Featured Image

My Mom Strongest Magical Girl V1 C3

Metoya Februari 13, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Maukah Kau Menjadi Mahou Shoujo?


Waktu pagi yang tenang sebelum berangkat ke sekolah.

Bercengkerama akrab dengan ibu, sarapan bersama ibu, dan melihat senyuman ibu.

Itu adalah momen yang sangat luar biasa, namun... terkadang ada gangguan yang tidak terduga.

"Izumi-san! Aku mau nambah lagi!"

"Ara ara, Haruna-chan ini makannya banyak sekali, ya. Ufufu, imutnya♡"

Setelah selesai berganti pakaian seragam dan turun ke ruang tamu di lantai satu, apa yang kulihat adalah sosok Haruna yang sedang sarapan sambil mengobrol akrab dengan ibu.

"Ibu, selamat pagi. Dan kamu juga, Haruna."

"Selamat pagi. Ibu akan segera menyiapkan bagian Shou-chan juga, jadi tunggu sebentar, ya."

"Pagi, Shou-kun! Aku udah sarapan duluan nih~"

"...Kamu, ngapain datang ke sini?"

Saat aku bertanya sambil duduk di kursi di sebelah Haruna, Haruna menunjukkan senyuman yang penuh percaya diri.

"Sudah pasti dong! Aku datang buat minta saran agar kecocokan Gadis Penyihirku meningkat!"

"Masih bahas hal itu rupanya..."

"Untuk saat ini, aku udah mencatat siklus hidup dan kesukaan Izumi-san, lho! Seperti yoghurt apa yang dia makan di pagi hari, dan peregangan apa yang dia lakukan sebelum tidur! Menu latihan ototnya juga udah kucatat dengan sempurna!"

"Ibu... jangan ngasih tahu hal-hal yang nggak perlu dong."

"Ufufu, ini kan demi Haruna-chan yang manis. Sedikit saja tidak apa-apa kan... yaa~?"

Setelah menyodorkan mangkuk nasi tambahan, ibu memeluk Haruna dengan erat.

Aku mengerti perasaan ibu yang memihak pada Haruna, mengingat ia telah mengawasi pertumbuhannya sejak Haruna masih bayi.

"Ha, hawaa... Izumi-san, aku, kan udah... anak SMA... jadi yang, yang kayak gini tuh..."

"Nfufufu. Kamu tidak perlu malu, lho? Cup cup cup♡ Ututu tu♡"

"Mamaa... ogya, ogya...! Babuu!"

Dengan membenamkan wajahnya di dada besar ibu, Haruna mengeluarkan suara manja seolah-olah ia kembali menjadi bayi.

Melihat pemandangan itu, urat tebal pasti sudah bermunculan di pelipisku saat ini.

"Haruna-chan benar-benar anak yang manja, ya. Mau jadi anak ibu sekalian?"

"Iya! Ibu mertua Izumi!"

"Hentikan, Haruna. Dia bukan ibumu. Dia ibuku."

"Fufun! Kalau aku menikah dengan Shou-kun, dia bakal jadi ibu mertuaku tahu!"

"Itu kalau menikah, ya."

Entah sudah berapa kali kami mengulangi interaksi seperti ini.

Sejak ia bisa mengingat sesuatu, Haruna selalu menempel padaku... dan tidak berusaha berteman dengan orang lain.

Akibatnya, apalagi pacar, dia bahkan tidak punya satu pun teman.

Sebagai orang yang secara teknis adalah teman masa kecilnya, aku hanya bisa merasa khawatir.

"Haruna-chan jadi anak mantu ibu, ya. Itu ide yang bagus juga."

"Jangan bilang hal bodoh di pagi hari begini dong. Habis sarapan aku bakal langsung berangkat."

"Shou-chan ini nggak jujur banget sih. Padahal sebenarnya kamu nggak keberatan, kan~"

Sambil menutupi mulutnya dengan tangan, ibu menatapku dan Haruna secara bergantian dengan senyum menggoda.

Terserah saja kalau ibu mau heboh dengan spekulasinya sendiri, tapi aku sama sekali tidak berniat seperti itu.

Percintaan itu, hanya akan menjadi penghalang bagi tujuanku.

"Shou-kun, aku...! Pasti bakal jadi istri... eh bukan! Jadi Gadis Penyihir, tahu!"

"Iya, iya. Berusahalah semampumu."

Aku menikmati sarapan yang disiapkan ibu dengan saksama, lalu langsung berangkat ke sekolah.

Gara-gara Haruna, aku tidak bisa melakukan pelukan perpisahan sebelum berangkat... sungguh sesuatu yang sangat kusesalkan.

"Aah, selamat pagi murid-murid. Hari ini juga silakan terpesona oleh guru cantik yang menawan ini~"

Waktu homeroom pagi di ruang kelas Kelas 2-A SMA Kuran.

Guru wali kelas kami yang masuk ke kelas dan menyapa dengan nada malas itu.

Namanya adalah Yaneda Kumiko. Usianya 33 tahun, berzodiak Pisces, dan bergolongan darah B. Saat ini lajang dan sedang mencari pacar.

Seperti yang terlihat dari sapaannya tadi, ia memiliki kepribadian yang santai dan tidak serius dalam bekerja.

"Kumi-chii Sensei, hari ini pakai jersey merah lagi nih. Asli ngakak, buang-buang pesona cewek banget."

"Hari gini rambut dikepang dua sama pakai kacamata bulat, yang bener aja~?"

"Iya bener. Padahal bahan dasarnya udah bagus, lho~"

Gadis-gadis gyaru di kelasku ribut mengomentari Yaneda-sensei.

Namun beliau mengernyitkan dahi, menghela napas panjang, dan menggelengkan kepalanya.

"Kalian ini, nggak ngerti ya, dasar bocah-bocah gyaru bau kencur era Reiwa. Bagi orang kelahiran Heisei, gaya guru perempuan yang kayak gini nih yang disebut keadilan sejati."

Standar yang sangat membingungkan, tapi selama dia sendiri puas, kurasa tidak masalah.

Kenyataannya, seperti yang dikatakan Kotani dan kawan-kawan, penampilannya memang akan bersinar jika dipoles.

Ah, ngomong-ngomong nilai kecocokan Gadis Penyihirnya sama dengan usianya, yaitu 33, jadi dia tidak memenuhi syarat.

"Ngomong-ngomong, lupakan soal saya. Lebih baik kalian bergembira. Hari ini kelas kita kedatangan murid pindahan yang cantik jelita lho~"

Saat guru menyampaikan hal itu, suasana kelas yang tadinya malas-malasan seketika menjadi riuh.

Banyak anak laki-laki yang bersemangat mendengar kata 'gadis cantik', sementara anak perempuan ada yang menyayangkan kenapa bukan murid laki-laki, dan ada juga yang khawatir dengan perubahan peringkat kecantikan di kelas. Tanggapan mereka sangat beragam.

"Murid pindahan masuk kelas kita, itu artinya... Shou-kun, kamu udah bertindak, kan?"

"Jangan pakai cara bicara yang aneh begitu dong. Kepala sekolah dan kepala angkatan dengan senang hati setuju saat aku memintanya, kok."

"...Aku nggak bakal nanya kelemahan apa yang kamu pakai buat ngancam mereka deh."

Sementara aku dan Haruna berbisik-bisik, keributan di kelas secara bertahap mulai mereda.

Pada saat itu, Yaneda-sensei memanggil seseorang ke arah lorong.

"Nah, ekspektasinya udah saya naikin lho~ Cepat masuk, murid pindahan."

"...Baik. Permisi."

Dengan suara indah yang renyah dan merdu bagaikan lonceng, murid pindahan itu memasuki kelas.

Rambut biru panjangnya yang sehalus sutra berkibar, dan sosoknya yang berjalan dengan postur tubuh tegap itu... membuat seluruh anggota kelas yang sudah berekspektasi tinggi tanpa sadar menahan napas mereka.

"Salam kenal, semuanya. Nama saya Sanjou Nagi."

Sikap tajam yang ia tunjukkan saat kami bertemu di atap kemarin entah menghilang ke mana.

Sambil memancarkan senyum yang menyegarkan, Sanjou membungkukkan badan dengan sopan.

Karena sosoknya yang menawan itu, ruangan yang tadinya hening kembali diliputi oleh kehebohan.

"Uwaah... Seriusan nih. Cantik banget!"

"Lho? Itu kan seragam sekolah khusus putri keluarga kaya itu! Jangan-jangan dia anak keluarga kaya?"

"Iya iya iyaaa! Apa kamu udah punya pacar~?"

Suara keras bersahut-sahutan dari segala penjuru.

Kelas benar-benar dalam keadaan sangat gembira, namun Yaneda-sensei menepuk papan tulis dengan keras.

"Jangan heboh begitu, dasar bocah-bocah tengik! Hal-hal kayak gitu lakuin pas jam istirahat aja!"

"...Uh."

Semua murid di kelas, termasuk aku, sudah terbiasa dengan gaya bercanda guru kami ini. Tapi sepertinya Sanjou yang berasal dari sekolah khusus putri belum memiliki toleransi terhadap hal tersebut, ia tampak melebarkan matanya karena terkejut.

"Sanjou pindah sekolah karena urusan pekerjaan orang tuanya. Karena dia pasti kurang paham soal sekolah umum seperti ini, untuk sementara waktu saya akan menunjuk seorang pendamping untuknya."

Mendengar pernyataan guru itu, seluruh murid laki-laki di kelas kecuali aku mengangkat tangan kanan mereka secara serentak.

Akan tetapi, guru itu mengabaikan daya tarik murid-murid laki-laki itu, dan mengarahkan pandangannya padaku.

"Ichinose, tugas penting ini saya serahkan padamu, ya."

"Yah, karena saya adalah ketua kelas. Saya akan dengan senang hati menerimanya."

Di tengah suara kekecewaan dan jeritan murid-murid laki-laki, aku menerima peran yang sangat wajar ini.

"Sensei, tapi kalau cuma saya sendiri yang cowok pasti bakal repot mengurus berbagai hal... apa boleh kalau Wakil Ketua Momono juga ikut?"

"Terserah kamu~ Selama saya nggak kerepotan, itu sudah cukup."

Setelah mengucapkan hal itu, Yaneda-sensei menoleh kembali pada Sanjou dan meletakkan tangannya di bahu gadis itu.

"Intinya, kalau mau minta bantuan jangan ke saya, tapi ke mereka berdua di sana itu. Mengerti?"

"H-Hah...?"

"Yosh, kalau begitu pekerjaan selesai! Hari ini semuanya saya anggap hadir lho ya~"

Bahkan tanpa melakukan absensi, Yaneda-sensei keluar dari kelas dengan membawa buku absensi di tangannya.

Ditinggalkan sendirian seperti itu, Sanjou masih tampak kebingungan.

"Untuk sementara, silakan duduk di kursi kosong sebelah sini. Kebetulan tempat dudukku dan Momono juga dekat, jadi kalau ada apa-apa, jangan sungkan minta bantuan kami."

"...Iya, terima kasih."

Sanjou berjalan di dalam kelas dengan mengenakan seragam tipe blazer yang bukan seragam resmi sekolah kami.

Meskipun dihujani tatapan dari banyak orang, sikapnya yang tegas itu... benar-benar menimbulkan kesan yang baik.

Sikapnya yang anggun, dan aura kepercayaan diri yang mutlak pada dirinya.

Keduanya sangat cocok untuk seorang Gadis Penyihir. Rupanya dia memang kandidat yang luar biasa.

"Shou-kun, sampai sini sih semuanya berjalan lancar... tapi habis ini kamu mau ngapain?"

"Sudah pasti. Pertama-tama, aku akan mempersempit jarak dengannya."

Dari sinilah rencanaku akan dimulai.

Bagaimana cara membuat kandidat Gadis Penyihir ini memutuskan untuk menjadi Gadis Penyihir.

Itulah saatnya aku menunjukkan kemampuanku.

"Hei, hei, Sanjou-san! Boleh nanya nggak?"

"Woi, curang lu! Gua juga mau nanya sesuatu ke Sanjou-san nih!"

"Cowok-cowok minggir sana~ Yang pertama nanya cewek duluan dong~"

Entah harus kubilang 'sudah kuduga' atau 'sesuai ekspektasi'.

Waktu homeroom pagi telah usai, dan menjelang jam pelajaran pertama dimulai, sejumlah besar teman sekelas sudah mengerumuni meja Sanjou.

Rentetan pertanyaan untuk murid pindahan adalah hal yang sudah seperti acara tradisi, dan menurutku itu juga merupakan hal yang menyenangkan.

Tapi maaf saja, gadis itu adalah targetku. Penghalang yang tidak diperlukan akan segera kusingkirkan.

"Ah, eh... Aku..."

"Oke, stop. Kalau kalian langsung memberondongnya dengan pertanyaan sebanyak ini, Sanjou-san pasti bakal bingung, kan?"

Aku menyela di antara Sanjou yang tersenyum canggung dan teman-teman sekelas yang napasnya memburu.

Tentu saja teman-teman sekelas menatapku dengan tidak puas, tetapi aku tidak goyah.

"Dia baru saja pindah sekolah, jadi yang ingin banyak bertanya di sini pastinya Sanjou-san, kan? Kalau kalian ingin berteman dengannya, setidaknya tunjukkan sedikit perhatian kalian padanya."

Mendengar jawabanku itu, teman-teman sekelas tampak tersadar dan menatap Sanjou.

Kemudian aku pun menoleh ke arahnya, dan bertanya dengan suara yang selembut dan setenang mungkin.

"Maaf karena aku bertindak semaunya. Sisanya terserah pada keputusan Sanjou-san sendiri, tapi..."

Walaupun aku berkata demikian, melihat sikapnya kemarin, jelas sekali dia bukanlah tipe orang yang akan berinisiatif untuk memperdalam interaksi dengan teman sekelas.

Hampir bisa dipastikan, dia akan memakan umpan yang kulemparkan ini.

"...Begitulah. Semuanya, maafkan aku. Sekarang ini, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada Ichinose-kun. Aku harap kalian bisa menanyakan pertanyaan kalian nanti saat keadaan sudah sedikit lebih tenang."

"Iyaaaaa~"

Sesuai dugaanku, Sanjou menolak teman-teman sekelasnya. Kalau sudah dibilang langsung oleh orangnya, tidak ada yang bisa membantah... mereka pun kembali ke tempat duduk masing-masing dengan gontai.

"Hebat ya, Shou-kun. Kalau aku tadi, cuma bisa panik kebingungan doang."

Haruna datang menghampiri seolah-olah menunggu kerumunan bubar.

Melihatnya, Sanjou menatap wajahku dan Haruna bergantian, lalu dengan helaan napas yang panjang ia mengubah drastis sikapnya.

"Haaah... Aku nggak akan berterima kasih lho ya."

"Aku juga tidak mengharapkan hal semacam itu. Lebih dari itu, apa kau ada waktu sebentar?"

"Apa...?"

Sanjou menatapku dengan tajam, seolah mencari tahu maksudku, dengan suara yang ketus.

Sikapnya itu jelas berbeda dengan sikap sopan dan anggun yang ia tunjukkan pada teman-teman sekelas sebelumnya.

Tampaknya karena aku sudah melihat sifat aslinya kemarin, ia tidak berniat lagi berpura-pura baik di depanku.

"Sebentar lagi kelas Bahasa Jepang Modern jam pertama akan dimulai. Sebelum itu, aku ingin memastikan perbedaan kemajuan pelajaran antara sekolah kita dan Akademi Putri Celestia."

Sambil menjelaskan, aku menyodorkan beberapa buku catatanku kepada Sanjou.

"Ini buku catatan yang merangkum materi pelajaran di setiap mata pelajaran. Dilihat dari tingkat편차치 (deviasi/ranking) sekolah, seharusnya materi di sekolah kita nggak lebih maju dari sekolahmu, tapi setiap guru punya kebiasaan membuat soal ujian yang berbeda."

"...Hmph, aku nggak butuh."

"Eeh? Catatan Shou-kun itu rapi banget dan populer banget tahu!"

Saat Sanjou hendak mengembalikan buku catatanku, Haruna memberikan bantuan yang sangat pas.

"Kalau nggak butuh, aku boleh ambil nggak?"

Tanya Haruna, menempelkan kedua tangannya di tepi meja dan hanya memperlihatkan separuh wajahnya. Mendengar itu, Sanjou mungkin sedikit tertarik, ia mulai membolak-balik halaman salah satu buku catatan yang diterimanya dariku.

"...Hee?"

"Yah, kalau sudah tidak dipakai, kau bisa mengembalikannya ke laci mejaku kapan saja. Isi catatannya sudah kudigitalisasi dan kusimpan di komputer, jadi meskipun bentuk fisiknya tidak ada, aku tidak akan repot."

Karena aku sering meminjamkan catatan kepada Haruna dan geng gyaru, persiapan cadanganku sangatlah matang.

"Begitu. Baiklah, aku akan menerima niat baikmu ini."

"Fufu... dengan ini Nagi-chan juga bakal jadi orang yang nggak bisa hidup tanpa catatan Shou-kun, nih."

Haruna meletakkan tangannya di bahu Sanjou dengan wajah bangga.

Seperti yang diharapkan dari wanita yang telah meminjam catatanku ribuan kali sejak SD hingga sekarang.

"Ngomong-ngomong, Sanjou-san. Seragammu memang belum siap, tapi apakah buku-buku pelajaranmu sudah tiba?"

"...Ya. Kemarin, aku sudah meminjam semua buku yang tersisa di ruang guru."

"Begitu, ya. Kalau begitu, sepertinya tidak ada masalah dengan pelajaran. Sisanya mungkin pengenalan fasilitas sekolah, ya. Itu mungkin butuh waktu, apa tidak apa-apa kalau kita lakukan saat jam istirahat siang dan sepulang sekolah hari ini?"

"Tolong ya."

Sikapnya masih sama dinginnya dan tidak mengarahkan pandangannya padaku.

Tapi, aku merasa nada suaranya sedikit lebih hangat dari sebelumnya.

Dengan cara ini, pertama-tama secara bertahap, aku melonggarkan kewaspadaannya... lalu memperdalam hubungan dengannya.

Jangan terburu-buru, diriku.

Demi menjadikannya Gadis Penyihir terkuat, kegagalan sama sekali tidak bisa dimaafkan.

Kurikulum pelajaran pagi berjalan lancar, dan tibalah waktu istirahat siang yang ditunggu-tunggu oleh seluruh murid sekolah.

Di saat masing-masing murid meninggalkan kelas atau menggabungkan meja dengan teman dekat mereka.

Tampak beberapa hunter sedang mengincar Sanjou untuk diajak makan siang bersama, tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

"Sanjou-san bawa bekal? Atau mau beli makanan di sekolah?"

Saat aku menyapanya, Sanjou menatap wajahku... dan menggelengkan kepalanya perlahan.

"...Tidak. Aku tidak makan siang."

"Eeeh? Menurutku itu nggak baik buat kesehatan lho!"

Tiba-tiba Haruna menyelutuk, mengeluarkan sebuah kotak bekal bersusun yang sangat besar dari tasnya.

Mungkin karena kotak bekal itu terlalu besar, Sanjou terlihat kaget dan bertanya pada Haruna.

"Kotak bekal itu, kamu bakal memakannya sendirian?"

"Enggak, bukan kok! Ini itu, kotak bekal spesial penuh cinta yang aku buatkan khusus buat Shou-kun!"

Sambil berkata begitu, Haruna dengan sigap membuka bungkusan kotak bekal itu.

Di dalamnya tertata dengan rapi lauk-pauk yang terlihat sangat lezat.

Kemampuan memasak Haruna itu setara dengan profesional, bahkan aku pun mengakuinya. Ditambah lagi, melalui penelitian dan penyempurnaan selama bertahun-tahun, bumbunya juga disesuaikan dengan seleraku... benar-benar bisa dibilang kotak bekal yang dikhususkan untukku.

"Walaupun sudah kutolak berkali-kali, dia selalu membuatkannya. Jadi siang hari aku selalu makan bekal berdua dengan Haruna."

"Hmm...? Kalian berdua itu, pacaran ya?"

"Kelihatan kayak gitu ya? Duh gawat nih, kalau udah gini pilihannya tinggal tunangan aja, ya."

"Bukan, anak ini cuma teman masa kecilku..."

Sambil merasa pasrah dengan tingkah Haruna yang kegirangan, aku mencoba meluruskan kesalahpahaman Sanjou. Tapi sepertinya ia sudah tidak tertarik lagi dengan hubunganku dan Haruna, ia hanya menatap tajam ke arah kotak bekal raksasa di atas meja.

Jangan-jangan, dia tertarik dengan bekalnya?

"Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kita makan bersama? Porsi sebanyak ini, kadang aku dan Haruna kesulitan untuk menghabiskannya sendiri."

"Eh? Enggak... Aku tidak bermaksud begitu, kok."

"Jangan-jangan, kamu lagi diet? Padahal kamu udah langsing, menurutku kamu nggak per... aww!"

"Hentikan, dasar manusia tanpa empati."

Aku membungkam Haruna dengan pukulan di lehernya, lalu melontarkan kata-kata permintaan maaf kepada Sanjou.

"Maafkan si bodoh ini yang bicara seenaknya. Menurutku perihal makan itu adalah kebebasan masing-masing orang."

"............"

"Tapi, setidaknya aku ingin menunjukkan lokasi kantin dan koperasi demi kelancaranmu ke depannya. Kamu tidak perlu makan apa pun, jadi mau ikut pergi bersamaku?"

Di sini, aku mengeluarkan smile (senyum) menyegarkan yang sudah kulatih mati-matian selama ini.

Dulu saat merasa cemburu pada aktor populer dan idola yang dipuji oleh ibuku, aku meniru senyum yang mereka tujukan kepada penggemarnya... aku cukup percaya diri dengan keakuratan senyum ini.

"...Hmph, aku tidak butuh hal seperti itu."

Namun, usahaku yang maksimal itu dengan mudahnya ditolak mentah-mentah.

"Bohong...!? Senyuman mematikan Shou-kun ternyata nggak mempan...!"

Haruna menunjukkan ekspresi tercengang dan tubuhnya bergetar ketakutan (katakata).

Tidak, itu sudah pasti terlalu berlebihan.

"Kau, kalau nggak salah namanya Ichinose... kan?"

"Hm? Ya, aku Ichinose Shoutarou."

"...Bisa ikut aku sebentar. Kalau bisa, aku ingin bicara di tempat yang sepi."

Sanjou berdiri dari tempat duduknya dan berbisik dengan volume suara yang tidak akan terdengar oleh orang-orang di sekitar.

Ini perkembangan yang menggembirakan. Tak kusangka dia sendiri yang mengajakku.

"Tentu saja boleh. Terus, bagaimana dengan anak ini?"

"Shou-kun!? Menganggap teman masa kecilmu sebagai 'barang', bukankah itu terlalu kejam!?"

"Terserah. Mau dia ada atau enggak, itu bukan urusanku."

"Begitu, ya. Kalau begitu, untuk jaga-jaga aku akan membawanya."

Berjalan berduaan di dalam gedung sekolah bersama murid pindahan cantik yang sedang hangat diperbincangkan ini pasti akan menarik perhatian, mau tidak mau.

Kehadiran teman masa kecil ini, setidaknya masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

"Eh? Tunggu, bekalnya gimana?"

"Udahlah ayo ikut. Kalau nggak sempat, kita makan saja pas jam istirahat selanjutnya atau sepulang sekolah nanti."

"Uuugh... Padahal bekal hari ini adalah mahakaryaku..."

Dengan mata berkaca-kaca, Haruna membungkus kembali kotak bekal raksasanya dan memasukkannya ke dalam tas.

Memang sedikit kasihan, tapi saat ini memperpendek jarak dengan Sanjou adalah prioritas utamaku.

"Aku tahu tempat yang pas. Aku akan mengantarmu."

Setelah itu, aku membawa Sanjou dan Haruna, lalu kami bergerak menuju tempat yang tidak mencolok dari pandangan orang-orang.

"Nah, silakan masuk."

Waktu istirahat siang. Aku membawa Sanjou yang sepertinya ingin membicarakan sesuatu kepadaku ke sebuah ruangan di ujung lantai tiga.

"Tempat apa ini?"

"Ini ruang kelas kosong yang saat ini nggak dipakai. Ada beberapa alasan, makanya aku dititipkan kuncinya oleh guru."

Alasan apa pun itu, kuncinya kudapatkan dari kepala sekolah melalui ancaman, karena kupikir suatu saat nanti tempat ini pasti akan berguna di saat-saat seperti ini.

Tapi kurasa tidak perlu mengungkapkan fakta gelap itu padanya.

"Jarang ada murid yang lewat di sekitar sini, tapi untuk jaga-jaga, mau kukunci pintunya dari dalam?"

"Boleh saja. Toh ada cewek teman masa kecilmu itu juga, jadi nggak mungkin kan kalau kau mau menyerangku."

"Iya, tenang saja! Biarpun aku caper sama dia habis-habisan, Shou-kun ini tipe cowok herbivora yang nggak bakal nyentuh aku lho!"

"Kamu, nggak merasa sedih ngomong kayak gitu?"

"Sedih laaah! Tapi biarpun aku menangis, Shou-kun nggak bakal luluh tahu!"

Haruna merengek sambil meneteskan air mata yang mengalir deras (dabadaba). Benar-benar banyak sekali hal yang ingin kukomentari, tapi kalau aku meladeninya lebih jauh, pembicaraan ini pasti akan melenceng... jadi aku pun membuka topik utamanya.

"Jadi? Apa urusanmu denganku sampai sengaja memilih tempat sepi begini?"

"Hmph, jangan sok polos. Bukannya kau yang punya urusan denganku?"

Sanjou melipat kedua lengannya dan menatapku dengan tatapan tajam dan sinis.

Tampaknya dia sangat mewaspadaiku, ya.

"Aku nggak mengerti maksudmu. Sebagai ketua kelas, aku cuma mau..."

"Jangan meremehkanku. Dari dulu aku pintar membongkar kebohongan orang lho. Terutama kebohongan dari orang-orang yang pura-pura bersikap baik di luar padahal berniat mendekati atau memanfaatkanku, aku bisa melihat isi hati mereka."

"...Begitu, ya. Itu hebat sekali."

Dia adalah gadis kalangan atas yang sebelumnya bersekolah di Akademi Putri Celestia.

Hampir bisa dipastikan kalau keluarganya kaya raya... kemungkinan besar salah satu dari kedua orang tuanya adalah tokoh penting.

Politikus, selebriti, direktur perusahaan, dan lain-lain... Apa pun itu, kebanyakan orang yang mendekati Sanjou sang putri pasti hanya orang-orang yang ingin mencari keuntungan darinya.

"Dilihat dari luar, penampilanmu memang terlihat menyegarkan, wajahmu juga lumayanlah... dan kata-kata pedulimu itu nggak terasa ada motif tersembunyi. Tapi justru karena itulah aku merasa jijik dan ngeri."

"Ah, aku nggak kepikiran sampai ke situ. Berada di depan gadis secantik Sanjou tapi sama sekali tidak menunjukkan motif tersembunyi... memang terasa nggak wajar. Terima kasih atas pelajarannya."

Aku selalu berusaha keras untuk menghilangkan hal-hal yang membuat wanita tidak nyaman, karena kupikir perempuan benci dipandang dengan tatapan mesum... tapi ternyata hal itu justru menjadi bumerang bagiku, ya.

"Ca, cantik... Kamu, masa bilang begitu di saat seperti ini?"

Sanjou menatap wajahku dengan pipi yang sedikit memerah dan sudut bibirnya sedikit bergetar.

"Hm? Karena niatku sudah terbongkar, nggak perlu lagi disembunyikan, kan? Menurutku, kamu itu jelas salah satu wanita paling cantik di antara gadis seumuran kita yang kukenal."

"...Y-Ya sudahlah. Lagipula itu bukan inti pembicaraan kita."

"Shou-kun... kamu bisa mengatakan hal itu dengan santainya, itu lho yang bikin kamu kelihatan licik."

Haruna menatapku seolah-olah menyalahkanku dengan wajah pasrah.

Licik? Padahal aku sama sekali nggak berniat mencari muka atau pamer lho.

"...Sanjou, maafkan aku. Seperti yang kau bilang, aku mendekatimu karena ada suatu tujuan. Alasan aku membantumu di berbagai hal juga karena tujuan itu."

"Tujuan? Jangan-jangan kau, suruhan wanita itu...!"

"Wanita itu? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, tapi tujuanku hanya satu."

Sanjou menatapku dengan permusuhan yang terang-terangan.

Aku menatap lurus ke matanya dan melontarkan kata-kata... dengan penuh perasaan yang mendalam.

"Sanjou Nagi. Maukah kamu menjadi Gadis Penyihir?"

"............Hah? Gadis, Penyihir?"

"Ya. Kamu memiliki bakat untuk itu. Bakat untuk menjadi Gadis Penyihir terkuat di dunia!"

Sanjou melebarkan matanya dengan raut wajah kosong, dan mulutnya menganga lebar.

Namun, ekspresi itu dengan cepat berubah dari rasa terkejut menjadi kemarahan.

"Kau... meremehkanku ya? Gadis Penyihir apanya!"

"Gadis Penyihir ya Gadis Penyihir. Sang penyelamat agung yang mengorbankan dirinya demi menyelamatkan dunia. Kau sendiri pasti tahu kan seberapa besar peran Gadis Penyihir biasanya?"

"Tentu saja aku tahu. Tapi kenapa harus aku?"

"Tenang saja. Orang-orang yang terpilih menjadi Gadis Penyihir, pada awalnya juga berpikir begitu kok."

"Tunggu, tunggu, kepalaku pusing. Eh? Apaan sih ini, aku... sedang dipermainkan?"

Sanjou memegangi kepalanya dan terlihat jelas ia tidak bisa menyembunyikan kebingungannya.

Sebagai sesama penderita migrain, aku sangat bisa memahaminya, tapi aku tidak boleh mengendurkan seranganku sekarang.

"Aku ini sangat serius. Sebenarnya... salah satu anggota keluargaku adalah Gadis Penyihir yang masih aktif sampai sekarang. Dan aku ingin membebaskan orang itu dari misi pertarungannya."

"Demi keluarga... ya. Aku paham situasinya, tapi kenapa harus aku yang menggantikannya?"

"Alat yang kamu pungut di atap kemarin. Alat itu digunakan untuk mengukur bakat seseorang menjadi Gadis Penyihir."

"...Bakat?"

"Ya. Kalau kamu menjadi Gadis Penyihir, memusnahkan Shadow Nexus bukan hanya sekadar mimpi belaka. Prestasi hebat yang bahkan tak bisa dicapai oleh sang Pahlawan Agung Cherry Diamond itu, kamu pasti bisa mewujudkannya!"

Setelah aku memohon dengan sungguh-sungguh padanya, Sanjou menatap mataku dengan tenang.

Setelah beberapa detik saling bertatapan... ia pun menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"...Seperti yang kubilang tadi. Aku yakin dengan kemampuanku melihat sifat asli seseorang, dan aku sangat peka terhadap kebohongan. Jadi, walaupun aku sama sekali nggak mau mengakuinya, aku tahu kalau perkataanmu itu benar."

"Tepat sekali. Kamu punya bakat untuk menjadi Gadis Penyihir terkuat."

"Kita kesampingkan dulu soal itu... Ada hal yang ingin kukatakan padamu."

Sambil memegang keningnya, Sanjou merangkai kata-katanya dengan datar tanpa berniat menyembunyikan rasa kesalnya.

"Aku sama sekali nggak mau menjadi Gadis Penyihir. Dengan ini pembicaraan kita selesai."

"Tidak, ini belum selesai. Tolong ceritakan padaku alasan kenapa kau tidak mau menjadi Gadis Penyihir."

"Ada banyak alasan... pertama, bertarung sebagai Gadis Penyihir itu sangat berbahaya, kan?"

"Benar juga. Tapi, aku akan melakukan sebisa mungkin memberikan back-up untuk menghilangkan bahaya itu sebisa mungkin."

"Kedua, tidak ada keuntungannya bagiku menjadi Gadis Penyihir. Memangnya aku ini yayasan amal?"

"Aku tidak menyuruhmu bekerja atas dasar rasa keadilan kok. Jika kau bersedia menjadi Gadis Penyihir, aku berjanji akan mengabulkan permintaan atau keinginan apa pun dari dirimu, selama hal itu berada di dalam kemampuanku."

Mendengar jawabanku itu, Haruna yang baru saja selesai menghabiskan bekal raksasanya bangkit berdiri dari kursinya dengan suara berderit (gatan).

"Pe, permintaan? Berarti kencan gitu juga boleh dong? Cium-cium, atau kelanjutannya... melakukan hal-hal mesum apa pun juga? Benaran bakal dikabulkan?"

"Itu kalau Gadis Penyihir yang kuminta menginginkannya."

"...Fuhhe."

Dengan suara semburan (bushu), darah segar menyembur keluar dengan deras dari hidung Haruna.

Kemudian dia tersenyum aneh yang menjijikkan dan mengepalkan tangannya dengan pose kemenangan.

"Udah kuputuskan! Pokoknya aku mau jadi Gadis Penyihir!"

"Kita lagi nggak ngebahas soal kamu."

Sambil mengabaikan teman masa kecilku yang merepotkan itu, aku beralih menatap Sanjou yang sedang memasang wajah sulit.

"Begitulah. Sanjou, kita kesampingkan dulu soal kencan... tapi aku akan menyiapkan imbalannya. Entah itu uang atau apa pun, bisakah kau memberitahuku apa yang kau inginkan?"

"...Imbalan? Apa yang bisa dilakukan oleh murid SMA sepertimu?"

"Itu..."

"Orang sepertimu nggak akan mungkin bisa memberikan apa yang kuinginkan."

Dengan sikapnya yang sangat tidak bersahabat, Sanjou meluapkan permusuhannya.

"Menjijikkan. Gadis Penyihir apanya, jangan bicara padaku lagi."

Setelah mengucapkan kata-kata itu secara sepihak, Sanjou membuka kunci pintu ruangan dan melangkah keluar menuju lorong.

Melihat kondisinya, sekuat apa pun aku mencoba mencegahnya, itu pasti takkan ada gunanya.

"Waduh, Shou-kun, gagal ya."

Haruna memegangi keningnya dan berjalan menghampiriku.

Mungkin karena mengkhawatirkanku, dia mengintip wajahku dengan ekspresi cemas.

"...Yah, ini baru hari pertama. Aku nggak akan menyerah hanya karena hal ini."

"Masa sih? Shou-kun kan gampang down, jadi aku khawatir lho."

"Aku, gampang down? Hahaha, lelucon macam apa itu?"

Kegagalan seperti ini bukan apa-apa.

Rencana ini baru saja dimulai.

Bahkan jika Sanjou membenciku atau menganggapku menjijikkan, memangnya kenapa.

Aku sama sekali tidak peduli dengan hal it...

"Uwaaaaaaaan! Aku dibilang menjijikkan tahu!"

"Ara ara, Shou-chan. Kasihan sekali ya~"

Segera setelah pulang ke rumah dari sekolah. Aku yang kondisi mentalku sudah mencapai batas, langsung menangis pada ibuku... lalu berbaring di sofa ruang tamu dengan paha ibu sebagai bantal.

"Udah udah~ anak baik anak baik♡ Mama elus-elus kepalanya ya~"

"...Perutku juga."

"Astaga, manjanya kamu ini. Iiyaaa, punggungnya ditepuk-tepuk♡ Supaya cepat sembuh~♡"

"Iya... bakal sembuh. Bakal cepat sembuh~"

Ini sudah menjadi semacam acara rutinan dari dulu.

Saat ada hal buruk di sekolah, saat bertengkar dengan teman, atau saat mentalku mencapai batas.

Aku akan bertingkah layaknya anak kecil yang kembali ke masa balita seperti ini, dan hanya ingin bermanja-manja pada ibu.

"Hal semacam ini sudah lama nggak terjadi, ya. Soalnya belakangan ini Shou-chan sudah menjadi anak laki-laki yang bisa diandalkan, sih."

"...Aku mikirnya, aku nggak boleh terus-terusan jadi anak kecil."

Aku tidak boleh terus bermanja-manja. Aku harus melindungi ibu. Aku sudah memutuskan untuk menjadi kuat dengan pemikiran seperti itu... tapi lagi-lagi, aku malah mengandalkan ibu seperti ini.

"Nggak apa-apa kok. Bagaimanapun juga, berapa pun usia Shou-chan, kamu tetap anak ibu."

Ibu merengkuhku yang menyedihkan ini dengan kasih sayangnya yang tanpa batas.

Kebahagiaan yang begitu manis dan meluluhkan hati ini... mungkin hal inilah yang membuatku menjadi tersesat.

"Tapi ya, ibu percaya padamu. Shou-chan itu anak yang kuat dan nggak gampang menyerah pada rintangan apa pun."

"...Tapi, Sanjou sangat membenciku. Sudah nggak mungkin lagi."

"Hmm, begitu ya. Ini cuma firasat ibu, sih... tapi menurutku gadis itu nggak benar-benar membenci Shou-chan."

Sambil menempelkan jari di dagunya seakan-akan sedang berpikir, ibu berkata kepadaku.

"Saat seorang anak perempuan nggak bisa jujur pada dirinya sendiri, pasti ada suatu alasan di baliknya. Jadi, untuk saat ini bagaimana kalau kamu mencoba mengenal anak itu lebih jauh?"

Mendengar kata-kata ibu, aku langsung tersadar.

Kalau dipikir-pikir, aku masih belum tahu apa-apa tentang dirinya.

Tidak, aku hanya membeberkan urusanku padanya, tapi aku tidak pernah menanyakan apa pun tentangnya.

"...Aku mengerti, Ibu. Aku akan mencobanya."

"Ara, tiba-tiba jadi anak cowok yang jantan, ya. Begitulah putra ibu♡"

Dengan belaian lembut di kepala dan pipiku secara bergantian, aku pun membulatkan tekadku kembali.

Gagal sekali atau dua kali, bukanlah apa-apa.

Kunci penting untuk menyelamatkan ibu yang akhirnya kutemukan... aku tidak boleh melepaskannya begitu saja.

"...Tapi, untuk hari ini elus-elus aku lebih banyak. Peluk yang erat."

"Ufufufufu♡ Iiyaaa, ibu akan menyayangimu sepuasnya♡"

Demi bisa berusaha keras esok hari.

Untuk saat ini, aku harus membiarkan kasih sayang ibu meresap ke setiap sudut sel tubuhku.

"Begitulah Sanjou. Ceritakanlah tentang dirimu."

"Apanya yang begitulah..."

Keesokan harinya di sekolah setelah ajakan Gadis Penyihirku ditolak mentah-mentah.

Untuk mempraktikkan saran ibuku, aku kembali mendekati dan mengajak bicara Sanjou.

"Hei kau, apa kau lupa kalau aku menyuruhmu untuk tidak mengajakku bicara lagi?"

"Aku belum lupa kok. Tapi karena kita ada di kelas yang sama, sudah pasti itu nggak mungkin. Lagian, aku ditugaskan sebagai pemandumu, kan."

Sambil menjawab, aku meletakkan setumpuk kertas yang telah di-print di atas mejanya.

"Ini adalah daftar pertanyaan untuk Sanjou dari anak-anak di kelas. Untuk jaga-jaga, aku sudah menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut ranah privasi atau pelecehan seksual. Kalau ada pertanyaan yang nggak mau kamu jawab, silakan abaikan saja."

"...Hah? Seberapa banyak sih pertanyaan mereka itu..."

Sambil membalik-balik tumpukan kertas itu, Sanjou membaca daftar pertanyaannya dengan ogah-ogahan. Sebenarnya dia mungkin ingin langsung mengembalikannya, tapi karena ini pertanyaan dari teman-teman sekelas, dia tidak bisa melakukan hal itu.

"Itu bukti kalau mereka sangat ingin berteman akrab denganmu."

"...Bikin capek aja."

Sanjou bergumam pelan, namun ia tetap memegang pena dan mulai mengisi daftar pertanyaan tersebut.

Dari jari-jarinya yang putih dan ramping, mengalir tulisan tangan yang sama cantiknya dengan imejnya.

"Tulisanmu bagus, ya."

"Asal kau tahu saja. Emangnya kau pikir aku bakal tergoda sama pujian sesederhana itu?"

"Bukan begitu. Aku tanpa sadar kagum karena tulisan tanganmu sangat rapi."

"Tulisan... ah."

"Yah, seperti yang kubilang kemarin, menurutku penampilanmu juga sangat cantik kok."

"Ugh... Kau ini, ya."

Sanjou mengertakkan giginya dan menatapku dengan mata yang dipenuhi niat membunuh.

Namun, saat melihat seorang siswi melintas di sebelahnya, ia segera menenangkan ekspresi wajahnya.

"Kau masih mau bersikap baik di depan teman sekelas? Menurutku kamu bersikap biasa saja juga nggak apa-apa kok."

"...Nggak gitu juga. Aku memang nggak peduli mau disukai atau tidak, tapi aku cuma nggak mau dibenci."

"Hee? Kenapa begitu?"

"Karena, di sekolahku yang sebelumnya..."

Gumam Sanjou yang kemudian menghentikan gerakan tangannya.

"Bukan apa-apa. Lagipula aku nggak perlu cerita padamu tentang hal itu."

"Untuk sekarang masih belum masalah kok. Nanti saja kalau kita sudah semakin akrab, baru kau ceritakan ya."

"Haaah... Kau ini, ya."

Sanjou menatapku seolah-olah melihat makhluk aneh, dan menghela napas panjang.

"Aku mengerti, aku mengerti perasaan Nagi-chan kok. Shou-kun itu memang sedikit, anu, kan."

"...Momono-san, ya? Sejak kapan kamu ada di sana?"

"Dari awal aku udah di sini lhooo...! Cuma aja aku tertelan oleh suasana yang agak enak di antara kalian berdua!"

Haruna menjulurkan kepalanya dari bawah meja dan menggumamkan kata-kata yang penuh dendam.

"Aduh, apaan sih... Padahal aku cuma ingin kehidupan sekolah yang tenang."

"Soal itu, aku benar-benar minta maaf. Tapi, aku juga punya keluarga penting yang harus kulindungi, makanya aku nggak bisa mundur begitu saja."

"Demi keluarga..."

"Benar. Kalau demi keluargaku, aku bahkan nggak segan untuk mengorbankan nyawaku sendiri."

"Hah, kalau cuma ngomong doang sih gampang. Kalau begitu, seandainya aku menjadi Gadis Penyihir, boleh nggak aku memintamu untuk mati?"

Sanjou mencibir dan mengangkat kedua bahunya.

Sikapnya seolah-olah mengatakan 'toh kamu nggak bakal berani', tapi... aku mengangguk tanpa ragu sedikit pun.

"Aku nggak keberatan. Namun, dengan syarat bahwa kematianku harus setelah aku berhasil menghancurkan Shadow Nexus."

"Hah? Kau, jangan sembarangan ngomong..."

"Kamu bilang kamu pintar membongkar kebohongan, kan? Cobalah periksa dengan matamu sendiri."

"............Bohong, kan?"

Sanjou menatap wajahku sejenak, lalu mengerjapkan matanya berulang kali dengan ekspresi tercengang.

"Hmph, Nagi-chan. Shou-kun itu serius, lho? Dia tipe orang yang sama sekali nggak pernah bercanda tentang hal-hal kayak gini."

Haruna, kenapa kamu berlagak sok paling ngerti dari belakang sambil tersenyum puas begitu, sih.

"Ya, aku mengerti. Ichinose, maafkan aku karena sudah mengatakan hal yang meremehkan tekadmu."

"Ada apa tiba-tiba? Padahal aku sama sekali nggak masalah lho."

"...Hei? Sepulang sekolah hari ini, bisa kita bicara lagi di tempat yang kemarin?"

"Eh? Ya, tentu saja, aku sangat mengharapkan itu..."

"Sudah diputuskan. Kalau begitu, mohon bantuannya ya."

Setelah mengatakan hal itu, Sanjou melambaikan tangannya sebentar lalu kembali sibuk mengisi lembar pertanyaan.

"Muu... Shou-kun, ini kemajuan besar nih namanya."

Haruna cemberut dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksenangannya yang penuh rasa cemburu.

"Entahlah ya. Aku masih belum tahu kalau belum menemuinya sepulang sekolah nanti."

Kemungkinan besar, alasan Sanjou menjadi seperti ini adalah... gara-gara kata 'keluarga' itu.

Apakah sesuatu yang berhubungan dengan keluarga bisa menjadi pemicu untuk menggerakkan Sanjou?

"Haruna, hari ini kamu pulang duluan saja ya. Aku mau bicara berdua dengan Sanjou."

"...Ya sudahlah, nggak apa-apa. Di saat-saat begini, seorang istri pertama harus bersikap tenang dan lapang dada, kan."

"Meskipun kamu bukan istri pertamaku, aku cukup menyukai sifat pengertianmu itu, kok."

"Kyaaa... Lamaranku diterima? Mohon bimbingannya mulai dari sekarang hingga ke depannya, ya!"

Dengan mata berbinar-binar, Haruna menunjukkan ekspresi bahagia seolah sedang melayang di udara.

Aku pun mengabaikan dirinya yang terlihat seperti akan melayang ke surga itu.

Lalu, aku berusaha keras menekan perasaanku yang menggebu-gebu karena tidak sabar menunggu waktu sepulang sekolah tiba.

Seluruh jam pelajaran hari ini telah berakhir, sebagian besar siswa pun pulang atau sibuk mengikuti kegiatan klub ekstrakurikuler mereka.

Di dalam ruangan kosong yang sedikit berbau debu, aku dan Sanjou duduk berhadapan.

"Jadi, Sanjou. Ada apa kau memanggilku?"

"...Mungkin ceritanya akan sedikit panjang, tapi aku akan menjelaskannya secara menyeluruh agar kamu bisa mengerti."

Dengan ekspresi sedih yang kontras dengan kecantikannya, Sanjou mulai berbicara sambil memegangi rambut panjangnya.

"Keluargaku itu ya, menjalankan perusahaan sejak zaman kakekku. Yah, meskipun begitu, perusahaannya tidak terlalu besar, jadi kau mungkin belum pernah mendengar namanya..."

Karena dia mantan siswi Akademi Putri Celestia, ini masih dalam batas ekspektasiku.

Tetapi, kalau sekarang situasinya tidak seperti itu lagi... kemungkinan besar.

"Kamu sudah bisa menebaknya, kan? Sebenarnya perusahaan kami... saat ini sedang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan."

"...Maksudmu bisnisnya sedang memburuk?"

"Pabrik kami sejak dulu sudah sering memproduksi dan menjual barang-merchandise dan aksesori idol (idola pop Jepang). Meski nggak terlalu besar pembuatannya sangat apik dan diakui kualitasnya... dan konon katanya bisnis ini udah ramai pesanan sejak zaman Showa lho."

Lalu kenapa, tanyaku sebelum aku sempat mengucapkan rasa penasaranku itu, Sanjou melanjutkan ceritanya dengan ekspresi menyesal.

"Di Akademi Putri Celestia tempatku bersekolah sebelumnya, ada seorang idola populer dari agensi besar bernama Nagashino Saki. Meskipun kami berbeda kelas dan tidak pernah saling bertegur sapa..."

"...Jangan-jangan dia menyimpan dendam padamu dan menekan perusahaanmu?"

"Fufu, cerita yang klise sekali, kan. Kabarnya, teman dari Nagashino Saki itu sering membicarakan keburukannya di belakang. Katanya, Sanjou Nagi dari kelas sebelah jauh lebih cantik daripada Nagashino Saki."

"Aku hanya pernah melihat Nagashino Saki di TV, tapi kenyataannya menurutku kamu memang jauh lebih cantik kok."

"Ahahaha, begitu ya. Jangan-jangan Nagashino Saki sendiri juga merasakan hal yang sama... makanya dia mencari tahu tentangku dan mulai menekan perusahaan papa."

Sambil mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca, Sanjou melanjutkan perkataannya dengan suara bergetar.

"Setelah itu, semua agensi hiburan termasuk agensi besarnya mulai membatalkan kontrak mereka dengan perusahaan kami. Selama beberapa saat kami terus berusaha bertahan... tapi sekarang perusahaan itu di ambang kebangkrutan. Papa, Mama, kakak laki-lakiku, dan kakak perempuanku... mereka semua berlarian ke sana kemari setiap hari berusaha menyelamatkan perusahaannya."

Begitu, jadi karena itu Sanjou pindah dari Akademi Putri Celestia.

Entah karena keluarganya tidak sanggup lagi membayar biaya sekolah yang sangat mahal, atau karena dia tidak tahan dengan pelecehan yang dilakukan oleh Nagashino Saki dan para pengikutnya... yang pasti dia telah mengalami penderitaan yang sangat berat.

"Sekarang kamu sudah paham, kan? Keluargaku sekarang sedang berada dalam situasi yang sangat sulit. Nggak cuma keluargaku saja, nasib hampir dua ratus karyawan yang bekerja di perusahaanku juga sedang dipertaruhkan."

"...Oleh karena itu, kamu tidak bisa menjadi Gadis Penyihir. Begitu, kan?"

"Ya. Aku tahu kok kalau eksistensi Gadis Penyihir itu sangat penting untuk menyelamatkan dunia. Tapi ya, daripada menyelamatkan dunia... aku lebih memilih untuk mendukung keluarga yang kucintai. Aku akan melakukan apa saja, baik itu pekerjaan rumah maupun urusan-urusan lain!"

Itu adalah... curahan hati yang tulus dari Sanjou, gadis yang selama ini selalu bersikap dingin.

"Ah, begitu ya. Sanjou... mendengarnya membuatku merasa sedikit lega lho."

"...Eh?"

"Berarti kamu bukannya benci Gadis Penyihir. Kalau masalah keluargamu terselesaikan, kamu setidaknya punya niatan untuk mempertimbangkan tawaranku kan?"

"Ja, jangan bercanda! Kamu dengerin nggak sih apa yang baru aja aku bilang!?"

"Aku nggak bercanda kok. Kalau kau membenci Gadis Penyihir... atau sejak awal memang tidak punya minat untuk menjadi Gadis Penyihir, aku benar-benar tak bisa melakukan apa-apa lagi. Tapi, ternyata bukan itu alasannya."

Aku menatap lurus ke dalam matanya yang katanya mampu membongkar kebohongan, dan menegaskan keputusanku.

"Aku seorang pria, jadi aku tidak bisa menjadi Gadis Penyihir. Tapi, aku bisa menyelamatkanmu."

"Hah? Aku nggak ngerti maksudmu...! Orang sepertimu nggak mungkin bisa melakukan hal itu!"

Sanjou, yang tampak gelisah, menyambar tasnya yang diletakkan di atas meja di dekatnya dan berlari ke arah pintu keluar kelas kosong tersebut.

"Pokoknya, gitu intinya! Tolong menyerahlah dan jangan mendekatiku lagi!"

Sanjou berlari keluar dari ruangan kosong tanpa menoleh ke belakang.

Setelah melihat kepergiannya... aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan ponsel.

"Sepertinya 'Yaoyakai' harus turun tangan lagi nih setelah sekian lama."

Aku membuka aplikasi obrolan di ponselku, dan mengirim pesan ke sebuah grup chat.

Isinya adalah "Malam ini pukul 21:00, ada hal darurat yang ingin kudiskusikan."

Karena pemberitahuannya mendadak, mungkin tidak semua anggota grup bisa hadir... tapi kalau anggota inti saja sudah kumpul, pasti bakal lancar.

"Nah, kira-kira bagaimana, ya...?"

Saat aku menunggu sambil menatap layar ponselku.

Piron-piron. Rentetan notifikasi balasan mulai bermunculan.

Hanya butuh waktu kurang dari lima menit, semua anggota grup membalas dan bersedia untuk hadir.

Pada saat ini, aku sudah merasa yakin dengan keberhasilan rencanaku, dan tersenyum simpul sendirian.

"Sanjou, jangan remehkan... ikatan kuat yang mendukung ibuku... eh maksudnya Cherry Diamond, ya."

Gadis yang punya bakat menjadi Gadis Penyihir terkuat, Sanjou Nagi.

Aku pasti akan menyelamatkanmu.

Saat malam semakin larut, dan bintang-bintang bersinar terang di langit.

Di kamarku yang gelap gulita setelah mematikan lampu kamar, dan hanya diterangi cahaya laptop... Aku sedang melakukan panggilan grup (group call) yang dihadiri oleh tujuh orang.

"Semuanya. Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian yang berharga untuk berkumpul hari ini."

"Ah, tidak usah sungkan. Kebetulan aku juga ada hal yang ingin didiskusikan."

Orang pertama yang membalasku adalah Ikeda-san, kenalanku yang sudah tidak asing lagi.

Kemudian, satu per satu peserta lain juga ikut membalas sapaan.

"Gyahahaha, tumben banget nih Ketua ngadain rapat darurat!"

"Ufufufu, Ketua makin kelihatan jantan aja ya belakangan ini~"

Semuanya terlihat bersemangat karena ini pertemuan lengkap yang diadakan setelah sekian lama.

Ups, gawat. Meskipun ngobrol begini memang asyik, tapi aku nggak boleh melupakan topik utama hari ini.

"Syukurlah kalian bisa berkumpul, para anggota eksekutif... Klub Penggemar Cherry Diamond. Sebenarnya, aku ingin meminta saran dan bantuan dari kalian semua."

"Oh, begitu? Kira-kira hal apa yang ingin dibahas?"

"Detailnya akan kuceritakan nanti. Mungkin kalian akan sedikit bingung saat mendengar isi permintaannya nanti. Tapi, aku berani bersumpah demi dewa langit dan bumi... tidak, demi Dewi Cherry Diamond kita tercinta, aku sama sekali tidak memiliki niat buruk."

"Aku percaya kok sama Ketua!"

"Saya juga. Ketua, silakan perintahkan kami apa saja."

Tidak satu pun anggota yang menunjukkan tanda-tanda keraguan kepadaku.

Inilah... ikatan orang-orang yang telah bertahun-tahun mendukung ibuku.

"Terima kasih banyak. Kalau begitu, kita langsung ke topik utama..."

Kemudian, aku mengajukan proposal dan meminta bantuan kepada para peserta rapat eksekutif Klub Penggemar Cherry Diamond... yang dikenal dengan nama 'Yaoyakai'.

Pada awalnya, semua orang bingung mendengar isi permintaanku... tapi pada akhirnya mereka menyetujuinya dengan senang hati.

Bahkan para eksekutif yang bertanggung jawab atas hubungan masyarakat dan keuangan—yang paling kukkhawatirkan—juga setuju denganku.

"Semuanya, mohon kerja samanya. Semuanya demi Cherry Diamond yang agung."

"""""Demi Cherry Diamond!"""""

Kalau aku serahkan sisanya kepada mereka, pasti akan berjalan lancar.

Dengan keyakinan itu, aku mengakhiri panggilan grup tersebut.

Hari ini tepat seminggu sejak Sanjou Nagi pindah ke kelasku.

Sejak saat itu, seperti yang Sanjou pinta, aku tidak pernah berinisiatif mengajaknya mengobrol, dan hanya melakukan komunikasi seperlunya sebagai ketua kelas.

Awalnya teman-teman sekelas juga rajin mengajak Sanjou mengobrol, tapi setelah beberapa hari antusiasme itu mereda, dan kini tidak ada lagi kerumunan orang di sekitar meja Sanjou.

"Haaah... Sedih banget rasanya."

Di sisi lain, hari ini pun aku berangkat ke sekolah bersama Haruna, yang seperti biasa menungguku keluar rumah.

Hari ini entah kenapa suasana hati Haruna terlihat suram dan ia diselimuti aura mendung.

"Kamu masih bahas soal itu? Bentar lagi kita sampai sekolah, lho."

"Habisnya! Aku kan nge-fans banget sama anak ituuu..."

Saat Haruna mencoba protes padaku sambil mengepalkan kedua tangannya karena kesal.

Dari arah gerbang utama sekolah yang mulai terlihat, kulihat seseorang berlari menghampiri kami dengan sangat cepat.

"Ichinose! Akhirnya kau datang juga!"

"Sanjou? Selamat pagi, ada apa lari-lari tergopoh-gopo..."

Sosok yang berlari itu tak kusangka ternyata Sanjou.

Sikap galaknya yang sangat tidak mencerminkan pesona cool-nya, ditambah rambut panjangnya yang berantakan karena ditiup angin... benar-benar terlihat agak menakutkan.

"Udahlah! Ikut aku ke tempat biasa!"

"Hei! Tunggu dulu!"

"Sh, Shou-kuuun!"

Sanjou mencengkeram lenganku erat-erat dan kembali mempercepat langkahnya. Tubuhnya yang kurus itu entah bagaimana bisa menghasilkan kekuatan yang luar biasa, sampai-sampai aku ditarik ke ruang kelas kosong dengan kecepatan tinggi.

"Aduh aduh aduh, bisa tenang sedikit nggak?"

"Hei, kau! Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan!?"

Begitu sampai di ruang kelas kosong, Sanjou menyudutkanku ke dinding... dan menempelkan sebelah tangannya di sana dengan suara keras (don).

Posisi yang biasa disebut kabe-don (menggebrak dinding) itu, ditambah jarak wajah kami yang sangat dekat sampai-sampai bibir kami hampir bersentuhan.

"Melakukan apa?"

"Jangan sok tahu! Kudengar perusahaan kami tiba-tiba mendapat pesanan merchandise berskala raksasa! Dan itu adalah kontrak super besar yang bahkan bisa menutupi kerugian dari pemutusan kontrak dengan agensi hiburan itu lho!"

"Hee... Bukannya itu kabar baik, kan."

"Papa dan Mama juga, mereka girang banget sampai-sampai kayak orang yang nggak percaya sama apa yang terjadi! Kakakku bahkan sampai beli dua kue bolu super besar untuk merayakannya kemarin! Dan itu dua lho, rasa coklat dan buah!"

"Makanya, bukannya itu bagus?"

"Memang bagus! Bahkan terlalu bagus, tahu!"

Sanjou sangat bersemangat sampai-sampai omongannya nggak nyambung.

Pasti dia merasa sangat bahagia karena perusahaannya berhasil diselamatkan.

"Hah, hah...! Dan lagi, pihak yang ngasih kontrak besar itu! Mereka bilang itu dari Klub Penggemar Cherry Diamond! Kau pasti terlibat dalam hal ini, kan!"

"Lho? Emangnya aku pernah bilang ya kalau aku itu penggemar Cherry Diamond?"

"Sembilan puluh sembilan persen orang yang menyukai Gadis Penyihir itu penggemar Cherry Diamond! Itu udah rahasia umum tahu!"

"Kau tahu banyak juga ya. Seperti yang kau bilang, aku adalah penggemar Cherry Diamond... tidak, lebih tepatnya aku adalah pemujanya."

"Soal itu mah terserah! Aku cuma mau nanya, apakah ini semua gara-gara ulahmu!"

"Ya, kira-kira begitulah. Meskipun kelihatannya nggak meyakinkan, tapi aku adalah ketua Klub Penggemar Cherry Diamond. Kebetulan kami sedang berencana memperluas bisnis produksi pernak-pernik klub penggemar kami."

Jadi, beberapa waktu yang lalu aku mengusulkan untuk memberikan kontrak pembuatan barang-merchandise kepada perusahaan milik ayah Sanjou sebagai salah satu topik diskusi dalam pertemuan 'Yaoyakai'.

Biasanya, kalau aku mengusulkan hal semacam itu pasti akan memunculkan kecurigaan soal kolusi antara diriku dan perusahaan Sanjou, tapi pada akhirnya para anggota eksekutif percaya pada kata-kataku yang bilang bahwa hal ini demi kebaikan Cherry Diamond.

"Tapi, ini kan..."

"Eh, tunggu dulu, jangan salah paham ya. Awalnya memang ada beberapa orang eksekutif yang menentang. Tapi, setelah mereka melihat produk atau sampel yang pernah dibuat oleh perusahaanmu, mereka pada akhirnya menyetujuinya kok."

"Eh? Terus...?"

"Kontrak ini berhasil dimenangkan berkat usaha keras ayahmu dan orang-orang di perusahaannya. Aku hanya memberikan kesempatan, selebihnya aku tidak melakukan hal-hal yang berlebihan."

Aku mengatakan ini bukan karena aku bermaksud menghibur Sanjou, tapi sekadar menyatakan fakta belaka.

Kenyataannya, jika kualitasnya buruk, beberapa anggota eksekutif pasti akan terus menentang sampai akhir.

"...Kenapa, kamu bertindak sampai sejauh ini?"

"Aku sudah bilang, kan? Aku memang tidak bisa menjadi Gadis Penyihir, tapi aku bisa menyelamatkanmu. Makanya aku hanya menolongmu semampuku."

Saat aku menjawab seperti itu, Sanjou menunjukkan ekspresi terkejut.

Kemudian, dia sedikit menundukkan kepalanya... dan bertanya sambil menatapku dari bawah dengan tatapan upward glance (melirik ke atas).

"Begitu ya. Terus, habis ini kamu mau..."

"...Ya. Aku ingin kamu memikirkan kembali apakah kamu bersedia menjadi Gadis Penyihir atau tidak."

"Hea? Memikirkannya, lagi? Bukannya kau akan menyuruhku untuk menjadi Gadis Penyihir?"

"Menyuruh? Kenapa kau berpikir begitu?"

Sambil merasa pasrah dengan Sanjou yang tampaknya salah paham, aku pun menyampaikan perasaanku yang sesungguhnya.

"Dengan ini, kecemasanmu sudah hilang, kan? Kalau begitu, mulai sekarang aku harap kamu mau mendengarkan perkataanku sedikit saja."

"Eh? Berarti, kalau aku tetap menolak menjadi Gadis Penyihir, apa boleh?"

"Sudah tentu dong? Lagipula aku hanya butuh kesempatan untuk membujukmu. Dan karena aku akan mengerahkan segalanya untuk meyakinkanmu, jadi bersiaplah, ya."

Pada akhirnya, alasanku menolongnya adalah karena aku menginginkan kesempatan untuk berbincang dengan tenang bersamanya.

Aku tidak ingin memaksa atau menyuruhnya untuk menjadi Gadis Penyihir sebagai bayaran karena telah membantunya.

"Bodoh ya. Padahal kalau kau mengancamku dengan kontrak itu, kau bisa seenaknya menyuruhku."

"Gadis Penyihir itu pekerjaan berbahaya yang mempertaruhkan nyawa. Makanya, aku sangat menghargai keinginan dari dalam hati orang yang bersangkutan."

"Ichinose..."

Ketika aku menjawab dengan jujur, Sanjou menatap lurus ke wajahku sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

"Intinya seperti itu, jadi sampai jumpa nan..."

Setelah selesai bicara, aku mencoba melepaskan diri dari kungkungan kabe-don Sanjou... tepat pada saat itu.

"Baiklah, aku bersedia."

"...Heh?"

"Demi dirimu, dan atas kemauanku sendiri! Aku bilang aku akan bersedia menjadi Gadis Penyihir!"

Don! Kali ini, Sanjou memukul tembok dengan tangannya yang lain, mengunciku agar tidak bisa melarikan diri.

Aku yang kini benar-benar terhimpit di antara lengan Sanjou, hanya bisa memiringkan kepalaku karena masih belum bisa mencerna situasinya.

"Serius, nih? Padahal kamu nggak perlu merasa terbebani soal perusahaan..."

"Berisik. Bukankah sudah kubilang, ini keputusanku sendiri!"

"...Begitu ya. Terima kasih, Sanjou."

"Hmph. Harusnya aku yang bilang terima kasih, tahu."

Sanjou menjawab dengan sikap angkuh, lalu akhirnya melepaskan jepitannya di dinding.

Setelah itu dia membelakangiku, tetapi tiba-tiba dia angkat bicara seolah teringat sesuatu.

"Ah, ngomong-ngomong... berita pagi ini. Idola pop bernama Nagashino Saki itu bikin geger karena terlibat skandal perselingkuhan serentak dengan beberapa rekan selebriti pria yang sudah beristri... jangan-jangan, itu juga ulahmu?"

"Entahlah ya. Lagipula anggota Klub Penggemar Cherry Diamond itu ada bermacam-macam. Bisa saja kan, kalau ada orang penting di bidang pers atau majalah mingguan di antara mereka."

Aku membalasnya dengan sikap berpura-pura bodoh, dan Sanjou pun menoleh ke arahku.

"Pfft, ahahaha! Makanya kan, aku udah pernah bilang, kan?"

Itu adalah... senyum polos khas gadis remaja yang sesuai dengan umurnya, yang baru pertama kali ia tunjukkan kepadaku.

"Aku ini pintar membongkar kebohongan, lho. Kamu itu, nggak pintar berbohong, ya."

Melihat wajahnya yang bersinar cerah dan menyilaukan itu, keyakinanku pun semakin kuat.

Dia ini, pasti akan menjadi Gadis Penyihir yang akan melampaui ekspektasiku.

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar