Featured Image

My Mom Strongest Magical Girl V1 C2

Metoya Februari 13, 2026 Komentar
Metoya Ultimate Reader v7.0
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Proyek Seleksi Mahou Shoujo, Dimulai


Tepat setelah aku mengucapkan selamat tinggal pada ibu, keluar dari pintu depan, dan hendak berangkat ke sekolah.

Seolah sudah diperhitungkan dengan pas, pintu depan rumah tetangga sebelah juga terbuka, dan seorang gadis keluar dari dalam.

"Ah, Shou-kun. Hari ini kita kebetulan bareng lagi, ya."

Begitu melihat sosokku, gadis itu langsung menyapaku dengan akrab.

Gadis itu mengenakan seragam siswi SMA yang sama denganku... seragam pelaut berwarna biru dongker dengan rok lipit bermotif kotak-kotak. Aku pun menatapnya dengan tatapan dingin.

"Kebetulan? Jangan-jangan kau memang sengaja menungguku, kan?"

"Ueh? M-Mana mungkin begitu! Shou-kun, kamu terlalu kepedean, tahu?"

Mendengar tuduhanku, gadis itu dengan jelas memerah wajahnya sambil mengibaskan kedua tangannya dengan panik.

Nama gadis itu adalah Momono Haruna.

Kami sudah bertetangga sejak masih bayi, jadi dia adalah sosok yang biasa disebut sebagai teman masa kecil.

"Meskipun aku sudah mencoba menggeser waktu keberangkatanku berkali-kali, anehnya waktu berangkat sekolah kita setiap pagi selalu sama persis, kan?"

"K-Kebetulan itu memang menakutkan, ya...! Ahahahaha!"

Sambil mengibaskan rambut merah mudanya yang sebahu, Haruna berjalan sejajar di sampingku. Tinggi badannya sekitar dua kepala lebih pendek dariku, jadi dari sudut pandang orang lain, kami mungkin terlihat seperti kakak beradik.

"Tunggu dulu! Padahal kamu bisa berangkat sekolah bareng teman masa kecil yang imut ini, kenapa kamu kelihatan nggak senang begitu, sih?"

"...Nggak, hal-hal kayak gitu agak..."

"Haaah? Apa maksudnya itu!?"

Haruna menggembungkan pipinya, lalu melangkah ke depanku dengan raut tidak puas.

Kemudian dia meletakkan tangan kanannya di pinggang, dan tangan kirinya di belakang kepala... berpose seksi.

"Lihat nih, wajah ini! Tubuh ini! Cowok seumuran Shou-kun pasti suka yang seperti ini, kan?"

Heheh, Haruna menyeringai dengan wajah penuh kemenangan.

Walaupun rasanya sulit untuk mengakuinya, tapi harus kuakui kalau penampilannya memang sangat menawan.

"Benar, kan? Aku ini imut, kan? Mumpung masih ada kesempatan, semua ini bisa jadi milik Shou-kun, lho!"

Akan tetapi, kali ini dia sudah agak terlalu ngelunjak.

Aku menghela napas panjang, lalu membuka mulut sambil menatap tajam langsung ke mata Haruna.

"Ya, kamu memang sangat imut kok."

"Hoeaa?"

"Pertama, rambutmu itu. Dulu rambutmu sering mencuat nggak karuan, tapi kamu sudah berusaha keras untuk meluruskannya, kan? Aku nggak pernah melihat ada rambut bercabang sedikit pun, jadi kelihatan banget kalau kamu sangat memperhatikan penampilanmu."

"A, eh? Oooon?"

"Meskipun tubuhmu pendek dan kadang terlihat kekanak-kanakan, tapi fitur wajahmu itu imutnya nggak kalah sama aktris atau idola populer yang sering muncul di TV."

"T-Tunggu sebentar...! Aduh, wajahku jadi merah nih..."

"Sejak dulu kamu selalu populer di kalangan cowok, dan pasti sudah ditembak lebih dari seratus kali, kan? Tapi anehnya, kamu belum pernah sekalipun pacaran dengan siapa pun, dan nggak pernah ada gosip murahan soal kamu. Bagiku itu benar-benar sulit dipercaya."

Sambil berjalan berdampingan menuju stasiun, aku terus-menerus melontarkan pujian bertubi-tubi kepada Haruna.

Kini wajahnya sudah merah padam seperti gurita rebus, dan kelihatannya akan meledak kapan saja.

"T-Tapi kan...! Itu karena, Shou-kun... anu..."

Dengan suara yang terbata-bata, Haruna menatapku dari bawah dengan mata yang berkaca-kaca.

Aku meletakkan tangan kananku di atas kepalanya... lalu sambil tersenyum, aku menyampaikan perasaanku yang sejujurnya.

"Tapi yah, pada akhirnya kamu itu masih level anak-anak. Masih jauh banget kalau mau dibandingkan dengan ibuku."

"Ehehe, aku juga suka sama Shou-k... Kyeeaaahhh!?"

Sambil menepuk-nepuk kepalanya, aku mendengus seolah sedang mengejeknya... dan Haruna pun mengeluarkan jeritan yang merdu.

"Iih! Berani-beraninya kamu, Shou-kun! Caramu itu persis banget kayak host klub malam tahu!"

"Jangan ngomong yang aneh-aneh. Aku kan cuma menyatakan fakta."

"Gunununuu...! Standarmu itu jadi terlalu tinggi gara-gara Izumi-san, tahu!"

"Tepat sekali. Kenyataannya, nggak ada wanita kedua di dunia ini yang sehebat ibuku, kan?"












Sifat, penampilan, bentuk tubuh, suara, aroma... Dilihat dari mana pun, ibuku itu terlalu tak tertandingi.

"Kalau dibandingkan dengan ibu, sebagian besar perempuan itu cuma seperti gadis kerdil (chinchikurin) soalnya."

"K-Kerdil...?"

Haruna menyentuh dadanya sendiri dengan kedua tangannya sambil terlihat syok. Dia pasti merasa terguncang karena daya tariknya—yang selalu menjadi yang teratas jika dibandingkan dengan gadis seumurannya—ternyata tidak mempan padaku.

"Izumi-san itu memang sangat menawan sampai-sampai aku yang sesama perempuan saja bisa merasa aneh! Wajahnya, tubuhnya, suaranya! Dia memang berada di puncak keidealan yang aku dambakan, tapi tetep ajaaa!"

"Jangan teriak-teriak ngomongin hal aneh di pagi buta begini."

"Nggak boleh tahu, Shou-kun! Mengarahkan nafsu bejat pada ibu kandung sendiri!"

"Jangan salah paham. Perasaanku pada ibu bukanlah hal yang tidak murni seperti itu."

Perasaan ini, bisa dibilang, lebih dekat pada rasa haru dan hormat yang ditujukan pada sebuah mahakarya seni yang luar biasa. Ini kan bukan Light Novel atau Anime, mana mungkin aku memendam nafsu birahi pada ibu kandungku sendiri.

"...Iya juga sih. Shou-kun kan mendukung 'itu'-nya Izumi-san dengan lebih serius daripada siapa pun."

Sebagai tambahan, Haruna ini juga merupakan satu dari sedikit orang yang mengetahui rahasia ibu. Akan tetapi, dia tidak pernah menceritakan rahasia itu kepada orang lain, dan di masa lalu dia juga pernah membantu mengerjakan pekerjaan rumah di rumahku untuk menggantikan ibu yang sibuk... yah, dia orang yang lumayan bisa dipercaya.

"Ngomong-ngomong soal Izumi-san, aku jadi ingat sesuatu, Shou-kun. Semalam, kamu ngelakuin sesuatu, kan?"

"Maksudmu apa?"

"Nggak usah pura-pura bodoh deh. Kamu ngelakuin sesuatu ke komentator politik yang namanya Shimohara itu, kan? TV pagi ini dan internet udah heboh banget tahu."

Haruna menatap wajahku dengan saksama, seolah mengintip dari bawah.

"...Yah, nggak apa-apa sih. Aku juga benci banget sama orang itu. Rasanya jadi lega!"

"Syukurlah kalau begitu. Padahal aku sama sekali tidak ikut campur, lho."

Kami tiba di stasiun dan masuk melewati gerbang tiket menggunakan kartu langganan kereta. Di dalam peron yang sedikit ramai, aku dan Haruna menunggu kedatangan kereta. Setelah itu, kami naik ke kereta yang tiba... dan terguncang selama tiga stasiun. Selanjutnya, tinggal berjalan kaki beberapa menit dari stasiun, dan SMA Kuran tempat kami bersekolah pun mulai terlihat.

"Hmm~? Shou-kun, entah kenapa hari ini kamu kelihatan senang banget. Padahal biasanya kamu berangkat ke sekolah dengan tampang ogah-ogahan. Tapi hari ini langkahmu kelihatan ringan banget."

Sesuai dugaan dari seorang teman masa kecil. Bisa-bisanya dia membaca perubahan emosiku dari hal sekecil ini...

"Tebakanmu benar. Sekarang aku sangat menantikan untuk pergi ke sekolah sampai tak tertahankan rasanya."

"Heeen? Aku mencium ada rahasia nih. Hei, kasih tahu aku juga dong."

"Sebenarnya, alat yang 'itu' sudah selesai beberapa hari yang lalu. Akhirnya, aku bisa memulai rencana itu."

"Rencana itu... jangan-jangan?"

"Ya. Proyek Seleksi Gadis Penyihir... pencarian Gadis Penyihir yang akan melampaui kemampuan ibu."

Sambil berbicara dengan suara pelan, aku mengeluarkan sebuah alat kecil dari saku bagian dalam seragamku. Sekilas memang cuma terlihat seperti voltmeter yang dilengkapi antena, tapi alat ini punya fungsi yang luar biasa.

"Alat ini bisa mengukur kecocokan seseorang untuk menjadi Gadis Penyihir. Dengan menggunakan ini, aku akan mencari seseorang yang punya kecocokan Gadis Penyihir lebih tinggi dari ibu... dan melatihnya menjadi Gadis Penyihir terkuat yang bisa melampaui ibu."

Jika itu terwujud, ibu tidak perlu lagi bertarung sebagai Gadis Penyihir... dan aku bisa membebaskannya dari misi yang telah ia pikul selama bertahun-tahun.

"Shou-kun dari dulu... memang punya mimpi untuk membuat Izumi-san pensiun, ya."

"Menyuruh orang untuk mengembangkan alat ini benar-benar susah, lho. Pengumpulan dananya juga sih. Aku harus mengumpulkan kolaborator tanpa ketahuan identitasku... lalu mengakuisisi sebuah lembaga penelitian sains dan menyuruh mereka membuatnya."

"Eeeh...? Yang kamu lakuin itu udah bukan level anak sekolahan tahu."

"Semuanya demi ibu. Sebagai seorang putra, wajar kan melakukan setidaknya hal sebesar ini?"

"Nggak, nggak, nggak, menurutku itu jelas salah sih."

Haruna, yang sedikit mundur dengan ekspresi wajah yang kaku... bertanya sambil memiringkan kepalanya.

"Alat itu, pakai prinsip apa buat memeriksa kecocokan Gadis Penyihirnya?"

"Hm? Oh, teorinya sederhana kok. Kamu tahu kan kalau untuk berubah menjadi Gadis Penyihir, seseorang harus cocok dengan Magipura? Tapi, misalkan saja seseorang bisa mekar dengan Magipura dan menjadi Gadis Penyihir, kalau level sihirnya rendah, dia tidak akan berguna sebagai Gadis Penyihir. Oleh karena itu, hal yang terpenting adalah bagaimana orang tersebut bisa menyerap Maginal di udara dengan efisien, dan..."

"Hei, hei, hei! Stop! Shou-kun, aku sama sekali nggak ngerti maksudmu!"

Haruna menepuk-nepuk punggungku dengan keras sambil berkeringat dingin karena kebingungan. Ups, ada apa denganku ini... saking senangnya, aku malah memberikan penjelasan yang hanya dimengerti oleh diriku sendiri.

"Maaf. Intinya, dengan alat ini, kita bisa mengetahui lebih dulu seberapa kuat seseorang saat mereka berubah menjadi Gadis Penyihir nanti."

"Kenapa nggak langsung perbanyak aja jumlah Gadis Penyihirnya tanpa repot-repot ngelakuin hal kayak gitu?"

"Magipura yang dibutuhkan untuk menjadi Gadis Penyihir itu sangat langka. Selain itu, menjadikan siapa saja sebagai Gadis Penyihir secara sembarangan itu sangat berbahaya dalam berbagai arti."

Pertama, jumlah orang yang mengetahui rahasia Gadis Penyihir akan bertambah. Kedua, belum tentu orang yang mendapatkan kekuatan Gadis Penyihir memiliki hati yang menjunjung keadilan. Ketiga, orang yang menjadi Gadis Penyihir akan selalu dihantui oleh bahaya yang mengancam nyawa mereka ke depannya. Selama masalah-masalah besar ini masih ada, kita tidak bisa menambah jumlah Gadis Penyihir dengan sembarangan.

"Hmm? Yah, apa pun itulah! Alat itu, udah bisa dipakai kan?"

"Ya, pengujiannya sudah selesai, dan aku sudah memastikan alat ini berfungsi tanpa masalah."

"Fufufu! Kalau begitu, bukankah sebaiknya kamu segera mencoba alat itu pada seorang kandidat berbakat?"

"...Kandidat berbakat? Di mana ada orang seperti itu?"

"Mata Shou-kun itu buta, ya? Di depan matamu ini lho, ada gadis cantik yang luar biasa!"

"...Cantik atau tidaknya target sama sekali tidak ada hubungannya dengan kecocokan Gadis Penyihir, tahu?"

"Udah, biarin aja! Sini, cepat ukur kecocokanku!"

Haruna menarik lenganku dengan kuat dan terus mendesakku secara sepihak. Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi. Aku menekan tombol di bagian belakang alat itu, lalu mengarahkan antena pengukurnya ke wajah Haruna.

"Ada tombol merah di bawah skala angkanya, kan? Tekan itu."

"Eh? Gitu doang? Simpel banget ya."

Walaupun sambil mengomel, Haruna menekan tombol alat pengukur itu sesuai instruksiku. Seketika, alat itu mengeluarkan suara pipo-pipo... dan jarum skalanya mulai bergerak.

"Wah, gerak! Sudah kuduga, ini berarti aku memang punya bakat, kan!"

Dengan bergeraknya jarum itu, raut wajah bangga Haruna semakin terpancar. Aku terkejut melihat hasil pengukurannya, dan hanya bisa menatap alat itu serta wajah Haruna secara bergantian.

"Haa, mau bagaimana lagi deh. Jadi Gadis Penyihir itu emang repot, tapi kalau Shou-kun yang memohon banget, aku bersedia kok jadi Gadis Penyihir yang melampaui Izumi-san demi kam..."

"Kecocokan Gadis Penyihir cuma lima... Dasar sampah."

"Hoea?"

Dari wajah bangga yang sangat menyegarkan itu, ekspresi Haruna berubah drastis menjadi wajah melongo dengan mata terbelalak. Namun apa pun reaksinya, jawabanku tidak akan berubah.

"Hah? Tunggu? Eh? Se, sejelek itu ya?"

"Ya. Orang dengan angka serendah ini cukup jarang lho."

"Masa sih...!"

Kenyataan bahwa dia tidak punya kecocokan sepertinya membuatnya sangat syok. Haruna menundukkan kepalanya dengan lesu, memasang wajah seolah dunia ini akan kiamat. Sambil merasa kasihan pada Haruna yang seperti itu, aku menekan kembali tombol di belakang alatnya.

"Ta, tapi ya! Alat kayak gitu pasti nggak bisa melihat bakat terpendamku tahu!"

"Mungkin saja. Kalau suatu saat nanti bakatmu itu bangkit, aku akan mengukurnya lagi."

"Ugugugu...! Aku juga, aku jugaaa...!"

Haruna menggertakkan giginya dan menggenggam erat tinjunya hingga tubuhnya gemetar. Sementara kami melakukan itu, kami sudah tiba di depan gerbang utama sekolah.

"Tapi, Shou-kun! Meskipun kamu mau mencari kandidat pakai alat itu, apa kamu bisa dengan gampang meminta cewek-cewek buat diukur?"

Begitu sampai di sekolah, Haruna mulai menunjukkan senyum yang tak kenal takut. Kemudian dengan seringai licik seolah ingin mengejekku, dia menyenggol pinggangku dengan siku kanannya.

"Cowok polos kayak Shou-kun emangnya bisa ngobrol dan sok akrab sama cewek-cewek? Hayo lho, bisa nggak?"

"Nggak, kalau soal itu..."

"Lhooo? Ichinose sama Haruna-cchi, kan. Hari ini kalian berangkat sekolah dengan mesra lagi nih?"

Tepat saat aku hendak membalas perkataan Haruna, tiba-tiba ada yang menyapa kami. Saat menoleh ke belakang, terlihat kelompok gyaru teman sekelas kami, sekitar tiga orang, berdiri berjejer.

"Yaa ampun, masa sih...! Memang benar kami ini teman masa kecil yang paling mesra di dunia, tapi...!"

"Selamat pagi, Kotani, Umimoto, Sasai."

Mengabaikan Haruna yang tersipu malu sambil memerah pipinya, aku membalas sapaan mereka dengan senyuman.

"Yaho. Ngomong-ngomong Ichinose, makasih ya pinjeman catetannya kemarin."

"Bener banget. Berkat lu, kita-kita bisa lolos dari nilai merah deh."

Tiga gyaru itu mengerumuniku sambil berceloteh riuh. Kemampuan komunikasi mereka yang tinggi benar-benar sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat.

"Meminjamkan catatan sih nggak masalah, tapi kalian juga harus sedikit berusaha sendiri dong."

"Eeeh? Gak bisa gak bisa, biarpun kita-kita usaha juga palingan cuma usaha yang sia-sia gitu."

"Ahahahaha! Biarpun serius ngerjain ujung-ujungnya tetep nilai merah, mendingan kita main aja kan."

"Orang bodoh juga mikir pakai caranya orang bodoh tau~? Uri uri~"

"...Aku nggak menganggap kalian bodoh kok."

Aku membalas perkataan ketiga gadis yang menertawakan diri mereka sendiri itu dengan nada serius.

"Kotani dan yang lainnya, kalian hafal banyak merek kosmetik dan fashion, kan? Kapan mereka merilis produk baru, apa yang lagi tren, produk mana yang jelek... semuanya sangat mendetail."

"Aah, iya kan? Tapi ya, itu karena kita-kita suka sih."

"Bener bener. Soalnya kosmetik sama fashion itu kan berguna, makanya kita hafalin mati-matian."

"Lagian ngehafal tahun sejarah sama rumus matematika juga nggak guna buat kita. Makanya kita nggak ada motivasi~"

"Mungkin memang begitu. Tapi, bagaimana kalau kalian pikirkan dengan cara seperti ini?"

Sambil menatap mata mereka satu per satu secara bergantian, aku berbicara dengan suara yang selembut mungkin.

"Gyaru pintar yang bisa menyebutkan tahun sejarah atau rumus matematika dengan sempurna. Bukankah hal itu bakal jadi pesona keren yang nggak dimiliki gyaru lain?"

"Eh? Kita-kita nggak pernah mikir sampai ke sana."

"Setidaknya kalau menurutku, gyaru yang seperti itu sangat keren. Gap moe-nya pasti bakal gila banget, kan."

Saat aku berbicara seperti itu sambil tersenyum... mereka bertiga menunjukkan wajah yang tampak sedikit berpikir.

"Abaikan saja omong kosong orang dewasa yang bilang 'demi masa depan'. Belajar keras demi tampil modis dan populer di masa sekarang. Menurutku, nggak ada salahnya kalau ada gyaru yang seperti itu."

Saat kusampaikan hal itu dengan serius, mereka mungkin membayangkan diri mereka menjadi seperti itu. Seperti anak kecil yang diberi mainan baru, mata mereka mulai berbinar-binar.

"Hee... Boleh juga idenya. Kebetulan gua lagi ada cowok yang pengen gua taklukin nih."

"Lagian Ichinose, karena lu udah bikin kita termotivasi, lu harus tanggung jawab lho ya?"

"Tentu. Aku akan meminjamkan catatanku kapan pun kalian mau, dan kalau ada yang kalian tidak mengerti, aku akan mengajari kalian."

"Sip, oke deh. Kalau gitu, kita-kita bakal berusaha!"

Mereka bertiga terlihat benar-benar termotivasi. Apa pun hasil akhirnya nanti, fakta bahwa mereka menjadi positif terhadap pelajaran adalah hal yang baik.

"Oh ya. Kalau kalian tidak keberatan, bisakah kalian bertiga menekan tombol alat ini?"

"Hm? Apaan nih alat aneh?"

"Semacam alat pengukur kecocokan. Cobalah buat mainan."

"Serius? Kita bisa tahu kecocokan kita sama Ichinose pakai ini?"

"Kalau nilainya seratus, lu mau pacaran sama gua nggak?"

Walaupun meributkan hal-hal seperti itu, tiga gyaru itu bergiliran menekan tombol alat pengukur. Hasilnya masing-masing adalah, tiga puluh, empat puluh dua, dua puluh lima... yah, wajar saja sih.

"Haaah? Alatnya rusak kali nih? Kita kan jauh lebih akrab dari ini."

"Memang semacam mainan kok. Terima kasih ya sudah mau mencoba."

Selesai mengukur, mereka bertiga berjalan pergi sambil melambaikan tangan walau masih sedikit protes. Setelah mengantar kepergian mereka dan hendak melangkah maju, tepat pada saat itu.

"Ichinose! Ada waktu sebentar?"

"Ah, Shigeta-senpai. Selamat pagi."

Orang yang memanggilku adalah kakak kelas tiga yang juga merupakan kartu as (ace) klub bisbol, Shigeta-senpai. Dia yang masih mengenakan seragam berlumuran lumpur sehabis latihan pagi, tiba-tiba menundukkan kepalanya kepadaku.

"Kumohon, Ichinose! Di pertandingan berikutnya... bisakah kau turun ke lapangan untuk menggantikanku?"

"...Shigeta-senpai. Bukankah kita sudah janji kalau aku hanya akan menjadi pemain bantuan untuk satu pertandingan itu saja?"

"Aku tahu! Tapi, dibandingkan jika aku yang melempar... peluang menang kita lebih tinggi jika kau yang melempar!"

"Sekalipun begitu. Apakah anggota klub yang lain menyetujui hal itu?"

"...Tidak, bukan begitu. Ini murni keputusanku sendiri."

"Kalau begitu, aku yakin semuanya akan marah jika aku yang melempar. Di pertandingan itu, semua orang menerima kehadiranku yang orang luar ini karena cedera Senpai belum sembuh total."

"Tapi...! Sebagai kapten klub, aku ingin membawa tim ke Koshien!"

"Bukan begitu, Senpai. Koshien yang didambakan oleh semuanya itu bukanlah Koshien yang dicapai dengan mengandalkan orang luar... melainkan Koshien yang menanti di balik kemenangan yang diraih bersama ace yang mereka percayai."

Ketika aku menjawab seperti itu, Shigeta-senpai menunjukkan ekspresi tersentak.

"Biar kutanya balik. Seandainya aku menyuruh Shigeta-senpai untuk mengeluarkan pemain dengan kemampuan paling rendah dari pemain inti agar aku bisa masuk, apakah Senpai akan setuju?"

"Ma, mana mungkin aku setuju...!"

"Itulah jawabannya, Shigeta-senpai. Tolong pastikan kalian lolos ke Koshien ya."

Sambil berkata begitu, aku mengulurkan kepalan tangan kananku. Lalu Shigeta-senpai menghela napas panjang, kemudian meninju pelan kepalan tanganku dengan kepalan tangannya.

"...Ampun deh. Kalau begini, aku jadi nggak tahu siapa yang sebenarnya senior."

"Anda terlalu memuji."

"Ichinose. Kalau ada hal yang bisa kubantu, beri tahu aku kapan saja. Aku... tidak, seluruh anggota klub bisbol pasti akan meminjamkan kekuatan kami untukmu!"

Shigeta-senpai menunjukkan senyuman segar yang khas anak bisbol SMA, lalu berlari pergi menembus angin. Kharismanya sebagai kapten yang disukai oleh banyak anggota klub, mungkin ada hal yang bisa kupelajari dari orang itu.

"...Oh iya, ngomong-ngomong. Haruna, dari tadi kamu diam terus."

"A, ahahaha... Aku baru sadar kalau aku lupa, Shou-kun itu memang super populer baik di kalangan cowok maupun cewek, ya."

Haruna berjongkok di sudut jalan, merajuk sambil menggores-gores tanah dengan ranting kayu. Matanya sudah dipenuhi dengan butiran air mata yang besar, dan kelihatannya dia akan mulai menangis kapan saja.

"Lagian ya... Shou-kun itu terlalu sempurna tau. Udah wajahnya tampan..."

"Aku nggak tahu soal ketampanan dari sananya, tapi aku memang selalu memperhatikan gaya rambut dan perawatan kulit."

"Nilaimu juga dari dulu selalu di puncak... kemampuan atletikmu juga luar biasa."

"Tentu saja, karena setiap hari aku selalu belajar dengan giat dan tidak pernah melewatkan latihan."

"Uuuugh! Padahal kamu udah punya aku, kenapa kamu malah terus-terusan memperindah diri kamu begituuu! Kamu nggak perlu jadi lebih populer lagi dari ini, kan!"

"Mau populer atau apalah, aku nggak peduli sama sekali. Aku hanya ingin dipuji oleh ibu!"

Baik penampilan, pelajaran, maupun olahraga. Kemampuan lainnya... bahkan keterampilan mengerjakan pekerjaan rumah pun alasannya sama. Dengan penampilan yang bersih dan rapi, ibu akan memujiku. Jika aku mendapat nilai sempurna saat ujian, jika aku berprestasi di festival olahraga, jika aku memenangkan suatu penghargaan. Setiap kali aku melakukan itu, ibu akan memujiku dan mengelus kepalaku. Demi hal itu, aku tidak akan segan-segan mengerahkan segala bentuk usaha!

"Haah... Shou-kun memang serba sempurna dalam segala hal, tapi... sayangnya sifat mazacon tingkat beratmu itu jadi nilai minus. Eh nggak deng, menurutku ini mah udah masuk level luka fatal."

"Katakan saja sesukamu. Kalau hanya karena peduli dipanggil mazacon sampai membuat seseorang nggak bisa menyayangi ibunya sendiri, orang seperti itu berarti telah gagal menjadi seorang putra!"

"Ugh...! Karena perkataanmu itu ada benarnya juga, rasanya jadi makin ngeselin...!"

"Tapi, ini adalah sebuah salah perhitungan yang membahagiakan. Siapa sangka hasil dari mengasah diriku demi membuat ibu senang, ternyata bisa sangat berguna dalam mencari Gadis Penyihir."

Pada umumnya, manusia memang akan bersikap ramah kepada seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa. Terlepas dari bagaimana niat mereka sebenarnya, di sekolah ini tidak ada satu pun orang yang akan menolak... saat aku meminta mereka untuk melakukan pengukuran dengan alat ini. Dengan ini, aku tinggal mencari kandidat dengan bakat yang luar biasa dari seluruh siswa perempuan di sekolah ini. Kalau ternyata orangnya tidak ada di dalam sekolah ini, mau tidak mau aku harus mencari di tempat lain, tapi... itu akan kupikirkan nanti saja.

"Masih... Masih ada peluang untuk menang. Sebelum Shou-kun menemukan kandidatnya, aku akan..."

"Hei. Kalau kamu cuma melamun di situ, kutinggal lho."

"Aah! Tunggu dong!"

Haruna kelihatannya sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik. Aku sudah bisa menebaknya, tapi, kurasa aku tidak perlu terlalu memikirkannya. Bagaimanapun dia berusaha, mustahil aku akan menjadikannya Gadis Penyihir. Aku akan mencari kandidat terbaik dengan bakat luar biasa yang melampaui ibuku. Untuk saat ini, aku hanya perlu memusatkan seluruh konsentrasiku pada hal itu saja.

"Eeh? Ramalan kecocokan? Boleh aja sih, kucoba ya~"

Siswi teman sekelasku, Takayama Shizuha. Aku mengincar kemampuan fisiknya karena ia adalah anggota klub judo, tapi hasil pengukurannya hanya tiga puluh delapan.

"Fu, fuhihi...! Aku merasakannya, aku merasakannya. Gelombang aura jahat yang dipancarkan oleh alat ini!"

Siswi kakak kelasku, Kageshima Rei. Kudengar dia anggota Klub Peneliti Ilmu Gaib, jadi aku berharap ada kekuatan misterius yang terpendam, tapi... hasil pengukurannya hanya dua puluh dua.

"Ara ara, Ichinose-kun. Kamu bawa-bawa mainan seperti ini, kamu ini murid yang nakal ya... ufufufu."

Guru matematika, Inui Kyouko. Kukira akan ada secercah harapan karena ia seumuran dengan ibu, tapi hasil pengukurannya hanya sebelas.

"Pabarabi, Boborabudero, Myakuranaberuperuchinooo!"

Siswi adik kelasku, Utsunomiya Aika. Sepertinya ia mengaku-ngaku sebagai manusia planet Venus, tapi kekuatan kosmiknya tidak bekerja dengan baik... hasil pengukurannya tiga puluh tujuh.

"Hei, Ichinose. Apaan tuh? Biarkan aku ikut memainkannya dong."

Salah satu teman laki-lakiku, Akutsu Tetsuo. Dia menerobos masuk saat aku sedang mengukur siswi perempuan lain, sehingga membuatku terpaksa mengukurnya juga. Tentu saja hasilnya nol. Untuk jaga-jaga aku mencoba mengukur beberapa laki-laki lain juga, tapi hasilnya tetap sama bagi semua orang. Tampaknya secara biologis, laki-laki tidak akan pernah bisa menjadi Gadis Penyihir sekeras apa pun usaha mereka.

"Myaaoon... Nya, nyanyaaan!"

Kucing betina peliharaan kepala sekolah, Rose-chan. Kupikir mungkin bisa karena kucing ini betina, lalu aku mengukurnya, tapi... hasilnya lima.

"Eh? Nggak mungkin, aku... angkanya sama dengan kucing? Masa sih...!"

"Nyanya... nyanyanyanyaa. (Semangatlah, kawan sesama pecundang. Pertarungan kita baru saja dimulai nya.)"

Haruna yang sedih karena fakta bahwa ia berada di level yang sama dengan seekor kucing, dan Rose-chan yang meletakkan tangan bantalan dagingnya di bahu gadis itu. Di sana, terlihat pemandangan keakraban para pecundang yang hampa.

"...Masih, masih bisa terus kucari."

Memang tidak berjalan dengan mulus... tapi aku tidak perlu terburu-buru. Kalau aku mencoba mengajak bicara anak perempuan yang berbeda-beda satu per satu, cepat atau lambat pasti ada satu orang kandidat yang akan kutemukan. Dari total sekitar seribu murid di sekolah ini, jumlah murid perempuan sekitar lima ratus orang. Dengan jumlah sebanyak itu... pasti.

"Kumohon..."

Aku menggenggam erat alat pengukur itu dengan penuh doa, dan menantikan kesempatan berikutnya.

Beberapa hari sejak aku mulai mencari kandidat Gadis Penyihir.

"Sial! Nggak kusangka aku bakal kesulitan sampai begini!"

Sepulang sekolah, di atap yang sepi tanpa seorang pun. Aku mengingat-ingat hasil pengukuran yang sama sekali tidak menunjukkan kemajuan ini, dan tanpa sadar meninju pagar kawat.

"Upupupu, repot juga ya... Shou-kun."

Haruna memunculkan separuh tubuhnya dari balik pintu masuk atap, dan tersenyum menyeringai. Dia sepertinya sangat senang karena aku tidak berhasil menemukan kandidat Gadis Penyihir.

"Mending nyerah aja deh, terus jadiin aku Gadis Penyihirnya~"

"Aku menolak. Magipura yang dibutuhkan untuk berubah menjadi Gadis Penyihir itu sangat langka. Menghabiskannya untukmu itu terlalu mubazir, aku tidak bisa melakukannya."

"Uguu...! Memang benar aku mungkin nggak punya bakat! Tapi aku akan berusaha tahu! Aku bakal latihan keras dengan giat, terus sebentar lagi aku pasti bakal ngelampauin Izumi-san deh!"

Haruna berlari menghampiriku, dan mati-matian meyakinkanku tentang hal itu. Meskipun aku sangat senang dengan perasaannya itu... aku tetap tidak bisa menganggukkan kepalaku untuk mengiyakannya.

"Lagipula, kenapa kamu sebegitu inginnya menjadi Gadis Penyihir?"

"Eh? Itu karena..."

"Kamu juga tahu sendiri, kan? Seberapa banyak ibu telah menderita..."

Jika berbicara tentang Gadis Penyihir, dahulu hal tersebut hanyalah entitas yang muncul dalam karya fiksi seperti anime. Gadis-gadis manis yang beraksi dengan kekuatan sihir dan mengalahkan kejahatan, sebuah perkembangan cerita yang klasik. Akan tetapi, menjadi Gadis Penyihir di dunia nyata tidaklah semanis di anime. Terluka parah seperti kulit robek atau patah tulang dalam pertarungan melawan monster-monster tangguh adalah hal yang biasa terjadi sehari-hari. Bahkan sampai sekarang, di punggung ibu masih tertinggal bekas luka yang mengerikan akibat pertarungan di masa lalu.

"Jangan coba-coba memasukinya dengan tekad setengah-setengah... dunia Gadis Penyihir itu."

"Bu, bukan begitu lho! Shou-kun, aku..."

Haruna menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepalanya dengan rasa frustrasi. Ah, aku tahu kok. Dia mengatakannya dengan caranya sendiri karena dia juga memikirkanku.

"Maaf... aku bicara terlalu kasar. Karena banyak hal yang tidak berjalan lancar, aku jadi kesal sendiri."

"...Bodoh, jahat, mazacon."

"Aku tidak akan menyangkalnya. Aku yang merencanakan untuk membuat seseorang menjadi Gadis Penyihir ini... memang bukan pria yang baik-baik."

Pada akhirnya, demi menyelamatkan ibuku, aku mencoba untuk mempersembahkan tumbal pengganti ibu kepada dunia. Bajingan sepertiku ini, suatu saat pasti akan jatuh ke neraka.

"Sekalipun begitu, aku tetap harus menyelesaikannya."

"Shou-kun..."

"...Sebaiknya kita pulang sekarang. Sebagai permintaan maaf karena yang tadi, aku bakal traktir kamu sesuatu."

Tidak ada gunanya terus menerus meratap dan bermuram durja di sini. Aku mengumpulkan kembali semangatku dan hendak membawa Haruna turun dari atap, tetapi...

"Uh!"

"Kyaa!"

Tiba-tiba, pintu terbuka dengan kuat... dan aku tak sengaja menabrak seseorang yang baru saja masuk ke atap. Saat itu, alat pengukur yang berada di sakuku terjatuh... lalu menggelinding di lantai.

"...Sakit tahu."

"Ah, maaf. Aku tidak menyadarinya."

Saat aku melihat sosok yang kutabrak itu, kulihat seorang gadis yang tak pernah kukenali. Tidak, lebih tepatnya... entah kenapa dia tidak mengenakan seragam sekolah ini, melainkan mengenakan pakaian blazer. Dia membiarkan rambut panjangnya yang indah dan berwarna biru berkibar ditiup angin kencang di atap... dan bisa dibilang dia adalah gadis yang cukup cantik, meskipun belum mencapai tingkat ibuku. Mata yang tajam memanjang, serta hidung dan bibir yang proporsional dengan sempurna. Tubuhnya yang tinggi dan langsing membuatnya terlihat seperti seorang model majalah modis. Jika Haruna itu masuk dalam tipe imut, maka gadis ini ada di tipe cantik... penampilannya seperti wanita cantik yang dingin dan tenang (cool beauty).

"Shou-kun, kamu nggak apa-apa?"

"Ya, aku nggak apa-apa, tapi..."

Haruna berlari menghampiriku dengan tatapan khawatir. Sejujurnya ketimbang memikirkan diriku sendiri, aku lebih khawatir alat yang jatuh tadi rusak atau tidak.

"...Ini punya kamu?"

Gadis misterius itu memungut alat pengukur yang menggelinding ke kakinya sambil menanyakannya kepadaku. Saat itulah, jarinya yang memegang alat itu... tidak sengaja menekan tombol merah di depannya.

"Wah!? A, apa-apaan ini!?"

Kyuuiiinnn, kyuinkyuinn, kyuuiiiinn! Tiba-tiba, suara mekanik yang sangat melengking nan manis bergema dari alat pengukur itu. Mungkinkah, ini...?

"Ya ampun, apaan sih ini! Nih, aku kembalikan!"

Gadis itu mengernyitkan dahi dengan raut tidak senang, lalu melemparkan alat itu ke arahku. Aku menangkapnya dengan aman dan dengan sigap langsung mengecek angka di skalanya.

"Hasil pengukurannya... sem, sembilan puluh lima... katanya?"

"Eeeeeehhhh!? Dibandingkan milikku, satuuu, duaaa, tigaaa... sembilan belas kali lipatnya!?"

Melihat hasil yang luar biasa itu, tanpa sadar mataku dan Haruna terpaku pada angka skalanya. Akhirnya aku menemukannya...! Kandidat berbakat luar biasa yang mungkin dapat melampaui ibuku!

"Aku nggak terlalu paham, tapi walaupun alat itu rusak, itu bukan salahku lho ya."

Di sisi lain, karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi, gadis itu menatap kami dengan wajah masam. Gawat. Ini keberuntungan bisa menemukan seorang kandidat, tetapi pertemuan awal kami benar-benar sangat buruk. Kalau aku membicarakan topik intinya dalam situasi seperti ini, rasanya tidak akan mungkin terjadi diskusi yang bersahabat.

"...Nggak apa-apa kok. Ini kan cuma kayak mainan, jadi tolong jangan terlalu dipikirkan."

"Oh gitu. Ya udahlah, bukan urusanku."

Gadis itu memalingkan muka, lalu mengarahkan pandangannya ke kejauhan. Jangan terburu-buru, diriku. Di sini aku harus berhati-hati, dan pelan-pelan... melembutkan hatinya.

"Hmm, seragammu itu... jangan-jangan, kau ini murid pindahan?"

"Memangnya kenapa kalau iya? Mulai besok, aku akan masuk ke sekolah ini."

Jadi begitu. Berarti hari ini dia datang ke sini untuk mengurus keperluan administrasinya. Tapi, aneh juga. Hanya karena tabrakan kecil tadi, dia sampai terlihat emosi begitu... apa ada suatu masalah?

"Heh? Kalau begitu mungkin saja kamu bakal satu kelas sama kami."

"Kami ini murid kelas dua lho. Kalau kamu?"

"Kelas dua... sih."

"Ternyata kita seangkatan. Namaku Ichinose Shoutarou, dan di sebelah ini Momono Haruna. Kelas kami ada di Kelas A, kalau misalnya nanti kita berada di kelas yang sama, mohon bantuannya ya."

Aku memperkenalkan diriku dengan semangat yang sangat menyegarkan agar dia tidak menaruh kecurigaan sama sekali. Beruntung sekali saat ini aku punya perempuan di sisiku, yaitu Haruna. Semoga dengan ini aku bisa sedikit melonggarkan kewaspadaannya, tapi...

"...Bukan urusanku. Aku nggak punya niatan buat akrab sama kalian."

Namun dengan ekspresinya yang masih tetap dingin, ia berjalan pergi menuruni atap tanpa memberi tahu kami namanya. Ugh...! Tetap saja gagal, ya!

"Hei, Shou-kun. Bukannya seragam cewek tadi itu... seragam Akademi Putri Celestia, kan?"

"Akademi Putri Celestia? Bukannya itu sekolah yang isinya anak cewek dari keluarga super kaya itu?"

"Iya, nggak salah lagi. Sebagai seorang siswi SMA, aku udah hafal di luar kepala semua seragam sekolah di sekitar sini."

Dari akademi khusus perempuan yang isinya putri dari keluarga kaya, sengaja pindah ke SMA umum... ya. Mengingat kedua sekolah masih sama-sama di area Tokyo, sepertinya juga bukan karena kedua orang tuanya yang pindah tugas. Mungkin saja alasan di balik rasa kesalnya tadi juga tersembunyi di balik fakta tersebut.

"Apa pun alasannya, ini adalah peluang terbesarku. Dialah yang terpilih jadi kandidat utama."

"Gununununuu... aku udah nebak, pasti bakal jadi begini."

"Mulai besok aku bakal pelan-pelan ngedeketin dia, lalu pas dia udah membuka hatinya barulah aku mulai mengungkit topik Gadis Penyihirnya."

"Tapi kan, tapi kan! Kalau cewek itu dimasukkin ke kelas lain, bukannya bakal susah buat akrab sama dia?"

"Nggak, kalau soal itu nggak ada masalah. Selama setahun lebih aku masuk ke sekolah ini... aku sudah mengantongi kelemahan dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kepala angkatan, sampai wali kelas kita."

Kalau aku "memohon" pada mereka dengan memakai hal tersebut, mereka pasti akan memenuhi permintaanku itu.

"Kelemahan... Shou-kun. Kamu selalu aja ngelakuin hal-hal semacam itu."

"Kita kan nggak pernah tahu apa yang bakal berguna nantinya. Pada dasarnya, aku udah mengumpulkan semua informasi tentang orang-orang di sekolah kita ini lho."

"Eh? Jangan-jangan itu termasuk aku juga...?"

"...Entahlah ya."

"Bu, bukan gitu lho! Faktanya berat badanku naik dua kilogram bulan ini cuma gara-gara dadaku yang makin besar...! Ukuran lingkar dadaku itu lho ya, nambah tiga sentimeter..."

"...Jangan mengoceh membongkar informasi nggak penting yang bahkan sama sekali nggak kutanyakan padamu."

Sambil merasa setengah pasrah dengan kebodohan teman masa kecilku ini, aku kembali melangkah pergi dari atap sekolah.

"Dunggu dongg...! Percaayaa dongngng...! Jhouu-ghuunnn!"

Demi mendiamkan teman masa kecilku yang mengejarku dari belakang sambil setengah menangis ini, kurasa aku akan membelikannya es krim atau crepes di perjalanan pulang nanti.

"Waaaai! Es krim tiga lapis!"

Di perjalanan pulang dari sekolah. Haruna sudah sepenuhnya kembali gembira setelah dibelikan es krim. Dengan senyuman lebar, ia menjilat-jilat dan menikmati es krim tiga lapis rasa cokelat mint, stroberi, serta kuki dan krim.

"...Biarpun kamu menatapku dengan mata seperti itu, aku nggak bakal ngebagi lho ya?"

"Siapa juga yang mau. Kalau aku mau aku bakal membelinya sendiri."

"Mau bagaimana lagi deh... kalau cuma satu suap saja nggak apa-apa. Nih, silakan~"

"Haah, kepalaku jadi pusing..."

Ini memang hal yang biasa terjadi sih, tapi kalau aku terus-terusan mengobrol dengan anak ini laju perbincangannya selalu jadi kacau. Kalau diartikan seperti itu, bisa dibilang Haruna itu adalah musuh bebuyutanku.

"Ketimbang es krim, aku lebih butuh kompres es batu untuk mendinginkan kepalaku..."

Rasa semangat yang sudah susah payah membuncah gara-gara menemukan kandidat terbaik jadi rusak sudah. Tepat saat kami berjalan dan mencapai jalanan utama sembari memikirkan hal itu... telinga kami mendengar suara sorak-sorai yang keras.

"Waaaaaahhh! Hajaarrrrrr!"

Saat aku mengangkat pandanganku, kulihat ada gerombolan sekitar belasan orang yang berkumpul di area luas di depan perempatan jalan. Dan tampaknya mereka semua sedang bersorak kegirangan sambil menatap layar videotron berukuran raksasa yang terpasang di salah satu gedung.

"Cherry Diamond-taaaan! Semangaaaat!"

Apa yang ditayangkan di layar videotron raksasa itu adalah Gadis Penyihir Cherry Diamond yang sedang bertarung melawan monster. Tampaknya pertarungan ibuku dan monster itu sedang disiarkan secara langsung.

"Hei, Shou-kun. Orang-orang yang ada di sana itu, jangan-jangan..."

"Ya. Mereka adalah orang-orang dari Klub Penggemar Cherry Diamond."

Kemeja festival happi bermotif buah ceri, dan ikat kepala yang bertuliskan 'I Love Cherry Diamond-tan'. Karena semua orang memakai pakaian resmi klub penggemar, kurasa pertemuan mereka hari ini sudah selesai.

"Entah kenapa aku merasa agak takut..."

Haruna kelihatannya sedikit terintimidasi oleh hawa antusiasme para penggemar dan bersembunyi di punggungku dengan ekspresi agak takut. Astaga, memangnya apa yang perlu ditakutkan. Mana mungkin ada orang jahat di antara penggemar ibuku.

"Sori ya, Haruna. Aku mau ikut gabung sebentar."

"...Hah? T-Tunggu dulu, Shou-kun!?"

Aku mengeluarkan happi dan ikat kepala dari tasku lalu memakainya. Kemudian di lenganku... aku memasang ban lengan berwarna emas yang bertuliskan 'Ketua'.

"Hai semuanya, sepertinya kalian sedang bersemangat sekali ya."

"Oya oya! Wah wah wah, rupanya Tuan Ketua!"

Anggota klub penggemar yang sedang fokus melihat ke layar raksasa itu seketika menoleh ke arahku secara serentak. Setelah itu secara berkelanjutan, mereka mempraktekkan gaya khas salam resmi klub penggemar, yaitu pose andalan Cherry Diamond (dengan tongkat disodorkan ke depan sambil mengambil posisi kuda-kuda) secara serentak.

"Kekasih mungil kita semua!"

"Cherry Diamond!"

Aku juga tidak mau kalah dengan energi antusiasme mereka dan melakukan pose sambil berteriak keras. Bagus, ternyata saling membalas sapaan seperti ini benar-benar bisa menegangkan raga dan jiwa, ya.

"Ikeda-san, bagaimana situasi pertarungannya?"

Setelah menyapanya secukupnya, aku berbicara dengan seorang pria yang merupakan wakil ketua klub penggemar. Akulah pendiri dari klub penggemar ini, tapi dasar-dasar operasional dari klub ini sepenuhnya aku percayakan kepada pria ini.

"Monsternya sudah hampir KO. Ini hanya tinggal menunggu waktu saja."

Ikeda-san menepuk perutnya yang berisi dengan telapak tangannya sambil menjelaskannya dengan raut bangga. Ngomong-ngomong, dia adalah seorang veteran andal yang telah menjadi penggemar Cherry Diamond selama hampir dua puluh tahun.

"Syukurlah. Memang benar Cherry Diamond itu yang paling tak tertandingi."

"Fufufu, bukan hanya kuat, tapi belakangan ini kecantikannya juga semakin mempesona. Dengan Gadis Penyihir yang kuat dan imut seperti itu, tidak mendukungnya itu bukan pilihan!"

"Uwooooooooooh!!"

Teman-teman seperjuangan setuju dengan kata-kata Ikeda-san. Orang-orang di sekitar menatap kami dengan pandangan aneh, tapi biarpun begitu mereka juga menghentikan langkah kaki mereka... Semuanya dalam kondisi memperhatikan pertarungan Cherry Diamond.

"Ah, selesai."

Apa yang ditayangkan di layar videotron raksasa itu adalah adegan ibu melontarkan pukulan terakhir. Ibu mengumpulkan kekuatan sihir yang begitu besar di kepalan tangannya, meninju perut monster yang menyerupai harimau itu... lalu memberikan serangan lutut tepat ketika kepala monster itu tertunduk, dan diakhiri dengan serangan tumit berputar di udara sebagai finisher. Tampaknya karena tongkatnya terpental jatuh di tengah pertarungan, ia beralih ke pertarungan jarak dekat tangan kosong.

"...Lumayan juga menerima damage-nya, ya."

Terlihat ada banyak luka sayatan di sekujur tubuh Cherry Diamond di layar, dan pakaiannya juga compang-camping. Itu pasti terasa sangat menyakitkan... Ah, Ibu.

"Ya... Monster kali ini memang musuh yang lebih tangguh dari biasanya. Apalagi, monsternya menggunakan alat pengecut di awal pertarungan tadi."

"Alat pengecut?"

"Ya. Dia mencoba mengurung Cherry Diamond di dalam semacam pelindung aneh."

"Apa...!"

"Tapi jangan khawatir. Cherry Diamond kita berhasil menerobos pelindung itu dari dalam menggunakan seluruh kekuatannya dengan pukulan tinjunya, dan berhasil lolos! Dan dengan kekuatannya itu, ia juga berhasil mengalahkan monsternya!"

Dikurung oleh alat yang menciptakan pelindung... Tak kusangka dia sampai terjebak dalam masalah besar seperti itu. Meskipun begitu, agar tidak membuat cemas semua penonton di TV, ibu malah mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. Ah, sungguh... sungguh terlalu mulia...!

"Cherry Diamond-san! Tunggu sebentar!"

Pada saat itu, orang yang muncul di hadapan Cherry Diamond adalah wartawan acara televisi. Setelah mengalahkan monster, adakalanya kru televisi memang datang untuk melakukan wawancara seperti ini. Karena hari ini ibu mengacungkan jempol ke kamera televisi, sepertinya ia tidak bisa lari dari wawancara ini.

"Sungguh aksi yang luar biasa, Cherry Diamond-san! Apa kesan dan pesanmu tentang kemenangan ini?"

"Kesan dan pesan ya... saya hanya berpikir alangkah baiknya kalau saya bisa datang sedikit lebih awal."

"Menurut saya Anda sudah datang cukup cepat kok. Sepertinya tidak ada korban luka juga di kejadian kali ini."

"Astaga! Syukurlah kalau begitu! Cherry sangat senang mendengarnya!"

Ibu benar-benar meresapi persona Gadis Penyihirnya dan menjawab semua wawancara itu. Cara ibu menyebarkan pesona kelucuannya seperti inilah yang juga menjadi rahasia di balik popularitas Cherry Diamond, namun...

"Gyahahahaha! Nenek-nenek bau tanah nyebut dirinya sendiri 'Cherry' dong!"

Saat semua orang yang berkumpul di sini terdiam untuk memusatkan perhatian pada Cherry Diamond yang tayang di TV. Tiba-tiba, suara laki-laki yang sangat tidak menyenangkan bergema di seluruh area sekitarnya.

"Lagian, kosplay apaan tuh. Dilihat doang aja bikin gua mau muntah nih, uweek."

Orang yang melontarkan rentetan kata-kata vulgar yang tak pantas didengar itu adalah pemuda yankee (berandalan) dengan rambut pirang dan tindik. Ia sama sekali tidak peduli akan bagaimana perasaan orang-orang di sekitarnya saat mendengar perkataannya itu, dan hanya terus tertawa cekikikan tidak jelas.

"...Mau kita habisi?"

"Mohon tunggu dulu, Tuan Ketua. Ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan hasil latihan khusus kita... Formasi Perekrutan - Penghancuran Total."

Sebelum aku sempat bergerak duluan, para anggota klub penggemar yang dipimpin Ikeda-san sudah berjalan mendekati yankee brengsek itu... lalu mengepung di sekitarnya.

"Hah? Apaan lu semua? Dasar wibu-wibu sialan, bau tau nggak!"

"Nyali yang cukup bagus. Sayangnya, kau sudah jatuh ke dalam perangkap kami."

"Ngigau apaan sih lu? Kalau lu pada nggak mau dibunuh..."

"SERAAAAAAAAAAAANG!"

"UWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOH!!"

"W-Wah!? Hentikan! Lepaskan aku! U, Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaah!?"

Dalam sekejap mata, yankee brengsek itu pun tertelan oleh ombak kerumunan para klub penggemar. Tak peduli seberapa sombongnya dia, dia tidak akan bisa mengalahkan kekerasan dengan jumlah massa yang banyak. Tidak, sekalipun jumlahnya seimbang... pria berengsek yang akar sifatnya sudah busuk itu pasti tidak akan bisa menandingi anggota klub penggemar yang mengemban keyakinan kuat ini.

"Sh, Shou-kun. Itu, lagi berantem ya?"

Haruna yang sedari tadi terus mengawasi kami, menyapaku dari balik punggungku dengan raut ketakutan.

"Bukan, kau salah. Itu adalah semacam ritual reinkarnasi."

Beberapa saat kemudian, semua orang di klub penggemar perlahan-lahan kembali menyebar. Di tengah-tengahnya, berdirilah si yankee sialan yang entah sejak kapan telah dipakaikan happi dan ikat kepala milik Klub Penggemar Cherry Diamond.

"...Maaf, tadi mulutku sungguh khilaf. Cherry Diamond adalah, sosok Gadis Penyihir yang sangat hebat."

Berbeda dengan pandangan matanya yang buram seperti sebelumnya, sekarang pandangan matanya berbinar cerah saat yankee brengsek—eh ralat, kawan baru kita itu—mulai memuji Cherry Diamond.

"Cherry Diamond yang terbaik! Cherry Diamond terbaik! Paling Kuat! Tiada tanding! Imuttttt!"

"Anda memang luar biasa, Ikeda-san. Tak kusangka Anda bisa merehabilitasi bajingan itu dalam waktu sesingkat ini."

"Eh? Eh? Eh? Eeeeeeeeehhh!?"

"Ada apa Haruna, kau berisik sekali."

"Nggak, nggak, nggak! Ini mah namanya cuci otak, kan?"

"Apa yang Anda bicarakan, Nona pacar Ketua Ichinose. Kami ini hanya menceritakan sepak terjang Cherry Diamond selama ini kepada pemuda tersebut, dan kami juga memperlihatkan foto-fotonya saja lho."

"Eh? Aku pacarnya Shou-kun...? Ehehehe, jadi kelihatan kayak gitu ya?"

"Jika seseorang telah memahami daya tarik Cherry Diamond, sangat wajar jika orang itu berubah menjadi penggemarnya. Sekali lagi kami semua ini hanya membantu memberikan dorongan kepada orang tersebut lho, Nona pacar Ketua."

"Ih apaan sih! Nggak sampai pacar juga kali! Meskipun belum nyampe sejauh itu sih...♡ Ufufu♡"

Sepertinya obrolannya agak sedikit tidak nyambung, tapi melihat Haruna memundurkan langkahnya dengan kepuasan, ya sudahlah. Walaupun begitu, aku juga harus meluruskan kesalahpahaman ini kepada Ikeda-san nanti.

"Meskipun begitu, popularitas Cherry Diamond memang benar-benar luar biasa, ya."

Saat aku memandang ke sekelilingku sekali lagi, kulihat jumlah orang yang berlalu lalang dan menaruh perhatiannya pada wawancara ibuku di layar raksasa itu jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Mulai dari anak kecil, hingga orang lanjut usia yang memegang tongkatnya. Tidak memandang usia dan jenis kelamin, Cherry Diamond yang paling tak tertandingi ini terus dicintai... dan diandalkan oleh banyak orang.

"Cherry akan terus berjuang demi cinta dan perdamaian ke depannya! Mohon terus berikan dukungan kalian, ya!"

"WAAAAAAAAAHHH!!"

Aku melihat gelombang antusiasme yang membara itu sambil merenung. Mulai saat ini, aku harus menciptakan... seorang Gadis Penyihir yang dapat melampaui keberadaannya yang begitu luar biasa ini. Perjalananku menuju ke sana tidak akan pernah mudah, dan pasti akan ada rintangan yang belum pernah kuhadapi sebelumnya.

"(Akan kulakukan...! Aku pasti akan... menamatkan Cherry Diamond... ibuku.)"

Aku meremas kuat kepalanku dengan tekad yang baru, sembari menancapkan senyuman Cherry Diamond yang tersorot jelas di layar videotron raksasa itu ke dalam pikiranku.

"Aku pulang~"

Sepulang dari sekolah, aku langsung berjalan menuju ke ruang tamu. Di sana, terlihat ada sosok ibuku yang sedang bersandar lunglai di atas sofa.

"Ah, selamat pulang Shou-chan. Camilan pudingnya ada di kulkas ya~"

"Iya, nanti kuambil, ngomong-ngomong Ibu..."

Tepat ketika aku meletakkan tas di atas meja dan baru saja hendak mengajak ibu mengobrol. Suara mekanik aneh yang belum pernah kudengar sebelumnya berbunyi dengan keras, Bwiiiinnn.

"Ah, ah, ah~~~... Ini benar-benar lumayan ampuh juga, ya."

Saat aku melirik ke arah suara itu berasal, aku melihat ibu yang bersandar di sofa sedang menggosokkan alat pijat listrik ke bahunya sambil menggeliatkan tubuh dengan nyaman.

"...Ibu, apa yang sedang Ibu lakukan?"

"Eh? Habisnya hari ini aku terlalu lelah karena mengeluarkan banyak tenaga, jadi aku memijat tubuhku... Oh, oohh~"

Entah karena saking nyamannya atau apa, ibuku menyipitkan matanya sembari melontarkan erangan yang menggoda. Saat aku melihat pemandangan itu, pandanganku seketika terasa dipenuhi dengan kemarahan memuncak.

"Bukan itu... yang aku tanyakan, tahu?"

"Ngaaah? Kalau begitu jangan-jangan... ngaah, wawancara yang tadi ya... nghh."

Dari bahu kanan pindah ke bahu kiri. Ibu menggeser letak alat pijatnya, lalu kembali menikmati getaran dari alat itu.

"Sekali-kali kan nggak apa-apa kan...? Haahhh... Pertarungan hari ini terasa cukup sulit... ngooh!"

"Bukan hal itu yang aku maksudkan tahu!"

Karena tidak bisa menahan rasa marah ini, tanpa sadar aku menggebrak meja dengan kuat. Merasa kaget karena suaranya itu, ibuku seketika membuka lebar kedua matanya karena terkejut.

"Shou-chan? Ada apa...?"

"Alat pijat macam apa itu..."

"Eh? Emang ada apa dengan alat pijatnya?"

"Mijit Ibu itu kan udah jadi tugasku! Kenapa Ibu malah pakai alat aneh kayak gitu, sih!"

Aku dengan cepat menghampiri ibuku dan merebut alat pijatnya itu secara paksa. Beraninya mesin bodoh yang bisanya cuma getar-getar ini merebut tugas pentingku!

"Emm...? Shou-chan, emangnya kamu sebegitu maunya mijit mama, ya?"

"Ya iyalah! Menyembuhkan rasa lelah Ibu itu merupakan salah satu tujuan hidupku!"

Bahkan sejak masih kecil, aku sudah membaca semua buku-buku osteopati dan pijat, terus melatih kemampuan pijat akupresurku... semuanya kan cuma demi Ibu! Alat pijat elektrik kotor nan murahan kayak gitu, jangan harap bisa ngalahin kemampuanku ini!

"...Maafkan Ibu, Shou-chan. Belakangan ini Shou-chan sering menunjukkan wajah yang tertekan... makanya Ibu jadi segan mau minta tolong pijit sama kamu. Terus ujung-ujungnya ibu tanpa sengaja malah beli alat ini."

Perkataan ibu yang terdengar sangat merasa bersalah itu membuatku tiba-tiba tersadar. Benar juga. Akhir-akhir ini karena pencarian Gadis Penyihir terasa begitu sulit... aku jadi terlalu terburu-buru. Makanya Ibu terpaksa ngelakuin ini... Sialan! Berarti ini semua kan salahku!

"Uugh...! Yang salah itu sepenuhnya aku...! Ibu, aku benar-benar minta maaf!"

"Nggak apa-apa kok, kamu nggak perlu minta maaf. Ibu sangat tahu kalau kamu selama ini sudah bekerja keras untuk semuanya."

Tangan yang terulur dari ibu memeluk tubuhku dengan lembut, dan aku pun tenggelam di pelukannya. Aaaah...! Kehangatan, aroma, dan sentuhan Ibu...! Semua itu menenangkan gejolak hatiku yang tengah dilanda kecemasan ini.

"Kalau gitu, gimana kalau kamu pijitin aku sekarang?"

"Boleh nih? Aku yang... mijitin Ibu..."

Ibu tersenyum sambil menganggukkan kepala, dan ia langsung menduduki tubuhku.

"Aku mulai ya, Ibu..."

"Um, ayo lakukan...♡ Berikan perasaan nyaman yang luar biasa dengan pijitanmu ya, Shou-chan♡"

Jari-jariku menekan secara halus di sepanjang punggung Ibu, saat aku mulai mendeteksi titik-titik ketegangan yang paling parah padanya.

"Ngh... Aaah... Mhhh"

"Parah banget ya... Ibu terlalu memaksakan diri, kan?"












"Aah, habisnya... monster akhir-akhir ini, agak, tangguh, sih... hyuu."

Grit, saat aku mengurai otot-otot di sekitar bahunya... tubuh ibu tersentak kuat.

Ini adalah bukti bahwa ia menggunakan kekuatan yang sangat besar untuk menggerakkan lengannya sehari-hari.

"Emangnya serepot itu? Hari ini juga Ibu nggak pakai tongkat sihirnya, kan?"

"Iya, kalau cuma pakai tembakan sinar biasa pasti bakal dihindari... Nnngh, shii... Bertarung mengandalkan kekuatan fisik malah, aah, lebih gampang... poaah, enaak...♡"

"Ibu juga lumayan banyak terluka, kan? Apa Ibu menyembuhkannya pakai sihir?"

"Kalau cuma luka segitu sih, haahn... hanya butuh sekejap... oh, oh, ooooh~~~♡"

Mulai dari sekitar leher, bahu, punggung, pinggang, sekitar bokong, paha, betis, hingga ujung kaki.

Tanpa melewatkan satu bagian pun, aku mengendurkan kekakuan di seluruh tubuh ibu.

Reaksi ibu juga jauh lebih baik dari biasanya, sepertinya pijatanku ini sangat manjur.

"Nnngh~~~~♡ Shou-chan, kamu jadi pintar banget mijatnya. Berkat kamu seluruh tubuh ibu jadi segar. Rasanya badan ibu jadi ringan banget."

"Itu karena aku melancarkan aliran getah bening Ibu. Ya, melancarkan kelenjar getah beningnya dengan cara... seperti itu."

Pijatan pun selesai, dan ibu bangkit dari sofa.

Kukira untuk hari ini sudah selesai... tapi ternyata dugaanku salah.

"Eii! Shou-chan, berbaringlah di sofa~"

"Eh? Eh?"

Tiba-tiba ibu menarikku hingga aku terjatuh ke sofa, dan ia langsung menduduki tubuhku.

"Sekali-kali, giliran Mama yang akan memijat Shou-chan."

"Nggak, aku nggak usah...!"

"Nggak boleeeh! Mama juga kan, ingin membuat Shou-chan merasa enak♡"

Sambil menjilat bibirnya dengan lidah merahnya, ibu meletakkan kedua tangannya di bahuku yang tak bisa bergerak.

"Hyiin...!"

"Ufufu, suara yang bagus... Memijatmu pasti bakal sepadan nih."

"Ja, jangan...! Bukannya bikin aku merasa enak, tapi Ibu yang harusnya... ngooh!"

Grit, gri gri gri gri gri.

Hanya dengan gerakan jarinya yang kuat namun lembut itu, dalam sekejap aku langsung takluk pada kenikmatannya.

"Shou-chan... nikmati kasih sayang Mama sepuasssnya, ya?"

"Ah, ah, aaaaaah~~~~~~~~!"

Hari ini, keberuntungan terbesarku bukanlah karena aku berhasil menemukan kandidat Gadis Penyihir.

Melainkan mendapatkan pijatan yang penuh kasih sayang dari ibu seperti ini.

Bagiku, itulah kejadian yang paling membahagiakan dari apa pun di dunia ini.





❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar