf restoran kini sepenuhnya terjebak tanpa jalan keluar.
"Hihihihi! Benar, ketakutanlah lebih dalam lagiii! Karena itulah yang akan membuat Maginal menjadi keruuuh!"
Syukurnya, tujuan musuh hanyalah untuk membuat kami ketakutan. Untuk sementara waktu, dia hanya akan mengancam kami dan tidak akan menggunakan kekerasan.
"(Tapi, itu pun tak akan bertahan lama... tak aneh jika korban mulai berjatuhan kapan saja.)"
Dikelilingi oleh serangga, para pelanggan saling berhimpitan di tengah restoran sambil gemetaran. Serangga-serangga itu semakin merayap mendekat. Waktu kami sudah habis.
"(Saat ini ibu sedang bertarung di Tohoku. Bahkan jika pertarungan di sana selesai dengan cepat, butuh sedikit waktu lagi baginya untuk bergegas ke sini.)"
Kalaupun ibu bisa tiba tepat pada detik ini juga, situasi dengan jumlah sandera sebanyak ini sangatlah berbahaya. Aku ingin menyelamatkan semua orang dengan cara apa pun, tapi...
"Shou, tarou... a, aku..."
"Jangan memaksakan diri. Dengan kondisimu yang sekarang..."
"Iya, aku tahu... aku tahu kok..."
Dengan suara pelan dan lemah seperti berbisik, Nagi menempelkan tangannya di atas tangan kananku.
"Tapi, aku nggak mau. Berdiam diri di sini... dan membiarkan seseorang terluka di depan mataku..."
Meskipun dia sendiri sangat ketakutan, karena menyadari bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk bertarung, Nagi berusaha untuk bangkit. Jiwa luhur itu adalah cerminan dari sosok Gadis Penyihir sejati.
"Bahkan jika aku dilihat oleh orang lain... nggak apa-apa kalaupun identitasku ketahuan. Aku... ingin bertarung..."
Gemetar tubuhnya perlahan telah berhenti. Ketika aku menatap matanya lagi, apa yang terpantul di sana bukanlah rasa takut, melainkan tekad.
"...Ya, kau mengatakannya dengan baik. Begitulah seharusnya wanita yang kuakui."
Mengingat dia sudah memperlihatkan sikap terbaiknya ini, aku pun harus membulatkan tekadku. Agar aku tidak pernah membiarkan Nagi merasakan pengalaman pahit seperti itu lagi. Agar aku tidak lagi membebankan dan menimpakan segalanya hanya pada Nagi seorang...!
"Kita mulai, Nagi. Kalau aku memberi aba-aba..."
"Ya, aku ngerti."
Kami mengatur rencana dengan berbisik-bisik pelan agar tidak terdengar oleh siapa pun. Akan tetapi, tampaknya hal itu pun sia-sia saja di hadapan monster yang memiliki indra supernatural.
"Woi! Kalian di sana! Sedang membicarakan apa dari tadiii!"
Pandangan monster Insec-jacker mengarah ke kami, dan seluruh perhatian di sekitar kami pun tertuju ke arah yang sama. Namun, hal seperti ini pun sudah ada dalam perhitunganku. Demi mengantisipasi kejadian seperti ini, selama beberapa tahun terakhir... aku telah menyiapkan berbagai macam persiapan.
"Ah, maaf. Soalnya ada benda aneh jatuh di lantai."
Aku melangkah maju perlahan sambil mengangkat kedua tanganku ke udara. Aku bisa merasakan kewaspadaan Insec-jacker dan gerombolan serangganya seketika meningkat tajam terhadapku.
"Benda aneh katamuuu? Apa ituuu?"
"Iya. Benda yang bentuknya seperti bola aneh..."
Sambil menjawab, aku memperlihatkan sebuah bola bundar yang baru saja kuambil dari saku kepada monster itu. Lalu, aku membulatkan tekad, mengatur napas, dan...
"Pasti cara pakainya begini!"
Aku membanting bola bundar itu ke lantai dengan kuat.
"Gugeeeh! Apa iniii!?"
Saat bola itu membentur lantai, bola itu meledak dengan kuat... dan langsung menyelimuti area sekitar dengan asap putih pekat. Kejadian yang tiba-tiba itu sontak memicu jeritan dan teriakan ketakutan, bukan hanya dari si monster, tapi juga dari para sandera.
"Sekarang!"
Monster dan sandera, pandangan mereka saat ini tertutup oleh bom asap yang kulemparkan. Nagi yang cerdas, pasti bisa memahami maksud dari aba-abaku itu.
"Bloom!"
Terdengar seruan mantra dari dalam kepulan asap, dan kilatan cahaya yang menyilaukan hingga mampu menembus pekatnya asap putih tersebut.
"Gugegege? Apa yang terja... bubebaaaaah!"
"Yaaaaaaaaaaaaaaa!"
Seorang Gadis Penyihir bernuansa biru yang melesat keluar seolah membelah kepulan asap putih, mendaratkan tendangan lompat yang dilapisi oleh Maginal tepat di wajah monster Insec-jacker. Tidak melewatkan timing (kesempatan) itu, aku berteriak keras dari dalam kepulan asap putih.
"Semuanya! Sepertinya Gadis Penyihir datang untuk menyelamatkan kita! Ayo kabur mumpung ada kesempatan!"
"Gadis Penyihir? Dia beneran datang!"
"Tapi, kita harus kabur ke arah mana...?"
"Para pelanggan! Anda bisa keluar lewat pintu belakang melalui dapur! Silakan berjalan mengikuti cahaya lampu darurat!"
Lampu darurat selalu menyala agar lokasinya bisa diketahui bahkan di tengah kepulan asap kebakaran. Menenangkan para sandera dengan mengatakan bahwa bantuan Gadis Penyihir telah tiba, lalu membiarkan pemilik restoran memandu sandera untuk kabur lewat pintu belakang... dengan ini, rintangan pertama sudah berhasil diatasi.
"Gugegegegegege! Berani-beraninya kauuu!"
"Hmph, itu harusnya kata-kataku tahu!"
Asap putih itu pun perlahan-lahan mulai memudar. Para sandera yang sedang bergegas melarikan diri, menoleh ke belakang dan menyaksikan langsung sosok sang Gadis Penyihir tersebut.
"Sekecil apa pun secercah kebahagiaan itu, aku tak akan membiarkan orang jahat menginjak-injaknya! Gadis Penyihir yang bersumpah untuk melindungi segalanya dengan kekuatan cinta... Plum Sapphire!"
Plum Sapphire yang mengenakan kostum biru, melakukan pose andalannya sembari mengucapkan kalimat deklarasinya. Akhirnya dia berhasil melakukan rutinitas wajib Gadis Penyihir yang tidak bisa ia lakukan di pertarungan sebelumnya, ya.
"Plum Sapphire, katamuuu? Aku tahu nama ituuu. Kau, adalah orang yang pernah kalah dari adikku itu, kaaan?"
"Ara, masa sih? Maaf ya, aku nggak repot-repot nginget hal remeh kayak serangga kecil kok."
"Se, se, serangga keciiil? Kuraaang ajaaar! Dasar manusia rendahan, jangan sombong kauuu!"
Para sandera sudah selesai dievakuasi, dan yang tersisa di lokasi kejadian hanyalah aku yang bersembunyi di balik bayangan, serta Plum Sapphire. Dengan begini, Plum Sapphire bisa bertarung dengan bebas.
"Kukkukku! Ketakutanlah pada para kerabatku iniii! Berkumpullah, Nightmare Roach!"
Insec-jacker melebarkan kedua lengannya, dan mencoba memanipulasi serangga-serangga yang ia sebut kerabatnya itu. Akan tetapi, sepertinya ia sama sekali tidak menyadarinya. Bahwa dirinya kini hanyalah seekor kecoak yang sudah kehilangan kaki dan sayapnya.
"...Nnn? Ada apaaa? Para kerabatkuuu! Ayo, makan dan habisi Gadis Penyihir iniii!"
Insec-jacker kembali memberikan perintah, tetapi para serangga itu tidak bergerak sedikit pun. Lagipula, serangga-serangga itu sama sekali tidak bereaksi apa-apa saat para sandera berlarian panik di dalam kepulan asap tadi. Alasannya kenapa... jawabannya sangatlah sederhana.
"...Syukurlah racikannya kelar tepat waktu."
Aku tersenyum puas sambil memutar-mutar sisa bom asap di tanganku yang kuambil dari saku. Ini bukanlah bom asap biasa. Demi mengantisipasi pertarungan ulang Plum Sapphire melawan monster pengendali serangga yang mirip dengan monster sebelumnya, aku telah mengembangkan dan menyesuaikan bom asap ini dengan menambahkan formula insektisida (racun serangga) ke dalamnya (jangan khawatir, ini hampir tidak berbahaya bagi tubuh manusia).
"Kerabatkuuu! Kerabatkuuu! Kenapa kalian tidak bereaksiiiiii!"
"Dasar bodoh. Tentu aja karena mereka udah mati dari tadi, kan."
Gushari, sambil menginjak-injak bangkai serangga di bawah kakinya... Plum Sapphire mulai berbicara.
"Aku memang benci serangga. Tapi yang kubenci itu adalah wujud menjijikkan mereka saat makhluk kecil itu bergerak dan merayap ke sana kemari dengan cepat."
"Guge? K-Kalau begitu...?"
"Kalau mereka udah mati dan nggak bergerak lagi, mereka nggak terlalu menakutkan, ngertiii♡"
Tepat setelah Plum Sapphire menunjukkan senyum ceria yang polos. Don, udara di sekitarnya seketika menjadi berat.
"Haaaaaaaaaaaaaah!"
Perasaan berat yang menyesakkan seakan gravitasi meningkat beberapa kali lipat. Ini adalah kerusakan gravitasi yang terjadi karena Plum Sapphire menyerap Maginal di sekitarnya... lalu melepaskannya sebagai kekuatannya sendiri.
"Aku rasa, aku udah mulai ngerti gimana cara pakai kekuatanku."
Maginal yang terkonsentrasi sangat padat sampai-sampai bisa kulihat dengan mataku sendiri itu, dengan cepat mengubah wujudnya di kedua tangan Plum Sapphire... dan akhirnya berubah menjadi busur dan anak panah yang bersinar terang.
"Apa ituiii!?"
"Aku ogah nyentuh langsung bajingan belatung kayak kalian, tahu? Karena itu, aku bakal membasmi kalian dari bumi dengan cara yang elegan ini... ♡"
Plum Sapphire menarik busur, dan membidikkan anak panahnya. Menyadari bahwa dirinya menjadi target, monster itu ketakutan dan mencoba untuk melarikan diri.
"Uwoooooooh! Aku, nggak bakal mati di siniiiiii!"
Kudengar kecoak hanya akan melebarkan sayapnya dan terbang ketika ia terpojok. Insec-jacker yang membentangkan sayap besarnya dan terbang menjauh dengan suara mendengung (buuuun) itu, sepertinya kelakuannya juga sama saja.
"Satu, duaa... tigaaa!"
Namun, ada perbedaan besar antara kecoak biasa dan Insec-jacker. Sebagian besar kecoak yang terbang biasanya bisa lolos dari bahaya dan melarikan diri. Tapi, karena ia sudah menjadi target dari Gadis Penyihir terkuat pilihanku...
"Love Plum Sapphire Shoot!"
Bersamaan dengan nama jurus maut yang sepertinya baru saja ia pikirkan secara spontan itu, anak panah cahaya pun dilepaskan. Melesat membentuk spiral, seberkas sinar biru yang menembus udara itu... menembus monster yang terbang melarikan diri ke udara dari belakang, dan mengubah seluruh tubuhnya menjadi abu dalam sekejap.
"Sampah kayak kamu bahkan nggak pantas jadi kembang api yang jelek sekalipun."
Menyibakkan rambutnya yang tertiup angin, Plum Sapphire memancarkan aura seolah ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Tak lama lagi, media akan berkerumun di tempat ini, dan wawancara dengan dirinya akan segera dimulai.
"Kamu sudah berjuang keras... Plum Sapphire."
Setelah merekam kuat-kuat sosok tangguh rekan bertarungku yang berhasil meraih kemenangan perdananya yang gemilang atas monster itu, aku berjalan menuju pintu belakang tempat para sandera melarikan diri. Selanjutnya aku tinggal bergabung dengan kerumunan itu, dan ikut serta dalam wawancara TV serta pemeriksaan polisi. Plum Sapphire juga seharusnya akan terbang tinggi ke langit dan menggunakan sihir teleportasi ruang setelah menanggapi media sekadarnya.
"Ah, gawat. Seenggaknya, aku harus mengambil yang ini dulu."
Meskipun aku merasa nggak enak melakukan ini di toko milik kenalanku, tapi untuk berjaga-jaga aku akan menyalin data dari kamera CCTV sebelum pergi. Meskipun tertutup asap, kemungkinan ada sesuatu yang terekam tidak bisa dikesampingkan sepenuhnya.
"Aku harus memberikan kompensasi kepada pemilik restoran dalam bentuk lain nanti."
Sambil mendengarkan suara sirene mobil polisi dari kejauhan, dan keributan kerumunan orang yang mendekat. Aku meninggalkan restoran tersebut dengan perasaan yang sangat cerah.
□
Di balik batas dimensi dengan Bumi, terdapat dunia bayangan yang eksis di baliknya──Yaitu Olderland. Langit telah kehilangan cahayanya, lautan mengering, dan bumi mulai retak... dunia itu sedang menuju pada kehancuran. Banyak penduduk di sana yang putus asa akan masa depan, lalu demi mendapatkan kebahagiaan sesaat mereka menginjak-injak orang lain, dan terus-menerus melakukan perampasan serta pembantaian. Di dunia yang tanpa harapan seperti itu, ada sekelompok pihak yang bertindak demi kelangsungan hidup ras mereka... dengan tujuan untuk bermigrasi ke tempat baru. Kekuatan besar yang membangun kastilnya di Kota Kyokai (Lautan Kosong), pusat dari Olderland. Nama kelompok itu adalah Ordo Keselamatan Shadow Nexus. Di Bumi, mereka dikenal sebagai organisasi jahat Shadow Nexus, sekelompok monster yang mengerikan.
"Oi oi oi, hari ini gagal lagi nih?"
Di ruang rapat khusus untuk para eksekutif yang berada di lantai paling atas kastil Shadow Nexus. Dengan sikap arogan meletakkan kakinya di atas meja bundar, monster kekar berkepala singa itu melontarkan makiannya. Dan di ujung pandangannya, terdapat sosok tujuh monster lain yang juga duduk mengelilingi meja bundar tersebut.
"Jaga sikapmu, Berias. Apa kau berniat menodai tempat rapat suci ini."
Salah satu eksekutif yang penampilannya menyerupai ikan, bergumam seolah menegur monster yang dipanggil Berias tersebut. Namun Berias justru meresponsnya dengan mendengus tawa, lalu mengangkat kedua bahunya seolah mengejek teguran itu.
"Hah, rapat suci apaan, Viletour. Menginvasi dan merebut dunia lain itu tujuan kita, kan."
"Kau ini...! Beraninya kau menghina ideologi kita yang mengusung tujuan mulia ini!"
Viletour bangkit dari tempat duduknya, lalu bersiap menghunuskan pedang yang tersarung di pinggangnya.
"Hah? Mau cari ribut lu, hah."
Seakan merespons hal itu, Berias juga mencoba untuk berdiri sambil memancarkan niat membunuh yang meluap-luap, namun...
"Ya ampun♡ Kalian berdua, nggak boleh berantem lho~?"
Sosok yang melerai hawa saling membunuh itu (papan) dengan menepukkan tangannya dengan keras adalah monster tipe wanita. Selain memiliki dua tanduk melengkung yang memanjang dari kepalanya, ia juga memiliki sepasang sayap di punggungnya yang mengingatkan pada sosok iblis. Sambil menelusuri ujung ekor hitamnya yang bergerak-gerak meliuk-liuk dengan jarinya, penampilannya yang tersenyum menggoda itu hampir bisa dibilang telanjang bulat, dengan busana seksi yang hanya sedikit menutupi payudara dan selangkangannya.
"Ririmura, jangan ikut campur. Semua ini terjadi kan gara-gara kegagalanmu."
"Ara, bilang kalau itu kegagalan rasanya nggak adil deh. Kejadian hari ini kan cuma eksperimen kecil-kecilan aja."
"...Gerbang teleportasi ke Bumi hanya bisa digunakan satu kali dalam sehari. Karena kau memaksanya aktif beberapa kali, gerbangnya jadi mengalami gangguan. Kau masih berani bilang kalau itu bukan kegagalan?"
Tatapan tajam penuh tuduhan dari para eksekutif seketika tertuju serentak pada Ririmura.
"Lagian kalau kita cuma pakai gerbangnya sekali sehari, ujung-ujungnya monsternya pasti bakal dikalahin Gadis Penyihir, kan? Kalau gitu, lebih baik kita mengambil risiko gerbangnya rusak dan mengirim beberapa pasukan kita sekaligus."
Namun, dengan wajah santai Ririmura menjelaskan pembenarannya secara blak-blakan.
"Selama Cherry Diamond yang menjengkelkan itu masih ada, satu monster nggak bakal bisa ngapa-ngapain."
"Tapi, pada akhirnya eksperimenmu kali ini juga gagal, kan?"
"Ya, sepertinya ada Gadis Penyihir baru lagi yang lahir. Ditambah lagi, dilihat dari reaksi Maginal-nya, kemampuannya bahkan bisa sebanding dengan Cherry Diamond itu."
Mendengar laporan dari Ririmura, suasana ruang rapat tersebut sedikit gempar. Tentu saja hal itu terjadi. Kemunculan Gadis Penyihir baru yang sebanding dengan Gadis Penyihir Cherry Diamond—yang telah membuat Shadow Nexus menderita selama 20 tahun—bagi mereka itu tak ubahnya seperti mimpi buruk.
"Ugh, padahal kupikir kita masih punya peluang menang kalau Cherry Diamond itu udah tua dan pensiun."
"Jangan ngomong hal yang pengecut begitu. Kalau aku bisa pergi langsung ke dunia sana, bakal kubunuh nenek-nenek awet muda itu dengan tanganku sendiri."
"Masalahnya kan kita nggak bisa melakukan hal itu. Butuh waktu dan energi yang sangat besar untuk membuat gerbang yang bisa menteleportasi monster kelas eksekutif dengan kekuatan besar seperti kita."
Alasan mengapa Shadow Nexus tidak menginvasi Bumi dengan seluruh kekuatan penuh mereka. Sederhana saja, itu karena adanya batasan pada metode teleportasi ke Bumi. Seandainya mereka bisa memindahkan monster dengan bebas, invasi ke Bumi pastilah sudah berskala ratusan kali lipat lebih besar dari yang sekarang.
"Lagian, dengan kondisi Bumi yang sekarang dipenuhi oleh Maginal pekat, kekuatan kita bahkan nggak bakal bisa keluar sampai setengahnya lho? Dengan kondisi kayak gitu, emangnya kalian yakin bisa ngalahin Cherry Diamond?"
"...Cih, terus kita harus gimana!"
"Soal itu ya. Aku punya sedikit ide yang bagus, lho."
"Oh? Ide yang bagus, katamu? Kudengar laporan bahwa alat pembuat penghalang (kekkai) yang dikembangkan oleh unitmu sebelumnya juga berhasil dihancurkan oleh Cherry Diamond, kan?"
"Iya, sih. Rencana yang itu sebenarnya lumayan bagus, tapi efisiensi energi untuk mempertahankan penghalangnya dengan kekuatan Gadis Penyihir itu sangat buruk, jadi masalahnya adalah kita nggak bisa menjamin ketahanannya."
"Ah udahlah, hal semacam itu nggak penting. Cepat kasih tahu ide bagusmu itu!"
"Iya, iya. Tadi waktu ngelihat Gadis Penyihir baru yang namanya Plum Sapphire atau apalah itu, aku jadi mikir. Pada akhirnya, semakin banyak Gadis Penyihir yang beraksi, manusia Bumi akan semakin merasa penuh harapan, dan Maginal pun akan semakin aktif, kan?"
Ririmura menelusuri belahan dadanya dengan jarinya sendiri, lalu berbicara diiringi desahan napas yang sensual.
"Kalau gituuu, kita pakai cara berpikir yang terbalik. Kalau kita menggunakan Gadis Penyihir untuk memberikan keputusasaan pada manusia di Bumi, Maginal pasti akan langsung berbalik arah, kan?"
"Menggunakan Gadis Penyihir? Emangnya gimana caranya."
"Nfuh♡ Soal itu, aku udah mikirin caranya kok."
Dengan senyuman hitam yang menyeringai, ia mengeluarkan sebuah kristal kecil dari celah belahan dadanya. Sekilas kristal itu sangat mirip dengan Magipura yang diperlukan untuk membangkitkan Gadis Penyihir... namun warnanya keruh menghitam, dan ia memancarkan hawa jahat (jaki) yang begitu kuat hingga hanya dengan melihatnya saja sudah membuat orang ingin memalingkan muka.
"Sebenarnya aku pengen pergi sendiri secara langsung sih, tapi karena aku nggak bisa ngelewatin gerbangnya ya mau gimana lagi... di sini aku serahin aja pada adikku tersayang, ya."
Saat Ririmura menjentikkan kristal hitam itu dengan jarinya, kristal itu mendarat tepat di tangan seorang wanita yang berdiri di belakangnya.
"Meluruk-chan. Tolong selesain tugasnya dengan sempurna sesuai rencana, ya?"
"Baik, Kakak♡ Serahkan saja pada Mel ini♡"
Monster tipe wanita bernama Meluruk—yang sama tipenya dengan Ririmura—menggenggam kristal itu dengan kuat dan menjawab sambil menjilat bibirnya (shitanamezuri). Dengan rambut putihnya yang bergelombang dan dadanya yang berisi berayun, ia meninggalkan ruang rapat eksekutif tersebut.
"Nah, sisanya kita tinggal tunggu hasilnya dengan santai♡ Kalau berhasil, Bumi bakal jadi milik kita♡"
Ruang rapat pun menjadi hening kembali. Para eksekutif yang sedari tadi diam mengamati jalannya pembicaraan, sepertinya tidak memiliki keberatan, dan tidak ada satu pun yang berniat menginterupsi rencana Ririmura. Para eksekutif yang memiliki kekuatan dahsyat yang mewakili dunia bayangan dimensi lain, Olderland. Taring invasi mereka, meski sedikit demi sedikit... kini dengan pasti mulai menjangkau Bumi.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar