Masa Muda Adachi dan Shimamura
"Sudah kuserahkan (tiketnya) sih, tapi tidak usah datang juga tidak apa-apa."
"Siapa yang mau pergi ke Festival Budaya—!"
"Oi."
Ibuku, yang sudah pasti akan menentang apa pun yang kukatakan, mengangkat tangan tinggi-tinggi mencari peserta. Aku sudah menduga dia akan melakukannya, tapi karena sama sekali tidak ada keraguan, tanpa sadar aku hampir menghela napas.
Aku lupa setelah menyuruhnya pergi membantu, tapi inilah yang terjadi saat aku menyerahkan tiket Festival Budaya khusus kerabat.
"Sayaaa," satu-satunya yang menyambut dengan melompat adalah tanuki yang ada di dapur.
"Meskipun saya tidak terlalu paham."
"Musim panas tahun lalu kita pergi ke festival, kan? Mirip seperti itulah."
Iya kan, Ibuku menoleh padaku. Dia benar-benar mengabaikan bagian "jangan datang" dengan sangat sempurna sampai terasa menyegarkan.
"Kedengarannya menyenangkan ada kedai-kedai makanan."
Entah sedang membayangkan apa sambil menopang dagu, ekspresi Yashiro melembut howa-howa. Ngomong-ngomong, katanya yang bisa diundang hanya keluarga siswa, apa boleh memasukkan dia? ...Yah, biarlah.
Toh dia juga ikut pergi ke rumah Kakek dan Nenek.
"Sabtu dan Minggu minggu ini ya. Keluarga bisa datang di hari Minggu."
"Tidak usah datang lho."
"Tempatmu bikin apa?"
Bisa mengabaikan omongan orang dengan begitu sempurna tanpa rasa janggal mungkin adalah semacam bakat.
Bakat yang menyebalkan.
"Kios permen buah."
"Bunyinya terdengar indah."
Memang kelihatannya kamu bakal suka, pikirku sambil mengelus kepala tanuki. Ekornya bergoyang senang.
"Kalau sebegitu tidak maunya, harusnya tidak usah kasih tiket ini."
Ibu mengibaskan tiket yang dijepit di jarinya, hira-hira. Memang benar sih, tapi kalau diremas dan dibuang tanpa kata juga rasanya pasti tidak enak. Aku bukan orang yang tega membuang barang yang harus diserahkan ke orang tua.
"Kalau tidak dikasih, rasanya ada yang salah."
"Pendidikan orang tuanya sangat baik yaa."
Apa ini juga termasuk memuji diri sendiri? Segera setelah dibilang "salah", aku jadi ingin mengambil kembali tiket itu. Saat aku mengulurkan tangan, Ibu menghindar seolah sudah menduganya, melompat mundur dengan berlebihan, dan menyembunyikannya di belakang punggung.
"Mau ambil lagi!? Mau main kejar-kejaran pagi-pagi!? Boleh!"
Berita pagi bilang hari ini pun panas terik musim panas akan berlanjut.
Kenapa orang ini di hari seperti itu pun lebih ribut daripada jangkrik.
"Kuserahkan, tapi jangan datang ya."
"Kalau dibilang tidak usah datang, biasanya malah pergi, kan."
"Tahu arti kata 'biasanya'?"
"Kewajaran bagi masing-masing manusia."
Aku paham. Aku paham, tapi sama sekali tidak bisa berkomunikasi.
Dalam artian tertentu, dia lebih jauh daripada alien.
Sementara kami bicara begitu, Ibu melempar tanuki yang mencoba membuka kulkas dengan wajah tersenyum, sambil tetap tersenyum. Tanuki berputar di udara dan mendarat dengan indah.
"Fufufu... pendaratan saya jadi makin jago."
"Yah, kalau dilempar setiap hari sih wajar."
Padahal dia dilempar dengan sembrono, tapi bisa bersalto dengan lincah. Yah, makhluk ini dari sananya memang bisa terbang sih.
"Kamu sekolah kan, cepat siap-siap sana."
Pergi sana pergi sana, pantatku ditepuk. Sambil menepis bagian yang ditepuk, "Jangan datang lho," sekali lagi aku mencoba perlawanan yang sia-sia. Ibu benar-benar mengabaikan semuanya dan mulai mencuci piring.
...Yah, aku sudah menduga akan jadi begini.
Yashiro yang ikut diusir dari dapur berwujud tanuki, artinya hari ini pun dia berniat pergi ke rumah Kakek dan Nenek. Meski gagal mengintip kulkas, Yashiro tampak senang seolah baru saja bermain.
"Hari ini pergi lagi ya."
"Hohoho, katanya mau disiapkan camilan, jadi saya waku-waku (berdebar senang)."
Padahal baru saja sarapan bersama, tapi nafsu makan tanuki tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan sedikit pun.
Malah terasa tangguh.
"Jika ada pesan, akan saya sampaikan."
Dia bicara seolah memahami niatku bertanya. Gimana ya, aku memalingkan pandangan.
Pasti ada banyak hal yang ingin kukatakan, tapi sulit menyampaikannya dengan baik.
Kalau tidak bisa disampaikan, cukup dengan mengantar kepergiannya saja.
"Mmm... tidak, sudahlah. Hati-hati ya."
Asalkan tanuki mencurigakan ini dan Gon bermain dengan sehat.
"Baiiik."
Diantar pergi, Yashiro berlari tette tette.
Namun tanuki yang berlari seolah menuju masa depan itu tertangkap oleh Adikku di tengah jalan, dan perutnya ditusuk-tusuk.
Yah, artinya ada juga masa depan yang seperti itu.
"Sekolah yaa..."
Akhirnya liburan musim panas anak SMA berakhir sudah.
Memasuki bulan September, meski makin lirih, suara jangkrik masih samar-samar terdengar.
Begitu melangkah keluar, kelanjutan musim panas ada di sana. Yang membuat terasa musim gugur paling-paling hanya suara serangga di malam hari. Seolah menyingkirkan tirai musim panas itu, aku melangkah maju di tengah hawa panas.
Pagi-pagi sudah ribut, ditambah sekarang harus berangkat sekolah setelah liburan musim panas.
Entah kenapa, rasanya lelah dua kali lipat.
Meskipun begitu, karena hari ini hari pertama semester baru, tidak ada kesempatan membuka buku pelajaran.
Bahwa aku diam-diam merasa senang karena sekolah bubar sebelum siang, mungkin akarku tidak berubah sejak zaman SD. Kaki di bawah meja menari-nari pelan.
Semester baru dimulai dengan musim panas yang masih terbentang di luar. Dua tahun lalu dari sini aku mulai mampir ke lantai dua gedung olahraga, dan mewarnai rambut ini jadi emas. Meski memegang dan memandangi poni depanku yang sekarang, aku tidak bisa mengingat dengan baik diriku yang sudah berambut emas. Tapi dari jalan memutar itu, aku mengalami pertemuan tak terduga yang berlanjut hingga kini.
Mungkin, pertemuan yang bisa mengubah seumur hidup.
Sambil memeluk perasaan itu aku melihat ke luar jendela, entah kenapa rasanya seperti sedang mengintip akuarium.
Perasaan ajaib... seolah memandang dunia lain yang berbeda, mengapung di benakku.
Mendengarkan sambil lalu pidato Kepala Sekolah dan Wali Kelas yang berharga namun panjang, kami menyambut jam pulang sekolah yang cepat, dan Pancho memulai latihan membuat permen buah di belakang kelas. Mungkin karena jarang lihat, cukup banyak teman sekelas yang tidak langsung pulang dan menontonnya.
Aku dan Adachi juga bergabung di situ. Yang mengejutkan, Adachi tetap tinggal tanpa suara dan mulai menontonnya. Adachi jarang sekali tertarik pada selain aku. Tidak, apakah ada?
Dilihat dari wajah sampingnya, sepertinya bukan karena dia sangat terobsesi pada permen buah.
Mata dinginnya saat melihat selain aku sedang mengikuti gerakan tangan Pancho.
Permen yang akan dibalurkan ke buah sepertinya sudah disiapkan di tempat lain, sudah jadi dan diletakkan di samping Pancho. Buah-buahan yang sudah dikeringkan airnya ditusuk ke tusuk bambu satu per satu, lalu dibalurkan ke dalam permen di wadah.
"Cuma begini kok. Sisanya tinggal didinginkan menunggu permennya mengeras, selesai."
Pancho menjelaskan sambil menata buah yang sudah dibaluri permen. Memang cara buatnya sendiri kelihatannya sangat mudah. Mungkin, Pancho memang sengaja memilih yang seperti itu. Buah-buahan berwarna-warni dilapisi permen dan berkilauan. Kalau ditata dengan benar dan dijual, sepertinya akan jadi pemandangan yang cukup bagus.
Begitu pikirku, tapi bagaimana itu terlihat di mata Adachi, aku mendongak menatapnya.
Adachi juga sedang melihat ke arah sini, mata kami bertemu, dan dia tersentak biku.
Adachi itu kalau ada celah pasti melihatku ya, aku jadi hampir besar kepala sedikit.
"Di tempat kerjaku, stroberi dan muscat (anggur hijau) ditusuk selang-seling lalu dijual..."
Adachi berbisik boso-boso, memberikan topik pembicaraan hanya padaku.
"Hee. Nanti coba kuusulkan di sini juga begitu kali ya."
Bun bun, Adachi menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Jangan, mutlak."
"Eh, sampai segitunya menolak?"
"Itu... tidak boleh."
Mogo mogo, tanpa menjelaskan alasannya, Adachi tidak meruntuhkan temboknya.
"Sampai segitu ya..."
Apa arti obsesi misterius Adachi itu, saat ini aku belum tahu.
Setelah menyerahkan pembuatan permen buah pada Delos, Pancho datang ke sebelahku.
Ada perlu apa ya, saat aku melihatnya.
"Akan kuatur jadwalnya biar kamu bisa keliling bareng Adachi-san."
Pancho memberitahu dengan suara pelan, lalu menyeringai. Jadwal... ah, waktu bertugas jualan permen buah. Dan dia akan menyesuaikannya supaya waktu bebas bisa dibarengkan dengan Adachi.
Diperhatikan teman sekelas begini rasanya agak gatal, tapi.
"Terima kasih atas perhatiannya."
Pancho tertawa ringan, lalu mendorong bahuku. Orang baik.
Bahwa dia segera menjauh pun mungkin bentuk perhatiannya. Tapi nyatanya, itu sangat membantu.
Pada Adachi yang bengong, aku membagikan informasi berharga barusan.
"Katanya begitu, syukurlah ya."
Aku merangkul bahu Adachi dengan santai. Karena perbedaan tinggi badan, aku harus sedikit berjinjit dengan canggung.
Saat melangkah masuk ke dunia Adachi, sepertinya aku juga jadi tidak stabil.
"Ki, kita keliling ke banyak tempat bareng ya."
"Adachi telat nih."
Itu sih sudah diputuskan, sejak tadi.
Setelah itu, aku juga mencoba membuat satu permen buah dan membawanya pulang sebagai oleh-oleh.
Yang kubuat adalah permen jeruk mandarin. Saat dimakan, perpaduan tekstur permen yang pecah pari (kriuk) dan rasa manis-asam buah yang merembes dari dalamnya terasa cukup menyenangkan. Jadi ingin mencoba rasa lain.
Punya Adachi rasa muscat, tapi pasti punya dia lebih bagus hasilnya.
Hampir tidak pernah aku mengerjakan hal yang sama dengan Adachi dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari Adachi.
Tapi aku tidak merasa cemas akan hal itu, justru merasa bangga, wah Adachi hebat ya.
Entah dari sudut pandang apa pujian itu.
"Adachii..."
Tanpa pikir panjang aku hampir bertanya, 'Kamu sudah kasih tiket ke Ibumu?'. Aku berniat menjadikannya cerita lucu berdasarkan apa yang terjadi di rumahku, tapi setelah dipikir-pikir buat apa ditanya, aku tersadar setelah mengucapkannya.
"Adachii... apa?"
Adachi mengintipku yang membeku dengan takut-takut.
Mengingat sifat Adachi, jawabannya entah dia tidak memberikannya atau tidak memberitahukannya.
Yah yang pasti, atmosfer bakal jadi dingin tak terelakkan. Makanya aku paksa ganti haluan.
"Adachiiii..."
Sambil membuat jeda untuk mengalihkan, aku mendekat perlahan-lahan jiri-jiri.
Bisa kulihat Adachi sesaat hendak mundur secara refleks karena kaget bikuri. Namun, Adachi yang sekarang memilih untuk maju dengan berani tanpa gentar.
Entah kenapa kami malah bertabrakan frontal karena Adachi justru mempersempit jarak. Karena aku agak menekuk lutut dan menekan dengan posisi setengah jongkok, saat bertabrakan aku... terus terang saja, wajahku terkubur di bagian dada Adachi.
"................................................................................"
Karena terhalang seragam juga, tidak ada perbedaan sensasi sentuhan yang signifikan.
Aku menarik diri suuu, dan melampiaskan rasa kaku di belakang leher dengan menggelengkan kepala berkali-kali.
Tubuhku rasanya mau jadi kaku seolah aku jadi Adachi di cermin.
Tak perlu dibilang lagi sekarang, Adachi adalah gadis cantik. Mahakarya keindahan. Bukan hanya wajahnya yang bermata seperti batu giok tua yang dalam, hidung bak istana pasir putih, dan pipi sehalus cermin, tapi tentu saja, keindahan juga bersemayam di tubuhnya yang proporsional. Meski biasanya dia menampakkan sisi kekanak-kanakan, tak diragukan lagi tahun ini dia delapan belas tahun, dan delapan belas tahun artinya dewasa, kematangan fisik itu jelas ada.
Maksudnya apa yang ingin kukatakan adalah, Adachi yang biasanya cuma makhluk imut, makanyaaa... hanya ekspresi vulgar yang muncul di kepala, membuatku buntu sendiri. Tapi karena aku tidak ingin menghiasi Adachi dengan hal-hal semacam itu, aku memilih banyak kata.
Adachi, adalah wanita yang menarik (ii onna) juga. Akhirnya aku menemukan titik temu.
Bersentuhan dengan wanita menarik, aku sedikit, terguncang. Begitulah intinya.
Dulu juga begitu, tapi atmosfer saat topik semacam ini muncul di antara aku dan Adachi... canggung.
"Ano, Shimamura? Adachi kenapa?"
Kesadaran Adachi sepertinya tidak mengarah ke sana. Kalau iya, dia pasti tidak akan bisa setenang itu. Fakta bahwa hanya aku yang sadar justru makin memojokkanku.
Yang begini, langka ya, pikirku seperti masalah orang lain.
Langka bagiku untuk jatuh ke dalam masa pubertas.
"Un, Adachi itu yaa..."
Karena Adachi adalah kekasihku, pembicaraan semacam itu pun suatu saat tak akan bisa dihindari.
Tapi sekarang aku pura-pura tidak lihat dulu.
Kanwa Kyuadai (Cukup sekian selingannya/kembali ke topik).
Kuasai diri.
Seolah tak terjadi apa-apa, menghadap ke depan.
"Enak ya ini."
"Eh, un..."
Tanpa tampak terharu sedikit pun, Adachi sudah selesai makan permen buahnya.
Melihat tangannya yang memegang tusuk bambu kosong tak tertusuk apa pun, dasar dia, pipiku mengendur.
Kalau mirip Adachi aku tertawa, kalau dia melakukan hal yang tak terduga aku bisa menikmatinya sebagai hal yang tidak biasa.
Tidak ada celah, pikirku.
Begitulah, hari Festival Budaya pun tiba.
"Siapa yang mau pergi ke Festival Budaya—!"
"Hari ini khusus untuk siswa sajamu."
"Tidak, di situ kamu harusnya angkat tangan dong."
Tanganku ditangkap Ibu, dipaksa angkat tangan. Saat kutepis, Ibu tertawa memamerkan giginya.
"Selamat bersenang-senang. Mau kencan sama Adachi-chan, kan."
"Kencan apanya."
Nahahaha, Ibu tertawa lalu menepuk punggungku dan pergi.
Sudah kubilang tenaganya kuat, sambil meregangkan punggung yang merembeskan sedikit rasa sakit, aku mengelusnya.
"Kencan ya."
Kencan Festival Budaya. ...Memang, bunyinya tidak buruk.
Bagaimanapun juga tidak ada kesempatan berikutnya. Ini adalah Festival Budaya terakhir di SMA, padahal baru pertama kali.
"Hati-hati di jalan~"
Yashiro yang sedang bercanda berebut bantal beads (butiran) dengan Adikku, melihatku dan memberi salam.
Memandangi pipinya yang selembut bantal itu honya-honya, fhu, napas rasanya keluar lega.
"Aku berangkaaat."
Memikirkan apa yang akan terjadi mulai sekarang, aku memberi salam. Lambaian tanganku jauh lebih ringan dari biasanya.
Janjian dengan Adachi hari ini di depan gerbang utama. Katanya ingin masuk bersama. Mungkin Adachi juga merasa seperti kencan. Bukan karena dibilang Ibu, tapi sepertinya lebih baik aku juga meningkatkan perasaan semacam itu sedikit.
Di tas yang kugendong ada dompet dan telepon, serta panduan Festival Budaya. Juga celemek untuk membantu di kedai.
"..............................................."
Aku mengguncang tas bun bun. Membuka dan mengintipnya.
Yosh, kali ini tidak ada siapa-siapa yang masuk. Dia adalah tipe yang tidak boleh dilengahkan meski baru saja dilihat.
Pergi ke sekolah di hari Sabtu, apalagi bukan untuk pelajaran, membuat langkah kaki jadi terasa ajaib. Kami membantu atraksi kelas mulai siang. Dan waktunya sudah disamakan. Hubunganku dan Adachi sepertinya tertutup, tapi ternyata tak disangka dibantu oleh niat baik orang-orang di sekitar. Kalau pura-pura tidak melihat hal-hal semacam itu, pasti rasanya hanya akan jadi menyakitkan.
Seminggu setelah semester baru dimulai, musim panas masih mempertahankan kejayaannya. Jangkrik sudah mundur duluan, tapi awan kumulonimbus (nyuudougumo) menguasai langit. Sensasi seolah musim panas akan berlanjut selamanya, bagiku adalah simbol bulan September.
Tapi sensasi itu selalu menemui akhir, dan tanpa sadar menjadi dingin.
Bagi kami tidak ada stagnasi. Hanya ada maju ke depan.
Kapan pun, Adachi menungguku.
"............Tuh kan, hari ini juga sudah nunggu."
Begitu gerbang utama sekolah terlihat, aku bisa segera menemukan Adachi.
Padahal aku keluar supaya sampai lima belas jam lebih awal dari waktu janjian, tapi Adachi sudah standby di depan gerbang utama. Dalam hubungan kami, apa arti waktu janjian sebenarnya. Entah kenapa, jadi situasi di mana aku selalu seperti terlambat, jadi agak tidak enak hati.
Kalau hal itu kubicarakan pada Adachi sepertinya bakal jadi makin rumit, jadi aku telan saja dan bergabung dengan senyuman.
Adachi meluncur ke arahku bersama sepedanya.
"Pagii. Kemarin bisa tidur nyenyak?"
Katanya Adachi tiap hari susah tidur, tapi dengan begitu pun setiap hari dia sesehat dan seekspresif ini, hidup seolah terburu-buru dengan sekuat tenaga, meski seumuran mau tak mau aku merasakan luapan masa muda darinya. Bahwa aku terkadang diputar-putar oleh momentum itu, bagiku mungkin itu menggairahkan.
Masuk ke sekolah, menuju tempat parkir sepeda. Entah bagaimana menyelinap di antara kerumunan dan memarkir sepeda, lalu kami membuka panduan Festival Budaya supaya bisa dilihat berdua.
Jadwal untuk dua hari dan peta atraksi tertulis dengan rapi, terasa semangat tulisan tangannya.
"Pertama kita lihat-lihat kedai makanan... terus, jam sepuluh setengah katanya kelas Hino dan kawan-kawan main drama, mau nonton?"
Aku bertanya sambil menunjuk jadwal event di gedung olahraga. Dan sambil menunggu jawaban, jari-jariku bergoyang kiri-kanan memikirkan atraksi lain apa yang kira-kira bakal disukai Adachi.
Kenangan pacaran dengan Adachi itu pergi ke mal, main ke mal, kencan di mal... kenangan hubungan siswi SMA daerah yang sehat berjatuhan poro-poro. Tidak ada tempat lain untuk pergi, dan mal saja sudah cukup.
"Drama..."
Mata Adachi berenang.
"Un, ayo nonton."
Belakangan ini, gestur berpikir sejenak itu apa ya. Sepertinya ada yang dipikirkan, tapi karena biasanya dia sangat terbuka, Adachi menyembunyikan sesuatu dariku itu terasa segar.
Tapi pasti, bukan hal buruk. Sifat baik Adachi itu bulat, enak disentuh.
Meskipun kalau sudah menggelinding tanpa pegangan, kadang tidak bisa dihentikan.
Karena masih ada waktu sampai jam pertunjukan di gedung olahraga, sebelum itu kami pergi melihat-lihat kedai yang berderet di lapangan olahraga. Begitu kedai berderet membuat sekat di lapangan olahraga, tempat itu jadi terlihat seperti tempat lain. Rasanya benar-benar seperti tersesat di lokasi festival. Kalau datang sama adik-adik, ini adegan di mana harus pegang tangan biar tidak terpisah.
Tapi karena Adachi sepertinya tidak suka diperlakukan seperti adik, kami hanya berjalan berdampingan.
"O, chocobanana (pisang cokelat)."
"Pi, pisang ya—"
Melewati kedai yang berbau pekat, aku menghirup aroma manis yang kuat dari sebelahnya.
"A, aroma baby castella (kue bolu kecil)."
"Maniiis... nyaa..."
Adachi mungkin memaksakan diri mengikuti gumamanku. Karena aku cuma menunjuk asal, sebenarnya tidak perlu ditanggapi semua, tapi karena tingkahnya yang sok dewasa itu lucu, aku coba lanjutkan sedikit lagi.
Rasanya di festival musim panas tahun lalu kami juga melakukan hal seperti ini ya, tawaku.
"Hou, di sini boba (tapioca)."
"Ta, Tapi."
Reaksi Adachi keruh seolah tersedak minuman boba yang namanya sering didengar tapi belum pernah diminum. Kelihatannya boba adalah eksistensi yang sangat asing baginya.
Di tempat kerja sambilan Adachi tidak ada ya.
"Di antara semua ini aku suka baby castella."
Sepertinya disiapkan berbagai rasa, melihatnya saja hati jadi gembira.
"Adachi?"
"A, kalau begitu, aku juga itu..."
"Jawaban sesuai dugaan."
Orang yang tidak tertarik pada makan, dengan perasaan seperti apa memandang kedai-kedai ini ya.
Akhirnya kami cuma keliling lihat-lihat tanpa makan apa pun, lalu menuju gedung olahraga.
Kencan dengan Adachi itu sederhana, dan sulit.
Adachi sih asalkan bersamaku di mana pun oke, tapi ke mana pun pergi tidak ada bedanya. Melihat sesuatu pun cuma melihatku melulu, entah yang lain itu menyenangkan atau tidak.
Kalau bisa aku ingin membuat Adachi senang, tapi membuat dia senang itu sendiri mudah.
Makanya, jadi sangat sulit.
Pintu masuk gedung olahraga penuh sesak dengan sepatu yang dilepas semua orang, kalau dilepas sembarangan sepertinya bakal gawat saat mau pulang. Aku menepuk-nepuk alas sepatu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam tas.
Sekalian saja entah kenapa, aku juga melepas kaus kaki dan membebaskan kaki.
"Shimamura itu, suka jadi telanjang kaki... ya."
"Iya ya. Mungkin rasa kebebasannya enak."
Adachi yang menatap lekat-lekat, juga mulai melepas kaus kaki. Lalu, dia melebarkan jari-jari kakinya dan mengintip reaksiku.
Uiyatsu (makhluk yang polos/manis), aku menyambutnya dengan senyum.
Gedung olahraga yang jendelanya ditutup tirai hitam membuat bayangan lebih pekat dari biasanya, entah kenapa, mengingatkanku pada hari badai.
Ini teater yang bebas keluar masuk tanpa perlu tiket. Sepertinya tinggal duduk bebas di kursi kosong dan menunggu, sudah cukup banyak kursi yang terisi. Tak disangka banyak juga yang tertarik pada drama yang bukan dari klub drama.
Karena kursi S yang dekat panggung dan mudah untuk menonton sudah penuh, kami duduk berdua di kursi pinggir.
Pemandangan kepala orang yang tak terhitung jumlahnya bergoyang tidak beraturan, tampak seperti bulir padi yang ditiup angin.
Saat lampu perlahan padam, aku merasakan tatapan panas tertuju pada jariku. Arti tatapan itu, karena sudah berpengalaman dalam hubungan ini, aku langsung paham.
Ini, aku menyodorkan tangan kanan sambil menyembunyikannya dengan kursi.
Karena ini ruang gelap di mana orang di sebelah pun cuma terlihat samar-samar, yah biarlah, kami diam-diam bergandengan tangan.
Saat tangan itu digenggam erat, cara jarinya melompat kaget selalu membuat tersenyum.
Saat dia mengelus telapak tangan yang perlahan menghangat karena bersentuhan seolah memastikannya, itu sangat menggemaskan.
Hanya bergandengan tangan, tapi kesenangan kecil lahir.
Bagaimanapun juga, Adachi juga menjadi hiburan utamaku. Pada kesempatan-kesempatan tertentu, aku menyadarinya.
Tak lama kemudian, tirai panggung terbuka.
"A, Hino keluar."
Aku berbisik pelan dengan suara kecil.
Ternyata dia benar-benar ikut drama, bahkan dari awal akting solo Hino. Pakai wig pirang, kacamata hitam bulat, dan di telinganya ada gunungan anting. Kalau dilihat orang dari keluarganya yang terkenal ketat, mungkin bakal ada keluhan yang bocor. Tapi cukup cocok juga sih.
Ada déjà vu melihat Hino yang mengeluh sambil berjalan dengan lesu. Dialog dan deskripsinya... aku mengambil panduan Festival Budaya dan mengecek judul pertunjukannya. Aah, bibir bawahku bergerak. Kupikir ada dalam ingatan, ternyata itu diadaptasi dari novel yang pernah kubaca.
Buku karya penulis bernama Kaishoko. Aku ingat membacanya saat pekan membaca waktu SMP.
Penulis yang tulisannya rumit atau sedikit sulit dibaca, dengan banyak deskripsi yang agak berbelit-belit. Di kata penutup buku itu dia mengucapkan terima kasih atas wawancara dengan modelnya, tapi tokoh utamanya kan pembunuh bayaran. Masa iya dia punya kenalan pembunuh bayaran. Maksudku Hino, pembunuh bayaran kah.
"Ini, lain kali kita bikin festival budaya sendiri, berdua."
Kepala yang berputar-putar di atas seperti bola itu, melawan arus, dan fajar menyingsing di ekspresi Adachi.
Bukan makanan, bukan tempat, bukan pula lagu yang bisa membuat Adachi senang.
Hanya aku, dengan cara yang begitu lurus dan polos.
Asalkan ada aku, makanan, tempat, dan lagu pun menjadi tak perlu.
Aku adalah kontur dunia Adachi, kerangkanya, latar belakangnya, dan jantungnya.
Aku memikul segalanya, tak kalah dari peran Pancho di Festival Budaya ini.
Dan demi Adachi yang seperti itu, aku menyiapkan dunia di mana dia bisa hidup dengan nyaman.
Kenapa?
Karena ekspresi kegembiraan dari lubuk hati Adachi itu............ karena............ aku menyukainya.
Setelah ancang-ancang yang sedikit panjang, festival budaya kami pun akan segera dimulai.
Interlude
Mengingat sifat dasarku, harusnya kalau ada Festival Budaya aku pasti akan pergi mengintip setiap tahun, tapi entah kenapa aku berpikir tentang fakta aneh bahwa aku tidak punya ingatan melakukan hal itu selama dua tahun ini.
"Yah, biarlah!"
"Hohoho."
Monyet yang kugendong di pundak pun menggoyangkan ekornya, mengekspresikan emosi yang sesuai dengan festival.
Karena ada hari terbuka untuk kerabat dan kebetulan hari Minggu, aku segera mengajak semua orang untuk pergi, tapi reaksi dari keluarga ternyata di luar dugaan sangat hambar. Putri bungsuku sudah pergi karena ada janji main sama teman, dan Suamiku menepis dengan sikap asal-asalan, 'Iya deh'.
'Kamu benar-benar energik ya. Kadang aku kagum.'
'Kenapa Pak Tua, ayo berdiri!'
'Bukannya Hougetsu bilang tidak usah datang?'
'Makanya justru harus pergi, kan.'
'Bagian dirimu yang itu sih tidak bikin kagum.'
'Anak itu tidak jujur sih. Mirip siapa coba.'
'Sekolah adalah tempat anak-anak, dan orang tua yang menerobos masuk tanpa sungkan itu...'
'Singkatnya, kamu malas keluar, kan.'
'Yaah, begitulah.'
Begitulah ceritanya.
Jadi, yang ikut hanyalah monyet yang kelihatannya menganggur sepanjang tahun ini.
"Saya dengar ada banyak bazar, jadi saya datang dengan pakaian resmi."
"Ada de gozaru ya."
Kubah musim panas yang hanya namanya saja 'sisa panas' (zansho), menutupi kota dalam bentuk langit biru. Entah berkat menggendong monyet yang dingin, aku tiba di sekolah Hougetsu tanpa berkeringat banyak. Sampai di situ sih oke, tapi jumlah pengunjungnya jauh lebih banyak dari dugaan. Karena kubayangkan bakal lebih sepi, aku jadi kaget.
Gerbang utamanya saja sudah berhias dan ramai, dan begitu melewatinya langsung terlihat antrean panjang. Antrean itu memanjang sampai ke pintu masuk gedung sekolah, aku melihatnya sambil berjinjit. Sepertinya kalau tidak antre di sini tidak bisa masuk ke dalam. Serius nih, pikirku, tapi karena sudah terlanjur datang, aku antre di paling belakang.
Padahal niatnya cuma mau iseng lihat-lihat sebentar lalu pulang.
Aku merasakan lewat tatapan orang-orang bahwa si monyet jadi sedikit pusat perhatian. Sepertinya bukan sedikit lagi.
"Tadinya mau ajak satu orang lagi, tapi dia nggak angkat telepon sih."
"Ada kalanya begitu."
"Kamu beneran ngerti nggak sih?"
Karena digendong di pundak jadi tidak kelihatan, aku mengangkat tangan asal-asalan dan menusuk pipinya yang lembut.
Kalau datang sendirian waktu tunggunya bakal membosankan dan mungkin aku bakal pulang, jadi untunglah aku membawanya.
Meski belum melihatnya secara langsung, kemeriahan itu tersampaikan lewat suara warna-warni dari gedung sekolah.
Layaknya bermandikan sinar matahari, udara itu meresap ke dalam kulit.
"Wah, jadi teringat masa-masa muda ya."
"Hohoo."
"Meski waktu masih sekolah aku agak kelebihan masa mudanya sampai dilarang masuk ke almamater sih."
Sampai sekarang aku masih memiringkan kepala, yang mana penyebab utamanya. Terlalu banyak kemungkinan sampai tidak bisa dipersempit.
...Yah, karena menyenangkan jadi tidak apa-apa. Setidaknya aku senang dari lubuk hati.
Kalau mau ikut acara seperti ini, sebaiknya membuahkan kenangan yang hangat, berwarna oranye.
Kuharap Hougetsu pun begitu.
Cahaya itu, jika ditengok kembali sesekali setelah kita pergi jauh... benar-benar, adalah hal yang indah.
"Fufu, jadi sentimental deh."
"Fufufu."
"Kamu jangan ketawa sekarang."
Saat sedang bicara begitu, akhirnya ada telepon balik dari orang yang mau kuajak tadi. Pasti dia menelepon balik dengan enggan, pikirku sambil tersenyum hangat saat mengangkat telepon. Monyet memegang telepon dan menempelkannya ke telingaku jadi tanganku santai.
'...Apa?'
Suara kering, yang mengingatkan pada kolam yang airnya surut. Suasana hatinya sepertinya sedang sangat bagus. Benar-benar tipeku.
"Yang menelepon itu situ lho."
'Karena ada panggilan masuk kayak orang bodoh dari kamu.'
"Cuma tiga kali kok."
'Tiga kali itu banyak. Jadi ada apa?'
"Hari ini Festival Budaya lho, tahu nggak?"
'Kepalamu isinya selalu festival ya. Ah, berisik.'
"Bukan, bukan makian begitu maksudnya. Festival Budaya sekolahnya Adachi-chan."
Ada jeda sedikit sebelum jawaban. Dia pasti tidak tahu.
'Terus?'
"Ayo main bareng."
'Aku benci keramaian. Pasti ramai, kan?'
"Enggak sama sekaliii. Cakrawala saja kelihatan lho."
'Suara orang, kedengaran banyak banget lho lewat telepon.'
"Berisik ah, ayo pergi!"
'Yang berisik itu kamu.'
"Iya."
'Pokoknya aku nggak pergi. Selamat malam.'
"Woi masih sebelum siang lho."
Telepon diputus. "Redial." "Pepopo." Aku perintahkan monyet dan langsung menelepon ulang.
'...Kamu ini ya.'
"Kamu juga datanglah ke Festival Budaya dan main sama monyet."
'Sama sekali tidak tertarik.'
"Ee, kamu suka hewan apa?"
'Makhluk hidup selain kamu.'
Apaan tuh, tawaku.
"Berarti kamu juga suka anakmu dong."
Punggung antrean sedikit demi sedikit maju ke depan. Tapi masih jauh, panjangnya cukup untuk menunggu seseorang.
Jawabannya lebih lambat dari sebelumnya, dan sedikit berputar.
'Anakku sedang menikmati Festival Budaya, kalau ketemu aku dan jadi merasa tidak enak... bakal repot, kan.'
Seolah dengan enggan, dia memuntahkan isi hatinya yang sebenarnya. Yah, sudah kuduga dia sungkan begitu.
Bahwa aku dibenci itu sudah premis dasar, jadi tak perlu dibahas lagi.
Meski tidak ramah tapi dia memikirkan anaknya, tapi tidak bisa mewujudkannya dengan baik.
Kalau digambarkan dalam satu kata.
"Sensitif banget ya Hana-chan ini."
'Mati sana.'
"Perbedaan perlakuan ke anak dan ke aku apa nggak terlalu jauh?"
'Wajar dong. Makanya aku nggak pergi. Sudah kuputuskan begitu. Dah ya.'
Kata-katanya datang seperti batu loncatan, dan telepon terputus lagi. Fuumu, aku berpikir sebentar.
"...Yosh. Beli macem-macem, terus pergi ke rumah Hana-chan ah."
"Hohoho, itu ide bagus."
"Umu umu."
Aku sudah tidak sabar ingin menghadapi wajah kesalnya mulai sekarang.
Akan kubawakan Festival Budaya padanya.
Paduan suara masa muda dari gedung sekolah, bunga-bunga payung para wali murid yang mengantre, dan suara jangkrik yang masih tersisa.
Tenang saja, cukup dengan aku seorang.
Kalau aku pergi, aku percaya diri bisa memulai festival sendirian.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar