Featured Image

AdaShima V13 C4

Metoya Februari 08, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

AdaShima

Sambil berpikir apakah masa muda masih tersisa meski hanya sedikit, atau bagaimana ya, aku membasuh wajah.

Meski aku menghias apa yang kami gambar dengan berbagai macam hal, pada akhirnya semua itu akan tersaring juga.

Dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah Adachi dan Shimamura.

Membasuh wajah dengan air yang sedikit hangat membuat kantuk pun sirna. Kalau hari libur biasa, setelah ini aku akan menghabiskan waktu seharian dengan malas memakai kaos bolong tanpa perawatan apa pun, tapi hari ini aku punya rencana bertemu orang. Apalagi orang yang akan ditemui adalah pacarku (kanojo), jadi kalau begini terus rasanya tidak pas, aku pun mengambil toner wajah.

Karena kadar kewanitaanku jadi rendah, aku tidak terlalu ingin mengatakannya di depan umum, tapi kadang aku merasa dandan itu lumayan merepotkan. Dulu aku lebih sering merasa begitu. Tapi sekarang karena ada alasan "demi bertemu Adachi", aku bisa berdiri di depan cermin dengan sedikit lebih positif. ............Ih, apa aku sebegitu sukanya sama Adachi?

Sambil bercanda sendiri, aku menepuk-nepuk peta-peta wajahku.

Hari ini bukanlah hari kedua Festival Budaya. Festival Budaya sudah berakhir sejak lama.

Ya, sudah berakhir, karena sudah tidak penting lagi.

Hari ini, sehari setelah Festival Budaya, adalah hari libur pengganti. Seharusnya aku menempel di lantai menikmati waktu bermalas-malasan, tapi Festival Budaya kami belum berakhir. Meski baru saja mengatakan hal yang kontradiktif, ada hal yang harus dilakukan. Hari ini persiapan bersama Adachi, diskusi, dan pembuatan buku panduan sudah menanti.

Pada hari Sabtu akhir pekan nanti, Festival Budaya akan dimulai sekali lagi. Festival Budaya hanya untuk kami berdua.

Jualan permen buah di hari kedua, keliling melihat atraksi saat istirahat, pameran yang kami lihat, bahkan api unggun yang menyala tinggi seolah mengangkat cahaya pun, bagi Adachi hanyalah titik lewat. Ditarik oleh tangan Adachi, bagiku pun semua itu dengan cepat menjadi masa lalu.

Acara utamanya, baru akan dimulai.

Adachi, sampai kapan pun, menginginkan negeri hanya untuk kami berdua.

Dia tidak membutuhkan apa pun selain aku. Malah mungkin dia menganggapnya tidak perlu.

Tapi bukan berarti Adachi menutup diri sepenuhnya.

Dengan adanya aku seorang, dunianya terpenuhi, dan meluas tanpa batas.

Misalnya jika bersama aku di ujung semesta, di sanalah tempat Adachi berada dan angin akan berhembus.

Jika aku tidak ada di ruang kelas sekolah, tempat itu akan menjadi tempat di mana Adachi bahkan tidak diizinkan bernapas.

Hanya akulah yang mendefinisikan Adachi bagi dunia.

Efisiensi biaya (cost performance) terbaik, tapi berbahaya.

Membayangkan masa tua dari sekarang memang lompatan yang terlalu jauh, tapi anggaplah mulai sekarang aku terus bersama Adachi.

Selama itu sih tidak masalah. Tapi aku tidak merasa Adachi bisa hidup di dunia setelah aku tidak ada.

Tidak, karena dunia itu sendiri akan hilang, kematianku mungkin sekaligus berarti lenyapnya Adachi.

Karena itu setidaknya, aku harus hidup lebih lama dari Adachi.

Gawat nih, tawaku.

Memiliki alasan yang jelas untuk hidup demi panjang umur mungkin hal yang baik, sih.

Sambil memikirkan hal itu terus-menerus, aku bersiap-siap, lalu duduk bersimpuh (seiza) menunggu Adachi.

Hari ini Adachi akan datang ke rumahku.

Tidak perlu seiza deh, sepuluh menit kemudian aku menyerah dan meluruskan kaki.

Tak lama kemudian, bel berbunyi di waktu yang tergolong cukup wajar untuk ukuran Adachi.

"Ya yaaa."

Saat aku keluar kamar untuk menyambut, "Adachi-chan?" Ibu bertanya, jadi aku jawab "Iya".

"Jangan cuma kencan melulu, kalau tidak belajar parameter yang diperlukan tidak akan naik lho."

"Ngomong apa sih."

Meninggalkan nasihat misterius, Ibu pergi ke dapur. Lalu terdengar jeritan damai dari makhluk langka yang muncul di dapur saat ditangkap.

Mengesampingkan itu, sambil berjalan di lorong aku merasa sayang.

Kali ini pun aku tidak bisa merasakan kedatangan Adachi.

Aku tidak merasa kurang cinta, tapi lantas apa yang diperlukan untuk bisa menangkap keberadaan Adachi yang tak terlihat?

Kita biasanya menilai hati, perasaan, atau emosi—hal-hal yang tak kasat mata—dengan wajah datar. Kalau itu bisa diaplikasikan dengan pas, bukankah kita bisa merasakan keberadaan lawan bicara dengan pas juga? Saat ini, itu adalah pseudoscience yang kuminati.

"Selamat datang, Adachi."

Adachi yang menggenggam erat tali tasnya mengangguk dengan mata berbinar, dan menatapku dengan mata yang berkilauan itu.

"Ano, penampilan itu... manis (kawaii)."

"Oups? Belakangan ini, kamu belajar ngomong begitu ya?"

Entah kenapa dia jadi sering sekali memuji pakaianku. Apakah kosakata untuk memuji diriku sendiri sudah habis? Sambil memandunya masuk ke rumah, aku memperhatikan mulut Adachi.

"Begitu itu yang bagaimana?"

"Gestur memuji baju pacar."

Pipiku mengendur, padahal belum masuk kamar tapi aku sudah kelepasan bilang 'pacar'.

Itu pun terucap sangat alami, menyebut diri sendiri sebagai pacar.

Untung sekarang di lorong sempit, aku diam-diam lega Adachi tidak bisa memutar ke depanku.

"Bukan, ano, bukan bermaksud ambil hati atau apa, tapi beneran, banget, manis kok."

Saat Adachi putus asa, kata-katanya tersandung ke depan, dan dia kehilangan kosakata.

Aku bisa bertemu sesuatu yang menggemaskan.

Karena itu sering terjadi, Adachi itu tak tertahankan.

"Masa? Kalau dibilang sampai segitunya aku mungkin bakal jadi besar kepala lho."

Ada gunanya juga aku berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya saat ganti baju. Mungkin.

"Sudah, besar, makin besar saja kepalanya."

"Adachi bahasa Jepangnya selalu segar ya."

Lalu, mungkin dia sadar saat mendongak menatapku sambil naik tangga, dengan panik dia menambahkan pujian.

"A, gaya rambutnya juga beda dari biasanya, bagus menurutku."

"Makasih."

"Terus..."

"Terus?"

Karena kata-katanya tidak berlanjut, aku menoleh di tengah tangga, Adachi dengan telinga memerah menggelengkan kepala kuat-kuat bun bun. Melihat distorsi gerakan matanya, di saat seperti ini kalau mengikuti arah pandangannya biasanya misterinya terpecahkan.

Mempertimbangkan hubungan posisi dan ketinggian pandangan, sepertinya dia menatap tajam ke arah telapak kakiku dari jarak dekat.

"..................Adachi juga, yah, sedang masanya ya."

"Bu, bukan bukan. Bukan kok, aku lihat depan kok, tadi jalan sambil lihat depan!"

"...Un, pintar ya bisa jalan sambil lihat depan dengan benar."

Kalau jalan sambil lihat depan tepat di belakangku di tangga, yang terlihat kan kakiku.

Kalau disangkal dan dibahas lagi sepertinya atmosfer yang kukurang sukai bakal berlanjut, jadi kubiarkan saja. Beneran, aku kurang suka.

Usia kami yang sama-sama delapan belas tahun, terkadang membuat cinta terdampar di pantai yang "mentah". Karena biasanya aku tidak sadar bahwa cinta dari Adachi juga mengandung hal-hal seperti itu, saat tiba-tiba datang aku jadi ikut terguncang.

Apa sebaiknya tadi tidak pakai rok ya, aku berpikir sedikit.

Kalau di rumah aku tidak pakai rok, tapi hari ini yah, karena mau bertemu Adachi.

"Di TV ngotot bilang sudah musim gugur jadi aku coba keluarkan kardigan karena percaya, tapi ternyata masih panas ya."

Setelah masuk kamar aku melepasnya dan menyampirkannya di kursi. Saat itu pandangan Adachi berkumpul seketika pada bahuku yang terbuka. Mudah dimengerti banget sih, saat aku tertawa, Adachi menggelengkan kepala lagi seolah bilang 'bukan lho'.

"Bahu, kalau dibuka begitu... ding, dingin lho."

"Makasih sudah khawatir, Nenek."

Panas, tahu. Sambil menyalakan kipas angin, aku berhadapan dengan Adachi yang pipinya merona karena masa puber.

Memang karena cuma pakai satu lapis camisole tipis, mungkin agak terlalu merangsang bagi Adachi. Eh tapi waktu study tour kan sudah pernah lihat telanjang, teringat itu aku jadi ikut malu.

Aku sangat menghargai keimutan dan kecantikan Adachi lebih dari apa pun, tapi keinginan untuk memilikinya dalam genggamanku tidak terlalu muncul. Bagian itulah yang mungkin membuat Adachi cemas, tapi kalau memaksakan diri di situ, pasti akan tersisa sesuatu yang tidak enak di antara kami seperti garis yang ditekan dan ditekuk paksa.












Aku tidak ingin membawa kerumitan atau jalan memutar ke dalam garis emosi yang tergambar di antara aku dan Adachi.

Yah sudahlah, masalah yang akan datang nanti, kulempar bulat-bulat ke 'nanti' saja.

Sekarang yang ini, kami segera memulai pekerjaan membuat buku panduan Festival Budaya.

"Permen buah sudah pasti, selain itu mau bikin apa lagi ya."

Buku panduan buatan tangan untuk dua orang ini jauh lebih sederhana dibandingkan buatan Pancho dan kawan-kawan.

Kerjaannya cuma menyatukan apa yang ditulis dengan stapler. Itu pun pakai kertas gambar sisa.

Tapi potongan kertas itu, bagi Adachi pasti setara dengan nilai emas.

"Mau siapkan makanan dari kedai lain juga?"

"Nnn..."

Ditanya begitu Adachi berpikir, lalu tiba-tiba "Ah, yang itu," dia menyadari sesuatu.

"Ada apa?"

Nn-nn, Adachi menggelengkan kepala.

"Mungkin, ibunya Shimamura... kali ya."

"Cerita apa tuh."

Karena tiba-tiba Ibu muncul, aku jadi bicara gaya Edokko (orang Edo).

Adachi masih memiringkan kepala sedikit, lalu menceritakan apa yang terjadi kemarin.

"Waktu pulang dari Festival Budaya, di rumah ada banyak makanan kedai... terus Ibu memakannya dalam diam. Karena tidak habis sekali makan, dia memakannya sedikit-sedikit, tapi Ibu sepertinya tidak datang ke Festival Budaya... jadi kupikir mungkin Ibunya Shimamura yang beli dan mengantarkannya."

"Aah... yang itu."

Memang Ibuku datang ke Festival Budaya. Padahal sudah dibilang jangan datang, di hari kedua dia datang seolah itu hal wajar, menikmati permen buah bersama Yashiro si monyet, melakukan pelecehan kekuasaan pada pelayan tertentu, lalu pulang dengan penuh semangat. Saat pulang dia memborong semua jenis permen buah, kupikir semuanya masuk ke perut Yashiro, tapi ternyata tujuannya adalah rumah Adachi.

"Kalau dibilang khas Ibuku sih iya ya... yah, makanan kedai cukup permen buah saja kali ya."

Bisa-bisa malah jadi memaksakan sisa makanan ke Adachi seperti Ibu Adachi.

Lagipula, entah kenapa aku kesal kalau melakukan hal yang sama dengan Ibuku.

Kalau begitu, hal berikutnya yang dilakukan di Festival Budaya adalah.

"Mau main drama?"

"Eh."

Drama, Adachi mengulangnya dengan nada seperti tersandung di tangga.

"Berdua?"

"Iya. Drama yang semuanya dilakukan berdua."

Kalau kubilang persis seperti hidup kami, berlebihan tidak ya.

Tapi hari-hariku rasanya seperti itu. Bertemu Adachi, menari dengan Adachi, bernyanyi dengan Adachi.

"Penontonnya juga cuma kita, jadi yah, Adachi pun pasti bisa lah."

Adachi si pemalu, langsung jadi nama perannya.

"Ayo coba latihan sebentar."

Berkata begitu aku menaruh pulpen, mendesak Adachi untuk berdiri. Adachi meski bingung menerima uluran tanganku, dan berputar di dalam ruangan dengan langkah kaki yang terlalu lancang jika disebut tarian.

"Aah, Adachi, oh Adachi... umm, ayo katakan sesuatu yang mirip-mirip gituuu."

"Eh, mu, mustahil aah."

Sambil berjalan berputar-putar, mata Adachi pun berputar tak kalah dari putaran itu.

"Ka, kalau begitu... ni, nikah, yuh."

"Apa?"

"Me, menikah, yuuuk."

"Ara, perkembangan yang mendadak."

Untuk menghilangkan sumbatan di tenggorokan, Adachi terbatuk. Terbatuk. Terbatuk, terbatuk, dan batuk.

"Terlalu banyak membereskan tenggorokan nggak sih?"

"Ti, tidak apa-apa. Su, Sumamura."

"Saya Shimamura sih."

Bahuku dicengkeram, tanpa sadar aku menerima pergantian nama itu.

Adachi menatap lekat-lekat, mendidihkan gairah dalam jarak super dekat, lalu membakar habis.

Dirinya sendiri.

"Me, menikah... yuh."

Meski sudah dibereskan berapa kali pun, rasanya tetap rasa Adachi yang tidak berubah.

"...Aha, dilamar deh."

Aku tanpa sadar kagum pada energi panas Adachi yang rasanya tidak seperti latihan.

Bagus, sangat bagus, aku menari.

Tidak butuh karya asli.

Tidak butuh naskah khusus.

Hanya dengan aku tertawa, dan Adachi merespons dengan sekuat tenaga, panggung pun siap.

Sambil merasakan atmosfer menuju ujian di kelas perlahan mulai menegang, apakah kami punya kelonggaran untuk melakukan hal seperti ini? Aku memendam keraguan sepele itu.

Tapi setelah mengambil napas dalam dan memegang pensil mekanik, aku merasa tidak apa-apa.

Sama seperti ujian, Festival Budaya berdua juga pengalaman sekali seumur hidup.

Main dan belajar lakukanlah keduanya, aku teringat ucapan Ibu saat liburan musim panas.

Karena kebebasan Ibu, sulit untuk mengangguk dengan jujur, tapi itu benar sekali.

Makanya aku juga belajar, juga persiapan Festival Budaya, juga bercanda dengan Adachi, dan satu minggu pun berlalu.

Aku membuka buku panduan buatan tangan dan mengecek jadwal. Hari ini hari Sabtu, tidak salah lagi.

Lokasi Festival Budaya diputuskan di rumah Adachi. Karena itu, tumben-tumbenan aku yang pergi ke rumah Adachi.

Rumahku banyak yang ramai, jadi mungkin tidak cocok dengan suasana Festival Budaya berdua. Membuat negara hanya untuk berdua di tempat selain rumah masing-masing, saat ini sangat sulit. Dalam hal itu, kami masih anak-anak yang pergi ke sekolah.

Bagi Adachi, menjadi dewasa itu pasti adalah tentang membuat tempat seperti itu.

Tujuannya mudah dimengerti, bagi aku yang tidak punya tujuan seperti itu, keteguhan hatinya agak menyilaukan.

Gosok gigi, selesai dandan, ganti baju dengan pakaian yang ditentukan Adachi.

Karena permintaan khusus Adachi untuk memakai celemek di atas seragam sekolah, meski hari libur aku memakai seragam. Padahal aku sudah semangat mau mengajari Adachi apa itu fashion siswi SMA yang modis, sayang sekali. Wah sayang.

"Kenapa kamu pakai seragam?"

Teguran yang sangat masuk akal datang dari Ibu yang lewat.

"Enggak... anu, Adachi bilang kostum ini bagus."

"Hee."

Fuun, dia tidak lewat begitu saja tapi malah masuk kamar. Saat aku mengibaskan tangan menyuruhnya tidak usah masuk, dia menggigit pelan jari tengah yang sedang kukibaskan. Gya, aku menjerit dan melompat mundur. Menangkap jari yang dikibaskan asal dengan gigitan akurat itu hebat sih, tapi aku sama sekali tidak paham apa yang dia pikirkan.

"Hari ini main ke rumah Adachi-chan, kan?"

"Iya sih... eh, emangnya aku bilang mau ke mana?"

"Tapi bagus kan, nggak perlu pilih baju kencan."

Cara hidup yang mengabaikan semua pertanyaan orang itu apa sih. Dan, benar juga ya, sesaat aku hampir setuju. Tidak tidak, aku menyangkal kemalasan itu.

"Sebenarnya aku berencana pakai fashion modis lho."

"Hohoo modis ya."

"Wa."

Aku kaget karena makhluk yang menempel di punggung Ibu tiba-tiba memperlihatkan wajahnya. Ada dia ternyata.

Ayam yang turun dan tampaknya jauh dari kata modis itu dengan cepat mengeluarkan sesuatu.

"Bagaimana kalau kostum penyamaran ini untuk Shimamura-san."

Dia mengangkat kostum harimau sambil bertanya bagaimana. ...Agak ingin coba pakai sih.

"Itu definisi modis bagimu ya."

"Saya mengincar jadi bos modis lho."

"Jalanmu sepertinya masih jauh ya."

Astaga, Yashiro melompat dengan satu kaki dan membusungkan badan.

"Yah, memang akhir-akhir ini kamu memperhatikan penampilan sih."

Ibu menepuk bahuku dengan akrab, dan menyodorkan senyum menyeringai niyaa. Dengan ekspresi yang penuh makna tersirat itu, aku bisa segera menebak bagian mana yang dia singgung, jadi aku abaikan.

Dulu juga pernah dibilang, tapi ternyata orang tua itu di luar dugaan memperhatikan perubahan anak ya.

Kalaupun aku bilang soal Adachi, Ibu ini pasti tidak akan kaget.

Tapi entah kenapa, selagi pihak sana pura-pura tidak tahu, aku putuskan untuk diam dulu.

"Ya sudah, aku pergi. Sore aku pulang jadi makan malam di rumah."

"Eeh."

Kenapa reaksinya seperti tidak suka, mungkin, dia cuma pasang tampang tidak suka tanpa alasan. Karena dia orang yang bengkok.

"Mama-san, makan malam hari ini apa?"

"Mau apa? Dengar dulu deh maunya."

"Ooh, Obon dan Tahun Baru datang bersamaan!"

Meninggalkan ayam penuh mimpi dan Ibu di kamar, aku menuju pintu masuk. Membayangkan Adachi mondar-mandir di dalam rumah menunggu, aku tertawa berpikir sebaiknya aku pergi lebih awal sambil mengambil sepatu.

Karena tidak ada ketentuan, cuma sepatu yang kupilih dengan sangat galau.

Saat sedang memakai sepatu itu, pas sekali, bel berbunyi di balik pintu.

"Siapa yaa?"

Sambil berdiri setelah memakai sepatu, aku mengecek.

"...Adachi."

Adachi, tanpa sadar bibirku mengeja nama itu di udara.

Dari sana (Adachi yang datang), sesaat aku berpikir begitu tapi bukan.

Memang Adachi (keluarga), tapi bukan suara Adachi (Sakura). Lebih rendah.

Mendengar suara itu aku berpikir masa sih sambil membuka pintu, dan tamunya adalah Ibu Adachi yang tampak seperti mengunyah habis ketidakramahan dengan bibirnya.

"...Pagi."

Dia menyapa dengan nada yang sama sekali tidak tampak senang.

"Selamat pagi..."

Meski bingung dengan pertemuan tak terduga, aku membalas salam, lalu dari belakang terdengar langkah kaki dan suara yang jauh dari kata suram.

"Yoo Hana-chan selamat datang!"

"Siapa tuh."

Ibu Adachi yang baru datang langsung mau pulang. Bahunya dicengkeram Ibu tanpa sungkan.

"Nn."

"Apa lihat-lihat sana pergi."

"Enggak, habisnya bilang mau main ke rumah kita, kupikir kepalanya terbentur atau apa."

"Aku tidak bilang mau main. Cuma minta ijin membuang waktu sebentar, jangan tarik-tarik."

Sambil diseret Ibu, Ibu Adachi menatapku tajam. Mungkin orangnya cuma menatap biasa, tapi bagiku cuma terlihat seperti sedang memelototi.

"Sakura, bilang ingin melakukan sesuatu jadi aku keluar rumah."

"Ya? Aah, iya."

Meski aku menimpali, Ibu Adachi tidak bicara lebih dari itu. Kata-katanya kurang, tapi lewat tatapan aku dan Ibu Adachi saling memahami. Ibu mengosongkan rumah demi putrinya, dan aku pergi menemui putri itu.

Ibu Adachi menatapku lekat seolah menitipkan tugas untuk berada di sisi putrinya, lalu memejamkan mata.

"...Kalau sudah puas segera hubungi. Aku ingin pergi dari sini."

"Eh, hari ini mau menginap?"

"Mati sana."

Menghindari tangan Ibu yang mau merangkul bahu, Ibu Adachi kabur di lorong.

Langkah kaki Ibu yang mencoba menghadang terlalu ribut. Ditambah lagi, meski tidak ikut bicara, ayam itu berbaur dalam tarian mereka dan melompat-lompat senang. Rumah apa ini, aku benar-benar takjub.

"Baru saja dikira diajak bicara sama anak, ternyata dimohon keluar, katanya. Biarpun tidak sopan tapi lucu."

"Iya ya lucu ya kupukul ya."

"Yossh kalau begitu kita bikin Festival Budaya lagi yuk!"

Tolong jangan teriak hal yang bikin jantungan tiba-tiba.

"Sudah cukup. Menghabiskan sisa makanannya saja susah setengah mati tahu."

"Hana-chan makannya terlalu sedikit sih."

"Terus berhenti berusaha mempopulerkan panggilan Hana-chan itu."

"Kalau begitu Akahana (Hidung Merah)-chan. Sekalian hidungnya boleh dibikin merah?"

"Kubunuh kau."

"Bukan merah karena marah lho maksudnya."

Aku menunduk sedikit pada dua orang yang tiba-tiba mengembangkan pembicaraan jadi ancaman pembunuhan itu, lalu keluar rumah.

Akrab... mungkin, kayaknya.

Kalau ke orang yang tidak akrab bilang kill you itu masalah besar. Biarpun akrab juga sudah cukup gawat.

Misalnya kalau Adachi tiba-tiba bilang 'Kubunuh kau', aku harus bagaimana.

...Harus bagaimana!? Membayangkannya saja aku sudah menghadapi kesulitan.

Dan di tengah jalan aku sadar bahwa sejak keluar rumah aku sudah pakai celemek. Terlalu semangat nih. Mau dilepas juga repot jadi kujalan saja begitu. Aku membusungkan dada seolah bilang ini hal yang alami lho.

Tapi, begitu ya.

"Adachi, begitu ya ternyata."

Demi negara berdua, Ibunya pun bisa dia lempar keluar.

Bukan karena Adachi dingin, atau tidak memikirkan ibunya, tapi watak... memang begitu cara hidupnya.

Dunia Adachi, pasti tersusun dari dua warna, putih dan hitam.

Abu-abu, justru adalah kilauan tertinggi.

Di situ, aku merasa berbeda secara mendasar dengan Adachi.

Aku... pasti tidak bisa.

Meski tidak bisa, aku tetap terwarnai putih demi Adachi.

Saat menengadah ke langit cerah, akhirnya awan mulai beralih ke bentuk musim gugur. Kalau tidak sadar, hari-hari tampak tak berubah seperti memandangi lukisan yang sama, sulit menyadari perubahannya. Tapi, semuanya mengalir.

Langkah musim tidaklah lambat.

Karena itu aku berniat berjalan agar tidak tertinggal. Menuju tempat Adachi, dan kemudian, bersama Adachi.

Aku belum menekan bel. Belum juga menghubungi lewat telepon.

Saat aku berdiri di depan kediaman Adachi, tiba-tiba pintu terbuka dan penyambutan melompat keluar.

"Adachi, apa kamu pasang alat pelacak atau semacamnya di badanku?"

"Da, dari lantai dua aku lihat terus, karena Shimamura datang aku cuma turun... kok."

"...Apa, ternyata lumayan normal."

Bohong. Sama sekali tidak normal, boleh dibilang agak menakutkan. Tapi karena itu Adachi, yah sudahlah. Daripada itu, karena ini Adachi, aku sempat berharap dia mendeteksiku dengan indra yang sama sekali berbeda jenisnya dengan Yashiro. Terkadang aku bermimpi bahwa cinta punya kekuatan melampaui setidaknya satu fenomena paranormal.

Yah, itu tidak penting.

"..............................................."

"Selamat datang..."

"..............................................."

"Shimamura?"

Adachi yang menyambut, dandan habis-habisan.

Apa itu tights hitamnya. Apa itu topi baret berpitanya. Apa itu rok lipitnya. Apa itu blusnya. Manis banget kan.

"Bos modis nih."

"E, e, apanya?"

Adachi membelalakkan mata mendengar tuduhanku. Meski reaksinya sama dengan biasa, berkat kostumnya rasanya jadi berbeda. Meski aneh bilang begini, nuansa gadis cantiknya meningkat dari biasanya.

"Biasa aja kok, bajunya."

"Bohong. Lebih niat dari biasanya."

Aku belum pernah lihat dia pakai topi baret. Cocok ya, aku memandangnya tanpa sungkan.

Melihat Adachi yang mondar-mandir ke kanan kiri memegangi topi mencoba lari dari tatapan, aku juga ikut menggerakkan kepala ke kanan kiri mengejarnya. Teringat kejar-kejaran Ibu dan Ibu Adachi tadi, aku menumpukkannya, dan tanpa sadar tawa bocor.

"Adachi yang biasa tidak akan pakai topi baret."

"Rasanya, aku merasakan prasangka yang luar biasa."

Memang begitu.

"Aku saja di hari libur pakai seragam dan celemek lho."

"Manis (kawaii)."

Mata dan pipinya menggambarkan warna yang kaya. Di antara Adachi yang selalu memuji apa pun tanpa syarat, reaksinya kali ini menonjol, jadi pasti dia sangat terkesan. Karena Adachi cenderung mengafirmasi aku sepenuhnya, kalau ada perbedaan reaksi di antaranya aku jadi sedikit senang.

"Di bagian mana dari kombinasi ini yang bikin Adachi berdebar?"

Aku bertanya dengan perasaan ringan.

"Eh, itu pertama, dengan premis bahwa Shimamura pakai seragam itu sangat, bagus... lalu dipakaikan celemek di atasnya, berpadu dengan rambut panjang Shimamura, apa ya, perasaan rapi, seiso (anggun/murni)? Kesan bersihnya datang fuwa itu terbaik, aku bilang terbaik... sangat bagus, rambut diikat di belakang juga beda dari biasanya, tapi terlihat sedikit lebih dewasa dari Shimamura yang biasanya itu rasanya, manis... padahal bergaya lebih tua tapi malah terlihat begitu, lalu kadang lutut yang terlihat di balik celemek dan rok itu, tiba-tiba seperti meteor jatuh ke kepala gitu lho, datang tiba-tiba... a, aku nggak selalu lihat bawah terus lho? Sama sekali enggak, tapi kalau bagian aktif Shimamura kadang terlihat, ekspresi dinamis dari keaktifan itu bagus, bagus gitu mendesakku... jadi di dalam dada rasanya kyuu (sesak), jadi soal celemek, i, ini ya, bukan dalam arti aneh lho... garis, tubuh, Shimamura... bukan apa-apa, bukan apa-apa kok tenang aja. U, hi, hiihe, itu bagus sih, nggak bagus tapi bagus, di dalam diriku Shimamura itu, imejnya tegas, kurasa pakaian yang tiba-tiba cocok dengan itu adalah celemek di atas seragam, tapi waktu pertama lihat wa percikan api berhamburan. Di bawah mata jadi panas seperti basah oleh darah, sensasi seperti soda meletup di telinga... tersampaikan kalau sel-sel tubuhku bergembira, rasa haru saat menyadari kemanisan Shimamura sebelum sempat memahaminya, ngerti nggak ya... tidak, sama sekali, tidak ngerti juga tidak apa-apa, tapi terharu pada fakta bahwa aku terharu lebih dulu sebelum logika atau semacamnya, kecepatan itu, cepat berarti tertancap dalam di tempat yang lebih dekat dengan hati, aah manisnya, kewajaran yang kurasakan pada Shimamura jadi lebih terpoles membuatku merasa sedikit bangga, itu membawa kesan yang lebih dalam lagi, begitulah yang kupahami saat tidak bisa tidur di kasur hari itu sambil terus memikirkan Shimamura. Bukan, maksudku aku selalu memikirkan Shimamura sih, atau lebih tepatnya pikiranku adalah Shimamura, karena waktu untuk memikirkan hal lain selalu sayang, jadi itu tidak masalah, pokoknya kombinasi seragam dan celemek Shimamura itu tak diragukan lagi sangat mengejutkan, makanya sekarang pun saat dilihat, rahangku jadi gemetar, atau lebih tepatnya sensasi berjalan di tanah hilang seolah kaki tergelincir. Mungkin telapak kaki juga begitu, tapi karena melihat sosok Shimamura dan melompat ke informasi itu jadi mengabaikan tugasnya. Makanya rasanya hilang, yang lain jadi tidak penting, karena berkumpul ingin merasakan Shimamura saja, makanya di sekitar jantung terasa sakit begini kali ya. Kalau ada rasa sakit itu, aah, rasanya kuat sekali bahwa aku sedang melihat Shimamura sekarang, ada rasa sakit ini apa ya, aneh bilangnya tapi jadi bisa merasakan kalau aku hidup, jadi tidak bisa disangkal, dan tidak ingin hilang. A, iya iya terus soal celemek ya, melihat simpul talinya dari punggung juga rasanya, geli-geli gimana gitu, jadi dari sudut mana pun bagus ya, gitu... nggak begitu lho, nggak dilihat terus-terusan begitu kok, aah tapi sekarang pun kalau dilihat begini, makanya, tubuh... e, fuehe, un, cuma itu. Singkatnya, celemek di atas seragam Shimamura itu bagiku, segitu berartinya, tapi a, penjelasannya terlalu simpel, jadi yang bisa dibicarakan lebih banyak..."

"...Waa."

Padahal aku cuma berniat menyapa ringan seperti menepuk bahu teman sekelas yang berpapasan.

Mungkin aku ceroboh bertanya. Harusnya butuh persiapan mental lebih, aku memperingatkan diri.

Tapi dengan mata lucu itu, seberapa banyak dia melihatku sih.

Saat saling bertatapan, jumlah informasi yang datang ke masing-masing terlalu berbeda.

Aku sih, cuma mikir waa Adachi, itu Adachi.

"Oho, hoho... kalau begitu, boleh tolong antarkan ke tempat Festival Budaya-nya sekarang?"

Masuk ke pintu depan saja belum.

"A, silakan silakan..."

Dipandu oleh bos modis Adachi yang kegembiraannya belum reda, aku bertamu ke rumah Adachi setelah sekian lama. Aku ingat kamar Adachi ada di lantai dua.

Sambil naik tangga aku bertanya.

"Tapi outfit musim gugur apa belum panas?"

"Sedikit."

Iya kan, pada suhu yang tertinggal di ujung hidung, aku mencari musim panas yang mulai memudar.

Masuk kembali ke rumah Adachi yang kurasakan adalah, ungkapan yang aneh sih, tapi baunya sunyi. Bau yang punya sedikit pergerakan, dan dingin yang khas. Atmosfer yang dikenakan Adachi di kelas ada di rumah ini apa adanya.

Tapi udara hening ini, begitu belajar mengalir, akan meningkatkan panasnya sekaligus.

"Tunggu sebentar."

Sampai di depan kamar, Adachi menyuruhku istirahat. Saat aku berhenti, Adachi terhisap masuk ke kamar seolah melompat. Dan sekitar sepuluh detik kemudian dia kembali.

Tentang rangkaian gerakan itu, Adachi menjelaskan sambil memalingkan mata.

"Cek, sekadar formalitas."

"Haa formalitas."

"Barang aneh, ada nggak, gitu."

"Eh, biasanya di kamar ada banyak barang aneh!?"

Saat aku mengambil ujung kata-katanya dan menyerang, dengan wajah merah padam aku menerima penyangkalan yang penuh tenaga, "Nu, nuwaa nggak ada!".

Karena menyangkal dengan terlalu putus asa, aku malah jadi berpikir beneran ada jangan-jangan?.

Barang aneh di kamar Adachi...?

Boneka diriku seukuran aslinya!

Itu mah imut, kan.

Tim ekspedisi pun menuju kamar Adachi yang belum terjamah untuk mengungkap kebenaran itu.

"Duduk, sebentar."

Adachi meninggalkanku di kamar dan segera keluar. Karena ditunjuk bantal duduk yang mungkin sudah disiapkan sebelumnya, aku duduk manis di situ. Iseng meniru Adachi, aku coba duduk bersimpuh (seiza).

Lama-lama di kamar Adachi ini baru pertama kali ya... mungkin pertama kali... barang aneh, aku celingukan melihat sekeliling. Secara garis besar, ini kamar khas Adachi yang barangnya sedikit. Tidak ada foto diriku dipajang memenuhi dinding, tidak ada cinta yang tertulis langsung, hanya keheningan dalam yang terbentang seolah mengintip cuaca hujan di balik jendela.

Di dalamnya, bumerang yang dulu kubrikan sebagai hadiah masih terpajang di rak. Anak yang apik merawat barang ya, tanpa sadar aku jadi seperti bibi-bibi kerabat. Mau lihat barang aneh Adachi dong! Aku coba jadi anak manja yang meronta-ronta tapi sepertinya tidak ada apa-apa jadi segera bosan, dan duduk manis lagi.

Melirik ke kasur, mungkin dia duduk bersimpuh di atas kasur ini, menunggu kabar dariku, aku membayangkan keadaannya. Adachi itu kembali dengan suara langkah kaki yang jelas berlari menaiki tangga.

"Bahaya lho lari di tangga, jangan ya."

Adachi hidup terlalu terburu-buru dan membahayakan, kadang aku jadi bersikap seperti Ibu-ibu.

"Karena panas, ini dulu silakan."

"Wah wah terima kasih."

Aku menerima welcome drink yang diantar dengan penuh keringat. Aku manja dan menerima sambutan itu sepenuhnya. Isi gelasnya jus apel. Chuki (suka), juru juru aku meminumnya tanpa sungkan.

"Adachi nggak minum?"

Aku bertanya sambil melirik kaleng yang tersisa, "Buat kamu semua," dia mendorongnya padaku zuzui, jadi "boleh nih" aku tertawa.

"Minum bareng yuk. Kan Festival Budaya berdua."

"...Un."

Sebelum menerima sisanya dan menempelkan mulut ke kaleng, Adachi menggeliat gune gune. Mungkin, dia bereaksi terlambat pada bagian 'berdua' dan memelintir tubuhnya. Reaksi jujur begini pesona murni Adachi ya, aku merasa terharu.

"Omong-omong Ibu Adachi, datang ke rumahku lho."

Saat aku melapor, punggung Adachi menegang kaget biku.

"Katanya Adachi minta tolong sesuatu."

Aku bicara dengan ungkapan halus, Adachi menunduk dan memejamkan mata tampak merasa bersalah.

"Bukan, bermaksud bilang ingin dia pergi... tapi, tidak bisa menyampaikannya, dengan baik."

Bahunya menyusut karena membenci diri sendiri. Pasti begitu, pikirku.

Adachi, maupun Ibu Adachi, komunikasi mereka terlalu payah. Tapi.

"Pasti tersampaikan kok, yang begitu."

Justru karena sesama orang yang kaku bicara, harusnya bisa saling mengerti.

"Orang itu, Ibunya Adachi, kan."

Meski keluarga, tidak semuanya tanpa syarat. Ada hal yang tidak akan sampai jika tidak berusaha menyampaikannya.

Setidaknya, Adachi dengan kecanggungannya sudah mencoba menyampaikan.

Optimis, tapi ingin percaya. Ada hal yang seperti itu.

Pada Adachi pun pasti, ada hal seperti itu.

"...Kuharap, begitu."

"Percayalah padaku."

Nahhaha, aku tertawa dan mengejek diri sendiri, mirip Ibu-ibu ih, rasanya tidak enak.

"...Un."

Adachi menggantungkan sedikit senyum di ujung mulutnya, dan memejamkan mata seperti berdoa.

"A, iya... aku siapkan, sedikit sih."

"Eh, apa apa?"

Apa ya, aku mengamati Adachi yang berdiri. Adachi dengan punggung membungkuk menghadap meja, membawa satu buku catatan. Sampulnya bernuansa buku pelajaran nostalgia zaman dulu, tapi apa gerangan isinya, aku meragukan mataku.

"Ini catatan pengamatan Shimamura..."

Gui, jus apel yang baru mau lewat tenggorokan hampir tersangkut.

Memang di sampul buku tertulis besar-besar 'SHIMAMURA'.

Menjawab permintaan, barang aneh muncul! Di tengah atmosfer yang agak bagus ini!

"Karena ada... pameran juga, kan."

"Hohoo."

Sambil pura-pura kagum aku mengulur waktu untuk mendapatkan kembali ketenangan. Apa itu, catatan pengamatan.

Aku ini tanaman atau serangga?

Bulan sekian tanggal sekian, Shimamura menempel di meja dan ketiduran, apa isinya begitu?

Adachi membuka buku catatan yang mengerikan itu.

"Pertama ini, rekor rata-rata zona waktu Shimamura ketiduran saat jam pelajaran..."

"O, ossu."

Tidak kena, tapi tidak jauh juga.

"Mungkin ada bagian yang terlewat jadi tidak sempurna sih..."

"Jangan pasang muka menyesal begitu..."

Jumlah Shimamura tertawa karena candaanku, jumlah Shimamura melihatku saat jam pelajaran, catatan makan siang, pengeluaran di tempat kencan, durasi telepon, jumlah bilang suka...












"................................................................................"

Aku benar-benar, sungguh-sungguh bersyukur bahwa yang mencatat ini adalah pacarku.

Kalau orang lain, aku pasti sudah menangis.

Yang menakutkan adalah, dalam interaksi sehari-hari yang biasa saja, dia tidak terlihat sedang mencatat apa pun, tapi dia mengingat jumlahnya dengan akurat. Jenius kah?

"Nanti tolong biarkan aku membacanya dengan teliti ya..."

Hehehe, ampun deh, aku memohon sambil menangis dalam hati. Adachi menutup buku catatannya dan meletakkannya dengan hati-hati sambil berkata "Be, begitu?", terlihat sedikit malu. Bukan anu, sene... senang? Sih, tapi sene... sereeem.

"Yosh, kalau begitu pertama-tama mari kita sajikan hidangan untuk Adachi-chan."

Aku segera mengganti topik pembicaraan. Tidak berlebihan jika dikatakan aku datang sebenarnya demi ini.

"Kalau begitu aku ambilkan ya."

"Iyaaa tolong ya."

Aku mengantar kepergian Adachi yang berlari dengan riang hanya dengan satu helaan napas.

Dalam waktu kurang dari seminggu ini, dia menyiapkan sesuatu yang luar biasa ya. Aku meremehkan Adachi.

Aku melirik buku catatan di atas meja, mengintipnya sekilas, lalu duduk dan menunggu dengan manis.

Adachi membawakan permen yang sudah dilelehkan dan buah-buahan yang sudah dipotong. Karena sudah kuperingatkan sekitar tiga puluh kali supaya tidak beli kebanyakan, jumlah buahnya cukup realistis.

Setelah memandangi bahan-bahan yang disiapkan di meja, aku memilin handuk yang kubawa dan mengikatnya di dahi sebagai pengganti ikat kepala (hachimaki).

Sudah diputuskan sebelumnya bahwa akulah penjaga kedainya, dan Adachi adalah pelanggannya.

"Hei selamat datang, ini kedai permen buah lho."

Meski bilang begitu, bahan-bahannya Adachi yang siapkan. Permennya juga Adachi yang siapkan.

Aku ini pengrajin (takumi) yang cuma melakukan penyelesaian akhir.

"Kakak yang di sana, bagaimana permen buahnya?"

"A, ya, saya mau."

Adachi meluncur masuk dengan posisi duduk bersimpuh (seiza). Lalu dengan sigap (suchat) mengeluarkan dompet.

Eh, bayar? Pikirku, tapi yah, karena ini kedai Festival Budaya jadi biarlah, aku menerimanya.

Uang, memikirkan itu ada hal yang teringat secara asosiasi.

Ngomong-ngomong, aku benar-benar lupa mengembalikannya.

"Pelanggan, Anda beruntung sekali. Hari ini ada promo makan permen buah sepuasnya cuma lima ratus yen."

"Wa, waa."

Dia senang dengan gerakan tangan seperti menyematkan bunga kecil di samping pipinya.

"Tapi mungkin aku tidak bisa makan sebanyak itu."

"Makan sepuasnya lima ratus yen lho."

Aku memaksa (gori-oshi). Demi melunasi utang, aku tidak bisa pilih-pilih cara.

Sebenarnya aku bisa mengembalikannya biasa dari dompetku sendiri, tapi ya sudahlah.

"Kalau bukan makan sepuasnya, satu tusuk berapa?"

"Lima ratus yen."

Tak mau beli kah, rasanya aku mendengar halusinasi suara itu.

"...Tolong paket makan sepuasnya."

"Baik dengan senang hatiii."

Bukan membujuk, lebih terasa seperti mendorong lalu meremasnya sampai hancur dan memaksanya lewat.

"Tapi rasanya agak tidak enak ya. Adachi yang keluar biaya bahan tapi ditarik bayaran juga."

Di sini sih untung bersih karena modal nol.

"Demi saat-saat seperti ini, aku menabung kok."

"...Cara pakai uang yang bagus."

Mencelupkan buah ke dalam permen, dan menunggu mengeras. Aku sangat suka melihat permukaan buah ini berkilau tera-tera, entah kenapa. Ungkapan yang klise sih, tapi karena seperti permata, saat memandanginya lahir sesuatu yang halus di hati.

Melihat benda indah itu mungkin, bagus untuk kesehatan.

Karena dia menyerahkan lima ratus yen, aku menerimanya dengan rasa terima kasih dan sebagai gantinya pertama-tama menyajikan permen jeruk mandarin. Adachi menggigit permen jeruk itu sambil bilang "Selamat makan", dan menggembungkan pipinya mugu-mugu. Entah kenapa manis sekali.

Dasarnya memang manis jadi dia ngapain saja manis sih, aku memiliki kesan seolah proses Adachi-isasi dalam diriku makin parah.

"Warna-warni bagus ya, ini. Pertama aku suka bagian situnya."

Yashiro yang datang ke Festival Budaya juga menikmati dengan mata dan lidah berbinar. Lidah bukan kiasan, lidah dia beneran bersinar biru muda tipis. Kalau dipikir dengan tenang, dia makhluk mengerikan yang mengabaikan semua hukum yang telah disusun umat manusia.

"Un... un. Ka, kalau aku, suka warna permen stroberi, mungkin ya."

Adachi membuat suaranya agak melengking, berusaha mengembangkan topik pembicaraan.

"Kalau begitu mau dikasih bonus permen stroberi nggak nih."

Pasti dia merasa tidak enak karena aku yang membuatkan, jadi dia menatap buah potong itu dan memikirkan mana yang dia suka. Sifat menyentuh hati (ijirashii) seperti itulah yang jadi salah satu alasan kenapa aku merasa 'Adachi bagus ya'.

"Hei permen stroberi siap saji."

"Wa."

Senang dengan singkat, dia memutar-mutar stroberi yang tertusuk bambu. Cocok ya, aku merasa hangat.

"Sebagai tambahan silakan yang campuran ini juga."

Aku juga menyerahkan tusukan yang berisi stroberi dan muscat berselang-seling. Ini yang dijual di tempat kerja sambilan Adachi, dan yang tidak disajikan di Festival Budaya sebelumnya. Aku paham sekarang, Adachi melarangnya demi saat ini ternyata. Adachi selalu menatap masa depan. Masa depan bersamaku.

"Pelanggan, saya juga boleh makan nggak!"

"A, silakan, silakan jangan sungkan."

Tiba-tiba berubah jadi pelayan nakal dan menyentuh barang dagangan. Aku juga membuat permen stroberi dan melahapnya.

Rasa manis-asam yang merembes dari balik tekstur renyah yang enak itu tak tertahankan.

Begitu saja, sampai buah potongnya habis, kami berdua menikmati permen buah sepuasnya.

Rasa yang tertinggal di dalam mulut terasa warna-warni, aftertaste-nya enak.

"Eee selanjutnya atraksinya adalah..."

Sengaja membuka buku panduan, mengecek isi yang sebenarnya tidak perlu dicek lagi.

"Drama yang dibintangi Adachi."

"Eh, pemeran utamanya Shimamura..."

"Yang itu lho."

Yang mana saja boleh sih, tapi aku pura-pura ngotot dan bertahan.

"Ti, tidak boleh. Shimamura yang pemeran utama."

Adachi bicara dengan nada yang benar-benar menunjukkan obsesinya. Khas banget ya, pikirku.

"Ya sudah aku saja deh."

"A, are? Boleh sih."

Persiapan Adachi yang sudah menarik lengan mengumpulkan tenaga untuk mendesak sekali lagi pun berakhir gagal.

Memindahkan meja ke samping, mengosongkan bagian tengah ruangan dengan luas, lalu mendeklarasikan.

"Kalau begitu atraksi dramanyaaa... Kita Sepuluh Tahun Kemudian!"

Aku mengumumkan judul yang kupikirkan terus mau apa, dan baru saja putuskan secara mendadak sambil berjalan barusan.

"Sepuluh tahun kemudian?"

"Iya. Nah, tirai dibuka."

Dimulai, aku bertepuk tangan. Tepuk tangan pembuka pun harus disiapkan sendiri.

Itu adalah Festival Budaya di mana semuanya diselesaikan oleh kami berdua.

Dari ekspresi kaget 'sudah mulai ya', Adachi melihat ke kanan kiri, lalu keluar kamar.

Tiba-tiba heroine-nya keluar dari panggung, pikirku, lalu terdengar suara seperti membuka kunci gacha gacha dari lorong, dan Adachi masuk.

"A, aku pulang."

"Eeto... selamat datang kembali, Adachi. Supermarket ramai?"

Begitu ya, dia menangkap setting tinggal bersama dan melemparkan percakapan.

"Eh, kamu nggak ikut ke supermarket...?"

Lho, dia murung (shonbori).

"Etto, hari ini aku ada urusan yang benar-benar tidak bisa ditinggal..."

"Begitu..."

"Aah............ di sepuluh tahun kemudian yang beneran nanti kita ke supermarket bareng ya!"

"Baik."

Adachi membuat pipinya mengkilap puas, nikooo.

Sejarah direvisi di tengah pertunjukan. Kalau begitu ceritanya pulang dari mana ya.

"Adachi, kerja bagus—"

"A, un. Sudah berusaha, ja, jadi capek."

Drama fuwa-fuwa (mengambang/tidak jelas) dimulai kembali. Begitu ya capek ya, sudah berjuang ya, aku membayangkan.

Hidup berdua, apa sama-sama kerja ya? Aku kerja apa ya.

Adachi... tidak tahu sih, tapi kerja apa pun sepertinya dia bisa mengerjakannya dengan rapi.

Aku terlalu mempercayai bakat Adachi.

Dan aku sepuluh tahun kemudian ya.

"Uwaaan, sebenarnya aku dipecat dari perusahaan lhooo."

"Eh."

Aku menangis pada Adachi yang membelalakkan mata karena perkembangan mendadak.

"Bukan, kalau membayangkan aku yang real entah kenapa sepertinya bakal jadi begitu."

Sama sekali tidak terbayang diriku bekerja layaknya orang biasa di masyarakat. Karena belum pernah kerja.

Perasaanku tertahan di musim panas abadi dan masa SMA, terkurung.

"Ti, tidak mungkin begitu kok."

Adachi mengepalkan tangan, menyemangatiku.

"Shimamura pasti, bekerja dengan hebat, da, dan tinggal bersamaku..."

Bagian akhirnya cepat dan pelan, kabur seperti lari masuk ke lubang.

Tinggal bareng nggak ya, bolak-balik antara kantor dan rumah.

"Be, begitu yaa."

"Un."

Dia mengiyakan dengan sangat percaya diri sampai aku bertanya-tanya apa dasarnya.

Di dalam diri Adachi justru, sepertinya dia menilai "Shimamura" terlalu tinggi.

Aku bukan manusia sehebat yang diharapkan Adachi, sih.

Tapi, diriku yang bersemangat pergi kerja demi tinggal bersama Adachi, mungkin saja sepuluh tahun lagi, benar-benar ada.

Memandangi wajah merah Adachi sekarang, aku berpikir begitu.

Tapi kalau begitu, apa tidak ada jalan menjadi pengangguran dan dinafkahi Adachi.

"Hidup itu keras ya."

"Ki, kita berjuang bersama ya."

Silau. Adachi sekarang begitu silau sampai sepuluh tahun ke depan terlihat kabur.

"Baiklah, mengesampingkan candaan dipecat dari perusahaan, oke."

Aku merevisi jalur lagi. Karena persiapan dan mental untuk memerankan manusia gagal sudah siap, kalau dari sini harus melompat kembali jadi manusia baik-baik, daging di pinggangku bisa sakit.

"Tadi katanya capek ya."

"I, iya."

Warna wajah yang sangat sehat, menyimpan gairah.

"Kalau capek, ettoo... mau bantal paha (hizamakura)?"

"Ma, mauu."

Adachi yang menjawab terlalu cepat sampai momentumnya bertambah, berjongkok di sisiku seolah runtuh. Karena dia menatapku dengan mata penuh harap, "ya silakan" aku menyiapkan posisi bantal paha.

Adachi meluncur masuk ke paha dari dahi, zuzat. Lalu dengan kaku memperbaiki posisi, dan berguling menyamping. Bahunya tegang dan jadi kotak seperti biasa, sepuluh tahun kemudian, tawaku.

Bahu Adachi sepuluh tahun kemudian juga sepertinya bakal kotak.

Tidak, mungkin sebenarnya tidak terduga sudah terbiasa?

Aliran waktu akan menyisakan seberapa banyak Adachi yang sekarang, dan seberapa banyak yang akan diubahnya.

Keseimbangannya itu krusial jadi lakukan dengan baik ya, aku memperingatkan waktu.

"Di kantor akur sama semua orang?"

Aku menanyakan hubungan manusia fiktif. Bagi Adachi kata "akur/baik" itu mungkin, tak berasa tak berbau.

Ketertarikan pada selain aku... mungkin Ibu, masuk sekadarnya saja.

"E, ettoo... akrab kok, sama semua orang."

"Bohong bangeeeet."

Maaf, Adachi meminta maaf karena telah melakukan pemalsuan pada hubungan manusia yang bahkan tidak ada.

"Yah, kalau memang begitu sih bagus."

"Setidaknya sampai taraf tidak bermasalah dengan pekerjaan, mungkin, entah bagaimana bisa..."

Kuharap begitu, kudengar dia menambahkan dengan suara kecil. Yah di sekolah juga dia bukan menyebabkan perselisihan dengan siapa pun, dan di tempat kerja sambilan pun sepertinya tidak ada masalah, jadi Adachi pasti bisa mengatasinya dengan respons minimal.

"Omong-omong, Adachi dan aku tidak satu kantor?"

"A, uun... uurn..."

Adachi galau sambil sedikit membungkukkan punggung.

"Kalau tempatnya sama, aku, mungkin nggak bakal terlalu kerja..."

"Oh begitu."

Sangat masuk akal.

"Tapi kalau Shimamura di perusahaan lain, itu juga, bikin khawatir sampai nggak bisa kerja mungkin..."

"Oh begitu jugaaa."

Itu juga sangat masuk akal. Bagi Adachi sepertinya ini masalah yang sangat sulit.

...Kenapa ya?

"Rasanya sepuluh tahun lalu juga pernah tanya sih, Adachi suka bagian manaku?"

Kenapa sebegitu sukanya? Kalau tanya langsung bakal terdengar seperti meragukan cintanya, jadi aku memutar sedikit. Aku tidak meragukan rasa suka dari Adachi, tapi terkadang, aku merasa heran.

Bahwa besarnya itu melampaui bintang, tapi kami masih bisa berdiri dengan benar di bumi.

"Ingin bersama, cantik, bikin berdebar, baik, ingin manja, lembut, manis, cantik, manis... manis (kawaii)............"

Selagi dia mengeluarkan dari rak dengan nada seolah bisa menderetkan sebanyak apa pun, kata 'manis' sepertinya meluap, dan akhirnya jadi satu warna itu. Adachi sambil merah padam, menyentuhkan telapak tangannya pelan ke lututku.

"Apa sebaiknya kuceritakan semuanya satu per satu dengan benar?"

"Nn..."

Kalau dilakukan, durasi tayang dramanya bakal jadi super panjang.

Lagi pula, aku tidak merasa sanggup menahan serangan pujian maut itu. Sekarang saja sudah sampai tidak bisa menatap langsung.

"Tidak, kalau suka... ya sudahlah."

Benar-benar, sudah cukup. ...Cukup.

Saat aku mengangkat wajah, aku merasakan sensasi basah di sekitar hidung seperti habis kena hujan.

Berbagai macam keringat merembes. Setelah menyekanya, aku berkata.

"Dulu lho, beneran dulu banget... di lantai dua gedung olahraga, kita juga melakukan hal seperti ini ya."

Aku menatap lekat ke titik awal kami, yang meski ditengok kembali sudah mulai sulit terlihat.

"Waktu itu, aku tidak terpikir bakal tinggal bareng Adachi..."

Sekarang pun hal itu, masih samar-samar. Aku tidak bisa membayangkan dengan baik diriku meninggalkan rumah orang tua, tapi.

Saat mengelus rambut, mengelus punggung Adachi yang manja begini, akting ini, tumpang tindih dengan diriku saat ini.

"Ingin begini ya... mulai sekarang pun, selamanya."

"Un."

Saat aku mengiyakan hal yang seperti permohonan tulus Adachi itu, Adachi melompat bangun.

Saat aku kaget dengan cara bangunnya yang seperti pegas, Adachi memutar lidahnya yang tidak bisa berputar sempurna karena bicara cepat bersamaan dengan matanya yang berputar guru-guru.

"Du, dulu ngomong-ngomong, keputusan untuk tinggal di sini jadinya begini, kan."

"Nn?"

Adachi memegang tanganku, dan dengan mata yang hanya menatap Shimamura saat ini, dia membiarkan bibirnya mengamuk.

"Ki, kita tinggal bersama. Setelah lulus kuliah, berdua."

"Adachi..."

Matanya serius. Tidak, catatan pengamatan mengatakan bahwa tatapan yang menatapku itu tidak ada selain serius.

Catatan pengamatan serem.

Dia menghubungkannya ke lamaran masa kini dengan paksaan yang dahsyat.

Lulus kuliah, membangun negara hanya berdua.

Bahwa itulah kedewasaan bagi Adachi dan aku, aku ingin menumpuk masa depan itu.

...Begitu ya.

Bahwa itu juga, tidak buruk ya, apakah karena manisnya permen buah yang masih tersisa di mulut.

"Waktu itu kalau tidak salah... aku jawab begini ya."

Kesadaran menjauh, seperti membentuk busur.

Secara tidak sadar menyerahkan diri, aku memeluk Adachi. Adachi diam tak bergerak seolah seluruh aktivitas kehidupannya berhenti sesaat, aku jadi agak khawatir. Tapi dia bergetar seperti baru dinyalakan dan restart, lalu dengan takut-takut, membalas pelukanku.

Ukuran telapak tangan Adachi beda ya denganku, pikirku sambil merasakan tangan yang diletakkan di punggung masing-masing.

"Happy End."

"A, o, ooh..."

"Pachi pachi pachi."

"...Pa, pachicchi."

Karena tangan sedang tidak bisa dipakai saat berpelukan, aku tepuk tangan pakai mulut.

Kalau terus berpelukan diam begini sepertinya bakal jadi atmosfer aneh, jadi aku kabur.

Byoon byoon, aku melompat menjauh. Adachi memeluk udara dengan wajah sayang.

"Demikianlah kami persembahkan kami sepuluh tahun kemudian."

Menutupnya, kali ini kami bertepuk tangan dengan benar berdua.

Apakah hal yang kami lihat di sepuluh tahun kemudian akan benar-benar terwujud, jawabannya ada di berapa halaman lagi ya.

Harapanku, aku ingin terus membalik halaman agar kami bisa menyaksikannya berdua.

"Nah selanjutnya... aku bawa mikrofon lho."

"A, makasih."

Pembukaan konser yang juga merangkap sebagai lagu penutup drama barusan.

Meski bilang konser, cuma karaokean di dalam kamar sempit ini.

Apalagi tidak ada alat musik jadi akapela.

"Terima kasih sudah berkumpul hari ini—"

Sekalian tes mikrofon, aku jadi tamu agung.

"Waa~..."

Adachi menyambut dengan tepuk tangan yang sopan (low profile). Aku membalas dengan senyum nikkori, dan menyerahkan mikrofon.

"Nih giliran Adachi."

"Eh, eh."

"Waa~!"

Berubah cepat jadi fans yang berkumpul, aku tepuk tangan heboh. Adachi berdiri dengan takut-takut, wajah memerah, bertingkah mencurigakan menempuh proses seperti biasa, tapi mendekatkan mikrofon ke mulut seolah menggigitnya.

"Ka, kalau begitu mumpung begini..."

"Sudah ditunggu-tunggu!"

"Di, di dunia inii~"

"Hentikan."

"Baik."

Dia langsung berhenti dengan patuh. Baru pertama kali ini Adachiopenurut ini bukan.

Malah dengan seenaknya dia mengembalikan mikrofon. Eeh, aku memutar mikrofon di tangan.

"Terus nyanyi apa ya... sekalian aja, nyanyi bareng?"

Aku mengusulkan sebelum Adachi duduk dan kembali jadi penonton. Kapan ya terakhir kali pergi karaoke, sambil mengenang samar-samar, aku mengajak Adachi. Hino dan Nagafuji yang waktu itu ada, sudah tidak ada di sini lagi.

Karena itu, mari kita hiasi dengan kata-kata yang pantas untuk tempat tinggal hanya bagi berdua.

"Bareng, lagu apa?"

"Spi**** no Robi***."

Lagu yang patut dicintai, yang seenaknya memproyeksikan kami.

Bisa dibilang cuma itu yang sepertinya bisa dinyanyikan berdua.

"Kalau begitu... kalau bareng."

Meski disensor sebanyak ini sepertinya tersampaikan dengan baik pada Adachi. Sensor itu apa.

"Sudah lama ya tidak nyanyi bareng."

Berbagi satu mikrofon dengan Adachi yang datang ke sebelahku. Penonton menghilang, hanya kami yang jadi pemeran utama. Menegakkan punggung seolah mengintip sepuluh tahun kemudian yang kami perankan di kejauhan, aku memonyongkan bibir.

"Tu tuu tu tuu tuu."

Saat aku menyenandungkan intro, Adachi membelalakkan mata. Kora kora (hei hei).

"Bukan, malu tahu, jadi ikut senandungkan intro juga."

"A, baik."

Bibir Adachi menonjol ke depan dengan lembut munyo.

"Tu tuu tu tuu tuu."

"Oke sip."

"Shi, Shimamura juga tu tuu dong."

"Apa boleh buat deh."

Kami berdua tu tuu. Lalu dari tu tuu yang seperti tiruan suara burung itu, kami berdua terbang.

Suara nyanyian berdua, tanpa ada celah bagi suara lain untuk menyela, bergema di kamar.

Adachi perlahan menurunkan rasa malu yang awalnya dia panggul dari bahunya, dan tertawa alami sambil menatapku. Telapak tangan yang pasti hanya bisa disentuh olehku itu, secara alami saling menggenggam.

Kami jika bergandengan tangan, hanya dengan itu menjadi makhluk sederhana yang mendapatkan sesuatu.

Kapan pun, dari masa lalu, hingga masa depan.

Begitulah, sampai bait pertama meski agak melenceng tapi lancar. Masalahnya.

"Lirik bait keduaaa~"

"A, agak lupaaa~"

Mencampur ad-lib, kami tertawa terbahak-bahak. Saat aku berjalan berputar dengan berlebihan, Adachi buru-buru mengikuti, itu membuatku sangat senang tanpa alasan. Menjahit lirik yang diingat, membentuk lagu hanya untuk berdua yang tidak bisa direproduksi lagi.

Meski di dalam ruangan rasanya seperti melompat-lompat di tengah hujan, aku bisa merasakan sesuatu yang melompat di antara kami.

Mungkin emosi yang memiliki massa sedang meluap-luap.

Halusinasi yang pasti, yang hanya bisa dirasakan oleh kami.

Dari luar mungkin terlihat seperti dunia yang tidak bisa diandalkan layaknya bak pasir kecil.

Tapi aku, suka juga main di bak pasir dengan Adachi.

Jika pergi berdua, sejauh apa pun ada bak pasir hanya untuk berdua, dan aku akan asyik bermain pasir.












Mungkin ada harta karun yang tertidur di dalam bak pasir itu.

Saat aku menggalinya, Adachi yang tidak pandai tertawa membalasnya dengan senyuman lebar.

Aku ingin melihat itu lagi, berapa kali pun, sambil menggenggam kehangatan pasir.

Singkatnya, kurasa aku menyukainya.


Hari Minggu keesokan harinya terasa seperti hari libur pengganti, dan aku menikmati kemalasan sejak pagi.

Berguling-guling di kamar, melamun tanpa melakukan apa pun.

Di ujung pandanganku, terlihat ekor yang melintas.

"Hei kamu, Po*ta."

Aku memanggil dia yang langkah kakinya seolah terbebas dari segala belenggu dunia ini.

"Ooh, itu tak diragukan lagi adalah saya."

"Salah lho."

Padahal aku yang memanggilnya.

Si tanuki yang memproklamirkan diri sebagai tanuki humanis itu berbalik dengan ringan. Saat aku bangkit dan menatapnya, aku hampir kembali sadar dan bertanya-tanya mengapa ada tanuki misterius yang tinggal di rumah ini. Kalau sadar, memangnya ada masalah apa.

"Mau pergi ke rumah Kakek dan Nenek, kan?"

"Wah, Anda tahu sekali."

"Dasar kau ini hahaha."

Aku tidak akan mempermasalahkannya.

"Kalau begitu, ada barang yang ingin kuminta tolong bawakan."

Sini sini, aku melambai memandunya. Bersama tanuki yang mengikutiku tekko-tekko tanpa pertanyaan khusus, aku menuju dapur. Di dapur, Ibu sedang memainkan telepon sambil menjilati teh jelai (mugicha).

"O, datang untuk dibasmi lagi ya, tanuki dan... kucing."

"Aku kucing?"

"Habisnya kamu tidur separuh hari sih."

Sampai kapan dia mau membicarakan masa kecilku.

Tidak, seumur hidup pun, aku memang anak orang ini sih.

Waktu SMP aku benci sekali hal-hal seperti itu, tapi sekarang, di luar dugaan aku bisa menerimanya dengan jujur.

Aku membawakan bungkusan kain (furoshiki) yang dipakai Yashiro, memperlihatkan apel yang sudah diiris tipis agar mudah dimakan, lalu meletakkannya.

"Apel ini berikan pada Gon. Jangan kamu makan lho."

"Ya ya."

"Jawabannya terlalu enteng."

"Yaaa~"

Kalau yang ini, rasanya malah mau terbang terbawa angin.

"Untukmu aku kasih yang ini."

Saat aku memperlihatkan permen buah yang kubuat tadi, "Hohoo~" Yashiro berjinjit.

"Itu, berikan juga pada Kakek dan Nenek masing-masing satu ya. Bilang kalau aku yang buat ini di Festival Budaya."

"Hou hou. Kalau begitu, akan sisa dua batang..."

Chira, chira, karena Yashiro terus melirikku, aku jadi tertawa.

"Sisanya bagianmu."

"Waa~"

Karena tanuki ini tanuki humanis (pemakan segala), kurasa tidak ada buah yang tidak bisa dia makan, jadi aku memberinya muscat dan apel. Permen buah warna-warni itu cocok dengan penampilan tanuki yang fancy.

"Satu lagi ini. Uang yang kupinjam waktu itu."

Aku meletakkan lima ratus yen hasil jerih payahku di tangan Yashiro. "Ooh~" dia meremas-remas koin seratus yen itu.

"Saya sudah lupa sama sekali loh!"

"Biarpun humanis, harus ingat hal begitu dengan benar dong."

Yosh yosh, aku bermain-main mengelus pipinya yang licin.

"Pelanggan besar membelinya dengan royal, jadi akhirnya utangnya bisa lunas."

Kalau dipikir-pikir, mungkin ini pertama kalinya aku mendapatkan uang selain dari membantu di rumah.

Uang itu mengalir ke tanuki. Hidup yang aneh.

Tapi, berkat tanuki ini, rumah kakek-nenek jadi terasa lebih dekat.

"Tak kusangka kamu yang sekarang bisa membuat wajah seperti itu ya."

Ibu yang sedang mengamati keadaan aku dan Yashiro, tiba-tiba menunjukkan hal yang tidak kupahami.

"Apa?"

Wajah? Saat aku menyentuh wajah sendiri untuk memastikan, aku juga tidak paham.

"Ngapapa (Betunu). Yah, anggap saja kamu punya wajah yang bagus karena lagi libur."

Ibu puas sendiri lalu menarik diri. Apa sih, aku memiringkan kepala sekali lagi.

Yah, sudahlah.

Yashiro yang sudah menggendong bungkusan kain berisi barang-barang dariku, melambaikan tangan pendeknya.

"Kalau begitu saya berangkat."

"Hati-hati ya, setidaknya."

"Baiiik."

Aku tidak tahu bagaimana caranya dia pergi, tapi aku berdoa semoga dia selamat.

Setelah mengantarnya pergi, aku kembali ke kamar, dan berbaring lagi seolah memandikan seluruh tubuh dengan hari libur pengganti ini.

Kelelahan yang nyaman seperti setelah berlari menempuh jalan panjang menindih tubuh dan batinku. Perasaan cerah saat bisa mempercayai hari esok terus berlanjut, berlanjut, aku tak bisa menahan diri untuk berharap semoga ini berlanjut selamanya.

Rasa gembira merambat di kontur tubuhku yang terlentang membentuk huruf besar, namun anehnya tidak ada rasa terburu-buru.

Rasanya tak sabar ingin segera, tapi aku juga ingin menyaksikan tubuhku menghangat secara perlahan.

Rasa cukup (fulfillment), menguasaiku hingga ke ujung jari.

Dan tak lama kemudian, telepon berdering. Kecepatan macam apa dia berpergian, tawaku tanpa sadar.

Sesuai dugaan, itu dari Nenek.

'Terima kasih ya.'

"...Un."

Segera setelah itu gambar pun dikirim.

Wa, mulutku terbuka secara alami seolah mekar.

Tanuki yang memegang permen buah di kedua tangan dengan bahagia dan tertawa seperti masa kecilku, serta Gon yang memandang irisan apel dengan wajah lembut.

Seolah menjaga satu orang dan satu ekor itu, Nenek tersenyum di latar belakang.

Perasaan yang datang dan pergi saat menatap itu, sensasi hati yang ditarik ke atas dan ke bawah ini apa ya.

Dari kontur hati yang rasanya mau sobek, terlihat sesuatu yang meluap seperti darah putih.

Rasa sakit yang hanya bisa disebut pedih, dan semburan emosi yang memilukan.

Di sana, kata-kata Nenek meresap dalam-dalam.

'Hougetsu juga sudah bisa membuat yang seperti ini, sudah besar ya.'

"............Un."

Berada bersama Adachi, adalah kebahagiaan.

Sekarang Adachi-lah duniaku.

Tapi selain itu pun, ada kebahagiaanku yang lain. Seperti yang diajarkan saat ini.

Meskipun kami berdua pergi ke ujung semesta, ada hal yang tidak boleh dilupakan.

Diriku di suatu waktu pernah berpikir.

Agar tidak menoleh ke masa lalu, tapi tetap menatap ke depan tanpa melupakan hal yang berharga.

Hal yang diperlukan, ada di sini.

Air mata yang mengalir saat aku masih berbaring, terasa panas seolah membelah sisi mataku.

Aku berharap mereka panjang umur.

Aku bersumpah, untuk hidup panjang umur.

Di sana, tertampung dalam layar kecil,

Adalah bentuk kebahagiaanku.

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Facebook Twitter WhatsApp

Komentar

Tinggalkan Komentar