Demi Menjadi Mahou Shoujo
Bakat luar biasa yang menyimpan potensi untuk melampaui ibuku, sang Gadis Penyihir terkuat Cherry Diamond, yaitu Sanjou Nagi.
Sepulang sekolah, sehari setelah aku mendapatkan persetujuan darinya untuk menjadi Gadis Penyihir.
Aku memanggil Sanjou ke ruang kelas kosong seperti biasanya.
"...Hmph. Aku udah datang pakai baju olahraga seperti yang kau suruh."
Kaus lengan pendek putih dengan nama sekolah dan lambang sekolah di bahu, dipadu dengan celana bloomers biru dongker. Sanjou, yang mengenakan pakaian olahraga resmi sekolah tanpa noda sedikit pun itu, masuk ke dalam kelas sambil melipat kedua lengannya.
Mengesampingkan soal seragam, syukurlah pakaian olahraganya sudah siap.
"Terima kasih, Sanjou. Mohon bantuannya untuk hari ini."
"Ya. Aku akan berusaha setidaknya untuk membalas budi... ngomong-ngomong, kau sendirian? Anak perempuan yang kemarin mana?"
"Kalau Haruna sih udah pulang duluan. Katanya ada urusan penting gitu."
"Hmm...?"
"Untuk sekarang, silakan duduk di kursi. Pertama-tama, mari kita mulai dengan penjelasan tentang Gadis Penyihir."
Setelah aku mempersilakannya, Sanjou mengangguk kecil lalu duduk di kursi.
Setelah memastikannya duduk, aku berjalan ke depan papan tulis dan mengambil kapur tulis.
"Pertama, soal pengetahuan dasar. Mungkin ada beberapa hal yang sudah kamu ketahui, tapi tolong dengarkan saja untuk jaga-jaga. Kalau ada pertanyaan, kau boleh menyela di tengah penjelasanku."
"Baiklah. Cepat mulai."
"Oke. Kalau begitu, mari kita mulai dengan penjelasan tentang Gadis Penyihir. Gadis Penyihir adalah gadis yang memiliki kekuatan supernatural, dan bertarung melawan kejahatan menggunakan kekuatan sihir yang menyerupai mukjizat."
"Terbang di udara, menembakkan sinar... Imej yang seperti itu, kan."
"Ya. Lalu, mungkin kau bertanya-tanya apa sebenarnya Gadis Penyihir itu. Tapi sebelum itu, kau perlu mengetahui tentang energi tak kasat mata yang ada di dunia ini... Maginal."
Sambil menulis di papan tulis, aku terus menjelaskan dengan bahasa yang sesederhana mungkin agar mudah dipahami.
"Maginal itu, singkatnya seperti sumber kekuatan sihir. Energi itu melayang-layang di udara layaknya oksigen, dan semua makhluk hidup secara tidak sadar menyerapnya dalam kehidupan sehari-hari."
"Emang ada energi tak dikenal seperti itu? Aku nggak pernah ngerasainnya tuh."
"Manusia biasa memang nggak bisa merasakannya. Kadang-kadang kalau Maginal-nya menguat, ada yang bisa merasakan sesuatu secara intuitif sih... tapi mari kita kesampingkan dulu soal itu. Anggap saja energi Maginal itulah yang menjadi sumber kekuatan Gadis Penyihir."
Setelah menjelaskan sampai titik itu, aku mengeluarkan sebuah kristal seukuran ujung jari dari saku celanaku.
Kristal merah berbentuk seperti tetesan air itu memancarkan kilauan gemerlap saat terkena cahaya lampu neon.
"Dan ini adalah kristalisasi energi Maginal dengan kepadatan tinggi yang memakan waktu bertahun-tahun. Kristal ini disebut Magipura, dan bisa dibilang ini adalah benih yang menjadi inti dari seorang Gadis Penyihir."
"Magipura... inti Gadis Penyihir?"
"Benar. Jika seseorang yang memiliki kecocokan menelan kristal ini, dia bisa bangkit menjadi Gadis Penyihir. Benda ini sangat langka, aku bahkan harus menggunakan semua koneksi yang kumiliki... dan akhirnya hanya bisa mendapatkan sekitar tiga buah."
Saat aku menyodorkan Magipura itu, Sanjou mengambilnya dan mulai mengamatinya.
"Cantik... seperti batu permata, ya."
"Nilainya jauh lebih berharga daripada batu permata. Untuk mendapatkan satu buah saja, aku menghabiskan dua ratus juta."
"Dua...?!"
"Ngomong-ngomong, kalau makhluk hidup yang tidak memiliki kecocokan menelan kristal ini... kristal itu akan dicerna di dalam tubuh, dan dikeluarkan sebagai kotoran biasa. Artinya, kristal itu akan berubah menjadi sampah yang tidak berguna."
Gara-gara itu pula, ada kasus di mana Magipura berharga yang lahir ke dunia ini terbuang sia-sia karena tertelan oleh hewan kecil yang tidak memiliki kecocokan. Itulah salah satu alasan kenapa jumlah Gadis Penyihir di seluruh dunia tidak bertambah secara drastis.
"Aku menyebut proses seseorang berhasil menyerap Magipura dan bangkit menjadi Gadis Penyihir sebagai 'Mekar'. Gadis Penyihir yang telah mekar akan mendapatkan kekuatan untuk memanipulasi Maginal di udara, dan bisa menggunakan sihir."
"Dua ratus juta... apa aku harus menelannya sekarang?"
"Hm? Ah, jangan khawatir. Dengan tingkat kecocokanmu, kamu pasti bisa mekar. Dan kalaupun gagal, kamu sama sekali tidak perlu bertanggung jawab. Jadi, telan saja tanpa perlu ragu."
Aku melemparkan botol air mineral yang belum dibuka dari atas meja guru kepada Sanjou.
Meskipun ia menangkapnya dengan tangannya yang bebas, Sanjou masih tampak tercengang dengan ekspresi kebingungan.
"Tapi, ini konfirmasi terakhir dariku. Jika kamu menjadi Gadis Penyihir, ke depannya kamu... harus memikul takdir pertarungan yang menyakitkan demi kedamaian dunia."
"...Artinya, aku nggak bisa mundur di tengah jalan, kan."
"Tidak, kalau kau ingin berhenti, kau bisa berhenti kapan saja. Aku pasti akan berusaha mencegahmu sih, tapi karena nyawamu yang dipertaruhkan, keputusan untuk terus bertarung atau tidak harus datang dari dirimu sendiri."
"Itu tergantung pada imbalan darimu. Katanya kau bakal mengabulkan permintaanku sebisa mungkin, kan?"
"Tentu saja. Tapi aku mohon jangan meminta hal-hal yang melanggar hukum."
"Tenang saja. Begini-begini aku juga orang yang punya rasa keadilan, kok."
Sanjou menunjukkan senyum percaya dirinya sambil memamerkan gigi putihnya dan mengangguk dengan kuat... sungguh sikap yang sangat dapat diandalkan.
"Kalau begitu, aku makan ya? Tapi ini lumayan besar lho."
"Kalau susah ditelan, kau bisa mengunyahnya. Atau kau juga bisa mengulumnya di dalam mulut seperti permen."
"Permen seharga dua ratus juta, ini terlalu belum pernah terjadi sebelumnya tahu..."
Meskipun sambil mengomel, Sanjou tetap melemparkan Magipura itu ke dalam mulutnya.
Sepertinya pada akhirnya ia tidak punya keberanian untuk menelannya sekaligus, dan memutuskan untuk mengulumnya sejenak.
"Manis banget...! Apalagi rasanya anehnya terasa fruity gitu...!"
Dengan ekspresi wajah yang tampak rumit, Sanjou memutar-mutar Magipura di dalam mulutnya dan mengecap rasanya dengan lidah.
Ibu juga pernah bilang, rasa manisnya itu benar-benar bikin ketagihan.
"Baiklah, selama kau menyerap Magipura itu... selanjutnya mari kita bahas tentang musuh bebuyutan Gadis Penyihir, yaitu organisasi jahat Shadow Nexus."
"Shadow Nexus... para monster itu, ya."
"Ya. Rupanya mereka itu adalah makhluk dari dimensi lain, bukan dari Bumi. Sepertinya mereka mulai melakukan invasi untuk bermigrasi dari dunia asal mereka ke Bumi."
"Invasi? Tapi, bukannya langkah mereka terlalu lambat? Frekuensi serangan monsternya aja cuma satu kali sehari atau bahkan kadang nggak ada, sama sekali nggak kelihatan niat buat menginvasi."
"Alasan pastinya sih nggak diketahui, tapi mungkin karena Maginal itu berbahaya bagi mereka."
"Maginal berbahaya? Kenapa mereka mau menginvasi dunia yang kayak gitu? Menginvasi dunia yang dipenuhi racun kan sama aja nggak ada gunanya."
"Maginal itu meningkat sebagai respons terhadap emosi bahagia makhluk hidup. Sebaliknya, Maginal akan berbalik dan berkurang drastis akibat rasa takut dan emosi penderitaan manusia."
"Ah, begitu rupanya. Jadi mereka berusaha keras mengurangi Maginal itu dengan mengirimkan monster sedikit demi sedikit setiap harinya, kan?"
"Tepat sekali. Ditambah lagi yang bikin repot, monster dari dunia sana itu punya tubuh yang sangat kuat, sampai-sampai senjata api berat hampir nggak mempan sama sekali. Misil mungkin sedikit berpengaruh, tapi kita nggak mungkin menembakkan misil di tengah kota... lagipula seandainya monsternya berhasil dikalahkan dengan cara itu, Maginal di sekitarnya juga bakal hancur lebur."
"Benar-benar nggak ada jalan keluar lain ya. Tapi, yang bisa mengatasi masalah itu adalah..."
"Benar, Gadis Penyihir."
Satu-satunya cara untuk melawan Shadow Nexus adalah Gadis Penyihir yang memiliki kekuatan untuk memanipulasi Maginal.
Hanya dengan menggunakan sihir yang memanfaatkan Maginal-lah, para monster itu akhirnya bisa dikalahkan.
"Yah, aku sudah bicara panjang lebar sampai sejauh ini... tapi sejujurnya, pengetahuan ini nggak terlalu penting. Yang terpenting adalah, kekuatan Gadis Penyihir sangat diperlukan untuk menyelamatkan dunia."
Untuk jaga-jaga, biar kurangkum poin-poin pentingnya di papan tulis.
- Di dunia ini terdapat sumber kekuatan bernama Maginal yang tak terlihat oleh orang biasa.
- Orang yang memiliki kecocokan (hanya perempuan) bisa menjadi Gadis Penyihir dengan menyerap kristal yang disebut Magipura.
- Musuhnya adalah penjajah dari dunia lain, organisasi jahat Shadow Nexus.
- Shadow Nexus bertujuan melenyapkan Maginal dengan menyerang manusia dan memicu emosi negatif.
- Satu-satunya cara untuk mengalahkan monster Shadow Nexus adalah dengan kekuatan sihir Gadis Penyihir.
"...Kira-kira begitulah."
"Intinya, setelah selesai menelan kristal ini, aku bakal jadi Gadis Penyihir. Terus aku tinggal menghajar monster-monster itu pakai kekuatanku, kan?"
"Iya. Tapi, menjadi Gadis Penyihir itu nggak semudah bisa langsung bertarung hanya dengan menyerap Magipura lho. Para Gadis Penyihir di luar sana juga banyak belajar dari senior mereka sebelum akhirnya terjun ke medan pertempuran."
Ibuku yang merupakan Gadis Penyihir generasi pertama sepertinya tidak pernah diajari oleh siapa pun... tapi setelah itu, dialah yang membimbing gadis-gadis muda yang baru bangkit menjadi Gadis Penyihir.
"Hei, ngomong-ngomong. Aku belum dengar cerita jelasnya ten..."
Saat Sanjou hendak membuka mulut untuk menanyakan sesuatu padaku yang sedang tenggelam dalam pikiran.
Tiba-tiba, tubuhnya mulai memancarkan cahaya biru pucat yang temaram.
"A, apaan ini?"
"Sepertinya proses adaptasinya sudah dimulai. Tapi tetap saja, biasanya butuh waktu lebih dari setengah hari untuk mencapai tahap ini... aku belum pernah melihat proses yang secepat ini."
"Kamu ngomong seolah-olah udah pernah lihat aja. Memangnya, kamu pernah bikin orang lain jadi Gadis Penyihir sebelumnya?"
Sambil menatap lurus ke mataku, Sanjou melontarkan pertanyaan yang menyelidik.
Kebohongan tidak akan mempan padanya. Kalau begitu, aku harus berterus terang.
"Ya. Dulu waktu SMP, ada satu anak yang kujadikan Gadis Penyihir."
Yang terbayang di benakku adalah... sosok Gadis Penyihir yang berdiri di tengah kobaran api ungu, sambil tersenyum penuh kegilaan.
"Berarti dia seniorku, ya. Apa anak itu masih aktif sampai sekarang?"
"Tidak. Dia mengalami sedikit masalah, dan sekarang sedang dalam masa penyembuhan."
Mata yang kehilangan cahayanya. Tangan yang berlumuran darah merah.
Dia mengulurkan tangannya itu ke pipiku, menarikku mendekat... dan membisikkan kata-kata itu di telingaku.
"Aku ini ya, pasti pasti pastiiii... cuma kamu lho, hanya kamu seorang..."
"...Ugh!"
Gawat. Kesadaranku sempat melayang sesaat.
Aku menggelengkan kepalaku seakan mencoba mengumpulkan kesadaranku kembali, lalu merangkai kata-kata dengan bibir yang gemetar.
"Waktu itu aku masih bocah, sombong, dan bodoh. Tanpa persiapan dan perawatan yang memadai, bahkan tanpa tekad yang kuat... aku dengan ceroboh telah mengubah takdir seorang gadis."
"...Hmm? Sepertinya ada alasan di baliknya... tapi ceritakan saja nanti lain kali."
Mungkin karena mengkhawatirkanku yang tersiksa oleh ingatan masa lalu, Sanjou mengatakan hal itu dengan suara yang lembut.
Meskipun merasa sangat bersalah, untuk saat ini aku memutuskan untuk menerima kebaikannya itu.
"Maaf kalau aku membuatmu khawatir. Tapi, aku akan mendukungmu dengan seluruh kemampuanku. Karena itu..."
"Ah iya iya, kamu tunjukin aja pakai tindakan nanti. Daripada itu, gimana caranya ngatasin badanku yang kelap-kelip ini? Kalau begini terus aku nggak bisa pulang ke rumah lho?"
"Soal itu tenang saja. Sebentar lagi adaptasinya selesai, dan cahayanya bakal mereda. Setelah itu, kamu sudah bisa berubah menjadi Gadis Penyihir."
"Berubah ya. Maksudnya jadi pakai kostum yang penuh rumbai-rumbai kayak Cherry Diamond dan yang lainnya itu?"
"Sepertinya kostum itu pada dasarnya mencerminkan latar belakang dan sifat orang tersebut, lho. Kudengar ada anak yang memelihara kelinci dan akhirnya punya telinga kelinci, ada juga Gadis Penyihir yang mengagumi bajak laut dan penampilannya jadi mirip kapten kapal."
"Hee, begitu ya. Dulu aku pernah belajar upacara minum teh dan tarian tradisional Jepang dari nenekku... kira-kira hal itu bakal tercermin juga nggak, ya."
Sanjou menempelkan tangannya di dagu, tampak sedang membayangkan wujudnya saat berubah nanti.
Kalau soal itu, kita tidak akan tahu sebelum dia benar-benar mencoba berubah.
"Oh ya. Kalau kamu sih kurasa nggak perlu dikhawatirkan... tapi seandainya kamu menyalahgunakan kekuatan Gadis Penyihir sembarangan, Cherry Diamond dan banyak Gadis Penyihir lainnya bakal datang buat ngasih hukuman lho."
"Hukuman... iya juga sih, ancaman kayak gitu memang perlu. Akan kuingat baik-baik."
Sambil kami berbincang, cahaya yang memancar dari Sanjou perlahan mereda... dan ia kembali ke keadaan semula.
Waktu adaptasinya juga luar biasa cepat. Benar-benar hebat, luar biasa Sanjou!
"Terus? Dengan ini akhirnya aku juga udah bisa melakukan yang namanya berubah itu, kan?"
Sanjou berdiri dari kursinya, mengepalkan tinjunya dan menunjukkan ekspresi gembira.
Kebangkitan kekuatan tak dikenal di dalam diri sendiri, wajar saja kalau kebanyakan orang bakal merasa excited.
"Rasakan kekuatan Maginal yang memenuhi seluruh tubuhmu. Aktifkan energi itu sambil mengucapkan mantra perubahan... yah, sebenarnya ini cuma semacam seruan aja sih, tapi kamu tinggal teriakkan kata 'Bloom'."
"Bloom, ya. Kalau gitu, aku coba, ya."
"Tunggu dulu. Sebelum berubah, masih ada penjelasan..."
"Hyaaaaaaa!"
Mengabaikan penjelasanku, Sanjou mulai mengerahkan tenaga.
Kemudian seluruh tubuhnya memancarkan cahaya biru pucat, dan Maginal di sekitarnya perlahan terserap ke dalam dirinya.
"Bloom!"
Lalu, bersamaan dengan mengucapkan mantra yang menjadi pemicu perubahan wujud itu... ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
Seketika itu juga, pakaian yang membalut tubuhnya berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang bagai kabut.
Tubuhnya yang ramping kini tak terbalut sehelai benang pun, kembali ke wujud aslinya saat dilahirkan.
"Eh? Tunggu...?"
Kemudian sedikit demi sedikit, cahaya di sekitarnya mulai melekat di tubuhnya.
Kepala, dada, lengan, pinggang, bokong, dari paha hingga ujung kaki... cahaya yang berkumpul itu perlahan berubah wujud menjadi seperti kain yang berkibar, dan menutupi seluruh tubuh Sanjou.
"Ooh...! Tak kusangka bakal langsung berhasil di percobaan pertama."
Rambut biru panjangnya kini dihiasi dengan warna bagian dalam (inner color) biru muda yang sangat transparan, dan diikat ponytail dengan pita putih. Dan yang paling penting, kostum Gadis Penyihirnya memiliki nuansa khas Jepang.
Pakaian miko dengan warna dasar biru, hiasan pita berbentuk bunga di dada, dan sarung tangan di tangan kanannya yang merupakan tangan dominan.
Bagian roknya menyerupai hakama pendek di atas lutut, dan bagian kakinya entah kenapa dipasangkan dengan sepatu bot sepaha (knee-high boots).
Meskipun terlihat seperti perpaduan antara gaya Jepang dan Barat, desain rumbai-rumbai yang disematkan di sana-sini menonjolkan kelucuannya, seolah menyimpan sisi manis di balik penampilannya yang keren.
"Bagus juga, Sanjou. Sangat cocok untukmu."
Tanpa sadar aku bertepuk tangan karena kagum. Namun, Sanjou yang bersangkutan terus menatapku tajam dengan wajah yang merah padam.
"...Kau lihat?"
"Lihat? Ya, aku sudah menyaksikan wujud transformasimu yang anggun dengan saksama kok."
"Bukan, bukan itu maksudku! Waktu berubah tadi, itu... bajuku, sempat menghilang, kan!"
Sanjou berteriak dengan raut wajah galak seolah-olah hendak menerkamku sekarang juga. Oops, gawat. Bisa-bisanya aku, saking terpesonanya dengan transformasi Sanjou, aku sampai melupakan hal yang sangat penting.
"Toh kalau berbohong juga bakal ketahuan, jadi aku akan jujur saja. Aku nggak sengaja melihatmu telanjang, maaf."
"Tuh kan! Kenapa kau nggak ngasih tahu hal sepenting ini dari awal sih!"
Sambil memerah wajahnya sampai-sampai seolah mau meledak, Sanjou mencengkeram kerah bajuku. Cepat sekali. Seperti yang diharapkan dari seorang Gadis Penyihir... gerakannya bahkan hampir tak bisa kuikuti dengan mata.
"Tenanglah dulu. Padahal aku sudah berniat menjelaskannya sebelumnya lho."
Tapi Sanjou tidak mendengarkan penjelasanku dan mulai berubah wujud sesukanya. Gara-gara itu, aku jadi tidak bisa menyampaikan fakta bahwa tubuh telanjangnya akan terekspos saat proses transformasi.
"Ugh, guh...!"
"Kalau sudah kapok, tolong jangan bertindak gegabah mendahuluiku lagi. Kali ini mungkin cuma berakhir dengan aku yang kau hajar, tapi tergantung situasinya, tindakanmu itu bisa membahayakan dirimu sendiri."
Setelah menasihatinya, aku memejamkan mataku perlahan.
"Apa pun itu, maafkan aku karena sudah melihatmu telanjang. Kau boleh menghajarku sampai kau merasa puas."
Sekalipun itu kecelakaan, dosa karena telah melihat tubuh telanjang seorang gadis remaja itu sangatlah berat. Jadi setidaknya, aku berpikir ini bisa meredakan kekesalan Sanjou.
"...Nggak usah, lupakan saja. Yang barusan itu memang salahku, kalau aku sampai memukulmu gara-gara itu, aku bakal jadi orang yang jahat."
Sanjou melepaskan cengkeramannya dariku, lalu menarik napas dalam-dalam berulang kali seolah mencoba menata kembali emosinya yang sedang kacau.
"Daripada itu, apa nggak ada cara buat ngatasin yang tadi? Apa setiap kali berubah wujud, aku bakal selalu kayak gitu?"
"Kalau kemampuan berubahnya sudah meningkat, waktu yang dibutuhkan untuk bertransformasi menjadi Gadis Penyihir hanya akan memakan waktu sepersekian detik. Dalam kasus ibuku... Cherry Diamond, gerakannya bahkan tidak bisa ditangkap oleh kamera berkecepatan tinggi sekalipun."
"Hee, berarti tergantung latihan, ya... tunggu, eh? Ibumu itu, Cherry Diamond?"
"Apa aku belum memberitahumu?"
"Nggak, aku emang udah nebak kalau kau pasti punya hubungan dengan Cherry Diamond... tapi nggak nyangka kalau dia itu ibumu. Maksudku, dengan penampilannya yang semuda itu, dia sudah punya anak...?"
Wajar saja jika Sanjou sangat terkejut. Bahkan tanpa pandangan bias antara orang tua dan anak sekalipun, ibu memang terlihat sangat awet muda sampai-sampai tidak terlihat seperti ibu dari anak SMA sepertiku.
"Mengesampingkan soal ibuku, kamu nggak perlu khawatir soal proses perubahannya. Lagipula, kemungkinan untuk berubah wujud di depan orang lain itu nol persen, jadi latihan untuk berubah wujud juga nggak diperlukan."
"Eh? Apa maksudnya?"
"Kalau kau berubah wujud di depan orang lain, kemungkinan identitas aslimu terbongkar akan meningkat. Karena itu, saat bergegas ke lokasi kejadian, kau harus berubah wujud di tempat yang sepi, lalu menggunakan sihir teleportasi untuk berpindah ke dekat lokasi. Setelah mengalahkan monster, pindah lagi ke tempat sepi yang jauh dari lokasi kejadian. Di situlah kau baru boleh melepas wujud transformasimu."
Kalau tidak melakukan hal ini, para wartawan dan penonton kerumunan bisa memotretmu dan menyebarkannya ke publik. Dalam sekejap, alamat rumahmu akan terlacak dan identitas aslimu akan diketahui semua orang.
"Begitu rupanya. Karena dia menerapkan hal itu dengan ketat, makanya identitas asli Cherry Diamond nggak pernah ketahuan ya."
"Benar. Lagipula aku yakin nggak perlu khawatir soal ini, tapi kalau sampai kau berani membocorkan identitas ibuku sebagai Cherry Diamond kepada orang lain... kau tahu sendiri akibatnya, kan?"
"Hyiih...! I, iya, aku ngerti kok...! Jangan pasang wajah seram begitu, dong."
"Ups, maaf. Kalau begitu selanjutnya, mari kita bahas tentang bintang utamanya Gadis Penyihir... yaitu sihir."
Untuk mencairkan suasana, aku berbicara kepada Sanjou dengan nada yang ceria. Tampaknya itu berhasil, karena Sanjou membalas tatapanku walau masih dengan raut wajah sedikit ketakutan.
"Pertama, sihir yang bisa digunakan oleh Gadis Penyihir secara garis besar terbagi menjadi dua jenis. Yang pertama adalah Sihir Umum, yang bisa digunakan oleh semua Gadis Penyihir. Dan yang kedua adalah Sihir Bawaan, yang diberikan secara khusus kepada setiap Gadis Penyihir secara berbeda-beda."
"Sihir Umum dan Sihir Bawaan..."
"Sihir Umum itu selain sihir teleportasi yang kusebutkan tadi, ada juga sihir untuk terbang di langit, memperbaiki benda yang rusak, serta memampatkan Maginal dan menembakkannya sebagai sinar... intinya ini adalah sihir-sihir dasar."
Dengan menguasai sihir-sihir ini, barulah seseorang bisa dibilang setengah jalan menjadi Gadis Penyihir yang sesungguhnya. Sebaliknya, bisa dibilang mustahil untuk turun ke medan pertempuran tanpa mempelajari semua ini terlebih dahulu.
"Dan yang paling penting adalah Sihir Bawaan. Singkatnya, ini adalah ciri khas dari sang Gadis Penyihir... atau bisa juga dibilang sebagai bakat yang hanya diberikan secara eksklusif kepada Gadis Penyihir tersebut."
"Oh iya, aku pernah lihat di TV atau semacamnya, kalau di antara Gadis Penyihir ada yang bisa mengeluarkan api atau es."
"Nah, tepat seperti itu. Sihir yang mengubah Maginal menjadi api, atau mengubahnya menjadi es. Seperti itulah, setiap Gadis Penyihir akan bisa menggunakan satu sihir khusus mereka masing-masing."
"Hmm? Kalau gitu, dalam kasusku sihirnya apa?"
"Sayangnya, soal itu masih belum diketahui. Kadang sihir itu bangkit di tengah pertarungan, kadang juga tiba-tiba terpikirkan saat sedang latihan. Untuk saat ini, prioritas utamanya adalah mempelajari Sihir Umum dulu."
Sebagai tambahan, dalam kasus ibu, kudengar dia sudah bisa menguasai Sihir Bawaan-nya sejak pertama kali berubah wujud. Ngomong-ngomong, Sihir Bawaan ibuku itu... kemampuannya terlalu brutal sampai-sampai rasanya sungkan untuk mengucapkannya di sini.
"Yah, nggak masalah. Dengan bakatku, aku pasti bakal cepat menghafalnya."
Kalau orangnya sendiri sudah bersemangat, sesi latihan ke depannya pasti akan berjalan lancar. Meski kutahu tidak boleh terburu-buru, aku tidak bisa menahan rasa antusiasmeku saat berhadapan dengan bakat sehebat ini.
"Ngomong-ngomong Ichinose, ada satu hal yang mau kupastikan."
"Hm? Ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Bukan, kostum ini... roknya sangat mini, kan? Apa ini nggak bisa diubah?"
Sanjou sedikit merona pipinya sambil membolak-balik ujung hakama yang ukurannya cukup riskan itu. Bagi siapa pun yang melihatnya, itu adalah pemandangan yang bisa membuat orang berteriak kegirangan.
"Sulit sih. Kostum Gadis Penyihir tidak bisa diubah. Satu-satunya cara menanggulanginya adalah dengan memakai spats (celana pendek ketat) setelah berubah... tapi katanya kalau melakukan itu, efisiensi penyerapan Maginal akan menurun dan kekuatan tempur akan jatuh drastis."
Itu terjadi sebelum aku lahir, gara-gara ibu memakai spats seperti itu. Dia nyaris kalah dari monster dan hampir kehilangan nyawanya.
"Ugh... Ya sudahlah. Soal itu aku bakal tahan... Tapi, wajahku yang sekarang ini nggak terlalu beda jauh dari wajah asliku, kan? Apa ini aman?"
Memang benar, meskipun warna dan gaya rambut Sanjou berubah saat ia berubah menjadi Gadis Penyihir, wajahnya sendiri tidak berubah sama sekali. Kalau dilihat oleh orang yang mengenalnya, tidak aneh jika mereka langsung mengenalinya.
"Di dalam Sihir Umum, ada sihir yang disebut Gangguan Persepsi. Kalau kau memakai sihir itu, wajahmu saat menjadi Gadis Penyihir tidak akan bisa dihubungkan dengan wajah aslimu oleh orang lain."
"Eh, aku kurang paham... maksudnya gimana?"
"Intinya, meskipun orang melihatmu dalam wujud Gadis Penyihir, mereka tidak akan pernah membayangkan sosok Sanjou Nagi. Sebaliknya, saat melihat Sanjou Nagi, mereka tidak akan mengaitkannya dengan sosok wujud Gadis Penyihirmu. Tapi, sihir itu tidak mempan pada orang yang sudah tahu identitas aslimu sejak awal sepertiku."
"Kesimpulannya, selama aku nggak membocorkan identitasku secara bodoh, atau meninggalkan jejak, identitasku pasti akan aman, kan."
"Tepat sekali. Karena itu, pertama-tama aku bakal menanamkan dasar-dasar Sihir Umum ke dalam kepalamu sampai tuntas."
Dengan ini, sesi penjelasan untuk Sanjou Nagi, gadis dengan bakat terbaik, telah selesai. Transformasi pertamanya juga berjalan lancar, dan mulai sekarang akan dimulai masa latihan yang berkedok orientasi ini.
"...Tapi, untuk hari ini cukup sampai di sini dulu. Latihan Sihir Umum akan kita mulai besok."
"Lho? Aku sih nggak masalah kalau kita mau lanjut sekarang juga lho?"
"Jangan terburu-buru. Sekarang kamu mungkin lagi heboh-hebohnya karena sedang dalam wujud transformasi, tapi kalau kamu lepas wujudnya nanti, rasa lelahnya bakal parah lho."
"Dilepas... ngomong-ngomong, gimana caranya biar aku bisa balik ke wujud semula?"
"Kata ibuku, kamu cuma perlu meniatkannya dengan kuat di dalam hati untuk kembali ke wujud asalmu."
"Heeen? Kalau gitu aku coba ya."
"Hei, tunggu!"
Sanjou yang baru saja mendengar penjelasanku, tanpa pikir panjang dan tanpa jeda langsung melepaskan transformasinya. Seketika tubuhnya kembali diselimuti cahaya, dan... kostum Gadis Penyihirnya berubah menjadi cahaya lalu menghilang tak bersisa.
"Ah, aaaaaaah!"
Tepat di depan mataku, selama beberapa detik ia benar-benar telanjang bulat... dan melontarkan jeritan yang seolah bisa merobek sutra. Cahaya itu segera membentuk kembali pakaian olahraganya yang semula, tapi kali ini pun aku kembali melihat tubuh telanjangnya.
"Anu, itu... Maaf."
"Uuuuuuuugh! Kau! Tanggung jawab sana!"
Sanjou berjongkok di tempatnya dengan mata berkaca-kaca menahan malu.
"...Akan kupertimbangkan."
Aku pun terus membujuk dan menenangkannya mati-matian agar ia bisa mendapatkan kembali keceriaannya.
□
"Hmph, kau pikir kau bisa membujukku cuma dengan es krim tiga lapis?"
Di perjalanan pulang dari sekolah. Setelah melakukan kesalahan dengan membiarkan anak laki-laki teman sekelasnya melihatnya telanjang sampai dua kali, Sanjou menjadi sangat down. Demi menghiburnya... tindakan yang kuambil adalah mentraktirnya es krim.
Kalau lawannya Haruna, taktik ini punya persentase kemenangan seratus persen. Namun kupikir taktik ini tidak akan mempan pada Sanjou...
"Ini saran dariku lho. Lain kali, belikan aku yang lima lapis. Mengerti?"
Dengan senyum lebar yang sangat ceria, Sanjou menjilat-jilat es krimnya. Dilihat dari wajahnya, sudah pasti es krim... ya, aku yakin es krim bisa menyelesaikan segalanya.
"Kalau lagi capek, makanan manis itu enak banget, kan?"
"Iya, aku sama sekali nggak nyangka kalau rasa lelahnya bakal separah ini."
Setelah melepaskan wujud transformasinya, Sanjou benar-benar kelelahan sampai-sampai ia tidak bisa keluar dari ruang kelas kosong selama beberapa saat (mengesampingkan soal damage mentalnya). Hal ini kembali menyadarkanku bahwa Gadis Penyihir adalah eksistensi mulia yang mengorbankan tubuh mereka sendiri.
"Kalau cuma es krim, setiap hari pun bakal kutraktir. Kalau kau punya permintaan lain, jangan sungkan-sungkan bilang saja."
"Permintaan, ya. Kalau ditanya begitu, aku jadi bingung nih."
Setelah menghabiskan es krim lapis pertama dan mulai memakan lapis kedua, Sanjou melirikku dengan ujung matanya. Kemudian, lidah merahnya menjilat habis sisa choco-chip di bibirnya... dan ia tersenyum.
"Kalau begitu, lain kali..."
"Aaaaaaaaah! Shou-kun lagi kencan es krim perselingkuhan sama Nagi-chaaaan!"
Tiba-tiba, jeritan dari suara yang sudah sangat kukenal bergema di seluruh jalanan. Di tengah-tengah tatapan orang-orang yang berlalu-lalang, aku menoleh ke belakang sambil merasa pasrah.
"Haruna, lagi ngapain kamu?"
"Itu harusnya kata-kataku tahu! Curang curang! Curaaaang!"
Saat aku menoleh, terlihat sosok Haruna yang mengenakan jersey olahraga sekolah... dengan pemberat yang terpasang di kedua tangan dan kakinya, serta ikat kepala bertuliskan 『Pencapaian Mutlak (絶対成就)』 di dahinya.
Sepertinya dari tadi dia sedang latihan lari. Seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat, wajahnya memerah, dan napasnya pun tersengal-sengal.
"Selama aku latihan keras, kalian malah lagi mesra-mesraan yaa! Nggak kumaafkan!"
"Tenanglah. Kan aku udah bilang hari ini ada urusan yang 'itu'."
"Gununununu! Berarti, ini artinya! Semacam es krim hadiah gitu, ya?"
"Bisa dibilang hadiah atau lebih tepatnya... sebagai permintaan maaf karena dia sudah melihat hal yang memalukan dariku, mungkin?"
Sanjou tersenyum tipis (kusu), melontarkan kata-kata yang penuh makna. Namun, candaan jahil ala iblis kecil (koakuma) itu menusuk langsung ke dalam hati Haruna tanpa ampun.
"Uboek! Jangan-jangan selama aku nggak ada... hubungan kalian berdua udah sejauh itu...! Ah, ah, ah, ah, otakku... zat terlarang dari dalam otakku mengalir keluaaaaar...!"
Entah dia sedang menderita atau malah menikmatinya, Haruna mengeluarkan desahan seksi yang membuatku bingung harus merespons apa. Aku kurang paham, tapi mungkin memang begitulah fetish orientasinya.
"Kuuuuugh! Aku juga nggak mau kalah! Aku bakal latihan lebih keras lagi biar bisa ngejar Nagi-chan! Jadi tunggu aku ya, Shou-kun!"
"O-Oh. Semangat, ya."
"Yooosh! Lari sekencang-kencangnya menuju matahari terbenam ituuuuu!"
Kemudian, Haruna kembali berlari menjauh dengan kecepatan penuh sambil mengabaikan tatapan ilfeel dari orang-orang di sekitarnya. Dengan beban seberat itu, hebat juga dia masih bisa berlari secepat itu.
"Apa aku agak keterlaluan padanya, ya?"
"Haaah... Nggak, jangan dipikirkan. Orang itu memang pantas digituin."
Melihat punggungnya yang semakin lama semakin menjauh, aku menghela napas panjang. Sebenarnya, bagaimana caranya agar Haruna mau menyerah dari mimpinya menjadi Gadis Penyihir? Menemukan bakat terhebat yang bisa menjadi Gadis Penyihir terkuat lalu melatihnya... mungkin hal itu jauh lebih sulit daripada masalah ini, ya.
□
Apakah bakat itu adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir, atau sesuatu yang dibentuk dari usaha keras seseorang? Mungkin ada juga pendapat yang mengatakan bahwa 'mampu berusaha keras itu juga merupakan sebuah bakat'. Itu semua tergantung pandangan masing-masing orang, dan sejujurnya kita tidak bisa memutuskan mana yang benar. Hanya saja, khusus untuk kali ini... aku diperlihatkan pada hasil mutlak dari sebuah keberadaan yang disebut bakat bawaan.
"Haaah... Indahnya."
"Ya, pemandangan yang luar biasa."
Laut yang disinari cahaya senja dari matahari merah yang tenggelam di ufuk cakrawala. Cipratan ombak yang menerjang pasir putih bolak-balik menciptakan suara deburan yang merdu di telinga. Dan yang berada di tengah suasana romantis seperti ini adalah diriku dan teman sekelasku, Sanjou Nagi. Dari sudut pandang orang luar, situasi ini pasti terlihat seperti sepasang kekasih anak SMA yang sedang kencan di pantai. Tapi kenyataannya... ini bukanlah hal manis seperti kencan.
"Sudah lama aku nggak lihat laut Okinawa, dilihat berapa kali pun tetap terasa menakjubkan, ya."
Benar, tempat ini bukanlah Tokyo, tempat di mana kami tinggal... melainkan provinsi paling selatan di Jepang, yaitu Prefektur Okinawa. Terlebih lagi, ini adalah pulau tak berpenghuni di Okinawa yang sama sekali tidak dilalui oleh kapal. Di sanalah kami, sepasang muda-mudi SMA tanpa perlengkapan apa pun, berdiri santai sambil menikmati pemandangan.
"Padahal baru tiga hari berlalu sejak kita memulai latihan sihir teleportasi. Terlebih lagi, dalam keadaan belum berubah wujud..."
Seseorang yang pernah bangkit menjadi Gadis Penyihir, sampai batas tertentu akan bisa menggunakan sihir meskipun mereka tidak dalam wujud transformasi. Namun, untuk bisa mencapai titik itu, latihan dan pengalaman yang sangat keras seharusnya menjadi syarat mutlak... tapi nyatanya.
"Ah, segini sih gampang banget. Sejujurnya, malah terasa kurang memuaskan."
Sanjou menatapku dan tertawa bangga memamerkan gigi putihnya. Senyumnya yang dipenuhi rasa percaya diri itu terlihat sangat bisa diandalkan, namun di saat yang bersamaan, juga terasa agak menakutkan ke depannya.
"Untuk Gadis Penyihir biasa saja, untuk bisa berteleportasi sejauh beberapa meter aja butuh waktu latihan selama seminggu penuh, lho."
"Jangan samakan aku dengan Gadis Penyihir kroco macam itu dong. Aku ini Gadis Penyihir dengan bakat terbaik yang sudah kau akui sendiri lho."
Dia menggembungkan pipinya sedikit, lalu mengaitkan tangan kirinya ke tangan kananku. Akan tetapi, ini sama sekali bukan kemesraan sepasang kekasih atau semacamnya.
"Nah, kita berangkat."
Begitu ia mengatakan hal itu, tubuh kami berdua mulai melayang ringan ke udara.
"Tunggu, Sanjou. Setidaknya kau harus berubah wujud dulu, kalau sampai ada yang lihat..."
"Nggak ada siapa-siapa di pulau terpencil begini kok. Lagipula, kalau kita terbang sampai ke atas awan pasti nggak bakal ketahuan, kan."
Dengan menggunakan sihir melayang, Sanjou membawaku terbang tinggi ke angkasa. Kecepatannya semakin bertambah, dan pulau tak berpenghuni tempat kami berdiri tadi dengan cepat mengecil hingga tampak seukuran biji kacang.
"Lihat nih, gimana. Aku bahkan bisa ngelakuin hal semacam ini tahu!"
Berputar-putar, seolah memberikan fanservice, Sanjou membuat manuver lintasan bagaikan roller coaster. Sejujurnya aku hanya merasa pusing dan ingin menolaknya, tapi menegurnya di saat seperti ini rasanya kurang pantas.
"Sepertinya kamu udah benar-benar menguasai Sihir Umum, ya."
"Fufu, hebat kan? Sekarang aku bisa berteleportasi dari ujung ke ujung Jepang, bahkan sampai terbang ke luar angkasa sekalipun!"
"Kalau yang itu mending nggak usah deh. Terbang di sekitar sini aja napasku udah sesak."
"Udaranya tipis, terus dingin banget... ternyata terbang tinggi di angkasa itu nggak terlalu menyenangkan, ya."
Sanjou mengerem mendadak di udara, lalu sambil menggenggam tanganku erat-erat... ia menjentikkan jarinya yang bebas. Detik berikutnya, sebuah pusaran biru pucat muncul tepat di hadapan kami di udara. Kemudian Sanjou mengintip ke dalam pusaran itu dengan perlahan.
"...Oke, udah kupastikan nggak ada siapa-siapa di ruang kelas kosongnya. Kalau gitu, kita pulang."
"Ya, tolong ya."
Melewati portal teleportasi yang diciptakan dengan sihir, kami melakukan perpindahan ruang dari langit Okinawa langsung kembali ke sekolah di Tokyo. Aturan untuk selalu memastikan kondisi sebelum berteleportasi agar tidak terlihat oleh orang lain juga ditaatinya dengan baik.
"Yap, kita sudah sampai. Instruktur, gimana penilaian sihirku barusan?"
"Nggak ada pergeseran sama sekali dari titik koordinat yang ditentukan. Nggak ada guncangan sama sekali pas berteleportasi, dan efek samping kayak sakit badan juga nggak ada. Dilihat dari sisi mana pun, semuanya terlalu sempurna sampai aku nggak bisa berkata-kata lagi."
Kali ini kami memang melakukan ujian teleportasi dan terbang, tapi kemarin ia juga sudah lulus ujian penguatan fisik menggunakan Maginal, dan ujian menembakkan sinar dari Maginal yang dimampatkan. Meski belum bisa dibilang Gadis Penyihir seutuhnya, tapi dia sudah memiliki kekuatan tempur yang sangat memadai.
"Berarti, sebentar lagi waktunya pertarungan yang sesungguhnya, kan."
"Sebenarnya aku ingin kamu terus melanjutkan latihan dasar ini sampai kamu bisa menguasai Sihir Bawaan-mu, tapi..."
Kudengar, sebagian besar Gadis Penyihir membangkitkan kekuatan terpendam mereka dan mendapatkan Sihir Bawaan saat berada di tengah-tengah pertarungan. Kalau begitu, memberinya sedikit pengalaman tempur nyata sepertinya bukan ide yang buruk.
"...Baiklah. Meskipun dengan berbagai syarat, mari kita coba pengalaman bertarung di medan sungguhan."
"Asyik! Dengan ini, akhirnya tiba saatnya aku debut sebagai Gadis Penyihir!"
Sanjou tersenyum riang dan mengepalkan tangannya ke udara. Dia tampak sangat senang karena akhirnya mendapat kesempatan untuk memamerkan seluruh kekuatannya dengan bebas.
"Tapi Sanjou, kalau mau turun ke medan tempur, kita harus menentukan nama Gadis Penyihirmu dulu, kan."
Sudah pasti dia tidak bisa beraksi sebagai Gadis Penyihir menggunakan nama aslinya. Sama seperti ibuku yang menamai dirinya Cherry Diamond, aku juga harus memberikan nama yang indah untuk Sanjou.
"Kalau soal nama sih, aku udah menentukannya sendiri."
Tak kusangka dia sudah memikirkan namanya sendiri, antusiasmenya ini benar-benar luar biasa.
"Begitu ya, kalau begitu beri tahu aku nama Gadis Penyihirmu itu."
"Fufu, boleh. Dengarkan baik-baik. Namaku adalah...!"
Sanjou menempelkan kedua tangannya di pinggang, membusungkan dadanya dan berseru dengan lantang.
"Gadis Penyihir, Plum Sapphire!"
"Plum Sapphire... ya?"
Plum (buah prem) dan Sapphire (safir). Kombinasi antara buah berwarna biru dan batu permata berwarna biru... sangat mudah diingat, dan bunyinya juga bagus.
"Bagus sekali, Sanjou. Jauh lebih keren daripada 'Blue Squash Hawaii' yang sempat kupikirkan lho."
"Blue Squash apanya..."
"Gadis Penyihir Plum Sapphire... Ya, kalau itu kau, kau pasti bisa memancarkan kilauan yang melampaui Diamond."
Aku meletakkan tanganku di bahu Sanjou—yang entah kenapa menatapku dengan raut pasrah—dan mengirimkan tatapan penuh ekspektasi kepadanya. Sanjou kemudian memalingkan wajahnya ke bawah, lalu mulai berkomat-kamit menggumamkan sesuatu.
"Kenapa sih kau selalu bisa mengucapkan kata-kata norak kayak gitu dengan gampangnya...?"
Wajahnya berubah merah padam, kebalikan dari biru Plum dan Sapphire, sambil melirik-lirik ke arahku. Ini... dia lagi tersipu malu, atau malah sedang marah? Rasanya sih seperti yang pertama, tapi kalau aku sampai salah menebak dan menyinggungnya, situasinya pasti bakal tambah runyam...
"Yah, sudahlah. Toh aku juga udah paham kalau kau ini emang orang yang kayak gitu... jadi, ya gitulah."
"Gitu...?"
"Pokoknya! Mulai sekarang namaku Gadis Penyihir Plum Sapphire! Aku akan melampaui ibumu, dan menjadi Gadis Penyihir yang terkuat!"
Sanjou meletakkan kedua tangannya di pinggang, lalu mendeklarasikannya dengan ekspresi percaya diri seperti biasanya.
"Gadis Penyihir terkuat... ya."
Organisasi jahat Shadow Nexus itu sangat tangguh, dan monster-monster mereka bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Namun, entah kenapa jika bersamanya, aku merasa tidak ada yang perlu ditakutkan.
"Kau benar-benar bisa diandalkan. Aku jadi semakin menantikan pertarungan debutmu."
"Monster yang muncul berikutnya bener-bener sial ya. Soalnya dia bakal jadi batu loncatan buatku supaya bisa melambung tinggi di dunia ini."
Rasa percaya diri yang tak tergoyahkan, didukung oleh bakat dan kemampuan yang nyata.
"Aku akan mewarnai semua topik di media massa hanya dengan nama Plum Sapphire."
"Fuh, itu juga yang kuharapkan..."
Bisa. Kami pasti... bisa mengakhiri legenda Gadis Penyihir Cherry Diamond. Dan menyelamatkan dunia ini sebagai pahlawan terkuat era baru. Saling berjabat tangan dengan erat, kami saling menatap mata satu sama lain...
"Ayo kita lakukan, Plum Sapphire."
Dan kami pun terus menantikan tibanya saat-saat itu.
□
Waktu senja kala matahari mulai tenggelam, dan dunia perlahan diwarnai oleh kegelapan malam. Ini adalah waktu di mana orang-orang mulai pulang ke rumah, dan setiap rumah tangga mulai menyiapkan makan malam, atau bahkan sudah ada yang mulai bersantap. Biasanya di jam-jam seperti ini, aku sudah selesai menyiapkan masakan rumahan untuk ibu, tapi hari ini berbeda. Di depan TV layar datar di ruang tamu, aku menatap tajam menyaksikan acara siaran berita.
Sebab hari ini adalah... hari debut Gadis Penyihir Plum Sapphire.
"Berita selanjutnya. Terkait insiden serangan monster yang terjadi hari ini di Distrik Ota, Tokyo... Gadis Penyihir yang bergegas ke sana adalah seorang pendatang baru."
Berita Gadis Penyihir rutinan yang tayang setiap hari. Tentu saja, topik terhangatnya adalah tentang Gadis Penyihir yang baru saja muncul.
"Gadis Penyihir yang mengenakan kostum biru dan menamai dirinya Plum Sapphire. Ia muncul di hadapan monster Insec-hacker yang sedang mengamuk di kota, dan langsung menantangnya bertarung. Plum Sapphire memancarkan cahaya misterius dari kedua tangannya, dan perlahan-lahan mulai memojokkan monsternya."
Menampilkan debut yang spektakuler, menunjukkan eksistensi diri di media, dan memperluas jangkauan aktivitas di masa depan adalah alur dasar dari seorang Gadis Penyihir. Sudah pasti, Plum Sapphire yang merupakan talenta terbaik sepanjang masa juga tidak akan luput dari ekspektasi tersebut. Ya, seharusnya begitu.
"...Namun, dominasinya hanya sampai di situ. Ketika Insec-hacker melepaskan kawanan serangga dalam jumlah besar dari sekujur tubuhnya, keadaan langsung berbalik 180 derajat. Entah apakah ia merasa ketakutan pada kawanan serangga itu atau merasa panik. Plum Sapphire yang jatuh dalam keadaan panik berteriak histeris sambil menembakkan sinar ke segala arah secara membabi buta... dan merusak sekitar 10 bangunan di sekitarnya."
Yang terlihat di layar TV adalah rekaman video Plum Sapphire dengan wajah penuh air mata dan ingus yang berantakan, mengayun-ayunkan kedua tangannya dengan panik (bun-bun). Lalu, sinar yang ditembakkan dari kedua tangannya itu menghancurkan gedung-gedung dan rumah-rumah di sekitarnya.
"Karena proses evakuasi penduduk sekitar sudah selesai dilakukan, dilaporkan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Namun, entah karena pikirannya sedang sangat kalut... Plum Sapphire justru mengabaikan si monster, dan mulai memfokuskan kekuatan sihirnya untuk memperbaiki bangunan-bangunan yang hancur."
Dalam video tersebut, terlihat Sanjou yang baru saja selesai menembakkan sinar langsung menunduk-nunduk minta maaf berkali-kali sambil mengaktifkan sihir perbaikannya. Kemungkinan besar karena rasa bersalah, pikirannya langsung jadi kosong (blank), dan dia hanya bertindak berdasarkan refleks untuk memperbaiki apa yang telah ia hancurkan.
"Monster Insec-hacker tidak melewatkan celah tersebut, dan langsung melancarkan serangan pada Plum Sapphire. Plum Sapphire yang menerima telak serangan monster itu, terlempar dan menancap kepala duluan ke semak-semak, dan langsung tak sadarkan diri."
Terhempas oleh satu serangan dari Insec-hacker, ia langsung nyungsep (zubot) menyelam ke dalam semak-semak. Meskipun disensor dengan piksel karena tayang di TV, separuh badannya bagian bawah yang mencuat dari semak-semak itu roknya tersingkap hingga celana dalamnya terekspos jelas. Benar-benar sebuah kekalahan telak yang membuat orang tanpa sadar ingin memalingkan muka.
"Di saat semua orang mengira situasi ini benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi, sang penyelamat pun muncul! Gadis Penyihir kita tercinta Cherry Diamond, telah bergegas tiba untuk menyelamatkan sang Gadis Penyihir pendatang baru pembuat masalah ini!"
Cherry Diamond yang melesat terbang dari langit, sepertinya langsung memahami situasinya dalam sekejap. Dengan gerakannya yang super cepat ia langsung menyelinap ke belakang punggung si monster, merengkuh leher monster itu dengan kedua tangannya... lalu dengan suara Gokki (patahan tulang), monster itu langsung tewas seketika. Stasiun TV mungkin juga merasa adegan barusan agak kurang pantas, karena videonya kini disensor piksel dengan lebih tebal dari sebelumnya.
"Setelah mengalahkan monster, Cherry Diamond langsung menyelamatkan Plum Sapphire. Sambil menggendong Plum Sapphire yang tak sadarkan diri di bawah lengannya, ia melambaikan tangannya ke arah kamera TV sambil tersenyum, lalu terbang jauh ke ujung langit..."
Sampai di sana, aku menekan remote dan... mematikan TV-nya. Saat aku melihat ulang kejadian itu melalui tayangan berita TV, dadaku terasa nyeri seakan-akan diremas kuat. Ada segunung hal yang berkecamuk di dalam benakku. Namun, untuk saat ini, ada hal yang jauh lebih penting untuk kulakukan daripada mengurus perasaanku sendiri.
"...Sanjou, maafkan aku."
Aku mengalihkan pandanganku dari layar TV yang sudah gelap, lalu memanggil Sanjou yang sedang duduk di sofa di sebelahku.
"............"
Selama menonton berita, ia sama sekali tidak membuka mulutnya, dan hanya menatap kosong ke depan dengan mata yang hampa dan mulut sedikit terbuka... Setelah ibu menyelamatkannya, ibu langsung membawanya ke rumah kami. Saat dia akhirnya sadar kembali, entah karena shock atau apa, ia kehilangan ingatan tentang pertarungannya hari ini. Aku sudah berusaha keras mencegahnya, tapi karena ia memaksa ingin tahu apa yang telah terjadi padanya... aku akhirnya memutuskan untuk memperlihatkan berita TV itu kepadanya.
Biar bagaimana pun aku mencoba menyembunyikannya, cepat atau lambat ia pasti akan mengetahui kebenarannya. Kalau begitu, lebih baik aku menunjukkan kenyataannya sekarang dan mendampinginya.
"Begitu ya... aku, kalah ya."
Dengan bibir yang bergetar tipis, Sanjou bergumam sangat pelan.
"Dengan cara semenyedihkan itu... Hah, ahaha... bodoh banget."
Perlahan-lahan ia mulai menyadari kekalahannya, dan matanya mulai berkaca-kaca dengan cepat.
"...Kekalahan ini bukan salahmu. Andai saja aku tahu dari awal kalau kamu fobia serangga, aku pasti bisa memikirkan strategi untuk mengatasinya. Andai saja kita mendiskusikan apa yang harus dilakukan jika kau tidak sengaja menghancurkan bangunan saat bertarung, kau pasti tidak akan sepanik itu."
Ini jelas-jelas karena kurangnya persiapan. Dan bisa dibilang, ini adalah hasil pasti yang lahir akibat kesombongan dan kelalaianku. Saking gembiranya melihat bakat Sanjou yang luar biasa mekar dengan sempurna, aku menjadi terlena... dan kehilangan akal sehatku. Akibatnya, aku malah membuatnya harus menanggung pengalaman pahit seperti ini.
"Padahal aku... kupikir, aku bakal bisa bertarung dengan jauh lebih keren lagi."
"...Ya."
"Tapi nyatanya malah begini... dengan sosok yang begitu memalukan... ugh, padahal aku udah janji, hiks, mau balas ekspektasimu... tapi malah gagal total...! Harusnya nggak jadi begini...!"
Tetes demi tetes, air mata yang mengalir di pipi Sanjou perlahan-lahan membasahi pahanya.
"Jangan menangis, Sanjou. Kamu sama sekali nggak salah. Selain itu, kamu sudah bertarung dengan sangat hebat kok."
Aku mengambil sekotak tisu dari atas meja, dan menyodorkannya ke hadapannya.
"Kamu sungguh luar biasa. Dibandingkan denganmu, aku ini... aku ini...!"
Sebelum aku menyadarinya, pandanganku juga mulai mengabur... dan mataku mulai berkaca-kaca. Betapa menyedihkannya diriku ini. Padahal saat ini yang harus kulakukan adalah menyemangati Sanjou, orang yang paling terluka di antara kami. Kalau aku ikut-ikutan menangis, lalu apa gunanya...
"Dasar bodoh... kenapa kamu juga ikutan nangis sih?"
"Maaf, aku benar-benar minta maaf..."
Karena tak kuasa menahan emosi kami berdua, kami menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Mengusap-usap kelopak mata kami berulang-ulang, hanya bisa merasakan dada kami terus diremas kuat oleh rasa sesal yang meluap-luap. Menciptakan Gadis Penyihir yang akan melampaui ibu. Impianku itu sedikit demi sedikit mulai retak... dan tepat di saat impian itu hampir hancur berkeping-keping.
"Ara ara, kalau kalian menangis terus cowok tampan dan cewek cantiknya bakal luntur lho?"
Sensasi lembut yang menenangkan tiba-tiba menyentuh pundakku... lalu seketika, jarak antaraku dan Sanjou menyusut tajam. Saat aku mendongak dengan kaget, kulihat ibu memeluk kami berdua dengan kedua tangannya dari belakang.
"Nfufufu. Siapa sih yang berani mengusili anak laki-lakiku yang manis, serta junior kesayanganku ini, hmm? Biar Mama yang hajar semuanya sampai habis."
Sambil memancarkan senyuman yang menyilaukan—yang hanya dengan melihatnya saja sudah cukup untuk membuat siapa pun ikut tersenyum—ibu mengeratkan pelukannya, merengkuh kami berdua dengan semakin kuat.
"Uryaryarya~! Gimana rasanya~?"
Dada besar ibu menghantam punggungku dan Sanjou dengan efek boin (memantul). Tersentuh oleh sesuatu yang paling lembut, paling hangat, dan paling menenangkan di dunia ini... membuat kami seketika melupakan tangisan kami, dan hanya pasrah bersandar pada pelukan ibu.
"Anak baik, anak baik~♡ Hari ini kalian sudah bekerja keras, ya."
"...Cherry Diamond, san."
"Hush, nggak boleh gitu dong. Sekarang aku ini kan bukan Gadis Penyihir, panggil aja aku Izumi, ya?"
Ibu melepaskan sebelah tangannya sejenak, lalu membelai lembut kepala Sanjou dengan tangan itu.
"Izumi, san... anu, untuk hari ini... aku benar-benar, minta maaf."
"Nggak apa-apa kok. Gadis Penyihir itu harus saling tolong-menolong. Kamu nggak usah memikirkan kejadian hari ini lagi."
"Tapi...!"
Sanjou, yang tidak bisa memaafkan kegagalannya sendiri, mendesak ibu dengan ekspresi yang sangat terpukul.
"Hei? Jangan-jangan, kamu masih meremehkan apa itu Gadis Penyihir?"
Akan tetapi, ibu langsung memotong ucapannya dengan tegas (pishari). Tekanan dan aura intimidasi yang luar biasa dari ucapan ibu itu, tanpa sadar membuatku dan Sanjou membeku.
"Kenapa kamu malah minta maaf? Seorang Gadis Penyihir pendatang baru yang masih belum berpengalaman, ditolong oleh Gadis Penyihir seniornya. Kalau kamu berterima kasih aku masih bisa mengerti, tapi kamu sama sekali tidak perlu repot-repot minta maaf."
Tentu saja perkataan ibu itu seratus persen benar. Bagi Sanjou, hal itu mungkin sangat sulit diterima, tapi wajar saja kalau pendatang baru merepotkan seniornya. Senior yang baik mana pun tidak akan pernah menuntut permintaan maaf atas kesalahan mendasar seperti itu.
"Alasan kenapa kamu meminta maaf itu, karena di dalam lubuk hatimu yang terdalam kamu masih menyimpan kesombongan yang mengatakan bahwa kamu bisa melakukannya dengan lebih baik, kemampuan aslimu bukan sekadar seperti itu. Benar, kan?"
"Ugh...!"
"Fufu, sikap pantang menyerahmu itu manis sekali kok. Tapi kalau kamu memang mau membuktikan kekuatanmu, kamu nggak perlu minta maaf, tunjukkan saja di pertempuran-pertempuran berikutnya."
Setelah berkata begitu, ibu mencubit pelan pipi Sanjou (muni) dengan kedua tangannya.
"Fufwea?"
"Aku selalu mendengarnya dari Shou-chan setiap hari, lho? Katanya dia telah menemukan bakat yang bisa melampauiku. Dan katanya kamu pasti akan bisa menjadi Gadis Penyihir terkuat di dunia."
"Hei, Ibu!"
"Ara, itu kan kenyataan? Belakangan ini, yang kamu bicarakan setiap hari kan cuma soal Sanjou-san melulu. Gara-gara itu Mama sampai cemburu, lho?"
Memang benar sih, tapi kan nggak perlu diucapin di sini juga! Baru saja aku mau memprotesnya, kulihat Sanjou—yang pipinya sedang dicubit—menatapku tajam, dan aku pun menelan kembali kata-kata yang sudah sampai di ujung tenggorokanku.
"Beneran...?"
"...Ya, itu benar. Aku cuma kelewat seneng aja..."
Saat aku menjawabnya dengan jujur, cahaya di mata Sanjou perlahan-lahan mulai kembali. Itu benar-benar berbeda dengan mata putus asa dan murung yang menatap kosong pada segala hal beberapa saat yang lalu.
"Ichinose, ngomong gitu tentangku..."
Melihat Sanjou yang mulai memancarkan ekspresi penuh semangat, ibu terus melanjutkan kata-katanya seolah memberikan wejangan.
"Sanjou-san. Dulu, awalnya aku juga cuma bisa bikin kesalahan terus lho. Sering ngerepotin banyak orang, lalu ditolong lagi. Sambil menangis dan merasa frustrasi, begitulah caraku untuk bisa bertahan sampai sejauh ini."
"Izumi-san juga, begitu ya."
"Tentu saja. Jadi, kamu nggak boleh menyerah hanya karena gagal sekali begini lho ya?"
Ibu menempelkan telunjuk tangan kanannya di ujung hidung Sanjou, lalu memberikan kedipan sebelah mata (wink). Sanjou langsung tersipu malu seakan-akan jantungnya baru saja tertembus oleh gerakannya yang terlampau manis dan memesona itu.
"...Iya. Aku bakal, terus berusaha!"
"Ufufu, jawaban yang bagus. Shou-chan sebagai partner-nya juga, nggak boleh kalah semangatnya lho?"
"Tentu saja. Aku nggak bakal mengulangi kesalahan fatal seperti hari ini untuk kedua kalinya. Aku akan terus menyokong Sanjou."
"Bagus. Kalau begitu, evaluasi hari ini selesai! Sekarang ayo kita makan malam sama-sama!"
Ibu memang benar-benar luar biasa. Hati kami yang tadinya sangat suram dan tertutup, kini berhasil diselamatkan dalam sekejap mata.
"Sanjou-san ikut makan juga, ya. Hari ini lho, ibu masak omurice♡"
"Ah, tidak usah. Nanti malah merepotkan..."
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa kok♡ Sebenarnya sih, aku udah pengen ngajak kamu makan bareng dari dulu lho? Tapi Shou-chan nggak pernah sekali pun ngajak kamu main ke rumah sih."
"...Kalau kuajak, nanti Ibu malah ngomong yang aneh-aneh, kan?"
"Mana mungkin aku begitu~ Aku kan bisa ngasih saran sebagai Gadis Penyihir seniormu~ Dan kalau mau, aku juga bisa kasih kamu latihan khusus lho?"
"Latihan khusus dari Cherry Diamond!? Kalau gitu...!"
Mendapatkan bimbingan langsung dari Gadis Penyihir terkuat yang masih aktif. Tentu saja sekilas tawaran itu terdengar sangat menggiurkan. Akan tetapi, jika itu memang cara yang efisien... pasti sudah kulakukan sejak dulu.
"Sebaiknya jangan, Sanjou. Latihan khusus ibuku itu... benar-benar seperti di neraka."
"O-Ohohohoho. Astaga, Shou-chan ini. Mana mungkin Mama tega melakukan hal sekejam itu?"
Ibu berusaha menutupinya dengan tawa kering, tapi di masa lalu, konon jumlah Gadis Penyihir yang kabur dari pelatihan ibu mencapai lebih dari puluhan orang. Karena itulah aku melatih Sanjou dengan cara menyampaikan pengetahuan yang kudapatkan dari ibu. Kenyataannya Sanjou berhasil menguasai sihir dengan cara itu, dan kupikir itu tidak ada masalah sama sekali.
"Emangnya seseram itu?"
"...Begitulah. Setidaknya, sebaiknya kamu mengumpulkan lebih banyak pengalaman tempur dulu."
"Aduh, kamu ini. Padahal Haruna-chan aja lagi nyoba ngerjain menu latihan dariku lho... dan dia sama sekali nggak ngeluh atau merengek kok?"
Haruna mengerjakan menu latihan khusus ibu? Anak itu, apa dia masih belum menyerah untuk jadi Gadis Penyihir...
"Sanjou-san juga, bilang aja kapan pun kamu siap ya. Nanti bakal kulatih sampai tuntas♡"
"H-Haa... Nanti kapan-kapan, mohon bantuannya ya."
Mungkin karena peringatanku cukup mempan, Sanjou dengan sigap langsung menunda rencana latihan tersebut. Keputusan yang sangat cerdas. Kalau tidak, itu benar-benar bisa membahayakan nyawanya.
"Kalau gitu, aku siapin makan malamnya dulu ya~♡"
"Ah, tidak usah repot-repot...!"
Sanjou mencoba mengulurkan tangannya ke punggung ibu yang sedang berlari menuju dapur dengan cepat, tapi tangannya hanya membelah udara kosong. Gerakan lincah itu... apa ibu jadi lebih cepat daripada saat dia muda dulu?
"...Mending kamu nurut aja deh, Sanjou. Mumpung ditawarin, lebih baik kamu ikut makan malam."
"Iya, ya. Hari ini aku juga udah capek ngerjain banyak hal... jadi nggak dosa kan ya kalau aku numpang makan di sini."
Sanjou menganggukkan kepalanya seraya mengeluarkan ponselnya dan mulai mengutak-atik layarnya. Mungkin dia sedang mengabari keluarganya agar tidak perlu menyisakan makan malam untuknya.
"Buat balas usaha kerasmu itu, traktiran makan malam begini mah belum cukup, aku harus nyiapin imbalan lain nih."
"Imbalan? Oh iya ngomong-ngomong, kau bilang kau bakal mengabulkan permintaanku apa pun itu, kan?"
"Benar. Tapi selama itu masih dalam kemampuanku, ya."
"Hmm... Kalau gitu, enaknya apa ya."
Sanjou menempelkan jarinya di ujung dagu, dan memiringkan kepalanya sedikit sambil terus bergumam memikirkan sesuatu. Kemudian, seakan teringat sesuatu. Tiba-tiba, ia menyilangkan jari-jari kedua tangannya di depan wajahnya... lalu mulai menggerak-gerakkan tubuhnya dengan gelisah dan angkat bicara.
"A-Anu. Libur besok... aku mau pergi. Aku, pengen belanja sebentar."
"Oh, jadi kamu butuh uang buat belanja?"
"Bu-Bukan gitu! Bukan itu maksudku! Kalau cewek cantik sepertiku pergi belanja sendirian, pasti banyak cowok iseng yang bakal ngegodain dan itu bikin risi... selain itu kalau ada orang yang bisa bantu bawain barang belanjaanku, aku pasti bakal sangat terbantu..."
"Ah, aku mengerti. Kalau begitu, aku akan menyewa bodyguard dari pihak swasta untuk..."
"KAU NGGAK NGERTI SAMA SEKALI! Aaah pokoknya, cepat sadar dong, dasar cowok bodoh!"
Sanjou melangkah maju (zunzun) mendekatiku, lalu menyudutkanku ke dinding dengan kekuatannya itu. Sama seperti yang ia lakukan sebelumnya, ia langsung membenturkan (don) kedua tangannya di dinding mengapitku... menyegel segala rute pelarianku. Kemudian, dengan mata berputar-putar dan wajah yang merah padam total... ia berteriak.
"Kau harus kencan denganku!"
"O-Oh...? Oke, aku paham."
"Nnngh... Baguslah kalau ngerti."
Melihat anggukanku, Sanjou menurunkan kedua tangannya dan melepaskanku dengan lega. Ada apa sih si Sanjou ini... oh, ternyata dia mau ditemani belanja olehku toh. Kalau cuma itu sih gampang...
"Wah wah wah, indahnya masa muda ya♡ Sepertinya ada firasat saingan baru bakal muncul buat Haruna-chan nih~♡"
Pandanganku bertemu dengan ibu yang menyembulkan kepalanya dari arah dapur, sambil tersenyum menyeringai (nimanima).
"Ah, bukan! Anda salah paham! Aku sama sekali nggak bermaksud, yang begitu!"
"Ohohohohohohohohoho!"
Sanjou yang gelagapan kelabakan, dan ibu yang tidak bisa berhenti menertawakannya. Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa omurice yang disajikan di depanku dan Sanjou setelah itu... masing-masing digambar dengan gambar hati raksasa menggunakan saus tomat.
□
Biasanya, makan malam di keluarga Ichinose hanya dihabiskan berdua oleh ibu dan putranya. Namun hari ini, karena ada tamu yang berkunjung... suara ceria dan tawa riang yang tidak seperti biasanya, terdengar pelan hingga keluar rumah.
"...Syukurlah. Nagi-chan kelihatannya udah sehat kembali."
Di sebuah kamar yang lampunya belum dinyalakan. Seorang gadis yang hanya disinari oleh cahaya bulan sedang berdiri di balkon lantai dua, menatap rumah tetangganya di bawah.
"Meskipun hari ini dia gagal total... tapi wujudnya tadi itu, sangat imut ya."
Teringat kembali wujud Gadis Penyihir Plum Sapphire yang dilihatnya di TV, gadis itu pun tersenyum kecil. Namun, cengkeraman tangannya di batang besi pagar balkon itu... menjadi semakin kuat berderak.
"Aku juga, pasti bisa menjadi seperti itu kok. Menjadi Gadis Penyihir terkuat..."
Gadis itu mendongak menatap langit, dan memanjatkan doa pada bintang-bintang yang berkelap-kelip di angkasa yang gelap gulita.
"Kabulkanlah doaku, agar aku bisa menjadi Gadis Penyihir yang akan mewujudkan impian Shou-chan."
Sebuah doa yang terus-menerus ia panjatkan tanpa pernah terlewatkan setiap hari sejak ia masih kecil. Akan tetapi, dalam suara gadis itu hari ini, tidak ada lagi nada ceria dan kepolosan yang biasanya selalu ia pancarkan.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar