Featured Image

My Mom Strongest Magical Girl V1 C1

Metoya Februari 13, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Ibuku Adalah Mahou Shoujo Terkuat

Gadis Penyihir legendaris, Cherry Diamond.


Sejak dua puluh tahun yang lalu, ia telah terlibat dalam pertempuran sengit melawan organisasi jahat Shadow Nexus. Bahkan setelah banyak Gadis Penyihir baru yang bermunculan sejak saat itu... ia tetaplah Gadis Penyihir terkuat yang terus aktif di garis depan.


Bisa dibilang tidak ada hari tanpa mendengar berita tentang sepak terjangnya. Meskipun ia mengumpulkan begitu banyak dukungan dan perhatian dari masyarakat... identitas aslinya benar-benar dirahasiakan.


"Ini adalah berita Gadis Penyihir hari ini. Monster Mecha Gamegoras yang muncul di Kota Kofu, Prefektur Yamanashi, telah berhasil dipukul mundur dengan aman oleh Cherry Diamond yang muncul tak lama kemudian. Akibat serangan monster ini, beberapa rumah warga mengalami kerusakan, namun dilaporkan tidak ada korban luka."


Sambil bersantai di sofa ruang tamu, aku menonton berita sore.


Di televisi, rekaman amatir kiriman pemirsa dari lokasi kejadian sedang ditayangkan, dan di dalamnya tampak Cherry Diamond... alias ibuku, sedang bertarung sengit melawan monster yang menyerupai kura-kura.


"Hari ini di Yamanashi, ya..."


Seharusnya ada Gadis Penyihir yang ditugaskan secara khusus di Yamanashi juga, tetapi mungkin mereka tidak datang tepat waktu.


Karena itulah ibu harus repot-repot bergegas ke sana, pikirku.


Tepat di sebelah sofa, dengan suara buun, sebuah pusaran cahaya biru pucat muncul.


Dan tak lama dari dalam pusaran itu, dengan suara nyurun, seorang wanita melompat keluar.


"Aku pulaaang! Shou-chan, maaf ya ibu pulangnya telat!"


Rambut panjang kemerahan dengan sedikit highlight yang dikepang menjadi twintail, serta mengenakan kostum penuh pita dan renda yang menonjolkan kelucuannya secara maksimal—itulah sang Gadis Penyihir.


Penampilannya sama sekali tidak terlihat seperti seorang ibu beranak satu, namun ia tak pelak lagi adalah ibuku... Ichinose Izumi.


"Ibu akan buat makan malam sekarang, ya!"


Tepat setelah ibu mengatakan itu, cahaya yang menyilaukan menyelimuti seluruh tubuhnya... dan wujudnya berubah dengan cepat.


Walaupun aku bilang wujudnya berubah, gaya rambutnya hanya berubah dari twintail merah menjadi ikatan tunggal yang bervolume.


Pakaiannya juga hanya berubah dari kostum Gadis Penyihir menjadi kaus dan celana jeans... ditambah dengan celemek.


Intinya, ia baru saja melepas wujud transformasi Gadis Penyihirnya.


"Kalau makan malam, aku sudah membuatnya. Ada resep kari yang kelihatannya enak di buku resep."


"Eh? Benarkah? Shou-chan, terima kasih ya selalu!"


Sambil menempelkan kedua tangan di pipinya, ibu melompat-lompat kecil kegirangan.


Boleh saja ia merasa senang, tapi aku harus memastikan hal yang penting.


"Daripada itu, Ibu. Hari ini juga ibu benar-benar berhati-hati agar identitas ibu tidak ketahuan, kan?"


"Ya ampun Shou-chan, kamu pikir sudah berapa tahun ibu menjadi Gadis Penyihir? Identitas ibu tidak akan ketahuan, kok."


Sambil mengacungkan jempol, ibu menjawab dengan wajah yang bangga.


Karena ia telah menjadi Gadis Penyihir selama lebih dari dua puluh tahun, kata-katanya itu tentu memiliki daya pancing yang meyakinkan.


Tapi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja dengan berkata, "Oh begitu ya."


"Begini ya, Ibu. Atlet papan atas dan pengrajin terampil sekalipun terkadang melakukan kesalahan. Dalam kasus ibu, satu kesalahan saja bisa berakibat fatal, ibu mengerti, kan?"


"Ugh..."


"Aku juga tidak ingin bicara terlalu keras. Tapi, kalau ibu ingin terus menjadi Gadis Penyihir, ke depannya tolong benar-benar berhati-hati agar identitasmu tidak ketahuan."


"Iyaaa... maaf ya, Shou-chan."


"Ya, baguslah kalau ibu mengerti. Sebelum makan, ibu mandi dulu sana?"


"Ibu mandi dulu... habis membilas keringat, ibu akan makan kari buatan Shou-chan yang banyak."


Mungkin karena aku bicara sedikit terlalu keras padanya, ibu menuju ke kamar mandi dengan sikap yang murung.


Aku diam-diam memperhatikan punggungnya, dan ketika sosok ibu benar-benar menghilang ke ruang ganti...


"(Woooaaaaahhh! Ibuuu! Ibuku kenapa manis sekaliiiii!)"


Sambil bergulingan di sofa dan menutupi wajahku dengan bantal, aku mengerang kegirangan.


Apa kalian melihatnya? Wujud Gadis Penyihir barusan!


Walaupun usianya hampir empat puluh tahun, adakah ibu beranak satu yang bisa mengenakan kostum itu dengan sesempurna itu?!


Tidak, tidak ada! Malah bisa dibilang, kostum itu jauh lebih cocok untuknya sekarang daripada saat dia masih muda!


"Aaaaaaaaaaahhhh...! Terlebih lagi, hari ini pun dia kembali beraksi hebat! Menyelamatkan banyak orang! Aku, aku sangat bangga! Ibuku terlalu membanggakan, aku sampai sudah tidak sanggup menatapnya langsung!"


Brak brak brak. Perasaanku pada ibu terlalu meluap-luap hingga aku melompat-lompat di atas sofa.


Sejak aku masih kecil, aku terus dan terus melihat sosok ibu bertarung sebagai Gadis Penyihir.


Setiap hari, pergi ke lokasi serangan Shadow Nexus di seluruh penjuru Jepang... dan mengalahkan monster.


Betapapun menyakitkannya, sulitnya, dan menderitanya pertarungan itu, dia tidak pernah sekalipun mengeluh.


Tanpa mencari kekayaan ataupun ketenaran, dia terus mengorbankan dirinya dan bertarung semata-mata demi kedamaian.


Gadis Penyihir yang paling keren, paling kuat, dan paling cantik di dunia itu adalah ibuku.


Mana mungkin aku bisa tetap tenang! Uwooonnng!?


"Terlalu suci... Ibuku ini, terlalu suci...!"


Air mata pun berlinang. Kesuciannya memancar keluar.


Saat aku merenungkan rasa hormatku pada ibu dan keberuntunganku sendiri, tubuhku gemetar kegirangan.


Tiba-tiba, dari televisi yang masih menyala... terdengar suara seperti ini.


"Saya ini ya, sangat membenci Cherry Diamond ini."


"...Hah?"


Tubuhku seketika berhenti gemetar, dan aku perlahan bangkit dari sofa.


Lalu, saat aku menatap tajam ke layar TV, tampak seorang pria paruh baya dengan gelar mentereng sebagai komentator politik, terpampang dengan raut wajah masam.


"Wah, ini pendapat yang langka. Tuan Shimohara, mengapa Anda berpikir demikian?"


Pembawa acara pria bertanya kepada sang komentator yang dipanggil Shimohara itu dengan sedikit bingung.


Di zaman sekarang ini, orang yang menjelek-jelekkan Cherry Diamond—yang disebut-sebut punya ketenaran melebihi Perdana Menteri—bisa dibilang selangka monumen alam pelestarian.


"Gadis Penyihir... memang benar dia populer. Tapi dari awal, kenapa kita harus menyerahkan kedamaian Jepang pada sesuatu yang entitasnya tidak jelas seperti itu?!"


Bodohkah orang ini?


Monster-monster Shadow Nexus yang merupakan penjajah dari dunia lain itu sama sekali kebal terhadap semua senjata api berat. Saat ini, satu-satunya hal yang mempan terhadap mereka hanyalah serangan sihir dari Gadis Penyihir, jadi mengandalkan mereka adalah suatu keharusan, kan.


"Lagipula, kenapa dia tidak mengungkapkan identitas aslinya? Kalau tidak ada yang disembunyikan, setidaknya dia harus mengungkapkan identitasnya kepada pemerintah, kan."


Hei hei hei, pikirkan juga keadaan kami dong.


Meskipun diungkapkan kepada pemerintah, keselamatan tidak akan terjamin, dan ada kemungkinan rahasianya akan bocor dari suatu tempat.


Jika itu terjadi, Shadow Nexus akan mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk menghabisi ibu... atau, menculik dan membunuhku, putranya.


"Tunggu, untuk apa aku jadi kesal sendiri."


Biarkan saja orang bodoh ini bicara sesukanya.


Karena apa pun yang dikatakan orang ini, popularitas ibu tidak akan goyah.


"Dari awal, Gadis Penyihir itu... pfft. Dilihat dari mana pun usianya pasti sudah di atas tiga puluhan, kan? Punya muka setebal apa dia sampai berani menyebut dirinya 'Gadis'? Kalau itu saya, saya pasti sudah malu setengah mati."


"...Hah? Apa maksudmu... berengsek...?"


Biki biki biki. Aku bisa merasakan urat-urat kemarahan bermunculan di pelipisku.


Bajingan sialan ini... Padahal tadi aku berniat melepaskannya, beraninya dia...!


Beraninya kau mengejek ibuku?


"Terlebih lagi, pakaian itu. Kalau dua puluh tahun yang lalu sih mungkin saja, tapi di usia segitu memakai pakaian yang penuh dengan rumbai-rumbai dan mengekspos banyak kulit seperti itu... sangat vulgar!"


Memang benar kostum Gadis Penyihir itu agak terlalu berlebihan untuk dikenakan oleh seseorang seusia ibu.


Akan tetapi, kostum itu hanyalah produk sampingan dari transformasi yang diperlukan untuk mengeluarkan kekuatan Gadis Penyihir.


Lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Kudengar makhluk kecil ajaib berbulu putihlah yang memberikan kekuatan pada ibu—yang saat itu hanyalah anak SMP biasa—untuk menjadi Gadis Penyihir... dan menurut makhluk itu, Gadis Penyihir memang 【seperti itu】 adanya.


Jadi ibu juga memakai pakaian itu bukan karena dia menyukainya, lagipula ibuku terlihat lebih muda dari usia aslinya dan dia sangat cantik, jadi kostum apa pun akan cocok untuknya dengan sempurna.


Sedangkan pria ini berani-beraninya bicara seenaknya tanpa tahu apa-apa...!


"Profesor Universitas Teicho, Shimohara Yuuto... kau adalah target pembersihan."


Aku mengambil ponselku dan memasukkan nama pria ini ke dalam daftar pembersihan.


Kalau Universitas Teicho, berarti lokasinya lumayan dekat dari sini.


Kalau begitu, sekitar malam ini...


"Fuuuh... air mandinya enak sekaliii."


Saat niat membunuhku sedang berkobar-kobar, ibu yang baru selesai mandi pun datang.


Berjalan dengan mengenakan jubah mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah kuyup dengan handuk...


Saking cantiknya dan begitu anggun, orang bisa saja salah mengira dia adalah Dewi Kecantikan.


"Shou-chan, terima kasih ya sudah menyiapkan air mandinya juga."


Mata yang besar dan berbinar, dipadu dengan bulu mata yang lentik.


Hidung yang mancung, serta bibir berwarna merah muda dengan ketebalan yang pas.


Dadanya yang berisi masih mempertahankan kekencangannya, mengalahkan model gravure meskipun usianya hampir empat puluh tahun, dan bagian perut serta pahanya yang mulai sedikit mengendur... justru memancarkan daya tarik tersendiri.


"Shou-chan? Haloo? Kamu dengar tidaaak?"


Ah, gawat. Aku tanpa sadar melamun karena terpesona oleh kecantikan ibuku.


"Aku dengar kok. Daripada itu, aku akan panaskan karinya."


Aku mematikan televisi yang masih memancarkan suara-suara tidak menyenangkan itu dan berdiri.


Dan sementara ibu mengeringkan rambutnya, aku menyelesaikan persiapan makan malam.



Makan malam di keluarga Ichinose selalu hanya berdua, antara aku dan ibu.


Adapun soal pria yang merupakan suami ibu sekaligus ayahku secara hukum... yah, akan kuceritakan lain kali.


"Nnngh~~~~♡ Enyaaak♡"


Sekarang ini, aku hanya ingin memandangi wajah ibu yang sedang menyantap masakanku dengan raut bahagia.


Ah... memenuhi pipinya sampai seperti itu, imut sekali seperti tupai.


"Shou-chan, kemampuan masakmu meningkat lagi, ya? Ibu mau nambah ah!"


"Ibu benar-benar sangat suka kari ya."


"Iya. Dulu, ibu juga pernah kerja sambilan di kedai kari, lho. Senior yang membimbingku saat itu benar-benar cantik dan baik hati... Aku juga ingin jadi seperti dirinya."


"Iya, iya, aku sudah dengar cerita itu berkali-kali."


"Muu, benarkah begitu?"


Ibu kembali dengan piring yang sudah diisi lagi dengan nasi dan kari.


Sosoknya yang menggigit sendok dan memiringkan kepalanya seolah sedang merajuk sungguh sangat menggemaskan. Dari luar dia tampak seperti ibu muda yang cantik, tapi kelakuannya yang kekanak-kanakan itu... benar-benar tak tertahankan.


"Tapi ya, ibu benar-benar berpikir begitu. Setelah menikah, seniorku itu melahirkan dua anak yang sehat. Setelah itu, dia menjadi ibu rumah tangga yang hebat dan membangun keluarga yang bahagia, tapi..."


Sambil duduk di kursinya, ibu menunjukkan raut wajah yang sedikit sedih.


"...Dibandingkan dengannya, ibu ini gagal sebagai seorang ibu, ya. Ibu terus mengabaikan pekerjaan rumah dan menyerahkan segalanya pada Shou-chan."


"Mau bagaimana lagi. Ibu kan punya misi penting sebagai Gadis Penyihir."


"Tapi, karena hal itu ibu selalu membuat Shou-chan merasa kesepian, dan cuma menyusahkan saja..."


"Saat aku masih kecil, aku memang pernah merasa begitu, tapi sekarang tidak apa-apa kok."


Aku melontarkan kata-kata dari lubuk hatiku kepada ibu yang menundukkan kepalanya dengan murung.


"Terlebih lagi, ibu adalah kebanggaan bagiku. Jadi, tolong jangan berkata seperti itu."


"Uuh...! Shou-chan benar-benar anak yang baik..."


"Hei hei, jangan menangis cuma karena hal ini."


Saat kutarik beberapa lembar tisu dari kotaknya dan menyodorkannya, ibu menerimanya dan mengusap air matanya.


Padahal saat bertarung sebagai Gadis Penyihir dia sama sekali tak pernah menitikkan air mata, tapi kalau di rumah dia jadi sangat cengeng.


"Baa'ap yaa... Ibu, huuu... huuu..."


Sroot, ibu menyeka hidungnya dan meremas tisu itu.


Kemudian dia tiba-tiba membelalakkan matanya dan mulai melahap kari tambahannya sekaligus.


"Merenungnya selesai! Kalau ibu terus murung, makanan enak ini akan sia-sia!"


Ibu benar-benar telah kembali ke sifat aslinya, dan menghabiskan kari itu dengan lahap.


Syukurlah. Ibu yang sedang menangis juga cantik, tapi wajahnya yang tersenyum tetap ribuan kali lebih baik.


"Haaah... Benar-benar lezat. Terima kasih makanannya!"


Setelah selesai makan, ibu kembali sesudah membereskan piring-piring kotor ke wastafel.


"Gadis yang akan menjadi istri Shou-chan nanti pasti sangat beruntung, ya."


"Itu pun kalau ada orang yang seleranya seaneh itu, sih."


"Fufufu, kamu tersipu ya. Shou-chan itu tampan, jadi pasti populer di sekolah, kan?"


Ibu bertanya sambil menangkupkan kedua tangan di atas meja dan menopang dagu di atasnya.


Ekspresinya yang memikat itu, hampir saja membuatku terpesona.


"Entahlah. Tapi percintaan di masa SMA, menurutku sebagian besar tidaklah serius."


"Dingin sekali. Tapi, tapi, sebagai ibu, aku mungkin sedikit senang mendengarnya."


"Hm? Memangnya apa yang membuat ibu begitu senang?"


"Loh? Karena itu berarti untuk sementara waktu, Shou-chan akan terus menyayangi ibu, kan?"


Sambil berkata begitu, ibu mengulurkan tangan kanannya melintasi meja, dan dengan lembut menyentuh dahiku.


"(Uwooooooooooooooooooooooooh!)"


Sementara waktu? Omong kosong!


Sampai hari di mana nyawa ini berakhir, aku akan memprioritaskan ibu lebih dari apa pun di dunia ini, dan menyayanginya!


Itulah takdirku yang terlahir sebagai putra dari ibu terbaik di dunia!


"Eh? Eh? Shou-chan, kenapa kamu menangis?"


"...Tidak, hanya saja. Ada banyak sekali emosi yang meluap."


Gawat. Saking kuatnya perasaanku pada ibu, tanpa sadar air mataku...


"Jangan-jangan, ada hal buruk yang terjadi di sekolah?"


"Sama sekali tidak. Semuanya berjalan lancar kok di sekolah."


Karena itu kenyataannya, aku buru-buru menyangkalnya.


Hal-hal yang membuat ibu khawatir, sama sekali tidak boleh terjadi.


"Hmn? Ibu percaya sih, tapi aneh sekali melihat Shou-chan menangis..."


Ibu menatap wajahku sejenak sebelum bangkit dari meja... lalu berjalan ke arah sofa di ruang tamu.


"Shou-chan, kemarilah."


"Eh? Kenapa?"


"Sudahlah, cepat. Duduklah di samping ibu."


Aku berjalan ke arah sofa tempat ibu berada, persis seperti yang disuruh.


Dan tepat pada saat aku duduk dengan ragu-ragu di atas sofa.


Dengan lembut, ibu memeluk erat tubuhku.


"Tunggu, Ibu?"


"Nfufu, sesekali kita butuh sentuhan kasih sayang antara ibu dan anak seperti ini, kan?"


Ibu meletakkan tangan kirinya di pinggangku, dan tangan kanannya di atas kepalaku, mempererat pelukannya dengan kuat.


"Ibu akan memanjakanmu sepuasnya♡ Ayo, ayo, ayooo♡"


Ah... Aroma manis seperti bunga, dan kelembutan yang tidak terasa seperti hal-hal di dunia ini.


Rasanya seolah-olah aku sedang diajak masuk ke surga.


Sensasi belaian telapak tangan ibu yang mengelus-elus kepalaku, sungguh sangat menenangkan.


"Ah, ah, ah..."


"Hmm~~~? Shou-chan, kamu merasa malu, ya?"


Euforia yang membanjiri otakku membuat tubuhku gemetar dan hampir saja melompat.


Akan tetapi ibu rupanya salah mengira hal itu sebagai penolakan dariku, dan dia malah mempererat pelukannya.


"Untuk anak nakal yang menjauhi ibunya, akan kuhukum begini nih~?"


Gusel gusel gusel. Unyeng unyeng unyeng unyeng.


Masih dengan pelukan yang kuat, ibu bahkan mulai menggesekkan pipinya ke pipiku.


Otakku benar-benar sudah hampir korslet. Rasanya aku akan kehilangan kesadaran kapan saja.


"Ara? Shou-chan, mengantuk ya? Tidak boleh lho, kalau tidur di sini kamu bisa masuk angin."


"Bu, bukan begitu...! Aku cuma sedikit melamun kok."


Sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu bermesraan dengan ibu seperti ini untuk selamanya.


Namun jika aku melakukan itu, aku tidak akan bisa memenuhi misiku yang penting.


Meski merasa berat hati, aku berdiri dari sofa.


"Muu, sudah selesai?"


"Ibu pasti lelah habis bertarung sebagai Gadis Penyihir, kan? Tidurlah lebih awal hari ini."


"Sama sekali tidak. Monster hari ini jauh lebih lemah dari biasanya."


Ibu menyeringai sambil memamerkan otot lengannya.


Oh iya, kalau dipikir-pikir dari rekaman televisi tadi, monster musuh itu langsung kalah hanya dengan satu pukulan ibu.


"Meskipun begitu. Kita tidak pernah tahu kapan monster akan menyerang lagi."


"Iyaaa. Kalau begitu, ibu sikat gigi dulu sebelum istirahat ya."


Ibu menjawab begitu, lalu melangkah menjauh menuju wastafel kamar mandi.


Setelah melihat punggungnya menjauh, perlahan aku merebahkan diri ke atas sofa.


"Haah, haah... Hampir saja...!"


Mengerikan sekali, aura pesona keibuan ibuku ini.


Andai saja pelukan itu berlanjut beberapa detik lagi, kewarasanku pasti akan hancur lebur... dan aku mungkin akan mulai merengek seperti bayi.


"Memang benar, ibuku itu yang terkuat di dunia..."


Aku pun berbaring di sofa yang masih menyisakan kehangatan ibu, sambil mengatur napasku yang tersengal-sengal.



Saat malam semakin larut, dan semua orang telah tertidur lelap.


Di kamarku sendiri, aku sedang melakukan persiapan tertentu.


"Stun gun, tali, borgol... ditambah lagi, memasukkan barang langganan ini, sip."


Memakai jaket hoodie hitam dan celana panjang. Dilengkapi dengan sarung tangan kulit, dan masker hitam yang menutupi wajah.


Dengan berpakaian seperti itu, aku memasukkan berbagai macam peralatan ke dalam ranselku.


"Segini mungkin cukup."


Tepat saat aku menggumamkan hal itu, ponselku berbunyi.


Saat kulihat, ada notifikasi dari rekanku... sebuah informasi tertentu telah tiba.


"Kerjamu cepat seperti biasa, kau sangat membantu."


Apa yang tertulis di sana adalah alamat kondominium bertingkat tinggi di dekat sini.


Dan kata sandi pintu otomatis untuk masuk ke dalam kondominium tersebut.


"Nah, ayo berangkat."


Agar tidak ketahuan oleh ibu yang sedang tidur di kamar lantai satu, aku keluar dari kamarku di lantai dua dengan hati-hati.


Tanpa membuat suara sedikitpun, aku menuruni tangga... dan langsung menuju pintu depan.


"Orang yang menjelek-jelekkan ibuku, tidak akan pernah kumaafkan..."


Menyimpan tekad yang kuat di dalam hati, aku menyelinap pergi keluar di tengah malam.


Yaah, ini bukan hal yang besar.


Sesuatu yang sudah sering kulakukan sebelumnya, seperti sebuah acara rutinan belaka.


Lagipula, semuanya akan berjalan lancar pada besok pagi.



Pagi yang benar-benar cerah dan menyenangkan, diiringi dengan kicauan burung.


Setelah selesai bersiap untuk berangkat ke sekolah, aku menonton berita pagi sambil menahan kuap.


"Shou-chan, maaf menunggu! Sarapan sudah siap!"


Dengan mengenakan celemek dan senyuman ramah, ibu menyajikan sarapan di atas meja.


"Terima kasih, Ibu. Padahal biar aku saja yang membuatnya juga tidak apa-apa."


"Nggak apa-apa kok, sesekali ibu juga ingin melakukan hal selayaknya seorang ibu. Tapi, ibu sepertinya sedikit gagal."


Sambil menggaruk pipinya, ibu menggumam dengan canggung.


Mendengar itu, aku pun menurunkan pandanganku ke arah sarapan. Ada roti panggang yang sedikit gosong, dan telur mata sapi dengan bentuk yang aneh.


Sosis guritanya mungkin karena potongannya kurang dalam, kakinya jadi tidak melengkung sempurna.


Ini memang sulit untuk disebut sebagai sarapan yang sempurna, ya.


"...Aku tidak peduli dengan penampilannya kok. Kalau begitu, selamat makan."


Setelah menyatukan kedua tangan, aku mulai memakan sarapan yang penampilannya agak aneh itu. Ibu memang sesekali membuatkan sarapan seperti ini... tapi jika dibandingkan dengan biasanya, kali ini dia cukup membaik.


"Ya, ini enak. Gosongnya tidak begitu terasa, dan bumbunya pas."


"Nfufufu, syukurlah. Usaha ibu bangun pagi tidak sia-sia."


Aku terus menyantap sarapanku sambil menatap ibu yang tersenyum gembira.


Dan tepat pada saat itu, suara yang sangat keras mengalun dari televisi.


"Peringkat Gadis Penyihir Minggu Ini! Dari peringkat kesepuluh hingga ketiga, tidak ada perubahan peringkat!"


Peringkat Gadis Penyihir. Itu semacam jajak pendapat popularitas untuk para Gadis Penyihir.


Yah, meskipun begitu... Gadis Penyihir belakangan ini tidak punya kemampuan yang seberapa, dan aktivitas mereka juga jarang.


Tentu mustahil bagi mereka untuk bisa mengumpulkan popularitas sebesar ibu—yang dapat berteleportasi ke mana saja di Jepang kapan pun, dan menghabisi monster dalam sekejap dengan kekuatannya yang luar biasa.


Sejauh yang aku tahu, ibu tidak pernah sekalipun turun dari peringkat pertama.


"Sayang sekali harus berada di posisi kedua, Gadis Penyihir pendatang baru yang sedang naik daun, Melon Eme—"


"Ibu, selamat atas peringkat pertamanya."


"H-Hentikanlah, Shou-chan. Ibu melakukan ini bukan karena ingin jadi populer, lho."


Sambil memerah pipinya, ibu memalingkan pandangannya karena malu.


Siapa pun manusianya, jika mereka memiliki kekuatan yang besar, pasti akan tumbuh sedikit keangkuhan di dalam diri mereka.


Tapi kalau menyangkut ibuku, hal itu tidak ada sama sekali.


Dia tidak pernah menyalahgunakan kekuatannya sebagai Gadis Penyihir, tidak juga memamerkannya.


Hanya dengan keinginan murni untuk menyelamatkan banyak orang dengan kekuatannya itu... dia terus bertarung.


"(Aaah...! Ibu, betapa sucianya dirimu...!)"


Terlahir sebagai putra dari wanita yang luar biasa ini adalah kebahagiaan terbesarku dalam hidup.


Dengan keyakinan itu, aku terus menyantap sarapanku ketika...


"Nah, minggu ini pun peringkat pertamanya masih diduduki Cherry Diamond ya. Guru Shimohara, bagaimana pendapat Anda?"


Di televisi, selebriti kelas atas yang bertindak sebagai pembawa acara melemparkan topik kepada sang komentator yang menjadi tamu.


Shimohara Yuuto. Pria ini sedang ramai dihujat habis-habisan di internet karena pernyataannya tadi malam.


Acara TV ini mungkin mengundangnya secara mendadak sebagai tamu untuk memanfaatkan topik hangat itu... tapi sayangnya, mereka tidak akan bisa lagi memancing pernyataan yang keliru dari pria itu.


"C-Cherry Diamond... t-terbaik... m-menawan... c-cantik... l-luar biasa... i-imut..."


"Eh? Guru Shimohara, bukankah Anda dari pihak yang menentang Cherry Diamond?"


"B-Bukan... a-aku... p-penggemar... Cherry Diamond. Cherry Diamond... k-keren..."


Shimohara, dengan tatapan matanya yang tidak fokus, terus memuntahkan puji-pujian yang terpatah-patah sambil meneteskan air liur dari sudut mulutnya.


"S-Semuanya... m-mari dukung! Cherry Diamond... s-selalu berjuang! H-Hidup Cherry Diamond! Cherry Diamond! Cherry Diamond! Cherry Diamoooooond!"


"Tunggu!? Guru Shimohara, ada apa dengan Anda!?"


"Cherry Diamond! O-Orang yang... m-menjelek-jelekkannya... t-tidak akan kumaafkan! Cherry Diamond! Cherry Diamond!"


"K-Kita jeda iklan dulu sebentar!"


Shimohara mulai meneriakkan sorak-sorai dengan ekspresi hampa, sementara para staf acara TV tampak sangat panik.


Hmph. Itu adalah balasan bagi mereka yang mencoba meningkatkan rating penonton dengan memanfaatkan seorang hater untuk menciptakan sensasi.


"Eh...? Barusan itu ada apa, ya?"


Tentu saja, ibu memasang wajah kebingungan setelah melihat pemandangan yang tidak normal tersebut.


"Entahlah? Mungkin dia hanyalah salah satu penggemar fanatik ibu."


Sambil menggigit roti panggang yang sudah diolesi selai, aku tersenyum menyeringai secara diam-diam.


Rupanya "Pendidikan" yang kuberikan tadi malam telah sukses mengubah pola pikir pria itu tanpa masalah.


Dengan ini, bertambah lagi satu penggemar ibu di dunia ini.


"Tapi, keadaannya jelas-jelas aneh tadi. Jangan-jangan, ini ulah Shadow Nexus...?"


"Menurutku bukan. Tidak baik menyalahkan organisasi jahat atas segala hal."


"Begitukah? Rasanya agak mencurigakan sih."


"Tidak tidak. Ibu itu Gadis Penyihir yang wajar untuk dipuji. Pujian yang seperti itu hal yang normal, kok."


Setelah selesai sarapan, aku menyeruput kopi sisa makan.


Hmm, bisa mengubah seorang hater yang menyebalkan menjadi seorang penggemar... Benar-benar pagi yang menyegarkan.


"Fufu, terima kasih. Kalau dibilang begitu, ibu jadi semakin bersemangat."


"...Ibu, bicara tentang hal itu."


Aku meletakkan cangkirku di atas meja, dan menatap ibu dengan pandangan yang serius.


Menyadari ketajaman tatapan itu, ibu pun membalas tatapanku dengan wajah yang juga serius.


"Aku tahu kalau ibu sudah berjuang dengan keras, dan sudah mencapai banyak keberhasilan besar. Tapi, bukankah sudah saatnya... ibu pensiun saja?"


"Shou-chan... kamu membahas hal ini lagi?"


Menanggapi saranku, ibu memalingkan pandangannya dengan bingung.


Ya, seperti yang ibu bilang... kami sudah berulang kali melakukan perbincangan seperti ini sebelumnya.


"Berbeda dengan dulu, sekarang jumlah Gadis Penyihir sudah bertambah. Tidak perlu bagi ibu untuk memikul semuanya sendirian, kan?"


"Iya. Tapi, kalau cuma mengandalkan anak-anak muda itu... kadang-kadang mereka tak mampu mengalahkan monsternya..."


Itu memang fakta. Kenyataannya, ada juga Gadis Penyihir yang terlalu memaksakan diri sebelum ibu sempat tiba... dan akhirnya kehilangan nyawa di tangan monster.


Ditambah lagi, seperti Gadis Penyihir di Yamanashi kemarin yang tidak sempat datang tepat waktu, atau kasus-kasus di masa lalu di mana mereka memprioritaskan urusan pribadi dan menolak untuk bertugas... yang mengakibatkan munculnya banyak korban jiwa.


"Ibu bisa melindungi banyak orang dengan kekuatan ini. Itulah sebabnya, sebagai tanggung jawab dari orang yang memiliki kekuatan... ibu pikir ibu harus terus bertarung. Makanya, latihan setiap hari tidak boleh dilewatkan."


Aaah, aku mengerti kok. Jepang pasti akan hancur jika ibu tidak ada.


Namun, meskipun begitu aku... aku tak bisa diam saja melihat ibu memaksakan diri, terluka, dan terus bertarung sendirian.


"Oke, pembicaraan ini selesai sampai di sini. Shou-chan, bukankah kamu akan terlambat kalau tidak segera berangkat ke sekolah sekarang?"


"...Iya juga."


Aku tahu betul kalau sekadar bujukanku saja tidak akan menggoyahkan tekad kuat ibu.


Namun, tunggu saja Ibu.


Aku pasti, akan membebaskan ibu dari misinya sebagai Gadis Penyihir.


"(Dengan kedua tanganku ini, aku akan menciptakan Gadis Penyihir yang mampu melampaui kemampuan ibu.)"


Menyimpan tekad yang kuat di dalam dada, aku berdiri dari tempat dudukku.


Aku mengambil tas sekolah yang sudah kusiapkan sebelumnya, lalu berjalan menuju pintu depan.


Tak lama, ibu mengikutiku dari belakang dengan langkah kecilnya.


"Shou-chan, ada barang yang tertinggal lho."


"Eh? Aku seharusnya sudah menyiapkannya dengan benar."


Aku sudah mencuci muka, menggosok gigi, dan menata rambutku dengan rapi... tugas-tugasku sudah kuselesaikan dengan sempurna dan kumasukkan ke dalam tas bersama buku-buku pelajaran. Dompet, ponsel, saputangan, tisu, bahkan kunci rumah...


"Ya ampun, bukan itu. Sebelum pergi ke sekolah, ini kan?"


Ibu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di depanku, memamerkan senyumnya yang cerah.


"Jangan lupa dengan pelukan sebelum berangkatnya lho♡"


"(Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh!)"


Aku mau. Aku sssaaangaatt, ingin memeluknya!


Ingin dipeluk dengan eraat! Aku ingin merasakan kelembutan dan kehangatan ibu di seluruh tubuhku!


"(Tidak, tunggu! Apa benar tidak apa-apa begini?)"


Menjadi anak SMA dan masih saling berpelukan sebelum berangkat dengan ibu... itu jelas sedikit.


"Shou-chan... kamu nggak mau memeluk ibumu?"


Sambil menatap ke atas dengan mata memelas, ibu memiringkan kepalanya sedikit dan memanyunkan bibirnya.


Tidak tidak tidak, bahkan jika aku ditunjukkan hal semacam itu, aku...


"Eratttttttttt! Sebanyak apa pun akan kulakukan! Peluk yang eratt!"


Bukan lagi dengan nalar logis, ini sudah menjadi tindakan berdasarkan insting.


Aku melompat ke dalam dada ibu yang sedang merentangkan tangannya, dan memeluknya dengan sekuat tenaga.


Kasih sayang seorang ibu... Aku bermandikan aura keibuan itu dengan seluruh tubuhku.


"Ehehehe, Shou-chan... tenagamu sudah bertambah kuat ya."


"Ini adalah rasa kasih sayangku kepada ibu. Itulah kekuatan penggerakku."


"Fufu, aduh... jangan bilang hal yang memalukan seperti itu dong."


Perlahan, ibu mulai melepaskan kedua lengannya yang mengelilingi punggungku.


"A-Aaah... Uuuuh..."


Betapa... betapa kejamnya dunia ini.


Mencicipkan kebahagiaan sebesar ini, lalu merenggutnya begitu saja... Kejam sekali!


"Kalau begitu, selamat berangkat♡ Hati-hati di jalan ya♡"


"Um... Aku berangkat."


Aku mengucapkan selamat tinggal kepada ibu yang tersenyum riang sambil melambaikan tangan, lalu membuka pintu rumah.


Menyakitkan. Benar-benar menyakitkan... tapi aku harus menahannya.


Ada hal yang harus kulakukan di sekolah.


Semuanya adalah demi membebaskan ibu dari kutukan sebagai Gadis Penyihir...














❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar