Drama Ansambel Masa Muda Grafiti Nostalgik
Petualangan Laga Adachi dan Shimamura
Langit musim panas yang begitu biru tanpa cela, seakan-akan awan pun telah menguap karenanya, terbentang luas hingga tak akan memalukan untuk dipamerkan ke mana pun di seluruh negeri. Kaki ini hendak bergerak seolah mengalir ke arah langit biru itu, namun silau matahari yang menyengat membuatku pusing dan berhenti melangkah.
Baru saja keluar rumah dan sedikit terpapar sinar matahari, kulitku sudah mulai merasakan tekstur keringat.
Musim panas yang ranum sempurna, tepat di pusatnya. Awal Agustus, liburan musim panas terakhir di masa SMA.
Saatnya untuk pulang kampung telah tiba.
Satu tahun telah berlalu, dan aku kembali lagi di bawah langit ini.
Tidak ada hal klise seperti bertambah tinggi lalu merasa langit jadi lebih dekat dari sebelumnya.
Musim panas memang panas, dan perasaanku sudah sampai ke rumah orang tua ibuku lebih cepat daripada mobil, membuatku didera perasaan yang sedikit tidak sabaran.
Ya, ini musim panas seperti biasanya.
Namun, jika memaksakan diri mencari perbedaannya, tahun ini ada satu sosok tambahan yang menunggu keberangkatan.
Seekor tanuki yang berjalan dengan dua kaki, menggendong bungkusan kain (furoshiki) di punggungnya, memancarkan suasana yang persis seperti dalam cerita dongeng zaman dahulu.
Entah kenapa, itu terlihat cocok untuknya.
Dan akhir-akhir ini, rasanya aku sering melihat wujud tanuki itu.
"Kudengar di rumah Mama-san sering muncul tanuki liar."
Aku akan membaur dengan sempurna loh, begitu kata si tanuki yang penuh semangat sambil mengibaskan ekornya. Entah bagaimana cara dia mengibaskannya.
Tahun ini, Yashiro juga ikut.
"Karena Ibu sepertinya suka makhluk-makhluk semacam ini, kupikir aku akan memperlihatkannya padanya."
Wahaha, tawa Ibuku sambil mencubit telinga si tanuki.
Makhluk semacam apa maksudnya.
...Yah, kurasa Kakek dan Nenek akan menyukainya.
Bagaimanapun juga, orang-orang itu adalah orang tua dari ibuku ini.
"Mari kita berangkat."
Ayah, yang sudah selesai memeriksa kunci rumah, keluar dan mengunci pintu depan.
"Padahal aku juga sudah memeriksa kuncinya, apa kau tidak percaya padaku!"
"Hmm, kurang begitu."
"Umu."
Entah kenapa Ibuku menerimanya begitu saja.
"Apa isi bungkusan ini?"
Adik perempuanku menusuk-nusuk bungkusan kain yang digendong Yashiro dari samping.
"Fufufu, apakah Anda penasaran?"
"Aku membungkuskan yukata untuk dipakai malam hari dan sikat gigi untuknya."
"Umu, satu lagi rahasiaku telah terungkap."
Yashiro tertawa hohoho setelah isinya dibocorkan oleh Ibu. Adikku pun mengubah sasarannya dari bungkusan kain ke pipi Yashiro. Benar-benar sudah akrab ya, pikirku sambil menatap pemandangan itu bersama keringat yang mulai merembes.
Makhluk yang asal-usulnya tidak jelas itu benar-benar sudah menjadi anggota keluarga ini.
Yashiro Shimamura.
"Ada apa?"
Yashiro yang menyadari tatapanku memiringkan kepalanya, dan aku hanya tertawa sambil berkata "bukan apa-apa" lalu membiarkannya berlalu.
Tidak cocok ah namanya, pikirku.
Yashiro adalah Yashiro.
Singkat cerita, kami pun masuk ke dalam mobil. Kali ini aku duduk di kursi penumpang depan.
Saat seluruh keluarga naik mobil, Ibu tidak pernah duduk di kursi depan. Alasannya karena dia bosan jika tidak bisa menjahili orang di sampingnya, jadi dia selalu ingin duduk di belakang. Hari ini karena ada tambahan satu tanuki, kursi belakang jadi penuh, dan aku pun terdorong ke depan.
Ibu sedang asyik mempermainkan tanuki yang duduk di tengah. Omong-omong, Adikku juga ikut serta.
"Liburan musim panas tahun ini, aku merawat seekor tanuki."
Sambil bergumam dengan gaya bahasa buku harian, Adikku menyuapkan camilan ke mulut Yashiro. Pipi tanuki itu mengendur, membuat makhluk yang dari sananya sudah konyol itu menjadi semakin fancy. Sudah fancy, funny, dan fuzzy pula. Benar-benar fafafa.
Tanuki... apakah aku pernah melihatnya di sekitar rumah itu? Dulu aku cukup sering berlarian ke berbagai tempat bersama Gon, tapi aku tidak ingat pernah berpapasan dengan tanuki. Pasti tidak ada ingatan yang hilang tentang waktuku bersama Gon.
Aku mengambil ponsel, memandang foto Gon yang dikirimkan Nenek, lalu menggeser layarnya.
Padahal sebentar lagi aku akan menemuinya, kenapa aku malah melihat fotonya, pikirku sambil sedikit tertawa.
Setelah selesai melihat, aku menarik napas dalam-dalam, memastikan tidak ada pesan dari Adachi, lalu menyimpan ponselku.
Sambil memandang ke luar jendela, aku teringat hari kemarin saat aku menelepon Adachi.
Adachi bisa muncul tiba-tiba dari pemandangan mana pun, jadi aku tidak boleh lengah.
'Tahun ini aku juga pergi ke kampung, jadi besok kamu tidak boleh datang main, ya.'
'Ah... begitu ya.'
'Aku menginap dua malam. Jadi besok lusa pun aku tidak ada, lho.'
Saat aku memperingatkannya seolah sedang membacakan panduan perjalanan wisata, aku bisa merasakan Adachi mendekatkan wajahnya ke telepon.
Meskipun lewat telepon, aku tidak membenci suasana dirinya yang berusaha mempersempit jarak denganku.
'Kalau sudah pulang, bolehkah aku langsung pergi main ke tempatmu?'
'Boleh saja. Tahun lalu juga begitu, kan?'
'Baik tahun lalu maupun tahun ini, aku adalah aku, dan Shimamura adalah Shimamura.'
'...Begitu ya. Mungkin memang begitu.'
Sikapnya yang sungguh-sungguh itu tak diragukan lagi adalah kelebihan Adachi. Sampai-sampai aku merasa cemas apakah aku bersikap tidak tulus pada Adachi jika aku tidak memiliki keteguhan hati yang setara.
Setelah itu, aku mengakhiri panggilan telepon dari sisiku seperti biasa.
Tiba-tiba, aku berpikir.
Tahun lalu begitu, tahun ini begitu, lalu bagaimana tahun depan.
Apakah aku bisa melanjutkannya, musim panas ini?
Memikirkan diriku yang tak akan lagi menjadi siswi SMA, dan lingkungan sekitarku yang pasti akan menua, mendadak aku merasa goyah.
Suatu saat nanti, apakah aku tidak akan pergi lagi ke rumah itu saat musim panas?
Kebiasaan yang sudah wajar sejak aku mulai mengerti dunia, akan menghilang dari jadwalku.
Hal itu bisa saja terjadi paling cepat tahun depan, dan aku melihat sesuatu yang menyerupai awan gelap.
Perubahan lingkungan dan aliran waktu menghadapkanku pada hal-hal yang biasanya tidak kusadari.
Jaminan untuk hari esok saja sulit, apalagi membayangkan kewajaran untuk tahun depan, itu mustahil.
Jika dibilang perasaan tidak enak, itu mungkin kurang tepat. Tapi dadaku terasa sesak dan sulit bernapas.
Perpisahan dengan siapa pun, dengan seseorang yang berharga, adalah hal yang tak terelakkan.
Selama kita adalah makhluk hidup yang terlahir dengan kepastian akan kematian.
Rasa sepi karena dicabutnya hal-hal yang sudah mengakar sebagai kewajaran itu, rasanya tak akan hilang jika dibiarkan begitu saja.
'...Armadillo yang di sana, sini sebentar.'
'Ya, ada apaaa~'
Aku menangkap armadillo yang datang dengan santai dan ceroboh itu, lalu mengajaknya bercanda.
Jarak antaraku dan Yashiro cukup renggang dalam artian yang baik, jadi dia sangat efektif untuk mengalihkan perhatian.
Setiap kali pemandangan yang tak saling terhubung berganti, aku merasakan ilusi bahwa aroma rumput musim panas semakin kuat.
Terkadang aku berpikir, apakah itu sebenarnya bukan aroma rumput, melainkan aroma langit yang biru jernih?
Itu hanya imajinasi dangkal yang menyertai kenaifan masa muda.
Kami tiba di rumah orang tua Ibu. Bersamaan dengan mobil yang berhenti di tempat parkir, aku mengembuskan napas pelan.
Jika harus diakui, ada rasa gugup di sana.
"Wah, sama sekali tidak berubah~" Ibu turun paling dulu. Disusul oleh Adik. Tanuki yang tertinggal mengangkat kedua ketiaknya, bingung mau turun dari sisi mana sambil celingukan. Melihat itu, Adikku melambai memanggilnya, dan Yashiro pun turun seolah melompat dari mobil sambil berseru "Yaa~". Lalu, mereka berdua berjalan mengikuti Ibu dengan langkah tegap.
Sosok punggung yang menggendong bungkusan kain dan berjalan dengan riang itu hampir seperti penghuni dunia dongeng.
Apalagi dengan latar belakang hijau kuning yang berdesakan dan bangunan kuno itu. Terasa sangat pedesaan, atau lebih tepatnya, terasa 'pon-poko' (suara tanuki).
"Hougetsu?"
Saat aku sedang melamun memandangi pemandangan itu, Ayah menegurku. "Iya iya," jawabku sambil turun dan melangkah ke bawah sinar matahari.
Bagian belakang telingaku langsung terasa panas, seolah musim panas sedang menunggangiku.
Sensasi menginjak kerikil menstimulasi telapak kakiku menembus sepatu. Setiap kali melangkah maju, pemandangan saat mengunjungi tempat ini tumpah dari rak hatiku dan terasa riuh. Petualangan kecil, pertemuan yang tak tergantikan, dan sentimentalitas yang tak bisa dibuang.
Seiring bertambahnya tinggi badan, kenangan-kenangan itu menimbulkan suara yang semakin keras setiap kali terjatuh.
"Selamat datang."
Hanya Nenek seorang yang menyambut di pintu masuk. Aku mengintip ke arah kakinya untuk memastikan tidak ada orang lain.
"Permisi," salam Ayah, dan hampir bersamaan dengan itu, Ibu menyapa dengan ceria.
"Aku pulaaang. Lutut Ibu sudah sembuh?"
"Cerita zaman kapan itu. Ciat."
Nenek mengangkat kakinya dengan indah, mengincar dagu Ibu. Ibu pun mengangkat kakinya sendiri seolah menyambut serangan itu, namun keduanya berselisih dengan cantik, kaki mereka berenang di udara sebelum mendarat kembali di tanah.
Dan percakapan berlanjut begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ayah mana?"
"Rapat warga. Sebentar lagi juga pulang."
"Nenek, halooo~"
"Ooh ooh, cucuku, selamat datang."
Nenek mengangkat Adikku, lalu segera menurunkannya sambil berkata, "Ah, sudah tidak kuat, berat." Adikku tampak agak bangga.
Enaknya bisa merasa senang karena jadi lebih berat, pikirku sambil melirik.
"Halooo~"
Saat tanuki yang muncul tiba-tiba dari belakang Adikku memberi salam, mata Nenek semakin berbinar.
"Wah wah wah, Tanuki-chan selamat datang."
Nenek langsung menyambut Yashiro. Ekor si tanuki pun bergoyang tampak senang.
"Rasanya dulu kulihat kuda nil, tapi hari ini tanuki ya."
Dulu, gumamnya, dan aku teringat saat aku mengirim foto waktu itu. Memang saat itu dia adalah kuda nil ceria yang memegang marakas. Hari ini penampilannya seperti siluman tanuki yang turun ke pemukiman manusia.
"Fufufu... seperti yang Anda lihat, saya adalah tanuki sejati."
Penegasan macam apa itu, tawaku. Wajahnya tampak agak percaya diri.
"Dilihat dari mana pun ini tanuki spesies asing, tapi apa ini anak ketiga?"
"Aku tidak ingat pernah melahirkannya, tapi dia cucumu."
"Sampai cucu palsu pun datang, tahun ini jadi ramai ya."
Memangnya cucu palsu itu sesuatu yang bisa diterima dengan sesenang itu, ya?
"Ah, cucu asli nomor dua juga ada tuh."
"Lama tidak jumpa."
Mata kami bertemu, dan cucu nomor dua memberi salam. Padahal urutannya harusnya aku yang nomor satu.
"Siapa nama Tanuki-chan ini?"
"Hohoho, Tanuki adalah Tanuki."
Dia mencoba mengelabuinya dengan riang. Nenek pun menirukan "Hohoho" sambil bertanya lewat mata kepada Ibu.
"Dia itu yaa... siapa namanya tadi?"
Ibu menoleh ke belakang. Pertama, Ayah yang berada di dekatnya memiringkan kepala.
"Hmm... hmmm?"
Karakoro, rasanya aku mendengar suara isi kepalanya berbunyi.
"Yachii gitu lho. Jadi Yachii itu... siapa ya..."
Apa jangan-jangan hanya aku di keluarga ini yang ingat nama asli tanuki ini?
Lagipula belum tentu itu nama aslinya juga sih.
"Namanya Yashiro, dia itu."
"Sudah ketahuan ya."
"Ooh Yashiro-chan. Kalau dilihat langsung benar-benar... mencurigakan!"
Tanuki yang tidak hanya rambutnya, tapi gigi dan kukunya pun samar-samar berwarna biru muda itu mencoba berkilah, "Saya tidak mencurigakan kok," tapi Nenek tetap merasa senang tanpa mempedulikannya. Entah kenapa Ibu yang melihat itu tertawa penuh kemenangan.
Kemudian.
Bibirku terbuka tanpa sadar saat melihat sosok anjing yang datang mengintip setelah mendengar suara kami.
Berbagai kata seakan muncul di benakku, namun tak ada yang mau keluar menyebutkan namanya.
Kekanak-kanakan dan kedewasaan yang setengah matang membuat langkah kakiku tak serasi, hingga keduanya terjerat dan jatuh.
"...Lama tidak jumpa."
Aku berjongkok dan menyapanya. Karena dia mendekatkan wajahnya, aku memeluknya.
Bulu-bulunya terasa empuk, dan tekstur itu membuat jari-jariku terasa menggelitik.
"Kondisinya agak membaik lho, makannya juga lebih banyak dari sebelumnya."
"Begitu ya."
Shishishi, sambil terus mengelus punggungnya, rasa sukacita meluap. Asalkan dia sehat, itu sudah cukup. Aku sangat, sangat senang.
Pergerakan hatiku tak beraturan dan tak bisa tenang, seolah melompat-lompat di atas tangga batu.
Karena jika aku merasakannya terlalu lama, akan ada sesuatu yang merembes keluar.
"Bolehkah saya memberi salam?"
Yashiro yang berdiri menunggu di samping bertanya padaku.
"Haa, silakan."
Aku menjauh dari Gon, memberikan tempat pada Yashiro. Gon menatap lurus ke arah Yashiro.
Apa yang dia pikirkan tentang tanuki misterius ini?
"Saya adalah tanuki seperti yang terlihat."
Perut yang dibusungkan sambil bertolak pinggang itu tampak sangat bangga. Aku menusuknya dari samping.
"Fufufu."
Bangga sekali dia.
Mendengar Gon yang mendongak menatap perut tanuki itu mengeluarkan suara kecil, Yashiro tertawa "Hoho~u".
"Nama Anda Gon-san, ya?"
...Eh?
Aku menerima guncangan hebat sampai sudut mataku menegang mendengar dia mengatakannya seolah itu hal yang wajar.
Aku menoleh.
Ya, tidak ada yang memberitahunya.
"Kamu... bisa mengerti? Apa yang Gon katakan?"
Padahal begitu, tapi Yashiro menyebut namanya, membuatku bertanya dengan kepala yang memutih kosong.
"Ya?"
Yashiro mendongak menatapku, membeku seperti dijeda, lalu menggelengkan kepalanya sambil berkata "Tidak, tidak."
"Sama sekaliii tidak mengerti kok."
"Tidak tapi, barusan..."
"Mumu, ada hawa camilan."
Tunggu duluuu, katanya sambil berlari pergi dengan tangan terulur ke depan.
"...Kabur dia, si itu."
Saat kusadari, semua orang sudah tidak ada di pintu masuk dan sudah naik ke dalam rumah.
Aku yang tertinggal mengelus punggung Gon dan mengajaknya.
"Ayo pergi."
Bersama Gon, aku berjalan menyusuri lorong yang berbau kayu kuat.
Saat aku terlambat mengintip ke ruang tengah, si tanuki sedang menari dengan kerupuk keju di tangannya.
"Padahal Nenek kira bakal sisa, ternyata habis semua ya."
Nenek tersenyum lebar melihat wajan yang kosong bersih. Di wajan itu hanya tertinggal aroma saus yang sedikit hangus. Makan siang hari ini adalah yakisoba.
Kakek dan Nenek setiap tahun menyuguhi kami masakan dalam jumlah yang tak mungkin bisa dihabiskan oleh keluarga kami, tapi tahun ini berkat adanya tambahan personil, semuanya ludes. Dia yang berpenampilan fancy tapi ternyata makannya paling banyak di rumah ini, sekarang sedang menikmati jeli jeruk pemberian Nenek dengan wajah berseri-seri.
Cucu yang makan dengan lahap seperti ini pasti adalah tamu terbaik bagi seorang nenek.
Meski bukan cucu sih.
"................................................"
Aku melirik Gon yang sedang menyejukkan diri di sudut ruangan, lalu mengembalikan pandangan ke Yashiro.
Orang ini, apa benar-benar bisa berkomunikasi dengan Gon?
Rasanya mungkin saja, kalau itu makhluk luar angkasa ini.
Apakah aku, bisa mengetahui perasaan Gon secara langsung?
Perlawanan yang keras dan rasa berat mengacaukan dadaku.
Perasaan ingin tahu, dan ketakutan untuk tahu. Keduanya tumbuh di dalam diriku.
Entah bagaimana dia menafsirkan tatapanku itu, "Apa boleh buat," kata Yashiro sambil menyodorkan sendok berisi jeli oranye.
"Cuma satu suap lho."
Sepertinya sejak tadi dia terus mengalihkan pertanyaanku.
Karena terlihat enak, aku memutuskan untuk membiarkan diriku dialihkan.
Setelah makan siang, suasana jadi seperti bubar jalan, masing-masing menghabiskan waktunya sendiri. Ayah tahun ini juga mencuci mobil di luar. Katanya kalau sudah selesai dia mau pergi memancing. Mungkin dia akan pulang tanpa hasil tangkapan apa pun.
Aku duduk di beranda (enggawa), memandang ke arah taman. Tentu saja panas. Angin dari kipas angin pun terasa jauh dan tak bisa diandalkan.
Tapi saat bermandikan suara jangkrik yang merembes bersama keringat, anehnya aku merasa tenang.
Seolah ingatan menganggap tempat itu sebagai tempat bernaung.
Tidak ada hal khusus yang kulakukan. Yah, sebenarnya semua orang juga tidak punya tujuan yang menonjol dalam mudik ini. Datang untuk memperlihatkan wajah, itu saja. Tidak ada yang dilakukan, itu juga bisa dibilang semacam kemewahan.
Dulu begitu selesai makan, aku langsung berlari keluar bersama Gon.
Tapi Gon yang sekarang sudah tidak bisa berlari lagi, dan aku pun, tidak tahu harus berlari ke mana.
Perasaan yang kutujukan pada Gon yang seperti itu sangat beragam; hatiku menjadi biru, membayangkan pantai, atau merasa seolah sedang mengintip ke dalam gua. Di sana ada angin yang bertiup, ada keheningan yang tak tertahankan, dan ada nostalgia yang melayang jauh. Rasanya begitu banyak perasaan yang sulit dijelaskan dan diberi nama yang hampir tumpah ruah.
Gon sendiri, saat ini, apa yang dia pikirkan tentangku?
...Lagi-lagi, rasanya ingin tahu. Tapi rasanya takut untuk tahu.
Saat aku melamun menunggu rasa takut itu menipis, terdengar lagu tentang rubah (kitsune) dan tanuki dari suatu tempat. Itu lagu udon, padahal makan siang tadi yakisoba.
Aku merentangkan kaki, berniat memungut kelanjutannya dan menyanyikannya sendirian.
Namun badai yang bertolak belakang dengan angin nyaman itu membuat tubuhku melayang.
"Orangnya kurang, jadi kamu juga ikut sini."
"Eeeh..."
Aku ditarik oleh Ibu dan terpaksa ikut serta. Nenek, Yashiro, Adik, Ibu, dan aku. Karena aku bergabung paling akhir, aku kebagian peran jadi dagingnya. Andai Nagafuji ada di sini, dia pasti orang yang tepat.
Maksudku, ternyata mereka tidak bubar dan malah main bareng.
Gon meringkuk di sudut ruangan yang sejuk, menatap kami. Tampak mengantuk ya, tawaku kecil.
Ada hal-hal yang bisa saling dimengerti tanpa perlu bertukar kata secara langsung.
Rubahnya adalah Ibu, Tanukinya ya si Tanuki, Tempuranya Nenek, dan Telur (Tsukimi) adalah Adikku. Sambil berpikir bukankah secara nama harusnya aku yang lebih cocok jadi Tsukimi, lagu dan pawai pun dimulai.
Karena ruangannya tidak luas, ternyata sulit untuk berputar-putar dengan rapi. Tapi saat memutar tubuh mengikuti musik, entah kenapa rasanya agak menyenangkan. Omong-omong, yang paling lincah adalah si Rubah di barisan depan yang harusnya sudah berumur itu. Nyanyiannya pun sempurna, dia menyanyikan bait kedua yang tidak kuketahui dengan riang sendirian.
Saat sedang asyik bermain begitu, Kakek yang baru pulang dari rapat warga mengintip ke dalam ruangan.
"Selamat datang."
"Ooh. Oh, inikah tanuki yang dirumorkan itu."
Tanuki yang sedang berpawai memberi salam sambil mengibaskan ekor.
"Senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya."
"Tanuki ya, memang dulu aku juga sering melihatnya di sekitar sini."
"Ooh, saya juga ingin melihatnya sekali untuk belajar."
"Kalau begitu nanti akan kupaajarkan gestur tanuki. Semoga kau jadi tanuki yang lebih baik."
"Waaah."
Tanuki menemukan gurunya dan bersorak gembira. Sebegitu inginnya kah dia mencapai puncak ketanukian?
Saat aku tanya ke Kakek "Mau gantian?", dia menolak singkat "Ogah" lalu kabur.
"Kamu lanjut jadi daging ya."
"Jangan cubit pinggangku."
Aku tidak bisa kabur dari peran daging.
Begitulah kami menghabiskan waktu dengan berbagai hal, dan saat makan malam pun si Tanuki beraksi besar. Semua orang heran ke mana hilangnya makanan sebanyak itu dan menusuk-nusuk perutnya. Karena orangnya sendiri membusungkan perut dengan agak bangga entah kenapa, aku pun ikut-ikutan menusuknya. Terasa empuk.
Padahal saat datang aku membawa kecemasan, tapi begitu menghabiskan waktu di rumah ini, seolah terisolasi dari biasanya, langkah waktu yang lambat pun tidak terasa menyiksa.
Waktu mengalir seperti itu.
Gon juga makan dengan perlahan, dan begitu kenyang dia meringkuk di posisi tetapnya di sudut ruangan.
Dengan jarak yang tetap sama, aku bertanya, "Enak?"
Gon tentu saja diam, hanya menatapku lekat-lekat.
Setelah itu aku mandi di kamar mandi yang berbeda dari biasanya, mengerang "ueeh" karena kepanasan, dan saat sedang melamun...
Yashiro yang mandi bersama Adikku berlari datang.
Malam hari dia bukan tanuki, melainkan mengenakan yukata berwarna nila. Itu yang biasa dia pakai di rumah juga.
"Saat keluar dari kamar mandi, kostum penyamaran saya hilang."
"Kulit Tanuki-chan-mu dibawa ke mesin cuci, lho."
Astaga, kaget Yashiro sambil melompat dengan satu kaki.
"Hmm, itu seperti cerita nenek yang pergi mencuci ke sungai ya."
"Yah, kurang lebih begitu."
Waaah, dia senang karena tebakannya benar, berlari mengelilingiku satu putaran lalu pergi. Langkah kakinya begitu ringan seolah menunjukkan kebebasan hanya dengan cara berlarinya. Aku memandang jejak warna biru muda yang tertinggal dengan tatapan kosong, lalu teringat.
Sepertinya dia bilang ingin dikabari kalau ada waktu untuk menelepon di malam hari.
Ada waktu nih, pikirku sambil berbaring, dengan malas menjulurkan tangan untuk mengait telepon dengan jari. Sini sini sini, saat aku menarik telepon sedikit demi sedikit dengan telunjuk dan akhirnya menggenggamnya, pinggangku jadi sakit semua.
'Bisa telepon.'
Begitu aku mengirimnya, telepon bergetar hampir bersamaan dengan jariku yang lepas dari layar. Kadang aku berpikir, jangan-jangan Adachi sendiri sudah menjadi telepon, melihat respons ini. Lama-lama dia mungkin bisa menerima gelombang radio dariku tanpa perantara mesin.
"Halo halo."
'Se, selamat malam.'
"Tidak perlu menelepon dengan panik begitu."
'Karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.'
"Kamu calon peserta ujian, kan? Belajarlah."
Saat aku mengomelinya dengan gaya Ibu, Adachi bergumam 'Ujian...' sepertinya ada yang dia pikirkan.
"Ada apa?"
'Shimamura akan kuliah?'
"Yaaah, mungkin ya. Aku sudah dibilang boleh kuliah kok."
'Kasih tahu ya kamu mau ke mana. ...Aku juga, kalau dibilang boleh kuliah, aku akan pilih di sana.'
"Eh, kamu tidak apa-apa menyesuaikan denganku? Adachi harus menahan diri lho nanti."
Nilai juga begitu, tapi pada dasarnya Adachi lebih unggul dariku dalam segala aspek. Maksudku, Adachi yang akhir-akhir ini itu luar biasa hebat. Aku kaget nilai ujian akhir semesternya tinggi semua. Rona merah di pipi Adachi saat aku memuji nilai-nilainya itu, dan tawa yang meluap darinya, tanpa sadar selalu teringat kembali seperti ini.
Tapi sulit untuk menirukannya. Kalau dipaksakan meniru, suaranya seperti fusshu, shufuffu, fusshi, semacam itulah.
'Terus umm... rumah orang tua? Gimana?'
"Gimana apanya, di sini juga panas lho."
Bukan rumah orang tuaku sih.
"Adachi pernah bertemu Kakek Nenekmu?"
'Belum. ...Kurasa, belum pernah. Kalaupun pernah bertemu saat kecil, aku tidak ingat.'
"Begitu ya."
Kudengar aku juga hanya pernah bertemu kakek nenek dari pihak Ayah saat umur dua tahun. Makanya wajar saja aku sama sekali tidak ingat dan tidak ada kesan apa-apa. Kalau tidak bertemu, wajar saja rasanya memudar, dan kurasa Adachi takut akan hal itu, meski baru satu hari. Tapi satu hari itu pasti terasa berat bagi Adachi.
Aku kembali menyadari beratnya tanggung jawab itu.
Setelah itu kami mengobrol sebentar, dan di akhir, Adachi membocorkan isi hatinya dengan pelan.
'Ingin cepat bertemu...'
"Kalau Adachi tidur dengan manis, itu akan terasa cepat kok."
Baru satu hari berlalu tapi sudah begini, sepertinya aku tidak akan diizinkan pergi jauh sendirian untuk waktu yang lama.
Rasanya seperti leherku ini dipasangi tali kekang.
...Yah tapi, biarlah, pikirku, yang menandakan bahwa aku juga sepertinya sudah terlambat (tertolong).
Begitu telepon berakhir, Nenek muncul tiba-tiba. Dia senyam-senyum.
"Apa?"
"Sembunyi-sembunyi teleponan, laki-laki ya?"
Ini lho ini lho, Nenek menegakkan semua jarinya dan menyodorkannya padaku. Yang mana tuh.
Lagipula aku tidak sembunyi-sembunyi. Aku hanya... ya, hanya sedang menelepon pacarku (kanojo).
Setelah ragu sebentar, aku mengatakannya dengan tegas.
"Perempuan."
Perempuanku. ...Meski hanya dalam hati, ungkapan itu terasa lebih berat dari bayanganku. Memalukan.
Ini rintangan psikologis yang cukup tinggi.
Rasanya seperti mendeklarasikan lawan bicara sebagai milikku, rasanya lancang atau bagaimana ya... Lain kali, aku ingin menantang Adachi untuk mengatakannya juga. Membayangkan wajahnya bakal jadi seunik apa, aku jadi hampir tertawa.
"Tadi menelepon pacar (perempuan)."
Omong-omong aku baru sadar belum membicarakan hal ini pada orang tuaku.
Yah, mungkin sudah ketahuan sih.
Nenek awalnya membelalakkan mata, lalu memastikan dengan misterius, "Masa puber?", dan aku menjawab "Sedang masanya".
"Begitu ya, begitu ya. Hougetsu yang itu, sudah umur segitu ya."
Seginii lho, cara dia meletakkan tangan seolah merekonstruksi tinggi badanku dulu membuat pipiku agak gatal.
"Nenek juga jadi nenek-nenek deh."
"Nenek sama sekali tidak berubah sejak pertama kali kulihat kok."
"Hohho, jangan terlalu memuji."
Apa aku memuji ya, aku memiringkan kepala dengan geli.
"Wanita yang baik?"
"Ya."
Itu tidak salah lagi. Wanita secantik itu, gadis yang seimut itu, tidak banyak ada. Tidak, apa memang tidak ada lagi?
Setidaknya aku, tidak akan bertemu yang lain lagi.
Di tengah setiap orang memiliki pertemuan dan jawabannya masing-masing, mungkin aku sudah mendapatkan jawaban itu. Rasanya jadi seperti membual tentang pasangan, ini juga agak memalukan.
Namun ternyata, perasaanku terasa sejuk.
"Kamu punya selera yang bagus."
"Ya."
"Anak yang memilih Hougetsu itu, lho."
Ah, yang itu, aku pun memalingkan pandangan. Nenek memujiku tanpa ragu, jadi sulit menerimanya secara frontal.
Seolah menyayangi reaksiku itu, Nenek mengelus kepalaku.
Ibu juga begitu, tapi bagi Nenek pun, aku mungkin masih tetap anak kecil.
Perasaan itu, sensasi itu... terkadang membawa sesuatu yang membuat dada sesak.
Hal yang berubah, dan hal yang tak berubah. Di kedua sisi itu, ada hal-hal yang tak ingin kubuang.
Di ujung pandanganku, terlihat cahaya Yashiro di sudut ruangan.
Dia berjongkok di samping Gon dan melakukan sesuatu... terdengar seolah sedang mengobrol.
Karena rambutnya bercahaya, di malam hari aku bisa tahu keberadaan Yashiro hanya dengan sedikit gerakan.
"Tanuki-chan itu, mengingatkanku pada Hougetsu waktu kecil ya."
"Eh, masa?"
Ya.
Orang-orang dekat yang tahu masa kecilku, rata-rata bilang begitu. Gesturnya lah, cara larinya lah.
Bahkan aku sendiri merasa begitu.
"Pantas saja Yoshika menyayanginya."
"Gitu ya~"
Memangnya aku sebegitu disayangnya ya. ...Yah, mungkin memang disayang.
Karena kami sama-sama punya sifat sulit mengutarakan hal semacam itu dengan jujur, pasti selamanya tidak akan tampak di permukaan.
Dan meski sudah bilang pada Adachi, aku menyambut waktu tidur tanpa menyentuh pelajaran ujian sama sekali.
Aku berbaring mensejajarkan futon dengan Adikku seperti biasa. Di sudut kamar yang sama, ada si makhluk bercahaya dan Gon.
Yashiro meringkuk tidur berdampingan dengan Gon di sudut kamar. Padahal ada futon, tapi dia mendengkur dengan nyenyak seolah meringkuk di sana adalah hal yang alami. Warna biru muda yang berpendar samar membuat wajah Gon terlihat mengambang. Dari jauh sulit membedakan apakah Gon sedang tidur atau masih bangun.
Sambil menumpuk suara kipas angin yang terus berputar ke langit-langit malam, aku mengembuskan napas perlahan.
Tidur di malam hari dan bangun di pagi hari, terkadang aku mempertanyakan hal itu di saat-saat tak terduga.
Apa ada jaminan untuk itu, mendadak aku merasa seperti melepaskan tali yang sedang kugenggam.
Mungkin saja kesadaranku tidak akan pernah kembali lagi selamanya. Tapi seperti apa rasanya kesadaran menghilang itu? Tiba-tiba tertidur, dan saat sadar waktu sudah berlalu bagian 'saat sadar' itu tidak akan pernah datang selamanya, aku tak bisa membayangkannya. Kehilangan kesadaran pun, berdiri di atas premis bahwa kita memiliki kesadaran.
Kadang kalau memikirkan hal seperti ini, perasaanku jadi sangat kacau dan gelisah.
Sambil berputar-putar di dalam kotak tanpa jalan keluar seperti itu, aku pun tertidur.
Kepalaku terasa berat saat bangun. 'Terbangun', adalah ungkapan yang tepat untuk bangun tidur kali ini.
Jika dipaksa bangun saat masih mengantuk, sensasi seolah otak sedang tenggelam akan terus berlanjut.
Apa tidur lagi saja ya, pikirku sambil menyeka keringat yang samar di dahi, tapi aku memprioritaskan untuk meredakan dahaga di tenggorokan. Aku menyingkirkan selimut tipis, lalu keluar kamar dengan langkah menyeret sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara.
Menuju dapur, berkumur, lalu menenggak segelas teh jelai (mugicha) sekaligus, kabut di kepalaku pun berangsur cerah. Aku menyambut fajar yang sebenarnya, terlambat dari dunia di sekelilingku. Rasa kantuk yang seolah merayap pun hilang.
Suara jangkrik terdengar sedikit di kejauhan.
Pagi telah datang, seperti biasanya.
Namun masih terlalu dini bagi yang lain untuk bangun, saat aku berjalan di beranda sambil berpikir mau apa, terdengar suara "Gasa gasa" (kresek-kresek), onomatope buatan sendiri. Mungkin karena tidak ada semak-semak yang perlu disibak.
Lalu dari balik bayangan pohon di taman, sosok itu muncul. Dia sudah mengenakan kostum tanuki.
"...Apakah Anda mengira saya tanuki asli?"
"Kukira, kukira."
Waaah, dia berlari mendekat sambil mengangkat kedua tangan seolah bersorak merayakan keberhasilan.
"Bikinlah suara langkah kaki setidaknya."
Karena biasanya dia melayang dengan wajah datar, mungkin bergerak sambil melayang itu mudah baginya. Jangan jadi mudah dong. Aku menggendong si tanuki, dan mempertimbangkan yang lain masih tidur, aku menuju ke arah pintu masuk.
"Selamat pagiii."
"Ya pagi. Ayo jalan-jalan sebentar."
"Baik~"
Selama digendong, Yashiro menggumamkan suara langkah kaki "Teku teku". Telat.
"Saya diajari gestur tanuki oleh Kakek, jadi saya langsung mempraktikkannya."
"Jadi kau bangun pagi demi memperlihatkan itu."
"Fufufu."
Makhluk yang cukup polos.
Aku memakaikan sandal jerami pada Yashiro, lalu menggendongnya lagi dan keluar bersama. Setelah di luar aku tersadar. Ujung-ujungnya aku mengangkat Yashiro. Karena terlalu ringan, aku jadi punya kebiasaan membawanya seperti ini. Yah sudahlah, pikirku sambil mengajak tanuki menginjak kerikil di depan rumah.
"Jarang terlihat ada tanuki ya."
"Betul juga."
Aku juga dari dulu sering main keliling bersama Gon, tapi tidak ingat pernah melihat tanuki.
"Kalau bertemu saya ingin menanyakan ekologinya."
"...Kamu, ternyata mengerti bahasa hewan?"
"Hohoho, sebenarnya saya sama sekali tidak paham."
"Dasar kamu."
Saat aku mencubit pipinya, dia menggeliat kegelian.
Hahaha, tawaku sambil memandang kaki kecil yang tak menapak tanah dan ekor besarnya, lalu tiba-tiba tersadar.
"Kamu jadi lebih kecil dari waktu pertama ketemu nggak sih?"
"Ada triknya loh."
"Mana ada."
"Atau mungkin, Shimamura-san yang bertambah besar."
"...Itu juga, tidak."
Sesaat aku hampir yakin. Belum ada sejarah sepanjang itu denganmu, tawaku.
Apa tinggiku bertambah ya, aku mendongak seolah mengejar hal yang sulit dipahami sendiri itu dengan mata.
Adachi yang selalu bersamaku lebih tinggi dariku, malah rasanya perbedaan itu semakin melebar, jadi kesadaran kalau tinggiku bertambah itu tipis.
Meskipun begitu aku memang bertambah besar. Sampai-sampai Gon terlihat jauh lebih kecil dibanding dulu.
Tapi itu bukan hanya karena aku tumbuh, melainkan ada berbagai elemen yang ditambahkan.
Aku yang polos, bertubuh pendek, dan berkaki pendek, meski begitu tetap berlari sekuat tenaga, pasti akan dengan mudah menyalip diriku yang sekarang.
Gon mengikutiku seolah itu hal yang wajar, tapi saat itu, apa yang dia pikirkan ya?
Apakah dia menikmatinya?
Apakah dia hanya menemaniku dengan rasa pasrah?
Jika aku mengetahui semua perasaan Gon.
Ah, entah kenapa... perasaan yang seperti membuat luka gores di dada ini, apa sebenarnya?
Padahal kalau aku yang dulu, pasti akan menyambut dengan senyum lebar bisa mengobrol dengan Gon.
Bukan takut. Perasaan tidak stabil yang paling mendekati rasa tidak puas/mengganjal ini.
Jawaban tidak selalu menyelamatkan seseorang.
"Mumu, ada hawa manusia."
"Masa?"
"Bukan tanuki pastinya."
Mengikuti tatapan Yashiro yang tampak kecewa, di tempat parkir rumah tetangga, ada bayangan orang yang duduk kecil di sana dengan meja dan kursi.
Entah tidak peduli pandangan orang, dia menopang dagu dengan sangat malas, sambil menirukan nyanyian jangkrik di kejauhan "Jii~ zuizui zuiii~". Itu Kakak perempuan rumah sebelah, waktu aku datang ke sini dulu aku sering diajak main. Kalau dilihat sekarang, penampilannya bukan seperti seorang 'Kakak'. Entah kenapa lawan bicaraku ini terlihat jauh lebih muda. Tinggi badan dan wajah baby face-nya tidak berubah dari ingatanku, kulitnya mengkilap licin, persis seperti anak-anak.
Rambutnya diikat, tapi di ikatannya menempel label bertuliskan 'Sedang Pelatihan'. Rasanya aku pernah melihatnya sebelumnya, tapi apa sebenarnya itu. Dan sedang apa dia, saat aku memandang dari jauh, sepertinya dia bosan menirukan jangkrik, lalu memperbaiki posisi duduk dan bersuara asal-asalan.
"Bazar, tak mau beli kah~"
Yang dijual di situ ya. Lagipula pagi buta begini.
Cukup mencurigakan untuk menandingi makhluk aneh di sini. Aku bertatapan mata dengan Kakak mencurigakan itu.
"Tak mau beli kah~"
Dia memukul-mukul meja memanggil pembeli. Kalau tidak bertatapan mata, aku ingin pura-pura tidak lihat dan pergi menjauh. "Ada apa gerangan," tanuki dalam pelukanku meloloskan diri dan berlari mendekat, jadi yah, aku pun ikut menyusul. Dan tanuki itu lupa membuat suara langkah kaki lagi.
Yang berderet di atas meja "tak mau beli kah" itu adalah tiga buah mangkuk teh (chawan), yang dipajang begitu saja tanpa dekorasi apa pun. Merah, biru tua, dan biru muda. Warna-warna yang berjalan seperti menarik benang menghiasi mangkuk teh yang agak kasar itu. Apakah ini barang dagangannya?
"Nggak nyangka bakal ada yang lewat beneran."
"Haa."
"Tsukimi-chan, kan?"
Setiap kali bertemu namanya makin lama makin jauh, seperti satelit.
"Yah biarlah sudah cukup begitu."
Padahal tadi aku peran daging.
"Dan, yang ini... Tanukichi ya."
"Tak salah lagi ini adalah Tanuki."
Makhluk mencurigakan yang langsung senang tanpa syarat kalau diperlakukan sebagai tanuki karena sedang menyamar.
"Gimana, mau beli nggak. Ini pedagang kaki lima ilusi yang bakal tutup lapak kalau matahari terbit lho."
"Kelihatannya nggak niat jualan ya."
"Habisnya mau siang pun, nggak ada orang lewat sini sih~"
Itu juga benar sih, tapi pagi buta begini lebih-lebih lagi tak ada orang. Apa ini cuma dagang-dagangan?
"Omong-omong ini buatanku lho."
"Hee. Kakak seniman keramik?"
Gini lho gini, Kakak itu memutar tangannya seolah memperagakan. Cuma kelihatan seperti memutar gasing. Tapi Kakak ini seniman keramik. Dulu sih aku pernah dibuatkan shuriken origami.
Ngomong-ngomong aku ingat Kakek sebelah pernah memperlihatkan mangkuk buatan cucunya.
Itu toh, akhirnya terhubung.
"Yang bentuknya masih kelihatan layak jual cuma tiga ini."
Entah kenapa dia bangga. Eh tapi, kalau bisa membuat tiga mangkuk yang layak jual, mungkin hebat juga.
Tanuki menempel di meja, menusuk-nusuk mangkuk teh itu.
"Harga spesial lho, tiga buah lima ratus yen."
Memang murah, sih, mungkin. Tapi beli mangkuk sebanyak itu juga bingung mau dipakai buat apa.
"Kalau satuan?"
"Yah, seratus yen kira-kira kata Shisho (Guru)."
"Bukannya lebih untung beli satuan?"
Setelah ditunjukkan, Kakak itu mulai menghitung dengan jarinya. Hou hou, dia mengangguk, lalu.
"Tak mau beli kah~"
Diabaikan.
"Aku bermimpi setiap hari semoga suatu saat ini bernilai seperti karya awal sang maestro yang melegenda gitu."
"Mimpinya banyak ya."
Nohhoho, dia tertawa hanya suaranya saja tapi ekspresinya tidak berubah.
Yah, dulu aku sudah dirawat olehnya, jadi membeli sebagai balas budi juga tidak masalah. Tapi.
"Ah, nggak bawa dompet."
Selain telepon dan baju ganti, aku tidak bawa apa-apa ke sini. Tertinggal di rumah.
"Di sini tidak terima pembayaran elektronik lho."
Pipi, gaga, bunyinya seolah dia terkomputerisasi? Orangnya.
"Kalau begitu berarti belum berjodoh."
"Ooooou."
Dia meratap dengan suara seperti anjing laut. Minta uang jajan ke Kakek Nenek sekarang juga rasanya gimana gitu, saat aku memutuskan terpaksa membiarkan anjing laut darat ini, tiba-tiba.
"Kalau begitu biar saya yang meminjamkan uang."
"Hah?"
Orang yang tak disangka mengajukan diri untuk hal yang tak terduga, membuatku bingung.
Tanuki menepuk-nepuk perutnya yang kelihatannya tidak bisa diandalkan, pon pon.
"Fufufu... saya juga menabung uang saku yang sesekali diberikan Mama-san lho."
"Ternyata punya perencanaan juga tanuki ini."
Mungkin kesadarannya lebih tinggi dariku.
"Karena itu silakan pakai uang ini."
Tanuki yang bergerak-gerak mozo-mozo mengeluarkan lima keping uang seratus yen dari dalam kostumnya dan mengangkatnya.
Saat kuambil dan kuperiksa, itu uang logam biasa yang asli. Mungkin karena kulit Yashiro, uang itu terasa agak dingin seperti salju tipis. Meski kutumpuk lima keping di telapak tangan dan kugenggam erat, uang itu tidak meleleh.
"Kalau begitu, aku pinjam dengan rasa terima kasih."
"Baik."
Tak kusangka akan tiba hari di mana aku meminjam uang pada tanuki ini. Tidak, sungguh.
"Jadi, ini uangnya."
Saat aku menyodorkan koin, "Hmuuu" Kakak itu mengerang sambil menggenggam uang seratus yen itu.
"Tak kusangka yang pertama membeli karyaku adalah Tsukimi-chan dan Tanukichi..."
"Hohoho, suatu kehormatan jadi yang pertama."
"Nanti uangnya nggak bakal berubah jadi daun, kan?"
Tanuki hanya tertawa.
"Tapi faktanya terjual juga. Wahhoi."
Kakak itu bersorak banzai tanpa terlihat begitu terharu. Sepertinya, bertolak belakang dengan penampilannya yang tampak muda dan lembut, dia tidak pandai mengekspresikan emosi dengan baik. Aku merasakan sesuatu yang sedikit mirip Adachi.
Dari tiga mangkuk yang diterima, "Ini punyamu," aku menyerahkan mangkuk bermotif biru muda pada Yashiro.
"Boleh saya terima?"
"Kan dibeli pakai uangmu."
Dibilang begitu, Yashiro mengelus permukaan mangkuk itu dan tersenyum lebar, "Benar juga ya."
"Mumpung lagi begini, ayo foto kenang-kenangan."
Kakak itu mengeluarkan ponsel dan bersiap dengan cepat.
Mengambil jarak sedikit, Yashiro dan aku masing-masing memegang mangkuk, dan masuk ke dalam satu bingkai foto.
Ekor tanuki terus bergoyang dengan riang.
"Anak ini kadang-kadang nggak muncul di foto lho, jadi sebaiknya dicek dulu."
"Apaaa, makhluk tak teridentifikasi secara gamblang."
Sambil terkejut, dia membereskan kursi dan meja tanpa mengecek hasil fotonya sama sekali. Tidak menyangka bakal terjual habis, kata Kakak itu sambil pergi dengan lompatan skip canggung yang tidak terbentuk.
"Gerakannya seperti kaki gurita..."
Meski cuma jalan-jalan sebentar, kalau jalan sambil bawa mangkuk takut jatuh, jadi aku menggendong Yashiro dan memutuskan untuk pulang juga.
"Uangnya dikembalikan kapan saja tidak apa-apa kok... fufufu."
"Bangga bangeeet."
"Saya sedang mengincar jadi tanuki perkotaan yang penuh rasa kemanusiaan loh."
"Yang jelas rumah kita biarpun salah sebut juga bukan kota besar."
Satu sisanya akan kujadikan oleh-oleh untuk Adachi. Warna biru tua yang begitu dalam hingga menyakitkan mata itu, sepertinya akan cocok untuk Adachi.
Karena aku tidak punya mata seni untuk menilai kualitasnya, aku hanya mengelus permukaannya sambil berpikir, indah ya.
...Ya begitulah, kejadian seperti itu terjadi.
Tsukimi-chan, Tanukichi, dan Kakak itu.
Nama Kakak yang sampai akhir tidak bisa kuingat itu, akan kulihat di tempat lain.
Mangkuk ini benar-benar bernilai lebih dari harga hari ini, adalah cerita yang masih sedikit jauh di masa depan.
"Yashiro-chan, mau tambah nasi?"
"Jika boleh, saya terima."
Dia menyerahkan mangkuk biru muda yang langsung dipakai sejak makan siang itu kepada Nenek. Padahal awalnya isinya penuh, tapi sudah licin tandas.
Ibu yang melihat interaksi itu memperingatkan sambil tertawa.
"Kalau dikasih makan, makhluk itu bakal muncul di rumah ini juga lho."
"Itu kabar bagus. Makanlah tanpa sungkan, dan datanglah main kapan saja."
"Fufufu. Kalau begitu saya terima dua-duanya."
Tanuki yang tidak ragu menerima kebaikan hati orang itu menaburkan furikake noritama di atas nasi barunya, pappa.
Apakah Nenek mengerti bahwa 'kapan saja' itu arti harfiah?
Yah, kalau datang ya datang saja, dia pasti senang tanpa mempedulikan logikanya. Karena dia ibunya Ibu ini.
Selesai makan siang, Ayah kembali berangkat dengan cita-cita menjadi pemancing melanjutkan hari kemarin. Omong-omong kemarin tentu saja, dia pulang membawa ember yang hanya berisi air. Ikan yang bisa kupancing tidak akan bisa bertahan hidup di alam liar, katanya tampak puas akan sesuatu, jadi hari ini pun dia pasti akan pulang dengan gaya yang sama.
Menanggapi itu, 'Padahal aku tumbuh besar dengan menangkap ikan pakai tangan kosong,' Ibu bersaing. Memang sepertinya dia bisa melakukan itu.
Lalu Adik dan Ibu sepertinya bermain lagi bersama Nenek, terdengar suara ramai bersahutan dari ruangan yang agak jauh. Suara Ibu adalah yang paling keras di mana pun dia berada. Bahwa itu tidak terasa tidak menyenangkan kecuali saat sedang dijahili, yah, membuatku berpikir dia memang ibuku.
Aku kembali duduk di beranda memandang taman. Teh jelai pun kujadikan teman.
Angin dari kipas angin di belakangku menyisir rambutku ke atas, dan sesekali mengelus wajahku.
Memandang pohon di taman lalu merasa tenang, mungkin sensibilitasku juga sudah sedikit condong ke arah nostalgia.
Gon sedang istirahat di mana ya.
".............................................."
"Gasa gasa."
"......."
Terdengar onomatope buatan sendiri. Dari tahap suaranya saja aku sudah tahu siapa yang akan keluar.
Melanjutkan tadi pagi, Tanuki muncul lagi dari balik bayangan pohon.
"Apakah Anda mengira saya tanuki liar?"
Karena dia bertanya dengan wajah bangga, rasanya sedikit menggelikan. Tapi.
"Itu kan sudah tadi pagi."
"Kalau sama tidak boleh ya, hmuuu."
Dalam sekali, dia tampak terkesan. Dan kemudian dia duduk di sebelahku dengan berjalan dua kaki yang ringan.
Yah, pola kemunculan tanuki juga tidak mungkin ada banyak jenisnya, jadi perkataan Yashiro juga benar. Apa itu pola kemunculan tanuki.
"Mau minum teh?"
"Saya terima."
Tanuki yang duduk meluruskan kaki dan minum teh dengan damai itu membuatku merasa jadi bagian dari kawanan tanuki itu. Tanuki. Yashiro. Sebenarnya alien, mungkin.
Bisa mengobrol dengan alien, tapi tidak bisa mengobrol dengan anjing, itu juga cerita yang agak aneh.
Di samping tanuki itu, hawa keberadaan lain datang ke sisiku.
Gon, mendekat ke ketiakku.
"Ada apa?"
Aku mengelus punggung Gon yang menyandar. Gon tidak memejamkan mata, menatapku lekat-lekat.
Sepertinya ada yang ingin dikatakan, tapi tentu saja aku tidak mengerti.
Kami teman, aku menganggapnya begitu, tapi bagaimana dengan Gon?
Entah kenapa aku semakin merasa terdesak. Kegembiraan bisa bertemu lagi setelah tahun lalu, akan didahului oleh rasa焦燥 (cemas/tidak sabar). Perasaan tidak bisa diam itu, aku tahu adalah wujud asli dari ketidakstabilan saat ini.
Tapi aku tidak tahu cara menyelesaikannya, cara memuntahkannya.
Gon mengeluarkan suara.
Suara itu tidak bisa masuk dengan baik ke kepalaku, membuat mataku berkunang-kunang.
Seolah melubangi atmosfer itu.
Yashiro membuka bibir tipis berwarna biru mudanya.
"Ayo main."
Seolah Gon sendiri yang berbicara langsung padaku, pandanganku terlempar.
Kesadaranku ditarik sekaligus.
Di tengah isi kepala yang terguncang dan berkeliaran kehilangan pijakan.
Yashiro tersenyum manis.
"Rasanya, dia berkata begitu."
" A"
Suara hati yang bocor, tersangkut samar di bibir bawah.
Hati dan mataku, bergetar hebat.
Begitu kuat, begitu hebat, hingga seolah merontokkan semua yang menunggangiku.
Kuu, tenggorokan yang berusaha menahan mengeluarkan jeritan tertahan.
Guh, dadaku mendadak sesak seolah tersumbat gelembung udara.
Pertahanan itu meledak, dan bersamaan dengan sensasi seolah ujung bibirku akan robek, aku menundukkan wajah.
Sambil memeluk lutut, aku, menangis tanpa suara.
Aku selalu tidak mau mengakuinya dan membuatnya samar, tapi kali ini, aku menerimanya.
Air mata terus merembes keluar tak terkira.
Seperti akan keluar jatah seumur hidup, terus-menerus.
Aku menekan tangan yang mencengkeram lutut sekuat tenaga sampai tulang punggung tanganku rasanya mau menonjol keluar.
Aku tidak tahu kenapa hati ini begitu hancur berkeping-keping. Sesuatu yang bulat besar yang tak bisa kupahami sepenuhnya, kini terus menggelembung dan meluap di dalam diriku. Pangkal bahuku berguncang hebat seolah tulangnya mau lepas.
Dengan seluruh jiwa raga, aku berteriak menangis. Hati ini, tanpa melalui suara atau tenggorokan atau otak, mengabaikan semuanya, menangis telanjang.
Biarlah suara jangkrik menjadi lebih keras.
Agar tangisanku tidak didengar siapa pun, andai suara itu membungkusku.
Tangisan yang tak bisa kuhentikan itu, namun, sama sekali bukan jeritan kesakitan.
Tak lama kemudian.
Seolah jangkrik mengistirahatkan suaranya, atau mungkin, seolah menjadi terbiasa dengan rasa sakit.
Aku beradaptasi dengan kegiatan menangis ini.
Sambil tetap menangis, perlahan aku mengangkat wajah.
Selama aku menangis, Yashiro tidak mengatakan apa-apa.
Dia hanya duduk diam di sisiku sepanjang waktu, tenang seolah sedang tidur.
Sambil mengelus kepala tanuki itu, aku berkata sekadar untuk formalitas.
"...Yang barusan itu, rahasia dari yang lain ya."
"Fufufu, mulut saya tergolong rapat kok."
"Ya ya, jawaban seperti biasa."
Munyu, aku menarik pipi Tanuki-chan memanjang. Kelembutan yang sama sekali tidak menyebalkan.
"...Makasih ya."
"Karena saya bercita-cita menjadi tanuki yang penuh rasa kemanusiaan."
Sepertinya dia sudah menyerah soal menjadi tanuki kota.
Mataku masih terasa perih seolah habis digosok. Air mata yang meluap disertai dengan rangsangan yang kuat. Air mata yang mengandung kekerasan seolah ingin meretakkan bola mata ini tidak mau berhenti, namun itu juga terasa seolah memecahkan cangkang diriku sendiri.
Kekacauan kesadaranku menjadi cerah. Tidak ada lagi rasa sesak di dada, yang ada hanyalah perasaan melambung dan keempat anggota tubuh yang terasa ringan.
Kebebasan memenuhi hingga ke siku, dengan mudah menyingkirkan hawa panas yang mendekat.
Bahkan suaraku pun tumpah dengan segar seperti air mata.
Rasanya seperti sedang diangkut, ditumpangkan di punggung kecil diriku sendiri.
"Ayo main."
Suara yang bercampur ingus itu penuh dengan emosi sampai-sampai aku tidak merasa itu suaraku sendiri.
Aku mengelus punggung Gon, lalu berdiri mengajak pergi.
Tanuki yang tertinggal dengan teh jelai di satu tangan mengantar kepergian kami dengan tatapan.
Untuk apa aku datang ke rumah ini?
Tentu saja untuk datang bermain, bersama Gon.
Bersama sahabat karibku.
Aku ingin bermain sepuasnya, dari lubuk hati yang terdalam.
Karena itu aku mengajak Gon, berkata ayo pergi, dan mulai melangkah.
Meninggalkan air mata yang belum sepenuhnya kering di lorong, menuju ke bawah sinar matahari.
Seolah menghirup langit yang menyilaukan dan panas membakar, aku mendongak, dan menarik napas dalam-dalam.
Mudik dua malam itu pun berlalu seperti itu, dan sebelum pulang aku berkali-kali memeriksa apakah mataku bengkak. Bengkak sih, tentu saja, karena aku menangis sebanyak itu.
Sebelum bertemu Adachi yang sepertinya akan segera datang ke rumah, aku ingin memoles wajahku sedikit untuk menutupinya.
Meski agak tidak enak membuat Adachi yang sudah menunggu dengan tidak sabar jadi menunggu lebih lama lagi.
Ah, tapi perasaan ingin bertemu Adachi pun meluap-luap dalam diriku.
Aku belajar satu hal lagi, bahwa aku hanya perlu jujur pada perasaan itu, dan aku pun pulang menuju tempat Adachi berada.
Setelah memakai sepatu di pintu masuk, aku melihat ke depan di mana pintu sudah terbuka lebar. Orang tuaku, atau lebih tepatnya Ibuku, yang sudah menunggu di depan mobil sejak tadi, menggerak-gerakkan lengannya memprovokasi agar aku cepat datang.
"Oya, sosok tanuki tidak terlihat."
"Saya dipanggiiil-gwaaa."
Sambil membuka pintu kamar tidur di dekat pintu masuk, Yashiro menjerit dengan suara yang tidak terdengar begitu sakit.
"Berniat muncul dengan keren dan gagah, tapi karena terlalu bersemangat, bahunya menabrak pintu yang belum terbuka sepenuhnya."
"Pengamatan yang cukup tajam."
"Hahaha."
Dulu aku juga pernah melakukan hal itu. Kenapa orang ini mirip denganku sampai ke bagian yang aneh-aneh sih.
Seolah ada maksud tertentu, atau mungkin hanya kebetulan belaka.
...Yah, di sini ada dunia yang begitu luas hingga tak tertangani oleh tangan manusia.
Mungkin tidak aneh jika ada alien yang mirip denganku di suatu tempat.
"Yachii, ayo berangkat~"
"Baiiik."
Dipanggil dengan lambaian tangan oleh Adikku, tanuki yang digendong dengan satu tangan itu dibawa pergi sambil meronta-ronta bercanda. Isi bungkusan kain yang digendongnya tampak lebih berat daripada orangnya sendiri. Aku mengantar kepergian mereka dengan pandangan, dan tinggal aku sendiri yang tersisa di pintu masuk.
Saat menoleh, Kakek dan Nenek datang untuk mengantarku.
"Datanglah lagi akhir tahun nanti."
"Ya."
Suara Nenek, selalu terdengar lembut.
"Tahun ini ujian, kan? Semangat ya."
"Aku akan semangat kok."
Suara Kakek, selalu membuat hati terasa ringan.
Aku berpamitan pada Kakek dan Nenek, dan kemudian.
Aku memeluk erat sahabat karibku yang ikut berbaris mengantar kepergianku.
"Aku akan datang lagi. Berikutnya juga, ayo kita main sepuasnya."
Aku menariknya kuat-kuat, mengingat kehangatannya dengan baik, lalu berpisah setelah mendengar jawaban yang bagus dari Gon.
Aku menantikannya. Pertemuan berikutnya, dari lubuk hati. Sangat dinantikan hingga membuatku ingin menangis.
Tanpa rasa sesal, aku keluar dari rumah kakek-nenek. Menuju ke tempat keluarga yang menunggu di parkiran.
Aku membelah udara musim panas yang membuat kulit lembap dengan ayunan tangan dan kaki yang lebar.
Tas terasa ringan. Langkah kaki terasa seringan kapas seperti dalam mimpi, dan tanpa sadar aku sudah bergerak maju.
Jika sekarang aku membuka mulut, dorongan impulsif yang lebih ribut dari jangkrik sepertinya akan melompat keluar.
Aku membiarkan itu beredar di dalam tubuh, memenuhi diri dengan vitalitas yang seolah tak terbatas.
Gon selalu memberiku kekuatan untuk hidup.
Aku sangat menyayanginya.
Ingin bertemu lagi.
Kapan pun, kami adalah teman.
Ayo pulang. Dan, ayo datang lagi.
Sambil menggenggam erat perasaan masa itu, masa di mana kami terus bermain sampai tak sempat merasa takut.
Begitulah, sejak musim panas ini, seekor tanuki yang jauh dari kata liar jadi sering muncul.
Tanpa perlu penjelasan, dia melompati konsep jarak, menuju ke rumah itu, ke pemandangan itu, seolah sekalian lewat saat menyapa.
Tanpa rasa sungkan, tanpa hambatan, sesuka hati dan bebas.
Tanuki yang bisa pergi menemui teman begitu saja tanpa ikatan.
Yashiro, yang bisa hidup menghubungkan waktu dengan sahabat karibku.
Sedikit saja... aku merasa sangat iri padanya.
Interlude (Jeda Babak)
"Jadi, ini oleh-olehnya ya."
"Te, terima kasih."
Aku menyerahkan mangkuk (chawan) itu kepada Adachi yang langsung datang bermain. Cara memberikannya tanpa hiasan apa-apa, tapi Adachi menerimanya seolah membungkusnya dengan kedua tangan. Dia mengelus permukaan mangkuk itu memutar, lalu sekali lagi mengucapkan terima kasih, "Makasih". Kalau mau dibilang bagus, dia seperti bunga yang samar... yah, tidak perlu dibilang jelek juga sih. Bunga, senyuman, indah.
"Tapi aku, di rumah nggak pakai mangkuk nasi sih."
"Eh? Kamu hidup makan apa?"
"Roti..."
"Roti dan?"
"Air..."
Reaksiku terhadap jawaban Adachi yang sangat kering itu sepertinya terlihat di wajahku, jadi dia buru-buru meralatnya.
"Ta, tapi sesekali, mungkin aku akan makan nasi juga."
"Makanlah yang banyak."
Maksudku, kalau dibiarkan, dia sepertinya akan tenang dengan pola makan di mana tanaman pun mungkin akan sedikit berjinjit untuk ikut memakan rotinya, jadi mungkin lebih baik aku mengajaknya makan bermacam-macam hal. Atau mungkin, pikirku sambil memutar otak.
Adachi kurus kering sih, saat aku mencubit pergelangan tangannya, Adachi tersentak kaget dan menarik pinggangnya mundur melarikan diri.
"Dengan mangkuk ini, makan nasi..."
Masih sambil menjaga jarak sedikit dariku, Adachi seperti hendak mengatakan sesuatu lalu terdiam sun.
Di samping mangkuk yang diletakkan di lantai, dia menggambar pusaran dengan jari telunjuknya.
"Sepertinya tidak jadi kupakai, aku simpan saja."
"Boleh kok taruh roti di dalam mangkuk."
Bun bun, Adachi menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Apa apa, saat aku menunggu, dia menyembunyikan wajahnya dengan mangkuk itu, hanya sedikit mengintip dengan area matanya yang tampak sungkan.
"Sampai... saat aku tinggal bersama, dengan Shimamura."
"...Oou."
Pernyataan yang sangat visioner (high awareness). Orang-orang di sekelilingku semuanya visioner.
Jangan-jangan, hanya aku yang tidak.
Tapi di masa depan, apakah akan jadi begitu... ya.
"Benar juga ya."
Suatu saat mungkin akan jadi begitu. Tidak, pasti akan jadi begitu. Jika aku memanjangkan leher sedikit dan melihat ke kejauhan, rasanya jalan menuju ke sana terlihat bersinar dan mengapung di atas tanah. Aku akan tinggal bersama Adachi.
...Yang datang dan pergi di benakku adalah rangsangan samar menuju hal yang tidak diketahui.
Itu sama sekali, bukan hal yang tidak menyenangkan.
"Kalau begitu aku juga, akan menyimpannya sampai saat itu tiba."
Seperti bunga yang mekar suatu hari nanti, jika saat itu tiba, mari kita gunakan mangkuk ini berdua.
Semacam mangkuk pasangan (meoto-chawan). Mungkin. Eh, pasangan suami-istri (meoto)? Hmmm... hmm... yah, biarlah.
"Ayo makan nasi pakai furikake berdua dengan lahap, suatu hari nanti."
Saat aku mengangkatnya setinggi mata dan berjanji, Adachi tersenyum dengan kaku seolah sedang bekerja menggunakan tangan yang bukan dominannya.
Tidak cukup tajam untuk disebut nika (nyengir lebar), dan kelembapan yang sesuai dengan musim panas menempel pada senyuman itu.
Dukung Translator
Support the TranslatorTraktir kopi agar update makin ngebut!
Buy us a coffee to speed up updates!
Komentar
Tinggalkan Komentar