Featured Image

AdaShima V13 C2

Metoya Februari 08, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Drama Ansambel Masa Muda Petualangan Laga Adachi dan Shimamura

Omong-omong, aku baru ingat kalau kami pernah bertukar nomor telepon.

Itu cerita lama saat awal-awal naik ke kelas dua. Bahwa hal seperti itu pernah terjadi, rasanya kejadian setahun yang lalu pun sudah terasa begitu nostalgik. Sejak saat itu aku hanya bergaul dengan Adachi, dan kehidupan SMA-ku isinya hanya Adachi, Adachi, dan Adachi.

Liburan musim panas sudah memasuki puncaknya ketika tiba-tiba Pancho menelepon, jadi aku sedikit terkejut. Bicara soal telepon biasanya berarti Adachi, jadi meski aku mengangkatnya dengan kesiapan mental untuk bicara dengan Adachi, nama yang muncul benar-benar berbeda sehingga aku tidak bisa membayangkan ada urusan apa. Tapi, yah, aku putuskan untuk mengangkatnya dulu.

Itu juga sedikit pelarian dari belajar untuk ujian.

'Yaa, Shimamura-san. Kaget karena tiba-tiba?'

"Ya, lumayan kaget."

Entah kenapa aku turun dari kursi dan duduk di lantai. Meski dangkal, sepertinya aku terguncang.

Saat aku mengembuskan napas perlahan, guncangan itu pun ikut mengalir tenang ke lantai dan menghilang.

'Boleh langsung ke intinya?'

"Silakan."

Ternyata ada urusannya. Kalau tidak ada urusan malah mungkin lebih aneh.

'Shimamura-san, mau datang untuk persiapan Festival Budaya?'

"Festival Budaya."

Aku tahu kata itu, tapi bunyinya terdengar asing di telinga.

"Emangnya ada ya, Festival Budaya?"

'Katanya sih ada.'

"Aku tidak ingat pernah ikut Festival Budaya tahun lalu."

'Kebetulan sekali, aku juga.'

"Ah, kamu juga?"

Mengesampingkan percakapan semacam itu.

"Lalu kenapa dengan Festival Budaya?"

'Untuk membuatnya "kenapa-napa", kita akan melakukan persiapan. Jadi kupikir mungkin Shimamura-san mau ikut.'

"Haa... aah, semacam atraksi kelas begitu?"

'Iya, iya. Kita sudah mendiskusikannya sebelum liburan musim panas, lupa?'

"Tidak ada dalam ingatanku, tuh."

'Di situ poinnya, sebenarnya aku juga lupa.'

"Iya, kan."

Mengesampingkan juga percakapan semacam itu.

"Itu sukarela?"

'Diserahkan pada kemandirian masing-masing. Karena ada ujian juga, pasti ada yang tidak datang.'

"Pan... kamu sendiri berniat pergi?"

Hampir saja aku memanggilnya Pancho secara normal. Memanggil dengan nama panggilan yang dibuat semena-mena secara tiba-tiba pasti tidak sopan.

Namun, aku tidak bisa mengingat nama asli Pancho. Di sini aku tidak punya pilihan selain mengaburkannya dengan lihai.

'Karena aku panitia pelaksananya.'

"Peran besar dong."

Informasi yang tidak kuketahui bermunculan satu per satu.

'Jadi, kalau senggang datanglah.'

"Hmm..."

Aku menatap lama pada situasi belajar di atas meja.

"Yah, boleh deh. Bukan berarti harus ikut setiap hari, kan?"

'Boleh saja sih. Seperti yang kubilang tadi, ini sukarela.'

"Habisnya tidak ada satu pun ingatan tentang Festival Budaya yang tersisa, jadi mumpung ada, bolehlah sehari saja."

'Kebetulan yang aneh, aku juga sama sekali tidak punya ingatan tentang itu.'

"Ya, kan."

Hahaha, setelah tertawa bersama.

"Ah, aku lupa tanya. Kelas kita bikin apa?"

'Kios permen buah.'

"Itu..." Opini tentang permen buah tidak muncul seketika. "Rasanya bakal uenak ya."

'Ha?'

"Boleh pergi mulai sekarang?"

Aku mengabaikan kebingungan lawan bicara dan mengalihkannya dengan pertanyaanku. Karena dia menjawab iya, aku segera mulai bersiap. Pertama-tama, aku harus mengganti kaos yang sudah bolong dan kucel ini.

Kalau pergi sebagai bagian dari kegiatan sekolah, sepertinya tidak boleh pakai baju bebas, harus seragam ya. Aku mengambil seragam yang sudah lama hanya jadi hiasan dinding tanpa giliran tampil. Liburan musim panas seragam ini pun kupinjam hari ini.

Telepon dan... apa tidak ada barang lain yang perlu dibawa? Hanya itu yang kumasukkan ke tas lalu keluar kamar.

"O, remidi ya?"

Ibuku yang melihat putrinya hendak pergi dengan seragam sekolah langsung meledek.

"Katanya disuruh datang bantu persiapan Festival Budaya."

"Festival Budaya? Memangnya ada acara begitu?"

Memangnya ada ya, aku melambaikan tangan dengan asal pada Ibu yang mengantar kepergianku, lalu keluar rumah.

Kalau ternyata cuma aku dan Pancho yang datang, pasti bakal canggung, pikirku sambil bermandikan sinar matahari. Karena terus mengurung diri di kamar, mataku belum terbiasa dengan cahaya dan tidak bisa langsung dibuka lebar. Sambil menaruh tangan di dahi membuat naungan, aku mulai berjalan dipermainkan oleh silaunya cahaya. Ide malas untuk memindahkan rumah seisinya sekaligus terlintas di benakku.

Baru jalan sebentar saja keringat sudah merembes, dan aku mulai menyesal keluar rumah. Terjun langsung ke tengah-tengah drama masa muda bukanlah hal yang mudah. Rasanya seperti berjalan menuju matahari.

Kalau liburan musim panas berakhir, hal ini akan terjadi setiap hari ya, membayangkan minggu depan saja rasanya aku sudah mau kering kerontang.

"Oups."

Ponsel bergetar. Di saat seperti ini, kandidat pertama selalu Adachi. Kali ini kandidat berikutnya.

Email dari Nenek.

Sekilas melihat gambar yang dilampirkan, bibirku bergelombang.

"...Fu, ffu."

Tanpa sadar pipiku mengendur, dan suara aneh bocor keluar.

Itu adalah gambar Gon yang menindih punggung makhluk lain seperti alas duduk, dan seekor tanuki yang tergencet bersama bantal sedang tertawa senang. Sepertinya Gon juga sudah cukup akrab dengan keberadaan si tanuki.

Tentu saja begitu. Makhluk itu, mirip sekali dengan masa kecilku.

"Hari ini dia ke sana lagi."

Di foto yang dikirim Nenek, kalau Gon sih wajar, tapi si tanuki makin sering ikut terfoto seolah dia makhluk langka. Padahal aku melihatnya setiap hari di rumah, jadi sama sekali tidak aneh. Namun, dia benar-benar bolak-balik menempuh jarak segitu dengan santai, sekali lagi aku berpikir dia bukan sekadar mencurigakan lagi.

Liburan musim panas yang awalnya menumpuk setinggi gunung kini telah mencair, dan sekarang hanya tersisa segumpal kecil. Namun musim panas belum terlihat akan berlalu, membakar atmosfer seolah memutar api yang ganas.

Suara jangkrik sampai padaku disertai getaran seperti ombak.

Musim panas mengamuk hingga mendistorsi suara.

 

Dulu waktu SMP aku sering pergi ke sekolah saat liburan musim panas demi kegiatan klub, pikirku sambil memuji perjuangan Shimachan-SMP saat tiba di sekolah. Omong-omong kalau ditarik lebih jauh lagi, Shimachan-SD berlarian dengan tangan terentang bahkan di tengah panas terik. Agak meragukan apakah dia benar-benar makhluk hidup yang sama dengan yang sekarang.

Sepertinya aku tinggal pergi ke kelas saja, mungkin, pikirku sambil masuk ke gedung sekolah. Omong-omong sepatu sekolah bagian dalam (uwabaki) kubawa pulang sebelum liburan, jadi tidak ada di sini, pikirku sambil menaruh sepatu di rak sepatu yang kosong. Meski lorong tidak berpenghuni, dari dalam gedung terdengar suara kotsu-kotsu yang bergema seperti suara kerja para kurcaci.

Sambil mendengarkan suara itu dan menatap lorong, entah kenapa aku melepas kaus kaki.

Sekolah di hari libur serasa menyuruhku untuk mencobanya.

Aku bertelanjang kaki, dan mencoba berjalan petta-petta di lorong. Karena tidak ada siapa-siapa, aku bahkan merentangkan tangan. Semangat yang dibawa oleh suasana tidak biasa ini mendorongku menjadi sepolos itu. Meski tahu lantai sekolah bukanlah benda yang bersih, aku tetap menaiki tangga dengan membuat suara langkah kaki seperti Yashiro.

Saat sampai di depan kelas, suara gaduh bertambah, jadi aku masuk dengan kesan sederhana bahwa mereka sedang bekerja.

"O, datang juga."

Pancho langsung menyambutku. Pancho yang terasa nostalgik karena terpisah liburan musim panas, menyemburkan tawa melihat kaus kaki yang kupegang di kedua tangan.

"Kenapa tingkahmu bocah banget begitu?"

"Entah kenapa jadi ingin mencobanya."

"Ah tapi, entah kenapa aku mungkin paham."

Ujung dari rasa "entah kenapa" kami bersentuhan, memperdalam pemahaman.

Pancho sendiri memakai sepatu sekolah dengan benar. Dua orang lainnya, Sancho dan Delos, sedang jongkok di tempat lain mengerjakan sesuatu. Kalau diperhatikan dari jauh, sepertinya mereka sedang membuat kertas gantung yang bertuliskan menu. Melirik kondisi pekerjaan itu, aku menyadari sesuatu.

"Persiapannya bukan baru mulai hari ini ternyata."

"Iya. Soal Shimamura-san aku baru ingat secara tiba-tiba."

"Wah, wah."

Padahal tidak perlu berusaha keras mengingatku juga tidak apa-apa.

Di dalam kelas ada lebih banyak teman sekelas daripada dugaanku. Mungkin bagi semua orang, ini pelarian yang tepat dari belajar ujian. Kerangka papan nama permen buah sudah jadi dan disandarkan ke dinding, tinggal menunggu dicat. Menurut penjelasan Pancho, kelas satu dan dua mengadakan pameran, dan yang membuka kedai simulasi adalah kelas tiga.

"Pengaturan yang baru muncul nih."

"Baru kupikirkan sekarang soalnya."

"Eh."

"Omong-omong, Adachi-san mana?"

Mana, mana, Pancho memanjangkan leher mengintip ke belakangku. Adachi?

Ah, Adachi ya.

"Aku tidak menghubunginya sih."

Lagipula kurasa dia tidak akan datang.

"Serius?"

"Tidak... kupikir kalian yang menghubungi."

Meskipun namanya belum bisa kuingat, tapi kami bicara cukup akrab begini, jadi aku tidak bisa tanya siapa namanya sekarang. Jangan sampai nama kontaknya di telepon terdaftar sebagai Pancho selamanya.

"Cuma Shimamura-san yang bisa menghubunginya, mungkin. Tidak ada yang tahu nomor Adachi-san."

"Benar juga."

Aku meremehkan lingkup pergaulan Adachi. Orang yang diajak bicara dengan benar di sekolah mungkin bisa dihitung jari. Tentu saja, Pancho tidak termasuk di dalamnya. Pancho menatapku seolah menciptakan arus agar aku melakukannya.

Merasakan atmosfer itu di pipiku, aku bertanya.

"Panggil?"

"Setidaknya kalau tidak diajak bicara, bakal canggung nanti."

"Begitu ya."

Argumen yang sangat masuk akal sampai menyilaukan.

Dalam pendapat Pancho ada akal sehat, dan ada harmoni. Hal-hal yang tidak ada dalam hubunganku dengan Adachi.

Maksudku, karena Adachi itu cukup spesial, belum tentu hal itu berlaku untuknya.

Adachi berbaur di tempat ini dan bekerja. Aku melihat sekeliling kelas, dan dengan jujur berpikir, gak mungkin sih.

Meski begitu, "Ya sudah, sekadar formalitas," aku keluar sebentar ke lorong. Lalu, seperti memasukkan tangan ke lubang sempit, aku melihat riwayat panggilan telepon. Yang memenuhi riwayat hanya telepon dengan Adachi. Kalau begini kelihatannya aku sayang banget sama Adachi, hahaha, aku memalingkan pandangan.

Kalau jauh dari sekolah, aku cenderung memanjakan Adachi dan menganggapnya anak baik, serta hanya melihat bagian-bagiannya yang luar biasa, tapi di tempat kehidupan berkelompok, sisi-sisi sulitnya mulai terlihat. Tapi bukan berarti Adachi sama sekali tidak punya kemampuan bersosialisasi, dia bisa melakukan interaksi wajib dengan lancar. Hanya saja, dia tidak tertarik pada emosi orang lain selain itu. Hebat juga dia bisa bersikap se-masa bodoh itu. Sekali-kali aku ingin mencoba melihat dari sudut pandang Adachi.

Bagaimana orang lain selain aku terlihat. Dan, bagaimana aku terlihat.

"..............................................."

Kalau memikirkan Adachi, entah kenapa jadi panjang.

Aku jadi tidak tahu apakah aku sedang memujinya atau apa, jadi aku sudahi saja dan mencoba menelepon.

Segera setelah ditelepon, tersambung.

Kalau aku yang menelepon, dia benar-benar mengangkat dalam sekejap. Sedang apa dia di rumah? Sampai aku bertanya-tanya. Kecepatan reaksi Adachi memberiku semacam rasa haru, tapi dalam banyak arti, dia memang bukan orang biasa.

'Ha, halo.'

"Pagiii."

'Pagii...'

Sikapnya yang terlalu antusias sepertinya sudah agak tenang. Adachi yang tenang juga mempesona lho.

"Aku selalu berpikir begini, tapi kan cuma teleponan, tidak perlu siaga begitu kali?"

Tingkah mencurigakan Adachi memang memberikan rasa tersendiri, tapi kalau begini terus aku juga jadi tidak tenang. Rasanya seperti harus lari bersama. Karena liburan musim panas tinggal sedikit, aku ingin menjalaninya dengan rasa sayang.

'Habisnya, saat aku sedang memikirkan Shimamura, kebetulan teleponnya masuk...'

Selalu cepat sih, aku menggaruk pipi. Itu artinya kan, lidahku bergerak-gerak.

"Adachi, apa kamu pernah memikirkan hal lain selain aku?"

Aku tanpa sadar menanyakan hal yang jawabannya, yang mana pun itu, akan membuat rasa malu bertambah.

Sesuatu yang menyala di pipi Adachi tersampaikan hanya dari hembusan napasnya. Wajah Adachi selalu berlampu merah.

Tapi dia menerobos tanpa peduli, anak nakal.

'Tidak ada, kurasa.'

"Ahaa."

Realitas bahwa aku sangat dicintai menyapuku seperti ombak. Gelombang panas yang tidak bisa dirasakan di dalam ruangan membuat pipi dan leherku berdesir. Suara seperti es krim yang meleleh tanpa sadar bocor keluar, jadi aku merapikan bibirku.

'Un... selalu, terus-menerus memikirkan Shimamura...'

"...Gitu ya."

Sudah tahu sih.

Memikirkan aku saja segitu banyaknya, apa tidak bosan? Maksudku, konsentrasinya luar biasa.

Jangan-jangan Adachi itu jauh lebih hebat dari bayanganku. Manusia biasa tidak akan bisa menatap satu hal sampai sebegitunya. Adachi mencurahkan semua bakat itu padaku.

Rasanya terhormat, tapi juga sedikit, merasa sayang (mubazir).

Mengesampingkan itu, rasanya aku pernah mendengar ucapan seperti ini sebelumnya. Sudah berapa kali kami melakukan interaksi serupa?

Tapi, tidak apa-apa juga kan, pikirku.

Misalnya bilang cinta, atau suka, hal-hal seperti itu boleh diucapkan berkali-kali.

"Mungkin terdengar bohong, tapi aku lumayan, memikirkanmu lho."

Sambil bicara aku mulai berjalan tanpa tujuan. Ke arah yang sedikit suara, yang tidak ada orang, kakiku bergerak.

Saat menjauh dari orang lain, aah, aku merasa sedang mendekati Adachi.

Baik buruknya hal itu kita sampingkan dulu, kalau Adachi pasti senang.

Aku... itu juga hal yang penting, adalah jawabannya. Aku tidak bisa menganggap semuanya tidak ada. Apakah Adachi akan memaafkan aku yang seperti itu? Aku harap dia mau, doaku.

'Lumayan yaa...'

"Kurang?"

'Enggak.'

Itu suara saat dia merasa kurang. Suara macam apa itu.

"Kalau begitu mulai besok aku akan memikirkanmu banyak-banyak."

'...Ano, aku bukan, bermaksud menagih lho...'

Itu suara saat dia sungkan tapi senang. Suara Adachi saja, meski ada sepuluh warna, aku bisa membedakan semuanya.

Belum lama... ya, hubungan kami belum bisa dibilang lama.

Sejak bertemu Adachi, baru dua tahun.

Rasanya sudah sekitar sepuluh tahun.

"Aah jadi soal urusannya nih, kami mau persiapan Festival Budaya, jadi aku mengajak Adachi, gimana?"

Sedikit melenceng, tapi aku masuk ke topik utama. Adachi menggumamkan 'Festival Budaya' dengan nada seolah sedang memutar permen yang baru pertama kali dia makan dengan lidahnya.

'Sekolah kita ada Festival Budaya?'

"Ternyata ada lho tiap tahun, katanya."

'Aku tidak tahu...'

Bisa dilihat kepolosan Adachi dari caranya menerima fakta itu dengan jujur.

"Katanya kelas mau bikin permen buah. Di tempat kerja sambilan Adachi ada? Permen buah."

'Ada. Stroberi, dan muscat (anggur hijau).'

"O, baguslah kalau begitu. Ada di menu, jadi kemampuan Adachi ada gunanya."

'Bukan aku yang buat...'

"Kamu bakal jadi bisa membuatnya, yatta."

Kalau memikirkan penjualan, Adachi sepertinya bakal ditaruh di bagian pelayanan sih.

"Adachi tidak mau datang merasakan masa muda?"

Aku mengajak gadis cantik ke salah satu babak kisah drama masa muda. Gadis cantik itu, suaranya tidak tegas.

'Uun... Festival Budaya..........................'

Keheningan setelah gumaman itu panjang. Daripada sedang mempertimbangkan partisipasi, panjangnya jeda itu menandakan ketertarikan pada hal lain. Spekulasi megah macam apa yang berputar di dalam diri Adachi?

Akhirnya, Adachi memberikan jawaban dari pergulatan panjangnya.

'Karena ada kerja sambilan juga, kalau sampai jam segitu saja.'

"Oya?"

'E, e kenapa?'

"Tidak, habisnya aku tidak menyangka kamu bakal datang."

Mendengar jawaban yang tak terduga, tanpa sadar aku berputar dengan langkah kaki yang aneh. Seperti sendi lutut yang meleleh bagaikan permen di tengah panas terik, aku bergerak gunya-gunya. Kalau diam saja panasnya menempel dan membuat sesak.

"Kupikir Adachi benci hal-hal seperti ini."

'...Yah, tidak suka juga sih.'

"Iya, kan."

Tapi, lanjut Adachi.

'Shimamura, sepertinya, salah paham akan sesuatu.'

"Apa tuh?"

'Aku, kalau di tempat di mana ada Shimamura... ke mana pun aku akan pergi lho?'

Kata-kata yang membuat berdebar. Sudah seperti pernyataan cinta saja, pikirku. Kalau tidak dilihat dari sudut pandang orang ketiga, rasa malunya tidak akan tertahankan.

Tapi dibilang begitu, aku jadi ingin sedikit melawan dan menarik garis batas.

"Ke ujung semesta pun?"

'Pergi.'

".......................Aha."

Di situ dia bisa menjawab tanpa ragu, aah, itu pasti menggairahkan, aku memejamkan mata.

Lalu aku mengantar kepergian sesuatu yang melewati bagian dalam hatiku, membuka mata, dan "Wa," aku terkejut.

Tanpa sadar aku sudah sampai di ujung lorong. Di titik akhir hanya ada dinding.

"Bukan bukan, sekarang kita sedang bicara soal Festival Budaya... kalau begitu aku tunggu ya, Adachi."

Kalau mendengarkan semua pembicaraan panas Adachi, baterai teleponku bisa habis.

'Tinggal pergi ke sekolah, kan?'

"Ya. Semua orang sedang kerja di kelas."

'Mengerti. Aku segera ke sana.'

Di tempat yang lebih mudah dituju daripada ujung semesta, diputuskan aku akan menunggu Adachi.

Namun, sekali lagi aku berpikir ini mengejutkan.

Mungkin ada tujuan tertentu bagi Adachi. Sepertinya bukan karena dia sadar akan drama masa muda, pikirku sambil membalikkan punggung dari dinding ujung lorong dan mulai berjalan. Karena sepertinya dia akan segera datang sesuai ucapannya, aku memutuskan pergi ke depan rak sepatu untuk menyambutnya.

Seperti biasa membuat suara langkah kaki petta-petta yang terdengar santai di dalam sekolah, aku pergi ke depan rak sepatu Adachi. Sambil menyandarkan punggung, aku menatap diam lorong yang remang-remang tanpa cahaya dan tak terjangkau matahari.

Langka bagiku menunggu Adachi di luar. Saat janjian bertemu, Adachi selalu datang lebih dulu. Sambil menunggu, aku mencoba menghadapi hatiku sendiri untuk merasakan perasaan Adachi. Tapi dalam kasusku, pandanganku melompat-lompat acak dan pikiranku juga bercampur aduk. Ini pasti bukan perasaan Adachi.

Cara hidup Adachi tidak bisa ditiru siapa pun. Bahkan olehku yang mungkin berada paling dekat dengannya.

Lalu suara jangkrik berhenti, lalu berbunyi lagi, saat satu putaran paduan suara selesai.

Adachi mengintip gedung sekolah dengan langkah kaki seolah memutar jalan, menemukan aku di rak sepatu, dan langsung berlari. Gestur itu, entah kenapa membuat tersenyum.

Selalu berusaha sekuat tenaga seperti Adachi itu memiliki sesuatu yang menyentuh hati manusia.

Itu hal yang patut dicontoh ya, pikirku sambil berjalan mendekat.

"Ya."

Saat aku mengangkat tangan kecil memberi salam, "Ya, ya," dia berusaha membalas salam dengan riang walau terkesan dipaksakan.

Ekspresi yang berusaha membuat senyum secara sadar namun mengandung sesuatu yang lengket ini juga tidak buruk. Maksudku karena wajah aslinya sudah terlalu bagus, meski seribu poin dikurangi sedikit, hasilnya cuma jadi sembilan ratus sembilan puluh poin, jadi pada dasarnya tak ada lawan. Artinya, singkatnya, bagiku asalkan itu Adachi mungkin apa saja boleh.

Rasanya aku juga tak disangka tidak bisa menertawakan Adachi.

Yah, kesampingkan itu.

"Adachi pakai seragam juga sudah lama tak lihat ya."

"Be, begitu?"

Aku menyambut penampilan seragam yang bersih yang belum kulihat sejak liburan musim panas dimulai.

Saat aku hendak memberikan sapu tangan "ini pakailah", aku berpikir "biarlah" dan langsung menyeka keringat di dahinya. Adachi mewarnai kulitnya dengan rona selain karena keringat atau musim panas, dan bahunya agak menegang. Adachi selalu saja tegang kalau aku sentuh.

"Te, terima kasih."

"Kalau begitu ayo pergi bantu-bantu. Tapi, sekali lagi kubilang, tumben kamu mau datang ya."

Aku seenaknya salah paham bahwa dia manusia yang tidak punya ketertarikan sedikit pun pada acara semacam ini. Biarpun ada aku. Karena dia bergumam alasan "Karena ingin bertemu Shimamura...", jadi kurespons dengan "Fumu".

Tidak baik berbangga diri bahwa itu hal yang biasa, tapi bisa dibilang aku mempercayai Adachi.

"Lagipula..."

"O, lagipula lagipula."

Saat aku mendesak mendekat, Adachi memundurkan badan dengan bagian atas hidungnya memerah.

"Se, sekarang rahasia."

"Mu. Main rahasia-rahasiaan itu tidak patut lho."

Disembunyikan di mana, kalau cuma berdua aku akan mulai menginterogasinya, tapi aku ingat sekarang di sekolah jadi aku menahan diri. Kalau lengah aku mungkin bakal jadi kya-kya (genit/heboh), jadi aku memperingatkan diri bahwa itu tidak boleh.

Karena Adachi cenderung tidak melawan, paslah kalau aku yang jadi agak tegas.

Un.

"Nanti, kalau sudah jadi aku bilang."

"Sudah jadi?"

"Ide, atau..."

"Fuun."

Pasti karena ini Adachi, mungkin rencana melakukan sesuatu denganku.

Kalau begitu, bukankah itu sedikit menarik.

Daripada melakukan sesuatu dengan Adachi, ada bagian diriku yang menantikan apa yang akan diucapkan Adachi.

Sambil berharap pada rencana misterius Adachi, kami menuju kelas.

"O, Adachi-san juga datang."

Karena Pancho menyapa dengan menyebut nama dengan ramah, tatapan dari teman sekelas lain juga berkumpul.

Mungkin karena benci mendapat perhatian seperti itu, alis Adachi agak berkerut.

"Un," jawab Adachi tak tenang sambil memainkan rambut dan memalingkan pandangan.

Apakah Pancho menyadari arti reaksi itu, dia melirikku sekilas. Kenapa melihatku?

"Kalau begitu pertama-tama kalian berdua, tolong selesaikan papan namanya ya."

Ini lho, dia memperkenalkan papan nama yang disandarkan di meja guru.

Permen Buah, hanya kerangka pop yang sudah jadi di dalam papan itu.

"Sampai tahap ini aku yang buat."

"Hebat juga."

Sambil memuji, tapi kalau begitu aku menunjuk papan itu.

"Apa tidak lebih baik kamu kerjakan sampai selesai?"

"Aku harus memesan bahan-bahan, jadi sisanya kuserahkan pada kalian."

Sepertinya dia sibuk, setelah memberi instruksi Pancho segera pergi.

"Boleh saja, tapi jangan berharap pada selera warnaku ya."

Nilai seni rupa Shimachan paling tinggi adalah 3. Maksudku setiap kali selalu 3.

Tidak bagus, tidak juga buruk.

"Adachi, nilai seni rupanya berapa?"

"Eh, 4..."

"Semua bergantung padamu, Nak."

Pon, aku menaruh tangan di bahunya. Adachi menunjukkan kebingungan sambil menatap tangan yang diletakkan itu.

Aku mencoba menjepit pulpen warna-warni yang kupinjam dari Pancho di sela-sela jari dan bersiap.

Segera, aku merasa sedang bekerja. Terkadang aku sadar betapa sederhananya strukturnya diriku.

"Aku belum pernah mewarnai atau semacamnya."

"Ekspresikan saja warna hati Adachi, gitu."

Aku mencoba mengatakannya agar terdengar keren, tapi rasanya malah jadi berputar-putar.

Apakah sang maestro terkesan dengan kata-kata itu... ya?

"Warna hatiku."

Mata Adachi menatapku lekat-lekat, berurutan dari atas.

"Cokelat, warna tobi (cokelat kemerahan/layang-layang), cokelat tua, merah muda pucat, putih, cokelat muda... telanjang kaki."

Yang terakhir bukan warna.

"Adachi yaa..."

Ini di kelas lho, aku jadi malu sendiri. Yah meski ada yang mendengar di dekat kami, mereka pasti tidak paham apa maksudnya. Tapi sepertinya di hati Adachi hanya ada aku. Aku tahu. Aku tahu, tapi aku malu.

"Maksudku, mungkin, bukan begitu."

Tapi kalau menggambar warnaku, bukankah entah bagaimana bakal jadi suram? Untuk papan nama permen buah.

Kalau mengikuti warna yang disebutkan Adachi barusan, entah bagaimana kurang fruity.

"Lupakan dulu soal aku, ayo mewarnai."

"Eh, nggak mau..."

"...Anak yang merepotkan."

Aku menyerahkan semua pulpen yang kujepit pada Adachi. Tidak ada satu pun warna yang terlukis di hati Adachi ada di dalamnya.

Bahwa tidak ada warna yang diinginkan pada barang yang disiapkan orang lain, entah kenapa terdengar filosofis.

Setelah dipaksa begitu, Adachi yang menyerah pada banyak hal mulai mewarnai papan nama. Setelah berpikir sejenak di awal, Adachi pada dasarnya tidak ragu, mengisi kekosongan dengan warna. Papan nama yang perlahan tergambar itu didominasi warna kuning dan merah, menjadi semakin meriah.

"Ini warnanya mirip tempat kerja sambilan Adachi ya."

"Ah, mungkin..."

Apa dia mewarnai tanpa sadar?

Bahkan kerja sambilan yang tanpa motif jelas pun, sepertinya telah menjadi bagian dari diri Adachi.

"Adachi-san jago ya."

Sancho yang lewat di belakang mengintip, dan memuji keahliannya.

"Masa?"

Meski dipuji cewek lain, pipi Adachi tampaknya tak tergerak sedikit pun. Bereaksi datar, bahkan tidak mengintip keadaan lawan bicara. Sancho juga sepertinya tidak terlalu ambil pusing, dan segera pergi menjauh.

Memang kalau dilihat dari sini saja, Adachi memiliki atmosfer tanpa ekspresi, dingin, dan menyendiri.

Adachi yang kutahu tidak ada satu pun di situ.

Adachi yang kulihat setiap hari, begini.

"Adachi keren. Adachi the best."

"A, apa sih tiba-tiba."

Saat aku memujinya dengan asal, Adachi meski bingung tapi tampak tidak keberatan, pipinya mengendur.

Umu, ini dia ini dia.

Dia bereaksi cukup baik bahkan pada pujian asal-asalan begini, aku jadi merasa sedikit superior.

Tapi karena gadis cantik ini tergila-gila padaku, bukankah wajar kalau aku jadi agak besar kepala. ...Kenapa dia sebegitu sukanya padaku ya?

Aku tidak meragukan rasa sukanya, tapi apa sampai sebegitunya ya, tanpa sadar aku mencubit pipiku sendiri.

Sementara aku galau memikirkan nilaiku sendiri, Adachi menyelesaikan pengecatannya.

Tanpa keraguan sedikit pun, atau mungkin karena tidak ada rasa sayang dia tidak menoleh ke belakang, pekerjaannya cepat, dan hasilnya pun tak diragukan lagi. Bertolak belakang dengan sikap orangnya, papan namanya menjadi berwajah ramai, mewah, dan ceria.

"Bagus, kan."

"Masa sih."

Sambil membereskan pulpen, Adachi memiringkan kepala. Tapi kepala yang miring itu menatap lekat ke arah tanganku. Ada apa, saat aku memeriksa tanganku sendiri, Adachi dengan pulpen merah dan kuning, kyu, menarik garis pendek di punggung tanganku.

"...What's?"

Adachi yang melakukan coretan misterius di tangan orang, wajahnya bergetar puru-puru.

"Shi, Shimamura juga... kuwarnai dengan, warnaku..."

Gagal menyelesaikan kalimatnya, mogo mogo mogo lidahnya jatuh bangun tujuh kali delapan kali.

Tapi karena apa yang ingin dia lakukan tersampaikan, Adachi yang gagal melawak itu terlihat lucu, membuat bahu dan pipiku berguncang kecil.

"Papannya sudah diwarnai lho."

Setelah selesai membereskan aku melapor pada Pancho, dan dia yang sedang bergerak keliling kelas sekalian mampir dan mengintip hasilnya.

"O, kerja bagus. Kalau begitu selanjutnya..."

Bikin bunga dari pita, begitu instruksinya. Serahkan padaku! Yang membalas dengan gagah hanya aku yang tidak terlalu berjasa ini. Dan seperti yang sudah kuduga sebelum mulai, bunga buatan Adachi lebih seragam dan menonjol, serta lebih cepat. Jika Adachi sepuluh, kerjaku ada di antara empat dan lima.

Aku teringat Ibuku menertawaiku yang ternyata tidak terampil.

"Kamu punya pengalaman hal beginian?"

"Eh, cuma bikin biasa saja..."

Bukan merendah, sepertinya dia benar-benar melakukannya tanpa sadar.

Seolah kepala dan bagian bawahnya terpisah dan beraktivitas dengan rapi. Meski Adachi sedang bekerja, tersampaikan bahwa perhatiannya hanya tertuju padaku. Meski sikap dan ekspresi sehari-harinya canggung, di bagian aneh dan keterampilan tangannya, aku tak bisa menandinginya.

Karena dia mengerjakannya dengan lancar begitu, Adachi mulai dikenali sebagai orang yang kompeten, dan pekerjaan dilempar poi-poi padanya. Adachi menerimanya dengan datar dan mengerjakannya dalam diam, aku mengawasinya dengan perasaan sebagai asisten. Aku membantu juga sih, tapi aku merasa mungkin lebih efisien kalau Adachi sendirian. Tapi Adachi tidak akan bekerja kalau aku tidak ada di dekatnya. Artinya aku ini semacam baterai eksternal Adachi.

"Isi daya."

"Eh, apa, apa apa."

Saat aku menggenggam pergelangan tangan Adachi, pipinya memerah, jadi kurasa pengisian daya berhasil.

Begitulah, reaksi Adachi sangat kentara dalam interaksi denganku di sela-sela waktu, tapi soal hasil atau kemajuan pekerjaan yang dikerjakannya dengan khidmat itu, dia benar-benar kelihatan masa bodoh.

Tidak merasa senang, tidak juga merasa repot, tidak menunjukkan positif atau negatif.

Apakah manusia, bisa se-masa bodoh itu? Ekologi Adachi sungguh menarik.

Begitulah kami menghabiskan waktu di dalam kelas, terus membantu sambil berpindah-pindah.

Hal itu terhenti sementara, lagi-lagi karena ucapan Pancho.

"Sudah mau jam makan siang nih. Karena itu aku mau minta tolong seseorang untuk beli makan siang~"

"........................"

Melihat Pancho yang dibalas dengan "Kamu saja sana" lalu menolak dengan riang "Ogah ah!" sambil melamun.

"Adachi bawa sepeda, gimana kalau kami yang pergi belanja?"

Aku mengusulkan padahal aku bukan Adachi. "Eh," Adachi di sebelah menoleh padaku tapi sengaja kuabaikan.

"Beneran? Kalau gitu tolong ya. Oke—pesanan dan uangnya ditarik masing-masing ya."

Pancho segera menerima tawaran itu, dan dengan memo di satu tangan berkeliling di antara teman sekelas. Cekatan sekali, atau lebih tepatnya dia pintar menjembatani hubungan antarorang. Kalau tidak salah yang mengajak masuk kelompok study tour juga Pancho.

Singkatnya, dia pasti orang baik.

"Ini uang kasarnya ya. Kalau kurang nanti kita pelototin struk belanjaan baru bayar atau tidak bayar."

"Opsi tidak bayar itu ada?"

Pancho yang selesai mengumpulkan menyerahkan memo dan uang sambil tertawa.

"Tulisanmu bagus ya."

Saat aku melihat pesanan yang berderet dan memberi kesan, dia tampak bangga "Aku ikut latihan penmanship soalnya."

Orang-orang yang biasanya tak berinteraksi denganku pun menjalani waktu mereka masing-masing dengan baik ya, tiba-tiba aku berpikir begitu.

"Ayo."

Saat aku mengajak Adachi, "Un..." dia ikut meski tampaknya tidak terlalu bersemangat.

Saat aku menepuk punggungnya dan lari kecil "ayo gas", Adachi juga ikut lari kecil dengan benar, jadi aku tertawa.

Di tengah jalan keluar gedung sekolah menuju tempat parkir sepeda, karena menerima dengan santai padahal makan siang juga disertai minuman, aku terlambat menyesal bahwa ini mungkin bakal berat. Yah berdua pasti bisa diatasi, aku segera menepis penyesalan itu, dan boncengan berdua di bagian belakang sepeda.

Boncengan berdua itu tidak boleh, dan kami bukan lagi anak nakal, tapi masa muda mendorong punggung kami menyuruh naik.

Hanya tinggal waktu yang sepertinya akan segera habis yang tersisa, usia delapan belas tahun kami pun.

Sudah lama juga tidak boncengan sepeda dengan Adachi.

"Daripada kerja di kelas, kupikir Adachi lebih suka pergi keluar berdua."

"Itu, benar."

Sambil mulai melaju, Adachi melirik ke arahku. Menoleh ke samping pun sudah terbiasa.

Tidak boleh terbiasa.

Keluar dari gerbang utama, menuju toserba terdekat. Karena ada tepat di seberang jalan raya, jaraknya sendiri tidak seberapa. Tapi situasi pergi belanja begini itu sendiri, membuatku berpikir sesuatu.

"Bagus kan sesekali yang begini."

"Begini itu, yang bagaimana?"

"Graffiti (corat-coret/gambaran) drama masa muda."

Sambil menerima angin hangat di pipi, aku menyipitkan mata karena sinar matahari.

Berkumpul demi satu tujuan, ribut bersama-sama, mengincar waktu sesaat seperti kembang api lidi.

Bahwa kami berada di sini sebagai bagian dari itu pun.

Kupikir tidak terlalu buruk.

Tapi bagi Adachi, mungkin ini hanya jalan memutar.

Untuk sesaat, tak ada jawaban, hanya suara roda yang meluncur di tanah yang terdengar.

Suara sepeda yang memacu masa muda, karena berada di tempat tinggi, terdengar agak jauh.

"Saat berada di sekolah, aku sedikit berpikir."

Adachi memperkuat kayuhannya, memberikan jawaban yang sulit dimengerti tertuju ke mana.

"Apa?"

"Mungkin aku, tidak suka manusia."

Suara Adachi yang tidak berubah, tapi terasa agak dingin, apakah itu masalah penerimanya?

Jika orang selain aku menerima suara Adachi, mungkin mereka selalu merasakan dingin seperti musim dingin begini.

Kata 'mungkin', adalah bentuk kerendahan hati Adachi.

"Kamu bilang hal yang cukup gelap ya."

Meski aku merasakannya dari berbagai hal. Bahwa dia tidak peduli itu tak diragukan lagi, lalu jika digali dari mana ketidakpedulian itu berasal, pada akhirnya bukankah dia negatif terhadap manusia sebagai makhluk hidup?

Bahwa dia tidak mendekati apa yang dia benci, reaksi Adachi itu sendiri sehat.

Meskipun fakta bahwa targetnya adalah spesies yang sama membuatnya terlihat agak sulit hidup.

Namun, dia memikirkan hal itu sambil bekerja bersama semua orang di kelas ya.

Pantas saja, aku merasa atmosfer kelas dan langkah Adachi itu ganjil dan sama sekali tidak klop.

"A, Shimamura beda, beda lho."

Seperti panik dia menambahkan. Aku tahu kok, tawaku.

"Aku kan bukan manusia."

"Uu, n. Un."

"Ano, aku bingung kalau diiyakan."

Awalnya kupikir itu candaan ala Adachi. Tapi Adachi melanjutkan dengan nada suara yang sama.

"Bagiku Shimamura itu, ada di kategori Shimamura... memang manusia, tapi beda lagi, gitu."

"...Begitu ya."

Diundang ke kategori spesial, aku merasa terhormat sih.

Kalau bersama Adachi, sepertinya aku harus berhenti jadi manusia. Hanya memacarinya saja sungguh berat. Yah karena Adachi itu berat, kalau ditarik ke sana aku akan digencet lebih kuat dari gravitasi bumi.

Di bumi ini, menjadi makhluk hidup yang tak ada duanya.

Menjadi Shimamura.

Sepertinya itu syarat untuk hidup bersama Adachi.

Bersama Adachi, bagiku tentu saja, ada hal yang didapatkan.

Kalau tidak ada, aku tidak akan bersamanya. Tidak akan berpikir untuk pergi ke suatu tempat berdua.

Jadi, hal itu sendiri tidak masalah bagiku.

Tapi menjauh sedikit demi sedikit dari keberadaan sebagai manusia, ada sedikit... sangat sedikit rasa sepi.

Makanya, mungkin aku jadi menghargai kenangan dan ingatan saat masih jadi manusia.

Kami tiba di tempat parkir toserba. Sambil turun seolah melompat dari sepeda, aku mengembuskan napas.

Di kelompok mana pun dia hanyut, Adachi tidak akan membaur. Tidak akan menipis.

Adachi akan terus menjadi Adachi.

Kuat atau keras kepala, ada banyak cara menyebutnya.

Tapi karena aku menyebutnya sebagai keteguhan hati (ichizu), kurasa itulah sebabnya aku bersama Adachi.

Belanjaan sesuai dugaan menjadi sangat banyak, dan di jalan pulang kedua tanganku penuh jadi tidak bisa boncengan. Berjalan di bawah panas terik tanpa rasa segar, aku merasakan musim panas yang nyata. Karena merasakannya setiap hari, aku sudah tidak berminat menganggap spesial keringat yang mengalir di kulit.

Sambil menyisakan sensasi kantong plastik yang menekan jari dengan kuat, kami berhasil mengantarkannya ke kelas.

Menyelesaikan urusan pembayaran dan hal-hal kecil lainnya, karena Pancho mendeklarasikan jam istirahat siang, kami juga membawa makan siang kami sendiri, meninggalkan gedung sekolah dan secara alami, kaki kami melangkah ke arah gedung olahraga.

Kurasa Adachi cuma menempel padaku tanpa berpikir khusus.

Tingkahnya yang toko-toko (berjalan kecil) mengikuti orang yang lebih besar darinya layaknya merindukan induknya, entah kenapa terlihat manis.

Apakah dia tidak mengerti arti tatapan itu, Adachi memiringkan kepala.

Melepas sepatu di pintu masuk, kami mengintip ke dalam gedung olahraga. Karena ada suara, sepertinya ada pengunjung lain.

"Ara, Hino dan Nagafuji."

Di seberang anggota klub dan bola yang memantul di lapangan basket, ada sosok dua orang yang kukenal di atas panggung.

Yang besar dan yang kecil sedang bercanda dengan sesuatu di satu tangan. Bisa dibilang Hino dan kawan-kawan yang seperti biasa. Di sana pun Hino sepertinya sadar, "Yoo" dia melompat turun dari panggung. Nagafuji sepertinya tidak langsung ngeh mungkin karena sedang tidak pakai kacamata.

Melihat punggung Hino, "Toaa" dia ikut turun.

Keduanya sudah berganti pakaian olahraga yang tampak mudah bergerak, dan berkeringat di dahi.

Nagafuji membungkuk ke depan, memastikan wajah kami.

"Ternyata Shimamama dan Chichicchi."

"Padahal tidak pakai kacamata tapi tahu wajah kami ya."

"Jangan terlalu memujiku."

Aku sudah tidak berniat menanggapi nama panggilan itu.

"Sedang apa?"

"Kelihatannya sedang apa?"

Hino mengibaskan benda mirip naskah yang dipegangnya seperti kipas, pata-pata.

"Rekreasi seperti biasa."

"Doon doon."

Mendengar kata 'seperti biasa', Nagafuji mulai menubrukkan tubuh ke Hino. "Kupukul lu," kata Hino sambil terdorong, tapi tetap melanjutkan percakapan dengan kami.

"Kelas kami jadi pentas drama. Ini latihannya."

"Hee."

Padahal bukan klub drama. Tidak, memangnya ada klub drama ya, di sekolah kita.

Karena tidak pernah terlibat, kesadaranku akan kegiatan klub sangat tipis.

"Kalian sendiri sedang apa?"

Hino bertanya padaku dan Adachi yang menarik diri satu langkah menjaga jarak.

"Bantu atraksi kelas. Sekarang istirahat siang."

"Aah, sudah siang ya."

Hino menatap jam yang tergantung di dinding gedung olahraga. Lalu, berkata pada Nagafuji yang masih menubruknya.

"Makan siang apa nih."

"Ou, aku roti katsu."

"Jangan meremehkan."

Karena mereka mulai kya-kya bercanda berdua lagi, kami tinggalkan mereka bersantai dan menjauh.

"Mereka itu benar-benar... akrab ya."

Ada banyak kata lain yang bisa menggambarkan, tapi aku sengaja memilih ungkapan itu.

"Ki, kita juga akrab, kok."

Pada Adachi yang mau bersaing, "Tentu saja," aku tertawa.

Di tengah jalan menaiki tangga menuju lantai dua gedung olahraga yang diselingi jalan memutar, Adachi dengan pelan, menyentuhku dengan ujung jari. Karena dia tidak tiba-tiba meremas jariku, aku merasa hangat menyadari dia sudah berkembang.

Secara longgar, dengan sensasi sekadar membungkus jari satu sama lain, kami bergandengan tangan menaiki tangga sampai habis.

"Di sini juga sudah lama, kan?"

"Iya ya."

Aku merasakan hawa panas yang lesu di ujung hidung, seolah terkurung di lantai dua. Udara yang tidak merasakan kehangatan yang cukup untuk disebut "seperti rumah sendiri". Tidak, ini terlalu panas. Heran juga dulu kami bisa berada di tempat seperti ini setiap hari.

"Aah, capeknya..."

Bersandar di dinding, duduk di lantai, rasanya seolah baru menyelesaikan sesuatu yang besar.

Padahal cuma bantu-bantu sedikit dan bolak-balik toserba.

"Ini punya Adachi."

Aku menyerahkan roti lauk yang dipilih Adachi hanya dengan sekali lirik, seolah tak peduli rasanya.

Adachi yang menerimanya segera merobek bungkusnya, dan mulai makan sambil duduk. Tidak ada emosi atau jeda dalam makannya.

Sambil merasakan ke-Adachi-an itu, saat duduk berdua di sisi dinding sambil meluruskan kaki begini, rasanya seperti mengulang musim panas yang sama selamanya.

Menatap kaki telanjangku, Adachi juga melepas kaus kakinya.

Berdua, kami saling memperlihatkan jari kaki yang dibuka lebar. Aku tertawa, dan Adachi tersipu malu.

"Baru dua tahun berlalu sejak saat itu, singkat nggak sih?"

Aku menyampaikan apa yang kupikirkan tadi pada Adachi, "Un," dia mengiyakan sambil mengunyah roti.

"Rasanya aku sudah bersama Shimamura jauh lebih lama."

"Iya ya, rasanya seperti sepuluh tahunan gitu."

Atau mungkin lebih. Sebegitu banyaknya hal yang terjadi antara aku dan Adachi.

Terutama bagi Adachi yang benar-benar hanya menghadap padaku, pasti rasanya lebih pekat.

"Anak SMA, katanya setengah tahun lagi selesai lho."

Ini terakhir kalinya kami menyambut musim panas dengan seragam sekolah, tidak ada yang berikutnya.

"Begitu ya."

Adachi menumpahkan reaksi seperti masalah orang lain, dan mencubit lengan baju seragamnya.

"Adachi ingin terus jadi anak SMA?"

Setelah bertanya, aku bisa membayangkan jawaban Adachi kurang lebih akan sama.

Tapi, meski sudah tahu, percakapan itu penting, dan kalau jawabannya sesuai harapan kan bagus, pikirku.

"Kalau Shimamura ada di situ aku akan diam di tempat, kalau kamu maju aku akan ikut."

Lihat, ini Adachi yang kutahu. Hati kami seolah menempel pas seperti telapak tangan yang disatukan.

"Adachi itu, hmm... apa ya..."

Memulainya sendiri itu lumayan berat, lidahku terasa berat.

"Aku?"

Mata dan mulutnya terbuka lebar sambil kering.

"Rasanya kamu, banget-banget, suka sama aku ya."

Jadinya malah tuduhan tanpa pertahanan seperti merentangkan tangan dan kaki membentuk huruf besar (Dai-no-ji) tanpa hiasan apa pun.

Seperti dipukul hambatan udara, pipiku gatal.

Adachi juga tersedak dan matanya shiro-kuro (panik) menerima serangan telak tanpa sungkan itu.

Keduanya memiringkan botol plastik mengatur napas, dan menghela napas lega.

Adachi yang menarik napas dalam-dalam pada hawa panas yang dihirup pun tak terlalu menenangkan itu, berkata sambil agak meremas rotinya.

"Banget, nget, suka." (Meccha, chaa, suki).

"A, sampai segitu ya."

Meski pura-pura tenang, aku terdesak sampai tidak bisa menatap ekspresi Adachi secara langsung.

Kenapa, ingin kulanjutkan tapi aku tidak bisa berlari lancar sampai ke sana.

Kenapa dia sebegitu sukanya padaku, aku sering merasa heran.

Aku setidaknya sekarang tidak membenci diriku sendiri, tapi tidak bisa juga mengafirmasi tanpa syarat.

Seperti apa aku terlihat di mata Adachi, rasanya geli.

Saat percakapan terputus dan menghadap ke depan, aah, aku sangat sadar bahwa ini tempat hanya untuk kami berdua.

Sensasi seperti berayun di permukaan air yang tenang ini terasa nyaman, mungkin karena itu kami secara alami berkumpul di sini. Tapi sebelum tenggelam sepenuhnya, bisa keluar dari sini pastilah sebuah keberuntungan.

"Pertama, mari kita rayakan fakta bahwa kita sepertinya bakal bisa lulus."

Aku sedikit mengubah topik.

Tanpa mengakhiri kehidupan sekolah di sini, kami, bisa kembali ke kelas.

Kami merayakan hal yang wajar itu dengan ilusi seolah telah mencapai sesuatu.

Kami mendentangkan botol plastik masing-masing yang sudah diminum, main bersulang.

Moso-moso, sambil melirik Adachi yang makan seolah sama sekali tak tertarik pada rasanya, aku juga menggigit onigiri. Ada orang yang kelihatannya hanya tertarik pada makan, ada juga yang sebaliknya.

Karena aku ada di tengah-tengahnya, rasanya jadi seimbang.

Seimbang apanya, aku menggelontor gumpalan nasi yang hampir tersangkut di tenggorokan dengan teh.

Sambil berpikir kalau makan terlalu banyak bakal mengantuk dan mengganggu pekerjaan siang nanti, aku malah makan dua onigiri. Gara-gara suasana hati yang sudah seperti festival dan agak kegirangan.

Ada diriku yang, lumayan, berharap pada Festival Budaya. Hitungannya partisipasi pertama sih.

Setelah selesai makan, nnn, aku mengerang seolah meresapi sisa rasa.

Aku berdiri. Sambil berpindah dengan lari kecil, aku memandang bola basket di lantai bawah lewat jaring.

Apa Shimachan-SMP suka bola basket ya, aku memikirkannya seperti masalah orang lain.

Di sisi lain, Shimachan-SMA membawa benda yang tak berubah sejak terakhir kali dipakai itu ke tempat Adachi.

"Gimana? Ringan saja."

Aku meminjam raket dan bola pingpong dari kotak di pojok, dan memperlihatkannya pada Adachi.

Titik awal kami. Dari sini benar-benar semuanya dimulai... sekarang kami sudah jarang sekali datang ke sini. Tapi sesekali ingin menengok ke belakang juga. Adachi juga melihat raket itu, "Un," dan menekan lantai dengan tangannya.

Menyiapkan net, memantulkan bola pingpong ke meja. Meniru gerakan yang sering dilakukan orang yang main tenis meja, lalu menatap Adachi yang berhadapan. Adachi tidak terlihat terbebani, berdiri tegak dengan raket di satu tangan.

"Aku mulai ya—"

Terlalu santai, tapi tidak terpikir seruan lain.

"Ba, baiik."

Adachi yang menerima tantangan juga cukup santai. Dengan kesadaran memberi sudut agar sedikit berputar, aku memukul bola pingpong. Adachi mengikuti lintasannya dengan mata, dan memukul balik dengan akurat.

Aku menilai seketika arah pukulan balik bola yang kembali dengan mudah itu.

Sadar mengincar posisi yang sulit dipukul Adachi yang kidal, aku memukul balik dengan melipat lengan.

Benar-benar terlambat mengayun, bola menggelinding ke luar meja.

"Fu."

Dengan patuh aku lari memungut bola. Kalau diingat-ingat dulu waktu main pun aku rata-rata kalah dari Adachi, dan ada ingatan aku berlarian memungut bola seperti ini. Artinya Adachi datang untuk menang dengan solid, dan aku meski payah tapi bergaya.

Berbanding terbalik denganku yang sudah penuh keringat, Adachi masih tampak sejuk.

"Panaas ya."

"Un."

Bahkan panas yang mengepung itu, terasa nostalgik.

Saat aku menyerahkan bola pingpong pada Adachi, setelah memantulkannya beberapa kali di atas raket, dia memukulnya dengan santai. Namun sudutnya lebih tajam dariku, dan menyerang tanganku disertai putaran yang khas.

Kashu, bersama suara bergesekan dengan raket, bola pingpong menghasilkan putaran lebih lanjut.

Benar-benar gagal memukul, bola menggelinding ke luar meja.

"Fufuh."

"Fu, fu?"

Adachi menerimanya dengan tawa basa-basi. Ya ya ya, sambil merespons, aku berlari memungut bola.

Waktu yang tak berubah mengalir.

Karena ini adalah permainan untuk meresapi kenangan, tetap seperti dulu pun tidak masalah.

Tapi aku memutuskan sampai kali berikutnya main, aku akan belajar satu bola curve (bola putar) dan mengejutkan Adachi.

Tujuan yang bagus terbentuk, lengan yang mengayunkan raket pun terasa ringan.

Semangat yang terpenuhi, meningkatkan hasrat hidup. Secara wajar, bisa menargetkan suatu saat nanti.

Masa kini membentuk masa depan.

Itu mungkin, cara hidup ideal manusia.












Interlude

"Tonkan tonkan! (Tong tang tong tang!)"

"Kupukul kau nanti."

Saat aku menangkap tangan si bodoh yang mencoba melakukan chop ke kepalaku, kami malah berakhir melompat-lompat dan menari berdua. Karena perbedaan postur tubuh, hampir sama saja dengan aku yang diputar-putar olehnya. Setelah berputar-putar sebentar, Nagafuji bosan dan melepaskanku. Suara langkah kaki santai Nagafuji bergema di atas panggung gedung olahraga.

"Padahal aku sedang meningkatkan kemampuan aktingku."

"Nggak ada adegan tukang kayu, woy."

Saat aku melempar naskah padanya, Nagafuji mengangguk seolah baru sadar dan setuju, "Benar juga."

Atraksi kelas di Festival Budaya diputuskan menjadi drama teater, itu sih tidak masalah, tapi entah karma apa kami berdua malah jadi pemeran utamanya. Katanya karena dua tokoh utama dalam novel yang dijadikan materi mirip dengan kami.

Isi novelnya adalah tentang tokoh utama pembunuh bayaran bertubuh kecil yang kebetulan bertemu dengan seorang aktris yang meminta pembunuhan termasuk dirinya sendiri. Soal pembagian peran, karena bertubuh kecil, tentu saja pembunuh bayarannya adalah aku. Lalu untuk aktrisnya...

"Demi mendapatkan aura aktris besar, aku berenang di bak mandi keluarga Hino setiap hari."

"Jangan datang tiap hari dong."

Dia benar-benar datang, kecuali saat liburan rutin keluarga ke Hawaii.

Di dalam gedung olahraga, anggota klub basket yang sedang latihan juga berlarian, dan sesekali pandangan mereka tertuju ke sini. Latihan drama di tengah situasi itu disertai rasa agak malu, tapi karena pertunjukan aslinya akan dilakukan di depan lebih banyak orang, ini mungkin latihan yang pas untuk membiasakan diri.

Karena tidak bisa menolak dan berakhir menjadi aktris utama, hasilnya, aku terpaksa merelakan liburan musim panas untuk latihan drama panggung. Karena bukan klub drama, ada batasan pada apa yang bisa kami lakukan, tapi karena sudah diputuskan untuk dilakukan, aku ingin membuatnya jadi bentuk yang pantas. Sepertinya teman-teman sekelas juga punya sikap serupa, hari-hari di mana semua orang melakukan persiapan dengan serius terus berlanjut. Kalau orang-orang di sekitar bersemangat, yah, keinginan untuk berjuang pun akan tumbuh.

"Aku sih tidak lanjut kuliah jadi nggak masalah soal belajar, tapi kamu gimana?"

"Aku akan bekerja kok."

"Di rumahmu?"

"Fufu... bagaimana ya."

"Ngeselin lu."

Nagafuji tertawa sambil menatap pemandangan lantai dua gedung olahraga yang tertutup jaring hijau.

Itu adalah tatapan yang melihat jauh. Nagafuji yang sekarang tidak memakai kacamata, tapi meski begitu, tersampaikan bahwa dia menangkap pemandangan itu dengan mudah.

"Main drama bareng itu sejak TK ya."

"Ah... pernah ada kejadian begitu ya."

Aku pura-pura baru ingat, tapi tanpa dibilang pun aku mengingatnya. Saat itu kami berdua bukan pemeran utama, tapi kami berdua sangat heboh dan bersemangat sampai taraf yang tak terbayangkan sekarang.

Alasan Nagafuji ternyata cukup bersemangat, mungkin karena ada kenangan itu.

Kenangan seperti permata adalah hal yang tak tergantikan dalam hidup.

Kilauannya menyilaukan, dan meski melakukan perjalanan jauh, jika menoleh ke belakang akan segera bisa ditemukan.

Tentu saja, aku juga punya banyak kenangan seperti itu.

Tapi meski bisa menemukan cahaya itu, keinginan untuk menyentuhnya tak akan terkabul... jadi ada sedikit rasa sepi juga.

...Yah, untuk saat ini, kurasa cukup dengan mengambil apa yang bersinar dengan caranya sendiri saat ini.

Sang aktris besar yang memproklamirkan diri ini rasanya sama sekali tidak bersinar, tapi aku menarik tangannya, dan kembali ke tengah panggung.

"Ayo, latihan lagi."

"Serahkan padaku-a!"

Belum juga mulai latihan, lidahnya sudah berputar tak keruan.

"Nggak butuh ad-lib (improvisasi) ya."

"Bisa kok!"

Yang mana tuh.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Facebook Twitter WhatsApp

Komentar

Tinggalkan Komentar